NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Dekkai Gyaru ke Chicchai Gyaru ga Shitsuren Shita Ore no Shinkyo ni Iribitatte Iru Volume 1 Chapter 3

Episode 3 “Karena Aku Hanyalah Seorang Adik”


Saat aku sibuk dengan kerja paruh waktu, bulan Maret berakhir, dan dalam sekejap aku sudah menjadi murid kelas tiga.

 

Setelah upacara pembukaan tahun ajaran selesai, aku bertatap muka dengan teman-teman sekelas yang baru. Meskipun begitu, karena hanya ada dua kelas untuk program IPA di SMA ini, sekitar separuh dari mereka adalah wajah-wajah yang sama dengan tahun lalu.

 

Di hari pertama kenaikan kelas ini tidak ada pelajaran. Setelah upacara pembukaan selesai, serta sambutan dan penjelasan mengenai jenjang karier usai, sekitar separuh murid berbondong-bondong keluar dari kelas.

 

Itu karena penjelasan klub yang merupakan ajang perebutan murid baru akan diadakan di gimnasium. Yah, itu tidak ada hubungannya denganku yang tidak ikut klub apa pun.

 

Saat aku selesai mengurus prosedur perubahan alamat di ruang guru dan menuju rak sepatu, pandanganku tertuju pada sosok murid-murid yang sedang mengobrol di bordes tangga. Aku melihat wajah yang kukenal di antara mereka, lalu menolehkan wajahku ke sana.

 

Himori yang sudah sekelas denganku selama tiga tahun berturut-turut, dan seorang siswi berambut pirang yang baru tahun ini sekelas denganku.

Menurut daftar nama kelas, marganya adalah Ebitani, dan nama depannya dibaca Reni.

 

Peraturan rambut di SMA ini bisa dibilang sangat longgar, bahkan rasanya seperti tidak ada aturan sama sekali. Meskipun begitu, murid yang mengecat rambutnya menjadi pirang total dari ujung kepala sampai ujung rambut hanya bisa dihitung dengan jari satu tangan. Ebitani adalah salah satunya.

 

Tubuhnya kecil dan ramping, kebalikan dari Himori. Jika mereka berdiri berdampingan, dia mungkin lebih pendek satu kepala, atau bahkan lebih.

 

Namun, saat pertama kali melihatnya, hal pertama yang menarik perhatianku bukanlah rambut pirangnya yang panjang dan indah, bukan pula tinggi badannya yang sangat kecil hingga tidak terlihat seperti anak SMA.

 

—Melainkan, wajahnya yang kecil dan sangat menawan.

 

Wajah Ebitani begitu rupawan, sampai-sampai kalau ada yang bilang dia itu idola, aku pasti akan percaya.

 

Hanya dengan melihat ekspresinya yang biasanya hanya terlihat bersungut-sungut itu, orang-orang akan merasa, “Apakah ada hal buruk yang terjadi padanya?”, atau “Apakah aku telah melakukan kesalahan padanya?”.

 

Saking terpusatnya pandangan ke arah wajahnya, orang sampai tidak akan menyadari bahwa riasannya tebal atau warna rambutnya mencolok.

Dua gadis gyaru yang penampilannya mencolok itu sedang berbicara dengan beberapa siswa laki-laki berpenampilan tak kalah mencolok yang mem-bleaching atau menegakkan rambut mereka dengan wax.

 

Karena aku tidak punya urusan dan merasa tidak perlu menyapa mereka, aku bermaksud untuk mengabaikannya. Pada saat itulah.

 

Entah karena menyadari suara langkah kakiku, Ebitani menoleh ke arahku—dan mata kami bertemu.

 

—Seketika saat melihat wajah itu, aku mengubah arah jalanku.

 

Aku tidak tahu apa hubungan mereka. Mungkin saja mereka teman baik.

 

Jangankan Himori, aku bahkan baru tahu nama Ebitani hari ini. Tetapi, meskipun begitu.

 

(Membuat perempuan ketakutan itu... tidak bisa dibiarkan, kan.)

 

—Itu tidak ada hubungannya. Tidak peduli bagaimana hubungan pria dan wanita itu, tidak peduli apakah aku sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan mereka.

 

Seorang laki-laki tidak boleh membuat perempuan memasang wajah seperti itu.

 

“Maaf, membuat kalian menunggu.”

 

Aku menyapa mereka berdua, sengaja menghalangi pandangan para siswa laki-laki itu.

 

Ebitani mengelus dadanya dengan ekspresi lega. Rupanya kekhawatiranku bukan sekadar firasat kosong.

 

“Hah? Tiba-tiba apa-apaan nih?” “Siapa sih anak ini?” “Ini Nogi kan, dari kelas 1.”

 

Seorang siswa yang tidak kukenal namanya meninggikan suaranya dari belakangku, tapi aku hanya menunjuk ke arah mereka dengan ibu jari tanpa menoleh.

 

“Apa kalian ada urusan dengan orang-orang ini?”

 

Mendengar pertanyaanku, Ebitani menggelengkan kepalanya, dan Himori menjawab, “Tidak adaa~.”

 

Ah, kalau saja mereka menjawab dengan normal seperti “Kami sedang mengobrol nih, kamu tiba-tiba kenapa sih?”, mungkin aku tidak akan bisa bangkit lagi karena malu. Untunglah mereka peka membaca situasi.

 

“Minggir sana.” “Siapa kamu?” “Tiba-tiba datang, merasa jagoan ya?”

 

Tangannya mencengkeram bahuku dan menariknya, namun tubuhku tak bergeming sedikit pun. Mereka bukanlah lawan dari otot punggungku yang telah ditempa lewat kerja paruh waktu selama dua tahun.

 

Namun karena aku juga tidak bisa terus mengabaikannya, aku menoleh ke belakang. Salah satu siswa bertubuh besar yang sepertinya adalah pemimpin mereka, tiba-tiba mencengkeram kerah bajuku dan menatapku tajam tanpa kata dari jarak yang sangat dekat. Saking dekatnya, dahi kami hampir bersentuhan.

 

Pria berbadan besar yang mungkin saja akan langsung bermain tangan seperti ini. Tidak ada perempuan yang bisa tetap tenang jika diganggu oleh orang semacam ini.

 

“Ada urusan?”

 

Perbedaan tinggi kami sekitar 10 cm. Kalau dia benar-benar melatih fisiknya, bukan tidak mungkin dia bisa mengangkat tubuhku hanya dengan mencengkeram kerahku—tapi sayang, ototnya sedikit kurang.

 

Karena dia tak kunjung melepaskannya, mau tak mau aku mencengkeram pergelangan tangannya dan mengerahkan tenaga seperti memelintirnya ke atas, dan siswa itu pun mengepalkan tangannya yang satu lagi—

 

Bugh, suara tumpul menggema di lorong.

 

Kepalan tangannya yang besar mendarat keras di ulu hatiku.

Seolah sudah membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya, beberapa siswa laki-laki menyunggingkan senyum di sudut bibir mereka.

 

Namun, justru orang yang memukul itulah yang mengeluarkan suara, “Hah?”.

Siswa laki-laki lain yang menyeringai di belakangnya juga menyadari bahwa situasinya tak kunjung berjalan sesuai bayangan mereka, dan ekspresi mereka pun mulai berkerut kebingungan.

 

“Barusan, kamu melakukan sesuatu?”

 

Aku tertawa mendengus seolah memprovokasinya, lalu—aku merasa mendengar suara sesuatu yang putus.

 

Siswa berbadan besar itu sedikit menarik kepalan tangannya dan meninjukannya ke arah wajahku.

 

Brak, suara nyaring benturan tulang menggema.

 

Saat aku menerima pukulan itu tanpa perlawanan, Ebitani memekik kecil.

 

Kalau itu murid laki-laki biasa, dia pasti berharap melihat reaksi lemah seperti kesakitan atau mencoba kabur.

 

Namun sayangnya, aku tidak seperti itu.

 

Pengalamanku dipukuli oleh pria yang fisiknya lebih besar dariku sudah tak terhitung oleh jari kedua belah tangan.

 

Saat aku menatap mata lawan yang memukulku dalam diam, cengkeraman di kerah bajuku mengendur.

 

“Siapa namamu?”

 

Karena dia bertanya, aku menepis lengannya dan menjawab.

“Nogi.”

 

“...Nogi dari SMP Mannaka?”

 

“Iya, memangnya kenapa?”

 

Haaah, siswa bertubuh besar itu menghela napas panjang, lalu berkata, “Hilang mood,” dan menuruni tangga sendirian.

 

Siswa laki-laki yang tersisa, dengan wajah kebingungan, buru-buru menyusulnya. Sepertinya tidak ada murid lain yang paham arti dari panggilan tadi.

 

“Sumpah sangat membantu, cowok itu dari dulu ngotot banget tahu.”

 

Himori yang tertawa santai dan Ebitani yang memalingkan wajah karena sedikit canggung, jika dilihat seperti ini keduanya sangatlah kontras.

 

Berbeda dengan Himori yang berbicara seperti teman lama bahkan kepada siswa laki-laki yang baru pertama kali sekelas dengannya, Ebitani sepertinya tidak berusaha berbicara dengan siapa pun.

 

Apalagi dengan penampilannya yang seperti ini. Tidak mungkin tidak ada yang mengajaknya bicara.

 

Tapi Ebitani, entah disapa oleh laki-laki maupun perempuan, dia hanya menjawab dua atau tiga patah kata tanpa mengangkat pandangannya dari ponsel.

Kupikir dia sangat pemalu, tapi karena sekarang dia bersama dengan Himori, itu berarti hubungan mereka berdua cukup baik.

 

Seingatku mereka tidak pernah sekelas, tapi dengan kemampuan komunikasi Himori yang menembus batas, masuk akal kalau dia bisa membuka pertahanan Ebitani.

 

“Sebagai ucapan terima kasih aku traktir sesuatu deh, bagaimana kalau makan siang?”

 

“Tidak usah... aku sedang tidak ingin makan.”

 

“Hmm, masa sih? Apa perutmu tidak lapar?”

 

“Bukan begitu maksudku...”

 

—Semenjak ditolak Onee-chan, aku tidak bisa lagi merasakan rasa makanan.

 

Kalau aku mengatakan hal itu dengan jujur, antara aku akan ditertawakan dan dianggap bercanda, atau mereka akan meragukan kewarasanku.

 

“Kalau begitu, ayo ke kantin! Tadi aku lihat mereka baru saja memasukkan barang, kalau sekarang mungkin semua jenisnya masih ada!”

 

“Kantin, ya... aku jarang ke sana.”

 

“Oh ya? Kalau begitu biar aku belikan yang paling kurekomendasikan. Boleh kan sebagai rasa terima kasih?”

“A, ah. Ya sudah, tolong ya.”

 

Entah dia lupa kalau aku bilang tidak ingin makan, Himori mulai berjalan mendahului. Saat aku hendak mengikutinya, Ebitani menarik kuat lengan seragamku, membuatku berhenti dan menoleh.

 

Gila, wajahnya kecil sekali! Rasanya cuma setengah dari wajahku. Apa idola kalau dilihat langsung rasanya seperti ini ya.

 

“Ebitani, kan?”

 

Saat aku memastikannya, Ebitani mengangguk kecil, dan menatap mataku dalam diam.

 

Di matanya, jelas terlihat raut kebingungan.

 

“Ada apa?”

 

“...Kamu.”

 

“Hm?”

 

“Sebelumnya juga,”

 

“Sebelumnya?”

 

“Ti, tidak ada apa-apa!”

 

Dia membuang muka. Apa-apaan sih.

Dia tadi bilang “sebelumnya”, kan. Apa aku pernah melakukan sesuatu sebelumnya? Lagipula aku sama sekali tidak tahu apa-apa soal Ebitani sampai tahun lalu, dan kurasa kami belum pernah mengobrol sebelumnya.

 

“...Terima kasih buat yang tadi! Itu saja!!”

 

“Sama-sama.”

 

Entah karena sangat malu, wajahnya memerah.

 

Apakah hanya itu yang ingin ia katakan? Dia melepaskan lengan bajuku yang dicengkeramnya, lalu berlari kecil menyusul Himori dan berjalan di sebelahnya.

 

Mereka berdua membicarakan sesuatu dengan volume suara yang tidak bisa kudengar, Ebitani tampak marah-marah dan Himori tersenyum kecut.

 

 

•••

 

 

Setelah ditraktir beberapa potong roti di kantin, kupikir kami akan bubar, tapi sepertinya Himori tidak berniat begitu dan malah membawaku ke bangku di samping gimnasium.

 

Saat aku mencoba duduk di ujung, Ebitani mendorongku menyingkir, jadi mau tak mau aku duduk di tengah, diapit oleh mereka berdua di kiri dan kanan. Rasanya seperti aku sedang dikepung agar tidak bisa lari.

Dari gimnasium, terdengar gema suara orang-orang yang sepertinya sedang memperkenalkan klub mereka.

 

Sambil mendengarkan performa dari mikrofon, aku menggigit roti koppe isi selai kacang merah dan margarin—tapi tetap saja, aku tidak bisa merasakan apa pun. Aku hanya tahu ada sesuatu yang lengket di dalam spons yang lembut. Aku cuma memilihnya karena jumlah kalorinya terlihat tinggi.

 

Kehilangan indra pengecapku terjadi sejak bulan lalu.

 

Awalnya aku pikir karena flu atau semacamnya, tapi ternyata bukan itu penyebabnya.

 

Sejak patah hati, aku perlahan-lahan kehilangan indra perasaku, dan sekarang aku tidak bisa membedakan manis atau pedas, bahkan saat minum kopi hitam pun aku tidak tahu kalau itu pahit.

 

Tapi perutku tetap bisa lapar, dan kalau aku tidak makan aku tidak akan bisa bekerja, jadi satu-satunya hal yang tidak bisa kuhentikan adalah makan. Untuk mengelabui rasa lapar, aku hanya makan seperti sedang mengisi bahan bakar.

 

Sambil memakan rotiku dalam diam tanpa tahu apa-apa selain teksturnya, Himori yang sedang meminum teh lemon kemasan kotak menarik sedotannya seperti sebatang rokok, lalu menatapku.

 

“Tadi Watanabe memanggilmu Nogi dari SMP Mannaka, kan?”

 

“...Oh iya, aku memang dipanggil begitu ya.”




“Mannaka itu SMP yang ada di dekat sini, kan? Aku tidak terlalu tahu, tapi apa masa SMP-mu itu nakal? Tadi juga kamu kelihatannya sudah terbiasa banget berantem.”

 

“Mana mungkin.”

 

“Benar juga, ya~.”

 

Himori mengangguk seolah sudah memahaminya, tapi dia melanjutkan, “Tapi, ya.”

 

“Entah kenapa, wajahmu tadi kelihatan kayak sedikit mengerti maksud panggilannya~”

 

Dia menyeringai dengan ekspresi seolah-olah sudah tahu segalanya, tapi dia pasti cuma memancingku.

 

Kalau dia benar-benar tahu, dia pasti sudah menjadikannya bahan candaan setidaknya sekali selama dua tahun ini. Tapi nyatanya tidak pernah.

 

Lagipula, rumor masa SMP seperti itu tidak akan menyebar sampai ke luar sekolah. Itu bukanlah cerita yang menarik atau memuaskan, melainkan kejadian di mana tidak ada seorang pun yang bahagia, jadi itu bukan hal yang pantas diceritakan kepada orang yang tidak dikenal.

 

Besar kemungkinan anak laki-laki tadi—kalau tidak salah namanya Watanabe, dia pernah mendengar rumor dari temannya yang merupakan alumni SMP yang sama denganku, paling hanya sebatas itu.

“...Bukannya tidak ada.”

 

“Ternyata kamu berantem ya? Menang telak 30 lawan 1 melawan Senpai?”

 

“Aku tidak pernah membuat keributan besar seperti itu. Aku cuma pernah dipanggil seperti itu sebelumnya.”

 

“Hee...”

 

Himori mencondongkan wajahnya dengan ekspresi “Aku tertarik nih~”, tapi setelah sadar bahwa aku tidak akan menjawab lebih jauh, dia hanya tersenyum kecut. Dia pasti berpikir aku tidak akan menceritakannya dengan jujur.

 

“...Kamu, sudah sering melakukan hal semacam ini dari dulu?”

 

Ebitani yang sejak tadi diam, perlahan menyentuh pipiku yang tadi dipukul, lalu bertanya.

 

Ah, benar juga, alasanku ikut campur ke tempat itu tadi karena mataku bertatapan dengan Ebitani.

 

—Matanya seolah berkata agar aku menolongnya.

 

Makanya aku maju. Demi melindungi orang yang bahkan belum pernah kuajak bicara.

 

“Tidak, aku tidak pernah melakukannya...”

 

“Hah?”

Namun saat aku menjawab begitu, Ebitani yang telah menjauhkan tangannya dari pipiku mengernyitkan dahi. Himori yang tertawa kecil menyela, “Tidak, tidak, tidak.”

 

“Bukannya kamu tidak pernah, kan? Kamu kelihatan sudah terbiasa banget.”

 

“Aku akui aku memang terbiasa, tapi mana ada orang yang sengaja menceburkan diri ke dalam masalah? Itu namanya orang aneh. Ah, tapi kalau dipikir-pikir waktu liburan musim semi—“

 

“Maaf, kita tidak sedang membicarakan soal itu sekarang.”

 

Himori memotong perkataanku, jadi aku membalas “...Mengerti” dan terdiam. Sepertinya itu cerita yang tidak ingin dia perdengarkan kepada Ebitani.

 

Itu berarti, dia tidak melakukan hal itu setiap hari, kan. Lagipula, dilihat dari sudut mana pun dia tidak terlihat terbiasa dengan hal itu.

 

Ebitani memiringkan kepalanya bingung, tapi aku tidak bisa menceritakannya, jadi silakan tanya langsung pada Himori. Aku sendiri juga tidak tahu situasinya sampai bisa menjelaskannya.

 

“Yah, kalau aku sih sudah dua tahun sekelas jadi kami memang saling kenal. Tapi Nogi, kamu sama sekali tidak kenal Reni, kan? Atau kalian pernah ngobrol di mana gitu?”

 

“Tidak juga.”

“Padahal begitu tapi kamu tetap menolongnya, itu artinya kamu memang biasa melakukan hal semacam ini.”

 

“...Yah, kalau kamu bilang begitu. Mungkin aku hanya melindungi Himori, kan.”

 

“Hmm... ya, sepertinya bukan itu deh.”

 

“.........Yah, memang benar.”

 

Kalau harus dikatakan, Onee-chan itu tipe yang akan langsung digoda laki-laki kalau dibiarkan, jadi aku punya pengalaman melindunginya sampai tak terhitung jumlahnya.

 

Karena aku tumbuh besar bersama seseorang yang sama sekali tidak punya rasa waspada, aku jadi percaya secara bodoh bahwa laki-laki memang bertugas melindungi perempuan.

 

Mendengar jawabanku yang ragu-ragu, Himori tersenyum kecut, dan Ebitani menghela napas.

 

Saat selesai makan roti, aku baru sadar kalau aku lupa membeli minuman. Tidak ada mesin penjual otomatis di sekitar sini.

 

“Di sekitar sini, tidak ada air atau semacamnya?”

 

“Air?”

 

Yang ditunjuk Himori adalah keran air dengan selang yang masih tersambung, mungkin digunakan untuk menyiram pot bunga.

 

“Kalau yang itu rasanya agak...”

 

“Haa...”

 

Bukannya kotor, tapi aku sedikit enggan...

 

Selangnya terpasang kuat di keran dengan penjepit logam, jadi kalau aku minum dari sana, aku harus minum dari ujung selangnya—ujungnya kan model shower! Bodoh. Jangankan sekarang, saat pertengahan musim panas saja aku bakal ragu.

 

“Nih.”

 

“Ah, terima kasih.”

 

Kemudian Ebitani yang masih memalingkan wajahnya, menyodorkan botol plastik yang digenggamnya.

 

Aku membuka tutupnya dan meminumnya. Saat kulihat labelnya, sepertinya itu air soda tanpa gula. Sensasi mendesis dari soda kuat yang melewati tenggorokan ini terasa nyaman, meskipun aku tidak bisa merasakan rasanya.

 

Aku meneguknya dengan rakus untuk membasahi tenggorokanku—

Saat aku sadar, isi botol plastik itu hampir habis tak tersisa.

 

“Ah, maaf, aku minum terlalu banyak.”

 

“...Aku sudah tidak mau.”

 

“Aku minta maaf...”

Dia membuang muka dengan kesal. Tentu saja dia bakal marah kalau hampir semuanya dihabiskan dengan dalih minta seteguk.

 

Tapi menurut perasaanku, aku cuma minum sekitar setengahnya. Bagaimanapun juga, karena dia menolak untuk menerimanya kembali, aku dengan patuh mengeluarkan dompet.

 

“Eto... 100 yen cukup?”

 

“Tidak perlu.”

 

“...Maaf, beneran.”

 

“Haaah... benar-benar tidak bisa dipercaya...”

 

“Kenapa...!?”

 

Diberikan helaan napas yang super panjang, apa dikembalikan sedikit saja sangat membuatnya tidak suka...?

 

Namun, Himori yang sedari tadi menahan tawa melihat interaksi kami akhirnya tidak tahan dan menyemburkan tawanya, lalu menunjuk-nunjuk bibirnya sendiri.

 

“Reni, kamu tidak dipedulikan soal ciuman tidak langsung, apa segitu bencinya?”

 

“Ci... ti, mana mungkin begitu kan!?”

 

“Eee, padahal tadi kamu merhatiin bibirnya Nogi terus lho.”

 

Eh, benarkah begitu?

 

“...Maaf.”

 

Bersamaan dengan permintaan maafku, Ebitani merebut botol plastik dari tanganku dan langsung meminumnya.

 

Meneguk habis sisanya layaknya menenggak minuman keras, Ebitani menjejalkan botol plastik kosong itu kepadaku dengan wajah memerah, “Nih!”

 

“Tolong buang!”

 

“...Mengerti.”

 

“A, aku benar-benar tidak peduli soal ciuman tidak langsung atau semacamnya! Paham!?”

 

“O, oh, begitu. Aku juga tidak peduli kok, jadi kita impas ya.”

 

“Hah?”

 

Eh?

 

“.........Kamu tidak peduli?”

 

“Eh, ah, iya...?”

 

Sebelumnya aku biasa meminum teh dari gelas yang sama dengan Onee-chan, dan walau minum dari botol plastik sisa pun kami saling berbagi, jadi tidak ada orang di sekitarku yang terlalu memedulikan hal itu.

 

Meskipun begitu, kalau dipikir-pikir aku belum pernah berbagi minuman dengan perempuan selain Onee-chan. Kalau sesama anak laki-laki sih lumayan sering.

 

“.........”

 

Aku yang baru menyadarinya, dan Ebitani yang entah marah atau malu sehingga wajahnya memerah, saling bertatapan sebelum perlahan-lahan memalingkan muka.

 

“Aku buang sampah dulu,” kataku. Ebitani mengangguk, sementara Himori menahan tawanya sambil menutup mulut, “Pfft.” Kamu diam saja deh.

 

“Ngomong-ngomong Nogi, tadi bukannya kamu dipanggil guru ya? Kamu habis buat masalah ya di hari pertama?”

 

Setelah membuang sampah di tempat sampah terdekat dan kembali, Himori menanyakan hal itu padaku, jadi aku menjawab,

 

“Aku tidak buat masalah kok.”

 

“Aku cuma lupa mengabari sekolah kalau aku sudah pindah rumah.”

 

“Hee... Lho, bukannya kamu jalan kaki ke sekolah? Padahal kamu sudah tinggal di dekat sini, kenapa pindah?”

 

“Yah, karena aku beli rumah.”

“Rumah... eh?”

 

“Memang sedikit lebih jauh dari rumah sebelumnya, tapi masih dalam jarak jalan kaki kok. Posisinya jadi lebih dekat ke stasiun, lebih gampang kalau mau berangkat kerja paruh waktu.”

 

“...Tunggu, apa ini cerita yang bisa dibiarkan berlalu begitu saja?”

 

“Bagian mananya?”

 

“Rumah,”

 

“Memangnya kenapa dengan rumah?”

 

“...Tadi, kamu bilang kamu beli?”

 

“Iya, aku beli.”

 

“.........Kamu anak SMA, kan?”

 

“Seperti yang kamu lihat.”

 

Bakal menyeramkan kan kalau ada orang yang bukan anak SMA duduk dengan santai di kelas berwajah teman seumuran.

 

“Eee... tunggu, biarkan aku mencerna ini sebentar.”

 

Himori bergumam sejenak, lalu setelah bisa memahaminya, dia mengangguk, “Hng.”

 

“Dari beberapa waktu lalu, aku sudah merasa ada yang aneh denganmu...”

 

Eh, begitu ya?

 

“Kalau tidak ada alasan tertentu, orang tidak akan sembarangan beli rumah.”

 

“Yah, mungkin begitu.”

 

“...Kamu habis ditolak ya?”

 

Mendengar pertanyaan yang terlalu tiba-tiba itu, sejenak, aku merasa waktu berhenti.

 

Terdengar suara tawa riuh para murid baru dari arah gimnasium, dan secara perlahan pikiranku mulai bekerja kembali.

 

Tidak mungkin Himori tahu. Aku tidak bisa bilang dia pasti tidak tahu karena ada murid yang berasal dari SMP yang sama, tapi karena topik ini tidak pernah disinggung sekalipun sampai sekarang, dia seharusnya tidak tahu apa-apa soal Onee-chan.

 

“Kenapa...” hanya itu yang keluar dari mulutku, dan kata-kata selanjutnya tidak mau keluar. Aku benar-benar tidak paham bagaimana dia bisa menghubungkan antara membeli rumah dengan ditolak cinta.

 

“Oh, dari reaksimu, sepertinya tebakanku benar?”

 

“...Kenapa, kamu bisa berpikir begitu?”

“Kalau kamu sudah jadi penguasa istanamu sendiri, normalnya kamu harusnya kelihatan lebih senang, tapi kamu tidak pernah menceritakan hal itu pada siapa pun, kan.”

 

“...Ah.”

 

“Itu artinya ada alasan kenapa kamu tidak ingin membicarakannya. Hmm... awal Maret... apa mungkin, di sekitar waktu ujian dikembalikan...”

 

Kenapa kamu bisa tahu tanggal pastinya segala?!

 

“Awalnya aku kira kamu lagi bad mood karena nilai ujian akhirmu jelek, tapi anehnya mood-mu terus-terusan buruk. Hng? Bukannya begitu? Itulah yang dipikirkan oleh Himori-sama.”

 

“...Kelihatannya seperti itu, ya.”

 

“Itu berarti, telah terjadi acara buruk yang cukup besar untuk membatalkan rasa senangmu karena telah membeli rumah.”

 

“Kamu ini detektif, ya.”

 

“Kamu diputusin oleh pacar yang rencananya bakal diajak tinggal bareng... iya kan?”

 

“.........”

 

Apa wajahku sebegitu mudah ditebak. Padahal aku tidak berniat menceritakannya pada siapa pun.

Tapi kalau dipikir-pikir, orang-orang di proyek mana pun yang kutemui juga pernah bilang “Kamu baik-baik saja?” atau “Semangat, dong”. Ternyata aku tipe orang yang rasa sedihnya bisa terbaca dari wajah hanya dengan sekali lihat ya.

 

“Kamu berbuat salah? Terlalu memaksa? Atau dia ilfil karena kamu beli rumah tanpa musyawarah? Masa sih sampai begitu, itu kan bukan cincin biasa.”

 

“...Bukan,”

 

Aku hanya melontarkan sangkalan, lalu sejenak bimbang apakah aku harus melanjutkan kata-kataku.

 

Tapi, kalau aku diam saja di sini, aku tidak akan bisa kabur dari daya observasi Himori. Lama-lama dia pasti akan menebak jawabannya dengan benar, dan aku sendiri yang akan memberikan jawabannya lewat ekspresiku atau semacamnya.

 

Kalau begitu, lebih baik aku ceritakan saja bagian yang bisa kuceritakan sebelum dia salah paham.

 

“...Aku cuma dikabari kalau orang yang rencananya mau kulamar setelah aku beli rumah, akan segera menikah dengan pria lain.”

 

“Cuma!? Jelas-jelas itu bukan hal yang bisa dibilang ‘cuma’ kan!?”

 

“.........Memang cuma itu. Beneran.”

 

Benar-benar, tidak terjadi apa-apa.

Onee-chan bahkan tidak sadar kalau dia telah menolakku. Buktinya, dia malah mau langsung mengatur jadwal les privat kami selanjutnya.

 

Sejak masuk SMA, aku selalu diajari belajar olehnya hampir setiap hari. Namun sejak hari itu, kami belum pernah bertemu lagi. Dia terus berusaha datang ke rumah baruku untuk mengajariku atau sekadar makan bersama saat ada kesempatan, tapi aku selalu menolaknya dengan berbagai alasan.

 

—Karena kalau aku melihat wajahnya, kali ini perasaanku pasti akan benar-benar hancur.

 

“Hnng... dan setelah sebulan berlalu pun kamu masih sedih.”

 

“...Itu wajar, kan. Orang sepertimu yang gampang ganti pasangan tidak akan mengerti rasanya.”

 

“Sepertinya ada kesalahpahaman besar soal diriku, tapi... berarti kamu akan tinggal sendirian di rumah barumu, kan?”

 

“Yah, begitulah adanya.”

 

“Boleh aku main ke rumahmu? Lagian kamu lagi nganggur, kan?”

 

“...Hah?”

 

Karena terlalu mendadak, tanpa sadar aku merespons dengan nada kebingungan.

 

Memang karena sudah dua tahun sekelas kami sering bermain bersama, tapi kami tidak cukup dekat sampai dia bisa tiba-tiba main ke rumah. Saat aku mau menganggapnya sebagai candaan, Himori melanjutkan kata-katanya.

 

“Laki-laki SMA yang tinggal sendirian, pasti tiap makan cuma beli di minimarket atau mi instan gelas, kan? Sini aku buatkan makan malam.”

 

“K-kamu bisa masak!?”

 

“Gini-gini aku lumayan jago lho? Ah, tidak kelihatan, ya? Tidak kelihatan, kan~?”

 

“Sama sekali tidak kelihatan. Kamu tahu kan ada yang namanya tangan kucing (teknik memotong bahan makanan)? Pisau dapur itu bisa memotong tangan lho?”

 

“Aku tahu kok.”

 

Saat aku menyetujuinya dengan jujur, dia mengerucutkan bibirnya pura-pura tidak puas.

 

“Aku, dan Reni berdua. Boleh?”

 

“Kalau kalian berdua sih boleh saja... tapi walaupun aku oke, Ebitani pasti tidak mau, kan.”

 

Ebitani yang tiba-tiba dimasukkan ke dalam kelompok padahal tidak ikut campur dalam percakapan ini, jelas memasang wajah yang seolah ingin mengatakan “Eeh...”. Setidaknya minta persetujuannya dulu sebelum mengusulkan dong.

 

“Ah, Reni pasti ikut kok.”

 

“Atas dasar apa kamu bisa berkata begitu.”

 

“Itu, Reni, kamu mau ikut kan?”

 

Ditanya seperti itu, Ebitani mengernyitkan dahi dan menatap kami—

 

“Hah? Kenapa juga aku harus pergi ke rumahnya Nogi?”

 

Nah kan, sudah kubilang.

 

“Ya sudah kalau begitu aku pergi sendiri saja, hari ini kamu habisin waktu sendiri aja deh~”

 

“Aku tidak bilang aku tidak mau ikut kan!?”

 

“Yang mana yang benar nih!”

 

Secara refleks aku menyela, Himori tertawa “Tuh, kan sudah kubilang”, sementara Ebitani bergumam, “Benar-benar tidak masuk akal...”. Apa datang ke rumahku sebegitu tidak enaknya ya...

 

Lagi pula, kalau dari nada bicara mereka, sepertinya mereka sudah ada janji hari ini, tapi apa pergi ke rumahku adalah hal yang cukup penting sampai janji mereka itu harus dibatalkan?

•••

 

 

Ting tong, bel berbunyi.

 

Karena katanya ada tempat yang harus mereka singgahi, aku hanya memberikan alamat dan pulang sendirian lebih dulu. Saat aku sedang membuka buku pelajaran yang baru dibagikan dan mempelajarinya, mereka berdua datang seperti yang dijanjikan.

 

Mereka membawa barang yang sangat banyak, seperti koper kecil dan tas boston yang sepertinya bisa dipakai untuk bepergian.

 

Begitu, ya. Ternyata mereka berpisah denganku tadi untuk mengambil barang-barang ini. ...Ke mana? Rasanya waktu mereka belum cukup untuk pulang ke rumah.

 

“Barang-barang itu apa?”

 

“Eeto, game dan sejenisnya?”

 

“Terlalu banyak kan, kalian mau buka toko?”

 

“Terus... busa pelindung?”

 

Dia memperlihatkan isi tas boston kepadaku, tapi benda yang dia sebut busa pelindung itu, dilihat oleh siapa pun, jelas adalah pakaian dalam. Jangan tunjukkan barang seperti itu kepadaku.

 

“Permisiii~”

 

Himori melangkahkan kakinya ke rumahku dengan santai seolah ini rumahnya sendiri, namun begitu dia masuk ke ruang tamu, dia langsung berhenti dan berkata, “Eh?”

 

“...Permisi.”

 

Ebitani yang masuk setelahnya, pipinya berkedut menatap ruang tamuku.

 

“Ka, kamu benar-benar tinggal di sini...?”

 

“Tunggu, ruangan macam apa ini!? Biarpun ini ruangan yang baru disewa hari ini, harusnya ada sedikit lebih banyak barang, kan!?”

 

“.........Yah.”

 

Sudah sebulan berlalu sejak aku membeli rumah ini. Keraguan mereka itu sangat beralasan.

 

“Terus di situasi seperti ini kamu masih sempat belajar...”

 

Melihat buku pelajaran yang berserakan di meja, Ebitani mengeluarkan suara yang seolah merasa ngeri.

 

“Memangnya aneh kalau ada orang belajar? Kamu juga kelas 3, kan.”

 

“Aku tidak berencana masuk universitas.”

 

Mendengar kata-kata Ebitani, Himori pun ikut mengangguk. Yah itu sih terserah, tapi masih ada sekitar satu tahun sebelum lulus, jadi paling tidak belajar kan. ...Eh, tidak belajar, ya?

 

“Kalau Nogi lagi belajar, kami main santai aja, gimana?”

 

“...Tidak, sekarang bukan waktu yang pas buat ini.”

 

Bohong kalau aku bilang aku bisa terus belajar di saat ada orang lain sedang bermain. Lagipula aku hanya menyentuhnya karena bosan, jadi aku membereskan buku yang tersebar dan menumpuknya di lantai.

 

“Hmm... berarti kamu lagi belajar itu bukan karena habis beres-beres, ya.”

 

“Ah. Bukan beres-beres atau apa, memang barang pribadiku tidak banyak. Selama ini aku numpang di rumah kerabatku, jadi...”

 

“”Numpang?””

 

“Aku tadinya berniat membeli perabotan belakangan, tapi masih belum terbeli.”

 

Kalau aku bilang aku ingin membelinya bersama Onee-chan, mereka pasti akan memakiku habis-habisan.

 

“...Coba perlihatkan ruangan yang lain.”

 

Ebitani yang sudah meletakkan barangnya menatap pintu terdekat dan memintanya.

“Boleh saja, tapi di sana—“

 

Salah satu dari dua ruangan yang terhubung dengan ruang tamu—Ebitani yang membuka pintu kamar itu menyalakan lampunya dan bergumam, “Uwaa...”

 

Ebitani memanggil Himori dengan gerakan tangannya, dan Himori yang sedang membereskan isi tas boston pun mendekat, mengecek ruangan itu, lalu langsung tertawa terbahak-bahak tanpa jeda sedetik pun.

 

“Aku belum menaruh apa pun di kamar itu.”

 

Karena kamar itu sama sekali belum kupakai, jadi benar-benar kosong melompong.

 

Sejak kunci diserahkan kepadaku, satu-satunya hal yang kulakukan di sana adalah menutup penutup jendela. Mungkin aku baru membuka pintunya dalam hitungan jari. Soalnya aku memang berniat menjadikannya kamar Onee-chan.

 

“Eeto... Nogi pindah tanggal berapa ya?”

 

“Tanggal 6 Maret.”

 

Hari ini tanggal 7 April.

 

“Sudah sebulan dan hasilnya cuma begini!?”

 

“Berapa bulan pun berlalu, kamar yang tidak dipakai ya akan tetap tidak dipakai.”

“...Ada benarnya juga?”

 

Himori tampaknya bisa dibujuk, tapi Ebitani sama sekali belum puas. Dia berdiri di depan pintu yang terhubung dengan kamar satu lagi, lalu sebelum membukanya, dia menatapku sekilas.

 

“...Jangan bilang kamar yang ini juga sama.”

 

Ditanya begitu, aku menjawab, “Itu kamar tidurku”, lalu dia membuka pintu tanpa kata. Masa tidak ragu-ragu sedikit pun. Ini kamar tidur pria, lho.

 

Mereka berdua masuk, dan tak sampai 30 detik kemudian mereka sudah keluar lagi. Mungkin karena semua pakaianku dimasukkan ke dalam lemari laci, dan di kamar tidur itu cuma ada kasur serta rak buku, sehingga sama sekali tidak menarik bagi mereka. Wajah mereka terlihat muram.

 

Sebenarnya, meja rendah yang ada di ruang tamu sekarang ini awalnya ditaruh di kamar tidur, tapi kupindahkan ke ruang tamu supaya bisa kupakai juga sebagai meja makan. Tapi yah, kupikir reaksi mereka tidak akan berbeda banyak meskipun ada meja satu di sana.

 

“Ada kamar lain?”

 

“Tidak ada.”

 

“...Apakah laki-laki yang hidup sendiri semuanya seperti ini?”

Mendengar pertanyaan Ebitani, Himori hanya memiringkan kepalanya dengan heran, “Entahlah...?”. Aku juga tidak tahu. Aku tidak kenal laki-laki lain yang tinggal sendirian selain diriku sendiri.

 

Kondisiku yang menumpang sebelumnya membuatku memiliki barang pribadi yang sedikit, lagipula aku tidak punya banyak keinginan untuk membeli barang, dan aku tidak benci bersih-bersih sehingga semuanya selalu rapi. Sederhananya, tidak ada benda yang bisa membuat berantakan.

 

Mereka berdua yang baru keluar dari kamar tidur saling pandang dan mengangguk kecil. Wajah mereka seolah mengisyaratkan bahwa mereka baru saja memahami sesuatu dan merasa lega.

 

“Sip, mari lupakan itu... ayo main game!”

 

“O, oh!”

 

Seolah menyadari bahwa menanyakan perihal ruanganku lebih jauh hanya akan menimbulkan kesedihan, Himori mengeluarkan konsol game dari tas boston-nya. Dengan cekatan ia menyambungkannya ke TV yang diletakkan begitu saja di lantai ruang tamu, lalu bergumam, “Lho?”

 

“Kok tidak menyala ya, TV-nya rusak kah?”

 

“...Ah, kabel daya-nya belum disambungkan.”

 

Kalau dipikir-pikir aku lupa. Aku belum pernah menyalakannya sekalipun sejak pindah ke sini.

 

Sejak awal aku tidak punya kebiasaan menonton TV. Karena itulah, meski diberi TV bekas saat pindahan, TV itu berakhir dibiarkan begitu saja tanpa penentuan posisi tetap.

 

Saking tidak diperhatikannya, aku baru sadar kabel colokannya belum tersambung sekarang, TV itu sudah berubah wujud menjadi sekadar pajangan di ruang tamu.

 

“...Ya, ya ampun, ada juga laki-laki yang seperti ini, ya!”

 

“A, ah! Benar, kan!”

 

Melihat Himori yang memaksakan diri agar ceria dan diriku, Ebitani memasang wajah ngeri dan bergumam, “Tidak ada lho...”. Aku pun sedikit setuju dengan hal itu.

 

“...Sip, aku sudah ingat cara mainnya.”

 

Awalnya aku kesulitan dengan bentuk kontroler yang belum terbiasa, namun setelah kalah beberapa kali, akhirnya aku mulai paham cara kerjanya. Pukul musuh sampai terpental keluar arena, maka kau akan menang. Kalau kau yang terpental, maka kau kalah. Ini adalah game pertarungan brawler yang simpel.

 

“Eh.”

 

Himori melengos heran. Padahal sebelumnya aku kalah telak, tapi tanpa disadari, dengan hampir tidak menerima damage sama sekali, aku berhasil memukul karakter yang dimainkan Himori hingga terpental keluar layar.

 

“Kebetulan... kan? Kamu belum pernah main ini kan?”

 

“Ah, Sejak SD aku memang tidak pernah menyentuh video game.

 

“...Mungkin ini yang namanya Beginner’s Luck. Aku tidak akan kalah lagi~!”

 

Entah dia sudah membulatkan tekad, Himori mencondongkan badannya ke depan.

 

—Namun, hasilnya sudah bisa ditebak.

 

Meskipun dia sedikit lebih serius, aku tidak akan kalah.

 

Kalau dipikir-pikir, alasan aku berhenti main game juga saat aku masih SD—waktu itu aku diundang main ke rumah temanku dan saat kami bermain bersama, karena aku terlalu sering menang, mereka bilang, “Main game sama Nogi membosankan.”

 

Karena Onee-chan sama sekali bukan orang yang menyukai game, game bagiku adalah sesuatu yang dimainkan di rumah teman.

 

Selama aku terus meraih kemenangan telak, akhirnya aku tidak diajak main lagi dan sejak saat itu game menjadi sesuatu yang asing bagiku.

 

Kalau dipikir-pikir sekarang, seharusnya aku sedikit mengalah. Tapi, diriku di masa SD tidak bisa berpikir sejauh itu. Saat itu pribadiku belum cukup dewasa untuk sengaja kalah dalam situasi yang bisa kumenangkan.

 

(...Gawat.)

 

Saat aku sudah menang 7 kali berturut-turut, aku baru mengingat kesalahan masa laluku.

 

Seharusnya aku menahan diri. Kalau tidak, suasana hatinya akan memburuk lagi—

 

“Ah, gila, kamu terlalu tangguh!”

 

Himori melempar kontrolernya begitu saja lalu berteriak, kemudian bergulingan di atas lantai kayu yang dingin tanpa karpet itu.

 

“...Maaf.”

 

“Eh, kenapa kamu minta maaf?”

 

“...Tidak,”

 

“Jangan-jangan kamu minta maaf karena kamu menang?”

 

Karena dia merespons dengan kebingungan, aku hanya mengangguk dalam diam.

 

“Tidak, tidak, tidak, aku tidak akan semudah itu bad mood cuma karena kalah main game tahu. Selama ini kamu berteman sama orang yang seperti apa sih~”

 

“...Begitu ya.”

 

“Istirahat sebentaaar. Mataku lelah.”

 

“Lemah sekali. Kalau aku sih bisa tahan sampai 12 jam berturut-turut lho.”

 

“Itu sih rasanya mustahil kan!?”

 

“Tidak, aku bisa kok. Lagian, bukannya kamu yang tidak punya stamina?”

 

“Ya wajarlah kalau aku kalah sama orang yang dapat nilai sempurna di tes kebugaran jasmani...”

 

Dia menatapku dengan wajah ngeri. Kalau diingat-ingat, nilai tesku memang sempurna. Tapi jujur saja, orang yang jago olahraga sedikit saja pasti bisa dapat nilai sempurna. Kudengar standar penilaiannya sama saja antara SMP dan SMA.

 

Meskipun aku tidak punya pengalaman main game dalam waktu lama, sepertinya daya konsentrasiku cukup baik.

 

Kalau Onee-chan ada di sampingku, jangankan 12 jam, aku bisa belajar seharian, dan kalau cuma kerja kasar, aku bisa melanjutkannya berjam-jam tanpa masalah. Dibandingkan dengan itu, hal ini hanyalah sebuah game.

 

“Ganti topik nih. Nogi, kamu habis ditolak sama orang yang sudah kamu sukai sejak lama, kan?”

 

Perubahan topik yang tiba-tiba dari Himori membuat Ebitani—yang sejak tadi tidak ikut main game maupun mengobrol—sedikit tersentak dan menoleh ke arah kami.

 

“Itu benar-benar tiba-tiba... Yah, singkatnya, memang begitu.”

 

“Yang keberapa? Ah, jangan-jangan dia bahkan bukan pacarmu ya.”

 

“...Cinta pertamaku.”

 

“Cinta pertama ya~...”

 

Kalau aku dianggap laki-laki payah yang tidak bisa move on dari cinta pertama meski sudah kelas 3 SMA, ya mau bagaimana lagi.

 

Biasanya orang seusia ini sudah punya pengalaman berpacaran, putus, ditolak, dan melalui berbagai dinamika sejenis jauh sebelumnya. Tapi, aku tidak pernah punya pengalaman semacam itu.

 

Karena jika orang yang paling ideal untukmu ada di dalam rumah, untuk apa mencarinya di luar, kan?

 

“Mau kuhibur?”

 

Himori merentangkan kedua lengannya lebar-lebar, tapi aku membalasnya dengan helaan napas.

 

“Karena kamu selalu melakukan hal seperti itu makanya para laki-laki di kelas pada gampang jatuh cinta padamu tahu...”

“Eh, aku tidak melakukannya kok.”

 

Meskipun dia sendiri tidak mau mengakuinya, sepertinya Himori itu sangat populer.

 

Alasannya sudah jelas bukan hanya karena wajah dan proporsi tubuhnya yang bagus, tapi ada hal lain yang membuat laki-laki tertarik.

 

Yaitu karena sikapnya yang seperti ini, dia memperlakukan siapa saja—tanpa memandang jenis kelamin atau seberapa dekat hubungannya—dengan jarak yang sangat akrab seolah sahabat atau pacar sendiri.

 

Teman-teman laki-laki di kelas sering mengobrol bahwa wajar kalau ada anak laki-laki SMA yang jatuh cinta padanya jika gadis seperti ini berada di dekatnya. Sepertinya tidak ada yang kekurangan alasan untuk bisa jatuh cinta pada gadis ini.

 

“...Tidak mau ke sini?”

 

Dia merentangkan kedua tangannya lebar-lebar dan bertanya sekali lagi, tapi mana mungkin aku mau. Tipe idealku bukan gadis gyaru yang terkesan gampangan seperti ini, tapi seseorang yang lembut, hangat, dan penuh kasih sayang seperti Onee-chan—

 

...Sip, karena aku hampir menangis, mari kita anggap pikiranku barusan tidak pernah ada.




“Tidak usah. Lakukan hal semacam itu pada pacarmu saja.”

 

“Lho, kalau aku punya pacar, mana mungkin aku main ke rumah cowok lain, kan?”

 

“...Begitukah?”

 

“Yah, memang ada juga sih perempuan yang mengumpulkan cowok-cowok untuk dijadikan cadangan...”

 

Malahan aku yakin kamu tipe orang yang bakal santai saja main ke rumah laki-laki meskipun dia sudah punya pacar—yah, tapi aku mengerti maksud ucapanmu.

 

Lalu, kalau begitu Onee-chan itu apa?

 

Aku tidak merasa sedang dijadikan “cadangan”... kurasa dia bukan orang yang selihai itu.

 

Meskipun kami tinggal seatap, dia bisa bersikap seperti itu padahal sudah punya calon suami lho. Wajar saja kalau anak laki-laki yang sedang di tengah masa pubertas sepertiku sampai salah paham.

 

Laki-laki yang jatuh cinta pada Himori juga, jangan-jangan merasakan hal yang sama.

 

“...Menurutmu, kenapa aku ditolak?”

 

Aku sendiri terkejut dengan kata-kata yang tanpa sadar meluncur dari mulutku. Aku tidak pernah sekalipun berpikir untuk membicarakan soal asmara dengan siapa pun.

 

Habisnya, kalau bicara soal tempat curhat, sejak aku masih kecil itu selalu Onee-chan. Tentu saja aku tidak bisa membicarakan Onee-chan kepada Onee-chan itu sendiri. Dan lagi, curhat soal asmara ke orang yang kukira juga menyukaiku? Itu benar-benar tidak masuk akal.

 

“Kenapa, ya...”

 

Namun, Himori memalingkan pandangannya dan terdiam ragu.

 

Bukan karena dia tidak tahu. Wajahnya menunjukkan bahwa dia tahu tapi tidak ingin mengatakannya.

 

Reaksinya yang di luar dugaan membuatku memiringkan kepala. Padahal aku hampir tidak menceritakan apa pun tentang Onee-chan, apa sebenarnya yang dia pahami. Kalau dia memang tahu, kenapa dia tidak mengatakannya saja padaku.

 

“Dari awal kamu tidak dilihat sebagai laki-laki, kan.”

 

Yang angkat bicara sebagai gantinya, adalah Ebitani.

 

Dia menjawab tanpa mengangkat pandangannya dari ponsel, dengan ekspresi datar yang terlihat sama sekali tidak peduli.

 

Seolah-olah, itu adalah hal yang sudah sewajarnya.

 

—Ah, begitu ya.

 

Memang begitu rupanya.

 

Akhirnya, aku bisa memahaminya.

 

Bagi Onee-chan, diriku ini—

 

“...Hahaha.”

 

Tawaku yang hambar terdengar keluar.

 

Akhirnya, aku menyadarinya dengan sungguh-sungguh.

 

Sikap Onee-chan. Jarak di antara kami. Cara dia memperlakukanku. Semua jawaban atas pertanyaan itu telah terhubung oleh kata-kata tersebut.

 

...Begitu, ya. Ternyata hanya aku saja yang menganggapnya sebagai lawan jenis.

 

Anak laki-laki yang kehilangan ibunya, sementara ayahnya bekerja di luar kota, dan dengan alasan itulah akhirnya menumpang hidup, adik sepupu yang jarak umurnya 6 tahun lebih muda.

 

Bagi Onee-chan yang merupakan anak tunggal, aku pasti hanyalah sosok adik kecil yang manis.

 

Selama ini, di matanya aku terlihat sebagai sosok lemah yang harus selalu ia urus.

 

Begitu ya, makanya dia menatapku dengan mata itu, bersikap seperti itu, dan berekspresi seperti itu.

 

Semuanya—

 

“Ternyata aku hanya dianggap sebagai adik laki-laki, ya...”

 

Cuma aku saja yang melayang kegirangan karena mengira kami bisa menikah gara-gara tidak ada hubungan darah.

 

Tidak ada keharusan bercerita pada adiknya bahwa ia punya pacar, dan sekalipun ia punya pacar, tidak perlu juga mengubah perlakuannya pada sang adik. Itu sudah hal yang sangat wajar.

 

—Bagi Onee-chan, aku adalah keluarga dalam arti yang sesungguhnya.

 

Meskipun itu adalah hal yang membahagiakan.

 

Namun tak bisa dipungkiri bahwa perasaan kami benar-benar berjalan ke arah yang berlawanan.

 

“...Kamu benar-benar payah dalam menilai situasi, ya.”

 

Ebitani bergumam lirih.

 

Kata-kata singkatnya itu menancap dalam-dalam ke lubuk hatiku.

 

Aku tak lebih dari cowok menyedihkan yang jatuh cinta pada kakaknya sendiri.

 

Jangankan membahas ada atau tidaknya harapan, sejak awal aku sudah jatuh cinta pada orang yang tidak boleh dijadikan sasaran asmara. Mana mungkin cinta semacam itu akan membuahkan hasil.

 

Mungkin karena reaksiku di luar dugaan, Ebitani sedikit memasang wajah serba salah—yah, kurasa dia tidak menyangka ucapannya barusan akan menyakiti perasaanku. Kalau lukanya masih baru mungkin iya, tapi toh ini semua masalah lama yang sudah usai.

 

Karena sudah telanjur diucapkan, Himori yang tersenyum kecut menggantikan Ebitani yang terlihat canggung untuk angkat bicara.

 

“Kalau kamu cuma dianggap sebagai adik, berarti umurnya beda lumayan jauh ya?”

 

“...Lebih tua 6 tahun.”

 

“Ah, kalau itu sih ya mau bagaimana lagi~”

 

“Apanya yang mau bagaimana lagi...”

 

Padahal perbedaan umur segitu bukanlah hal yang aneh untuk pasangan suami istri.

 

“Dari kondisinya, sepertinya kalian sudah kenal sejak lama, kan?”

 

“...Ya. Sejak sebelum aku masuk SD.”

 

“Kalau begitu ya jelas dong, kamu bakal dianggap sebagai adik.”

 

“.........”

 

Mau bagaimana lagi, ya.

 

Sampai-sampai dua orang ini memikirkan hal yang sama, berarti skenario tentang percintaan di antara kami memang tidak ada harapan.

 

Keluarga yang tinggal seatap. Sepupu sendiri. Berinteraksi sejak masa sebelum mengerti apa-apa.

 

Ah, berarti sejak awal aku sudah mati langkah. Seandainya, sebelum pernikahan itu diputuskan—

 

Bahkan seandainya aku menyatakan perasaanku padanya sebelum dia punya pacar sekalipun, kini aku sadar bahwa itu akan sia-sia saja.

 

Mana mungkin dia bisa tetap bersikap biasa setelah adik sepupunya sendiri menyatakan cinta. Jika itu yang terjadi, hubungan kami pasti akan jadi jauh lebih parah daripada yang sekarang ini.

 

“Lalu, tadi kamu bilang kamu mau melamarnya setelah beli rumah kan, omong-omong gimana caramu beli rumah? Aku kaget rumahnya lebih luas dari yang kubayangkan, pasti harganya lumayan, kan? ...Warisan kah?”

 

“Warisan? Memang benar ibuku sudah meninggal, tapi aku belum pernah dengar soal adanya warisan.”

 

“...Ah, maaf.”

 

“Itu sudah lama sekali sampai wajahnya pun aku tidak ingat, jadi jangan dipikirkan. Aku membelinya murni dari uang hasil kerja keras paruh waktuku sendiri kok.”

 

“Murni!? Kalau pakai cara biasa mana mungkin bisa kan!?”

 

“Memang upah per jam-nya bukan upah biasa sih...”

 

Tapi, bayaran dari kafe atau restoran yang sering dijadikan tempat kerja paruh waktu oleh kebanyakan orang sangatlah kecil, makanya aku tak tertarik. Padahal kalau menggunakan tenaga dengan lebih efisien, bayarannya bisa dapat dua kali lipat.

 

Bagi anak SMA yang sebagian besar harinya dihabiskan untuk urusan sekolah, waktu luang yang bisa dipakai sangatlah singkat, jadi sudah pasti lebih menguntungkan kalau bekerja dalam waktu yang lama dengan bayaran tinggi.

 

“Begini, upah memang penting, tapi kalau tempat kerjanya cuma satu, maksimal cuma bisa kerja 8 jam sehari. Tapi kalau kerja di dua tempat maksimalnya bisa 16 jam, kalau di tiga tempat maksimalnya bisa 24 jam dan—“

 

“Emangnya ada yang kerja lebih dari 8 jam? Malahan bukannya anak SMA mana ada yang kerja 8 jam pas akhir pekan?”

 

“.........Tidak ada ya.”

 

“Jelas tidak ada lah.”

Begitu ya, ternyata tidak ada ya. Pantas saja aku kadang merasa malas kalau harus keliling dua proyek atau lebih di hari libur akibat tidak bisa bekerja lebih dari 8 jam, ternyata jalan pikiranku ini tidak umum. Ebitani juga jelas-jelas memasang wajah merinding.

 

“Biar kuperjelas, aku tidak setiap hari bekerja lebih dari 16 jam, lho.”

 

“Kamu tahu kan satu hari itu ada berapa jam?”

 

“...Kalau kita masih di bumi, jumlahnya 24 jam.”

 

“Manusia itu tidak didesain untuk menghabiskan setengah harinya untuk bekerja, lagipula kamu juga sekolah... Ngomong-ngomong, Nogi tidak pernah bolos sekolah kan, terus pas pelajaran juga tidak pernah tidur di kelas.”

 

“Bukannya sombong, aku tidak pernah datang terlambat, tidak pernah absen, sikapku saat pelajaran juga baik, dan nilai raporku semuanya 5.”

 

“Gaya hidup seperti itu, apa kamu tidak capek?”

 

“Beneran capek, serius deh.”

 

“Ya pastilah~”

 

Meskipun di bulan Maret, sangat jarang aku bekerja di atas 16 jam sehari, tapi di hari kerja biasa aku bekerja dari pukul 16.00 hingga 22.00, dan pada akhir pekan... ya. Anggap saja aku tidak tahu.

 

Kalau ditanya lelah, tentu saja. Setelah kerja sehari penuh di proyek yang berat, sering kali aku tidak bisa mengganti baju dan langsung ambruk tertidur setibanya di rumah.

 

Makanya aku usahakan selalu berganti pakaian sebelum pulang. Meski demikian, aku tidak bisa menelantarkan pelajaran agar bisa masuk universitas.

 

“Tapi Nogi, nilaimu kan bagus? Kalau kamu kerja paruh waktu sebanyak itu, kapan kamu belajar... oh begitu, di sela-sela waktu seperti tadi ya.”

 

Diam-diam, dia menatap tumpukan buku pelajaran yang tersusun di lantai.

 

“Apa kamu ikut bimbel atau semacamnya?”

 

“Tidak?”

 

“...Belajar otodidak?”

 

“Tidak bisa dibilang begitu juga sih...”

 

“Ah, kamu tadi bilang kamu numpang, kan. Ohh... jadi begitu toh~...”

 

“I-iya, begitu.”

 

“Hmm~...?”

 

Dia menyeringai lebar. Apa dia ini detektif atau semacamnya? Kenapa dia bisa tahu hanya dari informasi sesedikit itu. Ebitani sendiri masih memiringkan kepala kebingungan.

 

 

•••

 

 

“...Sudah jam segini, ya.”

 

Sambil mengusap mataku yang kering, aku melihat jam yang menunjukkan pukul 19.00 lewat.

 

Meski sesekali beristirahat di sela-sela permainan, hal yang paling melelahkan bagiku adalah mataku. 12 jam memang tidak mungkin. Tadi aku melebih-lebihkannya. Kelelahan mata sepertinya tidak terlalu berkaitan dengan stamina fisik.

 

“Ah, aku harus segera membuat makan malam. Ini butuh waktu agak lama, kalau kalian bosan, kalian main sama Reni aja ya~.”

 

“Tolong ya. Kalau ada yang bisa kubantu atau ada yang tidak kamu mengerti, tanyakan saja padaku. Aku bisa bantu memikirkannya setidaknya.”

 

“Itu bukan hal yang pantas diucapkan dengan penuh percaya diri ya. Gasnya sudah terpasang, kan?”

 

“Ya pastilah... kamu ini ngomong apa sih?”

“Soalnya melihat kondisinya, aku mikir jangan-jangan rumah ini cuma punya air dingin saja.”

 

“Mana mungkin.”

 

Himori bangkit seraya tertawa dan menuju ke arah dapur, lalu mengeluarkan berbagai macam bahan makanan dari kulkas.

 

Kulkas yang sampai kemarin isinya hanya sebotol air mineral itu kini terisi penuh dengan bahan-bahan masakan yang tidak kukenali.

 

Sepertinya ia pergi belanja sebelum datang kemari. Ada begitu banyak bahan yang aku sendiri bingung bagaimana menggunakannya seandainya tersisa nanti, jadi aku sangat berharap dia akan menghabiskannya semua.

 

Nah, aku lalu duduk berhadapan dengan Ebitani, dipisahkan oleh meja rendah ini.

 

Mengenai Ebitani Reni, mari kuceritakan apa saja yang kuketahui tentangnya dalam satu hari ini.

 

Rambut pirang yang sangat panjang hingga hampir menyentuh lantai jika dia duduk, tatapan mata yang entah kenapa terlihat menakutkan, bertubuh kecil, dan pendiam.

 

...Hanya itu saja. Mau bagaimana lagi. Apa yang bisa kau harapkan dari seseorang yang baru kutemui hari ini?

 

Entah sedang waspada atau karena ia pemalu, namun semenjak berada di rumahku, ia lebih sering menghabiskan waktunya dengan mengotak-atik kuku atau ponselnya, kecuali saat sesekali ikut menimpali percakapan.

 

Di atas meja rendah, tanpa kusadari berbagai peralatan yang dibawa Ebitani kini telah berjejer.

 

Ada sekitar 5 buah alat yang kelihatannya seperti kikir kuku. Bagaimana dia bisa membedakan kelimanya? Lalu ada sebuah mesin misterius yang memancarkan cahaya, itu apa. Kuharap cahaya yang keluar itu bukan cahaya yang berbahaya, kan?

 

“...Kamu sedang apa?”

 

“Nail art. Tidak kelihatan?”

 

“Tidak ada penjelasan tambahan sedikit gitu?”

 

“Menjelaskan pada orang yang tidak tertarik dan hanya bertanya untuk membunuh waktu itu buang-buang waktu saja.”

 

“...Ya sudah, kalau begitu aku akan melihatnya sendiri, jangan mengeluh ya.”

 

Raut wajahnya tampak sangat tidak puas ke arahku, namun ia tidak lagi mengucapkan sepatah kata pun, sehingga aku memandangi pekerjaannya dalam diam. Kenyataannya aku memang meminta penjelasan hanya untuk membunuh waktu.

 

Dia mengoleskan sesuatu ke kukunya, lalu disorotkan di bawah cahaya alat tersebut, memoles sesuatu lagi dari atasnya, lalu menyinarinya lagi—kemudian mengoleskan sesuatu lagi, menempatkan beberapa hiasan berkilauan dengan pinset dan menyinarinya lagi, mengoleskannya lagi lalu menyinarinya—dia terus-menerus mengulangi proses itu.

 

Oh begitu, aku benar-benar tidak paham.

 

Saat aku menyadarinya, kukunya sudah menjadi lebih panjang 1 cm dari aslinya, apa yang harus dia lakukan hingga kuku manusia memanjang dalam waktu secepat itu. Bukankah hal semacam ini memakai kuku palsu? Yang ditempel-tempel begitu, kan? Di toko serba seratus yen banyak yang menjualnya.

 

Namun dari proses yang kuperhatikan, dia cuma terus mengoleskan cairan seperti cat kuku, lalu tiba-tiba saja kukunya memanjang. Sejak kapan kuku manusia punya sistem yang bisa memanjang dengan cepat begitu?

 

Setelah puas memandangi kukunya yang terlalu panjang dan dipenuhi hiasan yang sepertinya mudah tersangkut di rambut atau pakaian, Ebitani pun menyadari tatapanku lalu menghela napas, “Haaah...” dengan sangat kentara.

 

“Hei... aku tidak bisa berkonsentrasi.”

 

“Padahal dari tadi kamu kelihatan fokus tuh...”

 

“Mesum.”

 

“Hanya karena melihat kuku!? Cantik kok. Memangnya itu tidak akan lepas?”

 

Entah apa yang aneh dari pertanyaanku, sejenak ia menatapku dengan terkejut, sebelum kembali berwajah datar.

 

“Bisa dilepas kok.”

 

“Bisa dilepas toh.”

 

“Karena kurang baik juga untuk kuku, jadi aku menghapusnya sekitar sebulan sekali. Nogi mau coba?”

 

“Eh, tidak, aku rasa tidak usah deh.”

 

“Oh, gitu.”

 

Aku tidak bisa membayangkan bagaimana menjalani kehidupan sehari-hari dengan kuku seperti itu. Memangnya dia bisa memegang pena atau sumpit? Mengepalkan tangan saja pasti susah. Kerja paruh waktu di restoran sih kayaknya mustahil.

 

Jangankan itu, mengetik di ponsel pintar pun rasanya butuh usaha ekstra untuk kuku sepanjang itu.

 

“Sudah hampir siap nih~,” panggil Himori. Saat bau harum tercium dari arah dapur, Ebitani mulai merapikan barang-barang dari atas meja.

 

“Maaf membuat menunggu~”

 

Ujung-ujungnya, hidangan yang sudah selesai dimasak dihidangkan tanpa aku membantu satu hal pun.

 

Jika itu masakan buatan Onee-chan, kami lebih sering mengambilnya langsung dari mangkuk besar berdua, maka saat melihat makanan disajikan di piring untuk porsi masing-masing, hal itu saja membuatku merasa seperti makan di restoran.

 

Walaupun piring yang digunakan terlihat familier, ternyata cara penyajian saja bisa membuatnya terlihat jauh berbeda, ya.

 

“O, Oooo...?”

 

“Apa ada makanan yang tidak kamu sukai? Aku cuma buat seadanya saja sih.”

 

“Ah, tidak, tidak ada kok. ...Tapi ini beneran luar biasa.”

 

Sup miso, nasi putih, daging babi panggang jahe (shogayaki), dan semacam rebusan sayur dan daging ayam. Porsinya terlalu banyak untuk ukuran masakan yang diselesaikan dalam waktu kurang lebih satu jam.

 

Kalau kelihatannya saja seenak ini, mana mungkin rasanya tidak sedap. Pantas saja dia menawarkan diri untuk memasak.

 

“...Selamat makan.”

 

Menunggu Himori duduk, aku menyatukan kedua tanganku, dan untuk permulaan aku meraih mangkuk sup miso.

 

—Saat itulah, gerakan tanganku seketika terhenti.

 

Karena aku mengingat fakta bahwa aku tidak bisa mengecap rasa.

 

Ah, saat aku meminum ini, ekspresi seperti apa yang benar untuk ditunjukkan.

 

Apa boleh aku bilang enak. Karena dia memasaknya dengan penuh percaya diri, rasanya tidak mungkin tidak enak, tapi kemungkinan kalau lidahnya payah mencicipi rasa tidaklah nol, dan bisa saja dia melakukan kesalahan bodoh seperti lupa menambahkan bumbu.

 

Onee-chan juga terkadang berbuat seperti itu. Seperti... lupa menaruh bumbu miso ke dalam sup miso.

 

Kuamati Ebitani yang mulai makan duluan, mencoba melihat reaksinya. —Nol. Aku tidak tahu apa yang dia pikirkan, tapi dia benar-benar makan dalam diam tanpa mengubah ekspresinya sedikit pun.

 

Seakan menyadari diriku yang mematung sambil menggenggam mangkuk, Himori menatap ke arahku.

 

“...Ada apa?”

 

“Ah, tidak, ......Bukan apa-apa.”

 

Menguatkan tekad, aku menempelkan mangkuk itu ke mulutku.

 

Aroma kaldu yang sedikit mengendap di dalam mangkuk mengalir ke hidungku, lalu diikuti dengan sensasi asin kaldu miso yang lembut melewati lidahku.

 

—Aku bisa mengecap rasanya.

 

Suatu hal yang wajar itu terasa seperti hal yang sudah sangat lama tak kurasakan, sampai-sampai sejenak, pikiranku tidak bisa memprosesnya.

 

Agar kepanikanku tidak terlihat oleh Himori yang menatapku dengan wajah heran, perlahan aku meletakkan mangkuk itu dan membuka mulut.

 

“...Enak. Banget.”

 

“Masa sih? Syukurlah~ Aku kan tidak pernah masak untuk orang lain selain Reni. Tuh Reni, harusnya reaksinya begini kan?”

 

“Memangnya kamu tahu rasanya?”

 

“Tahu lah. Ngomong apa sih?”

 

Dia membalas ucapanku dengan mengerutkan kening. Benar juga ya. Berarti cuma reaksinya saja yang nol besar. ...Lumayan kejam juga kan? Padahal masakannya seenak ini.

 

Antara Onee-chan dan Himori siapa yang lebih pintar masak, aku tidak bisa menilainya hanya dari satu hidangan saja—tapi, rasa sup misonya saja sudah sangat berbeda. Mungkin aroma wangi yang elegan adalah kata yang tepat. Walau bisa saja aku merasa berlebihan karena ini pertama kalinya indra perasaku kembali setelah satu bulan.

 

“Nikmatnya...”

 

“Dapat reaksi sebahagia itu hanya dari sup miso... Ada apa? Jangan-jangan rasanya ada yang aneh ya?”

 

“...Tidak, tidak ada yang aneh kok.”

 

Aku meletakkan sup misonya dan meraih mangkuk yang berisi nasi putih hangat.

 

Sudah lama aku tidak makan nasi putih yang baru matang.

 

Saat aku menjepit nasi yang mengepulkan asap itu dengan porsi besar menggunakan sumpit dan menyuapnya, tekstur nasi yang dimasak dengan gembur itu memberikan sensasi rasa manis yang samar.

 

Ah, benar-benar bikin rindu. Memang bagi orang Jepang nasi itu paling pas. Akhir-akhir ini aku terus memakan roti, tapi sebenarnya aku jauh lebih menyukai nasi.

 

“...Baru kali ini aku melihat orang makan nasi dengan wajah seperti mau menangis begitu. Segitu lezatnya ya?”

 

“Ya, sangat lezat. Kamu jenius dalam menanak nasi ya.”

 

“Padahal aku cuma menanak beras yang ada di sana dengan penanak nasi biasa, jangan-jangan berasnya beras mahal ya?”

“...Entahlah, tapi sepertinya itu beras standar dan penanak nasi standar kok.”

 

Aku tidak tahu apakah Onee-chan membelinya dengan teliti, tapi saat aku ikut berbelanja dengannya, ia tidak terlihat memilih-milih merek beras tertentu. Ia hanya asal membeli barang yang paling menonjol di rak pajangan saja.

 

Saat pindahan, bibiku memberiku sekantung beras kemasan lima kilogram yang belum dibuka, tapi kurasa dia hanya memberikan beras yang ada di rumah.




“Sebenarnya aku tidak tahu apa kamu punya beras atau tidak, makanya aku sekalian membeli spageti.”

 

“...Bukannya spageti tidak cocok dengan rebusan sayur dan shogayaki?”

 

“Kalau begitu kan rencananya menunya mau kuganti.”

 

Ia membalas dengan senyum kecut dan raut wajah yang seolah mengatakan “ngomong hal yang sudah jelas begitu”, tapi begitu aku memahami makna di balik kata-katanya, tanganku seketika berhenti.

 

“Kukira memasak itu... menentukan mau masak apa dulu baru menyiapkan bahan makanannya...!?”

 

“Eh, memang ada kalanya begitu sih, tapi kurasa cuma kalau aku benar-benar ada hal spesifik yang ingin kubuat saja?”

 

“Kalau tidak ada masakan yang mau dibuat, lalu apa yang dibeli?”

 

“Pilih bahan yang paling murah atau lagi musimnya, sesuai insting saja?”

 

“A, apa...”

 

“Lalu, yah sejalan menuju kasir barulah kupikirkan mau masak apa.”

 

“Tanpa mencari resepnya!?”

 

“Menu yang bisa kumasak kan lumayan terbatas~”

 

Tangan yang memegang sumpitku gemetar. Apakah ini karena aku sudah bisa mengecap rasa?

 

—Tidak, bukan itu.

 

Kudengar rumor kalau orang yang terbiasa memasak memang memiliki kebiasaan seperti itu.

 

Namun, satu-satunya sosok yang jago memasak di dekatku yaitu Onee-chan, adalah tipe yang akan merencanakan semua masakan mulai dari hidangan utama hingga hidangan pendamping sebelum pergi belanja untuk periode hingga jadwal belanja berikutnya, dan hanya berbelanja di swalayan persis sesuai daftarnya.

 

Ja, jangan-jangan..., Himori, gadis ini—

 

Untuk memastikannya, kuarahkan sumpitku pada tumpukan shogayaki itu.

 

Berbeda dengan buatan Onee-chan, ia tampaknya menggunakan potongan daging babi tebal yang biasa digunakan untuk steak, dan mengirisnya setelah dipanggang. Kuangkat sepotong daging tebal—yang berbeda dari daging irisan tipis—itu, lalu menyuapnya.

 

Nyam, nyam. Daging yang tebal ini sungguh mempertahankan rasa dagingnya tak peduli berapa kali dikunyah. Meskipun begitu, rasanya tidak terasa hambar, balutan tepung tipisnya membuat rasa manis gurih menyelimuti dagingnya, dan aroma jahenya menstimulasi nafsu makanku.

 

Ini sangat cocok dengan nasi. Kumasukkan nasi putih itu, dan segunung porsi di mangkukku itu habis rata dalam sekejap mata.

 

“...Makanmu terlalu cepat bukan?”

 

“Eh, ah, ...Bisa nambah tidak?”

 

“Syukurlah untuk jaga-jaga aku masak nasinya banyak~”

 

Sambil berkata, “Nih”, dia mengulurkan tangannya, jadi aku menyerahkan mangkukku. Sambil melihat Himori yang bangkit berdiri berjalan menuju arah dapur, Ebitani menghentikan sumpitnya dan menatapku dengan sedikit terkejut.

 

“Ada apa?”

 

“.........”

 

“Silakaan~, nasinya masih banyak lho. Lho, kalian berdua ada apa?”

 

“Tidak, Ebitani...”

 

“...Shuri.”

 

“Ada apa?”

 

“Tadi kamu...”

“Kalau begitu, berikutnya ganti minta tolong pada Reni deh~”

 

“.........Iya.”

 

Percakapan tampaknya sudah terjalin secara wajar di antara mereka berdua, tapi aku memutuskan untuk tidak memedulikannya karena aku tidak mengerti apa-apa.

 

Mumpung ada makanan bergizi, kualihkan perhatianku pada mangkuk kecil berisi rebusan agar nutrisinya seimbang.

 

Akar teratai, konnyaku, wortel, dan daging ayam, serta kacang panjang sebagai tambahan warna.

 

Karena sepertinya dia tidak menggunakan bahan yang sama untuk masakan lainnya, pasti bahan-bahan itu dibeli hanya untuk hidangan ini.

 

Menurutku rebusan seperti ini kalau dibuat satu panci penuh biasanya baru habis setelah dua atau tiga hari, jangan-jangan masih ada sisanya ya.

 

Potongan besar akar teratainya hancur dengan renyah yang menyenangkan di mulutku. Padahal waktu merebusnya pasti singkat, bagaimana bisa bumbunya bisa meresap begitu sempurna, apa sebenarnya logikanya.

 

Rasanya memang lebih ringan jika dibandingkan dengan shogayaki, tapi sangat pas karena lidah akan kelelahan jika semua makanannya beraroma pekat. Daging ayamnya juga hancur dengan lembut di dalam mulut, seolah ini adalah hidangan yang disajikan dari restoran.

 

—Setelah makan sejauh ini, aku merasa yakin.

 

“Himori, masakanmu benar-benar luar biasa lezat ya...”

 

Kulahap nasi putih dengan lauk rebusan itu, dan aku berkata, “Fuuh,” sambil memegang mangkuk yang sudah kosong.

 

“Benar, kan~?”

 

“Sempat kuanggap lelucon, tapi apa kamu mempelajarinya dari suatu tempat?”

 

“Saat kerja paruh waktu?”

 

“Kerja paruh waktu...”

 

Kalau begitu, maksudnya kerja paruh waktu di tempat makan? Tapi kudengar banyak tempat makan di mana anak SMA bekerja di dapur menggunakan metode central kitchen yang makanannya tinggal dipanaskan. Kalau begitu ceritanya, ia pasti tidak bisa belajar memasak walau ia ingin.

 

“Shuri, dulu bukannya kamu ikut les kelas tata boga?”

 

Ebitani yang makan perlahan bertanya seraya mematahkan akar teratai rebusannya dengan sumpit.

 

“Ah, iya. Tapi itu sudah sangat lama jadi kupikir tak perlu dibahas~. Lagipula aku cuma diajari dasar-dasarnya saja.”

 

“...Benar-benar hebat.”

 

“Eeh, masa sih~?”

 

Himori menggaruk pipinya dengan lagak dibuat-buat seolah sedang malu, lalu menunjuk ke arah mangkuk kosong yang kupegang sambil berkata, “Ah, nasinya, nasinya.”

 

—Ebitani membanting sumpitnya ke meja dengan tenaga, dan merampas paksa mangkuk itu dari tanganku.

 

“Eh.”

 

Bangkit dari tempat duduknya, Ebitani berjalan ke dapur dan membawakanku nasi yang menggunung seakan ingin menantangku dari penanak nasi.

 

“Nih!”

 

“...Terima kasih. Memangnya tidak apa-apa kumakan sebanyak ini?”

 

“Kami berdua tidak akan tambah lagi, dan... di sana masih ada sisanya kan?”

 

“Sisanya masih setara porsi ini lho.”

 

“Kamu masak dalam jumlah besar ya...”

Hanya dari porsi yang diberikan Ebitani tadi, rasanya seakan seberat satu gou, apa dia menanak sekitar empat gou ya? Kalau itu Onee-chan yang sudah kenal porsi makanku yang besar sih wajar, tapi padahal aku belum memberitahunya, dia berani sekali memasak dalam jumlah sebanyak itu.

 

“Eh, emangnya kamu bisa makan sebanyak itu? Bukannya itu porsi yang kelewat besar?”

 

Himori tampak agak terkejut mundur saat melihat mangkuk itu, tapi jangan remehkan lambung anak SMA yang bekerja kasar secara fisik lho.

 

“Mudah ini sih.”

 

Ku gigit sedikit shogayaki. Sisa daging kubiarkan bertengger di atas nasi, lalu aku melahap nasinya dan membiarkan perpaduan bumbunya menyatu di dalam mulutku. Ada yang bilang cara makan ini terlihat tidak sopan, tapi karena inilah cara ternikmat, mau bagaimana lagi.

 

Sambil terus mengulangi gerakan itu, satu gou nasi yang menumpuk hilang tak berbekas dalam sekejap. Masih ada sisa ruang untuk makan lagi sih, nah mari kita cek piringnya.

 

Lauk yang tersisa hanyalah sepotong pinggiran shogayaki, sedangkan dalam mangkuk rebusan tersisa konnyaku dan kacang panjang yang tak kusentuh karena menyesuaikannya dengan sisa nasiku. Pertama-tama aku memasukkan sisa rebusan ke dalam mulutku, mengunyahnya dan merenung.

 

Sekarang ini hanya makan nasi saja juga enak, jadi tidak masalah meskipun lauk pendampingnya habis—

 

“Ah, maaf. Aku benar-benar tidak menyangka kamu akan makan sebanyak itu, sampai-sampai lauknya sudah habis.”

 

“Rebusannya juga sudah habis?”

 

“Iya, semuanya sudah dihidangkan.”

 

Hmm, aku memiringkan kepala. Sekecil apa pun sayuran yang dibeli dari swalayan, tidak mungkin ia hanya bisa memasak porsi sekecil ini. Namun, jika Himori sang pembuat masakan bilang sudah habis, berarti ya sudah habis. Apa dia membeli paket set rebusan, ya.

 

“Hmm... ya sudah, kuberikan yang ini saja.”

 

Ucap Himori lalu menaruh sisa shogayaki dari piringnya ke piringku satu per satu, sehingga aku membalas, “A, aduh, maaf ya merepotkan...” Entah aku yang makannya terlalu cepat atau mereka berdua yang terlalu lama, piring mereka berdua masih menyisakan makanan lebih dari separuh. Padahal mereka tidak menambah porsi.

 

“Kalau sup miso saja sih masih ada, mau?”

 

“Kalau ada, aku minta ya.”

 

“Okeeey~”

 

Begitu bangkit, Himori menepuk punggung Ebitani—yang diam mematung seraya menatap shogayaki pemberian Himori padaku tadi—dan menyalakan kembali anak itu. Keduanya pergi ke arah dapur sambil memegang mangkuk sup miso dan nasi.

 

Sepertinya mereka berbicara dengan suara kecil, tapi entah apa yang dibicarakan. Aku tidak bermaksud merampas semua sisa lauk kok, jadi kuharap mereka tidak terlalu memusingkannya.

 

Karena mereka kembali dengan membawa semangkuk penuh sup miso dan seporsi nasi yang menggunung, kuputuskan untuk menerimanya dengan penuh rasa syukur.

 

“...Terima kasih atas makanannya.”

 

Menyatukan kedua tanganku, kusampaikan ucapan terima kasih pada bahan makanan yang telah menyuplai tubuhku dan pada Himori yang memasaknya.

 

“Syukurlah kalau kamu merasa puas. Kamu sempat meremehkan masakan buatan anak SMA perempuan, kan?”

 

“Ya, rasanya ini yang terenak nomor 2 di seluruh dunia.”

 

“Pujian itu sih terlalu berlebihan... tunggu, kalau begitu jadikan peringkat 1 saja sekalian dong. Memangnya yang nomor 1 itu siapa?”

 

“.........Heh.”

 

Karena secara alami bayangan Onee-chan muncul di benakku, aku hanya bisa tertawa mendengus untuk mengalihkan topik.

 

Mungkin karena akhirnya aku kembali bisa menikmati makanan setelah sekian lama, aku jadi makan terlalu banyak. Perutku penuh rasanya. Berkat lauk yang diberikan dan sup miso itu, aku berhasil menyantap habis semua nasi yang dimasak.

 

Tapi ngomong-ngomong, kenapa indra perasaku tiba-tiba sembuh ya.

 

Bicara soal akarnya, hal yang menyebabkan aku kehilangan pengecapan rasa tak lain karena patah hati ditolak Onee-chan. Kalau begitu harusnya sembuh jika ada momen yang sangat berlawanan—seperti pernyataan cintaku diterima, atau aku mendapat pacar, sesuatu yang seperti itu masih masuk akal.

 

Namun sekarang ini, aku kan hanya menyantap hidangan rumahan saja.

 

Ini juga sepertinya bukan soal berhubungan dengan siapa lawan makan bersamaku. Himori kan pada dasarnya sekadar teman sekelas, dan aku malah baru bertemu dengan Ebitani hari ini.

 

“...Kalau seperti ini, aku ingin memakannya setiap hari.”

 

Hal yang kupikirkan meluncur keluar dari mulutku dengan pelan.

 

Karena aku merasa hal buruk pun bisa kulupakan kalau aku bisa menyantap hidangan selezat ini.

 

Namun, mungkin tanggapanku sangat tidak terduga, Himori yang berdiri hendak membersihkan alat makan langsung terpaku dan menghentikan gerakannya.

 

...Hah? Apa aku baru saja mengucapkan kata-kata aneh?

 

“A, a, apa-apaan yang barusan kamu bilang itu!?”

 

Ebitani yang tengah meletakkan alat makan ke tempat cuci gemetar saat angkat bicara. Himori yang akhirnya kembali melanjutkan geraknya, menggaruk pipi dengan tampak salah tingkah.

 

“Eeto............, yang barusan itu, lamaran nikah?”

 

“.........Hah?”

 

Lho, apa maksudnya? Aku kan cuma menyatakan kesan terhadap makanannya saja. Lamaran? Tadi kubilang apa ya? Memakannya setiap hari—

 

...Ah, jadi begitu! Apa itu disangka layaknya rayuan seperti “Aku ingin meminum sup misomu setiap hari”!

 

“M, maaf! Tidak ada maksud lain kok!”

 

“Lho tapi kamu tadi bilang begitu lho!?”

 

“Aku kan hanya... bilang karena aku merasa ingin memakannya setiap hari...?”

 

“Setiap hari itu... ya kan...?”

 

Pandangannya beralih karena merasa malu.

 

Soalnya, kalau makanannya begitu lezat wajar saja aku ingin memakannya tiap hari, kan.

 

Namun, memang benar tergantung pada pendengarnya, bisa jadi kata-kata itu terdengar seperti sebuah lamaran pernikahan. Tiap kali memuji hidangan buatan Onee-chan aku selalu memujinya setinggi langit, jadi sensorku sedikit mati rasa. Tapi, apakah perlu bereaksi dengan berlebihan begitu?

 

Berbeda dengan Himori yang bisa melepas senyum kecutnya karena kesalahpahaman telah diluruskan, Ebitani berbicara dengan muka yang masih sangat memerah.

 

“K, kamu ya, adanya wanita yang memasakkan makanan setiap harinya di rumah itu..., kamu sadar kan bagaimana situasinya?”

 

“Hah? ...Wajar, kan?”

 

“B, benar-benar tidak peka...”

 

Susah juga kalau dibilang begitu. Lagipula Onee-chan tiap harinya menyiapkanku hidangan kok.

 

Diriku ini adalah anak tunggal, orang tua tunggal, serta numpang hidup, memanglah situasi yang terbilang istimewa, tapi bagi tempat tinggal umum pasti kehadiran ibu, kakak, atau adik perempuan sering dijumpai, bukan? Biarpun memuji masakan keluarga saja tak akan mungkin jadi ungkapan lamaran nikah, kan? Ebitani memang bereaksi sangat berlebihan.

 

“Mau pulang sekarang? Kalau cuma sampai stasiun biar kuantar deh.”

 

Usai mencuci perabotan aku pun bertanya, namun Himori yang rebahan telentang membalasnya dengan ucapan “Sebentar lagi~”, saat kulihat jam, ini sudah mendekati pukul 21:00. Sebuah waktu yang masih bisa ditolerir walau berjalan di luar mengenakan seragam sekolah.

 

Meski begitu, kalau mempertimbangkan waktu jalan kaki ke stasiun, naik kereta dan dari stasiun terdekat sampai rumah—bisa dibilang waktunya sudah sangat mepet. Sekalipun sedang main di luar, sekarang ini sudah masuk waktu untuk membubarkan diri.

 

Akan tetapi, yah dia seorang gyaru. Mereka mungkin tak takut pada penertiban aparat. Kalau bagiku sih, hal itu harus dihindari mati-matian karena akan berdampak buruk pada catatan akademisku.

 

“Hei, bagaimana kalau yang kalah di game berikutnya harus mengabulkan satu permintaan dari pemenangnya?”

 

Ucap Himori seraya mengangkat kontroler game, jadi aku pun memiringkan kepalaku, “Hah?”.

 

“Boleh saja sih..., tapi apa kalian yakin? Jangan protes kalau aku meminta apa pun nanti.”

“Boleh saja~, itu juga kalau kamu bisa menang, ya.”

 

Entah dari mana dia mendapatkan kepercayaan diri sampai berani berucap demikian. Kalau itu game baru mungkin beda cerita, tapi game yang dihidupkan Himori adalah game tipe brawler yang dimainkan sejak sebelum makan malam tadi.

 

Aku tidak merasa bakal kalah dan tidak punya alasan untuk menolaknya jadi kuiyakan saja tawarannya, lalu Himori menyodorkan kontrolernya pada Ebitani sambil berucap “Nih, pass.”

 

Ebitani menerima kontroler itu tanpa menunjukkan raut keheranan dan ia sedikit menggeser posturnya. Mungkin posisi duduknya dirasa kurang rileks, dia bangkit berdiri (karena jangankan sofa, bantalan duduk pun tak ada di sini jadinya mau bagaimana lagi), dan dengan mulus, dia duduk kembali di posisi menyandarkan punggungnya pada Himori.

 

Entah Himori sudah sangat terbiasa dijadikan sandaran punggung atau apa, ia merangkul Ebitani dari arah punggungnya sambil ikut memprovokasi berucap “Ayo Reni, hajar dia~”.

 

“Dengan kuku semacam itu emangnya bisa main game...?”

 

“Main ponsel aja lancar, main game doang juga pasti lancar lah.”

 

Ada benarnya juga, selagi kupikirkan hal tersebut, Ebitani mulai memilih karakternya.

 

Tidak peduli lawannya berganti, aku juga tidak mungkin akan kalah pada permainan yang sudah kuhafal, jadi aku kembali mengambil posisi rileks menghadap TV dan—

 

—Namun.

 

“T, tidak mungkin, kan...?”

 

Aku kalah. Itu pun kekalahan telak hingga tak bersisa.

 

Aku benar-benar tidak paham bagaimana caranya aku bisa menang. Padahal aku merasa telah memahami karakter serta peraturannya, aku sama sekali tak melihat jalan untuk menang.

 

Tiap seranganku sama sekali tidak kena, dan serangan lawan mengenai sasarannya dengan sangat akurat. Ke mana pun aku mencoba menghindar, serangannya selalu diletakkan di sana seolah diriku sedang bertarung dengan lawan yang bisa meramal masa depan.

 

Meski menang telak, Ebitani mengembalikan kontroler itu kepada Himori tanpa raut kegembiraan sedikit pun, dan kembali memegang ponselnya dalam diam.

 

Dengan gaya seperti ini siapa juga yang mengira dirinya sangat jago bermain game. Karena sering bermain bersama orang sehebat itu, pantas saja Himori terbiasa dengan kekalahan.

 

“Menang tuh, kan?”

 

“Ya, uhm.”

“Kamu tak akan mencari-cari alasan seperti karena lawannya diganti gitu kan?”

 

“Aku tidak berniat untuk mengucapkan kalimat payah semacam itu.”

 

“Kalau begitu, permintaannya adalah.... untuk sementara waktu, perbolehkan kami menginap di rumah ini, ya?”

 

“.........Hah?”

 

Eh, barusan aku tidak salah dengar, kan?

 

“Sekarang ini kami tidak punya tempat tinggal tahu~”

 

Meski telah diberi alasan, dari raut santai Himori aku tidak bisa membedakan apakah itu candaan atau dia serius, jadi aku menatap ke arah Ebitani.

 

“...Ebitani sih, bakalan pulang kan?”

 

“Hah?”

 

Dia mengerutkan dahi, dan benar-benar menatapku dengan tajam.

 

“Memangnya kamu kira ini jam berapa? Menyuruh perempuan pulang sendirian pada waktu seperti ini? Makanya kamu dicampakkan tahu.”

 

“Ughhh...”

 

Serangan telak yang langsung mengenai sasaran. Anak ini bukan jago main game saja tapi berdebatnya juga kuat lho.

 

“Jangan terlalu murung gitu ah~”

 

Karena punggungku ditepuk oleh Himori, aku mengangkat wajahku dan melihat Ebitani memalingkan wajahnya dengan tatapan sedikit canggung.

 

Lho, kenapa ia malah menunjukkan raut wajah seolah menyesal karena bicaranya agak keterlaluan. Padahal lidahnya tajam, apa sebenarnya dia tidak terbiasa melukai perasaan lawan bicaranya?

 

...Tunggu sebentar.

 

“Lagipula dari awal kalian yang nongkrong main di sini sampai larut malam kan!?”

 

Kalau dipikir baik-baik, aku tidak salah apa-apa kan!?

 

“Yah, mungkin saja begitu, tapi pikirkan saja sisi positifnya. Emangnya ada kesempatan emas tinggal serumah bareng gadis sangat cantik lho selama sisa hidupmu?”

 

“...Kamu tak merasa sedih dengan menyebut dirimu sendiri sebagai gadis cantik?”

 

“Sama sekaaaali tidak.”

 

Perempuan yang tangguh. Terlebih lagi Himori, dari wajahnya memang terlihat penuh rasa percaya diri.

Akan tetapi, aku tidak bisa menyetujuinya hanya dengan argumen sebatas itu. Pasalnya aku adalah laki-laki yang telah tinggal bersama orang yang paling kusukai selama sekitar 10 tahun lho. Semua keberuntunganku sudah habis di sana lalu aku ditolak.

 

Aku menunjuk ke kamar tidur dan mengumumkan.

 

“Kalian lihat sendiri kan kasurnya cuma satu. Nyerah saja.”

 

“Pi n jam ka n♡”

 

“Ti d a k ma u♡”

 

Meskipun dirayu dengan wajah imut, yang tidak bisa ya tidak bisa.

 

Memang benar karena awalnya berniat untuk tinggal berdua jadi ada satu kamar berlebih, dan aku juga berencana memasukkan satu ranjang lagi—tapi, itu sama sekali bukan untuk mereka berdua.

 

“...Tentang kami yang tidak punya tempat tinggal, kami tidak bohong kok.”

 

Ebitani mencengkeram ujung bajuku seraya menundukkan wajahnya dan berkata demikian dengan suara pelan. Hei, arah pembicaraannya jadi berubah nih.

 

“Seriusan...”

 

“Eh, kenapa reaksimu saat giliranku tadi beda banget?”

 

“Kalau yang mengatakannya itu kamu, Himori, wajar aku menyangkanya cuma candaan kan.”

 

“Itu bukan candaan lho~? Hmm, mungkin kamu sudah tahu sih, tapi belakangan ini aku tinggal berdua sama Reni. Reni yang tinggal sendirian, lalu aku kayak numpang hidup di sana? Sebenarnya aku sama Nogi itu sesama komplotan penumbang rumah lho.”

 

“Ah, memang begitu rupanya.”

 

Pantas saja kudengar kalian sangat akrab. Apa kayak teman masa kecil? Entahlah.

 

“...Kamu tahu soal sewa rumah berjangka?”

 

Aku tidak merasa familier dengan kata-kata Ebitani. Sewa rumah, berarti seperti kontrakan atau kos kan. Bagi aku yang tujuannya membeli rumah, aku sama sekali tidak paham istilah penyewaan.

 

“Tidak tahu. Memangnya apa itu.”

 

“Kontraknya harus diperbarui secara berkala. Masa berlakunya adalah bulan Maret kemarin...”

 

“...Oh itu, berarti ada biaya perpanjangan kontrak kah.”

 

Dia membalasku dengan satu anggukan.

 

“...Kami tidak tahu kalau ada hal semacam itu, dan tiba-tiba kami disuruh membayar biaya perpanjangan seharga dua bulan biaya sewa, tapi kami tidak punya uang sebanyak itu...”

 

“Karena tidak bisa melunasi, akhirnya kalian diusir dari rumah, begitu.”

 

“.........Iya.”

 

Dia mengangguk dengan wajah seperti mau menangis. Ini jatuhnya aku seperti orang yang merundungnya kan.

 

Yah, mau bagaimana lagi. Jika tiba-tiba ditagih melunasi uang dalam jumlah besar, orang normal pasti akan kesulitan.

 

Aku tidak tahu alasannya mengapa dia tinggal sendirian, namun saat ia kehilangan rumahnya dan tidak berusaha pulang ke rumah orang tuanya, berarti ada alasan mengapa ia tidak bisa mengandalkan orang tuanya. Hal sebesar itu, tidak perlu kutanyakan pun aku sudah paham.

 

“Habis itu kalian tinggal di mana jadinya?”

 

“Hmm, kita mengakali dengan menginap di kafe internet atau ruang karaoke yang pengecekan umurnya longgar, dan sesekali masuk hotel cinta, tapi kalau gaya hidup seperti itu dilanjutkan selama 1 bulan penuh, uang kami pun akan menipis~”

 

“...Berarti, itu...”

 

Barang bawaan yang luar biasa banyak yang dibawa mereka berdua hari ini. Maksudnya, wujud aslinya adalah—

 

“Ah, iya. Baju dan lain-lain, sejenis kebutuhan pokok sehari-hari?”

 

“Jadi begitu rupanya. Ah......, sebaiknya bagaimana, ya......”

 

“Kami berjanji tak akan menyusahkan kok, ya? Lagipula cuma sampai kita menemukan rumah berikutnya saja kok~”

 

“...Meski kamu berkata begitu sih.”

 

Aku memang tidak menolak mereka datang main ke rumah, tapi aku tidak merasa kami seakrab itu sampai bisa tiba-tiba menginap, dan di rumah yang isinya hanya barang pribadiku ini, aku tidak merasa mereka berdua bisa langsung tinggal di sini.

 

Setidaknya aku harus menyesuaikan lingkungan hidupnya, dan masalah paling mendesak adalah peralatan tidur—

 

“Selama tinggal bersama, mungkin kita bakal tidak sengaja bareng masuk ke kamar mandi, atau pas lagi lengah tidak sengaja mengintip yang lagi ganti baju... kurasa event sedikit ecchi semacam itu bakal sesekali muncul lho~”

 

“Event semacam itu tidak aku perlukan lho. Mana ada orang yang menganggap hal semacam itu sebagai imbalan...”

 

“Eh?”

 

Himori membalasku dengan kebingungan, sedangkan Ebitani—

“Hah?”

 

Ia mengerutkan alisnya, dan memelototiku.

 

“Eh, tunggu sebentar, dari sisi mana kamu tiba-tiba mengamuk ini.”

 

“............Bukan apa-apa.”

 

“Wajahmu sama sekali tidak kelihatan seperti ‘bukan apa-apa’ tahu......”

 

Memangnya dari alur perdebatan barusan, bagian mana yang jadi pemicu kemarahannya. Posisiku ini kan orang yang tidak mengharapkan event itu.

 

“Kalau aku menyuarakan isi hatinya Reni, itu kayak, ‘kalau event ecchi beneran muncul harusnya bersyukurlah!’ Begitukah?”

 

“Mana mungkin begitu kan!?”

 

“...Tapi kalau aku bersyukur pun itu tetap bakal membuatmu marah, kan?”

 

“Ya jelas dong!? Da, dasar mesum!!”

 

“Terus kalau nggak disyukuri kenapa kamu yang marahnya ini!? Emosi di hatimu itu gimana sih!”

 

“Sama sekali nggak marah! Dari awal saja jangan dilihat dong!”

 

Kamu ini sebenarnya sedang tersipu malu atau sedang marah sih.

 

Karena tidak ada titik terang, ku alihkan wajahku ke arah Himori, dan ia mengangkat satu jarinya sambil berkata “Ah”, seolah baru saja menemukan ide jenius.

 

“Mulai besok, masakan untuk malam hari saja biar aku yang buatkan. Pulanglah saja ke rumah dan setiap harinya kamu bisa menyantap masakan yang hangat... Kalau penawarannya seperti itu bagaimana? Tentu saja biaya bahan makanannya kami yang tanggung.”

 

“Oke, kuserahkan padamu! Kesepakatan kita deal kan!”

 

“Lho, gampang banget kamu ini!?”

 

Saat aku menyodorkan tangan untuk berjabat tangan, alih-alih dibalas, tanganku justru dipukul kencang.

 

Penawaran barusan itu benar-benar curang. Sama saja dengan menyandera salah satu elemen dari sandang, pangan, dan papan tahu. Kalau cuma memberikan tempat tinggal sih akan kuberikan.

 

Meski baru satu bulan, fakta bahwa aku tak bisa merasakan rasa makanan apa pun sangatlah merusak mentalku.

 

Aku tidak mengerti sama sekali mengapa indra perasaku tiba-tiba sembuh, tapi dengan situasi yang sama, gejala itu seharusnya tidak akan kambuh lagi. Kenapa imbalan yang satu itu tidak dikeluarkan lebih awal, sih. Kalau saja ditawarkan dari awal, aku pasti sudah langsung mengangguk lho.

“Lalu gimana dengan event ecchinya nih? Apa perlu dilakukan sedikit?”

 

“Itu sih tidak perlu, tapi andai kata aku tidak sengaja melihatnya, tolong beritahu dari awal apa yang harus aku lakukan.”

 

Tidak peduli seberapa hati-hatinya aku, selama kita tinggal di bawah atap yang sama, hal-hal semacam itu sangat mungkin terjadi. Kalau saat hal itu benar-benar terjadi lalu kalian mengamuk karena berbeda dari kesepakatan, aku bakal sangat repot.

 

Onee-chan saja tidak peduli dengan pandangan laki-laki dan biasa berganti baju di ruang tamu, lalu kalaupun aku tidak sengaja melihatnya ia malah tertawa dan hanya mengatakan “Dasar mesum~” lho.

 

Himori berujar “Kalau aku sih sebenarnya tidak masalah...” lantas melempar masalah itu pada Ebitani.

 

“Hancurkan matamu lalu hapus ingatanmu.”

 

“Tidak bisakah kamu mengajariku solusi yang lebih masuk akal sedikit?”

 

“.........Minta maaflah.”

 

“Dimengerti.”

 

Dengan wajah yang masih memerah, Ebitani memalingkan wajahnya dan berkata demikian. Yah, setidaknya hasil itu masih lebih lumayan sebagai titik kompromi.

 

“Kalau begitu, mohon bantuannya untuk beberapa waktu ke depan~”

 

Himori menggenggam erat tangan yang telah kuulurkan tadi dan Ebitani terlihat bernapas lega.

 

Bagaimana dua orang yang sangat bertolak belakang ini bisa menjadi akrab, jujur saja aku sedikit penasaran.

 

—Bagaimanapun, karena kalah bermain game, aku berakhir harus tinggal bertiga bersama mereka melalui alur yang seperti ini.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close