NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Danjohi 1:5 no Sekai demo Futsu ni Ikirareru to Omotta? Geki Juu Kanjou na Kanojotachi ga Mujikaku Danshi ni Honrousaretara Volume 2 Chapter 1

Chapter 1: Gadis SMA (JK) Kutu Buku itu

Kelihatan Kalem?

───● Gadis Sastra SMA yang Sopan ●○●

 

Sudah dua bulan berlalu sejak aku datang ke dunia ini.

 

Awalnya aku sempat bingung harus bagaimana, tapi ternyata entah bagaimana semuanya bisa dijalani juga.

 

Yah, lagipula cuma konsep moralnya saja yang agak aneh, sisanya tidak ada yang berubah, jadi wajar saja sih kalau dipikir-pikir.

 

Bakal berat kalau seandainya aku terlempar ke dunia lain lalu tiba-tiba dibilang "kamu adalah pahlawan", tapi dunia ini cukup lembut bahkan bagi orang biasa sepertiku untuk menjalani hidup normal.

 

"Fuaaa~... ngantuk banget..."

 

Hari ini hari Sabtu, jadi tidak ada kuliah. Sepertinya ada beberapa mata pelajaran kuliah yang bisa diambil di hari Sabtu, tapi Koumi bilang dia tidak mengambilnya, dan aku pun tipe orang yang lebih suka libur di hari Sabtu.

 

Aku melihat jam dinding. Waktu menunjukkan pukul 10.30 pagi.

Mengingat aku bekerja sampai tengah malam kemarin, aku sudah berusaha keras untuk bangun jam segini.

 

"Hari ini kalau tidak salah... mulai jam 15.00 ya... Hmm, buat makan siang dulu saja kali ya..."

 

Aku punya janji jam 15.00 hari ini.

 

Sambil mengucek mata yang masih mengantuk, aku beranjak dari tempat tidur dengan langkah gontai. Saat itu, aku mengambil ponsel di samping bantal dan ternyata ada beberapa notifikasi.

 

*TL/Note: Dalam konteks ini langkah gontai itu diibaratkan merujuk pada langkah yang lambat dan lesu.

 

Koumi》『Apaan sih, itu lucu banget tahu wkwkwk

 

Koumi》『Terus ujung-ujungnya kamu kerja sampingan apa, Masato?

 

"...Tadi lagi bahas apa ya?"

 

Sejak tukaran kontak, Koumi memang sering mengirim pesan dua sampai tiga kali sehari seperti ini. Yah, itu komunikasi yang wajar juga di dunia lamaku, dan aku pun menikmatinya jadi aku membalasnya.

 

"Tapi kalau soal bar, aku nggak mungkin bilang..."

 

Karena aku sempat menolak ajakan Koumi, dia sudah tahu kalau aku bekerja setiap Jumat malam. Tapi kalau aku jujur bilang *Gue kerja di Boys Bar lho wkwk*, paling ujung-ujungnya aku bakal dikatain *Eh... jijik...* atau *Dengan tampang kusam kayak gitu...?*. Aku nggak sebodoh itu.

 

Namun, aku punya ide lain.

 

"Nah, ini! Kalau yang ini pasti aman."

 

Aku menggeser layar ponsel dengan cepat.

 

Katari Masato》『Iya, sebenarnya aku lagi kerja jadi guru les privat.

 

Sip. Kalau begini nggak masalah.

 

Benar, aku memang bekerja sebagai guru les privat juga. Setiap hari Sabtu jam 15.00.

 

Kalau aku bilang yang ini, harusnya tidak akan ada masalah. Pekerjaan sampingan yang normal. Aku menutup ponsel dan menuju dapur.

 

Seingatku masih ada dua butir telur dan daging asap... bikin nasi goreng aja kali ya. Nasi goreng adalah masakan terkuat buat laki-laki yang tinggal sendiri.

 

*Pilon.*

 

*Pilon.*

 

...?

 

Saat sedang mengecek sisa nasi di *rice cooker*, ponselku berbunyi.

 

Aneh, biasanya Koumi baru membalas tiga sampai empat jam setelah aku kirim pesan, apa aku punya teman lain yang suka kirim kabar?

 

Saat aku mengambil ponsel, ternyata lagi-lagi nama Koumi yang muncul.

 

...Cepat banget balasnya?

 

Koumi》『Gu-guru les privat?

 

Koumi》『Jangan bilang kalau muridmu itu perempuan?

 

...? Memangnya ada masalah? Memang benar seperti kata Koumi, muridku itu perempuan, sih.

 

Masato》『Iya, kenapa? Murid SMA kok.

 

Aku membalas singkat lalu kembali ke dapur.

 

Apa itu hal yang sangat mengejutkan? Rasanya banyak mahasiswa yang jadi guru les privat atau pengajar di bimbingan belajar...

 

Tepat saat aku hendak menyendok nasi dari *rice cooker*.

 

*Drrrtt, drrrtt, drrrtt.*

 

Ponsel di atas meja yang kusetel mode getar terus bergetar hebat. Itu bukan notifikasi pesan. Tapi telepon. Bahkan dari sini pun aku tahu. Di layarnya terpampang nama Koumi.

 

...Eh? Kok seram ya.

 

Lewat jam dua siang.

 

Aku keluar rumah dan menuju tempat les privat.

 

"Aduh, beneran deh, aku nggak pernah tahu di mana letak 'tombol' kemarahan Koumi..."

 

Setelah itu, saat aku mengangkat telepon, aku gemetar mendengar nada suara Koumi yang datar tanpa intonasi. Biasanya Koumi itu imut-imut menggoda dan cuma melihatnya di kelas saja sudah bikin cuci mata, tapi kalau 'tombol'-nya terpencet, dia jadi menakutkan.

 

Mau berhati-hati pun aku nggak tahu di mana letak tombolnya, jadi nggak ada gunanya. Ujung-ujungnya, di telepon tadi aku harus menjelaskan situasinya sampai dia tenang kembali. Katanya dia terpaksa setuju setelah aku janji bakal jelasin semuanya pas hari Senin nanti.

Syukurlah. Perempuan itu sulit dimengerti...

 

Aku menengadah menatap langit yang biru bersih.

 

Di dunia lama dulu, aku jarang kesulitan berkomunikasi dengan lawan jenis.

Mungkin karena teman akrabku sejak kecil adalah perempuan, itu pengaruh besarnya. Berkat itu, saat masa puber pun aku tidak merasa malu dan bisa berinteraksi normal dengan perempuan.

 

Makanya, ada saja perempuan yang menembakku, dan aku pun pernah berpacaran.

 

Tapi.

 

*Katari-kun, kamu itu ternyata cuma baik ke semua orang saja ya... Maaf ya, selama ini aku sudah salah paham.*

 

...Baru jalan satu bulan pacaran, tiba-tiba dia minta putus dengan kata-kata seperti itu.

 

Karena aku lama tinggal di panti asuhan dan diajarkan oleh pengasuh untuk "berbuat baiklah pada orang lain", bagiku hal itu sudah sewajarnya dilakukan, makanya kata-kata itu sangat mengejutkan bagiku.

 

Di saat yang sama, aku sadar kalau aku memang memperlakukannya sama seperti aku memperlakukan orang lain. Dan setelah menyadari fakta itu, aku merasa tidak bisa mengubah sikapku hanya kepada satu orang saja yang berstatus 'pacar'. Aku pun terpaksa menyerah dan menganggap diriku memang orang yang seperti itu.

 

"Cepat, cepat! Semuanya sudah sampai di taman lho!"

 

"Tunggu aku~!"

 

Suara ceria bergema, beberapa anak perempuan kecil berlari melewatiku. Cuaca hari ini sangat bagus. Pasti mereka mau main bareng teman-temannya di taman.

 

Punggung anak-anak yang berlari semangat itu perlahan mengecil dan akhirnya menghilang dari pandangan.

 

...Yah, nggak ada gunanya juga jadi terlalu sensitif, lupakan saja masa lalu.

 

Demi melupakan kenangan pahit yang membuatku murung, aku mempercepat langkah menuju stasiun.

 

Setelah berjalan beberapa menit, aku sampai di stasiun terdekat.

 

Tempat mengajar les privat berjarak sekitar lima stasiun dari sini.

 

Awal mula aku mulai mengajar les ini adalah sekitar satu bulan yang lalu.

 

Saat itu sumber penghasilanku baru dari bar saja, dan Seira-san belum sesering sekarang datang berkunjung (sekarang Seira-san royal banget jadi aku bisa sedikit lebih boros), jadi aku merasa penghasilanku agak kurang.

 

Tadinya aku pikir tidak apa-apa ambil banyak *shift* selain hari Jumat karena saat itu aku masih belajar pekerjaan di bar, tapi Kak Aika bilang *Nggak baik kalau terlalu sering melakukan pekerjaan seperti ini*, Jadi jadwalku dipatok cuma hari Jumat saja.

 

Biaya hidupku memang banyak dibantu oleh Kak Aika, tapi aku merasa nggak enak jadi aku coba konsultasi padanya. Kak Aika dengan wajah yang terlihat sangat bersemangat bilang, "Ah, kalau gitu Masato kan pintar, aku ada satu permintaan tolong nih," dan itulah awal aku jadi guru les ini.

 

Sepertinya putri dari kenalan Kak Aika di pekerjaannya ingin masuk ke universitas yang sama denganku. Jadi dia ingin aku membantu studinya.

 

Begitulah, sudah sekitar satu bulan ini aku menjadi guru les privat bagi seorang gadis SMA.

 

Ngomong-ngomong, tempo hari Kak Aika bilang, "Gaji guru lesnya sudah aku masukkan ke rekening ya~," dan saat aku cek, jumlahnya benar-benar di luar nalar.

 

Kenapa banyak banget?

 

Rasanya tidak wajar gaji guru les mahasiswa sebesar ini. Tapi saat kutanya, Kak Aika cuma senyum-senyum nakal saja.

 

Yah... mungkin saja itu tambahan dari Kak Aika supaya hidupku lebih mapan, sih...

 

Benar-benar deh, aku tidak bisa berkutik di depan Kak Aika.

 

"Oke, mari kita mulai."

 

Setelah turun dari kereta dan berjalan sebentar dari stasiun, aku sampai di rumah tempatku mengajar. Rumah itu punya gerbang yang megah, dan setelah melewati taman kecil, barulah sampai di pintu utama.

 

Kelihatan banget kalau ini rumah orang kaya. Masih sepuluh menit sebelum waktu yang dijanjikan, tapi ya sudahlah.

 

Aku menekan bel.

 

"Permisi, saya Katari. Saya datang untuk mengajar Shiori-san~"

 

Iyaaaa!

 

Terdengar suara yang ceria, lalu bunyi *klik* saat kunci gerbang terbuka otomatis.

 

Pikirku tiap ke sini, fasilitasnya ngeri banget...

 

Begitu pintu depan dibuka, ada ibunya Shinomiya Shiori-chan, murid lesku.

 

"Masato-kun, selamat siang! Terima kasih ya~! Shiori sepertinya sudah ada di kamarnya di lantai dua, silakan langsung saja!"

 

"Baik. Saya akan berusaha semaksimal mungkin."

 

Aku melepas sepatu dan masuk ke dalam rumah. Aku harus ingat untuk merapikan sepatuku. Tidak tahu kan, di mana orang bakal menilai kepribadian kita... Aku naik tangga menuju kamar Shiori-chan. Di depan pintu kamar dengan papan nama yang imut, aku mengetuk dua kali.

 

"Shiori-chan? Ini Katari. Boleh aku masuk?"

 

"I-iya. Silakan."

 

Suara sopran yang jernih. Shiori-chan memang punya suara yang indah.

 

Begitu pintu dibuka, di sana duduk seorang gadis ramping dengan rambut hitam panjang berkilau yang dikuncir *half-up* dengan pita biru muda.

 

Hmm, dia benar-benar tipe gadis yang sangat cocok dengan kata 'anggun'.

 

"Halo, Shiori-chan."

 

"Iya, halo."

 

...Ngomong-ngomong, hari ini dia tidak pakai seragam.

 

Biasanya dia selalu pakai seragam saat belajar, apa ada alasan tertentu ya?

 

"Eh, hari ini kamu nggak pakai seragam ya."

 

"I-iya. Soalnya kalau dipikir-pikir, rasanya aneh juga kalau hari libur tetap pakai seragam..."

 

Shiori-chan memutar kursinya sedikit ke arahku.

 

Hmm, hmm. Atasan hitam lengan pendek dipadukan dengan *dablier* krem... semacam *overalls* yang menyatu sampai ke rok, sangat cocok dengan kepribadiannya yang anggun.

 

*TL/Note: Dablier itu semacam overalls yang menyatu sampai ke rok. Ini merujuk pada salah satu pakaian non-seragam yang dikenakan oleh Shiori-chan saat ia mencoba mengejar citra yg anggun.

 

"Hehe~ bagus kok, cocok banget sama kamu. Karena biasanya cuma lihat kamu pakai seragam, jadi terasa segar."

 

"...Fufufu... terima kasih. Pakaian biasa Masato-san juga... keren."

 

"Pujian nggak bakal bikin tugasmu berkurang lho ya~?" Aku pun menaruh tas dan mengeluarkan buku pelajaran.

 

Mungkin sekarang sulit dibayangkan, tapi saat pertama kali bertemu Shiori-chan, dia pakai kacamata dan rambutnya dikepang dua.

 

Entah apa yang mengubah pikirannya, tapi pertemuan berikutnya dia sudah ganti gaya rambut dan memakai lensa kontak.

 

Yah, sepertinya saat pertemuan pertama, ibunya sengaja merahasiakan kalau guru lesnya laki-laki, jadi dia panik.

 

Ibunya jahil juga ya...

 

"Oke... mari kita mulai, eh tapi masih ada lima menit lagi ya."

 

"Benar, ya. Jadi bagaimana?"

 

"Mumpung masih ada waktu, kita ngobrol santai dulu saja baru belajar."

 

Aku bukan tipe yang suka memaksakan belajar terlalu kaku.

 

Ini sudah keempat kalinya, tapi dia sepertinya masih gugup, jadi aku ingin dia lebih rileks.

 

Dibandingkan gadis-gadis yang kutemui sejak datang ke dunia ini, dia termasuk tipe yang sangat tenang.

 

Kalau Yuka sih sering banget gugup sampai salah ngomong. Padahal nggak perlu segugup itu...

 

Tiba-tiba aku melihat sebuah buku novel di atas meja Shiori-chan.

 

Benar, dia ini tipe 'gadis sastra'.

 

"Ah, hari ini kamu lagi baca buku apa?"

 

"Ah, itu... bukunya Tasaka-san yang ini..."

 

"Ah~ itu seru ya! 'Musim Panas Jatuh dari Lantai Dua'... Gaya hidup seperti apa ya sampai bisa kepikiran kalimat pembuka kayak gitu..."

 

Jujur, hobiku nggak sampai tahap 'pembaca buku berat', tapi kalau buku yang populer sih aku pernah baca sedikit.

 

Untungnya di bagian ini, dunia lama dan dunia sekarang masih sama.

 

Punya bacaan yang sama itu sangat membantu buat mencairkan suasana.

 

Meskipun kalau dibandingkan dengan Shiori-chan yang sepertinya penggila buku, pengetahuanku yang cuma sekilas ini nggak ada apa-apanya.

 

"A-ahahaha benar juga ya..."

 

Eh, kok tanggapannya biasa saja ya? Apa ketahuan kalau aku cuma tahu kulitnya saja? Sulit juga ya.

 

Satu jam pun berlalu.

 

"Di bagian ini, cara bacanya berubah lagi. Karena tanda ini pindah ke sini, jadi yang benar adalah~"

 

Karena jurusanku Soshum, mata pelajaran yang kuajarkan pada Shiori-chan adalah Bahasa Jepang, Sejarah, dan Bahasa Inggris.

 

Biasanya masing-masing diajarkan selama satu jam, total tiga jam, dan tugasku selesai. Dengan jeda istirahat, biasanya selesai sebelum jam tujuh malam.

 

Sekarang kami baru saja selesai Bahasa Inggris dan mulai masuk ke Bahasa Jepang.

 

"Anu... hmmm?"

 

Sepertinya dia kesulitan.

 

Begitu ya, bagian ini memang membingungkan... Ah, benar juga.

 

Mendapat ide bagus, aku berdiri dan berputar ke belakang Shiori-chan.

Lalu, aku mengintip buku pelajarannya dari belakang.

 

"Oke? Shiori-chan, sekarang perhatikan jari yang kutunjuk ya. Urutan bacanya bareng-bareng..."

 

Sip, kalau begini kan lebih mudah dimengerti.

 

Begitu pikirku, tapi tangan Shiori-chan mendadak berhenti.

 

Lho?

 

"...Ough"

 

Eh?

 

Barusan ada suara aneh.

 

Apa itu Shiori-chan? Suara tadi.

 

*Gubrak*, Shiori-chan mendadak berdiri dari kursinya.

 

"Ma-maaf, saya mau ke kamar mandi sebentar..."

 

"A-ah. Oke oke, sori ya."

 

Tanpa memperlihatkan wajahnya, Shiori-chan langsung lari ke toilet.

Gawat, apa aku bikin dia marah?

 

...Ah, mungkin aku terlalu dekat ya.

 

Pasti risi kalau didekati laki-laki yang belum terlalu akrab sesedekat itu.

Aku jadi lengah karena rasio laki-laki yang sedikit di sini, ini beneran nggak baik.

 

Duh, maaf ya.

 

Tak lama kemudian Shiori-chan kembali.

 

Entah kenapa wajahnya merah banget, apa dia nggak apa-apa ya?

 

"Mohon maaf. Mari kita lanjutkan."

 

"I-iya, benar juga."

 

Syukurlah. Sepertinya dia nggak marah-marah banget.

 

Aku sempat takut kalau dia bakal tersinggung.

 

Supaya nggak mengulangi kesalahan yang sama, aku bermaksud duduk di sampingnya untuk melanjutkan belajar.

 

"Eh?"

 

Shiori-chan menatapku dengan wajah heran.

 

Lho?

 

"Ah, tidak. Silakan, lakukan lagi seperti tadi dari belakang. Tolong tekan sekuat mungkin. Tolong tutupi tubuh saya dari belakang ya."

 

Eh?

───● Gadis Sastra SMA Bermimpi ●○●

 

Kusam. Culun.

 

Itulah kesan yang sering diucapkan orang-orang di sekitarku tentang diriku.

 

Tapi aku tidak merasa menyesal, benci, atau apa pun soal itu.

 

Malah, aku pikir lebih baik begini saja.

 

Aku sekarang duduk di kelas 2 SMA.

 

Sebelum masuk SMA, aku sempat berpikir mungkin aku bakal punya pacar...? Tapi fantasi itu hancur dengan mudahnya.

 

Sekolahku ini sekolah campuran, jadi lumayan banyak laki-lakinya.

 

Tapi mereka yang jumlahnya cuma enam orang di kelas terbagi menjadi dua grup yang masing-masing terdiri dari tiga orang.

 

Dan yang bisa mengobrol akrab dengan mereka pun biasanya cuma dua grup perempuan saja.

 

Kesempatan seperti itu hanya berputar di kalangan gadis-gadis kasta atas.

 

Atau lebih tepatnya, gadis kasta atas itu seolah memonopoli para laki-laki. Memang begitu kenyataannya. Itulah realitas di sekolah campuran.

 

Sisa-sisa remahannya tidak akan pernah sampai ke orang culun sepertiku.

 

(Yah... jujur aku merasa nggak butuh juga sih.)

 

Pikirku sambil melihat sekeliling.

 

Laki-laki di kelas ini, kalau wajahnya sedikit tampan pasti sikapnya tinggi hati atau sok berkuasa. Sebaliknya, yang lain malah nggak punya rasa menjaga kebersihan, atau terlalu gemuk, intinya cuma kumpulan orang yang nggak punya daya tarik sebagai lawan jenis.

 

Meski begitu, mereka tetap saja menyeringai karena masih ada perempuan yang mendekati mereka.

 

(Kalau cuma segitu, mending nggak ada sekalian.)

 

Bukan maksudku untuk sok kuat.

 

Aku memang merasa begitu secara alami.

 

Lagipula.

 

(Aku... punya ini...)

 

Diam-diam, aku mengeluarkan sebuah buku dari kolong meja.

 

Karena memakai sampul buku, orang di sekitar tidak akan tahu apa isinya.

 

Ini adalah buku yang ditujukan untuk perempuan.

 

Sejak dulu aku suka cerita fantasi.

 

Karakter-karakter yang muncul di dalam cerita semuanya punya hati yang indah dan jernih. Sang *hero* semuanya tampan... dan sang *heroine* pun punya alasan kenapa mereka disukai. Tokoh-tokoh di dalam cerita itu benar-benar indah.

 

Haaah, aku menghela napas sambil membayangkan para tokoh cerita itu, lalu kembali melihat sekumpulan orang yang sedang mengobrol di kelas.

 

(Huft... emang realitas itu sampah ya...)

 

Cukup ada buku ini saja sudah cukup.

 

Mengabaikan keriuhan di dalam kelas, aku duduk di pojok ruangan, seorang diri tenggelam dalam indahnya dunia cerita.

 

"Aku pulang~"

 

Sebagai anggota klub yang cuma numpang nama alias "klub hantu", aku biasanya langsung pulang begitu sekolah usai.

 

"Ah, selamat datang kembali, Shiori."

 

Aku cuma bilang "aku pulang" pada Ibu, lalu langsung menuju kamar.

 

Hari ini selain membaca buku, aku juga ingin main game. Game tipe visual novel. Selama aku dikelilingi karakter-karakter tampan, aku merasa bahagia.

 

"Tunggu dulu, Shiori. Sini sebentar."

 

"……Ada apa?"

 

Ibu memanggilku.

 

Padahal aku ingin segera main game...

 

"Kamu... sudah punya teman, atau pacar belum?"

 

"Kenapa tiba-tiba tanya gitu? Belum punya."

 

"Kamu itu harusnya merasakan cinta selagi masih pelajar. Setidaknya cobalah berinteraksi dengan anak laki-laki."

 

Lagi-lagi bahas soal ini.

 

Katanya karena sekarang laki-laki makin sedikitlah, apa lah. Aku sudah kenyang dengarnya. Jujur saja.

 

"Iya, iya. Aku usahakan."

 

"Duh, beneran deh... ah, benar juga. Kamu bilang ingin masuk universitas negeri itu, kan?"

 

"……? Iya, terus?"

 

Ujian masuk universitas.

 

Karena masih kelas 2 SMA, aku belum memutuskan secara pasti, tapi aku punya universitas incaran. Fasilitas di sana bagus…Perpustakaannya juga besar.

 

Meski nilai standarnya (*hensachi*) tinggi karena itu universitas negeri, tapi bukan tempat yang mustahil kalau aku berusaha.

 

*TL/Note: Hensachi = skor standar yang menunjukkan posisi nilai seseorang dibanding rata-rata peserta (skala umum: rata-rata = 50).

 

"Berkat kenalan Ibu, katanya ada orang yang kuliah di sana, jadi Ibu berniat memanggilnya jadi guru les privatmu!"

 

"Eh~... nggak mau ah..."

 

Guru les? Ogah banget.

 

Aku bisa belajar sendiri... meski sedih mengatakannya, tapi karena aku nggak punya banyak teman dan nggak ikut kegiatan klub, aku punya banyak waktu luang.

 

Berkomunikasi dengan orang lain itu merepotkan...

 

"Sudah diam saja! Pokoknya coba temui dia sekali saja! Hari Sabtu Ibu panggil ke sini, jadi kamu harus ada di rumah ya!"

 

"Eeeh~ malas banget... aku bakal tolak lho ya nanti?"

 

"Yah, kalau kamu nggak suka boleh ditolak kok."

 

"Eh, kenapa Ibu senyum-senyum gitu, menjijikkan tahu..."

 

Yah, kalau boleh ditolak sih.

 

Maaf ya buat si guru les itu nanti, aku bakal cari-cari alasan biar dia langsung pulang. Tanpa memikirkan alasan di balik senyum menjijikkan Ibuku, aku mengurung diri di dalam kamar.

 

Hari Sabtu. Seperti biasa aku sedang membaca buku di kamar. Sebuah cerita romansa dengan beberapa ilustrasi yang agak berani. Ugh! *Hero* yang ini beneran nggak tahan...!

 

Tampan, pintar, kuat, dan lagi super lembut. Dewa banget. Yah, namanya juga fiksi, wajar saja sih.

 

Seandainya laki-laki seperti ini beneran ada...

 

Laki-laki yang aku kenal di dunia nyata cuma teman sekelas, atau artis-artis di TV yang sikapnya berlebihan.

 

Aku sudah cukup tahu soal kenyataan pahit dunia.

 

"Shiori! Guru lesnya sudah datang! Ibu masuk ya?"

 

"……Iyaaa."

 

Duh... maaf ya guru les, tapi aku bakal suruh kamu pulang secepatnya.

Aku langsung menjejalkan buku yang kubaca tadi ke rak buku.

 

Karena hari ini tadi ada sekolah di pagi hari, aku masih pakai seragam.

Ya sudahlah. Game dan pakaian ganti juga masih agak berantakan, tapi tolong dimaafkan ya.

 

Setidaknya kondisinya nggak separah itu sampai nggak layak dilihat orang.

 

*Cklek*, pintu dibuka.

 

Aku menghela napas sambil menoleh ke arah pintu...

 

──Mataku langsung terbelalak.

 

"Ah, halo, selamat siang, Shiori-san."

 

Pikiranku mendadak *freeze*.

 

Ada cowok ganteng berdiri di sana.

 

"Eh?"

 

Tanpa sadar ponsel yang kupegang terjatuh.

 

Eh? Ha?

 

Kenapa ada laki-laki?

 

Eh?

 

"Ini orangnya, Katari Masato-kun yang Ibu minta buat jadi guru lesmu. Ganteng kan~ ayo, Shiori, beri salam."

 

……

 

Butuh beberapa detik bagi otakku untuk memproses apa yang terjadi.

 

Lalu, aku memahami apa yang harus kulakukan sekarang.

 

"Tung—"

 

"Tung?"

 

"TUNGGU SEBENTAR TOLONG TUNGGU SEBENTAR DULUUUUUU!!!!!!"

 

Aku paksa mendorong Ibu kembali ke belakang, dan aku suruh guru les yang ada di belakangnya untuk keluar kamar juga.

 

Tunggu, tunggu, tunggu!!!!

 

Aku nggak dengar kalau guru lesnya laki-laki!!!!

 

"Apa-apaan sih kamu, Shiori~"

 

"Ibu……! Aku beneran nggak bakal maafin Ibu……!"

 

Aku tahu Ibu pasti sedang menyeringai.

 

Dia sengaja diam saja, dasar wanita licik……! Bakal kulaporkan Ayah kalau Ibu sering main ke Boys Bar……!

 

Pertama-tama, aku menutupi rak buku dengan handuk mandi putih bersih untuk menyembunyikannya.

 

Terlalu banyak buku yang berbahaya kalau sampai terlihat!!! Gamenya juga kusembunyikan.

 

Pakaian ganti, baju kotor juga.

 

Setelah selesai membereskan semuanya dengan kecepatan luar biasa, terakhir aku berdiri di depan cermin. Tanpa sadar napasku tersengal, jantungku berdegup kencang.

 

Terlebih lagi, orang tadi.

 

(Bukankah dia terlalu ganteng????)

 

Aku teringat sosoknya yang memberikan senyum lembut padaku.

 

Tingginya mungkin sekitar 175 cm. Rambut hitamnya yang ikal halus benar-benar terlihat indah.

 

Benar-benar seperti.

 

(Seperti *hero* di dalam cerita……!)

 

Wajahku terasa panas.

 

Aku nggak pernah dengar soal ini.

 

Segera kurapikan penampilanku, lalu menarik napas panjang.

 

"Maaf…… membuat Anda menunggu……"

 

Beberapa saat kemudian, aku membuka pintu.

 

Di sana benar-benar ada seorang laki-laki. Jantungku berdegup kencang.

 

"Ah, maaf ya? Sepertinya komunikasinya kurang lancar tadi..."

 

"Nggak, nggak nggak nggak nggak! Ibu saya yang salah kok……"

 

Aku mempersilakannya masuk ke kamar.

 

Gimana ini, gimana ini.

 

Ada cowok ganteng di kamarku.

 

"Si-silakan."

 

Untuk sementara, aku memberikan kursi meja belajar yang biasa kupakai. Aku sendiri duduk di tepi tempat tidur.

 

"Maaf ya, terima kasih."

 

"Nggak apa-apa kok……"

 

Tenanglah, diriku.

 

Memang dia tampan, tapi aku tidak boleh tertipu hanya karena itu.

 

Dia ini orang yang dibawa oleh Ibu itu.

 

Bisa saja dia punya sifat yang tinggi hati, atau bermuka dua.

 

Aku nggak bakal tertipu. Aku ini wanita yang tahu perbedaan antara realitas dan fiksi.

 

"Anu, aku sendiri belum terlalu paham situasinya tapi... intinya hari ini kita coba mengobrol dulu, lalu setelah itu baru diputuskan apa aku akan dipekerjakan jadi guru lesmu atau tidak... begitu kan?"

 

"A-ah, mungkin... sepertinya begitu."

 

Aku sadar suaraku sekarang ini kecil sekali, hampir seperti cicitan nyamuk. Mana mungkin aku bisa bicara dengan volume suaraku yang biasanya di depan orang seperti ini.

 

"Jujur saja, karena ini mendadak, kamu boleh banget kok menolak tawaran ini. Terus, karena aku tahu pasti sulit kalau harus bilang langsung padaku, nanti setelah aku pulang kamu tinggal bilang saja pelan-pelan ke Ibu. Begitu lebih enak buat Shiori-san, kan?"

 

"……"

 

……Ha────?

 

Bukankah dia ini terlalu baik?

 

Kalau ini laki-laki populer di kelasku, dalam situasi begini pasti nggak aneh kalau dia bakal bilang, 'Harusnya kamu bersyukur aku mau ngajarin lo' ???

 

Nggak, tunggu dulu, Shiori. Jangan mau tertipu dulu. Bisa saja dia sengaja bersikap baik hari ini supaya dipekerjakan. Eh, tapi tadi dia bilang boleh ditolak...? Duh, aku nggak paham.

 

"Shiori-san, kenapa kamu ingin masuk ke universitas tempatku kuliah?"

 

"E-eh, itu, fasilitasnya terlihat bagus... terus, perpustakaannya besar, jadi..."

 

"Hee~ Shiori-san suka buku ya!"

 

He-hentikan!! Jangan berikan senyum berkilau itu padaku!!

 

Apa-apaan? Orang ini punya level ketampanan skala 100 ya!? Padahal cuma gerakan kecil, tapi jantungku sampai berdebar kencang.

 

"Yah, sedikit saja sih..."

 

"Wah, perpustakaan kampusku memang besar, sih... Biasa baca buku apa?"

 

"……"

 

Gawat. Harus bagaimana ini.

 

Aku nggak kepikiran sama sekali. Kalau di sini aku bilang 'aku suka genre fantasi dan romansa yang agak berani', dia 180% bakal merasa ilfeel.

 

Jawaban yang aman... jawaban yang aman adalah...

 

"Sastra murni, gitu."

 

"Hee~! Hebat ya. Aku sendiri agak payah kalau baca tulisan yang bahasanya kaku begitu... Kalau karya yang populer sih aku baca, tapi kalau sastra murni rasanya sulit banget buat mulai baca!"

 

Bohong, maafkan aku, aslinya aku nggak baca sama sekali.

 

Gawat, gawat. Kalau begini terus, aku nggak bakal bisa nemu celah buruknya! Pasti, di suatu tempat, dia pasti punya sisi buruk...

 

Ah, benar juga! Kalau cewek culun kayak aku bersikap kurang ajar, orang se-sempurna ini pun pasti bakal menunjukkan sifat aslinya...!

 

Maaf ya, tapi ini demi masa depanku! Demi masa depan...!

 

Aku memantapkan niat, dan sengaja mengatakan hal yang menyebalkan.

 

"……Katari-san sendiri juga boleh kok menolak jadi guru lesku."

 

"……? Kenapa?"

 

"Pasti malas kan mengajar gadis culun kayak aku? Pasti di dalam hati berpikiran kalau lebih enak kalau muridnya lebih imut, kan? Lagipula Katari-san pasti laku banget di mana-mana."

 

……Aku sadar sendiri, aku ini benar-benar wanita rendah diri yang menyebalkan.

 

Sedih rasanya mengatakan itu sendiri. Tapi, tapi ya, ini demi masa depan...! Sambil menahan rasa bersalah, aku memperhatikan reaksinya.

 

Lalu.

 

Tanpa memudarkan senyumnya, Katari-san menggelengkan kepala.

 

"Nggak kok. Hal itu nggak ada hubungannya sama sekali. Shiori-san sedang berjuang keras karena ingin masuk ke universitas tempatku kuliah. Di situ sama sekali nggak ada perbedaan derajat setitik pun. Siapa pun muridnya, kalau sudah diputuskan aku yang mengajar, aku bakal membantu sekuat tenaga. Lagipula──"

 

"Shiori-san itu sangat manis, lho. Pas tadi kita pertama ketemu, aku langsung berpikir kalau kamu itu gadis yang cantik."

 

……Oke.

 

Sepertinya *hero* dari cerita favoritku baru saja melintasi dimensi cuma buat menemuiku.

 

Singkatnya begini. Aku suka banget sama dia.

───● Gadis Sastra SMA Mengejar Citra Anggun ●○●

 

Kehidupanku berubah drastis sejak aku mulai mempunyai guru les privat.

 

"Aku pulang!!!"

 

Begitu sekolah hari Sabtu usai, aku langsung melesat membuka pintu rumah. Aku mencuci tangan secepat kilat di wastafel, lalu lari berderap menaiki tangga menuju kamarku sendiri.

 

"Heh, Shiori~! Kamu beneran sudah cuci tangan pakai sabun belum itu!"

 

"Sudah!"

 

Waktu menunjukkan pukul 13.30.

 

Tersisa sekitar satu setengah jam lagi sampai dia──Masato-san──datang.

 

(Hari ini... aku sudah putuskan mau pakai baju biasa♪)

 

Sebelum Masato-san datang, aku hampir tidak punya baju biasa yang layak. Ya wajar saja, sih. Pakai seragam saja sudah cukup, lagipula saat hari libur pun aku tidak punya teman untuk diajak pergi keluar. Aku merasa tidak perlu menghabiskan uang untuk pakaian biasa.

 

Aku teringat kembali malam setelah "Hari Takdir" itu... hari pertama aku bertemu Masato-san.

 

Setelah melontarkan segala macam makian pada Ibu dan mengancam akan melaporkannya pada Ayah, aku mencoba menenangkan diri di kamar untuk mengatur situasi.

 

(Ga-gawat... ini beneran terjadi... nggak nyangka orang yang kayak *hero* itu bakal datang ke kamarku setiap minggu...!)

 

Aku sempat mengira dia baru saja keluar dari buku dongeng.

Penampilannya memang tipe cowok ganteng yang terlihat tulus, tapi di bagian akhir pertemuan kami, di mataku dia tidak lebih dari seorang pangeran yang mengenakan baju ksatria yang gagah. Tanpa sadar aku bersyukur atas keberuntungan yang tiba-tiba jatuh dari langit ini.

 

Setidaknya dalam hal mendatangkan orang sehebat itu, aku harus akui selera Ibu boleh juga.

 

(Lagipula... tadi dia bilang aku... cantik, kan?)

 

Tadinya kukira dia pasti punya kepribadian yang buruk makanya aku sengaja bicara ketus, tapi ternyata jawaban yang dia berikan benar-benar di luar dugaan. Dipuji seperti itu berarti... mungkinkah aku bisa jadi lebih akrab dengannya?

 

Maksudku, kami bakal bertemu setiap minggu lho!? Meski tujuannya belajar... tapi tidak menutup kemungkinan bakal ada... itu, kejadian-kejadian yang tidak sengaja... Duh, perasaanku jadi melayang.

Wajahku terasa sangat panas.

 

Untuk menenangkan diri, tiba-tiba aku melihat sampul novel favoritku yang ada di rak buku.

 

(Beneran deh... orang itu mirip banget sama *hero* di novel ini...)

 

...Sampai di situ, gerakanku mendadak berhenti.

 

Di samping sang *hero* yang terpampang di sampul, ada sosok *heroine* yang cantik dan jelita. Lalu, aku melihat ke arah cermin yang ada di depan lemari. Aku menatap bayanganku sendiri. Di sanalah aku menyadari sebuah fakta yang mengejutkan.

 

(……Dengan penampilan kayak begini, bukankah aku nggak pantas bersamanya sama sekali……?)

 

Sudah jelas, sih. Meski tadi aku sempat melayang, tapi kenyataannya aku ini gadis culun. Nggak, menyebut diri sendiri culun saja rasanya tidak sopan pada ubi cilembu yang beneran enak. Aku ini bahkan nggak ada enak-enaknya sama sekali. Tubuhku yang tadi panas mendadak mendingin seketika.

 

Seandainya ada cerita tentang gadis SMA berkacamata yang super kusam ini bersatu dengan pangeran dari buku dongeng itu, kira-kira apa yang bakal kupikirkan pas membacanya?

 

*Ehhh serius mending bangun deh, dramanya halu banget dah hahaha. Mana mungkin cowok ganteng maksimal mau ngelirik cewek cupu antisosial kayak lo hahaha. Sadar diri dah hahaha.*

 

……Yah, paling komentarnya bakal begitu.

 

Mungkin saja ada probabilitas sekecil ukuran plankton kalau Masato-san ternyata punya selera ekstrem ke cewek super kusam dan bakal menyukaiku apa adanya, tapi aku belum mau mati sebagai wanita dengan cara pasrah pada keberuntungan mustahil seperti itu.

 

Lalu, apa yang harus kulakukan?

 

Sekali lagi aku menatap sampul novel tadi. Aku melihat sang *heroine* cantik yang berdiri di sana.

 

(Aku harus... menjadi seperti dia...!)

 

Aku harus menjadi seperti *heroine* itu.

 

(Tapi, sekeras apa pun aku berusaha, mustahil bagiku menjadi tipe *heroine* yang ceria dan penuh semangat... Kalau gitu, tujuan yang harus kukejar adalah... tipe gadis anggun yang sopan dan tenang!)

 

Aku berdiri di depan cermin. Aku melepas ikatan kepangku. Aku melepas kacamataku.

 

(Kalau begini terus, nggak akan bisa……)

 

Aku membuka pintu kamar dengan penuh tekad. Apa pun bakal kusembunyikan sampai tuntas. Biarpun cuma polesan luar saja nggak apa-apa. Demi menjadi sosok yang bisa disukai oleh orang itu. "Ibu, ajari aku cara *makeup*!!"

 

Strategi besar Operasi Karakter Gadis Anggun-ku pun dimulai dari sini!

 

Aku membuka lemari pakaian untuk memilih baju.

 

"Pakai yang dipilihkan kemarin saja kali ya..."

 

Ajaibnya, sejak aku berhenti mengepang rambut, ganti kacamata dengan lensa kontak, dan mulai pergi ke sekolah dengan penampilan baru, aku jadi punya teman di kelas. Apa beneran segampang itu? Kalau ditanya begitu, mungkin jawabannya tidak sesederhana itu, tapi aku merasa selama ini akulah yang memutus komunikasi lebih dulu. Mungkin ini soal mentalitas.

 

Topik soal "perubahan drastis penampilanku" jadi bahan obrolan yang bagus. Dan setelah kucoba bicara, ternyata asyik-asyik saja. Makanya, aku memutuskan minta bantuan para pelopor "anak gaul" itu buat memilihkan baju. Yah, umat manusia kan berkembang berkat kemajuan tahap demi tahap, kan? Sudah sewajarnya kalau aku meminjam kekuatan para pendahulu.

 

"Oke... mari maju dengan ini."

 

Aku bakal bertarung dengan jalur "gadis anggun". Baju biasa pun sepertinya lebih baik yang terlihat dewasa. Aku mengeluarkan rok tipe *overalls* favoritku. Gaya rambutnya *half-up*, diikat dengan pita biru muda yang kubeli di toko aksesoris.

 

Sip, nggak buruk.

 

*Makeup*-nya jangan terlalu tebal. Konsisten pada gaya natural.

*Eyeliner* untuk mempercantik mata dan *foundation* untuk memperhalus kulit. Keduanya tipe kalem yang tidak terlalu mencolok.

 

Aku berdiri di depan cermin.

 

Sip. Nilainya sudah mencapai batas lulus.

 

Kalau begini, seandainya aku jadi pasangan sang *hero* pun...

 

*Yaaa~~ kalau segini sih, masih dimaafkan lah ya buat cinta beda kasta sedikit.*

 

Setidaknya penampilanku sudah sampai di level itu. Merasa lega untuk sementara, aku meraih novel yang baru kubeli dan sempat tergeletak begitu saja.

 

"Shiori-chan? Ini Katari. Boleh aku masuk?"

 

He……?

 

……GAWAAAATTTTTTTTT!!!!

 

Tadi kupikir waktunya masih luang, makanya aku malah asyik baca novel romansa yang ilustrasinya agak vulgar!? Gawat banget ini!? Sudah kurang lima menit dari waktu janjian! Bodohnya aku!

 

Secepat kilat kupasang sampul buku ke novel itu. Sampul dari buku sastra murni yang Ibu belikan, katanya sih masuk peringkat atas di toko buku. Aku bakal bertahan dengan ini!

 

"I-iya, silakan."

 

Pintu dibuka dan Masato-san masuk sambil tersenyum ramah.

 

Ah... silau banget...

 

"Halo, Shiori-chan."

 

*Ough.*

 

Bahaya. Jangan kalah, diriku. Kamu kan mau jadi gadis anggun!!

 

"Iya, halo."

 

Yo-yosh, bagus. Bagus sekali. Sapaan tadi rasanya sudah cukup elegan, kan?

 

Entahlah. Tepat saat aku merasa lega, Masato-san membelalakkan matanya seolah menyadari sesuatu.

 

"Eh, hari ini kamu nggak pakai seragam ya."

 

Aaahhh se-neeeee-ngnyaaaaaa~~~~ beneran ada ya di dunia nyata cowok yang memperhatikan hal sekecil itu~~~~.

 

"I-iya. Soalnya kalau dipikir-pikir, rasanya aneh juga kalau hari libur tetap pakai seragam."

 

Coba deh, pamer sedikit ah. Aku memutar kursi untuk memperlihatkan penampilanku hari ini. Terima kasih, teman-temanku. Lihatlah kilauan ini. Zirah ini adalah bekal pemberian dari kalian.

 

"Hehe~ bagus kok, cocok banget sama kamu. Karena biasanya cuma lihat kamu pakai seragam, jadi terasa segar."

 

Ooufh xixixi...

 

Bukan! Bahaya, bahaya... eh tapi beneran aku seneng banget... nggak kuat... untung aku sudah berjuang...

 

Aku nggak bakal membiarkan diriku diserang terus. Rasakan seranganku yang sudah kuasah dengan pedang bernama "keanggunan" demi hari ini!

 

"Fufufu, terima kasih. Pakaian biasa Masato-san juga... keren."

 

"Pujian nggak bakal bikin tugasmu berkurang lho ya~?"

 

Eh? Balasannya kok gitu. Kamu tuh ganteng banget, berhenti bersikap keren begitu!!

 

"Oke... mari kita mulai, eh tapi masih ada lima menit lagi ya."

 

"Benar, ya. Jadi bagaimana?"

 

"Mumpung masih ada waktu, kita ngobrol santai dulu saja baru belajar."

 

Cowok ganteng yang penuh perhatian *is God*. Ini sudah keempat kalinya, tapi level ketampanan Masato-san beneran ketinggian. Kalau di karya fiksi, tingkah laku begini paling bakal dikatain "halu banget".

 

"Ah, hari ini kamu lagi baca buku apa?"

 

……Gawaaat. Gawat banget ini.

 

Nggak, tunggu sebentar. Sampul buku (sampul palsu) sudah terpasang.

 

Isi aslinya yang merupakan novel romansa panas ini belum ketahuan.

 

Kalau aku memperlihatkan ini, dia pasti bakal percaya! Katanya buku ini lagi populer juga!

 

Ada suara di dalam hatiku yang bertanya.

 

*Apa tidak apa-apa dengan perlengkapan (sampul buku) seperti itu?*

 

Aku pun mengacungkan jempol sambil tersenyum.

 

*Tidak apa-apa. Tidak ada masalah.*

 

"A-ah, itu... bukunya Tasaka-san yang ini..."

 

"Ah~ itu seru ya! 'Musim Panas Jatuh dari Lantai Dua'... Gaya hidup seperti apa ya sampai bisa kepikiran kalimat pembuka kayak gitu..."

 

...

 

Ehe☆ Buku yang kupakaikan sampul palsu itu sama sekali belum kubaca walau cuma satu milimeter☆

 

Apa maksudnya musim panas yang jatuh?? Emangnya musim panas itu barang yang bisa jatuh??

 

Padahal novel panas punyaku ini di kalimat pembuka pertamanya saja sudah ada cowok ganteng yang cuma pakai celana dalam jatuh dari langit dan dimulai dengan adegan *lucky sukebe*, apa ini aman?☆

 

Apa-apaan sih ini! Sampulnya sama sekali nggak membantu! (Kesal)

 

"A-ahahaha benar juga ya..."

 

Ba-baca deh. Sumpah, lain kali kalau mau nyiapin sampul palsu harus sudah dibaca dulu...

 

Meski mungkin sudah terlambat, di dalam hati aku meminta maaf sebesar-besarnya kepada penulis yang novelnya kupinjam sampulnya ini.

 

Ah~ bahagia banget rasanya~.

 

Aku memang nggak terlalu suka belajar, tapi aku suka sekali saat-saat diajar oleh Masato-san.

 

Cara mengajarnya bagus dan mudah dipahami. Sejujurnya, awalnya aku pikir mau seburuk apa pun cara mengajarnya juga nggak apa-apa, tapi ternyata dia beneran jago.

 

Katanya ini pertama kalinya dia mengajar, tapi rasanya sulit dipercaya.

 

*High-spec* banget, paket lengkap tanpa celah.

 

"Di bagian ini, cara bacanya berubah lagi. Karena tanda ini pindah ke sini, jadi yang benar adalah~"

 

Hmm...?

 

Sekarang aku sedang mencoba belajar serius, tapi aku memang payah di pelajaran Bahasa Jepang. Apaan sih sastra Mandarin kuno (*Kanbun*) ini. Setidaknya jadilah bahasa Jepang yang normal gitu lho, *please*.

 

Cara mengajar Masato-san sudah sangat bagus, jadi memang otakku saja yang bermasalah.

 

Saat aku sedang berpikir begitu sambil mati-matian membaca teks pelajaran... aku merasakan sesuatu di punggungku.

 

Eh?

 

"Oke? Shiori-chan, sekarang perhatikan jari yang kutunjuk ya. Urutan bacanya bareng-bareng..."

 

──Seketika, sebuah guncangan manis menjalar ke seluruh tubuhku.

 

Kata-kata yang dibisikkan tepat di telingaku itu langsung menghantam otakku.

 

A-apa-apaan ini?

 

Apa siaran ASMR khusus buatku baru saja dimulai?

 

Tadi dia bilang mau menunjuk pakai jari, tapi maksudnya menunjuk bagian mana???

 

Seluruh tubuhku terasa mendidih.

 

Indikator di dalam diriku sudah mencapai batasnya dan meledak.

 

"Ough."

 

Ah, gawat.

 

Refleks aku menutupi mulutku.

 

Ini sudah batasnya.

 

Aku pun berdiri dengan penuh tenaga.

 

"Ma-maaf, saya mau ke kamar mandi sebentar..."

 

"A-ah. Oke oke, sori ya."

 

Tanpa memperlihatkan ekspresi wajahku, aku keluar kamar menuju toilet.

 

Segera kututup pintu toilet rapat-rapat.

 

Lalu aku terduduk lemas begitu saja di sana.

 

"Haaaah────...! Haaaaah────...!"

 

Sensasinya masih membekas di punggungku.

 

Sensasi hangat saat dia mendekat seolah menyelimutiku. Kata-kata yang diucapkan di dekat telingaku.

 

Aroma manis yang menggelitik hidungku.

 

Topeng "gadis anggun"-ku sudah retak dalam waktu singkat.

 

Habisnya itu... itu beneran curang banget.

 

Keringat mulai menetes.

 

Hasrat memuakkan yang meluap dari dalam diriku ini... sosok seperti ini benar-benar tidak pantas jadi seorang *heroine*. Aku tahu itu.

 

Tapi, sekarang saja.

 

Biarkan aku mengatakannya sekarang saja. Aku ingin membuang topeng ini dan berteriak sebagai diriku yang sebenarnya.

 

Nanti aku bakal pakai lagi kok topengnya. Sekarang saja, biarkan aku...

 

"TABRAK AKU SEKARANG JUGA DONGGGGGGG!!!!!"

 

Perasaan yang sangat jauh dari kata "anggun" itu kuteriakkan sepuas hati.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close