Episode 6 “Karena Ini
Tidak Buruk”
Kamar yang telah ditata
ulang selama beberapa hari ini terlihat sangat berbeda dibandingkan saat aku
masih tinggal sendirian.
Perubahan yang paling
besar tentu saja adalah adanya karpet. Meskipun hanya selembar kain yang
dihamparkan, hal itu saja sudah memberikan kesan bahwa ruangan ini benar-benar
dihuni.
Yah, karena Himori yang
memilih motifnya, karpet itu bergambar karakter yang imut—tapi, mari kita
maklumi saja. Daripada tidak ada sama sekali, ini jauh lebih baik.
Meja rendah yang tadinya
terlalu kecil untuk kami bertiga makan pun sudah diganti dengan yang baru.
Hebatnya, meja besar ini bisa digunakan sebagai kotatsu (meja
penghangat) di musim dingin nanti.
Ya, sebenarnya aku
membelinya karena kebetulan melihat meja itu dijual diskon 70% sebagai barang
sisa pajangan karena tidak laku di musim dingin.
Kami hanya membeli satu
buah sofa bean bag yang empuk dan bisa membungkus tubuh, dan aturannya
adalah ‘siapa cepat dia dapat’—namun saat Reni ada di rumah, hampir selalu dia
yang menggunakannya.
Aku sih bisa
menggunakannya kalau aku pulang lebih dulu, tapi karena aku tahu dia pasti akan
bilang “Minggir” saat pulang nanti, aku memilih untuk terus menggunakan bantal
duduk tipis seratus yen milikku.
Di kamar yang sebelumnya
tidak kupakai, kini diletakkan beberapa kotak penyimpanan dan rak gantungan
baju sebagai tempat meletakkan pakaian mereka berdua. Ranjang tambahan, sampai
saat ini masih belum dibeli.
Karena sepulang sekolah
Himori pergi bermain dengan teman sekelas, aku pun belajar di kamar yang tenang
tanpa ada orang yang berinisiatif untuk mengobrol ini. Tiba-tiba, aku merasakan
sebuah tatapan dan mengangkat wajahku.
Reni yang menyandarkan
tubuhnya di sofa bean bag, tengah menatap tanganku dalam diam.
Aku meletakkan penaku dan
membuka telapak tanganku. Setiap kali kapalan muncul dan pecah, kulitku menjadi
semakin tebal.
Beberapa kukuku menghitam
karena pendarahan dalam, dan permukaannya pun kasar bergerigi entah karena
kurang nutrisi atau apa. Sepertinya jus sayuran memang tidak bisa menggantikan
sayuran asli.
“Dari kemarin aku sudah
mikir, tanganmu itu kotor banget.”
“Padahal aku rajin
mencucinya lho!?”
“Bukan itu maksudnya, apa
kamu merawatnya?”
“A, ah, maksudnya itu. Aku
rutin memotong kuku sih, tapi...”
“...Dasar laki-laki.”
“Apa barusan aku dihina
dari dimensi yang tidak kuketahui?”
Tangan itu gunanya dicuci,
dan kuku itu dipotong, kan? Yah, gunting kuku seratus yen memang kurang tajam,
jadi aku sadar itu membuat potongannya bergerigi. Walau tidak jorok, memang
tidak bisa dibilang indah sih.
Jari-jari Reni yang
panjang, putih, dan ramping itu tidak memiliki luka sedikit pun. Dengan nail
art mencolok yang bahkan bisa memantulkan cahaya, wajar saja jika ia merasa
tidak nyaman melihat tangan yang sangat mencerminkan tangan seorang pekerja
kasar.
Reni mengangkat tubuhnya
dari sofa, mendekatiku, dan menyodorkan telapak tangannya.
“Berikan tanganmu.”
“Guk, enak saja, siapa
yang kau panggil anjing.”
Disuruh ngapain sih ini.
Lagian kamu jangan pasang wajah datar begitu dong. Sedih rasanya. Setidaknya
beri aku sedikit respons kek.
Reni yang menatap
lekat-lekat tangan yang kuangsurkan kepadanya, kembali menghela napas.
“Kerja apa sampai bisa
jadi begini...”
“Kerja paruh waktu.”
“...Kerja sambilan gelap
(ilegal)?”
“Kerja terang-terangan
(halal) tahu! Kalau kamu terus-terusan mengangkat barang berat atau keras,
tangan siapa pun pasti bakal jadi begini.”
“Oh, gitu.”
“Kalau tidak tertarik
jangan tanya dong...”
Ia menyentuh kukuku dengan
lembut. Sentuhannya yang halus membuatku merasa sedikit geli.
Reni, apa suhu tubuhnya
sedikit rendah ya. Tangannya terasa agak dingin. Sambil memikirkan hal itu, ia
mengeluarkan sebuah krim dari tas kosmetik di dekatnya, dan mulai
mengoleskannya ke tanganku tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
“Reni-san?”
Tidak ada reaksi. Yah,
kuikuti saja kemauannya sebentar.
Setelah selesai
mengoleskan krim, benda berikutnya yang Reni keluarkan adalah kikir berbentuk
batang.
“Jangan bergerak.”
“A, ah.”
Nah, bagaimana dia akan
menggunakan kikir ini, kukuku baru saja dipotong beberapa hari lalu jadi belum
terlalu panjang, rasanya akan sulit untuk mengasahnya—Pikirku.
Namun Reni yang
menggerakkan kikirnya dengan sangat terbiasa, mulai memoles kukuku mulai dari
ujungnya yang bergerigi hingga ke permukaannya dengan mengganti-ganti sisi
kikir secara teliti.
Aku tidak pernah memakai
kikir yang menempel pada gunting kuku karena rasanya terlalu mengikis, tapi ini
benar-benar alat yang khusus dibuat untuk memoles kuku, ya.
Tanpa ada perlawanan,
permukaan kukuku menjadi rata. Ternyata kikir juga bisa dipakai untuk memoles
permukaan, bukan cuma bagian ujung potongannya saja ya.
“Kamu kelihatannya
terbiasa banget, sudah sering melakukannya ya?”
“Aku punya lisensinya
kok.”
“Eh, hebat. Apa di masa
depan kamu mau bekerja di tempat seperti itu?”
“Sekarang pun aku sudah
kerja paruh waktu di sana.”
“B, begitu toh...”
Aku benar-benar tidak tahu
apa-apa tentang Reni, ya. Walau kalau ditanya apa aku tahu banyak tentang
Himori jawabannya juga tidak, tapi aku jauh lebih tidak tahu soal Reni.
Mungkin dia bekerja di
tempat semacam salon nail art. Kalau begitu wajar saja dia sangat
terbiasa.
“...Omong-omong, apa saat
sedang bekerja kamu juga seperti ini?”
Mendengar pertanyaan itu,
Reni menghentikan tangannya dan menatapku dengan wajah heran.
“Apanya?”
“Tidak, biasanya kan kamu
jarang bicara... tapi itu kan pekerjaan melayani pelanggan, kan?”
“Apa yang harus
kubicarakan denganmu? Apa obrolan soal fesyen atau kosmetik bakal nyambung?”
“Maaf. Aku yang salah.”
Begitu ya, dia diam saja
karena tidak ada hal yang bisa dibicarakan denganku. Kalau diutarakan secara
langsung seperti itu, jujur saja rasanya agak sedih.
Kalau kami sedang bertiga,
Himori selalu mengobrol terus jadi aku tidak terlalu memikirkannya, tapi kalau
sedang berduaan dengan Reni seperti hari ini, suasananya hampir selalu hening.
“...Kalau ada yang ingin
kamu bicarakan, kamu duluan saja yang mulai. Setidaknya aku akan membalasnya
kok.”
Ia bergumam dengan suara
kecil. Karena ia menunduk menatap kukuku, aku tidak tahu ekspresi apa yang
sedang ia tunjukkan, tapi sepertinya dia setidaknya cukup peduli perasaanku.
“Hmm... kapan kamu
mendapatkan lisensi itu?”
“Saat SMP.”
“Berarti kamu sudah punya
niat untuk menjadikannya pekerjaan sejak lama, ya. Apa ada alasan khususnya?”
Entah karena bingung harus
menjawab apa, setelah diam beberapa detik, Reni perlahan membuka mulutnya.
“...Pelanggannya,”
“Pelanggan?”
“Yang datang cuma
perempuan, kan.”
“...Benar juga, ya.”
“Makanya itu.”
“Eh, cuma itu saja
alasannya?”
Ia mengangguk kecil.
Kupikir bakal ada drama yang lebih panjang, ternyata alasannya jauh lebih
sederhana dari dugaanku.
Yah, memang tidak bisa
dibayangkan ada laki-laki yang pergi ke salon kuku. Aku sendiri tidak begitu
mengerti kenapa kuku harus dihias sedemikian rupa, dan kebanyakan laki-laki
pasti berpikir hal yang sama. Ini hanyalah masalah perbedaan nilai-nilai saja.
Percakapan yang kubangun
dengan susah payah itu pun segera berakhir, dan waktu kembali mengalir dalam
keheningan.
Setelah mengikir kuku,
membersihkan kutikula (katanya kulit di antara kuku dan daging disebut begitu.
Saat aku panik mengira kulitku akan dipotong pakai gunting, dia menjelaskannya
padaku), saat aku pikir akhirnya selesai, ia mulai mengoleskan kuteks tanpa
penjelasan apa pun.
Kalau dibuat heboh seperti
kuku Reni sih aku bakal repot... tapi karena aku yakin dia tahu batasan itu,
aku memutuskan untuk diam dan memperhatikannya.
Tepatnya, aku sempat
bertanya “Apa itu?”, dan dia hanya menjawab “Base” lalu percakapan kami
terputus. Setidaknya aku tahu itu bukan alat musik bas.
Setelah selesai
mengoleskan kuteks bening yang disebut ‘base’ ke sepuluh jariku, ia masuk ke
putaran kedua. Sepertinya ini memang harus dioleskan berlapis-lapis. Setelah
pelapisan selesai, kuteks baru muncul lagi. Ini mau sampai kapan berlanjutnya?
Kuteks yang sedang
dioleskan ini tidak mengandung serbuk kelap-kelip (glitter) dan warnanya
juga tidak aneh. Warnanya kalem dan hampir sama dengan warna kulit.
Apa perlunya mengoleskan
warna yang sama dengan kulit? Sempat kupikir begitu, tapi saat dibandingkan
dengan kuku yang belum diolesi, perbedaannya sangat jelas.
Kilaunya berbeda.
Permukaan yang kasar pun hilang. Dan yang terpenting, pendarahan dalam—bekas
menghitam di balik kukuku, sama sekali tidak terlihat.
Setelah selesai kelima
jari di satu tangan, Reni mengeluarkan sebuah mesin misterius. Sebuah alat
berbentuk kubah yang memancarkan cahaya misterius, yang kadang kulihat ia
gunakan.
“Masukkan tanganmu ke
dalam sini.”
“Begini? ...Ini, bukan
cahaya yang berbahaya, kan?”
“Itu cuma lampu LED biasa
kok.”
“B, begitu ya. ...Lalu
kenapa saat disinar—aduh, panas!?”
“Sebentar, jangan
bergerak.”
Pergelangan tanganku yang
hendak kutarik itu dipegang erat-erat olehnya.
Habisnya, aku kira kukuku
terbakar—Namun, rasa panas itu hanya terasa sesaat, dan segera menghilang.
“Ini dirancang agar
cairannya mengeras saat disinari cahaya tertentu. Tergantung orangnya, kadang
memang bisa terasa panas.”
“Bisa tidak kamu bilang
dari awal!?”
“...Kamu kan laki-laki,
masa begini saja tidak bisa tahan.”
“Ya aku sih bisa tahan...
tapi ternyata ada juga yang rasanya sepanas tadi ya.”
Selain karena di luar
dugaan, panasnya tadi benar-benar bikin refleks menjerit lho.
“Itu karena aku cukup
banyak mengikisnya untuk meratakan permukaan yang bergerigi tadi, jadi kukumu
menjadi sedikit lebih tipis, kan?”
“Oh, gara-gara itu ya...”
Itu berarti dia sudah tahu
dari awal kalau ini bakal terjadi, kan. Benar kan, harusnya dia bilang sebelum
melakukannya.
“Sip, sudah selesai.”
Karena pergelangan
tanganku dilepaskan, aku pun menariknya.
Permukaan yang sebelum
disinari cahaya tampak sedikit berair, kini terasa halus dan memantulkan
cahaya. Kilaunya membuatku merasa ini bukan kukuku sendiri.
Saat aku menyentuh
permukaannya dengan ragu-ragu, terasa tekstur mulus yang aneh dan licin.
Kilauan ini terasa agak artifisial, berbeda dengan kuku manusia asli.
“Ini, kalau dipakai cuci
tangan seperti biasa tidak apa-apa kan? Kalau terbentur apa tidak akan langsung
gompal atau...”
“Setidaknya ini jauh lebih
kuat dari kuku aslimu. Kalau kamu merasa ingin memotong kuku, beritahu aku.
Jangan pernah, jangan sekali-kali kamu memotongnya sendiri ya.”
“O, oke.”
“Lagipula ini belum
selesai lho. Masih ada satu putaran lagi.”
“Masih mau dioles lagi!?”
“Kenapa, kamu ada urusan?
Toh kamu paling cuma mau belajar, kan?”
“Apa bagi anak SMA,
prioritas belajar itu serendah itu... !?”
Yah, aku memang belum
pernah melihat Reni belajar di rumah sih. Himori juga sama.
Karena program IPA
biasanya berisi murid-murid yang memiliki niat melanjutkan pendidikan yang
tinggi, aku merasa sedikit janggal kenapa mereka berdua yang sama sekali tidak
punya niat belajar ini memilih masuk kelas IPA.
“Berapa peringkatmu saat
ujian akhir kelas 2 kemarin?”
“.........Kenapa aku harus
menjawabnya.”
“Sekadar informasi, aku
peringkat 2 lho.”
“Uwaah... Pamer kalau kamu
pintar belajar, menjijikkan...”
“Jadi kamu peringkat
berapa.”
“...Sekitar 200.”
“.........Begitu ya.”
Satu angkatan ada sekitar
230 murid, ini sih benar-benar di posisi paling bawah.
“...Apa Himori juga di
sekitaran situ?”
“Anak itu ada di
pertengahan.”
“Ah, begitu rupanya.”
Yah, sepertinya Himori
mendengarkan pelajaran dengan normal.
Kalau Reni... meskipun
buku cetaknya terbuka dengan benar, tidak sedang tidur siang, dan tidak
diam-diam main ponsel, tapi saat pelajaran pikirannya selalu terlihat sedang
melayang ke tempat lain. Ternyata dia memang sama sekali tidak mendengarkan.
“Mau kuajari belajar?”
“Eh, tidak usah...”
“...Begitu ya.”
Jawabannya yang datar
sedikit membuatku sedih.
“Lagian aku tidak berniat
masuk universitas, asal bisa lulus saja sudah cukup.”
“Tapi, kalau nilaimu
seperti itu, kamu bakal kena kelas tambahan atau ujian perbaikan (remedial),
kan.”
“Memang ada.”
Karena aku belum pernah
berada di peringkat 200 dari 230 orang, ini cuma dugaanku saja, tapi bukankah
nilainya pasti merah semua? Kudengar kalau ikut ujian perbaikan maka tidak akan
tinggal kelas, dan nyatanya sampai aku naik ke kelas 3 pun, aku belum pernah
mendengar ada murid yang tinggal kelas.
Yah, karena ada beberapa
anak yang mengundurkan diri secara sukarela di akhir tahun ajaran, mungkin
mereka memilih keluar daripada tinggal kelas.
“Apa kamu tidak punya
pikiran untuk belajar demi menghindari nilai merah atau semacamnya?”
“Ujian perbaikan itu cuma
ada di ujian akhir semester, jadi hanya tiga kali setahun lho. Daripada harus
belajar selama 4 bulan penuh cuma buat menghindari remedial, bukannya
jauh lebih efisien mengorbankan 1 hari saja untuk ikut kelas tambahan dan remedial?”
Ia membalasku dengan
ekspresi yang seolah berkata ‘aku cuma mengatakan fakta yang sudah jelas’.
“T, tunggu dulu, SMA itu
bukan sistem yang seperti itu, kan!?”
“Kenapa? Aku ke sekolah cuma
supaya bisa menulis ‘Lulusan SMA’ di riwayat hidupku nanti, jadi wajar dong
kalau aku mengutamakan efisiensi.”
“...Apakah itu wajar~?”
“Sangat wajar.”
Gawat, jalan pikirannya
ternyata jauh lebih pragmatis dari yang kubayangkan. Ternyata ada ya orang yang
memandang kehidupan SMA dengan cara seperti itu.
Benar juga, ada benarnya
juga ucapan Reni ini. Aku tidak tahu bagaimana tepatnya sistem ujian perbaikan
itu, tapi kalau Reni yang pergi ke sekolah dengan pola pikir seperti ini saja
bisa naik kelas, berarti sistemnya bukan tipe yang ‘kalau nilai ujianmu tidak
mencukupi, kamu pasti langsung tinggal kelas’.
Kalau begitu, mengikuti
ujian perbaikan memang lebih efisien... tidak, mungkin efisien sih, tapi
rasanya agak... salah, tidak sih...? Aku tidak bermaksud menceramahi kalau
tugas utama pelajar adalah belajar, tapi ini rasanya terlalu pragmatis...
“...Kamu, suka belajar?”
“Yah, setidaknya tidak
benci.”
“Kenapa...?”
Pertanyaannya barusan
bukan karena dia merasa jijik, tapi murni karena penasaran. Aku bisa
mengetahuinya dari nada suaranya.
“Dulu sih aku belajar
dengan niat masuk ke universitas yang bagus... tapi kalau sekarang, kurasa
alasannya berbeda.”
“Apa ada sesuatu yang
ingin kamu lakukan di masa depan?”
“Tidak ada secara khusus.
Makanya aku mau masuk universitas untuk mencari tahu apa itu.”
“...Maksudnya, mencari
jati diri?”
“Yah, aku tidak bisa
menyangkalnya. Tapi begini, kalau suatu saat aku sudah menemukan apa yang ingin
kulakukan, aku tidak mau kalau sampai aku tidak punya kualifikasi untuk
mengejarnya hanya karena aku dulu malas belajar.”
“Itu sih...”
Reni, dengan nada suara
yang sedikit bingung, mungkin merasa ada benarnya, lalu melanjutkan, “Itu ada
benarnya juga, ya.”
“Aku cuma ingin memperluas
pilihan-pilihanku saja. Tapi yah, kalau pada akhirnya aku tetap tidak menemukan
apa-apa—“
Bukannya aku tidak
memikirkan kemungkinan kalau aku tidak menemukan hal yang ingin kulakukan. Tapi
ya sudahlah, jalani saja apa yang ada. Seperti sekarang, di mana secara
mengejutkan aku bisa hidup dengan cukup menyenangkan meski baru saja mengalami
patah hati terbesar abad ini.
“Kalau saat itu tiba, ya
biarlah.”
“...Sangat tidak
terencana, ya.”
“Tentu saja.”
—Karena, rencanaku yang
sebelumnya sudah benar-benar lenyap tak tersisa.
Aku ingin masuk ke
universitas yang sama, dengan jalur yang sama dengan Onee-chan. Universitas itu
bukan tipe universitas yang bisa diincar dari SMA biasa dengan nilai standar
seperti ini. Tapi, Onee-chan berhasil masuk ke sana.
Itulah sebabnya aku
belajar. Tidak puas hanya dengan nilai yang tinggi, aku belajar mati-matian
hingga berhasil meraih peringkat pertama di angkatan.
Namun, dengan jadwal kerja
paruh waktu di akhir pekan dan hari kerja, ditambah tidak ikut bimbingan
belajar dan hanya diajari oleh Onee-chan, kemampuanku hanya mentok di peringkat
kedua.
Mungkin di ujian
berikutnya nilaiku akan merosot lagi. Meskipun jam kerja paruh waktuku sudah
berkurang sehingga aku bisa mengamankan waktu untuk belajar, belajar secara
autodidak tanpa tempat les atau guru privat pasti memiliki batasan.
“Kalau Reni sendiri mau
bagaimana?”
“Lulus SMA, aku akan
langsung bekerja.”
“Terus setelah itu? Apa
kamu punya keinginan buka usaha sendiri, atau keinginan untuk menikah?”
“Entahlah, nanti saja
kupikirkan kalau aku sudah menginginkannya.”
“Kamu sendiri ternyata
sama sekali tidak punya rencana, kan!”
Saat aku membalas
ucapannya, ia tertawa kecil, “Kusu.”
Meskipun wajahnya langsung
kembali datar, senyum barusan itu benar-benar terlihat sangat alami.
(...Ternyata Reni
bisa membuat ekspresi seperti itu juga, ya.)
Perasaan berdebar sejenak
yang baru saja kurasakan, mari kita lupakan saja.
“Kenapa?”
Entah karena menyadari
reaksiku, Reni mengangkat wajahnya dan menatapku. Senyumnya tadi pasti muncul
tanpa ia sadari.
Wajah tanpa ekspresi yang
membuat orang tidak bisa menebak apa yang dipikirkannya—yang bahkan bisa
dianggap sebagai wajah marah oleh sebagian orang—tapi perlahan aku mulai
mengerti bahwa dia tidak sedang marah atau bad mood.
“Tidak ada apa-apa, kok.”
“Oh.”
Percakapan kami pun
berakhir di situ.
Walaupun percakapannya
sangat singkat, tapi dibandingkan hari pertama, ini sudah bisa dibilang jauh
lebih banyak mengobrol. Apakah dia sudah sedikit membuka hatinya padaku, ya.
•••
“A, aku mau minta tolong
temani belanja.”
Saat aku sedang memanaskan
sup daging babi (tonjiru) yang sudah disiapkan Himori sejak pagi sambil
memandangi kukuku yang dicat sangat rapi hingga memantulkan cahaya, Reni yang
berdiri di depan microwave dengan punggung menghadapku, tiba-tiba
mengajakku bicara.
“Hng? Kapan?”
“Kalau kamu santai, hari
ini juga, sekarang.”
Rice cooker menyelesaikan
proses penanakannya yang sudah diatur waktunya, dan berbunyi ‘pii’. Berarti
sekarang sudah jam 19.00 ya.
“Tidak mau pas Himori ada?
Hari ini dia bilang pulangnya malam, sih.”
“Kalau bawa Shuri pasti
bakal makan waktu lama.”
“...Benar juga.”
Karena ia mengatakannya
sambil mengerucutkan bibir, aku pun mengangguk setuju.
Ujung-ujungnya aku juga
beberapa kali menemaninya berbelanja sebagai tukang bawa barang setelah hari
itu, tapi momen di mana kami bisa langsung pulang setelah membeli apa yang
sudah direncanakan hanya terjadi saat berbelanja bahan makanan saja.
Malahan aneh rasanya
kenapa kalau beli bahan makanan mereka bisa langsung mengambil keputusan dengan
cepat. Padahal harusnya bahan makanan lebih membingungkan, kan.
Sebelumnya Himori
memberiku peringatan layaknya memperingatkan anak kecil, “Tolong jangan biarkan
Reni pergi keluar sendirian”, apakah sebenarnya dia ini buta arah yang sangat
parah atau semacamnya?
“Kamu sudah membuat kukuku
jadi bagus begini, tentu saja aku mau menemanimu. Tapi kalau kita tidak
berangkat segera setelah makan, tokonya keburu tutup lho.”
“Seingatku tokonya buka
sampai jam sembilan, jadi mungkin tidak apa-apa.”
“Dimengerti.”
Karena pancinya tidak
terlalu besar, sup tonjiru yang dibuat melimpah ruah itu tidak dituang
ke mangkuk biasa melainkan ke mangkuk besar. Reni kemudian menata hamburg
tahu yang sudah dipanaskannya di microwave ke atas piring.
Di dalam kulkas bahkan
sudah disiapkan salad. Benar-benar pelayanan yang sempurna.
Padahal saat dia pamit
pergi bermain bersama temannya, aku bilang kami akan mengurus makan malam
sendiri, tapi dia bilang “Itu sudah jadi kewajibanku~” dan bahkan rela bangun
lebih pagi dari biasanya untuk menyiapkannya. Aku sangat berterima kasih pada Himori.
Kami segera menyelesaikan
makan malam dan keluar rumah, namun tentu saja hari sudah gelap.
Meski kami pergi bersama,
hampir tidak ada obrolan selama di perjalanan. Bahkan setelah memasuki gedung
komersial di stasiun yang menjadi tujuan kami, Reni terus berjalan cepat
sendirian, meninggalkanku yang perlahan-lahan tertinggal di belakang.
Yah, pikirku asal ia masih
ada dalam pandanganku sudah cukup, jadi aku menjaga jarak secukupnya tanpa
memaksakan diri untuk menyusulnya—
Namun saat sekelompok
laki-laki muda yang berjalan dari arah berlawanan menargetkan Reni, aku bisa
langsung mengetahuinya dari belakang.
“Hei, manis—“
Saat salah satu laki-laki
itu memanggil, Reni yang sedari tadi berjalan sambil bermain ponsel pun
mendongakkan wajahnya. Bersamaan dengan itu, aku yang sudah menyusulnya
langsung menggenggam tangan Reni.
Reni menatapku dengan
wajah sedikit terkejut, lalu memiringkan kepalanya menatap laki-laki yang
mendekatinya. Wajahnya seolah berkata ‘Kenalanmu?’. Tentu saja bukan kenalanku.
Laki-laki yang gagal
menggoda itu pun pergi seraya mengumpat, “Baca situasi kek...”. Setelah melihat
mereka berjalan cukup jauh hingga suaraku tidak terdengar oleh mereka, barulah
aku mengatakan yang sebenarnya.
“Tadi itu orang yang mau
menggodamu.”
“Eh.”
Ternyata dia memang tidak
menyadarinya. Saat Reni menoleh ke belakang, sosok laki-laki itu sudah
menghilang.
Memang salahku juga
berjalan agak jauh darinya, tapi siapa sangka dia bakal digoda secepat ini.
Meskipun Reni luar biasa cantik, tapi kami baru saja sampai beberapa menit yang
lalu lho.
Kini aku baru menyadari
makna di balik peringatan Himori. Pantas saja, kalau digoda dengan kecepatan
secepat ini sih bahaya.
Apalagi kelihatannya Reni
tipe yang sama sekali tidak pandai menanggapi godaan semacam itu. Dia
kelihatannya tipe yang bakal langsung mengamuk.
“No, Nogi? Tangan...”
Baru sadar kalau tangannya
kugenggam, suaranya sedikit gemetar, jadi aku buru-buru melepaskannya.
“Aku tidak menyuruhmu
bergandengan tangan denganku, tapi tolong jangan berjalan terlalu jauh. Tidak
ada gunanya aku ikut kalau begini.”
“...Iya.”
Dia mengangguk dengan
sedikit malu. Apakah dia sempat lupa kalau Himori tidak ikut bersama kami?
Sejak saat itu, meskipun
tidak sampai bergandengan tangan, ia tetap menjaga jarak yang cukup dekat agar
terlihat bahwa kami datang berdua, tapi kami tetap diam tanpa membicarakan apa
pun.
Meskipun sedari tadi Reni
terus memegang ponselnya sambil berjalan, layar ponselnya sebenarnya tidak
menampilkan apa-apa.
“Ini bakal agak lama. Kamu
tunggu saja di sekitar sini.”
“Sip.”
Berhenti di depan sebuah
toko yang menjual perlengkapan nail art, Reni mengatakan hal itu lalu
masuk sendirian ke dalam.
Tidak ada pengunjung
laki-laki di dalam sana. Kalau di dalam situ sih dibiarkan pun tidak akan ada
yang menggodanya.
Karena kalau aku ikut
masuk pun hanya akan mengganggu, aku memutuskan untuk bersandar di dinding
dekat sana dan menunggu. Tak lama kemudian, terdengar suara yang sangat
familier.
“Aree~?”
—Deg, jantungku
berdegup kencang.
Keringat dingin mengalir.
Seluruh tubuhku terasa dingin seolah baru saja direndam dalam air es.
Perlahan-lahan, aku
menoleh ke belakang.
Sosok yang berdiri di sana
adalah Onee-chan—Nogi Tamaki. Orang yang hidup bersamaku selama 10 tahun, orang
yang paling berharga bagiku.
—Seharusnya begitu, tapi,
Debar jantung ini, pasti
bukan karena itu.
“Ternyata Shuu-kun~”
Onee-chan yang memakai
kardigan tipis di atas kemejanya—sepertinya baru pulang kerja—berlari
menghampiriku saat melihatku.
“...Onee-chan.”
“Lama tidak jumpa~,
Shuu-kun sedang belanja~?”
“I, iya.”
“Entah kenapa, rasanya
kamu jadi lebih besar setelah beberapa saat tidak bertemu, ya~?”
Onee-chan meluruskan
punggungnya dan mengelus kepalaku. Dengan gemas, seolah sedang memanjakan
seekor anjing ras besar.
Perbedaan tinggi kami
rasanya sedikit menyusut dari biasanya, mungkin karena ia sedang memakai sepatu
berhak.
Setelah puas mengelusku, Onee-chan
menurunkan tangannya—dan di jari manis tangan kirinya...
Melihat ada sebuah cincin
logam asing yang melingkar di sana, sejenak, asam lambungku rasanya naik ke
kerongkongan.
Aku menahannya sekuat
tenaga—berpura-pura batuk untuk mengatur napasku, lalu kembali menghadap Onee-chan.
Seperti biasa, Onee-chan memeluk lenganku seerat mungkin.
Menempelkan tubuhnya yang
lembut—tubuhku secara refleks hampir memberontak, namun dengan sekuat tenaga
kutahan gerakanku sendiri.
“...Onee-chan, sedang apa
di sini?”
“Habis pulang kerja aku
niatnya mau jalan-jalan lihat etalase toko gitu~? Terus tiba-tiba ada Shuu-kun,
aku jadi kaget tahu~. Tidak ada jadwal kerja paruh waktu~?”
“Ah, iya. Hari ini libur.
...Masih tinggal di daerah sini?”
“Karena tempat kerjaku di
arah sini, meskipun nanti pindah aku masih bakal sering ke daerah sini kok~?
Kapan pun kita bisa main, dan aku juga masih bisa mengajarimu belajar lho~?”
“...Begitu ya.”
Ada pepatah yang
mengatakan bahwa cinta itu buta. Kalimat itu memang benar adanya.
Pasti, sebenarnya sudah
ada banyak pertanda yang tidak kusadari selama ini.
Tapi, aku tidak pernah
menyadarinya. Aku terus menutup mata terhadap semuanya.
Itulah sebabnya, pada saat
itu—
Aku merasa duniaku hancur
berantakan di bawah kakiku.
Meskipun aku menahan rasa
mual yang melanda sambil berusaha memasang senyum basa-basi, apakah Onee-chan
menyadarinya?
Yah, dia pasti tidak
menyadarinya. Orang ini sama sekali tidak pernah memedulikan raut wajah orang
lain.
Selama aku masih
menyukainya, sifat itu terasa menyenangkan. Aku menyukai sosoknya yang selalu
mempertahankan sikap lembutnya tanpa memedulikan suasana atau dengan siapa dia
berhadapan.
Tetapi, kalau sekarang—
“Siapa kau?”
Suara sedingin air es itu
membuatku buru-buru menoleh ke belakang.
—Ternyata Reni.
Entah sudah selesai
belanja, Reni dengan kantong belanja kecil di tangannya, sedang menatap tajam
ke arah Onee-chan.
“Hng~?”
Onee-chan memiringkan
kepalanya, lalu menyadari bahwa ia sedang memeluk lenganku—
Seketika wajah Reni
memerah layaknya air mendidih. Ia meraih lenganku yang bebas, dan seakan tidak
mau kalah, ia memeluknya erat-erat. Tubuhnya yang tipis dan dingin, benar-benar
kebalikan dari Onee-chan.
Tindakan Reni yang sangat
tidak terduga ini sejenak membuat otakku kebingungan.
“Shuu-kun, anak ini
siapa~?”
“...Eh, eeto.”
Dalam situasi seperti ini,
bagaimana aku harus menjelaskannya—
Saat aku melirik ke arah
Reni untuk meminta bantuan, Reni menancapkan kukunya kuat-kuat ke lenganku, dan
dengan suara gemetar ia menjawab.
“A-aku pacarnya! Ada
masalah!?”
Eh?
“.........”
Sejenak Onee-chan
mengerutkan alisnya dengan raut wajah kebingungan, namun—
“Begitu ya, syukurlah~”
Ia langsung kembali
menunjukkan wajah cerianya yang biasa, lalu menggesekkan kepalanya padaku
sambil tertawa, “Shuu-kun ternyata bisa juga mencari pacar ya~.”
Mendapat reaksi seperti
itu, justru Reni yang terlihat panik. Wajahnya menegang dengan mulut sedikit
terbuka seolah mau mengatakan “Eh”, dan ia menatap bergantian lenganku yang tak
kunjung dilepaskan oleh Onee-chan, lalu menatap wajah Onee-chan.
Reni pasti tidak menyangka
kalau reaksi Onee-chan akan seperti ini dan ia bahkan tidak melepaskan
tangannya. Ya, dia memang orang yang seperti itu.
Namun, berkat interupsi
dari Reni, perasaanku menjadi jauh lebih tenang. Meskipun detak jantungku
mungkin belum normal sepenuhnya, tapi kepalaku sudah jernih. Yah walau wajah
Reni masih merah padam dan terlihat sangat kebingungan.
“...Onee-chan kan sudah
punya suami, jadi perbuatan yang seperti ini, sebaiknya dihentikan saja.”
Saat aku menarik perlahan
lenganku dari pelukannya, tangan Onee-chan masih menggapai-gapai seolah enggan
melepaskannya, lalu dengan suara kecil ia bergumam “Begitu ya~...” dan
tersenyum kecut.
—Seolah-olah, akulah yang
melakukan kesalahan.
Ah, selalu saja begitu.
Dari dulu, selalu saja
begitu.
Orang ini, benar-benar
tidak memiliki niat jahat sedikit pun di dalam hatinya.
Selain orang ini, aku
belum pernah bertemu manusia yang hidup sepenuhnya hanya berlandaskan niat
baik. Itulah mengapa aku jadi merasa kalau kitalah yang bersalah, kitalah yang
melukai perasaannya yang berhati malaikat itu.
Karena itulah, orang-orang
yang awalnya membencinya dan menganggapnya ‘tidak peka’, lambat laun akan mulai
bersimpati padanya.
Hanya dengan berada di
samping orang yang selalu bergerak murni dari niat baik ini, kita tidak perlu
repot-repot menjaga sikap. Itulah yang menjadikannya sebagai tempat bersandar,
lalu perlahan mulai bergantung padanya.
“Karena ada pacarmu di
sini ya~, maaf maaf, aku tadi tidak sopan ya~”
Sambil menepuk punggungku
berulang kali, Onee-chan kembali tertawa seperti biasanya.
Raut wajahnya yang
terlihat sedih tadi hanya bertahan sekejap. Mungkin sekarang dia sudah tidak
memikirkannya lagi. Dia bukanlah tipe orang yang akan meratapi kegagalan
komunikasi dengan orang lain.
“Ah, iya benar, surat
undangan! Aku harus memberikannya kalau ketemu Shuu-kun, rasanya tadi
kumasukkan ke sini~...”
Sambil mengatakan itu, ia
meletakkan tasnya di bangku terdekat dan mengaduk-aduk isinya. Melihat
pemandangan itu, Reni yang baru kembali menguasai kesadarannya, bergumam dengan
suara kecil.
“...Orang ini?”
“...Iya.”
“.........Begitu ya.”
Hanya dengan dialog
sesingkat itu, sepertinya Reni sudah mengerti.
Tanpa memedulikan
percakapan kami, Onee-chan berseru, “Ketemu~!” lalu mengeluarkan sebuah amplop
dari dalam tasnya dan mengangkatnya tinggi-tinggi.
“Ini, harus datang lho
ya~?”
Amplop yang disodorkannya
padaku itu mencetak nama sebuah hotel terkenal yang bahkan aku pun
mengetahuinya.
Orang ini, benar-benar
akan menikah ya.
Dia akan membangun
keluarga yang bahagia bersama orang yang tidak kukenal.
—Ah, aku tidak mau pergi.
Aku benar-benar tidak mau.
Sambil menekan kuat-kuat
perasaanku yang rasanya ingin segera merobek surat undangan itu detik ini juga,
aku membuka mulutku.
“...Terima kasih. Nanti
aku luangkan waktu.”
“Kalau begitu, nyamuk
pengganggu ini pamit undur diri. Sampai jumpa~”
“Ya, sampai jumpa.”
Aku dan Reni terus berdiam
di tempat kami, menatap sosok punggung Onee-chan yang berjalan menjauh seraya
melambaikan tangannya seakan-akan ini adalah perpisahan untuk selamanya, hingga
sosoknya lenyap dari pandangan.
“...Maaf.”
“Buat apa minta maaf.”
“Tidak, habisnya...,”
Saat aku berniat menarik
lenganku yang masih terus dipeluknya, dalam diam Reni menancapkan kuku-kukunya
ke lenganku.
Kuku tajamnya yang rasanya
cukup tajam untuk merobek bagian kulit yang lembut itu menusuk lenganku, dan
rasanya benar-benar sakit lho. Kalau aku tarik paksa, lenganku pasti bakal
compang-camping, kan.
“...Reni-san?”
Lenganku tidak bisa
dilepas, nih.
“B, bisa saja, dia masih
ada di sekitar sini kan.”
“...Memang benar sih,
tapi,”
“Kalau kamu tiba-tiba
melepaskan tangan dan kita jalan terpisah, ...nanti dia bisa curiga kalau
omonganku yang bilang aku pa, pacarmu tadi itu bohong, kan.”
Mana mungkin dia orang
yang berpikiran seperti itu—baru saja aku hendak mengucapkannya, mulutku
kembali tertutup.
Orang itu, bukanlah tipe
orang yang akan mencurigai perkataan orang lain sebagai kebohongan. Tapi, Reni
tidak tahu hal itu, dan aku tidak merasa bisa memberikannya penjelasan yang
masuk akal.
“Makanya, ...sampai kita
pulang, biarkan saja seperti ini.”
“Begitu ya. ...Terima
kasih, sangat membantu.”
Mendengar ucapanku, Reni
mendengus pelan “Hmph” dengan wajah yang sedikit memerah, lalu membuang muka.
Meskipun dia merasa malu,
dia masih sempat-sempatnya peduli padaku—meskipun aku sama sekali tidak paham
isi hati perempuan, setidaknya hal itu masih bisa kumengerti. Kalau aku tidak
menerima kebaikannya dengan jujur, itu sama saja tidak sopan pada Reni yang
sudah menolongku dengan repot-repot menyamar sebagai pacarku.
“Belanjamu sudah selesai?”
“Sudah.”
“Begitu ya. Ya sudah, ayo
kita pulang.”
“Iya.”
Meskipun berjalan sambil
bergandengan lengan adalah hal yang sudah biasa bagiku.
Namun, mungkin karena
perbedaan tinggi badan, langkah kami sangat berbeda, dan ritme jalan kami pun
tidak sama. Eh, tapi apa Reni biasanya berjalan dengan kecepatan secepat orang
lomba jalan cepat begini, ya.
“Hei,”
Berhenti di lampu merah
tepat di luar stasiun, Reni sedikit mendongak menatapku.
“Ya?”
“...Orang tadi itu, apa
sekarang kamu masih menyukainya?”
Sama sekali tidak menduga
akan mendapat pertanyaan seperti itu, sejenak aku bingung harus menjawab
apa—namun, senyum kecut segera meluncur dari mulutku.
“Pas bertemu dengannya
barusan aku jadi yakin.”
“.........”
“Sekarang, aku sudah tidak
merasakan apa-apa lagi padanya.”
Ah, akhirnya aku bisa
mengucapkannya.
—Cinta pertamaku, dalam
arti yang sesungguhnya telah berakhir hari ini.
Patah hati saja tidak
serta-merta mengakhirinya. Karena, patah hati itu hanya berarti ‘telah
ditolak’.
Selama perasaanku masih
ada untuknya, cinta pertama ini akan terus berlanjut.
Tapi sekarang, semuanya
sudah berakhir. Baru saja, aku akhirnya menyadari hal itu.
Andai aku sendirian tadi,
mungkin aku tidak akan tahan dan melarikan diri. Alasan percakapan tadi bisa
diselesaikan dengan tenang adalah murni berkat Reni.
Mungkin aku salah menilai
Reni selama ini. Meskipun bicaranya tajam dan tidak ramah, —ternyata, dia hanya
sedikit kaku saja dalam mengekspresikan perasaannya.
“Oh, gitu.”
Meski kata-katanya masih
terdengar sedingin biasanya. Tapi Nogi Meguru yang sekarang tahu dengan jelas,
bahwa Reni bukanlah orang yang dingin hatinya.
“Terima kasih, ya.”
“...Buat apa?”
“Tadi, kamu sudah
menolongku kan.”
“.........Bukan apa-apa.
Kamu sendiri, waktu itu juga menolongku, kan.”
“Yah, memang begitu sih.
Kalau begini kita impas, ya.”
“.........Belum impas,
tahu.”
“Belum?”
Reni, yang langsung
memalingkan wajahnya ke arah lain.
Entah mengapa, wajahnya
terlihat jauh lebih merah merona dibandingkan tadi.



Post a Comment