NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Haibara-kun no Tsuyokute Seishun New Game Volume 1 Chapter 4

Chapter 4

Jika Kamu Mau Mendukungku


Keesokan harinya, Tatsuya mulai tidak mengajakku berbicara lagi.

Atau lebih tepatnya, Tatsuya memilih untuk menyendiri. Dia sengaja mengisolasi diri dan enggan terlibat dengan kami.

Saat pagi hari mata kami saling bertubrukan, dia langsung membuang muka. Bahkan tidak ada sapaan sepatah kata pun.

Tanganku yang sempat terangkat setengah tiang kehilangan tujuannya dan akhirnya mengambang canggung di udara.

Respons yang ditunjukkan Tatsuya itu benar-benar persis sama dengan apa yang terjadi di masa lalu.

Saat Uta atau Hoshimiya mengajaknya mengobrol, dia memang menyahut seperlunya, namun dia sama sekali tidak berniat untuk melanjutkan obrolan.

Aku sempat bimbang mengenai apa yang harus kulakukan, sebelum akhirnya memilih untuk memercayai nasihat Reita bahwa waktu yang akan menyelesaikan segalanya.

"Sebenarnya dia kenapa, ya……"

Sudah bisa ditebak, atmosfer di antara kami pun mendadak meredup kelam.

Lagi pula, barisan para gadis memang sama sekali tidak tahu tentang apa yang sebenarnya telah terjadi. Mereka tampak kebingungan sekaligus memancarkan raut wajah cemas.

Namun, Reita tetap bungkam dan tidak berniat menceritakan apa pun.

Karena itulah, aku pun tidak berada di posisi untuk bisa membeberkan situasinya.

Mengingat masalah ini bersinggungan langsung dengan orang yang disukai Tatsuya, aku tidak bisa mengatakan apa-apa.

"……Ah. Pelajaran berikutnya sudah mau dimulai, tuh."

Hanya karena kehilangan satu orang saja, atmosfer di sekeliling kami bisa berubah menjadi sekelam ini.

Aku baru menyadari bahwa sosok penentu suasana di dalam kelompok ini ternyata bukan hanya Uta, melainkan Tatsuya juga mengemban peran yang sama besarnya.

Udaranya terasa begitu menyesakkan. Aku sama sekali tidak bisa merasakan kesenangan sedikit pun.

Meskipun semua orang mengobrol seperti biasa, entah mengapa rasanya tetap terasa canggung.

——Aku bahkan tidak akan sudi mengatakannya seumur hidup, kalau masa muda seperti inilah yang selama ini sangat kuimpikan.

Tatsuya menghabiskan menu makan siangnya sendirian, lalu langsung melesat pergi ke klubnya begitu bel pulang sekolah berbunyi.

Kelompok kami pun entah bagaimana mulai terpecah secara perlahan.

Hoshimiya dan Nanase tampak selalu berdua, sedangkan Uta yang memiliki banyak teman di penjuru kelas terlihat sibuk mengobrol dengan berbagai macam orang.

Sementara aku sendiri, memilih untuk mengamati Tatsuya bersama dengan Reita.

Hari-hari yang terasa menjemukan seperti itu terus bergulir hingga akhir pekan tiba. Itu benar-benar hari yang sangat membosankan.

Dunia yang tadinya sewarna pelangi, perlahan-lahan terasa mulai memudar.

Segalanya seolah kembali ke lanskap pemandangan berasap yang sudah sangat familier bagiku. Masa muda kelabu itu seakan sedang memanggil-manggil namaku untuk kembali.

"——Hebat banget, Natsu!"

Uta melemparkan senyum padaku sembari memandangi deretan nama peraih nilai tertinggi ujian tengah semester yang dipajang di koridor sekolah.

Rasanya sudah lama sekali aku tidak melihat senyumannya. Nada suara Uta terasa kurang berenergi, seolah dia sedang memaksakan diri untuk ceria.

"……Ah, iya. Terima kasih ya."

Aku berhasil menduduki peringkat pertama paralel untuk satu angkatan. Jarak nilai milikku benar-benar berbeda telak jika dibandingkan dengan peringkat kedua.

Sementara itu, Nanase berada di peringkat ketiga, Reita di peringkat kesebelas, dan Hoshimiya di peringkat empat puluh sembilan yang membuatnya berhasil masuk ke jajaran peringkat atas dengan batas yang sangat tipis.

Jika kuperhatikan dengan saksama, Miori juga berhasil menempati peringkat kedelapan. Tentu saja, tidak ada nama Uta maupun Tatsuya di papan pengumuman itu.

"Kalau kamu sendiri bagaimana, Uta?"

"Ehehe, berkat bantuan dari Natsu, aku berhasil dapat peringkat seratus sepuluh, lho!"

Uta membusungkan dadanya dengan bangga.

Mengingat jumlah total murid di angkatan kami ada dua ratus empat puluh orang, posisi itu sudah berada di atas rata-rata.

Menilik bagaimana hancurnya nilai miliknya di awal-awal, ini sudah merupakan sebuah pencapaian yang sangat memuaskan. Setidaknya, dia jauh lebih pintar daripada diriku di masa lalu.

"Hei, cowok itu orangnya, kan……"

"Wah, wajahnya benar-benar tipeku banget……"

"Udah ganteng, pintar lagi……"

Mungkin ini semua karena pengaruh dari pengumuman nilai ujian tersebut. Saat aku sedang berdiri di koridor, aku bisa merasakan beberapa pasang mata sedang mencuri pandang ke arahku.

Jika ini bukan sekadar rasa percaya diri berlebih dariku, maka sorot mata yang diarahkan kepadaku itu dipenuhi oleh rasa kagum dan ketertarikan. Terutama dari barisan para siswi.

Bagi diriku yang menjalani hidup secara mengulang, bisa mengerjakan ujian tingkat SMA seperti ini adalah hal yang sudah sewajarnya.

Namun aku tidak menyadari kalau bagi orang-orang di sekitarku yang tidak tahu apa-apa, hal ini adalah sesuatu yang luar biasa.

——Manusia sempurna tanpa cela, ya.

Bagaimanapun aku memikirkannya, julukan itu rasanya sama sekali tidak pantas untuk kusandang.

Lagi pula, jika aku memang benar-benar sempurna, aku tidak akan mungkin mengalami kegagalan yang menyedihkan seperti ini.

Aku tidak akan mungkin meratapi penyesalan tentang bagaimana takdir tidak berjalan sesuai dengan keinginanku. Dan aku tidak akan mungkin memendam hasrat untuk mengulang kembali masa mudaku.

"……Anu, Natsu. Hari Sabtu nanti, bagaimana kalau kita semua pergi bermain bersama? Kebetulan waktu siangku kosong, nih."

Uta menarik ujung lengan bajuku dengan pelan. Kata-kata yang diucapkannya itu sempat membuat hatiku goyah.

Tentu saja, aku sudah menyadarinya sekarang. Uta kemungkinan besar memang menaruh hati kepadaku.

Dan fakta itulah yang menjadi alasan terbesar mengapa Tatsuya menaruh dendam dan rasa cemburu yang amat sangat kepadaku. Meski begitu, tidak ada yang bisa kulakukan untuk mengubah hal tersebut.

Namun, karena ini adalah masalah yang berkaitan dengan perasaan, kurasa Tatsuya pun pasti tidak bisa berbuat apa-apa untuk meredamnya. Karena itulah, dia memilih untuk menjauh dari sisiku.

Kalau begitu, ini adalah masalah pribadi milik Tatsuya sendiri. Aku tidak memiliki kewajiban apa pun untuk memikirkannya.

Aku hanya perlu pergi bermain bersama semuanya di hari libur untuk menyegarkan pikiran, kembali masuk sekolah di minggu depan, memperbaiki kecanggangan yang ada secara bertahap, dan kembali bersenang-senang bersama semuanya seperti sedia kala. Walaupun tanpa adanya kehadiran Tatsuya di sisi kami.

Manusia adalah makhluk hidup yang akan selalu terbiasa dengan perubahan lingkungan di sekitarnya. Sebagai langkah awal untuk itu, Uta sedang mencoba menawarkan ajakan tersebut kepadaku sekarang.

"……Maaf ya, Uta. Minggu ini aku sedang ingin menghabiskan waktu sendirian."

Meskipun aku memahami niat baiknya, aku tetap menggelengkan kepalaku menolak. Aku tidak sudi menerima masa depan yang seperti itu.

Memang benar, terlepas dari seberapa hancurnya kegagalanku, aku mungkin telah berhasil meraih masa muda yang jauh lebih baik jika dibandingkan dengan kehidupanku yang pertama.

Namun tetap saja, kegagalan kali ini terasa sangat fatal. Aku tidak bisa menerimanya, ini adalah sebuah kehancuran total dari rencana yang telah kususun.

Sebab, alasan utamaku untuk kembali ke masa lalu adalah agar aku bisa menjalin ikatan pertemanan yang sejati dengan Tatsuya.

Aku memilih untuk pulang sendirian.

Hari ini sebenarnya adalah jadwal di mana Hoshimiya juga pulang sendirian, namun aku memutuskan untuk tidak memanggilnya. Aku sedang tidak berada dalam suasana hati untuk berbicara dengan siapa pun.

Setelah tubuhku berguncang di dalam kereta dalam waktu yang cukup lama, aku pun turun di stasiun terdekat dari rumahku, dan mendapati kalau hujan tengah mengguyur bumi.

Rintik gerimis yang tadinya turun perlahan, lambat laun berubah menjadi hujan deras yang sangat lebat. Seingatku, ramalan cuaca pagi ini sama sekali tidak menyebutkan kalau hari ini akan turun hujan.

Aku tidak membawa payung. Terpaksa, aku melangkahkan kaki menerobos derasnya hujan. Tidak butuh waktu lama bagi seluruh tubuhku untuk basah kuyup.

Dari stasiun terdekat menuju rumah, aku harus berjalan kaki selama kurang lebih lima menit.

Dengan pakaian yang sudah basah kuyup dan menempel di kulit, aku terus melangkah gontai dengan lesu. Penampilanku saat ini benar-benar sangat cocok dengan kondisiku yang menyedihkan.

"……Mengulang kembali masa muda, ya."

Benar-benar sebuah lelucon yang sangat menggelikan.

Setelah mencoba berhati-hati dengan berkaca pada kegagalan di masa lalu, kali ini aku justru gagal total hanya karena aku bertingkah terlalu sempurna.

Apakah bagi si anak kelabu seperti diriku, pada akhirnya memang hanya dunia yang sewarna abu-abu sajalah yang sudi menyambutku?

Langkah kakiku terhenti. Aku menengadah menatap langit yang menggelap. Butiran air hujan menghantam wajah dan tubuhku dengan keras.

"Apa yang harus kulakukan……?"

Aku tidak bisa menemukan jawabannya. Aku merasa kalau apa pun tindakan yang kuambil sekarang, jalan di depanku sudah tertutup rapat dan berakhir buntu.

"Kalau tahu bakal jadi begini……"

Lebih baik aku tidak usah mengulang kembali masa mudaku, gumamku pelan.

Atau kalaupun aku harus mengulangnya, seharusnya aku menjalani hidup dengan menyusuri jalan kelabu yang membosankan seperti biasanya saja.

Karena bagaimanapun juga, setiap orang memiliki batasan panggungnya masing-masing yang sesuai dengan kapasitas dirinya.

"——Ada apa, nih? Wahai Tuan Jenius yang berhasil meraih peringkat pertama paralel seangkatan?"

Sebuah suara tiba-tiba terdengar dari arah belakangku. Detik itu juga, rintik hujan yang mengguyur tubuhku mendadak berhenti.

Bukan, hujan di sekelilingku sebenarnya tidak berhenti. Namun, tubuhku entah mengapa tidak lagi dihantam oleh butiran air hujan. Saat aku mendongak, sebuah payung telah terkembang lebar di atas kepalaku.

"Kalau kamu sedang punya masalah, sebagai teman sejak kecil, aku tidak keberatan, kok, untuk mendengarkan keluh kesahmu."

Saat aku membalikkan badan, sosok yang berdiri di sana ternyata adalah Miori.

Mengingat betapa derasnya hujan yang turun saat ini, aku meratapi kebodohanku sendiri karena tidak menyadari kehadirannya sampai dia berdiri sedekat ini di sisiku.

Seberapa tidak pekanya aku terhadap lingkungan sekitar?

Miori berdiri di jarak yang sangat dekat hingga pundak kami saling bersentuhan, membuat kami berakhir berada di bawah naungan satu payung yang sama.

"……Hentikan. Tubuhku sudah basah kuyup begini, percuma saja kamu memayungiku sekarang."

"Ahaha, benar juga, sih! Ya sudah kalau begitu, payungnya kujauhkan saja, deh. Padahal lagi galau tapi masih sempat-sempatnya melontarkan argumen yang logis, kocak banget, sih."

Miori dengan santai langsung menggeser langkahnya menjauh dariku. Dan seketika itu juga, butiran air hujan kembali menghujani tubuhku.

"Ah, tapi bagaimana kalau tas milikmu kubawakan saja? Kalau sampai tas itu makin basah quyup, buku pelajaran dan buku catatanmu bisa hancur berantakan, kan? Lagipula, aku kan orangnya baik hati~"

Meskipun melontarkan pertanyaan, Miori langsung merebut tas sekolah dari tanganku secara sepihak tanpa memedulikan persetujuanku.

Mengingat dia tidak memberikan celah sedikit pun bagiku untuk menolak, kalimatnya tadi rasanya lebih cocok disebut sebagai sebuah paksaan ketimbang pertanyaan.

"——Jadi, sebenarnya apa yang sudah terjadi?"

Sembari memutar-mutar payung di tangannya, Miori melemparkan pertanyaan dengan senyuman yang merekah di wajahnya.

Sikapnya yang terkesan tidak tahu sopan santun dan langsung merangsek masuk ke dalam privasi hatiku itu murni membuatku merasa agak kesal.

"Bukan urusanmu, kan."

"Tentu saja ini urusanku! Lagipula, aku ini kan adalah kaki tangan dari Rencana Masa Muda Pelangi milikmu, tahu?"

Kalau dipikir-pikir, kami memang pernah membicarakan hal itu di masa lalu.

Sebagai imbalan karena aku telah membantunya untuk mendekati Reita, dia berjanji akan membantuku untuk menyukseskan rencanaku.

Memang benar, pada hari itu, Miori sempat melontarkan sebuah peringatan kepadaku.

"——Di mataku, sepertinya sedang terjadi sebuah masalah besar di dalam rencana yang kamu susun, lho?"

Tepat setelah dia mengucapkan kalimat itu, kereta yang kami tunggu tiba di stasiun, dan Miori langsung dijemput oleh orang tuanya.

Namun, jika aku memang ingin mengetahui alasan di balik ucapannya saat itu, seharusnya aku bisa langsung menelepon atau mengirimkan pesan singkat kepadanya via aplikasi RINE.

Namun aku justru bersikap terlalu optimis dan mengabaikan peringatannya begitu saja. Atau lebih tepatnya, aku melupakan ucapan itu sampai detik ini. Sebab aku berpikir, mana mungkin ada masalah yang akan menghambat rencanaku.

"……Kalau begitu, hubungan kerja sama di antara kita kuanggap selesai."

Aku memang merasa bersalah karena telah mengabaikan peringatan darinya, namun mau bagaimana lagi, rencana yang kususun saat ini sudah hancur berantakan.

Sesampainya di rumah, hal pertama yang kulakukan adalah melepas seragam sekolahku yang basah kuyup lalu segera membersihkan diri di bawah pancuran air.

Setelah mengeringkan tubuh dengan handuk dan berganti pakaian santai, aku pun melangkah kembali ke dalam kamar pribadi milikku.

"Oh, selamat datang kembali~"

Miori tampak sedang berbaring santai di atas tempat tidurku sembari melambaikan tangannya dengan malas.

"……Hei, bukankah tadi aku sudah menyuruhmu untuk langsung pulang ke rumahmu sendiri?"

"Sudahlah, jangan ketus begitu. Lagipula kalau dilihat-lihat, kamar ini sama sekali tidak berubah ya dari dulu~"

Miori bergumam sembari mengedarkan pandangannya ke penjuru kamar dengan posisi tubuh yang masih berbaring telentang.

Hebat sekali dia bisa bersikap sesantai itu di dalam rumah orang lain.

Lagipula, bagaimanapun juga dia adalah seorang lawan jenis, kuharap dia bisa berhenti menunjukkan posisi tubuh yang tidak waspada seperti itu di dalam kamar seorang pria.

"……Sama sekali tidak berubah? Memangnya kamu pernah berkunjung ke kamarku sebelum ini?"

"Tentu saja pernah, waktu kita masih di taman kanak-kanak dulu. Ah, jangan-jangan kamu sudah melupakannya? Jahat banget, deh~"

"Itu kan cerita zaman purba! Mana mungkin aku masih bisa mengingat memori dari zaman TK dulu!"

Aku benar-benar tidak mengingatnya sama sekali. Apakah ini terjadi karena secara mental aku sebenarnya adalah seorang mahasiswa tingkat akhir?

Namun seingatku, bahkan saat aku masih duduk di bangku SMA di kehidupanku yang pertama pun, aku memang sudah hampir tidak memiliki memori tentang masa-masa TK dulu.

"Lagipula, bagaimana bisa kamu menyamakan kondisiku sekarang dengan masa TK dulu."

"Well, tapi koleksi bukumu jelas terlihat bertambah banyak, sih. Mana genrenya bau wibu banget lagi."

Aku memang mulai hobi mengoleksi light novel dalam jumlah besar sejak aku jatuh cinta pada genre tersebut saat masih duduk di bangku kelas satu SMP.

Melihat deretan seri light novel dengan ilustrasi sampul yang agak seksi terpajang di rak buku dekat tempat tidurku, Miori tampak terkekeh geli.

"Wah, dasar cowok."

"……Berisik amat, sih. Lagipula jangan melihatnya sesuka hatimu!"

Aku melangkah mendekati tempat tidur lalu merebut light novel tersebut dari tangan Miori secara paksa.

Karena tindakan impulsifku itu, posisi tubuh Miori yang mendadak terkunci di bawah kungkungan tubuhku langsung mengayun-ayunkan kakinya sembari berteriak kegirangan.

"Kyaaa! Aku mau dinodai~!"

"Hei, mau aku benar-benar menodaimu sekarang, hah?"

"Halah, punya keberanian semacam itu saja tidak. Jangan memaksakan diri deh, Tuan Perjaka~"

Miori menjulurkan jari telunjuknya lalu mencolek ujung hidungku dengan gemas, sebelum akhirnya bangkit berdiri dari tempat tidur.

Memang benar kalau aku masih perjaka, tapi apa ada masalah dengan hal itu? Lagipula, kurasa Miori sendiri pun pasti masih perawan…… saat pikiran itu terlintas di kepalaku, aku mendadak tersadar.

Eh, tunggu dulu, bagaimana kalau dugaanku salah? Jangan-jangan dia sudah berpengalaman? Apakah anak SMA zaman sekarang sudah melangkah sejauh itu?

Aku penasaran, tapi karena aku tidak ingin mengetahui kenyataan yang pahit, sebaiknya aku urungkan saja niat untuk bertanya.

Miori melangkah menuju pintu masuk kamar, lalu mengeluarkan ponselnya untuk memotret kondisi di dalam kamarku.

"Hmm, kalau dipikir-pikir, selain rak bukumu yang bertambah satu, tata letak barang di kamar ini masih persis sama, kan? Mungkin."

"Yah, kalau itu sih memang benar…… tapi buat apa kamu memotret kamarku? Awas saja ya kalau kamu sampai mengunggahnya ke Minsta."

Mengingat aku baru saja menolak ajakan bermain dari Uta dengan alasan ingin menyendiri minggu ini, situasinya pasti akan berubah menjadi sangat canggung jika sampai ketahuan kalau aku justru sedang berduaan bersama Miori di dalam kamar.

Apalagi Uta dan Miori berada di klub yang sama, mustahil akun Minsta milik mereka berdua tidak saling berteman.

"Tidak akan kuunggah, kok. Aku juga tidak mau kalau sampai Reita-kun salah paham nanti. Foto ini cuma buat kenang-kenangan karena kita sudah lama tidak bermain bersama saja."

"……Kenang-kenangan apa coba?"

Aku memiringkan kepalaku karena heran, sebelum akhirnya menyadari suatu hal yang janggal.

Benar, Miori seharusnya berada di klub basket putri yang sama dengan Uta. Mengingat Uta hari ini langsung pergi ke klub untuk latihan seperti biasanya, seharusnya hari ini klub basket tidak sedang libur.

Lalu, bagaimana bisa dia berada di jalan pulang dan berpapasan denganku?

"Hei, lalu bagaimana dengan kegiatan klubmu hari ini?"

"Hmm, aku membolos, kok."

"Hah?"

"Habisnya aku bukan tipe anggota klub yang rajin dan berdedikasi tinggi seperti Uta~"

"Kenapa kamu malah membolos?"

"Sebab latihan itu sangat melelahkan! Memang menyenangkan, sih, tapi menjalaninya itu sangat merepotkan. Sesekali membolos kan tidak ada salahnya, iya, kan?"

"Bukankah beberapa waktu yang lalu klubmu baru saja selesai dari masa hukuman pembekuan kegiatan?"

"Kalau itu kan beda cerita. Lagipula waktu itu kan aku harus belajar untuk ujian. Padahal aku sudah belajar sampai begadang dan mengerahkan seluruh kemampuanku, tapi aku cuma bisa berakhir di peringkat kedelapan."

Miori mengembuskan napas kecil sejenak.

"Dari situ aku sadar kalau standar sekolah ini memang sangat tinggi. Makanya, aku benar-benar dibuat terkejut saat melihat namamu berada di peringkat pertama paralel seangkatan. Kenapa kamu mendadak jadi sejenius itu?"

"……Yah, aku cuma mencoba mengerahkan seluruh kemampuanku saja, kok. Dengan caraku sendiri."

"Untuk kesuksesan debut SMA milikmu, atau demi kelancaran Rencana Masa Muda Pelangi itu?"

Saat aku menganggukkan kepala membenarkan pertanyaannya, Miori kembali mendudukkan dirinya di tepi tempat tidur sembari bergumam.

"Oh, jadi begitu ya~"

"——Well, alasan membolos yang kukatakan tadi sebenarnya cuma mencakup sekitar dua puluh persen saja dari alasan utamaku yang sebenarnya, sih."

Aku sempat kebingungan mengenai apa yang sedang dia bicarakan, sebelum akhirnya tersadar kalau topik obrolan kami telah kembali ke alasan mengapa dia membolos dari klub hari ini.

Setiap kali aku mengobrol bersama Miori, alur bicaranya memang selalu melompat-lompat dan berputar-putar secara acak. Kurasa itu adalah bagian dari sifatnya yang selalu bergerak sesuai dengan ritme miliknya sendiri.

"Lalu, bagaimana dengan delapan puluh persen sisanya?"

"Sebab ekspresi wajah Uta akhir-akhir ini terlihat sangat aneh. Aku tahu kalau pasti telah terjadi sesuatu di antara kalian, jadi aku mencoba bertanya kepadanya, tapi penjelasannya benar-benar sangat membingungkan."

Miori menatapku lekat-lekat.

"Karena Uta sendiri sepertinya tidak tahu detail masalahnya dengan jelas, makanya aku berinisiatif untuk mencarimu."

Miori membentuk jari tangannya menyerupai sebuah pistol lalu mengarahkannya tepat ke wajahku sembari bergumam lirih.

"Dor!"

"Begitu ya. Pantas saja kamu bersikap sangat keras kepala hari ini."

Saat melihat seorang teman sedang dirundung kesedihan, adalah hal yang wajar bagi seseorang untuk mencoba menolongnya. Mengingat akar penyebab dari semua masalah ini bermuara pada diriku, aku merasa kalau aku memang memiliki kewajiban untuk menceritakan seluruh situasinya kepada gadis ini.

"Keras kepala? Kurang ajar banget, sih. Lagipula statusku sebagai kaki tanganmu itu nyata, kan?"

"……Kan sudah kubilang, rencana yang kususun saat ini sudah hancur berantakan."

"Aku paham kalau kamu berpikir demikian. Makanya, ceritakan dulu semuanya kepadaku."

Miori membujukku dengan nada suara yang terdengar lembut. Karena itulah, aku pun keputusan untuk menceritakan segalanya kepadanya.

Namun, lidahku mendadak terasa kelu dan kaku untuk digerakkan. Di tengah keheninganku yang membisu, Miori mengulurkan tangannya lalu mengusap kepalaku dengan lembut.

"……Hentikan, aku ini bukan anak kecil lagi, tahu."

"But dulu, setiap kali kamu sedang menangis, akulah yang selalu menghiburmu seperti ini, kan?"

Secercah potongan memori masa lalu mendadak berkelebat di dalam benakku. Memang benar, masa-masa seperti itu sepertinya memang pernah ada di dalam hidupku.

"……But itu kan cerita lama. Sekarang aku tidak merasa kalau hubungan di antara kita sedekat itu."

Hubungan kami berdua memang terjalin dengan sangat baik sejak masa TK hingga sekolah dasar.

Namun, alasan mengapa hubungan kami mulai merenggang saat menginjak bangku SMP adalah karena aku sendirilah yang memilih untuk menarik diri dan menjaga jarak darinya.

Aku menaruh rasa cemburu yang egois kepada Miori yang memiliki kepribadian ramah, dikelilingi oleh banyak teman, dan selalu menjadi pusat perhatian dari semua orang.

Melihat sikapku yang berubah seperti itu, Miori akhirnya memilih untuk menyerah dan berhenti berinteraksi denganku. Dan sejak saat itulah, aku resmi menjadi seorang penyendiri.

"Benar-benar pria yang berpikiran sempit ya~ Jadi sampai sekarang kamu masih memikirkan masalah di zaman SMP dulu?"

Mendengar sindiran dari matanya yang menatapku dengan malas, aku pun langsung membuang muka. Jika aku berkata kalau aku tidak memikirkannya, maka aku sudah berbohong.

"——Gomen ne. Karena pada saat itu, aku tidak bisa menyelamatkanmu."

Namun, aku sama sekali tidak pernah menyangka kalau dia akan melontarkan permohonan maaf dengan ekspresi serempurna dan seserius itu kepadaku.

"Apa yang kamu katakan…… masalah itu terjadi murni karena aku yang menjauh darimu secara sepihak! Kamu sama sekali tidak memiliki alasan untuk meminta maaf!"

Karena itulah, aku mencoba untuk mengubah esensi dari diriku yang menyedihkan ini. Bukannya terus-menerus menaruh rasa cemburu kepada Miori, aku justru bertekad untuk bisa berdiri di atas panggung yang sama dengannya.

Dan fakta itulah yang menjadi pemicu utamaku untuk meraih masa muda penuh warna pelangi di kehidupan SMA-ku yang pertama.

"Benar juga, sih! Aku juga berpikir demikian. Malah kalau dipikir-pikir kembali, aku sama sekali tidak salah, kan? Serius, rasanya melelahkan sekali, tahu!"

Miori memajukan bibirnya sedikit, tampak kesal.

"Padahal waktu itu aku sempat merasa sangat terpukul, lho. Bagaimana bisa teman masa kecil yang sudah dekat denganku sejak lama tiba-tiba membenciku tanpa alasan yang jelas. Mana mungkin aku bisa menebak kalau alasan di balik semua itu adalah karena kamu cuma sedang cemburu kepadaku, iya, kan?"

Aku hanya bisa terdiam seribu bahasa tanpa mampu menyanggah argumennya sedikit pun. Meskipun dalam hati aku sempat protes mengapa dia meminta maaf jika pada akhirnya dia mengungkit kesalahanku, harus kuakui kalau kata-kata yang dilontarkan Miori adalah sebuah kebenaran yang mutlak.

"Bagaimana kamu bisa tahu? Mengenai fakta kalau aku cuma sedang cemburu kepadamu saat itu."

"Sebab kamu terlihat sedang mengerahkan seluruh kemampuanmu untuk melakukan debut SMA di sekolah ini. Padahal dulu aku sengaja menjaga jarak darimu karena kukira kamu membenci tipe orang populer yang enerjik sepertiku~ Tapi ternyata dugaanku memang benar, ya."

"Ternyata dugaanmu benar……? Jadi dari tadi kamu cuma sedang memancingku agar mengaku, ya?"

Karena merasa kesal, aku langsung melemparkan pandangan tajam ke arah Miori, namun gadis yang sedang duduk bersila di atas tempat tidurku itu justru tertawa terbahak-bahak dengan riang.

Jika kupikirkan kembali, dinamika hubungan di antara kami berdua saat itu benar-benar sangat mirip dengan apa yang terjadi antara diriku dan Tatsuya saat ini.

……Apakah Tatsuya saat ini juga sedang merasakan emosi yang sama seperti apa yang kurasakan di masa lalu?

"Melihat raut wajahmu yang berubah drastis begitu, sudah pasti kamu telah melakukan sebuah kesalahan yang bodoh lagi, kan?"

Tebakannya tepat sasaran. Karena itulah, aku tidak bisa mengatakan sepatah kata pun untuk membela diri.

"Makanya, aku paham kalau kamu enggan menceritakannya kepadaku. Kegagalan itu pasti terasa sangat memalukan bagimu, kan? Tapi, aku sudah mengenalmu sejak lama. Aku tahu betul bagaimana rupa dirimu sebelum melakukan debut SMA di sekolah ini."

Miori menatapku dengan tatapan melembut.

"Aku tahu kalau kamu tidak sekeren itu, aku tahu kalau kamu adalah sosok yang rapuh, dan aku tahu kalau kamu tidak pandai mengobrol dengan orang lain. Karena itulah, sejak awal aku sudah tahu kalau rencana mulusmu itu mustahil bisa berjalan dengan sempurna tanpa hambatan."

Miori berucap demikian sembari menunjukkan sebuah foto usang dari layar ponselnya yang memperlihatkan rupa diriku yang tampak lusuh di masa lalu.

"Jadi, kamu tidak perlu memaksakan diri untuk terlihat kuat di depanku. Kamu tidak perlu menyembunyikan rupa dirimu yang sebenarnya dariku, kok."

Entah mengapa, air hangat mulai mengalir membasahi pelupuk mataku. Aku enggan mengakui kalau cairan itu adalah air mata.

Karena itulah, aku memilih untuk menyalahkan air hujan deras yang mengguyur bumi di luar sana.

Suara gemercik air hujan terus terdengar saling bersahutan.

Secara perlahan, aku mulai menumpahkan seluruh emosi dan keluh kesahku yang tidak beraturan kepadanya.

Setelah aku selesai menceritakan seluruh isi hatiku, keheningan yang cukup panjang mendadak menyergap atmosfer di antara kami berdua.

Tampaknya, bagi Miori sekalipun, masalah kali ini terbukti merupakan sebuah perkara rumit yang sangat sulit untuk dipecahkan. Karena itulah dia tampak sedang berpikir keras.

"……Begitu ya. Ternyata telah terjadi masalah yang seperti itu, toh."

Miori bergumam pelan. Lalu secara tiba-tiba, dia langsung bangkit berdiri dari posisinya.

"Nggak, tapi kalau dipikir-pikir kembali, kamu ini benar-benar seorang pria yang bodoh tahu, Natsuki!!"

Miori melemparkan bantal tidurku sekuat tenaga tepat ke arah wajahku.

Pandanganku mendadak berubah menjadi putih total saat sebuah hantaman keras mendarat tepat di ujung hidungku.

"Padahal aku sudah mendengarkan keluh kesahmu dengan serius, tapi jalan pikiranmu itu benar-benar sangat bodoh……"

"Hei! Aku memang mengakui kalau masalah ini terjadi karena kesalahanku sendiri, tapi kenapa kamu malah memarahiku——"

"Di situlah letak kesalahan utamamu! Sama sekali tidak ada satu pun alasan yang mengharuskanmu untuk memikirkan masalah ini sendirian sampai membuatmu frustrasi seperti ini!"

Miori mengarahkan jari telunjuknya lurus-lurus ke arah wajahku, membuat jalan pikiranku mendadak terhenti seketika.

"……Hah?"

"Jangan cuma bilang 'hah' dong! Masalah ini kan murni terjadi karena kesalahan dari pria bernama Tatsuya itu sendiri! Mengenai bagaimana caramu bersikap atau dengan gadis mana kamu ingin menjalin hubungan kedekatan, bukankah itu adalah hak mutlak milikmu sendiri?"

"Ta-tapi meskipun begitu, fakta bahwa aku adalah akar penyebab dari semua masalah ini tidak akan pernah berubah dan——"

"Haaah…… aku tidak menyangka kalau kamu bakal menunjukkan ekspresi wajah sekelam itu hanya karena memikirkan masalah sepele seperti ini……"

Miori mengembuskan napas panjang, sebelum akhirnya melontarkan kalimat dengan nada suara yang terdengar tegas kepadaku.

"Dengar ya! Kamu sama sekali tidak bersalah dalam hal ini, jadi kamu hanya perlu bersikap penuh percaya diri seperti biasanya saja! Setidaknya kamu tidak memiliki alasan untuk merasa frustrasi, apalagi sampai meminta maaf kepadanya! Malah, kamu sama sekali tidak boleh melakukan hal bodoh seperti meminta maaf kepadanya!"

Kalimat pembuka yang diucapkannya itu benar-benar persis sama seperti apa yang dikatakan Reita kepadaku sebelumnya.

Memang benar, argumen itu mungkin ada benarnya. Namun tetap saja, fakta bahwa Tatsuya telah memilih untuk menjauh dari kelompok kami tidak akan pernah berubah.

Mengingat masa muda penuh warna pelangi yang selama ini kuimpikan tidak akan pernah terwujud dalam kondisi kelompok yang terpecah seperti ini, aku harus menemukan sebuah solusi untuk memperbaikinya.

"Natsuki itu terlalu baik hati, sih…… Sifatmu yang satu itu memang sama sekali tidak berubah sejak dulu. Tapi, meskipun kamu berniat untuk meminta maaf kepadanya, tindakanmu itu justru hanya akan membuat Tatsuya-kun merasa semakin menyedihkan, tahu."

Saat aku hendak bertanya mengenai alasan di balik ucapannya, aku mendadak tersadar akan suatu hal.

Jika aku berada di posisi yang sama dengan Tatsuya, hal yang paling tidak ingin kuterima dari orang lain adalah sebuah permohonan maaf.

Meskipun fakta menunjukkan kalau akulah yang tidak kompeten sedangkan pihak lawan sama sekali tidak bersalah, menerima permohonan maaf darinya justru hanya akan membuatku dirundung oleh rasa penyesalan karena telah memaksanya untuk meminta maaf.

"……Laru, apa yang harus kulakukan sekarang? Pada akhirnya, aku……"

Meskipun aku telah berhasil memahami situasinya kembali dengan jelas, pada akhirnya tetap tidak ada solusi konkret yang bisa kuambil untuk menyelesaikan masalah ini. Aku tidak ada hal yang bisa kulakukan.

Atau lebih tepatnya, aku bahkan masih belum tahu mengenai langkah apa yang harus kuambil selanjutnya.

Di tengah kebingunganku, aku mendadak teringat akan peringatan yang dilontarkan Miori pada hari itu.

"……Hei, kalau tidak salah waktu itu kamu pernah berkata kepadaku, kan? Mengenai fakta bahwa sedang terjadi sebuah masalah besar di dalam rencana yang kususun."

"Ah, kalau soal itu, aku mengatakannya bukan karena aku sudah memprediksi kalau masalah pelik seperti ini bakal terjadi, kok."

Miori berucap demikian sembari meletakkan tangannya di dagu dan mulai tenggelam dalam keheningan malam untuk berpikir.

"……Tapi, kurasa analisis milikku saat itu tidak sepenuhnya salah, sih. Di mataku, saat itu kamu hanya terlihat seperti sedang terlalu memaksakan diri untuk tampil sempurna secara konstan. Makanya aku sempat penasaran, apakah kamu benar-benar merasa bahagia dengan cara hidup yang seperti itu."

Mendengar penuturan dari Miori, aku langsung mengerutkan alisku dalam-dalam.

Memang benar, aku selalu berusaha keras untuk menjaga sikapku di depan semua orang. Aku selalu mencoba untuk mengambil tindakan dengan penuh kehati-hatian dan kesopanan yang teramat sangat.

Sebab jika aku sampai menunjukkan rupa diriku yang sebenarnya, aku pasti akan berakhir dibenci oleh semua orang seperti apa yang terjadi di kehidupanku yang pertama.

"Kamu memang sudah berjuang dengan sangat keras, kok. Sebagai orang yang mengenal rupa dirimu di masa lalu, aku bisa memahaminya dengan sangat jelas. Keberhasilanmu dalam menyembunyikan rupa dirimu yang sebenarnya dari pandangan orang lain adalah buktinya. Tapi karena hal itulah, sosokmu yang sekarang terlihat seolah tidak memiliki celah sedikit pun."

Terlepas dari bagaimana caraku memandang diriku sendiri, aku baru menyadari akhir-akhir ini kalau orang-orang di sekitarku ternyata memandang diriku dengan penilaian yang serupa.

"Maksudku, sosokmu yang sekarang itu terkesan kurang menggemaskan, atau lebih tepatnya, kamu terlihat terlalu sempurna sehingga memunculkan kesan yang sulit untuk didekati oleh orang lain. Padahal rupa dirimu yang sebenarnya itu benar-benar sangat jauh dari kata sempurna, kan? Dan kurasa, Tatsuya-kun pun pasti memikirkan hal yang sama tentang dirimu saat ini."

Jika memang begitu faktanya, lalu apa yang harus kulakukan?

"……Bagiku, untuk mengubah esensi dari diriku lebih jauh lagi dari ini adalah sebuah kemustahilan. Aku merasa kalau aku sudah mengerahkan seluruh kemampuanku sampai di batas maksimal."

Miori menatap wajahku dengan pandangan mata yang intens saat mendengar jawaban putus asa yang kulontarkan.

"……Kurasa, aku baru saja menemukan sebuah solusi untuk menyelesaikan masalah ini, deh. Walaupun taktik kali ini terkesan terlalu blak-blakan, sih."

"Benarkah?"

Saat ini aku sudah benar-benar kehabisan akal dan tidak memiliki pilihan taktik lain yang bisa kuambil.

"……Kumohon, Miori. Bantu aku."

Namun, jika sosok itu adalah Miori yang merupakan orang yang paling mengenal esensi dari diriku melebihi siapa pun, aku tidak ragu untuk menggantungkan seluruh harapanku pada uluran tangannya.

"——Kalau begitu, mari kita tunjukkan rupa dirimu yang sebenarnya kepada semua orang."

Mendengar solusi yang diucapkannya dengan nada suara yang terdengar lembut itu, aku hanya bisa mematung sembari mencoba mencerna esensi dari kalimatnya. Hal itu adalah sebuah kemustahilan bagiku.

Sebab, rupa diriku yang sebenarnya adalah sosok pria penyendiri yang menyedihkan.

Seorang pria yang tidak pandai berbicara, selalu berfikiran negatif, tidak memiliki keberanian untuk menyapa orang lain terlebih dahulu, menaruh rasa cemburu yang egois kepada Miori lalu memilih untuk menjauh darinya, namun di saat yang sama dia adalah seorang pria egois yang sangat benci untuk menghabiskan waktu sendirian. S

osok anak laki-laki yang ditakdirkan untuk menjalani masa muda yang kelabu.

Mana mungkin ada orang yang sudi menaruh hati atau menyukai pria yang memiliki esensi sekorup itu. Karena itulah, saat ini aku sedang berjuang mati-matian untuk mengubah esensi dari diriku sendiri.

"Dengar ya. ——Aku, menyukaimu, lho."

Sebuah pernyataan cinta yang terlontar begitu saja secara tiba-tiba.

Awalnya kukira dia hanya sedang bermaksud untuk mengolok-olok diriku, namun aku mendadak tersadar saat pandangan mataku terkunci oleh keseriusan yang terpancar dari manik mata milik Miori.

"Aku memang menyukai sosokmu yang selalu berjuang dengan keras saat ini, namun aku juga menyukai rupa dirimu yang sebenarnya, kok."

Dia mengucapkannya secara perlahan dengan nada suara yang terkesan sedang menasihatiku. Karena itulah, untaian kalimat yang dilontarkannya itu terasa meresap dalam-dalam ke lubuk hatiku yang terdalam.

Aku bisa merasakan kalau kedua belah pipiku mendadak berubah menjadi sangat panas.

Mungkin karena menyadari perubahan pada gurat wajahku, wajah Miori pun perlahan-lham mulai memerah padam sebelum akhirnya dia memilih untuk membuang mukanya ke arah lain.

"……Tapi jangan salah paham dulu ya! Rasa suka yang kumaksud di sini adalah murni sebagai seorang teman, atau lebih tepatnya sebagai hubungan takdir buruk di antara sesama teman masa kecil, paham?"

Miori berdehem kecil untuk menutupi rasa malunya.

"Maksudku, esensi utama yang ingin kusampaikan dari tadi adalah, kamu tidak perlu menyembunyikan rupa dirimu yang sebenarnya di depan semua orang, tahu!"

"……Apakah benar-benar tidak apa-apa jika aku melakukannya?"

"Lagipula, kamu menganggap barisan orang-orang itu sebagai temanmu, kan, Natsuki?"

Mendengar pertanyaan darinya, aku pun menganggukkan kepala membenarkan.

Setidaknya, di dalam hatiku yang terdalam, aku memang menganggap mereka semua sebagai teman sejatiku.

"Lalu, apakah kamu akan menyebut seseorang yang tidak bisa kamu percayai atau seseorang yang membuatmu tidak bisa menumpahkan seluruh isi hatimu yang sebenarnya sebagai seorang teman?"

Jalan pikiranku mendadak terhenti seketika. Aku tidak bisa menemukan jawaban yang tepat untuk membalas pertanyaannya.

Namun, satu hal yang bisa kupastikan saat ini adalah fakta bahwa hubunganku dengan mereka semua memang sedang berada di dalam kondisi yang persis seperti apa yang diucapkannya tadi.

"Jika kamu terus mempertahankan hubungan yang semu seperti itu, apakah menurutmu kamu akan bisa meraih masa muda penuh warna pelangi yang selama ini sangat kamu impikan?"

Apa yang dikatakannya itu memang merupakan sebuah kebenaran yang tidak bisa kusanggah.

Namun di sisi lain, aku merasa kalau untaian kalimatnya tadi seolah sedang menolak seluruh kerja keras dari diriku yang telah berjuang mati-matian untuk berubah selama ini.

"……Kalau begitu, apakah kamu sedang mencoba mengatakan kalau seluruh kerja keras dan usahaku untuk mengubah diriku selama ini adalah sebuah perbuatan yang sia-sia?"

Aku memendam rasa takut yang teramat sangat di dalam hati, jika sampai dia menganggukkan kepala membenarkan pertanyaan terakhirku itu.

Jika sampai seluruh usaha dan kerja keras yang kulakukan selama ini ditolak mentah-mentah olehnya, lalu dengan cara seperti apa lagi aku harus menjalani sisa hidupku setelah ini?

Melihatku yang dirundung dilema seperti itu, Miori hanya menyahut dengan santai.

"Aku kan tidak bilang begitu. Lagian buktinya sekarang kamu sudah bisa punya teman-teman yang baik, kan?"

Miori menjeda kalimatnya sejenak, lalu kembali melanjutkan.

"Mengubah diri dan menyembunyikan diri itu adalah dua hal yang berbeda. Tentu saja aku tidak bermaksud bilang kalau menyembunyikan diri itu sepenuhnya salah, tapi kalau kamu terus-menerus menyembunyikan rupa dirimu yang sebenarnya, lama-lama semua orang pasti akan merasakan adanya dinding pembatas darimu."

Miori berkata bahwa hal itulah yang kemungkinan besar menjadi salah satu alasan mengapa Tatsuya memilih untuk menjauhiku.

Bishitt! Jari telunjuknya mendadak ditusukkan tepat di depan hidungku.

"Tentu saja, kalau kamu sampai menunjukkan bagian buruk dari rupa dirimu yang sebenarnya, akulah yang akan langsung menegurmu. Karena itulah, belajarlah untuk bersikap jujur pada dirimu sendiri."

Miori mengucapkannya dengan ekspresi wajah yang tampak bangga.

"Kurasa, ini adalah saran terbaik yang bisa kuberikan kepadamu, selaku orang yang bertindak sebagai kaki tanganmu."

Aku mencoba mencerna esensi dari untaian kalimat yang diucapkannya itu.

Aku sendiri masih belum tahu apakah jalan ini adalah sebuah pilihan yang benar atau tidak.

Namun, ini adalah sebuah nasihat yang terlontar langsung dari mulut teman masa kecilku yang paling mengenal esensi dari diriku melebihi siapa pun.

Jika kamu bersedia untuk terus berada di sisiku dan menjadi penopangku, maka masa muda penuh warna pelangi itu mungkin benar-benar akan bisa berada di dalam jangkauan tanganku.

Pikiran itu mendadak terlintas di dalam benakku.

Aku pun memutuskan untuk memercayainya. Detik ini juga, aku resmi mengakui Miori sebagai kaki tangan sejati dari Rencana Masa Muda Pelangi milikku.

——Karena itulah, aku memutuskan untuk bersikap jujur pada diriku sendiri.

Terlepas dari seberapa menakutkan dan mengerikannya hal itu, aku akan tetap melakukannya demi bisa menjalin ikatan pertemanan yang sejati dengan mereka.

Hari Senin di awal minggu berikutnya tiba.

Begitu sampai di sekolah, aku langsung melangkah masuk ke dalam ruang kelas dan segera berdiri tepat di depan hadapan Tatsuya.

Jika aku melakukan tindakan sefrontal ini, mau tidak mau Tatsuya yang biasanya bersikap cuek pun pasti akan terpaksa memberikan respons. Dia mendongak menatapku, lalu melontarkan pertanyaan.

"……Ada apa? Natsuki."

"Bisa ikut aku sebentar?"

Aku menggerakkan ibu jariku menunjuk ke arah luar kelas.

Tatsuya sama sekali tidak mengucapkan sepatah kata pun. Karena itulah, aku menganggap keheningannya itu sebagai sebuah jawaban iya.

Begitu aku melangkah keluar kelas secara sepihak, Tatsuya tampak sempat ragu-ragu sejenak, sebelum akhirnya memutuskan untuk berjalan membuntut di belakangku.

Seketika itu juga, pasang mata dari seisi kelas langsung tertuju ke arah kami. Kelompok kami memang merupakan kelompok yang paling mencolok di dalam kelas ini.

Fakta bahwa Tatsuya yang merupakan sosok paling dominan di antara kami mendadak memilih menyendiri akhir-akhir ini tentu saja telah menjadi bahan perbincangan yang hangat.

Jadi, saat melihat kami akhirnya kembali saling berbicara seperti ini, wajar saja jika kami langsung menjadi pusat perhatian dari semua orang. Di antara barisan pasang mata yang menatap kami itu, aku juga bisa melihat sosok Hoshimiya dan yang lainnya.

Mau bagaimana lagi, entah dalam artian baik maupun buruk, sosok kami berdua memang terlalu mencolok.

Mengingat kami tidak akan bisa mengobrol dengan tenang jika tetap berada di dalam kelas ataupun di koridor sekolah, aku pun memutuskan untuk membawanya pergi menuju ke atap sekolah.

Atap sekolah ini sebenarnya secara resmi masuk ke dalam daftar area yang dilarang untuk dimasuki oleh murid.

Namun karena kunci pintunya sudah lama rusak, area ini pada praktiknya bebas dimasuki oleh siapa saja, bahkan ada banyak murid yang biasa menggunakan area atap ini untuk menyantap menu makan siang mereka saat jam istirahat tiba.

Meski begitu, di jam sepagi ini, kurasa area atap pasti masih kosong dan belum dilewati oleh siapa pun.

Saat aku melangkah menaiki undakan anak tangga, Tatsuya tetap berjalan mengekor di belakangku dengan patuh.

Aku mendorong pintu atap sekolah yang sudah agak rusak itu hingga terbuka. Aku terus melangkah lebar menuju ke arah pagar pembatas, lalu membalikkan badanku ke belakang.

Pandangan mataku dan Tatsuya saling beradu. Raut wajahnya tampak memancarkan ekspresi yang sangat canggung.

"……Ada urusan apa?"

"Bukan berarti aku tidak punya urusan apa-apa, kan. Lagipula, bukankah kita ini adalah teman?"

Tatsuya langsung membuang mukanya ke arah lain.

"……Kan sudah kubilang. Tolong biarkan aku sendiri."

"Mau sampai kapan? Ini sudah lewat satu minggu, tahu."

"Kemungkinan besar, kelompok kalian memang akan jauh lebih baik jika tidak ada orang seperti diriku di dalamnya. Jadi tidak usah dipikirkan."

"Kenapa kamu bisa berpikir begitu? Setidaknya aku sendiri tidak pernah memikirkan hal semacam itu sedikit pun."

"Kurasa memang begitu. Kamu pasti tidak akan memikirkannya. Tapi akhir-akhir ini aku selalu memikirkan hal itu secara konstan. Karena dari situ aku sadar, kalau aku ternyata adalah seorang pria yang jauh lebih kekanak-kanakan daripada apa yang kubayangkan sebelumnya."

Sosok Tatsuya yang biasanya selalu berdiri tegap penuh percaya diri, entah mengapa saat ini justru terlihat sangat menyedihkan di mataku.

"Kamu pasti sudah mengetahuinya, kan. Aku itu——memendam rasa cemburu yang amat sangat kepadamu. Perasaan ini bahkan sudah melampaui batas dari rasa iri yang wajar. Aku tidak sudi memendam emosi semacam itu kepada temanku sendiri. Karena itulah, menjauh darimu adalah pilihan terbaik yang harus kuambil."

"……Apakah ini karena hubungan kedekatanku dengan Uta?"

Aku sempat bimbang mengenai apakah aku harus menanyakan hal ini atau tidak. Namun, jika aku tidak mencoba merangsek masuk ke dalam privasi hatinya sekarang, lalu kapan lagi aku bisa melakukannya?

"……Ternyata kamu benar-benar sudah menyadarinya, ya?"

"Awalnya aku tidak tahu apa-apa. Aku baru mengetahuinya setelah diberi tahu oleh Reita."

"Begitu ya. Ah, benar sekali. Itu adalah cinta bertepuk sebelah tangan. Aku sudah menyukainya sejak kami masih duduk di bangku SMP."

Tatsuya berjalan mendekat ke arahku sembari menyembunyikan rona merah yang perlahan menjalar di kedua belah pipinya. Dia bertumpu pada pagar pembatas dengan kedua siku tangannya, lalu melemparkan pandangan lurus menatap pemandangan di depan sana.

"……Aku sendiri sempat terkejut saat menyadari kalau aku ternyata bisa menjadi seorang pria yang secemburu ini. Padahal di saat yang sama, aku bahkan tidak bisa memikirkan satu pun cara untuk merebut kembali hati Uta dari sisimu. Tidak ada satu pun hal dariku yang bisa digunakan untuk menang bertarung melawanmu. Bahkan basket yang merupakan keahlian terbesarku pun…… aku sudah mengerahkan seluruh kemampuanku, tapi tetap saja kalah dengan sangat mudah dari tanganmu."

Meskipun bagi diriku pertandingan hari itu sama sekali tidak bisa disebut sebagai sebuah kemenangan yang mudah, kurasa Tatsuya tetap tidak akan sudi menerima argumenku jika aku mengatakannya sekarang.

Lagipula pada kenyataannya, jika kami kembali bertanding dalam kondisi saat ini, kemungkinan besar akulah yang akan tetap keluar sebagai pemenangnya. Jarak kemampuan di antara kami memang sejauh itu.

"——Hei, Tatsuya."

"Jangan berani-berani meminta maaf kepadaku ya."

Tatsuya memotong kalimatku dengan cepat seolah sedang memasang barikade pertahanan terlebih dahulu.

"Pihak yang salah di sini adalah diriku sendiri. Kamu sama sekali tidak memiliki tanggung jawab apa pun atas masalah ini. Karena itulah, jangan pernah meminta maaf kepadaku."

Setelah mengucapkan kalimat yang tampaknya telah berhasil memuaskan ego hatinya itu, Tatsuya langsung membalikkan badan dan berniat untuk melangkah kembali menuju ke jalan yang kami lewati tadi.

"……Kurasa ini sudah cukup. Mari kita kembali ke kelas."

"Oi, Tatsuya."

"Masih ada hal lain yang mau kamu bicarakan?"

Aku melemparkan pandangan lurus-lurus ke arah Tatsuya yang sedang berbalik dengan raut wajah penuh keheranan, lalu melontarkan untaian kalimat kepadanya.

"Meminta maaf katamu? Jangan bercanda ya, dasar bodoh. Kedatanganku ke sini itu justru murni buat mengomeli dirimu, tahu!"

"…………Hah?"

Karena aku sudah membulatkan tekad untuk bersikap jujur pada diriku sendiri, maka aku akan menghantamnya langsung dengan seluruh isi hatiku yang sebenarnya.

Lagipula, jika kupikirkan kembali secara logis, tindakan mendadak meminta maaf yang sempat ingin kulakukan sebelumnya itu murni merupakan sebuah perbuatan yang sangat tidak masuk akal.

Lagian apa-apaan coba, memendam rasa cemburu hanya karena pihak lawan bertingkah terlalu sempurna itu benar-benar sangat tidak masuk akal…… yah, walaupun aku juga pernah memendam rasa cemburu yang tidak masuk akal semacam itu di masa lalu, sih.

Tapi masa bodoh dengan hal itu, sekarang aku jadi bisa memahami alasan mengapa Miori mengatai diriku sebagai seorang pria yang bodoh sebelumnya.

Sebab pada kenyataannya, baik aku maupun dirimu, kita berdua ini murni sama-sama bodoh.

"Lagipula sikapmu itu, alih-alih kekanak-kanakan, bukankah kamu itu murni cuma seorang pria yang bodoh?"

"……Apa maksudmu tiba-tiba mengataiku begitu? Kalau dilihat dari sudut pandangmu yang——"

"——Mata milikmu itu saja yang buta! Jika kamu memikirkannya secara logis, mana mungkin ada manusia yang terlahir sebagai seorang manusia sempurna tanpa cela di dunia ini!"

Aku mengarahkan jari telunjukku lurus-lurus ke arah wajahnya sembari membentaknya dengan keras.

"Tapi, pada kenyataannya……"

"Ah, aku paham kalau kamu ingin memprotes bahwa dari sudut pandangmu aku memang terlihat sesempurna itu. Tapi coba kamu pikirkan baik-baik dari sudut pandangku juga dong! Saat ini aku sedang berada di masa-masa awal setelah baru masuk sekolah, tahu! Makanya aku selalu bergerak dengan penuh kehati-hatian, kesopanan, dan diliputi oleh rasa gugup yang teramat sangat dalam menghadapi segala hal! Wajar saja kan kalau tindakan yang kuambil itu akhirnya terlihat sesempurna itu di matamu!"

"Diliputi oleh rasa gugup……? Jangan bercanda ya."

"Ini sama sekali bukan candaan, tahu! Di tempat yang tidak terjangkau oleh pandangan matamu, aku itu sudah berjuang dan mengerahkan seluruh kerja keras yang sangat luar biasa! Jadi aku sama sekali tidak memiliki kewajiban untuk menerima rasa cemburu darimu! ——Jangan melarikan diri dariku, Tatsuya! Hadapi aku dengan jantan!"

"Tidak ada satu pun dari ucapanmu tadi yang bisa kupercaya, tahu! Di mataku, sosokmu itu sama sekali tidak terlihat seperti tipe manusia rapuh yang baru kamu sebutkan tadi! Kamu selalu bisa menyelesaikan segala hal dengan sangat santai, seolah-olah hal itu adalah perkara yang sangat mudah untuk dilakukan!"

"Kalimat itu seharusnya menjadi dialog milikku, dasar pria populer bertenaga monster! Kamu bisa menjalin hubungan kedekatan dengan berbagai macam orang dengan sangat santai, lalu menikmati masa muda penuh keceriaan tanpa beban sedikit pun! Padahal di saat yang sama, aku harus menguras seluruh energi mentalku setiap harinya hanya untuk bisa melakukan hal yang sama!"

"……Haaah?"

Entah mengapa, semakin aku mengobrol dengannya, rasa kesal di dalam hatiku justru terasa semakin membuncah saja.

Kenapa juga aku harus menerima rasa cemburu dari pria yang merupakan perwujudan dari sosok ideal seorang anak populer semacam dia?

Perkara memendam rasa cemburu itu, seharusnya adalah hak mutlak milikku untuk diarahkan kepadamu, tahu!

"Dengar ya Tatsuya, pasang telinga milikmu baik-baik! Hari ini, aku akan menghancurkan seluruh fantasi indah yang selama ini kamu agung-agungkan tentang diriku!"

Aku mengarahkan jari telunjukku tepat ke arah wajah Tatsuya sembari menunjukkan ekspresi wajah yang tampak angkuh.

Mengingat apa yang akan kuucapkan setelah ini, aku bisa merasakan kalau kedua belah pipiku mendadak berubah menjadi sangat panas karena malu.

Namun, aku sudah membulatkan tekad untuk berbicara dengan sejujur-jujurnya hari ini.

Demi kelancaran rencana ini, aku sama sekali tidak keberatan meskipun aku harus membeberkan aib masa laluku yang memalukan ini di hadapannya.

"Namaku adalah Natsuki Haibara! Aku adalah seorang mantan otaku ansos kelas kakap yang melakukan debut SMA! Mohon bantuannya mulai sekarang!"

Sebuah deklarasi yang awalnya terdengar sangat keren, namun berakhir menjadi sebuah pernyataan yang teramat sangat memalukan.

Tatsuya hanya bisa mematung dengan ekspresi wajah melongo sembari bergumam lirih.

"……Hah?"

Well, wajar saja sih kalau dia memberikan respons kebingungan seperti itu.

"Aku tidak sedang berbohong kepadamu, tahu! Karena pada kenyataannya, inilah rupa diriku saat masih duduk di bangku SMP dulu!"

Aku menyodorkan layar ponselku tepat di depan wajah Tatsuya. Di sana, terpajang dengan sangat jelas sebuah foto yang menampilkan rupa diriku di masa lalu yang memiliki postur tubuh gemuk, mengenakan kacamata, dan terlihat sangat menjijikkan.

Jika kuperhatikan kembali sekarang, penampilanku saat itu benar-benar merupakan perwujudan dari potret seorang anak ansos yang menjijikkan.

Saking menjijikkannya rupa diriku saat itu, air mata rasanya hampir menetes dari pelupuk mataku sekarang.

"Fuhaha, apa ada masalah dengan hal itu, hah?!"




Aku sadar kalau tensiku sudah agak kacau, tapi tolong maafkan aku, karena aku sendiri yang membongkar rahasia yang sudah kusembunyikan sejak masuk sekolah ini. Bisa dibilang, inilah diriku yang sebenarnya.

"Yah, aku tidak keberatan sih, tapi…… ini, kamu?"

"Apa kamu pikir aku bohong? Tapi kalau dilihat baik-baik, struktur wajahnya sama, kan?"

"……Serius? Eh, ini serius?"

Tatsuya menatap foto di ponselku dengan lekat, lalu mulai men-scroll layarnya sesuka hati. Ensiklopedia Gadis Cantik 2D yang kusimpan di ponselku pun terekspos habis-habisan.

"Bodoh, dasar kau! Berhenti melihat 'istri-istriku' tanpa izin!"

"……Aku tadinya tidak percaya, tapi melihat ini, entah kenapa aku jadi mulai percaya."

"Jangan samakan otaku dengan ansos ya, itu prasangka. Zaman sekarang sudah tidak begitu lagi, tahu."

"……Lagipula, bukankah kau tidak pernah cerita kalau kau itu seorang otaku?"

"Makanya, kan sudah kubilang. Aku sedang pasang aksi…… maksudku, aku cuma berusaha menjaga gengsi."

Ucapku sembari membuang muka.

Menjelaskan kembali bahwa diriku hanya berpura-pura kuat itu sangat memalukan. Siksaan macam apa ini? Memikirkan kalau aku melakukan semua ini demi si bodoh ini membuatku kesal. Sumpah, jangan bercanda.

Di saat itulah Tatsuya tertawa licik untuk pertama kalinya.

"……Karena kau menyembunyikannya, bukankah itu tandanya kau sendiri yang paling memikirkannya?"

"Bising! Jangan bongkar psikologi dalam seorang otaku ansos!"

Mungkin memang benar begitu. Saat SMP, karena aku sendirian, tentu saja aku jadi kecanduan novel ringan dan anime. Aku beralasan pada diri sendiri kalau aku diam saja karena tidak ada orang di kelompok ini yang seleranya cocok, tapi sebenarnya aku hanya menyembunyikannya karena itu terkesan "ansos".

Padahal aku tahu banyak orang populer zaman sekarang yang terang-terangan mengaku sebagai otaku.

"Heh, jadi ini hobimu, dan ini dirimu ya. Heh."

Tatsuya terus mengulik foto-foto di ponselku sesuka hati. Dia tidak mau berhenti meski sudah kusuruh.

"Bagaimana bisa otaku menjijikkan ini jadi cowok ganteng seperti kau sekarang?"

"Berisik, dari sananya wajahku memang tidak buruk. Itu sudah dijamin oleh teman masa kecilku. Aku cuma gemuk dan tidak peduli dengan penampilan, makanya jadi begitu. Karena itulah aku berjuang selama liburan musim semi."

"……Demi debut SMA-mu, ya?"

"Benar. Aku dulu mengagumi orang sepertimu."

"Kau, mengagumiku?"

Tatsuya tampak bengong. Wajah tanpa dosanya itu benar-benar membuatku kesal.

"Makanya, kalimat itu seharusnya jadi milikku!"

Aku mendekatkan wajahku dan memelototinya.

"Rasa cemburu itu adalah milikku. Kembalikan. Lagipula, kau cemburu pada orang yang dulu kau kagumi, itu benar-benar bagaikan petir di siang bolong! Gerakan 'anak populer'-ku ini semuanya hanya meniru kau dan Reita, tahu!"

"Bagian di mana kau kadang mencoba memakai kata-kata sulit itu memang terasa bau-bau otaku banget, ya."

"Jangan coba-coba membalas ucapanku hanya karena kau tahu aku baru debut SMA!"

Saat aku meracau, Tatsuya menghela napas dengan sengaja.

"Kau ini benar-benar merepotkan, ya."

"Yang merepotkan itu kau, tahu! Jangan bilang begitu padaku! Gara-gara alasan yang kekanak-kanakan, kau malah merepotkan orang lain! Sudahlah, kembali saja! ——Semua orang, sedang menunggu."

Aku menatap matanya saat mengucapkannya. Ekspresi Tatsuya menunjukkan keraguan yang jelas.

Jadi, aku mengatakannya sekali lagi. Sembari berpikir betapa merepotkannya pria ini.

"Jangan lari, Tatsuya. Kalau kau begitu menyukai Uta, rebutlah dia. Tidak malukah kau takut pada orang seperti aku yang cuma kulit luar saja? Padahal sebenarnya aku yang gemetaran padamu, tahu!?"

Apa yang kubicarakan? Aku sendiri bingung dengan kalimatku. Aku bicara terlalu terbawa suasana.

Tapi aku melanjutkannya. Karena sudah pasti, inilah isi hatiku yang sebenarnya.

"Kalau kau terus lari seperti sekarang, Uta tidak akan melirikmu, kan? Kalau begitu, kau tidak akan bisa menang dariku, lho?"

"……Kau lumayan sombong juga ya, padahal baru debut SMA."

"Kau pikir begitu? Tidak, kau benar…… memang begitu sih. Maaf."

"Kau ini emosinya tidak stabil, ya!?"

"Bising! Aku cuma bingung harus pakai karakter apa karena tiba-tiba menunjukkan jati diriku!"

"……Kau benar-benar memaksakan gengsimu ya."

"Ya, memang benar! Tidak sepertimu, diriku yang asli tidak akan dihargai, makanya aku belajar melakukan berbagai hal! Aku ini hanyalah orang selevel itu! Jauh dari kata sempurna! Jadi, berhentilah bersikap pengecut dengan lari karena takut pada orang seperti ini!"

Aku berteriak padanya.

"Itu bukan——dirimu yang kukagumi."

Angin berembus di atap sekolah. Rambut pendek Tatsuya bergoyang di depanku.

"Meski begitu kau... bagaimana cara menjelaskannya? Tidak mungkin bisa kembali begitu saja sekarang, kan."

"Yah, mau tidak mau kau harus menjelaskannya. 'Sebenarnya aku sangat menyukai Uta-chan sampai gila, aku cemburu pada Natsuki-kun yang belakangan ini dekat dengan Uta-chan, dan aku adalah pria paling pengecut yang lari karena tidak punya keunggulan apa pun' ——begitu, tahu!"

"Apa perlu sampai sebegitunya!?"

"Itu kan cuma fakta!"

"Meski begitu, tidak mungkin aku bisa mengatakan hal seperti itu! Tidak, memang benar sih! Tapi kalau orang lain yang mengatakannya, entah kenapa aku tidak terima! Lagipula, aku tidak mau sampai ketahuan Uta!"

"Cih, benar-benar pria yang kekanak-kanakan. Pantas saja kau cinta bertepuk sebelah tangan bertahun-tahun. Kecewa aku."

"Kau ini kasar sekali, ya!?"

"Aku sampai sekarang takut padamu, tahu. Tapi baru sadar kalau kau ternyata bukan orang yang perlu ditakuti."

Aku mengangkat bahu dan mulai berjalan untuk kembali ke kelas.

"Ayo, cepat."

Sebentar lagi waktu home room pagi dimulai. Aku tidak mau membolos hanya karena pria seperti ini.

"Sialan... benar-benar tidak terasa plong..."

Tatsuya bergumam sembari mengikutiku. Sepertinya dia sudah tidak perlu dikhawatirkan lagi.

Meskipun bagaimana cara dia menjelaskannya nanti, itu patut ditonton.

——Sembari menyeringai, aku membuka pintu atap,

"Ah, eh!?"

"Eh, eeeeeh!?"

"Uta!? Tunggu, jangan tarik—"

Dusa dusa dusa! Tiga gadis jatuh tersungkur ke lantai dengan keras.

Hmm? Apa yang terjadi? Pikiranku berhenti sejenak. Yang jatuh itu, sudah jelas adalah Uta, Hoshimiya, dan Nanase. Eh, Nanase juga?

Aku melihat ke arah pintu sekali lagi, Reita sedang tersenyum kecut.

"Yah, sebenarnya aku sudah melarangnya. Tapi mereka bilang ingin sekali mendengarnya—"

Situasi perlahan mulai kupahami. Dilihat dari cara jatuhnya, ketiga gadis ini pasti sedang menempelkan tubuh ke pintu.

Lebih tepatnya, mereka menempelkan telinga untuk mendengarkan suara dari atap dengan jelas.

Maksudnya, ya begitulah.

"……Jadi, jangan-jangan, kalian mendengar semuanya?"

"Aa—..."

Wajah ketiganya tampak sulit menjawab. Orang yang paling merasa canggung adalah Uta.

Saat aku melirik Tatsuya, wajahnya jauh lebih bengong daripada aku.

Katanya orang akan merasa tenang jika melihat orang lain yang lebih terguncang dari dirinya sendiri, sepertinya itu benar.

"Eee—mm, kami mendengarnya. Maaf ya karena mendengar tanpa izin."

Setelah ragu harus bicara apa, Uta akhirnya meminta maaf. Ini pertama kalinya aku melihat Uta yang terlihat tidak tegas seperti ini.

Yah, karena ini memang masalah yang sensitif.

Mata Uta dan Tatsuya bertemu. Uta memerah sedikit, lalu,

"Aa—... itu, maaf ya, Tatsu. Aku hanya bisa melihatmu sebagai teman."

Eh, gila, dia langsung memberikan serangan pemungkas……

Aku pun sampai terperangah. Apa harus sekarang!? Aku melirik Tatsuya dengan was-was, dia sepertinya hampir berubah menjadi abu putih dan menghilang.

"H, hei Tatsuya! Bertahanlah!"

Aku mengguncang bahunya, kepalanya bergoyang-goyang lunglai. Dia pasrah saja.

"Ufufu…… terserahlah, mau jadi apa pun silakan……" gumamnya. Karakter macam apa itu!?

Aku menitipkan Tatsuya yang melongo pada Reita, lalu berbisik pada Uta.

"Apa yang kau lakukan, Uta! Padahal aku sudah bersusah payah membujuknya……!?"

"A, itu, maafkan aku! Aku terlalu panik, jadi malah keceplosan……!?"

"Suaramu terlalu keras!"

Karena suara Uta yang terlalu keras, Tatsuya menerima kerusakan tambahan.

"Aaaaa, maaf! Itu, maaf ya, Tatsu. Tapi, itu, bagaimana ya, aku benar-benar tidak menyangka akan seperti itu, terlalu tidak terduga, tapi aku senang dengan perasaanmu……"

"……Uta, sudah cukup. Tatsuya sudah mencapai batasnya."

Reita dengan wajah serius menutup mulut Uta.

"Lagipula, kupikir tadi apa yang terjadi, ternyata cuma masalah yang tidak penting sekali."

Ucapan Nanase yang disertai helaan napas membuat punggung Tatsuya makin membungkuk.

"Yu, Yuino-chan, tidak boleh bilang begitu..."

"Begitu ya? Kalau aku, aku malah lebih benci kalau orang sengaja menjaga jarak karena tidak mau ikut campur."

Lalu Nanase tersenyum licik dan menatapku.

"——Hei, si High School Debut?"

Ah…… aku sudah tahu. Aku sudah tahu. Karena kalian mendengar pembicaraan kami, artinya ya begitulah! Ya, yah, saat bicara pada Tatsuya pun aku sudah siap kalau rahasia ini akan terbongkar!?

Entah kenapa aku menatap Hoshimiya, dia tersenyum canggung yang tidak jelas,

"Aa—... mm, tidak perlu dibahas?"

"…………Tidak, tidak apa-apa. Lagipula aku berniat menceritakan pada kalian suatu hari nanti."

Aku menjawab dengan bahu lemas. Lalu Nanase tertawa ceria sembari mendekat.

"Kalau begitu, aku ingin lihat foto yang tadi kau tunjukkan pada Nagigaura-kun."

Dia menatap ponselku. Aku buru-buru menyembunyikannya ke belakang punggung.

Aku tidak sanggup jika diriku yang dulu dilihat orang lain.

Aku memperlihatkannya pada teman cowok seperti Tatsuya saja sudah sulit, apalagi pada teman cewek.

"A, aku juga mau lihat~"

Hoshimiya bersiul dan berkata dengan sengaja. Pandangannya melirik ke arah ponselku.

"Sampai Hoshimiya pun!?"

Lebih tidak bisa lagi kalau sampai dilihat orang yang kusukai. Saat aku sibuk menghindar dari keduanya, Tatsuya sepertinya sudah agak pulih, dia berdiri sendiri.

"Kukuku…… aku sudah tidak punya rasa takut lagi."

Dia benar-benar kehilangan karakternya.

Atau lebih tepatnya, meski kata-katanya berani, ekspresinya sangat menyedihkan.

Uta dan Reita menatap Tatsuya dengan cemas.

Tatsuya melotot padaku.

"Natsuki, tidak akan kumaafkan!"

"Awalnya kan karena kesalahanmu sendiri! Lagipula aku malah terseret dalam masalah ini, tahu!?"

"Itu kan akibat perbuatanmu sendiri!"

"Itu kan kalimatku!?"

"——Iya iya, sudah sampai di situ saja. Home room sebentar lagi benar-benar akan dimulai."

Reita memotong di antara aku dan Tatsuya yang sedang saling lempar pandangan tajam, lalu bertepuk tangan.

Saat kulihat jam, memang tersisa satu menit lagi. Kalau tidak lari ke kelas, bisa-bisa dianggap terlambat.

Semua orang mulai panik. Mungkin karena tidak suka terlambat, Nanase berlari dengan lincah. Reita juga menyusul dengan terburu-buru. Uta pun mencoba mengikuti,

"Uta."

Tatsuya memanggilnya. Aku dan Hoshimiya melihatnya dari barisan paling belakang.

"Hmm, apa?"

"Aku tidak akan menyerah, tahu."

Dia menyatakan dengan wajah serius, lalu berjalan pergi.

……Dasar pria kekanak-kanakan yang cinta bertepuk sebelah tangan selama bertahun-tahun, ternyata kau bisa juga kalau mau.

Uta berdiri mematung dengan wajah merah padam. Hoshimiya bergumam "Kyaa" dengan suara kecil sembari memerah lebih dari Uta, lalu mata kami bertemu.

Entah kenapa mata Hoshimiya berbinar-binar. Sepertinya dia tipe yang sangat tertarik dengan gosip percintaan seperti ini.

"Senang ya. Terasa seperti masa muda."

Aku setuju dengan ucapan Hoshimiya yang terlihat senang. Aku menghela napas, sembari mengangkat bahu.

"——Ya, senang ya. Sungguh, terasa seperti masa muda."

Dan masa muda itu, dihiasi dengan warna pelangi.

Aku pikir, memang benar kalau pelangi setelah hujan terlihat sangat indah.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close