NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tensei Shitara dai Nana Ouji dattanode Volume 4 Part 2


Singkat cerita, pelanggan pun semakin ramai dan obat-obat itu laku keras.

Karena Sylpha dan Ren ikut membantu, jumlah pelanggan bukannya berkurang malah terus bertambah, hingga dalam sekejap semua barang dagangan habis terjual.

Chen pergi membeli minuman keras menggunakan uang hasil keuntungan tadi, sehingga Tao yang sedang senggang akhirnya ikut pergi bersama kami.

"Sebenarnya tidak ada perlunya kamu ikut."

Sylpha berkata dengan wajah cemberut.

"Fufun, asal kamu tahu ya, aku sudah berkali-kali ke sini jadi aku percaya diri soal penunjuk jalan. Aku pasti lebih berguna daripada pelayan itu."

Tao membalas dengan kedipan mata.

Meskipun ia dan Sylpha terus memancarkan percikan permusuhan, aku tidak punya alasan untuk menolak jika dia mau menjadi penunjuk jalan.

"Tao-san, kata brosur ini toko yang ini direkomendasikan."

"Hou hou, pilihan yang bagus. Kalau begitu, lewat rute ini saja agar kita bisa mengikuti arus orang dan pergerakannya lebih mudah. Ayo, kita putari dari ujung. Jam segini di sini lebih sepi. Ayo, cepat!"

Sambil mengikuti Tao yang menawarkan diri jadi pemandu, kami bergerak menembus kerumunan.

Sesuai ucapannya, panduan Tao sangat efisien sehingga kami bisa berkeliling dengan lancar.

Selain tempat makan dan minum, ada juga barang-barang mencurigakan seperti batu yang katanya bisa mengeluarkan air tanpa henti, atau jimat yang diklaim bisa meningkatkan keberuntungan hanya dengan menyentuhnya.

"Gimana ya, banyak banget barang tipu-tipu di sini. Rasanya berisik banget, kayak sesuatu yang masih dalam tahap pengembangan."

"Yah, aku tidak membenci hal seperti itu, sih."

Trial and error adalah jalan menuju evolusi.

Banyak eksperimen aneh yang tidak mungkin masuk ke dalam buku panduan akademis, namun dari sana aku bisa melihat proses jatuh bangunnya sebuah penemuan.

Ini adalah sisi lain yang menarik. Tujuan festival ini memang untuk mencoba berbagai hal tanpa takut gagal, sepertinya Ratu di sini cukup paham akan hal itu.

"Hanya mencari hasil yang sudah jadi akan mempersempit pandangan dan membuat kita kehilangan esensi utama…… Seperti yang diharapkan dari Tuan Lloyd, pemikiran yang luar biasa."

"Cih, dasar penjilat. ……Oh, Tuan Lloyd, coba lihat ke atas. Ada sesuatu yang terbang."

Mendengar ucapan Grim, aku menengadah dan melihat objek terbang berukuran kecil.

"Mumu, burung yang aneh ya."

"Itu bukan burung. Itu Golem."

Golem itu terbang dalam formasi sambil memutar baling-baling dengan kecepatan tinggi untuk mendapatkan gaya angkat.

Saat aku sedang berpikir itu apa, bagian perut Golem terbuka dan menjatuhkan sesuatu.

"Ada sesuatu yang jatuh."

"Apakah itu…… biji-bijian?"

"Semuanya, perhatikan baik-baik."

Bersamaan dengan suara Tao, tunas mulai tumbuh dari biji-bijian yang tersebar di udara.

Dalam sekejap tunas itu menjadi kuncup, lalu mekar menjadi bunga besar yang jatuh perlahan seolah menutupi langit.

"Waaa! Cantik sekali!"

"Bagaimana bisa…… Biji yang disebar langsung mekar dalam sekejap…… Benar-benar hal yang menarik."

"Itu namanya Hanafubuki (Hujan Bunga). Salah satu atraksi utama Festival Alkimia Agung. Hmm, benar-benar indah."

Ren dan yang lain tampak terpana melihat bunga-bunga yang menari di angkasa.

Kemungkinan besar, biji-bijian itu sudah diberi pupuk yang cukup lalu disuntikkan ramuan penumbuh, kemudian disebar tepat sesaat sebelum mekar.

Ada beberapa yang gagal mengatur waktu sehingga jatuh ke tanah masih dalam bentuk biji baru kemudian mekar.

Meski begitu, sebagian besar mekar sempurna di udara. Pasti butuh pengalaman tinggi untuk memperhitungkan waktu yang tepat itu.

"Luar biasa, benar-benar keahlian pengrajin…… Hmm."

Saat sedang merasa kagum, tiba-tiba aku merasakan tatapan dari balik bayangan.

Di tengah kerumunan ini, tatapan itu jelas-jelas hanya ditujukan kepadaku.

Saat aku menoleh, di sana ada sebuah bayangan kecil.

──Seorang anak. Tingginya hampir sama denganku.

Di balik jubah putih bersih bertudung itu, ia mengenakan topeng hitam dengan senyum tipis tersungging di bibirnya.

"Apa……?"

Tepat saat aku menatap bocah itu.

Gelombang mana menyelimuti sekitar, dan pandanganku pun menjadi serba putih.

Ini adalah sihir ruang-waktu, Kyotengai (Kubah Langit Hampa). Sihir untuk mengurung target ke dalam dimensi yang berbeda dari biasanya.

Ini adalah jenis penghalang yang unik; tidak bisa hancur oleh dampak fisik, dan karena berada di dimensi yang berbeda, membatalkannya dengan sihir pun tidaklah mudah.

"Sialan! Kita terjebak!"

"Penghalang ini, keras sekali…… Aku tidak bisa bergerak……!"

Keduanya mencoba membatalkan sihir tersebut, namun penghalang itu tidak bergeming sedikit pun.

Mengaktifkan sihir ruang-waktu tingkat tinggi dengan kekuatan sebesar ini…… bocah ini adalah pengguna sihir yang sangat hebat.

Saat aku sedang merasa kagum, bocah itu berjalan mendekat perlahan.

"──Sudah lama ya, Lloyd."

Dia tahu namaku?

Sampai baru-baru ini aku selalu berada di dalam istana, jadi aku tidak punya banyak kenalan di luar.

Terlebih lagi, ini bukan di negaraku sendiri, Saloum. Jika aku pernah bertemu dengannya, tidak mungkin aku melupakan penyihir sehebat ini.

Meskipun begitu, aku sama sekali tidak punya ingatan tentangnya…… Sebenarnya siapa dia?

"Siapa kamu?"

"……Haah, aku sudah menduganya sih, tapi ternyata kamu benar-benar tidak ingat ya."

Mendengar pertanyaanku, bocah itu mengembuskan napas kecewa.

Dari cara bicaranya, sepertinya dia adalah orang yang pernah kutemui dulu, tapi aku benar-benar tidak ingat.

"Yah, Lloyd kan memang tipe orang yang langsung melupakan hal yang tidak dia minati. Aku sudah mengira kalau kamu mungkin tidak ingat."

Mendengar bocah itu terkekeh, aku pun mengangguk setuju.

"Anak ini, dia tahu banyak soal Tuan Lloyd ya."

"Umu, bukankah ini yang disebut sebagai balas dendam? Mungkin dia penyihir yang tidak sengaja Tuan Lloyd kalahkan saat masih kecil?"

Balas dendam, ya? Tapi aku tidak ingat pernah melakukan hal semacam itu.

Waktu kecil aku hampir tidak pernah keluar karena terus meneliti sihir, dan rasanya aku hampir tidak pernah menggunakan sihir kepada orang lain.

Melihatku yang memiringkan kepala, bocah itu hanya tersenyum.

"Ya sudahlah tidak apa-apa. Kamu akan mengingatnya suatu saat nanti. Untuk hari ini, aku hanya datang untuk menyapa saja."

"Hei hei, apa kamu pikir bisa lolos begitu saja setelah mengurung orang di tempat seperti ini!? Ini tidak bisa dimaafkan, ya kan!? Anda setuju kan Tuan Lloyd!?"

Tiba-tiba, Grim keluar dari tanganku dan berubah ke wujud aslinya sebagai domba hitam, lalu mulai mengonfrontasi bocah itu.

"Karena kamu sudah mencari gara-gara, aku harus memberimu sedikit pelajaran. Kalau Tuan Lloyd mengizinkan, biarkan aku membuat bocah ini merasakan sedikit rasa sakit, ya? Hehehe."

Aku pikir kenapa dia jadi bersemangat begitu, ternyata Grim ingin bertarung dengan bocah ini.

Fumu, aku juga penasaran dengan kekuatan bocah ini, sih.

Lagi pula dia yang memulai duluan. Jika Grim menginginkannya, mungkin tidak ada salahnya membiarkan mereka bertarung.

"Lakukan sesukamu."

"Baik! Terima kasih banyak! ……Kekeke, sudah siap belum? Dasar bocah ingusan, aku sendiri yang akan menghajarmu sampai babak belur!"

Grim membunyikan buku-buku jarinya sambil menatap rendah ke arah bocah itu.

"Akhir-akhir ini aku tidak bisa bertarung dengan benar, jadi rasanya semua orang menganggapku remeh. Sekaranglah saatnya aku menunjukkan kekuatanku yang sebenarnya!"

Namun bocah itu tidak tampak takut, ia hanya mengembuskan napas seolah merasa bosan.

"……Ini mengejutkan. Ternyata kamu menyimpan iblis di dalam tubuhmu. Padahal kita tidak tahu apa yang bisa dia lakukan…… Benar-benar ya, kamu ini bahkan tidak peduli dengan tubuhmu sendiri."

"Berisik banget sih kamu! Lihat ke sini! Kamu bakal aku hajar sekarang juga!"

Grim menyilangkan kedua tangannya, mengumpulkan mana yang hitam pekat.

Mana dalam jumlah besar itu dikompresi hingga hampir meledak, lalu dilepaskan ke arah si bocah.

"Rasakan ini! Rasen Kokusenhou (Meriam Kilat Hitam Spiral)!"

Kilatan mana hitam itu meluncur spiral dan menghantam bocah itu telak.

Doooooooooooon!

Suara ledakan menggema dan gelombang kejutnya sampai terasa ke sini.

"Hahaha! Bagaimana, Bocah!? Rasakan itu! Cepat lepaskan penghalang ini sekarang juga!"

Grim bersorak penuh kemenangan, namun penghalang itu sedikit pun tidak goyah.

Saat asap hitam yang mengepul mulai menghilang, bocah itu muncul tanpa luka sedikit pun.

"Fuu, mengejutkan saja. Tiba-tiba menyerang begitu."

Melihat bocah yang tidak berubah ekspresinya itu, wajah Grim menjadi masygul.

"T-tidak mungkin…… Dia tidak terluka setelah terkena Rasen Kokusenhou milikku……? Sial, apa aku menahan diri tanpa sadar!? Kalau begitu, kali ini aku akan pakai kekuatan penuh……!"

Sekali lagi, Grim melepaskan gelombang mana, namun serangan itu meledak jauh di depan si bocah.

"Penghalang Mana (Mana Barrier)……! Dan ini sangat tebal! Cih! Hei Malaikat Sialan, bantu aku!"

"Fumu, apa boleh buat. Meskipun aku sama sekali tidak peduli dengan iblis bodoh ini, aku tidak bisa membiarkan orang yang memusuhi Tuan Lloyd berkeliaran."

Setelah berkata begitu, kali ini Jiriel keluar dari tanganku dan mengepakkan sayapnya.

"Jangan banyak bicara, kita serang bersamaan! Ikuti gerakanku, Malaikat Sialan!"

"Jangan berani-berani memerintahku. Kalau mau kompak, kamu yang harus mengikuti gerakanku, Iblis Bodoh!"

"Ya sudah terserah kamu!"

"Akan kulakukan!"

Sambil beradu mulut, Grim dan Jiriel melepaskan gelombang mana secara bersamaan.

Gelombang mana dua warna, hitam dan putih, membentuk spiral menuju ke arah si bocah.

Meski mereka terus bertengkar, serangan ini benar-benar kompak.

Namun bocah itu tidak menggerakkan alisnya sedikit pun, ia menangkisnya dengan mudah menggunakan penghalang mana miliknya.

"T-tidak mungkin…… Barusan itu jelas-jelas kekuatan penuhku!?"

"Serangan yang membawa seluruh mana milikku pun tidak berarti apa-apa…… ini mustahil!"

Grim dan Jiriel menunjukkan wajah syok, namun bocah itu tampak kebingungan.

"……Repot juga ya. Padahal aku tidak datang untuk bertarung……"

"Jangan bohong! Terus buat apa kamu datang ke sini!?"

Menanggapi pertanyaan Grim, bocah itu memberikan senyum tipis.

"Kan dari tadi aku sudah bilang. Lloyd, aku hanya datang untuk menyapamu."

Tatapan di balik topeng itu tertuju lurus ke arahku.

Itu tatapan yang serius. Apakah dia benar-benar kenalanku? Tapi aku benar-benar tidak ingat.

"Datang untuk menemuiku, ya. Kalau begitu bukankah sebaiknya kamu menyapa langsung dari depan? Tiba-tiba mengurungku dalam penghalang begini rasanya sangat tidak sopan."

"Habisnya aku tidak mau diganggu oleh pengikutmu. Lagipula kalau tiba-tiba diserang seperti tadi dan membuat kekacauan di kota, itu akan merepotkan. Lagi pula kalau kamu memang berniat, penghalang seperti ini bisa kamu hancurkan kapan saja, kan?"

Yah, memang benar sih.

Hanya saja aku juga tertarik dengan bocah ini, makanya aku meladeninya bicara.

……Jangan-jangan tujuannya hanya untuk membuatku menyadari keberadaannya? Menunjukkan wajahnya dulu, lalu pertemuan berikutnya baru menjadi acara utamanya.

Seolah membenarkan pemikiranku, bocah itu meletakkan jari di bibirnya dan terkekeh pelan.

"Sepertinya tujuanku sudah tercapai. Kalau begitu, aku pamit dulu ya."

"Tunggu, aku belum tahu namamu."

Bocah itu menghentikan langkahnya dan berbalik menoleh.

"──Id, untuk sekarang panggil saja aku begitu. Tanpa perlu diselidiki pun kita akan segera bertemu lagi. Sampai jumpa."

Bocah yang mengaku bernama Id itu mengayunkan lengannya, dan dunia putih di sekitar kami pun mulai runtuh.

Tahu-tahu, aku sudah kembali berdiri di tengah kerumunan di samping Sylpha dan yang lainnya.

"Tuan Lloyd!? Tadi Anda ke mana saja!?"

"Aku khawatir, tahu!"

"Ah, maaf, maaf."

Sambil menjawab dengan linglung, aku mencoba melacak keberadaan Id, namun ia sudah tidak ada di sekitar sini.

Dia menghilang dalam sekejap.

Bahkan tanpa meninggalkan satu pun jejak mana.

Ditambah lagi, dia bisa menahan serangan Grim dan Jiriel tanpa kesulitan.

Sepertinya dia petarung yang lebih hebat dari dugaanku.

……Entah kenapa, ini jadi semakin menarik saja.

Setelah itu, kami segera bubar. Sylpha bersikeras bahwa ia harus menyelidiki alasan kenapa aku sempat menghilang.

Bagiku pun ini waktu yang tepat karena aku sedang memikirkan soal Id.

"Sebenarnya apa yang terjadi? Bagaimana bisa seseorang tiba-tiba menghilang begitu saja…… Apakah Tuan Lloyd tidak ingat sesuatu?"

"I-iya ya, aku benar-benar tidak ingat…… Rasanya pas sadar aku sudah menghilang begitu saja, mungkin?"

Sambil pura-pura memegang kepala dan berpikir, aku memberikan jawaban untuk mengalihkan pembicaraan.

Rasanya berbahaya kalau menceritakan soal Id kepada Sylpha. Terutama bagi Id-nya sendiri.

"Ngomong-ngomong, aku dengar ada penyihir hebat di kota ini, apa Sylpha tahu? Katanya tinggi badannya hampir sama denganku dan namanya Id……"

"──Id, ya? Sayangnya saya tidak tahu……"

"Dia bilang dia mungkin kenalan lamaku. Rasanya aku pernah melihatnya di suatu tempat……"

Tentu saja itu bohong, tapi kalau dia memang kenalan lamaku, Sylpha pasti yang paling tahu. Karena dia hampir selalu ikut ke mana pun aku pergi.

Namun Sylpha menjawab sambil menggelengkan kepalanya.

"Mohon maaf, saya benar-benar tidak punya ingatan tentang itu. Sejak Tuan Lloyd masih kecil, jumlah orang yang pernah bercakap-cakap dengan Anda adalah 357 orang, 62 orang di antaranya adalah anak laki-laki sebaya, dan tidak ada nama Id di antara mereka."

……Sampai hal seperti itu pun dia ingat.

Sylpha benar-benar mengerikan. Ren pun sampai merasa ngeri.

Namun jika Sylpha sampai tidak ingat, berarti dia adalah orang yang kutemui saat aku sedang sendirian.

Kalau begitu, aku semakin tidak tahu siapa dia.

Saat aku sedang berpikir keras, Zerof meletakkan koran yang sedang dibacanya di depanku.

"Lloyd, apakah Id yang kamu maksud adalah bocah ini?"

Zerof menunjuk ke arah artikel di koran, dan di sana ada foto bocah bertopeng yang kulihat tadi, yaitu Id.

Di sana tertulis besar-besar bahwa ia akan berpartisipasi dalam turnamen ini sebagai pengendali Golem dari Bertram.

Apa ini…… Penyihir genius nomor satu di Bertram yang muncul bagaikan komet tiga tahun lalu, kali ini akan menjadi penguasa Golem Fight…… ya.

Hmm, tetap saja aku tidak ingat.

Kalau bicara soal tiga tahun lalu, kalau tidak salah itu adalah masa saat aku berhenti belajar alkimia dan mulai serius menekuni sihir.

Waktu itu aku benar-benar mengurung diri dan hampir tidak pernah keluar rumah, jadi rasanya sama sekali tidak ada titik temu.

"Meskipun masih anak-anak, begitu dia mulai terjun dalam pembuatan Golem, dia langsung menunjukkan bakatnya yang luar biasa. Dia adalah bocah ajaib yang disebut-sebut telah memajukan alkimia negara ini hingga beberapa abad. Banyak teknologi temuan bocah Id ini yang digunakan pada Di-Guardia milikku, dan dia juga memiliki kemampuan hebat sebagai pengendali Golem. Dia adalah pemenang turnamen sebelumnya, dan salah satu kandidat juara di turnamen kali ini. ……Lalu, ada apa dengan bocah ini?"

"Ah, tidak, aku cuma sedikit penasaran saja, tapi sepertinya cuma perasaanku saja. Ahaha……"

Mana mungkin aku bilang kalau aku mungkin pernah kenal dengan orang sehebat itu, jadi aku hanya tertawa untuk menutupinya.

Namun, kalau memang benar begitu, seharusnya aku tidak mungkin lupa. Benar-benar aneh.




"Fumu, Id dan Lloyd ternyata seumuran, ya. Apa mungkin semangat rivalitas mulai tumbuh di antara mereka? Kalau begitu, ini tren yang bagus."

"Bisa jadi ini motivasi bagi Lloyd untuk menekuni dunia alkimia. Masih ada waktu beberapa hari sebelum turnamen dimulai, mungkin aku bisa mengajarimu cara mengendalikan Golem."

Aku membiarkan Zerof bergumam sendiri dan melarikan pandanganku ke artikel surat kabar. Di sana terpampang bagan pertandingan Golem Fight yang menjadi acara utama festival.

Di bagian bawah bagan turnamen, tertulis nama negara pemilik dan pengendalinya. Di-Guardia yang dikendarai Zerof berada di ujung paling kiri, sementara Id berada di ujung paling kanan.

"Hou, ini baru menarik. Kalau semuanya lancar, kita akan melawan bocah itu di final."

"Jadi itu maksudnya 'sampai jumpa lagi', ya. Kalau bertarung secara normal, mana mungkin ada yang bisa menang melawan Tuan Lloyd, tapi kalau antar Golem…… hasilnya jadi sulit ditebak, ya."

Grim dan Jiriel tampak bersemangat melihat bagan turnamen itu.

Bukan aku yang akan mengendalikannya, sih…… tapi aku memang menantikannya.

"Fufufu, darahku mulai mendidih, Lloyd! Target kita adalah juara pertama. Kita akan menyambutnya dengan penyesuaian yang sempurna!"

"Baik, Kak Zerof!"

Tak sabar lagi, aku dan Zerof segera berlari menuju tempat Di-Guardia berada.

Masih ada waktu satu minggu sampai turnamen dimulai, ditambah tiga hari hingga babak final. Sampai saat itu, aku akan memastikan Di-Guardia berada dalam kondisi penyesuaian terbaiknya.

Don, pan, don!

Suara tembakan meriam kosong bergema di bawah langit biru yang cerah.

Lokasi Turnamen Bela Diri Golem adalah di sini, Lapangan Agung Pusat Bertram.

Lautan penonton tumpah ruah demi menyaksikan pertarungan para raksasa besi itu.

Setiap Golem telah ditempatkan di lapangan sebelumnya, disembunyikan di balik tirai hitam agar proses perawatannya tidak terlihat oleh siapa pun.

Dan hari ini, tirai itu akhirnya akan dibuka.

"Permisi—sudah waktunya tirai dibuka, apa boleh kami mulai sekarang—?"

Sebuah suara terdengar dari balik tirai hitam. Sepertinya waktu kami sudah habis.

"Aku tahu. Kami segera keluar."

Zerof menyahut sambil bangkit berdiri. Meski waktunya sangat mepet, entah bagaimana penyesuaian akhirnya selesai.

Aku mengikuti Zerof melangkah keluar. Ugh, cahaya matahari terasa menyilaukan setelah sekian lama.

Karena terus mengurung diri di balik tirai untuk merawat Di-Guardia, mataku terasa perih terkena cahaya. Zerof pun merasakan hal yang sama, ia tampak mengernyitkan dahi.

"Ah…… aku mengantuk, Lloyd."

"Iya, tapi berkat itu, hasilnya bisa dibilang sudah sangat sempurna."

"Umu. Mari kita tunjukkan Di-Guardia kita di bawah sinar matahari."

Begitu para petugas menarik tirai hitam tersebut, sosok gagah Di-Guardia yang berkilau meski terpapar cahaya latar pun terekspos.

Melihat itu, para penonton bersorak sorai dengan gemuruh.

Bukan hanya kami berdua, Albert dan yang lainnya juga ikut membantu melakukan penyesuaian berulang kali. Unit yang telah dipoles mengilap itu benar-benar terlihat sempurna.

Zerof mendongak menatap ciptaannya, lalu mengembuskan napas puas.

"Umu, berapa kali pun dilihat, dia memang luar biasa. Benar-benar membuat jatuh hati."

"Kak Zerof, tirai Golem lain juga mulai dibuka."

Di berbagai sudut lapangan, satu per satu tirai ditarik. Golem tim lawan mulai menampakkan diri berurutan melingkar dari sebelah kiri.

──Golem dengan dua tanduk seperti banteng tumbuh dari kepalanya, mengenakan jubah bulu yang tebal. Kapak raksasa dan perisainya mengingatkan pada sosok pejuang pemberani.

──Golem dengan rambut pirang panjang yang dikuncir dua dan mengenakan rok panjang…… perawakannya mengingatkan pada seorang gadis. Ia memegang sesuatu seperti tongkat sihir. Memberikan kesan unik yang tak biasa.

──Golem yang menyerupai ikan raksasa. Wajahnya berada di dalam mulut ikan, dan bagian bawah tubuhnya benar-benar ikan.

Ia menjaga keseimbangan dengan tombak trisula di kedua tangannya. Tapi kenapa harus ikan…… apa dia bisa bertarung di darat?

──Golem yang memiliki sayap raksasa, tubuhnya lebih ramping dan kecil dibanding yang lain. Memiliki wajah burung dengan kaki yang kuat dan cakar yang tajam. Apa dia bisa terbang? Aku sangat menantikannya.

──Golem raksasa yang tampak seperti kastel. Tumpukan batu raksasa yang disusun seperti dinding benteng itu mengingatkan pada citra Golem klasik. Lengannya yang sangat besar hingga menyentuh tanah terlihat sangat sangar. Tampak kuat secara fisik.

──Golem bertubuh ramping seperti ahli bela diri. Bukan sekadar ramping, sepertinya sistem penggeraknya berbeda dengan yang lain.

Omong-omong, bukankah orang yang ada di bawah kaki Golem itu adalah Tao dan kakeknya? Apa maksudnya ini? Nanti coba kutanyakan.

──Dan yang terakhir, Golem berbentuk singa. Surai emas, postur tubuh yang luwes, dan cakar tajam yang mencuat dari keempat tungkainya.

Keseimbangan tubuh yang sangat efisien. Sepertinya ia memiliki mobilitas yang tinggi.

"……Hm?"

Saat Id yang berdiri di bawah kaki singa itu melambai ke arah penonton, suara "Oooooooo!" yang merupakan sorakan terbesar hari ini langsung menyelimuti arena.

"Cih, jadi itu Golem milik Id, ya. Tapi dia populer banget. Yah, wajar sih buat pemenang turnamen sebelumnya."

"Sepertinya bukan cuma karena itu. Dibandingkan Golem lain, buatannya tampak selangkah lebih maju. Sepertinya dia memang bukan sekadar besar mulut."

"Ouh? Bocah itu berani banget melotot ke arah kita. Meremehkan sekali……!"

"Fumu, membuang muka saat ditantang sama saja dengan mengakui kekalahan. Mari kita balas dengan seluruh jiwa kita."

Grim dan Jiriel melotot balik, namun Id tampak sama sekali tidak gentar. Lebih tepatnya, Id seolah hanya menatap ke arahku.

Apa dia ingin pamer dan bertanya "bagaimana?" dengan menunjukkan Golem miliknya? Memang buatannya bagus, tapi Di-Guardia milikku juga tidak kalah, kok.

Seolah memahami pikiranku, Id kembali tersenyum tipis. Rasanya dia berkata seolah mengajak bertemu di final.

"Yare yare, sepertinya kalian cukup percaya diri, ya?"

Sebuah suara terdengar tepat dari sampingku. Seorang pria bergaya bangsawan menatapku dan Di-Guardia sambil mendengus remeh.

"Aku Lugol, lawan pertama kalian. Golem-mu itu memang kelihatan cukup kuat, tapi…… tentu saja kekuatan maupun keindahannya tidak akan pernah bisa menandingi Magica Milia milikku."

"Yah, berusahalah sebaik mungkin untuk menjadi pemeran pembantu yang baik! Ha-ha-ha-ha!"

Pria bernama Lugol itu pergi sambil tertawa keras. Sepertinya dialah pengendali Golem tipe perempuan tadi. Seleranya cukup unik, ya.

Bagaimanapun, aku menantikan duel Golem dengan Id.

Ooh—! Magica Milia terhempas jauh—!

Hampir bersamaan dengan teriakan pembawa acara, Magica Milia menghantam tanah dengan keras.

Di tengah kepulan debu yang membubung, Magica Milia berlutut. Ia mencoba bangkit, namun hanya uap yang menyembur dari berbagai bagian tubuhnya, ia tidak bisa bergerak dengan benar.

Di-Guardia yang memegang Meriam Mana menatap rendah ke arah lawannya.

Kuat! Kuat, kuat, kuuuat! Benar-benar luar biasa! Di-Guardia hebat! Magica Milia sama sekali tidak diberi kesempatan—!

Sesuai kata pembawa acara, pertandingan itu berlangsung berat sebelah.

Begitu dimulai, satu tembakan Meriam Mana Di-Guardia langsung membuat lawan terhuyung. Lawan mencoba merangsek maju, namun tidak kuat menahan tembakan beruntun dan terdesak dalam sekejap.

Hmm, padahal aku hanya mengisi kartrid Meriam Mana dengan sihir tingkat tinggi biasa. Apa mungkin pertahanan Magica Milia memang setipis kertas?

"Fumu, cukup bagus. Sepertinya dia tahan menghadapi pertarungan Golem."

"Bagus! Mantap, Kak Zero! Sikat saja sekalian!"

Albert dan Dian tampak senang melihat aksi Di-Guardia. Sebaliknya, tim lawan benar-benar patah semangat.

Wajar saja, pembuatan Golem memakan banyak waktu, tenaga, dan biaya. Jika kalah di babak pertama tanpa sempat memberi perlawanan berarti, siapa pun pasti akan depresi.

Namun, ada satu orang yang belum menyerah.

"Be-belum…… aku belum kalah……!"

Pengendali Magica Milia, Lugol, berteriak. Sebagai informasi, Golem dilengkapi dengan pengeras suara agar suara pengendalinya bisa terdengar ke seluruh arena.

Ia memutar tongkat di tangannya dan mengarahkannya ke Di-Guardia. Permata di ujung tongkat itu bersinar menyilaukan.

"Bergetarlah bumi, bangkitlah bebatuan, rasakan ini! Earthquake Rock──"

Doooon! Sebuah ledakan besar terjadi.

Sepertinya dia mencoba menggunakan sihir, tapi Meriam Mana jauh lebih cepat. Begitu kepala Magica Milia hancur dan jatuh ke tanah, sorakan kembali pecah.

Aaah—! Serangan balik gagal total—! Golem yang kepalanya hancur dianggap kalah! Jadi, pemenang pertandingan pertama yang bersejarah ini adalah—Di-Guardia and Zerof-senshu! Semuanya, berikan tepuk tangan yang meriah!

"Waaaaaaaaa!" Di-Guardia diselimuti sorakan riuh rendah.

Lalu, ia bergerak perlahan kembali ke area tunggu.

"Kak Zerof—! Kenapa Kakak tidak turun-turun?"

Meski pertandingan sudah selesai, Zerof tidak kunjung turun dari Di-Guardia.

Saat aku terus memanggilnya, pelat zirah terbuka sedikit dan Zerof melongokkan wajahnya dari sana.

"Ini giliranmu, Lloyd."

"?"

Saat aku memiringkan kepala kebingungan, sebuah tawa keras terdengar.

"Ha-ha-ha-ha! Kalian boleh juga, ya."

Itu Lugol. Ada urusan apa dia ke sini?

"Mari kita saling memuji perjuangan satu sama lain. Kemenangan itu memang soal keberuntungan, sepertinya kali ini Dewi Kemenangan sedang tersenyum pada kalian!"

"Aku tidak akan kalah lain kali!"

Ia mengulurkan tangan kanannya sambil mengedipkan mata. Aku membalas jabat tangannya meski sedikit bengong.

"Hei hei, dia bilang kita menang karena beruntung? Orang yang menyebalkan."

"Entah dia itu tangguh atau bagaimana…… apa dia lupa kalau tadi dia sama sekali tidak bisa berkutik?"

Grim dan Jiriel bergumam kesal.

Jadi yang dimaksud Zerof soal "giliranku" adalah meladeni orang-orang yang mengajak bicara setelah pertandingan, ya?

Aku tidak keberatan sih, tapi sepertinya aku dianggap sebagai pengendali Di-Guardia olehnya.

"Kamu telah mengalahkanku. Kamu harus jadi juara, ya! Aku mengandalkanmu! Tapi aku belum menyerah. Lain kali aku pasti akan menang! Jadi sampai saat itu, jangan berani-berani kalah! Aku doakan perjuangan kalian! Ha-ha-ha-ha!"




Lugol pergi sembari meninggalkan tawa kerasnya yang menggema.

Yah, terserah dia saja, sih. Padahal yang bertarung tadi itu Zerof, bukan aku.

"Anda pengendali Di-Guardia, kan!? Tolong, kami ingin wawancara!"

"Aku mau tanda tangan!" "Aku juga! Aku juga!"

Geh, gawat. Mereka datang menyerbu. Pantas saja Zerof merasa malas meladeni ini.

Meski begitu, aku tidak bisa membiarkan mereka begitu saja, jadi aku terpaksa meladeni orang-orang yang mulai berkerumun mendekat.

"Hao, Golem yang hebat ya, Lloyd."

Saat aku sedang beristirahat setelah pertandingan selanjutnya dimulai, Tao menyapaku sambil melambaikan tangannya ringan.

"Yo, Tao juga ikut berpartisipasi, ya."

"Awalnya aku tidak berniat begitu, tapi Kakek yang memaksa."

Tao mengembuskan napas panjang, lalu melanjutkan bicaranya.

"Katanya dia sudah membuatnya bersama para ahli Alkimia Internal dari kampung halaman sejak lama sekali. Terus, entah kenapa malah aku yang disuruh mengendarainya."

Ke arah yang ia tunjuk, di bawah kaki Golem ramping bergaya asing, terlihat kakek Tao bersama beberapa orang tua lainnya.

Melihat mereka melambai penuh semangat ke arah kami, Tao mengembuskan napas sekali lagi.

"Yah, teman-teman Kakek Chen juga banyak membantuku dulu. Anggap saja ini hadiah kenang-kenangan untuk para manula yang umurnya tidak lama lagi. Yare yare, aku ini memang terlalu baik hati."

"Boleh aku menyentuhnya?"

"Kamu tertarik? Silakan saja."

Aku pun menerima tawarannya dengan senang hati. Menggunakan Appraisal, aku mengamati struktur bagian dalamnya dengan saksama.

……Hou hou, ini sangat mirip dengan Golem yang kubuat dulu.

Alih-alih mengutamakan fungsionalitas khas Golem, mesin ini meniru bentuk manusia hingga batas maksimal. Bukan hanya tulang dan otot, bahkan organ dalamnya pun dibuat menyerupai manusia.

"Senjata Pemungkas Alkimia Internal Manusia Buatan, Lao Kung Fu. Kakek Chen yang memimpin pembangunannya sejak beberapa tahun lalu. Katanya setelah melihat Golem Fight, dia ingin membuat sesuatu dari negara mereka sendiri."

"Golem yang bergerak dengan Qi, ya. Menarik."

Begitu ya, pantas saja bentuknya meniru anatomi manusia. Qi adalah teknik yang mengubah napas menjadi kekuatan dengan mengalirkan energi ke seluruh tubuh secara efisien.

Seharusnya, Qi lebih mudah mengalir melalui bahan organik seperti kayu atau kain daripada bahan anorganik seperti logam.

Karena menggunakan komponen-komponen itulah, mesin seramping itu bisa bergerak.

"Kamu pasti berpikir dia terlihat rapuh, kan? Memang benar, daya tahan Lao Kung Fu yang dibuat dari kayu hidup dan benang laba-laba tidaklah tinggi. Tapi dia sangat mudah digerakkan. Waktu aku mencobanya tempo hari, rasanya seperti menggerakkan tubuhku sendiri."

"Heh, itu luar biasa."

Soalnya mengendalikan Di-Guardia itu benar-benar terasa seperti menggerakkan boneka raksasa.

Gerakan mendetail sangat sulit dilakukan. Golem yang bisa melakukan gerakan yang hampir sama dengan Tao…… pasti sangat kuat.

"Fufun, kamu paham sekarang? Karena itulah, untuk sekarang kita adalah rival, Lloyd. Jangan kalah sampai kita bertemu di final nanti."

"Iya, Tao juga semangat ya."

Tao mengepalkan tangan memberi semangat dan kami saling membenturkan kepalan tangan. Sepertinya muncul lagi rival yang tangguh.

Pertandingan berlanjut dengan lancar, satu per satu pemenang dan pecundang ditentukan.

Tentu saja, di mana ada pemenang, di situ ada yang kalah.

Para pecundang meratapi kekalahan mereka dengan mata berkaca-kaca sambil membereskan Golem mereka yang hancur.

Melihat itu, Grim bergumam pelan.

"Umu, rasanya kasihan juga ya. Semua Golem ini adalah karya besar. Pasti butuh perjuangan luar biasa untuk membuatnya……"

"Apa iya? Aku rasa mereka membuatnya dengan senang hati. Lagipula melalui proses pembuatan ini, banyak teknik yang bisa disistematisasi dan mereka pasti mendapat banyak pengetahuan baru. Kerja keras itu akan kembali kepada mereka dalam bentuk kemampuan, jadi itu bukan perjuangan yang sia-sia."

Karena mereka melakukannya dengan penuh sukacita, mereka pasti tidak menyesal.

Bahkan jika hancur sekalipun, banyak hal yang bisa dipelajari dari sana. Umu, umu.

"Seperti yang diharapkan dari Tuan Lloyd. Semangat itulah yang memungkinkan upaya dan latihan setiap harinya."

Padahal aku merasa tidak mengatakan sesuatu yang spesial.

Saat kami sedang mengobrol, Lugol mendekat sambil melambaikan tangan.

"Yo, Lloyd! Kamu menikmatinya?"

Sambil tersenyum lebar, ia duduk di sampingku.

"Wah, Golem Fight benar-benar membuat darah mendidih! Waktu berlalu dalam sekejap! Lihat itu, Lloyd! Serangan sirip ekor raksasa milik King Fisher itu luar biasa! Tapi zirah dinding benteng Gigaluk juga hebat. Bisa menahan serangan itu! Uhh, Magica Milia-ku juga ingin bertarung melawan mereka!"

Lugol tampak sangat menikmati menonton pertandingan Golem.

Orang yang tidak pernah terpuruk dan bisa menikmati segalanya dengan kekuatan penuh adalah orang yang kuat.

Aku yakin kekalahannya tempo hari pun sudah ia jadikan pelajaran untuk ke depannya.

"Iya, sangat menarik. Tapi soal Gigaluk itu, bagaimana cara mereka menggerakkan Golem dengan massa sebesar itu? Padahal kurasa output intinya tidak sebesar itu."

"Fufufu, output memang penting, tapi jika menggunakan roda gigi yang bisa menghasilkan tenaga besar dari kekuatan kecil dengan benar, tenaganya bisa tertutupi. Di dalam tubuh dinding benteng itu pasti penuh dengan roda gigi."

"Benarkah? Rasanya mustahil menggerakkan massa sebesar itu hanya dengan roda gigi. Pasti ada teknologi lain yang digunakan."

"Fumu…… benar juga! Kalau begitu Lloyd, mari kita tanya langsung pengendalinya! Kebetulan pertandingannya baru saja selesai!"

"Ide bagus. Aku juga ingin bertanya pada pengendali Golem Ikan itu. Aku penasaran bagaimana cara menghasilkan daya hancur dari sirip ekornya."

Wah, Golem zaman sekarang sudah sangat maju ya.

Benar-benar keputusan yang tepat untuk datang ke sini.

Saat kami sedang asyik berdiskusi soal Golem, sorakan besar membahana dari arah sana.

Maaf membuat kalian menunggu—! Pertandingan terakhir hari ini, pertarungan antara Leonhart yang dikendalikan Peserta Id melawan Lao Kung Fu yang dikendalikan Peserta Tao, DIMULAI—!

Suara pembawa acara membuatku berhenti melangkah.

Oh, Id sudah akan bertarung. Kalau tidak salah lawannya adalah Tao, ya.

Ini pertandingan yang tidak boleh dilewatkan.

"Aku akan melihat ke sana sebentar. Lugol, tolong tanyakan pada mereka ya."

"Fumu, kalau itu permintaan dari temanku, apa boleh buat. Kalau begitu Lloyd, perhatikan pertandingannya baik-baik!"

Sambil bertanya-tanya sejak kapan kami jadi teman, aku melangkah menuju area lapangan.

Muu, karena ini pertandingan yang dinantikan, penontonnya banyak sekali.

Kalau begini aku tidak bisa melihatnya.

"Haruskah saya menggunakan Holy Magic untuk mencuci otak mereka dan membuka jalan, Tuan Lloyd?"

"Malaikat bodoh ini, kalau kamu lakukan itu malah bakal terlalu mencolok! Tuan Lloyd, bagaimana kalau kita hempaskan saja mereka dengan sihir?"

"Itu malah lebih mencolok lagi, Iblis sialan!"

Sambil mengabaikan perdebatan mereka berdua, aku mencari tempat yang bagus hingga tiba-tiba Sylpha muncul entah dari mana.

"Saya sudah menduga Tuan Lloyd akan segera datang, jadi saya datang menjemput Anda. Saya sudah mengamankan tempat di barisan paling depan, mari kita ke sana."

"Luar biasa, kamu memang peka, Sylpha."

"Ini adalah sebuah kehormatan besar."

Dibawah bimbingan Sylpha yang membungkuk hormat, aku menuju barisan terdepan kerumunan.

"Oh, kamu datang juga, Lloyd."

"Lama banget, Lody-bo. Cepat duduk di sini."

"Baik."

Sesuai ajakan, aku duduk di antara Albert dan Dian.

Para penonton menahan napas sambil mengawasi dua Golem yang saling berhadapan.

Di tengah atmosfer yang tegang, pertandingan akan segera dimulai.


Di sekeliling area pertandingan, dipasang penghalang kuat agar penonton tidak terkena dampak, dan di pusatnya, dua Golem saling menatap tajam.

Di tengah gumaman penuh harapan, gairah, kegembiraan, dan antusiasme, suara pembawa acara menggema.

Baiklah semuanya, maaf menunggu lama! Dalam sekejap kita sampai di pertandingan terakhir hari ini. Mari kita perkenalkan kembali kedua peserta yang akan menjadi penutup! Pertama, lihat ke arah Macan! Singa Emas kebanggaan Kerajaan Bertram, LEONHART—!

Dooo! Sorakan besar membahana. Popularitasnya benar-benar luar biasa.

Setelah menunggu sorakan mereda, pembawa acara mengangkat tangan ke arah seberang.

Dan dari arah Naga! Golem asing yang sangat langka, LAO KUNG FU! Tubuh merah ramping yang berbeda jauh dari Golem lainnya, lukisan naga di sekujur tubuhnya memberikan kesan eksotis! Dari penampilannya yang seperti ahli bela diri, kita bisa mengharapkan gerakan yang lincah, namun mari kita lihat—! Ini juga sangat dinantikan—!

Di salah satu sudut tribun, kakek Tao dan yang lainnya memberikan sorakan dengan suara serak mereka.

Tao dengan wajah gusar masuk ke dalam Lao Kung Fu.

Sorakan lainnya hanya terdengar sporadis. Atmosfer penonton jelas lebih memihak Id.

Lao Kung Fu terlihat seperti barang aneh, apalagi lawannya adalah Id, jadi itu wajar saja.

Meski begitu, Tao bukan orang yang bisa dikalahkan dengan mudah…… hmm, pertandingan ini benar-benar tidak boleh dilewatkan.

"Akhirnya pertandingan Id, ya. Apalagi lawannya adalah Tao. Aku sangat menantikan pertarungan seperti apa yang akan mereka tunjukkan."

"Hei Lody-bo, karena kita tidak tahu siapa yang akan kita hadapi nanti, perhatikan baik-baik ya!"

"Baik!"

Albert dan Dian pun tampak menantikannya. Tentu saja aku juga.

Leonhart dan Lao Kung Fu, kedua Golem itu melangkah maju satu langkah.

Sepertinya keduanya sudah siap sedia.

Baik! Baik, baik, baik! Sepertinya keduanya sudah siap! Semuanya, silakan perhatikan baik-baik! Sekarang kedua Golem telah memasuki posisi tempur—!

Kegembiraan penonton mencapai puncaknya.

Dalam momen keheningan yang singkat, pembawa acara mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi.

Kalau begitu kedua pihak, pasang kuda-kuda, pasang kuda-kuda…… MULAI!

Lalu, ia mengayunkan tangan kanannya ke bawah.

Bersamaan dengan itu, Lao Kung Fu menendang tanah.

Yang menyerang duluan adalah Lao Kung Fu! O-Ooh—!? Kecepatan macam apa itu! Ia melesat menuju Leonhart dengan kecepatan yang luar biasa—!

Kecepatan itu memancing suara takjub dari bangku penonton.

Kecepatan Lao Kung Fu benar-benar tidak sebanding dengan Golem-golem sebelumnya.

Mungkin karena zirahnya tipis ia bisa menghasilkan kecepatan setinggi itu, tapi meski begitu, gerakannya benar-benar luwes seperti manusia. Sama sekali tidak terlihat seperti Golem.

Dengan gerakan yang seolah meluncur, Lao Kung Fu mendekat tepat di depan Leonhart.

"Serangan pertama adalah kunci!"

Dalam aliran gerakan itu, ia melakukan pukulan punggung tangan──yang ternyata hanya tipuan untuk melakukan sapuan kaki dari posisi jongkok.

Sorakan pecah melihat rangkaian gerakan yang mengalir lancar tersebut.

Bagi Leonhart, sosok lawannya pasti terasa seolah menghilang dari pandangan. Boleh juga, Tao.

Kecepatan serangan beruntun itu, dan betapa efisiennya gerakan tersebut. Sepertinya memang benar dia bisa melakukan gerakan yang hampir setara dengan dirinya sendiri.

"Chestoo—!"

Serangan yang dilancarkan bersamaan dengan teriakan penuh semangat itu sayangnya hanya menebas angin.

Di atas kepala Lao Kung Fu yang tanpa perlindungan, sosok Leonhart tampak melayang di udara.

Aah, tapi dengan satu lompatan, Leonhart berhasil menghindar—!

Bisa menghindari serangan itu pada pandangan pertama, ya.

Apalagi hindaran itu juga langsung terhubung ke serangan balik.

Leonhart mengayunkan cakar depannya yang tajam ke arah Lao Kung Fu──

"Ku……!"

──Begitulah kelihatannya, namun Leonhart mendarat begitu saja di samping Lao Kung Fu yang sudah memasang posisi bertahan tanpa melakukan apa-apa.

Semua orang di sana pasti berpikir "kenapa?". Tribun penonton pun menjadi sunyi.

"……Kenapa tidak menyerang balik? Sengaja……? Hah, aku benar-benar diremehkan ya."

Lao Kung Fu merendahkan tubuhnya, menjulurkan tinju dan memasang kuda-kuda.

Itu adalah kuda-kuda Tao yang biasa, persis sama.

Bukan hanya kuda-kudanya, bahkan dari kejauhan pun terlihat betapa Qi memenuhi setiap sudut mesinnya. Berarti dia sudah benar-benar serius.

"──Aku datang."

Bersamaan dengan pernyataan itu, Lao Kung Fu melesat.

Jauh lebih cepat dari sebelumnya.

Apa dia meningkatkan kemampuannya dengan memenuhi tubuhnya dengan Qi?

Lao Kung Fu bergerak setajam kilat dan memutar ke arah belakang Leonhart.

"Haaaaaaaa!"

Pukulan telapak tangan dilancarkan dengan kecepatan tinggi, namun itu pun berhasil dihindari di saat-saat terakhir.

Meski begitu, gerakan Lao Kung Fu tidak berhenti.

Dari pukulan telapak tangan ke tendangan bawah, tusukan jari, serangan siku, hingga tendangan memutar, rangkaian serangan yang mengalir deras menyerbu Leonhart.

Cepat! Cepat, cepat, cepat, cepaaat! Serangan beruntun Lao Kung Fu luar biasa! Leonhart sama sekali tidak bisa berkutik—! Ini di luar dugaan, pertandingan yang sangat sepihak—!

Pembawa acara juga berteriak lantang menyatakan keunggulan Lao Kung Fu.

Tribun penonton menjadi sangat riuh karena perkembangan yang tak terduga ini.

"Ooh! Bocah itu terdesak! Dia bicara besar tadi, tapi ternyata tidak seberapa ya."

"Tapi ini aneh. Kenapa dia tidak menyerang balik?"

Benar, seperti yang dikatakan Jiriel, Leonhart sama sekali tidak melakukan serangan balik.

Serangan beruntun Lao Kung Fu memang luar biasa, tapi bagi Leonhart, seharusnya ada satu atau dua celah untuk menyerang balik.

"Jangan bercanda! Kenapa kamu tidak menyerang!?"

Orang yang paling merasakan keanehan itu pastilah Tao. Ia berteriak sambil terus melancarkan serangan.

Namun, Id membalas dengan suara yang sangat tenang.

"……Aku ini suka Golem. Golem-mu itu, sekilas terlihat aneh, tapi sebenarnya itu adalah mahakarya yang dibuat dengan sangat mendalam. Aku bisa merasakan kasih sayang pembuatnya hanya dengan melihatnya sebentar. ……Karena itulah aku tidak ingin menghancurkannya."

"Kalau begitu kenapa kamu ikut turnamen ini!? Kalau kamu suka, nikmati saja sendiri sesukamu!"

"Ini keinginan sponsor. Sisi sulit dari menjadi orang gajian. ……Lagipula, ada lawan yang ingin kuhadapi. Sejujurnya aku akan sangat terbantu kalau kamu menyerah saja."

"Hah, jangan bercanda! Aku justru baru saja mulai bersemangat!"

Bersamaan dengan ucapan Tao, Lao Kung Fu menendang tanah dengan kuat.

Debu membubung seperti ledakan, dan sosok Lao Kung Fu menghilang.

Ini kecepatan tertinggi hari ini. Luar biasa. Ternyata dia masih bisa lebih cepat lagi dari sebelumnya.

Apalagi tanpa disadari, Leonhart telah terdesak ke sudut penghalang yang terpasang.

Lao Kung Fu mendekat dengan kecepatan yang mengerikan—! Leonhart tidak punya jalan keluar—!?

Leonhart yang tidak bergerak, pembawa acara yang memanas-manasi keadaan, dari tribun penonton terdengar suara orang-orang yang menahan napas.

"Kena kau!"

Sambil berputar satu kali, tendangan terbang maut dilancarkan.

Tidak ada tempat untuk menghindar. Ia harus menerimanya.

Tepat pada saat semua orang berpikir demikian.

Aku merasa mendengar tawa kecil dari Id.

"Sepertinya kamu sangat percaya diri dengan kecepatanmu, ya. Mobilitas yang luar biasa. ──Tapi sayang sekali lawanmu adalah aku."

Sesaat setelah ia bergumam demikian, sosok Leonhart menghilang. Tendangan Lao Kung Fu hanya menebas angin, membuatnya mendarat sambil sedikit terhuyung.

"……!? Ke-ke mana perginya!?"

Lao Kung Fu menoleh ke kiri dan kanan, namun sosok Leonhart tidak terlihat.

Lebih tepatnya, ia melakukan pergerakan kecepatan tinggi hingga meninggalkan sedikit bayangan.

Ce-cepat! Terlalu cepat! Apakah ini keseriusan Leonhart yang sebenarnya!? Lao Kung Fu tadi memang cepat, tapi ini sama sekali tidak bisa dibandingkan—!

"Fuh! Hah! Yaaa!"

Lao Kung Fu berusaha mengayunkan tinjunya sekuat tenaga, namun semuanya berhasil dihindari.

Justru di celah itulah, satu per satu tangan dan kakinya tersayat. Lutut Lao Kung Fu patah, dan lengannya terkulai lemas.

Tao yang sehebat itu sampai didominasi dalam pertarungan jarak dekat…… jadi itulah Golem milik Id.

"Ku…… be-belum…… belum selesai……!"

Meski sudah babak belur hingga hampir tak berbentuk lagi, Lao Kung Fu tetap tidak tumbang.

Meski terus bertahan, ia tetap berhasil menghindari luka fatal. Jika bukan karena kelincahan Tao yang luar biasa, ia pasti sudah kalah dari tadi.

Penonton pun menahan napas melihat sosoknya yang menyedihkan itu.

"Fumu, aku menyerah. Kasihan Golem itu jika terluka lebih parah lagi."

Sambil bergumam, Leonhart memijakkan kaki belakangnya ke tanah.

"……Kenapa? Apa sesi lompat-lompatnya sudah berakhir?"

"Mana mungkin. Aku hanya berpikir pertarungan seperti ini sia-sia saja."

"Begitu ya. Terserahlah. Aku juga sudah tidak punya sisa tenaga, jadi──terimalah ini!"

Tao menjadikan seluruh tubuhnya seperti pegas dan melompat.

Tendangan yang begitu tajam hingga membuatku bertanya-tanya dari mana sisa tenaga sebesar itu berasal. Kemungkinan besar ini adalah serangan terakhirnya.

Sylpha dan Ren yang berada di sampingku mengepalkan tangan.

Albert dan Dian berteriak lantang.

Tendangan setajam kilat itu mengenai Leonhart.

A-Aaaaaaaa—! Ini adalah—!?

Teriakan histeris pembawa acara membahana. Penonton menahan napas, dan terdengar suara sesuatu yang jatuh dengan keras.

Saat aku melihatnya, kaki Lao Kung Fu mencair dan terguling di tanah.

"Hei Kak Al! Barusan Kakak lihat apa yang terjadi!?"

"……Tidak, aku pun tidak melihatnya dengan jelas…… Aku kira tendangannya mengenai Leonhart, tapi di detik berikutnya kakinya sudah mencair. Seolah-olah menusukkan batang es ke dalam tungku api bersuhu tinggi…… sebenarnya apa yang terjadi!?"

Albert dan Dian kebingungan, namun aku langsung tahu apa yang dilakukan Id.

Itu adalah Sihir Sintesis Ganda api dan air, Aqua Regia Film.

Itu adalah penghalang yang bisa mencairkan segala sesuatu yang menyentuhnya.

Sebuah sihir yang menggabungkan serangan dan pertahanan secara bersamaan, namun jangkauan penghalangnya sangat sempit sehingga jika salah cara menggunakannya bisa membahayakan diri sendiri.

Ternyata dia memasukkannya ke dalam zirah Golem dalam bentuk formula sihir.

Ternyata selain aku, ada orang lain yang bisa menggunakan penghalang sintesis tingkat tinggi dengan output yang cukup kuat untuk mencairkan Golem…… dia benar-benar lebih hebat dari dugaanku.

Meski hanya dengan satu kaki, Lao Kung Fu kembali memperbaiki posisinya. Ia tetap memasang kuda-kuda seolah masih sanggup bertarung.

"Cih! Aku cuma kehilangan kaki kanan. Masih bisa bertarung!"

"Sudahlah, berhenti saja. Seperti yang kubilang tadi, aku tidak suka melukai Golem. Tapi kalau aku tidak mengalahkanmu, kamu pasti akan terus menyerang. Karena itu, izinkan aku menang dengan luka seminimal mungkin."

Leonhart melayang di udara, dan di mulutnya sudah tergigit bagian kepala Lao Kung Fu.

Aaaaaa—! Teknik yang sangat cepat! Kepala Lao Kung Fu terlepas dalam gerakan yang tak tertangkap mata—! Sesuai aturan, Golem yang kehilangan kepalanya dinyatakan kalah! Berarti…… pemenangnya adalah LEONHART—!

Bersamaan dengan suara pembawa acara, sorakan meriah pun pecah.




Tentu saja, rencananya menghancurkan kaki dengan penghalang adalah agar dia bisa merebut bagian kepala dengan pasti.

Setelah semua berakhir, kerusakan besar yang dialami Lao Kung Fu hanyalah pada satu kaki. Karena kepalanya terpotong dengan rapi, jika mereka ingin memperbaikinya, itu bisa dilakukan dengan cepat.

Bisa dibilang itu hanya luka ringan dibandingkan Golem lain yang kalah. Dan hal itu bisa dilakukan hanya karena adanya perbedaan kekuatan yang sangat besar.

……Inilah kemampuan Id yang sebenarnya.

Di tengah gemuruh tepuk tangan, Leonhart berdiri bermandikan cahaya matahari yang menyilaukan.

"Haa, haa…… ha, ah……!"

Pertandingan berakhir, dan Tao turun dari Lao Kung Fu yang sudah babak belur.

Napas Tao tersengal-sengal dan seluruh tubuhnya bersimbah keringat. Dia tampak benar-benar kelelahan.

"Dia kalah telak begitu. Pasti dia sedang sangat terpukul."

"Kita harus menghiburnya! Dengan begitu, mungkin saja kita bisa mendapatkan pelukan hangat dari Tao-tan……!"

Aku mengangguk mendengar perkataan Grim dan Jiriel.

Benar juga, aku ingin mendengar kesannya setelah bertarung langsung melawan Id.

Saat aku hendak berlari menghampiri untuk menyapanya, Tao menyadari kehadiranku dan menoleh.

"Yo, Lloyd."

Tao menyunggingkan senyum lebar yang ceria.

Ekspresinya sama seperti biasanya, bahkan terasa terlalu cerah.

"Sayang sekali, aku kalah! Yah, dunia ini memang luas ya. Meski itu Golem, ini pertama kalinya aku bertarung melawan lawan yang lebih cepat dariku. Ahaha."

Sepertinya dia tidak terlalu terpuruk. Kalau begini, aku bisa menanyakan banyak hal padanya.

"Iya, soalnya lawanmu memang kuat. Mau bagaimana lagi. Daripada itu, mau bicara sebentar? Ada yang ingin kutanyakan soal Golem tadi──"

"Maaf, aku sedang buru-buru."

Tao memotong perkataanku dengan tegas, lalu berlari cepat dan menghilang di balik bayangan bangunan.

Apa dia mau ke toilet? Sepertinya aku melihat ada sesuatu yang berkilauan jatuh tadi…… Saat aku merasa heran, tiba-tiba terdengar suara DUM! yang bergema.

Ketika aku mengintip diam-diam, punggung Tao tampak gemetar.

"Sia…… laaaaaannn……! Kalah! Aku kalah……! Aku benar-benar tidak bisa berkutik……!"

Suara tinju yang menghantam dinding bergema, dum, dum.

"……Bahkan lewat Golem pun aku tahu. Anak itu sangat kuat. Kalau bertarung dengan tubuh asli, aku pasti bukan tandingannya…… Sial. Aku kesal sekali……!"

Suara Tao bergetar diiringi air mata yang mengalir.

Melihat intensitas itu, Grim dan Jiriel menelan ludah.

"……Yah, wajar saja sih. Mana mungkin tidak kesal dikalahkan oleh bocah seperti itu. Gadis kecil itu pasti akan menjadi jauh lebih kuat lagi."

"Bunga itu tidak hanya indah dan lucu saja ya. Bisa dibilang ini momen 'Tao-tan Haa-Haa'. Mufufu."

Dua orang itu menggumamkan sesuatu yang aneh.

Fumu, sepertinya Tao sedang dalam masa introspeksi.

Dalam eksperimen sihir pun kegagalan adalah hal biasa, yang penting adalah bagaimana itu terhubung ke langkah selanjutnya.

Sepertinya lebih baik aku bertanya lagi lain kali agar bisa mendapat penjelasan yang lebih mendetail.

Berpikir demikian, aku pun meninggalkan tempat itu.

"Wah, tadi itu pertandingan yang cukup layak tonton ya."

Tiba-tiba ada yang menyapaku. Saat menoleh, Lugol sedang bersama beberapa pria lainnya.

"Ah, mereka ini pengendali Golem dari negara lain. Saat aku mengobrol dengan mereka, suasananya jadi seru. Jadi kami memutuskan untuk datang bersama-sama."

Pria-pria di samping Lugol mengirimkan tatapan penuh minat padaku.

"Hou, jadi kamu yang mengendalikan Di-Guardia itu……"

"Masih sekecil ini tapi bisa melakukan hal sehebat itu……"

"Ha, halo……"

Rasanya tatapan mereka padaku mengandung gairah yang aneh, tapi mungkin itu cuma perasaanku saja.

"Ternyata Lugol. Tidak menyangka bertemu di tempat seperti ini."

Orang yang ikut masuk ke dalam percakapan adalah Albert.

Dia bersalaman dengan Lugol dan mereka saling menepuk bahu satu sama lain.

"Albert! Itu harusnya kalimatku. Sedang apa orang sibuk sepertimu di sini?"

"Ini kan panggung pembuktian adikku yang berharga. Mana mungkin aku sibuk mengurus administrasi di saat seperti ini."

Melihat mereka berdua mengobrol dengan akrab, Dian membisikkan sesuatu di telingaku.

"Lugol itu adalah Pangeran Pertama dari Shuzel, negara besar di Utara. Dia agak aneh, tapi sebenarnya dia pria yang kompeten. Sejak dia diserahi tanggung jawab ekonomi, ekonomi Shuzel terus berkembang pesat. Yah, kalau kata dia sih, itu semua demi biaya pembuatan Golem. Karena usianya dekat dengan Kak Al, mereka sering bersama di konferensi antarnegara."

"Begitu ya. Aku jadi belajar hal baru."

Kalau dipikir-pikir, mana mungkin manusia biasa bisa membuat Golem.

Kecuali yang terlihat berbiaya rendah seperti Lao Kung Fu, pembuatan Golem membutuhkan uang dan fasilitas yang sangat besar.

Hanya kaum bangsawan atau keluarga kerajaan yang mungkin memilikinya.

Lugol maupun orang-orang yang dibawanya adalah wajah-wajah yang pernah kulihat di pesta-pesta saat aku diajak oleh Ayah Charles.

"Oya! Kalau kalian tidak keberatan, bagaimana kalau malam ini kita mengadakan pesta akrab bersama? Tentu saja aku yang akan mengurus persiapannya."

Albert mengangguk setuju atas usul Lugol.

"Itu bagus. Ini kesempatan baik untuk memperkenalkan adik kebanggaanku pada kalian semua."

"Ooh, itu keren Kak Al! Dengan anggota sebanyak ini, kita bisa berdiskusi panjang soal Golem! Kak Zero juga pasti tidak keberatan, kan?"

Dian melemparkan pertanyaan, namun Zerof menggelengkan kepala dengan wajah kaku.

"Maaf, tapi saya permisi saja. Saya tidak terlalu suka tempat yang glamor. Ada pemeliharaan Di-Guardia yang harus dilakukan, jadi kuserahkan pada Lloyd."

"Tu-tunggu dulu, Kak Zero. Hoi!"

"Kalau begitu, saya permisi."

Tanpa menghiraukan Dian yang berusaha menghentikannya, Zerof melangkah pergi begitu saja.

Malam itu, pesta pun digelar.

Pesta yang diadakan dengan menyewa sebuah restoran mewah itu dihadiri oleh banyak pihak terkait selain kami, totalnya mencapai hampir seratus orang.

Albert memanfaatkan momen ini untuk memperkenalkanku kepada berbagai orang, sementara Dian tampak asyik memperdalam hubungan dengan para teknisi dari negara lain.

Sylpha sangat sibuk melayani tamu, dan Ren terkadang mencuri-curi makanan sambil matanya berbinar-binar.

……Begitulah suasananya.

Maksudku, aku sudah menyelinap keluar dari aula pesta dan mendatangi Di-Guardia.

"Apa tidak apa-apa? Menyelinap keluar seenaknya begini."

"Kalau ada Kak Albert dan yang lain, tidak akan ada masalah. Lagipula aku cuma putra ketujuh yang tidak penting, tidak akan ada yang peduli kalau aku menghilang."

"Menurut saya hal itu mustahil, tapi……"

Jiriel langsung menyangkalnya.

Dasar malaikat, dia benar-benar tidak mengerti apa-apa. Perlakuan terhadap putra ketujuh itu sangat santai, tahu.

Buktinya, aku bisa melakukan apa pun sesukaku seperti sekarang ini.

Sambil memikirkan hal itu, aku membuka tirai penutup yang tergantung, dan bagian dalamnya diterangi dengan sangat terang.

"Kak Zerof—!"

Saat aku menyapa Zerof yang sedang bekerja, dia menoleh dengan wajah terkejut.

"Lloyd? Kenapa kamu ada di sini……?"

"Tentu saja aku datang untuk membantu. Ini, ada camilan malam."

Begitu aku menunjukkan keranjang yang kubawa dari aula pesta, perut Zerof berbunyi guuuuu.

"……Akan kuterima."

Zerof menerima pasta itu dengan kaku, lalu mulai mengunyahnya dengan lahap.

"……Fuu, memang pasta yang terbaik. Praktis dan cepat mengenyangkan perut."

"Karena Kak Zerof selalu makan ini terus sih. Daripada itu, Kak Zerof, modifikasi yang sedang dilakukan sekarang ini untuk menangkal penghalang Leonhart, kan?"

Mata Zerof membulat terkejut mendengar perkataanku.

"Kamu tahu ya. Benar sekali, Lloyd."

"Ahaha, siapa pun yang melihat pertandingan itu pasti akan terpikir hal yang sama. Sebagai langkah pencegahannya, kita juga akan memberikan Barrier Formula untuk menetralkannya agar serangan kita bisa masuk, kan?"

Di bagian lengan Di-Guardia sudah terpasang perangkat penghalang untuk pertahanan.

Dia pasti sedang menyesuaikannya untuk menambahkan fungsi penetralisir.

Pikiranku pun sama.

"Serangan yang mencairkan Lao Kung Fu itu, orang yang melihatnya pasti mengira itu adalah cairan beracun atau semacamnya. Tidak ada satu pun yang menyadari kalau itu adalah penghalang…… Ditambah lagi kamu langsung menyadari apa yang akan kulakukan. Memang benar keputusanku membawa Lloyd ke sini adalah tepat."

Zerof menggumamkan sesuatu, tapi ada hal lain yang lebih menggangguku.

Cairan sumsum sihir yang digunakan untuk memberikan formula tidak punya banyak cadangan.

Cairan itu membutuhkan waktu lama untuk dibuat, dan karena sulit menyiapkan jumlah yang cukup sekarang, akan sulit untuk mendapatkan output yang mampu menetralkan penghalang kuat Leonhart.

Kalau begitu, ada pilihan untuk mengikis yang sudah terpakai dan menggunakannya kembali, tapi itu berisiko menimbulkan ketidakseimbangan di bagian lain.

"Kamu menyadarinya juga ya. Benar. Karena tidak ada cairan sumsum sihir, modifikasi lebih lanjut tidak bisa dilakukan."

"Hmm…… gawat juga ya……"

Apa sebaiknya mengikis dari Golem yang sudah kalah dan meminta mereka membaginya?

Tidak, kalau begitu kemurniannya tidak akan terjamin.

Untuk merangkai formula yang kuat, dibutuhkan cairan sumsum sihir dengan kemurnian tinggi.

Untuk menghadapi Id itu, akan sulit jika hanya menggunakan bahan yang bisa didapat di sekitar sini.

Saat aku sedang berpikir keras sambil bergumam, aku merasakan ada pergerakan di luar tirai.

"Sepertinya Anda sedang dalam kesulitan ya."

"Suara ini……!"

Aku bergegas keluar, dan di sana berdirilah pemuda bertopeng, Id.

"Selamat malam. Malam dengan bulan yang indah ya."

"Ada urusan apa malam-malam begini? Apa kamu datang untuk memata-matai?"

Atas pertanyaan Zerof, Id menggelengkan kepala.

"Tidak, mana mungkin. Saya tidak akan melakukan hal seperti itu. Tapi saya tahu apa yang membuat kalian kesulitan. Pasti kalian berniat menetralkan penghalang yang terpasang di Leonhart milikku, kan? Tapi kalian kekurangan cairan sumsum sihir untuk itu. Benar, bukan?"

"A-apa……!?"

Karena ditebak dengan sangat tepat, Zerof kehilangan kata-kata.

Namun dia segera menenangkan diri dan mendekati Id.

"Kau, ternyata kau menguping ya……"

"Sudah kubilang bukan. Sebagai buktinya, lihat, ini adalah hadiah dariku."

Begitu dia menjentikkan jarinya, sebuah Golem kecil datang sambil memikul tong kayu.

Saat Zerof membukanya, matanya terbelalak.

"Ini…… Cairan Sumsum Sihir! Apalagi kemurniannya sangat tinggi!"

Sambil melihat ke dalam tong kayu dari samping Zerof yang terkejut, memang benar di dalamnya terisi penuh dengan cairan sumsum sihir.

Apalagi kemurniannya hampir tidak berbeda jauh dengan yang kubuat.

"Sepertinya Di-Guardia tidak dilengkapi dengan senjata anti-penghalang. Jika Lloyd melihat Golem-ku, dia pasti akan langsung memikirkan langkah pencegahannya. Tapi karena aku pikir kalian tidak bisa berbuat apa-apa tanpa bahan, jadi aku membawanya. Kalian mau menerimanya, kan?"

"……Aku tidak mengerti. Kenapa kamu membantu kami? Tidak ada keuntungan bagimu melakukan hal seperti ini."

Mendengar perkataan Zerof, Id menyunggingkan senyum di bibirnya.

"Keuntungan? Fufufu, tentu saja ada. Karena dengan begitu aku bisa bertarung melawan Lloyd yang mengeluarkan seluruh kekuatannya. Untuk hal semacam ini, aku akan menyiapkannya dengan senang hati. Karena itulah arti hidupku!"

Bisa bertarung denganku adalah arti hidupnya, ya. Dia bicara besar juga…… tapi tetap saja aku tidak ingat siapa Id ini.

Ditambah lagi, sepertinya topeng itu dipasangi sihir ilusi yang sangat kuat. Bahkan dengan sihir See-Through, aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas.

Saat aku memikirkan hal itu, Id mengarahkan pandangannya padaku.

"Apa kamu penasaran dengan wajahku? Jika Lloyd bisa mengerahkan seluruh tenaga dan mengalahkan Golem-ku, aku akan melepas topeng ini dan menunjukkan wajah asliku padamu."

"Heh, penawaran yang sangat royal ya. Kalau begitu, boleh aku minta satu hal lagi?"

Alis Id sedikit berkedut, namun dia segera mendapatkan kembali ekspresi tenangnya.

"Dalam situasi seperti ini masih menginginkan hal lain…… sungguh serakah ya. Tapi itulah Lloyd. Baiklah, apa lagi yang kamu inginkan? Haruskah kuserahkan nyawaku sendiri?"

"Heh, kamu tahu saja apa yang mau kukatakan. Benar, kalau aku menang, nyawamu akan kuambil untuk kusembelih."

Id sangat jenius dalam hal Golem dan sihir.

Jika aku menjadikannya bawahan, dia pasti akan sangat berguna bagiku.

Dia benar-benar sumber daya manusia yang sangat kuinginkan. Umu.

Tapi entah kenapa, baik Id maupun Zerof menunjukkan wajah terkejut.

"……Fufu, begitu ya. Merasa sudah memberikan bantuan dengan hal sekecil ini rupanya terlalu naif. Kamu ingin aku datang dengan kesiapan mempertaruhkan nyawa untuk bertarung denganmu…… begitu ya. Begitu ya, sepertinya akulah yang kurang memiliki kesiapan."

"Meski dia adikku, dia benar-benar berani. Pasti itu cuma gertakan, tapi Id yang tadinya sangat sombong itu sampai benar-benar terdiam. Benar-benar luar biasa."

Id dan Zerof tiba-tiba mulai bergumam sendiri. Ada apa dengan mereka ya?

Kurasa aku tidak mengatakan hal yang aneh, sih.

"Baiklah. Aku akan mempertaruhkan segalanya dan menantangmu, Lloyd! Aku menantikan pertandingan finalnya."

"O-ou."

Id mengatakan hal itu lalu pergi.

Entah kenapa, tapi terima kasih atas banyak hal.

Cairan sumsum sihir ini akan kugunakan dengan sebaik-baiknya.


"Yo, Lloyd! Karena kamu tiba-tiba menghilang, aku khawatir kamu pergi ke mana."

Yang datang berpapasan dengan Id adalah Albert dan yang lainnya.

Lugol dan kawan-kawan juga ikut bersama mereka.

"Saat kami sedang asyik berdiskusi soal Golem, kami juga jadi ingin bekerja. Kalian sedang melakukan modifikasi, kan? Bolehkah kami ikut bergabung?"

"Hehe, aku sudah tahu kalau Lody-bo pasti ada di sini. Makanya aku mengajak mereka semua ke sini."

Di belakang Dian, terlihat para teknisi dari negara lain yang sepertinya sudah menjadi akrab dengannya.

"Jika ada yang bisa kami lakukan, silakan perintahkan apa pun pada kami."

Di samping mereka, Sylpha membungkuk dengan hormat.

Terima kasih banyak. Meski sudah ada cairan sumsum sihir, pekerjaan modifikasi akan memakan waktu yang cukup lama.

Kalau cuma berdua, mungkin akan memakan waktu sampai subuh.

"Semuanya, terima kasih! Ayo, Kak Zerof juga."

"Mu…… ta, tapi……"

"Apa Kakak tidak apa-apa kalau tidak bisa ikut pertandingan?"

Saat aku mendesaknya, Zerof mengembuskan napas panjang seolah sudah menyerah.

"……Ah, itu. Terima kasih."

Melihat Zerof yang mengucapkan terima kasih dengan malu-malu, semua orang saling berpandangan dan tertawa kecil.

──Begitulah, pekerjaan berlanjut sepanjang malam, dan entah bagaimana bisa selesai sebelum fajar menyingsing.

Menggunakan cairan sumsum sihir pemberian Id dan dibantu oleh semua orang, kami berhasil memberikan formula penetralisir pada Di-Guardia. Kalau begini, penghalang itu pun pasti bisa ditembus.

"Fumu, tapi sisa cairannya masih banyak ya. Mau dikemanakan, Lloyd? Apa mau dikembalikan pada Id?"

"……Tidak, mumpung sudah ada, mari kita gunakan saja."

Masih ada bagian lain yang perlu diperbaiki.

Karena Id bilang ingin bertarung dengan kekuatan penuh, kan. Aku harus melakukan apa yang bisa kulakukan.

Lagipula, rencanaku untuk membuat Golem terkuat masih terus berlanjut. Bagian ini dibuat begini, lalu bagian itu begitu…… fufufu, menyenangkan sekali.

A-Aaaaaaaaa—! Di-Guardia sangat kuat! Kemenangan lagi! Benar-benar mendominasi—!

Di tengah sorakan meriah, Di-Guardia berbalik dan kembali.

Di pertandingan kedua pun kami berhasil menang tanpa hambatan berarti.

"Apa cuma perasaanku saja ya. Tepuk tangannya terasa lebih keras daripada saat pertandingan pertama."

"Awalnya Anda dianggap tidak ramah dan kurang populer, tapi sepertinya penggemar mulai bermunculan. Saat saya baru mulai menjadi petualang, saya juga sering diejek karena saya seorang wanita, tapi jika kita menunjukkan kemampuan kita, orang-orang di sekitar akan mengakuinya."

Saat aku sedang mengobrolkan hal itu dengan Sylpha, Zerof turun dari Di-Guardia.

"Selamat atas kemenangannya, Kak Zerof."

"Saya tidak melakukan hal yang istimewa. Ini hampir sepenuhnya berkat Di-Guardia. Kekuatannya benar-benar luar biasa seolah-olah seekor gajah sedang menginjak tikus. Berikutnya, apa kamu mau mencoba mengendarainya, Lloyd?"

"Tidak, tidak, aku permisi saja."

Aku buru-buru melambaikan tangan menolak.

Lagi pula, aku sudah cukup menonjol karena meladeni orang-orang sebagai pengganti Zerof.

Pekerjaan utamaku tetaplah seorang penyihir. Aku tidak berniat mencari nama sebagai seorang alkemis.

Dalam turnamen ini, aku hanya berniat menjadi orang di balik layar.

"Dasar, anak yang tidak punya ambisi."

"Ahaha, maaf ya."

Sepertinya dia mau mengalah.

Saat aku sedang mengembuskan napas lega, tiba-tiba terdengar sorakan "Wah!" dari arah sana.

Ooooooo—! Leonhart juga sangat kuat! Kecepatan macam apa itu! Ia benar-benar menghancurkan lawan tanpa membiarkan mereka melakukan apa pun—!

Sepertinya Id juga menang.

Dengan kecepatan yang ditunjukkannya saat melawan Tao tadi, sepertinya tidak akan ada Golem yang bisa menyentuhnya.

Karena dia menatap ke arah sini sambil tersenyum, aku mengangguk membalasnya.

Aku menantikan pertandingan finalnya, Id menggerakkan bibirnya tanpa suara.

Aku pun juga demikian.

"Tuan Lloyd, tolong lihat itu. Di dekat kaki Golem milik Id, ada sesuatu."

"Hm, apa itu?"

Sesuai kata-kata Grim, aku mengalihkan pandangan. Di sana berdirilah seorang pria berjubah hitam.

"Sepertinya dia orang negara ini. Apa dia rekan Id?"

"Tapi gelagatnya aneh. Aku merasakan hawa yang tidak mengenakkan."

Memang benar, untuk ukuran pembantu Id, dia bertingkah sangat mencurigakan. Apa yang sedang dia lakukan?

"Hm? Dia memegang sesuatu."

Pria itu membawa sesuatu yang mengeluarkan kekuatan sihir kuat seperti arang hitam di balik bajunya.

Itu adalah Cursed Tool.

Salah satu jenis alat sihir, namun demi mendapatkan efek yang lebih kuat, kontrol sengaja diabaikan dan formula sihir dirangkai secara berantakan dan bertumpuk-tumpuk.

Alat ini menunjukkan efek yang kuat namun mustahil untuk dikendalikan.

Bisa dibilang itu adalah perangkat untuk memicu amukan kekuatan sihir. Berdasarkan sifatnya, jika dibiarkan bersentuhan dalam waktu lama dengan tumpukan formula sihir yang kompleks dan halus seperti Golem, itu akan memicu malfungsi.

"Bajingan itu, sepertinya dia berniat memasang alat kutukan itu pada Golem. Entah siapa dia, tapi kemungkinan besar dia adalah orang yang akan senang jika Id berada dalam posisi sulit. Jika rencananya berhasil, kita akan mendapatkan keuntungan besar tanpa perlu bersusah payah. Gehehe."

"Benar-benar pemikiran iblis yang rendah budi. Tapi jika begitu, kemungkinan Tuan Lloyd kalah tidak akan ada lagi, meski hanya satu banding sejuta. Berpura-pura tidak tahu mungkin adalah salah satu pilihan."

"Cih, budi pekermu juga tidak jauh berbeda, dasar malaikat sialan."

Grim berdecak menanggapi Jiriel.

Memang benar begitu, tapi……

"──Aku tidak bisa membiarkannya begitu saja."

Jika Leonhart mengalami malfungsi karena itu, ada kemungkinan aku tidak bisa menguji senjata baru yang sudah susah payah kubuat dengan puas.

Mumpung sedang ada kesempatan, aku ingin melakukan eksperimen dengan kekuatan penuh.

"Serius!? Padahal kalau dibiarkan musuh akan melemah sendiri, Tuan Lloyd benar-benar terlalu jujur ya."

"Aku ingin bertarung dengan kekuatan penuh. Aku tidak mau ada yang mengganggu."

"Seperti yang diharapkan dari Tuan Lloyd. Anda menginginkan pertarungan yang adil dan jujur dengan mengerahkan segala kemampuan, ya."

Aku merasakan ada kesalahpahaman dari perkataan Grim dan Jiriel, tapi yang paling penting adalah aku akan menghentikan pria itu demi kepentinganku sendiri.

"Hei, boleh bicara sebentar?"

Aku menyapa pria yang berusaha mendekati Leonhart dengan berbaur di antara penonton.

"A-apa!? Ka-kau…… ti-tidak. Mana mungkin. Kalau dilihat baik-baik ternyata orang lain ya…… kau benar-benar mengejutkanku."

Pria itu menggumamkan sesuatu, namun segera menenangkan diri dan memberikan senyum palsu padaku.

"……Ada apa, Nak?"

"Aku cuma penasaran apa yang akan kamu lakukan dengan barang itu."

Aku menangkap lengan pria yang buru-buru menyembunyikan alat kutukan itu ke balik bajunya, lalu melanjutkan bicara.

"Itu alat kutukan, kan? Apa yang mau kamu lakukan? Jangan-jangan kamu mau memasangnya pada Golem?"

Wajah pria itu seketika memucat dan dia mulai memberikan alasan yang terbata-bata.

"Ti-tidak, Nak. Ini, tadi aku menemukannya tergeletak…… kupikir mungkin ini bagian yang terlepas dari Golem ini……"

"Mana mungkin. Kalau memasang benda seperti itu, formula sihir yang terangkai akan menjadi sangat kacau dan pasti akan memicu malfungsi. Tidak mungkin ada orang yang membawanya begitu saja. Lagipula, di alat kutukan itu, terlihat jelas jejak-jejak kesulitan yang dialami Kakak saat membuatnya."

Saat aku melihat alat kutukan itu dengan Magic Concentration, terlihat reaksi formula yang sama dengan alat kutukan itu di ujung jari pria tersebut. Sangat jelas dan tebal.

"Alat kutukan ini, sepertinya kamulah yang membuatnya."

"I-itu fitnah! Apa yang dibicarakan bocah ini!?"

Mungkin karena sudah kehilangan kata-kata, pria itu berteriak keras.

Sementara itu, orang-orang yang menyadari adanya kejanggalan mulai berkumpul di sekitar kami.

"Oi oi, ada apa ini? Apa yang terjadi?"

"Alat kutukan? Berbahaya sekali membawa barang seperti itu ke Festival Alkemis!"

"Sepertinya pria itu pelakunya. Anak kecil itu sepertinya sedang berusaha menghentikannya!"

Karena diarahkan tatapan penuh rasa ingin tahu, pria itu buru-buru membela diri.

"A-aku benar-benar cuma menemukannya! Lagipula tidak ada bukti! Benar, kan!? Kalau kalian bilang aku pelakunya, tunjukkan buktinya! Bukti yang bisa dimengerti siapa saja! Kalian tidak bisa, kan!? Kalau begitu tolong berhenti menuduhku sembarangan!"

"Ah…… itu, bukan begitu. Aku bukan bermaksud untuk menyudutkanmu kok."

Aku menggelengkan kepala pada pria yang berusaha mati-matian menutupi kesalahannya itu.

"Ini cuma sekadar konfirmasi. Aku cuma menjabarkan fakta saja. Apa pun yang Kakak katakan, apa yang akan kulakukan tidak akan berubah."

"A-apa yang……"

Tanpa menghiraukan pria itu, aku mengangkat ujung jariku dan mengaktifkan sihir suci, Dim Light.

Cahaya suci yang terpancar menembus pria itu.

"Agagagagagagagagagagagaga!?"

Pria itu kejang-kejang sambil memutar matanya ke atas hingga terlihat bagian putihnya saja.

Tepat saat aku mengira dia mengeluarkan asap putih dari mulutnya yang terbuka lebar, dia langsung membuka matanya lebar-lebar.

"……Hah! Apa yang sudah kulakukan……!?"

Matanya yang terbuka bukan lagi mata keruh seperti ikan tadi, melainkan berwarna cerah dan berkilauan.

"Ini alat kutukan!? Ja-jangan-jangan aku berniat memasang benda seperti ini pada Golem!? Tidak bisa dipercaya. Apa yang sudah kulakukan……!"

Pria itu jatuh tersungkur sambil wajahnya berkerut penuh keputusasaan.

Dia segera bangkit dan mulai mengaku padaku.

"Aku adalah orang yang melakukan penelitian Golem di Bertram. Tapi anak itu datang, dan posisiku langsung tergeser dalam sekejap. Karena dendam itulah aku melakukan hal ini…… terima kasih telah menghentikanku. Aku akan menebus dosaku."

Begitu ya, jadi dia adalah pendahulu Id.

Kalau posisi direbut oleh anak kecil seperti itu, wajar saja kalau rasa cemburu menyelimuti hatinya.

Bagaimanapun, pemurniannya sepertinya berhasil. Umu.

"Efek sihir suci Tuan Lloyd masih sehebat biasanya ya."

"Umu, sihir suci memang punya efek untuk memurnikan hati manusia yang jahat, tapi hanya Tuan Lloyd yang bisa memberikan efek sampai sejauh ini."

Sambil menundukkan kepala, pria itu mengakui perbuatannya kepada petugas keamanan.

Meski begitu, sepertinya pria tadi mengenalku, tapi sebenarnya siapa dia ya?

Aku jadi lupa menanyakannya. Yah, sudahlah.

Tujuanku sudah tercapai, tidak perlu berlama-lama lagi.

Lebih baik aku pergi sebelum suasananya jadi makin heboh.

"Tunggu dulu! Lloyd!"

Mendengar suara dari belakang, aku menoleh dan di sana Id berdiri.

"Kenapa kamu menghentikannya? Jika alat kutukan itu terpasang, Leonhart tidak akan bisa bergerak dengan normal. Jika itu terjadi, sudah jelas kamu akan mendapatkan keuntungan besar. Seharusnya tidak ada keuntungan bagimu melakukan hal ini."

"Kenapa, ya…… pertanyaan yang aneh. Kalau aku tidak melakukannya, Id tidak akan bisa bertarung dengan kekuatan penuh, kan? Kamu sendiri bilang ingin bertarung dengan kekuatan penuh, jadi perasaan kita pasti sama, kan?"

Id tampak benar-benar terkejut mendengar kata-kataku.

"Kamu…… ingin bertarung denganku dengan kekuatan penuh?"

"Kan sudah berkali-kali aku bilang begitu."

Id sempat ternganga, namun kemudian bibirnya mengendur dan tubuhnya bergetar.

Mungkin itu getaran semangat bertarung. Id menyunggingkan senyum yang seolah tak tertahankan.

"……Suatu kehormatan. Aku sangat senang, Lloyd. Akhirnya kamu mau bertarung denganku dengan serius!"

"Tentu saja. Berikan aku hiburan yang menarik ya."

"Tentu! Tentu saja! Mari kita buat pertarungan yang terbaik!"

Aku menjabat balik tangan yang diulurkan Id.

"Akhirnya"…… maksudnya apa ya? Yah, sudahlah. Toh nanti juga akan segera tahu.

Bagaimanapun juga, babak final sudah di depan mata esok hari.

Dan keesokan harinya. Langit cerah, angin bertiup agak kencang, benar-benar hari yang sempurna untuk menonton pertandingan.

Tatapan dari kerumunan penonton yang luar biasa banyak tertuju pada pusat arena, pada dua Golem yang saling berhadapan.

Golem Fight sudah mencapai puncaknya! Akhirnya, akhirnya kita sampai di babak final—!

Pembawa acara yang masih tetap bersemangat itu meninggikan suaranya, sambil mengangkat tangan ke arah Di-Guardia.

Meski baru pertama kali ikut, ia melaju dengan kekuatan yang luar biasa. Naga merah kebanggaan Saloum, namanya adalah Di-Guardia! Pengendalinya adalah Pangeran Ketiga, Zerof—! Hingga titik ini, ia telah mendominasi lawan dengan daya hancur yang luar biasa! Akankah kegagahannya terlihat lagi di babak final!? Mari kita nantikan!

Waaaaaaaa! Sorakan membahana.

Hingga kemarin penontonnya sudah cukup banyak, tapi hari ini sepertinya jumlahnya dua kali lipat lebih banyak.

"Hou, sepertinya Tuan Zerof sudah cukup populer ya."

"Karena dia kuat sih. Kalau sudah memberikan hasil, sikap tidak ramahnya itu pun akan ditanggapi dengan cara yang baik oleh para penonton."

Benar kata Jiriel dan Grim, sepertinya popularitas Zerof memang sedang naik.

Di awal-awal dulu dia bahkan tidak merespons sorakan penonton, jadi sempat banyak yang menyorakinya dengan nada negatif.

Sepertinya sekarang Zerof sudah mulai terbiasa, dia setidaknya membalas dengan tatapan mata.

Dasar, padahal setidaknya melambaikan tangan saja kan tidak apa-apa.

Lawan tandingnya adalah──pemenang turnamen sebelumnya, Id, alkemis terbaik Bertram yang mengendalikan Leonhart! Akankah kecepatan yang luar biasa itu diperlihatkan lagi di babak final!? Ini pun sangat dinantikan—!

Doooo! Tepuk tangan yang lebih besar dari sebelumnya membahana.

Mungkin karena ini kandangnya lawan, ya.

Id membalas sorakan yang membuat tanah seolah bergetar itu dengan melambaikan tangan.

Daya hancur Di-Guardia melawan kecepatan Leonhart, siapa yang akan menang dan siapa yang akan kalah!? Sejujurnya, saking bersemangatnya, saya sampai tidak bisa tidur semalam! Baiklah kedua peserta, silakan bersiap-siap!

Kami mulai bersiap-siap sesuai instruksi pembawa acara.

Meski begitu, pemeriksaan sebenarnya sudah hampir selesai semua. Tinggal Zerof masuk dan melakukan pengecekan terakhir saja.

Namun Zerof tidak bergerak sedikit pun.

"Kak Zerof, ada apa?"

"Ah, sepertinya, perutku sedang tidak enak……"

Zerof menggumamkan suara lirih yang terdengar menyakitkan.

"Apa sakit perut? Mungkin karena stres yang berlebihan sehingga kondisi lambung dan ususnya terganggu."

Jiriel berkata dengan nada khawatir.

Hmm, rasanya sulit membayangkan Zerof yang sama sekali tidak mempedulikan orang lain itu bisa terkena stres.

"Fumu, aku mencium sisa-sisa kekuatan sihir…… sepertinya dia terkena semacam sihir."

Saat aku memperhatikan dengan teliti menggunakan Magic Concentration, jejak-jejak itu terlihat samar di mataku. Jejak itu mengarah ke……

"Id, ya."

Sepertinya Id-lah yang merapal sihir pada Zerof.

"Dengan kondisi fisik begini, pertandingan final akan sulit. Lloyd, gantikan aku."

"Kak Zerof…… apa Kakak benar-benar tidak apa-apa?"

"Itu lebih baik daripada melihat Di-Guardia kalah tanpa bisa mengeluarkan kekuatan aslinya."

Zerof sangat menantikan pertarungan ini.

Demi hal itu, dia sudah merawat Di-Guardia dan bersiap untuk final.

Dia pasti ingin bertarung sendiri.

Ini pasti keputusan yang sangat sulit baginya.

"Lagipula Lloyd, kamu sering mengendarainya sendirian tengah malam, kan?"

"……! Kakak menyadarinya ya."

"Iya, teknik penguasaanmu sangat hebat. Kamu sudah banyak berlatih ya. Karena itulah aku bisa mempercayakannya padamu."

Sebenarnya, aku sering melakukan pekerjaan tengah malam demi modifikasi Golem.

Ada saat-saat aku mengendarai dan menggerakkannya untuk pengujian, tapi ternyata aku ketahuan ya.

Aku mengangguk perlahan membalas perkataan Zerof.

"Aku mengerti."

"Aku benar-benar bersyukur telah membawamu. Kalau begitu, sisanya kuserahkan padamu…… ugh, sudah hampir batasnya……"

Setelah meninggalkan pesan itu, Zerof berlari kencang menuju toilet.

"Kak Zerof, aku pasti akan membalaskan dendammu……!"

"Tuan Lloyd, padahal kalimatnya begitu tapi wajah Anda malah nyengir lho……"

Waduh, tanpa sadar sudut bibirku naik ya.

Yah, mungkin aku akan sedikit menonjol, tapi kalau sudah dipersiapkan begini mana mungkin aku tidak meresponsnya.

Maksudku, maaf ya Zerof, tapi sebenarnya aku juga memang ingin melakukannya.

Ooh-ttooo—!? Sepertinya ada pergantian pemain—!? Sebagai pengganti Peserta Zerof, Peserta Lloyd yang selama ini memberikan dukungan akan mengendarai Di-Guardia!

Di tengah gemuruh suara pembawa acara, aku melangkah ke telapak tangan Di-Guardia.

Secara otomatis aku terangkat sampai ke bagian dada, zirah bagian dada terbuka dan menampakkan kokpit di dalamnya.

"Lloyd—! Semangat ya—! Kamu pasti bisa!"

"Jangan sampai kalah ya, Lody-bo!"

Aku melambaikan tangan membalas seruan semangat dari Albert dan Dian.

"Tuan Lloyd! Semangat!"

"Ayo berjuang—!"

"Hempaskan mereka semua—!"

Sylpha dan yang lainnya ikut bersorak.

Entah sejak kapan mereka menyiapkannya, tapi mereka bahkan mengibarkan bendera bertuliskan namaku. Aku tidak ingin terlalu mencolok, tapi... kalau sudah begini mau bagaimana lagi.

Bagaimanapun, aku menutup lubang palka dan mendorong tuas aktivasi ke depan.

Vvunn, suara mesin menyala bergaung, dan Di-Guardia perlahan bangkit berdiri.

Pelat sihir yang terpasang di segala sisi memproyeksikan pemandangan luar ke dalam kokpit.

"Whew, dilihat berapa kali pun tetap keren ya barang ini. Jadi pemandangan luar diproyeksikan ke pelat sihir lewat mata Golem, begitu kan?"

"Tepatnya lewat kamera. Karena terpasang di sekujur tubuh, area yang biasanya menjadi titik buta mata manusia pun bisa terlihat dengan jelas."

"Mumumu, tanpa kusadari teknologi manusia sudah mencapai tahap sejauh ini ya..."

Di-Guardia ini bergerak dengan perpaduan berbagai teknologi lainnya.

Mari kita kerahkan seluruh kemampuannya.

"Apa kamu bisa mendengarku, Lloyd?"

Sebuah suara bergema di dalam kepalaku. Itu suara Id.

Ini adalah Telepathy, sihir yang memungkinkan percakapan jarak jauh melalui pikiran.

Aku membalasnya dengan gumaman singkat.

"Maaf soal Tuan Zerof. Tapi aku sudah melepaskan mantranya, jadi kurasa dia akan baik-baik saja."

"Apa kamu sebegitu inginnya bertarung denganku?"

"Tentu saja. Tidak ada gunanya jika aku tidak menang melawan Golem yang kamu kendalikan. Jadi Lloyd, bertarunglah denganku dengan serius...!"

Id memberi penekanan kuat pada kata-katanya.

Meski itu juga keinginanku, entah kenapa dia tampak sangat terobsesi.

"Wah, dia sangat antusias ya, Tuan Lloyd. Anda benar-benar tidak ingat siapa dia?"

"Sama sekali tidak ingat."

"Kasihan sekali... tapi mau bagaimana lagi. Bagi Tuan Lloyd, hal seperti itu mungkin cuma urusan sepele."

"Siapa pun dia, aku akan tahu kalau aku menang."

Aku mengoperasikan panel kendali dan menyalakan sakelar satu per satu, membuat suara mesin perlahan semakin keras.

Bunyi roda gigi yang berderit, suara tenaga yang mengalir ke seluruh rangka, dan gesekan logam.

Semuanya menyatu menjadi kebisingan yang memenuhi kokpit.

Namun, itu tidak mengganggu. Justru rasa gembira yang menyenangkan seolah menyelimuti tubuhku.

Aku menyunggingkan senyum dan mendorong tuas sekuat tenaga.

"Di-Guardia, aktif."

Seolah merespons kata-kataku, Di-Guardia tegak berdiri dan mendongakkan kepalanya.

"Tapi Tuan Lloyd, padahal Anda bilang sudah bosan dengan alkimia, ternyata Anda cukup bersemangat juga ya."

"Lagipula Golem ini tidak benar-benar memuaskan standar Tuan Lloyd, kan?"

Aku mengangguk membalas perkataan Grim dan Jiriel.

"Ya, memang pembuatan Golem tidak se-menarik itu buatku. Tapi seiring kemajuan pekerjaan bersama yang lain, kupikir ini bisa diaplikasikan ke sihirku juga."

Benar, meski Golem sebagai entitas tunggal kurang memikat, banyak hal menarik yang bisa dilakukan jika dikombinasikan dengan sihir.

Tujuanku untuk menciptakan Golem terkuat masih berlanjut, meski arahnya sedikit bergeser.

Namun untuk itu, aku harus bisa mengeluarkan kekuatan Di-Guardia lebih dari ini.

Karena itulah aku menghabiskan waktu setiap hari dengan Golem ini.

Dan sekarang, ada lawan yang sepertinya bisa memberikan data pertempuran yang pas. Wajar saja kalau aku merasa bersemangat.

"Ayo, Di-Guardia. Eksperimen dimulai."

Seolah menyahuti ucapanku, kedua mata Di-Guardia bersinar terang.

Di depan mataku, Leonhart tampak sudah mengambil posisi tempur yang sama.

Kedua Golem perlahan bangkit berdiri! Sepertinya semangat bertarung mereka sudah mencapai puncak!? Mereka saling menatap tajam dengan posisi rendah—! Baiklah, baiklah! Apakah kalian siap!? Sepertinya sudah siap! Maaf menunggu lama, pertandingan final Golem Fight! Ready... Go!

Tangan pembawa acara yang terangkat tinggi diayunkan ke bawah dengan penuh tenaga.

Seketika itu juga, Leonhart menerjang lurus ke arahku.

Aku juga mengambil posisi condong ke depan dan menembakkan meriam sihir di punggungku.

Tembakan pertama dihindari dengan lompatan ke samping.

Tembakan kedua juga ditepis dengan mudahnya.

Saat tembakan ketiga dihindari, dia sudah berada tepat di depan mata Di-Guardia.

"Ooooh!? Cepat sekali! Kecepatannya tidak sebanding dengan Golem-golem sebelumnya!"

"Gawat! Kalau begini kita tidak bisa menghindari serangannya!"

Meski mereka berdua panik, tidak ada masalah.

Aku dengan tenang mendorong tuas ke kiri.

Tubuh Di-Guardia condong ke samping.

Memang benar kalau melompat untuk menghindar tidak akan sempat, tapi itu bukan masalah.

"Hup."

Sambil mempertahankan posisi miring, Di-Guardia bergeser tepat ke samping.

Untuk menghadapi pergerakan cepat Leonhart yang kulihat saat melawan Tao, aku sudah memasang pendorong tambahan secara mendadak.

Api sihir menyembur kuat dari lubang pembuangan, membuat Di-Guardia meluncur ke samping dengan momentum tersebut.

"Hou, kamu menggunakan sihir serangan untuk pergerakan? Tapi Lloyd, apa kamu pikir aku tidak memperhitungkan hal semacam itu?"

Leonhart segera mengubah arah dan melancarkan serangan susulan.

Memang cepat. Tapi berkat pendorong ini, aku masih bisa mengimbanginya.

Leonhart memutar ke titik tujuanku dan mengayunkan cakar tajamnya. Aku membalasnya dengan tembakan meriam sihir.

"Kh!?"

Leonhart berhasil menghindar dengan lompatan di saat kritis, namun karena posisi yang dipaksakan, dia menjadi tidak terlindungi di udara.

Bagus, aku akan menembaknya lagi di sana.

Tepat saat aku membidik Leonhart yang sedang berputar di udara dan hendak menarik pelatuk, kejadian itu terjadi.

Leonhart menendang udara dan mendarat.

"Dia mengaktifkan penghalangnya sendiri dan menjadikannya pijakan!"

"Mampu membentangkan penghalang yang bisa menopang massa Golem di kecepatan setinggi itu... bocah yang mengerikan."

Grim dan Jiriel tercengang.

Ya, bagus. Ternyata memang tidak mudah ya. Kalau begitu...!

Aku menjulurkan lengan kiri ke arah Leonhart yang menerjang lurus.

Lengan kanan kusembunyikan di balik lekuk tubuh, menggenggam pedang besar di pinggang.

Akan kubelah dia tepat saat dia mencoba menerkamku.

Bagus, bagus, bagus... sekarang!

Aku menghunus pedang besar itu dan mengayunkannya mendatar.

Namun, seolah menyadari hal itu di detik terakhir, Leonhart kembali menciptakan pijakan dan mengubah arah di udara.

Dia nyaris menghindari tebasan pedang besarku.

Debu tanah mengepul mengikuti jalur pendaratannya.

...Dan sesaat kemudian, sorakan penonton meledak.

S-sungguh serangan dan pertahanan yang luar biasa! Saking cepatnya, saya sampai tidak sempat berkata-kata—! Inilah yang disebut dengan momen yang membuat napas terhenti! Sejujurnya, saya sampai terpesona dan lupa tugas sebagai pembawa acara—!

Pembawa acara tampak sangat bersemangat.

Para penonton juga terlihat sangat antusias.

"……Fufu, bagus. Bagus sekali, Lloyd. Jika tidak begini, maka tidak ada artinya."

"Sama-sama. Id, kamu adalah lawan yang sangat layak untuk dihadapi."

Data pertempuran Di-Guardia terus diperbarui dengan sangat baik.

Soalnya aku belum sempat bertarung melawan musuh yang bisa mengukur batas maksimal output mesin ini.

Ini semua berkat adanya lawan yang bisa bertarung dengan seimbang. Aku hanya bisa berterima kasih pada Id.

"Nah, perlihatkan lagi yang lebih banyak."

Aku mendorong tuas untuk memajukan unit lebih jauh lagi.

Pendorong menyemburkan api, dan aku menerjang lurus ke depan.

"Fuh, serangan frontal ya? ...Boleh juga. Mari kita selesaikan ini dalam satu gerakan!"

Leonhart merunduk, cakar pengaitnya menghunjam ke dalam tanah.

Dari sana, seberkas asap putih membumbung.

Reaksi sihir itu... dia membentangkan penghalang.

"Itu Aqua Regia Film, Tuan Lloyd!"

"Ya, dia langsung mengeluarkannya."

Kalau begitu, ini saatnya senjata rahasia kita beraksi.

Pedang besar ini sudah dirangkai dengan formula penghalang, sehingga memungkinkan serangan sambil menetralkan formula milik Leonhart.

Namun itu hanya di satu bagian saja. Jika tidak mengenai tepat dari depan, pedang ini justru bisa patah.

Karena itulah, aku harus menghentikan pergerakan Leonhart terlebih dahulu agar serangan ini kena.

Caranya, tentu saja ada.

"Haaaaah!"

Aku mengayunkan pedang yang sudah terangkat tinggi dan menghantamkannya ke depan sekuat tenaga.

Doooooooooon! Suara ledakan menggelegar dan kepulan debu tanah yang masif membumbung di antara kedua mesin.

Ooooh—! Apakah ini pengalihan pandangan!? Kedua Golem diselimuti oleh kepulan debu—! Kami juga tidak bisa melihat sosok mereka!

──Tapi, aku bisa melihatnya.

Kamera utama Di-Guardia sudah dipasangi formula See-Through.

Di dalam kepulan debu, aku bisa melihat Leonhart yang terdiam dengan jelas.

Aku menyalakan pendorong untuk meredam suara langkah kaki dan memperpendek jarak.

20 meter, 10 meter, 5 meter... di sini!

Aku kembali mengangkat pedang besar dan mengayunkannya ke bawah.

Sensasi logam yang merangsek masuk dan remuk. ──Kena.

"Tuan Lloyd, ada yang aneh...!"

Tepat seperti kata Jiriel. Memang ada sensasi mengenainya, tapi terasa anehnya ringan.

Karena merasa curiga, aku menghempaskan debu tanah dengan sihir elemen angin.

Di tengah debu yang tersapu angin kencang, yang terbelah oleh pedang besarku hanyalah cangkang kosong dari Leonhart.

"Aqua Regia Film juga bisa digunakan dengan cara seperti ini lho...!"

Begitu ya, dia mencairkan permukaan zirah dengan Aqua Regia Film untuk memisahkannya.

Lalu menggunakannya sebagai kamuflase untuk mengecohku.

Unit asli Leonhart berada tepat di sampingku yang baru saja mengayunkan pedang, dalam posisi siap menerkam dari tanah.

"Kena kau!"

Leonhart melompat bersamaan dengan seruan Id.

Memang, bidikannya tidak buruk.

Hanya saja, dia kurang beruntung.

Di-Guardia yang baru saja mengayunkan pedang besar berada dalam posisi condong ke depan, yang artinya berada dalam posisi siap menembakkan meriam sihir di punggungnya.

Leonhart menerjang dengan rahang terbuka lebar, dan aku membidik tepat ke dalam mulutnya dengan meriam sihir.

Tentu saja bukan hanya pedang besar yang dipasangi formula penghalang.

Meski jumlahnya sedikit, aku juga merangkai formula pada peluru meriam sihir untuk menjadikannya peluru penetral.

Dan peluru penetral itu sudah terisi.

"──Peluru penetral, tembak."

Sesaat setelah aku menarik pelatuk, peluru melesat dan pandanganku menjadi putih total.

Kilatan cahaya yang sangat kuat tercipta saat kedua formula penghalang saling berbenturan, disusul guncangan yang menggetarkan unit.

"U-guaaaaaaaaaaaaaaa!?"

Teriakan Id menggema, lalu teredam oleh suara sesuatu yang jatuh terhempas.

Keheningan── cahaya memudar, dan pandangan kembali menjadi jelas.

Di depanku, sosok Leonhart tampak tergeletak tak berdaya.

Tembakan telak—! Meriam Di-Guardia mematahkan taring Leonhart—!

Doooooo! Sorakan masif membahana.

Peluru penetral itu berhasil menembus penghalang Leonhart dan mematahkan taringnya.

"Kh... cuma karena, hal seperti ini..."

"Ada apa Id? Ini belum berakhir, kan?"

"……Tentu saja belum…! Apa kamu pikir sudah berapa lama aku menantikan hari ini…?"

Namun berlawanan dengan kata-katanya, tepat saat Leonhart mencoba melangkah, lututnya goyah.

Sepertinya sistem kendalinya mengalami kerusakan. Langkah kakinya tidak stabil.

"Gehehe, sepertinya dia sudah mencapai batasnya. Golem dengan mobilitas setinggi itu pasti mengorbankan daya tahan yang sangat besar. Dia tidak akan bisa bergerak normal lagi."

"Memang untuk pertahanan dia bisa mengandalkan penghalang kuat, tapi kalau terkena tembakan langsung dari peluru penetral, dia tidak akan sanggup menahannya."

Meski mereka berdua bilang begitu, aku ingin percaya dia masih bisa bertarung.

Jujur saja, aku masih belum puas sama sekali.

Ayo berjuang Id, kamu pasti bisa.

"Kh... bergeraklah Leonhart...!"

Id mengerahkan seluruh tenaganya, tapi gerakan Leonhart sangat lambat.

Saat aku melihat dengan Magic Concentration, tenaga sihir yang tadi memenuhi setiap sudut unit tampak hampir habis.

Konsumsi tenaga sihir Aqua Regia Film jauh lebih banyak dibanding penghalang biasa. Menutupi tubuh raksasa Golem pasti menghabiskan tenaga sihir yang luar biasa besar.

"Sepertinya kamu kehabisan tenaga sihir ya."

"……Belum, ini baru dimulai."

Id masih membalas kata-kataku dengan keras kepala, tapi dia memang tampak tidak bisa bergerak normal.

Fumu, tidak ada gunanya bertarung dalam kondisi begini.

Aku mengembuskan napas, lalu menjulurkan tangan ke arah Leonhart.

Cahaya lembut menyelimuti Leonhart.

"Tenaga sihirnya... pulih...!? Apa yang kamu lakukan, Lloyd!?"

"Bukannya sudah jelas? Aku menyalurkan tenaga sihirku padamu."

Sihir sistem penyembuhan Mana Transfer, sihir tingkat tinggi untuk menyalurkan tenaga sihir sendiri ke target.

Hanya dengan menyalurkan tiga puluh persen dari total tenaga sihirku, kapasitas penyimpanan Leonhart pasti akan penuh kembali dengan mudah.

"Ja-jangan bercanda! Pertarungan macam apa yang menggunakan bantuan seperti itu! Mana pertarungan sampai titik darah penghabisannya! Aku tidak sudi!"

"Meski kamu bilang begitu, tidak ada gunanya kalau kamu tidak bisa bertarung dengan layak, kan."

"Gu, gugugugugu..."

Id menggertakkan gigi dengan penuh kekesalan, tapi pergerakan Golem-nya sudah kutahan dengan sihir sistem tanah Mud Bind.

Lumpur lunak melilit seperti ular, mengunci pergerakan Leonhart.

Soalnya kalau dia bergerak sembarangan, tenaga sihir yang kusalurkan lewat Mana Transfer bisa meleset dan malah meledak.

"Hmm, tapi kenapa Id malah marah ya?"

"Ya iyalah, lawannya menyerang dengan kekuatan penuh tapi masih mulus, sedangkan dia sendiri taringnya patah dan kehabisan tenaga sihir, tapi masih disuruh bertarung terus..."

"Bahkan pergerakannya dikunci oleh Tuan Lloyd, lalu dipulihkan pula. Dalam kondisi begitu mana ada lagi esensi pertarungan kekuatan penuh. Id pasti merasa sangat terhina..."

Saat aku memiringkan kepala keheranan, Grim dan Jiriel malah menatapku dengan tatapan ngeri.

Kenapa sih? Padahal aku membantunya karena aku benar-benar ingin bertarung dengan kekuatan penuh.

"Lloyd, Lloyd Lloyd Lloyddddddddd...!"

Suara Id bergetar karena amarah. Kenapa ya? Tidak adil sekali.

"……Kamu selalu begitu! Kamu sama sekali tidak mengerti perasaanku! Padahal aku hanya ingin kamu bertarung denganku dengan serius!"

"Apa sih. Dari awal aku sudah bertarung sekuat tenaga, tahu. Dasar egois..."

"Mana ada kekuatan penuh yang seperti ituuuuuuu!"

Dia menerjang maju dengan raungan keras.

Sambil memegangi kepala karena merasa diperlakukan tidak adil, aku menatap Leonhart yang menerjang sambil diselimuti tenaga sihir.

Sepertinya tenaga sihirnya sudah pulih.

Ditambah lagi, Id memperkuat Leonhart dengan sihirnya sendiri.

Begitu ya, jadi sekarang adalah pertarungan serius dengan tambahan sihir.

Bagus, bagus. Kalau begitu aku juga akan serius.

"Sihir sistem penguatan, perluasan aktivasi berurutan. Strength Boost, Speed Boost, Elasticity Boost, Float..."

Satu per satu aku merapalkan sihir penguatan, dan setiap kali itu pula unit Di-Guardia bersinar terang.

Lalu, Di-Guardia yang seluruh tubuhnya telah diperkuat oleh sihirku melangkah maju.

Seketika, retakan muncul di tanah, dan gelombang kejut menerbangkan debu.

Kecepatan Di-Guardia yang sudah diperkuat jauh melampaui kecepatannya yang tadi.

Sambil menyiapkan pedang besar, setiap kali aku melangkah, pemandangan di sekitar seolah melesat pergi.

"Ke-kecepatan apa ini! Tidak bisa dibandingkan dengan yang tadi! Inilah sihir penguatan itu!?"

"Benda mati seharusnya sulit dialiri tenaga sihir, dan sihir penguatan seharusnya memiliki tingkat kesulitan yang sangat tinggi... bisa mengaktifkannya dengan tingkat presisi sejauh ini... Tuan Lloyd benar-benar sosok yang mengerikan."

Di-Guardia yang mampu bergerak cepat berkat sihir kini sudah berkali-kali lipat lebih cepat dari Leonhart, dan pergerakannya benar-benar terkunci.

"Kh! Pergilah! Leonhart!"

Tebasan dari kedua cakar kaki depan dalam terjangan putus asa itu mengenai Di-Guardia.

"Berhasil!?"

Id berseru gembira sejenak, tapi dia salah.

Yang dia tebas hanyalah lapisan tipis dari Di-Guardia.

"Begitu ya, jadi ini adalah bayangan bermassa yang dibuat dengan Aqua Regia Film. Tidak buruk."

Meski cuma meniru, ternyata berhasil juga.

Pasti sangat sulit mengontrol pelepasan hanya bagian lapisan tipis menggunakan Aqua Regia Film.

Bisa melakukannya pada Golem dengan bentuk serumit ini adalah hal yang luar biasa.

"Ha-hanya dengan melihat teknikku sekali saja...!?"

Suara Id terdengar penuh keterkejutan.

Di celah itulah, aku sudah memutar ke belakang Leonhart.

Aku mengangkat pedang besar, dan menebasnya dalam satu ayunan.

"Ilmu Pedang Besar Aliran Langris── Ogre King Fang."

Suara percikan api berderit.

Para penonton yang terdiam membuka mata lebar-lebar.

Di monitor raksasa, tampak Leonhart yang telah terbelah menjadi dua.

Sensasi seolah waktu terhenti, dan sesaat kemudian.

Doooooooooooooon!

Ledakan besar terjadi di belakangku.

Aku memutar pedang besar itu lalu memasukkannya kembali ke dalam sarungnya.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close