NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Dekkai Gyaru ke Chicchai Gyaru ga Shitsuren Shita Ore no Shinkyo ni Iribitatte Iru Volume 1 Chapter 9

Episode 9 “Karena Itu Kamu”


Aku berendam di bak mandi yang sedikit lebih luas dari apartemen tempatku tinggal sebelumnya.

 

Sambil menaruh dagu di pinggiran bak, aku berpikir sambil melihat Shuri yang sedang mencuci rambutnya.

 

(Setiap orang pasti punya hal yang tak ingin diceritakan, ya...)

 

Itu adalah kata-kata yang diucapkan Nogi tadi.

 

Sudah pasti ada. Tidak mungkin tidak ada. Habisnya, aku maupun Shuri sama sekali tidak menceritakan apa-apa pada Nogi.

 

Kami memang menceritakan alasan kenapa kami diusir. Karena itu diperlukan untuk menjelaskan mengapa kami tidak punya tempat tinggal.

 

Tapi, hal-hal selain itu—

 

Mengapa kami tinggal sendirian, mengapa kami tidak mengandalkan orang tua.

 

Padahal keadaannya begitu, mengapa kami malah nekat mengandalkan orang yang tak terlalu kami kenal—

 

Cerita-cerita yang seharusnya paling pertama dibahas itu, sama sekali belum kami ceritakan.

 

Karena tidak ditanya. Kalau dibilang begitu, memang terdengar seperti alasan yang sangat masuk akal. Namun, sebagai orang yang meminjam tempat tinggal, itu terlalu kurang ajar.

 

Kami harus mengatakannya. Tapi, aku tidak ingin mengatakannya. Karena, aku merasa jika semuanya diceritakan, sesuatu akan berubah.

 

—Tentang kejadian dua tahun lalu, sampai sekarang pun kadang aku masih mengingatnya.

 

Dalam perjalanan pulang sekolah, di depan stasiun, aku diganggu oleh pria-pria yang tak kukenal.

 

Waktu itu aku belum mengecat rambutku sampai seekstrem ini, tapi entah apa aku terlihat seperti perempuan murahan, sekelompok pria muda seumuran anak kuliahan mengajakku bicara dengan sok akrab seolah kami teman lama.

 

Karena sadar mereka sedang menggodaku, aku mengabaikannya dan mencoba pergi, tapi salah satu dari mereka mencengkeram lenganku.

 

—Aku takut.

 

Di SMA, sedingin apa pun aku menanggapi anak laki-laki, tidak pernah ada yang sampai berani main fisik. Malahan, ada saja anak laki-laki yang senang diperlakukan dingin, sampai-sampai rasanya agak menjijikkan.

Kelompok pria itu sepertinya sudah sangat berpengalaman. Begitu sadar aku mencoba lari, mereka langsung mengepungku untuk menutup jalan keluar.

 

Mulut mereka memang melontarkan kata-kata manis, tapi mata mereka menatapku seolah sedang menilai kualitas sebuah barang.

 

—Senyum murahan itu.

 

Kata-kata murahan itu.

 

Tenaga di lengan yang mencengkeramku hingga tak bisa kulepaskan.

 

Mereka pasti tidak tahu seberapa besar ketakutan yang kurasakan saat itu.

 

Menjerit, atau bagaimana? Karena ini di depan stasiun, sebenarnya ada lumayan banyak orang di sekitar.

 

Tapi, kalau tiba-tiba ada perempuan yang menjerit histeris, apakah akan ada banyak orang yang mencoba menolong? Ada kemungkinan aku hanya akan dianggap perempuan gila yang sedang kumat.

 

Mereka terlihat seperti kelompok mahasiswa berandal. Dari penampilanku saja, aku juga pasti akan dikira sejenis dengan mereka. Orang-orang pasti ingin menghindari masalah dan ujung-ujungnya aku hanya akan diabaikan.

 

Aku masih ingat dengan sangat jelas bagaimana darahku berdesir hebat saat menyadari bahwa aku sudah mati langkah.

 

—Tepat pada saat itulah.

 

Pria yang mencengkeram lenganku tiba-tiba terpental jauh.

 

Aku baru menyadari bahwa pria itu ditendang dari belakang beberapa saat kemudian.

 

Aku yang lengannya sempat tertarik pun nyaris terjatuh, tapi seseorang langsung menangkap dan memeluk pinggangku dengan sigap.

 

Tanpa sadar aku menjerit. Bukan cuma lenganku, pinggangku juga tiba-tiba dipegang.

 

Dengan mata yang bergetar ketakutan, aku perlahan menoleh.

Namun, orang yang memeluk pinggangku bukanlah salah satu dari kelompok pria yang mengepungku tadi.

 

Dia adalah seorang siswa laki-laki yang mengenakan seragam SMA yang sama denganku, namun wajahnya tidak kukenali.

 

“Kalian, ngapain berani-beraninya nyentuh pacar orang?”

 

Sikap siswa laki-laki yang begitu meyakinkan dan penuh percaya diri itu sukses membuat pria-pria yang menggodaku ciut.

Dari semua orang yang ada di sana, kurasa aku adalah orang yang paling terlambat menyadari bahwa aku baru saja diselamatkan.

 

“B-bangsat—“

 

Pria yang tadi terpental bangkit dan mencoba mencengkeram kerah siswa laki-laki itu—

 

Namun lutut siswa laki-laki itu terangkat, dan dengan mulus mendarat telak di dagu sang pria.

 

“Aah...”

 

Entah sengaja atau tidak, siswa laki-laki itu memasang wajah sedikit canggung, sementara si pria jatuh terkapar di tanah.

 

“...Terus, kalian ini maunya ngajak berantem atau mau menggoda (nanpa) ? Kalau mau berantem biar kuladeni, tapi kalau nanpa mending menyerah saja.”

 

Mendengar ucapan siswa laki-laki itu, sisa pria-pria tadi saling bertatapan. —Apakah akan terjadi perkelahian besar? Aku memejamkan mataku rapat-rapat.

 

“Nggak, kami lagi nanpa.”

 

“Iya, nanpa...”

 

“Sori, ya.”

 

“Kalau lagi nunggu pacar harusnya bilang dari awal kek...”

 

Pria-pria itu bergumam membela diri, lalu menepuk-nepuk pipi teman mereka yang terkapar pingsan. Sepertinya, adegan perkelahian besar ala manga preman batal terjadi.

 

“Kalau gitu, ayo kita pulang.”

 

“...Iya.”

 

Dengan pinggang masih dipeluk oleh siswa laki-laki yang namanya tak kuketahui itu, kami berjalan menjauh dari stasiun.

 

Lalu, saat area stasiun sudah tidak terlihat lagi, ia dengan cepat melepaskan tangannya dari pinggangku.

 

“Tiba-tiba merangkul, maaf ya!”

 

Siswa laki-laki itu menyatukan kedua tangannya dan menundukkan kepala meminta maaf.

 

“...Eh?”

 

“Wajahmu pucat terus dari tadi, kamu pasti risih kan.”

 

“.........Nggak apa-apa, aku sudah tenang kok.”

 

“Syukurlah kalau begitu. Ya sudah, hati-hati di jalan ya.”

 

“Hah?”

 

Hanya mengucapkan hal itu, entah karena ada urusan mendesak atau apa, siswa laki-laki itu berlari pergi meninggalkan pesan,

“Jangan langsung balik ke stasiun lho!”.

 

 

•••

 

 

Keesokan harinya.

 

Aku mencarinya di sekolah. Karena aku sama sekali tidak tahu namanya, jangankan nama, dia kelas berapa pun aku tidak tahu.

 

Setelah mencari beberapa saat, aku berhasil menemukannya. Dia ada di ruang kelas 1-1.

 

Kebetulan ada anak laki-laki dari kelasku yang lewat, jadi aku bertanya padanya, “Itu siapa?”. Anak itu menjawab, “Itu Nogi.

 

Anak yang ngasih pidato perwakilan murid baru pas upacara penerimaan.” Sejujurnya aku tidak ingat apa-apa soal upacara itu, jadi aku sama sekali tidak memiliki ingatan tentang pidato tersebut.

 

Saat aku bertanya pada guru, ternyata pidato perwakilan murid baru itu diberikan oleh murid dengan peringkat ujian masuk nomor satu.

 

Karena saat ia menyelamatkanku dulu dia terlihat sangat terbiasa—atau lebih tepatnya cepat mengambil tindakan layaknya orang yang sering berkelahi, ada aura yang sedikit kasar pada dirinya, sehingga aku ingat betul aku sempat kesulitan memercayai kalau nilainya bagus.

Sejak saat itu, sesekali aku pergi mengintip ke kelas 1.

 

Toh, di kelasku sendiri tidak ada orang yang bisa kuajak bicara. Aku hanya menatap dari koridor dengan tatapan kosong, lalu lewat begitu saja tanpa berbicara dengan siapa pun.

 

Setelah beberapa lama aku melakukan hal itu, seorang gadis dari kelas 1 menegurku, “Kamu sering ke mari ya, ada perlu apa?”.

 

—Itulah awal pertemuanku dengan Himori Shuri.

 

Semenjak saat itu, aku jadi sering mengobrol dengan Shuri.

 

Keputusanku untuk menampung Shuri yang tak ingin pulang ke rumah karena suatu alasan juga terjadi pada masa-masa itu.

 

Saat aku asyik mengobrol dengan Shuri, aku beberapa kali berpapasan dengan Nogi. Namun, entah karena dia tidak ingat denganku atau apa, dia tidak memberikan reaksi apa pun saat melihat wajahku.

 

Yah, kalau dipikir-pikir lagi, Nogi waktu itu memang sama sekali tidak menatap wajahku. Wajar saja kalau dia tidak ingat dengan wajahku. Bahkan aku curiga jangan-jangan dia tidak sadar kalau kami bersekolah di tempat yang sama.

 

Kukira dia tipe cowok yang biasa melakukan hal heroik semacam itu sehari-harinya, jadi aku sempat bertanya pada Shuri, “Nogi itu orangnya kayak gimana?”. Tapi Shuri membalasnya dengan, “Hng... entahlah.”

 

Aku sedikit terkejut mendengar jawabannya. Shuri yang kelihatannya akrab dengan semua orang di kelas bisa berucap begitu.

 

Tapi setelah beberapa saat, aku pun mengerti. Nogi memiliki semacam aura seolah-olah ia melihat sesuatu yang berbeda dari orang lain, sebuah aura yang membuatnya terlepas dari dunia sekitar.

 

Meskipun alasan di balik itu baru kuketahui beberapa hari yang lalu, sih.

 

 

•••

 

 

“Hei.”

 

“Hng~?”

 

Setelah ia selesai mencuci rambutnya, aku memanggil Shuri yang sedang menenggelamkan diri di dalam air bak mandi.

 

“Tentang perkataannya tadi, menurutmu bagaimana?”

 

“Tadi yang mana?”

 

“Soal dia bilang dia nggak bakal nanya-nanya masalah pribadi kita.”

 

“Ah, kita dibilangin gitu ya~”

“...Mau cerita padanya?”

 

“Aku sih mana aja boleh~. Lagian kalau Reni kan ceritanya nggak ada hal yang perlu dibikin malu, kan?”

 

“Kenapa bisa begitu!?”

 

Karena aku mendadak mencondongkan badan, air memercik ke arah Shuri.

 

Mengusap wajahnya, Shuri merenggangkan tubuhnya seraya berkata, “Lagian ya,”.

 

“Tinggal bilang aja kan, ‘Dulu kamu pernah nolongin aku lho’. Apa malunya sih?”

 

“.........”

 

“Kalau soal urusan keluarga atau alasan kenapa kamu tinggal sendiri sih... yah, ini cuma tebakanku aja... kayaknya dia beneran nggak terlalu tertarik deh~”

 

 

“...Eh?”

“Nogi kan juga lama numpang hidup di rumah orang, jadi keadaan keluarganya pasti lumayan rumit kan? Terus, mungkin saja—“

 

Karena Shuri terlihat agak ragu meneruskan kata-katanya, aku yang mengambil alih pembicaraan.

 

“Dia menyukai orang yang tinggal serumah dengannya itu.”

“...Kemungkinan besar memang begitu, ya~. Reni sempat ketemu orangnya kan? Orangnya kayak gimana?”

 

Ditanya begitu, aku teringat kejadian tempo hari.

 

Kami bertemu hanya dalam hitungan beberapa menit. Tapi, dari situ saja aku langsung tahu dengan sangat jelas.

 

Wanita itu adalah tipe perempuan yang tidak seharusnya berada di dekat laki-laki.

 

“Kelihatannya kayak perempuan mur—“

 

“Reni.”

 

Dengan nada yang cukup tegas, Shuri menghentikan kata-kataku.

 

“Nggak boleh ngomong jelek soal orang yang disukai orang lain dengan tulus.”

 

“...Dia kelihatan seperti perempuan yang kurang peka, mirip kayak Shuri.”

 

“Lho, kalau aku sih orangnya peka tahu!?”

 

“Nggak peka tuh.”

 

“Peka kan~...?”

 

Dia menatapku dengan mata memelas cemas, tapi tenang saja, kau itu tidak peka tahu.

Tapi, kalau bukan karena tingkat inisiatifnya—atau lebih tepatnya paksaan Shuri, kami tidak akan bisa hidup bersama (dousei)—ehm maksudku, menumpang tinggal (doukyo) di rumah Nogi seperti sekarang.

 

Jadi untuk hal itu aku sangat berterima kasih pada Shuri.

 

“Tapi niat mau beli rumah buat persiapan melamar itu, agak gimana gitu, ya...”

 

“Bikin ilfeel sih.”

 

“...Iya kan. Tapi, bagus juga, kan.”

 

Shuri menyandarkan kepalanya di pinggir bak mandi dan bergumam sambil menatap langit-langit.

 

Aku tidak bisa membaca apa arti ekspresinya itu.

 

Tapi, dia terlihat sedikit senang.

 

Berencana membeli rumah untuk orang yang bahkan belum berpacaran dengannya—malahan mungkin dia juga belum menyatakan perasaannya, dipikir pakai logika mana pun itu sangat aneh.

 

Normalnya sih memberikan cincin terlebih dahulu.

Tapi, bagi Nogi pasti tidak begitu.

 

Dia pasti tidak pernah sedikit pun membayangkan kalau lamarannya akan gagal.

Karena melihat sikap wanita itu. Karena jarak kedekatan di antara mereka berdua. Dipikir secara normal, itu bukan sekadar perasaan saling suka lagi.

 

Aku yang baru mengobrol beberapa menit saja dengannya bisa berpikir begitu, jadi sangat wajar jika Nogi yang tinggal seatap dan tumbuh besar bersamanya bisa sampai salah paham.

 

Tapi, di saat aku tahu bahwa Nogi ditolak cintanya.

 

—“Ah, syukurlah.”

 

Perasaan lega yang sempat muncul di hatiku itu, kuputuskan untuk kusembunyikan seumur hidupku.

 

Yah, meski kurasa Shuri sudah menyadarinya juga.

 

“Reni juga, akhir-akhir ini usahamu buat pedekate lumayan keras juga, kan?”

 

Aku menyiramkan air ke wajahnya, lalu ia tertawa, “Hentikaan~”.

 

“Contohnya soal nail art itu~”

 

“...Kenapa, ada yang salah?”

 

“Padahal menurutku tangan Nogi yang sebelumnya itu bagus lho~”

 

“Apanya?”

 

“Ya tangannya kan kasar berantakan gitu, jadi kelihatan maskulin dan keren, kan?”

 

“...Nggak juga.”

 

Karena aku benar-benar tidak paham dengan seleranya itu, aku menyangkalnya bukan karena malu tapi murni tidak setuju. Shuri pun tertawa.

 

Dia ini memang anak yang sangat mudah tertawa.

 

Sebagai orang yang tahu akar permasalahannya, aku sama sekali tidak mengerti bagaimana dia bisa terus mempertahankan tawa selebar itu.

 

“Kalau begitu, aku sudah melakukan hal yang agak jahat padamu ya.”

 

“Nggak juga sih~ lagian, pas aku pulang kamu lihat kan muka Nogi kayak gimana? Kalau lihat wajah senangnya begitu sih, aku maafin deh.”

 

“...Iya.”

 

Mengingat kejadian saat itu, kami berdua pun tertawa.

 

Begitu Shuri pulang, Nogi dengan gembiranya memamerkan kukunya, “Nih lihat! Lihat kuku ini!”.

 

Sepertinya eksistensi wanita yang baru saja ditemuinya beberapa saat sebelumnya sudah menguap dari kepalanya, dan hal itu membuatku sedikit merasa lega.

 

Ternyata bukan cuma cewek saja yang bakal kegirangan saat kukunya menjadi bagus. Persis seperti anjing yang memamerkan mainan barunya ke majikannya, agak lucu memang.

 

“...Terus gimana? Apa dia kelihatan udah mulai tertarik?”

 

“Sama sekali nggak.”

 

“Udah kuduga~”

 

Shuri sudah menyadari perasaanku sejak dulu—sejak pertama kali kami bertemu.

 

Aku juga menyadari perasaannya Shuri.

 

Tanpa perlu diutarakan lewat kata-kata, kami saling mengerti hal itu.

 

—Namanya juga sahabat baik.

 

Pasti pernah terjadi sesuatu di antara mereka berdua di luar jangkauan pengetahuanku. Meskipun aku tak tahu pasti kejadian apa itu.

 

“Di sini juga nasibnya sama~. Kapan ya cowok nggak peka itu bisa sadar?”

 

“...Entahlah.”

 

“Tapi ya,”

 

Shuri menangkup wajahku dengan kedua tangannya, lalu tuk, ia menempelkan dahinya ke dahiku.

 

“Siapa pun nanti yang dipilih, kita janji nggak ada dendam lho ya.”

 

“Nggak mau. Aku bakal dendam seumur hidup.”

 

“Harusnya pas bagian ini kamu mengiyakan dong~?”

 

Shuri tertawa sambil melayangkan protesnya, melihatnya, ketegangan di pipiku pun ikut mengendur membentuk senyuman.

 

“Kalau aku dan Shuri... kalau kita berdua sama-sama dipilih, selesai kan urusannya.”

 

“...Yah, itu memang skenario idealnya sih. Tapi kamu pikir dia bisa?”

 

“Pasti bakal dibikin bisa, kan.”

 

“Benar juga ya~”

 

Shuri mengatakan hal itu lalu kembali menatap langit-langit.




Berada bersama Shuri, tidaklah buruk sama sekali.

 

Karena itulah, aku merasa masih ingin tetap seperti ini.

 

Karena, itulah wujud idealku.

 

 

•••

 

 

Reni menenggelamkan dirinya ke dalam air bak mandi sampai sebatas mulut, lalu meniup-niupkan gelembung “blubuk-blubuk”.

 

Seolah mencoba menyembunyikan helaan napas panjangnya. Namun, entah kenapa ia juga terlihat sedikit senang.

 

Kebiasaan kami mandi berdua dimulai saat awal-awal kami tinggal bersama.

 

Bak mandi di apartemen yang kami tinggali saat itu tidak memiliki fitur pemanas ulang, jadi kalau salah satu dari kami mandi terlalu lama, airnya akan cepat menjadi dingin. Dan sialnya, baik aku maupun Reni adalah tipe orang yang suka berendam berlama-lama.

 

Sebenarnya kami bisa memanaskan airnya lagi dengan mengalirkan banyak air panas, tapi karena sayang tagihan gasnya, akhirnya kami memutuskan untuk mandi berdua saja.

 

Meski sekarang hal itu sudah tak perlu dilakukan lagi, kebiasaan tersebut tetap berlanjut.

 

Nah, tentang siswa laki-laki yang bernama Nogi Meguru, hal yang kuketahui tentangnya sebenarnya tidak terlalu banyak.

 

Padahal kami berada di kelas yang sama selama tiga tahun berturut-turut, lho.

 

Fakta bahwa ia memiliki orang yang disukainya, fakta bahwa ia bekerja paruh waktu dengan sangat serius hingga mampu membeli rumah, —dan juga, fakta bahwa ia ditolak. Tak ada satu pun dari hal-hal itu yang kuketahui.

 

Pernah sih, terlintas di pikiranku bahwa sikapnya belakangan ini agak aneh.

 

Namun, karena aku sudah terbiasa dengan anak perempuan yang suasana hatinya naik-turun dalam siklus tertentu, aku hanya berpikir, “Yah, cowok juga pasti punya masa-masa di mana suasana hati mereka sedang buruk,” dan tidak terlalu memedulikannya.

 

Awalnya, aku mengira dia adalah anak laki-laki yang sulit dimengerti.

 

Ketika aku tahu bahwa siswa laki-laki yang memberikan pidato perwakilan murid baru saat upacara penerimaan itu adalah teman sekelasku, aku mencoba mengajaknya bicara.

 

Kukira dia adalah anak kutu buku yang kelewat serius, tapi sepertinya tidak juga.

 

Kupikir dia hanya pintar dalam pelajaran, tapi pada tes fisik yang diadakan tepat setelah kami masuk sekolah, ia meraih peringkat pertama mutlak dengan nilai sempurna di semua cabang.

 

Meskipun begitu, ia sendiri sama sekali tidak terkejut dengan hasil tersebut dan hanya bereaksi seolah itu sudah sewajarnya, jadi dia pasti sudah seperti itu sejak SMP.

 

Orangnya ramah, wajahnya lumayan tampan, pintar secara akademik, dan jago olahraga. Yah, dia punya semua kriteria untuk menjadi populer.

 

Akan tetapi, saat bulan Mei tiba, mungkin semua anak perempuan di kelas sudah menyadari bahwa “pendekatan kepadanya itu percuma”.

 

Dia sama sekali tak goyah dengan godaan terang-terangan dari para perempuan, dan katanya, sekalipun diajak main berdua saja, suasananya tidak pernah berubah menjadi romantis.

 

Aku sering sekali mendengar keluhan dari anak-anak perempuan seperti, “Dia pasti sebenarnya sudah punya pacar, cuma nggak bilang-bilang aja.”

 

Aku setidaknya tahu kalau ia bekerja paruh waktu. Soalnya, tiap kali diajak bermain ia selalu menolak dengan alasan, “Sabtu-Minggu aku kerja.” Meski ia tak pernah menceritakan secara spesifik pekerjaan paruh waktu apa yang dilakukannya.

 

Aku mulai menyadari bahwa ia melihat dunia dari kacamata yang berbeda saat akhir bulan Maret di kelas 2 mulai menjelang.

Malam di mana aku diselamatkan oleh Nogi.

 

Tentang urusan uang, aku sama sekali tak bisa menceritakannya pada Reni. Habisnya, aku yakin ia pasti akan merasa sangat bersalah dan ikut bertanggung jawab.

 

Namun, sebelum hari gajian tiba, dompet kami berdua sudah benar-benar kosong, sampai-sampai kami tidak punya uang untuk mengamankan tempat tidur untuk malam itu.

 

Di hari di mana aku harus mendapatkan uang bagaimanapun caranya itu. Aku menggunakan aplikasi yang diberi tahu oleh seorang teman, mencoba untuk mendapatkan uang dengan cara itu, tetapi—

 

—Aku justru berpapasan dengannya.

 

Dengan Nogi yang baru saja selesai bekerja paruh waktu, terlihat begitu pas dalam balutan pakaian kerjanya.

 

Nogi sepertinya sedang marah pada suatu hal.

 

Namun, kemarahannya itu tidak ditujukan padaku. Juga bukan pada pria tak dikenal yang mencoba “membeli” diriku.

 

Kemarahannya itu pasti ditujukan pada dirinya sendiri.

 

Setelah menyelamatkanku, Nogi melenggang pergi begitu saja seolah tak tertarik lagi dengan apa yang terjadi padaku.

 

—Kenapa?

Aku benar-benar tidak mengerti. Memang aku ingat kami cukup akrab selama dua tahun berada di kelas yang sama, tapi bagiku, ia hanyalah salah satu teman laki-laki di kelas.

 

Bagi Nogi pun pasti sama. Aku mungkin cuma dianggap sebagai ‘anak perempuan yang sering mengajaknya mengobrol’. Karena, jika seseorang memiliki niat terselubung, hal itu bisa langsung terlihat dari matanya.

 

Uang yang berada di dalam amplop bank itu adalah jumlah yang luar biasa besar untuk seorang anak SMA, rasanya mustahil itu hanya gaji paruh waktu selama satu bulan. Aku sampai tidak paham bagaimana ia bisa mendapatkan uang sebanyak itu.

 

Berkat uang itu, kami tidak lagi kesulitan membiayai hidup untuk sementara waktu. Jumlahnya bahkan cukup untuk menyewa apartemen baru lagi, tetapi aku tidak bisa menceritakannya pada Reni.

 

Karena sudah pasti ia akan bertanya dari mana aku mendapatkan uang sebanyak itu, aku pun berbohong dengan mengatakan bahwa aku meminta agar gajiku dibayar di muka.

 

—Aku sungguh tak mengerti.

 

Kenapa dia bisa menyerahkan uang sebanyak itu begitu saja, aku benar-benar tak habis pikir.

 

Kalau aku mau mengembalikannya, sekarang aku sudah sanggup.

 

Namun, aku tidak ingin mengembalikannya. Karena—

(Menjadikan uang pinjaman sebagai alasan agar kami tetap terhubung, aku ini memang bodoh, ya...)

 

Seharusnya tidak begitu. Uang, pada hakikatnya, hanyalah selembar kertas.

 

Tetapi, bagiku artinya tidak sesederhana itu.

 

Dengan uang yang disodorkan Nogi secara paksa padaku sebagai pelampiasannya itu,

 

Kehidupanku yang tadinya hanya tinggal menunggu kehancuran, seketika berubah.

 

Saat kami naik ke kelas 3, Nogi lagi-lagi sekelas denganku.

 

Dari total 6 kelas dalam satu angkatan, program penjurusan IPA yang kami pilih sejak kelas 2 hanya ada 2 kelas, jadi secara matematis probabilitasnya hanyalah 1 banding 2 yang kebetulan kudapat dua kali berturut-turut.

 

Meski begitu, aku tak bisa menahan diri untuk memikirkan bahwa ini adalah takdir. Yah, walau mungkin yang benar-benar merasakan kalau ini adalah takdir justru Reni.

 

Cerita tentang Reni yang diselamatkan dari godaan laki-laki nakal, sudah pernah kudengar sejak kelas 1. Dia juga cerita kalau sejak saat itu dia terus memikirkan Nogi.

 

Karena Reni pernah curhat ingin bisa sekelas dengan Nogi di kelas 2, aku mencoba bertanya langsung pada Nogi jurusan apa yang akan ia ambil. Syukurlah ia menjawab akan mengambil IPA, sehingga Reni pun ikut memilih program IPA. Sayangnya, tebakan 1 banding 2-nya meleset, dan Reni ditempatkan di kelas sebelah.

 

Kalau aku sih mau masuk IPA atau IPS sama saja, jadi aku memilih program IPA dengan harapan bisa sekelas dengan Reni.

 

Tapi tebakan 1 banding 2-ku malah meleset, dan aku terdampar di kelas sebelah (bersama Nogi).

 

Akan tetapi, tanpa kusadari.

 

Bagiku, Nogi tak lagi sekadar ‘cowok yang disukai oleh Reni’.

 

Nogi yang kini duduk di kelas 3, terlihat jauh lebih tenang jika dibandingkan dengan malam perjumpaan kami di liburan musim semi itu. Meskipun begitu, ia jelas-jelas berbeda dengan Nogi yang kukenal saat kelas 2.

 

Matanya yang selama ini seolah selalu menatap sesuatu di kejauhan, kini seakan telah kehilangan fokusnya.

 

Saat aku tahu bahwa penyebabnya adalah karena ia patah hati, aku akhirnya mengerti dan membatin, ‘Ah, ternyata selama ini dia benar-benar sedang jatuh cinta pada seseorang.’

 

Dia bilang, dia membeli rumah itu untuk persiapan melamar.

 

Kalau secara normal, aku pasti akan langsung menyangkal kemungkinannya. Tapi aku tahu fakta bahwa Nogi bisa mengumpulkan uang dalam jumlah besar hanya dalam sebulan. Meski sejujurnya, aku sempat ragu apakah pekerjaan paruh waktu semacam itu benar-benar pekerjaan yang legal.

 

Semuanya ia lakukan, demi membeli rumah yang akan ia tinggali bersama dengan orang yang sangat dicintainya.

 

Dibandingkan dengan kami yang hanya ingin menikmati tiga tahun masa SMA dengan bermain, bekerja paruh waktu, dan sekadar cinta monyet, sejak awal dia sudah berada di level yang berbeda.

 

Alasan mengapa Reni dihindari oleh anak-anak lain pun, pada hakikatnya mungkin mirip dengan hal itu.

 

Masa depan yang bagi anak-anak biasa sepertiku dan teman-teman lainnya masih terlihat sangat samar di kejauhan, sudah tergambar dengan jelas tepat di depan matanya.

 

Tetapi, cinta pertamanya itu sudah berakhir. Nogi sendiri yang mengatakannya.

 

Itu berarti, mulai sekarang adalah giliran kami yang sedang jatuh cinta padanya ini untuk bergerak.

 

Awalnya sih aku berpikir untuk sebisa mungkin membuat ‘fakta yang sudah terjadi (fait accompli)’ sebelum ia direbut oleh perempuan lain—, tapi entah bagaimana, usahaku sama sekali tidak berjalan mulus.

 

Yah, walau aku juga lumayan paham apa alasannya.

 

(Cinta itu... Jatuh cinta itu, astaga...)

Siapa yang menyangka kalau rasanya bakal semalu ini saat kita benar-benar menyukai seseorang.

 

Hebat juga ya anak-anak lain bisa bermesraan dengan pacar mereka tanpa beban.

 

Reni juga tuh, padahal aslinya dia juga malu, tapi usahanya keras banget. Kalau aku diam saja, aku bisa-bisa kalah darinya. Jadi aku juga harus berjuang keras.

 

Kalau lawannya orang yang nggak pekanya kebangetan kayak dia, sepertinya walaupun aku bilang “suka, suka” secara terang-terangan pun bakal ditanggapi angin lalu.

 

Apalagi dia kelihatannya udah kebal digituin, jadi aku harus bikin dia peka lewat tindakanku saja, nih.

 

...Kayaknya mustahil banget, nggak sih?



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close