Episode 3 “Karena Aku
Hanyalah Seorang Adik”
Saat aku sibuk dengan
kerja paruh waktu, bulan Maret berakhir, dan dalam sekejap aku sudah menjadi
murid kelas tiga.
Setelah upacara pembukaan
tahun ajaran selesai, aku bertatap muka dengan teman-teman sekelas yang baru.
Meskipun begitu, karena hanya ada dua kelas untuk program IPA di SMA ini,
sekitar separuh dari mereka adalah wajah-wajah yang sama dengan tahun lalu.
Di hari pertama kenaikan
kelas ini tidak ada pelajaran. Setelah upacara pembukaan selesai, serta
sambutan dan penjelasan mengenai jenjang karier usai, sekitar separuh murid
berbondong-bondong keluar dari kelas.
Itu karena penjelasan klub
yang merupakan ajang perebutan murid baru akan diadakan di gimnasium. Yah, itu
tidak ada hubungannya denganku yang tidak ikut klub apa pun.
Saat aku selesai mengurus
prosedur perubahan alamat di ruang guru dan menuju rak sepatu, pandanganku
tertuju pada sosok murid-murid yang sedang mengobrol di bordes tangga. Aku
melihat wajah yang kukenal di antara mereka, lalu menolehkan wajahku ke sana.
Himori yang sudah sekelas
denganku selama tiga tahun berturut-turut, dan seorang siswi berambut pirang
yang baru tahun ini sekelas denganku.
Menurut daftar nama kelas,
marganya adalah Ebitani, dan nama depannya dibaca Reni.
Peraturan rambut di SMA
ini bisa dibilang sangat longgar, bahkan rasanya seperti tidak ada aturan sama
sekali. Meskipun begitu, murid yang mengecat rambutnya menjadi pirang total
dari ujung kepala sampai ujung rambut hanya bisa dihitung dengan jari satu tangan.
Ebitani adalah salah satunya.
Tubuhnya kecil dan
ramping, kebalikan dari Himori. Jika mereka berdiri berdampingan, dia mungkin
lebih pendek satu kepala, atau bahkan lebih.
Namun, saat pertama kali
melihatnya, hal pertama yang menarik perhatianku bukanlah rambut pirangnya yang
panjang dan indah, bukan pula tinggi badannya yang sangat kecil hingga tidak
terlihat seperti anak SMA.
—Melainkan, wajahnya yang
kecil dan sangat menawan.
Wajah Ebitani begitu
rupawan, sampai-sampai kalau ada yang bilang dia itu idola, aku pasti akan
percaya.
Hanya dengan melihat
ekspresinya yang biasanya hanya terlihat bersungut-sungut itu, orang-orang akan
merasa, “Apakah ada hal buruk yang terjadi padanya?”, atau “Apakah aku telah
melakukan kesalahan padanya?”.
Saking terpusatnya
pandangan ke arah wajahnya, orang sampai tidak akan menyadari bahwa riasannya
tebal atau warna rambutnya mencolok.
Dua gadis gyaru
yang penampilannya mencolok itu sedang berbicara dengan beberapa siswa
laki-laki berpenampilan tak kalah mencolok yang mem-bleaching atau
menegakkan rambut mereka dengan wax.
Karena aku tidak punya
urusan dan merasa tidak perlu menyapa mereka, aku bermaksud untuk
mengabaikannya. Pada saat itulah.
Entah karena menyadari
suara langkah kakiku, Ebitani menoleh ke arahku—dan mata kami bertemu.
—Seketika saat melihat
wajah itu, aku mengubah arah jalanku.
Aku tidak tahu apa
hubungan mereka. Mungkin saja mereka teman baik.
Jangankan Himori, aku
bahkan baru tahu nama Ebitani hari ini. Tetapi, meskipun begitu.
(Membuat perempuan
ketakutan itu... tidak bisa dibiarkan, kan.)
—Itu tidak ada
hubungannya. Tidak peduli bagaimana hubungan pria dan wanita itu, tidak peduli
apakah aku sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan mereka.
Seorang laki-laki tidak
boleh membuat perempuan memasang wajah seperti itu.
“Maaf, membuat kalian
menunggu.”
Aku menyapa mereka berdua,
sengaja menghalangi pandangan para siswa laki-laki itu.
Ebitani mengelus dadanya
dengan ekspresi lega. Rupanya kekhawatiranku bukan sekadar firasat kosong.
“Hah? Tiba-tiba apa-apaan
nih?” “Siapa sih anak ini?” “Ini Nogi kan, dari kelas 1.”
Seorang siswa yang tidak
kukenal namanya meninggikan suaranya dari belakangku, tapi aku hanya menunjuk
ke arah mereka dengan ibu jari tanpa menoleh.
“Apa kalian ada urusan
dengan orang-orang ini?”
Mendengar pertanyaanku,
Ebitani menggelengkan kepalanya, dan Himori menjawab, “Tidak adaa~.”
Ah, kalau saja mereka
menjawab dengan normal seperti “Kami sedang mengobrol nih, kamu tiba-tiba
kenapa sih?”, mungkin aku tidak akan bisa bangkit lagi karena malu. Untunglah
mereka peka membaca situasi.
“Minggir sana.” “Siapa
kamu?” “Tiba-tiba datang, merasa jagoan ya?”
Tangannya mencengkeram
bahuku dan menariknya, namun tubuhku tak bergeming sedikit pun. Mereka bukanlah
lawan dari otot punggungku yang telah ditempa lewat kerja paruh waktu selama
dua tahun.
Namun karena aku juga
tidak bisa terus mengabaikannya, aku menoleh ke belakang. Salah satu siswa
bertubuh besar yang sepertinya adalah pemimpin mereka, tiba-tiba mencengkeram
kerah bajuku dan menatapku tajam tanpa kata dari jarak yang sangat dekat. Saking
dekatnya, dahi kami hampir bersentuhan.
Pria berbadan besar yang
mungkin saja akan langsung bermain tangan seperti ini. Tidak ada perempuan yang
bisa tetap tenang jika diganggu oleh orang semacam ini.
“Ada urusan?”
Perbedaan tinggi kami
sekitar 10 cm. Kalau dia benar-benar melatih fisiknya, bukan tidak mungkin dia
bisa mengangkat tubuhku hanya dengan mencengkeram kerahku—tapi sayang, ototnya
sedikit kurang.
Karena dia tak kunjung
melepaskannya, mau tak mau aku mencengkeram pergelangan tangannya dan
mengerahkan tenaga seperti memelintirnya ke atas, dan siswa itu pun mengepalkan
tangannya yang satu lagi—
—Bugh, suara tumpul
menggema di lorong.
Kepalan tangannya yang
besar mendarat keras di ulu hatiku.
Seolah sudah membayangkan
apa yang akan terjadi selanjutnya, beberapa siswa laki-laki menyunggingkan
senyum di sudut bibir mereka.
Namun, justru orang yang
memukul itulah yang mengeluarkan suara, “Hah?”.
Siswa laki-laki lain yang
menyeringai di belakangnya juga menyadari bahwa situasinya tak kunjung berjalan
sesuai bayangan mereka, dan ekspresi mereka pun mulai berkerut kebingungan.
“Barusan, kamu melakukan
sesuatu?”
Aku tertawa mendengus
seolah memprovokasinya, lalu—aku merasa mendengar suara sesuatu yang putus.
Siswa berbadan besar itu
sedikit menarik kepalan tangannya dan meninjukannya ke arah wajahku.
—Brak, suara
nyaring benturan tulang menggema.
Saat aku menerima pukulan
itu tanpa perlawanan, Ebitani memekik kecil.
Kalau itu murid laki-laki
biasa, dia pasti berharap melihat reaksi lemah seperti kesakitan atau mencoba
kabur.
Namun sayangnya, aku tidak
seperti itu.
Pengalamanku dipukuli oleh
pria yang fisiknya lebih besar dariku sudah tak terhitung oleh jari kedua belah
tangan.
Saat aku menatap mata
lawan yang memukulku dalam diam, cengkeraman di kerah bajuku mengendur.
“Siapa namamu?”
Karena dia bertanya, aku
menepis lengannya dan menjawab.
“Nogi.”
“...Nogi dari SMP
Mannaka?”
“Iya, memangnya kenapa?”
Haaah, siswa bertubuh
besar itu menghela napas panjang, lalu berkata, “Hilang mood,” dan
menuruni tangga sendirian.
Siswa laki-laki yang
tersisa, dengan wajah kebingungan, buru-buru menyusulnya. Sepertinya tidak ada
murid lain yang paham arti dari panggilan tadi.
“Sumpah sangat membantu,
cowok itu dari dulu ngotot banget tahu.”
Himori yang tertawa santai
dan Ebitani yang memalingkan wajah karena sedikit canggung, jika dilihat
seperti ini keduanya sangatlah kontras.
Berbeda dengan Himori yang
berbicara seperti teman lama bahkan kepada siswa laki-laki yang baru pertama
kali sekelas dengannya, Ebitani sepertinya tidak berusaha berbicara dengan
siapa pun.
Apalagi dengan
penampilannya yang seperti ini. Tidak mungkin tidak ada yang mengajaknya
bicara.
Tapi Ebitani, entah disapa
oleh laki-laki maupun perempuan, dia hanya menjawab dua atau tiga patah kata
tanpa mengangkat pandangannya dari ponsel.
Kupikir dia sangat pemalu,
tapi karena sekarang dia bersama dengan Himori, itu berarti hubungan mereka
berdua cukup baik.
Seingatku mereka tidak
pernah sekelas, tapi dengan kemampuan komunikasi Himori yang menembus batas,
masuk akal kalau dia bisa membuka pertahanan Ebitani.
“Sebagai ucapan terima
kasih aku traktir sesuatu deh, bagaimana kalau makan siang?”
“Tidak usah... aku sedang
tidak ingin makan.”
“Hmm, masa sih? Apa
perutmu tidak lapar?”
“Bukan begitu maksudku...”
—Semenjak ditolak Onee-chan,
aku tidak bisa lagi merasakan rasa makanan.
Kalau aku mengatakan hal
itu dengan jujur, antara aku akan ditertawakan dan dianggap bercanda, atau
mereka akan meragukan kewarasanku.
“Kalau begitu, ayo ke
kantin! Tadi aku lihat mereka baru saja memasukkan barang, kalau sekarang
mungkin semua jenisnya masih ada!”
“Kantin, ya... aku jarang
ke sana.”
“Oh ya? Kalau begitu biar
aku belikan yang paling kurekomendasikan. Boleh kan sebagai rasa terima kasih?”
“A, ah. Ya sudah, tolong
ya.”
Entah dia lupa kalau aku
bilang tidak ingin makan, Himori mulai berjalan mendahului. Saat aku hendak
mengikutinya, Ebitani menarik kuat lengan seragamku, membuatku berhenti dan
menoleh.
Gila, wajahnya kecil
sekali! Rasanya cuma setengah dari wajahku. Apa idola kalau dilihat langsung
rasanya seperti ini ya.
“Ebitani, kan?”
Saat aku memastikannya,
Ebitani mengangguk kecil, dan menatap mataku dalam diam.
Di matanya, jelas terlihat
raut kebingungan.
“Ada apa?”
“...Kamu.”
“Hm?”
“Sebelumnya juga,”
“Sebelumnya?”
“Ti, tidak ada apa-apa!”
Dia membuang muka.
Apa-apaan sih.
Dia tadi bilang
“sebelumnya”, kan. Apa aku pernah melakukan sesuatu sebelumnya? Lagipula aku
sama sekali tidak tahu apa-apa soal Ebitani sampai tahun lalu, dan kurasa kami
belum pernah mengobrol sebelumnya.
“...Terima kasih buat yang
tadi! Itu saja!!”
“Sama-sama.”
Entah karena sangat malu,
wajahnya memerah.
Apakah hanya itu yang
ingin ia katakan? Dia melepaskan lengan bajuku yang dicengkeramnya, lalu
berlari kecil menyusul Himori dan berjalan di sebelahnya.
Mereka berdua membicarakan
sesuatu dengan volume suara yang tidak bisa kudengar, Ebitani tampak
marah-marah dan Himori tersenyum kecut.
•••
Setelah ditraktir beberapa
potong roti di kantin, kupikir kami akan bubar, tapi sepertinya Himori tidak
berniat begitu dan malah membawaku ke bangku di samping gimnasium.
Saat aku mencoba duduk di
ujung, Ebitani mendorongku menyingkir, jadi mau tak mau aku duduk di tengah,
diapit oleh mereka berdua di kiri dan kanan. Rasanya seperti aku sedang
dikepung agar tidak bisa lari.
Dari gimnasium, terdengar
gema suara orang-orang yang sepertinya sedang memperkenalkan klub mereka.
Sambil mendengarkan
performa dari mikrofon, aku menggigit roti koppe isi selai kacang merah
dan margarin—tapi tetap saja, aku tidak bisa merasakan apa pun. Aku hanya tahu
ada sesuatu yang lengket di dalam spons yang lembut. Aku cuma memilihnya karena
jumlah kalorinya terlihat tinggi.
Kehilangan indra
pengecapku terjadi sejak bulan lalu.
Awalnya aku pikir karena
flu atau semacamnya, tapi ternyata bukan itu penyebabnya.
Sejak patah hati, aku
perlahan-lahan kehilangan indra perasaku, dan sekarang aku tidak bisa
membedakan manis atau pedas, bahkan saat minum kopi hitam pun aku tidak tahu
kalau itu pahit.
Tapi perutku tetap bisa
lapar, dan kalau aku tidak makan aku tidak akan bisa bekerja, jadi satu-satunya
hal yang tidak bisa kuhentikan adalah makan. Untuk mengelabui rasa lapar, aku
hanya makan seperti sedang mengisi bahan bakar.
Sambil memakan rotiku
dalam diam tanpa tahu apa-apa selain teksturnya, Himori yang sedang meminum teh
lemon kemasan kotak menarik sedotannya seperti sebatang rokok, lalu menatapku.
“Tadi Watanabe memanggilmu
Nogi dari SMP Mannaka, kan?”
“...Oh iya, aku memang
dipanggil begitu ya.”
“Mannaka itu SMP yang ada
di dekat sini, kan? Aku tidak terlalu tahu, tapi apa masa SMP-mu itu nakal?
Tadi juga kamu kelihatannya sudah terbiasa banget berantem.”
“Mana mungkin.”
“Benar juga, ya~.”
Himori mengangguk seolah
sudah memahaminya, tapi dia melanjutkan, “Tapi, ya.”
“Entah kenapa, wajahmu
tadi kelihatan kayak sedikit mengerti maksud panggilannya~”
Dia menyeringai dengan
ekspresi seolah-olah sudah tahu segalanya, tapi dia pasti cuma memancingku.
Kalau dia benar-benar
tahu, dia pasti sudah menjadikannya bahan candaan setidaknya sekali selama dua
tahun ini. Tapi nyatanya tidak pernah.
Lagipula, rumor masa SMP
seperti itu tidak akan menyebar sampai ke luar sekolah. Itu bukanlah cerita
yang menarik atau memuaskan, melainkan kejadian di mana tidak ada seorang pun
yang bahagia, jadi itu bukan hal yang pantas diceritakan kepada orang yang tidak
dikenal.
Besar kemungkinan anak
laki-laki tadi—kalau tidak salah namanya Watanabe, dia pernah mendengar rumor
dari temannya yang merupakan alumni SMP yang sama denganku, paling hanya
sebatas itu.
“...Bukannya tidak ada.”
“Ternyata kamu berantem
ya? Menang telak 30 lawan 1 melawan Senpai?”
“Aku tidak pernah membuat
keributan besar seperti itu. Aku cuma pernah dipanggil seperti itu sebelumnya.”
“Hee...”
Himori mencondongkan
wajahnya dengan ekspresi “Aku tertarik nih~”, tapi setelah sadar bahwa aku
tidak akan menjawab lebih jauh, dia hanya tersenyum kecut. Dia pasti berpikir
aku tidak akan menceritakannya dengan jujur.
“...Kamu, sudah sering
melakukan hal semacam ini dari dulu?”
Ebitani yang sejak tadi
diam, perlahan menyentuh pipiku yang tadi dipukul, lalu bertanya.
Ah, benar juga, alasanku
ikut campur ke tempat itu tadi karena mataku bertatapan dengan Ebitani.
—Matanya seolah berkata
agar aku menolongnya.
Makanya aku maju. Demi
melindungi orang yang bahkan belum pernah kuajak bicara.
“Tidak, aku tidak pernah
melakukannya...”
“Hah?”
Namun saat aku menjawab
begitu, Ebitani yang telah menjauhkan tangannya dari pipiku mengernyitkan dahi.
Himori yang tertawa kecil menyela, “Tidak, tidak, tidak.”
“Bukannya kamu tidak
pernah, kan? Kamu kelihatan sudah terbiasa banget.”
“Aku akui aku memang
terbiasa, tapi mana ada orang yang sengaja menceburkan diri ke dalam masalah?
Itu namanya orang aneh. Ah, tapi kalau dipikir-pikir waktu liburan musim semi—“
“Maaf, kita tidak sedang
membicarakan soal itu sekarang.”
Himori memotong
perkataanku, jadi aku membalas “...Mengerti” dan terdiam. Sepertinya itu cerita
yang tidak ingin dia perdengarkan kepada Ebitani.
Itu berarti, dia tidak
melakukan hal itu setiap hari, kan. Lagipula, dilihat dari sudut mana pun dia
tidak terlihat terbiasa dengan hal itu.
Ebitani memiringkan
kepalanya bingung, tapi aku tidak bisa menceritakannya, jadi silakan tanya
langsung pada Himori. Aku sendiri juga tidak tahu situasinya sampai bisa
menjelaskannya.
“Yah, kalau aku sih sudah
dua tahun sekelas jadi kami memang saling kenal. Tapi Nogi, kamu sama sekali
tidak kenal Reni, kan? Atau kalian pernah ngobrol di mana gitu?”
“Tidak juga.”
“Padahal begitu tapi kamu
tetap menolongnya, itu artinya kamu memang biasa melakukan hal semacam ini.”
“...Yah, kalau kamu bilang
begitu. Mungkin aku hanya melindungi Himori, kan.”
“Hmm... ya, sepertinya
bukan itu deh.”
“.........Yah, memang
benar.”
Kalau harus dikatakan, Onee-chan
itu tipe yang akan langsung digoda laki-laki kalau dibiarkan, jadi aku punya
pengalaman melindunginya sampai tak terhitung jumlahnya.
Karena aku tumbuh besar
bersama seseorang yang sama sekali tidak punya rasa waspada, aku jadi percaya
secara bodoh bahwa laki-laki memang bertugas melindungi perempuan.
Mendengar jawabanku yang
ragu-ragu, Himori tersenyum kecut, dan Ebitani menghela napas.
Saat selesai makan roti,
aku baru sadar kalau aku lupa membeli minuman. Tidak ada mesin penjual otomatis
di sekitar sini.
“Di sekitar sini, tidak
ada air atau semacamnya?”
“Air?”
Yang ditunjuk Himori
adalah keran air dengan selang yang masih tersambung, mungkin digunakan untuk
menyiram pot bunga.
“Kalau yang itu rasanya
agak...”
“Haa...”
Bukannya kotor, tapi aku
sedikit enggan...
Selangnya terpasang kuat
di keran dengan penjepit logam, jadi kalau aku minum dari sana, aku harus minum
dari ujung selangnya—ujungnya kan model shower! Bodoh. Jangankan
sekarang, saat pertengahan musim panas saja aku bakal ragu.
“Nih.”
“Ah, terima kasih.”
Kemudian Ebitani yang
masih memalingkan wajahnya, menyodorkan botol plastik yang digenggamnya.
Aku membuka tutupnya dan
meminumnya. Saat kulihat labelnya, sepertinya itu air soda tanpa gula. Sensasi
mendesis dari soda kuat yang melewati tenggorokan ini terasa nyaman, meskipun
aku tidak bisa merasakan rasanya.
Aku meneguknya dengan
rakus untuk membasahi tenggorokanku—
Saat aku sadar, isi botol
plastik itu hampir habis tak tersisa.
“Ah, maaf, aku minum
terlalu banyak.”
“...Aku sudah tidak mau.”
“Aku minta maaf...”
Dia membuang muka dengan
kesal. Tentu saja dia bakal marah kalau hampir semuanya dihabiskan dengan dalih
minta seteguk.
Tapi menurut perasaanku,
aku cuma minum sekitar setengahnya. Bagaimanapun juga, karena dia menolak untuk
menerimanya kembali, aku dengan patuh mengeluarkan dompet.
“Eto... 100 yen cukup?”
“Tidak perlu.”
“...Maaf, beneran.”
“Haaah... benar-benar
tidak bisa dipercaya...”
“Kenapa...!?”
Diberikan helaan napas
yang super panjang, apa dikembalikan sedikit saja sangat membuatnya tidak
suka...?
Namun, Himori yang sedari
tadi menahan tawa melihat interaksi kami akhirnya tidak tahan dan menyemburkan
tawanya, lalu menunjuk-nunjuk bibirnya sendiri.
“Reni, kamu tidak
dipedulikan soal ciuman tidak langsung, apa segitu bencinya?”
“Ci... ti, mana mungkin
begitu kan!?”
“Eee, padahal tadi kamu
merhatiin bibirnya Nogi terus lho.”
Eh, benarkah begitu?
“...Maaf.”
Bersamaan dengan
permintaan maafku, Ebitani merebut botol plastik dari tanganku dan langsung
meminumnya.
Meneguk habis sisanya
layaknya menenggak minuman keras, Ebitani menjejalkan botol plastik kosong itu
kepadaku dengan wajah memerah, “Nih!”
“Tolong buang!”
“...Mengerti.”
“A, aku benar-benar tidak
peduli soal ciuman tidak langsung atau semacamnya! Paham!?”
“O, oh, begitu. Aku juga
tidak peduli kok, jadi kita impas ya.”
“Hah?”
Eh?
“.........Kamu tidak
peduli?”
“Eh, ah, iya...?”
Sebelumnya aku biasa
meminum teh dari gelas yang sama dengan Onee-chan, dan walau minum dari botol
plastik sisa pun kami saling berbagi, jadi tidak ada orang di sekitarku yang
terlalu memedulikan hal itu.
Meskipun begitu, kalau
dipikir-pikir aku belum pernah berbagi minuman dengan perempuan selain Onee-chan.
Kalau sesama anak laki-laki sih lumayan sering.
“.........”
Aku yang baru
menyadarinya, dan Ebitani yang entah marah atau malu sehingga wajahnya memerah,
saling bertatapan sebelum perlahan-lahan memalingkan muka.
“Aku buang sampah dulu,”
kataku. Ebitani mengangguk, sementara Himori menahan tawanya sambil menutup
mulut, “Pfft.” Kamu diam saja deh.
“Ngomong-ngomong Nogi,
tadi bukannya kamu dipanggil guru ya? Kamu habis buat masalah ya di hari
pertama?”
Setelah membuang sampah di
tempat sampah terdekat dan kembali, Himori menanyakan hal itu padaku, jadi aku
menjawab,
“Aku tidak buat masalah
kok.”
“Aku cuma lupa mengabari
sekolah kalau aku sudah pindah rumah.”
“Hee... Lho, bukannya kamu
jalan kaki ke sekolah? Padahal kamu sudah tinggal di dekat sini, kenapa
pindah?”
“Yah, karena aku beli
rumah.”
“Rumah... eh?”
“Memang sedikit lebih jauh
dari rumah sebelumnya, tapi masih dalam jarak jalan kaki kok. Posisinya jadi
lebih dekat ke stasiun, lebih gampang kalau mau berangkat kerja paruh waktu.”
“...Tunggu, apa ini cerita
yang bisa dibiarkan berlalu begitu saja?”
“Bagian mananya?”
“Rumah,”
“Memangnya kenapa dengan
rumah?”
“...Tadi, kamu bilang kamu
beli?”
“Iya, aku beli.”
“.........Kamu anak SMA,
kan?”
“Seperti yang kamu lihat.”
Bakal menyeramkan kan
kalau ada orang yang bukan anak SMA duduk dengan santai di kelas berwajah teman
seumuran.
“Eee... tunggu, biarkan
aku mencerna ini sebentar.”
Himori bergumam sejenak,
lalu setelah bisa memahaminya, dia mengangguk, “Hng.”
“Dari beberapa waktu lalu,
aku sudah merasa ada yang aneh denganmu...”
Eh, begitu ya?
“Kalau tidak ada alasan
tertentu, orang tidak akan sembarangan beli rumah.”
“Yah, mungkin begitu.”
“...Kamu habis ditolak
ya?”
Mendengar pertanyaan yang
terlalu tiba-tiba itu, sejenak, aku merasa waktu berhenti.
Terdengar suara tawa riuh
para murid baru dari arah gimnasium, dan secara perlahan pikiranku mulai
bekerja kembali.
Tidak mungkin Himori tahu.
Aku tidak bisa bilang dia pasti tidak tahu karena ada murid yang berasal dari
SMP yang sama, tapi karena topik ini tidak pernah disinggung sekalipun sampai
sekarang, dia seharusnya tidak tahu apa-apa soal Onee-chan.
“Kenapa...” hanya itu yang
keluar dari mulutku, dan kata-kata selanjutnya tidak mau keluar. Aku
benar-benar tidak paham bagaimana dia bisa menghubungkan antara membeli rumah
dengan ditolak cinta.
“Oh, dari reaksimu,
sepertinya tebakanku benar?”
“...Kenapa, kamu bisa
berpikir begitu?”
“Kalau kamu sudah jadi
penguasa istanamu sendiri, normalnya kamu harusnya kelihatan lebih senang, tapi
kamu tidak pernah menceritakan hal itu pada siapa pun, kan.”
“...Ah.”
“Itu artinya ada alasan
kenapa kamu tidak ingin membicarakannya. Hmm... awal Maret... apa mungkin, di
sekitar waktu ujian dikembalikan...”
Kenapa kamu bisa tahu
tanggal pastinya segala?!
“Awalnya aku kira kamu
lagi bad mood karena nilai ujian akhirmu jelek, tapi anehnya mood-mu
terus-terusan buruk. Hng? Bukannya begitu? Itulah yang dipikirkan oleh Himori-sama.”
“...Kelihatannya seperti
itu, ya.”
“Itu berarti, telah
terjadi acara buruk yang cukup besar untuk membatalkan rasa senangmu karena
telah membeli rumah.”
“Kamu ini detektif, ya.”
“Kamu diputusin oleh pacar
yang rencananya bakal diajak tinggal bareng... iya kan?”
“.........”
Apa wajahku sebegitu mudah
ditebak. Padahal aku tidak berniat menceritakannya pada siapa pun.
Tapi kalau dipikir-pikir,
orang-orang di proyek mana pun yang kutemui juga pernah bilang “Kamu baik-baik
saja?” atau “Semangat, dong”. Ternyata aku tipe orang yang rasa sedihnya bisa
terbaca dari wajah hanya dengan sekali lihat ya.
“Kamu berbuat salah?
Terlalu memaksa? Atau dia ilfil karena kamu beli rumah tanpa musyawarah?
Masa sih sampai begitu, itu kan bukan cincin biasa.”
“...Bukan,”
Aku hanya melontarkan
sangkalan, lalu sejenak bimbang apakah aku harus melanjutkan kata-kataku.
Tapi, kalau aku diam saja
di sini, aku tidak akan bisa kabur dari daya observasi Himori. Lama-lama dia
pasti akan menebak jawabannya dengan benar, dan aku sendiri yang akan
memberikan jawabannya lewat ekspresiku atau semacamnya.
Kalau begitu, lebih baik
aku ceritakan saja bagian yang bisa kuceritakan sebelum dia salah paham.
“...Aku cuma dikabari
kalau orang yang rencananya mau kulamar setelah aku beli rumah, akan segera
menikah dengan pria lain.”
“Cuma!? Jelas-jelas itu
bukan hal yang bisa dibilang ‘cuma’ kan!?”
“.........Memang cuma itu.
Beneran.”
Benar-benar, tidak terjadi
apa-apa.
Onee-chan bahkan tidak
sadar kalau dia telah menolakku. Buktinya, dia malah mau langsung mengatur
jadwal les privat kami selanjutnya.
Sejak masuk SMA, aku
selalu diajari belajar olehnya hampir setiap hari. Namun sejak hari itu, kami
belum pernah bertemu lagi. Dia terus berusaha datang ke rumah baruku untuk
mengajariku atau sekadar makan bersama saat ada kesempatan, tapi aku selalu
menolaknya dengan berbagai alasan.
—Karena kalau aku melihat
wajahnya, kali ini perasaanku pasti akan benar-benar hancur.
“Hnng... dan setelah
sebulan berlalu pun kamu masih sedih.”
“...Itu wajar, kan. Orang
sepertimu yang gampang ganti pasangan tidak akan mengerti rasanya.”
“Sepertinya ada
kesalahpahaman besar soal diriku, tapi... berarti kamu akan tinggal sendirian
di rumah barumu, kan?”
“Yah, begitulah adanya.”
“Boleh aku main ke
rumahmu? Lagian kamu lagi nganggur, kan?”
“...Hah?”
Karena terlalu mendadak,
tanpa sadar aku merespons dengan nada kebingungan.
Memang karena sudah dua
tahun sekelas kami sering bermain bersama, tapi kami tidak cukup dekat sampai
dia bisa tiba-tiba main ke rumah. Saat aku mau menganggapnya sebagai candaan,
Himori melanjutkan kata-katanya.
“Laki-laki SMA yang
tinggal sendirian, pasti tiap makan cuma beli di minimarket atau mi instan
gelas, kan? Sini aku buatkan makan malam.”
“K-kamu bisa masak!?”
“Gini-gini aku lumayan
jago lho? Ah, tidak kelihatan, ya? Tidak kelihatan, kan~?”
“Sama sekali tidak
kelihatan. Kamu tahu kan ada yang namanya tangan kucing (teknik memotong bahan
makanan)? Pisau dapur itu bisa memotong tangan lho?”
“Aku tahu kok.”
Saat aku menyetujuinya
dengan jujur, dia mengerucutkan bibirnya pura-pura tidak puas.
“Aku, dan Reni berdua.
Boleh?”
“Kalau kalian berdua sih
boleh saja... tapi walaupun aku oke, Ebitani pasti tidak mau, kan.”
Ebitani yang tiba-tiba
dimasukkan ke dalam kelompok padahal tidak ikut campur dalam percakapan ini,
jelas memasang wajah yang seolah ingin mengatakan “Eeh...”. Setidaknya minta
persetujuannya dulu sebelum mengusulkan dong.
“Ah, Reni pasti ikut kok.”
“Atas dasar apa kamu bisa
berkata begitu.”
“Itu, Reni, kamu mau ikut
kan?”
Ditanya seperti itu,
Ebitani mengernyitkan dahi dan menatap kami—
“Hah? Kenapa juga aku
harus pergi ke rumahnya Nogi?”
Nah kan, sudah kubilang.
“Ya sudah kalau begitu aku
pergi sendiri saja, hari ini kamu habisin waktu sendiri aja deh~”
“Aku tidak bilang aku
tidak mau ikut kan!?”
“Yang mana yang benar
nih!”
Secara refleks aku
menyela, Himori tertawa “Tuh, kan sudah kubilang”, sementara Ebitani bergumam,
“Benar-benar tidak masuk akal...”. Apa datang ke rumahku sebegitu tidak enaknya
ya...
Lagi pula, kalau dari nada
bicara mereka, sepertinya mereka sudah ada janji hari ini, tapi apa pergi ke
rumahku adalah hal yang cukup penting sampai janji mereka itu harus dibatalkan?
•••
Ting tong, bel berbunyi.
Karena katanya ada tempat
yang harus mereka singgahi, aku hanya memberikan alamat dan pulang sendirian
lebih dulu. Saat aku sedang membuka buku pelajaran yang baru dibagikan dan
mempelajarinya, mereka berdua datang seperti yang dijanjikan.
Mereka membawa barang yang
sangat banyak, seperti koper kecil dan tas boston yang sepertinya bisa
dipakai untuk bepergian.
Begitu, ya. Ternyata
mereka berpisah denganku tadi untuk mengambil barang-barang ini. ...Ke mana?
Rasanya waktu mereka belum cukup untuk pulang ke rumah.
“Barang-barang itu apa?”
“Eeto, game dan
sejenisnya?”
“Terlalu banyak kan,
kalian mau buka toko?”
“Terus... busa pelindung?”
Dia memperlihatkan isi tas
boston kepadaku, tapi benda yang dia sebut busa pelindung itu, dilihat
oleh siapa pun, jelas adalah pakaian dalam. Jangan tunjukkan barang seperti itu
kepadaku.
“Permisiii~”
Himori melangkahkan
kakinya ke rumahku dengan santai seolah ini rumahnya sendiri, namun begitu dia
masuk ke ruang tamu, dia langsung berhenti dan berkata, “Eh?”
“...Permisi.”
Ebitani yang masuk
setelahnya, pipinya berkedut menatap ruang tamuku.
“Ka, kamu benar-benar
tinggal di sini...?”
“Tunggu, ruangan macam apa
ini!? Biarpun ini ruangan yang baru disewa hari ini, harusnya ada sedikit lebih
banyak barang, kan!?”
“.........Yah.”
Sudah sebulan berlalu
sejak aku membeli rumah ini. Keraguan mereka itu sangat beralasan.
“Terus di situasi seperti
ini kamu masih sempat belajar...”
Melihat buku pelajaran
yang berserakan di meja, Ebitani mengeluarkan suara yang seolah merasa ngeri.
“Memangnya aneh kalau ada
orang belajar? Kamu juga kelas 3, kan.”
“Aku tidak berencana masuk
universitas.”
Mendengar kata-kata
Ebitani, Himori pun ikut mengangguk. Yah itu sih terserah, tapi masih ada
sekitar satu tahun sebelum lulus, jadi paling tidak belajar kan. ...Eh, tidak
belajar, ya?
“Kalau Nogi lagi belajar,
kami main santai aja, gimana?”
“...Tidak, sekarang bukan
waktu yang pas buat ini.”
Bohong kalau aku bilang
aku bisa terus belajar di saat ada orang lain sedang bermain. Lagipula aku
hanya menyentuhnya karena bosan, jadi aku membereskan buku yang tersebar dan
menumpuknya di lantai.
“Hmm... berarti kamu lagi
belajar itu bukan karena habis beres-beres, ya.”
“Ah. Bukan beres-beres
atau apa, memang barang pribadiku tidak banyak. Selama ini aku numpang di rumah
kerabatku, jadi...”
“”Numpang?””
“Aku tadinya berniat
membeli perabotan belakangan, tapi masih belum terbeli.”
Kalau aku bilang aku ingin
membelinya bersama Onee-chan, mereka pasti akan memakiku habis-habisan.
“...Coba perlihatkan
ruangan yang lain.”
Ebitani yang sudah
meletakkan barangnya menatap pintu terdekat dan memintanya.
“Boleh saja, tapi di
sana—“
Salah satu dari dua
ruangan yang terhubung dengan ruang tamu—Ebitani yang membuka pintu kamar itu
menyalakan lampunya dan bergumam, “Uwaa...”
Ebitani memanggil Himori
dengan gerakan tangannya, dan Himori yang sedang membereskan isi tas boston
pun mendekat, mengecek ruangan itu, lalu langsung tertawa terbahak-bahak tanpa
jeda sedetik pun.
“Aku belum menaruh apa pun
di kamar itu.”
Karena kamar itu sama
sekali belum kupakai, jadi benar-benar kosong melompong.
Sejak kunci diserahkan
kepadaku, satu-satunya hal yang kulakukan di sana adalah menutup penutup jendela.
Mungkin aku baru membuka pintunya dalam hitungan jari. Soalnya aku memang
berniat menjadikannya kamar Onee-chan.
“Eeto... Nogi pindah
tanggal berapa ya?”
“Tanggal 6 Maret.”
Hari ini tanggal 7 April.
“Sudah sebulan dan
hasilnya cuma begini!?”
“Berapa bulan pun berlalu,
kamar yang tidak dipakai ya akan tetap tidak dipakai.”
“...Ada benarnya juga?”
Himori tampaknya bisa
dibujuk, tapi Ebitani sama sekali belum puas. Dia berdiri di depan pintu yang
terhubung dengan kamar satu lagi, lalu sebelum membukanya, dia menatapku
sekilas.
“...Jangan bilang kamar
yang ini juga sama.”
Ditanya begitu, aku
menjawab, “Itu kamar tidurku”, lalu dia membuka pintu tanpa kata. Masa tidak
ragu-ragu sedikit pun. Ini kamar tidur pria, lho.
Mereka berdua masuk, dan
tak sampai 30 detik kemudian mereka sudah keluar lagi. Mungkin karena semua
pakaianku dimasukkan ke dalam lemari laci, dan di kamar tidur itu cuma ada
kasur serta rak buku, sehingga sama sekali tidak menarik bagi mereka. Wajah
mereka terlihat muram.
Sebenarnya, meja rendah
yang ada di ruang tamu sekarang ini awalnya ditaruh di kamar tidur, tapi
kupindahkan ke ruang tamu supaya bisa kupakai juga sebagai meja makan. Tapi
yah, kupikir reaksi mereka tidak akan berbeda banyak meskipun ada meja satu di
sana.
“Ada kamar lain?”
“Tidak ada.”
“...Apakah laki-laki yang
hidup sendiri semuanya seperti ini?”
Mendengar pertanyaan
Ebitani, Himori hanya memiringkan kepalanya dengan heran, “Entahlah...?”. Aku
juga tidak tahu. Aku tidak kenal laki-laki lain yang tinggal sendirian selain
diriku sendiri.
Kondisiku yang menumpang
sebelumnya membuatku memiliki barang pribadi yang sedikit, lagipula aku tidak
punya banyak keinginan untuk membeli barang, dan aku tidak benci bersih-bersih
sehingga semuanya selalu rapi. Sederhananya, tidak ada benda yang bisa membuat
berantakan.
Mereka berdua yang baru
keluar dari kamar tidur saling pandang dan mengangguk kecil. Wajah mereka
seolah mengisyaratkan bahwa mereka baru saja memahami sesuatu dan merasa lega.
“Sip, mari lupakan itu...
ayo main game!”
“O, oh!”
Seolah menyadari bahwa
menanyakan perihal ruanganku lebih jauh hanya akan menimbulkan kesedihan,
Himori mengeluarkan konsol game dari tas boston-nya. Dengan
cekatan ia menyambungkannya ke TV yang diletakkan begitu saja di lantai ruang
tamu, lalu bergumam, “Lho?”
“Kok tidak menyala ya,
TV-nya rusak kah?”
“...Ah, kabel daya-nya
belum disambungkan.”
Kalau dipikir-pikir aku
lupa. Aku belum pernah menyalakannya sekalipun sejak pindah ke sini.
Sejak awal aku tidak punya
kebiasaan menonton TV. Karena itulah, meski diberi TV bekas saat pindahan, TV
itu berakhir dibiarkan begitu saja tanpa penentuan posisi tetap.
Saking tidak
diperhatikannya, aku baru sadar kabel colokannya belum tersambung sekarang, TV
itu sudah berubah wujud menjadi sekadar pajangan di ruang tamu.
“...Ya, ya ampun, ada juga
laki-laki yang seperti ini, ya!”
“A, ah! Benar, kan!”
Melihat Himori yang
memaksakan diri agar ceria dan diriku, Ebitani memasang wajah ngeri dan
bergumam, “Tidak ada lho...”. Aku pun sedikit setuju dengan hal itu.
“...Sip, aku sudah ingat
cara mainnya.”
Awalnya aku kesulitan
dengan bentuk kontroler yang belum terbiasa, namun setelah kalah beberapa kali,
akhirnya aku mulai paham cara kerjanya. Pukul musuh sampai terpental keluar
arena, maka kau akan menang. Kalau kau yang terpental, maka kau kalah. Ini adalah
game pertarungan brawler yang simpel.
“Eh.”
Himori melengos heran.
Padahal sebelumnya aku kalah telak, tapi tanpa disadari, dengan hampir tidak
menerima damage sama sekali, aku berhasil memukul karakter yang
dimainkan Himori hingga terpental keluar layar.
“Kebetulan... kan? Kamu
belum pernah main ini kan?”
“Ah, Sejak SD aku memang
tidak pernah menyentuh video game.”
“...Mungkin ini yang
namanya Beginner’s Luck. Aku tidak akan kalah lagi~!”
Entah dia sudah
membulatkan tekad, Himori mencondongkan badannya ke depan.
—Namun, hasilnya sudah
bisa ditebak.
Meskipun dia sedikit lebih
serius, aku tidak akan kalah.
Kalau dipikir-pikir,
alasan aku berhenti main game juga saat aku masih SD—waktu itu aku
diundang main ke rumah temanku dan saat kami bermain bersama, karena aku
terlalu sering menang, mereka bilang, “Main game sama Nogi membosankan.”
Karena Onee-chan sama
sekali bukan orang yang menyukai game, game bagiku adalah sesuatu
yang dimainkan di rumah teman.
Selama aku terus meraih
kemenangan telak, akhirnya aku tidak diajak main lagi dan sejak saat itu game
menjadi sesuatu yang asing bagiku.
Kalau dipikir-pikir
sekarang, seharusnya aku sedikit mengalah. Tapi, diriku di masa SD tidak bisa
berpikir sejauh itu. Saat itu pribadiku belum cukup dewasa untuk sengaja kalah
dalam situasi yang bisa kumenangkan.
(...Gawat.)
Saat aku sudah menang 7
kali berturut-turut, aku baru mengingat kesalahan masa laluku.
Seharusnya aku menahan
diri. Kalau tidak, suasana hatinya akan memburuk lagi—
“Ah, gila, kamu terlalu
tangguh!”
Himori melempar
kontrolernya begitu saja lalu berteriak, kemudian bergulingan di atas lantai
kayu yang dingin tanpa karpet itu.
“...Maaf.”
“Eh, kenapa kamu minta
maaf?”
“...Tidak,”
“Jangan-jangan kamu minta
maaf karena kamu menang?”
Karena dia merespons
dengan kebingungan, aku hanya mengangguk dalam diam.
“Tidak, tidak, tidak, aku
tidak akan semudah itu bad mood cuma karena kalah main game tahu.
Selama ini kamu berteman sama orang yang seperti apa sih~”
“...Begitu ya.”
“Istirahat sebentaaar.
Mataku lelah.”
“Lemah sekali. Kalau aku
sih bisa tahan sampai 12 jam berturut-turut lho.”
“Itu sih rasanya mustahil
kan!?”
“Tidak, aku bisa kok.
Lagian, bukannya kamu yang tidak punya stamina?”
“Ya wajarlah kalau aku
kalah sama orang yang dapat nilai sempurna di tes kebugaran jasmani...”
Dia menatapku dengan wajah
ngeri. Kalau diingat-ingat, nilai tesku memang sempurna. Tapi jujur saja, orang
yang jago olahraga sedikit saja pasti bisa dapat nilai sempurna. Kudengar
standar penilaiannya sama saja antara SMP dan SMA.
Meskipun aku tidak punya
pengalaman main game dalam waktu lama, sepertinya daya konsentrasiku
cukup baik.
Kalau Onee-chan ada di
sampingku, jangankan 12 jam, aku bisa belajar seharian, dan kalau cuma kerja
kasar, aku bisa melanjutkannya berjam-jam tanpa masalah. Dibandingkan dengan
itu, hal ini hanyalah sebuah game.
“Ganti topik nih. Nogi,
kamu habis ditolak sama orang yang sudah kamu sukai sejak lama, kan?”
Perubahan topik yang
tiba-tiba dari Himori membuat Ebitani—yang sejak tadi tidak ikut main game
maupun mengobrol—sedikit tersentak dan menoleh ke arah kami.
“Itu benar-benar
tiba-tiba... Yah, singkatnya, memang begitu.”
“Yang keberapa? Ah,
jangan-jangan dia bahkan bukan pacarmu ya.”
“...Cinta pertamaku.”
“Cinta pertama ya~...”
Kalau aku dianggap
laki-laki payah yang tidak bisa move on dari cinta pertama meski sudah
kelas 3 SMA, ya mau bagaimana lagi.
Biasanya orang seusia ini
sudah punya pengalaman berpacaran, putus, ditolak, dan melalui berbagai
dinamika sejenis jauh sebelumnya. Tapi, aku tidak pernah punya pengalaman
semacam itu.
Karena jika orang yang
paling ideal untukmu ada di dalam rumah, untuk apa mencarinya di luar, kan?
“Mau kuhibur?”
Himori merentangkan kedua
lengannya lebar-lebar, tapi aku membalasnya dengan helaan napas.
“Karena kamu selalu
melakukan hal seperti itu makanya para laki-laki di kelas pada gampang jatuh
cinta padamu tahu...”
“Eh, aku tidak
melakukannya kok.”
Meskipun dia sendiri tidak
mau mengakuinya, sepertinya Himori itu sangat populer.
Alasannya sudah jelas
bukan hanya karena wajah dan proporsi tubuhnya yang bagus, tapi ada hal lain
yang membuat laki-laki tertarik.
Yaitu karena sikapnya yang
seperti ini, dia memperlakukan siapa saja—tanpa memandang jenis kelamin atau
seberapa dekat hubungannya—dengan jarak yang sangat akrab seolah sahabat atau
pacar sendiri.
Teman-teman laki-laki di
kelas sering mengobrol bahwa wajar kalau ada anak laki-laki SMA yang jatuh
cinta padanya jika gadis seperti ini berada di dekatnya. Sepertinya tidak ada
yang kekurangan alasan untuk bisa jatuh cinta pada gadis ini.
“...Tidak mau ke sini?”
Dia merentangkan kedua
tangannya lebar-lebar dan bertanya sekali lagi, tapi mana mungkin aku mau. Tipe
idealku bukan gadis gyaru yang terkesan gampangan seperti ini, tapi seseorang
yang lembut, hangat, dan penuh kasih sayang seperti Onee-chan—
...Sip, karena aku hampir
menangis, mari kita anggap pikiranku barusan tidak pernah ada.
“Tidak usah. Lakukan hal
semacam itu pada pacarmu saja.”
“Lho, kalau aku punya
pacar, mana mungkin aku main ke rumah cowok lain, kan?”
“...Begitukah?”
“Yah, memang ada juga sih
perempuan yang mengumpulkan cowok-cowok untuk dijadikan cadangan...”
Malahan aku yakin kamu
tipe orang yang bakal santai saja main ke rumah laki-laki meskipun dia sudah
punya pacar—yah, tapi aku mengerti maksud ucapanmu.
Lalu, kalau begitu Onee-chan
itu apa?
Aku tidak merasa sedang
dijadikan “cadangan”... kurasa dia bukan orang yang selihai itu.
Meskipun kami tinggal
seatap, dia bisa bersikap seperti itu padahal sudah punya calon suami lho.
Wajar saja kalau anak laki-laki yang sedang di tengah masa pubertas sepertiku
sampai salah paham.
Laki-laki yang jatuh cinta
pada Himori juga, jangan-jangan merasakan hal yang sama.
“...Menurutmu, kenapa aku
ditolak?”
Aku sendiri terkejut
dengan kata-kata yang tanpa sadar meluncur dari mulutku. Aku tidak pernah
sekalipun berpikir untuk membicarakan soal asmara dengan siapa pun.
Habisnya, kalau bicara
soal tempat curhat, sejak aku masih kecil itu selalu Onee-chan. Tentu saja aku
tidak bisa membicarakan Onee-chan kepada Onee-chan itu sendiri. Dan lagi,
curhat soal asmara ke orang yang kukira juga menyukaiku? Itu benar-benar tidak
masuk akal.
“Kenapa, ya...”
Namun, Himori memalingkan
pandangannya dan terdiam ragu.
Bukan karena dia tidak
tahu. Wajahnya menunjukkan bahwa dia tahu tapi tidak ingin mengatakannya.
Reaksinya yang di luar
dugaan membuatku memiringkan kepala. Padahal aku hampir tidak menceritakan apa
pun tentang Onee-chan, apa sebenarnya yang dia pahami. Kalau dia memang tahu,
kenapa dia tidak mengatakannya saja padaku.
“Dari awal kamu tidak
dilihat sebagai laki-laki, kan.”
Yang angkat bicara sebagai
gantinya, adalah Ebitani.
Dia menjawab tanpa
mengangkat pandangannya dari ponsel, dengan ekspresi datar yang terlihat sama
sekali tidak peduli.
Seolah-olah, itu adalah
hal yang sudah sewajarnya.
—Ah, begitu ya.
Memang begitu rupanya.
Akhirnya, aku bisa
memahaminya.
Bagi Onee-chan, diriku
ini—
“...Hahaha.”
Tawaku yang hambar
terdengar keluar.
Akhirnya, aku menyadarinya
dengan sungguh-sungguh.
Sikap Onee-chan. Jarak di
antara kami. Cara dia memperlakukanku. Semua jawaban atas pertanyaan itu telah
terhubung oleh kata-kata tersebut.
...Begitu, ya. Ternyata
hanya aku saja yang menganggapnya sebagai lawan jenis.
Anak laki-laki yang
kehilangan ibunya, sementara ayahnya bekerja di luar kota, dan dengan alasan
itulah akhirnya menumpang hidup, adik sepupu yang jarak umurnya 6 tahun lebih
muda.
Bagi Onee-chan yang
merupakan anak tunggal, aku pasti hanyalah sosok adik kecil yang manis.
Selama ini, di matanya aku
terlihat sebagai sosok lemah yang harus selalu ia urus.
Begitu ya, makanya dia
menatapku dengan mata itu, bersikap seperti itu, dan berekspresi seperti itu.
Semuanya—
“Ternyata aku hanya
dianggap sebagai adik laki-laki, ya...”
Cuma aku saja yang
melayang kegirangan karena mengira kami bisa menikah gara-gara tidak ada
hubungan darah.
Tidak ada keharusan
bercerita pada adiknya bahwa ia punya pacar, dan sekalipun ia punya pacar,
tidak perlu juga mengubah perlakuannya pada sang adik. Itu sudah hal yang
sangat wajar.
—Bagi Onee-chan, aku
adalah keluarga dalam arti yang sesungguhnya.
Meskipun itu adalah hal
yang membahagiakan.
Namun tak bisa dipungkiri
bahwa perasaan kami benar-benar berjalan ke arah yang berlawanan.
“...Kamu benar-benar payah
dalam menilai situasi, ya.”
Ebitani bergumam lirih.
Kata-kata singkatnya itu
menancap dalam-dalam ke lubuk hatiku.
Aku tak lebih dari cowok
menyedihkan yang jatuh cinta pada kakaknya sendiri.
Jangankan membahas ada
atau tidaknya harapan, sejak awal aku sudah jatuh cinta pada orang yang tidak
boleh dijadikan sasaran asmara. Mana mungkin cinta semacam itu akan membuahkan
hasil.
Mungkin karena reaksiku di
luar dugaan, Ebitani sedikit memasang wajah serba salah—yah, kurasa dia tidak
menyangka ucapannya barusan akan menyakiti perasaanku. Kalau lukanya masih baru
mungkin iya, tapi toh ini semua masalah lama yang sudah usai.
Karena sudah telanjur
diucapkan, Himori yang tersenyum kecut menggantikan Ebitani yang terlihat
canggung untuk angkat bicara.
“Kalau kamu cuma dianggap
sebagai adik, berarti umurnya beda lumayan jauh ya?”
“...Lebih tua 6 tahun.”
“Ah, kalau itu sih ya mau
bagaimana lagi~”
“Apanya yang mau bagaimana
lagi...”
Padahal perbedaan umur
segitu bukanlah hal yang aneh untuk pasangan suami istri.
“Dari kondisinya,
sepertinya kalian sudah kenal sejak lama, kan?”
“...Ya. Sejak sebelum aku
masuk SD.”
“Kalau begitu ya jelas
dong, kamu bakal dianggap sebagai adik.”
“.........”
Mau bagaimana lagi, ya.
Sampai-sampai dua orang
ini memikirkan hal yang sama, berarti skenario tentang percintaan di antara
kami memang tidak ada harapan.
Keluarga yang tinggal
seatap. Sepupu sendiri. Berinteraksi sejak masa sebelum mengerti apa-apa.
Ah, berarti sejak awal aku
sudah mati langkah. Seandainya, sebelum pernikahan itu diputuskan—
Bahkan seandainya aku
menyatakan perasaanku padanya sebelum dia punya pacar sekalipun, kini aku sadar
bahwa itu akan sia-sia saja.
Mana mungkin dia bisa
tetap bersikap biasa setelah adik sepupunya sendiri menyatakan cinta. Jika itu
yang terjadi, hubungan kami pasti akan jadi jauh lebih parah daripada yang
sekarang ini.
“Lalu, tadi kamu bilang
kamu mau melamarnya setelah beli rumah kan, omong-omong gimana caramu beli
rumah? Aku kaget rumahnya lebih luas dari yang kubayangkan, pasti harganya
lumayan, kan? ...Warisan kah?”
“Warisan? Memang benar
ibuku sudah meninggal, tapi aku belum pernah dengar soal adanya warisan.”
“...Ah, maaf.”
“Itu sudah lama sekali
sampai wajahnya pun aku tidak ingat, jadi jangan dipikirkan. Aku membelinya
murni dari uang hasil kerja keras paruh waktuku sendiri kok.”
“Murni!? Kalau pakai cara
biasa mana mungkin bisa kan!?”
“Memang upah per jam-nya
bukan upah biasa sih...”
Tapi, bayaran dari kafe
atau restoran yang sering dijadikan tempat kerja paruh waktu oleh kebanyakan
orang sangatlah kecil, makanya aku tak tertarik. Padahal kalau menggunakan
tenaga dengan lebih efisien, bayarannya bisa dapat dua kali lipat.
Bagi anak SMA yang
sebagian besar harinya dihabiskan untuk urusan sekolah, waktu luang yang bisa
dipakai sangatlah singkat, jadi sudah pasti lebih menguntungkan kalau bekerja
dalam waktu yang lama dengan bayaran tinggi.
“Begini, upah memang
penting, tapi kalau tempat kerjanya cuma satu, maksimal cuma bisa kerja 8 jam
sehari. Tapi kalau kerja di dua tempat maksimalnya bisa 16 jam, kalau di tiga
tempat maksimalnya bisa 24 jam dan—“
“Emangnya ada yang kerja
lebih dari 8 jam? Malahan bukannya anak SMA mana ada yang kerja 8 jam pas akhir
pekan?”
“.........Tidak ada ya.”
“Jelas tidak ada lah.”
Begitu ya, ternyata tidak
ada ya. Pantas saja aku kadang merasa malas kalau harus keliling dua proyek
atau lebih di hari libur akibat tidak bisa bekerja lebih dari 8 jam, ternyata
jalan pikiranku ini tidak umum. Ebitani juga jelas-jelas memasang wajah merinding.
“Biar kuperjelas, aku
tidak setiap hari bekerja lebih dari 16 jam, lho.”
“Kamu tahu kan satu hari
itu ada berapa jam?”
“...Kalau kita masih di
bumi, jumlahnya 24 jam.”
“Manusia itu tidak
didesain untuk menghabiskan setengah harinya untuk bekerja, lagipula kamu juga
sekolah... Ngomong-ngomong, Nogi tidak pernah bolos sekolah kan, terus pas
pelajaran juga tidak pernah tidur di kelas.”
“Bukannya sombong, aku
tidak pernah datang terlambat, tidak pernah absen, sikapku saat pelajaran juga
baik, dan nilai raporku semuanya 5.”
“Gaya hidup seperti itu,
apa kamu tidak capek?”
“Beneran capek, serius
deh.”
“Ya pastilah~”
Meskipun di bulan Maret,
sangat jarang aku bekerja di atas 16 jam sehari, tapi di hari kerja biasa aku
bekerja dari pukul 16.00 hingga 22.00, dan pada akhir pekan... ya. Anggap saja
aku tidak tahu.
Kalau ditanya lelah, tentu
saja. Setelah kerja sehari penuh di proyek yang berat, sering kali aku tidak
bisa mengganti baju dan langsung ambruk tertidur setibanya di rumah.
Makanya aku usahakan
selalu berganti pakaian sebelum pulang. Meski demikian, aku tidak bisa
menelantarkan pelajaran agar bisa masuk universitas.
“Tapi Nogi, nilaimu kan
bagus? Kalau kamu kerja paruh waktu sebanyak itu, kapan kamu belajar... oh
begitu, di sela-sela waktu seperti tadi ya.”
Diam-diam, dia menatap
tumpukan buku pelajaran yang tersusun di lantai.
“Apa kamu ikut bimbel atau
semacamnya?”
“Tidak?”
“...Belajar otodidak?”
“Tidak bisa dibilang
begitu juga sih...”
“Ah, kamu tadi bilang kamu
numpang, kan. Ohh... jadi begitu toh~...”
“I-iya, begitu.”
“Hmm~...?”
Dia menyeringai lebar. Apa
dia ini detektif atau semacamnya? Kenapa dia bisa tahu hanya dari informasi
sesedikit itu. Ebitani sendiri masih memiringkan kepala kebingungan.
•••
“...Sudah jam segini, ya.”
Sambil mengusap mataku
yang kering, aku melihat jam yang menunjukkan pukul 19.00 lewat.
Meski sesekali
beristirahat di sela-sela permainan, hal yang paling melelahkan bagiku adalah
mataku. 12 jam memang tidak mungkin. Tadi aku melebih-lebihkannya. Kelelahan
mata sepertinya tidak terlalu berkaitan dengan stamina fisik.
“Ah, aku harus segera
membuat makan malam. Ini butuh waktu agak lama, kalau kalian bosan, kalian main
sama Reni aja ya~.”
“Tolong ya. Kalau ada yang
bisa kubantu atau ada yang tidak kamu mengerti, tanyakan saja padaku. Aku bisa
bantu memikirkannya setidaknya.”
“Itu bukan hal yang pantas
diucapkan dengan penuh percaya diri ya. Gasnya sudah terpasang, kan?”
“Ya pastilah... kamu ini
ngomong apa sih?”
“Soalnya melihat
kondisinya, aku mikir jangan-jangan rumah ini cuma punya air dingin saja.”
“Mana mungkin.”
Himori bangkit seraya
tertawa dan menuju ke arah dapur, lalu mengeluarkan berbagai macam bahan
makanan dari kulkas.
Kulkas yang sampai kemarin
isinya hanya sebotol air mineral itu kini terisi penuh dengan bahan-bahan
masakan yang tidak kukenali.
Sepertinya ia pergi
belanja sebelum datang kemari. Ada begitu banyak bahan yang aku sendiri bingung
bagaimana menggunakannya seandainya tersisa nanti, jadi aku sangat berharap dia
akan menghabiskannya semua.
Nah, aku lalu duduk
berhadapan dengan Ebitani, dipisahkan oleh meja rendah ini.
Mengenai Ebitani Reni,
mari kuceritakan apa saja yang kuketahui tentangnya dalam satu hari ini.
Rambut pirang yang sangat
panjang hingga hampir menyentuh lantai jika dia duduk, tatapan mata yang entah
kenapa terlihat menakutkan, bertubuh kecil, dan pendiam.
...Hanya itu saja. Mau
bagaimana lagi. Apa yang bisa kau harapkan dari seseorang yang baru kutemui
hari ini?
Entah sedang waspada atau
karena ia pemalu, namun semenjak berada di rumahku, ia lebih sering
menghabiskan waktunya dengan mengotak-atik kuku atau ponselnya, kecuali saat
sesekali ikut menimpali percakapan.
Di atas meja rendah, tanpa
kusadari berbagai peralatan yang dibawa Ebitani kini telah berjejer.
Ada sekitar 5 buah alat
yang kelihatannya seperti kikir kuku. Bagaimana dia bisa membedakan kelimanya?
Lalu ada sebuah mesin misterius yang memancarkan cahaya, itu apa. Kuharap
cahaya yang keluar itu bukan cahaya yang berbahaya, kan?
“...Kamu sedang apa?”
“Nail art. Tidak
kelihatan?”
“Tidak ada penjelasan
tambahan sedikit gitu?”
“Menjelaskan pada orang
yang tidak tertarik dan hanya bertanya untuk membunuh waktu itu buang-buang
waktu saja.”
“...Ya sudah, kalau begitu
aku akan melihatnya sendiri, jangan mengeluh ya.”
Raut wajahnya tampak
sangat tidak puas ke arahku, namun ia tidak lagi mengucapkan sepatah kata pun,
sehingga aku memandangi pekerjaannya dalam diam. Kenyataannya aku memang
meminta penjelasan hanya untuk membunuh waktu.
Dia mengoleskan sesuatu ke
kukunya, lalu disorotkan di bawah cahaya alat tersebut, memoles sesuatu lagi
dari atasnya, lalu menyinarinya lagi—kemudian mengoleskan sesuatu lagi,
menempatkan beberapa hiasan berkilauan dengan pinset dan menyinarinya lagi, mengoleskannya
lagi lalu menyinarinya—dia terus-menerus mengulangi proses itu.
Oh begitu, aku benar-benar
tidak paham.
Saat aku menyadarinya,
kukunya sudah menjadi lebih panjang 1 cm dari aslinya, apa yang harus dia
lakukan hingga kuku manusia memanjang dalam waktu secepat itu. Bukankah hal
semacam ini memakai kuku palsu? Yang ditempel-tempel begitu, kan? Di toko serba
seratus yen banyak yang menjualnya.
Namun dari proses yang
kuperhatikan, dia cuma terus mengoleskan cairan seperti cat kuku, lalu
tiba-tiba saja kukunya memanjang. Sejak kapan kuku manusia punya sistem yang
bisa memanjang dengan cepat begitu?
Setelah puas memandangi
kukunya yang terlalu panjang dan dipenuhi hiasan yang sepertinya mudah
tersangkut di rambut atau pakaian, Ebitani pun menyadari tatapanku lalu
menghela napas, “Haaah...” dengan sangat kentara.
“Hei... aku tidak bisa
berkonsentrasi.”
“Padahal dari tadi kamu
kelihatan fokus tuh...”
“Mesum.”
“Hanya karena melihat
kuku!? Cantik kok. Memangnya itu tidak akan lepas?”
Entah apa yang aneh dari
pertanyaanku, sejenak ia menatapku dengan terkejut, sebelum kembali berwajah
datar.
“Bisa dilepas kok.”
“Bisa dilepas toh.”
“Karena kurang baik juga
untuk kuku, jadi aku menghapusnya sekitar sebulan sekali. Nogi mau coba?”
“Eh, tidak, aku rasa tidak
usah deh.”
“Oh, gitu.”
Aku tidak bisa
membayangkan bagaimana menjalani kehidupan sehari-hari dengan kuku seperti itu.
Memangnya dia bisa memegang pena atau sumpit? Mengepalkan tangan saja pasti
susah. Kerja paruh waktu di restoran sih kayaknya mustahil.
Jangankan itu, mengetik di
ponsel pintar pun rasanya butuh usaha ekstra untuk kuku sepanjang itu.
“Sudah hampir siap nih~,”
panggil Himori. Saat bau harum tercium dari arah dapur, Ebitani mulai merapikan
barang-barang dari atas meja.
“Maaf membuat menunggu~”
Ujung-ujungnya, hidangan
yang sudah selesai dimasak dihidangkan tanpa aku membantu satu hal pun.
Jika itu masakan buatan Onee-chan,
kami lebih sering mengambilnya langsung dari mangkuk besar berdua, maka saat
melihat makanan disajikan di piring untuk porsi masing-masing, hal itu saja
membuatku merasa seperti makan di restoran.
Walaupun piring yang
digunakan terlihat familier, ternyata cara penyajian saja bisa membuatnya
terlihat jauh berbeda, ya.
“O, Oooo...?”
“Apa ada makanan yang
tidak kamu sukai? Aku cuma buat seadanya saja sih.”
“Ah, tidak, tidak ada kok.
...Tapi ini beneran luar biasa.”
Sup miso, nasi putih,
daging babi panggang jahe (shogayaki), dan semacam rebusan sayur dan
daging ayam. Porsinya terlalu banyak untuk ukuran masakan yang diselesaikan
dalam waktu kurang lebih satu jam.
Kalau kelihatannya saja
seenak ini, mana mungkin rasanya tidak sedap. Pantas saja dia menawarkan diri
untuk memasak.
“...Selamat makan.”
Menunggu Himori duduk, aku
menyatukan kedua tanganku, dan untuk permulaan aku meraih mangkuk sup miso.
—Saat itulah, gerakan
tanganku seketika terhenti.
Karena aku mengingat fakta
bahwa aku tidak bisa mengecap rasa.
Ah, saat aku meminum ini,
ekspresi seperti apa yang benar untuk ditunjukkan.
Apa boleh aku bilang enak.
Karena dia memasaknya dengan penuh percaya diri, rasanya tidak mungkin tidak
enak, tapi kemungkinan kalau lidahnya payah mencicipi rasa tidaklah nol, dan
bisa saja dia melakukan kesalahan bodoh seperti lupa menambahkan bumbu.
Onee-chan juga terkadang
berbuat seperti itu. Seperti... lupa menaruh bumbu miso ke dalam sup miso.
Kuamati Ebitani yang mulai
makan duluan, mencoba melihat reaksinya. —Nol. Aku tidak tahu apa yang dia
pikirkan, tapi dia benar-benar makan dalam diam tanpa mengubah ekspresinya
sedikit pun.
Seakan menyadari diriku
yang mematung sambil menggenggam mangkuk, Himori menatap ke arahku.
“...Ada apa?”
“Ah, tidak, ......Bukan
apa-apa.”
Menguatkan tekad, aku
menempelkan mangkuk itu ke mulutku.
Aroma kaldu yang sedikit
mengendap di dalam mangkuk mengalir ke hidungku, lalu diikuti dengan sensasi
asin kaldu miso yang lembut melewati lidahku.
—Aku bisa mengecap
rasanya.
Suatu hal yang wajar itu
terasa seperti hal yang sudah sangat lama tak kurasakan, sampai-sampai sejenak,
pikiranku tidak bisa memprosesnya.
Agar kepanikanku tidak
terlihat oleh Himori yang menatapku dengan wajah heran, perlahan aku meletakkan
mangkuk itu dan membuka mulut.
“...Enak. Banget.”
“Masa sih? Syukurlah~ Aku
kan tidak pernah masak untuk orang lain selain Reni. Tuh Reni, harusnya
reaksinya begini kan?”
“Memangnya kamu tahu
rasanya?”
“Tahu lah. Ngomong apa
sih?”
Dia membalas ucapanku
dengan mengerutkan kening. Benar juga ya. Berarti cuma reaksinya saja yang nol
besar. ...Lumayan kejam juga kan? Padahal masakannya seenak ini.
Antara Onee-chan dan
Himori siapa yang lebih pintar masak, aku tidak bisa menilainya hanya dari satu
hidangan saja—tapi, rasa sup misonya saja sudah sangat berbeda. Mungkin aroma
wangi yang elegan adalah kata yang tepat. Walau bisa saja aku merasa berlebihan
karena ini pertama kalinya indra perasaku kembali setelah satu bulan.
“Nikmatnya...”
“Dapat reaksi sebahagia
itu hanya dari sup miso... Ada apa? Jangan-jangan rasanya ada yang aneh ya?”
“...Tidak, tidak ada yang
aneh kok.”
Aku meletakkan sup misonya
dan meraih mangkuk yang berisi nasi putih hangat.
Sudah lama aku tidak makan
nasi putih yang baru matang.
Saat aku menjepit nasi
yang mengepulkan asap itu dengan porsi besar menggunakan sumpit dan menyuapnya,
tekstur nasi yang dimasak dengan gembur itu memberikan sensasi rasa manis yang
samar.
Ah, benar-benar bikin
rindu. Memang bagi orang Jepang nasi itu paling pas. Akhir-akhir ini aku terus
memakan roti, tapi sebenarnya aku jauh lebih menyukai nasi.
“...Baru kali ini aku
melihat orang makan nasi dengan wajah seperti mau menangis begitu. Segitu
lezatnya ya?”
“Ya, sangat lezat. Kamu
jenius dalam menanak nasi ya.”
“Padahal aku cuma menanak
beras yang ada di sana dengan penanak nasi biasa, jangan-jangan berasnya beras
mahal ya?”
“...Entahlah, tapi
sepertinya itu beras standar dan penanak nasi standar kok.”
Aku tidak tahu apakah Onee-chan
membelinya dengan teliti, tapi saat aku ikut berbelanja dengannya, ia tidak
terlihat memilih-milih merek beras tertentu. Ia hanya asal membeli barang yang
paling menonjol di rak pajangan saja.
Saat pindahan, bibiku
memberiku sekantung beras kemasan lima kilogram yang belum dibuka, tapi kurasa
dia hanya memberikan beras yang ada di rumah.
“Sebenarnya aku tidak tahu
apa kamu punya beras atau tidak, makanya aku sekalian membeli spageti.”
“...Bukannya spageti tidak
cocok dengan rebusan sayur dan shogayaki?”
“Kalau begitu kan
rencananya menunya mau kuganti.”
Ia membalas dengan senyum
kecut dan raut wajah yang seolah mengatakan “ngomong hal yang sudah jelas
begitu”, tapi begitu aku memahami makna di balik kata-katanya, tanganku
seketika berhenti.
“Kukira memasak itu...
menentukan mau masak apa dulu baru menyiapkan bahan makanannya...!?”
“Eh, memang ada kalanya
begitu sih, tapi kurasa cuma kalau aku benar-benar ada hal spesifik yang ingin
kubuat saja?”
“Kalau tidak ada masakan
yang mau dibuat, lalu apa yang dibeli?”
“Pilih bahan yang paling
murah atau lagi musimnya, sesuai insting saja?”
“A, apa...”
“Lalu, yah sejalan menuju
kasir barulah kupikirkan mau masak apa.”
“Tanpa mencari resepnya!?”
“Menu yang bisa kumasak
kan lumayan terbatas~”
Tangan yang memegang
sumpitku gemetar. Apakah ini karena aku sudah bisa mengecap rasa?
—Tidak, bukan itu.
Kudengar rumor kalau orang
yang terbiasa memasak memang memiliki kebiasaan seperti itu.
Namun, satu-satunya sosok
yang jago memasak di dekatku yaitu Onee-chan, adalah tipe yang akan
merencanakan semua masakan mulai dari hidangan utama hingga hidangan pendamping
sebelum pergi belanja untuk periode hingga jadwal belanja berikutnya, dan hanya
berbelanja di swalayan persis sesuai daftarnya.
Ja, jangan-jangan...,
Himori, gadis ini—
Untuk memastikannya,
kuarahkan sumpitku pada tumpukan shogayaki itu.
Berbeda dengan buatan Onee-chan,
ia tampaknya menggunakan potongan daging babi tebal yang biasa digunakan untuk steak,
dan mengirisnya setelah dipanggang. Kuangkat sepotong daging tebal—yang berbeda
dari daging irisan tipis—itu, lalu menyuapnya.
Nyam, nyam. Daging yang
tebal ini sungguh mempertahankan rasa dagingnya tak peduli berapa kali
dikunyah. Meskipun begitu, rasanya tidak terasa hambar, balutan tepung tipisnya
membuat rasa manis gurih menyelimuti dagingnya, dan aroma jahenya menstimulasi nafsu
makanku.
Ini sangat cocok dengan
nasi. Kumasukkan nasi putih itu, dan segunung porsi di mangkukku itu habis rata
dalam sekejap mata.
“...Makanmu terlalu cepat
bukan?”
“Eh, ah, ...Bisa nambah
tidak?”
“Syukurlah untuk jaga-jaga
aku masak nasinya banyak~”
Sambil berkata, “Nih”, dia
mengulurkan tangannya, jadi aku menyerahkan mangkukku. Sambil melihat Himori
yang bangkit berdiri berjalan menuju arah dapur, Ebitani menghentikan sumpitnya
dan menatapku dengan sedikit terkejut.
“Ada apa?”
“.........”
“Silakaan~, nasinya masih
banyak lho. Lho, kalian berdua ada apa?”
“Tidak, Ebitani...”
“...Shuri.”
“Ada apa?”
“Tadi kamu...”
“Kalau begitu, berikutnya
ganti minta tolong pada Reni deh~”
“.........Iya.”
Percakapan tampaknya sudah
terjalin secara wajar di antara mereka berdua, tapi aku memutuskan untuk tidak
memedulikannya karena aku tidak mengerti apa-apa.
Mumpung ada makanan
bergizi, kualihkan perhatianku pada mangkuk kecil berisi rebusan agar
nutrisinya seimbang.
Akar teratai, konnyaku,
wortel, dan daging ayam, serta kacang panjang sebagai tambahan warna.
Karena sepertinya dia
tidak menggunakan bahan yang sama untuk masakan lainnya, pasti bahan-bahan itu
dibeli hanya untuk hidangan ini.
Menurutku rebusan seperti
ini kalau dibuat satu panci penuh biasanya baru habis setelah dua atau tiga
hari, jangan-jangan masih ada sisanya ya.
Potongan besar akar
teratainya hancur dengan renyah yang menyenangkan di mulutku. Padahal waktu
merebusnya pasti singkat, bagaimana bisa bumbunya bisa meresap begitu sempurna,
apa sebenarnya logikanya.
Rasanya memang lebih
ringan jika dibandingkan dengan shogayaki, tapi sangat pas karena lidah
akan kelelahan jika semua makanannya beraroma pekat. Daging ayamnya juga hancur
dengan lembut di dalam mulut, seolah ini adalah hidangan yang disajikan dari
restoran.
—Setelah makan sejauh ini,
aku merasa yakin.
“Himori, masakanmu
benar-benar luar biasa lezat ya...”
Kulahap nasi putih dengan
lauk rebusan itu, dan aku berkata, “Fuuh,” sambil memegang mangkuk yang sudah
kosong.
“Benar, kan~?”
“Sempat kuanggap lelucon,
tapi apa kamu mempelajarinya dari suatu tempat?”
“Saat kerja paruh waktu?”
“Kerja paruh waktu...”
Kalau begitu, maksudnya
kerja paruh waktu di tempat makan? Tapi kudengar banyak tempat makan di mana
anak SMA bekerja di dapur menggunakan metode central kitchen yang
makanannya tinggal dipanaskan. Kalau begitu ceritanya, ia pasti tidak bisa
belajar memasak walau ia ingin.
“Shuri, dulu bukannya kamu
ikut les kelas tata boga?”
Ebitani yang makan
perlahan bertanya seraya mematahkan akar teratai rebusannya dengan sumpit.
“Ah, iya. Tapi itu sudah
sangat lama jadi kupikir tak perlu dibahas~. Lagipula aku cuma diajari
dasar-dasarnya saja.”
“...Benar-benar hebat.”
“Eeh, masa sih~?”
Himori menggaruk pipinya
dengan lagak dibuat-buat seolah sedang malu, lalu menunjuk ke arah mangkuk
kosong yang kupegang sambil berkata, “Ah, nasinya, nasinya.”
—Ebitani membanting
sumpitnya ke meja dengan tenaga, dan merampas paksa mangkuk itu dari tanganku.
“Eh.”
Bangkit dari tempat
duduknya, Ebitani berjalan ke dapur dan membawakanku nasi yang menggunung
seakan ingin menantangku dari penanak nasi.
“Nih!”
“...Terima kasih.
Memangnya tidak apa-apa kumakan sebanyak ini?”
“Kami berdua tidak akan
tambah lagi, dan... di sana masih ada sisanya kan?”
“Sisanya masih setara
porsi ini lho.”
“Kamu masak dalam jumlah
besar ya...”
Hanya dari porsi yang
diberikan Ebitani tadi, rasanya seakan seberat satu gou, apa dia menanak
sekitar empat gou ya? Kalau itu Onee-chan yang sudah kenal porsi makanku
yang besar sih wajar, tapi padahal aku belum memberitahunya, dia berani sekali
memasak dalam jumlah sebanyak itu.
“Eh, emangnya kamu bisa
makan sebanyak itu? Bukannya itu porsi yang kelewat besar?”
Himori tampak agak
terkejut mundur saat melihat mangkuk itu, tapi jangan remehkan lambung anak SMA
yang bekerja kasar secara fisik lho.
“Mudah ini sih.”
Ku gigit sedikit shogayaki.
Sisa daging kubiarkan bertengger di atas nasi, lalu aku melahap nasinya dan
membiarkan perpaduan bumbunya menyatu di dalam mulutku. Ada yang bilang cara
makan ini terlihat tidak sopan, tapi karena inilah cara ternikmat, mau
bagaimana lagi.
Sambil terus mengulangi
gerakan itu, satu gou nasi yang menumpuk hilang tak berbekas dalam
sekejap. Masih ada sisa ruang untuk makan lagi sih, nah mari kita cek
piringnya.
Lauk yang tersisa hanyalah
sepotong pinggiran shogayaki, sedangkan dalam mangkuk rebusan tersisa konnyaku
dan kacang panjang yang tak kusentuh karena menyesuaikannya dengan sisa nasiku.
Pertama-tama aku memasukkan sisa rebusan ke dalam mulutku, mengunyahnya dan
merenung.
Sekarang ini hanya makan
nasi saja juga enak, jadi tidak masalah meskipun lauk pendampingnya habis—
“Ah, maaf. Aku benar-benar
tidak menyangka kamu akan makan sebanyak itu, sampai-sampai lauknya sudah
habis.”
“Rebusannya juga sudah
habis?”
“Iya, semuanya sudah
dihidangkan.”
Hmm, aku memiringkan
kepala. Sekecil apa pun sayuran yang dibeli dari swalayan, tidak mungkin ia
hanya bisa memasak porsi sekecil ini. Namun, jika Himori sang pembuat masakan
bilang sudah habis, berarti ya sudah habis. Apa dia membeli paket set rebusan, ya.
“Hmm... ya sudah,
kuberikan yang ini saja.”
Ucap Himori lalu menaruh
sisa shogayaki dari piringnya ke piringku satu per satu, sehingga aku
membalas, “A, aduh, maaf ya merepotkan...” Entah aku yang makannya terlalu
cepat atau mereka berdua yang terlalu lama, piring mereka berdua masih
menyisakan makanan lebih dari separuh. Padahal mereka tidak menambah porsi.
“Kalau sup miso saja sih
masih ada, mau?”
“Kalau ada, aku minta ya.”
“Okeeey~”
Begitu bangkit, Himori
menepuk punggung Ebitani—yang diam mematung seraya menatap shogayaki
pemberian Himori padaku tadi—dan menyalakan kembali anak itu. Keduanya pergi ke
arah dapur sambil memegang mangkuk sup miso dan nasi.
Sepertinya mereka
berbicara dengan suara kecil, tapi entah apa yang dibicarakan. Aku tidak
bermaksud merampas semua sisa lauk kok, jadi kuharap mereka tidak terlalu
memusingkannya.
Karena mereka kembali
dengan membawa semangkuk penuh sup miso dan seporsi nasi yang menggunung,
kuputuskan untuk menerimanya dengan penuh rasa syukur.
“...Terima kasih atas
makanannya.”
Menyatukan kedua tanganku,
kusampaikan ucapan terima kasih pada bahan makanan yang telah menyuplai tubuhku
dan pada Himori yang memasaknya.
“Syukurlah kalau kamu
merasa puas. Kamu sempat meremehkan masakan buatan anak SMA perempuan, kan?”
“Ya, rasanya ini yang
terenak nomor 2 di seluruh dunia.”
“Pujian itu sih terlalu
berlebihan... tunggu, kalau begitu jadikan peringkat 1 saja sekalian dong.
Memangnya yang nomor 1 itu siapa?”
“.........Heh.”
Karena secara alami
bayangan Onee-chan muncul di benakku, aku hanya bisa tertawa mendengus untuk
mengalihkan topik.
Mungkin karena akhirnya
aku kembali bisa menikmati makanan setelah sekian lama, aku jadi makan terlalu
banyak. Perutku penuh rasanya. Berkat lauk yang diberikan dan sup miso itu, aku
berhasil menyantap habis semua nasi yang dimasak.
Tapi ngomong-ngomong,
kenapa indra perasaku tiba-tiba sembuh ya.
Bicara soal akarnya, hal
yang menyebabkan aku kehilangan pengecapan rasa tak lain karena patah hati
ditolak Onee-chan. Kalau begitu harusnya sembuh jika ada momen yang sangat
berlawanan—seperti pernyataan cintaku diterima, atau aku mendapat pacar,
sesuatu yang seperti itu masih masuk akal.
Namun sekarang ini, aku
kan hanya menyantap hidangan rumahan saja.
Ini juga sepertinya bukan
soal berhubungan dengan siapa lawan makan bersamaku. Himori kan pada dasarnya
sekadar teman sekelas, dan aku malah baru bertemu dengan Ebitani hari ini.
“...Kalau seperti ini, aku
ingin memakannya setiap hari.”
Hal yang kupikirkan
meluncur keluar dari mulutku dengan pelan.
Karena aku merasa hal
buruk pun bisa kulupakan kalau aku bisa menyantap hidangan selezat ini.
Namun, mungkin tanggapanku
sangat tidak terduga, Himori yang berdiri hendak membersihkan alat makan
langsung terpaku dan menghentikan gerakannya.
...Hah? Apa aku baru saja
mengucapkan kata-kata aneh?
“A, a, apa-apaan yang
barusan kamu bilang itu!?”
Ebitani yang tengah
meletakkan alat makan ke tempat cuci gemetar saat angkat bicara. Himori yang
akhirnya kembali melanjutkan geraknya, menggaruk pipi dengan tampak salah
tingkah.
“Eeto............, yang
barusan itu, lamaran nikah?”
“.........Hah?”
Lho, apa maksudnya? Aku
kan cuma menyatakan kesan terhadap makanannya saja. Lamaran? Tadi kubilang apa
ya? Memakannya setiap hari—
...Ah, jadi begitu! Apa
itu disangka layaknya rayuan seperti “Aku ingin meminum sup misomu setiap
hari”!
“M, maaf! Tidak ada maksud
lain kok!”
“Lho tapi kamu tadi bilang
begitu lho!?”
“Aku kan hanya... bilang
karena aku merasa ingin memakannya setiap hari...?”
“Setiap hari itu... ya
kan...?”
Pandangannya beralih
karena merasa malu.
Soalnya, kalau makanannya
begitu lezat wajar saja aku ingin memakannya tiap hari, kan.
Namun, memang benar
tergantung pada pendengarnya, bisa jadi kata-kata itu terdengar seperti sebuah
lamaran pernikahan. Tiap kali memuji hidangan buatan Onee-chan aku selalu
memujinya setinggi langit, jadi sensorku sedikit mati rasa. Tapi, apakah perlu
bereaksi dengan berlebihan begitu?
Berbeda dengan Himori yang
bisa melepas senyum kecutnya karena kesalahpahaman telah diluruskan, Ebitani
berbicara dengan muka yang masih sangat memerah.
“K, kamu ya, adanya wanita
yang memasakkan makanan setiap harinya di rumah itu..., kamu sadar kan
bagaimana situasinya?”
“Hah? ...Wajar, kan?”
“B, benar-benar tidak
peka...”
Susah juga kalau dibilang
begitu. Lagipula Onee-chan tiap harinya menyiapkanku hidangan kok.
Diriku ini adalah anak
tunggal, orang tua tunggal, serta numpang hidup, memanglah situasi yang
terbilang istimewa, tapi bagi tempat tinggal umum pasti kehadiran ibu, kakak,
atau adik perempuan sering dijumpai, bukan? Biarpun memuji masakan keluarga
saja tak akan mungkin jadi ungkapan lamaran nikah, kan? Ebitani memang bereaksi
sangat berlebihan.
“Mau pulang sekarang?
Kalau cuma sampai stasiun biar kuantar deh.”
Usai mencuci perabotan aku
pun bertanya, namun Himori yang rebahan telentang membalasnya dengan ucapan
“Sebentar lagi~”, saat kulihat jam, ini sudah mendekati pukul 21:00. Sebuah
waktu yang masih bisa ditolerir walau berjalan di luar mengenakan seragam sekolah.
Meski begitu, kalau
mempertimbangkan waktu jalan kaki ke stasiun, naik kereta dan dari stasiun
terdekat sampai rumah—bisa dibilang waktunya sudah sangat mepet. Sekalipun
sedang main di luar, sekarang ini sudah masuk waktu untuk membubarkan diri.
Akan tetapi, yah dia
seorang gyaru. Mereka mungkin tak takut pada penertiban aparat. Kalau
bagiku sih, hal itu harus dihindari mati-matian karena akan berdampak buruk
pada catatan akademisku.
“Hei, bagaimana kalau yang
kalah di game berikutnya harus mengabulkan satu permintaan dari
pemenangnya?”
Ucap Himori seraya
mengangkat kontroler game, jadi aku pun memiringkan kepalaku, “Hah?”.
“Boleh saja sih..., tapi
apa kalian yakin? Jangan protes kalau aku meminta apa pun nanti.”
“Boleh saja~, itu juga
kalau kamu bisa menang, ya.”
Entah dari mana dia
mendapatkan kepercayaan diri sampai berani berucap demikian. Kalau itu game
baru mungkin beda cerita, tapi game yang dihidupkan Himori adalah game
tipe brawler yang dimainkan sejak sebelum makan malam tadi.
Aku tidak merasa bakal
kalah dan tidak punya alasan untuk menolaknya jadi kuiyakan saja tawarannya,
lalu Himori menyodorkan kontrolernya pada Ebitani sambil berucap “Nih, pass.”
Ebitani menerima kontroler
itu tanpa menunjukkan raut keheranan dan ia sedikit menggeser posturnya.
Mungkin posisi duduknya dirasa kurang rileks, dia bangkit berdiri (karena
jangankan sofa, bantalan duduk pun tak ada di sini jadinya mau bagaimana lagi),
dan dengan mulus, dia duduk kembali di posisi menyandarkan punggungnya pada
Himori.
Entah Himori sudah sangat
terbiasa dijadikan sandaran punggung atau apa, ia merangkul Ebitani dari arah
punggungnya sambil ikut memprovokasi berucap “Ayo Reni, hajar dia~”.
“Dengan kuku semacam itu
emangnya bisa main game...?”
“Main ponsel aja lancar,
main game doang juga pasti lancar lah.”
Ada benarnya juga, selagi
kupikirkan hal tersebut, Ebitani mulai memilih karakternya.
Tidak peduli lawannya
berganti, aku juga tidak mungkin akan kalah pada permainan yang sudah kuhafal,
jadi aku kembali mengambil posisi rileks menghadap TV dan—
—Namun.
“T, tidak mungkin,
kan...?”
Aku kalah. Itu pun
kekalahan telak hingga tak bersisa.
Aku benar-benar tidak
paham bagaimana caranya aku bisa menang. Padahal aku merasa telah memahami
karakter serta peraturannya, aku sama sekali tak melihat jalan untuk menang.
Tiap seranganku sama
sekali tidak kena, dan serangan lawan mengenai sasarannya dengan sangat akurat.
Ke mana pun aku mencoba menghindar, serangannya selalu diletakkan di sana
seolah diriku sedang bertarung dengan lawan yang bisa meramal masa depan.
Meski menang telak,
Ebitani mengembalikan kontroler itu kepada Himori tanpa raut kegembiraan
sedikit pun, dan kembali memegang ponselnya dalam diam.
Dengan gaya seperti ini
siapa juga yang mengira dirinya sangat jago bermain game. Karena sering
bermain bersama orang sehebat itu, pantas saja Himori terbiasa dengan
kekalahan.
“Menang tuh, kan?”
“Ya, uhm.”
“Kamu tak akan
mencari-cari alasan seperti karena lawannya diganti gitu kan?”
“Aku tidak berniat untuk
mengucapkan kalimat payah semacam itu.”
“Kalau begitu,
permintaannya adalah.... untuk sementara waktu, perbolehkan kami menginap di
rumah ini, ya?”
“.........Hah?”
Eh, barusan aku tidak
salah dengar, kan?
“Sekarang ini kami tidak
punya tempat tinggal tahu~”
Meski telah diberi alasan,
dari raut santai Himori aku tidak bisa membedakan apakah itu candaan atau dia
serius, jadi aku menatap ke arah Ebitani.
“...Ebitani sih, bakalan
pulang kan?”
“Hah?”
Dia mengerutkan dahi, dan
benar-benar menatapku dengan tajam.
“Memangnya kamu kira ini
jam berapa? Menyuruh perempuan pulang sendirian pada waktu seperti ini? Makanya
kamu dicampakkan tahu.”
“Ughhh...”
Serangan telak yang
langsung mengenai sasaran. Anak ini bukan jago main game saja tapi
berdebatnya juga kuat lho.
“Jangan terlalu murung
gitu ah~”
Karena punggungku ditepuk
oleh Himori, aku mengangkat wajahku dan melihat Ebitani memalingkan wajahnya
dengan tatapan sedikit canggung.
Lho, kenapa ia malah
menunjukkan raut wajah seolah menyesal karena bicaranya agak keterlaluan.
Padahal lidahnya tajam, apa sebenarnya dia tidak terbiasa melukai perasaan
lawan bicaranya?
...Tunggu sebentar.
“Lagipula dari awal kalian
yang nongkrong main di sini sampai larut malam kan!?”
Kalau dipikir baik-baik,
aku tidak salah apa-apa kan!?
“Yah, mungkin saja begitu,
tapi pikirkan saja sisi positifnya. Emangnya ada kesempatan emas tinggal
serumah bareng gadis sangat cantik lho selama sisa hidupmu?”
“...Kamu tak merasa sedih
dengan menyebut dirimu sendiri sebagai gadis cantik?”
“Sama sekaaaali tidak.”
Perempuan yang tangguh.
Terlebih lagi Himori, dari wajahnya memang terlihat penuh rasa percaya diri.
Akan tetapi, aku tidak
bisa menyetujuinya hanya dengan argumen sebatas itu. Pasalnya aku adalah
laki-laki yang telah tinggal bersama orang yang paling kusukai selama sekitar
10 tahun lho. Semua keberuntunganku sudah habis di sana lalu aku ditolak.
Aku menunjuk ke kamar
tidur dan mengumumkan.
“Kalian lihat sendiri kan
kasurnya cuma satu. Nyerah saja.”
“Pi n jam ka n♡”
“Ti d a k ma u♡”
Meskipun dirayu dengan
wajah imut, yang tidak bisa ya tidak bisa.
Memang benar karena
awalnya berniat untuk tinggal berdua jadi ada satu kamar berlebih, dan aku juga
berencana memasukkan satu ranjang lagi—tapi, itu sama sekali bukan untuk mereka
berdua.
“...Tentang kami yang
tidak punya tempat tinggal, kami tidak bohong kok.”
Ebitani mencengkeram ujung
bajuku seraya menundukkan wajahnya dan berkata demikian dengan suara pelan.
Hei, arah pembicaraannya jadi berubah nih.
“Seriusan...”
“Eh, kenapa reaksimu saat
giliranku tadi beda banget?”
“Kalau yang mengatakannya
itu kamu, Himori, wajar aku menyangkanya cuma candaan kan.”
“Itu bukan candaan lho~?
Hmm, mungkin kamu sudah tahu sih, tapi belakangan ini aku tinggal berdua sama
Reni. Reni yang tinggal sendirian, lalu aku kayak numpang hidup di sana?
Sebenarnya aku sama Nogi itu sesama komplotan penumbang rumah lho.”
“Ah, memang begitu
rupanya.”
Pantas saja kudengar
kalian sangat akrab. Apa kayak teman masa kecil? Entahlah.
“...Kamu tahu soal sewa
rumah berjangka?”
Aku tidak merasa familier
dengan kata-kata Ebitani. Sewa rumah, berarti seperti kontrakan atau kos kan.
Bagi aku yang tujuannya membeli rumah, aku sama sekali tidak paham istilah
penyewaan.
“Tidak tahu. Memangnya apa
itu.”
“Kontraknya harus
diperbarui secara berkala. Masa berlakunya adalah bulan Maret kemarin...”
“...Oh itu, berarti ada
biaya perpanjangan kontrak kah.”
Dia membalasku dengan satu
anggukan.
“...Kami tidak tahu kalau
ada hal semacam itu, dan tiba-tiba kami disuruh membayar biaya perpanjangan
seharga dua bulan biaya sewa, tapi kami tidak punya uang sebanyak itu...”
“Karena tidak bisa
melunasi, akhirnya kalian diusir dari rumah, begitu.”
“.........Iya.”
Dia mengangguk dengan
wajah seperti mau menangis. Ini jatuhnya aku seperti orang yang merundungnya
kan.
Yah, mau bagaimana lagi.
Jika tiba-tiba ditagih melunasi uang dalam jumlah besar, orang normal pasti
akan kesulitan.
Aku tidak tahu alasannya
mengapa dia tinggal sendirian, namun saat ia kehilangan rumahnya dan tidak
berusaha pulang ke rumah orang tuanya, berarti ada alasan mengapa ia tidak bisa
mengandalkan orang tuanya. Hal sebesar itu, tidak perlu kutanyakan pun aku
sudah paham.
“Habis itu kalian tinggal
di mana jadinya?”
“Hmm, kita mengakali
dengan menginap di kafe internet atau ruang karaoke yang pengecekan umurnya
longgar, dan sesekali masuk hotel cinta, tapi kalau gaya hidup seperti itu
dilanjutkan selama 1 bulan penuh, uang kami pun akan menipis~”
“...Berarti, itu...”
Barang bawaan yang luar
biasa banyak yang dibawa mereka berdua hari ini. Maksudnya, wujud aslinya
adalah—
“Ah, iya. Baju dan
lain-lain, sejenis kebutuhan pokok sehari-hari?”
“Jadi begitu rupanya.
Ah......, sebaiknya bagaimana, ya......”
“Kami berjanji tak akan
menyusahkan kok, ya? Lagipula cuma sampai kita menemukan rumah berikutnya saja
kok~”
“...Meski kamu berkata
begitu sih.”
Aku memang tidak menolak
mereka datang main ke rumah, tapi aku tidak merasa kami seakrab itu sampai bisa
tiba-tiba menginap, dan di rumah yang isinya hanya barang pribadiku ini, aku
tidak merasa mereka berdua bisa langsung tinggal di sini.
Setidaknya aku harus
menyesuaikan lingkungan hidupnya, dan masalah paling mendesak adalah peralatan
tidur—
“Selama tinggal bersama,
mungkin kita bakal tidak sengaja bareng masuk ke kamar mandi, atau pas lagi
lengah tidak sengaja mengintip yang lagi ganti baju... kurasa event sedikit
ecchi semacam itu bakal sesekali muncul lho~”
“Event semacam itu tidak
aku perlukan lho. Mana ada orang yang menganggap hal semacam itu sebagai
imbalan...”
“Eh?”
Himori membalasku dengan
kebingungan, sedangkan Ebitani—
“Hah?”
Ia mengerutkan alisnya,
dan memelototiku.
“Eh, tunggu sebentar, dari
sisi mana kamu tiba-tiba mengamuk ini.”
“............Bukan
apa-apa.”
“Wajahmu sama sekali tidak
kelihatan seperti ‘bukan apa-apa’ tahu......”
Memangnya dari alur
perdebatan barusan, bagian mana yang jadi pemicu kemarahannya. Posisiku ini kan
orang yang tidak mengharapkan event itu.
“Kalau aku menyuarakan isi
hatinya Reni, itu kayak, ‘kalau event ecchi beneran muncul harusnya bersyukurlah!’
Begitukah?”
“Mana mungkin begitu
kan!?”
“...Tapi kalau aku
bersyukur pun itu tetap bakal membuatmu marah, kan?”
“Ya jelas dong!? Da, dasar
mesum!!”
“Terus kalau nggak
disyukuri kenapa kamu yang marahnya ini!? Emosi di hatimu itu gimana sih!”
“Sama sekali nggak marah!
Dari awal saja jangan dilihat dong!”
Kamu ini sebenarnya sedang
tersipu malu atau sedang marah sih.
Karena tidak ada titik
terang, ku alihkan wajahku ke arah Himori, dan ia mengangkat satu jarinya
sambil berkata “Ah”, seolah baru saja menemukan ide jenius.
“Mulai besok, masakan
untuk malam hari saja biar aku yang buatkan. Pulanglah saja ke rumah dan setiap
harinya kamu bisa menyantap masakan yang hangat... Kalau penawarannya seperti
itu bagaimana? Tentu saja biaya bahan makanannya kami yang tanggung.”
“Oke, kuserahkan padamu!
Kesepakatan kita deal kan!”
“Lho, gampang banget kamu
ini!?”
Saat aku menyodorkan
tangan untuk berjabat tangan, alih-alih dibalas, tanganku justru dipukul
kencang.
Penawaran barusan itu
benar-benar curang. Sama saja dengan menyandera salah satu elemen dari sandang,
pangan, dan papan tahu. Kalau cuma memberikan tempat tinggal sih akan
kuberikan.
Meski baru satu bulan,
fakta bahwa aku tak bisa merasakan rasa makanan apa pun sangatlah merusak
mentalku.
Aku tidak mengerti sama
sekali mengapa indra perasaku tiba-tiba sembuh, tapi dengan situasi yang sama,
gejala itu seharusnya tidak akan kambuh lagi. Kenapa imbalan yang satu itu
tidak dikeluarkan lebih awal, sih. Kalau saja ditawarkan dari awal, aku pasti
sudah langsung mengangguk lho.
“Lalu gimana dengan event
ecchinya nih? Apa perlu dilakukan sedikit?”
“Itu sih tidak perlu, tapi
andai kata aku tidak sengaja melihatnya, tolong beritahu dari awal apa yang
harus aku lakukan.”
Tidak peduli seberapa
hati-hatinya aku, selama kita tinggal di bawah atap yang sama, hal-hal semacam
itu sangat mungkin terjadi. Kalau saat hal itu benar-benar terjadi lalu kalian
mengamuk karena berbeda dari kesepakatan, aku bakal sangat repot.
Onee-chan saja tidak
peduli dengan pandangan laki-laki dan biasa berganti baju di ruang tamu, lalu
kalaupun aku tidak sengaja melihatnya ia malah tertawa dan hanya mengatakan
“Dasar mesum~” lho.
Himori berujar “Kalau aku
sih sebenarnya tidak masalah...” lantas melempar masalah itu pada Ebitani.
“Hancurkan matamu lalu
hapus ingatanmu.”
“Tidak bisakah kamu
mengajariku solusi yang lebih masuk akal sedikit?”
“.........Minta maaflah.”
“Dimengerti.”
Dengan wajah yang masih
memerah, Ebitani memalingkan wajahnya dan berkata demikian. Yah, setidaknya
hasil itu masih lebih lumayan sebagai titik kompromi.
“Kalau begitu, mohon
bantuannya untuk beberapa waktu ke depan~”
Himori menggenggam erat
tangan yang telah kuulurkan tadi dan Ebitani terlihat bernapas lega.
Bagaimana dua orang yang
sangat bertolak belakang ini bisa menjadi akrab, jujur saja aku sedikit
penasaran.
—Bagaimanapun, karena
kalah bermain game, aku berakhir harus tinggal bertiga bersama mereka
melalui alur yang seperti ini.



Post a Comment