Pangeran Ketujuh Kerajaan Saloum, Lloyd di Saloum. Itulah
namaku.
Dulu aku hanyalah penyihir miskin yang tidak mencolok,
namun aku kehilangan nyawa dalam duel melawan bangsawan. Entah karena takdir
apa, aku pun bereinkarnasi menjadi Pangeran Ketujuh Kerajaan Saloum.
Karena status sebagai pangeran ketujuh tidak ada
hubungannya dengan takhta, aku diminta untuk hidup sesuka hati. Aku pun
memanfaatkan kesempatan emas ini untuk mencurahkan seluruh tenaga demi meneliti
sihir—hal yang dulu tidak bisa kulakukan karena kekurangan dana.
Belakangan ini, tidak hanya sihir, aku juga mulai
menguasai ilmu pedang, teknik pembunuhan, teknik pengendalian Qi, bahkan
hingga menampung iblis dan malaikat di dalam tubuhku.... Yah, ada pepatah yang
bilang bahwa segala jalan akan menuntun kita menuju puncak sihir.
Hal-hal ini pun menjadi sesuatu yang diperlukan demi
mencapai kesempurnaan sihir.
"──Hup."
Melalui teknik Space Teleportation, aku tiba di
wilayah Lordst di Kerajaan Saloum.
Tanah yang terletak di bagian selatan negara ini dulunya
dikuasai oleh iblis yang menyamar jadi manusia, namun aku berhasil
menghancurkan rencana mereka. Berkat pencapaian itu, ayahanda raja menghadiahi
wilayah ini kepadaku.
Yah, sebenarnya mengelola wilayah itu merepotkan...
maksudku mustahil bagiku, jadi aku menyerahkannya pada orang lain. Hari ini,
aku datang karena ada keperluan di sebuah fasilitas tertentu.
Begitu melangkah masuk ke dalam menara tinggi berbahan
bata, sesosok tubuh besar berkerudung hitam yang sedang membaca buku tebal
menyadari kehadiranku.
"Wah, wah, Tuan Lloyd. Akhir-akhir ini Anda sering
berkunjung, ya."
"Halo, Gitan. Semangat sekali, ya."
Seiring dengan suara lembut itu, si pria membuka
kerudungnya, menampakkan sosok aneh yang menyerupai gabungan berbagai macam
binatang.
Paruh burung, taring binatang buas, mata majemuk
serangga.... Sosok dengan wajah campuran berbagai makhluk hidup ini adalah pria
bernama Gitan, mantan Paus di negara ini.
Dulu, meski berstatus Paus, dia terus melakukan
penelitian makhluk sintesis antara monster dan manusia. Dia adalah pria gila
yang bahkan memodifikasi tubuhnya sendiri, namun berkat penyucianku, seluruh
niat jahatnya sirna dan kini dia sepenuhnya bersikap seperti orang suci.
"Waduh, maafkan saya. Kalau sedang lengah, saya
sering kembali ke wujud ini secara tidak sengaja...."
Gitan menepukkan tangannya, lalu penampilannya
bergejolak dan berubah menjadi sosok pria tua.
Ini adalah wujud asli Gitan. Hanya penampilannya yang
berubah, namun bagian dalamnya tetaplah sosok aneh tersebut.
"Tidak apa-apa. Buat dirimu nyaman saja."
"Tidak, tidak, tidak boleh begitu. Saya sedang
berada di hadapan tuan saya.... Oh, lihat itu, ekor saya malah bergerak-gerak
sendiri. Hahaha."
Tampaknya bagian di bawah baju Gitan belum sepenuhnya
berbentuk manusia, karena ekornya terlihat mengibas-ngibas.
Sepertinya dia sudah mulai bisa mengendalikannya
sampai batas tertentu, walau belum sempurna.
"H-halo! S-selamat siang, Tuan Lloyd!"
"Ah, santai saja, Lamy."
Seorang wanita yang sedang mengambil data di kejauhan
menyadari kehadiranku dan mendekat.
Wanita berkacamata yang mengenakan jas putih itu bernama
Lamy. Tubuh bagian atasnya adalah manusia, namun bagian bawahnya adalah ular.
Lamy yang dulunya seorang petualang jatuh ke tangan Gitan
saat pria itu masih menapaki jalan kejahatan, hingga ia berakhir dengan wujud
seperti ini.
Namun sekarang, bersama Gitan yang telah bertobat, mereka
berdua terus melanjutkan penelitian agar bisa kembali ke tubuh semula.
"Kalian berdua, bagaimana perkembangan
penelitiannya?"
"Sayangnya, tidak bisa dibilang berjalan lancar...
tapi berkat dukungan Tuan Lloyd, kami merasa bisa terus berjuang!"
"Begitu ya. Aku menantikan hari di mana kalian
berdua bisa kembali normal."
"Baik! Suatu saat nanti pasti...."
Seluruh hasil penelitian mereka berdua akan dilaporkan
kepadaku.
Penelitian mendalam mengenai monster dan tubuh manusia
sangat berguna bagi riset sihirku.
Sejak zaman kuno, penelitian terhadap kehidupan dianggap
tabu sehingga literaturnya sangat sedikit, dan orang yang mampu menelitinya pun
sangat langka.
Karena itulah, aku mengerahkan seluruh sumber daya
wilayahku untuk mendukung mereka berdua.
"Tuan Lloyd adalah penyelamat yang mengangkatku dari
kegelapan hati, sosok berjasa besar yang mengembalikan kesadaranku lewat
pukulan kasih sayang. Ditambah lagi beliau memberi
dukungan yang begitu besar seperti ini.... Benar-benar sangat disyukuri. Bagi
saya, beliau setara dengan Dewa. Saya harus menghabiskan hidup saya demi
mengabdi pada beliau. Benar, suatu saat nanti saya harus mendirikan organisasi
agama baru dengan menjadikan Tuan Lloyd sebagai Dewanya. Saya ini mantan Paus,
saya punya pengetahuan soal itu. Jika beliau setuju, besok pun bisa...! Oh,
tidak boleh, tidak boleh. Sebelum itu penelitian harus diselesaikan. Wujud ini
akan menjadi masalah jika saya ingin berdiri sebagai pengikut setia di sisi
beliau...!"
"Hah, aku ingin segera kembali ke wujud
semula.... Ayah dan Ibu pasti sangat khawatir.... Tapi aku akan
berjuang! Aku akan kembali jadi petualang, mencari uang yang banyak, dan
membuat mereka hidup enak! ....Benar juga, Tuan Lloyd bilang beliau juga
menjadi petualang. Kalau aku bisa masuk ke party beliau, mungkin aku
bisa kaya mendadak.... Ehehehehe, kalau begitu aku harus berjuang agar cepat
kembali ke wujud semula!"
Mereka berdua menggumamkan sesuatu dengan wajah yang
penuh harapan.
Yah, memiliki motivasi itu hal yang bagus.
"Ngomong-ngomong Tuan Lloyd, apakah hari ini Anda
datang untuk inspeksi?"
"Ah benar juga, aku hampir lupa tujuanku. Bolehkah
aku meminta bahan-bahan lagi? Aku
butuh Golden Dragon Scale, Demon Bird Beak, dan Rock King Eye."
"Begitu, saya mengerti."
Gitan mengangguk lalu menjulurkan tangannya.
Dari sana, benda-benda yang kusebutkan tadi mulai
tumbuh perlahan.
Sisik yang berkilau emas, paruh yang tajam, dan
mineral yang menyerupai mata yang bersinar.
Oh, ini dia, benar-benar barangnya.
Gitan memiliki tubuh hasil sintesis berbagai monster,
sehingga ia memiliki kemampuan untuk mengubah bagian tubuhnya menjadi monster
tertentu.
Dengan begitu, dia bisa mengubah lengannya saja
menjadi monster, lalu memotongnya untuk mendapatkan material langka yang sulit
didapat sebanyak yang diinginkan.
"Aduh... apa segini sudah cukup?"
Gitan mencabuti material yang tumbuh di tubuhnya satu per
satu dan menjajajarkannya di depanku.
Dalam sekejap, jumlah material yang kuminta sudah
terkumpul.
"Ini sangat membantu."
"Bukan masalah besar bagi saya. Namun, untuk apa
material sebanyak ini digunakan? Jika tidak keberatan, bolehkah saya
tahu?"
"Ah, sebenarnya aku sedang membuat Golem. Ini
bahan-bahannya."
──Golem. Itu adalah pelayan buatan yang diciptakan
oleh tangan manusia.
Sejak zaman kuno, para penyihir memberikan nyawa
sementara serta mana mereka sendiri ke dalam batu atau lumpur untuk dijadikan
pelayan.
Seni yang dikhususkan untuk hal tersebut adalah Alchemy,
sihir yang memberikan nyawa dan mengendalikan benda mati.
Bisa dibilang, apa yang dilakukan Gitan dulu juga
merupakan bagian dari Alchemy.
"Begitu rupanya. Kalau begitu, Anda pasti butuh
jumlah yang cukup banyak. Saya akan menyiapkan bahan-bahan yang sekiranya
berguna mulai dari sekarang."
"Terima kasih, itu membantu sekali."
Tepat saat aku berterima kasih pada Gitan dan hendak
meninggalkan menara, sebuah mulut muncul secara tiba-tiba di telapak tanganku.
"Tapi Tuan Lloyd, untuk apa buat Golem
sekarang? Bukankah hampir semua hal bisa Anda selesaikan sendiri?"
Makhluk ini adalah Grim, seorang iblis.
Dulu aku menghajarnya dan menjadikannya pelayan, dan
sekarang dia bersemayam di tanganku.
"Iblis bodoh. Pemikiran mendalam Tuan Lloyd mana
mungkin bisa dipahami oleh makhluk sepertimu."
Kali ini, mulut di telapak tanganku yang satunya lagi
terbuka.
Yang ini adalah Jiriel. Dia seorang malaikat, dan tentu
saja, dia juga pelayanku.
"Siapa yang kamu panggil iblis bodoh, dasar malaikat
tolol!"
"Mau berkelahi, iblis payah?!"
Ngomong-ngomong, mereka berdua tidak akur.
Padahal aku berharap mereka bisa sedikit lebih rukun.
Sebenarnya, ada empat alasan kenapa aku terpikir untuk
membuat Golem.
Pertama, sebagai lawan tanding latihan sihirku.
Monster yang ada di sekitar sini sama sekali bukan
tandinganku, dan menggunakan manusia sebagai sasaran tentu saja dilarang.
Namun, jika aku membuat Golem yang sangat keras
dan membiarkan Grim mengendalikannya, aku bisa melakukan eksperimen sesuka
hati.
Ditambah lagi, tidak masalah jika benda itu hancur.
Lalu kedua, karena aku sudah punya jalur pengadaan
material langka.
Sebenarnya dulu aku juga pernah mencoba Alchemy
sebentar dan sempat membuat Golem.
Namun, meski fisiknya mudah dibuat, menciptakan Core
sebagai sumber penggeraknya sangatlah sulit dan membutuhkan banyak material
langka, sehingga aku tidak bisa menciptakan sesuatu yang memuaskan.
Saat itu aku tidak bisa bebas bergerak keluar kastel dan
merasa pengumpulan material ada batasnya, jadi aku berhenti.
Tapi sekarang, berkat Gitan, masalah material bisa
diatasi. Aku tidak akan menemui jalan buntu lagi.
Ketiga, karena aku sudah mendapatkan kepercayaan
orang-orang kastel.
Kegiatan tekun yang kulakukan selama ini membuahkan
hasil.
Dengan kepercayaan dari orang-orang di sekitar, aku jadi
bisa menggunakan tempat yang luas, tenaga manusia, material, hingga dana yang
diperlukan untuk membuat Golem raksasa secara bebas.
Lagipula, semakin besar skala pembuatan Golem,
semakin banyak uang dan tempat yang dibutuhkan. Benar-benar menguntungkan
menjadi anggota keluarga kerajaan.
Dan alasan terakhir adalah.... Apa ya. Aku lupa.
Sudahlah.
Bagaimanapun, begitulah ceritanya kenapa aku memutuskan
membuat Golem.
"Menurutku sih kegiatan Anda selama ini sama sekali
nggak bisa dibilang tekun," celetuk Grim.
"Itu lebih cocok disebut aksi pamer kekuatan yang
berlebihan," tambah Jiriel.
Mereka berdua melontarkan protes, tapi hal seperti itu
tidak penting bagiku.
Fufufu, mumpung aku punya lingkungan yang sangat
mendukung. Aku akan menciptakan Golem terkuat khusus untukku sendiri.
Dengan perasaan semangat, aku menggenggam material di
tanganku dan melakukan Space Teleportation kembali ke kastel.
◇
Begitu kembali ke kastel, aku segera bergegas menuju bengkel kerja yang ada di area istana.
Meskipun disebut sebagai bengkel, tempat ini hanyalah
bangunan sederhana yang nyaris tidak layak disebut sebagai gedung.
Dari cerobong asapnya, kepulan asap hitam pekat
membumbung tinggi, disertai gema suara dentuman logam yang dipukul
bertubi-tubi.
Begitu aku membuka pintu dan melangkah masuk, suara
bising itu terasa makin memekakkan telinga.
Di dalam sana, beberapa pengrajin tampak sedang menempa
logam, membuat hawa panas yang pengap menyebar ke seluruh ruangan.
Wah, mereka benar-benar sedang bekerja keras. Saat
aku berjalan menuju bagian dalam, dua orang pemuda menyambutku.
"Ooh, Lody-bo, akhirnya kau pulang juga."
"Selamat bekerja, Kak Dian."
Seorang pria dengan penampilan santai yang memegang
palu dan menggulung lengan bajunya itu menyunggingkan senyum gagah sambil
menyeka keringat.
Dian di Saloum.
Dia adalah Pangeran Keempat di negara ini, alias kakak
laki-lakiku.
Dia adalah seorang penempa yang sangat berbakat, dan dulu
kami pernah bekerja sama dalam pembuatan pedang sihir.
Begitu aku menceritakan rencana pembuatan Golem
milikku, dia langsung setuju tanpa ragu untuk membantuku.
"Hai, selamat datang kembali, Lloyd."
"Aku pulang, Kak Albert."
Lalu satu lagi, pria tampan berambut pirang ini
adalah Pangeran Kedua, Albert.
Selain penyihir yang hebat, dia juga tampan, baik
hati, dan cerdas—kesempurnaan tanpa celah yang membuatnya sangat populer di
kalangan rakyat, bahkan dirumorkan sebagai kandidat terkuat pewaris takhta.
Dia sangat menyayangiku, dan begitu mendengar
rencanaku, dia segera membangunkan bengkel kerja ini untukku.
Memang benar ya, punya kakak yang hebat itu sangat
membantu. Hehe.
Berkat bantuan mereka berdua, saat ini aku sedang
berada di tengah proses pembuatan kerangka luar Golem.
"Jadi, bagaimana hasilnya?"
"Lancar sekali. ……Ini!"
Sambil berkata begitu, aku mengeluarkan material yang
kubawa dan menjajajarkannya di atas meja.
Melihat tumpukan material langka tersebut, mata
mereka berdua langsung membelalak.
"Hmm, hebat sekali kau bisa mengumpulkan material
selangka ini. Kualitasnya pun luar biasa."
"Jumlahnya juga mantap! Dengan
ini, kita bisa membuat banyak logam sintetis! Kerja bagus, Lody-bo!"
"Terima kasih banyak."
Material-material ini akan dilelehkan bersama logam
lain, lalu diproses untuk menjadi kerangka luar Golem.
Kerangka luar bisa dibilang sebagai pilar penyangga Golem.
Kalau bagian ini rapuh, semuanya akan sia-sia.
Meski begitu, aku masih membutuhkan banyak sekali
komponen-komponen kecil, jadi aku harus meminta Gitan untuk terus berjuang.
"Tapi, dari mana sebenarnya dia mendapatkan semua
material ini? Semuanya berasal dari monster yang tidak ada di sekitar sini, dan
meskipun ada, aku ragu Lloyd bisa mengalahkannya. Yah, belakangan ini dia
sering terlihat di Guild Petualang, jadi mungkin dia membelinya dari sana.
Barang-barang sekelas ini pasti butuh kepercayaan tinggi dalam transaksinya.
Fufufu, Lloyd, kau makin hebat saja, ya. Kakak bangga padamu."
"Awalnya saat dia tiba-tiba memanggilku dan bilang
ingin membuat Golem, kukira itu cuma ide iseng anak kecil, tapi ternyata
dia memikirkannya dengan sangat matang. Mungkin ini rencana yang sudah disusun
selama bertahun-tahun. Persiapannya benar-benar matang. Heh, aku senang bisa
bekerja sama membuat sesuatu lagi seperti dulu."
Mereka berdua tampak menggumamkan sesuatu.
Sepertinya mereka tidak mencurigai asal-usul materialnya,
jadi kurasa tidak perlu dipikirkan.
"Ngomong-ngomong Lloyd, kami baru saja menyelesaikan
perakitan sementara Golem-nya, kau mau melihatnya?"
"Benarkah!? Aku ingin sekali melihatnya!"
"Ini mahakarya yang sangat kubanggakan. Keren, lho?
Jangan sampai kaget, ya."
"Siap!"
Akhirnya bentuknya mulai terlihat, ya.
Dengan penuh semangat, aku mengikuti mereka berdua menuju
bagian terdalam bengkel.
Begitu lembaran pelindung debu dibuka, muncullah sesosok
raksasa yang bersinar kemerahan.
"Ooooooohhhhh!"
Bentuknya mengalir indah tanpa ada bagian yang sia-sia,
wajahnya tampak tenang dengan satu mata (Mono-eye) yang bersinar gagah.
Ada tanduk yang tumbuh di dahinya, dan dari bagian tulang
ekor, menjulur sebuah ekor yang panjang.
Di punggungnya terpasang dua buah pilar, membuat
penampilannya persis seperti manusia naga dalam legenda.
Ya, luar biasa. Jauh berbeda dengan Golem yang
dulu kubuat dari bahan seadanya. Kekuatan materialnya benar-benar terasa hidup.
Tanpa sadar aku berlari mendekat dan memutarinya sambil
mendongak.
Wah, hebat sekali. Bentuknya begitu memesona sampai aku
merasa bisa terus menatapnya selamanya.
Melihat mataku yang berbinar-binar, Albert
menyunggingkan senyum.
"Kau menyukainya? Sebenarnya, aku yang mendesain
Golem ini."
"Kak Albert yang mendesainnya!?"
"Iya, aku tidak menyangka hari di mana pelajaran
seni rupa menjadi berguna akan tiba. Aku mencoba membuatnya mirip dengan naga
yang menjadi lambang negara, syukurlah kalau kau menyukainya."
Aku sendiri tidak terlalu tertarik dengan desain Golem,
jadi aku menyerahkan semuanya pada mereka dan hanya berpesan agar mengutamakan
fungsinya. Ternyata hasilnya jauh lebih bagus dari dugaanku. Memang Kak Albert
hebat.
Desain luar biasa yang mirip seperti saat pertama
kali melihat rumus sihir yang indah ini, pasti hanya bisa dibuat oleh Kak
Albert yang merupakan penyihir berbakat. Aku sampai terpana melihatnya.
"Kak Al yang sibuk saja sampai menyempatkan
waktu untuk datang ke sini dan membantu, lho."
"Iya! Terima kasih banyak, Kak Albert!"
"Hahaha, melihat tatapan matamu yang berbinar
begitu, rasa lelahku mengerjakan tugas resmi jadi terbayar lunas."
Albert tertawa dengan ramah.
Kalau begini terus, sepertinya Golem yang hebat
akan segera tercipta.
"Yah, seperti yang kau lihat, bagian sini berjalan
lancar."
"Ah, kalau di sini sih iya."
Tepat saat Dian bergumam, DHOOOOOOMM! Suara
ledakan menggema.
Di sudut bengkel Golem, ada sebuah ruangan
kecil yang pintu besi tebalnya terlempar hancur.
Dari balik kepulan asap hitam yang membumbung tinggi,
muncullah seorang pria berkacamata bulat.
Rambutnya berantakan dan dibiarkan panjang, tubuhnya
jangkung namun bungkuk, lengkap dengan janggut yang tidak terawat.
Albert menyapa pria yang sedang terbatuk-batuk sambil
mengusir asap itu.
"Kau tidak apa-apa, Zerof?"
"Uhuk!
Uhuk! Huekk! ……Ah, aku tidak apa-apa, Albert. Uhuk!"
Pria
yang menjawab sambil terus terbatuk itu adalah Zerof di Saloum. Dia adalah
Pangeran Ketiga di negara ini.
Dia
menguasai berbagai macam ilmu pengetahuan, dan khususnya dikenal sebagai
seorang Alkemis.
Dia
adalah pakar terkemuka di bidang Alchemy, dan katanya dia terlibat dalam
pembuatan seluruh Golem di Kerajaan Saloum. Dulu aku juga sempat
meminjam beberapa dokumen darinya secara diam-diam saat mempelajari Alchemy.
Waktu
itu aku sempat melihat sekilas hasil kerjanya, dan tidak diragukan lagi dia
memiliki pengetahuan yang sangat luas.
Biasanya
dia hampir selalu mengurung diri di gedung penelitiannya sendiri, tapi Albert
membawanya ke sini karena dia mutlak diperlukan dalam pembuatan Golem.
Zerof
bertugas menciptakan Core yang merupakan jantung dari Golem……
tapi.
"Gagal.
Kekuatannya masih belum cukup."
Mendengar
kata-kata Zerof yang entah sudah keberapa kalinya, kami saling berpandangan dan
mengembuskan napas panjang.
Ya, sayangnya pembuatan Core benar-benar bisa
dibilang tidak berjalan lancar sama sekali.
Prosesnya selalu sama: buat lalu meledak, buat lalu
meledak lagi.
"Sudahlah, Kak Zero. Jangan meledakkannya
terus-menerus dong, pikirkan juga nasibku yang harus terus
memperbaikinya!"
"Bodoh, kau tidak sadar ini terjadi karena kau
tidak memberiku logam paduan dengan kekuatan yang layak? Daripada mengeluh,
lebih baik buatkan sesuatu yang lebih bermutu."
"A-a-apaaa?! Aku sudah memberikan banyak logam
paduan! Aku sudah membaginya untukmu, jadi harusnya kau berterima kasih, bukan
malah mengeluh!"
"Core adalah jantung dari Golem,
bagian yang paling membutuhkan kekuatan. Aku tidak butuh mentalitas 'berbagi'
seperti itu. Justru kau harus memprioritaskannya!"
"Aku juga kekurangan stok di sini! Aku tidak
tahan kalau kau terus-menerus menghancurkannya! Dasar bodoh!"
"Sudah, sudah, kalian berdua tenanglah."
Albert melerai di antara mereka.
Dian dan Zerof memang sepertinya tidak akur.
Tidak, pada akhirnya masalah utamanya adalah kekurangan
material.
Yang sedang kami buat adalah Golem raksasa. Core
miliknya membutuhkan output yang tidak bisa dibandingkan dengan Golem
lainnya.
Tentu saja dibutuhkan ketahanan yang mampu menahan
beban tersebut, dan Zerof sedang mencoba berbagai cara untuk itu.
"Kak Zerof, logam paduan apa yang sedang Kakak
gunakan untuk Core sekarang?"
"Logam Katakont. Itu adalah standar tertinggi di
antara logam yang bisa diproses, tapi kekuatannya masih kurang untuk digunakan
pada reaktor fusi yang menggerakkan Golem sebesar ini. Mesinnya
akan berhenti bahkan sebelum mencapai sepuluh ribu putaran. Aku sudah
menyampaikan permintaanku pada Dian, tapi……"
"Makanya kubilang, tidak ada logam paduan yang bisa
menahan output gila seperti itu! Jangan bicara yang mustahil!"
……Begitu ya, intinya aku hanya perlu membuat logam paduan
yang lebih keras dari itu, kan?
Logam paduan adalah gabungan dari beberapa jenis zat.
Selama ini aku hanya mengambil material yang diminta,
tapi dari tubuh Gitan, aku bisa mendapatkan ratusan jenis material.
Jika aku menggabungkannya, mungkin aku bisa menciptakan
logam paduan yang lebih keras.
Saat membuat pedang sihir dulu, aku sudah meneliti
beberapa sihir yang sekiranya bisa digunakan untuk sintesis.
Mungkin ini kesempatan bagus untuk menggunakannya. Hmm,
aku jadi bersemangat.
Mari kita coba segera.
"Eh, kau mau ke mana, Lloyd?"
"Iya, karena diam saja juga tidak ada gunanya, aku
akan pergi mencari material lagi."
Bagaimanapun juga, aku meninggalkan bengkel Golem.
Satu hal yang pasti, aku merasa sangat bersemangat.
"Lihat kalian berdua, di saat seperti ini pun Lloyd
langsung kembali bekerja demi melakukan apa yang ia bisa. Kita juga harus
mencontohnya, bukan?"
"……Ah, kau benar, Kak Al. Maafkan aku, Kak Zero, aku
tadi agak kesal. Aku terbawa suasana. Aku malu pada diriku sendiri."
"Tidak, aku juga yang terlalu kesal. Bersikap
emosional adalah tindakan memalukan bagi seorang ilmuwan. Aku harus introspeksi
diri. Aku tetap butuh bantuanmu, Dian."
"Ooh! Serahkan padaku, Kak Zero!"
"Baguss, aku senang kalian berdua berbaikan. Ayo
jabat tangan, jabat tangan."
Aku merasa mereka bertiga sedang menggumamkan sesuatu
sambil menatapku, tapi aku tidak bisa mendengarnya karena suara bising di
bengkel.
Yah, bagiku yang penting mereka membuatkan Golem-nya,
jadi tidak masalah.
◇
"Karena itulah, aku terpikir untuk menciptakan logam
paduan baru."
Di dalam bengkel Dian yang sedang kosong, aku memanggil
salah satu pelayanku.
Gadis berkulit cokelat dengan rambut ungu pendek dan mata
bulat itu bernama Ren.
Dulu dia anggota Guild Pembunuh, tapi setelah banyak
kejadian, sekarang dia bekerja sebagai pelayanku.
"Logam
paduan…… tapi bagaimana cara membuatnya? Aku akan membantu apa pun yang aku
bisa, sih."
Aku menjawab pertanyaan Ren yang tampak bingung.
"Tentu saja aku memanggilmu karena aku ingin
menggunakan kemampuanmu."
Kemampuan Ren adalah mengubah mana miliknya sendiri untuk
menciptakan racun.
Dengan kata lain, dia mampu mengendalikan zat mikroskopis
yang tidak kasat mata untuk menciptakan zat baru.
Artinya, jika dikuasai, dia tidak hanya bisa menciptakan
racun, tapi juga berbagai macam zat lainnya.
Saat ini, berkat didikanku, rentang kemampuannya sudah
meluas dan dia sudah bisa membuat beberapa jenis obat-obatan.
Dengan kemampuan ini, seharusnya dia juga bisa
menciptakan logam paduan baru.
"Eeeh……
nggak mungkin. Aku belum pernah melakukannya."
"Bukankah
kau bilang akan melakukan apa pun demi aku?"
"Ukh……! I-itu memang benar, sih……"
Setelah wajahnya berkerut masam, Ren mengembuskan
napas pasrah.
"……Haaa, baiklah. Aku mengerti. Tapi, aku tidak
bisa menciptakan logam, lho?"
"Yang aku ingin kau lakukan bukan menciptakan, tapi
mengukur. Kau sering menjilat cairan untuk memahami zatnya, kan? Dengan cara
yang sama, aku ingin kau mengukur tingkat kekerasan logam-logam ini dan
mengubahnya menjadi angka."
Sambil berkata begitu, aku memberikan beberapa keping
logam padanya.
Jika aku harus menciptakan sesuatu yang lebih keras
dari logam Katakont yang digunakan sekarang, langkah pertama yang mutlak adalah
mengubah komposisinya menjadi data angka.
Pokoknya, aku akan membuat banyak logam paduan, lalu
membiarkan Ren mengukur semuanya satu per satu.
"Lalu, siapa yang bakal bikin logam
paduannya?"
"Tentu saja aku."
Begitu aku menyatukan material di tanganku, percikan
api memercik dan material-material itu melebur jadi satu.
Alchemy; Material Synthesis. Ini
adalah teknik untuk mencampur sesama benda padat dan menciptakan zat baru.
Karena konsumsi mana-nya besar, teknik ini tidak bisa
digunakan sembarangan, tapi dengan ini aku bisa menciptakan logam paduan dengan
kecepatan tinggi.
Nah, mari kita mulai. Kalau aku bisa menciptakan
logam paduan yang bagus, sepertinya akan ada banyak kegunaan lainnya.
Aku mengambil material tak terhingga yang sudah
kususun di meja dan mulai bekerja.
"Hmm,
mumu…… nyam nyam. Jilat."
Ren
mulai menjilat dan menggigit logam paduan yang sudah jadi.
Untuk
mendapatkan pemahaman mendalam tentang suatu zat, memang umum dilakukan dengan
memeriksa rasa, tekstur, hingga baunya.
Ngomong-ngomong, dia juga menggunakan metode yang
sama saat meneliti struktur cairan.
"Guaaaaa! Tiga puluh jenis, tuntas!"
"Nunu……
jangan sombong, aku sudah tiga puluh satu jenis!"
Dan di
sisi lain, aku menyuruh Grim dan Jiriel untuk melakukan sintesis logam juga
seperti yang kulakukan.
Karena
mereka berdua selalu punya jiwa kompetisi yang tinggi, mereka bekerja keras
seolah sedang berlomba.
Kombinasi materialnya jauh melampaui angka sepuluh ribu.
Kalau aku sendirian, itu pasti akan memakan waktu lama.
"……Oi, oi, kecepatan sintesisnya nggak masuk akal!?
Aku saja sudah ngos-ngosan cuma bikin tiga puluh, tapi dia sudah bikin lebih
dari lima ratus jenis!?"
"Bukan cuma kecepatan rapalannya, tapi cadangan
mana-nya benar-benar tidak berdasar…… Material Synthesis itu sangat
boros mana, sehingga kami harus istirahat setelah mengaktifkannya beberapa kali
karena mana kami habis. Padahal, Tuan Lloyd sama sekali tidak berhenti sedari
tadi. Sungguh sosok yang mengerikan……"
Mereka berdua tampak menggumamkan sesuatu.
Aku tidak peduli sih, tapi aku lebih suka kalau tangan
mereka bergerak daripada mulut mereka.
Mungkin sekitar satu jam telah berlalu.
Akhirnya, seluruh jenis sintesis telah selesai.
"Fiuh, ternyata memakan waktu lebih lama dari
dugaanku."
Ini adalah pekerjaan berat yang harus dilakukan secara
manual satu per satu.
Sama seperti sihir, teknologi semacam ini pun didukung
oleh usaha yang tekun, ya.
"Menurutku itu sama sekali nggak tekun, sih……
kecepatannya bahkan terasa seperti melompati sejarah seratus tingkat
sekaligus."
"Benar, entah sudah berapa abad sejarah Alchemy
yang telah dipercepat oleh pekerjaan kali ini……"
"Hahaha, mana mungkin begitu."
Benar-benar, mereka berdua terlalu berlebihan.
Dari sekian banyak logam paduan yang tercipta, aku
memilih beberapa yang sekiranya berguna, tapi jumlahnya tetap mencapai ratusan
jenis.
Kasihan Ren yang harus mengukur semuanya.
"Kamu tidak apa-apa, Ren?"
"Mungkin……"
Namun, mengabaikan kekhawatiranku, Ren tampak sangat
berkonsentrasi.
Sepertinya dia menemukan caranya sendiri sementara aku
melakukan sintesis tadi; dia menyentuh logam-logam itu satu per satu dengan
cepat.
Jika diperhatikan, logam-logam itu tampak sedikit
meleleh.
"Begitu ya, ide yang bagus. Kamu melarutkannya
dengan racun untuk mengekstrak komponennya?"
"Iya, aku lebih terbiasa dengan benda cair.
Membawa segala sesuatu ke bidang yang kita kuasai adalah dasar dari segalanya,
kan? Entah itu olahraga, pelajaran, bahkan sihir pun begitu. Karena itu,
'perbanyaklah hal yang bisa kamu lakukan, asah bidang keahlianmu, dan
bertarunglah di sana'…… begitulah yang selalu Lloyd katakan."
Ren menyunggingkan senyum bangga.
Aku memang pernah mengatakannya, tapi bisa
memikirkannya sendiri dan mempraktikkannya adalah hal yang luar biasa.
Meski tahu teorinya, tidak semua orang bisa melakukannya.
"Kamu menggunakan otakmu dengan baik. Pintar,
Ren."
"Ehehee—"
Saat aku memujinya, Ren tersenyum manis seperti bunga
yang mekar.
"Kalau begitu, sepertinya pekerjaan ini bisa jadi
jauh lebih efisien."
"Iya, serahkan saja padaku!"
Ren membusungkan dadanya dengan bangga.
Hmm, tapi tetap saja kalau dia melakukannya sendirian
akan memakan waktu lama.
Mari kita lihat, aku juga akan membantu.
Aku menjajajarkan logam-logam di sekelilingku, lalu
mengaktifkan sihir sistem angin Wind Cutter pada tingkat paling lemah.
Tornado kecil yang runcing dan tajam seperti jarum
menyentuh pelat logam yang telah disiapkan secara perlahan, lalu suara derit
logam yang terkikis pun mulai terdengar.
"Sihir yang lemah sekali. Nggak seperti Tuan Lloyd
biasanya," celetuk Grim.
"Fumu, tapi sepertinya ini memberikan tekanan secara
bertahap. Apa yang sedang Anda lakukan?" tanya Jiriel.
"Pengukuran kekuatan. Aku menaikkan tekanannya satu
tingkat setiap detik. Saat logam itu hancur, itulah batas kekuatan
maksimalnya."
Melakukannya satu per satu akan memakan waktu, jadi aku
mengeluarkan tiga ratus bilah angin sekaligus untuk mengukurnya secara
bersamaan.
Beberapa saat kemudian, terdengar suara pakin, pakin
saat logam-logam yang rapuh mulai pecah.
"Ya,
jumlahnya sudah mulai berkurang banyak."
Dalam
sekejap, jumlah logam sintetis itu sudah berkurang hingga kurang dari setengah.
Selagi
aku bicara pun, logam-logam itu terus pecah satu per satu.
Seiring
berjalannya waktu, akhirnya logam Katakont mulai retak.
Sepertinya
ini adalah batasnya.
Di saat
logam-logam lain yang tersisa hancur berkeping-keping hampir bersamaan, ada
satu yang tetap bertahan.
"Oh, ada satu yang tersisa tuh," kata Grim.
"Masih belum ada tanda-tanda akan pecah, ya,"
tambah Jiriel.
"Ya, kita dapat jackpot."
Bahkan setelah satu menit berlalu, logam itu masih belum
berhasil dilubangi. Setelah sekitar lima belas menit, barulah satu retakan
muncul.
Secara matematis, kekuatannya kira-kira tujuh kali lipat
dari logam Katakont. Sepertinya aku telah menemukan logam yang melampaui
standar logam Katakont.
Kalau tidak salah, ini adalah logam sintetis dari
lendir Golden Slime, tembaga grafit hitam, dan bubuk sihir merah.
Saat aku mengambil logam berwarna cokelat kemerahan
kusam itu, rasanya secara mengejutkan ringan, namun sangat kokoh.
"Sepertinya ini bisa digunakan. Ren, coba
bandingkan ini dengan yang lain?"
"Oke.
……Uwah! Ini keras sekali! Jauh melampaui yang lain, lho?! Tidak
ada yang seperti ini di antara yang sudah kuukur tadi!"
Tampaknya logam ini memang lebih unggul dari apa pun yang
telah diperiksa Ren.
Kalau begini, sepertinya ia sanggup menahan beban dari Core
milik Golem.
Mari kita pergi menunjukkannya pada Zerof.
Namun berkat bantuan semuanya, pekerjaan ini selesai
lebih cepat dari dugaanku.
Kekuatan rekan memang hebat. Hehe.
"Nah, kalau begitu aku akan mengukur sisanya…… eh,
sudah habis?! Padahal tadi masih sisa sebanyak itu, apa Lloyd menyelesaikannya
sendirian?! ……Hah, Lloyd memang hebat ya. Hal yang bisa kubantu masih sedikit
sekali."
"Jumlah yang dikerjakan bocah itu berkali-kali lipat
dari jatah si gadis dalam sekejap…… Sebenarnya buat apa ya kita kerja tadi?
Benar-benar deh."
"Umu……
bantuan kita bahkan tidak sampai satu persen dari apa yang dikerjakan Tuan
Lloyd. Ujung-ujungnya, beliau sendirian pun sudah cukup."
Mereka
bertiga menggumamkan sesuatu, tapi kurasa tidak perlu terlalu dipikirkan.
Bagaimanapun, setelah menyelesaikan pekerjaan, aku
kembali ke bengkel Golem.
◇
Begitu sampai di bengkel Golem, aku mengetuk pintu
ruangan Zerof. ……Namun tidak ada jawaban.
"Kak Zerof, apakah ada di dalam—?"
Aku memanggilnya, tapi tetap tidak ada jawaban.
Aku dan Ren yang mengikutiku saling berpandangan.
"Apa
dia tidak ada?"
"Mungkin
hanya sedang tidur…… aku masuk ya—"
Sambil
berkata begitu, aku membuka pintu.
Di
dalam sana, tumpukan kertas berisi coretan data serta peralatan makan bertumpuk
berantakan.
Ren
mengernyitkan dahi melihat betapa kotornya ruangan itu.
Di
bagian dalam terdapat tempat tidur, dan Zerof tampak sedang tidur mendengkur
dengan tubuh yang setengah merosot jatuh.
"……Uwah, dia bisa tidur nyenyak dengan posisi
begitu. Sepertinya dia sangat lelah, ya?"
"Katanya dia mengerjakannya sampai larut malam
setiap hari. Pasti dia sangat menikmatinya."
Aku mengerti perasaannya. Aku pun
sering terjaga sampai larut malam saat sedang asyik meneliti.
Mengerjakan hal baru itu memang menyenangkan.
Apalagi kegembiraan saat menemukan penemuan baru, itu
terasa sangat istimewa.
"Kak Zerof, bangun."
Saat aku mengguncang bahunya, Zerof membuka mata dan
bangkit.
"Nngh……
oh, Lloyd ya. Huaaaaa……"
Sambil
meregangkan tubuh lebar-lebar, dia memakai kacamata dan menyipitkan mata.
Sepertinya
dia masih mengantuk dan terlihat agak tidak senang.
"Ada
urusan apa?"
"Aku
terpikir apakah logam paduan ini bisa digunakan untuk Core milik Golem."
"Apa katamu? Yang kamu bicarakan tempo hari itu ya.
Tapi apa yang bisa berubah hanya dalam satu malam……"
Tepat saat ia mengambil kepingan logam yang
kuberikan, ekspresi Zerof langsung berubah.
"Sini, pinjamkan!"
Zerof terburu-buru merebut kepingan logam itu dariku,
lalu memegangnya dengan kedua tangan sambil mengerahkan tenaga, bahkan mulai
membenturkannya ke sudut tempat tidur.
Setelah memastikan teksturnya dengan saksama, dia
menatapku tajam.
"……Tunggu sebentar di sini."
Meninggalkan pesan itu, Zerof keluar dari ruangan.
Sepertinya dia sangat menyukainya.
Setelah menunggu beberapa saat, Zerof kembali membawa
Albert dan Dian.
"Maaf menunggu. Barusan aku melakukan pengukuran
kekuatan pada logam paduan yang dibawa Lloyd, dan ternyata kekerasannya sekitar
tujuh kali lipat dari logam Katakont. ……Jujur
saja aku terkejut. Aku belum pernah melihat benda seperti ini."
"Benar-benar mengejutkan. Kau memang bilang akan
mencari logam paduan baru, tapi aku tidak menyangka kau benar-benar akan
membawanya. Luar biasa. Apa ini yang dinamakan 'seperti yang diharapkan dari
adikku'?"
"Oi,
oi, Kak Al. Lloyd itu juga adik kebanggaanku, tahu! Bagaimanapun,
kalau begini tidak ada komplain lagi kan, Kak Zero?"
"……Ya, tentu saja. Ini layak untuk dicoba."
"Bagus!
Kalau begitu ayo segera buat Core menggunakan ini! ……Eh, ngomong-ngomong
Lody-bo, dari mana kau mendapatkan benda ini?"
"A-anu……"
Aku
terdiam sejenak saat ditanya oleh Dian.
Gawat.
Kalau aku bilang aku yang membuatnya, aku akan jadi terlalu mencolok.
Hal yang ingin kulakukan hanyalah meneliti sihir.
Jika orang-orang tahu aku bisa melakukan sintesis dan
semacamnya, aku mungkin akan dipaksa membantu pekerjaan itu terus.
Itu sebabnya aku mencoba untuk tidak menonjolkan diri,
tapi aku tadi sedikit lengah.
Bagaimana
baiknya ya…… oh, benar.
"Eto.
Sebenarnya logam paduan itu dibuat oleh Ren, lho."
"Eeehh?!
A-aku yang buat?! Mmph!"
Aku segera membungkam mulut Ren yang hendak
memprotes.
"Iya, saat mencoba menggunakan kemampuan Ren,
ternyata berhasil. Aku sampai kaget. Haha, hahaha……"
Sebelumnya, aku sudah berbagi informasi mengenai
kemampuan Ren kepada Albert.
Tentu saja hanya secara garis besar.
Agar nantinya bisa digunakan sebagai alasan, aku memberi
tahu Albert bahwa Ren memiliki kemampuan untuk menciptakan berbagai macam
benda. ……Itu bukan bohong, kan.
"Hooh, begitu ya. Masih kecil tapi hebat juga
kau."
"A-ahahahaha……
begitulah. Dia adalah maid kebanggaanku."
"Lloyd-kun……?"
Ren menatapku dengan tatapan tajam yang mengerikan.
Maaf, tolong ikuti saja permainanku. Nanti kubelikan
manisan yang enak, deh. Saat aku membisikkan itu, Ren akhirnya
mengangguk dengan wajah pasrah.
"Daripada itu Kak Dian, bukankah sebaiknya kita
segera mulai bekerja?!"
"Ooh, kerja bagus, Nona Kecil! Sisanya serahkan
padaku!"
Dian menepuk dadanya dengan penuh percaya diri.
Fiuh, sepertinya aku berhasil mengalihkan perhatian.
"Aku juga akan membantu."
"Oke! Ikut aku, Lody-bo!"
Saat aku mencoba menyelinap pergi mengikuti Dian dengan
dalih membantu,
"Tunggu dulu, Lloyd."
Langkahku terhenti oleh panggilan Albert.
Cih, sepertinya tidak akan semudah itu lolos darinya.
"……Ada apa, Kak Albert?"
"Fufufu, alasan yang buruk sekali. Aku tahu lho yang
sebenarnya."
"E-eto, apa maksud Kakak?"
Sambil tersenyum canggung untuk menutupi kegugupan,
Albert membisikkan sesuatu di telingaku.
"Jangan pura-pura bodoh. Lloyd, kau yang memberi
tahu Ren-chan metodenya, kan? Meskipun dia punya kemampuan itu, aku ragu dia
bisa menciptakan logam yang tepat tanpa pengetahuan apa pun. Kau pasti yang
memilihkan beberapa kombinasi potensial dan menyuruhnya membuatnya, kan?"
"……Ahahaha, ketahuan ya?"
"Yah, aku kan kakakmu. Hal segitu saja aku pasti
paham."
Albert mengedipkan satu matanya dengan jenaka.
Fiuh, sepertinya dia belum tahu yang sebenarnya.
Mendebarkan sekali.
Padahal jangankan memberi tahu caranya, proses
sintesisnya pun aku yang melakukan.
"Sudah selesaunya, Kak Al? Ayo pergi, Lody-bo. Aku
ingin segera melanjutkan pekerjaan!"
"Oi, aku juga ikut. Aku tidak mau kau melakukan
kesalahan lagi. Kali ini biarkan aku yang turun tangan sejak tahap
desain!"
"Apa katamu?!"
"Kenapa?!"
Dian dan Zerof mulai bertengkar lagi.
……Hmm, rasanya aku baru saja melihat interaksi
seperti ini di dekatku baru-baru ini.
"Tuh dibilangin, dasar malaikat payah,"
ejek Grim.
"Maksudmu dirimu sendiri ya, iblis tolol,"
balas Jiriel.
Ah, di sini rupanya.
Ada pepatah yang bilang bahwa semakin sering
bertengkar semakin akrab, jadi kurasa tidak perlu terlalu dipikirkan.
"Fufufu, menciptakan logam yang melampaui logam
Katakont, kau hebat juga, Lloyd. Hmm,
tapi logam baru ini butuh nama. ……Benar juga, bagaimana kalau mengambil nama
Lloyd dan Ren, lalu menamainya Logam Rodylent? Ya, nama
yang bagus. Nanti akan kendaftarkan ke Asosiasi Alkimia."
Albert tampak menggumamkan sesuatu sendiri.
Bagaimanapun juga, aku pun mulai mengerjakan
pembuatan Core bersama Dian dan yang lainnya.
"Lloyd,
ambilkan Reaction Stone."
"Baik,
Kak Zerof. Yang nomor tujuh, kan?"
"Ya, sekalian tolong siapkan cairan
katalisnya."
"Sudah kuduga Kakak akan memintanya, jadi sudah
kubuatkan. Ini."
Dian sudah pergi duluan dengan alasan ingin membuat
bagian luar Core, jadi saat ini hanya tinggal aku dan Zerof yang
mengerjakan bagian dalam Core.
Pekerjaan pembuatan Core sangatlah kompleks
dan menuntut ketelitian tinggi, sehingga aku tidak bisa lengah sedikit pun.
Apalagi berbeda dengan yang kubuat dulu, yang satu
ini ukurannya sangat besar. Menjaga kestabilan komponen di dalamnya jauh lebih
sulit.
Dengan wajah serius, Zerof mengaduk labu ukur dan
mencampurkannya ke dalam satu botol.
Asap biru membumbung dari cairan yang mendidih.
Lalu saat asapnya menyatu, sebuah cairan perak yang
berkilau tercipta di dalam botol tersebut.
"Fiuh, selesai."
Cairan yang bergejolak di dalam botol hasil Alchemy
tersebut sebenarnya bukanlah cairan biasa, melainkan logam cair yang mengalir.
Logam
ini, yang disebut sebagai Artificial Philosopher's Stone, memiliki sifat
untuk bergerak bebas sesuai dengan kehendak manusia.
Dengan memberikan perintah melalui mana, kita bisa
mendapatkan sumber tenaga untuk Golem.
"Selamat atas kerjanya, Kak Zerof."
"Ini semua berkatmu. Terima kasih, Lloyd. Pemurnian Artificial
Philosopher's Stone itu sangat sulit. Apalagi Golem ini adalah unit
spesial. Kita harus menggunakan bahan yang setimpal."
Tingkat
kemurnian Artificial Philosopher's Stone di dalam botol ini beberapa
tingkat lebih tinggi dari yang biasa.
Karena
menuntut gerakan yang mendetail, logam ini digunakan di setiap bagian penggerak
seperti ujung jari, bukan hanya lengan dan kaki, sehingga dibutuhkan jumlah
yang banyak.
Dan dia harus membuatnya ulang setiap kali gagal.
Bukan hanya Dian yang kesulitan membuat ulang bagian
luarnya, Zerof pun merasakan beban kerja yang sama beratnya.
"Tapi aku sudah terpikir sejak lama, Lloyd. Kau
ini anehnya sangat paham soal Alchemy, ya."
"Eh? B-benarkah? Karena aku sering menghabiskan
waktu di perpustakaan kalau senggang, aku cuma membaca sedikit buku soal Alchemy,
kok."
"Hanya dari pengetahuan buku saja sudah sampai tahap
ini, ya. Memang Alchemy adalah salah satu jenis sihir, jadi tidak aneh
jika Lloyd yang seorang penyihir punya pengetahuan sampai batas tertentu. Tapi
jumlah pengetahuan Lloyd itu tidak normal. Bahkan penyihir Alchemy biasa
pun kalah jauh. Jika aku menggabungkan kekuatan dengan Lloyd, bahkan tabu dan
teknik rahasia tertinggi dalam Alchemy, yaitu Human Transmutation,
mungkin saja bisa dilakukan. Hmm,
aku ingin sekali menjadikannya asistenku, tapi…… dia adalah favorit Albert,
jadi aku tidak bisa memaksanya. Tapi suatu saat nanti pasti……"
Zerof menatapku sambil menggumamkan sesuatu.
Kenapa ya, tatapan matanya terasa menyeramkan.
──Bagaimanapun, pekerjaan berjalan lancar dan sepuluh
hari telah berlalu.
Core milik Golem pun akhirnya
selesai.
Kami memasukkan Core buatan Zerof ke dalam
kerangka luar buatan Dian. Saat
mana dialirkan, Artificial Philosopher's Stone pun aktif, dan suara
mesin mulai terdengar dari dalam Core.
Suara detakan seperti denyut jantung yang memompa
darah itu terdengar tenang dan stabil.
Sepertinya ia beroperasi dengan baik. Kalau begini,
sepertinya tidak akan ada bahaya ledakan.
"Hmm, memakan waktu lama tapi akhirnya kita
sampai di tahap ini juga. Ini semua berkat Logam Rodylent."
"Kekerasannya mantap, kokohnya luar biasa,
ditambah lagi mudah diproses. Hidup Logam Rodylent!"
……Aku agak terganggu dengan nama yang sangat tidak
kusukai itu, tapi ya sudahlah.
Uji coba Core milik Golem berakhir
tanpa masalah, dan bagian itu pun dipasangkan ke tubuh utamanya.
Akhirnya, sang Golem pun selesai.
"Ooh— akhirnya benar-benar selesai, ya."
"Ini adalah prototipe. Setelah ini kami
berencana melakukan penyesuaian dan update versi secara mendetail, tapi
untuk saat ini, bisa dibilang sudah selesai."
Di bawah terik matahari, sang Golem berwarna
merah tua itu berkilau menyilaukan.
Semua orang mendongak menatapnya dengan penuh
kekaguman.
"Hehe, kita berhasil, teman-teman! Hasilnya luar
biasa, bukan?! Dengan ini, monster raksasa apa pun yang menyerang pasti bisa
kita habisi!"
"Ya, ini sangat hebat. Sebagai pelindung negara,
jarang ada Golem sehebat ini. Ini akan menunjukkan kekuatan teknologi
negara kita dan membuat negosiasi dengan negara lain berjalan lebih
menguntungkan."
"Inilah
kristalisasi teknologi…… mahakarya tertinggi dari Alchemy. Sungguh hasil
yang luar biasa…… benar-benar sebuah karya seni."
Sepertinya
mereka bertiga punya pemikiran masing-masing.
Pantas
saja mereka mau membantuku membuat Golem ini dengan senang hati.
……Aku
benar-benar tidak bisa bilang kalau tujuan awalku membuat ini adalah sebagai
lawan tanding latihan sihirku.
"Hei
Kak Al, ayo beri dia nama!"
"Hmm,
benar juga…… Lloyd, menurutmu apa yang bagus?"
"Eh?! Aku?"
Tiba-tiba saja Albert melemparkan pertanyaan itu padaku.
"Bukankah kau yang mencetuskan ide ini? Ditambah
lagi, aku menganggapmu sebagai orang yang paling berjasa."
"Aku juga tidak keberatan. Lagipula bagiku nama itu
tidak penting."
"Oi, oi, Kak Zero! Nama itu penting, tahu! ……Yah,
aku tidak keberatan kalau Lody-bo yang memberi nama. Tapi kalau kau tidak punya
ide, biar aku saja yang memikirkannya, oke? Bagaimana kalau King Rody atau Super Lloyd?"
Aduh,
jangan dong Kakak.
Selera
Dian benar-benar membuatku elus dada.
Ren
yang berdiri di sampingku berusaha keras menahan tawa sampai bahunya bergetar.
Karena
aku benar-benar tidak mau nama-nama itu, aku pun berpikir sekuat tenaga.
"K-kalau
begitu, bagaimana kalau menggabungkan nama keluarga kita 'Di' dengan kata
'Guardian' yang berarti pelindung, menjadi 'Di-Guardia'?"
"Hmm,
boleh juga, kan?"
"Ah,
King Rody sebenarnya sayang untuk dilewatkan, tapi itu juga nama yang
bagus!"
"Nama apa pun boleh saja…… tapi itu tidak
buruk."
Fiuh, syukurlah. Sepertinya semua orang setuju.
"S-syukurlah ya, Lloyd…… bukan King Rody…… pffft."
"Iya, nama itu benar-benar bikin
merinding."
Ren tampak hampir meledak tawanya.
Aku sendiri tipe orang yang menganggap nama itu apa
saja boleh, tapi kalau yang tadi itu sih, maaf saja.
"Baiklah, karena penamaan sudah selesai, ayo kita
segera lakukan uji coba Di-Guardia!"
"Ooh! Ini yang kutunggu-tunggu, Kak Al!"
"Hmm, aku ingin segera melihat kegagahan Di-Guardia
milikku."
"Siap! Aku juga tidak sabar!"
Akhirnya
saat bagi Di-Guardia untuk bergerak telah tiba.
Mari
kita lihat, apakah dia bisa digunakan sebagai lawan tandingku yang sebenarnya.
"──Sensivitas baik, mulai berdiri tegak."
Seiring dengan kata-kata Zerof sang pengendali,
Di-Guardia mulai membangkitkan tubuhnya secara perlahan.
Dian juga ingin menaikinya, tapi Golem yang
digerakkan dengan aliran mana tidak bisa dinaiki oleh manusia yang tidak
memiliki mana.
Golem aktif saat penggunanya mengalirkan
mana yang kemudian diteruskan ke Artificial Philosopher's Stone di
bagian pusat.
Mesin penggerak di dalam Core akan berputar
dengan kecepatan tinggi, menyalurkan energi yang tercipta ke seluruh sudut
tubuh, dan menggerakkan Golem sesuai kehendak—secara sederhana,
begitulah cara kerjanya.
Mekanisme internal Golem serta rumus sihir
yang tertanam di dalamnya mengubah energi kecil menjadi energi yang lebih
besar, sehingga orang dengan mana sedikit pun bisa menggerakkan Golem.
"Mulai berjalan."
Dengan suara dentuman langkah yang kuat, Di-Guardia
melangkah maju.
Para prajurit yang menonton bersorak
"Ooh—!".
"Ooi Kak Zero, senjata! Gunakan senjata apa saja
dong!"
"Baiklah. Di mana ya sasaran yang bagus……"
Zerof
mengedarkan pandangannya ke sekeliling.
"Kak
Zerof, tolong tunggu sebentar—! ……Hiyat!"
Setelah
memanggil Zerof, aku menembakkan Fireball ke arah peti kayu raksasa yang
diletakkan di lapangan.
Dalam
sekejap, peti kayu yang dilalap api itu berguncang hebat.
Keluar
dari hancuran peti itu, muncullah sesosok raksasa bertanduk.
Meski
tangan dan kakinya terbelenggu, ia tampak kesal sambil mengibaskan api dari
tubuhnya.
"A-apa-apaan itu?! Bukankah itu monster?! Kenapa ada
di tempat seperti ini?!"
"Itu adalah Ogre. Untuk mengantisipasi hal seperti
ini, aku meminta tolong pada Guild Petualang agar diberikan monster hasil
tangkapan hidup-hidup. Karena monster ini sering merusak desa-desa sekitar, aku
pikir dia cocok untuk dijadikan uji coba."
Sebenarnya aku sendiri yang menangkapnya, sih.
Tapi bagian bahwa ada permintaan pembasmian dari Guild
Petualang itu benar. Aku menangkapnya saat dia sedang merusak desa terdekat,
lalu membuatnya tertidur dan membawanya ke sini.
Daripada batu atau pohon besar yang tidak bergerak,
target yang bisa bergerak tentu lebih bagus untuk eksperimen.
Rasanya
agak kasihan, tapi…… tidak, dia kan sudah menyerang desa, jadi ini salahnya
sendiri. Tindakan yang kulakukan ini pasti adalah hal yang benar.
"Oi, oi. Ogre itu kan ras raksasa kelas terkuat di
antara para monster. Menangkapnya
cuma buat jadi bahan uji coba…… Iblis pun nggak bakal kepikiran, ini sih
perbuatan setan……!" bisik Grim.
"Begitu
ya, ini adalah peringatan bagi mereka yang telah merusak desa-desa. Tak peduli meski dia monster, Anda tidak akan memberi ampun bagi siapa
pun yang mengancam rakyat. Di saat banyak penguasa menutup mata atas
penderitaan rakyat, memberikan hukuman dengan susah payah seperti ini…… Seperti
yang diharapkan dari Tuan Lloyd, Anda adalah teladan bagi keluarga
kerajaan," puji Jiriel.
Grim dan Jiriel menggumamkan sesuatu, tapi aku
terlalu penasaran dengan pertarungan Ogre dan Di-Guardia yang akan segera
dimulai.
Wah, aku jadi bersemangat.
"Gorurururu……!"
Sambil membunyikan rantai yang terpasang di kedua
tangan dan kakinya, Ogre itu melangkah mendekati Di-Guardia.
Dia tampak penuh semangat bertarung. Sambil mengatur
napas dengan kasar, dia tampak mengincar celah untuk menerjang.
"……Hmm, aku sedikit kaget, tapi Lloyd, kau sudah
menyiapkan target yang bagus. Jika monster itu merepotkan rakyat, aku
tidak akan merasa bersalah meski harus membunuhnya. Dengan ini, aku bisa
mengukur kekuatan Di-Guardia sepuas hati."
"Kak Zero—! Musuhnya sudah datang tuh—! Senjata,
keluarkan senjatanya—!"
"Tanpa kau beri tahu pun aku tahu."
Sambil mengangguk pada ucapan Dian, Di-Guardia menekuk
sayap di punggungnya ke arah depan.
Ujung sayap yang menghadap ke arah Ogre itu bersinar
terang.
──Lalu di saat yang sama, GOOOHH! Seberkas cahaya
ditembakkan.
Cahaya itu melesat meninggalkan jejak dan menghantam
Ogre, memicu ledakan besar.
"Guoooh……!?"
Ogre itu mengerang dan terhuyung.
Asap putih membumbung dari ujung sayap tempat cahaya
tadi ditembakkan.
"Hmm, sepertinya Meriam Mana berfungsi dengan
baik."
Melihat itu, Albert mengangguk puas.
Benda yang terpasang di punggung Di-Guardia adalah
Meriam Mana, senjata besar yang menembakkan peluru berisi sihir tingkat tinggi.
Katanya itu adalah teknologi terbaru yang
dikembangkan di Laboratorium Sihir milik Albert, dengan keunggulan siapa pun
bisa menembakkan sihir menggunakannya.
Namun karena sulit untuk memperkecil ukurannya, untuk
sementara dipasanglah pada Golem untuk operasionalnya.
Sihir yang ada di dalamnya setara dengan sihir
tingkat tinggi Fireball yang meledak hebat.
Setiap kali Meriam Mana ditembakkan, suara guntur
menggelegar dan debu tanah beterbangan.
"GAAAAAAHHHHHH!!"
Meski begitu, Ogre itu tidak gentar sedikit pun. Ia
mengambil potongan kayu yang jatuh di kakinya dan mulai menerjang maju.
"Ogre itu monster yang sangat tangguh. Sihir
tingkat segitu tidak akan menghentikan terjangannya!" seru Grim.
"Iya! Tuan Lloyd mungkin bisa membuatnya pingsan
dengan Fireball yang sudah menahan diri, tapi bagi orang biasa, Fireball
biasa tidak akan memberikan kerusakan yang berarti!" tambah Jiriel.
Di tengah teriakan Grim dan Jiriel, Di-Guardia tampak
tidak goyah sama sekali.
"Hmm, pertarungan jarak dekat ya. Baiklah, akan
kuladeni."
Sebuah tabung pendek keluar dari saku di pergelangan
tangan Di-Guardia, lalu ia mengambilnya.
Saat tombol ditekan, suara tajam terdengar dan sebuah
bilah pedang memanjang.
Itu adalah pedang. Di-Guardia memegangnya dengan
posisi terbalik dan memasang kuda-kuda.
"GARURUUAAAAHH!"
Sambil meraung, Ogre itu memukulkan potongan kayunya.
Di-Guardia mengayunkan bilahnya untuk menanggapi
serangan itu.
GYIIINN! Suara
benturan keras terdengar, dan bilah pedang itu memotong kayu tersebut menjadi
dua bagian.
"Yosshaaa!
Tajam sekali Great Magic Sword itu!"
Ini adalah persenjataan buatan Dian. Sesuai namanya, ini
adalah pedang sihir yang besar.
Bilah yang besar memungkinkan pemasangan banyak rumus
sihir penguatan, sehingga daya serangnya jauh melampaui pedang biasa.
Tentu saja pedang itu sangat berat dan sulit digunakan
sehingga tidak ada manusia yang bisa mengayunkannya, tapi bagi Golem,
itu masalah lain.
Dengan ayunan Great Magic Sword, senjata milik
Ogre itu hancur berkeping-keping dalam sekejap.
"GU……AAAAAAAAGGGHH!"
Ogre itu membuang potongan kayu yang sudah pendek dan
menerjang dengan tangan kosong.
Mata
tunggal Di-Guardia bersinar tajam.
Dalam
satu tebasan horizontal, serangan itu membelah tubuh Ogre menjadi dua.
"Ga……
a……!?"
Tanpa
menoleh ke arah Ogre yang tumbang, Di-Guardia menyarungkan kembali Great
Magic Sword miliknya.
Sorak-sorai
dan tepuk tangan pun pecah membahana.
"Yosshaaa!
Tajam sekali Great Magic Sword itu!"
"Meriam
Manaku juga sepertinya hasilnya cukup bagus. Bisa membuat Ogre yang merupakan
salah satu monster terkuat di sekitar sini menjadi gentar. Kalau terus
disempurnakan, ini akan jadi senjata yang hebat."
"Hmm,
pergerakan yang luar biasa. Kemampuan operasional maupun kecepatan
reaksinya tidak ada komplain. Benar-benar bisa disebut sebagai Golem
terbaik."
Ketiganya mengangguk puas melihat hasil pertarungan
Di-Guardia.
"Hah, dulu Golem itu cuma tumpukan batu yang
digerakkan buat kerja bakti doang, tapi Golem zaman sekarang sudah jadi
sesuatu yang mengerikan ya," gumam Grim.
"Ini semua pasti berkat kekuatan Tuan Lloyd. Selama
aku melihat dunia manusia dari langit, aku belum pernah melihat orang yang
memiliki Golem sehebat ini. ……Ada apa Tuan Lloyd, kenapa wajah Anda
tampak tidak puas?"
Aku hanya bisa bersedekap dan mengerang mendengar
pertanyaan Jiriel.
Memang benar, sebagai sebuah Golem, ini adalah
hasil yang cukup bagus.
Tapi kinerjanya jauh lebih rendah dari yang
kubayangkan.
Bahkan setelah memperhitungkan fakta bahwa Zerof yang
mengendalikannya, jika melawan Ogre saja butuh usaha sebanyak ini, sepertinya
dia tidak akan bisa menjalankan peran utamanya sebagai lawan tandingku yang
sebenarnya. Sayang sekali.
"Oi, oi. Sepertinya Lloyd tidak puas dengan
performa Di-Guardia tuh."
"Benar-benar ya anak itu, padahal sudah
dibuatkan sehebat ini tapi masih belum puas. Dia itu serakah sekali!"
"……Aduh, aduh. Sepertinya aku juga tidak bisa
puas hanya sampai di sini, ya. Jalan Alchemy memang panjang dan
terjal."
Albert dan yang lainnya menggumamkan sesuatu, tapi
aku terlalu kecewa sampai tidak bisa mendengarnya.
Padahal aku sudah meluangkan banyak waktu, tapi
ternyata berakhir sia-sia.
Tidak, tidak. Masih terlalu dini untuk kecewa.
Di-Guardia memiliki banyak perangkat sihir yang terpasang, dan masih ada banyak
kegunaan lainnya.
Benar juga. Bisa digunakan untuk hal itu juga,
kan. Kalau begitu, aku bisa melakukan hal yang lebih besar lagi…… fufufu, aku
jadi tidak sabar.
Sebab, Golem terkuat bukan hanya dilihat dari
performa fisiknya saja.
Baiklah, aku akan mencari waktu untuk memodifikasinya
sesuai seleraku. Tentu saja secara diam-diam, ya.
◇
Beberapa hari setelah selesainya Di-Guardia, aku
menjalani kehidupan seperti biasa.
"Hiyat!"
Sambil mengeluarkan suara yang tegas, sebilah pedang
kayu diayunkan dan aku menghindarinya di saat-saat terakhir.
Ups, bahaya, bahaya.
Saat aku tersentak mundur, maid di depanku, Sylpha,
menatapku dengan senyum tipis.
"Anda berhasil menghindarinya dengan baik, Tuan
Lloyd."
"……Haha. Aku akan senang kalau kamu sedikit menahan
diri."
"Jangan bercanda. Jika aku menahan diri melawan Tuan
Lloyd yang sekarang, justru akulah yang akan dikalahkan. Nah, ayo kita lanjut
lagi."
Setelah menarik napas pendek, Sylpha mengayunkan pedang
kayunya dengan gembira.
Hari ini adalah jadwal latihan pedang rutin bersama
Sylpha.
Karena belakangan ini aku sibuk membuat Golem, aku
tidak punya banyak waktu luang. Jadi untuk menebusnya, kami latihan
terus-menerus sejak pagi hari.
"Bagus sekali, Tuan Lloyd! Anda sudah mulai terbiasa
menggunakan pedang besar itu, ya!"
"Ini
semua berkatmu…… hiyat!"
Suara
benturan kayu yang kering berkali-kali menggema di lapangan latihan.
Pedang
yang kugunakan saat ini adalah pedang besar yang ukurannya hampir setinggi
tubuhku.
Ilmu
pedang aliran Langris milik Sylpha bisa menggunakan senjata apa saja, mulai
dari tangan kosong hingga pedang besar.
Yang
sedang kupelajari secara intensif saat ini adalah teknik pedang besar tersebut.
Sepertinya itu cocok untukku sehingga Sylpha pun bersemangat mengajariku.
Katanya
jika tubuh mungil menggunakan pedang besar, titik serangan musuh akan menjadi
sangat terbatas. Ditambah lagi jika menggunakan sihir penguatan tubuh, pedang
yang berat pun bisa diayunkan dengan ringan.
Begitu ya, masuk akal juga. ……Padahal sebenarnya itu
tidak terlalu berpengaruh karena aku selalu mengaktifkan beberapa lapisan
pelindung setiap saat.
"Fufufu! Seperti yang diharapkan! Permainan
pedang Anda luar biasa, Tuan Lloyd! Berikan lagi, lebih banyak lagi!"
Sambil tertawa gembira, Sylpha menangkis seranganku.
Sial, dia tampak sangat menikmati pertarungan ini.
Awalnya aku bisa mengimbangi gerakan Sylpha dengan
meniru gerakannya menggunakan sihir sistem kontrol Mirroring, tapi
belakangan ini sepertinya Sylpha sudah mulai berhenti menahan diri sehingga aku
mulai kewalahan mengejarnya.
Mau bagaimana lagi, aku pun mengakalinya dengan
menggunakan sihir penguatan tubuh dan sihir penyembuhan secukupnya agar tidak
ketahuan, sambil meredarkan Qi di dalam tubuhku untuk menutup celah.
……Belum ketahuan, kan?
"Ah, luar biasa sekali, Tuan Lloyd! Meskipun aku
sudah tidak menahan diri sama sekali, Anda masih bisa mengikuti gerakanku! Tidak hanya sihir, Anda bahkan
menggunakan Qi juga…… Sepertinya keputusan Anda untuk menjadi petualang
sebagai bagian dari latihan adalah hal yang tepat. Aku pun terus berlatih agar
tidak tersusul, tapi tetap saja jarak di antara kita semakin mengecil. Sungguh sosok yang mengerikan. Anda benar-benar bibit Master Pedang.
Sylpha merasa terhormat bisa menjadi instruktur bagi Tuan Lloyd. Fufu,
fufufufufu……"
Sambil bergumam tidak jelas, Sylpha terus merangsek
maju dengan meluncurkan tebasan-tebasan pedang berkecepatan tinggi.
Sesekali terdengar kata-kata berbahaya dari mulutnya.
Benar-benar mengerikan.
"Oh, Lloyd. Ternyata kamu di sana."
Tiba-tiba, sebuah suara terdengar dan membuat Sylpha
menghentikan pedangnya. Suara itu milik Zerof.
Sylpha segera menyarungkan pedangnya dan membungkuk
hormat.
Aku pun melakukan hal yang sama, menurunkan pedangku,
lalu berhadapan dengan Zerof sambil mengatur napas.
Syukurlah. Pas sekali, aku memang sedang ingin istirahat.
"Apa aku mengganggu?"
"Tidak, jangan dipikirkan. Ada apa, Kak Zerof?"
"Sebenarnya ada sesuatu yang ingin kuperlihatkan
padamu…… ini."
Zerof mengeluarkan selembar surat kabar. Di sana tertulis
begini:
"Eeto, apa ini? ──Festival Alkimia Agung, ajang
unjuk gigi teknik terbaik para Alkemis, akan kembali digelar tahun ini. Para
Alkemis dari berbagai penjuru negeri akan berkumpul di Kerajaan Bertram untuk
memamerkan teknologi mereka.
Di antara berbagai acara yang ada, puncaknya adalah
Turnamen Bela Diri Agung yang dilakukan oleh Golem. Pemandangan Golem
raksasa yang saling beradu kekuatan akan menjadi tontonan yang luar biasa.
Pastikan Anda hadir di lokasi……
Eh, jangan-jangan Kak Zerof berniat ikut acara ini?"
Zerof mengangguk perlahan.
"Umu, aku sudah mengajukan pendaftaran. Kabar bahwa pendaftaranku
diterima juga sudah sampai. Karena itulah aku ingin minta tolong,
Lloyd. Aku ingin kamu berpartisipasi sebagai rekanku."
"Aku?"
"Kerjamu kali ini benar-benar luar biasa. Di negara
ini, kurasa hanya kamu dan aku yang memiliki pengetahuan serta teknik selevel
itu.
……Lagipula, jika ikut pertandingan, aku akan sangat
mencolok dan pasti banyak yang mengajak bicara. Aku ingin kamu yang menjawab
mereka sebagai gantinya. Kamu akrab dengan semua orang, jadi kamu pasti ahli
dalam hal itu, kan?"
Tega sekali dia memberiku tugas sulit begini. Padahal aku
sendiri juga tidak terlalu pintar bicara dengan orang lain.
Yah, tapi kalau dibandingkan Zerof, aku masih mendingan,
sih.
Saat pembuatan Golem kemarin pun, Zerof selalu
bekerja sendirian.
Setiap kali dia harus bicara dengan orang lain, biasanya
aku atau Albert yang menjadi perantaranya.
……Kalau dipikir-pikir begitu, kurasa tugas ini tidak akan
merepotkan banget.
"Jadi, bagaimana?"
"Tentu saja aku ikut!"
Aku langsung menjawab cepat.
Kalau tetap di sini, aku bakal berakhir terus-menerus
berlatih tanding dengan Sylpha.
Lagipula soal alkimia── dulu aku memang pernah
mempelajarinya sampai batas tertentu, tapi karena bosan, sekarang sudah
kutinggalkan sepenuhnya.
Setelah beberapa tahun berlalu, pasti sudah banyak
teknologi baru yang ditemukan.
Alkimia juga merupakan salah satu cabang sihir. Jika para
Alkemis dari berbagai negara berkumpul, aku pasti bisa melihat pengetahuan atau
teknik yang belum kuketahui.
Siapa tahu aku bisa mengadaptasi semua itu untuk diriku
sendiri. Memikirkannya saja sudah membuatku bersemangat.
Festival Alkimia Agung, ya. Kedengarannya seru juga.
◇
Beberapa hari kemudian, aku akhirnya tiba di negara
tetangga, Bertram.
Karena Festival Alkimia Agung sudah dekat, kota terasa
sangat ramai. Jalanan dipenuhi oleh lautan manusia.
"Waaaa! Hebat, hebat! Rasanya seperti pesta
rakyat!"
"Jangan kegirangan sampai lari-larian begitu, Ren.
Itu tidak sopan."
"Iyaaa—"
"On!"
Tentu saja aku tidak pergi sendirian.
Sylpha, Ren, dan seekor anjing putih raksasa…… Shiro, yang dulunya monster tapi sekarang menjadi familiar-ku, ikut
menemani.
Belakangan ini, sepertinya Sylpha sudah mengakui Ren,
dan Ren pun mulai terbiasa dengan Sylpha.
Ren itu anak yang serius, dan Sylpha sangat pintar
mengasuh orang. Melihat mereka seperti ini, mereka tampak seperti kakak beradik
yang akrab.
"Umuuu, percakapan santai yang memancarkan
kepercayaan ini…… sungguh
pemandangan yang suci……! Benar-benar indah!"
"Cih, dasar malaikat mesum seleranya buruk. Kalau
laki-laki, ya harem itu baru kasta tertinggi!"
"Iblis rendahan sepertimu tidak punya hak
mengomentari seleraku. Aku tidak akan membiarkan laki-laki mencemari taman
bunga gadis suci yang indah ini, tahu!"
"Sudah, sudah, jangan bertengkar."
Dan dua makhluk ini, dari dulu sampai sekarang tetap
saja tidak akur.
Sementara
itu, Zerof sudah lebih dulu tiba di lokasi bersama Di-Guardia.
Katanya
pengangkutan Golem memakan waktu lama, jadi dia berangkat duluan untuk
melakukan penyesuaian.
"Hei,
hei, Lloyd! Ada banyak benda menarik, lho!"
Ren
menarik tanganku menuju deretan kedai.
Di sana
berjajar minuman yang bisa berubah warna dan makanan yang belum pernah kulihat
sebelumnya.
Ada juga balon sabun raksasa yang melayang di sana-sini,
mengejutkan para pengunjung.
"Hoo, sama sekali tidak terasa ada mana……
benar-benar misterius, ya."
"Tuan Lloyd, kami sebenarnya kurang paham tentang
alkimia ini. Sebenarnya alkimia itu ilmu seperti apa?"
"Begini. Karena ini kesempatan bagus, aku akan
menjelaskannya.
Sihir pada dasarnya adalah pengembangan dari mana yang
ada di dunia ini agar lebih mudah digunakan manusia.
Sementara itu, alkimia adalah teknologi yang lebih
condong ke arah orang awam yang tidak memiliki mana.
Alkimia banyak memanfaatkan fenomena khusus yang terjadi
saat zat-zat dicampurkan.
Misalnya, minuman yang berubah warna itu menggunakan
reaksi dari kandungan dalam buah-buahan.
Lalu balon sabun raksasa itu dibuat dari campuran sabun
dan gula agar tidak mudah pecah."
Prinsip kerja Golem pun pada dasarnya sama dengan
boneka otomatis yang menggunakan roda gigi.
Hanya saja, untuk mesin sekompleks itu, jika tidak
menggunakan aplikasi sistem sihir, maka tidak akan bisa digerakkan dengan
mudah.
Pengetahuan manusia, teknik, dan sihir yang digabungkan
menjadi satu, itulah yang disebut sebagai alkimia.
Di dalamnya banyak hal yang tidak menggunakan mana.
Bagi Grim sang iblis atau Jiriel sang malaikat,
mungkin semua ini terlihat seperti fenomena aneh yang terjadi tanpa bantuan
kekuatan gaib.
"Oalah, jadi manusia yang mana-nya sedikit itu
menutupi kekurangannya dengan cara begitu, ya."
"Yah,
meskipun ada pengecualian…… tapi sekarang aku paham kenapa Tuan Lloyd sempat
merasa bosan."
Alkimia
memang cukup menarik, tapi bagiku sihir tetap jauh lebih seru. Mau bagaimana
lagi.
Meski
begitu, pengetahuan dan pengalaman yang kudapat dari sana tetap menjadi asupan
bagi sihirku.
Sudah beberapa tahun berlalu, dan perkembangan alkimia
itu sangat cepat. Sepertinya akan ada hal-hal yang belum pernah kulihat
sebelumnya.
"Hei Sylpha, bolehkah kita mampir sebentar?"
"Tentu saja tidak masalah. Ren juga pasti baru
pertama kali melihat hal seperti ini, kan? Silakan nikmati sepuasnya."
"Horeee, asyik!"
Begitulah, kami memutuskan untuk menikmati Festival
Alkimia Agung sepanjang perjalanan.
"Pertama-tama, mari kita lepaskan dahaga. Bagaimana
kalau masuk ke sana?"
Tempat pertama yang kami masuki adalah kafe sederhana
yang hanya menggunakan payung besar.
Papan
namanya bertuliskan "Chemical Cafe". Di sana,
kami memesan beberapa minuman.
"Mohon menunggu sebentar. Ini dia: Alchemic Drink Ω (Omega), Γ (Gamma),
dan Θ
(Theta), masing-masing satu gelas."
"Terima kasih banyak."
Sylpha berterima kasih kepada pelayan, lalu segera
menjajajarkan minuman itu di depan kami.
Minuman alkimia itu memiliki warna-warna cerah seperti
biru, hitam, dan hijau.
"Jika Anda memasukkan tablet ini, rasa dan warnanya
akan berubah. Silakan dicoba."
Bersama minuman itu, pelayan letekkan tablet seukuran
ujung kelingking.
Ren mengambilnya, lalu mulai berkonsentrasi.
"……Sepertinya ini bubuk dari buah yang
dikeringkan? Menurutku ini tidak berbahaya untuk dimakan."
Ren menggunakan kemampuannya untuk menganalisis apa pun
yang akan masuk ke mulutku.
Bisa dibilang dia adalah "pencicip racun"
pribadiku.
Di luar rumah, dia selalu mengecek makanan sebelum aku
menyantapnya.
Yah, padahal sebenarnya racun tidak akan mempan padaku,
sih.
"Kalau begitu, mari kita coba."
Aku mengambil satu butir dan memasukkannya ke dalam
minuman.
Seketika terdengar suara mendesis syuwaaa, dan
warna minuman berubah dari biru menjadi kuning.
"Warnanya luar biasa sekali. Antara norak atau
terlihat beracun."
"Glek, glek…… Ah, ini rasa pisang."
Rasa manis yang pekat langsung memenuhi mulutku.
"Yang ini terasa seperti kiwi, ya."
"Ini
rasa anggur. Padahal cuma
memasukkan satu butir tablet, tapi ajaib sekali, ya."
Melihat kami yang keheranan, pelayan kafe itu tersenyum
senang.
"Fufu, menarik, kan? Masih banyak toko seperti ini
di tempat lain, jadi pastikan kalian mampir, ya."
"Baik! Aku sangat menantikannya!"
Saat Ren membungkuk sopan, pelayan itu membalas dengan
senyuman hangat.
"Aduh,
gadis kecil yang manis. Kalau mau, bawalah brosur ini. Aku sudah memberi tanda
pada toko-toko rekomendasiku."
"Terima kasih banyak atas bantuannya."
"Alkimia sering dianggap sebagai ilmu yang sulit,
tapi Festival Alkimia Agung ini diadakan agar alkimia bisa lebih diterima oleh
orang awam.
Aku senang sekali jika anak semanis dirimu tertarik
mempelajarinya."
Ren menerima brosur dari pelayan tersebut.
Begitu ya. Dengan mengadakan festival seperti ini dan
menarik minat banyak orang, pasti akan muncul orang-orang yang bercita-cita
menjadi Alkemis.
Jika dasarnya meluas, maka jumlah orang yang mengincar
puncak pun akan bertambah, dan bidang ini akan semakin maju.
Bertram adalah negara dengan tingkat teknologi tinggi
dalam hal penempaan dan alkimia.
Sepertinya mereka membangun kejayaan ini dengan cara
membangkitkan minat masyarakat umum melalui festival seperti ini.
"Mampir, mampir! Ini dia hidangan ajaib yang
bisa dimasak hanya dengan menyiram air panas!"
Setelah keluar dari kafe dan berjalan lagi, kali ini
ada seorang pria berkepala botak yang sedang berteriak mencari pelanggan.
"Oho, Tuan Muda yang cerdas di sana, apa kamu lapar?
Nona cantik juga, bagaimana?"
"Kalau dipikir-pikir, perutku memang mulai
lapar."
Sejak masuk kota, kami memang terus berjalan tanpa henti.
Ren juga terlihat lelah, jadi tidak ada salahnya mengisi
perut sekarang.
"Kalau begitu, sudah diputuskan! Silakan duduk dan
tunggu di sana!"
"……Orang yang agak memaksa, ya," gumam Ren
dengan wajah heran.
Yah, karena memang lapar dan aku penasaran dengan
hidangan yang "hanya disiram air panas" itu, kami pun duduk sesuai
arahannya.
Pria itu membawakan mangkuk berisi balok kotak yang
kering.
"Ini dia, pesanan datang! Ini namanya Instant
Noodle.
Mi ini dikeringkan dengan metode khusus. Tuangkan air
panas, tunggu tiga menit, dan langsung jadi. Lihat saja sendiri, ya?"
Begitu pria itu menuangkan air panas, aroma yang
lezat mulai tercium.
Balok di dalamnya mulai terurai dan kembali ke bentuk
mi.
"Waaaa, hebat Lloyd! Menarik sekali!"
"Iya, tapi bagaimana rasanya, ya?"
Aku
segera menyeruputnya…… tapi, rasanya tidak enak.
Sylpha
dan Ren pun mengernyitkan dahi.
"……Rasanya
tidak terlalu enak, ya."
"Bukannya
tidak bisa dimakan, tapi……"
Rasanya
hambar dan porsinya cuma bikin kenyang saja.
Dalam tiga hari pasti sudah bosan makan ini.
"Aku tidak bisa membiarkan Tuan Lloyd memakan
makanan seperti ini. Mohon tunggu sebentar. Shiro."
"On!"
Sylpha merogoh bulu Shiro dan menarik keluar sebuah kotak
besar.
Dari dalam kotak itu, dia mengeluarkan alat masak, bahan
makanan yang tahan lama, serta berbagai bumbu.
"Hiyat!"
Begitu memegang alat masak, Sylpha mengembuskan napas
pendek dan mulai mengayunkan pisau dengan kecepatan yang luar biasa.
Dia memasukkan daging kering dan sayuran ke dalam wajan,
lalu menumisnya.
Begitu tumisan itu diletakkan di atas mi tadi, aroma yang
sangat lezat langsung menyeruak ke sekeliling.
"Waaaa! Kelihatannya enak sekali! Hebat,
Sylpha-san!"
"Silakan dinikmati, Tuan Lloyd. Ren juga."
"Wah, ini enak."
Berbeda dengan yang hambar tadi, rasa gurih yang
pekat sekarang merangsang lidah.
Memang Sylpha luar biasa. Hanya dengan satu suapan,
dia langsung tahu apa yang kurang dan bisa melengkapinya.
"Memang kalau cuma mi saja rasanya kurang mantap.
Tumisan daging dan sayuran sangat cocok dengan
karbohidrat. Jika ini dimasukkan juga, nilai gizinya akan jauh lebih
baik."
"Oooooh, teknik yang luar biasa! ……Dan benar
juga, kalau daging dan sayurannya dikeringkan juga, kualitasnya pasti naik
drastis.
Apalagi kalau ada banyak variasi rasa…… Umu umu, ini
pasti bakal makin laku! Terima kasih ya, Mbak! Sebagai tanda terima kasih,
harganya gratis saja!"
Pria itu bergumam sendiri sejenak, lalu berkata begitu
dengan wajah ceria.
"Katanya gratis, lho. Rasanya kita jadi
untung."
"Berani-beraninya dia menarik bayaran untuk masakan
tingkat itu. Sepertinya dia salah mengira pelanggan sebagai kelinci
percobaan."
"Festival Alkimia Agung adalah hari untuk
menciptakan sesuatu yang 'baru', mohon maklumi jika ada sedikit
kegagalan."
Di brosur tertulis begitu.
Kalau diperhatikan, memang sesekali terdengar suara
ledakan atau teriakan pelanggan di sana-sini.
"Mungkin ini juga kehendak dari Yang Mulia Ratu yang
memerintah Bertram.
Di Festival Alkimia Agung, para prajurit menyamar dan
berkeliling kedai. Jika sebuah penemuan menarik perhatian mereka, kabarnya
si Alkemis akan mendapatkan dana penelitian yang sangat besar."
"Ah, paman yang tadi juga buru-buru menutup
kedainya."
Pasti dia pulang untuk melakukan eksperimen.
Begitulah cara inovasi teknologi terjadi di sini. Negara
yang hebat.
Sambil merasa kagum, kami meninggalkan kedai tersebut.
"Tapi tetap saja, tablet perubah rasa dan Instant
Noodle ya.
Ringan, tidak makan tempat, dan tahan lama. Jika digunakan dengan benar, ini bisa memicu revolusi dalam sistem
logistik militer (Logistics)."
"Ah, benar juga! Kalau ada itu, sepertinya tidak
perlu khawatir soal stok makanan lagi. Apalagi rasanya bisa diganti-ganti, jadi
tidak cepat bosan."
"Selain itu, sepertinya berguna juga kalau
sedang mengurung diri untuk meneliti."
Saat sedang asyik meneliti, biasanya tidak ada waktu
untuk masak lama-lama.
Bisa membuat makanan yang mengenyangkan dengan cepat
itu sangat membantu.
"Aku rasa aku tahu apa yang sedang Lloyd
pikirkan……"
"Tuan Lloyd, makanan seperti itu hanyalah untuk
keadaan darurat.
Menurutku gizinya tidak terlalu seimbang. Jika dikonsumsi
terus-menerus, itu bisa menjadi racun bagi tubuh."
"I-iya, aku tahu, kok."
Kenapa pemikiranku bisa ketahuan? Menakutkan sekali.
Bagaimanapun, ada banyak hal yang bisa digunakan untuk
berbagai keperluan, jadi aku tidak bosan melihat-lihat.
Nah,
selanjutnya adalah…… eh?
"Mampir!
Mampir! Obat mujarab yang manjur untuk segala penyakit, luka, dan badan
pegal-pegal! Ayo mampir di mari!"
Mendengar
suara yang rasanya pernah kukenal, aku menoleh. Ternyata di
sana ada Tao.
Dia adalah seorang ahli bela diri dari negeri asing dan
petualang yang pernah beberapa kali bertarung bersamaku…… tapi, kenapa dia ada
di sini?
Mungkin menyadari tatapanku, Tao menolehkan matanya yang
bulat.
"Eh, Lloyd. Kebetulan sekali ya."
"Halo. Kamu juga sedang apa di sini?"
Aku membalas sapaannya sambil berjalan mendekati Tao.
"Ngomong-ngomong, kenapa kamu ada di sini? Sekarang kan Festival Alkimia, rasanya tidak ada hubungannya
denganmu."
"Di negaraku juga ada hal-hal semacam alkimia, tahu.
Namanya Alkimia Internal (Dan-alchemy), teknik
untuk membuat obat mujarab yang memperkuat fungsi tubuh.
Jadi, aku datang untuk menjual obat mujarab buatan
kakekku. Oh, kakek kecil ini kakekku."
Tao menepuk-nepuk bagian belakang kepala seorang kakek
bertubuh mungil.
Sama seperti Tao, kakek itu mengenakan pakaian asing.
Karena sudah sangat berumur, kepalanya gundul licin dan
wajahnya penuh kerutan.
"Fuga
fuga…… Nenek, apakah sudah waktunya makan siang—?"
"Duh, Kakek Chen. Baru saja kita makan. Lagipula aku
bukan nenek-nenek, tahu!"
"Oh, begitu ya—"
Kakek yang dipanggil Chen itu menggumam santai dengan
mulut komat-kamit.
……Apakah dia tidak apa-apa? Jalannya sempoyongan, aku
jadi agak khawatir.
"Ahahaha, dia memang agak pikun, tapi obat
mujarabnya manjur banget, lho. Ini
beneran."
"Hmm……
bolehkah aku melihatnya sebentar?"
"Tentu
saja boleh. Ngomong-ngomong, apakah gadis kecil ini cucuku—?"
"Cucunya
di sini, tahu!"
Sambil
tersenyum kecut melihat interaksi Tao dan Chen, Ren mengambil satu butir obat
mujarab.
Setelah menatapnya lekat-lekat sejenak, Ren
tersentak.
"……Obat ini hebat, Lloyd. Dibuat dengan racikan
yang belum pernah kulihat!"
"Fufun, matamu jeli juga ya.
Obat mujarab ini adalah obat yang meniru fungsi Qi.
Sangat manjur jika bekerja dari dalam tubuh, lho."
Tao membusungkan dadanya dengan bangga.
Hoo, sepertinya khasiatnya bermacam-macam, ya. Mungkin ini bisa berguna untuk bahan belajar Ren.
"Kalau begitu, bolehkah aku beli masing-masing
lima puluh butir?"
Mendengar perkataanku, mata Tao membelalak.
"Kamu mau beli sebanyak itu?"
"Jika tidak merepotkan."
Sebenarnya aku ingin memborong semuanya, tapi kalau beli terlalu banyak nanti malah merepotkan mereka.
"Boleh,
boleh! Lagipula ramuan asing yang mencurigakan begini mana ada yang mau beli. Ayo
Kek, bilang terima kasih!"
"Oh,
oh…… Terima kasih ya sudah melepaskan gigi palsuku……"
Bukan,
ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan gigi palsu.
Chen
menggenggam tanganku sambil gemetaran.
Namun
pada saat itu, mata Chen yang tadinya terpejam sipit tiba-tiba terbuka lebar.
Ia
berdiri dengan kegesitan yang seolah menghapus sosok ringkihnya tadi.
"Kakek!? Kenapa tiba-tiba begini!?"
Tanpa memedulikan Tao yang kebingungan, Chen mencengkeram
tanganku dengan kuat.
"Nuooooh!? Aliran Qi macam apa ini…… Deru Qi
yang mengalir di dalam tubuhmu benar-benar mengingatkanku pada sungai besar
yang meluap! Aku belum pernah bertemu pemilik bakat sebesar ini seumur hidupku!
Luar biasa! Kamu benar-benar gumpalan bakat murni!"
"E-eh, eeto……?"
Ada apa dengannya tiba-tiba?
Dia benar-benar menjadi orang yang berbeda dari sedetik
lalu.
Jangan-jangan dia salah mengira aku sebagai orang lain.
"T-tak dipercaya. Kakek yang sudah pikun sejak
setengah tahun lalu tiba-tiba jadi segar bugar begini…… Apa dia terpengaruh
oleh aura Qi milik Lloyd? Aku tahu dia anak yang hebat, tapi
jangan-jangan dia jauh melampaui dugaanku?"
Tao pun ikut bergumam tidak jelas sambil menyentuh
tanganku, seolah ingin memastikan sesuatu.
Tiba-tiba, Sylpha menepis tangan Tao dengan tegas.
"Sampai kapan kamu mau terus menyentuhnya, dasar
kucing betina."
"Sakiitt—!? Apa yang kamu lakukan, Pelayan
Bodoh!"
Sambil mengabaikan suara protes Tao, Sylpha mengalihkan
pandangannya ke arah Chen.
"Fumu…… Hanya dengan menyentuh potensi
terpendam Tuan Lloyd yang tak berdasar saja dia langsung sadar. Sepertinya
orang tua ini petarung yang cukup tangguh."
"Ho-ho, Nona juga punya sesuatu yang hebat di
dalam sana……"
Sari, Chen mencoba mengelus bokong
Sylpha.
Namun Sylpha juga bukan orang sembarangan, ia segera
menangkisnya menggunakan gagang pedang.
Gerakan mereka berdua terlalu cepat sampai tidak
terlihat. Inilah yang disebut para ahli, ya?
"Bercanda, bercanda. Kamu boleh juga,
Nona."
"Begitu juga dengan Anda, Kek. Gerakan tajam
yang tidak mencerminkan usia itu benar-benar mengagumkan."
Sylpha dan Chen tersenyum ramah, namun atmosfer di
sekitar mereka tetap terasa dingin mencekam.
Setelah terdiam sejenak, Chen mengangguk kecil lalu
menatapku.
"……Ngomong-ngomong Anak Muda, maukah kamu menjadi
penerus jurus Hyakkaken milikku? Kalau mau, aku rela menjadikan Tao sebagai
istrimu."
"Dasar Tua Bangkaaa!"
Spaaan! Tamparan telapak tangan Tao mendarat
telak di belakang kepala Chen.
Wajah Tao memerah padam.
"Apa yang kamu bicarakan, hah!? Dasar Kakek
Pikun!"
"Apa katamu!? Aku tidak pikun! Tadi itu aku cuma
sedang tidur!"
"Kalau begitu tidur saja selamanya!"
Sambil berteriak murka, Tao meluncurkan tinjunya yang
kemudian dihindari oleh Chen untuk melancarkan serangan balik.
Kali ini Tao melompat ringan menghindari tendangan
memutar Chen, lalu membalas dengan tendangan terbang.
Kami hanya bisa menonton pertarungan antara dua ahli itu
dengan perasaan takjub bercampur bingung.
"Lagipula, mana ada orang yang mau meminang gadis
tomboi sepertimu! Apa salahnya aku mencarikan calon dari sekarang!"
"Jangan ikut campur! Aku bisa mencari pasangan
hidupku sendiri!"
Meski saling melontarkan makian, entah kenapa mereka
berdua terlihat sangat menikmatinya.
Interaksi mereka menjadi semakin sengit, dan penonton pun
mulai berkumpul.
Padahal tadi di sini sepi sekali.
Mungkin besok-besok kalau mau jualan obat, mereka harus
melakukan duel dulu sebagai penarik perhatian pelanggan.
◇



Post a Comment