NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Naze ka S-kyuu Bijotachi no Wadai ni Ore ga Agaru Ken V5 Prologue

 Penerjemah: Miru-chan

Proffreader: Miru-chan


Prologue

Tekad Kohinata Rin

Menyembunyikan perasaan adalah hal yang selalu aku kuasai.


Entah saat ada hal yang tidak menyenangkan atau saat keadaan terasa berat, aku akan selalu menampilkan sosok diriku yang ideal. Karena dengan begitu, aku bisa mengakui keberadaan diriku sendiri.


Aku benar-benar berpikir bahwa orang yang selalu ceria itu keren. Pasti semua orang juga berpikir begitu. Tertarik pada orang yang ceria dibandingkan orang yang muram pastilah sudah menjadi kodrat kita sebagai makhluk hidup.


Sebagai seseorang dengan harga diri yang rendah, aku bisa merasakan nilai diriku dengan cara mengejar gambaran sosok yang ideal tersebut. Menyembunyikan perasaan asli mungkin adalah hal yang dilakukan semua orang dalam kehidupan sehari-hari setelah terjun ke masyarakat, tapi bagiku, hal itu jauh lebih mendarah daging daripada orang normal pada umumnya.


Aku sempat merasa bangga dengan cara hidup seperti itu, namun di sisi lain, terkadang aku merasa sesak.


Stres adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Terlebih lagi jika aku menyembunyikan jati diriku dan tidak memiliki tempat untuk meluapkan emosi. Namun, karena dia mau menerima diriku yang lemah ini apa adanya, aku...


Tiba-tiba, wajah seorang laki-laki terbayang jelas di benakku. Seorang pemuda dengan penampilan yang biasa saja, kehadirannya tidak mencolok, dan poni yang memanjang hingga ke bawah mata. Jika orang lain melihatnya, kurasa jarang ada yang akan menyebutnya keren. Aku pun, sampai baru-baru ini, sama sekali tidak menyadarinya.


——Tapi, karena aku sudah terlanjur tahu. Senyumannya, kebaikannya, dan rasa aman yang dia berikan. Di hadapannya, topeng kokoh yang kubangun dengan susah payah pun terkelupas dengan mudahnya. Rasanya sangat memalukan. Wajahku terasa panas dan memerah hingga rasanya ingin kututupi saja.


Hanya saja, meski begitu, memang benar ada rasa nyaman yang kurasakan. Melalui acara menginap bersama ini, aku semakin menyadari betapa aku terus terpikat oleh pesonanya. 


Sembari membiarkan diriku terbawa oleh langkahnya, sesekali aku pun memberanikan diri untuk menggoda dia. Berharap sedikit saja bisa melihat telinga atau wajahnya memerah. Membayangkannya saja sudah membuat jantungku tak berhenti berdebar. Namun, waktu-waktu seperti itu akan segera berakhir.


Hari itu, aku melihat pesan tersebut. Kalimat yang akhirnya dikirimkan oleh kedua sahabatku kepada orang yang mereka "minati". Mereka hanya menutupinya dengan rasa malu; jika ingin berbicara lebih dalam, istilah "minat" itu terlalu lemah, dan lebih tepat jika disebut sebagai orang yang mereka "sukai".


Pesan itu berisi ucapan terima kasih, namun yang menjadi masalah adalah siapa penerimanya——aku sudah tahu. 


Benar... sebenarnya aku sudah mengetahuinya. Jika dipikirkan sekarang, mungkin sejak awal ini sudah menjadi takdir yang tak terelakkan.


(...Aku terlalu percaya diri.)


Aku telah salah sangka. Berpikir bahwa dunia selalu berputar di sekitarku dan cintaku akan berjalan mulus. Lagipula, acara menginap ini pada dasarnya adalah perayaan untuk menyampaikan rasa terima kasih kepadanya atas apa yang telah dia lakukan selama ini. Jika kupikirkan premis itu dengan tenang, adalah hal yang wajar jika semua orang menyukai dia.


Aku hanya berpura-pura tidak melihatnya. Aku hanya memilih untuk tidak menyadarinya.


Entah sejak kapan aku mulai memiliki ilusi bahwa cintaku akan membuahkan hasil. Aku menatap lekat profil wajahnya yang diterangi oleh cahaya bulan yang tipis.


(Profil wajah yang sangat indah...)


Aku ingin mencoba menusuk pipinya dengan jariku. Aku ingin menyentuhkan jari ke bibirnya, dan melihat reaksinya yang kebingungan. Aku ingin didekap oleh telapak tangannya yang besar. Aku ingin merasakan kehangatannya. Melihat sosok Haruya yang tanpa pertahanan, keinginan Rin membengkak tanpa henti.


(Tapi, tidak boleh...)


Aku harus mengucapkan selamat tinggal pada perasaan ini. Mendukung cinta kedua sahabatku... itulah sosok yang seharusnya bagi Kohinata Rin.


Aku menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan perasaanku yang bergejolak. Aku memejamkan mata, menghirup napas panjang, dan memantapkan tekad.


(...Baiklah.)


Setelah mengangguk sekali di dalam hati, Rin membuka matanya perlahan. Di kedalaman mata ungu gelapnya, terpancar tekad yang kuat.


(Sampai jumpa, Akasaki-kun.)


Angin sepoi-sepoi bertiup pelan mengiringi sosok Rin yang melangkah pergi dari tempat itu.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close