NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tensei Shitara dai Nana Ouji dattanode Volume 5 Part 1


Aku adalah pangeran ketujuh dari Kerajaan Saloum, Lloyd de Saloum.

Seorang anak laki-laki berusia sepuluh tahun yang sangat mencintai sihir.

Di kehidupan sebelumnya, aku hanyalah seorang penyihir miskin yang tidak punya nama.

Saat itu, aku tewas karena terlalu terpana melihat sihir tingkat tinggi yang baru pertama kali kulihat, hingga ceroboh dan lupa memasang pertahanan saat terkena telak serangannya.

Saat tersadar, aku sudah bereinkarnasi.

Karena aku adalah pangeran ketujuh yang usianya terpaut jauh dari kakak-kakakku, aku tidak memiliki hak pewarisan takhta.

Ayahku, Sang Raja Saloum, bahkan menyuruhku untuk hidup dengan bebas.

Karena itulah, demi mendalami sihir kesukaanku tanpa perlu merasa sungkan, aku menghabiskan hari-hariku dengan santai mengikuti rasa ingin tahuku.

Berkat statusku sebagai pangeran, aku sama sekali tidak kekurangan dana maupun buku.

Aku diizinkan melakukan apa pun sesuka hati, tapi belakangan ini aku merasa orang-orang di sekitarku menaruh harapan yang aneh padaku... Yah, itu pasti cuma perasaanku saja, kan.

Pangeran ketujuh yang biasa saja, tidak menonjol, dan hanya sedikit menyukai sihir—itulah posisiku.

 

Suara lembaran kertas yang dibalik terdengar bergema di dalam ruangan.

Hari ini aku sedang melakukan rutinitas membacaku.

Belakangan ini, berkat terciptanya hubungan dengan negara tetangga, Bertram, aku jadi bisa mendapatkan buku-buku berharga yang sebelumnya sulit didapat.

Apalagi akhir-akhir ini maid-ku, Sylpha, dan pangeran kedua, Albert, yang biasanya sering mengurusku tampaknya sedang sangat sibuk.

Karena mereka tidak punya waktu untuk mengusikku, aku jadi bisa bertindak lebih bebas dari biasanya.

Aduh, apa tidak apa-apa ya?

Setiap hari tidak keluar kamar dan hanya membaca buku-buku berharga. Rasanya aku jadi merasa sedikit bersalah.

Sembari memikirkan hal itu, saat aku hendak mengambil buku baru, aku menyadari adanya suara teriakan penuh semangat dari luar ruangan.

"...Omong-omong, hari ini di luar berisik sekali ya."

Saat aku melihat ke luar jendela, para prajurit sedang berlari di area luar kastil, melakukan latihan ayunan pedang kayu, dan berbagai pelatihan lainnya.

Sosok yang menjabat sebagai instruktur mereka adalah maid berambut perak, Sylpha.

Dia adalah pengasuh sekaligus pelayanku, yang juga merupakan putri dari komandan ksatria dan ahli pedang aliran Langris.

"Oya, Sylpha sedang melatih para prajurit. Jarang-jarang sekali."

Biasanya dia selalu menempel padaku untuk melatih ilmu pedang atau mengurus kebutuhanku, tapi entah angin apa yang membuatnya berubah pikiran seperti itu.

Saat aku memiringkan kepala keheranan, maid berkulit cokelat yang sedang bersih-bersih di sampingku mengembuskan napas panjang.

"Astaga. Kamu baru sadar? Lagipula ini bukan cuma hari ini saja, tapi sudah sejak beberapa waktu lalu. Sylpha-san sedang membimbing para prajurit, lalu Albert-sama dan pangeran-pangeran lainnya juga sedang sibuk kesana-kemari."

Dia adalah Ren. Dulunya dia anggota serikat pembunuh, tapi setelah banyak kejadian, sekarang dia bekerja sebagai maid.

Dia memiliki konstitusi tubuh bernama Noroware yang membuatnya tidak bisa mengendalikan tenaga sihir, tapi setelah aku mengukir formula sihir di tubuhnya, dia jadi bisa mengontrolnya.

Awalnya itu adalah kemampuan untuk menyebarkan racun, tapi sekarang pengendaliannya sudah semakin hebat.

Dia bisa mengubah komponen racun, mengatur takaran campurannya, hingga mampu membuat berbagai macam obat.

Teh yang dituangkan untukku saat ini pun adalah teh herbal yang dibuat dengan racun yang sudah diramu tersebut, aromanya yang khas dan harum semerbak di dalam ruangan.

Aku menerimanya, lalu membasahi bibirku sedikit.

Hm, campuran obat baru lagi ya. ...Ya, rasanya enak. Kemampuanmu sudah meningkat.

"Jadi, kenapa semuanya sibuk kesana-kemari?"

"Bohong!? Kamu bahkan tidak tahu soal itu!?"

Ren terbelalak saking terkejutnya.

Habisnya, aku kan baca buku terus.

Lagipula aku sama sekali tidak tertarik dengan apa yang sedang terjadi.

Pertanyaanku tadi pun cuma sekadar untuk bahan obrolan saja.

"...Sepertinya kamu benar-benar tidak tahu ya. Antara mau heran atau memang dasar Lloyd sekali... Sekarang ada rumor kalau Kerajaan Saloum sedang berada di ambang kehancuran, lho?"

"Masa sih?"

"Iya. Kamu tahu soal Stampede, kan?"

"Ah, bencana akibat kemunculan monster dalam jumlah besar itu ya. Kalau skalanya besar, katanya bisa menginjak-injak sampai hancur sebuah desa."

"Nah, yang super, super super super~~~ besar sekarang sedang mendekati negara ini. Sampai bisa menginjak-injak seluruh wilayah! Semuanya sedang sibuk demi mencegah hal itu!"

Ren merentangkan kedua tangannya, menekankan betapa gawatnya situasi saat ini.

Ho, Stampede skala besar ya.

Aku tahu keberadaannya tapi belum pernah melihatnya secara langsung.

Ada banyak teori, seperti konsentrasi sihir di wilayah tertentu meningkat sehingga monster menjadi mabuk dan menggila, atau karena perintah dari entah semacam raja monster, kekurangan makanan, proses evolusi, melarikan diri dari bahaya... tapi penyebab pastinya tidak diketahui.

Sesuatu yang merusak sifat alami monster yang aslinya tidak berkelompok dan tidak bermigrasi jarak jauh, ya.

Semakin aku memikirkannya, aku jadi semakin penasaran.

"Kenapa kamu tidak memberitahuku soal hal semenarik itu dari awal?"

"...Asal kamu tahu, aku sudah menjelaskannya berkali-kali, lho. Tapi sepertinya Lloyd sama sekali tidak mendengarkan."

Ren menggembungkan pipinya dengan kesal.

Kalau dipikir-pikir, sejak beberapa hari lalu aku memang merasa dia terkadang menyampaikan sesuatu dengan sangat berapi-api... Yah, aku kan sedang fokus membaca. Mau bagaimana lagi.

"Hm, tapi kalau wilayahnya sampai diinjak-injak itu merepotkan ya, aku jadi khawatir. Sepertinya aku akan pergi melihatnya sebentar. Fufufu."

"...Kenapa kamu senyum-senyum sendiri?"

Waduh, sepertinya sudut bibirku sedikit naik. Tidak boleh, tidak boleh.

Tentu saja aku jadi menantikannya.

Salah satu teori penyebab terjadinya Stampede adalah perubahan abnormal pada tenaga sihir yang terkandung dalam tubuh monster.

Apa yang terjadi di dalam tubuh para monster itu, atau apakah ada faktor lain, atau mungkin sosok misterius yang memerintahkannya... apa pun itu, ini sangat menarik perhatianku. Rasanya tidak ada alasan untuk tidak pergi.

"Kalau begitu, aku pergi sebentar ya. Kalau ada yang tanya, tolong buat alasan yang masuk akal."

"Iya, hati-hati."

Aku berpamitan pada Ren lalu keluar dari ruangan.

Katanya datang dari arah utara.

Aku tidak tahu lokasi pastinya, tapi kalau terbang asal saja pasti akan ketemu, kan?

"Kalau memang skalanya sebesar yang dibilang sampai dianggap krisis negara, pasti bakal gampang kelihatan cuma dengan sekali lihat saja, lho."

Tiba-tiba sebuah mulut muncul dari telapak tanganku.

Makhluk ini adalah Grim, seorang iblis. Karena banyak hal yang terjadi, aku membiarkannya tinggal di tanganku.

"Benar, Stampede terbesar yang pernah diobservasi konon sampai menutupi cakrawala. Jika apa yang dikatakan Ren-tan benar, Anda bahkan tidak perlu mencarinya."

Kali ini mulut yang muncul di telapak tanganku yang satu lagi menyahut.

Yang ini adalah Jiriel, seorang malaikat. Sama seperti Grim, dia juga tinggal di tanganku karena banyak alasan.

"Rasanya penjelasan Anda kasar sekali ya..."

"Bagi Tuan Lloyd, perlakuan terhadap kita memang cuma sebatas ini."

Mereka berdua mulai menggumamkan sesuatu, tapi aku biarkan saja. Sekarang bukan saatnya memikirkan hal itu.




"Pokoknya, aku harus pergi melihatnya sendiri."

Rasa antusias mulai bergejolak di dadaku. Sambil menahan perasaan yang meluap-luap, aku melangkah keluar menuju halaman.

"Oya, mau pergi ke mana, Lloyd?"

Tiba-tiba, seorang pria tampan berambut pirang muncul dan menyapaku. Dia adalah Pangeran Kedua Saloum—Albert.

Waktunya sangat pas, seolah-olah dia memang sudah menungguku di sini.

"Hahaha, wajahmu seolah sedang berkata: 'Waktunya pas sekali, seolah-olah dia memang sudah menungguku'. Memang benar, sebenarnya aku memasang sihir Tracking padamu agar aku tahu kapan pun kamu keluar dari kastil."

"Apa... Jadi begitu ya?"

Tracking, sihir yang menanamkan tanda mana pada target tertentu untuk memantau pergerakannya, adalah sihir dengan tingkat kesulitan yang lumayan tinggi.

Namun, bagi Albert yang merupakan penyihir tingkat tinggi di kastil ini, hal itu tentu bukan masalah besar.

Ditambah lagi, meskipun aku sedang asyik membaca, fakta bahwa aku tidak menyadarinya berarti dia telah menyusun struktur mantra yang sangat rapi.

"Belakangan ini levelmu sebagai penyihir sudah cukup tinggi, ya. Fufufu, ini adalah mantra yang kususun selama sebulan penuh. Kamu tidak menyadarinya, kan?"

"Iya, sama sekali tidak..."

Yah, itu karena aku terlalu asyik membaca buku.

Kalau sudah konsentrasi, aku bahkan sering melupakan keberadaan Sylpha atau Ren meskipun mereka berada tepat di dekatku.

Hmm, tapi tetap saja, ini adalah sihir penyembunyian yang luar biasa. Jika tidak diperhatikan dengan saksama, keberadaannya tidak akan terdeteksi.

"Tapi, kenapa Kakak melakukan hal seperti itu padaku?"

"Karena aku yakin, begitu kamu tahu soal Stampede, kamu pasti akan langsung melesat pergi. Maaf ya, aku diam-diam memasangnya padamu."

Sifatku sudah terbaca sepenuhnya...?

Padahal aku sudah berusaha hidup tenang sebagai anak kecil yang cuma hobi sihir, gawat juga.

Melihatku yang tampak goyah, Albert menyunggingkan senyum tipis.

"Aku mengenalmu. Kamu adalah tipe yang suka menyelinap keluar kastil tanpa memberitahu siapa pun untuk menyelesaikan masalah sulit. Jika tahu negara dalam bahaya, kamu pasti tidak akan bisa tinggal diam. Itulah kenapa aku berusaha agar berita ini tidak sampai ke telingamu. Namun, kali ini tidak bisa begitu. Sehebat apa pun kamu, Lloyd, ini terlalu berbahaya."

"E-eh... Ahahaha..."

Padahal selama ini aku pergi cuma karena kelihatannya menarik saja.

Aku benar-benar salah paham, tapi kalau aku memberi alasan, rasanya malah akan semakin gawat. Jadi, aku tertawa saja untuk pura-pura bodoh.

"Lautan monster yang menutupi cakrawala sedang melahap hutan dan menggilas desa-desa menuju Saloum. Ini tanpa ragu adalah Stampede terbesar yang pernah ada dalam sejarah. Kali ini, aku tidak bisa membiarkanmu memikulnya sendirian. Tapi tenang saja, Lloyd. Berkat Golem terbang hasil pengembanganmu dan Pangeran Ketiga, Zerof, kita bisa mendeteksi tanda-tanda Stampede lebih awal. Lalu, para pengrajin di bawah pimpinan Pangeran Keempat, Dian, juga sedang memproduksi pedang sihir secara massal. Bersamaan dengan itu, pelatihan pasukan juga terus berjalan. Jika semua orang menyatukan kekuatan, krisis negara ini pasti bisa kita lalui!"

Albert tertawa segar sambil memperlihatkan deretan gigi putihnya.

Senyum pria tampan yang luar biasa, sampai-sampai para prajurit wanita di sekitar berteriak histeris.

"──Lagipula, sebentar lagi 'orang-orang itu' akan kembali."

"Orang-orang itu?"

Saat aku sedang memiringkan kepala keheranan, seorang prajurit menyela masuk.

"Pangeran Albert! Gawat!"

Prajurit dengan wajah pucat pasi itu berlari ke arah Albert dan berlutut.

"Ada apa? Berisik sekali."

"Mo-monster telah muncul!"

"Apa!?"

"Waaaaah!" Terdengar suara teriakan dari arah gerbang.

"Ayo, Lloyd!"

Albert mencengkeram tanganku, lalu kami terbang menggunakan Flight.

Turun di atas gerbang kastil, di bawah pandangan kami, terlihat kumpulan monster dalam jumlah besar.

"Bagaimana mungkin... Monster yang terkumpul akibat Stampede seharusnya masih berada sangat jauh dari sini...! Kenapa mereka sudah ada di dekat kastil!?"

Melihat hal itu, suara Albert meninggi.

Para prajurit juga tampak kebingungan menghadapi kemunculan monster yang tiba-tiba ini.

"Stampede akan terus tumbuh semakin besar sambil melahap kawanan monster di wilayah yang luas... Jika skalanya sebesar itu, tidak aneh kalau monster di sekitar sini ikut terpengaruh dan mengamuk!"

"Mereka langsung menuju kastil... Masih ada warga yang belum sempat mengungsi. Ini gawat, Tuan Lloyd!"

Aku mengangguk mendengar perkataan Grim dan Jiriel.

Kumpulan monster itu mungkin berjumlah hampir seribu ekor. Di luar kastil masih ada warga yang tertinggal, dan area sekitar gerbang sedang dalam kekacauan. Jika dibiarkan, akan jatuh korban jiwa yang besar.

──Mau bagaimana lagi. Ini bukan saatnya mengkhawatirkan soal kemampuanku yang akan ketahuan. Sepertinya aku harus melakukan sesuatu.

Jika aku menghempaskan mereka dengan sihir yang agak kuat, kerusakannya bisa ditekan seminimal mungkin.

Kalau aku menembaknya dari sini, pelakunya tidak akan ketahuan.

Jika dicurigai, aku tinggal bilang kalau itu fenomena alam atau semacamnya untuk pura-pura bodoh. ……Meskipun alasannya agak maksa, tapi tidak ada waktu untuk ragu.

"■──"

Tepat saat aku hendak merapalkan mantra.

Dhoooooom! Kumpulan monster itu terpental terbang.

Apa? Padahal aku belum melakukan apa-apa.

"A-apa yang terjadi!?"

"Pasukan kavaleri! Ada puluhan pasukan kavaleri yang menuju ke sini!"

Di arah yang ditunjuk prajurit itu, terlihat sekumpulan ksatria penunggang kuda yang memacu lari sambil mengepulkan debu tanah.

Ada dua kelompok kavaleri yang masing-masing berjumlah puluhan.

Satu kelompok melakukan terobosan tengah sambil menerbangkan kawanan monster, sementara kelompok lainnya berputar ke arah jalur serangan monster seolah sedang melindungi kastil.

Gerakan pasukan yang sangat luwes, sepertinya mereka sangat terlatih. Meski begitu──

"Oi, oi... Serangan menjepit memang terdengar keren, tapi perbedaan jumlahnya terlalu jauh. Kalau terus begitu, mereka akan ditembus."

"Ditambah lagi, mereka sudah bercampur baur begini, Tuan Lloyd tidak bisa menyerang. Kita hanya bisa menonton saja."

Grim dan Jiriel menonton dengan napas tertahan.

Namun, mengabaikan kekhawatiran itu, kedua unit tersebut justru mulai mengepung kawanan monster.

Tidak, mengepung dengan perbedaan jumlah sebanyak itu sebenarnya sangat aneh... Tapi bagaimanapun juga, mereka terus mengubah formasi dengan cepat dan mengurangi jumlah monster dalam sekejap mata.

"Wuooh!? Unit yang berputar ke depan monster itu sengaja melonggarkan kekuatan saat berhadapan, lalu mengepung musuh yang menonjol keluar! Ditambah lagi, mereka tidak terpaku pada keunggulan itu dan merespons dengan mengubah formasi secara fleksibel. Selain kekuatan individu yang hebat, komandannya memberikan instruksi berapa kali, sih? Seolah-olah seluruh medan perang terlihat olehnya."

"Unit yang mengejar itu juga bukan main. Gerakannya liar seolah sedang mencabik-cabik titik lemah musuh. Meskipun berada di tengah kepungan monster, mereka berlari ke sana kemari dengan bebas tanpa pernah terkepung. Yang perlu dicatat adalah daya serang komandannya! Lihatlah, setiap kali dia mengayunkan pedang besar itu, musuh langsung terpental."

Hmm, bagi aku yang tidak terlalu tertarik pada pertarungan pun, cara bertarung mereka sangat memukau.

Tadinya aku berniat menghabisi monster yang lolos secara diam-diam dengan sihir, tapi sepertinya kekhawatiran itu tidak perlu.

Kawanan monster yang berhadapan dengan dua unit itu berkurang drastis dalam sekejap, dan tanpa sadar mereka sudah kocar-kacir.

Setelah memastikan hal itu, kedua unit tersebut menoleh ke arah sini.

"Baju zirah itu... itu Pasukan Pertama dan Pasukan Kedua Saloum!"

"Ooooh! Mereka sudah pulang!"

"Waktunya tepat sekali!"

Sorakan meriah meledak di antara para prajurit.

Suasananya sangat meriah. Sepertinya mereka adalah 'orang-orang itu' yang dimaksud Albert.

"Kak Albert, siapa mereka itu?"

"Ah, kamu belum tahu ya, Lloyd. Karena mereka berdua selalu sibuk... Kebetulan sekali, akan kukenalkan. Ayo kita sambut mereka."

Saat kami turun dari gerbang, kedua unit itu tiba di depan gerbang dengan suara derap kaki kuda yang nyaring.

Albert melangkah maju ke depan sosok yang memimpin pasukan tersebut.

Dua orang yang mengenakan zirah lengkap penuh luka itu memiliki tubuh yang sangat tinggi—bahkan jika mengabaikan fakta bahwa mereka sedang menunggang kuda. Yang satu membawa tombak panjang yang luar biasa, dan yang satu lagi membawa pedang besar yang mengerikan.

Wajah mereka tidak terlihat jelas karena cahaya yang membelakangi mereka, tapi mereka memancarkan aura yang sangat kuat.

"Aura apa ini... Rasanya mereka bukan manusia..."

"Iya, tekanan yang luar biasa. Mereka bukan orang sembarangan..."

Grim dan Jiriel juga tampak gemetar melihat mereka berdua.

Memang benar, mereka berdua terlihat sangat kuat. Namun yang aneh adalah, aku sama sekali tidak merasakan adanya mana dari mereka.

Padahal manusia biasa pun setidaknya punya sedikit mana, tapi mereka ini...?

"Selamat datang kembali. Kakanda Schnaizel, dan Kakanda Cruze."

"Umu."

Setelah menjawab singkat sapaan Albert, keduanya melepas pelindung kepala mereka.

"Sudah lama ya, Albert."

"Iya, Kakanda Schnaizel."

Pria itu berbicara dengan suara rendah dan tenang.

Suaranya datar, wajahnya tertutup topeng sehingga ekspresinya tidak terlihat jelas, namun dari celah matanya terpancar tatapan yang tajam.

Sosok yang terlihat jauh lebih tua dari Albert ini adalah Pangeran Pertama, Schnaizel de Saloum.

Seorang ahli strategi yang memimpin Pasukan Pertama Saloum, ahli dalam pertempuran bertahan.

Dia disebut sebagai jenderal terkuat Saloum karena cara bertarungnya yang mampu menghalau musuh sepuluh kali lipat lebih banyak dengan pasukan yang sedikit.

"Kamu sudah besar ya, Albert. Terima kasih sudah menjemput!"

"Aku senang melihat Kakanda Cruze juga sehat walafiat."

Satu orang lagi yang menyapa dengan ekspresi ceria adalah seorang wanita bertubuh besar dengan rambut pirang ikal yang dibiarkan panjang berantakan.

Tubuhnya dua kali lebih besar dari Albert, dan meskipun bersanding dengan Schnaizel, perawakannya tidak terlihat kalah saing.

Seluruh tubuhnya dipenuhi bekas luka dan berotot kekar, dengan mata kiri yang tertutup penutup mata—sosok ini adalah Putri Pertama, Cruze de Saloum.

Seorang jenderal pemberani yang memimpin Pasukan Kedua Saloum, ahli dalam pertempuran menyerang.

Dia disebut sebagai jenderal terkuat Saloum karena kemampuannya meningkatkan moral pasukan dengan maju sendiri ke garis depan, serta taktik liarnya yang mampu menembus garis pertahanan mana pun.

──Ya, keduanya adalah jenderal yang disebut sebagai yang terkuat di negara ini.

Mereka berdua saling bersaing mencetak prestasi dalam menghadapi pemberontak di dalam negeri maupun musuh di luar negeri. Schnaizel dan Cruze, siapa yang merupakan jenderal terkuat, selalu menjadi bahan pembicaraan baik bagi orang dewasa maupun anak-anak.

Keduanya hampir tidak pernah pulang ke kastil, dan kalaupun pulang, mereka akan segera menuju medan perang berikutnya. Aku sering melihat nama mereka di buku, tapi ini pertama kalinya aku bertemu langsung.

Cruze menatapku dengan penuh rasa ingin tahu dan bertanya.

"Omong-omong Albert, anak kecil siapa ini?"

"Ah, ini Lloyd. Pangeran Ketujuh, Lloyd de Saloum. Bukankah aku sudah sering menceritakannya?"

"Salam kenal. Namaku Lloyd."

Melihatku membungkukkan kepala dengan sopan, Cruze mengangguk paham.

"Ooh, jadi kamu yang namanya Lloyd! Aku sudah dengar ceritanya dari Albert, tapi ini pertama kalinya kita bertemu dan bicara langsung. Fufufu, kamu kecil sekali ya!"

Tangan Cruze yang besar dan penuh luka itu mengusap-usap kepalaku dengan kasar.

Aduh, aduh, tenaganya kuat sekali. Rambutku jadi berantakan, kan.

"Aku sudah dengar dari Albert. Katanya di usia segini kamu sudah bisa menggunakan sihir. Hebat juga!"

"Kakanda Cruze, level Lloyd tidak cuma sebatas itu. Dia adalah jenius sihir. Dia setara denganku, atau bahkan mungkin melebihi..."

Melihat Albert yang berbicara dengan wajah serius, Cruze langsung tertawa terbahak-bahak.




"Kakkakka! Albert, bukankah itu terlalu berlebihan bagi seorang kakak yang memanjakan adiknya? Menilai dia setara denganmu, yang dijuluki penyihir terbaik di Saloum, rasanya terlalu mengada-ada! Jika memang benar begitu, boleh saja aku memasukkannya ke dalam unit sihirku? Hmm?"

"Anda bercanda. Lagipula, meskipun Anda adalah Kakak, niat untuk memasukkan Lloyd ke dalam unit itu..."

"Bercanda, kok. Aku tidak akan melakukannya. Aku sudah dengar berkali-kali betapa kamu sangat menyukai Lloyd."

Albert dan Cruze mulai berbincang santai.

Sementara itu, Schnaizel masih terus menatapku dengan tajam.

"…………"

Keheningan ini menakutkan. Apa sebenarnya yang sedang dia pikirkan di balik matanya itu? Aku merasakan tekanan yang luar biasa. Udaranya terasa berat.

"Tuan Schnaizel, Nona Cruze, selamat datang kembali."

Sosok yang muncul membelah suasana kaku itu adalah maid berambut perak—Sylpha.

Sambil membungkuk dalam, dia menyerahkan handuk hangat kepada mereka berdua.

"Ekspedisi kali ini juga memakan waktu yang sangat lama, ya. Terima kasih banyak atas kerja keras Anda."

"Ooh, bukankah ini Sylpha! Makan malam dan air mandi sudah siap, kan?"

"Tentu saja sudah siap."

"Umu umu, kamu masih penuh perhatian seperti biasanya! Bagaimana? Setelah makan, maukah kamu mandi bersama setelah sekian lama..."

"Anda bercanda."

Meski dipotong dengan telak, Cruze sama sekali tidak tampak tersinggung dan malah tertawa terbahak-bahak.

"Benar-benar sosok yang gagah... atau lebih tepatnya, sangat maskulin ya."

"Bisa dibilang dia adalah seorang pejuang sejati. Wajahnya cantik, tapi tubuh yang ditempa sampai sekeras itu tidak membuatku bergairah. Bagiku, lekuk tubuh yang lebih feminin jauh lebih..."

Saat Grim dan Jiriel sedang asyik berkomentar sesuka hati, seorang pria melangkah maju dari belakang Sylpha.

"Selamat datang kembali, Yang Mulia Schnaizel, juga Putri Cruze."

Pria paruh baya berwajah gagah dengan potongan rambut perak pendek—dia adalah Marcos, komandan ksatria sekaligus ayah Sylpha.

Berbeda dengan Schnaizel yang hanya mengangguk pelan, Cruze yang melihat Marcos langsung melompat kecil karena terkejut.

"Tu-Tuan... Marcos..."

Sikapnya berubah drastis dari sebelumnya, Cruze menjawab dengan suara yang sangat pelan seperti cicitan nyamuk.

Marcos melangkah maju di depannya dan memberi hormat dengan takzim.

"Terima kasih atas kerja keras Anda. Saya senang melihat Putri Cruze kembali dengan selamat."

"O-o-o-o-oh. Tuan Marcos juga... saya senang Anda sehat walafiat!"

"Mengetahui Anda akan pulang, Sylpha sudah mengerahkan seluruh kemampuannya untuk memasak banyak hidangan dan menunggu Anda. Silakan lewat sini."

"Umu, u-umu... i-iya... kira-kira... apa aku bisa makan sebanyak itu ya... hahahaha..."

Kupikir kenapa, ternyata bicaranya tiba-tiba jadi terbata-bata. Apa yang terjadi sebenarnya?

"Kak Cruze memendam perasaan cinta pada Komandan Marcos. ...Yah, tanpa kubilang pun sepertinya sudah jelas, ya."

Albert berbisik pelan tepat di telingaku.

Begitu ya. Aku sama sekali tidak menyadarinya.

"Al-ber-t-?"

Gigigi, Cruze memutar lehernya dan melotot tajam ke arah Albert.

Albert bergumam pelan "Gawat," lalu berjalan cepat kembali ke dalam kastil.

"Benar-benar anak itu... Ah, sudahlah. Schnaizel, ayo cepat masuk!"

"…………"

Tanpa kata, Schnaizel akhirnya melepaskan pandangannya dariku dan memacu kudanya.

Huu, akhirnya aku terbebas. Aku sampai berkeringat dingin dibuatnya.

"Mari, semuanya."

Atas panduan Sylpha, para prajurit pun menyusul. Aku berlari kecil menyusul Albert dan menyapanya.

"Orang yang sangat gagah ya, Kak Cruze itu. Lalu Kak Schnaizel juga, dia punya aura yang unik..."

"Mereka berdua adalah orang hebat. Komandan Marcos bahkan terang-terangan mengakui bahwa ilmu pedang aliran Langris yang digunakan Sylpha dibuat berdasarkan cara bertarung Kak Cruze sebagai prototipenya. Ditambah lagi, Kak Schnaizel adalah ahli strategi yang berhasil meluaskan wilayah negara dua kali lipat dalam sepuluh tahun. Jika mereka berdua kembali, kekuatan kita akan berlipat ganda. Stampede atau apa pun itu pasti bisa dipukul mundur dengan mudah."

Albert mengangguk bangga. Kalau dipikir-pikir, aku pernah mendengar dari Sylpha.

Katanya, kemampuan pedang Cruze saat berusia sepuluh tahun sudah setara dengan Komandan Ksatria Marcos dalam duel.

Lalu saat aku membaca buku di perpustakaan, setiap kali aku membaca catatan militer untuk menyegarkan pikiran, nama Schnaizel sangat sering dipuji di sana.

Disebutkan juga bahwa taktik militer gaya Schnaizel menjadi dasar bagi segala taktik yang digunakan di Saloum.

Memang benar pertarungan tadi, meskipun kalah jumlah secara telak, mereka berhasil membasmi musuh dalam sekejap mata.

"Kak Albert sangat menghormati mereka berdua, ya."

"Ya, mereka orang-orang luar biasa. Bukan cuma itu, semua saudaraku sangat hebat dan aku bangga pada mereka. Tentu saja, termasuk kamu, Lloyd."

Ucap Albert sembari menyunggingkan senyum segar.

Bagaimana ya, alasan kenapa orang ini disebut sebagai kandidat terkuat pewaris takhta sepertinya terletak pada hal seperti ini.

Menghormati, mengakui, dan memercayai semua orang bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan.

"Ooi Albert, Lloyd, kalian juga cepat kemari! Kami semua kelaparan setelah bertempur, hidangan yang disiapkan bakal kami habiskan semua, lho!"

"Baiklah. Kami segera ke sana. ...Ayo pergi, Lloyd."

"Iya!"

Aku pun menyusul mereka berdua bersama Albert.

 

"Nyam, nyam, nyam... Puah! Sylpha, masakanmu makin enak saja! Lezat sekali!"

"...Umu, lezat."

"Terima kasih atas pujiannya."

Cruze makan dengan sangat lahap dan bertenaga.

Kata-katanya tadi yang bilang "Apa aku bisa makan sebanyak itu ya?" dengan nada imut terasa seperti bohong belaka.

Schnaizel pun makan dengan tenang, namun jumlah yang dihabiskannya tidak kalah banyak.

"Wah, selera makan mereka luar biasa ya, keduanya."

"Kerja keras Sylpha dan para maid lainnya juga tidak kalah hebat. Lihat, masakan-masakan baru terus jadi dengan kecepatan luar biasa."

Di pintu masuk dan keluar, Sylpha beserta para maid lainnya sibuk bekerja tanpa henti.

Mungkin porsinya cukup untuk seribu orang lebih. Lagipula, gerakan Sylpha belum menunjukkan kecepatan aslinya.

"Tapi benar-benar gila cara makan mereka. Mereka berdua makan dalam jumlah yang sama dengan para prajurit yang makan di lantai bawah..."

"Jika diperhatikan baik-baik, mereka berdua memiliki konstitusi tubuh Magic-Hosting. Meski lahir dengan mana yang kuat, karena mereka memilih jalan bela diri, mana yang tidak digunakan untuk sihir mengalir ke seluruh tubuh dan menciptakan kemampuan fisik yang abnormal. Sebagai gantinya, karena membutuhkan energi dalam jumlah besar, mereka memerlukan asupan makanan yang sangat banyak."

Aku pernah mendengar soal itu. Itu adalah konstitusi tubuh yang sangat langka dan ini pertama kalinya aku melihatnya secara langsung.

Bagi mereka yang memiliki bakat, jika mereka menggunakan sihir—atau setidaknya berniat menggunakannya—struktur mantra akan terbentuk di dalam tubuh mereka.

Karena mereka tidak melakukan itu, mana yang seharusnya ada justru menetap di dalam tubuh fisik mereka, dan menciptakan perawakan seperti itu.

...Mungkin jika aku tidak mempelajari sihir, aku akan menjadi seperti itu juga.

"Tuan Lloyd yang berotot kekar... itu terdengar mengerikan dengan caranya sendiri."

"Bukankah tinjunya bisa melubangi langit?"

Grim dan Jiriel tampak merinding, tapi aku pribadi menolak jika tidak bisa menggunakan sihir.

"...Kalau begitu Kakanda Schnaizel, Kakanda Cruze, bolehkah sekarang kita mulai berbicara?"

Beberapa saat kemudian, melihat mereka berdua mulai menyentuh hidangan penutup, Albert menyapa.

"Umu, perutku sudah lumayan kenyang."

"...Bicaralah."

Setelah Albert memberi hormat dengan takzim, beberapa pria masuk ke dalam ruangan.

Komandan ksatria, kepala pejabat sipil, jenderal dari pasukan ketiga, keempat, dan kelima... mereka semua adalah orang-orang yang biasanya sibuk di sekitar raja untuk mengurus pemerintahan maupun persiapan perang.

Masing-masing dari mereka membawa berbagai peta, denah, catatan lumbung pangan, jumlah prajurit, jenis pasukan, dan berbagai dokumen lainnya.

"Seperti yang Anda ketahui, saat ini negara kita sedang menghadapi ancaman Stampede. Dari hasil konfirmasi, ada tujuh kelompok monster, dengan masing-masing kelompok berjumlah sekitar seratus ribu. Kelompok terbesar bahkan melebihi dua ratus ribu ekor. Totalnya sekitar satu juta, dan monster-monster itu terus bertambah jumlahnya sambil menuju ke arah Saloum ini."

Satu juta monster lebih, ya.

Meskipun disebutkan angkanya, karena terlalu banyak aku jadi tidak terlalu mendapatkan gambaran jelasnya.

"Stampede yang melebihi satu juta itu levelnya sudah di luar sejarah, kan!? Ini benar-benar gawat, lho!"

"Ya, aku pun belum pernah mengobservasi skala sebesar itu."

Grim dan Jiriel ketakutan.

Heh, sebanyak itu ya. Mungkin akan cukup melelahkan jika aku harus mengalahkan mereka sendirian dengan sihirku.

"Berapa banyak prajurit yang bisa kita kumpulkan?"

Tanya Schnaizel tanpa sedikit pun goyah.

"...Jika dipaksakan, mungkin sekitar tiga ratus ribu."

"Kakah, tiga kali lipat lebih banyak ya! Tidak lucu sama sekali."

Sambil tertawa, Cruze menghancurkan puding dengan sendok di tangannya.

"Normalnya, kekuatan satu monster setara dengan tiga orang prajurit. Jika begitu, perbedaan kekuatan kita adalah sembilan kali lipat. Untuk sementara, aku sudah melakukan persiapan semampuku sampai kalian berdua kembali... Aku sudah mengumpulkan data detailnya. Hei."

"Siap."

Atas instruksi Albert, kepala pejabat sipil menyusun peta dan bidak di atas meja.

Topografi di sekitar negara serta posisi monster saat ini telah ditandai. Begitu pula dengan dokumen-dokumen yang mencatat cadangan makanan dan informasi detail setiap unit pasukan.

Schnaizel dan Cruze mengerang sambil menatap data tersebut.

"Hou, hebat juga bisa mengumpulkan data dan prajurit sebanyak ini dalam waktu singkat. Kamu juga mengambil keputusan tepat dengan tidak menggerakkan pasukan secara gegabah dan fokus mengumpulkan kekuatan. Mengetahui batasan diri adalah poin plusmu, Albert."

"Aku hanya tidak punya keberanian untuk menggerakkan pasukan besar dengan kemampuan kepemimpinanku yang seadanya saja, kok."

Albert menggeleng sambil tersenyum pahit.

Orang ini memang sangat pandai menaruh orang yang tepat di tempat yang tepat tanpa melebih-lebihkan kekuatannya sendiri.

"…………"

Schnaizel menatap papan dan dokumen sambil memakan puding yang terus-menerus diantarkan kepadanya dalam diam.

Cruze juga makan parfait seolah sedang meminumnya, tanpa mengalihkan pandangan dari sana sedikit pun.

Konsentrasi yang luar biasa dari mereka berdua. Untuk sesaat, hanya suara denting sendok yang bergema di dalam ruangan.

"...Sangat tipis."

"Umu, beruntung sekali kita bisa menyadarinya secepat ini. Berkat itu, gerbangnya bisa digunakan."

"Gerbang... maksud Anda, Anda berniat menggunakan Gerbang Benua?"

──Di sebelah utara Saloum, terdapat pegunungan terjal yang seolah menghalangi masuknya musuh.

Benteng raksasa yang dibangun di sana adalah Gerbang Benua.

Sejak pembangunannya, benteng itu telah diserang berkali-kali oleh pasukan negara lain namun tidak pernah sekalipun ditembus. Itu adalah benteng besi yang absolut.

"Bagaimana ya Tuan Lloyd, Anda ternyata suka pembicaraan seperti ini. Biasanya kalau ada pembicaraan yang tidak menarik, Anda sama sekali tidak mendengarkan, kan."

"Ya, aku pikir Anda tidak tertarik pada apa pun selain sihir..."

"Apa yang kalian bicarakan? Perang dan sihir adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan, tahu."

Sejak zaman kuno, peperangan telah memicu evolusi segala jenis teknologi.

Sihir tentu saja salah satunya.

Bukan hanya sihir skala besar yang memiliki efek luas, tapi juga berbagai sihir dikembangkan untuk menurunkan kecepatan gerak lawan, menciptakan air dan makanan, membuat kondisi tubuh pasukan musuh memburuk, dan lain sebagainya.

Puncaknya adalah Military Magic. Keunggulannya adalah konsumsi mana dan tingkat kesulitannya rendah sehingga bisa digunakan oleh mereka yang tidak punya bakat sihir, namun memiliki efek yang tinggi.

Ciri khasnya adalah penggunaan struktur mantra khusus yang dienkripsi. Dengan syarat berupa pembatasan yang kuat, penyihir bisa menggunakan sihir dengan efisiensi tinggi tersebut dengan relatif mudah.

Pembatasan utamanya adalah tidak boleh membicarakannya pada orang lain dan pelepasan pemahaman struktur mantra.

Dengan kata lain, mereka hanya diberi senjata kuat yang hanya diketahui cara pakainya saja.

Schnaizel sangat mahir dalam mengoperasikannya.

Dalam pertarungan tadi, dia tampak menggunakan Military Magic untuk mengendalikan arus musuh.

Para prajurit menggunakan Light Canopy, sebuah penghalang yang sangat rapuh namun berbiaya rendah, dan Heavy Foot untuk memperlambat langkah musuh, lalu membentuk formasi serangan menjepit untuk menghabisi musuh seketika... begitulah cara bertarungnya.

Menciptakan alur pertempuran menggunakan Military Magic oleh sejumlah kecil penyihir untuk memberi keuntungan pada pasukan sendiri... cara penggunaan sihir yang sangat menarik dan khas seorang jenderal.

Kira-kira bagaimana Schnaizel akan menggunakannya melawan jutaan monster itu? Memikirkannya saja sudah membuatku bersemangat.

"Hm, jika kita akan bertarung di Gerbang Benua, kita tidak punya banyak waktu. Mari kita mulai rapatnya sekarang. Mereka yang jabatannya di bawah jenderal, silakan tinggalkan tempat ini."

"Siap!"

Hanya menyisakan beberapa orang pria saja, sisanya keluar dari ruangan.

"Nah Lloyd, kamu juga pergilah ke luar."

Tangan Cruze bertumpu di pundakku saat aku berniat tetap tinggal di sana.

"Kenapa!? Aku juga ingin dengar!"

"Apa yang kamu bicarakan. Ini bukan hal yang menyenangkan untuk didengar anak-anak. Ayo Sylpha, bawa dia pergi."

"...Tuan Lloyd, mari kita pergi."

"Eeeh..."

Aku mengirim pandangan pada Albert untuk meminta bantuan, tapi dia hanya membalas dengan isyarat tangan meminta maaf.

Kkh, tidak bisa ya. Kalau sudah begini, terpaksa aku menaruh tanda sihir secara diam-diam untuk menguping...

"Biarkan."

Kata-kata itu singkat namun kuat, diucapkan oleh Schnaizel.

Seketika semua orang di tempat itu, bahkan Cruze sekalipun, mematung.

"O-oi Schnaizel. Lloyd itu masih anak-anak, lho? Membiarkan dia mendengar pembicaraan seperti ini..."

"Tidak masalah."

Melihat Schnaizel yang bahkan tidak mau menatap matanya, Cruze mengembuskan napas panjang.

Pandangan Schnaizel tidak bergeming sedikit pun dari mataku.

...Aku merasa tekanan yang luar biasa, nih.

"Hei, apa maksudnya ini Albert?"

"A-aku tidak tahu. Mungkin saja Lloyd punya bakat strategi militer dan Kakanda Schnaizel menyadarinya..."

"Kalau itu rasanya terlalu... tapi Schnaizel bukanlah orang yang melakukan hal tanpa makna. Aku rasa dia punya rencana tertentu..."

Mereka berdua bergumam melihat Schnaizel yang bersedekap dalam diam.

Aku tidak terlalu paham, tapi sepertinya aku tidak perlu keluar. Beruntungnya.

"...Astaga, sifat plin-planmu itu merepotkan ya. Baiklah. Rapat dimulai."

Atas perkataan Cruze, rapat mengenai pertempuran pertahanan Gerbang Benua pun dimulai.

"Bagaimana jika... kita menempatkan pasukan berbaris di depan gerbang?"

"Jangan, jangan. Formasi selemah itu akan ditembus dalam sekejap."

"Benar, benar. Lebih baik kita bertahan di dalam gerbang saja. Gerbang itu sudah diberi sihir penguat Permanent Hardening. Monster sebanyak apa pun tidak akan bisa menembusnya!"

"Terlalu naif. Mereka akan memanjat tumpukan mayat rekan mereka lalu melewati gerbang. Tetap saja kita harus menaruh prajurit di depan gerbang."

"Bodoh! Kalau begitu tenaga tempur untuk menjaga gerbang tidak akan cukup! Apa kamu tahu berapa banyak monster yang ada!"

"Benar! Dengan jumlah sebanyak itu, mereka pasti juga akan melewati pegunungan di kedua sisi gerbang. Kita tidak akan bisa menjaganya!"

Berbagai pendapat saling bersahutan dengan riuh.

Ooh, rasanya benar-benar seperti rapat militer. Seru sekali.

Bidak-bidak yang melambangkan prajurit dan monster di atas peta dipindahkan ke sana kemari.

Rapat sudah berjalan lebih dari tiga jam, dan para jenderal mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan.

"Haaa, sebenarnya mau sampai berapa jam lagi sih. Aku sudah mulai mengantuk, nih..."

"Kepalaku juga mulai sakit. Anda hebat ya bisa terus mengikuti, Tuan Lloyd..."

Grim dan Jiriel tampak lelah, tapi aku sama sekali tidak merasakannya.

"Apa yang kalian bicarakan. Kesempatan mendengar pembicaraan semenarik ini tidak datang dua kali, tahu."

Military Magic seperti yang disebutkan sebelumnya memang kuat tapi memiliki karakteristik tidak bisa dipahami, dan buku sihirnya pun dikelola dengan sangat ketat.

Karena itulah aku pun hanya tahu nama dan efek sederhananya saja soal Military Magic.

Namun, di rapat militer ini, istilah Military Magic berterbangan ke sana kemari, dan struktur mantra yang digunakan jadi jauh lebih mudah untuk dianalisis.

Hm-hm, begitu ya.

Mereka menggunakan batasan jumlah pemakaian untuk meningkatkan efek, atau sebaliknya merendahkan daya hancur untuk memperluas jangkauan efek.

Mereka menyederhanakan struktur mantranya hingga batas ekstrem agar bisa digunakan oleh siapa saja.

Jika struktur mantranya disederhanakan sampai sejauh itu, siapa pun yang tidak punya bakat pasti akan bisa langsung menggunakannya.

Sisanya tinggal melakukan efisiensi dengan enkripsi dan pembatasan, ya.

Ditambah lagi, membuat sihir bisa digunakan oleh siapa saja adalah ide yang sangat bagus.

Dengan penyederhanaan, jumlah penyihir akan meningkat. Jika pondasinya meluas, maka level penyihir yang berada di puncak pun akan ikut naik.

Ide-ide fleksibel yang lahir justru dari mereka yang tidak tahu sihir sama sekali pasti akan melahirkan sihir-sihir baru satu demi satu.

Jika pengembangan seperti itu terus berlanjut, hal itu akan memicu peningkatan level seluruh penyihir, dan pada akhirnya, aku pun mungkin punya kesempatan untuk mengetahui lebih banyak jenis sihir.

Umu, masa depan sihir sangat cerah. Aku jadi bersemangat.

"Tapi Lloyd itu hebat juga ya, dia diam dan mendengarkan dengan tenang. Jangan-jangan dia memahami isi rapat ini?"

"Lloyd adalah anak yang sangat cerdas. Lagipula, alasan dia ingin ikut rapat ini kemungkinan besar adalah Military Magic. Karena sihir-sihir itu relatif mudah namun berefek tinggi, banyak di antaranya yang dirahasiakan. Penyihir selevel Lloyd pasti bisa langsung menggunakannya."

"Jangan bicara sembarangan, Albert! Aku dengar Military Magic memang jauh lebih mudah dari sihir biasa, tapi tetap saja butuh waktu berbulan-bulan bagi prajurit sihir berbakat untuk mempelajarinya, tahu!? Jangan mengada-ada bilang dia bisa langsung memakainya!"

"Heh, itulah Lloyd, Kakak. Dia adalah orang yang penuh hal-hal mengada-ada."

Cruze dan Albert sepertinya sedang bergumam, tapi aku terlalu asyik dengan rapat militer ini.

"Ngomong-ngomong, Kakak Anda yang bermata tajam itu tetap diam saja ya."

"Ya, dia menatap papan tanpa berkedip sekalipun. Benar-benar menakutkan..."

Yang diletakkan di depan Schnaizel adalah papan permainan strategi meja bernama Hyougi.

Sepertinya dia menempatkan bidak-bidak itu sebagai representasi pasukan musuh dan pasukan sendiri, lalu menatapnya dengan tajam.

Tapi kalau diperhatikan, sejak tadi pendapat mereka sepertinya menemui jalan buntu.

Semua ide sepertinya sudah dikeluarkan.

Aku pun berharap ada materi Military Magic baru yang keluar, tapi... hm?

Tanpa sadar, aku menyadari semua orang di tempat itu sedang tertuju pada Schnaizel.

Sepertinya semua orang sedang menunggu keputusan dari sang panglima tertinggi.

Hm, aku pun jadi penasaran dengan apa yang dipikirkan Schnaizel.

"Anu, bagaimana rencana Kakanda Schnaizel untuk menghalau Stampede?"

Karena itulah, aku mencoba bertanya padanya secara diam-diam.

Schnaizel melirikku dengan tajam, lalu setelah berpikir sejenak, dia menggerakkan bidaknya.

"Ooh, formasi yang cukup berat sebelah ya. Seolah-olah ingin memancing mereka ke pegunungan. Apakah musuh akan bergerak seperti ini?"

"…………"

Aku pun mencoba menggerakkan bidak.

Kemudian Schnaizel menggerakkan bidak lagi.

Kami berdua bergantian menggerakkan bidak, dan tanpa sadar, pihak monster yang aku gerakkan sudah masuk ke posisi skakmat.

"Aduh, aku kalah. Kakanda Schnaizel hebat ya."

"Perang yang sesungguhnya tidak akan selesai dengan seindah ini."

"Ahaha, aku akan terus belajar."

Hmm, memang sehebat dugaan. Schnaizel yang dijuluki jenderal terkuat Saloum benar-benar sangat kuat.

Padahal sebenarnya aku lumayan sering bermain Hyougi di kehidupan sebelumnya. Aku bahkan pernah ikut turnamen demi mengejar hadiah uangnya, tapi kali ini aku benar-benar dipermainkan.

Yah, jedanya sudah terlalu lama, dan setelah bereinkarnasi aku tidak punya kesempatan untuk memainkannya, jadi wajar saja kalau kalah.

"Ooh... dia tidak gentar menyapa Tuan Schnaizel yang sedang konsentrasi, bahkan berani menantangnya bermain Hyougi... Apa Tuan Lloyd tidak merasa takut? Padahal aku saja masih merasa tubuhku kaku hanya karena ditatap oleh mata itu..."

"Apalagi tidak banyak orang yang bisa mengimbangi Tuan Schnaizel sejauh itu dalam permainan Hyougi. Cara menggerakkan bidak dan menyusun strateginya sama sekali tidak terlihat seperti anak sepuluh tahun. Memang pantas dia disebut sebagai tangan kanan kepercayaan Tuan Albert."

"Tadinya aku pikir tidak mungkin membiarkan anak kecil ikut rapat tanpa alasan, ternyata Tuan Schnaizel sedang menguji kemampuan Tuan Lloyd, ya. Tapi tetap saja, sampai sehebat ini..."

Para jenderal mulai bergumam sendiri.

Gawat. Karena aku tiba-tiba bermain dengan Schnaizel, mungkin mereka marah.

"Kkh, bermain dengan Lloyd seseru itu, aku jadi iri. Kakanda Schnaizel..."

Ditambah lagi, aku merasakan tatapan penuh emosi yang dalam dari Albert.

Sepertinya mereka memang marah karena aku bertindak semaunya. Refleksi diri, refleksi diri.

 

Hari itu, rapat militer kabarnya berlangsung semalaman.

Kabarnya, karena saat malam tiba aku dipaksa keluar oleh Sylpha. Dia bilang, "Tuan Lloyd sedang dalam masa pertumbuhan, jadi jangan bergadang dan cepatlah tidur," sehingga aku terpaksa meninggalkan tempat itu dengan berat hati.

...Sebenarnya aku meninggalkan tanda sihir Kikimimi untuk menguping kelanjutan pembicaraan mereka, tapi saat malam semakin larut, aku akhirnya tertidur juga.

Sepertinya aku harus menyusun struktur mantra yang bisa menyimpan suara yang didengar, aku akan mencobanya lagi nanti.

Tapi kira-kira strategi apa yang dipikirkan Schnaizel? Aku jadi penasaran.

Sambil berjalan memikirkan hal itu, pintu ruang rapat terbuka dan para jenderal keluar berbondong-bondong dari dalam.

Semuanya tampak sangat kelelahan. Jangan-jangan mereka benar-benar rapat sampai sekarang?

"Huaaaaaah... Ya ampun, Lloyd. Selamat pagi."

"Selamat pagi, Kak Albert. Apa rapat militernya sudah selesai?"

"Ya, akhirnya. Tapi siapa sangka dia akan memikirkan strategi seperti itu... Kakanda Schnaizel memang luar biasa."

Sepertinya setelah aku pulang, Schnaizel memikirkan strategi yang bagus.

Aku jadi semakin penasaran. Sayang sekali.

"Hahaha, wajahmu terlihat sangat ingin tahu ya. Tenang saja. Tak lama lagi beritanya pasti akan sampai ke telingamu."

"Ke telingaku...?"

Albert tertawa penuh arti, tapi aku tidak merasa berita seperti itu akan sampai padaku yang benar-benar orang luar dalam urusan militer ini.

Saat aku memiringkan kepala, Albert mengacak-acak rambutku.

"Waduh, sepertinya aku terlalu banyak bicara. Tolong rahasiakan pembicaraan ini, ya. Sebenarnya aku dipercaya memimpin unit yang cukup besar. Aku sangat sibuk mengurus formasi unit dan lain sebagainya. Maaf, aku permisi dulu. Sampai nanti."

"Ah, i-iya..."

Ucap Albert sebelum pergi terburu-buru.

"Apa-apaan dia, mau pamer? Dia cuma ingin bilang kalau dia dipercaya memimpin unit, hah?"

"Kak Albert tidak akan mengatakan hal seperti itu. Lagipula dia sudah punya unit pedang sihir sendiri, kan. Tidak aneh jika dia dipercaya memimpin unit yang lebih besar."

"Memang benar, sebagai seorang pangeran, memimpin unit di tengah situasi darurat seperti ini adalah hal wajar. Tapi nada bicaranya tadi memang terasa penuh makna."

Yah, Schnaizel juga pangeran sih. Tapi tidak bisa disamakan dengan Albert yang mengurus urusan dalam negeri.

Bagaimanapun, memikirkannya pun tidak akan memberikan jawaban.

Sambil memiringkan kepala keheranan, aku pun kembali ke rutinitas harianku.

 

"Lloyd. Aku menunjukmu sebagai wakil komandan di unit Albert."

Jawaban itu akhirnya terjawab hanya satu jam kemudian.

Ayahanda Raja Charles mengatakannya kepadaku setelah aku dipanggil ke ruang takhta.

"A-apa maksudnya ini!? Ayahanda!?"

Mendengar perkataan Charles, aku sontak bertanya balik.

"Wajar jika kamu tidak percaya. Tapi untuk Stampede kali ini, Saloum tidak punya kemewahan untuk menyimpan talenta berbakat kita. Hatiku sangat pedih harus menyuruh Lloyd yang merupakan pangeran ketujuh, apalagi masih anak-anak, untuk melakukan hal seperti ini. Tapi kami benar-benar kekurangan tenaga. Meskipun aku pernah menyuruhmu hidup bebas, maaf jika aku jadi bersikap egois, tapi maukah kamu meminjamkan kekuatanmu?"

Wajah Charles tampak sangat serius.

...Begitu ya, jadi ini yang dimaksud Albert. Albert menatapku lalu memberikan kedipan mata penuh arti. Aku berpikir sejenak sebelum menjawab.

"Tapi, apa anak kecil sepertiku pantas jadi wakil komandan... bukankah aku hanya akan merepotkan Kak Albert dan Kak Schnaizel? Aku rasa orang lain pun tidak akan mau mengakuiku..."

"Apa yang kamu bicarakan. Yang meminta Lloyd menjadi wakil komandan itu justru Schnaizel, tahu. Dia tidak akan mengatakannya jika tidak benar-benar mengakui kemampuanmu. ...Yah, jujur saja aku pun terkejut."

"Apa itu benar?"

"Umu, itu adalah perkataan dari Schnaizel sang panglima tertinggi. Tidak akan ada yang berani protes."

"Begitu, ya..."

Tanpa sadar, tanganku gemetar sedikit.

Melihat itu, Charles dan Albert menyipitkan mata mereka.

"Kamu gemetar, ya. Wajar saja. Lloyd baru sepuluh tahun. Terlalu dini untuk memimpin pasukan menuju medan perang. Aku saja baru terjun ke medan perang pertama kali saat usia lima belas tahun. Tapi ini adalah ujian yang tepat bagimu yang mengincar jalan sebagai raja sejati, untuk itu aku akan mengeraskan hatiku. Berjuanglah Lloyd, aku yakin kamu pasti bisa memberikan hasil."

"Maafkan aku Lloyd, aku tidak bisa menghentikan Kakanda Schnaizel... tidak, itu cuma alasan. Aku sendiri pun jadi ingin melihat sejauh mana kamu sudah tumbuh. Kamu pasti takut. Kamu pasti ngeri. Tapi aku percaya kamu pasti bisa melakukannya."

Mereka berdua bergumam sendiri, sementara aku harus berusaha keras menundukkan wajah demi menahan bibirku agar tidak menyeringai.

Stampede... monster yang katanya berjumlah sejuta ya.

Artinya aku bisa menggunakan sihir sepuasnya, kan.

Apalagi kalau jadi wakil komandan, aku pasti bisa dengan bebas membaca berbagai Military Magic yang dirahasiakan.

Mempelajari Military Magic baru, mengujinya pada monster dalam jumlah besar, memperbaikinya, lalu mengujinya lagi... aku bisa melakukan looping tanpa batas. Umu, luar biasa.

Di bawah kepemimpinan Albert sepertinya aku bisa bertindak sesukaku, bahkan jika bukan jadi wakil komandan pun aku sebenarnya ingin ikut meski hanya jadi prajurit biasa.

Aku pun langsung membungkukkan kepala.

"Dengan rendah hati, saya menerima tugas ini."

"Ooh! Kamu mau melakukannya!"

Charles berseru senang, tapi aku yakin akulah yang lebih merasa senang di sini.

"Terima kasih sudah menerimanya, Lloyd. Kalau begitu mari segera kita mulai rapat strateginya."

"Baik!"

Aku pun keluar dari ruang takhta bersama Albert.

 

Tempat yang kami datangi adalah barak pasukan pribadi Albert.

Biasanya hanya ada puluhan prajurit di sini, tapi sekarang jumlahnya bertambah hingga sekitar tiga ratus orang.

Mungkin mereka mengumpulkan orang-orang yang biasanya ditugaskan untuk misi lain juga.

"Ooh, pemandangan yang hebat. Orang sebanyak ini yang akan bertarung di bawah kepemimpinan Kak Albert ya."

"Mana mungkin. Meski kami punya pedang sihir, prajurit sebanyak ini tidak akan bisa berbuat banyak. Prediksiku, pada akhirnya jumlahnya akan bertambah sampai dua puluh ribu orang."

"Sebanyak itu!? Ah, benar juga. Kakak akan mengumpulkan dari warga sipil ya."

Dalam peperangan atau pembasmian monster yang meluap, petani atau rakyat jelata yang mengajukan diri untuk bergabung ke dalam unit memang sering terjadi.

Karena mereka mempertaruhkan nyawa, upah yang dibayarkan pun sangat besar, jadi secara finansial ini sangat menguntungkan.

Omong-omong aku juga pernah ikut beberapa kali di kehidupan sebelumnya.

Namun Albert menggelengkan kepalanya.

"Itu tidak buruk, tapi prajurit yang dikumpulkan asal-asalan akan punya moral yang rendah dan kualitasnya akan turun drastis. Melawan monster akan terlalu berat bagi mereka. Kali ini aku punya rencana lain. ...Yah, lihat saja nanti."

"Haaa..."

Albert memberi kedipan mata lalu berdiri di depan para prajurit.

"Semuanya, terima kasih sudah berkumpul. Aku sangat senang."

Mendengar perkataan Albert, para prajurit menunjukkan wajah yang gelisah.

Mereka sudah cukup terbiasa bertempur, tapi mungkin ini pertama kalinya bagi mereka menghadapi pertempuran dengan skala sebesar ini.

Aku pun dulu saat pertama kali pergi perang merasa sangat cemas.

...Tapi pada akhirnya rasa serakahku menang, dan setelah itu aku sering ikut perang demi mendapatkan dana penelitian.

Albert menatap para prajurit itu lalu menyunggingkan senyum pahit.

"Oi, oi, jangan pasang wajah gelisah begitu. Ini adalah sebuah kesempatan, tahu?"

Albert menghela napas sejenak sebelum melanjutkan kata-katanya.

"Kalian semua adalah anak ketiga atau keempat dari kaum bangsawan yang tidak bisa mewarisi takhta keluarga. Aku menerima kalian saat kalian sedang kesulitan mencari makan. Tapi aku tidak melakukannya hanya karena merasa kasihan. Kalian berbeda dengan putra sulung yang mendapatkan segalanya sejak lahir, atau putra kedua yang mendapatkan sisa-sisanya. Kalian adalah orang-orang yang harus belajar cara bertahan hidup dengan tangan kalian sendiri. Kalian punya ketangguhan mental! Stampede kali ini adalah krisis negara yang belum pernah terjadi sebelumnya. Siapa pun yang berprestasi akan diberikan apa pun yang diinginkannya! Hadiahnya tidak akan sebanding dengan apa yang didapatkan oleh kakak-kakak kalian di rumah!"

Suara yang kuat itu bergema seolah sedang membakar semangat mereka.

Tanpa sadar, para prajurit mulai mengangkat wajah mereka.

Wajah yang tadinya suram kini menjadi cerah, dan mata mereka kembali memancarkan cahaya. Pidato yang luar biasa. Memang hebat Kak Albert ini.

Setelah menatap para prajurit sekali lagi, Albert mengangguk puas.

"Ya, ekspresi yang bagus. Benar sekali, kalian memiliki pedang sihir yang bahkan unit Kakanda Schnaizel pun tidak memilikinya dalam jumlah yang cukup. Ditambah lagi, untuk mengantisipasi hal seperti ini, aku sudah menyuruh kalian berkeliling di berbagai tempat di kota untuk memperkenalkan wajah kalian. Jika kalian mengajak orang, maka talenta hebat dan dana akan terkumpul. Nah semuanya, sekarang tinggal kalian buktikan dengan prestasi!"

"Wuaaaaaaa!" Sorakan meriah pecah.

Wajah gelisah tadi entah hilang ke mana, moral para prajurit kini mencapai puncaknya.

"Heh, membakar rasa rendah diri mereka lalu menunjukkan hadiah setelahnya ya. Cara yang cukup cerdas."

"Ya, mereka adalah orang-orang yang selalu merasa terpinggirkan. Jika mereka punya senjata dan bahan untuk membuktikan diri, mereka pasti akan sangat bersemangat."

Grim dan Jiriel kagum dengan kepiawaian Albert.

Albert memang pandai dalam hal seperti ini. Para prajurit kini sudah sangat bersemangat.

"Umu, karena moral kalian sudah cukup naik, aku akan memperkenalkan para wakil komandanku. Pertama, kalian pasti sudah tahu. Pangeran Ketujuh, Lloyd de Saloum!"

...Prok prok prok, tepuk tangan terdengar jarang-jarang, dan aku meresponsnya dengan melambaikan tangan.

Suasana yang tadinya meriah mendadak sunyi sepi seperti bohong saja.

Yah, aku kan masih anak-anak. Aku juga selalu membiarkan orang lain mengambil prestasi agar tidak menonjol, jadi wajar jika prajurit yang tidak tahu apa-apa merasa cemas.

"Dasar mereka semua tidak paham. Padahal cuma dengan mengikuti Tuan Lloyd saja, prestasi besar sudah di tangan."

"Ya, manusia-manusia bodoh. Mereka bahkan tidak mengerti kekuatan Tuan Lloyd, majikanku."

Grim dan Jiriel bergumam sendiri, tapi siapa pun pasti tidak mau bekerja di bawah perintah anak kecil.

Albert sepertinya juga menyadari hal itu dan tersenyum pahit. Lalu kenapa dia menyuruhku jadi wakil komandan?

"...E-eh, lalu satu lagi. Saias, silakan maju ke depan."

"Siap."

Pria yang berada di barisan terdepan para prajurit melangkah maju ke hadapan Albert.

Dia adalah pria dengan rambut pirang panjang dan tatapan mata yang tajam.

Saat Saias berdiri di samping Albert dan memberi hormat, tepuk tangan meriah langsung membahana.

Sangat berbeda jauh dengan saat giliranku tadi, suasananya sangat luar biasa.

"Populer sekali ya dia."

"Saias Law Revenant. Putra ketiga dari keluarga Revenant, salah satu dari sepuluh keluarga bangsawan besar di Saloum. Dia lulusan terbaik Akademi Sihir Nasional, lalu lanjut ke sekolah militer untuk belajar taktik. Dia adalah sosok jenius yang sangat dipercaya oleh para prajurit, dan katanya dia adalah penyihir terkuat kedua setelah Tuan Albert... Yah, perdebatan soal kekuatan yang tidak memasukkan Tuan Lloyd ke dalamnya sih tidak ada gunanya."

Ucap Sylpha yang berdiri di sampingku dengan nada gusar.

Heh, Akademi Sihir ya? Bukankah itu sekolah yang kudatangi di kehidupan sebelumnya? Nostalgia sekali.

Usia Saias sepertinya sekitar tiga puluh tahunan ya.

Jika aku di kehidupan sebelumnya masih hidup, mungkin usiaku sekitar itu juga.

Omong-omong aku merasa pernah mendengar nama itu di suatu tempat... di mana ya? Ah, sudahlah.

Mungkin saja dulu kami satu angkatan. Tapi akademi itu isinya bangsawan semua, sementara aku hanya rakyat jelata dan tidak punya teman, jadi kemungkinan besar kami bukan kenalan.

Saat sedang tenggelam dalam kenangan, aku menyadari Saias sedang menatapku.

"Ya ampun, jadi kamu yang namanya Lloyd-kun. Aku sudah dengar rumornya. Katanya di usia sepuluh tahun kamu sudah jadi penyihir yang diakui oleh Tuan Albert."

"Aduh, ahaha... sepertinya itu terlalu berlebihan..."

Kapan rumor seperti itu beredar ya?

Padahal aku merasa sudah bertindak sebiasa mungkin.

"Bagaimanapun, mari kita bekerja sama sebagai sesama wakil komandan untuk menghalau krisis negara ini."

Saias mengulurkan tangan untuk bersalaman, jadi aku menyambutnya.

Tiba-tiba, Saias menyuntikkan mana ke tangan kanannya.

Oho, ini adalah penyelarasan mana.

Ini adalah semacam permainan untuk saling menyetarakan jumlah mana masing-masing secara cepat dan akurat.




Sepertinya aku baru saja mulai menyelaraskan mana untuk mempererat keakraban antar-wakil komandan. ……Hup.

Begitu aku langsung menyesuaikan jumlah manaku, wajah Saias tampak sedikit terkejut.

Dia segera mengatur ulang takarannya, dan aku pun langsung menyamainya lagi.

Hup, hap, lep. ……Hmm, kenapa dia terus-terusan menyetel angka yang rendah, sih? Mananya terlalu sedikit jadi sulit dikendalikan, tahu.

Setelah mengulanginya beberapa kali, Saias akhirnya melepaskan tanganku.

Aduh-aduh, akhirnya selesai juga. Bagaimanapun, dengan begini hubungan kami pasti sudah jadi jauh lebih akrab.

Berpikir demikian, aku pun tersenyum padanya, tapi Saias malah memasang wajah yang tampak sangat serius.

"……Ada apa, Saias?"

"H-hah, ah, tidak! Mohon maaf. Aku sempat melamun tadi. Maafkan aku, Lloyd-kun. Tolong lupakan saja."

Saias segera memasang senyum di wajahnya, lalu mengalihkan pandangan dariku.

Ada apa dengannya ya? Memangnya dia melakukan sesuatu yang butuh dimaafkan?

"……Hmm, tadinya aku berniat mengetesnya sedikit, tapi aku terkejut. Aku meremehkannya karena dia masih anak-anak, tapi aku tidak menyangka dia punya mana yang hampir setara denganku. Pantas saja dia disebut sebagai tangan kanan kepercayaan Tuan Albert. Tapi aku pun tadi belum serius, dan sebanyak apa pun mana yang dia punya, dia tetaplah bocah. Akan kuajarkan padanya bahwa dalam perang, ada banyak faktor lain yang menentukan kemenangan. Fufufu."

Saias tampak bergumam sendirian, mungkin dia sedang merasakan tekanan sebagai wakil komandan.

Dia memikul tanggung jawab atas nyawa prajurit sebanyak ini.

Satu keputusan dariku saja bisa membuat orang mati sungguhan.

Memikirkan hal itu, aku pun jadi sedikit tegang.

"Nah, sepertinya sudah cukup, kan? Aku ingin kalian berdua sebagai wakil komandan masing-masing memimpin separuh dari pasukan ini untuk mengumpulkan prajurit. Silakan cari tambahan pasukan dengan cara masing-masing, dan biarkan para prajurit ini menyewa tentara bayaran atau semacamnya agar jumlah orang terkumpul. Jika bisa mengumpulkan lima ribu orang, itu akan sangat membantu. Penuhi ekspektasiku, ya. ……Kalau begitu, bubar!"

Atas perintah Albert, para prajurit pun membubarkan diri.

Sambil melepas kepergian mereka, aku mulai memikirkan berbagai hal.

Aku harus mengumpulkan lima ribu prajurit, ya.

Prajurit yang ada sekarang sekitar tiga ratus orang, jika setengahnya memimpin tentara bayaran dan datang di bawah perintahku, mungkin hanya terkumpul seribu atau dua ribu orang.

Jika targetnya lima ribu, aku sendiri juga harus mengumpulkan prajurit dalam jumlah besar.

Saias pasti akan menggunakan koneksinya untuk merekrut tentara bayaran seperti yang dibilang Albert, tapi tetap saja itu berarti memikul nyawa orang lain.

Hmm, aku sendiri sih tidak masalah melakukan hal yang kusukai sesuka hati, tapi melibatkan orang lain itu bukan seleraku.

"Omong-omong, Lloyd-kun."

Saat aku sedang memikirkan hal itu, Saias menghampiriku.

"Kita akan mulai mengumpulkan prajurit sekarang, tapi apa kamu punya koneksi untuk itu? Prajurit yang berada langsung di bawah Tuan Albert tidak hanya butuh kekuatan, tapi juga martabat, asal-usul yang jelas, serta jaminan dan lain-lain jika terjadi sesuatu. Kamu harus mengumpulkan mereka dari tempat yang kredibel, tahu? Jumlahnya ribuan orang, aku sangsi kamu punya kapabilitas untuk itu."

Kalau dipikir-pikir, jika ada prajurit yang mati, komandan harus pergi meminta maaf pada keluarganya, atau membayar uang kompensasi, ya. Pasti banyak prosedurnya, jujur saja aku jadi malas.

Jika aku menyerahkannya pada Sylpha, dia pasti akan melakukannya untukku, tapi sebisa mungkin aku tidak ingin memikul tanggung jawab. Apa tidak ada ide yang bagus, ya……

"──Benar juga, kalau pakai 'itu'……!"

Mengumpulkan prajurit dalam jumlah besar, tidak akan pernah mati, dan aku bisa menikmati pertempuran skala besar.

Aku memikirkan ide yang sangat bagus.

Apalagi aku bisa melakukan eksperimen sihir juga, benar-benar ide luar biasa yang sekali dayung dua-tiga pulau terlampaui.

Fufufufufu, kalau sudah diputuskan, mari segera mulai persiapannya.

"Ah! Hei, Lloyd-kun! Jangan mengabaikanku! Hoooi!"

Saias meneriakkan sesuatu tapi aku biarkan saja, aku pun langsung menuju ke kamarku.

 

"──Jadi, untuk apa Anda kembali kemari? Tuan Lloyd."

"Bukankah Anda harus memanggil para prajurit dan menyusun unit pasukan?"

"Ah, ada sesuatu yang ingin kucoba sebentar."

Memikul nyawa orang lain dan bertempur itu rasanya berat di hati.

Kalau begitu, kalau aku membuat prajuritnya sendiri, tidak akan ada masalah, kan.

"■■■──"

Setelah selesai merapalkan sekumpulan mantra, bayangan lahir dari lingkaran sihir yang tergambar di lantai, lalu bayangan itu bangkit dan membentuk wujud manusia.

"Hou, Shadow Double ya. Benar, kalau itu sepertinya bisa digunakan sebagai pengganti prajurit."

Sihir tipe ilusi, Shadow Double, adalah sihir untuk memadatkan mana dan menciptakan boneka.

Sihir Double dari tipe lain biasanya membutuhkan bahan material sebagai gantinya penampilan mereka jadi lebih detail atau kemampuan fisiknya tinggi, tapi karena kali ini tujuannya hanya prajurit biasa, Shadow Double yang diciptakan murni dari mana saja sudah cukup.

Meskipun hanya bisa melakukan gerakan sederhana, sihir ini jauh lebih praktis.

"Tapi Tuan Lloyd, boneka bayangan tidak akan bisa melakukan pertempuran tingkat tinggi seperti yang dilakukan prajurit sungguhan. Apa yang Anda rencanakan?"

Seperti yang dikatakan Jiriel, menyuruh boneka bayangan meniru tingkah laku manusia itu sulit.

Misalnya, jika diberi perintah 'serbu', manusia akan memahami maksud tujuannya dan bertarung dengan luwes, tapi boneka bayangan hanya akan sekadar menyerbu secara harfiah sampai hancur.

Langkahnya tidak serempak, tidak bisa pakai senjata, hanya terus menerjang lurus. ……Dengan begitu, performa mereka sebagai prajurit tidak bisa diharapkan.

"Tentu saja aku sudah memikirkan solusinya. Misalnya seperti ini."

Aku merentangkan mana hingga berbentuk seperti tali, menyambungkannya ke kepala boneka bayangan, lalu membayangkan gerakannya di dalam pikiran.

Seketika, boneka bayangan itu menegakkan punggungnya dan mulai melakukan gerakan pemanasan persis seperti yang kupikirkan.

"On!"

Shiro, monster peliharaanku yang ada di dekatku, menggonggong.

Ya, ini adalah teknik yang sama seperti saat aku memberi perintah pada Shiro.

Dengan menghubungkan diri dan makhluk kontrak menggunakan tali mana, aku bisa memberi perintah sesuai keinginan.

"Begitu ya, kalau begini instruksi mendetail pun bisa diberikan. Dengan jumlah mana milik Tuan Lloyd, membuat boneka bayangan sebanyak apa pun pasti bisa, kan."

"Tidak bisa kalau sebanyak apa pun. Paling maksimal yang bisa kukendalikan hanya sekitar sepuluh ribu unit saja."

Dulu aku pernah mengetes seberapa banyak boneka bayangan yang bisa kukeluarkan, tapi memang jika melewati angka sepuluh ribu, sering terjadi kesalahan dalam pergerakannya.

"Se-sepuluh ribu unit pun bisa……"

"Padahal Shadow Double mengonsumsi mana jauh lebih besar dibandingkan sihir lain, tapi Anda bisa membuat sepuluh ribu, bahkan melakukan kontrol presisi sebanyak itu…… Benar-benar luar biasa."

Meski begitu, operasi ini dilakukan setengah otomatis, jadi beban bagiku tidak terlalu besar.

Kontrol setengah otomatis yang memanfaatkan refleks biologis manusia ini adalah berkat hasil penelitian Golem-ku sebelumnya.

Dalam sihir itu, pengalaman-pengalaman yang pernah kita lalui ternyata sangat berguna.

"Lalu bagaimana dengan senjata dan baju zirahnya? Mereka tidak mungkin bertangan kosong, kan. Di kastil juga pasti tidak ada sisa senjata sebanyak itu."

"Itu juga bukan masalah jika menggunakan sihir suci."

Dalam sihir suci, ada sihir yang mematerialisasikan mana menjadi senjata—sihir bernama Light Weapon.

Senjata yang dibuat dengan memadatkan cahaya mana bisa diciptakan sebanyak apa pun selama ada mana yang tersedia. Daya tahannya juga lumayan, sih.

"Rasanya Light Weapon milik Tuan Lloyd sudah melampaui level 'lumayan'……"

"Yah, karena ini untuk sepuluh ribu orang, aku pakai mode hemat energi saja."

Karena itu, aku segera mengaktifkan Light Weapon. Aku memakaikan pedang cahaya dan zirah lengkap pada boneka bayangan itu.

Meskipun kekuatannya hanya seperseribu dari Light Weapon asliku…… tapi ya, ini sudah jauh lebih kuat daripada zirah biasa.

Dengan ini, mereka seharusnya bisa beraksi tidak kalah dari prajurit biasa.

"Hanya saja, aku tidak bisa mengendalikan semua boneka bayangan ini sendirian. Hebat apa pun aku, jika harus menggerakkan sepuluh ribu unit sendirian, konsentrasiku pasti akan pecah. Karena itu, aku harus menyusun struktur mantra agar orang lain selain aku juga bisa memberikan perintah."

"Membiarkan orang lain selain Tuan Lloyd mengendalikan boneka…… ah!"

"Begitu ya, di sinilah akhirnya para prajurit biasa itu mengambil peran."

Benar sekali, yang memberikan instruksi pada boneka bayangan tetaplah para prajurit itu sendiri.

Sebab aku tidak akan sanggup mengawasi seluruh medan perang sendirian.

Dengan begini, mereka bisa bertarung dengan aman.

"Jika aku menambahkan mekanisme pada struktur mantra Shadow Double agar bisa dikendalikan siapa saja, itu berarti siapa pun bisa menggerakkan boneka bayangan tersebut melalui manaku."

Begitu aku membayangkan aktivasi struktur mantra, formula Shadow Double langsung terbuka di depan mataku.

Sambil membaca kode yang tertulis dalam bahasa sihir, aku menemukan bagian yang kucari.

Bagian ini dan itu aku retak sedikit…… oke, penggantian selesai.

Tapi itu belum berakhir.

Bagian yang kuretak tadi juga memengaruhi bagian tubuh lainnya, jadi jika hanya satu bagian yang diperbaiki, akan terjadi kontradiksi di seluruh struktur mantranya.

Oleh karena itu, aku harus meninjau ulang semuanya dari awal.

Aku meneliti setiap baris mantra dengan saksama dari awal.

Di sini juga. Ah, yang sebelah sini juga. Di sana, dan di situ juga.

Mengutak-atik struktur mantra itu memang menyenangkan, tapi melelahkan dan terasa membosankan. Karena perubahannya cukup besar, sepertinya ini akan memakan waktu lama.

 

"Fuuu, selesai, selesai."

Akhirnya, pekerjaanku berlanjut sampai malam. Tanpa sadar aku terlalu asyik sendiri.

Grim dan Jiriel pun sudah tertidur pulas.

"Uyaa…… sudah selesai?"

Kupikir begitu, ternyata mereka bangun juga. Mereka sedang mengucek mata dengan mengantuk.

"Iya, tolong tes sebentar, Grim."

"Siap."

Aku mengaktifkan struktur mantra yang baru pada Grim sebagai target.

Boneka bayangan bersenjata sihir suci—bukan, sebaiknya disebut Prajurit Mana saja ya.

Tiga unit muncul, dan masing-masing mengeluarkan tali mana yang terhubung ke kepala Grim.

"Wuooh! Pandanganku bertumpuk-tumpuk. Rasanya aneh sekali seperti punya banyak tubuh……"

"Kalau sudah terbiasa pasti bisa, kok. Coba lakukan sesuatu."

"Kira-kira seperti ini…… kah? Hap, hup!"

Atas perintah Grim, para prajurit itu mengayunkan senjata yang mereka pegang.

Hmm, sepertinya tidak ada masalah dengan gerakannya.

"Tuan Lloyd, biarkan saya mencobanya juga."

"Boleh."

Aku memberikan tiga unit Prajurit Mana yang sama kepada Jiriel yang entah sejak kapan sudah bangun juga.

"Terima kasih banyak. ……Nah, dasar iblis, mari kita tentukan pemenangnya di sini."

"Heh, menarik juga. Kamu pikir malaikat sepertimu bisa menang melawanku?"

"Itu kata-kataku! Uoooooo!"

Keduanya mengendalikan Prajurit Mana masing-masing dan mulai beradu pedang.

Memang benar, format simulasi tempur seperti ini jauh lebih mudah dipahami. Sip.

Pertempuran antar Prajurit Mana itu hampir seimbang, dan gerakan mereka terlihat tidak kalah dibandingkan dengan prajurit biasa.

"Bagaimana? Sepertinya bisa dipakai, kan?"

"Ini luar biasa, Tuan Lloyd! Hanya dengan membayangkan, para prajurit ini bergerak seperti tangan dan kakiku sendiri!"

"Ya, apalagi operasinya sangat intuitif dan mudah dipahami. Dengan ini, siapa pun yang tidak punya pengetahuan sihir pasti bisa langsung mengendalikannya."

Karena sudah mendapat jaminan dari mereka berdua, bisa dibilang ini sudah selesai untuk sementara.

Kontrol mendetailnya akan kuatur nanti saja.

"Ngomong-ngomong Tuan Lloyd, apa Anda tidak perlu memberitahu para prajurit soal ini?"

"Aduh, gawat. Aku benar-benar lupa soal itu."

Sekarang mungkin para prajurit yang seharusnya menjadi bawahanku sedang sibuk mencari tentara bayaran seperti yang dibilang Albert.

Padahal kalau ada Prajurit Mana ini, mereka tidak perlu repot-repot mengumpulkan ribuan orang, kan.

Yah, waktu masih banyak dan urusannya juga tidak akan beres sekejap mata. Besok saja aku pergi menemui mereka.

"G-gawat! Lloyd!"

──Keesokan harinya, aku terbangun karena suara teriakan Ren yang sangat keras.

Sepertinya dia sedang sangat panik. Aku pun bangun sambil mengucek mata yang masih mengantuk.

"Selamat pagi, Ren. Ada apa, sih?"

"……Tunggu sebentar. Sebelum itu, cuci mukamu dulu."

Aku menyendok air dari wadah yang disodorkan Ren, membasuh wajahku, lalu menyekanya dengan handuk lembut.

"Kalau dibiarkan, Lloyd pasti akan berkeliaran dengan rambut berantakan, kan. Setelah ini pakai pelembap, lalu sisir rambut……"

Ren mendandaniku dengan sangat sibuk agar penampilanku rapi.

"Selesai," desah Ren pelan sambil menyeka keringat di dahi, dan aku pun kembali ke penampilanku yang biasanya.

"Jadi, bukankah kamu sedang terburu-buru?"

"Oh iya! Kemarin kamu baru saja ditunjuk jadi wakil komandan Tuan Albert, kan? Begitu mendengarnya, aku dan Kak Sylpha langsung pergi meminta izin untuk bergabung ke pasukan Lloyd. Tapi saat kami pergi bertanya pada orang-orang di sana, hampir semua prajurit malah pergi ke pihak orang bernama Saias!"

"……Maksudnya bagaimana?"

"Aku tidak tahu! Kak Sylpha langsung pergi begitu mendengarnya, Tuan Albert juga sangat sibuk sampai tidak bisa ditemui…… Aku benar-benar bingung harus bagaimana……"

"Pokoknya, mari kita coba kumpulkan mereka dulu."

Akan lebih cepat jika aku bertanya langsung pada para prajurit yang ada di lokasi.

Karena itu, aku memanggil seluruh prajurit yang seharusnya berada di bawah tanggung jawabku. Namun……

"Cuma terkumpul segini, ya."

Belasan prajurit menatapku dengan wajah penuh rasa bersalah.

"Sedikit sekali ya…… Padahal kemarin saat berkumpul ada tiga ratus orang. Ini bahkan tidak sampai sepuluh persennya."

"Lagipula semuanya cuma kerempeng dan kelihatan lemah begini. Apa mereka benar-benar bisa bertarung?"

Grim dan Jiriel juga ikut mengomentari sesuka hati mereka.

Memang benar, tubuh mereka kecil dan aku hampir tidak merasakan adanya mana.

Bisa dibilang, mereka adalah orang-orang buangan bahkan di dalam pasukan Albert sekalipun.

Bagaimanapun juga, aku tidak akan tahu apa yang terjadi jika tidak bertanya, jadi aku mencoba menanyai salah satu prajurit.

"Kenapa cuma segini yang berkumpul? Kakak Albert bilang setengah dari prajurit akan ditaruh di bawah komandoku."

"I-itu, sebenarnya…… anu……"

Mendengar pertanyaanku, para prajurit itu saling pandang.

Setelah terdiam beberapa saat, prajurit yang paling muda melangkah maju seolah didorong oleh yang lain.

"E-eeh…… Sebenarnya begini, Tuan Lloyd. Prajurit yang lain semuanya pergi ke tempat Tuan Saias……"

"Maksudnya bagaimana?"

"Iya, setelah pertemuan kemarin selesai dan kami bubar untuk pergi ke kota guna menyewa tentara bayaran, Tuan Saias memanggil kami. Dia bilang, jika kami ikut dengannya, dia akan memperkenalkan tentara bayaran yang bisa disewa dengan harga sangat murah. Meskipun kami ini bangsawan rendah, kami tidaklah sekaya itu. Itulah sebabnya semuanya berbondong-bondong pergi ke tempat Tuan Saias."

"Omong-omong, kenapa kalian tetap tinggal?"

"Yah, ini memalukan, tapi Tuan Saias bilang kami tidak dibutuhkan……"

Prajurit muda itu tertawa pahit, sementara prajurit di belakangnya melotot seolah mengisyaratkan bahwa dia baru saja mengatakan hal yang tidak perlu.

Begitu ya, dia menjanjikan fasilitas yang lebih baik untuk menambah jumlah pasukan, hasilnya para prajurit yang seharusnya kupimpin malah berpaling pada Saias.

"Licik sekali cara mainnya…… Bajingan itu, karena tahu tidak akan bisa menandingi Tuan Lloyd jika bermain jujur, dia mencuri semua bawahan lebih dulu!"

"Mungkin untuk memonopoli pencapaian ya. Saling menjatuhkan di antara rekan sendiri, manusia memang makhluk yang sangat bodoh……"

Grim dan Jiriel tampak sangat geram, tapi bagiku ini justru sebuah keuntungan.

Prajurit sebanyak itu, apalagi kebanyakan adalah orang yang tidak kukenal, pasti akan sulit untuk kupimpin.

Dengan jumlah sesedikit ini, apalagi tipe mereka sepertinya kurang percaya diri, aku merasa bisa membuat mereka patuh padaku.

"Anu…… kami akan jadi bagaimana ya? Jika prajurit tidak terkumpul, apakah unit ini harus dibubarkan?"

"Tenang saja, tidak ada masalah. Mohon bantuannya ya."

Aku menjawab prajurit yang bertanya dengan ragu itu sambil tersenyum ramah.

Entah kenapa, wajah para prajurit itu malah tampak kecewa.

"T-tapi, pergi berperang dengan jumlah sesedikit ini sama saja dengan bunuh diri…… Tidak! Bukannya kami takut, tapi rasanya mustahil bisa melindungi Pangeran dengan jumlah prajurit segini……"

"Kalian tidak perlu khawatir."

Suara yang lantang bergema di sekitar.

Saat aku menoleh, di sana berdirilah Sylpha.

"Kak Sylpha! Dari mana saja!?"

"Tuanku, Tuan Lloyd memang luar biasa. Beliau sudah menyiapkan diri untuk situasi seperti ini dengan membina koneksi pribadinya sendiri."

Apa sih yang dia bicarakan?

Saat aku dan Ren saling pandang melihat wajah Sylpha yang tampak sangat bangga, tiba-tiba seorang pria besar muncul dari belakangnya.

"Oho, kalian sedang membicarakan hal menarik ya, Tuan Lloyd."

Pria besar berkepala plontos itu adalah Galilea.

Dia adalah mantan pemimpin guild pembunuh yang sekarang kutugaskan untuk mengelola wilayahku.

Kemampuannya adalah Spider Thread. Dia mengeluarkan cairan lengket dari tubuhnya untuk menjerat musuh.

"Sudah lama tidak terlibat dalam keributan. Teganya kalian ingin meninggalkan kami."

Yang muncul dari balik punggung Galilea adalah seorang wanita berambut panjang bergelombang, Talia.

Kemampuannya adalah Hundred Wounds. Dia bisa berbagi luka yang ia timbulkan pada dirinya sendiri dengan lawan yang ia tatap.

"Kukuku, sepertinya tidak akan menyenangkan, tapi kalau kabur sekarang pun kami hanya akan dilumat oleh para monster…… Jadi lebih baik bekerja di bawah perintahmu."

"Aku juga senaNG bisA bertarung bersaMA Tuan Lloyd laGI."

Pria berkerudung hitam itu adalah Babylon, dan pria bertopeng gagak adalah Crow.

Masing-masing menguasai Super Soft Body yang membuat tubuh lentur dan Cursed Word yang melepaskan kutukan lewat kata-kata.

Mereka semua adalah mantan anggota guild pembunuh.

Tadinya mereka sudah pensiun dan bekerja bersama Galilea, tapi ternyata semuanya datang kemari.

"Semuanya! Kalian datang!?"

"Heh, kalau soal membalas budi pada Tuan Lloyd, kami tidak punya waktu untuk bersantai."

Ren tampak sangat senang bisa bertemu teman-temannya lagi, dia berkeliling menyalami mereka semua.

"Kami juga datang, lho—"

"On! On!"

Yang muncul sambil menunggangi monster serigala raksasa adalah Putri Keenam, Alize.

Di sampingnya ada Shiro, serta Mini Shiro dan Petit Shiro yang sudah tumbuh besar.

"Aduh-aduh, jangan lupakan kami, dong."

Berikutnya yang muncul adalah bocah yang sangat mirip denganku, Ido.

Dia adalah Homunculus yang kubuat, tapi karena berbagai alasan, Galilea dan yang lainnya yang mengasuhnya.

"K-kami juga akan bertarung!"

"Demi Tuan Lloyd, saya rela meski raga ini harus hancur."

Di sampingnya ada gadis berrok panjang bernama Lami dan seorang kakek tua yang seluruh tubuhnya tertutup jubah bernama Gitan.

Lebih dari setengah tubuh mereka telah berubah menjadi monster, sehingga mereka menyembunyikan wujud aneh mereka dengan pakaian panjang.

Lami mengandalkan sihir, sementara Gitan memiliki kekuatan tempur tinggi melalui mutasi fisik.

"Kami juga datang membantu. Dalam perang skala besar begini, sihir suci kami pasti berguna, kan? Meski aku tidak begitu tahu detailnya."

"Ini juga merupakan kehendak Tuhan, saya senang bisa membantu Lloyd-kun."

"Kak Saria! Isha juga!"

Putri Keempat Saria, dan Paus saat ini, Isha.

Musik yang mereka mainkan sangat luar biasa, dan mereka bisa menggunakan sihir suci yang memiliki efek penyembuhan.

"Jangan lupakan keberadaanku juga."

"Tentu saja. Guardian of Saloum yang kita ciptakan, Digardia. Saat seperti inilah waktunya dia beraksi!"

Pria bertubuh tambun dan pria berkulit gelap itu adalah Pangeran Ketiga Zeloph dan Pangeran Keempat Dian.

Dan di belakang mereka berdiri tegak Golem raksasa, Digardia.

Lawannya adalah gerombolan monster, Digardia yang memiliki daya hancur besar pasti akan sangat membantu.

"Lagi pula, Tuan Lloyd harus lebih aktif lagi sebagai petualang. Jika kami memberi bantuan di sini, nantinya pasti akan kembali dua kali lipat lebih banyak…… kan? Pokoknya semuanya, kalian akan tetap dapat bayaran dari guild, jadi bekerjalah dengan baik!"

"Oooooo—!"

Resepsionis guild petualang, Catalina, juga muncul memimpin petualang lainnya.

Jika dijumlahkan, mungkin ada hampir dua ratus orang.

Dengan jumlah segini, rasanya sudah cukup untuk mengendalikan Mana Soldier-ku.

"Begitu banyak orang yang datang demi Lloyd…… Jadi Kak Sylpha pergi untuk memanggil semuanya, ya!"

"Benar, begitu dipanggil, mereka semua langsung berkumpul. Ini semua berkat kebajikan Tuan Lloyd. Namun, aku dengar pasukan Saias telah mengumpulkan tentara bayaran dan jumlahnya sudah mendekati enam ribu orang. Jika dibandingkan itu, jumlah kita masih……"

"Kalau soal itu, tidak perlu khawatir."

Aku berkata demikian sambil menciptakan Mana Soldier.

Jumlahnya sepuluh ribu unit, semuanya berjejer rapat hingga memenuhi lapangan, membuat semua orang yang melihatnya tercengang.

"I-ini sebenarnya apa……?"

"Ini boneka bayangan yang kubuat dari mana. Aku bisa mengeluarkan maksimal sepuluh ribu unit. Rencananya kalian akan memimpin mereka untuk bertarung."

"Luar biasa…… Sihir sedahsyat ini ada…… Ini benar-benar sihir agung yang bisa mengubah sejarah! Aku tahu Anda hebat, tapi tidak menyangka sampai sejauh ini! Benar-benar…… benar-benar Tuan Lloyd!"

Sylpha menggenggam tanganku dengan ekspresi penuh semangat.

Ah, gawat. Sepertinya aku melakukannya sedikit berlebihan.

Saat aku sedang memikirkan cara untuk mengelaknya, aku menyadari Ido sudah berdiri di sampingku.

Ido menatapku sambil tersenyum penuh arti, lalu berkata kepada Sylpha.

"Fufu, hebat kan? Sihir ini adalah hasil pengembangan bersama antara aku dan Lloyd."

Ooh, bantuan yang bagus, Ido. Aku pun langsung ikut mendukung pernyataannya dengan sekuat tenaga.

"I-iya, benar! Yah, sihir ini tidak akan mungkin terwujud tanpa pengetahuan Ido sebagai Alkemis. Haha, hahaha……"

Aku berkata begitu sambil tertawa kering.

Fuu, bahaya, bahaya. Hampir saja aku dikira menciptakan sihir seperti itu sendirian.

Bagaimanapun juga, mustahil bagiku untuk terus berpura-pura menjadi penyihir biasa-biasa saja jika melakukan hal sehebat ini.

"Be-begitu rupanya…… Tidak, meski begitu, ini tetap sihir yang luar biasa. Memang luar biasa, Tuan Lloyd."

Sepertinya dia percaya. ……Mungkin.

Aku menghela napas lega, lalu berbisik pelan pada Ido.

"Terima kasih bantuannya, Ido."

"Benar-benar deh, Lloyd terlalu ceroboh, tahu. Bagaimana bisa rahasiamu belum terbongkar sampai sekarang? Aku sampai deg-degan. Kamu harus berterima kasih padaku."

Ido tertawa bangga.

Meskipun dia Homunculus-ku, tapi dalam urusan bersosialisasi, Ido jauh lebih lihai dariku. Terima kasih banyak.

"Tapi sehebat apa pun Lloyd, apa tidak apa-apa mengeluarkan Mana Soldier sebanyak ini? Normalnya, mengeluarkan sepuluh unit saja sudah mustahil."

"Yah, lumayan melelahkan, sih."

"Lumayan…… ya. Haha."

Ido tertawa seolah tidak percaya. Padahal dia sendiri yang bertanya, tapi responnya malah begitu, bukankah itu tidak adil?

"Eh, omong-omong……"

Aku melihat sekeliling dan menyadari sesuatu.

Meski sudah banyak orang berkumpul, sosok yang biasanya paling pertama muncul di situasi seperti ini malah tidak ada.

Ya, petualang dari negeri asing yang penuh rasa ingin tahu dan pengguna pernapasan Ki itu, dia adalah—

"Hei, Sylpha."

Seolah menyadari apa yang akan kukatakan, Sylpha menggelengkan kepalanya.

"Gadis itu—Tao, tidak datang."

Sylpha menggelengkan kepalanya dengan raut wajah sedikit kecewa.

"Aku sudah mencarinya ke mana-mana tapi tidak ada. Padahal biasanya dia selalu muncul meski tidak dipanggil……"

Apakah dia pergi ke suatu tempat? Pergi bertualang lagi?

Aku menyebarkan manaku untuk mencari keberadaannya sampai ke dalam kota, tapi…… ya, sepertinya dia benar-benar tidak ada di mana pun.

"Aku sudah mendatangi rumahnya dan tempat-tempat yang biasa dia kunjungi."

"Tetap tidak ketemu, ya?"

Sylpha mengangguk.

Tadinya aku pikir Tao dan Sylpha tidak begitu akrab, tapi ternyata dia tahu detail rumah dan tempat favoritnya ya. Tak disangka.

"Resepsionis, apa kamu tahu sesuatu?"

"Hmm, kalau dipikir-pikir, aku sudah tidak melihatnya sejak sekitar sebulan yang lalu. Saat ini dia juga sedang tidak mengambil misi apa pun."

Catalina menaruh jarinya di bibir sambil memiringkan kepala.

Sebulan lalu berarti saat Turnamen Golem berlangsung ya.

Kalau tidak salah saat itu Tao tampak sangat terpukul karena kalah dalam pertandingan.

"Apa mungkin dia pulang ke negaranya karena syok setelah kalah?"

"Gadis itu bukan orang yang selembut itu. Tapi dia juga bukan pengecut yang akan menyerah begitu saja setelah kalah. ……Pasti dia sedang mengasah kemampuannya di suatu tempat. Suka atau tidak, dia itu gadis yang sangat keras kepala."

Sylpha mengangguk mantap seolah meyakini hal tersebut.

Ada apa dengan perasaan saling mengerti ini?

Sepertinya mereka berdua sebenarnya cukup akrab ya.

"Tapi ya sudah kalau dia memang tidak ada. Daripada itu Tuan Lloyd, dengan pasukan sebesar ini, ada batasnya jika Anda memimpin semuanya sendirian. Bagaimana jika kita menambah seorang ahli strategi?"

"Ahli strategi, ya."

Memang benar, secara realistis akan sulit bagiku memimpin mereka sendirian.

"Tuan Lloyd pasti akan langsung lari melihat hal menarik dan menelantarkan komando pasukannya, kan."

"Tentu saja kita butuh orang untuk menutupi hal itu."

Grim dan Jiriel mengangguk setuju.

Oi, oi, meski itu aku, aku tidak akan se-tidak bertanggung jawab itu…… yah, mungkin aku tidak bisa menjamin sepenuhnya.

Lagipula aku ini benar-benar awam soal operasional militer. Ahli strategi memang dibutuhkan.

"……Benar juga. Tapi apa kita bisa menemukan ahli strategi dengan mudah? Seminggu lagi Stampede akan menyerang Gerbang Benua."

Batas waktu yang kudengar dari Albert adalah satu minggu. Sebelum itu, kami harus mengumpulkan pasukan dan menempatkan mereka di Gerbang Benua.

Jika terlambat, aku tidak bisa ikut dalam acara besar ini. Aku ingin menghindari hal itu.

Seolah sudah menunggu kata-kataku, Sylpha merona merah dan berdeham kecil.

"Itu, sebenarnya, meski ini terdengar lancang, saya berniat menawarkan diri. Begini-begini saya pernah belajar ilmu strategi perang dari Tuan Cruze……"

"Kalau soal itu, aku pernah dengar ada kelompok bandit yang sangat kuat di jalur menuju Gerbang Benua."

Sebelum Sylpha selesai bicara, Galilea menyela.

"Katanya itu kelompok bandit raksasa dengan anggota lebih dari tiga ribu orang. Beberapa tahun lalu, seorang pria yang menyebut dirinya Night King menyatukan berbagai kelompok bandit yang tadinya terpecah-pecah. Dia sangat cerdas, bahkan tentara kerajaan pun beberapa kali terpaksa mundur karena tidak bisa menembus pertahanannya. Tapi meski mereka tinggal di gunung, kabarnya mereka tidak pernah menyerang orang biasa, jadi kerajaan tidak mengusik mereka lagi. Bagaimana kalau kita jadikan dia ahli strategi kita? Tuan Lloyd."

"Ap…… Anda berniat menggunakan bandit sebagai ahli strategi!? Tuan Lloyd, bagaimanapun itu sudah keterlaluan……"

"Heh, boleh juga."

Tepat saat Sylpha ingin protes, aku mengangguk setuju pada usulan Galilea.

Meskipun cuma tiga ribu orang, tapi mereka tetaplah bandit. Tanpa taktik dan kepemimpinan yang mumpuni, mustahil mereka bisa menghadapi tentara resmi.

Apalagi memelihara organisasi sebesar tiga ribu orang tanpa merampok berarti mereka bisa memenuhi kebutuhan pangan sendiri.

Night King ini pasti orang yang sangat cakap. Jika ahli strategi yang hebat bergabung, aku bisa bergerak lebih bebas, jadi ide ini patut dicoba.

"Lagi pula, ini bisa jadi latihan bagi semua orang untuk mengendalikan Mana Soldier."

Menciptakan Mana Soldier membutuhkan mana, dan jika terlalu banyak yang hancur, aku harus repot mengisi ulang mereka.

Daripada langsung bertarung melawan monster tanpa persiapan, lebih baik melakukan pemanasan melawan bandit untuk menjamin hasil yang lebih baik nantinya. Benar, benar.

Saat aku sedang memikirkan hal itu, Grim dan Jiriel tiba-tiba muncul.

"Tapi Tuan Lloyd, apa tidak masalah menyerahkan tugas penting seperti ahli strategi pada orang yang sama sekali tidak kita kenal?"

"Jika dia membangkang, kita tinggal menyucikannya dengan sihir suci saja. Jika memakai itu, sejahat apa pun orangnya, dia akan menjadi pelayan yang patuh pada Tuan Lloyd."

Benar, jika menggunakan sihir suci Purification, niat jahat itu akan hilang dan orang jahat pun bisa berubah menjadi orang baik.

……Yah, bukannya orang baik sih, tapi lebih ke semacam teknik cuci otak, jadi secara etika agak kurang bagus.

"Ah, sihir sesat itu ya…… Memang cuma malaikat yang bisa begini—"

"Siapa yang kamu sebut sihir sesat! Ini adalah hal suci bagi mereka yang melayani Tuhan! Tarik kembali kata-katamu, Iblis!"

Jiriel tampak geram, tapi perkataan Grim juga ada benarnya.

Bagaimanapun juga, aku akan memilih-milih targetnya. Jika dia mau patuh dengan sukarela, aku tidak akan menggunakannya.

"Jika Tuan Lloyd berkata demikian, saya tidak akan berkomentar lagi. Mari kita hancurkan markas bandit itu, dan jika dia terlihat berguna, kita jadikan dia ahli strategi."

"Haha, bagi Tuan Lloyd mereka mungkin bukan lawan yang berarti."

"Tapi apa ada orang yang benar-benar bisa bertarung seimbang melawan Lloyd……"

"Bahkan aku sangsi apakah kita punya tugas yang harus dilakukan atau tidak…… Tapi demi menjadikan Tuan Lloyd petualang kelas S, kita harus memberi bantuan di sini. Ayo semuanya, mari berjuang!"

"E-eeh…… Kita berjuang sewajarnya saja ya."

"Omong-omong, kita boleh ikut…… kan?"

"Bodoh, kalau tidak ikut nanti kita dibunuh Kak Sylpha, lho."

"Hiii, seram sekali……"

Semua orang tampak bergumam sendiri-sendiri, tapi suara mereka bercampur baur sehingga tidak terdengar jelas.

Yah, apa pun boleh lah.

"Kalau begitu Tuan Lloyd, silakan pergi lapor kepada Tuan Albert bahwa penyusunan pasukan sudah selesai. Saya akan melatih mereka sebagai prajurit sementara ini."

"Kalau begitu aku akan mengajari mereka cara menggunakan Mana Soldier."

"Terima kasih ya Sylpha, Ido. Aku serahkan pada kalian."

Aku menyerahkan semuanya pada mereka berdua, lalu melangkah menuju ruang kerja Albert.



Illustrasi | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close