Prolog: Setelah itu, Aku Tidur Nyenyak Sekali
"Ibu..."
Mimpi burukku selalu dimulai dengan hari-hari bahagia bersama Ibu.
Rambut putih murni Ibu yang panjangnya mencapai pinggang terasa sehalus
sutra, dan setiap kali aku memeluk punggungnya erat-erat, selalu tercium aroma
manis seperti bunga.
"Fufu, Tía manja sekali ya."
Ibu tersenyum lembut, lalu menggendong tubuh kecilku
dan mendudukkanku di pangkuannya.
"Sedang buat apa?"
"Belakangan ini udara mulai dingin, kan? Ibu pikir ingin membuatkan syal untuk Lugh."
"Syal untuk Kak Lugh!? Aku juga mau buat!"
"Eh? Bukankah itu masih sulit untuk Tía?"
"Muuu—! Tía juga bisa kok! Tía mau buat syal
untuk Kak Lugh!"
"Iya, iya. Kalau begitu, mohon bantuannya
ya?"
"Ehm!"
Ibu mengangkat bahunya—gestur yang sering dilakukan
Kak Lugh—lalu mengajariku cara membuat syal.
Syal waktu itu, yah... hasilnya jadi seperti
potongan kain rombeng, tapi sampai sekarang masih kusimpan sebagai barang
kenangan berharga bersama Ibu. Tanpa memberikannya kepada Kak Lugh...
"Uhuk, uhuk."
Di atas kepalaku, Ibu terbatuk. Sejak saat itu
kondisi kesehatan Ibu terus memburuk, dan seiring syal itu selesai, penyakitnya
pun semakin parah.
Seolah-olah syal itu tumbuh dengan menghisap nyawa
Ibu.
Tepat saat itulah, wabah penyakit mulai menyebar di
ibu kota kerajaan.
Aku dan Ibu diisolasi dari istana belakang dan
dimasukkan ke dalam ruangan kecil di atas menara lancip. Itu karena para selir
lain dan kaum bangsawan mulai ribut menuduh Ibu terjangkit wabah tersebut.
Ruangan di menara itu dingin. Suara angin yang
menghantam jendela terus terdengar hingga aku tidak bisa tidur di malam hari.
Kondisi Ibu memburuk dari hari ke hari, dan meskipun aku yang masih kecil ini
berusaha keras merawatnya, aku tidak tahu harus berbuat apa... Aku hanya bisa
menggenggam tangan Ibu...
"Tía..."
Suara Ibu yang memanggilku terdengar serak.
Kesadarannya mulai kabur, dan matanya hampir tidak
bisa melihat lagi. Ibu menggerakkan tangannya yang sudah seperti ranting
kering, meraba-raba untuk memastikan bentuk kepala dan pipiku.
"Lucretia... sayangku... tolong...
berbahagialah..."
"Ibu...? Jangan... jangan pergi. Jangan
tinggalkan aku sendiri...!"
Ibu tersenyum tampak bahagia. Setelah itu, beliau
tidak bergerak sama sekali dan tubuhnya mulai mendingin. Aku hanya bisa
menangis dan berteriak.
"Jangan pergi ke mana pun...! Jangan tinggalkan
aku...!"
Berapa kali pun aku mengguncangnya, Ibu tidak
bangun. Meski aku
berteriak, Ibu tidak memelukku. Tubuh Ibu perlahan-lahan menjadi dingin.
Tidak, Ibu. Jangan mati! Jangan tinggalkan aku
sendiri! Ibuuu!
◇
"Lugh!"
Tanpa sadar aku menggenggam tangannya dan
memanggil namanya. Jarum pendek jam menunjuk ke arah angka tiga. Aku terbangun
di tengah malam karena mendengar suara Lugh yang tidur di ranjangku.
Mimpinya kali ini terlihat lebih buruk daripada
yang pernah kusaksikan sebelumnya.
Butiran keringat besar membasahi dahinya,
membuat poni rambutnya menempel. Meski begitu, wajahnya pucat pasi seolah darah
telah terkuras habis, dan Lugh menggapai-gapaikan kedua tangannya dengan putus
asa seolah sedang menderita dalam sesak.
Sepertinya aku harus membangunkan dia.
"Lugh...!"
"—! ...Hugh?"
Aku menyalakan lampu kamar dengan alat sihir.
Setelah aku mengguncang bahunya dan memanggil namanya, Lugh membuka mata.
Sepasang mata biru tua itu memantulkan wajahku.
"Eh... aku..."
Napas Lugh terengah-engah seperti baru saja
melakukan olahraga berat.
Lugh menyibakkan selimut dan perlahan bangkit duduk.
Baju tidur negligee-nya basah
oleh keringat dan menempel di kulit, hingga samar-samar memperlihatkan warna
kulit di baliknya.
Aku segera memalingkan wajah dan berdiri.
"Aku ambilkan air. Tunggu sebentar."
Aku menuju dapur dan menuangkan air ke gelas
dari keran yang dibuat dengan alat sihir.
Setelah kembali dan menyerahkannya pada Lugh,
dia meminumnya perlahan. Saat air di gelas habis, napas Lugh sudah stabil dan
rona wajahnya sedikit membaik.
"Sudah tenang?"
"Iya. Terima kasih, Hugh. Maaf ya, itu...
aku membangunkanmu, kan...?"
"Tidak. Aku juga baru saja bangun karena
mimpi buruk."
Sebenarnya aku bangun karena suara igauan Lugh,
tapi tidak bohong kalau aku juga bermimpi buruk.
Sudah lama aku tidak bermimpi tentang masa
laluku saat masih menjadi budak korporat yang gila kerja.
Waktu kecil aku sering mengigau karena mimpi itu
hingga membuat ibuku khawatir. Seharusnya aku tidak pernah memimpikannya lagi
sejak masuk Akademi Kerajaan... yah, urusanku tidak penting.
Bagi Lugh, kematian ibunya adalah kejadian yang
terukir begitu dalam di hatinya hingga terus muncul sebagai mimpi buruk. Apa
sebenarnya yang terjadi ya...
Pangeran Lucas atau Lily yang berteman dengannya
sejak kecil mungkin tahu sesuatu, tapi aku tidak ingin melakukan hal yang tidak
sopan seperti mengorek masa lalunya tanpa izin dari Lugh sendiri.
Untuk urusan ini, aku hanya bisa menunggu sampai
Lugh mau bercerita sendiri.
Lebih dari itu.
"Ah—anu... apa kamu bisa tidur sendiri?"
Saat aku bertanya, Lugh menggelengkan kepalanya
pelan. Biasanya Lugh akan menyelinap ke ranjangku diam-diam di tengah malam,
tapi hari ini aku sudah terlanjur bangun. Taktik diam-diam tidak akan berlaku.
Lugh mengatupkan bibirnya rapat-rapat dan menatapku
dengan mata yang mendongak.
...Yah, aku mengerti apa yang ingin dia sampaikan.
"Anu... mau tidur bersama?"
"Boleh?"
"I-iya. Tentu saja. Kalau Lugh tidak
keberatan."
"Ehm!"
Kami memang sudah sering tidur di ranjang yang sama
setiap hari, tapi kalau dipikir-pikir, sepertinya tidak pernah sekalipun
berdasarkan kesepakatan bersama. Memikirkan hal itu membuatku sedikit gugup...
Tentu saja aku tidak berniat melakukan hal mesum, jadi tidak perlu waspada
berlebihan.
"Ah, tapi aku sekarang mungkin agak bau
keringat... Bolehkah aku mandi sebentar?"
"...! I-iya. Boleh saja, kan."
"? Kalau begitu aku pergi dulu ya."
Sambil memiringkan kepala karena jawabanku yang
terbata-bata, Lugh menyiapkan baju ganti dan handuk lalu menuju ruang ganti.
Tak lama kemudian, terdengar suara samar air pancuran.
Ke-kenapa aku jadi gugup begini...! Kan cuma
tidur bersama seperti biasanya!
...Meskipun begitu, antara Lugh yang menyelinap
sendiri ke tempat tidur dengan aku yang mengajaknya dan melakukannya dengan
persetujuan, maknanya memang berbeda, ya...
Ada pepatah di kehidupanku sebelumnya yang
bilang kalau laki-laki tidak mengambil kesempatan itu memalukan, apakah di
dunia ini ada pepatah serupa?
Selagi aku duduk di ranjang dan melamunkan
hal-hal tidak penting itu, Lugh kembali.
"Ma-maaf membuatmu menunggu, Hugh."
Lugh yang mengenakan negligee merah muda
pucat berdiri di depanku, menangkupkan kedua tangan di depan dada. Pipinya yang tampak merona pasti karena dia baru
saja mandi.
Aroma manis yang mirip bunga Kinmokusei (Osmanthus) tercium lebih kuat dari biasanya
dari tubuh Lugh yang baru selesai mandi.
Glek,
tanpa sadar aku menelan ludah dan segera masuk ke dalam selimut untuk menutupi
kegugupanku.
"Ka-kalau begitu, ayo tidur."
"I-iya. Permisi..."
Dengan gerakan yang kaku dan formal, Lugh masuk
ke ranjangku.
Aku menggeser tubuhku hingga ke pinggir tembok
untuk memberi ruang bagi Lugh.
"Hugh, apa tidak sempit?"
"Lugh sendiri, apa tidak apa-apa di pinggir
begitu? Nanti jatuh..."
Di antara aku dan Lugh sekarang ada celah yang
cukup untuk satu orang lagi tidur. Aku buru-buru membuang khayalan tentang
tidur bersama anak di tengah membentuk huruf "川"
(sungai). Itu masih terlalu jauh.
"Kalau begitu... hap!"
Lugh memutar tubuhnya setengah lingkaran dan
mendekat ke arahku.
Hasilnya, punggung Lugh menempel erat di dadaku.
"He-hei. Kali ini terlalu dekat, kan...!?"
"Ma-masa sih...?"
Tidak, tingkat kelekatan ini jelas tidak bisa
dibandingkan dengan yang sebelum-sebelumnya...
Lugh yang dengan santainya menjadikan lengan kiriku
sebagai bantal, mematikan lampu kamar dengan alat sihir di samping tempat
tidur. Di dalam kegelapan, suhu tubuh Lugh yang terasa menembus baju tidur dan
detak jantungnya yang berdegup kencang pastilah bukan sekadar imajinasiku.
Ini... apa aku bisa benar-benar tidur ya...
*◇*
Entah bagaimana, aku berhasil tidur
nyenyak dan pagi pun tiba. Aku bangun untuk berlatih bersama Alyssa-san, lalu
meninggalkan kamar sambil diantar oleh pandangan Lugh yang menggembungkan
pipinya dengan wajah merajuk.
Aku bisa menebak apa niat Lugh semalam,
tapi... bukan berarti aku bisa menerimanya begitu saja. Ini bukan sekadar
masalah kesiapanku. Lugh adalah Putri Ketujuh negeri ini, Lucretia von Leese,
dan yang terpenting, dia adalah seorang gadis berusia lima belas tahun yang
sedang berada di masa pubertas.
Meski usia asliku (secara mental)
hampir empat puluh tahun, apa gunanya aku jika tidak bisa menginjak rem?
...Yah,
walau aku sendiri ragu apakah rem ini akan terus berfungsi normal sampai lulus
akademi. Kalau terus begini, rasanya cepat atau lambat akan terjadi fade phenomenon (rem blong). Aku harus bicara baik-baik
dengan Lugh saat ada kesempatan nanti.
Kalau dipikir-pikir, aku bahkan belum
menyatakan perasaan, jadi kurasa sudah saatnya aku menyampaikan perasaanku
dengan jelas. Semoga saja ada momen yang tepat...
Sambil memikirkan hal itu, aku sampai
di lahan kosong di belakang asrama pengajar yang biasa kami gunakan untuk
latihan. Di sana
sudah ada Alyssa-san dan Idiot.
"Haaaaah!"
"Terlalu lambat-ssu!"
Alyssa-san menangkis pedang kayu yang
diayunkan, lalu menempelkan ujung pedang kayunya ke leher Idiot. Idiot yang
kehilangan senjatanya mengangkat kedua tangan tanda menyerah.
"Seperti yang diharapkan dari tangan kanan sang Sword Master. Tak disangka aku tidak bisa mencetak satu poin pun."
"Fufufu, tidak usah memuji begitu-ssu. Ngomong-ngomong, Tuan Muda Idiot, dilarang menyerang duluan-ssu. Jelas sekali berkah skill-mu menghilang di saat kamu beralih ke posisi menyerang-ssu."
"Apa...!? Mana mungkin... tidak, kalau dipikir-pikir, memang benar..."
Skill milik Idiot, "Guardian (Chevalier)", adalah skill kuat yang berfokus pada pertahanan dan mencakup "Physical Enhancement" serta "Swordsmanship". Jika dia bermain defensif, bahkan skill "Swordsmanship" level maksimal pun tidak bisa menembusnya.
Sebaliknya, saat dia menyerang, aura ancaman dari "Guardian" tidak terlalu terasa. Baik dalam latihan tanding denganku maupun barusan, Idiot selalu kalah saat terkena serangan balik ketika dia mencoba menyerang.
Begitu ya...
"Guardian" hanya menunjukkan kekuatan
sejatinya saat bertahan. Meski penggunaannya jadi sangat spesifik, efeknya luar
biasa. Skill memang sesuatu yang mendalam.
"Kamu datang juga, Tuan Muda
Hugh-ssu."
"Selamat pagi, Alyssa-san."
"Mu. Kamu terlambat, Hugh. Kami sudah
mulai duluan."
"Maaf, aku ketiduran sedikit."
Sambil membungkuk meminta maaf pada mereka
berdua, aku mengambil pedang kayu yang bersandar di pohon terdekat.
Idiot baru bergabung dalam latihan pagi
kami dua hari yang lalu, tepat setelah dia kembali ke akademi setelah dua
minggu absen untuk mengurus masalah keluarga Hoartness pasca insiden di
Katedral. Katanya, Pangeran Lucas-lah yang menyarankannya untuk ikut.
Keluarga Hoartness dijatuhi hukuman atas percobaan penculikan Lecty; dua pertiga wilayah mereka disita, dan gelar mereka diturunkan dari Marquess menjadi Baron. Reputasi mereka hancur total—sebuah luka fatal di masyarakat bangsawan yang menjunjung tinggi kehormatan.
Idiot, yang diserahi jabatan kepala
keluarga menggantikan ayahnya yang dihukum tahanan rumah, harus membangun
kembali keluarga Hoartness yang di ambang kehancuran. Namun, sebagai murid yang
baru masuk akademi, pilihan yang dimilikinya terbatas.
Saran
Pangeran Lucas adalah agar Idiot meraih prestasi militer melalui pedang. Secara
konkret, itu berarti mendampingi tugas Ksatria Kerajaan untuk membasmi monster
atau kriminal, serta menjadi petualang untuk menaklukkan dungeon. Intinya, terus mencetak prestasi adalah jalan
pintas untuk memulihkan nama baik keluarga Hoartness.
Pangeran Lucas benar-benar cerdik; dia
langsung menarik Idiot ke dalam kendalinya (Ksatria Kerajaan) tanpa celah
sedikit pun.
Latihan yang kini beranggotakan tiga orang
ini menjadi lebih praktis sesuai kebijakan Alyssa-san. Seperti dugaan, latihan
selama satu bulan tidak cukup untuk mengejar perbedaan kemampuan antara aku dan
Idiot. Malah, dengan melihat ayunan pedangnya dari dekat, aku semakin sadar
akan jarak di antara kami.
Aku masih kurang dalam usaha dan tekad.
Meski begitu...!
Latihan berakhir saat aku berusaha
keras bertahan. Hari ini pun, aku tetap tidak bisa mengambil satu poin pun,
baik dari Alyssa-san maupun Idiot.
"Hugh, apakah kamu sudah berlatih
pedang sejak kecil?" tanya Idiot saat kami berjalan beriringan kembali ke
asrama setelah berpisah dengan Alyssa-san.
"Tidak. Aku hanya belajar sedikit
dari ayahku saat di rumah. Ayahku lebih suka memanah daripada pedang, jadi aku
hanya diajari dasar-dasarnya saja."
"Fumu. Kalau begitu, cara mengajar
Nona Swift memang hebat. Untuk seseorang yang baru mulai belajar pedang secara
serius setelah duel denganku, kemampuan pedangmu tidak buruk."
"Benarkah? Aku sendiri tidak
merasakannya... Buktinya aku belum bisa mencetak poin dari Alyssa-san."
"Apa
yang kau katakan? Lawannya adalah Alyssa Swift yang dijuluki tangan kanan Sword Master. Dia bukan lawan yang bisa dikalahkan
dengan mudah. Dia adalah salah satu dari lima orang terkuat di kerajaan
ini."
"Jadi dia sehebat itu ya."
"Sampai-sampai aku heran mengapa orang
sebesar itu ditugaskan dari korps ksatria ke akademi."
...Sepertinya kakak iparku itu ternyata
sangat protektif. Mengirim orang seperti itu ke akademi sama saja dengan
mengumumkan bahwa ada "orang penting bagi Pangeran Lucas" di sana,
tapi entahlah. Mungkin sudah terlambat untuk mencemaskan hal itu.
Setelah berpisah sebentar dengan Idiot, aku
kembali ke kamar untuk mandi, lalu menuju kantin bersama Lugh yang masih
merajuk. Di kantin, kami bertemu lagi dengan Idiot dan sarapan di meja yang
sama.
"Hugh, apa terjadi sesuatu dengan
Lugh? Dia
terlihat tidak senang."
"Ah... tidak. Bukannya terjadi sesuatu..."
Justru
karena "tidak terjadi apa-apa" makanya dia kesal. Saat aku melirik Lugh, dia langsung
membuang muka dengan bunyi "pui". Sepertinya dia tidak akan mengajakku bicara
untuk sementara.
Saat kami
melanjutkan makan dengan santai, tiba-tiba aku merasakan tatapan dari kejauhan.
Karena aku tidak punya skill "Ninja",
kupikir itu hanya perasaanku, tapi saat aku menoleh, ada sekelompok orang yang
mengawasi kami.
Mereka adalah mantan pengikut Idiot,
termasuk Anne, teman sekelas kami. Kalau diingat-ingat, Idiot dulu sering makan
bersama mereka. Idiot pun tampaknya menyadari tatapan itu.
"Meskipun tidak makan bersama,
bukankah sebaiknya kamu setidaknya menyapa mereka?"
"Lebih baik jangan. Jika aku bersama
mereka, orang-orang akan mulai berspekulasi yang tidak-tidak."
"Begitu ya..."
Berita bahwa Pangeran Slay dan Marquess
Hoartness mengabaikan perintah raja untuk menculik Lecty, dan bahwa Idiot-lah
yang menghentikannya, sudah tersebar luas. Bagi para bangsawan yang dulu
mendukung Pangeran Slay, Idiot adalah pengkhianat. Meski tidak ada yang
menghujat secara terang-terangan, aku yang berada di dekatnya bisa merasakan
hawa permusuhan itu.
Anne dan yang lainnya tulus mengagumi
Idiot, jadi tatapan itu pasti karena rasa khawatir. Justru karena itulah, Idiot
menjaga jarak dari mereka agar mereka tidak ikut terseret masalah.
Sebagai catatan, alasan Idiot ikut bersama
kami bukan karena dia tidak peduli pada keselamatan kami, tapi karena di mata
orang-orang, kami semua sudah dianggap sebagai "Grup Pangeran Lucas".
Jadi sudah tidak ada gunanya lagi bersikap waspada sekarang.
Nah, setelah selesai sarapan, kami berjalan
dari kantin menuju kelas—dan di tengah jalan:
"AKU
TERLAMBAAATTTTTTTTTTTTTTT!!!!"
Seorang gadis berambut merah muda melompat
keluar dari tikungan koridor. Secara
refleks aku menghindar ke samping untuk melindungi Lugh, dan—
"Guhakk!?"
Gadis itu melewati sampingku dan
menabrak Idiot tepat dari depan.
"Aduh, duh, duh..."
Gadis
itu bangkit, dan yang bergoyang bersamaan dengan gerakannya adalah rambut merah
muda yang melingkar spiral seperti bor (drill). Mengenakan
seragam Akademi Kerajaan berwarna putih dengan garis biru, dia tidak lain
adalah Sang Orang Suci yang dipilih oleh Gereja, Rosalie Saint.
"Ro-Rosalie!? Kenapa kamu terburu-buru
begitu?"
"Ara, Lugh-sama! Juga Hugh-sama.
Selamat pagi!"
Rosalie
tersenyum manis ke arah kami, padahal dia masih dalam posisi terduduk di atas
tubuh Idiot (posisi straddle). Rosalie baru pindah ke
akademi kemarin. Karena berbagai alasan, dia dipindahkan ke sini dan mulai hari
ini resmi menjadi anggota kelas 1-A bersama kami.
"Mohon tunggu, Rosalie-sama!"
Mendengar
suara yang memanggil Rosalie, aku menoleh dan melihat seorang wanita dengan
rambut short bob biru tua yang berkesan kuat sedang berlari ke
arah kami. Dia adalah Cicely-san, ksatria suci yang bertugas sebagai pengawal
Rosalie. Dia juga akan bekerja di akademi sebagai pengawal sekaligus asisten
pengajar.
"Selamat pagi, Cicely-san."
"Ah, Hugh-sama dan Lugh-sama. Selamat pagi."
Cicely-san yang menyadari kehadiran kami berhenti dan membungkuk
sopan. Dia orang yang santun dan lembut. Usianya
sepertinya tidak jauh dari kami, dia pasti akan populer di kalangan murid
laki-laki maupun perempuan.
"Ara Cicely, kamu lambat sekali. Kita
harus segera menyelesaikan sarapan atau kita akan terlambat."
"Rosalie-sama, sulit bagi saya untuk
mengatakannya, tapi sudah tidak ada waktu untuk sarapan. Di hari pertama pindah
ini, Anda harus menyelesaikan prosedur administrasi terakhir di ruang
guru..."
"Benarkah begitu!? Padahal aku sangat
mendambakan makan di kantin sekolah! Sayang sekali..."
Bahu Rosalie merosot lemas. Melihat
lingkaran hitam di bawah matanya, sepertinya semalam dia tidak bisa tidur
nyenyak. Karena penyakit insomnia-nya seharusnya sudah membaik, mungkin dia
hanya terlalu bersemangat menantikan kehidupan sekolah.
Namun di samping itu semua...
"Nona Rosalie...! Bisakah kamu segera
menyingkir dari atasku!?"
"Ara, Idiot-sama. Mengapa Anda ada di
tempat seperti itu?"
"Itu karena kamu yang menabrakku,
kan!?"
Idiot, yang sejak tadi ditindih oleh
Rosalie, akhirnya tidak tahan dan bersuara. Rosalie baru menyadari situasinya,
berkata "Maafkan saya," lalu menyingkir dari atas Idiot.
"Astaga... Tak kusangka Orang Suci
dari Gereja ternyata adalah gadis liar seperti ini... Sebaiknya kamu mencontoh
sedikit keanggunan Nona Lecty."
"Ara, membandingkan dan
mengotak-ngotakkan wanita itu sangat kuno, Idiot-sama. Lecty punya kelebihannya
sendiri, dan aku pun punya kelebihanku sendiri."
"Kurasa sikap tidak bisa diam tidak
bisa disebut sebagai kelebihan."
"Kakek memujiku, katanya 'Rosalie itu
sangat ceria, melihatnya saja sudah membuat orang lain ikut bersemangat'. Itu
adalah poin plusku yang luar biasa tahu!"
Idiot dan Rosalie saling melotot dengan
sengit. Tampaknya sejak pertama kali bertemu saat insiden di Katedral, mereka
berdua memang tidak pernah akur dan selalu bertengkar setiap kali berjumpa. Ini
pertama kalinya aku menyaksikan pemandangan itu secara langsung, tapi
suasananya tidak seburuk yang kudengar dari rumor.
"Bukankah masih ada urusan
administrasi? Cepatlah pergi sana."
"Tidak perlu disuruh pun aku akan
melakukannya. Lugh-sama, Hugh-sama, sampai jumpa nanti."
"Ah, sampai nanti."
Rosalie mendengus ke arah Idiot, membuang
muka, lalu berbalik dan berjalan menuju ruang guru. Lugh kemudian memanggil
punggungnya yang menjauh.
"Ah, tunggu, Rosalie. Kalau tidak
keberatan, bagaimana kalau makan siang bersama?"
"Wah! Wah wah wah! Makan siang bersama
teman di kantin sekolah! Benar-benar terasa seperti kehidupan sekolah yang
sangat indah! Tentu saja, dengan senang hati, Lugh-sama!"
"Ehm! Kalau begitu, sampai nanti ya,
Rosalie."
"Iya! Sampai jumpa nantiii~!"
Rosalie pergi menuju ruang guru sambil
melambaikan tangannya dengan semangat ke arah kami.
Cicely-san membungkuk hormat kepada kami
lalu buru-buru mengejar Rosalie.
Sepertinya mulai sekarang, keseharian kami
akan menjadi semakin ramai.
"Baguslah kalau begitu, Lugh."
"Ehm!
...Ah, pui (membuang muka)."
Sepertinya butuh waktu sedikit lebih lama
sampai suasana hatinya membaik...
*◇*
"Sebenarnya, dia itu semacam sandera, ya."
Lily, yang duduk di hadapanku sambil menyantap makan siang,
bergumam pelan sambil menatap Rosalie. Di meja yang agak jauh, Rosalie tampak
asyik makan dikelilingi oleh Lugh, Lecty, serta teman sekelas lainnya seperti
Anne dan Brown.
Kepindahan Rosalie ditentukan melalui
negosiasi antara pihak Kuria Gereja Shinjukyo dan Pangeran Lucas.
Reputasi Rosalie sebagai Orang Suci sempat
jatuh ke titik terendah karena dipaksa mengobati orang sakit oleh Malicious.
Pihak Gereja yang merasa sulit untuk membiarkan Rosalie tetap beraktivitas
sebagai Orang Suci akhirnya menerima usulan Pangeran Lucas untuk
menyembunyikannya di Akademi Kerajaan sampai situasinya mereda.
Kedengarannya bagus jika disebut
"menyembunyikan" atau "melindungi", tapi... ya, ini tetap
saja penyanderaan.
"Yah, orangnya sendiri sepertinya
tidak keberatan, sih."
"...Aku sudah mendengar sedikit
situasinya dari Lecty. Kalau butuh bantuan untuk menjaganya, bicaralah padaku
kapan saja."
"Terima kasih, Lily."
"Lagipula... fufu. Melihat Lugh dan
Lecty tampak senang, itu yang terpenting."
Melihat mereka berdua tertawa bersama
Rosalie, Lily tersenyum lembut.
Aku bisa mengerti perasaan "dari sudut
pandang orang tua" itu. Terutama Lecty, di awal masuk sekolah dulu, aku
bahkan tidak bisa membayangkan dia berani meninggalkan sisi aku atau Lily untuk
mengobrol seru dengan teman sekelas lainnya.
Rasanya sedikit kesepian, tapi sebagai
teman, aku lebih merasa senang melihat pertumbuhan Lecty.
Lily pasti merasakan hal yang sama.
Sambil memikirkan itu, aku menatap Lecty,
dan tiba-tiba mata kami bertemu.
Seketika, pipi Lecty merona merah dan dia
langsung memalingkan wajah dariku.
Sejak hari insiden di Katedral—tepatnya
sejak Lecty mencuri kecupanku—aku belum bisa mengobrol tatap muka dengannya
secara normal.
Aku sepertinya sedang dihindari... Tentu
saja, aku tahu ini bukan dalam arti buruk.
Aku pun sama, merasa terlalu malu untuk
menyapanya duluan.
"Huuu~m."
"Apa?"
"Aku baru saja berpikir kalau suamiku
ini pria yang berdosa."
"Kau ini..."
Tolong berhenti memanggilku
"suami" di tempat ramai seperti ini.
Yah, karena perhatian semua orang tertuju
pada Rosalie dan yang lainnya, kurasa tidak apa-apa...
"Aku sih tidak keberatan. Malah kalau
Lecty, aku sangat setuju. Anak itu pun pasti tidak berpikir untuk memonopolimu
sendirian."
"Mungkin Lecty begitu, tapi..."
Masalahnya
adalah apa yang dipikirkan Lucretia. Mengatakan "Aku menyukaimu,
menikahlah denganku, tapi omong-omong aku juga berencana mengambil dua istri
lagi" itu rasanya terlalu tidak tahu diri. Jika Lucretia bilang
ingin menikah dengan pria brengsek seperti itu, aku sendiri pasti akan berusaha
sekuat tenaga mencegahnya. ...Padahal pria itu adalah aku sendiri.
"Kalau kau khawatir, kenapa tidak
segera menyatakan perasaan dan bertanya padanya? Jika anak itu menolak, aku
akan mundur dengan tenang."
Melihat betapa santainya Lily bicara,
sepertinya dia yakin kalau Lucretia tidak akan menolak.
Menyatakan perasaan, ya...
"Bukannya aku tidak memikirkannya,
tapi masalah waktunya itu, lho..."
Jika di dunia lamaku, waktu yang standar
mungkin saat acara seperti Natal atau Valentine. Tapi seingatku, di dunia ini
tidak ada acara yang setara dengan itu.
"Bukankah ada waktu yang tepat dalam
waktu dekat?"
"Eh?"
"Bulan depan dia ulang tahun,
tahu."
"Serius?"
"Iya. Pas sekali di tengah-tengah
latihan luar kampus."
Latihan
luar kampus adalah kegiatan sekolah yang dijadwalkan berlangsung selama sebulan
mulai dua minggu lagi. Selama periode itu, kami akan meninggalkan akademi untuk
berlatih tempur melawan monster di suatu dungeon.
Namun, sepertinya itu bukan latihan
tempur yang terlalu berat; rasanya lebih seperti karyawisata.
Karyawisata dikombinasikan dengan ulang
tahun—itu adalah waktu yang sempurna untuk menyatakan perasaan.
Tapi, ada satu masalah.
"Bagaimana ini, hadiah ulang
tahunnya..."
"Aku bisa memberimu saran kalau kau
mau pergi memilihnya."
"Bukan, masalahnya jauh sebelum itu.
...Aku tidak punya uang."
Sekitar tiga bulan lalu, uang saku yang
diberikan Ayah untuk perjalanan bolak-balik antara wilayah Pnosis dan ibu kota
adalah seluruh hartaku. Aku sudah berhemat menggunakan uang sisa perjalanan
pulang yang tidak terpakai, tapi akhirnya uang itu habis juga.
Selama
tinggal di Akademi Kerajaan, biaya sekolah, asrama, dan makan semuanya gratis.
Karena itulah, saat mengirim surat pemberitahuan kelulusan ke rumah, aku merasa
tidak enak untuk meminta kiriman uang. Aku tidak mau menulis "Tolong kirimkan uang untuk bermain dengan gadis yang
kusukai". Aku pun tidak bisa memikirkan alasan lain...
Lagipula, keluarga Pnosis itu bangsawan
miskin.
Mereka pasti tidak punya kelebihan uang
untuk dikirimkan. Sulit
untuk mengandalkan keluarga dalam hal finansial.
"Apa kau tidak menerima gaji dari Yang
Mulia Lucas?"
"Aku kan tidak benar-benar bekerja
untuknya."
Baik dalam urusan Lily, maupun urusan Lecty
dan Rosalie, akulah yang meminta kerja sama. Pangeran Lucas tidak pernah
sekalipun memberiku perintah, dan tidak masuk akal bagiku yang sudah dibantu
untuk meminta gaji.
"Tapi sebagai hasilnya, Yang Mulia
Lucas menjadi lebih dekat dengan takhta berkat kerjamu, jadi menurutku kau
pantas mendapatkan imbalan yang setimpal."
"Tetap
saja, alasannya itu... Mana mungkin aku bisa minta, 'Aku
ingin memberi hadiah ulang tahun dan menembak adikmu, jadi tolong beri aku
imbalan atas kerjaku selama ini'."
"Rasanya tidak perlu mengatakannya
sejujur itu, sih... Yah, aku mengerti kenapa kau sulit mengandalkan Yang Mulia
Lucas. Kalau kau hanya kesulitan uang, aku tidak keberatan menafkahimu,
lho..."
"Memberi hadiah dan menembak gadis
menggunakan uang dari wanita lain itu... pria sampah sekali..."
Lagipula, bagaimana jadinya kalau aku
dinafkhahi Lily...
Saat masih bekerja di dunia sebelumnya, aku
selalu berpikir ingin punya pacar kaya dan menjadi "pria simpanan"
yang dipelihara, tapi saat kesempatannya benar-benar muncul di depan mata, aku
malah ragu.
Justru karena aku mulai menyadari
perasaanku pada Lily, aku tidak ingin memperlihatkan sisi diriku yang tidak
berguna.
"Aku harus mencari pekerjaan di suatu
tempat..."
"Kalau begitu, aku tahu tempat kerja
yang bagus."
"Benarkah!?"
"Iya. Salah satu pelayan yang sudah
lama bekerja di keluarga bangsawan ternama sedang cedera pinggang dan harus
istirahat. Sepertinya mereka mencari orang yang mau bekerja sebagai pelayan
untuk jangka pendek."
"Begitu ya, kerja sampingan
pelayan..."
Jika pelayan di keluarga ternama, gajinya pasti lumayan. Pekerjaannya mungkin berat, tapi aku bisa mengatasinya jika aku mengganti skill-ku menjadi "Pelayan".
"Jadi, keluarga bangsawan mana yang
sedang mencari pelayan itu?"
"Keluarga Puridy."
"Itu kan rumahmu!"
Bukannya tidak boleh, tapi rasanya sulit
diandalkan.
Bagaimanapun juga, majikanku nantinya
adalah Marquess Puridy... Karena alasannya adalah "itu", rasanya sama
canggungnya dengan mengandalkan keluargaku sendiri atau Pangeran Lucas.
"Maaf, Lily. Kali ini aku lewatkan
saja."
"Yah,
sayang sekali. Padahal aku ingin melihatmu memakai seragam pelayan pria (butler)."
Lily menopang dagu sambil menghela napas, lalu melihat ke arahku sambil mengeluarkan tawa "Fuhihi" yang agak aneh.
"Tolong hentikan delusi liarmu, Nona."
Sudah lama aku tidak mendengar tawa
"Fuhihi" dari Lily...
"Aku akan mencoba mencari pekerjaan
biasa saja, seperti di dapur rumah makan atau kuli bangunan."
"Ditolak. Aku sudah memikirkan ini
sejak lama, tapi kesadaranmu sebagai bangsawan itu terlalu rendah. Tolong lebih
pedulilah pada pandangan orang. Meskipun kau bangsawan miskin dari desa
terpencil, jika seorang bangsawan bekerja di tempat seperti itu, orang-orang di
sekitar akan merasa terintimidasi."
"Ah, ternyata begitu ya."
"Memang begitu. Kau pasti tidak
ingin membuat orang-orang di sekitarmu merasa tidak nyaman, kan?"
"Ya, benar juga..."
Perbedaan status antara bangsawan dan
rakyat jelata tidaklah dangkal; tidak bisa diselesaikan hanya dengan kalimat
"aku tidak keberatan jadi kau jangan keberatan juga".
Mungkin berbeda dengan di kampung
halamanku yang jarak antara penguasa dan rakyatnya sangat dekat, tapi di ibu
kota, aku dituntut berperilaku selayaknya bangsawan.
Bekerja sambil menyembunyikan identitas
pun bisa saja dilakukan, tapi jika memicu masalah yang tidak perlu, urusannya
akan merepotkan. Rasanya agak mengekang karena tidak bisa bebas mencari kerja
sampingan, tapi apa boleh buat.
"Kalau pekerjaan yang bisa dilakukan
bangsawan, mari kita lihat. Guru privat bangsawan... maaf, lupakan."
"Hei, jangan memalingkan wajah."
"Ehem. Kalau begitu, bagaimana dengan
menjadi petualang?"
Lily berdehem untuk menutupi
kecanggungannya dan memberikan saran baru. Aku sempat ingin mendesaknya soal
saran yang dia tarik tadi, tapi ya sudahlah.
"Jika menjadi petualang, ada juga
orang dari kalangan bangsawan, jadi kau tidak perlu terlalu mempedulikan
pandangan sekitar."
Karena bangsawan di Kerajaan Leese umumnya
menganut sistem hak waris anak sulung, tidak sedikit anak laki-laki kedua atau
ketiga yang keluar dari rumah saat dewasa untuk menjadi petualang. Terutama
anak laki-laki bangsawan yang sejak kecil sudah dilatih ilmu bela diri, mereka
biasanya disambut baik sebagai tenaga siap pakai.
"Apakah murid sekolah sepertiku bisa
jadi petualang?"
"Iya, selama kau mendapat izin, tidak
apa-apa. Kurasa jika kau meminta bantuan Alyssa-sensei, dia akan mengurus
prosedurnya."
"Petualang, ya... tidak buruk
juga."
Aku memang sudah tertarik sejak kecil.
Itu adalah pekerjaan klasik di dunia fantasi, dan petualangan adalah impian laki-laki. Jika saja dulu aku bukan budak korporat, aku mungkin lebih memilih menjadi petualang daripada mengejar hidup santai (slow life).
Aku tidak berniat menjadi petualang
sungguhan mulai sekarang, tapi sepertinya bagus untuk sekadar mencari uang
saku.



Post a Comment