Chapter 4
Jika Kamu Mau Mendukungku
Keesokan harinya,
Tatsuya mulai tidak mengajakku berbicara lagi.
Atau lebih
tepatnya, Tatsuya memilih untuk menyendiri. Dia sengaja mengisolasi diri dan enggan
terlibat dengan kami.
Saat pagi hari
mata kami saling bertubrukan, dia langsung membuang muka. Bahkan tidak ada
sapaan sepatah kata pun.
Tanganku yang
sempat terangkat setengah tiang kehilangan tujuannya dan akhirnya mengambang
canggung di udara.
Respons yang
ditunjukkan Tatsuya itu benar-benar persis sama dengan apa yang terjadi di masa
lalu.
Saat Uta atau
Hoshimiya mengajaknya mengobrol, dia memang menyahut seperlunya, namun dia sama
sekali tidak berniat untuk melanjutkan obrolan.
Aku sempat
bimbang mengenai apa yang harus kulakukan, sebelum akhirnya memilih untuk
memercayai nasihat Reita bahwa waktu yang akan menyelesaikan segalanya.
"Sebenarnya
dia kenapa, ya……"
Sudah bisa
ditebak, atmosfer di antara kami pun mendadak meredup kelam.
Lagi pula,
barisan para gadis memang sama sekali tidak tahu tentang apa yang sebenarnya
telah terjadi. Mereka tampak kebingungan sekaligus memancarkan raut wajah
cemas.
Namun, Reita
tetap bungkam dan tidak berniat menceritakan apa pun.
Karena itulah,
aku pun tidak berada di posisi untuk bisa membeberkan situasinya.
Mengingat masalah
ini bersinggungan langsung dengan orang yang disukai Tatsuya, aku tidak bisa
mengatakan apa-apa.
"……Ah.
Pelajaran berikutnya sudah mau dimulai, tuh."
Hanya karena
kehilangan satu orang saja, atmosfer di sekeliling kami bisa berubah menjadi
sekelam ini.
Aku baru
menyadari bahwa sosok penentu suasana di dalam kelompok ini ternyata bukan
hanya Uta, melainkan Tatsuya juga mengemban peran yang sama besarnya.
Udaranya terasa
begitu menyesakkan. Aku sama sekali tidak bisa merasakan kesenangan sedikit
pun.
Meskipun semua
orang mengobrol seperti biasa, entah mengapa rasanya tetap terasa canggung.
——Aku bahkan
tidak akan sudi mengatakannya seumur hidup, kalau masa muda seperti inilah yang
selama ini sangat kuimpikan.
*
Tatsuya
menghabiskan menu makan siangnya sendirian, lalu langsung melesat pergi ke
klubnya begitu bel pulang sekolah berbunyi.
Kelompok kami pun
entah bagaimana mulai terpecah secara perlahan.
Hoshimiya dan
Nanase tampak selalu berdua, sedangkan Uta yang memiliki banyak teman di
penjuru kelas terlihat sibuk mengobrol dengan berbagai macam orang.
Sementara aku
sendiri, memilih untuk mengamati Tatsuya bersama dengan Reita.
Hari-hari yang
terasa menjemukan seperti itu terus bergulir hingga akhir pekan tiba. Itu
benar-benar hari yang sangat membosankan.
Dunia yang
tadinya sewarna pelangi, perlahan-lahan terasa mulai memudar.
Segalanya seolah
kembali ke lanskap pemandangan berasap yang sudah sangat familier bagiku. Masa
muda kelabu itu seakan sedang memanggil-manggil namaku untuk kembali.
"——Hebat
banget, Natsu!"
Uta melemparkan
senyum padaku sembari memandangi deretan nama peraih nilai tertinggi ujian
tengah semester yang dipajang di koridor sekolah.
Rasanya sudah
lama sekali aku tidak melihat senyumannya. Nada suara Uta terasa kurang
berenergi, seolah dia sedang memaksakan diri untuk ceria.
"……Ah, iya.
Terima kasih ya."
Aku berhasil
menduduki peringkat pertama paralel untuk satu angkatan. Jarak nilai milikku benar-benar
berbeda telak jika dibandingkan dengan peringkat kedua.
Sementara
itu, Nanase berada di peringkat ketiga, Reita di peringkat kesebelas, dan
Hoshimiya di peringkat empat puluh sembilan yang membuatnya berhasil masuk ke
jajaran peringkat atas dengan batas yang sangat tipis.
Jika kuperhatikan
dengan saksama, Miori juga berhasil menempati peringkat kedelapan. Tentu saja,
tidak ada nama Uta maupun Tatsuya di papan pengumuman itu.
"Kalau kamu
sendiri bagaimana, Uta?"
"Ehehe,
berkat bantuan dari Natsu, aku berhasil dapat peringkat seratus sepuluh,
lho!"
Uta
membusungkan dadanya dengan bangga.
Mengingat
jumlah total murid di angkatan kami ada dua ratus empat puluh orang, posisi itu
sudah berada di atas rata-rata.
Menilik
bagaimana hancurnya nilai miliknya di awal-awal, ini sudah merupakan sebuah
pencapaian yang sangat memuaskan. Setidaknya, dia jauh lebih pintar daripada
diriku di masa lalu.
"Hei,
cowok itu orangnya, kan……"
"Wah,
wajahnya benar-benar tipeku banget……"
"Udah
ganteng, pintar lagi……"
Mungkin
ini semua karena pengaruh dari pengumuman nilai ujian tersebut. Saat aku sedang
berdiri di koridor, aku bisa merasakan beberapa pasang mata sedang mencuri
pandang ke arahku.
Jika ini
bukan sekadar rasa percaya diri berlebih dariku, maka sorot mata yang diarahkan
kepadaku itu dipenuhi oleh rasa kagum dan ketertarikan. Terutama dari barisan
para siswi.
Bagi
diriku yang menjalani hidup secara mengulang, bisa mengerjakan ujian tingkat
SMA seperti ini adalah hal yang sudah sewajarnya.
Namun aku
tidak menyadari kalau bagi orang-orang di sekitarku yang tidak tahu apa-apa,
hal ini adalah sesuatu yang luar biasa.
——Manusia
sempurna tanpa cela, ya.
Bagaimanapun aku
memikirkannya, julukan itu rasanya sama sekali tidak pantas untuk kusandang.
Lagi pula, jika
aku memang benar-benar sempurna, aku tidak akan mungkin mengalami kegagalan
yang menyedihkan seperti ini.
Aku tidak akan
mungkin meratapi penyesalan tentang bagaimana takdir tidak berjalan sesuai
dengan keinginanku. Dan aku tidak akan mungkin memendam hasrat untuk mengulang
kembali masa mudaku.
"……Anu,
Natsu. Hari Sabtu nanti, bagaimana kalau kita semua pergi bermain bersama?
Kebetulan waktu siangku kosong, nih."
Uta menarik ujung
lengan bajuku dengan pelan. Kata-kata yang diucapkannya itu sempat membuat
hatiku goyah.
Tentu saja, aku
sudah menyadarinya sekarang. Uta kemungkinan besar memang menaruh hati
kepadaku.
Dan fakta itulah
yang menjadi alasan terbesar mengapa Tatsuya menaruh dendam dan rasa cemburu
yang amat sangat kepadaku. Meski begitu, tidak ada yang bisa kulakukan untuk
mengubah hal tersebut.
Namun, karena ini
adalah masalah yang berkaitan dengan perasaan, kurasa Tatsuya pun pasti tidak
bisa berbuat apa-apa untuk meredamnya. Karena itulah, dia memilih untuk menjauh
dari sisiku.
Kalau begitu, ini
adalah masalah pribadi milik Tatsuya sendiri. Aku tidak memiliki kewajiban apa
pun untuk memikirkannya.
Aku hanya perlu
pergi bermain bersama semuanya di hari libur untuk menyegarkan pikiran, kembali
masuk sekolah di minggu depan, memperbaiki kecanggangan yang ada secara
bertahap, dan kembali bersenang-senang bersama semuanya seperti sedia kala.
Walaupun tanpa adanya kehadiran Tatsuya di sisi kami.
Manusia adalah
makhluk hidup yang akan selalu terbiasa dengan perubahan lingkungan di
sekitarnya. Sebagai langkah awal untuk itu, Uta sedang mencoba menawarkan
ajakan tersebut kepadaku sekarang.
"……Maaf ya,
Uta. Minggu ini aku sedang ingin menghabiskan waktu sendirian."
Meskipun aku
memahami niat baiknya, aku tetap menggelengkan kepalaku menolak. Aku tidak sudi
menerima masa depan yang seperti itu.
Memang benar,
terlepas dari seberapa hancurnya kegagalanku, aku mungkin telah berhasil meraih
masa muda yang jauh lebih baik jika dibandingkan dengan kehidupanku yang
pertama.
Namun tetap saja,
kegagalan kali ini terasa sangat fatal. Aku tidak bisa menerimanya, ini adalah
sebuah kehancuran total dari rencana yang telah kususun.
Sebab, alasan
utamaku untuk kembali ke masa lalu adalah agar aku bisa menjalin ikatan
pertemanan yang sejati dengan Tatsuya.
*
Aku memilih untuk
pulang sendirian.
Hari ini
sebenarnya adalah jadwal di mana Hoshimiya juga pulang sendirian, namun aku
memutuskan untuk tidak memanggilnya. Aku sedang tidak berada dalam suasana hati
untuk berbicara dengan siapa pun.
Setelah tubuhku
berguncang di dalam kereta dalam waktu yang cukup lama, aku pun turun di
stasiun terdekat dari rumahku, dan mendapati kalau hujan tengah mengguyur bumi.
Rintik gerimis
yang tadinya turun perlahan, lambat laun berubah menjadi hujan deras yang
sangat lebat. Seingatku, ramalan cuaca pagi ini sama sekali tidak menyebutkan
kalau hari ini akan turun hujan.
Aku tidak membawa
payung. Terpaksa, aku melangkahkan kaki menerobos derasnya hujan. Tidak butuh
waktu lama bagi seluruh tubuhku untuk basah kuyup.
Dari stasiun
terdekat menuju rumah, aku harus berjalan kaki selama kurang lebih lima menit.
Dengan pakaian
yang sudah basah kuyup dan menempel di kulit, aku terus melangkah gontai dengan
lesu. Penampilanku saat ini benar-benar sangat cocok dengan kondisiku yang
menyedihkan.
"……Mengulang
kembali masa muda, ya."
Benar-benar
sebuah lelucon yang sangat menggelikan.
Setelah mencoba
berhati-hati dengan berkaca pada kegagalan di masa lalu, kali ini aku justru
gagal total hanya karena aku bertingkah terlalu sempurna.
Apakah bagi si
anak kelabu seperti diriku, pada akhirnya memang hanya dunia yang sewarna
abu-abu sajalah yang sudi menyambutku?
Langkah kakiku
terhenti. Aku menengadah menatap langit yang menggelap. Butiran air hujan
menghantam wajah dan tubuhku dengan keras.
"Apa yang
harus kulakukan……?"
Aku tidak bisa
menemukan jawabannya. Aku merasa kalau apa pun tindakan yang kuambil sekarang,
jalan di depanku sudah tertutup rapat dan berakhir buntu.
"Kalau tahu
bakal jadi begini……"
Lebih baik aku
tidak usah mengulang kembali masa mudaku, gumamku pelan.
Atau kalaupun aku
harus mengulangnya, seharusnya aku menjalani hidup dengan menyusuri jalan
kelabu yang membosankan seperti biasanya saja.
Karena
bagaimanapun juga, setiap orang memiliki batasan panggungnya masing-masing yang
sesuai dengan kapasitas dirinya.
"——Ada apa,
nih? Wahai Tuan Jenius yang berhasil meraih peringkat pertama paralel
seangkatan?"
Sebuah suara
tiba-tiba terdengar dari arah belakangku. Detik itu juga, rintik hujan yang
mengguyur tubuhku mendadak berhenti.
Bukan,
hujan di sekelilingku sebenarnya tidak berhenti. Namun, tubuhku entah mengapa
tidak lagi dihantam oleh butiran air hujan. Saat aku mendongak, sebuah payung
telah terkembang lebar di atas kepalaku.
"Kalau
kamu sedang punya masalah, sebagai teman sejak kecil, aku tidak keberatan, kok,
untuk mendengarkan keluh kesahmu."
Saat aku
membalikkan badan, sosok yang berdiri di sana ternyata adalah Miori.
Mengingat
betapa derasnya hujan yang turun saat ini, aku meratapi kebodohanku sendiri
karena tidak menyadari kehadirannya sampai dia berdiri sedekat ini di sisiku.
Seberapa
tidak pekanya aku terhadap lingkungan sekitar?
Miori
berdiri di jarak yang sangat dekat hingga pundak kami saling bersentuhan,
membuat kami berakhir berada di bawah naungan satu payung yang sama.
"……Hentikan.
Tubuhku sudah basah kuyup begini, percuma saja kamu memayungiku sekarang."
"Ahaha,
benar juga, sih! Ya sudah kalau begitu, payungnya kujauhkan saja, deh. Padahal
lagi galau tapi masih sempat-sempatnya melontarkan argumen yang logis, kocak
banget, sih."
Miori
dengan santai langsung menggeser langkahnya menjauh dariku. Dan seketika itu juga, butiran air hujan
kembali menghujani tubuhku.
"Ah, tapi
bagaimana kalau tas milikmu kubawakan saja? Kalau sampai tas itu makin basah
quyup, buku pelajaran dan buku catatanmu bisa hancur berantakan, kan? Lagipula,
aku kan orangnya baik hati~"
Meskipun
melontarkan pertanyaan, Miori langsung merebut tas sekolah dari tanganku secara
sepihak tanpa memedulikan persetujuanku.
Mengingat dia
tidak memberikan celah sedikit pun bagiku untuk menolak, kalimatnya tadi
rasanya lebih cocok disebut sebagai sebuah paksaan ketimbang pertanyaan.
"——Jadi,
sebenarnya apa yang sudah terjadi?"
Sembari
memutar-mutar payung di tangannya, Miori melemparkan pertanyaan dengan senyuman
yang merekah di wajahnya.
Sikapnya yang
terkesan tidak tahu sopan santun dan langsung merangsek masuk ke dalam privasi
hatiku itu murni membuatku merasa agak kesal.
"Bukan
urusanmu, kan."
"Tentu saja
ini urusanku! Lagipula, aku ini kan adalah kaki tangan dari Rencana Masa Muda
Pelangi milikmu, tahu?"
Kalau
dipikir-pikir, kami memang pernah membicarakan hal itu di masa lalu.
Sebagai imbalan
karena aku telah membantunya untuk mendekati Reita, dia berjanji akan
membantuku untuk menyukseskan rencanaku.
Memang benar,
pada hari itu, Miori sempat melontarkan sebuah peringatan kepadaku.
"——Di
mataku, sepertinya sedang terjadi sebuah masalah besar di dalam rencana yang
kamu susun, lho?"
Tepat setelah dia
mengucapkan kalimat itu, kereta yang kami tunggu tiba di stasiun, dan Miori
langsung dijemput oleh orang tuanya.
Namun, jika aku
memang ingin mengetahui alasan di balik ucapannya saat itu, seharusnya aku bisa
langsung menelepon atau mengirimkan pesan singkat kepadanya via aplikasi RINE.
Namun aku
justru bersikap terlalu optimis dan mengabaikan peringatannya begitu saja. Atau
lebih tepatnya, aku melupakan ucapan itu sampai detik ini. Sebab aku berpikir,
mana mungkin ada masalah yang akan menghambat rencanaku.
"……Kalau
begitu, hubungan kerja sama di antara kita kuanggap selesai."
Aku memang merasa
bersalah karena telah mengabaikan peringatan darinya, namun mau bagaimana lagi,
rencana yang kususun saat ini sudah hancur berantakan.
*
Sesampainya di
rumah, hal pertama yang kulakukan adalah melepas seragam sekolahku yang basah
kuyup lalu segera membersihkan diri di bawah pancuran air.
Setelah
mengeringkan tubuh dengan handuk dan berganti pakaian santai, aku pun melangkah
kembali ke dalam kamar pribadi milikku.
"Oh, selamat
datang kembali~"
Miori tampak
sedang berbaring santai di atas tempat tidurku sembari melambaikan tangannya
dengan malas.
"……Hei,
bukankah tadi aku sudah menyuruhmu untuk langsung pulang ke rumahmu
sendiri?"
"Sudahlah,
jangan ketus begitu. Lagipula kalau dilihat-lihat, kamar ini sama sekali tidak
berubah ya dari dulu~"
Miori bergumam
sembari mengedarkan pandangannya ke penjuru kamar dengan posisi tubuh yang
masih berbaring telentang.
Hebat
sekali dia bisa bersikap sesantai itu di dalam rumah orang lain.
Lagipula,
bagaimanapun juga dia adalah seorang lawan jenis, kuharap dia bisa berhenti
menunjukkan posisi tubuh yang tidak waspada seperti itu di dalam kamar seorang
pria.
"……Sama
sekali tidak berubah? Memangnya kamu pernah berkunjung ke kamarku sebelum
ini?"
"Tentu saja
pernah, waktu kita masih di taman kanak-kanak dulu. Ah, jangan-jangan kamu
sudah melupakannya? Jahat banget, deh~"
"Itu kan
cerita zaman purba! Mana mungkin aku masih bisa mengingat memori dari zaman TK
dulu!"
Aku
benar-benar tidak mengingatnya sama sekali. Apakah ini terjadi karena secara
mental aku sebenarnya adalah seorang mahasiswa tingkat akhir?
Namun
seingatku, bahkan saat aku masih duduk di bangku SMA di kehidupanku yang
pertama pun, aku memang sudah hampir tidak memiliki memori tentang masa-masa TK
dulu.
"Lagipula,
bagaimana bisa kamu menyamakan kondisiku sekarang dengan masa TK dulu."
"Well, tapi
koleksi bukumu jelas terlihat bertambah banyak, sih. Mana genrenya bau wibu
banget lagi."
Aku memang mulai
hobi mengoleksi light novel dalam jumlah besar sejak aku jatuh cinta
pada genre tersebut saat masih duduk di bangku kelas satu SMP.
Melihat deretan
seri light novel dengan ilustrasi sampul yang agak seksi terpajang di
rak buku dekat tempat tidurku, Miori tampak terkekeh geli.
"Wah, dasar cowok."
"……Berisik amat, sih. Lagipula jangan melihatnya sesuka hatimu!"
Aku melangkah
mendekati tempat tidur lalu merebut light novel tersebut dari tangan
Miori secara paksa.
Karena tindakan
impulsifku itu, posisi tubuh Miori yang mendadak terkunci di bawah kungkungan
tubuhku langsung mengayun-ayunkan kakinya sembari berteriak kegirangan.
"Kyaaa! Aku
mau dinodai~!"
"Hei, mau
aku benar-benar menodaimu sekarang, hah?"
"Halah,
punya keberanian semacam itu saja tidak. Jangan memaksakan diri deh, Tuan
Perjaka~"
Miori menjulurkan
jari telunjuknya lalu mencolek ujung hidungku dengan gemas, sebelum akhirnya
bangkit berdiri dari tempat tidur.
Memang benar
kalau aku masih perjaka, tapi apa ada masalah dengan hal itu? Lagipula,
kurasa Miori sendiri pun pasti masih perawan…… saat pikiran itu terlintas di
kepalaku, aku mendadak tersadar.
Eh, tunggu dulu,
bagaimana kalau dugaanku salah? Jangan-jangan dia sudah berpengalaman? Apakah
anak SMA zaman sekarang sudah melangkah sejauh itu?
Aku penasaran,
tapi karena aku tidak ingin mengetahui kenyataan yang pahit, sebaiknya aku
urungkan saja niat untuk bertanya.
Miori melangkah
menuju pintu masuk kamar, lalu mengeluarkan ponselnya untuk memotret kondisi di
dalam kamarku.
"Hmm, kalau
dipikir-pikir, selain rak bukumu yang bertambah satu, tata letak barang di
kamar ini masih persis sama, kan? Mungkin."
"Yah, kalau itu sih memang benar…… tapi buat apa kamu
memotret kamarku? Awas saja ya kalau kamu sampai mengunggahnya ke Minsta."
Mengingat aku baru saja menolak ajakan bermain dari Uta
dengan alasan ingin menyendiri minggu ini, situasinya pasti akan berubah
menjadi sangat canggung jika sampai ketahuan kalau aku justru sedang berduaan
bersama Miori di dalam kamar.
Apalagi
Uta dan Miori berada di klub yang sama, mustahil akun Minsta milik mereka
berdua tidak saling berteman.
"Tidak akan
kuunggah, kok. Aku juga tidak mau kalau sampai Reita-kun salah paham nanti.
Foto ini cuma buat kenang-kenangan karena kita sudah lama tidak bermain bersama
saja."
"……Kenang-kenangan
apa coba?"
Aku memiringkan
kepalaku karena heran, sebelum akhirnya menyadari suatu hal yang janggal.
Benar,
Miori seharusnya berada di klub basket putri yang sama dengan Uta. Mengingat
Uta hari ini langsung pergi ke klub untuk latihan seperti biasanya, seharusnya
hari ini klub basket tidak sedang libur.
Lalu,
bagaimana bisa dia berada di jalan pulang dan berpapasan denganku?
"Hei, lalu
bagaimana dengan kegiatan klubmu hari ini?"
"Hmm, aku
membolos, kok."
"Hah?"
"Habisnya
aku bukan tipe anggota klub yang rajin dan berdedikasi tinggi seperti
Uta~"
"Kenapa kamu
malah membolos?"
"Sebab
latihan itu sangat melelahkan! Memang menyenangkan, sih, tapi menjalaninya itu
sangat merepotkan. Sesekali membolos kan tidak ada salahnya, iya, kan?"
"Bukankah
beberapa waktu yang lalu klubmu baru saja selesai dari masa hukuman pembekuan
kegiatan?"
"Kalau itu
kan beda cerita. Lagipula waktu itu kan aku harus belajar untuk ujian. Padahal
aku sudah belajar sampai begadang dan mengerahkan seluruh kemampuanku, tapi aku
cuma bisa berakhir di peringkat kedelapan."
Miori
mengembuskan napas kecil sejenak.
"Dari situ
aku sadar kalau standar sekolah ini memang sangat tinggi. Makanya, aku
benar-benar dibuat terkejut saat melihat namamu berada di peringkat pertama
paralel seangkatan. Kenapa kamu mendadak jadi sejenius itu?"
"……Yah, aku
cuma mencoba mengerahkan seluruh kemampuanku saja, kok. Dengan caraku
sendiri."
"Untuk
kesuksesan debut SMA milikmu, atau demi kelancaran Rencana Masa Muda Pelangi
itu?"
Saat aku
menganggukkan kepala membenarkan pertanyaannya, Miori kembali mendudukkan
dirinya di tepi tempat tidur sembari bergumam.
"Oh, jadi
begitu ya~"
"——Well,
alasan membolos yang kukatakan tadi sebenarnya cuma mencakup sekitar dua puluh
persen saja dari alasan utamaku yang sebenarnya, sih."
Aku sempat
kebingungan mengenai apa yang sedang dia bicarakan, sebelum akhirnya tersadar
kalau topik obrolan kami telah kembali ke alasan mengapa dia membolos dari klub
hari ini.
Setiap kali aku
mengobrol bersama Miori, alur bicaranya memang selalu melompat-lompat dan
berputar-putar secara acak. Kurasa itu adalah bagian dari sifatnya yang selalu
bergerak sesuai dengan ritme miliknya sendiri.
"Lalu,
bagaimana dengan delapan puluh persen sisanya?"
"Sebab
ekspresi wajah Uta akhir-akhir ini terlihat sangat aneh. Aku tahu kalau pasti
telah terjadi sesuatu di antara kalian, jadi aku mencoba bertanya kepadanya,
tapi penjelasannya benar-benar sangat membingungkan."
Miori menatapku
lekat-lekat.
"Karena Uta
sendiri sepertinya tidak tahu detail masalahnya dengan jelas, makanya aku
berinisiatif untuk mencarimu."
Miori membentuk
jari tangannya menyerupai sebuah pistol lalu mengarahkannya tepat ke wajahku
sembari bergumam lirih.
"Dor!"
"Begitu ya.
Pantas saja kamu bersikap sangat keras kepala hari ini."
Saat melihat
seorang teman sedang dirundung kesedihan, adalah hal yang wajar bagi seseorang
untuk mencoba menolongnya. Mengingat akar penyebab dari semua masalah ini
bermuara pada diriku, aku merasa kalau aku memang memiliki kewajiban untuk
menceritakan seluruh situasinya kepada gadis ini.
"Keras
kepala? Kurang ajar banget, sih. Lagipula statusku sebagai kaki tanganmu itu
nyata, kan?"
"……Kan sudah
kubilang, rencana yang kususun saat ini sudah hancur berantakan."
"Aku paham
kalau kamu berpikir demikian. Makanya, ceritakan dulu semuanya kepadaku."
Miori membujukku
dengan nada suara yang terdengar lembut. Karena itulah, aku pun keputusan untuk
menceritakan segalanya kepadanya.
Namun, lidahku
mendadak terasa kelu dan kaku untuk digerakkan. Di tengah keheninganku yang
membisu, Miori mengulurkan tangannya lalu mengusap kepalaku dengan lembut.
"……Hentikan,
aku ini bukan anak kecil lagi, tahu."
"But
dulu, setiap kali kamu sedang menangis, akulah yang selalu menghiburmu seperti
ini, kan?"
Secercah
potongan memori masa lalu mendadak berkelebat di dalam benakku. Memang benar,
masa-masa seperti itu sepertinya memang pernah ada di dalam hidupku.
"……But itu
kan cerita lama. Sekarang aku tidak merasa kalau hubungan di antara kita
sedekat itu."
Hubungan kami
berdua memang terjalin dengan sangat baik sejak masa TK hingga sekolah dasar.
Namun, alasan
mengapa hubungan kami mulai merenggang saat menginjak bangku SMP adalah karena
aku sendirilah yang memilih untuk menarik diri dan menjaga jarak darinya.
Aku menaruh rasa
cemburu yang egois kepada Miori yang memiliki kepribadian ramah, dikelilingi
oleh banyak teman, dan selalu menjadi pusat perhatian dari semua orang.
Melihat sikapku
yang berubah seperti itu, Miori akhirnya memilih untuk menyerah dan berhenti
berinteraksi denganku. Dan sejak saat itulah, aku resmi menjadi seorang
penyendiri.
"Benar-benar
pria yang berpikiran sempit ya~ Jadi sampai sekarang kamu masih memikirkan
masalah di zaman SMP dulu?"
Mendengar
sindiran dari matanya yang menatapku dengan malas, aku pun langsung membuang
muka. Jika aku berkata kalau aku tidak memikirkannya, maka aku sudah berbohong.
"——Gomen ne. Karena pada saat itu, aku tidak bisa
menyelamatkanmu."
Namun, aku sama sekali tidak pernah menyangka kalau dia akan
melontarkan permohonan maaf dengan ekspresi serempurna dan seserius itu
kepadaku.
"Apa yang kamu katakan…… masalah itu terjadi murni
karena aku yang menjauh darimu secara sepihak! Kamu sama sekali tidak memiliki
alasan untuk meminta maaf!"
Karena itulah, aku mencoba untuk mengubah esensi dari diriku
yang menyedihkan ini. Bukannya terus-menerus menaruh rasa cemburu kepada Miori,
aku justru bertekad untuk bisa berdiri di atas panggung yang sama dengannya.
Dan fakta itulah yang menjadi pemicu utamaku untuk meraih
masa muda penuh warna pelangi di kehidupan SMA-ku yang pertama.
"Benar juga, sih! Aku juga berpikir demikian. Malah kalau dipikir-pikir kembali, aku
sama sekali tidak salah, kan? Serius, rasanya melelahkan sekali, tahu!"
Miori memajukan
bibirnya sedikit, tampak kesal.
"Padahal
waktu itu aku sempat merasa sangat terpukul, lho. Bagaimana bisa teman masa
kecil yang sudah dekat denganku sejak lama tiba-tiba membenciku tanpa alasan
yang jelas. Mana mungkin aku bisa menebak kalau alasan di balik semua itu
adalah karena kamu cuma sedang cemburu kepadaku, iya, kan?"
Aku hanya bisa
terdiam seribu bahasa tanpa mampu menyanggah argumennya sedikit pun. Meskipun
dalam hati aku sempat protes mengapa dia meminta maaf jika pada akhirnya dia
mengungkit kesalahanku, harus kuakui kalau kata-kata yang dilontarkan Miori
adalah sebuah kebenaran yang mutlak.
"Bagaimana
kamu bisa tahu? Mengenai fakta kalau aku cuma sedang cemburu kepadamu saat
itu."
"Sebab kamu
terlihat sedang mengerahkan seluruh kemampuanmu untuk melakukan debut SMA di
sekolah ini. Padahal dulu aku sengaja menjaga jarak darimu karena kukira kamu
membenci tipe orang populer yang enerjik sepertiku~ Tapi ternyata dugaanku
memang benar, ya."
"Ternyata
dugaanmu benar……? Jadi dari tadi kamu cuma sedang memancingku agar mengaku,
ya?"
Karena merasa
kesal, aku langsung melemparkan pandangan tajam ke arah Miori, namun gadis yang
sedang duduk bersila di atas tempat tidurku itu justru tertawa terbahak-bahak
dengan riang.
Jika kupikirkan
kembali, dinamika hubungan di antara kami berdua saat itu benar-benar sangat
mirip dengan apa yang terjadi antara diriku dan Tatsuya saat ini.
……Apakah Tatsuya
saat ini juga sedang merasakan emosi yang sama seperti apa yang kurasakan di
masa lalu?
"Melihat
raut wajahmu yang berubah drastis begitu, sudah pasti kamu telah melakukan
sebuah kesalahan yang bodoh lagi, kan?"
Tebakannya tepat
sasaran. Karena itulah, aku tidak bisa mengatakan sepatah kata pun untuk
membela diri.
"Makanya,
aku paham kalau kamu enggan menceritakannya kepadaku. Kegagalan itu pasti
terasa sangat memalukan bagimu, kan? Tapi, aku sudah mengenalmu sejak lama. Aku
tahu betul bagaimana rupa dirimu sebelum melakukan debut SMA di sekolah
ini."
Miori menatapku
dengan tatapan melembut.
"Aku tahu
kalau kamu tidak sekeren itu, aku tahu kalau kamu adalah sosok yang rapuh, dan
aku tahu kalau kamu tidak pandai mengobrol dengan orang lain. Karena itulah,
sejak awal aku sudah tahu kalau rencana mulusmu itu mustahil bisa berjalan
dengan sempurna tanpa hambatan."
Miori berucap
demikian sembari menunjukkan sebuah foto usang dari layar ponselnya yang
memperlihatkan rupa diriku yang tampak lusuh di masa lalu.
"Jadi, kamu
tidak perlu memaksakan diri untuk terlihat kuat di depanku. Kamu tidak perlu
menyembunyikan rupa dirimu yang sebenarnya dariku, kok."
Entah mengapa,
air hangat mulai mengalir membasahi pelupuk mataku. Aku enggan mengakui kalau
cairan itu adalah air mata.
Karena itulah,
aku memilih untuk menyalahkan air hujan deras yang mengguyur bumi di luar sana.
*
Suara gemercik
air hujan terus terdengar saling bersahutan.
Secara perlahan,
aku mulai menumpahkan seluruh emosi dan keluh kesahku yang tidak beraturan
kepadanya.
Setelah aku
selesai menceritakan seluruh isi hatiku, keheningan yang cukup panjang mendadak
menyergap atmosfer di antara kami berdua.
Tampaknya, bagi
Miori sekalipun, masalah kali ini terbukti merupakan sebuah perkara rumit yang
sangat sulit untuk dipecahkan. Karena itulah dia tampak sedang berpikir keras.
"……Begitu
ya. Ternyata telah terjadi masalah yang seperti itu, toh."
Miori bergumam
pelan. Lalu secara tiba-tiba, dia langsung bangkit berdiri dari posisinya.
"Nggak, tapi
kalau dipikir-pikir kembali, kamu ini benar-benar seorang pria yang bodoh tahu,
Natsuki!!"
Miori melemparkan
bantal tidurku sekuat tenaga tepat ke arah wajahku.
Pandanganku
mendadak berubah menjadi putih total saat sebuah hantaman keras mendarat tepat
di ujung hidungku.
"Padahal aku
sudah mendengarkan keluh kesahmu dengan serius, tapi jalan pikiranmu itu
benar-benar sangat bodoh……"
"Hei! Aku
memang mengakui kalau masalah ini terjadi karena kesalahanku sendiri, tapi
kenapa kamu malah memarahiku——"
"Di situlah
letak kesalahan utamamu! Sama sekali tidak ada satu pun alasan yang
mengharuskanmu untuk memikirkan masalah ini sendirian sampai membuatmu
frustrasi seperti ini!"
Miori mengarahkan
jari telunjuknya lurus-lurus ke arah wajahku, membuat jalan pikiranku mendadak
terhenti seketika.
"……Hah?"
"Jangan cuma bilang 'hah' dong! Masalah ini kan murni terjadi karena kesalahan
dari pria bernama Tatsuya itu sendiri! Mengenai bagaimana caramu bersikap atau
dengan gadis mana kamu ingin menjalin hubungan kedekatan, bukankah itu adalah
hak mutlak milikmu sendiri?"
"Ta-tapi
meskipun begitu, fakta bahwa aku adalah akar penyebab dari semua masalah ini
tidak akan pernah berubah dan——"
"Haaah…… aku tidak menyangka kalau kamu bakal
menunjukkan ekspresi wajah sekelam itu hanya karena memikirkan masalah sepele
seperti ini……"
Miori mengembuskan napas panjang, sebelum akhirnya
melontarkan kalimat dengan nada suara yang terdengar tegas kepadaku.
"Dengar ya! Kamu sama sekali tidak bersalah dalam hal
ini, jadi kamu hanya perlu bersikap penuh percaya diri seperti biasanya saja!
Setidaknya kamu tidak memiliki alasan untuk merasa frustrasi, apalagi sampai
meminta maaf kepadanya! Malah, kamu
sama sekali tidak boleh melakukan hal bodoh seperti meminta maaf
kepadanya!"
Kalimat pembuka
yang diucapkannya itu benar-benar persis sama seperti apa yang dikatakan Reita
kepadaku sebelumnya.
Memang benar,
argumen itu mungkin ada benarnya. Namun tetap saja, fakta bahwa Tatsuya telah
memilih untuk menjauh dari kelompok kami tidak akan pernah berubah.
Mengingat masa
muda penuh warna pelangi yang selama ini kuimpikan tidak akan pernah terwujud
dalam kondisi kelompok yang terpecah seperti ini, aku harus menemukan sebuah
solusi untuk memperbaikinya.
"Natsuki itu
terlalu baik hati, sih…… Sifatmu yang satu itu memang sama sekali tidak berubah
sejak dulu. Tapi, meskipun kamu berniat untuk meminta maaf kepadanya,
tindakanmu itu justru hanya akan membuat Tatsuya-kun merasa semakin
menyedihkan, tahu."
Saat aku hendak
bertanya mengenai alasan di balik ucapannya, aku mendadak tersadar akan suatu
hal.
Jika aku berada
di posisi yang sama dengan Tatsuya, hal yang paling tidak ingin kuterima dari
orang lain adalah sebuah permohonan maaf.
Meskipun fakta
menunjukkan kalau akulah yang tidak kompeten sedangkan pihak lawan sama sekali
tidak bersalah, menerima permohonan maaf darinya justru hanya akan membuatku
dirundung oleh rasa penyesalan karena telah memaksanya untuk meminta maaf.
"……Laru, apa
yang harus kulakukan sekarang? Pada akhirnya, aku……"
Meskipun aku
telah berhasil memahami situasinya kembali dengan jelas, pada akhirnya tetap
tidak ada solusi konkret yang bisa kuambil untuk menyelesaikan masalah ini. Aku
tidak ada hal yang bisa kulakukan.
Atau lebih
tepatnya, aku bahkan masih belum tahu mengenai langkah apa yang harus kuambil
selanjutnya.
Di tengah
kebingunganku, aku mendadak teringat akan peringatan yang dilontarkan Miori
pada hari itu.
"……Hei,
kalau tidak salah waktu itu kamu pernah berkata kepadaku, kan? Mengenai fakta
bahwa sedang terjadi sebuah masalah besar di dalam rencana yang kususun."
"Ah, kalau
soal itu, aku mengatakannya bukan karena aku sudah memprediksi kalau masalah
pelik seperti ini bakal terjadi, kok."
Miori berucap
demikian sembari meletakkan tangannya di dagu dan mulai tenggelam dalam
keheningan malam untuk berpikir.
"……Tapi,
kurasa analisis milikku saat itu tidak sepenuhnya salah, sih. Di mataku, saat
itu kamu hanya terlihat seperti sedang terlalu memaksakan diri untuk tampil
sempurna secara konstan. Makanya aku sempat penasaran, apakah kamu benar-benar
merasa bahagia dengan cara hidup yang seperti itu."
Mendengar
penuturan dari Miori, aku langsung mengerutkan alisku dalam-dalam.
Memang
benar, aku selalu berusaha keras untuk menjaga sikapku di depan semua orang.
Aku selalu mencoba untuk mengambil tindakan dengan penuh kehati-hatian dan
kesopanan yang teramat sangat.
Sebab
jika aku sampai menunjukkan rupa diriku yang sebenarnya, aku pasti akan
berakhir dibenci oleh semua orang seperti apa yang terjadi di kehidupanku yang
pertama.
"Kamu memang
sudah berjuang dengan sangat keras, kok. Sebagai orang yang mengenal rupa
dirimu di masa lalu, aku bisa memahaminya dengan sangat jelas. Keberhasilanmu
dalam menyembunyikan rupa dirimu yang sebenarnya dari pandangan orang lain
adalah buktinya. Tapi karena hal itulah, sosokmu yang sekarang terlihat seolah
tidak memiliki celah sedikit pun."
Terlepas dari
bagaimana caraku memandang diriku sendiri, aku baru menyadari akhir-akhir ini
kalau orang-orang di sekitarku ternyata memandang diriku dengan penilaian yang
serupa.
"Maksudku,
sosokmu yang sekarang itu terkesan kurang menggemaskan, atau lebih tepatnya,
kamu terlihat terlalu sempurna sehingga memunculkan kesan yang sulit untuk
didekati oleh orang lain. Padahal rupa dirimu yang sebenarnya itu benar-benar
sangat jauh dari kata sempurna, kan? Dan kurasa, Tatsuya-kun pun pasti
memikirkan hal yang sama tentang dirimu saat ini."
Jika memang
begitu faktanya, lalu apa yang harus kulakukan?
"……Bagiku,
untuk mengubah esensi dari diriku lebih jauh lagi dari ini adalah sebuah
kemustahilan. Aku merasa kalau aku sudah mengerahkan seluruh kemampuanku sampai
di batas maksimal."
Miori menatap
wajahku dengan pandangan mata yang intens saat mendengar jawaban putus asa yang
kulontarkan.
"……Kurasa,
aku baru saja menemukan sebuah solusi untuk menyelesaikan masalah ini, deh.
Walaupun taktik kali ini terkesan terlalu blak-blakan, sih."
"Benarkah?"
Saat ini aku
sudah benar-benar kehabisan akal dan tidak memiliki pilihan taktik lain yang
bisa kuambil.
"……Kumohon,
Miori. Bantu aku."
Namun, jika sosok
itu adalah Miori yang merupakan orang yang paling mengenal esensi dari diriku
melebihi siapa pun, aku tidak ragu untuk menggantungkan seluruh harapanku pada
uluran tangannya.
"——Kalau
begitu, mari kita tunjukkan rupa dirimu yang sebenarnya kepada semua
orang."
Mendengar solusi
yang diucapkannya dengan nada suara yang terdengar lembut itu, aku hanya bisa
mematung sembari mencoba mencerna esensi dari kalimatnya. Hal itu adalah sebuah
kemustahilan bagiku.
Sebab, rupa
diriku yang sebenarnya adalah sosok pria penyendiri yang menyedihkan.
Seorang pria yang
tidak pandai berbicara, selalu berfikiran negatif, tidak memiliki keberanian
untuk menyapa orang lain terlebih dahulu, menaruh rasa cemburu yang egois
kepada Miori lalu memilih untuk menjauh darinya, namun di saat yang sama dia
adalah seorang pria egois yang sangat benci untuk menghabiskan waktu sendirian.
S
osok anak
laki-laki yang ditakdirkan untuk menjalani masa muda yang kelabu.
Mana mungkin ada
orang yang sudi menaruh hati atau menyukai pria yang memiliki esensi sekorup
itu. Karena itulah, saat ini aku sedang berjuang mati-matian untuk mengubah
esensi dari diriku sendiri.
"Dengar ya.
——Aku, menyukaimu, lho."
Sebuah pernyataan
cinta yang terlontar begitu saja secara tiba-tiba.
Awalnya kukira
dia hanya sedang bermaksud untuk mengolok-olok diriku, namun aku mendadak
tersadar saat pandangan mataku terkunci oleh keseriusan yang terpancar dari
manik mata milik Miori.
"Aku memang
menyukai sosokmu yang selalu berjuang dengan keras saat ini, namun aku juga
menyukai rupa dirimu yang sebenarnya, kok."
Dia
mengucapkannya secara perlahan dengan nada suara yang terkesan sedang
menasihatiku. Karena itulah, untaian kalimat yang dilontarkannya itu terasa
meresap dalam-dalam ke lubuk hatiku yang terdalam.
Aku bisa
merasakan kalau kedua belah pipiku mendadak berubah menjadi sangat panas.
Mungkin karena
menyadari perubahan pada gurat wajahku, wajah Miori pun perlahan-lham mulai
memerah padam sebelum akhirnya dia memilih untuk membuang mukanya ke arah lain.
"……Tapi
jangan salah paham dulu ya! Rasa suka yang kumaksud di sini adalah murni
sebagai seorang teman, atau lebih tepatnya sebagai hubungan takdir buruk di
antara sesama teman masa kecil, paham?"
Miori berdehem
kecil untuk menutupi rasa malunya.
"Maksudku,
esensi utama yang ingin kusampaikan dari tadi adalah, kamu tidak perlu
menyembunyikan rupa dirimu yang sebenarnya di depan semua orang, tahu!"
"……Apakah
benar-benar tidak apa-apa jika aku melakukannya?"
"Lagipula,
kamu menganggap barisan orang-orang itu sebagai temanmu, kan, Natsuki?"
Mendengar
pertanyaan darinya, aku pun menganggukkan kepala membenarkan.
Setidaknya, di
dalam hatiku yang terdalam, aku memang menganggap mereka semua sebagai teman
sejatiku.
"Lalu,
apakah kamu akan menyebut seseorang yang tidak bisa kamu percayai atau
seseorang yang membuatmu tidak bisa menumpahkan seluruh isi hatimu yang
sebenarnya sebagai seorang teman?"
Jalan pikiranku
mendadak terhenti seketika. Aku tidak bisa menemukan jawaban yang tepat untuk
membalas pertanyaannya.
Namun, satu hal
yang bisa kupastikan saat ini adalah fakta bahwa hubunganku dengan mereka semua
memang sedang berada di dalam kondisi yang persis seperti apa yang diucapkannya
tadi.
"Jika kamu
terus mempertahankan hubungan yang semu seperti itu, apakah menurutmu kamu akan
bisa meraih masa muda penuh warna pelangi yang selama ini sangat kamu
impikan?"
Apa yang
dikatakannya itu memang merupakan sebuah kebenaran yang tidak bisa kusanggah.
Namun di sisi
lain, aku merasa kalau untaian kalimatnya tadi seolah sedang menolak seluruh
kerja keras dari diriku yang telah berjuang mati-matian untuk berubah selama
ini.
"……Kalau
begitu, apakah kamu sedang mencoba mengatakan kalau seluruh kerja keras dan
usahaku untuk mengubah diriku selama ini adalah sebuah perbuatan yang
sia-sia?"
Aku memendam rasa
takut yang teramat sangat di dalam hati, jika sampai dia menganggukkan kepala
membenarkan pertanyaan terakhirku itu.
Jika sampai
seluruh usaha dan kerja keras yang kulakukan selama ini ditolak mentah-mentah
olehnya, lalu dengan cara seperti apa lagi aku harus menjalani sisa hidupku
setelah ini?
Melihatku
yang dirundung dilema seperti itu, Miori hanya menyahut dengan santai.
"Aku
kan tidak bilang begitu. Lagian buktinya sekarang kamu sudah bisa punya
teman-teman yang baik, kan?"
Miori
menjeda kalimatnya sejenak, lalu kembali melanjutkan.
"Mengubah
diri dan menyembunyikan diri itu adalah dua hal yang berbeda. Tentu saja aku
tidak bermaksud bilang kalau menyembunyikan diri itu sepenuhnya salah, tapi
kalau kamu terus-menerus menyembunyikan rupa dirimu yang sebenarnya, lama-lama
semua orang pasti akan merasakan adanya dinding pembatas darimu."
Miori
berkata bahwa hal itulah yang kemungkinan besar menjadi salah satu alasan
mengapa Tatsuya memilih untuk menjauhiku.
Bishitt! Jari telunjuknya mendadak
ditusukkan tepat di depan hidungku.
"Tentu
saja, kalau kamu sampai menunjukkan bagian buruk dari rupa dirimu yang
sebenarnya, akulah yang akan langsung menegurmu. Karena itulah, belajarlah
untuk bersikap jujur pada dirimu sendiri."
Miori
mengucapkannya dengan ekspresi wajah yang tampak bangga.
"Kurasa,
ini adalah saran terbaik yang bisa kuberikan kepadamu, selaku orang yang
bertindak sebagai kaki tanganmu."
Aku mencoba
mencerna esensi dari untaian kalimat yang diucapkannya itu.
Aku sendiri masih
belum tahu apakah jalan ini adalah sebuah pilihan yang benar atau tidak.
Namun, ini adalah
sebuah nasihat yang terlontar langsung dari mulut teman masa kecilku yang
paling mengenal esensi dari diriku melebihi siapa pun.
Jika kamu
bersedia untuk terus berada di sisiku dan menjadi penopangku, maka masa muda
penuh warna pelangi itu mungkin benar-benar akan bisa berada di dalam jangkauan
tanganku.
Pikiran
itu mendadak terlintas di dalam benakku.
Aku pun
memutuskan untuk memercayainya. Detik ini juga, aku resmi mengakui Miori
sebagai kaki tangan sejati dari Rencana Masa Muda Pelangi milikku.
——Karena itulah,
aku memutuskan untuk bersikap jujur pada diriku sendiri.
Terlepas dari
seberapa menakutkan dan mengerikannya hal itu, aku akan tetap melakukannya demi
bisa menjalin ikatan pertemanan yang sejati dengan mereka.
*
Hari Senin di
awal minggu berikutnya tiba.
Begitu sampai di
sekolah, aku langsung melangkah masuk ke dalam ruang kelas dan segera berdiri
tepat di depan hadapan Tatsuya.
Jika aku
melakukan tindakan sefrontal ini, mau tidak mau Tatsuya yang biasanya bersikap
cuek pun pasti akan terpaksa memberikan respons. Dia mendongak menatapku, lalu
melontarkan pertanyaan.
"……Ada apa?
Natsuki."
"Bisa ikut
aku sebentar?"
Aku menggerakkan
ibu jariku menunjuk ke arah luar kelas.
Tatsuya sama
sekali tidak mengucapkan sepatah kata pun. Karena itulah, aku menganggap
keheningannya itu sebagai sebuah jawaban iya.
Begitu aku
melangkah keluar kelas secara sepihak, Tatsuya tampak sempat ragu-ragu sejenak,
sebelum akhirnya memutuskan untuk berjalan membuntut di belakangku.
Seketika itu
juga, pasang mata dari seisi kelas langsung tertuju ke arah kami. Kelompok kami
memang merupakan kelompok yang paling mencolok di dalam kelas ini.
Fakta bahwa
Tatsuya yang merupakan sosok paling dominan di antara kami mendadak memilih
menyendiri akhir-akhir ini tentu saja telah menjadi bahan perbincangan yang
hangat.
Jadi, saat
melihat kami akhirnya kembali saling berbicara seperti ini, wajar saja jika
kami langsung menjadi pusat perhatian dari semua orang. Di antara barisan
pasang mata yang menatap kami itu, aku juga bisa melihat sosok Hoshimiya dan
yang lainnya.
Mau bagaimana
lagi, entah dalam artian baik maupun buruk, sosok kami berdua memang terlalu
mencolok.
Mengingat kami
tidak akan bisa mengobrol dengan tenang jika tetap berada di dalam kelas
ataupun di koridor sekolah, aku pun memutuskan untuk membawanya pergi menuju ke
atap sekolah.
Atap sekolah ini
sebenarnya secara resmi masuk ke dalam daftar area yang dilarang untuk dimasuki
oleh murid.
Namun karena
kunci pintunya sudah lama rusak, area ini pada praktiknya bebas dimasuki oleh
siapa saja, bahkan ada banyak murid yang biasa menggunakan area atap ini untuk
menyantap menu makan siang mereka saat jam istirahat tiba.
Meski begitu, di
jam sepagi ini, kurasa area atap pasti masih kosong dan belum dilewati oleh
siapa pun.
Saat aku
melangkah menaiki undakan anak tangga, Tatsuya tetap berjalan mengekor di
belakangku dengan patuh.
Aku mendorong
pintu atap sekolah yang sudah agak rusak itu hingga terbuka. Aku terus
melangkah lebar menuju ke arah pagar pembatas, lalu membalikkan badanku ke
belakang.
Pandangan mataku
dan Tatsuya saling beradu. Raut wajahnya tampak memancarkan ekspresi yang
sangat canggung.
"……Ada
urusan apa?"
"Bukan
berarti aku tidak punya urusan apa-apa, kan. Lagipula, bukankah kita ini adalah
teman?"
Tatsuya langsung
membuang mukanya ke arah lain.
"……Kan
sudah kubilang. Tolong biarkan aku sendiri."
"Mau sampai
kapan? Ini sudah lewat satu minggu, tahu."
"Kemungkinan
besar, kelompok kalian memang akan jauh lebih baik jika tidak ada orang seperti
diriku di dalamnya. Jadi tidak usah dipikirkan."
"Kenapa kamu
bisa berpikir begitu? Setidaknya aku sendiri tidak pernah memikirkan hal
semacam itu sedikit pun."
"Kurasa
memang begitu. Kamu pasti tidak akan memikirkannya. Tapi akhir-akhir ini aku
selalu memikirkan hal itu secara konstan. Karena dari situ aku sadar, kalau aku
ternyata adalah seorang pria yang jauh lebih kekanak-kanakan daripada apa yang
kubayangkan sebelumnya."
Sosok Tatsuya
yang biasanya selalu berdiri tegap penuh percaya diri, entah mengapa saat ini
justru terlihat sangat menyedihkan di mataku.
"Kamu pasti
sudah mengetahuinya, kan. Aku itu——memendam rasa cemburu yang amat sangat
kepadamu. Perasaan ini bahkan sudah melampaui batas dari rasa iri yang wajar.
Aku tidak sudi memendam emosi semacam itu kepada temanku sendiri. Karena
itulah, menjauh darimu adalah pilihan terbaik yang harus kuambil."
"……Apakah
ini karena hubungan kedekatanku dengan Uta?"
Aku sempat
bimbang mengenai apakah aku harus menanyakan hal ini atau tidak. Namun, jika
aku tidak mencoba merangsek masuk ke dalam privasi hatinya sekarang, lalu kapan
lagi aku bisa melakukannya?
"……Ternyata
kamu benar-benar sudah menyadarinya, ya?"
"Awalnya aku
tidak tahu apa-apa. Aku baru mengetahuinya setelah diberi tahu oleh
Reita."
"Begitu ya.
Ah, benar sekali. Itu adalah cinta bertepuk sebelah tangan. Aku sudah
menyukainya sejak kami masih duduk di bangku SMP."
Tatsuya berjalan
mendekat ke arahku sembari menyembunyikan rona merah yang perlahan menjalar di
kedua belah pipinya. Dia bertumpu pada pagar pembatas dengan kedua siku
tangannya, lalu melemparkan pandangan lurus menatap pemandangan di depan sana.
"……Aku
sendiri sempat terkejut saat menyadari kalau aku ternyata bisa menjadi seorang
pria yang secemburu ini. Padahal di saat yang sama, aku bahkan tidak bisa
memikirkan satu pun cara untuk merebut kembali hati Uta dari sisimu. Tidak ada
satu pun hal dariku yang bisa digunakan untuk menang bertarung melawanmu. Bahkan
basket yang merupakan keahlian terbesarku pun…… aku sudah mengerahkan seluruh
kemampuanku, tapi tetap saja kalah dengan sangat mudah dari tanganmu."
Meskipun bagi diriku pertandingan hari itu sama sekali tidak
bisa disebut sebagai sebuah kemenangan yang mudah, kurasa Tatsuya tetap tidak
akan sudi menerima argumenku jika aku mengatakannya sekarang.
Lagipula pada kenyataannya, jika kami kembali bertanding
dalam kondisi saat ini, kemungkinan besar akulah yang akan tetap keluar sebagai
pemenangnya. Jarak kemampuan di
antara kami memang sejauh itu.
"——Hei,
Tatsuya."
"Jangan
berani-berani meminta maaf kepadaku ya."
Tatsuya memotong
kalimatku dengan cepat seolah sedang memasang barikade pertahanan terlebih
dahulu.
"Pihak yang
salah di sini adalah diriku sendiri. Kamu sama sekali tidak memiliki tanggung
jawab apa pun atas masalah ini. Karena itulah, jangan pernah meminta maaf
kepadaku."
Setelah
mengucapkan kalimat yang tampaknya telah berhasil memuaskan ego hatinya itu,
Tatsuya langsung membalikkan badan dan berniat untuk melangkah kembali menuju
ke jalan yang kami lewati tadi.
"……Kurasa
ini sudah cukup. Mari kita kembali ke kelas."
"Oi,
Tatsuya."
"Masih ada
hal lain yang mau kamu bicarakan?"
Aku melemparkan
pandangan lurus-lurus ke arah Tatsuya yang sedang berbalik dengan raut wajah
penuh keheranan, lalu melontarkan untaian kalimat kepadanya.
"Meminta
maaf katamu? Jangan bercanda ya, dasar bodoh. Kedatanganku ke sini itu justru
murni buat mengomeli dirimu, tahu!"
"…………Hah?"
Karena aku sudah
membulatkan tekad untuk bersikap jujur pada diriku sendiri, maka aku akan
menghantamnya langsung dengan seluruh isi hatiku yang sebenarnya.
Lagipula, jika
kupikirkan kembali secara logis, tindakan mendadak meminta maaf yang sempat
ingin kulakukan sebelumnya itu murni merupakan sebuah perbuatan yang sangat
tidak masuk akal.
Lagian apa-apaan
coba, memendam rasa cemburu hanya karena pihak lawan bertingkah terlalu
sempurna itu benar-benar sangat tidak masuk akal…… yah, walaupun aku juga
pernah memendam rasa cemburu yang tidak masuk akal semacam itu di masa lalu,
sih.
Tapi masa bodoh
dengan hal itu, sekarang aku jadi bisa memahami alasan mengapa Miori mengatai
diriku sebagai seorang pria yang bodoh sebelumnya.
Sebab pada
kenyataannya, baik aku maupun dirimu, kita berdua ini murni sama-sama bodoh.
"Lagipula
sikapmu itu, alih-alih kekanak-kanakan, bukankah kamu itu murni cuma seorang
pria yang bodoh?"
"……Apa
maksudmu tiba-tiba mengataiku begitu? Kalau dilihat dari sudut pandangmu
yang——"
"——Mata
milikmu itu saja yang buta! Jika kamu memikirkannya secara logis, mana mungkin
ada manusia yang terlahir sebagai seorang manusia sempurna tanpa cela di dunia
ini!"
Aku mengarahkan
jari telunjukku lurus-lurus ke arah wajahnya sembari membentaknya dengan keras.
"Tapi, pada
kenyataannya……"
"Ah, aku
paham kalau kamu ingin memprotes bahwa dari sudut pandangmu aku memang terlihat
sesempurna itu. Tapi coba kamu pikirkan baik-baik dari sudut pandangku juga
dong! Saat ini aku sedang berada di masa-masa awal setelah baru masuk sekolah,
tahu! Makanya aku selalu bergerak dengan penuh kehati-hatian, kesopanan, dan
diliputi oleh rasa gugup yang teramat sangat dalam menghadapi segala hal! Wajar
saja kan kalau tindakan yang kuambil itu akhirnya terlihat sesempurna itu di
matamu!"
"Diliputi
oleh rasa gugup……? Jangan bercanda ya."
"Ini sama
sekali bukan candaan, tahu! Di tempat yang tidak terjangkau oleh pandangan
matamu, aku itu sudah berjuang dan mengerahkan seluruh kerja keras yang sangat
luar biasa! Jadi aku sama sekali tidak memiliki kewajiban untuk menerima rasa
cemburu darimu! ——Jangan melarikan diri dariku, Tatsuya! Hadapi aku dengan
jantan!"
"Tidak ada
satu pun dari ucapanmu tadi yang bisa kupercaya, tahu! Di mataku, sosokmu itu
sama sekali tidak terlihat seperti tipe manusia rapuh yang baru kamu sebutkan
tadi! Kamu selalu bisa menyelesaikan segala hal dengan sangat santai,
seolah-olah hal itu adalah perkara yang sangat mudah untuk dilakukan!"
"Kalimat
itu seharusnya menjadi dialog milikku, dasar pria populer bertenaga monster!
Kamu bisa menjalin hubungan kedekatan dengan berbagai macam orang dengan sangat
santai, lalu menikmati masa muda penuh keceriaan tanpa beban sedikit pun!
Padahal di saat yang sama, aku harus menguras seluruh energi mentalku setiap
harinya hanya untuk bisa melakukan hal yang sama!"
"……Haaah?"
Entah
mengapa, semakin aku mengobrol dengannya, rasa kesal di dalam hatiku justru
terasa semakin membuncah saja.
Kenapa
juga aku harus menerima rasa cemburu dari pria yang merupakan perwujudan dari
sosok ideal seorang anak populer semacam dia?
Perkara
memendam rasa cemburu itu, seharusnya adalah hak mutlak milikku untuk diarahkan
kepadamu, tahu!
"Dengar
ya Tatsuya, pasang telinga milikmu baik-baik! Hari ini, aku akan menghancurkan
seluruh fantasi indah yang selama ini kamu agung-agungkan tentang diriku!"
Aku
mengarahkan jari telunjukku tepat ke arah wajah Tatsuya sembari menunjukkan
ekspresi wajah yang tampak angkuh.
Mengingat
apa yang akan kuucapkan setelah ini, aku bisa merasakan kalau kedua belah
pipiku mendadak berubah menjadi sangat panas karena malu.
Namun,
aku sudah membulatkan tekad untuk berbicara dengan sejujur-jujurnya hari ini.
Demi
kelancaran rencana ini, aku sama sekali tidak keberatan meskipun aku harus
membeberkan aib masa laluku yang memalukan ini di hadapannya.
"Namaku
adalah Natsuki Haibara! Aku adalah seorang mantan otaku ansos kelas kakap yang
melakukan debut SMA! Mohon bantuannya mulai sekarang!"
Sebuah
deklarasi yang awalnya terdengar sangat keren, namun berakhir menjadi sebuah
pernyataan yang teramat sangat memalukan.
Tatsuya
hanya bisa mematung dengan ekspresi wajah melongo sembari bergumam lirih.
"……Hah?"
Well,
wajar saja sih kalau dia memberikan respons kebingungan seperti itu.
"Aku
tidak sedang berbohong kepadamu, tahu! Karena pada kenyataannya, inilah rupa
diriku saat masih duduk di bangku SMP dulu!"
Aku
menyodorkan layar ponselku tepat di depan wajah Tatsuya. Di sana, terpajang
dengan sangat jelas sebuah foto yang menampilkan rupa diriku di masa lalu yang
memiliki postur tubuh gemuk, mengenakan kacamata, dan terlihat sangat
menjijikkan.
Jika
kuperhatikan kembali sekarang, penampilanku saat itu benar-benar merupakan
perwujudan dari potret seorang anak ansos yang menjijikkan.
Saking
menjijikkannya rupa diriku saat itu, air mata rasanya hampir menetes dari
pelupuk mataku sekarang.
"Fuhaha, apa ada masalah dengan hal itu, hah?!"
Aku sadar kalau
tensiku sudah agak kacau, tapi tolong maafkan aku, karena aku sendiri yang
membongkar rahasia yang sudah kusembunyikan sejak masuk sekolah ini. Bisa
dibilang, inilah diriku yang sebenarnya.
"Yah, aku
tidak keberatan sih, tapi…… ini, kamu?"
"Apa kamu
pikir aku bohong? Tapi kalau dilihat baik-baik, struktur wajahnya sama,
kan?"
"……Serius?
Eh, ini serius?"
Tatsuya menatap
foto di ponselku dengan lekat, lalu mulai men-scroll layarnya sesuka hati.
Ensiklopedia Gadis Cantik 2D yang kusimpan di ponselku pun terekspos
habis-habisan.
"Bodoh,
dasar kau! Berhenti melihat 'istri-istriku' tanpa izin!"
"……Aku
tadinya tidak percaya, tapi melihat ini, entah kenapa aku jadi mulai
percaya."
"Jangan
samakan otaku dengan ansos ya, itu prasangka. Zaman sekarang sudah tidak begitu lagi,
tahu."
"……Lagipula,
bukankah kau tidak pernah cerita kalau kau itu seorang otaku?"
"Makanya,
kan sudah kubilang. Aku sedang pasang aksi…… maksudku, aku cuma berusaha
menjaga gengsi."
Ucapku
sembari membuang muka.
Menjelaskan
kembali bahwa diriku hanya berpura-pura kuat itu sangat memalukan. Siksaan macam apa ini? Memikirkan kalau
aku melakukan semua ini demi si bodoh ini membuatku kesal. Sumpah, jangan
bercanda.
Di saat itulah
Tatsuya tertawa licik untuk pertama kalinya.
"……Karena
kau menyembunyikannya, bukankah itu tandanya kau sendiri yang paling
memikirkannya?"
"Bising!
Jangan bongkar psikologi dalam seorang otaku ansos!"
Mungkin
memang benar begitu. Saat SMP, karena aku sendirian, tentu saja aku jadi
kecanduan novel ringan dan anime. Aku beralasan pada diri sendiri kalau aku
diam saja karena tidak ada orang di kelompok ini yang seleranya cocok, tapi
sebenarnya aku hanya menyembunyikannya karena itu terkesan "ansos".
Padahal
aku tahu banyak orang populer zaman sekarang yang terang-terangan mengaku
sebagai otaku.
"Heh,
jadi ini hobimu, dan ini dirimu ya. Heh."
Tatsuya
terus mengulik foto-foto di ponselku sesuka hati. Dia tidak mau berhenti meski sudah kusuruh.
"Bagaimana
bisa otaku menjijikkan ini jadi cowok ganteng seperti kau sekarang?"
"Berisik,
dari sananya wajahku memang tidak buruk. Itu sudah dijamin oleh teman masa
kecilku. Aku cuma gemuk dan tidak peduli dengan penampilan, makanya jadi
begitu. Karena itulah aku berjuang selama liburan musim semi."
"……Demi
debut SMA-mu, ya?"
"Benar.
Aku dulu mengagumi orang sepertimu."
"Kau,
mengagumiku?"
Tatsuya tampak
bengong. Wajah tanpa dosanya itu benar-benar membuatku kesal.
"Makanya,
kalimat itu seharusnya jadi milikku!"
Aku mendekatkan
wajahku dan memelototinya.
"Rasa
cemburu itu adalah milikku. Kembalikan. Lagipula, kau cemburu pada orang yang
dulu kau kagumi, itu benar-benar bagaikan petir di siang bolong! Gerakan 'anak
populer'-ku ini semuanya hanya meniru kau dan Reita, tahu!"
"Bagian di
mana kau kadang mencoba memakai kata-kata sulit itu memang terasa bau-bau otaku
banget, ya."
"Jangan
coba-coba membalas ucapanku hanya karena kau tahu aku baru debut SMA!"
Saat aku meracau,
Tatsuya menghela napas dengan sengaja.
"Kau ini
benar-benar merepotkan, ya."
"Yang
merepotkan itu kau, tahu! Jangan bilang begitu padaku! Gara-gara alasan yang
kekanak-kanakan, kau malah merepotkan orang lain! Sudahlah, kembali saja!
——Semua orang, sedang menunggu."
Aku menatap
matanya saat mengucapkannya. Ekspresi Tatsuya menunjukkan keraguan yang jelas.
Jadi, aku
mengatakannya sekali lagi. Sembari berpikir betapa merepotkannya pria ini.
"Jangan
lari, Tatsuya. Kalau kau begitu menyukai Uta, rebutlah dia. Tidak malukah kau
takut pada orang seperti aku yang cuma kulit luar saja? Padahal sebenarnya aku
yang gemetaran padamu, tahu!?"
Apa yang
kubicarakan? Aku
sendiri bingung dengan kalimatku. Aku bicara terlalu terbawa suasana.
Tapi aku
melanjutkannya. Karena sudah pasti, inilah isi hatiku yang sebenarnya.
"Kalau kau
terus lari seperti sekarang, Uta tidak akan melirikmu, kan? Kalau begitu, kau
tidak akan bisa menang dariku, lho?"
"……Kau
lumayan sombong juga ya, padahal baru debut SMA."
"Kau
pikir begitu? Tidak, kau benar…… memang begitu sih. Maaf."
"Kau
ini emosinya tidak stabil, ya!?"
"Bising!
Aku cuma bingung harus pakai karakter apa karena tiba-tiba menunjukkan jati
diriku!"
"……Kau
benar-benar memaksakan gengsimu ya."
"Ya,
memang benar! Tidak sepertimu, diriku yang asli tidak akan dihargai, makanya
aku belajar melakukan berbagai hal! Aku ini hanyalah orang selevel itu! Jauh
dari kata sempurna! Jadi, berhentilah bersikap pengecut dengan lari karena
takut pada orang seperti ini!"
Aku
berteriak padanya.
"Itu
bukan——dirimu yang kukagumi."
Angin
berembus di atap sekolah. Rambut pendek Tatsuya bergoyang di depanku.
"Meski
begitu kau... bagaimana cara menjelaskannya? Tidak mungkin bisa kembali begitu saja
sekarang, kan."
"Yah, mau
tidak mau kau harus menjelaskannya. 'Sebenarnya aku sangat menyukai Uta-chan
sampai gila, aku cemburu pada Natsuki-kun yang belakangan ini dekat dengan
Uta-chan, dan aku adalah pria paling pengecut yang lari karena tidak punya
keunggulan apa pun' ——begitu, tahu!"
"Apa perlu
sampai sebegitunya!?"
"Itu kan
cuma fakta!"
"Meski
begitu, tidak mungkin aku bisa mengatakan hal seperti itu! Tidak, memang benar
sih! Tapi kalau orang lain
yang mengatakannya, entah kenapa aku tidak terima! Lagipula, aku tidak mau
sampai ketahuan Uta!"
"Cih,
benar-benar pria yang kekanak-kanakan. Pantas saja kau cinta bertepuk sebelah
tangan bertahun-tahun. Kecewa aku."
"Kau ini
kasar sekali, ya!?"
"Aku sampai
sekarang takut padamu, tahu. Tapi baru sadar kalau kau ternyata bukan orang
yang perlu ditakuti."
Aku mengangkat
bahu dan mulai berjalan untuk kembali ke kelas.
"Ayo, cepat."
Sebentar lagi waktu home room pagi dimulai. Aku tidak mau membolos hanya karena pria
seperti ini.
"Sialan...
benar-benar tidak terasa plong..."
Tatsuya
bergumam sembari mengikutiku. Sepertinya dia sudah tidak perlu dikhawatirkan
lagi.
Meskipun
bagaimana cara dia menjelaskannya nanti, itu patut ditonton.
——Sembari
menyeringai, aku membuka pintu atap,
"Ah,
eh!?"
"Eh,
eeeeeh!?"
"Uta!?
Tunggu, jangan tarik—"
Dusa dusa
dusa! Tiga gadis jatuh
tersungkur ke lantai dengan keras.
Hmm? Apa yang
terjadi? Pikiranku berhenti sejenak. Yang jatuh itu, sudah jelas adalah Uta,
Hoshimiya, dan Nanase. Eh, Nanase juga?
Aku melihat ke
arah pintu sekali lagi, Reita sedang tersenyum kecut.
"Yah,
sebenarnya aku sudah melarangnya. Tapi mereka bilang ingin sekali mendengarnya—"
Situasi
perlahan mulai kupahami. Dilihat dari cara jatuhnya, ketiga gadis ini pasti
sedang menempelkan tubuh ke pintu.
Lebih
tepatnya, mereka menempelkan telinga untuk mendengarkan suara dari atap dengan
jelas.
Maksudnya,
ya begitulah.
"……Jadi,
jangan-jangan, kalian mendengar semuanya?"
"Aa—..."
Wajah
ketiganya tampak sulit menjawab. Orang yang paling merasa canggung adalah Uta.
Saat aku
melirik Tatsuya, wajahnya jauh lebih bengong daripada aku.
Katanya
orang akan merasa tenang jika melihat orang lain yang lebih terguncang dari
dirinya sendiri, sepertinya itu benar.
"Eee—mm,
kami mendengarnya. Maaf ya karena mendengar tanpa izin."
Setelah
ragu harus bicara apa, Uta akhirnya meminta maaf. Ini pertama kalinya aku
melihat Uta yang terlihat tidak tegas seperti ini.
Yah,
karena ini memang masalah yang sensitif.
Mata Uta dan
Tatsuya bertemu. Uta memerah sedikit, lalu,
"Aa—... itu,
maaf ya, Tatsu. Aku hanya bisa melihatmu sebagai teman."
Eh, gila,
dia langsung memberikan serangan pemungkas……
Aku pun sampai
terperangah. Apa harus sekarang!? Aku melirik Tatsuya dengan was-was, dia
sepertinya hampir berubah menjadi abu putih dan menghilang.
"H, hei
Tatsuya! Bertahanlah!"
Aku mengguncang
bahunya, kepalanya bergoyang-goyang lunglai. Dia pasrah saja.
"Ufufu…… terserahlah, mau jadi apa pun silakan……"
gumamnya. Karakter macam apa itu!?
Aku menitipkan Tatsuya yang melongo pada Reita, lalu
berbisik pada Uta.
"Apa yang
kau lakukan, Uta! Padahal aku sudah bersusah payah membujuknya……!?"
"A, itu,
maafkan aku! Aku terlalu panik, jadi malah keceplosan……!?"
"Suaramu
terlalu keras!"
Karena suara Uta
yang terlalu keras, Tatsuya menerima kerusakan tambahan.
"Aaaaa,
maaf! Itu, maaf ya, Tatsu. Tapi, itu, bagaimana ya, aku benar-benar tidak
menyangka akan seperti itu, terlalu tidak terduga, tapi aku senang dengan
perasaanmu……"
"……Uta,
sudah cukup. Tatsuya sudah mencapai batasnya."
Reita dengan
wajah serius menutup mulut Uta.
"Lagipula,
kupikir tadi apa yang terjadi, ternyata cuma masalah yang tidak penting
sekali."
Ucapan Nanase
yang disertai helaan napas membuat punggung Tatsuya makin membungkuk.
"Yu,
Yuino-chan, tidak boleh bilang begitu..."
"Begitu
ya? Kalau aku, aku malah lebih benci kalau orang sengaja menjaga jarak karena
tidak mau ikut campur."
Lalu
Nanase tersenyum licik dan menatapku.
"——Hei, si High School Debut?"
Ah…… aku sudah tahu. Aku sudah tahu. Karena kalian mendengar pembicaraan kami, artinya ya
begitulah! Ya, yah, saat bicara pada Tatsuya pun aku sudah siap kalau rahasia
ini akan terbongkar!?
Entah kenapa aku
menatap Hoshimiya, dia tersenyum canggung yang tidak jelas,
"Aa—... mm,
tidak perlu dibahas?"
"…………Tidak,
tidak apa-apa. Lagipula aku berniat menceritakan pada kalian suatu hari
nanti."
Aku menjawab
dengan bahu lemas. Lalu Nanase tertawa ceria sembari mendekat.
"Kalau
begitu, aku ingin lihat foto yang tadi kau tunjukkan pada Nagigaura-kun."
Dia menatap
ponselku. Aku buru-buru menyembunyikannya ke belakang punggung.
Aku tidak sanggup
jika diriku yang dulu dilihat orang lain.
Aku
memperlihatkannya pada teman cowok seperti Tatsuya saja sudah sulit, apalagi
pada teman cewek.
"A, aku juga
mau lihat~"
Hoshimiya
bersiul dan berkata dengan sengaja. Pandangannya melirik ke arah
ponselku.
"Sampai Hoshimiya pun!?"
Lebih tidak bisa lagi kalau sampai dilihat orang yang
kusukai. Saat aku sibuk menghindar dari keduanya, Tatsuya sepertinya sudah agak
pulih, dia berdiri sendiri.
"Kukuku…… aku sudah tidak punya rasa takut lagi."
Dia
benar-benar kehilangan karakternya.
Atau lebih
tepatnya, meski kata-katanya berani, ekspresinya sangat menyedihkan.
Uta dan Reita
menatap Tatsuya dengan cemas.
Tatsuya melotot
padaku.
"Natsuki,
tidak akan kumaafkan!"
"Awalnya kan
karena kesalahanmu sendiri! Lagipula aku malah terseret dalam masalah ini,
tahu!?"
"Itu kan
akibat perbuatanmu sendiri!"
"Itu kan
kalimatku!?"
"——Iya iya,
sudah sampai di situ saja. Home room sebentar lagi benar-benar akan
dimulai."
Reita memotong di
antara aku dan Tatsuya yang sedang saling lempar pandangan tajam, lalu bertepuk
tangan.
Saat kulihat jam,
memang tersisa satu menit lagi. Kalau tidak lari ke kelas, bisa-bisa dianggap
terlambat.
Semua orang mulai
panik. Mungkin karena
tidak suka terlambat, Nanase berlari dengan lincah. Reita juga menyusul dengan terburu-buru. Uta pun
mencoba mengikuti,
"Uta."
Tatsuya
memanggilnya. Aku dan Hoshimiya melihatnya dari barisan paling belakang.
"Hmm,
apa?"
"Aku tidak
akan menyerah, tahu."
Dia menyatakan
dengan wajah serius, lalu berjalan pergi.
……Dasar pria
kekanak-kanakan yang cinta bertepuk sebelah tangan selama bertahun-tahun,
ternyata kau bisa juga kalau mau.
Uta berdiri
mematung dengan wajah merah padam. Hoshimiya bergumam "Kyaa" dengan
suara kecil sembari memerah lebih dari Uta, lalu mata kami bertemu.
Entah kenapa mata
Hoshimiya berbinar-binar. Sepertinya dia tipe yang sangat tertarik dengan gosip
percintaan seperti ini.
"Senang ya.
Terasa seperti masa muda."
Aku setuju dengan
ucapan Hoshimiya yang terlihat senang. Aku menghela napas, sembari mengangkat
bahu.
"——Ya,
senang ya. Sungguh, terasa seperti masa muda."
Dan masa muda
itu, dihiasi dengan warna pelangi.
Aku pikir, memang
benar kalau pelangi setelah hujan terlihat sangat indah.



Post a Comment