NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tensei Shitara dai Nana Ouji dattanode Volume 5 Part 4


Pembentukan unit langsung selesai dan kami pun berangkat menuju gerbang.

Pasukan Saias terdiri dari para penyihir dan jumlahnya terlihat sekitar dua ribu orang.

Padahal tadi dibilang unit kecil, tapi dia membawa cukup banyak orang ya.

"Heh, untuk melindungi para penyihir yang berharga, jumlah sebanyak ini memang diperlukan. Daripada mencemaskanku, apa kamu sendiri tidak apa-apa? Sepertinya aku tidak melihat ada prajurit penyihir di sisimu……"

"Aku hanya tidak mengenakan pakaian yang mencolok saja, kok."

……Meski aku bilang begitu, kenyataannya penyihirnya cuma aku seorang.

Saat ini aku masih mengerahkan banyak kekuatan untuk menjaga Mana Soldier, tapi karena kemarin formula sihirnya sudah diperbaiki, rasanya jadi sedikit lebih ringan.

Efisiensi mana dari sihir militer bekerja pada bagian-bagian yang sangat mendetail, dan pada akhirnya konsumsi mana bisa terpangkas hingga hampir setengahnya.

Berkat itu, kekuatanku sudah cukup pulih untuk bertarung sewajarnya. Kalau cuma membakar mayat sih masih sanggup.

Ngomong-ngomong, aku hanya membawa lima ratus unit termasuk Mana Soldier.

Ada Ren yang ahli dalam pertarungan jarak dekat berkat kabut racunnya, Bils bersama belasan banditnya, serta Tao yang ikut karena ingin melihat Cruze bertarung.

Tao benar-benar terpaku melihat cara bertarung Cruze tadi.

Duh, ini kan bukan tamasya tahu.

"Padahal Tuan Lloyd sendiri juga kelihatan sangat bersemangat begitu."

"……Ketahuan ya?"

Selain bisa menguji efisiensi formula sihir, aku juga bisa melihat Bloodline Magic. Tentu saja hatiku jadi berdebar senang.

"Siapa pun pasti tahu kalau melihat wajahmu. ……Lagipula kalau dilihat dari dekat, gerbang ini benar-benar besar ya."

Selagi mengobrol, kami sampai di dekat gerbang.

Gerbang itu sangat tinggi sampai harus mendongak untuk melihat puncaknya, dan suara pertempuran terdengar riuh dari balik sana.

Kemudian, seorang prajurit yang bersiaga di dekat sana menyapa kami.

"Oh, Tuan Lloyd dan Tuan Saias ya. Saya Kane, wakil komandan Pasukan Kedua. Saya sudah mendengar beritanya dari kurir. Katanya kalian akan membakar mayat-mayat monster yang sudah kami tumbangkan."

"Ya, serahkan saja pada kami, dijamin beres. Kalian tenang saja."

Melihat Saias yang membusungkan dada dengan bangga, Kane tersenyum tipis.

"Jadi dia Tuan Lloyd…… Seperti kata Tuan Cruze, aku bisa merasakan mana yang sangat mengerikan meskipun dia masih anak-anak. Hehe, sebagai sesama penyihir, izinkan saya menyaksikan cara bertarung Anda."

Tapi pandangannya malah tertuju padaku. Entah kenapa aku merasa dia menaruh harapan padaku…… ah, mungkin cuma perasaanku saja.

Kane menggumamkan sesuatu sambil memutar kudanya.

"Terima kasih atas bantuannya. Kami akan bertugas mengawal dan memandu kalian, mohon kerja samanya."

"Kami juga mohon bantuannya."

"Baiklah, kami akan membuka gerbangnya. Mohon tunggu sebentar."

Kane memberikan isyarat, dan para prajurit di samping gerbang mulai memutar tuas pengungkit.

Gogogo, gerbang terbuka dengan suara berat yang dalam.

"Ayo berangkat. Ikuti kami!"

Begitu gerbang terbuka, Kane dan yang lainnya langsung memacu kuda mereka. Kami pun menyusul di belakang mereka.

"Semuanya, jangan sampai tertinggal!"

Saias meneriakkan perintah pada pasukannya dan memacu kudanya dengan penuh semangat.

Kami mengikuti dengan santai sedikit di belakang mereka.

Jarak kami dengan barisan depan sekitar seratus meter, dan perlahan jaraknya semakin melebar.

"Lloyd, kita jadi tertinggal, apa tidak apa-apa?"

Melihat Ren yang bertanya dengan cemas, Bils hanya tertawa kecil.

"Jangan khawatir, Bocah."

"Siapa yang kamu panggil bocah!"

"Lihat itu."

Pandangan Bils tertuju pada pasukan Saias yang mulai bertarung dengan monster.

"Mereka terlalu dekat dengan barisan depan, jadi malah ikut terseret dalam pertempuran yang tidak perlu. Kita ini jumlahnya sedikit, yang penting adalah menyelesaikan tugas kita dengan pasti. Sang Tuan sepertinya sangat paham soal itu."

"Ja-jadi begitu ya…… Seperti dugaan Lloyd."

Oh, jadi begitu ya. Padahal aku sama sekali tidak memikirkannya.

Tatapan Ren yang berbinar-binar jadi terasa sedikit membebani.

Akhirnya kami sampai di tempat Cruze dan yang lainnya mengamuk.

Mayat monster bergelimpangan di sana, dan bau bangkai menyengat menusuk hidung.

"Baiklah semuanya, mohon bantuannya."

"Serahkan saja padaku. Lloyd-kun, aku akan mengurus bagian sini, kamu urus sebelah sana saja. Jangan sampai tertinggal ya!"

Setelah berkata begitu, Saias memimpin para penyihirnya menuju tumpukan mayat.

Mereka membentuk kelompok beranggotakan lima orang untuk mengepung satu monster, lalu merapal mantra hingga api besar berkobar.

Sepertinya itu adalah teknik Fireball yang dirapal secara sinkron oleh lima orang.

Dengan menggunakan sihir tingkat rendah yang durasi rapalannya singkat, lima orang pun jadi mudah untuk menyamakan waktu, dan konsumsi mananya juga sedikit sehingga beban masing-masing orang jadi lebih ringan.

Begitu ya, benar-benar elit lulusan akademi. Pemikirannya sangat matang.

Memang melihat orang lain menggunakan sihir itu sangat edukatif dan menyenangkan.

"Oi, oi, mereka mengerjakannya dengan cepat tuh. Penyihir di pihak kita kan cuma Sang Tuan saja? Apa bakal sempat?"

"Hmm, ah, punyaku sudah selesai kok."

Aku sudah selesai membakar monster-monster di sini dengan Fireball.

Kalau tidak cepat-cepat diselesaikan, aku tidak bisa menonton mereka dengan santai, kan.

Aku segera mencoba Fireball yang sudah diefisiensikan dengan sihir militer, dan hasilnya luar biasa. Dengan mana yang sangat sedikit, daya hancurnya cukup besar.

Baguslah. Dengan begini, sihir kuat yang tadinya jarang kugunakan karena boros biaya (mana) sepertinya bisa mulai kugunakan secara normal.

"Tidak mungkin…… kamu membakar monster sebanyak itu dalam sekejap? Padahal aku cuma berpaling sebentar…… Jadi ini kekuatan Pangeran Ketujuh ya. Pantas saja Kakak memutuskan untuk mengikutimu."

"Fufun, inilah kehebatan Lloyd. Kamu takut, kan?"

Melihat Ren yang entah kenapa malah terlihat bangga, Bils hanya bisa menghela napas pasrah.

"Uoraah!"

Gan! Gan! Suara para bandit pimpinan Bils yang menghancurkan tulang terdengar di sekeliling.

Tidak perlu sampai hancur berkeping-keping, asal sudah retak atau patah di beberapa titik, mereka tidak akan bangkit lagi.

Sebenarnya aku bisa saja membakar mereka sampai ke tulang-tulangnya, tapi itu mungkin akan terlalu mencolok, jadi lebih baik jangan. Aku juga tidak enak kalau harus merebut pekerjaan semua orang.

"Pekerjaan di sebelah sini hampir selesai ya. Di sisi Saias sepertinya masih butuh waktu sedikit lagi."

Meski Saias bekerja dengan cukup cepat, masih ada beberapa mayat yang tersisa.

Dia terlihat kesal sambil terus meneriaki anak buahnya.

"Hei, kenapa Saias sendiri tidak memakai sihir?"

"Si-sihirku bukan sesuatu yang bisa dipamerkan secara murah di tempat seperti ini!"

Aku mencoba bertanya sedikit, tapi Saias malah marah dan membuang muka.

Yah, padahal aku berharap bisa melihat Bloodline Magic dari keluarga Revenant. Sayang sekali.

Beberapa saat setelah kami selesai, pasukan Saias pun akhirnya menyelesaikan tugas mereka.

"Hmm, kecepatan pemrosesan yang luar biasa. ……Terutama Tuan Lloyd, saya benar-benar sulit percaya Anda bisa membakar monster di sekitar sini sendirian. Tapi dengan kecepatan ini, kita bisa meminimalisir kebangkitan mereka! Ayo segera lanjut ke lokasi berikutnya!"

Kami pun mengikuti Kane menuju lokasi pertempuran yang baru.

 

Entah sudah berapa ribu mayat monster yang kami urus, mayat-mayat itu terus bertambah baru, dan tanpa sadar kami sudah menyusul pasukan Cruze.

Cruze yang baru saja menyelesaikan satu pertempuran pun menyapa kami.

"Hmm, bukankah ini Lloyd? Ada Saias juga. Ada apa ini?"

"Mayat-mayat ini bangkit kembali sebagai Undead, jadi kami yang penyihir berkeliling untuk membereskannya."

"Apa, jadi benar dugaanku kalau jumlah monster tipe Undead ini terasa sangat banyak. Tapi repot juga ya, kalau begitu kan tidak akan ada habisnya."

"Mmohon maaf sebentar."

Tao menyela pembicaraan mereka.

Tao menatap Cruze dan anggota pasukannya dengan saksama seolah sedang menilai mereka.

"Hmm, jadi ini kakak perempuannya Lloyd ya. Benar-benar terlatih sampai batas yang sulit dipercaya. Kalau begini, mungkin teknik 'itu' bisa digunakan……"

"Hmm, siapa kamu?"

"Ah, maaf saya lupa memperkenalkan diri. Saya Tao Yuifa, petualang biasa dari negeri asing. Saya ikut dengan Lloyd karena tertarik pada Anda."

Cruze sempat tertegun sejenak mendengar ucapan Tao, lalu ia tertawa terbahak-bahak.

"Hahahaha! Kamu tertarik padaku ya! Gadis yang menarik! ……Hmm, kamu bisa menggunakan Qi ya. Dan aku lihat kemampuanmu cukup tinggi."

"Ya, aku juga tahu teknik yang mungkin belum Anda ketahui. Misalnya, teknik pembasmi makhluk abadi──begitu."

"Ooh?"

Mendapat tatapan penuh minat dari Cruze, Tao menjejak tanah dengan keras di dekat mayat sapi jantan raksasa yang terkapar di kakinya.

Dooon! Gelombang kejutnya membuat mayat sapi itu terpental ke udara.

Mata sapi yang seharusnya sudah mati itu bersinar merah dengan aura yang aneh.

"Oi! Monster itu sedang proses berubah jadi Undead!"

"Buoooooo!"

Sapi abadi yang mengamuk itu meraung sambil jatuh menerjang ke arah Tao.

Dan kemudian──Zuzun! Suara dentuman bergema dibarengi kepulan debu.

Saat debu menghilang, di sana terlihat mayat sapi itu tertancap ke tanah dan berhenti bergerak.

Benar-benar berhenti total. Bahkan tidak berkedut sedikit pun.

"Ooh, menumbangkan Undead setangguh itu dalam satu serangan! Teknik yang sangat hebat!"

"──Hyakkaken, Soul Strike. Jika kamu menghantamkan Qi secara langsung untuk menghancurkan 'wadah jiwa' yang ada di dalam tubuh fisiknya, makhluk abadi tidak akan pernah bisa bangkit lagi."

Necromancy adalah sihir yang mengirimkan mana ke dalam mayat target untuk dikendalikan sesuka hati.

Secara teori selama ada mayat maka sihir itu bisa bekerja, namun ada kalanya sihir itu gagal aktif bagaimanapun caranya.

Di kalangan penyihir, hal itu disebut sebagai kerusakan jiwa yang parah, tapi 'wadah jiwa' ya. Kalau dipikir begitu, semuanya jadi masuk akal.

"Wadah jiwa ya. Hmm, memang jika aku memusatkan kesadaran, aku bisa melihat sesuatu. Hmm, kira-kira seperti ini ya…… Hiat!"

Setelah berkata begitu, Cruze mendadak menusukkan pedangnya ke mayat monster.

Melalui serangan yang dibalut konsentrasi Qi itu, aku bisa merasakan 'sesuatu' yang tadi ada di dalam monster itu lenyap seketika.

"Ooh, aku merasa seperti baru saja melenyapkan sesuatu. Jadi itulah yang disebut wadah jiwa tadi ya?"

"……Aku kaget. Soul Strike memang bukan teknik yang sulit jika dasar-dasarnya sudah dikuasai, tapi untuk menemukan wadah jiwa itu memerlukan Mind's Eye. Kamu bisa melakukannya hanya dengan sekali lihat saja!"

Melihat Tao yang terbelalak kaget, Cruze tertawa lepas.

"Hahahaha! Yah, aku kan jenius! Baiklah kalian semua, habisi semua monster di sekitar sini dengan Soul Strike. Kalian sudah lihat caranya, jadi harusnya bisa, kan?"

"Uwoooooo!"

Sesuai perintah, para anggota pasukan Cruze mulai menyerang mayat-monster.

Tidak, mana mungkin cuma sekali lihat langsung bisa…… eh, ternyata bisa! Tao juga kaget melihatnya.

Memang tidak ada yang langsung sukses dalam satu kali coba, tapi seiring banyaknya serangan, jumlah prajurit yang berhasil terus bertambah.

"Ooh! Barusan aku benar-benar merasakan sensasinya!"

"Aku juga sudah bisa!"

"Aku juga, aku juga!"

Dalam waktu kurang dari satu jam, hampir semua prajurit di sana telah menguasai Soul Strike.

Ooh, seperti dugaan pasukan Cruze, isinya memang orang-orang yang bangga dengan kekuatan mereka.

Meski begitu, tetap saja tidak ada yang bisa menghancurkan wadah jiwa dalam sekali serang seperti Tao atau Cruze.

Mayoritas dari mereka menghancurkan wadah jiwa itu dengan cara menyerang berulang kali seolah sedang mengikisnya.

Meski begitu, jika bisa menghentikan kebangkitan kembali, itu sudah lebih dari cukup. Cruze pun mengangguk puas melihat hasilnya.

"Umu umu, itulah baru pasukan elitku. Baiklah, dengan begini kekhawatiran di barisan belakang sudah lenyap! Beberapa orang kembalilah untuk mengajarkan Soul Strike pada yang lain. Yang masih belum mahir, ikutlah sambil berlatih di belakang. Nah semuanya, saatnya mencari jasa! Seluruh pasukan, serbu! Basmi semua musuh sesuka hati kalian!"

"Uwoooooooo──!"

Suara mereka bergema bagaikan gempa bumi.

Tekanan yang luar biasa. Pasukan Cruze bergerak maju seolah-olah hendak menggilas habis para monster.

"Tao ya namamu. Aku berterima kasih padamu. Jika perang ini selesai, mintalah hadiah apa pun yang kamu mau."

"Aku akan menantikannya."

"Hahahaha! Nantikan saja!"

Setelah berkata begitu secara sepihak, Cruze pun kembali ke barisan pasukannya.

Tao menghela napas panjang sambil melepas kepergiannya.

"Dia benar-benar orang yang gagah ya."

"Kak Cruze juga terkenal sangat dermawan. Kurasa dia akan mengabulkan apa pun, mau seratus koin emas atau apa pun itu."

Itulah salah satu alasan kenapa moral Pasukan Kedua sangat tinggi.

Pasukan Kedua yang lebih sering mempertaruhkan nyawa dibanding unit lain dijanjikan hadiah yang sangat mahal sesuai dengan jasa mereka.

Para pejabat sipil sering melayangkan protes, tapi Cruze mengabaikannya menggunakan otoritasnya sebagai putri raja.

Tao berpikir sejenak, lalu bergumam pelan.

"……Begitu ya, kalau begitu jika aku bilang aku ingin bertarung tanding dengannya, apa dia akan mau ya?"

"Eh? Cuma itu saja?"

Melihatku yang terkejut, Tao tertawa kecil.

"Ahahaha, kenapa wajahmu begitu? Kamu menganggapku apa, sih?"

Hampir saja aku menjawab 'pemuja harta' atau 'pengagum pria tampan', tapi aku berhasil menahannya.

Biasanya dia akan bilang ingin diadakan pesta teh dengan pria-pria tampan di pasukan, atau semacamnya.

"Ya, kurasa dia akan dengan senang hati menerimanya…… tapi, kenapa tiba-tiba berubah pikiran?"

"Sejak datang ke benua ini, aku sadar betapa aku ini hanyalah katak dalam tempurung sampai rasanya menyebalkan. Karena itu aku berlatih di gunung, tapi seiring bertambah kuat, aku justru semakin merasakan betapa tidak berdayanya aku. Tuan Cruze mungkin adalah ahli bela diri terhebat yang pernah kutemui. Jika aku bisa berlatih dengannya, aku pasti bisa jadi jauh lebih kuat lagi."

Tao berkata sambil menatap lurus ke depan. Aku meraih tangan Tao dan menjabatnya dengan penuh semangat.

"Aku terharu karena kamu ternyata seserius itu, Tao! Aku juga akan membantumu sebisaku! Misalnya dengan menjadi target uji coba teknik barumu!"

"Benarkah? Wah, itu sangat membantu."

Tao terlihat senang, begitu pula denganku.

Setelah melihatnya lagi, aku sadar kalau Qi itu memang sangat dalam ilmunya.

Jika aku bertarung dengan Tao yang telah mendapatkan kekuatan lebih setelah berlatih dengan Cruze, aku pasti bisa mempelajari teknik Qi baru dengan lebih efisien.

Baik Mind's Eye maupun Soul Strike yang baru saja kulihat tadi benar-benar teknik yang menarik. Aku jadi bersemangat, nih. Yup.

"Tapi ya, kenapa keluarga kerajaan sampai mau turun ke garis depan begini? Apalagi seorang putri raja."

Meski sudah agak terlambat, Bils memiringkan kepala menanyakan hal yang wajar.

Di Saloum, kebijakan pendidikannya adalah mengembangkan potensi masing-masing individu, jadi selama tugas utama diselesaikan, kami punya kebebasan sampai batas tertentu.

Baik Schneizel maupun Cruze, mereka melakukan apa yang harus dilakukan sebagai pewaris takhta selanjutnya.

Masalahnya, 'apa yang mereka lakukan' itu yang luar biasa ekstrem. Mereka benar-benar orang-orang yang mengerikan.

"Eh, mau ke mana kamu, Saias?"

Setelah selesai membantu Cruze, saat hendak kembali, aku melihat Saias menuju ke arah yang berlawanan dari jalan kami datang tadi.

"Aku akan pergi membantu Pasukan Ketiga yang bertugas di gunung. Lihat, monster-monster itu tidak hanya menyerang gerbang, sebagian menuju ke arah pegunungan di kedua sisi. Di sisi kiri itu, gunung yang dijaga Pasukan Ketiga memiliki lereng yang landai sehingga monster di sana sangat banyak. Pertempuran di sana pasti sangat sengit. Jika aku tidak ke sana, mereka akan bangkit lagi sebagai Undead dan lini pertahanan bisa hancur. ……Lagipula, di sini semua sorotan sudah direbut oleh Lloyd. Aku tidak bisa pulang sebelum membersihkan noda pada harga diri keluarga Revenant."

Aku tidak terlalu mendengar bagian terakhirnya karena dia bergumam tidak jelas, tapi bagian awalnya benar seperti kata Saias.

Pasukan lain yang mungkin tidak bisa menggunakan Qi adalah tempat yang justru sangat membutuhkan bantuan kami.

Lagipula, kali ini mungkin aku benar-benar bisa melihat Bloodline Magic milik Saias.

"Kalau begitu aku ikut juga ya."

"Eh!? Ka-kamu juga mau ikut? Harusnya kamu pergi ke Pasukan Keempat saja……"

"Di sana kan belum ada pertempuran. Ayo, cepat!"

"Eeh…… kalau bersamamu nanti jasaku jadi berkurang……"

Bersama Saias yang entah kenapa terlihat keberatan, kami pun berangkat menuju pegunungan.

"Ngomong-ngomong, namamu Bils ya? Aku kaget orang liar sepertimu mau menurut pada Lloyd yang masih anak-anak."

Sambil terus bergerak menuju lokasi pertempuran, Tao tampak asyik mengobrol dengan Bils.

"Hah, Kakak itu terkadang terlalu lembek. Aku harus memastikan sendiri apa bocah itu punya karisma yang cukup untuk memimpin anak buahku atau tidak."

Melihat Bils yang menghela napas panjang, Tao mendadak tertawa geli.

"Ahahaha! Bils ternyata tipe orang yang suka ambil pusing ya. Tapi tenang saja, kamu akan segera menyadari betapa hebatnya Lloyd."

"Kuharap begitu…… Ups, medan tempur berikutnya sudah kelihatan."

Benar kata Bils, sisa-sisa pertempuran mulai terlihat.

Pertarungan di gunung ini rupanya jauh lebih sengit daripada yang terlihat dari kejauhan; mayat-mayat monster bergelimpangan di mana-mana.

Karena mereka bisa berubah menjadi Undead jika dibiarkan, aku membakar mayat-mayat itu sambil tetap fokus menuju titik pertemuan dengan Pasukan Ketiga.

"Oi, bukannya itu mereka?"

Bils yang berjalan di depan menemukan unit yang sedang bertempur.

Sepertinya mereka terpisah dari rombongan utama. Beberapa prajurit tampak terkepung rapat oleh gerombolan monster.

"Cih, dasar kroco tidak berguna. Hei kalian, ratakan mereka semua, oraah!"

"Uooooooooooooooo!"

Bils memimpin para banditnya merangsek maju, menerjang masuk ke tengah gerombolan monster dalam sekejap.

"Kh, kita juga jangan sampai tertinggal!"

Saias pun ikut melompat panik ke dalam pertempuran.

Serangan mendadak dari arah belakang membuat formasi monster hancur seketika, hingga akhirnya mereka kocar-kacir melarikan diri.

"Kalian tidak apa-apa?"

Saat aku menyapa para prajurit setelah pertarungan usai, mereka langsung menunduk dengan tergesa-gesa.

"Tuan Lloyd! Terima kasih banyak karena telah menyelamatkan kami dari situasi berbahaya ini!"

"Cih, yang menyelamatkan kalian itu kami, dasar bodoh."

"Ja-jadi begitu! Maafkan kekurangajaran saya."

"Bos, para tentara itu berterima kasih pada kita! Gyahahaha! Rasanya mantap!"

Aku membiarkan Bils dan kawan-kawannya yang sedang kegirangan, lalu segera masuk ke inti masalah.

"Ngomong-ngomong, ke mana pasukan utamanya?"

"……Pasukan utama saat ini sedang mundur. Kami bertugas sebagai unit belakang, tapi musuh berhasil menyusul dan mengepung kami."

Prajurit itu menjawab dengan ekspresi pahit.

"Oi, oi, ini sudah dekat puncak, lho. Kalau mundur lebih jauh lagi……"

"Benar. Saat ini pasukan utama berada di puncak gunung…… tempat di mana Garis Pertahanan Absolut didirikan."

Di kejauhan, aku bisa melihat asap putih membumbung dari puncak gunung yang menjulang tinggi.

"Di sinilah Garis Pertahanan Absolut! Kuulangi! Di sinilah Garis Pertahanan Absolut! Jangan biarkan musuh lewat! Bertahan sampai mati! Meski nyawa taruhannya, jangan biarkan mereka maju selangkah pun! Kuulangi……"

"Wah, wah, semangat sekali dia."

Semakin dekat ke puncak, suara teriakan semakin menggema.

Komandan Pasukan Ketiga, Fliegel, berkali-kali meneriakkan komando dengan lantang.

"Komandan Fliegel!"

"Oh, kalian selamat! ……Lalu, siapa orang-orang ini?"

"Ini adalah pasukan Pangeran Ketujuh, Tuan Lloyd. Mereka menyelamatkan kami saat kami terkepung."

"Apa! Jadi Anda datang membawa bala bantuan! Terima kasih banyak! Waaaaaai! Semuanya, bala bantuan telah tibaaaaa!"

"Uoooooooooooooo!"

Para prajurit bersorak sorai, padahal jumlah kami bahkan tidak sampai dua ribu orang.

Sejujurnya, aku ragu kami bisa menjadi kekuatan sebesar itu bagi mereka.

"Mari, silakan lewat sini. Anda pasti lelah. Beristirahatlah selagi sempat."

Kami dipandu ke dalam tenda dan disuguhi makanan yang sangat mewah.

"Gnyam gnyam, ternyata makanan kalian enak juga ya. Masih sempat-sempatnya ya."

"Mpfuh mpfuh, ini daging Orc! Daging monster jenis tertentu memang bahan makanan kelas atas."

"……Kalian berdua, makanlah dengan tenang sedikit."

Ngomong-ngomong, Ren sepertinya ikut membantu.

Karena setiap hari belajar dari Sylpha, kemampuan memasaknya sudah meningkat drastis.

"Masakanmu makin enak, Ren."

"Ehehe, benarkah? Ehehehehe."

Aku membiarkan Ren yang tampak sangat senang, lalu beralih bertanya pada Fliegel.

"……Jadi, aku ingin menanyakan beberapa hal?"

"Baik…… Awalnya kami unggul berkat keuntungan posisi lereng, tapi jumlah musuh perlahan mulai menekan kami. Kami terdesak mundur sedikit demi sedikit hingga akhirnya sampai ke puncak ini…… Kami hanya mencoba sekuat tenaga menjaga moral agar bisa terus bertahan, tapi……"

"Heh, kalau cuma modal semangat bisa menang, dunia ini bakal damai."

"Saya tidak punya kata-kata untuk membantahnya. Saya baru menyadari sekarang kenapa Yang Mulia Schneizel menyuruh kami fokus pada pertahanan total."

Mendengar ucapan Bils, Fliegel tertunduk lesu.

Kenyataannya, jumlah prajurit Pasukan Ketiga sudah berkurang drastis.

Dibandingkan jumlah monster yang kulihat sepanjang jalan, jumlah ini tidak mungkin sanggup bertahan lama.

"Eh, tapi kalau Lloyd serius, monster sebanyak apa pun bisa dikalahkan dengan cepat, kan?"

"Itu mustahil, Ren. Karena aku mengerahkan banyak Mana Soldier, aku tidak bisa menggunakan sihir yang terlalu kuat."

"……Masa sih?"

Entah kenapa Ren menatapku dengan curiga, padahal itu benar.

Meski efisiensi manaku sudah jauh lebih baik berkat sihir militer, aku tidak bisa menggunakan Multi-Casting atau sihir skala besar, jadi aku tidak bisa melakukan pemusnahan area luas. Saat ini pun, Multi-Layered Mana Barrier yang kupasang hanya berjumlah tiga lapis.

Aku masih bisa menggunakan sihir tingkat tertinggi, tapi kekuatannya melemah. Paling-paling aku hanya bisa melenyapkan beberapa ratus monster sekaligus.

"Yah, menurut saya itu sih sudah lebih dari cukup……"

"Lagipula, mana ada orang normal yang bisa memakai sihir tingkat tertinggi dengan santai begitu."

Entah kenapa Grim dan Jiriel tampak ilfeel, tapi mungkin itu cuma perasaanku saja.

Selagi kami berbincang, Fliegel membungkuk dalam-dalam padaku.

"Tuan Lloyd! Bukankah di bawah pimpinan Anda ada Mars Jilol, sang ahli strategi terkuat Kekaisaran? Jika itu dia, dia pasti bisa mengeluarkan kita dari situasi sulit ini! Mohon pinjamkan kekuatannya kepada kami!"

"Mars, ya……"

Saat aku meninggalkan pasukan utama, Mars sempat berpesan padaku.

──Jika Tuan membutuhkan kebijaksanaan saya, percayalah pada Bils. Saya telah melatihnya dari nol sebagai ahli strategi, ditambah lagi dia punya pengalaman sebagai bandit. Dalam pertempuran di gunung, dia pasti akan jauh lebih berguna daripada saya.──

……Apa dia sudah memprediksi hal ini akan terjadi? Jika benar, Mars memang orang yang mengerikan.

"Hei Bils, kalau kamu, bagaimana caramu melewati situasi ini?"

"Hmm, begitu ya……"

Bils menggaruk kepalanya mendengar pertanyaanku, lalu menyeringai tipis.

"Kalau aku, aku akan membuang tempat ini dan mundur."

Kata-katanya membuat semua orang gempar.

"Membuang tempat ini dan mundur lebih jauh lagi……?"

"Ta-tapi jika kita melepaskan tempat ini, keuntungan lereng akan direbut musuh! Jika itu terjadi, lini pertahanan tidak mungkin dipertahankan! ……Apa mungkin maksudmu hanya membiarkan garis depan bertahan, lalu memundurkan unit belakang? Dengan begitu, di puncak yang sempit ini kita punya ruang untuk menempatkan seluruh pasukan."

"Tidak, seluruh pasukan harus mundur sekuat tenaga."

"A-apa……!?"

Fliegel benar-benar kehilangan kata-kata.

"A-apa maksudmu! Jika kita membiarkan mereka lewat, para monster akan menembus gerbang dari sisi gunung! Jika itu terjadi, negara ini akan luluh lantak!?"

"Gyahaha! Tenanglah, Paman!"

"Benar, lho. Nanti kamu bisa botak kalau marah-marah terus."

"Ka-kalian……!"

Para bandit menepuk-nepuk pundak Fliegel yang emosi.

Aku mencoba mengingat kembali pemandangan sekeliling saat menuju ke sini.

Hmm, begitu ya, membuang tempat ini…… ya. Aku mulai mengerti jalan pikiran Bils.

Aku berpikir sejenak lalu mengangguk.

"Baiklah. Kalau begitu, mari kita buang tempat ini dan mundur."

"Lo-Tuan Lloyd!?"

Fliegel menunjukkan wajah paling terkejut yang pernah kulihat hari ini.

"Haaah-hahaha! Lari, lari!"

"Hiiiiiieeeee!"

Di bawah gertakan para bandit, Pasukan Ketiga berlari menuruni lereng gunung sekuat tenaga.

"Ora ora! Kalau lari selambat itu, kalian bakal terkejar musuh!"

"Ta-tapi pohon-pohon ini menghalangi jalan……"

"Jangan manja! Lari, lari!"

Semua orang berlari dengan wajah pucat. Wah, repot juga ya.

Aku sendiri meluncur turun tanpa masalah karena menggunakan Flight untuk melayang dan menghancurkan semua pohon yang menghalangi dengan Mana Barrier.

"Lloyd, sebentar lagi kita keluar dari hutan!"

Tao yang berada jauh di depanku berteriak.

Baki baki baki! Setelah pohon-pohon yang tumbuh rapat itu hancur berkeping-keping, pemandangan di depan langsung terbuka luas.

"Ooh, lembahnya ternyata jauh lebih dalam dari dugaanku!"

Di balik tebing curam itu terdapat lembah yang sangat dalam, seolah jika jatuh, kau tidak akan pernah bisa kembali lagi.

Jaraknya pun cukup lebar, sekitar tiga puluh meter sampai ke tebing seberang.

Monster biasa mustahil bisa melompatinya.

Dan selama kami berhasil menyeberangi satu-satunya jembatan yang ada, tidak akan ada cara lain bagi musuh untuk menyeberang.

"Begitu ya, jika kita memancing mereka ke sini, kita bisa membasmi semua monster sekaligus…… Jadi ini maksud Anda menyuruh seluruh pasukan mundur! Luar biasa, Tuan Bils!"

"Yah, siapa pun yang melihat medannya pasti akan tahu. Orang bernama Schneizel itu pasti juga sudah memperkirakan hal ini. Benar-benar bakat yang mubazir jika dia hanya jadi pangeran."

"Apa…… Jadi Yang Mulia Schneizel memang jahat. Kalau begitu kenapa tidak bilang dari awal saja…… Baiklah, mari kita segera menyeberangi jembatan ini."

Fliegel merasa lega, tapi wajah Bils justru tampak tegang.

"……Urusannya tidak akan semudah itu."

"Apa maksud Anda?"

"Tidak ada waktu untuk menjelaskan! Ayo, cepat seberangkan semua orang!"

"Hiii! Ja-jangan menendang saya!"

Ada apa ya? Apa ada masalah?

Tanpa aku tahu alasannya, para prajurit mulai menyeberangi jembatan.

"Cepat, cepat! Monster-monster itu akan menyusul kita!"

"Tapi jembatan ini goyang sekali! Ka-kami tidak bisa maju cepat!"

"Ora ora! Jangan lelet! Kalau tidak cepat maju, kutendang kalian sampai jatuh, gyahaha!"

Di bawah instruksi Bils, para bandit memacu para prajurit.

Bahkan ada beberapa yang hampir terjatuh karena panik.

"Hei Bils, kenapa kamu sampai terburu-buru begitu? Para monster kan masih jauh di atas gunung. Rasanya mereka tidak akan menyusul secepat itu……"

"Di lembah sesempit ini kita tidak akan bisa menahan mereka. Kita harus cepat menyeberang dan menyiapkan posisi pencegatan."

Bils menjawab pertanyaanku dengan ekspresi serius.

Menurutku sih sudah cukup luas…… tapi sepertinya dia tidak bermaksud memacu mereka hanya untuk melampiaskan kekesalan.

Baiklah, biarkan aku membantu sedikit.

"Hup."

Aku mengaktifkan sihir Flight kepada seluruh prajurit yang belum menyeberang.

"Uwah!? Apa-apaan ini!?"

Lalu aku dan semua orang terbang bersamaan menuju seberang tebing.

Begitu mendarat, para prajurit dan Bils hanya bisa ternganga.

"……Barusan itu, sihirmu ya? Benar-benar tidak masuk akal. Entahlah, aku tidak paham."

"Flight itu tidak terlalu sulit kok, bukan hal besar. Lagipula, bukannya kalian sedang terburu-buru?"

Grim dan Jiriel menatapku dengan tatapan seolah ingin bilang "mana mungkin", tapi kuabaikan saja.

Lihat, Bils saja bisa menerima penjelasanku.

"Ah, benar juga. Baiklah kalian semua! Siapkan busur dan tombak, berbaris di pinggir tebing!"

Meski saling pandang dengan bingung, para prajurit tetap berbaris di pinggir tebing dengan senjata terhunus.

Mereka mengarahkan tombak dan busur ke arah lembah dengan wajah bengong, seolah bertanya-tanya musuh macam apa yang akan mereka lawan.

"Jangan melamun. ……Mereka datang."

Do do do do do, suara gemuruh bumi terdengar.

Suaranya datang dari arah gunung di seberang tebing.

Para monster sedang berlari menuruni gunung dengan kecepatan penuh.

"Ooh! Kecepatan mereka luar biasa! Tapi, hehehe, dasar monster bodoh, jatuhlah kalian ke dasar lembah sana."

"…………"

Berbeda dengan Fliegel yang terkekeh, Bils tetap memasang wajah serius.

Apa sesuatu akan terjadi?

Grasak, semak-semak bergoyang. Sesaat kemudian, monster babi hutan raksasa melompat keluar sebagai yang pertama.

"Pugyiiiiiiiiii!"

Sambil memekik, monster babi itu terjatuh, disusul oleh monster-monster lainnya yang satu per satu terjun bebas ke dasar lembah.

Terlebih lagi, bebatuan tajam di dasar lembah langsung menusuk mayat-mayat mereka.

Benar-benar tempat perburuan yang ideal, strategi Schneizel bekerja dengan sempurna.

"Fuhahahaha! Lihat, musuh terlihat seperti sampah! Luar biasa, Tuan Bils!"

"Terserah kau saja, tapi jangan lengah."

"Hahahaha, Tuan Bils terlalu pencemas. Kita bahkan tidak perlu mengotori tangan kita, cukup melihat saja……"

Kata-kata Fliegel terhenti.

Tiba-tiba seekor burung raksasa melayang di udara.

"Kwaaaaaaa!"

"Ce-cepat tembak! Jatuhkan dia!"

Fliegel panik memerintahkan pemanah untuk melepaskan anak panah ke arah monster elang itu.

Meski terkena anak panah, elang itu tetap menerjang tanpa ragu, membuat para prajurit gemetar ketakutan.

"Uwaaaaaaaaa!"

Dengan modal nekat, tombak yang ditusukkan prajurit berhasil menembus tubuh elang tersebut.

Prajurit itu merasa lega melihat monster elang jatuh tak berdaya.

"Oi, oi, jangan kira ini sudah berakhir, bodoh. Lihat ke depan."

Bukan hanya monster tipe burung.

Harimau dan singa dengan daya lompat tinggi melompati lembah dengan mudah.

Monster serigala melompat dengan menjadikan bebatuan kecil sebagai pijakan.

Bahkan monster kera mulai memanjat tebing lembah.

"Te-tembak! Tembak mereka semua!"

Para prajurit mulai panik, tapi mereka tetap melepaskan anak panah dan menusukkan tombak ke arah monster yang berhasil menyeberang.

Karena formasi sudah siap, meskipun sibuk, tidak ada monster yang berhasil menembus pertahanan.

Bils berdecak, sudah menduga hal ini. Jadi ini alasan dia menyuruh mereka terburu-buru.

Jenis monster itu bermacam-macam, dan tidak sedikit yang punya cara untuk melewati lembah.

"Lepaskan sihir ke dasar lembah! Mereka akan menjadikan mayat yang jatuh sebagai pijakan untuk menyeberang!"

Saias memerintahkan unit penyihirnya untuk melepaskan Fireball.

Namun jumlah monster terlalu banyak, api itu tidak sanggup membakar mereka semua.

"Ren, bisa buatkan ramuan yang mudah terbakar?"

"Tentu saja, itu gampang."

Ren mengarahkan tangannya ke dasar lembah, dan aroma manis mulai tercium.

Aroma itu perlahan turun ke bawah…… dan saat bersentuhan dengan api, ledakan besar terjadi.

Sepertinya dia menciptakan gas alkohol dengan konsentrasi tinggi; api berkobar hebat di dasar lembah, membakar monster-monster yang ada di sana.

Monster yang berhasil melewati hujan panah dan tombak langsung dibereskan oleh Tao.

"Hoatakk! ……Mereka terus memanjat. Tidak ada habisnya, ya!"

"Kukuk, meskipun berisiko, kita masih bisa bertahan. Berjuanglah sekuat tenaga, kalian semua."

"Ngaaaaaaa! Tuan Bils, tolong bantu kami juga!"

Bils tertawa melihat Fliegel yang berlarian panik ke sana kemari.

Memang situasinya kritis, tapi setidaknya mereka masih sanggup menanganinya.

"Tuan Lloyd, kenapa Anda terlihat sedikit kecewa begitu?"

"Ti-tidak, kok!"

Memang sih, aku merasa kecewa karena jika pertempuran berakhir begini, aku tidak akan bisa melihat Bloodline Magic milik Saias. Tapi itu cuma sedikit, sedikit sekali kok.

"Hmm, ada monster aneh yang jatuh ke dasar lembah."

Sesaat setelah Jiriel berkata begitu, zuzun! tanah di bawah kaki kami bergetar.

Aku melihat uap tebal membumbung tinggi dari dasar lembah.

Eh, ada apa nih?

Saat kulihat bagian tengah uap itu dengan Clairvoyance, ada seekor kelinci putih bersih di sana.

"Itu Snow Rabbit! Monster level bos yang diselimuti hawa dingin luar biasa!"

"……Gawat. Api yang susah payah kita buat jadi padam!"

Hmm, rupanya dia merubah sifat mana yang menyelimuti tubuhnya menjadi hawa dingin.

Luar biasa juga ada monster yang bisa menciptakan hawa dingin sekuat itu hingga sanggup memadamkan api.

Aku ingin menangkapnya dan mencoba seberapa kuat hawa dingin yang bisa dihasilkannya, tapi…… sekarang bukan waktunya.

Apalagi──

"Jadi itu Snow Rabbit. Kalian semua mundur. Api biasa tidak akan mempan padanya."

Saias melepas sarung tangan kulit hitamnya dan menyuruh para prajurit mundur.

"Biar aku yang menghabisinya."

Dari tangannya, terpancar pusaran mana yang belum pernah kurasakan dari Saias sebelumnya.

Ya, ini adalah kesempatan bagus untuk melihat Bloodline Magic.

Akhirnya dia serius juga. Aku sudah lelah menunggu. Akhirnya aku bisa melihat Bloodline Magic.

"Aku sebenarnya enggan memperlihatkan inti sihirku pada monster rendahan seperti ini, tapi sepertinya aku tidak bisa menahan diri lagi. Mari kita mulai berburu kelinci."

Setelah menyimpan sarung tangannya, mana meluap dari tangan kosong Saias.

Hmm, sepertinya sarung tangan itu adalah alat sihir untuk menyegel mananya sendiri. Dengan memberikan batasan, dia bisa memperkuat sihir tertentu.

Melepasnya berarti dia berniat menggunakan sihir spesial baginya.

"Apa Bloodline Magic itu selangka itu? Menurutku keberadaan Tuan Lloyd jauh lebih langka, sih."

"Apa katamu, Grim! Bloodline Magic adalah karya seni tradisional yang ditumpuk oleh keluarga penyihir dari generasi ke generasi! Apalagi keluarga terkenal seperti Revenant. Ah, aku tidak sabar!"

Selagi kami mengobrol, Snow Rabbit menekuk kakinya dan melompat.

Dia menciptakan pijakan es di udara dan melompat-lompat dengan lincah.

Setelah beberapa kali lompatan, Snow Rabbit mendarat tepat di depan kami.

"Kyuuu, kill kill kill kill……"

Penampilannya memang lucu, tapi ukuran tubuhnya setinggi pohon besar. Lumayan raksasa juga.

"Di-dingin sekali……!"

"Tanganku kaku……"

Hawa dingin yang dibawa Snow Rabbit memberikan serangan damage kecil kepada prajurit di sekitar.

Saat aku hendak memasang pelindung, tiba-tiba area sekitar mulai terasa hangat.

Api yang menyelimuti Saias menetralkan hawa dingin tersebut.

"Heh, tetaplah di belakangku."

"Tentu, tentu. Aku akan melakukannya dengan senang hati."

"Entah kenapa aku tidak tahu kenapa kamu kelihatan senang begitu…… tapi, ya sudahlah. Mari kita mulai."

Saias mulai menyusun formula sihir.

Sip, saatnya aku mulai mengamati. Aku mengumpulkan mana di mataku dan memperhatikan dengan saksama.

Formula sihir yang disusun Saias mengandung mana dan berputar dengan kecepatan tinggi membentuk kobaran api.

Itu bukan api biasa.

Di dalam api yang berkobar dengan warna-warna cerah itu, terlihat badai es yang mengamuk dan petir yang menyambar.

Bukan hanya itu. Berbagai fenomena alam lain saling bertumpuk untuk menciptakan api berwarna-warni tersebut.

"Oho, kembang api yang cukup cantik. Tapi ya cuma sebatas itu saja."

"Lagi pula waktu persiapannya terlalu lama hingga jauh dari kata praktis. Menurut saya tidak ada yang perlu Tuan Lloyd khawatirkan."

Grim dan Jiriel memberikan penilaian seperti itu, tapi aku tidak bisa melepaskan pandanganku dari api tersebut.

Api itu, rasanya aku pernah melihatnya di suatu tempat…… Selagi aku berpikir, Saias menyatukan kobaran api yang berputar itu dan mengompresinya.

"Rasakan ini, Polaris Flare!"

Api berwarna-warni yang dilepaskan meluncur membentuk pancaran cahaya ke arah Snow Rabbit.

Melihat itu, aku akhirnya teringat.

──Itu adalah api yang membakarku di kehidupan sebelumnya.

Dulu aku tidak bisa memahami atau membaca formula dari sebuah sihir, tapi sekarang setelah melihatnya diaktifkan, aku mengerti. Itu benar-benar api yang sama dengan saat itu.

Berarti Saias adalah orang yang saat itu…… hmm, aku payah dalam mengingat wajah orang. Lagipula itu kejadian lebih dari sepuluh tahun yang lalu, aku tidak terlalu ingat.

Yah, terserahlah. Yang lebih penting adalah Bloodline Magic.

Formula yang diaktifkan sekilas terlihat seperti kode rahasia yang tidak bisa dimengerti, tapi bagi aku yang sudah memecahkan sihir militer, ini semudah mengupas kulit buah.

Berbagai sihir tipe Clairvoyance dan Analysis mulai mengurai Bloodline Magic milik Saias.

……Oke, aku mengerti.

Bloodline Magic mayoritas terukir di tubuh fisik, tapi sepertinya milik keluarga Revenant diukir pada darah agar bisa menggunakan formula yang rumit.

Memang benar tubuh manusia sebagian besar terdiri dari air. Mengukir formula pada darah memungkinkan lebih banyak formula yang bisa disimpan.

Tidak ada risiko formula terbongkar dari penampilan luar, dan darah akan rusak dengan cepat setelah mati sehingga kerahasiaannya terjaga tinggi. Meskipun tentu saja, mustahil menyembunyikannya dariku.

Baiklah, mumpung ada kesempatan, aku coba juga ah.

Aku merujuk pada formula yang terukir pada Saias, lalu mengukirnya ke dalam tubuhku sendiri.

"KILL KILL KILL KILLLLLL!"

Pertempuran masih berlanjut.

Untuk menahan serangan api yang mendekat, Snow Rabbit mengumpulkan hawa dingin dan menyemburkannya.

Api dan es saling beradu, saling menekan satu sama lain.

"Gkh, bagaimana mungkin Bloodline Magic-ku bisa seimbang dengan monster rendahan seperti ini……!?"

"Kill…… uuuu!"

Hmm, dia sedang kesulitan.

Sepertinya Saias belum sepenuhnya menguasai Bloodline Magic tersebut.

Apa boleh buat, biar kubantu sedikit. Kebetulan aku baru saja selesai mengukir formulanya.

"……Polaris Flare."

Aku bergumam pelan sambil melepaskan sihir itu dari belakang Saias.

Api berwarna-warni berkumpul di ujung jariku, lalu meledak.

Goooou!

Cahaya berkobar hebat dan melenyapkan Snow Rabbit seketika.

Pancaran cahaya yang dilepaskan tidak berhenti sampai di situ; cahaya itu membakar habis gerombolan monster beserta hutan di tebing seberang.




Semua orang di tempat itu terdiam kaku dengan mulut ternganga lebar.

"Se-sebenarnya apa yang baru saja terjadi……?"

"Itu tadi Polaris Flare. Versi yang seharusnya, sih."

Setelah melihat formula sihirnya, aku jadi paham. Intinya, Polaris Flare adalah sihir Multi-Casting yang dilakukan sendirian.

Munculnya fenomena lain di dalam api itu hanyalah karena output mananya kurang. Jika semua fenomena dilepaskan dengan daya yang setara, sihir itu akan tercipta sebagai Composite Magic.

Mungkin seiring berjalannya waktu, kualitas penggunanya menurun, sehingga hanya menjadi kembang api cantik seperti yang dipakai Saias tadi.

Tapi Polaris Flare yang asli ternyata punya kekuatan di luar dugaan. Padahal aku berniat menahan diri, tapi karena formula yang terukir di darah itu, aku jadi sulit mengontrol kekuatannya.

"Uoooooooh! Kekuatan yang dahsyat! Benar-benar luar biasa, Tuan Saias!"

"Itulah Bloodline Magic keluarga Revenant…… sungguh mengagumkan! Dengan begini, monster sebanyak apa pun bukan masalah lagi bagi Anda, Tuan Saias!"

"……Ha, haha……"

Saias sendiri tampak sangat kebingungan, tapi sepertinya aku berhasil menutupinya. Mungkin. Semoga saja.

"……Tadi itu perbuatanmu, kan, Lloyd?"

"Biarpun sembunyi-sembunyi, tetap saja ketahuan. Kamu melakukannya berlebihan."

"Aku juga tidak yakin bangsawan manja itu bisa melakukan hal gila seperti tadi."

"Ha, haha……"

Sepertinya beberapa orang menyadarinya…… tapi karena yang lain tidak sadar, kuanggap aman saja lah.

"Ka-kalau begitu, aku pergi dulu. Bils, sisanya kuserahkan padamu."

"Sip, serahkan saja padaku."

Aku memutuskan untuk segera pergi sebelum rahasia ini makin terbongkar.

 

Setelah menyerahkan urusan di sana pada Bils dan kawan-kawan, aku menggunakan Flight untuk menuju tempat Schneizel.

Dari ketinggian, aku bisa melihat pertempuran sengit yang berkecamuk di mana-mana.

"Sepertinya mereka terdesak. Meskipun sudah berusaha keras, jumlah musuh memang terlalu banyak."

"Ya, garis pertahanan masih bisa dipertahankan, tapi cepat atau lambat pasti akan jebol."

Ucapan kedua bawahanku ada benarnya.

Monster terus berdatangan tanpa henti. Meski sekarang masih bisa bertahan, suatu saat pasti akan mencapai batasnya.

Tapi Schneizel seharusnya sudah memperkirakan hal ini.

Aku yakin dia pasti sudah menyiapkan rencana tertentu.

"Apa maksudnya ini!? Yang Mulia Schneizel!"

Begitu memasuki tenda, sebuah teriakan langsung menggema.

Kulihat Komandan Pasukan Keempat, Garfiel, sedang mendesak Schneizel.

"Kami, Pasukan Keempat, saat ini sedang bertaruh nyawa untuk bertahan! Tapi jumlah musuh terlalu banyak! Kami punya batas jika hanya disuruh bertahan! Kumohon, berikan bala bantuan atau berikan rencana yang bagus!"

Mendengar permohonan itu, Schneizel menjawab dengan nada tenang.

"Bertahanlah."

"……!"

Kehilangan kata-kata, Garfiel memukul meja dengan keras lalu melangkah keluar dari tenda.

Sepertinya dia benar-benar murka.

Tanpa rencana maupun bala bantuan, wajar saja jika dia bereaksi seperti itu.

Aku mendekat ke arah Schneizel perlahan dan menyapanya.

"Anu, Kak Schneizel? Kakak tidak mungkin tidak memikirkan rencana apa pun, kan?"

"Tentu saja. Strategi adalah sesuatu yang harus disusun berlapis-lapis. Untuk itu, aku tidak bisa menggerakkan pasukan lain sembarangan. Ini tugas yang berat. Wajar jika dia marah, tapi Pasukan Keempat harus tetap bertahan seperti itu."

"……Mungkin kalau Kakak menjelaskan sampai sejauh itu, dia akan mengerti."

"Aku tidak bisa menjanjikan hal yang belum pasti hanya demi menenangkan hati."

Schneizel berucap dengan nada tegas.

Hmm, dia keras pada orang lain, tapi jauh lebih keras pada dirinya sendiri.

Albert biasanya sangat ahli dalam memahami perasaan orang, tapi Schneizel sepertinya kurang pandai dalam hal itu.

Yah, aku juga bukan orang yang tepat untuk mengomentari soal perasaan sih.

Bagaimanapun, Garfiel mungkin salah paham, jadi sebaiknya aku membantunya.

Begitu keluar tenda, kulihat Garfiel sedang mengisap cerutu dengan ekspresi kesal.

"Garfiel, kebetulan sekali. Kak Schneizel bukan berarti tidak punya rencana──"

"Saya mengerti, Tuan Lloyd."

Garfiel memotong ucapanku.

"Yang Mulia Schneizel adalah orang yang cerdas. Jika beliau tidak bisa mengirim bala bantuan, pasti ada alasan di baliknya. Saya sudah lama bersamanya, jadi saya tahu beliau tidak mungkin membiarkan situasi tanpa persiapan. Tapi karena terlalu panik, saya…… hah, saya benci sifat cepat naik darah saya ini. Haha."

Garfiel tersenyum kecut, mematikan cerutunya, lalu menatap ke depan.

Keraguan di matanya telah sirna sepenuhnya.

"Nah, ini perintah Panglima Tertinggi. Mari kita bertahan sekuat tenaga."

Garfiel kembali ke posisinya.

Hanya saja, jika dibiarkan begitu saja, korban jiwa akan terus bertambah. Mungkin sebaiknya aku juga melakukan sesuatu.

"Bukankah sebaiknya Tuan Lloyd lepaskan saja sihirmu? Yang besar sekalian, duaaar gitu."

"Ini bukan saatnya mengkhawatirkan soal mencolok atau tidak! Jika dibiarkan, para gadis cantik di Saloum akan ikut diserang!"

Grim dan Jiriel terus mendesakku. Masalahnya, kalau aku melepaskan sihir serangan skala raksasa ke kerumunan monster, pasti akan ada banyak korban yang ikut terseret.

Seandainya aku bisa memecah situasi dengan cara penggunaan sihir yang lebih menarik, aku mungkin akan mengambil risiko untuk sedikit mencolok.

Saat aku sedang berpikir, muncul sebuah kehadiran di belakangku. Begitu menoleh, Babylon sudah berdiri di sana.

"Ternyata Anda di sini, Tuan Lloyd."

"Oh, ada apa datang ke tempat seperti ini?"

"Saya membawakan pesan dari Mars. Katanya, Anda pasti sedang merasa sangat bosan sekarang. Sepertinya tebakannya tepat sasaran ya. Kukuk."

Babylon tertawa geli.

Ukh, sepertinya kegelisahanku yang terbang kocar-kacir di medan tempur sudah terbaca olehnya.

Rasanya agak memalukan.

"……Lalu? Kamu sengaja datang ke sini pasti ada urusan, kan?"

"Ya, Mars sepertinya sedang merencanakan sesuatu yang menarik. ……Ini."

Babylon mengeluarkan sepucuk surat dari balik bajunya dan mulai membacanya.

"……Apa katanya? Kepada Tuan Lloyd, saya turut berbahagia atas kesehatan Anda yang semakin prima…… cih, santai sekali bocah ini."

"……Hmm, hmm, tapi rencana ini sepertinya lumayan juga, kan? Meski kekurangannya adalah Tuan Lloyd akan jadi terlalu mencolok."

"Ya, mungkin boleh juga."

Benar, rencana ini memang akan membuatku jadi pusat perhatian, tapi bukan tipe perhatian yang membuatku menonjol sebagai penyihir sakti, jadi masih dalam batas toleransi.

Lagipula, ada keuntungan bagiku karena bisa mengamati medan perang dengan terang-terangan.

"Sesuai saran Mars, rencana ini seharusnya bisa membalikkan situasi yang tidak menguntungkan."

"Ya, layak untuk dicoba."

Yang terpenting, aku sangat menyukai cara penggunaan sihir yang unik seperti ini.

Begitu diputuskan, aku pun langsung bergerak cepat mengikuti instruksi Mars.

"Aduh, jumlah musuhnya kok tidak berkurang-kurang ya."

Di salah satu sudut medan perang, Cruze mengeluh.

Di sekelilingnya bergelimpangan mayat monster yang telah mereka kalahkan, namun di depan sana, gerombolan monster baru terus merangsek maju.

"Meskipun dibunuh terus, mereka tetap muncul lagi. Menyebalkan sekali."

Wakil Komandan Kane yang sedang bertarung di dekatnya menyahut keluhan Cruze.

"Teknik yang diajarkan gadis bernama Tao itu, apa namanya tadi, Soul Strike? Teknik itu cukup membantu, tapi tetap saja……"

Membuat monster terjatuh, lalu melepaskan Soul Strike saat gerakan mereka terhenti.

Kane, yang telah menghancurkan wadah jiwa monster dan mencegah kebangkitan mereka oleh sihir nekromansi, menarik pedangnya lalu melanjutkan pertarungan.

Saat ini, para anggota pasukan bertarung berpasangan untuk menghabisi monster. Satu orang menghentikan gerakan, yang lain memberikan serangan pamungkas yang pasti.

Hanya prajurit veteran seperti Kane yang sanggup melakukan proses itu sendirian. Akibatnya, waktu pertempuran pun terpaksa bertambah lama secara signifikan.

"Yaa, teknik ini memang butuh konsentrasi tinggi. Kalian tidak akan bisa melakukannya dengan benar jika terjebak dalam pertempuran kacau."

Sambil berbincang santai, Cruze melepaskan Soul Strike langsung ke arah monster yang menerjang.

Semua serangannya adalah Soul Strike. Melihat Cruze membantai semua monster dengan satu serangan, Kane bertanya dengan wajah terpana.

"……Seperti yang diharapkan dari Anda, Tuan Cruze. Anda melakukannya tanpa beban sama sekali."

"Yah, agak merepotkan sedikit sih."

Cruze menjawab ringan sambil terus menebas musuh.

Hanya sedikit merepotkan ya, Kane tersenyum kecut.

Bagi Kane yang sudah terbiasa melihat gaya bertarung Cruze yang berani, tindakan itu terlihat seperti biasanya.

"Hmm, apa suasananya berubah……?"

Tiba-tiba, Cruze bergumam sambil menengadah ke langit.

"……Fumu, sepertinya ini saatnya beraksi! Semuanya, ikuti aku! Ayo bergerak!"

Tanpa memedulikan Kane yang sedang memiringkan kepala bingung, Cruze mulai memacu kudanya.

"Tu-Tuan Cruze!? Jangan mengejar terlalu jauh!"

"Sudah, ikut saja. Cepat, atau kutinggalkan!"

"Eh…… aduh, ya sudah! Yang masih bisa bergerak, ikut aku! Sisanya mundur ke belakang dan bergabung dengan unit lain!"

"Siap!"

Kane segera memberi instruksi dan melompat ke atas kuda.

Benar-benar putri yang liar, gumamnya, meski ekspresinya tampak senang.

"Eh, itu apa ya……?"

Di arah tujuan Cruze, jauh di angkasa, terlihat sebuah bayangan yang melayang.

Kane memacu kudanya sambil terus bertanya-tanya dalam hati.

 

Bayangan melayang di angkasa itu juga terlihat oleh Schneizel yang bermarkas di Gerbang Kontinental.

Matanya membelalak kaget sejenak, namun dia segera menyadari sesuatu, mengangguk paham, lalu kembali berpikir.

"Ga-gawat, Yang Mulia Schneizel! Musuh tiba-tiba mulai tampak gelisah!"

Melihat prajurit yang berlari panik, Schneizel hanya bergumam, "Sudah kuduga."

"Saya tidak tahu apa yang terjadi, tapi ini kesempatan emas yang takkan terulang! Apa perintah Anda!"

"Gerakkan pasukan."

"Siap! Kalau begitu kami akan mengatur ulang formasi dan memperkuat pertahanan selagi sempat……"

"Bukan──"

Memotong dengan kata-kata singkat, pandangan Schneizel tertuju pada peta di depannya.

Lalu dia perlahan menggerakkan bidak di atas peta tersebut.

"Kirim bala bantuan ke unit terpisah yang ada di depan. Lalu siapkan pemanah. Masing-masing seribu orang."

"Bala bantuan!? Terlebih lagi bukan untuk pertahanan, kenapa unit seperti itu yang dikirim sekarang……"

"Cepat."

"Si-siap!"

Menerima titah Schneizel, prajurit itu menunduk lalu berlari untuk menyampaikan pesan.

Setelah mengantarnya pergi, Schneizel kembali menatap ke langit.

"Taktik legendaris yang lahir di Kekaisaran lima tahun lalu, ya…… Fuh, baiklah, aku akan ikut bermain."

Gumaman Schneizel pun tenggelam dalam riuh rendah suara para prajurit.

"Waaaah, pemandangan yang luar biasa!"

Di bawah mataku terbentang medan perang di mana manusia dan monster bercampur aduk sejauh mata memandang.

Aku terbang jauh di atas mereka menggunakan Flight.

"Sepertinya rencananya berjalan lancar ya."

Grim berucap sambil melihat ke bawah.

Seolah-olah sedang mengejarku yang melayang ratusan meter di udara, gerombolan besar monster mulai berkumpul di bawah.

"Mereka berkumpul dengan kecepatan yang menakutkan. Apa mereka selapar itu?"

"Efeknya benar-benar luar biasa ya."

Aku mengangguk setuju dengan ucapan Jiriel. Dari tanganku, tumpukan makanan dalam jumlah besar terus tumbuh berkat sihir Illusion Magic.

Strategi yang disusun Mars adalah begini: "Tuan Lloyd, gantunglah makanan dan terbanglah di atas gerombolan monster untuk menjauh dari sini. Monster juga makhluk hidup, tentu butuh makanan. Namun dengan jumlah sebanyak itu, mencari makanan yang cukup pasti sulit. Tidak ada satu helai rumput pun yang tersisa di jalur lintasan Stampede. Artinya saat ini mereka sedang kelaparan. Sekarang yang mereka incar bukan gerbangnya, tapi tumpukan makanan di baliknya. Karena itu, Tuan Lloyd, bawalah makanan dari dalam dan terbanglah sambil menggantungnya. Tenang saja, kami akan melindungi Anda sekuat tenaga." ……Begitu katanya.

……Karena itulah, untuk memancing monster dalam jumlah besar, aku menciptakan daging, buah-buahan, sayur-sayuran, hingga pancake yang kelihatannya enak.

Hmm, baunya harum sekali. Kalau jumlah pancake-nya jadi agak lebih banyak, ya mohon maklum saja lah.

"Tapi benda yang diciptakan dengan Illusion Magic kan hanya khayalan, tapi bisa punya tekstur dan bau sehebat ini…… kekuatan imajinasimu mengerikan sekali."

"Anda juga mencampurkan perubahan sifat mana ya. Kalau dijilat, rasanya pun akan terasa. Dengan menyuruh mereka membakar dupa di sekitar gerbang untuk menutupi bau manusia, para monster jadi jauh lebih mudah terpancing. Luar biasa, Tuan Lloyd!"

Seolah ingin menenggelamkan pujian Grim dan Jiriel, sesuatu melesat tepat di sampingku.

"GYAAAAAAAA! GYAAAAAAA!"

Suara pekikan nyaring itu berasal dari monster elang raksasa. Dia memimpin segerombolan monster terbang lainnya di sekelilingnya.

"Waaaa! Itu Daigaruda! Monster level bos yang dikenal sebagai penguasa langit!"

"Kedua tangan Tuan Lloyd sedang repot! Biar aku saja!"

Jiriel melesat maju. Disusul oleh Grim yang juga ikut keluar.

"Oi oi, mau cari muka dengan lawan kroco begini? Mending kamu diam saja. Biar aku yang urus."

"Apa katamu!? Kamu yang harusnya diam, iblis bodoh!"

"Berani-beraninya kamu bicara begitu, malaikat sialan!"

Terserah kalian lah, tapi mereka menyerang tuh. Yah, kalau mereka menabrak pelindungku, mereka akan kalah sendiri sih.

Saat aku sedang berpikir begitu, tiba-tiba tubuh raksasa Daigaruda hancur berkeping-keping.

"A…… apa yang sebenarnya terjadi!?"

"Sepertinya ada sesuatu yang terbang dari arah sana……"

Grim dan Jiriel terkejut. Arah "sana" yang dimaksud adalah dari Gerbang Kontinental.

Begitu aku menoleh, ada sesuatu lagi yang terbang dari arah itu.

"Gii!??"

"Kururuu!?"

Sambil memekik, para monster itu jatuh berjatuhan.

Aku mengulurkan tangan dan menangkap benda yang terbang itu; ternyata itu adalah anak panah.

Anak panah ini, atau lebih tepatnya teknik memanah ini jangan-jangan…… Saat kulihat arah datangnya dengan Farsight, benar saja, Sylpha sedang berdiri di sana sambil memegang busur.

"Teknik Memanah Aliran Langris, Hawk Flight."

Aku membaca gerak bibirnya.

Aliran Langris tidak pilih-pilih senjata. Menembak jatuh monster yang sedang terbang pasti perkara mudah bagi Sylpha.

"Tapi sehebat apa pun Sylpha, apa dia bisa menembus monster level bos dari jarak sejauh itu…… Eh? Busur itu……"

Aku mengenali busur yang dipegang Sylpha. Itu busur yang dipajang di dinding saat kami pergi ke Guild Petualang dulu.

Kalau tidak salah namanya Heavenly Hunting Bow. Itu busur yang pernah dipakai petualang legendaris. Katanya itu senjata hebat yang bisa menjatuhkan naga dari jarak satu kilometer. Catarina pernah menyombongkan hal itu kalau tidak salah.

"Berikutnya."

Saat Sylpha mengulurkan tangan, Catarina yang berada di sampingnya memberikan anak panah baru dengan tangan gemetar.

"Sy-Sylpha-san, anak panah perak kebiruan itu sangat, sangat, saaaangat berharga! Tolong jangan menembakkannya secara membabi buta!"

Anak panah ini memiliki formula yang mirip dengan pedang sihir.

Sepertinya untuk bisa membidik sasaran yang jauh, kecepatan, daya hancur, hingga kemampuan fisik pemanahnya ditingkatkan secara otomatis.

Setiap batang anak panah pasti memakan biaya dan tenaga yang besar, tapi Sylpha terus menembakkannya tanpa peduli.

Melihat itu, Catarina sudah setengah menangis.

"Berikutnya."

"Ahahahaha! Ya sudahlah! Terserah! Aku sudah pasrah! Sebagai gantinya, bawa Tuan Lloyd ke Guild Petualang yaaaaa!"

"Berikutnya."

Sylpha menembakkan anak panah yang diterimanya secara beruntun dengan gaya yang tampak acak.

Itu adalah Teknik Memanah Aliran Langris, Storm of Wild Birds.

Teknik yang lebih mengutamakan kecepatan daripada daya hancur dan akurasi, menciptakan hujan anak panah melalui tembakan beruntun.

Tentu saja dengan kemampuan Sylpha, daya hancur dan akurasinya tetap sempurna, hanya menembus monster-monster itu saja.

Setelah hujan anak panah berhenti, tanpa kusadari semua monster di langit telah ditembak jatuh.

"Mohon tenang saja, Tuan Lloyd. Saya tidak akan membiarkan satu ekor pun mendekati Anda."

Dia tetap bisa diandalkan seperti biasanya.

Meskipun ada pelindung jadi tidak masalah, tapi memang mereka cukup mengganggu.

Dan bicara soal mengganggu, monster di bawah juga sama saja.

Monster yang berkumpul karena makanan buatan sihir ilusiku kini jumlahnya sudah sangat banyak. Mereka saling tumpang tindih di punggung satu sama lain demi mencoba menggapai tanganku.

Hmm, menjijikkan. Sepertinya seru kalau aku melepaskan sihir sekuat tenaga ke arah sini. Tapi aku tidak akan melakukannya karena itu akan terlalu mencolok.

"Tapi melihat monster sebanyak ini tanpa bisa membantainya rasanya gatal juga ya. Anak panah Sylpha-tan juga tidak sampai ke sini."

"Oho? Ada sesuatu yang terbang lagi dari arah sana?"

Hyururururururu, dengan suara yang panjang, sesuatu yang terbang itu jauh lebih lambat daripada anak panah Sylpha, tapi ukurannya jauh lebih besar.

Duaaaar! Suara ledakan menggema, dibarengi dengan pilar api yang membubung tinggi.

Itu tembakan meriam dari Diggerdia. Tanah tercongkel, dan monster yang terpental melewati tempatku melayang.

"Ooh! Tembakan dari golem raksasa itu ya! Kekuatannya gila kalau dilihat dari dekat. Karena monster-monsternya berkumpul, membasmi mereka jadi terasa menyenangkan sekali!"

"Tapi terkadang ada peluru meriam yang aneh ya. Sepertinya mereka menyebarkan lendir atau racun."

"Itu adalah peluru khusus yang diisi mana oleh Galilea dan yang lainnya."

Jaring laba-laba Galilea, racun Ren, kutukan Crow…… dengan mengisi peluru menggunakan mana yang sifatnya telah diubah, peluru tersebut mendapatkan efek khusus.

Aku sudah mencoba bereksperimen sebelumnya, tapi baru kali ini ada kesempatan untuk menggunakannya. Akhirnya bisa dipamerkan juga ya.

Hmm, hmm, hasilnya lumayan bagus.

"Ooh! Gerakan musuh jadi melambat dengan pas!"

"Tapi sepertinya jumlah pelurunya tidak banyak ya. Tembakannya jarang-jarang."

Pembuatan peluru khusus memang memakan waktu dan biaya jauh lebih banyak daripada peluru biasa.

Apalagi bagi mereka yang belum terbiasa, mengisi mana ke dalam benda mati itu cukup melelahkan. Peluru khusus milik mereka mungkin tidak sampai sepuluh butir.

Tembakan yang barusan mungkin adalah yang terakhir. Kira-kira itu peluru khusus milik siapa ya?

Hyururu, sebuah peluru meluncur dengan suara membelah angin dan jatuh tepat di bawahku.

Sesaat kemudian, Zudoooooooooon! suara ledakan yang sangat keras bergema.

Tubuhku ikut terguncang hebat akibat efek ledakan itu. Begitu kulihat ke bawah, sebuah awan jamur raksasa membumbung tinggi dari titik ledakan.

"Na-na-na, apa-apaan daya hancur itu!? Para monster di sekitarnya langsung musnah total!?"

"Peluru tadi, siapa yang mengisi mananya…… ah."

Grim dan Jiriel serempak menoleh padaku. Dasar tidak sopan kalian. ……Yah, seperti yang kalian duga, itu memang aku.

Tadi aku baru ingat kalau ada satu peluru khusus yang tersisa saat eksperimen, jadi aku mencoba mengisinya dengan mana sampai batas maksimal kapasitas pelurunya.

Aku benar-benar lupa, tidak menyangka kekuatannya akan sampai sehebat ini. Kalau sampai terjadi kecelakaan dan meledak di istana, bisa gawat urusannya.

"Dengan mana yang hanya dimasukkan ke dalam peluru kecil itu saja sudah bisa menghasilkan daya hancur sehebat itu…… menurutku sih lebih cepat kalau Tuan Lloyd pakai sihir skala besar saja dari awal."

"Tidak, jika Tuan Lloyd terus menggunakan sihir skala besar pada monster sebanyak itu, pegunungan dan sungai akan musnah, daratan akan terbalik, dan bencana besar pasti terjadi! Tuan Lloyd pasti menciptakan situasi ini untuk menyelesaikannya dengan pengorbanan seminimal mungkin. Benar-benar luar biasa."

Grim dan Jiriel sedang bergumam entah apa, tapi aku sedang memikirkan sebuah pertanyaan yang tiba-tiba muncul.

Makanan yang kubuat dengan sihir ilusi memang sebuah mahakarya, tapi bagaimanapun itu cuma palsu.

Di sekitar Gerbang Kontinental ada pegunungan, dan di sana pasti ada makanan juga. Kenapa mereka sampai berkumpul sebanyak ini di sini?

"Eh? Kalau dilihat baik-baik, gunungnya berwarna merah……? Bukan, itu terbakar ya."

Bukan hanya satu. Semua gunung yang terlihat sedang terbakar.

Sepertinya para prajurit pasukan Schneizel-lah yang berkeliling untuk membakarnya.

Apa mereka bergerak selaras setelah menyadari gerakanku…… tidak, itu pasti terlalu cepat.

Mereka pasti sudah merencanakannya sejak awal sehingga bisa bergerak secepat ini.

Ucapan Schneizel di gerbang tadi yang menyuruh untuk terus bertahan, sepertinya ditujukan untuk ini.

Tujuannya adalah membakar gunung agar monster kehilangan sumber makanan, lalu menghabisi mereka satu per satu. Mars pasti menyadari rencana itu sehingga dia menyuruhku untuk bergerak.

Lalu Schneizel segera menyadari pergerakanku dan langsung beraksi.

Terlebih lagi, pasukan yang dipimpin Cruze juga bergerak seolah menahan para monster agar tidak menjauh dariku, mengontrol mereka agar tidak terpencar.

Itu adalah pencapaian yang mustahil dilakukan jika tidak memiliki pandangan luas atas seluruh medan perang. Aku yang melihat dari angkasa saja paham betapa sulitnya itu; mereka melakukannya di dataran rendah sambil bertempur di garis depan.

Orang-orang ini benar-benar hebat, atau lebih tepatnya sudah di level yang tidak masuk akal.

 

Setelah menyelesaikan tugasku, aku kembali ke Gerbang Kontinental.

Sebagian besar monster telah dikalahkan, meski sisanya masih mengamuk dan para prajurit masih berjuang untuk menghabisi mereka.

Tapi situasi sudah terkendali. Sisanya adalah tugas Schneizel, pikirku sambil mendarat di hadapan mereka.

"Tuan Lloyd!"

Pada saat yang sama, aku langsung didekap oleh Sylpha hingga jatuh.

"Aaah! Tuan Lloyd, syukurlah Anda selamat! Sebenarnya saya tidak akan pernah mengizinkan rencana berbahaya seperti menjadi umpan gerombolan monster, tapi karena ini demi membalikkan situasi…… saya siap menerima hukuman apa pun! Mohon ampuni saya……!"

"Tidak apa-apa, tapi tolong lepaskan aku dulu……"

Dia mendekapku dengan kekuatan yang luar biasa kencang hingga aku tidak bisa lepas.

Sylpha tersadar, lalu buru-buru melepaskanku dan berdehem.

"E-ehem. Maafkan kekurangajaran saya tadi……"

"Ya sudah tidak apa-apa. Lagipula, Mars jadi kasihan sekali ya……"

Saat aku berdiri dan membersihkan debu, kulihat di ujung tali yang dipegang Sylpha ada Mars yang terikat erat seperti kepompong.

"Ya, karena dia menyusun rencana yang sangat nekat, dia harus bertanggung jawab jika terjadi sesuatu pada Tuan Lloyd. Aku mengikatnya begini agar dia tidak bisa kabur."

"Hahaha, Anda luar biasa, Tuan Lloyd. Saya sendiri merasa lega rencana ini berhasil dengan lancar. Haha, hahaha……"

Mars tertawa kering, sementara di wajahnya masih ada bekas tamparan berkali-kali.

Sepertinya dia baru saja mengalami nasib yang sangat tragis. Benar-benar kasihan.

"Lepaskan ikatannya, Sylpha."

Bersamaan dengan suara itu, Schneizel muncul.

"Yang Mulia Schneizel…… baik, segera dilaksanakan."

Dengan gugup, Sylpha memutus talinya dan menunduk hormat.

"Kamu Mars, mantan ahli strategi Kekaisaran, kan?"

"Wah wah, Yang Mulia Schneizel, salam hormat……"

Mars menunduk dengan cara yang sama saat Schneizel mendekatinya.

"Aku tidak suka basa-basi penuh sanjungan. Itu hanya akan membuat kita salah melihat inti masalah. Terlebih lagi taktik tadi, itu taktik yang digunakan untuk menghalau Stampede yang menyerang Kekaisaran lima tahun lalu, kan?"

"Basa-basi itu penting, lho. Untuk melihat inti masalah, kita harus merapikan penampilan luar terlebih dahulu."

"Hm……"

Schneizel terdiam mendengar jawaban santai Mars yang tersenyum ramah.

Berani menjawab Schneizel dengan ringan begitu menunjukkan betapa besarnya nyali orang ini.

"Mohon maafkan saya. Tapi saya harus bilang Anda luar biasa, Yang Mulia Schneizel. Ternyata Anda sangat paham dengan urusan negara lain. Yah, kalau tidak begitu, mustahil bagi Anda untuk bisa menyelaraskan taktik ini dengan sempurna."

"Bagaimana mungkin aku tidak tahu tragedi itu."

"……kh."

Wajah Mars tampak sedih sejenak mendengar ucapan Schneizel.

Ada apa nih? Stampede yang menyerang Kekaisaran? Ditambah lagi ekspresi sedih di wajah Mars, sebenarnya apa yang terjadi?

Saat aku sedang kebingungan, terdengar suara dari belakang.

Ternyata Cruze. Dia berdiri di sampingku dan mulai menjelaskan.

"Lima tahun lalu, Kekaisaran diserang Stampede yang sama seperti Saloum saat ini."

"Itu berarti……"

"Ya, penyebab Mars meninggalkan Kekaisaran adalah karena pertempuran itu. Saat itu skala Stampede-nya kecil, tapi karena wilayah Kekaisaran sangat luas, mereka tidak bisa melindungi desa-desa kecil sehingga timbul kerusakan yang besar. Kami sendiri sempat mengirim bala bantuan beberapa kali."

"Dan yang memimpin pertahanan saat itu adalah Mars, ya?"

Cruze mengangguk dalam diam. Saloum beruntung karena punya Gerbang Kontinental. Tanpa itu, monster pasti akan menyebar ke seluruh wilayah dan situasinya tidak akan terkendali.

"Mars sudah berjuang keras. Tapi karena monster menyebar terlalu luas, dia terpojok. Akhirnya dia menyusun rencana umpan makanan, rencana yang barusan kita lakukan tadi."

"Mengumpulkan monster dengan makanan lalu membasminya sekaligus, ya. Tapi dari nada bicaramu, sepertinya rencana itu gagal?"

"Ya, Mars yang mengusulkan rencana itu memerintahkan untuk mengumpulkan makanan dari berbagai tempat. Tapi gaya bertarung Mars yang sering mengorbankan minoritas demi menyelamatkan mayoritas membuat reputasinya buruk di desa-desa. Akibatnya, makanan tidak terkumpul dan rencana itu pun gagal total. Desa-desa yang menyembunyikan makanan akhirnya luluh lantak diterjang monster, menimbulkan korban jiwa yang sangat banyak."

Cruze menyipitkan matanya sedih, seolah memikirkan rakyat yang menjadi korban.

Jika makanan tersebar di berbagai tempat, mustahil untuk mengumpulkan monster meskipun menggunakan umpan.

"Tapi Kekaisaran kan negara militer yang sangat kuat? Meskipun ada rumor buruk, mana mungkin rakyat jelata bisa terus menyembunyikan makanan dari militer?"

"Mungkin pesaing Mars sesama ahli strategi yang menyebarkan rumor itu. Karena itulah para penduduk desa dibiarkan begitu saja. Mars yang muda dan berbakat pasti menjadi duri dalam daging bagi mereka…… tapi mengorbankan desa benar-benar perbuatan yang tidak bisa dimaafkan."

Seperti yang dikatakan Jiriel, saat kau terlalu menonjol, pasti akan ada orang yang mencoba menjatuhkanmu.

Karena itulah aku mencoba hidup se-tidak mencolok mungkin. Hmm, hmm. Kuabaikan saja tatapan tajam dari kedua bawahanku itu.

"Apa dia meninggalkan Kekaisaran setelah itu karena disuruh bertanggung jawab atas kegagalan tersebut?"

"Tidak, dia tidak dimintai pertanggungjawaban. Petinggi Kekaisaran tetap menilai tinggi kemampuan Mars. Kenyataannya, meski banyak korban jiwa, Mars berhasil menekan Stampede sebelum mereka mencapai ibu kota. Setelah itu, dia memohon kepada Raja agar diizinkan membantu pemulihan desa-desa yang menjadi korban sebagai bentuk penebusan dosanya."

Heh, hebat juga. Melakukan hal sejauh itu padahal itu bukan sepenuhnya kesalahannya adalah sesuatu yang luar biasa.

"Tapi Raja menolaknya, dan malah bilang kalau ada waktu untuk pemulihan, lebih baik digunakan untuk merebut wilayah baru…… Mars yang merasa muak akhirnya membawa anak buahnya keluar dari Kekaisaran."

Cruze menghela napas panjang.

Begitu ya, jadi ada masa lalu seperti itu. Pantas saja dia jadi benci berperang.

"Ngomong-ngomong, Kak Cruze tahu banyak sekali ya."

"Yah, aku sudah sering bertemu dengannya di medan perang. Kami saling mengenal nama satu sama lain, dan rumor memang menyebar dengan cepat."

Berarti Schneizel juga sudah tahu hal itu sehingga bisa menyelaraskan gerakannya dengan rencana kali ini.

Inilah yang disebut hubungan antar jenderal, ya? Kalau kulihat, sekarang Schneizel dan Mars sedang mengobrol dengan akrab.

Mars bilang dia ingin mengabdi padaku, tapi mungkin lebih baik jika dia bersama Schneizel dan yang lainnya.

"Tapi Yang Mulia Schneizel, kemampuan kepemimpinan Anda benar-benar luar biasa. Berkat kepercayaan prajurit dan kekuatan sang jenderal, Stampede kali ini bisa dihentikan."

"……Aku hanya dibantu oleh semua orang. Semua tidak akan berjalan semulus itu."

"Sikap seperti itulah yang saya maksud, Yang Mulia Schneizel. Benar-benar membuat saya iri saja."

Setelah menatap Mars yang tersenyum kecut sejenak, Schneizel mengulurkan tangannya.

"Mars, aku tahu kau sudah memutuskan untuk mengabdi pada Lloyd. Tapi aku akan tetap bertanya, maukah kau datang ke tempatku?"

"Mohon maaf, tawaran Anda sangat menarik, tapi……"

Mars menggelengkan kepalanya.

"Begitu ya."

Schneizel menjawab singkat.

Percakapan mereka berakhir di situ. Aku mendekati Mars yang baru kembali lalu berbisik padanya.

"Hei Mars, aku senang kamu mau ikut denganku, tapi kamu bebas pergi ke mana pun yang kamu mau, lho."

Lagipula setelah Stampede selesai, tidak ada tugas untuk seorang ahli strategi, jadi sejujurnya aku akan bingung harus memberinya tugas apa.

Mars sepertinya tidak terlalu paham soal sihir, sih. Maaf saja, tapi aku benar-benar tidak punya tugas untukmu.

Namun, Mars menjawab pertanyaanku dengan senyum kecut.

"Fufu, apakah Anda mencemaskan kata-kata Yang Mulia Schneizel tadi? Tidak perlu khawatir. Itu hanyalah gestur khas beliau saja."

"Apa maksudmu?"

"Jika orang yang entah datang dari mana seperti saya tiba-tiba menjadi ahli strategi Anda, para prajurit pasti akan melayangkan protes, bukan? Namun, jika Yang Mulia berbicara akrab dengan saya bahkan mengajak saya menjadi bawahannya, martabat saya pun ikut naik. Dengan begitu, tidak akan ada yang mengeluh meski saya mengabdi di bawah Anda."

Memang benar, saat memutuskan menerima Mars saja Sylpha dan yang lainnya sempat menyuarakan kekhawatiran, apalagi di depan para prajurit yang tidak tahu apa-apa.

Aku memang tidak terlalu ahli dalam urusan seni bersosialisasi seperti itu. Jadi, aku sama sekali tidak menyadarinya.

"Yang Mulia Schneizel benar-benar memikirkan kepentingan Anda, Tuan Lloyd. ……Lalu, meski beliau berpura-pura tidak tahu, kemungkinan besar beliau sudah menyadari rencana saya sejak awal. Jika tidak, beliau tidak akan pergi membasmi monster di gunung yang jauh dari gerbang, atau menghabisi ras Undead yang tidak mempan dipancing umpan. Memiliki kemampuan sihir sehebat itu, namun juga punya bakat strategi militer yang melampaui saya maupun Yang Mulia Schneizel. Anda benar-benar sosok yang menarik. Fufufufufu."

Mars terus bergumam sambil menyunggingkan senyum.

Tapi kalau dipikir-pikir, fakta bahwa ahli strategi sehebat ini menjadi bawahanku malah akan membuatku semakin menonjol, bukan?

Muuu, jika memang memikirkan kepentinganku, seharusnya Schneizel saja yang mengambil Mars. Itu akan jauh lebih membantu.

Saat aku sedang melamunkan hal itu, tiba-tiba Cruze yang entah sejak kapan sudah berada di sampingku menepukkan tangannya di kepalaku.

"Kenapa wajahmu ditekuk begitu? Karena kamu anak yang serius, pasti kamu sedang berpikir kalau dirimu hanya sedang diistimewakan, kan? Nih, lihatlah ke sana."

Aku sama sekali tidak berpikir begitu, sih. Namun, aku tetap menuruti perkataannya dan melihat ke bawah.

Di tengah para prajurit yang masih bertarung melawan monster, sebuah suara lantang menggema.

"Apa yang kalian lakukan! Pertempuran belum berakhir! Kita mulai operasi pembersihan sekarang juga! Jangan biarkan satu ekor monster pun tersisa di tanah ini!"

Pemilik suara itu adalah Albert. Seolah menanggapi seruannya, para prajurit serentak mengangkat pedang mereka.

"UOOOOOOOOOO!"

Menerima kobaran semangat dari Albert, para prajurit yang tadinya tampak kelelahan kini justru merangsek maju ke arah kerumunan monster dengan penuh semangat.

Sambil melihat pemandangan itu dari atas, Schneizel menghela napas lega.

"Kak Cruze, ini sebenarnya……?"

"Schneizel ingin Albert yang melakukan penyelesaian akhir dalam perang ini. Lihat, anak itu kan pendiam dan tanpa ekspresi, bukan? Dia sering dianggap menyeramkan oleh para prajurit. Sebagai jenderal mungkin tidak masalah, tapi dia terlalu kaku untuk menjadi seorang Raja. Dalam hal itu, Albert pandai bicara dan punya karisma. Karena Schneizel ingin Albert naik takhta berikutnya, dia membiarkannya menarik hati para prajurit dari sekarang."

Kalau dipikir-pikir, Schneizel memang terlihat menakutkan bagi banyak orang.

Sebaliknya, Albert yang ramah pasti disukai oleh banyak orang.

"Ditambah lagi, Albert sendiri punya ambisi besar untuk takhta tersebut. Schneizel bergerak di balik layar agar posisi Albert semakin kuat melalui perang ini. Tentu saja, itu juga demi Zelof, Dian, dan adik-adik lainnya. Dia merasa itu adalah tugasnya sebagai putra sulung."

"Kamu terlalu banyak bicara, Cruze."

Entah sejak kapan dia mendengarkan, Schneizel memelototi Cruze dengan kening berkerut.

"Oups, apakah ini rahasia?"

"……Yah, bukan berarti aku menyembunyikannya juga, sih."

Melihat Cruze yang buru-buru menutup mulut, Schneizel menghela napas.

"Seperti yang Cruze katakan, aku hanya merasa menjaga negara sebagai jenderal lebih cocok dengan sifatku daripada menjadi raja."

Setelah mengatakan itu, Schneizel membuang muka dengan ekspresi yang tampak sedikit malu.

Melihat hal itu, Cruze berbisik di telingaku.

"Alasan Schneizel berdiri di medan perang adalah agar kalian, adik-adiknya, bisa hidup bebas. Hampir dua puluh tahun lalu…… saat Albert masih kecil, benua ini sangat tidak stabil. Kami bersumpah untuk melindungi perdamaian negara ini. Dia bilang, itu tugasnya sebagai kakak tertua agar adik-adik yang lahir setelahnya bisa hidup melakukan apa pun yang mereka suka. Ya ampun, dia pria yang sangat hangat di balik penampilannya itu."

Cruze mengangguk-angguk setuju pada dirinya sendiri.

Kalau diingat-ingat, di kehidupanku yang sebelumnya, Kerajaan Saloum memang sering terlibat perang kecil. Kabar tentang keberanian mereka berdua di medan perang bahkan sering terdengar olehku di masa lalu.

Begitu ya, berkat kerja keras mereka berdua, aku dan saudara-saudaraku yang lain bisa menekuni hal-hal yang kami sukai seperti sekarang.

"……Terima kasih. Kak Schneizel. Kak Cruze."

"Sudahlah, aku mengatakannya bukan agar kamu merasa berhutang budi."

"Umu, sudah sewajarnya seorang kakak bergerak demi adik-adiknya. ……Lagi pula, kami juga melakukan apa yang kami suka."

Schneizel mengatakan itu sambil sedikit melonggarkan sudut bibirnya.

Itu adalah senyuman pertama yang diperlihatkan Schneizel kepadaku.

"……Tapi dalam perang kali ini, penyelesaiannya masih kurang matang."

"Umu, harusnya kita bisa meminimalisir korban lebih banyak lagi."

"Ini semua karena aku salah menilai kekuatan tempur yang bernama Lloyd. Aku pikir aku sudah menilainya cukup tinggi, tapi ternyata itu pun masih jauh dari cukup. Jika aku menjadikannya asisten pribadiku…… fuh, penglihatanku ternyata masih belum tajam."

"Oi oi, aku yang akan menggunakannya dengan lebih baik! Jika Lloyd masuk ke pasukanku, satu divisi saja sudah cukup untuk memukul mundur Stampede ini."

Schneizel dan Cruze mulai berdebat sambil terus menatapku.

Aku tidak terlalu paham apa yang terjadi…… tapi yang penting, semuanya berakhir dengan selamat.

Demikianlah, insiden Stampede yang menyerang Kerajaan Saloum resmi berakhir.

Para prajurit yang berjuang keras diberikan penghargaan yang setimpal, dan para jenderal yang memimpin mereka juga naik jabatan.

Desa-desa yang berada di jalur lintasan Stampede mendapatkan dana kompensasi, dan penduduknya pun sudah mulai memulai hidup baru.

Kepada Zelof dan saudara-saudaraku yang ikut berpartisipasi, Schneizel memberikan barang-barang yang sekiranya mereka sukai. Tentu saja, sumber informasinya adalah aku.

Schneizel dan Cruze menyerahkan urusan pasca-perang kepada Albert dan yang lainnya, lalu segera kembali ke garis depan.

Sepertinya selama insiden Stampede berlangsung, berkali-kali surat dikirim dari garis depan.

Bahkan Schneizel memberikan instruksi ke tempat yang jauh sementara dia menangani urusan di sini.

Hmm, terbuat dari apa ya otaknya itu? Benar-benar luar biasa.

"Aku akan kembali lagi. Sampai saat itu tiba, bacalah ini baik-baik."

Benda yang diberikan Schneizel adalah buku taktik militer yang ia tulis bersama Mars.

……Tapi kenapa buku taktik? Padahal aku akan lebih senang jika diberi buku sihir.

Mungkin karena menyadari wajahku yang tampak bosan, Schneizel memberikan buku lain. Itu adalah buku tentang sihir militer.

"……Jangan terlihat kecewa begitu. Ini kuberikan juga."

"Wah! Benarkah!?"

Melihatku kegirangan, Schneizel entah kenapa malah memasang wajah sedih.

Ada apa ya? Yah, karena aku dapat banyak buku sihir, tidak masalah lah.

"Hoho, kamu memberikan barang bagus ya, Schneizel. Kalau begitu, aku akan memberikan ini."

Yang kuterima dari Cruze adalah sebuah buku bertuliskan Panduan Aliran Langris Terlarang.

"Ini adalah kristalisasi cinta…… ehem! Buah karya antara aku dan Komandan Ksatria Markos! Ini adalah buku terlarang dari Aliran Langris! Isinya hanya mencatat teknik-teknik yang memiliki tingkat bahaya dan kesulitan yang sangat tinggi. Mengenal sisi luar, memahami sisi dalam, lalu mencapai kebenaran…… begitulah cara kerja segala sesuatu. Untukmu yang sekarang, memberikan ini pasti tidak masalah."

Rasanya tadi aku mendengar kata-kata aneh di tengah kalimatnya, tapi mungkin hanya perasaanku saja.

Hmm, sejujurnya aku sama sekali tidak tertarik pada ilmu pedang. Nanti kuberikan pada Sylpha saja lah.

"Lagipula, Yang Mulia Cruze hebat sekali! Pertarungan tadi benar-benar memuaskan!"

Setelah menyelesaikan latihan tanding yang dijanjikan, Tao tertawa puas.

Pertarungan mereka berdua benar-benar dahsyat, dan sorak-sorai para prajurit juga sangat luar biasa.

Aku pernah belajar sedikit teknik bela diri Aliran Langris dari Sylpha, tapi milik Cruze berada di level yang berbeda. Apalagi sepertinya dia belum serius, bahkan Tao pun sampai dibuat kagum.

"Kamu juga punya kemampuan yang hebat, Tao. Aku bahkan ingin merekrutmu sebagai prajuritku. Wahaha!"

"Aku senang diajak, tapi aku menolak. Aku adalah seniman bela diri seumur hidup!"

"Fuh, sayang sekali, tapi mau bagaimana lagi."

Wah, percakapan yang sangat serius…… tidak menyangka itu datang dari Tao. Apakah dia sudah sangat fokus pada bela diri sampai tidak tertarik lagi pada laki-laki?

Mendengar kata-kata jujur itu, Cruze menghembuskan napas pelan.

"……Begitu ya. Memang seharusnya begitu. Kalau begitu, sampai jumpa lagi."

"Ah, tunggu sebentar!"

Tao buru-buru berlari mengejar Cruze dan mulai membisikkan sesuatu di telinganya.

"Ngomong-ngomong, orang yang pakai topeng itu, ganteng sekali ya. Tolong perkenalkan padaku!"

"……Benarkah? Schneizel itu punya wajah yang sangat menakutkan, lho. Kamu aneh juga ya."

"Nfufu, belakangan ini kriteria laki-laki idamanku semakin luas♪"

……Ternyata dia tidak banyak berubah.

Yah, kepribadian Schneizel memang sangat keren, sih.

Apakah ini yang dinamakan mata batin? Menilai seseorang bukan dari penampilan luar, melainkan dari sisi dalamnya── tapi apakah cara pakainya boleh seperti itu?

Boleh saja lah. Karena ini Tao, kan. Setidaknya ini cukup melegakan.

"Kalau begitu Tuan Lloyd, jika ada apa-apa lagi jangan sungkan untuk memanggil kami."

"Ya, terima kasih bantuannya, Galilea. Semuanya juga terima kasih. Mars, kalian juga hati-hati."

"Terima kasih atas perhatiannya, Tuan Lloyd."

"Heh, aku akan menikmatinya semaksimal mungkin!"

Galilea, Mars, Bils, serta para bandit lainnya pun pergi beranjak pulang.

Di wilayah kekuasaan mereka masih banyak monster yang tersebar akibat dampak Stampede. Jadi, tidak ada salahnya memiliki kekuatan tempur untuk membasmi mereka.

"Tuan Lloyd, Anda harus benar-benar, benar-be-nar berkunjung ke Guild Petualang ya!"

Resepsionis Catarina terus-menerus mengingatkanku sebelum dia pulang.

Segitu inginnya kah dia menjadikanku petualang?

Sejujurnya, aku sama sekali tidak tertarik.

Yah, jika ada permintaan yang terlihat menarik dan aku sedang ingin, mungkin aku akan melakukannya sesekali.

Aku sudah berpesan padanya untuk memberitahuku jika ada pekerjaan seperti itu.

Lalu, dikabarkan Saias pergi dalam perjalanan latihan.

Saat itu, gara-gara Bloodline Magic yang aku lepaskan, Saias mendapatkan ekspektasi yang terlalu tinggi dari para prajurit.

Namun karena tidak bisa memenuhi ekspektasi tersebut, kabarnya dia kehilangan kepercayaan pada saat ia kembali.

Mungkin aku melakukan hal yang agak jahat padanya.

"Tidak juga. Topengnya saja yang terkelupas. Itu salahnya sendiri."

"Benar sekali. Tuan Lloyd tidak perlu merasa bersalah sedikit pun."

Grim dan Jiriel berkata begitu, tapi sebagai bangsawan, harga diri Saias pasti sangat terluka.

Yah, saat pergi dia masih sempat bilang, "Kali ini aku kalah, tapi lain kali aku yang akan menang! Basuh lehermu dan tunggu aku!", jadi sepertinya dia tidak terlalu terpuruk.

Meski aku bingung kapan tepatnya kami memulai kompetisi itu.

Mungkin saja dalam perjalanan ini dia melakukan latihan yang luar biasa, dan saat kembali nanti dia menguasai sihir yang mengejutkan. Kemungkinannya tidak nol, kan?

Sihir misterius yang tidak kuketahui. Akan bagus jika dia kembali setelah mempelajarinya. Aku akan menantikannya dengan penuh harapan. Hmm, hmm.

Begitulah, setelah berbagai urusan selesai dan situasi mulai tenang.

Aku melangkahkan kaki ke sebuah tempat tertentu.

Jauh di utara Saloum, tempat yang disebut sebagai titik awal terjadinya Stampede.

Investigasi ke tempat ini sempat dihentikan karena lokasinya yang terlalu jauh.

"Ugh, hawa dinginnya sampai bikin merinding ya."

"Ya, rasanya seperti sedang menuruni tangga menuju neraka."

Di sana terdapat sebuah Dungeon.

Aku menuruni anak tangga Dungeon yang sempit namun sangat dalam itu.

"Padahal saat aku ke sini dulu, tempat ini tidak ada apa-apanya."

"Anda pernah mengunjungi tempat ini sebelumnya?"

"Iya, kalau tidak salah sekitar lima tahun yang lalu. Saat itu tempat ini hanya padang rumput yang luas, jadi kupikir tidak akan ada masalah."

"Apakah Tuan Lloyd berbuat ulah lagi……?"

Grim dan Jiriel menatapku dengan tatapan ngeri.

Tidak, tidak, belum tentu ini salahku, kan?

……Meskipun aku tidak bisa membantah kalau kemungkinannya besar, sih.

"Umur lima tahun…… sejak sekecil itu sudah bertingkah macam-macam. Anak kecil harusnya main boneka saja secara wajar."

"Yah, keributan Homunculus waktu itu secara teknis juga bisa disebut main boneka sih…… oh, sepertinya kita sudah sampai di lantai terbawah."

Di sana terdapat pintu raksasa yang menandakan sarang Boss Dungeon.

"Tapi tidak ada monster sama sekali ya."

"Mungkin semuanya sudah keluar saat Stampede kemarin. Itu berarti jika kita tidak menghancurkan Dungeon ini, kejadian itu akan terulang lagi. ……Tapi, pintu ini besar sekali ya."

Pintunya sangat besar sampai aku harus mendongak.

Aku pernah dengar dari Catarina bahwa kekuatan Boss tercermin dari kekokohan pintunya.

Katanya jangan pernah masuk ke pintu yang tingginya melebihi tiga meter.

Pintu yang ini tingginya mencapai lima meter.

"Yah, aku tetap masuk, sih."

Sudah sampai di sini, tidak mungkin ada pilihan untuk kembali.

Hari di mana Sylpha dan Albert pergi dalam waktu lama tidak terjadi setiap hari, kan?

Oleh karena itu, aku membuka pintu dan melangkah masuk.

Di tengah suara pintu yang tertutup dengan dentuman berat, sesuatu yang berada di ujung aula remang-remang itu mulai bergerak.

Di atas kursi mengerikan yang terbuat dari tumpukan tulang, duduk sesosok kerangka manusia yang mengenakan jubah.

"Makhluk ini…… apakah ini Skeleton?"

"Sepertinya bukan Skeleton biasa. Tapi mana yang luar biasa ini, rasanya aku pernah merasakannya di suatu tempat……"

Saat mereka berdua sedang memiringkan kepala kebingungan, aku justru sangat mengenali sosok itu.

"Gawat."

Melihat itu, aku menepuk dahi.

Jubah yang compang-camping, kemeja yang sobek tak berbentuk, sepatu bot yang aus, semua itu adalah barang yang kukenakan di kehidupan sebelumnya.

Ya, kerangka manusia ini adalah jasadku dari kehidupan sebelumnya yang telah menjadi tulang belulang.

──Lima tahun lalu, saat aku mempelajari Necromancy, aku segera berniat mencoba mengendalikan mayat…… lalu aku mengurungkan niat tersebut.

Pikirku, tidak baik mengganggu tidur orang yang sudah mati, seberapa pun besarnya rasa penasaranku.

Tapi aku ingin mencoba. Namun secara etika…… setelah pergulatan batin berkali-kali, aku sampai pada kesimpulan bahwa jika itu mayatku sendiri, harusnya tidak masalah.

Aku segera mencari makamku sendiri, menggalinya, lalu merapalkan sihir Necromancy pada jasadku yang sudah menjadi tulang belulang itu.

Jiwa yang seharusnya tersisa di jasad itu sudah lenyap…… karena sudah berpindah ke tubuhku yang sekarang. Jadi, aku menciptakan tiruan jiwa dengan sihir dan menanamkannya, hingga akhirnya jasad itu pun bisa bergerak.

Ya ampun, meski hanya tulang, melihat jasad sendiri bergerak itu memberikan perasaan yang sulit dijelaskan. Namun karena ini kesempatan langka, aku mencoba berbagai hal.

Dalam Necromancy, ada banyak sihir untuk memperkuat mayat yang dikendalikan, dan aku merapalkannya satu per satu.

Aku memberikan formula sihir untuk memperkuat tulang itu sendiri, menyelimutinya dengan jubah kegelapan agar bisa beregenerasi otomatis jika hancur, dan membuatnya mempelajari segala jenis sihir yang menjadi impianku di kehidupan sebelumnya……

Lalu, lama-kelamaan dia mulai bergerak sendiri, dan tanpa kusadari, dia mulai lepas kendali dan mengabaikan perintahku.

Merasa ini berbahaya, aku mengurung kerangka itu dalam sebuah pelindung dan membawanya ke tempat yang tidak ada orang──yaitu ke sini. Aku menggali lubang raksasa, menguburnya, lalu meninggalkannya begitu saja.

Tapi tidak kusangka jasadku sendiri malah menciptakan Dungeon dan berniat menyerang Saloum dengan monster.

──Tidak, yang ia incar adalah aku.

Mayat yang dibangkitkan dengan Necromancy memiliki keterikatan yang kuat pada orang yang masih hidup, dan itu akan semakin kuat pada sosok yang paling dekat dengan dirinya sendiri.

Masuk akal jika dia mengincar diriku yang sekarang, yang merupakan reinkarnasi dari dirinya sendiri. Jika begitu, aku tidak bisa membiarkannya begitu saja.

"A, aaaa……"

Sambil mengerang, Skeleton diriku mendekat.

"Ma-mana yang mengerikan macam apa ini…… kepadatan mananya sampai bisa terlihat dengan mata telanjang!?"

"Mustahil…… jumlah mananya setara dengan Dewa Jahat!? Makhluk seperti ini ada sebagai Boss Dungeon……!"




Skeleton-ku mengayunkan lengannya, lalu bola-bola api raksasa berjajar seketika.

"Flame Burst Fireball, mengaktifkan sihir tingkat tinggi sebanyak itu sekaligus……"

"AAAAAAA!"

Goou!

Dengan suara menderu, badai bola api yang dilepaskan itu kutahan sepenuhnya dengan Magic Barrier.

Hmm, rasanya lumayan juga.

Aku yang dulu sama sekali tidak punya bakat dan tidak bisa menggunakan sihir dengan benar, ternyata sekarang sudah bisa mencapai tahap ini. Rasanya benar-benar mengharukan.

Menghilangkannya begitu saja memang mudah, tapi rasanya agak sayang.

Tapi membiarkannya begitu saja juga…… Hmm.

Setelah berpikir sejenak, aku pun mengangguk.

"Baiklah, aku sudah putuskan."

Aku membalikkan punggungku pada si Skeleton-ku itu, lalu mengulurkan tangan ke arah pintu raksasa yang tertutup sambil memusatkan mana.

"Ja-jangan-jangan Anda berniat menghancurkan pintu itu!? Pintu raksasa itu punya ketangguhan yang tidak main-main! Sekuat apa pun Lord Lloyd……"

Aku mengompresi mana yang telah terpusat, lalu mengumpulkannya di satu titik.

"Heh, kalian benar-benar tidak mengerti ya. Mana milik Lord Lloyd sudah lama melampaui dimensi yang bisa diukur dengan logika umum!"

Formula sihir yang terukir di aliran darahku menderu, menciptakan mana yang jauh lebih besar lagi.

Mana itu berpusar, bergolak, dan mengamuk di tanganku, hingga akhirnya menjadi satu bola mana kecil.

Aku menyentil bola mana yang berwarna merah membara layaknya api yang menyala itu.

"──Fireball."

Aku melepaskannya ke arah pintu raksasa.

Begitu api yang meluncur dari telapak tanganku menyentuh pintu tersebut, terdengar suara mendesis seperti sesuatu yang terpanggang, dan pintu itu langsung meleleh.

Setelah menembus pintu, serangan itu mengenai dinding di baliknya dan terus melelehkannya tanpa henti.

"A-a-a-apa-apaan ini!? Hanya dengan Fireball, pintu raksasa yang luar biasa besar itu hancur bahkan tanpa sanggup bertahan sedetik pun!? Padahal pintu Boss itu sendiri pada dasarnya adalah sesuatu yang tidak bisa dihancurkan…… Ini bukan lagi soal dimensi logika, ini sudah melampaui dimensi di atasnya lagi……!"

"Ha, haha, hahahahaha…… Aku hanya bisa tertawa sekarang. Bahkan Tuanku yang tinggal di Dunia Dewa pun mungkin tidak memiliki kekuatan sehebat ini. Mengatakan 'luar biasa' saja rasanya masih terlalu dangkal."

Mereka berdua bergumam sambil tertawa getir.

Sepertinya mereka sedikit terkejut.

Yah, dalam pertempuran kali ini aku memang tidak punya kesempatan untuk menggunakan sihir dengan serius.

Mumpung ada kesempatan, aku melakukannya sekuat tenaga. Ternyata kombinasi antara Bloodline Magic buatanku sendiri ditambah efisiensi dari Military Magic menghasilkan daya serang yang sangat mengerikan.

Fireball yang kulepaskan membuat lubang besar pada dinding di balik pintu raksasa itu, menembus jauh, jauh ke depan…… hingga ke titik yang tidak lagi terlihat.

Hmm, apa aku melakukannya berlebihan? Yah, meski aku memasukkan mana dalam jumlah besar, pada akhirnya itu tetaplah cuma Fireball biasa, jadi pasti akan berhenti di suatu tempat.

"AAAAA, AAAA……"

Selama itu pun, si Skeleton-ku tetap melanjutkan serangannya padaku.

Sepertinya selama aku berada di sini, dia akan terus menyerang.

Sambil menahan serangannya, aku berjalan keluar melewati tempat di mana pintu itu tadinya berada.

Seketika, Skeleton-ku menghentikan serangannya dan mematung, seolah sedang mengantarku pergi.

"Boss terikat oleh aturan yang membuatnya tidak bisa bergerak keluar dari ruangan, itulah sebabnya mereka memiliki kekuatan tempur yang besar. Yah, meskipun dia bukan tandingan Lord Lloyd……"

"Tapi Lloyd, kenapa kamu tidak mengalahkannya saja?"

"Hm? Oh, aku punya rencana lain."

Aku melirik sejenak ke arah Skeleton-ku, lalu keluar dari Dungeon.

Setelah itu, aku menutup pintu masuknya rapat-rapat dengan pelindung berlapis.

"……Fuuuh, dengan begini monster tidak akan meluap keluar lagi dan memicu Stampede."

Setelah menggali lubang horizontal sedalam itu, monster tidak akan mudah meluap, dan aku juga sudah menyumbatnya dengan pelindung, jadi mereka tidak akan bisa keluar dengan mudah.

"Begitu ya, jadi Anda berniat menjadikan seluruh Dungeon ini milik Lord Lloyd sendiri."

"Tepat sekali."

Seiring berjalannya waktu monster-monster itu pasti akan muncul kembali. Karena ada banyak monster yang cukup kuat di sini, tempat ini bisa kugunakan untuk berbagai eksperimen.

Sayang sekali kalau dihancurkan begitu saja, kan?

"Dungeon yang di luar nalar seperti ini pasti tidak banyak jumlahnya di dunia. Menjadikan tempat ini milik Lord Lloyd seorang diri…… Entah harus bilang luar biasa atau bagaimana lagi."

"Apalagi ini cuma dijadikan tempat eksperimen sihir. Benar-benar tidak lucu."

Sambil diikuti Grim dan Jiriel yang tampak heran, aku menoleh sejenak ke arah diriku yang dulu.

"Sampai jumpa kalau begitu."

Bersamaan dengan kata perpisahan itu, aku terbang meninggalkan tempat tersebut.

Yah, aku senang sekali bisa mendapatkan tempat eksperimen yang sangat bagus.

Dalam perjalanan pulang, aku melihat Schneizel dan pasukannya yang sedang dalam perjalanan kembali menuju medan perang.

Meskipun baru saja melewati pertempuran hebat, barisan mereka tetap rapi dan mengagumkan.

Mereka benar-benar terlatih dengan baik ya. Saat aku sedang kagum, Grim dan Jiriel menampakkan wajah mereka.

"Lord Lloyd, bukankah sebaiknya Anda menyembunyikan diri?"

"Ya, akan jadi merepotkan kalau para prajurit melihat Anda terbang di tempat seperti ini."

"Oh, benar juga."

Mendengar itu, aku menggunakan Hermit untuk menyembunyikan keberadaanku.

Padahal aku sudah berusaha keras agar tidak mencolok.

Hampir saja usahaku sia-sia. Bahaya, bahaya.

Sambil menghela napas lega, aku mencoba melewati atas barisan prajurit dalam kondisi tidak terlihat. Namun, saat itulah sesuatu terjadi.

Schneizel mendongak ke langit, menaruh tangannya di dahi, dan memberikan sikap hormat.

Prajurit lainnya pun mengikuti, mereka menatap ke angkasa dan memberikan hormat yang sama.

Aku merasa tatapan mereka semua tertuju tepat padaku.

"Ja-jangan-jangan aku terlihat……?"

"Mustahil! Skill Hermit milik Lord Lloyd sudah sempurna! Lagipula, mana mungkin mereka menyadari seseorang yang terbang di ketinggian seperti ini……"

Meski begitu, Schneizel dan pasukannya tetap melanjutkan sikap hormat mereka. ……Apa jangan-jangan aku benar-benar ketahuan?

Seolah bisa melihat diriku yang sedang berkeringat dingin, Schneizel tampak menyunggingkan senyum tipis.

Seharusnya Schneizel yang tidak memiliki mana tidak mungkin bisa melihatku yang sudah menghilang…… Tapi apa mungkin dia bisa merasakan pergerakanku? Atau semuanya sudah masuk dalam perhitungannya? Kalau iya, itu menyeramkan sekali.

"Sepertinya lebih baik aku tidak terlalu sering berurusan dengan Schneizel."

Suatu saat rahasiaku bisa terbongkar dan kekuatanku yang sebenarnya bakal ketahuan.

Cara paling bijak adalah menjauh darinya sebisa mungkin.

"Aduh, seram, seram," gumamku sambil terbang kembali menuju Kastil Saloum.

Di bawah langit biru yang membentang luas, orang-orang menjalani kehidupan normal mereka kembali, persis seperti sebelum peperangan dimulai.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close