Bab 2: K-A-U S-E-N-D-I-R-I Y-A-N-G
B-I-L-A-N-G B-E-G-I-T-U
"Hacin!"
Di tengah perjalanan menuju hutan pinggiran ibu kota menggunakan
kereta kuda yang disiapkan Lugh, tiba-tiba hidungku terasa gatal dan aku
bersin.
"Apa Anda flu, Hugh-san?"
Lugh yang duduk di hadapanku bertanya dengan nada khawatir.
Rasanya agak berlebihan hanya karena satu bersin, tapi di tingkat medis dunia
ini, flu biasa pun tidak bisa diremehkan. Petualang yang mengandalkan tubuh
sebagai modal utama pasti sangat memperhatikan kesehatan, dan di dalam kereta
yang sempit begini, wajar jika dia waspada.
"Tidak, aku baik-baik saja.
Sepertinya hanya ada seseorang yang sedang membicarakanku."
"Ah, klasik sekali. Ayahku juga
sering bilang begitu. Satu kali bersin berarti gosip biasa. Dua kali berarti
gosip buruk. Tiga kali berarti gosip baik."
"Benar sekali. Kalau sampai empat
kali, itu baru namanya flu."
Ternyata di dunia ini ada juga takhayul
seperti itu. Di dunia lamaku pun tiap daerah berbeda-beda, jadi aku sedikit
terkejut mendengar Lugh menceritakan takhayul yang persis sama.
"Fumu. Baru kali ini aku mendengar
cerita kalau bersin berarti sedang digosipkan orang."
Idiot yang duduk di sampingku
mengangguk sambil melipat tangan dengan penuh minat. Sepertinya hal itu tidak
umum di ibu kota.
"Eh~? Di Naeble semua orang bilang
begitu, kok~"
"Begitu ya, Kerajaan Naeble. Kalau
begitu seharusnya lokasinya dekat dengan kampung halaman Hugh."
"Ah, benar juga..."
Kerajaan Naeble adalah salah satu
negara kecil yang bertetangga dengan Kerajaan Leese, dan berbatasan langsung
dengan wilayah Pnosis. Namun, di antara Kerajaan Naeble dan Kerajaan Leese
terdapat pegunungan terjal yang disebut "Pusar Benua", sehingga jalur
perdagangan yang menghubungkan kedua negara harus memutar melewati wilayah
Pnosis.
Karena itu, hubungan budaya maupun
ekonomi antara wilayah Pnosis dan Kerajaan Naeble hampir tidak ada. Lagipula,
aku belum pernah mendengar takhayul bersin itu di wilayah Pnosis, jadi ini
murni kebetulan belaka.
"Kalau begitu, kalian berdua datang
dari Kerajaan Naeble ya. Pantas saja kalian sudah bisa menjadi petualang
peringkat B di usia yang sama dengan kami."
"Iya. Di Kerajaan Leese ada Perintah
Raja, tapi di Naeble tidak ada."
Di Kerajaan
Leese, berdasarkan Perintah Raja, semua anak berusia lima belas tahun yang
dianugerahi skill yang berguna untuk perang wajib mengikuti ujian
masuk Akademi Kerajaan tanpa terkecuali. Jika lulus, mereka akan masuk akademi
dan tinggal di asrama selama tiga tahun. Mereka jadi hanya bisa beraktivitas
sebagai petualang di hari libur, seperti aku dan Idiot.
Bisa
menjadi petualang peringkat B di usia yang sama dengan kami berarti Lugh dan
Tina pasti memiliki skill yang sangat kuat. Jika mereka lahir di Kerajaan Leese, mereka
pasti sudah masuk ke Akademi Kerajaan.
Saat aku menunjukkan hal itu, Tina
tersenyum ceria.
"Itu juga kedengarannya seru
sih~"
"Ahaha, benar juga. Aku rasa menjalani
kehidupan sekolah bersama Hugh-san dan Idiot-san tidak akan buruk juga,"
tambah Lugh.
"Ya, benar."
Meskipun belum sejam kami bertemu, aku
merasakan aura unik yang membuat mereka mudah akrab. Istilahnya mungkin
"sefrekuensi". Entah kenapa aku merasa sangat cocok dengan mereka
berdua.
"Omong-omong, kalian datang ke ibu
kota untuk mengambil permintaan mendampingi latihan luar kampus Akademi
Kerajaan, kan? Apakah akademi juga membuka lowongan di perserikatan Kerajaan
Naeble?"
"Tidak,
bukan begitu. Kami sebenarnya memang sudah memindahkan basis kegiatan kami ke
Kerajaan Leese tahun ini. Di Naeble memang banyak dungeon dan uangnya
banyak, tapi tidak banyak cara untuk menghabiskannya."
"Makanan di Kerajaan Leese jauh lebih
enak daripada di Naeble, terus banyak peralatan bagus dan alat sihir yang
dijual! Aku jadi benar-benar merasakan perbedaan kekuatan negara~"
"Lalu di tengah situasi itu, kenalan
kami di staf perserikatan menawarkan permintaan latihan luar kampus ini, dan
kami baru tiba di ibu kota kemarin. Jadi hari ini kami langsung mengambilnya di
perserikatan."
"Katanya petualang yang cocok sedang
sibuk semua, jadi stafnya sampai membungkuk minta tolong pada kami yang baru
saja menempuh perjalanan jauh. Kami jadi tidak enak kalau menolak, ya
kan~"
"Bertemu kalian berdua adalah
keberuntungan bagi kami. Jauh lebih hemat waktu daripada kami mencari membabi
buta di hutan yang tidak kami kenal medannya. Sekali lagi, terima kasih atas
bantuannya."
"Tidak, aku pun merasa terbantu.
Berkat ini aku tidak perlu mengambil banyak kerjaan peringkat F
sekaligus."
Jika tidak disapa oleh Lugh dan yang lain,
aku mungkin sedang mencari kucing hilang atau membersihkan selokan sekarang.
Imbalan dari pekerjaan itu sangat kecil, apalagi kalau dibagi dua dengan Idiot.
Bagiku, ajakan mereka benar-benar pucuk dicinta ulam pun tiba.
"Hei, hei, kenapa Hugh-san mulai jadi
petualang?~"
"Ah, aku butuh uang dalam jumlah yang
lumayan."
"Aku tahu! Pasti buat beli hadiah untuk pacar!"
Tina menunjukku dengan mantap sambil mencondongkan tubuhnya ke
depan.
Tebakannya hampir kena... atau lebih tepatnya, hampir sepenuhnya
benar. Tapi ada
alasan kenapa aku tidak bisa mengatakannya secara jujur.
"Bukan buat pacar kok. Buat hadiah
ulang tahun teman sekamar asramaku, sahabatku."
"Yah~ membosankan~"
Tina menggembungkan pipinya dan duduk
kembali di samping Lugh. Sambil tertawa pahit melihat kelakuan adiknya, Lugh
bertanya padaku.
"Apa kau sudah memutuskan mau
memberikan apa?"
"Belum, tidak ada yang spesifik.
Lebih tepatnya, aku masih agak ragu..."
Tadinya aku berniat mencari waktu untuk
konsultasi dengan Lily, tapi mumpung ada kesempatan...
"Bolehkah aku minta pendapat kalian
berdua sebagai referensi?"
"Mari kita lihat... Kalau aku yang
menerima, aku akan senang jika ditraktir makan. Merayakan ulang tahun dengan
minum bersama sahabat di kedai sampai pagi itu rasanya luar biasa, bukan?"
"Eh~? Karena ini momen spesial,
lebih baik barang yang bisa disimpan dong. Kalau aku sih pasti perhiasan~ Seperti
cincin atau kalung! Meskipun dari teman perempuan, aku akan senang kalau
perhiasannya imut!"
"Begitu ya..."
Makan-makan atau perhiasan, ya.
Kalau minum
sampai pagi rasanya kurang cocok, tapi idealnya adalah memesan restoran yang
agak bagus di ibu kota, lalu memberikan kejutan hadiah setelah makan.
Masalahnya, ulang tahun Lucretia jatuh tepat di tengah latihan luar kampus.
Jika waktunya buruk, momen itu akan tiba saat kami sedang berada di dalam dungeon.
Meskipun jadi seminggu lebih awal, mungkin
lebih baik kami pergi berdua pada hari libur sebelum latihan dimulai. Aku
sempat berpikir untuk mengajaknya memilih hadiah bersama, tapi...
"Eeeh!? Kalau bisa sih hadiahnya
kejutan dong! Memang kalau pilih bersama tidak akan salah, tapi nanti dia malah
jadi sungkan memilih yang mahal! Tina rasa perasaan 'dia sudah memilihkan ini
khusus untukku' itu lebih membuat bahagia~"
"Begitukah...?"
Idiot dan Lugh tampak memiringkan kepala
karena tidak terlalu paham, tapi Tina mengangguk dengan penuh percaya diri.
Yah, rasanya ini bukan soal perbedaan cara berpikir pria dan wanita, melainkan
kepribadian masing-masing. Tapi sepertinya lebih aman mengikuti saran Tina yang
sesama perempuan...?
Setelah mengobrol banyak hal dengan mereka
bertiga, dalam waktu satu jam kereta kuda akhirnya tiba di kawasan hutan.
"Kita sampai."
Kereta berhenti di tepi luar hutan, tepat
di dataran tempat berdirinya kedai-kedai dan kursi penonton saat kompetisi
antar kelas dulu. Meskipun sudah dua minggu berlalu, kedai dan kursi penonton
yang hancur akibat serangan monster masih dibiarkan begitu saja tanpa
dibongkar.
Entah mereka membiarkannya agar bisa
digunakan lagi saat kompetisi (yang ditunda ke musim gugur) dilakukan kembali,
atau memang dibiarkan membusuk begitu saja. Melihat nilai dan standar di dunia
ini, sepertinya pilihan kedua lebih masuk akal. Dunia ini masih jauh dari
kesadaran soal masalah lingkungan atau perlindungan alam.
Setelah turun dari kereta, kami mengenakan
peralatan masing-masing. Meskipun begitu, aku dan Idiot hanya menyampirkan
pedang pinjaman dari Alyssa-san di pinggang. Kami tidak bisa meminjam baju
zirah atau peralatan Ksatria Kerajaan.
Alyssa-san juga memberi saran,
"Daripada gerakan kalian jadi lambat karena memakai peralatan yang tidak
biasa, lebih baik tidak usah pakai sama sekali-ssu."
Terutama bagi Idiot, selama ada pedang dia
bisa menangkis hampir semua serangan. Malah Alyssa-san bilang kalau baju zirah
hanya akan menghambat gerakannya, sebaiknya dia bertarung tanpa busana saja.
Tentu saja tanpa busana itu mustahil, tapi tidak diragukan lagi bahwa Idiot
bisa mengeluarkan kemampuan aslinya jika tubuhnya ringan.
Lugh dan
Tina juga mengenakan pakaian ringan. Pelindung
dada logam dan pelindung lengan (gauntlet).
Selebihnya hanya pelindung kaki yang menutupi lutut dan tulang kering.
"Aku pikir petualang itu selalu
memakai peralatan lengkap yang berat di sekujur tubuh."
"Itu tergantung orangnya. Memang
ada petualang seperti yang Hugh-san bayangkan. Tapi, kami lebih mementingkan
kelincahan daripada pertahanan. Guru kami juga begitu."
"Guru selalu bilang, kan~ 'Kalau
tidak kena, tidak akan terjadi a—ghuakh!'"
"Itu kan barusan kau kena..."
gumamku dalam hati.
Mengabaikan candaan Tina, Lugh membawa
pedang di pinggangnya seperti kami, sementara Tina menyampirkan tabung anak
panah di punggung dan memegang busur.
"Mari kita maju dengan hati-hati
untuk bersiap jika bertemu monster."
Kami memasuki hutan dengan Lugh di
posisi paling depan. Idiot maju berdampingan dengan Lugh, sementara aku dan
Tina mengikuti di belakang mereka. Formasi yang terbagi menjadi barisan depan
dan belakang.
Bagian
dalam hutan yang rimbun dengan pepohonan itu terasa remang-remang dan
diselimuti keheningan yang mencekam. Suara burung maupun serangga tidak
terdengar. Apakah karena skill-ku saat ini
adalah "Pyrokinesis"...?
"Mencekam
ya~ Di dalam dungeon pun tidak sepi begini."
"Benarkah?"
"Iya. Tergantung tempatnya sih,
tapi biasanya cukup ramai karena ada banyak monster yang tinggal di sana. Tapi
di sini tidak begitu. Aku bahkan tidak merasakan hawa monster sama
sekali~"
...Memang, ini terasa terlalu sunyi.
Setelah
berjalan terus selama tiga puluh menit, kami tidak bertemu monster sekali pun. Saat kompetisi antar kelas dulu,
meskipun menggunakan skill "Strategist"
milik Lily, kami berkali-kali diserang monster sebelum bisa keluar dari hutan
ini...
"Aku dengar sebelum kita, Ksatria
Kerajaan dan tentara reguler juga sudah melakukan pencarian di hutan ini.
Mungkin monster-monster yang ada sudah dibasmi habis."
"...Tidak, bukankah ini terasa
tidak alami? Bekas
pertarungannya terlalu sedikit."
Idiot
meragukan spekulasi Lugh. Kalau dipikir-pikir memang benar, jika ksatria atau
tentara telah membasmi monster, seharusnya hutan ini tidak terlihat sebersih
ini. Yah, karena aku tidak memakai skill "Ninja", ada kemungkinan aku hanya
melewatkannya, tapi kalau Idiot yang bilang begitu pasti ada benarnya.
"...Begitu ya. Mungkin itu sebabnya
Kerajaan Leese memberikan permintaan ini kepada Perserikatan Petualang. Jika
ksatria dan tentara yang masuk untuk menyelidiki hutan tidak bisa menemukan
penyebabnya, atau bahkan tidak bertemu monster sama sekali, tidak heran jika
mereka bingung lalu melempar urusannya ke perserikatan."
"Biasanya mereka tidak akan minta
tolong ke perserikatan kalau tidak ada apa-apa, sih..."
Ksatria Kerajaan maupun militer pasti punya
harga diri dan ingin menemukan penyebabnya sendiri. Karena gagal, akhirnya
giliran Perserikatan Petualang yang maju. Kalau begitu, apakah yang memesan
permintaan ini adalah militer... faksi Pangeran Brute? Jika Pangeran Lucas, dia
pasti sudah punya petunjuk kenapa monster-monster itu tiba-tiba menghilang. Beliau tidak akan mengambil risiko
menyebarkan informasi dengan meminta tolong ke perserikatan.
Setelah satu jam mencari, kami tetap
tidak bertemu monster. Saat kami
mulai berdiskusi untuk kembali karena tidak menemukan petunjuk berarti...
"Bau."
Tina memegang hidungnya dan bergumam seolah
menahan rasa mual. Sesaat aku kaget dan mengira dia bicara soal aku, tapi
sepertinya bukan itu maksudnya. Hidungku pun mulai menangkap aroma busuk yang
samar entah dari mana. Bau seperti keju basi, atau sampah basah yang
membusuk... Bau bangkai, ya?
"Mari kita periksa. Mungkin ada
petunjuk."
"Ya..."
Aku mengangguk setuju pada usul Lugh.
Seiring kami mengikuti asal bau tersebut, aromanya semakin menyengat. Akhirnya
kami tiba di sebuah area terbuka di tengah hutan.
Di tengahnya terdapat kolam dengan air yang
keruh kehitaman, dan pepohonan di sekitarnya tampak layu serta melintir dengan
bentuk yang aneh. Di
pinggir kolam, berserakan beberapa tulang yang sepertinya milik hewan.
Tempat ini benar-benar mencekam...
Karena hari masih siang, rasanya tidak terlalu menakutkan, tapi jika aku
menemukannya saat senja atau malam hari, aku pasti sudah langsung lari pulang.
"Kak Lugh, apakah ini penyebab
kemunculan monsternya?"
"Entahlah... Apa kalian berdua
menyadari sesuatu?"
Mendengar pertanyaan Lugh, aku dan
Idiot saling lirik. Penyebab kemunculan monster kemungkinan besar adalah obat
yang mengubah Lechery dan Rosalie menjadi monster itu. Namun, aku dan Idiot
sudah diperintah tegas oleh Pangeran Lucas untuk tidak membocorkan soal obat
tersebut. Aku tidak bisa memberitahu Lugh dan Tina tentang keberadaan obat itu.
Meskipun merasa tidak enak karena sudah
dijanjikan imbalan...
"Aku rasa kolam ini mencurigakan, tapi
maaf. Aku tidak tahu lebih dari itu."
"Begitu ya..."
Lugh melipat tangan dan menempelkan kepalan
tangannya di depan mulut. Sepertinya itu kebiasaannya saat sedang berpikir
keras.
"Semua monster yang kalian lihat
bentuknya sangat mirip dengan hewan penghuni hutan, kan? Kalau begitu, apakah
hewan-hewan yang meminum air kolam ini berubah menjadi monster...?"
"Eh~? Masa hewan-hewan mau minum air sekotor ini?"
"Sudah dua minggu lebih sejak monster muncul. Mungkin
kualitas airnya memburuk setelah itu."
"Tapi tetap saja terasa tidak alami!
Monster yang ditemui Hugh-san dan yang lain kan bukan cuma satu atau dua ekor.
Kalau satu-dua hewan datang minum air sih mungkin saja, tapi masa banyak hewan
datang minum bersamaan lalu jadi monster?"
"Itu..."
Jika obat
itu ditebar di kolam ini, hewan-hewan hutan yang datang minum memang akan
berubah menjadi monster. Itu menjelaskan kenapa monster muncul di hutan yang
seharusnya tidak punya dungeon... tapi keraguan Tina
memang masuk akal.
Mungkinkah hewan-hewan hutan datang minum
bersamaan dalam jumlah banyak? Apalagi kompetisi antar kelas diadakan di pagi
hari di hutan ini. Apakah mungkin sebuah kebetulan jika hewan-hewan itu datang
minum secara serentak tepat saat kelasku masuk ke hutan di siang hari...?
"...Fumu, artinya ada seseorang yang
sengaja menggiring hewan-hewan itu ke kolam ini?"
"Iya. Sepertinya hanya itu
penjelasannya..."
"Kasus
ini sepertinya bakal lebih baik kalau ternyata cuma dungeon
yang baru ditemukan~"
Tina tertawa pahit sambil memiringkan
kepala, dan kami hanya bisa mengangguk dalam diam. Setelah itu kami mencari di
sekitar kolam, tapi tidak menemukan petunjuk berarti lainnya. Karena matahari
mulai terbenam, kami meninggalkan hutan dan menempuh perjalanan pulang ke ibu
kota.
Begitu kami masuk ke dalam kereta yang
sudah menunggu, tanpa sadar kami semua menghela napas panjang.
"Sepertinya permintaan kali ini
berhubungan dengan urusan yang cukup gelap. Walaupun kurasa kalian akan
baik-baik saja, maaf karena sudah melibatkan kalian."
"Tidak, jangan dipikirkan."
...Malah sepertinya pihak Perserikatan
Petualang-lah yang sebenarnya sudah "terlibat".
Jika ada seseorang yang sengaja menebarkan
obat ke kolam untuk mengubah hewan hutan menjadi monster, apa sebenarnya
tujuannya? Monster-monster itu menyerang kami yang berada di dalam hutan, lalu
menyerbu ke arah kursi penonton di luar hutan. Keributan besar terjadi, dan di
tengah kekacauan itulah Lecty diculik.
Masuk akal untuk berpikir bahwa kerusuhan
monster itu sengaja dibuat demi menciptakan celah untuk menculik Lecty. Jika
demikian, pelakunya kemungkinan besar adalah dokter sekolah yang menculik
Lecty, atau komplotannya.
Jika rentetan insiden yang bermula dari
kediaman Adipati Lechery ini berkaitan erat dengan kejadian kali ini, maka
pihak yang terseret ke dalamnya sekarang adalah Perserikatan Petualang, dan
juga Lugh serta Tina.
Karena Lugh dan adiknya mencurigai air
kolam itu, tidak menutup kemungkinan mereka akan sampai pada keberadaan obat
tersebut. Aku harus berkonsultasi dengan Alyssa-san setelah kembali ke
akademi...
Kereta kuda yang membawa kami melewati
gerbang kota, lalu alih-alih ke Perserikatan Petualang, kereta itu langsung
menuju ke Akademi Kerajaan. Lugh cukup peka untuk mengantarkan kami sampai ke
tujuan.
"Maaf ya, sudah merepotkanmu dengan
banyak hal."
Setelah turun dari kereta di depan gerbang
sekolah, aku kembali berterima kasih kepada Lugh dan Tina.
"Tidak apa-apa, berkat Hugh-san dan
Idiot-san, permintaan ini sepertinya bisa diselesaikan dengan sukses. Sisanya
tinggal kami yang membuat laporannya, jadi ini bayaran untuk kalian."
Lugh mengeluarkan dua kantong kain berisi
uang yang entah sejak kapan sudah dia siapkan, lalu menyerahkannya kepadaku dan
Idiot.
"Apa tidak apa-apa...? Kami hampir
tidak melakukan apa-apa, lho..."
Di hutan tadi tidak ada pertarungan
dengan monster, kami hanya berjalan bersama mereka. Melihat dari ketebalan
kantongnya, jumlahnya sepertinya benar-benar setara dengan imbalan permintaan
peringkat D. Tidak terlihat ada pemotongan meski kami tidak banyak bekerja.
"Tentu saja. Informasi yang kalian
berikan jauh melebihi harapan kami, dan kalian sudah bekerja cukup baik untuk
dibayar sekian. Lagipula, kami tidak bisa melakukan hal licik seperti memotong
nilai kontrak di tengah jalan. Ayah selalu mengajarkan kami untuk hidup dengan
sehat dan jujur."
"Sehat dan jujur?"
Aku tidak menyangka akan mendengar
kata-kata yang sama dengan moto hidupku sendiri. Mulai dari urusan bersin
sampai hal ini, aku merasa punya kemiripan aneh dengan ayah Lugh.
"Hou, kau dibesarkan oleh ayah
yang luar biasa ya."
"Iya, beliau adalah ayah
kebanggaanku."
"Padahal punya istri tiga orang,
menurutku tidak ada sehat-sehatnya atau jujur-jujurnya sama sekali~"
seloroh Tina sambil tersenyum nakal. Ternyata Lugh dan Tina punya tiga ibu, dan
mereka adalah kakak-adik beda ibu. Aku jadi
tidak ingin merasa mirip sampai ke bagian itu...
Saat kami sedang asyik mengobrol, tiba-tiba
suara Lugh dan Tina terhenti. Mereka berdua seolah menahan napas, dan saat aku
menoleh ke arah pandangan mereka, terlihat Lily dan Lecty sedang berjalan
mendekat dari arah gedung sekolah.
"...Kalau begitu, kami pamit dulu
ya."
"Sampai jumpa di latihan luar kampus
nanti, Hugh-san, Idiot-san!"
"Umu. Sampai bertemu lagi!"
"Terima kasih ya, kalian berdua."
Lugh dan Tina tampak terburu-buru masuk ke
dalam kereta dan kereta itu pun segera melaju. Ada apa ya, tiba-tiba panik
begitu? Seolah-olah mereka berusaha lari dari Lily dan Lecty... ah, perasaanku
saja mungkin?
"Selamat datang kembali, Hugh,
Idiot."
"Apakah kalian berdua terluka?"
Lily dan Lecty menyapa kami sambil melihat
kereta yang menjauh. Mungkin
mereka memang sedang menunggu kami pulang.
"Jangan khawatir, Nona Lecty. Aku
sehat bugar. Monster bukan lawan bagi si Idiot Hoartness ini!"
"Padahal tadi tidak ketemu monster
sekali pun..." gumamku.
"Fufu. Syukurlah kalau tidak ada
yang terluka. Sepertinya
hasilnya memuaskan ya."
"Begitulah. ...Eh? Omong-omong, di mana Lugh? Dia tidak bersama kalian?"
Begitu aku bertanya, Lily mendadak terdiam, "Ugh...".
"Lu-Lugh sudah kembali ke kamar duluan... Tadi dia memang
bersama kami, tapi dia bilang... harus menyiapkan sesuatu untuk menyambut
kedatangan Hugh."
"Menyiapkan sesuatu...?"
Apa yang sedang disiapkan Lugh untuk menyambutku? Aku tidak bisa menebaknya sama sekali dan
itu malah membuatku agak takut...
"Lalu, anu..."
Lily mengalihkan pandangannya dengan
canggung, lalu tiba-tiba menepuk pundakku.
"Mungkin ini akan berat bagimu, tapi
kuatkanlah hatimu. Aku yakin kau pasti bisa melaluinya."
"Tunggu sebentar. Memangnya Lugh
sedang menyiapkan apa untuk menungguku...!?"
Aku jadi sangat takut untuk pulang ke
kamar. Aku sempat berpikir serius untuk menginap di kamar Idiot saja malam ini,
tapi kalau aku tidak pulang, hasilnya mungkin akan lebih buruk lagi...
Lily hanya menggelengkan kepala dengan
tatapan yang seolah sudah pasrah, "Aku tidak bisa bilang lebih dari
ini." Aku mencoba menatap Lecty dengan seberkas harapan, tapi dia hanya
berbisik "Berjuanglah ya, Hugh-san..." lalu segera membuang muka.
Eeeh...
Pokoknya, sebelum kembali ke kamar, aku
harus mengembalikan pedang pinjaman kepada Alyssa-san. Aku berpisah dengan Lily
dan Lecty di depan asrama putri, lalu menuju asrama pengajar bersama Idiot. Aku
mengembalikan pedang kepada Alyssa-san yang sedang berlatih di lahan kosong
biasa, lalu melaporkan kejadian hari ini.
"Dimengerti-ssu. Aku akan
melaporkannya kepada Yang Mulia Lucas-ssu."
Reaksi Alyssa-san saat mendengar soal kolam
yang kutemukan bersama Lugh dan yang lain ternyata lebih datar dari dugaanku.
Mungkin keberadaan kolam itu sudah diketahui oleh pihak ksatria sejak lama...
Setelah berpisah dengan Idiot yang masih
ingin berlatih bersama Alyssa-san sampai jam makan malam, aku kembali ke asrama
putra sendirian. Meskipun penuh rasa cemas soal apa yang disiapkan Lugh, ada
perasaan ingin cepat pulang dan menghabiskan waktu bersamanya.
"Aku pulang."
Saat aku membuka pintu kamar, terdengar
suara Lugh dari balik lorong, "Selamat datang kembali!". Entah kenapa
suaranya terdengar lebih tinggi dari biasanya...? Perasaanku saja...?
Aku melangkah menyusuri lorong dan dengan
ragu membuka pintu ruangan.
Di baliknya, yang berdiri di sana
adalah—
—Gadis berambut emas, Lucretia.
Aku terpaku, sampai-sampai lupa cara
bernapas karena kecantikannya yang luar biasa. Cahaya dari alat sihir menyinari
rambut emasnya yang berkilau dan tampak sehalus sutra. Mata biru tuanya yang
besar menatapku, melengkung indah karena rasa bahagia.
Dia yang duduk di tepi ranjangku mengenakan
seragam Akademi Kerajaan, namun satu hal yang berbeda dari biasanya: seragam
itu bukan milik murid laki-laki, melainkan seragam murid perempuan.
"Kenapa kau berpenampilan seperti
itu...?"
Banyak hal yang seharusnya kukatakan, tapi
pertanyaan itulah yang pertama kali lolos dari mulutku. Mengapa dia, yang
selama ini selalu bersikap sebagai Lugh di depanku, tiba-tiba menampakkan diri
sebagai Lucretia sekarang?
Lucretia memasang senyum yang agak canggung
dan berkata:
"Kurasa kalau hanya kita berdua saja,
sudah tidak perlu disembunyikan lagi, kan?"
Ah, ya. Benar juga.
Lucretia melompat kecil dari tempat tidur,
lalu berputar sekali di depanku. Roknya tersingkap, memperlihatkan pahanya yang
seputih porselen.
"Aku meminjamnya dari Lecty. Apa...
menurutmu cocok?"
Aku sudah terbiasa melihat seragam
berukuran agak besar itu dipakai oleh Lecty atau Lily. Namun, saat Lucretia
yang memakainya, ada sensasi kesegaran yang sulit dijelaskan... intinya, itu
sangat, sangat cocok untuknya.
Tanpa sadar aku hampir mengeluarkan tawa
"Fuhi" yang menjijikkan seperti Lily, tapi aku segera berdehem untuk
menutupinya. Aku lalu berlutut dengan satu kaki di hadapan Lucretia dan
menundukkan kepala.
"Sangat cocok untuk Anda, Putri
Lucretia."
Selama Lucretia berdiri di hadapanku
sebagai Putri Ketujuh Kerajaan Leese, Lucretia von Leese, aku harus memberikan
penghormatan sebagai bawahan. Meskipun kami sedang berdua dan aku tahu Lucretia
tidak menginginkan formalitas itu.
"Muuu... Hugh ini terlalu serius di
saat yang tidak tepat!"
"Meski Anda bilang begitu..."
Sangat sulit untuk tetap berinteraksi
dengan Lucretia menggunakan jarak yang sama seperti saat dia menjadi Lugh.
Walaupun aku sudah tahu identitas aslinya sejak lama, selama ini aku selalu
bermain peran seolah-olah aku tidak tahu. Berkat sandiwara itulah aku bisa
menjaga sopan santun. Tapi karena sekarang Lucretia ada di depanku dengan wujud
aslinya, sandiwara "pura-pura tidak tahu" itu tidak lagi berlaku.
"Kalau begitu, ini perintah Putri. Saat hanya berdua denganku, bersikaplah
seperti biasa!"
"Guh... Baik, Tuan Putri. ...Haa, apa
begini cukup?"
Aku berdiri sambil menghela napas, dan
Lucretia mengangguk puas dengan seruan "Ehm!". Jika sudah diperintah
oleh sang Putri, apa boleh buat. Meski secara mental sulit untuk bersikap
benar-benar seperti biasa, aku akan berusaha semaksimal mungkin.
Lucretia duduk kembali di ranjangku dan
menepuk-nepuk kasur di sampingnya. Sepertinya itu perintah agar aku duduk di
sebelahnya. Terpaksa aku duduk di tepi ranjang dengan sedikit jarak, namun
Lucretia segera menggeser tubuhnya untuk merapat.
"Kenapa duduknya jauh-jauh?"
"Eh, cuma perasaan saja..."
"Muuu—"
Lucretia menggembungkan pipinya dengan
tidak puas. Ya-ya ampun, mau bagaimana lagi! Di kamar asrama yang sempit, duduk
berdampingan di atas ranjang sendiri dengan gadis yang disukai... normalnya
pasti gugup, kan!
Kalau aku mengatakan itu sejujurnya,
mungkin Lucretia akan mengerti, tapi itu sudah seperti menyatakan cinta.
Mengaku "aku gugup karena aku menyukaimu" itu rasanya terlalu
memalukan. Untuk saat ini, aku tidak bisa hanya diam menatap langit-langit
terus.
"Anu... Tuan Putri Lucretia?"
"Pui!" (Membuang muka)
Begitu kupanggil namanya dengan embel-embel
"Sama", dia langsung memalingkan wajah. Sepertinya dia tidak suka
dipanggil begitu...
"Lu-Lucretia-san...?"
"Puuu—"
Ternyata pakai "San" pun tidak
boleh. Aku sempat berpikir reaksi merajuknya ini sangat imut dan tidak
keberatan jika diteruskan, tapi karena aku tidak ingin dia membenciku,
sebaiknya aku berhenti.
"...Bolehkah aku memanggil namamu
langsung, Lucretia?"
Seorang putra Baron memanggil nama Tuan
Putri tanpa gelar... jika Raja tahu, ini adalah penghinaan besar yang bisa
membuat kepalaku dipenggal seketika.
Mendengar pertanyaanku, Lucretia menoleh
dan berkata pelan:
"Boleh saja memanggil nama langsung,
tapi..."
"Tapi?"
Pipi Lucretia merona merah, lalu dia
bergumam lirih:
"...Aku ingin Hugh memanggilku TÃa."
TÃa? Bukankah itu nama panggilan akrab untuk Lucretia...?
Baiklah, ini lebih mudah dilakukan daripada memanggil nama aslinya secara
langsung tanpa gelar.
"Baiklah, TÃa."
"Hauuu!"
TÃa menutupi mulutnya dengan kedua tangan dan mengeluarkan suara
aneh.
"E-ehehe. Aku dipanggil TÃa oleh Hugh...!"
Dia mulai menggeliat-geliat kegirangan.
Melihat betapa senangnya dia hanya karena dipanggil dengan nama akrab, rasa
sayang yang tak terbendung nyaris meluap dari hatiku. Aku berusaha keras
menahan insting untuk memeluknya erat, lalu mengajukan pertanyaan yang
mengganjal sejak tadi.
"Lalu, kenapa tiba-tiba kau kembali ke
wujud aslimu?"
Meskipun dia bilang "sudah tidak perlu
disembunyikan lagi", aku yakin dia tidak melakukannya hanya karena iseng
tanpa pemicu.
Mendengar pertanyaanku, TÃa tersadar dan
kembali menggembungkan pipinya.
"Hugh Pnosis-san. Aku sa-ngat
marah! Aku benar-benar kesal!"
"Ah, iya."
"Apa kau tahu kenapa?"
"Anu..."
Sejujurnya, bukannya aku tidak tahu. Malah
ada dua atau tiga hal yang terlintas di kepalaku. ...Hanya saja, jika aku
menebak sembarangan dan ternyata salah, aku pasti akan diprotes lebih parah
lagi. Jadi aku tidak berani mengatakannya.
"Maaf, aku tidak tahu."
"Muuu. Hugh bodoh."
TÃa membuang muka lagi. Lalu dia bergumam pelan, "...Lily
dan Lecty curang."
"A-aaah..."
Begitu ya. Akhirnya rangkaian tindakan Lucretia... dan sikap
Lily serta Lecty saat menyambutku tadi jadi masuk akal. TÃa sudah mendengar
dari mereka berdua kalau aku pernah mencium mereka.
Seharusnya mereka mengatakannya secara jujur saja padaku, tapi
karena tadi ada Idiot, mungkin Lily dan yang lain hanya bisa memberi peringatan
tersirat. Jika Lecty yang meminjamkan seragam, maka ide untuk kembali ke wujud
Lucretia pastilah dari Lily. Tujuannya agar aku menyadari bahwa dia adalah
"Gadis Lucretia" dan bukan "Laki-laki Lugh", sehingga
hambatan mental untuk menciumnya berkurang...
Hei, hei! Justru kalau hambatannya
berkurang, pengendalian diriku bisa hancur berantakan! Jika itu terjadi, aku
bisa saja kebablasan sampai akhir. Bisa-bisa terjadi situasi yang tidak bisa
diperbaiki lagi.
Apa aku harus berkelit? Tidak, itu akan
sangat tidak jujur pada TÃa. Meminta maaf agar dimaafkan pun rasanya kurang
tepat. TÃa tidak marah karena aku berciuman dengan mereka, dia marah karena
hanya dia yang belum mendapatkan ciuman itu. Karena dia tidak butuh permintaan maaf,
maka maaf saja tidak akan berguna.
Tapi, untuk menciumnya...
Aku merasa dia pasti akan menerimanya.
Namun, melangkah lebih jauh dari itu akan
menjadi masalah. Kami punya posisi masing-masing, dan yang terpenting,
perasaanku sendiri ingin menjalani hubungan dengan TÃa secara perlahan dan
berharga, selangkah demi selangkah.
Karena itu,
"TÃa."
Aku meletakkan tangan kiriku dengan lembut
di atas tangan kanannya dan memanggil namanya. Saat dia menoleh, mata biru
tuanya sedikit berkaca-kaca, memantulkan wajahku seperti cermin.
"Maukah kau menutup matamu
sebentar?"
"—! I-iya...!"
TÃa membuka matanya lebar-lebar sesaat,
lalu memejamkannya erat-erat sampai dahinya sedikit berkerut. Aku merasa sangat
gemas melihatnya yang terlalu tegang begitu. Aku mengusap rambut emasnya yang
sehalus sutra dengan tangan kanan secara perlahan.
Lalu, aku menahan bibirnya yang sedikit
mengerucut dengan telunjuk kiriku.
"Maaf, untuk sekarang tolong terima
ini saja."
Aku mengecup dahi TÃa dengan lembut.
Jika ada yang bilang aku pengecut
karena main aman, aku tidak bisa membantahnya. Tapi, jika aku boleh memberi
satu alasan:
"Karena kaulah yang pertama kali aku
cium atas kemauanku sendiri."
Jadi, tolong maafkan aku jika hanya sebatas
ini untuk sekarang. Jantungku berdegup sangat kencang, aku berusaha keras
menenangkan napas yang mulai memburu. Aku menginjak rem pengendalian diri
sedalam-dalamnya untuk menahan dorongan memeluk TÃa dan menjatuhkannya ke
tempat tidur.
Saat aku menjauh perlahan, wajah TÃa
memerah padam seolah akan mengeluarkan uap, dan mulutnya bergetar gugup.
"Hyu-Hugh! A-aku... aku ya!"
Dengan air mata di mata biru tuanya yang terbuka lebar, TÃa...
—Kruyuuuk.
"...A-aku lapar."
Kalau diingat-ingat, kami memang belum
makan malam, ya...
*◇*
Kami sepakat untuk pergi ke kantin demi
makan malam, sekaligus untuk menenangkan diri sejenak.
Lucretia perlu kembali ke wujud Lugh dan
berganti dari seragam perempuan ke seragam laki-laki, jadi aku memutuskan untuk
menunggu di koridor asrama lebih dulu. Begitu aku keluar dan menutup pintu...
"Haaaah..."
Tanpa sadar aku menghela napas panjang dan
terduduk lemas di sana.
Ba-bahaya sekali. Sedikit lagi saja, rem
pengendalian diriku bisa hancur total. Berdua saja dengan Lucretia di dalam
kamar, ditambah situasi duduk di ranjang yang sama—daya hancurnya terlalu
tinggi.
Terbawa suasana aneh tadi, aku bahkan
sampai mencium dahinya. Untungnya TÃa tampak tidak keberatan, tapi kalau
dipikir-pikir, normalnya ini sudah masuk kategori pelecehan, kan? TÃa juga tadi
terlihat sangat menggebu-gebu ingin menyampaikan sesuatu, entah apa yang akan
terjadi jika perutnya tidak berbunyi...
Pokoknya, aku harus kuatkan hati seperti
saran Lily. Jangan sampai aku terbawa nafsu sesaat lalu melakukan dosa yang tak
termaafkan. Bukan
hanya demi diriku sendiri, tapi juga demi melindungi Lucretia...!
"Ma-maaf membuatmu menunggu, Hugh."
Sekitar lima menit berlalu, Lugh keluar
dari kamar. Rambut perak yang sudah biasa kulihat, dan seragam laki-laki. Tanpa
sadar aku mengembuskan napas lega. Rasanya jauh lebih tenang melihatnya dalam
wujud ini—tapi kalau aku mengatakannya, dia pasti akan marah, jadi lebih baik
aku diam.
"Ayo berangkat."
"I-iya."
Aku melangkah menuju kantin bersama Lugh
yang tampak agak tegang. Mungkin karena waktunya sedikit bergeser, aku tidak
melihat Lily atau kawan-kawan lainnya di kantin. Ada beberapa teman sekelas,
tapi kami tidak terlalu akrab untuk mengobrol. Kami duduk berdua di satu meja
dan menyantap makan malam dalam diam.
Biasanya kami akan mengobrol santai soal
pelajaran atau kejadian hari itu, tapi khusus hari ini suasananya tidak
mendukung... Tiap kali mata kami tidak sengaja bertemu, Lugh langsung memerah,
menunduk, lalu buru-buru memasukkan roti ke mulutnya.
Setelah makan malam dan kembali ke kamar,
kami menghabiskan waktu masing-masing seperti biasa. Aku duduk di meja belajar
untuk mengerjakan tugas dan belajar mandiri, sementara Lugh berbaring di
ranjangku sambil membaca buku yang dipinjam dari perpustakaan.
Ya, seperti biasa. Saking terbiasanya,
mengerikan juga membayangkan betapa aku sudah tidak lagi merasa aneh saat Lugh
menjajah tempat tidurku. Meski terkadang aku merasakan tatapan dari arah
belakang, tugas dan belajarku selesai dalam dua jam. Sejak membiasakan diri
belajar setelah makan malam, aku merasa benar-benar bisa mengikuti pelajaran di
kelas. Kalau begini, ujian berikutnya pasti tidak akan seberat yang lalu.
...Nah.
"Anu... Lugh. Hari ini giliranku yang
mandi duluan, kan?"
"A-ah, i-iya! Benar."
Saat aku bertanya, Lugh tampak panik dan langsung duduk tegak di
atas kasur sambil mengangguk cepat.
"Kalau begitu, aku duluan ya."
Aku membawa handuk dan baju ganti
menuju ruang mandi. Aku menutup pintu dan mengunci dari dalam. Biasanya aku
tidak pernah mengunci pintu, tapi aku tidak tahu apa yang akan dilakukan Lugh
hari ini. Kalau dia sampai menyerbu masuk saat aku mandi, pengendalian diriku
bisa lenyap seketika. Lebih baik waspada daripada menyesal.
Rasanya ingin bilang "tolong
mengerti posisiku sedikit", tapi ya sudahlah... Aku harus segera
menjadikan Pangeran Lucas raja berikutnya dan bertunangan dengan Lucretia.
Kalau sudah begitu, aku tidak perlu menahan diri seperti ini lagi. Demi tujuan
itu, aku harus mendiskusikan "hal tersebut" dengan Lily dan Idiot
nanti...
Setelah mandi dan menyikat gigi, aku
kembali ke kamar. Lugh sudah duduk manis di ranjangku sambil memeluk handuk dan
baju ganti. Apa perasaanku saja, atau wajahnya memang terlihat sangat tegang?
"Aku mandi dulu!"
Lugh
berlari kecil menuju ruang mandi berpapasan denganku yang baru masuk. Apa aku tidur saja sebelum dia kembali?
Tidak, itu kasihan juga... Bukannya aku ingin menghindarinya. Malah kalau
diizinkan, aku ingin lebih dekat dengannya. Hanya saja situasi yang terasa
seperti chicken game ini sungguh aneh.
Kami harus bicara baik-baik. Tapi untuk melakukan itu, aku harus
menyampaikan perasaanku pada Lucretia. Bagiku itu sama saja dengan menyatakan
cinta, dan aku ingin melakukannya dengan cara yang benar. Waktunya adalah bulan
depan, tepat di hari ulang tahun Lucretia. Sampai saat itu tiba, aku harus
berusaha memahami keinginan Lucretia sembari sekuat tenaga menahan diri agar
tidak melewati batas. Aku pasti bisa menahannya... mungkin, seharusnya, maybe...
Aku
memutuskan untuk menunggunya kembali. Saat duduk di ranjang, mataku tertuju
pada buku yang tadi dibaca Lugh di dekat bantal. Judulnya Naga Hitam Drefon... Apa ini semacam dongeng atau
cerita rakyat?
Aku
mengambilnya dan membalik halaman. Ternyata isinya cukup berat untuk ukuran
buku anak-anak. Gaya bahasanya lebih mirip buku sejarah. Ceritanya berlatar di
sebuah wilayah di bagian barat Kerajaan Leese, tepat di seberang Danau Leese
dari arah ibu kota. Buku itu mencatat detail tentang seorang petualang muda
pemberani yang membasmi Naga Hitam bernama Drefon yang bersarang di sebuah dungeon.
Apakah ini fiksi yang dikemas seperti
buku sejarah, atau memang catatan sejarah asli? Entah kenapa aku merasa ini
yang kedua. Sejak tinggal di ibu kota, aku sadar dunia ini benar-benar dunia
fantasi. Tidak aneh kalau naga hitam itu nyata.
Akhir
bukunya menyebutkan bahwa petualang yang membasmi Drefon diberi gelar bangsawan
oleh Raja sebagai imbalan, dan itulah asal mula keluarga Count Drefon saat ini.
Berdasarkan tahun di teks tersebut,
kejadiannya sekitar dua ratus tahun yang lalu. Menjadi Count hanya karena membasmi naga... itu prestasi yang
luar biasa besar. Seharusnya ini masuk ke buku pelajaran sejarah, tapi aku
tidak ingat pernah membacanya. Kalau ada kata keren seperti "Pembasmian
Naga Hitam", aku pasti ingat. Jadi mungkin ini hanya karangan? Hmm...
Aku penasaran dan ingin bertanya pada Lugh
saat dia keluar nanti... tapi pikiranku langsung kosong saat melihat sosok
Lucretia yang baru kembali.
Rambut
emasnya berkilau indah. Kulitnya yang merona merah karena uap panas hanya
tertutup oleh negligee berwarna hijau muda. Bahannya cukup tipis
hingga memperlihatkan siluet tubuhnya, dan desain off-shoulder yang
mengekspos kedua bahunya memberikan kesan imut sekaligus menggoda. Sosoknya
benar-benar seperti peri, sampai-sampai aku spontan menutupi mulut dengan
tangan. Gawat, dia terlalu imut...!
Dia pasti tidak memakainya hanya karena
"ingin ganti baju tidur yang lebih tipis karena musim panas sudah
dekat". Sepertinya kecupan di dahi tadi belum cukup memuaskannya.
"Ba-bagaimana? Apa cocok?"
"A-ah. Sangat cocok. Kau cantik sekali."
"Hore, dipuji Hugh! Ehehe~"
Melihat Lucretia yang melompat kegirangan, rasa sayangku rasanya
mau meledak. Rasanya
ingin memeluknya saat ini juga dan berteriak "Aku suka padamu!".
...Tidak, tidak! Tenang, Hugh! Kalau aku menembaknya sekarang karena terbawa
suasana lalu dia menerimanya, hubungan kami bisa langsung melompat ke tahap
yang tak bisa ditarik kembali. Harus selangkah demi selangkah.
"A-ayo kita tidur, TÃa."
Aku mengajaknya tidur dan segera masuk ke
dalam selimut. Kalau
terus terjaga, pengendalian diriku bisa benar-benar terbang. Lebih baik cepat
tidur... tapi ternyata tidak semudah itu.
Aku merasakan kehadiran seseorang di
dekat bantal. Lucretia berdiri di sana, menutupi separuh wajahnya dengan bantal
yang ia peluk, sambil menatapku dengan mata biru tua yang penuh harap.
"Bolehkah aku tidur
bersamamu...?"
"..................Silakan."
Setelah ragu cukup lama, aku menerimanya.
Aku tidak mungkin bilang "tidak boleh karena pengendalian diriku mau
hilang", dan yang terpenting, TÃa akan tersiksa mimpi buruk jika tidur
sendirian. Mana mungkin aku bisa menolaknya setelah tahu hal itu.
Wajah TÃa
langsung cerah. Dia menaruh bantalnya di samping bantal milikku lalu masuk ke
dalam selimut. Aroma manis seperti bunga Kinmokusei tercium
lebih kuat dari biasanya karena dia baru saja mandi. Saat lampu dimatikan,
aroma itu terasa semakin pekat.
"Fufu. Tidur dengan Hugh dalam wujud
seperti ini membuatku berdebar-debar."
"B-benar juga ya..."
Aku tidak bisa menjawab lebih dari itu saat
Lucretia membisikkan hal semacam itu. Konsentrasiku sudah pecah. Kumohon,
jangan katakan hal-hal yang memancing kesadaranku! Aku ini sedang menginjak rem
pengendalian diri sekuat tenaga, tahu!
"Aku senang karena Hugh menciumku
tadi. Meski di dahi agak sedikit mengecewakan... tapi aku senang karena aku
yang pertama bagimu. Jadi..."
TÃa terdiam sejenak, lalu...
"Setelah
ciuman, aku harap aku juga yang menjadi yang pertama bagimu."
—Aku mendengar suara rem pengendalian
diriku hancur berantakan.
"TÃa!"
Karena dorongan insting yang tak
tertahankan, aku bangkit dan menindih tubuh TÃa, namun—
"...Ssuuu... ssuuu..."
Aku menyadari dia sudah tertidur dengan
napas yang tenang, lalu aku pun kembali ke posisiku semula. Dia tidak sedang
pura-pura tidur. TÃa benar-benar tertidur lelap dengan perasaan tenang yang
sangat dalam. Dia sangat... mempercayaiku.
"............Haaah."
Sambil menahan luapan emosi yang tak
tersalurkan, aku menghela napas sendirian di dalam kegelapan. Sepertinya butuh
waktu lama bagiku untuk bisa terlelap malam ini.



Post a Comment