NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Danjohi 1:5 no Sekai demo Futsu ni Ikirareru to Omotta? Geki Juu Kanjou na Kanojotachi ga Mujikaku Danshi ni Honrousaretara Volume 1 Chapter 1

Chapter 1 – Pertemuan Takdir Yang Sepihak


───● Tipe JD yang Terkadang Menakutkan ●○●

 

*TL/Note: JD (女子大生 / Joshi Daisei): istilah slang Jepang untuk mahasiswi (perempuan yang sedang kuliah). Umumnya digunakan dalam percakapan santai, dan dalam beberapa konteks bisa merujuk pada “cewek kampus” dengan nuansa kasual.

 

Itu terjadi pada hari ketika sinar matahari terasa lebih menyengat dari biasanya untuk ukuran musim semi.

 

“Masato! Ini udah siang tahu~!”

 

“Iya, iyaaa, ini mau keluar kok.”

 

Sudah satu bulan sejak aku berpindah ke dunia ini.

 

Setelah beberapa lama, aku baru sadar kalau tempat ini bukanlah dunia lain yang benar-benar asing, melainkan lebih mirip dunia paralel.

 

Entah kenapa, aku punya kartu keluarga di sini, dan nama “Katari Masato” sudah tercatat sejak awal. Aku dianggap sudah lulus SMA dari dunia lamaku, dan prosedur pendaftaran universitas yang seharusnya dimulai musim semi ini juga sudah selesai.

 

Awalnya aku cemas banget bisa hidup normal atau nggak, tapi sekarang aku sudah bisa menjalani hari-hari tanpa kendala berarti.

 

Kalau ditanya semua ini berkat siapa…

 

“Masato! Hari ini kamu ada shift kan! Jam 18.00 harus sudah di toko ya!”

 

“Siaaap, dimengerti.”

 

Suara yang memanggilku dari luar rumah sedari tadi adalah milik Ibu Tsukuda Aika.

 

Dia seperti dewi penyelamat yang menemukanku saat aku tergeletak di gang sempit tak lama setelah berpindah dunia. Karena keadaan, dia langsung menjadi waliku. Omong-omong, dia sudah menikah, tapi katanya sudah lama nggak ketemu suaminya. Ceritanya gelap sekali.

 

Ibu Aika nggak cuma jadi waliku, dia bahkan mengizinkanku kuliah. Tentu saja aku pakai beasiswa, jadi nanti aku yang akan kerja sendiri buat melunasinya.

 

Intinya, aku berhutang budi besar sama beliau. Kehidupanku sekarang ini sepenuhnya berkat Ibu Aika.

 

Begitu aku membuka pintu depan, Ibu Aika sudah melambaikan tangan dengan santai.

 

“Selamat pagi.”

 

“Pagi? Ini udah siang lho.”

 

Ibu Aika memakai pakaian santai. Rambut cokelat bergelombangnya diikat ke samping.

 

Gaya rambut yang sama seperti saat pertama kali kami bertemu. Meski sudah hampir 30 tahun, dia tetap cantik. Mungkin karena tuntutan pekerjaan, dia sangat memperhatikan penampilan.

 

Apartemen yang kutempati ini adalah milik Ibu Aika yang disewakan. Karena lokasinya dekat dengan tokonya, kadang dia datang menyapaku di pagi hari seperti ini.

 

“Gimana? Sudah dapat teman di kampus?”

 

“Ah~… ya, begitulah… kayaknya…?”

 

“Mencurigakan sekali. Jangan sampai kena tipu cewek aneh ya. Kalau mau menginap di luar, harus lapor dulu ke aku! Terus, berhenti pakai bahasa formal!”

 

“Iyaaa! Berangkat dulu ya!”

 

Merasa malu, aku langsung mengakhiri percakapan dan kabur. Di belakang terdengar suara protesnya, “Tuh kan, ujung-ujungnya masih formal!”

 

Meski baru kenal sebentar, aku sudah cukup akrab dengannya. Tapi meski disuruh berhenti bicara formal, susah buatku melepas bahasa sopan ke orang yang baru kukenal satu bulan, apalagi dia penolongku. Aku memang tipe orang yang kaku.

 

Lagipula, mendengar peringatan 'jangan kena tipu cewek aneh' bikin aku makin sadar kalau dunia ini memang sudah jauh berbeda dari duniaku yang dulu.

 

Setelah berpisah dengan Ibu Aika, aku berangkat ke universitas. Jam sudah menunjukkan pukul 11.00. Matahari menyinari bumi tanpa ampun.

 

Karena sedang menuju musim panas, suhu di jam segini memang tinggi banget.

Sambil menyeka keringat di dahi dengan sapu tangan, aku melirik jam tangan favoritku.

 

“Gawat, jam kedua nggak bakal sempat…”

 

Jam kedua mulai pukul 11.10. Kalau jalan kaki terus, pasti telat. Tapi lari di cuaca panas begini rasanya berat… Yah, mau nggak mau harus lari deh.

 

Tepat saat aku membulatkan tekad, ponsel di kantongku bergetar disertai suara piron.

 

Begitu aku mengeluarkannya, ada satu notifikasi media sosial.

 

Koumi: Masato, hari ini jam kedua di ruang 104 kan? Aku sudah pesenin kursi buatmu ♪

 

“Penyelamat banget~ Memang punya teman itu hal terbaik!”

 

Niatku untuk lari langsung urung. Aku mengubah langkah jadi jalan cepat sambil membalas stiker terima kasih, lalu memasukkan ponsel lagi. Kalau kursi sudah dipesanin, telat sedikit nggak masalah.

 

Yang paling neraka itu datang telat, nggak dapat kursi, terus terpaksa duduk di depan mata dosen!

 

Sambil berterima kasih dalam hati ke Koumi, aku melanjutkan perjalanan ke kampus.

 

“Oleh karena itu, makna dari kalimat ini adalah──”

 

Begitu aku masuk ke ruang kelas, kuliahnya ternyata sudah dimulai.

 

Aku telat sekitar sepuluh menit, tapi karena ini ruang kuliah umum yang besar, nggak jadi masalah. Universitas ini cukup santai soal beginian. Prioritas utamaku sekarang adalah mencari Koumi yang sudah pesenin kursi.

 

(Masato! Sini, sini…!)

 

Setelah nempelkan kartu mahasiswa ke pemindai absen, aku menoleh ke sekeliling dan menemukan kepala berambut flaxen yang melambai-lambai di kursi pojok belakang.

 

Aku langsung berjalan cepat melewati barisan belakang dan berhasil duduk di kursi yang dijaga Koumi dengan tasnya.

 

“Makasih banyak ya, Koumi. Penyelamat banget.”

 

“Nishishi~ Kalau demi Masato, hal segampang ini sih mudah banget tahu ♪”

 

Gadis berambut short bob yang tersenyum polos ke arahku ini adalah Igarashi Koumi. Bisa dibilang, dia satu-satunya teman yang kupunya di universitas ini.

 

Senyumnya yang khas terlihat imut seperti iblis kecil, dan mata merahnya berkilau seperti kelereng kaca.

 

Karena kekacauan saat perpindahan dunia membuat pendaftaran kuliahku tertunda, aku baru bisa ikut kuliah satu bulan lebih lambat dari mahasiswa baru lainnya.

 

Bulan pertama bagi mahasiswa baru itu sangat krusial. Biasanya kelompok pertemanan sudah terbentuk, klub juga sudah dipilih.

 

Aku yang datang telat aslinya sudah pasrah bakal jadi mahasiswa penyendiri… tapi di saat itu Koumi muncul.

 

Padahal Koumi punya kepribadian ceria dan seharusnya mudah bergabung dengan kelompok lain, tapi entah kenapa dia malah sangat baik sama aku yang penyendiri ini.

 

Tapi ya… perkembangan yang terlalu menguntungkan ini mungkin juga karena dunia ini punya moralitas gender yang terbalik.

 

…Hah, jangan-jangan cewek ini jatuh cinta pada pandangan pertama sama aku!?

 

…Bahaya, bahaya. Hampir saja mode “perjaka penuh delusi” ku aktif.

 

Saat aku sedang mikir begitu, lengan kaos pendekku tiba-tiba ditarik.

 

“…Hei, mumpung aku sudah pesenin kursi, hari ini ayo makan bareng.”

 

…Makhluk imut apa ini?

 

Daya hancur gadis yang mengajak kencan dengan senyum polos ini benar-benar luar biasa.

 

Anting mutiara kecil yang sesekali kelihatan dari balik rambut short bob flaxen-nya menciptakan kontras manis dengan wajah polosnya.

 

Apalagi kaos putih off-shoulder yang dipakainya, jadi saat dia mendekat, kulit bahunya terlihat jelas dan bikin jantungku berdegup kencang.

 

…Tenang, tenang. Di saat seperti ini aku harus tetap cool. Aku ini pria yang kalem.

 

“Ah~… Maaf banget, hari ini aku ada kerja sambilan.”

 

“Eeeh. Apa Masato selalu ada kerja sambilan setiap hari Jumat?”

 

“Iya, hampir selalu sih.”

 

“Begitu ya~ Kalau gitu, hari Senin depan gimana!”

 

“Kalau Senin boleh kok, nggak masalah.”

 

“Yess!”

 

Koumi melakukan gerakan kepalan tangan kecil tanda kemenangan, lalu kembali ke posisi duduknya.

 

Eh, bukannya dia terlalu imut?

 

Ini pasti disengaja, kan?! Berhenti dong melakukan itu!! Tapi ya… karena dia imut dimaafkan deh!

 

…Aku menghela napas pendek dan mencoba fokus ke perkuliahan. Sebenarnya hampir semua jadwal kuliahku sama dengan Koumi.

 

Itu bisa terjadi karena Koumi membantuku saat registrasi mata kuliah susulan.

 

Kebetulan kami satu fakultas, jadi dia dengan baik hati kasih tau mata kuliah apa saja yang wajib, lalu ambil yang sama denganku. Apa dia ini dewi?

 

…Tapi kalau dipikir dengan tenang, aku jadi merasa nggak enak.

 

Dia kan cewek yang imut, pasti dia juga ingin kuliah bareng teman-teman dari kelompoknya…

 

“…Hei, apa beneran nggak apa-apa? Daripada kuliah sama aku, kamu pasti lebih mau kuliah bareng teman-temanmu yang lain, kan…?”

 

“…Hm? Enggak juga. Kalau sama teman lain kan bisa ketemu di klub.”

 

Karena kami berbisik, suara kami nggak menggema di kelas. Setelah memastikan volumenya tertutup suara dosen, aku melanjutkan.

 

“Maksudku, sesekali kamu kuliah bareng teman-temanmu juga boleh kok. Lagian aku sudah terbiasa sendiri.”

 

Gadis sepopuler ini pasti punya satu atau dua teman di kelas besar ini. Itulah yang kupikirkan, tapi…

 

“Kenapa?”

 

Seketika, aku merasa suhu di sekitar turun sekitar 10 derajat.

 

Koumi masih tersenyum, tapi entah kenapa matanya nggak ikut tersenyum.

 

──Eh? Apa aku baru saja menginjak ranjau?

 

“Eh, nggak, maksudku… mana tahu kamu ingin kuliah bareng teman yang lain gitu.”

 

“Apa Masato nggak suka kuliah bareng aku? Jangan-jangan kamu ingin kuliah bareng cewek lain?”

 

“Enggak, enggak, enggak! Bukan begitu! Aku beneran berterima kasih, dan nggak ada yang lebih bahagia daripada kuliah bareng cewek cantik sepertimu, beneran! Lagian aku nggak punya teman lain selain kamu!”

 

Aku nggak tahu apa yang terjadi, tapi instingku bilang ini bahaya, jadi aku langsung mengoceh pembelaan dengan kecepatan tinggi.

 

Duh, aku benar-benar nggak paham perempuan. Bagian mana sih yang salah? Kenapa jadi serem begini?

 

Tapi begitu aku bilang “cewek cantik”, ekspresi Koumi perlahan cerah kembali.

 

“Ga-gadis cantik? Masa sih? Apa menurut Masato aku imut?”

 

Tiba-tiba dia jadi tersipu.

 

“I-iya lah. Kamu imut kok. Kamu boleh kok lebih percaya diri.”

 

“Gitu ya Ehehe~… Imut ya…”

 

Fiuh… sepertinya aku lolos dari maut.

 

Perempuan di dunia ini benar-benar sulit dimengerti ya…

 

Melihat Koumi yang tersenyum seperti mentega meleleh, untuk saat ini aku hanya bisa melegakan dadaku.




───● Teman Masa Kecil Tipe Mahasiswi Menyadari Perasaannya ●○●

 

Apa sih sebenarnya definisi dari "jatuh cinta pada pandangan pertama"?

 

Apakah itu berarti saat kau melihat seseorang, kau langsung jatuh hati karena wajah, aura, atau bentuk tubuhnya sesuai seleramu?

 

Jika itu adalah definisi mutlaknya, maka aku bisa bilang kalau aku *tidak* jatuh cinta pada pandangan pertama.

 

──Namun, setelah pertama kali bertemu, mengobrol, dan sempat menghabiskan waktu bersama walau sebentar. Saat kami mengucapkan "sampai jumpa" di penghujung hari itu.

 

Di momen jantungku berdegup kencang tak terkendali itulah aku menyadari perasaan ini.

 

Rasanya, tidak salah jika cinta ini dikategorikan sebagai "jatuh cinta pada pandangan pertama," pikirku.

 

Sejak lahir hingga hari ini, aku sudah bertemu dengan cukup banyak laki-laki. Meski tidak pernah sampai jatuh hati, ada beberapa yang kukenal.

 

Meski jumlahnya sedikit, di kelasku dulu ada sekitar 3 sampai 4 orang laki-laki, dan di gim daring yang kumainkan sebagai hobi pun ada beberapa pemain laki-laki.

 

Namun, setiap kali aku melihat sifat asli mereka, aku selalu merasa muak dengan gelagat para laki-laki yang merasa seolah mereka berada di "posisi yang memilih."

 

Mayoritas laki-laki berpikir bahwa karena mereka langka, maka sudah sewajarnya mereka diperlakukan dengan sangat istimewa. Karena itulah mereka bersikap sok kuat dan arogan terhadap kami para perempuan.

 

Aku sama sekali tidak bisa menerima hal itu. Mereka bahkan tidak bisa berinvestasi pada penampilan sendiri. Tidak punya kelebihan yang menonjol. Kepribadiannya pun tidak bisa dibilang sangat baik.

 

Tapi, mereka memberikan tatapan tajam yang seolah berkata, "Kamilah yang menentukan pilihan."

 

Saat ada yang bilang, "Boleh deh kalau mau pacaran sama aku," aku merasa merinding saking jijiknya. Saat ada yang bilang, "Aku mau kok jadi temanmu," aku merasa emosi.

 

Aku benar-benar tidak paham kenapa aku harus merasa seperti sedang diberi belas kasihan seperti itu.

 

"Haaah..."

 

Kuliah jam pertama baru saja selesai. Aku──Igarashi Koumi──menyandarkan kepalaku di atas meja sambil menghela napas panjang tanpa sadar.

 

"Kenapa, Koumi~? Kalau dari pagi sudah menghela napas begitu, kamu nggak bakal kuat sampai jam kelima nanti lho!"

 

"Rasanya memang nggak bakal kuat..."

 

Mizuho──Tonosaki Mizuho──yang tadi ikut kuliah bersamaku melongok ke arah wajahku, tapi saat ini aku tidak punya energi untuk menanggapinya.

 

"Padahal kamu imut lho, Koumi! Kalau lesu begitu nanti nggak laku! Demi kehidupan kampus impian kita, kita harus semangat!!"

 

"Tensi kamu tinggi banget sih dari pagi, Mizuho..."

 

"Tentu saja! Masa-masa baru masuk kuliah begini adalah kesempatan emas...! Aku akan menangkap cowok ganteng~!"

 

Temanku, Mizuho, adalah tipe orang yang sangat memuja visual.

 

Dia suka laki-laki tampan, dan jika melihat yang sesuai seleranya, dia akan langsung bergerak mendekat. Karena itu juga dia sering ditolak mentah-mentah. Sebagai sesama perempuan, dia sebenarnya anak yang sangat baik untuk dijadikan teman, tapi...

 

Melihat kelas yang mulai sepi, aku baru saja hendak bangkit dari kursi ketika Mizuho, yang baru saja melirik ponselnya, memberi isyarat padaku untuk mendekat.

 

"Ngomong-ngomong, Koumi, di klub bulu tangkis kamu lagi ngincer siapa?"

 

"Eh...?"

 

"Kok 'eh'? Ya ampun, pasti ada dong satu orang yang kamu incer?"

 

Aku dan Mizuho tergabung dalam klub bulu tangkis yang sama. Memang benar aku masuk ke klub itu dengan harapan bisa bertemu orang yang menarik, jadi aku tidak bisa membantah kalau ada sedikit niat terselubung. Namun...

 

"Ah... untuk sekarang sih, nggak ada kayaknya."

 

"Eeeh!? Serius? Kak Keito kan lumayan ganteng tuh!"

 

"Iya sih, memang..."

 

"Padahal Koumi imut banget, tapi ternyata nggak seagresif itu ya? Kamu harus lebih semangat! Nanti malah jadi 'sisa' lho!"

 

'Sisa', ya.

 

Aku rasa apa yang dikatakan Mizuho mungkin tidak salah. Jumlah laki-laki memang lebih sedikit. Negara bilang sendiri akan menerapkan sistem poligami, tapi aku ragu orang-orang di dunia ini bisa mengubah nilai-nilai mereka semudah itu.

 

Kalau begitu, orang sepertiku mungkin benar-benar akan "tersisa". Orang yang "tidak mau berusaha agar dipilih oleh laki-laki."

 

Lagi-lagi, aku menghela napas panjang.

 

"Yah."

 

Saat berjalan di koridor gedung kampus menuju ruang kuliah jam kedua, aku menyadari ada surel masuk dari universitas.

 

Kuliah jam kedua di ruang 104 hari ini ditiadakan karena profesor yang bersangkutan sedang tidak enak badan.

 

Pemberitahuan yang sangat mendadak.

 

"Kuliah kosong ya... Apa ada teman yang jam segini lagi nggak ada kelas, ya..."

 

Mizuho yang tadi bersamaku sudah pergi ke kelas lain.

 

Teman-teman akrabku yang lain kebanyakan belum sampai di kampus atau sedang berada di tengah perkuliahan.

 

Untuk makan siang juga rasanya masih terlalu awal... sepertinya aku terpaksa menghabiskan waktu sendirian.

 

"Panasnya... hm?"

 

Sinar matahari dari luar sangat menyilaukan. Meski masih musim semi, kalau matahari bersinar seterang ini, hawa panasnya tetap terasa.

 

Aku merasa pilihanku memakai celana pendek hari ini sudah tepat. Tepat saat aku hendak mengambil topi hitam favoritku dari dalam tas...

 

"Gawat──... Sumpah, aku nggak tahu harus ambil mata kuliah yang mana... Kehidupan kampusku tamat sudah..."

 

Tiba-tiba, mataku tertuju pada sebuah bangku panjang di koridor gedung. Di sana, ada seorang pemuda yang sedang memegangi kepalanya di depan laptop yang terbuka.

 

Kalau ditanya apakah dia sangat tampan, aku tidak tahu pasti. Menurutku dia memang keren, tapi bukan tipe yang seperti aktor atau selebritas. Namun, tanpa sadar, kakiku melangkah ke arah pemuda itu. Aku malah menyapanya.

 

"Anu... apa Anda sedang melakukan registrasi mata kuliah?"

 

"Eh!?... Ah, iya. Ada alasan tertentu yang membuat pendaftaran kuliah saya jadi terlambat..."

 

Jantungku berdegup kencang. Laki-laki ini tersenyum ke arahku dengan begitu natural.

 

Entah sudah berapa lama aku tidak melihat senyum setulus itu dari seorang pria.

 

Tingginya tidak terlalu mencolok, tapi sepertinya di atas rata-rata dan badannya terlihat semampai.

 

Rambut hitamnya ditata dengan *perm* yang longgar. Dia memakai kemeja putih lengan pendek dengan rompi warna gandum di atasnya, terlihat sangat bersih dan rapi.

 

Ditambah lagi, senyumannya itu terlihat sangat ramah.

 

Detak jantungku otomatis menjadi sedikit lebih cepat.

 

"Ka-kalau tidak keberatan, apa mau saya bantu?"

 

Gawat! Aku malah gagap!

 

Tidak heran kalau dia akan merasa aku aneh. Seketika wajahku terasa pucat karena malu.

 

Kalau dipikir dengan tenang, tiba-tiba menyapa lalu menawarkan bantuan bukannya sudah jelas-jelas itu namanya *nanpa*...?!

 

"Eh! Boleh? Tapi tunggu, jam kedua kan sudah mau mulai..."

 

Dia... nggak merasa risih, kan? Malahan, apa aku baru saja diterima?

 

Dengan panik, aku mencoba menyambung percakapan.

 

"Ah, bukan begitu! Kuliah jam keduaku baru saja ditiadakan, jadi kebetulan aku lagi senggang, kok—"

 

"Serius?! Wah, ini benar-benar menolong! Terima kasih banyak ya~"

 

Pada saat itu juga, dia tiba-tiba bergeser dari posisi duduknya di bangku panjang itu.

 

...Eh? Artinya aku boleh duduk di sampingnya? ...Eh?

 

Saking tak terduga, sirkuit pikiranku langsung membeku.

 

"Aku dari fakultas dan jurusan ini, sih..."

 

Lho, kok dia mulai mengobrol dengan santai? Berarti aku boleh duduk, kan? Aku tidak

sedang salah paham yang fatal, kan?

 

Nanti kalau aku sudah duduk, dia nggak bakal pasang muka "Lho, kok duduk?" kan? Kalau itu sampai terjadi, aku bisa menangis di tempat umum meski sudah sedewasa ini tahu!

 

"...Lho? Ada apa?"

 

"A-a-aaa! Nggak ada apa-apa kok! Se-sekarang aku duduk, ya, ahaha."

 

Du-duh, tegang sekali. Sudah berapa tahun ya aku tidak duduk sedekat ini dengan laki-laki?

 

Aku mengambil napas dalam-dalam untuk menenangkan hati lalu duduk di sampingnya... dan saat melihat layar laptopnya, aku tersentak.

 

"Ah... fakultas dan jurusan kita sama."

 

"Eh! Serius? Wah, beruntung banget bisa dibantu langsung sama kakak tingkat—"

 

Hm? Kakak tingkat...? Ah, benar juga. Karena aku yang menyapa duluan, dia pasti mengira aku seniornya. Eh? Kalau begitu lebih baik pakai bahasa santai saja?

 

Tapi kalau baru pertama kali bertemu sudah pakai bahasa santai, bukannya itu lancang sekali...

 

"Ah, maaf. Aku... juga maba tahun pertama, kok..."

 

Maksudku, padahal sama-sama mahasiswa baru tapi sok-sokan mau membantu registrasi itu bukannya belagu banget? Apa dia bakal mengira aku menyapanya karena punya niat terselubung...?

 

Duh gawat, kepalaku mulai berputar...

 

"Lho—"

 

Wajahnya tampak bengong.

 

Ah, tamat sudah riwayatku──.

 

"Oh,, ternyata sama-sama tingkat satu! Soalnya aku belum punya kenalan teman seangkatan! Ini benar-benar membantu! Aku Katari Masato! Kamu siapa?"

 

Dia terlihat sangat senang dari lubuk hatinya yang terdalam.

 

Aku tidak tahu pasti. Kecuali kalau dia jenius dalam berakting, setidaknya di mataku dia terlihat tulus.

 

Aku mencubit pahaku sendiri agar dia tidak melihatnya.

 

Aku tidak boleh menunjukkan gelagat memalukan lagi. Aku memaksa jantungku yang berpacu kencang untuk tenang. Mulai dari sini, aku harus memberikan kesan yang baik...!

 

"Namaku Igarashi Koumi! Salam kenal, ya!"

 

Aku tidak lupa memasang senyum. Aku akan membentuk citra diriku yang jauh lebih baik daripada saat aku bersama orang lain...!

 

"Igarashi-san, ya. Oke! Langsung saja ya, jujur aku benar-benar bingung mau ambil mata kuliah yang mana..."

 

Dia... Katari Masato-kun, sepertinya memang sedang kesulitan. Dia terus menggulir layar laptopnya. Jadwal kuliahnya memang masih kosong melompong.

 

(*...Eh, tunggu sebentar. Bukannya ini ke-sem-pa-tan yang luar biasa?!*)

 

Masato-kun dan aku satu fakultas dan satu jurusan. Artinya, mata kuliah yang harus diambil pun sama.

 

Kalau begitu, kalau aku minta dia mengambil semua mata kuliah yang sama denganku, bukannya aku bisa kuliah bareng dia setiap hari...?

 

"...Igarashi-san?"

 

"Duh...!"

 

Saat aku melihat ke arahnya, mataku terasa silau karena jarak kami yang terlalu dekat.

 

Dadaku terasa sesak dan panas, sejak tadi keringatku tidak mau berhenti mengalir.

 

Tapi sekarang aku harus menahannya.

 

Demi masa depan kehidupan kampus yang gemilang...!

 

"Anu... Masato-kun, kalau... kalau kamu tidak keberatan, gimana kalau kamu ambil kelas yang sama denganku saja?"

 

Eh? Tapi ini nggak aneh, kan? Kalau dipikir secara normal, apa bagi laki-laki itu rasanya seperti neraka kalau harus bertemu perempuan yang sama setiap hari secara tetap?

 

Gawat, aku harus cari alasan, cari alasan...!

 

Aku harus menunjukkan kalau aku tidak punya niat terselubung...!

 

"Ah, nggak, maksudku begini! Aku memang nggak terlalu tahu mata kuliah lain, tapi kalau yang kuambil sendiri kan aku sudah paham. Lagipula ada beberapa kelas yang sudah berjalan dua kali, jadi aku bisa meminjamkan materi yang sudah dibagikan sebelumnya. Kayaknya bakal lebih 'untung' buatmu."

 

Apa-apaan coba bilang "untung"!

 

Aku sendiri merasa risih dengan caraku bicara yang cepat dan aneh tadi. Lalu dengan was-was, aku mengintip ekspresinya.

 

"Igarashi-san, jangan-jangan kamu ini—"

 

Ah, habis sudah. Kali ini benar-benar tamat. Dia pasti bakal bilang, "Kamu lagi ngincer aku ya?" dan semuanya berakhir. Terima kasih atas pertandingannya. Perang selesai. Selesai.

 

Tamat. *Siumai*. *Maimai*. Meski singkat, aku sudah cukup bahagia bisa bermimpi.

 

*TL/Note: Dalam konteks ini Frasa 'Siumai. Maimai.' adalah tambahan non-literal dari saya sendiri untuk menekankan perasaan 'game over', kekalahan, atau keputusasaan total yang berlebihan, sering digunakan dalam konteks slang/meme untuk humor.

 

"Seorang jenius ya?"

 

Hah?

 

"Wah, beneran deh, ini sangat membantu. Tapi nggak apa-apa? Bukannya Igarashi-san nggak dapat untung sama sekali?"

 

"Eng-enggak kok! Untungnya banyak banget! Banyak banget, jadi nggak apa-apa!"

 

Kehidupan kampus yang bisa kuhabiskan bersamamu! Itu saja sudah lebih dari sekadar "untung", itu berkah tau. Hah? Aku bicara apa sih?

 

Mungkin kalau mataku bisa digambar dalam bentuk manga, sekarang pasti sudah jadi mata

yang berputar-putar. Aku sendiri sampai nggak paham lagi apa yang sedang kuucapkan!

 

"Be-begitu ya? Kalau kamu nggak keberatan sih syukurlah... Eh, kalau gitu boleh aku lihat jadwal kuliahmu?"

 

"Iya! Tentu saja!"

 

Aku segera membuka ponsel dan menunjukkan jadwal kuliahku.

 

"Anu... jam pertama hari Senin itu yang ini, jam kedua yang ini, jam ketiga..."

 

Di depan mataku, jadwal kuliahnya perlahan mulai terisi. Jadwal yang sama persis denganku.

 

Eh? Berarti ini secara teknis kami punya barang kembaran? Apa ini awal dari *couple look*?

 

Aduh, aku benar-benar bisa gila kalau begini terus...

 

"Wah, makasih banyak ya! Kamu benar-benar menolongku!"

 

"Sama-sama! Aku senang kalau bisa membantu!"

 

Mungkin sudah sekitar 30 menit berlalu. Bagiku, itu terasa hanya sekejap.

 

Begitu menyenangkannya mengobrol dengan dia... Masato. Meski di tengah jalan aku sempat tegang sampai tidak tahu bicara apa.

 

"Kalau begitu aku pulang dulu ya! Kartu mahasiswaku belum jadi, jadi percuma juga kalau aku masuk kelas sekarang."

 

"Oh, gitu ya! Kalau gitu, nanti kalau kartu mahasiswamu sudah jadi, kita ketemu di kelas ya."

 

Begitu ya... jadi mulai sekarang kami bisa bertemu setiap hari... Gawat, aku refleks jadi senyam-senyum sendiri. Sambil menyadari tubuhku yang menghangat, aku melambaikan tangan untuk berpamitan.

 

Namun, dia yang seharusnya sudah berbalik badan dan berjalan pergi, entah kenapa malah kembali lagi ke arahku.

 

Ada apa ya? Apa ada barang yang ketinggalan...?

 

"Ada apa?"

 

"Ah, nggak, itu... gimana ya bilangnya... Aku mau minta tolong sesuatu ke Igarashi-san, atau lebih tepatnya..."

 

Sambil menggaruk pipi, dia tampak ragu untuk mengatakan sesuatu.

 

Minta tolong? Apa pun itu, kalau aku bisa melakukannya, pasti akan kukabulkan!

 

Saat itu, aku sudah merasa sangat gembira.

 

Namun di detik berikutnya, seolah telah membulatkan tekad, dia menatap lurus tepat ke mataku. Dan aku yakin, kata-kata yang dia ucapkan saat itu tidak akan pernah kulupakan seumur hidupku, kata demi kata.

 

"Kalau boleh... maukah kamu jadi temanku?"

 

*Boleh deh kalau mau pacaran sama aku*

 

*Aku mau kok jadi temanmu*

 

*Mau kubantu jadi temanmu?*

 

*Harusnya kamu bersyukur karena aku mau mengobrol denganmu*

 

Kata-kata yang pernah dilemparkan laki-laki kepadaku di masa lalu terngiang-ngiang kembali di kepala. Dan seketika itu juga, semuanya pecah dan sirna.

 

Rasanya seolah seluruh isi duniaku sedang dicat ulang dengan satu warna baru.

 

Pemandangan di sekitar. Suara. Semuanya mendadak tak terdengar lagi.

 

Mataku tak bisa beralih dari sosoknya yang ada di hadapanku sekarang.

 

"Tentu saja."

 

Hanya suara itu yang berhasil kupaksakan keluar dari tenggorokanku.

 

Lalu, dia yang ada di depanku kembali menunjukkan senyum ramahnya itu.

 

"Yess! Makasih ya! Soalnya aku nggak punya teman satu pun di sini! Kalau gitu, aku pergi dulu ya! Berkat Igarashi-san, aku jadi mulai sedikit menikmati kuliah di sini!"

 

Aku terus menatap punggungnya yang menjauh dengan riang.

 

Sampai dia benar-benar menghilang dari pandangan.

 

Lalu aku terduduk lemas di tempat itu. Aku menekan dadaku dengan kuat.

 

Namun, aku tidak bisa membendungnya.

 

Gelombang emosi yang meluap-luap ini tidak mungkin bisa kutahan lagi.

 

(*Nggak sanggup. Apa-apaan ini. Dia benar-benar seorang pangeran.*)

 

Dia adalah perwujudan ideal yang sempurna.

 

Kepribadiannya, penampilannya, auranya. Semuanya.

 

Aku bisa merasakan urutan prioritas di dalam diriku berubah dengan kecepatan yang luar biasa.

 

Detak jantungku tak mau berhenti bertalu.

 

"Hah──...! Hah──...!"

 

Aku harus memilikinya.

 

Aku sudah tidak bisa memikirkan orang lain selain dia. Aku menginginkan segalanya tentang dia.

 

"Masato...-kun.”

 

Nama orang yang menjadi takdirku itu, kuulangi berkali-kali di dalam kepalaku.

──● Anak SMP Anggota Ekskul Basket Terkadang Aneh ●○●

 

Setelah menyelesaikan perkuliahan di universitas.

 

Karena hari ini aku hanya ada kelas di jam kedua dan ketiga, jam baru menunjukkan lewat pukul 15.00.

 

Meski hari sudah mulai beranjak sore, sinar matahari yang tidak seperti musim semi biasanya masih menyinari bumi tanpa ampun. Ke mana perginya hawa musim semi yang seharusnya terasa pas dan nyaman?

 

Masih ada waktu sebelum jadwal kerja sambilan dimulai. Aku memutuskan melakukan

rutinitas hari Jumatku: pulang sebentar ke rumah, lalu melangkahkan kaki menuju taman di dekat tempat tinggal.

 

Walau puncak hawa panas sudah lewat, tetap saja rasanya gerah.

 

Aku mengeluarkan handuk dari tas ransel hitam dengan garis biru milikku, lalu menyeka keringat tipis di dahi.

 

Sedikit lagi sampai ke tujuan.

 

"Sip. Sampai juga."

 

Taman ini selalu memiliki udara yang segar dengan pepohonan yang rimbun. Di salah satu sudutnya, berdiri sebuah ring basket yang tampak agak terpencil.

 

"Kekurangan dunia ini adalah sulitnya melakukan olahraga dengan santai..."

 

Sejak sebelum berpindah dunia, aku memang lumayan suka olahraga.

 

Aku suka menggerakkan tubuh, dan di antaranya, basket dan bisbol adalah yang paling serius kupelajari.

 

Karena itulah, setelah sampai di sini pun aku terkadang ingin memainkannya, tapi...

 

"Fasilitas umum di sini isinya perempuan semua, jadi agak canggung kalau mau masuk... Belum lagi klub olahraga di kampus, aku ragu apa mereka beneran niat olahraga atau cuma kumpul-pikir..."

 

Dulu aku pernah terpikir ingin melihat-lihat klub bulu tangkis tempat Koumi bergabung, tapi entah kenapa Koumi melarangku dengan sangat keras. Katanya, lebih baik jangan.

 

Karena tidak ada teman di universitas yang lebih akrab darinya, aku hanya bisa menuruti perkataannya.

 

"Yah, kalau di sini aku bisa main tanpa perlu sungkan, dan yang paling penting orangnya sedikit."

 

Taman ini memang sering ramai di hari libur, tapi kalau hari biasa, suasananya cukup sepi.

 

Aku menaruh tas di bangku dan mengeluarkan bola basket.

 

Aku memantulkannya dua-tiga kali ke tanah untuk memastikan anginnya tidak kurang.

 

"...Oke."

 

Sepertinya tidak ada masalah karena tadi aku sudah memompa bolanya di rumah. Bola yang memantul kembali dari tanah terasa sangat pas di tanganku.

 

Baru saja aku hendak melakukan lemparan pertama ke arah ring—

 

"Ka-Kakak!"

 

"Hah?"

 

Posisi tanganku baru saja membentuk *form* "tangan kiri hanya sebagai penopang", tapi aku terpaksa menghentikan gerakan karena suara imut yang memanggil dari belakang.

 

Di sana berdiri seorang gadis dengan penampilan yang menunjukkan dia memang datang untuk bermain basket, berdiri tegak dengan bola diapit di pinggangnya.

 

Rambut hitam pendeknya yang tampak segar kontras dengan jepit rambut biru bermotif bunga yang cantik.

 

Dia memakai kaus hitam yang terlihat nyaman untuk bergerak, dengan aksen garis merah muda yang memberikan kesan imut dan feminin.

 

Tingginya mungkin hanya sebatas dadaku, tapi dia berdiri dengan tegap, seolah-olah sedang berusaha keras untuk menatapku dengan tajam. Sangat manis.

 

"Ha-hari ini aku pasti menang! Dan Kakak harus... menyerahkan tempat ini padaku!!"

 

"Datang juga ya, si bocah."

 

"Aku bukan bocah!!! Yuka sudah jadi anak SMP tahu!!"

 

Hubunganku dengan si bocah ini—Maeda Yuka—sudah dimulai sejak sesaat setelah aku berpindah ke dunia ini.

 

Waktu itu aku sangat ingin bermain basket, jadi aku membeli bola dan mencari tempat di sekitar sini yang punya lapangan basket, lalu menemukan taman ini.

 

Sejak saat itu aku jadi sering datang ke sini, dan rupanya Yuka sudah sejak lama bermain di sini. Karena kami sama-sama menggunakan lapangan di sore hari, waktu kami jadi sering bentrok.

 

Awalnya komunikasi kami hanya satu arah dariku seperti, "Pakai saja lapangannya, aku sudah mau pulang kok—", tapi suatu saat dia mengajakku, "Mau main basket bareng?" dan sejak saat itu hubungan kami jadi cukup akrab.

 

Entah sejak kapan, entah kenapa pembicaraan kami berubah jadi "kalau menang tanding, pemenangnya dapat hak kepemilikan tempat ini". ...Padahal ini kan fasilitas umum.

 

"Ha-hari ini aku pasti akan merebut kembali tempat ini...!"

 

Tapi, aku tidak benci berinteraksi dengan gadis ini.

 

"Hahahaha, memangnya kamu pernah menang dariku sekali saja, wahai Gadis Muda~?"

 

"Ha-hari ini aku punya taktik rahasia!"

 

Waktu pertama kali bertemu dia masih kelas 6 SD, sekarang dia sudah kelas 1 SMP.

 

Tentu saja tidak ada alasan bagiku yang sudah semester 1 universitas untuk kalah.

 

Lagipula, basket adalah olahraga yang memiliki tembok absolut bernama "tinggi badan".

 

Secara teori, sulit bagi Yuka untuk menang dariku. ...Tapi.

 

(*Anak ini beneran jago banget, sih.*)

 

Aku tidak tahu standar di dunia ini, tapi Yuka benar-benar mahir bermain basket.

 

Karena dunia ini sepertinya lebih antusias dengan olahraga wanita, mungkin memang ada persepsi kalau perempuan lebih jago, tapi anak ini tetap terasa terlalu mahir meski tanpa melihat faktor itu.

 

Sekarang aku masih bisa menang dengan cara "curang" memanfaatkan perbedaan tinggi badan, tapi kalau masa pertumbuhannya selesai dan tingginya mencapai rata-rata, aku tidak tahu lagi. Aku pasti bakal kalah telak.

 

"Ke-kenapa malah melamun! Ki-kita tanding satu lawan satu (1vs1), kan?"

 

Yuka sering menunjukkan sikap yang aku tidak tahu apakah dia sedang percaya diri atau malah gugup. Sepasang mata berwarna giok yang polos itu tampak bergetar pelan. Mungkin dia masih bingung menentukan jarak yang pas saat berinteraksi dengan lawan jenis yang lebih tua. Yah, tapi di situlah letak keimutannya.

 

"Boleh saja~. Tapi, pemanasan yang benar dulu ya? Nanti malah cedera lho."

 

"T-tentu saja. Yang begitu sih sudah selesai."

 

"Eh? Kamu kan baru saja sampai...?"

 

Memangnya dia melakukan pemanasan di mana?

 

"Sudah tidak usah cerewet, a-ayo mulai!!"

 

Dia mengambil bola yang dibawanya lalu melakukan *bound pass* ke arahku. Di saat yang sama, dia mengambil posisi bertahan (*defense*). Sepertinya aku yang mendapat giliran menyerang duluan.

 

Ukuran bolanya mengikuti ukuran Yuka, jadi kami memakai bola miliknya.

 

Bola ukuran dewasa pasti terlalu besar untuk anak perempuan SMP.

 

"Mendadak sekali... Oke, aku mulai ya~"

 

Aku menerima bola dan mulai melakukan *dribble* untuk memperpendek jarak dengan Yuka. Meski bolanya sedikit lebih kecil, tidak ada masalah dengan kendali tanganku.

 

Aku segera melakukan *cut-in* ke sisi kiri Yuka.

 

"Nggak akan kubiarkan...!"

 

Hal yang mengagumkan darinya adalah kelincahannya (*agility*).

 

Dia bergerak dengan sangat cepat ke depan jalur kiriku dan menutup ruang gerakku.

 

"Sampai di sini saja ya, hap!"

 

"Ah!"

 

Tapi aku sudah tahu kalau dia pasti bisa mengejar gerakan sekecil itu. Kami kan sudah sering tanding.

 

Pilihan yang kuambil adalah berhenti mendadak setelah melakukan akselerasi cepat. Lalu dari sana, aku melakukan tembakan. Aku langsung masuk ke gerakan *shooting* dan memasukkan bola dari jarak menengah (*middle range*).

 

"Sip, poin pertama buatku ya~... hm? Yuka-chan?"

 

Begitu mengambil bola yang masuk ke ring dan hendak mengembalikannya pada Yuka, aku melihat Yuka mematung di tempat.

 

Padahal saat aku melakukan *jump shot* tadi, aku kira dia setidaknya akan melompat untuk mencoba melakukan blok meski tidak sampai, tapi sepertinya gerakan itu pun tidak ada.

 

"...Ada apa?"

 

"Haeeh..."

 

Wajahnya tampak agak memerah. Hm? Apa dia lagi sakit?

 

"Oi, wajahmu merah sekali lho? Apa kamu kena *heatstroke*? Mau istirahat di bangku dulu?"

 

"A-aaaaa!? Bukan, bukan! Aku nggak apa-apa! Ce-cepat kasih bolanya! Aku bakal segera menyamakan kedudukan!"

 

Yuka bergegas kembali ke titik awal dengan langkah kaki yang terburu-buru. Ada apa dengan dia sebenarnya?

 

Aku memberikan bola dengan *bound pass* kepada Yuka, dan sekarang giliran aku yang melakukan *defense*. Kalau aku lengah, dia bisa benar-benar melewatiku dengan mudah, jadi aku merendahkan posisi tubuh dan bersiap menghadapi *drive* dari Yuka.

 

"Aku datang ya...!"

 

Begitu dia mengatakannya, Yuka langsung melakukan tusukan tajam ke sisi kiriku. Itu adalah *drive* ke arah tangan dominannya, spesialisasi Yuka.

 

"Aku sudah tahu itu, hap!"

 

Tanpa ragu, aku menutup jalur itu. Pola andalan Yuka sudah berulang kali dia lakukan padaku sampai aku benar-benar menghafalnya.

 

Namun, dari *drive* ke arah tangan kanan itu, Yuka tiba-tiba melakukan *crossover*... dia memindahkan titik berat tubuhnya ke arah tangan kiri dalam sekejap.

 

(*Tetap saja, dia cepat... tapi aku juga sudah tahu yang itu!*)

 

Itu adalah salah satu teknik Yuka jika dia gagal lewat dalam sekali coba.

 

*Crossover* ini memang sangat sulit dihadapi saat pertama kali melihatnya karena tumpuan berat badan berpindah secara mendadak ke arah berlawanan. Namun, aku sudah pernah melihat ini sebelumnya.

 

"Memang sudah seharusnya Kakak bisa menahannya...!"

 

Tapi Yuka yang hari ini ternyata punya kelanjutannya.

 

"Apa...!"

 

Setelah melakukan serangan balik dengan *crossover*, Yuka sudah membelakangiku.

 

(...Roll!)

 

Teknik melewati lawan dengan memanfaatkan putaran tubuh sambil membelakangi lawan...

 

*Roll spin*. Yuka dengan kecepatannya yang luar biasa seharusnya bisa melewatiku dalam sekejap──seharusnya begitu.

 

"Ah...!"

 

Sepertinya dia memang kurang pemanasan. Saat melakukan putaran, kakinya tersangkut dan keseimbangan Yuka goyah.

 

"...Hup!"

 

Refleksku cukup bagus, kalau boleh kubilang sendiri. Aku melompat dari samping untuk menangkap Yuka yang hampir jatuh, menjadikannya bantal sebelum dia menghantam tanah agar dia terlindungi dari benturan.

 

Pandanganku berputar, lalu aku memejamkan mata dengan rapat. Aku refleks meringis merasakan hantaman keras di punggungku, meski itu hanya sesaat.

 

"Aduh... kamu nggak apa-apa, Yuka?"

 

"..."

 

Hanya suara pantulan bola yang menggelinding ke arah ring yang terdengar di keheningan itu.

 

"Yuka...?"

 

Posisi kami sekarang benar-benar tidak bagus. Yuka sepenuhnya menindih tubuhku.

 

...Anak ini harum juga ya.

 

Hah! Gawat! Kalau begini terus aku bisa terlihat seperti penjahat kelamin yang suka anak kecil!

 

"Hawa..."

 

"...Hawa?"

 

Tubuhnya ringan jadi aku sama sekali tidak merasa keberatan, tapi aku merasa dia harus segera menyingkir... Tepat saat aku memikirkan itu, Yuka akhirnya memberikan reaksi.

 

"Hawawawawawawa!"

 

"Eh, ada apa?!"

 

Wajah Yuka memerah padam dan dia malah bertingkah seperti perangkat elektronik yang sedang korsleting. Masih dalam posisi menindihku.

 

"Ada-ada saja..."

 

Terpaksa, aku akhirnya menggendong Yuka dan membawanya ke bangku di bawah naungan pohon. Aku membaringkannya telentang dan memberikan lipatan handuk sebagai pengganti bantal.

 

Dilihat dari dekat seperti ini, fitur wajahnya benar-benar teratur. Bulu matanya lentik, dan kulitnya tampak halus dan segar. Saat ini memang kesan kekanak-kanakannya masih dominan, tapi aku bisa membayangkan dia akan menjadi wanita yang sangat cantik di masa depan.

 

(*Tunggu, kenapa aku malah menganalisis dengan tenang begini...*)

 

Aku belum terlalu mengenal dirinya. Mungkin saja di usia segini dia sudah punya pacar.

 

Anak SMP zaman sekarang kan sudah pada dewasa (aku yakin itu).

 

"...Latihan *shooting* saja deh."

 

Aku sempat memberikan angin padanya menggunakan alas tulis dari ransel sebagai kipas, tapi karena rona merah di wajahnya sudah mulai mereda, aku memutuskan untuk pergi melakukan latihan *shooting* sendirian.


 

──● Anak SMP Anggota Ekskul Basket Menyadari Perasaannya ●○●

 

Aku suka bola basket.

 

Pada dasarnya aku memang suka menggerakkan tubuh, dan suara *swish* saat bola masuk dengan mulus ke dalam ring terasa sangat memuaskan, hingga dalam sekejap aku jatuh cinta pada olahraga ini.

 

──Tapi, mungkin aku sedikit terlalu terobsesi.

 

"Yuka-cchi, semangat ya~ Aku pulang duluan~"

 

"Ah, iya! Dadah!"

 

Aula olahraga SD.

 

Karena sedang libur musim semi, sekolah membebaskan kami yang sudah lulus untuk menggunakan fasilitasnya dengan bebas. Karena itulah, aku bermain basket bersama teman-temanku... tapi baru lewat tengah hari, semuanya sudah mau pulang.

 

(*Mau bagaimana lagi, ya.*)

 

Sebenarnya aku masih ingin latihan sedikit lagi, tapi mengikuti kemauan teman juga penting.

 

Aku pun dengan enggan merapikan barang-barangku untuk pulang.

 

"Eh! Rika, jadian sama Shoya-kun!?"

 

"Begitu aku nembak pas upacara kelulusan, ternyata diterima~!"

 

Di jalan pulang, teman-temanku sedang heboh membicarakan soal asmara dengan anak laki-laki.

 

"Eh? Tapi bukannya Shoya-kun pacaran sama Suzuka?"

 

"Kayaknya sudah putus? Yaah, kalaupun belum, nggak masalah sih buatku!"

 

Jatuh cinta, menyatakan perasaan, pacaran, menjadi sepasang kekasih.

 

Aku memang punya kekaguman pada hal-hal itu, tapi aku tidak punya seseorang yang membuatku ingin melakukan itu semua.

 

Di kelas maupun di ekskul basket memang ada anak laki-laki, tapi aku sama sekali tidak merasa mereka menarik.

 

"....? Kenapa melamun begitu, Yuka. Kamu nggak nembak siapa-siapa?"

 

"Eh? Aku? Hmm, soalnya aku nggak punya orang yang kusuka..."

Itu kenyataan.

 

Anak laki-laki sebayaku semuanya kekanak-kanakan, tapi entah kenapa banyak dari mereka yang suka meremehkan, aku tidak suka...

 

"Yuka ini beneran 'gila basket' sih ya~"

 

"Hebat ya. Aku memang masuk ekskul basket karena ingin main, tapi sejujurnya ada niat ingin mengincar anak laki-laki juga sih."

 

"Kamu jujur banget! Ya aku juga ada sedikit harapan soal itu sih!"

 

Basket adalah olahraga yang jumlah pemain laki-lakinya lumayan banyak.

 

Aku sangat terkejut saat mendengar ada orang yang masuk ekskul basket hanya untuk mendapatkan kesempatan berinteraksi dengan anak laki-laki dari kelas lain.

 

Padahal aku murni hanya ingin bermain basket, dan meski tidak kukatakan pada siapa pun, aku sangat ingin memenangkan lebih banyak pertandingan.

 

Karena sifatku yang seperti itu sudah diketahui, aku pikir mereka tidak akan mengarahkan topik ini padaku... tapi ternyata aku salah.

 

"Tapi ya, Yuka itu kelihatannya saja gila basket, padahal sebenarnya dia itu *mesum terelubung* tahu."

 

Bom baru saja dijatuhkan.

 

"Apa...! E-enggak kok!?"

 

"Nggak usah disembunyikan~ Kita semua tahu kok kalau Yuka itu *mesum*."

 

"N-nggak begitu! Aku normal! Aku normal tahu!"

 

Begitu menoleh ke sekeliling, teman-temanku semuanya mengangguk-angguk setuju... Eh?! Kenapa kalian semua pasang muka seolah itu sudah jadi rahasia umum!?

 

"Eeeh? Habisnya Yuka pas jam pelajaran sering baca buku 'begituan' sambil senyam-senyum sendiri, kan?"

 

"!?"

 

"Iya, terus pas aku main ke rumah Yuka, di bawah tempat tidurnya ada barang yang mencurigakan lho."

 

"Waaaa! Berhenti! Beneran deh!"

 

Rasanya kepalaku mau meledak!

 

Aku juga kan anak perempuan, wajar dong kalau punya ketertarikan pada laki-laki!

 

"Fix, ini sih fix *mesum terselubung*."

 

"Si Yuka-cchi yang *mesum*, ya."

 

"Sudah dong, berhenti...!"

 

Ketertarikanku itu masih dalam batas wajar tahu! Wajar!

 

"Daaaah!"

 

"Sampai ketemu di SMP ya!"

 

Aku berpamitan pada teman-temanku. Hampir semuanya akan masuk ke SMP yang sama di daerah ini, jadi meski sudah lulus kami tidak akan terpisah.

 

"Hmm..."

 

Setelah melambai, aku membuka dan mengepalkan tangan kananku berkali-kali.

 

Jujur, aku masih belum puas menggerakkan tubuh. Begitu mendongak, langit biru masih membentang indah dengan silau matahari yang cerah.

 

"Ke taman saja kali, ya."

 

Aku pun memutuskan untuk menuju taman di dekat rumah yang memiliki ring basket.

 

*Dung, dung, dung.*

 

Aku suka suara bola basket yang memantul di atas tanah.

 

Tapi, fakta bahwa suara ini sudah terdengar padahal aku belum sampai di tujuan berarti... sudah ada orang lain di sana.

 

(*Tumben jam segini ada orang...*)

 

Bukan berarti aku harus langsung pulang begitu tahu ada orang lain. Kalau cuma dua orang, kami bisa bergantian melakukan *shooting*, tidak ada masalah. Begitu pikirku sambil terus melangkah maju.

 

Lalu, sosok orang yang sedang bermain basket itu mulai terlihat.

 

"...Laki-laki?"

 

Yang sedang bermain basket adalah seorang laki-laki. Mungkin anak SMA atau mahasiswa.

 

Keberadaannya sendiri tidak terlalu aneh. Tapi melihat seorang laki-laki latihan sendirian, itu baru situasi yang langka... mungkin?

 

Aku berjalan hingga dekat lapangan, sampai ke jarak di mana wajahnya terlihat jelas. Dan... aku merasakan guncangan paling dahsyat dalam hidupku.

 

"Hup...!"

 

*Dribble*-nya cepat. Kendali bolanya seolah menempel di tangan. *Crossover, back-behind*.

 

*TL/Note: Dribble: Menggiring bola sambil dipantulkan ke lantai saat bergerak.

Crossover: Gerakan cepat pindah arah dribble dari satu tangan ke tangan lain buat mengecoh lawan.

Behind-the-back: Pindah dribble lewat belakang punggung, biasanya biar bola nggak direbut atau buat tipuan arah.

 

Segala macam teknik yang sangat ingin kukuasai.

 

Lalu setelah itu, dia melesat menuju ring bagaikan angin...

 

"Hap."

 

*Layup shot*. Itu pun bukan dari depan, melainkan dari belakang dengan asumsi ada pemain bertahan yang menghalangi, sebuah *back layup*.

 

*TL/Note: Layup shot itu tembakan jarak dekat ke ring yang dilakukan sambil melangkah atau melompat, biasanya menggunakan satu tangan, sedangkan Back Layup teknik memasukkan bola ke ring dengan cara meluncur di bawah ring dan melakukan tembakan dari sisi seberangnya untuk menghindari blok lawan.

 

"...!"

 

Tanpa sadar mataku terpaku. Aku sudah sering melihat permainan yang hebat lewat video.

 

Tapi ini benar-benar berbeda. Ini pertama kalinya aku melihat secara langsung seorang laki-laki bermain dengan begitu anggun dan indah tepat di depan mataku.

 

Keren. Hanya kata itu yang ada di benakku.

 

"Hm...?"

 

Mata kami bertemu.

 

Wajahnya teratur, dia adalah seorang kakak yang tampan. Tiba-tiba jantungku berdebar kencang.

 

"Ah, aku sudah mau pulang kok, silakan dipakai lapangannya!"

 

"...Eh? Ah, iya, terima kasih banyak..."

 

Sudah mau pulang!?

 

Hah, apa karena aku datang? Ya tentu saja, kalau aku berdiri mematung sambil mengapit bola begini, siapa pun tahu kalau aku datang untuk main basket.

 

Selagi aku bengong, kakak itu sudah memasukkan bolanya ke dalam ransel dan bersiap-siap pulang.

 

Aku ingin, aku ingin menyapanya. Kalau aku melewatkan momen ini, mungkin kesempatan kedua tidak akan pernah datang lagi! Aku ingin mengobrol dengannya, sekali saja juga tidak apa-apa...!

 

"A-anu!"

 

"...?"

 

Kakak itu menoleh ke arahku.

 

...Tapi, aku harus bilang apa?

 

"Tadi keren banget"? Enggak, kalau bilang begitu dia pasti bakal risih!

 

"Minta kontaknya dong"? Itu sih kelihatan banget niat terselubungnya!

 

"Main basket bareng aku dong"? Mana mungkin, ini kan baru pertama kali bertemu!

 

"N-nggak ada apa-apa kok..."

 

"? Begitu ya? Kalau begitu aku pulang duluan ya!"

 

Aaah!!... aku malah mengacaukannya. Padahal aku ingin sedikit mengobrol...

 

Kakak itu berjalan menjauh dan akhirnya menghilang dari pandangan. Kini aku sendirian di lapangan.

 

Aku bisa merasakan suhu tubuhku yang tadi memanas perlahan mendingin.

 

*Deg-deg, deg-deg*, aku bisa mendengar suara detak jantungku sendiri.

 

Dia keren sekali.

 

Tapi bukan hanya itu. Aura yang dimilikinya, suaranya, semuanya terasa menembus tepat ke hatiku.

 

"Kenapa... aku nggak bisa menyapanya ya... bodohnya aku."

 

Sambil mengutuk ketidakberdayaan diri sendiri, aku bergumam pelan.

 

Tapi tentu saja aku tidak akan menyerah.

 

Mana mungkin aku menyerah! Aku ini Maeda Yuka, perempuan yang tidak kenal kata menyerah!

 

Hari ini aku pasti akan bertemu lagi dengan kakak keren itu!

 

"Kalau gitu aku pulang ya!"

 

"Eh!? Yuka, tunggu sebentar, hari ini kan ada penjelasan ekskul!"

 

"Nggak apa-apa, kan ujung-ujungnya aku pasti masuk ekskul basket juga!"

 

Sejak hari itu, aku selalu pergi ke taman tersebut setiap ada waktu luang.

 

Waktu itu aku bertemu dengannya sekitar lewat jam 3 sore. Dia sepertinya sudah cukup lama latihan, jadi kalau aku datang sedikit lebih awal, kemungkinannya pasti lebih besar!

 

Meskipun sejak saat itu, aku belum bertemu lagi dengan kakak itu walau sudah datang setiap hari.

 

Tapi hari ini hari Jumat, hari yang sama saat pertemuan kami waktu itu, jadi kemungkinannya pasti tinggi!

 

"Yuka, kamu kenapa sih akhir-akhir ini?"

 

"Apa kamu mulai jadi *fangirl* grup idola atau semacamnya?"

 

Teman-teman sekelas mulai mencurigaiku yang tidak-tidak, tapi aku tidak peduli. Karena sekarang aku sedang sibuk!

 

"Itu dia...!"

 

Jam menunjukkan pukul 14.30.

 

Akhirnya... akhirnya aku bisa bertemu lagi dengan kakak itu! Rasanya lega sekali, padahal ada kemungkinan besar kami tidak akan bertemu lagi. Aku sempat terpikir, bagaimana kalau waktu itu dia cuma orang dari jauh yang kebetulan mampir saja?

 

Gerakan kakinya masih sama seperti waktu itu.

 

*Form* menembaknya pun sangat indah.

 

Dia benar-benar keren...

 

Aku membulatkan tekad dan melangkah menuju bangku di dekat lapangan. Lalu, kakak yang sedang latihan itu menyadari keberadaanku.

 

"Lho, bukannya kamu yang waktu itu..."

 

*Deg!* Aku bisa merasakan jantungku mencelup.

 

Bohong, dia masih ingat? Padahal cuma sebentar sekali?

 

Meski aku merasa itu mustahil, rasa senang karena diingat membuat wajahku sudah terasa panas membara.

 

Hari ini harus bisa! Setidaknya hari ini aku harus berani minta kontaknya...!

 

Selama seminggu ini, sembari mencarinya, aku merasa sangat cemas kalau kami tidak akan bisa bertemu lagi. Maksudku, meski aku tahu kemungkinannya kecil, aku tidak mau menyerah. Aku tidak ingin merasakan lagi ketakutan akan kemungkinan tidak bisa bertemu dengannya selamanya!

 

"A-anu...!"

 

Aku memaksakan suara keluar.

 

Sesuatu, aku harus bilang sesuatu.

 

"Aku... sebenarnya memang sering latihan di sini."

 

"Heh! Ternyata begitu ya."

 

A-ada apa denganku? Kenapa aku malah bicara hal yang sama sekali berbeda?

 

Aku ingin mencoba main basket bareng. Terus minta kontaknya... ah, tapi apa ini bakal dianggap *nanpa*? Apa aku bakal dilaporkan ke polisi?

 

Duh gimana nih, aku harus bilang apa...

 

"Jadi, aku juga mau latihan di sini."

 

"Oh! Maaf ya, kalau gitu aku pulang saja biar kamu bisa pakai lapangannya!"

 

"Eh, bu-bukan begitu!"

 

Gawat, aku malah berteriak. Tapi aku tidak mau mengulangi kesalahan yang sama seperti waktu itu...!

 

Kakaknya juga sampai kaget... Aku harus segera meluruskan kesalahpahaman ini.

 

"A-anu, denganku..."

 

Harus kukatakan. Harus kusampaikan dengan benar...! Tanpa kusadari, kakak itu sedikit membungkuk agar tatapan kami sejajar. Dia mendengarkan kata-kataku.

 

Aku harus bilang main basket bareng, harus bilang...!

 

Aku menarik napas dalam-dalam.

 

"Bertandinglah denganku!"

 

"Eeeh!?"

 

Satu jam pun berlalu.

 

"Wah, Yuka-chan jago banget ya!? Aku sampai kaget."

 

"Terima kasih... banyak..."

 

Aku sama sekali bukan tandingan kakak ini. Sejak melihat permainannya aku sudah tahu dia jago, tapi ternyata aku benar-benar tidak berkutik. Tapi itu bagus. Malah lebih baik begitu.

 

Pertandingannya sangat menyenangkan, dan di sela-sela tanding aku bisa menanyakan namanya. **Katari Masato**. Itulah nama kakak ini.

 

Dan ada satu hal lagi.

 

"Hahahaha! Tapi kamu tetap belum bisa mengalahkanku ya~. Berarti sesuai janji, aku masih boleh latihan di sini, kan?"

 

Karena aku sudah berjanji, selama aku menantangnya dengan segenap tenaga dan aku kalah, dia akan berjanji untuk datang ke sini lagi. Janji yang sedikit aneh, tapi ini janji hanya antara aku dan dia.

 

Memikirkan hal itu membuat dadaku terasa sesak.

 

"Lain kali... lain kali aku tidak akan kalah."

 

"Hahaha, napasmu sampai tersengal-sengal begitu lho? Yuka-chan, minum dulu sana."

 

Benar juga, aku belum minum sejak sampai di sini. Sesuai arahannya, aku berjalan menuju bangku dan duduk.

 

Lalu aku mencari botol minum di ransel...

 

"Lho...?"

 

Botol minumku tidak ada. Apa tertinggal di sekolah, atau di rumah ya...

 

"Ada apa?"

 

"Ah, nggak, sepertinya botol minumku tertinggal."

 

"Waduh."

 

"Tapi nggak apa-apa kok! Aku punya uang saku, jadi aku akan beli!"

 

Untungnya di dalam dompet masih ada beberapa koin. Ada mesin penjual otomatis di dekat sini, aku akan beli minuman isotonik saja.

 

"Eh, sayang uangnya tahu. Pakai punyaku saja kalau kamu mau. Nih."

 

"...Eh?"

 

Saat aku hendak berdiri, dia menyodorkan sebuah botol plastik. Begitu kuterima, isinya sudah... "berkurang".

 

Artinya, botol ini sudah dibuka. Dengan kata lain, dia sudah meminumnya.

 

...Eh?

 

Bukankah ini berarti ciuman tidak langsung (*indirect kiss*)? Iya kan!?

 

Nggak, nggak, nggak, mustahil, tapi gawat! Kalau ketahuan aku memikirkannya, dia pasti risih! Aku mau minum! Mau banget! Dalam berbagai arti! Tapi kalau ketahuan aku baper, mungkin dia nggak mau menemuiku lagi!

 

Harus segera! Cepat! Minum! Yang natural! Sebisa mungkin senatural mungkin! Tenanglah, diriku!!

 

"Te-te-te-te-te-terima kasih banyak!"

 

"Kamu kenapa!? Wajahmu merah padam begitu!?"

 

Sama sekali tidak bisa natural. Tanganku gemetar.

 

Buka tutupnya, terus cepat minum.

 

Perlahan aku mendekatkannya ke bibir. Detak jantungku berisik sekali.

 

Panas. Panas. Jantungku panas.

 

Lho, pandanganku...

 

"Unyaaa..."

 

"Yuka-chan!? Eeeh!?"

 

Kesadaranku menjauh... Ah... ciuman tidak langsungku... Melihat kak Masato yang tampak panik, aku pun berpikir.

 

Jatuh cinta itu ternyata membahagiakan ya.

 

Pasti sejak pertama kali bertemu.

 

Hatiku sudah benar-benar tertawan oleh kakak ini tanpa bisa berbuat apa-apa lagi.




───● Si OL Tsundere adalah  Orang yang Baik ●○●

 

Selesai main basket bareng Yuka, waktu menunjukkan hampir pukul 18.00.

 

Meski siang tadi terasa panas untuk ukuran musim semi, ceritanya jadi lain kalau matahari sudah terbenam. Sekeliling mulai menggelap, dan angin sejuk berhembus melewati sisi tubuhku.

 

Setelah tadi Yuka bangun dan meminta maaf dengan kecepatan kilat, aku menyerahkan handuk yang kujadikan bantal untuknya sambil bilang "pakai saja ini", lalu pulang.

 

Selesai mandi untuk membersihkan keringat, aku berangkat ke tempat kerja sambilan.

 

Tempat kerjaku hanya berjarak 10 menit jalan kaki dari rumah.

 

Mungkin karena suhunya sudah mulai bersahabat, jalan kaki 10 menit malah terasa menyenangkan karena terpaan anginnya.

 

"Nah... waktunya kerja..."

 

Sampailah aku di tempat kerja sambilan. Di papan iklannya terpampang tulisan neon bertuliskan Festa.

 

Jujur, aku masih belum terbiasa dengan dekorasi toko yang terlalu gemerlap ini.

 

"Permisi, selamat malam..."

 

Aku masuk lewat pintu belakang dan memunculkan wajah di ruang istirahat.

 

"Ooo~ Masato! Kami sudah menunggumu!"

 

"Masa-chin, yossu~ Apa kabar? Sehat?"

 

Suara ramah yang menyapaku itu adalah milik para laki-laki—yang dianggap langka di dunia ini.

 

Memang ini adalah kesempatan berinteraksi dengan sesama jenis (padahal di kampus juga ada sih, tapi jarang mengobrol). Masalahnya adalah, sejauh mata memandang, isinya cuma rambut pirang, cokelat, dan perak.

 

Kalung-kalung yang menyilaukan dan berbagai macam aksesoris.

 

Bahkan ada yang tangannya membuatku ingin bertanya, "Itu pakai cincin berapa biji?"

Pokoknya silau. Ingin rasanya mengeluh kalau dandanan mereka itu sudah kelewat batas.

 

Tapi, ada alasan di balik itu. Para senior laki-laki itu memakai sesuatu yang mirip pelat nama di dada mereka.

 

Tulisannya macam-macam, ada "Yusee", "Kazuto", atau "Shogo". Sebuahnama samaran yang ditulis dengan huruf hiragana.

 

"Ahahaha... ya begitulah, saya sehat kok, Kak."

 

Sambil menaruh tas di loker sendiri, aku membalas sapaan para senior. Ya, di sinilah tempat kerjaku... bukan *Girls' Bar*, melainkan *Boys' Bar* bernama Festa.

 

Kenapa aku bekerja di sini? Alasannya simpel. Karena bar ini dikelola oleh Ibu Aika.

 

Ibu Aika memberikan syarat agar aku bekerja sambilan di sini sebagai ganti dia mengurus kebutuhan hidupku.

 

Awalnya aku memang sempat gentar mendengar kata "Boys' Bar", tapi karena sebelum berpindah dunia pun aku sudah sering kerja sambilan di bidang pelayanan, aku pikir "ya sudahlah" dan setuju. Namun ternyata, ini cukup berat.

 

Pekerjaannya sendiri tidak terlalu sulit, dan hubungan antar karyawannya pun tidak masalah. Semuanya orang baik. Yang berat itu adalah perbedaan "suhu" antara aku dan lingkungan sekitar.

 

(*Jujur, aku nggak sanggup mengikuti aura 'anak gaul' yang kelewat asyik ini...*)

 

Padahal mereka adalah sedikit dari laki-laki yang berbuat baik padaku dan aku ingin akrab dengan mereka, tapi suasananya itu lho, berat banget.

 

Melihat mereka bertingkah *manja* di depan pelanggan juga rasanya... perih. Ya, aku tahu ini tuntutan pekerjaan sih. Memang tidak ada pilihan lain.

 

Terlebih lagi aku masih di bawah umur, jadi aku tidak boleh minum alkohol. Meski aku menyajikan alkohol, aku sendiri tidak bisa minum, jadi aku hanya bisa ikut "mabuk" terbawa suasana.

 

Karena itulah, meski aku sudah mulai bekerja di sini, hampir tidak ada pelanggan yang memintaku secara khusus (*nominate*). Ya iyalah. Kemampuanku paling cuma senyum ramah dan mendengarkan curhatan. Karena aku tidak bisa diajak minum bareng dengan asyik, wajar saja kalau tidak ada yang memilihku.

 

Penampilanku juga jauh lebih mencolok-biasa dibanding yang lain.

 

Karena para senior jauh lebih ahli dalam memberikan pelayanan, orang aneh yang memilihku itu... ya, sangat sedikit.

 

Meski buatku, lebih sedikit lebih bagus sih.

 

"Ayo ayo, toko sudah mau buka! Masato, awalnya kamu di bagian penerima tamu dan aula!"

 

Yusee-san (mungkin nama samaran) yang umurnya sekitar empat tahun di atasku memberikan instruksi.

 

Aku pun mengikutinya, berganti pakaian kerja berupa setelan jas kasual berwarna biru tua, lalu menuju meja penerima tamu.

 

Lewat jam 19.00. Pelanggan mulai bertambah dan suasana di dalam toko menjadi ramai.

 

Karena ini hari Jumat malam, para pelanggan juga lebih royal dari biasanya.

 

Di tengah keramaian itu, terdengar berbagai macam percakapan.

 

"Eeeh~ Kakak hebat banget!"

 

"Luar biasa, Tuan Putri! Keren sekali~!!"

 

.... Ya, aku tahu. Mau bagaimana lagi? Dunia ini memang seperti ini, kan?

 

Tapi tetap saja... rasanya perih, kan?

 

Tentu saja ada juga yang gayanya "laki banget" (?) dan bersikap keren. Tapi mereka yang jelas-jelas bertingkah menggoda itu, melihatnya saja membuatku merasa... gimana ya, sulit dijelaskan.

 

Main sentuh-sentuhan fisiknya juga terang-terangan sekali... Apa memang boleh yang seperti itu...? Justru karena aku tahu aslinya mereka itu orang baik saat mengobrol di belakang, rasa janggalnya jadi makin kuat.

 

Saat aku sedang memikirkan hal itu sambil mengambil es batu besar dari belakang dan menghancurkannya dengan pemecah es, Yusee-san datang menghampiriku.

 

"Hei Masato, ada yang minta kamu nih. Meja nomor 3, ya."

 

"Eh? Serius, Kak?"

 

"Serius. Lagian itu orang yang biasanya. Bagus kan kamu akhirnya punya pelanggan tetap. Semangat ya~"

 

"Ah... oke, mengerti."

 

Orang yang biasanya. Begitu dibilang begitu, hanya ada satu orang yang terlintas di pikiranku yang sering memintaku.

 

Bahkan, bukannya hampir setiap minggu? Sejak pertama kali aku melayaninya, sepertinya dia selalu memilihku setiap minggu... Aku memasukkan beberapa pecahan es ke dalam gelas, membawa gelas untukku sendiri, lalu menuju meja nomor 3.

 

Begitu sampai di meja nomor 3, sudah ada beberapa orang yang sedang melayani pelanggan lain, dan ada satu orang yang duduk sendirian dengan postur tubuh yang terlalu tegak—menungguku. Orang ini sepertinya selalu terlihat tegang begini. Saat aku duduk perlahan di sampingnya, kedua bahunya yang ramping tampak tersentak.

 

"Selamat malam. Anda datang lagi ya."

 

Aku menaruh dua gelas di atas meja dan menuangkan *highball* ke salah satunya.

 

Rambut hitam legamnya diikat model *ponytail*. Tubuhnya yang ramping terbalut setelan jas formal, penampilannya benar-benar mencerminkan sosok wanita karier yang handal.

 

Di dunia ini, kata-kata "wanita karier" mungkin terasa salah tempat, tapi dalam persepsiku hanya itu kata yang paling pas.

 

Tinggi badannya cukup proporsional dan memberikan kesan semampai, tapi bagian-bagian tubuhnya tetap menunjukkan lekuk kedewasaan yang anggun.

 

Apa dia terlihat jauh lebih menggoda dibanding saat pertama kali bertemu? Begitulah pikirku.

 

"Te-kebetulan saja aku sedang senggang..."

 

Pasti bohong, deh. Matanya bergerak gelisah ke sana kemari.

 

Mana mungkin setiap Jumat malam di jam-jam tersibuk dia bisa selalu "kebetulan senggang".

 

Teman-teman sekantornya sepertinya melihat ke arah kami sambil senyam-senyum.

 

"Masato-kun! Seira itu beneran naksir berat sama kamu lho! Tolong diladeni ya!"

 

"Miki-san, berhenti!"

 

Orang bernama Miki-san yang tertawa terbahak-bahak—sepertinya teman kantornya—sudah terlihat sangat mabuk dengan wajah merah padam.

 

"Ehem... e-enggak kok, beneran, ini cuma kebetulan. Aku diajak senior, jadi terpaksa ikut.

Terus, karena bicara denganmu itu yang paling mendingan dibanding yang lain, makanya aku memanggilmu. Paham?"

 

"Hahaha... terima kasih banyak. Saya memang cuma bisa mendengarkan saja, tapi saya sendiri sebenarnya cukup suka mendengarkan cerita Seira-san."

 

"...!"

 

Tangan Seira-san yang memegang minuman terhenti sejenak dan wajahnya memerah.

 

Eh? Aku salah ngomong sesuatu??

 

"Ka-kamu ini ya... pasti sering bilang begitu ke semua orang, kan?"

 

"Eh?... Tidak kok... Orang aneh yang mau memilih saya cuma Seira-san saja lho...?"

 

"...Be-begitu ya. Kalau begitu syukurlah. Benar juga. Mana ada orang lain yang mau memilih anak yang bahkan tidak minum alkohol sepertimu selain aku..."

 

"Memang benar begitu kok."

 

Seira-san membuang muka dan meminum *highball*-nya sedikit demi sedikit.

 

Saat pertama kali bertemu, pipinya tampak tirus dan ada lingkaran hitam yang jelas di bawah matanya. Matanya pun tidak bercahaya.

 

(*Kesannya berubah banget ya...*)

 

Dulu aku langsung mengkhawatirkan kesehatannya, tapi belakangan ini dia terlihat jauh lebih segar.

 

Saat aku sedikit mengintip wajahnya, mata ungu kehitamannya tampak penuh dengan semangat hidup.

 

Syukurlah. Aku ingin wanita cantik tetap sehat dan ceria.

 

"Beneran deh, bos brengsek itu harusnya musnah saja! Apa-apaan coba bilang 'pantesan kamu diputusin', dasar bego! Tak bunuh lho nanti!"

 

"Ahahaha..."

 

Seira-san kalau sudah minum alkohol beneran meledak-ledak. Serius. Benar-benar gas pol.

 

Wajahnya sudah sangat merah, sepertinya dia sudah cukup mabuk.

 

"Lagian itu kan bukan proyek yang aku pegang, kenapa nenek sihir itu malah ngomel-ngomelnya ke aku sih, beneran deh!"

 

"Seira-san memang nggak salah apa-apa sih ya..."

 

Meski aku hanya berperan sebagai pendengar, tapi kalau mendengar ceritanya, bosnya memang terdengar brengsek. Ternyata di dunia ini pun bos brengsek tetap merajalela...

 

Sudah sekitar dua jam berlalu. Cukup lama juga sejak aku mulai melayani Seira-san.

 

Normalnya pelanggan lain akan berganti pendamping setelah 30 menit, tapi Seira-san rela membayar ekstra demi menjagaku di sisinya. ...Selama dua jam. Kenapa coba???

 

Yah, aku sih tidak keberatan karena tidak ada yang memintaku di meja lain, dan bagi toko pun ini hal yang bagus, jadi ya sudahlah.

 

Lagi pula bagiku sendiri Seira-san itu sangat cantik, dan entah kenapa saat dia mabuk dan wajahnya memerah begini dia jadi terlihat seksi. Benar-benar memanjakan mata, jadi aku tidak masalah sama sekali.

 

"Seira~! Ayo pulang~! Sampai kapan mau bermesraan terus sama Masato-kun! Ayo!"

 

"Ha-haah!? Siapa juga yang bermesraan! Sama sekali nggak begitu tahu! Lagian dia cuma... cuma cowok krempeng... cowok krempeng yang..."

 

"Iya, iya. Saya memang cowok krempeng. Sering-sering datang lagi ya."

 

Sepertinya dia tidak bisa menemukan kata makian lain selain "krempeng". Padahal tadi dia bisa menyumpah serapah bosnya dengan begitu lancar, orang yang aneh.

 

Aku memegang tangan Seira-san yang berjalan sempoyongan dan menuntunnya sampai ke pintu keluar. Menuntun tangannya seperti ini sudah menjadi semacam tradisi setiap kali dia pulang.

 

Sepertinya tagihannya dibayar sekalian oleh rekan kerjanya. Karena langkah kaki Seira-san jauh lebih tidak stabil dari biasanya, aku memegang lengannya untuk menopangnya.

 

Tiba-tiba, Seira-san menyandarkan seluruh berat badannya padaku. Persis seperti pasangan pria dan wanita harmonis yang terkadang kulihat di jalanan kota.

 

Kepalanya tertunduk, jadi aku tidak bisa melihat ekspresinya.

 

"...... Seira-san?"

 

"......"

 

Genggaman tangannya di lengan jas duniaku terasa sedikit lebih kuat.

 

"...... Nggak boleh ya."

 

"...... Eh?"

 

"Jangan terima... pesanan khusus dari orang lain selain aku......"

 

Tanpa sadar, aku tersenyum kecil. Itu adalah permintaan yang sangat egois.

 

Tapi, melihat Seira-san yang mengajukan permintaan mustahil seperti itu, aku malah merasa dia sangat imut.

 

"Tenang saja. Saya kan cuma masuk hari Jumat."

 

"...... Begitu ya."

 

"Dan setiap hari Jumat itu, Seira-san selalu memesan saya dengan setia, kan?"

 

"...... Iya."

 

Wajahnya masih tidak terlihat.

 

Tapi, aku merasa Seira-san sedikit tersenyum. Syukurlah. Aku senang kalau dia bisa banyak tertawa dan kembali bersemangat. Mungkin inilah yang namanya kepuasan kerja.

 

Setelah itu, rekan kerjanya membantu memapah Seira-san yang sudah mabuk berat untuk pulang.

 

...... Apa dia beneran bisa sampai rumah dengan selamat ya? Aku jadi khawatir.

 

Tapi kalau dipikir-pikir, di dunia asalku pun banyak pegawai kantoran yang mabuk habis pesta dan tumbang di sekitar stasiun, jadi sebenarnya sama saja ya.

 

Dunia yang luar biasa......

 

"...... Masato."

 

"......? Eh, Ibu Aika, selamat malam."

 

Setelah mengantar mereka, aku kembali ke dalam toko dan menemukan Ibu Aika dengan raut wajah yang serius.

 

"Kan sudah kubilang jangan pakai bahasa formal...... Hei Masato, kamu harus hati-hati ya."

 

"Eh?"

 

Mungkin karena wajahnya terlihat jauh lebih serius dari biasanya, aku jadi agak merasa tertekan.

 

"Orang-orang seperti itu bisa saja melakukan tindakan kriminal lho. Misalnya, menjadi penguntit (*stalker*)."

 

"E-eeh? Bukannya itu terlalu berlebihan? Bagiku dia cuma pelanggan yang menganggapku sebagai 'anak favorit' di bar ini saja......"

 

Memang aku merasa kalau Seira-san menyukaiku. Lagipula yang memesanku secara khusus cuma dia, dia datang setiap minggu, dan selalu mengunci jadwalku selama dua jam penuh.

 

Tapi, aku tidak merasa dia akan sampai senekat itu.

 

"Bodohnya. Kamu itu terlalu longgar dalam segala hal. Lebih baik waspada daripada menyesal nanti. Kalau ada hal aneh yang terjadi, segera bilang padaku. Paham!?"

 

"I-iya......"

 

Apa memang seserius itu ya?

 

Aku dengar Seira-san tadinya punya pacar, dan dia tidak terlihat seperti tipe orang seperti itu.

 

(*Ibu Aika memang terlalu protektif......*)

 

Aku sangat bersyukur pada Ibu Aika dan sudah mulai menganggapnya seperti keluarga sendiri. Tapi, terkadang aku merasa dia sedikit terlalu protektif.

 

Ibu Aika menegaskan sekali lagi, "Pastikan kamu lapor padaku, ya," sebelum mengambil rokok dari saku dadanya dan berjalan menuju pintu belakang toko.

 

Malam itu, sekitar pukul 00.00 tengah malam.

 

"Hoaaaam......"

 

Selesai bekerja di *Boys' Bar*, aku memutuskan untuk langsung pulang. Di sepanjang jalan keluar toko, terlihat beberapa orang yang tumbang karena mabuk.

 

(*Benar-benar kerasa malam Jumatnya ya......*)

 

Aku berjalan menyelinap di antara orang-orang itu menuju rumah. Apartemenku berada di tempat yang cukup dekat jika aku memotong jalan lewat taman di dekat stasiun.

 

Ibu Aika memang menyiapkan tempat yang dekat dengan toko untukku.

 

"Besok...... libur ya. Aku mau tidur sampai siang ah......"

 

Hari ini banyak sekali kejadian. Aku sangat lelah dan sepertinya akan tidur nyenyak.

 

Setelah memastikan di ponsel kalau besok tidak ada jadwal apa pun, aku mematikan layarnya.

 

Tak lama kemudian, aku sampai di apartemenku. Aku mengeluarkan gantungan kunci favoritku dan hendak mengambil kunci rumah......

 

(......?)

 

Saat itu, aku merasakan sebuah tatapan.

 

Aku buru-buru menoleh ke belakang, tapi tidak ada tanda-tanda keberadaan orang.

 

"Cuma perasaan saja, mungkin."

 

Mungkin aku memang benar-benar lelah. Sebaiknya segera tidur. Aku membuka pintu, lalu menguncinya. Untuk berjaga-jaga, aku juga memasang kunci rantai.

 

Aku mandi sebentar, lalu langsung terjun ke tempat tidur.

 

Saat mandi pun aku merasa seperti ada yang mengawasi dan itu membuatku tidak nyaman, tapi begitu masuk ke dalam selimut, aku segera melupakannya.

 

Aku tertidur tanpa menyadari bahwa seharusnya aku mewaspadai rasa janggal yang kurasakan saat itu lebih awal.

───● Si OL Tsundere Menghancurkan Dirinya Sendiri ●○●

 

Apa gunanya aku hidup?

 

Aku──**Mochizuki Seira**──belakangan ini hanya memikirkan hal itu.

 

Lulus kuliah lalu bekerja. Karena universitas tempatku belajar punya nilai akreditasi yang lumayan, mencari kerja pun terasa cukup lancar.

 

Di kampus, bersenang-senang dengan teman perempuan sangatlah asyik, jadi kurasa masa mudaku cukup menyenangkan.

 

Pacar juga... yah, setidaknya aku pernah merasa memilikinya.

 

Walaupun kalau diingat kembali, pacar itu benar-benar seperti neraka.

 

"Haaah... pengin mati saja."

 

"Hei Seira, kalau sampai kedengaran Kepala Seksi gimana...!"

 

"Maaf..."

 

Hari ini pun aku kembali berhadapan dengan komputer. Kalau cuma bekerja di depan layar sih tidak masalah.

 

Masalahnya adalah atasan.

 

Apalagi atasan yang berada di satu ruangan yang sama sepanjang hari.

 

"Anu, Mochizuki-san? Dokumen yang tadi, kan sudah kubilang masukkan nama perusahaan di sini dan di sini? Kok nggak ada?"

 

"Eh... tidak, tadi saya sudah konfirmasi dan Kepala Seksi bilang tidak perlu..."

 

"Hah? Kapan aku bilang begitu? Kamu pasti salah dengar, kan?"

 

"..."

 

Setiap hari. Selalu saja begini. Apa gunanya hidup kalau cuma untuk dimaki oleh Kepala Seksi yang pendek dan picik ini?

 

"Duh, duh. Pantas saja kamu ditinggal lari laki-laki, habisnya sering salah dengar begini sih~?"

 

"...!"

 

Niat membunuh hampir saja meluncur dari tenggorokanku, namun kutahan dengan tekad baja. Karena Kepala Seksi bicara dengan suara keras, bisik-bisik dari sekitar mulai terdengar.

 

"Eh, Mochizuki-san ditinggal lari laki-laki...?"

 

"Itu cerita tahun lalu. Baru sebulan kerja. Katanya sih, pihak laki-lakinya bahkan nggak merasa mereka itu pacaran."

 

"Hah, parah banget. Apa-apaan itu."

 

Benar-benar memuakkan. Tanpa kata, aku kembali ke kursi dan mulai mengerjakan ulang dokumen yang diminta.

 

Saat zaman kuliah, aku punya pacar... seharusnya begitu.

 

Karena kelompok pertemananku termasuk "kasta atas", dan teman-teman di sekitarku sudah punya pacar, aku merasa minder karena hanya aku yang belum punya. Jadi, saat aku mendapatkan pacar menjelang kelulusan, aku benar-benar bahagia.

 

Itu adalah pacar pertamaku seumur hidup.

 

Dan dia... menghancurkan kebahagiaanku itu sampai ke dasar jurang.

 

Eh...? Kamu anggap serius? Maaf, nggak mungkin lah. Lagian aku sudah punya dua pacar lain.

 

Bukannya marah atau benci, aku justru mengutuk kebodohanku sendiri. Kenapa aku bisa segembira itu hanya karena bisa pacaran dengan orang seperti dia?

 

Apa aku pikir siapa pun laki-lakinya boleh asal dia laki-laki? Aku merasa mual pada diriku sendiri.

 

Akhirnya kami putus bahkan sebelum dua bulan berlalu, dan aku langsung memutus semua kontak. Media sosial pun kublokir.

 

Sejak saat itu, aku selalu sendirian.

 

Karena aku tinggal sendiri, pulang ke rumah pun tetap sendirian.

 

Tanpa sengaja, aku membuka media sosial.

 

Teman-teman kuliahku mengunggah foto pergi ke taman bermain dengan pacar, kencan ke sana-sini, dan postingan sejenisnya berderet tanpa henti.

 

Rasa iri atau semacamnya sudah lama hilang.

 

...Apa gunanya aku hidup?

 

"Eh? Boys' Bar?"

 

"Iya! Aku pikir Seira-chan juga butuh!"

 

Hari ini adalah hari bebas lembur di kantor.

 

Karena besok hari libur, aku ingin segera pulang, tapi Miki-san, seniorku, menahanku.

 

Orang ini sudah sering menolongku, jadi aku tidak bisa menolaknya...

 

Dan senior itu mengajakku pergi ke *Boys' Bar*.

 

"Kami sesekali suka pergi ke toko langganan kalau besoknya libur! Ada cowok ganteng lho, bagus! Bagus buat kesehatan mata!"

 

"Haaah..."

 

Sejujurnya, aku ingin pulang dan tidur.

 

Sejak pagi aku sudah lelah karena gangguan dari Kepala Seksi brengsek itu, fisik dan mentalku benar-benar sudah di ambang batas.

 

"Belakangan Seira-chan kurang semangat... aku cuma ingin kamu sedikit ceria..."

 

"..."

 

Aku tahu Miki-san, seniorku di kantor, mengkhawatirkanku.

 

Rasanya tidak enak kalau aku menolak niat baiknya mentah-mentah.

 

"Baiklah, aku ikut."

 

"Eh, beneran!? Wah, senang sekali! Aku yakin Seira-chan pasti bakal suka!"

 

Tanganku ditarik dan diguncang-guncang ke atas bawah.

 

Hmm, jujur aku belum pernah ke toko sejenis itu, dan aku tidak merasa bisa menikmatinya.

 

Aku sadar kalau diriku adalah perempuan yang membosankan, aku malah khawatir akan merusak kesenangan orang lain.

 

"Siapa ya yang cocok mendampingi Seira-chan!"

 

"Eh~ orang itu saja gimana?"

 

"Eh, tapi biaya *nominate*-nya mahal lho. Buat pemula apa nggak berlebihan?"

 

"Mending orang yang nggak terlalu agresif saja, kan?"

 

Mereka malah heboh sendiri tanpa melibatkanku. ...Yah, mengobrol ringan saja lalu pulang.

 

Orang yang bekerja di tempat seperti itu pasti sudah terbiasa menghadapi perempuan. Setidaknya dia pasti bisa mengimbangi obrolanku.

 

*Boys' Bar* Festa. Papan iklannya bersinar dengan lampu neon yang menyilaukan.

 

Berjalan sebentar dari depan stasiun, sepertinya lokasi yang cukup strategis inilah tujuan kami hari ini.

 

Miki-san memimpin jalan dan membuka pintu toko.

 

"Selamat datang~! ...Ah, Miki-san! Kamu datang lagi ya!"

 

"Yusee-kun~ Aku datang lagi nih ♡"

 

...Eh?

 

Jujur, dari awal saja aku sudah merasa *ilfeel*.

 

Dari percakapannya, sepertinya Miki-san sering ke sini. Mungkin cara bicara seperti itu adalah standar di sini... tapi tetap saja, aku sampai meragukan telingaku sendiri saat mendengar nada suaranya yang berubah drastis begitu. Namun, sang *boy* sama sekali tidak memedulikan reaksiku dan mengantar kami ke bagian dalam toko.

 

"Tuan Putri, lima orang ke meja nomor 3! Selamat datang~!"

 

"Selamat datang, Tuan Putri!"

 

Wah, luar biasa.

 

Begitu orang di meja penerima tamu bersuara, seluruh staf di dalam toko ikut menyambut.

 

Dan semuanya... benar-benar berwajah tampan.

 

...Harus kuakui, ini sedikit menaikkan suasana hati.

 

Setelah duduk, kami berlima duduk di sofa panjang dengan jarak yang cukup lebar satu sama lain.

 

Eh? Kenapa? Kenapa jaraknya sejauh ini?

 

Karena penasaran, aku mendekatkan tubuh ke Miki-san dan bertanya.

 

"Eh? Kenapa jaraknya jauh-jauh begini?"

 

"Nanti di sela-sela itu, para *boy* akan datang!"

 

"Ah, di sela-sela!?"

 

Ternyata, formatnya adalah seorang laki-laki akan masuk di antara para perempuan.

 

Begitu ya, meskipun datang rombongan, pada dasarnya kami akan mengobrol satu lawan satu.

 

Eh, aku jadi gugup... Padahal aku pikir aku cuma perlu mengimbangi obrolan mereka saja...

 

"Selamat datang, Miki. Hari ini teman-temanmu mau langsung didampingi *boy*?"

 

"Ah, Yusee-kun. Aku mau konsultasi sedikit..."

 

Miki-san sedang meminta sesuatu kepada pihak toko.

 

Sepertinya sedang merundingkan siapa *boy* yang akan mendampingi kami, ya?

 

"Oh, begitu ya, mengerti. Kalau begitu... ah, ini hari Jumat, mungkin dia cocok.

...Terus, Miki?"

 

"Eeeh? Masih ditanya juga~? Kalau aku sih, cuma buat Yusee-kun seorang ♡"

 

Duh, perih sekali melihatnya.

 

Aku tidak ingin melihat sisi seniorku yang sangat kuhormati seperti ini.

 

"Permisi, Tuan Putri sekalian."

 

Satu per satu para *boy* berdatangan dan duduk mendampingi masing-masing dari kami.

 

Lagi-lagi, siapa pun yang datang semuanya tampan, ditambah lagi mereka memakai aksesoris yang berkilauan, membuatku merasa terintimidasi.

 

Di sampingku masih kosong. Tapi melihat laki-laki yang berdandan mencolok ini... orang yang melakukan bisnis seperti ini pasti di dalam hatinya sedang menertawakan kami, kan?

 

Pikiranku mulai mengarah ke hal negatif dan aku membenci diriku sendiri karena berpikiran begitu.

 

Kalaupun memang begitu, mereka yang bicara dengan senyum tanpa menunjukkan wajah kesal sama sekali sebenarnya tidak salah.

 

Belakangan ini pikiranku memang selalu mengarah ke hal-hal negatif.

 

Di sebelahku, Miki-san sudah asyik bermesraan dengan Yusei (?), dan teman-teman yang lain sepertinya sudah mulai "oleng" karena *boy* favorit mereka telah tiba.

 

Hei, bukannya tadi kalian bilang mau menghiburku?

 

Aku menghela napas. Jujur saja, aku tidak merasa bisa menikmati ini. Aku merasa tidak akan pernah nyambung bicara dengan laki-laki tipe begini. Aku benar-benar wanita yang membosankan.

 

"Permisi, Tuan Putri."

 

Akhirnya ada suara yang menyapaku. Aku mendongak.

 

"...!"

 

Hari itu, aku bertemu dengan seorang malaikat.

 

"Salam kenal, namaku Masato. Kalau boleh tahu, nama Kakak siapa...?"

 

"A, anu, Seira."

 

"Seira-san! Salam kenal ya."

 

Jujur, kalau bicara soal kadar ketampanan, mungkin para *boy* yang datang sebelumnya jauh lebih tampan. Aksesoris mereka juga lebih mewah.

 

Tapi, dia yang datang kepadaku... terlihat sangat tenang dan punya kesan lugu.

 

Pakaiannya juga bagus. Dia tidak berdandan berlebihan; setelan jasnya berwarna biru tua pekat, memberikan kesan yang kalem dan rapi.

 

Wajahnya yang imut (*baby face*) juga poin plus. Kesan "anak muda yang berusaha tampil dewasa dengan setelan jas" itu benar-benar memancing insting melindungiku.

 

"Apa hari ini Kakak baru pulang kerja?"

 

"I-iya... soalnya besok libur."

 

Dia menuangkan es dan minuman ke gelasku. Selama melakukan itu, senyum ramah tak pernah lepas dari wajahnya.

 

"Wah, asyik ya~! Aku juga menantikan hari libur besok. Kenapa ya kalau malam Jumat itu suasananya terasa sesemangat ini?"

 

"Fufu, benar juga."

 

...Eh, barusan aku tertawa?

 

Mungkin karena dia yang menemaniku ini berbeda jauh dari bayanganku—seorang anak yang lebih muda dariku. Rasa tegangku mendadak sirna, berganti dengan perasaan rileks yang aneh.

 

"Seira-san rencana mau ngapain pas hari libur nanti~?"

 

"I-itu... belakangan ini aku lagi suka main gim..."

 

Begitu mengucapkannya, aku tersentak.

 

Duh, masa topik pertama langsung hobi main gim? Bukannya itu terlalu kelihatan kuper? Di acara kencan biasa aku pasti tidak akan pernah mengatakannya, tapi sepertinya aku sudah terlalu santai di depannya. Harusnya aku bilang baca buku saja tadi.

 

"Wah! Seru dong! Gim apa yang Kakak mainkan?"

 

Namun, kekhawatiran itu ternyata hanya ketakutan yang berlebihan.

 

Melihat ekspresinya yang sama sekali tidak berubah dan menatapku dengan tulus, aku tersadar bahwa aku ke sini memang untuk bersenang-senang. Memikirkan hal kecil seperti itu malah terasa tidak keren. Dia sama sekali tidak menunjukkan wajah heran, malah terlihat sangat tertarik dengan ceritaku.

 

"Ya, begitulah, gim RPG, atau tipe membangun kota..."

 

"Aku juga suka banget RPG! Waktu kecil aku main 'Dora-Dora Fantasy'! Seru banget kan! Kalau Kakak punya rekomendasi, kasih tahu aku ya!"

 

Sepanjang waktu, dia terus tersenyum lebar. Tidak terasa ada kepalsuan sama sekali.

 

Bisa saja dia memang jenius dalam berakting sementara sebenarnya dia merasa ilfeel, tapi setidaknya aku sama sekali tidak merasakan gelagat itu. Malah, aku merasa dia juga tulus menikmatinya.

 

Mungkin karena itulah, aku merasa sangat senang dan minuman di gelasku pun mengalir makin lancar.

 

"Makanya, bos brengsek itu!! Sengaja banget bilang aku ditinggal lari laki-laki di depan semua orang...!"

 

"Parah banget ya itu..."

 

Eh, sejak kapan topiknya jadi begini? Karena minumanku mengalir lancar, aku jadi merasa sangat melayang.

 

Jarak Masato-kun yang dekat membuat kepalaku pening sekaligus berdebar. Karena sudah merasa "masa bodoh", tanpa sadar aku menumpahkan semua kekesalanku belakangan ini.

 

Sepertinya aku sedikit terlalu bersemangat.

 

Aku meminum entah gelas keberapa, lalu menghembuskan napas panjang.

 

"...Tapi ya, aku yang bodoh. Aku yang salah karena terlalu kegirangan dan percaya kalau dia beneran mau pacaran denganku."

 

"Eh? Tapi laki-laki itu yang menembak Kakak, kan?"

 

"Yah, begitulah..."

 

Benar, memang begitu kenyataannya. Sambil senyam-senyum, bajingan itu yang bilang kalau dia mau pacaran denganku.

 

Karena itu adalah pernyataan cinta pertama dalam hidupku, aku jadi melayang, padahal harusnya sejak saat itu aku sadar ada yang janggal.

 

"Itu jahat sekali! Seira-san nggak salah apa-apa, kan? Kalau dipikir pakai logika mana pun, yang salah itu kan pihak sana!"

 

Dia yang ada di depanku ikut merasa marah seolah-olah ini masalahnya sendiri. Hal itu entah kenapa membuatku merasa sangat bahagia.

 

"Tapi ya memang begitulah kenyataannya. Kami perempuan... pada akhirnya nggak punya hak untuk memilih."

 

Aku menambahkan kata-kata itu dengan nada mengejek diri sendiri.

 

Lalu—"Aku... beneran nggak bisa terima hal itu."

 

"Eh?"

 

Dia tiba-tiba memajukan tubuhnya ke arahku. Jaraknya yang dekat membuat jantungku berdegup kencang.

 

"Memang benar jumlah laki-laki mungkin sedikit. Tapi, apa itu bisa jadi alasan kalau laki-laki itu hebat? Aku benci laki-laki yang sombong dan besar kepala karena hal itu."

 

Ini adalah pertama kalinya aku mendengar pemikiran seperti ini.

 

Aku sudah bicara dengan cukup banyak laki-laki, tapi baru dialah orang pertama yang mengatakan hal semacam ini kepadaku. Saat aku masih terpaku karena terkejut, dia melanjutkan dengan nada yang sedikit malu-malu.




"Kalau aku ada di posisi itu... aku sih bakal mau banget pacaran sama orang yang cantik fisik maupun hatinya kayak Seira-san."

 

──Di saat itu, aku merasa ada sesuatu di dalam diriku yang hancur, seolah seluruh pertahananku baru saja jebol. 



Prolog | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close