Chapter 4
Musik Kita
Persiapan festival budaya pun dimulai. Masa persiapan
dimulai empat hari sebelum hari-H, di mana dekorasi kelas dan sejenisnya mulai
diizinkan.
Kelas 1-2 kami
memutuskan untuk membuka kafe. Karena aturan untuk stan makanan cukup ketat,
para penanggung jawab masak harus menerima arahan dari guru tata boga.
Aku sendiri
bertugas di bagian pelayanan, jadi pekerjaanku tidak lebih dari mendekorasi dan
persiapan awal. Sekolah tiba-tiba menjadi sangat ramai.
Karena tidak bisa
membantu persiapan setelah pulang sekolah akibat kegiatan klub, aku mengambil
inisiatif untuk membantu saat jam istirahat.
"Ah,
sudahlah. Padahal aku sudah mengandalkan Haibara-kun..."
Fujiwara, panitia
pelaksana, berkata dengan nada tidak puas. Aku hanya bisa tertawa pahit sambil
berkata, "Maaf, maaf."
"Lagipula,
kau tiba-tiba saja masuk klub musik ringan, sih."
"Itu
sebabnya sekarang aku sedang berusaha keras di jam istirahat, bukan?"
"Anak-anak
klub memang selalu bilang begitu, tapi anak-anak yang tidak ikut klub atau klub
budaya sudah bekerja lebih lama setelah pulang sekolah, tahu? Berkat mereka,
semua pernak-pernik ini sudah jadi."
"Iya, iya,
aku salah. Maafkan aku."
Fujiwara
menatapku yang terus meminta maaf, lalu mengembuskan napas panjang.
"Haa... ya
sudahlah. Aku maafkan kalau Haibara-kun memberikan penampilan terbaik saat
konser nanti."
"Informasi
kalau aku bakal tampil di konser sudah tersebar luas, ya..."
"Tentu saja,
kan kau selebriti. Semua orang pasti akan datang menonton, jadi jangan sampai
kalah oleh tekanan, ya?"
"Jangan
khawatir. Aku akan membuat mereka terkesan, jadi datanglah menonton bersama
Hino."
"Eh..."
Wajah Fujiwara
memerah.
"Kalau
begitu, aku permisi ke toilet sebentar."
Aku segera keluar
dari kelas, sudah mengantisipasi reaksi malu-malu yang akan dia berikan setelah
ini.
Lorong sekolah
cukup ramai. Banyak siswa berlalu-lalang untuk menyiapkan stan kelas mereka
masing-masing.
Selama masa
persiapan, terkadang kami diberi waktu kosong pada jam pelajaran kelima atau
keenam, tapi itu jelas tidak cukup. Festival budaya sekolah kami adalah yang
terbesar di daerah ini, lagipula.
"Natsuki,
bagaimana keadaan kelas 2?"
Miori menyapaku.
"Lumayan.
Karena kafe, jadi tidak ada persiapan yang terlalu rumit... meski aku yang
jarang membantu ini tidak pantas bicara begitu. Kalau kau? Rumah hantu,
kan?"
"Kami sedang
sibuk menyiapkan properti kecil. Modifikasi kelas baru bisa dilakukan besok
siang, jadi kami harus merancang dan membuatnya semua sebelum itu. Lihat ini,
hantu!"
Miori mengenakan
jubah putih dan wig rambut hitam, lalu menakut-nakutiku. Cukup menyeramkan
juga.
"Kualitasnya
tinggi untuk ukuran rumah hantu anak sekolah, ya."
"Iyakan?
Panitia pelaksana kami orangnya sangat perfeksionis."
Saat kami sedang
asyik mengobrol, seorang siswi dari dalam kelas memanggil, "Miori, jangan
main-main, bantu kami!" Miori merespons dengan tidak puas, "Eeeh,
baiklah."
"Kalau
begitu, Natsuki. Sampai nanti ya."
"Ah, iya. Miori, kau akan berkeliling
festival budaya bersama Reita?"
"......Kurasa
begitu, memang kenapa?"
"Datanglah
menonton berdua. Konser kami."
"Tanpa
kau suruh pun aku pasti datang. Kan ada Serika di sana."
Miori
mengangkat bahu dan kembali ke dalam kelas. Aku lega karena dia akan datang.
Aku ingin Miori melihat diriku yang sudah berubah.
"Ah,
Natsuki."
Sambil
muncul secara tiba-tiba, Serika keluar dari kelas.
"Jadwal panggung festival budaya baru saja keluar. Klub
musik ringan mendapat giliran di hari kedua, sesi terakhir, dengan jatah waktu
lima belas menit per kelompok."
"Lima belas
menit, ya. Yah, tidak heran."
"Ya. Kurasa
kita bisa membawakan tiga lagu tanpa masalah."
"Bagaimana
urutan di dalam klub musik ringan?"
"Tadinya aku
mencoba negosiasi dengan ketua, tapi dia bilang, 'Kalau kami tampil setelah
kalian, suasananya bakal jadi neraka, tahu,' jadi akhirnya kita yang jadi
penutup. Yah, bagiku itu lebih baik, jadi aku tidak protes."
Aku bisa mengerti
maksudnya.
Bahkan tanpa itu
pun, setiap anggota sudah sangat mahir, dan dengan latihan intensif, level band
ini sudah mencapai tingkat yang luar biasa. ...Sayangnya, itu dengan syarat
"kecuali aku", yang mana itu bagian yang menyedihkan.
"Jadi, kita
penampil terakhir di seluruh rangkaian panggung?"
"Tepat
sekali. Posisi terbaik, kan?"
"Tiba-tiba
aku jadi gugup."
"Kalau
Natsuki, pasti bisa lah. Aku lebih cemas dengan Shinohara-kun, sih."
"Memang
benar, Mei kelihatannya tipe yang lemah di hadapan penonton langsung..."
Meski dia
melakukan semuanya dengan lancar saat latihan, kurasa kami harus memberi
perhatian lebih padanya sebelum hari-H. Meski aku sendiri tidak tahu apakah aku
punya ruang di kepalaku untuk itu, mengingat aku pun sudah sangat gugup
sekarang.
"......Semakin
lama waktu yang dihabiskan untuk sesuatu, semakin besar pula rasa gugupnya,
ya."
Serika
bergumam setelah melihat kondisiku. Dia lalu meletakkan tangan di pundakku dan berujar.
"Tapi tenang
saja. Kita pasti bisa."
Kepercayaan diri
Serika yang tak berdasar itu terasa melegakan saat ini.
"Natsu!"
Seseorang menepuk
bahuku dari belakang. Saat
berbalik, Uta yang mengenakan topeng iblis sedang menatapku.
"Ahaha,
apa kau terkejut?"
"Bukankah
memanggilku 'Natsu' setelah itu tidak ada gunanya?"
"I-itu
benar! Jangan-jangan aku bodoh!"
"Bukan
'jangan-jangan', kau memang bodoh."
"Serika,
tolong bungkus perkataanmu dengan kata-kata yang lebih halus sedikit."
"Natsuki
juga, tolong gunakan sedikit vibrato saat berbicara."
"Memangnya
perlu dibicarakan sekarang?"
Apa mereka pikir
lelucon tadi lucu? Saat
aku dan Serika sedang berdebat konyol, Uta memegangi perutnya.
"Ahahaha!
Kalian berdua sudah akrab, ya."
"Entah
kenapa rasanya kurang puas dianggap akrab karena kejadian barusan..."
"Begitukah?
Aku sih selalu terbuka, lho."
"Aku tidak
mengerti maksudmu. Lagi pula, percakapan kita tidak nyambung dari tadi."
Aku tidak tahu
apa yang lucu, tapi Uta terus tertawa melihat perdebatan kami. Saat itu, Uta
teringat sesuatu.
"Ah, iya!
Aku dengar kemarin! Lagu
kalian!"
Dia
mengobrak-abrik saku roknya dan mengeluarkan ponsel. Uta membuka Twister dan
menekan video yang diunggah dari akunku.
"[mishmash leftovers / black witch] Kami mulai
nge-band! Ini adalah lagu yang rencananya akan kami tampilkan di konser
festival budaya! Kalau kalian punya waktu, silakan dengarkan. Versi lengkapnya
di sini ->"
Ini adalah twit yang kuposting kemarin sebagai promosi band,
karena masa persiapan festival budaya dimulai besok. Aku berencana untuk mulai
mempromosikannya secara serius di media sosial mulai sekarang.
Video ini berisi rekaman lagu black witch yang akan
kami mainkan di lagu pertama. Mei yang melakukan mixdown dan mastering-nya.
Dia juga menggabungkannya dengan rekaman latihan di studio.
Keputusan untuk membuat keseluruhan video tampak redup adalah selera Mei.
Suasananya cukup terasa.
"Keren banget!"
Uta memujiku dengan mata yang berbinar-binar.
"Gitar
Seri, dan nyanyian Natsu! Jujur,
tadinya aku sedikit meremehkan kalian!"
"Apa
aku perlu mendengar bagian terakhir tadi...?"
"Ahaha, itu
tandanya aku sangat terkesan!"
Jumlah penonton
sudah melebihi lima ratus, dan ada tiga puluh retweet.
Banyak juga yang
membalas twitku. Kebanyakan adalah teman sekelas, tapi orang-orang yang hanya
sebatas tahu wajah dan nama pun bilang, "Aku menantikan konsernya!"
atau "Ini keren banget!"
Aku sangat
bersyukur. Yah, karena hasilnya memang keren, aku punya keyakinan bahwa
mempostingnya saja sudah cukup untuk membuatnya jadi bahan pembicaraan.
Serika juga sudah
mempostingnya di akunnya, dan itu pun tersebar dengan baik. Masih hari kedua
sejak postingan kemarin, tapi kurasa jumlahnya akan terus bertambah berkat
mulut ke mulut.
black witch memiliki intro gitar dengan dampak yang
kuat, jadi aku memutuskan lagu inilah yang pertama dipromosikan.
Yah, liriknya
penuh bahasa Inggris dan sulit dimengerti, tapi di dalam video dengan sangat
baik Mei mencantumkan terjemahan bahasa Jepang yang berjalan sesuai dengan
bagian yang dinyanyikan.
Mei terlalu
kompeten. Bahkan tanpa diminta pun dia melakukan hal sejauh ini...
Omong-omong, URL
untuk [versi lengkapnya di sini ->] mengarah ke video penuh yang
diunggah ke kanal MeTube milik Serika.
Video itu sudah
menembus sepuluh ribu penonton. Terlalu cepat.
"Tunggu,
bukannya ini lagu orisinal, kan!?"
"Ya. Aku
yang memikirkannya," kata Serika sambil membusungkan dada dengan penuh
percaya diri.
"Wah, Seri
keren banget! Ternyata kau bukan cuma gadis aneh biasa!"
"Bukankah
dari tadi kau sedikit tidak sopan?"
"Uta
memang terkadang seperti ini."
Serika
memegang kepala Uta dan mengguncangnya. Jangan sembarangan begitu hanya karena
Uta bertubuh pendek.
"Tapi,
aku masih berpikir kalau nama kanal 'Gitar Channel-nya Gadis SMA Cantik Serika♡' itu agak... gimana gitu!"
Ah, aku
hampir lupa. Jadi nama kanal itu akan tersebar ke seluruh siswa sekolah? Yah,
bagiku sih tidak masalah... saat aku memikirkan itu, Serika bergumam.
"Mungkin aku
akan mengganti nama kanalnya selama festival budaya berlangsung."
Ternyata, Serika
pun masih memiliki rasa malu. Meskipun, aku masih belum tahu di titik mana rasa
malu itu berfungsi bagi dirinya.
*
Promosi
di media sosial mendapat respon yang lebih besar dari yang kubayangkan.
Hanya
dengan aku berjalan membawa gitar di punggung, siswa dari angkatan lain yang
tidak kukenal mulai berbisik, "Ah, bukankah dia itu...",
"Bukankah dia vokalis band yang itu?"
Tentu
saja, topik ini juga menyebar di kelas. Mereka memberiku perhatian yang tidak
tahu harus disyukuri atau tidak, seperti, "Lupakan persiapan festival
budaya, latihan saja sana!"
Tentu
saja aku berpromosi agar mendapat perhatian, tapi jika itu mulai memengaruhi
kehidupan sehari-hari, rasanya sedikit canggung.
Yah, aku sudah
tahu risikonya dan tetap melakukannya, jadi tidak ada pilihan lain. Serika pun
tampaknya mengalami hal yang sama.
"Natsuki,
aku sudah lihat lagu kedua. Suasana gelapnya bagus, ya."
"Aku tahu
kau hebat bernyanyi, tapi melihatmu di video rasanya seperti melihat orang yang
berbeda."
"Terima
kasih. Yah, itu berkat Mei yang melakukan mixing-nya dengan hebat."
Memanfaatkan
momentum, aku merilis Monokrom sebagai promosi gelombang kedua.
Lagu ini pun
mendapat sambutan hangat.
Sebagai orang
yang menulis liriknya, aku merasa cemas, jadi saat melihat komentar seperti,
"Aku bisa merasakan lagunya!" atau "Liriknya bagus
banget!", aku merasa lega. Lagunya sudah pasti bagus, jadi kalau ada
komentar negatif, itu sepenuhnya tanggung jawabku. Tapi sejauh ini, aku belum
melihat satupun komentar negatif.
Semuanya tampak
lancar, tapi masalahnya ada di lagu ketiga.
Kami memutuskan
untuk mengungkap lagu ketiga saat konser nanti, tapi lagunya belum selesai.
Di media
sosial, kami hanya berpura-pura. Tentu saja sebagian besar sudah jadi, tapi aku
masih terus memutar otak untuk liriknya. Mungkin sudah saatnya aku menyerah dan
menyelesaikannya.
"Natsuki,
batas waktunya hari ini saat latihan klub."
Dua hari sebelum festival budaya. Serika memberitahuku begitu.
Selama jam
pelajaran pun aku terus memikirkan liriknya, tapi entah kenapa aku merasa ada
yang kurang.
Aku ingin sekali
menghilangkan rasa mengganjal ini sebelum festival budaya. Saat jam istirahat
tiba, aku menolak ajakan makan siang Tatsuya dan naik ke atap sekolah. Angin
dingin berhembus di atas kepala.
"Natsuki-kun."
Saat aku sedang
melamun menatap kota, sebuah suara terdengar dari belakang.
"......Hoshimiya."
"Ada apa?
Wajahmu terlihat depresi."
"Lirik untuk
lagu ketiga, aku terus tidak puas dengan hasilnya."
"Begitu, ya.
Ternyata kau juga menulis lirik untuk lagu ketiga. Padahal sudah dua hari
sebelum acara, apa kau tidak apa-apa?"
"Gawat, sih.
Yah, draf liriknya sih sudah lama selesai, dan sudah disepakati untuk pakai
itu."
"Hmm...
bagian mana yang membuatmu tidak puas?"
"......Entahlah,
bagaimana ya mengatakannya. Kelemahan, keraguan, rasanya hal-hal seperti itu
terlalu banyak muncul di liriknya. Padahal, bukan itu yang ingin kusampaikan
lewat lagu itu."
Setelah ditanya
Hoshimiya, aku berusaha memetakan kegelisahan di dalam dadaku.
"Apa yang
ingin Natsuki-kun sampaikan?"
"Entahlah.
Sesuatu yang lebih seperti, aku akan berubah, aku bisa berubah. Sesuatu
seperti, aku bisa mengubah dunia demi dirimu. Aku ingin lirik yang bisa terasa
tekad kuatnya."
Setelah
diucapkan, ternyata pesannya cukup sederhana.
Namun, menuangkan
perasaan itu ke dalam lirik ternyata sangat sulit.
"Yah, tapi
aku merasa tidak enak pada yang lain kalau harus mengubahnya sekarang. Lirik
yang sekarang juga tidak buruk. Daripada memaksakan diri mengubahnya, mungkin
lebih baik pakai yang ada saja."
Itulah
yang tadi kupikirkan sambil melamun di atap.
Jika
disebut kompromi, mungkin terdengar buruk, tapi kualitasnya seharusnya akan
lebih baik daripada mengubahnya secara terburu-buru.
Lagipula, Serika
sudah menetapkan batas waktu hari ini. Aku tidak bisa menundanya lagi. Jadi ini
sudah cukup. Lagu ketiga, meskipun dengan lirik sekarang, sudah cukup bagus.
"——Itu tidak
boleh, Natsuki-kun."
Saat aku berusaha
meyakinkan diriku sendiri, kata-kata yang tidak terduga dilemparkan padaku.
"Hoshimiya...?"
"Kalau kau
ingin menunjukkan tekad bahwa kau akan berubah, jangan menyerah."
Hoshimiya sedang
marah. Dia menatapku dengan mata yang serius.
"Kalau
kau berkompromi, dunia tidak akan berubah."
Ada bobot
yang mendalam dalam kata-kata itu.
Kurasa
Hoshimiya sendiri selalu memegang prinsip itu.
"Kalau masih
ada waktu, mari pikirkan sampai detik terakhir, mau kan? Bukannya kau ingin
menjadikannya sesuatu yang lebih baik? Bukankah kau percaya kalau itu bisa jadi
lebih baik? Kalau begitu, aku akan membantumu."
"......Ya."
Aku mendapat
keberanian. Berkat Hoshimiya, aku bisa tetap berusaha tanpa menyerah.
"Aku ingin
kau membuat lagu terbaik yang bisa kau nyanyikan dengan penuh percaya diri, dan
melakukan konser terbaik."
Di lubuk hatiku,
aku sudah menebak kalau Hoshimiya pasti akan bilang begitu.
"Ini
lirik terbaru yang kubuat..."
Aku
menunjukkan liriknya kepada Hoshimiya di ponsel, dan kami memikirkannya
bersama.
Apa konsep lagu
ini, dan apa yang ingin kusampaikan. Meskipun ada bagian yang memalukan, aku
menyampaikannya tanpa rahasia, mencoba berbagai hal sambil berharap liriknya
bisa menjadi lebih baik.
Bahkan setelah
jam istirahat berakhir, kami memanfaatkannya dengan duduk bersebelahan untuk
saling bertukar pikiran melalui tulisan. Waktu batas pengerjaan saat latihan
klub semakin dekat. Di tengah itu, aku berkali-kali menulis dan menghapusnya.
Pada akhirnya,
aku menemukan kata-kata yang kucari.
"——A-aku
berhasil!"
Uwooooo! Aku tanpa sadar mengangkat kertas lirik
itu ke langit.
Mendengar suara
itu, orang-orang yang sedang mengobrol setelah sekolah berakhir mulai menoleh.
Hoshimiya buru-buru menurunkan tanganku. Kegembiraan yang luar biasa membuatku
kehilangan akal sehat...
"Iya, iya.
Bagus sih kau senang, tapi kalau dilihat semua orang nanti tidak baik,
kan?"
"Benar
juga... karena rencananya lagu ketiga baru akan diungkap saat konser."
"Pada
akhirnya, aku tidak terlalu banyak membantu, ya."
"Tidak,
tidak! Berkat Hoshimiya, lagu ini jadi selesai! Terima kasih!"
"......Yah,
kurasa begitu."
Aku
menggenggam tangan Hoshimiya dan mengguncangnya dengan antusias. Dengan kondisi ini, kurasa aku bisa
mengalahkan siapa saja!
"Kalau
begitu, aku pergi ke latihan klub dulu!"
"Ya,
hati-hati."
Aku harus
segera memberitahu Serika dan yang lain! Bahwa lagu ketiga sudah selesai.
Aku
berlari keluar kelas menuju ruang musik kedua.
"Setelah
kau menunjukkan lirik seperti itu padaku... kau menyuruhku harus bagaimana
lagi..."
Saat aku
pergi, kata-kata samar yang kudengar... kuanggap saja aku tidak pernah
mendengarnya.
*
Serika,
yang melihat lirik lagu ketiga, mengangkat jempolnya.
"Lagipula,
kau mengubahnya cukup banyak dari aslinya... kurasa kita juga perlu
menyesuaikan musiknya sedikit."
Hari ini
adalah latihan studio. Ruang klub dan ruang musik kedua sedang digunakan band
lain.
"Maaf. Tapi,
bukankah ini lebih baik?"
Saat aku melempar
candaan sambil menyetem gitar, Serika menghela napas.
"Kalau tidak
begitu, aku tidak akan bilang untuk mengubah lagunya sekarang."
Mei dan Senior
Iwano pun mengikuti keputusan kami.
"Ano,
maafkan saya karena benar-benar merepotkan kalian..."
"Bukan
saatnya terlihat menyesal. Gitar mulah yang paling tidak stabil, tahu."
"Benar juga!
Maaf, saya akan latihan lagi!"
"Benar-benar...
tadi aku dengar kau masih bimbang, aku sempat berpikir apa yang akan
terjadi."
Senior Iwano
berwajah datar seperti biasanya, tapi dia tampak sedikit senang.
"Lirik
ini, bagus sekali...!"
Mei, yang
menerima kertas lirik dari Serika, berseru dengan kagum.
"Aku rasa
ini adalah bakat Natsuki, bisa menulis lirik yang sangat memalukan seperti
ini...!"
"Aku tahu,
tapi setidaknya bisakah kau menyebutnya 'jiwa muda' atau semacamnya?"
Mei membalas
dengan tawa pahit yang tampak heran, "Apa kita buat saja begitu?"
Mei, yang dulunya
sangat takut padaku, sekarang bisa berinteraksi seperti ini. Aku senang.
"Waktu kita
tidak banyak. Mari kita selesaikan dengan sempurna hari ini."
Senior Iwano
berkata seolah merangkum suasana, dan kami bertiga menjawab, "Siap!"
Dengan ketukan four-on-the-floor, musik pun dimulai.
*
Hari yang berbeda dari biasanya selalu memberikan rasa
euforia.
Akhirnya hari pertama festival budaya dimulai. Hanya
berjalan di lorong saja sudah terasa sangat ramai.
Setiap kelas didekorasi dengan mewah, membuat tempat ini
terasa seperti tempat yang sama sekali berbeda dari biasanya.
"Haibara-kun!
Siapkan alat makannya di sana."
"Siap, siap.
Di mana letak cangkir tehnya tadi?"
"Di atas rak
belakang! Ah, Nagiura-kun! Ada yang ingin aku minta untuk diangkut—"
Sebelum waktu
dimulai, saat aku sedang berlari kesana-kemari sibuk dengan persiapan, aku
dipanggil oleh Uta.
"Ah, Natsu!
Ini bagianmu!"
Dia memberikan
kaus berwarna kuning.
"Apa
ini?"
"Kaos kelas,
lah!"
Kaos kelas??? Apa
itu...?
Saat kubuka,
tertulis kata '1-2' dengan desain yang sangat bergaya.
Di bagian
belakang, nama seluruh anggota kelas tertulis dengan nama panggilan mereka
masing-masing.
Hah!? A-aku
ingat! Ini kaos kelas!
Pada kehidupan
pertama, namaku tidak ada di bagian belakang, dan tidak ada yang menyadarinya.
Karena terlalu
sedih, aku mengalami kekalahan dan menghapus keberadaannya dari ingatanku. Wah,
untung aku bisa mengingatnya.
...Untung, ya?
Mungkin tidak terlalu untung.
Yah, tapi kali
ini tertulis 'Natsu' dengan jelas, jadi... ya...
Terima kasih,
semuanya. Karena sudah mengingatku...
Tiba-tiba aku
jadi cemas dengan Mei.
Di sela-sela
waktu persiapan, saat sudah senggang, aku pergi menjenguk kelas Mei yang berada
di ujung lantai yang sama.
Rupanya mereka
membuka stan menembak. Karena belum mulai, mereka sedang melakukan percobaan
tembakan oleh anggota internal. Mei berdiri sendirian di sudut kelas.
Mei menyadari
keberadaanku di pintu dan keluar menemuiku.
Kelas empat
tampaknya memakai kaos berwarna ungu. Mei juga memakainya dengan benar.
"Ada apa,
Natsuki?"
"Boleh aku
lihat bagian belakangnya?"
"Eh? Tidak
ada apa-apa, sih..."
A-apa katamu...?
Kaos kelas milik
Mei hanya tertulis 'Kelas 1-4' dengan sederhana di bagian dada.
Seandainya kaos
kelas dua juga berdesain seperti itu, aku di masa lalu tidak perlu terluka...
"Yah, sampai
tadi sebenarnya milikku saja yang tidak ada..."
Hahaha... Mei diperlakukan sama dengan
cara yang berbeda dariku.
Sepertinya jumlahnya memang pas, tapi tidak ada yang
menyadari keberadaannya...
"Tapi
belakangan ini, ada beberapa orang yang sesekali mengajakku bicara."
Mei
berkata begitu dengan riang.
"......Video
band itu jadi bahan pembicaraan di kelas, ada beberapa teman sekelas yang
menyadari bahwa aku yang memainkan bass, mereka mengajakku bicara dan
memujiku... lalu ada juga yang bilang akan datang ke konser... aku sangat
bersyukur."
Pasti dia belum
pernah punya pengalaman seperti itu sebelumnya.
Itulah sebabnya,
Mei sangat menghargai kata-kata sekecil itu.
"Begitu,
ya... kalau begitu, kita harus memberikan konser terbaik."
Ini bukan hanya
untuk diriku sendiri. Kami berempat punya harapan masing-masing. Itulah
sebabnya, aku ingin berjuang demi semuanya.
Harapan kami
berempat memang berbeda-beda, tapi karena semuanya sepakat bahwa itu akan
terwujud dengan memberikan konser terbaik di festival budaya, kami sudah satu
tujuan.
"Ya!"
Untuk pertama
kalinya, Mei mengangguk dengan penuh semangat mendengar kata-kataku.
*
Begitulah, hari
pertama festival budaya pun dimulai.
Di dalam sekolah,
acara utama adalah stan dari masing-masing kelas. Sementara di halaman tengah,
setiap klub mengelola stan makanan dan minuman.
Klub musik ringan
yang baru saja kuikuti juga menjual Yakisoba di stan mereka. Setelah
memastikannya dengan Serika, ternyata aku juga punya jadwal giliran jaga mulai
siang hari.
Meski aku sudah
berusaha mengatur agar tidak bentrok dengan giliran jaga di kafe kelas, tetap
saja rasanya sangat sibuk. Padahal di kehidupan pertama, festival budaya terasa
begitu santai.
"Selamat
datang, silakan duduk di sini."
"Wah,
Haibara-kun yang melayani kita. Ayo, ayo ke sana!"
Kafe kelas kami
benar-benar sibuk. Delapan puluh persen kursi sudah terisi penuh.
Aku mulai
mengantar teman sekelas yang senang karena aku yang melayani mereka ke meja
kosong.
"Kalau
begitu, dua kopi panas! Dan juga kue keringnya!"
"Hmm, kalau
aku, mau satu senyuman dari Haibara-kun saja!"
"Hahahaha..."
Apa-apaan mereka ini.
Untung saja aku memang profesional dalam memberikan senyuman
pelayanan.
Sambil melirik teman-teman perempuan yang tertawa riang, aku
melihat ke arah pintu masuk. Ternyata ada pelanggan baru yang datang.
Sebelum aku sempat menanganinya, Hoshimiya dengan senyum
pelayanan yang sempurna sudah menyapa mereka dengan gesit.
"Selamat
datang. Akan saya antar ke tempat duduknya ya?"
Alasan
mengapa kafe kelas 1-2 yang biasa saja ini menjadi sangat populer, jelas karena
Hoshimiya yang melayani pelanggan. Terutama para siswa laki-laki dari angkatan lain yang terus memperhatikan
Hoshimiya.
Rasanya sedikit
tidak nyaman, tapi toh mereka tidak melakukan hal yang aneh-aneh. Mungkin
karena Tatsuya yang terus memasang tatapan tajam dari ujung kelas menjadi
pencegah yang efektif.
Meskipun, mungkin
saja dia hanya sedang melihat-lihat seperti biasa.
"Tidak perlu
khawatir begitu, aku akan mengawasi mereka dengan benar," bisik Nanase
diam-diam kepadaku. Pantas saja dia menyebut dirinya sebagai pelindung
Hoshimiya.
"Aku
mengandalkanmu, Mama."
"Aku bukan
Mamamu, ya."
Nanase yang
melirik tajam lalu menjentikkan jarinya ke dahiku dengan Flick. Itu
cukup sakit!
"Yah, karena
isinya hanya siswa sekolah, kupikir hari ini mungkin akan baik-baik saja."
Hari ini
tidak ada pengunjung luar. Pengunjung luar baru diizinkan masuk pada hari
kedua, yaitu hari Sabtu.
Yah,
karena hampir tidak ada pengunjung luar yang akan datang di siang hari saat
Jumat, mungkin situasinya tidak akan jauh berbeda. Tapi saat memikirkan bahwa besok pasti akan lebih
sibuk, aku merasa sedikit depresi.
Saat aku sedang
berpikir seperti itu sambil melayani pelanggan, bahuku ditepuk oleh Fujiwara.
"Haibara-kun!
Bisa tolong belikan bahan-bahan?"
"Eh, belanja
bahan? Sekarang?"
"Iya. Maaf,
ada kesalahan pemesanan. Bahan-bahan ini sepertinya akan kurang."
Fujiwara
menyerahkan catatan dengan ekspresi menyesal. Dia terlihat sedih, pemandangan
yang jarang kulihat.
Yah,
karena Fujiwara adalah pemimpin kelas, tentu dia tidak bisa meninggalkan
posisinya. Dengan anggota jaga saat ini, hanya aku yang bisa pergi.
Aku harus
membuat Fujiwara kembali bersemangat.
"Oke. Jangan
dipikirkan. Nanti kalau pulang, minta dihibur sama Hino saja."
"I-itu,
leluconnya sudah terlalu sering dipakai... Memangnya kau pikir aku akan
langsung malu begitu saja!"
Dari arah dapur, terdengar suara Hino yang santai,
"Serahkan padaku!" Wajah Fujiwara memerah.
Dia benar-benar
manis. Kata Hino, saat hanya berdua saja, dia sangat manja.
"Kalau
begitu, aku pergi belanja dulu."
Aku
segera bergegas sebelum Fujiwara sempat marah.
"Ah, tunggu.
Natsu, aku ikut juga!"
Uta berlari kecil
menghampiriku. Entah kenapa dia memakai ikat kepala putih.
"Eh?
Bukankah Uta tadi sedang jam bebas?"
"Karena ini
jam bebas, aku ingin membantu Natsu... Tidak boleh?"
Itu
adalah serangan langsung yang telak. Aku kalah telak tanpa bisa menghindar.
"Bukan...
bukannya tidak boleh, tentu saja boleh."
Saat aku
menjawab begitu, Uta melakukan pose tinju ke udara dan berseru,
"Asik!"
"Ayo! Kalau
tidak cepat-cepat, nanti kita dimarahi!"
Uta yang berlari
lebih dulu menoleh ke arahku dan berkata dengan suara ceria.
*
Kami melewati
halaman tengah yang ramai dengan siswa tingkat atas, lalu menuju gerbang
sekolah.
"Nanti,
besok Natsu dan yang lain akan berdiri di sana, kan?"
Uta
menunjuk ke arah panggung terbuka yang dipasang di halaman tengah. Saat ini
sedang ada pertunjukan tari oleh siswa sukarelawan.
Penampilannya
tidak terlalu hebat, tapi terlihat menyenangkan.
"Sepertinya
begitu, kita jadi penutup di hari kedua."
"Padahal ada
juga yang tampil di hari pertama dan kedua, tapi klub musik ringan tidak
ya?"
"Itu
biasanya cuma klub alat musik tiup dan klub senam ritmik, kan? Katanya tahun
ini banyak peserta sukarelawan, jadi klub musik ringan hanya kebagian hari
kedua."
Sayang sekali
kalau tidak bisa tampil dua hari. Meskipun begitu, kalau harus tampil dua kali,
sepertinya akan sangat melelahkan.
Mungkin saja
setelah tampil pertama kali, kami sudah kehabisan energi untuk penampilan
kedua. Jadi, mungkin satu kali saja sudah cukup.
"Lagipula,
dingin ya. Pakai kaus saja ternyata salah besar."
"Hari ini
relatif hangat, tapi kalau di luar ruangan ya tetap saja dingin."
"Sudah mau
akhir Oktober soalnya..."
Uta dengan santai
mengenakan jaket merah biasanya di atas kaus kelas.
"...Iya,
sudah akhir Oktober ya. Padahal rasanya baru kemarin libur musim panas
berakhir."
"Cepat
sekali ya. Perasaanku aku
baru masuk sekolah kemarin."
"Ahaha, itu
karena kamu tidak punya rasa terhadap waktu. Tapi, apa mau balik dulu?"
"Ayo lah...
dingin, dingin."
Karena memang
dingin, kami mampir ke ruang klub untuk mengambil jaket sebelum keluar lagi. Uta tidak sedikit pun mengeluh dan
terus mengikutiku sambil tersenyum.
"Ah,
Natsuki, Uta. Mau beli sesuatu?"
Saat melewati
stan klub musik ringan, Serika sedang memanggang yakisoba dengan memakai
celemek. Dia mengikat
rambutnya ke belakang dan memakai bandana. Dia terlihat seperti bibi-bibi di
lingkungan sekitar.
"Tidak
ada diskon untuk teman sendiri?"
"Mau
bagaimana lagi. Spesial untuk kalian, tiga ratus yen."
Suara
mendesis terdengar dari atas piring besi. Terlihat lezat.
"Tidak
boleh, Natsu. Sekarang kita sedang buru-buru, bukan waktunya makan."
"Kuh,
masuk alur... maaf ya, Serika."
"Yah,
padahal enak lho. Setidaknya saat aku yang memasaknya."
Saat
kutanya, "Kamu pintar masak?", Serika dengan sombong menjawab,
"Karena aku adalah wanita yang berjiwa rumah tangga."
Aku
mengabaikan Serika yang bertingkah angkuh, lalu keluar dari gerbang sekolah
untuk benar-benar belanja.
"Serika
selalu seperti itu ya."
"Berani-beraninya
dia pamer masakan di depan Natsu."
Tujuan
kami adalah supermarket yang terletak setelah melewati satu jalan.
"Hmm,
tepung terigu, susu, lalu teh celup, dan..."
"Bukankah
tepung terigu ada di sebelah sana?"
Kami
berdua melihat catatan Fujiwara sambil memasukkan bahan-bahan ke dalam
keranjang.
"Oke, sudah
semua ya."
Setelah memeriksa
kembali isi keranjang dan catatan, kami pun membayar.
"Sekarang
tinggal kembali!"
"Ya. Oh iya,
biar aku saja yang bawa barangnya."
Aku
mengambil kantong belanjaan yang berat dari tangan Uta. Aku membawa dua kantong
berat, dan membiarkan Uta membawa satu kantong yang ringan.
"Apa itu
tidak memberatkan Natsu?"
"Aku
kan sedang latihan otot. Berat segini sih enteng saja."
Yah,
belakangan ini aku memang sering bolos latihan karena sibuk berlatih gitar.
Tapi, beban segini tidak akan membuatku menyerah.
Ototku
belum selemah itu!
"...Curang,
Natsu."
Uta
bergumam pelan. Suaranya sangat kecil sampai hampir hilang tertiup angin, tapi
telingaku tetap mendengarnya.
Keheningan pun
datang. Entah kenapa, dalam suasana seperti ini... aku merasa bisa
mengatakannya.
"Uta, ada
hal penting yang ingin kubicarakan."
Aku memecah
keheningan dan mengatakannya. Sebenarnya, aku sudah lama mencari waktu yang
tepat.
"Iya. Aku
juga punya sesuatu untuk dikatakan."
Uta
mengangguk dengan ekspresi serius.
"Tapi,
tunggu sebentar ya. Sekarang belum saatnya."
Lalu, dia
perlahan menggelengkan kepalanya. Sekarang belum saatnya. Lalu, kapan waktu
yang tepat?
"—Hei Natsu.
Hari ini saja, ayo kita keliling festival budaya bersama?"
Mendengar ajakan
yang seolah menunjukkan jawaban itu, aku hanya mengangguk dalam diam.
*
Setelah selesai
belanja, Uta menggantikan giliranku jaga. Setelah itu ada giliran jaga klub
musik ringan, sehingga waktu luangku dan Uta baru bertepatan setelah pukul lima
belas.
Meski hanya waktu
singkat dari jam tiga sampai penutupan, kami berdua berkeliling ke berbagai
stan dan menikmati festival budaya dengan sepenuh hati.
Yang
paling menyenangkan adalah permainan melarikan diri dari kelas 1-2. Proses
memecahkan teka-teki sulit yang tersebar di dalam kelas sangat menarik.
Yah,
mungkin karena resepsionisnya adalah senior Iwano, jadi stannya sepi
pengunjung. Kalau dia yang jaga, orang-orang malah takut dan kabur, jadi
mungkin lebih baik digantikan saja...
"Wah,
seru sekali ya."
Kami
memakan yakisoba dari stan klub musik ringan dan takoyaki dari klub basket di
stan halaman tengah, sambil menonton pertunjukan komedi sukarelawan di panggung
luar ruangan. Cukup menghibur.
"Tapi,
apa kita makan terlalu banyak ya?"
"Ahaha,
yakisoba dan takoyaki dua-duanya berat ya."
"Karena
keduanya enak sih. Komedinya juga cukup bagus."
"Aku
paling suka drama yang dipentaskan di gedung olahraga. Benar-benar
tersentuh."
"Itu
dari kelas 2-3 ya? Sepertinya bakal populer."
"Aku tertawa
karena senior Wakamura jadi pemeran utamanya. Tapi ternyata dia cukup
hebat."
"Setuju."
Aku dan
Uta tertawa bersama. Tanpa
sadar, langit sudah berubah warna menjadi senja.
Lonceng tanda
berakhirnya jam pelajaran kelima berbunyi. Itu juga lonceng tanda berakhirnya hari
pertama.
Kami
duduk bersisian di tangga batu di depan gedung sekolah, memandangi suasana
beres-beres. Mungkin saat ini di kelas kami pun sedang dilakukan bersih-bersih.
Karena
masih ada hari kedua, tidak perlu dibongkar total, tapi tetap saja pasti
melelahkan. Kami harus segera kembali.
"Natsu,
mau dengar sesuatu?"
Saat kami
berdiri, tiba-tiba Uta berkata. Saat aku menoleh, Uta yang duduk di tangga
sedang menatapku lekat-lekat.
Mata kami
bertemu. Pupil matanya yang biasanya bersinar, entah kenapa terlihat agak
kabur.
"Ya."
Uta ikut
berdiri, membelakangiku dan berjalan beberapa langkah, lalu berbalik kembali.
Yang kulihat di sana adalah senyuman seperti bunga matahari.
"—Natsu,
aku menyukaimu. Sangat
menyukaimu."
Yang pertama di
dunia ini, lanjut Uta.
"Jadi, tolong jadilah pacarku."
Angin berhembus. Angin dingin yang terasa musim gugurnya
berhembus di antara aku dan Uta.
Itu adalah pengakuan cinta pertama yang kuterima seumur
hidup.
Syuur, syuur. Poni rambut tertiup angin. Daun kering
yang terbang entah dari mana jatuh tepat di depan kami.
Uta adalah orang yang memutuskan untuk bersiap lebih dulu
dariku. Kalau begitu, aku pun harus menjawab.
Aku harus bertanggung jawab sebagai orang yang disukai oleh
seseorang bernama Sakura Uta, dan orang yang pernah terpikat olehnya.
"—Maaf. Aku
tidak bisa membalas perasaan Uta."
Uta tidak
mengubah ekspresinya, seolah dia sudah mengetahuinya sejak awal. Aku sudah
memikirkannya sampai hari ini.
Karena aku
menyukai Uta. Tanpa sadar, aku menjadi menyukainya.
Sampai-sampai,
saat waktu-waktu tertentu, aku selalu mencari keberadaannya. Namun, lebih dari
itu... ada seseorang yang menjadi sandaran hatiku.
"...Aku,
sudah memiliki orang yang kusukai."
Dari
tenggorokanku yang terasa sesak, aku memaksakan kata-kata itu keluar. Saat
membayangkan masa depan, orang yang ada di sampingku bukanlah Uta.
Orang yang sejak
dulu selalu kuharapkan berada di sampingku, hanyalah satu orang itu saja.
"...Begitu
ya."
Aku tidak
tahu lagi ekspresi apa yang sedang kupakai. Tapi, ini sudah benar.
Ini adalah jawaban yang tepat. Terus melarikan diri hanya
akan menyakiti Uta.
"Ah, begitu ya. Padahal aku sudah memutuskan untuk
membuatmu berpaling padaku."
Uta menatap langit senja. Awan bersisik terbakar oleh warna
merah.
Aku tidak akan menyerah. Siapa pun orang yang ada di
hatimu sekarang, aku tidak akan kalah.
Aku pasti akan membuatmu berpaling padaku. —Jadi,
tunggulah ya?
Ingatan malam
festival Tanabata melintas di benakku.
"Maaf ya,
Natsu. Pasti kamu menderita ya, karena aku."
Uta
bertanya padaku yang sedang tertunduk diam. Aku menggelengkan kepala.
Menderita? Tidak
sama sekali. Perasaan Uta membuatku senang.
Hari festival
Tanabata itu terasa sangat membahagiakan. Aku menyukai senyum Uta yang seperti
matahari.
Tapi, rasanya
tidak benar jika harus mengatakannya dengan kata-kata, jadi aku tidak bisa
mengatakan apa-apa.
"Jangan
pikirkan tentang aku. Besok kita akan kembali menjadi teman seperti
biasa."
Kata 'teman'
terasa sangat berat. Kalau memang bisa begitu, kalau bisa kembali seperti
semula, aku senang.
Tapi, aku tidak
punya hak untuk mengharapkan itu dari Uta. Aku tahu itu pasti adalah hal yang
kejam.
"Sebenarnya,
aku memanfaatkan kebaikan Natsu... Kalau aku bilang akan membuatmu berpaling,
kalau aku bilang tunggulah, Natsu pasti akan melakukannya."
"Aku tahu
meskipun jawabannya sudah ditentukan, kamu pasti akan mengalihkan pandangan
dari situ."
"Aku
berpikir, dengan waktu yang kubuat seperti itu, setidaknya aku bisa membuat
tempat untuk diriku di hatimu."
...Kalau begitu,
aku telah kalah oleh siasat Uta.
"Padahal aku
pikir sudah sedikit lagi. Sedikit lagi..."
Tes, air mata tumpah dari sudut mata Uta.
"Tapi,
ternyata belum sempat ya."
Tes, tes. Tetesan air jatuh ke tangga batu.
"Kalau kamu
menunjukkan wajah yang sudah bertekad seperti itu, aku tidak punya pilihan
selain menyerah."
Memang benar,
sedikit waktu yang lalu aku masih penuh keraguan. Tapi sekarang sudah berbeda.
"...Apa aku
sejelas itu?"
"Aku kan
terus memperhatikan wajah Natsu. Tentu saja aku tahu."
"...Aku
benar-benar tidak bisa menang melawan Uta."
"Kamu sudah
ketahuan," Uta tertawa. Sambil menyeka air matanya dengan lengan baju.
Dia
menyeka sudut matanya berulang kali dengan lengan bajunya. Uta berusaha sebisa mungkin untuk
memaksakan senyum.
Aku tidak tahan
melihat senyum yang dipaksakan itu. Meski begitu, aku tidak bisa memalingkan
pandangan.
"Hei, kapan
kamu berniat menyatakan cinta pada Hikarin?"
Aku tidak tahu harus menjawab apa. Saat aku diam, Uta melanjutkan.
"……Tidak
perlu disembunyikan. Aku merasa bertanggung jawab karena pernah membuat Natsu
bingung. Kali ini, aku ingin benar-benar mendorongmu. Agar orang yang kusukai
bisa bahagia."
"……Setelah
konser besok selesai."
Uta
mengangguk. Dia pasti sudah
bisa menebaknya sampai ke sana.
Dia menyatakan
cinta meski tahu jawaban yang diinginkannya tidak akan didapat, itu pasti demi
mendorongku maju.
Aku berpikir,
apakah ada anak yang begitu baik di dunia ini?
Aku
berbeda dengan diriku yang pengecut ini. Sakura Uta adalah sosok yang
pemberani.
"Berjuanglah,
Natsu! Aku juga akan mendukungmu! Jadi, berjanjilah untuk bahagia, ya?"
Dengan
mata yang bengkak kemerahan, Uta mengatakannya dengan ceria. Air matanya sudah
tidak ada lagi, justru pandanganku yang mulai kabur.
"……Jangan
biarkan diriku ini yang menjadi penyesalan padamu, ya?"
"……Ah.
Aku janji."
Aku tidak
mungkin punya hak untuk menangis. Jadi, aku menutupi mataku dan berusaha menahannya.
Aku berdiri
mematung di sana untuk beberapa saat. Langit perlahan menjadi semakin gelap.
Bahkan wajah Uta
yang ada di depanku pun mulai tak terlihat.
Satu-satunya
tumpuan hanyalah cahaya kelas yang bocor dari jendela terdekat.
"Kalau
begitu, aku kembali duluan ya?"
"……Ah. Aku
juga akan kembali setelah ini."
Uta
berbalik dan pergi.
"……Selamat
tinggal."
Kalau
dipikir-pikir, hari ini adalah pertama kalinya aku mendengar kata itu darinya.
Biasanya, salam
perpisahan kami selalu tentang janji untuk bertemu lagi, seperti "sampai
jumpa besok" atau "sampai bertemu di sekolah".
Setelah
sosok Uta benar-benar hilang, terdengar suara langkah kaki yang mendekat dengan
kasar. Tanpa mendongak pun,
aku sudah tahu siapa orangnya.
"Natsuki……"
"……Tatsuya."
Aku bahkan tidak
perlu bertanya apakah dia mendengar percakapan kami tadi.
Dia mencengkeram
kerah bajuku. Secara paksa, dia membuatku mendongak hingga mata kami bertemu.
"Kenapa,
hah……!?"
"……Aku,
memiliki gadis lain yang kusukai."
"Kenapa!? ……Kenapa bukan Uta!?"
Tatsuya
memasang ekspresi yang terlihat tersiksa.
"……Hal
seperti ini, tidak bisa dijelaskan dengan logika, kan?"
Itu adalah
sesuatu yang pasti Tatsuya pun pahami. Perasaan cinta tidak bisa dikendalikan
oleh logika.
Sama seperti
bagaimana Tatsuya saat ini sedang memendam amarah kepadaku.
"Aku merasa
kalau kau bisa membuatnya bahagia, maka semuanya akan……!!"
"……Maaf."
Pada akhirnya,
hanya kata-kata itulah yang bisa kuberikan padanya.
"Sialan
kau……!"
Tatsuya
mengayunkan tinjunya, meremasnya dengan kuat. Aku pikir aku akan dipukul.
Aku tidak bisa
protes meski dipukul. Caraku bertindak selama ini yang hanya penuh keraguan
menurutku telah mempermainkan perasaan Tatsuya, dan sebagai teman dalam grup
yang sama, aku pun telah merepotkannya.
Namun, perlahan
kekuatan tangan yang mencengkeram kerahku melemah. Tinju yang terkepal pun
kehilangan sasarannya.
"……Sialan."
Tak lama
kemudian, Tatsuya hanya mengatakan itu lalu melewatiku. Arah yang dituju
Tatsuya adalah arah yang sama dengan kepergian Uta tadi.
Inilah hasil dari
pilihanku.
*
Keesokan paginya,
aku terbangun terlalu pagi.
Mungkin karena
tidurku tidak nyenyak. Tapi untuk saat ini, aku tidak merasa gugup.
Aku menuju
sekolah lebih awal dari biasanya. Jalanan hanya sesekali dilewati orang, sama
sekali tidak terlihat seperti jalan yang biasanya dipenuhi oleh siswa.
Saat menuju kelas
1-2, ada seorang gadis yang kukenal di koridor. Gadis yang sedang melamun
menatap halaman tengah dari jendela itu melepas earphone yang terpasang
di telinganya.
Aku pun melakukan
hal yang sama, melepas earphone yang sedang memutar musik.
"……Akhirnya
tiba juga."
Di ujung
pandangan Serika, terdapat panggung luar ruangan. Ya, hari ini adalah
penampilan pertama sekaligus terakhir kami. Hari di mana band kami akan
bersinar hanya untuk satu kali ini.
Aku harus
memberikan konser terbaik. Semakin keras aku bersumpah, beban tentang
"tidak boleh gagal sama sekali" semakin menindih pundakku. Namun,
untuk tidak kalah oleh tekanan itu, aku terus berlatih hingga hari ini.
"Lagi
dengerin apa? Natsuki."
Menanggapi
pertanyaan Serika, aku menunjukkan layar ponselku.
"Supernova
dari Ellegarden."
Serika tertawa
kecil. Lalu, dia mengulang kata-kata yang menjadi awal pertemuan kami.
"Selera kita
cocok, Natsuki."
"……Kalau
Serika sendiri, lagi dengerin apa?"
"Hmm. Yang
tadi kuputar adalah Lost my way dari 04 Limited Sazabys."
"……Selera
kita cocok, Serika."
Kami bertukar
kata-kata seperti itu dan tertawa bersama.
"Kita pasti
bisa. Kita akan mengubah dunia."
"Ya.
Jangan sampai aku tertinggal, ikuti aku dengan benar ya?"
Kami menempelkan
kepalan tangan. Senyum Serika yang menantang terasa sangat bisa diandalkan.
——Dan kemudian,
hari kedua festival budaya pun dimulai.
*
Hari kedua jauh
lebih sibuk daripada hari pertama. Pelanggan utamanya adalah siswa dari sekolah
lain serta orang tua dan saudara dari siswa kami.
Banyak juga
pengunjung yang datang karena ingin melihat sekilas Hoshimiya yang wajahnya
sudah dikenal melalui Min-Sta.
"Kakak,
kalau boleh boleh minta RINE-nya?"
"Ah, maaf
ya. Aku tidak pakai RINE nih."
"Wah,
seriusan?"
Meskipun sering
digoda seperti itu, dia menepisnya dengan kebohongan terang-terangan yang
membuatku kagum.
"Hahaha,
kasihan ditolak!"
"Itu jelas
bohong, tahu. Lucu banget~"
Bahkan dia malah
tertawa bersama dengan pelanggan yang baru saja merayunya. Cara menanganinya
tidak terlalu kasar, ya?
Pantas saja dia
memiliki paras setingkat idola. Hanya saja, karena Hoshimiya ditahan oleh
sebagian pelanggan, di sini jadi lebih sibuk dari biasanya.
Satu per satu,
aku menerima pesanan pelanggan dan mengopernya ke dapur.
"Haibara-kun.
Tolong antar pelanggan itu."
Berkat kata-kata
Nanase, aku baru menyadari kalau ada pelanggan baru yang menunggu di pintu
masuk.
Ternyata bagian hall
itu sibuk ya. Aku akhirnya menyadari kerja keras Nanase selama ini…… Nanase
sendiri bertugas di dapur. Bertukar posisi dengan kami yang biasanya di tempat
kerja paruh waktu terasa menyegarkan.
"Selamat
da—"
Saat aku hendak
melanjutkan "tangannya", aku baru menyadari wajah yang sangat
kukenal.
"Ah,
Kakak."
"Ada apa,
Namika? Cepat sana pulang ke rumah."
"Apa
maksudmu 'ada apa' itu!? Di sini aku pelanggan, tahu!"
Namika yang
marah-marah membawa serta teman-teman siswi SMP yang tampak sepertinya
temannya. Entah mengapa, keduanya menatapku dengan mata berbinar-binar.
"Wah,
Kakaknya Namika-san. Beneran ganteng banget……!"
"Iya,
kan~! Lagian nilainya juga peringkat satu sekolah, dan jadi vokalis band,
kan?"
Kenapa
teman Namika tahu sampai sejauh itu?
Aku
mengerutkan kening menatap Namika, lalu Namika mendorong punggungku sambil
berkata, "Sudahlah, cepat antarkan kami."
"Iya, iya.
Silakan lewat sini."
"Namika-chan,
kalau di depan kakaknya ternyata kayak gini ya."
"Padahal
biasanya dia cuma ngomongin kalau kakaknya itu keren terus, lho."
"B,
bukan begitu! Jangan bilang hal yang aneh-aneh!"
Namika
yang dirayu oleh teman-temannya menjadi merah padam dan membuat keributan.
Karena semua orang menatap kami dengan tatapan "hangat", tolong
dikurangi hal seperti itu.
"Ah,
Kak Hoshimiya! Halo!"
Namika menyadari
keberadaan Hoshimiya dan melambai-lambaikan tangannya.
"Halo,
Namika-chan."
"Lama tidak
jumpa! Terima kasih selalu menjaga Kakak!"
Aku merasa
perhatian seluruh kelas entah bagaimana tertuju pada meja Namika dan
kawan-kawan. ……Kenapa firasatku jadi tidak enak begini, ya?
"Kenapa
Hoshimiya-senpai dan Namika-chan bisa kenal?"
Teman Namika
memiringkan kepala. Sepertinya semua orang tahu tentang Hoshimiya. Aku pernah
dengar pembicaraan bahwa dia terkenal imut di Min-Sta, tapi ternyata dia
sudah dikenal dengan begitu wajarnya. Luar biasa.
"Eh? Soalnya
Kak Hoshimiya pernah main ke rumah kami……"
Senyum Hoshimiya
membeku. Segera, kedua teman Namika mendesak Hoshimiya.
"Eh!?
Benarkah itu!?"
"J,
jangan-jangan kalian pacaran!?"
Di situlah Namika
baru menyadari kesalahannya.
Setelah menutup
mulutnya dengan tangan dan berucap "Ah", dia melirik ke arahku dengan
takut-takut. Saat aku membalas tatapannya dengan wajah yang tak bisa
didefinisikan, Namika mengerutkan diri dengan perasaan bersalah.
Maaf ya
Hoshimiya, adikku ini adalah jenius dalam berkata-kata yang tidak perlu…….
Hoshimiya sengaja
meredam situasi dengan hanya menaruh jari di depan bibir, tapi aku merasa
gestur itu justru meningkatkan tingkat kepercayaan orang-orang.
Teman-teman
sekelasku saling berpandangan dan berbisik-bisik.
Ini pasti
akan segera tersebar luas……. Mataku bertemu dengan Hoshimiya, dan kami berdua
tersenyum pahit satu sama lain.
Uta yang
berada di dapur terus membuat minuman tanpa bereaksi terhadap kami.
"Sayang
sekali ya."
"Sial,
dia sudah punya pacar ya."
"Lagipula
dia ganteng, mana mungkin kau bisa."
Siswa sekolah
lain yang tadi merayu Hoshimiya terlihat lesu. Kelompok lain yang sepertinya
sedang menunggu kesempatan pun tampak kecewa.
"Lebih damai
dari sebelumnya, sih. Meski agak rumit juga."
"Apa bisa
dibilang hasil akhir yang bagus?"
"Hmm…… yah,
kalau dipikirkan supaya tidak ada serangga pengganggu yang mendekati Hikari,
ya?"
Nanase
memasang ekspresi yang ambigu.
Pada
akhirnya, dia yang selalu memikirkan Hoshimiya nomor satu benar-benar sosok
"mama" banget.
Di sana,
bahuku ditepuk-tepuk.
"Natsuki.
Sudah boleh naik sekarang. Bukannya ada persiapan buat konser?"
"Benarkah?
Jujur saja itu sangat membantu."
Ryota yang penuh
perhatian. Bagaimanapun, aku ingin mencobanya sekali lagi sebelum tampil, jadi
ini sangat membantu.
"Kalau
begitu, aku naik dulu ya."
"Serahkan
saja. Semangat konsernya!"
"Oke. Aku
bakal nonton kok! Penutup kan?"
Aku bertukar
posisi dengan Ryota dan keluar dari kelas. Semua orang mendukungku.
Itu benar-benar
sesuatu yang patut disyukuri. Bahwa semua orang ingin mendengarkan nyanyian dan
permainan pemula sepertiku adalah berkat lagu ciptaan Serika dan permainan
teman-teman yang hebat. Itulah sebabnya aku ingin berjuang.
"Natsuki-kun!"
Saat berjalan di
koridor, ada suara yang memanggil dari belakang. Saat aku menoleh, Hoshimiya
mengeluarkan wajah dari pintu kelas.
"Aku pasti
akan nonton konsernya! Semangat!"
Dia membuat
kepalan tangan di depan dadanya dan memberiku dukungan dengan penuh semangat.
Aku sangat senang. Sangat senang, tapi ada satu masalah.
……Jujur saja,
karena kejadian tadi, perhatian tertuju pada kami. Dalam situasi ini, jika
diberi dukungan seperti itu, sudah jelas suasananya akan menjadi seperti itu.
Aku hanya bisa
berpikir bahwa Hoshimiya sudah tahu dan sengaja melakukannya, tapi…… yah,
biarlah.
*
Aku memetik gitar
di ruang musik kedua. Di dunia yang tidak biasa bernama festival budaya, hanya
di sini yang terasa seperti hari-hari biasa.
Aku merasa
sedikit lega. Suara yang biasanya kudengar mengalun dari gitar yang sudah
terbiasa di tangan. Saat aku berkali-kali memastikan chord lagu yang
akan dimainkan hari ini, pintu terbuka.
"Ternyata
semua orang memikirkan hal yang sama ya."
"Karena hari
ini adalah hari terakhir. Ayo segera latihan."
Meskipun konser
masih lama, Naru dan senior Iwano datang.
Tak lama
kemudian, Serika muncul dengan sedikit terlambat. Saat melihat kami semua sudah
berkumpul, matanya terbelalak.
"Semuanya,
cepat sekali."
"Apa yang
kau lakukan? Aku
ingin mencobanya sekali lagi dari awal. Cepat atur setting-annya."
"T,
tunggu sebentar. Aku belum tuning……"
"Aku
masih sering salah chord di bagian reff lagu 'Monochrome'. Harus
memastikannya sekali lagi."
Saat kami
sedang berdebat tidak jelas, Serika tersenyum tipis.
"……Ya. Ayo
kita coba sekali dari awal."
Kami berempat
menyatukan suara. Suara yang besar menyatu dan berubah menjadi satu lagu.
Aku berharap
waktu ini bisa berlangsung lebih lama. Itu bukan karena aku takut tampil, tapi
karena aku tidak ingin berakhir. Aku tidak ingin kehilangan waktu yang
menghubungkan kami melalui musik ini.
Namun, waktu
pasti tetap berjalan. Tanpa sadar, matahari mulai terbenam secara bertahap.
Nada dering muncul dari ponsel Serika. Telepon itu sepertinya dari panitia
pelaksana festival budaya.
Festival budaya sudah mendekati akhir. Waktu untuk penampilan kami sudah dekat.
"Katanya
giliran klub musik ringan. Ayo segera keluar."
Kami membawa
peralatan yang diperlukan saja dan keluar. Di panggung luar ruangan di halaman
tengah, pengaturan untuk klub musik ringan sudah dilakukan.
Orang
yang memimpin pengaturan adalah ketua klub. Band ketua klub adalah urutan
kedua, tapi dia sedang memanggil anggota band urutan pertama.
Band urutan pertama sepertinya bernama "Clockups".
Sebuah band yang terdiri dari lima siswa tahun pertama.
Laki-laki dan perempuan yang wajah dan namanya aku tahu itu
menunjukkan ekspresi gugup di atas panggung.
" 'Clockups' juga memasukkan keyboard ya."
"Katanya
mereka akan memainkan lagu populer."
Pengaturan
panggung selesai, dan penonton perlahan mulai berkumpul.
Orang yang
mendukung di barisan depan adalah ketua klub musik ringan.
Orang yang
bersama ketua klub mungkin adalah senior tahun ketiga yang sudah pensiun.
Selain itu, siswa yang sepertinya teman anggota band.
Siswa lainnya
tersebar secara acak. Di
dekat tenda atau di bawah bayangan pohon.
Banyak
siswa yang merasa "yah, daripada luang, mending dengarkan saja", tapi
sepertinya tidak banyak siswa yang memiliki tekad untuk mendukung dari dekat.
"Yah,
meskipun festival budaya, jumlah penontonnya cuma segini ya."
"Karena
tidak semua orang tertarik pada klub musik ringan, kan."
Senior
Iwano dan Serika memberikan pendapat yang realistis.
……Yah,
justru kalau dibandingkan dengan festival budaya pada umumnya, jumlah ini
mungkin lebih banyak.
Di depan
panggung, meski karena kekuatan orang dalam, suasananya cukup meriah. Tanpa
basa-basi di MC, lagu pertama dimulai.
Jujur saja,
mereka tidak mahir. Ritme
berantakan, suara gitar tidak terdengar jelas.
Keseimbangan
suara kurang bagus, suara vokalis tidak terlalu terdengar. Sudah jelas sekali
mereka gugup.
Saat
mendengarkan permainan sambil bersiap di tenda belakang panggung,
"Woi, Kengo!
Lama tak jumpa!"
Ada
seorang siswi yang berlari ke arah kami. Rambut hitam bergelombang dengan tahi
lalat di bawah mata adalah ciri khasnya.
Wajah
yang belum pernah kulihat. Dia memanggil senior Iwano tanpa sebutan kehormatan,
jadi dia pasti senior. Apa dia senior tahun ketiga dari klub musik ringan yang
sudah pensiun?
"Shishou
(guru). Halo."
"Ahaha,
aku sudah berulang kali bilang berhenti memanggil seperti itu, memalukan."
Siswi
yang dipanggil guru itu menyikut perut senior Iwano.
Hanya
dari itu, aku sudah tahu mereka punya hubungan yang akrab.
Bagaimanapun, dia
bisa menyikut perut senior Iwano itu. Apa orang ini adalah guru yang mengajari
senior Iwano bermain drum?
"Senior
Asano. Halo."
Dari sapaan
Serika, aku mengetahui namanya. Apakah dia Senior Asano?
"Aku dengar, ya. Katanya kondisimu bagus?"
"Ya, berkat bantuanmu."
Senior Iwano menjawab dengan ekspresi kaku seperti biasanya.
Senior Asano menghela napas lega.
"Aku
tuh ya, khawatir. Kamu kan terlihat menyeramkan? Jadi aku takut adik kelas
tidak ada yang mau membuat band denganmu. Yah, untungnya kekhawatiranku itu
sia-sia!"
Itu sama
sekali bukan kekhawatiran yang sia-sia, tapi semua orang membaca suasana dan
tidak ada yang mengatakannya.
"Kamu
Serika-chan, kan? Terima kasih ya sudah mengajak orang ini."
Ucap
Senior Asano sambil memukul-mukul Senior Iwano.
"Karena aku
menyukai drum Senior Iwano."
"Oh, bagus
sekali. Aku juga merasa dipuji, nih."
Kemudian, Senior
Asano melirik ke arahku dan Naru.
"Kalian juga
terima kasih ya. Pasti susah kan karena orang yang kaku ini."
"T, tidak!
Aku sangat berterima kasih pada Senior Iwano……!"
Melihat sikap
Naru yang menggelengkan kepala dengan sekuat tenaga, Senior Asano tertawa
terbahak-bahak.
"Apa kau
Haibara-kun? Aku menantikannya."
Dadaku
ditepuk pelan dengan punggung tangan. Entah mengapa, gestur itu
memberiku keberanian.
"Kalau begitu, aku pergi dulu."
Senior Iwano memanggil Senior Asano yang akan pergi setelah
mengirimkan dukungan.
"……Shishou. Aku dengar. Akhirnya kau punya pacar yang
ditunggu-tunggu ya."
Senior Asano
menghentikan gerakannya seketika. Lalu, dia mendekati Senior Iwano dengan gerakan seperti mesin yang
rusak.
"D, dari
mana kau dengar itu! Padahal aku menyembunyikannya!?"
"Biasa saja,
Kano yang mengatakannya."
"A, bajingan
itu……! Harusnya aku tidak usah mengatakannya saja……!"
Senior Asano marah dengan wajah memerah. Kano yang dimaksud sepertinya adalah ketua klub
saat ini.
"Selamat
ya."
Senior Iwano
mengatakannya dengan nada suara yang tetap tenang. Senior Asano menggaruk
pipinya dengan perasaan canggung.
"Apa kau
tidak mengejekku karena senang sekali sebelum ujian?"
"Jarang
sekali Shishou terlihat negatif. Tolong rayakan dengan jujur."
"B, berisik!
Aku sudah cukup merayakannya!"
Senior Asano memukul-mukul Senior Iwano untuk membantah.
Namun, tampaknya tidak ada efeknya pada tubuh baja Senior Iwano. Tapi, jarang
sekali Senior Iwano banyak bicara seperti ini.
"Tolong tonton konser kami bersama pacarmu. Aku akan
memberkati kalian."
"……Padahal aku memang sudah berencana menontonnya, ah
sudahlah. Baiklah, aku mengerti."
Senior Iwano mendeklarasikan kepada Senior Asano yang
mengangguk dengan pasrah.
"——Tontonlah. Aku akan menunjukkan permainan yang
membuat Shishou puas."
Hanya kata-kata itu, berbeda dari nada tenang biasanya,
bergema dengan kuat. Senior Asano
sepertinya terkejut karena tidak menduganya.
Lalu, dia
meninggalkan tempat itu menuju kursi penonton dengan kata-kata "Aku
menantikannya".
Di tengah jalan,
dia bertemu dengan seorang siswa laki-laki. Seorang pemuda yang tampak baik
dengan rambut hitam pendek berkacamata.
Melihat jarak
antara keduanya saat berjalan, dia pasti pacar yang dimaksud. Senior Iwano
menatap punggung keduanya dengan lekat.
"Sepertinya
penonton bertambah ya."
Saat melihat ke
arah yang ditunjuk Serika, benar saja pelanggan mulai berkumpul di halaman
tengah.
"Oh,
klub musik ringan sedang tampil ya."
"Tapi
rasanya biasa saja ya? Misulef belum?"
"Katanya Misulef
jadi penutup. Ada dua band di antaranya."
Siswa laki-laki
dari sekolah lain lewat sambil bercakap-cakap seperti itu.
"Misulef
sudah dekat?"
"Mungkin
sekitar tiga puluh menit lagi? Sedikit luang ya."
"Aku suka
sekali 'Black Witch'. Menunggu mendengarnya langsung, nih."
Dari dalam gedung
sekolah, percakapan para siswi itu pun terdengar. Aku merasa kami di tenda belakang panggung
luar ruangan juga sedang diperhatikan.
"——A,
terima kasih banyak!"
Pada
akhirnya, penampilan "Clockups" berakhir tanpa keseruan yang berarti.
Anggota band "Clockups" menunjukkan ekspresi rumit yang tak bisa
dijelaskan.
Bersamaan
dengan suara tepuk tangan yang terdengar jarang, anggota "Clockups"
meninggalkan panggung.
"Sialan."
"Penampilan
tadi tidak terlalu berjalan mulus ya."
"A, maaf.
Kalau saja aku tidak terburu-buru dengan ritme tadi……"
"……Ya. Yah
mau bagaimana lagi. Sejujurnya, kita memang segini kemampuannya."
"Karena
tidak banyak berlatih. Harusnya lebih banyak latihan tadi."
Mereka tertawa
bersama seperti itu. Suara tawa yang entah bagaimana terdengar hampa.
"Kerja
bagus."
Serika menyapa
anggota "Clockups".
"A, ah.
Terima kasih."
Ada jawaban yang
terasa canggung. Yah, karena kami adalah band "sisa-sisa" klub musik
ringan. Aku pikir mereka sulit untuk berinteraksi.
Senior Iwano
mungkin ditakuti, Naru mungkin eksistensinya tidak diingat, dan aku sendiri
jelas-jelas bukan siapa-siapa. Serika juga sepertinya agak dihindari.
"Clockups"
pergi dalam suasana yang canggung. Di antaranya, band utama tahun kedua
termasuk ketua klub naik ke panggung.
"A—a. Halo, kami band bernama 'Armadillo Tank'."
Ketua
klub yang berdiri di depan mikrofon menyapa dengan membungkuk.
Apakah
orang-orang yang bersorak di barisan depan panggung adalah teman-teman tahun
kedua?
"Yah,
sejujurnya kupikir semua orang datang karena menantikan Misulef, tapi
kuharap kalian bisa menikmati kami sebagai pembuka. Mohon dukungannya! Baiklah,
dari lagu pertama—"
Saat
penampilan dimulai, suara-suara di sekitar perlahan mulai tidak terdengar. Aku
bisa fokus dengan baik. Kondisi tenggorokanku juga bagus. Jariku pun bergerak.
Kalau aku, pasti bisa.
Saat
sedang berpikir begitu, bahuku ditepuk dari samping. Saat aku melihat ke sana,
Naru yang berwajah pucat sedang gemetar hebat.
"Gu-gugup
sekali…… awawa……"
"Ka-kenapa……
sampai tadi kau cukup tenang, kan?"
"Ka-kalau
berpikir bahwa segalanya diputuskan dalam penampilan ini…… tiba-tiba……
tangan, tanganku…… tanganku gemetar……"
Aku juga gugup, tapi melihat sosok yang lebih gugup dariku
membuatku tenang.
Mungkin melihat "Clockups" tadi juga berpengaruh.
Berbicara buruk, itu adalah konser yang sulit disebut
sukses.
"D, ditambah lagi…… sepertinya penonton yang datang
kebanyakan untuk melihat kita……"
Penampilan band ketua klub "Armadillo Tank"
memasuki paruh kedua.
Jumlah penonton bertambah secara eksponensial, menjadi
pemandangan yang tidak terasa seperti festival budaya SMA.
"Armadillo Tank" memainkan lagu copy-an
BUMP, dan karena vokal ketua klub bagus, itu cukup meriah.
Dibandingkan
"Clockups", perbedaan keterampilan instrumennya seperti bumi dan
langit.
Padahal
mereka seharusnya tidak banyak berlatih, mungkinkah bisa melakukan konser
sebesar ini?
Aku mengerti
alasan Serika mengatakan itu sangat disayangkan.
Terutama ketua
klub, aku merasakan karisma atau aura darinya.
Karena kami yang
akan tampil sebagai penutup setelah band ini, aku menjadi gugup karena
tekanannya. Namun,
"Tidak
apa-apa. Kita pasti bisa!"
Aku menepuk
punggung Naru yang gemetar hebat dengan keras.
"Sakit!?"
Maaf, tadi
sedikit terlalu keras. Lihat, aku juga gugup dan kekuatan tanganku……
"Maaf, maaf.
Ayo kita bernapas dalam-dalam dulu."
Naru mengikuti
saranku, mengulangi pernapasan dalam suuuu, haaaa.
"Te-terima
kasih…… mungkin sedikit lebih tenang."
"Aku suka
lagu 'Sinkokyuu' dari Super Beaver, lho." TN: Lagu
Favorit gw nih :v dan juga lagu dari ending ke 9 Naruto Shippuden
"Yah, itu
sih aku paham. Tapi, rasanya mendadak sekali."
Serika yang
sedang mengamati penampilan Armadillo Tank tampak seperti biasanya.
"Apa kau
tidak gugup?"
"Aku gugup. Hanya saja tidak terlihat di
luar."
Ucap
Serika tanpa mengubah ekspresi wajahnya. Memang benar, entah mengapa aku merasa
dia tidak banyak bicara hari ini.
"Jangan
khawatir jika ritme berantakan. Aku akan menyokongmu."
"Lakukanlah
sesukamu."
Kata-kata yang
sangat bisa diandalkan. Karena Senior Iwano yang mengatakannya, itu terasa
sangat meyakinkan.
Berkat semua
latihan yang telah kami lalui, Naru pun mengangguk dengan jujur. Saat-saat
seperti ini, aku benar-benar merasa dia memang seorang senior.
Yah, aku juga
merasa seperti senior tujuh tahun. Aku harus bisa mendukung Naru dengan baik.
"——Kita
ingin bersinar, kan? Mari kita tunjukkan kepada mereka sisi keren kita."
Sambil mengatakan
itu, aku menopang pundak Naru dan kami berdiri bersamaan.
"Y,
ya……!"
Tepat saat itu,
lagu terakhir dari Armadillo Tank baru saja berakhir.
Kursi
penonton sedang dalam puncak antusiasme. Di tengah sorak-sorai yang meriah, Armadillo
Tank turun ke belakang panggung.
"Yah, untuk
ukuran band pembuka, penampilan kalian lumayan, kan?"
Serika
mengangguk mantap kepada ketua klub yang menyeka rambutnya dengan handuk.
"Lumayan
bagus. Aku memberikan pujian untukmu."
"Haha, itu
suatu kehormatan."
"H,
Hondou-san. Sikapmu terhadap senior……"
Naru menunjuk
dengan ragu, lalu Senior Iwano mengangkat bahunya.
"Sudah
terlambat untuk itu. Aku bahkan belum pernah melihatnya menggunakan bahasa
sopan kepada orang lain."
"E,
eh……?"
Yah, kurasa bagi
Naru yang selalu menggunakan bahasa sopan, ini seperti berada di dimensi yang
berbeda. Saat aku sedang memikirkan hal itu, sebuah tangan diletakkan di
pundakku.
Ketua klub sedang
tertawa.
"Giliran
tokoh utamanya, nih."
Ketua
klub memberitahuku dengan seringai. Dari telapak tangannya, aku merasakan panas setelah dia menuntaskan tiga
lagu.
"Yah, kalau
sedikit ada kesalahan pun, bisa ditutupi kalau penontonnya antusias. Jadi,
rileks saja, oke?"
Dia orang yang
baik. Dia mencoba membuat kami yang sedang gugup menjadi lebih santai.
Bahkan sebelum
dimulai, dia juga sempat mendukung Clockups. Aku bisa merasakan
perhatiannya kepada adik kelas.
"……Aku akan
berusaha."
Kami naik ke atas
panggung luar ruangan yang tirainya baru saja diturunkan. Panggung terasa lebih
sempit dari yang kubayangkan.
Mungkin karena
tirainya menghalangi pandangan ke arah penonton. Aku berdiri di depan mic stand yang
diletakkan di tengah depan.
Kami memulai setting
peralatan menggunakan perlengkapan yang ditinggalkan senior. Aku menyerahkan
pengaturan suara kepada Serika.
Wajahnya terlihat
sedikit lebih sulit dari biasanya. Yah, karena ada banyak penonton.
Kalau
volumenya kecil, tidak akan terdengar. Kalau volume instrumen terlalu besar
hingga suara vokal tenggelam, itu juga percuma.
Kami
harus membuatnya sekeras mungkin dalam keseimbangan volume yang optimal. Aku
memeriksa kembali tuning gitarku.
Serika
dengan teliti memutar-mutar Effector-nya. Senior Iwano berkali-kali menyesuaikan posisi
perangkat drumnya.
Naru
menyentuh senar basnya sambil terus mengatur napas dengan napas dalam.
"……Terima
kasih, semuanya. Karena sudah mengikuti kemauanku yang egois ini."
Mendengar
kata-kata Serika yang tiba-tiba, kami semua menunjukkan reaksi masing-masing.
"Aku hanya
melakukannya untuk diriku sendiri. Bukan karena dirimu."
"S, sama
halnya dengan aku. ……Aku minta maaf kepada Hondou-san."
"Aku bukan orang sebaik itu yang bisa berjuang sejauh
ini hanya karena alasan orang lain. Jadi, aku memainkan bas untuk diriku
sendiri."
Tatapan Serika beralih padaku. Aku mengangkat bahu.
"——Aku juga,
hanya ingin menunjukkan sisi kerenku kepada gadis yang kusukai, itu saja."
Bukan berarti aku
melakukannya demi Serika. ……Hanya saja, aku berharap usahaku tidak hanya untuk
diriku sendiri, tapi juga bisa membantu tujuan dari tiga orang lainnya.
"Kalian
tidak kompak ya."
Ucap
Serika sambil tertawa. Sekumpulan orang-orang tersisa dengan tujuan yang
berbeda-beda.
Hanya
dalam waktu satu setengah bulan. Menurutku, kami berempat adalah sebuah
keajaiban.
Empat
orang yang seharusnya tidak akan pernah berkumpul.
"Tapi,
setidaknya kita sepakat untuk memberikan konser terbaik. Band terbaik yang
kukumpulkan."
Ya, benar
begitu, Serika. Tempat ini adalah tempat yang kau buat.
Sekumpulan
orang yang terpengaruh oleh suaramu. Jadi, kami akan membuktikannya.
Bahwa
waktu yang dihabiskan berempat ini benar-benar memiliki nilai.
"Mari kita
berjuang. Tanpa ada penyesalan."
Serika membentuk
simbol lingkaran dengan kedua tangannya ke arah panitia yang berjaga di
panggung.
Gadis panitia itu
mengangguk, lalu berlari ke belakang panggung dengan langkah kaki yang
terburu-buru.
"Kalau begitu, mari sambut band terakhir hari ini——Mish-Mash
Leftovers!"
Suara MC yang diperkuat microphone bergema, dan
terdengar suara penonton bersorak "Ooooh!".
Tirai diangkat perlahan. Pandanganku perlahan menjadi
jernih.
Hal pertama yang kulihat adalah lautan penonton yang
memadati depan panggung. Siswa sekolah lain dan siswa kami bercampur menjadi
satu.
Saat Armadillo Tank tampil pun aku merasa penontonnya
banyak, tapi kali ini lebih dari itu.
Yah, mungkin karena ini adalah penutup festival budaya, tapi
alasan terbesarnya pasti promosi lewat media sosial.
Tirai diangkat sepenuhnya, memperlihatkan langit yang
diwarnai warna senja. Pencahayaan panggung luar ruangan yang bersinar terang
memberikan suasana yang unik.
Selain penonton yang berkumpul di depan panggung, ada
orang-orang yang melihat dari sekitar stan makanan. Ada juga yang mengintip
dari jendela gedung sekolah.
Aku yakin banyak yang awalnya tidak tertarik pada kami. Tapi mereka mungkin penasaran setelah
melihat keributan ini.
Jika tidak,
jumlah orang sebanyak ini tidak akan terkumpul. Di tengah barisan penonton,
terdapat siswa kelas 1-2.
Mungkin kafe
mereka sudah tutup, hampir semua teman sekelas berkumpul di sana. Nanase, Hino,
dan Fujiwara juga ada.
Di tengah
teman-teman sekelas itu, aku melihat sosok Hoshimiya. Hoshimiya menautkan kedua
tangannya di depan dada sambil menatapku lekat-lekat.
Meskipun sedikit
jauh, aku bisa melihatnya dengan jelas. Saat aku mengangguk, Hoshimiya mengangguk
kembali.
Di
barisan paling depan, ada Namika dan teman-temannya. Namika berteriak
"Kakak, semangat!" sambil mengayunkan Penlight.
Adikku sayang,
dari mana kau mendapatkan Penlight itu……? Anggota klub musik ringan yang
jarang berinteraksi denganku pun ikut memeriahkan suasana.
Di sisi lain, di
bawah bayangan pohon di barisan paling belakang, Ryota dan Miori berdiri
berdampingan melihat kami.
Bahkan dengan
penonton sebanyak ini, jika kucari, aku bisa menemukan hampir semua temanku.
——Uta dan
Tatsuya tidak ada. Tidak
terlihat di mana pun.
"Aku
menantikannya. Aku akan melambaikan tangan dari barisan paling depan, ya!"
Aku teringat
kata-kata Uta dan menggelengkan kepala. Ini adalah jalan yang kupilih.
Kami
berempat saling bertukar pandangan dan mengangguk. Suara pertama yang terdengar
adalah nada tinggi dari Hi-hat.
Stik drum
dipukulkan ke Snare Drum dan mulai menapaki Beat. Saat penonton
yang riuh mulai terdiam, suara Drum Solo yang dimainkan Senior Iwano
semakin menonjol.
——Sejak
awal, aku memutuskan untuk memikat penonton dengan penampilan daripada MC yang
buruk.
Drum yang dimainkan Senior Iwano
dengan seluruh tubuh besarnya menjadi hantaman yang menyerbu penonton. Suara
penuh gairah itu bergema dari telinga hingga ke dasar perut.
Drum
Solo dengan
intensitas tinggi yang luar biasa mencapai akhirnya, dan ritme perlahan menjadi
cepat. Tepat saat Beat mencapai puncak gunung, suara yang merobek udara
adalah Guitar Solo yang cemerlang dari Serika.
Penonton
memanas melihat performa Serika yang melangkah maju ke depan panggung dan
memainkan gitarnya. Di tengah Riff tajam bagaikan pedang milik Serika,
Senior Iwano kembali menambahkan suara Drum.
Aku dan
Naru menyesuaikan napas, masuk ke dalam performa mereka berdua. Kami mengubah
suara yang tadinya terpisah menjadi sebuah lagu.
Lagu
pertama——Black Witch.
Sorak-sorai
kembali meledak saat intro yang familiar terdengar. Suara teriakan bagaikan
deru badai membuat kakiku bergetar.
Seolah suara kami
hampir kalah. Luar biasa. Apa ini? Panas yang luar biasa ini.
Apakah ini…… yang disebut live? Bertolak belakang
dengan perasaan yang meluap, tanganku memainkan Chord dengan ketenangan
sedingin es.
Meski diterpa angin kencang, burung bernama melodi yang kami
ciptakan terbang bebas di langit. Banjir suara yang melebihi BPM 200
menelan kursi penonton dari atas panggung.
"Ayo!"
teriak Serika ke arah mikrofon sambil bermain gitar. Balasan sorak-sorai penonton menjadi panas dan
sampai kepada kami.
Panas itu menjadi tenaga pendorong bagi kami. Aku menarik napas dalam-dalam.
Aku mulai
bernyanyi seolah mendorong suara itu dari perutku. ——Seumur hidup, aku hanya
mengandalkan musik.
Musik telah
menyelamatkanku. Musik adalah segalanya bagiku. Mulai sekarang pun, aku akan
hidup untuk memainkan musik.
Gitar adalah
kekasihku. Aku menyanyikan lirik yang menggambarkan perasaan Serika itu seolah
berteriak.
Sambil berharap
suaraku sampai kepada seseorang. Hi-hat dipukul dengan penuh semangat.
Melodi dari Alternate
Picking Serika membawa lagu ke bagian Reff. Bas Naru dengan kokoh
menopang kami.
Aku memetik Power
Chord dengan stroke yang intens sambil meningkatkan volume suaraku. Chorus
Serika menopang suara nyanyianku.
Tatapan kami
bertemu. Bagaimana, Serika? Apa kau menikmatinya?
Dunia yang kau
lihat apakah sudah berubah? Tidak perlu bertanya pun, perasaan Serika kini aku
mengerti dengan jelas.
Suara gitarnya
yang seolah melompat-lompat memberitahuku. Bagian Reff kedua berakhir,
lalu masuk ke C-Melody.
"Serika!"
teriakku. Serika maju ke depan menggantikanku. Guitar Solo yang luar
biasa yang dimainkan dengan menggoyangkan seluruh tubuhnya menelan segalanya.
Bulu kudukku
meremang seketika. Inilah yang disebut takjub. Padahal aku sudah mendengarnya
berkali-kali, tapi aku tetap merasakan guncangan yang sama.
Ini adalah suara
gitar yang mengubah dunia kami. Entah kenapa. Aku tersenyum secara alami.
Kekakuan karena
gugup mulai menghilang. Baik atau buruk, ini adalah penampilan pertama
sekaligus terakhir.
Serika suatu saat
nanti akan menemukan rekan setingkatnya, dan kali ini dia akan pergi mengubah
dunia yang lebih luas. Aku merasa sangat menantikan masa depan itu.
Karena itulah,
untuk saat ini, aku meresapi kebahagiaan bisa tampil bersama Serika. Setelah
melewati Reff terakhir, tibalah akhir dari lagu tersebut.
Sesaat setelah
Serika mematikan suara gitarnya (Mute), sorak-sorai besar mengguncang
tanah. Rasa lelah yang luar biasa menyerangku.
Aku menyadari
bahwa tubuhku sudah basah kuyup oleh keringat. Sambil merasa goyah, aku memeras
suaraku ke arah mikrofon.
"Ah, ah……. Halo, kami Mish-Mash Leftovers."
Suara penonton
memanggil "Natsuki!", "Haibara-kun!" terdengar. Bibirku
melengkung.
"Kami adalah
empat orang yang berkumpul hanya untuk satu tujuan: memberikan konser terbaik
di festival budaya ini."
Memikirkan bahwa
sebanyak ini orang memperhatikan setiap tindakanku, aku merasa terkejut lagi.
Padahal sebelum mengulang masa remajaku, tidak ada satu pun orang yang
mengenalku.
Entah bagaimana,
aku merasa sudah sampai sejauh ini. "Drum——Iwano Kengo."
Mengikuti
perkenalanku, Senior Iwano mengacak drum set-nya dengan suara
"Dada-dada-dan!". Dia bahkan punya waktu luang untuk memutar stik
drum.
Orang ini
ternyata tidak gugup ya. "Bas——Shinohara Naru."
Naru meliukkan
pergelangan tangannya. Bass Slap
yang tajam dan tebal bergema. Setelah selesai memainkan satu bar, Naru
memberanikan diri mengangkat kepalan tangannya ke langit.
Sorak-sorai
"Wooooo!" meledak, dan banyak juga penonton yang mengangkat tangan
mengikuti Naru. "Lead guitar——Hondou Serika."
Serika secara spontan memainkan aransemen bagian gitar Stairway
to Heaven dari Led Zeppelin. Dia
melakukan Choking pada senar ketiga dan menurunkan suara dari senar
pertama.
Benar saja, saat
giliran Serika, sorak-sorai penonton menjadi sangat berbeda. Serika melepaskan
tangannya dari gitar dan melambaikan tangan dengan antusias.
"Dan……. yah,
aku vokalisnya, Haibara Natsuki. Eeh, rasanya, maaf ya."
Kenapa aku malah
minta maaf? Komentar yang sama dengan kritikanku pada diriku sendiri terdengar
dari penonton.
Apa ini aman
karena mereka menganggapnya sebagai lelucon? Gawat, gawat. Sikap seperti ini tidak benar.
Aku sudah
memutuskan hari ini untuk menunjukkan sisi kerenku kepada gadis yang kusukai.
"……Sejujurnya, band ini tidak punya cerita yang hebat."
"Sesuai
dengan nama band kami, kami adalah kumpulan orang-orang tersisa. Namun, kami
berempat akan melakukan konser terbaik hari ini."
Serika
melanjutkan kata-kataku yang canggung itu. "Jadi semuanya! Maukah kalian
bekerja sama dengan kami!?"
"Oooo!"
terdengar jawaban dari penonton di barisan depan yang antusias. "Suara
kalian kecil! Maukah kalian bekerja sama dengan kami——!?"
Tanggapan Serika
dengan suara lantang disambut dengan sorakan "Ooooooo!" yang
mengguncang bumi. Serika menatapku sambil tertawa.
Dia sudah
terbiasa dengan panggung. Aku tidak akan menang melawannya. Sambil berpikir
begitu, aku melirik Senior Iwano di belakang.
Senior Iwano
mengangguk dan mulai bermain dari hitungan empat. Intro dari Serika mulai
bergema, dan tepuk tangan penonton mulai terjadi.
Ritmenya sedikit
lebih cepat daripada lagunya, tapi Senior Iwano tidak akan terpengaruh oleh hal
seperti itu. Aku pun mendeklarasikan.
"Lagu kedua!
——'Monochrome'!" Chord gitarnya lebih rumit daripada lagu pertama,
tapi jariku sudah bergerak dengan sendirinya.
Semua latihan
yang membuat tanganku berdarah tadi membuahkan hasil. Sekarang di sini, aku
bisa memetik gitar dengan bangga.
Bagian A-Melody
yang bagaikan ombak besar berakhir, dilanjutkan dengan Arpeggio Serika
yang memberikan dinamika.
Setelah jeda satu
ketukan, Reff dimulai dengan suasana yang intens dan berat, namun sedih
bagaikan malam yang gelap dan dingin.
"Aku
tidak ingin menyesal lagi, di dunia monokrom dan hari-hari yang memudar."
Aku
berteriak sambil menyanyikan lirik yang kubuat sendiri, bahwa aku akan
mengubahnya. Aku telah
berusaha keras sampai hari ini.
Demi mendapatkan
masa remaja berwarna pelangi yang kuinginkan kali ini.
Ada kalanya aku
bingung karena tidak tahu apa yang kuinginkan.
Semakin aku
menginginkan warna pelangi, semakin aku tersiksa karena tidak bisa terus
seperti itu.
Meskipun begitu,
setelah memilih dan melangkah, di sinilah aku berdiri sekarang.
Aku berharap
diriku yang hari ini sedikit lebih keren dari diriku yang kemarin. Aku
mengeraskan suaraku agar tidak kalah dengan antusiasme penonton.
Meskipun suaraku
hampir serak, aku tidak menutup-nutupinya dan berteriak dengan sungguh-sungguh.
Suara yang sangat indah bergema.
Tempat ini
benar-benar terasa sangat nyaman. Semua orang mendorong punggungku agar aku
bisa menjadi tokoh utama.
Terima kasih. Aku ingin terus berendam dalam suara band
ini selamanya.
Meski berpikir
begitu, waktu berjalan dalam sekejap mata, dan lagu pun masuk ke bagian Ooreff.
"Terima
kasih, aku ingin menyampaikannya kepada kalian semua. Bahwa dunia ini diubah
oleh kalian yang ada bersamaku."
Memang
benar aku telah berusaha. Tapi, hal itu saja tidak akan mengubah warna dunia.
Aku merasa sangat diberkati.
Karena
ada orang yang ingin kubuat bahagia saat bersama di dekatku. Jadi, aku ingin
menyampaikan terima kasih kepada semuanya.
Lagu ini
adalah lagu tentang hal itu. Resonance bergema. Tak lama kemudian,
kesunyian yang dalam pun datang.
Sebanyak
ini penonton menunggu aku yang terengah-engah untuk mulai berbicara. Setelah
menenangkan detak jantung yang berdebar kencang dan mengatur napas, aku
mendeklarasikan.
"——Selanjutnya,
lagu terakhir. Lagu yang belum pernah kami ungkapkan. Serika yang membuat
musiknya, dan aku yang menulis liriknya."
Sorak-sorai
bagaikan deru badai seolah mengatakan "akhirnya". Antusiasme penonton tampaknya telah
mencapai puncaknya.
Aku menunggu
hingga menjadi tenang sejenak sebelum menarik napas. Keberanian dibutuhkan
untuk mengatakan apa yang akan kukatakan sekarang.
Detak jantungku
berpacu, dadaku serasa akan meledak. Namun, aku tetap membusungkan dada,
berpura-pura keren agar kegugupanku tidak disadari.
"Lagu ini,
aku persembahkan untuk gadis yang kusukai. Silakan didengarkan——'Kepada Bintang'."
Teriakan-teriakan
melengking terdengar. Kali
ini lagu ketiga dimulai tanpa menunggu suasana menjadi tenang.
Lagu dengan tempo
yang lebih lambat dan suasana yang tenang dibandingkan lagu pertama dan kedua.
Sepertinya mereka mengerti kalau ini bukan lagu yang meriah tapi lagu yang
menuntut pendengar.
Para penonton pun
mulai menggoyangkan tubuh mengikuti ritme. Mereka yang antusias di barisan
paling depan merangkul pundak satu sama lain mengikuti ritme.
Saat kulihat ke
tengah-tengah penonton, hanya di sekitar Hoshimiya yang terlihat agak kosong.
Sepertinya teman sekelas memberikan ruang agar aku mudah melihatnya.
Padahal aku sudah
menyadarinya sejak awal. Hoshimiya Hikari menatapku lekat-lekat dengan senyum
yang teduh.
"Di
bawah deretan pohon sakura, aku mengingat percakapan yang tak berarti. Kau menyelamatkanku saat kau bilang ada
hal yang kau sukai meski kau merasa payah."
"Bahwa
penyamaranku ini bukanlah kesalahan."
Jika dipikirkan
secara dingin, aku tidak bisa membayangkan kalau saat itu aku sampai memastikan
lirik seperti ini kepada Hoshimiya, aku pasti sudah gila saat itu.
Tapi aku tidak
menyesal. Karena lirik yang lebih baik telah tercipta.
"Di malam saat bulan terlihat, aku melarikan diri."
Aku tidak bisa
memutuskan apa pun. Aku tidak punya kepercayaan diri.
Aku tidak yakin
bisa membuatmu bahagia. Hari-hariku hanya kuhabiskan dengan pamer,
kepura-puraan, dan terus melarikan diri.
Tapi
sekarang, dengan lagu ini.
Selama membuat
lirik ini, aku terus memikirkan Hoshimiya.
Aku ingin menjadi
seseorang yang pantas untukmu, orang yang paling kucintai.
Daripada
menggunakan kalimat yang terdengar sok keren seperti itu, aku bisa
mengungkapkannya dengan cara yang lebih sederhana. Aku hanya ingin terlihat
keren di matamu. Hanya itu.
"Walau
tanganku hanya bisa menggapai bayangan bulan di permukaan air. Dengan musik
ini, aku akan mengubah dunia yang kau lihat, seperti bagaimana kau telah
mengubah diriku. Aku tak bisa menunggu malam bulan purnama lagi. Perasaan yang
meluap ini..."
Aku mencintai
musik.
Aku mencintai
band rock.
Aku mencintai
nada gitar yang dimainkan Serika.
Aku mencintai
bernyanyi.
Aku mencintai
suara yang kami berempat ciptakan.
Dan aku sangat
mencintai Hoshimiya Hikari.
Karena itulah
sekarang aku berdiri di tempat ini, meneriakkan lagu ini.
"Meski
terlihat berantakan, tetaplah menatap ke depan. Meski terjatuh, bangkitlah
kembali. Demi mengubah idealisme itu menjadi kenyataan suatu saat nanti. Menuju
diri yang pantas untukmu."
Seberapa pun
kerasnya kami berlatih, pertunjukan ini berlalu dalam sekejap mata.
Kami sudah
mencapai bagian akhir dari lagu terakhir, dan irama musik berhembus kencang
bagaikan angin. Aku bernyanyi dengan sekuat tenaga. Aku memetik gitarku dengan
sekuat tenaga.
Tanpa sadar,
tempat ini telah dipenuhi oleh sorak-sorai dan suara tepuk tangan yang meriah.
Saat aku mendongak, semua orang menatap kami dengan senyuman.
Di balik kerumunan itu, Hoshimiya membuka
mulutnya lebar-lebar dan menyampaikan kata-kata untukku.
Meski suaranya
teredam oleh sorak-sorai, aku bisa mengerti apa yang ia katakan hanya dari
gerak bibirnya.
Dia mengucapkan
terima kasih.
Itu sampai.
Perasaanku, lagu ini—semuanya sampai ke hati Hoshimiya.
Aku berhasil
melakukannya. Napasku terengah-engah. Pandanganku pun kabur. Sangat sulit untuk
tetap berdiri tegak.
Mungkin karena
melihatku yang kelelahan hingga tak mampu berkata-kata, Serika mendekat ke
mikrofon dan berseru.
"Sekian!
Kami Mischelef! Terima kasih banyak!"
Sorak-sorai
yang luar biasa besar membahana.
Tirai
perlahan turun. Aku bisa mendengar suara tepuk tangan penonton.
Aku
merasa enggan untuk berpisah, jadi aku menatap kerumunan penonton itu sekali
lagi. Sebanyak apa pun kulihat, aku tetap tidak percaya.
Bahwa
sebanyak ini orang menonton konser kami. Kupikir ini akan menjadi harta karun seumur hidupku.
Dengan suara
parau, aku bertanya pada Mei.
"Hei, apakah
tadi kita melakukan konser yang terbaik?"
"Apa yang
kau katakan, Natsuki?"
Mei, yang
tampak bersemangat, menepuk punggungku.
"Kalau
ini bukan yang terbaik, lantas apa lagi namanya?"
Kurasa apa yang
dikatakan Mei benar. Aku
menanyakan hal yang bodoh.
Kakiku
goyah dan hampir terjatuh, namun Iwano-senpai menangkapku dan menopang bahuku.
"Kerja
bagus. Dengan ini, aku tidak punya penyesalan lagi."
Serika,
yang masih melamun bahkan setelah lagu berakhir, berbalik ke arah kami.
"……Natsuki!"
Serika
menerjang dan memeluk dadaku.
Aku
hampir terjatuh karena dorongannya yang kuat, namun Iwano-senpai segera
menopang tubuhku.
"Kemenangan
milik kita!"
Aku tidak
tahu apa tolok ukur yang ia gunakan untuk menentukan menang atau kalah, tapi
itulah yang diteriakkan Serika.
Aku
bermandikan keringat, begitu pula dengan Serika. Ini pertama kalinya aku
melihat Serika mengekspresikan emosinya secara langsung seperti ini. Melihat
Serika yang memelukku erat, senyum tanpa sadar merekah di bibirku.
"……Serika.
Padahal aku baru saja mempersembahkan lagu cinta untuk gadis yang
kusukai."
Berada
dalam situasi seperti ini tepat setelahnya, jujur saja, sedikit membuat
canggung.
Aku
menepuk-nepuk punggungnya. Serika perlahan melepaskan pelukannya, lalu
tersenyum tipis.
"Kaku
sekali ya, Natsuki. Tidak perlu khawatir begitu, pacarku kan gitar."
"Aku
tahu itu. Yang kumaksud, aku hanya khawatir dengan apa yang dipikirkan
orang-orang di sekitar kita."
Serika
mengetuk dahiku pelan dengan kepalan tangannya, lalu bergumam, "Dasar
bodoh." Emosi apa sebenarnya yang ia rasakan?
Di tengah
kebingunganku, Serika segera bangkit berdiri.
Tepat
saat kami hendak kembali ke belakang panggung, suara permintaan encore
mulai terdengar.
Aku
menatap gadis dari panitia festival budaya yang berada di dekat kami, dan ia
membalasnya dengan anggukan.
"Masih ada
sepuluh menit sebelum penutupan, jadi tidak masalah."
Begitu ya. Karena
kami adalah penampil terakhir, kami bisa menggunakan sisa waktu jika jadwal
sebelumnya berjalan lancar.
"……Natsuki,
apa kau masih bisa bernyanyi?"
"Entahlah.
Tapi suaraku sudah serak. Mungkin lebih baik kalau Serika yang memegang posisi vokalis
utama."
"Lagipula,
memangnya ada lagu yang bisa kita bawakan?"
"Kurasa
ada beberapa lagu cover yang sempat kita latih sebagai selingan."
Kami
saling berpandangan dan tertawa getir.
Sepertinya
konser ini belum harus berakhir. Waktu kami masih akan berlanjut sedikit lagi.
Aku hanya berharap, semoga momen ini bisa bersinar lebih lama, meski hanya sebentar lagi.



Post a Comment