NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tensei Shitara dai Nana Ouji dattanode Volume 5 Part 2


Saat aku sampai di ruang kerja Albert, suasananya sangat gaduh dan kacau.

Para pejabat sipil berlarian, dokumen berserakan, dan prajurit hilir mudik dengan terburu-buru.

Tentu saja Albert juga tampak sangat sibuk, dia sedang berbicara dengan berbagai orang sejak tadi.

Hmm, sepertinya lebih baik aku menunggu sebentar. Baru saja aku ingin membuka buku yang kubawa, tiba-tiba sebuah suara terdengar.

"Oya, oya…… Bukankah ini Lloyd-kun?"

Yang menyapaku adalah Saias.

Dia menatapku dengan mata menyipit dan sudut bibir yang sedikit terangkat.

"Apa yang kamu lakukan di tempat seperti ini? ……Kuku, maksudku, apa tidak apa-apa kamu bersantai di sini? Bukankah kamu harus segera mengumpulkan prajurit agar tidak terlambat berangkat? Kudengar prajurit yang tersisa di tempatmu cuma sedikit, ya?"

Saias memasang senyum penuh kemenangan sambil mengucapkan kata-kata yang seolah mengkhawatirkanku.

"Bajingan ini……! Berani-beraninya dia bicara begitu setelah apa yang dia perbuat!"

"Pria yang tidak tahu diri ya. Pantas dihukum mati!"

"Sudahlah, Saias cuma ingin memperkuat pasukannya sendiri, kok."

Aku menenangkan Grim dan Jiriel yang geram. Berkelahi antar rekan itu tidak baik.

Lagipula, mau di bawahku atau di bawah Saias, mereka semua tetaplah kawan.

"Terima kasih atas kekhawatirannya. Tapi Saias, daripada mengkhawatirkanku, bukankah lebih baik kamu mengkhawatirkan dirimu sendiri?"

Sesuai pembicaraan sebelumnya, pasukan Saias selain pasukan pengawal hampir semuanya adalah tentara bayaran, isinya cuma orang luar.

Itu berarti tingkat kemahiran dan koordinasi mereka pasti berantakan, dan secara fungsi militer mereka sangat rapuh.

Mendengar kata-kataku, mata Saias terbelalak sejenak, namun dia segera menahan tawa hingga bahunya gemetar.

"……Kuku, kamu benar-benar masih anak-anak ya. Biar kuberi tahu, saat ini total seluruh pasukanku mendekati tujuh ribu orang! Jauh melampaui permintaan Tuan Albert yang cuma lima ribu! Jadi kubilang padamu, tidak perlu khawatir!"

"Ooh, syukurlah kalau begitu."

Sepertinya Saias sudah mengumpulkan prajurit yang cukup banyak.

Pasukan yang dipimpin langsung oleh Albert ada sepuluh ribu, ditambah milik Saias dan milikku, target dua puluh ribu orang pasti akan tercapai dengan mudah.

Aku membelakangi Saias lalu berjalan menuju meja Albert.

"Muu, ada apa dengan ketenangan itu? Apa yang dia rencanakan……! H-hei Lloyd-kun. Jangan-jangan kamu berniat memohon pada Tuan Albert untuk meminjamkan prajurit!? Meski kamu adiknya, bukankah itu curang—"

Aku mengabaikan gumaman Saias di belakangku dan menyapa Albert yang tampak sibuk.

"──Kak Albert, aku datang melapor karena penyusunan pasukan sudah selesai."

"Ooh! Cepat sekali, Lloyd! Jadi, berapa banyak yang kamu kumpulkan?"

"Sepuluh ribu dua ratus lima puluh orang."

Brak! Suara kursi bergeser terdengar dan semua orang di sana menatapku.

"Mana mungkin!? Prajurit yang seharusnya menjadi milikmu hampir semuanya sudah kuambil! Lalu dari mana kamu mendapatkan jumlah sebanyak itu!?"

"Yah, begitulah, tiba-tiba saja mereka berkumpul sendiri…… mungkin?"

"Nu, gugugugu…… Berkumpul sendiri? Jangan bercanda……!"

Saias tampak menggertakkan giginya.

Kadang tertawa, kadang marah, dia kenapa sih? Sibuk sekali.

Padahal jika kekuatan seluruh pasukan meningkat, bukankah itu hal yang patut disyukuri.

"Gyhahaha! Rasakan itu!"

"Dia telah meremehkan kebajikan dan kekuatan Tuan Lloyd. Bodoh sekali."

Grim dan Jiriel juga ikut senang.

Mereka ini juga cukup sibuk ya.

"Pff, kukuku……"

Saat aku memikirkan itu, Albert menyembunyikan wajahnya di balik dokumen dan tertawa kecil.

"Ahahaha! ……Nah, sudah kubilang kan, Saias? Kesulitan semacam itu bukanlah apa-apa bagi Lloyd."

"Tuan Albert! Tapi itu……"

Tepat saat Saias ingin membantah dengan panik, Albert menatapnya tajam.

"──Diamlah. Aku sudah menyelidiki bahwa kamu menawari kesepakatan pada prajurit yang seharusnya dipimpin Lloyd untuk bergabung ke pasukanmu. Pasti kamu merasa takut pada kemampuan Lloyd dan berpikir untuk menghancurkannya sekarang, kan? Sepertinya pemikiranmu terlalu naif."

"Tidak mungkin! Tuan Albert! Saya sama sekali tidak berniat begitu!"

"Tidak perlu alasan. Karena sekarang tidak ada waktu, aku tidak akan mempermasalahkannya dulu, tapi setelah perang ini berakhir, tindakanmu akan disidangkan. Sampai saat itu, kumpulkanlah pencapaian sebanyak-banyaknya untuk menebus kesalahanmu."

"Guh…… Ba-baiklah……"

Saias tertunduk lesu mendengar perkataan Albert.

Setelah mengantar Saias keluar ruangan dengan tatapan tajam, Albert menghela napas panjang ke arah pintu.

"Benar-benar deh dia itu…… sepertinya kebiasaan buruknya saat sekolah dulu belum hilang."

"Apa maksudnya, Kak Albert?"

"Ah, dulu saat sekolah, Saias sering mencari-cari kesalahan siswa yang lebih hebat darinya lalu menantang duel untuk menghancurkan mereka. Terutama mereka yang status sosialnya rendah sering jadi sasarannya. Yah, karena dia punya kemampuan dan semangat pantang menyerah, aku tetap memberinya penilaian tinggi…… tapi aku tidak suka jika dia mengacaukan situasi."

Heh, kalau dipikir-pikir aku juga pernah dicari-cari kesalahannya oleh bangsawan di kehidupan sebelumnya lalu ditantang duel ya.

Aku sudah tidak terlalu ingat, tapi mungkin itu juga hal yang serupa.

"……Yah, aku yakin Lloyd pasti bisa mengatasinya. Meski mengumpulkan prajurit sebanyak itu benar-benar di luar dugaanku."

"Jangan terlalu memujiku, Kak Albert. Aku tidak melakukan apa-apa, kok."

"Kerendahan hatimu itulah yang merupakan bagian terbaik darimu. Orang-orang berkumpul di sekitarmu pasti karena sifat rendah hatimu itu."

Padahal hampir semuanya adalah Mana Soldier buatanku.

Dia benar-benar terlalu memujiku. ……Tentu saja aku tetap berterima kasih pada orang-orang yang mau berkumpul demi aku.

"Bagaimanapun juga, kerja bagus, Lloyd. Kami berencana berangkat besok setelah semua persiapan selesai, bagaimana denganmu?"

"Aku berencana berangkat sekarang. Aku ingin menambah sedikit kekuatan tempur di perjalanan."

"Hahaha! Memang ciri khas Lloyd. Baiklah. Sampai jumpa di Gerbang Benua nanti."

"Baik, Kak Albert juga hati-hati."

Aku memberi hormat pada Albert, lalu keluar dari ruangan.

"……Hei, Lloyd-kun."

Dalam perjalanan kembali ke tempat teman-teman, aku bertemu dengan Saias.

Saias menatapku dengan wajah kesal seolah baru saja menelan sesuatu yang pahit.

"Kamu melakukannya juga ya. Aku tidak menyangka kamu bisa mengumpulkan prajurit sebanyak itu di situasi seperti tadi. Tapi tetap saja prajurit resminya hampir tidak ada, kan? Meski menang jumlah, bagaimana dengan kualitasnya?"

"Bukankah itu juga berlaku untukmu, Saias? Pasukanmu hampir semuanya tentara bayaran, kan."

"Hahahahaha! Sayang sekali Lloyd-kun, saat ini pasukanku telah bergabung dengan pasukan Tuan Cruze yang dikenal sebagai yang terkuat di Saloum, dan kami sedang berlatih bersama! Saat kami kembali nanti, mereka pasti sudah menjadi jauh lebih kuat! Perbedaan ini mustahil untuk dikejar! Khahaha!"

Rasanya latihan cuma sehari tidak akan mengubah banyak hal, sih. Justru berlatih bersama prajurit yang levelnya jauh berbeda malah bisa bikin mereka babak belur.

Tiba-tiba dari belakang Saias yang sedang tertawa keras, Cruze berjalan dengan langkah tegap.

"Ooh, ternyata Saias."

"Oya, Tuan Cruze. Bagaimana menurut Anda pasukan saya? Semuanya berasal dari keluarga terhormat. Saya yakin mereka akan beraksi dengan hebat……"

Melihat Saias yang tersenyum menyeringai, Cruze malah berkata dengan nada heran.

"Hebat? Apa yang kamu bicarakan? Prajuritmu itu terlalu lembek, tahu. Baru saja aku ingin melatih mereka sedikit, eh tidak sangka mereka langsung tumbang cuma gara-gara pemanasan. Bukankah ketahanan fisik mereka sangat kurang?"

Cruze menghela napas panjang.

Mendengar itu, wajah Saias memucat dan dia berteriak panik.

"Mana mungkin…… tidak, saya akan menasihati mereka baik-baik."

"Meski isinya cuma tentara bayaran, tapi mereka terlalu memalukan. Dengan kondisi begitu mereka hanya akan jadi beban. Kamu juga jangan cuma bersantai di sini, ayo ikut latihan!"

"I-aww! Tuan Cruze!? Tolong jangan tarik leher saya!"

Saias ditarik leher belakangnya oleh Cruze, lalu diseret menuju tempat latihan.

……Sepertinya dia memang sedang dibuat babak belur. Waktunya tidak banyak, kuharap dia tidak terlalu kelelahan sampai tidak bisa ikut perang nantinya.

 

Setelah selesai melapor, aku segera mengumpulkan pasukanku dan bersiap meninggalkan kastil.

Orang-orang di kota melambaikan tangan mengantar kepergian kami.

"Anu…… rasanya agak malu ya."

"Hahaha! Bukankah ini terasa hebat! Orang buangan seperti kita diantar dengan tepuk tangan meriah! Memang benar mengikuti Tuan Lloyd itu keputusan terbaik!"

Ren dan Galilea tertawa bahagia.

Yang lainnya juga tampak sedikit malu. Kesempatan mendapat tepuk tangan sebanyak ini memang jarang terjadi.

Tepat saat pasukan kami melewati jalan utama.

Wuaaaaaa! Sorak-sorai yang sangat keras meledak di belakang kami.

Saat aku menoleh, ternyata pasukan Schneizel mengikuti tepat di belakang kami.

"Haaa, memang benar-benar pasukan Tuan Schneizel ya. Popularitasnya beda level."

"Iya, sorakannya sepuluh kali lebih keras dari kita."

Sorakan yang mengantar kepergian pasukan Schneizel terdengar sangat jelas bahkan sampai ke telinga kami yang sudah cukup jauh.

"Sangat disayangkan, tapi melihat reputasi saat ini, hal ini sangatlah wajar. Namun, jika kita menunjukkan hasil yang memuaskan, sambutan saat kita pulang nanti pasti akan lebih hebat dari itu. Dan jika itu Tuan Lloyd, hal itu sangat mungkin terjadi. Kami pun akan membantu sekuat tenaga."

Sylpha tampak sangat bersemangat, tapi aku jadi merasa terbebani jika terlalu diharapkan.

Saat itu, Schneizel yang berjalan di depan pasukannya memacu kudanya dan menyejajari posisiku.

Begitu Schneizel menatap sekeliling dengan tajam, semua orang langsung mematung karena terintimidasi oleh auranya.

"Halo, Kak Schneizel juga berangkat sekarang?"

"……Ya, aku ingin sampai lebih awal untuk memantau medan perang."

"Semangat ya. Semoga beruntung."

"Kamu juga, Lloyd. ……Aku mengandalkanmu."

Setelah percakapan singkat itu, Schneizel memimpin pasukannya dan berlari pergi meninggalkan kami.

Ooh, cepat sekali. Benar-benar prajurit veteran. Pasukan Albert memang cukup terlatih, tapi jika dibandingkan ini, levelnya jauh berbeda.

"Itu Tuan Schneizel yang legendaris…… auranya luar biasa. Cuma ditatap saja aku sampai tidak bisa bergerak……"

"Ah, luar biasa Tuan Lloyd. Bisa berbicara sejajar dengan Tuan Schneizel, bahkan diberi kata-kata harapan…… Benar-benar tidak ada duanya."

Galilea dan Sylpha menggumamkan sesuatu tapi tidak terdengar jelas karena sorakan yang keras.

Bagaimanapun juga, kami pun berangkat menuju gunung tempat para bandit itu tinggal.

Setelah menempuh perjalanan ke utara selama setengah hari, sebuah gunung yang tampak hitam pekat dengan latar belakang langit senja mulai terlihat.

Pemandangan jajaran pegunungan yang sambung-menyambung itu benar-benar sangat mengagumkan.

"Tuan Lloyd, ini adalah Pegunungan Buhne, tempat bermukimnya kelompok bandit yang dipimpin oleh Night King."

"Hou, aku bisa melihat cahaya di sana."

Matahari mulai terbenam, dan di lereng gunung, titik-titik cahaya mulai menyala satu demi satu. Jumlahnya cukup banyak.

Benar juga, tempat ini benar-benar sarang bandit.

"Dalam perjalanan, aku melihat orang-orang yang tampak seperti pengintai bergerak menuju gunung. Kita bisa berasumsi bahwa pergerakan kita sudah diketahui."

"Mereka sangat terorganisir ya. Mengingat keuntungan medan, pasukan biasa pasti hanya akan berakhir dipukul mundur."

Sylpha menyerukan kewaspadaan, sementara Ren menelan ludah dengan gugup.

Aku berdiri di depan semua orang, lalu berbalik dan berkata.

"Baiklah, kalau begitu mari kita mulai penyerangannya sekarang."

"Eeehhh!?"

Suara terkejut membahana mendengar perkataanku. Ada apa dengan mereka?

"Bagaimanapun juga itu terlalu nekat, Tuan Lloyd. Para prajurit pasti sudah kelelahan setelah berjalan sejauh ini."

"Apalagi hari sudah mulai gelap. Jika hanya Tuan Lloyd seorang diri, penaklukan mungkin saja dilakukan, tapi..."

"Kalau begitu, ini tidak akan menjadi latihan, kan?"

Aku sudah mengajarkan cara menangani Mana Soldier secara garis besar, tapi pertempuran sungguhan dan latihan adalah hal yang sangat berbeda.

Repot sekali kalau aku harus menutupi kekurangan mereka satu per satu saat bertarung nanti. Karena itulah, lebih baik melakukan praktik langsung di sini.

Lagipula, tidak perlu khawatir soal stamina. Kita punya tenaga medis yang sangat hebat.

"Kak Saria, Isha, aku ingin kalian memulihkan semua orang dengan sihir suci."

"Baiklah. Tunggu sebentar ya, Lloyd."

"Saya akan segera bersiap, Lloyd-kun. Ah— ah—"

Keduanya melangkah ke depan sambil menyiapkan instrumen musik dan mengatur suara.

Penyembuhan melalui sihir suci akan memberikan vitalitas pada tubuh yang lelah. Dengan ini, mereka akan pulih cukup untuk bertarung dengan maksimal.

Saat aku sedang mengangguk-angguk setuju, tiba-tiba kerah bajuku dicengkeram dengan kuat.

"Kamu juga harus ikut, Lloyd."

"Eeh! Aku juga?"

"Tentu saja. Karena kamulah komandannya."

"Logika macam apa itu..."

"Ahaha, aku akan mendukungmu dengan sepenuh hati."

Isha ikut menimpali. Entah kenapa, aku selalu kewalahan menghadapi mereka berdua.

Yah, mau bagaimana lagi. Aku pun mengangguk sambil menghela napas.

"……Baiklah. Tapi aku tidak tahu apakah bisa melakukannya dengan baik."

"Kami yang akan menyesuaikan, jadi mulailah sesukamu."

"Saya juga sudah siap."

"Kalau begitu──"

Aku menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya.

Suara nyanyianku, suara nyanyian Isha, dan melodi yang dimainkan Saria bergema ke seluruh penjuru.

"Wah…… lagu yang indah sekali……!"

"Terlebih lagi, entah kenapa rasa lelah di tubuhku seolah sirna."

Ini adalah sihir suci Holy Chant.

Salah satu jenis sihir ritual bermediakan musik yang memiliki efek menyembuhkan kelelahan bagi siapa pun yang mendengarnya.

Para prajurit tampak mendengarkan dengan takjub dan wajah yang terpesona.

Berkat penghalang akustik yang sudah kupasang sebelumnya, nyanyian kami bisa terdengar oleh seluruh pasukan.

"Betapa indahnya suara nyanyian ini! Benar-benar Tuan Lloyd. Aku, Sylpha, tidak bisa berhenti menangis karena saking terharunya."

Terutama Sylpha yang tampaknya sangat tersentuh hingga air matanya mengalir deras.

Setelah semua orang terpaku mendengarkan, beberapa saat kemudian kami menyelesaikan pertunjukannya.

"……Fuu. Bagaimana? Semuanya, apa rasa lelah kalian sudah hilang?"

"Oooooooo—!"

Wajah-wajah lelah yang terlihat tadi entah menghilang ke mana.

Suara-suara penuh semangat menyahut dengan lantang. Sepertinya aku tidak perlu menunggu jawaban verbal lagi.

Bagus, kalau begini penyerangan gunung bisa dilaksanakan.

"Ketua! Gawat! Pasukan kerajaan datang menyerang!"

Suara berat bergema di ruangan yang berbau alkohol.

Di tengah ruangan terdapat meja-meja yang tertata berantakan, dan di ujung sana ada seorang wanita berambut hitam panjang yang diikat dengan minyak hewan, mengenakan jubah bulu.

Wanita itu meneguk minumannya dalam sekali teguk, lalu mengalihkan pandangannya pada bawahan yang datang melapor.

"Pasukan militer? Bukankah orang-orang Saloum seharusnya sedang kewalahan menghadapi Stampede monster?"

"Ba-bagaimana Anda bisa tahu hal seperti itu!?"

"Aku menempatkan mata-mata di dalam kastil. Tidak salah lagi…… tapi, justru karena itulah……? Meski aku merasa ini mustahil, tapi……"

Saat wanita itu meletakkan tangan di dagu sambil berpikir, bawahannya melanjutkan dengan nada panik.

"Tapi tidak salah lagi kalau pasukan militer sedang datang! Terlebih lagi, mereka sudah mulai mendaki gunung!"

"Hou. Mendaki gunung di malam hari seperti ini ya…… benar-benar tidak kenal takut. Kukuk."

Wanita itu bergumam seolah terkesan, lalu bangkit berdiri dan menghadap ke jendela.

Saat bawahannya membuka jendela, di gunung yang sudah mulai diselimuti kegelapan malam, tampak cahaya terang benderang menyala di sana-sini.

"Sepertinya mereka menyerang sambil menyalakan cahaya dengan sihir! Apa yang harus kita lakukan!?"

"Jangan panik. Gunung yang sudah menjadi benteng ini tidak akan jatuh dengan mudah. ……Yah, baiklah. Akan kubuat mereka menyesal karena telah menyerang gunung milik Bils ini."

Wanita itu──Bils, meninggalkan ruangan dengan senyum menyeringai di wajahnya.

Dengan demikian, penyerangan gunung pun dimulai.

Karena aku menciptakan cahaya di langit atas gunung dengan sihir suci Sunlight, pergerakan pasukan di gunung pada malam hari pun menjadi sangat memungkinkan.

Serangga beracun dan binatang buas yang berbahaya juga tidak memberikan dampak apa pun pada prajurit berkat efek samping dari penyucian, sehingga kami bisa maju dengan tenang.

"Kalau begitu semuanya, mari kita berjuang."

Pertama, unit yang menyerang dari depan. Orang yang berjalan paling depan adalah Ido.




Karena Ido adalah Homunculus milikku, jumlah Mana Soldier yang bisa ia kendalikan berada di level yang berbeda dari yang lain, yaitu seribu unit.

Ia bisa berkomunikasi denganku melalui Telepathy, dan aku memintanya untuk mengoordinasi pasukan ini.

Mengikuti di belakangnya adalah para petualang yang dikumpulkan oleh resepsionis Catalina dan para prajurit yang tersisa di pihakku, berjumlah sekitar seratus orang.

Saat ini mereka baru bisa mengendalikan sekitar lima puluh unit, tapi karena para petualang bawaan Catalina semuanya berbakat, mereka pasti bisa mengendalikan lebih banyak lagi setelah terbiasa.

Ini juga merangkap sebagai latihan bagi mereka. Total sekitar seribu enam enam ratus personel, inilah Pasukan Ido.

Lalu di sisi lain, yang menyerbu naik tepat di samping pasukan Ido, adalah unit yang berpusat pada anggota mantan guild pembunuh.

Mereka mahir mengoperasikan Mana Soldier dan memiliki kemampuan tempur individu yang tinggi.

Pimpinan mereka adalah Galilea. Aku juga menyertakan Shiro, familiarku, sehingga komunikasi melalui Telepathy bisa dilakukan lewat perantara Shiro.

Galilea bisa mengendalikan seratus lima puluh unit Mana Soldier, Talia seratus sepuluh unit, Babylon seratus sepuluh unit, Crow seratus dua puluh unit, dan Ren seratus delapan puluh unit.

Mungkin karena latihan pengendalian mana yang mereka lakukan membuahkan hasil, mereka sudah melampaui target seratus unit per orang.

Di belakang mereka mengikuti Gitan dan Lami. Harusnya mereka berdua punya dasar sihir yang lumayan, tapi saat ini hanya bisa mengendalikan sekitar tujuh puluh unit.

Ternyata keberadaan mana dalam tubuh tidak terlalu berpengaruh pada jumlah Mana Soldier yang bisa dikendalikan.

Sepertinya dalam pengendalian mana, bakat dalam mengolah mana jauh lebih penting daripada kemahiran sebagai penyihir.

Sama seperti pasukan Ido, para petualang dan prajurit mengikuti di belakang mereka.

Total seribu lima ratus personel, inilah Pasukan Galilea.

Kedua pasukan ini akan saling berkoordinasi sambil menyerang gunung.

Saat pertempuran berakhir nanti, kurasa semuanya sudah terbiasa dan bisa mengendalikan lebih banyak Mana Soldier.

Omong-omong, sisa Mana Soldier yang ada bersiaga di sekitar kami yang menjadi markas utama.

"Tuan Lloyd, ini tehnya."

"Terima kasih."

Aku meminum habis teh yang dituangkan oleh Sylpha.

Perlu diketahui, Sylpha adalah pengawalku.

Sepertinya Mana Soldier tidak bisa mengikuti bayangan gerakan Sylpha, sehingga mereka langsung mengalami gagal fungsi.

Memiliki kemampuan fisik yang terlalu tinggi pun bisa jadi masalah, ya.

"Oh, sudah dimulai."

Oooooooo! Terdengar suara raungan dari dalam gunung.

Dilihat dari arahnya, itu pasti Ido.

Saat aku sedang memikirkan itu, pesan Telepathy sampai dari Ido.

"Lloyd, pertempuran sudah dimulai. Mana Soldier ini cukup mudah digunakan, ya."

"Sengaja kubuat agar siapa pun bisa memakainya. Tapi aku tidak menyangka kamu bisa mengendalikan sampai seribu unit."

"Begini-begini aku adalah ahli nomor satu dalam riset golem, tahu? Kalau aku serius, aku bisa melakukan lebih dari ini."

"Tapi, kamu menanggung pergerakan Mana Soldier sebanyak ini hanya dengan manamu sendiri, kan? Meski itu kamu, apa tidak apa-apa?"

Ido bertanya dengan nada khawatir.

Kalau diingat kembali, dia juga mengatakan hal yang sama saat aku pertama kali mengeluarkan Mana Soldier.

Memang benar ini mengonsumsi mana dalam jumlah masif, tapi setidaknya aku masih punya cadangan energi.

"Yah, masih bisa kutangani, kok."

"Yah, karena ini kamu, aku tidak terlalu khawatir. Bagaimanapun, jangan memaksakan diri."

"Karena yang akan mengalahkanmu adalah aku."

Setelah berkata demikian, komunikasi terputus.

Pertempuran sudah dimulai dengan sungguh-sungguh.

Seiring dengan semakin intensnya pergerakan Mana Soldier, beban yang kurasakan perlahan mulai meningkat.

"Oi, di sini Galilea. Apa kamu dengar, Tuan Lloyd?"

Kali ini pesan Telepathy datang dari Galilea.

"Ya, terdengar jelas."

"Baguslah kalau begitu. Baru saja pasukan terdepan berbenturan dengan musuh."

"Hmm, tapi sepertinya mereka agak kesulitan. Entah kenapa gerakan Mana Soldier terasa lamban……"

"Yah, mungkin musuhnya memang kuat. Mereka juga menang medan. Pokoknya kami akan berusaha semaksimal mungkin."

"Aku serahkan padamu, Galilea."

Setelah memutus komunikasi, aku menghela napas panjang.

Saat menyeka dahi, sedikit keringat menempel di sana.

"Tuan Lloyd, apa Anda merasa sedikit lelah?"

"Ya, beban yang kurasakan jelas meningkat sejak memasuki status pertempuran."

"Menjaga kontrol Mana Soldier saja sudah cukup melelahkan."

Meski operasional dasarnya kuserahkan pada semua orang, tapi yang menyokongnya tetaplah manaku sendiri.

Demi menggerakkan sepuluh ribu unit Mana Soldier, aku terus menggunakan mana dalam jumlah yang sangat besar.

Saat ini aku sudah mengerahkan segalanya hanya untuk mempertahankan kondisi itu.

Sangat sulit mendapatkan celah untuk bebas mengamati medan perang.

Aku harus menyusun formula sihir yang bagus untuk mengefisiensikan mana dan mengurangi beban pada tubuhku.

"Untuk itu, ini pasti bisa berguna."

Aku mengeluarkan buku sihir militer pemberian Albert.

Sebelum berangkat, aku meminjam beberapa buku darinya.

Katanya, ini pasti akan berguna jika aku memimpin pasukan.

Sebenarnya buku sihir militer adalah dokumen rahasia tingkat tinggi yang hanya boleh dibaca oleh kalangan terbatas.

Membawanya keluar dari kastil sebenarnya adalah hal yang sangat terlarang.

Tapi yah, punya kakak yang penuh pengertian itu memang berkah.

Aku sempat membacanya sedikit di perjalanan.

Sesuai dugaanku, sihir militer dirahasiakan karena berisi teknik menggunakan sihir dengan sangat efisien.

Hanya saja, aku tidak suka jika ada bagian yang tidak bisa kupahami.

Aku pasti akan memahaminya. Fufufu, aku jadi bersemangat.

Jika aku bisa menggabungkannya ke dalam formula sihirku, aku bisa mengoperasikan mana dengan efisiensi yang tidak tertandingi.

Kalau sudah begitu, mempertahankan sepuluh ribu Mana Soldier pun akan terasa sangat mudah.

"Ternyata kalau terus-menerus mempertahankan Mana Soldier sebanyak ini, wajahmu bisa juga menunjukkan sedikit kelelahan."

"Meski begitu jumlahnya masih sangat mengerikan, tapi akhirnya dasar dari mana yang tadinya tidak terlihat mulai nampak sedikit demi sedikit……!"

"Jika terus melemah begini……!"

Grim sedang menggumamkan sesuatu.

Namun karena aku sedang berkonsentrasi menyusun formula, suaranya tidak terdengar jelas.

"Sial, saat mengejar musuh kita malah terkepung!"

"Mereka memancing kita dengan cerdik! Dari bawah kita tidak bisa melihat apa yang terjadi di atas!"

"Ido, gunakan Fly untuk memantau dari atas dan berikan instruksi. Galilea, gunakan hidung Shiro."

"Tidak bisa. Mereka punya panah pemecah penghalang!"

"Penghalangku akan hancur jika mereka melakukan serangan terpusat!"

"Bajingan ini sejak tadi menyebarkan cairan kimia aneh! Shiro merasa jijik dan tidak bisa menggunakan hidungnya!"

Sesuai dengan yang kudengar, para bandit ini sepertinya cukup ahli.

Bahkan mereka punya persiapan untuk melawan sihir dan binatang buas.

Sepertinya ini akan menjadi perjuangan yang cukup berat.

"Sepertinya mereka sedang kesulitan ya."

Sylpha yang berada di sampingku bergumam pelan, seolah bisa membaca ekspresiku.

"Ya, musuhnya cukup terampil. Dari sini sulit untuk memahami situasinya, jadi aku agak repot."

"……Biar saya yang pergi. Sebenarnya, merasa berat hati untuk meninggalkan sisi Tuan Lloyd, tapi kondisi lapangan membutuhkan pimpinan."

"Begini-begini saya pernah belajar taktik di bawah bimbingan Tuan Cruze."

"Saya ingin menghindari berkurangnya prajurit secara sia-sia."

"Ya, aku serahkan padamu, Sylpha."

"Saya akan menjadi pedang Tuan Lloyd, menembus dan membantai musuh. Kalau begitu, saya pergi!"

Setelah berkata demikian, Sylpha memacu kudanya dan berlari kencang menuju gunung.

Padahal tujuannya adalah menjadikan mereka kawan, bukan membantainya.

Kuharap dia ingat hal itu.

"Ketua! Mereka benar-benar terjebak dalam perangkap kita!"

"Kuku, tentu saja, bodoh. Aku menghabiskan waktu luangku untuk menyiapkan banyak jebakan dan siasat."

"Akan sia-sia jika mereka bisa menembusnya dengan mudah."

Bils menatap ke arah lereng gunung dengan wajah puas.

Jalan menuju puncak adalah tempat berburu alami yang disamarkan dengan pepohonan hutan.

Situasi di atas tidak terlihat dari bawah, sehingga musuh akan terdesak ke jalan buntu.

Di sanalah mereka akan dikepung dan dihantam.

Gunung ini telah dipasangi jebakan yang tak terhitung jumlahnya.

Sudah banyak prajurit yang berhasil mereka pukul mundur sebelumnya.

Kali ini pun seharusnya begitu. Sampai Sylpha bergabung ke dalam barisan tempur.

"G-gawat, Ketua! Tempat perburuan kita dihancurkan!"

"Mereka mulai membaca pergerakan kita!"

Bahkan tanpa menunggu laporan, Bils yang mengawasi dari atas sudah menyadarinya.

Ia mendecak sambil menatap ke bawah.

Ia menemukan pelayan berambut perak, Sylpha, di tempat perburuan yang baru saja ditembus.

Sepertinya dia menyadari umpan menuju tempat perburuan di tengah jalan.

Dia justru memukul balik saat mereka mencoba mengepung.

"Dia menyadari awal dari siasatku, ya. Insting wanita itu cukup tajam juga."

"Sepertinya dia sangat ahli. Kukuk."

"Ini bukan waktunya tertawa! Bagaimana sekarang, Ketua!"

Bils tetap tenang meski bawahannya panik.

Setelah berpikir sejenak, ia mengangguk pelan dan berkata.

"Mau bagaimana lagi. Sepertinya aku sendiri yang harus turun tangan."

"Oi, kumpulkan semua orang yang sedang siaga. Kita akan menyerbu."

"Oooooo—! Memang Ketua yang terbaik!"

Bils meninggalkan ruangan dengan senyum tipis tersungging di bibirnya.

Berkat bergabungnya Sylpha, lini depan yang tadinya tertahan kini maju dengan pesat.

Memang benar-benar Sylpha. Dia sangat bisa diandalkan.

"Tuan Lloyd, kami sudah melewati jebakan yang mereka pasang."

"Jika kita menyeberangi sungai di depan ini, kita akan sampai di markas bandit."

Pesan Telepathy dari Sylpha sampai melalui perantara Shiro.

Sepertinya mereka sudah sangat terdesak.

Jika berjalan lancar, kita bisa terus menekan mereka sampai akhir.

"Ya, memang hebat, Sylpha. Tapi jangan lengah."

"Musuh hampir pasti akan menjebak kalian di sungai itu. Berhati-hatilah."

"Saya mengerti. Lagipula……"

Setelah hening sejenak, Sylpha melanjutkan dengan nada bicara yang agak berat.

"Mereka sudah ada di sana. Jumlah yang cukup besar…… mungkin seluruh pasukan."

"Sepertinya mereka memutuskan untuk mempertaruhkan segalanya."

"Sylpha, tolong berhati-hatilah."

"Terima kasih atas perhatian Anda. Kalau begitu, saya akan bertarung."

Komunikasi Telepathy dari Sylpha terputus.

Sepertinya pertarungan penentuan hari ini akan segera dimulai.

Di seberang sungai, Pasukan Ido dan Pasukan Galilea saling berhadapan dengan para bandit.

Galilea berdiri di pinggir sungai, lalu melemparkan dahan pohon yang ia patahkan ke dalam air.

Dahan yang jatuh ke sungai itu langsung hanyut dalam sekejap dan menghilang dari pandangan.

"Arusnya sangat deras. Jembatannya juga sudah dihancurkan."

Galilea mendecak kesal melihat jembatan yang sudah hangus terbakar.

Saat Galilea dan yang lainnya tiba, jembatan itu sudah tidak bisa diseberangi lagi.

"Apa kita bisa menyeberang dengan memasang benang Galilea ke tepi seberang?"

"Kita akan dipanah sebelum sempat melakukannya."

Di seberang sungai, para bandit sudah bersiap dengan busur dan anak panah mereka.

"Oi, para pengecut! Sampai kapan kalian mau mematung di sana!"

"Jalan pulang lewat sana, lho!? Gyahaha!"

Sambil menatap tajam ke arah para bandit, Galilea bertanya pada Ido.

"Ido, apa kamu tidak bisa melakukan sesuatu dengan penghalangmu?"

"Akan sulit. Jumlah mereka sebanyak itu…… apalagi mereka punya panah pemecah penghalang."

"Jika ada penyihir lain mungkin bisa, tapi kalau cuma aku sendiri tidak akan bertahan."

"Padahal kamu Homunculus Tuan Lloyd, tapi tetap tidak bisa apa-apa?"

"……Demi kehormatan semua penyihir, biar kubilang, inilah yang normal."

"Lloyd saja yang aneh."

"Memang benar Tuan Lloyd itu terasa seperti di luar standar, sih…… Begitu ya, sulit kalau begitu."

Tepat saat Galilea menghela napas, Ren kembali dari pengintaian di hulu sungai.

"Tidak bisa. Tidak ada tempat yang bisa diseberangi."

"Hanya ada satu tempat yang agak dangkal, tapi……"

"Ada musuh di sana, kan?"

Ren mengangguk mendengar perkataan Sylpha.

"Tempat itu berupa cekungan, dan ada banyak bandit yang memegang busur di sana."

"Kurasa kita akan menerima serangan terpusat saat sedang menyeberang."

"Malah terasa lebih sulit menyeberang di sana daripada di sini."

"Berarti mereka juga tidak bodoh."

"Sisanya tinggal Babylon yang pergi melihat ke hilir sungai, ya……"

"Tapi jangan terlalu berharap," tambah Galilea.

Tak lama kemudian, Babylon kembali.

"Bagaimana hasilnya?"

"Ya, aku menemukan tempat yang sepertinya bisa diseberangi."

"Jaraknya pendek dan tidak ada penjaga sehingga aku sempat mengira itu peluang."

"Tapi arusnya sangat deras dan tepi seberangnya berupa tebing. Benar-benar mustahil."

"Repot juga ini. Kukuku."

"Hmm, di sana juga tidak bisa ya. Bagaimana ini, Kak Sylpha."

"Jika tidak segera selesai, kita tidak akan punya waktu untuk pergi ke Gerbang Benua."

"……Fumu."

Setelah berpikir sejenak, Sylpha mengangguk pelan.

"Benar juga. Kita tidak punya banyak waktu, jadi mari kita sedikit memaksakan diri di sini."

"Tapi sebelum itu…… semuanya, tolong kemari sebentar."

"?"

Semua orang berkumpul di dekat Sylpha sambil tetap merasa heran.

Ia melanjutkan bicaranya dengan menjadikan Mana Soldier sebagai dinding.

"Baiklah, aku akan menjelaskan rencananya──"

Di seberang sungai, para bandit yang dipimpin Bils terus bersiaga.

Tepat saat mereka mulai merasa bosan, salah satu bawahan berteriak.

"Ooh!? Mereka akhirnya mulai bergerak!"

Melihat para Mana Soldier mulai maju, Bils memberikan perintah.

"Oi kalian, serang sesuka hati kalian."

"Anggap saja ini latihan memanah, jadi hujani mereka dengan anak panah!"

"Uooooooo—!"

Para bawahan menyiapkan busur di tangan mereka dan mulai menghujani para Mana Soldier.

Hujan panah yang jatuh serampangan menembus lengan dan kaki para prajurit mana itu.

Meski tidak punya rasa sakit, jika persendian mereka dihancurkan, mereka tidak akan bisa bergerak lagi.

Para Mana Soldier yang tidak berdaya itu pun akhirnya hanyut terbawa arus sungai.

"Meski begitu, prajurit yang aneh. Gerakan mereka seolah tidak punya kehendak……"

"Seperti serangga dan menjijikkan. Inikah yang disebut boneka mana."

"Memang praktis, tapi formasi ini tidak cukup lemah untuk ditembus kekuatan kasar, tahu?"

"Tidak, pihak lawan tidak mungkin tidak menyadari hal itu. Apa mereka merencanakan sesuatu……?"

Bils meletakkan tangan di dagu, berpikir keras.

"Gawat, Ketua! Mereka menyerang dari arah lain juga!"

"Hou, serangan bersamaan ya."

Jika menyerang dari dua tempat sekaligus, serangan akan terbagi sampai batas tertentu.

Namun Bils berpikir bahwa mereka terlalu meremehkan kelompoknya.

Kekuatan kelompok bandit ini terletak pada jumlah pemanah dan kemahiran mereka.

Kemampuan para bandit yang terbiasa memburu mangsa di gunung sudah setara dengan pemburu profesional.

Anak panah dilepaskan memanfaatkan sungai sebagai dinding pertahanan yang absolut.

Mereka menjatuhkan para Mana Soldier secara sepihak.

"Jangan gentar! Maju terus!"

Yang memberikan instruksi adalah bocah penyihir, Ido.

Satu-satunya penyihir yang dikonfirmasi oleh Bils, hanya bocah itu yang bisa menggunakan Fly.

Kalaupun ada penyihir lain, jika hanya satu orang, mereka tinggal memukulnya balik.

"Jangan kurangi serangannya! Hantam terus!"

Saat Bils mengalihkan pandangannya, tampak Talia sedang mengomando para Mana Soldier.

Aneh, pikir Bils. Saat para bandit hendak memanah, panah mereka terbang ke arah yang salah.

Tampaknya wanita itu menusuk jarinya sendiri dengan jarum kecil.

Melalui kemampuan Talia, Hundred Wounds, setiap kali ia melukai diri sendiri, tangan musuh akan kehilangan kendali.

Namun Bils tidak punya cara untuk mengetahui hal itu.

"Fuu, karena aku sudah tua, pandangan malamku tidak terlalu bagus."

Sambil bergumam begitu, Gitan menangkis anak panah dengan tentakel-tentakelnya.

Bentuk aneh itu tidak hanya itu saja, di dahinya juga tumbuh mata besar seperti burung hantu.

"Aduh-aduh, bahkan sampai ada monster juga ya."

Sambil menggaruk kepalanya dengan kasar, Bils mendecak.

"Lami, Fireball!"

"B-baik!"

Ditambah lagi dengan bantuan sihir dari Ido dan Lami.

Meski begitu, karena banyaknya pemanah lawan, para Mana Soldier pun tidak kunjung bisa maju.

"Mereka mengerahkan tenaga seolah ini serangan terakhir ya."

"Aku tidak tahu mana yang umpan, tapi jika mereka berpikir bisa menang hanya dengan ini, mereka naif."

Prajurit yang ditunjukkan bukan hanya itu saja.

Di bagian belakang, ia sudah menyiapkan pasukan pemanah yang baru.

Jika mereka melepaskan tembakan kedua saat musuh sudah dekat, musuh pasti akan hancur total.

"Kalian! Terus serang mereka!"

"Oooooooo—!"

Di bawah instruksi Bils, para bawahan terus menghujani panah.

Beberapa Mana Soldier yang sudah tertusuk banyak panah berhasil mendekati sungai.

Tepat saat ia hendak mengerahkan pasukan pemanah cadangan ke depan, saat itulah kejadiannya.

"G-g-gawat, Ketua!"

Salah satu bawahan berlari panik menuju markas utama.

"Bising sekali, bodoh. Ada apa?"

"Musuh…… musuh menyeberangi sungai!"

"!"

Mata Bils terbelalak lebar.

"Dari hilir kah……! Tapi di sana bukan tempat yang bisa diseberangi dengan berenang."

"Bocah penyihir itu juga ada di sini."

"Itu, mereka…… teknik yang aneh…… ugh!?"

Hanya mengatakan itu, pria bawahan itu jatuh pingsan.

Orang-orang di sekitarnya juga menunjukkan ekspresi kesakitan dan menjatuhkan lutut ke tanah.

"Ke-Ketua…… tubuhku, tidak bisa bergerak……!"

"Tolong…… Ketua……!"

Melihat para bawahan di sekitarnya bertumbangan, Bils mendecak kesal.

Para bawahannya mengeluarkan busa dari mulut sambil memutar mata mereka.

Jelas sekali ada seseorang yang menyebarkan racun dari arah angin.

"Kalian, ini racun! Segera tutup mulut kalian dengan kain basah!"

Bils segera menutupi mulutnya sendiri, lalu memberikan instruksi yang sama pada bawahannya.

Tepat saat para bawahan dengan panik mencoba menutupi mulut mereka, sebelum itu terjadi──

"Jangan bergerak!"

Suara yang seolah menggetarkan udara bergema di sekitar.

Gerakan semua orang di tempat itu pun berhenti seketika.

Hampir di saat yang bersamaan, Bils menyadari adanya benang putih tak terhitung jumlahnya.

Benang-benang itu melilit tubuh para bawahan, dan dalam sekejap mengikat mereka.

Di belakang Bils yang berhasil menghindar, sebuah bayangan putih melintas.

Itu adalah Sylpha. Pedangnya memantulkan cahaya bulan, berkilat di tengah kegelapan malam.

"Sialan!"

Bils mencoba mencabut pedangnya untuk membalas.

Namun tangannya hanya membelah udara kosong karena tidak menemukan gagang pedang di sana.

Saat mencari pedangnya, Bils menemukan seorang pria yang bersembunyi di bawah kuda.

Manusia itu memiliki persendian yang meliuk aneh, dan di tangannya tergenggam pedang milik Bils.

"Maaf ya, aku tidak punya waktu untuk membiarkanmu bertarung secara adil. Kukuk."

Babylon melompat turun dari kuda, lalu memutar-mutar pedang di tangannya di udara.

Bayangan putih──Sylpha tidak melewatkan celah itu, dan menendang Bils hingga jatuh dari kudanya.

"Cih!"

Bils segera mencoba bangkit, namun ia tidak bisa melakukannya.

Ujung pedang sudah menempel di lehernya, berhenti tepat di permukaan kulit.

"Aku tidak berniat mengambil nyawamu. Berhentilah melakukan perlawanan yang sia-sia."

"…………"

Setelah hening sejenak, Bils menghela napas panjang dan mengangkat kedua tangannya.

"……Aku menyerah. Aku mengaku kalah. Ini kekalahanku."




"Saya senang Anda bisa memahaminya."

Sylpha menjauhkan pedangnya dari leher Bils.

Namun, ia tetap menyentuhkan jarinya pada gagang pedang agar bisa melancarkan tebasan kapan saja.

Bils pun memahami hal itu dan tidak mencoba bergerak lebih jauh.

"Menarik perhatian kami dengan orang-orang di seberang sungai, lalu menyusup dalam jumlah kecil dari titik buta di saat lengah, ya. Aku kena."

"Tapi, bagaimana cara kalian menyeberangi arus deras itu?"

"Selama ada kesetiaan kepada Tuanku, arus deras semacam itu bukan masalah besar."

Sylpha menjawab sambil memejamkan mata.

Kenyataannya, mereka memintal benang Galilea untuk diseberangkan ke tepian lawan.

Ia lalu memimpin para mantan anggota Guild Pembunuh dengan kemampuan fisik luar biasa untuk nekat menyeberang.

Meskipun racun Ren bisa melumpuhkan mayoritas musuh, itu tetaplah pertaruhan yang berbahaya.

Meski begitu, Sylpha menghela napas lega dalam hati karena semuanya berjalan lancar.

Setelah berhadapan langsung, ia sadar bahwa orang ini sangat kuat, baik sebagai ahli taktik maupun pendekar pedang.

Ia bisa paham kenapa orang ini dijuluki Night King.

Jika tidak menang dalam jumlah pasukan, mungkin pihak merekalah yang akan kalah.

"Bagaimanapun, ini kemenangan kami. Lepaskan senjata kalian semua, dan silakan ikut menghadap Tuanku. Anda tidak keberatan, kan?"

Mendengar suara rendah yang tidak menerima bantahan itu, Ren yang baru saja menyusul jadi gemetar.

Itu adalah suara Sylpha saat hendak memberikan 'hukuman' yang keras.

Namun, Bils justru tertawa kecil seolah ada yang lucu.

"Maaf saja, tapi aku tidak bisa melakukannya."

"……Hou, jadi kamu ingin mati?"

"Bukannya begitu, tapi memang mustahil. Kalau hanya orang-orang di bawah komandoku ini, mereka sudah melucuti senjata mereka, sih."

Mendengar perkataan Bils, mata Sylpha terbelalak seolah menyadari sesuatu.

"Jangan-jangan……"

"Ah— aku bukan penguasa tunggal di gunung ini. Kakakku, Night King Mars, itulah orangnya."

Sylpha tersentak, menyadari kesalahannya.

Ia mengira kelompok ini adalah pasukan utama, padahal ternyata mereka hanyalah umpan.

Itu berarti pasukan utama sekarang sedang—

"Seperti yang kamu duga, Kakak pasti sudah berada di depan batang leher Tuanmu sekarang."

Bils berkata begitu sambil menyeringai lebar.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close