Episode 9 “Karena Itu
Kamu”
Aku berendam di bak mandi
yang sedikit lebih luas dari apartemen tempatku tinggal sebelumnya.
Sambil menaruh dagu di
pinggiran bak, aku berpikir sambil melihat Shuri yang sedang mencuci rambutnya.
(Setiap orang
pasti punya hal yang tak ingin diceritakan, ya...)
Itu adalah kata-kata yang
diucapkan Nogi tadi.
Sudah pasti ada. Tidak
mungkin tidak ada. Habisnya, aku maupun Shuri sama sekali tidak menceritakan
apa-apa pada Nogi.
Kami memang menceritakan
alasan kenapa kami diusir. Karena itu diperlukan untuk menjelaskan mengapa kami
tidak punya tempat tinggal.
Tapi, hal-hal selain itu—
Mengapa kami tinggal
sendirian, mengapa kami tidak mengandalkan orang tua.
Padahal keadaannya begitu,
mengapa kami malah nekat mengandalkan orang yang tak terlalu kami kenal—
Cerita-cerita yang
seharusnya paling pertama dibahas itu, sama sekali belum kami ceritakan.
Karena tidak ditanya.
Kalau dibilang begitu, memang terdengar seperti alasan yang sangat masuk akal.
Namun, sebagai orang yang meminjam tempat tinggal, itu terlalu kurang ajar.
Kami harus mengatakannya.
Tapi, aku tidak ingin mengatakannya. Karena, aku merasa jika semuanya
diceritakan, sesuatu akan berubah.
—Tentang kejadian dua
tahun lalu, sampai sekarang pun kadang aku masih mengingatnya.
Dalam perjalanan pulang
sekolah, di depan stasiun, aku diganggu oleh pria-pria yang tak kukenal.
Waktu itu aku belum
mengecat rambutku sampai seekstrem ini, tapi entah apa aku terlihat seperti
perempuan murahan, sekelompok pria muda seumuran anak kuliahan mengajakku
bicara dengan sok akrab seolah kami teman lama.
Karena sadar mereka sedang
menggodaku, aku mengabaikannya dan mencoba pergi, tapi salah satu dari mereka
mencengkeram lenganku.
—Aku takut.
Di SMA, sedingin apa pun
aku menanggapi anak laki-laki, tidak pernah ada yang sampai berani main fisik.
Malahan, ada saja anak laki-laki yang senang diperlakukan dingin, sampai-sampai
rasanya agak menjijikkan.
Kelompok pria itu
sepertinya sudah sangat berpengalaman. Begitu sadar aku mencoba lari, mereka
langsung mengepungku untuk menutup jalan keluar.
Mulut mereka memang
melontarkan kata-kata manis, tapi mata mereka menatapku seolah sedang menilai
kualitas sebuah barang.
—Senyum murahan itu.
Kata-kata murahan itu.
Tenaga di lengan yang
mencengkeramku hingga tak bisa kulepaskan.
Mereka pasti tidak tahu
seberapa besar ketakutan yang kurasakan saat itu.
Menjerit, atau bagaimana?
Karena ini di depan stasiun, sebenarnya ada lumayan banyak orang di sekitar.
Tapi, kalau tiba-tiba ada
perempuan yang menjerit histeris, apakah akan ada banyak orang yang mencoba
menolong? Ada kemungkinan aku hanya akan dianggap perempuan gila yang sedang
kumat.
Mereka terlihat seperti
kelompok mahasiswa berandal. Dari penampilanku saja, aku juga pasti akan dikira
sejenis dengan mereka. Orang-orang pasti ingin menghindari masalah dan
ujung-ujungnya aku hanya akan diabaikan.
Aku masih ingat dengan
sangat jelas bagaimana darahku berdesir hebat saat menyadari bahwa aku sudah
mati langkah.
—Tepat pada saat itulah.
Pria yang mencengkeram
lenganku tiba-tiba terpental jauh.
Aku baru menyadari bahwa
pria itu ditendang dari belakang beberapa saat kemudian.
Aku yang lengannya sempat
tertarik pun nyaris terjatuh, tapi seseorang langsung menangkap dan memeluk
pinggangku dengan sigap.
Tanpa sadar aku menjerit.
Bukan cuma lenganku, pinggangku juga tiba-tiba dipegang.
Dengan mata yang bergetar
ketakutan, aku perlahan menoleh.
Namun, orang yang memeluk
pinggangku bukanlah salah satu dari kelompok pria yang mengepungku tadi.
Dia adalah seorang siswa
laki-laki yang mengenakan seragam SMA yang sama denganku, namun wajahnya tidak
kukenali.
“Kalian, ngapain
berani-beraninya nyentuh pacar orang?”
Sikap siswa laki-laki yang
begitu meyakinkan dan penuh percaya diri itu sukses membuat pria-pria yang
menggodaku ciut.
Dari semua orang yang ada
di sana, kurasa aku adalah orang yang paling terlambat menyadari bahwa aku baru
saja diselamatkan.
“B-bangsat—“
Pria yang tadi terpental
bangkit dan mencoba mencengkeram kerah siswa laki-laki itu—
Namun lutut siswa
laki-laki itu terangkat, dan dengan mulus mendarat telak di dagu sang pria.
“Aah...”
Entah sengaja atau tidak,
siswa laki-laki itu memasang wajah sedikit canggung, sementara si pria jatuh
terkapar di tanah.
“...Terus, kalian ini
maunya ngajak berantem atau mau menggoda (nanpa) ? Kalau mau berantem
biar kuladeni, tapi kalau nanpa mending menyerah saja.”
Mendengar ucapan siswa
laki-laki itu, sisa pria-pria tadi saling bertatapan. —Apakah akan terjadi
perkelahian besar? Aku memejamkan mataku rapat-rapat.
“Nggak, kami lagi nanpa.”
“Iya, nanpa...”
“Sori, ya.”
“Kalau lagi nunggu pacar
harusnya bilang dari awal kek...”
Pria-pria itu bergumam
membela diri, lalu menepuk-nepuk pipi teman mereka yang terkapar pingsan.
Sepertinya, adegan perkelahian besar ala manga preman batal terjadi.
“Kalau gitu, ayo kita
pulang.”
“...Iya.”
Dengan pinggang masih
dipeluk oleh siswa laki-laki yang namanya tak kuketahui itu, kami berjalan
menjauh dari stasiun.
Lalu, saat area stasiun
sudah tidak terlihat lagi, ia dengan cepat melepaskan tangannya dari
pinggangku.
“Tiba-tiba merangkul, maaf
ya!”
Siswa laki-laki itu
menyatukan kedua tangannya dan menundukkan kepala meminta maaf.
“...Eh?”
“Wajahmu pucat terus dari
tadi, kamu pasti risih kan.”
“.........Nggak apa-apa,
aku sudah tenang kok.”
“Syukurlah kalau begitu.
Ya sudah, hati-hati di jalan ya.”
“Hah?”
Hanya mengucapkan hal itu,
entah karena ada urusan mendesak atau apa, siswa laki-laki itu berlari pergi
meninggalkan pesan,
“Jangan langsung balik ke
stasiun lho!”.
•••
Keesokan harinya.
Aku mencarinya di sekolah.
Karena aku sama sekali tidak tahu namanya, jangankan nama, dia kelas berapa pun
aku tidak tahu.
Setelah mencari beberapa
saat, aku berhasil menemukannya. Dia ada di ruang kelas 1-1.
Kebetulan ada anak
laki-laki dari kelasku yang lewat, jadi aku bertanya padanya, “Itu siapa?”.
Anak itu menjawab, “Itu Nogi.
Anak yang ngasih pidato
perwakilan murid baru pas upacara penerimaan.” Sejujurnya aku tidak ingat
apa-apa soal upacara itu, jadi aku sama sekali tidak memiliki ingatan tentang
pidato tersebut.
Saat aku bertanya pada
guru, ternyata pidato perwakilan murid baru itu diberikan oleh murid dengan
peringkat ujian masuk nomor satu.
Karena saat ia
menyelamatkanku dulu dia terlihat sangat terbiasa—atau lebih tepatnya cepat
mengambil tindakan layaknya orang yang sering berkelahi, ada aura yang sedikit
kasar pada dirinya, sehingga aku ingat betul aku sempat kesulitan memercayai
kalau nilainya bagus.
Sejak saat itu, sesekali
aku pergi mengintip ke kelas 1.
Toh, di kelasku sendiri
tidak ada orang yang bisa kuajak bicara. Aku hanya menatap dari koridor dengan
tatapan kosong, lalu lewat begitu saja tanpa berbicara dengan siapa pun.
Setelah beberapa lama aku
melakukan hal itu, seorang gadis dari kelas 1 menegurku, “Kamu sering ke mari
ya, ada perlu apa?”.
—Itulah awal pertemuanku
dengan Himori Shuri.
Semenjak saat itu, aku
jadi sering mengobrol dengan Shuri.
Keputusanku untuk
menampung Shuri yang tak ingin pulang ke rumah karena suatu alasan juga terjadi
pada masa-masa itu.
Saat aku asyik mengobrol
dengan Shuri, aku beberapa kali berpapasan dengan Nogi. Namun, entah karena dia
tidak ingat denganku atau apa, dia tidak memberikan reaksi apa pun saat melihat
wajahku.
Yah, kalau dipikir-pikir
lagi, Nogi waktu itu memang sama sekali tidak menatap wajahku. Wajar saja kalau
dia tidak ingat dengan wajahku. Bahkan aku curiga jangan-jangan dia tidak sadar
kalau kami bersekolah di tempat yang sama.
Kukira dia tipe cowok yang
biasa melakukan hal heroik semacam itu sehari-harinya, jadi aku sempat bertanya
pada Shuri, “Nogi itu orangnya kayak gimana?”. Tapi Shuri membalasnya dengan,
“Hng... entahlah.”
Aku sedikit terkejut
mendengar jawabannya. Shuri yang kelihatannya akrab dengan semua orang di kelas
bisa berucap begitu.
Tapi setelah beberapa
saat, aku pun mengerti. Nogi memiliki semacam aura seolah-olah ia melihat
sesuatu yang berbeda dari orang lain, sebuah aura yang membuatnya terlepas dari
dunia sekitar.
Meskipun alasan di balik
itu baru kuketahui beberapa hari yang lalu, sih.
•••
“Hei.”
“Hng~?”
Setelah ia selesai mencuci
rambutnya, aku memanggil Shuri yang sedang menenggelamkan diri di dalam air bak
mandi.
“Tentang perkataannya
tadi, menurutmu bagaimana?”
“Tadi yang mana?”
“Soal dia bilang dia nggak
bakal nanya-nanya masalah pribadi kita.”
“Ah, kita dibilangin gitu
ya~”
“...Mau cerita padanya?”
“Aku sih mana aja boleh~.
Lagian kalau Reni kan ceritanya nggak ada hal yang perlu dibikin malu, kan?”
“Kenapa bisa begitu!?”
Karena aku mendadak
mencondongkan badan, air memercik ke arah Shuri.
Mengusap wajahnya, Shuri
merenggangkan tubuhnya seraya berkata, “Lagian ya,”.
“Tinggal bilang aja kan,
‘Dulu kamu pernah nolongin aku lho’. Apa malunya sih?”
“.........”
“Kalau soal urusan
keluarga atau alasan kenapa kamu tinggal sendiri sih... yah, ini cuma tebakanku
aja... kayaknya dia beneran nggak terlalu tertarik deh~”
“...Eh?”
“Nogi kan juga lama
numpang hidup di rumah orang, jadi keadaan keluarganya pasti lumayan rumit kan?
Terus, mungkin saja—“
Karena Shuri terlihat agak
ragu meneruskan kata-katanya, aku yang mengambil alih pembicaraan.
“Dia menyukai orang yang
tinggal serumah dengannya itu.”
“...Kemungkinan besar
memang begitu, ya~. Reni sempat ketemu orangnya kan? Orangnya kayak gimana?”
Ditanya begitu, aku
teringat kejadian tempo hari.
Kami bertemu hanya dalam
hitungan beberapa menit. Tapi, dari situ saja aku langsung tahu dengan sangat
jelas.
Wanita itu adalah tipe
perempuan yang tidak seharusnya berada di dekat laki-laki.
“Kelihatannya kayak
perempuan mur—“
“Reni.”
Dengan nada yang cukup
tegas, Shuri menghentikan kata-kataku.
“Nggak boleh ngomong jelek
soal orang yang disukai orang lain dengan tulus.”
“...Dia kelihatan seperti
perempuan yang kurang peka, mirip kayak Shuri.”
“Lho, kalau aku sih
orangnya peka tahu!?”
“Nggak peka tuh.”
“Peka kan~...?”
Dia menatapku dengan mata
memelas cemas, tapi tenang saja, kau itu tidak peka tahu.
Tapi, kalau bukan karena
tingkat inisiatifnya—atau lebih tepatnya paksaan Shuri, kami tidak akan bisa
hidup bersama (dousei)—ehm maksudku, menumpang tinggal (doukyo)
di rumah Nogi seperti sekarang.
Jadi untuk hal itu aku
sangat berterima kasih pada Shuri.
“Tapi niat mau beli rumah
buat persiapan melamar itu, agak gimana gitu, ya...”
“Bikin ilfeel sih.”
“...Iya kan. Tapi, bagus
juga, kan.”
Shuri menyandarkan
kepalanya di pinggir bak mandi dan bergumam sambil menatap langit-langit.
Aku tidak bisa membaca apa
arti ekspresinya itu.
Tapi, dia terlihat sedikit
senang.
Berencana membeli rumah
untuk orang yang bahkan belum berpacaran dengannya—malahan mungkin dia juga
belum menyatakan perasaannya, dipikir pakai logika mana pun itu sangat aneh.
Normalnya sih memberikan
cincin terlebih dahulu.
Tapi, bagi Nogi pasti
tidak begitu.
Dia pasti tidak pernah
sedikit pun membayangkan kalau lamarannya akan gagal.
Karena melihat sikap
wanita itu. Karena jarak kedekatan di antara mereka berdua. Dipikir secara
normal, itu bukan sekadar perasaan saling suka lagi.
Aku yang baru mengobrol
beberapa menit saja dengannya bisa berpikir begitu, jadi sangat wajar jika Nogi
yang tinggal seatap dan tumbuh besar bersamanya bisa sampai salah paham.
Tapi, di saat aku tahu
bahwa Nogi ditolak cintanya.
—“Ah, syukurlah.”
Perasaan lega yang sempat
muncul di hatiku itu, kuputuskan untuk kusembunyikan seumur hidupku.
Yah, meski kurasa Shuri
sudah menyadarinya juga.
“Reni juga, akhir-akhir
ini usahamu buat pedekate lumayan keras juga, kan?”
Aku menyiramkan air ke
wajahnya, lalu ia tertawa, “Hentikaan~”.
“Contohnya soal nail
art itu~”
“...Kenapa, ada yang
salah?”
“Padahal menurutku tangan
Nogi yang sebelumnya itu bagus lho~”
“Apanya?”
“Ya tangannya kan kasar
berantakan gitu, jadi kelihatan maskulin dan keren, kan?”
“...Nggak juga.”
Karena aku benar-benar
tidak paham dengan seleranya itu, aku menyangkalnya bukan karena malu tapi
murni tidak setuju. Shuri pun tertawa.
Dia ini memang anak yang
sangat mudah tertawa.
Sebagai orang yang tahu
akar permasalahannya, aku sama sekali tidak mengerti bagaimana dia bisa terus
mempertahankan tawa selebar itu.
“Kalau begitu, aku sudah
melakukan hal yang agak jahat padamu ya.”
“Nggak juga sih~ lagian,
pas aku pulang kamu lihat kan muka Nogi kayak gimana? Kalau lihat wajah
senangnya begitu sih, aku maafin deh.”
“...Iya.”
Mengingat kejadian saat
itu, kami berdua pun tertawa.
Begitu Shuri pulang, Nogi
dengan gembiranya memamerkan kukunya, “Nih lihat! Lihat kuku ini!”.
Sepertinya eksistensi
wanita yang baru saja ditemuinya beberapa saat sebelumnya sudah menguap dari
kepalanya, dan hal itu membuatku sedikit merasa lega.
Ternyata bukan cuma cewek
saja yang bakal kegirangan saat kukunya menjadi bagus. Persis seperti anjing
yang memamerkan mainan barunya ke majikannya, agak lucu memang.
“...Terus gimana? Apa dia
kelihatan udah mulai tertarik?”
“Sama sekali nggak.”
“Udah kuduga~”
Shuri sudah menyadari
perasaanku sejak dulu—sejak pertama kali kami bertemu.
Aku juga menyadari
perasaannya Shuri.
Tanpa perlu diutarakan
lewat kata-kata, kami saling mengerti hal itu.
—Namanya juga sahabat
baik.
Pasti pernah terjadi
sesuatu di antara mereka berdua di luar jangkauan pengetahuanku. Meskipun aku
tak tahu pasti kejadian apa itu.
“Di sini juga nasibnya
sama~. Kapan ya cowok nggak peka itu bisa sadar?”
“...Entahlah.”
“Tapi ya,”
Shuri menangkup wajahku
dengan kedua tangannya, lalu tuk, ia menempelkan dahinya ke dahiku.
“Siapa pun nanti yang
dipilih, kita janji nggak ada dendam lho ya.”
“Nggak mau. Aku bakal
dendam seumur hidup.”
“Harusnya pas bagian ini
kamu mengiyakan dong~?”
Shuri tertawa sambil
melayangkan protesnya, melihatnya, ketegangan di pipiku pun ikut mengendur
membentuk senyuman.
“Kalau aku dan Shuri...
kalau kita berdua sama-sama dipilih, selesai kan urusannya.”
“...Yah, itu memang
skenario idealnya sih. Tapi kamu pikir dia bisa?”
“Pasti bakal dibikin bisa,
kan.”
“Benar juga ya~”
Shuri mengatakan hal itu
lalu kembali menatap langit-langit.
Berada bersama Shuri,
tidaklah buruk sama sekali.
Karena itulah, aku merasa
masih ingin tetap seperti ini.
Karena, itulah wujud
idealku.
•••
Reni menenggelamkan
dirinya ke dalam air bak mandi sampai sebatas mulut, lalu meniup-niupkan
gelembung “blubuk-blubuk”.
Seolah mencoba
menyembunyikan helaan napas panjangnya. Namun, entah kenapa ia juga terlihat
sedikit senang.
Kebiasaan kami mandi
berdua dimulai saat awal-awal kami tinggal bersama.
Bak mandi di apartemen
yang kami tinggali saat itu tidak memiliki fitur pemanas ulang, jadi kalau
salah satu dari kami mandi terlalu lama, airnya akan cepat menjadi dingin. Dan
sialnya, baik aku maupun Reni adalah tipe orang yang suka berendam berlama-lama.
Sebenarnya kami bisa
memanaskan airnya lagi dengan mengalirkan banyak air panas, tapi karena sayang
tagihan gasnya, akhirnya kami memutuskan untuk mandi berdua saja.
Meski sekarang hal itu
sudah tak perlu dilakukan lagi, kebiasaan tersebut tetap berlanjut.
Nah, tentang siswa
laki-laki yang bernama Nogi Meguru, hal yang kuketahui tentangnya sebenarnya
tidak terlalu banyak.
Padahal kami berada di
kelas yang sama selama tiga tahun berturut-turut, lho.
Fakta bahwa ia memiliki
orang yang disukainya, fakta bahwa ia bekerja paruh waktu dengan sangat serius
hingga mampu membeli rumah, —dan juga, fakta bahwa ia ditolak. Tak ada satu pun
dari hal-hal itu yang kuketahui.
Pernah sih, terlintas di
pikiranku bahwa sikapnya belakangan ini agak aneh.
Namun, karena aku sudah
terbiasa dengan anak perempuan yang suasana hatinya naik-turun dalam siklus
tertentu, aku hanya berpikir, “Yah, cowok juga pasti punya masa-masa di mana
suasana hati mereka sedang buruk,” dan tidak terlalu memedulikannya.
Awalnya, aku mengira dia
adalah anak laki-laki yang sulit dimengerti.
Ketika aku tahu bahwa
siswa laki-laki yang memberikan pidato perwakilan murid baru saat upacara
penerimaan itu adalah teman sekelasku, aku mencoba mengajaknya bicara.
Kukira dia adalah anak
kutu buku yang kelewat serius, tapi sepertinya tidak juga.
Kupikir dia hanya pintar
dalam pelajaran, tapi pada tes fisik yang diadakan tepat setelah kami masuk
sekolah, ia meraih peringkat pertama mutlak dengan nilai sempurna di semua
cabang.
Meskipun begitu, ia
sendiri sama sekali tidak terkejut dengan hasil tersebut dan hanya bereaksi
seolah itu sudah sewajarnya, jadi dia pasti sudah seperti itu sejak SMP.
Orangnya ramah, wajahnya
lumayan tampan, pintar secara akademik, dan jago olahraga. Yah, dia punya semua
kriteria untuk menjadi populer.
Akan tetapi, saat bulan
Mei tiba, mungkin semua anak perempuan di kelas sudah menyadari bahwa
“pendekatan kepadanya itu percuma”.
Dia sama sekali tak goyah
dengan godaan terang-terangan dari para perempuan, dan katanya, sekalipun
diajak main berdua saja, suasananya tidak pernah berubah menjadi romantis.
Aku sering sekali
mendengar keluhan dari anak-anak perempuan seperti, “Dia pasti sebenarnya sudah
punya pacar, cuma nggak bilang-bilang aja.”
Aku setidaknya tahu kalau
ia bekerja paruh waktu. Soalnya, tiap kali diajak bermain ia selalu menolak
dengan alasan, “Sabtu-Minggu aku kerja.” Meski ia tak pernah menceritakan
secara spesifik pekerjaan paruh waktu apa yang dilakukannya.
Aku mulai menyadari bahwa
ia melihat dunia dari kacamata yang berbeda saat akhir bulan Maret di kelas 2
mulai menjelang.
Malam di mana aku
diselamatkan oleh Nogi.
Tentang urusan uang, aku
sama sekali tak bisa menceritakannya pada Reni. Habisnya, aku yakin ia pasti
akan merasa sangat bersalah dan ikut bertanggung jawab.
Namun, sebelum hari gajian
tiba, dompet kami berdua sudah benar-benar kosong, sampai-sampai kami tidak
punya uang untuk mengamankan tempat tidur untuk malam itu.
Di hari di mana aku harus
mendapatkan uang bagaimanapun caranya itu. Aku menggunakan aplikasi yang diberi
tahu oleh seorang teman, mencoba untuk mendapatkan uang dengan cara itu,
tetapi—
—Aku justru berpapasan
dengannya.
Dengan Nogi yang baru saja
selesai bekerja paruh waktu, terlihat begitu pas dalam balutan pakaian
kerjanya.
Nogi sepertinya sedang
marah pada suatu hal.
Namun, kemarahannya itu
tidak ditujukan padaku. Juga bukan pada pria tak dikenal yang mencoba “membeli”
diriku.
Kemarahannya itu pasti
ditujukan pada dirinya sendiri.
Setelah menyelamatkanku,
Nogi melenggang pergi begitu saja seolah tak tertarik lagi dengan apa yang
terjadi padaku.
—Kenapa?
Aku benar-benar tidak
mengerti. Memang aku ingat kami cukup akrab selama dua tahun berada di kelas
yang sama, tapi bagiku, ia hanyalah salah satu teman laki-laki di kelas.
Bagi Nogi pun pasti sama.
Aku mungkin cuma dianggap sebagai ‘anak perempuan yang sering mengajaknya
mengobrol’. Karena, jika seseorang memiliki niat terselubung, hal itu bisa
langsung terlihat dari matanya.
Uang yang berada di dalam
amplop bank itu adalah jumlah yang luar biasa besar untuk seorang anak SMA,
rasanya mustahil itu hanya gaji paruh waktu selama satu bulan. Aku sampai tidak
paham bagaimana ia bisa mendapatkan uang sebanyak itu.
Berkat uang itu, kami
tidak lagi kesulitan membiayai hidup untuk sementara waktu. Jumlahnya bahkan
cukup untuk menyewa apartemen baru lagi, tetapi aku tidak bisa menceritakannya
pada Reni.
Karena sudah pasti ia akan
bertanya dari mana aku mendapatkan uang sebanyak itu, aku pun berbohong dengan
mengatakan bahwa aku meminta agar gajiku dibayar di muka.
—Aku sungguh tak mengerti.
Kenapa dia bisa
menyerahkan uang sebanyak itu begitu saja, aku benar-benar tak habis pikir.
Kalau aku mau
mengembalikannya, sekarang aku sudah sanggup.
Namun, aku tidak ingin
mengembalikannya. Karena—
(Menjadikan uang
pinjaman sebagai alasan agar kami tetap terhubung, aku ini memang bodoh, ya...)
Seharusnya tidak begitu.
Uang, pada hakikatnya, hanyalah selembar kertas.
Tetapi, bagiku artinya
tidak sesederhana itu.
Dengan uang yang
disodorkan Nogi secara paksa padaku sebagai pelampiasannya itu,
Kehidupanku yang tadinya
hanya tinggal menunggu kehancuran, seketika berubah.
Saat kami naik ke kelas 3,
Nogi lagi-lagi sekelas denganku.
Dari total 6 kelas dalam
satu angkatan, program penjurusan IPA yang kami pilih sejak kelas 2 hanya ada 2
kelas, jadi secara matematis probabilitasnya hanyalah 1 banding 2 yang
kebetulan kudapat dua kali berturut-turut.
Meski begitu, aku tak bisa
menahan diri untuk memikirkan bahwa ini adalah takdir. Yah, walau mungkin yang
benar-benar merasakan kalau ini adalah takdir justru Reni.
Cerita tentang Reni yang
diselamatkan dari godaan laki-laki nakal, sudah pernah kudengar sejak kelas 1.
Dia juga cerita kalau sejak saat itu dia terus memikirkan Nogi.
Karena Reni pernah curhat
ingin bisa sekelas dengan Nogi di kelas 2, aku mencoba bertanya langsung pada
Nogi jurusan apa yang akan ia ambil. Syukurlah ia menjawab akan mengambil IPA,
sehingga Reni pun ikut memilih program IPA. Sayangnya, tebakan 1 banding 2-nya
meleset, dan Reni ditempatkan di kelas sebelah.
Kalau aku sih mau masuk
IPA atau IPS sama saja, jadi aku memilih program IPA dengan harapan bisa
sekelas dengan Reni.
Tapi tebakan 1 banding
2-ku malah meleset, dan aku terdampar di kelas sebelah (bersama Nogi).
Akan tetapi, tanpa
kusadari.
Bagiku, Nogi tak lagi
sekadar ‘cowok yang disukai oleh Reni’.
Nogi yang kini duduk di
kelas 3, terlihat jauh lebih tenang jika dibandingkan dengan malam perjumpaan
kami di liburan musim semi itu. Meskipun begitu, ia jelas-jelas berbeda dengan
Nogi yang kukenal saat kelas 2.
Matanya yang selama ini
seolah selalu menatap sesuatu di kejauhan, kini seakan telah kehilangan
fokusnya.
Saat aku tahu bahwa
penyebabnya adalah karena ia patah hati, aku akhirnya mengerti dan membatin,
‘Ah, ternyata selama ini dia benar-benar sedang jatuh cinta pada seseorang.’
Dia bilang, dia membeli
rumah itu untuk persiapan melamar.
Kalau secara normal, aku
pasti akan langsung menyangkal kemungkinannya. Tapi aku tahu fakta bahwa Nogi
bisa mengumpulkan uang dalam jumlah besar hanya dalam sebulan. Meski
sejujurnya, aku sempat ragu apakah pekerjaan paruh waktu semacam itu
benar-benar pekerjaan yang legal.
Semuanya ia lakukan, demi
membeli rumah yang akan ia tinggali bersama dengan orang yang sangat
dicintainya.
Dibandingkan dengan kami
yang hanya ingin menikmati tiga tahun masa SMA dengan bermain, bekerja paruh
waktu, dan sekadar cinta monyet, sejak awal dia sudah berada di level yang
berbeda.
Alasan mengapa Reni
dihindari oleh anak-anak lain pun, pada hakikatnya mungkin mirip dengan hal
itu.
Masa depan yang bagi
anak-anak biasa sepertiku dan teman-teman lainnya masih terlihat sangat samar
di kejauhan, sudah tergambar dengan jelas tepat di depan matanya.
Tetapi, cinta pertamanya
itu sudah berakhir. Nogi sendiri yang mengatakannya.
Itu berarti, mulai
sekarang adalah giliran kami yang sedang jatuh cinta padanya ini untuk
bergerak.
Awalnya sih aku berpikir
untuk sebisa mungkin membuat ‘fakta yang sudah terjadi (fait accompli)’ sebelum
ia direbut oleh perempuan lain—, tapi entah bagaimana, usahaku sama sekali
tidak berjalan mulus.
Yah, walau aku juga
lumayan paham apa alasannya.
(Cinta itu...
Jatuh cinta itu, astaga...)
Siapa yang menyangka kalau
rasanya bakal semalu ini saat kita benar-benar menyukai seseorang.
Hebat juga ya anak-anak
lain bisa bermesraan dengan pacar mereka tanpa beban.
Reni juga tuh, padahal
aslinya dia juga malu, tapi usahanya keras banget. Kalau aku diam saja, aku
bisa-bisa kalah darinya. Jadi aku juga harus berjuang keras.
Kalau lawannya orang yang
nggak pekanya kebangetan kayak dia, sepertinya walaupun aku bilang “suka, suka”
secara terang-terangan pun bakal ditanggapi angin lalu.
Apalagi dia kelihatannya
udah kebal digituin, jadi aku harus bikin dia peka lewat tindakanku saja, nih.
...Kayaknya mustahil
banget, nggak sih?



Post a Comment