Chapter 2
Taman Bermain Noah dan Pedang
Suci Excalibur
Satu
kelompok yang terdiri dari lima puluh orang muncul dengan menunggangi naga
darat yang disebut Earth Run.
Naga ini seukuran kuda dan bisa dikendarai—meskipun
secara teknis mereka bukan naga, melainkan monster jenis kadal.
Mereka disebut Dragon Knight, pasukan yang berada
langsung di bawah komando Kaisar Grumak.
Di antara mereka, sosok yang menunggangi naga darat
paling besar adalah sang Kaisar Grumak sendiri, Hedivia von Grumak.
"Sudah lama tidak berjumpa, Yang Mulia Kaisar.
Terima kasih sudah menempuh perjalanan jauh ke sini."
Aku—Liselotte—sedang menyambut Kaisar Grumak atas
perintah Ayah. Tentu saja, di belakangku ada para Phantom yang menyamar sebagai
pengawal.
"Hmm? Oh, ternyata Liselotte. Kamu tumbuh menjadi
cantik mirip Francoise, ya. Kamu boleh memanggilku kakek seperti dulu,
tahu?"
"Kalau begitu, bolehkah saya memanggil Anda
Kakek?"
"Umu, tentu saja."
Kaisar Grumak—Kakek—melepaskan helm hitam yang menutupi
hingga ke matanya.
Meski rambut putihnya bertambah, sosoknya tetap terlihat
gagah seperti terakhir kali kami bertemu. Sulit dipercaya usianya sudah lebih
dari enam puluh tahun.
"Omong-omong, pria di sebelahmu ini
jangan-jangan—?"
"Beliau
adalah Rugol-dono, kepala suku dari Desa Sword Saint."
"Terima kasih atas perkenalannya, nama saya
Rugol."
Di sampingku, Rugol-san menyebutkan namanya sambil tetap
berlutut.
Seketika, mata Kakek terbelalak, lalu ia tersenyum lebih
lebar daripada saat menyadari kehadiranku.
"Oh, dugaanku benar. Silakan angkat kepalamu.
Meskipun kita sempat berpisah jalan, klanmu adalah penerus kehendak Leluhur
kami. Jika aku membiarkan orang sepertimu berlutut, aku tidak akan bisa
berhadapan dengan Sang Leluhur."
Leluhur yang dimaksud Kakek adalah Arthur-sama, sosok
yang membangun fondasi Kekaisaran Grumak.
Konon, sekitar 1.200 tahun yang lalu, Arthur-sama bertemu
dengan Kuruto-sama dan penduduk Desa Haste, lalu melindungi desa dari ancaman
Goblin. Sebagai tanda terima kasih, ia dianugerahi Excalibur.
Pedang itu adalah mahakarya hasil tempaan serius pandai
besi Desa Haste, meski dilakukan sebagai hobi semata.
Ketajaman dan performanya pasti jauh melampaui Kocho
yang gagal atau Sekka yang berhasil ditempa oleh Kuruto-sama yang bukan
seorang ahli.
Arthur-sama kemudian menetapkan salah satu dari dua
anaknya sebagai Kaisar berikutnya, dan mengutus anak satunya lagi untuk menjaga
bekas situs Desa Haste di wilayah iblis.
Tanah yang kemungkinan besar penduduk Desa Haste akan
kembali suatu hari nanti.
Keturunan langsung dari kedua anak itulah Kakek dan
Rugol-san.
Artinya, aku pun termasuk garis keturunan jauh dari
orang-orang yang melindungi Kuruto-sama.
...Meskipun itu sebuah kehormatan, rasanya menyebalkan
mengetahui aku punya hubungan darah dengan Golnova, anak bodohnya Rugol-san
itu.
Tapi, melihat para Dragon Knight tidak mengatakan apa-apa
soal Rugol-san, apakah mereka sudah tahu hubungan ini?
Atau mereka hanya pandai membaca situasi?
Yah, itu juga berlaku bagi para Phantom yang berjaga di
belakangku.
"Ngomong-ngomong, Liselotte. Aku sudah melihatnya
dari jauh, tapi apakah itu kapal yang terbang di langit?"
Setelah
pembicaraan dengan Rugol-san selesai, topik beralih ke Airship.
"Benar,
itu adalah penemuan terbesar dari Atelier Meister Bonbor, Airship.
Karena metode pembuatannya tidak dirahasiakan, seharusnya informasi itu sudah
sampai ke Kekaisaran."
Metode
pembuatan Airship memang sudah tersebar ke banyak negara.
Sebab,
Airship adalah senjata baru yang belum pernah ada sebelumnya, yang disebut
kekuatan tempur udara.
Jika
hanya negara tertentu yang memilikinya, itu bisa memicu api peperangan. Meski
para pemimpin negara menyatakan anti-perang, pihak militer tidak akan tinggal
diam.
Oleh
karena itu, segera setelah Airship diciptakan, petinggi Federasi Kota Kepulauan
Coskeet dan Kerajaan Homuros berdiskusi secara rahasia dan memutuskan untuk
mempublikasikan informasinya.
Yah,
meski butuh waktu sampai negara-negara lain benar-benar bisa membangun Airship
sendiri.
"Bukankah
itu penemuan dari Atelier Meister Kuruto Rockhans?"
Kakek
bertanya dengan tatapan mata tajam yang berbeda dari sebelumnya.
"Benar,
itu tidak salah."
Aku
mengunci ekspresiku dengan senyum dan menjawabnya dengan tenang.
"Humu,
seperti yang diharapkan dari cucuku. Keberanianmu patut dipuji—tapi, rasanya
agak sepi jika kamu menghadapiku dengan wujud palsu."
"——!"
Jangan-jangan,
beliau menyadarinya?
Aku
sudah menduga Kakek pasti akan menyelidiki soal Kuruto-sama. Karena itu, aku
menggunakan Kocho untuk menciptakan ilusi diriku agar ekspresiku tidak
bisa dibaca. Namun, Kakek dengan mudah menembus ilusi yang bahkan iblis tingkat
tinggi pun tidak bisa menyadarinya.
"Yah, bagaimanapun saya adalah seorang putri
kerajaan. Saya akan sangat terbantu jika Anda mau menutup mata demi
perlindungan diri saya."
"Umu, lagipula aku sendiri membawa pedang."
Aku mengalihkan pandangan ke pedang yang tersampir di
pinggang Kakek.
Jangan-jangan, tidak, aura ini pastilah Pedang Suci
Excalibur!
Padahal tidak sedang dalam perang, kenapa beliau membawa
benda seperti itu?
Seharusnya pedang itu hanya dimunculkan ke publik saat
upacara penobatan. Bahkan bagi seorang Kaisar sekalipun, pedang itu tidak boleh
dibawa-bawa dengan sembarangan.
Untung saja aku menggunakan ilusi Kocho.
Jika ini adalah wujud asliku, aku pasti sudah menunjukkan
ekspresi yang sangat tidak pantas bagi seorang putri.
"Kenapa
Kakek membawa pedang itu?"
"Ini
wasiat dari Francoise."
"Wasiat
Ibu Francoise?"
"Umu.
Ia bilang, jika suatu saat aku pergi ke tempat ini, aku harus membawa
Excalibur—begitu katanya. Aku sendiri tidak tahu alasannya."
Ibu
Francoise mengatakan hal seperti itu?
Pegunungan
Sheen berada di perbatasan Kerajaan Homuros dan Kekaisaran Grumak, tapi
sebagian besar adalah wilayah Homuros dan tidak ada jalan raya. Karena
itu, meski mengunjungi Kerajaan Homuros, seharusnya beliau tidak akan melewati
tempat ini.
Kenapa Ibu tahu bahwa Kakek akan mengunjungi tempat ini?
Kemungkinannya adalah ini ada hubungannya dengan Sang
Sage Agung, karena Ibu Francoise konon adalah salah satu muridnya.
Tapi jika benar begitu, muncul pertanyaan lain.
Apa sebenarnya alasan Excalibur ini dibutuhkan?
Kuharap ini bukan sesuatu yang membahayakan Kuruto-sama.
Namun jika Sang Sage Agung sudah terlibat, kemampuanku sangat terbatas.
Aku harus mendiskusikan hal ini dengan Yuri-san dan
menyiapkan langkah antisipasi.
Setelah mengantar Kakek ke kediaman untuk rombongan
Kekaisaran Grumak dan menyelesaikan tugasku, aku pergi ke pondok peristirahatan
Kuruto-sama.
Di sana, ternyata Yuri-san juga ada.
"Yuri-san, maaf mengganggu saat kamu sedang
meneteskan teh dari mulutmu, tapi ada yang ingin kubicarakan—"
Aku memanggilnya, tapi aku sadar itu sia-sia.
Sepertinya dia membeku karena terlalu terkejut.
Yah, jika dia sampai sekaget itu, pasti berhubungan
dengan Kuruto-sama. Tapi apa sebenarnya yang membuatnya terkejut sampai seperti
itu?
Padahal kalau bersama Kuruto-sama, seharusnya kita sudah
terbiasa dengan hal-hal di luar nalar.
Aku melihat ke arah pandangannya, lalu menghela napas.
Ah, ya, kristal sihir—dan ukurannya sangat raksasa, ya.
Yah, karena ini Kuruto-sama, hal seperti ini sih—pikirku,
sampai aku menyadarinya.
Ada seorang gadis yang belum pernah kulihat sebelumnya
sedang tertidur di dalam kristal sihir itu.
Gadis berambut cokelat itu mengenakan pakaian yang mirip
dengan seragam biarawati Gereja Polan, dengan dominasi warna merah dan putih.
"Ah, Lise-san! Apa pekerjaan Anda sudah
selesai?"
Kuruto-sama muncul dari ruangan sebelah membawa
handuk—mungkin untuk Yuri-san yang menumpahkan tehnya—dan menyapaku. Tapi
pandanganku tidak bisa lepas dari gadis itu.
"Kuruto-sama—apakah gadis ini... buatan Anda?"
"Iya,
saya yang membawanya ke sini."
"—! Kuruto-sama, padahal sudah ada aku, sejak kapan
Anda menghamili anak kedua!?"
"Bukan begitu! Kuruto mana bisa hamil!"
Yuri-san langsung "bangkit" kembali demi
melontarkan protes.
◆◇◆
Pemeriksaan kristal sihir tempat gadis itu tertidur
diserahkan kepada Mimiko-san dan Yuna-san.
Aku—Kuruto—pergi kembali ke bagian dalam gua bersama Yurishia-san
dan Lise-san.
Terutama untuk meluruskan kesalahpahaman Lise-san.
Karena Yurishia-san adalah tokoh penting yang akan
menghadiri pertemuan perdamaian, ada ksatria yang mendampinginya sebagai
pengawal, tapi kami meminta mereka menunggu di gua.
Mimiko-san mewanti-wanti agar bagian dalam ini tidak
dilihat oleh orang dari negara lain.
Yurishia-san secara teknis terdaftar di Federasi Kota
Kepulauan Coskeet, tapi itu sudah bukan masalah lagi.
Mungkin Mimiko-san memang sudah sangat mempercayai Yurishia-san
dari lubuk hatinya.
Tadi aku terlalu terdistraksi oleh kristal sihir, tapi
bagian dalam gua ini sangat berbeda dengan reruntuhan sebelumnya. Berbagai
macam bunga mekar dengan indahnya.
Karena jenis bunganya tidak pernah kulihat di Pegunungan
Sheen, kemungkinan besar orang yang membangun reruntuhan ini menanamnya di masa
lalu yang sangat jauh.
Yang mengejutkan adalah bunga-bunga ini adalah bunga
biasa.
Awalnya aku mengira bunga di sini adalah bunga spesial
yang diberi obat agar tidak pernah layu dan mekar selamanya.
Seperti saat aku tidak sengaja membuat Hildegard-chan
menjadi abadi, kupikir orang kuno menanam bunga yang tidak akan pernah hancur.
Namun, ternyata salah.
Jika melihat tanahnya, sepertinya ada empat jenis bunga
yang ditanam di sini. Mereka mekar dan layu secara bergantian dalam siklus
tertentu.
Sulit dibayangkan betapa sulitnya mengatur lingkungan
agar rotasi itu terus berlanjut selama ribuan tahun tanpa campur tangan
manusia.
Aku benar-benar kagum dengan tingginya tingkat
teknologi orang yang membangun reruntuhan ini.
Lalu, di sekitar taman bunga itu diletakkan banyak
kristal sihir. Sama seperti gadis tadi, berbagai makhluk hidup disegel di
dalamnya.
"Apakah ini anjing? Atau kucing? Sepertinya
rasnya agak berbeda."
Lise-san bertanya sambil melihat makhluk seukuran
anjing sedang di dalam kristal sihir.
"Saya juga tidak terlalu ahli soal biologi, tapi
mungkin ini nenek moyang anjing dan kucing. Sepertinya mereka disegel dan
tertidur sejak masa yang sangat lama."
"Ada tikus, lalu ini kuda? Ular, katak,
ikan..."
"Meskipun tidak mencakup semua makhluk hidup...
jumlahnya mungkin mencapai ribuan jenis, ya? Ada juga yang terlihat seperti
benih tanaman."
"Bahkan ada Beastman dan Elf..."
Sama seperti gadis tadi, di dalamnya juga ada anak-anak
Beastman dan Elf.
"Kuruto, tempat apa ini sebenarnya?"
Atas pertanyaan Yurishia-san, aku menjelaskan sambil
membaca pamflet panduan pabrik (Bagian Kedua) yang ada di ruangan itu.
"Ini
adalah ruangan bernama 'Noah's Garden' (Taman Bermain Noah). Dibuat oleh
seorang ahli biologi bernama Noah untuk menyimpan data kehidupan dari Monster
Terlarang yang mengancam dunia. Sepertinya makhluk-makhluk ini disegel dalam
keadaan hidup di dalam kristal sihir."
"Monster Terlarang... jadi benar-benar teknologi
orang kuno, ya. Lalu, apakah mereka masih hidup?"
"Iya, mereka masih hidup."
Bahkan aku pun bisa merasakannya.
Semua hewan dan tumbuhan yang disegel di sini belum
mati.
Tadi aku menyebut mereka tertidur, tapi sebenarnya
bukan tertidur biasa, melainkan waktu mereka dihentikan. Karena itu,
mereka tidak bermimpi dan kesadaran mereka benar-benar hilang.
"Apakah Kuruto-sama bisa melakukan hal seperti
ini?"
"Tidak mungkin. Mulai dari alat transportasi antar
dimensi hingga peradaban Laplace—orang-orang kuno benar-benar luar biasa."
Aku bisa membuat kondisi serupa dengan memberikan obat
tidur terus-menerus selama seratus tahun setelah membuat seseorang menjadi
abadi.
Tapi, jika dilakukan berkali-kali pasti akan membebani
tubuh, dan tidak ada cara untuk melindungi diri dari musuh luar. Saat tertidur,
seseorang pasti akan menjadi tidak berdaya.
Dalam hal itu, kristal sihir ini berbeda dari kristal
biasa.
Sepertinya tidak akan mudah hancur. Tadi aku mencoba
memukul kristal berisi serangga dengan palu yang ada di pabrik, tapi tidak ada
satu goresan pun yang berbekas.
Kristal sihir ini benar-benar tidak bisa dihancurkan.
Itu bukan karena kristalnya sangat keras atau alasan
fisik lainnya.
Sebagai hasil dari pembekuan waktu, terjadi distorsi
dimensi di bagian dalam dan luar kristal sihir, sehingga intervensi dari luar
menjadi mustahil.
"Prinsip kristal sihir yang tidak bisa dihancurkan
ini mirip dengan dunia ini sendiri, ya."
"Dunia ini—ah, benar juga. Orang kuno membuang dunia
lama dan menciptakan dimensi lain—dunia kita sekarang—sebagai cara menyegel
Monster Terlarang. Pemutusan dimensi itulah yang memungkinkan penyegelan
monster tersebut."
Yurishia-san mengangguk mendengar perkataanku, lalu Lise-san
bertanya.
"Artinya, kristal sihir ini bukan sekadar kristal
sihir biasa, melainkan semacam formula sihir yang menciptakan dimensi
lain?"
"Iya. Yah, lebih tepatnya bukan dimensi, tapi
ruang-waktu... eh, tunggu dulu?"
Jika ini adalah pemutusan ruang-waktu, mungkin dengan
kekuatan Akuri, kita bisa mengintervensi batas tersebut.
Sebab, menurut cerita Yurishia-san dan Lise-san dari
Paman Urano di masa lalu, kemampuan teleportasi Akuri memiliki kekuatan untuk
berpindah ruang-waktu.
"Loh?"
"Ada apa, Lise-san?"
"Tidak, aku hanya merasa aneh. Padahal ada begitu
banyak jenis hewan dan tumbuhan, tapi tidak ada satu pun monster seperti Goblin
atau Orc, ya? Begitu juga dengan ras iblis..."
Benar juga, tidak ada satu pun makhluk yang disebut
monster atau ras iblis.
Bukan hanya itu, benih tanaman praktis seperti Trent
pun tidak ada.
"Apakah Noah-san sengaja tidak menyisakan mereka
karena membenci monster?"
"Tapi hewan buas selain monster tetap ada. Lagipula,
jika mereka benci monster, bukankah aneh jika mereka membangun Dungeon Core
yang justru menciptakan monster?"
"Atau sebaliknya, karena mereka punya Dungeon
Core yang bisa menciptakan monster, mereka merasa tidak perlu menyisakan
monster di sini?"
Hmm, sepertinya tidak akan ada jawaban meskipun aku terus
memikirkannya di sini.
Setidaknya, andai aku bisa bicara dengan seseorang
yang tertidur di dalam kristal sihir itu.
Akhirnya, tanpa mencapai kesimpulan, kami memutuskan
untuk keluar dari reruntuhan.
"Pokoknya, aku lega karena tahu dia bukan anak
rahasia Kuruto-sama."
"Mana mungkin aku punya anak rahasia. Pasangan saja
tidak punya."
"Aduh, kalau aku sih selalu terbuka kapan saja, lho.
Sisi kasur di sebelahku selalu kosong buatmu."
Lise-san benar-benar suka bercanda seperti itu.
Lalu saat kami keluar dari gua, Golnova-san sudah ada di
sana.
Begitu melihat wajahku, Golnova-san mendecak dan angkat
bicara.
"...Pesan dari Mimiko, Penyihir Istana Kursi Ketiga.
Paus Polan belum datang, tapi pertemuan perdamaian akan dimulai sesuai jadwal. Lise
dan Yurishia diminta segera hadir di ruang rapat."
Bukan hanya Yurishia-san, Lise-san juga harus hadir?
"Loh? Kuruto-sama tidak ikut hadir?"
"Kali ini hanya urusan politik yang membosankan.
Katanya tidak ada gunanya Kuruto ikut. Si bodoh ini harus menyiapkan makan
malam."
"Apakah Mimiko benar-benar mengatakannya? Jika kamu
hanya ingin mengganggu Kuruto karena kesal tidak bisa jadi kepala suku, aku
tidak akan tinggal diam."
Yurishia-san
menatap tajam, membuat Golnova-san mendengus.
"Mana mungkin aku melakukan hal memalukan seperti
itu."
Ia lalu menyerahkan surat instruksi kepada Yurishia-san.
Di sana tertulis tulisan tangan Mimiko-san yang isinya
persis seperti yang dikatakan Golnova-san tadi.
Akhirnya kami berpisah di sana. Aku pergi bersama
Golnova-san untuk mencari bahan makanan demi menyiapkan makan malam.
Meskipun di Airship ada cukup persediaan makanan, katanya
di sekitar sini ada jenis babi yang sangat lezat bernama Great Pig. Kami
bermaksud mencari dagingnya.
Sepertinya Golnova-san tahu di mana Great Pig
berada—katanya ia pernah mengelilingi gunung ini saat mencari desaku dulu—aku
pun mengikuti di belakangnya.
Karena sudah lewat seribu tahun, topografi gunung ini
sudah banyak berubah. Aku tidak mengenali daerah sekitarnya.
"Ngomong-ngomong, Golnova-san menemukan Elena-tan di
gudang Paman Urano, ya? Meskipun bangunan desa sudah hilang, syukurlah gudang
yang agak jauh dari desa itu selamat."
"............"
"Pertemuan pertama kita juga di kaki gunung ini, ya.
Saat itu Golnova-san melindungiku dari Goblin, kamu benar-benar keren
sekali."
"...Kur, diamlah sedikit."
"............Baik."
Aku kena tegur Golnova-san.
Karena sudah lama tidak berjalan berdua saja, aku jadi
terlalu bersemangat.
Golnova-san sesekali tampak memperhatikan kondisiku yang
ada di belakangnya, tapi ia tidak pernah menoleh dan terus berjalan dalam diam.
Aku ingin mengajaknya bicara, tapi akhirnya waktu berlalu
tanpa ada percakapan.
Lalu—
"Kur, ada yang ingin kau katakan padaku?"
"Ah... itu, aku penasaran Golnova-san melakukan apa
saja selama setengah tahun ini."
Kudengar setelah perang sebelumnya, Golnova-san melarikan
diri dari Desa Sword Saint karena merasa tidak ada gunanya tinggal di sana jika
tidak bisa jadi kepala suku.
Tapi baru-baru ini ia kembali ke desa.
Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi kudengar sejak
kembali ia bekerja keras melakukan pekerjaan kasar dan perlahan mulai
mendapatkan kepercayaan dari Rugol-san.
"Bukan apa-apa, aku ini kan Petualang. Aku hanya
bekerja sebagai Petualang. Karena namaku sudah tercemar di negara ini, aku
pergi ke Kekaisaran Grumak."
"Begitu ya!"
Meski terkejut, hatiku dipenuhi rasa senang.
Meskipun kelompok "Dragon's Flame" sudah bisa
dibilang bubar, aku lega mendengar Golnova-san masih aktif sebagai Petualang.
"Nama kelompoknya 'Suigetsu'. Pernah dengar?"
"Iya! Itu klan petualang S-Rank di Kekaisaran
Grumak yang anggotanya lebih dari lima puluh orang, kan!"
"Benar. Saat aku mendaftar di Serikat Petualang
Kekaisaran Grumak, aku bertanding melawan pemimpin Suigetsu dalam ujian
praktik."
"Lalu Golnova-san menang dan direkrut ke dalam
kelompok itu!?"
Mendengar pertanyaanku, Golnova-san tertawa.
"Aku justru dihajar habis-habisan. Pertandingan
dilakukan dengan pedang kayu demi keamanan, tapi aku tidak bisa berkutik.
Padahal aku ini Golnova, lho? Aku kalah telak melawan manusia biasa, bukan
monster seperti Elena. Aku sempat berpikir jika aku memakai pedang api dan
bukan pedang kayu, aku tidak akan kalah. Lalu aku tersadar. Kekuatanku selama
ini bukanlah kekuatanku sendiri, melainkan kekuatan dari pedang api itu."
Lalu, Golnova-san memohon kepada pemimpin Suigetsu itu
agar diizinkan bergabung sementara, meskipun hanya untuk melakukan pekerjaan
kasar apa pun.
Aku hampir tidak percaya.
Golnova-san sampai melakukan hal seperti itu.
"Yah, jika aku sudah serius, dalam setengah tahun
aku mulai diakui dan mereka mengajakku menjadi anggota resmi. Tapi, aku
memutuskan untuk kembali ke desa."
Golnova-san tidak menjelaskan alasannya.
Perubahan perasaan apa yang dialami Golnova-san selama
setengah tahun ini? Aku tidak tahu. Namun, aku bisa mengerti bahwa Golnova-san
telah berubah besar.
"Kur... kau sendiri..."
"Eh? Aku kenapa?"
"...Tidak, bukan apa-apa. Lebih penting lagi, itu
tempatnya."
Sesuai perkataan Golnova-san, di sebuah area yang agak
terbuka, ada belasan ekor babi di sana.
Ukurannya tiga kali lebih besar dari babi yang kulihat di
peternakan dekat Valha, dan taringnya juga sangat tajam.
"Biar aku yang menghabisi mereka, kau urus
sisanya."
"Eh, jangan dibunuh! Kita minta sedikit dagingnya
saja sudah cukup."
Aku melihat ada kubangan lumpur di dekat sana—tempat babi
atau babi hutan liar berguling di lumpur untuk menghilangkan serangga di tubuh
mereka—jadi aku memutuskan menggunakan lumpur itu.
"Oi, Kur. Mau apa kau bermain lumpur begitu?"
"Aku mau membuat keramik sebentar. Ah, Golnova-san, aku pinjam
pedang apinya sebentar ya."
Aku
membersihkan tanganku, lalu meminjam pedang api untuk membakar lumpur yang
sudah kubentuk menjadi wadah keramik.
Hmm,
jadinya keramik yang cantik.
"...Oi,
Kur. Bukannya keramik itu biasanya akan retak atau hancur jika dibakar mendadak
dengan suhu tinggi?"
"Itu tidak masalah jika kita menyesuaikan lumpur dan
suhunya."
"Lalu kenapa keramik yang hanya dibuat dari lumpur
ini hasilnya bisa jadi putih bersih?"
"Habisnya, piring putih kan terlihat lebih bersih
dan membuat makanan jadi tampak lebih lezat."
"(Bukan itu maksud pertanyaanku... aku yang tidak
menyadarinya memang bodoh, tapi bagaimana cara Bandana menyembunyikan kemampuan
Kur selama ini?)"
Golnova-san tampak berpikir sambil menggumamkan sesuatu.
Ah, apa Golnova-san lebih suka barang mewah, ya? Mungkin
seharusnya aku membuat wadah hitam yang terlihat elegan.
Pokoknya, karena tidak enak jika membuang waktu terlalu
lama, aku membuat pakan babi menggunakan bahan yang kukumpulkan di jalan, lalu
menyajikannya di atas wadah tadi.
Seketika, para Great Pig yang menyadari aromanya
langsung berlari mendekat dan mulai makan.
"Kalau begitu, aku minta dagingnya sedikit ya."
Aku mengoleskan salep pada satu sisi belatiku, lalu
menyayat perut Great Pig itu.
Great Pig tersebut bahkan tidak sadar perutnya disayat
dan tetap asyik memakan pakannya.
"Oi, Kur. Apa yang baru saja kau lakukan?"
"Aku
meminta daging babi-san. Ah, jangan khawatir, aku tidak
melukai organ pentingnya. Malah, sebenarnya ini adalah daging berlebih bagi
babi-san, jadi ia akan jadi lebih sehat."
"Tapi tidak terlihat ada darah yang
keluar?"
"Iya, karena aku sudah mengoleskan obat luka,
lukanya langsung menutup."
"Apakah luka bisa sembuh semudah itu?"
"Tentu saja, kan namanya juga obat luka. Karena ia
juga makan dengan lahap, besok ia akan jadi lebih bugar dan sehat dari
sebelumnya."
"(Mana mungkin bisa begitu! Lagipula dari tadi pakan
babi ini baunya enak sekali, sih!)"
Lagi-lagi Golnova-san menggumam tidak jelas.
Tiba-tiba, para Great Pig itu mendongak menatap
langit.
"Oi, Kur. Mundur!"
Golnova-san mencabut pedang api yang baru saja
kukembalikan dan bersiap.
"Sial, kenapa ada di tempat seperti ini—"
Yang turun dari langit adalah seekor naga raksasa
yang ditutupi sisik hijau.
Lalu, di depan mata Golnova-san yang sudah bersiaga,
naga itu justru mulai ikut memakan pakan babi buatanku bersama para Great Pig.
"...Apa-apaan ini, naga makan pakan babi."
"Kalau kita menyiapkan pakan ternak, wajar saja
kalau naga datang dan ikut makan bersama, kan?"
『Umu, ini karena rasanya sangat lezat.』
"—!
Naganya bicara!"
Golnova-san
berseru kaget.
Apakah
naga yang bisa bicara itu langka?
『Sudah lama sekali. Wahai satu-satunya teman sekutu tempat
kupasrahkan punggungku.』
"Eh? Aku?"
Tapi, seingatku aku pernah naik di punggung naga itu
saat—
Tepat saat itu.
"...Kau tidak apa-apa?"
Solflare-san,
bawahan Hildegard-chan, muncul.
Sepertinya ia menyadari kehadiran naga dan segera berlari
ke sini.
Lalu, Solflare-san menatap naga itu dan bergumam.
"...Sudah lama."
『Kau iblis waktu itu ya.』
Benar dugaanku!
Ini adalah naga yang dulu menolongku dan Yurishia-san
saat pertama kali bertemu Solflare-san.
Ada pepatah yang bilang pria akan berubah setelah
tiga hari tidak bertemu, tapi naga benar-benar berubah wujud dalam setahun, aku
sampai terkejut.
『Apakah sekarang pun kita musuh?』
"...Bukan...
aliansi."
『Begitu ya. Kalau begitu mari kita lupakan kejadian waktu
itu.』
Setelah berkata begitu, naga itu kembali makan bersama
para babi.
Tak lama kemudian, para ksatria yang berangkat bersama
Solflare-san juga muncul.
Jenderal Alreid dan... kalau tidak salah, Jenderal
Sannova, ya?
"Naga sedang makan bersama babi..."
"Ini... apakah perbuatanmu lagi? Kudengar kau
hanya pergi mencari bahan makanan, kenapa bisa jadi begini?"
Jenderal Sannova tampak tidak percaya dengan
pemandangan di depannya, sedangkan Jenderal Alreid entah kenapa terlihat lelah.
Memang benar aku datang untuk mencari bahan makanan,
tapi memberikan makan naga mungkin bukan hal yang baik ya.
Ah, benar juga.
"Naga-san, aku punya satu permintaan."
『Apa itu? Selama itu hal yang bisa kulakukan, aku akan
mendengarnya.』
"Syukurlah. Kalau begitu—"
Aku menyampaikan sebuah permintaan kepada naga-san.
◆◇◆
"Makanya, kenapa aku harus menyerahkan sebagian
wilayah kepada negara yang tidak ada hubungannya sama sekali!"
Suara
Hildegard-san bergema di ruang rapat.
Terlalu
banyak pemimpin membuat kapal malah naik ke gunung.
Meski
aku tidak menyangka rapat ini akan selesai dengan mudah saat semua pemimpin
negara berkumpul, aku tidak menyangka akan seberat ini.
Aku, Liselotte, tidak bisa menahan diri untuk tidak
menghela napas.
Pemicunya adalah satu kalimat dari Loreta-sama.
"Kami, Federasi Kota Kepulauan Coskeet, mengalami
kehancuran bangunan serta pembunuhan banyak anggota Dewan Klan—pusat politik
kami—oleh iblis yang disebut 《Scripter》. Jika ingin berdamai dengan ras iblis,
kami menuntut ganti rugi dan permohonan maaf yang setimpal."
Setelah itu, pemimpin Torushen menimpali, "Negaraku
kehilangan banyak rakyat karena monster yang dilepaskan ke oasis akibat ulah 《Scripter》
tersebut. Kami juga menuntut ganti rugi."
Lalu Ayah pun mulai mengungkit kerugian akibat gesekan
kecil dengan ras iblis selama ini.
Bagi Hildegard-san, ini pasti sangat menyesakkan.
Sebab, semua itu adalah ulah Raja Iblis.
Ia seharusnya mendapatkan rasa terima kasih karena telah
mengalahkan Raja Iblis, bukan malah dituntut meminta maaf.
Tentu saja baik Loreta-sama maupun Ayah memahami hal itu.
Namun dalam politik, ada hal-hal yang tetap harus
dikatakan meski sudah dipahami.
Pertemuan ini bukan sekadar perdamaian antarnegara,
melainkan perdamaian antarras; antara manusia dan iblis.
Meskipun semua tahu itu bukan tanggung jawabnya, jika
perdamaian dipaksakan tanpa ada pernyataan apa pun, rakyat di dalam negeri
pasti akan memprotes.
Bagi Coskeet yang sedang mengalami kekacauan politik dan
Torushen yang rakyatnya mulai tidak puas, hal ini bisa menjadi luka yang fatal.
Hildegard-san
pun memahami hal tersebut.
Karena
itu, ia berencana memberikan sebagian besar harta dari perbendaharaan Raja
Iblis sebagai ganti rugi, setelah menyisihkan sebagian untuk rakyatnya sendiri
yang juga menjadi korban perang.
Namun,
di sini pemimpin Torushen justru menuntut wilayah, bukan hanya uang.
Di
sebelah barat Torushen, di seberang padang pasir besar, terdapat wilayah milik
Hildegard-san sang Kaisar Tua.
Sepertinya
mereka ingin mengambil tanah itu untuk dijadikan pusat perdagangan antara ras
iblis dan manusia di masa depan.
Mungkin
mereka berpikir penyeberangan gurun akan jadi jauh lebih mudah berkat Airship
yang diciptakan Kuruto-sama.
Karena
dalam negosiasi ini Hutan Besar di perbatasan wilayah iblis secara resmi akan
menjadi wilayah Kerajaan Homuros, sepertinya ia salah paham dan mengira bisa
ikut mencicipi keuntungan yang sama.
Tentu
saja, kesabaran Hildegard-san sudah mencapai batasnya.
"Kalau
mau diperlakukan sama dengan Homuros, ambil saja padang pasir besar itu
sesukamu!"
"Gurun kematian seperti itu, apa gunanya
dimiliki!"
Padang pasir besar yang terletak di selatan Hutan
Besar dan barat Torushen itu berbeda dengan gurun biasa. Tidak ada oasis,
bahkan kaktus pun tidak tumbuh. Sesuai julukannya, gurun kematian itu adalah
tanah gersang tanpa jejak kehidupan.
Oleh karena itu, tanah itu tidak dimiliki oleh negara
mana pun.
Seperti kata pemimpin Torushen, selain tidak berguna,
memiliki tanah itu justru merepotkan karena harus bertanggung jawab jika
terjadi sesuatu di sana.
Akhirnya, rapat sepertinya akan berakhir tanpa
kesepakatan.
Yuri-san yang duduk di depan seberangku juga menunjukkan
wajah seolah berkata ini sudah jadi merepotkan.
Yang membuatku penasaran adalah Kakek.
Aku sama sekali tidak bisa membaca maksud dari Kekaisaran
Grumak.
Mengingat mereka menyatakan ikut serta sebelum kami
mengumumkan perdamaian di Desa Haste, pasti tujuannya bukan hanya karena wasiat
Ibu. Lantas apa maksudnya?
Padahal Gereja Polan sepertinya akan jadi masalah besar,
setidaknya aku ingin Torushen, Coskeet, dan Homuros tetap sejalan.
"Ah, boleh aku bicara sebentar?"
Lalu, Beast King yang sejak tadi hanya diam duduk
tiba-tiba berdiri dan mengangkat tangan.
Meskipun urutannya agak terbalik, sosoknya yang
setinggi dua meter membuat kehadirannya sangat dominan, dan ruang rapat
seketika diselimuti keheningan.
Ia menguasai panggung dalam sekejap.
Jika ia melakukannya dengan perhitungan, maka ia
adalah orang yang tidak boleh diremehkan.
"Aku adalah Beast King, Keltos. Dalam rapat ini,
aku memutuskan untuk menyerahkan semuanya kepada Kaisar Tua, jadi aku menahan
diri untuk tidak bicara. Aku sudah gagal sekali di Walpurgis Night dulu. Tapi,
ada satu hal yang ingin aku tegaskan di sini."
Begitu ya, ia ingin mengalihkan poin pembicaraan dari
ganti rugi kembali ke perdamaian.
Karena ia hanya menonton dan menyerahkan semuanya
kepada Hildegard-san, ia bisa menilai situasi dengan tenang.
Seperti yang diharapkan dari salah satu dari Empat Raja
Iblis.
"Kami ras iblis tidak merasa kalah dari kalian
manusia. Kalau kalian terus bicara omong kosong, akan kuhancurkan kalian
semua."
Ternyata ia hanya orang yang mengandalkan otot!
Sama sekali tidak belajar dari kegagalan sebelumnya!
Seketika pemimpin Torushen berdiri dengan emosi.
"Berani-beraninya kau bicara begitu! Yang
menghancurkan pasukan Raja Iblis adalah tentara Homuros! Kaisar Tua hanya
diserang di benteng pertahanan utama, dan kudengar Beast King sama sekali tidak
ikut bertempur!"
Yang tidak ikut berperang kan negaramu juga,
Torushen!
"Beast King, apakah pernyataan tadi bisa
dianggap sebagai kehendak Kerajaan Beastman?"
Loreta-sama, mohon tenanglah sedikit.
Ah, andai saja Kuruto-sama ada di sini, beliau pasti bisa
menenangkan suasana dengan teh penenang miliknya.
Tepat saat aku berpikir begitu, Yuri-san tiba-tiba
berjalan menuju pintu ruang rapat dan membukanya.
"Loh?"
Seketika itu juga, tercium aroma yang sangat lezat sampai
aku tidak sengaja bersuara.
Sepertinya seseorang sedang memanggang daging. Baunya
begitu menggoda bahkan bagiku yang sudah terbiasa memakan masakan Kuruto-sama. Tidak
salah lagi, ini pasti masakan Kuruto-sama, tapi apa yang beliau panggang?
Rasanya bukan sekadar Great Pig biasa.
"Aroma ini..."
"...Benar-benar bau yang sangat menggoda."
"Daging apa ini sebenarnya?"
Suasana yang tadinya panas mendadak berubah 180
derajat. Semua orang kini tertarik pada aroma daging tersebut.
Yuri-san berbisik di sampingku.
"Aku sudah bilang pada Kuruto untuk menggunakan
ruangan sebelah jika ia ingin memasak."
"Begitu ya, saya mengerti."
Setelah memakan masakan Kuruto-sama, semua orang
pasti akan bahagia, sehingga diskusi yang lebih tenang bisa dilakukan.
"Ayah, sebagai penggagas pertemuan ini,
bagaimana jika Ayah mengusulkan jeda untuk makan?"
Aku berbisik pelan agar tidak terdengar yang lain,
lalu Ayah mengangguk dan mengundang mereka untuk makan malam.
Seharusnya, mengadakan makan-makan di tengah rapat
yang belum membuahkan hasil akan memicu protes, tapi anehnya tidak ada yang
keberatan.
Malah, semua orang setuju.
Lalu, makanan pun dihidangkan.
Awalnya
adalah salad pembuka dan sup.
Sup ini
sepertinya potage labu. Aku sudah beberapa kali mencobanya di bengkel.
Aromanya juga sangat harum.
"Ini..."
"Sangat lezat."
"...Tapi..."
Penilaian masakannya tentu saja berada di tingkat
tertinggi.
Namun, semua orang tampak belum puas karena aroma daging
yang tercium sejak tadi.
Setelah hidangan ikan disajikan, muncullah pencuci mulut
berupa es.
"Apakah ini hidangan penutup? Oi, Hildegard. Jangan
bilang makanannya sudah selesai?"
"Ini es untuk menetralkan rasa di mulut, Beast King.
Hidangan daging akan keluar setelah ini."
"Mu... budaya manusia benar-benar merepotkan
ya."
Beast King berkata dengan nada tidak puas.
Seharusnya memakan makanan enak membuat orang
bahagia, tapi karena daging yang dinanti-nanti tidak kunjung keluar, semua
orang merasa sedang digantung, sehingga tercipta suasana yang agak tegang.
Jika seandainya hidangan daging yang keluar nanti
tidak sesuai ekspektasi, ini bisa berdampak buruk bagi rapat selanjutnya.
Tepat saat aku berpikir begitu, hidangan daging
akhirnya dibawa masuk.
Terlihat seperti steik dengan saus cokelat, tapi
daging apa ini sebenarnya?
Selagi aku berpikir, pelayan pencicip racun memotong
daging itu dan memakannya satu suap.
Seketika itu juga, ekspresinya berubah menjadi sangat
bahagia.
Bukan sekadar tersenyum, tapi bahagia yang
sesungguhnya.
Seluruh wajahnya mengekspresikan
kebahagiaan—begitulah kondisinya.
Melihat hal itu, semua orang segera memotong daging
dengan pisau dan garpu masing-masing lalu menyantapnya.
Tidak ada yang berkomentar.
Wajah semua orang berubah bahagia, lalu mereka seolah
menjadi boneka mekanik yang hanya terus memotong dan menyuap daging. Aku
sendiri tidak bisa berhenti menggerakkan tangan untuk memotong dan menyantap
daging tersebut.
Bahkan Beast King, mungkin karena merasa repot
memakai pisau dan garpu, langsung menyantapnya dengan tangan.
Lalu, tentu saja ia yang pertama kali selesai makan, dan
ia berseru dengan suara lantang.
"Panggil kokinya ke sini!"
Beraninya memanggil Kuruto-sama seperti itu! Jika ada
urusan, harusnya dia yang datang menemui beliau!
Aku ingin sekali meneriakkan itu, tapi mulutku sibuk
mengunyah daging, dan tanganku sibuk menggerakkan pisau dan garpu.
Kakiku pun seolah menolak untuk pergi dari tempat ini,
sehingga aku tidak punya cara untuk menegur Beast King.
"Permisi."
Seolah mendengar suara Beast King, Kuruto-sama masuk ke
ruangan. Beliau tidak mengenakan celemek seperti biasa, melainkan seragam koki
putih bersih.
Sosok Kuruto-sama dalam balutan seragam koki benar-benar
gagah dan mempesona.
Tolong masak aku sesukamu. Aku selalu siap menunggu dalam
keadaan "terkupas" untukmu.
"Oh, jadi kau koki yang membuat masakan ini."
"Benar. Apakah Anda tidak menyukai masakannya?"
"Tidak, rasanya lumayan. Tapi,
daging ini—daging naga, kan?"
““““——!””””
Perkataan Beast King membuat seisi ruangan membeku.
Daging naga—jadi inikah rasanya.
Aku pernah memakannya dulu, tapi karena sudah sangat
lama, aku tidak menyadarinya.
Daging naga sangat jarang beredar di pasaran.
Namun, setahuku daging naga itu hanya barang langka,
bukan berarti dagingnya lezat.
"Tidak banyak yang tahu, tapi daging naga bisa
berubah drastis rasa dan teksturnya tergantung pada teknik pengolahan yang
melibatkan energi sihir. Begitu ya, sepertinya kau sudah menelitinya dengan
sangat baik."
Entah kenapa, ekspresi Beast King yang mengatakan itu
tampak dipenuhi amarah.
"Tapi, naga adalah pengikut dari Raja Iblis Naga—salah satu dari Empat Raja Iblis, atau sekarang Tiga Raja Iblis. Beraninya kau membunuh naga itu dan menyajikannya di tempat makan seperti ini?"
"Menghabiskan makanan paling cepat, lalu bicara
begitu?"
Setahu saya, naga memang disebut sebagai pengikut Raja
Naga Iblis.
Namun, saya dengar sebagian besar dari mereka tidak
terikat oleh kendali itu dan bisa dianggap sebagai makhluk liar.
Hanya karena membunuhnya—tunggu, membunuh?
"Kuruto-sama, apakah Anda membunuh naga itu?"
Tanyaku setelah selesai menghabiskan hidangan daging.
"Tidak, saya tidak membunuhnya."
"Meskipun bukan kau yang membunuhnya, hasilnya tetap
sama saja. Begitu naga itu mati, kau langsung menjadikannya masakan."
"Makanya saya bilang, saya tidak membunuhnya. Saya
hanya meminta sedikit dagingnya."
"Meminta?"
"Iya. Dia bilang kalau bagian ekor akan segera
tumbuh lagi, jadi saya boleh mengambilnya sesuka hati. Sepertinya dia suka
pakan babi buatan saya."
"Naga menyukai manusia?"
Beast King menatap Kuruto-sama dengan penuh keraguan.
Namun, Hildegard-san menyadari sesuatu dan melihat ke luar jendela.
"Beast King, lihat itu."
Di luar jendela yang ditunjuk Hildegard-san, di samping
ksatria yang sedang berjaga, seekor naga tanpa ekor tampak sedang berbincang
dengan Jenderal Alreid.
Sepertinya apa yang dikatakan Kuruto-sama adalah
kenyataan.
Melihat itu, Beast King tertawa terbahak-bahak.
"Kukuk, jadi begitu ya. Sebuah hidangan yang
tercipta dari kerja sama dua ras yang seharusnya tidak bisa bersatu, manusia
dan naga. Benar-benar hidangan yang cocok untuk konferensi perdamaian ini. Aku
suka."
Fuu, syukurlah suasananya bisa tenang kembali.
Namun, kelegaanku hanya bertahan sesaat.
"Chef yang menyiapkan hidangan sekreatif ini, ada
yang ingin kutanyakan padamu."
"Ya, selama itu hal yang bisa saya jawab—"
"Rapat ini sedang mengalami sedikit masalah. Masalah
ganti rugi? Bagiku itu hal yang merepotkan, tapi karena suasana sedang kacau,
aku ingin mendengar pendapatmu sebagai pihak ketiga. Kamu yang menyajikan
masakan menarik, pasti berbeda dengan orang-orang ini yang otaknya sudah kaku
karena politik."
Beast King pun menjelaskan isi perdebatan rapat tadi
kepada Kuruto-sama.
...Tunggu, apa yang akan terjadi?
Kuruto-sama adalah orang Kerajaan Homuros, jadi secara
posisi, beliau seharusnya mengatakan hal yang menguntungkan negaranya.
Namun beliau juga berteman baik dengan Hildegard-san,
bahkan menganggapnya bukan sebagai iblis melainkan hanya ras bertanduk biasa.
Beliau mungkin akan menentang pendapat yang membebankan
semua dosa ras iblis kepada Hildegard-san.
Semua orang memperhatikan bagaimana Kuruto-sama akan
menjawab.
Kuruto-sama berpikir sejenak—
"Kalau begitu, mari kita bangun kota di padang pasir
besar."
Beliau mulai membicarakan hal yang sama sekali tidak ada
hubungannya dengan ganti rugi.
Benar-benar Kuruto-sama, beliau selalu melampaui
imajinasi kami.
"Nak, apa yang kau bicarakan. Mana mungkin bisa
membangun kota di gurun kematian."
Ucap pemimpin Torushen yang tidak tahu kemampuan Kuruto-sama.
Yah, kalau dipikir secara normal memang benar begitu.
"Eh? Itu mudah kok. Kita bisa menggunakan pompa
untuk menaikkan air dari bawah tanah, dan jika ada air, kita bisa menanam
kaktus."
"Dulu saya pernah membuat bakpao onsen
menggunakan kaktus tanpa duri. Belakangan ini sepertinya mulai
digunakan untuk kue-kue lain sehingga pasokannya mulai menipis."
"Jadi, kita jadikan itu produk khas. Ah, saya juga
harus menyiapkan gandum yang bisa tumbuh di padang pasir."
Pemimpin Torushen hendak membantah argumen Kuruto-sama
yang mengalir begitu saja tentang pembangunan kota, tapi—
"Gandum yang bisa tumbuh di gurun... tunggu
sebentar, Nak. Boleh aku tahu namamu?"
"Ah, maaf saya terlambat memperkenalkan diri. Nama
saya Kuruto Rockhans."
"Kuruto—Kuruto sang Baronet yang membangun kota Rikuruto
itu?!"
Setelah mengatakan itu, pemimpin Torushen mendekat ke
arah Kuruto-sama dan berlutut di tempat.
Seorang pemimpin negara berlutut di depan bangsawan
negara lain adalah tindakan yang seharusnya tidak boleh terjadi.
Apalagi di tempat berkumpulnya para pemimpin dunia.
Namun—
"Baronet Kuruto, berkat kota yang Anda bangun dan
kesediaan Anda menerima imigran dari negara kami, mereka bisa selamat dari
maut."
"Jangan begitu, tolong angkat kepala Anda. Saya
hanya melakukan hal yang sudah seharusnya."
"Lalu, ini adalah permintaan yang sangat tidak
sopan, tapi untuk kota di padang pasir itu, sudikah Anda yang membangunnya?
Jika itu Anda, saya bisa menyerahkannya dengan tenang."
"Kuruto, aku juga memohon padamu. Jika
padang pasir besar itu memiliki nilai aset, konferensi perdamaian ini akan maju
pesat. Perdagangan negaraku juga akan jauh lebih mudah."
Menanggapi kata-kata pemimpin Torushen, Hildegard-san pun
ikut menimpali.
"Saya mengerti. Saya akan membantu apa pun yang saya
bisa."
Lagi-lagi Kuruto-sama menyanggupi permintaan dengan
mudahnya.
Tapi, itulah sisi luar biasa dari Kuruto-sama.
Begitulah, hari pertama konferensi perdamaian berakhir
dengan sukses berkat peran aktif Kuruto-sama, membuat semua negara berada dalam
satu visi.
Meski begitu, mungkinkah Beast King sudah menduga hal ini
akan terjadi saat meminta pendapat Kuruto-sama?
...Tidak, sepertinya aku terlalu banyak berpikir.
◆◇◆
Setelah selesai menyiapkan makanan untuk para
pemimpin, aku—Kuruto Rockhans—menawarkan diri untuk membantu mencuci piring.
Namun, pelayan yang datang bersama Raja malah
berkata, "Sisanya biar saya yang urus, jadi Baronet Rockhans silakan
beristirahat."
Rasanya seperti diusir, dan aku jadi khawatir kalau
tadi aku melakukan kesalahan.
Mungkin karena ada Raja dan Kaisar—orang-orang hebat
yang bahkan wajahnya saja sulit kulihat—aku melakukan sesuatu yang tidak sopan
tanpa kusadari.
"Haa... padahal aku pikir aku sudah sedikit
lebih dewasa."
Lagi pula, meski disuruh istirahat, tidak banyak yang
bisa kulakukan.
Karena bingung harus apa, aku memutuskan untuk pergi ke
tempat Akuri yang kutitipkan pada Mimiko-san.
Sesampainya di kediaman Mimiko-san, dia bersama Yuna-san
dan Malefis-san terlihat sedang sibuk meneliti kristal sihir yang baru saja
dibawa masuk.
"Kur, ada perlu apa?"
Malefis-san bertanya dengan nada yang tidak senang.
"Kalau tidak ada perlu—aw!"
"Jangan menggoda Kuruto-chan."
"Aku tidak menggodanya. Aku hanya
berpikir kalau dia tidak ada kerjaan, aku mau minta dibuatkan teh."
Malefis-san, yang kepalanya baru saja dipukul dengan
tongkat oleh Mimiko-san, menatapku dengan kesal.
Lalu, dia menggunakan tongkat tanduk unicorn miliknya
untuk merapalkan sihir pemulihan pada kepalanya sendiri.
"Ah, saya akan segera buatkan tehnya."
"Tidak
perlu, Kuruto-chan. Biar Malefis saja yang mengerjakan tugas remeh seperti itu.
(Lagi pula, aku tidak bisa bertemu Kuruto-chan setiap hari, kalau sampai
lidahku terbiasa dengan teh buatanmu dan merasa teh biasa seperti air lumpur,
itu akan gawat.)"
"……Begitu ya."
Aku mengangguk lalu menatap gadis yang tersegel di
dalam kristal sihir.
Tidak ada tanda-tanda dia akan bangun.
Karena dia bukan sedang tidur, wajar saja kalau dia
tidak akan terbangun kecuali ada pemicu tertentu.
"Ngomong-ngomong, apakah Akuri ada di
dalam?"
"Iya, dia sedang bersama Shina-chan."
"Baiklah kalau begitu."
Saat aku pergi ke ruang tamu di bagian dalam, Akuri
yang sedang dibacakan buku cerita oleh Shina-san menyadari kehadiranku. Dia
langsung menggunakan Teleport dan menerjang ke arahku.
"Papa, selamat datang!"
"Aku pulang, Akuri."
"Pekerjaan Papa sudah selesai?"
"Iya, hari ini sudah selesai. Shina-san, terima
kasih sudah menjaga Akuri. Akuri, ayo ucapkan terima kasih pada
Shina-san."
"Iya! Kak Shina, terima kasih!"
"Sama-sama. Lagipula aku sudah mulai terbiasa dengan
hal seperti ini. Sejak awal saat Kak Kanth dan Danzou tidak dipanggil tapi
hanya aku yang diminta ikut, aku sudah mengira akan jadi begini."
Ekspresi
Shina-san sedikit meredup.
Rasanya
aku melakukan sesuatu yang sangat tidak enak padanya.
Memang
benar, jika Lise-san tidak bilang, "Kalau membawa Akuri, ayo minta bantuan
Shina-san juga," dia pasti sudah ditinggal menjaga bengkel.
Kanth-san
dan Danzou-san yang merupakan anggota "Sakura" yang sama dengannya
tidak perlu ikut karena kali ini ada para ksatria kerajaan yang mengawal, jadi
tidak ada bahaya. Kapasitas kapal terbang juga terbatas.
Sedangkan
Golnova-san ikut sebagai pengawal hanya karena posisinya sebagai putra kepala
desa dari Desa Master Pedang.
Kalau
dipikir-pikir, akulah yang sebenarnya merasa salah tempat berada di sini. Bahkan
Riku-sama pun tidak datang.
Tidak, aku sendiri mulai menyadari sesuatu.
Riku-sama yang hampir tidak pernah menunjukkan wajahnya
di bengkel, dan Putri Ketiga Liselotte yang seharusnya datang ke bengkel untuk
belajar tapi belum pernah kutemui sekalipun.
Apa sebenarnya yang mereka berdua lakukan dan di mana
mereka berada?
Pasti rahasianya adalah—
"Papa, ada apa?"
"Ah, tidak apa-apa kok."
Aku memeluk Akuri dengan lembut.
"Akuri, mau jalan-jalan bersama Papa?"
"Mau! Akuri mau lihat bagian dalam kapal
terbangnya!"
Kalau diingat-ingat, Akuri yang langsung berlarian begitu
naik kapal terbang tadi malah kelelahan dan tertidur sepanjang waktu. Dia memang belum sempat melihat-lihat isi kapal.
...Kapal terbang, ya.
Pemiliknya, sang Atelier Meister Bonbol, sudah
memberiku izin untuk bebas melihat-lihat dan bahkan memberiku surat izin
khusus. Surat itu juga berlaku bagi pendampingku.
"Kalau begitu, ayo pergi."
Setelah berpamitan pada Mimiko-san dan yang lainnya,
aku menuju ke kapal terbang.
Kapal terbang yang lebih besar dari bangunan mana pun
di sini benar-benar sangat mencolok.
Lalu, aku melihat seseorang berdiri di depan kapal
terbang itu.
"Hmm, aku sudah mendengar desas-desusnya, tapi
ini benar-benar luar biasa. Aku ingin sekali melihat bagian dalamnya."
Sosok itu—seorang kakek berjubah hitam—bergumam
pelan.
Aksen bicaranya sedikit berbeda, mungkin dia orang dari
Kekaisaran Gurumaku.
Mimiko-san pernah bilang kalau penggunaan kapal terbang
untuk warga sipil di Kekaisaran Gurumaku baru akan terjadi sepuluh tahun lagi
atau lebih.
Tanpa sadar aku menyapanya.
"Anu, kami baru mau melihat-lihat bagian dalam
kapal, apakah Anda mau ikut bersama kami? Saya sudah punya izinnya."
"Bolehkah? Bukankah ini rahasia negara?"
"Tidak kok. Rancangan kapalnya sudah dipublikasikan
semua, jadi tidak ada yang perlu disembunyikan. Saya juga sedikit terlibat
dalam perancangannya, jadi saya bisa memandu Anda. Ah, tapi saya bersama putri
saya, jadi mungkin akan sedikit berisik."
"Tidak masalah. Kalau begitu, aku akan
merepotkanmu."
Kakek itu mengangguk, lalu kami bertiga bersama Akuri
menuju kapal terbang.
Di depan kapal terbang, seorang ksatria yang dikirim dari
Federasi Kota Kepulauan Koskiet sedang berjaga.
"Kami ingin melihat-lihat bagian dalam,
bolehkah?"
"Tentu saja. Atelier Meister Bonbol juga sudah
berpesan untuk mengizinkan Baronet Rockhans masuk jika beliau datang. Ah,
ngomong-ngomong, siapa orang yang bersama Anda?"
"Umu, aku adalah orang ini."
Kakek itu berkata sambil menunjukkan pedang yang terselip
di pinggangnya.
Melihat itu, wajah sang ksatria langsung berubah pucat.
"M-maafkan saya. Mohon tunggu sebentar."
Ksatria itu langsung pergi menuju pos penjagaan terdekat.
Lho? Apa tidak apa-apa tempat ini ditinggal tanpa
penjagaan?
Meski tidak ada rahasia di kapal ini, ini tetaplah kapal
yang dinaiki oleh Raja dan yang lainnya. Di dalamnya pasti ada perabotan mahal.
Bukankah lebih baik memanggil rekan dengan lonceng
darurat lalu berjaga bergantian?
Karena merasa khawatir, aku meminta kakek itu menunggu
sebentar, lalu aku dan Akuri menuju pos penjagaan.
"Apa kau bilang?!"
Terdengar suara keras dari dalam. Saat aku mengintip,
dua orang ksatria tampak sedang membicarakan sesuatu dengan serius.
"(Sst, suaramu terlalu keras!)"
"(Kenapa Baronet Rockhans bisa bersama Kaisar dari
Kekaisaran Gurumaku?!)"
"(Bagaimana ini, haruskah kita lapor pada
Loretta-sama?)"
"(Jangan, beliau sedang mandi saat ini. Yang paling
penting, kita tidak bisa membuat Kaisar menunggu. Lagi pula, kapal ini secara
teknis adalah milik pribadi Atelier Meister Bonbol, jadi selama ada izin
darinya, siapa pun boleh masuk.)"
"(Tapi yang kita hadapi itu Kaisar, lho.)"
"(Coba pikirkan lagi. Alasan Atelier Meister Bonbol
berkali-kali menekankan agar membiarkan Baronet Rockhans masuk... bukankah itu
karena dia sudah tahu kalau pemuda itulah yang akan memandu Kaisar?)"
"(Benar juga. Mengingat sikap Atelier Meister Bonbol
yang seolah ketakutan terhadap perwakilan Meister dari Kerajaan Homuros
itu—)"
"(Ah, aku mengerti! Itu artinya 'Jangan sampai
Kaisar menunggu!')"
"Anu……"
Karena tidak mengerti apa yang mereka bicarakan, aku
memanggil mereka. Kedua ksatria itu langsung membelalakkan mata saat melihatku.
"Baronet Rockhans, kenapa Anda di sini?!"
"Itu, saya pikir tidak baik kalau membuat menunggu
terlalu lama—"
Soalnya aku khawatir tidak ada yang menjaga gerbang.
""(Jangan sampai Kaisar menunggu,
katanya!)""
Kedua ksatria itu ternganga lalu mengangguk mantap.
""Kami mengerti!""
Eh? Kenapa ekspresi mereka seolah-olah baru saja
mengambil keputusan yang mempertaruhkan nyawa?
...Apakah tugas menjaga kapal terbang sepenting itu? Jika
iya, seharusnya memang tidak boleh ditinggal kosong.
Kedua ksatria itu keluar dengan gerakan sigap dan kembali
ke tempat kakek tadi menunggu.
"Kami akan segera membuka gerbang masuk. Apakah Anda
butuh pengawalan ke dalam?"
"Ah, tidak perlu kok."
"Umu, tidak usah. Kalian berdua kembalilah bertugas."
""Siap!""
...Lho?
Kenapa mereka berdua memberi hormat pada kakek ini?
Apakah dia orang penting?
Mungkin menyadari keherananku, kakek itu memiringkan
kepalanya.
"Ada apa?"
"Saya tahu Anda dari Kekaisaran Gurumaku, tapi
apakah Anda seorang bangsawan?"
"Ah, aku bukan bangsawan kok."
"Begitu ya, syukurlah."
Leganya.
Berteman dengan penyihir istana, kenal dengan
Margrave, sepupu Yurishia-san yang ternyata pemimpin Koskiet, lalu baru-baru
ini beraudiensi dengan Raja... belakangan ini aku terlalu sering bertemu orang
hebat.
Tapi kalau dipikir-pikir, tidak mungkin orang hebat
bisa ditemui semudah itu, kan.
Pintu masuk terbuka, lalu aku, Akuri, dan kakek itu masuk
ke dalam.
Hal pertama yang menyambut kami adalah lobi utama.
"Hooh, ini seperti kapal pesiar mewah ya."
"Iya. Awalnya ini memang kapal pesiar milik Atelier
Meister Bonbol di Federasi Koskiet yang kemudian dimodifikasi."
"Begitu ya. Tapi, beberapa perabotannya memiliki
nuansa Kerajaan Homuros."
"Itu dibantu oleh Lise-sa—teman saya."
"Lise-mama hebat!"
Akuri menyahut dengan bangga.
Memang, kalau cuma membuat perabotan yang mirip, aku
juga bisa.
Tapi Lise-san jauh lebih tahu tentang benda-benda
yang disukai orang kaya dan cara penataannya.
Berkat dia, lobi ini jadi jauh lebih megah dibanding
saat aku membangun lobi bengkel dulu.
"Lise-mama... jadi anak ini adalah putri dari wanita
bernama Lise itu?"
"Iya.
Dia anak kami bertiga; saya, Lise-san, dan satu lagi wanita bernama Yurishia-san.
Eh, kalau dibilang begitu malah membingungkan ya."
Aduh,
bagaimana ya mengatakannya?
Kalau
dibilang anakku dan Lise-san saja, rasanya tidak enak pada Yurishia-san. Jadi
memang lebih tepat dibilang anak kami bertiga.
Saat
aku sedang berpikir—
"Begitu
ya, jadi inilah Roh Agung yang dibicarakan itu."
Kakek itu mengangguk seolah mengerti sesuatu.
"Eh? Anda sudah tahu?"
"Umu. Aku pernah dengar kabarnya, tapi tidak
menyangka dia gadis sekecil dan seimut ini. Nak, siapa namamu?"
"Namanya Akuri!"
"Begitu ya, Akuri. Nama yang bagus."
Kakek itu tersenyum lembut, benar-benar seperti
seorang kakek yang sedang menatap cucu kandungnya sendiri.
Menurutku dia orang yang sangat baik.
Setelah itu, aku mengantarnya keliling ke dapur,
ruang makan, ruang medis, hingga kamar tamu yang sedang kosong.
"Ini benar-benar seperti benteng. Apa
tidak ada senjata yang dipasang?"
"Tidak ada, karena ini bukan kapal perang. Karena
terbang di langit, sejauh ini belum ada ancaman seperti bajak laut."
Jika kapal terbang sudah menyebar luas di dunia dan jatuh
ke tangan orang jahat, mungkin saja akan muncul kelompok perampok yang disebut
bajak langit.
Tapi menurutku itu masih sangat jauh di masa depan.
"Untuk berjaga-jaga dari monster terbang, ada
beberapa senjata yang ditinggalkan, tapi fungsinya hanya untuk mengusir dengan
cahaya atau suara."
"Begitu ya. Jadi kalau lawannya monster liar, tidak
perlu sampai membunuh mereka."
"Iya. Lagi pula, saya sama sekali tidak tahu cara
membuat senjata yang bisa membunuh monster."
Aku bisa membuat senjata yang digunakan manusia seperti
pedang atau tombak, tapi senjata itu baru bisa membunuh monster jika ada
kekuatan dari penggunanya.
Dulu aku pernah mencoba membuat golem buatan untuk
mengalahkan goblin seperti Elena-tan, tapi tidak berhasil dengan baik.
"Selanjutnya, saya akan mengantar Anda ke ruang
mesin."
Aku membuka pintu bertuliskan "Dilarang Masuk
bagi yang Tidak Berkepentingan" dengan kunci cadangan yang dipinjamkan
oleh Atelier Meister Bonbol.
"Cantiknya!"
Mata Akuri berbinar melihat pasir hijau di dalam
wadah raksasa yang menyerupai jam pasir.
Apakah anak perempuan memang suka benda yang bersinar
ya?
Pasir yang bersinar hanya ada di bagian atas wadah,
sedangkan bagian bawahnya meredup.
"Nak, pasir hijau apa itu?"
"Itu adalah pasir kristal sihir berbasis zamrud yang
menjadi tenaga penggerak kapal ini. Ini contoh pasirnya."
Aku menyentuh cadangan pasir kristal sihir yang
diletakkan di sisi ruang mesin. Kakek itu mengikuti gerakanku dan menyentuh
pasir itu juga.
"Seperti pasir gurun. Apa kristal sihir dihancurkan
jadi pasir? Bukankah jika kristal sihir dihancurkan, sihir di dalamnya akan
meledak dan lenyap?"
"Urutannya terbalik. Zamrudnya dihancurkan dulu jadi
pasir, baru kemudian diproses menjadi kristal sihir. Karena namanya terlalu
panjang, semua orang menyebutnya Magic Sand Crystal."
"Magic
Sand Crystal ya. Tapi aku ingin bertanya satu hal. Bukankah semakin besar
kristal sihir, semakin besar kekuatannya? Apa gunanya repot-repot menjadikannya
pasir?"
"Itu
untuk menjaga ketinggian. Untuk mempertahankan ketinggian kapal terbang,
pelepasan energi sihir harus stabil. Masalahnya, semakin banyak energi
yang hilang, pelepasan energi dari kristal sihir akan berkurang dan tidak
stabil. Karena itulah, dengan menjadikannya bentuk jam pasir dan mengalirkan
pasir sihir itu, kita bisa menyalurkan energi dalam jumlah yang konstan ke
setiap mesin penggerak, sehingga baling-baling bisa berputar dengan kecepatan
tetap."
"Bagaimana energi sihir itu disalurkan? Apa melalui
pipa itu?"
"Tidak, energinya tidak dialirkan langsung di dalam
pipa. Di bagian leher jam pasir itu, terdapat alat sihir yang fungsinya mirip
dengan batu teleportasi. Mentransfer energi jauh lebih mudah daripada
mentransfer makhluk hidup, jadi membuatnya cukup gampang. Hanya saja, karena
kapal terbang selalu bergerak, pipa itu digunakan sebagai penanda koordinat
agar tujuan transfer energinya jelas."
"Begitu ya. Batu teleportasi yang bisa memindahkan
makhluk hidup saja ada, maka memindahkan energi saja tentu hal yang sepele. Aku
mengerti sekarang."
Kakek itu mengangguk berkali-kali, lalu ekspresinya
berubah menjadi serius.
"Tapi, Magic Sand Crystal dan transfer energi
sihir ya... aku sudah membacanya di laporan, tapi melihatnya langsung membuat
pemikiranku berubah drastis."
Sosok kakek ini... yang biasanya terlihat ceria tapi
sesekali menunjukkan wajah serius saat berpikir dalam, entah kenapa
mengingatkanku pada Lise-san.
Mungkin Lise-san akan marah kalau kubilang dia mirip
kakek-kakek.
"Papa..."
Akuri menarik ujung celanaku.
Sepertinya dia sudah kehilangan minat pada pasir sihir
dan mulai bosan berada di ruang mesin yang tidak punya banyak objek menarik
lainnya.
Menyadari hal itu, kakek tadi tersenyum lembut.
"Ooh, maaf, maaf. Ayo kita ke tempat
berikutnya."
Setelah itu kami melihat-lihat tempat lain, dan berakhir
di geladak kapal.
Mungkin karena anak-anak suka tempat yang luas, Akuri
langsung berlarian begitu sampai di geladak.
"Jangan lari-lari, nanti bahaya lho~!"
Meski ada pagar pengaman dan Akuri bisa berteleportasi
kembali ke atas jika terjatuh, tetap saja itu berbahaya.
Akuri menjawab dengan semangat lalu kembali berlari.
"Ini waktu yang sangat bermanfaat. Aku
berterima kasih padamu."
Tiba-tiba kakek itu menundukkan kepalanya.
"Sama sekali tidak masalah. Saya malah khawatir
penjelasan saya yang kurang bagus ini merepotkan Anda."
"Benar juga, terakhir, bisakah kau melihat benda
ini?"
Kakek itu menunjukkan sebilah pedang padaku.
Lho? Rasanya aku pernah melihat pedang ini di suatu
tempat.
"Jangan-jangan, ini Excalibur? Pedang yang dipajang
di toko serba ada di desaku."
"Toko serba ada... umu, yah, memang pedang
itu."
"Eh? Tapi, Excalibur kan seharusnya...
mungkinkah?!"
Aku menyadari sesuatu. Jadi begitu alasannya saat itu—
"……Aku tidak bermaksud menipumu. Aku adalah orang
dari Kekaisaran Gurumaku yang—"
"Anda adalah pengelola gudang senjata Kekaisaran
Gurumaku, kan!"
"Kaisar... hah?"
"Tadi Anda bertanya tentang senjata di kapal
terbang, jadi aku langsung terpikirkan hal itu. Masuk akal
jika Anda pengelola gudang senjata. Karena di usia Anda saat ini, Anda masih
bekerja mengelola gudang senjata, artinya Anda pasti sangat menyukai senjata.
Pasti Anda ditugasi oleh Kaisar untuk merawat Excalibur ini, kan?"
"……Yah, anggap saja begitu."
Syukurlah, tebakanku tepat.
"Jadi, Excalibur ini punya sebuah rahasia."
"Rahasia?"
"Benar. Katanya jika keturunan Kaisar yang sudah
dewasa memberikan energi sihir pada pedang ini, dia akan bersinar dan muncul
bilah cahaya yang mampu membelah awan. Apa kau pernah mendengarnya?"
"Tentu saja! Maksud Anda fungsi Registrasi Pemilik
dan Galah Pemotong Dahan, kan!"
"Ya, galah... apa?"
"Registrasi Pemilik itu fungsi untuk mencegah
pencurian, jadi pedang tidak akan bereaksi jika digunakan oleh orang lain
selain pemilik dan keluarganya."
"Iya, aku paham bagian itu. Tapi, apa itu Galah
Pemotong Dahan?"
"Begini, dahan pohon yang tinggi itu kan sulit
dipotong dengan pedang biasa. Makanya, saya tambahkan fungsi untuk membuat
bilah cahaya agar bisa memotong dahan tinggi dengan mudah. Awalnya paman
pemilik toko serba ada mau menjualnya sebagai paket hemat 'Beli satu Excalibur
dapat satu item praktis!'. Tapi karena galah pemotong tidak butuh sampai dua
buah, dan di desa sudah banyak alat dari adamantine, akhirnya cuma dibuat satu
buah saja."
"…………"
Lho? Apa dia terpesona? Atau malah bingung?
Ah, aku mengerti. Meski bukan bangsawan, dia pasti orang
kaya yang biasa menyewa tukang kebun untuk memangkas pohon.
Dia pasti tidak bisa membayangkan pemandangan di mana
semua orang di desa merawat pohon mereka sendiri.
"Ngomong-ngomong,
ada apa dengan Excalibur-nya?"
"Ah,
soal Registrasi Pemilik itu, apakah fungsinya bisa bertahan hingga banyak
generasi?"
"Maksud
Anda?"
"Maksudku,
jika darah sang Leluhur yang menerima pedang ini sudah semakin tipis, apakah
Registrasi Pemiliknya akan berhenti berfungsi?"
"Jika
darahnya sudah di bawah satu persen, fungsinya akan mulai tidak jelas. Jadi,
jika sudah sampai generasi ketujuh, kemungkinannya kecil, dan pada generasi
kesembilan hampir tidak akan berfungsi lagi."
"Begitu
ya... rupanya begitu. Namun sungguh ironis jika pedang pembelah awan berhenti
berfungsi di generasi kesembilan."
Kakek
itu mengangguk.
Ironis...
jangan-jangan aku malah merusak reputasi Excalibur.
Untuk
menjelaskan bahwa efek Excalibur tidak akan hilang begitu saja, aku melanjutkan
penjelasan.
"Tapi beda cerita kalau dilakukan pemindahan
kepemilikan. Misalnya jika Tuan Arthur mewariskan pedang pada anaknya, maka si
anak akan menjadi pemilik resmi. Dari situ akan bertahan tujuh generasi lagi,
dan jika cucunya diakui sebagai pemilik, maka akan berlanjut tujuh generasi
lagi. Selama proses serah terima dilakukan dengan benar,
Registrasi Pemilik tidak akan pernah terputus."
"Jadi begitu... tapi kalau begitu..."
Entah kenapa, wajah kakek itu malah jadi lebih serius
dari sebelumnya.
"Anu... apakah ada masalah?"
"Apa yang akan kubicarakan ini adalah rahasia paling
penting di Kekaisaran Gurumaku. Bisakah kau berjanji untuk tidak
memberitahukannya pada siapa pun?"
Mendengar kata rahasia kekaisaran, aku menahan napas.
Tapi kakek ini tidak terlihat seperti orang jahat, dan
tidak terlihat seperti ingin menyeretku ke masalah aneh.
Pasti ada alasan kenapa pengelola gudang senjata
sepertinya harus membicarakan hal sepenting ini.
Karena itu, aku mengangguk dan menjawab.
"Baik, saya tidak akan mengatakannya pada siapa
pun."
"Terima kasih. Sebenarnya, meskipun Kaisar yang
sekarang memberikan energi sihir, bilah cahaya tidak muncul dari Excalibur.
Bukan hanya Kaisar sekarang... ayahnya, Kaisar terdahulu, bahkan kakeknya pun
tidak bisa membangkitkan pedang cahaya itu. Aku tidak tahu sejak kapan ini
terjadi. Apakah pedangnya yang bermasalah, ataukah..."
"Itu cuma karena baterainya habis."
"Apakah ada perselingkuhan di masa lalu..."
"Sudah saya bilang, energinya habis."
"……Nak, kau dengar tidak? Aku bilang Kaisar
sudah menuangkan energi sihir tapi pedangnya tidak bersinar."
"Eh? Tapi untuk mengeluarkan bilah cahaya,
kristal sihir di bagian gagang harus terisi minimal satu persen, tapi sekarang
benar-benar kosong melompong. Boleh
saya pinjam sebentar?"
"U...
umu."
Aku
menerima Excalibur lalu mengalirkan energi sihir ke dalamnya.
Luar
biasa, memang pedang kebanggaan paman toko serba ada.
Seberapa
pun energi yang kualirkan, rasanya tidak kunjung penuh.
Aku
terus mengalirkan energi hingga hampir mencapai batas kemampuanku.
"……Fuu,
sudah cukup. Sekarang energinya sudah tiga persen, jadi harusnya bisa
mengeluarkan bilah cahaya sekitar sepuluh meter. Ke depannya tolong diisi
secara rutin ya? Ah, maksud saya bukan kakek, tapi Kaisar. Registrasi
Pemiliknya sepertinya masih terbarui dengan baik, jadi Kaisar yang sekarang
pasti keturunan asli Tuan Arthur. Tidak boleh lho mencurigai raja
sendiri. Bisa dipenjara karena dianggap menghina raja nanti."
Pasti kakek ini menyangka Kaisar yang sekarang adalah
palsu karena tidak bisa mengeluarkan bilah cahaya.
Aku memberikan peringatan tambahan soal perawatan
Excalibur.
"Tenang saja, karena saya sudah berjanji, kejadian
ini tidak akan saya ceritakan pada siapa pun."
"A...
umu..."
Sepertinya
kakek itu sudah paham, lalu dia menyarungkan kembali pedangnya.
Saat
itu, Lise-san datang.
"Kuruto-sama, Akuri, ternyata kalian di sini."
"Lise-mama!"
Akuri menggunakan Teleport dan langsung
memeluk Lise-san.
"Duh, Akuri. Jangan terlalu sering
berteleportasi."
"Maaf, Mama... huaaaa (menguap)."
"Tuh kan, dia jadi mengantuk."
Akuri memang bisa menggunakan sihir teleportasi, tapi
jika terlalu sering digunakan, energinya akan terkuras habis. Sepertinya dia
kelelahan karena berlarian ditambah efek sihirnya tadi.
"Kuruto-sama, koki di dapur ingin bertanya sesuatu
soal pengolahan sisa daging babi. Jika Anda tidak sedang sibuk,
bisakah Anda ke sana?"
"Daging babi? Baiklah, saya mengerti. Ah,
tapi—"
Padahal aku sedang di tengah-tengah memandu kakek
ini.
"Orang ini adalah kenalan saya, jadi saya yang akan
menggantikan Kuruto-sama memandunya."
"Begitu ya, syukurlah kalau begitu!"
Setelah menyerahkan Akuri dan kakek itu pada Lise-san,
aku segera menuju dapur.
◆◇◆
"Kakek, apa yang sedang Anda lakukan?"
Aku—Liselotte—bertanya sambil menghela napas sembari
menggendong Akuri.
Jelas sekali telah terjadi sesuatu antara beliau dan Kuruto-sama.
Namun, melihat Phantom yang bertugas menjaga Kuruto-sama
tidak bergerak, sepertinya tidak ada bahaya atau kekerasan yang terjadi.
"Tujuan utamaku adalah melihat kapal terbang.
Sekalian saja aku ingin menilai dengan mata kepalaku sendiri tentang Baronet
Rockhans yang dirumorkan itu."
"Sepertinya kita perlu berdebat mana yang jadi
tujuan utama dan mana yang sekadar 'sekalian'. Tapi ingat ya, jangan coba-coba
menariknya ke Kekaisaran."
"Boleh saja kan kalau aku memboyong kalian
berdua—tidak, bertiga bersama Akuri untuk pindah ke Kekaisaran?"
"Tidak boleh."
Itu tawaran yang sangat menarik, tapi aku menolaknya.
Bagiku Kuruto-sama adalah yang nomor satu, dan Akuri
berada di posisi yang hampir setara dengannya. Namun,
bukan berarti hal-hal setelah nomor tiga tidak berharga.
Interaksi santai dengan Yuri-san, kewajibanku sebagai
putri kerajaan, dan Ayahanda yang mencintaiku. Semua itu
adalah hal yang tidak ingin aku lepaskan.
"Jadi, bagaimana Kuruto-sama di mata Kakek?"
"Umu. Dia menyelesaikan kekhawatiranku dalam
sekejap."
"Kekhawatiran Kakek?"
"Ini."
Saat Kakek menghunus Excalibur, bilah cahaya pun muncul.
Jadi inilah bilah cahaya yang mampu membelah awan itu.
"Aku sering mendengar ceritanya, tapi baru kali
ini melihatnya langsung."
"Tentu saja. Karena aku pun baru kali ini
melihatnya."
"Eh?"
Setelah mendengar ceritanya, ternyata sejak beberapa
generasi kaisar sebelumnya, bilah cahaya itu tidak pernah muncul lagi.
Kakek sempat mengira garis keturunan kekaisaran telah
terputus, tapi ternyata Kuruto-sama memberitahunya bahwa itu hanya karena
energinya habis.
Omong-omong, penyebab habisnya energi itu diduga karena
Excalibur hanya digunakan sebagai pedang upacara penobatan dan biasanya
disimpan jauh di dalam gudang harta.
Jika Kuruto-sama saja butuh waktu puluhan detik dengan
kekuatan penuh untuk mengisi tiga persen, berarti energi yang dibutuhkan memang
sangat masif dan tidak mudah diisi.
Mungkin Tuan Arthur dan para kaisar zaman dulu selalu
membawa pedang itu ke mana-mana sehingga energinya terus terisi sedikit demi
sedikit hingga mampu memanifestasikan bilah cahaya.
"Aku tidak bisa mengatakannya pada siapa pun. Aku
terus menghakimi diriku sendiri sebagai kaisar palsu, tapi di sisi lain tidak
bisa turun dari takhta. Namun sekarang, aku bisa mewariskan takhta pada putraku
dengan tenang."
Alasan Kakek tetap bertakhta hingga usia ini pastilah
karena beliau tidak sanggup memberitahu Paman sang Putra Mahkota bahwa
Excalibur tidak bisa digunakan.
Aku pernah dengar Kakek menjalankan politik yang mencoba
mendewakan dirinya sendiri.
Namun mungkin itu dilakukan bukan karena ingin meniru
leluhur Arthur, melainkan demi menjadikan sosok pribadinya sebagai eksistensi
yang tak tersentuh.
Dengan begitu, jika rahasia tentang Excalibur terbongkar,
jatuhnya wibawa kekaisaran bisa diminimalisir.
"Tapi, jika pedang ini tidak hanya bereaksi pada
kaisar melainkan pada garis keturunannya, berarti aku pun bisa menggunakannya
ya."
"Sepertinya begitu. Kenapa, kau mau?"
"Tidak, terima kasih. Kelihatannya merepotkan."
Mewarisi Excalibur berarti menjadi kaisar. Aku sama
sekali tidak tertarik pada takhta permaisuri. Aku tidak mau terlibat dalam
masalah yang merepotkan.
Tiba-tiba, aku menyadari Kakek sedang menatap langit di
ufuk timur. Bulan tertutup awan tipis, menciptakan pemandangan bulan yang
samar.
"……Awan yang tidak menyenangkan…… Mengingatkanku
pada hari saat aku menerima kabar kematian Fran."
Gumaman itu sampai ke telingaku dengan sangat pelan,
sebelum akhirnya lenyap tertelan kegelapan malam.



Post a Comment