Interlude
1
Monster
Sungai
Negeri Yamato dihuni oleh monster-monster yang tak
biasa.
Saat aku—Yurishia—sedang dalam perjalanan menuju
Tougenkyou bersama Kuruto dan yang lainnya setelah meninggalkan Nasagaki, aku
sempat dibuat terperanjat saat sesosok monster hijau menyerang kami ketika kami
sedang beristirahat di tepi sungai.
Monster itu memiliki selaput renang di kedua tangan
dan kakinya, dan penduduk setempat menyebutnya Kappa.
Sepertinya sungai tempat kami beristirahat adalah
wilayah kekuasaan para Kappa itu, dan mereka tiba-tiba menyerang seolah-olah
sedang marah besar.
Kekuatan tiap individunya mungkin setara dengan
seekor Orc.
Namun, mereka bertarung di lingkungan air yang
merupakan spesialisasi mereka, dan yang terpenting—
"Kuda-kuda itu... bukannya itu Sumo,
teknik gulat tradisional Negeri Yamato?"
Aku bergumam sambil memasang sikap waspada.
Aku tidak menyangka monster bisa menggunakan teknik
bela diri manusia.
Tapi, aku tidak berniat meladeni gaya bertarung
mereka dengan jujur.
Begitu aku menghunus Setsuka, para Kappa itu langsung
menyoraki kami dengan nada mengejek yang luar biasa.
Seolah-olah mereka ingin bilang bahwa menghunus
pedang dalam pertandingan Sumo adalah tindakan yang tidak jantan.
"Kurumi-sama, lihat itu—"
Lise—bukan, Rie—berkata sambil menunjuk benda yang
dibawa sang Kappa.
Aku pun mengalihkan pandanganku.
"Itu mentimun, ya. Mungkin saja itu makanan pokok
monster-monster tersebut."
Sayuran jadi makanan pokok, ya?
"Apa mereka mencurinya dari ladang penduduk?"
"Tidak, sepertinya itu mentimun yang tumbuh liar di
sepanjang sungai ini—tapi ini cuma perkiraanku saja, sih."
Kurumi kembali bergumam tidak jelas, seperti bilang kalau
paman petani pasti bisa mendengar suara sayuran dan tahu informasi yang benar.
Namun, jika itu perkiraan Kurumi, biasanya memang tepat.
"Ah, benar juga. Aku membeli banyak mentimun di kota
sebelumnya. Bagaimana kalau kita jadikan itu bahan negosiasi?"
Kurumi berkata demikian sambil mengeluarkan mentimun dari
dalam tasnya.
Karena mereka terlihat seperti monster yang cerdas, apa
kami bisa bernegosiasi?
"Aku akan memberikan ini, jadi bisakah kita batalkan
pertandingan Sumonya?"
Begitu Kurumi bicara, sang Kappa menggelengkan kepala dan
kembali memasang pose Sumo.
Kalau dipikir-pikir, paman di pasar bilang kalau tahun
ini panen mentimun sedang melimpah.
Pasti para Kappa itu pun sudah punya stok mentimun yang
cukup.
"Kalau mentimun mentah tidak mempan... kalau begitu,
bagaimana dengan masakan—"
Kurumi mengeluarkan bahan-bahan lain.
Ada rumput laut kering yang dibeli di pasar Nasagaki,
nasi yang merupakan makanan pokok Negeri Yamato, lalu... cuka?
Apa
yang sebenarnya mau dia buat?
Melihat
Kurumi yang tiba-tiba mulai memasak, para Kappa itu pun memasang wajah
kebingungan.
'Gimana nih? Benda apa itu?'
'Padahal aku cuma ingin main Sumo.'
'Hm, sepertinya mereka tidak berniat kabur, kita lihat
saja dulu?'
Kira-kira begitulah percakapan yang mereka lakukan...
setidaknya itu yang kurasakan.
Dan kemudian—
"Sudah jadi! Ini dia Kappa-maki!"
Masakannya jadi dalam sekejap.
Itu hanyalah hidangan sederhana berupa irisan mentimun
yang digulung dengan rumput laut dan nasi cuka, lalu dipotong seukuran satu
suapan.
Untuk ukuran Kurumi, masakannya sangat simpel.
Bicara soal nasi gulung, di Nasagaki juga dijual Tekka-maki
yang berisi potongan ikan mentah berwarna merah.
Jangan-jangan para Kappa yang tadinya mengharapkan
hidangan mewah malah jadi kecewa?
Saat aku menoleh ke arah mereka...
'W-oi, kalian lihat gerakan gadis itu tadi?'
'Enggak, sama sekali tidak terlihat. Apa-apaan itu? Kalau
dia menyerang dengan gerakan secepat itu, kita bisa tamat, kan?'
'Nasinya berubah jadi nasi cuka dalam sekejap—aku pernah
lihat manusia memasak dari jauh, tapi biasanya butuh waktu lama, lho.'
'Nggak paham, manusia benar-benar nggak masuk akal.'
Mereka tampak sangat kebingungan, seolah sedang
membicarakan hal itu.
Ah, begitu ya.
Hanya kami saja yang sudah terbiasa melihatnya, tapi
bagi monster pun, kecepatan masak Kuruto itu dianggap abnormal.
"Yuki-san, tolong berikan ini—"
Kurumi meletakkan Kappa-maki di atas piring putih dan
menyerahkannya padaku.
"Oke—"
Sambil tetap waspada, aku meletakkan hidangan itu di
depan para Kappa.
Aku sudah bisa membayangkan alur setelah ini.
Pasti para Kappa itu akan memakan Kappa-maki-nya lalu
memuji kelezatannya setinggi langit. Dan sejak saat itu, gulungan mentimun ini
akan dikenal dengan nama Kappa-maki—haha.
Namun saat aku sedang membayangkan itu, para Kappa justru
mulai ribut setelah melihat piring putihnya, bukan makanannya.
Kalau dipikir-pikir, di atas kepala para Kappa juga ada
benda yang mirip piring, ya?
Detik berikutnya, Kappa yang mengambil piring putih itu
melepaskan "piring" dari kepalanya sendiri.
"……Eh? Benda itu bisa dilepas?"
Aku refleks bergumam keheranan.
Tapi Kappa itu tidak menjawab, dan malah meletakkan
piring pemberian Kurumi di atas kepalanya.
Mereka memang memakan Kappa-maki-nya dengan lahap, tapi
kegembiraan mereka terhadap piring itu jauh lebih besar.
'Piring apa ini! Rasanya nyaman sekali!'
'Wah, aku iri melihat kilauannya.'
'Heis, aku juga mau! Berikan piring untukku juga—'
Setelah itu, piring buatan Kurumi menjadi sangat populer.
Karena semua piring yang kami bawa habis, Kurumi sampai
harus membakar piring putih baru menggunakan tanah liat di sekitar sana.
Dan akhirnya—
"Monster yang aneh, ya."
Kuruto berkata sambil membawa kotak penuh berisi
mentimun.
Tak disangka, niat hati ingin memberi makan mentimun,
malah berakhir mendapatkan oleh-oleh mentimun sebanyak ini.
Untuk sementara, sebaiknya aku tidak mendekati tepi
sungai selama berada di Negeri Yamato.
Begitulah yang kupikirkan.



Post a Comment