NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Dekkai Gyaru ke Chicchai Gyaru ga Shitsuren Shita Ore no Shinkyo ni Iribitatte Iru Volume 1 Chapter 6

Episode 6 “Karena Ini Tidak Buruk”


Kamar yang telah ditata ulang selama beberapa hari ini terlihat sangat berbeda dibandingkan saat aku masih tinggal sendirian.

 

Perubahan yang paling besar tentu saja adalah adanya karpet. Meskipun hanya selembar kain yang dihamparkan, hal itu saja sudah memberikan kesan bahwa ruangan ini benar-benar dihuni.

 

Yah, karena Himori yang memilih motifnya, karpet itu bergambar karakter yang imut—tapi, mari kita maklumi saja. Daripada tidak ada sama sekali, ini jauh lebih baik.

 

Meja rendah yang tadinya terlalu kecil untuk kami bertiga makan pun sudah diganti dengan yang baru. Hebatnya, meja besar ini bisa digunakan sebagai kotatsu (meja penghangat) di musim dingin nanti.

 

Ya, sebenarnya aku membelinya karena kebetulan melihat meja itu dijual diskon 70% sebagai barang sisa pajangan karena tidak laku di musim dingin.

 

Kami hanya membeli satu buah sofa bean bag yang empuk dan bisa membungkus tubuh, dan aturannya adalah ‘siapa cepat dia dapat’—namun saat Reni ada di rumah, hampir selalu dia yang menggunakannya.

 

Aku sih bisa menggunakannya kalau aku pulang lebih dulu, tapi karena aku tahu dia pasti akan bilang “Minggir” saat pulang nanti, aku memilih untuk terus menggunakan bantal duduk tipis seratus yen milikku.

 

Di kamar yang sebelumnya tidak kupakai, kini diletakkan beberapa kotak penyimpanan dan rak gantungan baju sebagai tempat meletakkan pakaian mereka berdua. Ranjang tambahan, sampai saat ini masih belum dibeli.

 

Karena sepulang sekolah Himori pergi bermain dengan teman sekelas, aku pun belajar di kamar yang tenang tanpa ada orang yang berinisiatif untuk mengobrol ini. Tiba-tiba, aku merasakan sebuah tatapan dan mengangkat wajahku.

 

Reni yang menyandarkan tubuhnya di sofa bean bag, tengah menatap tanganku dalam diam.

 

Aku meletakkan penaku dan membuka telapak tanganku. Setiap kali kapalan muncul dan pecah, kulitku menjadi semakin tebal.

 

Beberapa kukuku menghitam karena pendarahan dalam, dan permukaannya pun kasar bergerigi entah karena kurang nutrisi atau apa. Sepertinya jus sayuran memang tidak bisa menggantikan sayuran asli.

 

“Dari kemarin aku sudah mikir, tanganmu itu kotor banget.”

 

“Padahal aku rajin mencucinya lho!?”

 

“Bukan itu maksudnya, apa kamu merawatnya?”

 

“A, ah, maksudnya itu. Aku rutin memotong kuku sih, tapi...”

“...Dasar laki-laki.”

 

“Apa barusan aku dihina dari dimensi yang tidak kuketahui?”

 

Tangan itu gunanya dicuci, dan kuku itu dipotong, kan? Yah, gunting kuku seratus yen memang kurang tajam, jadi aku sadar itu membuat potongannya bergerigi. Walau tidak jorok, memang tidak bisa dibilang indah sih.

 

Jari-jari Reni yang panjang, putih, dan ramping itu tidak memiliki luka sedikit pun. Dengan nail art mencolok yang bahkan bisa memantulkan cahaya, wajar saja jika ia merasa tidak nyaman melihat tangan yang sangat mencerminkan tangan seorang pekerja kasar.

 

Reni mengangkat tubuhnya dari sofa, mendekatiku, dan menyodorkan telapak tangannya.

 

“Berikan tanganmu.”

 

“Guk, enak saja, siapa yang kau panggil anjing.”

 

Disuruh ngapain sih ini. Lagian kamu jangan pasang wajah datar begitu dong. Sedih rasanya. Setidaknya beri aku sedikit respons kek.

 

Reni yang menatap lekat-lekat tangan yang kuangsurkan kepadanya, kembali menghela napas.

 

“Kerja apa sampai bisa jadi begini...”

 

“Kerja paruh waktu.”

 

“...Kerja sambilan gelap (ilegal)?”

 

“Kerja terang-terangan (halal) tahu! Kalau kamu terus-terusan mengangkat barang berat atau keras, tangan siapa pun pasti bakal jadi begini.”

 

“Oh, gitu.”

 

“Kalau tidak tertarik jangan tanya dong...”

 

Ia menyentuh kukuku dengan lembut. Sentuhannya yang halus membuatku merasa sedikit geli.

 

Reni, apa suhu tubuhnya sedikit rendah ya. Tangannya terasa agak dingin. Sambil memikirkan hal itu, ia mengeluarkan sebuah krim dari tas kosmetik di dekatnya, dan mulai mengoleskannya ke tanganku tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

 

“Reni-san?”

 

Tidak ada reaksi. Yah, kuikuti saja kemauannya sebentar.

Setelah selesai mengoleskan krim, benda berikutnya yang Reni keluarkan adalah kikir berbentuk batang.

 

“Jangan bergerak.”

 

“A, ah.”

 

Nah, bagaimana dia akan menggunakan kikir ini, kukuku baru saja dipotong beberapa hari lalu jadi belum terlalu panjang, rasanya akan sulit untuk mengasahnya—Pikirku.

 

Namun Reni yang menggerakkan kikirnya dengan sangat terbiasa, mulai memoles kukuku mulai dari ujungnya yang bergerigi hingga ke permukaannya dengan mengganti-ganti sisi kikir secara teliti.

 

Aku tidak pernah memakai kikir yang menempel pada gunting kuku karena rasanya terlalu mengikis, tapi ini benar-benar alat yang khusus dibuat untuk memoles kuku, ya.

 

Tanpa ada perlawanan, permukaan kukuku menjadi rata. Ternyata kikir juga bisa dipakai untuk memoles permukaan, bukan cuma bagian ujung potongannya saja ya.

 

“Kamu kelihatannya terbiasa banget, sudah sering melakukannya ya?”

 

“Aku punya lisensinya kok.”

 

“Eh, hebat. Apa di masa depan kamu mau bekerja di tempat seperti itu?”




“Sekarang pun aku sudah kerja paruh waktu di sana.”

 

“B, begitu toh...”

 

Aku benar-benar tidak tahu apa-apa tentang Reni, ya. Walau kalau ditanya apa aku tahu banyak tentang Himori jawabannya juga tidak, tapi aku jauh lebih tidak tahu soal Reni.

 

Mungkin dia bekerja di tempat semacam salon nail art. Kalau begitu wajar saja dia sangat terbiasa.

 

“...Omong-omong, apa saat sedang bekerja kamu juga seperti ini?”

 

Mendengar pertanyaan itu, Reni menghentikan tangannya dan menatapku dengan wajah heran.

 

“Apanya?”

 

“Tidak, biasanya kan kamu jarang bicara... tapi itu kan pekerjaan melayani pelanggan, kan?”

 

“Apa yang harus kubicarakan denganmu? Apa obrolan soal fesyen atau kosmetik bakal nyambung?”

 

“Maaf. Aku yang salah.”

 

Begitu ya, dia diam saja karena tidak ada hal yang bisa dibicarakan denganku. Kalau diutarakan secara langsung seperti itu, jujur saja rasanya agak sedih.

Kalau kami sedang bertiga, Himori selalu mengobrol terus jadi aku tidak terlalu memikirkannya, tapi kalau sedang berduaan dengan Reni seperti hari ini, suasananya hampir selalu hening.

 

“...Kalau ada yang ingin kamu bicarakan, kamu duluan saja yang mulai. Setidaknya aku akan membalasnya kok.”

 

Ia bergumam dengan suara kecil. Karena ia menunduk menatap kukuku, aku tidak tahu ekspresi apa yang sedang ia tunjukkan, tapi sepertinya dia setidaknya cukup peduli perasaanku.

 

“Hmm... kapan kamu mendapatkan lisensi itu?”

 

“Saat SMP.”

 

“Berarti kamu sudah punya niat untuk menjadikannya pekerjaan sejak lama, ya. Apa ada alasan khususnya?”

 

Entah karena bingung harus menjawab apa, setelah diam beberapa detik, Reni perlahan membuka mulutnya.

 

“...Pelanggannya,”

 

“Pelanggan?”

 

“Yang datang cuma perempuan, kan.”

 

“...Benar juga, ya.”

 

“Makanya itu.”

 

“Eh, cuma itu saja alasannya?”

 

Ia mengangguk kecil. Kupikir bakal ada drama yang lebih panjang, ternyata alasannya jauh lebih sederhana dari dugaanku.

 

Yah, memang tidak bisa dibayangkan ada laki-laki yang pergi ke salon kuku. Aku sendiri tidak begitu mengerti kenapa kuku harus dihias sedemikian rupa, dan kebanyakan laki-laki pasti berpikir hal yang sama. Ini hanyalah masalah perbedaan nilai-nilai saja.

 

Percakapan yang kubangun dengan susah payah itu pun segera berakhir, dan waktu kembali mengalir dalam keheningan.

 

Setelah mengikir kuku, membersihkan kutikula (katanya kulit di antara kuku dan daging disebut begitu. Saat aku panik mengira kulitku akan dipotong pakai gunting, dia menjelaskannya padaku), saat aku pikir akhirnya selesai, ia mulai mengoleskan kuteks tanpa penjelasan apa pun.

 

Kalau dibuat heboh seperti kuku Reni sih aku bakal repot... tapi karena aku yakin dia tahu batasan itu, aku memutuskan untuk diam dan memperhatikannya.

 

Tepatnya, aku sempat bertanya “Apa itu?”, dan dia hanya menjawab “Base” lalu percakapan kami terputus. Setidaknya aku tahu itu bukan alat musik bas.

 

Setelah selesai mengoleskan kuteks bening yang disebut ‘base’ ke sepuluh jariku, ia masuk ke putaran kedua. Sepertinya ini memang harus dioleskan berlapis-lapis. Setelah pelapisan selesai, kuteks baru muncul lagi. Ini mau sampai kapan berlanjutnya?

Kuteks yang sedang dioleskan ini tidak mengandung serbuk kelap-kelip (glitter) dan warnanya juga tidak aneh. Warnanya kalem dan hampir sama dengan warna kulit.

 

Apa perlunya mengoleskan warna yang sama dengan kulit? Sempat kupikir begitu, tapi saat dibandingkan dengan kuku yang belum diolesi, perbedaannya sangat jelas.

 

Kilaunya berbeda. Permukaan yang kasar pun hilang. Dan yang terpenting, pendarahan dalam—bekas menghitam di balik kukuku, sama sekali tidak terlihat.

 

Setelah selesai kelima jari di satu tangan, Reni mengeluarkan sebuah mesin misterius. Sebuah alat berbentuk kubah yang memancarkan cahaya misterius, yang kadang kulihat ia gunakan.

 

“Masukkan tanganmu ke dalam sini.”

 

“Begini? ...Ini, bukan cahaya yang berbahaya, kan?”

 

“Itu cuma lampu LED biasa kok.”

 

“B, begitu ya. ...Lalu kenapa saat disinar—aduh, panas!?”

 

“Sebentar, jangan bergerak.”

 

Pergelangan tanganku yang hendak kutarik itu dipegang erat-erat olehnya.

 

Habisnya, aku kira kukuku terbakar—Namun, rasa panas itu hanya terasa sesaat, dan segera menghilang.

“Ini dirancang agar cairannya mengeras saat disinari cahaya tertentu. Tergantung orangnya, kadang memang bisa terasa panas.”

 

“Bisa tidak kamu bilang dari awal!?”

 

“...Kamu kan laki-laki, masa begini saja tidak bisa tahan.”

 

“Ya aku sih bisa tahan... tapi ternyata ada juga yang rasanya sepanas tadi ya.”

 

Selain karena di luar dugaan, panasnya tadi benar-benar bikin refleks menjerit lho.

 

“Itu karena aku cukup banyak mengikisnya untuk meratakan permukaan yang bergerigi tadi, jadi kukumu menjadi sedikit lebih tipis, kan?”

 

“Oh, gara-gara itu ya...”

 

Itu berarti dia sudah tahu dari awal kalau ini bakal terjadi, kan. Benar kan, harusnya dia bilang sebelum melakukannya.

 

“Sip, sudah selesai.”

 

Karena pergelangan tanganku dilepaskan, aku pun menariknya.

 

Permukaan yang sebelum disinari cahaya tampak sedikit berair, kini terasa halus dan memantulkan cahaya. Kilaunya membuatku merasa ini bukan kukuku sendiri.

Saat aku menyentuh permukaannya dengan ragu-ragu, terasa tekstur mulus yang aneh dan licin. Kilauan ini terasa agak artifisial, berbeda dengan kuku manusia asli.

 

“Ini, kalau dipakai cuci tangan seperti biasa tidak apa-apa kan? Kalau terbentur apa tidak akan langsung gompal atau...”

 

“Setidaknya ini jauh lebih kuat dari kuku aslimu. Kalau kamu merasa ingin memotong kuku, beritahu aku. Jangan pernah, jangan sekali-kali kamu memotongnya sendiri ya.”

 

“O, oke.”

 

“Lagipula ini belum selesai lho. Masih ada satu putaran lagi.”

 

“Masih mau dioles lagi!?”

 

“Kenapa, kamu ada urusan? Toh kamu paling cuma mau belajar, kan?”

 

“Apa bagi anak SMA, prioritas belajar itu serendah itu... !?”

 

Yah, aku memang belum pernah melihat Reni belajar di rumah sih. Himori juga sama.

 

Karena program IPA biasanya berisi murid-murid yang memiliki niat melanjutkan pendidikan yang tinggi, aku merasa sedikit janggal kenapa mereka berdua yang sama sekali tidak punya niat belajar ini memilih masuk kelas IPA.

 

“Berapa peringkatmu saat ujian akhir kelas 2 kemarin?”

“.........Kenapa aku harus menjawabnya.”

 

“Sekadar informasi, aku peringkat 2 lho.”

 

“Uwaah... Pamer kalau kamu pintar belajar, menjijikkan...”

 

“Jadi kamu peringkat berapa.”

 

“...Sekitar 200.”

 

“.........Begitu ya.”

 

Satu angkatan ada sekitar 230 murid, ini sih benar-benar di posisi paling bawah.

 

“...Apa Himori juga di sekitaran situ?”

 

“Anak itu ada di pertengahan.”

 

“Ah, begitu rupanya.”

 

Yah, sepertinya Himori mendengarkan pelajaran dengan normal.

Kalau Reni... meskipun buku cetaknya terbuka dengan benar, tidak sedang tidur siang, dan tidak diam-diam main ponsel, tapi saat pelajaran pikirannya selalu terlihat sedang melayang ke tempat lain. Ternyata dia memang sama sekali tidak mendengarkan.

 

“Mau kuajari belajar?”

 

“Eh, tidak usah...”

 

“...Begitu ya.”

 

Jawabannya yang datar sedikit membuatku sedih.

 

“Lagian aku tidak berniat masuk universitas, asal bisa lulus saja sudah cukup.”

 

“Tapi, kalau nilaimu seperti itu, kamu bakal kena kelas tambahan atau ujian perbaikan (remedial), kan.”

 

“Memang ada.”

 

Karena aku belum pernah berada di peringkat 200 dari 230 orang, ini cuma dugaanku saja, tapi bukankah nilainya pasti merah semua? Kudengar kalau ikut ujian perbaikan maka tidak akan tinggal kelas, dan nyatanya sampai aku naik ke kelas 3 pun, aku belum pernah mendengar ada murid yang tinggal kelas.

 

Yah, karena ada beberapa anak yang mengundurkan diri secara sukarela di akhir tahun ajaran, mungkin mereka memilih keluar daripada tinggal kelas.

 

“Apa kamu tidak punya pikiran untuk belajar demi menghindari nilai merah atau semacamnya?”

 

“Ujian perbaikan itu cuma ada di ujian akhir semester, jadi hanya tiga kali setahun lho. Daripada harus belajar selama 4 bulan penuh cuma buat menghindari remedial, bukannya jauh lebih efisien mengorbankan 1 hari saja untuk ikut kelas tambahan dan remedial?”

 

Ia membalasku dengan ekspresi yang seolah berkata ‘aku cuma mengatakan fakta yang sudah jelas’.

 

“T, tunggu dulu, SMA itu bukan sistem yang seperti itu, kan!?”

 

“Kenapa? Aku ke sekolah cuma supaya bisa menulis ‘Lulusan SMA’ di riwayat hidupku nanti, jadi wajar dong kalau aku mengutamakan efisiensi.”

 

“...Apakah itu wajar~?”

 

“Sangat wajar.”

 

Gawat, jalan pikirannya ternyata jauh lebih pragmatis dari yang kubayangkan. Ternyata ada ya orang yang memandang kehidupan SMA dengan cara seperti itu.

 

Benar juga, ada benarnya juga ucapan Reni ini. Aku tidak tahu bagaimana tepatnya sistem ujian perbaikan itu, tapi kalau Reni yang pergi ke sekolah dengan pola pikir seperti ini saja bisa naik kelas, berarti sistemnya bukan tipe yang ‘kalau nilai ujianmu tidak mencukupi, kamu pasti langsung tinggal kelas’.

 

Kalau begitu, mengikuti ujian perbaikan memang lebih efisien... tidak, mungkin efisien sih, tapi rasanya agak... salah, tidak sih...? Aku tidak bermaksud menceramahi kalau tugas utama pelajar adalah belajar, tapi ini rasanya terlalu pragmatis...

 

“...Kamu, suka belajar?”

 

“Yah, setidaknya tidak benci.”

“Kenapa...?”

 

Pertanyaannya barusan bukan karena dia merasa jijik, tapi murni karena penasaran. Aku bisa mengetahuinya dari nada suaranya.

 

“Dulu sih aku belajar dengan niat masuk ke universitas yang bagus... tapi kalau sekarang, kurasa alasannya berbeda.”

 

“Apa ada sesuatu yang ingin kamu lakukan di masa depan?”

 

“Tidak ada secara khusus. Makanya aku mau masuk universitas untuk mencari tahu apa itu.”

 

“...Maksudnya, mencari jati diri?”

 

“Yah, aku tidak bisa menyangkalnya. Tapi begini, kalau suatu saat aku sudah menemukan apa yang ingin kulakukan, aku tidak mau kalau sampai aku tidak punya kualifikasi untuk mengejarnya hanya karena aku dulu malas belajar.”

 

“Itu sih...”

 

Reni, dengan nada suara yang sedikit bingung, mungkin merasa ada benarnya, lalu melanjutkan, “Itu ada benarnya juga, ya.”

 

“Aku cuma ingin memperluas pilihan-pilihanku saja. Tapi yah, kalau pada akhirnya aku tetap tidak menemukan apa-apa—“

 

Bukannya aku tidak memikirkan kemungkinan kalau aku tidak menemukan hal yang ingin kulakukan. Tapi ya sudahlah, jalani saja apa yang ada. Seperti sekarang, di mana secara mengejutkan aku bisa hidup dengan cukup menyenangkan meski baru saja mengalami patah hati terbesar abad ini.

 

“Kalau saat itu tiba, ya biarlah.”

 

“...Sangat tidak terencana, ya.”

 

“Tentu saja.”

 

—Karena, rencanaku yang sebelumnya sudah benar-benar lenyap tak tersisa.

 

Aku ingin masuk ke universitas yang sama, dengan jalur yang sama dengan Onee-chan. Universitas itu bukan tipe universitas yang bisa diincar dari SMA biasa dengan nilai standar seperti ini. Tapi, Onee-chan berhasil masuk ke sana.

 

Itulah sebabnya aku belajar. Tidak puas hanya dengan nilai yang tinggi, aku belajar mati-matian hingga berhasil meraih peringkat pertama di angkatan.

 

Namun, dengan jadwal kerja paruh waktu di akhir pekan dan hari kerja, ditambah tidak ikut bimbingan belajar dan hanya diajari oleh Onee-chan, kemampuanku hanya mentok di peringkat kedua.

 

Mungkin di ujian berikutnya nilaiku akan merosot lagi. Meskipun jam kerja paruh waktuku sudah berkurang sehingga aku bisa mengamankan waktu untuk belajar, belajar secara autodidak tanpa tempat les atau guru privat pasti memiliki batasan.

 

“Kalau Reni sendiri mau bagaimana?”

“Lulus SMA, aku akan langsung bekerja.”

 

“Terus setelah itu? Apa kamu punya keinginan buka usaha sendiri, atau keinginan untuk menikah?”

 

“Entahlah, nanti saja kupikirkan kalau aku sudah menginginkannya.”

 

“Kamu sendiri ternyata sama sekali tidak punya rencana, kan!”

 

Saat aku membalas ucapannya, ia tertawa kecil, “Kusu.”

 

Meskipun wajahnya langsung kembali datar, senyum barusan itu benar-benar terlihat sangat alami.

 

(...Ternyata Reni bisa membuat ekspresi seperti itu juga, ya.)

 

Perasaan berdebar sejenak yang baru saja kurasakan, mari kita lupakan saja.

 

“Kenapa?”

 

Entah karena menyadari reaksiku, Reni mengangkat wajahnya dan menatapku. Senyumnya tadi pasti muncul tanpa ia sadari.

 

Wajah tanpa ekspresi yang membuat orang tidak bisa menebak apa yang dipikirkannya—yang bahkan bisa dianggap sebagai wajah marah oleh sebagian orang—tapi perlahan aku mulai mengerti bahwa dia tidak sedang marah atau bad mood.

 

“Tidak ada apa-apa, kok.”

“Oh.”

 

Percakapan kami pun berakhir di situ.

 

Walaupun percakapannya sangat singkat, tapi dibandingkan hari pertama, ini sudah bisa dibilang jauh lebih banyak mengobrol. Apakah dia sudah sedikit membuka hatinya padaku, ya.

 

 

•••

 

 

“A, aku mau minta tolong temani belanja.”

 

Saat aku sedang memanaskan sup daging babi (tonjiru) yang sudah disiapkan Himori sejak pagi sambil memandangi kukuku yang dicat sangat rapi hingga memantulkan cahaya, Reni yang berdiri di depan microwave dengan punggung menghadapku, tiba-tiba mengajakku bicara.

 

“Hng? Kapan?”

 

“Kalau kamu santai, hari ini juga, sekarang.”

 

Rice cooker menyelesaikan proses penanakannya yang sudah diatur waktunya, dan berbunyi ‘pii’. Berarti sekarang sudah jam 19.00 ya.

 

“Tidak mau pas Himori ada? Hari ini dia bilang pulangnya malam, sih.”

 

“Kalau bawa Shuri pasti bakal makan waktu lama.”

 

“...Benar juga.”

 

Karena ia mengatakannya sambil mengerucutkan bibir, aku pun mengangguk setuju.

 

Ujung-ujungnya aku juga beberapa kali menemaninya berbelanja sebagai tukang bawa barang setelah hari itu, tapi momen di mana kami bisa langsung pulang setelah membeli apa yang sudah direncanakan hanya terjadi saat berbelanja bahan makanan saja.

 

Malahan aneh rasanya kenapa kalau beli bahan makanan mereka bisa langsung mengambil keputusan dengan cepat. Padahal harusnya bahan makanan lebih membingungkan, kan.

 

Sebelumnya Himori memberiku peringatan layaknya memperingatkan anak kecil, “Tolong jangan biarkan Reni pergi keluar sendirian”, apakah sebenarnya dia ini buta arah yang sangat parah atau semacamnya?

 

“Kamu sudah membuat kukuku jadi bagus begini, tentu saja aku mau menemanimu. Tapi kalau kita tidak berangkat segera setelah makan, tokonya keburu tutup lho.”

 

“Seingatku tokonya buka sampai jam sembilan, jadi mungkin tidak apa-apa.”

 

“Dimengerti.”

 

Karena pancinya tidak terlalu besar, sup tonjiru yang dibuat melimpah ruah itu tidak dituang ke mangkuk biasa melainkan ke mangkuk besar. Reni kemudian menata hamburg tahu yang sudah dipanaskannya di microwave ke atas piring.

 

Di dalam kulkas bahkan sudah disiapkan salad. Benar-benar pelayanan yang sempurna.

 

Padahal saat dia pamit pergi bermain bersama temannya, aku bilang kami akan mengurus makan malam sendiri, tapi dia bilang “Itu sudah jadi kewajibanku~” dan bahkan rela bangun lebih pagi dari biasanya untuk menyiapkannya. Aku sangat berterima kasih pada Himori.

 

Kami segera menyelesaikan makan malam dan keluar rumah, namun tentu saja hari sudah gelap.

 

Meski kami pergi bersama, hampir tidak ada obrolan selama di perjalanan. Bahkan setelah memasuki gedung komersial di stasiun yang menjadi tujuan kami, Reni terus berjalan cepat sendirian, meninggalkanku yang perlahan-lahan tertinggal di belakang.

 

Yah, pikirku asal ia masih ada dalam pandanganku sudah cukup, jadi aku menjaga jarak secukupnya tanpa memaksakan diri untuk menyusulnya—

 

Namun saat sekelompok laki-laki muda yang berjalan dari arah berlawanan menargetkan Reni, aku bisa langsung mengetahuinya dari belakang.

 

“Hei, manis—“

Saat salah satu laki-laki itu memanggil, Reni yang sedari tadi berjalan sambil bermain ponsel pun mendongakkan wajahnya. Bersamaan dengan itu, aku yang sudah menyusulnya langsung menggenggam tangan Reni.

 

Reni menatapku dengan wajah sedikit terkejut, lalu memiringkan kepalanya menatap laki-laki yang mendekatinya. Wajahnya seolah berkata ‘Kenalanmu?’. Tentu saja bukan kenalanku.

 

Laki-laki yang gagal menggoda itu pun pergi seraya mengumpat, “Baca situasi kek...”. Setelah melihat mereka berjalan cukup jauh hingga suaraku tidak terdengar oleh mereka, barulah aku mengatakan yang sebenarnya.

 

“Tadi itu orang yang mau menggodamu.”

 

“Eh.”

 

Ternyata dia memang tidak menyadarinya. Saat Reni menoleh ke belakang, sosok laki-laki itu sudah menghilang.

 

Memang salahku juga berjalan agak jauh darinya, tapi siapa sangka dia bakal digoda secepat ini. Meskipun Reni luar biasa cantik, tapi kami baru saja sampai beberapa menit yang lalu lho.

 

Kini aku baru menyadari makna di balik peringatan Himori. Pantas saja, kalau digoda dengan kecepatan secepat ini sih bahaya.

 

Apalagi kelihatannya Reni tipe yang sama sekali tidak pandai menanggapi godaan semacam itu. Dia kelihatannya tipe yang bakal langsung mengamuk.

“No, Nogi? Tangan...”

 

Baru sadar kalau tangannya kugenggam, suaranya sedikit gemetar, jadi aku buru-buru melepaskannya.

 

“Aku tidak menyuruhmu bergandengan tangan denganku, tapi tolong jangan berjalan terlalu jauh. Tidak ada gunanya aku ikut kalau begini.”

 

“...Iya.”

 

Dia mengangguk dengan sedikit malu. Apakah dia sempat lupa kalau Himori tidak ikut bersama kami?

 

Sejak saat itu, meskipun tidak sampai bergandengan tangan, ia tetap menjaga jarak yang cukup dekat agar terlihat bahwa kami datang berdua, tapi kami tetap diam tanpa membicarakan apa pun.

 

Meskipun sedari tadi Reni terus memegang ponselnya sambil berjalan, layar ponselnya sebenarnya tidak menampilkan apa-apa.

 

“Ini bakal agak lama. Kamu tunggu saja di sekitar sini.”

 

“Sip.”

 

Berhenti di depan sebuah toko yang menjual perlengkapan nail art, Reni mengatakan hal itu lalu masuk sendirian ke dalam.

 

Tidak ada pengunjung laki-laki di dalam sana. Kalau di dalam situ sih dibiarkan pun tidak akan ada yang menggodanya.

 

Karena kalau aku ikut masuk pun hanya akan mengganggu, aku memutuskan untuk bersandar di dinding dekat sana dan menunggu. Tak lama kemudian, terdengar suara yang sangat familier.

 

“Aree~?”

 

Deg, jantungku berdegup kencang.

 

Keringat dingin mengalir. Seluruh tubuhku terasa dingin seolah baru saja direndam dalam air es.

 

Perlahan-lahan, aku menoleh ke belakang.

 

Sosok yang berdiri di sana adalah Onee-chan—Nogi Tamaki. Orang yang hidup bersamaku selama 10 tahun, orang yang paling berharga bagiku.

 

—Seharusnya begitu, tapi,

 

Debar jantung ini, pasti bukan karena itu.

 

“Ternyata Shuu-kun~”

 

Onee-chan yang memakai kardigan tipis di atas kemejanya—sepertinya baru pulang kerja—berlari menghampiriku saat melihatku.

 

“...Onee-chan.”

 

“Lama tidak jumpa~, Shuu-kun sedang belanja~?”

“I, iya.”

 

“Entah kenapa, rasanya kamu jadi lebih besar setelah beberapa saat tidak bertemu, ya~?”

 

Onee-chan meluruskan punggungnya dan mengelus kepalaku. Dengan gemas, seolah sedang memanjakan seekor anjing ras besar.

 

Perbedaan tinggi kami rasanya sedikit menyusut dari biasanya, mungkin karena ia sedang memakai sepatu berhak.

 

Setelah puas mengelusku, Onee-chan menurunkan tangannya—dan di jari manis tangan kirinya...

 

Melihat ada sebuah cincin logam asing yang melingkar di sana, sejenak, asam lambungku rasanya naik ke kerongkongan.

 

Aku menahannya sekuat tenaga—berpura-pura batuk untuk mengatur napasku, lalu kembali menghadap Onee-chan. Seperti biasa, Onee-chan memeluk lenganku seerat mungkin.

 

Menempelkan tubuhnya yang lembut—tubuhku secara refleks hampir memberontak, namun dengan sekuat tenaga kutahan gerakanku sendiri.

 

“...Onee-chan, sedang apa di sini?”

 

“Habis pulang kerja aku niatnya mau jalan-jalan lihat etalase toko gitu~? Terus tiba-tiba ada Shuu-kun, aku jadi kaget tahu~. Tidak ada jadwal kerja paruh waktu~?”

“Ah, iya. Hari ini libur. ...Masih tinggal di daerah sini?”

 

“Karena tempat kerjaku di arah sini, meskipun nanti pindah aku masih bakal sering ke daerah sini kok~? Kapan pun kita bisa main, dan aku juga masih bisa mengajarimu belajar lho~?”

 

“...Begitu ya.”

 

Ada pepatah yang mengatakan bahwa cinta itu buta. Kalimat itu memang benar adanya.

 

Pasti, sebenarnya sudah ada banyak pertanda yang tidak kusadari selama ini.

 

Tapi, aku tidak pernah menyadarinya. Aku terus menutup mata terhadap semuanya.

 

Itulah sebabnya, pada saat itu—

 

Aku merasa duniaku hancur berantakan di bawah kakiku.

 

Meskipun aku menahan rasa mual yang melanda sambil berusaha memasang senyum basa-basi, apakah Onee-chan menyadarinya?

Yah, dia pasti tidak menyadarinya. Orang ini sama sekali tidak pernah memedulikan raut wajah orang lain.

 

Selama aku masih menyukainya, sifat itu terasa menyenangkan. Aku menyukai sosoknya yang selalu mempertahankan sikap lembutnya tanpa memedulikan suasana atau dengan siapa dia berhadapan.

 

Tetapi, kalau sekarang—

 

“Siapa kau?”

 

Suara sedingin air es itu membuatku buru-buru menoleh ke belakang.

 

—Ternyata Reni.

 

Entah sudah selesai belanja, Reni dengan kantong belanja kecil di tangannya, sedang menatap tajam ke arah Onee-chan.

 

“Hng~?”

 

Onee-chan memiringkan kepalanya, lalu menyadari bahwa ia sedang memeluk lenganku—

 

Seketika wajah Reni memerah layaknya air mendidih. Ia meraih lenganku yang bebas, dan seakan tidak mau kalah, ia memeluknya erat-erat. Tubuhnya yang tipis dan dingin, benar-benar kebalikan dari Onee-chan.

 

Tindakan Reni yang sangat tidak terduga ini sejenak membuat otakku kebingungan.

 

“Shuu-kun, anak ini siapa~?”

 

“...Eh, eeto.”

 

Dalam situasi seperti ini, bagaimana aku harus menjelaskannya—

Saat aku melirik ke arah Reni untuk meminta bantuan, Reni menancapkan kukunya kuat-kuat ke lenganku, dan dengan suara gemetar ia menjawab.

 

“A-aku pacarnya! Ada masalah!?”

 

Eh?

 

“.........”

 

Sejenak Onee-chan mengerutkan alisnya dengan raut wajah kebingungan, namun—

 

“Begitu ya, syukurlah~”

 

Ia langsung kembali menunjukkan wajah cerianya yang biasa, lalu menggesekkan kepalanya padaku sambil tertawa, “Shuu-kun ternyata bisa juga mencari pacar ya~.”

 

Mendapat reaksi seperti itu, justru Reni yang terlihat panik. Wajahnya menegang dengan mulut sedikit terbuka seolah mau mengatakan “Eh”, dan ia menatap bergantian lenganku yang tak kunjung dilepaskan oleh Onee-chan, lalu menatap wajah Onee-chan.

 

Reni pasti tidak menyangka kalau reaksi Onee-chan akan seperti ini dan ia bahkan tidak melepaskan tangannya. Ya, dia memang orang yang seperti itu.




Namun, berkat interupsi dari Reni, perasaanku menjadi jauh lebih tenang. Meskipun detak jantungku mungkin belum normal sepenuhnya, tapi kepalaku sudah jernih. Yah walau wajah Reni masih merah padam dan terlihat sangat kebingungan.

 

“...Onee-chan kan sudah punya suami, jadi perbuatan yang seperti ini, sebaiknya dihentikan saja.”

 

Saat aku menarik perlahan lenganku dari pelukannya, tangan Onee-chan masih menggapai-gapai seolah enggan melepaskannya, lalu dengan suara kecil ia bergumam “Begitu ya~...” dan tersenyum kecut.

 

—Seolah-olah, akulah yang melakukan kesalahan.

 

Ah, selalu saja begitu.

 

Dari dulu, selalu saja begitu.

 

Orang ini, benar-benar tidak memiliki niat jahat sedikit pun di dalam hatinya.

 

Selain orang ini, aku belum pernah bertemu manusia yang hidup sepenuhnya hanya berlandaskan niat baik. Itulah mengapa aku jadi merasa kalau kitalah yang bersalah, kitalah yang melukai perasaannya yang berhati malaikat itu.

 

Karena itulah, orang-orang yang awalnya membencinya dan menganggapnya ‘tidak peka’, lambat laun akan mulai bersimpati padanya.

 

Hanya dengan berada di samping orang yang selalu bergerak murni dari niat baik ini, kita tidak perlu repot-repot menjaga sikap. Itulah yang menjadikannya sebagai tempat bersandar, lalu perlahan mulai bergantung padanya.

 

“Karena ada pacarmu di sini ya~, maaf maaf, aku tadi tidak sopan ya~”

 

Sambil menepuk punggungku berulang kali, Onee-chan kembali tertawa seperti biasanya.

 

Raut wajahnya yang terlihat sedih tadi hanya bertahan sekejap. Mungkin sekarang dia sudah tidak memikirkannya lagi. Dia bukanlah tipe orang yang akan meratapi kegagalan komunikasi dengan orang lain.

 

“Ah, iya benar, surat undangan! Aku harus memberikannya kalau ketemu Shuu-kun, rasanya tadi kumasukkan ke sini~...”

 

Sambil mengatakan itu, ia meletakkan tasnya di bangku terdekat dan mengaduk-aduk isinya. Melihat pemandangan itu, Reni yang baru kembali menguasai kesadarannya, bergumam dengan suara kecil.

 

“...Orang ini?”

 

“...Iya.”

 

“.........Begitu ya.”

 

Hanya dengan dialog sesingkat itu, sepertinya Reni sudah mengerti.

 

Tanpa memedulikan percakapan kami, Onee-chan berseru, “Ketemu~!” lalu mengeluarkan sebuah amplop dari dalam tasnya dan mengangkatnya tinggi-tinggi.

 

“Ini, harus datang lho ya~?”

 

Amplop yang disodorkannya padaku itu mencetak nama sebuah hotel terkenal yang bahkan aku pun mengetahuinya.

 

Orang ini, benar-benar akan menikah ya.

 

Dia akan membangun keluarga yang bahagia bersama orang yang tidak kukenal.

 

—Ah, aku tidak mau pergi. Aku benar-benar tidak mau.

 

Sambil menekan kuat-kuat perasaanku yang rasanya ingin segera merobek surat undangan itu detik ini juga, aku membuka mulutku.

 

“...Terima kasih. Nanti aku luangkan waktu.”

 

“Kalau begitu, nyamuk pengganggu ini pamit undur diri. Sampai jumpa~”

 

“Ya, sampai jumpa.”

 

Aku dan Reni terus berdiam di tempat kami, menatap sosok punggung Onee-chan yang berjalan menjauh seraya melambaikan tangannya seakan-akan ini adalah perpisahan untuk selamanya, hingga sosoknya lenyap dari pandangan.

 

“...Maaf.”

 

“Buat apa minta maaf.”

 

“Tidak, habisnya...,”

 

Saat aku berniat menarik lenganku yang masih terus dipeluknya, dalam diam Reni menancapkan kuku-kukunya ke lenganku.

 

Kuku tajamnya yang rasanya cukup tajam untuk merobek bagian kulit yang lembut itu menusuk lenganku, dan rasanya benar-benar sakit lho. Kalau aku tarik paksa, lenganku pasti bakal compang-camping, kan.

 

“...Reni-san?”

 

Lenganku tidak bisa dilepas, nih.

 

“B, bisa saja, dia masih ada di sekitar sini kan.”

 

“...Memang benar sih, tapi,”

 

“Kalau kamu tiba-tiba melepaskan tangan dan kita jalan terpisah, ...nanti dia bisa curiga kalau omonganku yang bilang aku pa, pacarmu tadi itu bohong, kan.”

 

Mana mungkin dia orang yang berpikiran seperti itu—baru saja aku hendak mengucapkannya, mulutku kembali tertutup.

 

Orang itu, bukanlah tipe orang yang akan mencurigai perkataan orang lain sebagai kebohongan. Tapi, Reni tidak tahu hal itu, dan aku tidak merasa bisa memberikannya penjelasan yang masuk akal.

 

“Makanya, ...sampai kita pulang, biarkan saja seperti ini.”

 

“Begitu ya. ...Terima kasih, sangat membantu.”

 

Mendengar ucapanku, Reni mendengus pelan “Hmph” dengan wajah yang sedikit memerah, lalu membuang muka.

 

Meskipun dia merasa malu, dia masih sempat-sempatnya peduli padaku—meskipun aku sama sekali tidak paham isi hati perempuan, setidaknya hal itu masih bisa kumengerti. Kalau aku tidak menerima kebaikannya dengan jujur, itu sama saja tidak sopan pada Reni yang sudah menolongku dengan repot-repot menyamar sebagai pacarku.

 

“Belanjamu sudah selesai?”

 

“Sudah.”

 

“Begitu ya. Ya sudah, ayo kita pulang.”

 

“Iya.”

 

Meskipun berjalan sambil bergandengan lengan adalah hal yang sudah biasa bagiku.

 

Namun, mungkin karena perbedaan tinggi badan, langkah kami sangat berbeda, dan ritme jalan kami pun tidak sama. Eh, tapi apa Reni biasanya berjalan dengan kecepatan secepat orang lomba jalan cepat begini, ya.

 

“Hei,”

 

Berhenti di lampu merah tepat di luar stasiun, Reni sedikit mendongak menatapku.

 

“Ya?”

 

“...Orang tadi itu, apa sekarang kamu masih menyukainya?”

 

Sama sekali tidak menduga akan mendapat pertanyaan seperti itu, sejenak aku bingung harus menjawab apa—namun, senyum kecut segera meluncur dari mulutku.

 

“Pas bertemu dengannya barusan aku jadi yakin.”

 

“.........”

 

“Sekarang, aku sudah tidak merasakan apa-apa lagi padanya.”

 

Ah, akhirnya aku bisa mengucapkannya.

 

—Cinta pertamaku, dalam arti yang sesungguhnya telah berakhir hari ini.

 

Patah hati saja tidak serta-merta mengakhirinya. Karena, patah hati itu hanya berarti ‘telah ditolak’.

 

Selama perasaanku masih ada untuknya, cinta pertama ini akan terus berlanjut.

 

Tapi sekarang, semuanya sudah berakhir. Baru saja, aku akhirnya menyadari hal itu.

 

Andai aku sendirian tadi, mungkin aku tidak akan tahan dan melarikan diri. Alasan percakapan tadi bisa diselesaikan dengan tenang adalah murni berkat Reni.

 

Mungkin aku salah menilai Reni selama ini. Meskipun bicaranya tajam dan tidak ramah, —ternyata, dia hanya sedikit kaku saja dalam mengekspresikan perasaannya.

 

“Oh, gitu.”

 

Meski kata-katanya masih terdengar sedingin biasanya. Tapi Nogi Meguru yang sekarang tahu dengan jelas, bahwa Reni bukanlah orang yang dingin hatinya.

 

“Terima kasih, ya.”

 

“...Buat apa?”

 

“Tadi, kamu sudah menolongku kan.”

 

“.........Bukan apa-apa. Kamu sendiri, waktu itu juga menolongku, kan.”

 

“Yah, memang begitu sih. Kalau begini kita impas, ya.”

 

“.........Belum impas, tahu.”

 

“Belum?”

 

Reni, yang langsung memalingkan wajahnya ke arah lain.

 

Entah mengapa, wajahnya terlihat jauh lebih merah merona dibandingkan tadi.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close