NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kanchigai no Atelier Meister Volume 5 Side Story

Cerita Sampingan

Sang Kaisar Tua dan Gadis Blasteran


Sejak pertama kali menginjakkan kaki di dunia ini, kehidupanku—Cicci—berada di dasar jurang keputusasaan.

Ibuku adalah manusia, sedangkan ayahku seorang Mazoku. Meski begitu, aku sama sekali tidak tahu seperti apa rupa ayahku.

Dalam tatanan sosial Mazoku tempatku berada, manusia diperlakukan lebih rendah daripada hewan ternak, bahkan hanya dianggap sebagai perkakas.

Meski begitu, konon manusia tidak dijadikan pemuas nafsu karena bersetubuh dengan mereka dianggap sebagai hal yang tabu.

Di tengah situasi tersebut, seorang Mazoku jatuh cinta pada wanita manusia.

Keduanya memupuk cinta secara sembunyi-sembunyi setiap malam, hingga akhirnya lahirlah aku.

Dan itulah awal dari tragedi tersebut.

Karena menyentuh manusia, ayahku dianggap melanggar hukum Mazoku dan dieksekusi. Aku dan ibuku pun diusir dari masyarakat Mazoku.

Dibebaskan dari status budak—kedengarannya memang bagus. Namun, wilayah tepat satu langkah di luar kota tempat tinggal Mazoku disebut sebagai Wilayah Iblis, sarang bagi monster-monster ganas.

Karena tidak mungkin bisa bertahan hidup di sana, ibuku memilih jalan untuk menjadi "perkakas" milik seorang pria Mazoku, seorang pemburu yang mencari nafkah di pinggiran kota.

Kehidupan itu jauh lebih mengerikan daripada saat kami tinggal di kota Mazoku.

Porsi makanan yang diberikan sangat sedikit. Jika hasil buruan tidak memuaskan, sudah sewajarnya kami ditendang dan dipukuli.

Meski begitu, ibuku tetap berusaha membesarkanku.

Waktu berlalu, dan di usiaku yang ketujuh, aku sudah bisa berburu sendirian.

Satu tanduk yang tumbuh di dahiku pun terus berkembang hingga menjadi gagah.

Bagi Mazoku, tanduk adalah simbol kekuatan dan bagian penting untuk mengendalikan Magic Power.

Seiring dengan tumbuhnya tanduk itu, kemampuan berburuku pun semakin mahir.

Pria pemburu itu tampak tidak menyukaiku, tapi karena hasil buruanku memuaskan, dia tidak lagi mengeluh padaku.

Saat itulah—ibuku mengandung seorang anak.

Ayahnya adalah si pria pemburu itu.

Pada malam saat hal itu terungkap, ibuku berdiri di depan tempat tidurku sambil memegang kapak dan berkata.

"Maafkan Ibu, karena tidak bisa melahirkanmu dengan layak."

Suara ibu itu masih terngiang di telingaku sampai sekarang.

Lalu, aku kehilangan kesadaran karena rasa sakit yang luar biasa.

Keesokan paginya saat terbangun, ibuku sudah tiada.

Dia telah memotong lengannya sendiri dengan kapak pembelah kayu.

Dan aku pun telah kehilangan tandukku yang dipatahkan dengan kapak tersebut.

Pria pemburu itu bilang ibu bunuh diri, lalu dia mengusirku dari rumah.

Sebab, karena tandukku patah, aku tidak bisa lagi menggunakan Magic Power dan tidak bisa lagi berburu.

Aku pun berkelana sendirian di dalam hutan.

Mungkin ibu mati sambil membenciku.

Namun, ibu tidak membunuhku.

Apakah karena orang tua tidak tega membunuh anaknya sendiri?

Bukan alasan seperti itu.

Pasti ibu merasa jijik meski hanya untuk mati bersamaku.

Dia tidak sudi jatuh ke neraka bersama-sama.

Jika ibu jatuh ke neraka karena dosa mematahkan tanduk putrinya dan dosa bunuh diri, maka aku akan jatuh ke neraka karena dosa membuat ibu mematahkan tandukku, serta dosa menyebabkannya bunuh diri.

Kalau memang akhirnya harus ke neraka, demi mengabulkan keinginan terakhir ibu, setidaknya aku harus mati di tempat yang sejauh mungkin.

Sambil berpikir begitu, aku terus berjalan tanpa henti.

Secara ajaib aku tidak bertemu dengan monster satu pun.

Aku berjalan terhuyung-huyung di Wilayah Iblis selama lebih dari satu hari penuh.

Namun, justru karena kenyataan tidak selalu berjalan mulus, hal itu disebut keajaiban.

Ya, seekor monster berwujud macan kumbang hitam muncul di hadapanku.

Tapi anehnya, aku malah tersenyum.

"Begitu ya, akhirnya hidupku berakhir di sini."

Hidup yang dimulai dengan keputusasaan dan berakhir dengan keputusasaan. Namun, jika aku bisa mengabulkan sedikit saja keinginan ibu, pasti kematianku pun memiliki arti.

Berpikir demikian, aku kehilangan kesadaran dengan senyuman yang masih tersisa di wajah.

 

Dan tempatku membuka mata bukanlah neraka.

"Sudah bangun?"

Aku berbaring di atas tempat tidur di sebuah ruangan yang luas. Di sana, ada seorang gadis Mazoku.

Sepertinya, nyawaku telah dipungut oleh gadis ini.

"……Kenapa kamu memungutku?"

"Memungut? Bilang dong, 'menolong'."

"Menolong…… Kalau memang mau menolong, coba saja tolong aku. Mana mungkin kamu bisa. Aku ini blasteran Mazoku dan manusia. Apalagi tandukku sudah patah, aku tidak punya kekuatan untuk melawan monster. Kamu bilang mau menolong orang sepertiku? Jangan bercanda! Hidupku sudah berakhir."

Aku hanya melampiaskan amarahku.

Jika pelampiasan ini menyinggung perasaan si Mazoku lalu dia membunuhku, aku tidak keberatan.

Gadis itu bertanya dengan nada tidak senang.

"Berapa umurmu?"

"Tujuh tahun."

"Begitu ya, tujuh tahun. Baru hidup tujuh tahun saja sudah merasa hidupmu berakhir? Kalau mau bicara soal hidup, setidaknya hiduplah selama seratus tahun dulu. Jangan meremehkan hidup. Asal kamu tahu ya, aku ini sudah hidup 1.200 tahun pun masih belum paham sedikit pun apa arti hidup ini."

"Seribu dua ratus tahun!?"

Kalau tidak salah, aku pernah mendengarnya.

Di antara Mazoku, ada yang disebut dengan Empat Raja Iblis.

Salah satunya adalah Raja Iblis yang sudah hidup selama lebih dari seribu tahun dengan wujud gadis kecil—Mazoku yang disebut sebagai Kaisar Tua.

"Begitu…… jadi kamu adalah Kaisar Tua."

"Aku benci sebutan itu. Yah, tapi masih mending daripada dipanggil Kaisar Bocah."

Si Mazoku berkata dengan nada merajuk.

Sosoknya memang benar-benar seperti anak kecil.

Dia terlihat sebaya denganku.

"Lalu, kenapa kamu memungutku? Apa untuk dimanfaatkan sebagai perkakas? Atau jangan-jangan, kamu merasa kasihan padaku?"

"Biasa saja, aku menolongmu cuma karena kebetulan lewat. Tidak ada alasan khusus. Lagipula, kenapa aku harus merasa kasihan padamu? Malah aku yang ingin dikasihani. Tapi aku tidak butuh, sih."

"Kenapa aku harus merasa kasihan pada orang sepertimu—"

"Coba saja pikirkan? Lihat wujudku ini? Kamu tahu tidak betapa susahnya berhenti tumbuh dengan wujud seperti ini? Sampai sekarang aku masih dianggap anak kecil oleh orang yang baru pertama kali bertemu. Terus kalau mau ambil buku di rak, jangankan rak paling atas, rak keempat dari atas saja tanganku tidak sampai."

"Pfftt."

Membayangkan sang Kaisar Tua yang berusaha keras menjangkau rak buku, aku spontan tertawa. Padahal tadi aku merasa sangat putus asa.

"Ini bukan lelucon tahu…… Sialan, aku benar-benar harus protes pada orang yang membuat tubuhku jadi begini. Itu pun kalau dia masih hidup, sih."

Orang yang membuat Kaisar Tua menjadi abadi?

Aku bertanya-tanya apakah orang semacam itu benar-benar ada.

Jika itu kejadian 1.200 tahun yang lalu, kurasa orang itu pastinya sudah mati.

"Cuma mau protes saja?"

"Tentu saja. Aku paham dia tidak punya pilihan lain demi menyelamatkan nyawaku, dan juga aku su…… aku tidak membencinya, kok."

"……Iri sekali. Kamu bisa bilang 'suka' dengan sejujur itu."

"Apa itu sindiran? Lagipula aku tidak bilang 'suka'!"

Melihatnya yang menatapku dengan mata sinis, aku menggelengkan kepala.

"……Aku…… sepertinya sudah tidak bisa lagi mengatakan 'aku sayang ibu' dengan jujur."

"Ibu ya…… Aku pun dengan tubuh seperti ini sudah membuat ayahku susah. Kebetulan aku sedang senggang, kalau mau cerita, aku akan mendengarkan."

Aku mengangguk. Aku memutuskan untuk menceritakan apa yang menimpaku.

Sebab, jika itu adalah Kaisar Tua yang juga memiliki nasib terkutuk namun tetap hidup dengan tegar, mungkin dia tidak akan meremehkanku dengan rasa kasihan, melainkan berempati dari sudut pandang yang sama.

Begitu selesai mendengarkan ceritaku, kata-kata yang keluar darinya sungguh di luar dugaan.

"Ternyata kamu dicintai, ya."

"Dicintai? Sebelah mananya?"

"Kamu tahu alasan kenapa blasteran Mazoku dan manusia dianggap tabu?"

Mendengar pertanyaan itu, aku menggelengkan kepala.

"Magic Power melimpah yang dimiliki Mazoku diberikan melalui tanduk ini. Namun, tubuh blasteran akan menerima beban yang terlalu besar untuk menampungnya. Saat masih kecil mungkin tidak apa-apa, tapi saat mencapai usia sepuluh tahun, Magic Power akan menggerogoti tubuh dan menyebabkan kematian. Ibumu tahu soal itu, makanya dia mematahkan tandukmu."

"Tidak mungkin……"

"Selain itu, ibumu bukan bunuh diri, tapi dibunuh. Pasti setelah mendengar soal kehamilannya, pria Mazoku itu membunuhnya. Melahirkan anak blasteran adalah kejahatan berat di wilayah Raja Iblis, meski kalian tinggal di luar kota."

"Kenapa kamu bisa seyakin itu kalau ibu dibunuh?"

"Apakah ibumu orang yang sangat terampil sampai bisa memotong lengannya sendiri dengan satu tangan menggunakan kapak yang harus dipegang dua tangan? Lagipula, orang tidak akan memotong lengannya sendiri kalau mau bunuh diri, kan? Gunakan logika."

Mendengar itu, aku tersadar.

Karena aku menghubungkan patahnya tandukku dengan kematian ibu, aku menelan mentah-mentah kata-kata si pria pemburu.

"Begitu ya…… ternyata aku dicintai."

Kalimat itu terlepas begitu saja dari mulutku.

"Bagaimana? Hidup ini ternyata tidak seburuk itu, kan? Sayang sekali kalau harus menutup tirai hanya dalam tujuh tahun."

"Benar juga…… Anu, aku minta maaf karena sudah bersikap sangat tidak sopan tadi. Bolehkah aku bekerja di sini? Aku tidak bisa menggunakan Magic Power, tapi aku akan bekerja sekuat tenaga, Kaisar Tua-sama."

"Sudah kubilang, jangan panggil 'Kaisar Tua'!"

Sang Kaisar Tua berkata demikian, lalu dia tersenyum lebar dan menggenggam tanganku.

"Namaku Hildegard. Siapa namamu?"

"Namaku Cicci."

Demikianlah, aku pun menjadi bawahan Hildegard-sama.

Aku telah mulai menulis sendiri naskah kehidupanku.




Previous Chapter | ToC 

0

Post a Comment

close