NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Haibara-kun no Tsuyokute Seishun New Game Volume 1 Epilog

Epilog

Bersama Sahabat Masa Kecil Menuju Operasi Berikutnya


"——Yah, bukankah hasilnya bagus?"

Miori berkata begitu setelah meminum kopinya seteguk, tepat setelah dia selesai mendengarkan kronologi kejadian dari awal hingga akhir.

Tempatnya adalah di kedai kopi Mares, tempat kerja sambilanku. Karena kopinya benar-benar enak, akhir-akhir ini aku jadi sering mampir ke sini sebagai pelanggan juga. Lagipula, aku dapat diskon karyawan.

Sebagai tanda terima kasih karena dia sudah memberiku solusi, aku memutuskan untuk mentraktirnya kopi.

Sedikit merepotkan kalau sampai terlihat berduaan oleh Nanase, tapi untungnya hari ini dia tidak masuk shift.

"Terima kasih ya. Aku terbantu sekali olehmu."

"Heh. Jarang-jarang ya, kamu bisa jujur begitu?"

"Apa sih. Bukannya jujur itu saranmu sendiri?"

Saat aku mengerucutkan bibir, Miori tertawa geli sembari menopang dagu di atas meja.

"——Yah, sejujurnya sih, aku merasa tanpa aku bilang apa pun pun, masalahnya bakal selesai dengan sendirinya."

"Eh?"

"Soalnya, menurutku Tatsuya-kun juga sadar kalau dia nggak bisa terus-terusan begitu. Kalau masalahnya makin panjang, aku yakin Reita-kun bakal menariknya kembali dengan paksa. Mungkin, ya."

...Kalau dipikir-pikir, ada benarnya juga.

Reita-lah yang bilang padaku kalau "waktu akan menyelesaikan segalanya". Kalau begitu, mungkin itu adalah pernyataan niat bahwa jika waktu tidak bisa menyelesaikannya, maka dialah yang akan turun tangan.

"……Hmm? Eh? Jangan-jangan, aku mempermalukan diriku sendiri tanpa guna?"

"Fufu, menurutku nggak ada yang sia-sia kok."

Miori menggodaku, bilang kalau kejadian itu lucu. Sepertinya aku bakal terus dihantui oleh cerita ini...

"Lagipula, sekarang kamu jadi lebih akrab dengan semuanya, kan? Natsuki juga sudah ketahuan masa lalunya, jadi baik atau buruk, kamu jadi lebih mudah bersikap. Kamu nggak perlu lagi memaksakan diri menjaga gengsi."

"……Yah, benar juga."

Sejujurnya, aku tidak ingin Hoshimiya sampai tahu.

Tetap saja, bukankah pria mana pun pasti ingin terlihat keren di depan gadis yang disukainya?

"——Dan kalau Natsuki sudah akrab dengan mereka semua, aku juga jadi bisa lebih mendekati Reita-kun."

Miori menyatukan kedua tangannya seolah sedang berdoa, lalu menggeliatkan tubuhnya dengan wajah memerah.

"Karena aku sudah kasih banyak saran, kamu juga harus kerja sama denganku, ya? Kita kan rekan kerja sama?"

Terus terang itu merepotkan, tapi itulah kontrak kami.

Sebagai ganti bantuan darinya untuk rencana masa mudaku yang penuh warna, aku akan bekerja sama dalam rencananya untuk mendekati Reita. Bagiku, ini adalah pekerjaan yang hanya bisa kupinta pada dia yang mengenal diriku luar dalam. Dan baginya, ini adalah pekerjaan yang hanya bisa diminta pada diriku yang punya hubungan akrab dengan Reita dan teman-teman. Kepentingan kami sejalan.

"……Yah, mau bagaimana lagi. Jadi, apa kamu sudah punya rencana?"

"Sudah ada! Judulnya: Rencana Double Date! Anggotanya adalah aku dan kamu, Reita-kun dan Hoshimiya-chan. Kupikir ini 'sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui' karena kamu juga bisa mendekati Hoshimiya-chan!"

"……Eh? Enggak ah. Itu kesannya sudah terang-terangan banget kalau lagi naksir, malu tahu!"

"Dasar pemula dalam percintaan!"

Miori bereaksi berlebihan dengan wajah kecewa.

"Aku ingin bertindak lebih hati-hati. Aku belum mau Hoshimiya sadar kalau aku naksir dia. Aku rasa Hoshimiya bahkan belum menyadari keberadaanku, jadi aku ingin menunggu sampai suasananya lebih mendukung dulu..."

"Waaah, itu sih cuma takut aja. Nggak laki banget!"

"Apa katamu!? Orang lagi serius malah! Aku cuma sedang menghitung peluang kemenangan—"

Saat aku dan Miori sedang ribut, tiba-tiba ada yang menepuk bahuku dari belakang. Saat aku menoleh, ternyata itu adalah Kirishima-san.

"Kalian kelihatannya seru sekali, tapi tolong lebih tenang sedikit, ya?"

"Ah..."

Aku dan Miori saling memandang ke sekeliling, dan baru sadar kalau seorang pelanggan tetap pria sedang tersenyum kecut ke arah kami. Kami buru-buru meminta maaf, dan pria itu hanya melambaikan tangan lalu kembali membaca bukunya.

"……Ini gara-gara kamu."

"Apaan? Suaramu yang lebih keras tahu!"

Saat kami sedang saling melotot, Kirishima-san memasang senyum yang tampak usil.

"——Kalian sedang menikmati masa muda, ya. Apa yang di sebelah ini pacarmu?"

Sesaat, aku tidak mengerti apa yang dia bicarakan. Tapi setelah itu, aku menggelengkan kepala dengan panik.

" "Bukan. Sama sekali bukan dia!" "

Karena kami mengucapkannya bersamaan, kami pun saling melotot lagi. Kirishima-san tertawa terbahak-bahak melihat kami lalu kembali bekerja.

"……Demi membuktikan kalau tuduhan itu salah, kita harus cepat-cepat jadian sama Reita-kun."

"Benar juga... Aku juga ingin menjadikan Hoshimiya pacarku."

Meski di dalam hati aku terus memikirkannya, saat mengucapkannya dengan suara keras, rasa malu itu membuncah. Pipiku terasa panas.

Miori menatapku lalu bergumam, "Uwah... menjijikkan." Berisik.




"Oke. Aku setuju dengan rencanamu."

Lagipula, bisa dibilang tahap pertama dari rencana masa muda penuh warna ini telah sukses dengan aman.

Aku sudah mendapatkan teman-teman yang berharga, membentuk grup bersama mereka, dan menghabiskan hari-hari dengan menyenangkan.

"Oh, janji ya? Baiklah, kalau begitu mari kita susun rencananya secara rinci——"

Kalau begitu, tahap kedua—tujuan berikutnya—adalah mendapatkan kekasih.

Aku menyukai Hoshimiya. Karena itu, aku akan membuatnya jatuh cinta padaku, menyatakan perasaanku, dan menjadikannya pacarku!

Demi tujuan itu, aku pun mulai berlari kembali.

Selama tiga tahun SMA, masa mudaku berwarna kelabu.

Penyesalan itu terus membayangi diriku sepanjang waktu.

Hal-hal berharga baru disadari setelah hilang. Namun, seharusnya mustahil untuk bisa kembali ke masa lalu—tapi ternyata itu terjadi.

Entah apa penyebabnya, aku mendapatkan kesempatan untuk mengulang masa mudaku.

Meski aku bukan orang yang cukup hebat untuk melakukan segalanya dengan sempurna hanya karena aku tahu sejarahnya, aku akan tetap menjalani saat ini dengan sepenuh tenaga demi meraih apa yang dulu kuinginkan.

Sembari percaya bahwa dunia yang kulihat saat menoleh ke belakang setelah melewati masa sekarang ini, akan berwarna pelangi.

Volume 1 END



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close