Chapter 4: Gadis-gadis yang menginginkan perubahan
───● Gadis Sastra SMA Ingin Mengambil Foto ●○●
"Menurutku, sudah saatnya hubungan
antara aku dan sang Pangeran melangkah ke tahap kedua."
Suaraku menggema dengan jelas di dalam
kelas.
Sekarang adalah waktu istirahat makan
siang setelah pelajaran jam keempat berakhir. Masing-masing siswa bebas
memindahkan meja mereka, membagi diri menjadi kelompok-kelompok untuk menikmati
bekal mereka.
Belum lama ini, aku biasanya hanya
meringkuk di mejaku sendiri sambil melahap bekal sendirian. Tapi belakangan,
teman-teman yang akrab mulai berkumpul di sekelilingku secara alami. Aku merasa
ini adalah salah satu perubahan yang membahagiakan.
……Tapi.
"Eh, ngomong-ngomong. Kalian nonton
drama yang semalam nggak?"
"Ah~ aku nonton cuma demi lihat
Ennosuke-sama. Sumpah, dia gantengnya nggak ngotak."
"Anuuuuu woyyyyyy~~~~~"
Anak-anak ini sama sekali tidak
mendengarkanku!
Gimana sih ini!
"……Apa?"
"Apanya yang 'apa'?? Aku kan baru
saja deklarasi dengan suara lantang???"
Kalian nggak dengar ya? Perlu aku adakan
siaran ASMR korek kuping khusus buat telinga kalian doang?
"Haaah…… lagi-lagi halusinasi
Shiori?"
"Pangeran Halusinasi (xixixi)."
Yang melontarkan kalimat mengejek itu
adalah Hatsumi, si rambut pendek yang paling *boyish* di antara kami. Anak ini
masih saja tidak percaya soal keberadaan Kak Masato.
Dasar pecundang!! Terima dong kenyataan
ini!!
Yah, mau bagaimana lagi. Dia pasti iri,
kan. Aku paham, aku paham. Sambil menatap Hatsumi dengan tatapan penuh belas
kasih, aku menepuk-nepuk bahunya.
"Aku tahu perasaanmu pasti perih,
kan? Tapi ayolah, terima kenyataan ini?"
"Aku sudah memutuskan nggak akan
percaya sampai Shiori bawa foto berdua sama orang itu."
"Ugh……"
Sebenarnya ini hal yang sudah sering
mereka katakan padaku. Kalau ingin dipercaya, bawa buktinya, begitu katanya.
Tapi kan nggak harus foto berdua juga
nggak apa-apa, kan!?
"Tapi Shiori yang satu ini sampai
bela-belain tanya soal baju, dan sekarang pun dia lagi akting jadi 'Gadis
Anggun' (hehe) dengan menguraikan rambut dan pakai sweter putih bersih begini,
kan?"
"Padahal dalemannya penuh dengan
hal-hal nggak murni."
"Heh, itu nggak usah
ditambah-tambahin ya!"
Dari sudut mana pun, aku ini adalah Gadis
Anggun yang suci dan murni yang sangat cocok dengan warna putih bersih, tahu!
"Lagipula dia sampai melakukan
strategi media sosial seolah-olah dia itu 'Anak SMA Gaul Zaman Now'
(xixixi)."
"Itu beneran bikin ngakak
guling-guling sih. Sumpah, menjijikkan banget."
"Lu mah kalau musim gugur paling
cuma persiapan buat hibernasi doang, kan."
"Mau gue hajar beneran nggak?"
Lu pikir gue beruang apa????
"Jadi ya, mungkin orangnya memang
ada, kan? Terlepas dari apakah dia manusia sempurna tanpa celah seperti yang
Shiori bilang atau bukan."
Yang bicara dengan tenang itu adalah
Miyaki, satu-satunya orang di antara kami yang sudah punya pacar. Dia jadian
sama anak klub sepak bola. Nggak bisa dimaafkan.
"Kalau memang beneran ada, ajak dong
pas festival budaya nanti."
"Ah~ bener juga."
Festival budaya…… festival budaya ya.
Tahun lalu aku sama sekali tidak punya
kenangan menyenangkan, tapi memang benar karena sekarang aku sudah punya
beberapa teman, mungkin aku bisa menikmatinya.
Tapi kalau aku mengundang Tuan Masato……
Ah~ rasa ingin marahku mendidih~.
Nggak boleh. Aku merasa nggak bakal ada
hal baik yang terjadi kalau aku mengenalkan Tuan Masato pada mereka.
Tapi di samping itu, aku merasa ide
mengundang Tuan Masato ke acara sekolah itu lumayan oke. Berjalan bareng Tuan
Masato di sekolah…… betapa bangganya aku nanti.
Sepertinya aku memang harus mengundangnya
secara rahasia tanpa ketahuan mereka……
"Yah, dengan nyali ciut Shiori sih,
foto berdua itu cuma mimpi di siang bolong."
"Ka-kalau kalian bilang sampai
segitunya, bakal aku fotoin beneran nih! Dia itu gantengnya tingkat dewa,
serius!"
"Wih, ditunggu lho~"
"Sudah ngomong begini, nggak ada
kata 'nggak bisa' ya~"
Anak-anak ini…… sambil tetap menatap
ponsel, mereka bicara asal-asalan seolah-olah ingin bilang kalau mereka sama
sekali tidak berharap banyak……
Sepertinya aku harus membuat mereka sadar
siapa yang lebih unggul di sini……!
Yah, kalau memikirkan jarak hati antara
aku dan Tuan Masato, mengambil foto itu sih perkara gampang.
Tenang saja, ini mah enteng banget.
Aku sudah bisa membayangkan wajah mereka
yang bakal gigit jari di awal minggu depan.
Aku akan segera melaksanakannya akhir
pekan ini!
……Begitulah masa-masa di mana aku sempat
berpikir begitu.
"Shiori-chan? Kamu kenapa? Dari tadi
tingkahmu mencurigakan sekali……"
"N-nggak nggak nggak nggak nggak ada
apa-apa kok!"
Waktu sudah menunjukkan hampir jam enam
sore.
Pelajaran dengan Tuan Masato hari ini pun
hampir berakhir.
Sampai detik ini, aku belum dapat foto
satu pun.
Malah, aku jadi terlihat seperti orang
aneh yang sebentar-sebentar mengeluarkan ponsel cuma buat mengecek wajah
sendiri.
Semenjak aku membantu Tuan Masato dari
tawaran model itu, memerankan "Gadis Anggun" rasanya jadi sedikit
lebih berat.
Kenapa ya…… aku tahu alasannya.
Padahal aku tahu hal itu tidak dimaafkan,
tapi ada bagian dari diriku yang ingin mencoba mengobrol apa adanya dengannya.
Tapi, tidak boleh. Kalau aku melepas
topeng ini, Tuan Masato pasti tidak akan mau datang lagi.
Kak Masato tidak pantas bersanding dengan
gadis SMA biasa yang bisa ditemukan di mana saja.
Lagipula, justru karena aku "bukan
diriku yang sebenarnya" inilah, aku bisa mengobrol santai dengan Tuan
Masato sekarang.
……Tapi, sebenarnya aku ingin hubungan
yang seperti apa dengan Tuan Masato?
Ingin pacaran? Tentu saja. Kalau bisa
pacaran dan melakukan berbagai hal (dalam artian mendalam), itu akan sangat
luar biasa.
Tapi…… kalau begitu, sampai kapan aku
harus memakai topeng ini?
Seandainya kami jadian pun, orang yang
dia sukai adalah "aku yang bukan aku". Apa aku harus terus berpacaran
sambil menyembunyikan jati diriku selamanya?
"Oke, hari ini sampai di sini dulu
saja ya! Kamu sudah berjuang keras!"
"Eh…… ah, tapi masih ada sisa
sedikit……"
"Jadikan PR saja! Nggak ada gunanya
memaksakan diri kalau kamu sudah capek, kan?"
Gawat... Tuan Masato pasti menyadari
gerak-gerikku yang sempat terhenti tadi, makanya dia begitu perhatian padaku.
Mana mungkin aku bisa bilang kalau aku bengong karena sedang berfantasi tentang
masa depan saat kita pacaran nanti.
Dia benar-benar orang yang sangat baik...
dan penuh perhatian.
Karena itulah... aku benar-benar tidak
ingin menyia-nyiakan kesempatan ini.
Sambil memikirkan hal itu, aku dan Tuan
Masato membereskan peralatan belajar, lalu kami turun tangga karena aku ingin
mengantarnya sampai ke pintu depan.
"Berikutnya ada ujian simulasi
(*moshi*), kan? Semangat ya!"
"Te-tentu saja. Saya sangat percaya
diri kok!"
Ini serius. Cara mengajar Tuan Masato
sangat bagus... materi pelajarannya pun jadi mudah masuk ke otakku.
"Kalau begitu, aku pulang dulu ya.
Sampai jumpa!"
"……Terima kasih banyak untuk hari
ini. Sampai jum—ah!"
Tepat di saat aku sedang membungkuk
dengan anggun, aku tersadar.
Gawat! Fotonya!
Padahal aku sudah bicara besar di depan
teman-temanku, tapi aku belum mengambil foto satu pun!
Tadi sebenarnya ada kesempatan, tapi
karena aku pengecut, aku tidak sanggup mengatakannya.
"……Kenapa?"
"Anu—... itu—..."
Aku tidak bisa bilang "Ayo foto
bareng!" secara langsung. Biarpun sedang memakai topeng, identitas asliku
hanyalah Penduduk Desa B.
Aku tidak sanggup mengatakan hal seberani
itu.
Du-duh~~ aku harus bilang apa ya.
Waktu aku mendapatkan pesan suara yang
luar biasa itu, semuanya lewat chat jadi aku masih bisa mengatasinya... tapi
kalau tatap muka begini, aku malu sekali!
Tanganku yang memegang ponsel gemetar
tidak jelas.
Cuma tawa "ahaha~" nggak jelas
yang keluar dari mulutku.
Kira-kira aku harus bilang apa ya…….
"Hei, Shiori-chan."
"Hoe?"
Tuan Masato yang tadinya sudah memegang
gagang pintu hendak pulang, kini berjalan kembali ke arahku.
Du-duh, wajah Yang Mulia terlalu dekat
nih…….
"Mau foto bareng?"
"Eh……?"
"Anu, orang yang sudah seperti
waliku tanya, anak seperti apa yang aku ajar di sini. Kalau kamu tidak
keberatan, apa kita boleh foto bareng?"
"……I-iya, tentu saja! Boleh
kok!"
"Hmm…… syukurlah."
E-eeeeh!? Ma-masa ada keajaiban seperti
ini??
Yu-yossh. Sepertinya misi kali ini bakal
berhasil diselesaikan. Terima kasih kepada Dewa yang sudah memberikan
kesempatan ini.
Tuan Masato mengeluarkan ponselnya.
"Oke, aku ambil fotonya ya. Sini,
mendekat."
"Baik…… eh, eeh!?"
Sesuai instruksinya, aku mendekat ke arah
Tuan Masato berada.
Lalu, tiba-tiba Tuan Masato merangkul
bahuku, dan memosisikan wajahnya tepat di samping wajahku.
De-de-de-de-de-de-dekat dekat dekat dekat
dekat bangeeeetttt!!
"Oke, aku foto ya~ Satu, dua,
cheesee."
"Ah……!"
"Sip, terima kasih ya! Sebagai
kenang-kenangan, aku kirim fotonya ke Shiori-chan juga ya. Kalau begitu, sampai
minggu depan!"
*Batan.*
Pintu tertutup, dan Tuan Masato pun
pergi.
"~~~~~~~~~~~~~~~~~~~!!!"
Selalu saja begitu.
Orang itu selalu melakukan hal yang
kuinginkan, lalu pergi begitu saja dengan kerennya.
Benar-benar seperti seorang pangeran di
dalam cerita.
Kendali selalu ada di tangannya.
Di depan pintu yang kini sudah tidak ada
lagi sosok Tuan Masato.
Suara detak jantungku masih terus
berpacu.
Wajahku pun pasti sudah sangat panas.
Aku menarik napas panjang.
"SUATU SAAT NANTI PASTI BAKAL AKU
TABRAK KAMU, TAHU NGGAK SIHHHH!!!!!"
Cuma pernyataan kehendak nggak jelas
seperti itulah yang bisa kulakukan sekarang.
───● Rahasia Gadis Sastra SMA ●○●
Hari ini hari Sabtu. Seperti biasa, untuk
menjalankan tugas sebagai guru les privat Shiori-chan, aku sedang berada di
dalam kereta pada siang hari begini.
Sambil memberi tahu Shiori-chan kalau aku
hampir sampai, aku juga membalas pesan orang-orang lain di media sosial. Saat
itulah, mataku tertuju pada nama Mizuho, dan aku teringat kejadian tempo hari
saat aku tidak sengaja berpapasan dengannya di *Boys Bar*.
Jujur saja aku sempat panik, tapi
untungnya Mizuho bilang dia mau merahasiakannya. Kedamaian kehidupan kampusku
pun terjamin...
Kalau sampai ada rumor kalau aku ini
cowok mencurigakan yang bekerja di *Boys Bar*, rasanya bakal jadi masalah yang
merepotkan...
Ngomong-ngomong, siapa ya orang takdirnya
Mizuho itu? Perasaan di tempatku bekerja tidak ada yang bergaya rambut
*all-back*... Aku ingin membantunya, tapi informasinya terlalu sedikit. Aku
juga jarang punya kesempatan menyentuh ranah pribadi pramuniaga lain, apalagi
mereka semua sangat jago mendandani diri agar terlihat awet muda, sampai aku
tidak tahu berapa usia mereka sebenarnya...
Setelah terombang-ambing di kereta selama
10 menit, aku pun sampai di stasiun terdekat rumah Shiori-chan. Begitu keluar
dari kereta dan menatap langit, langit biru tanpa awan membentang luas. Sudah
di ambang musim panas. Sinar matahari terasa mulai membakar kulit.
Saat pertama kali diminta menjadi guru
les siswi SMA, jujur aku sempat bingung bakal jadi seperti apa, tapi sampai
saat ini semuanya berjalan tanpa masalah.
Kemampuan akademik Shiori-chan meningkat
pesat, dan hubungan kami pun baik.
Tak terasa sudah lebih dari 10 kali aku
datang ke rumahnya, rasanya cukup berkesan. Sambil berjalan menuju rumahnya,
aku mengecek daftar hal yang harus dikerjakan hari ini di dalam kepala.
Cek PR, mencocokkan jawaban... kalau
tidak salah dia bilang hasil ujian sekolahnya sudah keluar, jadi aku ingin
membahas itu juga.
Sambil berjalan dan berpikir, aku
melewati tempat di mana aku pernah diganggu oleh agen pencari model itu. Kalau
diingat-ingat, Shiori-chan saat itu lucu sekali.
"...Pffft."
Aku tahu ini tidak sopan, tapi
mengingatnya sekarang pun membuatku ingin tertawa. Anak yang biasanya sangat
pendiam itu, meski tujuannya demi menyelamatkanku, dia sampai mati-matian
berakting dengan karakter yang tidak jelas begitu. Aku senang dengan perasaannya,
dan kejadian itu membuatku merasa hubungan kepercayaan kami sedikit melangkah
maju.
Aku berusaha menahan tawa... tapi, aku
mencoba berpikir sejenak.
Seperti yang kukatakan padanya saat itu,
entah kenapa aku merasa masih ada tembok di antara kami. Tembok, atau lebih
tepatnya, seperti ada sesuatu yang dia sembunyikan... Ya, tentu saja sebagai
manusia, wajar jika ada satu-dua hal yang ingin dirahasiakan. Tapi milik
Shiori-chan ini seperti... sesuatu yang lebih mendasar, seolah dia belum
memperlihatkan dirinya yang sebenarnya padaku.
Mungkin karena di dunia dengan rasio
gender yang aneh ini, dia merasa harus terlihat sesempurna mungkin saat
menyambut lawan jenis seperti diriku.
Sambil memikirkan hal itu, aku sampai di
depan rumah Shiori-chan.
"Yah, nggak usah buru-buru juga
sih."
Saat dia menolongku waktu itu, ketika aku
bilang ingin melihat berbagai macam ekspresinya, dia menjawab "akan
kupikirkan". Jadi, aku akan menunggunya dengan sabar. Tidak perlu
terburu-buru memperpendek jarak.
Selangkah demi selangkah, aku harap dia
bisa mempercayaiku sebagai guru lesnya.
Setidaknya aku berniat membimbingnya
sampai ujian masuk universitas selesai.
Begitulah, demi menjalankan kewajibanku
hari ini, aku menekan bel rumahnya yang megah.
"Selamat siang, Tuan Masato. Mohon
bantuannya untuk hari ini."
"Selamat siang Shiori-chan. Mohon
bantuannya juga ya~"
Saat aku masuk ke kamar Shiori-chan, dia
menyambutku dengan mode "nona anggun" seperti biasanya.
"Cuacanya mulai panas ya. Cuma jalan
kaki dari stasiun ke sini saja sudah bikin keringat bercucuran."
"Sekarang sudah mulai masuk musim
panas ya. Jika berkenan, apakah Anda ingin meminjam handuk?"
"Ah tidak, tadi aku sudah
mengelapnya pakai tisu basah (*body sheet*) kok. Terima kasih ya."
Menghadapi gadis remaja, perawatan diri
seperti ini hukumnya wajib.
Kalau dia sampai merasa risih, habislah
sudah... Aku tidak boleh sampai dipecat dari pekerjaan guru les yang menopang
hidupku ini!
"Begitu ya... ah, jika Anda mau,
Anda boleh meminjam kamar mandi kami untuk mandi, silakan katakan saja kapan
pun ya?"
"Hm...? Terima kasih, tapi aku tidak
apa-apa kok."
"Benarkah? Tolong jangan sungkan ya?
Setelah les selesai pun tidak apa-apa. Ah, kamar mandi rumah kami cukup luas
lho. Cukup luas bahkan untuk Tuan Masato merenggangkan kaki."
"O-oh, begitu ya. Baiklah, mungkin
kapan-kapan kalau ada kesempatan aku akan minta tolong...?"
Eh, kenapa dia memaksa banget soal mandi
ya?
"Luar biasa! Semua mata pelajaran
nilainya naik dibanding ujian sebelumnya!"
"Iya. Ini semua berkat bimbingan
Tuan Masato yang sangat baik. Terima kasih banyak."
"Nggak kok! Ini murni karena
Shiori-chan sudah berjuang keras!"
Selesai mengecek PR, aku memeriksa hasil
ujian Shiori-chan. Karena aku tahu nilainya yang dulu, melihat kenaikan ini
membuatku sangat senang. Shiori-chan bilang ini berkatku, tapi sulit dipercaya
kalau cuma les seminggu sekali bisa langsung naik drastis, jadi hasil ini
adalah bukti perjuangannya di hari-hari biasa.
"Wah, aku senang sekali. Kalau
prestasimu terus naik begini, mungkin kamu bisa mengincar jalur rekomendasi.
Ayo semangat terus ya."
"Baik, mohon bimbingan dan arahannya
selalu."
Shiori-chan menundukkan kepalanya dengan
sangat sopan.
Gerak-geriknya sangat halus dan anggun...
aku sampai merasa segan sendiri.
Tapi omong-omong, aku senang sekali. Ah,
benar juga.
"Karena hasil ujianmu sangat bagus,
aku ingin memberimu hadiah sebagai hadiah..."
"...!?"
Bagaimanapun, setelah berjuang keras,
menurutku harus ada imbalannya. Motivasi itu penting... Tahu gitu tadi aku beli
sesuatu yang manis di depan stasiun ya?
"Shiori-chan, ada sesuatu yang kamu
inginkan?"
"!? A-apa yang saya inginkan... ya?
Anu, itu... se-sampai batas mana saya boleh meminta...?"
? Sampai batas mana? Ah, apa dia
mencemaskan soal harga? Padahal dia tidak perlu memikirkan itu. Setidaknya
gajiku dari guru les dan kerja sampingan di bar sudah lebih dari cukup untuk
ukuran mahasiswa.
Tentu saja aku punya target untuk
melunasi beasiswa, tapi aku tidak menghamburkan uang setiap hari, jadi saat ini
aku masih punya kelebihan. Kemarin aku bahkan baru membelikan sepatu basket
untuk
Yuka.
Jadi, yah.
"Jangan khawatir. Apa pun boleh
kok?"
"A-apa pun!?"
Uwaa, aku sampai kaget. Shiori-chan
ternyata bisa mengeluarkan suara sekeras itu ya. Sambil berseru begitu, dia
langsung berdiri dari kursi yang tadi didudukinya.
A-apa dia punya sesuatu yang sangat
diinginkannya……?
"T-tadi Anda bilang apa pun,
kan……?"
"U-uh, iya, silakan pilih
sesukamu……"
"Se-sesuka saya……!?"
Dalam sekejap mata, wajah Shiori-chan
memerah padam. Eh, kenapa ya? Apa dia malu menyebutkan makanan favoritnya……
Napas Shiori-chan mulai terdengar
memburu. Eh, dia kenapa ya?
"S-saya izin ke belakang sebentar
untuk 'memetik bunga'!"
"Eh, ah, iya."
Dengan gerakan yang sangat cepat,
Shiori-chan pergi ke toilet.
……Eh? Apa aku salah bicara? Jangan-jangan
dia tipe orang yang super stoik yang merasa tidak butuh hadiah?
Kalau aku bicara tidak sopan, aku harus
minta maaf, tapi…… aku pernah dengar kalau minta maaf tanpa tahu letak
kesalahannya itu juga tidak terlalu baik…….
Untuk sementara, aku memutuskan untuk
meminum teh gandum yang ada di atas meja.
Hmm, dingin dan segar.
Karena tidak ada pilihan lain, aku
kembali memeriksa lembar jawaban ujiannya.
Hmm, dia benar-benar mengerjakan dengan
baik ya…….
……Setelah beberapa saat berlalu, aku
melirik jam. Sudah lewat 10 menit sejak Shiori-chan pergi ke toilet.
……Eh, bukannya ini terlalu lama? Dia
baik-baik saja kan?
"Kalau begitu, pikirkan saja dulu
sampai pertemuan kita berikutnya ya?"
"I-iya, saya mengerti. Sesuatu yang
manis, benar juga ya. Saya memang suka camilan……"
Saat Shiori-chan kembali setelah beberapa
saat, aku bertanya apakah dia benci sesuatu yang manis. Dia menjawab
"Suka……" dengan wajah yang terlihat sangat lelah, jadi aku merasa
lega. Tapi kenapa dia bisa sampai seletih itu ya?
"Ah, lalu jika Anda tidak
keberatan……"
"Hm?"
Tepat saat kami hendak kembali belajar,
Shiori-chan memanggilku.
"A-anu, Se-se……"
"Se……?"
Dengan suara yang sangat pelan seolah
hampir menghilang, Shiori-chan hendak mengatakan sesuatu. Apa ya? Sepertinya
dalam kondisi begini, lebih baik aku menunggunya pelan-pelan.
"Se-sejarah! Saya ingin belajar
sejarah!"
"Sejarah? Ah, benar juga. Kali ini
nilai Sejarah Jepang-mu sepertinya masih bisa ditingkatkan lagi ya?"
"Benar, benar sekali. Saya
benar-benar ingin mengulang materinya……"
Huum. Aku tidak keberatan sih, tapi……
Aku melihat Shiori-chan yang tertawa
*fufufu*.
Entah kenapa, aku merasa hal yang
sebenarnya ingin dikatakan Shiori-chan bukanlah itu.
"Berikutnya ada ujian simulasi
(*moshi*), kan? Semangat ya!"
"Te-tentu saja. Saya sangat percaya
diri kok!"
Pelajaran hari itu pun berakhir, waktu
menunjukkan pukul enam sore lewat sedikit.
Karena konsentrasi Shiori-chan mulai
menurun, hari ini kami selesai lebih awal. Dia pasti lelah setelah
menyelesaikan ujian sekolahnya.
"Kalau begitu, aku pulang dulu ya.
Sampai jumpa!"
"……Terima kasih banyak untuk hari
ini. Sampai jum—ah!"
Tepat saat aku melangkah keluar pintu
hendak pulang, Shiori-chan berseru seolah teringat sesuatu. ……? Ada apa ya.
"……Kenapa?"
"Anu—... itu—..."
Shiori-chan memegang ponsel yang
dikeluarkannya dari saku sambil menggerakkan tangannya secara tidak jelas.
……Saat itulah, akhirnya aku bisa menebaknya. Hal yang ingin diusulkan
Shiori-chan saat itu.
Kalau begitu, mari kita lakukan.
"Hei, Shiori-chan."
"Hoe?"
Karena menurutku hal seperti ini pasti
sulit dikatakan oleh seorang perempuan.
"Mau foto bareng?"
"Eh……?"
"Anu, orang yang sudah seperti
waliku tanya, anak seperti apa yang aku ajar di sini. Kalau kamu tidak
keberatan, apa kita boleh foto bareng?"
"……I-iya, tentu saja! Boleh
kok!"
"Hmm…… syukurlah."
Aku mengeluarkan ponsel dari saku. ……Ah,
tapi aku tidak punya aplikasi *selfie* yang bagus. Yah, pakai kamera biasa saja
tidak apa-apa kan……? Eh, jangan-jangan aku ini nggak punya perasaan
(*delicacy*) ya!? Tapi ya sudahlah, mau bagaimana lagi. Semoga dia mau
memaafkanku.
"……Oke, aku ambil fotonya ya. Sini,
mendekat."
"Baik…… eh, eeh!?"
Agar posisinya pas di dalam *frame*, aku
merapatkan bahuku ke bahu Shiori-chan.
Aku tidak terlalu paham cara *selfie*,
jadi aku agak bingung…….
"Aku foto ya~ Satu, dua,
cheesee."
"Ah……!"
Saat mengambil foto, aku mencium sedikit
aroma sampo dari rambut Shiori-chan.
Ternyata foto bareng perempuan itu
lumayan bikin malu ya.
"Sip, terima kasih ya! Sebagai
kenang-kenangan, aku kirim fotonya ke Shiori-chan juga ya. Kalau begitu, sampai
minggu depan!"
Demi menutupi rasa malu itu, aku segera
berpamitan dari rumah Shiori-chan.
Ekspresi terakhir yang kulihat darinya
tampak seperti dia sedang terpaku karena terkejut.
Memang sebaiknya tidak usah melakukan hal
yang tidak biasa dilakukan, tapi…… yah, aku senang kalau ini bisa membuatnya
sedikit lebih percaya padaku.
Di dalam kereta saat perjalanan pulang.
Aku mengirimkan foto yang tadi kami ambil
ke Shiori-chan, lalu menutup ponsel.
Saat aku mengintip keluar jendela kereta,
matahari senja sudah mulai terbenam.
Kira-kira, apa jarakku dengan Shiori-chan
sudah sedikit memendek?
Jika bisa, aku ingin dia membuka hatinya
dan bicara dengan lebih santai tanpa merasa tegang…… Entah kenapa, aku merasa
Shiori-chan pun akan merasa lebih lega jika bisa bersikap seperti itu.
Aku meregangkan tubuh lebar-lebar.
Aku melihat sekali lagi foto berdua yang
tadi kami ambil. Mungkin karena kaget dengan ajakanku yang mendadak, ekspresi
Shiori-chan terlihat lebih kaku dari biasanya.
……Kalau dipikir-pikir lagi, foto berdua
itu jaraknya cukup dekat, apa ini termasuk pelecehan seksual (*sekuhara*) ya……?
Ah, tapi di dunia di mana jumlah
laki-laki lebih sedikit begini, mungkin hal itu dianggap biasa saja…… kan?
"Yah, bakal baik-baik saja
lah."
Aku berhenti berpikir dan memejamkan
mata. Karena semalam aku bekerja di bar sampai larut malam, aku merasa sedikit
lelah. Meski hanya sebentar, aku ingin beristirahat.
Saat itu, aku sama sekali tidak
menyadarinya.
Bahwa segala ucapan dan tindakan yang
kulakukan berulang kali selama ini.
Akan menjadi jerat yang mencekik leherku sendiri di kemudian hari.
───● Sahabat Masa Kecil Si Mahasiswi Menyadari
●○●
Dalam mimpi, terkadang ada saatnya aku
bisa menyadari, "Ah, ini cuma mimpi."
Ingatan masa kecil. Sampai sekarang pun
masih sering muncul dalam mimpi seperti ini.
Aku sangat menantikan pertemuan
dengannya, hampir setiap hari aku pergi ke taman dekat rumah. Hari demi hari.
Namun, sejak suatu hari itu.
Dia, tidak pernah datang lagi.
Di tengah hujan yang turun dengan
dinginnya. Sesuatu jatuh membasahi pipiku. Hal itu mengalir dan jatuh bersama
air hujan.
"……-!"
Aku terbangun. Begitu mengambil ponsel di
samping bantal, waktu menunjukkan pukul tiga lewat sedikit. Masih tengah malam.
"Mimpi…… ya."
Aku mengacak-acak rambutku.
Entah kenapa belakangan ini aku sering
memimpikan masa lalu. Ingatan saat aku beneran masih kecil dulu. Aku sering
teringat tentang orang yang dulu main lempar tangkap bola bersamaku di taman
dekat rumah.
Kami bermain bersama selama sekitar satu
tahun…… lalu dia tiba-tiba menghilang.
Rasanya sangat kesepian.
Mungkin karena aku masih merasa tidak
rela atau entah apa, ujung-ujungnya aku tidak berhenti main *softball* sampai
SMA.
Aku merasa diriku sendiri bodoh. Meski
aku melakukan hal itu, dia tidak akan pernah kembali.
Sejak bertemu Masato, aku pikir aku tidak
akan mengingat hal itu lagi, tapi ternyata ingatan masa kecil yang disertai
emosi itu masih tersisa di kepala dengan cara yang tidak terduga.
"Aku bahkan nggak ingat namanya……
apa dia baik-baik saja ya……"
Asal dia sehat-sehat saja, itu sudah
cukup bagiku.
Sambil memikirkan hal itu, aku kembali
terlelap.
Libur musim panas universitas itu sangat
panjang.
Agustus biasanya libur penuh, bahkan
libur sampai akhir September pun adalah hal yang lumayan panjang.
Kami sebentar lagi akan memasuki libur
musim panas mahasiwa yang panjang itu.
"Mizuho. Aku ingin buat janji buat
main bareng Masato pas libur musim panas nanti."
Di sebuah kafe yang ada di dalam area
kampus. Di kursi teras, aku mengatakan hal itu pada sahabatku yang sedang
meminum es Cafe Latte melalui sedotan dengan imutnya.
Bisa-bisanya libur musim panas sudah di
depan mata, tapi aku belum buat janji main sama Masato!
Ini adalah situasi yang sangat gawat!
"Hmm, ya tinggal buat janji saja,
kan……?"
"Jangan bilang gampang begitu
dong!?"
Entah kenapa belakangan ini sikap Mizuho
terasa agak jaga jarak.
Padahal Mizuho itu kelebihannya adalah
senyumannya yang selalu penuh semangat…… Apa terjadi sesuatu? Saat aku tanya,
dia cuma menggelengkan kepala sambil tersenyum sedih.
Aku sudah berteman cukup lama dengan
Mizuho, tapi ini pertama kalinya dia begini.
"Mau main apa?"
"Main apa ya…… hmm……"
Aku menopang dagu. Caramel Latte yang
kupesan sudah mencair esnya, menyisakan cairan yang mulai hambar di bagian
bawah.
"Mumpung libur musim panas, gimana
kalau ke laut?"
"Laut! Bagus tuh. Aku juga suka
banget laut."
Oh, dia sedikit bersemangat. Kalau naik
kereta sekitar satu setengah jam kita bisa sampai ke laut, jadi sepertinya ide
yang bagus.
Lalu…… aku sedikit mendekatkan tubuhku ke
arah Mizuho, dan berbisik pelan begini:
"Kalau nggak langsung pulang di hari
yang sama…… nggak apa-apa kan?"
"Eh!?"
"Ya kan kita ini sudah mahasiswa?
Rasanya nggak aneh kan kalau kita pergi menginap?"
Menurutku ini ide yang tidak buruk.
Menggunakan alasan pergi ke tempat jauh untuk menginap bersama……
Di sebuah penginapan, di malam musim
panas, ada seorang laki-laki dan perempuan muda…… tidak mungkin tidak terjadi
apa-apa, kan……
"A-aku rasa itu tidak baik!!"
"Eeeh!? Kenapa!"
Saat aku sedang asyik berfantasi, Mizuho
malah protes. Melihat wajahnya yang memerah, Mizuho pasti juga memikirkan hal
yang sama denganku tadi.
"Ha-habisnya kan kalian belum
pacaran? Be-belum pacaran tapi sudah dimulai dari hal seperti itu, menurutku,
menurutku itu tidak baik!"
"Kamu bicara apa sih! Pas baru masuk
kuliah saja Mizuho gayanya kayak 'ayolah gas langsung aja!', kan!"
"I-itu kan karena aku lagi terlalu
bersemangat atau semacamnya……"
Mizuho yang kehabisan kata-kata kembali
menyesap sedotan Cafe Latte-nya.
Tapi memang benar sih, kalau tiba-tiba
diajak pergi berdua menginap ke laut, Masato yang biasanya santai pun mungkin
bakal waspada dan menolak……?
Hmm, kalau begitu, baiklah……
"Kalau gitu Mizuho juga ikut pergi
bareng saja."
"Uwek!?"
Mizuho melepaskan sedotan dari mulutnya
dengan kaget. Rasanya kuncir duanya pun ikut bergoyang karena terkejut.
Reaksinya selalu saja imut.
"Kalau aku bilang pergi berdua dia
mungkin bakal menolak…… tapi kalau aku bilang Mizuho juga ikut, Masato pasti
bakal merasa tenang, kan? Kalian berdua juga
sepertinya sudah cukup akrab."
"Eh, nggak…… itu……"
Menurutku ini ide cemerlang. Maaf ya
Mizuho, nanti pas suasana malam yang romantis, aku bakal minta kamu buat kasih
kami waktu berdua saja……
"Mizuho juga pernah bilang kan kalau
itu impianmu? Pergi ke laut bareng cowok."
"I-itu memang benar sih,
tapi……"
"Sip! Kalau sudah diputuskan begini,
hari ini juga aku akan usulkan ke Masato! Harus cepat-cepat mumpung masih
hangat!"
"Eh, tung—Koumi, kamu serius?"
"Aku beneran serius tahu! Mizuho
juga harus siapin baju renang yang oke, ya?"
"……Se, seriusan nih……"
Aku bisa main bareng Mizuho, sekalian
memperdalam hubungan sama Masato, benar-benar sekali mendayung dua-tiga pulau
terlampaui!
Sekarang tinggal masalah Masato bakal
setuju atau nggak!
"Makanya, Masato, ayo kita ke
laut!"
"Bentar, 'makanya' itu maksudnya
apa? Aku beneran nggak paham konsepnya??"
Begitu Masato sampai di kampus, aku
langsung mengajaknya.
Masato melirik ke arah Mizuho yang ada di
sampingku seolah meminta penjelasan, tapi Mizuho cuma bisa tertawa kaku.
"Ayo kita menginap di laut! Bukannya
itu baru namanya liburan musim panas mahasiswa?"
"Laut ya…… kedengarannya seru sih……
tapi menginap, menginap ya……"
*Ugh.* Ternyata Masato pun keberatan soal
bagian itu…… ya wajar sih.
Padahal aku sempat berharap dia bakal
setuju tanpa waspada sedikit pun, tapi sepertinya tidak semudah itu.
Tapi aku masih punya kartu as!
"Tenang saja! Mizuho juga ikut
kok!"
"Apa itu beneran bisa jadi alasan
buat tenang??"
"Ahaha……"
Mizuho tertawa dengan wajah merasa
bersalah.
Kalau ditolak ya mau bagaimana lagi, aku
tinggal usulkan pergi pulang hari (*day trip*) atau cari tempat lain! Aku nggak
bakal menyerah~!
Masato memegang dagunya dan berpikir
sejenak……
"Oke deh. Tapi kamar penginapannya
harus terpisah ya?"
"Asyik! Tentu saja, tentu saja! Sip!
Kalau gitu ayo kita tentukan tanggalnya!"
Yess!! Kayaknya kalau aku cuma sendirian
tadi pasti bakal ditolak, kerja bagus Mizuho!
"Mizuho ayo ikut tentukan juga! Wah,
aku jadi nggak sabar!"
"I-iya, bener juga ya……"
Dari sekarang saja aku sudah sangat
menantikannya.
Sepertinya liburan musim panas tahun ini
bakal seru banget!
Saat perjalanan pulang hari itu.
Karena Mizuho bilang ada urusan jadi dia
pulang lebih awal, sudah lama rasanya aku tidak berjalan berdua saja dengan
Masato sampai stasiun.
Mumpung waktunya pas, aku coba konsultasi
soal sikap Mizuho yang aneh belakangan ini.
"Akhir-akhir ini Mizuho agak jaga
jarak…… Masato, kamu tahu sesuatu nggak?"
Masato yang berjalan di sampingku
menengadah ke atas sebentar sambil berpikir.
"Eh…… ah…… maksudnya dia jaga jarak
ke Koumi, kan?"
"Iya, begitulah~. Tiap aku tanya,
dia cuma bilang nggak ada apa-apa……"
Melihat Mizuho yang biasanya ceria dan
penuh semangat mendadak jaga jarak begitu, aku jadi merasa nggak enak. Kalau
dia sedang ada kesulitan aku ingin membantunya, tapi……
"……Maaf, mungkin itu salahku."
"Eh!? Kenapa?"
"Ah, nggak…… sepertinya aku
melakukan kesalahan. Nanti aku yang bakal minta maaf ke Mizuho."
Alasan Mizuho jaga jarak denganku ada
hubungannya dengan Masato……?
Duh, aku jadi penasaran…….
"Anu, bo-boleh tahu nggak alasannya
kenapa……?"
"Hmm, aku nggak bisa cerita
detailnya sih, tapi kebetulan Mizuho tahu rahasia yang kusembunyikan, terus aku
minta dia jangan bilang ke siapa pun. Mungkin itu jadi beban buat dia?"
"Eeeh……"
"Mungkin aku saja yang terlalu
berlebihan mikirnya, tapi itu ada kemungkinannya, jadi nanti aku coba tanya ke
dia."
Cuma Mizuho yang tahu rahasia Masato?
Seketika, dadaku terasa sedikit perih.
Apa itu hal yang tidak bisa diceritakan
padaku?
Tiba-tiba hatiku merasa sepi.
"Ha-hal itu…… nggak bisa diceritakan
padaku ya?"
Tanpa sadar, kata-kata itu keluar dari
mulutku.
Langkah kakiku yang menuju stasiun
terhenti. Aku menggenggam erat tas *tote bag*-ku.
Masato yang menyadari aku berhenti
berjalan memperlihatkan senyuman yang terlihat serba salah.
"Gimana ya bilangnya…… kalau aku
cerita, aku merasa bakal dibenci, gitu."
"Aku nggak bakal membencimu!"
"……Koumi?"
"Aku nggak akan benci…… nggak akan
*ilfeel* juga…… dijauhkan seperti ini rasanya jauh lebih menyakitkan,
tahu……"
Apa pun yang dia katakan, aku tidak akan
pernah merasa *ilfeel* pada Masato.
Perasaanku ini tidak semurah itu.
Mungkin aku bakal kaget atau terluka. Aku
nggak tahu.
Tapi, kalau gara-gara itu aku jadi
membenci Masato, aku berani jamin hal itu tidak akan pernah terjadi.
*Puk-puk*, kepalaku dielus pelan.
"Terima kasih ya…… Koumi. Baiklah,
kamu mau dengerin?"
"Iya…… tentu saja."
Sejujurnya aku sedikit takut.
Gimana kalau ternyata dia bilang sudah
punya pacar……
Padahal aku sudah bilang nggak bakal
benci, jadi aku nggak boleh menunjukkan reaksi yang buruk. Aku sudah
memantapkan tekad di dalam hati.
"Sebenarnya…… kan aku bilang aku
kerja sampingan?"
"Iya. Guru les privat, kan."
"Enggak…… sebenarnya aku kerja di
dua tempat sekaligus."
Aku tidak tahu itu. Memang sih aku sering
berpikir dia kerja sampingan bahkan di hari biasa.
Masato melanjutkan kata-katanya dengan
nada yang terdengar sulit diucapkan.
"Sebenarnya, aku bekerja di sebuah
*Boys Bar*."
*Ston.* Kenyataan itu masuk ke dalam
dadaku.
Aku memang terkejut. Tapi ada perasaan
aneh yang seolah memaklumi kalau itu
Masato, dia pasti sanggup melakukannya.
Aku jadi cemas apa dia tidak diganggu oleh wanita-wanita aneh di sana.
Tapi karena tadi aku sempat takut kalau
dia bakal bilang sudah punya pacar, ternyata saat itu juga aku tidak merasa
sesyok itu.
Hal itu mendadak jadi tidak penting lagi.
Sebuah guncangan hebat melintasi pikiranku.
Yang berputar di kepalaku adalah
percakapanku dengan sahabatku yang ceria itu.
Itu adalah sebuah kemungkinan.
Dulu aku sempat berpikir, "Oh,
ternyata ada juga ya orang yang mirip Masato."
Tapi, jangan-jangan itu salah.
Tapi pas aku kenalkan mereka, reaksinya
tidak menunjukkan apa-apa.
Apa mungkin mereka berdua sama-sama tidak
sadar? Apa hal seperti itu mungkin terjadi?
Aku ingin percaya kalau itu bukan dia.
Aku ingin berpikir itu tidak mungkin.
Tapi, intuisiku berkata lain.
Orang takdir Mizuho…… jangan-jangan itu
adalah Masato?
Rasanya seolah jantungku sedang diremas dengan kuat.



Post a Comment