Penerjemah: Miru-chan
Proffreader: Miru-chan
Chapter 4
Akasaki Haruya Menetapkan Hati
Beberapa jam setelah mengetahui identitas asli Kazamiya. Kata-kata pemuda itu seolah menempel di kepala Haruya dan tak mau pergi.
『Kalau mereka sudah melangkah maju, hadapilah mereka tanpa melarikan diri───』
Apakah benar-benar akan ada saat di mana mereka melangkah maju? Haruya sama sekali tidak bisa membayangkan kemungkinan itu. Sebab, ia telah melihat dengan mata kepalanya sendiri wajah mereka yang terluka begitu dalam—luka yang ia akibatkan sendiri. Melihat ekspresi Haruya yang tampak cemas, Maya pun menegurnya.
“……Wajahmu sudah kelihatan jauh lebih mendingan ya. Ternyata keputusanku untuk memberanikan diri datang ke sini memang benar.”
Haruya menjawab dengan senyum kaku.
“Maya. Bagaimana cara sahabatmu bangkit kembali setelah terluka seperti itu?”
“……Aku teringat saat dulu ditolong oleh Haru-nii. Sejak itu aku mencoba berusaha untuk bergantung pada orang-orang di sekitarku, dan ternyata di luar dugaan, semua orang mau merangkulku.”
“Begitu ya.”
Mendengar proses bangkitnya Maya serta alasan di balik jati diri Kazamiya yang sekarang, Haruya merasa bahwa ia tidak boleh menyerah begitu saja.
“Aku sudah tidak apa-apa, jadi kamu bisa tenang kapan saja, Maya.”
Meski sambil berterima kasih kepada adiknya yang masih betah "numpang" di sana, Haruya tetap berkata demikian.
“Itu kode keras supaya aku cepat pulang kan?” ucap Maya sambil menggembungkan pipinya dan membuang muka.
“Bukan begitu, aku cuma merasa tidak enak saja……”
“Ya sudah, anggap saja begitu.”
Saat mereka sedang bertukar canda, tiba-tiba ponsel Haruya bergetar.
“Eh……”
Itu adalah suara notifikasi pesan masuk. Begitu memeriksa pengirim dan isinya, Haruya seketika melompat berdiri dari kursinya.
“A-ada apa?” tanya Maya dengan mata menyipit, curiga melihat gelagat Haruya.
“Ti-tidak…… aku pergi sebentar ya.”
“Ke mana?”
“Ke tempat orang itu!”
“Oooh~ jadi orang-orang yang diceritakan Kazamiya-kun ya……”
Haruya segera bersiap-siap dan bergegas menuju tujuannya. Ia tidak bisa duduk tenang setelah membaca isi pesan tersebut. Pengirimnya adalah Rin.
『Ada hal yang benar-benar ingin aku sampaikan kepada Akasaki-kun……. Karena itu, datanglah ke tempat ini───』
Pesan itu ditulis dengan gaya bahasa yang formal, memberitahukan lokasi pertemuan. Mengenai waktunya, sepertinya Rin sudah berada di sana sekarang. Begitu selesai bersiap, Haruya langsung berlari kencang menuju lokasi.
(Kali ini jangan sampai gagal ya…… Haru-nii.)
***
Tempat tujuan itu adalah──sebuah kafe.
Itu adalah kafe yang biasa dikunjungi Haruya sebagai pelanggan tetap. Karena belakangan ini ia tidak sempat mampir dan tidak ada gairah untuk ke sana, Haruya merasakan sensasi yang segar.
Sambil menghela napas panjang di dalam hati, Haruya melangkah masuk ke dalam kafe. Ia berganti pakaian di pintu masuk dan menunjukkan dirinya yang biasa. Di dalam kafe, ia melihat sosok Rin sendirian. Karena belum masuk jam operasional, tidak terlihat ada pelanggan lain. Sepertinya Rin sudah meminta izin kepada manajer.
Rin muncul dengan penampilan yang biasa ia tunjukkan di kafe ini. Haruya tertegun melihat ekspresi Rin yang tampak sedikit malu-malu. Gadis itu menutupi area mulutnya dengan nampan saat menunjukkan dirinya.
“Ha-halo……… Onii-san.”
“……—! Ha-halo.”
Setelah bertukar salam, Rin mengantarnya ke kursi meja pelanggan.
“Tunggu sebentar ya.”
Setelah memastikan Haruya duduk, Rin melangkah kecil menuju dapur dan menghilang di sana. Selama waktu itu, hati Haruya diselimuti rasa bingung dan cemas yang dingin.
(……Eh, bukannya tadi dia memanggilku "Onii-san"?)
Jangan-jangan identitas aslinya sudah ketahuan.
Sambil memendam rasa panik itu, tak lama kemudian, secangkir kopi disajikan di depan Haruya. Uap hangat dan aroma pahit khas kopi mulai memenuhi udara di sekitarnya.
“I-ini……?”
“Apa kamu lupa? Janji kita. Janji kalau kamu mau meminum kopiku……”
Itu adalah janji yang pernah mereka buat saat acara menginap dulu. Salah satu janji yang Haruya kira sudah lenyap begitu saja.
“Ah, benar.”
Haruya menyeruput kopi itu perlahan sambil menatap Rin.
“Ini sangat enak.”
“Tentu saja, kan kamu selalu meminumnya.”
“……A-apa maksudmu!?”
“Oups, hari ini bukan itu topik bahasannya ya. Obrolan seperti itu nanti saja dilakukan bersama "Onii-san".”
Gawat. Kepala Haruya mendadak kosong. Rin membisikkan hal itu tepat di dekat telinganya.
Eh, ini jelas ketahuan kan……
Ekspresi Rin terlihat sangat cantik, membuat Haruya tak bisa melepaskan pandangannya. Tanpa memedulikan Haruya yang terpaku, Rin mengalihkan pandangannya ke arah jendela. Setelah menarik napas dalam-dalam, ia berkata:
“Maaf ya aku melarikan diri waktu itu. Tapi sekarang, aku ingin menyampaikannya sekali lagi.”
Rin melangkah maju tepat di depan Haruya dan berucap.
“……Bahwa jika kita terus saling menghadapi, hubungan ini tidak akan hancur.”
“…………”
Melihat Haruya yang terdiam, Rin melanjutkan.
“Aku sudah tahu cerita tentang Akasaki-kun……”
Apa yang diucapkan Rin adalah kebenaran yang sesungguhnya. Tentang hancurnya grup pertemanan karena asmara. Tentang tersebarnya rumor kencan antar anggota di dalam grup. Dan masa lalu yang membuat Haruya membenci orang-orang di kelasnya.
Melihat Rin yang menceritakan poin-poin itu dengan sangat akurat, hanya ada satu orang yang terlintas di pikiran Haruya.
(……Sial. Pasti Kazamiya.)
Mengingat bagaimana dia mengatur segalanya dari balik layar selama ini, sudah tidak salah lagi kalau dialah sumber informasinya.
“───Lalu?”
“Cinta dan persahabatan memang sulit untuk disatukan. Semakin dalam hubunganmu dengan seseorang, semakin besar pula luka yang akan dirasakan.”
“……………”
Apa yang dikatakan Rin benar.
Karena aku terlalu dekat dengan Takuma dan Miyuki, luka yang kurasakan dulu sangatlah dahsyat. Begitu sebuah grup hancur, persahabatan terasa seperti sesuatu yang sangat rapuh dan fana. Kalau begitu, sejak awal lebih baik tidak perlu ada cinta────.
Saat Haruya sedang merenungkan hal itu, Rin menarik napas panjang.
“Tapi, meski begitu──aku menyukai hubungan di mana kita tidak membohongi perasaan sendiri. Itulah yang ingin aku tuju.”
“Meskipun hasilnya nanti mungkin hanya akan menyisakan luka?”
Menanggapi pertanyaan Haruya, Rin perlahan menggelengkan kepalanya.
“Tidak akan hanya berakhir dengan luka.”
“Kenyataannya, Kohinata-san pun menderita, kan……”
Bukan hanya Rin. Mungkin juga Yuna dan Sara. Persahabatan mereka bertiga yang begitu kuat dan berharga sudah menjadi rahasia umum di kelas. Lalu, apa yang terjadi dengan ikatan itu akibat masalah ini? Haruya bahkan takut untuk bertanya. Hasilnya pasti sudah bisa ditebak.
“……Bukankah kalian semua terluka? Hanya karena adanya perasaan cinta ini.”
Mengingat masa lalu, nada bicara Haruya sedikit meninggi. Sambil memperhatikan sosok Haruya, Rin berkata:
“……Karena mereka berdua terus menghadapiku. Karena mereka tidak menyerah padaku. Meski terluka, aku merasa tidak ingin melarikan diri lagi.”
Itulah sebabnya aku berdiri di sini menghadapimu sekarang, tegas Rin.
“Kalaupun salah satu dari kita akhirnya berpacaran dengannya, kami akan tetap bersama. Terkadang pergi main keluar, mengobrol di grup chat, sesekali main game bareng, atau pergi belanja.”
Rin menarik napas dalam dan tersenyum lebar.
“Aku sudah bicara dengan semuanya, Akasaki-kun. Tentang jati diri aslimu yang sebenarnya.”
Senyum menyeringai Rin tampak begitu menawan dan misterius.
“……—!”
Semua orang sudah berbagi informasi itu. Kenyataan tersebut membuat Haruya terbelalak.
“Aku──tadi hampir saja mencuri start sendirian.”
Lalu Rin mulai merunut tindakannya. Tentang bagaimana ia sempat ingin menyerah pada Haruya, namun tak sanggup dan akhirnya menyatakan cintanya.
“……Meskipun begitu, mereka berdua menerimaku. Jadi, kali ini giliranku untuk menghargai perasaan mereka.”
Dan itu artinya, lanjut Rin sambil menatap tajam mata Haruya.
“Berlaku juga untuk Akasaki-kun. Aku ingin menghargai perasaanmu juga.”
“……Perasaanku?”
Saat Haruya bertanya balik, Rin mengangguk pelan.
“Iya. Perasaanmu yang sebenarnya, yang ingin bisa mencintai seseorang lagi.”
“……—!”
“Akasaki-kun pasti sedang melarikan diri dari suara hati itu.”
“A-aku tidak bermaksud begitu……”
Padahal ia adalah tipe orang yang justru memalingkan mata dari hubungan antar manusia. Cinta dan persahabatan. Semakin dalam terlibat, masalah ini tidak akan bisa dihindari. Padahal ia tahu suatu saat nanti segalanya akan hancur.
“Sebenarnya kamu ingin bisa mencintai seseorang, kan?”
Rin menegaskan kata-katanya sekali lagi. Karena, lanjutnya:
“Bukankah Akasaki-kun sudah mengurai simpul di hati banyak orang?”
Rin berbicara dengan nada seolah sedang menasihati.
“Hati Sarachin yang sangat menderita karena tidak bisa menyuarakan pendapatnya sendiri.”
“Hati Yunarin yang sebenarnya punya semangat membara namun hidup dengan menyembunyikannya.”
“Dan hatiku, yang selama ini tidak pernah punya kepercayaan diri atas cara hidupku sendiri.”
Karena itulah, Rin menegaskan.
“Kamu ingin terlibat dengan orang lain. Kamu ingin mencintai. Bukankah karena sebenarnya kamu menginginkan hal itu, makanya kamu menolong kami?”
“………—!”
Haruya terbelalak dan terpaku. Suara dan sikap Rin terasa begitu gigih.
“Tapi, menyatukan cinta dan persahabatan itu mustahil──”
“Bisa kok. Akan aku buktikan.”
Rin memotong dengan tegas.
“Karena aku akan terus menghadapinya sampai bisa.”
“……Ha, haha.”
Tanpa sadar senyum tersungging di wajah Haruya. Hati Rin jelas-jelas sudah menjadi jauh lebih kuat.
“Akasaki-kun pasti bisa melakukannya. Menyatukan cinta dan persahabatan.”
Bagaimana dia bisa seyakin itu? Rin tidak mengalihkan pandangannya dari mata Haruya saat berkata:
“Karena saat SMP dulu, bukankah Akasaki-kun terus menghadapi semua orang di kelas? Bahkan orang yang tidak tertarik padamu, atau orang yang membencimu sekalipun.”
“……Dibandingkan itu, menyatukan cinta dan persahabatan seharusnya jauh lebih mudah.”
“………—!”
Selama ini aku melarikan diri dari kenyataan.
Ah, begitu ya, pikirnya.
(……Apakah selama ini aku ingin seseorang—bukan, apakah aku ingin seseorang yang terluka karena cinta yang sama denganku, mengatakan bahwa hal itu "mungkin" dilakukan?)
“Ta-tapi aku sudah menolak Kohinata-san……”
“Stop. Yang tadi itu tidak dihitung sebagai penolakan. Akasaki-kun, lihat saja nanti……”
Rin menahan rasa malunya dan berkata dengan penuh tekad:
“Aku akan berusaha keras supaya kamu menyukaiku.”
Tatapan matanya yang tajam dan mantap membuat jantung Haruya berdegup kencang. Ia merasa tidak boleh mengkhianati senyuman ini. Itulah perasaan kuat yang muncul dalam dirinya. Saat ia masih terpaku, Rin tersenyum jahil dan melanjutkan.
“Jadi, bersiaplah, ya? Onii-san~”
Haruya bisa merasakan jantungnya berdegup kencang. Ia menahan gejolak perasaannya. Karena ia sudah memutuskan untuk menghadapi mereka semua, ia tidak bisa lagi menjadi dirinya yang "tidak mencolok". Ia tidak akan membiarkan kata-kata itu lewat begitu saja.
Karena itulah───.
Jika biasanya Haruya akan berpura-pura tidak mendengar hal seperti itu, kali ini ia justru membalas tatapan Rin dengan mantap dan berkata:
“Iya, aku akan mempersiapkan tekadku dengan benar.”
Duk!
Tiba-tiba rasa sakit tumpul menjalar di tulang kering kakinya. Sepertinya Rin baru saja melancarkan tendangan keras ke arahnya. Kalau dilihat, telinga Rin sudah merah padam dan ia terus menundukkan wajahnya.
“……Pembicaraan sudah selesai, sekarang pulanglah sana, Akasaki-kun!”
Mendengar kata-kata ketus itu, Haruya tidak berniat membantah. Ia mengangguk setuju, menyelesaikan pembayaran di kasir, lalu meninggalkan tempat itu.
“Akhirnya dia pergi juga………”
Setelah memastikan Haruya sudah tidak ada, Rin membenturkan dahinya ke atas meja.
“……Malu sekali, rasanya aku mau mati sajaaaa!”
Rasa malu yang tak tertahankan terpancar jelas dari raut wajah Rin.
***
────Dimulai dari sini. Mari kita saling menghadapi dengan benar mulai sekarang.
Kazamiya, Maya, Rin, Sara, dan Yuna telah menaruh kepercayaan padanya. Mereka telah mengakui jati diri Akasaki Haruya.
Karena itulah, ia bisa melangkah maju. Ekspresi penuh tekad kini terlukis di wajah Haruya. Aku tidak akan lari lagi.
Karena itulah─── Haruya melakukan sebuah panggilan telepon dengan sorot mata yang penuh ketetapan hati.
***
“Syukurlah. Sepertinya semua berjalan lancar ya.”
“Kita juga tidak boleh kalah dari Rin.”
Sara dan Yuna menghela napas lega saat melihat pemandangan kafe dari luar. Melihat sosok Haruya dan Rin yang canggung, mereka merasa sangat tenang dari lubuk hati yang paling dalam. Namun di saat yang sama, fakta bahwa mereka memiliki jiwa kompetitif terhadap Rin juga tidak bisa dipungkiri.
“Ah, aku juga tidak berniat kalah dari Yuna-san, lho.”
“Kalau soal itu, aku pun sama……”
Setelah saling bertukar pandang, Yuna tiba-tiba berlari pergi.
“Ah, Yuna-san! Tunggu sebentar! Curang sekali kalau kabur begitu sajaaa~~”
Seolah ingin meluapkan perasaan yang membuncah, Yuna berlari menembus kerumunan orang dengan ekspresi yang cerah.
***
Semester kedua. Kemarin, liburan musim panas yang panjang akhirnya resmi berakhir. Begitu sampai di sekolah, tatapan orang-orang di sekitarnya langsung menghujam ke arahnya. Dengan jantung yang berdegup kencang, Haruya berjalan tegak memasuki area sekolah.
Meskipun panas sisa musim panas masih terasa menyengat, bagi Haruya, suhu udara itu tidak ada apa-apanya dibanding gejolak di hatinya. Ia bisa mendengar bisik-bisik gosip di sekitarnya.
Sambil merasakan sensasi nostalgia itu di kulitnya, Haruya berdiri di depan pintu kelas. Dari balik pintu, terdengar suara ceria tiga orang gadis yang sudah sangat dikenalnya. Sambil menghela napas pelan, Haruya melangkah maju menuju tempat mereka berada.
“Selamat pagi, semuanya!”
Dengan penampilan saat SMP dulu, rambut yang dipotong pendek rapi. Haruya menyapa sambil menatap mata mereka bertiga secara langsung. Dengan sedikit rasa malu yang tersisa, ia mengutak-atik poni rambutnya. Sebelum Sara dan yang lainnya sempat bereaksi, seisi kelas sudah gempar duluan.
“““Apa-apaan ini!? Sebenarnya apa yang terjadi!?”““
Haruya akhirnya memantapkan tekadnya yang baru.
(Mulai sekarang aku tidak bisa lagi bersembunyi. Aku harus memikirkan perasaan mereka dengan serius.)
Ia ingin menjawab perasaan mereka. Menjawab sikap mereka yang tidak menyerah pada cinta maupun persahabatan. Karena itulah, suatu saat nanti ia harus memberikan jawaban.
Di masa depan yang dekat, akan tiba saatnya Haruya sendiri yang harus memutuskan. Waktu tidak akan menunggu selamanya.
Mulai sekarang, ia harus bersikap tegas───.
(Aku akan mulai memperlakukan mereka bertiga sebagai lawan jenis yang menjadi target cintaku.)
Itulah saat di mana tekadnya menjadi lebih kuat dari sebelumnya.
***
“……Aku sudah tahu, lho.”
Semester kedua baru saja dimulai, tapi Haruya sudah merasakan tekanan besar dari kursi di sebelahnya. Rambut hitam yang berkilau, mata hijau yang jernih, dan tatapan yang seolah menggodanya tidak pernah lepas dari sosok Haruya.
(……Benar juga. Takamori-san kan duduk di sebelahku.)
Karena ada pergantian tempat duduk pada hari penutupan semester lalu, sekarang ia duduk bersebelahan dengannya. Ia terus dihujani tatapan tajam karena selama ini telah menyembunyikan identitas aslinya.
“Kazamiya-kun sudah menceritakan garis besarnya padaku, jadi aku tidak bisa bilang apa-apa, tapi……”
Yuna memberikan mukadimah sebelum melanjutkan.
“Tapi, aku ingin mendengar penjelasan detailnya darimu. Bagaimana perasaanmu selama ini saat tahu identitas asliku sebagai 'Nayu' tapi kamu tetap menyembunyikan identitasmu sendiri?”
Punggung Haruya seketika merinding ketakutan.
“Kalau kamu tidak mau cerita, aku tidak akan memberimu rekomendasi buku lagi, lho.”
“Ah, jangan begitu dong……”
Haruya mencoba melemparkan tatapan meminta tolong ke arah Kazamiya, tapi Kazamiya malah mengacungkan jempolnya sambil berkata:
“Itu semua salahmu sendiri, Akasaki.”
“Fufu. Karena begitulah situasinya, pastikan kamu menceritakan semuanya ya? Tentang apa yang kamu pikirkan tentangku selama ini.”
Senyumnya sebagai 'Nayu'. Haruya hanya bisa memberikan senyum kecut karena merasakan tekad kuat dari Yuna yang seolah tidak akan membiarkannya kabur.
***
Sejak saat itu, hubungannya dengan Rin sempat kembali berjarak. Namun, sebuah pesan singkat tiba di ponselnya: 『Kalau datang sebagai "Onii-san", akan aku izinkan.』
Padahal Haruya sudah memotong rambutnya, jadi penampilan luar maupun identitas rahasianya seharusnya sudah tidak berarti lagi, tapi……begitu Haruya melangkah masuk ke kafe, Rin berkata dengan wajah yang memerah padam:
“……Maukah Onii-san mendengarkan cerita oleh-oleh dari acara menginap kami? Onii-san. Ada banyak hal yang terjadi dengan orang yang aku sukai………”
“Eh……”
Rin seharusnya sudah tahu identitas asli Haruya. Namun, ia tetap bersikeras melanjutkan pembicaraan dengan berpura-pura memberikan "cerita oleh-oleh".
“Lho? Bukankah Onii-san sudah berjanji…… kalau Onii-san mau mendengarkan ceritaku?”
“………Ha, haha.”
Janji tetaplah janji. Haruya merasa malu setengah mati karena harus mendengarkan episode bagaimana Rin jatuh cinta padanya dari sudut pandang orang ketiga. Melihat Haruya yang salah tingkah, dalam hati Rin melakukan pose kemenangan.
(……Aku juga malu sampai rasanya ingin mati, tapi syukurlah sepertinya ini mempan padanya. Tapi tetap saja, ini memalukan sekali!)
Di sudut kafe itu, atmosfer manis mulai menyelimuti mereka.
***
“Hanya aku yang tidak mendapatkan keuntungan apa-apa, rasanya tidak adil……”
Setelah jam sekolah usai, Haruya dipanggil oleh Sara ke depan atap sekolah. Tanpa basa-basi, Sara langsung memberikan pernyataan perang.
“Akulah yang pertama kali mengetahui identitas asli Akasaki-san…… jauh sebelum Rin-san dan Yuna-san.”
Namun, Sara sedikit mengerucutkan bibirnya.
“Hanya saja, aku tidak suka kalau kamu diam-diam main mata dengan mereka berdua tanpa sepengetahuanku……”
Tuk. Sara menusuk bagian tengah dada Haruya dengan jari telunjuknya.
“Karena orang yang akan memenangkan hatimu adalah aku.”
Senyum secerah matahari itu membuat mata Haruya terpaku.
Sejak semester kedua dimulai, Haruya merasa pendekatan dari mereka bertiga semakin gencar saja. Cinta dan persahabatan. Ia ingin menjawab perasaan mereka yang telah bersumpah untuk tidak membuang atau menyerah pada kedua hal tersebut. Untuk itu, ia tidak boleh lagi menjadi dirinya yang penuh kepalsuan. Ia merasa tidak boleh lagi menjadi sosok yang menutup pandangan dengan poni panjang dan melarikan diri dari hubungan antar manusia.
Karena itulah ia memotong poninya tepat saat semester kedua dimulai, tapi……
“Kalau berkumpul bertiga begini, rasanya jadi sedikit canggung ya.”
“Aku mengerti maksudmu, tapi perasaan canggung itu seharusnya lebih dirasakan oleh Rin-san……”
Terlihat jelas Rin sedang bersembunyi di balik bayang-bayang kedua temannya.
Hari ini, para anggota "acara menginap" memutuskan untuk berkumpul. Lokasinya adalah taman hiburan lokal. Ide berkumpulnya kembali anggota ini dimulai dari usul Rin. Ia ingin menebus kesalahannya karena dialah yang terakhir kali merusak suasana. Karena Haruya sudah memotong rambutnya di semester kedua ini, Rin pasti melihat itu sebagai momen yang tepat untuk memulai kembali.
Mungkin untuk mengusir rasa malunya, Rin menarik napas dalam berkali-kali sebelum memunculkan dirinya di depan para lelaki. Sambil memutar-mutar rambut dengan jarinya, Rin menatap lurus ke arah Haruya.
“……Mungkin ini terdengar formal lagi, tapi, mohon bantuannya ya.”
“Tidak apa-apa kok. Yang penting kalian sudah bisa melaluinya, kan?”
Kazamiya menyenggol siku Haruya, meminta persetujuan.
“Yah, aku juga, sekali lagi……”
Haruya mengulurkan sebelah tangannya. Melihat itu, Rin segera menyambutnya. Tanpa ada komando, mereka saling menjabat tangan dengan erat. Mata ungu kehitaman yang tenang itu menatap Haruya dalam. Namun sesaat kemudian, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum jahil yang sedikit "sadis".
“……Aku tidak akan membiarkanmu menolakku lagi, Onii-san~”
“……—!?”
Saat Haruya tersentak kaget, Sara dan Yuna ikut menyela.
“Heeh.”
“Gencar sekali ya.”
Keduanya ikut tersenyum melihat cara panggilan Rin yang berubah drastis. Kazamiya mulai berbisik-bisik menjelaskan kepada Sara dan Yuna.
“Yaah, anggap saja itu bagian dari roleplay mereka. Jangan terlalu dimasukkan ke hati.”
……Hei, aku bisa dengar tahu!
“Bu-bukan begitu!”
Haruya membantah dengan suara keras, namun Kazamiya langsung membalas:
“Hoo. Padahal aku sudah mencoba membantumu, lho. Kalau begitu, apa kamu mau menjelaskannya sendiri?”
“……Eh.”
Haruya refleks melirik ke arah Rin. Dan Rin sengaja memasang wajah yang tampak kesulitan.
“……Boleh aku ceritakan semuanya? Mulai dari awal pertemuan kita sampai hal-hal detail lainnya di sini?”
“……—!?”
“Bagaimana, Akasaki-kun?”
“……Ku-mohon, jangan lakukan "sidang memalukan" ini di taman hiburan……”
Haruya menutupi wajahnya dengan tangan dan berlari pergi dari sana. Melihat itu, Yuna dan Sara pun berucap:
“Itu benar-benar membuat jantung berdebar ya.”
“Rin-san kuat sekali.”
Rin mengangguk mantap dengan senyum lebar di wajahnya.
“Wah, sepertinya ini bakal seru nih.”
Kazamiya menyeringai, merasa senang karena bisa melihat sisi baru dari Haruya.
“Pokoknya, sudah tidak ada rahasia lagi di antara kita! Kita harus membuat 'Onii-san'—maksudku Akasaki-kun—paham akan hal itu.”
“Kalau begitu, kita harus mengejarnya.”
“Benar. Karena aku sudah memutuskan tidak akan membiarkannya kabur.”
Ketiganya telah memantapkan tekad untuk mengejar pemuda itu. Masing-masing akan menyampaikan kisah bagaimana mereka jatuh cinta padanya. Sebuah awal dari cinta yang memalukan, manis, sekaligus mendebarkan.
Mereka pun mulai berlari. Di tas masing-masing, tergantung gantungan kunci yang sama. Itu adalah barang yang mereka beli bersama saat bermain bertiga dulu. Seekor beruang dengan mata yang sedikit menyipit.
Rin dan kawan-kawan, yang telah memperdalam saling pengertian setelah berbaikan, berniat membeli sesuatu yang seragam…… dan mereka terpaku pada gantungan kunci beruang itu di sebuah toko pernak-pernik.
『Bukankah ini mirip Akasaki-kun?』
『Maksudmu bagian yang kelihatan sedikit judes itu?』
『Tapi, di balik matanya terlihat ada kebaikan. Beruang ini mirip sekali dengannya.』
Tanpa perlu berdiskusi panjang, mereka memutuskan untuk membelinya. Gantungan kunci beruang yang bergoyang-goyang itu berkilau terkena cahaya matahari.
“Aku benar-benar tidak akan membiarkanmu lepas.”
Rin tersenyum dengan binar yang belum pernah terlihat sebelumnya.






Post a Comment