Epilog
Tanpa kusadari,
aku—Yurishia—terbangun di tempat yang asing.
Apa sebenarnya
yang sudah terjadi?
Lalu, di
sampingku ada Lise—tapi Kuruto, Akuri, dan Hildegard yang seharusnya bersama
kami tidak ada di sini.
"Lise,
sadarlah."
Aku mengguncang
tubuh Lise yang tertidur di sebelahku. Ya, tubuh fisiknya.
Padahal katanya
kalau hanya kesadaran yang dikirim, kami semua akan menjadi seperti hantu.
Namun, aku bisa
merasakan sentuhan tubuh Lise dengan jelas, dan dia pun tidak melayang.
"Ugh... aku
tidak mencium aroma Tuan Kuruto... sebenarnya ini di mana?"
Begitu membuka
mata, Lise langsung menyadari ketidakhadiran Kuruto dan mulai celingukan
sepertiku.
Ini aneh.
Seharusnya kami hanya mengirim kesadaran untuk melihat masa lalu.
Kenapa kami malah
berpindah secara fisik ke tempat asing begini? Apa Hildegard melakukan
kesalahan dalam sihirnya?
Dia bilang ini
pertama kalinya, tapi apa sihirnya malah berubah menjadi sihir teleportasi
biasa?
"Sepertinya
ini adalah sebuah desa di suatu tempat, ya."
"Kelihatannya
begitu."
Lise memastikan
keadaan sekitar, lalu mulai menganalisis hal yang sama denganku.
"Apa mungkin
sihirnya gagal?" tanyanya.
Desa ini terasa
sangat tenang.
Dari kejauhan,
terdengar suara kicauan burung kecil.
Saat kami
sedang sibuk mengamati sekeliling—
"Oh, wajah-wajah yang asing. Apakah kalian
pengelana?"
Seorang paman yang membawa cangkul menyapa kami.
"Ya, benar. Maaf, kalau boleh tahu, ini berada di
negara apa?"
Saat Lise bertanya, paman itu memasang ekspresi heran.
Yah,
wajar saja, orang normal tidak akan bertanya mereka sedang berada di negara
mana.
"Negara?
Tidak, tidak ada negara di sekitar sini."
Bukan negara?
Kalau begitu, apa ini Federasi Kepulauan Koskiet? Tidak, rasanya bukan.
Tanaman yang
tumbuh di sekitar sini lebih mirip vegetasi wilayah selatan.
"Apakah Anda
tidak tahu tentang Kerajaan Homuros atau Kekaisaran Gurmak?"
Lise kembali
melontarkan pertanyaan.
"——Tidak
pernah dengar, tuh."
Paman itu
menjawab setelah melipat tangan dan berpikir sejenak.
Tidak tahu
Kerajaan Homuros maupun Kekaisaran Gurmak?
Tempat ini pasti
pelosok sekali.
Gawat. Kalau
begini, kami tidak bisa kembali ke tempat Kuruto berada.
"Oiya,
sebentar lagi pedagang keliling akan datang. Dia pasti lebih tahu soal dunia luar."
"Mungkin
saja dia tahu soal negara Homuros atau Gurmak yang kalian maksud itu."
"Benarkah!?"
"Itu sangat
membantu. Tolong perkenalkan kami padanya."
Meski
belum pasti, setidaknya ada sedikit titik terang.
"Tunggu
sebentar ya, aku akan mengantar kalian ke desa setelah selesai mencangkul tanah
ini."
Ucap
paman itu sambil menunjuk lahan tandus di hadapan kami.
Mencangkul
di sini?
Lahan
seluas ini, butuh berapa bulan untuk menyelesaikannya?
Lagi
pula, mencangkul tanah seperti ini tidak akan menghasilkan tanaman yang bagus.
"Anu, jika
Anda sibuk, beri tahu saja lokasinya pada kami—"
"Tenang,
ini akan selesai sebentar lagi."
Setelah
berkata begitu, si paman mengayunkan cangkulnya.
Lalu, aku
melihat pemandangan yang tak masuk akal.
Singkatnya,
pekerjaan mencangkul lahan tandus luas yang kukira butuh waktu berbulan-bulan
itu selesai hanya dalam satu menit.
Padahal
dia cuma mencangkul seperti biasa.
"A-Anu,
boleh saya bertanya? Apa yang
baru saja Anda lakukan?"
"Sepertinya
hanya dengan satu ayunan cangkul, tanah dalam radius puluhan meter langsung
tergali."
"Hm? Ah,
melihat pakaian bagusmu, sepertinya Nona baru pertama kali melihat orang
mencangkul ladang, ya."
"Dengar ya?
Di dalam tanah itu ada yang namanya aliran nadi bumi."
"Begitu
cangkul dihantamkan sambil mengalirkan mana, nadi buminya akan terkejut dan
tanahnya akan mengembang dengan pas. Ini pengetahuan umum bagi petani,
lho."
"Be...
benarkah begitu?"
Lise menatapku
seolah meminta bantuan, tapi aku hanya menggelengkan kepala dalam diam.
Pengetahuan umum
apa?
Aku tidak pernah
dengar hal semacam itu.
Namun, justru
karena tindakan di luar nalar inilah, aku mulai menyadari sesuatu. Aku
memperhatikan pemandangan di sekitar sekali lagi.
Gunung di
kejauhan, perbukitan di depan mata, serta kolam di dekat sini. Semuanya sama persis dengan yang
ada di Desa Sage Pedang.
"Anu,
bolehkah aku tahu nama desa ini?"
"Apa, kalian
datang ke sini tanpa tahu nama desanya? Pengelana yang aneh."
Petani itu
tertawa dan memberitahu kami nama desanya.
"Ini adalah
Desa Haste."
...Sepertinya,
yang seharusnya hanya mengirim kesadaran ke masa lalu, entah bagaimana malah
membuatku dan Lise terlempar ke masa lalu bersama tubuh kami.
Masa sih...
sungguh?
Apa perkataan si Sage
Agung itu benar-benar menjadi kenyataan?
Aku teringat
percakapanku dengan Sage Agung di dalam menara misterius kemarin.
"Aku jadi
muridmu? Aku bahkan tidak tahu apa-apa tentangmu. Mana mungkin aku langsung
menerimanya begitu saja?"
"Tidak,
sudah takdirnya kau akan menjadi muridku. Karena kau sudah menjadi muridku
sejak lebih dari seribu dua ratus tahun yang lalu."
"Semua demi
kelahiran Kuruto Rockhans."
◆◇◆
"Terdeteksi
distorsi ruang dan waktu di titik 1,34 kilometer di depan. Tampaknya telah
terjadi perjalanan lintas waktu."
Elena—golem
pelayan berambut merah muda yang mengenakan seragam maid yang sama sekali tidak
cocok dengan alam liar ini—tiba-tiba mengatakan hal tersebut.
Ini pasti
bukti bahwa Yurishia dan Liselotte telah terlempar ke masa lalu oleh Roh Agung
Waktu.
"Lintas
waktu? Elena, apa maksudnya itu?"
"Artinya
seseorang telah melompat ke masa lalu."
"Mana
mungkin manusia bisa melompat ke masa lalu."
Tentu saja, bagi
pria berambut merah—Golnova—yang tidak tahu situasinya, hal itu terdengar
seperti lelucon.
Golnova kemudian
memandang ke arah titik 1,34 kilometer tersebut dari atas bukit.
"Inilah
kepulangan sang Golnova Agung ke Desa Sage Pedang!"
Melihat Golnova
yang menatap desa kelahirannya seperti itu, aku menyeringai dari atas pohon
terdekat.
"Dengan ini, semua pemerannya sudah berkumpul, Sage
Agung."
Aku mengencangkan ikat kepalaku, lalu beranjak pergi dari
sana dengan tenang.
Akhirnya, saatnya bagiku untuk tampil di panggung utama.



Post a Comment