Interlude: Lugh: "Aku Pikir Hal-hal Mesum Itu Tidak Baik!" (Sudut Pandang Lily)
Setelah selesai sarapan, aku dan Lecty melangkah menuju ruang diskusi yang terletak di gedung sekolah. Alasan kami ke sana adalah karena sebelum sarapan tadi, Lugh yang baru keluar dari kantin memanggil kami dan berkata, "Ada hal penting yang ingin kubicarakan."
Gedung sekolah di hari libur hampir tidak ada orang; hanya suara langkah kakiku dan Lecty yang menggema di koridor yang diselimuti keheningan. Ruang diskusi yang kami tuju memiliki kekedapan suara yang sangat baik, sehingga sering digunakan oleh murid maupun pihak akademi sebagai tempat untuk membicarakan hal-hal penting yang tidak boleh bocor ke luar.
"Lugh-san bilang ada hal penting yang ingin dibicarakan, kan...? Kira-kira pembicaraan seperti apa ya...?"
"Entahlah..."
Isi pembicaraan yang hanya bisa dibicarakan di ruang diskusi akademi.
Dan yang paling penting adalah, Hugh tidak ada di sini.
Saat ini dia sedang pergi ke Perserikatan Petualang bersama Idiot.
Baik aku maupun Hugh mengira Lugh akan merengek, "Aku mau ikut juga!", tapi di luar dugaan, Lugh melepas kepergian Hugh dengan begitu santai.
Itu pasti karena dia ingin bicara dengan kami, kan...?
Isi pembicaraan di tempat yang tidak ada Hugh, dan hanya bisa disampaikan kepada kami. Ada beberapa poin yang terlintas di pikiranku, tapi intinya adalah aku dan Lecty sama-sama mengetahui identitas asli Lugh.
Putri Ketujuh Kerajaan Leese, Lucretia von Leese. Seorang putri kerajaan yang menyamar sebagai laki-laki demi persaingan takhta kakak kandungnya, Pangeran Ketiga Lucas.
Itulah identitas asli pemuda—maksudku, gadis itu.
Lecty sudah menerima penjelasan langsung dari Pangeran Lucas saat insiden di Katedral tempo hari. Di antara murid akademi ini, selain Hugh, hanya kamilah yang mengetahui rahasianya.
Memanggil kami berarti dia ingin bicara bukan sebagai Lugh, melainkan sebagai Lucretia. Jika mempertimbangkan situasi di mana Hugh tidak ada, dan dia hanya memanggil sesama perempuan yang tahu rahasianya, maka jawabannya akan terlihat dengan sendirinya.
"...Dia hamil."
"EEEEEEEEHHHHH!!!???"
"Sst! Suaramu terlalu keras, Lecty."
"Ma-maaf... tapi wajar saja kalau aku berteriak...!"
Lecty yang nyaris meminta maaf langsung menggelengkan kepalanya dan menatapku dengan pandangan protes. Belakangan ini dia akhirnya mulai tidak sungkan padaku, atau lebih tepatnya, mulai memperlakukanku dengan setara.
Sebenarnya aku ingin dia berhenti menggunakan bahasa formal juga, tapi sepertinya itu masih butuh waktu lama.
"Ha-hamil... berarti ayahnya adalah Hugh-san, kan...?"
"Tidak salah lagi. Tidak mungkin anak itu menyerahkan tubuhnya pada pria selain Hugh."
"Ta-tapi, tidak mungkin Hugh-san melakukan hal seperti itu..."
"Coba pikirkan, Lecty. Hugh itu sangat mencintai anak itu, tahu?"
Aku memang sudah memperingatkannya saat pengumuman kelulusan, tapi Hugh tetaplah seorang laki-laki.
Sudah dua bulan berlalu. Jika dia terus menjalani kehidupan bersama di satu kamar asrama yang sempit dengan orang yang disukainya, tidak heran jika suatu saat akal sehatnya kalah oleh dorongan insting.
"Malah aku ingin memujinya karena sudah bersabar sejauh ini. Kalau aku jadi dia, mungkin dalam seminggu sudah kupaksa tidur bersama."
"Bukannya itu karena Lily-chan saja yang terlalu setia pada nafsu...?"
"Pokoknya, kesalahan yang sudah terlanjur dilakukan tidak bisa ditarik kembali. Yang harus dipikirkan adalah apa yang akan dilakukan mulai sekarang."
Jika ketahuan dia mengandung, kekacauan besar tidak akan terhindarkan. Itu akan memengaruhi perebutan takhta, dan yang paling penting, nyawa Hugh dan Lucretia akan terancam.
Kalau harus melarikan diri, mungkin ke wilayah Pnosis... tidak, pengejar pasti akan dikirim ke sana. Pilihan idealnya adalah membelot ke negara lain atau memalsukan kematian. Kita tidak bisa mengandalkan Pangeran Lucas atau ayahku, jadi sekutu kita terbatas. Sangat penting untuk melihat sejauh mana koneksi Idiot atau Rosalie bisa membantu.
Setelah itu, jika kita bisa membujuk Alyssa-sensei untuk memihak kita, itu akan sempurna... atau sekalian saja gunakan kekuatan penuh skill "Brainwashing" Hugh untuk membuat wilayah Pnosis merdeka sebagai sebuah negara sendiri.
Kerajaan Pnosis. Hmm, kedengarannya tidak buruk.
"Anu, Lily-chan. Kita sudah sampai di depan ruang diskusi...?"
"Ah, kapan sampainya?"
Saking asyiknya memikirkan pengelolaan negara, tanpa sadar kami sudah tiba. Setelah mengetuk pintu tiga kali, pintu terbuka dari dalam. Yang muncul adalah Alyssa-sensei.
"Oh, selamat datang-ssu, Nona Lily dan Nona Lecty."
"Selamat pagi, Alyssa-sensei. Apakah Lugh ada di dalam?"
"Sudah menunggu-ssu. Kalau begitu, saya permisi dulu. Saya ada di dekat sini, jadi kalau ada apa-apa, teriak saja yang keras ya? Saya akan langsung datang-ssu."
"Iya, saya mengerti."
Alyssa-sensei pergi berpapasan dengan kami.
Saat memasuki ruangan, Lucretia yang duduk di sofa menyambut kami.
"Maaf ya memanggil kalian tiba-tiba, Lily, Lecty. Silakan duduk dulu."
Atas ajakan Lucretia, aku dan Lecty duduk di sofa di hadapannya.
"Terima kasih sudah datang, kalian berdua."
"Tidak apa-apa. Lagipula, tadi kau bilang ada hal penting."
"Apakah terjadi sesuatu dengan Hugh-san...?"
"I-iya. Anu, begini..."
Lucretia tampak tertekan, matanya bergetar karena rasa cemas.
Benar-benar hamil, ya...!
Tanpa sadar aku menelan ludah dan mengepalkan tangan erat-erat.
Melihat Lucretia yang tampak sulit bicara, sebagai teman dan teman masa kecil, aku mencari kata-kata yang tepat. Yang pertama muncul di kepalaku adalah ucapan selamat.
Benar juga, bagaimanapun ini adalah nyawa yang dianugerahkan.
Meski banyak kesulitan menanti di depan, hal pertama yang harus dilakukan adalah memberinya selamat.
"Selamat ya, Tia."
Aku sengaja menggunakan nama panggilannya saat kecil untuk menunjukkan rasa suka citaku.
"Eh?"
Lucretia mengeluarkan suara bingung dan memiringkan kepalanya.
"Anu... Lily, ulang tahunku kan bulan depan...?"
"Iya, aku tahu. Tidak perlu ditutupi, Tia. Apapun yang terjadi, kami akan selalu berada di pihak kalian."
"I-iya. Terima kasih...? Omong-omong, kesalahpahaman macam apa yang sedang Lily pikirkan?"
"Kau hamil anaknya Hugh, kan?"
"Tentu saja tidak!"
Ternyata bukan hamil. Yah, syukurlah kalau begitu. Memang itulah Hugh yang kukenal.
Rasanya lega, tapi di saat yang sama ada sedikit kecemasan soal rencana masa depan mereka...?
Sambil memerah wajahnya, Lucretia menghela napas panjang seolah tidak percaya.
"Lily menganggapku apa sih? Aku masih punya akal sehat, tahu."
"Maaf, setengahnya tadi cuma bercanda."
"Berarti setengahnya lagi serius...!"
"Terlepas dari itu, kalau bukan hamil, lalu apa hal penting yang ingin kau bicarakan?"
Mana mungkin dia memanggil aku dan Lecty jauh-jauh ke sini hanya untuk basa-basi. Ekspresi Lucretia menunjukkan betapa serius masalahnya.
"Anu, begini..."
Lucretia meremas kedua tangannya di depan dada seolah menahan rasa cemas, lalu dengan mantap dia mencondongkan tubuh dan bertanya.
"Bagaimana caranya agar aku terlihat menarik di mata Hugh!?"
"....................Hah?"
Aku tidak bisa memahami apa yang baru saja dikatakan Lucretia, pikiranku rasanya membeku.
Agar terlihat menarik di mata Hugh? Mau membuat Hugh jatuh cinta sedalam apa lagi padanya...?
Rasa suka Hugh pada Lucretia itu sangat jelas terlihat bahkan hanya dengan melihatnya dari jauh. Saking jelasnya, sampai-sampai rasanya sudah melewati rasa cemburu dan berubah menjadi rasa pasrah. Dasar dari segala tindakan Hugh adalah cintanya pada Lucretia, dan fakta bahwa dia sangat menghargai Lucretia lebih dari siapa pun adalah kebenaran yang tak terbantahkan.
Tidak mungkin Lucretia tidak menyadari hal itu, tapi...
"Aku tidak secantik Lecty, tidak punya bentuk tubuh sebagus Lily, dadaku juga kecil... jadi kupikir mungkin Hugh lebih merasa tertarik pada gadis-gadis seperti kalian. Karena itu aku ingin minta saran dari kalian..."
"O-oh, begitu ya..."
Menurut analisisku, Hugh lebih suka tipe imut daripada tipe cantik, lebih suka gadis mungil daripada gadis yang berlekuk tubuh indah, dan lebih suka yang dadanya kecil. Sebenarnya aku ingin berteriak kalau akulah yang butuh saran darinya, tapi aku menahan diri melihat wajah serius Lucretia.
"Terjadi sesuatu dengan Hugh, ya?"
"Iya..."
Lucretia mengangguk pelan.
...Sudah kuduga. Pasti ada pemicunya sampai dia tiba-tiba mengatakan hal seperti ini. Sambil menunduk, dia mulai menceritakan apa yang terjadi.
"Begini, kemarin Hugh mengajakku untuk tidur bersama untuk pertama kalinya."
"Bolehkah aku pulang sekarang?"
"Eeeh!? Tunggu, kumohon dengarkan dulu!"
Kupikir ini konsultasi serius, ternyata cuma pamer kemesraan. Lucretia buru-buru menahan aku yang sudah hampir berdiri dari sofa.
Lecty pun tersenyum pahit dan mengusulkan, "Mari kita dengarkan sebentar lagi."
...Yah, kalau nanti jadi keluarga, mungkin aku akan mendengar cerita seperti ini setiap hari. Sebagai istri kedua, sangat penting untuk memiliki hati yang lapang.
"Lalu?" tanya aku sambil duduk kembali. "Bagaimana rasanya tidur dengan Hugh?"
"Tidak terjadi apa-apa."
"Oh..."
Melihat bahu Lucretia yang merosot lesu, aku dan Lecty secara bersamaan langsung paham maksudnya.
"Bu-bukan berarti aku berharap sesuatu yang aneh ya...? Tapi, aku sudah menyiapkan mental, atau setidaknya kupikir dia akan memelukku, a-atau menciumku... tapi ternyata tidak."
"Karena dia tidak melakukan apa-apa, kau jadi cemas apakah kau terlihat menarik di mata Hugh, begitu kan?"
"I-iya! Benar sekali!"
Lucretia mengangguk mantap mendengar tebakanku.
Begitu ya... ini masalah yang cukup serius.
Kalau aku yang diajak Hugh tidur bersama dan dia tidak melakukan apa-apa, aku pasti akan menciumnya paksa dan melanjutkannya sampai akhir... tapi itu karena aku dalam posisi yang tidak punya beban.
Pertemuan ayahku dengan Hugh sudah selesai, dan aku juga sudah menyampaikan lewat surat kepada ibuku bahwa aku berniat menikah dengannya di masa depan. Ayahku sepertinya menyukai Hugh, jadi kalaupun aku hamil, tinggal menikah saja dan masalah selesai.
Namun, Lucretia berbeda. Dia sadar betul akan posisinya. Seandainya pun Hugh memintanya, Lucretia pasti akan menolaknya.
Tapi, ditolak saat diminta itu beda rasanya dengan tidak diminta sama sekali sejak awal...
Aku paham perasaan cemas Lucretia. Jika diminta dia terpaksa menolak, tapi jika tidak diminta dia merasa kesepian; perasaan gadis yang rumit seperti ini kemungkinan besar tidak dipahami oleh Hugh. Karena itu, Hugh pasti tidak sadar sedikit pun kalau Lucretia sedang cemas.
...Meskipun begitu, aku tidak bisa menyalahkan Hugh. Akulah yang memperingatkannya agar jangan menyentuh Lucretia.
Saat hari ujian masuk, akulah yang memberi tahu Hugh bahwa jika dia menyentuh Lucretia, semua orang di sekitarnya akan tidak bahagia. Hugh hanya menjalankan peringatan itu dengan setia. Rasanya aku pun punya andil kenapa Lucretia jadi cemas begini.
"Menurutku Hugh-san sudah merasa Lucretia-sama sangat menarik, kok..."
"Benar. Justru di situ masalahnya."
Seperti kata Lecty, Hugh sudah tergila-gila dengan pesona Lucretia, jadi sulit untuk membuatnya merasa lebih tertarik lagi. Masalahnya adalah, apakah dia akan berani menyentuh Lucretia jika dipancing... hmm.
Hugh punya pengendalian diri dan kekuatan mental yang lebih kuat dari bayanganku. Pantas saja dia tidak pernah menyalahgunakan skill "Brainwashing" miliknya yang setara dengan kekuatan dewa.
Sisi itu memang membuatku kagum, tapi dari sudut pandang lain, dia itu pengecut dan sangat pasif.
"Daripada membuatnya merasa lebih tertarik, sepertinya lebih baik kita berpikir bagaimana cara menghancurkan pengendalian dirinya."
"Menghancurkan pengendalian diri...?"
"Iya. Misalnya, masuk ke tempat tidurnya tanpa busana sama sekali."
"T-tidak boleh! Itu namanya perempuan gila!"
Padahal kupikir itu ide yang bagus, tapi langsung ditolak mentah-mentah oleh Lucretia yang wajahnya memerah padam. Padahal kalau mau membuat Hugh bertindak, cara ekstrem seperti itu sah-sah saja.
"Se-sepertinya itu akan terlalu menghancurkan pengendalian diri Hugh-san..."
"Yah, benar juga sih..."
Bisa-bisa malah benar-benar hamil nanti. Mengatur takarannya memang sulit ya...
"Po-pokoknya hal yang mesum dilarang! A-aku memang berpikir suatu saat nanti akan melakukannya, tapi tidak sekarang!"
"Kalau begitu, menurutku sebaiknya sampaikan langsung dengan kata-kata saja."
"Benar... aku yakin Hugh akan menanggapinya."
Hugh itu cuma pengecut dan pasif, tapi dia bukan orang yang tidak peka. Dia pasti menyadari perasaan Lucretia, dan jika Lucretia menyampaikannya secara jujur, dia pasti akan berusaha menghadapinya dengan serius.
"Ta-tapi, mengatakan kalau aku ingin dipeluk atau di-dicium itu sangat memalukan..."
Lucretia menggelengkan kepalanya dengan wajah merah padam. Ternyata dia juga tipe yang pasif...
Kalau diingat-ingat, belakangan ini dia tidak se-manja saat awal masuk sekolah dulu. Aku jarang melihatnya memeluk Hugh di depan umum, dan saat mencoba gaun kemarin pun dia tidak bersikap "Lihat, lihat!" dengan bersemangat.
Mungkinkah karena dia mulai menyadari Hugh sebagai lawan jenis, sehingga dia jadi malu untuk bermanja-manja...? Kalau ibunda Tia tahu anaknya sudah mengenal cinta dan berusaha menjadi dewasa, beliau pasti akan senang sekali menggodanya.
"Apakah kalian berdua... bisa minta dicium oleh Hugh...?"
"A-aku mungkin tidak bisa. Anu, kalau dari pihakku sendiri mungkin bisa melakukannya secara tiba-tiba, tapi kalau meminta..."
"Aku bisa mengatakannya, tapi biasanya aku akan mencuri bibirnya sebelum sempat bicara."
"Begitu ya... Jadi aku memang harus lebih agresif ya."
"Benar! Menurutku Hugh-san memang perlu diperlakukan seperti itu!"
"Begitu ya, begitu ya... Eh, tunggu dulu. Kenapa kalian berdua sepertinya bicara berdasarkan pengalaman nyata?"
Tiba-tiba Lucretia memiringkan kepalanya dengan penuh tanya.
"Hei, kalian berdua. Kalian pernah ditolong oleh Hugh, kan? Waktu itu, apakah terjadi sesuatu?"
"Uh..."
A-anak ini ternyata tajam juga di saat-saat begini...! Aku dan Lecty yang tidak sengaja tertahan bicaranya langsung ditatap dengan mata setengah terbuka oleh Lucretia.
"Ti-tidak ada apa-apa kok...?"
"I-iya. Tidak terjadi apa-apa..."
"Kenapa kalian berdua memalingkan wajah? Aku sebagai Putri Ketujuh Kerajaan Leese jadi penasaran nih?"
Membawa-bawa status kerajaan itu curang, tahu!?
...Tapi yah, aku yang mencuri bibir Hugh juga curang sih. Itu kulakukan karena aku merasa seolah Hugh akan pergi menjauh, jadi aku melakukannya dengan sedikit paksa... ya, bisa dibilang keadaan yang memaksaku. Melihat reaksinya, sepertinya Lecty juga melakukan hal yang sama. Tidak mungkin Hugh yang melakukannya duluan.
Aku bisa saja terus mengelak. Tapi itu akan terasa sangat tidak jujur.
Meskipun mereka belum berpacaran atau bertunangan, setelah tahu perasaan Hugh dan Lucretia namun tetap menciumnya, kesalahan memang ada pada kami. Terlebih lagi, aku tidak ingin terus berbohong pada orang yang kelak akan menjadi keluarga.
Aku saling bertukar pandang dengan Lecty dan mengangguk.
"Kami benar-benar minta maaf!"
Kami pun menundukkan kepala sedalam-dalamnya untuk memohon maaf kepada Lucretia dengan sepenuh hati.



Post a Comment