NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Danjohi 1:5 no Sekai demo Futsu ni Ikirareru to Omotta? Geki Juu Kanjou na Kanojotachi ga Mujikaku Danshi ni Honrousaretara Volume 1 Chapter 4

Chapter 4: Perasaan Mempercepat (Belum Tentu ke Arah yang Benar)

───● Anak SMP Ekskul Basket Menyerang ●○●

 

Hari ini hari Jumat.

 

Bagi diriku belakangan ini, hari ini adalah hari yang paling kunantikan dalam seminggu.

 

Kehidupan SMP-ku sudah berjalan dua bulan, tapi ada hal yang jauh lebih kunantikan daripada sekolah.

 

(*Semoga hari ini aku bisa main basket sepuasnya bareng Kakak ♪*)

 

Ya. Waktu bermain basket bersama Kakak di taman.

 

Minggu lalu terjadi banyak hal jadi kami tidak bisa terlalu banyak main... hari ini aku harus main sepuasnya.

 

Sekarang sedang jam istirahat siang. Aku dan teman-teman ekskul basket sedang membersihkan bola basket dengan kain lap.

 

Hari ini ekskul libur, tapi atas instruksi senior, kami anak-anak kelas satu harus membersihkan bola-bola ini.

 

Bagiku sih ini sama sekali bukan beban, tapi banyak teman seangkatanku yang mengeluh.

 

Tapi bagiku, setelah menyelesaikan jam kelima nanti, aku bisa langsung pergi ke taman!

 

Jadi, nggak masalah!

 

"Hei, Yuka."

 

"Hm?"

 

Rika-chan yang mengelap bola di sebelahku menyapaku dengan wajah bosan.

 

"Belakangan ini tiap hari Jumat kamu pergi ke mana sih?"

 

"……A-anu, itu……"

 

Kenapa ya belakangan ini sering sekali ditanya begitu. Kemarin juga ditanya.

 

Apa karena rasa riangku terlalu kelihatan ya……?

 

"Hei, mending jujur saja deh…… Pasti karena cowok, kan?"

 

"B-bukan kok!?"

 

"Wah~ kamu gugup! Tuh kan beneran karena cowok~"

 

"Eh!? Apa-apaan, Yuka sudah punya pacar!?"

 

"Eh semuanya, katanya Yuka sudah punya pacar lho!"

 

"Bukan begitu tahu!"

 

Duh──berhenti dong mendadak begitu!

 

Wajahku terasa panas. Hubunganku sama Kakak kan bukan begitu…… Kami itu sehat, ya, sehat! Cuma diajari main basket doang.

 

"Feeling-ku emang nggak salah sih! Tiap Jumat kamu selalu buru-buru pulang."

 

"Kalau Yuka yang punya pacar sih aku maklum~ dia kan tipe yang kelihatannya kalem tapi aslinya agresif."

 

"Hei~ berhenti deh, bukan seperti itu!"

 

Pacar, ya…… pacar.

 

Seandainya, seandainya aku bisa pacaran sama Kakak…… alangkah bahagia dan indahnya. Membayangkannya saja sudah membuat jantungku berdebar.

 

"Tuh kan senyum-senyum! Fix karena cowok! Wah nggak bisa dibiarin! Semuanya, hari ini kita buntuti Yuka yuk!"

 

"Boleh juga! Penasaran nih cowoknya kayak gimana!"

 

"Ja-jangan! Kalau itu jangan! Pokoknya nggak boleh~!"

 

Kakak itu keren. Bukan, dia terlalu keren.

 

Kalau mereka ikut, pasti mereka bakal naksir, dan nggak menutup kemungkinan bakal ada yang ikutan datang terus. Apalagi Kakak itu baik, dia pasti bakal mau-mau saja mengajari mereka…… kalau itu terjadi, waktu berduaan kami bakal hilang!

 

"Apa nih? Kayaknya seru banget. Kami boleh ikutan gabung nggak?"

 

Seketika, suasana membeku.

 

 

Dengan was-was aku menoleh ke belakang, dua orang senior kelas dua berdiri di pintu gudang olahraga. Di belakang mereka, ada juga senior laki-laki kelas dua yang terkenal paling tampan di klub basket.

 

"""Se-selamat siang, Kak."""

 

"Iya, siang. Jadi gimana? Yuka sudah punya pacar?"

 

"……! ……Tidak, itu cuma salah paham."

 

Dua orang ini adalah senior yang bertugas membimbing kelas satu, dan jujur saja, aku tidak terlalu suka mereka. Mereka menyeramkan dan suka menekan.

 

"Hmm…… ya sudahlah. Lagipula paling cowoknya juga jelek."

 

"……!"

 

Kakak sama sekali tidak jelek──! Aku tidak bisa memaafkan kalau Kakak dihina.

 

Tadinya aku mau membalas…… tapi dari belakang, Rika-chan menarik ujung seragamku agar aku tidak terlihat. Sepertinya dia menyuruhku tenang.

 

"Sudah selesai mengelap bolanya?"

 

"Sudah mau selesai, Kak."

 

"Begitu ya. Besok pas ekskul mulai bakal aku cek. Kalau masih kotor nggak akan kumaafkan ya. Terus Yuka."

 

Namaku dipanggil, dan mataku bertemu dengan mata senior itu. Dia berjalan mendekat dan menatapku dengan angkuh.

 

Lalu dia berbisik dengan tajam tepat di telingaku.

 

"──Jangan besar kepala cuma gara-gara kamu jadi pemain inti (*starter*) di pertandingan latihan kemarin."

 

"……"

 

"Ya sudah, kami pulang duluan. ──Maaf ya Kenji, jadi membuang waktumu. Ayo pergi?"

 

Dua senior itu pergi sambil membawa senior laki-laki tadi.

 

Aku berusaha sekuat tenaga menelan amarahku…… lalu mengembuskan napas panjang.

 

"Yuka, kamu nggak apa-apa?"

 

"Beneran deh, Meru-senpai itu yang paling parah."

 

"Cih, apaan sih itu. Sengaja banget pamer bawa pacar. Menjijikkan……"

 

Sejak aku jadi *starter* dan bisa ikut bertanding, Meru-senpai jadi sangat sering menyindirku secara aneh.

 

Mungkin karena dia bukan *starter* sedangkan aku yang kelas satu malah terpilih, makanya dia merasa kesal.

 

Tapi tetap saja.

 

(*Beraninya dia…… menghina Kakak……!*)

 

Aku tidak peduli kalau aku yang dihina.

 

Tapi aku tidak bisa memaafkan kalau Kakak yang dihina.

 

Sekolah berakhir.

 

Meski di jam istirahat ada kejadian yang tidak menyenangkan, tapi itu tidak mengurangi rasa semangatku untuk bertemu Kakak.

 

Sesampainya di rumah, aku langsung bersiap pergi ke taman. Handuk yang aku pinjam dari Kakak juga…… harus aku kembalikan. Aku memasukkan handuk itu ke dalam tas.

 

Karena sudah dicuci di rumahku, aroma harum Kakak sudah hilang…… tadinya kupikir begitu, tapi ternyata masih ada sedikit sisa wanginya.

 

Kakak memang luar biasa.

 

Sedikit saja. Aku menempelkan handuk itu ke wajahku sebentar saja……

 

(*Fuwaaaa……*)

 

N-nggak boleh. Aku bisa meleleh kalau begini.

 

Bahkan setelah dicuci saja begini, jadi tidak ada yang boleh menyalahkanku kalau aku melakukan ini-itu sebelum dicuci kemarin. Iya. Pasti begitu.

 

"Lagi ngapain kamu?"

 

"Uwaaa!? Ibu jangan tiba-tiba masuk dong!!"

 

"Habisnya kamu yang minta dibuatkan air minum di botol……"

 

Gara-gara terbuai wangi Kakak, aku tidak sadar Ibu masuk ke kamar. Ba-bahaya sekali.

 

Kalau sampai ketahuan sedang 'nge-fly' begini, malunya minta ampun.

 

"Aku berangkat dulu ya!!"

 

"Eh, tunggu dulu Yuka~!"

 

Tanpa memedulikan teriakan Ibu, aku langsung lari keluar rumah.

 

Kakak sedang menunggu! Beneran──nggak sabar!

 

"Anak itu, apa dia nggak lihat ramalan cuaca ya……"

 

"Ka-Kakak! Hari ini aku pasti akan merebut tempat ini!!"

 

"Oh, kamu datang juga ya, Yuka-chan."

 

Sudah lewat jam tiga sore. Seperti dugaan, Kakak sudah sampai duluan dan sedang melakukan pemanasan. Penampilan Kakak hari ini juga luar biasa. Kaos putih yang dibalut kemeja denim warna biru tua.

 

Karena hari ini agak sejuk, melihat penampilannya yang segar ini rasanya sangat menyenangkan. Celana longgar yang memudahkan gerakan itu juga sangat serasi dengan tinggi badan Kakak. Keren sekali.

 

...Ngomong-ngomong, dia panggil "Yuka-chan", ya. Tadi saat dia memanggil namaku langsung tanpa embel-embel, aku merasa lebih dekat dan senang, tapi... apa aku terlalu egois ya?

 

Aku mencoba memberanikan diri sedikit.

 

"A-anu! Karena kita adalah musuh, ti-tidak perlu ada belas kasihan. Panggil saja aku Yuka, tidak usah pakai 'chan'."

 

Gi-gimana ya? Bahasaku malah jadi kaku seperti samurai, tapi masih terhitung natural, kan?

 

Dengan was-was aku mencuri pandang ke arah Kakak.

 

"Fufufu... Ahahahaha! Benar juga, kamu ada benarnya! Baiklah, Yuka. Hari ini pun tempat ini akan tetap jadi milikku, mengerti?"

 

──*Deg!* Berhasil! Senangnya! Ditambah lagi, senyum Kakak sangat berkilau!

Keren banget!! Aku cinta dia! Rasanya aku ingin menari kegirangan.

 

"Ka-kalau begitu, mari segera mulai..."

 

"Eits, nggak boleh."

 

"Eh?"

 

Saat aku hendak mengeluarkan bola dari ransel, Kakak menghalangi jalanku.

 

"Sudah lupa kejadian minggu lalu? Pemanasan dulu! Kalau hari ini nggak pemanasan yang benar, aku nggak mau tanding."

 

"……! I-iya, benar juga!"

 

Cara Kakak menyilangkan tangan membentuk huruf 'X' juga keren... imut... eh, bukan itu.

 

Benar, aku harus pemanasan dulu.

 

Gerakan menekuk lutut, peregangan. Aku mulai melakukan pemanasan dengan saksama.

 

Selama itu, Kakak melakukan latihan menembak (*shooting*) ke arah ring. Sentuhan bolanya benar-benar halus. Bentuk tembakannya sangat indah... Tanpa sadar aku terpesona.

 

Melihat profil wajahnya yang keren... aku jadi teringat hinaan senior tadi siang dan merasa kesal. Tapi tidak apa-apa. Senior itu pasti tidak akan pernah membayangkan kalau aku sedang bermain basket dengan orang sekeren ini. Aku pun tenggelam dalam perasaan menang sendiri yang menyenangkan.

 

"──Hup!"

 

"Oh...! Serius?"

 

Aku berhasil membawa bola sampai ke bawah ring, lalu melakukan *shoot fake* dan berputar dengan teknik *pivot*. Aku berhasil mengecoh blok Kakak dan tembakanku masuk dengan mulus ke dalam ring.

 

*TL/Note: Shoot fake adalah gerakan pura-pura menembak untuk memancing lawan melompat. Pivot adalah gerakan memutar tubuh dengan satu kaki tetap di tempat (sebagai tumpuan).

 

"……Yess!"

 

"Wah, serius nih... padahal aku tadi berniat menghentikanmu lho..."

 

Bermain basket dengan Kakak benar-benar menyenangkan. Tentu saja jantungku sering berdebar melihat kekerenannya, tapi murni dari lubuk hati, aku menyukai basket ini. Kakak pun, meski tinggi badannya jauh di atasku dan pasti dia mengalah, tapi dia meladeni permainanku dengan kekuatan yang pas sehingga aku merasa masih punya peluang untuk mencuri poin.

 

"Yuka beneran makin jago ya... lama-lama tempat ini bisa benar-benar kamu rebut lho."

 

"Iya! Pasti akan aku rebut!"

 

Jujur, aku sama sekali tidak berniat merebutnya. Aku ingin waktu seperti ini terus berlanjut selamanya.

 

"Kalau begitu, sekarang giliranku menyerang ya."

 

"Baik. Majulah!"

 

Aku menyerahkan bola dan mengambil posisi bertahan. ──Tepat saat itu.

 

*Tik, tik.*

 

Sesuatu yang dingin mengenai kepalaku. Lho?

 

"Hah?"

 

Kakak juga mendongak. Karena terlalu fokus basket, aku sama sekali tidak menyadarinya.

 

Langit tiba-tiba menjadi sangat gelap. Perasaan dingin yang tadi hanya setetes, di detik berikutnya langsung berubah menjadi hujan deras yang seolah menumpahkan air dari ember.

 

"Owaaa!?"

 

"Kyaaaa──!?"

 

Aku dan Kakak segera mengungsi. Pertama-tama aku memasukkan bola ke ransel, lalu mengangkat ransel itu ke atas kepala sebagai payung darurat. Duh! Kalau tahu bakal hujan, aku pasti bawa payung lipat!

 

"Yuka! Ke sana yuk!"

 

"Iya!"

 

Kakak menunjuk ke arah tempat berteduh yang memiliki atap. Aku dan Kakak berlari ke sana untuk berlindung.

 

"Fuuuh──! Nggak nyangka bakal hujan sederas ini."

 

"Hah... hah... i-iya, benar juga."

 

Meski berhasil berteduh, tapi dalam sekejap seluruh tubuhku basah kuyup. Kaus kakiku pun basah total, rasanya sangat tidak nyaman di dalam sepatu.

 

"Handuk, handuk... Yuka nggak apa-apa? Bawa handuk?"

 

"Iya, bawa kok—"

 

Tiba-tiba, kata-kataku terhenti. Hari ini, selain handuk yang kupinjam dari Kakak, aku juga membawa handukku sendiri. Itu bukan masalahnya. Masalahnya adalah──

 

(*Ka-ka-ka-kakak, i-i-i-itu kemejanya te-te-transparan, t-transparan pa-pa-parah!*)

 

Kakak juga basah kuyup sepertiku... dan di balik kaus putih itu... kulitnya samar-samar terlihat transparan. Eh, itu terlalu seksi... tunggu dulu. Rambutnya yang basah juga terlihat sangat menawan, auranya... auranya luar biasa! Eh, mumpung begini, apa jangan-jangan ini yang dinamakan 'situasi sebelum sesuatu terjadi'?

 

"Duh, gimana ya, kalau begini terus nggak mungkin bisa lanjut main."

 

"……"

 

"Yuka?"

 

A-aku nggak bisa fokus. Nggak ada yang masuk ke otakku! Tunggu, napasku jadi tersengal-sengal. Gawat. Kalau sampai ketahuan aku melihat Kakak dengan tatapan mesum begini...! Eh... jijik. Jangan pernah muncul di depanku lagi.

 

(*Bisa mati aku kalau dia bilang begitu……!*)

 

Hidupku tamat kalau sampai hal itu terjadi. Mutlak, mutlak tidak boleh melihatnya.

 

Godaannya memang besar, tapi godaan segini sih... ugh!

 

"……? Kamu beneran kenapa? Yuka. Apa kamu merasa nggak enak badan?"

 

"……Ukh!!"

 

Ta-ta-tangan, tangan tangan tangan! Tangan Kakak yang besar dan lembut ditempelkan ke dahiku! Jaraknya terlalu dekat!! Kakak yang terlihat seksi karena basah kuyup ada di depan mataku! Berhenti! Jantungku! Jantungku mau meledak!

 

"Sepertinya nggak demam sih... Oh begitu, mungkin karena suhu tubuhmu turun ya... Ah, benar juga."

 

Kakak seolah teringat sesuatu dan mengeluarkan barang dari tasnya.

 

"Ini, pakai saja dulu. Cuma kemeja lengan pendek sih, mungkin nggak terlalu membantu.

 

Tapi lebih baik daripada nggak pakai apa-apa, kan?"

 

"Eh……"

 

Sesuatu disampirkan ke bahuku. Kemeja denim lengan pendek milik Kakak. Baju yang dia pakai saat datang tadi. Dia memang melepas dan menyimpannya saat kami mulai main basket, tapi...

 

"Maaf ya. Cuma ini yang kupunya... Kita tunggu sampai hujannya agak reda dulu ya."

 

"……I-iya……"

 

Jantungku tidak mau berhenti berdegup. Di sampingku ada Kakak yang kemejanya transparan, dan tubuhku sekarang dibalut oleh baju milik Kakak.

 

Seluruh diriku, rasanya perlahan-lahan mulai diwarnai oleh Kakak ini. Aku sudah tidak bisa lagi melawan sensasi ini.

 

"Ah~, Yuka maaf ya, bisa tolong hadap ke arah sana sebentar?"

 

"Eh...?"

 

"Gawat juga ya kalau begini... Tapi ya, selama nggak kelihatan harusnya nggak masalah, kan? Mungkin. Ya sudahlah."

 

A-apa ya?

 

Jantungku berisik sekali sampai rasanya mau meledak, tapi aku tetap menuruti perkataannya dan menghadap ke arah berlawanan dari Kakak.

 

Lalu.

 

Terdengar suara *basat*, suara pakaian yang bergesekan.

 

Disusul suara *gyut*, seperti sesuatu yang diperas dengan kuat, lalu suara tetesan air.

 

"Wah, ternyata meresap air sebanyak ini ya... Sekali peras saja sudah begini, parah banget... Hm~ seingatku aku bawa kaos ganti..."

 

Eh?

 

Ja-jangan-jangan, Ka-Kakak.

 

Lagi... lepas baju, ya?

 

"Eeeh, kalau nggak salah di sekitar sini..."

 

*Dokun, dokun, dokun.*

 

Jantungku berdegup sangat kencang, suaranya menggelegar seperti kembang api di puncak perayaan musim panas.

 

Tunggu sebentar. Kalau sekarang aku menoleh, yang ada di sana adalah...

Ka-Kakak yang telanjang?

 

Eh, eh, eh. Boleh kulihat? Boleh, kan?

 

Habisnya, lihat deh. Ini faktor ketidaksengajaan! Ini benar-benar di luar kendaliku.

 

Nggak akan ada perempuan yang sanggup menahan diri di situasi begini!

 

Ku-kulit Kakak. Kulit aslinya...

 

Dengan gemetar, aku memberanikan diri untuk menoleh.

 

Dia sedang menghadap ke arah tasnya, membelakangiku.

 

Punggungnya... tertangkap jelas oleh pandanganku.

 

Punggung yang indah, berwarna sawo matang, dan tampak sangat atletis...

 

Aroma Kakak.

 

Kulit Kakak.

 

"Haaah... haaaah...!"

 

Kepalaku pening. Pikiranku mulai meleleh.

 

Boleh, kan? Sudah boleh "sampai ke garis finis", kan?

 

Kalau dari belakang aku langsung menerjangnya, memeluknya erat, lalu menggesek-gesekkan pipiku ke punggungnya, nggak akan ada yang protes, kan?

 

Kalau aku menjilat-jilatnya pun nggak akan ada yang marah, kan?

 

Habisnya sekarang nggak ada yang melihat, kan? Boleh kan kalau aku melakukan semuanya sampai akhir?

 

"Oh, ada, ada. Syukurlah bawa baju ganti... lho, Yuka!?"

 

Ah... kesadaranku...

 

Maafkan aku karena menjadi selemah ini. Padahal di detik terakhir aku ingin menikmati kulit Kakak lebih lama lagi...

 

Melihat sosok Kakak yang baru saja memasukkan lengannya ke kaos baru sambil mengguncang bahuku dengan panik, kesadaranku pun kembali terputus begitu saja.


 

───● Teman Masa Kecil Tipe Mahasiswi Ingin Bergandengan Tangan ●○●

 

Pergi kencan bareng Masato. Hari yang paling luar biasa dan indah ini diberkahi dengan cuaca yang cerah. Matahari pun pasti sedang ikut merayakan kencan kami! Hehe. Kami janjian di pusat keramaian dekat stasiun. Aku memanfaatkan jendela kaca pusat perbelanjaan yang aku tunjuk sebagai titik temu untuk mengecek kembali penampilanku.

 

"Rambut oke... baju juga nggak aneh, kan ya."

 

Demi menciptakan diriku yang paling imut, hari ini aku sudah menyiapkan segalanya dengan sempurna. Kalau begini, harusnya aman……! Akhirnya keinginan kencan bareng Masato terkabul juga. Hari ini aku harus benar-benar tebar pesona.

 

"Lho, Koumi cepat banget sampainya."

 

"Hei!?"

 

Tiba-tiba terdengar suara dari belakang, membuatku kaget setengah mati. Padahal kan masih 15 menit sebelum waktu janjian!

 

"Maaf ya, bikin kaget?"

 

"A-agak sih? Masato sendiri kok cepat banget? Masih ada 15 menit lho……"

 

"Soalnya tadi bangunnya kepagian, jadi aku langsung ke sini saja."

 

Masato bilang begitu sambil tersenyum malu-malu. Hari ini pun senyumnya tetap

berkilau…… gaya pakainya yang pakai topi juga terlihat segar dan cocok sekali.

Saat aku sedang terpesona melihatnya, Masato tiba-tiba mendekatkan wajahnya dan menatapku.

 

"Koumi, aku selalu berpikir kalau kamu itu punya banyak banget baju yang imut ya," katanya dengan nada kagum.

 

"M-masa sih."

 

Tanpa sadar aku tersenyum lebar. Fakta bahwa dia selalu memperhatikan penampilanku membuat hatiku terasa hangat. Masato ini beneran sempurna banget sih dalam hal-hal begini…….

 

"Hari ini nonton film, kan?"

 

"Iya, bener! Kita makan siang ringan dulu yuk?"

 

Kencan hari ini adalah nonton film. Ada film romantis rekomendasi temanku, jadi aku pilih itu. Kalau Masato nonton film romantis, siapa tahu dia jadi mulai sadar soal perasaanku……! Sambil menahan debaran jantung yang makin kencang, aku mulai berjalan di samping Masato.

 

Setelah selesai makan siang ringan di kafe, kami pun sampai di bioskop. Mungkin karena jamnya juga pas, bioskop tidak terlalu ramai, bahkan di dalam teater pun kursi kosong lebih mendominasi. Untungnya aku sudah memesan kursi di bagian tengah yang enak buat menonton dan agak ke belakang, jadi meskipun ramai pun nggak masalah!

 

"Ternyata lumayan sepi ya!"

 

Masato berbisik ke arahku setelah kami duduk. Jaraknya yang sangat dekat saat dia mencondongkan tubuh membuat jantungku mendadak berdebar kencang.

 

"Mungkin karena baru lewat jam makan siang?"

 

Refleks aku memalingkan wajah sambil meminum teh di wadah plastik. Aku aman, kan?

 

Tadi sehabis makan siang sudah cek penampilan lagi…… sudah pakai penyegar napas juga…….

 

Di sekeliling kami nggak banyak orang. Tentu saja nggak benar-benar kosong, tapi setidaknya di belakang kami nggak ada siapa-siapa. Di lingkungan yang gelap dan sepi begini, rasanya hampir seperti cuma berdua saja…… memikirkan hal itu, hanya sekadar nonton film saja sudah bikin aku tegang.

 

Sambil melihat cuplikan iklan yang mulai diputar, aku mencuri-curi pandang ke arah profil wajah Masato dari samping.

 

Isi filmnya tergolong cerita yang cukup umum. Ceritanya sudah mencapai klimaks, di mana sang *hero* dan *heroine* sedang berjalan pulang sambil bergandengan tangan di jalanan saat matahari terbenam. Sebuah adegan yang saking romantisnya sampai membuat debarannya terasa hingga ke sini. Saat aku melirik ke samping, Masato sedang menatap layar dengan ekspresi serius.

 

Dia duduk tepat di sebelahku, dan kalau aku sedikit menurunkan pandangan, tangannya sedang diletakkan di sandaran tangan kursi. ……Kalau aku menaruh tanganku di sana juga, tanganku bakal bertumpuk dengan tangan Masato…… dan kami bisa bergandengan tangan.

 

Kalau sekarang, apa dia bakal membolehkanku? Menaruh tanganku di tempat yang sama dengan Masato. Meskipun bertumpuk. Kalau di bawah pengaruh suasana film seperti ini, apakah dia bakal membolehkanku?

 

Aku mencoba menggerakkan tanganku perlahan…… lalu menariknya kembali.

Bagaimana kalau dia merasa terganggu? Bagaimana kalau dia langsung menarik tangannya menjauh?

 

……Aku mungkin bakal syok sampai nggak bisa berdiri dari kursi.

 

Takut…… tapi aku ingin bergandengan tangan. Aku ingin merasakan suhu tubuh Masato.

 

……Perlahan, aku meletakkan tanganku di posisi di mana hanya jari kelingking kami yang bersentuhan.

 

Kelingkingku menyentuh punggung tangan Masato secara halus. Suara jantungku berisik sekali. Sampai-sampai isi filmnya sudah nggak masuk ke otak lagi, wajahku terasa sangat panas. Tangan itu tetap di sana tanpa bergerak sedikit pun…… sampai film berakhir, aku terus merasakan sedikit suhu tubuh Masato.

 

Film berakhir. Aku dan Masato berjalan berdua di jalanan yang disinari cahaya senja.

 

"Wah, tadi seru banget ya! Awalnya aku kira film romantis yang ceria biasa, tapi ternyata ceritanya digarap serius banget sampai aku mau nangis di bagian akhir."

 

"I-iya, bener banget! Kalau Masato senang, aku juga ikut senang!"

 

Padahal di babak kedua tadi aku nggak fokus sama sekali jadi ceritanya nggak masuk…… tapi melihat Masato bercerita dengan mata berbinar-binar, aku jadi ikut bahagia. Bagian begini dari Masato juga luar biasa ya.

 

"Rasanya wawasanku jadi makin luas. Kalau ada film menarik lainnya, kasih tahu aku lagi ya!" kata Masato sambil tersenyum.

 

Sebenarnya aku memilih film romantis itu karena niat terselubung, berharap dia bakal sedikit sadar soal perasaanku. Tapi kalau dia bilang begitu, mana mungkin aku bisa menolak.

 

"Tentu saja! Kalau denganku, kapan saja boleh! Mari kita tonton macam-macam film lagi ya ke depannya!"

 

Setelah menunjukkan senyum terbaikku, aku menghadap ke depan. Adegan senja yang tadi kulihat di film. Matahari terbenam yang persis seperti sekarang, di jalanan yang diapit pepohonan. Sang *hero* dan *heroine* berjalan sambil bergandengan tangan.

 

Aku melihat telapak tangan Masato yang berjalan di sampingku. Saat ini aku memang belum punya keberanian untuk menggandengnya. Tapi suatu saat nanti, aku ingin bisa berjalan bersamamu dan sambil menggandeng tanganmu.

 


 

───● Anak SMP Ekskul Basket yang Pekerja Keras ●○●

 

Orang-orang dari ekskul luar ruangan sering bilang kalau enak ya jadi anak ekskul dalam ruangan pas musim panas begini. Tapi sebenarnya, di dalam gedung olahraga itu pengap dan panas banget, jadi di dalam pun kami tetap berjuang keras. Seingatku, guru pernah bilang kalau kasus *heatstroke* di ekskul dalam ruangan itu jumlahnya terbanyak kedua setelah lari maraton.

 

Kami, anak-anak klub basket, baru saja menyelesaikan latihan di tengah udara pengap itu dan sekarang sedang berada di ruang ganti. Aroma khas dari semprotan penghilang bau badan memenuhi ruangan. Hari ini latihan berakhir siang, tapi aku merasa masih kurang banyak bergerak.

 

"Wah, hebat banget kamu, Yuka!"

 

"Yuka memang sudah jago dari zaman SD!"

 

"Ahahaha... makasih ya."

 

Alasan teman-teman seangkatanku memberi selamat dengan sangat senang adalah... rapat tadi. Setelah latihan selesai, pelatih bilang kalau aku akan tetap dipakai sebagai pemain inti (*starter*) untuk pertandingan resmi minggu depan. Di pertandingan latihan aku memang sudah beberapa kali jadi *starter*, tapi untuk pertandingan resmi, ini adalah yang pertama.

 

Nomor punggungku adalah 18, nomor terkecil di antara anak kelas satu. Malahan, cuma aku satu-satunya anak kelas satu yang dikasih nomor punggung. Aku sangat bersyukur, tapi jujur aku juga merasa tertekan. Demi mereka yang nggak bisa masuk ke jajaran pemain cadangan sekalipun, aku harus memberikan hasil yang terbaik...

 

"Aku bakal dukung kamu banget, Yuka!"

 

"Yuka kayaknya jadi *guard*, kan? Kira-kira dia gantiin siapa ya..."

 

"Eh, bukannya itu? Kakak kelas dua yang..."

 

Selesai ganti baju, tepat saat kami hendak keluar ruang ganti sambil mengobrol santai.

 

"Kelas satu. Nge-pelnya masih kurang bersih. Ulangi lagi."

 

"Eh..."

 

Begitu pintu dibuka, tiga orang senior kelas dua sudah berdiri di sana.

 

"Jangan 'eh' dong. Kalian beneran nge-pel nggak sih? Kalau anak-anak klub voli yang pakai lapangan siang nanti cedera, kalian mau tanggung jawab? Sana, cepat kerjakan."

 

"……"

 

...Aku yakin kami sudah menge-pel dengan benar. Kami melakukannya bareng-bareng anak kelas satu yang lain, dan terakhir aku sudah memastikan lantainya bunyi *cit-cit* pas diinjak.

 

...Tapi ya, alasannya pasti bukan itu. Ini cuma bentuk perundungan. Dengan terpaksa, kami menaruh tas kembali dan menuju gedung olahraga. Masalah begini sih kecil. Sabar, sabar.

 

"Maeda."

 

"……Iya, Kak."

 

Di saat yang lain menuju gedung olahraga, cuma aku yang dipanggil. Firasat buruk.

 

"……Aku sudah bilang, kan? Jangan besar kepala."

 

"……Iya."

 

"Kamu itu cuma karena jadi anak emas pelatih saja. Jangan salah paham."

 

"……"

 

Karena aku masuk jadi *starter*, ada kakak kelas dua yang turun jadi cadangan.

Tapi, kakak yang turun jadi cadangan itu malah tersenyum dan bilang "Semangat ya" padaku. Padahal begitu, tapi orang-orang ini—yang bahkan nggak masuk jajaran pemain cadangan—ini terus menempelku seperti benalu.

 

"Permisi, Kak."

 

"Cih……"

 

Dunia ekskul itu sulit ya. Apa sebegitu nggak menyenangkannya melihat adik kelas ikut bertanding...? Kalau aku sih, kalau merasa nggak mau kalah sama adik kelas, aku bakal latihan lebih keras lagi... Tapi orang-orang ini, dari awal sepertinya memang nggak terlalu niat latihan…

 

Sambil merasakan tatapan tajam yang menusuk punggung, aku lari menuju gedung olahraga.

 

Entah kenapa aku malas langsung pulang, dan tahu-tahu aku sudah sampai di taman yang biasa. Hari ini Kakak nggak datang, sih... tapi murni karena aku masih ingin latihan, jadi ya pas saja. Untung aku bawa bola basket buat luar ruangan. Sekarang jam satu siang lewat sedikit.

 

Aku bakal main satu atau dua jam saja, habis itu pulang.

 

Tadinya aku pikir bakal ramai, tapi mungkin karena jam makan siang, lapangan basket di taman ini malah kosong. Beruntung ya. Sinar matahari yang terik terasa sangat silau. Aku sadar kalau musim panas benar-benar sudah tiba.

 

"Hup."

 

Tembakan dari garis *free throw*. Dengan suara *pasat* yang terdengar menyenangkan, bola itu meluncur mulus masuk ke dalam ring.

 

*TL/Note: Free Throw adalah tembakan bebas yang dilakukan dari garis free throw setelah tim lawan melakukan pelanggaran.

 

"Sip, rasanya pas."

 

Sejak mulai latihan di sini bareng Kakak, aku merasa kemampuanku makin meningkat.

 

Kalau bukan karena teknik yang diajarkan Kakak, mungkin aku nggak akan terpilih jadi *starter* sekarang. Beneran deh, Kakak sudah mengajariku banyak hal.

 

(*Coba tiru gerakan Kakak, ah.*)

 

Aku membayangkan gerakan orang yang aku kagumi itu di dalam otak. Gerakan yang sudah berulang kali aku lihat dari dekat. Lagipula... karena aku suka dia. Gerakan orang tersayang yang sudah terekam jelas di ingatan ini bisa aku panggil kembali kapan saja.

 

Aku memungut bola, melakukan dribel ringan... *Leg-through* disambung dengan *crossover*. Melakukan *drive* ke kanan... *roll turn*. Lalu berhenti mendadak dan melakukan *fadeaway*. Ya, gerakan ini!

 *TL/Note: Leg-through adalah gerakan memindah bola dari satu tangan ke tangan lain melewati sela-sela kaki. Crossover adalah gerakan cepat pindah arah dribel dari satu tangan ke tangan lain untuk mengecoh lawan. Drive adalah gerakan menusuk (menerobos) ke area pertahanan. Roll turn adalah gerakan memutar tubuh membelakangi lawan saat dribel. Fadeaway adalah tembakan sambil melompat ke belakang untuk menghindari blok.

 

*Gany!* Bola itu membentur ring dan terpental. Ternyata susah banget. Terutama bagian terakhir, *fadeaway*. Melompat mundur sambil melepaskan tembakan ke depan itu kalau dipraktikkan beneran susah sekali.

 

(*Kakak beneran hebat ya...*)

 

Tembakan sesulit ini bisa dia lakukan dengan mudah. Aku hampir nggak pernah lihat dia meleset saat latihan dari jarak segini.

 

"Oke..."

 

Aku memantapkan niat lagi. Kali ini aku harus berhasil──.

 

"Wah~ ada tempat yang bagus nih."

 

Terdengar suara yang sangat kukenal.

 

"Aku masih kurang latihan nih tadi~"

 

"Iya ya. Eh, tapi kok ada orang??"

 

"Lho~? Bukannya itu seragam sekolah kita ya?"

 

Suara yang dibuat-buat... Ternyata senior kelas dua yang tadi merundungku. Kalau dilihat baik-baik, di belakang mereka ada satu senior dari klub basket putra.

Seingatku, itu pacarnya Kak Ayako—kakak kelas yang posisinya aku gantikan sebagai *starter*.

 

Katanya dia paling populer di antara anak basket putra kelas dua, tapi bagiku yang sudah terbiasa melihat Kakak... Yah, membandingkannya dengan Kakak sih kasihan juga buat dia.

 

Kalau di level seangkatan, dia memang terhitung keren, sih. Dia kelihatan agak nggak enak hati, tapi karena dia ikut datang, mungkin dia juga merasa aku ini pengganggu.

 

"……Siang, Kak."

 

"Lho~! Ternyata Maeda. Heee~ latihan di tempat kayak gini ya ternyata."

 

"Kami juga mau latihan nih, pinjam ya lapangannya."

 

……Buruk sekali. Tapi ya mau bagaimana lagi. Sepertinya lebih baik aku mengalah saja diam-diam. Katanya kabur itu bagian dari kemenangan juga, kan.

 

"Iya, silakan. Aku mau pulang kok. Permisi, Kak."

 

Sambil memegang bola, aku berjalan menuju pintu keluar lapangan seolah ingin kabur. Tapi, lenganku ditarik dengan paksa.

 

"Ehh, kok sombong sih. Ayo latihan bareng dong."

 

"……"

 

Setidaknya, nada suaranya nggak terdengar seperti orang yang mengajak latihan bareng...

 

Aku punya firasat buruk. Tapi sepertinya suasananya nggak bakal membiarkanku pulang begitu saja...

 

"……Baik, Kak."

 

Sepertinya aku nggak punya pilihan selain menyiapkan mental.

 

 

Aku terbangun karena notifikasi ponsel. Belakangan ini sepertinya pagi hariku makin sering dimulai seperti itu.

 

"Uguuu..."

 

Aku teringat *main heroine* di game lama yang pernah kumainkan sering mengeluarkan suara mengerang yang imut seperti itu. Sambil menyadari kalau suaraku barusan murni cuma erangan orang bangun tidur.

 

"Jam berapa nih...?"

 

Aku cek ponsel. Layar kuncinya menunjukkan pukul 10.28. Mentang-mentang hari Minggu, ternyata aku tidur nyenyak sampai siang. Tapi ya mau gimana lagi. Tadi malam aku melakukan dosa besar karena diajak Kak Yusuke (yang sesama pelayan bar) makan ramen tengah malam, jadi aku nggak bisa langsung tidur dan baru terlelap sekitar jam 3 pagi.

 

Ngomong-ngomong, pas mau pulang tadi Kak Yusuke ditelepon seorang perempuan dan langsung buru-buru pulang dengan wajah pucat pasi. Ada apa ya... suram banget kayaknya.

 

Aku menggaruk-garuk kepala dan pergi ke wastafel buat sikat gigi.

 

Setelah cuci muka dan sikat gigi, aku teringat kalau tadi terbangun karena notifikasi. Aku buka ponsel yang masih ada di saku.

 

Koumi

 

Pagi!!

 

Eh, beneran ya kapan-kapan kita ke *batting center*!

 

Aku percaya diri lho soal ini!!

 

……Tadi malam kami ngobrolin apa ya? Oh, iya! Koumi cerita kalau dia dulu pernah main sofbol atau semacamnya. Aku yang merasa lebih jago urusan bisbol daripada basket malah jadi sok jago kemarin. Di dunia ini, sepertinya memang banyak perempuan yang lebih jago olahraga. Yah, kalau melihat Yuka saja, aku juga mikir: apa beneran ada anak SMP perempuan sejago itu?

 

Aku rasa ini cuma masalah perbedaan jumlah pemain saja. Kalau bicara soal perbedaan kekuatan murni, laki-laki tetap lebih kuat... kurasa.

 

Aku membiarkan pesan dari Koumi tanpa memberinya tanda centang biru. Nanti saja kubalas setelah selesai sarapan. Setelah Seira-san, sekarang aku juga sudah tukaran akun media sosial dengan Yuka, jadi belakangan ini notifikasi ponselku terasa sangat ramai.

 

Semuanya pada rajin ya. Padahal hubungi kalau ada perlu saja sudah cukup.

 

Aku membuka kulkas, mencari sesuatu yang bisa dijadikan sarapan. Nggak ada banyak bahan... Karena ada ham, aku taruh saja keju dan ham di atas roti lalu kupanggang.

 

Pagi-pagi begini aku benar-benar nggak punya nafsu makan. Tapi kalau cuma makan siang dan malam saja, rasanya buruk buat kesehatan, jadi aku tetap berusaha makan sesuatu.

 

"Hm~ hari ini ngapain ya..."

 

Hari-hari tanpa jadwal kerja atau kuliah biasanya cukup luang. Aku sangat bersyukur bisa menghasilkan uang yang lumayan meski cuma kerja dua atau tiga kali seminggu. Sambil menggigit roti yang sudah terpanggang pas, aku mulai menyiapkan perlengkapan untuk pergi main basket.

 

Karena ini hari libur, taman terasa cukup ramai. Meski dibilang taman, ini bukan tipe yang banyak wahana bermainnya, melainkan tipe taman untuk menikmati alam dengan bangku-bangku dan kolam, jadi jarang ada kerumunan anak-anak yang sampai berisik sekali. Dan karena lapangan basketnya terletak tersembunyi di bagian paling dalam taman, kurasa tempat ini termasuk *hidden gem*.

 

"Lho... tapi ternyata sudah ada yang pakai ya."

 

Namanya juga hari libur. Sesepi apa pun tempatnya, kalau sudah hari libur begini tetap saja ada yang mendahului. Sambil mendengarkan suara bola basket yang memantul di tanah, aku melangkah maju.

 

"Lho...?"

 

Begitu lapangan sudah mulai terlihat jelas, aku menyadarinya. Salah satu dari empat orang yang sedang bermain basket di sana... gadis berambut hitam pendek yang segar dengan jepit rambut biru yang berkilau. Hari ini dia sepertinya memakai seragam olahraga sekolah, dia adalah orang yang sudah sangat kukenal... Maeda Yuka.

 

Dan gadis-gadis di sekitarnya... oh, ada satu anak laki-laki juga. Mereka semua memakai seragam olahraga yang sama dengan Yuka. Berarti mereka semua murid dari sekolah yang sama.

 

"Yuka lagi latihan bareng teman klubnya di sini ya... dia benar-benar rajin. Kapan-kapan harus kupuji dia."

 

Melihat Yuka belakangan ini, insting melindungiku sering muncul. Perbedaan antara penampilannya yang imut dengan ekspresi seriusnya saat bermain basket itu sangat bagus.

 

Kalau aku punya adik perempuan, mungkin rasanya bakal seperti ini ya.

 

"...Hm?"

 

Tadinya aku berniat mencari tempat kosong lain buat latihan *handling* saja lalu pulang, tapi aku merasa ada yang aneh dengan suasananya. Aku mencoba memperhatikan lebih saksama. Ekspresi Yuka terlihat sangat menderita.

 

Latihan di bawah terik matahari begini memang melelahkan, tapi yang aneh adalah anggota lainnya. Mereka jelas-jelas sedang menertawakan Yuka. Terlebih lagi, itu adalah tatapan mengejek.

 

...Perundungan?

 

Firasat buruk melintas di kepalaku. Kalau ini perundungan, aku harus menghentikannya.

 

Tapi kalau aku salah paham dan malah ikut campur, aku bakal kelihatan sok jago──.

 

Hasilnya, keragu-raguan itu justru berbuah buruk. Siku salah satu gadis di dekat Yuka terayun kencang dan telak menghantam wajah Yuka. Yuka jatuh terjerembap ke tanah dengan keras. Melihat itu, orang-orang di sekelilingnya malah tertawa.

 

Setelah menyaksikan itu secara langsung, aku tidak punya pilihan lain selain melangkah masuk ke dalam lapangan.

 

Sudah berapa lama waktu berlalu ya? 30 menit? Satu jam? Jujur, aku sudah tidak punya indra perasa soal waktu lagi.

 

"Maeda, sudah tepar? Kalau cuma segitu, gimana mau tanding minggu depan~!?"

 

"Hah... ukh! Hah... ukh!"

 

Di bawah terik matahari yang membakar ini, aku dipaksa terus berlari tanpa istirahat. Para senior bergantian melakukannya, sementara cuma aku yang tidak diberi waktu jeda. Aku sudah menduga hal seperti ini akan terjadi, tapi ternyata memang sangat berat.

 

"Nah, sekarang waktunya *two-on-two*. Kamu harus belajar format pertandingan juga, kan? Wahai adik kelas kebanggaan."

 

"Hah... ukh! Hah... ukh!"

 

Setidaknya beri aku minum. Tubuhku sudah menjerit meminta udara dan asupan cairan.

 

"Ayo Maeda, cepat. Kamu yang pegang bola pertama."

 

Bola dilemparkan padaku, dan dengan susah payah aku menerimanya. Karena ini *two-on-two*, harusnya aku punya rekan tim. Tapi itu cuma formalitas yang tidak ada gunanya di sini. Karena senior yang jadi rekan timku sama sekali tidak berniat menerima operan dariku.

 

Terpaksa aku mencoba melakukan *drive* untuk menerobos. Tapi tubuhku sudah remuk, kelincahanku yang biasanya sama sekali tidak keluar. Satu orang lagi datang menjagaku sehingga menjadi *double team*, membuatku semakin sulit mempertahankan bola.

 

"Cuma segitu!? Kalau cuma segini kemampuannya, mending kamu mundur saja!"

 

"Pikirkan perasaan Ayako yang nggak bisa ikut bertanding gara-gara kamu!"

 

Hal itu aku sudah tahu. Makanya aku berniat berjuang keras demi menggantikan posisi Kak

 

Ayako...!

 

"Ayo, kenapa diam saja! Hup!"

 

"……Ukh!"

 

Terdengar suara benturan yang tidak enak. Pandanganku menggelap. Sepertinya siku senior yang terayun tadi mengenai wajahku dengan telak. Sakit. Napasku terasa sesak.

 

Hanya suara tawa yang terdengar bergema. Kenapa, kenapa aku harus mengalami hal seperti ini? Padahal aku cuma ingin bermain basket...

 

...Lho, padahal tadi mereka menertawakanku, tapi sekarang suara tawanya menghilang.

 

Apa telingaku sudah tidak bisa mendengar lagi...?

 

"Latihannya seru banget ya."

 

...Eh?

 

──Tidak mungkin.

 

Habisnya, hari ini hari Minggu.

 

Kami juga tidak sedang ada janji.

 

Tapi.

 

Suara ini, aku sangat, sangat mengenalinya sampai rasanya mau gila.

 

Aku mendongak.

 

Di sana, ada orang yang sangat aku cintai──

 

"Yuka, bisa berdiri?"

 

"...Ka-kakak...?"

 

Seseorang yang memberikan bahunya untuk menopangku.

 

Itu tidak salah lagi, orang yang sangat aku cintai.

 

Masato-san.

 

"Si-siapa kamu?"

 

"Kami sedang latihan ekskul nih."

 

Para senior terlihat jelas sedang kebingungan.

 

Mungkin mereka cuma kaget melihat ketampanan Kakak.

 

"Hee. Jadi merundung satu orang sampai babak belur begini, lalu kalian menertawakannya, itulah yang disebut latihan ekskul belakangan ini?"

 

"……"

 

……Kakak marah.

 

Aku tahu hanya dari suaranya saja.

 

Ini pertama kalinya aku melihat Kakak marah.

 

Kakak memberikan tatapan dingin ke arah para senior, lalu berbalik ke arahku.

 

"Yuka, minum ini dulu. Kamu pasti belum minum dari tadi, kan?"

 

"Te-terima kasih banyak."

 

Aku menerima botol minum yang diberikan. Begitu meminumnya, aku bisa merasakan tubuhku yang kering kerontang mulai segar kembali. Kakak memberikan senyum lembut padaku, lalu menuntun dan menemaniku sampai ke bangku taman.

 

Dia menyuruhku duduk.

 

"Maaf ya, aku terlambat. Istirahatlah sebentar."

 

*Puk, puk.* Dia menepuk kepalaku pelan.

 

Tubuhku terasa panas dalam arti yang berbeda. Di saat seperti ini pun... tubuhku secara alami merasa senang.

 

Meski begitu, pikiranku masih kacau. Padahal aku pikir Kakak tidak mungkin datang.

 

"Jadi? Apa yang ingin kalian lakukan dengan merundung Yuka?"

 

"Ka-kami tidak merundungnya. Kami cuma mengetes apakah Maeda memang layak jadi pemain inti."

 

"I-iya, benar! Jadi tolong jangan ikut campur ya?"

 

"……Hee……"

 

Aku heran mereka bisa mengucapkan kata-kata itu. Padahal niat asli mereka pasti ingin menyakiti fisik atau mentalku supaya aku mundur dari posisi pemain inti.

 

"Kalau begitu, kalau Yuka menunjukkan kemampuannya, kalian akan menyerah, begitu kan?"

 

"Me-memang dari awal niatnya begitu? Tapi karena Maeda yang payah, makanya jadi begini."

 

Bohong! Karena kalian nggak bisa menang kalau tanding biasa, makanya kalian datang buat menguras staminaku! Sambil berharap aku cedera biar kalian beruntung...!

 

Rasa amarah mulai mendidih dalam diriku. Lalu, Kakak menoleh ke arahku.

 

"Yuka... kalau istirahat sebentar lagi, apa kamu bisa bergerak?"

 

"Eh...?"

 

Tawaran dari Kakak sungguh di luar dugaan. Perlahan, Kakak berjongkok agar pandangan kami sejajar. Sambil tersenyum lembut, Kakak mengusap kepalaku.

 

"Ayo tunjukkan pada mereka. Seberapa kuatnya kamu, Yuka."

 

Satu kalimat itu sudah lebih dari cukup untuk membangkitkan semangatku.

 

"……Iya……!"

 

Lebih dari kapan pun, tubuhku sekarang dialiri oleh kekuatan yang meluap-luap. Kakak sekali lagi berbalik ke arah para senior.

 

"Yuka cuma perlu mengalahkan kalian, kan. Aku dan Yuka akan jadi satu tim, kalian boleh pakai empat orang sekaligus."

 

"Ha-hah? Empat lawan dua? Anda bercanda ya?"

 

"Aku tidak bercanda. Lagipula, aku tidak akan melompat. Karena ada perbedaan tinggi badan."

 

Ti-tidak melompat!? Maksudnya tidak akan loncat sama sekali?

 

Basket adalah olahraga di mana ring berada di atas, jadi melompat itu bagian yang tak terpisahkan. Olahraga yang mengharuskan orang loncat berkali-kali. Tapi Kakak dengan entengnya bilang tidak akan melakukan itu.

 

"Sombong sekali ya... baiklah, kami terima."

 

"Dan kalau kami menang, kalian harus mengakui Yuka sebagai pemain inti dengan lapang dada. Setuju?"

 

"Kalau begitu sebagai gantinya, kalau kalian kalah, Maeda harus mengundurkan diri dari posisi pemain inti, gimana?"

 

……!

 

Posisi inti yang sudah dipercayakan padaku. Aku tidak ingin melepaskannya. Tapi di saat yang sama... aku merasa tidak akan kalah jika setim dengan Kakak.

 

Menerima tatapan dari Kakak, aku pun mengangguk.

 

"Baik. Aku terima."

 

"……Bagus. Kalau begitu, mari kita mulai."

 

Kakak melepas kalungnya perlahan. Gerakannya itu benar-benar keren sampai membuatku terpesona. Di dalam dadaku, rasa bahagia membuncah. Meski aku tidak ingin ini terjadi dalam situasi buruk seperti ini, tapi...

 

Aku bisa main basket setim dengan Kakak!

 

"Kalau begitu, kami yang pegang bola pertama ya."

 

Kakak memegang bola. Sesuai dugaan, dua senior putri langsung melakukan *double team* untuk menjaga Kakak. Di arahku juga ada dua orang. Dua orang itu termasuk yang paling jago di antara mereka. Tapi... sejujurnya.

 

"Hup……!"

 

Mereka bukan tandingan Kakak.

 

"Eh?"

 

"Hah!?"

 

Mengabaikan keterkejutan mereka, Kakak melewati keduanya dengan gerakan *spin move* yang sangat cepat. Dia langsung melesat lurus menuju ring.

 

"Ngapain sih!"

 

Salah satu senior yang menjagaku panik dan langsung melepas penjagaannya dariku untuk bertahan di bawah ring. Aku tahu Kakak bisa dengan mudah melewati orang selevel itu dan mencetak angka.

 

Tapi.

Aku langsung bereaksi seketika saat menangkap tatapan dari Kakak. Aku mulai berlari menuju sekitar garis *free throw*.

 

Aku tahu Kakak itu jago. Tapi, yang harus kulakukan sekarang bukan cuma sekadar menumpang kemenangan padanya.

 

Latihan yang sudah kulalui, kerja keras yang sudah kulakukan.

 

Akan kutunjukkan!

 

"Ah……!"

 

Memanfaatkan fakta bahwa Kakak tidak akan melompat, senior yang berniat melakukan *block* pun melompat tinggi. Namun, Kakak justru memantulkan bola melewati celah di bawah kaki senior itu.

 

Sebuah operan yang sangat presisi, tepat ke depan dadaku.

 

Kini, dengan hanya menyisakan satu orang penjaga, aku berhadapan langsung dengan senior dari klub basket putra itu...

 

"Hup...!"

 

Aku berpura-pura melakukan tusukan ke kanan, lalu melakukan *crossover* andalanku.

 

Sebuah gerakan yang sudah berulang kali kulakukan di tempat ini.

 

Gerakan yang sudah kulatih hingga aku bisa melakukannya tanpa perlu melihat bola lagi.

 

Senior itu tidak bisa mengikuti gerakanku dan jatuh terhuyung. Tanpa ampun, aku langsung melewatinya.

 

Aku melanjutkannya dengan *back lay up*.

 

Ini juga sudah kulakukan ratusan kali. Aku bisa menembak dengan penuh percaya diri.

 

Tidak mungkin meleset!

 

Bersamaan dengan suara *swish*, bola itu terhisap masuk ke dalam ring.

 

Sambil mengabaikan para senior yang terpaku tak percaya, Kakak mengangkat dua jarinya.

 

"Dengan ini, kita unggul dua poin ya."

 

Gimana ini.

 

Padahal situasinya begini. Aku pasti lelah, dan napasku harusnya tersengal-sengal.

 

Tapi rasanya... seru banget!

 

Serangan para senior gagal karena aku berhasil melakukan *steal*.

 

Dribel mereka terlalu ceroboh. Seolah-olah mereka bilang "silakan ambil bolanya".

 

Dibandingkan dengan *one-on-one* yang kulakukan setiap hari bareng Kakak, ini terlalu empuk. Lagipula, kalau baru bisa dribel sambil melihat bola saja, itu masih amatir, kan.

 

Sekali lagi, giliran kami menyerang.

 

"Kali ini akan kami hentikan...!"

 

"Tadi itu cuma karena kami lengah saja."

 

Dua penjaga Kakak kali ini memasang pertahanan dengan penuh ambisi.

 

Jujur, aku rasa Kakak tetap bisa melewati mereka dengan mudah. Tapi dari permainan sebelumnya, aku tersadar. Kakak sedang mencoba membuatku bersinar.

 

Lebih tepatnya, akulah yang bertugas mencetak angka. Aku harus menunjukkannya. Kerja keras yang sudah kulalui selama ini...!

 

Kakak yang sedang mendribel bola memberiku isyarat lewat mata. Dari pergerakan matanya, aku langsung mengerti niatnya. Tanpa ragu, aku mulai berlari.

 

Aku menempel ketat di samping salah satu senior yang sedang menjaga Kakak—senior yang posisinya paling dekat denganku. Aku menutup jalannya agar dia tidak bisa bergerak ke kiri.

 

*Screen*.

 

"……!"

 

Melihat itu, Kakak melakukan *drive* ke arah kiri. Karena aku menjadi penghalang, senior yang menjaga itu tidak bisa mengikuti pergerakan Kakak.

 

"Switch!" teriak senior itu.

 

Isyarat untuk bertukar lawan jaga. Namun, itulah niat Kakak.

 

Memanfaatkan kebingungan mereka saat ragu harus menjaga siapa, Kakak segera mengoper bola padaku yang sedang bergerak menuju ring.

 

Gerakan *dive*. Ini juga salah satu gerakan yang pernah kulihat di video bersama Kakak.

 

Kini semua pemain bertahan sudah tertinggal di belakang. Mereka tidak bisa mengejar kecepatan dribelku.

 

"Kenapa sih...!"

 

Biasanya orang yang mendribel bola itu larinya lebih lambat. Tapi para senior itu tetap tidak bisa mengejarku. Itu karena aku sudah terbiasa berlari sambil mendribel berkali-kali.

 

Dribelku bukan tipe yang bisa dikejar dengan mudah!

 

Dari dribel kecepatan penuh, aku menghentakkan kaki dengan kuat menuju *layup*.

 

Melakukan *lay up* dalam kecepatan penuh biasanya membuat momentum terlalu kuat sehingga bola mudah meleset. Makanya aku menghentakkan kaki dengan kuat untuk mengalihkan momentum ke arah bawah.

 

Ini juga diajarkan oleh Kakak, dan sudah kulakukan berulang kali. Bola itu masuk dan menggetarkan jaring dengan suara yang lembut.

 

Para senior yang wajahnya mulai pucat tidak tahan lagi, mereka berempat berkumpul dan membicarakan sesuatu.

 

"Maeda sejak kapan sejago ini...? Aku nggak tahu...!"

 

"Shosuke, gerak yang bener dong! Kamu nggak mau Ayako balik jadi *starter* lagi!?"

 

"Tapi..."

 

"Lupakan soal menghentikan mahasiswa itu, kita hentikan Maeda saja. Sepertinya ujung-ujungnya Maeda yang bakal menembak bola."

 

...Sepertinya mereka menyadari pergerakan Kakak. Alur di mana Kakak membiarkan aku yang melakukan eksekusi tembakan.

 

"Nice shot, Yuka."

 

"Hoe? Ah, iya! Nice pass, Kakak!"

 

"Aku tadinya mau waspada lebih jauh... tapi sepertinya ini bakal baik-baik saja ya."

 

"Eh?"

 

Kakak menatap anggota tim lawan dengan wajah yang sedikit heran. Lalu, dengan

senyumnya yang biasa, dia berkata padaku:

 

"Tanpa aku pun, kalau Yuka, kamu pasti bisa melewati mereka semua. Tuh. Jadi, selanjutnya kamu yang bawa bola dan coba lewati mereka sendiri. Aku tetap di posisi yang bisa menerima bola kok, kalau kelihatan sulit, oper saja padaku."

 

……!

 

"Baik, aku mengerti!"

 

Kakak mempercayaiku. Hanya dengan kenyataan itu saja, kekuatanku meningkat berlipat-lipat ganda!

 

Serangan para senior kembali gagal, dan sekarang giliran kami menyerang. Karena sistemnya lima poin pertama yang menang, kalau ini masuk, kami menang.

 

Aku yang memegang bola. Kali ini, tiga senior putri menjagaku. Salah satu senior menatapku dengan penuh kebencian.

 

"Maeda... siapa sih laki-laki itu?"

 

"……Dia adalah orang yang sangat berharga bagiku."

 

"……! Menyebalkan……! Kamu beneran bikin kesal!!"

 

Sedikit rasa menang sendiri muncul. Aku melirik Kakak sebentar. Dia sedang melihatku. Dari tatapan matanya, aku bisa merasakan betapa dia sangat mempercayaiku.

 

Aku ingin menjawab ekspektasinya!

 

Kakak adalah orang berhargaku... hanya milikku!!

 

Aku melakukan tusukan tajam ke kanan. Benar saja, karena ada tiga orang, senior yang paling kanan mengikutiku.

 

Berhenti mendadak. *Leg-through* disambung *crossover*. Gerakan andalanku.

 

Satu orang di kanan terhuyung. Aku memanfaatkan celah itu untuk menusuk masuk lewat tengah!

 

"Kurang ajar……!"

 

Dengan gerakan yang hampir membuahkan pelanggaran, senior yang bertahan mencoba menutup jalanku. Aku pun menghindarinya. Menggunakan daya dorong ke depan, aku langsung melakukan *roll*.

 

Setelah melewati satu orang, aku segera mengambil posisi menembak.

 

"Jangan... bercanda...!"

 

Mungkin karena harga diri, senior terakhir melompat untuk memblok tembakanku.

 

Gawat. Kalau aku menembak begini, aku akan kena *block*……!

 

──Seketika, aku teringat gerakan yang biasa dilakukan Kakak.

 

Dari *crossover* menuju *roll*, lalu berhenti mendadak dan...

 

Aku melompat.

 

Ke arah belakang.

 

"Apa……!"

 

Kalau begini, *block*-nya tidak akan sampai.

 

Gerakan yang sudah berulang kali kulihat.

 

Aku juga sudah sering melihat tembakan ini masuk.

 

Jadi, tidak apa-apa.

 

Aku juga bisa!

 

*Aku baru bisa melakukan itu pas zaman SMA lho padahal……?*

 

Rasanya aku mendengar suara Kakak.

 

Dengan tangan kanan, aku melepaskan bola.

 

Membentuk lengkungan yang indah... bola itu terhisap masuk ke dalam ring.




Pertandingan selesai, dan para senior itu pun pulang. Seperti dugaan, sepertinya mereka membuntutiku sampai bisa menemukan tempat ini.

 

Di detik-detik terakhir, aku melihat senior dari klub putra sempat bersitegang dengan tiga senior putri itu. Kalau aku tidak salah dengar, dia menyuruh mereka berhenti merundungku.

 

Lalu para senior putri itu juga meminta maaf... aku sendiri tidak terlalu paham apa yang terjadi.

 

Aku sempat bertanya pada Kakak apakah dia tahu sesuatu, tapi dia cuma menjawab "Nggak tahu tuh" sambil tersenyum. Tapi aku tahu Kakak itu orang yang sangat lembut.

 

Pasti di tempat yang tidak kuketahui, dia sudah mengatakan sesuatu kepada mereka. Kalau dengan ini perundungan di sekolah bisa sedikit berkurang, aku akan sangat senang.

 

"Yuka, tembakan terakhirmu bagus banget ya."

 

"A-ah, terima kasih banyak!"

 

Itu tembakan yang berhasil karena aku terus memperhatikan gerakan Kakak...

Semuanya berkat Kakak. Aku sempat tenggelam dalam euforia kemenangan, tapi... tunggu, bukan itu yang terpenting sekarang! Aku harus berterima kasih dengan benar!

 

"A-anu, terima kasih banyak karena sudah menolongku hari ini!"

 

"Tidak perlu dipikirkan. Justru aku yang minta maaf karena terlambat. Sebenarnya, aku sempat melihatmu dari jauh tadi."

 

"Eh...?"

 

"Tadinya kupikir kamu lagi asyik latihan bareng teman timmu, jadi aku cuma menonton sebentar. Tapi suasananya kok makin nggak beres, terus kamu sampai dipukul... aku merasa ini gawat dan langsung lari ke sini. Kalau saja aku sadar lebih awal, kamu nggak perlu sampai terluka begini."

 

...Rasanya air mataku mau tumpah. Kamu beneran terlalu baik, Kak...

 

Kakak melanjutkan dengan senyum lembutnya yang biasa.

 

"Meski lewat kejadian begini, tapi aku senang bisa main basket satu tim bareng Yuka. Kamu beneran jago. Rasanya sebentar lagi kamu bakal jauh lebih hebat dariku."

 

"E-eeh!? Nggak mungkinlah! Tapi, aku juga senang banget bisa main basket bareng Kakak!"

 

Hanya untuk bagian itu, aku benar-benar bersyukur. Karena aku tidak tahu apakah kesempatan seperti ini akan datang lagi.

 

Aku duduk di bangku taman. Hari ini aku mau pulang saja. Terlalu banyak kejadian yang menguras tenaga. Sambil meresapi berbagai perasaan yang berkecamuk, aku memasukkan bola ke ransel dan bersiap pulang. Saat itulah...

 

"Yuka, tunggu sebentar."

 

"Eh...?"

 

Kakak perlahan mendekatiku, sedikit membungkuk agar pandangan kami sejajar. Mata kami bertemu. Wajah Kakak benar-benar tampan. ...Jaraknya dekat sekali.

Wajah Kakak perlahan-lahan makin mendekat.

 

Eh...?

 

Tu-tu-tunggu sebentar? Ini jangan-jangan, jangan-jangan... ki-ciuman? Alur menuju ciuman?

 

Memang sih kejadian hari ini terasa sangat ditakdirkan, dan situasinya mungkin sangat ideal, tapi!

 

Detak jantungku berpacu kencang. Ciuman pertamaku, masa di luar ruangan begini?

 

Apalagi meski sudah miring, mataharinya masih kelihatan lho!? Eh, tunggu, ini terlalu cepat.

 

Gi-gimana ini. Tapi, tentu saja aku sangat senang. Apa aku harus tutup mata ya. Boleh kan?

 

──Aku memejamkan mata.

 

Ayah, Ibu, hari ini aku akan menyerahkan ciuman pertamaku kepada orang yang sangat kucintai.

 

*Peri*, sesuatu ditempelkan di pipiku.

 

...Eh?

 

Aku membuka mata.

 

"Syukurlah~ gara-gara kemarin aku jatuh dari sepeda dan luka, aku jadi stok plester di tas!

 

Pipimu tadi sedikit berdarah, jadi sekarang sudah aman ya. Harusnya aku sadar lebih awal... maaf ya, maaf!"

 

"……"

 

Aku menyentuh pipiku. Permukaan plester itu ternyata lumayan halus ya.

 

"……Ukh!"

 

"Uwah!? Kenapa, Yuka!?"

 

Berbagai emosi saling beradu dan meledak. Antara rasa kecewa karena ternyata bukan ciuman, tapi juga senang karena dia mengkhawatirkanku. Aku sudah tidak paham lagi, dan dengan dorongan perasaan itu, aku langsung menghambur memeluk Kakak.

 

Biar saja kalau dia menganggapku aneh! Saat ini aku ingin menumpahkan seluruh perasaan ini padanya! Seluruh tubuhku terasa panas. Apa Kakak merasa terganggu ya?

 

Kakak mengusap kepalaku dengan lembut.

 

"……Kamu sudah berjuang keras ya, Yuka. Kamu keren banget tadi."

 

──Aku sudah tidak bisa memikirkan apa-apa lagi. Hanya Kakak, hanya Masato-san yang terlihat di mataku.

 

(*Suka suka suka suka...! Aku sangat suka!*)

 

Seolah ingin memastikan perasaanku sendiri, aku terus memeluk Kakak dengan sangat, sangat erat.

───● Si OL Tsundere Mengetahui ●○●

 

Kalau ditanya hari apa yang paling berat secara mental, aku rasa kebanyakan orang akan menjawab hari Senin. Hari ini pun aku memakai setelan jas seperti biasanya.

Memakai riasan seadanya.

 

Momen saat aku melangkahkan kaki menuju keseharian yang tak pernah berubah ini rasanya membuatku depresi bukan main.

 

"Selamat pagi……"

 

Aku membuka pintu kantor.

 

Sambil menyapa rekan kerja sekadarnya, aku berjalan cepat menuju mejaku.

 

Belakangan ini semangat hidupku memang meningkat karena bisa bertemu Masato di akhir pekan, tapi kalau ditanya apakah itu meningkatkan motivasi kerjaku, jawabannya tidak juga.

 

Aku cenderung menganggap kerja ya hanya sebagai cara untuk mendapatkan uang.

 

Sedikit sebelum sampai di meja, tanpa pikir panjang, aku mengecek papan tulis putih besar yang dipasang di tengah ruangan.

 

Papan tulis ini berisi jadwal mingguan, dan jika ada yang libur, tanggalnya akan ditulis di sana.

 

"Lho……?"

 

Papan tulis yang tadinya terlihat biasa saja, ternyata ada satu hal yang menarik perhatianku.

 

Kolom hari Jumat. Kalau dilihat baik-baik, Miki-senpai mengambil cuti setengah hari.

 

Jumat adalah hari "Perjamuan" kami. Cuti setengah hari berarti Senpai tidak pergi minggu ini……?

 

"Seira, pagi~"

 

"Ah, Miki-senpai, selamat pagi."

 

Baru saja terpikirkan, Miki-senpai muncul di waktu yang tepat.

 

Tanya saja deh sekalian.

 

"Miki-senpai, hari Jumat besok cuti setengah hari ya?"

 

"Fuffuffu…… bener banget. Ah, tenang saja, aku tetap datang ke 'Perjamuan' kok."

 

"? Begitu ya."

 

"Alasannya…… penasaran ya?"

 

Miki-senpai tersenyum menyeringai.

 

Duh, ini sih tipe wajah yang minta ditanya banget…….

 

"Pe-penasaran sih……"

 

Begitu aku bilang penasaran demi formalitas, Miki-senpai memberi isyarat tangan menyuruhku mendekat. Sepertinya dia mau berbisik. Terpaksa aku mendekat ke arahnya.

 

"Kamu tahu yang namanya 'Dohan' (berangkat bareng)?"

 

"Eh……"

 

*Dohan*. Aku pernah dengar.

 

Kalau tidak salah, itu sistem di mana pelanggan janjian dulu sama si pelayan, lalu mereka pergi ke toko bareng-bareng…… jangan-jangan!

 

"Betul sekali~♪ Aku mau kencan dulu sama Yusuke-kun, baru deh berangkat ke toko bareng ♪"

 

"……!"

 

I-iri banget!

 

Iri parah. Eh, apa-apaan itu, curang banget.

 

"Yah, katanya di toko itu sistem *dohan* nggak terlalu memberi keuntungan buat pihak laki-laki? Jadi kalau dia nggak beneran suka sama pelanggannya, dia nggak bakal mau diajak berangkat bareng~ aduh, gimana ya, aku kayaknya beneran disukai nih~!"

 

Duh, menyebalkan sekali.

 

Tapi, itu pasti fakta. Aku tahu Miki-san dan pelayan itu memang punya hubungan yang cukup baik…….

 

"I-itu…… apa pihak laki-lakinya yang minta?"

 

"……"

 

Ah, dia membuang muka.

 

Sudah kuduga. Ternyata dia sendiri yang minta ya. Syukurlah. Dalam hati aku menghembuskan napas lega.

 

Kalau pihak laki-laki yang mengajak, berarti tamat sudah harapanku.

 

Tapi kalau Miki-senpai yang mengajak dan dia bilang oke, berarti masih ada harapan

buatku. Itu berarti aku juga boleh mengajaknya.

 

Baiklah, harus segera dilaksanakan.

 

"Aku…… aku juga akan coba mengajaknya."

 

"Oh, bagus itu! Lagipula…… ada 'ini' kan, 'ini'."

 

"?"

 

Miki-senpai menunjuk ke arah papan tulis di belakang.

 

Di sana tertulis.

 

"Begitu ya…… sudah waktunya bonus turun ya."

 

"Betul! Fufufu…… isi dompet sudah siap siaga. Aku bisa menikmati kencan *dohan* dengan maksimal……! Apa aku kasih hadiah juga ya……"

 

*TL/Note: Dohan (同伴 / Dōhan) adalah istilah teknis dalam industri hiburan malam di Jepang, seperti host club (tempat Masato bekerja) atau hostess club. Ini merujuk pada praktik di mana seorang host atau hostess bertemu dan menghabiskan waktu bersama pelanggan di luar tempat kerja (misalnya makan malam, minum, atau berkencan) sebelum mereka berdua berjalan bersama untuk memasuki klub saat jam kerja dimulai.

 

Memang benar, mengingat bonus akan turun, aku bisa sedikit lebih royal.

 

Tentu saja aku tidak bisa mengajak berangkat bareng setiap minggu, jadi momen ini adalah kesempatan emas untuk tebar pesona. Dadaku mulai berdebar kencang.

 

"Yah, Masato-kun juga pasti punya kesan baik padamu, Seira. Harusnya dia bakal bilang oke kalau diajak berangkat bareng!"

 

"Nah, semangat ya!" kata Miki-senpai sambil tersenyum lalu menuju mejanya.

 

Ini informasi yang sangat bagus.

 

Aku segera mengeluarkan ponsel dan menghubungi Masato. Pesanku tadi malam memang belum dibalas lagi, tapi persetanan dengan itu.

 

Mochizuki Seira

 

Masato, selamat pagi.

 

Kalau keberatan kamu boleh menolak kok, tapi hari Jumat besok, apa kita bisa berangkat ke toko bareng (*dohan*)?

 

Aku menulis ulang pesan itu dua-tiga kali sampai akhirnya aku kirim.

 

Sampai sekarang, aku belum pernah bertemu Masato di luar toko. Ini adalah kesempatan untuk melangkah lebih jauh.

 

Aku tidak mungkin mengambil cuti setengah hari secara mendadak sekarang, jadi berbeda dengan Miki-senpai, aku tidak punya waktu berdua di luar toko yang cukup lama untuk disebut kencan.

 

Tapi, sekadar makan sebentar sebelum ke toko pun sudah cukup.

 

Itu saja sudah menjadi waktu yang istimewa bagiku.

 

Karena aku sudah berjanji, tidak ingin selamanya terjebak dalam hubungan pelanggan dan pelayan.

 

……Balasan dari Masato mungkin baru akan datang sekitar jam 11 siang.

 

Biasanya jam-jam segitulah dia baru membalas pesan di pagi hari. Sampai saat itu, aku tidak punya pilihan selain menunggu.

 

Ujung-ujungnya, aku menghabiskan seluruh waktu pagiku dengan perasaan gelisah.

 

Hari Jumat yang dinanti-nanti.

 

Meski bukan gayaku, aku memakai setelan jas yang sedikit lebih bagus. Di toilet pusat perbelanjaan stasiun, aku sudah memastikan riasan dan penampilanku sempurna. Ya. Aku berhasil mendapatkan persetujuan untuk berangkat bareng.

 

Saat mendapat balasan "oke", aku melompat kegirangan.

 

Tidak apa-apa. Seira hari ini sudah melakukan usaha maksimal yang dia bisa.

 

Tarik napas panjang.

 

Berjalan sekitar lima menit dari pintu keluar seberang stasiun ini, di sanalah letak 'Festa'.

 

Biasanya orang yang janjian berangkat bareng cenderung memilih tempat yang dekat dengan toko. Yah, masuk akal sih mengingat setelah itu harus ke toko bareng-bareng.

 

Aku melirik jam tangan.

 

Aku memakai jam tangan favoritku. Dengan gelang perak, jamnya kecil, dan permukaannya dihiasi warna merah muda pucat.

 

Sebentar lagi waktu Masato datang.

 

Jantungku berdegup kencang. Ternyata bisa bertemu di luar saja sudah membuatku sebahagia ini ya.

 

"Seira-san!"

 

Aku tersentak.

 

Suara ini. Aura ini. Mana mungkin salah.

 

Aku menoleh perlahan ke arah suara itu.

 

"Syukurlah! Maaf ya, apa aku membuatmu menunggu? Maaf."

"……"

 

Di sana berdiri seorang malaikat…… bukan…… iblis?

 

Dia benar-benar terlalu tampan. Ketampanan yang brutal. Kalau itu Masato yang sekarang, mungkin dipukul sekuat tenaga pun aku bakal merasa senang.

 

Rambut hitamnya yang sedikit ikal seperti biasa.

 

Kemeja putih lengan pendek berkerah... dengan kancing paling atas yang dibiarkan terbuka, memperlihatkan kalung perak yang berkilau di lehernya.

 

Gaya celana hitam yang chic memberikan kesan formal yang berbeda dari saat kami bertemu di toko.

 

Gimana ya, ini tuh...!

 

"Terlalu seksi...!"

 

"……? Kamu bilang sesuatu?"

 

"N-nggak ada apa-apa kok... Aku juga nggak nunggu lama. Ayo jalan?"

 

Ba-bahaya. Hampir saja aku mengatakannya dengan lantang.

 

Tapi ini benar-benar curang! Bisa-bisanya dia dandan begini...! Pasti, dia memilih gaya agak formal demi mengimbangi aku yang memakai setelan jas.

 

Tapi di saat yang sama, senyumnya yang sanggup melelehkan hati itu tetap ada.

 

Ini benar-benar senjata. Level yang bisa membunuh orang dengan santai.

 

"……?"

 

Jangan memiringkan kepalamu dengan imut begitu dong...!

 

Ma-mataku jadi tertuju ke lehernya terus...! Tu-tulang selangkanya... Nggak akan ada perempuan yang sanggup nggak ngeliat kalau dikasih pemandangan begini!!

 

Kamu sengaja menggoda ya!

 

"Su-sudahlah, ayo pergi!"

 

"Siap! Maaf ya sampai dipesankan tempat makannya segala! Aku jadi nggak sabar."

 

Aah~ imut banget~ nggak kuat~.

 

Eh, ini sudah bisa dibilang kencan, kan? Aku nggak salah kan kalau menganggap aku lagi kencan sama anak ini?

 

Cuma makan malam biasa sih... tapi... ini yang terbaik. Sambil berhati-hati agar debaran dadaku tidak ketahuan, aku melangkah menuju restoran yang sudah kupesan.

 

"Atas nama Mochizuki, reservasi jam 18.30."

 

"……Ah, baik, mari saya antar."

 

...Anak resepsionis tadi... dia sempat terpesona lihat Masato... Yah, aku paham sih rasanya... tapi maaf ya. Anak ini milikku.

 

Sensasi kenikmatan yang manis menjalari tulang punggungku.

 

Rasa menang sendiri yang tak terlukiskan. Luar biasa. Bikin ketagihan.

 

Akhirnya kami sampai di restoran dengan selamat. Selama di jalan tadi, rasanya seperti sedang bermimpi hanya karena Masato berjalan di sampingku. Aku bahkan nggak terlalu ingat tadi kami ngobrol apa.

 

Ujung-ujungnya aku memilih restoran ini, tapi memilihnya pun butuh perjuangan berat.

 

Tadinya aku ingin pamer kelebihan sebagai wanita dewasa dengan memilih restoran mahal, tapi kalau terlalu mewah, Masato mungkin malah jadi segan.

 

Tapi kalau restorannya terlalu murah, aku nggak tahu apa Masato bakal puas atau nggak.

 

Makanya, aku pilih yang di tengah-tengah.

 

Restoran dengan area teras. Tempat yang suasananya pas, sedikit mahal buat ukuran mahasiswa.

 

"Wah~ tempatnya bagus banget ya...!"

 

"Fufu. Kamu masih kayak anak kecil ya, senang cuma gara-gara tempat begini."

 

"Eh, n-nggak gitu kok. Aku sudah dewasa tahu."

 

"Fufufu... nggak apa-apa kok. Nah, silakan duduk."

 

Meja di teras.

 

Matahari sudah hampir tenggelam, dan lampu-lampu taman di luar mulai menyala satu per satu.

 

Sip. Aku senang bisa memilih tempat dengan pemandangan sebagus ini.

 

"Pesan saja apa pun yang kamu suka. Biar aku yang bayar."

 

"Eh, eeeh? Masa begitu, biarkan aku ikut bayar sedikit saja."

 

"Nggak boleh. Kan aku yang memaksa minta berangkat bareng. Aku nggak akan membiarkan Masato mengeluarkan uang sepeser pun."

 

"Nggak enak lho... masa begitu..."

 

"Beneran nggak apa-apa. Jangan dipikirkan. Seperti yang pernah kubilang, aku nggak kekurangan uang kok."

 

Nggak ada orang buat dipameri uang, hobi pun nggak punya. Makanya, sekarang aku pakai buat Masato.

 

Bagiku, itu adalah hal yang sangat alami dan sudah seharusnya.

 

"……Pasta di sini enak banget...! Kapan terakhir kali ya aku makan makanan seenak ini..."

 

"Fufufu... iya ya. Memang sangat enak."

 

Jujur saja, aku nggak terlalu tahu rasanya gimana.




Habisnya, di depanku ada Masato... dan Masato makan dengan terlihat sangat bahagia begini.

 

Cuma karena itu saja, tingkat kebahagiaanku sudah mentok (*capslock*). Rasanya nggak akan ada kegembiraan yang lebih dari ini.

 

Syukurlah. Benar-benar syukurlah.

 

Sambil menikmati teh setelah makan... aku mencoba mengutarakan hal yang membuatku penasaran sejak lama.

 

"Hei, Masato."

 

"……Iya?"

 

Ekspresi bingungnya imut sekali. Masato-ku yang imut.

 

"……Kenapa kamu melakukan pekerjaan ini?"

 

"……A-anu……"

 

Ini sebenarnya pertanyaan yang tabu.

 

Aku tahu itu. Bisa dibilang ini bisnis menjual diri sendiri. Alasan setiap orang berbeda-beda, dan aku yang cuma pelanggan nggak seharusnya melangkah ke wilayah itu.

 

Tapi, aku sudah terlanjur tahu pesonanya. Makanya, aku benar-benar penasaran. Dia bukan tipe orang yang bakal memilih pekerjaan seperti ini atas kemauannya sendiri.

 

Di toko itu pun, dia terlihat sangat mencolok (berbeda). Mungkin karena itulah aku jadi tertarik padanya.

 

Masato menggaruk pipinya, terlihat kesulitan menjawab.

 

……Sepertinya dia memang nggak mau mengatakannya, ya. Makanya aku nggak menanyakannya lewat media sosial. Aku ingin menanyakan ini saat kami bicara tatap muka.

 

"Maaf. Sulit dikatakan, ya."

 

"Ah, nggak kok, sebenarnya bukan masalah besar juga sih……"

 

Seolah panik, dia meletakkan cangkirnya.

 

"Sebenarnya aku…… nggak punya uang. Dulunya aku tinggal di panti asuhan. Terus, ada orang di toko itu yang baik padaku dan menawariku kerja di sana…… ya kira-kira begitu ceritanya."

 

"Eh……? Pa-panti……?"

 

Panti asuhan maksudnya?

 

"Ah, iya. Aneh ya. Aku nggak punya orang tua."

 

"……! Maafkan aku!"

 

"Eh? ……A-ah nggak apa-apa! Aku sama sekali nggak keberatan kok, beneran!?"

 

Bodohnya aku menanyakan itu……!

 

Tanpa tahu perasaan Masato……!

 

"Beneran, aku nggak apa-apa. Sekarang aku merasa beruntung. Bisa hidup normal

begini…… aku bahagia kok."

 

"……!"

 

──Berbagai emosi bercampur jadi satu. Perasaan kalau Masato yang tersenyum di depanku ini sangat imut, dan rasa penyesalan karena menanyakan hal bodoh tadi.

 

Dan juga.

 

Keinginan kuat yang tak terbendung untuk melindunginya.

 

"Wah~ beneran enak banget tadi! Terima kasih banyak ya!"

 

"Nggak apa-apa kok. Itu anggap saja ucapan terima kasihku buat yang biasanya."

 

Keluar dari restoran, Masato meregangkan tubuhnya lebar-lebar. Setiap gerakannya terasa sangat manis dan menggemaskan bagiku.

 

"Tapi aku kan nggak memberikan balasan apa-apa……"

 

"Begitu ya…… kalau begitu, apa kamu mau pergi jalan-jalan denganku lagi seperti ini?"

 

"Eh? Tentu saja, dengan senang hati."

 

Fufufu…… berhasil. Aku bisa membuat janji berikutnya secara alami.

 

Lain kali jangan sebelum ke toko…… tapi setelahnya, atau kapan pun.

 

Karena sekarang aku bukan lagi sekadar pelanggan bagi Masato. Aku adalah sosok yang bisa diajak berbagi kesulitan, sosok yang bisa melindunginya.

 

Tanpa sadar sudut bibirku terangkat.

 

"Kalau begitu, ayo kita ke toko."

 

"Siap! Ayo!"

 

Aku mulai melangkah, dan Masato mengikuti di sampingku.

 

Meski perasaanku sedang meluap, tapi anehnya aku tidak merasa tegang. Rasanya melayang-layang, tapi kesadaranku sangat jernih.

 

Kalau sekarang, mungkin aku bisa mengatakan hal berani yang biasanya nggak sanggup kuucapkan.

 

"Hei."

 

"……?"

 

Hei, Masato-ku yang imut.

 

"Sampai ke toko nanti…… boleh nggak kalau kita gandengan tangan?"

 

"……B-boleh saja kok."

 

Dengan sedikit malu-malu, Masato mengulurkan tangannya. Fakta itu membuatku sangat bersemangat. Pasti karena aku sudah berhasil mendekati Masato. Karena aku sudah tahu isi hatinya. Ini adalah langkah besar. Langkah besar agar aku dan Masato bukan lagi sekadar pelanggan dan pelayan.

 

Jari-jemari kami bertautan. Tangan Masato terasa hangat.

 

Aaah. Perasaan yang luar biasa. Aku tenggelam dalam sensasi manis ini.

 

Dari kehangatan tangannya, aku bisa merasakan kepercayaan. Dia sudah membuka hati padaku. Kenyataan itu membuat dorongan perasaan yang tak terlukiskan membuncah di dadaku.

 

……Hei, Masato.

 

Aku menatapnya yang berjalan di sampingku dengan penuh kasih. Masato yang tampan dan imut. Dan juga……

 

Masato yang malang.

 

Aku yang akan melindungimu.

 

Biar kamu nggak perlu lagi melakukan pekerjaan seperti ini. Aku akan berjuang keras.

 

Aku menggenggam tangannya dengan kuat. Agar tidak akan pernah terlepas.

 

Mari kita terus bersama selamanya, ya.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close