Bonus Cerita Pendek Versi E-book
“Kecelakaan Terjadi Saat Kita Mulai Lengah”
“Aah............”
Aku mengguyur kepalaku
dengan shower membasuh keringat dan rasa lelah.
Proyek hari ini berat
sekali. Pihak kontraktor utama pun pasti tidak menyangka kalau di subkontraktor
dari subkontraktor dari subkontraktor dari subkontraktornya... ada pekerja di
bawah umur.
Pengawas lapangan dari
pihak kontraktor utama entah dia masih pemula atau bagaimana, tapi sepertinya
dia bukan tipe orang yang bisa mengawasi keadaan sekitar dengan baik. Alhasil,
pekerjaan di lapangan bisa berjalan hanya bermodalkan keterampilan dan semangat
dari masing-masing pekerja.
Kalau pekerjaan itu bisa
diselesaikan dengan sempurna dan tepat waktu, pada akhirnya itu akan menjadi
nilai plus bagi sang pengawas. Struktur masyarakat memang sekejam itu.
“Menjadikan ini sebagai
pekerjaan tetap bakal berat banget, ya...”
Bukan berarti aku punya
cita-cita tinggi untuk menjadi pekerja kantoran berdasi. Aku juga tidak terlalu
mendambakan pekerjaan yang hanya perlu mengetik di depan komputer di dalam
kantor ber-AC. Malahan, terkadang aku berpikir bekerja di lapangan seperti ini
juga tidak buruk.
Yah, meski kekhawatiran
soal pendapatan juga menjadi masalah besar. Walau aku bekerja 8 jam sehari
sekalipun, pendapatanku nanti bisa saja lebih rendah dari hasil kerja
sambilanku yang sekarang.
Meski begitu, jika
sesekali aku kebagian proyek seperti hari ini, aku langsung berpikir ulang dan
merasa mustahil untuk bisa berkarier di industri konstruksi ini.
Orang dewasa itu, sejak
kapan mereka mulai memikirkan masa depan, ya? Tinggal bersama Reni—yang bahkan
sudah mengambil sertifikasi sejak SMP demi masa depannya—mau tak mau membuatku
memikirkan hal itu.
Sebaliknya, ada apa dengan
Shuri yang hidupnya terlihat begitu santai dan mengalir padahal dia selalu
bersama Reni? Padahal ini sudah musim semi di kelas 3 SMA, tapi katanya dia
belum memutuskan mau lanjut kuliah atau langsung bekerja.
“...Hm?”
Saat aku sedang berendam
di bak mandi, terdengar suara pintu depan terbuka. Sepertinya Shuri dan Reni
sudah pulang.
Mereka berdua datang ke
depan wastafel di ruang ganti pakaian sambil mengobrol. Mungkin mau
membersihkan make up.
Tumben hari ini aku
selesai kerja lebih dulu jadi aku mandi duluan, padahal biasanya aku selalu
mendapat giliran mandi ketiga.
“Nggak, nggak, nggak,
mustahil kan? Lagian kenapa Reni bisa ngelakuin hal kayak gitu dengan santainya
sih?”
“Kenapa ya... soalnya aku
pengin? Shuri nggak pengin?”
“Pengin pun aku nggak bisa
lho~”
“Lemah.”
“Berisik~”
Obrolan khas gadis SMA
terdengar olehku.
Sungguh, kenapa dua orang
ini bisa akrab banget ya. Karena kukira mandi bareng antarteman perempuan itu
hal yang normal, aku pernah bertanya pada anak perempuan di kelas. Jawabannya,
“Kalau di tempat pemandian
air panas sih boleh-boleh aja, tapi kalau di rumah kayaknya nggak deh.” Hampir
semua orang memberikan reaksi yang sama saat kutanya, dan alasan utamanya
adalah “sempit”.
Sebagai catatan, Shuri
juga ada di sana saat aku bertanya, dan dia ikut setuju dengan pendapat mereka
dengan santainya. Reni sampai menatapnya dengan ekspresi seolah berkata, ’Kamu
ngomong apa sih’.
Gimana ya bilangnya,
karena kepribadian mereka benar-benar bertolak belakang, rasanya mereka justru
cocok dan saling melengkapi. Jarang ada anak-anak seperti ini di kelompok
pertemanan perempuan SMA, jadi hubungan mereka ini cukup unik.
Memang terdengar tidak
sopan karena seperti menguping, tapi karena struktur kamar mandinya, mau tidak
mau aku bisa mendengar percakapan mereka berdua yang sedang mengobrol tepat di
sebelahnya.
Dengan pintu setipis ini
yang tidak kedap suara sama sekali, tidak mungkin mereka berpikir kalau aku
yang ada di dalam kamar mandi tidak mendengarnya. Mereka sepertinya sedang
antusias membahas sesuatu, tapi aku sama sekali tidak mengerti apa yang sedang
mereka bahas.
Hal yang Reni bisa lakukan
tapi Shuri tidak bisa—ah, game, ya!
Meskipun kelihatannya
begitu, Reni sangat jago main game.
Jujur saja, kuku super
panjangnya itu tidak mungkin tidak mengganggu pergerakan jarinya, tapi biarpun
begitu dia tetap jago. Ya, dia jago cuma karena dulu dia pernah sangat
mendalaminya.
Bukan berarti dia tertarik
dengan game-game terbaru, dan dia juga tidak pernah menyalakan game
kalau bukan karena diajak oleh Shuri. Herannya, kenapa dia bisa terus-terusan
jago.
“Lagian ini kan buat bulan
depan. Kamu beneran bisa?”
“Aku malah lebih
khawatirin Shuri tahu.”
“............Ya, aku bisa
kok, aku bakal lakuin lho?”
“Serius? Nanti pas mau
mulai kamu nggak bakal ciut kan?”
“Itu, yah, mungkin aja
sih, tapi...”
“Momentum itu penting
tahu. Kamu harus buang akal sehatmu.”
“Membuang... akal
sehat...”
Saran macam apa itu. Ini
beneran lagi ngomongin game, kan? Game yang baru bisa dimaikan
kalau buang akal sehat, game macam apa itu. Setidaknya tetap pakai akal
sehat dong kalau cuma main game.
“Aah pokoknya, kita nggak
ada pilihan lain selain memicu event yang pas buat bikin progress
kan!?”
“Picu saja kalau begitu?
Gampang, kan?”
“...Ngg, yah, iya sih.
Memang gampang. Contohnya, kita masuk ke dalam begini—“
—Srrk.
Pintu kamar mandi dibuka.
“Eh.”
Aku yang sedang
menyandarkan kepala di pinggiran bak sambil menatap langit-langit, refleks
menoleh ke arah pintu karena sama sekali tidak menyangka pintu akan dibuka.
Bagian dalam kamar mandi
memang penuh dengan uap, tapi—
—Brak!
Pintu ditutup dengan keras
dan ditutup rapat.
“Eh, apaan?”
“Aah............,
Eeh............”
“Haid?”
“Bukan itu. Eeto,
aah............”
Di balik pintu berlapis
kaca buram itu, dari sisi kamar mandi aku bisa melihat bayangan Shuri sedang
memegangi kepalanya. Aku juga saat ini sedang memegangi kepalaku.
“Kenapa sih...?”
—Srrk. Masuk ke season
2!
Kali ini aku tidak
menolehkan wajah ke arah pintu, dan dengan kecepatan kilat aku membalikkan
badanku membelakangi mereka.
“............?”
Namun, Reni tidak peduli
dan langsung masuk ke dalam kamar mandi.
“Re, Reni!? Di dalam! Di
dalam ada orang!!!!”
“Di dalam............?”
Reni yang sudah memutar
gagang shower, melihat bagian belakang kepalaku yang sedang berendam di
dalam bak—
Ia langsung mengarahkan
pancurannya ke arahku. Dalam diam.
“Dingin, waah dingin
banget!!!!”
Parahnya lagi dia mengubah
airnya jadi air dingin!!
Saat aku menoleh untuk
mematikan air, sosok Reni sudah tidak ada di sana. Kepala pancuran air itu
terjatuh mengikuti gravitasi—beruntung aku bisa menangkapnya tepat sebelum
benda itu menghantam lantai.
“Hampir......
saja......!!”
Pancuran air dingin itu
mengenai wajahku, rasanya dingin banget sial! Terus gara-gara saking paniknya
mencondongkan badan, perutku kepentok pinggiran bak dan itu lumayan sakit.
Setelah memutar gagang
pancuran untuk mematikannya, dari ruang ganti Reni memukul pintu dalam diam.
“...Eee, buat jaga-jaga
aku mau tanya,”
“Apa.”
Dari balasannya yang cuma
satu kata saja aku tahu dia lagi ngamuk, tapi apa aku boleh menanyakan hal ini,
ya.
“Kejadian barusan,
salahku?”
“Hah? Ya iya lah?”
“...Begitu ya, maaf.”
Rupanya itu salahku.
Padahal aku merasa sama sekali tidak melakukan apa-apa lho. Lagian, sadar dong
sebelum nyalain airnya.
...Pikirku, tapi benar
juga, Reni kan punya mata minus parah.
Dia pernah bilang kalau
dia cuma mengandalkan rabaan untuk mengingat letak benda di kamar mandi, jadi
dia pasti tidak sadar kalau aku sedang berendam di dalam bak. Harusnya dia bisa
sadar secepat Shuri tadi, dong.
“Eeto, Nogi?”
“...Apa.”
Shuri memanggilku dari
balik pintu dengan nada suara takut-takut.
“A, apa kelihatan?”
“Kalau aku bilang tidak
lihat apa-apa itu bohong sih, tapi kan kacanya berembun dan aku langsung
memalingkan pandangan.”
“...Terus?”
“Aku cuma lihat siluetnya
saja.”
“............”
Beberapa saat berlalu
dalam keheningan—
“Aku percaya.”
“Syukurlah.”
Seolah sedang mensugesti
dirinya sendiri, Shuri membalas.
Setidaknya, aku tidak
berbohong. Sungguh, aku hampir tidak melihat apa-apa.
Yah, seperti yang kubilang
padanya, bukan berarti aku tidak melihat apa-apa sama sekali, sih.
(Begini jadinya
kalau... ...)
Memang beginilah jadinya
kalau pria dan wanita tinggal di bawah satu atap yang sama.



Post a Comment