Kata Penutup
Aku kembali, Hobby Japan /
Sang returner telah muncul lagi / Pembukaan pakai rap, emangnya aku ini
bidah / Cuma bisa lurus maju, macam lokomotif kereta? / Akhir-akhir ini nggak
ada yang protes / Rasanya nggak ada gunanya, cuma bikin nyesek / MC Battle juga
nggak mulai-mulai / Aku nungguin kalian sendirian / Bawa nama HJ, aku berdiri
di sini / Ada pembaca tapi rasanya masih tak tergapai / Sedih rasanya saat
tanganku tak sampai / Inilah titik awalku untuk yang kedua kali / Gimana lirik
yang udah kurangkai selama ini / Kalian baca dari awal kan? Kalau gitu,
syukurlah / Daripada format buku besar, elemen komposisinya / Lewat buku bunko
kecil ini kuterus meneriakkan cinta!
Halo, nama saya Ita
(dibaca: Kinu Ta). Tolong jangan pedulikan rap di awal tadi.
Saya debut sebagai penulis
4 tahun lalu di HJ Novels lewat novel berjudul “Meikyuu Shokudou”, dan ini
adalah buku kedua saya yang diterbitkan bersama Hobby Japan setelah jeda 2
tahun 9 bulan. Dan kejutan! Karya kali ini adalah publikasi pertama dalam hidup
saya yang berawal dari ‘proposal proyek’. Proposal proyek itu apa! Pokoknya
sesuatu yang butuh usaha luar biasa.
Dulu kala, saat proses
penerbitan “Meikyuu Shokudou” sedang berlangsung, ada masa di mana saya
memiliki sedikit waktu luang. Editor penanggung jawab pernah berpesan, “Kalau
ada keinginan menulis cerita baru, kasih tahu aku ya.” Saya pun menulis 3 buah
novel panjang dan mengirimkannya kepadanya.
Sang editor yang membaca
semuanya itu kemudian berkata, “Lain kali, tolong kirimkan ide ceritanya dulu
sebelum kamu selesai nulis, ya.”
Benar sekali, ternyata
mereka tidak pernah mengira akan ada orang yang tiba-tiba mengirimkan 3 draf
novel baru yang sudah tamat! Di saat itulah saya baru tahu tentang yang namanya
proposal proyek. Telat banget, ya. Tapi karena saya tidak paham sama sekali
soal proposal atau plot cerita, entah setan apa yang merasuki, saya
malah berpikir, “Pokoknya nulis dulu sampai selesai satu buku, baru setelah itu
kujadikan plot.” Saya lakukan. Hasilnya gagal total.
Semenjak saat itu,
hari-hariku diisi dengan merobek-robek dan membuang proposal tiada henti. Saya
sangat berterima kasih kepada sang editor yang selalu meluangkan waktu untuk
membaca berbagai proposal yang saya kirimkan nyaris setiap minggunya.
Di saat proposal saya
ditolak entah untuk keberapa kalinya, setelah membaca jalan cerita dari sebuah game
berjudul ‘Goddess of Victory: NIKKE’, saya dikuasai oleh jiwa otaku saya
yang menjerit, “Kombinasi perempuan berdada besar berjiwa keibuan yang bisa
diandalkan dan perempuan kecil dengan sifat buruk yang semua tindakannya selalu
jadi bumerang, INI BAGUS BANGET~~~!!”. Dari sanalah saya mulai berpikir untuk
menulis cerita romcom tentang dua tipe perempuan tersebut.
Dari sanalah lahir
proposal berjudul “Gadis Gyaru Besar dan Kecil yang Bermanja Padaku”, dan novel
ini pun bermula. Kalau saya lihat riwayat waktunya, saya mengirimkan proposal
itu pada bulan November 2024. Wow.
Proses publikasi dari
sebuah proposal harus dilakukan dengan alur kerja yang benar-benar berbeda dari
sebelumnya. Berbeda dengan karya pemenang penghargaan dari penulis pendatang
baru, posisi saya sekarang ini adalah penulis profesional. Tidak ada toleransi
atau kompromi yang diizinkan. Hari-hari di mana saya menulis lalu rapat, menghapus
lalu menulis lagi lalu rapat... Tanpa diragukan lagi, ini adalah buku yang
paling banyak memakan waktu sepanjang perjalanan karier kepenulisan saya.
Saya juga salut pada
editor saya yang begitu sabar menemani saya sampai sejauh ini tanpa rasa bosan.
Jika kelak saya membuat karya baru lagi, saya harap teksnya bisa selesai dengan
setengah dari jumlah rapat yang kami lakukan kali ini. Omong-omong setelah saya
hitung-hitung secara kasar, jumlah rapat untuk menyelesaikan 1 buku ini
ternyata lebih banyak daripada total rapat untuk 3 buku ‘Meikyuu Shokudou’.
Wow.
Mumpung ada kesempatan,
mari kita bahas tentang para heroine di cerita ini. Berbeda dengan Shuri
yang pergeseran karakternya cuma sebatas “kesalahan margin” dari draf proposal
awal hingga cerita selesai, Reni pada awalnya saaaama sekali tidak punya sisi dere.
Saya menulisnya karena merasa sifat seperti itu imut, tapi suatu hari, editor
saya berkata:
“Ita-san, tsundere
yang tidak bisa ‘dere’ itu, cuma sekadar orang nyebelin lho.”
Ah!! Ternyata begitu.
Saya kaget mendengarnya.
Soalnya, preferensi rahasia saya adalah ‘Gadis tsundere berambut pirang
yang mutlak tidak akan bersikap manis padaku’.
Sebagai informasi, heroine
di karya saya sebelumnya “Meikyuu Shokudou”, yaitu Ryu-san, juga memiliki
atribut seperti itu. Saya cuma tidak sadar saja karena tokoh-tokoh dalam cerita
itu kebanyakan perempuan dan genrenya bukan komedi romantis. Atributnya adalah:
kepribadiannya buruk, tidak ramah pada orang, intinya sih murni orang
menyebalkan tapi imut. Kalian paham nggak ya, yang kayak gitu.
Pada akhirnya, sisi dere
Reni justru melebihi Shuri. Tsundere yang bisa bersikap manis ternyata
imut juga, ya. Karena Reni berubah menjadi super manis, karakter Shuri pun saya
ubah sedikit untuk menyesuaikannya. Karakter manis yang gampang tersipu malu (deredere)
ternyata juga imut, ya.
Mungkin ini bukan tempat
yang pas untuk membahasnya, tapi ada satu hal yang ingin saya mintakan maaf.
Tokoh utama karya ini,
Meguru, diceritakan bekerja paruh waktu di lokasi konstruksi. Dari zaman dulu,
karakter siswa miskin itu selalu identik dengan kerja paruh waktu mengantar
koran di pagi buta atau bekerja sebagai kuli bangunan di tengah malam. Namun
kenyataannya, berdasarkan Undang-Undang Standar Tenaga Kerja Anak, pekerjaan
semacam itu dibatasi secara hukum. Sebagai informasi, aturan itu bukan cuma ada
baru-baru ini saja, tapi dari zaman dulu juga memang sudah begitu.
Seperti yang sudah
disinggung pula di dalam cerita, perusahaan yang normal tidak akan
mempekerjakan anak di bawah usia 18 tahun. Kalian (anak-anak) jangan mengangkat
karung puing. Kalian pikir itu berapa kilo beratnya (※Terdapat batas berat
maksimal barang yang boleh diangkat oleh anak di bawah umur).
Oleh karena itu, ini
menjadi setting yang berada di area abu-abu, jadi tolong maklumi saja
dan anggap perusahaan tempat Meguru dan Watanabe bekerja paruh waktu itu
memiliki aturan pengawasan yang sangat longgar.
Dan hal yang luar
biasanya, adaptasi komik manga untuk karya ini telah diputuskan dengan
sangat cepat. Komiknya akan diserialisasikan di Comic Fire, dengan ilustrasi
yang digambar oleh Morino Koara-san.
Keputusan adaptasi komik
sebelum novel aslinya terbit ini adalah yang kedua kalinya setelah karya debut
saya “Meikyuu Shokudou”. Saya sungguh sangat gembira. Saya sampai tidak berani
tidur dengan kaki menghadap ke arah kantor Hobby Japan sebagai bentuk rasa
hormat. Omong-omong, arah Tokyo ke mana, ya?
Ngomong-ngomong,
payudaranya Shuri jadi makin gede nggak sih di manga-nya? Yah, makin
gede makin bagus, kan... (Demi perdamaian dunia). Toh dia masih dalam masa
pertumbuhan. Wajar kalau makin gede. Reni? ...Kita sudahi saja pembicaraan ini.
Baiklah, saya akhiri
dengan ucapan terima kasih.
Kepada editor penanggung
jawab yang telah membimbing saya selama satu setengah tahun lamanya,
beeeenaaar-benar terima kasih banyak atas semua bantuan Anda. Berkat Anda yang
berkali-kali menghentikan saya saat tersesat arah, saya berhasil menulis novel
yang bagus ini.
Kepada sang ilustrator,
Oryo-san. Terima kasih banyak karena telah melahirkan karakter-karakter yang
sangat menawan. Adegan favorit pribadi saya adalah saat Meguru berpapasan
dengan kakaknya.
Kepada komikus Morino
Koara-san, saya titip anak-anak di cerita ini pada Anda, ya.
Kepada semua pihak yang
telah bekerja keras membantu penerbitan buku ini, serta kepada para pembaca
sekalian yang telah mengambil dan membaca buku ini, saya ucapkan terima kasih
yang sebesar-besarnya.
Kalau begitu, sampai jumpa lagi di Volume 2. Volume 2, juga akan terbit.



Post a Comment