NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kanchigai no Atelier Meister Volume 6 Epilog

Epilog


Tanpa kusadari, aku—Yurishia—terbangun di tempat yang asing.

Apa sebenarnya yang sudah terjadi?

Lalu, di sampingku ada Lise—tapi Kuruto, Akuri, dan Hildegard yang seharusnya bersama kami tidak ada di sini.

"Lise, sadarlah."

Aku mengguncang tubuh Lise yang tertidur di sebelahku. Ya, tubuh fisiknya.

Padahal katanya kalau hanya kesadaran yang dikirim, kami semua akan menjadi seperti hantu.

Namun, aku bisa merasakan sentuhan tubuh Lise dengan jelas, dan dia pun tidak melayang.

"Ugh... aku tidak mencium aroma Tuan Kuruto... sebenarnya ini di mana?"

Begitu membuka mata, Lise langsung menyadari ketidakhadiran Kuruto dan mulai celingukan sepertiku.

Ini aneh. Seharusnya kami hanya mengirim kesadaran untuk melihat masa lalu.

Kenapa kami malah berpindah secara fisik ke tempat asing begini? Apa Hildegard melakukan kesalahan dalam sihirnya?

Dia bilang ini pertama kalinya, tapi apa sihirnya malah berubah menjadi sihir teleportasi biasa?

"Sepertinya ini adalah sebuah desa di suatu tempat, ya."

"Kelihatannya begitu."

Lise memastikan keadaan sekitar, lalu mulai menganalisis hal yang sama denganku.

"Apa mungkin sihirnya gagal?" tanyanya.

Desa ini terasa sangat tenang.

Dari kejauhan, terdengar suara kicauan burung kecil.

Saat kami sedang sibuk mengamati sekeliling—

"Oh, wajah-wajah yang asing. Apakah kalian pengelana?"

Seorang paman yang membawa cangkul menyapa kami.

"Ya, benar. Maaf, kalau boleh tahu, ini berada di negara apa?"

Saat Lise bertanya, paman itu memasang ekspresi heran.

Yah, wajar saja, orang normal tidak akan bertanya mereka sedang berada di negara mana.

"Negara? Tidak, tidak ada negara di sekitar sini."

Bukan negara? Kalau begitu, apa ini Federasi Kepulauan Koskiet? Tidak, rasanya bukan.

Tanaman yang tumbuh di sekitar sini lebih mirip vegetasi wilayah selatan.

"Apakah Anda tidak tahu tentang Kerajaan Homuros atau Kekaisaran Gurmak?"

Lise kembali melontarkan pertanyaan.

"——Tidak pernah dengar, tuh."

Paman itu menjawab setelah melipat tangan dan berpikir sejenak.

Tidak tahu Kerajaan Homuros maupun Kekaisaran Gurmak?

Tempat ini pasti pelosok sekali.

Gawat. Kalau begini, kami tidak bisa kembali ke tempat Kuruto berada.

"Oiya, sebentar lagi pedagang keliling akan datang. Dia pasti lebih tahu soal dunia luar."

"Mungkin saja dia tahu soal negara Homuros atau Gurmak yang kalian maksud itu."

"Benarkah!?"

"Itu sangat membantu. Tolong perkenalkan kami padanya."

Meski belum pasti, setidaknya ada sedikit titik terang.

"Tunggu sebentar ya, aku akan mengantar kalian ke desa setelah selesai mencangkul tanah ini."

Ucap paman itu sambil menunjuk lahan tandus di hadapan kami.

Mencangkul di sini?

Lahan seluas ini, butuh berapa bulan untuk menyelesaikannya?

Lagi pula, mencangkul tanah seperti ini tidak akan menghasilkan tanaman yang bagus.

"Anu, jika Anda sibuk, beri tahu saja lokasinya pada kami—"

"Tenang, ini akan selesai sebentar lagi."

Setelah berkata begitu, si paman mengayunkan cangkulnya.

Lalu, aku melihat pemandangan yang tak masuk akal.

Singkatnya, pekerjaan mencangkul lahan tandus luas yang kukira butuh waktu berbulan-bulan itu selesai hanya dalam satu menit.

Padahal dia cuma mencangkul seperti biasa.

"A-Anu, boleh saya bertanya? Apa yang baru saja Anda lakukan?"

"Sepertinya hanya dengan satu ayunan cangkul, tanah dalam radius puluhan meter langsung tergali."

"Hm? Ah, melihat pakaian bagusmu, sepertinya Nona baru pertama kali melihat orang mencangkul ladang, ya."

"Dengar ya? Di dalam tanah itu ada yang namanya aliran nadi bumi."

"Begitu cangkul dihantamkan sambil mengalirkan mana, nadi buminya akan terkejut dan tanahnya akan mengembang dengan pas. Ini pengetahuan umum bagi petani, lho."

"Be... benarkah begitu?"

Lise menatapku seolah meminta bantuan, tapi aku hanya menggelengkan kepala dalam diam.

Pengetahuan umum apa?

Aku tidak pernah dengar hal semacam itu.

Namun, justru karena tindakan di luar nalar inilah, aku mulai menyadari sesuatu. Aku memperhatikan pemandangan di sekitar sekali lagi.

Gunung di kejauhan, perbukitan di depan mata, serta kolam di dekat sini. Semuanya sama persis dengan yang ada di Desa Sage Pedang.

"Anu, bolehkah aku tahu nama desa ini?"

"Apa, kalian datang ke sini tanpa tahu nama desanya? Pengelana yang aneh."

Petani itu tertawa dan memberitahu kami nama desanya.

"Ini adalah Desa Haste."

...Sepertinya, yang seharusnya hanya mengirim kesadaran ke masa lalu, entah bagaimana malah membuatku dan Lise terlempar ke masa lalu bersama tubuh kami.

Masa sih... sungguh?

Apa perkataan si Sage Agung itu benar-benar menjadi kenyataan?

Aku teringat percakapanku dengan Sage Agung di dalam menara misterius kemarin.

"Aku jadi muridmu? Aku bahkan tidak tahu apa-apa tentangmu. Mana mungkin aku langsung menerimanya begitu saja?"

"Tidak, sudah takdirnya kau akan menjadi muridku. Karena kau sudah menjadi muridku sejak lebih dari seribu dua ratus tahun yang lalu."

"Semua demi kelahiran Kuruto Rockhans."

◆◇◆

"Terdeteksi distorsi ruang dan waktu di titik 1,34 kilometer di depan. Tampaknya telah terjadi perjalanan lintas waktu."

Elena—golem pelayan berambut merah muda yang mengenakan seragam maid yang sama sekali tidak cocok dengan alam liar ini—tiba-tiba mengatakan hal tersebut.

Ini pasti bukti bahwa Yurishia dan Liselotte telah terlempar ke masa lalu oleh Roh Agung Waktu.

"Lintas waktu? Elena, apa maksudnya itu?"

"Artinya seseorang telah melompat ke masa lalu."

"Mana mungkin manusia bisa melompat ke masa lalu."

Tentu saja, bagi pria berambut merah—Golnova—yang tidak tahu situasinya, hal itu terdengar seperti lelucon.

Golnova kemudian memandang ke arah titik 1,34 kilometer tersebut dari atas bukit.

"Inilah kepulangan sang Golnova Agung ke Desa Sage Pedang!"

Melihat Golnova yang menatap desa kelahirannya seperti itu, aku menyeringai dari atas pohon terdekat.

"Dengan ini, semua pemerannya sudah berkumpul, Sage Agung."

Aku mengencangkan ikat kepalaku, lalu beranjak pergi dari sana dengan tenang.

Akhirnya, saatnya bagiku untuk tampil di panggung utama.



Previous Chapter | ToC 

0

Post a Comment

close