NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Dekkai Gyaru ke Chicchai Gyaru ga Shitsuren Shita Ore no Shinkyo ni Iribitatte Iru Volume 1 Chapter 7

Episode 7 “Karena Pasti Ketahuan”


“Fuh...”

 

Angin malam yang dingin—yang sama sekali tidak terasa seperti angin bulan April—mendinginkan tubuhku yang kepanasan.

 

Aku duduk menghempaskan diri di tepi trotoar, mengeluarkan roti dari kantong plastik, dan melahapnya.

 

Aku bekerja paruh waktu di sebuah perusahaan konstruksi. Karena statusku sebagai anak SMA, mereka memberiku kelonggaran dalam hal jam kerja dan jenis tugas.

 

Namun, begitu turun ke lapangan, aku tetap diperlakukan sama seperti ‘pekerja laki-laki muda’ lainnya.

 

Aku sama sekali tidak keberatan dengan hal itu. Malahan, kalau pekerjaanku dibatasi hanya karena aku anak SMA, itu akan berdampak pada gajiku. Jadi, aku tidak berniat mempermasalahkannya.

 

Proyek kali ini adalah perbaikan jalan yang rencananya akan berlangsung sampai besok siang.

 

Meski begitu, sebagai anak SMA, tentu aku tidak bisa ikut bekerja sampai jam segitu. Aku hanya bekerja sampai batas waktu maksimal yang diizinkan untuk anak sekolah, yaitu pukul 22.00.

 

“Kerja bagus. Sudah lama kerja sambilan di sini?”

 

Seorang pria bertubuh besar yang duduk di trotoar sebelahku tiba-tiba menyapa.

 

Dari jarak sedekat ini, posturnya terlihat memiliki tinggi sekitar 185 cm. Ia mengenakan pakaian kerja yang mirip denganku, tapi desainnya sedikit berbeda. Mungkin dia pekerja harian dari subkontraktor lain.

 

Karena cahaya lampu proyek tidak mengarah ke kami, wajah pria itu hanya terlihat samar-samar.

 

“Kerja bagus juga. Sekitar dua tahun, mungkin. Umurku baru 17 tahun, soalnya.”

 

“Eh, seriusan? Bukannya tadi kamu bawa dua karung puing puing sekaligus?”

 

“Yah, iya. Sudah terbiasa, jadi kalau segitu sih gampang.”

 

“...Aku juga masih SMA, lho.”

 

“Eh, tumben ada ya.”

 

“Iya, kan. Aku bilang ke banyak perusahaan kalau aku mau kerja buat melatih otot, tapi semuanya nolak dan bilang anak SMA cuma boleh dikasih kerjaan ringan.”

 

“Ah, kalau perusahaannya taat aturan sih memang begitu.”

 

“...Akhirnya dapat kenalan senior buat kerja di sini, tapi ternyata lebih berat dari dugaanku.”

 

Pria itu mengatakannya sambil menenggak minuman kola dari botol plastiknya dan menyeka keringat dengan handuk besar. Kola botol dua liter di tangannya sudah berkurang hampir setengahnya.

 

Dari situ saja sudah kelihatan kalau dia tidak terbiasa dengan kerja sambilan seperti ini. Minum sebanyak itu sekaligus di luar musim panas sangatlah berisiko.

 

Dia pasti akan jadi sering buang air kecil, padahal belum tentu ada toilet di dekat lokasi proyek. Kalau dia sampai meminjam toilet minimarket dengan pakaian kerja yang kotor, itu bisa memicu komplain ke pihak kontraktor utama.

 

Seperti yang pria itu bilang, jika sebuah perusahaan konstruksi benar-benar mematuhi hukum, cukup sulit untuk mempekerjakan anak SMA.

 

Memang sih, kalau sudah lewat usia 18 tahun bisa dihitung sebagai pekerja dewasa pada umumnya, tapi anak SMA baru mencapai usia 18 tahun saat masuk kelas 3.

 

Perusahaan dengan kesadaran hukum yang tinggi bahkan tidak akan membiarkan anak di bawah umur menjadi petugas pengatur lalu lintas proyek.

 

“Tadi pas aku mau angkat karung puing, ternyata berat banget nggak bisa keangkat. Padahal ada bapak-bapak yang badannya lebih kurus dariku tapi dia bisa ngangkat dengan santai... Kira-kira kalau aku latihan, aku bisa ngangkat juga nggak, ya?”

 

“Itu bukan soal otot, tapi soal kebiasaan. Kalau kamu terus melanjutkannya, nanti juga pasti bisa angkat kok. Tapi, kalau niatmu cuma buat melatih otot, lebih baik pergi ke tempat gym saja daripada kerja sambilan begini.”

 

“Ah, bukan begitu maksudku. Aku bukannya mau bikin otot buat dipamerin. Gimana ya bilangnya? Kayak, kelihatan lemah padahal aslinya kuat, yang begitu lho. Belum lama ini aku lihat yang kayak gitu soalnya.”

 

“Haa...”

 

Meskipun dia bilang begitu, pria dengan tinggi 185 cm dan berat badan yang kelihatannya sekitar 80 sampai 90 kilogram ini sama sekali tidak terlihat lemah. Namun, aku menelan kata-kata itu dan hanya membalas, “Begitu, ya.”

 

—Tepat pada saat itu.

 

Cahaya lampu proyek tanpa sengaja mengarah ke kami, membuatku memalingkan wajah karena silau.

 

Lalu, saat wajah pria di sebelahku akhirnya tersorot cahaya—

 

(...Kayaknya aku pernah lihat orang ini.)

 

Aku tidak bisa memastikannya, tapi entah kenapa wajahnya terasa tidak asing. Aku pun memiringkan kepala.

“Ah.”

 

Ternyata pria itu juga merasakan hal yang sama. Saat mata kami bertemu, mulutnya sedikit terbuka karena kaget.

 

Lampu proyek segera berputar ke arah lain, menyisakan hanya penerangan remang-remang dari lampu jalan dan cahaya gedung di kejauhan. Meski begitu, aku bisa merasakan kepanikan pria itu.

 

“No, Nogi?”

 

“...Iya benar, tapi kamu siapa, ya?”

 

Sepertinya kami saling kenal, tapi sayangnya aku tidak ingat siapa dia.

 

“Eeto... Kita satu sekolah, aku dari kelas 3-5.”

 

“Kelas 5?”

 

Berarti kelas jurusan IPS. Kalau tidak pernah sekelas saat kelas 1 sebelum penjurusan, aku hampir tidak pernah berinteraksi dengan anak laki-laki dari jurusan IPS.

 

“Watanabe. Kamu tidak ingat?”

 

“Watanabe...?”

 

Yah, namanya memang terdengar familier, karena itu adalah salah satu marga paling umum di Jepang.

 

Setidaknya, dibandingkan dengan margaku ‘Nogi’ yang bahkan belum pernah kutemui pada orang lain selain kerabatku sendiri, namanya jauh lebih pasaran. Ya, karena itulah aku tidak bisa mengenalinya hanya dari nama marganya.

 

“...Kamu nggak ingat, ya.”

 

“Maaf.”

 

“Beberapa waktu lalu di sekolah... eeto, agak susah ngomongnya, sih.”

 

“Hng?”

 

“Aku nonjok wajahmu.”

 

“............Aaah.”

 

Benar juga, ada kejadian seperti itu. Dia adalah orang berbadan paling besar dari kelompok yang menggoda Reni waktu itu, kan.

 

Pantas saja wajahnya terasa familier. Aku kan ditinju olehnya.

 

“Ah, kamu yang waktu itu menggoda Himori, kan.”

 

“...Iya, itu.”

 

Hanya dari ekspresinya yang samar-samar terlihat di bawah lampu jalan, aku tahu dia tidak sedang memasang wajah menantang untuk berkelahi lagi. Saat itu dia pasti sedang emosi karena usahanya digagalkan.

“Maaf.”

 

Dia menundukkan kepala. Namun, karena aku tidak berniat memperpanjang masalah itu, aku jadi bingung harus bereaksi seperti apa.

 

“Yah, aku juga bingung kalau kamu tiba-tiba minta maaf sekarang.”

 

Mungkin karena mengerti perasaanku, Watanabe tersenyum kecut.

 

“Mau nonjok balik biar impas?”

 

“Nggak ah... Kalau aku tiba-tiba nonjok pekerja sambilan dari perusahaan lain, aku bisa dipecat.”

 

Mendengar jawaban polosku, dia tertawa. “Bukan sekarang juga kali.”

 

“Syukurlah kalau kamu nggak terlalu mikirin. Tapi ngomong-ngomong Nogi, kamu pacaran sama Ebitani, ya?”

 

“............Hah?”

 

Peralihan topik yang tiba-tiba itu membuat reaksiku terlambat.

 

“Belum lama ini, kalian jalan berdua di depan stasiun sambil gandengan tangan, kan.”

 

“...Aaah.”

Mungkin pas aku bertemu dengan Onee-chan. Pergi berdua saja dengan Reni ke luar, itu adalah yang pertama dan terakhir kalinya.

 

“Waktu itu gelap, jadi mungkin cuma aku yang sadar... Tapi dari suasananya, tebakanku kalau itu Nogi dan Ebitani kayaknya benar, ya.”

 

“...Yah, memang benar.”

 

“Maaf, ya.”

 

Dia kembali menundukkan kepala. Namun, karena tidak paham maksud permintaan maafnya, aku memiringkan kepala kebingungan.

 

“Maaf buat apa?”

 

“Kalau pacarnya digodain orang, cowok manapun pasti bakal marah, kan.”

 

“............Bukan begitu,”

 

Meskipun aku menyela perkataannya, aku bingung harus membalas apa. Lalu, dia melanjutkan ucapannya.

 

“Lagipula, dari gelagat kalian, kalian lagi pacaran diam-diam, ya? Daerah stasiun itu biarpun sudah malam masih sering dilewati teman seangkatan kita, lho. Apalagi Ebitani itu sangat mencolok. Kalau kalian nggak mau ketahuan, lebih baik disembunyikan dengan benar. Kalau yang lihat waktu itu bukan aku, pasti sekarang udah jadi kehebohan besar di sekolah.”

“...Begitu, ya. Tapi dengar, Reni memang mencolok begitu, tapi apa selama ini pernah ada rumor kalau dia punya pacar?”

 

“Nggak ada sih, setidaknya selama di SMA aku belum pernah dengar. Aku juga nggak tahu dia lulusan SMP mana. Kalau ngomongin masa SMP, Nogi justru jauh lebih terkenal, kan.”

 

“Aku juga terkenal bukan karena kemauanku sendiri tahu...”

 

Saat Watanabe tertawa mendengarnya, alarm tanda waktu istirahat telah selesai berbunyi dengan nyaring.

 

“...Yah, sampai ketemu lagi nanti.”

 

Setelah pamit begitu, Watanabe membalas dengan “Yo” lalu kembali ke posisinya.

 

(...Hubunganku dengan Reni, enaknya dijelasin gimana, ya.)

 

Kami memang jarang pergi berdua, tapi siswa yang penampilannya mencolok seperti Reni jarang ada. Dia punya rambut pirang dan panjangnya luar biasa. Jarang ada anak SMA yang seperti itu.

 

Namun, tidak mungkin Reni tidak sadar kalau dirinya mencolok. Dengan kesadaran seperti itu, dia tetap nekat bertindak seperti itu.

 

Apa dia sudah siap dengan risikonya? Atau mungkin dia sama sekali tidak peduli dengan pandangan orang lain? Ya, sepertinya kemungkinan kedua lebih masuk akal.

 

Yah, lagipula kami hampir tidak pernah keluar berdua, jadi seharusnya rumor ini tidak akan menyebar lebih jauh lagi.

 

 

•••

 

 

Karena kami bekerja di perusahaan yang berbeda, pada akhirnya aku tidak bertemu lagi dengan Watanabe sampai jam kerjaku selesai.

 

Aku berganti dari pakaian kerja yang penuh pasir ke pakaian kerja yang bersih, lalu berjalan menuju stasiun sendirian—

 

“Kerja baguus~”

 

Bruk, ada benturan di punggungku.

 

“...Hah?”

 

Saat aku menoleh, Himori sedang bersandar padaku.

 

“Eh, Himori? Kok ada di sini?”

 

“Memangnya aku tidak boleh ada di mana saja?”

 

“...Benar juga.”

 

Aku langsung dibungkam dalam waktu 1 detik. Kalau dibilang begitu aku tidak bisa membalas.

 

Karena hampir semua yang kubutuhkan bisa ditemukan di area stasiun terdekat dari sekolah, aku sangat jarang naik kereta untuk urusan selain pekerjaan sambilan. Tapi memang benar, di mana pun Himori berada, rasanya tidak ada yang aneh.

 

Namun, aku tidak ingat pernah memberitahunya di mana lokasi proyekku hari ini. Mungkin dia hanya kebetulan melihatku di jalan dan menyapa. Saat aku berangkat dari rumah tadi, mereka berdua juga sudah pergi kerja, jadi dia tidak mungkin tahu tujuanku.

 

“Meski begitu, di jam segini... bisa-bisa kamu ditangkap patroli jam malam, lho.”

 

Hari Minggu lewat pukul 22.00. Waktu yang cukup rawan bagi seorang anak SMA untuk berjalan sendirian di kota.

 

“Eeh, Nogi emangnya pernah ditangkap?”

 

“Nggak pernah.”

 

“Aku juga nggak~”

 

“...Begitu, ya.”

 

Kalau Reni sih penampilannya dari ujung kepala sampai ujung kaki sangat mencolok, tapi kalau Himori mengenakan pakaian kasual, mungkin dia masih bisa lolos. Aku sendiri sengaja berganti pakaian kerja agar terlihat seperti orang dewasa.

 

Kalau proyeknya jauh, sering kali aku baru sampai rumah menjelang tengah malam, padahal aku selesai pukul 22.00. Tapi pakaian kerja itu ajaib. Meskipun wajahku terlihat kekanak-kanakan, orang-orang akan menganggapku sebagai pekerja kasar yang baru pulang kerja.

 

“Ayo pulang bareng~”

 

Ia berkata begitu sambil mencoba menggandeng lenganku. Saat aku mencoba menarik tanganku—lengan itu tertahan kuat oleh dadanya dan tidak bisa lepas. Ini bukan soal tenaganya yang kuat, tapi apa ya, sihir mungkin? Mustahil bagi laki-laki untuk melawan ini...

 

“Boleh saja sih, tapi... Reni mana? Apa dia sembunyi di sekitar sini?”

 

“Nggak kok, cuma aku sendiri. Emangnya kenapa?”

 

“...Kukira kalian selalu berdua.”

 

“Nggak sampai segitunya kali~”

 

Ia membalas dengan senyum kecut. Begitu, ya. Rasanya mereka selalu terlihat berdua ke mana-mana.

 

Mandi saja selalu berdua, belanja bareng, kerja juga bareng. Aku memang tahu mereka sangat dekat karena mereka sempat tinggal serumah, tapi ternyata kedekatan mereka lebih dari yang kubayangkan.

 

“Lagian, Reni curang sih~”

 

“...Curang kenapa?”

 

“Kamu manggil Reni pakai nama depannya, tapi kenapa dari kemarin-kemarin panggil aku pakai nama marga terus?”

 

Benar juga. Waktu itu Reni bilang dia tidak suka dipanggil dengan nama marganya.

 

“Memangnya kamu jadi ‘Himori’ dari sejak kapan?”

 

“Sekitar 8 tahun lalu?”

 

“Itu sih udah hampir separuh dari umurmu! Harusnya kamu udah nggak peduli lagi sama marga, kan!?”

 

“Memang bener sih, tapi ya~...”




Umurnya sekarang 17 atau 18 tahun. Kalau dihitung dari saat dia mulai mengingat sesuatu, mungkin masa hidupnya sebagai ‘Himori’ justru lebih panjang.

 

Namun, ia tampak sangat tidak puas. Ia mengerucutkan bibirnya secara sengaja dan bergumam, “Muu~”.

 

“Panggilan nama depan itu kan ibarat bukti kepercayaan, kan? Masa buat aku nggak ada, sih?”

 

“Eh, apa itu budaya di kalangan gyaru?”

 

“Aku nggak tahu soal itu sih, tapi yang manggil Reni pakai nama depannya kayaknya cuma aku dan Nogi deh.”

 

“Ternyata memang benar, ya...”

 

Sudah beberapa waktu berlalu sejak kami naik kelas 3, dan Reni benar-benar tidak berbicara atau bermain dengan siapa pun selain Himori.

 

Namun, dia juga tidak terlihat dibenci; lebih tepatnya orang-orang menjaga jarak dengannya. Walau terkadang aku masih melihat ada beberapa siswa laki-laki yang pantang menyerah mencoba mendekatinya.

 

“Shuri.”

 

Yah, panggilan nama sih terserah saja. Karena aku tidak tahu dia mempermasalahkan hal ini, aku coba memanggilnya dengan nama depannya—

“............Eh?”

 

Himori—bukan, Shuri—langsung berhenti melangkah dan menatapku.

 

Ekspresinya seolah bertanya, ’Kamu ngomong apa barusan?’.

 

“Katanya kamu minta dipanggil begitu.”

 

“Eh, ya... memang benar, sih?”

 

“Kenapa nadamu jadi tanya begitu?”

 

“............Sekali lagi.”

 

“Shuri.”

 

“Sekali lagi.”

 

“Shuri. Lagian mau sampai berapa kali nyuruh begini. Aku panggil pakai nama marga lagi, nih.”

 

“Tolong jangan.”

 

Ia membalas dengan wajah sangat serius. Sebenci apa sih dia dipanggil marganya? Kalau memang sebenci itu, harusnya bilang dari dulu dong.

 

Shuri yang kembali berjalan, menatap ke arah langit dengan ekspresi gembira dan membuka mulutnya.

 

“...Nogi juga~”

 

“Bukannya kamu juga memanggilku dengan margaku... Di mana letak bukti kepercayaannya...”

 

Atau jangan-jangan, aku memang tidak dapat kepercayaan itu? Bukti kepercayaan... Aku juga mau...

 

“...Meguru.”

 

“Ya.”

 

“Maaf, batalkan saja.”

 

“Yang bener yang mana, sih.”

 

“Pasti kamu sering dipanggil Shuu-kun, ya~”

 

Tln: [ Kanji bisa dibaca Meguru (めぐる) bisa juga dibaca Shuu (しゅう)]

 

“......Hk.”

 

Deg, jantungku berdegup kencang.

 

’Shuu-kun.’

 

Suara itu menggema di dalam benakku.

 

’Shuu-kun, apakah kamu punya sesuatu yang ingin kamu lakukan di masa depan?’

 

’Ada kok, tapi aku nggak mau kasih tahu Onee-chan.’

 

’Eeeh, padahal kamu cuma Shuu-kun tapi belagak sombong ya~’

 

Bagai lamunan di siang bolong, ingatan dari masa lalu itu terputar kembali—

 

Tiba-tiba, aku menyadari bahwa diriku sedang berdiri sambil terus berjalan.

 

Tenang, tenanglah. Shuri tidak tahu apa-apa. Ini cuma kebetulan. —Tidak apa-apa, semuanya baik-baik saja.

 

Aku menghentikan langkah dan mengatur napasku sejenak, sementara Shuri menatapku dengan wajah penuh penyesalan.

 

“Maaf, ya.”

 

“...Bukan, bukan apa-apa, aku tidak apa-apa kok. ...Tapi, maaf. Tolong, jangan panggil aku pakai panggilan itu lagi.”

 

“Siaap~”

 

Aku tidak menyangka satu panggilan saja bisa mengacaukan perasaanku sejauh ini. Shuri juga pasti tidak menduga aku akan bereaksi sebesar ini.

 

 

•••

 

 

Suasana menjadi sedikit canggung, dan kami sampai di stasiun nyaris tanpa percakapan lagi.

 

Kami membiarkan satu kereta yang sesak oleh penumpang berlalu, lalu naik ke kereta berikutnya. Sedikit terlambat pulang sekarang pun tidak jadi masalah. Reni pasti juga sudah tidur.

 

Kereta di pusat kota memang sering kali sangat padat bahkan sampai larut malam sehingga jarang ada kursi kosong, tapi secara kebetulan ada dua kursi kosong yang bersebelahan. Kami pun duduk di sana, terombang-ambing oleh goyangan kereta.

 

Begitu duduk, Shuri langsung menyandarkan kepalanya ke bahuku. Mungkin dia sangat mengantuk, karena ia tidak bergerak sedikit pun sampai kami tiba di stasiun terdekat.

 

Keluar dari stasiun, berjalan melewati orang-orang yang menuju ke arah halte bus, Shuri akhirnya kembali angkat bicara setelah sekian lama.

 

“...Ngomong-ngomong,”

 

“Hng?”

 

“Reni cerita, katanya belum lama ini kamu ketemu sama orang itu di sini.”

 

“Aah............”

 

Aku tidak terlalu ingin mengingatnya, tapi memang ada kejadian seperti itu.

“Iya, ketemu. ...Tapi, cuma itu saja kok.”

 

“Reni nggak cerita apa-apa sih, tapi apa ada sesuatu yang terjadi?”

 

“...Nggak ada, kok.”

 

“Beneran?”

 

Shuri menghentikan langkahnya, melepaskan lenganku yang sedari tadi ia gandeng, lalu berdiri di hadapanku dan menatap lurus ke mataku.

 

Ah, sepertinya aku tidak bisa mengelak lagi. Tapi Reni ternyata benar-benar tidak bicara apa pun, ya. Padahal kalaupun diceritakan juga tidak apa-apa. Anak itu ternyata setia kawan.

 

“...Cinta pertamaku, sudah berakhir.”

 

“Bukannya emang udah tamat dari kemarin-kemarin?”

 

Jleb, kata-katanya menusuk tajam layaknya pisau.

 

“............Memang sudah. Tapi di dalam diriku, sepertinya perasaannya masih berlanjut. Tapi sekarang aku benar-benar merasa sudah rela melepaskannya... entahlah, aku juga tidak terlalu paham.”

 

“Maksudnya, kamu udah bisa menata perasaanmu?”

 

“Kira-kira begitu.”

Mungkin karena puas dengan jawabanku, ia mengangguk dan berkata, “Oh begitu~” lalu kembali menggandeng lenganku.

 

“Entah kenapa aku dari kemarin udah kepikiran sih. Nogi, kamu tuh kelihatan nggak terbiasa banget sama perempuan, ya? Padahal belum lama ini kamu masih gagal move on dari cinta pertama.”

 

“Berisik, ah.”

 

Aku ini sudah terbiasa dengan jarak sedekat ini gara-gara Onee-chan. Malahan, jarak dengan Onee-chan jauh lebih dekat lagi. Jarak personal orang itu memang benar-benar nol.

 

“Emangnya kamu pernah punya pacar?”

 

“Kan udah kubilang itu cinta pertamaku.”

 

“Itu sih beda lagi. Terus, apa kamu bisa membayangkan dirimu pacaran sama orang lain?”

 

“Tentu saja aku tidak bisa membayangkannya, kan!?”

 

“Eh?”

 

“...Eh?”

 

Dan di sinilah kami, terdiam selama 10 detik penuh. Waktu untuk saling mencocokkan perbedaan nilai-nilai kami.

 

Setelah beberapa saat, Shuri perlahan membuka mulutnya.

“...Enggak, misalnya niat aslimu tuh suka sama si A, tapi karena keadaan kamu kompromi dan pacaran sama si B... tapi karena aslinya masih suka sama si A, kamu tetap cari kesempatan...”

 

“Laki-laki brengsek yang tidak tulus begitu kalau menurut Shuri gimana?”

 

“Mati aja sana.”

 

“Kalau tadi aku setuju sama pendapatmu, nasibku bakal gimana!?”

 

“Bakal kuanggap sampah paling rendah mungkin~”

 

“Jangan masang jebakan di tengah obrolan, dong!”

 

Melihat kepanikanku, Shuri tertawa terbahak-bahak. Kurang ajar, mentang-mentang aku orangnya setia, dia seenaknya saja mempermainkanku...!

 

“Kalau aku kelihatannya terbiasa banget... Oh, itu karena dia memang orang yang seperti itu.”

 

“Kayak nempel-nempel begini?”

 

“Iya, kayak nempel-nempel begitu.”

 

Shuri mengangguk-angguk sambil menggumam, “Begitu ya, begitu ya...” lalu melanjutkan,

 

“Kalau ukurannya sih... kayaknya aku nggak kalah...?” Tenang saja, milikmu itu jauh lebih besar, lho. Makanya tolong jangan ditempel-tempelkan sembarangan. Kalau aku lengah sedikit, fokusku bisa langsung tersedot ke arah lenganku tahu.

 

“Kalau Shuri sendiri, bagaimana?”

 

“Bagaimana apanya?”

 

“Kamu gandengan lengan sama orang yang bukan pacarmu, lho.”

 

“Kamu takut disangka kita pacaran?”

 

“............Iya.”

 

Buktinya, Watanabe—yang kebetulan kutemui di tempat kerja tadi—langsung salah paham soal hubunganku dengan Reni.

 

Padahal waktu itu kami bergandengan bukan karena mesra, melainkan karena Reni berusaha melindungiku dari Onee-chan—tapi hal serumit itu sangat sulit untuk dijelaskan kepada orang lain.

 

Kalau ada laki-laki dan perempuan jalan berdua sambil bergandengan tangan, aku juga tahu orang-orang pasti akan berpikiran seperti itu. Sekalipun pihak yang bersangkutan sama sekali tidak memiliki perasaan romantis apa pun, orang lain yang melihatnya pasti akan berpikir lain.

 

“Lagian nggak masalah juga sih, lagian...”

 

Ia sedikit tergagap seolah ragu mengatakannya—namun beberapa saat kemudian, ia tersenyum kecut.

“Yah, kuberi tahu juga nggak apa-apa sih. Aku itu sama sekali nggak ada niat buat pacaran selama masih berstatus pelajar.”

 

“Oh, gitu, ya.”

 

“Aku juga nggak nyembunyiin prinsip ini, dan teman-teman juga pada tahu kok~ Jadi kalaupun kita dilihat orang, ya nggak masalah, kan?”

 

“...Begitu, ya.”

 

Aku tidak terlalu mengerti, tapi tampaknya prinsipnya lebih teguh dari yang kubayangkan. Pantas saja selama ini tidak pernah ada rumor soal dia punya pacar.

 

Kalau dipikir-pikir, Onee-chan juga sangat skeptis dengan romansa anak sekolah, dia sering bilang “Toh ujung-ujungnya juga nggak akan sampai menikah, kan~” Mungkin perempuan yang berpikiran seperti itu memang cukup banyak.

 

“...Tapi, syukurlah.”

 

Shuri tersenyum lembut seolah ia mengerti sesuatu.

 

“Meskipun agak telat, tapi Nogi, akhirnya kamu sekarang berdiri di garis start yang sama dengan orang lain, kan? Ayo cari cinta baru, dan mulai nikmati hidupmu ke depannya. Yah, masa SMA kita sisa setahun lagi sih... tapi kalau kamu lanjut kuliah, kehidupan sebagai pelajarmu masih akan berlanjut, kan.”

 

“............Yah, memang sih.”

“Memangnya sekarang ada cewek yang lagi kamu taksir?”

 

“Mendadak banget! Mana mungkin secepat itu aku bisa menemukan seseorang yang baru!?”

 

“Eh, gampang tahu nyarinya.”

 

Ah, ekspresinya sangat serius. Berarti aku yang aneh, ya. Aku mulai mengerti polanya nih.

 

“...Memangnya bisa ketemu secepat itu? Biasanya?”

 

“Iya, gampang kok. Malahan bisa jatuh cinta lima detik setelah pertemuan pertama.”

 

“............Begitu, ya.”

 

Tapi, apakah benar begitu?

 

Diucapkan secara mendadak seperti itu pun, aku tetap tidak percaya pasangan yang cocok bisa bermunculan semudah itu. Apalagi, orang yang menjadi cinta pertamaku justru orang yang tinggal serumah denganku.

 

Orang normal itu, bagaimana sih cara mereka menyukai seseorang?

 

“Kamu dari tadi nanya orang terus, kalau Shuri sendiri gimana? Ada cowok yang disuka?”

 

“...Eh, kok tiba-tiba nanya begitu?”

“Kenapa saat ditanya giliranmu, kamu malah bereaksi seolah ini hal yang aneh!?”

 

Padahal dia membalasku dengan ekspresi yang jelas-jelas kebingungan, lho?

 

“Nggak ada, kok.”

 

“...Nggak ada, ya~”

 

“Nggak ada.”

 

Penolakannya sangat tegas, ya.

 

“Pernah ada?”

 

“Nggak pernah.”

 

“Nggak pernah, ya~...”

 

Lho, bukannya tadi dia ngomong hal-hal yang seolah-olah dia sangat berpengalaman soal cinta? Ah, tapi mungkin itu cuma teori umum yang sedang ia jelaskan padaku, bukan pengalamannya sendiri? Kayaknya tadi dia ngomongin soal pacaran karena kompromi, kan...

 

“Kamu pengen aku punya?”

 

“...Nggak juga?”

 

“Terus kenapa nanya-nanya.”

“Cuma penasaran saja, jatuh cinta pada seseorang itu sebenarnya proses yang bagaimana, sih.”

 

Karena aku sadar bahwa pengalamanku sendiri tidak bisa dijadikan standar acuan dalam hal percintaan.

 

“Kayaknya hal itu nggak perlu dipikirin sampai sedalam itu, deh?”

 

“Tadi kamu ngomong seolah-olah kamu pakar cinta yang tahu segalanya, padahal aslinya kamu juga belum pernah naksir cowok, kan.”

 

“Memangnya kenapa kalau belum?”

 

“............Berarti omonganmu tadi itu cuma asal bunyi, ya?”

 

“Mungkin aja, sih~”

 

Ia menyeringai ke arahku. Sialan, aku sedang dipermainkan. Jangan-jangan pengakuannya kalau dia tidak menyukai siapa pun juga cuma kebohongan.

 

Omongan dan kelakuan anak ini benar-benar tidak bisa dipercaya sama sekali lho.

 

“Tapi, ya.”

 

Shuri bersandar pada lenganku dan berkata pelan.

 

“Kalau memang sudah saatnya, cinta itu bakal datang dengan sendirinya, lho.”

“...Begitu, ya.”

 

“Nggak butuh alasan yang megah, bakal ada saatnya kamu bertemu seseorang yang bisa membuatmu merasa, ‘Ah, aku menyukainya’.”

 

“............Kira-kira kapan bakal munculnya, ya.”

 

“Pasti muncul. Pasti.”

 

“Begitu, ya. ...Kalau begitu, aku akan menunggu.”

 

“Ya... Tunggu aku, ya.”

 

Karena nada suaranya terdengar sangat berbeda dari biasanya, aku menoleh menatapnya, tapi—

 

Tatapan Shuri menerawang jauh, dan aku tidak bisa menebak apa yang sedang ada di pikirannya.

 

Di seluruh penjuru Jepang ini, mungkin tidak ada laki-laki yang lebih lamban dan tidak paham isi hati perempuan selain aku.

 

Lalu, dengan nada yang sedikit sendu, Shuri melanjutkan kata-katanya.

 

“Kalau nanti kamu punya orang yang kamu suka, dan kamu minta kami pergi... kami akan pergi tanpa melawan kok. Jadi, kamu nggak usah khawatir, ya?”

 

“Bukan, itu sama ini kan nggak ada hubungannya.”

“...Eh?”

 

Tiba-tiba dia ngomong apa, sih? Urusan asmaraku dan mengusir orang yang numpang hidup di rumahku itu sama sekali beda topik, kan.

 

Kalau tindakan seenaknya seperti itu dibiarkan, aku pasti sudah diusir dari rumah Onee-chan sejak bertahun-tahun yang lalu.

 

“Lagi pula, Aku sama sekali tidak merasa terganggu.”

 

“Beneran?”

 

“...Ah, iya, sedikit ngerepotin sih. Ayo cepat beli kasur. Tidurnya sempit tahu...”

 

“Eeeh, kalau itu sih agak...”

 

“Agak apanya?”

 

Setelah merenung sejenak, Shuri mengacungkan jari telunjuknya.

 

“Nanti kalau kami harus pindah, kasurnya kan jadi barang yang menuhin tempat, kan?”

 

“Bawa aja ke rumah barumu.”

 

“Be, berat tahu...?”

 

“Biar aku yang bantu angkut. Kasur yang sekarang aja aku sendiri yang bawa ke sini.”

Memang sih, menggotong kasur jalan kaki melewati kompleks perumahan waktu itu rasanya agak memalukan. Saking besarnya dan bentuknya yang tidak stabil, aku bahkan tidak bisa menaruhnya di atas kereta dorong.

 

“Ah, beneran? ...Kalau gitu alasan yang tadi batal.”

 

“Eh, iya.”

 

“Karena kami nggak punya uang buat beli, jadi nggak usah aja.”

 

“Mau kubelikan?”

 

“Nggak kok, aku nggak ada niat memeras sampai sejauh itu...”

 

“Kalian aja udah numpang seenaknya di rumahku, masa soal beginian aja langsung sungkan!? Standar moralmu itu gimana, sih!”

 

“Itu ya itu, ini ya ini, kan?”

 

“Itu ya itu, kah~...?”

 

Gagal total, aku tidak bisa menyelaraskan standar moral kami.

 

“Kalau menurut Nogi, semisal orang yang kamu suka ternyata tinggal bareng dengan lawan jenis, kamu bakal gimana?”

 

“...Orang normal sih bakal menganggap tinggal bareng sama lawan jenis itu biasa saja.”

 

“Mana mungkin hal seperti itu dianggap biasa!?”

Ia terkejut sungguhan.

 

“...Eh, maksudku, di rumah kan biasanya minimal ada orang tua? Walaupun aku sendiri sih nggak ada...”

 

“............Lawan jenis itu, aah, bukan, ya memang benar itu juga lawan jenis, tapi maksudku itu kalau tinggal sama keluarga.”

 

“Kalau tinggal serumah, itu namanya keluarga, kan.”

 

“Kalau nggak ada hubungan darah, emangnya bisa disebut keluarga?”

 

“...Tentu saja,”

 

Aku tidak akan bisa membenarkan pertanyaan itu.

 

Karena jika aku membenarkannya, kata yang mendeskripsikan hubunganku dan Onee-chan akan menghilang dari dunia ini.

 

Selama tinggal serumah, itu berarti keluarga.

 

Dan justru karena itulah, aku ditolak cintanya.

 

“...Yah, mungkin tiap orang beda-beda pandangannya.”

 

“Apakah hal ini masuk kategori hal yang interpretasinya bisa berbeda-beda tergantung orangnya...?”

 

“Walaupun tidak ada hubungan darah, keluarga tetaplah keluarga. Setidaknya itu menurutku.”

“............Keluarga.”

 

Shuri menggumamkan kata itu dengan suara kecil.

 

Aku sama sekali tidak tahu latar belakang keluarga Shuri. Sama halnya dengan Reni.

 

Kenapa dia memutuskan keluar rumah dan tinggal sendirian? Kenapa, saat sudah kehilangan tempat tinggal, dia enggan kembali ke rumah orang tuanya?

 

Sebagai anak di bawah umur, terlepas dari apakah ada hubungan darah atau tidak, mereka pasti memiliki orang tua yang sah secara hukum.

 

Lalu kenapa mereka tidak mencoba mengandalkan orang tuanya? Meskipun mereka kehilangan tempat tinggal, sangat tidak wajar melihat dua anak perempuan SMA pindah dari satu warnet ke karaoke selama sebulan penuh.

 

“Ngo-mong-ngo-mong. Soal uang waktu itu lho~”

 

Tiba-tiba topik pembicaraannya berganti, membuatku bertanya “Soal apa?”. Mungkin pembicaraan tadi lebih baik tidak diteruskan. Aku harus lebih berhati-hati, atau nanti aku dikira orang yang tidak punya kepekaan.

 

“Itu lho, uang yang dulu pernah kamu pinjamkan? Karena kamu nggak pernah nagih, aku jadi terlalu santai dan terus menunda... Eh, kenapa wajahmu begitu.”

 

“............Aah, uang. Iya, uang.”

 

Butuh beberapa saat bagiku untuk mengingatnya. Sejujurnya, keberadaan uang itu sudah benar-benar lenyap dari ingatanku.

 

Maksudnya pasti uang yang kuberikan secara paksa pada Shuri saat liburan musim semi waktu itu, ya. Begitu ya, jadi itu statusnya dihitung pinjaman, toh. Aku malah sudah merasa uang itu sudah kubuang.

 

“Aku udah dapat gaji kerja sambilan sih, jadi bukannya aku nggak bisa balikin sekarang, tapi boleh nggak kalau aku minta tambahan waktu sedikit lagi?”

 

“Boleh-boleh saja, aku juga nggak lagi butuh uang kok.”

 

Mendengar jawabanku, ia membalas dengan nada heran, “Kok bisa sih anak sekolahan bilang begitu...?” Ya ada lho orang kayak begitu.

 

“Tapi untunglah, selama ini kamu nggak pernah bahas masalah uang itu ke Reni.”

 

“...Memangnya kenapa aku harus bahas ke Reni?”

 

“Eh?”

 

“Hng?”

 

Tunggu, kayaknya ada ketidakcocokan pemahaman di antara kami, deh.

Coba kuingat kembali. Bulan Maret. Malam setelah aku gajian. Aku melihat Shuri mencoba mencari sugar daddy dan aku memaksa memberikan uangku padanya. Sampai titik ini kejadiannya sudah pasti benar.

 

Setelah tinggal bareng, aku baru menyadari bahwa Shuri sebenarnya tidak punya sifat boros. Dia memang sering main dengan teman-temannya (maksudnya teman sekelas yang dekat dengannya, tidak termasuk Reni), tapi itu cuma sekadar main ala anak SMA.

 

Aku beberapa kali pernah diajak, jadi aku tahu mainnya sama sekali tidak memakan uang besar. Seharusnya hasil kerja sambilannya di akhir pekan sudah cukup menutupi semuanya.

 

Eh, aneh juga, ya. Kalau begitu, satu-satunya penjelasan yang masuk akal adalah karena dia punya utang atau sejenisnya...

 

“...Tunggu dulu Nogi, kamu jangan-jangan salah paham?”

 

“Salah paham bagaimana, aku bahkan nggak pernah mikirin uang itu dipakai buat apa. Emangnya buat apa?”

 

“Buat biaya hidup lah...”

 

“Biaya hidup buat kalian cuma main, nggak bakal habis sebanyak itu, kan... ...Ah.”

 

Shuri tersenyum pahit, seolah senyumnya mengatakan ’Kamu baru sadar, ya.’

 

Benar juga. Di awal bulan Maret, mereka berdua diusir dari rumah dan menjadi gelandangan selama sebulan penuh.

 

Kudengar mereka pindah dari satu tempat karaoke ke hotel cinta lalu ke warnet. Jelas biaya nginap harian seperti itu tidak akan lebih murah dari harga sewa rumah bulanan. Uang mereka pasti lenyap dengan cepat seperti air yang mengalir.

 

Saat itu, mereka berdua benar-benar kekurangan uang untuk bertahan hidup. Dan kemungkinan besar—

 

“Maksudnya kalian kehabisan biaya buat hidup sebelum gajian kerja sambilan kalian cair... begitu, ya!?”

 

“Betuuul sekali. Aku nggak nyangka kamu bener-bener nggak sadar.”

 

Kupikir uangnya habis karena, ‘namanya juga anak perempuan, wajar butuh banyak biaya’, ya standar seperti itulah. Aku benar-benar tidak menyangka kalau mereka benar-benar kehabisan uang untuk makan dan bertahan hidup. Dan cara yang dia pilih untuk mendapatkan uang cepat itu... gawat juga. Pasti ada cara lain kan, masa harus begitu.

 

“...Kalau itu... aku baru pertama kali coba.”

 

Sambil sedikit memalingkan wajah, ia mengatakannya. Sangat tidak biasa bagi Shuri untuk terdengar begitu tidak percaya diri.

 

“Begitu, ya.”

 

“Kaget? Kayaknya dari mukaku aku kelihatan sering lakuin hal kayak gitu, ya?”

 

“Nggak sama sekali. Malah sebaliknya.”

 

“Sebaliknya?”

 

“Justru aku kaget banget waktu lihat Shuri ngelakuin hal begituan. ...Syukurlah cuma sampai percobaan dan nggak beneran kejadian.”

 

“Beneran deh. Kalau waktu itu Nogi nggak datang—“

 

Lengan yang merangkulku itu tiba-tiba mengetat.

 

Saat aku melirik ke arahnya, Shuri yang pandangannya tertuju pada ujung kakinya sendiri, berkata,

 

“Gimana kalau sebagai ganti om-om waktu itu, aku berikan... untukmu?”

 

“Berikan apa.”

 

“Di-ri-ku.”

 

Ia menunjuk dirinya sendiri dan mengatakannya dengan sedikit malu.

 

“...Tapi aku udah cukup tenaga kerja, lho.”

 

Dugh, siku tangannya menyodokku. Sepertinya jawabanku salah. Aku sudah menduganya, sih.

 

“Kalau Shuri merasa bersalah soal itu, anggap saja uang yang kuberi sudah lunas ditukar dengan pekerjaanmu membantuku di rumah. Lagian kan kamu juga udah bayarin biaya makanku tiap malam.”

 

“Hng~, beneran cukup gitu doang?”

 

“Memangnya apa lagi yang mau kamu pakai buat bayar?”

 

Aku sama sekali tidak berniat menagih biaya sewa rumah dari mereka. Entah berapa biaya makan malam yang sudah ia keluarkan sejauh ini, tapi lambat laun utangnya pasti akan lunas dengan sendirinya lewat hal itu.

 

“............Ya sudahlah, nggak apa-apa. Kalau begitu, hitung-hitungannya aku yang bereskan sendiri ya. Tapi jangan komplain nantinya, ya?”

 

“Sip.”

 

“Waktu itu... makasih udah nolongin aku.”

 

“Sama-sama.”

 

Kami berdua tertawa, menertawakan fakta bahwa baru sekarang kami mengucapkan terima kasih dan sama-sama untuk kejadian bulan lalu.

 

Seseorang yang bisa tertawa selepas ini, pernah terpojok hingga berniat menjual tubuhnya sendiri demi bertahan hidup. Terlebih lagi, ia bahkan tidak menceritakannya pada Reni, sahabat baiknya. Yah, mungkin justru karena terlalu dekat, ada hal-hal yang tidak bisa diceritakan.

 

“Sebenarnya, kalau ngomong begini aku pasti bakal dibilang bodoh sih, tapi waktu itu perasaanku juga lagi super kacau karena habis ditolak.”

 

“Oh, jadi itu sebabnya sikapmu waktu itu begitu?”

 

“Memangnya sikapku separah itu, ya?”

 

“Pokoknya aku ngerasa kalau aku nggak lakuin sesuatu, rasanya nggak bakal puas. ...Itu cuma pelampiasan saja.”

 

“Baru pertama kali ini aku lihat ada orang yang ngelampiasin kekesalan dengan cara maksa ngasih uang... Minimal mending kamu beli sesuatu kek...”

 

“...Waktu itu aku juga lagi nggak pengen beli apa-apa, soalnya.”

 

“Yah, karena aku jadi pihak yang terselamatkan, aku sih nggak ada hak buat komplain. Tapi, tolong lebih hargai dirimu sendiri, ya? Kamu itu hidup nggak cuma buat dirimu sendiri, lho.”

 

“Tunggu! Kalimat itu bukannya biasanya dipakai buat bilangin ibu hamil!?”

 

“Masa sih~? Padahal aku pernah dibilangin begitu sama seseorang lho~”

 

“Jangan-jangan, tanpa sadar aku sedang memikul kehidupan orang lain di pundakku...!?”

 

“Kan emang lagi mikul.”

 

“Siapa!?”

 

Shuri mengacungkan telunjuknya, menunjuk dirinya sendiri.

 

“............Yah, padahal walau kalian keluar dari rumahku, kalian pasti bisa bertahan hidup, kok.”

 

“Menurutmu begitu?”

 

“Menurutku sih gitu, santai saja...”

 

“...Yah, mungkin juga sih.”

 

Dia menyetujuinya, ya. Kupikir dia akan menyangkalnya walaupun itu bohong.

 

“Lagi pula untuk sementara waktu kamu juga nggak bakal nyuruh kami pergi, kan?”

 

“Nggak, sih.”

 

“Kalau gitu~, kami nggak akan pergii~. Lagian, lebih nguntungin kalau kita hidup bareng, kan? Kamar juga kebetulan kosong.”

“Oh iya, karena ruangannya kosong, mending kalian beli kasur sendiri deh.”

 

“Nggak mau.”

 

“Kenapa soal kasur aja kamu bersikeras banget nolaknya, sih!”

 

Jujur saja, akhir-akhir ini aku memang mulai terbiasa, tapi tetap saja sempit tahu.

 

“Kalau kamu marah-marah terus nanti cepat botak, lho~?”

 

“Kamu sadar nggak kalau kamulah penyebab aku marah-marah?”

 

“Eeeh, jadi kamu mau ngusir kami, nih~?”

 

“Nggak gitu juga!?”

 

Meskipun ini hanyalah perdebatan tanpa arah.

 

Rasanya, sangat menyenangkan.

 

Saat mereka berdua tiba-tiba menghilang dari hidupku nanti, apakah aku—

 

“Oke aku paham kalau untuk sementara kalian belum mau keluar. Tapi Shuri, apa kamu punya sesuatu yang ingin kamu capai di masa depan?”

 

“Sesuatu yang ingin kucapai?”

 

“Reni kan setelah lulus SMA rencananya mau jadi nail artist. Kalau Shuri, mau lanjut kuliah atau bagaimana, apa kamu sudah memikirkan tujuan masa depan seperti itu?”

 

“Hng~...”

 

Shuri tidak langsung menjawab, melainkan menatap langit malam dengan raut wajah sedikit bimbang. Aku ikut mendongak, tetapi langit malam di perkotaan tidak pernah memperlihatkan satu bintang pun, bahkan saat tak ada awan yang menutupi.

 

Kami ini sudah kelas 3 SMA. Waktu di mana kami masih bisa berstatus anak sekolahan tinggal tersisa kurang dari setahun.

 

“...Kupikir masuk universitas bareng Nogi kelihatannya bakal seru, sih.”

 

“Eh, ya?”

 

“Tapi aku kan nggak ada uang, nggak pinter, dan kayaknya Reni bakal marah banget.”

 

“...Kenapa Reni harus marah?”

 

Bukannya nggak ada hubungannya dengan Reni? Toh dia sudah punya tujuan jelas mau jadi nail artist. Dia juga bukan tipe orang yang akan memaksa ikut masuk ke kelompok orang yang terlihat bersenang-senang.

 

Rasa iri karena melihat teman yang kuliah juga tampaknya tidak ada sedikit pun pada dirinya.

“............Masa kamu nggak paham, sih?”

 

Kali ini nada suaranya sangat jelas berbeda dari biasanya.

 

Bahkan kalau aku tahu tebakanku salah, aku tetap tidak tahu jawaban yang benar. Apa tidak ada buku referensi yang menjual jawabannya?

 

“Jarang banget lho Reni bisa nempel dan terbuka sama orang lain begini~? Kamu harusnya lebih sadar soal itu.”

 

“Itu, dia nempel kepadaku!?”

 

Sikapnya selama ini kan lebih ke ‘berusaha tidak terlalu membenciku’...!

 

“Dia nempel ke kamu, tahu~? Kayaknya dari seluruh manusia di dunia ini, tingkat kepercayaannya ke kamu cuma setingkat di bawahku.”

 

“Skala perbandingannya gede banget...”

 

Lalu, jaringan hubungan pertemanan Reni berarti super sempit...! Berarti cuma ada Shuri, aku, dan kemudian sisa populasi manusia lainnya.

 

“Gimana ya bilangnya, Nogi tuh dari kata-kata sama kelakuan kelihatan banget kalau nggak punya niat terselubung. Mungkin karena itu kali, ya?”

 

“...Bisa jadi aku cuma pandai menyembunyikannya, kan.”

“Ah, nggak mungkin.”

 

Dia mengatakannya dengan wajah penuh keyakinan. Tapi ya, bukan berarti niat itu sama sekali tidak ada, tahu? Bahkan sekarang saja, aku sangat terganggu karena dadamu menempel sedekat ini...!

 

“Kamu melakukan hal seperti ini ke semua orang, ya?”

 

“Hah?”

 

Suara sedingin es yang hampir kukira Reni itu, baru saja keluar dari mulut Shuri.

 

“Datang numpang ke rumah orang, nempel-nempel menggandeng lengan.”

 

Kupikir jarang ada perempuan yang kelakuannya seperti ini. Namun, Shuri hanya membalas dengan desahan napas panjang yang dibuat-buat, “Haa~...”

 

“Ya jelas enggak, kan. Emangnya aku kelihatan kayak perempuan gampangan?”

 

“............”

 

“Harusnya di saat begini kamu refleks bilang ‘Nggak kelihatan gitu sama sekali!’ dong~”

 

Dia menggosok-gosokkan kepalanya ke pipiku. Sekarang dia menempel ke sekujur tubuhku lebih rapat dari sebelumnya, dan... perempuan itu ternyata benar-benar empuk, ya. Apakah bahannya sama seperti bantal sofa bean bag?

 

“Aku, sama sekali tidak membenci Nogi, lho. Makanya aku berani begini, mengerti?”

 

“Kalau sampai ada orang yang numpang hidup ke rumah orang yang dibencinya, itu sih kelewat nekat...”

 

“...Jadi menurutmu begitu pemahamannya~”

 

“Memangnya ada cara lain memahaminya?”

 

“Iya, iyaa~, karena aku curiga kamu nggak peka, makanya aku sedikit ngecek, ya kan? Dan ya tebakanku benar, kamu bener-bener nggak nyadar~”

 

Menyadari apa, aku memiringkan kepalaku karena tak paham, namun tidak ada penjelasan tambahan yang diberikan.

 

Saat kami akhirnya tiba di rumah, waktu hampir menunjukkan pukul tengah malam. Reni sedang tidur sendirian.

 

Di atas kasur itu, ia telah menyisakan ruang tidur yang cukup untuk dua orang.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close