NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Dekkai Gyaru ke Chicchai Gyaru ga Shitsuren Shita Ore no Shinkyo ni Iribitatte Iru Volume 1 Chapter 8

Episode 8 “Karena Tidak Ada Apa-apa”


Saat aku masuk ke ruang kelas, tatapan seluruh siswa serentak tertuju padaku, namun mereka segera memalingkan wajah. Sepertinya orang yang mereka tunggu bukanlah aku.

 

Saat aku duduk di kursiku, siswa laki-laki yang duduk di belakangku menusuk punggungku, jadi aku menoleh ke belakang.

 

“Nogi~”

 

“Hm?”

 

Padahal dia yang memanggil, tapi tanpa mengatakan apa-apa dia mengotak-atik ponselnya lalu menunjukkan layarnya padaku.

 

Di luar ruangan yang gelap. Di bawah lampu jalan. Sebuah foto dengan pencahayaan yang nyaris tidak cukup untuk memperlihatkan wajah orang yang tertangkap di dalamnya.

 

“Tengah malam kemarin foto ini beredar, kamu sudah lihat?”

 

“Eh, nggak tahu tuh.”

 

“Kalau dilihat dari arahnya, sepertinya mereka baru keluar dari stasiun, ya.”

 

“Kelihatannya begitu.”

 

“Jangan-jangan ini pacarnya, ya...”

Foto itu menangkap momen di mana Shuri tertawa gembira sambil berjalan menggandeng lengan seorang pria berpakaian kerja.

 

Sudut fotonya buruk, dan karena gelap, wajah pria itu tidak terlihat. Namun, sosok perempuannya tertangkap cukup jelas sehingga aku yakin seratus persen kalau itu adalah Shuri.

 

“Kapan foto ini menyebar?”

 

“Mungkin sekitar sebelum jam 12 malam.”

 

“Hmm... Apa orangnya sendiri sudah tahu?”

 

“...Yah, masa kita berani tanya langsung?”

 

“Tanya saja lah.”

 

“Kalau gitu tolong tanyakan dong...”

 

“.........Aku sih nggak mau, ya.”

 

Habisnya, pria berpakaian kerja itu kan aku.

 

 

•••

 

 

Tepat sebelum bel masuk berbunyi, Shuri dan Reni tiba di sekolah.

 

Tatapan seisi kelas tertuju pada mereka. Sementara semua orang saling melempar pandangan untuk menentukan siapa yang akan bertanya, wali kelas keburu masuk, sehingga tidak ada yang bisa bergerak.

 

Waktu berlalu tanpa ada satu pun siswa yang berani bertindak terang-terangan, hingga akhirnya jam istirahat makan siang pun tiba.

 

Saat aku sedang duduk mengunyah roti sendirian di bangku samping gimnasium—tempat yang selalu kugunakan di hari cerah sejak diberi tahu sebelumnya—terdengar sapaan, “Yoo~”, yang membuatku mengangkat wajah.

 

Itu Shuri dan Reni, masing-masing membawa kantong belanjaan dari kantin.

 

Mereka berdua sebenarnya jarang menggunakan bangku ini meski mereka sendiri yang memberitahukannya padaku. Biasanya mereka makan bersama teman-teman di kelas atau di tempat lain di sekitar sekolah, jadi sebenarnya cukup langka melihat mereka di sini.

 

“Hari ini makan di sini?”

 

“Soalnya entah kenapa kami terus dikerumuni orang-orang, jadi kami kabur~”

 

“...Mau bagaimana lagi.”

 

“Nogi, kamu tahu sesuatu? Entah kenapa hari ini semua orang kelihatan gelisah, ya?”

 

Dilihat dari reaksinya, sepertinya belum ada yang bertanya langsung padanya. Aku membuka foto yang dikirimkan kepadaku pagi tadi di ponsel, lalu memperlihatkannya. Dia tampak sedikit terkejut, tapi tidak terlihat panik.

 

“Ini yang kemarin, kan?”

 

“Sepertinya begitu.”

 

Karena kami berdua sama-sama tahu kejadiannya, kami sedang berpikir ke arah “Kira-kira siapa yang memfotonya ya?”, namun Reni yang ikut mengintip layar ponsel dari samping menyuarakan sebuah keraguan.

 

“Kalau fotonya begini, orang nggak bakal tahu kalau itu Nogi, kan?”

 

Keraguannya itu sangat masuk akal.

 

Dari apa yang kudengar saat teman-teman sekelas membicarakan identitas pria itu, mereka hanya bisa berasumsi sampai pada tahap ‘pakaian kerja = pekerja kasar’. Mereka menganggap sudah pasti kalau pria itu orang dewasa, padahal sayangnya, pria itu cuma anak SMA biasa dan merupakan teman sekelas kalian sendiri.

 

“Mau bagaimana?”

 

Shuri bertanya kepadaku, tapi bukannya mau bagaimana—

 

“Bagaimana apanya, itu kan bukan hal yang bisa kuputuskan.”

 

“Tapi, kalau aku bilang pria itu Nogi...”

 

“...Lalu kenapa kalau kamu bilang begitu?”

 

“Kayaknya nanti orang-orang bakal nanya kenapa kita berdua jalan bareng tengah malam.”

 

“...Yah, pasti jadinya begitu, sih.”

 

Mana gandengan tangan segala, lagi.

 

Karena aku pernah mendengar langsung darinya bahwa ia tidak berniat mencari pacar selama masih sekolah, aku tahu ia melakukannya bukan karena ada niat terselubung.

 

Tapi apakah orang banyak akan percaya atau tidak, itu perkara lain. Aku sendiri percaya hanya karena tidak ada alasan baginya untuk berbohong di situasi seperti itu.

 

“Bi-bilang saja kalau kalian pacaran, selesai kan.”

 

Reni memalingkan wajah dan mengatakannya. Namun anehnya, Shuri malah bertanya kepada Reni, “Boleh, nih?”. Eh, bukannya tanya kepadaku? Kenapa tanya ke Reni?

 

“...Nggak tahu.”

 

“Hmm...? Seriusan boleh nih~?”

 

Tapi, Reni tidak membantah dan justru gemetar. Karena ia menunduk, aku tidak bisa melihat ekspresi wajahnya, tapi aku tahu wajahnya pasti memerah. Soalnya telinganya merah padam.

 

“.........Ah, nggak jadi deh.”

 

“Tuh, kan~”

 

Ada apa dengan percakapan barusan. Jelas sekali ada ketidakseimbangan antara jumlah kata yang diucapkan dengan jumlah informasi yang tersampaikan.

 

Apa maksudnya mereka sudah saling paham tanpa harus dijelaskan panjang lebar? Apa bersahabat dekat memang seperti ini? ...Sedikit membuatku iri.

 

“Bilang saja kalau kita ini keluarga, gampang kan.”

 

Pulang bareng sambil menggandeng lengan keluarga—menurutku ini adalah alasan yang sangat masuk akal dan cukup meyakinkan tanpa perlu dicurigai.

 

Tapi, entah kenapa reaksi mereka berdua agak aneh. Apa kata-kataku tidak nyambung? Kalau dengan keluarga yang akrab, bergandengan lengan itu wajar, kan?

 

“...Memangnya orang-orang bakal percaya~?”

 

“Kenapa nggak? Entah itu bilang kakak, orang tua, atau kerabat, alasannya sangat meyakinkan, kan.”

 

Namun sepertinya tidak puas dengan penjelasanku, Shuri menoleh ke arah Reni dan bertanya, “Meyakinkan?”. Reni menjawab dengan wajah sedikit bingung, “Yah, nggak sepenuhnya mustahil sih, tapi...”

 

Kenapa begitu? Harusnya sangat meyakinkan, kan. Tingkat keyakinannya setara dengan alasan pacar, lho. Kalau dibilang keluarga, aku sih bakal langsung percaya. Kalian malah kebalikannya, nggak bakal percaya?

 

“...Keluarga, ya.”

 

Entah kenapa, gumaman Shuri barusan...

 

...Terasa seolah mengandung makna yang sedikit berbeda dari kata ‘keluarga’ yang kugunakan.

 

 

•••

 

 

“Dari dulu aku perhatiin, Reni, makan siangmu itu sedikit banget, nggak sih?”

 

“...Nggak juga.”

 

“Padahal paginya juga nggak sarapan lho~”

 

“Seriusan?”

 

Memang benar Reni selalu berangkat ke sekolah sebelum makan pagi, tapi aku kira dia memakannya setelah sampai di sekolah.

 

“Lho, tapi pas hari Sabtu dan Minggu kamu sarapan dari pagi, kan?”

 

“Kan ada kerja sambilan.”

 

“...Benar juga.”

 

Soalnya aku memang pernah melihatnya makan.

 

“Terus, makan siangnya cuma itu?”

 

Reni sedang memakan sandwich buah yang sepertinya dibeli di kantin. Kalori dan harganya pasti lumayan tinggi.

 

Dari satu bungkus yang berisi tiga potong, dia makan satu potong utuh, lalu menggigit sepotong lagi sedikit saja. Entah karena sudah puas atau apa, dia malah membiarkan sisanya tergeletak begitu saja di atas bangku lengkap dengan bungkusnya, lalu kembali asyik bermain ponsel.

 

“Mau?”

 

“...Nggak usah, aku ada bagianku sendiri, nggak perlu dikasih juga—“

 

“Lagi pula paling-paling yang makan ujungnya Shuri.”

“Paling-paling apanya~”

 

Shuri protes, tapi karena Reni bersikeras menjejalkan sisa sandwich buah itu padaku, aku pun dengan enggan menerimanya.

 

Di sana ada bekas gigitan, dan juga sedikit noda kemerahan dari lip balm berwarnanya yang menempel.

 

“...Yah, kalau boleh sih kuambil.”

 

“Minta setengahnya, dong~”

 

Ucap Shuri sambil mengambil satu potong sisanya. Potongan yang berisi jeruk mandarin, yang belum digigit sama sekali.

 

Yah, karena sayang kalau disisakan, aku pun melahap sandwich buah berisi stroberi itu. Mungkin ukurannya lebih kecil dari sandwich di minimarket, karena bisa habis dalam dua gigitan saja.

 

“Hm, eh ini enak, ya.”

 

Karena harga sandwich buah biasanya 1,5 kali lebih mahal dari sandwich biasa, aku belum pernah membelinya sendiri.

 

Bukannya sejajar dengan katsu sandwich yang merupakan puncak rantai makanan di dunia sandwich, di beberapa minimarket harganya bahkan bisa lebih mahal dari katsu sandwich. Anak SMA laki-laki mana mungkin membelinya.

 

Tapi, setelah mencobanya begini, aku merasa agak rugi karena selama ini menghindarinya.

Mungkin karena roti tawarnya biasa dan tidak manis, rasanya tidak terlalu enek meskipun krimnya banyak. Kalau sedang tidak mau makan kue tapi juga sedang tidak ingin cream puff—biasanya aku akan beli puding ukuran besar untuk saat-saat seperti itu, tapi rasanya makanan ini adalah pilihan yang paling pas.

 

“Nih.”

 

Reni, yang dari tadi menatap lurus ke mulutku, menyodorkan air berkarbonasinya. Aku memang punya minumanku sendiri, tapi itu kopi susu yang manis. Karena tidak bisa menetralisir rasa manis di mulutku, aku menerimanya dengan penuh rasa terima kasih.

 

Kubuka tutup botolnya dan meneguk air berkarbonasi itu. Berbeda dengan minuman bersoda yang manis seperti kola, karbonasinya yang kuat menyapu bersih semua sisa rasa di mulutku.

 

Berhati-hati agar tidak meminumnya terlalu banyak, aku mengembalikannya. Reni dengan wajah sedikit memerah, ikut meminum air berkarbonasi tersebut. Dia meminumnya sedikit demi sedikit, seolah sedang menikmatinya.

 

“Ngomong-ngomong, kamu selalu minum itu setiap siang, kamu suka ya?”

 

“...Biasa aja.”

 

“Bukannya itu bukan tipe minuman yang biasa diminum kalau nggak suka-suka amat?”

 

Aku memang pernah dengar kalau di luar negeri ada orang yang minum air berkarbonasi tanpa gula layaknya air putih biasa, tapi ini kan Jepang.

 

“...Soalnya bikin perut kenyang.”

 

“............Aah.”

 

Begitu, begitu. Ini maksudnya... semacam diet, ya?

 

Alasan tidak makan pagi mungkin hanya karena terlalu banyak tidur sehingga kehabisan waktu. Kalau di sini aku kasih respons pura-pura nggak ngerti, dia pasti bakal menjauh. Aku tahu kok hal semacam itu.

 

Yaah, biarpun begitu, kadang-kadang pas pulang sekolah dia tetap minum yang manis-manis dari minimarket. Mungkin dia mengurangi porsi pagi dan siangnya untuk menyeimbangkan kalori itu, mungkin perasaannya seperti itu.

 

Sebenarnya tubuh Reni itu kecil dan ramping. Sama sekali tidak terlihat seperti butuh diet. Tapi kalau aku sampai menegurnya begitu, dia pasti bakal jawab, “Aku mengurangi makan justru untuk mempertahankan bentuk tubuh yang sekarang,” atau semacamnya.

 

“Menahan rasa lapar, ya... Nggak bisa kupercaya...”

 

“Lama-lama juga terbiasa, kok.”

 

“Menurutku Nogi saja yang makannya terlalu banyak, sih...”

“...Masa, sih?”

 

Di kalangan pekerja kasar, banyak orang yang makannya brutal seperti food fighter, lho. Kalau dibandingkan dengan mereka, aku ini masih mendingan.

 

“...Kamu mau?”

 

Saat aku sedang mengunyah roti kari, Reni menatapku tanpa berkedip.

 

“Satu gigitan saja.”

 

“Nih.”

 

Karena tidak enak memberinya bagian yang sudah kugigit, aku bermaksud memutar rotinya dari dalam bungkus. Tapi Reni menahan tanganku sambil bilang “Sudah nggak usah,” jadi kuberikan saja begitu.

 

Setelah menerima bungkusnya dan menggigit roti kari itu, Reni mengunyahnya sejenak—wajahnya memerah dan dia bergumam “Pedas”.

 

Benar, roti kari dari tempat ini memang sedikit pedas. Karena itulah aku membelinya.

 

“Aku juga minta gigit dong~”

 

Shuri membuka mulutnya. Reni lalu dengan sigap memutar rotinya dari dalam bungkus, memastikan bagian yang belum digigit menghadap ke depan, baru mendekatkannya ke mulut Shuri.

 

Sudah kayak ngasih makan hewan peliharaan saja.

 

“Aah, beneran agak pedas, ya? Nogi suka makanan pedas, ya?”

 

“Nggak juga sih... cuma karena kari di rumah selalu pakai bumbu yang tidak pedas.”

 

“Oh, semacam selingan, gitu?”

 

“Begitulah.”

 

“Ooh begitu~, eh Reni~”

 

“...Apa.”

 

Reni, yang sedang menyesap air berkarbonasinya, mengangkat wajah.

 

“Padahal aslinya kamu lebih kuat makanan pedas daripada aku, kan?”

 

“............”

 

Oh, begitu ya. Tapi aku pernah dengar, orang yang suka makanan pedas itu terbagi jadi dua tipe: tipe yang nggak ngerasa pedas sampai level tertentu, dan tipe yang ngerasa kepedasan tapi tetap suka. Reni ini pasti tipe yang kedua, ya.

Setelah itu pun, setiap kali aku membuka bungkus roti baru, Reni selalu mengambil satu gigitan. Tuh kan, aslinya kamu lapar, kan. Habiskan saja makananmu sendiri, dong. Biarpun rotinya jadi lebih enak sih...

 

 

•••

 

 

Sepulang sekolah. Melewati siswa-siswa yang sedang menuju kegiatan klub ekstrakurikuler, aku keluar dari gedung sekolah.

 

Di depan sana ada beberapa siswa laki-laki yang sedang berkumpul. Salah satu dari mereka—siswa yang posturnya paling besar, Watanabe—menyadariku dan mengangkat tangan sambil menyapa, “Yoo.”

 

Siswa laki-laki lainnya menatap kami berdua dengan ekspresi kaget, tapi Watanabe tidak peduli. Ia mendekat dan berkata dengan suara pelan yang tidak bisa didengar orang lain di sekitarnya.

 

“...Aku udah lihat fotonya.”

 

“...Udah lihat, ya.”

 

“Sialan, ternyata bukan Ebitani, tapi sama Himori...!”

 

Dia menggertakkan giginya dengan raut wajah sangat kesal. Begitu ya, Watanabe langsung mengenali pria berpakaian kerja di foto itu adalah aku. Ya wajar saja, dia kan satu proyek bersamaku tepat sebelum foto itu diambil.

 

“Benar juga... Himori, badannya memang bagus, sih...”

 

“Be, begitu, ya.”

 

“Pantas saja dari kemarin reaksimu kayak aneh pas kusinggung soal disembunyikan, rupanya gara-gara ini...”

 

“Gara-gara ini... ya...?”

 

Aku memalingkan wajah dan menggaruk pipi, menghindari tatapan Watanabe yang seolah bertanya, “Kenapa kamu malah kedengaran ragu, sih?”.

 

“Tapi, ternyata Himori punya niat buat pacaran, ya.”

 

“Hng?”

 

Ah, maksudnya soal perkataan Shuri sendiri yang bilang bahwa dia tidak berniat mencari pacar.

 

“Kamu udah dengar soal orang tuanya Himori?”

 

“Eh, nggak, aku nggak tahu apa-apa.”

 

Tanggapanku itu rupanya sangat tidak terduga, Watanabe pun terlihat kaget.

 

“Ibunya Himori katanya hamil pas kelas 1 SMA dan akhirnya dikeluarkan. Makanya, dia bilang ke setiap cowok yang nembak dia, kalau dia nggak mau mengulangi kesalahan yang sama dan memutuskan buat nggak mau pacaran selama masih SMA.”

 

“Hoo...”

 

Jadi ada cerita seperti itu di baliknya. Tentu saja, kalau sudah dibilangi begitu, kebanyakan cowok pasti bakal menyerah untuk mendekatinya.

 

“...Kamu bener-bener nggak tahu rupanya.”

 

“Yah, begitulah.”

 

“Kalau gitu... siapa yang nembak duluan?”

 

“Eeto... dari dia, mungkin...?”

 

Secara tak sadar aku menjawabnya dengan nada bertanya. Tapi, nggak enak juga berlagak sok jadi pacar pas orangnya nggak ada. Setidaknya memang dia duluan yang menggandeng lenganku, jadi kujawab saja dengan fakta yang hampir mendekati kebenaran.

 

Sepertinya cuma Watanabe yang sadar kalau pria di foto itu adalah aku. Ditambah dari bagaimana dia menangani urusan soal Reni sebelumnya, sepertinya dia bukan tipe ember yang suka membocorkan rahasia.

 

Mungkin aku nggak perlu repot-repot meluruskan kesalahpahaman ini, tapi entah kenapa aku merasa sedikit bersalah karena seolah sedang menggiring opininya.

 

“Curang banget...! Padahal kamu bisa akrab sama Ebitani aja udah bikin iri, ditambah lagi sama Himori, badannya kan bagus banget...”

 

“Be, begitu, ya...”

 

Dia kelihatan jauh lebih kesal daripada waktu nanya, “Kamu pacaran sama Ebitani?”. Oh, aku ngerti, berarti sebenarnya dari awal incaran utamanya itu Himori, toh. Begitu rupanya. Ini semua cuma salah paham kok, maaf ya.

 

“Kalian lagi ngapain di sini~”

 

Ada benturan dari belakang, dan sosok yang sedang menyender di punggungku sudah bisa ditebak, itu Shuri.

 

Watanabe langsung mundur selangkah sambil berseru, “Uwoh...!?”.

 

Begitu menyadari bahwa orang yang sedang mengobrol denganku adalah Watanabe, Shuri memiringkan kepalanya dengan ekspresi keheranan seolah bertanya, ‘Kenapa kamu ngobrol sama cowok ini?’.

 

Wajar saja sih, dari sudut pandang Shuri, interaksiku dengan Watanabe cuma terbatas pada kejadian di mana aku ditinju olehnya tempo hari.

 

Waktu itu pun kami nggak saling kenal, makanya dia merasa aneh melihat kami mengobrol santai seperti sekarang.

 

“Kami cuma ngobrol biasa kok. Kamu mau pergi main?”

 

“Cuma mau pulang doang~ Ya udah, duluan ya~”

 

Ucap Shuri sembari segera menjauhiku dan menuju gerbang sekolah. Entah apa yang dia katakan kepada teman-temannya soal foto itu, tapi setidaknya dia sama sekali tidak berniat bersikap seolah kami pacaran di depan umum.

 

Satu-satunya yang tahu identitasku cuma Watanabe yang masih salah paham, tapi yah, kalau cuma satu orang sih nggak masalah—“Aduh, sakit!”

 

Reni, yang kebetulan lewat, sengaja menancapkan kukunya ke punggung tanganku.

 

Woy, kamu lupa ya kalau kukumu itu bisa jadi senjata tajam? Tapi, Reni hanya lewat begitu saja di sampingku dengan wajah datar tanpa ekspresi, seolah berkata, ’Aku nggak ngelakuin apa-apa lho?’.

 

“...Hei.”

 

Setelah sosok kedua gadis itu menjauh hingga suaranya tidak terdengar lagi, Watanabe kembali angkat bicara.

 

Sepertinya dari posisinya, Watanabe bisa melihat saat Reni mencakar tanganku tadi, karena pandangannya sempat sekilas melirik ke arah tanganku.

 

“Ada apa.”

 

“Jangan-jangan kamu lagi diperebutkan sama mereka berdua, ya? Kayak gitu, kan?”

 

“...Kelihatannya begitu, ya.”

 

Kalau kelihatannya begitu, berarti itu murni 100% salah paham.

Watanabe mengangguk dengan ekspresi seseorang yang telah membulatkan tekad.

 

“Tiba-tiba aku pengen banget nonjok kamu, boleh nggak, nih?”

 

“Kamu mau lanjut kuliah? Atau langsung kerja?”

 

“Balesan macam apa itu, curang banget tahu nggak!?”

 

“Makanya jangan gampang main tangan sembarangan...”

 

Bagaimanapun juga kami sudah kelas 3. Kalau sampai bikin kasus kekerasan di sekolah, rencana masa depan bisa berantakan.

 

Nggak ada perusahaan yang mau nerima karyawan yang hobi gebukin teman sekelas, dan nggak ada universitas yang mau nerima mahasiswa berandalan yang pernah di-skors karena kasus kekerasan.

 

Ancaman ini sangat ampuh, terutama buat siswa kelas 3.

 

“...Padahal biasanya aku bisa nahan diri, lho.”

 

“Tapi kenyataannya waktu itu aku beneran kena tonjok tuh.”

 

“Habisnya Nogi jago banget kalau bikin orang kepancing emosi...”

 

“Terserah lah.”

 

Ya, maklum saja sih kalau dia nggak punya pertahanan yang bagus buat nahan emosi kalau dipancing.

 

Mengingat postur tubuh Watanabe yang besar dan terlihat jago berantem, nggak banyak orang yang punya nyali mancing emosinya karena takut babak belur.

 

 

•••

 

 

Setelah berpisah dengan Watanabe, aku meneruskan perjalanan pulang. Di depan sebuah minimarket, kulihat dua gadis yang sedang meminum frappe mengangkat tangannya setelah menyadari kedatanganku.

 

Minimarket ini terletak di arah yang berlawanan dari stasiun dan cukup jauh dari halte bus. Meskipun hanya butuh waktu 10 menit jalan kaki dari sekolah, hampir tidak ada siswa yang singgah ke sini kecuali mereka yang tinggal di sekitar area ini.

 

Untuk menghindari rumor bahwa kami tinggal serumah, kami tidak pernah berangkat atau pulang sekolah bersama-sama. Namun, kami sering ketemuan di titik ini. Sepertinya mereka mampir ke sini setiap hari.

 

“Ayo pulaang~”

 

Shuri langsung menghabiskan sisa frappe-nya dalam sekali sedot. Mungkin kepalanya tiba-tiba pening efek minum es terlalu cepat, ia mengerang pelan, “Auh...” sambil memegangi kepalanya sejenak, lalu membuang gelas kosongnya ke tempat sampah.

 

Sedangkan Reni, yang di gelasnya masih menyisakan lebih dari setengah frappe warna pink—yang kemungkinan besar rasa stroberi—

 

“...Nih.”

 

Menyodorkan minumannya itu padaku secara paksa.

 

“Makasih.”

 

Kuterima dan langsung kuminum. Rasanya seperti susu stroberi yang mewah. Kalau diminum pas musim panas pasti segar banget.

 

Berhubung cuaca sekarang ini belum bisa dibilang gerah—walaupun juga tidak sedingin itu—aku tidak kepikiran buat beli sendiri. Tapi karena Reni sering memaksakan sisa minumannya padaku, sepertinya aku sudah mencicipi semua varian rasa yang ada.

 

“Ternyata, beneran ada ya konsep ‘baikan setelah saling pukul’ itu...”

 

Gumamnya pelan. Tunggu sebentar.

 

“Kami nggak saling pukul lho...?”

 

Aku cuma dipukul sepihak tahu?

 

“Ada urusan apa kamu sama cowok tadi?”

 

“Oh, cuma kebetulan satu lokasi kerja kemarin, makanya kami agak ngobrol sedikit.”

 

“Terus tiba-tiba langsung baikan... cowok kok bisa sesimpel itu sih...”

 

Berisik amat.

 

“Perasaan cowok itu nggak seawet cewek tahu. Kejadian yang sudah berlalu bisa langsung kami relakan begitu saja.”

 

“Jadi cowok itu organisme bersel satu?”

 

“Nggak sampai seprimitif itu juga kali!?”

 

“Makanya kamu gampang lupa, ya?”

 

“...Yah, tapi ingatanku lumayan bagus kok.”

 

“Masa?”

“Eh, iya.”

 

Kalau soal hafalan, aku masih lumayan pede lho.

 

“Tanggal 7 Juni dua tahun yang lalu.”

 

“...Ada, apa?”

 

“Tuh kan kamu nggak ingat...”

 

Dia menghela napas sangat panjang, seolah seluruh udara di paru-parunya keluar tanpa sisa.

 

“Eh, tunggu bentar, kalau tiba-tiba cuma disebutin tanggalnya doang mana aku bisa ingat...!? Memangnya itu hari apa? Coba kasih bocoran sedikit, aku pasti bakal ingat.”

 

“Nggak ada apa-apa.”

 

“Kok nggak ada apa-apa sih!!”

 

Saat aku balik berteriak, ia kembali menghela napas panjang.

Nggak salah lagi, pasti ada kejadian sesuatu di tanggal itu. Tapi sepertinya Reni nggak berniat buat membicarakannya.

 

Kalau dipikir-pikir, belum lama ini aku juga pernah ditanya apakah ada kejadian saat aku masih kelas 1.

 

Berkaitan dengan pertemuan antara Reni dan Shuri, kalau tidak salah. Tapi, meskipun aku sudah mencoba mengingatnya setelah itu, sama sekali tak ada satu pun cerita yang terlintas yang menghubungkanku dengan mereka berdua.

 

Aku mencoba menoleh ke arah Shuri untuk minta tolong, tapi ia hanya mendengus tertawa. Sialan, aku janji bakal mengingatnya suatu saat nanti.

 

Tapi kan aku nggak nulis diari dan nggak main medsos juga... kegiatanku hari itu... apa aku kerja sambilan ya...? Bahkan pas kulihat kalender di ponselku, aku cuma tahu kalau hari itu adalah hari kerja biasa. Aku nggak pernah mencatat jadwal kerjaku, jadi ini beneran game over sedari awal.

 

Ingatanku ini memang benar-benar ampas.

 

“...Nggak ingat.”

 

“Oh.”

 

“Kalau aku udah lakuin suatu kesalahan, maafin, ya.”

 

“Kan tadi udah kubilang, nggak ada apa-apa.”

 

Reni membalas dengan ketus tanpa sedikit pun menyembunyikan kekesalannya, lalu berjalan melenggang pergi sendirian. Aku pun dengan panik bergegas mengejarnya. Sedih tahu ditinggalin begini...

 

 

•••

 

“Ah, omong-omong Shuri,”

 

Sambil berjalan aku teringat akan sesuatu, jadi aku mencoba mengajak Shuri yang berjalan sedikit di depanku untuk ngobrol.

 

“Hm?”

 

“Setiap kali ada yang nembak kamu, alasan penolakanmu ekstrem banget, ya.”

 

Hanya dengan kalimat itu saja sepertinya Shuri sudah mengerti apa yang kumaksud. Ia menggaruk pipinya dengan sedikit malu.

 

Melihat reaksinya, sepertinya rumor bahwa dia selalu menggunakan alasan itu kepada semua orang benar adanya.

 

“Ya habisnya~ Kalau alasannya dibikin lumayan canggung begitu, pihak cowok juga bakal susah buat mendesak lagi, kan?”

 

“Ya memang benar sih, tapi...”

 

Ebitani memutar kepalanya ke arah kami, lalu berbicara.

 

“Entah kamu percaya atau nggak, tapi cerita itu memang benar, lho.”

 

“...Eh, serius?”

 

Tampaknya apa yang kupikirkan telah terbaca olehnya. Shuri sedikit kaget dengan jawaban Reni, namun ia tersenyum pahit sambil berkata, “Memang bukan kebohongan kok~.”

“...Maaf.”

 

“Lho kok Nogi yang minta maaf sih, kecuali kalau kamu udah nembak terus kutolak. Eh, jangan-jangan kamu mau nembak aku ya? Mau kita ulang lagi dari awal?”

 

“Jangan bercanda, dong. ...Alasan kalian nggak mau ngebahas soal keluarga, salah satunya karena itu juga?”

 

“Hng~?”

 

Merasa bimbang sejenak, bukannya menjawab, Shuri melompat mundur selangkah lalu merangkul lenganku.

 

Ia memeluk lenganku erat-erat, kemudian menyandarkan sedikit tubuhnya. —Aaah, aku bisa menangkap maksudnya, ia pasti mau mengalihkan pembicaraan, pikirku hanya dengan melihat gerakan tubuhnya itu.

 

“...Maaf ya, aku belum bisa cerita apa-apa.”

 

“Nggak usah minta maaf. Setiap orang pasti punya hal yang nggak ingin diceritakan, kan.”

 

“Memang sih, tapi kayaknya aku terlalu terlena dengan kenyataan bahwa kamu nggak pernah mendesak buat bertanya~”

 

“Jangan dipikirkan.”

 

“...Reni juga tuh.”

 

Terdorong oleh perkataan Shuri, aku melihat ke depan. Reni terlihat sedikit tidak puas, namun ia tidak mengeluarkan komentar pedas maupun memalingkan wajah, melainkan menatap lurus ke arahku.

 

“Biarpun begitu, kalau kalian memang nggak mau cerita, aku juga nggak bakal maksa nanya.”

 

“Kamu nggak pengen tahu? Kayak kenapa kami nggak pulang ke rumah orang tua, kenapa kami tinggal sendirian, atau hubungan kami sama keluarga.”

 

“Biasa aja, sih.”

 

“Kenapa?”

 

“Itu karena...”

 

Ditanya seperti itu, bagaimana ya perasaanku?

 

Kalau aku bilang tidak ingin tahu, itu kebohongan. Tapi, kalaupun aku tahu, apa bedanya? Memangnya apa lagi yang bisa kulakukan.

 

Aku sendiri sadar kalau aku dibesarkan dalam lingkungan yang cukup spesial, tapi aku tidak pernah merasa kalau diriku ini menyedihkan.

 

Di rumah yang hanya dihuni oleh bibi dan Onee-chan itu, aku benar-benar diperlakukan layaknya keluarga kandung.

Alasan utamaku ingin pindah dari sana adalah karena aku merasa tidak enak merepotkan mereka lagi, selain tentu saja karena aku punya impian untuk bisa hidup berdua bersama Onee-chan.

 

Bukan karena aku tidak merasa nyaman tinggal di sana. Kenyataannya, aku sangat nyaman di sana.

 

—Namun, bagaimana jadinya kalau suasana di rumah itu tidak nyaman?

 

Bagaimana jadinya diriku jika Onee-chan tidak pernah menganggapku sebagai adik kandungnya sendiri, melainkan murni hanya sebagai sepupu yang kebetulan numpang di rumahnya?

Sejak aku mulai hidup sendiri, pikiran semacam itu sesekali terlintas di kepalaku.

 

Sayangnya, aku tidak pernah menemukan jawabannya. Karena, aku tidak pernah berada di posisi itu.

 

—Tapi, di dunia ini, ada begitu banyak orang yang lahir dan dibesarkan di lingkungan seperti itu.

 

Himori Shuri dan Ebitani Reni. Mereka berdua, kemungkinan besar adalah golongan orang-orang di posisi itu.

 

Kalau begitu, jika aku—seseorang yang cukup beruntung mendapatkan tempat numpang yang begitu baik sehingga tidak jatuh ke dalam posisi itu—bersimpati pada mereka berdua, itu sama halnya seperti mengasihani karakter fiksi yang punya latar belakang menyedihkan di dalam sebuah cerita. Simpatiku itu tidak akan pernah bisa diartikan sebagai empati yang nyata bagi mereka yang benar-benar menjalani kehidupan tersebut.

 

—Itulah sebabnya, aku tidak akan bertanya.

 

Kalau aku tidak bertanya. Kalau aku tidak tahu. Dengan begitu, seberat apa pun latar belakang mereka, aku tidak akan jatuh ke dalam rasa simpati sempit yang merendahkan.

 

“Kalian cerita tujuannya buat dikasihani, kan? ...Bukan begitu, kan.”

 

Tumben-tumbenan Shuri membalasnya dengan berdiam diri. Reaksi Reni sih, nggak dilihat juga aku sudah tahu.

 

“Kalau cerita bisa bikin beban kalian berkurang, ceritakanlah. Aku bakal dengerin. Kalau masih ada masalah yang belum terselesaikan, aku bakal bantu sebisa mungkin.”

 

“.........”

 

Tapi, jika bukan itu tujuannya.

 

“Kalau seumpama kalian cuma bakal ingat masa-masa kelam kalian tanpa ada ujung cerahnya sama sekali—“

 

Aku sudah siap jika dikatai dingin. Karena memang begitulah caraku bertindak.

 

“Aku nggak akan nanya, dan aku juga nggak mau peduli dengan urusan pribadi kalian. Kalau kalian berdua mau pergi dan hidup berdua lagi, aku nggak akan ngelarang. Tapi kalau masih mau tinggal di rumahku, aku juga nggak punya niat buat ngusir kalian.”

 

Setelah merangkum semuanya ke dalam pernyataan tegas, aku menunggu reaksi mereka berdua.

 

—Senyap. Eh, apa nggak kedengaran? Padahal itu ungkapan isi hati yang butuh keberanian gede, lho...

 

 

•••

 

 

Kami berjalan dalam diam cukup lama, lalu sampailah di depan rumah.

 

Shuri, yang akhirnya melepaskan lenganku, menyandarkan punggungnya ke pintu masuk dan berdiri tepat di hadapanku saat aku berniat membuka kunci.

 

“Biarpun kami bilang masih mau lanjut numpang di rumah ini, kamu beneran nggak bakal nolak?”

 

“Ya, aku nggak punya alasan buat menolak.”

 

“Kalaupun sisa satu orang di antara kami doang?”

 

“Ya wajar dong.”

 

“...Kenapa?”

 

“Nggak ada karena-karenaan—“

 

“Maaf ya, tapi aku beda dari Nogi. Aku nggak bisa cuma milih diam atau asal nebak perasaan orang. Makanya, tolong kasih tahu alasannya. Aku mau dengar penjelasanmu di sini, sekarang juga.”

 

Wajahnya saat ini benar-benar berbeda dengan raut ceria Shuri yang selalu ramah pada siapa pun.

 

“Kenapa Nogi bisa berkata begitu padaku?”

 

“............”

 

Dia tidak mau bercerita tentang kehidupannya sendiri. Namun dia memintaku untuk menceritakan isi hatiku. Itulah maksud perkataan Shuri.

 

Mungkin ada yang akan menganggap permintaannya itu terlalu arogan dan seenaknya sendiri. Tetapi, aku tidak berpikir demikian.

 

—Aah, memang beginilah seharusnya.

 

Itulah titik keseimbangan yang paling tepat antara orang yang pernah diselamatkan dan orang yang belum pernah merasakannya, kan.

 

“Karena, aku pernah ditolong oleh orang lain.”

 

Bukannya aku diselamatkan dari belenggu kesengsaraan hidup, bukan.

Berkat Onee-chan, aku mulai bisa mempercayai bahwa latar belakang keluargaku bukanlah sebuah kemalangan hidup.

 

Berkat Onee-chan, aku sama sekali tak pernah tahu rasanya hidup menderita.

 

Karena itulah, setidaknya.

 

Jika aku punya keinginan untuk membantu orang-orang di sekitarku, apakah pemikiran tersebut bisa dibilang egois dan sok pahlawan?

 

“...Itu ulah dari orang yang jadi cinta pertamamu itu?”

 

“Iya.”

 

“Karena itu, kamu berniat menolong orang lain juga?”

 

“Benar.”

 

“Kalau begitu, misal yang minta tolong bukan aku atau Reni, apa Nogi juga bakal tetep ngebantu?”

 

“Kira-kira begitu.”

 

“.........Gitu, ya.”

 

Ya, ini murni suara hatiku.

 

Aku tidak berbohong. Jadi, sangat wajar kalau aku dianggap tak berperasaan.

Bukan berarti, karena mereka adalah Himori Shuri dan Ebitani Reni—bukan karena itu.

 

Jika dengan sisa kemampuanku aku bisa memberikan tempat bernaung bagi seseorang, siapa pun tidak masalah.

 

Kebetulan saja, orang-orang itu adalah mereka berdua. —Tapi.

 

Tapi, kalau sekarang—

 

Entah sejak kapan, hatiku merasa nyaman bila berada di dekat mereka.

 

Padahal niat awalku, siapa pun tidak masalah.

 

Lewat celah hatiku yang berlubang akibat patah hati, mereka berdua diam-diam menyelinap masuk.

 

Celah tersebut, sekarang pasti sudah terbentuk menyesuaikan sosok mereka berdua.

 

Kalau mereka berdua menghilang, celah itu mungkin akan menganga kembali.

 

Meski aku merasakan hal itu, aku malah melontarkan kata-kata yang seakan-akan mendorong mereka menjauh.

 

Karena, aku tahu mereka sama sekali tidak mengharapkan kalimat manis berbasa-basi dariku.

 

—Mereka pasti bakal benci padaku.

Aku sangat menyadari seberapa tajam makna perkataanku barusan. Sebaliknya, mungkin akan jauh lebih mudah bagi mereka berdua kalau aku bilang kalau aku punya niat terselubung terhadap mereka. Karena kalau ada niat seperti itu, mereka akan langsung mengerti kenapa aku tidak mau mengusir mereka.

 

Tapi, kalau pakai alasan yang membingungkan dan logikanya tidak masuk akal begini—

 

Shuri yang menunduk akhirnya membuka mulutnya, dan berucap dengan lirih.

 

“...Hei.”

 

“Ada apa.”

 

“Bolehkah aku, tinggal di sini sedikit lebih lama lagi?”

 

“Tentu.”

 

Mendengar jawabanku, Shuri mendongak dan tersenyum.

 

Senyumannya kali ini, sangat jauh berbeda dengan gaya senyum Himori Shuri yang biasanya selalu ramah dan ceria—

 

Ada kesan pasrah di dalamnya,

 

Namun, tak terlihat ada kepalsuan di sana,

 

—Sebuah senyuman yang sangat tenang.

 

“Untuk ke depannya juga, mohon bantuannya, ya.”

 

“Ya.”

 

Aku mengangguk ke arah Shuri yang sedikit menundukkan kepalanya, namun tiba-tiba lengan bajuku ditarik pelan. Aku pun menoleh.

 

Reni sedang menatapku lekat-lekat dalam diam. Oh, gantian sekarang.

 

“Nogi.”

 

“Ada apa.”

 

“.........Mohon bantuannya juga.”

 

“Sip.”

 

Tak ada kata lain yang terucap setelah itu.

 

Raut wajah Reni tetap datar tanpa ekspresi seperti biasa.

 

Meski begitu, kata-kata yang diucapkannya barusan entah kenapa terasa sedikit lebih hangat dari biasanya.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close