Interlude 4
Ini bukanlah
puisi yang ditujukan untukku.
Fakta itu terasa
begitu menyedihkan hingga aku tak sanggup untuk tetap berada di sana.
Aku yang
menantikan konser Natsu dan Seri lebih dari siapa pun, kini bahkan tak sanggup
untuk melihatnya.
Meskipun aku
meringkuk di atap sekolah, suara Natsu dan alunan musik mereka tetap terdengar
sampai ke sini.
Konser
itu begitu meriah, tetapi hatiku justru tenggelam ke dasar yang paling dalam.
Teman-teman
sekelas semuanya pergi menonton konser Natsu. Aku sempat bilang akan menyusul nanti.
Namun,
aku tak punya keyakinan untuk bisa bersikap seperti biasa, dan akhirnya aku
malah berakhir di tempat seperti ini.
Sungguh
manusia yang lemah. Air mata yang terus berjatuhan tak kunjung berhenti.
Terdengar bunyi pintu atap terbuka. Tanpa perlu mendongak pun, aku sudah tahu
siapa orang itu.
Seseorang itu
duduk di sampingku tanpa berkata apa-apa. Dari dulu memang selalu begitu.
Saat aku
menangis, saat aku merasa terpuruk, hanya Tatsu yang selalu mencariku dan tetap
berada di sisiku.
"......Konsernya,
tidak apa-apa kalau tidak menonton?"
Aku berusaha
memaksakan diri mengeluarkan suara. Tatsu terdiam sejenak sebelum akhirnya
membuka mulut.
"Jangan
pedulikan aku. Menangislah kalau kamu ingin menangis."
Karena Tatsu
berkata begitu, air mata yang tadi sempat kutahan kembali meluap dari sudut
mataku.
Isak tangis lolos
dari mulutku. Di sela-sela itu, lagu Natsu dan yang lainnya masih terdengar.
Lagu yang Natsu
ciptakan untuk Hikarin. Lagu tentang seorang anak laki-laki pengecut yang
mencoba mengungkapkan cintanya.
Lagu yang bagus.
Benar-benar bagus. Lagu terbaik di dunia ini. Aku tak tahu mengapa mendengar
lagu yang begitu indah ini justru membuat air mataku semakin tak terbendung.
Jika aku tak
memiliki rasa cinta ini, apakah aku bisa menikmati konser mereka dengan murni?
Namun, aku merasa
jika tanpa rasa cinta ini, lagu tersebut mungkin tidak akan menyentuh hatiku
sedalam ini. Kalau begitu... aku bersyukur memiliki perasaan ini.
Ini adalah cinta
yang tak akan terwujud. Meskipun begitu, aku bersyukur pernah mencintaimu.
Aku bersyukur
memiliki kepekaan yang membuatku bisa memahami bahwa lagu ini memang
benar-benar indah.
Maafkan aku,
Natsu. Padahal kita sudah berjanji kalau aku akan menonton konsermu di barisan
paling depan.
Andai saja aku
adalah orang yang lebih kuat. Aku ingin bisa melihat konsermu dengan senyuman.
Namun, aku lemah.
Bagiku yang lemah ini, dirimu yang sekarang tampak terlalu menyilaukan.
Aku tidak bisa
menjadi sepertimu.
Aku berdoa agar
kamu bahagia. Agar aku bisa membuang jauh-jauh rasa yang tertinggal ini.
Meski saat itu
nanti yang berada di sampingmu bukanlah aku, itu tidak masalah.
Aku akan mencoba
untuk bisa mengatakan hal itu dengan yakin.
Lain kali saat
aku berbicara dengan Natsu, aku akan menunjukkan senyuman dan menyampaikan hal
itu.
......Tetapi
untuk saat ini saja, biarkanlah aku seperti ini sedikit lebih lama lagi.



Post a Comment