——Keesokan harinya, kami datang ke gereja karena
dipanggil oleh Isha.
Sepertinya
dia ingin membalas budi karena sudah ditolong tempo hari.
"Selamat datang, Lloyd-kun. Juga Tao-san, Ren-chan,
dan Sylpha-san. Terima kasih banyak atas kejadian kemarin."
"Padahal
tidak perlu sampai repot-repot begini."
"Tidak bisa begitu! Kalian sudah menyelamatkan
nyawaku. Aku harus membalas budi dengan benar!"
Isha berbicara dengan napas yang memburu. Padahal tidak
usah terlalu dipikirkan juga.
"Yah, yah, aku sih senang-senang saja. Prinsipku
adalah menerima apa pun kecuali penyakit, aru. Jadi, mau traktir apa? Boleh aku
berharap banyak?"
"Tentu saja! Sebenarnya di dekat sini ada kedai
panekuk yang enak. Aku ingin mentraktir kalian semua di sana."
"Panekuk!"
Aku spontan berteriak. Panekuk adalah salah satu makanan
favoritku. Kadang Sylpha membuatkannya untukku, tapi aku dibatasi karena
katanya tidak baik makan manis terlalu banyak. Padahal gula itu bagus untuk
otak, tahu.
"Wah, Lloyd-kun suka panekuk? Syukurlah kalau
begitu."
"Iya, aku suka sekali makanan manis. Boleh kan,
Sylpha?"
"Tentu saja tidak masalah. Bagiku juga ini
kesempatan untuk mencicipi buatan profesional agar resepku bertambah. Dengan senang hati kami terima traktiran ini."
Sylpha juga terlihat bersemangat. Membayangkan
panekuk itu akan jadi lebih lezat saja sudah membuatku tidak sabar.
"Panekuk……
itu apa?"
Di
tengah obrolan, Ren membelalakkan matanya kebingungan.
Sepertinya
Ren yang dulu hidup miskin belum pernah memakannya.
"Ren
tidak tahu panekuk ya? Itu kue yang manis, lembut, dan sangat enak, aru."
"Heh—aku
jadi tidak sabar!"
Dia langsung tertarik dengan penjelasan Tao.
Mendengarnya saja sudah membuatku meneteskan air liur. Isha terkekeh melihat
tingkah kami.
"Fufu, kalau begitu mari kita segera berangkat. Ah,
aku dapat banyak uang saku dari Pak Pendeta, jadi jangan sungkan untuk makan
sepuasnya! Ayo berangkat!"
Dipimpin oleh Isha, kami pun menuju ke kedai panekuk.
"Di sini! Panekuk di kedai ini benar-benar enak,
lho!"
Isha berjalan paling depan dengan langkah riang sambil
berseru.
"Kue yang dipanggang dengan teknik khusus sampai
super lembut ini ditumpuk, lalu diberi whipped cream yang melimpah. Di
atasnya disiram sirup madu yang manis, dan masih ditambah lagi dengan stroberi
di atasnya! Ini benar-benar panekuk yang sempurna! Fufufun~♪"
Sepertinya dia sangat menantikannya sampai-sampai
bersenandung. Melihat Isha yang tampak bahagia membuatku jadi makin ingin
cepat-cepat makan.
"Aku juga tidak sabar!"
Ren yang belum pernah makan panekuk pun matanya
berbinar-binar. Tempat yang dituju oleh Isha adalah sebuah kafe yang terletak
sedikit melipir dari jalan utama.
"Wah, antreannya panjang sekali ya."
"Iya, sepertinya butuh waktu cukup lama untuk bisa
masuk."
Benar saja, ada antrean panjang di depan kafe
tersebut. Di papan antrean paling belakang tertulis waktu tunggu seratus dua
puluh menit.
"Hmm, aku ingin makan panekuknya, tapi menunggu dua
jam itu melelahkan ya."
"Muu, biasanya tidak seramai ini……"
Isha memanyunkan bibirnya dengan kecewa.
"Bagaimana ya? ……Kalian
tidak apa-apa kalau harus mengantre?"
"Karena sudah sampai sini, aku sih ingin
makan."
Saat aku menoleh ke arah yang lain, ketiganya mengangguk
setuju.
"Saya hanya mengikuti keinginan Tuan Lloyd. Secara
pribadi saya juga penasaran dengan resepnya."
"Ternyata ada banyak orang yang mau menunggu selama
ini hanya untuk makan. Aku jadi makin penasaran!"
"Tidak apa-apa kan. Mengobrol dua jam tidak akan
terasa lama, aru."
"On!"
Karena semua setuju, kami pun memutuskan untuk ikut
mengantre.
"……Hm?"
Tiba-tiba aku menyadari orang-orang di sekitar mulai
melirik ke arah kami. Ada apa sebenarnya? Sepertinya mereka sedang
berbisik-bisik.
"Eh, eh, jangan-jangan itu Tuan Lloyd?"
"Eeeh!? Tuan Lloyd yang itu!? Tangan kanan Pangeran
Kedua Albert-sama, yang menjinakkan monster buas, menempa pedang sihir, dan
baru-baru ini menumpas pemberontakan penguasa wilayah lalu diberikan wilayah
itu sebagai hadiah!?"
"Pasti dia! Aku pernah melihat pelayan itu! ……Hei,
bukankah sebaiknya kita memberikan antrean kita padanya?"
"Benar juga, beliau pasti orang yang akan memikul
masa depan Kerajaan Saloum. Tidak baik jika kita mencari masalah
dengannya."
Orang-orang di antrean bergumam sendiri. Tak lama
kemudian, mereka mulai meninggalkan antrean sambil tertawa canggung.
"O-oh iya, sepertinya aku ada urusan mendadak."
"Iya, iya, benar sekali. Mari kita pergi belanja
dulu saja."
"Ah! Aku juga ada urusan……" "Aku
juga." "Saya juga."
Bagaikan ombak yang surut, orang-orang yang tadinya
mengantre lenyap begitu saja. Apa yang sebenarnya terjadi ya?
"Oya, semuanya sudah pergi. ……Itu berarti kita yang
paling depan sekarang, kan?"
"Bagus
kan? Ayo masuk, aku sudah lapar, aru."
Entahlah
aku tidak paham, tapi syukurlah kami tidak perlu membuang waktu. Pelayan toko
sempat kaget karena antrean tiba-tiba hilang, tapi berkat itu kami bisa masuk
dengan cepat.
Kring-kring, suara
lonceng menyambut saat kami masuk. Bagian dalam toko terbuat dari kayu, tapi di
sana-sini dihiasi pernak-pernik yang memberikan kesan modis.
"Toko yang bagus."
"Iya, tidak sabar makan panekuknya. Nah,
kita duduk di mana…… eh, Saria!?"
Isha menunjuk ke arah Saria yang sedang asyik mengunyah
panekuk.
"Mame, amnde i-hyah-ho-hoid-ha-hi-ha?"
"……Tolong jangan bicara sambil mengunyah,
Saria."
Melihat Saria yang pipinya menggembung seperti tupai,
Isha hanya bisa menghela napas. Saria menggerakkan mulutnya sebentar, lalu
meneguk kopi dengan mantap. Setelah menelan dengan bunyi yang terdengar jelas,
dia mengusap mulutnya dengan serbet.
"——Fiuh. Jadi, ada urusan apa Isha? Lagipula ada
Lloyd dan yang lainnya juga di sini."
"Sebenarnya……"
Isha menceritakan seluruh kejadiannya. Saria mendengarkan sambil sesekali mengangguk.
"……Begitu ya, ada monster di gereja. Jadi ini
traktiran balas budi ya."
"Iya, karena mereka semua sudah menyelamatkan
nyawaku. Apakah Saria sedang menulis lagu?"
"Iya, kalau habis pakai otak memang paling pas makan
yang manis-manis."
Mejanya dipenuhi kertas partitur yang belum selesai, dan
seorang pria berpakaian hitam di sampingnya memegang tumpukan kertas tersebut.
Dia adalah pelayan sekaligus pengawal Saria. Bagaimanapun juga Saria adalah
seorang putri raja, jadi wajar jika dia dikawal saat keluar.
"Akhir pekan ini ada konser lagi kan? Aku
berniat membuat lagu baru. Tapi aku sudah agak lelah, jadi mau istirahat
sebentar. Kalian semua duduklah. Pelayan, tolong siapkan kursi.
Lima buah ya."
Saria memberikan instruksi dengan sigap kepada pelayan.
Sepertinya dia sudah terbiasa melakukan ini.
"Kalian baru pertama kali ke sini? Kalau begitu
kusarankan makan yang original dulu. Pelayan, tambah lima porsi lagi.
Satu porsi adalah 'Deluxe Dynamite' dengan ekstra buah. ……Benar kan,
Isha?"
"Sariaaaa!"
Isha berteriak dengan wajah memerah. Padahal Saria
memesan semuanya sesuka hati…… tapi aku tidak keberatan sih, jadi tidak
apa-apa.
"Ayo jangan melamun, cepat duduk. Minuman pesan
sendiri-sendiri ya. Teh atau kopi di sini sangat kurekomendasikan."
Karena suasananya tidak mengizinkan kami menolak, kami
pun duduk. Saria benar-benar tipe pengatur. Setelah menunggu beberapa saat,
aroma harum mulai tercium.
"Mohon menunggu sebentar. Ini empat porsi original
dan satu porsi 'Deluxe Dynamite' dengan ekstra buah."
"……Anu, yang ekstra buah itu punyaku."
Isha mengangkat tangan dengan malu-malu. Di
depannya diletakkan panekuk raksasa. Besar sekali. Ukurannya mungkin tiga kali
lipat porsi kami.
"Waaa—kelihatannya enak~♪"
"Ayo, makan selagi hangat. Sylpha, Ren, kalian juga
tidak perlu sungkan pada kami. Lloyd juga tidak keberatan, kan?"
"Tentu saja. Ayo kita makan sama-sama."
"Baik, selamat makan!"
Aku memotong panekuk itu dengan garpu seukuran suapan,
lalu memasukkannya ke mulut. Seketika tekstur lembut terasa di lidah. Adonannya
sangat lembut hingga terasa meleleh di dalam mulut.
"Wah! Apa ini! Enak sekali!"
"Iya, aku belum pernah makan kue selembut ini, aru.
Tekstur yang baru ya."
"Bagaimana teknik pembuatannya ya? Aku benar-benar
ingin bertanya pada koki pastrinya."
Ketiganya juga matanya berbinar sambil menikmati panekuk
tersebut. Shiro yang mengibaskan ekornya karena ingin mencicipi pun kuberi satu
potong.
"On!"
"Anak pintar, enak kan?"
Shiro melahapnya dengan rakus. Dia kan binatang buas,
jadi dia makan apa saja.
"Hmmmm~♪ Memang panekuk di sini yang terbaik
yaaaaa~♪"
Isha mengunyah panekuk dengan wajah yang sangat bahagia.
"Mo-me-mo-mi-you.
Mam-ma-ham-mon-mo-mo-me-ga-mu-mi-me—"
Saria juga mengatakan sesuatu dengan mulut penuh. Aku
tidak mengerti dia bicara apa, tapi wajahnya terlihat sangat senang.
"Fiuh! Kenyang sekali!"
Porsinya cukup banyak, satu panekuk saja sudah membuat
perutku penuh. Aku sedikit heran bagaimana Isha bisa makan tiga kali lipat
porsiku…… saat aku menatapnya, dia sadar dan langsung menunduk malu.
"O-oh iya Saria, konser akhir pekan ini akan
diadakan di mana?"
"Hm, di pusat gereja kan. Waktu konser sebelumnya
kita juga sudah bicara dengan Paus."
"Paus……!"
Mendengar kata Saria, semua orang langsung menahan napas.
"……Dalang yang menyelinap ke gereja dan saluran
pembuangan adalah penganut atau kalangan gereja, ya. Dan orang yang bisa
melakukan hal sebesar ini pasti memiliki kekuatan yang luar biasa. Misalnya,
sang Paus."
"Tapi mana mungkin Paus-sama…… Tidak mungkin…… harusnya
begitu……"
"Apa pun itu, kita perlu memastikannya. Bagaimana
kalau ada yang ikut mendampingi saat konser?"
"Kalau begitu, aku saja yang ikut."
Segera aku mengacungkan tangan.
Jika berasumsi bahwa Paus—Gitan—adalah dalangnya, akan
sulit mencari kesempatan bertemu jika dia terus mengurung diri.
Kalaupun ada monster yang menyamar atau merasukinya, dia
pasti akan bereaksi jika terkena sihir suci.
Menilai dari reaksi Jiriel, dia pasti bisa menggunakan
sihir suci yang luar biasa. Jika sampai harus bertarung, itu malah
menguntungkan bagiku.
"Ara, Lloyd mau ikut juga? Kalau begitu, bagaimana
kalau kamu mencoba tampil bersamaku?"
"Wah,
wah! Itu ide yang bagus! Mari bernyanyi bersamaku!"
Saria
dan Isha menatapku sambil tersenyum lebar.
"Eh?
Tidak, aku……"
"Sudahlah,
jangan sungkan. Begini saja, Lloyd, kamu jadilah penampil pembuka kami. Ya,
itu bagus. Pokoknya akan kupaksakan namamu masuk ke jadwal."
"Iya, iya, itu ide cemerlang. Tenang saja, aku sudah
lama memperhatikan bakat Lloyd-kun.
Mari jadikan ini sebagai momen debutmu! Tidak perlu
khawatir, jika kami berdua yang mengajarimu, kau pasti bisa memberikan
pertunjukan terbaik!"
Entah bagaimana ceritanya, aku mendadak terpilih menjadi
penampil pembuka mereka berdua.
Tidak ada celah untuk menyelipkan keberatan. Benar-benar semangat yang luar biasa.
"Ayo, waktu sangat berharga. Kita pulang dan
latihan khusus!"
"Tagihannya aku taruh di sini, ya!"
Begitulah, sambil ditarik oleh mereka berdua, aku
meninggalkan kedai itu.
"……Aku terkejut. Aku tahu kamu berbakat, tapi
tidak kusangka sampai sehebat ini."
Empat hari setelah latihan dimulai, Saria membelalakkan
mata setelah mendengar permainan pianoku.
"Rasanya seperti mendengarkan permainanku
sendiri. Benar-benar luar biasa."
"Ahahaha……
terima kasih."
Aku
membalasnya dengan tawa canggung. Kenyataannya, aku memang sedang
menyalin permainan Saria.
Sihir sistem kontrol, Transcription, yang mampu
menyalin dan mereproduksi gerakan target tanpa meleset sedikit pun.
Sihir ini biasanya kugunakan untuk meniru teknik pedang
Sylpha, tapi tentu saja bisa diaplikasikan ke hal lain.
"Tapi ini masih berada di level versi tiruanku yang
lebih rendah.
Jika kamu lebih banyak berlatih dan bisa mengeluarkan
orisinalitasmu sendiri, kamu pasti bisa mencapai puncak yang lebih tinggi. Yah,
karena waktu sudah mepet, aku beri nilai lulus pas-pasan. Prok prok."
Ya, wajar saja, karena aku hanya melakukan copy-paste
gerakan yang sengaja dikurangi kualitasnya.
Meski aku bisa bermain dengan sangat identik, itu akan
terasa tidak alami, jadi aku sengaja menurunkan tingkat presisinya.
Oleh karena itu, jika disuruh mengeluarkan orisinalitas
pun, itu hal yang mustahil bagiku.
"Selamat ya, Lloyd-kun, akhirnya kamu mendapat
pengakuan dari Saria."
Isha bertepuk tangan. Omong-omong, untuk urusan menyanyi,
aku sudah lulus sejak dua hari yang lalu.
Penilaian Isha jauh lebih longgar daripada Saria. Level Transcription
di angka empat saja sudah membuatnya memberiku nilai lulus.
Sebagai perbandingan, Saria baru memberiku nilai setelah
aku menaikkan levelnya sampai angka delapan. Ketat sekali.
Lalu pada hari pertunjukan, kami berangkat menuju Kantor
Pusat Gereja.
Hari ini kami tidak membawa barang bawaan karena katanya
di kantor pusat sudah ada piano raksasa.
Karena Sylpha dan yang lainnya sedang menyelidiki
kandidat dalang lainnya, yang datang hanya aku, Isha, dan Saria.
Di dalam area luas yang dikelilingi pagar besi itu,
terdapat banyak bangunan megah. Bahkan ada penjaga yang berjaga di gerbang
utama.
"Hah, setiap kali datang ke sini, tempat ini selalu
terasa luas ya. Jangan-jangan tempat ini malah lebih besar daripada istana
kita?"
"Kurasa tidak sampai sejauh itu, tapi…… memang kantor pusat itu berbeda ya. Jika dibandingkan dengan gerejaku,
perbedaannya seperti langit dan bumi."
Gereja tempat Isha berada sudah cukup besar, tapi
tempat ini sepertinya sepuluh kali lipat lebih luas.
Bagaimanapun, kami menyapa penjaga dan diizinkan masuk ke
dalam. Di dalam area tersebut, banyak penganut yang sudah berkumpul.
"Uwah…… ramai sekali ya."
"Karena saat diadakan di kantor pusat pengumumannya
dilakukan secara besar-besaran. Masyarakat umum juga boleh masuk, jadi banyak
orang yang berkumpul."
"Pasti sekalian digunakan untuk menggaet penganut
baru. Ck, benar-benar berjiwa bisnis."
Saria menghela napas.
Sambil menghindari jalan utama yang penuh sesak, kami
mengikuti arahan penjaga melewati pintu belakang menuju aula utama.
"Luar biasa juga bangunan ini. Benar kata orang,
jadi pemuka agama itu untungnya besar. Entah berapa banyak uang yang dihabiskan
untuk membangun gedung semegah ini."
"Itu karena kepercayaan yang dianut begitu luas.
Fufun, ini adalah pencapaian yang tidak mungkin dilakukan oleh iblis tidak
berguna."
"Apa katamu!?"
"Apa?"
Grim dan Jiriel sedang saling adu mulut. Mereka akrab
juga ya. Tak disangka selera mereka cukup cocok.
"Akhirnya sampai juga."
Setelah berjalan beberapa lama, kami akhirnya sampai
di aula utama.
Bangunan berbentuk kubah raksasa itu sepertinya bisa
menampung ribuan orang. Kami diantar ke ruang tunggu melalui pintu belakang.
"Kalau persiapannya sudah selesai, kalian akan
dipanggil. Santai saja dulu."
"Apa kamu gugup? Tapi kalau Lloyd-kun, aku yakin
pasti bisa. Jika pun gagal, kami akan membantumu."
Omong-omong, aku berperan sebagai pembuka dan akan
menyanyi sambil bermain piano sebentar.
Entah bagaimana ceritanya, Saria yang memaksakan namaku
masuk ke jadwal. Benar-benar nekat dia itu.
Meskipun bagiku tidak masalah karena aku hanya menyalin
gerakan orang lain. Lagipula, berada sendirian di atas panggung malah membuatku
lebih mudah bergerak.
"Maaf membuat menunggu—! Konser akan segera dimulai,
untuk penampil pembuka harap bersiap-siap—!"
Saat dipanggil, aku pun berdiri.
"Ah, sepertinya sudah dipanggil. Kalau begitu,
aku pergi dulu ya."
"Berjuanglah!"
"Selamat bersenang-senang."
Diantar oleh lambaian tangan mereka berdua, aku
menuju ke atas panggung.
Para penganut yang duduk di bangku penonton tampak
bingung melihat kemunculanku. Pasti karena mereka mengira Saria dan
Isha yang akan keluar.
Yah, targetku hanyalah Sang Paus. Mari kita lihat di mana
dia berada.
"……Di sana, ya."
Saat melirik sekilas ke arah penonton, di sebuah sudut
khusus, ada seorang pria tua mengenakan jubah uskup yang tersenyum lembut.
Di sekelilingnya ada beberapa pria tua mengenakan
jubah formal berpangkat tinggi. Tidak salah lagi, dialah Sang Paus.
……Waduh, gawat kalau aku terlalu lama bengong.
Aku membungkuk hormat lalu duduk di depan piano dan
mulai bermain.
---♪
Plung, plung, aku
mulai bernyanyi sambil memainkan piano dengan tenang.
Ini lagu sederhana untuk anak-anak, tapi ini adalah
salinan permainan piano Saria dan nyanyian Isha.
Para penonton yang awalnya bingung pun seolah
langsung terseret ke dalam suasana lagu.
---Bagus, sekarang.
Sihir suci, Glimmer, aktif. Aku memodifikasi
sirkuit sihirnya agar cahaya tidak terlihat saat dilepaskan.
……Namun, tidak ada satu pun erangan terdengar dari
bangku penonton. Tentu saja, Sang Paus pun tetap menunjukkan wajah tenang.
"Mmh, aku juga ikut memastikan, tapi tidak ada
satu pun dari mereka yang berubah raut wajahnya."
"Tidak mungkin ada orang jahat di antara mereka
yang melayani gereja suci. Jangan-jangan pelakunya adalah orang
lain?"
Hmm, mari kita tembakkan sekali lagi untuk memastikan.
Kali ini, dengan durasi yang sedikit lebih lama.
Namun tetap saja, hanya ada beberapa orang yang berkedip,
dan tidak ada keanehan pada tubuh siapa pun. Gagal, ya.
Sementara aku melakukan itu, pertunjukan pun berakhir.
Diiringi suara tepuk tangan, aku turun dari panggung. Di
pinggir panggung, Saria dan Isha menyambutku.
"Permainan yang bagus. Sepertinya kamu sama sekali
tidak gugup ya."
"Iya, iya! Aku terkejut! Sama sekali tidak gentar di
depan orang sebanyak itu, benar-benar hebat!"
"Terima kasih, kalian berdua."
Tapi, tujuanku tidak tercapai. Tidak ada satu pun orang
yang menunjukkan gerak-gerik mencurigakan.
Jangan-jangan orang-orang di sini memang bukan
dalangnya. Sayang sekali, aku harus mencari petunjuk lagi.
"……Penampilan pertama tapi sudah tidak merasa puas……
fuh, sepertinya mataku tidak salah.
Lloyd, kau mungkin bisa menjadi pemusik yang
melampauiku."
"Luar biasa, Lloyd-kun. Hal terpenting dalam
perkembangan adalah 'tidak merasa puas'.
Bisa menunjukkan wajah tidak puas setelah pertunjukan
sehebat itu…… kau pasti akan menjadi penyanyi yang melampauiku."
Mereka berdua sedang bergumam sendiri, tapi apa mereka
tidak perlu naik ke atas panggung?
Yah, sekarang aku hanya perlu menunggu laporan dari yang
lain.
◇
"Begitulah, di pihakku tidak ada hasil."
Mendengar kata-kataku, Sylpha juga menggelengkan kepala.
Beberapa hari setelah konser, aku menerima laporan dari
semua orang.
"Kami juga sama sekali nihil. Kami sudah menyelidiki
satu per satu dari daftar nama yang kami dapatkan."
"Aku sudah menyelinap ke rumah orang-orang
penting dan menyelidikinya. Tapi tidak ada hal yang aneh."
"Di antara para petualang juga ada penganut,
tapi saat bertanya pada mereka, tidak ada informasi menonjol yang
didapat."
Sylpha dan yang lainnya tampak lesu. Mmh, sepertinya
ini akan memakan waktu lama.
"Lloyd!"
Tiba-tiba pintu terbuka dan Saria masuk.
"Kalian juga ada di sini ya. Kebetulan sekali."
"Ada apa sampai terengah-engah begitu, Kak
Saria?"
Saat aku bertanya, Saria menatapku lurus dan melanjutkan
kata-katanya.
"Dengar, dengarkan baik-baik. ……Isha
menghilang."
Mendengar kata-kata Saria, semua orang menahan napas.
"Kemarin aku mengunjungi gereja karena ada janji
minum teh. Tapi dia tidak ada.
Saat bertanya pada pendeta, katanya dia tidak datang
sejak pagi. Aku pergi ke rumahnya tapi tidak ada siapa-siapa……
Aku sudah berusaha mencari ke mana-mana, tapi dia tetap
tidak ditemukan! ……Lloyd, kamu bisa menggunakan sihir, kan? Bisakah kamu
menemukannya dengan cara tertentu?"
Meskipun ekspresi wajahnya tidak banyak berubah, Saria
tampak gelisah dan terus menghentakkan kakinya. Dia terlihat lebih cemas dari
biasanya.
Apakah ini perbuatan si dalang itu?
Jika dalang itu tahu bahwa Wraith yang merasuki pendeta
telah diusir, tidak aneh jika dia mengincar Isha yang bekerja di gereja yang
sama dan merupakan pengguna sihir suci.
Mengejar Isha juga akan menuntun kita pada si dalang, ya.
"……Aku mengerti, Kak Saria. Aku juga berutang budi
pada Isha."
"Kuserahkan padamu, Lloyd. Dia adalah salah satu
dari sedikit temanku."
"Kalau
begitu, segera…… Shiro."
"On!"
Aku menggendong Shiro yang mendekat ke kakiku.
"Apa kamu tahu tempat Isha berada?"
"Kyuun……"
Mendengar pertanyaanku, Shiro malah melayukan ekornya.
Kalau itu aroma tubuhku sebagai tuannya mungkin dia paham, tapi karena
hubungannya dengan Isha tidak terlalu dekat, dia tidak bisa melacak aromanya.
Kalau begitu, aku gunakan ini saja. Sihir sistem penguatan, Sense
Boost.
Ini
adalah sihir untuk familiar yang memperkuat salah satu indra secara drastis.
Karena
beban bagi tubuh manusia terlalu besar, ini tidak bisa digunakan padaku, tapi
jika kugunakan untuk memperkuat indra penciuman Shiro, dia pasti bisa melacak
Isha.
"Bagaimana
Shiro, bisa?"
"On!"
Kali
ini Shiro menjawab dengan penuh semangat dan langsung melesat keluar ruangan.
"Ayo, berangkat."
"Aku juga ikut!"
Aku menghentikan Saria yang mencoba ikut.
"Kak Saria tetaplah di sini. Jika terjadi sesuatu
pada kami, aku ingin Kakak memberitahukannya pada Kak Albert."
"Tapi……"
"Kami akan melindungi Tuan Lloyd bahkan dengan nyawa
kami sekalipun. Terlalu berbahaya bagi Saria-sama, jadi mohon tunggulah di
sini."
"……Benar juga. Aku hanya akan jadi penghambat jika
ikut. Baiklah. Pastikan kalian kembali besok. Kalau tidak, akan kulaporkan pada
Albert."
"Aku mengerti. Terima kasih, Kak Saria."
"Iya, Lloyd juga hati-hati."
Diantar oleh lambaian tangan Saria, kami mengejar Shiro.
Tempat yang dituju Shiro adalah saluran pembuangan di bawah Jembatan Besar
Dane. Sepertinya memang benar ada sesuatu di sini.
"Berkat sihir suci Tuan Lloyd, saluran pembuangan
ini jadi terlihat bersih ya."
Dulu lantainya penuh dengan lumpur kotor, tapi sekarang
sudah bersih sehingga mudah untuk berlari. Di saluran pembuangan yang kini
mudah dilewati itu, Shiro terus berlari sambil sesekali menoleh ke arah kami.
"Arah ini…… sama seperti yang sebelumnya ya. Menuju ke arah gereja."
"Ah,
sepertinya memang benar ada sesuatu di sekitar sana."
"On!
On!"
Tiba-tiba,
Shiro mulai menggonggong ke arah dinding.
"Ada
apa Shiro?"
"Hmm,
sepertinya ada ruang kosong di balik ini."
Saat
Tao mengetuk dindingnya, terdengar suara ketukan yang kering. Jalan rahasia,
ya. Terlihat seperti dinding biasa, tapi jika dilihat teliti, warnanya tampak
sedikit berbeda.
Apakah ini jadi terlihat karena kotorannya sudah
menghilang?
"Akan kuhancurkan—Spirit Palm."
Saat Tao menempelkan telapak tangannya ke dinding,
retakan yang tak terhitung jumlahnya muncul dan dinding itu pun hancur
berantakan.
"Oups, sepertinya aku terlalu kuat."
"Tidak apa-apa, aku sudah memasang pelindung peredam
suara."
Karena aku sudah mengantisipasi hal semacam ini, aku
memasang pelindung dengan sihir sistem angin sehingga suara gaduh tidak akan
bocor ke luar. Meski sedikit berisik, tidak perlu khawatir ketahuan musuh.
"Benar-benar Tuan Lloyd, sangat waspada ya."
"Sekalian, aku akan memasangkan sihir Night
Vision pada kalian agar kita tidak perlu mengeluarkan cahaya. Hati-hati
jika tiba-tiba keluar ke tempat terang karena mata kalian akan silau."
"Okee."
Selama sihir ini aktif, mata akan tetap bisa melihat
dengan jelas meskipun di kegelapan total. Di tengah kegelapan, kami melangkah
maju dengan waspada. Setelah berjalan beberapa saat, kami sampai di sebuah
ruangan luas.
"! I-ini……"
Di dalam ruangan raksasa itu, berjajar rapi botol-botol
kaca berisi monster yang memenuhi ruangan.
Sepertinya mereka tidak mati, tapi diberikan segel
pengamanan yang sangat ketat.
Selain itu, ada meja operasi, benda tajam berlumuran
darah, tumpukan tulang, alat suntik, dan banyak catatan penelitian yang
berserakan.
"Mengerikan sekali……"
"Ugh…… baunya busuk sekali, aru……"
"Banyak monster…… banyak juga yang belum pernah
kulihat di sekitar sini."
Semua
orang menunjukkan wajah pucat melihat pemandangan itu. Ini adalah laboratorium.
Sebagai sesama peneliti, aku bisa mengetahuinya.
Mereka
melakukan penelitian sintesis monster atau penelitian untuk memicu semacam
perubahan. Ghoul yang muncul itu pasti adalah produk sampingannya.
……Penelitian
yang mereka lakukan benar-benar mendalam. Bahkan aku
pun tidak melakukan sampai sejauh ini. Benar-benar membuat iri sekaligus tidak
sopan.
"On! On!"
"Sepertinya masih ada bagian dalam lagi. Mari kita
pergi."
Dipanggil oleh Shiro, kami melangkah lebih dalam lagi,
dan di sebuah ruangan yang mirip kamar pasien, Isha tergeletak pingsan.
"Isha-san!"
Ren berlari mendekat dan menempelkan tangannya di dahi
Isha. Dia memusatkan mana di telapak tangannya sambil memejamkan mata.
"……Sepertinya dia ditidurkan dengan obat.
Mungkin komponen penidur yang diambil dari tanaman Chloro. Kurasa."
Ren yang bisa memproduksi racun di dalam tubuhnya
saat ini sedang berlatih mengontrol berbagai komponen racun.
Fokus utamanya adalah mendapatkan pengetahuan tentang
segala jenis racun yang ada di alam. Karena meski disebut racun, jenisnya ada
bermacam-macam.
Pertama-tama dia harus memahami komponen racun yang
dia keluarkan sendiri, jika tidak maka pembicaraan ini tidak akan berlanjut.
"Jika menghirup ini dalam jumlah banyak,
seseorang akan kehilangan kesadaran dengan cepat. Karena ini sering digunakan
sebagai obat bius, kurasa tingkat racunnya rendah. Dia pasti akan bangun dalam
beberapa jam."
Dia melirik ke arahku, jadi aku membalasnya dengan
anggukan. Iya, kau mengingatnya dengan baik. Sepertinya hasil belajarmu mulai
terlihat.
"Hebat ya Ren, seperti dokter saja, aru."
"Karena Lloyd sudah mengajariku banyak hal……
ehehe."
Ren tersenyum malu-malu. Yah, aku hanya meminjamkan
dan membacakan buku untuknya, sih. Itu semua berkat niat belajarnya sendiri.
"Kalau begitu, biarkan saya yang menggendongnya.
Nah, karena urusan kita sudah selesai, mari kita pulang—!?"
Sylpha yang sedang berbicara mendadak menyipitkan
matanya.
"Ada hawa keberadaan yang mendekat."
"Iya, sepertinya mereka sudah menyadari kehadiran
kita. Tuan Lloyd, mohon berhati-hati."
Bersamaan dengan suara desisan seperti sesuatu yang
merayap, muncullah monster dengan tubuh bagian atas wanita dan bagian bawah
ular, seorang Lamia.
"……Tidak, apakah ini sebuah penyamaran?"
Baik Ghoul maupun Lamia ini adalah monster berbentuk
manusia. Kemungkinan besar ini adalah hasil penelitian. Dengan menyamar menjadi
monster, mereka menyembunyikan identitas asli dari fasilitas ini.
"Shurururururu……!"
Lidah panjangnya menjulur keluar sambil menatap tajam
ke arah kami.
"Dia datang!"
Bersamaan dengan suara Sylpha, Lamia itu melompat
menyerang.
"Shuu……!"
Lamia itu mengangkat kedua tangannya dan mulai
memusatkan Mana.
Oh, dia berniat menggunakan sihir, ya? Dilihat dari
formula sihirnya, itu adalah sihir angin tingkat menengah, Storm Fang.
Tangan kanan Lamia bersinar redup, lalu meluncurkan
bilah-bilah angin yang tak terhitung jumlahnya.
──Namun, serangan itu lenyap seketika begitu
menghantam Mana Barrier yang terpasang otomatis di sekelilingku.
"Haaaaah!"
Memanfaatkan celah itu, Sylpha merangsek maju.
Namun, pedang yang ia ayunkan terhenti di udara
kosong, seolah membentur sesuatu sebelum mencapai tubuh Lamia.
Sepertinya
pihak lawan juga memasang Mana Barrier.
Selain
bisa menggunakan sihir tingkat menengah, dia punya pelindung yang sanggup
menahan tebasan Sylpha. Makhluk ini lumayan kuat juga.
"──Crushing
Fist!"
"Di
sana──!"
Baik
serangan fisik Tao yang diperkuat Ki, maupun serangan mendadak Ren dari
titik buta, semuanya tertahan oleh Mana Barrier.
Hmm,
keras sekali. Sepertinya mereka bertiga tidak akan bisa mengalahkannya hanya
dengan serangan biasa.
"Lamia itu punya kapasitas Mana yang cukup besar,
ya. Apalagi dia bisa menggunakan sihir segala……"
"Melihat situasinya, apakah dia monster hasil
sintesis dari eksperimen mencurigakan?"
"Mungkin saja. Kalau begitu…… aku ingin
menangkapnya."
Hanya
dengan melihatnya dari jauh pun aku sudah tahu, tubuh Lamia itu disatukan
dengan berbagai formula sihir yang rumit.
Bagaimana
cara menyatukannya, bagaimana perbandingannya dengan monster lain, dan apa
peran sihir di dalamnya…… Ya, aku ingin menelitinya baik-baik.
Namun,
untuk menghancurkan pelindung mana itu, dibutuhkan sihir serangan tingkat
tinggi.
Tentu
bagiku itu hal mudah, tapi kalau aku menggunakan sihir serangan sekuat itu, aku
akan terlihat mencolok.
Kalau
sihir pelindung atau sihir suci, sekilas orang tidak akan tahu apa yang
sebenarnya terjadi.
Namun,
jika aku menggunakan sihir yang mencolok, Sylpha dan yang lainnya bisa saja
menyadari kekuatanku yang sebenarnya.
Aku
ingin menghindari hal itu. Kalau begitu, di saat seperti ini……
"Ren,
aku ingin menangkapnya. Bisa hentikan gerakannya dengan racun?"
"!
Serahkan padaku."
Ren
yang mengerti maksudku pun mengangguk, lalu berlari seolah meleleh ke dalam
kegelapan.
Ren
sendirian tidak akan bisa menembus Mana Barrier milik Lamia, tapi
ceritanya akan berbeda jika aku turun tangan.
──Sihir
sistem ruang, Shadow Link.
Ini
adalah sihir yang menghubungkan bayangan satu ke bayangan lainnya dengan jalur
Mana, memungkinkan lompatan ruang jarak pendek.
Sebuah
kombinasi antara langkah kaki pembunuh milik Ren dengan pergerakan kecepatan
tinggi.
Lamia
mencoba merespons dengan memasang pelindung, tapi dia terlambat.
Jleb!
Ren
menancapkan belati yang berlumuran racun ungu pekat ke punggung Lamia itu.
"Gi──!?"
"Tenang
saja, ini cuma racun penidur."
Ren bergumam pelan saat Lamia itu tumbang.
Aku berjalan mendekat secara diam-diam, lalu menempelkan
tangan di dekat mulutnya untuk memastikan napasnya.
……Sip, dia masih bernapas.
Ren benar-benar hanya mengeluarkan komponen
penidurnya saja. Kemampuan produksi racunnya berkembang dengan pesat.
"Gerakan tadi bagus sekali, Ren."
"Terima kasih, Sylpha-san. Tapi ini
semua berkat sihir Lloyd."
Woi, sembunyikan peranku, dong. Untuk apa aku membantumu
secara diam-diam kalau begini caranya?
"Ternyata benar ulah Tuan Lloyd. Menggunakan sihir
serangan di tempat sempit seperti ini memang berbahaya."
"Beliau langsung menyadari hal itu dan memilih
untuk memberikan dukungan. Benar-benar penilaian situasi yang luar biasa."
Sylpha bergumam sendiri, tapi sepertinya dia tidak
terlalu mempermasalahkannya, jadi ya sudahlah.
Lagipula, tempat ini adalah gunungan harta karun berisi
berbagai bahan penelitian.
Sebenarnya aku ingin menelitinya sendirian, tapi
keberadaan mereka bertiga agak mengganggu.
"Nah, urusan kita di sini sudah selesai. Mari cepat
pulang."
"Tentu saja kami berniat begitu, tapi…… Tuan Lloyd,
kenapa Anda tampak terburu-buru sekali?"
Saat
aku mendesak untuk segera pulang, Sylpha memiringkan kepalanya dengan heran.
Aduh,
tajam sekali dia.
"A-aku
tidak terburu-buru, kok. Lihat, kita harus segera membawa
Isha pulang dan menenangkan semua orang, kan?"
"Benar juga. Tidak ada gunanya berlama-lama di
tempat menyeramkan seperti ini."
"Betul, betul!"
Bahaya, bahaya. Sepertinya aku berhasil mengalihkan
pembicaraan.
Kalau mereka masih di sini, aku tidak akan bisa meneliti
laboratorium ini sepuas hati.
"Kalau begitu, mari kita bakar tempat ini. Lokasi
berbahaya seperti ini tidak boleh dibiarkan begitu saja."
Saat aku baru saja bernapas lega setelah mengusir mereka
keluar, Tao malah meletakkan obor di depan pintu masuk.
Tunggu, apa yang dilakukan si Tao ini!?
"Iya, setuju. Kebetulan di sini ada banyak benda
yang mudah terbakar. ……Hup."
Lalu, tanpa kusadari, Sylpha sudah menyebarkan
dokumen-dokumen yang dia ambil entah dari mana.
"Ah──"
Belum sempat aku mencegahnya, api langsung menyambar
dokumen-dokumen itu dan menyebar dengan cepat.
Sial. Tapi kalau aku mencoba memadamkannya sekarang,
aku akan dicurigai.
……Sialan, terpaksa, ya.
Aku pun membalikkan badan meninggalkan laboratorium itu
dan mulai berjalan.
"……Yah, kalau begitu kejahatan sudah musnah. Mari kita pulang."
"Tuan Lloyd, sejak tadi Anda bertingkah aneh…… Apa
terjadi sesuatu?"
"Ti-tidak ada apa-apa, kok! Tidak usah dipikirkan!
Ayo, kita harus segera menenangkan Kak Saria, kan?"
"Yah, memang benar begitu, sih……"
Sylpha menatapku dengan mata penuh curiga.
Bagaimanapun juga, kami pun membawa Isha kembali ke
istana.
◇
"Isha!"
Begitu sampai di istana, Saria yang sudah menunggu
langsung berlari mendekat.
Dengan
wajah cemas, ia memegang tangan Isha.
"Tidak apa-apa. Dia hanya sedang pingsan."
"……Syukurlah kalau begitu."
"Dia akan terbangun saat malam nanti. Setelah itu,
mari kita dengar ceritanya. Mungkin saja ada petunjuk yang mengarah pada
pelakunya."
Setelah membaringkan Isha di tempat tidur, dia mulai
mengigau sambil mendengkur halus.
"Nngghh…… aku sudah tidak kuat makan lagi……"
"……Dasar, kau ini benar-benar membuat orang
khawatir saja……"
Saria mencubit pipi Isha yang sedang tidur dengan
wajah bahagia.
Dia pasti sangat lega. Wajah dinginnya yang biasa
langsung sirna seketika.
Melihat Saria yang seperti itu, Sylpha dan yang
lainnya saling pandang sambil tersenyum tipis.
◇
"Nah, semoga saja isinya masih aman……"
Malam harinya, aku menyelinap keluar istana dan kembali
ke laboratorium di bawah tanah itu.
Setelah berjalan melewati pintu masuk yang hangus
terbakar, ternyata bagian dalamnya masih sangat bersih.
Bagus, bagus. Pelindungnya bekerja dengan sempurna.
Aku sudah mengantisipasi hal semacam ini, jadi saat
itu aku memasang pelindung di dalam laboratorium untuk melindunginya dari api.
Alasanku menyuruh mereka bertiga cepat pulang adalah
supaya hal ini tidak ketahuan.
Sip, bagian dalamnya aman. Hehe, dengan begini aku
bisa mendapatkan banyak informasi.
Namun, tepat saat aku masuk dan hendak mencari-cari
sesuatu……
"Anu……"
Tiba-tiba ada suara yang membuatku waspada. Ternyata di
sana ada Lamia yang kami kalahkan siang tadi.
Tepat sebelum aku melepaskan sihir, aku melihat wajah
Lamia yang tampak linglung itu dan mengurungkan niatku.
"Awawa!?
To-tolong jangan bunuh saya!"
Lamia itu berjongkok sambil memegangi kepalanya.
Aku menurunkan tanganku. Sepertinya
ada yang aneh dengan tingkah lakunya.
"Apa-apaan makhluk ini? Tingkahnya beda sekali
dengan yang tadi siang," komentar Grim.
"Hmm, sepertinya setelah dikalahkan oleh Tuan Lloyd,
dia kembali sadar. Jika dilihat baik-baik, wajahnya lumayan imut juga. Meski
belum selevel seleraku," tambah Jiriel.
Grim dan Jiriel sepertinya berpikiran sama denganku. Sepertinya
dia bisa diajak bicara, jadi mari kita tanya.
"Anu, apakah kamu punya kesadaran sebagai
manusia?"
"I-iya! Tapi saya tidak ingat nama atau apa pun……
Begitu sadar, saya sudah ada di sini dan tubuh saya sudah jadi begini. Saya benar-benar bingung……
hiks……"
Lamia itu mulai menangis sesenggukan.
"Sepertinya makhluk ini dulunya manusia. Aku tidak
tahu apa yang terjadi, tapi dia berubah jadi begini setelah dicampur dengan
monster."
"Pasti karena alat-alat ini. Menyintesis manusia dengan monster adalah tindakan yang menghina
Tuhan…… Tak bisa dimaafkan!"
Begitu ya. Mereka menggunakan Ghoul untuk menangkap
penduduk kota atau petualang untuk dijadikan bahan eksperimen.
Mungkin dia sudah dicuci otak, tapi karena prosesnya
belum sempurna, pengaruhnya hilang setelah pertarungan siang tadi.
"Tuan Lloyd, sepertinya dia lupa namanya. Bagaimana
kalau Anda memberinya nama?"
"Apa itu perlu?"
"Tentu saja. Memanggilnya Lamia itu sama saja dengan
memanggil manusia dengan sebutan 'Manusia'. Dia pasti akan senang."
Hmm, begitu ya. Menurutku nama hanyalah sebuah label,
tapi…… ya sudahlah.
"Kalau begitu, aku akan memanggilmu Lami."
"Gitu doang!?" Grim langsung memprotes nama
yang kuberikan.
Kalau punya keluhan, harusnya dia sendiri saja yang
memberi nama. Lami sendiri sepertinya tidak keberatan dan mengangguk ragu.
"Jadi Lami, apa kamu punya petunjuk tentang siapa
orang yang menangkapmu?"
"Tidak, ingatan di bagian itu juga kosong sama
sekali…… Ah! Tapi benda ini terjatuh di sana!"
Lami mengeluarkan sebuah rosario dari dalam bajunya.
"Ini…… bukankah milik orang gereja? Sudah kuduga,
dalangnya pasti ada di antara mereka!" seru Grim.
"Belum tentu. Bisa jadi ini jebakan agar kita
mencurigai pihak gereja. Jangan gegabah, Tuan Lloyd."
Apa pun itu, benda ini pasti bisa jadi petunjuk. Aku
menerima rosario itu dari Lami dan menyimpannya.
"La-lalu, saya harus bagaimana…… Dengan tubuh seperti ini, orang-orang akan menganggap saya monster……
hiks……"
Lami bertanya padaku dengan tatapan cemas. Sepertinya
sifatnya memang agak penakut.
Tapi bagiku, itu malah bagus karena dia jadi mudah
dikendalikan.
"Ya, memang dengan tubuh seperti itu kamu tidak bisa
kembali ke kota."
"Be-benar
juga ya…… Apa saya harus terus hidup sebagai monster selamanya……"
"──Tidak,
tidak juga, kok."
Mendengar
perkataanku, Lami membelalakkan matanya dengan heran.
"Lami,
kamu beruntung. Sebenarnya aku punya kenalan orang aneh yang mirip denganmu.
Aku berniat memintanya untuk menjagamu. Kalau kamu mau, bagaimana?"
"Be-benarkah!?
Saya mohon bantuannya!"
"Tentu, serahkan padaku. Kalau begitu, mari kita
berangkat."
Aku pun mengaktifkan sihir Spatial Teleportation.
Setelah sensasi melayang yang unik, pemandangan di
depanku pun berubah. Tempat tujuanku tentu saja adalah kediaman Lord Rodst.
"Galilea, oooiii Galileaaaa!"
Suaraku menggema di dalam kediaman yang sunyi itu.
Setelah menunggu beberapa saat, pintu di bagian dalam
terbuka dan Galilea pun muncul.
"Hoaaam. Siapa sih malam-malam begini…… Eh, ternyata
Tuan Lloyd. Ada apa malam-malam begini kemari? Lalu, siapa wanita itu?"
"Namanya
Lami. Sepertinya dia digabung dengan monster. Tolong urus dia di sini."
"Se-selamat malam……"
"Digabung dengan monster? ……Woaah! Beneran! Bagian bawahnya
ular!"
Melihat
Galilea yang melompat mundur, Lami buru-buru menundukkan kepalanya.
"Maaf!
Maafkan saya! Saya tidak akan merepotkan, jadi tolong izinkan saya tinggal di
sini! Saya tidak punya tempat lain untuk pergi!"
Melihat
Lami yang terus menundukkan kepala berkali-kali, Galilea melambaikan tangannya.
"……Ah, tidak, aku cuma kaget saja, jadi jangan
dipikirkan. Lami, ya? Aku akan menjagamu baik-baik, jadi tenang saja."
"Be-benarkah!?"
"Tentu saja. Asal kau tahu saja, aku juga seorang
'Cursed' (Si Terkutuk). Aku pernah dikucilkan karena lahir dengan kemampuan
aneh. Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu, tapi kau pasti sudah melalui masa
sulit. Wilayah ini memang ditujukan bagi orang-orang seperti kita agar bisa
hidup dengan tenang. Untuk saat ini, aku akan meminjamkan satu kamar di rumah
ini. Tinggallah sesukamu sampai kau bisa hidup mandiri. Kalau mau, aku bisa
mempekerjakanmu sebagai asisten rumah tangga. Kalau kau memakai rok yang sangat
panjang, bagian bawah tubuhmu itu tidak akan terlihat, kan?"
Mendengar perkataan Galilea, mata Lami mulai
berkaca-kaca.
"Te-terima kasih banyak! Terima kasih……!
Benar-benar……!"
"Jangan dipikirkan. Kita kan harus saling membantu
saat kesusahan. Hahaha!"
Galilea tertawa lebar sambil menepuk pundak Lami.
Ya, memang Galilea punya sifat yang suka menolong.
Sepertinya menyerahkan Lami padanya adalah pilihan tepat.
Saat aku sedang mengangguk-angguk, Galilea membisikkan
sesuatu di telingaku.
"……Tuan Lloyd juga keterlaluan, ya. Sampai menggabungkan manusia dengan monster segala."
"Bukan, bukan aku yang melakukannya."
Dasar laki-laki ini, apa sih yang dia bayangkan?
Begitu aku menatapnya dengan tajam, Galilea buru-buru
menepuk kepalanya yang botak.
"I-iya ya, hahaha! Maafkan aku! Karena ini Tuan Lloyd, aku langsung mengira begitu! Maaf,
maaf!"
"Dasar tidak sopan. Mana mungkin aku melakukan
eksperimen pada manusia."
"……Padahal kita sendiri melakukannya dengan
semangat," gumam Galilea pelan.
"Kau bilang sesuatu?"
"Ti-tidak ada apa-apa! Nah, Lami,
kau pasti lelah, kan? Biar kuantar ke kamarmu."
"Ba-baik……"
Galilea mengajak Lami masuk ke bagian dalam rumah.
"Ah, tunggu sebentar."
"Ada apa lagi?"
"Aku berniat memberikan ini pada Lami."
Aku mengeluarkan gunungan dokumen dari dalam tas.
"Ini apa?"
"Aku meminjamnya dari laboratorium itu. Jika ada
ini, mungkin Lami bisa menemukan cara untuk kembali ke wujud semula, kan?"
Dokumen yang berserakan di laboratorium itu berisi
banyak sekali data penelitian tentang sintesis monster.
Jika dipelajari baik-baik, mungkin akan ditemukan
sesuatu. Namun Lami melihatnya dengan wajah yang hampir menangis dan
menggelengkan kepala.
"Tidak
mungkin…… Saya sama sekali tidak mengerti apa yang tertulis di sini……"
"Jangan pesimis dulu. Lami, kamu dulunya penyihir,
kan? Seharusnya kamu bisa membacanya."
Saat pertama kali bertemu, Lami mampu mengeluarkan
pelindung mana yang tidak bisa ditembus bahkan oleh Sylpha sekalipun.
Hal semacam itu tidak bisa dilakukan tanpa latihan yang
sangat keras.
Penyihir selevel itu seharusnya bisa menguasai
formula sihir sampai tingkat tertentu.
Jadi, memahami data penelitian semacam ini harusnya
bukan masalah besar baginya.
"Lagipula, kalau kamu tidak bisa, kamu akan terus
seperti itu selamanya."
"Itu……!"
Mendengar perkataanku, Lami tersentak.
"Tuan Lloyd, itu terlalu berlebihan," komentar Grim.
"Benar. Kasihan dia sampai murung begitu,"
tambah Jiriel.
Mendengar perkataan Grim dan Jiriel, aku hanya
menggelengkan kepala.
Sekilas Lami tampak seperti orang yang ingin menyerah
sebelum mencoba, tapi di balik matanya, dia sedang berusaha keras memahami data
tersebut.
Penyihir adalah pencari ilmu pengetahuan.
Meski sifatnya penakut atau ingatannya hilang, keinginan
untuk mencari dan mendalami ilmu pengetahuan adalah hakikat seorang penyihir.
Aku yakin dia pasti bisa melakukannya.
Sesuai dugaanku, Lami yang sempat tertunduk beberapa saat
akhirnya menjawab dengan suara gemetar.
"Sa-saya mengerti. Karena ini urusan saya, saya
sendiri yang harus menyelesaikannya…… kan?"
"Iya, tepat sekali. Tapi tenang saja. Aku akan
membantumu dan siap berdiskusi kapan pun."
"Tentu saja aku juga! Bilang saja kalau butuh
sesuatu, Lami!"
Mendapat dukungan dariku dan Galilea, Lami menundukkan
kepalanya dengan penuh semangat.
"Baik! Mohon bantuannya!"
Sepertinya dia sudah memantapkan tekadnya.
Jika Lami mau menyelidiki tentang sintesis ini, maka
dalam prosesnya dia akan memahami banyak hal tentang penggabungan monster.
Dengan begitu, aku bisa mendapatkan hasil penelitiannya
tanpa harus bersusah payah. Ya, ini bagus.
"Oh iya Tuan Lloyd, soal sihir suci itu, ada sesuatu
yang aku pahami."
Galilea memanggilku saat aku hendak pulang.
"Aku sudah mencoba sihir suci pada para tahanan, dan
sepertinya sihir itu punya efek menyucikan jiwa orang jahat. Mereka berubah jadi orang baik sampai ke tahap yang mengerikan."
"Ah,
soal itu aku sudah tahu. Aku sudah mencobanya sendiri."
"Oho,
seperti yang diduga dari Tuan Lloyd. ……Tapi, apa Anda tahu soal ini? bisik
bisik bisik."
Mendengar bisikan Galilea, mataku membelalak.
"! Oh, kalau itu aku tidak tahu……"
"Hehe, kan? Ya, aku tidak tahu itu bisa dipakai
untuk apa, tapi kupikir aku harus melaporkannya dulu."
"Begitu ya. Teruskan usahamu. Tolong jaga Lami,
ya."
"Siap, serahkan padaku!"
Setelah memberikan apresiasi pada Galilea, aku kembali ke
istana dengan Spatial Transfer.
◇
Keesokan harinya setelah mengantar Lami, aku yang sudah
bersiap-siap pun menyelinap masuk ke Kantor Pusat Gereja.
Di tanganku tergenggam rosario yang kuterima dari Lami.
Dengan benda ini, membongkar identitas sang dalang
bukanlah hal yang mustahil.
"Meskipun sudah malam, tapi tetap terasa ada hawa
keberadaan manusia di mana-mana ya. Walaupun lebih mendingan daripada siang
hari," komentar Grim.
"Di antara penganut yang taat, ada juga yang datang
untuk berdoa setelah selesai bekerja. Jadi gereja tidak pernah benar-benar
kosong…… Tapi Tuan Lloyd, Anda tiba-tiba menerobos masuk ke gereja begini, apa
Anda sudah tahu siapa dalangnya?"
"Kita akan segera tahu jawabannya."
Sambil membalas pertanyaan Jiriel, aku berlari di tengah
kegelapan.
Dengan Mana Concealment, tidak ada yang menyadari
kehadiranku, dan aku pun sampai di tempat tujuan dengan mudah.
Tempat itu adalah Aula Utama yang berada di bagian paling
dalam Kantor Pusat Gereja.
Tepatnya di sebuah area tempat tinggal di sudut aula
tersebut.
Saat aku membuka pintu dan melangkah masuk, di tengah
cahaya yang remang-remang, tampak seorang pria tua sedang duduk──Paus Gitan.
"Oya, oya, ini adalah tamu yang sangat langka."
Paus menyambutku dengan senyum lembutnya yang biasa.
Wajahnya yang diterangi cahaya bulan perlahan menoleh ke
arahku.
"Selamat malam, Paus-san."
"Kamu ini…… Ah, kalau tidak salah anak laki-laki
yang menjadi penampil pembuka di konser itu ya. Lloyd-kun, kalau tidak salah.
Ada keperluan apa malam-malam begini? Apakah tidak bisa menunggu sampai
besok?"
"Maaf, tapi ini urusan mendesak. ……Apa Anda tahu tentang kasus hilangnya orang-orang akibat monster yang
akhir-akhir ini sedang ramai?"
Mendengar perkataanku, bahu Paus sedikit tersentak.
Namun dia segera menyipitkan matanya dan menunjukkan ekspresi sedih.
"Entahlah…… Saya tidak tahu detailnya, tapi
sepertinya hal yang sangat mengerikan sedang terjadi ya."
"Kemarin,
Isha diculik. Setelah mengejar jejaknya, aku sampai di saluran pembuangan. Di
sana, aku menemukan penelitian sintesis monster dan manusia."
"……Ya ampun, tindakan yang benar-benar menghina
Tuhan. Cerita yang sangat menakutkan."
"Lalu, aku menemukan ini di sana."
Aku mengeluarkan rosario yang kusembunyikan di balik
baju. Rantai peraknya memantulkan cahaya bulan dan bersinar terang.
"Benda ini dipakai oleh orang gereja, kan?
Apalagi ada nomor produksinya, jadi kalau diselidiki, kita bisa tahu ini milik
siapa."
"……Bisa jadi begitu, ya."
"Isha diculik tepat setelah konser berakhir.
Sang dalang pasti mengira dialah orang yang mengusir monster dari tubuh
pendeta. Jika dipikirkan, pelaku yang sebenarnya adalah orang yang ada di
gereja pada hari itu. Dan siapa orangnya, Anda pasti tahu kan?"
"……Entahlah, siapa ya?"
Paus tetap memasang senyum yang tampak seperti
topeng.
Hening sejenak.
"Aduh! Kelamaan!"
Tiba-tiba, Jiriel berteriak.
Bersamaan dengan suaranya, tangan kiriku bersinar
terang dan sepasang sayap muncul dari sana.
Cahaya itu ditarik oleh sayapnya dan mewujud menjadi
sosok malaikat. Itu adalah wujud asli Jiriel.
"Namaku adalah Utusan Langit, Jiriel!
Paus──bukan, Gitan! Kejahatanmu sudah terbongkar! Ketahuilah bahwa tidak ada
gunanya lagi kamu berdalih!"
Jiriel menatap tajam sang Paus dengan wajah penuh
amarah. Paus Gitan pun akhirnya menunjukkan raut wajah terkejut
untuk pertama kalinya.
"Cahaya
ini…… apakah Anda ini adalah Jiriel-sama yang agung itu……?"
"Hm, sudah lama ya Gitan. Sudah lima puluh
tahun?"
Keduanya saling menatap satu sama lain.
"Haaa!
……Tapi mengapa Jiriel-sama bisa berada di tempat seperti ini……?"
"Aku
datang untuk mengadili kejahatanmu. Gitan, kamulah dalang di balik semua
kejadian ini, kan! Akui saja!"
Mendengar
perkataan Jiriel, Gitan berpikir sejenak, lalu menundukkan kepalanya seolah
sudah menyerah.
"……Ya, Anda benar. Saya tidak bisa berbohong di
hadapan Anda. Saya mengakuinya. Semuanya adalah perbuatan saya. Anda hebat
sekali bisa membongkarnya."
Aku pun terbelalak mendengar pengakuan Gitan.
Ya ampun. Jadi dia benar-benar dalangnya?
Padahal aku ke sini cuma mau tanya karena dia adalah
pemimpin tertinggi gereja, barangkali dia bisa mengidentifikasi pemilik rosario
itu.
Tidak menyangka pertanyaanku langsung kena pada
pelakunya. Benar-benar mengejutkan.
"Luar biasa Tuan Lloyd, hanya dengan petunjuk
sedikit itu Anda bisa memastikan dia dalangnya. Aku pun menduga pelakunya orang
gereja, tapi tidak sampai terpikir dia orangnya. Bagaimana logikanya?"
"A-ah……
itu rahasia."
Aku
tidak mungkin bilang kalau aku cuma mau bertanya tapi ternyata dia langsung
mengaku sendiri.
"Hmph, mana mungkin dia bisa menipu mata tuanku,
Lloyd-sama. Aku tidak tahu apa alasanmu melakukan hal ini, tapi bersiaplah
diadili oleh hukum manusia dan bertobatlah."
"Tuan Lloyd, mari kita segera tangkap dia."
"Ya, benar."
Nah, karena pelakunya sudah ketahuan, aku tinggal
menyerahkannya pada Albert atau siapa pun.
Begitu pikirku sambil melangkah mendekati Gitan.
"……Lloyd-kun, kalau tidak salah namamu."
Tiba-tiba Gitan membuka suara.
"Apa pendapatmu tentang aku, pelayan Tuhan yang
menculik orang, menangkap monster, dan berusaha menciptakan kehidupan
baru?"
"Entahlah……"
Memangnya ada alasan lain selain rasa ingin tahu?
Melihatku yang memiringkan kepala, Gitan melanjutkan
ceritanya dengan senyum penuh ejekan pada dirinya sendiri.
"Itu semua karena aku meragukan kekuatan Tuhan. Aku
lahir di desa petani yang miskin. Setiap hari aku bekerja keras tanpa henti.
Sampai suatu hari, sekelompok perampok menyerang desa dan menjarah seluruh
hasil panen kami. Mereka yang melawan dibunuh. Orang tuaku, dan adik-adikku
yang masih kecil juga tewas. Yang lemah akan dirampas dan dibunuh. Begitulah
kenyataannya.
Sejak saat itu, aku masuk ke gereja demi mempelajari
sihir suci.
Itu karena aku pernah melihat sihir suci digunakan untuk
menyucikan dan menyadarkan orang jahat dengan mataku sendiri.
Aku berpikir dengan kekuatan itu, aku bisa mengalahkan
orang jahat tanpa harus melukai mereka.
Setelah masuk gereja, aku belajar dengan giat dan
akhirnya mendapatkan sihir suci.
Aku menjadi pendeta, bahkan memiliki keluarga. Aku
bahagia saat itu…… sampai hari itu tiba. Hehe."
Gitan
tertawa sambil bahunya bergetar.
"Aku
tidak akan pernah lupa kejadian sepuluh tahun lalu, saat seorang perampok
menyelinap ke rumahku. Dia tampak sangat miskin, pipinya cekung dan tulang
rusuknya terlihat, perampok yang sangat menyedihkan. Aku pikir inilah saatnya
aku menggunakan sihir suci. Menyelamatkan orang yang tak tertolong sekaligus
melindungi diriku sendiri…… Itulah alasanku mempelajari sihir suci.
Namun,
cahaya penyucian itu tidak sampai padanya.
Baru
kemudian aku menyadari, bahwa cahaya penyucian hanya bisa menyadarkan 'hati
yang jahat'.
Emosi jahat itu seperti kecemburuan, kemarahan,
penghinaan…… tindakan yang merendahkan orang lain.
Perampok yang sedang kelaparan itu sama sekali tidak
memiliki emosi semacam itu.
Dia lapar, dan di depannya ada makanan, jadi secara alami
dia mencoba merampasnya.
Itu adalah perasaan murni dari seseorang yang berusaha
keras untuk bertahan hidup…… Itulah sebabnya sihirku tidak mempan."
Jadi sihir suci itu hanyalah sesuatu yang menghapus emosi
negatif lawan.
Dengan kata lain, jika bukan emosi seperti itu, maka
tidak akan ada efeknya.
"Cahaya penyucian hanya bisa menyembuhkan emosi
jahat yang sudah ditetapkan dalam kitab suci."
"Jadi tidak mempan pada orang yang terdesak atau
mereka yang tidak merasa tindakannya jahat, ya." komentar Grim.
Sihir yang hanya bekerja pada 'kejahatan' yang ditentukan
dalam kitab suci.
Sihir yang bekerja pada emosi memang ada, tapi biasanya
memiliki batasan yang sangat berat.
Jika tidak, penyihir bisa dengan mudah mengendalikan
orang lain sesuka hati.
"Perampok itu mengira aku menyerangnya, dia
menjadi sangat marah lalu menusuk istri dan anakku dengan pisau sebelum
melarikan diri. Aku berusaha keras menyembuhkan mereka dengan sihir suci, tapi
mereka tidak pernah membuka mata lagi. Pisau itu menembus celah tulang rusuk
dan langsung menghujam jantung mereka. Mereka mati seketika.
Aku meratap. Oh Tuhan! Betapa tidak berdayanya
kekuatan-Mu!
Aku membenci Tuhan, dan juga merasa takut.
Bahkan aku yang sudah memiliki iman sebesar ini dan
berlatih sekeras ini, tidak mendapatkan perlindungan apa pun dan bisa saja mati
sia-sia seperti istri dan anakku."
"Itulah sebabnya kamu mulai tertarik pada kekuatan
monster?" tanyaku.
"Tepat sekali. Sejak dulu aku tertarik pada daya
tahan hidup monster yang luar biasa. Aku memanfaatkan kesempatan ini untuk
menyatukan monster dengan manusia, dan memulai penelitian untuk menciptakan
keberadaan yang baru. Setelah bertahun-tahun, biaya yang sangat besar, dan
pengorbanan yang mulia, akhirnya ini selesai……!"
Tangan Gitan merogoh ke balik bajunya.
Dalam sekejap, hawa panas yang luar biasa menyembur
keluar dari tubuhnya yang kering seperti kayu itu.
"A-apa-apaan ini…… Gitan! Apa yang akan kau
lakukan!?"
"Karena jabatan Paus ini sayang jika dilepaskan,
terpaksa aku akan menyingkirkanmu dengan kekerasan."
Asap tebal mengepul di mana-mana.
Tubuh Gitan yang tertutup asap mulai membesar dengan
cepat. Dan ketika asap itu menghilang──
──Sosok yang muncul adalah gabungan dari berbagai macam
monster.
Dasarnya adalah bentuk manusia, tapi memiliki empat
lengan dengan kuku tajam seperti binatang buas, otot yang sangat kuat, bulu
yang lebat, mata majemuk seperti serangga dengan cangkang keras, serta sayap
dan paruh burung…… dan berbagai ciri khas monster lainnya.
"Inilah eksistensi puncak yang memiliki semua
kelebihan monster. Ya, panggillah aku sebagai 'Makhluk Dewa Iblis'. Hehe,
hehehe……!"
Jiriel terbelalak melihat Gitan yang tertawa dengan suara
serak.
"……Benar-benar wujud yang mengerikan…… Gitan,
kamu sudah membuang kemanusiaanmu……!"
"Wadah
manusia itu hanyalah sesuatu yang tidak berguna. Kalau
begitu Jiriel-sama, terima kasih atas bantuannya selama ini. Mulai sekarang,
aku akan meninggalkan jalan kemanusiaan."
Setelah berkata begitu, Gitan memusatkan kekuatan di
kedua kakinya untuk melompat. Paha yang membesar tiga kali lipat itu mulai
bersiap untuk melesat──
"!? I-ini……!?"
──Namun, dia tidak bisa melompat.
Aku telah merentangkan sebuah kekai (penghalang) dan
mengurung Gitan di dalamnya.
"Maaf saja, tapi aku harus menyegel
pergerakanmu."
Bagaimanapun juga, tubuh itu adalah kumpulan sihir
yang luar biasa.
Demi menyatukan karakteristik berbagai monster, dia
menjalin dan merajut banyak formula sihir yang belum pernah kulihat sebelumnya.
Aku ingin menelitinya pelan-pelan untuk melihat seperti
apa strukturnya.
"Bocah, kau benar-benar berniat terus
menghalangiku……!"
Gitan menatapku dengan penuh kebencian.
"Hanya sebuah kekai? ……Tapi benda seperti ini……
Hup!"
Saat Gitan mengerahkan tenaga, retakan mulai muncul di
kekai tersebut.
Pranggg!
Bersama suara nyaring, kekai itu pecah, dan serpihan Mana
berhamburan ke sekeliling lalu menguap sirna.
"……Fuu, kekai yang cukup keras. Tapi bagi aku yang
merupakan Mahluk Dewa Iblis, menghancurkan benda seperti ini bukanlah perkara
sulit."
Gitan menoleh ke arahku sambil melemaskan otot bahunya.
Begitu ya, jika dia bisa menggunakan sihir sebanyak itu,
pengetahuannya tentang kekai pasti sangat mendalam.
Kekai pada dasarnya digunakan untuk menghadapi lawan yang
tidak bisa menggunakan sihir, seperti monster.
Bagi penyihir yang memahami formula sihir, menggunakannya
untuk tujuan menangkap—bukan bertahan—hanya akan memberikan efek yang tipis.
Secara ekstrem, siapa pun bisa melepaskannya asal
memiliki waktu.
"Kalau begitu, aku hanya perlu membuatmu tidak
berdaya seperti biasa."
"Keke, bukannya lari kau malah menantangku……
Baiklah. Kebetulan sekali, akan kugunakan kau untuk uji coba operasional tubuh
ini."
Gitan berkata begitu sambil menjentikkan jarinya. Ctak.
Seketika, ruang di dalam kamar itu meluas.
Hm, sihir sistem ruang. Bisa menggunakan Domain
Expansion yang tingkat kesulitannya sangat tinggi, sepertinya dia memang
punya pemahaman mendalam soal sihir.
"Kalau begini aku bisa bertarung sepuasnya. Nah,
jangan mati terlalu cepat ya…… Hiyat!"
Hanya dengan satu langkah, Gitan sudah merangsek tepat ke
hadapanku. ──Cepat. Dia menghantamkan tinjunya yang terangkat dengan kecepatan
tinggi.
Namun, Mana Barrier yang terpasang otomatis
menahannya. Kriet, dinding udara itu berderit dan
melengkung hebat.
"Hou,
Mana Barrier, ya? Tapi percuma, percuma, percumaaa!" Gitan
terus menghujamkan tinjunya tanpa peduli.
Dengan berondongan serangan dari empat lengannya, Mana
Barrier otomatismu hancur berkeping-keping dalam sekejap.
Meskipun Mana Barrier berikutnya langsung
terpasang otomatis, pelindung itu tetap dihancurkan seketika.
Lalu yang berikutnya, dan berikutnya lagi. Setiap
kali pelindung itu muncul.
"Oi, oi, apa-apaan mahluk ini!? Menghancurkan Mana
Barrier sekuat itu bahkan tanpa memakan waktu satu detik pun! Padahal aku
saja butuh beberapa detik!"
"Dia menggunakan empat formula pembatal kekai secara
bersamaan untuk melemahkan Mana Barrier. Aneh…… Gitan memang penyihir
berbakat, tapi seharusnya dia bukan pengguna tingkat ini……"
Di saat
Grim dan Jiriel bergumam, aku terus memasang Mana Barrier dengan
kecepatan tinggi, namun pihak lawan menghancurkannya lebih cepat lagi.
"Keke,
Mana Barrier yang cukup padat, tapi tubuhku ini dilengkapi lima otak dan
jantung! Menjalankan formula sihir secara bersamaan dengan pemikiran paralel
adalah hal mudah bagiku! Tentu saja──termasuk menyerang!"
Ada
reaksi Mana di bawah kaki. Detik berikutnya, lantai mencuat
dan bebatuan meruncing memanjang.
Sihir sistem tanah, Rock Fang.
Aku menghindarinya dengan melompat ringan.
"Kena kau! Di udara kau tidak akan bisa
bergerak!" Gitan melancarkan tendangan mengincar diriku yang melayang
tanpa pertahanan.
Namun, aku mengaktifkan Mana Barrier: Great.
Ting!
Terdengar suara dentuman tumpul, dan tendangan itu
terhenti tepat di depan mataku.
Meskipun memiliki batasan hanya bisa diaktifkan dalam
jarak sangat dekat, Mana Barrier: Great memiliki tingkat kekerasan
sepuluh kali lipat dari aslinya.
Tak kusangka dia memaksaku menggunakan ini secepat itu.
Lumayan juga.
Sambil terpental akibat dampak serangan, aku menyusun
formula sihir untuk membalas.
"Boleh juga. Sekarang giliranku." Yang
kukeluarkan adalah sihir api tingkat tertinggi, Scorching Flame Fang.
Aku memusatkan Mana ke satu titik, mengubahnya menjadi
gumpalan api kepadatan tinggi, lalu melepaskannya.
Taring api yang bersinar putih kebiruan terbang lurus ke
arah Gitan──dan tepat sasaran.
Kemudian, tubuh bagian atas Gitan hancur meledak.
"Makan tuh! Sekali pukul langsung tewas!"
Grim bersorak kegirangan. Gawat, apa aku berlebihan?
Aku tidak menyangka dia akan mati dalam satu
serangan.
Tapi ini aneh. Penyihir selevel dia seharusnya bisa
menangkis serangan tadi setidaknya dengan Mana Barrier, tapi dia sama
sekali tidak terlihat berusaha bertahan.
"Sepertinya tidak banyak penyihir yang sanggup
menahan serangan Tuan Lloyd. Gitan yang malang, tidurlah dengan tenang."
Di saat Jiriel bergumam sambil menatap asap yang
mengepul pekat, tubuh Gitan tiba-tiba berkedut.
"A-apa itu? Apa mayatnya sedang
kejang-kejang?"
"Bukan, tunggu…… ada yang aneh."
Di
bawah pengawasan Grim dan Jiriel, kejang-kejang itu berlanjut dua, tiga kali,
dan kemudian──dari tubuh bagian bawah Gitan, bagian atas tubuhnya tumbuh
kembali dengan mulus. Wujudnya benar-benar persis seperti
sebelum meledak tadi tanpa meleset sedikit pun.
Gitan menggerakkan tangan dan kakinya seolah sedang
memastikan, lalu menoleh ke arahku dan menyeringai.
"──Keke, Mahluk Dewa Iblis adalah eksistensi
yang melampaui segala kehidupan. Tentu saja aku juga mengambil kemampuan
regenerasi tinggi milik spesies Slime."
Kemampuan regenerasi luar biasa karena dia mahluk
bertubuh lunak.
Benar saja, setelah melihat ini aku tidak punya pilihan
selain percaya.
Aku hanya bisa berpikir kalau dia telah mengubah struktur
monster menjadi formula sihir dan menyimpannya dalam satu tubuh.
Dilihat dari jauh, formula sihir yang menyusun Gitan
tampak berantakan seperti spageti, saling menjalin dengan rumit.
Sepertinya dia tidak akan pernah bisa kembali ke wujud
semula lagi. Aku menyipitkan mata dan bergumam pelan.
"……Kau terlalu terburu-buru, Gitan."
"Rasa kasihan? ……Kau tidak perlu berpikir
menggunakan standar manusia yang membosankan. Aku tidak menyesali apa pun.
Kekuatan yang mendominasi segalanya! Daya hidup yang melampaui kematian! Aku telah menjadi eksistensi yang setara dengan Tuhan!
Ha-ha-ha-ha!"
Melihat Gitan yang tertawa terbahak-bahak seolah
sudah menang, aku hanya membalasnya dengan desahan napas.
"Bukan, bukan itu maksudku. Dengan formula sihir
yang seberantakan itu, kau tidak akan bisa menambahkan formula baru yang
diperlukan, atau sebaliknya, kau tidak akan bisa melepas formula yang sudah
tidak berguna. Dunia sihir berkembang sangat cepat. Aku rasa pasti berat harus
terus menggunakan formula sihir yang sudah ketinggalan zaman……"
Sihir yang sama pun telah berevolusi selama
bertahun-tahun dengan menghapus atau menyusun ulang bagian-bagian formulanya
berkali-kali.
Dalam sepuluh tahun, bisa dibilang semua formula
sihir yang digunakan sekarang akan diganti total. Itulah
dunia sihir.
Yah, terkadang formula lama ditemukan kegunaan barunya
dan bangkit kembali, tapi itu urusan lain.
Harus terus menggunakan formula sihir yang sama itu sama
saja dengan membuang evolusi.
Menyadari arti dari perkataanku yang menyebutnya
terburu-buru, Gitan menggertakkan giginya.
"Gu……
D-diam! Diam, diam, diam! Aku adalah eksistensi terkuat!"
Ke arah
Gitan yang menerjang, aku melepaskan cahaya Mana dari ujung jari.
Sihir sistem racun, Poison Fang. Seolah
digigit oleh ular yang melompat, sebuah lubang tajam tercipta di tubuh Gitan.
Sambil menekan luka tersebut, Gitan membelalakkan
matanya dengan penuh kejutan.
"T-tidak mungkin!? Kenapa tidak
beregenerasi!?"
Melihat lubang yang tidak menutup, Gitan meninggikan
suaranya.
"Aku menanamkan racun. Racun yang melampaui
kecepatan regenerasimu."
Poison Fang yang
telah kutambahi formula berlapis-lapis hingga memiliki konsentrasi puluhan kali
lipat.
Seharusnya itu tetap tidak bisa menandingi kecepatan
regenerasi Slime, tapi semua racun ini adalah jenis yang efektif khusus
terhadap Slime, seperti korosi, pelapukan, dan dekomposisi.
Apalagi dengan bagian dalam tubuh yang sudah dipenuhi
formula sihir seperti itu, sihir penyembuhan akan kehilangan efektivitasnya.
Itulah sebabnya Gitan tidak bisa menyembuhkan
racunnya sendiri.
Mungkin dia pikir selama ada regenerasi semua akan
baik-baik saja, tapi itu pemikiran yang dangkal. Padahal
jika dia tahu, dia mungkin bisa menyusun formula sihir baru.
……Yah, begitulah. Memfiksasi formula sihir berarti
membuang fleksibilitas.
"Eksistensi terkuat, ya? Ternyata tidak sehebat yang
kukira."
"Gu, gugugugugu……!"
Mendengar perkataanku, Gitan mengepalkan tinjunya hingga
darah menetes dari sana.
"Gu, guwooooo!"
Luka Gitan perlahan-lahan mulai menutup. Hou, dia
menghasilkan panas di dalam tubuhnya untuk menguraikan racun itu secara paksa,
ya?
Tapi itu pasti cara yang sangat kasar. Stamina-nya tampak berkurang, dan lukanya pun belum sembuh total.
"……Begitu ya, aku memang tidak menyiapkan
langkah pencegahan yang sempurna terhadap racun. Tapi
serangan seperti itu tidak akan mengenaku untuk kedua kalinya."
Pola bercahaya muncul di tubuh Gitan. Apa itu? Terlihat
seperti cangkang serangga.
"Aku melapisi tubuhku dengan cangkang Arch Beetle
yang membanggakan ketahanan sihir tinggi. Dengan ini, racun tidak akan
tembus."
Aku pernah mendengar bahwa cangkang Arch Beetle
itu ringan dan kuat, sering digunakan untuk zirah.
Tapi itu adalah monster langka yang sulit didapatkan……
Tak kusangka dia bisa menciptakannya semudah itu.
"Jangan-jangan, kau bisa menciptakan bagian tubuh
monster lain juga!?"
"Tentu saja. Sabit God Mantis, bulu Silver
Kong, dan segala macam kekuatan monster lainnya bisa kugunakan."
"God Mantis dan Silver Kong!?
Bukankah itu spesies langka yang tinggal di pedalaman benua!?"
Melihatku yang membelalakkan mata karena terkejut, Gitan
menyeringai.
"Keke, kau tampaknya terkejut. Jika kau menyerah
sekarang, aku akan membunuhmu tanpa rasa sakit."
"Cih, cuma karena bisa pakai kekuatan monster saja
sudah sombong sekali! Tuan Lloyd, sikat saja dia!"
Grim berseru. Namun, aku justru merasa kagum. Bisa
menyusun segala macam bagian tubuh monster? Kemampuan yang benar-benar luar
biasa.
"……Aku angkat topi. Sepertinya aku tidak bisa
membunuh orang ini."
"Tuan Lloyd!? Apa-apaan itu, kenapa Anda jadi ciut
begitu!?"
"Bukan begitu, ini benar-benar kemampuan yang
hebat. Bahan dari monster itu, tergantung jenisnya, terkadang sangat sulit
didapatkan. Banyak yang bisa digunakan untuk pembuatan pedang sihir atau alat
sihir, dan jumlah yang dibutuhkan pun banyak. Tapi bisa menciptakan hal seperti
itu sesuka hati, aku benar-benar tidak bisa membunuh orang ini. ……Terlalu
sayang untuk dibuang."
"Hah……?"
Perkataanku membuat semua orang terdiam seribu
bahasa. Eh? Ada apa ya? Apa aku mengatakan sesuatu yang aneh?
"Ha……
Hahaha! Se-seperti yang diduga dari Tuan Lloyd! Kalau
begitu, kita tangkap hidup-hidup! Mari kita preteli semua bahan dari dia!"
"Benar, lalu mari kita sucikan hatinya yang jahat
dengan sihir suci dan jadikan dia bawahan."
"Ooh! Begitu ya, itu ide yang bagus."
Setelah menggabungkan monster dengan manusia, lalu
mencoba membunuh orang yang menegurnya demi membungkam saksi, itu jelas-jelas
berasal dari hati yang busuk.
Sebagai seorang pangeran, aku harus membenci dosanya tapi
bukan orangnya. Mereka yang tersesat harus dituntun kembali ke jalan yang
benar.
……Aku sempat berpikir untuk meledakkan tubuhnya sekali,
lalu saat dia beregenerasi, aku akan menanamkan benda berat untuk mengunci
gerakannya selamanya. Tapi sepertinya akan lebih mudah jika dia bertobat saja.
"Ke, keke…… Terlalu sayang untuk dibunuh, katamu……
Jangan melawak. Kalau begitu, coba saja kalau bisa!"
"Tidak perlu kau suruh."
Aku
sudah menyusun formula sihirnya. Sihir suci sistem penyucian, Grand Holy
Light.
Aku memusatkan cahaya penyucian kasta tertinggi ke satu
titik, lalu melepaskannya. Kilatan cahaya yang sangat menyilaukan menembus
tubuh Gitan.
"Berhasil! Kena telak!"
"Ti-tidak! Tidak mempan! Dia malah menerjang
kemari!?"
Meskipun terkena cahaya dan mengeluarkan asap putih,
Gitan terus merangsek maju tanpa peduli.
"Bodoh! Sebagai pengguna sihir suci, mana mungkin
aku tidak menyiapkan langkah pencegahannya!"
Yah, masuk akal sih. Langkah pencegahan terhadap sihir
manipulasi mental itu relatif mudah. Sihir sistem mental, Soul Canopy.
Sihir ini sama sekali tidak memiliki daya tahan terhadap
dampak fisik, tapi sebagai gantinya, ia memiliki efek untuk mencegah segala
jenis manipulasi mental. Tentu saja aku juga selalu memasangnya setiap saat.
Pada dasarnya sihir manipulasi mental itu sendiri
tersusun dari formula yang lemah dan hanya bisa berhasil jika dilakukan sebagai
serangan kejutan.
Tapi jika ada pelindung ini, pertahanannya
benar-benar seperti dinding besi.
Bahkan jika ada perbedaan level yang jauh antar
pengguna sihir, mustahil untuk mengenai manipulasi mental pada lawan yang
memasang pelindung ini.
"Apalagi dia punya lima otak dan bisa menjalankan
formula sihir dengan sangat cepat! Sialan, ini curang!"
"Biar pun itu Tuan Lloyd, sepertinya akan sangat
sulit untuk menembus kekai ini dan mengenai sihir suci padanya……!"
Memang benar, pihak lawan akan menyusun ulang kekainya
lebih cepat daripada aku melepaskannya. Setidaknya dalam kondisi saat ini.
"Kalau begitu, aku tinggal menghancurkan
otak-otaknya saja."
Jika kecepatan penyusunan formulanya berkurang menjadi
seperlima, sihir suciku pasti akan lebih kuat dari kekainya.
Akan kuhancurkan dia, lalu sebelum dia beregenerasi, akan
kuhujamkan sihir suci dengan kekuatan penuh.
"Jangan menggumam terus!"
Di saat itu, Gitan telah menumbuhkan kuku-kuku tajam.
Kuku itu berwarna hitam dan berbentuk aneh. Kepercayaan
diri ini, pasti ada sesuatu.
"Itu kuku Rune Wolf! Kukunya bisa membelah
formula sihir dan membatalkan pertahanan sihir! Berbahaya jika menahannya
dengan Mana Barrier!"
"Kalau begitu…… Light Weapon."
Aku
menciptakan pedang cahaya dan menangkis serangannya.
Jika
itu pedang cahaya yang diwujudkan secara fisik, maka tidak akan terkena dampak
dari penghancuran formula sihir.
Lebih jauh lagi, aku menggeser bilah pedang dan
melakukan tusukan.
"Teknik Pedang Ganda Aliran Langris── Raging
Dragon Horn."
Aku meniru gerakan Sylpha dan melancarkan serangan
bertubi-tubi.
"Kecepatan yang lumayan, tapi hanya segini tidak
akan mempan pada aku si Mahluk Dewa Iblis!"
Namun kecepatan serangan Gitan melampaui itu.
Muu, sulit juga untuk menangkis semuanya.
Aku melompat jauh ke belakang dan mulai mengumpulkan
Mana.
Akan kuhancurkan saja dengan sihir skala besar
secepatnya.
Double
Casting──
"Oya,
sihirmu itu sangat berbahaya. Karena itu, izinkan aku
menyegelnya."
Gitan yang menyadari posisiku langsung menebas
lantai.
Apa yang dia rencanakan?
Apalagi dia sendiri juga ikut jatuh.
Meski merasa heran, aku tetap mendarat.
Duummm!
Di tengah kepulan debu akibat reruntuhan, terdengar
suara-suara panik dari sekeliling.
"A-apa yang terjadi!? Apa yang sedang terjadi!"
"Entahlah! Langit-langitnya runtuh……"
"Hiiieee! Mo-monster!"
Asap debu menipis, dan saat aku melihat sekeliling,
ternyata ada banyak penganut
di sana.
Semuanya gemetar ketakutan melihat kami.
"Ini adalah Ruang Doa. Bahkan di jam seperti ini,
masih banyak orang yang mempersembahkan doa kepada Tuhan. Bagaimana? Dengan
banyaknya orang di sekitarmu, kau tidak akan bisa menggunakan sihir, kan?"
Gitan tertawa penuh kemenangan. Namun aku tidak peduli
dan melanjutkan rapalan sihirku.
"K-kau, apa yang kau lakukan……!? Apa kau tidak
peduli apa pun yang terjadi pada orang-orang ini!?"
"■■■, ■■■──"
Fast Double Casting
menggunakan kumpulan mantra.
Yang kulepaskan ke arah Gitan yang kebingungan adalah
sihir penggabungan ganda tanah dan air, Glacial Storm Fang.
Pusaran udara dingin yang dilepaskan dengan Mana terpusat
menelan Gitan.
"Aku merentangkan kekai di sekitar saat melepaskan Glacial
Storm Fang yang area serangnya sempit. Dengan begini orang sekitar tidak
akan terlibat."
"Tuan Lloyyyyddd! Barusan ada beberapa orang yang
hampir membeku, lho!"
"Jiriel ini sudah menahannya! Jiriel ini!"
……Sepertinya ada sedikit yang bocor.
Yah, semua orang pasti pernah berbuat salah, kan? Iya.
Gitan sendiri menangkisnya dengan kuat menggunakan Mana Barrier.
Bahkan Double
Casting pun bisa ditahan…… sepertinya dia memang penyihir
tingkat yang cukup tinggi.
Apalagi dengan kemampuan regenerasi itu. Sihir biasa tidak
akan bisa mengalahkannya.
"Benar juga, aku masih punya satu mulut lagi,
kan?"
Jika aku menggunakan mulut di telapak tangan kiri tempat
Jiriel bersemayam, Triple Casting akan menjadi mungkin.
Jika aku menembakkannya dengan Mana Concentration,
aku seharusnya bisa menembus Mana Barrier miliknya dan memberikan
kerusakan fatal.
Sihir penggabungan tiga elemen—waktunya jauh lebih sulit
dibandingkan penggabungan dua elemen, tapi...
"Layak untuk dicoba... kan!"
Sambil bergumam begitu, aku membuka mulut di kedua
telapak tanganku dan memasang kuda-kuda.
Aku mengaktifkan sihir penggabungan tiga elemen air,
tanah, dan angin, Ice Steel Fang, dengan Mana Concentration.
Es dan salju yang mengeras seperti baja dalam suhu
ultra-rendah dikumpulkan menjadi tornado kecil, lalu diperas menjadi tipis dan
tajam.
Pusaran es yang membentuk spiral itu menderu, seolah-olah
seekor ular yang sedang meronta.
"──Rasakan ini."
Saat aku mengayunkan lengan, pusaran es itu melesat ke
arah Gitan, meliuk-liuk seperti cambuk.
Serangan itu menghancurkan Mana Barrier yang
dipasang Gitan dalam satu pukulan, lalu menembus dan memutus salah satu dari
empat lengannya.
"Nguuuh!? L-lenganku tidak beregenerasi,
katamu...!?"
"Untuk mencegah regenerasi tipe Slime, cukup
buat mereka dalam kondisi membeku! Hal sepele seperti itu, mana mungkin
Tuan Lloyd tidak tahu!"
Jiriel berseru dengan bangga.
Pusaran es yang menembus Gitan melengkung kembali ke
arahku sesuai kendaliku.
Target berikutnya adalah tiga lengan yang tersisa.
Gitan ragu untuk menahannya dengan Mana Barrier dan mencoba menghindar.
Tetap saja, bagian yang tergores karena tidak sempat
menghindar langsung membeku.
Aku terus mengendalikan pusaran es, mengulang
serangan tanpa memberi ampun.
"Tunggu, tunggu! ……Sudah kubilang tunggu…… Kuoh!? D-di
sekeliling sini ada begitu banyak orang, tahu!?"
"Menyerang tanpa memedulikan mereka sama sekali……!
A-apakah Kamu masih pantas disebut bangsawan yang seharusnya melindungi
rakyat!?"
"Sopan sedikit, dong. Aku peduli, kok. Aku menyerang
sedemikian rupa agar sebisa mungkin tidak mengenai mereka."
"Itu karena kami yang menangkisnya, tahu!"
Benar, meskipun terkadang hampir kena, Grim dan Jiriel
memblokirnya sehingga tetap aman.
Selama tidak kena, tidak ada masalah.
"Gugu……
Ka-kalau begitu, aku akan langsung menjadikan mereka perisai!"
Tiba-tiba,
Gitan melompat ke arah kerumunan dan merenggut kerah baju seorang anak yang
terduduk lemas ketakutan.
Lalu
dia menariknya dan menyanderanya dengan pitingan lengan.
Bajingan
ini, dia berniat menjadikan anak kecil sebagai perisai.
"Licik
sekali! Menggunakan anak kecil sebagai perisai!"
"Uwaah!?
Aneh sekali kau menyerang sambil berkata begitu!"
Asal
tahu saja, aku hanya mengincar kakinya agar tidak melibatkan anak itu.
Saat Gitan melompat menghindar, aku mengarahkan pusaran
es kepadanya, tapi dia menjadikan anak itu perisai. Cih.
Sambil mendecak, aku menjauhkan pusaran es itu dan
menariknya kembali ke tangan.
"Tuan Lloyd, mau bagaimanapun kita tidak bisa
melindungi anak itu secara spesifik!"
"Pertahanan kami tidak akan kuat menahan hantaman
langsung sihir Tuan Lloyd. Jika anak itu dijadikan perisai, kita tidak bisa
berbuat apa-apa!"
Memang benar, kalau begini dia akan ikut terlibat.
Aku menyerah dan membatalkan Ice Steel Fang.
Pusaran es yang sudah kembali ke tanganku pun menguap
dan lenyap.
"Fu, fufu, hahahahaha…… Sepertinya kau tidak
cukup bodoh untuk menyerang bersama anak itu, aku jadi tenang! Ternyata kau masih punya hati
manusia, ya."
Sambil
berkeringat dingin karena lega, Gitan tertawa dengan suara kering.
Rasanya dia baru saja mengatakan sesuatu yang sangat
tidak sopan padaku.
"Begitu ya, kau ternyata sosok yang lebih hebat dari
dugaanku. Meski masih bocah, ketajaman sihirmu sungguh mengerikan."
"Pantas saja Jiriel-sama begitu menghargaimu. Jika
aku tidak mencabut nyawamu sekarang, kau mungkin akan menjadi ancaman bagiku
nantinya."
Lengan yang diangkat Gitan bergejolak menonjol, dan
lahirlah kepala seekor naga.
"Itu
kan…… Black Dragon! Ras naga terkuat di dunia iblis! Dia bahkan bisa
menciptakan hal seperti itu!?"
"Pasti
dia mendapatkannya dari naga liar yang dulunya dibawa oleh iblis…… Sepertinya
dia benar-benar memanfaatkan posisi Paus secara maksimal……!"
Black
Dragon adalah
monster yang hampir tidak pernah terlihat bahkan di seluruh benua.
Aumannya
bisa menggetarkan seluruh makhluk hidup, dan Breath miliknya konon bisa
menghanguskan satu desa dalam sekali sembur.
Akan jadi bencana besar jika dia menggunakan hal seperti
itu di sini.
"Kukuku, aku sendiri tidak berniat bertindak
sejauh ini. Tapi ini salahmu. Kau yang memiliki kekuatan sebesar
itu!"
"Sekarang, matilah! Berlututlah di hadapan
kekuatanku, dan lenyaplah tanpa sisa sedikit pun!"
Mana milik Gitan terpusat pada naga itu, dan api mulai
merembes dari mulutnya.
Bajingan ini, apa dia benar-benar berniat melepaskan Breath
di tempat seperti ini? Kota ini bisa hancur berantakan.
Sial, bagaimana baiknya…… Benar. Pakai itu saja.
Cara aneh penggunaan sihir suci yang dikatakan Galilea.
Aku sempat bingung untuk apa gunanya, tapi sekaranglah
saatnya untuk memakainya.
Meski tanpa persiapan, aku harus melakukannya.
Aku memusatkan Mana di ujung jariku.
Cahaya yang benderang berkumpul di ujung jari dan mulai
memancarkan kilatan.
"Sihir suci!? Ha! Apa kau tidak mengerti kalau
dilakukan berkali-kali pun akan percuma!?"
"■■■──"
Rapalan cepat dengan kumpulan mantra, tidak masalah. Akan
sempat dalam sekejap.
"──Ini akhirnya!"
Kepala naga itu membuka rahangnya dan menyemburkan api
merah membara.
Seketika, pandanganku menjadi putih bersih.
"……Selamat tinggal gerejaku. Berat rasanya, tapi aku
akan memanfaatkan kekacauan ini untuk kabur membawa hasil penelitianku."
Gitan bergumam pelan dan hendak melangkah
pergi──namun matanya mendadak membelalak.
Langkahnya terhenti saat melihatku berdiri di balik
kepulan asap yang mulai menipis.
"Ba…… Bagaimana bisa kau masih hidup……!? Tidak, bukan cuma kau! Kenapa
bangunan ini, bahkan manusia-manusia ini, tidak ada yang terluka sedikit
pun……!?"
Seharusnya,
Breath dari Black Dragon akan menghancurkan kota, atau setidaknya
membuat area sekeliling ini runtuh menjadi lautan api.
Namun
kenyataannya, sekeliling kami benar-benar utuh. Bangunan masih tegak dan para
penganut pun menunjukkan wajah bingung seolah tidak tahu apa yang baru saja
terjadi.
"Yup, syukurlah berhasil."
Aku mengembuskan napas lega karena semuanya berjalan
lancar.
Sambil merasa tenang, aku melangkah mendekati Gitan.
"Ja-jangan mendekat! Jika kau melangkah lebih
jauh, nyawa anak ini tidak akan tertolong!?"
"Sudah sia-sia. Menyerahlah, Gitan."
"Kau pikir…… aku hanya menggertak!?"
Gitan berkata demikian sambil menggeser kuku tajamnya
yang menempel di leher anak itu.
Dia pasti mengira darah merah segar akan menyembur
keluar──namun kenyataannya berbeda.
"……Eh?
A-apa yang terjadi……?"
Anak itu sama sekali tidak terluka.
Dengan wajah polos, dia melihat ke arahku dan Gitan
secara bergantian.
"Mustahil! Cih!? Ke-kenapa! Kenapa aku tidak bisa
melukainya……!?"
Alasannya hanya satu. Tepat sebelum serangannya mendarat,
aku telah memberikan sebuah formula sihir pada tubuhnya.
Itu
adalah sihir suci Heal Light. Sebuah sihir suci yang menyembuhkan tubuh
dengan cahaya suci, namun ini memiliki cara penggunaan yang berbeda dari sihir
penyembuhan biasa.
Sihir
penyembuhan biasa bekerja dengan mengaktifkan formula sihir yang memancarkan
cahaya untuk menutup luka, tapi Heal Light ini menempelkan formula
tersebut pada luka dan menyembuhkannya seiring berjalannya waktu.
Singkatnya,
ini seperti koyo.
Anehnya,
ini adalah sihir suci sistem manifestasi yang sama dengan Light Weapon.
Jika
kamu menyerang menggunakan bagian yang ditempeli Heal Light, serangan
itu tidak akan memberikan kerusakan, malah memberikan efek pemulihan pada
lawan.
Galilea dan yang lainnya secara tidak sengaja menemukan
ini saat latihan tempur.
Jika menggunakan ini, aku bisa membatalkan serangan lawan
secara sepihak.
Meski begitu, jika lawan cukup tenang, mereka akan segera
menyadarinya dan pembatalan formula sihirnya pun mudah.
Hanya bisa digunakan saat lawan sedang sangat panik.
Sama seperti sekarang──
"──Mustahil, mustahil, mustahil, mustahil!"
Gitan menggelengkan kepalanya dalam keadaan goyah, ragu,
dan bingung.
Aku memanfaatkan celah itu dengan mematikan hawa
keberadaan menggunakan Mana Cut-off, lalu menyelinap ke belakang Gitan.
Kemudian,
aku mengaktifkan sihir suci sistem penyucian, Grand Holy Light.
Kilatan cahaya itu menyelimuti Gitan──
"Cih!? Ke-kekai...!?"
Gitan mencoba merentangkan kekai, tapi bagian yang
sebelumnya tergores Ice Steel Fang masih membeku.
Hal itu menyebabkan beberapa otaknya berhenti
berfungsi.
Karena itulah, aku lebih cepat.
"Gwaaaaaaaaaaaaaaaaakh!"
Tubuh raksasa Gitan melonjak hebat.
Asap putih yang menyembur dari mulutnya mulai menguap
sirna.
"Kita berhasil, Tuan Lloyd! Bajingan itu sudah
melotot pingsan!"
"Hawa jahat Gitan sedang disucikan. Dengan
ini, dia akan kembali normal saat terbangun nanti."
Gitan tumbang terjerembap. Wajahnya kini terlihat lebih
tenang dari sebelumnya.
◇



Post a Comment