NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Danjohi 1:5 no Sekai demo Futsu ni Ikirareru to Omotta? Geki Juu Kanjou na Kanojotachi ga Mujikaku Danshi ni Honrousaretara Volume 1 Prolog

Prologue


 Ingin populer—keinginan itu rasanya pernah dimiliki oleh setiap laki-laki, bukan?

 

Tak terkecuali aku, aku pun sedikit banyak pernah merasakannya. Bahkan, aku pernah berpikiran lancang kalau aku ingin didekati duluan oleh perempuan.

 

Namun... ya, namun.

 

"Kamu punya wajah yang manis banget ya, mau mampir minum teh sebentar sama Kakak?"

 

Aku sungguh tidak pernah membayangkan bakal digoda balik oleh "Kakak" (klaim sepihak) yang memakai riasan tebal dengan keringat berminyak merembes di dahinya seperti ini.

 

"Ah~, anu..."

 

Aku bingung harus menjawab apa. Kalau orang yang sudah terbiasa dengan situasi seperti ini, mungkin mereka akan mengabaikannya begitu saja dan terus berjalan menuju sekolah.

 

Atau mungkin memberikan tatapan dingin yang sanggup mengusir hawa panas ini.

 

Mungkin taktik semacam itu bisa dilakukan. Sialnya, aku tidak punya “kartu as” yang cukup kuat untuk membalikkan keadaan dalam situasi ini.

 

"Maaf, saya sedang buru-buru..."

 

Aku hanya bisa memilih kata-kata aman dan mencoba menyelip lewat sampingnya agar bisa kabur dari tempat ini.

 

"Kalau gitu kasih tahu kontakmu aja! Kapan-kapan kita minum teh bareng, ya?"

 

Tentu saja pihak lawan punya taktik balasan untuk kartu asku yang terlalu lemah.

 

Usahaku untuk melewatinya gagal total, dia dengan mudah menghadang jalanku.

 

Dia sudah mengeluarkan ponselnya, tampak sangat bersemangat ingin bertukar kontak LINE.

 

Yah, jujur saja kalau cuma tukaran kontak bisa menyelesaikan situasi ini, tidak apa-apalah.

 

Tepat saat aku menyerah dan hendak mengeluarkan ponselku—

 

"Ma-sa-to!"

 

Bahkan sebelum aku sempat mengaduh "Guek", aku merasakan hantaman di punggungku, bersamaan dengan suara imut ini yang sering kudengar.

 

"Ayo cepat! Kelasnya sudah mau mulai!"

 

"Eh? Ah, tunggu sebentar!"

 

Tiba-tiba, seorang gadis bertopi hitam dengan rambut 'short bob' berwarna 'flaxen'—Igarashi Koumi—menerjang dari belakangku dengan sangat kencang. Tanpa aba-aba, dia langsung menarik lenganku. Meski diajak secara paksa, aku masih merasa nggak enak hati kalau main pergi begitu saja, jadi aku menyempatkan diri untuk melirik ke belakang sebentar.

 

"Cih..."

 

Eh, dia barusan berdecak. Serem amat.

 

Kami berlari beberapa saat. Begitu melewati gerbang universitas, akhirnya aku dan Koumi berhenti.

 

"Hah... hah... kan sudah kubilang! Yang seperti itu abaikan saja tidak apa-apa!"

 

"Hahaha... ya habisnya, mengabaikan orang itu ternyata susah juga ya."

 

Aku bertumpu pada lutut sambil mengatur napas. Saat menoleh ke samping, mataku tak sengaja tertuju pada kaki jenjang Koumi yang terlihat dari balik celana pendeknya—dia juga sedang mengatur napas—dan aku refleks memalingkan wajah.

 

"Masato itu terlalu baik! Gawat tahu kalau begini terus, beneran deh..."

 

Mendengar kata-kata dari Koumi, teman sekelasku di universitas... setidaknya di dunia ini, aku merasa pemikiranku memang salah.

 

Sebab, sebenarnya aku baru saja berpindah ke dunia ini bulan lalu.

 

Karena perbedaannya terlalu minim, awalnya aku bahkan tidak sadar kalau aku sudah berpindah dunia. Namun, ada satu poin yang sangat berbeda dari dunia lamaku. Di dunia ini, rasio laki-laki dan perempuan sangat timpang. Rasionya, jika laki-laki adalah 1, maka perempuan adalah 5. Perbandingannya 1:5.

 

Aku tidak tahu kenapa bisa jadi begini, tapi gara-gara hal itu, fenomena seperti tadi jadi sering terjadi. Singkatnya, tindakan perempuan mendekati laki-laki bukan lagi disebut 'gyaru-nanpa' (nanpa balik), melainkan sudah jadi 'nanpa biasa'.

 

*TL/Note Gyaru-nanpa: tindakan cowok yang mendekati atau mengajak kenalan cewek gyaru (gaya flashy khas Jepang) di tempat umum, biasanya dengan tujuan flirting atau ngajak jalan.

 

Belakangan ini, suara-suara yang menuntut diterapkannya sistem poligami semakin besar, dan tampaknya nilai-nilai tentang percintaan antara laki-laki dan perempuan sudah berubah drastis.

 

Awalnya aku bingung dan merasa takut.

 

Tapi, bisa dibilang kekhawatiran itu cuma ketakutan yang berlebihan. Memang rasionya timpang, tapi bukan berarti pergerakanku dibatasi atau tiba-tiba diserang secara fisik.

 

Malahan—

 

"? Ada apa, Masato?"

 

Di sampingku, ada seorang gadis cantik yang sedang memiringkan kepalanya. Kulitnya halus dan indah. Sepasang mata merah menyala yang penuh semangat seolah mencerminkan sifatnya yang ceria.

 

Fakta bahwa gadis secantik ini memperhatikanku saja sudah menjadi poin plus yang sangat besar.

 

Terima kasih, dunia dengan rasio gender yang rusak... Aku menaruh tanganku dengan ringan di atas kepala Koumi yang masih memasang wajah bingung.

 

"Nggak, bukan apa-apa. Makasih ya sudah menolongku, Koumi."

 

"...Curang banget…"

 

“...Eh?”

 

"Enggak! Bukan apa-apa! Ayo berangkat!"

 

Sepertinya Koumi yang menunduk tadi menggumamkan sesuatu, tapi aku tidak bisa mendengarnya. Bersama Koumi yang berbalik badan, aku pun menuju ruang kelas.

 

—Saat itu, aku masih belum menyadari.

 

Betapa sulitnya untuk 'hidup normal' di dunia yang menyimpang ini.

 

 

[Sudut Pandang Koumi]

 

 

Kehidupan universitas belakangan ini tidak buruk. Saat awal masuk, jalan menuju kampus ini terasa suram dan berat, tapi sekarang aku bisa melangkah dengan ringan. Ternyata cuma karena keberadaan satu orang saja bisa berubah sedrastis ini, aku pun ternyata perempuan yang cukup simpel.

 

Tapi, ini tidak bisa dihindari. Karena tepat seminggu yang lalu, seorang pangeran yang muncul tiba-tiba di depanku benar-benar terlalu memikat. Sejak dia muncul, kehidupan universitasku langsung bersinar.

 

Tinggi badannya yang semampai. Rambut hitam dengan perm longgar. Kalau ada yang bilang dia adalah orang yang paling cocok dengan kata “natural” di dunia ini, rasanya tidak akan ada yang membantah. Maksudku, aku tidak akan membiarkan siapa pun membantahnya.

 

Nah, bicara soal itu, kebetulan ada orang di tengah tanjakan sana yang tinggi dan perawakannya mirip dia... eh.

 

"Lho, bukannya itu Masato?"

 

Katari Masato. Itulah nama pangeranku.

 

Dan Masato sedang berdiri tepat di tengah jalan. Saat aku bertanya-tanya kenapa dia berhenti, aku melihat ada seorang perempuan di depannya. A-aku punya firasat buruk...

 

"Kalau gitu kasih tahu kontakmu saja! Kapan-kapan kita minum teh bareng, ya?"

 

Akhirnya kami melewati gerbang universitas. Setelah memastikan perempuan yang menggodanya tadi tidak mengikuti, aku dan Masato menghela napas. Daya tarik Masato adalah kebaikannya ini.

 

Normalnya, kalau ada perempuan paruh baya yang menggoda seperti itu, orang pasti akan menunjukkan rasa jijik, tapi Masato tidak begitu. Justru karena itulah, dia terlihat sangat rawan dan terkadang membuatku was-was.

 

"Masato itu terlalu baik! Gawat tahu kalau begini terus, beneran deh..."

 

Meski aku sudah memperingatkannya beberapa kali seperti ini, sepertinya sifatnya itu tidak akan berubah dengan mudah. Yah, karena itu juga merupakan sisi baik Masato, jadi memang serba salah sih.

 

Aku mengatur napas yang tersengal karena berlari, lalu mengadah ke langit.

 

Wah, langit yang indah. Untung saja masih awal musim semi. Kalau sudah masuk musim panas dan lari-larian di cuaca begini, keringatnya pasti akan jauh tidak sedikit.

 

Saat aku melihat keadaan Masato, dia tampak sedang memikirkan sesuatu sambil melihat ke arahku.

 

"? Ada apa, Masato?"

 

Karena aku ingin tetap terlihat imut di depan Masato, aku mundur setengah langkah sambil memiringkan kepala supaya keringatku tidak terlalu kelihatan.

 

*Puk.* Aku merasakan sentuhan di kepalaku.

 

"Nggak, bukan apa-apa. Makasih ya sudah menolongku, Koumi."

 

Telapak tangan yang ditaruh itu terasa hangat. Senyuman tulusnya seolah menembus tepat ke jantungku.

 

...Dia bisa melakukan hal seperti ini dengan santai. Masato itu benar-benar...

 

Suhu tubuhku yang naik drastis ini pasti bukan cuma gara-gara lari sampai ke sini. Karena tidak ingin wajahku terlihat, aku menarik topiku lebih dalam.

 

"...Curang banget."

 

"Eh?"

 

"Enggak! Bukan apa-apa! Ayo berangkat!"

 

Aku berusaha menutupi kegugupanku dan mulai berjalan menuju gedung kampus.

Benar-benar orang yang licik. Dia melakukan apa pun yang aku inginkan.

 

Dan di saat seperti ini, dia melakukan hal yang membuatku senang secara tiba-tiba.

 

Pangeran ideal-ku.

 

Hatiku terasa hangat. Perasaan yang perlahan menyebar di dalam dadaku ini sudah kusadari sejak hari pertama kami bertemu.

 

Aku meregangkan tubuh sedikit dan menatap langit biru yang menyegarkan.

 

Untuk saat ini mungkin masih sulit.

 

Tapi suatu saat nanti, aku pasti akan menjadi kekasih orang ini. 


Illustrasi | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close