NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Dekkai Gyaru ke Chicchai Gyaru ga Shitsuren Shita Ore no Shinkyo ni Iribitatte Iru Volume 1 Chapter 5

Episode 5 “Karena Tidak Butuh”


Pipipipi, aku terbangun oleh suara elektronik yang tak asing itu.

 

(Hng...?)

 

Hampir tanpa sadar, aku mencoba mengulurkan tangan ke arah sumber suara, tetapi—tanganku tidak bisa bergerak.

 

Ketindihan? Tapi kan hari sudah pagi—

 

Seiring kesadaranku yang mulai pulih, aku menyadari bahwa tubuhku sedang dibalut oleh sesuatu yang hangat dan itu bukanlah selimut.

 

(...Apa ini.)

 

Perlahan aku membuka mataku. Dari celah gorden, sinar matahari pagi menyinari kasur.

 

“.........Ah,”

 

—Itu Himori.

 

Aku yang sedang tidur telentang di tengah, kini sedang dipeluk erat oleh Himori yang tidur di dekat dinding. Dia memelukku sampai melilitkan kakinya juga, persis seperti memeluk guling.

 

...Pantas saja aku tidak bisa bergerak.

 

Bicara soal selimut, selimut yang seharusnya membalutku sampai aku tertidur kini tidak ada.

 

Saat aku melirik ke arah berlawanan, Ebitani membungkus dirinya sendirian dengan selimut sampai ke kepala, bentuknya sudah seperti lumpia. Kalau saja tidak ada rambut pirang panjang yang menyembul dari celah selimutnya, wujudnya benar-benar seperti lumpia padat yang tidak ketahuan siapa isinya.

 

(...Aku jadi ingin makan lumpia.)

 

Saat aku bergerak-gerak mencoba melepaskan diri bagaimanapun caranya, Himori mulai bergerak sambil melenguh, “Nnh...”.

 

Cengkeramannya sedikit mengendur, jadi aku langsung mengulurkan tangan mengambil ponsel dan mematikan alarmnya.

 

Sesaat kemudian, alarm lain mulai berbunyi. Musiknya terdengar seperti musik klasik.

 

Aku melihat ke arah sumber suara, tapi tidak terlihat apa-apa. Mungkin diletakkan di lantai. Kalau dilihat dari posisinya, itu pasti ponsel Ebitani.

 

“Biarkan saja... jangan dimatikan...”

 

Terdengar suara seperti itu dan cengkeraman Himori pun terlepas, jadi aku mengangkat tubuhku.

 

“...Selamat pagi.”

 

“Pagi... pagi yang indah ya~”

 

Himori yang sudah terbangun, menatapku sambil mengucek matanya.

 

“Alarmnya, mau diapakan?”

 

“Biarkan saja~. Nanti juga dia bangun sendiri. ...Lagian, kalau dimatikan nanti malah tidak bangun...”

 

“...Begitu ya.”

 

Saat Himori perlahan-lahan mengangkat tubuhnya, sinar matahari pagi yang menembus gorden menyinarinya.

 

Celana panjang yang kupinjamkan padanya menjuntai ke bawah dari tepi kasur. Kausnya terangkat ke atas dengan sangat ekstrem, jangankan pusar, bahkan branya pun terlihat. Gaya tidur macam apa yang bisa membuat bajunya jadi seperti itu.

 

“Mesum~”

 

“Ini fitnah...”

 

Entah karena menyadari pandanganku, Himori menyeringai nakal.

 

Kecuali kalau aku yang melakukannya, tapi jelas ini bukan ulahku. Aku saja tidak bisa membalikkan badan karena diapit di kiri dan kanan lho.

 

Apalagi saat itu aku dipeluk dari samping dengan sangat kuat sampai satu lenganku pun tidak bisa bergerak, tidak mungkin aku cukup ahli untuk menelanjangi orang lain dalam keadaan seperti itu.

 

Baru hari kedua dan event-event yang tidak kuharapkan terus bermunculan. Apakah ke depannya intensitasnya akan berkurang?

 

“Sebagai pembelaan, biasanya aku kalau tidur tidak pernah pakai bawahan lho.”

 

“Pakailah!.”

 

“Kayaknya aku melepasnya karena kebiasaan deh. Jangan terlalu dipikirkan ya~”

 

“.........Begitu, ya.”

 

Meski cuma sekilas, aku bisa melihat dia pakai celana dalam. Syukurlah setidaknya dia tidak melepasnya sampai sejauh itu.

 

Apa sih yang aku legakan ini, batinku.

 

Perlahan aku turun dari tempat tidur agar tidak membangunkan Ebitani. Aku baru sadar kalau alarmnya masih berbunyi dan aku membiarkannya, setelah aku tiba di ruang tamu dengan berjalan mengendap-endap tanpa membuat suara.

 

 

•••

 

Saat aku memutar mesin cuci dan memilah cucian yang sudah selesai dikeringkan, Himori yang menumpahkan isi dompet kosmetiknya di atas meja mulai mengajakku bicara.

 

“Sori-sori, aku malas mencuci jadinya menumpuk begitu deh~”

 

Sesuai dengan perkataannya, pakaian yang dibawa mereka berdua tidak akan cukup dicuci dalam satu kali putaran. Mesin cuciku memang kecil, tapi sepertinya aku harus memutarnya tiga... tidak, empat kali.

 

Rupanya, sebagian besar dari tumpukan barang bawaan mereka adalah pakaian.

 

“Awalnya sih aku sesekali membawanya ke penatu koin, tapi saat aku lengah sebentar, semuanya dicuri mulai dari bra sampai kaus kaki lho~”

 

“Ah... ternyata memang kadang ada pencurian ya.”

 

“Iya, kan~, aku kurang waspada waktu itu. Tapi kalau harus menunggu terus-terusan juga repot kan, jadinya menumpuk deh.”

 

“Begitu ya.”

 

“Sebagai ucapan terima kasih karena sudah menampung kami, kalau ada yang hilang sedikit aku bakal pura-pura tidak sadar deh~”

 

“Aku tidak mau ya.”

 

Apa-apaan dia ini. Siapa juga yang mau barang begituan. Itu kan cuma kain basah.

 

Yah, apa karena ini milik anak SMA perempuan jadi ada permintaannya? Sampai-sampai dicuri segala kan. Aku sih benar-benar tidak butuh. Tidak ada gunanya sama sekali.

 

“Tapi ya~, seperti yang bisa kamu lihat, pakaian dalam di sana semuanya barang murah lho.”

 

“Lihat... hng?”

 

Eh, aku tidak tahu sama sekali.

 

“Barang-barangku yang lama sudah dicuri, jadi karena aku hanya bisa mencuci sesekali, aku membeli banyak yang harganya sekitar 1000 yen~”

 

“Harga sekitar 1000 yen itu murah!?”

 

Tanpa sadar aku memastikannya.

 

“Desainnya norak jadi aku tidak mau sering-sering memakainya, jadi kepikiran untuk sekalian beli yang baru saja.”

 

“...Kamu ini orang kaya ya.”

 

“Bukan lah~”

 

Kuperhatikan saat membentangkannya, kainnya tidak tipis dan jahitannya juga tidak asal-asalan. Apakah di dunia pakaian dalam perempuan ini tergolong barang murah?

 

Memang sih warnanya tidak mencolok, tidak tembus pandang, dan tidak dihiasi banyak renda, tapi aku tidak cukup tahu tentang pakaian dalam perempuan untuk bisa memastikannya sebagai barang murah.

 

Agak ngeri juga kan kalau ada laki-laki yang tahu detail soal itu.

 

“Yang ini dijemur di luar tidak apa-apa? Dari sudutnya sih kurasa tidak akan terlihat dari jalan, tapi kalau kamu khawatir biar kujemur di dalam ruangan saja.”

 

“Ah... bukan barang mahal kok, jadi di luar juga tidak apa-apa. Eh tapi, kamu kelihatan terbiasa menjemur pakaian perempuan ya.”

 

“Masa sih? Wajar, kan.”

 

“Wajar kah~...?”

 

Aku cuma melepaskan tali bra yang kusut dan membetulkan bantalan busa yang bergeser karena guncangan mesin cuci kok. Ku rasa pengalaman menjemur pakaian keluarga adalah hal yang pernah dialami semua orang.

 

Di rumah Onee-chan, mencuci pakaian—tepatnya, semua pekerjaan rumah tangga selain memasak adalah tugasku. Awalnya Onee-chan yang melakukannya, tapi aku menyadari kalau dia sering melakukan kesalahan—seperti lupa memasukkan deterjen, atau hanya memutar mesin cuci tapi lupa menjemurnya—jadi aku berinisiatif mengambil alih.

 

Saat putaran mesin cuci yang kedua selesai, terdengar bunyi buk seolah sesuatu jatuh dari arah kamar tidur. Sepertinya lumpianya akhirnya jatuh.

 

Alarm yang terus berdering selama hampir satu jam itu akhirnya berhenti. Lalu—

 

“Toilet...”

 

Seorang zombi yang nyaris tidak membuka matanya muncul di ruang tamu dengan langkah gontai.

 

Tanpa melihat ke arahku, zombi—maksudku Ebitani—berjalan menuju toilet yang ada di lorong. Saat kulihat tangannya menyentuh pinggang—celana pendek yang ia pakai tiba-tiba melorot begitu saja di depan mataku.

 

“Hng?”

 

Meskipun ukurannya terlalu besar, tipe celana itu diikat dengan tali, jadi harusnya tidak akan melorot hanya karena dibawa berjalan.

 

Selanjutnya, ia memasukkan kedua tangannya ke dalam kaus layaknya kura-kura, lalu ujung jarinya keluar dari bawah keliman kaus.

 

Detik itu juga, aku memalingkan pandanganku dengan panik dan mataku bertemu dengan Himori yang tersenyum kecut sambil berkata, “Aduh~...”.

 

Sejujurnya aku rasa refleks cepatku barusan patut dipuji lho.

 

—Terdengar suara bruk, seperti benda ringan yang jatuh ke lantai.

 

Terdengar suara “Hng,” lalu diikuti lagi dengan suara benda jatuh.

 

Terdengar suara pintu ruang tamu dibuka dan ditutup, lalu aku akhirnya memalingkan wajahku kembali ke arah itu.

 

Kain-kain, jatuh berserakan di lantai.

 

Beberapa benda yang sebelumnya tidak ada.

 

Himori yang menghentikan riasannya dan bangkit berdiri, memungut kain-kain itu. Kaus dan celana pendek yang kupinjamkan kemarin, ditambah secarik kain kecil berwarna ungu muda berhiaskan renda.

 

“...Tentang yang tadi, aku tidak bersalah kan? Apa sebaiknya aku minta maaf saja ya?”

 

“Kalau yang tadi sih salahnya Reni.”

 

Himori, yang membawa kain-kain yang ia pungut, berjalan menuju toilet dengan wajah tegang.

 

Terdengar jeritan kecil dari dalam, tapi aku pura-pura tidak mendengarnya.

 

 

•••

 

 

“Enaknya ke mana yaa~...”

 

Aku berkeliling di dalam sekolah dengan menenteng kantong plastik minimarket di tanganku.

 

Sebelumnya, saat aku masuk ke ruang audio visual yang selama ini selalu kugunakan sebagai tempat makan siang hingga naik ke kelas 3, aku melihat sepasang kekasih yang kemungkinan anak kelas 1 sedang suap-suapan bekal dengan mesra.

 

Tentu saja aku langsung keluar karena merasa sangat canggung.

 

Padahal ruang itu tidak dikunci, ada tirai hitam sehingga cahaya matahari tidak masuk—tidak ada tempat lain yang lebih ideal untuk tidur siang setelah makan dengan kilat selain tempat itu.

 

Aku berkeliling sekolah mencoba mencari lokasi baru untuk makan siang, tapi tak kunjung menemukan tempat yang pas dan waktu terus berlalu.

 

“...Keluar saja, deh.”

 

Tiba-tiba, aku teringat ada bangku di luar ruangan. Yah, mungkin tempat itu juga dipakai oleh pasangan kekasih, tapi setidaknya aku masih punya waktu untuk mencari kursi yang kosong, jadi aku menuju rak sepatu untuk melihat-lihat—

 

“Oh.”

 

“Hng~?”

 

Yang berjalan dari arah berlawanan sambil membawa kantong belanja kantin adalah Himori dan Ebitani.

 

Omong-omong, sejak tiba di sekolah aku hampir tidak bicara dengan mereka berdua.

 

Himori terus dikelilingi teman sekelas, sementara Ebitani hanya diam di sebelahnya sambil bermain ponsel tanpa ikut mengobrol, jadi aku memang tidak punya kesempatan untuk menyapa mereka.

 

“Lho, makan siang?”

 

“Ya.”

 

“Kamu tidak makan di tempat yang biasanya?”

 

Kenapa kamu bisa tahu aku makan di mana!

 

“...Yah, aku kan sudah naik kelas.”

 

Aku melontarkan alasan yang entah apa maksudnya, tapi Himori malah mengajak, “Kalau begitu ayo kita ke luar bareng~”, jadinya aku mengikuti mereka berdua ke luar.

 

Berjalan menjauh dari gedung utama menuju samping gimnasium, aku bisa mendengar suara pantulan bola dari dalam. Mungkin ada murid yang sedang tidak ada kerjaan dan bermain basket.

 

Kami mendatangi tempat yang sama seperti kemarin, dan duduk di bangku yang kosong. Karena posisinya agak jauh dari gedung sekolah, sepertinya tempat ini tidak terlalu banyak dikunjungi.

 

“Sampai tahun lalu, kamu selalu menghabiskan jam istirahat makan siang di ruang audio visual, kan.”

 

“...Begitulah.”

 

Himori, yang mengeluarkan roti kacang merah beliannya dari kantin, mengatakannya seraya membelah roti itu dan memberikan setengahnya pada Ebitani.

 

Berbagi ya, persis seperti pahlawan yang ada di suatu cerita saja.

 

“Kamu dijuluki Sang Tuan Tanah (Nushi), lho.”

 

“Itu orang yang berbeda kan.”

 

Aku tidak pernah dipanggil begitu.

 

“Siswa laki-laki yang masuk ruang audio visual lebih dulu dari siapa pun, dan tertidur pulas sampai bel masuk berbunyi.”

 

“Itu aku, sih.”

 

Itu memang aku. Eh, aku dijuluki Tuan Tanah? Oleh siapa?

“Banyak anak perempuan yang protes lho~? Padahal guru sudah berbaik hati membukakannya untuk kita~, kata mereka.”

 

“.........Maaf.”

 

Itu benar-benar perbuatan yang buruk. Padahal aku tidak bermaksud memonopolinya, tapi setelah makan siang dengan cepat selama 3 menit, aku langsung mematikan lampu.

 

Tentu saja mereka jadi canggung untuk masuk. Mana itu berlangsung terus selama 2 tahun.

 

“Lalu kenapa hari ini? Kamu berhenti jadi Tuan Tanah?”

 

“...Pas masuk, ada pasangan kekasih yang kelihatannya anak kelas 1. Mereka lagi suap-suapan, dan sama sekali tidak sadar kalau aku masuk.........”

 

Rasanya mau menangis saja kalau mengingatnya. Tapi, anak kelas 1 pasti tidak tahu menahu tentang Tuan Tanah dari tahun lalu, kan. Mereka pasti dengar dari guru atau siapa pun kalau ruang audio visual boleh digunakan saat jam istirahat makan siang.

 

“...Jangan dipikirkan. Lagipula tempatnya agak jauh dari kelas anak kelas 3, kan.”

 

“Ya, begitulah.”

 

Aku membuka bungkus roti yakisoba yang kubeli dari minimarket. Aroma saus dan rumput laut menari-nari di udara, lalu setelah sedikit ragu, aku menggigitnya.

—Ah, rasanya jelas sekali. Waktu sarapan pagi tadi aku masih sedikit takut, tapi sepertinya indra perasaku sudah kembali normal. Kalau begitu, mari lupakan saja kejadian waktu itu.

 

Aku memakan ketiga roti itu dengan lancar, dan kali ini aku benar-benar menggunakan minuman energi encer yang biasa kuminum untuk menyapu minyak dan gula dari tenggorokanku.

 

Saat aku melirik ke samping, Ebitani yang sudah selesai makan sedang menyeka tangannya dengan tisu basah.

 

“...Ebitani, makan segitu saja kamu sudah kenyang?”

 

Ebitani memakan bagian roti kacang merah dari Himori, lalu meminum air berkarbonasi yang sama dengan kemarin. Cuma itu.

 

Meskipun tubuhnya mungil, porsinya sama sekali bukan porsi anak SMA biasa.

 

“.........Ebitani-san?”

 

Bukannya membalas pertanyaanku, dia malah menghela napas panjang.

 

“Tolong jangan panggil aku dengan nama itu. Aku benci.”

 

“Baru kali ini aku bertemu orang yang benci dipanggil pakai nama keluarganya...”

 

Aku langsung menemui jalan buntu di langkah pertama.

 

“Begini lho, orang tua kami sudah bercerai dan menikah lagi beberapa kali, jadi marga kami juga sering berubah-ubah. Makanya kami tidak punya ikatan emosional apa-apa dengan marga kami yang sekarang~”

 

Himori, yang baru saja mengeluarkan roti melon dari kantong plastiknya, menimpali.

 

“Ah... jadi begitu. Terus aku harus memanggilmu apa?”

 

“Nama depanku saja tidak apa-apa.”

 

“...Reni.”

 

“Memanggil orang yang baru kamu temui langsung pakai nama depan tanpa embel-embel, apa kamu tidak merasa itu terlalu sok akrab?”

 

“Sifatmu rumit banget sih!”

 

Lagipula kita kan bukan orang yang baru saling kenal. Memang sih kita baru ketemu kemarin, tapi kamu sudah menginap di rumahku di hari yang sama, dan lagi yang menyuruhku berhenti memanggil marga kan kamu sendiri.

 

“Reni... -chan.”

 

Dia menendang tulang keringku. Kalau yang ini jelas tidak boleh.

 

“Panggil nama depan tanpa embel-embel, atau panggil marga tanpa embel-embel, pilih salah satu. Kalau kamu tidak mau keduanya—aku bakal kasih kamu nama panggilan imut yang cuma aku satu-satunya orang di dunia yang memanggilmu begitu.”

 

Ebitani, yang mengerutkan alisnya dengan wajah tidak senang dan terlihat seperti ingin mengatakan sesuatu, merenung sejenak sebelum akhirnya perlahan-lahan membuka mulutnya.

 

“.........Ya sudah, pakai nama depan saja.”

 

“Oke, salam kenal ya Reni.”

 

“.........”

 

Berbanding terbalik dengan Ebitani—maksudku Reni—yang diam-diam membuang muka dariku, Himori yang sedari tadi menonton interaksi kami tersenyum-senyum terus.

 

“...Ada yang lucu?”

 

“Enggak, aku cuma mikir jarang banget Reni ngasih izin orang manggil nama depannya.”

 

“Oh ya?”

 

Dari pengamatanku kemarin dan hari ini, sepertinya Reni memang tidak berniat berhubungan dengan siapa pun selain Himori. Jadi kalau tidak ada orang yang memanggilnya dengan nama depan, yah, wajar saja sih.

 

“Ngomong-ngomong, kalian berdua ini sudah saling kenal lama ya?”

 

Reni menjawab sebagai ganti Himori yang mulutnya penuh dengan roti melon.

 

“Sejak SMA kok.”

 

“Eh, ternyata belum selama itu, ya!?”

 

Kupikir kedekatan kalian itu seperti teman masa kecil sejak TK.

 

Walaupun kalian pernah sempat tinggal bersama, tapi aku merasa ada aura yang sangat berbeda dari pertemanan anak perempuan biasa yang akrab.

 

Imejku tentang anak perempuan yang bersahabat adalah mereka selalu asyik mengobrol, tapi mereka berdua tidak seperti itu.

 

Bukan berarti mereka sama sekali tidak bicara, tapi meski di depan Himori, Reni tidak mendadak cerewet. Ya, mungkin saja mereka banyak bicara saat tidak ada aku.

 

“Hng? Tapi kalian berdua tidak ikut klub kan? Ketemunya di mana?”

 

“Di lorong.”

 

“Bukan tempatnya yang kutanya!”

 

Dia menatapku dengan wajah polos tanpa dosa. Kamu ini tidak sedang melawak, kan!

 

“...Pasti ada suatu kejadian sampai kalian jadi akrab, kan?”

“Tidak ada apa-apa.”

 

“Masa tidak ada apa-apa sih!”

 

Himori yang baru saja menelan roti melonnya, tak kuasa menahan tawa yang akhirnya meledak.

 

Uhuk, uhuk, ia terbatuk lalu meminum teh lemon kotak kemasannya dalam sekali tarikan, mengembuskan napas “Fuuh,” dan bergumam dengan suara sedikit rendah, “Ree-nii~?”

 

“...Apa.”

 

“Mana mungkin tidak ada apa-apa~”

 

“Tidak ada.”

 

“Kupikir pasti ada sesuatu lho~?”

 

“Kalau kubilang tidak ada, ya berarti tidak ada.”

 

“...Yah, biarkan saja begitu untuk saat ini.”

 

Ternyata biarkan saja.

 

“Nogi, kamu masih ingat apa yang terjadi waktu kelas 1?”

 

Tanya Himori padaku, tapi karena pertanyaannya terlalu abstrak, aku memiringkan kepalaku.

 

“Kelas 1? ...Itu, kapan tepatnya?”

“Mungkin sekitar bulan Juni?”

 

“...Hmm, aku rasa tidak ada hal besar yang terjadi.”

 

Kalau diberi tahu tanggal atau acaranya aku mungkin bisa ingat, tapi di awal kelas 1 staminaku sudah terkuras habis untuk pekerjaan paruh waktu yang belum terbiasa, jadi aku bahkan tidak punya waktu untuk bermain.

 

Aku baru bisa bermain dengan teman-teman sekelasku layaknya anak sekolah biasa sekitar liburan musim panas, saat aku sudah mulai terbiasa dengan kehidupan kerja paruh waktu.

 

Mungkin karena tak puas dengan jawabanku, Reni menghela napas panjang. Karena tampaknya Reni-lah yang menyimpan cerita di balik semua ini, aku menoleh ke arahnya.

 

“...Aku, pernah melakukan sesuatu?”

 

“Mati sana.”

 

“Reaksimu itu kejam sekali tidak sih?”

 

Percakapan kami selalu buntu. Biasanya bagaimana sih cara kalian mengobrol?

 

Tapi kalau melihat alur pembicaraan ini, apa mungkin aku terlibat dalam pertemuan awal mereka berdua?

 

Aku sama sekali tidak ingat apa-apa, tapi omong-omong, sejak kapan Reni mengecat rambutnya jadi pirang ya. Seingatku waktu upacara penerimaan murid baru tidak ada siswi kelas 1 berambut pirang, tapi jujur saja aku tidak ingat siswi dari kelas lain.

 

“Gagal, aku tidak ingat apa-apa.”

 

“Sudah kuduga.”

 

Sepertinya Reni memang sudah menyerah dari awal, jadi dia tidak terlihat punya niat untuk memberiku penjelasan.

 

“Sebagai permohonan maaf karena sudah lupa, maukah kamu temani kami belanja~?”

 

“...Tentu, kalau cuma temani belanja sih aku mau tanpa perlu dalih permohonan maaf.”

 

“Kerja paruh waktumu?”

 

“Sekarang aku cuma kerja di akhir pekan. Yah, mungkin saja aku tiba-tiba dipanggil karena mereka kekurangan orang, sih.”

 

“Kalau begitu, berarti tidak ada jadwal lain, kan. Boleh hari ini?”

 

“Iya.”

 

Aku pikir aku cuma akan menjadi tukang bawa barang, jadi aku setuju dengan santai.

 

Namun, aku sama sekali tidak paham arti dari ‘menemani gadis seumuran berbelanja’, dan bahwa Onee-chan dulu sebenarnya sudah banyak menahan diri, sampai hari ini tiba.

•••

 

 

“Masih belum diputuskan juga!?”

 

“Habisnyaa~”

 

“Pakai saja yang tadi itu kan sudah cukup!? Tadi kamu kelihatan suka dengan yang itu!”

 

“Haa, mumpung beli sekalian dong aku mau yang paling pas? Tapi kalau kamu mau meminjamkan lenganmu untuk jadi bantal, aku tidak akan membelinya lho~”

 

“Jangan hitung badan orang sebagai bantal! Masih banyak bantal yang jauh lebih baik daripada lengan!”

 

“Ceeh~”

 

Setelah dibawa ke sebuah gedung komersial di depan stasiun dan melewati entah berapa kali perdebatan yang sama, aku menghela napas panjang karena tak berdaya menolaknya.

 

Himori yang berbaring di tempat tidur display menjejerkan tumpukan bantal sambil mengecek kenyamanan posisinya.

 

—Tolong dicatat, ini sudah putaran kesepuluh untuk sesi pengecekan ini, dan dia sudah mengumpulkan sekitar 10 bantal sample yang ada di seluruh penjuru toko, jadi sudah sekitar 30 menit berlalu hanya untuk urusan memilih bantal.

 

Sejak tadi situasinya terus seperti ini.

 

Awalnya dia bilang, “Mumpung perabotannya baru untuk satu orang, sekalian beli macam-macam barang saja yuk~”, jadi kupikir dia akan berbelanja dengan cepat—tapi ternyata aku salah. Dia mempertimbangkan setiap barang dengan sangat detail.

 

Kupikir Reni juga pasti sudah muak, tapi saat aku melihatnya—

 

“...Reni.”

 

“Apa.”

 

Dengan wajah ditekuk, Reni bahkan tidak melirik sedikit pun. Dia duduk di kursi kantor display sambil terus mengotak-atik ponselnya. Sepertinya dia tidak berniat menghentikan Himori.

 

“Kamu, tidak perlu beli bantal?”

 

“Di rumah kan ada.”

 

“Itu kan milikku!?”

 

“Aku mau memakainya.”

 

“...Terus punyaku?”

 

“Beli saja yang baru. Kamu sudah pakai bantal itu cukup lama, kan.”

 

“Eh, memang benar sih... tapi serius?”

Tidak ada jawaban. Bukannya itu agak dingin?

 

Kalau dipikir positif, mungkin maksudnya adalah dia bersedia memakai barang yang sudah usang, tapi nada bicara dan sikapnya membuatku tidak bisa berpikir begitu. Rasanya seperti dirampok.

 

Yah, lagipula aku tidak terlalu pemilih soal bantal, dan mungkin percuma juga membujuknya, jadi aku memasukkan bantal dengan bentuk standar secara asal ke dalam keranjang—tapi karena tidak muat, aku ambil kereta dorong belanja.

 

Sepertinya belanjaan masih akan bertambah.

 

Sepertinya Himori akhirnya sudah menentukan pilihan. Ia mengembalikan bantal sample ke rak, lalu melempar bantal yang baru ke arahku, aku menangkapnya dan memasukkannya ke kereta belanja.

 

“Ngomong-ngomong, di rumah kalian sebelumnya memangnya tidak ada bantal?”

 

“Ah, iya. Ada sih, tapi karena barangnya makan tempat, pas kami pergi semuanya sudah kami buang.”

 

“...Semuanya?”

 

Emangnya tempat tidur bisa dibuang segampang itu ya?

 

“Eh, aku belum bilang ya? Rumah kami sebelumnya sudah full-furnished (lengkap perabotan). Kami memang beli perintilan kecil, tapi perabotan yang besar semuanya pakai yang sudah ada dari awal~”

 

“Ah... begitu toh, lalu kalian membawa baju saja untuk mengembara, ya.”

 

“Begitulah~”

 

Kalau begitu, wajar saja jika barang bawaan mereka hampir semuanya berupa pakaian. Kalau mereka harus hidup gelandangan untuk sementara waktu, membawa barang yang memakan tempat seperti kasur sangat tidak memungkinkan.

 

Meski dia mengatakannya dengan nada santai, mereka pasti sangat kepepet saat itu.

 

“Lalu, tempat tidur bagaimana? Masih ada kamar kosong, mau beli kasur sekalian?”

 

“Hmm............”

 

Namun, Himori memalingkan pandangannya.

 

—Ia bertatapan dengan Reni, lalu saling mengangguk pelan.

 

“Tidak deh, kalau beli sekarang makan tempat juga~”

 

“Begitu kah?”

 

Memang benar sih, kalau beli kasur dari awal, kalian harus membawanya berkeliling saat lanjut berbelanja. Khususnya untuk matras, rasanya mustahil untuk dibawa-bawa pakai tangan. Kalau dipaksakan mungkin bisa dibawa ke rumah secara manual, tapi jauh lebih aman membelinya secara daring.

 

“Ah, benar juga, selimut! Karena pasti akan direbut oleh Reni, aku harus beli satu lagi nih~. Aku tipe orang yang pas musim panas sekalipun akan menyalakan AC kencang-kencang lalu tidur pakai selimut tebal lho, kalau Nogi bagaimana?”

 

“Aku sih tidak terlalu pemilih...”

 

“Kalau begitu aku pilihkan secara asal saja ya~”

 

“Ya. ...Eh, tunggu, aku akan memilihnya sendiri!”

 

Himori, yang berlari ke bagian selimut, langsung memukul bantal sample yang tergulung. Aku tertinggal di belakang gara-gara kereta dorong belanjanya menghalangi jalanku.

 

Reni menghela napas, lalu bergumam pelan, “Kamu seharusnya tidak membiarkannya memilih...” Aku mengerti, ini pelajaran berharga bagiku. Meski sudah telat sih.

 

“Butuh berapa lama lagi ini...”

 

Gumamku pelan. Namun saat itu, aku tidak sadar kalau sesi memilih furnitur ini hanyalah babak pendahuluan belaka.

 

 

•••

 

“............”

 

Suasananya sangat canggung.

 

Karena, kami saat ini sedang berada di bagian pakaian dalam. Berbagai macam pakaian dalam perempuan dengan beraneka ragam warna berjajar saling berdempetan.

 

Di dalam toko yang jelas-jelas terlarang untuk anak SMA laki-laki seperti ini, aku justru sedang duduk manis di kursi depan ruang ganti pakaian yang sudah pasti bukan tempat untuk remaja laki-laki, seraya memeluk setumpuk barang belanjaan.

 

“Aku mau pulang...”

 

Gumamku pelan, dan dari balik tirai ruang ganti terdengar sahutan.

 

“Aku butuh pendapat objektif tahu~”

 

“Hal semacam itu lakukan berdua saja sana! Kalian jelas tidak butuh kehadiranku, kan!?”

 

Protesku hanya ditanggapi dengan tawa, “Ahahaha.” Apa aku bisa kabur tanpa ketahuan sekarang?

 

Meski sudut ruang gantinya tidak terlihat dari sisi lorong, tirainya sama saja dengan tirai di toko pakaian biasa. Apa benar aman dari intipan atau tidak tembus pandang? Aku tidak tahu.

 

Pegawai toko yang terus mendampingi kami berdua sampai aku ikut ke mari hanya tersenyum seraya berkata, “Silakan nikmati waktu Anda,” jadi dia pasti sudah sering melihat laki-laki yang diperlakukan seperti ini.

 

Setelah beberapa saat menenangkan pikiranku agar menjadi kosong, ada sosok manusia yang mendekatiku, membuatku tersentak kaget.

 

—Ternyata Reni. Dia membawa beberapa pasang pakaian dalam di tangannya.

 

Untunglah bukan pembeli lain. Ruang gantinya ada tiga berjejer di samping, jadi kalau ada pembeli lain yang datang, aku tidak punya pilihan selain kabur dari sini.

 

“Menurutmu bagus yang mana?”

 

“Eh, yang ini?”

 

Saat aku asal menunjuk warna yang entah kenapa terlihat lebih menarik, tirai di depanku tiba-tiba terbuka dengan cepat. Himori—yang tentu saja memakai pakaian dalam—muncul dan berseru protes.

 

“Tunggu dulu, kalian berdua ngapain!? Curang!”

 

Meskipun aku, seorang laki-laki, melihatnya hanya memakai pakaian dalam, Himori sama sekali tidak terlihat malu. Malahan, saat dia menyadari tatapanku, dia justru memamerkan pose ala model gravure.

Reni membuka mulutnya ingin mengeluhkan sesuatu, namun akhirnya hanya membalasnya dengan helaan napas pasrah.

 

Setelah beberapa saat menemani fashion show itu, aku mendongak saat mendengar suara yang tak asing.

 

(Wah... !?)

 

—Itu teman sekelasku.

 

Sekelompok gadis dari kelasku lewat di depan bagian pakaian dalam dan berhenti sejenak melihat-lihat ke dalam toko.

 

Sepertinya mereka belum menyadari keberadaanku. Rute untuk melarikan diri dari sini tanpa ketahuan oleh mereka adalah—

 

Setelah memastikan jalur kabur, aku meletakkan barang belanjaan yang memberatkan lalu berdiri. Detik berikutnya.

 

Reni yang sudah cepat-cepat membelikan bagiannya tiba-tiba muncul, lalu menarik lenganku dengan kuat—bruk.

 

Aku didorong masuk ke dalam bilik ruang ganti secara paksa.

 

“...Wa-ow...”

 

Saat aku perlahan mengangkat kepalaku, mataku bertemu dengan Himori lewat pantulan cermin. Sepertinya dia baru saja melepas branya.

 

“Maaf. Biarkan aku membela diri.”

“Nogi, tak kusangka ternyata kamu lumayan agresif, ya.”

 

“Ini keadaan darurat...”

 

Setidaknya ia masih punya sedikit rasa kesopanan untuk tidak memperlihatkan tubuh polosnya, ia langsung menyembunyikannya dengan lengan sehingga tidak ada yang terlihat.

 

Gundukan lembut itu tampak berubah bentuk akibat terhimpit lengannya—aku langsung memalingkan wajah. Untung saja bawahannya masih terpasang. Kalau tidak, aku pasti sudah mati secara sosial.

 

—Namun, Himori malah bersiap melanjutkan proses ganti bajunya.

 

“Eh, kenapa kamu lanjut mau ganti baju kayak tidak ada masalah saja!?”

 

“Eh, ya wajar saja kan. Ini kan tempat ganti pakaian.”

 

“Jangan buka bawahanmu dalam kondisi begini dong!”

 

“Hei, kalian jangan ribut.”

 

Ebitani yang juga ikut masuk sambil menendang kakiku, akhirnya mendaratkan kakinya di dalam bilik ruang ganti yang sama.

 

Meskipun bilik ruang ganti pakaiannya cukup luas, tentu saja akan jadi sempit jika dimasuki tiga orang. Karena Himori secara wajar mencoba melanjutkan ganti bajunya, Ebitani pun dengan paksa mencegahnya. Aku lalu memejamkan mata dan hanya memusatkan konsentrasi pada pendengaranku.

 

Dalam keadaan seperti itu, setelah melewati waktu yang rasanya tak berujung—

 

“...Kayaknya mereka sudah pergi.”

 

Ebitani bergumam sembari sedikit membuka tirai bilik, jadi aku langsung melompat keluar.

 

Sosok teman sekelasku sudah tidak ada di dalam toko. Sepertinya aku berhasil lolos dari bahaya yang mengancam.

 

“Hampir saja... Status sosialku nyaris saja amblas tak bersisa...”

 

“Eh, tapi kalau dipikir-pikir lagi, kondisi tadi itu hitungannya tetap saja bahaya kan?”

 

Himori mengeluarkan kepalanya dari celah tirai sambil tersenyum kecut. Enggak, yang tadi itu hitungannya masih aman kok.

 

Lagian kamu kan malah sengaja pamer badan pas pakai pakaian dalam, kalau bahaya harusnya kamu bereaksi lebih dari itu dong.

 

“Ngomong-ngomong, tadi ada kejadian apa sih?”

 

Kamu bahkan tidak menyadarinya?

 

Tapi iya juga sih, soalnya dia terus-terusan asyik ganti baju dari tadi. Suaranya tidak akan terdengar, dan dari balik tirai dia tak mungkin bisa melihat pengunjung yang berlalu-lalang. Selain itu, buat Himori sih, walaupun dia ketahuan oleh teman sekelas, sepertinya dia tidak merasa perlu repot-repot sembunyi.

 

Eh, tapi kalau begitu, jatuhnya aku ini adalah penyusup mesum yang tiba-tiba masuk saat dia sedang ganti baju dong? Ah, tidak, kalau begitu harusnya dia marah atau mencegahnya kek, atau apalah. Kenapa malah lanjut mau ganti baju kayak biasa.

 

(A... Aku tidak tahu...)

 

Aku mencoba menghapus memori akan benda empuk yang sempat tertangkap mataku tadi, dan—karena daya ingatku yang sempurna dan absolut, memoriku justru memanggilnya kembali dan membakarnya semakin jelas di otakku.

 

Kalau aku benturkan kepalaku ke dinding kira-kira memorinya akan hilang tidak, ya.

 

Pada akhirnya, butuh waktu satu jam penuh hingga kami berhasil keluar dari area pakaian dalam. Aku lalu dengan panik menghentikan langkah Himori yang berniat mampir ke area arkade.

 

Meskipun ada yang kecil dan berat, bantal dan selimut, ditambah lagi bantalan manik (bean bag) yang dibelinya secara impulsif, ukurannya terlalu makan tempat.

 

Komentarku setelah menghentikan niat Himori untuk membeli sofa raksasa berkapasitas empat orang dan menggumam, “Kalau cuma satu sih masih bisa kubawa pulang...” sambil melihat bean bag yang sudah dikemas, benar-benar membawa petaka.

 

Setelah aku mengancam, “Kalau kamu masih mau main-main, aku pulang duluan lho,” barulah dengan terpaksa Himori merelakan niatnya ke tempat arkade.

 

“Rasanya gimana gitu, ya. Seperti, mulai lembaran hidup baru! Begitu~”

 

Himori berkata dengan ceria sambil menatap langit malam.

 

Reni tidak berkata apa-apa, tapi hanya dengan melihat ekspresinya yang begitu damai, aku rasa aku cukup memahaminya.

 

—Aku pun ikut tersenyum kecil, setuju dengan sentimen itu.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close