NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Danjohi 1:5 no Sekai demo Futsu ni Ikirareru to Omotta? Geki Juu Kanjou na Kanojotachi ga Mujikaku Danshi ni Honrousaretara Volume 2 Prolog

PROLOG

"Aku pulang~"

 

Saat pulang ke rumah, aku selalu berusaha agar tidak pernah melewatkan ucapan "Aku pulang" ini. Aku ingin menyampaikan pada Ibu kalau aku sudah pulang dengan selamat, dan sebaliknya, saat aku sedang di rumah, kalau aku mendengar suara "Aku pulang", aku jadi bisa mengenali kalau itu adalah Ibu. Mungkin terdengar sepele, tapi aku punya prinsip tersendiri soal itu.

 

"Selamat datang."

 

……Eh?

 

Saat aku sedang melepas sepatu, suara itu terdengar dari belakang. Harusnya itu adalah sapaan yang sangat tepat sebagai jawaban dari "Aku pulang", tapi aku tersentak karena nada suaranya adalah milik seorang 'laki-laki'.

 

Sudah puluhan tahun berlalu sejak jumlah laki-laki di dunia ini berkurang drastis.

 

Sekarang, rasio laki-laki dan perempuan di Jepang sudah sangat timpang menjadi 1:5. Gara-gara itu, belakangan ini mulai muncul kasus-kasus perempuan yang menyerang laki-laki, bahkan ada suara-suara yang menuntut diterapkannya sistem poligami.

 

Keluarga kami pun, yang sekarang ini bukan hal yang aneh lagi, adalah keluarga orang tua tunggal. Tentu saja aku tidak punya saudara, jadi harusnya tidak mungkin ada laki-laki di rumah kami, tapi……

 

Kenapa ada laki-laki di rumahku? Karena kaget, aku pun menoleh ke belakang.

 

"O-o-o-ohh-Kakak!?"

 

"Iya. Yuka, selamat datang."

 

Orang yang menyambutku dengan senyum ramah itu adalah Katari Masato-san.

Orang yang aku hormati…… sekaligus orang yang sangat kucintai.

 

Tapi, ini bukan waktunya memikirkan hal itu, kenapa Kak Masato bisa ada di rumahku?

 

Lagipula kenapa dia menunggu kepulanganku seolah-olah itu hal yang wajar? Apa ini di surga?

 

"Hari ini pun kamu sudah berjuang keras ya, Yuka."

 

"Hee, anu, itu, iya……?"

 

Pikiranku nggak sanggup mengejar keadaan ini. Sebenarnya apa yang terjadi……?

 

"Yuka, mau makan dulu? Mau mandi dulu? Atau mau……"

 

I-ini kan……! Percakapan yang cuma pernah kulihat di karya fiksi sekarang sedang terjadi tepat di depan mataku. Aku menelan ludah, menunggu kata-kata selanjutnya.

 

Lalu Kakak, sambil tersenyum seolah sedikit merasa malu.

 

"……Mau Kakak saja?"

 

"Mau Kakak (jawab cepat)!"

 

Suara itu keluar secara refleks. Secepat kilat aku menendang sepatuku dan berniat menghambur ke pelukan Kakak yang begitu menggemaskan itu──

 

*Pipipipi, pipipipi, pipipipi.*

 

"……Yah, memang begitu kenyataannya, ya……"

 

Itu adalah sebuah akhir yang, dalam artian tertentu, sudah sewajarnya terjadi.

 

Sambil memberikan menepuk ringan ke arah jam weker yang berbunyi nyaring menandakan pagi telah tiba, aku menghela napas panjang.

 

Belakangan ini, aku selalu memimpikan hal seperti itu. ……Yah, tentu saja salah satu alasannya karena aku memang selalu memikirkan Kakak sih……

 

Aku meregangkan tubuh lebar-lebar, lalu tiba-tiba bola basket yang terletak di posisi yang terlihat dari tempat tidur masuk ke pandanganku. Bola yang tersimpan di dalam wadahnya itu sekarang hanya terdiam membisu, hanya tergeletak di sana.

 

Aku teringat kejadian beberapa waktu lalu, saat aku menerima "bimbingan" yang agak kelewatan dari para senior. Jujur, aku sadar kalau aku ini cukup jago main basket dibandingkan teman seangkatan…… bahkan di antara para senior sekalipun, dan karena aku sering mengalami perundungan semacam itu di sekolah, aku sudah menyiapkan mental sampai batas tertentu.

 

Tapi hari itu benar-benar parah…… tepat di saat aku berpikir mungkin aku benar-benar akan pingsan.

 

*Latihannya seru banget ya.*

 

Hanya dengan mengingatnya saja sekarang, perasaan saat itu kembali menjalari seluruh tubuhku. Orang yang datang menolongku adalah Kakak yang sangat kucintai.

 

Seperti pangeran yang muncul dalam cerita, Kakak menolongku dengan begitu gagahnya.

 

Aku benar-benar senang, aku jadi tersadar kembali kalau aku memang sangat mencintainya, dan aku sampai melupakan semua rasa maluku saat menghambur memeluknya waktu itu. Perasaan itu pasti tidak akan pernah kulupakan seumur hidup.

 

……Tapi.

 

Aku membuka kedua telapak tanganku, lalu menatapnya.

 

Tubuhku yang masih sangat kecil dan kekanak-kanakan.

 

Rasanya, dengan aku yang seperti ini, Kakak tidak akan melihatku sebagai objek cinta.

 

Seandainya saja aku sedikit lebih dewasa.

 

"Haaah……"

 

Belakangan ini, aku hanya memikirkan hal-hal seperti itu. Sekali lagi, aku mencoba berbaring berguling di tempat tidur. Rasa kantukku sudah hilang, dan sepertinya aku nggak bakal bisa tidur lagi meski aku mencoba tidur untuk kedua kalinya.

 

"……Kalau aku bilang 'aku suka', bakal jadi gimana ya?"

 

Setelah itu untuk beberapa saat.

 

Di dalam selimut, aku hanya terus memandangi foto Kakak yang ada di ponselku.



Illustrasi | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close