Chapter 3: Roda Takdir Mulai Berputar
───● Teman Masa Kecil Tipe
Mahasiswi Merasa Khawatir ●○●
Kantin universitas itu pada dasarnya
adalah tempat dimana kita bakal sering nggak dapat kursi kalau baru datang pas
jam istirahat makan siang dimulai.
Alasan utamanya karena jumlah kursi yang
ada jauh lebih sedikit dibanding jumlah mahasiswanya.
Mungkin karena sudah tahu nggak bakal
dapat tempat, banyak mahasiswa yang lebih memilih keluar kampus begitu kelas
selesai.
Tapi jujur saja, bagi mahasiswa, makan di
kantin adalah pilihan terbaik karena harganya murah dan rasanya lumayan.
"Koumi~! Sini, sini~!"
Makanya, punya teman yang mau memesankan
kursi duluan seperti ini adalah hal yang harus patut disyukuri dalam kehidupan
kampus.
Sambil membawa bento makan siang, aku
berjalan hati-hati menyelinap di antara kerumunan orang menuju tempat Mizuho
yang sedang melambaikan tangannya dengan semangat.
"Mizuho, makasih ya! Kamu semangat
banget hari ini~"
"Nfufu. Pastinya dong! Ayo makan,
makan~!"
"Tapi Mizuho, makan *Katsudon*
siang-siang begini... nggak keberatan?"
Mizuho adalah teman yang paling ceria di
antara teman-temanku. Sejak zaman SMA, dia selalu riang, suka heboh, dan entah
sudah berapa kali aku terselamatkan oleh keceriaannya yang polos itu.
Meskipun urusan "menangkap
laki-laki" lalu ditolak mentah-mentah sudah jadi makanan sehari-harinya...
aku heran kenapa anak seimut ini nggak punya pacar juga.
Kuncir dua yang jadi ciri khasnya, matanya
yang bulat besar, perawakannya yang ramping, dan tingginya yang lebih pendek
dariku membuatnya terlihat sangat imut. Dia memakai kaus *oversized* dengan
jaket denim tipis. Dari celana pendek hitamnya, kakinya yang ramping dan indah
terlihat semampai. Senyumnya yang ramah bahkan terkadang membuatku yang sesama
perempuan saja sedikit berdebar.
"Hehehe~! Hari ini hari yang sangat
penting, makanya aku makan *Katsudon*! Supaya menang (*Katsu*)!"
"Menang tanding apa...?"
"Tentu saja... pertarungan
cinta!!"
Sepertinya sifatnya yang terlalu
"tergila-gila pada cinta" itu yang jadi nilai minusnya? Aku cuma bisa
tersenyum kecut.
"Mau nembak seseorang?"
"Iya!! Kali ini aku rasa peluang
menangnya tinggi! Soalnya kami sudah sering mengobrol!!"
"Ah, jangan-jangan Kak Keito dari
klub bulu tangkis?"
"Bener banget! Pas lagi di klub
kayaknya kami sering curi-curi pandang, ini sudah pasti dia naksir aku! Begitu
pikirku!"
"Eh, standarmu nggak
kerendahan...?"
Itu kan kalimat yang sering diucapkan
orang-orang yang nonton konser idola dan kebetulan dapat kursi paling depan...
"Aah~! Koumi mentang-mentang lagi 'di
atas angin' belakangan ini jadi meremehkanku ya!?"
"Ng-nggak ada yang lagi di atas angin
kok~"
"Aah! Kamu senyum-senyum begitu!
Curang, curang!"
Maaf ya Mizuho, tapi hubunganku dengan
Masato memang sedang sangat lancar. Saat aku sedang memasang wajah penuh
kemenangan itu, sebuah tangan menepuk bahuku.
"Tunggu saja ya... kalau aku sudah
dapat dia, ayo kita *double date* gaya-gayaan..."
"Duh, jangan ngomong begitu, itu
namanya *death flag*, mending berhenti deh..."
Beneran deh, Mizuho sama sekali nggak
berubah sejak SMA. Ceria, selalu jadi pusat perhatian kelas, dan selalu
menghidupkan suasana. Karena dia adalah Mizuho yang seperti itu, aku
benar-benar ingin dia bahagia dari lubuk hatiku yang terdalam.
Selesai menghabiskan *Katsudon*-nya,
Mizuho menangkupkan kedua tangan.
"Terima kasih atas makanannya...
Kalau begitu! Aku berangkat ke ruang klub dulu, tunggu kabar baik dariku
ya!"
"Eh!? Sekarang!? Mendadak
banget?"
"Lebih cepat lebih baik! Takdir nggak
akan menunggumu selamanya, Anak Muda..."
*Ck, ck, ck.*
Sambil menggoyangkan telunjuknya yang
mungil dengan gerakan imut, Mizuho bangkit dari kursinya. Aku terus menatap
punggungnya yang menjauh dengan riang sampai dia benar-benar menghilang.
"Bakal nggak apa-apa ya dia..."
Sambil menyuap pasta, aku mencoba
memikirkan peluang keberhasilan pernyataan cinta Mizuho. Kak Keito. Senior di
klub bulu tangkis yang memang ramah kepada semua orang.
Tapi menurutku dia seperti punya niat
terselubung, dan jujur aku agak tidak suka padanya.
Dia jelas-jelas cuma mau bergaul dengan
beberapa senior perempuan tertentu saja...
Aku melihat jam tangan. Masih ada sedikit
waktu sebelum jam ketiga dimulai.
"Mampir ke gedung klub dulu kali
ya..."
Jam ketiga aku sekelas dengan Masato.
Sebenarnya aku ingin segera memesankan kursi untuknya, tapi aku juga penasaran
dengan pernyataan cinta Mizuho. Kalau dia berhasil, aku harus ikut
merayakannya, kan.
Selesai makan, aku segera mengirim pesan
singkat pada Masato lalu menuju ke gedung klub.
Gedung klub. Area yang biasanya baru ramai
setelah jam ketiga selesai ini sekarang masih sepi. Karena lokasinya agak jauh
dari gedung perkuliahan, orang yang datang ke sini di sela-sela jam pelajaran
biasanya cuma mereka yang memang lagi nggak ada kelas.
"...Nggak ada ya."
Aku mengecek ruang klub bulu tangkis, tapi
Mizuho tidak ada di sana. Mungkin saja sudah selesai, atau malah rencananya
batal.
"Ke kelas saja deh."
Sama sekali nggak ada kabar dari Mizuho...
Padahal kalau dia berhasil, harusnya dia bakal langsung pamer dengan heboh.
"Eh? Kamu serius bilang 'mau pacaran
denganku'?"
Terdengar sebuah suara. Aku punya firasat
buruk, lalu berjalan menuju arah suara itu.
(...!)
Aku menyembunyikan diri di balik bayangan.
Di bagian paling pojok gedung klub, di depan tangga darurat, ada sepasang
laki-laki dan perempuan. Punggung yang membelakangiku dengan ciri khas kuncir
dua rendah itu...
(Itu Mizuho...)
Mana mungkin aku salah lihat. Itu
sahabatku.
"Hah? Kamu beneran ngomong begitu?
Aku ini cuma menyapamu karena disuruh Satsuki supaya sesekali ramah sama anak
tingkat satu, makanya terpaksa aku lakuin. Cuma gara-gara itu kamu langsung
salah paham?"
"...Maafkan aku."
...Hah?
Aku bisa merasakan suhu tubuhku menurun
drastis dalam sekejap.
"Ya sudah kalau sudah paham... Jangan
pernah lakuin hal kayak begini lagi ya? Buang-buang waktu. Terus, jangan
berani-berani laporin ini ke cewek lain, awas ya. Sadar posisi dong, siapa yang
milih dan siapa yang dipilih. Dah."
Nggak dimaafkan.
Nggak dimaafkan, nggak dimaafkan, nggak
dimaafkan, nggak dimaafkan.
Aku tidak bisa memaafkan fakta bahwa orang
seperti itu telah menghancurkan hati Mizuho.
"Menguping itu perbuatan jahat lho,
Bos?"
"……! ……Mizuho…… maaf."
Tanpa sadar, Mizuho sudah kembali ke balik
bayangan tempatku bersembunyi.
"Nggak apa-apa, nggak apa-apa! Kamu
datang karena khawatir, kan? Kebaikan Koumi-dono ini benar-benar membuat
*sessha* bercucuran air mata~!"
"Mizuho……"
Aku tahu. Karena kami sudah berteman lama,
aku sangat paham. Bahkan orang yang baru mengenalnya pun pasti tahu.
Mizuho yang sekarang hanya sedang
berpura-pura tegar.
"Wah~! Padahal aku pikir kali ini
bakal berhasil! Ternyata ditolak mentah-mentah! Gwaaaa HP-ku sudah nol~ hiks
hiks hiks."
"……"
Mizuho menjulurkan lidahnya sambil
berakting seolah baru saja ditebas pedang.
"Iya…… Mizuho pasti bakal ketemu
orang yang jauh lebih baik daripada cowok itu."
Aku tahu. Kata-kata kosong seperti ini
tidak akan bisa menyembuhkan hati Mizuho.
Aku tahu ini hanya hiburan murahan.
Mizuho pun pasti tahu, tapi tetap saja...
"Uooooo! Aku jadi semangat lagi!! Aku
bakal berjuang~! ……Makanya Koumi harus jaga baik-baik cowokmu yang sekarang,
ya?"
"Iya……"
Kenapa ya. Malah aku yang rasanya ingin
menangis. Kenapa Mizuho harus mengalami hal seperti ini?
Padahal Mizuho itu sangat imut, tulus, dan
baik kepada siapa pun…….
"Nah. Jam ketiga kamu sekelas sama
dia, kan? Sana cepat pergi!"
"Eh…… tapi Mizuho……"
"*Sessha* ingin menikmati angin malam
sebentar di sini~! Jangan biarkan dia menunggu! Cepat sana!"
"……Mizuho."
*Syuh, syuh.* Mizuho mengibaskan
tangannya, menyuruhku pergi.
Banyak kata yang tertahan di
tenggorokanku…… tapi akhirnya aku menelan semuanya kembali. Aku merasa suara
apa pun yang kukeluarkan sekarang malah akan berdampak buruk.
Untuk saat ini, lebih baik membiarkannya
sendirian.
Aku melangkah menuju gedung perkuliahan.
Aku tidak menoleh ke arah Mizuho.
Karena aura yang kurasakan dari punggung
Mizuho terasa jauh lebih rapuh dari biasanya.
Bel tanda kuliah dimulai berbunyi, dan
tepat di saat itu aku menyelinap masuk ke kelas.
(*Hampir saja!*)
Aku menempelkan kartu absen ke *card
reader*, lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling kelas.
*TL/Note: Card reader adalah
alat pemindai kartu (scanner) yang digunakan untuk mencatat kehadiran dengan
menempelkan kartu absen/mahasiswa.
Di barisan belakang pojok, seorang
laki-laki melambaikan tangan ke arahku.
(*Ah, aku cinta dia.*)
Aku merasakan dorongan perasaan yang
meluap-luap…… namun, kejadian Mizuho tadi kembali melintas dan membuat dadaku
perih.
Bajingan itu…… tidak akan pernah
kumaafkan.
"Maaf ya, makasih sudah pesankan
kursi……!"
"Nggak apa-apa kok. Bukannya kita
memang harus saling bantu? Lagian aku juga selalu dipesankan kursi sama
kamu."
Ah, dia benar-benar terlalu keren dan
imut.
Orang yang merangkum semua elemen baik di
dunia ini. Tuhan. Justru karena itulah, mengingat sampah yang tadi membuatku
ingin muntah. Emosi gelap kembali bergejolak di dalam diriku.
Beraninya dia…… melakukan itu pada
Mizuho…… tidak dimaafkan.
"……Ada masalah ya? Wajahmu kelihatan
muram."
"……Sebenarnya begini."
Masato menyadari perubahan ekspresiku yang
kecil dan mengkhawatirkanku. Dia benar-benar orang baik.
Aku menceritakan seluruh kronologinya.
Tentu saja, aku merahasiakan bagian tentang Mizuho yang gampang jatuh cinta.
Aku hanya bercerita bahwa sahabatku mengalami kejadian buruk.
Betapa aku tidak bisa memaafkan senior
itu.
Aku berusaha sekuat tenaga menahan suara
agar tidak menjadi terlalu keras karena emosi.
"……Parah banget…… apa-apaan
itu."
"……Iya, kan."
Masato pun refleks mengernyitkan dahi.
Bagaimanapun juga, itu keterlaluan.
Laki-laki memang banyak yang sombong dan
arogan, tapi yang kali ini benar-benar keterlaluan. Ini pertama kalinya aku
mendengar kata-kata sejahat itu.
"Nggak bisa dimaafkan ya…… rasanya
sah-sah saja kalau lapor ke senior lain soal kelakuannya…… eh, tapi mungkin itu
cuma pemikiran dangkal dariku saja ya."
"……Mizuho itu orangnya terlalu baik,
jadi dia pasti nggak akan suka kalau aku begitu.
Padahal secara pribadi aku ingin sekali
mengadukannya ke semua orang."
Senior itu populer di kalangan perempuan.
Semua orang tidak tahu sifat aslinya.
Jadi kalaupun aku mengadukannya, posisi
kami jelas tidak menguntungkan. Karena tahu hal itu, aku jadi makin kesal.
"……Entahlah, bajingan itu memang
nggak bisa dimaafkan, tapi kalau sudah begini……"
Masato yang sempat terdiam lama tiba-tiba
menoleh dengan wajah cerah.
"Satu-satunya cara cuma harus jadi
lebih bahagia dari dia, kan? Biar dia rasa. Menemukan pasangan yang jauh lebih
baik dari orang macam dia dan menunjukkan kalau kita bahagia, bukankah itu
pembalasan dendam yang paling telak?"
……Beneran deh, orang yang kusuka ini
kepribadiannya terlalu baik.
"Iya…… benar juga. Aku ingin Mizuho
bahagia."
Aku mengingat kembali sosok Mizuho yang
rapuh tadi…… dan mendoakannya setulus hati.
— Jam keempat berakhir.
Hari ini hari Rabu. Tadinya aku berharap
bisa kencan sama Masato hari ini, tapi...
"Maaf! Tiba-tiba aku dipanggil dan
harus segera pulang! Maaf ya!"
Aku tidak bisa menghentikan Masato yang
langsung lari keluar universitas dengan terburu-buru.
Waktu kutanya siapa yang memanggil, dia
jawab "Orang yang sudah seperti orang tuaku sendiri!", jadi ya mau
bagaimana lagi. Besok juga masih bisa ketemu.
Setelah mengantar Masato pergi, aku
membuka ponsel.
Belum ada balasan pesan dari Mizuho sejak
tadi.
Aku mencoba menelepon, tapi tidak
tersambung.
"……Bakal nggak apa-apa ya dia……"
Meskipun ditolak sudah jadi hal biasa bagi
sahabatku itu, aku rasa kejadian kali ini benar-benar memukulnya.
Selama melihatnya dari samping, aku selalu
merasa Mizuho itu hanya jatuh cinta pada konsep 'jatuh cinta' saja, bukan
benar-benar mencintai 'lawan bicaranya'.
Seandainya suatu saat nanti Mizuho bisa
menemukan seseorang yang benar-benar dia cintai dari lubuk hatinya…….
Seseorang yang seperti Masato bagiku.
"Besok, aku traktir parfe saja kali
ya."
Mengingat Mizuho yang sangat suka makanan
manis, aku pun melangkah pulang.
───● Si OL Tsundere Menangis ●○●
Kuliah bersama Koumi sudah selesai. Hari
ini bukan hari Jumat—hari jadwalku kerja di bar.
Yah, kalau bisa masuk kerja sih lebih
baik! Aku harus melunasi pinjamanku, jadi aku selalu butuh uang. Karena ini
hari Rabu, Seira-san yang merupakan pelanggan tetapku pasti tidak akan datang,
jadi tugasku kemungkinan besar hanya di bagian penerima tamu atau membuat
minuman di belakang layar.
"Permisi, selamat malam~"
Waktu menunjukkan lewat pukul 18.00.
Bar sudah buka, dan di ruang istirahat
hanya ada satu orang. Seorang senior yang sedang menata rambut di depan cermin
menyadari kedatanganku.
"Ooh! Masato, lama tidak kelihatan!
Eh, dengar-dengar kamu sudah punya pelanggan tetap ya? Hebat juga kamu."
"Kak Yusuke, selamat malam.
Ahahaha... itu cuma kebetulan saja kok, beneran..."
"Tipemu memang beda dengan kami, tapi
aku yakin kamu pasti populer banget. Sayang saja Ibu Aika bilang jadwalmu
dikunci setiap Jumat!"
Kak Yusuke adalah senior yang banyak
membantuku saat aku baru mulai bekerja.
Di toko ini, dialah yang pemikirannya
paling mirip dengan dunia asalku. Meski gayanya agak *playboy*, sih. Dia tidak
arogan terhadap perempuan dan kepribadiannya baik... aku sangat menghormatinya.
Kecuali bagian di mana dia terlalu suka perempuan dan punya banyak "cerita
kemenangan" yang luar biasa di bidang asmara, ya...
"...Lho, luka itu kenapa, Kak?"
Entah kenapa lengan kanannya dibalut
perban tipis.
"Ah, ini? Iya, kemarin kena 'serang'
sama pacarku... Kamu juga harus hati-hati ya, HAHA!"
"Eh, mumpung ingat, sini deh
Masato."
"Eh? Ada apa, Kak?"
Aku dipanggil oleh Kak Yusuke dan disuruh
duduk di kursi. Kak Yusuke mengambil *wax* yang tadi dia gunakan.
"Aku rasa Masato bakal cocok banget
pakai gaya rambut *all-back* (sisir belakang). Anggap saja ketipu, mau nggak
hari ini rambut lo gue yang tata?"
"Eeeh..."
"Tidak apa-apa! Ini yang kubilang
lho, anak sekolah penata rambut! Serahkan saja kepadaku."
Kalau pelanggan yang sampai memesanku
secara khusus bilang begitu, dampaknya bakal besar buatku.
"Cuma buat hari ini saja ya,
Kak?"
"Sip, serahkan ke kakakmu ini~!"
Kak Yusuke mengeluarkan *wax* tipe gel dan
catokan rambut dari tasnya. Aku merasa tidak akan cocok, tapi ya sudahlah...
"Masato! Meja nomor 3 minta dua Gin
Highball!"
"Baik!"
Meskipun bukan akhir pekan, hari Rabu pun
ternyata cukup sibuk. Bahkan ada pelanggan "tingkat dewa" yang datang
setiap hari. Aku membuat minuman sesuai pesanan lalu mengantarkannya ke meja.
"Maaf menunggu..."
"Jadi pacarku dong!"
"Eeeh, jangan bercanda terus
ah~"
...Ya. Sepertinya aku benar-benar tidak
dianggap (tidak terlihat). Baguslah kalau begitu. Aku membawa gelas kosong dan
kembali ke belakang. Hal seperti ini sudah jadi makanan sehari-hari.
Saat aku sedang mencuci gelas di
wastafel...
"Masato! Maaf banget, bisa tolong
belikan tisu toilet di toko obat depan stasiun tidak!? Sepertinya stoknya habis
nih!"
Kak Yusuke menjulurkan wajahnya ke
wastafel dengan wajah panik sambil memintaku belanja. Wah, gawat kalau tisu
toilet sampai habis. Apa pas tutup toko kemarin toiletnya sempet tidak dicek
dengan benar ya?
"Siap! Aku berangkat sekarang!"
"Maaf ya! Semuanya lagi melayani
pelanggan nih... kartunya ada di situ! Minta kuitansinya ya!"
"Baik!"
Aku menyeka tangan dan keluar toko. Agak
malu sih jalan-jalan di luar dengan gaya rambut dan dandanan begini, tapi ya
sudahlah. Hari sudah gelap. Depan stasiun dipadati oleh para pekerja kantor
yang baru pulang dan para pelajar. Meski bukan stasiun kota besar, tapi
orang-orangnya cukup banyak sampai aku harus berhati-hati jalan agar tidak
bertabrakan.
"Harus cepat-cepat beli dan
kembali..."
Aku tidak punya hobi jalan-jalan dengan
dandanan begini di tengah keramaian.
Lebih baik cepat selesai dan kembali ke
toko.
Begitu pikirku. Tapi, tepat saat toko obat
tujuanku sudah terlihat...
"Maaf...! Lensa kontakku jatuh...!
Maafkan aku...!"
Seorang gadis sedang berlutut di pinggir
jalan sambil menangis. Aku tidak tahu apakah dia menangis karena lensa
kontaknya jatuh, atau ada faktor lain... Tapi melihat orang-orang di sekitar
yang berlalu-lalang tanpa memedulikannya sedikit pun... aku tidak bisa memilih
untuk mengabaikannya.
"Anda tidak apa-apa? Lensa kontak ya?
Mari saya bantu cari."
"Eh...? ...Maaf, terima kasih
banyak."
Dalam kondisi lensa kontak lepas sebelah,
aku tidak tahu seberapa parah penglihatannya, tapi pasti sangat sulit untuk
mencarinya sendiri. Untungnya penglihatanku cukup tajam... aku pasti bisa
menemukannya lebih cepat darinya.
"Maaf ya! Saya sedang mencari lensa
kontak sebentar!"
Aku bersuara sedikit kepada orang sekitar
agar mereka tahu, lalu mengeluarkan ponsel dari saku. Aku menyalakan senter,
lalu mulai merangkak di aspal. Hal kecil begini bukan masalah. Untungnya hari
ini aku memakai seragam toko, nanti kalau kotor tinggal dicuci.
Maaf ya Ibu Aika!
Sekitar satu menit mencari.
Cukup cepat, aku menemukan lensa kontak
kecil yang berkilau di tanah.
"Ketemu...! Ini, ketemu!"
"...!"
Aku mengambilnya dengan hati-hati,
mengeluarkan sapu tangan dari saku, dan menaruh lensa kontak itu di atasnya.
Aku mendekatinya.
Rambut hitam sebahu gadis itu memiliki
warna merah di bagian dalamnya (*inner color*).
Meski wajahnya sembap karena tangisan,
mata gadis itu—berlawanan dengan warna rambutnya—berwarna biru muda yang sangat
indah.
Pasti kalau tidak dalam kondisi begini,
dia adalah gadis yang sangat imut.
Tapi aku hanya sempat melihat wajahnya
sesaat. Dia segera memalingkan wajah dariku dan menunduk. Sepertinya dia tidak
ingin wajah tangisannya terlihat.
"...Ini. Hati-hati ya."
"Terima kasih... banyak."
"Ah, sapu tangannya tidak usah
dikembalikan tidak apa-apa. Kalau begitu, mari!"
"...Eh, a-anu, tunggu
sebentar!!"
...Eeeh, padahal kalau aku langsung pergi
begitu saja tadi bukannya bakal kelihatan keren ya? Aku menoleh sekali lagi ke
arah gadis itu.
....
Hening.
....? Lho, tadi aku dipanggil, kan?
"...Anu... maaf, aku lagi
buru-buru!"
"...Ah."
Rasanya tidak enak, tapi misi adalah
prioritas utama.
Yah, dia kan sudah bisa melihat lagi, jadi
harusnya tidak apa-apa! Sip! Berbuat baik itu memang membuat perasaan jadi enak
ya!
Aku segera membeli tisu toilet dan kembali
ke toko.
"Aku kembali~"
"Ooh! Lama juga ya, ramai?"
"Iya... lumayan ramai tadi!"
Aku segera menuju toilet dan mengisi stok
tisu. Sekalian saja aku bersihkan toiletnya dan hendak menuliskan namaku di
kolom pemeriksaan...
"Lho? Pulpenku mana ya?"
Padahal seingatku tadi ada di saku dada,
tapi sekarang sudah hilang.
Yah, sudahlah. Pasti ada pulpen baru di
kantor.
Tanpa berpikir panjang, aku meminjam
pulpen baru dari gudang belakang. Lalu tiba-tiba—
"Hei Masato! Cepat ganti baju!"
"……Eh?"
"Ada yang memesanmu secara khusus!
Katanya pelanggan tetapmu? Dia datang dan memintamu."
……Seira-san? Padahal aku sudah bilang
kalau aku biasanya cuma ada hari Jumat?
Ah. Mungkin itu ya. Dia memesanku dulu,
dan kalau tahu aku nggak ada, dia baru berencana minta didampingi *boy* lain?
"Ba-baik, segera!"
"Aku antar dia ke meja dulu! Meja
nomor 2 ya!"
"Siap~!"
Aku langsung melemparkan seragam gudang ke
loker dan berganti ke setelan jas untuk pelayanan.
Setelah selesai ganti baju secepat
kilat—bahkan mungkin grup idola pun bakal kaget melihat kecepatanku—aku membawa
gelas dan es menuju meja nomor 2. Di sana, duduk seorang wanita dengan setelan
kerja yang tampak kaku seperti biasanya.
"Seira-san, selamat malam. Kamu
datang lagi ya."
"……Iya."
Lho? Kok nggak semangat? Perasaanku saja
atau kuncir kudanya memang terlihat lemas, dan pipinya pun tampak lebih tirus……
walau begitu, dia tetap cantik sih.
Mungkin dia lelah karena pekerjaan. Kalau
begitu, tugasku adalah memberinya semangat, hari ini aku harus berjuang
keras…….
"Tapi aku kaget lho. Seira-san kan
bilang cuma bisa datang hari Jumat."
"……Tadi, dari luar, aku melihatmu
masuk ke toko ini……"
"Ah, begitu rupanya! Tadi aku habis
belanja sebentar! Karena hari ini rencananya nggak melayani pelanggan, aku
pakai seragam toko! Rasanya lumayan malu juga sih kalau dipikir-pikir……"
Biasanya kalau aku sedang bicara, dia akan
sibuk menatapku atau memalingkan muka, tapi hari ini dia terus menunduk. Waduh,
sepertinya dia beneran lagi *drop* banget.
"……Nggak apa-apa kok. Di sini kamu
nggak perlu menyembunyikan apapun, katakan saja apa pun yang ingin dikatakan.
Aku memang nggak tahu apa yang terjadi pada Seira-san…… tapi seperti biasanya,
mendengarkan cerita Seira-san itu…… aku cukup suka."
"……!"
Seira-san meremas tangannya yang
diletakkan di atas paha dengan kuat. Sepertinya telah terjadi sesuatu yang
sangat menyedihkan baginya…….
"Maaf…… kan aku……"
"……Eh?"
Aku menyadari ada sesuatu yang menetes
satu per satu di punggung tangannya.
Seira-san menangis.
"Maafkan aku…… benar-benar, maafkan
aku……! Aku……!"
Melihatnya begitu, aku pun ikut merasa
sesak……. Tanpa sadar, tanganku terulur ke punggungnya. Perlahan, aku mengusap
punggungnya.
"Nggak apa-apa. Apapun yang terjadi……
aku memang nggak tahu…… tapi Seira-san pasti nggak salah. Kamu orang baik kok,
Seira-san."
Aku sendiri merasa kata-kataku terdengar
hampa. Kami baru kenal sebulan lebih sedikit.
Bertemu pun cuma seminggu sekali. Sebagian
besar waktunya dihabiskan untuk mabuk dan mencaci maki perusahaan atau mantan
pacarnya untuk meluapkan kekesalan.
Namun. Dia pernah menolongku saat aku
kesulitan, dan aku tidak bisa membenci sosok dirinya yang apa adanya saat
bersamaku di sini. Meski kata-kata yang keluar dari mulutnya sering kali
agresif, intinya dia adalah orang yang lembut. Jadi, meski kata-kataku hampa,
jika itu bisa membantunya, aku merasa ingin mengulurkan tangan.
Saat aku terus melakukan itu, Seira-san
mendekatkan tubuhnya padaku. Bahu kami bersentuhan, dan kepala kecil Seira-san
bersandar di bahuku.
……Kalau ketahuan, ini bakal gawat nggak
ya……? Yah, kalau cuma segini kayaknya masih bisa cari alasan. Mungkin.
Lagipula, dalam situasi begini aku tidak mungkin mencampakkan Seira-san begitu
saja.
"Nggak apa-apa, Seira-san. Aku tahu
kok kalau Seira-san itu orang yang lembut."
"……Maaf…… ya……! Aku…… perempuan yang
paling menjijikkan……!"
Sambil terus mengusap punggung Seira-san,
aku merasa sedikit heran. Setiap kali aku bersikap lembut padanya. Setiap kali
jarak kami semakin dekat. Entah kenapa, aku merasa air mata Seira-san justru
mengalir semakin deras.
───● Si Mahasiswi Ceria Bertemu
dengan Takdir ●○●
Cinta itu sesuatu yang indah dan
menyenangkan.
Makanya, begitu masuk kuliah, aku bertekad
untuk mencari cinta yang indah, belajar ya... secukupnya saja, dan menjalani
kehidupan kampus yang bahagia.
Punya banyak teman, main ke banyak tempat,
dandan secantik mungkin, dan membuat banyak kenangan…
Pokoknya menjalani hari-hari yang
berkilauan!
Sudah dua bulan sejak aku masuk
universitas.
Sejauh ini, aku sudah punya banyak teman,
dan aku rasa aku juga cukup sukses di klub!
Hanya saja... soal cinta entah kenapa
tidak berjalan semulus itu.
Ada cukup banyak orang yang menurutku
keren. Baik senior maupun teman seangkatan.
Tapi, gimana ya. Aku memang ingin punya
pacar, tapi aku belum pernah bertemu dengan orang yang membuatku berpikir
"aku ingin jadi pacarnya".
Perdebatan tentang pandangan cinta sering
kali terjadi di sela-sela obrolan pertemanan.
Memang sih di zaman sekarang, bisa diajak
pacaran saja sudah harus bersyukur, jadi aku rasa nggak ada salahnya untuk
terus mencoba mendekati orang dan berusaha agar bisa jadian.
Situasi "punya pacar" itu memang
jujur saja ingin kurasakan.
Lagipula kalau nggak bergerak sendiri,
kesempatan nggak akan datang!
(*Sebenarnya cinta itu... "suka"
itu apa sih?*)
Berpikir seseorang itu keren dan merasa
suka pada seseorang itu berbeda.
Ya iyalah. Aku pikir idola di TV itu
keren, tapi itu bukan berarti aku menyukainya.
Lalu, suka itu apa?
Mungkin, cinta yang aku impikan itu adalah
ketika aku tersentuh oleh gerak-gerik, kepribadian, atau kata-katanya, lalu
jantungku berdegup kencang tak terkendali.
Dan aku sangat ingin terus bersama orang
itu selamanya.
Tapi, hal seperti itu belum pernah terjadi
sekali pun dalam hidupku.
Yah, realitas memang seperti itu, kan.
Makanya semua orang berkompromi,
menyesuaikan diri, dan bersabar. Menemukan orang yang "pas saja".
Makanya aku pun berpikir aku harus
melakukan hal yang sama.
"Eh? Kamu serius bilang 'mau pacaran
denganku'?"
Kenapa aku harus merasakan hal seperti ini
ya.
Ah~ sudah lama sekali rasanya tidak kena
mental begini... Sepertinya ini pertama kalinya aku dikatain sekejam itu.
Padahal aku sudah cukup terbiasa ditolak, lho.
Aku menatap ke arah perginya Kak Keito.
Rasa marah sama sekali tidak muncul.
Rasa marah itu tidak muncul karena di
dalam diriku ada bagian yang merasa kalau omongannya ada benarnya. Mungkin, aku
sendiri juga tidak sebegitu inginnya pacaran dengan dia. Rasanya tidak sopan
bilang begini, tapi aku sendiri pun tidak punya perasaan yang membara padanya.
Jadi, aku juga salah. Kami sama-sama
salah, ya.
……Aku harus mengembalikan tensiku.
"……Semangat, diriku."
Setelah bergumam pelan.
Aku langsung melompat keluar di
sampingnya.
"Menguping itu perbuatan jahat lho,
Bos?"
"……Mizuho…… maaf."
Nggak apa-apa kok. Aku tahu Koumi itu
sangat lembut. Jadi jangan pasang wajah seperti itu.
"Nggak apa-apa, nggak apa-apa! Kamu
datang karena khawatir, kan? Kebaikan Koumi-dono ini benar-benar membuat
*sessha* bercucuran air mata~!"
"Mizuho……"
Jangan pasang wajah sedih begitu dong~!
Tenang saja, tenang saja, aku ini sehat
walafiat.
Mizuho-chan bukan tipe orang yang bakal
menyerah hanya karena masalah sepele begini!
"Wah~! Padahal aku pikir kali ini
bakal berhasil! Ternyata ditolak mentah-mentah! Gwaaaa HP-ku sudah nol~ hiks
hiks hiks."
"……"
Iya, iya! Tingkat keceriaan seperti ini
baru pas buatku!
Aku ingin Koumi juga tertawa, kan!
"Iya…… Mizuho pasti bakal ketemu
orang yang jauh lebih baik daripada cowok itu."
……Koumi-dono beneran lembut banget ya.
Sejak zaman SMA, aku nggak pernah
bertengkar sekali pun sama Koumi.
"Uooooo! Aku jadi semangat lagi!! Aku
bakal berjuang~! ……Makanya Koumi harus jaga baik-baik cowokmu yang sekarang,
ya?"
"Iya……"
Koumi katanya lagi dekat sama seorang
laki-laki belakangan ini.
Kuh~! Iri banget deh! Aku cuma pernah
lihat dia dari kejauhan jadi nggak terlalu tahu, tapi sepertinya tinggi
badannya pas dan dia kelihatan keren. Kapan-kapan aku ingin coba mengobrol
dengannya! Aku mau ikutan godain juga!
Tapi, sekarang.
"Nah. Jam ketiga kamu sekelas sama
dia, kan? Sana cepat pergi!"
"Eh…… tapi Mizuho……"
"*Sessha* ingin menikmati angin malam
sebentar di sini~! Jangan biarkan dia menunggu! Cepat sana!"
"……Mizuho."
Sambil memasang wajah tidak enak hati,
Koumi membelakangiku.
Duh~ kenapa sih pakai wajah serumit itu!
Kalau Koumi bahagia sekarang, aku pun ikut
bahagia, tahu?
Aku kan tahu Koumi sudah cukup menderita
menarik-narik perasaan cintanya yang lama sejak kecil.
Koumi sama sekali tidak menoleh.
Aku terus mengantarnya pergi sampai dia
tidak terlihat lagi, lalu aku menghela napas.
"Haaah... Yah, sudahlah, emang begini
jalannya!"
Aku meregangkan tubuh lebar-lebar.
Area ini agak jauh dari gedung
perkuliahan, dan di jam-jam saat jam ketiga baru akan dimulai begini,
suasananya sepi.
Perlahan, aku mulai melangkah.
"Nah~! Demi Koumi juga, aku harus
segera *move on* dan cari cowok bar—"
Kenapa ya, tiba-tiba suaraku... sulit
keluar.
"Cari... orang... baru... deh."
Tolong, kumohon, berhentilah.
Aku menyelesaikan kuliah sore tanpa ada
satu pun materi yang masuk ke otak.
Jujur, pikiranku melayang entah ke mana.
Untunglah teman yang biasanya duduk denganku hari ini absen, jadi aku
terselamatkan. Sekarang aku sedang beristirahat di kursi salah satu ruang
terbuka di kampus.
"Ditolak mentah-mentah, nih..."
Aku melaporkan hasil pernyataan cintaku ke
grup media sosial teman-teman akrab seangkatan. Tentu saja, aku merahasiakan
kata-kata tajamnya dan kepribadian asli Kak Keito.
Koumi juga mengirim pesan khawatir, tapi
saat ini aku tidak punya keinginan untuk membalasnya. Aku rasa daripada
mengkhawatirkanku, lebih baik Koumi menghabiskan waktu yang menyenangkan
bersama cowoknya. Itu pasti lebih baik untuknya.
Aku menutup ponsel, lalu menyandarkan
punggung ke sandaran kursi.
Dari jendela, sinar matahari senja masuk
menerobos.
Matahari sudah hampir tenggelam.
"Pulang saja kali ya."
Langkah kakiku terasa lebih berat dari
biasanya. Gawat... apa aku bisa memulihkan mentalku besok pagi?
Lagipula, aku melakukan kesalahan besar.
Karena dia senior di klub, ke depannya aku pasti akan tetap bertemu dengannya,
dan itu rasanya jauh lebih berat.
Hanya membayangkannya saja sudah membuatku
merasa depresi.
Setelah naik kereta dari stasiun terdekat
universitas selama beberapa saat... aku sekarang sedang mendekam di toilet
stasiun transit.
Sepertinya, aku mabuk kereta.
"Hahaha... mabuk kereta? Sejak kapan
aku jadi selemah ini ya~"
Memalukan. Benar-benar memalukan.
Aku melihat ke cermin di wastafel toilet,
dan terkejut melihat betapa buruknya wajahku sendiri. Karena terlalu banyak
menangis, area mataku memerah parah, dan riasanku berantakan.
Wajahku terlihat pucat secara tidak wajar.
(*Parah banget... kalau sampai ada kenalan
yang lihat...*)
Aku melepas karet gelang yang menguncir
rambutku menjadi dua.
(*Sekarang, begini saja sudah cukup.*)
Aku membiarkan rambutku terurai panjang,
dan karena tidak ingin wajah seperti ini dilihat siapapun, aku memakai masker.
Saat ini, tidak ada Tonosaki Mizuho yang
selalu ceria. Tapi, tolong maafkan aku, karena besok aku akan berjuang lagi.
"Harusnya di dekat sini ada toko
obat..."
Aku butuh obat anti mabuk yang tetap ampuh
meskipun diminum setelah gejalanya muncul.
Dengan langkah berat dan tubuh yang terasa
sangat lesu, aku meninggalkan toilet stasiun.
Sebenarnya, apa yang sedang kulakukan sih?
Hanya karena ditolak laki-laki saja sampai
sesakit ini.
Hanya karena kebetulan nada bicara lawanku
agak kasar sedikit saja sudah begini, mentalku memang masih belum ada
apa-apanya.
"...!"
Kata-kata itu terus terngiang di kepalaku.
Katanya memori yang disertai emosi kuat
akan terpatri lebih dalam, tapi ini sungguh keterlaluan. Sekali lagi, air mata
menetes. Benar-benar tidak kapok.
*Dugh!*
Bahuku terbentur.
Aku menabrak orang yang lewat.
"Cih...! Kalau jalan pakai mata dong,
dasar jelek...!"
...Lho.
Depanku, tidak terlihat jelas.
Pandanganku... terasa aneh.
Lensa kontakku lepas?
Buruk sekali.
Penglihatan mata telanjangku bahkan tidak
sampai 0,1.
"Maaf...! Lensa kontakku jatuh...!
Maafkan aku...!"
Aah sudah... benar-benar hari ini adalah
hari yang paling buruk. Terpaksa, aku merangkak di tanah. Sosok menyedihkan
yang seolah-olah menggambarkan keadaanku saat ini.
"Anda tidak apa-apa? Lensa kontak ya?
Mari saya bantu cari."
"Eh...?"
Terdengar sebuah suara. Suara laki-laki.
Aku mendongak.
Meski pandanganku kacau karena air mata
dan rabun, tapi samar-samar aku bisa melihatnya.
Memakai rompi *waistcoat* dan dasi
kupu-kupu hitam.
Rambutnya ditata gaya *all-back* yang
rapi, seorang laki-laki yang terlihat seperti pria terhormat (*gentleman*)
sedang berdiri di sana. Padahal situasinya begini.
Tapi secara jujur aku berpikir, dia keren
sekali.
"Maaf, terima kasih banyak."
Lalu aku refleks menundukkan kepala.
Karena aku tidak ingin dia melihat wajahku
yang berantakan ini.
"Maaf ya! Saya sedang mencari lensa
kontak sebentar!"
Aku terkejut.
Demi perempuan sepertiku, laki-laki yang
jelas-jelas terlihat sedang bekerja ini mau...?
Pikiranku kacau.
Logikaku tidak bisa bekerja.
Rasanya sungguh aneh.
Di tengah hiruk pikuk ini. Kebisingan di
sekitar seolah menghilang. Aku merasa
seolah di dunia ini hanya ada aku dan Kakak ini saja.
Suara detak jantungku yang mulai berdegup
kencang terasa sangat berisik.
"Ketemu...! Ini, ketemu!"
Berapa menit sudah berlalu ya? Rasanya
seperti sekejap, tapi juga terasa sangat lama.
Kakak itu melapor padaku dengan nada suara
yang terdengar senang, lalu dia datang mendekat untuk menyerahkannya padaku.
"Ini. Hati-hati ya."
"Terima kasih... banyak."
Dia menaruh lensa kontak itu di atas sapu
tangan dengan sangat hati-hati.
Cara menyerahkannya itu benar-benar sangat
lembut.
Mungkin karena kejadian siang tadi ya.
Kebaikan Kakak ini seolah meleleh masuk ke
dalam dadaku... dan meluap keluar.
Wadah bernama diriku ini terlalu kecil,
sehingga emosi yang meluap itu berubah menjadi air mata yang mengalir keluar.
Tapi, ini bukan air mata kesedihan seperti
tadi.
Aku sekarang, sedang tersenyum.
Hatiku terasa hangat.
Air mata kebahagiaan.
Lalu di sana, aku menyadarinya.
Sebuah perasaan pertama yang belum pernah
kurasakan sejak aku lahir sampai sekarang.
"Ah, sapu tangannya tidak usah
dikembalikan tidak apa-apa. Kalau begitu, mari!"
"...Eh."
Kakak itu hendak beranjak pergi.
Eh, tunggu. Nggak boleh.
Padahal aku belum, belum menanyakan apa
pun.
"A-anu, tunggu sebentar!!"
Langkah Kakak itu terhenti.
Dia berbalik menatapku.
Sosoknya itu, benar-benar terlihat sangat,
sangat mempesona. Mengingat penampilanku yang sekarang sangat menyedihkan, aku
jadi merasa sedikit benci pada diriku sendiri.
Sekarang, aku bukan Tonosaki Mizuho yang
biasanya selalu ceria.
"……!"
Setidaknya aku harus tanya namanya,
atau... aku harus menyampaikan rasa terima kasihku dengan lebih benar, atau...
kenapa Kakak mau menolongku, atau semacamnya.
Banyak sekali kata-kata yang mulai
berputar-putar di kepalaku. Dan selama itu pula, terus-menerus. Terus-menerus.
Jantungku berdegup, *bakun, bakun, bakun*.
Padahal tadi rasanya degupannya kecil. Sekarang berisik sekali, berisik, berisik, berisik!
*Jangan berhenti! Biarkan aku bicara!*
Padahal aku mungkin tidak akan pernah bisa
bertemu dengannya lagi!
Tolong beri aku keberanian! Tuhan!
"Anu…… maaf, aku lagi
buru-buru!"
"……ah"
Aku mengulurkan tangan.
Begitu memalukan.
Tapi, tidak sampai.
Suara-suara dunia kembali terdengar, dan
keseharian pun kembali.
Seolah-olah kejadian barusan hanyalah
sebuah kebohongan, namun panas yang tertinggal di tubuhku dan sapu tangan yang
tersisa di tangan kananku menyangkal hal itu.
(*Bodoh…… bodoh bodoh bodoh! Aku bodoh
sekali……!*)
Harusnya aku menanyakan namanya.
Setidaknya kalau aku tahu namanya, aku
mungkin punya alasan untuk mengembalikan sapu tangan ini!
Lagipula……!
(*Gimana nih, gimana nih……!*)
Sekali lagi, aku mendekam di tempat itu.
Debaran jantung yang masih terus berpacu
dengan berisik.
"……lho, itu."
……Ada sesuatu yang jatuh di tanah.
Aku mencoba memungutnya.
"Pulpen?"
Sekilas, itu hanya pulpen biasa yang tidak
ada istimewanya.
Bukan milikku. Berarti ini milik dia yang
tadi mencarikan lensa kontakku dengan sangat gigih
itu……?
"……eh"
Pulpen itu.
Di bagian pegangannya.
Ada sebuah logo di sana.
Logo universitas tempatku kuliah.
Ini adalah pulpen yang dibagikan kepada
seluruh mahasiswa baru di universitasku.
"Nggak mungkin…… eh……! Berarti orang
tadi adalah……!"
Takdirku, mulai bergerak.
───● Si OL Tsundere Menjadi
Saksi Mata ●○●
"……Haaah……"
Belakangan ini, aku hanya bisa
menghembuskan napas panjang.
Hari ini hari Rabu. Tengah minggu, titik
balik. Biasanya kalau sudah Kamis atau Jumat, aku masih bisa menyemangati diri
karena akhir pekan sudah dekat, tapi hari Rabu memang sering kali menjadi hari
paling melankolis bagi para pekerja kantoran. Aku rasa banyak orang yang setuju
denganku.
"Seira, kamu kenapa sih? Padahal
belakangan ini kamu kelihatannya semangat banget."
"Miki-san……"
Miki-san, seniorku yang belakangan ini
hubungannya makin akrab sampai dia memanggil namaku langsung tanpa embel-embel.
Di kantor, dia dikenal sebagai senior yang handal dan dipercaya oleh
rekan-rekan seangkatan. ……Ya, setidaknya di kantor sih begitu…… aku pun
mengakuinya. Mungkin karena aku sudah melihat sisi dirinya yang
"sebenarnya", aku jadi sering menatapnya dengan tatapan aneh, tapi
Miki-san tetaplah orang baik.
"Yah, atasan memang berisik, dan di
tengah minggu begini emang biasanya semangat lagi *drop* kan~"
"Iya, benar juga……"
Bukan itu alasan sebenarnya kenapa aku
sampai se-depresi ini…… tapi tentu saja aku tidak bisa mengatakannya.
"Nah, pokoknya akhir pekan nanti kita
ke 'Perjamuan' lagi, ya?"
"……Iya."
*Deg*, dadaku terasa sakit. Aku tahu dia
bicara begitu karena ingin menghiburku, tapi saat ini mendengar kata itu
rasanya sangat berat. Aku mengantar kepergian Miki-san yang menyapa karyawan
lain dengan senyum cerah, lalu aku membuka ponsel.
(*Menjijikkan…… padahal aku tahu ini
kriminal……*)
Hari di mana aku menemukan Masato-kun dan
membuntutinya sampai ke rumah layaknya penguntit. Sejak hari itu, sesuatu yang
sangat berat seolah bersarang di hatiku.
Apa sebenarnya yang ingin kulakukan dengan
mencari tahu alamatnya? Akhirnya, di akhir pekan kemarin aku hanya bisa
melamun…… menatap alamat yang tertulis di ponsel tanpa melakukan apa pun.
Tentu saja aku sempat terpikir untuk
menghapusnya. Informasi yang didapat dari tindakan kriminal seperti ini
harusnya segera kuhapus, lalu aku bisa bertemu Masato-kun lagi dengan wajah
cerah. Aku sempat berpikir begitu.
Dia anak yang sangat baik. Kalau aku
bertanya sedikit saja, seperti "Kemarin pas pulang aku kayak lihat orang
mirip Masato-kun jalan ke arah taman, apa rumahmu di daerah situ?", dia
pasti bakal menjawabnya dengan jujur.
Tapi…… aku tidak bisa. Bagian buruk dalam
diriku seolah mencengkeram informasi ini dan tidak mau melepaskannya.
Informasi pribadi pertama yang kuketahui.
Selama ini hubungan kami hanya sebatas pelayan toko dan pelanggan tetap, tidak
lebih dan tidak kurang. Atau lebih tepatnya, hubungan yang tidak akan pernah
bisa menjadi lebih dari itu. Nama aslinya saja aku tidak tahu, dan kalau aku
bilang "aku suka dia" ke orang-orang, paling-paling aku cuma bakal
dikasihani.
……Aku sempat berpikir bahwa informasi ini
mungkin bisa mengubah situasi tersebut.
Berpura-pura kebetulan. Bertemu dengannya
di kehidupan pribadinya di waktu yang tepat.
Saat memikirkan itu, hatiku terasa meluap.
Benar-benar sampah. Tapi aku tidak punya pilihan selain berpegangan pada hal
ini.
Untuk mendobrak hubungan kami yang
sekarang—yang sangat rapuh dan tidak berarti ini—dan untuk bisa lebih dekat
dengan sosoknya yang seperti malaikat itu, aku merasa harus menyentuh hal yang
terlarang. Begitulah pikirku.
"……Haaah."
Lagi-lagi aku menghela napas.
Ujung-ujungnya, informasi ini belum kupakai buat apa-apa.
Sampai sekarang. Menghapusnya saja aku
tidak berani, apalagi melakukan sesuatu yang nyata. Sudah sampah, penakut pula.
Benar-benar tidak tertolong.
"Tuh kan, menghela napas lagi!"
"Hya—!?"
"Ke-kenapa kamu kaget begitu?"
Miki-san sudah kembali lagi ke dekatku
tanpa kusadari. Kalau sampai dia melihat layar ponselku barusan, hidupku tamat!
Aku segera menyembunyikan layar itu.
"Sesuka-sukanya aku, aku nggak bakal
ngintip ponsel orang kok~. Apaan tuh, cowok?"
"Bu-bukan……"
"Eh, terus apa? Jangan-jangan kamu
beli buku foto (*photobook*) Masato-kun!?"
"Maksudnya apa sih……"
Apa-apaan buku foto pelayan bar. Apa
memang ada barang seperti itu?
……Setidaknya isi catatanku tidak ketahuan,
jadi kuanggap aman. Melihat gelagatnya, Miki-san pasti berencana pergi ke bar
itu lagi hari Jumat nanti. Tentu saja aku akan diajak…… kurasa.
Dengan wajah seperti apa aku harus bertemu
Masato-kun? Kalau ekspresiku aneh, dia pasti bakal curiga…… tapi aku tidak
yakin bisa bersikap seperti biasa di depannya.
Saat aku sedang galau begitu, Miki-san
menatapku dengan heran lalu hendak kembali ke mejanya, jadi aku tanyakan saja
hal yang mengganjal. Ya, cuma buat memastikan saja.
Dasar dari kehidupan bekerja adalah Lapor,
Hubungi, dan Diskusi, kan.
"Ngomong-ngomong, buku foto
Masato-kun itu dijual berapa harganya?"
"Ya mana ada barang begituan!"
"Kenapa sih cuma aku yang harus
lembur, dasar bos sialan……"
Akhirnya, dengan berbagai macam alasan,
hanya aku satu-satunya orang di divisi yang diperintahkan lembur, dan sekarang
aku baru dalam perjalanan pulang. Karena aku menyelesaikannya dengan cepat,
jamnya belum terlalu larut, tapi tetap saja menguras tenaga yang tidak perlu.
"Hari ini aku mau cepat pulang, main
game, terus tidur……"
Aku melihat jam tangan. Waktu menunjukkan
pukul 19.00. Meski sudah hampir masuk musim panas, jam tujuh malam sudah cukup
gelap. Tapi meski begitu, area depan stasiun sama sekali tidak kekurangan
cahaya berkat lampu jalan dan lampu-lampu pertokoan.
(*Ngomong-ngomong, aku tadi mau beli
lotion dan pelembap wajah……*)
Sesampainya di dekat stasiun, aku teringat
kalau stok kosmetikku hampir habis. Untungnya di depan stasiun ada toko obat
yang cukup besar, jadi aku putuskan beli di sana saja. Aku mengubah arah
jalanku sedikit menuju toko obat tersebut.
"……Eh."
Tepat di depan toko obat. Di tengah
keramaian orang-orang yang menuju stasiun. Seorang laki-laki sedang menyerahkan
sapu tangan kepada seorang gadis yang memakai masker.
Kalau hanya melihat itu, orang pasti
mengira mereka adalah pasangan kekasih. Tapi laki-laki itu memakai seragam toko
yang sangat kukenal. Meski gaya rambutnya berbeda dari biasanya, mataku yang
memendam rasa padanya tidak bisa dikelabui.
"Masato-kun……?"
Suaraku keluar sangat kecil. Tentu saja
tidak akan sampai padanya. Suara yang mudah tertelan oleh kebisingan di depan
stasiun. Meski begitu, aku hanya bisa berdiri mematung dengan mulut ternganga.
Gadis itu tentu saja tidak kukenal.
Gadis itu terlihat seolah sedang menangis.
Aku merasa seolah sedang melihat cuplikan
sebuah cerita. Suara di sekitar dan orang-orang seolah menghilang dari dunia,
menyisakan mereka berdua yang tertanam jelas di kepalaku.
Persis seperti, ya. Adegan di mana seorang
pangeran bertemu dengan putri. Adegan di mana hati sang putri luluh oleh
kebaikan sang pangeran.
*“Terus, aku gimana?”*
Emosi gelap mulai bergejolak liar di dalam
diriku. Dalam pertemuan ini, aku yang hanya menonton dari luar lapangan ini,
sebenarnya siapa?
Figuran? Yang cuma bisa cemburu saat
melihat adegan pertemuan dengan *heroine* utama?
Pemeran pembantu? Yang naksir sepihak sama
si protagonis, lalu dihujat pembaca karena dianggap cuma jadi pengganggu?
Nggak mau, nggak mau, nggak mau, nggak
mau.
Aku. Aku, aku, aku, aku!
"……huegh."
Rasanya mual, aku bertumpu pada lutut.
Belakangan ini aku terus-menerus
dipermainkan oleh emosi kotor seperti ini.
Tapi, tapi aku nggak mau menyerah. Aku
mencengkeram erat bagian dadaku yang jantungnya berdegup liar, lalu menatap
gadis yang masih terpaku di sana.
Dia memakai masker.
Wajahnya berantakan karena air mata……
rambutnya kusut, bajunya pun kotor di sana-sini seolah dia baru saja merangkak
di tanah.
Sejujurnya, dalam kondisi begitu, dia sama
sekali tidak terlihat imut.
"……huegh, ukh, ukh……!"
Aku pun boleh, kan! Begitu pikiran itu
muncul, di saat yang sama aku merasa mual pada kadar "sampah" diriku
sendiri.
Menjijikkan. Benar-benar menjijikkan.
Si figuran yang cemburu pada sang
*heroine*.
Kekerdilan mental yang sangat pantas untuk
posisi itu.
Sambil memacu kaki yang gemetar lemas, aku
membuntuti Masato-kun dari belakang.
Persetan soal kerjaan besok atau
belanjaan, semuanya sudah tidak penting lagi bagiku.
Begitu sampai di toko dan masuk ke lobi,
seorang pelayan yang baru pertama kali kulihat menyapaku.
"Selamat datang, Tuan Putri. Apakah
ini kunjungan pertama Anda?"
"Bukan……"
"Oh! Begitu ya! Apakah ada yang ingin
dipesan secara khusus?"
"……Masato-kun."
"……Aaah! Jangan-jangan, Anda adalah
Tuan Putri yang selalu memesan Masato ya!"
Ah. Hanya karena hal seperti ini.
Hanya karena hal ini saja hatiku terobati.
Hatiku yang kering kerontang seolah terisi kembali oleh kilauan yang gelap.
Hanya dengan berpikir bahwa di toko ini,
cuma aku "pemilik khusus" Masato-kun, hatiku gemetar karena sukacita.
"Iya. Benar."
"Tuan Putri sedang beruntung ya!
Sebenarnya hari ini Masato jadwalnya libur, tapi dia kebetulan sedang masuk.
Mohon tunggu sebentar karena akan memakan waktu sedikit. Mari saya antar."
Bukan kebetulan sih.
Tapi kalau aku bilang begitu, dia pasti
bakal *ilfeel*, jadi aku diam saja dan mengikutinya.
Aku diantar ke meja, dan gelas minuman
diletakkan di depanku.
Aku datang karena dorongan emosi, tapi aku
harus bicara apa?
*Siapa gadis yang tadi kamu temui?*
Jangan, kalau tanya begitu bakal ketahuan
kalau aku mengintip.
*Apa kamu punya pacar?*
……Mengingat sifat toko ini, meski punya
pun dia pasti bilang nggak punya, tapi kalau sampai dia jawab punya, aku nggak
tahu apa yang bakal kulakukan. Jangan deh.
Akhirnya aku hanya duduk diam tanpa bisa
menyusun pikiran, sampai dia datang.
Gaya rambut *all-back* itu juga cocok
untuknya.
Kesenjangan antara wajahnya yang polos dan
citra tegas dari rambut yang disisir ke belakang itu menciptakan *gap* yang
membuat jantungku berdebar.
"Seira-san, selamat malam. Anda
datang lagi ya."
"……Iya."
Ternyata benar, orang tadi memang dia.
Meski sempat terpikir ada peluang satu banding semiliar kalau aku salah lihat,
kenyataannya tidak begitu.
Mana mungkin aku salah mengenali
Masato-kun.
"Tapi aku kaget lho. Seira-san kan
bilang cuma bisa datang hari Jumat."
"……Tadi, dari luar, aku melihatmu
masuk ke toko ini……"
Setengah bohong. Aku melihatnya di luar
jauh sebelum itu.
Sejak saat kamu bersikap lembut pada gadis
itu…….
Emosi gelap kembali menampakkan wajahnya.
"Ah, begitu rupanya! Tadi aku habis
belanja sebentar! Karena hari ini rencananya nggak melayani pelanggan, aku
pakai seragam toko! Rasanya lumayan malu juga sih kalau dipikir-pikir……"
*Cuma belanja? Bukan, kan? Kamu melakukan
sesuatu dengan gadis itu, kan? Siapa gadis itu?*
*Kenapa kamu nggak kasih tahu aku?*
Perasaanku mendidih seolah sedang direbus.
Aku tidak bisa mengendalikan diriku yang
menjijikkan ini.
"……Nggak apa-apa kok. Di sini Anda
nggak perlu menyembunyikan apa pun, katakan saja apa pun yang ingin dikatakan.
Aku memang nggak tahu apa yang terjadi pada Seira-san…… tapi seperti biasanya,
mendengarkan cerita Seira-san itu…… aku cukup suka."
"……!"
Perasaan yang mendidih itu seketika
didinginkan oleh kelembutannya.
Aku kembali menyadari betapa rendahnya
diriku ini.
"Maaf…… kan aku……"
Apa sejak dulu aku memang se-instabil ini?
Aku tidak bisa menahan air mataku.
"Maafkan aku…… benar-benar, maafkan
aku……! Aku……!"
*Aku sudah menguntitmu.*
*Kejadian hari ini pun, aku melihatnya.*
Nggak bisa kukatakan.
Kalau dia sampai membenciku, aku bisa
mati.
Nggak bisa kukatakan.
Punggungku diusap lembut.
"Nggak apa-apa. Apa pun yang
terjadi…… aku memang nggak tahu…… tapi Seira-san pasti nggak salah. Kamu orang
baik kok. Seira-san."
*Byuarrr!.*
Emosi di dalam diriku langsung melonjak.
Penyesalan karena telah melakukan hal yang
tidak boleh dilakukan.
Dan rasa suka yang tak terbendung
bercampur menjadi satu dan meledak.
Aku menyandarkan seluruh berat tubuhku
padanya.
Hanya untuk saat ini, biarkan aku
bermanja.
"Nggak apa-apa, Seira-san. Aku tahu
kok kalau Seira-san itu orang yang lembut."
"……Maaf…… ya……! Aku…… perempuan yang
paling menjijikkan……!"
Ah. Menjijikkan.
Benar-benar menjijikkan.
Karena sekarang.
Satu jawaban telah muncul di dalam otakku.
Jawaban egois yang tidak tertolong lagi.
*Masato-kun yang salah…….*
*Kamu yang sudah membuatku jatuh cinta
sedalam ini sampai aku jadi gila.*
Ah, aku jadi benci diriku sendiri.
Menyalahkan Masato-kun dengan pelarian
tanggung jawab yang sangat egois.
Aku melingkarkan lenganku di punggungnya.
Aku menariknya mendekat, mengikatnya agar
tidak lepas.
Otakku gemetar dalam sensasi yang manis.
Yang ada padaku sekarang hanyalah hasrat
penaklukan untuk menjadikan Masato-kun milikku sendiri dan mengacak-acaknya.
Aku mengerahkan tenaga dan memeluknya
dengan erat.
Benar, aku harus minta maaf duluan, ya.
Maaf ya, Masato-kun.



Post a Comment