NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kanchigai no Atelier Meister Volume 8 Chapter 3

Chapter 3

Paus Pollan dan Raja Iblis


Hari kedua konferensi perdamaian.

Berdasarkan informasi yang sampai ke telingaku—Kuruto Rockhans—konferensi kemarin berjalan lancar bahkan setelah aku pergi.

Tiga negara yang berbatasan dengan wilayah iblis, yaitu Homuros, Koskiet, dan Torushen, kini telah berada dalam satu visi yang sama.

Masalah berikutnya hanyalah Kekaisaran Suci Pollan.

Karena itu, suasana menjadi sangat sibuk demi menyambut kedatangan perwakilan dari Kekaisaran Suci Pollan.

Paus akan tiba di Pegunungan Scene melalui jalur Kekaisaran Gurumaku.

Mengingat ketegangan antara Kekaisaran dan Gereja Pollan belakangan ini, ini adalah pertama kalinya Paus mengunjungi Kekaisaran setelah dua puluh lima tahun.

Bahkan bagi Kerajaan Homuros, ini adalah kunjungan kedua setelah selang waktu dua puluh sembilan tahun.

Konon, ini juga pertama kalinya beliau meninggalkan Kekaisaran Suci Pollan di luar jadwal kunjungan musim panas rutinnya selama dua minggu.

Tak hanya itu.

Agama Pollan, yang menjadi dasar Kekaisaran Suci Pollan, mungkin tidak terlalu dominan di negara-negara peserta konferensi kali ini, tetapi di banyak negara timur, agama tersebut telah ditetapkan sebagai agama negara.

Seandainya pihak Gereja Pollan menyatakan keberatan terhadap perdamaian ini...

Bukan hanya Kekaisaran Gurumaku yang tegang atau ras iblis yang dianggap musuh doktrin, tetapi tiga negara peserta lainnya juga akan dicap sebagai musuh agama.

Dengan kata lain, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa bagian terpenting dari konferensi ini baru saja akan dimulai.

 

"—Mereka datang."

Seseorang berseru.

Dari kejauhan, terlihat sebuah rombongan yang berjalan dalam dua baris.

Mereka adalah Ksatria Gereja yang mengenakan baju zirah perak mengilap.

Wajar jika mereka semua terlihat sangat kuat. Orang-orang di sana adalah para elit pilihan di antara para Ksatria Gereja.

"Aku pikir hanya Paus saja yang datang, ternyata ada dua Cardinal juga yang hadir..."

Malefis-san yang entah sejak kapan sudah berada di sampingku berkata sambil menyipitkan mata.

Sesuai ucapan Malefis-san, ada dua sosok berpakaian merah dan hitam di belakang para Ksatria Gereja.

Meski begitu, dari sini wajah salah satu dari mereka tidak terlihat jelas.

"Apakah itu hal yang langka?"

"Ya, sangat langka. Sampai ada dua orang dari total empat Cardinal yang datang."

"Terutama salah satu Cardinal yang ikut hari ini, katanya dia belum pernah menunjukkan batang hidungnya di depan publik sekali pun."

"Namanya Linoa Sacred. Rumor di balik layar menyebutkan bahwa dia adalah pemimpin organisasi pembunuhan yang bertugas membereskan pengkhianat dan musuh gereja."

"Apa tidak apa-apa bicara begitu?"

Gereja punya pembunuh bayaran? Rasanya itu hal yang tidak boleh diucapkan sembarangan, meskipun itu fakta.

"Tidak masalah. Toh, aku sudah dikucilkan dari agama Pollan," ujar Malefis-san dengan nada pasrah.

Aku merasa dia bisa kembali ke gereja jika menggunakan koneksi Mimiko-san, tapi sepertinya Malefis-san memang tidak berniat kembali.

Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi pasti ada sesuatu yang membuatnya meninggalkan gereja padahal dulunya dia sangat taat.

Ngomong-ngomong, Cardinal Linoa, ya? Pasti dia orang yang sangat hebat.

Salah satunya adalah pria berusia sekitar empat puluh tahun bernama Cardinal Jess.

Lalu, saat wajah orang yang satunya lagi terlihat—

"——!?"

Aku dan Malefis-san sama-sama terdiam seribu bahasa.

Sebab, Cardinal Linoa itu adalah orang yang sangat kami kenal.

Awalnya aku mengira itu hanya orang yang mirip. Mana mungkin dia adalah seorang Cardinal.

Namun, saat Cardinal Linoa itu menemukan aku dan Malefis-san, dia melambaikan tangan sambil tersenyum lebar.

Wajah seperti anak kecil yang sukses menjahili orang itu... tak salah lagi, dia adalah si Bandana yang kukenal.

 

Aku dan Malefis-san pun diajak masuk ke sebuah gubuk terdekat oleh Bandana yang memisahkan diri dari barisan.

"Kaget, 'kan, Kur, Malefis? Sebenarnya nama Bandana itu cuma nama samaran."

"Bahkan Kur pun tahu kalau itu nama samaran! Masalahnya bukan itu, kenapa Anda malah berpura-pura menjadi Cardinal!?"

"Berpura-pura itu kasar banget, lho. Aku ini memang Cardinal asli sejak dulu, tahu? Aku adalah pelayan mutlak dari Dewa Pollan."

"Kalau begitu, apakah aku harus memanggilmu Linoa-sama?"

"Nggak usah, panggil Bandana saja seperti biasa. Paus juga memanggilku Tuan Bandana, kok."

Ternyata Paus juga memanggilnya begitu.

Mungkin nama Linoa Sacred itu juga nama samaran. Kalau Linoa mungkin asli, tapi Sacred terdengar sangat mencurigakan.

"Kur, kamu sudah dengar kalau aku ini murid Sang Sage Agung, 'kan?"

"Aku dengar dari Rugol-san."

Begitu aku menjawab, Bandana melanjutkan bicaranya dengan santai.

"Aku ini perantara antara Sang Sage Agung dan Paus. Tapi, biar bisa bebas ketemu Paus itu butuh status sosial, jadi ya terpaksa aku jadi Cardinal. Aslinya aku nggak hebat-hebat amat, kok. Nggak usah sungkan."

"Terpaksa, katamu? Apa kamu tahu seberapa tinggi posisi seorang Cardinal itu?"

"Gajinya tiga puluh keping emas sebulan."

"Bukan itu yang aku tanyakan... tapi banyak juga, ya."

Aku bisa mendengar suara Malefis-san menelan ludah.

Apa Cardinal itu sistemnya digaji? Aku malah memikirkan hal yang tidak penting.

"Lalu, Bandana-san. Apakah Yang Mulia Paus benar-benar menentang perdamaian dengan ras iblis?"

"Ya iyalah. Secara doktrin mereka itu musuh. Singkatnya 'Musuh Doktrin'... ah, istilah itu garing banget ya. Pokoknya, Paus benar-benar niat buat menentang."

"Aku paham soal itu, tapi apa tidak ada titik tengah atau semacamnya?"

"Yah, Paus punya alasannya sendiri kenapa dia menentang. Jadi, kalau alasan itu dihilangkan, mungkin beliau bakal setuju?"

"Begitu ya—"

"Anda bicara seolah itu solusi hebat, padahal bukankah itu hal yang sudah jelas?"

Aku hampir saja setuju, tapi benar kata Malefis-san; kalau tidak ada alasan menolak, ya pasti setuju. Itu hal yang wajar.

Tapi, apa sebenarnya alasan Paus menentang?

Apakah karena ras iblis dianggap jahat dalam doktrin?

Tunggu sebentar. Bagaimana keadaannya di zamanku 1.200 tahun yang lalu?

Hildegard-chan sekarang disebut ras iblis, tapi di zaman itu, mereka disebut Ras Bertanduk (Arkanth). Seharusnya nama 'Ras Iblis' itu tidak ada.

Kalau begitu, jika ditanya apakah 1.200 tahun lalu tidak ada ras iblis, jawabannya tidak juga.

Istilah 'Ras Iblis' seharusnya memang sudah ada sejak dulu.

"Bandana-san, apa sebenarnya yang dimaksud dengan ras iblis itu?"

"Kur, apa yang kamu bicarakan? Ras iblis adalah ras yang tinggal di wilayah iblis, 'kan?"

"Nggak, Malefis. Sudut pandang Kur ini cukup penting. Apa itu ras iblis? Kenapa Hildegard yang dulu harusnya disebut Ras Bertanduk, sekarang malah disebut ras iblis? Itu mengarah pada satu jawaban."

"Apa alasannya?"

"Pikirkan saja sendiri. Aku masih punya pekerjaan penting."

Setelah mengatakan itu, Bandana keluar dari gubuk tanpa memberitahu hal penting apa pun.

Dia hanya meninggalkan misteri di kepalaku.

◆◇◆

"Jadi, apa kamu mau memberitahu rahasia itu padaku, Bandana?"

"Oalah, ternyata ada di sini ya, Yurishia-han."

"Jangan pura-pura, aku tahu kamu sudah sadar."

Aku melotot ke arah Bandana yang baru keluar dari gubuk.

Tak kusangka dia akan muncul sebagai orang dari Gereja Pollan.

Gereja Pollan—organisasi yang dicurigai sebagai dalang hancurnya Desa Haste.

Aku pikir Sang Sage Agung berada di pihak Desa Haste, tapi ternyata di balik layar beliau juga terhubung dengan Gereja Pollan.

Sebenarnya aku ingin meringkus Bandana dan memaksanya bicara, tapi berurusan dengan orang di posisi Cardinal akan merepotkan nantinya.

Kuharap dia mau bicara baik-baik.

Saat aku berpikir begitu, suara lonceng terdengar.

"—!"

Aku melihat ke pinggangku.

Lonceng Petapa yang tergantung di sana berbunyi. Itu adalah sinyal panggilan dari Sang Sage Agung.

Bukan hanya milikku, lonceng yang dibawa Bandana pun berbunyi secara bersamaan.

"Wah, harus segera pergi nih."

"Tunggu dulu. Konferensi perdamaian baru akan dimulai. Aku punya posisi yang harus dijaga, kamu juga begitu, 'kan!?"

"Panggilan Sang Sage Agung adalah prioritas utama di atas segalanya. Itulah tugas murid beliau. Kamu sudah siap dengan konsekuensi ini sejak jadi muridnya, 'kan?"

Aku memang sudah siap.

Bahkan jika harus mengotori tanganku dengan pekerjaan yang tidak kusukai seperti pembunuhan, aku sudah menyiapkan mental.

Meski begitu, aku mengira akan dipanggil setiap hari untuk mengurus hal-hal remeh, tapi kenyatannya ini adalah pertama kalinya aku dipanggil.

Kenapa harus di saat seperti ini—pikirku, tapi mungkin justru karena saat inilah aku dibutuhkan.

"Hah, baiklah. Aku akan menjelaskan situasinya pada Kak Loretta dulu, tunggu sebentar."

"Tolong secepatnya ya."

Bandana melambai sambil tertawa.

 

Kak Loretta sempat keberatan karena aku tidak bisa mendampinginya di rapat, tapi setelah melihat mataku, sepertinya beliau merasakan sesuatu dan mengizinkanku pergi.

Aku pun bergabung kembali dengan Bandana.

Dia sudah tidak mengenakan pakaian Cardinal, melainkan kembali ke setelan petualang Ranger biasanya.

"Ayo berangkat."

"Ya. Ngomong-ngomong, dari mana kita menuju ke Menara Petapa?"

"Ada alat teleportasi di bagian dalam Taman Noah, kita lewat sana."

Ternyata dia juga sudah tahu soal Taman Noah.

Di depan gua yang menuju ke Taman Noah, para ksatria Kerajaan Homuros sedang berjaga. Karena mereka mengenalku, aku diizinkan lewat dengan mudah.

Karena Bandana juga memakai perlengkapan Ranger, mereka pasti mengira kami sedang melakukan penyelidikan reruntuhan.

Seandainya dia masih memakai baju Cardinal, masuk ke sini pasti tidak akan semudah ini.

Saat melewati pabrik Dungeon Core, aku bertanya apakah dugaan Yuna dan Mimiko tentang alasan pabrik ini ada adalah benar.

"Ya, tepat sekali. Dungeon Core memang alat untuk menghasilkan sumber daya. Saat dunia ini diciptakan, terjadi kekurangan logistik yang sangat parah."

"Lalu, kenapa pabrik Dungeon Core ini masih beroperasi sampai sekarang?"

"Karena tidak ada pilihan lain. Kamu lihat proses pembuatannya tadi, 'kan? Cairan hitam yang disemprotkan ke bola kaca bakal Dungeon Core itu. Cairan itu adalah gumpalan mana (Miasma). Di ujung pabrik ini, ada alat teleportasi kecil yang memiliki celah dimensi tipis."

"Mana dari Monster Terlarang terus merembes keluar dari sana. Kami mencairkannya dan menyimpannya, tapi kalau dibiarkan begitu saja, akan jadi gawat. Kalau sampai terminum hewan secara tidak sengaja, mereka akan berubah jadi monster yang ganas."

"Kalau cuma jadi monster sih masih mending, tapi kalau terlalu banyak terminum, urusannya bakal panjang. Makanya, kami harus mengonsumsinya meskipun itu dengan cara membuat Dungeon Core."

Begitu ya, jadi itulah alasan kenapa pabrik ini masih terus beroperasi.

Dulu saat Kuruto membangun kota dalam semalam menggunakan Dungeon Core, aku sempat kagum betapa praktisnya benda itu.

Bagi orang kuno, itu pasti hal yang sama. Tindakan menciptakan materi dari mana di udara—Miasma—adalah hal yang dilakukan sehari-hari.

Namun, aku mendengar dari Urano-kun bahwa mana yang dimiliki orang kuno itu sangat sedikit 1.200 tahun yang lalu.

Untuk menutupi kekurangan mana itulah, tercipta monster yang bahkan tidak bisa dikendalikan oleh orang kuno sendiri—Monster Terlarang—dan hal itu menyebabkan dunia hancur.

Kemudian, Bandana menceritakan sesuatu yang jauh lebih mengerikan.




Sejauh yang aku tahu, sebelum Monster Terlarang diciptakan, dunia ini memang dihuni hewan biasa, tapi makhluk buas yang disebut monster itu tidak ada.

Monster yang ada di permukaan bumi saat ini konon adalah hewan yang bermutasi setelah menyerap mana yang meluap dan berubah menjadi hawa jahat.

Itu juga alasan kenapa tidak ada satu pun monster di dalam Taman Noah. Benar-benar memperlihatkan betapa dalamnya dosa umat manusia.

Namun, ada sisi ironisnya; tanpa mana atau Dungeon Core tersebut, dunia saat ini tidak akan bisa bangkit kembali karena kekurangan sumber daya.

"Manusia kuno hebat ya. Meski demi sumber daya, mereka sampai menciptakan dan memanfaatkan monster dari Dungeon Core. Katanya mana mereka sedikit, tapi apa kemampuan tempur mereka tinggi?"

"Nggak, kekuatan orang kuno itu lebih lemah dari manusia sekarang. Karena mereka hidup di tempat yang aman, mayoritas dari mereka bahkan nggak pernah pegang pedang seumur hidup. Orang-orang begitu mana mungkin bisa bertarung lawan monster."

"Lalu, bagaimana cara mereka menjadikannya sumber daya? Ah, apa mereka punya senjata yang sangat hebat?"

"Itu juga salah. Sepertinya memang ada senjata hebat, tapi hampir nggak pernah dipakai. Pasti mereka takut senjata itu bakal diarahkan ke diri mereka sendiri. Lagipula negara orang kuno itu negara bersatu, jadi nggak ada perang."

"Terus, jawaban yang benarnya apa?"

"Ya karena teknologi mereka hebat. Mereka pasti bisa menciptakan manusia yang sanggup melawan monster, kan? Manusia yang cuma bisa mengalahkan monster sumber daya, tapi jinak dan 'nyaman' bagi dunia."

Manusia yang diciptakan hanya untuk mengalahkan monster sumber daya, ya. Apa memang ada manusia yang "senyaman" itu?

"—!"

Aku tersentak dan menoleh ke belakang. Siapa yang mengalahkan penjaga yang melindungi pabrik ini?

Siapa sosok yang bisa dengan mudah menghancurkan monster sumber daya seperti Golem atau Treant—yang menghasilkan batu, logam, dan kayu—tapi hampir tidak berdaya melawan monster biasa seperti Slime atau Goblin, apalagi dalam pertarungan antarmanusia?

"……Bandana, jangan-jangan—"

"Obrolannya sampai di sini saja. Aku jadi kebanyakan bicara. Jangan sampai membuat Sang Sage Agung menunggu. Ayo cepat."

Bandana berujar singkat lalu mulai melangkah pergi dengan cepat. Mau diakhiri atau tidak, intinya memang begitu, kan?

 

Di bagian yang lebih dalam lagi dari lorong tersembunyi di Taman Noah, terdapat alat teleportasi yang mirip dengan yang kulihat di Reruntuhan Valha Barat maupun gua dekat Kota Samael.

Katanya, alat ini adalah perangkat teleportasi sub-ruang. Alat yang diciptakan untuk berpindah dari dunia tempat tinggal manusia kuno menuju dunia ini.

Alat ini tersebar di seluruh dunia, dan sampai sekarang beberapa murid Petapa Agung masih menggunakannya untuk bepergian—informasi sepenting itu dia lemparkan begitu saja seperti sedang bergosip.

Saat aku dan Bandana menyentuh alat itu, Lonceng Petapa memancarkan cahaya redup.

Dan sebelum kusadari, kami sudah berada di dalam Menara Petapa.

"Petapa Agung, aku membawa Yurishia ke sini!" teriak Bandana dengan suara keras, memanggil sosok yang kemungkinan ada di lantai atas.

Gaya bicaranya sangat berbeda dengan nada sopan 1.200 tahun lalu, tapi ada beberapa gestur yang membuatku yakin mereka adalah orang yang sama.

Sosok ini pun penuh misteri. Sebenarnya berapa usianya?

Saat aku memikirkan itu, lonceng berbunyi sekali lagi. Sepertinya itu tanda agar kami naik ke atas.

Dugaanku benar. Bandana menaiki tangga di dekat situ, dan aku mengikutinya hingga kami sampai di sebuah ruangan.

Dulu saat aku ke sini, hanya ada kursi yang disiapkan. Namun kali ini, seolah ingin menjamu, sudah tersedia kursi, meja, bahkan teh.

"Terima kasih atas kerja kerasnya, Bandana. Yurishia-san, terima kasih juga sudah datang."

Gadis berambut emas yang mirip Lise—Sang Sage Agung—menyambut dengan senyum ramah.

Aku sudah dengar 1.200 tahun lalu kalau dia adalah proyeksi (halusinasi) dan bisa mengubah wujudnya sesuka hati, tapi repot juga kalau wujudnya berubah-ubah terus.

"Kenapa setiap kali bertemu wujudmu selalu berubah?"

"Ini sengaja kulakukan. Agar aku tidak kehilangan jati diri dari wujud asliku."

"Apa maksudnya?"

Karena aku tidak paham, aku pun bertanya.

Katanya, jika dia terus-menerus memproyeksikan wujud yang sama, ada kalanya dia tidak bisa membedakan apakah wujudnya saat ini adalah proyeksi atau wujud aslinya yang nyata.

Apa mungkin hal seperti itu terjadi?

Tapi aku teringat kalau belati yang dia bawa awalnya adalah "Pedang Kebimbangan" buatan Kuruto.

Jika mengingat belati itu dibuat berdasarkan kisah tentang seseorang yang bermimpi menjadi kupu-kupu atau kupu-kupu yang bermimpi menjadi manusia... rasanya kemungkinan itu tidak bisa dibilang mustahil.

"Si Lise itu... dia memakai pedang berbahaya seperti itu ya. Apa dia baik-baik saja?"

"Ya, apa yang Liselotte-sama ciptakan dengan belati itu pada dasarnya hanyalah wujud dirinya sendiri atau proyeksi Kuruto-sama. Saat memproyeksikan Kuruto-sama pun, beliau tidak menggantikan wujud aslinya, jadi tidak perlu khawatir."

"Begitukah? Kalau dia terus-terusan membuat proyeksi Kuruto yang mencintainya, apa dia tidak akan bimbang apakah Kuruto yang mencintainya itu cuma ilusi atau nyata?"

"Tidak perlu bimbang. Kuruto-sama sangat menyayangi Lise-sama. Tentu saja, termasuk dirimu juga, Yurishia-san."

Serangan balik tiba-tiba dari Sang Sage Agung membuat wajahku terasa panas.

"Kamu memanggilku bukan untuk menggodaku, kan? Apa keperluanmu?"

"Tentu saja ini urusan penting. Tapi sebelumnya, mari minum teh dulu."

Sang Sage Agung menuangkan teh ke dalam cangkir.

...Sejujurnya, selain buatan Kuruto, belum ada teh yang terasa enak bagiku.

Tapi tidak mungkin aku menolaknya sekarang.

Aku mencoba meminum teh itu dengan melipat lidah ke dalam agar indra perasaku mati seminimal mungkin, sampai hampir tersedak panas... tapi.

"Eh? Tidak buruk."

Memang tidak Sinak buatan Kuruto, tapi setidaknya ini tidak bisa dibilang tidak enak. Ya, lumayan enak.

"Hebat juga ya, Petapa Agung."

"Jadi itu yang kau puji? Yah, aku sudah berlatih selama lebih dari empat ribu tahun."

Empat ribu tahun... secara harfiah jam terbangnya berbeda.

Sebaliknya, fakta bahwa Kuruto berada di posisi yang tidak bisa dikejar meski sudah latihan empat ribu tahun itu juga luar biasa.

Walau aku tidak akan terkejut sih.

Namun, aku tidak meninggalkan konferensi perdamaian dan datang ke sini hanya untuk minum teh.

Jika dia tidak mau mulai bicara, maka aku yang akan bertanya.

"Petapa Agung, apa kamu ini musuh? Atau kawan?"

"……Aku hanyalah seorang Pengelola. Namun, aku tidak berniat menjadi musuhmu. Jika memang keadaan memaksa begitu, aku tidak keberatan untuk melepaskan tanggung jawabku sebagai Pengelola."

"Apa maksudnya? Kedengarannya seolah kamu rela membuang segalanya demi aku?"

"Ya, itulah yang kukatakan."

……Apa-apaan ini?

Aku pikir dia hanya menganggap muridnya sebagai pion, tapi apa dia menganggap muridnya lebih berharga daripada nyawanya sendiri?

Saat aku sedang berpikir begitu—

"Cih."

Di sampingku, Bandana berdecak kesal. Ini mungkin pertama kalinya sosok yang biasanya santai ini menunjukkan rasa muak secara terang-terangan.

"—Bandana."

"Nggak, nggak ada apa-apa, Petapa Agung. Tapi tolong, hargailah nyawa Anda sendiri."

Saat Petapa Agung mencoba menenangkannya, Bandana membalas dengan senyum santainya yang biasa, seolah mengkhawatirkan keselamatan Sang Sage.

"Bandana, aku selalu terbantu olehmu dan aku berterima kasih. Tapi—"

"Ah, aku tahu apa yang ingin Anda katakan. Ini salahku."

Bandana bertepuk tangan, menandakan obrolan itu berakhir.

"Maaf ya, aku mau istirahat dulu. Aku nggak mau umurku makin pendek."

Setelah berkata begitu, Bandana menghabiskan tehnya dalam sekali teguk, menyambar tiga keping biskuit, lalu naik ke lantai atas.

Aku tidak tahu ada apa di lantai atas, tapi apa itu kamar tidurnya?

"Di lantai atas ada Batu Segel Kosong yang dibuat dari kristal sihir. Sama seperti yang ada di Taman Noah."

"Batu Segel Kosong?"

"Iya. Jika pekerjaannya selesai, Bandana akan tidur di sana. Itulah alasan kenapa dia yang tidak memiliki keabadian bisa terus mendampingiku selama ribuan tahun."

Jadi Bandana disegel saat tidak ada pekerjaan, ya.

Ngomong-ngomong, di luar masa penyegelan itu, katanya usia aktif Bandana sudah mencapai seratus tahun.

Dia sama sekali tidak terlihat seperti nenek-nenek, tapi aku tidak kaget.

Mungkin karena selain Hildegard yang abadi, aku punya Mimiko di dekatku, si jenius dalam hal awet muda.

"Berarti, biasanya Anda hanya sendirian di sini?"

"Tidak, aku tinggal berdua dengan ibuku."

Fakta bahwa Sang Sage Agung punya ibu adalah kejutan terbesar bagiku hari ini.

Maksudku, ibunya Sang Sage Agung itu bukan Dewi, kan? Minimal, menurutku dia bukan manusia biasa.

"Lalu, Petapa Agung. Apa alasan Anda memanggilku?"

"Aku dengar Kuruto-sama telah membawa keluar gadis yang tersegel dalam kristal sihir."

"Apa itu tindakan yang salah?"

"Tidak, aku justru ingin kalian melepaskan segelnya."

"Bagaimana caranya?"

"Itu mungkin dilakukan dengan kekuatan Akuri. Kuruto-sama pasti sudah menyadari kemungkinan itu, jadi silakan berkonsultasi dengannya."

Kekuatan teleportasi Akuri, ya. Aku tidak ingin memaksakan kehendak pada anak itu, tapi kalau lewat Kuruto, harusnya aman. Kuruto tidak mungkin memilih cara yang membebani Akuri.

"Baiklah. Tapi, sebenarnya siapa gadis itu?"

"Penyintas dari kaum kuno. Putri tunggal dari Paus pertama Gereja Pollan."

◆◇◆

Konferensi perdamaian yang melibatkan Gereja Pollan pun dimulai.

Selain para pemimpin yang hadir kemarin, hari ini Paus dan Cardinal Jess ikut serta, didampingi tiga Ksatria Gereja yang berjaga di belakang mereka.

Di aula ini sudah ada para ksatria dari berbagai negara termasuk pengawal pribadi Kerajaan Homuros, jadi keamanan bukan masalah.

Masalahnya adalah, begitu diskusi dimulai, Paus langsung menyatakan hal ini:

"Gereja Pollan berniat menetapkan negara mana pun yang menyetujui konferensi perdamaian ini sebagai musuh agama."

Aku—Liselotte—merasa pening seketika. Aku tahu mereka akan menentang, tapi aku tidak menyangka mereka akan menyatakannya setegas itu sejak awal.

"Wahai Paus. Dengan sikap seperti itu, bukankah kehadiranmu di sini menjadi sia-sia? Ini adalah tempat untuk berdiskusi, bukan tempat untuk memaksakan pendapat secara sepihak."

Kakek angkat bicara kepada Paus.

"Lagi pula, kenapa Anda terlihat begitu terburu-buru? Ini tidak seperti Anda yang biasanya."

Terburu-buru—benar, aku pun merasakannya.

Paus Gereja Pollan yang kukenal adalah sosok yang pandai melakukan negosiasi dengan cara menutup jalur pelarian lawan secara perlahan.

Jangan-jangan ini Paus palsu—ah, tidak mungkin.

"Aku tidak terburu-buru. Dalam doktrin Gereja, ras iblis adalah musuh umat manusia. Perdamaian itu mustahil. Sesederhana itu."

Paus berkata demikian. Benar-benar tidak ada celah untuk bernegosiasi.

Aku harus menemukan jalan keluar untuk pembicaraan ini. Saat itulah...

"Anu, kenapa Dewa Pollan menetapkan ras iblis sebagai musuh?"

Suara itu berasal dari Kuruto-sama. Mengapa Kuruto-sama bisa berada di sini? Alasannya bermula tepat sebelum konferensi ini dimulai.

"Akuri, ini adalah logam paduan Orichalcum dan Mithril. Lihat, kalau digabung jadi cantik, kan?"

"Cantik!"

Orichalcum yang disebut sebagai logam para dewa, dan Mithril yang memiliki kekuatan pengusir kejahatan.

Aku belum pernah mendengar logam paduan dari keduanya.

Saat aku sedang menyaksikan pencapaian luar biasa Kuruto-sama yang membuat logam legendaris tersebut hanya dengan panci masak biasa, tamu tak diundang datang ke kediaman kami.

"Kuruto, ada tamu—Beast King ingin bertemu denganmu."

Shina-san mengantar Beast King Keltos masuk.

"Aku datang untuk menemui Kuruto, tapi ternyata Liselo—"

"Lise. Aku adalah perwakilan dari penguasa Valha. Aku berpartisipasi sebagai penasihat dalam konferensi perdamaian ini mewakili kota yang paling dekat dengan wilayah iblis."

"Umu, jadi Lise juga ada di sini ya."

Bahaya. Padahal aku belum berniat memberitahu Kuruto-sama bahwa aku adalah Liselotte.

"Hmm? Kuruto, logam apa itu? Aku belum pernah melihatnya."

"Ah, ini logam paduan Orichalcum dan Mithril."

"Paduan Orichalcum dan Mithril? Begitu ya, jika menempa senjata dengan ini, maka akan didapat kekuatan maksimal dan kemampuan pengusir hawa jahat. Apa bisa mengungguli Excalibur?"

"Itu tidak mungkin. Dengan kemampuanku sekarang, aku belum bisa membuat Excalibur."

"Belum—berarti suatu saat nanti bisa, ya. Aku suka. Maukah kau menempa satu untukku?"

"Tentu saja."

"Tunggu sebentar! Beast King, apa tujuan Anda datang ke sini!?"

Jangan bilang Anda jauh-jauh ke sini hanya untuk minta dibuatkan pedang!?

"Ooh, benar juga. Aku hampir lupa urusan utamaku. Kuruto, dalam konferensi ini, setiap raja diizinkan membawa satu asisten. Kau sudah tahu itu?"

"Ya."

Ayahanda membawa aku sebagai pengganti perdana menteri, Loretta-sama membawa Yuri-san, Hildegard-san membawa Chitchi-san. Pemimpin Torushen dan Kakek juga membawa asisten masing-masing.

Tapi kalau dipikir-pikir, Beast King memang datang sendirian.

Dia bilang dia akan mengikuti pendapat Hildegard-san sehingga tidak butuh asisten, tapi—

"Bagaimana kalau kau ikut sebagai asistenku?"

"Eh? Saya?"

"Umu, aku sudah sangat menyukaimu. Tentu saja, gajinya akan besar. Oh iya, bagaimana dengan suraiku? Sura milik Beastman ras iblis yang mengandung banyak mana konon bisa dijual mahal di kalangan manusia."

Apa-apaan orang ini!

Meski begitu, keberadaan Kuruto-sama di konferensi kemarin sudah menjadi pusat perhatian.

Kedok Rikuto-sama sebagai Atelier Meister mulai kehilangan fungsinya.

Semakin banyak pelindung yang dimiliki Kuruto-sama saat kemampuannya terungkap, itu akan semakin baik.

"Beast King, Kuruto-sama adalah rakyat Kerajaan Homuros kami. Kami tidak berniat menyerahkannya ke negara lain."

"Aku tahu. Kaisar tua itu juga sudah memperingatiku. Yang kuinginkan hanyalah 'kejutan' yang mungkin akan dilemparkan Kuruto dalam rapat nanti."

Ternyata Hildegard-san juga sudah setuju, ya. Kalau begitu, aku tidak punya alasan untuk menolak.

"Anu, saya tidak terlalu mengerti, tapi apakah maksudnya pendapat orang biasa seperti saya dibutuhkan dalam pembicaraan para raja?"

Orang seperti Kuruto-sama mana mungkin bisa disebut orang biasa, tapi biarlah beliau menganggapnya begitu. Akhirnya Kuruto-sama ikut dalam konferensi...

"Pemuda kemarin ya."

"Eh? Kakek kemarin... eeeeh!? Jadi Anda ini Kaisar!?"

Aku sedikit pusing saat melihat Kuruto-sama ketakutan karena mengira telah berbuat tidak sopan pada Kakek kemarin.

Jika aku membongkar identitasku, apa beliau akan bereaksi seperti itu juga?

Selagi aku memikirkan itu, rapat dimulai.

 

Dan sekarang, kembali ke situasi saat ini.

"Anu, kenapa Dewa Pollan menetapkan ras iblis sebagai musuh?"

Benar kata Beast King, satu pertanyaan Kuruto-sama langsung melempar "kejutan" besar.

"Itu karena ras iblis adalah keberadaan yang diciptakan oleh iblis yang memusuhi para dewa."

"Tapi sepertinya kemungkinan besar ras iblis itu diciptakan oleh manusia."

"Memang benar ada ajaran yang menyebut kekuatan jahat manusia menjadi landasan ras iblis—"

"Bukan begitu. Mana yang kuat akan menjadi hawa jahat, dan hewan yang menyerapnya akan menjadi monster. Lalu, ras iblis diciptakan agar sanggup bertahan hidup di tengah hawa jahat tersebut."

……Bukannya melempar batu kejutan, beliau malah melempar bongkahan batu raksasa.

"Baronet Kuruto Rockhans, tolong jelaskan lebih rinci."

Atas permintaan Loretta-sama, Kuruto-sama mengangguk.

"Tadi saya sempat berbincang dengan Bandana-san—maksud saya Cardinal Linoa. Beliau bilang padaku, penting untuk mengetahui apa itu sebenarnya ras iblis. Lalu saya teringat isi penelitian Paman Urano... tentang dunia asal kita."

Kemudian, Kuruto-sama menceritakan tentang asal-usul dunia yang dulu pernah aku dan Yuri-san dengar dari Paman Urano.

"Namun, saat dunia ini diciptakan, ras iblis itu belum ada. Berdasarkan penelitian Paman, hewan-hewan yang menyerap mana Monster Terlarang yang merembes ke dunia inilah yang kemudian disebut monster."

"Kalau begitu, apa maksudmu ras iblis adalah manusia yang menyerap mana lalu berubah jadi monster?" tanya Ayahanda.

"Bukan, tubuh manusia kemungkinan besar tidak sanggup menahan mana yang pekat."

"Apa yang dikatakan Baronet Rockhans benar. Mana memiliki kekuatan yang bisa merusak kewarasan, dan ada data penelitian yang menunjukkan manusia akan mati jika menyerap mana dalam konsentrasi tinggi," sahut Loretta-sama yang memang sudah lama meneliti tentang Monster Terlarang.

"Karena itulah, ras iblis diciptakan agar sanggup menahan mana tersebut. Hildegard-chan—maksud saya Kaisar Tua—sudah hidup selama 1.200 tahun tanpa menua, tapi selama itu pula kedua tanduknya terus tumbuh. Tanduk itulah yang meningkatkan mananya hingga beliau dijuluki Kaisar Tua. Saya rasa itu hasil dari terus-menerus menyerap mana di udara. Kemungkinan ras iblis adalah ras manusia yang diciptakan agar bisa bertahan hidup di wilayah dengan mana yang pekat."

"Kuruto, apa kau punya bukti untuk bicara sejauh itu?" tanya Beast King yang duduk di sebelahnya.

"Saya punya pamflet yang saya temukan di reruntuhan dekat sini."

Kuruto-sama menjajajkan pamflet reruntuhan yang beliau temukan kemarin.

"Tadi saat Cardinal Linoa bertanya apa itu ras iblis, saya mencoba mencari tahu apakah orang kuno meninggalkan catatan. Ternyata di pamflet ini ada artikel bertajuk 'Fitur Kesehatan: Cara Membangun Tubuh Sehat agar Bisa Bertahan di Tengah Mana'. Di sana dijelaskan tentang organ penyerap mana, dan bentuknya sangat mirip dengan tanduk Kaisar Tua maupun surai Beast King."

Di sana memang ada ilustrasi tanduk Hildegard-san, surai Beast King, dan Inti Naga (Dragon Core).

Aku teringat pernah dengar kalau Inti Naga mengandung mana dalam jumlah sangat besar.

Bahkan organ penyerap mana itu juga tertulis akan masuk ke dalam informasi genetik.

Jika sesama pemilik organ itu menikah, anak mereka akan lahir dengan organ tersebut—alias lahir dengan tanduk atau surai.

Aku tidak tahu ada pamflet yang menuliskan hal seperti itu. Kenapa beliau tidak memberitahuku?

Ah, mungkin karena beliau sudah menyerahkannya pada Mimiko-san, beliau mengira Mimiko-san sudah membagikan informasinya pada semua orang.

Mengingat Mimiko-san juga sudah mulai bisa membaca huruf kuno sedikit-sedikit.

"Ras iblis adalah manusia yang justru memanfaatkan mana dari Monster Terlarang dan mengubah tubuh mereka sendiri untuk melawan monster tersebut. Jadi, harusnya ras iblis bukanlah musuh Dewa Pollan."

"Jangan membual!" teriak sang Cardinal.

"Kami tidak datang jauh-jauh ke sini untuk mendengar bualan seorang bocah. Dunia diciptakan manusia empat ribu tahun lalu? Monster Terlarang? Semua itu menentang ajaran Dewa Pollan—"

"Hentikan."

Paus yang sedari tadi diam akhirnya angkat bicara.

"Semua yang dia katakan adalah fakta. Dunia ini memang diciptakan oleh kaum kuno sekitar 4.300 tahun yang lalu."

"Yang Mulia Paus! Apa yang Anda katakan!?"

"Dunia asal kita dulu hancur oleh monster penghasil mana yang diciptakan ras manusia sendiri, sesuatu yang pemuda itu sebut 'Monster Terlarang'. Dunia ini diciptakan sebagai tempat pelarian dari mereka."

"Paus, itu berbeda dengan ajaran Gereja Pollan!"

"Hei!"

Beast King hanya mengucapkan satu kata pada Cardinal Jess yang mencoba membantah.

"—Diam."

Niat membunuh yang terpancar membuat Cardinal Jess melotot dan mulutnya berbusa.

Aku merasakan tekanan yang bahkan lebih besar daripada saat Kuruto-sama pingsan akibat intimidasi dari peserta turnamen bela diri dulu.

"Maafkan dia, dia orang yang agak kaku," Paus meminta maaf lalu mulai bercerita.

Beliau menceritakan asal-usul dunia ini lebih rinci daripada penjelasan Kuruto-sama.

Meski begitu, bagian ini adalah sesuatu yang aku dan Ayahanda sudah tahu.

Melihat Loretta-sama yang diam saja, dia pasti juga sudah dengar dari Yurishia-san. Kakek juga tidak menunjukkan keberatan.

Lebih lanjut, Paus menjelaskan alasan mengapa ras iblis tinggal di sisi barat benua.

Dalam ajaran Gereja, dikatakan bahwa Dewa Pollan mengusir ras iblis ke barat dan menciptakan hutan lebat, gurun kematian, serta laut ganas untuk melindungi umat manusia. Namun nyatanya—

"Mana di udara jika dibiarkan akan mengubah hewan menjadi monster yang mengerikan. Untuk menghilangkannya, kita harus memanfaatkan Dungeon untuk mengubah mana menjadi monster, atau menciptakan Dungeon Core itu sendiri. Namun, jika jumlah Dungeon Core ditambah tanpa kendali, pengelolaannya akan sangat sulit. Sebaliknya, jika membiarkan mana begitu saja, wilayah dengan mana pekat akan melahirkan monster yang terlalu kuat. Karena itulah, keberadaan ras iblis yang sanggup menyerap mana dan mengubahnya menjadi kekuatan sendiri adalah hal yang krusial. Itulah alasan sebenarnya kenapa ras iblis tinggal di sisi barat yang kaya akan mana."

"Wahai Paus. Jika begitu, kenapa Anda menentang perdamaian dengan ras iblis? Berdasarkan penjelasan tadi, harusnya ras iblis adalah keberadaan yang berguna bagi manusia maupun dunia. Bukankah lebih baik kita hidup bekerja sama tanpa perlu berperang?"

Pertanyaan Ayahanda sangat masuk akal. Namun—

"Karena ras iblis dan umat manusia tidak boleh bercampur," sahut Chitchi-san.

Dia kemudian melepas sorban yang dikenakannya. Di dahinya, terlihat sebuah tanduk kecil yang patah.

"Anak blasteran antara ras iblis dan manusia memiliki kemampuan yang lemah dalam mengubah mana di tanduk menjadi kekuatan sendiri. Karena itulah, tidak ada jalan hidup selain mematahkan tanduk seperti diriku. Jika interaksi antar-ras terus berlanjut dan darah mereka semakin tipis, maka pemurnian mana tidak akan bisa dilakukan lagi."

"Memang benar, pertikaian antara manusia dan ras iblis sudah berlangsung lama, tapi anehnya tidak pernah ada perang yang sampai memusnahkan salah satu pihak."

"Dalam sejarah panjang kita, lima ratus tahun lalu pernah terjadi perang dahsyat di mana Paus memimpin umat manusia di tengah jalan. Namun Paus tersebut dibunuh oleh orang dekatnya, sehingga perang sulit dilanjutkan dan berakhir dengan gencatan senjata."

Atas perkataan Ayahanda, Paus menggelengkan kepalanya.

"Itu bukan pembunuhan, melainkan bunuh diri. Setelah menempatkan diri sebagai pemimpin perang, beliau memilih mati untuk menghentikan perang tersebut."

Demi menghentikan perang, beliau rela membuang nyawanya sendiri. Begitulah penjelasan Paus. Ternyata Paus yang seharusnya menjadi pemimpin kubu anti-perdamaian adalah orang yang paling anti-perang.

Jika dipikirkan, ini menjelaskan mengapa iman kepada Dewa Pollan sangat kuat di negara-negara timur, namun penganutnya sedikit di negara-negara barat yang dekat dengan wilayah iblis.

Merasa terganggu jika tidak ada rasa permusuhan terhadap ras iblis memang masuk akal, tapi di sisi lain, terlalu memusuhi mereka juga bisa memicu peperangan.

"Anu, kalau begitu, apakah alasan ras iblis tidak menyerang manusia juga sama? Lagipula, di wilayah iblis juga ada manusia yang tinggal, kan?"

Kuruto-sama bertanya. Memang benar, jika itu campur tangan terhadap umat manusia, Paus bisa melakukannya dengan mudah. Namun, mustahil baginya untuk mencampuri pihak ras iblis.

Apalagi, manusia memang hidup di wilayah iblis.

"Kuruto, poin yang bagus."

Hildegard-san mengangguk pada ucapan Kuruto-sama, namun tatapannya tetap tertuju tajam pada Paus.

"Raja Iblis juga sama seperti Paus, dia tahu segalanya, kan? ……Tidak, mungkin sedikit berbeda."

Dia berbicara seolah telah menyadari segalanya.

"Paus, boleh aku bertanya sesuatu?"

"Apa itu?"

"Di antara para Paus terdahulu, apakah tidak ada seorang pun yang tak tahan memikul tanggung jawab berat ini, lalu mencoba mengumumkan apa yang diketahuinya kepada dunia? Buktinya, sekarang Anda menceritakan semuanya kepada kami, kan?"

"…………"

Paus tetap bungkam menanggapi kata-kata Hildegard-san. Gadis itu melanjutkan lagi.

"Bagi Gereja Pollan, informasi tadi justru kebenaran yang tidak menguntungkan. Pasti banyak yang ingin menguburnya dalam kegelapan sejarah. Seperti Cardinal tadi. Tapi, kenapa fakta-fakta ini bisa tersampaikan dengan begitu akurat? Lalu, tiba-tiba aku teringat sesuatu."

"…………Apa yang ingin Anda katakan?"

"Aku dengar dari Kuruto, ada manusia bernama Witukind yang memindahkan jiwanya ke tubuh anaknya sendiri dan mengambil alih raga tersebut."

"Hildegard-chan, jangan-jangan... tubuh Paus-sama juga diambil alih seperti Witukind-san!?"

Kuruto-sama berseru kaget.

"Baronet Rockhans, apakah Witukind yang dimaksud adalah Tuan Witukind sang Atelier Meister? Beliau baru saja wafat kemarin."

Kepala suku Torushen yang tidak tahu apa-apa bertanya, namun Loretta-sama yang duduk di sampingnya langsung menimpali.

"Soal itu akan kujelaskan nanti, jadi biarkan pembicaraan ini berlanjut."

Repot juga ya kalau benar-benar tidak tahu apa-apa. Tapi yah, selama ini mereka hidup lebih tenang karena ketidaktahuan itu.

"Mungkin sedikit berbeda. Yang mewarisi takhta Paus adalah para Cardinal. Tentu mereka punya banyak kesempatan berinteraksi dengan orang lain. Jika Paus mengambil alih tubuh, pasti akan ada orang yang menyadari kejanggalan sebelum dan sesudah pengambilalihan itu. Jadi, alih-alih mengambil alih tubuh, mungkinkah ini simbiosis jiwa?"

Hildegard-san menyipitkan matanya.

"Mari ganti topik. Saat menyelidiki kastil Raja Iblis, aku menemukan sesuatu yang menarik. Tebak apa? Ah, tidak perlu dijawab pun kau pasti tahu. Benar, Batu Teleportasi—bukan, mungkin lebih dekat ke alat teleportasi buatan kaum kuno? Aku tidak bisa menggunakannya jadi aku tidak tahu tujuannya ke mana."

"Namun, setelah menyiksa—maksudku, menginterogasi ras iblis bawahan Raja Iblis, kabarnya Raja Iblis menghabiskan sebagian besar waktunya di lokasi tujuan teleportasi itu. Terkadang dia tidak menampakkan diri selama berminggu-minggu. Terutama pada periode tertentu di musim panas, dia pasti menghilang."

Hildegard-san menjeda kalimatnya sejenak, lalu berkata dengan penuh penekanan.

"Periode itu tepat sekali dengan waktu di mana Paus sedang pergi melakukan kunjungan luar negeri di musim panas."

Entah berapa banyak orang di sini yang menyadari makna di balik kata-kata Hildegard-san.

Tidak, para pemimpin di sini semuanya rubah tua, kemungkinan besar sebagian besar dari mereka paham apa yang ingin dia sampaikan.

Meski kedengarannya sangat di luar nalar. Kemudian, Paus angkat bicara sambil mengulas senyum.

"Jumlah ras iblis sangatlah sedikit. Keberadaan budak manusia sangat krusial untuk memerintah wilayah iblis yang luas. Gara-gara itu, lahirlah anak campuran seperti Chitchi-dono di sana. Ngomong-ngomong, aku dengar di negara Kaisar Tua, belakangan ini lahir ribuan anak campuran. Di negara Beast King yang memuja kekuatan, hal seperti itu tidak terjadi, ya."

"Kami para Beastman memang sulit memiliki keturunan dengan manusia. Lagipula, anak campuran akan lebih lemah dari Beastman murni. Hukum kami melarangnya dengan keras."

Di samping Beast King yang menjawab, Hildegard-san mendelik ke arah Paus.

"Tadi Anda bilang 'mendengar' ya? Dari siapa?"

"Mari ganti topik lagi—ah, karena Kaisar Tua juga mengganti topik, jadi kita impas ya. Sebenarnya, ada pusaka sihir yang diwariskan turun-temurun kepada Paus."

Saat itu juga, aku merasakan aliran mana yang sangat dahsyat. Sepertinya bukan cuma aku yang menyadarinya.

Beberapa orang, termasuk aku dan Loretta-sama, melihat ke luar jendela.

"Penghalang (Barrier)—kuat sekali."

Dunia luar benar-benar terputus sepenuhnya.

Namun, penghalang ini terasa bukan untuk melindungi dari serangan luar, melainkan untuk mencegah siapa pun dari dalam agar tidak bisa keluar.

Apa-apaan itu?

"Pegunungan Scene ini adalah tanah awal mula dunia ini. Daratan pertama yang dibangun kaum kuno yang melarikan diri dari Monster Terlarang, sekaligus pangkalan teleportasi. Jika seandainya Monster Terlarang muncul melalui alat teleportasi, dibutuhkan perangkat untuk mengurungnya di dalam. Itulah penghalang tadi, dan bola permata ini adalah alat pengendalinya."

Paus mengeluarkan sebuah bola permata putih bersih dari balik bajunya. Pada saat yang sama, tangan satunya menggenggam bola permata hitam pekat.

Bola permata hitam itu berubah wujud dalam sekejap, menyelimuti tubuhnya menjadi baju zirah berwarna senada.

"Ini adalah pusaka sihir bernama Armor of Souls. Mana yang dilepaskan Monster Terlarang adalah racun bagi manusia. Meskipun ras iblis bisa menyerap mana dan mengubahnya jadi kekuatan, tetap ada batasnya. Karena itu, kaum kuno memindahkan setengah jiwa mereka ke zirah ini untuk melawan Monster Terlarang. Yah, katanya mereka tetap bukan tandingannya, sih."

Tepat setelah Paus berkata demikian, Armor of Souls itu bergerak sendiri.

Seolah meledak, zirah itu melilit tubuh Paus yang ekspresinya berubah drastis dari tersenyum menjadi muram.

Seketika itu juga, lantai bergetar hebat.

Tanpa disadari, Beast King sudah menerjang Paus dengan cakar panjang yang setajam pedang.

Kejadiannya begitu mendadak, namun cakar itu tidak menyentuh Paus. Pedang Paus yang entah kapan sudah terhunus, memotong ujung cakar Beast King.

"—Raja Iblis! Kau...!"

Begitu Beast King berteriak, para pengawal menghunus pedang dan mengepung Paus—bukan, mengepung Raja Iblis.

"Jadi Raja Iblis itu bukan ras iblis melainkan manusia, ya. Terlebih lagi, kau merasuki para Paus dari generasi ke generasi dalam wujud jiwa saja."

Sejak kapan kau menyadari hubungan antara aku dan Paus?

"Yah, ada banyak petunjuk. Misalnya, saat mendengar bahwa Iblis Tingkat Tinggi (Greater Demon) yang mengincar nyawa Tuan Putri Liselotte identik dengan yang dipanggil oleh Scripter dan Director bawahan Raja Iblis. Sejak itu aku menyelidiki hubungan antara Raja Iblis dan Gereja secara pribadi. Tapi, baru saat konferensi ini dimulai aku sadar kalau jiwa Raja Iblis ada di dalam tubuh Paus."

Hildegard-san berbicara sambil mencari celah pada Raja Iblis.

"Alasanmu mengincar nyawa Tuan Putri Liselotte bukan demi melindungi Kekaisaran Pollan, tapi untuk mencegah persatuan umat manusia, kan? Karena jika manusia bersatu, kemungkinan mereka menyerang ras iblis akan meningkat."

"Kalau begitu, tujuanmu menumbuhkan Pohon Raksasa Kegelapan di turnamen bela diri negaraku adalah untuk mengisolasi Federasi Kota Kepulauan Koskiet dari negara lain dengan membunuh para pejabat penting di sana, begitu kah?"

Apa yang dikatakan Kaisar Tua itu benar, tapi Pohon Raksasa Kegelapan di Koskiet itu berbeda.

Raja Iblis kemudian menjulurkan jarinya.

Melihat gerakan mencurigakan itu, Beast King dan para ksatria yang bersiaga langsung menyerang serentak, namun mereka tiba-tiba tumbang di tempat.

Mereka tidak mati, tapi kami tidak mengerti apa yang baru saja terjadi.

Aku akan repot jika kau tetap terjaga, Rakyat Pertama (First People).

Begitu Raja Iblis berkata demikian, cahaya di mata Kuruto-sama menghilang. Dia jatuh pingsan bersandar di meja.

"Kuruto-sama!"

Aku tidak bisa menahan diri lagi dan menghunus Kocho (Butterfly).

Seketika, puluhan bayanganku muncul. Dengan kemampuanku sekarang, mengendalikan lima puluh bayangan adalah hal mudah.

Sosok asliku menghilang, lalu merangsek maju bersama lima puluh bayangan lainnya.

Lumayan juga, Tuan Putri Homuros—untuk ukuran manusia, kau mahir sekali menggunakan pedang ilusi. Inilah kenapa manusia itu menarik.

Namun Raja Iblis menembus halusinasiku dan menahan belatiku hanya dengan ujung jarinya.

Mustahil, dia menahan pedang yang ditempa oleh Kuruto-sama begitu saja.

Sesaat kemudian, tubuhku terlempar dan menghantam dinding di seberang ruangan.

"Gah...!"

"Lise!"

Ayahanda berlari menghampiriku dan meminumkan ramuan sihir.

...Rasanya jauh lebih pahit dan kurang manjur dibanding buatan Kuruto-sama, tapi rasa sakitnya sedikit berkurang.

Hmph, sepertinya yang lebih hebat darinya adalah kau, Kaisar Gurumaku. Mengambil celah saat aku menyerang dan berhasil menggores leherku.

Di saat aku terlempar tadi, Kakek telah menyelimuti Excalibur dengan cahaya dan menebasnya. Namun—

—Tapi, bukankah kau kekurangan mana?

Bilah pedang itu hanya membuat retakan kecil pada zirah tanpa luka tambahan.

Cahaya pada Excalibur meredup hingga kembali menjadi pedang biasa, dan di saat yang sama, tubuh Kakek ikut terlempar.

"Maximum Thunder Ball!"

Seolah telah menunggu saat itu, bola petir raksasa dari telapak tangan Hildegard-san menelan Raja Iblis.

Itu adalah sihir serius dari Hildegard-san. Aku baru pertama kali melihatnya, dan kekuatannya luar biasa.

Benar-benar layak menyandang gelar sebagai salah satu penguasa ras iblis. Jika terkena serangan itu secara telak, meski dia Raja Iblis sekalipun—

Sepertinya tidak mempan.

"Oh? Apa Paus di dalam zirah itu bisa tetap selamat? Atau jangan-jangan tidak masalah kalau Paus mati?"

Tidak, jika Paus mati, aku tidak akan bisa bergerak sampai Paus baru diangkat.

Artinya Paus di dalam sana masih selamat. Itu juga berarti jika kita mengalahkan Paus, Raja Iblis pun akan kalah.

Tapi kenapa Raja Iblis membeberkan kelemahannya semudah itu?

Apa dia berbohong?

Namun, entah itu benar atau tidak, jika kami semua menyerang bersama, mungkin ada jalan.

Aku juga bisa membantu dengan Kocho.

Saat aku hendak bangkit—tiba-tiba tubuhku terasa sangat berat hingga aku tak bisa berdiri.

Ini... manipulasi gravitasi milik Director!?

Nah, mari lanjutkan pembicaraan kita. Alasan menumbuhkan Pohon Raksasa Kegelapan adalah untuk menguji Rakyat Pertama—Kaum Pencipta yang menghilang selama 1.200 tahun.

Rakyat Pertama?

Tugas Paus adalah mengendalikan manusia dengan dogma dewa palsu saat manusia dan ras iblis berebut supremasi. Tugasku adalah mengendalikan ras iblis dengan rasa takut dan kekuatan. Dan saat manusia serta ras iblis hendak berdamai, tugasku dan Paus adalah memeriksa apakah manusia punya kekuatan untuk memurnikan mana yang telah menjadi hawa jahat.

Raja Iblis berkata sejauh itu, lalu melirik Kuruto-sama.

Rakyat Pertama turun ke dunia ini sebagai perwujudan potensi umat manusia. Namun, bahkan Rakyat Pertama pun pada akhirnya tidak punya cara lain selain menyegel mana yang menjadi hawa jahat tersebut.

"Apa Anda sedang membicarakan tentang penyegelan Bola Permata Kegelapan? Jika begitu, Rakyat Pertama yang dimaksud adalah Baronet Kuruto Rockhans, ya."

Loretta-sama merujuk pada insiden yang terjadi di Iseshima.

Namun Raja Iblis mengabaikannya dan melanjutkan.

Karena kekuatan Rakyat Pertama belum cukup, aku perlu menguji manusia dan ras iblis. Ini adalah hukum yang ditetapkan kaum kuno. Aku akan beri kalian waktu penangguhan. Cobalah kalahkan aku. Jika tidak, aku akan melenyapkan kedamaian antara manusia dan ras iblis beserta nyawa kalian. Persiapan untuk itu sudah hampir selesai.

Begitu Raja Iblis berkata demikian, sosoknya menghilang.

Efek manipulasi gravitasi lenyap dan tubuhku kembali ringan.

Pintu ruang rapat terbuka lebar, dan banyak ksatria merangsek masuk.

"Liselotte-sama! Anda tidak apa-apa!? Muncul penghalang di luar, dan pintu tidak bisa dibuka dari luar meski kami sudah berteriak, jadi kami sangat khawatir."

"Ya, aku tidak apa-apa. Tolong Kuruto-sama lebih dulu—"

"Tenang saja, dia cuma tidur, kok."

Hildegard-san yang sedang memeriksa keadaan Kuruto-sama berujar. Tapi, kenapa Raja Iblis menidurkan Kuruto-sama?

Sudah tidak diragukan lagi kalau Rakyat Pertama itu adalah Kuruto-sama.

Kalau begitu, apakah dia menidurkannya agar Kuruto-sama tidak tahu bahwa dirinya adalah Rakyat Pertama?

Atau mungkinkah jika Kuruto-sama menyadari asal-usulnya dan tahu bahwa dirinya adalah keberadaan yang spesial, Kuruto-sama akan kehilangan ingatannya seiring dengan kesadarannya, sehingga Raja Iblis mencegah hal itu?

Ah, ada begitu banyak hal yang membuatku penasaran, tapi di saat seperti ini Yuri-san entah pergi ke mana. Menurut Loretta-sama, dia pergi karena urusan mendadak.

Nanti kalau dia kembali akan kumarahi... tapi sebelum itu, aku harus minum obat buatan Kuruto-sama dulu. Tubuhku masih terasa sakit.

◆◇◆

"……Jadi hal semacam itu terjadi saat aku tidak ada, ya."

Aku—Yurishia—yang baru kembali dari Menara Petapa, mendengar segala kejadian di konferensi perdamaian dari Lise yang tampak kelelahan.

Saat ini, Mimiko beserta para ahli sihir dari berbagai negara sedang menyelidiki penghalang tersebut. Di saat yang sama, Jenderal Sunova dan yang lainnya sedang menyisir area sekitar untuk melacak keberadaan Raja Iblis.

"Apa Anda tidak menyadari situasi darurat karena adanya penghalang itu?"

"Nggak, aku sadar ada penghalang yang muncul, tapi kukira itu karena Kuruto melakukan sesuatu yang aneh lagi."

Penghalang itu muncul tepat setelah aku keluar dari gua reruntuhan. Seandainya pintu masuk gua berada di luar penghalang, aku tidak akan bisa kembali.

"Sembarangan sekali... aku ingin bilang begitu, tapi mungkin aku juga akan berpikir hal yang sama jika berada di posisi Yuri-san."

Kebiasaan menyerah untuk berpikir dan langsung menyimpulkan "pasti gara-gara Kuruto" saat terjadi sesuatu yang tak masuk akal ternyata berakibat buruk.

Meskipun kalau dipikirkan pun, mana mungkin aku membayangkan ada Raja Iblis di dalam tubuh Paus.

"Jadi, apa Kuruto baik-baik saja?"

"Ya, sepertinya tidak ada reaksi mana yang aneh. Sekarang Shina-san dan Akuri sedang menemaninya. Aku juga ingin menunggunya bangun di sampingnya, tapi situasinya tidak memungkinkan. Oh iya, tolong khawatirkan aku juga sedikit. Rasanya sakit tahu."

"Kamu cuma patah tulang kan? Dan sudah minum obat Kuruto juga, jadi pasti aman. Daripada itu, apa Kuruto tidak perlu diberi obat?"

"Semua orang yang kesadarannya direnggut oleh Raja Iblis hanya tertidur saja. Beberapa sudah bangun dengan sendirinya. Menurut Mimiko-sama, tidak perlu memaksa mereka bangun."

Kalau Mimiko bilang begitu, berarti aman.

"Saat ada kejadian besar begini, sebenarnya apa yang Anda lakukan, Yuri-san?"

"Ah, aku dipanggil Sang Sage Agung sebentar. Sekalian dengar cerita dari Bandana tentang hal-hal yang berkaitan dengan Rakyat Pertama."

Aku menceritakan apa yang kudengar dari Bandana kepada Lise.

Tentang penggunaan monster dari Dungeon Core untuk pengadaan material dan pembangunan peradaban saat penciptaan dunia.

Serta tentang bagaimana mereka merenggut kekuatan bertarung bahkan kesadaran akan kemampuan tersebut agar tidak terjadi amuk akibat kekuatan yang terlalu tinggi.

"Apakah fakta bahwa penduduk Desa Haste sulit memiliki keturunan juga untuk menekan jumlah manusia dengan kemampuan seperti itu?"

"Mungkin saja. Peradaban kaum kuno hancur justru karena kemajuan peradaban mereka sendiri. Mereka pasti tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama."

Jika Kuruto menyadari kekuatannya lalu berniat menghancurkan dunia? Memikirkannya saja sudah mengerikan.

"Lalu, apa kata Sang Sage Agung soal masalah ini?"

"Dia menyuruhku membebaskan gadis yang tersegel di kristal sihir yang ditemukan Kuruto. Katanya itu bisa dilakukan kalau ada Kuruto dan Akuri. Tapi cuma itu saja."

Apakah Sang Sage Agung tahu hubungan antara Paus dan Raja Iblis, atau apa yang akan dilakukan Raja Iblis selanjutnya?

Jika Raja Iblis adalah ciptaan kaum kuno, ada kemungkinan Sang Sage Agung adalah sekutu Raja Iblis.

Kalau begitu, apa tidak apa-apa jika kami terus mengikuti perkataan Sang Sage Agung?

……Yah, lagipula kami tidak bisa bergerak sebelum Kuruto bangun.

Saat aku berpikir demikian—

"Semuanya, Kuruto sudah bangun."

Shina yang menjaga Kuruto masuk ke ruangan dan memberi tahu kami.

◆◇◆

Aku—Kuruto—sepertinya tertidur selama satu jam. Aku ingat jelas saat Raja Iblis membuatku tertidur.

Melihatku sudah bangun, Shina-san pergi memanggil Yurishia-san dan Lise-san.

"Kamu tidak apa-apa, Kuruto? Ingatanmu masih jelas?"

"Kuruto-sama, apa ada ingatan yang hilang?"

"Aku baik-baik saja. Sepertinya aku cuma tidur sebentar. Lagipula, manusia tidak akan kehilangan ingatan semudah itu... ah, tapi di Desa Haste, kadang ada penyakit endemik misterius yang menyebabkan hilangnya ingatan bersamaan dengan hilangnya kesadaran, jadi aku tidak bisa bilang mustahil juga."

Begitu aku berkata demikian, Yurishia-san dan Lise-san tampak lega, meski wajah mereka sedikit berkedut.

Yurishia-san kemudian menceritakan apa yang didengarnya dari Sang Sage Agung saat dia absen dari rapat. Katanya, kami harus melepaskan segel anak yang terkurung di kristal sihir menggunakan kekuatan Akuri.

Yurishia-san tampak tidak terlalu mempercayai Sang Sage Agung, tapi beliau adalah orang yang diakui sebagai guru oleh Bandana-san dan ayah Hildegard-chan, jadi menurutku beliau bukan orang jahat.

Akhirnya kami bersama Akuri pergi ke laboratorium Mimiko-san. Mimiko-san sedang pergi menyelidiki penghalang, tapi kristal sihirnya masih ada di sana.

"Akuri, apa kamu bisa mengeluarkan dia dari sini?"

"Anak ini?"

"Iya. Aku rasa kekuatan Akuri bisa mengeluarkannya."

"Aku coba."

Akuri menjulurkan tangannya ke arah kristal sihir tempat gadis itu tersegel. Sesaat kemudian, gadis itu berpindah ke sisi lain ruangan. Tapi, dia pindah bersama kristal sihirnya—artinya segelnya belum lepas.

"Emm, sulit."

"Mungkin karena ini pertama kalinya bagi Akuri harus menentukan target di balik dimensi lain lalu memindahkannya, jadi terasa sulit."

Aku melepas tas peralatan yang tergantung di ikat pinggangku.

Lalu aku mengeluarkan sepuluh bola warna-warni yang kusiapkan sebagai mainan, lalu memasukkannya kembali.

"Baiklah Akuri, pertama coba ambil bola merah dari dalam tas ini—"

"Tunggu dulu, Kuruto!"

Yurishia-san berseru. Eh? Apa cara ini salah? Apa ada yang gagal?

"Sepuluh bola itu jelas tidak mungkin muat di dalam tas itu! Bagaimana bisa!?"

Yurishia-san memasukkan tangannya ke dalam tasku. Lalu dia mengeluarkan—

"Hah, kenapa malah pedang besar yang keluar!?" teriak Yurishia-san sambil memegang pedang besar.

"Ah, itu pedang pesanan Beast King. Sudah selesai jadi mau kubawa nanti."

"Bukan itu masalahnya! Ini nggak muat—maksudku, di mana bolanya?"

Yurishia-san mengaduk-aduk isi tasku. Yang keluar adalah batu asah, perkakas, dan lain-lain.

"……Hah, hah, Kuruto! Tas ini aneh!"

"Eh? Ini kan Magic Bag biasa?"

"Magic Bag?"

"Iya, tas yang bisa menampung barang lebih banyak dari kapasitas aslinya sekaligus meringankan bebannya dengan menghubungkan bagian dalam tas ke sub-ruang sederhana."

"Nggak ada! Tas kayak gitu nggak ada di mana-mana!"

"Eh? Di desaku semua orang memakainya, kok."

Lise-san tampak bingung dan memiringkan kepalanya.

"Anu, Kuruto-sama. Jika ada barang sepraktis itu, kenapa selama ini Anda tidak memakainya?"

"Benar juga! Kamu membawa Iron Golem, Mithril Golem, dan semua hasil buruanmu tanpa memasukkannya ke tas, kan!?"

"Karena ini tas perkakas, jadi aku tidak memasukkan barang selain perkakas. Alat di tas alat, uang di dompet, tanaman obat di keranjang. Bukankah itu hal yang normal?"

Kali ini aku memasukkan pedang besar karena bingung mau ditaruh di mana, tapi itu pengecualian.

"Normal, tapi tidak normal!"

……Eh? Teka-teki?

"Lho? Tapi aku pernah memakainya di depan Lise-san, kan?"

"Eh? Memangnya pernah?"

Eh? Apa Lise-san lupa?

"Itu lho, di reruntuhan barat Valha, saat Marlefice-san sedang mencorat-coret. Kita menggali lubang bawah tanah menuju reruntuhan. Karena saat itu darurat, semua tanah galiannya aku masukkan ke tas ini. Sebenarnya bisa saja aku padatkan, tapi lebih praktis dimasukkan tas kalau mau menutup lubangnya nanti."

Setelah aku bicara begitu, Yurishia-san dan Lise-san mulai berbisik-bisik.

"(Oi Lise, apa maksudnya ini?)"

"(A-Anu, saat itu gerakan Kuruto-sama terlalu cepat... aku memang sadar tanahnya menghilang, tapi kukira itu sihir atau semacamnya)"

"(Benar juga, kalau dipikirkan satu per satu, keanehan Kuruto memang nggak ada habisnya...)"

Entah apa yang mereka sepakati, Yurishia-san mengangguk dan bertanya padaku.

"Terus, buat apa memasukkan bola-bola itu?"

"Ah, Magic Bag ini butuh pemindaian ke sisi dimensi lain untuk mengeluarkan barang yang diinginkan."

"Memang benar, Yuri-san tadi tidak bisa mengeluarkan bolanya," ujar Lise-san sambil melihat perkakas yang dikeluarkan Yurishia-san.

"Makanya, kalau Akuri berlatih mengambil bola merah saja dari sini, dia akan mendapatkan feeling untuk melakukan teleportasi dari balik dimensi."

"Aku mau coba!"

Karena Akuri semangat, aku mengeluarkan alat-alat berbahaya dari tas lalu memasukkan sisanya. Akuri mencoba mengambil barang dari tas—tapi yang keluar adalah bola putih, bukan merah.

"Salah..."

"Nggak apa-apa, bisa mengeluarkan bola di percobaan pertama saja sudah hebat. Benar-benar anak kita."

"Yuri-san bahkan nggak bisa mengeluarkan satu bola pun tadi."

Mungkin karena senang dipuji Yurishia-san, Akuri terus mencoba dan berhasil mengeluarkan bola merah di percobaan ketiga.

Aku memasukkan semua bola lagi lalu memintanya mencoba sekali lagi. Kali ini butuh empat kali percobaan untuk bola merah.

Dia mencoba beberapa kali lagi tapi tetap sulit melakukannya dalam sekali ambil.

"Muu."

Akuri menggembungkan pipinya, lalu sesaat kemudian berubah ke wujud dewasa.

"Kalau begini, pasti langsung kena!"

Dengan suara yang lebih mantap, Akuri berulang kali memasukkan dan mengeluarkan bola merah dengan tepat.

Sepertinya kekuatan teleportasi ruang-waktunya meningkat saat dia dalam wujud dewasa.

Hal itu membuat Yurishia-san menyadari sesuatu dan bertanya.

"Akuri, dengan wujud itu, apa kamu bisa berpindah ke balik penghalang?"

"Emm, nggak bisa. Rasanya seperti ada dinding besar yang menghalangi."

"Begitu ya..."

Berarti untuk menghancurkan penghalang, kami memang harus mencari Raja Iblis.

"Kuruto-chan! Syukurlah kamu sudah bangun."

Mimiko-san kembali.

"Ah, Mimiko-san. Maaf sudah merepotkan."

"Nggak apa-apa, yang penting Kuruto-chan selamat."

"Mimiko-san, bagaimana dengan penghalangnya?"

"Aku sudah menyelidikinya bersama para ahli dari negara lain, sepertinya sulit untuk dilepaskan. Kecuali kalau Kuruto-chan sendiri yang turun tangan... eh, Akuri-chan jadi besar lagi ya."

"Iya, Tante Mimiko."

"Tan—!?"

Mimiko-san mematung.

"Nggak boleh gitu Akuri. Harusnya panggil Kak Mimiko."

"Eh? Tapi kan Tante Mimiko sudah tiga—"

"Waaaah! Akuri-chan setop! Jangan teruskan kata-kata itu!"

Mimiko-san dengan kecepatan luar biasa membungkam mulut Akuri.

"(Lise, aku tahu Mimiko memalsukan umurnya cukup jauh, tapi sebenarnya berapa usianya?)"

"(Entahlah, tapi katanya setahun sebelum Ibu menikah, beliau sudah jadi pemimpin Grim Reaper)"

"(Hah? Bukannya Françoise-sama menikah sekitar delapan belas tahun lalu?)"

Lise-san dan yang lainnya sedang berbisik-bisik, tapi sebaiknya aku tidak dengar saja.

Di desaku, topik usia wanita adalah hal tabu.

Kadang orang yang kukira kakak-kakak ternyata adalah buyut temanku.

"Akuri, bisa?"

"Bisa."

Akuri menjulurkan tangan ke arah kristal sihir.

Kristal itu memancarkan cahaya silau seolah bereaksi terhadap kekuatan Akuri.

Cahayanya semakin terang lalu tiba-tiba padam, dan gadis di dalamnya muncul dalam posisi digendong oleh Akuri.

Berhasil.

"……Ngh."

Gadis itu perlahan membuka mata dan menatap Akuri.

"Dewi……?"

Dia bergumam sambil terus menatap wajah Akuri.

"Aku Dewi?"

"Bukan?"

"Bukan. Aku Akuri. Siapa namamu?"

"Non-chan…… siapa ya namanya?"

……Eh?

"Non-chan tidak ingat apa-apa. Sepertinya amnesia."

Dia memiringkan kepalanya dengan heran.

Aku pikir orang tidak akan kehilangan ingatan semudah itu, tapi tak disangka orang seperti itu muncul di hadapanku.

Meski amnesia, Non-chan ini tampak sangat tenang.

"Apa mungkin bagi kaum kuno, amnesia itu hal yang biasa terjadi sehari-hari?"

"Tidak mungkin," jawab Lise-san, Yurishia-san, dan Mimiko-san serempak.

"……Tapi tidak bisa dibilang mustahil juga," lanjut mereka sambil menatapku.

Yah, mungkin ingatan Non-chan hilang karena efek penyegelan yang terlalu lama.

"Kuruto-sama, ada obat bernama Amnesia Drug yang bisa menghapus ingatan beberapa jam, apa mungkin dia meminum yang seperti itu?"

"Sepertinya bukan karena pengaruh obat."

Menurut pemeriksaanku, fisiknya tidak ada yang bermasalah. Ingatannya pasti kembali jika ada pemicunya.

"Petapa Agung, apa benar ini yang kau inginkan?"

Yurishia-san menatap lantai—mungkin menatap ke arah Menara Petapa di bawah sana—dan bergumam demikian.

◆◇◆

Menara Sang Sage, fasilitas yang ada untuk mengelola dunia lama.

Bagiku yang terus mengawasinya, pemandangan ini tidak pernah berubah.

Namun sekarang, dunia ini mulai berubah drastis secara tiba-tiba.

Kegelapan yang menutupi langit—sesuatu yang orang-orang berhargaku sebut Monster Terlarang atau Rakuga Kinki—kini mulai bergerak perlahan, secepat langkah manusia.

Bagiku yang telah kehilangan identitas diri dan hanya berperan sebagai Petapa Agung yang mengikuti arus, rasanya menyesakkan karena hanya bisa menonton saja.

"Tugasku akan segera berakhir. Aku sanggup menahan ribuan tahun yang terasa abadi ini karena aku tahu saatnya akan tiba... aku akan bisa kembali menjadi diriku sendiri."

Kembali untuk apa?

Saat aku menoleh, ada sosok mengenakan zirah hitam pekat di sana.

Pria yang dijuluki Raja Iblis itu memegang Lonceng Petapa yang dulu kuberikan kepada pedagang ras iblis—ayah dari Kaisar Tua Hildegard.

Lonceng itu adalah kunci untuk memasuki ruang ini. Dan seharusnya, meskipun memegang kuncinya, dia tidak bisa masuk tanpa izinku... kecuali bagi dia yang memiliki otoritas setara denganku.

"Entahlah. Justru karena tidak tahu, aku menantikannya."

Apa menurutmu ada tempat bagiku di masa depan itu?

"Tidak. Masa depan di mana kau tidak ada, itulah masa depan yang kunantikan."

Itu menyedihkan.

"Apa sistem sepertimu bisa merasa sedih?"

Entahlah. Namun aku, yang menghabiskan waktu bersama orang-orang yang memiliki waktu terbatas, adalah sosok yang paling dalam bersentuhan dengan emosi bernama kesedihan.

"'Orang-orang yang hidup'…… bukankah maksudmu 'orang-orang yang kau bunuh'?"

Petapa Agung, kau tidak akan mengerti. Kau yang menuntun menuju takdir yang benar dengan membiarkan mereka hidup, tidak akan paham perasaanku yang memutus takdir yang salah dengan membunuh—tidak, aku tidak punya perasaan. Yang ada hanyalah pertanyaan, apa yang akan dipikirkan manusia jika mereka berada di posisiku.

"Kepastian tidak bisa diharapkan dari sistem yang memiliki keraguan, Raja Iblis. Kau cukup jalankan peranmu saja. Kau memberikan nama-nama seperti Scripter dan Director kepada bawahanmu yang bisa memengaruhi jalannya sandiwara, tapi sadarilah bahwa kau sendiri harus tetap menjadi pemeran belaka."

Aku mengerti.

Raja Iblis berkata demikian lalu melangkah maju dan terjun dari menara. Begitu dia melompat, kegelapan yang melayang di langit langsung menelannya.

"……Aku pun pasti tidak akan bisa kembali ke masa itu lagi. Tapi, aku ingin kembali ke sisi mereka."

Aku bergumam sendiri, lalu perlahan menutup kelopak mata yang tercipta dari ilusi ini.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close