Chapter 3: Cinta yang terlalu berat bisa menghancurkan diri sendiri.
───● OL Tsundere Menyadari Kembali ●○●
Hari itu adalah hari Kamis.
"Libur setengah hari sih boleh saja,
tapi..."
Libur siang yang diberikan mendadak.
Kalaupun langsung pulang ke rumah, belakangan ini aku tidak punya game yang
sedang kuminati, dan karena tidak ada hal khusus yang bisa dilakukan, aku pun
melangkahkan kaki ke kafe favoritku.
Kafe ini sudah sering kudatangi sejak
zaman kuliah. Mungkin karena letaknya di gang yang agak sempit, orang yang
datang tidak terlalu banyak, menjadikannya tempat persembunyian pribadiku.
Sambil meminum teh Darjeeling *straight*,
aku memainkan ponselku.
Aku tidak membenci waktu seperti ini,
tapi rasanya agak sepi juga kalau di hari libur yang berharga ini aku hanya
pergi ke kafe.
*Pilon*, suara notifikasi berbunyi, dan
aku kembali menunduk menatap layar ponsel.
"...Yah, memang benar ya..."
Tentu saja aku sudah menduga hasilnya,
tapi aku tetap mencoba menghubungi Masato saat keluar kantor. Aku berpikir,
seandainya saja Masato ada di *Boys Bar* hari ini. Kalau begitu, setelah
menghabiskan waktu di sini, aku akan dengan senang hati pergi menemuinya.
Saat aku menghela napas, suara notifikasi
kembali terdengar dari ponsel.
...Kenapa kamu bicara begitu, sih.
Aku merasakan emosi gelap meluap di dalam
dadaku. Masato selalu saja langsung bicara seperti itu. Padahal bagiku, kalau
bukan Masato itu tidak boleh. Padahal bagiku, aku tidak bisa memikirkan orang
lain selain Masato.
Aku harus menyampaikannya dengan benar
ya. Bahwa selain dirimu, tidak ada orang lain yang masuk dalam pandanganku.
Harus dengan jelas.
...Tapi, aku mencoba berpikir sejenak.
Kenyataannya, memang benar aku hampir
tidak pernah menerima pelayanan dari orang lain selain Masato. Meski aku tahu
kemungkinannya tidak mungkin—tidak, bahkan satu banding semiliar pun tidak akan
ada—tapi siapa tahu, mungkin ada orang lain yang seperti Masato.
"...Mumpung ada waktu, sedikit saja,
ya."
Sambil memiringkan cangkir teh yang
isinya tinggal sedikit, aku memutuskan tempat yang akan kutuju malam ini.
Pukul 20.00. Aku naik kereta ke arah yang
berlawanan dari kantorku dan turun setelah beberapa stasiun. Aku sampai di
stasiun yang tergolong cukup ramai. Aku sudah memutuskan untuk pergi ke *Boys
Bar*, tapi aku memilih untuk tidak pergi ke "Festa" seperti biasanya.
...Beberapa orang pramuniaga di sana
sudah mengenali wajahku, dan kalau sampai mereka tahu aku datang di hari selain
Jumat, lalu hal itu sampai ke telinga Masato, rasanya aku merasa bersalah...
Tidak, sebenarnya tidak ada yang salah sih, tapi secara perasaan aku tidak
suka, jadi aku memutuskan pergi ke toko lain. Di satu sudut kawasan hiburan, di
jalanan yang dipenuhi toko-toko yang berkilauan, toko yang kucari pun ada di
sana.
Aku menuruni tangga dan masuk melalui
pintu masuk bawah tanah. Di pintu masuk tergantung papan neon yang menyilaukan.
*Fuu*, aku menarik napas panjang. Kalau
toko tempat Masato bekerja sih aku sudah terbiasa, tapi aku bukannya punya
pertahanan diri yang kuat terhadap toko-toko seperti ini.
Dengan memantapkan tekad, aku membuka
pintu toko.
"Selamat datang."
Orang yang berdiri di meja resepsionis
adalah seorang wanita bersetelan jas.
"Ini pertama kalinya saya ke
sini..."
"Baik, terima kasih atas
kedatangannya. Untuk durasi waktunya ingin berapa lama?"
Karena aku tidak berniat berlama-lama,
aku menyebutkan waktu yang singkat dan dipandu ke tempat duduk. Tempat yang
ditunjukkan padaku adalah kursi sofa di ruangan semi-privat.
Bahkan setelah duduk pun, aku tetap
merasa tidak tenang dan gelisah, lalu seorang pramuniaga datang.
"Selamat malam! Ini Highball pesanan
Anda!"
"A-ah, terima kasih."
Pramuniaga itu membawa minuman yang sudah
kupesan dan duduk di sampingku.
Tetap saja aku tidak terbiasa ada
laki-laki yang duduk di sampingku, rasanya jadi tegang...
Pramuniaga ini, usianya... mungkin
sedikit di bawahku? Karena rambutnya pirang dan wajahnya memakai riasan, ada
kemungkinan dia terlihat lebih muda dari aslinya. Intinya, dia adalah anak yang
memberikan kesan mencolok.
"Apa ini pertama kalinya Kakak
datang ke sini? Aku senang banget lho~! Karena Kakak cantik banget, aku jadi
tegang nih~"
"...Begitu ya."
Ah, ternyata benar.
Ada sesuatu yang terasa "pas"
dan masuk akal di dalam diriku. Aku merasa tidak enak karena hanya bisa
membalas dengan ketus. Tapi, tetap saja rasanya berbeda.
Dia yang mengatakannya dari lubuk hati
terdalam, menyampaikannya meski sambil tegang, lalu tertawa malu-malu; dia
benar-benar berbeda jauh dengan orang ini.
Kata-kata yang keluar dari anak di
depanku ini terasa ringan, dan sama sekali tidak bisa kupercayai. Aku tahu dia
pasti mengatakan hal yang sama ke semua orang.
Karena ini adalah pekerjaan, hal itu
memang sudah sewajarnya.
Kenyataannya, pasti ada orang yang merasa
terselamatkan dengan kata-kata itu. Jadi, anak ini sama sekali tidak salah.
"Iya. Terima kasih ya."
Waktunya habis, dan pramuniaga yang
menemaniku kembali ke belakang. Saat menghabiskan waktu bersama Masato, 15
menit itu rasanya cuma 5 detik, tapi 15 menit ini terasa sangat lama. Mungkin
pramuniaga tadi juga berpikir kalau aku ini wanita yang membosankan.
Saat aku sedang meminum minumanku dengan
tenang, pramuniaga berikutnya datang.
"Aku Hiro. Mohon bantuannya."
"Mohon bantuannya juga."
Orang yang baru datang ini punya aura
yang tenang. Dia tidak memakai aksesoris mencolok, dan dibandingkan anak yang
tadi, dia punya aura yang lebih mirip Masato. Meski begitu, bukan berarti
hatiku jadi berdebar. Melakukan hal seperti mencari pengganti itu tidak sopan
bagi orang ini, dan juga bagi Masato.
Percakapan setelah itu hanyalah obrolan
basa-basi.
"Hebat ya Anda bisa bekerja di
lingkungan seperti itu. Saya kagum."
"Benarkah, terima kasih."
Obrolan soal pekerjaan. Obrolan soal
hobi. Di tengah percakapan itu, terselip kata-kata yang memujiku. Tentu saja
itu enak didengar, tapi di suatu tempat di hatiku, perasaan bahwa "dia
tidak benar-benar memikirkannya" lebih dulu muncul.
Ini kebiasaan burukku yang tidak berubah
sejak zaman mahasiswa.
"Terima kasih banyak. Kami tunggu
kedatangan Anda kembali."
Akhirnya, setelah dilayani oleh dua orang
saja, aku keluar dari toko.
Total tagihannya tepat sekitar 5.000 yen.
Yah, memang segitu ya harganya.
Kalau aku pergi menemui Masato, tidak
mungkin tagihannya di bawah 10.000 yen, bahkan biasanya aku membayar sampai
50.000 yen.
Setelah meregangkan tubuh dan melihat jam
tangan, waktu menunjukkan bahkan belum satu jam berlalu sejak aku masuk ke
toko.
"...Yah, aku sedikit merasa
lega."
Waktu dan uang ini sendiri tidak bisa
dibilang cara yang menyenangkan untuk menggunakannya, tapi pengalaman ini
adalah pencapaian besar.
Karena bagaimanapun, hal ini membuatku
menyadari kembali hal yang paling penting.
"Ternyata, memang harus
Masato."
Aku menyentuh dadaku dan mengingat
sosoknya. Hanya dengan itu, hatiku terasa panas seolah ada api yang dinyalakan.
Tetap saja, mereka yang baru kutemui tadi
dengan Masato itu berbeda jauh. Ini bukan sekadar perasaanku saja. Dia itu
spesial, tiada bandingnya, dan orang takdirku. Hanya dengan memastikan hal itu,
hari ini sudah menjadi hari yang baik.
Aku membuka ponsel dan mengecek obrolan
dengan Masato, ternyata ada pesan masuk beberapa menit yang lalu. Bodohnya aku,
sepertinya aku tidak menyadarinya karena sedang membayar tagihan tadi.
"...-!"
Ah, benar-benar deh.
Kenapa anak ini bisa membuat hatiku kacau
balau sampai seperti ini.
Aku bisa merasakan api yang tadi menyala
di hatiku kini berkobar makin panas seolah-olah baru saja disiram bensin.
Aku ingin menemuinya sekarang juga, dan
membuatnya sadar kalau aku hanya miliknya. Aku ingin memeluknya erat-erat. Aku
ingin dia tahu kalau hanya dia yang kulihat, dan aku ingin membuat agar di
dalam dirinya pun hanya ada aku seorang.
"Haaaah...!"
Aku mencoba menekan perasaanku yang
meluap-luap. Aku ingin cepat-cepat menemuinya. Aku membuka layar obrolan dan
mengetik balasan untuk Masato.
...Ini sepertinya terlalu frontal ya.
Justru karena dia orang yang berharga, aku harus memilih kata-kata dengan
hati-hati.
Tetap saja ini kesannya terlalu tinggi
hati. Kalau aku bicara begini lalu dibenci, habislah sudah. Aku ingin
menyampaikan rasa suka tanpa terlihat terlalu agresif.
Sip, kayaknya ini bagus. Menurutku aku
sudah menulis kalimat dengan takaran yang pas.
Aku menekan tombol kirim dan menutup
ponsel. Terpapar angin malam, akhirnya perasaanku yang meluap-luap mulai
tenang.
"Masato... aku pasti akan membuatmu
bahagia."
Sambil membayangkan masa depan bersama
Masato, aku melangkah pulang dengan perasaan bahagia.
───● Sahabat Masa Kecil Si
Mahasiswi Khawatir Bagian 2 ●○●
Belakangan ini, sikap Mizuho aneh.
Kejadian tempo hari saat aku mengajaknya
ke *batting center* pun sama saja, dia terlihat kurang bersemangat dan
sepertinya sedang memikirkan sesuatu yang berat. Dan aku yakin, itu bukan
sekadar perasaanku saja.
"Mizuho? Ah benar juga, belakangan
ini dia sering bengong gitu."
"Iya kan! Kemarin di kantin, Mizuho
cuma makan Kake Udon porsi kecil lho!? Padahal biasanya dia pasti pesan porsi
besar lengkap pakai tambahan tempura!"
"Kemarin dia juga bengong sambil
melihat kertas kecil gitu? Pas aku mau intip karena penasaran, dia langsung
buru-buru menyembunyikannya. Apaan ya itu? Ah, ngomong-ngomong Koumi, kenalin
dong cowok ganteng yang sekelas bareng kamu itu."
Ternyata saat aku mencoba bertanya pada
teman-teman yang lain pun, jawabannya sudah jelas. Ah, kalau soal teman yang
terakhir minta dikenalkan pada Masato tadi, aku langsung kabur. Maaf ya.
Pokoknya, kalau Mizuho sedang ada
masalah, aku ingin membantunya.
Bagaimanapun kami sudah berteman lama,
dan bagiku Mizuho adalah sahabat yang sangat berharga. Aku yakin Mizuho pun
merasa begitu padaku, mengingat kedekatan hubungan kami selama ini.
Hari ini, jam kuliah pertamaku sama
dengan Mizuho, dan itu adalah kelas di mana Masato tidak ada. Sepertinya ini
waktu yang tepat untuk mencoba bicara padanya.
"Pagi~..."
"Pagi, Mizuho."
Mizuho datang dengan wajah mengantuk.
Mengingat biasanya dia selalu datang dengan semangat yang tidak masuk akal
untuk ukuran pagi hari, melihatnya begini saja sudah membuktikan kalau dia
sedang tidak bertenaga.
Mizuho duduk di sebelahku lalu
menyandarkan tubuhnya ke meja dengan lemas.
Bahkan kuncir dua miliknya yang biasanya
membuatku berhalusinasi melihat telinga kucing itu pun kini terasa layu dan
tidak bersemangat.
Waktu kuliah akan segera dimulai. Aku
menepuk bahu Mizuho pelan.
"...Hei, Mizuho."
"Ngh~?"
Mizuho hanya menolehkan wajahnya ke
arahku. Ekspresinya sih tersenyum. Tapi aku yang sudah lama berteman dengannya
tahu kalau itu adalah senyuman yang dia paksakan agar terlihat baik-baik saja.
"Kamu lagi ada masalah ya?
Belakangan ini kamu nggak bersemangat... kalau kamu nggak keberatan, aku siap
dengerin curhatanmu lho?"
"E-eh!? Masa sih aku nggak semangat?
Biasa saja kok kayak biasanya! Nyahaha!"
Aku menatap mata Mizuho dalam-dalam.
Sesaat, matanya terlihat gelisah.
"...Apa itu sesuatu yang bahkan
nggak bisa kamu ceritakan padaku?"
"Anu... ya begitulah... iya..."
Sepertinya dia menyerah, Mizuho
menundukkan bahunya seolah merasa bersalah.
Begitu ya... kalau memang belum bisa
diceritakan, mau bagaimana lagi.
Padahal aku ingin sekali membantunya...
"Sip, aku paham. Tapi kalau kamu
merasa butuh bantuan, aku siap kok. Kapan pun kamu mau cerita, datang saja
ya."
"Uwaaa, Koumi terima kasih ya. Emang
deh, sahabat sejati itu yang paling bisa diandalkan."
"Sahabat sejati apaan sih..."
Akhirnya aku merasa sedikit lega melihat
Mizuho mulai kembali ceria tepat saat bel tanda perkuliahan dimulai berbunyi.
Siang harinya, setelah makan siang. Di
jam kuliah ketiga.
"Begitu ya... karena Mizuho biasanya
selalu ceria, jadi wajar kalau kamu khawatir."
Aku menceritakan perihal Mizuho yang
tidak bersemangat pada Masato yang baru datang ke kampus di jam ketiga. Karena
Mizuho dan Masato pun sudah mulai akrab dalam waktu singkat ini, aku ingin tahu
barangkali Masato tahu sesuatu.
Masato menyentuh dagunya seolah sedang
berpikir.
"Apa mungkin ini ada hubungannya
dengan kakak tingkat di klub yang pernah menembaknya waktu itu?"
"Hmm, ada kemungkinan ke sana juga
sih..."
Mizuho memang pernah mengalami kejadian
menyakitkan saat ditolak mentah-mentah. Memang saat itu si cowoknya yang
keterlaluan, jadi Mizuho kelihatan sangat terpukul...
"Tapi kan Mizuho bilang kalau dia
sudah ketemu orang takdirnya? Sejak saat itu dia kelihatan sangat bersemangat,
malah kesannya jadi sangat ceria."
"Memang benar sih."
Keesokan harinya setelah bertemu orang
itu, Mizuho terlihat sangat bahagia. Meski aku sempat geleng-geleng kepala
melihat perubahannya yang drastis cuma dalam satu hari, tapi aku pun ikut
merasa senang untuknya.
"...Mizuho itu ya, dari dulu
orangnya memang gampang banget jatuh cinta."
Sejak SMA, Mizuho itu tipe yang gampang
jatuh hati. Atau mungkin lebih tepatnya, dia suka dengan perasaan saat sedang
jatuh cinta.
Dulu Mizuho selalu merasa ingin sekali
merasakan pacaran dan punya pacar, tapi kali ini, rasanya benar-benar berbeda.
"……"
Hari itu saat dia datang ke kampus dengan
semangat yang meluap-luap.
Melihatnya tertawa saat mengatakan itu,
dia benar-benar terlihat tulus mengatakannya dari lubuk hati.
"Aku rasa ini adalah cinta pertama
yang beneran serius bagi Mizuho, orang yang selama ini cuma mengagumi konsep
jatuh cinta. Makanya, aku ingin mendukungnya dan sangat berharap cintanya bisa
terwujud."
Orang pertama yang benar-benar dia sukai.
Aku bisa membayangkan betapa bahagianya hal itu baginya. Meski saat ini belum
tahu apakah cintanya akan terbalas atau tidak, tapi karena aku tahu dia yang
dulu, keinginanku untuk mendukungnya jauh lebih besar dari siapa pun.
"……Koumi dan Mizuho beneran teman
yang baik ya."
"Eh!? Begitu ya... memang sih aku
menganggapnya sahabat, tapi..."
Ekspresi Masato saat tersenyum lembut itu
terlihat sangat manis, sampai aku reflek membuang muka. Benar-benar nggak boleh
lengah sedikit saja... Tapi, tentu saja aku tidak merasa buruk saat dibilang
punya hubungan baik dengan Mizuho.
"Po-pokoknya. Makanya aku ingin tahu
kenapa dia sampai murung begitu..."
"Berarti kita masih kekurangan
informasi ya. Hmm, sulit juga."
Dugaanku sih, hal yang dia pikirkan pasti
berhubungan dengan orang takdirnya itu, tapi... hal apa yang bahkan sampai
tidak bisa dia ceritakan padaku ya?
"Maaf ya, aku nggak kepikiran
apa-apa..."
"Eh nggak apa-apa kok! Maaf ya aku
malah tanya hal yang sulit!"
Yah, benar juga sih. Kalau sudah begini,
sepertinya aku cuma bisa menunggu sampai Mizuho sendiri yang mau curhat
padaku...
"Tapi, perasaanmu itu pasti bikin
Mizuho senang kok," kata Masato dengan suara yang lembut.
"Jadi... begini saja, untuk sekarang
kita tunggu sampai Mizuho merasa tenang. Kalau dia sudah tenang... barulah kita
minta dia buat kenalin orang takdirnya itu."
"……Ahaha, ide bagus tuh!"
Benar juga, mungkin itu yang terbaik.
Daripada menyelidikinya secara membabi buta, lebih baik aku siap siaga seperti
tadi pagi agar bisa membantunya saat dia butuh. Lagipula aku juga penasaran
pengen lihat orang takdirnya Mizuho!
Memikirkan hal itu membuat perasaanku
sedikit lebih ringan.
"Terima kasih ya Masato! Aku selalu
saja dibantu olehmu."
"Nggak kok, hari ini aku beneran
nggak bantu apa-apa lho?"
Sambil menyadari kembali betapa luar
biasanya sosok Masato, untuk sekarang aku memutuskan untuk mengawasi Mizuho
saja. Dan di samping itu...
Begitu mengecek jam dan menyadari masih
ada sedikit waktu sebelum kuliah dimulai, aku meraih lengan Masato yang duduk
di sampingku.
"……Hei, nanti pas pulang mau makan
bareng nggak?"
"Boleh saja. Hari ini aku nggak ada
jadwal kerja sampingan kok."
"Asyik! Makan di mana ya enaknya
hari ini."
Aku juga harus terus berjuang memikat
Masato! Aku pasti akan menjadikan Masato sebagai pacarku!
……Nanti kalau Mizuho juga sudah jadian,
aku ingin kami berempat pergi jalan-jalan bareng. Aku ingin mencoba hal seperti
itu.
Dengan perasaan riang, aku mulai
memainkan ponselku mencari restoran yang bagus untuk didatangi bersama Masato
sampai kuliah dimulai.
───● Si Mahasiswi Ceria Melakukan Survei ●○●
Beberapa hari sejak aku tahu kalau orang
takdirku mungkin bekerja di sebuah *Boys Bar*, aku mulai mencari tahu segala
hal tentang tempat itu.
"Bisa mengobrol dengan pramuniaga
pria... bisa jadi akrab... minum alkohol... hmmm."
Begitu dicari, banyak sekali informasi
yang muncul. Mulai dari penjelasan tentang jenis tokonya, blog pengalaman
pribadi seseorang saat ke sana, sampai situs promosi toko.
Di sudut ruang kelas kosong yang tidak
sedang dipakai kuliah, aku menatap informasi-informasi itu dengan pandangan
kosong. Dari hasil pencarianku sebelumnya, meskipun fokus utamanya adalah
menyajikan alkohol, sepertinya menu minuman non-alkohol seperti koktail tanpa
alkohol juga sangat lengkap, dan ternyata anak di bawah umur pun boleh masuk ke
toko itu.
Kenyataan itu memang melegakan, tapi
tetap saja rasa cemas tidak bisa hilang.
"Kalau sendirian sih jelas mustahil
banget ya..."
Setidaknya kalau ada seseorang yang mau
menemaniku. Bukannya aku tidak terpikir begitu, tapi aku sama sekali tidak
punya kenalan yang paham soal bar semacam ini.
Menurutku, hal seperti ini paling baik
kalau ditemani oleh orang yang sudah berpengalaman...
Sambil memikirkan hal itu dan lanjut
mencari tahu, mataku tertuju pada sebuah artikel.
"……!"
Tanpa sadar aku sudah mengetuk artikel
itu.
Nggak, nggak, nggak! Bukan apa-apa kok?
Cuma penasaran saja, kan?
Aku sama sekali nggak berharap tiba-tiba
jadi pasangan atau semacamnya... duh, aku ini lagi membela diri ke siapa sih.
Isi artikelnya adalah pengalaman nyata
seseorang yang berhasil berpacaran dengan pramuniaga *Boys Bar*, tapi
disebutkan juga kalau hal itu sangat jarang terjadi, dan pergi ke toko dengan
niat mengincar untuk pacaran bukanlah strategi yang bagus—sebuah saran yang
sangat masuk akal.
"Yah, nggak mungkin berjalan semulus
itu ya..."
Bekerja di *Boys Bar* berarti orang itu
sudah sangat terbiasa menghadapi perempuan. Kamu mungkin merasa obrolannya seru
banget! Tapi aslinya pihak sana merasa sangat bosan, katanya hal seperti itu
sudah biasa. Membayangkannya saja sudah mengerikan...
Setelah selesai membaca artikel, aku
menutup ponsel. Aku meregangkan tubuh lebar-lebar, lalu menyandarkan punggung
ke sandaran kursi sambil menatap langit-langit kelas.
"Apa dia bersikap baik memang karena
dia seorang *host* ya..."
Begitu memikirkan hal itu, aku langsung
berdiri dengan semangat dari tempat dudukku.
Nggak boleh, nggak boleh! Kalau cuma
duduk diam dan berpikir, pikiranku pasti cenderung jadi negatif.
"Ayo berangkat! Pikirkan lagi
nanti!" Ada pepatah yang bilang melihat sekali lebih baik daripada
mendengar seribu kali. Pokoknya kalau tidak datang langsung aku tidak akan tahu
apa-apa, jadi aku memutuskan untuk pergi ke lokasi toko tersebut berada. Dari
dulu aku kan memang tipe orang yang lebih banyak beraksi daripada berpikir!
"Dan, bagus sih sudah sampai sini
karena terbawa suasana, tapi..."
Di kawasan hiburan stasiun tempat toko
yang dimaksud berada. Saat ini, di waktu yang merupakan gerbang menuju malam
hari, tempat ini sudah dipadati banyak orang. Hari ini niatku cuma survei saja,
tidak berniat masuk ke dalam toko. L-lihat kan? Memastikan lokasinya juga hal
yang penting, kan?
Lagipula, siapa tahu...
"Mungkin saja aku bisa bertemu
dengannya..."
Aku tahu harapannya sangat tipis. Tapi,
sama seperti saat kami bertemu hari itu, kalau aku berada di kota ini, peluang
untuk bertemu dengannya pasti meningkat.
Karena sudah pasti dia bekerja di toko
itu.
Dengan memantapkan tekad, aku melangkah
maju. Menurut peta di ponsel, toko yang dimaksud ada di jalan kecil setelah
melewati kawasan hiburan ini.
Semakin aku masuk, tipe orang-orang di
sekitarku mulai berubah. Di dekat stasiun, kebanyakan adalah mahasiswa atau
karyawati kantor.
Tapi begitu masuk ke jalan kecil ini,
deretan tokonya berubah drastis menjadi tempat yang memberikan aura kuat
"anak di bawah umur dilarang masuk".
Sambil celingukan melihat sekeliling, aku
terus berjalan sesuai panduan peta di ponsel. Dekorasi yang berkilauan. Di
luar, ada wanita bersetelan jas dan pria yang berpakaian rapi berdiri di
sana-sini di pinggir jalan.
"Nona, mau mampir ke Boys Bar?"
“Ehh!? Ah, nggak, nggak usah!"
Jangan tiba-tiba menyapa begitu dong! Aku
berjalan cepat melewati jalan kecil itu seolah-olah sedang melarikan diri.
Harusnya sebentar lagi tokonya sampai.
"Ketemu..."
Aku melihat papan pengumuman yang
diletakkan di depan toko.
"……Wa, wah, aku nggak paham……"
Di papan itu tertulis berapa biaya per
jamnya, dan ada juga soal *charge*? Begitu. Padahal sebelumnya aku sudah
mencari tahu, tapi aku cuma paham kira-kira berapa uang yang harus kusiapkan,
aku belum tahu sistemnya seperti apa.
Eh, apa mirip kayak karaoke? Berapa
rupiah per 30 menit, gitu...
"Selamat datang! Apa Anda tertarik
dengan toko kami?"
"Hyaai!? Ah, bukan, anu..."
Saat aku sedang terpaku menatap papan
pengumuman, tiba-tiba seseorang menyapaku. Begitu aku menoleh ke belakang, ada
seorang pemuda berdiri mengenakan seragam yang kukenal.
Tapi, aku bisa langsung tahu kalau dia
bukan orang takdirku, dan bukan juga orang yang kemarin memberiku kartu nama.
"Apa ini pertama kalinya? Di sini
harganya tidak terlalu mahal kok, aku yakin Anda pasti senang! Ah, kalau mau,
aku bisa lho langsung menemanimu di meja!"
"Ah, anu... itu..."
Hieee takutnyaaa! Meskipun dia senyum
lebar! Meskipun kelihatannya dia orang baik! Tapi dia menatapku seolah-olah
baru saja menemukan mangsa, seram banget tahu! Tolong aku, Koumi!
Tadinya aku pikir aku punya kepercayaan
diri soal kemampuan komunikasi, tapi kepercayaan diri itu hancur
berkeping-keping cuma dalam waktu lima detik!
"Kalau tertarik, masuk satu jam saja
kami sangat menyambut kok!"
Selagi aku bingung harus merespons apa,
kakak-kakak itu semakin mendekat.
Gimana ini. Aku sudah telanjur melihat
papan pengumuman, kalau bilang nggak tertarik ya nggak masuk akal...
Kalau Mizuho-chan yang berpendirian lemah
ini sampai masuk ke toko... pasti aku bakal disuruh bayar sampai dompetku
kosong melompong! Pasti begitu!
Tapi gimana cara menolaknya... pilihannya
cuma kabur...
"……Jangan-jangan, Mizuho?"
"……Eh?"
Terdengar suara yang sangat kukenali.
Belakangan ini aku sering mendengarnya, suara yang sangat nyaman didengar...
sekaligus suara yang menjadi benih masalah yang membuatku galau.
"Ma-Masato……?"
Orang yang disukai sahabatku, Koumi...
Katari Masato, berdiri di belakangku dengan pakaian santai yang seperti
biasanya.
"Ma-maaf ya... terima kasih sudah
menolongku."
"Nggak apa-apa, tapi yang lebih
penting, tadi kamu nggak diapain-apain kan?"
"Nggak kok! Aku baik-baik saja...
tapi aku kaget kamu kenal sama orang toko itu."
Masato bicara dengan orang toko tadi, dan
aku pun dibebaskan. Sepertinya dia kenal dengan orang-orang di sana. Tadi orang
toko itu sempat mau bilang sesuatu, tapi Masato langsung menghentikannya dengan
panik, kira-kira soal apa ya?
Aku berjalan bareng Masato menuju
stasiun. Biasanya aku bisa langsung bicara apa saja, tapi mungkin karena
kejadian sebelumnya, aku jadi nggak tahu harus bicara apa...
"Ngomong-ngomong, lagi ngapain di
tempat kayak gitu...?"
"Eh, ah... bu-bukan begitu lho!? Aku
lagi cari salon buat kapan-kapan, terus aku agak sa-salah jalan! Iya, salah
jalan!"
Melihat tatapan Masato yang seolah-olah
sedang mengasihaniku, aku buru-buru meralatnya. Nanti dia pikir aku tipe orang
yang suka main ke tempat-tempat kayak gitu lagi!
"……Padahal bagiku nggak masalah
kok?"
"Bu-kan-be-gi-tu-! Itu salah paham,
jangan pasang tatapan lembut gitu!"
"Bercanda, bercanda, maaf ya."
"……-! ……Duh, beneran deh bikin
bingung saja!"
Masato yang tertawa saat bicara begitu
terlihat sangat menawan, sampai aku reflek membuang muka. Beneran deh, Masato
ini kalau ada celah sedikit saja pasti langsung menaikkan poin kesukaannya di
mataku... bikin bingung saja!
"Lagipula, Masato sendiri lagi
ngapain di tempat kayak gini!"
"Ah, aku kan... yah, stasiun ini kan
yang terdekat dari rumahku."
"Benar juga ya..."
Memang benar ini stasiun tempat Masato
biasanya turun saat pulang. Katanya dia tinggal sendirian di sini. Masato yang
ceroboh begini tinggal sendirian, duh sebagai kakak aku jadi cemas lho!
Tak terasa, kami sampai di stasiun.
Masato sepertinya akan pulang lewat pintu keluar yang seberang.
"Beneran nggak apa-apa kalau nggak
aku antar?"
"Iya! Nggak apa-apa! Lagipula aku
ada janji setelah ini."
Meski aku bilang ada janji, dia tetap
mengantarku sampai gerbang tiket, Masato beneran orang yang sangat disiplin ya.
"Ah, benar juga."
"Hm?"
Gerbang tiket mulai terlihat, di
eskalator stasiun, Masato yang naik lebih dulu menoleh ke arahku.
"Aku sedikit lega melihatmu ceria
lagi. Soalnya Koumi cemas banget padamu."
"……Nyahaha. Duh, Koumi ini ya,
padahal kan aku ini Mizuho-chan yang selalu penuh semangat, bikin repot saja
ya?"
Mendengar nama Koumi, rasa bersalah
tiba-tiba muncul. Aku harus cerita ke dia kalau tadi kebetulan ketemu Masato di
stasiun.
"Lagipula... aku juga mencemaskanmu
lho."
"Eh?"
Eskalator sampai di lantai gerbang tiket.
"Mizuho itu kan, meskipun ada
masalah, pasti bakal bersikap ceria di depan semua orang, kan? Makanya aku
pikir, jangan-jangan kamu lagi memaksakan diri..."
……Jangan.
"Nggak sih, meskipun kita belum lama
kenal jadi aku nggak pantas bicara sok tahu begini... tapi, yah, aku sendiri
juga selalu dapat energi dari keceriaan dan senyuman Mizuho."
Jangan, dong.
Aku berjalan mendahului Masato yang tadi
ada di depanku dengan cepat, lalu aku berusaha mengatur napas sekuat tenaga,
kemudian aku berbalik menghadap Masato dengan penuh semangat.
"He-hehe-n! Mizuho-chan yang sangat
populer ini memang harus selalu seceria itu tahu! Masato-chi juga harus
berterima kasih ya! Kalau ada Mizuho-chan yang secerah ini di sampingmu, saking
silaunya kamu nggak butuh lampu lagi lho pas malam hari! Oke, besok aku bakal
antar lagi keceriaan ini buatmu... sampai jumpa!"
Iya, sampai besok ya—aku mendengar suara
Masato dari belakang sambil aku langsung melewati gerbang tiket.
Kenapa ya, mataku rasanya mau meneteskan
sesuatu.
Kenapa ya, padahal aku senang, tapi
rasanya sesak sekali.
"Duh beneran deh... kenapa ya,
kenapa bisa begini...!"
Aku berjalan cepat sampai Masato tidak
bisa melihatku lagi.
Aku meluapkan perasaan yang tidak bisa
kubendung lagi. Aku terengah-engah selama beberapa puluh detik. Setelah itu
perlahan aku menarik napas panjang beberapa kali. Akhirnya, perasaanku mulai
tenang.
"……Aku harus pergi. Ke toko
itu."
───● Gadis SMP Klub Basket
Pergi Belanja ●○●
Pada suatu hari, ketika bermain basket
bareng Yuka sudah mulai menjadi rutinitas harian.
Selesai latihan, saat kami sedang
melakukan peregangan ringan, tiba-tiba Yuka berjongkok.
"Lho……"
"Kenapa?"
"Enggak, ini tali sepatunya
sedikit……"
Saat aku mendekat untuk melihat, memang
benar tali sepatu Yuka terlepas. Namun, ada hal lain yang lebih membuatku
penasaran.
"Sepatumu sudah cukup bobrok ya,
Yuka…… lagipula ini bukan sepatu basket (*basshu*), kan?"
"Ah, anu…… soalnya aku cuma punya
yang buat *indoor*, jadi kalau buat di luar aku pakai sepatu olahraga
biasa……"
*Basshu* adalah singkatan dari
*basketball shoes*. Dasar dalam bermain basket memang biasanya menggunakan
sepatu khusus, tapi itu umumnya untuk penggunaan di dalam gelanggang olahraga.
Di lapangan luar seperti tempat aku dan
Yuka latihan, sepatu basket *indoor* tidak bisa dipakai, dan tidak sedikit
orang yang bermain dengan sepatu olahraga biasa…… tapi.
"Kalau bisa, menurutku lebih baik
kamu punya sepatu basket khusus untuk luar ruangan."
"Begitu, ya?"
"Iya, risiko cedera bisa lebih
ditekan kalau pakai sepatu basket, lho."
Pakai sepatu olahraga biasa pun
sebenarnya tidak masalah…… tapi kalau memikirkan beban yang diterima
pergelangan kaki dan lutut, memang paling baik menggunakan sepatu basket.
Apalagi dia sempat bilang kalau sebentar lagi ada pertandingan resmi, dan meski
tidak ada itu pun, aku tidak ingin "adik perempuan" kesayanganku
(klaim sepihak) yang sedang dalam masa pertumbuhan ini sampai cedera. Kalau
bisa, aku ingin dia bermain dengan sepatu basket……
Aku menatap Yuka yang sedang sibuk
mengikat ulang tali sepatunya.
Karena dia sangat jago main basket, aku
sampai sering lupa kalau anak ini masih SMP. Dia berada di masa yang menyimpan
banyak potensi. Di masa sepenting ini, aku ingin meminimalisir risiko dia
mengalami cedera saat latihan bareng aku……
"Yuka."
"Iya!"
Jawaban Yuka terdengar tegas dan cepat.
Jawaban yang ceria ini juga merupakan salah satu kelebihan Yuka.
"Gimana kalau kita pergi beli sepatu
basket?"
"Eh!?"
"Menurutku lebih baik kamu punya
yang baru…… minggu depan, mau pergi beli?"
"I-iya!"
Lagipula aku dan Yuka sudah cukup akrab……
kalau cuma segini, tidak apa-apa kan!
"I-ini berarti, k-kencan, kan……?
Kencan belanja, kan? Benar kan……? K-kencan sama Kakak……!"
"……? Kenapa, Yuka?"
"Hyaai! N-nggak ada apa-apa!"
Sepertinya tadi dia menggumamkan sesuatu
dengan suara pelan…… lagipula entah kenapa wajahnya memerah, apa cuma
perasaanku saja ya?
Minggu berikutnya. Demi pergi ke toko
olahraga yang ada di salah satu sudut mal yang menyatu dengan stasiun, aku dan
Yuka janjian bertemu di stasiun.
Aku sampai di stasiun sekitar 10 menit
sebelum waktu janjian, tapi di depan gerbang tiket, sosok Yuka sudah terlihat
sedang celingukan melihat sekeliling.
"Pagi, Yuka. Sudah sampai ya, cepat
banget."
"Ah, Kakak! Selamat pagi! Anu, aku
bangunnya agak kecepetan tadi……"
*Ehehe*, Yuka tersenyum lugu khas anak
seusianya. Hmm, imutnya.
Kalau beneran punya adik seperti ini, aku
pasti bakal sangat memanjakannya……
Tiba-tiba, aku menyadari penampilan Yuka.
"Ngomong-ngomong, sepertinya ini
pertama kalinya aku melihatmu pakai baju biasa?"
"Be-benar juga ya…… soalnya aku
biasanya selalu pakai baju basket……"
Sambil berkata begitu dengan wajah
malu-malu, Yuka sedikit merentangkan tangannya agar bajunya lebih terlihat
jelas.
"G-gimana menurut Kakak……?"
Pakaian Yuka terdiri dari kemeja putih
dan *overalls* denim. Sosoknya yang memakai *overalls* dengan siluet yang agak
longgar itu memberikan kesan dia sedang berusaha tampil dewasa, yang justru
terlihat menggemaskan. Karena biasanya dia memberikan kesan *sporty*, baju
pilihannya hari ini justru membuat sisi femininnya menonjol.
"Iya, imut kok. Sangat cocok
buatmu."
"Te-terima kasih banyak……"
Anak SMP zaman sekarang ternyata sangat
memperhatikan *fashion* ya. Aku benar-benar kagum melihatnya.
"I-imut, ya. Aku senang sih, tapi,
hmm……!"
"Yuka?"
"Hyaai! Aku datang!"
(Pov: Yuka)
Hari kencan dengan Kakak pun tiba. Meski
tujuannya memang untuk membeli sepatu basket, tapi ini murni sebuah kencan……!
Jujur saja, saking semangatnya aku sampai
tidak bisa tidur semalam.
Dan hari ini, karena aku merasa tidak
boleh bangun kesiangan, aku pasang alarm lebih awal, jadinya aku sampai di
tempat janjian 30 menit sebelumnya.
Sepuluh menit sebelum waktu janjian,
Kakak datang, dan lalu……
"Dibilang imut sih aku senang,
tapi……!"
Kalau bisa, aku lebih ingin dibilang
cantik…… itu bakal lebih sempurna…….
Mumpung bisa kencan sama Kakak. Demi
membuatnya sedikit sadar kalau aku ini perempuan, aku sudah berusaha keras
memilih baju yang paling terlihat dewasa.
Tapi, perjuangan baru saja dimulai. Aku
harus menggunakan waktu hari ini untuk benar-benar memikatnya!
Dengan memantapkan tekad, aku pun
mengejar punggung Kakak.
"Tempatnya cukup luas ya……!"
"Soalnya di sini juga ada
perlengkapan olahraga selain basket. Ayo, kita cari bagian basketnya!"
"Baik!"
Lantai tiga mal. Tepat setelah naik
eskalator, toko olahraga yang dituju langsung terlihat.
Sambil berjalan di dalam toko, berbagai
perlengkapan olahraga masuk ke pandanganku. Aku sendiri hanya bermain basket……
tapi Kakak bilang dia hampir tidak pernah belajar basket secara resmi.
Kalau tidak pernah belajar tapi bisa
sehebat itu, bukannya dia luar biasa sekali…… tapi mengesampingkan hal itu, aku
yakin Kakak pasti pernah mendalami olahraga lain sebelumnya.
Di sampingku, Kakak melihat sekeliling
dengan tatapan rindu.
"Kakak pernah ke sini sebelumnya,
kan?"
"Yah, setidaknya pernah sih. Tapi
rasanya seperti baru pertama kali."
Apa tokonya baru saja direnovasi ya……?
Aku tidak tahu olahraga apa yang dulu
pernah digeluti Kakak. Malah, aku masih belum tahu banyak soal Kakak. Aku ingin
menggunakan kesempatan ini untuk mengenal lebih banyak hal tentangnya.
Setelah berjalan sebentar, kami menemukan
bagian basket. Begitu masuk lebih dalam, deretan sepatu basket terlihat
berjajar rapi di sepanjang dinding.
"Yuka, berapa ukuran kakimu?"
"Anu, kalau sepatu basket, biasanya
ukuran 23."
Sambil mendengarkan penjelasanku, Kakak
menatap deretan sepatu itu.
Tatapannya terlihat sangat serius.
Memikirkan kalau dia sedang benar-benar memikirkanku seperti itu, rasanya
hatiku jadi sangat bahagia.
"Mungkin sekitar area sini ya……
ukurannya sepertinya ada, merek yang terkenal juga banyak."
"Iya, benar!"
Untungnya, setelah aku menjelaskan
situasinya kepada Ibu, aku berhasil mendapatkan uangnya. Sebenarnya aku bisa
saja memilih sendiri, tapi karena ini barang yang akan sering kupakai saat
latihan bareng Kakak, aku ingin Kakak juga ikut memilihkan, atau semacamnya...
"Oh, desain yang ini mirip sama
punyaku lho."
"……! Benarkah!?"
"Ah, tapi punyaku versi indoor sih.
Garis warna biru mudanya di sini kelihatan keren, ya."
Yang diambil oleh Kakak adalah sepatu
dengan warna dasar putih, serta logo dan garis-garis berwarna biru muda. Aku
pun sebenarnya sudah tertarik dengan model itu sejak pertama kali melihatnya.
"Kalau begitu, aku pilih yang itu
saja!"
"Eh, cepat banget?"
"Nggak apa-apa! Aku coba pakai dulu
ya!"
Aku meminta tolong kepada pelayan toko
untuk mencobanya. Sip.
Ukurannya pas.
Tidak terasa sempit, tapi tidak terlalu
besar juga sampai bikin susah bergerak.
"Aku ambil yang ini!"
"O-oh? Kalau Yuka memang suka sih
nggak apa-apa, tapi..."
Kalau bisa kembaran sama Kakak, rasanya
nggak ada yang lebih membahagiakan dari itu, kan! Apalagi ini desain yang
pertama kali menarik perhatianku, jadi aku langsung memutuskannya saat itu
juga.
"Ah, kalau begitu Yuka tunggu di
sini sebentar ya sambil lihat-lihat sepatu lain. Ada yang mau aku beli juga
soalnya."
"? Baik!"
Sebenarnya kalau soal perlengkapan
basket, aku ingin ikut melihat-lihat juga, tapi saat aku berpikir begitu, Kakak
sudah terlanjur melangkah pergi. Untuk sementara, aku menunggu Kakak sambil
melihat-lihat sepatu lainnya. Belakangan ini banyak sepatu dengan desain yang
imut, jadi melihat-lihat saja pun tidak membosankan.
Setelah beberapa saat berkeliling di
area basket, Kakak pun kembali.
……Sambil menenteng sebuah kantong plastik
di tangan kanannya.
"Yuka, maaf menunggu ya~
...Nih!"
"Eh?"
Saat aku melihat isi kantong yang
diserahkan padaku... di dalamnya ada sepatu yang tadi baru saja kuputuskan
untuk beli.
"E-eh!? Ta-tapi. Aku sudah bilang
ke Ibu kalau aku yang bakal beli sendiri tahu!?"
"Nggak apa-apa, kok. Lagipula aku
juga sering merepotkan Yuka. Anggap saja ini bentuk rasa terima kasihku."
"~-!"
Saat kepalaku dielus-elus pelan, aku
tidak bisa membantah apa pun. Tanpa bilang-bilang padaku, dia sudah
membelikannya. Saking senangnya, aku sampai kehilangan kata-kata. Po-pokoknya
aku harus berterima kasih!
"Te-terima kasih banyak!"
"Iya, sama-sama. Mulai sekarang, ayo
kita latihan lebih giat lagi ya."
"Baik!"
Ah, beneran deh, aku selalu saja
menerima banyak hal dari Kakak. Aku menahan dorongan untuk menghambur memeluk
Kakak, dan sebagai gantinya, aku mendekap erat sepatu yang baru saja
dibelikannya itu.
Senang, aku senang sekali!
"Aku lega kalau kamu sangat
menyukainya."
"Iya! Aku sangat, sangat
menyukainya!"
"Kalau begitu, semangat juga ya buat
pertandingannya nanti?"
"……! Iya, tentu saja!"
Tentu saja aku menyukai desain sepatu
yang dibelikannya ini, tapi yang terpenting adalah... ternyata rasanya
sebahagia ini ya saat menerima hadiah dari orang yang paling dicintai.
……Aku menatap Kakak yang sedang tersenyum
ramah ke arahku.
Senyuman yang begitu segar sampai-sampai
kalau ada yang bilang hero dari komik shoujo baru saja keluar ke dunia nyata
pun, aku akan percaya.
Padahal hari ini aku sudah berjuang
keras agar dia sedikit menyadari kehadiranku sebagai perempuan, tapi
ujung-ujungnya malah aku yang menerima hadiah, dan pasti, anggapan Kakak padaku
tetaplah seorang "adik".
Gimana caranya supaya Kakak bisa
melihatku sebagai target romansa?
Gimana caranya agar aku bisa menjadi
gadis yang pantas berdiri di sampingnya?
……Bagiku yang masih anak-anak, aku belum
memahaminya.
Saat ini, aku hanya bisa menikmati
sensasi nyaman dari telapak tangannya yang sedang mengelus kepalaku.
───● OL Tsundere Menjadi Terdistorsi ●○●
Perasaan di Sabtu malam itu memang rumit.
Ada kalanya aku berpikir, *'Besok masih
libur, jadi malam ini bisa begadang sepuasnya!'*, tapi di sisi lain, ada
perasaan sedih seperti, *'Ah, waktu liburku sudah berkurang satu hari.'*
Yah, apa pun itu, pada dasarnya aku
adalah tipe orang yang ingin menghabiskan waktu liburan yang berharga demi
diriku sendiri.
"Megu, gimana kabarmu belakangan
ini~!"
"Eeeh~? Nggak ada yang berubah sih?
Tapi ya gitu~ ternyata tinggal bareng (*doukyuu*) itu lumayan sulit ya~"
"Kyaa~! Enaknyaaa~ aku juga pengen
tinggal bareng pacar deh~"
"……"
Hari ini, aku diajak oleh teman-teman
satu geng saat kuliah dulu untuk makan malam merangkap sesi minum-minum di
sebuah izakaya yang lumayan berkelas.
Kecuali aku, semuanya sudah punya
pacar... jujur saja, aku merasa terpojok.
Sebenarnya aku malas datang, tapi karena
Mai—teman terdekatku—mengajak dengan sangat memaksa, aku jadi sulit menolak.
Sudah sekitar satu jam berlalu sejak kami
beralih dari makan besar ke sesi minum, dan obrolan pun mulai menjurus ke soal
pacar masing-masing. Sudah kuduga bakal begini, makanya aku malas datang...
"Eh, sebenarnya gimana sih? Tinggal
bareng gitu... apa kalian 'main' tiap hari?"
"Waduh. Itu pertanyaannya terlalu
vulgar tahu. Tapi aku penasaran juga sih."
Teman-temanku ini dari dulu memang suka
obrolan yang agak ‘ekstrem’. Wajar saja kalau pembahasannya sampai ke ranah
itu.
"Bukankah hal seperti itu sulit
untuk diceritakan?"
"Ngomong apa sih! Seira juga
penasaran, kan? Kamu kan dulu juga suka obrolan begini."
"Betul tuh! Orang yang tinggal
bareng pacar itu punya kewajiban buat cerita! Kami ke sini kan buat dengerin
cerita realita!"
Hah...
Diberitahu soal urusan ranjang orang lain
pun rasanya buat apa ya... Tadi aku sudah diperlihatkan foto pacar mereka.
Memang sih, menurutku lumayan ganteng.
Tapi ya, Masato tetap lebih ganteng.
Aku membiarkan obrolan vulgar
teman-temanku lewat begitu saja, lalu menyuapkan camilan yang baru dihidangkan
ke mulutku.
"Seira sendiri gimana? Kabarmu
belakangan ini?"
"Eh? Aku?"
Tanpa sadar, giliran bicara sudah
dilemparkan padaku.
Mereka semua tahu soal mantan pacarku...
menyebutnya "mantan" saja sudah membuatku merinding saking jijiknya.
Mereka tahu perlakuan buruknya padaku dan bagaimana kami putus. Itulah salah
satu alasan kenapa aku agak malas bertemu mereka, tapi...
"Hmm... akhir-akhir ini sih lumayan
menyenangkan."
"Eh! Apa maksudnya cowok!?"
"Seira sudah punya cowok baru!?
Lihat fotonya!!"
"……Kalian ini, berhenti deh langsung
menyimpulkan kalau itu cowok... ya, meskipun kalian nggak salah sih..."
Teman-temanku yang sudah mulai mabuk
dengan wajah memerah langsung merapat dengan antusias. Suka banget ya sama
urusan asmara orang lain...
Terpaksa, aku memperlihatkan foto Masato
yang kuambil saat kencan tempo hari.
Waktu itu, setelah selesai makan dan
sedang minum teh, aku mengarahkan ponsel ke Masato. Dia tersenyum dan
memberikan pose *peace*. Imut banget. Malaikat.
"Eh, ganteng. Bukan tipe ganteng
yang sangar, tapi tipe ganteng yang bikin adem."
"Kelihatannya baik banget~~ Enaknya,
ketemu di mana orang kayak begini?"
Dipuji soal Masato membuatku merasa
bangga.
Tentu saja. Wajar saja. Masato itu kan
ganteng, baik, dan seorang malaikat.
Karena pengaruh alkohol juga, suasana
hatiku jadi sangat bagus sampai-sampai aku bicara terlalu banyak.
"Dia itu kerja di sebuah bar.
Seminggu sekali. Jadi aku selalu pergi menemuinya di hari dia masuk
kerja."
"Eh?……"
"……Bar itu, maksudnya sejenis *Boys
Bar*?"
"? Iya."
Tiba-tiba mereka bertiga saling bertukar
pandang. Apa? Apa aku salah bicara?
Dengan ragu-ragu, Mai mengembalikan
ponselku.
"Anu, Seira... apa kamu pacaran sama
anak ini?"
"Nggak. Belum pacaran kok."
"Terus... Seira menghabiskan berapa
banyak uang buat anak ini tiap bulannya?"
Apa-apaan? Tiba-tiba suasananya jadi
aneh.
Uang menurutku bukan masalah besar.
"Uang? ……Nggak banyak kok. Mungkin
sekitar setengah dari gaji bulananku?"
"Setengah gaji!?"
Kenapa teriak-teriak begitu, sih...
Karena aku datang setiap minggu, ya
kira-kira habisnya segitu. Apalagi kemarin aku habis-habisan pas kencan, dan
aku berencana membelikannya hadiah dalam waktu dekat.
Semoga Masato senang ya...
"Seira."
"……Apa?"
Wajah ceria Mai tadi menghilang entah ke
mana, dia menggenggam tanganku dengan ekspresi sangat serius. Dua orang lainnya
juga menatapku dengan wajah cemas.
"Hentikan hubungan sama orang ini.
Nanti aku bakal minta pacarku buat adain *goukon* (kencan buta grup), kamu
harus datang ke sana."
"……Hah?"
*Goukon*? Aku sama sekali tidak tertarik.
Sekarang aku tidak punya uang untuk
dihabiskan ke laki-laki selain Masato.
Lagipula apa maksudnya? "Hentikan
hubungan"?
"Aku harus bicara jujur ya, kamu itu
cuma dijadikan mesin uang (*kanezuru*) sama dia, Seira."
"Ah~ soal kekhawatiran itu ya.
Tenang saja. Masato bukan anak yang seperti itu. Dia cuma masuk seminggu
sekali, dan nggak punya pelanggan tetap selain aku. Makanya aku harus
mendukungnya secara finansial."
Begitu ya, aku paham.
Mereka pasti berpikir kalau Masato itu
sama saja dengan pramuniaga bar laki-laki pada umumnya. Kekhawatiran itu tidak
perlu. Masato itu spesial. Aku sudah memastikan hal itu setelah pergi ke toko
lain tempo hari. Masato itu spesial. Dia bukan anak yang seperti itu.
Makanya, aku baik-baik saja.
"Seira……"
……Makanya berhenti pasang wajah begitu.
"Seira, tetap saja ini nggak benar.
Kamu harus ikut kencan buta itu. Terus, lupakan orang ini. Ini nggak baik buat
masa depanmu."
……"Demi kebaikanku", maksudnya
apa?
Kemarahan mulai mendidih di dalam diriku.
"Demi kebaikanku itu apa maksudnya!?
Kalau kalian memikirkan kebaikanku, kenapa kalian nggak mendukungku!? Apa yang
kalian tahu tentang kami!?"
"Seira…… tenanglah."
"Jangan bercanda ya! Kalian tahu kan
aku pernah mengalami masa-masa seperti apa!? Saat aku sedang terpuruk dan
menderita, Masato-lah yang menyelamatkanku! Dia bukan anak yang seperti itu!
Kenapa kalian tidak mau mengerti!?"
Masato selalu mencemaskanku, takut kalau
aku menghabiskan terlalu banyak uang.
Dia selalu memberikan kata-kata yang
lembut. Padahal aslinya ini pasti pekerjaan yang tidak ingin dia lakukan.
Makanya, apa salahnya kalau aku membantu
sedikit saja dengan membayar lebih?
"……Jangan mencemaskan hal yang tidak
perlu. Masato bukan anak seperti itu. Hubungan kami sedang lancar. Tolong,
jangan merusak suasana."
Meski begitu, Mai dan dua orang lainnya
tetap menatapku dengan ekspresi sedih.
Hentikan.
Jangan menatapku dengan wajah seperti
itu……!
Sepertinya hari sudah berganti tanggal.
Dalam perjalanan pulang setelah
minum-minum, aku berjalan sendirian menyusuri jalanan malam yang diterangi
lampu jalan sambil mengingat kembali kata-kata teman-temanku tadi.
Salah salah salah salah salah salah
salah!!!
Masato bukan anak yang seperti itu. Aku
yang lebih tahu daripada siapa pun.
Dia anak yang berhati lembut. Anak yang
senyumnya sangat imut, yang membuatku ingin melindunginya.
Dia sama sekali bukan pramuniaga bar
laki-laki biasa seperti yang mereka katakan. Bukan seperti pramuniaga bermulut
manis yang kutemui di toko lain tempo hari.
Dia juga bukan tipe anak rakus harta yang
mempermainkan hati wanita demi memeras uang.
Karena aku-lah yang paling tahu soal itu.
Aku tidak salah.
Aku membuka ponsel, lalu mengetuk
aplikasi media sosial. Di sana terpampang pesan yang baru kukirimkan untuk
Masato.
……Tenang saja. Kalau Masato, dia pasti
akan melarangku.
Dia pasti akan bilang, *'Kan sudah ada
saya'*.
Sambil menatap foto Masato yang kujadikan
latar belakang layar obrolan dengan penuh perasaan, status pesan itu berubah
menjadi "Terbaca" (R).
Refleks aku kembali ke layar utama.
Karena dia pasti akan segera membalas pesanku.
"……-!"
Pesan darinya datang.
……Kenapa?
Kenapa kamu tidak melarangku……?
Orang baik itu nggak ada tahu……
Bagiku cuma ada kamu seorang……?
Aku cuma punya Masato……
Beberapa tetes air jatuh ke layar
ponselku.
Padahal tidak sedang hujan.
Itu adalah air mata yang mengalir tanpa
bisa kubendung lagi dari mataku.
Hari Jumat.
Padahal aku sudah bertekad tidak akan
lembur di hari Jumat, tapi gara-gara atasan brengsek itu, aku terpaksa lembur.
Sumpah, aku beneran nggak bakal memaafkan
orang itu……
Karena alasan itu, aku berjalan setengah
berlari menuju toko.
Seminggu ini aku lewati dengan perasaan
yang mengganjal.
Tapi, perasaanku tetap tidak berubah.
Bagiku hanya ada Masato. Dan satu-satunya orang yang bisa memberikan uang untuk
Masato di toko itu hanyalah aku.
Makanya, aku sudah memutuskan satu hal.
Setelah kami pacaran nanti, aku akan
lapor pada teman-temanku.
Sekarang mereka cemas karena Masato belum
jadi pacarku. Jadi kalau kami sudah pacaran, tidak akan ada masalah lagi. Saat
itu tiba, mereka pasti akan memberikan restu.
Karena itu, aku dan Masato harus
melangkah ke tahap berikutnya.
Kami sudah pernah kencan sebelum jam
kerja (*douhan*)…… berikutnya adalah kencan setelah jam kerja (*after*). Kalau
Masato yang baik hati itu, dia pasti akan memberiku izin.
Perasaanku meluap bahagia.
Makan malam dengan Masato di tempat yang
sedikit mewah. Masuk ke suasana yang romantis. Lalu memberanikan diri
mengajaknya mampir ke rumahku.
Dan saat kami menghabiskan malam
bersama…… betapa indahnya itu, betapa romantisnya.
Demi mencapai titik itu, persiapan
sangatlah diperlukan.
Aku harus memperpendek jarak dengan
Masato lebih jauh lagi.
Aku sampai di toko.
Ternyata sudah cukup larut. Jam segini,
apa Masato sedang berjaga di meja resepsionis?
Aku merapikan penampilanku agar siap
bertemu Masato, lalu membuka pintu toko.
"Selamat datang, Nona Muda…… ah,
terima kasih selalu atas kedatangannya."
Resepsionisnya bukan Masato.
Tapi, sepertinya karena aku datang setiap
minggu, wajahku sudah dikenali oleh para pramuniaga di sini—hal yang sebenarnya
agak memalukan.
"Anu……"
"Cari Masato, kan?"
"Ah, iya. Benar."
"Mohon maaf, Masato sedang melayani
pelanggan sekarang…… Kalau Anda berkenan dengan pramuniaga lain, saya bisa
pandu ke tempat duduk."
Masato sedang melayani pelanggan?
Siapa?
Selain aku, siapa lagi?
Dengan alasan menunggu Masato, aku sempat
keluar sebentar dari toko.
Aku butuh waktu untuk mengatur perasaan,
dan aku tidak berniat dilayani oleh pramuniaga lain selain Masato di toko ini.
Kalau sekadar mengobrol sih tidak masalah, tapi untuk dilayani secara resmi,
aku merasa keberatan.
Masato sedang melayani seseorang.
Ini salahku.
Salahku karena datang terlambat.
Harusnya aku cari alasan apa pun biar
bisa pulang dan langsung ke sini, bukannya malah lembur.
Aku malah memberikan waktu bagi wanita
lain untuk mendekati Masato……!
Refleks aku menghentakkan kaki ke aspal
karena kesal.
Aku tidak akan pernah mau lembur lagi di
hari Jumat. Aku bakal pura-pura sakit atau apa pun biar bisa pulang.
Aku melihat jam tangan.
Sepertinya sudah cukup.
Mari kembali ke toko.
Aku berjalan kembali.
Kecuali pelanggannya minta perpanjangan
waktu, harusnya sekarang sudah hampir selesai. Tenang saja. Itu pasti cuma
pelanggan yang kebetulan mampir karena penasaran.
Cuma hari ini, kebetulan saja.
Pasti akulah yang memberikan lebih banyak
uang untuk Masato, dan aku juga yang mendapatkan lebih banyak kasih sayang
darinya.
Jadi, aku akan baik-baik saja.
Tepat sekali, Masato sedang mengantarkan
seorang pelanggan keluar.
Dan di sana, di ujung pandangannya.
Aku melihatnya. Wanita itu.
Wajah yang terasa familiar.
Aku kenal.
Aku kenal wanita itu.
Meskipun gaya rambutnya berbeda, aku bisa
langsung mengenalinya.
Gadis itu... gadis yang dulu dibantu
dengan sangat lembut oleh Masato di toko kosmetik...!
Emosi gelap bergolak di dasar hatiku. Aku
bisa melihatnya sekarang. Dulu aku mendapat kesan dia hanya gadis kusam yang
kotor, tapi aku salah. Di sana berdiri seorang gadis berkuncir dua yang tertawa
dengan riang.
Dan Masato yang mengantarnya pulang, dia
juga sedang tersenyum.
Ah. Masato... dia tersenyum.
*Doro*, sesuatu meluap keluar dari ember
emosiku.
Tidak boleh.
Tidak boleh, tidak boleh, tidak boleh,
tidak boleh!!!
Benar-benar tidak boleh!
Tempat itu... tempat itu adalah
milikku...!!!
"Kalau begitu, sampai jumpa lagi ya,
Masato."
"Iya, sampai jumpa."
Sampai jumpa lagi?
Aku mendadak lemas dan bertumpu pada
lututku di tempat itu.
"Ugh... *hoek*..."
Rasanya mau muntah.
Siapa pun yang berpikir jernih pasti akan
langsung paham. Mereka berdua... terlihat jauh lebih serasi. Gadis muda yang
ceria dan bersemangat, bersanding dengan Masato yang tampan. Interaksi mereka
berdua terlihat begitu menyilaukan. Siapa pun yang melihat pasti akan menjawab
kalau dibandingkan denganku, gadis itulah yang lebih pantas untuknya.
……Tapi.
Aku sudah memutuskan.
Aku mengeluarkan cermin saku, lalu
merapikan penampilanku sekali lagi. Wajahku terlihat pucat pasi. Tapi itu tidak
bisa dibantu sekarang.
Aku tidak akan menyerah.
Tak peduli seberapa kotor dan
menjijikkannya diriku, aku sudah memutuskan kalau bagiku hanya ada Masato.
Tidak akan kuserahkan.
Tidak akan, tidak akan, tidak akan, tidak
akan.
Sambil berjalan terhuyung, aku berdiri di
belakang Masato yang masih menatap punggung gadis itu.
Bagaimana... aku harus menyapanya?
Ah, benar juga.
Aku tidak boleh langsung menghujat gadis
itu. Karena Masato mungkin punya alasannya sendiri. Dan aku tidak ingin Masato
memberikan kesan buruk padaku.
Sebaliknya, aku harus bersikap
seolah-olah memujinya.
Jadi, baiklah.
Mari kita mulai dengan ini.
"Gadis yang imut, ya."
───● Si Mahasiswi Ceria Melangkah Masuk ●○●
"Aku mohon!!"
*Plak!* Aku merapatkan kedua telapak
tanganku di depan wajah.
Saat aku membuka mataku yang sempat
terpejam sesaat, di depanku ada seorang sahabat yang memasang wajah serba
salah.
"Mizuho, biarpun kamu yang minta,
kalau yang itu beneran nggak bisa..."
"Eeeh~~!! Kenapa sih~!! Aku mohon
banget deh~~~! Katanya kalau aku lagi kesulitan panggil saja!"
"I-iya sih, tapi ini tuh urusannya
beda lagi..."
Di area istirahat kampus. Karena sekarang
masih jam kuliah, suasana kampus terasa sangat sepi sampai aku berpikir
jangan-jangan tidak ada orang selain kami.
Karena kami sedang ada jam kosong, kami
menghabiskan waktu di sini, dan di sanalah aku menceritakan hal "itu"
kepada Koumi. Habisnya Koumi sangat mencemaskanku, dan menurutku kalau sama
Koumi, aku boleh cerita, kan.
Hal yang kuceritakan adalah soal tempat
kerja orang takdirku yang sepertinya sudah ketahuan. Dan untuk melangkahkan
kaki ke sana, dibutuhkan keberanian yang luar biasa.
"Pergi ke sana sendirian itu
menakutkan tahu, Koumi~ ayo ikut bareng aku~"
"……Kenapa nggak coba ajak teman yang
lain saja?"
"Hal kayak gini cuma bisa
kuceritakan ke Koumi tahu~"
Soal orang takdirku yang sepertinya
bekerja di *Boys Bar*...
Aku nggak tahu dia bagian pelayanan atau
bagian belakang layar, tapi dia pakai baju yang mirip seragam...
Makanya aku berniat pergi ke toko itu
hari ini, tapi karena ini pertama kalinya ke tempat seperti itu, aku takut.
Makanya aku minta tolong ke Koumi,
tapi...
"Aku sih ingin saja menemanimu...
tapi... yah... gimana ya, rasanya nggak enak sama Masato..."
"Gitu ya... benar juga sih..."
Hmm, kalau begitu pilihannya tinggal
mengandalkan teman lain, tapi... rasanya sulit buat minta tolong.
"Lagipula... apa orang itu beneran
oke? Jangan-jangan dia bersikap baik padamu karena dia memang seorang
pramuniaga bar laki-laki (*boy*)? Bukan karena hal lain...?"
"……"
Aku tertelungkup di meja tanpa kata.
Kekhawatiran Koumi itu sangat masuk akal.
Bukannya aku tidak pernah terpikir begitu.
Tapi.
Aku ingat kembali kata-kata yang dia
ucapkan saat itu. Senyumannya.
"Aku nggak bisa percaya kalau semua
itu cuma akting atau kebohongan belaka..."
"……Gitu ya. Maaf ya sudah
meragukannya."
"Nggak apa-apa. Apa yang Koumi
bilang itu benar kok."
Nggak ada gunanya galau terus-terusan.
Lagipula otakku kan memang bukan tipe
yang pintar berpikir.
Harus segera beraksi!
*Gaba!* Aku langsung bangun dari posisi
tertelungkup.
"Aku bakal pergi sendirian! Aku
nggak mau galau nggak jelas begini terus!"
"Mizuho... maaf ya."
"Jangan minta maaf! Dari awal ini
adalah ujian yang diberikan padaku...!"
Aku tidak tahu harus bicara apa kalau
bertemu nanti, bahkan aku tidak tahu apa aku bisa mengenalinya sebagai orang
yang sama. Tapi kalau tidak beraksi, tidak akan ada yang terjadi!
Aku mengangkat tangan kananku
tinggi-tinggi.
"Ayo berangkat~!! Mari menuju medan
perang!!"
Tiba-tiba, tangan kanan yang kuangkat itu
ditangkap oleh seseorang.
Lho?
"Mau pergi perang ke mana,
Mizuho?"
Begitu aku menoleh ke belakang, di sana
ada...
"Ma-Masato, pagi~"
"Yo, pagi! Terus? Mizuho mau ke
mana? Medan perang apaan sih?"
Gawaaattt.
Refleks aku langsung menoleh lagi dan
meminta bantuan pada Koumi.
"Kenapa malah lihat ke sini!?"
Nggak bisa! Koumi yang lagi dalam mode
"gadis jatuh cinta" nggak bisa dijadikan kekuatan tempur!
Aku harus berjuang sendiri!!
"Hmm, oke. Itu pertempuran Chibi
(*Red Cliffs*) ya. Kenapa tiba-tiba bahas sejarah China?"
"A-anu. Wa-wa-wa-kami bertiga! Meski
tidak lahir di waktu yang sama, kami bersumpah akan mati di waktu yang
sama!"
"Kenapa malah Sumpah Kebun Persik?
Lagipula yang kita pegang ini botol minum, bukan cawan arak."
Koumi yang tertawa kaku dan aku pun
bersulang dengan botol minum 250ml!
*Kuuu~*! Bersulang untuk sahabatku yang
baik hati!
"Begitulah ceritanya, makanya aku
harus menuju medan perang!"
"O-oh, begitu ya... Aku nggak paham
sih, tapi semangat ya...?"
Yo-yosh.
Sepertinya berhasil terlewati. *Perfect
communication*.
Efek suara yang ceria bergema di
kepalaku.
Setelah kuliah berakhir.
Kami bertiga berjalan pulang bersama.
Karena kereta yang dinaiki Koumi berbeda,
kami berpisah lebih dulu.
Aku menghabiskan waktu di dalam kereta
sambil mengobrol ringan dengan Masato.
Meski duduk bersebelahan, sepertinya
semenjak aku mulai fokus pada orang takdirku, aku jadi bisa mengobrol lebih
natural dengan Masato.
"Eh, ngomong-ngomong rumah Masato
beneran dekat dari stasiun tempat kamu turun?"
"Iya. Cukup dekat kok. Masih dalam
jarak jalan kaki."
"Oalah... kalau gitu pas keretanya
mogok gara-gara badai, aku numpang nginep ya!"
Aku bahkan sudah bisa melontarkan candaan
seperti itu.
"Boleh saja. Hubungi aku saja kalau
kejadian."
"……Boleh dong!! Eh jangan dong!
Harusnya kamu tolak!"
"Eh, kenapa? Kalau Mizuho nggak bisa
pulang kan kasihan."
"I-iya sih benar, tapi... apa nggak
ada perasaan lain gitu? Kamu kan laki-laki lho, Masato."
"? ……Iya terus?"
Aduh, kacau deh. Gawat ini, Koumi-san.
Aku harus merevolusi kesadaran anak ini sepertinya~.
"Dengar ya, laki-laki itu nggak
boleh sembarangan membiarkan perempuan menginap di rumahnya!"
"Duh, aku juga tahu soal itu. Aku
bilang boleh kan karena itu kamu, Mizuho. Aku nggak akan membiarkan sembarang
orang menginap kok."
……
Masato itu curang. Dia bisa bilang
hal-hal seperti itu tanpa beban.
Memang sih, sudah lumayan lama sejak aku
akrab dengan Masato...
Tapi kalau dibilang begitu, aku jadi
mikir jangan-jangan ada peluang buatku.
"S-sebaiknya kamu bilang hal begitu
ke Koumi saja deh~ dia pasti bakal langsung meluncur ke rumahmu."
"? Kenapa malah bahas Koumi?"
Dasar cowok nggak peka!
Kalau bukan karena urusan Koumi dan
urusan orang takdirku, ini bisa bahaya.
Suatu saat nanti, mungkin saja aku bakal
berbohong bilang keretanya mogok padahal tidak, cuma karena aku ingin menginap
di rumahmu.
Sambil membicarakan hal itu, kereta
akhirnya sampai di stasiun.
Aku turun dari kereta bersama Masato.
"……Lho? Bukannya Mizuho harusnya
transit?"
"A, a-ah~! Hari ini aku ada janji,
itu lho! Aku harus pergi ke salon yang aku ceritakan kemarin!"
"Ooh, begitu ya……? Kalau gitu, aku
lewat sini ya. Sampai jumpa."
"I-iya! Dadah!"
……Apa dia curiga ya.
Setelah mengantar kepergian Masato yang
melewati gerbang tiket, aku masuk ke sebuah kafe di stasiun. Aku memesan satu
es Cafe au Lait, lalu duduk di kursiku.
"Fuu…… Oke, mari kita lihat."
Aku mengeluarkan selembar kartu nama dari
dompetku.
Latar belakang pemandangan malam dengan
sebuah gelas anggur. Di kartu nama yang berkilauan itu, tertulis nama toko
dengan huruf tegak bersambung latin.
Karena sebelumnya sudah melakukan survei,
aku sudah tahu lokasinya.
Masalahnya, sekarang baru lewat tengah
hari. Aku harus membutuhkan waktu itu sampai malam tiba.
"Kira-kira kalau cuma modal satu
gelas es Cafe au Lait buat nongkrong lama, bakal dimarahi nggak ya……"
Sambil merasa was-was dengan pandangan
pelayan dan orang sekitar, aku menyesap sedotan Cafe au Lait-ku secara
sembunyi-sembunyi.
Waktu menunjukkan sekitar pukul 18.30.
Seiring jarum jam yang bergerak mendekati
malam, jantungku berdegup makin kencang.
Tentu saja ini pertama kalinya aku ke
*Boys Bar*. Aku sudah mencari banyak hal di internet tentang tata krama,
peraturan, sampai hal-hal yang tidak boleh dilakukan di sana.
Katanya ada sistem pilih pramuniaga
(*shimei*), tapi aku harus gimana ya…… Masa aku bilang "Tolong panggilkan
anak mahasiswa" gitu……?
Apa lebih baik aku ditemani siapa saja
dulu, baru tanya ke orang itu?
Tapi entah kenapa, pergi main ke *Boys
Bar* sendiri saja sudah membuatku merasa bersalah…….
Lalu, tiba-tiba aku berpikir.
Sebenarnya, kepada siapa aku merasakan
rasa bersalah ini?
Aku menggeleng-gelengkan kepalaku dengan
kuat.
Sekarang jangan pikirkan hal yang tidak
perlu. Aku datang ke sini hari ini demi mengakhiri perasaan galau ini.
Aku mengembalikan gelas Cafe au Lait yang
sudah habis dari tadi ke tempat pengembalian, lalu keluar dari kafe. Kota sudah
mulai gelap, dan kerumunan orang sepertinya sudah jauh lebih ramai dibanding
tadi.
"Belok di depan sana…… ya."
Mengandalkan ingatan, aku melangkah
menuju toko itu. Begitu berbelok di pojok gang, papan nama toko itu langsung
terlihat.
Aku menarik napas panjang. Ini bukan demi
keinginan pribadiku, tapi…… eh? Tapi karena ini urusan ingin bertemu orang
takdirku, ujung-ujungnya keinginan pribadi juga ya?
Ah, sudahlah!
Tidak ada orang di depan pintu. Dengan
perasaan was-was, aku membuka pintu itu.
Tenang! Aku sudah tarik uang lumayan
banyak kok! Cuma hari ini!
Cuma hari ini saja!
Aku melangkahkan kaki masuk ke dalam
toko.
Sama seperti bagian luarnya yang mewah,
kupikir bagian dalamnya bakal sangat gemerlap, tapi ternyata tidak. Suasana di
dalam toko terasa cukup tenang. Hanya saja, mungkin karena ini toko dengan
konsep malam hari, pencahayaan remang-remang yang menyala lembut di dalam
menciptakan suasana yang dewasa.
Saat aku terdiam terpaku, seseorang dari
toko menyadari kehadiranku dan mendekat.
"Selamat datang, Nona Mu……
da……"
"Eh……?"
Setelan jas *dress* yang elegan. Atasan
dan bawahan berwarna biru tua pekat dengan rompi hitam. Aksen sapu tangan putih
bersih di saku dadanya terlihat sangat pas. Rambutnya hitam dengan gaya
permanen (*perm*) yang longgar.
Gaya rambut yang akhir-akhir ini sering
kulihat setiap hari.
"Masa..to……?"
Laki-laki yang selalu membuatku galau……
Katari Masato.
Dia berdiri di sana dengan pakaian yang
sangat keren.
Masato memergokiku datang ke *Boys Bar*.
Masato bekerja di *Boys Bar*.
Dua kenyataan itu berputar-putar di kepalaku. Pikiranku beneran kacau balau.
Entah sudah berapa detik aku hanya
berdiri mematung di sana.
"……-!"
Refleks, aku langsung berbalik arah.
Kenapa? Kenapa rasanya sesesak ini?
Masato memergokiku datang ke *Boys Bar*,
dan Masato sendiri ternyata bekerja di sana. Kenapa perasaanku harus sekacau
ini?
Padahal harusnya aku tinggal tertawa
seperti biasa, lalu bilang dengan ceria, "Aku mampir main lho!".
Harusnya aku tinggal bilang, "Masato beneran kerja di tempat kayak
begini!?", tapi aku tidak bisa.
Aku tidak ingin dia salah paham padaku.
Tapi di saat yang sama, ada bagian dari
diriku yang merasa terluka mengetahui kenyataan bahwa Masato bekerja di sini.
Aku benar-benar tidak mengerti lagi.
Semuanya kacau balau.
"Tunggu! Mizuho!!"
Tangan kiriku yang hendak melangkah pergi
ditahan olehnya. Aku tidak ingin menoleh. Karena aku yakin sekarang aku pasti
sedang memasang wajah yang sangat buruk.
"Mizuho, tunggu... sekali saja...
biarkan kita bicara dulu sebentar, ya?"
Di salah satu sudut toko yang mewah itu.
Aku dan Masato duduk berdua mengelilingi
sebuah meja bundar.
"Anu... jadi, orang yang pernah
menolong Masato... dia pemilik toko ini? Terus kamu kerja di sini juga sebagai
bentuk balas budi... gitu?"
"Bisa dibilang begitu. Tapi ya,
gimana ya, aku nggak dipaksa kok. Aku juga merasa nggak masalah sekalian buat
cari pengalaman saja... ya, kira-kira begitu."
"Gi-gitu ya... makanya waktu itu
kamu juga ada di sekitar sini ya."
"Yah, benar juga sih..."
Aku memutar sedotan di gelas jus jeruk
yang disiapkan Masato. Es batunya berdenting, mengeluarkan suara kering yang
nyaring.
"Meskipun cuma seminggu sekali, sih.
Karena kerja di sini juga aku jadi bisa kuliah... yah, begitulah."
"Begitu ya... aku sama sekali tidak
tahu."
Tadinya aku pikir kami sudah akrab, tapi
ternyata aku sama sekali tidak tahu apa-apa tentang Masato. Ternyata ada alasan
seperti itu di baliknya.
Tapi, entah kenapa aku merasa sedikit
lega.
"Mizuho sendiri? Kenapa ada di
sini?"
"Anu... jadi begini..."
Aku mulai bercerita sedikit demi sedikit.
Tentang orang takdirku yang sepertinya bekerja di sini. Tentang bagaimana aku
datang ke sini demi mendapatkan informasi itu.
Di tengah cerita, tanpa sadar aku jadi
makin bersemangat.
...Kenapa ya. Sambil bercerita, aku
menyadari kalau aku benar-benar tidak ingin orang ini salah paham padaku.
"Begitu ya... tapi aku kan cuma
masuk seminggu sekali, jadi aku nggak kenal semua karyawannya."
"Benar juga, mana mungkin kamu tahu
semuanya ya..."
"Ah, tapi mungkin orang lain ada
yang tahu sesuatu, nanti aku bantu tanyakan ya!"
"Eh, beneran?"
"Iya, tapi sebagai gantinya..."
Masato celingukan melihat sekeliling,
lalu tiba-tiba dia mencondongkan tubuhnya mendekat ke arahku.
Suasananya berbeda dari biasanya, membuat
jantungku reflek berdegup kencang.
Padahal biasanya saja dia sudah ganteng,
apalagi kalau pakai baju sekeren ini, mana mungkin aku nggak deg-degan.
Aura Masato yang terasa lebih dewasa ini
beneran bikin kepalaku pening...
"Bisa tolong rahasiakan hal ini dari
Koumi?"
"Eh...?"
"Koumi kan gampang cemas, kalau dia
tahu aku kerja begini dia pasti bakal marah besar, kan...? Koumi kalau marah
itu serem lho~ Mizuho juga tahu kan?"
Memang benar sih, Koumi itu kalau sudah
urusan Masato biasanya pandangannya jadi sempit. Ta-tapi kalau merahasiakan ini
dari Koumi, rasanya agak... atau malah sangat merasa bersalah...
"Tolong ya! Aku pasti bakal bantu
cari orang takdirmu itu kok."
"……"
Aku menatap Masato dari ujung kepala
sampai ujung kaki.
Dia benar-benar laki-laki yang tampan,
baik... dan sangat luar biasa.
Orang yang disukai Koumi.
Padahal Koumi sangat mempercayaiku dan
mengenalkannya padaku.
Tapi sekarang, rahasia... yang hanya
diketahui olehku dan Masato...?
Seketika, tengkukku meremang. Nggak
boleh.
Ini adalah tipe perasaan yang... tidak
boleh sampai menjadi kebiasaan.
"……Boleh, kok."
Mulutku bergerak sendiri.
"Beneran!? Syukurlah...! Kedamaianku
di kampus akhirnya terjamin! Terima kasih ya, Mizuho!"
Dia tersenyum sambil menjabat tanganku.
Detak jantungku tidak mau berhenti.
Padahal nggak boleh.
Hal seperti ini benar-benar nggak boleh.
Melihat Masato yang sekarang, aku
benar-benar merasa sangat berdebar.
Suara detak jantungku yang bergerak seolah bukan milikku sendiri ini... terasa sangat riuh.



Post a Comment