Episode 5 “Karena
Tidak Butuh”
Pipipipi, aku terbangun
oleh suara elektronik yang tak asing itu.
(Hng...?)
Hampir tanpa sadar, aku
mencoba mengulurkan tangan ke arah sumber suara, tetapi—tanganku tidak bisa
bergerak.
Ketindihan? Tapi kan hari
sudah pagi—
Seiring kesadaranku yang
mulai pulih, aku menyadari bahwa tubuhku sedang dibalut oleh sesuatu yang
hangat dan itu bukanlah selimut.
(...Apa ini.)
Perlahan aku membuka
mataku. Dari celah gorden, sinar matahari pagi menyinari kasur.
“.........Ah,”
—Itu Himori.
Aku yang sedang tidur
telentang di tengah, kini sedang dipeluk erat oleh Himori yang tidur di dekat
dinding. Dia memelukku sampai melilitkan kakinya juga, persis seperti memeluk
guling.
...Pantas saja aku tidak
bisa bergerak.
Bicara soal selimut,
selimut yang seharusnya membalutku sampai aku tertidur kini tidak ada.
Saat aku melirik ke arah
berlawanan, Ebitani membungkus dirinya sendirian dengan selimut sampai ke
kepala, bentuknya sudah seperti lumpia. Kalau saja tidak ada rambut pirang
panjang yang menyembul dari celah selimutnya, wujudnya benar-benar seperti
lumpia padat yang tidak ketahuan siapa isinya.
(...Aku jadi ingin
makan lumpia.)
Saat aku bergerak-gerak
mencoba melepaskan diri bagaimanapun caranya, Himori mulai bergerak sambil
melenguh, “Nnh...”.
Cengkeramannya sedikit
mengendur, jadi aku langsung mengulurkan tangan mengambil ponsel dan mematikan
alarmnya.
Sesaat kemudian, alarm
lain mulai berbunyi. Musiknya terdengar seperti musik klasik.
Aku melihat ke arah sumber
suara, tapi tidak terlihat apa-apa. Mungkin diletakkan di lantai. Kalau dilihat
dari posisinya, itu pasti ponsel Ebitani.
“Biarkan saja... jangan
dimatikan...”
Terdengar suara seperti
itu dan cengkeraman Himori pun terlepas, jadi aku mengangkat tubuhku.
“...Selamat pagi.”
“Pagi... pagi yang indah
ya~”
Himori yang sudah
terbangun, menatapku sambil mengucek matanya.
“Alarmnya, mau diapakan?”
“Biarkan saja~. Nanti juga
dia bangun sendiri. ...Lagian, kalau dimatikan nanti malah tidak bangun...”
“...Begitu ya.”
Saat Himori perlahan-lahan
mengangkat tubuhnya, sinar matahari pagi yang menembus gorden menyinarinya.
Celana panjang yang
kupinjamkan padanya menjuntai ke bawah dari tepi kasur. Kausnya terangkat ke
atas dengan sangat ekstrem, jangankan pusar, bahkan branya pun terlihat. Gaya
tidur macam apa yang bisa membuat bajunya jadi seperti itu.
“Mesum~”
“Ini fitnah...”
Entah karena menyadari
pandanganku, Himori menyeringai nakal.
Kecuali kalau aku yang
melakukannya, tapi jelas ini bukan ulahku. Aku saja tidak bisa membalikkan
badan karena diapit di kiri dan kanan lho.
Apalagi saat itu aku
dipeluk dari samping dengan sangat kuat sampai satu lenganku pun tidak bisa
bergerak, tidak mungkin aku cukup ahli untuk menelanjangi orang lain dalam
keadaan seperti itu.
Baru hari kedua dan
event-event yang tidak kuharapkan terus bermunculan. Apakah ke depannya
intensitasnya akan berkurang?
“Sebagai pembelaan,
biasanya aku kalau tidur tidak pernah pakai bawahan lho.”
“Pakailah!.”
“Kayaknya aku melepasnya
karena kebiasaan deh. Jangan terlalu dipikirkan ya~”
“.........Begitu, ya.”
Meski cuma sekilas, aku
bisa melihat dia pakai celana dalam. Syukurlah setidaknya dia tidak melepasnya
sampai sejauh itu.
Apa sih yang aku legakan
ini, batinku.
Perlahan aku turun dari
tempat tidur agar tidak membangunkan Ebitani. Aku baru sadar kalau alarmnya
masih berbunyi dan aku membiarkannya, setelah aku tiba di ruang tamu dengan
berjalan mengendap-endap tanpa membuat suara.
•••
Saat aku memutar mesin
cuci dan memilah cucian yang sudah selesai dikeringkan, Himori yang menumpahkan
isi dompet kosmetiknya di atas meja mulai mengajakku bicara.
“Sori-sori, aku malas
mencuci jadinya menumpuk begitu deh~”
Sesuai dengan
perkataannya, pakaian yang dibawa mereka berdua tidak akan cukup dicuci dalam
satu kali putaran. Mesin cuciku memang kecil, tapi sepertinya aku harus
memutarnya tiga... tidak, empat kali.
Rupanya, sebagian besar
dari tumpukan barang bawaan mereka adalah pakaian.
“Awalnya sih aku sesekali
membawanya ke penatu koin, tapi saat aku lengah sebentar, semuanya dicuri mulai
dari bra sampai kaus kaki lho~”
“Ah... ternyata memang
kadang ada pencurian ya.”
“Iya, kan~, aku kurang
waspada waktu itu. Tapi kalau harus menunggu terus-terusan juga repot kan,
jadinya menumpuk deh.”
“Begitu ya.”
“Sebagai ucapan terima
kasih karena sudah menampung kami, kalau ada yang hilang sedikit aku bakal
pura-pura tidak sadar deh~”
“Aku tidak mau ya.”
Apa-apaan dia ini. Siapa
juga yang mau barang begituan. Itu kan cuma kain basah.
Yah, apa karena ini milik
anak SMA perempuan jadi ada permintaannya? Sampai-sampai dicuri segala kan. Aku
sih benar-benar tidak butuh. Tidak ada gunanya sama sekali.
“Tapi ya~, seperti yang
bisa kamu lihat, pakaian dalam di sana semuanya barang murah lho.”
“Lihat... hng?”
Eh, aku tidak tahu sama
sekali.
“Barang-barangku yang lama
sudah dicuri, jadi karena aku hanya bisa mencuci sesekali, aku membeli banyak
yang harganya sekitar 1000 yen~”
“Harga sekitar 1000 yen
itu murah!?”
Tanpa sadar aku
memastikannya.
“Desainnya norak jadi aku
tidak mau sering-sering memakainya, jadi kepikiran untuk sekalian beli yang
baru saja.”
“...Kamu ini orang kaya
ya.”
“Bukan lah~”
Kuperhatikan saat
membentangkannya, kainnya tidak tipis dan jahitannya juga tidak asal-asalan.
Apakah di dunia pakaian dalam perempuan ini tergolong barang murah?
Memang sih warnanya tidak
mencolok, tidak tembus pandang, dan tidak dihiasi banyak renda, tapi aku tidak
cukup tahu tentang pakaian dalam perempuan untuk bisa memastikannya sebagai
barang murah.
Agak ngeri juga kan kalau
ada laki-laki yang tahu detail soal itu.
“Yang ini dijemur di luar
tidak apa-apa? Dari sudutnya sih kurasa tidak akan terlihat dari jalan, tapi
kalau kamu khawatir biar kujemur di dalam ruangan saja.”
“Ah... bukan barang mahal
kok, jadi di luar juga tidak apa-apa. Eh tapi, kamu kelihatan terbiasa menjemur
pakaian perempuan ya.”
“Masa sih? Wajar, kan.”
“Wajar kah~...?”
Aku cuma melepaskan tali
bra yang kusut dan membetulkan bantalan busa yang bergeser karena guncangan
mesin cuci kok. Ku rasa pengalaman menjemur pakaian keluarga adalah hal yang
pernah dialami semua orang.
Di rumah Onee-chan,
mencuci pakaian—tepatnya, semua pekerjaan rumah tangga selain memasak adalah
tugasku. Awalnya Onee-chan yang melakukannya, tapi aku menyadari kalau dia
sering melakukan kesalahan—seperti lupa memasukkan deterjen, atau hanya memutar
mesin cuci tapi lupa menjemurnya—jadi aku berinisiatif mengambil alih.
Saat putaran mesin cuci
yang kedua selesai, terdengar bunyi buk seolah sesuatu jatuh dari arah
kamar tidur. Sepertinya lumpianya akhirnya jatuh.
Alarm yang terus berdering
selama hampir satu jam itu akhirnya berhenti. Lalu—
“Toilet...”
Seorang zombi yang nyaris
tidak membuka matanya muncul di ruang tamu dengan langkah gontai.
Tanpa melihat ke arahku,
zombi—maksudku Ebitani—berjalan menuju toilet yang ada di lorong. Saat kulihat
tangannya menyentuh pinggang—celana pendek yang ia pakai tiba-tiba melorot
begitu saja di depan mataku.
“Hng?”
Meskipun ukurannya terlalu
besar, tipe celana itu diikat dengan tali, jadi harusnya tidak akan melorot
hanya karena dibawa berjalan.
Selanjutnya, ia memasukkan
kedua tangannya ke dalam kaus layaknya kura-kura, lalu ujung jarinya keluar
dari bawah keliman kaus.
Detik itu juga, aku
memalingkan pandanganku dengan panik dan mataku bertemu dengan Himori yang
tersenyum kecut sambil berkata, “Aduh~...”.
Sejujurnya aku rasa
refleks cepatku barusan patut dipuji lho.
—Terdengar suara bruk,
seperti benda ringan yang jatuh ke lantai.
Terdengar suara “Hng,”
lalu diikuti lagi dengan suara benda jatuh.
Terdengar suara pintu
ruang tamu dibuka dan ditutup, lalu aku akhirnya memalingkan wajahku kembali ke
arah itu.
Kain-kain, jatuh
berserakan di lantai.
Beberapa benda yang
sebelumnya tidak ada.
Himori yang menghentikan
riasannya dan bangkit berdiri, memungut kain-kain itu. Kaus dan celana pendek
yang kupinjamkan kemarin, ditambah secarik kain kecil berwarna ungu muda
berhiaskan renda.
“...Tentang yang tadi, aku
tidak bersalah kan? Apa sebaiknya aku minta maaf saja ya?”
“Kalau yang tadi sih
salahnya Reni.”
Himori, yang membawa
kain-kain yang ia pungut, berjalan menuju toilet dengan wajah tegang.
Terdengar jeritan kecil
dari dalam, tapi aku pura-pura tidak mendengarnya.
•••
“Enaknya ke mana yaa~...”
Aku berkeliling di dalam
sekolah dengan menenteng kantong plastik minimarket di tanganku.
Sebelumnya, saat aku masuk
ke ruang audio visual yang selama ini selalu kugunakan sebagai tempat makan
siang hingga naik ke kelas 3, aku melihat sepasang kekasih yang kemungkinan
anak kelas 1 sedang suap-suapan bekal dengan mesra.
Tentu saja aku langsung
keluar karena merasa sangat canggung.
Padahal ruang itu tidak
dikunci, ada tirai hitam sehingga cahaya matahari tidak masuk—tidak ada tempat
lain yang lebih ideal untuk tidur siang setelah makan dengan kilat selain
tempat itu.
Aku berkeliling sekolah
mencoba mencari lokasi baru untuk makan siang, tapi tak kunjung menemukan
tempat yang pas dan waktu terus berlalu.
“...Keluar saja, deh.”
Tiba-tiba, aku teringat
ada bangku di luar ruangan. Yah, mungkin tempat itu juga dipakai oleh pasangan
kekasih, tapi setidaknya aku masih punya waktu untuk mencari kursi yang kosong,
jadi aku menuju rak sepatu untuk melihat-lihat—
“Oh.”
“Hng~?”
Yang berjalan dari arah
berlawanan sambil membawa kantong belanja kantin adalah Himori dan Ebitani.
Omong-omong, sejak tiba di
sekolah aku hampir tidak bicara dengan mereka berdua.
Himori terus dikelilingi
teman sekelas, sementara Ebitani hanya diam di sebelahnya sambil bermain ponsel
tanpa ikut mengobrol, jadi aku memang tidak punya kesempatan untuk menyapa
mereka.
“Lho, makan siang?”
“Ya.”
“Kamu tidak makan di
tempat yang biasanya?”
Kenapa kamu bisa tahu aku
makan di mana!
“...Yah, aku kan sudah
naik kelas.”
Aku melontarkan alasan
yang entah apa maksudnya, tapi Himori malah mengajak, “Kalau begitu ayo kita ke
luar bareng~”, jadinya aku mengikuti mereka berdua ke luar.
Berjalan menjauh dari
gedung utama menuju samping gimnasium, aku bisa mendengar suara pantulan bola
dari dalam. Mungkin ada murid yang sedang tidak ada kerjaan dan bermain basket.
Kami mendatangi tempat
yang sama seperti kemarin, dan duduk di bangku yang kosong. Karena posisinya
agak jauh dari gedung sekolah, sepertinya tempat ini tidak terlalu banyak
dikunjungi.
“Sampai tahun lalu, kamu
selalu menghabiskan jam istirahat makan siang di ruang audio visual, kan.”
“...Begitulah.”
Himori, yang mengeluarkan
roti kacang merah beliannya dari kantin, mengatakannya seraya membelah roti itu
dan memberikan setengahnya pada Ebitani.
Berbagi ya, persis seperti
pahlawan yang ada di suatu cerita saja.
“Kamu dijuluki Sang Tuan
Tanah (Nushi), lho.”
“Itu orang yang berbeda
kan.”
Aku tidak pernah dipanggil
begitu.
“Siswa laki-laki yang
masuk ruang audio visual lebih dulu dari siapa pun, dan tertidur pulas sampai
bel masuk berbunyi.”
“Itu aku, sih.”
Itu memang aku. Eh, aku
dijuluki Tuan Tanah? Oleh siapa?
“Banyak anak perempuan
yang protes lho~? Padahal guru sudah berbaik hati membukakannya untuk kita~,
kata mereka.”
“.........Maaf.”
Itu benar-benar perbuatan
yang buruk. Padahal aku tidak bermaksud memonopolinya, tapi setelah makan siang
dengan cepat selama 3 menit, aku langsung mematikan lampu.
Tentu saja mereka jadi
canggung untuk masuk. Mana itu berlangsung terus selama 2 tahun.
“Lalu kenapa hari ini?
Kamu berhenti jadi Tuan Tanah?”
“...Pas masuk, ada
pasangan kekasih yang kelihatannya anak kelas 1. Mereka lagi suap-suapan, dan
sama sekali tidak sadar kalau aku masuk.........”
Rasanya mau menangis saja
kalau mengingatnya. Tapi, anak kelas 1 pasti tidak tahu menahu tentang Tuan
Tanah dari tahun lalu, kan. Mereka pasti dengar dari guru atau siapa pun kalau
ruang audio visual boleh digunakan saat jam istirahat makan siang.
“...Jangan dipikirkan.
Lagipula tempatnya agak jauh dari kelas anak kelas 3, kan.”
“Ya, begitulah.”
Aku membuka bungkus roti yakisoba
yang kubeli dari minimarket. Aroma saus dan rumput laut menari-nari di
udara, lalu setelah sedikit ragu, aku menggigitnya.
—Ah, rasanya jelas sekali.
Waktu sarapan pagi tadi aku masih sedikit takut, tapi sepertinya indra perasaku
sudah kembali normal. Kalau begitu, mari lupakan saja kejadian waktu itu.
Aku memakan ketiga roti
itu dengan lancar, dan kali ini aku benar-benar menggunakan minuman energi
encer yang biasa kuminum untuk menyapu minyak dan gula dari tenggorokanku.
Saat aku melirik ke
samping, Ebitani yang sudah selesai makan sedang menyeka tangannya dengan tisu
basah.
“...Ebitani, makan segitu
saja kamu sudah kenyang?”
Ebitani memakan bagian
roti kacang merah dari Himori, lalu meminum air berkarbonasi yang sama dengan
kemarin. Cuma itu.
Meskipun tubuhnya mungil,
porsinya sama sekali bukan porsi anak SMA biasa.
“.........Ebitani-san?”
Bukannya membalas
pertanyaanku, dia malah menghela napas panjang.
“Tolong jangan panggil aku
dengan nama itu. Aku benci.”
“Baru kali ini aku bertemu
orang yang benci dipanggil pakai nama keluarganya...”
Aku langsung menemui jalan
buntu di langkah pertama.
“Begini lho, orang tua
kami sudah bercerai dan menikah lagi beberapa kali, jadi marga kami juga sering
berubah-ubah. Makanya kami tidak punya ikatan emosional apa-apa dengan marga
kami yang sekarang~”
Himori, yang baru saja
mengeluarkan roti melon dari kantong plastiknya, menimpali.
“Ah... jadi begitu. Terus
aku harus memanggilmu apa?”
“Nama depanku saja tidak
apa-apa.”
“...Reni.”
“Memanggil orang yang baru
kamu temui langsung pakai nama depan tanpa embel-embel, apa kamu tidak merasa
itu terlalu sok akrab?”
“Sifatmu rumit banget
sih!”
Lagipula kita kan bukan
orang yang baru saling kenal. Memang sih kita baru ketemu kemarin, tapi kamu
sudah menginap di rumahku di hari yang sama, dan lagi yang menyuruhku berhenti
memanggil marga kan kamu sendiri.
“Reni... -chan.”
Dia menendang tulang
keringku. Kalau yang ini jelas tidak boleh.
“Panggil nama depan tanpa
embel-embel, atau panggil marga tanpa embel-embel, pilih salah satu. Kalau kamu
tidak mau keduanya—aku bakal kasih kamu nama panggilan imut yang cuma aku
satu-satunya orang di dunia yang memanggilmu begitu.”
Ebitani, yang mengerutkan
alisnya dengan wajah tidak senang dan terlihat seperti ingin mengatakan
sesuatu, merenung sejenak sebelum akhirnya perlahan-lahan membuka mulutnya.
“.........Ya sudah, pakai
nama depan saja.”
“Oke, salam kenal ya
Reni.”
“.........”
Berbanding terbalik dengan
Ebitani—maksudku Reni—yang diam-diam membuang muka dariku, Himori yang sedari
tadi menonton interaksi kami tersenyum-senyum terus.
“...Ada yang lucu?”
“Enggak, aku cuma mikir
jarang banget Reni ngasih izin orang manggil nama depannya.”
“Oh ya?”
Dari pengamatanku kemarin
dan hari ini, sepertinya Reni memang tidak berniat berhubungan dengan siapa pun
selain Himori. Jadi kalau tidak ada orang yang memanggilnya dengan nama depan,
yah, wajar saja sih.
“Ngomong-ngomong, kalian
berdua ini sudah saling kenal lama ya?”
Reni menjawab sebagai
ganti Himori yang mulutnya penuh dengan roti melon.
“Sejak SMA kok.”
“Eh, ternyata belum selama
itu, ya!?”
Kupikir kedekatan kalian
itu seperti teman masa kecil sejak TK.
Walaupun kalian pernah
sempat tinggal bersama, tapi aku merasa ada aura yang sangat berbeda dari
pertemanan anak perempuan biasa yang akrab.
Imejku tentang anak
perempuan yang bersahabat adalah mereka selalu asyik mengobrol, tapi mereka
berdua tidak seperti itu.
Bukan berarti mereka sama
sekali tidak bicara, tapi meski di depan Himori, Reni tidak mendadak cerewet.
Ya, mungkin saja mereka banyak bicara saat tidak ada aku.
“Hng? Tapi kalian berdua
tidak ikut klub kan? Ketemunya di mana?”
“Di lorong.”
“Bukan tempatnya yang
kutanya!”
Dia menatapku dengan wajah
polos tanpa dosa. Kamu ini tidak sedang melawak, kan!
“...Pasti ada suatu
kejadian sampai kalian jadi akrab, kan?”
“Tidak ada apa-apa.”
“Masa tidak ada apa-apa
sih!”
Himori yang baru saja
menelan roti melonnya, tak kuasa menahan tawa yang akhirnya meledak.
Uhuk, uhuk, ia terbatuk
lalu meminum teh lemon kotak kemasannya dalam sekali tarikan, mengembuskan
napas “Fuuh,” dan bergumam dengan suara sedikit rendah, “Ree-nii~?”
“...Apa.”
“Mana mungkin tidak ada
apa-apa~”
“Tidak ada.”
“Kupikir pasti ada sesuatu
lho~?”
“Kalau kubilang tidak ada,
ya berarti tidak ada.”
“...Yah, biarkan saja
begitu untuk saat ini.”
Ternyata biarkan saja.
“Nogi, kamu masih ingat
apa yang terjadi waktu kelas 1?”
Tanya Himori padaku, tapi
karena pertanyaannya terlalu abstrak, aku memiringkan kepalaku.
“Kelas 1? ...Itu, kapan
tepatnya?”
“Mungkin sekitar bulan
Juni?”
“...Hmm, aku rasa tidak
ada hal besar yang terjadi.”
Kalau diberi tahu tanggal
atau acaranya aku mungkin bisa ingat, tapi di awal kelas 1 staminaku sudah
terkuras habis untuk pekerjaan paruh waktu yang belum terbiasa, jadi aku bahkan
tidak punya waktu untuk bermain.
Aku baru bisa bermain
dengan teman-teman sekelasku layaknya anak sekolah biasa sekitar liburan musim
panas, saat aku sudah mulai terbiasa dengan kehidupan kerja paruh waktu.
Mungkin karena tak puas
dengan jawabanku, Reni menghela napas panjang. Karena tampaknya Reni-lah yang
menyimpan cerita di balik semua ini, aku menoleh ke arahnya.
“...Aku, pernah melakukan
sesuatu?”
“Mati sana.”
“Reaksimu itu kejam sekali
tidak sih?”
Percakapan kami selalu
buntu. Biasanya bagaimana sih cara kalian mengobrol?
Tapi kalau melihat alur
pembicaraan ini, apa mungkin aku terlibat dalam pertemuan awal mereka berdua?
Aku sama sekali tidak
ingat apa-apa, tapi omong-omong, sejak kapan Reni mengecat rambutnya jadi
pirang ya. Seingatku waktu upacara penerimaan murid baru tidak ada siswi kelas
1 berambut pirang, tapi jujur saja aku tidak ingat siswi dari kelas lain.
“Gagal, aku tidak ingat
apa-apa.”
“Sudah kuduga.”
Sepertinya Reni memang
sudah menyerah dari awal, jadi dia tidak terlihat punya niat untuk memberiku
penjelasan.
“Sebagai permohonan maaf
karena sudah lupa, maukah kamu temani kami belanja~?”
“...Tentu, kalau cuma
temani belanja sih aku mau tanpa perlu dalih permohonan maaf.”
“Kerja paruh waktumu?”
“Sekarang aku cuma kerja
di akhir pekan. Yah, mungkin saja aku tiba-tiba dipanggil karena mereka
kekurangan orang, sih.”
“Kalau begitu, berarti
tidak ada jadwal lain, kan. Boleh hari ini?”
“Iya.”
Aku pikir aku cuma akan
menjadi tukang bawa barang, jadi aku setuju dengan santai.
Namun, aku sama sekali
tidak paham arti dari ‘menemani gadis seumuran berbelanja’, dan bahwa Onee-chan
dulu sebenarnya sudah banyak menahan diri, sampai hari ini tiba.
•••
“Masih belum diputuskan
juga!?”
“Habisnyaa~”
“Pakai saja yang tadi itu
kan sudah cukup!? Tadi kamu kelihatan suka dengan yang itu!”
“Haa, mumpung beli
sekalian dong aku mau yang paling pas? Tapi kalau kamu mau meminjamkan lenganmu
untuk jadi bantal, aku tidak akan membelinya lho~”
“Jangan hitung badan orang
sebagai bantal! Masih banyak bantal yang jauh lebih baik daripada lengan!”
“Ceeh~”
Setelah dibawa ke sebuah
gedung komersial di depan stasiun dan melewati entah berapa kali perdebatan
yang sama, aku menghela napas panjang karena tak berdaya menolaknya.
Himori yang berbaring di
tempat tidur display menjejerkan tumpukan bantal sambil mengecek
kenyamanan posisinya.
—Tolong dicatat, ini sudah
putaran kesepuluh untuk sesi pengecekan ini, dan dia sudah mengumpulkan sekitar
10 bantal sample yang ada di seluruh penjuru toko, jadi sudah sekitar 30
menit berlalu hanya untuk urusan memilih bantal.
Sejak tadi situasinya
terus seperti ini.
Awalnya dia bilang,
“Mumpung perabotannya baru untuk satu orang, sekalian beli macam-macam barang
saja yuk~”, jadi kupikir dia akan berbelanja dengan cepat—tapi ternyata aku
salah. Dia mempertimbangkan setiap barang dengan sangat detail.
Kupikir Reni juga pasti
sudah muak, tapi saat aku melihatnya—
“...Reni.”
“Apa.”
Dengan wajah ditekuk, Reni
bahkan tidak melirik sedikit pun. Dia duduk di kursi kantor display sambil
terus mengotak-atik ponselnya. Sepertinya dia tidak berniat menghentikan
Himori.
“Kamu, tidak perlu beli
bantal?”
“Di rumah kan ada.”
“Itu kan milikku!?”
“Aku mau memakainya.”
“...Terus punyaku?”
“Beli saja yang baru. Kamu
sudah pakai bantal itu cukup lama, kan.”
“Eh, memang benar sih...
tapi serius?”
Tidak ada jawaban.
Bukannya itu agak dingin?
Kalau dipikir positif,
mungkin maksudnya adalah dia bersedia memakai barang yang sudah usang, tapi
nada bicara dan sikapnya membuatku tidak bisa berpikir begitu. Rasanya seperti
dirampok.
Yah, lagipula aku tidak
terlalu pemilih soal bantal, dan mungkin percuma juga membujuknya, jadi aku
memasukkan bantal dengan bentuk standar secara asal ke dalam keranjang—tapi
karena tidak muat, aku ambil kereta dorong belanja.
Sepertinya belanjaan masih
akan bertambah.
Sepertinya Himori akhirnya
sudah menentukan pilihan. Ia mengembalikan bantal sample ke rak, lalu
melempar bantal yang baru ke arahku, aku menangkapnya dan memasukkannya ke
kereta belanja.
“Ngomong-ngomong, di rumah
kalian sebelumnya memangnya tidak ada bantal?”
“Ah, iya. Ada sih, tapi
karena barangnya makan tempat, pas kami pergi semuanya sudah kami buang.”
“...Semuanya?”
Emangnya tempat tidur bisa
dibuang segampang itu ya?
“Eh, aku belum bilang ya?
Rumah kami sebelumnya sudah full-furnished (lengkap perabotan). Kami
memang beli perintilan kecil, tapi perabotan yang besar semuanya pakai yang
sudah ada dari awal~”
“Ah... begitu toh, lalu
kalian membawa baju saja untuk mengembara, ya.”
“Begitulah~”
Kalau begitu, wajar saja
jika barang bawaan mereka hampir semuanya berupa pakaian. Kalau mereka harus
hidup gelandangan untuk sementara waktu, membawa barang yang memakan tempat
seperti kasur sangat tidak memungkinkan.
Meski dia mengatakannya
dengan nada santai, mereka pasti sangat kepepet saat itu.
“Lalu, tempat tidur
bagaimana? Masih ada kamar kosong, mau beli kasur sekalian?”
“Hmm............”
Namun, Himori memalingkan
pandangannya.
—Ia bertatapan dengan
Reni, lalu saling mengangguk pelan.
“Tidak deh, kalau beli
sekarang makan tempat juga~”
“Begitu kah?”
Memang benar sih, kalau
beli kasur dari awal, kalian harus membawanya berkeliling saat lanjut
berbelanja. Khususnya untuk matras, rasanya mustahil untuk dibawa-bawa pakai
tangan. Kalau dipaksakan mungkin bisa dibawa ke rumah secara manual, tapi jauh
lebih aman membelinya secara daring.
“Ah, benar juga, selimut!
Karena pasti akan direbut oleh Reni, aku harus beli satu lagi nih~. Aku tipe
orang yang pas musim panas sekalipun akan menyalakan AC kencang-kencang lalu
tidur pakai selimut tebal lho, kalau Nogi bagaimana?”
“Aku sih tidak terlalu
pemilih...”
“Kalau begitu aku pilihkan
secara asal saja ya~”
“Ya. ...Eh, tunggu, aku
akan memilihnya sendiri!”
Himori, yang berlari ke
bagian selimut, langsung memukul bantal sample yang tergulung. Aku
tertinggal di belakang gara-gara kereta dorong belanjanya menghalangi jalanku.
Reni menghela napas, lalu
bergumam pelan, “Kamu seharusnya tidak membiarkannya memilih...” Aku mengerti,
ini pelajaran berharga bagiku. Meski sudah telat sih.
“Butuh berapa lama lagi
ini...”
Gumamku pelan. Namun saat
itu, aku tidak sadar kalau sesi memilih furnitur ini hanyalah babak pendahuluan
belaka.
•••
“............”
Suasananya sangat
canggung.
Karena, kami saat ini
sedang berada di bagian pakaian dalam. Berbagai macam pakaian dalam perempuan
dengan beraneka ragam warna berjajar saling berdempetan.
Di dalam toko yang
jelas-jelas terlarang untuk anak SMA laki-laki seperti ini, aku justru sedang
duduk manis di kursi depan ruang ganti pakaian yang sudah pasti bukan tempat
untuk remaja laki-laki, seraya memeluk setumpuk barang belanjaan.
“Aku mau pulang...”
Gumamku pelan, dan dari
balik tirai ruang ganti terdengar sahutan.
“Aku butuh pendapat
objektif tahu~”
“Hal semacam itu lakukan
berdua saja sana! Kalian jelas tidak butuh kehadiranku, kan!?”
Protesku hanya ditanggapi
dengan tawa, “Ahahaha.” Apa aku bisa kabur tanpa ketahuan sekarang?
Meski sudut ruang gantinya
tidak terlihat dari sisi lorong, tirainya sama saja dengan tirai di toko
pakaian biasa. Apa benar aman dari intipan atau tidak tembus pandang? Aku tidak
tahu.
Pegawai toko yang terus
mendampingi kami berdua sampai aku ikut ke mari hanya tersenyum seraya berkata,
“Silakan nikmati waktu Anda,” jadi dia pasti sudah sering melihat laki-laki
yang diperlakukan seperti ini.
Setelah beberapa saat
menenangkan pikiranku agar menjadi kosong, ada sosok manusia yang mendekatiku,
membuatku tersentak kaget.
—Ternyata Reni. Dia
membawa beberapa pasang pakaian dalam di tangannya.
Untunglah bukan pembeli
lain. Ruang gantinya ada tiga berjejer di samping, jadi kalau ada pembeli lain
yang datang, aku tidak punya pilihan selain kabur dari sini.
“Menurutmu bagus yang
mana?”
“Eh, yang ini?”
Saat aku asal menunjuk
warna yang entah kenapa terlihat lebih menarik, tirai di depanku tiba-tiba
terbuka dengan cepat. Himori—yang tentu saja memakai pakaian dalam—muncul dan
berseru protes.
“Tunggu dulu, kalian
berdua ngapain!? Curang!”
Meskipun aku, seorang
laki-laki, melihatnya hanya memakai pakaian dalam, Himori sama sekali tidak
terlihat malu. Malahan, saat dia menyadari tatapanku, dia justru memamerkan
pose ala model gravure.
Reni membuka mulutnya
ingin mengeluhkan sesuatu, namun akhirnya hanya membalasnya dengan helaan napas
pasrah.
Setelah beberapa saat
menemani fashion show itu, aku mendongak saat mendengar suara
yang tak asing.
(Wah... !?)
—Itu teman sekelasku.
Sekelompok gadis dari
kelasku lewat di depan bagian pakaian dalam dan berhenti sejenak melihat-lihat
ke dalam toko.
Sepertinya mereka belum
menyadari keberadaanku. Rute untuk melarikan diri dari sini tanpa ketahuan oleh
mereka adalah—
Setelah memastikan jalur
kabur, aku meletakkan barang belanjaan yang memberatkan lalu berdiri. Detik
berikutnya.
Reni yang sudah
cepat-cepat membelikan bagiannya tiba-tiba muncul, lalu menarik lenganku dengan
kuat—bruk.
Aku didorong masuk ke
dalam bilik ruang ganti secara paksa.
“...Wa-ow...”
Saat aku perlahan
mengangkat kepalaku, mataku bertemu dengan Himori lewat pantulan cermin.
Sepertinya dia baru saja melepas branya.
“Maaf. Biarkan aku membela
diri.”
“Nogi, tak kusangka
ternyata kamu lumayan agresif, ya.”
“Ini keadaan darurat...”
Setidaknya ia masih punya
sedikit rasa kesopanan untuk tidak memperlihatkan tubuh polosnya, ia langsung
menyembunyikannya dengan lengan sehingga tidak ada yang terlihat.
Gundukan lembut itu tampak
berubah bentuk akibat terhimpit lengannya—aku langsung memalingkan wajah.
Untung saja bawahannya masih terpasang. Kalau tidak, aku pasti sudah mati
secara sosial.
—Namun, Himori malah
bersiap melanjutkan proses ganti bajunya.
“Eh, kenapa kamu lanjut
mau ganti baju kayak tidak ada masalah saja!?”
“Eh, ya wajar saja kan.
Ini kan tempat ganti pakaian.”
“Jangan buka bawahanmu
dalam kondisi begini dong!”
“Hei, kalian jangan
ribut.”
Ebitani yang juga ikut
masuk sambil menendang kakiku, akhirnya mendaratkan kakinya di dalam bilik
ruang ganti yang sama.
Meskipun bilik ruang ganti
pakaiannya cukup luas, tentu saja akan jadi sempit jika dimasuki tiga orang.
Karena Himori secara wajar mencoba melanjutkan ganti bajunya, Ebitani pun
dengan paksa mencegahnya. Aku lalu memejamkan mata dan hanya memusatkan konsentrasi
pada pendengaranku.
Dalam keadaan seperti itu,
setelah melewati waktu yang rasanya tak berujung—
“...Kayaknya mereka sudah
pergi.”
Ebitani bergumam sembari
sedikit membuka tirai bilik, jadi aku langsung melompat keluar.
Sosok teman sekelasku
sudah tidak ada di dalam toko. Sepertinya aku berhasil lolos dari bahaya yang
mengancam.
“Hampir saja... Status
sosialku nyaris saja amblas tak bersisa...”
“Eh, tapi kalau
dipikir-pikir lagi, kondisi tadi itu hitungannya tetap saja bahaya kan?”
Himori mengeluarkan
kepalanya dari celah tirai sambil tersenyum kecut. Enggak, yang tadi itu
hitungannya masih aman kok.
Lagian kamu kan malah
sengaja pamer badan pas pakai pakaian dalam, kalau bahaya harusnya kamu
bereaksi lebih dari itu dong.
“Ngomong-ngomong, tadi ada
kejadian apa sih?”
Kamu bahkan tidak
menyadarinya?
Tapi iya juga sih, soalnya
dia terus-terusan asyik ganti baju dari tadi. Suaranya tidak akan terdengar,
dan dari balik tirai dia tak mungkin bisa melihat pengunjung yang
berlalu-lalang. Selain itu, buat Himori sih, walaupun dia ketahuan oleh teman
sekelas, sepertinya dia tidak merasa perlu repot-repot sembunyi.
Eh, tapi kalau begitu,
jatuhnya aku ini adalah penyusup mesum yang tiba-tiba masuk saat dia sedang
ganti baju dong? Ah, tidak, kalau begitu harusnya dia marah atau mencegahnya
kek, atau apalah. Kenapa malah lanjut mau ganti baju kayak biasa.
(A... Aku tidak
tahu...)
Aku mencoba menghapus
memori akan benda empuk yang sempat tertangkap mataku tadi, dan—karena daya
ingatku yang sempurna dan absolut, memoriku justru memanggilnya kembali dan
membakarnya semakin jelas di otakku.
Kalau aku benturkan
kepalaku ke dinding kira-kira memorinya akan hilang tidak, ya.
Pada akhirnya, butuh waktu
satu jam penuh hingga kami berhasil keluar dari area pakaian dalam. Aku lalu
dengan panik menghentikan langkah Himori yang berniat mampir ke area arkade.
Meskipun ada yang kecil
dan berat, bantal dan selimut, ditambah lagi bantalan manik (bean bag)
yang dibelinya secara impulsif, ukurannya terlalu makan tempat.
Komentarku setelah
menghentikan niat Himori untuk membeli sofa raksasa berkapasitas empat orang
dan menggumam, “Kalau cuma satu sih masih bisa kubawa pulang...” sambil melihat
bean bag yang sudah dikemas, benar-benar membawa petaka.
Setelah aku mengancam,
“Kalau kamu masih mau main-main, aku pulang duluan lho,” barulah dengan
terpaksa Himori merelakan niatnya ke tempat arkade.
“Rasanya gimana gitu, ya.
Seperti, mulai lembaran hidup baru! Begitu~”
Himori berkata dengan
ceria sambil menatap langit malam.
Reni tidak berkata
apa-apa, tapi hanya dengan melihat ekspresinya yang begitu damai, aku rasa aku
cukup memahaminya.
—Aku pun ikut tersenyum
kecil, setuju dengan sentimen itu.



Post a Comment