Bab 3: Apakah Salah Mengharapkan Kesenangan dalam Latihan di Luar Kampus?
"Hugh... Huuugh."
Suara itu memanggil namaku di tengah
kantuk yang nyaman.
Saat aku membuka kelopak mata yang
terasa berat, pemandangan rambut pirang yang memantulkan cahaya matahari pagi
dari jendela langsung menyapa pandanganku.
Kilauannya membuatku mengerjapkan mata,
dan terdengar suara tawa kecil yang lembut.
"Selamat pagi, Hugh. Sudah pagi,
tahu. Nanti terlambat latihan, lho?"
"Ah... selamat pagi, TÃa."
Lucretia, yang biasanya bangun lebih
lambat dariku, kini sudah bangkit dari posisi tengkurap dan menatapku dari
atas.
Sepertinya
dia tadi mengguncang bahuku dengan tangan kirinya. Karena posisinya yang
mencondongkan tubuh ke depan, bahu dan tulang selangkanya yang terbuka, serta
celah kecil di kerah negligee warna hijau limau itu,
membuat pandanganku tanpa sadar tersedot ke sana.
Bahaya, bahaya. Karena rem pengendalian
diriku nyaris hancur kemarin, pikiranku jadi mudah melayang ke arah sana.
Tenang, Hugh, tenang... Pokoknya, ayo berangkat latihan pagi.
Berniat bangun, tubuhku mendadak kaku.
"Ada apa?"
Melihatku yang sudah bangun tapi tidak
kunjung turun dari tempat tidur, Lucretia memiringkan kepalanya heran. Bukannya
aku tidak mau bangun dan berganti baju, tapi ada alasan biologis yang
menghalangiku.
Mungkin karena kemarin aku tertidur
dengan emosi yang meluap-luap. "Si liar" pagi ini benar-benar berada
di level yang tidak bisa dijinakkan. Aku tidak boleh memperlihatkan hal seperti
ini kepada TÃa.
"Anu, TÃa-san. Aku mau berganti
baju, bisakah kau berbalik arah sebentar?"
"Oke!"
TÃa menjawab dengan semangat, tapi dia
malah menutupi wajahnya dengan kedua tangan sambil mengintip dari celah jari
dengan mata biru tuanya.
Dia sama sekali tidak mengerti maksudku...!
Ba-bagaimana ini...? Kalau aku diam saja
sampai dia tenang, aku bisa terlambat latihan pagi. Alyssa-san pasti akan
menggodaku habis-habisan. Tapi, bangun dan membiarkan TÃa melihatnya juga
sangat memalukan.
...Apa boleh buat.
"TÃa. Anu, laki-laki itu terkadang
punya fenomena biologis yang tidak bisa dilawan... maksudku, tolong mengerti
situasiku."
"Eh...?"
"Po-pokoknya! Ini memalukan, jadi
jangan melihat...!"
"............Ah."
Tampaknya TÃa tidak sepenuhnya buta soal
hal ini.
Seolah baru menyadari sesuatu, dia
mengeluarkan suara kecil lalu segera membelakangiku. Bahunya yang terbuka dan
tengkuknya yang terlihat di sela rambut emasnya tampak merona merah padam.
"Ma-ma-maaf! Be-benar juga ya, Hugh
kan laki-laki! Ka-kalau tidur bareng anak perempuan pasti jadi merasa aneh
ya!"
"Yah, begitulah, um..."
Meski tidak selalu karena tidur bersama
anak perempuan, aku merasa salah juga kalau membantahnya, jadi aku hanya
mengangguk. Entah perasaanku saja, tapi suara TÃa terdengar sedikit senang...
Yah, lupakan dulu. Mumpung TÃa sudah berbalik, aku segera
mengambil baju ganti dan berlari ke ruang mandi. Akhirnya aku bisa menjinakkan
"si liar" dan selesai berpakaian.
Setelah
menyapa TÃa yang sedang asyik berguling-guling memeluk Nokonoko-san (boneka
hewan Horse Deer yang hidup di dunia ini), aku berangkat
latihan pagi.
Begitu keluar dari asrama, aku
merasakan panas terik matahari yang posisinya agak tinggi untuk ukuran pagi
hari. Di tengah angin yang masih menyisakan sedikit rasa sejuk, terdengar suara
serangga dari kejauhan.
Samar-samar, hawa musim panas yang kian
mendekat mulai terasa.
Sesampainya di lahan kosong belakang
asrama pengajar, aku melihat Idiot sedang mengayunkan pedang kayu sendirian.
Sosok Alyssa-san yang biasanya selalu datang paling awal tidak terlihat. Tidak
mungkin orang seperti dia kesiangan...
"Mu. Kau datang juga, Hugh. Selamat pagi."
"Selamat pagi, Idiot. Alyssa-san tidak
ada?"
"Umu. Kemarin, tepat setelah latihan,
utusan dari istana Pangeran Lucas datang menjemputnya. Katanya dia akan kembali
sebelum jam pelajaran dimulai."
"Begitu ya..."
Pasti ada urusan mendesak. Kalau dia
kembali sebelum pelajaran dimulai, kurasa bukan masalah besar, tapi tetap
membuatku penasaran. Semoga saja tidak terjadi hal yang merepotkan lagi...
Sambil membawa sedikit rasa cemas, aku
mulai berlatih dengan Idiot. Karena Alyssa-san tidak ada, kami melakukan
latihan dasar seperti memantapkan postur saat mengayunkan pedang, alih-alih
latihan praktis seperti biasanya.
"Bagus, Hugh. Jika kau memundurkan
kaki dominanmu setengah langkah, kekuatan pada ujung pedang akan lebih
terasa."
"Begitu ya, begini...!"
"Hou, bakatmu lumayan juga."
Saat
diajari teknik pedang oleh Idiot seperti ini, aku sadar betul bahwa
kemampuannya bukan sekadar mengandalkan skill. Usaha yang
tak kenal lelah dan dasar ilmu pedang yang kokoh, ditambah dengan kekuatan skill "Guardian
(Chevalier)", itulah yang membentuk kekuatannya sekarang.
Lagipula, Idiot ternyata pandai mengajar.
Alyssa-san hanya mementingkan praktik tanpa memberi saran teknis sedikit pun,
jadi dengan belajar dasar dari Idiot, aku merasa gerakanku membaik secara
drastis.
Selain itu, bagian terbaik dari Idiot
adalah kejujurannya; dia akan bilang bagus jika bagus, dan buruk jika buruk.
Jika dia bukan kepala keluarga Hoartness, dia pasti cocok menjadi instruktur
pedang.
Setelah menyelesaikan latihan pagi yang
terasa memuaskan setelah sekian lama, aku kembali ke kamar untuk mandi.
Kemudian, bersama Lucretia yang sudah kembali ke wujud Lugh, kami menuju
kantin.
Saat itu kantin sedang ramai dipenuhi
murid. Sambil membawa nampan sarapan, kami mencari tempat duduk dan melihat ada
dua tangan yang melambai ke arah kami. Satu dari meja Lily dan Lecty, satu lagi
dari meja Rosalie dan Cicely-san. Keduanya punya dua kursi kosong.
Akan lebih bagus jika kami bisa duduk
bersama, tapi tidak ada meja untuk enam orang...
"Mari kita pisah duduknya, Lugh."
"Ide bagus. Aku ke tempat Rosalie
dan yang lain ya."
Melepas Lugh menuju meja Rosalie, aku
melangkah ke arah Lily dan Lecty.
"Selamat pagi, Hugh-san."
"Selamat pagi, Lecty."
Setelah menyapa, aku duduk di samping
Lecty. Tiba-tiba Lily yang duduk di depanku mencondongkan tubuh dan mendekatkan
wajahnya.
"Sudah melakukannya?"
"Belum, tahu."
Apa-apaan pertanyaannya pagi-pagi
begini...
Mendengar jawabanku, Lily menghela
napas lega dan kembali duduk tenang.
"Syukurlah kalau begitu. Meskipun
aku yang menyarankannya, aku sendiri jadi cemas apakah pengendalian dirimu bisa
bertahan. Maaf ya, aku
tidak bisa menolaknya karena merasa berutang budi pada anak itu..."
"Tidak, jangan minta maaf. Cepat atau
lambat ini pasti akan terjadi."
Kami berdua pasti sudah merasa jenuh dengan
sandiwara "pura-pura tidak tahu" ini. Meskipun tanpa bantuan Lily,
aku rasa hanya masalah waktu sampai Lucretia memutuskan untuk menunjukkan wujud
aslinya saat sedang berdua denganku.
"Senang mendengarnya. Tapi,
benar-benar tidak terjadi apa-apa?"
"Ah... bukannya tidak ada apa-apa sama
sekali, sih."
Aku tidak mungkin membicarakan detailnya di
tempat seramai ini. Melihatku yang ragu bicara, sepertinya Lily menangkap
sesuatu yang lain.
"Be-benar juga ya. Tempat seperti ini
memang bukan tempat untuk membicarakan hal-hal seperti 'itu'!"
Lily memerah dan bicara dengan nada
terburu-buru. Padahal maksudku adalah soal identitas asli Lugh, bukan hal-hal
mesum... Aku ingin membantah, tapi rasanya malah akan terlihat semakin
mencurigakan, jadi aku diamkan saja.
Sesaat kemudian, Idiot datang membawa
nampan. Setelah minta izin pada Lily dan Lecty, aku memanggilnya untuk
bergabung. Sebenarnya ada hal yang ingin kukonsultasikan dengan mereka bertiga.
"Konsultasi, ya?"
"Iya.
Aku rasa sudah saatnya aku menghadapi skill-ku dengan
serius."
Skill "Brainwashing"
(Cuci Otak) yang dianugerahkan Tuhan padaku. Sejauh mana kekuatan ini bisa melangkah,
dan apa yang bisa ia capai. Aku mulai merasa harus menghadapinya sejak insiden
di Katedral kemarin. Jika aku bisa menguasai skill ini lebih
baik, mungkin aku bisa mencegah penculikan Lecty, atau menolong Rosalie sebelum
dia berubah menjadi monster.
Selama ini
aku menghindari skill ini karena rasa jijik, tapi
jika karena itu aku jadi tidak bisa melindungi orang yang berharga di saat
darurat, itu benar-benar konyol.
"Aku ingin tahu apa saja yang bisa
kulakukan. Agar suatu saat nanti, aku bisa melindungi orang-orang penting.
Jadi, aku mohon bantuan kalian."
Mereka
bertiga tahu skill asliku namun tetap menerimaku. Aku memang jadi
terlalu mengandalkan mereka, tapi aku butuh sudut pandang yang tidak
terpikirkan olehku sendiri, dan aku butuh mereka menjadi "rem" jika
aku mulai kehilangan arah. Dan dalam skenario terburuk...
"Begitu ya."
Lily melipat tangan dan mengetukkan kepalan
tangannya ke mulut sambil mengangguk.
"Aku
setuju kalau kau harus tahu batas kemampuanmu sejak dini. Skill-mu sepertinya sulit diatur takarannya, tapi
aplikasinya hampir tanpa batas. Karena itu, kau perlu menambah daftar
kemampuanmu satu per satu."
Lily memahami keraguanku dengan
tepat. Dengan menggunakan skill "Brainwashing" pada diriku sendiri, aku bisa
mengubah skill-ku menjadi apa saja. Kedengarannya mudah, tapi
kenyataannya tidak sesederhana itu.
Setiap skill
kemungkinan besar punya nama khusus. Jika aku ingin terbang, aku tidak bisa
hanya bilang "skill untuk terbang", tapi harus menggunakan istilah
seperti "Flight", "Soar",
atau "Levitate". Dan kekuatan dari nama-nama itu
baru akan diketahui setelah aku benar-benar mencobanya.
Misalnya, jika aku menggunakan "Flight" di dalam ruangan, aku mungkin akan
melesat menabrak langit-langit. Sebaliknya, jika aku butuh melompat tinggi
untuk menghindari serangan tapi malah menggunakan "Levitate",
aku mungkin hanya akan melayang beberapa puluh sentimeter dan tetap terkena
serangan.
Karena bisa berganti ke skill apa saja secara tak terbatas, justru pemilihan skill yang tepat untuk situasi tertentu jadi sangat
sulit. Aku tidak cukup cepat berpikir untuk memilih skill
optimal secara spontan, jadi aku butuh persiapan dan simulasi berbagai pola
sebelumnya.
Saat hari ujian masuk, saat aku
menyelamatkan Lugh yang diculik, keberuntungan tidak selalu berpihak padaku.
Kenyataannya, saat itu aku sempat menderita saat mencoba menambah jumlah target
skill-ku. Untungnya saat itu aku bersembunyi sehingga
hanya menderita rasa sakit, tapi kalau sampai ketahuan di momen itu, nyawaku
pasti terancam.
"Tentu saja aku akan membantumu,
Hugh."
"Hugh-san, kalau ada yang bisa
kubantu, katakan saja ya."
"Ini permintaan darimu. Aku, Idiot
Hoartness, tentu akan membantumu sekuat tenaga!"
"Terima kasih, Lily, Lecty,
Idiot."
Aku benar-benar berterima kasih atas
kesediaan mereka. Aku akan membalas budi ini suatu saat nanti.
"Untuk detailnya... sepertinya tidak
bisa dibahas di sini."
Lily merendahkan suaranya sambil
melirik sekitar. Kantin saat
ini sangat ramai, tidak tahu siapa yang mungkin menguping. Kami sepakat untuk
melanjutkan pembicaraan saat jam istirahat siang nanti.
Selesai sarapan, Lugh dan Rosalie bergabung
dengan kami (Cicely-san sudah berangkat ke ruang guru lebih dulu), dan kami
berenam menuju kelas.
"Aku sangat tidak sabar menantikan
latihan luar kampus!"
Di tengah jalan, Rosalie menangkupkan
tangannya dengan penuh semangat. Lugh hanya tertawa pahit sambil bergumam
"Kau bilang itu terus...", sepertinya mereka sudah membahas ini sejak
sarapan tadi.
"Hari ini akan ada penjelasan soal
itu, kan!?"
"Iya, sepertinya begitu."
Latihan luar kampus tinggal seminggu
lagi. Hari ini
dijadwalkan akan ada penjelasan awal. Ini mengingatkanku pada momen pembagian
kelompok sebelum karyawisata di dunia sebelumnya.
"Kita tidak pergi untuk bermain, Nona
Rosalie. Ini adalah latihan dan pelatihan."
Idiot mencoba menenangkan Rosalie yang
terlalu antusias. Benar juga, latihan di Akademi Kerajaan ini memang lebih ke
arah latihan militer. Kalau hanya menganggapnya karyawisata, bisa-bisa kena
batunya nanti.
"Aku tahu itu. Tapi tetap saja aku
bersemangat. Lecty juga setuju, kan?"
"Eh? Aku?"
Lecty terkejut karena tiba-tiba diajak
bicara, namun dia segera mengangguk setuju pada Rosalie.
"Aku tahu ini latihan serius, tapi aku
juga sedikit menantikannya. Ini pertama kalinya aku keluar dari ibu kota, dan
aku senang bisa melakukan perjalanan jauh bersama teman-teman."
"Umu, apa yang dikatakan Nona Lecty
benar sekali!"
"Pria yang tidak punya pendirian itu
tidak disukai, lho?"
Rosalie menatap dingin ke arah Idiot yang
langsung berubah pikiran begitu mendengar pendapat Lecty. Yah, lupakan Idiot,
aku juga setuju dengan Lecty. Rasa antusiasnya memang menular.
"Ngomong-ngomong, tujuannya masih belum tahu ya?"
"Iya. Karena latihan
dilakukan di dungeon yang sesuai dengan kemampuan kelas, setiap
kelas biasanya pergi ke tempat yang berbeda-beda. Aku tidak tahu senior kelas A tahun lalu
pergi ke mana, tapi mungkin tahun ini tempatnya beda."
"Sesuai kemampuan, ya..."
Kelas 1-A kami dipenuhi orang-orang hebat
yang bahkan dianggap kandidat juara saat kompetisi antar kelas melawan senior.
Ditambah lagi, wali kelas kami adalah Alyssa-san, ksatria tangguh dari Ksatria
Kerajaan yang terkenal dengan latihan kerasnya.
Idiot sepertinya juga menyadari hal itu.
Kita harus waspada, batin kami.
"Sepertinya Alyssa-sensei akan
menjelaskan hal itu nanti."
"Semoga saja kita tidak dibawa ke
tempat yang aneh."
Berita tentang Alyssa-san yang dipanggil ke
istana oleh Pangeran Lucas kemarin juga mengganjal di pikiranku. Semoga saja
tidak ada hubungannya...
Dengan membawa sedikit rasa cemas, kami
tiba di kelas. Tak lama setelah kami duduk dan mengobrol, bel tanda mulai
pelajaran berbunyi. Beberapa saat kemudian, Alyssa-san muncul di kelas bersama
asisten pengajar, Cicely-san.
Apa yang akan terjadi di latihan luar
kampus nanti? Aku punya firasat kalau ini akan menjadi momen yang sangat
berkesan bagi kami semua.
"Kalian
sudah berkumpul ya, para anak ayam. Langsung saja, aku akan mengumumkan dungeon yang akan menjadi tujuan latihan luar kampus
kalian—ssu."
Sambil
berkata demikian, Alyssa-san mengambil kapur dan menuliskan nama dungeon tersebut di papan tulis.
[Labirin
Besar Drefon]
Kelas
seketika menjadi riuh mendengar nama dungeon yang
tertulis di papan tulis itu.
Drefon... Itu adalah nama Naga Hitam yang
tertulis di buku yang dibaca Lugh kemarin.
"Kenapa..."
Lugh yang duduk di sebelahku bergumam
pelan. Saat aku
meliriknya, mata biru tuanya terbuka lebar dan tampak bergetar. Dia tidak
terlihat sekadar terkejut, melainkan tampak sangat bingung.
"Ya—,
harap tenang—ssu. Mulai minggu depan, kalian harus menaklukkan Labirin Besar
Drefon ini dalam latihan luar kampus. Walaupun namanya 'Labirin Besar',
sebenarnya ini dungeon sederhana yang cuma luas
saja, monster di dalamnya tidak terlalu kuat—ssu."
Kata "sederhana" dari mulut
Alyssa-san sangat patut diragukan, tapi sepertinya bukan itu yang dicemaskan
teman-teman sekelas.
"Anu, apakah kutukannya sudah
aman...?"
Yang mengangkat tangan dan bertanya
adalah Anne Trage, salah satu mantan pengikut Idiot. Dimulai dari dia, beberapa murid mulai
melontarkan pertanyaan soal "kutukan" kepada Alyssa-san.
Kutukan apa yang mereka bicarakan? Karena
baik murid dari kalangan bangsawan maupun rakyat jelata sama-sama menyebutnya,
sepertinya di ibu kota ini, citra "Labirin Besar Drefon = Kutukan"
sudah menjadi hal umum.
Selagi aku merasa heran, tiba-tiba Lugh
meletakkan tangannya di atas tanganku yang berada di meja.
"Ada apa?"
"Ah, i-itu, t-tidak apa-apa kok."
Mungkin dia melakukannya tanpa sadar. Saat
aku bertanya dengan suara berbisik, Lugh tampak tersentak dan hendak menarik
tangannya kembali. Aku segera menggenggam tangan itu—dengan tenaga yang cukup
untuk memberi dukungan tapi tidak menyakitinya.
Karena Lugh tampak cemas, aku ingin
menyemangatinya dan bilang bahwa semuanya akan baik-baik saja.
"...Terima kasih, Hugh."
Sepertinya niatku tersampaikan dengan baik.
Lugh sedikit merilekskan ekspresi wajahnya yang tegang dan tersenyum. Namun
tetap saja, kutukan apa yang dimaksud semua orang...?
"Ah-ha-ha! Kutukan itu cuma
takhayul—ssu. Itu bukan kutukan, tapi wabah penyakit—ssu. Tapi aku mengerti
kenapa kalian sampai ingin menyebutnya kutukan, sih."
Alyssa-san tertawa meremehkan kata kutukan
itu untuk menghilangkan kecemasan teman-teman sekelas. Begitu ya, ternyata
"kutukan" yang mereka maksud adalah wabah penyakit. Dibandingkan
dunia sebelumnya, ilmu medis di sini hampir tidak berkembang. Mungkin bakteri
atau virus juga belum ditemukan. Wajar saja jika muncul desas-desus bahwa
penyakit menular adalah sebuah kutukan.
...Namun,
ini adalah dunia di mana kekuatan supernatural seperti skill itu nyata. Tidak aneh jika kutukan atau tulah
benar-benar ada.
"Kalian
tidak perlu khawatir, keamanan dungeon ini sudah
dijamin oleh Perserikatan Petualang. Pihak akademi juga sudah mengirim orang
untuk memastikannya lebih dulu—ssu. Tidak ada yang perlu kalian
cemaskan—ssu."
Sambil
berkata begitu, Alyssa-san mengedipkan mata ke arah kami. Yah, di kelas kami
ada Lugh (Lucretia). Meskipun identitasnya dirahasiakan, mereka tidak mungkin
membiarkan Putri Ketujuh pergi ke dungeon yang
berbahaya. Kemungkinan besar selain perserikatan dan akademi, Ksatria Kerajaan
juga sudah memastikan keamanannya.
Mendengar perkataan Alyssa-san, suasana
kelas akhirnya mulai tenang kembali. Namun, Lugh tetap menggenggam tanganku
erat-erat. Aku merasakan kejanggalan dalam sikapnya, lalu melirik ke arah Lily
yang duduk di seberang Lugh.
Lily sepertinya juga menyadari gelagat
Lugh. Saat mata kami bertemu, dia mengangguk kecil. Sepertinya dia tahu sesuatu
yang melatarbelakangi sikap Lugh itu.
"Sekarang saya akan membagikan jadwal
latihan luar kampus, silakan ambil satu lembar per orang."
Aku menerima lembar jadwal yang dibagikan
Cicely-san dan memeriksa isinya. Masa latihan luar kampus akan berlangsung
selama sebulan mulai awal minggu depan. Lokasi latihan, Labirin Besar Drefon,
berada di sebelah barat ibu kota, tepatnya di wilayah Spen yang terletak di
seberang Danau Leese. Katanya kami akan menempuh perjalanan selama satu minggu
dengan kapal dan berjalan kaki. Dalam perjalanan tersebut, dijadwalkan juga ada
praktik berkemah.
Secara garis
besar, jadwalnya terlihat cukup berat. Meskipun ada hari istirahat, hampir
sebulan penuh kami akan terus bergerak dan menaklukkan dungeon. Ini akan menuntut ketangguhan fisik maupun
mental...
Setelah itu, Cicely-san menjelaskan jadwal
detail dan peringatan berdasarkan lembar tersebut sampai jam pelajaran pertama
berakhir. Selesai mengikuti pelajaran normal di jam kedua, tibalah waktu
istirahat siang.
"Waktunya makan siang!"
Begitu guru keluar kelas, Rosalie langsung
berdiri dari kursinya dengan mata berbinar. Karena lidahnya sudah terbiasa
dengan makanan sederhana di gereja, dia sepertinya benar-benar terpesona oleh
masakan koki kelas satu yang menjadi kebanggaan kantin Akademi Kerajaan.
"Ayo segera ke kantin, semuanya!"
Atas desakan Rosalie, Lugh dan yang lainnya
bangkit sambil tertawa pahit. Aku bertukar pandang dengan Idiot dan Lily, lalu:
"Maaf, aku tidak ikut dulu ya."
"Eh? Hugh tidak ikut?"
"Latihan pagi tadi terasa agak kurang
memuaskan bagiku. Karena latihan luar kampus sudah dekat, aku ingin mengayunkan
pedang lebih banyak lagi. Idiot, mau menemaniku?"
"Umu, boleh saja. Kebetulan aku juga
ingin mengayunkan pedang."
Idiot sepertinya mengerti maksudku. Dia
menerima ajakanku dengan senang hati, lalu berdiri sambil memutar bahunya
ringan. Kemudian Lily pun menyusul:
"Aku juga akan ikut ke sana. Hari ini
aku merasa ingin berolahraga."
" " " " " EH!?
" " " " "
"Kenapa kalian terkejut bersamaan
begitu...?"
Lily bertanya dengan bingung sambil
memiringkan kepala. Ya, habisnya... Semua orang tahu kalau Lily itu benci
olahraga. Orang yang pernah menolak berdansa di pesta malam dengan alasan
"kedua kakinya mengalami patah tulang yang rumit" tiba-tiba bilang
ingin olahraga sendiri, tentu saja semua orang kaget.
"Tolong jangan terlalu kaget
begitu... Aku cuma ingin melatih fisik untuk latihan luar kampus nanti,
kan."
"Yah, benar juga sih..."
Aku ingin memprotes bahwa sedikit
olahraga tidak akan menambah fisik secara instan, tapi karena aku tahu itu cuma
alasan agar dia bisa ikut denganku dan Idiot tanpa dicurigai Lugh dan yang
lainnya, aku memilih diam.
"Anu, kalau begitu aku..."
"Lugh-san, bagaimana kalau kita ke
kantin?"
Lecty
segera mengajak Lugh yang sedang bimbang. Lecty tahu kalau aku belum
memberitahu Lugh soal skill "Brainwashing".
Dia pasti mempertimbangkan hal itu.
"Iya, baiklah. Sampai jumpa nanti ya,
Hugh."
"Ya."
Melepas kepergian Lugh, Lecty, dan Rosalie
menuju kantin, kami pun meninggalkan kelas. Kami menuju lahan kosong di
belakang asrama pengajar yang biasa kugunakan untuk latihan pagi. Karena tidak
ada murid yang mau repot-repot datang ke sini saat istirahat siang, kami tidak
perlu khawatir soal sekitar.
Meski begitu,
"Panas ya..."
Tanpa sadar aku bergumam karena sinar
matahari yang menyengat. Berjalan sampai ke sini saja sudah membuat bagian
dalam seragamku berkeringat. Seingatku, pergantian ke seragam musim panas baru
besok... Aku sudah tidak sabar memakai lengan pendek.
Kami memutuskan untuk duduk beristirahat di
bawah bayangan pohon.
"Sepertinya di sini aman untuk
bicara."
"Maaf sudah merepotkan kalian dengan
banyak hal."
"Terlepas
dari Nona Rosalie, bukankah sebaiknya kau beritahu Lugh saja? Aku rasa dia
tidak akan menjauhimu hanya karena tahu soal skill 'Brainwashing'-mu," ujar Idiot.
"Mungkin benar... tapi..."
Perkataan
Idiot ada benarnya. Meskipun Lugh tahu soal skill-ku, dia pasti
akan berusaha keras untuk menerimanya. Aku tahu itu... tapi, bagaimana jika
ternyata dia menolakku? Rasa cemas sekecil itu membuat kakiku terasa berat
untuk melangkah maju.
"Menurutku sekarang belum perlu
memberitahunya. Mengingat isinya seperti itu, memang lebih baik jika hanya
sedikit orang yang tahu," sahut Lily.
"Benar
juga sih... Tapi, masalah ini tidak bisa dirahasiakan selamanya. Kau bilang
ingin menghadapi skill-mu, tapi bukankah akan sulit
bergerak jika kau terus merahasiakannya dari Lugh?" tanya Idiot lagi.
"Iya, benar juga..."
Bahkan
barusan, jika bukan karena Lecty yang peka, Lugh mungkin akan ikut bersama
kami. Jika itu terjadi, kami tidak akan bisa bicara soal skill "Brainwashing",
dan ke depannya ini pasti akan menjadi penghambat setiap kali aku ingin menguji
coba skill tersebut. Jika aku menghindarinya secara
terang-terangan, Lugh akan curiga, dan yang terpenting, itu mungkin akan
melukainya. Seperti kata Idiot, aku tidak bisa merahasiakannya selamanya.
Meskipun
begitu, aku belum mengumpulkan cukup keberanian untuk berterus terang (coming out) padanya. Kedengarannya aneh, tapi
menyatakan cinta rasanya masih jauh lebih mudah daripada melakukan ini...
"Apa yang dikatakan Idiot benar, tapi
jika ingin memberitahunya, kau harus mempertimbangkannya dengan matang. Aku
juga percaya Lugh tidak akan menolakmu, tapi kita tidak bisa menjaminnya
seratus persen," tambah Lily.
"...Benar juga."
Karena aku
dikelilingi oleh orang-orang yang terlalu baik, aku hampir saja lupa kalau "Brainwashing" adalah skill yang mengerikan. Normalnya, tidak ada yang mau
menerimanya, dan wajar jika kekuatan ini dibenci. Aku tidak boleh salah menilai
hal itu.
"Pokoknya,
untuk sekarang mari kita pahami skill 'Brainwashing'-mu sejauh yang kita bisa. Aku serahkan
keputusan soal memberitahu Lugh atau tidak padamu, Hugh. Bagaimana menurutmu,
Idiot?"
"Aku tidak keberatan. Maaf karena
sudah mendesakmu, Hugh."
"Tidak, jangan dipikirkan. Akulah yang
salah karena tidak punya keberanian. Maaf karena sudah merepotkan kalian, tapi
aku akan sangat terbantu jika kalian terus menjagaku sedikit lagi."
"Tentu saja. Katakan saja kapan pun
kau butuh sesuatu. Aku tidak akan segan membantumu," jawab Lily.
"Umu. Aku juga sama dengan Lily
Puridy. Kita kan sudah akrab, jangan ragu untuk mengandalkan si Idiot Hoartness
ini kapan saja."
"Aku akan melakukannya. Terima kasih,
kalian berdua."
Hatiku terasa hangat mendengar kata-kata
mereka yang menyemangati, dan tanpa sadar aku tersenyum. Jika diingat kembali
ke hari ujian masuk, rasanya ajaib sekali aku bisa menjalin hubungan seperti
ini dengan mereka berdua. Hidup memang penuh kejutan.
"Kalau
begitu, mari kita masuk ke pembahasan utama. Hugh, bisakah kau beritahu apa
saja yang sejauh ini kau pahami tentang skill 'Brainwashing'-mu? Tentu saja, sampaikan sejauh yang
kau rasa nyaman."
"Baiklah."
Lily
memberiku ruang dengan bilang "sejauh yang nyaman", tapi sudah tidak
ada gunanya menyembunyikan apa pun dari mereka sekarang. Aku pun menceritakan
secara mendetail apa saja yang kupahami tentang skill "Brainwashing" kepada mereka berdua.
"Fumu...
Mendengarnya sekali lagi membuatku sadar betapa mengerikannya skill-mu itu."
"Benar sekali. Aku bersyukur dari
lubuk hatiku yang terdalam karena kau yang dianugerahi kekuatan itu, Hugh. Jika
orang lain yang berniat jahat yang memilikinya, entah apa yang akan terjadi
pada kami dan negeri ini..."
Idiot tampak kagum, sementara
wajah Lily terlihat memucat. Seandainya orang lain yang memiliki skill "Brainwashing"
ya...
"Karena ada batasan-batasannya, kurasa
tidak akan sampai separah itu, sih..."
"Mengenai
hal itu, apakah bisa ditembus jika kau mengganti skill-mu menjadi skill lain yang mirip dengan 'Brainwashing'?"
tanya Lily.
"Skill
lain yang mirip 'Brainwashing'... Seperti 'Hypnosis' atau 'Suggestion',
ya...?"
"Mari kita coba. Kebetulan ada dua
kelinci percobaan di sini."
"Berani sekali kau menyebut dirimu
sendiri kelinci percobaan..."
Yah, tapi memang patut dicoba.
Jika aku bisa memberikan efek yang sama seperti "Brainwashing"
kepada lebih dari satu orang secara bersamaan, itu pasti akan berguna di saat
darurat.
"Baiklah. ...Batalkan 'Brainwashing'. Hugh Pnosis, skill-mu
adalah 'Hypnosis' (Hipnosis)."
Aku
segera mengambil cermin saku dan mengganti skill-ku dari "Pyrokinesis" menjadi "Hypnosis".
Skill:
Hipnotis Lv. Max
……Membuat target rileks, menghilangkan stres dan kecemasan, serta membuat
mereka membuka hati.
……Kok, rasanya agak beda dari yang
kubayangkan.
Saat aku menyampaikan deskripsi yang
muncul di statusku, Lily dan Idiot pun ikut memiringkan kepala.
"Sepertinya
ini jenis skill yang berbeda jauh dengan 'Brainwashing',
ya..."
"Bagian 'membuka hati' itu agak
ambigu, tapi... Hugh, bisakah kau mencobanya padaku? Kita akan tahu lebih
banyak kalau langsung dipraktikkan. Waktu kita terbatas, sayang kalau cuma
dipakai buat bingung."
"I-iya, benar juga..."
Rasanya tidak enak menjadikan Lily sebagai
kelinci percobaan, tapi cuma membaca penjelasan saja tidak akan membuatku
paham. Tidak ada gunanya ragu-ragu sekarang...
"Skill:
'Hypnosis'."
Aku berhadapan dengan Lily dan mengaktifkan
skill tersebut. Aku merasakan sensasi saat skill itu berinteraksi dengan Lily.
"Bagaimana...?"
"Begitu, ya... Rasanya hatiku jadi
sangat tenang, seperti melayang-layang, sensasi yang aneh tapi nyaman."
Lily
menjawab pertanyaanku dengan ekspresi yang agak mengantuk. Karena dia masih
bisa merespons, ini jelas berbeda dengan 'Brainwashing'.
Sepertinya Lily sekarang berada dalam kondisi rileks seperti di penjelasan.
"Apa kau merasa sedang 'membuka
hati'?"
"Entahlah... Karena aku sudah lama
mencintaimu, Hugh, mungkin sudah tidak ada lagi bagian hati yang perlu
dibuka."
"O-oh. Begitu ya..."
Mungkin dia sendiri tidak sadar, tapi efek
skill-nya pasti sedang bekerja. Kalau tidak, mana mungkin Lily berani bilang
mencintaiku di depan Idiot begini. Ini sepertinya bukan sekadar 'membuka hati',
tapi lebih ke 'mengungkapkan isi hati yang jujur'...
"Hugh, kenapa tidak coba beri dia
perintah?"
Sepertinya tidak tertarik dengan pengakuan
cinta Lily, Idiot mengusulkan hal itu dengan wajah datar.
"Be-benar juga. Perintah, ya..."
Aku berpikir sambil menekan rasa gugup.
Tiba-tiba disuruh memberi perintah pun aku tidak langsung punya ide.
Menyuruhnya berputar tiga kali lalu menggonggong? Tidak, jangan. Aku tidak mau
melihat Lily seperti itu, dan aku ingat betapa menyesalnya aku saat menyuruh
Selbas, pelayan tua di rumahku, melakukan hal serupa...!
Perintah lain... yang sekiranya akan
ditolak oleh Lily.
Misalnya, ini.
"Kalau begitu, Lily. Berlarilah
mengelilingi asrama pengajar ini sebanyak tiga putaran."
"Itu, aku benar-benar tidak
mau."
Ternyata
'Hypnosis' tidak memiliki kekuatan pemaksa seperti 'Brainwashing'. Begitu aku membatalkan skill-nya, Lily
langsung menutupi wajahnya dengan kedua tangan dan berjongkok. Pipinya yang
putih memerah padam sampai ke telinga.
"Benar-benar kecerobohan seumur
hidup...! Tak disangka
aku mengucapkan kata-kata memalukan itu di depan Idiot...!"
"A-ah... Maaf ya."
Sepertinya
ingatan selama terhipnotis tetap tersisa. Bagian ini juga berbeda dengan 'Brainwashing'. Dulu saat aku mencuci otak Lily di
bawah pengawasan Pangeran Lucas, dia tidak ingat apa-apa.
"Jangan khawatir, Lily Puridy. Aku
tidak punya ketertarikan sedikit pun pada perasaanmu terhadap Hugh, dan aku
tidak berniat membocorkannya. Tapi, sebagai teman, tolong undang aku ke
pernikahan kalian nanti."
"Eeh! Tentu saja aku akan
mengundangmu!"
Aku hanya bisa tersenyum pahit melihat Lily
yang berteriak putus asa.
Dari hasil
percobaan tadi, sepertinya 'Hypnosis' tidak
punya batasan jumlah target. Namun, dari segi kekuatan pemaksa, skill ini jelas
kalah jauh dari 'Brainwashing'.
Misalnya,
jika ada orang yang berniat membunuhku dan sudah mengangkat pedangnya di depan
mataku. Jika aku memakai 'Hypnosis' padanya,
apakah pedang itu akan berhenti? Kehendak
kuat Lily yang tidak mau berlari sanggup menepis efek skill ini. Ada
kemungkinan besar 'Hypnosis' tidak mempan pada lawan
yang benar-benar ingin membunuhku.
Memang
lebih baik jika situasi seperti itu tidak terjadi, tapi hidup ini penuh
kejutan. Bisa saja Pangeran Lucas jatuh dari kekuasaannya, skill-ku terbongkar,
lalu aku dikejar pembunuh bayaran. Memikirkan risiko jika aku hanya
mengandalkan 'Hypnosis' di saat genting, pengetahuan yang kudapat
dari eksperimen ini sangatlah berharga.
Ehem, Lily berdehem secara sengaja.
"Pokoknya,
aku sudah paham gambaran kekuatan 'Hypnosis'. Tapi,
ini tidak bisa menjadi pengganti 'Brainwashing'.
Mungkin bisa digunakan untuk mengontrol tindakan lawan jika caranya kreatif,
tapi 'Brainwashing' jauh lebih praktis."
"Iya...
Jujur saja, aku tidak yakin bisa menguasainya lebih baik daripada 'Brainwashing'."
Karena
punya kekuatan pemaksa dan respons cepat, 'Brainwashing' masih
lebih unggul. Setelah itu, kami mencoba skill-skill lain yang mirip seperti 'Suggestion' atau 'Charm'. Semuanya
adalah skill kuat yang bisa memengaruhi orang lain, tapi tetap terasa kurang
jika dibandingkan dengan 'Brainwashing'.
Selama mata
saling bertemu, kekuatan pemaksa itu langsung bekerja seketika... Semakin aku
mengenal skill lain, semakin nyata keunikan dan kengerian dari skill 'Brainwashing'.
"Sudah waktunya ya."
Lily melihat ke arah gedung sekolah. Bel
tanda berakhirnya istirahat siang belum berbunyi, tapi asrama pengajar letaknya
agak jauh. Kalau baru kembali setelah bel berbunyi, kami tidak akan sempat
mengejar pelajaran siang. Kami memutuskan untuk mengakhiri eksperimen dan
kembali ke kelas.
"Terima kasih sudah menemaniku, kalian
berdua. Berkat
kalian, aku jadi tahu banyak soal skill-ku."
"Fufu, 'tahu banyak' ya. Istilah
yang tepat sekali."
"Berikutnya kita akan mencoba
skill dengan arah yang berbeda, kan? Hubungi saja
aku kapan pun kau mau," ujar Idiot.
"Terima kasih, Idiot. Besok langsung... tadinya aku ingin
bilang begitu, tapi..."
Melakukan kegiatan terpisah dari Lugh
selama dua hari berturut-turut rasanya kurang bagus. Aku tidak ingin dia salah
paham dan merasa dihindari, apalagi aku sendiri pun ingin bersamanya. Aku ingin
memperdalam pemahaman soal skill sebelum latihan luar kampus, tapi sepertinya
akan sulit.
"Apa kau tidak bisa menyelinap keluar
kamar saat malam?"
"Itu agak mustahil..."
Kuharap kejadian tadi pagi membuatnya jera,
tapi kemungkinan besar Lucretia akan terus tidur di ranjangku. Menyelinap
keluar tanpa ketahuan di malam hari adalah tugas yang sangat berat.
"Kalau waktu latihan pagi... ada Nona
Alyssa, ya."
"Iya.
Lagipula, Alyssa-san tahu kalau aku bisa berganti-ganti skill, tapi dia tidak
tahu kalau inti kekuatanku adalah 'Brainwashing'."
Jika Alyssa-san sampai tahu, aku tidak bisa
menebak reaksinya. Dia mungkin saja menerimanya dengan santai, atau malah
langsung menebas leherku tanpa ampun. Untuk saat ini, aku tidak ingin mengambil
risiko besar...
Pangeran Lucas tahu soal skill-ku, jadi aku
bisa minta bantuannya... tidak, untuk bertemu dengannya saja aku harus membuat
janji melalui Alyssa-san. Kalau aku membuat alasan sembarangan untuk bertemu
dengannya, citraku di matanya bisa memburuk.
"Kalau pagi juga sulit, berarti waktu
yang tersisa cuma siang hari ya."
"Begitulah. Pada akhirnya, masalah ini
akan selesai kalau aku berterus terang pada Lugh..."
Sepertinya, satu-satunya cara adalah
memberanikan diri untuk bicara padanya...
"Mengenai hal itu, Lugh juga tahu
kalau kau bisa berganti skill, kan?" tanya Lily.
"Iya.
Saat kompetisi antar kelas, aku memakai 'Physical Enhancement'."
Saat
berlari menyelamatkan Lily dan kawan-kawan yang diserang monster di hutan, aku
memakai penguatan fisik yang ada dalam skill 'Ninja' sambil
menggendong Lugh. Setelah semuanya tenang, Lugh bertanya dan aku sudah
memberitahunya bahwa aku bisa berganti skill. Dia tidak tahu inti kekuatannya adalah 'Brainwashing', sama seperti Alyssa-san.
"Kalau
begitu, bagaimana kalau untuk sementara kau mencari pengetahuan lewat buku? Di
perpustakaan pasti ada buku tentang skill. Selama kau tidak memakai 'Brainwashing' untuk berganti skill secara aktif, tidak
masalah meski ada Lugh di sampingmu, kan?"
"...! Benar juga, ada cara itu!"
Intinya adalah aku tidak perlu mempraktikkan skill-nya secara
langsung. Karena
terlalu fokus pada eksperimen, ide itu benar-benar luput dari pikiranku. Jika aku menemukan buku yang mencatat
skill-skill masa lalu beserta isinya, daftar referensi ganti skill-ku akan
meluas drastis. Tentu saja
aku tetap harus mencoba rasanya, tapi itu bisa dilakukan di lain waktu. Yang terpenting, aku tidak perlu
sembunyi-sembunyi lagi dari Lugh.
Aku akan coba membicarakannya dengan
Lugh begitu kembali ke kelas. Tepat saat kami memasuki gedung sekolah, bel
tanda istirahat berakhir berbunyi. Lima menit
lagi pelajaran siang akan dimulai. Sepertinya kami sempat.
"Maaf, aku ke toilet sebentar. Kalian
duluan saja."
Idiot berlari menuju toilet, menyisakan aku
dan Lily menuju kelas. Di tengah jalan, tepat di bordes tangga, kami berdua
berhenti melangkah secara bersamaan. Ada hal yang ingin kubicarakan dengan Lily
selagi kami berdua saja sebelum kembali ke kelas.
"Ada apa dengan Labirin Besar
Drefon?" tanyaku singkat sambil mengawasi sekitar.
Saat mendengar tujuan latihan luar
kampus adalah Labirin Besar Drefon, Lugh tampak sangat terguncang. Sebagai
teman masa kecil, Lily pasti tahu alasannya. Lily menundukkan wajahnya sejenak,
lalu menatap keluar jendela.
"Bukan dungeon-nya yang
bermasalah. Tapi..."
"Masalahnya ada pada nama
'Drefon'?"
"Iya. Hugh, apakah kau tahu tentang
Naga Hitam Drefon?"
"...Tidak, aku hanya pernah mendengar
namanya saja."
Lebih tepatnya aku hanya sempat melihat
sekilas bukunya, tapi itu hampir sama dengan tidak tahu apa-apa. Akan lebih
akurat jika Lily yang menjelaskannya. Lily mengangguk sekali, lalu mulai
bercerita.
"Dua ratus tahun yang lalu, seekor
naga hitam muncul entah dari mana dan membawa bencana ke seluruh penjuru
kerajaan. Kerusakan yang ditimbulkannya sangat besar, dan Kerajaan Leese yang
saat itu belum sekuat sekarang berada di ambang kehancuran. Di saat itulah,
seorang petualang bangkit. Sendirian, dia menantang dungeon di wilayah Spen
yang menjadi sarang naga itu dan berhasil membunuh Naga Hitam Drefon. Petualang
itu dipuja sebagai pahlawan penyelamat negara, dan Raja saat itu
menganugerahinya gelar Count serta nama keluarga Drefon sebagai penghormatan
atas keberhasilannya."
Sampai di sini, ceritanya terdengar seperti
akhir yang bahagia. Tapi sepertinya inti masalahnya baru dimulai setelah ini.
"Keluarga Drefon menjadi salah satu
bangsawan terkemuka dengan pengaruh besar di Kerajaan Leese. Saking besarnya,
keturunan mereka terpilih menjadi selir Raja. Hampir tidak ada yang berani
mengejek mereka sebagai mantan petualang, karena membunuh naga hitam adalah
pencapaian yang sangat terhormat."
"...Tapi, kenapa catatan itu tidak ada
di buku pelajaran?"
Pencapaian sebesar itu seharusnya menjadi
topik utama dalam pelajaran sejarah, tapi buku sejarah sama sekali tidak
mencantumkan naga hitam maupun keluarga Drefon. Jelas bukan karena itu dianggap
pengetahuan umum yang tidak perlu ditulis lagi.
"Nama keluarga Drefon dihapus dari
sejarah tujuh tahun yang lalu. Saat wabah penyakit menyerang ibu kota."
"Wabah yang tadi disebutkan Alyssa-san
ya."
"Melihat reaksimu, sepertinya wilayah
Pnosis tidak terkena dampaknya."
"...Karena tempat itu sangat
terpencil."
Di wilayah Pnosis, informasi dari luar
hampir tidak pernah sampai kecuali kita mencarinya sendiri. Saat aku berusia
delapan tahun, mentalku masih terbawa usia fisik, jadi aku hanya asyik bermain
di gunung dan hutan. Mungkin Ayah tahu soal wabah itu, dan mungkin ada dampak
di sektor logistik, tapi seingatku tidak ada penyakit yang mewabah di wilayah
kami.
"Aku juga masih kecil saat itu, jadi
ingatanku agak kabur. Waktu itu aku tinggal di kediaman ibu kota bersama Ayah,
tapi aku ingat kami harus kembali ke wilayah Puridy untuk menghindari penyakit.
Katanya di wilayah Puridy pun ada korban jiwa, tapi masih jauh lebih baik
daripada di ibu kota."
"Seberapa parah korban di ibu
kota...?"
"...Banyak sekali. Bangsawan maupun
rakyat jelata, banyak yang meninggal. Kemungkinan besar, orang tua Lecty juga
meninggal karena wabah ini."
"...Begitu ya."
Mendengar penjelasan Alyssa-san tadi, Lecty
mungkin juga merasakan sesuatu...
"Tadi Anne bilang kalau wabah itu
adalah 'kutukan'. Apa maksudnya?"
"Kebenarannya tidak pasti, tapi
katanya korban jiwa pertama muncul di wilayah Spen... wilayah kekuasaan Count
Drefon. Seiring menyebarnya penyakit ke ibu kota, rumor mulai beredar bahwa
penyakit ini adalah 'Kutukan Naga Hitam Drefon'."
"Apa ada dasarnya?"
"Tidak juga. Paling-paling hanya
cerita lama bahwa bencana yang dibawa naga hitam termasuk penyakit, tapi
penyakit mewabah di wilayah bekas pertempuran besar bukanlah hal yang
aneh."
Jika banyak korban jiwa jatuh saat
melawan naga, mayat yang dibiarkan membusuk bisa memperburuk sanitasi dan
memicu wabah di sekitarnya. Sumber penyakitnya belum tentu berasal dari naga
itu sendiri.
"Bagaimanapun, naga itu sudah
dibasmi dua ratus tahun lalu, kan. Logikanya, tidak ada hubungannya dengan
wabah tujuh tahun lalu... hanya karena sumber wabahnya kebetulan dari wilayah
Drefon."
"Benar... Tapi, banyak orang yang
tidak berpikir seperti itu. Orang-orang yang mendadak kehilangan keluarga dan
orang tercinta butuh pelampiasan bagi emosi mereka."
"Jangan-jangan, pelampiasannya ke
keluarga Drefon?"
"Menurut cerita Ayah, situasinya
sangat mengerikan. Patung dan monumen yang berkaitan dengan naga hitam dan
keluarga Drefon dihancurkan satu per satu, dan semua buku tentang mereka
dibakar."
"...Apakah itu sebabnya catatan mereka
hilang dari buku pelajaran?"
Lily mengangguk mengiyakan pertanyaanku.
"Beberapa bangsawan mendesak dengan
keras bahwa menyimpan catatan tentang pembasmian naga hitam hanya akan
mengundang kemarahan naga tersebut."
"Itu sudah seperti kepercayaan agama
ya..."
Di dunia lamaku, ada tradisi memuja dewa
jahat atau roh jahat agar tidak mengganggu. Orang-orang yang kehilangan orang
tercinta dalam wabah tujuh tahun lalu menganggap wabah itu sebagai kemarahan
naga hitam yang dibunuh. Jadi, untuk meredakan kemarahan itu, mereka mencoba
menghapus semua kejayaan keluarga Drefon yang telah membunuhnya.
"Apa yang terjadi dengan keluarga
Drefon...?"
"Raja menyita sebagian besar
wilayah mereka dan menurunkan gelar mereka menjadi Viscount. Tapi, alasannya
bukan soal kutukan, melainkan kelalaian dalam mengambil tindakan pencegahan
sehingga penyakit menyebar ke seluruh negeri."
"Berarti memang ada kesalahan di
pihak mereka..."
Dunia ini tidak seglobal dunia lamaku,
jadi jika wabah itu adalah penyakit menular, pembatasan perjalanan seharusnya
bisa meredam penyebarannya. Jika mereka lalai melakukan itu, wajar jika mereka
dihukum.
Aku sudah paham soal 'kutukan' yang
diributkan teman-teman, dan alasan kenapa naga hitam maupun keluarga Drefon
tidak ada di buku pelajaran. ...Dan aku mulai mengerti kenapa Lugh begitu
terguncang tadi. Alasan itu bisa kutebak dari penjelasan barusan.
"...Tadi kau bilang kalau ada
selir Raja yang berasal dari keluarga Drefon. Apakah itu yang dimaksud?"
"............"
Lily terdiam dan menundukkan
pandangannya. Saat itulah terdengar suara langkah kaki dari bawah tangga. Idiot muncul dan berjalan ke arah kami.
"Lho, kalian masih di sini? Cepat
kembali atau kalian akan telat masuk kelas."
"Ah, benar juga. Ayo, Lily."
"...Iya."
Kami bergegas kembali ke kelas agar tidak terlambat. ...Diamnya
Lily tadi adalah sebuah penegasan. Jika benar begitu, berarti wanita dari
keluarga Drefon yang terpilih menjadi selir Raja tak lain adalah ibu dari
Lucretia dan Pangeran Lucas.
Mungkin alasan Pangeran Lucas awalnya tidak mendapat dukungan
bangsawan dalam perebutan takhta bukan hanya karena masalah penglihatannya,
tapi juga karena hal ini... Keluarga ibunya yang seharusnya menjadi pendukung
kuat justru jatuh, dan para bangsawan yang membandingkan darah 'kutukan' dengan
darah dari negara musuh akhirnya lebih memilih Pangeran Sleigh. Meski aku tidak tahu, mungkin sampai
sekarang pun tekanan terhadap Pangeran Lucas masih sangat kuat.
Dan wilayah tujuan latihan luar kampus kali
ini adalah kampung halaman ibu Lucretia.
Wajar saja jika dia bingung. Ini tidak
mungkin sebuah kebetulan. Jika Labirin Besar Drefon dipilih secara sengaja, aku
yakin ini adalah rencana dari Pangeran Lucas.
Apa lagi yang kau rencanakan kali ini,
Kakak Ipar...?



Post a Comment