Pembentukan
unit langsung selesai dan kami pun berangkat menuju gerbang.
Pasukan Saias
terdiri dari para penyihir dan jumlahnya terlihat sekitar dua ribu orang.
Padahal tadi
dibilang unit kecil, tapi dia membawa cukup banyak orang ya.
"Heh, untuk
melindungi para penyihir yang berharga, jumlah sebanyak ini memang diperlukan.
Daripada mencemaskanku, apa kamu sendiri tidak apa-apa? Sepertinya aku tidak
melihat ada prajurit penyihir di sisimu……"
"Aku hanya
tidak mengenakan pakaian yang mencolok saja, kok."
……Meski aku
bilang begitu, kenyataannya penyihirnya cuma aku seorang.
Saat ini aku
masih mengerahkan banyak kekuatan untuk menjaga Mana Soldier, tapi
karena kemarin formula sihirnya sudah diperbaiki, rasanya jadi sedikit lebih
ringan.
Efisiensi mana
dari sihir militer bekerja pada bagian-bagian yang sangat mendetail, dan pada
akhirnya konsumsi mana bisa terpangkas hingga hampir setengahnya.
Berkat itu,
kekuatanku sudah cukup pulih untuk bertarung sewajarnya. Kalau cuma membakar
mayat sih masih sanggup.
Ngomong-ngomong,
aku hanya membawa lima ratus unit termasuk Mana Soldier.
Ada Ren yang ahli
dalam pertarungan jarak dekat berkat kabut racunnya, Bils bersama belasan
banditnya, serta Tao yang ikut karena ingin melihat Cruze bertarung.
Tao benar-benar
terpaku melihat cara bertarung Cruze tadi.
Duh, ini kan
bukan tamasya tahu.
"Padahal Tuan
Lloyd sendiri juga kelihatan sangat bersemangat begitu."
"……Ketahuan
ya?"
Selain bisa
menguji efisiensi formula sihir, aku juga bisa melihat Bloodline Magic.
Tentu saja hatiku jadi berdebar senang.
"Siapa pun
pasti tahu kalau melihat wajahmu. ……Lagipula kalau dilihat dari dekat, gerbang
ini benar-benar besar ya."
Selagi
mengobrol, kami sampai di dekat gerbang.
Gerbang
itu sangat tinggi sampai harus mendongak untuk melihat puncaknya, dan suara
pertempuran terdengar riuh dari balik sana.
Kemudian,
seorang prajurit yang bersiaga di dekat sana menyapa kami.
"Oh,
Tuan Lloyd dan Tuan Saias ya. Saya Kane, wakil komandan Pasukan Kedua. Saya sudah mendengar beritanya
dari kurir. Katanya kalian akan membakar mayat-mayat monster yang sudah kami
tumbangkan."
"Ya,
serahkan saja pada kami, dijamin beres. Kalian tenang saja."
Melihat Saias
yang membusungkan dada dengan bangga, Kane tersenyum tipis.
"Jadi dia Tuan
Lloyd…… Seperti kata Tuan Cruze, aku bisa merasakan mana yang sangat mengerikan
meskipun dia masih anak-anak. Hehe, sebagai sesama penyihir, izinkan
saya menyaksikan cara bertarung Anda."
Tapi pandangannya
malah tertuju padaku. Entah kenapa aku merasa dia menaruh harapan padaku…… ah,
mungkin cuma perasaanku saja.
Kane menggumamkan
sesuatu sambil memutar kudanya.
"Terima
kasih atas bantuannya. Kami akan bertugas mengawal dan memandu kalian, mohon
kerja samanya."
"Kami juga
mohon bantuannya."
"Baiklah,
kami akan membuka gerbangnya. Mohon tunggu sebentar."
Kane memberikan
isyarat, dan para prajurit di samping gerbang mulai memutar tuas pengungkit.
Gogogo, gerbang terbuka dengan suara
berat yang dalam.
"Ayo
berangkat. Ikuti kami!"
Begitu
gerbang terbuka, Kane dan yang lainnya langsung memacu kuda mereka. Kami pun
menyusul di belakang mereka.
"Semuanya,
jangan sampai tertinggal!"
Saias meneriakkan
perintah pada pasukannya dan memacu kudanya dengan penuh semangat.
Kami mengikuti
dengan santai sedikit di belakang mereka.
Jarak kami dengan
barisan depan sekitar seratus meter, dan perlahan jaraknya semakin melebar.
"Lloyd, kita
jadi tertinggal, apa tidak apa-apa?"
Melihat Ren yang bertanya dengan cemas, Bils hanya tertawa
kecil.
"Jangan khawatir, Bocah."
"Siapa yang kamu panggil bocah!"
"Lihat itu."
Pandangan Bils tertuju pada pasukan Saias yang mulai
bertarung dengan monster.
"Mereka
terlalu dekat dengan barisan depan, jadi malah ikut terseret dalam pertempuran
yang tidak perlu. Kita ini
jumlahnya sedikit, yang penting adalah menyelesaikan tugas kita dengan pasti.
Sang Tuan sepertinya sangat paham soal itu."
"Ja-jadi
begitu ya…… Seperti dugaan Lloyd."
Oh, jadi begitu
ya. Padahal aku sama sekali tidak memikirkannya.
Tatapan
Ren yang berbinar-binar jadi terasa sedikit membebani.
Akhirnya
kami sampai di tempat Cruze dan yang lainnya mengamuk.
Mayat
monster bergelimpangan di sana, dan bau bangkai menyengat menusuk hidung.
"Baiklah
semuanya, mohon bantuannya."
"Serahkan
saja padaku. Lloyd-kun, aku akan mengurus bagian sini, kamu urus sebelah sana
saja. Jangan sampai tertinggal ya!"
Setelah berkata
begitu, Saias memimpin para penyihirnya menuju tumpukan mayat.
Mereka membentuk
kelompok beranggotakan lima orang untuk mengepung satu monster, lalu merapal
mantra hingga api besar berkobar.
Sepertinya itu
adalah teknik Fireball yang dirapal secara sinkron oleh lima orang.
Dengan
menggunakan sihir tingkat rendah yang durasi rapalannya singkat, lima orang pun
jadi mudah untuk menyamakan waktu, dan konsumsi mananya juga sedikit sehingga
beban masing-masing orang jadi lebih ringan.
Begitu ya,
benar-benar elit lulusan akademi. Pemikirannya sangat matang.
Memang melihat
orang lain menggunakan sihir itu sangat edukatif dan menyenangkan.
"Oi, oi,
mereka mengerjakannya dengan cepat tuh. Penyihir di pihak kita kan cuma Sang
Tuan saja? Apa bakal sempat?"
"Hmm, ah,
punyaku sudah selesai kok."
Aku sudah selesai
membakar monster-monster di sini dengan Fireball.
Kalau tidak
cepat-cepat diselesaikan, aku tidak bisa menonton mereka dengan santai, kan.
Aku segera
mencoba Fireball yang sudah diefisiensikan dengan sihir militer, dan
hasilnya luar biasa. Dengan mana yang sangat sedikit, daya hancurnya cukup
besar.
Baguslah. Dengan
begini, sihir kuat yang tadinya jarang kugunakan karena boros biaya (mana)
sepertinya bisa mulai kugunakan secara normal.
"Tidak
mungkin…… kamu membakar monster sebanyak itu dalam sekejap? Padahal aku cuma
berpaling sebentar…… Jadi ini kekuatan Pangeran Ketujuh ya. Pantas saja Kakak memutuskan untuk
mengikutimu."
"Fufun,
inilah kehebatan Lloyd. Kamu takut, kan?"
Melihat Ren yang
entah kenapa malah terlihat bangga, Bils hanya bisa menghela napas pasrah.
"Uoraah!"
Gan! Gan! Suara para bandit pimpinan Bils yang
menghancurkan tulang terdengar di sekeliling.
Tidak perlu
sampai hancur berkeping-keping, asal sudah retak atau patah di beberapa titik,
mereka tidak akan bangkit lagi.
Sebenarnya aku
bisa saja membakar mereka sampai ke tulang-tulangnya, tapi itu mungkin akan
terlalu mencolok, jadi lebih baik jangan. Aku juga tidak enak kalau harus
merebut pekerjaan semua orang.
"Pekerjaan
di sebelah sini hampir selesai ya. Di sisi Saias sepertinya masih butuh waktu
sedikit lagi."
Meski Saias
bekerja dengan cukup cepat, masih ada beberapa mayat yang tersisa.
Dia terlihat
kesal sambil terus meneriaki anak buahnya.
"Hei, kenapa
Saias sendiri tidak memakai sihir?"
"Si-sihirku
bukan sesuatu yang bisa dipamerkan secara murah di tempat seperti ini!"
Aku mencoba
bertanya sedikit, tapi Saias malah marah dan membuang muka.
Yah, padahal aku
berharap bisa melihat Bloodline Magic dari keluarga Revenant. Sayang
sekali.
Beberapa saat
setelah kami selesai, pasukan Saias pun akhirnya menyelesaikan tugas mereka.
"Hmm,
kecepatan pemrosesan yang luar biasa. ……Terutama Tuan Lloyd, saya benar-benar
sulit percaya Anda bisa membakar monster di sekitar sini sendirian. Tapi dengan
kecepatan ini, kita bisa meminimalisir kebangkitan mereka! Ayo segera lanjut ke
lokasi berikutnya!"
Kami pun
mengikuti Kane menuju lokasi pertempuran yang baru.
Entah sudah
berapa ribu mayat monster yang kami urus, mayat-mayat itu terus bertambah baru,
dan tanpa sadar kami sudah menyusul pasukan Cruze.
Cruze yang baru
saja menyelesaikan satu pertempuran pun menyapa kami.
"Hmm,
bukankah ini Lloyd? Ada Saias juga. Ada apa ini?"
"Mayat-mayat
ini bangkit kembali sebagai Undead, jadi kami yang penyihir berkeliling
untuk membereskannya."
"Apa, jadi
benar dugaanku kalau jumlah monster tipe Undead ini terasa sangat
banyak. Tapi repot juga ya, kalau begitu kan tidak akan ada habisnya."
"Mmohon maaf
sebentar."
Tao menyela
pembicaraan mereka.
Tao menatap Cruze
dan anggota pasukannya dengan saksama seolah sedang menilai mereka.
"Hmm, jadi
ini kakak perempuannya Lloyd ya. Benar-benar terlatih sampai batas yang sulit
dipercaya. Kalau begini, mungkin teknik 'itu' bisa digunakan……"
"Hmm, siapa
kamu?"
"Ah, maaf
saya lupa memperkenalkan diri. Saya Tao Yuifa, petualang biasa dari negeri
asing. Saya ikut dengan Lloyd karena tertarik pada Anda."
Cruze sempat
tertegun sejenak mendengar ucapan Tao, lalu ia tertawa terbahak-bahak.
"Hahahaha!
Kamu tertarik padaku ya! Gadis yang menarik! ……Hmm, kamu bisa menggunakan Qi
ya. Dan aku lihat kemampuanmu cukup tinggi."
"Ya, aku juga tahu teknik yang mungkin belum Anda
ketahui. Misalnya, teknik pembasmi makhluk abadi──begitu."
"Ooh?"
Mendapat tatapan penuh minat dari Cruze, Tao menjejak tanah
dengan keras di dekat mayat sapi jantan raksasa yang terkapar di kakinya.
Dooon! Gelombang kejutnya membuat mayat sapi itu
terpental ke udara.
Mata sapi yang seharusnya sudah mati itu bersinar merah
dengan aura yang aneh.
"Oi! Monster itu sedang proses berubah jadi Undead!"
"Buoooooo!"
Sapi abadi yang mengamuk itu meraung sambil jatuh menerjang
ke arah Tao.
Dan kemudian──Zuzun! Suara dentuman bergema dibarengi
kepulan debu.
Saat debu menghilang, di sana terlihat mayat sapi itu
tertancap ke tanah dan berhenti bergerak.
Benar-benar
berhenti total. Bahkan tidak berkedut sedikit pun.
"Ooh,
menumbangkan Undead setangguh itu dalam satu serangan! Teknik yang
sangat hebat!"
"──Hyakkaken,
Soul Strike. Jika kamu menghantamkan Qi secara langsung untuk
menghancurkan 'wadah jiwa' yang ada di dalam tubuh fisiknya, makhluk abadi
tidak akan pernah bisa bangkit lagi."
Necromancy adalah sihir yang mengirimkan
mana ke dalam mayat target untuk dikendalikan sesuka hati.
Secara
teori selama ada mayat maka sihir itu bisa bekerja, namun ada kalanya sihir itu
gagal aktif bagaimanapun caranya.
Di
kalangan penyihir, hal itu disebut sebagai kerusakan jiwa yang parah, tapi
'wadah jiwa' ya. Kalau dipikir begitu, semuanya jadi masuk akal.
"Wadah
jiwa ya. Hmm, memang jika aku
memusatkan kesadaran, aku bisa melihat sesuatu. Hmm, kira-kira seperti
ini ya…… Hiat!"
Setelah berkata begitu, Cruze mendadak menusukkan pedangnya
ke mayat monster.
Melalui serangan yang dibalut konsentrasi Qi itu, aku
bisa merasakan 'sesuatu' yang tadi ada di dalam monster itu lenyap seketika.
"Ooh, aku
merasa seperti baru saja melenyapkan sesuatu. Jadi itulah yang disebut wadah
jiwa tadi ya?"
"……Aku
kaget. Soul Strike memang bukan teknik yang sulit jika dasar-dasarnya
sudah dikuasai, tapi untuk menemukan wadah jiwa itu memerlukan Mind's Eye.
Kamu bisa melakukannya hanya dengan sekali lihat saja!"
Melihat Tao yang
terbelalak kaget, Cruze tertawa lepas.
"Hahahaha!
Yah, aku kan jenius! Baiklah kalian semua, habisi semua monster di sekitar sini
dengan Soul Strike. Kalian sudah lihat caranya, jadi harusnya bisa,
kan?"
"Uwoooooo!"
Sesuai perintah,
para anggota pasukan Cruze mulai menyerang mayat-monster.
Tidak, mana
mungkin cuma sekali lihat langsung bisa…… eh, ternyata bisa! Tao juga kaget
melihatnya.
Memang tidak ada
yang langsung sukses dalam satu kali coba, tapi seiring banyaknya serangan,
jumlah prajurit yang berhasil terus bertambah.
"Ooh!
Barusan aku benar-benar merasakan sensasinya!"
"Aku juga
sudah bisa!"
"Aku juga,
aku juga!"
Dalam waktu
kurang dari satu jam, hampir semua prajurit di sana telah menguasai Soul
Strike.
Ooh, seperti
dugaan pasukan Cruze, isinya memang orang-orang yang bangga dengan kekuatan
mereka.
Meski begitu,
tetap saja tidak ada yang bisa menghancurkan wadah jiwa dalam sekali serang
seperti Tao atau Cruze.
Mayoritas dari
mereka menghancurkan wadah jiwa itu dengan cara menyerang berulang kali seolah
sedang mengikisnya.
Meski begitu,
jika bisa menghentikan kebangkitan kembali, itu sudah lebih dari cukup. Cruze
pun mengangguk puas melihat hasilnya.
"Umu umu,
itulah baru pasukan elitku. Baiklah, dengan begini kekhawatiran di barisan
belakang sudah lenyap! Beberapa orang kembalilah untuk mengajarkan Soul
Strike pada yang lain. Yang masih belum mahir, ikutlah sambil berlatih di
belakang. Nah semuanya, saatnya mencari jasa! Seluruh pasukan, serbu! Basmi
semua musuh sesuka hati kalian!"
"Uwoooooooo──!"
Suara
mereka bergema bagaikan gempa bumi.
Tekanan
yang luar biasa. Pasukan Cruze bergerak maju seolah-olah hendak menggilas habis
para monster.
"Tao ya
namamu. Aku berterima kasih padamu. Jika perang ini selesai, mintalah hadiah
apa pun yang kamu mau."
"Aku akan
menantikannya."
"Hahahaha!
Nantikan saja!"
Setelah berkata
begitu secara sepihak, Cruze pun kembali ke barisan pasukannya.
Tao menghela
napas panjang sambil melepas kepergiannya.
"Dia
benar-benar orang yang gagah ya."
"Kak
Cruze juga terkenal sangat dermawan. Kurasa dia akan mengabulkan apa pun, mau seratus koin emas atau apa pun
itu."
Itulah salah satu
alasan kenapa moral Pasukan Kedua sangat tinggi.
Pasukan Kedua
yang lebih sering mempertaruhkan nyawa dibanding unit lain dijanjikan hadiah
yang sangat mahal sesuai dengan jasa mereka.
Para pejabat
sipil sering melayangkan protes, tapi Cruze mengabaikannya menggunakan
otoritasnya sebagai putri raja.
Tao berpikir
sejenak, lalu bergumam pelan.
"……Begitu
ya, kalau begitu jika aku bilang aku ingin bertarung tanding dengannya, apa dia
akan mau ya?"
"Eh? Cuma
itu saja?"
Melihatku yang
terkejut, Tao tertawa kecil.
"Ahahaha,
kenapa wajahmu begitu? Kamu menganggapku apa, sih?"
Hampir saja aku
menjawab 'pemuja harta' atau 'pengagum pria tampan', tapi aku berhasil
menahannya.
Biasanya dia akan
bilang ingin diadakan pesta teh dengan pria-pria tampan di pasukan, atau
semacamnya.
"Ya,
kurasa dia akan dengan senang hati menerimanya…… tapi, kenapa tiba-tiba berubah pikiran?"
"Sejak
datang ke benua ini, aku sadar betapa aku ini hanyalah katak dalam tempurung
sampai rasanya menyebalkan. Karena itu aku berlatih di gunung, tapi seiring
bertambah kuat, aku justru semakin merasakan betapa tidak berdayanya aku. Tuan
Cruze mungkin adalah ahli bela diri terhebat yang pernah kutemui. Jika aku bisa
berlatih dengannya, aku pasti bisa jadi jauh lebih kuat lagi."
Tao berkata
sambil menatap lurus ke depan. Aku meraih tangan Tao dan menjabatnya dengan
penuh semangat.
"Aku terharu
karena kamu ternyata seserius itu, Tao! Aku juga akan membantumu sebisaku!
Misalnya dengan menjadi target uji coba teknik barumu!"
"Benarkah?
Wah, itu sangat membantu."
Tao
terlihat senang, begitu pula denganku.
Setelah
melihatnya lagi, aku sadar kalau Qi itu memang sangat dalam ilmunya.
Jika aku
bertarung dengan Tao yang telah mendapatkan kekuatan lebih setelah berlatih
dengan Cruze, aku pasti bisa mempelajari teknik Qi baru dengan lebih
efisien.
Baik Mind's
Eye maupun Soul Strike yang baru saja kulihat tadi benar-benar
teknik yang menarik. Aku jadi bersemangat, nih. Yup.
"Tapi
ya, kenapa keluarga kerajaan sampai mau turun ke garis depan begini? Apalagi
seorang putri raja."
Meski
sudah agak terlambat, Bils memiringkan kepala menanyakan hal yang wajar.
Di
Saloum, kebijakan pendidikannya adalah mengembangkan potensi masing-masing
individu, jadi selama tugas utama diselesaikan, kami punya kebebasan sampai
batas tertentu.
Baik
Schneizel maupun Cruze, mereka melakukan apa yang harus dilakukan sebagai
pewaris takhta selanjutnya.
Masalahnya,
'apa yang mereka lakukan' itu yang luar biasa ekstrem. Mereka benar-benar
orang-orang yang mengerikan.
"Eh,
mau ke mana kamu, Saias?"
Setelah
selesai membantu Cruze, saat hendak kembali, aku melihat Saias menuju ke arah
yang berlawanan dari jalan kami datang tadi.
"Aku
akan pergi membantu Pasukan Ketiga yang bertugas di gunung. Lihat,
monster-monster itu tidak hanya menyerang gerbang, sebagian menuju ke arah
pegunungan di kedua sisi. Di sisi kiri itu, gunung yang dijaga Pasukan Ketiga
memiliki lereng yang landai sehingga monster di sana sangat banyak. Pertempuran di sana pasti sangat sengit.
Jika aku tidak ke sana, mereka akan bangkit lagi sebagai Undead dan lini
pertahanan bisa hancur. ……Lagipula, di sini semua sorotan sudah direbut oleh
Lloyd. Aku tidak bisa pulang sebelum membersihkan noda pada harga diri keluarga
Revenant."
Aku tidak terlalu
mendengar bagian terakhirnya karena dia bergumam tidak jelas, tapi bagian
awalnya benar seperti kata Saias.
Pasukan lain yang
mungkin tidak bisa menggunakan Qi adalah tempat yang justru sangat
membutuhkan bantuan kami.
Lagipula, kali
ini mungkin aku benar-benar bisa melihat Bloodline Magic milik Saias.
"Kalau
begitu aku ikut juga ya."
"Eh!?
Ka-kamu juga mau ikut? Harusnya kamu pergi ke Pasukan Keempat saja……"
"Di
sana kan belum ada pertempuran. Ayo, cepat!"
"Eeh…… kalau
bersamamu nanti jasaku jadi berkurang……"
Bersama Saias yang entah kenapa terlihat keberatan, kami pun
berangkat menuju pegunungan.
◇
"Ngomong-ngomong, namamu Bils ya? Aku kaget orang liar
sepertimu mau menurut pada Lloyd yang masih anak-anak."
Sambil
terus bergerak menuju lokasi pertempuran, Tao tampak asyik mengobrol dengan
Bils.
"Hah,
Kakak itu terkadang terlalu lembek. Aku harus memastikan sendiri apa bocah itu
punya karisma yang cukup untuk memimpin anak buahku atau tidak."
Melihat
Bils yang menghela napas panjang, Tao mendadak tertawa geli.
"Ahahaha!
Bils ternyata tipe orang yang suka ambil pusing ya. Tapi tenang saja, kamu akan
segera menyadari betapa hebatnya Lloyd."
"Kuharap
begitu…… Ups, medan tempur berikutnya sudah kelihatan."
Benar kata Bils,
sisa-sisa pertempuran mulai terlihat.
Pertarungan di
gunung ini rupanya jauh lebih sengit daripada yang terlihat dari kejauhan;
mayat-mayat monster bergelimpangan di mana-mana.
Karena mereka
bisa berubah menjadi Undead jika dibiarkan, aku membakar mayat-mayat itu
sambil tetap fokus menuju titik pertemuan dengan Pasukan Ketiga.
"Oi,
bukannya itu mereka?"
Bils yang
berjalan di depan menemukan unit yang sedang bertempur.
Sepertinya mereka
terpisah dari rombongan utama. Beberapa prajurit tampak terkepung rapat oleh gerombolan monster.
"Cih,
dasar kroco tidak berguna. Hei
kalian, ratakan mereka semua, oraah!"
"Uooooooooooooooo!"
Bils memimpin
para banditnya merangsek maju, menerjang masuk ke tengah gerombolan monster
dalam sekejap.
"Kh, kita
juga jangan sampai tertinggal!"
Saias pun ikut
melompat panik ke dalam pertempuran.
Serangan mendadak
dari arah belakang membuat formasi monster hancur seketika, hingga akhirnya
mereka kocar-kacir melarikan diri.
"Kalian
tidak apa-apa?"
Saat aku menyapa
para prajurit setelah pertarungan usai, mereka langsung menunduk dengan
tergesa-gesa.
"Tuan Lloyd!
Terima kasih banyak karena telah menyelamatkan kami dari situasi berbahaya
ini!"
"Cih, yang
menyelamatkan kalian itu kami, dasar bodoh."
"Ja-jadi
begitu! Maafkan kekurangajaran saya."
"Bos, para
tentara itu berterima kasih pada kita! Gyahahaha! Rasanya mantap!"
Aku membiarkan
Bils dan kawan-kawannya yang sedang kegirangan, lalu segera masuk ke inti
masalah.
"Ngomong-ngomong,
ke mana pasukan utamanya?"
"……Pasukan
utama saat ini sedang mundur. Kami bertugas sebagai unit belakang, tapi musuh
berhasil menyusul dan mengepung kami."
Prajurit itu
menjawab dengan ekspresi pahit.
"Oi, oi, ini
sudah dekat puncak, lho. Kalau mundur lebih jauh lagi……"
"Benar. Saat ini pasukan utama berada di puncak
gunung…… tempat di mana Garis Pertahanan Absolut didirikan."
Di kejauhan, aku bisa melihat asap putih membumbung dari
puncak gunung yang menjulang tinggi.
◇
"Di sinilah
Garis Pertahanan Absolut! Kuulangi! Di sinilah Garis Pertahanan Absolut! Jangan
biarkan musuh lewat! Bertahan sampai mati! Meski nyawa taruhannya, jangan
biarkan mereka maju selangkah pun! Kuulangi……"
"Wah, wah,
semangat sekali dia."
Semakin dekat ke
puncak, suara teriakan semakin menggema.
Komandan Pasukan
Ketiga, Fliegel, berkali-kali meneriakkan komando dengan lantang.
"Komandan
Fliegel!"
"Oh, kalian
selamat! ……Lalu, siapa orang-orang ini?"
"Ini adalah
pasukan Pangeran Ketujuh, Tuan Lloyd. Mereka menyelamatkan kami saat kami
terkepung."
"Apa! Jadi Anda datang membawa bala bantuan! Terima
kasih banyak! Waaaaaai! Semuanya, bala bantuan telah tibaaaaa!"
"Uoooooooooooooo!"
Para prajurit bersorak sorai, padahal jumlah kami bahkan
tidak sampai dua ribu orang.
Sejujurnya, aku ragu kami bisa menjadi kekuatan sebesar itu
bagi mereka.
"Mari,
silakan lewat sini. Anda pasti lelah. Beristirahatlah selagi sempat."
Kami dipandu ke
dalam tenda dan disuguhi makanan yang sangat mewah.
"Gnyam
gnyam, ternyata makanan kalian enak juga ya. Masih sempat-sempatnya ya."
"Mpfuh
mpfuh, ini daging Orc! Daging monster jenis tertentu memang bahan makanan kelas
atas."
"……Kalian
berdua, makanlah dengan tenang sedikit."
Ngomong-ngomong,
Ren sepertinya ikut membantu.
Karena setiap
hari belajar dari Sylpha, kemampuan memasaknya sudah meningkat drastis.
"Masakanmu
makin enak, Ren."
"Ehehe,
benarkah? Ehehehehe."
Aku membiarkan
Ren yang tampak sangat senang, lalu beralih bertanya pada Fliegel.
"……Jadi,
aku ingin menanyakan beberapa hal?"
"Baik……
Awalnya kami unggul berkat keuntungan posisi lereng, tapi jumlah musuh perlahan
mulai menekan kami. Kami terdesak mundur sedikit demi sedikit hingga akhirnya
sampai ke puncak ini…… Kami hanya mencoba sekuat tenaga menjaga moral agar bisa
terus bertahan, tapi……"
"Heh,
kalau cuma modal semangat bisa menang, dunia ini bakal damai."
"Saya tidak
punya kata-kata untuk membantahnya. Saya baru menyadari sekarang kenapa Yang
Mulia Schneizel menyuruh kami fokus pada pertahanan total."
Mendengar
ucapan Bils, Fliegel tertunduk lesu.
Kenyataannya,
jumlah prajurit Pasukan Ketiga sudah berkurang drastis.
Dibandingkan
jumlah monster yang kulihat sepanjang jalan, jumlah ini tidak mungkin sanggup
bertahan lama.
"Eh, tapi
kalau Lloyd serius, monster sebanyak apa pun bisa dikalahkan dengan cepat,
kan?"
"Itu
mustahil, Ren. Karena aku mengerahkan banyak Mana Soldier, aku tidak
bisa menggunakan sihir yang terlalu kuat."
"……Masa
sih?"
Entah kenapa Ren
menatapku dengan curiga, padahal itu benar.
Meski efisiensi
manaku sudah jauh lebih baik berkat sihir militer, aku tidak bisa menggunakan Multi-Casting
atau sihir skala besar, jadi aku tidak bisa melakukan pemusnahan area luas.
Saat ini pun, Multi-Layered Mana Barrier yang kupasang hanya berjumlah
tiga lapis.
Aku masih bisa
menggunakan sihir tingkat tertinggi, tapi kekuatannya melemah. Paling-paling aku hanya bisa
melenyapkan beberapa ratus monster sekaligus.
"Yah,
menurut saya itu sih sudah lebih dari cukup……"
"Lagipula,
mana ada orang normal yang bisa memakai sihir tingkat tertinggi dengan santai
begitu."
Entah
kenapa Grim dan Jiriel tampak ilfeel, tapi mungkin itu cuma perasaanku
saja.
Selagi
kami berbincang, Fliegel membungkuk dalam-dalam padaku.
"Tuan
Lloyd! Bukankah di bawah pimpinan Anda ada Mars Jilol, sang ahli strategi
terkuat Kekaisaran? Jika itu
dia, dia pasti bisa mengeluarkan kita dari situasi sulit ini! Mohon pinjamkan
kekuatannya kepada kami!"
"Mars,
ya……"
Saat aku
meninggalkan pasukan utama, Mars sempat berpesan padaku.
──Jika Tuan
membutuhkan kebijaksanaan saya, percayalah pada Bils. Saya telah melatihnya
dari nol sebagai ahli strategi, ditambah lagi dia punya pengalaman sebagai
bandit. Dalam pertempuran di gunung, dia pasti akan jauh lebih berguna daripada
saya.──
……Apa dia sudah
memprediksi hal ini akan terjadi? Jika benar, Mars memang orang yang mengerikan.
"Hei Bils,
kalau kamu, bagaimana caramu melewati situasi ini?"
"Hmm, begitu
ya……"
Bils menggaruk
kepalanya mendengar pertanyaanku, lalu menyeringai tipis.
"Kalau aku,
aku akan membuang tempat ini dan mundur."
Kata-katanya
membuat semua orang gempar.
"Membuang
tempat ini dan mundur lebih jauh lagi……?"
"Ta-tapi
jika kita melepaskan tempat ini, keuntungan lereng akan direbut musuh! Jika itu
terjadi, lini pertahanan tidak mungkin dipertahankan! ……Apa mungkin maksudmu
hanya membiarkan garis depan bertahan, lalu memundurkan unit belakang? Dengan
begitu, di puncak yang sempit ini kita punya ruang untuk menempatkan seluruh
pasukan."
"Tidak,
seluruh pasukan harus mundur sekuat tenaga."
"A-apa……!?"
Fliegel
benar-benar kehilangan kata-kata.
"A-apa
maksudmu! Jika kita membiarkan mereka lewat, para monster akan menembus gerbang
dari sisi gunung! Jika itu terjadi, negara ini akan luluh lantak!?"
"Gyahaha!
Tenanglah, Paman!"
"Benar, lho.
Nanti kamu bisa botak kalau marah-marah terus."
"Ka-kalian……!"
Para bandit
menepuk-nepuk pundak Fliegel yang emosi.
Aku mencoba
mengingat kembali pemandangan sekeliling saat menuju ke sini.
Hmm,
begitu ya, membuang tempat ini…… ya. Aku mulai mengerti jalan pikiran Bils.
Aku
berpikir sejenak lalu mengangguk.
"Baiklah.
Kalau begitu, mari kita buang tempat ini dan mundur."
"Lo-Tuan
Lloyd!?"
Fliegel
menunjukkan wajah paling terkejut yang pernah kulihat hari ini.
◇
"Haaah-hahaha!
Lari, lari!"
"Hiiiiiieeeee!"
Di bawah gertakan
para bandit, Pasukan Ketiga berlari menuruni lereng gunung sekuat tenaga.
"Ora ora!
Kalau lari selambat itu, kalian bakal terkejar musuh!"
"Ta-tapi
pohon-pohon ini menghalangi jalan……"
"Jangan
manja! Lari, lari!"
Semua
orang berlari dengan wajah pucat. Wah, repot juga ya.
Aku
sendiri meluncur turun tanpa masalah karena menggunakan Flight untuk
melayang dan menghancurkan semua pohon yang menghalangi dengan Mana Barrier.
"Lloyd,
sebentar lagi kita keluar dari hutan!"
Tao yang
berada jauh di depanku berteriak.
Baki
baki baki!
Setelah pohon-pohon yang tumbuh rapat itu hancur berkeping-keping, pemandangan
di depan langsung terbuka luas.
"Ooh,
lembahnya ternyata jauh lebih dalam dari dugaanku!"
Di balik
tebing curam itu terdapat lembah yang sangat dalam, seolah jika jatuh, kau
tidak akan pernah bisa kembali lagi.
Jaraknya
pun cukup lebar, sekitar tiga puluh meter sampai ke tebing seberang.
Monster biasa
mustahil bisa melompatinya.
Dan selama kami
berhasil menyeberangi satu-satunya jembatan yang ada, tidak akan ada cara lain
bagi musuh untuk menyeberang.
"Begitu ya,
jika kita memancing mereka ke sini, kita bisa membasmi semua monster
sekaligus…… Jadi ini maksud Anda menyuruh seluruh pasukan mundur! Luar biasa,
Tuan Bils!"
"Yah, siapa
pun yang melihat medannya pasti akan tahu. Orang bernama Schneizel itu pasti
juga sudah memperkirakan hal ini. Benar-benar bakat yang mubazir jika dia hanya
jadi pangeran."
"Apa…… Jadi Yang Mulia Schneizel memang jahat. Kalau
begitu kenapa tidak bilang dari awal saja…… Baiklah, mari kita segera
menyeberangi jembatan ini."
Fliegel
merasa lega, tapi wajah Bils justru tampak tegang.
"……Urusannya
tidak akan semudah itu."
"Apa maksud
Anda?"
"Tidak ada
waktu untuk menjelaskan! Ayo, cepat seberangkan semua orang!"
"Hiii!
Ja-jangan menendang saya!"
Ada apa ya? Apa
ada masalah?
Tanpa aku tahu
alasannya, para prajurit mulai menyeberangi jembatan.
"Cepat,
cepat! Monster-monster itu akan menyusul kita!"
"Tapi
jembatan ini goyang sekali! Ka-kami tidak bisa maju cepat!"
"Ora ora!
Jangan lelet! Kalau tidak cepat maju, kutendang kalian sampai jatuh,
gyahaha!"
Di bawah instruksi Bils, para bandit memacu para prajurit.
Bahkan ada
beberapa yang hampir terjatuh karena panik.
"Hei Bils,
kenapa kamu sampai terburu-buru begitu? Para monster kan masih jauh di atas gunung.
Rasanya mereka tidak akan menyusul secepat itu……"
"Di
lembah sesempit ini kita tidak akan bisa menahan mereka. Kita harus cepat
menyeberang dan menyiapkan posisi pencegatan."
Bils
menjawab pertanyaanku dengan ekspresi serius.
Menurutku
sih sudah cukup luas…… tapi
sepertinya dia tidak bermaksud memacu mereka hanya untuk melampiaskan
kekesalan.
Baiklah, biarkan
aku membantu sedikit.
"Hup."
Aku mengaktifkan
sihir Flight kepada seluruh prajurit yang belum menyeberang.
"Uwah!?
Apa-apaan ini!?"
Lalu aku dan
semua orang terbang bersamaan menuju seberang tebing.
Begitu mendarat,
para prajurit dan Bils hanya bisa ternganga.
"……Barusan
itu, sihirmu ya? Benar-benar tidak masuk akal. Entahlah, aku tidak paham."
"Flight
itu tidak terlalu sulit kok, bukan hal besar. Lagipula, bukannya kalian sedang
terburu-buru?"
Grim dan Jiriel
menatapku dengan tatapan seolah ingin bilang "mana mungkin", tapi
kuabaikan saja.
Lihat, Bils saja
bisa menerima penjelasanku.
"Ah, benar
juga. Baiklah kalian semua! Siapkan busur dan tombak, berbaris di pinggir
tebing!"
Meski
saling pandang dengan bingung, para prajurit tetap berbaris di pinggir tebing
dengan senjata terhunus.
Mereka
mengarahkan tombak dan busur ke arah lembah dengan wajah bengong, seolah
bertanya-tanya musuh macam apa yang akan mereka lawan.
"Jangan melamun. ……Mereka datang."
Do do do do do, suara gemuruh bumi terdengar.
Suaranya
datang dari arah gunung di seberang tebing.
Para
monster sedang berlari menuruni gunung dengan kecepatan penuh.
"Ooh!
Kecepatan mereka luar biasa! Tapi, hehehe, dasar monster bodoh, jatuhlah kalian
ke dasar lembah sana."
"…………"
Berbeda
dengan Fliegel yang terkekeh, Bils tetap memasang wajah serius.
Apa
sesuatu akan terjadi?
Grasak, semak-semak bergoyang. Sesaat kemudian, monster babi hutan
raksasa melompat keluar sebagai yang pertama.
"Pugyiiiiiiiiii!"
Sambil memekik,
monster babi itu terjatuh, disusul oleh monster-monster lainnya yang satu per
satu terjun bebas ke dasar lembah.
Terlebih lagi,
bebatuan tajam di dasar lembah langsung menusuk mayat-mayat mereka.
Benar-benar
tempat perburuan yang ideal, strategi Schneizel bekerja dengan sempurna.
"Fuhahahaha!
Lihat, musuh terlihat seperti sampah! Luar biasa, Tuan Bils!"
"Terserah
kau saja, tapi jangan lengah."
"Hahahaha,
Tuan Bils terlalu pencemas. Kita bahkan tidak perlu mengotori tangan kita,
cukup melihat saja……"
Kata-kata Fliegel
terhenti.
Tiba-tiba seekor
burung raksasa melayang di udara.
"Kwaaaaaaa!"
"Ce-cepat
tembak! Jatuhkan dia!"
Fliegel panik
memerintahkan pemanah untuk melepaskan anak panah ke arah monster elang itu.
Meski terkena
anak panah, elang itu tetap menerjang tanpa ragu, membuat para prajurit gemetar
ketakutan.
"Uwaaaaaaaaa!"
Dengan modal
nekat, tombak yang ditusukkan prajurit berhasil menembus tubuh elang tersebut.
Prajurit itu
merasa lega melihat monster elang jatuh tak berdaya.
"Oi, oi,
jangan kira ini sudah berakhir, bodoh. Lihat ke depan."
Bukan
hanya monster tipe burung.
Harimau
dan singa dengan daya lompat tinggi melompati lembah dengan mudah.
Monster
serigala melompat dengan menjadikan bebatuan kecil sebagai pijakan.
Bahkan monster
kera mulai memanjat tebing lembah.
"Te-tembak!
Tembak mereka semua!"
Para
prajurit mulai panik, tapi mereka tetap melepaskan anak panah dan menusukkan
tombak ke arah monster yang berhasil menyeberang.
Karena
formasi sudah siap, meskipun sibuk, tidak ada monster yang berhasil menembus
pertahanan.
Bils berdecak, sudah menduga hal ini. Jadi ini alasan dia menyuruh mereka terburu-buru.
Jenis monster itu
bermacam-macam, dan tidak sedikit yang punya cara untuk melewati lembah.
"Lepaskan
sihir ke dasar lembah! Mereka akan menjadikan mayat yang jatuh sebagai pijakan
untuk menyeberang!"
Saias
memerintahkan unit penyihirnya untuk melepaskan Fireball.
Namun jumlah
monster terlalu banyak, api itu tidak sanggup membakar mereka semua.
"Ren, bisa
buatkan ramuan yang mudah terbakar?"
"Tentu saja,
itu gampang."
Ren mengarahkan
tangannya ke dasar lembah, dan aroma manis mulai tercium.
Aroma itu
perlahan turun ke bawah…… dan saat bersentuhan dengan api, ledakan besar terjadi.
Sepertinya
dia menciptakan gas alkohol dengan konsentrasi tinggi; api berkobar hebat di
dasar lembah, membakar monster-monster yang ada di sana.
Monster
yang berhasil melewati hujan panah dan tombak langsung dibereskan oleh Tao.
"Hoatakk! ……Mereka terus memanjat. Tidak ada habisnya, ya!"
"Kukuk,
meskipun berisiko, kita masih bisa bertahan. Berjuanglah sekuat tenaga, kalian
semua."
"Ngaaaaaaa!
Tuan Bils, tolong bantu kami juga!"
Bils tertawa
melihat Fliegel yang berlarian panik ke sana kemari.
Memang situasinya
kritis, tapi setidaknya mereka masih sanggup menanganinya.
"Tuan Lloyd,
kenapa Anda terlihat sedikit kecewa begitu?"
"Ti-tidak,
kok!"
Memang sih, aku
merasa kecewa karena jika pertempuran berakhir begini, aku tidak akan bisa
melihat Bloodline Magic milik Saias. Tapi itu cuma sedikit, sedikit
sekali kok.
"Hmm, ada
monster aneh yang jatuh ke dasar lembah."
Sesaat setelah
Jiriel berkata begitu, zuzun! tanah di bawah kaki kami bergetar.
Aku melihat uap
tebal membumbung tinggi dari dasar lembah.
Eh, ada apa nih?
Saat kulihat
bagian tengah uap itu dengan Clairvoyance, ada seekor kelinci putih
bersih di sana.
"Itu Snow Rabbit! Monster level bos yang
diselimuti hawa dingin luar biasa!"
"……Gawat. Api yang susah payah kita buat jadi
padam!"
Hmm, rupanya dia merubah sifat mana yang menyelimuti
tubuhnya menjadi hawa dingin.
Luar biasa juga ada monster yang bisa menciptakan hawa
dingin sekuat itu hingga sanggup memadamkan api.
Aku ingin menangkapnya dan mencoba seberapa kuat hawa dingin
yang bisa dihasilkannya, tapi…… sekarang bukan waktunya.
Apalagi──
"Jadi itu Snow Rabbit. Kalian semua mundur. Api biasa tidak akan mempan
padanya."
Saias melepas
sarung tangan kulit hitamnya dan menyuruh para prajurit mundur.
"Biar aku
yang menghabisinya."
Dari tangannya,
terpancar pusaran mana yang belum pernah kurasakan dari Saias sebelumnya.
Ya, ini adalah
kesempatan bagus untuk melihat Bloodline Magic.
Akhirnya dia
serius juga. Aku sudah lelah menunggu. Akhirnya aku bisa melihat Bloodline
Magic.
"Aku
sebenarnya enggan memperlihatkan inti sihirku pada monster rendahan seperti
ini, tapi sepertinya aku tidak bisa menahan diri lagi. Mari kita mulai berburu
kelinci."
Setelah menyimpan
sarung tangannya, mana meluap dari tangan kosong Saias.
Hmm, sepertinya
sarung tangan itu adalah alat sihir untuk menyegel mananya sendiri. Dengan
memberikan batasan, dia bisa memperkuat sihir tertentu.
Melepasnya
berarti dia berniat menggunakan sihir spesial baginya.
"Apa Bloodline
Magic itu selangka itu? Menurutku keberadaan Tuan Lloyd jauh lebih langka,
sih."
"Apa katamu,
Grim! Bloodline Magic adalah karya seni tradisional yang ditumpuk oleh
keluarga penyihir dari generasi ke generasi! Apalagi keluarga terkenal seperti
Revenant. Ah, aku tidak sabar!"
Selagi kami
mengobrol, Snow Rabbit menekuk kakinya dan melompat.
Dia menciptakan
pijakan es di udara dan melompat-lompat dengan lincah.
Setelah beberapa
kali lompatan, Snow Rabbit mendarat tepat di depan kami.
"Kyuuu, kill
kill kill kill……"
Penampilannya
memang lucu, tapi ukuran tubuhnya setinggi pohon besar. Lumayan raksasa juga.
"Di-dingin
sekali……!"
"Tanganku
kaku……"
Hawa dingin yang
dibawa Snow Rabbit memberikan serangan damage kecil kepada
prajurit di sekitar.
Saat aku hendak
memasang pelindung, tiba-tiba area sekitar mulai terasa hangat.
Api yang
menyelimuti Saias menetralkan hawa dingin tersebut.
"Heh,
tetaplah di belakangku."
"Tentu,
tentu. Aku akan melakukannya dengan senang hati."
"Entah
kenapa aku tidak tahu kenapa kamu kelihatan senang begitu…… tapi, ya sudahlah.
Mari kita mulai."
Saias mulai
menyusun formula sihir.
Sip, saatnya aku
mulai mengamati. Aku mengumpulkan mana di mataku dan memperhatikan dengan
saksama.
Formula sihir
yang disusun Saias mengandung mana dan berputar dengan kecepatan tinggi
membentuk kobaran api.
Itu bukan api
biasa.
Di dalam api yang
berkobar dengan warna-warna cerah itu, terlihat badai es yang mengamuk dan
petir yang menyambar.
Bukan hanya itu.
Berbagai fenomena alam lain saling bertumpuk untuk menciptakan api
berwarna-warni tersebut.
"Oho, kembang api yang cukup cantik. Tapi ya cuma sebatas itu saja."
"Lagi pula
waktu persiapannya terlalu lama hingga jauh dari kata praktis. Menurut saya
tidak ada yang perlu Tuan Lloyd khawatirkan."
Grim dan Jiriel
memberikan penilaian seperti itu, tapi aku tidak bisa melepaskan pandanganku
dari api tersebut.
Api itu, rasanya
aku pernah melihatnya di suatu tempat…… Selagi aku berpikir, Saias menyatukan
kobaran api yang berputar itu dan mengompresinya.
"Rasakan
ini, Polaris Flare!"
Api
berwarna-warni yang dilepaskan meluncur membentuk pancaran cahaya ke arah Snow
Rabbit.
Melihat itu, aku
akhirnya teringat.
──Itu adalah api
yang membakarku di kehidupan sebelumnya.
Dulu aku tidak
bisa memahami atau membaca formula dari sebuah sihir, tapi sekarang setelah
melihatnya diaktifkan, aku mengerti. Itu benar-benar api yang sama dengan saat
itu.
Berarti Saias
adalah orang yang saat itu…… hmm, aku payah dalam mengingat wajah orang.
Lagipula itu kejadian lebih dari sepuluh tahun yang lalu, aku tidak terlalu
ingat.
Yah, terserahlah. Yang lebih penting adalah Bloodline
Magic.
Formula yang diaktifkan sekilas terlihat seperti kode
rahasia yang tidak bisa dimengerti, tapi bagi aku yang sudah memecahkan sihir
militer, ini semudah mengupas kulit buah.
Berbagai sihir tipe Clairvoyance dan Analysis
mulai mengurai Bloodline Magic milik Saias.
……Oke, aku mengerti.
Bloodline Magic mayoritas terukir di tubuh fisik,
tapi sepertinya milik keluarga Revenant diukir pada darah agar bisa menggunakan
formula yang rumit.
Memang benar tubuh manusia sebagian besar terdiri dari air.
Mengukir formula pada darah memungkinkan lebih banyak formula yang bisa
disimpan.
Tidak ada risiko formula terbongkar dari penampilan luar,
dan darah akan rusak dengan cepat setelah mati sehingga kerahasiaannya terjaga
tinggi. Meskipun tentu saja, mustahil menyembunyikannya dariku.
Baiklah, mumpung ada kesempatan, aku coba juga ah.
Aku merujuk pada formula yang terukir pada Saias, lalu
mengukirnya ke dalam tubuhku sendiri.
"KILL KILL KILL KILLLLLL!"
Pertempuran masih berlanjut.
Untuk menahan serangan api yang mendekat, Snow Rabbit
mengumpulkan hawa dingin dan menyemburkannya.
Api dan es saling
beradu, saling menekan satu sama lain.
"Gkh,
bagaimana mungkin Bloodline Magic-ku bisa seimbang dengan monster
rendahan seperti ini……!?"
"Kill…… uuuu!"
Hmm, dia sedang kesulitan.
Sepertinya Saias belum sepenuhnya menguasai Bloodline
Magic tersebut.
Apa boleh buat, biar kubantu sedikit. Kebetulan aku baru saja selesai mengukir
formulanya.
"……Polaris
Flare."
Aku
bergumam pelan sambil melepaskan sihir itu dari belakang Saias.
Api
berwarna-warni berkumpul di ujung jariku, lalu meledak.
Goooou!
Cahaya
berkobar hebat dan melenyapkan Snow Rabbit seketika.
Pancaran
cahaya yang dilepaskan tidak berhenti sampai di situ; cahaya itu membakar habis
gerombolan monster beserta hutan di tebing seberang.
Semua
orang di tempat itu terdiam kaku dengan mulut ternganga lebar.
"Se-sebenarnya
apa yang baru saja terjadi……?"
"Itu
tadi Polaris Flare. Versi yang seharusnya, sih."
Setelah melihat
formula sihirnya, aku jadi paham. Intinya, Polaris Flare adalah sihir Multi-Casting
yang dilakukan sendirian.
Munculnya
fenomena lain di dalam api itu hanyalah karena output mananya kurang.
Jika semua fenomena dilepaskan dengan daya yang setara, sihir itu akan tercipta
sebagai Composite Magic.
Mungkin seiring
berjalannya waktu, kualitas penggunanya menurun, sehingga hanya menjadi kembang
api cantik seperti yang dipakai Saias tadi.
Tapi Polaris
Flare yang asli ternyata punya kekuatan di luar dugaan. Padahal aku berniat
menahan diri, tapi karena formula yang terukir di darah itu, aku jadi sulit
mengontrol kekuatannya.
"Uoooooooh!
Kekuatan yang dahsyat! Benar-benar luar biasa, Tuan Saias!"
"Itulah Bloodline Magic keluarga Revenant……
sungguh mengagumkan! Dengan begini, monster sebanyak apa pun bukan masalah lagi
bagi Anda, Tuan Saias!"
"……Ha,
haha……"
Saias sendiri
tampak sangat kebingungan, tapi sepertinya aku berhasil menutupinya. Mungkin.
Semoga saja.
"……Tadi itu
perbuatanmu, kan, Lloyd?"
"Biarpun
sembunyi-sembunyi, tetap saja ketahuan. Kamu melakukannya berlebihan."
"Aku juga
tidak yakin bangsawan manja itu bisa melakukan hal gila seperti tadi."
"Ha,
haha……"
Sepertinya
beberapa orang menyadarinya…… tapi karena yang lain tidak sadar, kuanggap aman saja lah.
"Ka-kalau
begitu, aku pergi dulu. Bils, sisanya kuserahkan padamu."
"Sip,
serahkan saja padaku."
Aku memutuskan
untuk segera pergi sebelum rahasia ini makin terbongkar.
Setelah
menyerahkan urusan di sana pada Bils dan kawan-kawan, aku menggunakan Flight
untuk menuju tempat Schneizel.
Dari ketinggian,
aku bisa melihat pertempuran sengit yang berkecamuk di mana-mana.
"Sepertinya
mereka terdesak. Meskipun sudah berusaha keras, jumlah musuh memang terlalu
banyak."
"Ya, garis
pertahanan masih bisa dipertahankan, tapi cepat atau lambat pasti akan
jebol."
Ucapan kedua
bawahanku ada benarnya.
Monster
terus berdatangan tanpa henti. Meski sekarang masih bisa bertahan, suatu saat pasti akan mencapai
batasnya.
Tapi Schneizel
seharusnya sudah memperkirakan hal ini.
Aku yakin dia
pasti sudah menyiapkan rencana tertentu.
◇
"Apa
maksudnya ini!? Yang Mulia Schneizel!"
Begitu
memasuki tenda, sebuah teriakan langsung menggema.
Kulihat
Komandan Pasukan Keempat, Garfiel, sedang mendesak Schneizel.
"Kami,
Pasukan Keempat, saat ini sedang bertaruh nyawa untuk bertahan! Tapi jumlah
musuh terlalu banyak! Kami punya batas jika hanya disuruh bertahan! Kumohon,
berikan bala bantuan atau berikan rencana yang bagus!"
Mendengar
permohonan itu, Schneizel menjawab dengan nada tenang.
"Bertahanlah."
"……!"
Kehilangan
kata-kata, Garfiel memukul meja dengan keras lalu melangkah keluar dari tenda.
Sepertinya dia
benar-benar murka.
Tanpa rencana
maupun bala bantuan, wajar saja jika dia bereaksi seperti itu.
Aku mendekat ke
arah Schneizel perlahan dan menyapanya.
"Anu, Kak
Schneizel? Kakak tidak mungkin tidak memikirkan rencana apa pun, kan?"
"Tentu saja.
Strategi adalah sesuatu yang harus disusun berlapis-lapis. Untuk itu, aku tidak
bisa menggerakkan pasukan lain sembarangan. Ini tugas yang berat. Wajar jika
dia marah, tapi Pasukan Keempat harus tetap bertahan seperti itu."
"……Mungkin
kalau Kakak menjelaskan sampai sejauh itu, dia akan mengerti."
"Aku
tidak bisa menjanjikan hal yang belum pasti hanya demi menenangkan hati."
Schneizel
berucap dengan nada tegas.
Hmm, dia keras
pada orang lain, tapi jauh lebih keras pada dirinya sendiri.
Albert biasanya
sangat ahli dalam memahami perasaan orang, tapi Schneizel sepertinya kurang
pandai dalam hal itu.
Yah, aku juga
bukan orang yang tepat untuk mengomentari soal perasaan sih.
Bagaimanapun,
Garfiel mungkin salah paham, jadi sebaiknya aku membantunya.
Begitu
keluar tenda, kulihat Garfiel sedang mengisap cerutu dengan ekspresi kesal.
"Garfiel,
kebetulan sekali. Kak Schneizel bukan berarti tidak punya rencana──"
"Saya
mengerti, Tuan Lloyd."
Garfiel
memotong ucapanku.
"Yang
Mulia Schneizel adalah orang yang cerdas. Jika beliau tidak bisa mengirim bala bantuan,
pasti ada alasan di baliknya. Saya sudah lama bersamanya, jadi saya tahu beliau
tidak mungkin membiarkan situasi tanpa persiapan. Tapi karena terlalu panik,
saya…… hah, saya benci sifat cepat naik darah saya ini. Haha."
Garfiel tersenyum kecut, mematikan cerutunya, lalu menatap
ke depan.
Keraguan di
matanya telah sirna sepenuhnya.
"Nah, ini
perintah Panglima Tertinggi. Mari kita bertahan sekuat tenaga."
Garfiel kembali
ke posisinya.
Hanya saja, jika
dibiarkan begitu saja, korban jiwa akan terus bertambah. Mungkin sebaiknya aku
juga melakukan sesuatu.
"Bukankah
sebaiknya Tuan Lloyd lepaskan saja sihirmu? Yang besar sekalian, duaaar gitu."
"Ini
bukan saatnya mengkhawatirkan soal mencolok atau tidak! Jika dibiarkan, para
gadis cantik di Saloum akan ikut diserang!"
Grim dan
Jiriel terus mendesakku. Masalahnya, kalau aku melepaskan sihir serangan skala
raksasa ke kerumunan monster, pasti akan ada banyak korban yang ikut terseret.
Seandainya
aku bisa memecah situasi dengan cara penggunaan sihir yang lebih menarik, aku
mungkin akan mengambil risiko untuk sedikit mencolok.
Saat aku
sedang berpikir, muncul sebuah kehadiran di belakangku. Begitu menoleh, Babylon sudah berdiri di sana.
"Ternyata
Anda di sini, Tuan Lloyd."
"Oh, ada apa
datang ke tempat seperti ini?"
"Saya
membawakan pesan dari Mars. Katanya, Anda pasti sedang merasa sangat bosan
sekarang. Sepertinya tebakannya tepat sasaran ya. Kukuk."
Babylon tertawa
geli.
Ukh, sepertinya
kegelisahanku yang terbang kocar-kacir di medan tempur sudah terbaca olehnya.
Rasanya agak
memalukan.
"……Lalu?
Kamu sengaja datang ke sini pasti ada urusan, kan?"
"Ya,
Mars sepertinya sedang merencanakan sesuatu yang menarik. ……Ini."
Babylon
mengeluarkan sepucuk surat dari balik bajunya dan mulai membacanya.
"……Apa
katanya? Kepada Tuan Lloyd, saya turut berbahagia atas kesehatan Anda yang
semakin prima…… cih,
santai sekali bocah ini."
"……Hmm, hmm,
tapi rencana ini sepertinya lumayan juga, kan? Meski kekurangannya adalah Tuan
Lloyd akan jadi terlalu mencolok."
"Ya, mungkin
boleh juga."
Benar, rencana
ini memang akan membuatku jadi pusat perhatian, tapi bukan tipe perhatian yang
membuatku menonjol sebagai penyihir sakti, jadi masih dalam batas toleransi.
Lagipula,
ada keuntungan bagiku karena bisa mengamati medan perang dengan
terang-terangan.
"Sesuai
saran Mars, rencana ini seharusnya bisa membalikkan situasi yang tidak
menguntungkan."
"Ya,
layak untuk dicoba."
Yang
terpenting, aku sangat menyukai cara penggunaan sihir yang unik seperti ini.
Begitu
diputuskan, aku pun langsung bergerak cepat mengikuti instruksi Mars.
◆
"Aduh,
jumlah musuhnya kok tidak berkurang-kurang ya."
Di salah
satu sudut medan perang, Cruze mengeluh.
Di
sekelilingnya bergelimpangan mayat monster yang telah mereka kalahkan, namun di
depan sana, gerombolan monster baru terus merangsek maju.
"Meskipun
dibunuh terus, mereka tetap muncul lagi. Menyebalkan sekali."
Wakil Komandan
Kane yang sedang bertarung di dekatnya menyahut keluhan Cruze.
"Teknik yang
diajarkan gadis bernama Tao itu, apa namanya tadi, Soul Strike? Teknik
itu cukup membantu, tapi tetap saja……"
Membuat monster
terjatuh, lalu melepaskan Soul Strike saat gerakan mereka terhenti.
Kane, yang telah
menghancurkan wadah jiwa monster dan mencegah kebangkitan mereka oleh sihir
nekromansi, menarik pedangnya lalu melanjutkan pertarungan.
Saat ini, para
anggota pasukan bertarung berpasangan untuk menghabisi monster. Satu orang
menghentikan gerakan, yang lain memberikan serangan pamungkas yang pasti.
Hanya prajurit
veteran seperti Kane yang sanggup melakukan proses itu sendirian. Akibatnya,
waktu pertempuran pun terpaksa bertambah lama secara signifikan.
"Yaa,
teknik ini memang butuh konsentrasi tinggi. Kalian tidak akan bisa melakukannya
dengan benar jika terjebak dalam pertempuran kacau."
Sambil
berbincang santai, Cruze melepaskan Soul Strike langsung ke arah monster
yang menerjang.
Semua serangannya adalah Soul Strike. Melihat Cruze
membantai semua monster dengan satu serangan, Kane bertanya dengan wajah
terpana.
"……Seperti
yang diharapkan dari Anda, Tuan Cruze. Anda melakukannya tanpa beban sama sekali."
"Yah, agak
merepotkan sedikit sih."
Cruze
menjawab ringan sambil terus menebas musuh.
Hanya
sedikit merepotkan ya, Kane tersenyum kecut.
Bagi Kane
yang sudah terbiasa melihat gaya bertarung Cruze yang berani, tindakan itu
terlihat seperti biasanya.
"Hmm,
apa suasananya berubah……?"
Tiba-tiba,
Cruze bergumam sambil menengadah ke langit.
"……Fumu,
sepertinya ini saatnya beraksi! Semuanya, ikuti aku! Ayo bergerak!"
Tanpa
memedulikan Kane yang sedang memiringkan kepala bingung, Cruze mulai memacu
kudanya.
"Tu-Tuan
Cruze!? Jangan mengejar terlalu jauh!"
"Sudah, ikut
saja. Cepat, atau kutinggalkan!"
"Eh…… aduh, ya sudah! Yang masih bisa bergerak, ikut aku! Sisanya
mundur ke belakang dan bergabung dengan unit lain!"
"Siap!"
Kane
segera memberi instruksi dan melompat ke atas kuda.
Benar-benar
putri yang liar,
gumamnya, meski ekspresinya tampak senang.
"Eh,
itu apa ya……?"
Di arah
tujuan Cruze, jauh di angkasa, terlihat sebuah bayangan yang melayang.
Kane
memacu kudanya sambil terus bertanya-tanya dalam hati.
Bayangan
melayang di angkasa itu juga terlihat oleh Schneizel yang bermarkas di Gerbang
Kontinental.
Matanya
membelalak kaget sejenak, namun dia segera menyadari sesuatu, mengangguk paham,
lalu kembali berpikir.
"Ga-gawat,
Yang Mulia Schneizel! Musuh tiba-tiba mulai tampak gelisah!"
Melihat
prajurit yang berlari panik, Schneizel hanya bergumam, "Sudah
kuduga."
"Saya tidak
tahu apa yang terjadi, tapi ini kesempatan emas yang takkan terulang! Apa
perintah Anda!"
"Gerakkan
pasukan."
"Siap! Kalau
begitu kami akan mengatur ulang formasi dan memperkuat pertahanan selagi
sempat……"
"Bukan──"
Memotong dengan
kata-kata singkat, pandangan Schneizel tertuju pada peta di depannya.
Lalu dia perlahan
menggerakkan bidak di atas peta tersebut.
"Kirim bala
bantuan ke unit terpisah yang ada di depan. Lalu siapkan pemanah.
Masing-masing seribu orang."
"Bala bantuan!? Terlebih lagi bukan untuk pertahanan, kenapa unit seperti itu yang dikirim
sekarang……"
"Cepat."
"Si-siap!"
Menerima titah
Schneizel, prajurit itu menunduk lalu berlari untuk menyampaikan pesan.
Setelah
mengantarnya pergi, Schneizel kembali menatap ke langit.
"Taktik
legendaris yang lahir di Kekaisaran lima tahun lalu, ya…… Fuh, baiklah, aku
akan ikut bermain."
Gumaman Schneizel
pun tenggelam dalam riuh rendah suara para prajurit.
◆
"Waaaah,
pemandangan yang luar biasa!"
Di bawah mataku
terbentang medan perang di mana manusia dan monster bercampur aduk sejauh mata
memandang.
Aku
terbang jauh di atas mereka menggunakan Flight.
"Sepertinya
rencananya berjalan lancar ya."
Grim berucap
sambil melihat ke bawah.
Seolah-olah
sedang mengejarku yang melayang ratusan meter di udara, gerombolan besar
monster mulai berkumpul di bawah.
"Mereka
berkumpul dengan kecepatan yang menakutkan. Apa mereka selapar itu?"
"Efeknya
benar-benar luar biasa ya."
Aku mengangguk
setuju dengan ucapan Jiriel. Dari tanganku, tumpukan makanan dalam jumlah besar
terus tumbuh berkat sihir Illusion Magic.
Strategi yang
disusun Mars adalah begini: "Tuan Lloyd, gantunglah makanan dan
terbanglah di atas gerombolan monster untuk menjauh dari sini. Monster juga
makhluk hidup, tentu butuh makanan. Namun dengan jumlah sebanyak itu, mencari
makanan yang cukup pasti sulit. Tidak ada satu helai rumput pun yang tersisa di
jalur lintasan Stampede. Artinya saat ini mereka sedang kelaparan. Sekarang
yang mereka incar bukan gerbangnya, tapi tumpukan makanan di baliknya. Karena
itu, Tuan Lloyd, bawalah makanan dari dalam dan terbanglah sambil
menggantungnya. Tenang
saja, kami akan melindungi Anda sekuat tenaga." ……Begitu katanya.
……Karena
itulah, untuk memancing monster dalam jumlah besar, aku menciptakan daging,
buah-buahan, sayur-sayuran, hingga pancake yang kelihatannya enak.
Hmm,
baunya harum sekali. Kalau jumlah pancake-nya jadi agak lebih banyak, ya
mohon maklum saja lah.
"Tapi
benda yang diciptakan dengan Illusion Magic kan hanya khayalan, tapi
bisa punya tekstur dan bau sehebat ini…… kekuatan imajinasimu mengerikan sekali."
"Anda juga
mencampurkan perubahan sifat mana ya. Kalau dijilat, rasanya pun akan terasa.
Dengan menyuruh mereka membakar dupa di sekitar gerbang untuk menutupi bau
manusia, para monster jadi jauh lebih mudah terpancing. Luar biasa, Tuan
Lloyd!"
Seolah ingin
menenggelamkan pujian Grim dan Jiriel, sesuatu melesat tepat di sampingku.
"GYAAAAAAAA!
GYAAAAAAA!"
Suara pekikan
nyaring itu berasal dari monster elang raksasa. Dia memimpin segerombolan monster terbang
lainnya di sekelilingnya.
"Waaaa!
Itu Daigaruda! Monster level bos yang dikenal sebagai penguasa
langit!"
"Kedua
tangan Tuan Lloyd sedang repot! Biar aku saja!"
Jiriel
melesat maju. Disusul oleh Grim yang juga ikut keluar.
"Oi oi, mau
cari muka dengan lawan kroco begini? Mending kamu diam saja. Biar aku yang urus."
"Apa
katamu!? Kamu yang harusnya diam, iblis bodoh!"
"Berani-beraninya
kamu bicara begitu, malaikat sialan!"
Terserah
kalian lah, tapi mereka menyerang tuh. Yah, kalau mereka menabrak pelindungku,
mereka akan kalah sendiri sih.
Saat aku
sedang berpikir begitu, tiba-tiba tubuh raksasa Daigaruda hancur
berkeping-keping.
"A…… apa yang sebenarnya terjadi!?"
"Sepertinya ada sesuatu yang terbang dari arah
sana……"
Grim dan Jiriel terkejut. Arah "sana" yang dimaksud adalah
dari Gerbang Kontinental.
Begitu
aku menoleh, ada sesuatu lagi yang terbang dari arah itu.
"Gii!??"
"Kururuu!?"
Sambil memekik,
para monster itu jatuh berjatuhan.
Aku mengulurkan
tangan dan menangkap benda yang terbang itu; ternyata itu adalah anak panah.
Anak panah ini,
atau lebih tepatnya teknik memanah ini jangan-jangan…… Saat kulihat arah
datangnya dengan Farsight, benar saja, Sylpha sedang berdiri di sana
sambil memegang busur.
"Teknik
Memanah Aliran Langris, Hawk Flight."
Aku
membaca gerak bibirnya.
Aliran
Langris tidak pilih-pilih senjata. Menembak jatuh monster yang sedang terbang
pasti perkara mudah bagi Sylpha.
"Tapi
sehebat apa pun Sylpha, apa dia bisa menembus monster level bos dari jarak
sejauh itu…… Eh? Busur itu……"
Aku
mengenali busur yang dipegang Sylpha. Itu busur yang dipajang di dinding saat
kami pergi ke Guild Petualang dulu.
Kalau tidak salah namanya Heavenly Hunting Bow. Itu busur yang pernah dipakai
petualang legendaris. Katanya
itu senjata hebat yang bisa menjatuhkan naga dari jarak satu kilometer.
Catarina pernah menyombongkan hal itu kalau tidak salah.
"Berikutnya."
Saat Sylpha
mengulurkan tangan, Catarina yang berada di sampingnya memberikan anak panah
baru dengan tangan gemetar.
"Sy-Sylpha-san,
anak panah perak kebiruan itu sangat, sangat, saaaangat berharga! Tolong jangan
menembakkannya secara membabi buta!"
Anak panah ini
memiliki formula yang mirip dengan pedang sihir.
Sepertinya untuk
bisa membidik sasaran yang jauh, kecepatan, daya hancur, hingga kemampuan fisik
pemanahnya ditingkatkan secara otomatis.
Setiap batang
anak panah pasti memakan biaya dan tenaga yang besar, tapi Sylpha terus
menembakkannya tanpa peduli.
Melihat itu,
Catarina sudah setengah menangis.
"Berikutnya."
"Ahahahaha!
Ya sudahlah! Terserah! Aku sudah pasrah! Sebagai gantinya, bawa Tuan Lloyd ke
Guild Petualang yaaaaa!"
"Berikutnya."
Sylpha
menembakkan anak panah yang diterimanya secara beruntun dengan gaya yang tampak
acak.
Itu adalah Teknik Memanah Aliran Langris, Storm of Wild
Birds.
Teknik yang lebih mengutamakan kecepatan daripada daya
hancur dan akurasi, menciptakan hujan anak panah melalui tembakan beruntun.
Tentu saja dengan kemampuan Sylpha, daya hancur dan
akurasinya tetap sempurna, hanya menembus monster-monster itu saja.
Setelah hujan
anak panah berhenti, tanpa kusadari semua monster di langit telah ditembak
jatuh.
"Mohon
tenang saja, Tuan Lloyd. Saya tidak akan membiarkan satu ekor pun mendekati
Anda."
Dia tetap bisa
diandalkan seperti biasanya.
Meskipun ada
pelindung jadi tidak masalah, tapi memang mereka cukup mengganggu.
Dan bicara soal
mengganggu, monster di bawah juga sama saja.
Monster yang
berkumpul karena makanan buatan sihir ilusiku kini jumlahnya sudah sangat
banyak. Mereka saling tumpang tindih di punggung satu sama lain demi mencoba
menggapai tanganku.
Hmm, menjijikkan.
Sepertinya seru kalau aku melepaskan sihir sekuat tenaga ke arah sini. Tapi aku
tidak akan melakukannya karena itu akan terlalu mencolok.
"Tapi
melihat monster sebanyak ini tanpa bisa membantainya rasanya gatal juga ya.
Anak panah Sylpha-tan juga tidak sampai ke sini."
"Oho? Ada sesuatu yang terbang lagi dari
arah sana?"
Hyururururururu, dengan suara yang panjang,
sesuatu yang terbang itu jauh lebih lambat daripada anak panah Sylpha, tapi
ukurannya jauh lebih besar.
Duaaaar! Suara ledakan menggema, dibarengi
dengan pilar api yang membubung tinggi.
Itu
tembakan meriam dari Diggerdia. Tanah tercongkel, dan monster yang terpental
melewati tempatku melayang.
"Ooh!
Tembakan dari golem raksasa itu ya! Kekuatannya gila kalau dilihat dari dekat.
Karena monster-monsternya berkumpul, membasmi mereka jadi terasa menyenangkan
sekali!"
"Tapi
terkadang ada peluru meriam yang aneh ya. Sepertinya mereka menyebarkan lendir
atau racun."
"Itu adalah
peluru khusus yang diisi mana oleh Galilea dan yang lainnya."
Jaring laba-laba Galilea, racun Ren, kutukan Crow…… dengan
mengisi peluru menggunakan mana yang sifatnya telah diubah, peluru tersebut
mendapatkan efek khusus.
Aku sudah mencoba bereksperimen sebelumnya, tapi baru kali
ini ada kesempatan untuk menggunakannya. Akhirnya bisa dipamerkan juga ya.
Hmm, hmm, hasilnya lumayan bagus.
"Ooh! Gerakan musuh jadi melambat dengan pas!"
"Tapi sepertinya jumlah pelurunya tidak banyak ya.
Tembakannya jarang-jarang."
Pembuatan peluru khusus memang memakan waktu dan biaya jauh
lebih banyak daripada peluru biasa.
Apalagi bagi mereka yang belum terbiasa, mengisi mana ke
dalam benda mati itu cukup melelahkan. Peluru khusus milik mereka mungkin tidak
sampai sepuluh butir.
Tembakan yang barusan mungkin adalah yang terakhir. Kira-kira itu peluru khusus milik siapa
ya?
Hyururu, sebuah peluru meluncur dengan suara
membelah angin dan jatuh tepat di bawahku.
Sesaat kemudian, Zudoooooooooon!
suara ledakan yang sangat keras bergema.
Tubuhku ikut
terguncang hebat akibat efek ledakan itu. Begitu kulihat ke bawah, sebuah awan
jamur raksasa membumbung tinggi dari titik ledakan.
"Na-na-na,
apa-apaan daya hancur itu!? Para monster di sekitarnya langsung musnah total!?"
"Peluru
tadi, siapa yang mengisi mananya…… ah."
Grim dan Jiriel
serempak menoleh padaku. Dasar tidak sopan kalian. ……Yah, seperti yang kalian duga, itu memang
aku.
Tadi aku baru ingat kalau ada satu peluru khusus yang
tersisa saat eksperimen, jadi aku mencoba mengisinya dengan mana sampai batas
maksimal kapasitas pelurunya.
Aku benar-benar lupa, tidak menyangka kekuatannya akan
sampai sehebat ini. Kalau sampai
terjadi kecelakaan dan meledak di istana, bisa gawat urusannya.
"Dengan mana
yang hanya dimasukkan ke dalam peluru kecil itu saja sudah bisa menghasilkan
daya hancur sehebat itu…… menurutku sih lebih cepat kalau Tuan Lloyd pakai
sihir skala besar saja dari awal."
"Tidak, jika
Tuan Lloyd terus menggunakan sihir skala besar pada monster sebanyak itu,
pegunungan dan sungai akan musnah, daratan akan terbalik, dan bencana besar
pasti terjadi! Tuan Lloyd pasti menciptakan situasi ini untuk menyelesaikannya
dengan pengorbanan seminimal mungkin. Benar-benar luar biasa."
Grim dan Jiriel
sedang bergumam entah apa, tapi aku sedang memikirkan sebuah pertanyaan yang
tiba-tiba muncul.
Makanan yang
kubuat dengan sihir ilusi memang sebuah mahakarya, tapi bagaimanapun itu cuma
palsu.
Di sekitar
Gerbang Kontinental ada pegunungan, dan di sana pasti ada makanan juga. Kenapa
mereka sampai berkumpul sebanyak ini di sini?
"Eh? Kalau
dilihat baik-baik, gunungnya berwarna merah……? Bukan, itu terbakar ya."
Bukan hanya satu.
Semua gunung yang
terlihat sedang terbakar.
Sepertinya
para prajurit pasukan Schneizel-lah yang berkeliling untuk membakarnya.
Apa
mereka bergerak selaras setelah menyadari gerakanku…… tidak, itu pasti terlalu cepat.
Mereka pasti sudah merencanakannya sejak awal sehingga bisa
bergerak secepat ini.
Ucapan Schneizel di gerbang tadi yang menyuruh untuk terus
bertahan, sepertinya ditujukan untuk ini.
Tujuannya adalah membakar gunung agar monster kehilangan
sumber makanan, lalu menghabisi mereka satu per satu. Mars pasti menyadari rencana itu sehingga dia
menyuruhku untuk bergerak.
Lalu
Schneizel segera menyadari pergerakanku dan langsung beraksi.
Terlebih
lagi, pasukan yang dipimpin Cruze juga bergerak seolah menahan para monster
agar tidak menjauh dariku, mengontrol mereka agar tidak terpencar.
Itu
adalah pencapaian yang mustahil dilakukan jika tidak memiliki pandangan luas
atas seluruh medan perang. Aku yang melihat dari angkasa saja paham betapa
sulitnya itu; mereka melakukannya di dataran rendah sambil bertempur di garis
depan.
Orang-orang
ini benar-benar hebat, atau lebih tepatnya sudah di level yang tidak masuk
akal.
Setelah
menyelesaikan tugasku, aku kembali ke Gerbang Kontinental.
Sebagian
besar monster telah dikalahkan, meski sisanya masih mengamuk dan para prajurit
masih berjuang untuk menghabisi mereka.
Tapi
situasi sudah terkendali. Sisanya adalah tugas Schneizel, pikirku sambil
mendarat di hadapan mereka.
"Tuan
Lloyd!"
Pada saat
yang sama, aku langsung didekap oleh Sylpha hingga jatuh.
"Aaah! Tuan
Lloyd, syukurlah Anda selamat! Sebenarnya saya tidak akan pernah mengizinkan
rencana berbahaya seperti menjadi umpan gerombolan monster, tapi karena ini
demi membalikkan situasi…… saya siap menerima hukuman apa pun! Mohon ampuni
saya……!"
"Tidak
apa-apa, tapi tolong lepaskan aku dulu……"
Dia mendekapku
dengan kekuatan yang luar biasa kencang hingga aku tidak bisa lepas.
Sylpha tersadar,
lalu buru-buru melepaskanku dan berdehem.
"E-ehem.
Maafkan kekurangajaran saya tadi……"
"Ya sudah
tidak apa-apa. Lagipula, Mars jadi kasihan sekali ya……"
Saat aku berdiri
dan membersihkan debu, kulihat di ujung tali yang dipegang Sylpha ada Mars yang
terikat erat seperti kepompong.
"Ya, karena
dia menyusun rencana yang sangat nekat, dia harus bertanggung jawab jika
terjadi sesuatu pada Tuan Lloyd. Aku mengikatnya begini agar dia tidak bisa
kabur."
"Hahaha,
Anda luar biasa, Tuan Lloyd. Saya sendiri merasa lega rencana ini berhasil
dengan lancar. Haha, hahaha……"
Mars tertawa
kering, sementara di wajahnya masih ada bekas tamparan berkali-kali.
Sepertinya
dia baru saja mengalami nasib yang sangat tragis. Benar-benar kasihan.
"Lepaskan
ikatannya, Sylpha."
Bersamaan dengan suara itu, Schneizel muncul.
"Yang Mulia Schneizel…… baik, segera
dilaksanakan."
Dengan gugup, Sylpha memutus talinya dan menunduk hormat.
"Kamu Mars, mantan ahli strategi Kekaisaran, kan?"
"Wah wah, Yang Mulia Schneizel, salam hormat……"
Mars menunduk dengan cara yang sama saat Schneizel
mendekatinya.
"Aku tidak suka basa-basi penuh sanjungan. Itu hanya akan membuat kita salah melihat
inti masalah. Terlebih lagi taktik tadi, itu taktik yang digunakan untuk
menghalau Stampede yang menyerang Kekaisaran lima tahun lalu, kan?"
"Basa-basi
itu penting, lho. Untuk melihat inti masalah, kita harus merapikan penampilan
luar terlebih dahulu."
"Hm……"
Schneizel terdiam
mendengar jawaban santai Mars yang tersenyum ramah.
Berani menjawab
Schneizel dengan ringan begitu menunjukkan betapa besarnya nyali orang ini.
"Mohon
maafkan saya. Tapi saya harus bilang Anda luar biasa, Yang Mulia Schneizel.
Ternyata Anda sangat paham dengan urusan negara lain. Yah, kalau tidak begitu,
mustahil bagi Anda untuk bisa menyelaraskan taktik ini dengan sempurna."
"Bagaimana
mungkin aku tidak tahu tragedi itu."
"……kh."
Wajah Mars tampak
sedih sejenak mendengar ucapan Schneizel.
Ada apa nih? Stampede
yang menyerang Kekaisaran? Ditambah lagi ekspresi sedih di wajah Mars,
sebenarnya apa yang terjadi?
Saat aku sedang
kebingungan, terdengar suara dari belakang.
Ternyata Cruze.
Dia berdiri di sampingku dan mulai menjelaskan.
"Lima tahun
lalu, Kekaisaran diserang Stampede yang sama seperti Saloum saat
ini."
"Itu
berarti……"
"Ya,
penyebab Mars meninggalkan Kekaisaran adalah karena pertempuran itu. Saat itu
skala Stampede-nya kecil, tapi karena wilayah Kekaisaran sangat luas,
mereka tidak bisa melindungi desa-desa kecil sehingga timbul kerusakan yang
besar. Kami sendiri sempat mengirim bala bantuan beberapa kali."
"Dan yang
memimpin pertahanan saat itu adalah Mars, ya?"
Cruze
mengangguk dalam diam. Saloum beruntung karena punya Gerbang Kontinental. Tanpa
itu, monster pasti akan menyebar ke seluruh wilayah dan situasinya tidak akan
terkendali.
"Mars sudah berjuang keras. Tapi karena monster
menyebar terlalu luas, dia terpojok. Akhirnya dia menyusun rencana umpan makanan, rencana yang barusan kita
lakukan tadi."
"Mengumpulkan
monster dengan makanan lalu membasminya sekaligus, ya. Tapi dari nada bicaramu,
sepertinya rencana itu gagal?"
"Ya, Mars
yang mengusulkan rencana itu memerintahkan untuk mengumpulkan makanan dari
berbagai tempat. Tapi gaya bertarung Mars yang sering mengorbankan minoritas
demi menyelamatkan mayoritas membuat reputasinya buruk di desa-desa. Akibatnya,
makanan tidak terkumpul dan rencana itu pun gagal total. Desa-desa yang
menyembunyikan makanan akhirnya luluh lantak diterjang monster, menimbulkan
korban jiwa yang sangat banyak."
Cruze menyipitkan
matanya sedih, seolah memikirkan rakyat yang menjadi korban.
Jika makanan
tersebar di berbagai tempat, mustahil untuk mengumpulkan monster meskipun
menggunakan umpan.
"Tapi
Kekaisaran kan negara militer yang sangat kuat? Meskipun ada rumor buruk, mana
mungkin rakyat jelata bisa terus menyembunyikan makanan dari militer?"
"Mungkin
pesaing Mars sesama ahli strategi yang menyebarkan rumor itu. Karena itulah
para penduduk desa dibiarkan begitu saja. Mars yang muda dan berbakat pasti
menjadi duri dalam daging bagi mereka…… tapi mengorbankan desa benar-benar
perbuatan yang tidak bisa dimaafkan."
Seperti
yang dikatakan Jiriel, saat kau terlalu menonjol, pasti akan ada orang yang
mencoba menjatuhkanmu.
Karena
itulah aku mencoba hidup se-tidak mencolok mungkin. Hmm, hmm. Kuabaikan saja tatapan tajam dari kedua
bawahanku itu.
"Apa dia
meninggalkan Kekaisaran setelah itu karena disuruh bertanggung jawab atas
kegagalan tersebut?"
"Tidak, dia
tidak dimintai pertanggungjawaban. Petinggi Kekaisaran tetap menilai tinggi
kemampuan Mars. Kenyataannya, meski banyak korban jiwa, Mars berhasil menekan Stampede
sebelum mereka mencapai ibu kota. Setelah itu, dia memohon kepada Raja agar
diizinkan membantu pemulihan desa-desa yang menjadi korban sebagai bentuk
penebusan dosanya."
Heh, hebat juga.
Melakukan hal sejauh itu padahal itu bukan sepenuhnya kesalahannya adalah
sesuatu yang luar biasa.
"Tapi Raja
menolaknya, dan malah bilang kalau ada waktu untuk pemulihan, lebih baik
digunakan untuk merebut wilayah baru…… Mars yang merasa muak akhirnya membawa
anak buahnya keluar dari Kekaisaran."
Cruze menghela
napas panjang.
Begitu ya, jadi
ada masa lalu seperti itu. Pantas saja dia jadi benci berperang.
"Ngomong-ngomong,
Kak Cruze tahu banyak sekali ya."
"Yah,
aku sudah sering bertemu dengannya di medan perang. Kami saling mengenal nama
satu sama lain, dan rumor memang menyebar dengan cepat."
Berarti
Schneizel juga sudah tahu hal itu sehingga bisa menyelaraskan gerakannya dengan
rencana kali ini.
Inilah
yang disebut hubungan antar jenderal, ya? Kalau kulihat, sekarang Schneizel dan
Mars sedang mengobrol dengan akrab.
Mars
bilang dia ingin mengabdi padaku, tapi mungkin lebih baik jika dia bersama
Schneizel dan yang lainnya.
"Tapi
Yang Mulia Schneizel, kemampuan kepemimpinan Anda benar-benar luar biasa.
Berkat kepercayaan prajurit dan kekuatan sang jenderal, Stampede kali
ini bisa dihentikan."
"……Aku
hanya dibantu oleh semua orang. Semua tidak akan berjalan semulus itu."
"Sikap
seperti itulah yang saya maksud, Yang Mulia Schneizel. Benar-benar membuat saya
iri saja."
Setelah menatap
Mars yang tersenyum kecut sejenak, Schneizel mengulurkan tangannya.
"Mars, aku
tahu kau sudah memutuskan untuk mengabdi pada Lloyd. Tapi aku akan tetap
bertanya, maukah kau datang ke tempatku?"
"Mohon maaf,
tawaran Anda sangat menarik, tapi……"
Mars
menggelengkan kepalanya.
"Begitu
ya."
Schneizel
menjawab singkat.
Percakapan
mereka berakhir di situ. Aku mendekati Mars yang baru kembali lalu berbisik
padanya.
"Hei
Mars, aku senang kamu mau ikut denganku, tapi kamu bebas pergi ke mana pun yang
kamu mau, lho."
Lagipula
setelah Stampede selesai, tidak ada tugas untuk seorang ahli strategi,
jadi sejujurnya aku akan bingung harus memberinya tugas apa.
Mars
sepertinya tidak terlalu paham soal sihir, sih. Maaf saja, tapi aku benar-benar
tidak punya tugas untukmu.
Namun,
Mars menjawab pertanyaanku dengan senyum kecut.
"Fufu,
apakah Anda mencemaskan kata-kata Yang Mulia Schneizel tadi? Tidak perlu
khawatir. Itu hanyalah gestur khas beliau saja."
"Apa
maksudmu?"
"Jika orang
yang entah datang dari mana seperti saya tiba-tiba menjadi ahli strategi Anda,
para prajurit pasti akan melayangkan protes, bukan? Namun, jika Yang Mulia
berbicara akrab dengan saya bahkan mengajak saya menjadi bawahannya, martabat
saya pun ikut naik. Dengan begitu, tidak akan ada yang mengeluh meski saya
mengabdi di bawah Anda."
Memang benar,
saat memutuskan menerima Mars saja Sylpha dan yang lainnya sempat menyuarakan
kekhawatiran, apalagi di depan para prajurit yang tidak tahu apa-apa.
Aku memang tidak
terlalu ahli dalam urusan seni bersosialisasi seperti itu. Jadi, aku sama
sekali tidak menyadarinya.
"Yang Mulia
Schneizel benar-benar memikirkan kepentingan Anda, Tuan Lloyd. ……Lalu, meski
beliau berpura-pura tidak tahu, kemungkinan besar beliau sudah menyadari
rencana saya sejak awal. Jika tidak, beliau tidak akan pergi membasmi monster
di gunung yang jauh dari gerbang, atau menghabisi ras Undead yang tidak
mempan dipancing umpan. Memiliki kemampuan sihir sehebat itu, namun juga punya
bakat strategi militer yang melampaui saya maupun Yang Mulia Schneizel. Anda benar-benar sosok yang
menarik. Fufufufufu."
Mars
terus bergumam sambil menyunggingkan senyum.
Tapi
kalau dipikir-pikir, fakta bahwa ahli strategi sehebat ini menjadi bawahanku
malah akan membuatku semakin menonjol, bukan?
Muuu,
jika memang memikirkan kepentinganku, seharusnya Schneizel saja yang mengambil
Mars. Itu akan jauh lebih membantu.
Saat aku
sedang melamunkan hal itu, tiba-tiba Cruze yang entah sejak kapan sudah berada
di sampingku menepukkan tangannya di kepalaku.
"Kenapa
wajahmu ditekuk begitu? Karena kamu anak yang serius, pasti kamu sedang
berpikir kalau dirimu hanya sedang diistimewakan, kan? Nih, lihatlah ke sana."
Aku sama sekali
tidak berpikir begitu, sih. Namun, aku tetap menuruti perkataannya dan melihat
ke bawah.
Di tengah
para prajurit yang masih bertarung melawan monster, sebuah suara lantang
menggema.
"Apa
yang kalian lakukan! Pertempuran belum berakhir! Kita mulai operasi pembersihan
sekarang juga! Jangan biarkan satu ekor monster pun tersisa di tanah ini!"
Pemilik suara itu adalah Albert. Seolah menanggapi seruannya, para prajurit
serentak mengangkat pedang mereka.
"UOOOOOOOOOO!"
Menerima
kobaran semangat dari Albert, para prajurit yang tadinya tampak kelelahan kini
justru merangsek maju ke arah kerumunan monster dengan penuh semangat.
Sambil
melihat pemandangan itu dari atas, Schneizel menghela napas lega.
"Kak
Cruze, ini sebenarnya……?"
"Schneizel
ingin Albert yang melakukan penyelesaian akhir dalam perang ini. Lihat, anak
itu kan pendiam dan tanpa ekspresi, bukan? Dia sering dianggap menyeramkan oleh
para prajurit. Sebagai jenderal mungkin tidak masalah, tapi dia terlalu kaku
untuk menjadi seorang Raja. Dalam hal itu, Albert pandai bicara dan punya
karisma. Karena Schneizel ingin Albert naik takhta berikutnya, dia
membiarkannya menarik hati para prajurit dari sekarang."
Kalau
dipikir-pikir, Schneizel memang terlihat menakutkan bagi banyak orang.
Sebaliknya,
Albert yang ramah pasti disukai oleh banyak orang.
"Ditambah
lagi, Albert sendiri punya ambisi besar untuk takhta tersebut. Schneizel
bergerak di balik layar agar posisi Albert semakin kuat melalui perang ini.
Tentu saja, itu juga demi Zelof, Dian, dan adik-adik lainnya. Dia merasa itu
adalah tugasnya sebagai putra sulung."
"Kamu
terlalu banyak bicara, Cruze."
Entah
sejak kapan dia mendengarkan, Schneizel memelototi Cruze dengan kening
berkerut.
"Oups,
apakah ini rahasia?"
"……Yah,
bukan berarti aku menyembunyikannya juga, sih."
Melihat
Cruze yang buru-buru menutup mulut, Schneizel menghela napas.
"Seperti
yang Cruze katakan, aku hanya merasa menjaga negara sebagai jenderal lebih
cocok dengan sifatku daripada menjadi raja."
Setelah
mengatakan itu, Schneizel membuang muka dengan ekspresi yang tampak sedikit
malu.
Melihat
hal itu, Cruze berbisik di telingaku.
"Alasan
Schneizel berdiri di medan perang adalah agar kalian, adik-adiknya, bisa hidup
bebas. Hampir dua puluh tahun lalu…… saat Albert masih kecil, benua ini sangat
tidak stabil. Kami bersumpah untuk melindungi perdamaian negara ini. Dia
bilang, itu tugasnya sebagai kakak tertua agar adik-adik yang lahir setelahnya
bisa hidup melakukan apa pun yang mereka suka. Ya ampun, dia pria yang sangat hangat di balik penampilannya itu."
Cruze
mengangguk-angguk setuju pada dirinya sendiri.
Kalau
diingat-ingat, di kehidupanku yang sebelumnya, Kerajaan Saloum memang sering
terlibat perang kecil. Kabar tentang keberanian mereka berdua di medan perang
bahkan sering terdengar olehku di masa lalu.
Begitu ya, berkat
kerja keras mereka berdua, aku dan saudara-saudaraku yang lain bisa menekuni
hal-hal yang kami sukai seperti sekarang.
"……Terima
kasih. Kak Schneizel. Kak Cruze."
"Sudahlah,
aku mengatakannya bukan agar kamu merasa berhutang budi."
"Umu, sudah
sewajarnya seorang kakak bergerak demi adik-adiknya. ……Lagi pula, kami juga
melakukan apa yang kami suka."
Schneizel
mengatakan itu sambil sedikit melonggarkan sudut bibirnya.
Itu adalah
senyuman pertama yang diperlihatkan Schneizel kepadaku.
"……Tapi
dalam perang kali ini, penyelesaiannya masih kurang matang."
"Umu,
harusnya kita bisa meminimalisir korban lebih banyak lagi."
"Ini semua
karena aku salah menilai kekuatan tempur yang bernama Lloyd. Aku pikir aku
sudah menilainya cukup tinggi, tapi ternyata itu pun masih jauh dari cukup.
Jika aku menjadikannya asisten pribadiku…… fuh, penglihatanku ternyata masih
belum tajam."
"Oi oi, aku yang akan menggunakannya dengan lebih baik!
Jika Lloyd masuk ke pasukanku, satu divisi saja sudah cukup untuk memukul
mundur Stampede ini."
Schneizel
dan Cruze mulai berdebat sambil terus menatapku.
Aku tidak
terlalu paham apa yang terjadi…… tapi yang penting, semuanya berakhir dengan
selamat.
◇
Demikianlah,
insiden Stampede yang menyerang Kerajaan Saloum resmi berakhir.
Para
prajurit yang berjuang keras diberikan penghargaan yang setimpal, dan para
jenderal yang memimpin mereka juga naik jabatan.
Desa-desa
yang berada di jalur lintasan Stampede mendapatkan dana kompensasi, dan
penduduknya pun sudah mulai memulai hidup baru.
Kepada
Zelof dan saudara-saudaraku yang ikut berpartisipasi, Schneizel memberikan
barang-barang yang sekiranya mereka sukai. Tentu saja, sumber informasinya
adalah aku.
Schneizel
dan Cruze menyerahkan urusan pasca-perang kepada Albert dan yang lainnya, lalu
segera kembali ke garis depan.
Sepertinya
selama insiden Stampede berlangsung, berkali-kali surat dikirim dari
garis depan.
Bahkan
Schneizel memberikan instruksi ke tempat yang jauh sementara dia menangani
urusan di sini.
Hmm,
terbuat dari apa ya otaknya itu? Benar-benar luar biasa.
"Aku
akan kembali lagi. Sampai saat itu tiba, bacalah ini baik-baik."
Benda
yang diberikan Schneizel adalah buku taktik militer yang ia tulis bersama Mars.
……Tapi
kenapa buku taktik? Padahal aku akan lebih senang jika diberi buku sihir.
Mungkin
karena menyadari wajahku yang tampak bosan, Schneizel memberikan buku lain. Itu
adalah buku tentang sihir militer.
"……Jangan
terlihat kecewa begitu. Ini kuberikan juga."
"Wah!
Benarkah!?"
Melihatku
kegirangan, Schneizel entah kenapa malah memasang wajah sedih.
Ada apa
ya? Yah, karena aku dapat banyak buku sihir, tidak masalah lah.
"Hoho,
kamu memberikan barang bagus ya, Schneizel. Kalau begitu, aku akan memberikan
ini."
Yang
kuterima dari Cruze adalah sebuah buku bertuliskan Panduan Aliran Langris
Terlarang.
"Ini adalah
kristalisasi cinta…… ehem! Buah karya antara aku dan Komandan Ksatria Markos!
Ini adalah buku terlarang dari Aliran Langris! Isinya hanya mencatat
teknik-teknik yang memiliki tingkat bahaya dan kesulitan yang sangat tinggi.
Mengenal sisi luar, memahami sisi dalam, lalu mencapai kebenaran…… begitulah
cara kerja segala sesuatu. Untukmu yang sekarang, memberikan ini pasti
tidak masalah."
Rasanya tadi aku mendengar kata-kata aneh di tengah
kalimatnya, tapi mungkin hanya perasaanku saja.
Hmm, sejujurnya
aku sama sekali tidak tertarik pada ilmu pedang. Nanti kuberikan pada Sylpha
saja lah.
"Lagipula,
Yang Mulia Cruze hebat sekali! Pertarungan tadi benar-benar memuaskan!"
Setelah
menyelesaikan latihan tanding yang dijanjikan, Tao tertawa puas.
Pertarungan
mereka berdua benar-benar dahsyat, dan sorak-sorai para prajurit juga sangat
luar biasa.
Aku
pernah belajar sedikit teknik bela diri Aliran Langris dari Sylpha, tapi milik
Cruze berada di level yang berbeda. Apalagi sepertinya dia belum serius, bahkan
Tao pun sampai dibuat kagum.
"Kamu juga
punya kemampuan yang hebat, Tao. Aku bahkan ingin merekrutmu sebagai
prajuritku. Wahaha!"
"Aku senang
diajak, tapi aku menolak. Aku adalah seniman bela diri seumur hidup!"
"Fuh, sayang
sekali, tapi mau bagaimana lagi."
Wah,
percakapan yang sangat serius…… tidak menyangka itu datang dari Tao. Apakah dia sudah sangat fokus pada bela
diri sampai tidak tertarik lagi pada laki-laki?
Mendengar
kata-kata jujur itu, Cruze menghembuskan napas pelan.
"……Begitu
ya. Memang seharusnya begitu. Kalau begitu, sampai jumpa lagi."
"Ah, tunggu
sebentar!"
Tao buru-buru
berlari mengejar Cruze dan mulai membisikkan sesuatu di telinganya.
"Ngomong-ngomong,
orang yang pakai topeng itu, ganteng sekali ya. Tolong perkenalkan
padaku!"
"……Benarkah?
Schneizel itu punya wajah yang sangat menakutkan, lho. Kamu aneh juga ya."
"Nfufu,
belakangan ini kriteria laki-laki idamanku semakin luas♪"
……Ternyata
dia tidak banyak berubah.
Yah,
kepribadian Schneizel memang sangat keren, sih.
Apakah
ini yang dinamakan mata batin? Menilai seseorang bukan dari penampilan luar,
melainkan dari sisi dalamnya── tapi apakah cara pakainya boleh seperti itu?
Boleh saja lah.
Karena ini Tao, kan. Setidaknya ini cukup melegakan.
"Kalau
begitu Tuan Lloyd, jika ada apa-apa lagi jangan sungkan untuk memanggil
kami."
"Ya, terima
kasih bantuannya, Galilea. Semuanya juga terima kasih. Mars, kalian juga
hati-hati."
"Terima
kasih atas perhatiannya, Tuan Lloyd."
"Heh, aku
akan menikmatinya semaksimal mungkin!"
Galilea, Mars,
Bils, serta para bandit lainnya pun pergi beranjak pulang.
Di wilayah
kekuasaan mereka masih banyak monster yang tersebar akibat dampak Stampede.
Jadi, tidak ada salahnya memiliki kekuatan tempur untuk membasmi mereka.
"Tuan Lloyd,
Anda harus benar-benar, benar-be-nar berkunjung ke Guild Petualang ya!"
Resepsionis
Catarina terus-menerus mengingatkanku sebelum dia pulang.
Segitu inginnya
kah dia menjadikanku petualang?
Sejujurnya, aku
sama sekali tidak tertarik.
Yah, jika ada
permintaan yang terlihat menarik dan aku sedang ingin, mungkin aku akan
melakukannya sesekali.
Aku sudah
berpesan padanya untuk memberitahuku jika ada pekerjaan seperti itu.
Lalu, dikabarkan
Saias pergi dalam perjalanan latihan.
Saat itu,
gara-gara Bloodline Magic yang aku lepaskan, Saias mendapatkan
ekspektasi yang terlalu tinggi dari para prajurit.
Namun karena
tidak bisa memenuhi ekspektasi tersebut, kabarnya dia kehilangan kepercayaan
pada saat ia kembali.
Mungkin aku
melakukan hal yang agak jahat padanya.
"Tidak juga.
Topengnya saja yang terkelupas. Itu salahnya sendiri."
"Benar
sekali. Tuan Lloyd tidak perlu merasa bersalah sedikit pun."
Grim dan Jiriel
berkata begitu, tapi sebagai bangsawan, harga diri Saias pasti sangat terluka.
Yah, saat pergi
dia masih sempat bilang, "Kali ini aku kalah, tapi lain kali aku yang akan
menang! Basuh lehermu dan tunggu aku!", jadi sepertinya dia tidak terlalu
terpuruk.
Meski aku bingung
kapan tepatnya kami memulai kompetisi itu.
Mungkin saja
dalam perjalanan ini dia melakukan latihan yang luar biasa, dan saat kembali
nanti dia menguasai sihir yang mengejutkan. Kemungkinannya tidak nol, kan?
Sihir misterius
yang tidak kuketahui. Akan bagus jika dia kembali setelah mempelajarinya. Aku
akan menantikannya dengan penuh harapan. Hmm, hmm.
◇
Begitulah,
setelah berbagai urusan selesai dan situasi mulai tenang.
Aku melangkahkan
kaki ke sebuah tempat tertentu.
Jauh di utara Saloum,
tempat yang disebut sebagai titik awal terjadinya Stampede.
Investigasi ke
tempat ini sempat dihentikan karena lokasinya yang terlalu jauh.
"Ugh, hawa dinginnya sampai bikin merinding ya."
"Ya, rasanya seperti sedang menuruni tangga menuju
neraka."
Di sana terdapat sebuah Dungeon.
Aku menuruni anak tangga Dungeon yang sempit namun
sangat dalam itu.
"Padahal
saat aku ke sini dulu, tempat ini tidak ada apa-apanya."
"Anda pernah
mengunjungi tempat ini sebelumnya?"
"Iya, kalau
tidak salah sekitar lima tahun yang lalu. Saat itu tempat ini hanya padang
rumput yang luas, jadi kupikir tidak akan ada masalah."
"Apakah Tuan
Lloyd berbuat ulah lagi……?"
Grim dan
Jiriel menatapku dengan tatapan ngeri.
Tidak,
tidak, belum tentu ini salahku, kan?
……Meskipun
aku tidak bisa membantah kalau kemungkinannya besar, sih.
"Umur
lima tahun…… sejak sekecil itu sudah bertingkah macam-macam. Anak kecil
harusnya main boneka saja secara wajar."
"Yah, keributan Homunculus waktu itu secara
teknis juga bisa disebut main boneka sih…… oh, sepertinya kita sudah sampai di
lantai terbawah."
Di sana terdapat
pintu raksasa yang menandakan sarang Boss Dungeon.
"Tapi tidak
ada monster sama sekali ya."
"Mungkin
semuanya sudah keluar saat Stampede kemarin. Itu berarti jika kita tidak
menghancurkan Dungeon ini, kejadian itu akan terulang lagi. ……Tapi,
pintu ini besar sekali ya."
Pintunya sangat
besar sampai aku harus mendongak.
Aku pernah dengar
dari Catarina bahwa kekuatan Boss tercermin dari kekokohan pintunya.
Katanya jangan
pernah masuk ke pintu yang tingginya melebihi tiga meter.
Pintu yang ini
tingginya mencapai lima meter.
"Yah, aku
tetap masuk, sih."
Sudah sampai di
sini, tidak mungkin ada pilihan untuk kembali.
Hari di mana
Sylpha dan Albert pergi dalam waktu lama tidak terjadi setiap hari, kan?
Oleh karena itu,
aku membuka pintu dan melangkah masuk.
Di tengah suara
pintu yang tertutup dengan dentuman berat, sesuatu yang berada di ujung aula
remang-remang itu mulai bergerak.
Di atas
kursi mengerikan yang terbuat dari tumpukan tulang, duduk sesosok kerangka
manusia yang mengenakan jubah.
"Makhluk
ini…… apakah ini Skeleton?"
"Sepertinya
bukan Skeleton biasa. Tapi mana yang luar biasa ini, rasanya aku pernah
merasakannya di suatu tempat……"
Saat mereka
berdua sedang memiringkan kepala kebingungan, aku justru sangat mengenali sosok
itu.
"Gawat."
Melihat itu, aku
menepuk dahi.
Jubah yang
compang-camping, kemeja yang sobek tak berbentuk, sepatu bot yang aus, semua
itu adalah barang yang kukenakan di kehidupan sebelumnya.
Ya, kerangka
manusia ini adalah jasadku dari kehidupan sebelumnya yang telah menjadi tulang
belulang.
──Lima tahun
lalu, saat aku mempelajari Necromancy, aku segera berniat mencoba
mengendalikan mayat…… lalu aku mengurungkan niat tersebut.
Pikirku, tidak
baik mengganggu tidur orang yang sudah mati, seberapa pun besarnya rasa
penasaranku.
Tapi aku ingin
mencoba. Namun secara etika…… setelah pergulatan batin berkali-kali, aku sampai
pada kesimpulan bahwa jika itu mayatku sendiri, harusnya tidak masalah.
Aku segera
mencari makamku sendiri, menggalinya, lalu merapalkan sihir Necromancy
pada jasadku yang sudah menjadi tulang belulang itu.
Jiwa yang
seharusnya tersisa di jasad itu sudah lenyap…… karena sudah berpindah ke
tubuhku yang sekarang. Jadi, aku menciptakan tiruan jiwa dengan sihir dan
menanamkannya, hingga akhirnya jasad itu pun bisa bergerak.
Ya ampun, meski
hanya tulang, melihat jasad sendiri bergerak itu memberikan perasaan yang sulit
dijelaskan. Namun karena ini kesempatan langka, aku mencoba berbagai hal.
Dalam Necromancy,
ada banyak sihir untuk memperkuat mayat yang dikendalikan, dan aku
merapalkannya satu per satu.
Aku memberikan
formula sihir untuk memperkuat tulang itu sendiri, menyelimutinya dengan jubah
kegelapan agar bisa beregenerasi otomatis jika hancur, dan membuatnya
mempelajari segala jenis sihir yang menjadi impianku di kehidupan sebelumnya……
Lalu,
lama-kelamaan dia mulai bergerak sendiri, dan tanpa kusadari, dia mulai lepas
kendali dan mengabaikan perintahku.
Merasa ini
berbahaya, aku mengurung kerangka itu dalam sebuah pelindung dan membawanya ke
tempat yang tidak ada orang──yaitu ke sini. Aku menggali lubang raksasa,
menguburnya, lalu meninggalkannya begitu saja.
Tapi tidak
kusangka jasadku sendiri malah menciptakan Dungeon dan berniat menyerang
Saloum dengan monster.
──Tidak, yang ia
incar adalah aku.
Mayat yang
dibangkitkan dengan Necromancy memiliki keterikatan yang kuat pada orang
yang masih hidup, dan itu akan semakin kuat pada sosok yang paling dekat dengan
dirinya sendiri.
Masuk
akal jika dia mengincar diriku yang sekarang, yang merupakan reinkarnasi dari
dirinya sendiri. Jika begitu, aku tidak bisa membiarkannya begitu saja.
"A,
aaaa……"
Sambil
mengerang, Skeleton diriku mendekat.
"Ma-mana
yang mengerikan macam apa ini…… kepadatan mananya sampai bisa terlihat dengan
mata telanjang!?"
"Mustahil……
jumlah mananya setara dengan Dewa Jahat!? Makhluk seperti ini ada sebagai Boss
Dungeon……!"
Skeleton-ku
mengayunkan lengannya, lalu bola-bola api raksasa berjajar seketika.
"Flame
Burst Fireball, mengaktifkan sihir tingkat tinggi sebanyak itu
sekaligus……"
"AAAAAAA!"
Goou!
Dengan
suara menderu, badai bola api yang dilepaskan itu kutahan sepenuhnya dengan Magic
Barrier.
Hmm,
rasanya lumayan juga.
Aku yang
dulu sama sekali tidak punya bakat dan tidak bisa menggunakan sihir dengan
benar, ternyata sekarang sudah bisa mencapai tahap ini. Rasanya benar-benar
mengharukan.
Menghilangkannya
begitu saja memang mudah, tapi rasanya agak sayang.
Tapi
membiarkannya begitu saja juga…… Hmm.
Setelah
berpikir sejenak, aku pun mengangguk.
"Baiklah,
aku sudah putuskan."
Aku
membalikkan punggungku pada si Skeleton-ku itu, lalu mengulurkan tangan ke arah
pintu raksasa yang tertutup sambil memusatkan mana.
"Ja-jangan-jangan
Anda berniat menghancurkan pintu itu!? Pintu raksasa itu punya ketangguhan yang
tidak main-main! Sekuat apa pun Lord Lloyd……"
Aku mengompresi
mana yang telah terpusat, lalu mengumpulkannya di satu titik.
"Heh,
kalian benar-benar tidak mengerti ya. Mana milik Lord Lloyd sudah lama
melampaui dimensi yang bisa diukur dengan logika umum!"
Formula
sihir yang terukir di aliran darahku menderu, menciptakan mana yang jauh lebih
besar lagi.
Mana itu
berpusar, bergolak, dan mengamuk di tanganku, hingga akhirnya menjadi satu bola
mana kecil.
Aku
menyentil bola mana yang berwarna merah membara layaknya api yang menyala itu.
"──Fireball."
Aku
melepaskannya ke arah pintu raksasa.
Begitu
api yang meluncur dari telapak tanganku menyentuh pintu tersebut, terdengar
suara mendesis seperti sesuatu yang terpanggang, dan pintu itu langsung
meleleh.
Setelah
menembus pintu, serangan itu mengenai dinding di baliknya dan terus
melelehkannya tanpa henti.
"A-a-a-apa-apaan ini!? Hanya dengan Fireball,
pintu raksasa yang luar biasa besar itu hancur bahkan tanpa sanggup bertahan
sedetik pun!? Padahal pintu Boss itu sendiri pada dasarnya adalah sesuatu yang
tidak bisa dihancurkan…… Ini bukan lagi soal dimensi logika, ini sudah
melampaui dimensi di atasnya lagi……!"
"Ha, haha,
hahahahaha…… Aku hanya bisa tertawa sekarang. Bahkan Tuanku yang tinggal
di Dunia Dewa pun mungkin tidak memiliki kekuatan sehebat ini. Mengatakan 'luar
biasa' saja rasanya masih terlalu dangkal."
Mereka berdua bergumam sambil tertawa getir.
Sepertinya mereka sedikit terkejut.
Yah, dalam pertempuran kali ini aku memang tidak punya
kesempatan untuk menggunakan sihir dengan serius.
Mumpung ada
kesempatan, aku melakukannya sekuat tenaga. Ternyata kombinasi antara Bloodline
Magic buatanku sendiri ditambah efisiensi dari Military Magic
menghasilkan daya serang yang sangat mengerikan.
Fireball yang kulepaskan membuat lubang besar pada
dinding di balik pintu raksasa itu, menembus jauh, jauh ke depan…… hingga ke
titik yang tidak lagi terlihat.
Hmm, apa aku
melakukannya berlebihan? Yah, meski aku memasukkan mana dalam jumlah besar,
pada akhirnya itu tetaplah cuma Fireball biasa, jadi pasti akan berhenti
di suatu tempat.
"AAAAA,
AAAA……"
Selama itu pun,
si Skeleton-ku tetap melanjutkan serangannya padaku.
Sepertinya selama
aku berada di sini, dia akan terus menyerang.
Sambil menahan
serangannya, aku berjalan keluar melewati tempat di mana pintu itu tadinya
berada.
Seketika,
Skeleton-ku menghentikan serangannya dan mematung, seolah sedang mengantarku
pergi.
"Boss
terikat oleh aturan yang membuatnya tidak bisa bergerak keluar dari ruangan,
itulah sebabnya mereka memiliki kekuatan tempur yang besar. Yah, meskipun dia
bukan tandingan Lord Lloyd……"
"Tapi
Lloyd, kenapa kamu tidak mengalahkannya saja?"
"Hm? Oh, aku
punya rencana lain."
Aku melirik
sejenak ke arah Skeleton-ku, lalu keluar dari Dungeon.
Setelah itu, aku
menutup pintu masuknya rapat-rapat dengan pelindung berlapis.
"……Fuuuh,
dengan begini monster tidak akan meluap keluar lagi dan memicu Stampede."
Setelah
menggali lubang horizontal sedalam itu, monster tidak akan mudah meluap, dan
aku juga sudah menyumbatnya dengan pelindung, jadi mereka tidak akan bisa
keluar dengan mudah.
"Begitu
ya, jadi Anda berniat menjadikan seluruh Dungeon ini milik Lord Lloyd
sendiri."
"Tepat
sekali."
Seiring
berjalannya waktu monster-monster itu pasti akan muncul kembali. Karena ada
banyak monster yang cukup kuat di sini, tempat ini bisa kugunakan untuk
berbagai eksperimen.
Sayang sekali
kalau dihancurkan begitu saja, kan?
"Dungeon
yang di luar nalar seperti ini pasti tidak banyak jumlahnya di dunia.
Menjadikan tempat ini milik Lord Lloyd seorang diri…… Entah harus bilang luar
biasa atau bagaimana lagi."
"Apalagi
ini cuma dijadikan tempat eksperimen sihir. Benar-benar tidak lucu."
Sambil
diikuti Grim dan Jiriel yang tampak heran, aku menoleh sejenak ke arah diriku
yang dulu.
"Sampai
jumpa kalau begitu."
Bersamaan
dengan kata perpisahan itu, aku terbang meninggalkan tempat tersebut.
Yah, aku
senang sekali bisa mendapatkan tempat eksperimen yang sangat bagus.
◇
Dalam
perjalanan pulang, aku melihat Schneizel dan pasukannya yang sedang dalam
perjalanan kembali menuju medan perang.
Meskipun
baru saja melewati pertempuran hebat, barisan mereka tetap rapi dan
mengagumkan.
Mereka
benar-benar terlatih dengan baik ya. Saat aku sedang kagum, Grim dan Jiriel
menampakkan wajah mereka.
"Lord
Lloyd, bukankah sebaiknya Anda menyembunyikan diri?"
"Ya, akan
jadi merepotkan kalau para prajurit melihat Anda terbang di tempat seperti
ini."
"Oh, benar
juga."
Mendengar itu,
aku menggunakan Hermit untuk menyembunyikan keberadaanku.
Padahal aku sudah
berusaha keras agar tidak mencolok.
Hampir saja
usahaku sia-sia. Bahaya, bahaya.
Sambil menghela
napas lega, aku mencoba melewati atas barisan prajurit dalam kondisi tidak
terlihat. Namun, saat itulah sesuatu terjadi.
Schneizel
mendongak ke langit, menaruh tangannya di dahi, dan memberikan sikap hormat.
Prajurit lainnya
pun mengikuti, mereka menatap ke angkasa dan memberikan hormat yang sama.
Aku merasa
tatapan mereka semua tertuju tepat padaku.
"Ja-jangan-jangan
aku terlihat……?"
"Mustahil!
Skill Hermit milik Lord Lloyd sudah sempurna! Lagipula, mana mungkin
mereka menyadari seseorang yang terbang di ketinggian seperti ini……"
Meski begitu,
Schneizel dan pasukannya tetap melanjutkan sikap hormat mereka. ……Apa
jangan-jangan aku benar-benar ketahuan?
Seolah bisa
melihat diriku yang sedang berkeringat dingin, Schneizel tampak menyunggingkan
senyum tipis.
Seharusnya
Schneizel yang tidak memiliki mana tidak mungkin bisa melihatku yang sudah
menghilang…… Tapi apa mungkin dia bisa merasakan pergerakanku? Atau semuanya
sudah masuk dalam perhitungannya? Kalau iya, itu menyeramkan sekali.
"Sepertinya
lebih baik aku tidak terlalu sering berurusan dengan Schneizel."
Suatu saat
rahasiaku bisa terbongkar dan kekuatanku yang sebenarnya bakal ketahuan.
Cara paling bijak
adalah menjauh darinya sebisa mungkin.
"Aduh,
seram, seram," gumamku sambil terbang kembali menuju Kastil Saloum.
Di bawah
langit biru yang membentang luas, orang-orang menjalani kehidupan normal mereka
kembali, persis seperti sebelum peperangan dimulai.



Post a Comment