Epilog
Bersama Sahabat Masa Kecil Menuju Operasi
Berikutnya
"——Yah,
bukankah hasilnya bagus?"
Miori berkata
begitu setelah meminum kopinya seteguk, tepat setelah dia selesai mendengarkan
kronologi kejadian dari awal hingga akhir.
Tempatnya adalah
di kedai kopi Mares, tempat kerja sambilanku. Karena kopinya benar-benar enak,
akhir-akhir ini aku jadi sering mampir ke sini sebagai pelanggan juga.
Lagipula, aku dapat diskon karyawan.
Sebagai tanda
terima kasih karena dia sudah memberiku solusi, aku memutuskan untuk
mentraktirnya kopi.
Sedikit
merepotkan kalau sampai terlihat berduaan oleh Nanase, tapi untungnya hari ini
dia tidak masuk shift.
"Terima
kasih ya. Aku terbantu sekali olehmu."
"Heh.
Jarang-jarang ya, kamu bisa jujur begitu?"
"Apa sih.
Bukannya jujur itu saranmu sendiri?"
Saat aku
mengerucutkan bibir, Miori tertawa geli sembari menopang dagu di atas meja.
"——Yah,
sejujurnya sih, aku merasa tanpa aku bilang apa pun pun, masalahnya bakal
selesai dengan sendirinya."
"Eh?"
"Soalnya,
menurutku Tatsuya-kun juga sadar kalau dia nggak bisa terus-terusan begitu.
Kalau masalahnya makin panjang, aku yakin Reita-kun bakal menariknya kembali
dengan paksa. Mungkin, ya."
...Kalau
dipikir-pikir, ada benarnya juga.
Reita-lah yang
bilang padaku kalau "waktu akan menyelesaikan segalanya". Kalau
begitu, mungkin itu adalah pernyataan niat bahwa jika waktu tidak bisa
menyelesaikannya, maka dialah yang akan turun tangan.
"……Hmm? Eh?
Jangan-jangan, aku mempermalukan diriku sendiri tanpa guna?"
"Fufu,
menurutku nggak ada yang sia-sia kok."
Miori menggodaku,
bilang kalau kejadian itu lucu. Sepertinya aku bakal terus dihantui oleh cerita
ini...
"Lagipula,
sekarang kamu jadi lebih akrab dengan semuanya, kan? Natsuki juga sudah
ketahuan masa lalunya, jadi baik atau buruk, kamu jadi lebih mudah bersikap.
Kamu nggak perlu lagi memaksakan diri menjaga gengsi."
"……Yah,
benar juga."
Sejujurnya, aku
tidak ingin Hoshimiya sampai tahu.
Tetap saja,
bukankah pria mana pun pasti ingin terlihat keren di depan gadis yang
disukainya?
"——Dan kalau
Natsuki sudah akrab dengan mereka semua, aku juga jadi bisa lebih mendekati
Reita-kun."
Miori menyatukan
kedua tangannya seolah sedang berdoa, lalu menggeliatkan tubuhnya dengan wajah
memerah.
"Karena aku
sudah kasih banyak saran, kamu juga harus kerja sama denganku, ya? Kita kan
rekan kerja sama?"
Terus terang itu
merepotkan, tapi itulah kontrak kami.
Sebagai ganti
bantuan darinya untuk rencana masa mudaku yang penuh warna, aku akan bekerja
sama dalam rencananya untuk mendekati Reita. Bagiku, ini adalah pekerjaan yang
hanya bisa kupinta pada dia yang mengenal diriku luar dalam. Dan baginya, ini
adalah pekerjaan yang hanya bisa diminta pada diriku yang punya hubungan akrab
dengan Reita dan teman-teman. Kepentingan kami sejalan.
"……Yah, mau
bagaimana lagi. Jadi, apa kamu sudah punya rencana?"
"Sudah ada! Judulnya: Rencana Double Date! Anggotanya adalah aku dan kamu, Reita-kun
dan Hoshimiya-chan. Kupikir ini 'sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau
terlampaui' karena kamu juga bisa mendekati Hoshimiya-chan!"
"……Eh?
Enggak ah. Itu kesannya sudah terang-terangan banget kalau lagi naksir, malu
tahu!"
"Dasar
pemula dalam percintaan!"
Miori bereaksi
berlebihan dengan wajah kecewa.
"Aku
ingin bertindak lebih hati-hati. Aku belum mau Hoshimiya sadar kalau aku naksir
dia. Aku rasa Hoshimiya bahkan belum menyadari keberadaanku, jadi aku ingin
menunggu sampai suasananya lebih mendukung dulu..."
"Waaah, itu
sih cuma takut aja. Nggak
laki banget!"
"Apa
katamu!? Orang lagi serius malah! Aku cuma sedang menghitung peluang
kemenangan—"
Saat aku
dan Miori sedang ribut, tiba-tiba ada yang menepuk bahuku dari belakang. Saat
aku menoleh, ternyata itu adalah Kirishima-san.
"Kalian
kelihatannya seru sekali, tapi tolong lebih tenang sedikit, ya?"
"Ah..."
Aku dan
Miori saling memandang ke sekeliling, dan baru sadar kalau seorang pelanggan
tetap pria sedang tersenyum kecut ke arah kami. Kami buru-buru meminta maaf,
dan pria itu hanya melambaikan tangan lalu kembali membaca bukunya.
"……Ini
gara-gara kamu."
"Apaan?
Suaramu yang lebih keras tahu!"
Saat kami sedang
saling melotot, Kirishima-san memasang senyum yang tampak usil.
"——Kalian
sedang menikmati masa muda, ya. Apa yang di sebelah ini pacarmu?"
Sesaat, aku tidak
mengerti apa yang dia bicarakan. Tapi setelah itu, aku menggelengkan kepala
dengan panik.
"
"Bukan. Sama sekali bukan dia!" "
Karena kami
mengucapkannya bersamaan, kami pun saling melotot lagi. Kirishima-san tertawa
terbahak-bahak melihat kami lalu kembali bekerja.
"……Demi
membuktikan kalau tuduhan itu salah, kita harus cepat-cepat jadian sama
Reita-kun."
"Benar juga... Aku juga ingin menjadikan Hoshimiya
pacarku."
Meski di dalam hati aku terus memikirkannya, saat
mengucapkannya dengan suara keras, rasa malu itu membuncah. Pipiku terasa panas.
Miori menatapku lalu bergumam, "Uwah... menjijikkan." Berisik.
"Oke.
Aku setuju dengan rencanamu."
Lagipula,
bisa dibilang tahap pertama dari rencana masa muda penuh warna ini telah sukses
dengan aman.
Aku sudah
mendapatkan teman-teman yang berharga, membentuk grup bersama mereka, dan
menghabiskan hari-hari dengan menyenangkan.
"Oh,
janji ya? Baiklah, kalau begitu mari kita susun rencananya secara rinci——"
Kalau
begitu, tahap kedua—tujuan berikutnya—adalah mendapatkan kekasih.
Aku
menyukai Hoshimiya. Karena itu, aku akan membuatnya jatuh cinta padaku,
menyatakan perasaanku, dan menjadikannya pacarku!
Demi tujuan itu,
aku pun mulai berlari kembali.
*
Selama tiga tahun
SMA, masa mudaku berwarna kelabu.
Penyesalan itu
terus membayangi diriku sepanjang waktu.
Hal-hal berharga
baru disadari setelah hilang. Namun, seharusnya mustahil untuk bisa kembali ke
masa lalu—tapi ternyata itu terjadi.
Entah apa
penyebabnya, aku mendapatkan kesempatan untuk mengulang masa mudaku.
Meski aku bukan
orang yang cukup hebat untuk melakukan segalanya dengan sempurna hanya karena
aku tahu sejarahnya, aku akan tetap menjalani saat ini dengan sepenuh tenaga
demi meraih apa yang dulu kuinginkan.
Sembari percaya
bahwa dunia yang kulihat saat menoleh ke belakang setelah melewati masa
sekarang ini, akan berwarna pelangi.
Volume 1 END



Post a Comment