NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Danjohi 1:5 no Sekai demo Futsu ni Ikirareru to Omotta? Geki Juu Kanjou na Kanojotachi ga Mujikaku Danshi ni Honrousaretara Volume 1 Chapter 3

Chapter 3: Roda Takdir Mulai Berputar

───● Teman Masa Kecil Tipe Mahasiswi Merasa Khawatir ●○●

 

Kantin universitas itu pada dasarnya adalah tempat dimana kita bakal sering nggak dapat kursi kalau baru datang pas jam istirahat makan siang dimulai.

 

Alasan utamanya karena jumlah kursi yang ada jauh lebih sedikit dibanding jumlah mahasiswanya.

 

Mungkin karena sudah tahu nggak bakal dapat tempat, banyak mahasiswa yang lebih memilih keluar kampus begitu kelas selesai.

 

Tapi jujur saja, bagi mahasiswa, makan di kantin adalah pilihan terbaik karena harganya murah dan rasanya lumayan.

 

"Koumi~! Sini, sini~!"

 

Makanya, punya teman yang mau memesankan kursi duluan seperti ini adalah hal yang harus patut disyukuri dalam kehidupan kampus.

 

Sambil membawa bento makan siang, aku berjalan hati-hati menyelinap di antara kerumunan orang menuju tempat Mizuho yang sedang melambaikan tangannya dengan semangat.

 

"Mizuho, makasih ya! Kamu semangat banget hari ini~"

 

"Nfufu. Pastinya dong! Ayo makan, makan~!"

 

"Tapi Mizuho, makan *Katsudon* siang-siang begini... nggak keberatan?"

 

Mizuho adalah teman yang paling ceria di antara teman-temanku. Sejak zaman SMA, dia selalu riang, suka heboh, dan entah sudah berapa kali aku terselamatkan oleh keceriaannya yang polos itu.

 

Meskipun urusan "menangkap laki-laki" lalu ditolak mentah-mentah sudah jadi makanan sehari-harinya... aku heran kenapa anak seimut ini nggak punya pacar juga.

 

Kuncir dua yang jadi ciri khasnya, matanya yang bulat besar, perawakannya yang ramping, dan tingginya yang lebih pendek dariku membuatnya terlihat sangat imut. Dia memakai kaus *oversized* dengan jaket denim tipis. Dari celana pendek hitamnya, kakinya yang ramping dan indah terlihat semampai. Senyumnya yang ramah bahkan terkadang membuatku yang sesama perempuan saja sedikit berdebar.

 

"Hehehe~! Hari ini hari yang sangat penting, makanya aku makan *Katsudon*! Supaya menang (*Katsu*)!"

 

"Menang tanding apa...?"

 

"Tentu saja... pertarungan cinta!!"

 

Sepertinya sifatnya yang terlalu "tergila-gila pada cinta" itu yang jadi nilai minusnya? Aku cuma bisa tersenyum kecut.

 

"Mau nembak seseorang?"

 

"Iya!! Kali ini aku rasa peluang menangnya tinggi! Soalnya kami sudah sering mengobrol!!"

 

"Ah, jangan-jangan Kak Keito dari klub bulu tangkis?"

 

"Bener banget! Pas lagi di klub kayaknya kami sering curi-curi pandang, ini sudah pasti dia naksir aku! Begitu pikirku!"

 

"Eh, standarmu nggak kerendahan...?"

 

Itu kan kalimat yang sering diucapkan orang-orang yang nonton konser idola dan kebetulan dapat kursi paling depan...

 

"Aah~! Koumi mentang-mentang lagi 'di atas angin' belakangan ini jadi meremehkanku ya!?"

 

"Ng-nggak ada yang lagi di atas angin kok~"

 

"Aah! Kamu senyum-senyum begitu! Curang, curang!"

 

Maaf ya Mizuho, tapi hubunganku dengan Masato memang sedang sangat lancar. Saat aku sedang memasang wajah penuh kemenangan itu, sebuah tangan menepuk bahuku.

 

"Tunggu saja ya... kalau aku sudah dapat dia, ayo kita *double date* gaya-gayaan..."

 

"Duh, jangan ngomong begitu, itu namanya *death flag*, mending berhenti deh..."

 

Beneran deh, Mizuho sama sekali nggak berubah sejak SMA. Ceria, selalu jadi pusat perhatian kelas, dan selalu menghidupkan suasana. Karena dia adalah Mizuho yang seperti itu, aku benar-benar ingin dia bahagia dari lubuk hatiku yang terdalam.

 

Selesai menghabiskan *Katsudon*-nya, Mizuho menangkupkan kedua tangan.

 

"Terima kasih atas makanannya... Kalau begitu! Aku berangkat ke ruang klub dulu, tunggu kabar baik dariku ya!"

 

"Eh!? Sekarang!? Mendadak banget?"

 

"Lebih cepat lebih baik! Takdir nggak akan menunggumu selamanya, Anak Muda..."

 

*Ck, ck, ck.*

 

Sambil menggoyangkan telunjuknya yang mungil dengan gerakan imut, Mizuho bangkit dari kursinya. Aku terus menatap punggungnya yang menjauh dengan riang sampai dia benar-benar menghilang.

 

"Bakal nggak apa-apa ya dia..."

 

Sambil menyuap pasta, aku mencoba memikirkan peluang keberhasilan pernyataan cinta Mizuho. Kak Keito. Senior di klub bulu tangkis yang memang ramah kepada semua orang.

 

Tapi menurutku dia seperti punya niat terselubung, dan jujur aku agak tidak suka padanya.

 

Dia jelas-jelas cuma mau bergaul dengan beberapa senior perempuan tertentu saja...

 

Aku melihat jam tangan. Masih ada sedikit waktu sebelum jam ketiga dimulai.

 

"Mampir ke gedung klub dulu kali ya..."

 

Jam ketiga aku sekelas dengan Masato. Sebenarnya aku ingin segera memesankan kursi untuknya, tapi aku juga penasaran dengan pernyataan cinta Mizuho. Kalau dia berhasil, aku harus ikut merayakannya, kan.

 

Selesai makan, aku segera mengirim pesan singkat pada Masato lalu menuju ke gedung klub.

 

Gedung klub. Area yang biasanya baru ramai setelah jam ketiga selesai ini sekarang masih sepi. Karena lokasinya agak jauh dari gedung perkuliahan, orang yang datang ke sini di sela-sela jam pelajaran biasanya cuma mereka yang memang lagi nggak ada kelas.

 

"...Nggak ada ya."

 

Aku mengecek ruang klub bulu tangkis, tapi Mizuho tidak ada di sana. Mungkin saja sudah selesai, atau malah rencananya batal.

 

"Ke kelas saja deh."

 

Sama sekali nggak ada kabar dari Mizuho... Padahal kalau dia berhasil, harusnya dia bakal langsung pamer dengan heboh.

 

"Eh? Kamu serius bilang 'mau pacaran denganku'?"

 

Terdengar sebuah suara. Aku punya firasat buruk, lalu berjalan menuju arah suara itu.

 

(...!)

 

Aku menyembunyikan diri di balik bayangan. Di bagian paling pojok gedung klub, di depan tangga darurat, ada sepasang laki-laki dan perempuan. Punggung yang membelakangiku dengan ciri khas kuncir dua rendah itu...

 

(Itu Mizuho...)

 

Mana mungkin aku salah lihat. Itu sahabatku.

 

"Hah? Kamu beneran ngomong begitu? Aku ini cuma menyapamu karena disuruh Satsuki supaya sesekali ramah sama anak tingkat satu, makanya terpaksa aku lakuin. Cuma gara-gara itu kamu langsung salah paham?"

 

"...Maafkan aku."

 

...Hah?

 

Aku bisa merasakan suhu tubuhku menurun drastis dalam sekejap.

 

"Ya sudah kalau sudah paham... Jangan pernah lakuin hal kayak begini lagi ya? Buang-buang waktu. Terus, jangan berani-berani laporin ini ke cewek lain, awas ya. Sadar posisi dong, siapa yang milih dan siapa yang dipilih. Dah."

 

Nggak dimaafkan.

 

Nggak dimaafkan, nggak dimaafkan, nggak dimaafkan, nggak dimaafkan.

 

Aku tidak bisa memaafkan fakta bahwa orang seperti itu telah menghancurkan hati Mizuho.

 

──Sial. Harusnya aku merekamnya tadi.

 

Kalau ada rekamannya, aku bisa membongkar kedok aslinya dan mempermalukannya di depan semua orang──.

 

"Menguping itu perbuatan jahat lho, Bos?"

 

"……! ……Mizuho…… maaf."

 

Tanpa sadar, Mizuho sudah kembali ke balik bayangan tempatku bersembunyi.

 

"Nggak apa-apa, nggak apa-apa! Kamu datang karena khawatir, kan? Kebaikan Koumi-dono ini benar-benar membuat *sessha* bercucuran air mata~!"

 

"Mizuho……"

 

Aku tahu. Karena kami sudah berteman lama, aku sangat paham. Bahkan orang yang baru mengenalnya pun pasti tahu.

 

Mizuho yang sekarang hanya sedang berpura-pura tegar.

 

"Wah~! Padahal aku pikir kali ini bakal berhasil! Ternyata ditolak mentah-mentah! Gwaaaa HP-ku sudah nol~ hiks hiks hiks."

 

"……"

 

Mizuho menjulurkan lidahnya sambil berakting seolah baru saja ditebas pedang.

 

"Ternyata tidak berjalan mulus ya! Koumi-dono, untuk *double date*-nya, tunggu sebentar lagi ya ☆"

 

"Iya…… Mizuho pasti bakal ketemu orang yang jauh lebih baik daripada cowok itu."

 

Aku tahu. Kata-kata kosong seperti ini tidak akan bisa menyembuhkan hati Mizuho.

 

Aku tahu ini hanya hiburan murahan.

 

Mizuho pun pasti tahu, tapi tetap saja...

 

"Uooooo! Aku jadi semangat lagi!! Aku bakal berjuang~! ……Makanya Koumi harus jaga baik-baik cowokmu yang sekarang, ya?"

 

"Iya……"

 

Kenapa ya. Malah aku yang rasanya ingin menangis. Kenapa Mizuho harus mengalami hal seperti ini?

 

Padahal Mizuho itu sangat imut, tulus, dan baik kepada siapa pun…….

 

"Nah. Jam ketiga kamu sekelas sama dia, kan? Sana cepat pergi!"

 

"Eh…… tapi Mizuho……"

 

"*Sessha* ingin menikmati angin malam sebentar di sini~! Jangan biarkan dia menunggu! Cepat sana!"

 

"……Mizuho."

 

*Syuh, syuh.* Mizuho mengibaskan tangannya, menyuruhku pergi.

 

Banyak kata yang tertahan di tenggorokanku…… tapi akhirnya aku menelan semuanya kembali. Aku merasa suara apa pun yang kukeluarkan sekarang malah akan berdampak buruk.

 

Untuk saat ini, lebih baik membiarkannya sendirian.

 

Aku melangkah menuju gedung perkuliahan. Aku tidak menoleh ke arah Mizuho.

 

Karena aura yang kurasakan dari punggung Mizuho terasa jauh lebih rapuh dari biasanya.

 

Bel tanda kuliah dimulai berbunyi, dan tepat di saat itu aku menyelinap masuk ke kelas.

 

(*Hampir saja!*)

 

Aku menempelkan kartu absen ke *card reader*, lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling kelas.

 

*TL/Note: Card reader adalah alat pemindai kartu (scanner) yang digunakan untuk mencatat kehadiran dengan menempelkan kartu absen/mahasiswa.

 

Di barisan belakang pojok, seorang laki-laki melambaikan tangan ke arahku.

 

(*Ah, aku cinta dia.*)

 

Aku merasakan dorongan perasaan yang meluap-luap…… namun, kejadian Mizuho tadi kembali melintas dan membuat dadaku perih.

 

Bajingan itu…… tidak akan pernah kumaafkan.

 

"Maaf ya, makasih sudah pesankan kursi……!"

 

"Nggak apa-apa kok. Bukannya kita memang harus saling bantu? Lagian aku juga selalu dipesankan kursi sama kamu."

 

Ah, dia benar-benar terlalu keren dan imut.

 

Orang yang merangkum semua elemen baik di dunia ini. Tuhan. Justru karena itulah, mengingat sampah yang tadi membuatku ingin muntah. Emosi gelap kembali bergejolak di dalam diriku.

 

Beraninya dia…… melakukan itu pada Mizuho…… tidak dimaafkan.

 

"……Ada masalah ya? Wajahmu kelihatan muram."

 

"……Sebenarnya begini."

 

Masato menyadari perubahan ekspresiku yang kecil dan mengkhawatirkanku. Dia benar-benar orang baik.

 

Aku menceritakan seluruh kronologinya. Tentu saja, aku merahasiakan bagian tentang Mizuho yang gampang jatuh cinta. Aku hanya bercerita bahwa sahabatku mengalami kejadian buruk.

 

Betapa aku tidak bisa memaafkan senior itu.

 

Aku berusaha sekuat tenaga menahan suara agar tidak menjadi terlalu keras karena emosi.

 

"……Parah banget…… apa-apaan itu."

 

"……Iya, kan."

 

Masato pun refleks mengernyitkan dahi. Bagaimanapun juga, itu keterlaluan.

 

Laki-laki memang banyak yang sombong dan arogan, tapi yang kali ini benar-benar keterlaluan. Ini pertama kalinya aku mendengar kata-kata sejahat itu.

 

"Nggak bisa dimaafkan ya…… rasanya sah-sah saja kalau lapor ke senior lain soal kelakuannya…… eh, tapi mungkin itu cuma pemikiran dangkal dariku saja ya."

 

"……Mizuho itu orangnya terlalu baik, jadi dia pasti nggak akan suka kalau aku begitu.

 

Padahal secara pribadi aku ingin sekali mengadukannya ke semua orang."

 

Senior itu populer di kalangan perempuan.

 

Semua orang tidak tahu sifat aslinya.

 

Jadi kalaupun aku mengadukannya, posisi kami jelas tidak menguntungkan. Karena tahu hal itu, aku jadi makin kesal.

 

"……Entahlah, bajingan itu memang nggak bisa dimaafkan, tapi kalau sudah begini……"

 

Masato yang sempat terdiam lama tiba-tiba menoleh dengan wajah cerah.

 

"Satu-satunya cara cuma harus jadi lebih bahagia dari dia, kan? Biar dia rasa. Menemukan pasangan yang jauh lebih baik dari orang macam dia dan menunjukkan kalau kita bahagia, bukankah itu pembalasan dendam yang paling telak?"

 

……Beneran deh, orang yang kusuka ini kepribadiannya terlalu baik.

 

"Iya…… benar juga. Aku ingin Mizuho bahagia."

 

Aku mengingat kembali sosok Mizuho yang rapuh tadi…… dan mendoakannya setulus hati.

 

— Jam keempat berakhir.

 

Hari ini hari Rabu. Tadinya aku berharap bisa kencan sama Masato hari ini, tapi...

 

"Maaf! Tiba-tiba aku dipanggil dan harus segera pulang! Maaf ya!"

 

Aku tidak bisa menghentikan Masato yang langsung lari keluar universitas dengan terburu-buru.

 

Waktu kutanya siapa yang memanggil, dia jawab "Orang yang sudah seperti orang tuaku sendiri!", jadi ya mau bagaimana lagi. Besok juga masih bisa ketemu.

 

Setelah mengantar Masato pergi, aku membuka ponsel.

 

Belum ada balasan pesan dari Mizuho sejak tadi.

 

Aku mencoba menelepon, tapi tidak tersambung.

 

"……Bakal nggak apa-apa ya dia……"

 

Meskipun ditolak sudah jadi hal biasa bagi sahabatku itu, aku rasa kejadian kali ini benar-benar memukulnya.

 

Selama melihatnya dari samping, aku selalu merasa Mizuho itu hanya jatuh cinta pada konsep 'jatuh cinta' saja, bukan benar-benar mencintai 'lawan bicaranya'.

 

Seandainya suatu saat nanti Mizuho bisa menemukan seseorang yang benar-benar dia cintai dari lubuk hatinya…….

 

Seseorang yang seperti Masato bagiku.

 

"Besok, aku traktir parfe saja kali ya."

 

Mengingat Mizuho yang sangat suka makanan manis, aku pun melangkah pulang.


 

───● Si OL Tsundere Menangis ●○●

 

Kuliah bersama Koumi sudah selesai. Hari ini bukan hari Jumat—hari jadwalku kerja di bar.

 

Biasanya, sebelum pulang aku akan bermain basket sebentar atau menghabiskan waktu di suatu tempat, tapi aku menerima pesan dari Ibu Aika: *Maaf, hari ini ada satu orang yang absen, bisa masuk darurat nggak?*. Akhirnya, aku pun menuju tempat kerja.

 

Yah, kalau bisa masuk kerja sih lebih baik! Aku harus melunasi pinjamanku, jadi aku selalu butuh uang. Karena ini hari Rabu, Seira-san yang merupakan pelanggan tetapku pasti tidak akan datang, jadi tugasku kemungkinan besar hanya di bagian penerima tamu atau membuat minuman di belakang layar.

 

"Permisi, selamat malam~"

 

Waktu menunjukkan lewat pukul 18.00.

 

Bar sudah buka, dan di ruang istirahat hanya ada satu orang. Seorang senior yang sedang menata rambut di depan cermin menyadari kedatanganku.

 

"Ooh! Masato, lama tidak kelihatan! Eh, dengar-dengar kamu sudah punya pelanggan tetap ya? Hebat juga kamu."

 

"Kak Yusuke, selamat malam. Ahahaha... itu cuma kebetulan saja kok, beneran..."

 

"Tipemu memang beda dengan kami, tapi aku yakin kamu pasti populer banget. Sayang saja Ibu Aika bilang jadwalmu dikunci setiap Jumat!"

 

Kak Yusuke adalah senior yang banyak membantuku saat aku baru mulai bekerja.

 

Di toko ini, dialah yang pemikirannya paling mirip dengan dunia asalku. Meski gayanya agak *playboy*, sih. Dia tidak arogan terhadap perempuan dan kepribadiannya baik... aku sangat menghormatinya. Kecuali bagian di mana dia terlalu suka perempuan dan punya banyak "cerita kemenangan" yang luar biasa di bidang asmara, ya...

 

"...Lho, luka itu kenapa, Kak?"

 

Entah kenapa lengan kanannya dibalut perban tipis.

 

"Ah, ini? Iya, kemarin kena 'serang' sama pacarku... Kamu juga harus hati-hati ya, HAHA!"

 

"Eh, mumpung ingat, sini deh Masato."

 

"Eh? Ada apa, Kak?"

 

Aku dipanggil oleh Kak Yusuke dan disuruh duduk di kursi. Kak Yusuke mengambil *wax* yang tadi dia gunakan.

 

"Aku rasa Masato bakal cocok banget pakai gaya rambut *all-back* (sisir belakang). Anggap saja ketipu, mau nggak hari ini rambut lo gue yang tata?"

 

"Eeeh..."

 

"Tidak apa-apa! Ini yang kubilang lho, anak sekolah penata rambut! Serahkan saja kepadaku."

 

Yah, berhubung hari ini Seira-san tidak akan datang, boleh lah ya. Kalau Seira-san yang bertemu denganku setiap minggu melihat gaya *all-back* yang tidak cocok ini, dia pasti bakal bilang: *Eh... Masato-kun, jujur saja itu nggak banget deh~*.

 

Kalau pelanggan yang sampai memesanku secara khusus bilang begitu, dampaknya bakal besar buatku.

 

"Cuma buat hari ini saja ya, Kak?"

 

"Sip, serahkan ke kakakmu ini~!"

 

Kak Yusuke mengeluarkan *wax* tipe gel dan catokan rambut dari tasnya. Aku merasa tidak akan cocok, tapi ya sudahlah...

 

"Masato! Meja nomor 3 minta dua Gin Highball!"

 

"Baik!"

 

Meskipun bukan akhir pekan, hari Rabu pun ternyata cukup sibuk. Bahkan ada pelanggan "tingkat dewa" yang datang setiap hari. Aku membuat minuman sesuai pesanan lalu mengantarkannya ke meja.

 

"Maaf menunggu..."

 

"Jadi pacarku dong!"

 

"Eeeh, jangan bercanda terus ah~"

 

...Ya. Sepertinya aku benar-benar tidak dianggap (tidak terlihat). Baguslah kalau begitu. Aku membawa gelas kosong dan kembali ke belakang. Hal seperti ini sudah jadi makanan sehari-hari.

 

Saat aku sedang mencuci gelas di wastafel...

 

"Masato! Maaf banget, bisa tolong belikan tisu toilet di toko obat depan stasiun tidak!? Sepertinya stoknya habis nih!"

 

Kak Yusuke menjulurkan wajahnya ke wastafel dengan wajah panik sambil memintaku belanja. Wah, gawat kalau tisu toilet sampai habis. Apa pas tutup toko kemarin toiletnya sempet tidak dicek dengan benar ya?

 

"Siap! Aku berangkat sekarang!"

 

"Maaf ya! Semuanya lagi melayani pelanggan nih... kartunya ada di situ! Minta kuitansinya ya!"

 

"Baik!"

 

Aku menyeka tangan dan keluar toko. Agak malu sih jalan-jalan di luar dengan gaya rambut dan dandanan begini, tapi ya sudahlah. Hari sudah gelap. Depan stasiun dipadati oleh para pekerja kantor yang baru pulang dan para pelajar. Meski bukan stasiun kota besar, tapi orang-orangnya cukup banyak sampai aku harus berhati-hati jalan agar tidak bertabrakan.

 

"Harus cepat-cepat beli dan kembali..."

 

Aku tidak punya hobi jalan-jalan dengan dandanan begini di tengah keramaian.

 

Lebih baik cepat selesai dan kembali ke toko.

 

Begitu pikirku. Tapi, tepat saat toko obat tujuanku sudah terlihat...

 

"Maaf...! Lensa kontakku jatuh...! Maafkan aku...!"

 

Seorang gadis sedang berlutut di pinggir jalan sambil menangis. Aku tidak tahu apakah dia menangis karena lensa kontaknya jatuh, atau ada faktor lain... Tapi melihat orang-orang di sekitar yang berlalu-lalang tanpa memedulikannya sedikit pun... aku tidak bisa memilih untuk mengabaikannya.

 

"Anda tidak apa-apa? Lensa kontak ya? Mari saya bantu cari."

 

"Eh...? ...Maaf, terima kasih banyak."

 

Dalam kondisi lensa kontak lepas sebelah, aku tidak tahu seberapa parah penglihatannya, tapi pasti sangat sulit untuk mencarinya sendiri. Untungnya penglihatanku cukup tajam... aku pasti bisa menemukannya lebih cepat darinya.

 

"Maaf ya! Saya sedang mencari lensa kontak sebentar!"

 

Aku bersuara sedikit kepada orang sekitar agar mereka tahu, lalu mengeluarkan ponsel dari saku. Aku menyalakan senter, lalu mulai merangkak di aspal. Hal kecil begini bukan masalah. Untungnya hari ini aku memakai seragam toko, nanti kalau kotor tinggal dicuci.

 

Maaf ya Ibu Aika!

 

Sekitar satu menit mencari.

 

Cukup cepat, aku menemukan lensa kontak kecil yang berkilau di tanah.

 

"Ketemu...! Ini, ketemu!"

 

"...!"

 

Aku mengambilnya dengan hati-hati, mengeluarkan sapu tangan dari saku, dan menaruh lensa kontak itu di atasnya. Aku mendekatinya.

 

Rambut hitam sebahu gadis itu memiliki warna merah di bagian dalamnya (*inner color*).

 

Meski wajahnya sembap karena tangisan, mata gadis itu—berlawanan dengan warna rambutnya—berwarna biru muda yang sangat indah.

 

Pasti kalau tidak dalam kondisi begini, dia adalah gadis yang sangat imut.

 

Tapi aku hanya sempat melihat wajahnya sesaat. Dia segera memalingkan wajah dariku dan menunduk. Sepertinya dia tidak ingin wajah tangisannya terlihat.

 

"...Ini. Hati-hati ya."

 

"Terima kasih... banyak."

 

"Ah, sapu tangannya tidak usah dikembalikan tidak apa-apa. Kalau begitu, mari!"

 

"...Eh, a-anu, tunggu sebentar!!"

 

...Eeeh, padahal kalau aku langsung pergi begitu saja tadi bukannya bakal kelihatan keren ya? Aku menoleh sekali lagi ke arah gadis itu.

 

....

 

Hening.

 

....? Lho, tadi aku dipanggil, kan?

 

"...Anu... maaf, aku lagi buru-buru!"

 

"...Ah."

 

Rasanya tidak enak, tapi misi adalah prioritas utama.

 

Yah, dia kan sudah bisa melihat lagi, jadi harusnya tidak apa-apa! Sip! Berbuat baik itu memang membuat perasaan jadi enak ya!

 

Aku segera membeli tisu toilet dan kembali ke toko.

 

"Aku kembali~"

 

"Ooh! Lama juga ya, ramai?"

 

"Iya... lumayan ramai tadi!"

 

Aku segera menuju toilet dan mengisi stok tisu. Sekalian saja aku bersihkan toiletnya dan hendak menuliskan namaku di kolom pemeriksaan...

 

"Lho? Pulpenku mana ya?"

 

Padahal seingatku tadi ada di saku dada, tapi sekarang sudah hilang.

 

Yah, sudahlah. Pasti ada pulpen baru di kantor.

 

Tanpa berpikir panjang, aku meminjam pulpen baru dari gudang belakang. Lalu tiba-tiba—

 

"Hei Masato! Cepat ganti baju!"

 

"……Eh?"

 

"Ada yang memesanmu secara khusus! Katanya pelanggan tetapmu? Dia datang dan memintamu."

 

……Seira-san? Padahal aku sudah bilang kalau aku biasanya cuma ada hari Jumat?

 

Ah. Mungkin itu ya. Dia memesanku dulu, dan kalau tahu aku nggak ada, dia baru berencana minta didampingi *boy* lain?

 

"Ba-baik, segera!"

 

"Aku antar dia ke meja dulu! Meja nomor 2 ya!"

 

"Siap~!"

 

Aku langsung melemparkan seragam gudang ke loker dan berganti ke setelan jas untuk pelayanan.

 

Setelah selesai ganti baju secepat kilat—bahkan mungkin grup idola pun bakal kaget melihat kecepatanku—aku membawa gelas dan es menuju meja nomor 2. Di sana, duduk seorang wanita dengan setelan kerja yang tampak kaku seperti biasanya.

 

"Seira-san, selamat malam. Kamu datang lagi ya."

 

"……Iya."

 

Lho? Kok nggak semangat? Perasaanku saja atau kuncir kudanya memang terlihat lemas, dan pipinya pun tampak lebih tirus…… walau begitu, dia tetap cantik sih.

 

Mungkin dia lelah karena pekerjaan. Kalau begitu, tugasku adalah memberinya semangat, hari ini aku harus berjuang keras…….

 

"Tapi aku kaget lho. Seira-san kan bilang cuma bisa datang hari Jumat."

 

"……Tadi, dari luar, aku melihatmu masuk ke toko ini……"

 

"Ah, begitu rupanya! Tadi aku habis belanja sebentar! Karena hari ini rencananya nggak melayani pelanggan, aku pakai seragam toko! Rasanya lumayan malu juga sih kalau dipikir-pikir……"

 

Biasanya kalau aku sedang bicara, dia akan sibuk menatapku atau memalingkan muka, tapi hari ini dia terus menunduk. Waduh, sepertinya dia beneran lagi *drop* banget.

 

"……Nggak apa-apa kok. Di sini kamu nggak perlu menyembunyikan apapun, katakan saja apa pun yang ingin dikatakan. Aku memang nggak tahu apa yang terjadi pada Seira-san…… tapi seperti biasanya, mendengarkan cerita Seira-san itu…… aku cukup suka."

 

"……!"

 

Seira-san meremas tangannya yang diletakkan di atas paha dengan kuat. Sepertinya telah terjadi sesuatu yang sangat menyedihkan baginya…….

 

"Maaf…… kan aku……"

 

"……Eh?"

 

Aku menyadari ada sesuatu yang menetes satu per satu di punggung tangannya.

 

Seira-san menangis.

 

"Maafkan aku…… benar-benar, maafkan aku……! Aku……!"

 

Melihatnya begitu, aku pun ikut merasa sesak……. Tanpa sadar, tanganku terulur ke punggungnya. Perlahan, aku mengusap punggungnya.

 

"Nggak apa-apa. Apapun yang terjadi…… aku memang nggak tahu…… tapi Seira-san pasti nggak salah. Kamu orang baik kok, Seira-san."

 

Aku sendiri merasa kata-kataku terdengar hampa. Kami baru kenal sebulan lebih sedikit.

 

Bertemu pun cuma seminggu sekali. Sebagian besar waktunya dihabiskan untuk mabuk dan mencaci maki perusahaan atau mantan pacarnya untuk meluapkan kekesalan.

 

Namun. Dia pernah menolongku saat aku kesulitan, dan aku tidak bisa membenci sosok dirinya yang apa adanya saat bersamaku di sini. Meski kata-kata yang keluar dari mulutnya sering kali agresif, intinya dia adalah orang yang lembut. Jadi, meski kata-kataku hampa, jika itu bisa membantunya, aku merasa ingin mengulurkan tangan.

 

Saat aku terus melakukan itu, Seira-san mendekatkan tubuhnya padaku. Bahu kami bersentuhan, dan kepala kecil Seira-san bersandar di bahuku.

 

……Kalau ketahuan, ini bakal gawat nggak ya……? Yah, kalau cuma segini kayaknya masih bisa cari alasan. Mungkin. Lagipula, dalam situasi begini aku tidak mungkin mencampakkan Seira-san begitu saja.

 

"Nggak apa-apa, Seira-san. Aku tahu kok kalau Seira-san itu orang yang lembut."

 

"……Maaf…… ya……! Aku…… perempuan yang paling menjijikkan……!"

 

Sambil terus mengusap punggung Seira-san, aku merasa sedikit heran. Setiap kali aku bersikap lembut padanya. Setiap kali jarak kami semakin dekat. Entah kenapa, aku merasa air mata Seira-san justru mengalir semakin deras.


 

───● Si Mahasiswi Ceria Bertemu dengan Takdir ●○●

 

Cinta itu sesuatu yang indah dan menyenangkan.

 

Makanya, begitu masuk kuliah, aku bertekad untuk mencari cinta yang indah, belajar ya... secukupnya saja, dan menjalani kehidupan kampus yang bahagia.

 

Punya banyak teman, main ke banyak tempat, dandan secantik mungkin, dan membuat banyak kenangan…

 

Pokoknya menjalani hari-hari yang berkilauan!

 

Sudah dua bulan sejak aku masuk universitas.

 

Sejauh ini, aku sudah punya banyak teman, dan aku rasa aku juga cukup sukses di klub!

 

Hanya saja... soal cinta entah kenapa tidak berjalan semulus itu.

 

Ada cukup banyak orang yang menurutku keren. Baik senior maupun teman seangkatan.

 

Tapi, gimana ya. Aku memang ingin punya pacar, tapi aku belum pernah bertemu dengan orang yang membuatku berpikir "aku ingin jadi pacarnya".

 

*Kalau dicoba pacaran dulu, mungkin ternyata nggak buruk kok!*

 

*Pokoknya pacaran saja dulu, kenapa sih?*

 

*Kamu nggak mau kan lulus kuliah dengan status umur sama dengan durasi jomblo?*

 

Perdebatan tentang pandangan cinta sering kali terjadi di sela-sela obrolan pertemanan.

 

Memang sih di zaman sekarang, bisa diajak pacaran saja sudah harus bersyukur, jadi aku rasa nggak ada salahnya untuk terus mencoba mendekati orang dan berusaha agar bisa jadian.

 

Situasi "punya pacar" itu memang jujur saja ingin kurasakan.

 

Lagipula kalau nggak bergerak sendiri, kesempatan nggak akan datang!

 

──Tapi, belakangan aku berpikir.

 

(*Sebenarnya cinta itu... "suka" itu apa sih?*)

 

Berpikir seseorang itu keren dan merasa suka pada seseorang itu berbeda.

 

Ya iyalah. Aku pikir idola di TV itu keren, tapi itu bukan berarti aku menyukainya.

 

Lalu, suka itu apa?

 

Mungkin, cinta yang aku impikan itu adalah ketika aku tersentuh oleh gerak-gerik, kepribadian, atau kata-katanya, lalu jantungku berdegup kencang tak terkendali.

 

Dan aku sangat ingin terus bersama orang itu selamanya.

 

Tapi, hal seperti itu belum pernah terjadi sekali pun dalam hidupku.

 

Yah, realitas memang seperti itu, kan.

 

Makanya semua orang berkompromi, menyesuaikan diri, dan bersabar. Menemukan orang yang "pas saja".

 

Makanya aku pun berpikir aku harus melakukan hal yang sama.

 

──Lalu.

 

"Eh? Kamu serius bilang 'mau pacaran denganku'?"

 

Kenapa aku harus merasakan hal seperti ini ya.

 

Ah~ sudah lama sekali rasanya tidak kena mental begini... Sepertinya ini pertama kalinya aku dikatain sekejam itu. Padahal aku sudah cukup terbiasa ditolak, lho.

Aku menatap ke arah perginya Kak Keito.

 

Rasa marah sama sekali tidak muncul.

 

Rasa marah itu tidak muncul karena di dalam diriku ada bagian yang merasa kalau omongannya ada benarnya. Mungkin, aku sendiri juga tidak sebegitu inginnya pacaran dengan dia. Rasanya tidak sopan bilang begini, tapi aku sendiri pun tidak punya perasaan yang membara padanya.

 

Jadi, aku juga salah. Kami sama-sama salah, ya.

 

Fuuuh, aku menghembuskan napas panjang, lalu berbalik menyusuri jalan yang tadi kulewati──saat itulah, aku melihat topi hitam yang kukenal di balik bayangan.

 

……Aku harus mengembalikan tensiku.

 

"……Semangat, diriku."

 

Setelah bergumam pelan.

 

Aku langsung melompat keluar di sampingnya.

 

"Menguping itu perbuatan jahat lho, Bos?"

 

"……Mizuho…… maaf."

 

Sahabatku──**Igarashi Koumi**──yang memasang wajah yang benar-benar tidak layak ditunjukkan ke orang lain itu menyadari keberadaanku dan menundukkan kepala meminta maaf.

 

Nggak apa-apa kok. Aku tahu Koumi itu sangat lembut. Jadi jangan pasang wajah seperti itu.

 

"Nggak apa-apa, nggak apa-apa! Kamu datang karena khawatir, kan? Kebaikan Koumi-dono ini benar-benar membuat *sessha* bercucuran air mata~!"

 

"Mizuho……"

 

Jangan pasang wajah sedih begitu dong~!

 

Tenang saja, tenang saja, aku ini sehat walafiat.

 

Mizuho-chan bukan tipe orang yang bakal menyerah hanya karena masalah sepele begini!

 

"Wah~! Padahal aku pikir kali ini bakal berhasil! Ternyata ditolak mentah-mentah! Gwaaaa HP-ku sudah nol~ hiks hiks hiks."

 

"……"

 

Iya, iya! Tingkat keceriaan seperti ini baru pas buatku!

 

Aku ingin Koumi juga tertawa, kan!

 

"Ternyata tidak berjalan mulus ya! Koumi-dono, untuk *double date*-nya, tunggu sebentar lagi ya ☆"

 

"Iya…… Mizuho pasti bakal ketemu orang yang jauh lebih baik daripada cowok itu."

 

……Koumi-dono beneran lembut banget ya.

 

Sejak zaman SMA, aku nggak pernah bertengkar sekali pun sama Koumi.

 

"Uooooo! Aku jadi semangat lagi!! Aku bakal berjuang~! ……Makanya Koumi harus jaga baik-baik cowokmu yang sekarang, ya?"

 

"Iya……"

 

Koumi katanya lagi dekat sama seorang laki-laki belakangan ini.

 

Kuh~! Iri banget deh! Aku cuma pernah lihat dia dari kejauhan jadi nggak terlalu tahu, tapi sepertinya tinggi badannya pas dan dia kelihatan keren. Kapan-kapan aku ingin coba mengobrol dengannya! Aku mau ikutan godain juga!

 

Tapi, sekarang.

 

"Nah. Jam ketiga kamu sekelas sama dia, kan? Sana cepat pergi!"

 

"Eh…… tapi Mizuho……"

 

"*Sessha* ingin menikmati angin malam sebentar di sini~! Jangan biarkan dia menunggu! Cepat sana!"

 

"……Mizuho."

 

Sambil memasang wajah tidak enak hati, Koumi membelakangiku.

 

Duh~ kenapa sih pakai wajah serumit itu!

 

Kalau Koumi bahagia sekarang, aku pun ikut bahagia, tahu?

 

Aku kan tahu Koumi sudah cukup menderita menarik-narik perasaan cintanya yang lama sejak kecil.

 

Koumi sama sekali tidak menoleh.

 

Aku terus mengantarnya pergi sampai dia tidak terlihat lagi, lalu aku menghela napas.

 

"Haaah... Yah, sudahlah, emang begini jalannya!"

 

Aku meregangkan tubuh lebar-lebar.

 

Area ini agak jauh dari gedung perkuliahan, dan di jam-jam saat jam ketiga baru akan dimulai begini, suasananya sepi.

 

Perlahan, aku mulai melangkah.

 

"Nah~! Demi Koumi juga, aku harus segera *move on* dan cari cowok bar—"

 

*Cuma gara-gara itu kamu langsung salah paham?*

 

Kenapa ya, tiba-tiba suaraku... sulit keluar.

 

"Cari... orang... baru... deh."

 

*Sadar posisi dong, siapa yang milih dan siapa yang dipilih.*

 

──Sesuatu yang mengalir di pipiku ini.

 

──Sesuatu yang jatuh ke tanah dan meninggalkan bekas basah ini.

 

Tolong, kumohon, berhentilah.

 

Aku menyelesaikan kuliah sore tanpa ada satu pun materi yang masuk ke otak.

 

Jujur, pikiranku melayang entah ke mana. Untunglah teman yang biasanya duduk denganku hari ini absen, jadi aku terselamatkan. Sekarang aku sedang beristirahat di kursi salah satu ruang terbuka di kampus.

 

"Ditolak mentah-mentah, nih..."

 

Aku melaporkan hasil pernyataan cintaku ke grup media sosial teman-teman akrab seangkatan. Tentu saja, aku merahasiakan kata-kata tajamnya dan kepribadian asli Kak Keito.

 

Koumi juga mengirim pesan khawatir, tapi saat ini aku tidak punya keinginan untuk membalasnya. Aku rasa daripada mengkhawatirkanku, lebih baik Koumi menghabiskan waktu yang menyenangkan bersama cowoknya. Itu pasti lebih baik untuknya.

 

Aku menutup ponsel, lalu menyandarkan punggung ke sandaran kursi.

 

Dari jendela, sinar matahari senja masuk menerobos.

 

Matahari sudah hampir tenggelam.

 

"Pulang saja kali ya."

 

Langkah kakiku terasa lebih berat dari biasanya. Gawat... apa aku bisa memulihkan mentalku besok pagi?

 

Lagipula, aku melakukan kesalahan besar. Karena dia senior di klub, ke depannya aku pasti akan tetap bertemu dengannya, dan itu rasanya jauh lebih berat.

 

Hanya membayangkannya saja sudah membuatku merasa depresi.

 

Setelah naik kereta dari stasiun terdekat universitas selama beberapa saat... aku sekarang sedang mendekam di toilet stasiun transit.

 

Sepertinya, aku mabuk kereta.

 

"Hahaha... mabuk kereta? Sejak kapan aku jadi selemah ini ya~"

 

Memalukan. Benar-benar memalukan.

 

Aku melihat ke cermin di wastafel toilet, dan terkejut melihat betapa buruknya wajahku sendiri. Karena terlalu banyak menangis, area mataku memerah parah, dan riasanku berantakan.

 

Wajahku terlihat pucat secara tidak wajar.

 

(*Parah banget... kalau sampai ada kenalan yang lihat...*)

 

Aku melepas karet gelang yang menguncir rambutku menjadi dua.

 

(*Sekarang, begini saja sudah cukup.*)

 

Aku membiarkan rambutku terurai panjang, dan karena tidak ingin wajah seperti ini dilihat siapapun, aku memakai masker.

 

Saat ini, tidak ada Tonosaki Mizuho yang selalu ceria. Tapi, tolong maafkan aku, karena besok aku akan berjuang lagi.

 

"Harusnya di dekat sini ada toko obat..."

 

Aku butuh obat anti mabuk yang tetap ampuh meskipun diminum setelah gejalanya muncul.

 

Dengan langkah berat dan tubuh yang terasa sangat lesu, aku meninggalkan toilet stasiun.

 

Sebenarnya, apa yang sedang kulakukan sih?

 

Hanya karena ditolak laki-laki saja sampai sesakit ini.

 

Hanya karena kebetulan nada bicara lawanku agak kasar sedikit saja sudah begini, mentalku memang masih belum ada apa-apanya.

 

*Sadar posisi dong, siapa yang milih dan siapa yang dipilih.*

 

"...!"

 

Kata-kata itu terus terngiang di kepalaku.

 

Katanya memori yang disertai emosi kuat akan terpatri lebih dalam, tapi ini sungguh keterlaluan. Sekali lagi, air mata menetes. Benar-benar tidak kapok.

 

Kuharap ini segera berakhir. Aku sudah cukup banyak menangis, kan. Tanpa sadar aku mengucek mataku dengan paksa. Rasanya bodoh kalau teringat lagi lalu menangis lagi──.

 

*Dugh!*

 

Bahuku terbentur.

 

Aku menabrak orang yang lewat.

 

"Cih...! Kalau jalan pakai mata dong, dasar jelek...!"

 

...Lho.

 

Depanku, tidak terlihat jelas.

 

Pandanganku... terasa aneh.

 

Lensa kontakku lepas?

 

Buruk sekali.

 

Penglihatan mata telanjangku bahkan tidak sampai 0,1.

 

"Maaf...! Lensa kontakku jatuh...! Maafkan aku...!"

 

Aah sudah... benar-benar hari ini adalah hari yang paling buruk. Terpaksa, aku merangkak di tanah. Sosok menyedihkan yang seolah-olah menggambarkan keadaanku saat ini.

 

──Di saat itulah.

 

"Anda tidak apa-apa? Lensa kontak ya? Mari saya bantu cari."

 

"Eh...?"

 

Terdengar sebuah suara. Suara laki-laki.

 

Aku mendongak.

 

Meski pandanganku kacau karena air mata dan rabun, tapi samar-samar aku bisa melihatnya.

 

Memakai rompi *waistcoat* dan dasi kupu-kupu hitam.

 

Rambutnya ditata gaya *all-back* yang rapi, seorang laki-laki yang terlihat seperti pria terhormat (*gentleman*) sedang berdiri di sana. Padahal situasinya begini.

Tapi secara jujur aku berpikir, dia keren sekali.

 

"Maaf, terima kasih banyak."

 

Lalu aku refleks menundukkan kepala.

 

Karena aku tidak ingin dia melihat wajahku yang berantakan ini.

 

"Maaf ya! Saya sedang mencari lensa kontak sebentar!"

 

Aku terkejut.

 

Demi perempuan sepertiku, laki-laki yang jelas-jelas terlihat sedang bekerja ini mau...?

 

Pikiranku kacau.

 

Logikaku tidak bisa bekerja.

 

Rasanya sungguh aneh.

 

Di tengah hiruk pikuk ini. Kebisingan di sekitar  seolah menghilang. Aku merasa seolah di dunia ini hanya ada aku dan Kakak ini saja.

 

Suara detak jantungku yang mulai berdegup kencang terasa sangat berisik.

 

"Ketemu...! Ini, ketemu!"

 

Berapa menit sudah berlalu ya? Rasanya seperti sekejap, tapi juga terasa sangat lama.

 

Kakak itu melapor padaku dengan nada suara yang terdengar senang, lalu dia datang mendekat untuk menyerahkannya padaku.

 

"Ini. Hati-hati ya."

 

"Terima kasih... banyak."

 

Dia menaruh lensa kontak itu di atas sapu tangan dengan sangat hati-hati.

 

Cara menyerahkannya itu benar-benar sangat lembut.

 

Mungkin karena kejadian siang tadi ya.

 

Kebaikan Kakak ini seolah meleleh masuk ke dalam dadaku... dan meluap keluar.

Wadah bernama diriku ini terlalu kecil, sehingga emosi yang meluap itu berubah menjadi air mata yang mengalir keluar.

 

Tapi, ini bukan air mata kesedihan seperti tadi.

 

Aku sekarang, sedang tersenyum.

 

Hatiku terasa hangat.

 

Air mata kebahagiaan.

 

Lalu di sana, aku menyadarinya.

 

──Kenapa jantungku berdebar sekencang ini?

 

Sebuah perasaan pertama yang belum pernah kurasakan sejak aku lahir sampai sekarang.

 

"Ah, sapu tangannya tidak usah dikembalikan tidak apa-apa. Kalau begitu, mari!"

 

"...Eh."

 

Kakak itu hendak beranjak pergi.

 

Eh, tunggu. Nggak boleh.

 

Padahal aku belum, belum menanyakan apa pun.

 

──Nggak boleh!

 

"A-anu, tunggu sebentar!!"

 

Langkah Kakak itu terhenti.

 

Dia berbalik menatapku.

 

Sosoknya itu, benar-benar terlihat sangat, sangat mempesona. Mengingat penampilanku yang sekarang sangat menyedihkan, aku jadi merasa sedikit benci pada diriku sendiri.

 

Sekarang, aku bukan Tonosaki Mizuho yang biasanya selalu ceria.

 

"……!"

 

Setidaknya aku harus tanya namanya, atau... aku harus menyampaikan rasa terima kasihku dengan lebih benar, atau... kenapa Kakak mau menolongku, atau semacamnya.

 

Banyak sekali kata-kata yang mulai berputar-putar di kepalaku. Dan selama itu pula, terus-menerus. Terus-menerus. Jantungku berdegup, *bakun, bakun, bakun*.

 

Padahal tadi rasanya degupannya kecil. Sekarang berisik sekali, berisik, berisik, berisik!




*Jangan berhenti! Biarkan aku bicara!*

 

Padahal aku mungkin tidak akan pernah bisa bertemu dengannya lagi!

 

Tolong beri aku keberanian! Tuhan!

 

"Anu…… maaf, aku lagi buru-buru!"

 

"……ah"

 

Aku mengulurkan tangan.

 

Begitu memalukan.

 

Tapi, tidak sampai.

 

Suara-suara dunia kembali terdengar, dan keseharian pun kembali.

 

Seolah-olah kejadian barusan hanyalah sebuah kebohongan, namun panas yang tertinggal di tubuhku dan sapu tangan yang tersisa di tangan kananku menyangkal hal itu.

 

(*Bodoh…… bodoh bodoh bodoh! Aku bodoh sekali……!*)

 

Harusnya aku menanyakan namanya.

 

Setidaknya kalau aku tahu namanya, aku mungkin punya alasan untuk mengembalikan sapu tangan ini!

 

Lagipula……!

 

(*Gimana nih, gimana nih……!*)

 

Sekali lagi, aku mendekam di tempat itu.

 

Debaran jantung yang masih terus berpacu dengan berisik.

 

*Debaran yang tak terkendali*

 

──Ah, jangan-jangan, inilah dia.

 

"……lho, itu."

 

……Ada sesuatu yang jatuh di tanah.

 

Aku mencoba memungutnya.

 

"Pulpen?"

 

Sekilas, itu hanya pulpen biasa yang tidak ada istimewanya.

 

Bukan milikku. Berarti ini milik dia yang tadi mencarikan lensa kontakku dengan sangat gigih

itu……?

 

Rasanya aku pernah melihatnya di suatu tempat, aku memutar-mutar pulpen itu dan───

 

"……eh"

 

Pulpen itu.

 

Di bagian pegangannya.

 

Ada sebuah logo di sana.

 

Logo universitas tempatku kuliah.

 

Ini adalah pulpen yang dibagikan kepada seluruh mahasiswa baru di universitasku.

 

"Nggak mungkin…… eh……! Berarti orang tadi adalah……!"

 

Takdirku, mulai bergerak.


 

───● Si OL Tsundere Menjadi Saksi Mata ●○●

 

"……Haaah……"

 

Belakangan ini, aku hanya bisa menghembuskan napas panjang.

 

Hari ini hari Rabu. Tengah minggu, titik balik. Biasanya kalau sudah Kamis atau Jumat, aku masih bisa menyemangati diri karena akhir pekan sudah dekat, tapi hari Rabu memang sering kali menjadi hari paling melankolis bagi para pekerja kantoran. Aku rasa banyak orang yang setuju denganku.

 

"Seira, kamu kenapa sih? Padahal belakangan ini kamu kelihatannya semangat banget."

 

"Miki-san……"

 

Miki-san, seniorku yang belakangan ini hubungannya makin akrab sampai dia memanggil namaku langsung tanpa embel-embel. Di kantor, dia dikenal sebagai senior yang handal dan dipercaya oleh rekan-rekan seangkatan. ……Ya, setidaknya di kantor sih begitu…… aku pun mengakuinya. Mungkin karena aku sudah melihat sisi dirinya yang "sebenarnya", aku jadi sering menatapnya dengan tatapan aneh, tapi Miki-san tetaplah orang baik.

 

"Yah, atasan memang berisik, dan di tengah minggu begini emang biasanya semangat lagi *drop* kan~"

 

"Iya, benar juga……"

 

Bukan itu alasan sebenarnya kenapa aku sampai se-depresi ini…… tapi tentu saja aku tidak bisa mengatakannya.

 

"Nah, pokoknya akhir pekan nanti kita ke 'Perjamuan' lagi, ya?"

 

"……Iya."

 

*Deg*, dadaku terasa sakit. Aku tahu dia bicara begitu karena ingin menghiburku, tapi saat ini mendengar kata itu rasanya sangat berat. Aku mengantar kepergian Miki-san yang menyapa karyawan lain dengan senyum cerah, lalu aku membuka ponsel.

 

Setelah memastikan tidak ada orang di sekitarku…… aku membuka aplikasi catatan. Di sana, tertulis nama keluarga Katari dan…… alamat rumah.

 

(*Menjijikkan…… padahal aku tahu ini kriminal……*)

 

──Hari itu.

 

Hari di mana aku menemukan Masato-kun dan membuntutinya sampai ke rumah layaknya penguntit. Sejak hari itu, sesuatu yang sangat berat seolah bersarang di hatiku.

 

Apa sebenarnya yang ingin kulakukan dengan mencari tahu alamatnya? Akhirnya, di akhir pekan kemarin aku hanya bisa melamun…… menatap alamat yang tertulis di ponsel tanpa melakukan apa pun.

 

Tentu saja aku sempat terpikir untuk menghapusnya. Informasi yang didapat dari tindakan kriminal seperti ini harusnya segera kuhapus, lalu aku bisa bertemu Masato-kun lagi dengan wajah cerah. Aku sempat berpikir begitu.

 

Dia anak yang sangat baik. Kalau aku bertanya sedikit saja, seperti "Kemarin pas pulang aku kayak lihat orang mirip Masato-kun jalan ke arah taman, apa rumahmu di daerah situ?", dia pasti bakal menjawabnya dengan jujur.

 

Tapi…… aku tidak bisa. Bagian buruk dalam diriku seolah mencengkeram informasi ini dan tidak mau melepaskannya.

 

Informasi pribadi pertama yang kuketahui. Selama ini hubungan kami hanya sebatas pelayan toko dan pelanggan tetap, tidak lebih dan tidak kurang. Atau lebih tepatnya, hubungan yang tidak akan pernah bisa menjadi lebih dari itu. Nama aslinya saja aku tidak tahu, dan kalau aku bilang "aku suka dia" ke orang-orang, paling-paling aku cuma bakal dikasihani.

 

……Aku sempat berpikir bahwa informasi ini mungkin bisa mengubah situasi tersebut.

 

Berpura-pura kebetulan. Bertemu dengannya di kehidupan pribadinya di waktu yang tepat.

 

Saat memikirkan itu, hatiku terasa meluap. Benar-benar sampah. Tapi aku tidak punya pilihan selain berpegangan pada hal ini.

 

Untuk mendobrak hubungan kami yang sekarang—yang sangat rapuh dan tidak berarti ini—dan untuk bisa lebih dekat dengan sosoknya yang seperti malaikat itu, aku merasa harus menyentuh hal yang terlarang. Begitulah pikirku.

 

"……Haaah."

Lagi-lagi aku menghela napas. Ujung-ujungnya, informasi ini belum kupakai buat apa-apa.

 

Sampai sekarang. Menghapusnya saja aku tidak berani, apalagi melakukan sesuatu yang nyata. Sudah sampah, penakut pula. Benar-benar tidak tertolong.

 

"Tuh kan, menghela napas lagi!"

 

"Hya—!?"

 

"Ke-kenapa kamu kaget begitu?"

 

Miki-san sudah kembali lagi ke dekatku tanpa kusadari. Kalau sampai dia melihat layar ponselku barusan, hidupku tamat! Aku segera menyembunyikan layar itu.

 

"Sesuka-sukanya aku, aku nggak bakal ngintip ponsel orang kok~. Apaan tuh, cowok?"

 

"Bu-bukan……"

 

"Eh, terus apa? Jangan-jangan kamu beli buku foto (*photobook*) Masato-kun!?"

 

"Maksudnya apa sih……"

 

Apa-apaan buku foto pelayan bar. Apa memang ada barang seperti itu?

 

……Setidaknya isi catatanku tidak ketahuan, jadi kuanggap aman. Melihat gelagatnya, Miki-san pasti berencana pergi ke bar itu lagi hari Jumat nanti. Tentu saja aku akan diajak…… kurasa.

 

Dengan wajah seperti apa aku harus bertemu Masato-kun? Kalau ekspresiku aneh, dia pasti bakal curiga…… tapi aku tidak yakin bisa bersikap seperti biasa di depannya.

 

Saat aku sedang galau begitu, Miki-san menatapku dengan heran lalu hendak kembali ke mejanya, jadi aku tanyakan saja hal yang mengganjal. Ya, cuma buat memastikan saja.

 

Dasar dari kehidupan bekerja adalah Lapor, Hubungi, dan Diskusi, kan.

 

"Ngomong-ngomong, buku foto Masato-kun itu dijual berapa harganya?"

 

"Ya mana ada barang begituan!"

 

"Kenapa sih cuma aku yang harus lembur, dasar bos sialan……"

 

Akhirnya, dengan berbagai macam alasan, hanya aku satu-satunya orang di divisi yang diperintahkan lembur, dan sekarang aku baru dalam perjalanan pulang. Karena aku menyelesaikannya dengan cepat, jamnya belum terlalu larut, tapi tetap saja menguras tenaga yang tidak perlu.

 

"Hari ini aku mau cepat pulang, main game, terus tidur……"

 

Aku melihat jam tangan. Waktu menunjukkan pukul 19.00. Meski sudah hampir masuk musim panas, jam tujuh malam sudah cukup gelap. Tapi meski begitu, area depan stasiun sama sekali tidak kekurangan cahaya berkat lampu jalan dan lampu-lampu pertokoan.

 

(*Ngomong-ngomong, aku tadi mau beli lotion dan pelembap wajah……*)

 

Sesampainya di dekat stasiun, aku teringat kalau stok kosmetikku hampir habis. Untungnya di depan stasiun ada toko obat yang cukup besar, jadi aku putuskan beli di sana saja. Aku mengubah arah jalanku sedikit menuju toko obat tersebut.

 

Aku menutup ponsel, lalu mendongak. ──Saat itulah.

 

"……Eh."

 

Tepat di depan toko obat. Di tengah keramaian orang-orang yang menuju stasiun. Seorang laki-laki sedang menyerahkan sapu tangan kepada seorang gadis yang memakai masker.

 

Kalau hanya melihat itu, orang pasti mengira mereka adalah pasangan kekasih. Tapi laki-laki itu memakai seragam toko yang sangat kukenal. Meski gaya rambutnya berbeda dari biasanya, mataku yang memendam rasa padanya tidak bisa dikelabui.

 

"Masato-kun……?"

 

Suaraku keluar sangat kecil. Tentu saja tidak akan sampai padanya. Suara yang mudah tertelan oleh kebisingan di depan stasiun. Meski begitu, aku hanya bisa berdiri mematung dengan mulut ternganga. Gadis itu tentu saja tidak kukenal.

Gadis itu terlihat seolah sedang menangis.

 

Aku merasa seolah sedang melihat cuplikan sebuah cerita. Suara di sekitar dan orang-orang seolah menghilang dari dunia, menyisakan mereka berdua yang tertanam jelas di kepalaku.

 

Persis seperti, ya. Adegan di mana seorang pangeran bertemu dengan putri. Adegan di mana hati sang putri luluh oleh kebaikan sang pangeran.

 

*“Terus, aku gimana?”*

 

Emosi gelap mulai bergejolak liar di dalam diriku. Dalam pertemuan ini, aku yang hanya menonton dari luar lapangan ini, sebenarnya siapa?

 

Figuran? Yang cuma bisa cemburu saat melihat adegan pertemuan dengan *heroine* utama?

 

Pemeran pembantu? Yang naksir sepihak sama si protagonis, lalu dihujat pembaca karena dianggap cuma jadi pengganggu?

 

──Nggak mau.

 

Nggak mau, nggak mau, nggak mau, nggak mau.

 

Aku. Aku, aku, aku, aku!

 

Aku yang akan bersama Masato-kun──!

 

"……huegh."

 

Rasanya mual, aku bertumpu pada lutut.

 

Belakangan ini aku terus-menerus dipermainkan oleh emosi kotor seperti ini.

 

Tapi, tapi aku nggak mau menyerah. Aku mencengkeram erat bagian dadaku yang jantungnya berdegup liar, lalu menatap gadis yang masih terpaku di sana.

 

Dia memakai masker.

 

Wajahnya berantakan karena air mata…… rambutnya kusut, bajunya pun kotor di sana-sini seolah dia baru saja merangkak di tanah.

 

Sejujurnya, dalam kondisi begitu, dia sama sekali tidak terlihat imut.

 

(*Kalau cuma gadis seperti ini, aku pun bisa──!*)

 

"……huegh, ukh, ukh……!"

 

Aku pun boleh, kan! Begitu pikiran itu muncul, di saat yang sama aku merasa mual pada kadar "sampah" diriku sendiri.

 

Menjijikkan. Benar-benar menjijikkan.

 

Si figuran yang cemburu pada sang *heroine*.

 

Kekerdilan mental yang sangat pantas untuk posisi itu.

 

Sambil memacu kaki yang gemetar lemas, aku membuntuti Masato-kun dari belakang.

 

Persetan soal kerjaan besok atau belanjaan, semuanya sudah tidak penting lagi bagiku.

 

Begitu sampai di toko dan masuk ke lobi, seorang pelayan yang baru pertama kali kulihat menyapaku.

 

"Selamat datang, Tuan Putri. Apakah ini kunjungan pertama Anda?"

 

"Bukan……"

 

"Oh! Begitu ya! Apakah ada yang ingin dipesan secara khusus?"

 

"……Masato-kun."

 

"……Aaah! Jangan-jangan, Anda adalah Tuan Putri yang selalu memesan Masato ya!"

 

Ah. Hanya karena hal seperti ini.

 

Hanya karena hal ini saja hatiku terobati. Hatiku yang kering kerontang seolah terisi kembali oleh kilauan yang gelap.

 

Hanya dengan berpikir bahwa di toko ini, cuma aku "pemilik khusus" Masato-kun, hatiku gemetar karena sukacita.

 

"Iya. Benar."

 

"Tuan Putri sedang beruntung ya! Sebenarnya hari ini Masato jadwalnya libur, tapi dia kebetulan sedang masuk. Mohon tunggu sebentar karena akan memakan waktu sedikit. Mari saya antar."

 

Bukan kebetulan sih.

 

Tapi kalau aku bilang begitu, dia pasti bakal *ilfeel*, jadi aku diam saja dan mengikutinya.

 

Aku diantar ke meja, dan gelas minuman diletakkan di depanku.

 

Aku datang karena dorongan emosi, tapi aku harus bicara apa?

 

*Siapa gadis yang tadi kamu temui?*

 

Jangan, kalau tanya begitu bakal ketahuan kalau aku mengintip.

 

*Apa kamu punya pacar?*

 

……Mengingat sifat toko ini, meski punya pun dia pasti bilang nggak punya, tapi kalau sampai dia jawab punya, aku nggak tahu apa yang bakal kulakukan. Jangan deh.

 

Akhirnya aku hanya duduk diam tanpa bisa menyusun pikiran, sampai dia datang.

 

Gaya rambut *all-back* itu juga cocok untuknya.

 

Kesenjangan antara wajahnya yang polos dan citra tegas dari rambut yang disisir ke belakang itu menciptakan *gap* yang membuat jantungku berdebar.

 

"Seira-san, selamat malam. Anda datang lagi ya."

 

"……Iya."

 

Ternyata benar, orang tadi memang dia. Meski sempat terpikir ada peluang satu banding semiliar kalau aku salah lihat, kenyataannya tidak begitu.

 

Mana mungkin aku salah mengenali Masato-kun.

 

"Tapi aku kaget lho. Seira-san kan bilang cuma bisa datang hari Jumat."

 

"……Tadi, dari luar, aku melihatmu masuk ke toko ini……"

 

Setengah bohong. Aku melihatnya di luar jauh sebelum itu.

 

Sejak saat kamu bersikap lembut pada gadis itu…….

 

Emosi gelap kembali menampakkan wajahnya.

 

"Ah, begitu rupanya! Tadi aku habis belanja sebentar! Karena hari ini rencananya nggak melayani pelanggan, aku pakai seragam toko! Rasanya lumayan malu juga sih kalau dipikir-pikir……"

 

*Cuma belanja? Bukan, kan? Kamu melakukan sesuatu dengan gadis itu, kan? Siapa gadis itu?*

 

*Kenapa kamu nggak kasih tahu aku?*

 

Perasaanku mendidih seolah sedang direbus.

 

Aku tidak bisa mengendalikan diriku yang menjijikkan ini.

 

"……Nggak apa-apa kok. Di sini Anda nggak perlu menyembunyikan apa pun, katakan saja apa pun yang ingin dikatakan. Aku memang nggak tahu apa yang terjadi pada Seira-san…… tapi seperti biasanya, mendengarkan cerita Seira-san itu…… aku cukup suka."

 

"……!"

 

Perasaan yang mendidih itu seketika didinginkan oleh kelembutannya.

 

Di saat yang sama──kenyataan bahwa aku telah menguntitnya mengacaukan emosiku. Di depan dia yang begitu baik, aku malah cemburu secara menjijikkan, bahkan sampai menguntit.

 

Aku kembali menyadari betapa rendahnya diriku ini.

 

"Maaf…… kan aku……"

 

Apa sejak dulu aku memang se-instabil ini?

 

Aku tidak bisa menahan air mataku.

 

"Maafkan aku…… benar-benar, maafkan aku……! Aku……!"

 

*Aku sudah menguntitmu.*

 

*Kejadian hari ini pun, aku melihatnya.*

 

Nggak bisa kukatakan.

 

Kalau dia sampai membenciku, aku bisa mati.

 

Nggak bisa kukatakan.

 

Punggungku diusap lembut.

 

"Nggak apa-apa. Apa pun yang terjadi…… aku memang nggak tahu…… tapi Seira-san pasti nggak salah. Kamu orang baik kok. Seira-san."

 

*Byuarrr!.*

 

Emosi di dalam diriku langsung melonjak.

 

Penyesalan karena telah melakukan hal yang tidak boleh dilakukan.

 

Dan rasa suka yang tak terbendung bercampur menjadi satu dan meledak.

 

Aku menyandarkan seluruh berat tubuhku padanya.

 

Hanya untuk saat ini, biarkan aku bermanja.

 

"Nggak apa-apa, Seira-san. Aku tahu kok kalau Seira-san itu orang yang lembut."

 

"……Maaf…… ya……! Aku…… perempuan yang paling menjijikkan……!"

 

Ah. Menjijikkan.

 

Benar-benar menjijikkan.

 

Karena sekarang.

 

Satu jawaban telah muncul di dalam otakku.

 

Jawaban egois yang tidak tertolong lagi.

 

*Masato-kun yang salah…….*

 

*Kamu yang sudah membuatku jatuh cinta sedalam ini sampai aku jadi gila.*

 

Ah, aku jadi benci diriku sendiri.

 

Menyalahkan Masato-kun dengan pelarian tanggung jawab yang sangat egois.

 

Aku melingkarkan lenganku di punggungnya.

 

Aku menariknya mendekat, mengikatnya agar tidak lepas.

 

Otakku gemetar dalam sensasi yang manis.

 

Yang ada padaku sekarang hanyalah hasrat penaklukan untuk menjadikan Masato-kun milikku sendiri dan mengacak-acaknya.

 

Aku mengerahkan tenaga dan memeluknya dengan erat.

 

Benar, aku harus minta maaf duluan, ya.

 

Maaf ya, Masato-kun.

 

──Karena aku, tidak akan pernah melepaskanmu.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close