NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tensei Shitara dai Nana Ouji dattanode Volume 3 Part 4


Melihat Gitan tumbang, para penganut yang tadinya menahan napas mulai bersuara satu per satu.

"Monster itu…… a-apakah dia sudah mati……!? Dia sudah tidak bergerak lagi……"

"Tapi suara tadi, bukankah itu suara Yang Mulia Paus?"

"Tidak mungkin, mana mungkin itu beliau. Ngomong-ngomong, sebenarnya siapa pemuda itu? Rasanya aku pernah melihatnya di suatu tempat……"

Waduh, kalau aku berlama-lama di sini, aku akan semakin mencolok.

Sebaiknya aku segera menghilang.

"Oh iya, aku harus membawa orang ini juga."

Lagi pula aku menyucikannya memang untuk tujuan itu.

Aku mencengkeram kerah baju Gitan yang pingsan, lalu mengaktifkan formula Teleportation dan menghilang dari tempat itu.

Tempat tujuanku adalah kediaman Lord Lordst.

"Uwooh! Tuan Lloyd! Da-datang lagi, ya!?"

Galilea yang menyadari kehadiranku berseru kaget dalam keadaan telanjang bulat.

Mungkin baru selesai mandi, uap panas masih mengepul dari tubuhnya.

"Hai, Galilea. Sudah sejak kemarin, ya."

"……Duh, Anda ini selalu saja tiba-tiba…… Penampilan itu, apa orang ini juga teman Lamy? Ukurannya besar sekali…… Tunggu sebentar ya, saya pakai baju dulu."

Karena ini kunjungan kedua, dia tidak terlalu terkejut lagi.

Sambil melepas kepergian Galilea yang bergegas ganti baju, aku mencoba membangunkan Gitan.

"Bangun, Gitan."

"Ugh…… Di-di mana ini……? Aku sebenarnya sedang melakukan apa…… Ha!"

Gitan yang tersentak bangun langsung berlutut di hadapanku.

"Mo-mohon maafkan saya! Saya telah melakukan hal yang mengerikan……!"

Dia melakukan dogeza, bahkan seolah belum cukup, dia berkali-kali membenturkan kepalanya ke lantai.

"Menggabungkan manusia dengan monster adalah tindakan yang menantang Tuhan! Apalagi saya memodifikasi diri sendiri dengan kekuatan itu, menyandera anak kecil, bahkan mencoba menghancurkan kota…… Ah, hal mengerikan macam apa yang hendak saya lakukan tadi……!"

"Tuan Lloyd, terima kasih banyak telah menghentikan kegilaan saya. Benar-benar, terima kasih banyak……!"

Gitan menundukkan kepala sambil menangis dan bahunya gemetar.

Hmm, sepertinya penyucian itu benar-benar membuatnya bertobat.

"Gitan, sepertinya kau sudah menyesali perbuatanmu."

"Benar sekali, Jiriel-sama! Betapa tidak sopannya saya terhadap Anda juga……!"

"Jangan menunduk padaku, tapi tundukkan kepalamu pada Tuanku, Lloyd-sama."

"Kenapa malah kau yang jadi sombong begitu……"

Grim menimpali kata-kata Jiriel.

Melihat Gitan yang masih menunduk, aku hanya melambaikan tangan dengan santai.

"Ah, kalau kau sudah menyesal, tidak apa-apa. Lagipula aku tidak bisa bicara kalau kau terus begitu, jadi angkatlah kepalamu."

"Ba-baik!"

Mendengar perintahku, Gitan perlahan mengangkat kepalanya dengan ragu.

Tubuh Gitan memang masih tetap berwujud monster, tapi wajahnya terlihat seolah beban berat telah terangkat darinya.

"Tuan Lloyd, maaf membuat menunggu. Lamy juga saya bawa kemari."

"Ha-halo..."

Di samping Galilea yang sudah berpakaian, ada Lamy juga.

Melihat sosoknya, wajah Gitan seketika menjadi pucat.

"Ka-kamu adalah yang saat itu……! Maafkan aku! Aku telah melakukan hal yang tidak bisa diperbaiki! Aku tidak tahu harus bicara apa……!"

"Eh? Eh? A-ada apa ini?"

Lamy tampak bingung melihat Gitan yang menangis meminta maaf.

"Dia adalah Gitan. Orang yang mengubahmu menjadi wujud seperti itu. Tapi sekarang dia sudah menyesal."

"Benar-benar mohon maaf…… Bagaimana aku harus menebus dosaku padamu……"

Melihat Gitan yang terus menunduk, Lamy berpikir sejenak lalu menyapanya dengan lembut.

"E-eto, Gitan-san. Tolong angkat kepalamu."

"Ah, baik……"

Gitan mengangkat wajahnya, dan Lamy tersenyum lembut padanya.

"Memang sangat disayangkan tubuhku menjadi begini. Tentu saja aku punya perasaan benci padamu. Tapi melakukan itu pun tidak akan menyelesaikan apa-apa."

"……Jadi, jika kau punya keinginan untuk menebus dosa, maukah kau membantuku agar aku bisa kembali ke tubuh asliku? Mungkin kalau sendirian akan sulit bagiku, tapi kalau ada kau, aku yakin aku bisa kembali normal."

"Namun……"

Wajah Gitan kembali muram.

Tentu saja itu bukan hal yang mudah.

Tubuh Lamy saat ini seperti satu wadah yang diisi dua jenis cairan yang bercampur menjadi satu.

Jika dipaksa dilepaskan, itu pasti akan menyebabkan kerusakan fatal.

Memisahkan mereka dengan bersih hampir mendekati mustahil.

Tapi, kemungkinannya tidak nol.

Sesuatu yang diciptakan melalui formula sihir pasti memiliki cara untuk dilepaskan.

Karena formula sihir adalah aturan dunia.

Sama seperti matahari yang terbit dari timur dan tenggelam di barat, pasang surut air laut, dan nyawa yang suatu saat akan berakhir──sihir tidak mengenal baik atau buruk, ia hanya ada di sana.

Bagaimanapun rumitnya sihir itu terjalin, jika diuraikan satu per satu dengan teliti, suatu saat pasti bisa kembali seperti semula.

Secara teori, setidaknya begitu. Aku pun angkat bicara pada Gitan yang ragu.

"Dengar Gitan, sebanyak apa pun permohonan maafmu lewat kata-kata, itu tidak akan menyelamatkan Lamy. Kalau begitu, bukankah kau harus menunjukkannya lewat tindakan?"

"Kerahkan seluruh pengetahuanmu, gunakan hasil penelitianmu tanpa sisa, dan kembalikan tubuh Lamy. Barulah kau bisa dikatakan telah menebus dosamu, kan?"

"……Ya, Anda benar sekali."

"Kalau begitu, curahkan seluruh tenagamu demi Lamy. Itulah cara penebusan dosamu."

Gitan mengepalkan tinjunya erat-erat.

Ada air mata yang menggenang di matanya.

Wajah itu kini memancarkan rasa tanggung jawab.

"……Lamy-san, meski harus mempertaruhkan segalanya, aku akan mengembalikan tubuhmu. Mungkin akan memakan waktu yang sangat lama. Tapi, aku bersumpah akan mengembalikanmu! Bisakah kau bersabar sampai saat itu tiba?"

"Iya! Aku juga akan berjuang! Mari kita kembali ke tubuh asli bersama-sama!"

"Ooh…… kata-kata selembut itu untukku…… terima kasih. Terima kasih……!"

Gitan dan Lamy saling menjabat tangan.

Baguslah, dengan ini penelitian tentang monster juga akan mengalami kemajuan.

Tentu saja aku tidak berniat menggabungkan tubuhku sendiri dengan monster, tapi mungkin ada hal menarik yang bisa tercipta dalam proses pembuatan formulanya.

Selain itu, Gitan sendiri bisa memproduksi material langka secara tak terbatas.

Jika ada material, aku bisa mulai mengerjakan pembuatan alat-alat sihir yang selama ini belum sempat kusentuh.

Fufufu, penelitian sihirku sepertinya akan semakin lancar lagi.

"Luar biasa Tuan Lloyd, taktik yang hebat. Padahal Lamy dan Gitan itu fisiknya sudah seperti monster, tapi Anda menjadikannya bawahan tanpa ragu sedikit pun... Benar-benar orang dengan hati yang lapang."

"Justru karena orang seperti Andalah, kami ingin mengikutinya. Saya, Galilea, dengan rendah hati akan mengabdi setulus hati mulai sekarang!"

"Di antara mereka yang bertobat melalui penyucian, ada yang mengakhiri hidupnya karena rasa penyesalan yang terlalu besar. Karena itu Anda memberikan tujuan hidup pada Gitan dengan memberinya tugas penebusan dosa. Anda tidak hanya memaafkan dengan kata-kata, tapi juga memikirkan masa depannya…… Anda luar biasa, Tuan Lloyd."

"Formula sihir yang menggabungkan makhluk hidup secara paksa, ya? Jika ini digunakan dengan baik, bahkan kematian bisa diatasi dan hidup abadi bisa didapatkan. Sepertinya kamu sudah menyiapkan antisipasi agar tidak hampir mati karena lengah seperti sebelumnya. Hebat juga kau, Lloyd. Gehihi."

Mereka bertiga menggumamkan sesuatu, tapi itu hal biasa jadi aku tidak perlu terlalu memikirkannya.

Bagaimanapun juga, masalah ini selesai.

Selesai, atau begitulah seharusnya…… namun beberapa hari kemudian aku dipanggil oleh Ayahanda, Raja Charles.

Saat aku menuju Ruang Singgasana, Charles sudah ada di sana bersama Albert di sisinya.

"Kau sudah datang, Lloyd."

"Hamba, Ayahanda."

Aku menjawab singkat suara Charles.

Sebenarnya ada urusan apa?

Suasana yang terasa berat membuatku menahan napas.

Charles berdeham pelan lalu mulai berbicara.

"Beberapa malam yang lalu, kau diam-diam menyelinap keluar dari istana, kan?"

Mendengar kata-kata Charles, bahuku tersentak kaget.

Gawat, ternyata ketahuan juga.

Kupikir akan aman-aman saja karena aku pulang sebelum tengah malam, tapi sepertinya seseorang telah melihatku.

Sial... Sambil memutar otak mencari alasan, aku mengangguk menjawab pertanyaan Charles.

"……Iya, anu, semilir angin malam terasa begitu menenangkan, jadi……"

"Heh, mau Ayah tebak apa yang kau lakukan? Kau pergi ke Gereja Pusat, kan?"

Meskipun aku mencoba berkilah, dia membalasnya dengan senyum penuh keyakinan.

……Gawat, sepertinya dia sudah tahu semuanya.

Alasan dia baru memanggilku selang beberapa hari mungkin karena dia sedang mengumpulkan bukti atas tindakanku.

──Tepatnya, insiden hancurnya Markas Besar Gereja.

Sesaat setelah kejadian itu, aku meminta Ren untuk menyelidikinya. Katanya Markas Besar Gereja hancur sebagian akibat serangan seseorang yang tidak dikenal.

Paus Gitan dinyatakan hilang, sementara para penganut berada dalam kekacauan besar.

Meskipun itu perbuatanku sendiri, kepalaku terasa pening mendengarnya sehingga aku menyuruh Ren pergi di tengah laporannya.

Awalnya aku berniat pura-pura tidak tahu dan berharap Charles tidak mendengarnya, tapi ternyata...

"Tentu saja insiden di Gereja itu sampai ke telinga Ayah. Benar-benar, kau sudah melakukan sesuatu yang luar biasa."

Charles menatapku tajam dengan tatapan matanya yang tajam.

……Tapi sepertinya usahaku sia-sia.

Banyak orang di istana ini, termasuk Charles, yang berhutang budi pada Gereja.

Jika aku dianggap melakukan sesuatu yang memperburuk hubungan itu, hukumannya pasti tidak sekadar dimarahi.

Padahal belakangan ini aku sudah mulai dipercaya sehingga bisa bebas keluar masuk, tapi kalau begini, aku mungkin tidak akan diperbolehkan keluar istana lagi.

Sambil bersiap menerima kenyataan pahit, Charles kembali angkat bicara dengan nada berat.

"──Kerja bagus, Lloyd."

"……Hah?"

Mata aku membelalak mendengar kata-kata Charles.

"Ayah sudah tahu dari Albert kalau kau sering pergi ke Gereja belakangan ini. Awalnya Ayah hanya ingin mengamati tindakanmu, tapi saat itulah Ayah tahu kalau Paus sepertinya sedang merencanakan sesuatu, jadi Ayah mengubah fokus penyelidikan."

"Lalu muncul kecurigaan kalau Paus terlibat dalam kasus orang hilang yang meresahkan kota belakangan ini. Ayah sedang mengumpulkan bukti untuk segera meringkusnya, dan saat itulah insiden ini terjadi."

Charles mengangguk-angguk puas.

Sejak kapan dia menyelidiki hal semacam itu? ……Ah, pasti Silpha.

Kemungkinan besar dia diperintah oleh Albert.

"Ayah benar-benar terkejut. Padahal baru saja mau menggerebek Gereja, ternyata sudah terjadi keributan besar. Saat Ayah bertanya pada para penganut, banyak dari mereka yang melihatmu bertarung melawan Paus yang berubah menjadi monster. Apalagi kau bersama seorang malaikat."

"'Apakah Pangeran Ketujuh adalah Utusan Surga!?' Mereka malah balik bertanya begitu pada Ayah. Hahaha!"

Entah kenapa Charles tampak senang.

Hmm, ternyata memang benar-benar terlihat oleh para penganut, ya.

Lagi pula, apa-apaan itu "Utusan Surga"? Malu-maluin saja.

"M-mungkin itu hanya orang yang mirip dengan saya……?"

Saat aku mencoba mencari alasan, Albert yang berjaga di sampingnya tersenyum tipis.

"Tidak perlu rendah hati, Lloyd. Dulu kau juga pernah menyelinap keluar malam-malam untuk menghentikan rencana Lord Lordst, kan? Dari situ aku langsung terpikir, 'Ah, pasti ini ulah Lloyd'."

Ucapnya sambil mengedipkan satu matanya.

Sepertinya orang ini juga berpikiran hal yang sama.

"Umu, bahkan di antara para penganut ada yang memintamu menjadi Paus berikutnya karena menganggapmu Utusan Surga. Kau benar-benar dicintai mereka, ya!"

Sial, aku benar-benar terpojok.

Bisa hilang kebebasanku kalau sampai dijadikan Paus.

Meskipun aku bisa mendapatkan banyak informasi soal sihir suci, tapi untuk yang satu itu, maaf saja.

"Menumpas kejahatan di balik kegelapan malam tanpa diketahui siapa pun, ya? Apa kau menyembunyikannya karena berpikir akan merepotkan Ayah? Misalnya seperti dipaksa menggantikan posisi Paus yang kau kalahkan itu."

Mungkin karena raut wajahku yang tersentak ketahuan, Charles tertawa geli.

"Hahaha, Ayah tidak akan melakukan hal seperti itu. Lagi pula Ayah sudah pernah bilang, kan? Kau adalah Pangeran Ketujuh yang tidak ada hubungannya dengan hak pewaris takhta. Hiduplah sesukamu tanpa perlu memikirkan tugas-tugas formal."

"Ayahanda, itu berarti……!"

"Umu, Ayah sudah bilang pada mereka kalau mereka salah lihat. Lloyd hari itu sedang tidur nyenyak di kamarnya. Para penganut yang datang memohon itu pun akhirnya menyerah dan pulang."

Fiuh, syukurlah.

Aku mengembuskan napas lega, sementara Charles melanjutkan kata-katanya.

"Lloyd, kau tidak perlu memikirkan apa pun dan teruslah berkembang dengan bebas. Bagaimanapun juga, aku adalah ayahmu. Aku berjanji akan selalu menjadi kekuatan bagimu."

"Tentu saja aku juga, Lloyd. Jika kau kesulitan, andalkanlah kakakmu ini."

"Ayahanda, Kakak Albert…… terima kasih banyak!"

Aku menundukkan kepala pada mereka berdua.

Kupikir mereka sudah lupa dengan janji yang diucapkan dulu sekali, tapi aku terharu karena mereka masih mengingatnya.

Aku berdiri, sekali lagi menundukkan kepala sebagai tanda terima kasih, lalu meninggalkan Ruang Singgasana.

"Lloyd menjadi Paus, ya? Benar-benar orang-orang Gereja itu tidak punya penglihatan yang bagus. Apa mereka pikir putraku hanya sebatas wadah sekecil itu?"

"Yah, tidak ada salahnya membuat Gereja berhutang budi. Lagi pula Gereja tidak hanya ada di negara ini saja. Saat dia pergi ke negara lain nanti, hubungan dengan Gereja akan menjadi kekuatan bagi Lloyd."

"Lloyd, saat ini seraplah segala hal sesuka hatimu. Itulah tugas yang harus kau lakukan sebagai seseorang yang memiliki takdir menjadi raja yang memimpin dunia."

Charles bergumam pelan setelah aku pergi.

"Kupikir Lloyd pergi ke Gereja untuk membangun relasi, tapi siapa sangka dia malah hampir diangkat menjadi Paus. Kata-kata Ayah memang membuat mereka menyerah untuk saat ini, tapi saat mereka pulang, aku masih mendengar suara-suara yang ingin menjadikan Lloyd sebagai Paus."

"Sepertinya dia berhasil memenangkan hati mereka lebih dari yang dibayangkan. Jika terjadi sesuatu, sekali dia memanggil, mereka pasti akan segera berkumpul di sisi Lloyd. Jumlah penganut Gereja di negara ini saja lebih dari sepuluh ribu orang. Sepuluh kali lipat lebih banyak dari pasukan pribadiku... Jika Lloyd menginginkannya, dia bahkan bisa menggulingkan negara ini. Fiuh... mengerikan juga. Meskipun sebagai kakak, aku sangat bangga padanya."

Albert dan Charles menggumamkan sesuatu, tapi untuk saat ini aku merasa lega.

Mereka berdua benar-benar baik karena masih memberiku kebebasan setelah semua yang kulakukan.

Memang benar, menjadi Pangeran Ketujuh itu posisi yang paling santai.

Sepertinya aku masih bisa terus fokus pada penelitian sihirku dengan bebas.

"Eeeh!? Saya menjadi Paus berikutnya!?"

Isha membelalakkan matanya mendengar kata-kataku.

Beberapa hari setelah itu, aku pergi ke Gereja untuk menemui Isha.

Lalu aku memintanya untuk menjadi Paus.

"Iya, karena posisinya sekarang sedang kosong, aku pikir ini kesempatan bagus. Isha juga populer sebagai penyanyi, jadi menurutku tidak buruk."

"Tidak, tidak, tidak! Itu mustahil! Mana mungkin saya bisa mengemban tugas sebagai Paus!"

Isha menggelengkan kepalanya kuat-kuat.

Hmm, sepertinya memang sulit bagi Isha yang memiliki kepribadian seperti itu untuk langsung setuju.

Sebenarnya ada alasan kenapa aku datang memintanya meski tahu kemungkinannya kecil.

Sejak kejadian itu, setiap hari penganut Gereja datang menemuiku dan memohon agar aku menjadi Paus.

Ini benar-benar merepotkan. Meskipun aku sudah bilang berulang kali kalau itu bukan aku, mereka tetap bersikeras, "Tidak, itu pasti Anda! Mohon bimbinglah kami!" sambil memohon-mohon dengan air mata.

Setelah beberapa kali berdebat, akhirnya mereka setuju dengan syarat akulah yang akan memilih Paus berikutnya.

Aku sempat heran apa Paus bisa dipilih semudah itu, tapi mereka bilang mereka akan mendukung siapa pun yang kupilih.

Itulah sebabnya aku meminta Isha, tapi—

"Pasti mustahil!"

—dia menolaknya dengan tegas.

Padahal bagiku, Isha yang sudah kukenal dan tidak terlalu tertarik pada sihir akan sangat membantu karena dia pasti akan dengan mudah mengizinkanku melihat buku-buhu sihir suci milik Gereja.

"Tuan Lloyd, mau bagaimanapun rasanya terlalu berat bagi wanita biasa untuk memimpin begitu banyak penganut. Wajar saja kalau dia menolak."

"Muu, meski ini Isha-tan, aku harus mengakui kalau jabatan Paus memang terlalu berat untuknya. Tapi, tentu saja aku akan mendukungnya dengan segenap tenaga jika itu keinginan Anda..."

Grim dan Jiriel ikut memberikan masukan.

Memang sulit membayangkan Isha akan setuju begitu saja.

Karena itulah, aku sudah membawa senjata rahasia.

Salia yang sedari tadi berjaga di belakangku pun melangkah maju.

"Isha, kau masih ingat saat pertama kali kita bertemu?"

"Salia!? ……Eto, kalau tidak salah saat konser di Gereja, kan?"

Isha menjawab setelah berpikir sejenak.

"Ooh! Kalau itu aku ingat sekali! Sepuluh tahun yang lalu, hari di mana legenda Salia-tan dimulai! Permainan musik yang luar biasa untuk ukuran anak-anak hingga membuat semua orang menangis tersedu-sedu! Aku saja sampai mau menangis kalau mengingatnya kembali..."

Jiriel tenggelam dalam kenangan dan mulai berkaca-kaca.

Sepertinya permainan musik Salia memang sudah hebat sejak dulu.

"Kau menghampiriku saat aku hendak pulang setelah selesai tampil. Dengan mata berbinar, kau bilang 'Permainanmu tadi hebat sekali! Ajari aku juga!'. Yah, tentu saja aku tidak mengajarimu."

Ternyata tidak diajari, ya. Dingin sekali.

Sambil menatap ke kejauhan, Salia melanjutkan.

"……Tapi, kau tidak menyerah. Sebanyak apa pun aku mengabaikanmu, kau tetap mulai bernyanyi di sampingku saat aku bermain musik. Awalnya aku bingung anak ini kenapa, sih. ──Tapi, anehnya aku tidak merasa terganggu. Tanpa kusadari, kau selalu ada di sampingku."

Salia kemudian melangkah menuju piano.

Dia menarik kursi pelan lalu duduk, jari-jarinya mulai menari di atas tuts piano.

Suara dentuman musik yang indah mulai bergema di dalam ruangan.

Isha sempat terkejut melihat tindakan tiba-tiba itu, namun seolah menyadari sesuatu, dia mulai bernyanyi.

──♪

Itu adalah lagu lama. Lagu anak-anak yang sederhana.

Namun di tangan mereka berdua, lagu itu telah naik ke level yang berbeda.

Penuh perasaan, megah, bahkan terasa memiliki tradisi dan martabat.

Sosok mereka berdua yang sedang bermain musik di bawah sorotan cahaya dari jendela kaca patri terlihat sangat indah bagaikan sebuah lukisan.

Aku sampai kehilangan kata-kata saat melihat pemandangan itu.

──♪

Setelah terdiam menikmati sisa-sisa melodi, kali ini Isha yang angkat bicara.

"Lagu saat itu…… aku ingat sekarang, Salia. Alasanku bernyanyi adalah untuk menyampaikan suaraku ke seluruh dunia──"

Salia mengangguk pelan.

"Dulu aku pernah bertanya padamu, 'Kenapa kau mau bernyanyi bersamaku?'. Lalu kau menjawab, 'Kalau nyanyianku dipadukan dengan permainan musikmu, orang yang mendengarkan pasti akan semakin banyak'."

"'Aku masuk ke Gereja agar sebanyak mungkin orang bisa mendengar nyanyianku. Dengan begitu, selangkah demi selangkah jumlah pendengar akan bertambah, hingga suatu saat nanti seluruh dunia akan mendengar nyanyianku! Itulah alasanku bernyanyi!'. Begitu katamu."

"Aku sempat heran betapa egoisnya anak ini, tapi di saat yang sama aku juga merasa itu luar biasa. Keberanian untuk menghalalkan segala cara demi tujuan, dan mata yang selalu menatap lurus ke depan. ──Karena kau adalah orang yang seperti itulah, aku selalu bersamamu sampai sekarang."

"……Iya, kau benar. Kata-kata masa kecil yang sedikit memalukan kalau ingat sekarang..."

Pipi Isha memerah karena malu.

"Tidak apa-apa, kan? Jadilah Paus. Dengan begitu, hari di mana suaramu terdengar ke seluruh dunia akan semakin dekat. Dan saat itu tiba, aku akan selalu ada di sampingmu untuk mengiringimu, jadi tenanglah."

"Salia……"

Mata Isha berkaca-kaca mendengar perkataan Salia.

Lalu, dia mengangguk.

"……Aku mengerti. Aku akan menjadi Paus."

Isha menatap lurus ke depan.

Ekspresinya kini penuh dengan harapan.

"Ngomong-ngomong Salia, kau hebat sekali masih ingat kejadian lama itu. Aku sendiri sudah hampir lupa."

"Mana mungkin aku lupa. ……Lagi pula, kau itu adalah satu dari sedikit temanku."

Melihat Salia yang menggaruk pipinya karena malu, Isha tersenyum lebar.

"Salia!"

Isha memeluk Salia erat-erat.

"Wa! A-apa-apaan ini?"

Melihat Salia yang kebingungan, Isha hanya tersenyum lebar.

"Bukan apa-apa! Ehehe!"

"Duh."

Meskipun wajah Salia tampak sedikit terganggu, dia tetap membalas pelukan itu.

Sosok mereka berdua yang saling berpelukan terlihat seperti kakak beradik yang sangat akrab.

"Ooooooh……! Salia-tan dan Isha-tan saling berpelukan…… Apa-apaan keajaiban ini, sungguh indah. Dan cantik sekali……! Ini benar-benar mukjizat, Tuhan ada di sini!"

Jiriel gemetar sambil menangis tersedu-sedu.

Entah kenapa dia terlihat sangat menjijikkan saat ini.

"Tuan Lloyd, apa tidak apa-apa membiarkan makhluk menjijikkan seperti ini tetap di sisi Anda? Lihat saja wajahnya yang nista itu."

"Hmm, tapi mau bagaimana lagi kalau mau menggunakan sihir suci."

Aku setuju kalau dia menjijikkan, tapi pada dasarnya dia bukan orang jahat. Mungkin.

Selain itu, pengetahuan tentang dunia langit sepertinya akan berguna nantinya.

Bagaimanapun, Isha sepertinya akan setuju menjadi Paus, jadi semuanya berakhir dengan baik.




Di tengah sorakan yang membahana, upacara penobatan Isha pun dilaksanakan.

Seharusnya mahkota itu diberikan oleh Paus sebelumnya, tapi entah kenapa malah aku yang harus melakukannya. Sungguh tidak masuk akal.

Saat aku memakaikan mahkota pada Isha yang sedang berlutut, rambut emasnya yang indah bergoyang lembut.

Begitu Isha berdiri dan melambaikan tangan kepada para penganut, sorak-sorai hebat meledak merayakan lahirnya Paus yang baru.

Yah, sepertinya dengan begini satu masalah telah selesai.

Namun, siapa sangka pencarianku akan sihir justru membuatku terlibat dalam penobatan Paus baru; hubungan yang aneh memang telah terjalin.

Meski begitu, dunia sihir memang benar-benar dalam.

Sihir suci dan penggabungan monster, ya?

Dasarnya masih belum terlihat, tapi itu pun bukan hal yang buruk.

Apalagi sekarang subjek penelitian baru sudah bertambah, dan hal yang bisa kulakukan pun semakin banyak.

──Berikutnya, enaknya melakukan apa, ya?

Aku merasakannya dengan penuh semangat sembari memberikan berkat bagi sang Paus baru.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close