Chapter 3
Janji dari Hari yang Telah Berlalu
Aku
menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong dari atas tempat tidur.
Hari ini adalah hari Sabtu.
Wajah
Miori terus terlintas di dalam benakku. ……Begitu aku lengang sedikit saja,
pikiranku langsung terisi penuh oleh Miori.
Itu karena
kata-kata Miori memberikan syok yang teramat sangat bagiku. Aku sama sekali
tidak pernah menyangka kalau dia menyukaiku.
Jika menoleh ke
belakang sekarang, rasanya ada banyak sekali kesempatan bagiku untuk menyadari
hal itu.
"……Kamu
juga, sudah saatnya mengambil keputusan dengan tegas, 'kan?"
"Kamu sudah
jadian dengan Hikari-chan, dan aku sudah jadian dengan Reita-kun. Target kita
berdua sama-sama tercapai, ya."
"Kalau aku
bilang…… aku menyukaimu, apa yang akan kamu lakukan?"
"——Miori-san
itu, sebenarnya menyukai Haibara-kun, 'kan?"
Namun, alasan
kenapa aku tetap tidak menyadarinya adalah karena alam bawah sadarku sudah
telanjur membuat sebuah asumsi.
Miori selaku
teman masa kecilku sangat tahu bagaimana diriku yang sebenarnya. Dia tahu betul
kalau aku adalah seorang penakut yang tidak bisa diandalkan.
Karena itulah,
aku memercayai satu hal—bahwa Miori tidak akan pernah jatuh cinta kepadaku.
"Bodoh
banget sih, aku ini……"
Selama ini, aku
selalu berkonsultasi tentang masalah percintaanku kepada Miori.
Dan Miori pun
selalu membantuku demi mewujudkan cintaku bersama Hikari.
Bahkan setelah
aku resmi berpacaran dengan Hikari, aku masih tetap berniat untuk meminta saran
kepadanya.
Kira-kira,
bagaimana perasaan gadis itu saat menghadapinya?
Orang yang dia
sukai, menceritakan tentang gadis lain yang disukainya, lalu meminta bantuan
agar hubungan mereka bisa berhasil.
Di balik senyuman
yang dia tunjukkan saat itu, emosi seperti apa yang sebenarnya dia pendam?
Meskipun masalah
rumor buruk itu sudah selesai, aku sama sekali tidak bisa membayangkan
bagaimana perasaan Miori yang sekarang.
Hal yang
menyudutkannya hingga membuatnya bolos sekolah selama berhari-hari bukanlah
rumor itu. Jika ditarik garis lurus ke belakang, ini semua adalah salahku.
Kupikir,
dia memang ingin berpacaran dengan Reita.
Makanya, niatku
saat itu adalah membantunya agar bisa mendekatkan diri dengan Reita.
Kurasa pada
awalnya, Miori juga benar-benar berniat seperti itu.
Kenyataannya,
jarak di antara dia dan Reita memang sempat terkikis dengan sangat cepat.
Namun sejak musim
panas berakhir, entah kenapa pergerakan Miori mendadak menjadi sangat lambat.
Padahal saat itu Reita juga sudah mulai tertarik kepadanya, yang seharusnya
menjadi kesempatan emas untuk memperkecil jarak.
Seharusnya aku
sadar kalau perasaannya sudah berubah. Apalagi aku adalah orang yang berada di posisi
paling dekat dengannya.
Tanpa
menyadari apa pun, aku justru memaksanya melangkah maju dengan mendorong
punggung Miori yang sebenarnya sedang berdiri terpaku.
Aku
benar-benar abai dan tidak menyadari apa yang menjadi keinginan aslinya.
"……Apanya
yang Rencana Masa Muda Pelangi."
Jika orang yang
paling dekat dan paling banyak membantuku justru berakhir tersudut seperti ini,
hal itu sama sekali tidak bisa disebut sebagai sebuah kesuksesan.
Namun, jika
diriku yang sekarang dengan tidak tahu dirinya mendadak muncul di hadapannya,
kurasa hal itu tidak akan bisa menjadi penyelamat bagi Miori.
Aku juga
tidak akan bisa mengambil tindakan yang keren dan elegan seperti yang dilakukan
oleh Reita.
Reita
saat itu benar-benar terlihat seperti seorang pahlawan. Rasanya aku tidak akan
pernah bisa meniru dirinya seumur hidupku.
Kenapa Miori
tidak memilih Reita, dan justru malah jatuh cinta kepada orang sepertiku?
……Tidak, tidak
ada gunanya memikirkan hal itu sekarang. Ini juga merupakan hasil dari
perubahan yang telah kulakukan.
Karena aku
mengubah diriku di kehidupan kedua ini, Miori akhirnya jatuh cinta kepadaku.
Hal itu sendiri
sebenarnya membuatku merasa sangat senang.
Asalkan
situasinya bukan aku yang sedang berpacaran dengan Hikari, dan Miori yang
sedang berpacaran dengan Reita.
Mendadak,
ingatan masa lalu—atau lebih tepatnya ingatan dari masa depan—kembali terlintas
di dalam benakku.
Pada
kehidupan pertama, setiap kali aku kebetulan berpapasan dengan Miori, dia
selalu terlihat menghabiskan hari-harinya dengan penuh keceriaan.
Jika
keputusanku melakukan lompatan waktu justru mengubah hidup Miori dan membuatnya
menderita seperti sekarang.
——Bukankah
itu berarti aku memiliki tanggung jawab untuk menyelamatkan Miori?
Di saat
aku sedang terombang-ambing oleh kegundahan yang tidak memiliki jawaban ini,
ponselku mendadak bergetar.
Hoshimiya Hikari:
"Aku baru saja naik kereta, nih!"
Itu adalah
notifikasi pesan dari Hikari.
Hari ini, aku
memang sudah memiliki janji untuk pergi berkencan dengan Hikari.
Karena Hikari
bilang dia ingin mendengarkan aku bernyanyi, kami berencana untuk belanja
santai dan makan siang di sekitar Stasiun Takasaki, lalu setelah itu pergi ke
karaoke. Kebetulan aku juga ingin berlatih menyanyi, jadi momennya terasa
sangat pas.
Aku harus
mengubah suasana hatiku.
Sekarang, aku
harus fokus menikmati kencanku bersama Hikari.
Lagipula, selama
ini aku sudah membuat Hikari merasa cemas.
Aku tidak boleh
menunjukkan gelagat kalau aku sedang mengkhawatirkan Miori.
Natsuki:
"Oke! Aku juga jalan sekarang!"
Setelah membalas
pesannya, aku bergegas keluar dari rumah dan naik ke atas kereta.
Hari ini
langit tampak mendung dan berawan tebal. Di perkiraan cuaca pun sudah muncul
simbol hujan.
Untuk
berjaga-jaga, aku sudah menyiapkan payung lipat di dalam tasku.
Begitu
tiba di Stasiun Takasaki, Hikari rupanya sudah berdiri menungguku di depan
gerbang tiket.
"Maaf ya,
aku agak telat."
"Eh, tidak
apa-apa kok. Aku juga baru saja sampai."
Padahal saat itu
masih sepuluh menit sebelum waktu perjanjian. Aku tidak bisa dibilang
terlambat, tetapi karena biasanya aku yang selalu datang lebih awal untuk
menunggu, rasanya aku jadi merasa agak bersalah.
Secara
refleks aku meraih tangan Hikari dan menggenggamnya. Tangannya terasa lebih dingin daripada biasanya.
"Yuk,
jalan."
Aku melangkah
maju sambil menuntun Hikari di sampingku.
Tujuan pertama
kami adalah masuk ke dalam mal terdekat untuk melihat-lihat baju dan aksesori.
Karena ini hari
libur, suasananya menjadi agak ramai. Kami berdua berjalan membelah kerumunan
orang yang berlalu-lalang dengan bising.
Saat aku melirik
ke samping, Hikari tampak berjalan menunduk dengan ekspresi wajah yang anehnya
terlihat muram.
"……Hikari?"
"Ah, maaf.
Apa tadi kamu sedang berbicara sesuatu?"
"Tidak, aku
tidak sedang bicara apa-apa, sih……"
Sikap Hikari
entah kenapa terasa agak janggal.
Rasanya
sejak tadi dia lebih sering melamun sendiri.
"Kamu
tidak sedang masuk angin atau sakit, 'kan?"
"Aku
sehat-sehat saja kok. Daripada memikirkan itu, ayo cepat jalan!"
Ini bukan sekadar
perasaanku saja. Dia pasti sedang menyembunyikan suatu masalah.
Namun, jika dia
sendiri berniat untuk menutup-nutupinya, sebaiknya aku tidak perlu mendesaknya
lebih jauh.
Sebab, ada
kemungkinan besar kalau penyebab dari masalahnya itu adalah diriku sendiri.
"Bagaimana
kalau kita coba lihat ke sebelah sana?"
"Boleh
juga."
Sembari
berpura-pura tidak menyadari kejanggalannya, aku mulai memilihkan beberapa
pakaian musim dingin untuk Hikari.
Setelah melewati
waktu yang cukup menyenangkan, jam akhirnya sudah menunjukkan waktu makan
siang.
"Perutku
sudah lapar, nih. Kita mau makan apa?"
Tepat di saat
Hikari melontarkan pertanyaan itu.
Bzzzt. Ponselku dan ponsel Hikari
bergetar secara bersamaan. Tampaknya ada notifikasi yang masuk di waktu yang
sama.
"Ada
apa, ya……?"
Aku
merogoh saku celana, mengambil ponsel, lalu memeriksa layarnya.
Ternyata
itu adalah notifikasi dari Natsuki Family, grup obrolan yang berisi
formasi enam orang seperti biasanya.
Uta: "Apa
ada yang tahu Miorin sekarang lagi ada di mana?"
Pesan itu dikirim
oleh Uta. Isinya mempertanyakan keberadaan Miori. Firasat buruk di dalam diriku
langsung memuncak seketika.
Natsuki:
"Memangnya dia bolos latihan klub?"
Uta: "Iya.
Dia bolos tanpa memberikan kabar sama sekali, dan waktu ditelepon ponselnya
juga tidak aktif. Makanya guru pembimbing sampai menelepon ke rumah Miorin,
katanya tahu-tahu dia sudah tidak ada di rumah."
Tatsuya:
"Artinya dia hilang, begitu?"
Reita:
"Maaf. Aku sendiri juga tidak mendengar kabar apa pun dari dia. Aku akan
coba mencarinya sekarang."
Nanase
Yuino: "Bikin cemas, ya. Soalnya belakangan ini ada banyak masalah yang
terjadi."
Uta:
"Kuharap dia tidak apa-apa…… Aku akan coba tanya ke Seri juga!"
Setelah
interaksi tersebut, obrolan di grup langsung terhenti untuk sementara.
Begitu
aku mengalihkan pandangan dari layar ponsel di tangan, mataku langsung
bertatapan dengan Hikari.
Di tengah
mal yang dipenuhi oleh orang-orang yang berlalu-lalang, hanya kami berdua yang
berdiri terpaku.
"……Sebenarnya
dia pergi ke mana, sih?"
Sejak kecil,
Miori memang memiliki kebiasaan kabur dari rumah setiap kali kondisi mentalnya
sedang terpojok.
Mungkin kali ini
kejadiannya juga sama. Meski begitu, hal itu masih belum bisa dipastikan. Ada
kemungkinan dia diculik oleh orang jahat, atau mungkin mengalami kecelakaan.
Atau bisa jadi, dia sedang pingsan di suatu tempat.
"……Miori-chan."
Wajah Hikari
tampak memucat, menunjukkan betapa terguncangnya perasaan gadis itu saat ini.
"……K-Kamu
mau pergi mencarinya?"
Tentu saja di
dalam lubuk hatiku, aku sangat ingin pergi mencarinya sekarang juga karena
saking cemasku.
Namun, saat ini
kami sama sekali tidak memiliki informasi apa pun, dan area pencariannya pun
terlalu luas. Bahkan jika aku nekat pergi sekarang, rasanya hal itu tidak akan
menyelesaikan masalah. Terlebih lagi, situasi ini bahkan bisa berujung pada
keterlibatan pihak kepolisian.
Penilaian
mengenai hal itu seharusnya diserahkan kepada orang tua Miori dan pihak
sekolah.
"Tidak…… informasinya terlalu sedikit. Percuma saja kalau kita mencari tanpa arah yang
jelas."
Sebenarnya, aku
tahu beberapa tempat yang kemungkinan besar akan didatangi oleh Miori di
saat-saat seperti ini.
Hanya saja, tidak
ada jaminan kalau dia benar-benar berada di sana. Lagipula, meninggalkan Hikari
seorang diri di tempat ini demi pergi mencari Miori sama saja dengan
mengabaikan kewajibanku sebagai seorang kekasih. Padahal aku baru saja bertekad
untuk menjaganya dengan baik.
Hikari
mengarahkan pandangan matanya dengan gelisah, lalu bergumam lirih,
"Informasi……"
"……Sebenarnya,
aku sempat bertemu dengan Miori-chan kemarin sepulang sekolah."
……Apa katanya?
Mataku langsung
membelalak karena terkejut.
Hikari
menundukkan kepalanya dengan ekspresi wajah yang tampak muram.
Kemudian, dia
mulai menceritakan kejadian tersebut sepotong demi sepotong.
Mengenai
peristiwa yang terjadi kemarin sepulang sekolah.
■(Hikari Hoshimiya)
"——Apa yang
sedang kalian lakukan?"
Hari Jumat
sepulang sekolah.
Saat itu aku
sedang membawakan beberapa dokumen dari gudang atas permintaan dari guru.
Mendadak
aku mendengar suara orang yang sedang mengobrol dari arah belakang gudang.
Begitu
aku mencoba mengintip, sosok yang berada di sana ternyata adalah Hasegawa-san
dari kelas satu dan Miori-chan.
Jika
diperhatikan baik-baik, tubuh Miori-chan sudah basah kuyup, dan sebuah ember
kosong tampak tergeletak di dekat kakinya.
Begitu
mendengar suaraku, Hasegawa-san langsung menoleh ke belakang dengan terkejut.
Dengan
wajah yang mendadak memucat, Hasegawa-san langsung membalikkan badan dan
berlari pergi seolah sedang melarikan diri dariku.
Sementara
Miori-chan hanya menatapku dengan ekspresi wajah yang tampak datar.
"Hikari-chan……"
Gelagatnya
saat itu terasa bagaikan sebuah mesin yang hampir rusak.
"K-Kamu
tidak apa-apa!?"
Ini bukan saatnya
untuk merasa terkejut. Aku pun langsung buru-buru berlari menghampiri
Miori-chan.
Jika terus
membiarkan tubuhnya basah kuyup di musim gugur yang sudah sedingin ini, dia
bisa langsung masuk angin.
"Jangan-jangan,
Hasegawa-san yang melakukan ini……?"
"……Tidak.
Bukan kok. Aku cuma iseng menyiram diriku sendiri dengan air."
Miori-chan
menggelengkan kepalanya pelan, lalu menjawab dengan nada suara yang terdengar
sangat tenang.
Itu pasti bohong.
Jika memang benar
begitu, tidak ada alasan bagi Hasegawa-san untuk melarikan diri.
Hubungan mereka
berdua memang sudah buruk sejak awal, dan aku juga sudah mengetahui tentang
keributan yang terjadi tadi pagi.
Namun,
aku tidak sanggup untuk mendesaknya. Karena nada suara Miori-chan saat itu terdengar sangat menyedihkan.
"Y-Yang penting…… lebih baik kamu cepat ganti baju
sekarang. Baju olahraga milikmu ada
di kelas, 'kan?"
"……Nanti
akan kulakukan. Daripada itu, sebenarnya ada hal yang ingin kubicarakan dengan
Hikari-chan."
Di situasi yang
seperti ini, apakah ada topik obrolan yang jauh lebih penting daripada berganti
pakaian?
Pikirku dalam
hati, tetapi tampaknya akan sangat sulit untuk membujuk Miori-chan yang
sekarang.
"……Mau
bicara soal apa? Kalau ini tentang masalah rumor itu, kamu tidak perlu cemas
kok. Aku sudah mendengarnya dari Natsuki-kun. Aku tahu kalau itu semua cuma
salah paham. Lagipula, Miori-chan 'kan sudah punya Reita-kun."
"——Kamu
salah, Hikari-chan. Itu semua sama sekali bukan salah paham."
Mendengar nada
suara Miori-chan yang terdengar begitu serius, pikiranku langsung berhenti
berputar seketika.
Bukan salah
paham……?
Apa maksud dari
perkataannya itu? Aku tidak mengerti.
Miori-chan sedang
merujuk pada bagian mana dari obrolan kami yang dia sebut sebagai bukan salah
paham.
Aku
benar-benar tidak ingin mengetahuinya.
"Kejadian
saat itu bukan ketidaksengajaan. Aku memeluk Natsuki murni karena keinginanku
sendiri."
"K-Kenapa……?
Apa maksudnya……?"
……Meskipun aku
melontarkan pertanyaan itu, entah kenapa di dalam lubuk hatiku, aku bisa
menerimanya.
Sebenarnya sejak
pertama kali mendengar rumor tersebut, aku memang sudah merasakan firasat yang
seperti ini.
Karena ini bukan
masalah logika melainkan masalah perasaan, aku selalu mencoba meyakinkan diriku
kalau itu semua hanyalah sekadar perasaanku saja.
"——Sebab,
aku menyukai Natsuki."
Miori-chan
mengatakannya dengan nada datar, seolah-olah dia sedang menyampaikan sebuah
fakta yang mutlak.
Sudah sering
terjadi. Momen di mana aku menaruh kecurigaan kalau segalanya memang seperti
ini.
Namun, karena dia
bilang dia menyukai Reita-kun, aku selalu meyakinkan diriku kalau kedekatan
mereka hanyalah sebatas hubungan teman masa kecil yang wajar.
……Tapi ternyata
aku salah, 'kan. Tatapan matanya saat itu, benar-benar menunjukkan wajah dari
seorang gadis yang sedang jatuh cinta.
"Karena itu…… aku minta maaf. Walaupun kurasa, ini bukan jenis kesalahan yang
bisa dimaafkan begitu saja hanya dengan kata maaf."
Miori-chan
membungkukkan badannya, lalu menundukkan kepala dalam-dalam di hadapanku.
Emosiku sama
sekali tidak bisa mengejarnya.
Karena itulah,
aku tidak tahu harus menunjukkan reaksi yang seperti apa saat ini.
……Tidak, dia
sudah meminta maaf kepadaku. Jika begitu, kurasa tindakan yang benar adalah
memaafkannya.
"Ada
satu hal yang tidak kupahami…… Kalau begitu, kenapa kamu malah berpacaran dengan Reita-kun?"
Padahal aku
berniat untuk memaafkannya, tetapi kalimat yang keluar dari mulutku justru hal
yang sepenuhnya berbeda.
"……Karena,
aku ingin bisa menyukai Reita-kun."
"Padahal
belum bisa menyukainya, tapi kamu tetap pacaran dengannya……?"
"Iya…… Memang begitu kenyataannya."
Melihat Miori-chan yang terus menundukkan kepalanya,
perasaan kelam yang pekat mendadak meluap dari dalam diriku.
"……Di dalam
kondisi yang seperti itu, kamu malah berani mendekati Natsuki-kun?"
Nada suara yang
keluar dari mulutku terdengar jauh lebih dingin daripada yang kubayangkan
sendiri.
Jika memang
begitu, Reita-kun benar-benar sangat kasihan.
Natsuki-kun juga
ikut direpotkan karena harus menanggung tuduhan perselingkuhan akibat
perbuatanmu.
……Tidak, aku
harus berhenti membuat alasan. Orang yang saat ini sedang marah kepada
Miori-chan adalah diriku sendiri.
Selama ini aku
selalu merasa cemas.
Bahkan setelah
kami resmi berpacaran, Miori-chan tetap berada di posisi yang sangat dekat
dengan Natsuki-kun.
Namun, aku
mencoba mempercayai mereka berdua. Aku ingin memercayai kata-kata mereka yang
bilang kalau hubungan itu hanya sebatas teman masa kecil.
Meskipun di mata
siapa pun hubungan kepercayaan yang mereka bangun terlihat sangat berbeda dari
teman-teman yang lain, aku selalu berusaha untuk memalingkan wajahku.
Sebab, aku tidak
ingin melakukan tindakan egois yang sampai mengekang hubungan pertemanan
Natsuki-kun.
Aku tidak ingin
dianggap sebagai perempuan yang merepotkan. Aku tidak ingin ketahuan kalau aku
adalah seorang perempuan yang sangat cemburuan.
Namun, setiap
kali Natsuki-kun sedang bersama dengan Miori-chan, dia selalu menunjukkan wajah
santai sambil tertawa lepas.
Ekspresi wajahnya
benar-benar berbeda dengan saat dia sedang bersamaku. ——Dia sudah menyerahkan
seluruh hatinya kepada gadis itu.
Aku merasa sangat
iri. Aku merasa sangat cemburu.
Tempat bersandar
bagi hati Natsuki-kun, sejak dulu selalu berada di sisi Miori-chan. Bukan
bersamaku.
Meskipun perasaan
itu bukanlah sebuah rasa cinta, tetap saja hal itu terasa sangat menakutkan
bagiku.
Natsuki-kun
sendiri pasti tidak menyadari betapa besarnya volume perasaan yang dia miliki
terhadap Miori-chan.
Suatu hari nanti,
perasaan itu pasti bisa berubah menjadi sebuah rasa cinta.
"Kalau begitu…… kurasa aku tidak akan bisa memaafkan
Miori-chan."
Aku sangat tahu. Ini hanyalah sebuah rasa cemburu belaka.
Aku hanya sedang
meluapkan perasaan kelamku kepada Miori-chan.
Aku merasa sangat
takut. Aku takut kalau Natsuki-kun akan direbut oleh Miori-chan.
"Benar, ya…… Aku benar-benar minta maaf."
Tetes. Tetesan air tampak jatuh membasahi tanah.
Aku tidak tahu apakah itu adalah tetesan air yang berasal
dari bajunya yang basah, ataukah itu adalah air matanya.
……Seharusnya aku tidak mengatakan hal sekeji itu. Aku
langsung menyesali kata-kataku yang terucap hanya karena terbawa emosi sesaat.
Apanya yang tidak bisa memaafkan? Hal yang tidak bisa
kumaafkan sebenarnya bukanlah tindakan Miori-chan yang memeluk Natsuki-kun,
melainkan hubungan kepercayaan spesial yang ditunjukkan oleh Natsuki-kun kepada
Miori-chan, 'kan?
Jika begitu, menyalahkan Miori-chan adalah sebuah kesalahan
besar.
Wush. Emosiku mendadak mendingin seketika. Akal
sehatku langsung kembali dalam sekejap.
Aku sudah
mengatakan hal yang sangat keterlaluan kepadanya.
Meluapkan
perasaan ini kepada Miori-chan adalah tindakan yang salah.
"Itu…… Miori-chan. Maaf. Aku sama sekali tidak bermaksud untuk mengatakan
hal seperti itu——"
"——Jangan
meminta maaf. Karena di sini, akulah satu-satunya pihak yang bersalah."
Miori-chan
memotong kalimat permohonan maafku, lalu menggelengkan kepalanya pelan.
"Kalau
begitu, aku akan segera lenyap dari hadapanmu sekarang."
Setelah
mengatakan hal itu, Miori-chan langsung membalikkan badan dan berniat untuk
pergi meninggalkan tempat ini.
"Kamu mau
pergi ke mana……?"
Karena merasa dia
tidak sedang berniat untuk pulang ke rumahnya, aku pun langsung melontarkan
pertanyaan itu.
"——Maaf ya.
Selamat tinggal."
Miori-chan sama
sekali tidak menjawab pertanyaanku.
*
Miori sengaja
melenyapkan dirinya atas keinginannya sendiri.
Mendengar cerita
dari Hikari, tampaknya hal itu sudah tidak salah lagi.
Jika memang begitu…… ini bukan saatnya bagi kami untuk
bersantai-santai di tempat seperti ini.
Kurasa ini bukan sekadar aksi kabur dari rumah yang biasa.
Ada kemungkinan kalau saat ini dia bahkan sedang berpikir untuk mengakhiri
hidupnya sendiri.
"Ini semua…… salahku……"
Hikari langsung bersujud lemas di tempatnya berjalan, lalu
menutupi wajahnya dengan kedua belah tangannya.
Orang-orang
di sekitar mulai mengarahkan pandangan ke arah kami dengan penasaran. Mereka
mungkin berpikir kalau kami sedang terlibat dalam pertengkaran sepasang
kekasih.
Namun,
saat ini aku tidak peduli dengan hal itu.
"Aku tahu.
Aku tahu kalau aku membiarkannya pergi saat itu, dia mungkin akan menghilang.
Aku menyadarinya, tetapi aku tetap memilih untuk tidak melakukan apa-apa. Di
dalam lubuk hatiku, aku sempat berpikir kalau dia lenyap, aku tidak perlu cemas
lagi kalau Natsuki-kun akan direbut dariku. Padahal aku menyayangi
Miori-chan. ……Makanya, akulah yang jahat di sini. Jika saat itu aku
menghentikannya, Miori-chan tidak akan menghilang seperti sekarang."
Hikari menceritakan segalanya di sela-sela suara isak
tangannya yang pilu.
"……Orang yang sudah menyudutkan Miori-chan adalah
aku."
"Jangan terlalu menyalahkan dirimu sendiri. Hikari sama sekali tidak melakukan
kesalahan apa pun."
Benar, pihak yang
salah di sini adalah Miori. Dan dia sendiri adalah orang yang paling memahami hal tersebut.
Karena itulah,
aku tidak bisa membiarkannya begitu saja. Segalanya akan terlambat jika situasi
ini sampai berujung pada hal yang tidak bisa diperbaiki lagi.
"Hikari,
aku——aku akan pergi mencari Miori."
Aku sangat sadar
akan kewajibanku sebagai seorang kekasih saat ini.
Aku tahu betul
kalau menyerahkan masalah ini kepada pihak kepolisian jauh lebih benar daripada
aku yang mencarinya secara membabi buta.
"Kamu tenang
saja. Aku pasti akan membawa Miori pulang dengan selamat. Jadi, kumohon
tunggulah aku di sini dengan tenang."
Meskipun begitu,
jika aku memilih untuk memalingkan wajahku saat ini, aku pasti akan
menyesalinya seumur hidup.
"Aku
berjanji kepadamu."
Ini bukan hanya
demi Miori saja. Demi Hikari juga, aku pasti akan menepati janji ini.
"……Terima
kasih, Natsuki-kun."
Hikari menyeka
air matanya dengan tangan, lalu mengangguk pelan.
"Tentu saja
aku juga ingin ikut membantu, tapi…… Natsuki-kun, kamu sudah tahu tempatnya,
'kan?"
"Serahkan
saja padaku. Sejak dulu, tugas untuk menemukan dia saat bermain petak umpet
selalu menjadi bagianku."
Setelah
mengatakan hal itu, aku langsung membalikkan badanku dari hadapan Hikari.
Tepat di saat aku
hendak berlari pergi, ujung lengan bajuku mendadak dicengkeram kuat.
Hikari sendiri
tampaknya terkejut dengan tindakannya, hingga dia menatap tangannya sendiri
dengan pandangan nanar.
"……Aku
benar-benar perempuan yang paling menjijikkan, ya. Di dalam situasi yang
seperti ini pun, di dalam hatiku aku masih tetap berpikir tidak ingin
melepaskanmu pergi."
Kondisi
mental Hikari saat ini juga sedang sangat tidak stabil. Aku tahu kalau tindakanku ini pasti akan
menggoreskan luka di hatinya.
Karena ingin
memberikan sedikit rasa aman kepadanya, aku langsung menarik tubuh Hikari ke
dalam pelukanku dan mendekapnya dengan erat.
"T-Tunggu,
Natsuki-kun, kenapa malah melakukannya di tempat seperti ini……!?"
Di hadapan Hikari
yang sedang panik dan salah tingkah, aku menyuarakan sumpahku dengan tegas.
"——Aku pasti akan kembali kepadamu."
■(Miori Motomiya)
Saat masih kecil,
aku tidak pernah memikirkan apa pun.
Aku hanya
melakukan apa pun yang ingin kulakukan hari itu, pada saat itu juga, dengan
mengerahkan seluruh tenagaku.
Satu-satunya
keberuntunganku adalah karena ada teman-teman yang mau mengikuti diriku yang
serbaceoboh ini.
Sejujurnya, aku
tidak terlalu cocok berteman dengan sesama anak perempuan. Aku merasa jauh
lebih santai saat bersama anak laki-laki.
Ditambah lagi
karena aku suka menggerakkan tubuh, orang-orang yang berada di sekitarku secara
alami adalah anak laki-laki.
"Hei,
Miori! Ayo tanding denganku sekali lagi! Tanding!"
Anak
laki-laki pertama adalah tipe orang yang selalu menantangku bertanding dalam
segala hal.
Namanya
Shuto Yano. Dia bertubuh tinggi, berkepribadian ceria, dan sangat percaya diri
dengan kemampuan atletiknya.
Baik itu
sepak bola, bola basket, maupun bisbol, aku sudah mengalahkan Shuto berulang
kali.
Meskipun
begitu, Shuto tidak pernah menyerah dan terus menantangku.
Awalnya
hubungan kami memang buruk, tetapi seiring banyaknya pertandingan yang kami
lalui, lama-kelamaan kami menjadi dekat.
……Tapi
begitu kami tumbuh besar, hanya dalam permainan sepak bola saja aku tidak bisa
menang lagi melawannya.
"Hahaha!
Kalian berdua sedang melakukannya lagi, ya? Bersemangat sekali!"
Anak laki-laki
kedua adalah tipe orang yang memiliki suara tawa teramat besar.
Namanya Takuro
Midorikawa. Di balik perawakannya yang gemuk, dia sebenarnya sangat pandai
berolahraga.
Kalau
dipikir-pikir sekarang, sejak kecil dia memiliki kepribadian yang anehnya
sangat dewasa.
Dengan alasan
'karena terlihat menarik', dia sering menonton pertandinganku melawan Shuto.
Tentu saja
terkadang dia ikut bermain bersama kami, tetapi posisi Takuro adalah tipe orang
yang memperhatikan kami dari jarak satu langkah ke belakang.
Dia selalu
mengendalikan diriku yang sering kali lepas kendali.
……Tidak, kalau
diingat-ingat lagi, dia justru lebih sering membiarkanku begitu saja karena
menganggapnya lucu.
"Kenapa kamu
mau bermain dengan orang sepertiku?"
Anak laki-laki
ketiga adalah tipe orang yang penakut dan tidak mencolok.
Namanya adalah…… Natsuki Haibara. Dia selalu sendirian, meringkuk di sudut ruang
kelas.
Saat istirahat
siang, dia selalu menatap anak-anak yang bermain di halaman sekolah dari
jendela kelas dengan tatapan iri. Karena itulah, aku menarik tangan Natsuki dan
memaksanya masuk ke dalam lingkaran pertemanan kami.
Natsuki awalnya
memang terlihat ketakutan, tetapi begitu dia mulai terbiasa dengan kami, dia
bisa tertawa dengan ekspresi yang sangat ceria.
Dia adalah anak yang pendiam namun memiliki kepribadian yang
lembut.
Kami berempat selalu bermain bersama dari pagi hingga malam
hari.
"Ayo main sepak bola! Dua lawan dua, ya!"
"Siapa
takut! Kali ini aku pasti akan mengalahkanmu!"
"Ahaha,
masih kepagian seratus tahun buat Shuto untuk bisa mengalahkanku~"
"Apa kamu
bilang, keparat!"
"Tu-Tunggu,
kalian berdua. Tenanglah dulu……!"
"Hahaha!
Bukankah tidak apa-apa, Natsuki! Kamu mau ikut tim yang mana?"
"Eh,
e-eeh……!?"
"Tentu saja
Natsuki ada di pihakku, 'kan?"
Aku yang lepas
kendali, Shuto yang menantangku, Natsuki yang panik mencoba menghentikan kami,
dan Takuro yang tertawa sampai memegangi perutnya.
Hari-hari seperti
itu terus berulang. Setiap hari terasa begitu penuh dengan warna yang cerah.
Di antara semua
itu, momen yang paling menyenangkan bagi kami adalah saat membuat markas
rahasia bersama-sama.
"Ada semacam
gubuk di tempat seperti ini."
Semua itu bermula
saat kami pergi bertualang sampai ke bagian terdalam gunung yang ada di
lingkungan sekitar rumah.
Shuto menunjuk ke
arah pinggir jalan setapak yang biasa dilewati hewan, membuat kami semua ikut
mengalihkan pandangan ke arah sana.
"Kemungkinan
besar itu adalah rumah kosong. Pasti sudah tidak digunakan lagi."
Takuro mendekati
gubuk tua itu, lalu menganalisis situasinya setelah memperhatikan area di
sekelilingnya.
"Maksudku,
apa tidak apa-apa kita pergi sampai ke tempat seperti ini? Bukankah sebaiknya
kita pulang saja?"
Natsuki mengikuti
dari belakang kami dengan ekspresi wajah yang tampak agak cemas.
"Aku sudah
memutuskan! Kita akan menjadikan tempat ini sebagai markas rahasia kita!"
Hanya karena ide
dadakanku saat itu, kami pun mulai sering mendatangi tempat tersebut.
——Aku ingin
kembali ke masa-masa itu.
"Ayo pergi!
Semuanya! Taruhan lari sampai ke arah matahari yang di sana, ya!"
Meskipun
hari-hari yang kami lalui terasa menyenangkan, terkadang ada kalanya kami gagal
dan hujan pun turun.
"Jangan
lakukan itu! Kamu tidak boleh berbuat begitu! Renungkan kesalahanmu di
koridor!"
Aku memiliki
kebiasaan buruk untuk langsung melarikan diri setiap kali ada hal yang tidak
berjalan dengan lancar.
Aku akan pergi ke
tempat yang tidak diketahui oleh siapa pun, meringkuk di sana, lalu menangis
seorang diri.
Karena aku adalah
orang yang kuat, aku tidak ingin memperlihatkan air mataku kepada siapa pun.
Asalkan aku bisa
menangis sendirian sebentar saja, aku bisa langsung kembali menjadi diriku yang
seperti biasanya.
Makanya, aku
tidak apa-apa.
Padahal harusnya
begitu, tapi,
"Ketemu."
Hanya kamu
seorang yang tidak pernah mengizinkanku untuk menangis sendirian.
"Permainan
petak umpetnya dimenangkan oleh Miori, ya."
Sembari
berpura-pura tidak melihat air mataku, kamu melontarkan candaan ringan dan
selalu berada di sampingku.
Kapan pun itu,
situasinya selalu sama. Di saat aku ingin ditemukan oleh seseorang, kamu pasti
akan selalu menemukan diriku.
Kalau
dipikir-pikir sekarang, pada saat itu, aku sebenarnya sudah——
"Miori. Aku
menyukaimu."
Lalu saat kami
menginjak kelas enam sekolah dasar, Shuto menyatakan cintanya kepadaku.
Itu adalah
pertama kalinya ada orang yang menyampaikan perasaan sukanya kepadaku, sehingga
membuatku merasa agak takut.
"Aku
tidak mengerti hal yang seperti itu…… Tapi, hei, kita berdua masih tetap bisa
berteman, 'kan?"
Karena
itulah, tanpa memikirkan bagaimana perasaan Shuto, aku hanya egois dan terus
memaksanya untuk tetap menjadi teman.
Baru sekarang aku
menyadari betapa kejamnya permintaan yang aku lontarkan saat itu.
"……Maaf.
Kalau aku, tidak bisa."
Formasi empat
orang yang biasanya ada, perlahan-lahan mulai hancur berantakan.
"Maaf ya di
saat yang seperti ini. Karena urusan orang tua, aku harus pindah sekolah."
Karena keadaan
yang tidak bisa dilawan oleh kami yang masih anak-anak, Takuro pun akhirnya
pergi.
Kini hanya
tersisa aku dan Natsuki berdua saja. Orang-orang di sekitar pun mulai
menjodoh-jodohkan kami berdua.
Hal itu membuat
hubungan kami menjadi canggung, dan karena aku terlalu memikirkannya, aku pun
mulai menjaga jarak dari Natsuki.
Bahkan saat aku
berniat untuk memperbaikinya sekali lagi, segalanya sudah terlambat.
"Kamu
sebaiknya tidak usah bersama dengan orang sepertiku lagi."
Dan
akhirnya, aku benar-benar sendirian. Ini semua adalah salahku.
Dari dulu
sampai sekarang tidak ada yang berubah sama sekali. Akulah orang yang sudah
melukai orang-orang yang berharga bagiku.
——Orang
yang seperti ini, sudah pasti jauh lebih baik jika lenyap saja.
■(Uta Sakura)
Hari ini
aku tidak bisa terlalu berkonsentrasi saat latihan klub.
Pikiranku
terus terisi penuh oleh Miorin yang saat ini sedang hilang tanpa kabar.
Tampaknya
hal yang sama juga dirasakan oleh yang lain, sehingga latihan hari ini
diputuskan untuk diselesaikan lebih cepat dari biasanya.
Padahal dia sudah
bolos latihan klub selama satu minggu ini.
Hari Jumat
kemarin dia memang sempat masuk sekolah, tetapi setelah itu dia langsung pulang
dengan alasan kondisi badannya yang sedang tidak fit.
Karena itulah,
semua orang merasa cemas memikirkan Miorin.
"……Uta.
Bagaimana, apa kamu sudah tahu sesuatu?"
Tatsu yang
tadinya sedang berlatih di lapangan sebelah langsung berlari menghampiriku. Tampaknya
latihan tim basket putra juga sudah selesai.
"Tidak…… belum ada informasi apa pun. Apa mungkin dia pergi ke suatu tempat sendirian,
ya."
Di saat kami
berdua sedang mengobrolkan hal itu, mendadak Wakamura-senpai memanggilku.
"Uta. Itu,
sepertinya ada temanmu yang memanggil di sana."
Wakamura-senpai
mengatakannya sembari menunjuk ke arah pintu masuk gedung olahraga.
Sosok yang berada
di sana ternyata adalah Seri. Ada satu orang anak perempuan lagi yang tidak
kukenal bersamanya.
"Mungkin
mereka sudah tahu sesuatu."
"Kalau
begitu, ayo kita samperin dulu."
Begitu aku dan
Tatsu berjalan menghampiri mereka, Seri yang jarang-jarang menunjukkan ekspresi
wajah seserius itu langsung membuka suara.
"Mengenai
masalah Miori, aku mendapatkan informasi dari Reita jadi aku mau membagikannya
kepada kalian."
"Eh!? Apa
kalian sudah tahu sesuatu!?"
"Begitu
mendesak Hasegawa dari kelas satu, dia akhirnya mengaku kalau kemarin dia
sempat mengatakan hal yang kejam kepada Miori."
"Hal yang
kejam……?"
"Ya, intinya
menyuruhnya mati, menyuruhnya lenyap, hal-hal yang sejenis itu. Selain itu, dia
juga sempat menampar wajahnya dan menyiramkan air dingin ke atas kepalanya.
……Kalau itu Miori yang biasanya, dia pasti akan marah dan membalasnya, tapi
sekarang kondisi mentalnya sedang lemah. Makanya, kemungkinan besar itulah yang
menjadi penyebabnya."
"Kalau
sampai melakukan hal seperti itu…… bukankah itu namanya perundungan."
Aku memang tahu
kalau hubungan Miorin dan Hasegawa-san itu buruk, tetapi aku tidak menyangka
kalau situasinya sampai separah ini……
"Begitu
kebohongannya terbongkar dan posisinya berbalik, sekarang dia malah
menyerangnya secara langsung, ya?"
Tatsu
mengatakannya dengan nada kesal sembari mengerutkan kedua alisnya.
"……Kira-kira,
sampai di bagian mana yang merupakan kebohongan?"
Tanpa sadar
gumaman itu lolos begitu saja dari mulutku.
Mendengar
perkataanku, Tatsu juga menunjukkan ekspresi wajah yang tampak kebingungan.
Mataku
langsung bertatapan dengan Tatsu. Ada sebuah rahasia yang hanya diketahui olehku dan Tatsu saja.
Yaitu kejadian di
hari turnamen olahraga. Karena saat itu kami berdua tidak sengaja mencuri
dengar obrolan antara Rei dan Miorin.
"……Kamu,
sebenarnya masih menyukai Natsuki, 'kan?"
Kami sama sekali
tidak berniat mendengarnya, tetapi kalimat itu terlanjur terdengar oleh kami.
Ekspresi Rei saat
itu sama sekali tidak terlihat seperti sedang bercanda. Itu adalah obrolan yang
sangat serius.
Miorin menyukai
Natsu. Dan Rei mengetahui hal itu, serta memilih untuk menerimanya.
Karena itu bukan
jenis informasi yang bisa ditanyakan dengan mudah, kami berdua sepakat untuk
menjadikannya sebagai rahasia antara aku dan Tatsu saja.
……Jika
menjadikannya sebagai asumsi dasar, kira-kira sampai di bagian mana dari rumor
tersebut yang merupakan kebohongan?
"Karena aku
tahu kalau Miorin tidak akan mungkin melakukan hal yang seperti itu!"
Aku
mengingatnya dengan sangat jelas. Saat itu, aku murni berniat untuk menunjukkan rasa cemasku kepada Miorin.
Namun, ekspresi
wajah Miorin saat itu sempat membeku seketika selama satu detik.
Itu adalah
ekspresi wajah yang biasa ditunjukkan oleh orang yang sedang menyembunyikan
kebohongan.
"……Melihat
reaksi kalian berdua, sepertinya kalian juga mengetahui sesuatu, ya."
Setelah Seri
mengatakan hal itu, dia pun langsung mengusulkan, "Ayo kita bagikan
informasinya bersama-sama."
"Coba ajak
Hikari-chan dan Natsuki juga, lalu kumpulkan mereka di restoran keluarga.
Soalnya tidak ada gunanya kalau kita mencari Miori secara membabi butu. Mari
kita urutkan kronologinya secara spesifik tentang apa yang sebenarnya sudah
terjadi."
Tampaknya Seri
juga sangat mencemaskan kondisi Miorin saat ini.
Padahal biasanya
dia adalah tipe orang yang jauh lebih santai, tetapi entah kenapa kali ini dia
terlihat sangat panik.
"……Senpai,
bolehkah aku memperkenalkan diri dulu?"
Anak perempuan
yang berdiri di samping Seri akhirnya membuka suara.
"Ah, benar
juga. Anak ini namanya Saya Yamano. Kelas tiga SMP. Belakangan ini kami sering
bermain band bersama."
Yamano-san
langsung membungkukkan badannya dengan sopan ke arah kami. Aku pun buru-buru
ikut membungkukkan kepalaku juga.
"Salam
kenal, ya. Senpai sekalian."
"Kupikir dia
bisa berguna karena dia berasal dari SMP yang sama dengan Natsuki dan
Miori."
"Hubunganku
dengan Miori-senpai cukup dekat, jadi izinkan aku untuk ikut membantu. Aku
yakin aku pasti bisa berguna."
Yamano-san
menunjukkan ekspresi wajah yang sangat serius.
Dari situ aku
bisa tahu kalau dia benar-benar mengkhawatirkan kondisi Miorin.
Karena itulah,
seperti yang dikatakan oleh Seri, kami pun memutuskan untuk mengumpulkan semua
orang yang memiliki hubungan dekat dengan Miorin.
■(Serika Hondo)
Aku mengumpulkan
semua orang di sebuah restoran keluarga yang berada di dekat Stasiun Takasaki.
Di mata
orang-orang di sekitar, pemandangan sekumpulan anak SMA yang berkumpul namun
suasananya sangat hening ini pasti akan terlihat sangat janggal.
Orang-orang yang
berkumpul adalah Uta, Tatsuya, Yuino, Hikari, Saya, dan aku sendiri yang
berarti totalnya ada enam orang.
Reita dan Natsuki
sama sekali tidak bisa dihubungi. Kalimat terakhir Reita saat meneleponku
adalah berkata "Aku akan pergi mencari Miori", dan Natsuki tampaknya
juga pergi setelah mengatakan hal yang sama kepada Hikari.
Dua orang yang
dirasa paling mengetahui situasinya justru tidak bisa datang, yang mana ini
merupakan sebuah salah perhitungan bagiku.
Pertama-tama aku
memperkenalkan Saya terlebih dahulu, sebelum akhirnya langsung masuk ke topik
utama.
"Kalau
begitu, mari kita urutkan situasinya sekarang. Mau bagaimana lagi, dua orang
yang paling penting malah tidak ada di sini."
Hikari mengangkat
tangannya dengan ragu-ragu, membuat perhatian semua orang termasuk aku langsung
tertuju ke arahnya.
"Anu, aku
tidak tahu seberapa banyak yang boleh kuceritakan di sini, tapi……"
"Kupikir
selama ini ada beberapa hal yang sengaja dirahasiakan demi menjaga perasaan
Miori, tapi untuk kali ini mari kita tiadakan hal itu."
Aku menyuarakan
hal itu bukan hanya kepada Hikari saja, melainkan kepada semua orang yang ada
di sini.
Lagipula, pihak
yang salah karena sudah menghilang begitu saja adalah Miori sendiri.
Jika informasi
itu bisa menuntun kami kepada keberadaan Miori, kurasa membeberkan rahasianya
pun pasti akan dimaafkan olehnya.
"Benar juga, ya…… Kalau begitu, mari kita mulai dari
kejadian kemarin sepulang sekolah——"
Informasi yang dibawa oleh Hikari adalah mengenai
interaksinya dengan Miori kemarin sepulang sekolah.
Dia tampaknya sangat menyesali kejadian itu, hingga
keceriaan yang biasanya ada kini lenyap sepenuhnya dari wajahnya. Nada suaranya
pun terdengar gemetar.
"Kalau yang itu…… tidak salah lagi, efeknya pasti bakal
telak banget buat Motomiya yang sekarang."
Tatsuya
mengatakannya dengan ekspresi wajah yang tampak serius. Kalimatnya memang
terkesan blak-blakan, tetapi kenyataannya memang persis seperti apa yang dia
katakan.
Dibandingkan
dengan makian yang dilontarkan oleh Hasegawa, hal yang diceritakan oleh Hikari
barusan pasti jauh lebih menusuk perasaan Miori.
"Anu…… sebenarnya aku dan Tatsu juga tahu tentang satu
hal."
Uta mulai berbicara dengan ekspresi wajah yang tampak merasa
bersalah.
Tampaknya dia terpaksa menceritakannya karena situasinya
yang sudah darurat, padahal aslinya dia sama sekali tidak berniat untuk
mengatakannya.
"Karena ini terkesan seperti mencuri dengar jadi selama
ini kami diam saja, tapi sekarang situasinya sudah darurat."
Menerima isyarat mata dari Uta, Tatsuya langsung melanjutkan
kalimatnya.
"Sepertinya hubungan pacaran antara Reita dan Motomiya
tidak berjalan seperti hubungan pasangan yang normal pada umumnya."
Tampaknya Reita sudah mengetahui sejak awal tentang fakta
kalau Miori sebenarnya menyukai Natsuki.
Wajah Hikari
tampak menunjukkan ekspresi terkejut. Di dalam cerita yang dia sampaikan tadi,
sama sekali tidak ada informasi mengenai hal ini.
Miori pasti
memilih untuk tidak menceritakannya kepada Hikari. Kalau itu Miori, dia pasti
akan berpikir kalau apa pun yang dia katakan hanya akan terdengar seperti
sebuah alasan belaka.
"Pantas
saja, selama ini aku selalu berpikir kalau perkembangan hubungan mereka berdua
terasa sangat lambat."
Karena merasa hal
itu masuk akal, aku pun tanpa sadar langsung mengembuskan napas panjang.
Reita yang
tampaknya sudah sangat terbiasa dalam menghadapi perempuan, dan Miori yang
sampai beberapa waktu lalu selalu bergerak agresif untuk mendekatinya.
Meskipun latar
belakang mereka seperti itu, entah kenapa hubungan pacaran yang mereka
tunjukkan justru terasa terlalu sehat, yang mana hal itu sempat meninggalkan
rasa janggal di hatiku.
"Setiap kali
topik tentang Reita dibahas dia tidak pernah terlihat terlalu senang, jadi aku
memang sempat berpikir kalau ada sesuatu di antara mereka."
"Yah, dari
sisi Reita sendiri juga jarang menceritakan tentang Motomiya, sih. Tapi karena
aslinya dia memang tipe orang yang penuh rahasia jadi selama ini aku tidak
terlalu memikirkannya. Padahal harusnya hubungan pacaran yang normal itu 'kan
lebih sering memamerkan kemesraan mereka?"
"Benar juga…… Kenyataannya, Hikari bahkan sempat tidak
bisa membicarakan hal lain selain memamerkan kemesraannya untuk beberapa waktu
lalu."
"Anu…… Yuino-chan. Kamu tidak perlu mengatakan hal-hal
yang tidak penting seperti itu, kok."
Mendengar Yuino yang mengatakannya dengan wajah serius,
Hikari langsung berdeham untuk mengalihkan pembicaraan.
"……Kira-kira,
sejak kapan perasaannya mulai berubah, ya?"
Uta mengarahkan
pandangannya ke arah yang jauh, seolah-olah dia sedang mencoba mengingat
kembali masa-masa yang lalu.
"Coba saja
kalau saat itu aku bisa menyadarinya lebih cepat."
Pasti ada banyak
hal yang sedang berkecamuk di dalam hatinya sekarang. Uta adalah orang yang berada di posisi yang
mirip dengan Miori.
Meskipun
ada perbedaan status antara orang yang tidak terpilih dengan orang yang sejak
awal bahkan tidak berdiri di atas arena pertandingan yang sama.
"Tapi,
entah kenapa, begitu mendengar kabar kalau Miorin sebenarnya menyukai Natsu……
bagaimana, ya. Rasanya sama sekali tidak ada kejanggalan, justru hal itu malah
terasa sangat masuk akal bagi ku. Padahal selama ini aku sama sekali tidak
menyadarinya."
Mendengar
perkataan dari Uta, Yuino pun ikut merespons sembari menopang dagunya dengan
tangan.
"……Hubungan
mereka berdua memang sangat dekat, 'kan. Sampai-sampai terlihat memiliki ikatan
kepercayaan yang sangat kuat hingga tingkat yang terasa aneh."
"Seperti
yang selalu mereka katakan sendiri, hubungan mereka berdua jelas bukan cuma
sebatas teman masa kecil atau hubungan takdir murni belaka. Tidak salah
lagi."
Aku pun
ikut menyela pembicaraan. Di mata siapa pun yang melihatnya, hubungan di antara
kedua orang itu memang terkesan sangat spesial.
"……Kemungkinan
besar, perasaannya sama sekali tidak pernah berubah kok. Cuma dianya saja yang
tidak menyadari hal itu."
Sosok yang ikut
masuk ke dalam pembicaraan dengan ekspresi wajah yang tampak serius adalah
Saya.
Semua orang
langsung mengalihkan pandangan mata mereka ke arah Saya. Sembari mendesaknya
untuk segera melanjutkan kalimatnya.
Sebab di antara
semua orang yang ada di sini, hanya Saya sajalah yang mengetahui tentang masa
lalu dari kedua orang tersebut.
"Izinkan aku
untuk menceritakan sedikit tentang kisah masa lalu mereka, ya——"
*
Di saat-saat
seperti ini, tempat yang akan didatangi oleh Miori biasanya ada di mana?
Aku sempat
mencoba mendatangi rumah Miori sekali lagi, tetapi tampaknya dia masih belum
ditemukan di sana.
Pihak keluarga
Miori juga tampaknya menganggap situasi ini sebagai hal yang serius, terlihat
dari pihak kepolisian yang saat ini sudah mendatangi rumahnya.
Karena aku juga
sempat dimintai keterangan oleh polisi, aku pun langsung menyampaikan seluruh
informasi yang kuketahui kepada mereka.
Hubungan
dengannya sudah terputus selama lebih dari setengah hari ini. Seiring
berjalannya waktu, rasa panik di dalam diriku pun menjadi semakin meningkat.
Matahari
perlahan-lahan mulai tenggelam. Langit berubah warna menjadi jingga kemerahan,
dan area di sekitar pun mulai diselimuti oleh kegelapan malam.
Dia tidak
ada di sekitar stasiun lokal. Di taman lingkungan sekitar rumah juga tidak ada.
Di area bantaran sungai yang berada di dekat sekolah dasar pun tidak ada.
……Kamu ada di
mana? Miori.
Sebenarnya kamu
pergi ke mana, sih?
"——Aku ingin
bisa kembali ke masa-masa itu."
Mendadak,
kalimat dari Miori itu kembali melintas di dalam benakku.
Jika
mengasumsikan kalau hal tersebut merupakan keinginan Miori yang sekarang,
kira-kira masa-masa itu merujuk pada waktu yang mana?
Aku mulai
menelusuri kembali ingatan masa laluku.
Kemungkinan
besar, itu adalah zaman di mana kehidupan kami sedang bersinar dengan sangat
terang.
Di saat aku,
Shuto, dan Takuro masih terus bermain bersama tanpa memikirkan apa pun. Kalau
diingat-ingat lagi, memori masa kecil yang paling menyenangkan bagi kami adalah
saat——
"——Saat kami
berempat membuat markas rahasia bersama."
Aku mulai
melangkahkan kakiku masuk ke dalam area gunung yang berada di dekat kuil lokal.
Rasanya pepohonan
di sini tumbuh jauh lebih lebat dibandingkan dengan saat aku masih kecil dulu.
Ranting,
dedaunan, dan semak-semak terus mengenai berbagai bagian tubuhku, membuat
pakaian yang kugenakan untuk kencan hari ini menjadi kotor.
Jika
dipikir secara rasional, tidak mungkin ada orang yang berada di tempat seperti
ini.
Namun,
tempat-tempat normal yang biasa terpikirkan oleh orang awam pasti sudah dicari
oleh pihak kepolisian.
Karena
itulah, aku memilih untuk mencari di tempat yang hanya bisa terpikirkan oleh
diriku sendiri.
Jalan
setapak yang dulu biasa kami gunakan untuk menuju ke markas rahasia kini sudah
lenyap akibat termakan oleh waktu yang lama.
Aku terus
melangkah membelah area yang tidak memiliki jalan ini setapak demi setapak,
sembari memastikan arah tujuanku ke depan.
"Hm?"
Sebuah
kejanggalan. Di posisi yang agak melenceng ke arah kanan, tampak ada bekas
semak-semak yang terlihat seperti sengaja dirobohkan oleh seseorang.
Begitu
aku mencoba melangkah ke arah sana, bekas robekan itu ternyata terus memanjang
menuju ke arah tempat yang sedang kuincar.
Dan yang
paling penting, ada bekas jejak kaki yang tertinggal di atas tanah. Itu bukan
jejak kaki hewan. Melainkan manusia. Terlebih lagi, orang itu mengenakan sepatu
model pantofel. Karena bekasnya masih tertinggal dengan sangat jelas seperti
ini, jejak tersebut pasti masih baru.
Aku
merasakan sebuah firasat. Atau lebih tepatnya, aku memiliki keyakinan yang
mutlak. Miori pasti ada di depan sana.
Di saat
aku sudah tidak bisa menahan diri lagi dan berniat untuk langsung berlari
pergi.
"——Natsuki."
Sebuah
suara terdengar memanggilku dari arah belakang.
"——Reita."
Begitu aku
membalikkan badan, sosok yang berada di sana ternyata adalah Reita.
Apakah dia
menelusuri jalan yang sama denganku, seragam sekolah yang dia kenakan tampak
kotor, dan ada bekas lumpur yang menempel di wajahnya.
Ekspresi wajahnya
saat itu terlihat jauh lebih tegas dari biasanya. Auranya benar-benar berbeda
dari penampilannya yang seperti biasa. Aku sama sekali tidak bisa merasakan
adanya kesan santai dari dirinya saat ini.
Namun, orang yang
berstatus sebagai kekasihnya saat ini sedang hilang tanpa kabar. Jadi wajar
saja jika dia sampai menunjukkan reaksi yang seperti itu.
"Kupikir
jika itu adalah kamu, kamu pasti akan bisa menemukan keberadaan Miori."
Reita
mengatakannya sembari memperhatikan jejak kaki yang baru saja kutemukan tadi.
"……Apa
maksudmu? Jangan-jangan, selama ini kamu sengaja membuntutiku dari
belakang?"
Apa gunanya
melakukan tindakan yang seperti itu? Bukankah akan jauh lebih baik jika kita
mencarinya bersama-sama?
Sembari
mengernyitkan dahi, tampaknya Reita bisa membaca kecurigaan yang ada di dalam
pikirku. Dia pun langsung memberikan penjelasannya.
"Aku juga
sedang mencari Miori dengan caraku sendiri. Lalu di tengah perjalanan, aku
kebetulan menemukan keberadaanmu."
"……Yang
penting sekarang ayo kita cepat jalan. Miori pasti ada di depan sana. Kemungkinan besar saat ini kondisi
mentalnya sedang sangat tidak stabil. Aku ingin menemukannya sebelum ada hal
buruk yang terjadi."
Tepat di
saat aku kembali membalikkan punggungku dari hadapan Reita, dia mendadak
memanggilku dengan nada suara, "Tunggu dulu."
"——Untuk
perjalanan ke depan, biarkan aku saja yang pergi sendiri. Kamu sebaiknya pulang
saja."
Aku sama sekali
tidak bisa memahami apa maksud dari perkataannya barusan.
"……Hah?"
Reita terus
menatapku dengan ekspresi wajah yang tampak datar bagaikan sebuah topeng.
"……Menemukan
Miori adalah prioritas utama kita saat ini. Bukankah akan jauh lebih baik jika
kita mencarinya berdua?"
Markas rahasia
memang berada di depan sana, tetapi belum ada jaminan kalau Miori benar-benar
berada di dalam.
Gunung ini sangat
luas, jadi sebaiknya kami membagi tugas untuk mencarinya.
"Meskipun
kita membagi tugas, aku yakin orang yang akan menemukan Miori pada akhirnya
tetaplah kamu."
Namun, Reita
memilih untuk menggelengkan kepalanya pelan.
"……Lalu
kenapa memangnya? Jika dia bisa ditemukan, bukankah itu adalah hal yang paling
bagus?"
Memang benar
kalau kemungkinan besar akulah yang akan menemukannya terlebih dahulu. Karena
aku memiliki keuntungan berupa memori masa kecil dan pemahaman geografis
tentang tempat ini.
Sejak tadi aku
benar-benar tidak bisa menangkap apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh
Reita. Ini adalah pertama kalinya aku mengalami hal yang seperti ini dengannya.
Biasanya Reita
adalah tipe orang yang selalu bisa membaca jalan pikiran orang lain terlebih
dahulu sebelum mengobrol, namun niat aslinya saat ini sama sekali tidak bisa
kubaca.
"Kalau
begitu aku tidak mau…… Aku
ingin akulah orang yang pertama kali menemukan Miori!"
Secara
mendadak, ekspresi wajah Reita langsung berubah drastis. Dia berteriak dengan
nada suara yang memancarkan aura kemarahan yang luar biasa.
Aku sampai dibuat
terintimidasi oleh tekanan dari suaranya itu. Ini adalah pertama kalinya aku
melihat Reita meluapkan emosinya secara terang-terangan seperti ini.
Tampaknya Reita
sendiri juga sedang berada dalam kondisi yang sangat terpojok.
Hal itu tentu
saja wajar. Kekasihnya sendiri menghilang tanpa kabar setelah melewati berbagai
macam masalah yang pelik.
Wajar
saja jika kondisi mentalnya menjadi tidak stabil.
Padahal aku tahu
tentang hal itu, tetapi selama ini aku sama sekali tidak pernah mencemaskan
kondisi Reita.
Aku hanya egois
dan berasumsi kalau Reita yang sempurna itu pasti akan baik-baik saja.
"……Aku tahu
kalau Miori menyukaimu. Jika kamu yang menemukan Miori sekarang, dia pasti
tidak akan bisa melihat orang lain lagi selain dirimu. Aku tidak mau hal
itu terjadi…… Miorilah orang yang harus aku selamatkan dengan tanganku
sendiri!"
Selama ini aku
selalu mengagumi sosok Reita. Reita adalah sosok ideal bagiku.
Aku selalu
berasumsi kalau Reita si manusia sempurna itu tidak akan pernah membutuhkan
rasa cemas dari orang lain.
"Meskipun
ini hanya status sementara, aku adalah kekasih dari Miori. Menemukan Miori
adalah tugasku……!"
Namun, ternyata
aku salah. Sosok yang selama ini kulihat hanyalah sebuah cerminan ideal saja,
bukan sosok Reita yang sebenarnya yang saat ini sedang berdiri di hadapanku.
Selama ini aku
tidak pernah melihat temanku ini dengan cara yang benar.
Sosok yang ada di
hadapanku saat ini hanyalah seorang anak SMA laki-laki biasa pada umumnya.
Dia hanya sedikit
lebih unggul dibandingkan dengan orang lain, bukannya manusia yang bisa
melakukan lompatan waktu sepertiku.
"Karena
itulah, kamu menyuruhku untuk pulang……?"
"……Maaf. Aku
tahu kalau tindakanku ini sangat memalukan. Aku pasti akan membayar utang budi
ini kepadamu nanti."
Reita
mengatakannya sembari mendistorsi ekspresi wajahnya seolah-olah dia sedang
menahan rasa sakit yang teramat sangat.
"Makanya
untuk kali ini saja, kumohon serahkan tempat ini kepadaku."
Sebagai seorang
kekasih, dia ingin menjadi orang pertama yang menemukan Miori. Aku bisa
memahami alasan di balik motifnya tersebut.
Namun, aku tidak
bisa menerimanya. Kamu sudah salah dalam menentukan hal mana yang harus
diprioritaskan terlebih dahulu.
"——Jangan
bercanda."
Rasa amarah yang
meluap dari dalam lubuk hatiku langsung tercermin ke dalam nada suaraku yang
meninggi.
Aku tahu kalau
saat ini Reita sedang tidak berada dalam kondisi yang normal seperti biasanya.
Meskipun begitu, untuk hal yang satu ini saja, aku tidak akan pernah sudi untuk
mengalah.
"Aku tahu…… Tapi aku cuma punya kesempatan sekarang!
Jika ada satu hal yang bisa membuat Miori memalingkan wajahnya dari dirimu yang
selalu dia lihat! Aku menyukainya,
Miori! Makanya aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi ke sana!"
Apakah karena dia
sangat ingin meyakinkanku, Reita terus menyampaikan isi hatinya dengan ekspresi
yang sangat putus asa.
Aku melangkah
mendekati Reita, lalu mencengkeram kerah baju seragamnya dengan kuat.
Sembari
menyerahkan diriku kepada dorongan rasa amarah yang meluap, aku pun berteriak
di hadapannya.
"Kamu
ini……!!"
"Apa ada
yang salah dengan ucapanku!? Kekasihmu saat ini 'kan adalah
Hoshimiya-san!?"
Dari jarak yang
sangat dekat, mataku langsung bertatapan dengan mata Reita. Dia menunjukkan
ekspresi wajah yang terlihat sangat menderita saat ini.
"Apa kamu
tidak paham kalau ini bukan masalah tentang hal itu!?"
"Aku tahu
kok! Meskipun begitu, aku, bagaimanapun juga tetap……!!"
Aku tidak berada
di posisi yang pantas untuk mengatakan kalau aku bisa memahami bagaimana
perasaannya saat ini.
Namun, perasaan suka yang dimiliki oleh Reita terhadap Miori benar-benar tersampaikan dengan sangat jelas ke dalam hatiku.
Aku tahu kalau
kamu tidak mau membiarkanku menemui Miori.
Itu karena Miori
memang menyukai diriku.
Jika bukan karena
situasi genting seperti ini, sejujurnya aku ingin mengalah dan menyerahkannya
kepada Reita.
"Tidak, kamu
sama sekali tidak mengerti apa pun."
——Ya, itu
kalau situasinya tidak sedang seburuk ini.
"Apa kamu
menyadarinya? Reita."
Begitu aku
melontarkan pertanyaan itu, Reita tampak langsung mengernyitkan dahinya.
"Menyadari…… apa?"
Ternyata
kamu benar-benar tidak menyadarinya, ya.
Padahal
kalau itu dirimu yang biasanya, hal seperti ini tidak akan mungkin terjadi.
"——Kamu,
sejak tadi, hanya sedang membicarakan tentang dirimu sendiri, tahu."
Di saat
kita bahkan tidak tahu apakah Miori masih hidup atau tidak, kamu justru malah
memprioritaskan perasaanmu sendiri.
Tidak
peduli mau statusmu itu kekasihnya atau apa pun, aku tidak akan pernah sudi
memercayai orang sepertimu dan memilih mundur begitu saja.
"Apa yang…… kamu katakan……"
Reita
terbelalak dengan ekspresi wajah yang tampak sangat syok.
Dia
kemudian terdiam, seolah sedang merenungkan kembali kata-kata yang baru saja
diucapkannya sendiri, lalu menatap telapak tangannya.
"Aku……"
Begitu
aku melepaskan cengkeraman tanganku pada kerah bajunya, lutut Reita langsung
lemas hingga dia jatuh terduduk di atas tanah.
"Maaf, tapi
aku tidak bisa mengikuti perkataanmu. Aku akan pergi."
Aku pun langsung
membalikkan punggungku ke hadapan Reita.
Bukannya aku
tidak memiliki perasaan untuk mengkhawatirkan kondisi Reita yang sedang tidak
stabil seperti ini.
Namun, fokus
utamaku saat ini adalah menemukan keberadaan Miori secepatnya.
——Tunggulah aku,
Miori. Tolong, jangan pernah memikirkan hal yang bodoh.
Aku mulai berlari membelah area dalam gunung.
Sembari mengandalkan memori masa laluku, aku terus melangkah
melewati rimbunnya semak-semak dan pepohonan.
"Ketemu……"
Tepat di arah pandanganku ke depan, tampak ada sebuah gubuk
tua yang dulu biasa kami gunakan sebagai tempat penyimpanan barang.
Kondisinya terlihat jauh lebih mengenaskan dibandingkan
dengan yang ada di dalam memoriku.
Tanaman merambat tampak melilit seluruh bagian dindingnya,
karat terlihat di mana-mana, beberapa sudutnya bahkan sudah rapuh dan membusuk
hingga hancur berantakan, serta pintu masuknya pun sudah lenyap.
Suasananya benar-benar terkesan seperti bangunan yang bisa
roboh kapan saja.
"Miori!"
Aku mencoba melongok ke dalam bangunan kosong itu, tetapi
tidak ada siapa-siapa di sana.
Di dalam gubuk yang luasnya paling hanya seukuran enam tikar
tatami itu, tampak berbagai macam barang yang dipenuhi debu diletakkan dengan
sangat padat hingga memenuhi ruangan, seperti sapu bambu, kain lap, tongkat
pemukul bisbol dari logam, pompa ban sepeda, hingga tumpukan majalah dari
belasan tahun yang lalu.
Papan nama
bertuliskan 'Markas Rahasia' yang dulu pernah ditulis oleh Miori juga masih
tersisa di sana.
Lalu, di atas
sebuah kotak kayu, tampak ada sebuah tas yang tergeletak.
Hanya
barang ini saja yang terlihat masih baru. Tidak salah lagi. Ini pasti tas yang ditinggalkan
oleh Miori.
Apakah dia pergi
ke suatu tempat setelah meninggalkan tasnya di markas rahasia ini?
Apa pun itu, dia
pasti berada di sekitar sini. Tepat di saat aku merasa agak lega, benda itu
mendadak tertangkap oleh sudut mataku.
Di samping tas
milik Miori, tampak ada selembar kertas putih yang diletakkan di sana.
"Terima
kasih banyak untuk segalanya selama ini. Aku benar-benar minta maaf."
Rasanya seluruh
darah di tubuhku langsung surut seketika begitu membaca tulisan itu. Keringat
dingin langsung mengucur deras membasahi punggungku.
Aku langsung
berlari sekencang mungkin. Aku terus mencarinya dengan sangat panik. Sembari
menyibak semak-semak di sekitarku, aku terus meneriakkan nama Miori berulang
kali.
Meskipun
pandanganku mulai terselimuti oleh kegelapan malam, aku tetap terus melangkah
masuk semakin jauh ke dalam hutan.
Aku bahkan sudah
tidak tahu lagi saat ini sedang berada di posisi mana.
Meskipun begitu,
aku tidak akan pernah sudi untuk pulang sebelum berhasil menemukan keberadaan
Miori.
Tidak apa-apa.
Aku memiliki rasa percaya diri yang mutlak. Aku yakin aku pasti bisa mengetahui
di mana keberadaan Miori berada.
——Sebab menemukan
dirinya yang sedang menangis, sejak dulu selalu menjadi tugasku seorang.
■(Hikari Hoshimiya)
"Saat masih
SD dulu, mereka berdua adalah pusat perhatian di sekolah, lho."
Yamano-san mulai
bercerita. Mengenai kisah masa lalu yang terjadi di antara Natsuki-kun dan
Miori-chan.
"Karena
usiaku setahun di bawah mereka, aku memang tidak terlalu tahu bagaimana situasi
mereka saat berada di dalam kelas. Tapi karena semua hal yang mereka lakukan
selalu terlihat mencolok, bisa dibilang mereka berdua itu adalah idola
sekaligus orang terkenal di seantero sekolah."
Isi ceritanya
benar-benar di luar dugaan sejak awal.
Karena ada rumor
yang mengatakan kalau Natsuki-kun itu baru merubah penampilannya saat masuk
SMA, kupikir dulunya dia adalah tipe anak yang selalu pendiam dan tidak
mencolok, tetapi tampaknya dugaanku itu salah.
Kalau untuk
Miori-chan, sih, citranya memang persis seperti yang kubayangkan.
"Lebih
tepatnya, grup mereka itu terdiri dari empat orang. Selain Miori-senpai dan
Haibara-senpai, ada dua orang lagi. Namanya Takuro-senpai dan Shuto-senpai.
Mereka berempat selalu main bersama ke mana-mana. Setiap hari terlihat sangat
menyenangkan, sampai-sampai aku pun sempat merasa kagum dan berharap bisa
menjadi seperti mereka."
Semua orang
tampak mendengarkan cerita Yamano-san dengan ekspresi wajah yang dipenuhi rasa
penasaran.
……Kalau
dipikir-pikir lagi, meskipun fakta kalau mereka berdua adalah teman masa kecil
sudah diketahui oleh semua orang, kami hampir tidak pernah mendengar cerita
tentang masa lalu mereka.
Karena ini adalah
kisah dari zaman sebelum Natsuki-kun merubah penampilannya saat masuk SMA,
selama ini kupikir dia hanya merasa malu untuk menceritakannya, tetapi
tampaknya situasinya tidak sesederhana itu.
"Bagaimana ya…… rasanya tak terduga sekali. Anak itu sendiri pernah bilang kalau saat
SMP dulu dia sama sekali tidak punya teman, 'kan? Makanya ada cerita kalau dia
baru merubah penampilannya saat masuk SMA, tapi ternyata saat SD dulu dia
adalah orang yang populer?"
"Sebenarnya
yang populer itu utamanya adalah Miori-senpai, sedangkan Haibara-senpai dan
yang lainnya hanya kebetulan berada di sampingnya saja, sih."
"Ah…… kalau yang itu sih bisa dibayangkan. Tapi, kenapa
dari situ dia bisa sampai berakhir menjadi orang yang tidak punya teman?"
Aku pun mengecap rasa penasaran yang sama dengan pertanyaan
yang baru saja dilontarkan oleh Tatsuya-kun barusan.
"Itu
karena grup empat orang tersebut akhirnya hancur berantakan. Hubungan di antara Miori-senpai dan
Haibara-senpai pun sempat terputus saat itu. Akibatnya, Haibara-senpai pun
akhirnya berakhir sendirian tanpa memiliki teman."
Yamano-san
menceritakannya dengan nada suara yang tenang, seolah-olah dia sedang
menelusuri kembali lembaran memori masa lalunya.
"Kalau ini
adalah cerita yang kudengar langsung dari Miori-senpai…… saat aku masih kelas
lima SD, yang berarti para senpai saat itu sedang kelas enam, Miori-senpai
sempat ditembak oleh Shuto-senpai, dan dia menolaknya. Hubungan mereka berdua
awalnya memang sangat dekat, tapi Miori-senpai merasa kalau dia tidak bisa
melihat Shuto-senpai sebagai seorang kekasih."
Cerita akhirnya
mulai memasuki babak yang membuat kami semua yang berada di sini menjadi agak
sulit untuk memberikan respons.
Tanpa sadar, aku
langsung menebak-nebak kelanjutan dari kisah tersebut di dalam kepalaku.
Sebab alasan
pertama yang paling sering terlintas sebagai penyebab hancurnya sebuah grup
pertemanan yang erat, biasanya adalah karena masalah 'asmara'.
"Miori-senpai
awalnya berharap agar mereka berdua tetap bisa berteman dekat seperti
biasanya…… tetapi Shuto-senpai memilih untuk mulai menjauhinya. Lalu di saat
hubungan grup yang tersisa tiga orang itu sedang canggung, Takuro-senpai
mendadak harus pindah sekolah karena urusan keluarga. Kalau untuk hal yang satu
ini, sih, memang merupakan sesuatu yang tidak bisa dihindari."
"……Grup yang
awalnya terdiri dari empat orang, akhirnya hanya tersisa dua orang saja,
ya."
Uta-chan
memberikan respons dengan ekspresi wajah yang tampak rumit. Tatangan mata kami
sempat saling bertemu sesaat, sebelum akhirnya kami berdua kompak mengalihkan
pandangan ke arah lain.
"Karena yang
tersisa hanya Haibara-senpai dan Miori-senpai saja, wajar saja 'kan kalau ada
anak laki-laki dan perempuan yang selalu berduaan seperti itu. Orang-orang di
sekitar pun mulai menjodoh-jodohkan mereka, membuat Miori-senpai akhirnya
memilih untuk menjaga jarak dari Haibara-senpai."
Itu adalah jenis
tindakan yang sangat wajar dilakukan oleh anak-anak seusia anak SD.
Pada masa-masa
itu, hanya karena ada anak laki-laki dan perempuan yang kedapatan sedang
bersama saja sudah cukup untuk menjadi bahan ledekan yang aneh dari teman-teman
sekitar.
"Tepat di
saat-saat seperti itu, mereka pun akhirnya lulus dari SD. Karena saat itu aku
masih berstatus sebagai murid SD, kelanjutan kisah setelah itu adalah murni
berdasarkan cerita yang kudengar dari Miori-senpai saja…… begitu masuk ke SMP,
Miori-senpai tampaknya mulai berhasil mendapatkan teman-teman yang baru.
Sebaliknya, Haibara-senpai justru sama sekali tidak berniat untuk mencari
teman. Dibandingkan dengan dibilang berakhir sendirian karena tidak punya
teman, situasi yang sebenarnya adalah dia sendiri yang memilih untuk
mengisolasi dirinya dari orang lain. Meskipun untuk urusan alasannya sendiri
aku tidak tahu, sih."
Mendengar hal
itu, aku bisa membayangkan apa alasan di balik keputusan Natsuki-kun untuk
tidak mencari teman saat itu.
Grup pertemanan
erat yang terdiri dari empat orang hancur berantakan, hal itu pasti sudah
meninggalkan luka yang mendalam di dalam hatinya.
Mengingat
kepribadian Natsuki-kun, dia pasti berpikir kalau hancurnya hubungan tersebut
adalah karena kesalahannya sendiri.
"Melihat
kondisi Haibara-senpai yang seperti itu, Miori-senpai tampaknya sempat mencoba
untuk menyapanya beberapa kali, tetapi dia selalu berujung ditolak. ……Yah,
padahal dianya sendiri yang memilih untuk menjaga jarak terlebih dahulu, jadi
rasanya wajar saja sih kalau Haibara-senpai merasa kesal karena dia baru
bertindak sok peduli setelah semuanya terlambat."
Aku sama sekali
tidak menyangka kalau ternyata ada masa lalu yang seperti itu di antara mereka
berdua.
Begitu aku
mencoba mengamati situasi di sekelilingku, tampaknya Uta-chan dan yang lainnya
juga sama sekali tidak pernah mendengar cerita ini dari siapa pun.
"Itulah
akhir dari cerita yang kudengar dari sisi Miori-senpai."
Yamano-san
mengatakannya sembari menjeda kalimatnya sejenak.
"Lalu, hal
yang akan kuceritakan setelah ini, adalah kisah yang kudengar langsung dari
sisi Haibara-senpai——"
■(Miori Motomiya)
Aku sendiri tidak
tahu kenapa aku bisa sampai berjalan menuju ke tempat ini.
Ingatanku terasa
sangat samar. Hubungan sebab-akibat di dalam kepalaku terasa tidak pasti,
membuatku tidak bisa memikirkan apa pun saat ini.
Apakah saat ini
aku benar-benar sedang melangkah dengan menggunakan kedua kakiku sendiri?
Saat kami masih
duduk di bangku kelas lima SD dulu, aku, Takuro, Shuto, dan Natsuki membuat
markas rahasia ini bersama-sama.
Meskipun kalau
dibilang membuat, kenyataannya kami hanya menempati gubuk kosong yang kami
temukan di bagian terdalam gunung secara sepihak saja, sih.
Kami
masing-masing membawa berbagai macam mainan ke tempat ini, lalu menghias bagian
depannya dengan papan nama bertuliskan 'Markas Rahasia'.
Dulu kami sempat
memotong semak-semak di sekitar pintu masuk untuk dijadikan sebagai area
bermain, tetapi sekarang pemandangan itu sudah lenyap sepenuhnya tanpa bekas.
Semak-semak dan
pepohonan tampak tumbuh dengan sangat lebat di mana-mana.
Kondisi gubuknya
sendiri juga sudah sangat tua, dengan noda karat yang terlihat di berbagai
sudut bangunan.
Meskipun begitu,
pemandangan ini terasa sangat dirindukan. Pistol air yang sudah rusak, pedang
kayu yang patah, hingga bola sepak yang kempis, semuanya adalah barang-barang
yang dulu kami bawa ke tempat ini.
Kami selalu
bermain di sini. Terus bermain bersama sampai tenaga kami terkuras habis.
Sejak kapan, ya,
kami mulai tidak pernah mendatangi markas rahasia ini lagi?
……Benar, itu
adalah setelah kejadian di mana Shuto menyatakan cintanya kepadaku, dan aku
memilih untuk menolaknya.
Hari-hari yang
terasa begitu menyenangkan itu langsung hancur berkeping-keping layaknya sebuah
kaca yang pecah.
Meskipun tidak
pernah kuucapkan secara langsung, aku bahkan sempat menaruh rasa benci yang
mendalam kepada Shuto saat itu.
Aku mengutuk
tindakannya, berpikir apakah nilai diriku di matanya sebagai seorang teman
hanya sebatas itu saja. Apakah jika aku tidak bisa menjadi kekasihnya, dia
menganggap kalau aku sudah tidak memiliki nilai apa pun lagi untuk dipedulikan.
——Padahal aku
sendiri sama sekali tidak memiliki hak untuk melontarkan kalimat egois seperti
itu. Baru sekarang aku bisa benar-benar memahami bagaimana perasaan Shuto saat
itu.
Aku menyadarinya
kok.
Aku yang sekarang
hanya sedang melarikan diri dari kenyataan yang ada.
Aku hanya sedang
mencoba mengemis kenyamanan dari kilau masa lalu yang sudah lama sirna.
Aku sangat ingin
kembali ke masa-masa di saat aku masih belum mengenal apa itu arti dari sebuah
rasa cinta.
Aku ingin kembali
ke masa-masa itu. Lalu, memperbaikinya sekali lagi dari awal.
Jika bisa
melakukannya, aku ingin memastikan agar hubungan pertemanan di antara kami
berempat bisa terus bertahan hingga saat ini.
Jika bisa
melakukannya, aku ingin berteman dengan baik dengan Natsuki, sembari memastikan
agar aku tidak akan pernah jatuh cinta kepadanya kali ini.
Jika bisa
melakukannya, aku ingin menjadi sosok manusia yang bisa mendukung perjalanan
asmara Natsuki dengan tulus dari dalam lubuk hatiku.
……Bohong. Itu
semua hanyalah sebuah kalimat omong kosong yang sok suci saja, 'kan?
Jika aku
benar-benar diberikan kesempatan untuk mengulang kembali kehidupanku dari awal,
sebelum Natsuki sempat jatuh cinta kepada Hikari-chan, aku pasti akan langsung
bergerak untuk mengencaninya.
Karena, sejak
dulu, sosok yang kusukai itu memang adalah Natsuki seorang.
Aku hanya
terlambat menyadari kalau perasaan yang kumiliki ini adalah sebuah rasa cinta.
Karena itulah,
begitu hubungan kami mulai membaik tepat sebelum masuk SMA, aku merasa sangat
bahagia.
Aku murni berniat
untuk membantu menyukseskan rencana Natsuki yang ingin merubah penampilannya
saat masuk SMA.
Memang benar
kalau aku sempat memiliki ketertarikan kepada Reita-kun, tetapi motif awalku
untuk mendekatinya adalah demi Natsuki.
Setiap kali ada
masalah, Natsuki pasti akan selalu datang untuk meminta bantuanku. Hal itu
terasa jauh lebih membahagiakan dibandingkan dengan apa pun di dunia ini bagi
ku.
Namun, begitu aku
melihat pemandangan di mana Natsuki sedang bermesraan dengan anak perempuan
lain secara langsung, hatiku langsung terasa sangat sesak.
Secara samar, aku
sebenarnya sudah mulai menyadari perasaan ini sejak lama. Namun, aku selalu
berusaha untuk menyangkal emosi tersebut.
Pada awalnya aku
masih bisa menyangkalnya.
Namun seiring
berjalannya waktu di saat aku terus membantu menyukseskan rencana asmara
Natsuki, perasaan sukaku terhadapnya menjadi tumbuh terlalu besar hingga aku
tidak memiliki pilihan lain selain mengakuinya. ……Dan pada saat itu, segalanya
sudah terlambat.
Padahal aku
bahkan tidak pernah berdiri di atas panggung pertandingan sejak awal, tetapi
aku justru bertindak lancang dengan mencoba mengulurkan tanganku dari arah
belakang.
Di balik panggung
teater yang harusnya sudah menutup tirainya dengan akhir yang bahagia, aku
bergerak secara sembunyi-sembunyi agar tidak ada satu orang pun yang
menyadarinya.
——Aku
benar-benar sosok wanita yang paling menjijikkan.
Orang
sepertiku sama sekali tidak memiliki hak untuk berharap bisa kembali ke masa
lalu atau mengulang kembali kehidupannya dari awal.
Aku sudah
tidak bisa berada di tempat ini lagi. Setidaknya, sampai perasaan cinta yang
meresahkan ini bisa lenyap sepenuhnya dari dalam hatiku.
Jika
sampai akhir perasaan ini ternyata tidak akan pernah bisa lenyap, bukankah itu
berarti pilihan yang tersisa bagiku hanyalah lenyap saja dari dunia ini?
"Terima
kasih untuk segalanya selama ini. Semuanya, maafkan aku……"
Aku menuliskan
kalimat yang menyerupai sebaris surat wasiat di atas kertas loose-leaf yang ada
di dalam tas milikku.
Setelah itu,
sembari mengandalkan memori masa kecilku, aku pun mulai melangkahkan kakiku
untuk mendaki area gunung ini.
Jika terus
mendaki gunung ini, aku pasti akan sampai di sebuah tempat yang memiliki
pemandangan yang sangat indah.
Itu adalah tempat favorit kami berempat dulu.
Yah, kalau mau jujur, sebenarnya hanya aku saja sih yang
menyukai tempat itu.
Aku bahkan masih ingat kalau setiap kali kami mendaki ke
sana, Natsuki pasti akan meledekku dengan berkata, "Orang bodoh memang
selalu suka tempat yang tinggi."
Di tengah perjalananku membelah semak-semak dan pepohonan,
hujan mendadak mulai turun.
Awalnya hanya berupa rintikan kecil, sebelum akhirnya
intensitasnya berubah menjadi sangat deras hingga memunculkan suara gemuruh
yang keras.
Sembari menembus celah di antara dedaunan, rintikan hujan
yang dingin terus mengguyur seluruh tubuhku. Rasa dingin yang menusuk membuat
tubuhku menjadi gemetar hebat.
Meskipun begitu, aku tetap terus melangkah maju. Sembari
membiarkan kakiku tergelincir oleh permukaan tanah yang berlumpur, aku tetap
keras kepala untuk terus mendaki area gunung ini.
Secara mendadak, pemandangan pepohonan di sekitarku langsung
terputus. Tepat di hadapanku saat ini, sebuah tebing tinggi tampak membentang
dengan sangat curam.
"……Sama
sekali, tidak ada apa pun yang terlihat, ya."
Akibat perpaduan
antara guyuran air hujan dan kegelapan malam, pemandangan di bawah sana sama
sekali tidak terlihat.
Aku
melangkah mendekat hingga ke ujung tebing. Begitu aku mencoba melongok ke arah
bawah, tampak ada siluet aliran sungai yang terlihat samar di balik pekatnya
kegelapan malam.
Jika aku melompat
jatuh dari tempat ini, aku pasti akan langsung mati. Pemikiran itu terlintas di
dalam kepalaku dengan sangat datar, seolah-olah aku sedang memikirkan urusan
orang lain.
Aku tidak bisa
merasakan adanya kesan realitas sama sekali. Karena itulah, rasa takut pun sama
sekali tidak muncul di dalam hatiku.
Padahal saat ini
aku sedang berdiri tepat satu langkah di hadapan jurang kematian.
Tapi, tidak
apa-apa jika memang harus berakhir seperti ini. Biarlah semuanya tetap seperti
ini saja.
Karena jika aku
membiarkan emosiku kembali berfungsi, perasaan-perasaan tidak berguna yang
meresahkan itu pasti akan ikut bangkit bersamanya.
Sebelum aku
sempat menyadari kalau ini adalah sebuah kenyataan, jika aku melangkahkan
kakiku sekarang——
"——Miori!"
Dari arah
belakang, sebuah dekapan erat mendadak langsung mengunci tubuhku.
Hanya
dari suaranya saja, aku sudah bisa langsung tahu siapa pemilik dari dekapan
ini.
Dia
adalah sosok yang paling tidak ingin kutemui saat ini. Namun, di saat yang
sama, dia juga merupakan sosok yang paling ingin kutemui di dunia ini.
Tubuhku
langsung ditarik ke arah belakang dengan sangat kuat. Membuatku menjauh dari
bibir tebing yang harusnya menjadi tempat jatuhku tadi.
Apakah
karena Natsuki menarikku dengan sangat terburu-buru, dia akhirnya berakhir
jatuh terduduk sembari tetap memeluk tubuhku dengan sangat erat.
Karena
posisinya punggungku bersandar pada dada bidangnya, kami berdua pun akhirnya
berakhir jatuh bersama di atas tanah.
Situasi
saat ini berubah menjadi posisi di mana Natsuki sedang memelukku erat dari arah
belakang di saat aku sedang terduduk.
Kedua
lengan yang sedang mendekap tubuhku terasa sangat kuat. Sampai-sampai aku sama sekali tidak bisa
menggerakkan tubuhku sedikit pun.
Natsuki
tampak sedang mengatur napasnya yang terengah-engah.
Dia pasti sudah
mengerahkan seluruh tenaganya untuk bisa berlari sampai ke tempat ini.
Mendengar suara
deru napasnya itu, realitas yang selama ini coba kuhindari akhirnya berhasil
mengejar diriku kembali.
……Apa
yang sebenarnya sedang kulakukan barusan?
Rasa
ngeri langsung membuat seluruh darah di tubuhku surut seketika. Tubuhku
mendadak gemetar hebat seolah baru menyadari situasinya sekarang. Aku merasa
takut. Detak jantungku berdegup dengan sangat kencang. Tubuhku yang diguyur air
hujan terasa sangat dingin. Dingin sekali. Begitu aku mencoba memperhatikan
situasi di sekelilingku dengan baik, berkat adanya pancaran sinar rembulan,
kegelapan di tempat ini ternyata tidak sepekat yang kukira sebelumnya.
"Syukurlah.
Aku berhasil tepat waktu, benar-benar syukurlah……"
Tepat di
samping telingaku, suara Natsuki terdengar mengalun dengan sangat jelas.
Suaranya terdengar bergetar kecil.
Begitu
aku mengalihkan pandangan mataku ke arah atas, wajah Natsuki langsung terlihat
di sana. Ada banyak bekas noda lumpur yang menempel di berbagai sudut wajahnya.
Kemungkinan
besar kondisiku saat ini juga tidak jauh berbeda dengannya. Mengingat kami
berdua sama-sama baru saja berjalan menembus area hutan di tengah guyuran hujan
yang sangat deras seperti ini.
"Kenapa,
kamu bisa ada di sini……?"
"Sudah pasti
karena aku sedang mencarimu, 'kan."
"Bagaimana,
kamu bisa tahu kalau aku ada di tempat ini?"
"……Aku
kebetulan teringat kembali tentang kalimatmu yang bilang kalau kamu ingin
kembali ke masa-masa itu."
"……Hanya
dengan mengandalkan petunjuk yang sesamar itu, kamu bisa menemukanku?"
"Sebab
mencari dirimu di saat permainan petak umpet, sejak dulu selalu menjadi
tugasku, 'kan."
Natsuki
menjawabnya sembari menyunggingkan seulas senyum pahit di wajahnya.
Kemampuannya
dalam menemukan diriku selalu saja terasa sangat hebat sampai di tingkat yang
tidak masuk akal.
Setiap kali aku
sedang menangis seorang diri, Natsuki pasti akan selalu datang untuk menemukan
diriku, lalu memilih untuk tetap tinggal di sampingku.
Hal-hal seperti
itulah yang membuatku menjadi sangat menyukainya. Tidak ada alasan bagiku untuk
tidak jatuh cinta kepadanya.
……Justru karena
itulah, aku tidak bisa membiarkan diriku tetap berada dalam situasi yang
seperti ini.
"Lepaskan.
Sesak tahu."
Aku mencoba
melepaskan dekapan tangan Natsuki dari tubuhku secara perlahan, lalu bangkit
berdiri.
"Kamu, sudah
tidak apa-apa, 'kan?"
"……Ehm. Aku
yang tadi, sepertinya sedang agak tidak waras."
Hatiku akhirnya
sudah berhasil mengejar realitas yang ada sepenuhnya. Aku sudah tidak bisa
melakukan tindakan bunuh diri lagi sekarang. Aku tidak memiliki keberanian yang
sebesar itu.
"Aku tidak
akan berlagak sok tahu dengan bilang kalau aku bisa memahami bagaimana
perasaanmu saat ini. Kamu mungkin memang merasa sangat ingin melarikan diri
dari kenyataan yang ada. Tapi tolong berhentilah memikirkan tentang kematian.
Aku benar-benar sangat mencemaskanmu, tahu. Bukan hanya aku saja, semua orang
saat ini sedang sangat mengkhawatirkan kondisimu."
Siluet
wajah keluarga dan teman-temanku langsung melintas di dalam benakku.
Mereka
semua adalah orang-orang yang sangat baik, jadi mereka pasti saat ini sedang
sangat mengkhawatirkan diriku.
"Ayo kita
pulang, Miori. Kembali ke tempat di mana semua orang berada."
Natsuki
mengulurkan tangannya ke arahku.
Seolah-olah dia
berniat untuk menerima diriku apa adanya, bahkan setelah mengetahui sosok
manusia menjijikkan seperti apa aku yang sebenarnya.
"Setelah
semua yang terjadi, itu sudah tidak mungkin lagi bagi ku……"
Kuharap kamu bisa
menghentikan tindakanmu itu. Benar-benar. Tindakanmu yang selalu saja berhasil
mengguncang isi hatiku seperti itu.
Sebab hal itu
hanya akan membuatku kembali mengecap sedikit rasa harapan. Membuatku kembali
menaruh ekspektasi palsu yang tidak akan pernah bisa terwujud.
Hingga akhirnya
membuatku merasa sangat kecewa kepada diriku sendiri yang begitu rendah karena
sempat memikirkan hal seperti itu bahkan dalam situasi yang seperti ini.
……Padahal,
keinginan yang sebenarnya ada di dalam lubuk hatiku, bukanlah hal yang seperti
itu.
Bukan begitu.
Aku, sama sekali tidak berniat untuk membuat perasaan cinta ini bisa terbalas
olehmu.
"Miori."
Kuhohon jangan
memanggil namaku dengan nada suara yang selembut itu.
Aku mohon
kepadamu, tolong bantulah untuk menolak diriku dengan tegas. Tolong berikanlah
akhir yang jelas untuk perasaan ini.
"——Sebab aku
sendiri, tidak akan pernah bisa memaafkan diriku sendiri."
■(Hikari Hoshimiya)
"Saat aku
baru masuk ke SMP dulu, Haibara-senpai sudah berakhir sendirian tanpa memiliki
teman. Keceriaan yang biasanya terpancar dari wajahnya saat masih SD dulu sudah
lenyap sepenuhnya, tubuhnya terlihat agak gemukan, dan dia juga mulai memakai
kacamata, sampai-sampai aku sempat mengira kalau dia adalah orang yang
berbeda."
Sembari
menambahkan kalimat, "Aku akan melewatkan bagian-bagian yang tidak terlalu
penting", Yamano-san pun kembali melanjutkan ceritanya.
"Setelah
melewati berbagai macam kejadian, aku akhirnya mulai bisa mengobrol sesekali
dengan Haibara-senpai. Dan cerita yang kudengar dari sisinya saat itu, rasanya
agak sedikit berbeda dengan versi cerita yang disampaikan oleh Miori-senpai.
Sekarang, aku akan menceritakan bagian tersebut kepada kalian."
Fokus perhatian
semua orang yang berada di sini kini sudah terikat sepenuhnya pada setiap
untaian kata yang diucapkan oleh Yamano-san.
Bukan hanya aku
saja. Semua orang yang ada di sini juga murni merasa penasaran tentang
bagaimana kisah masa lalu yang ada di antara mereka berdua.
Ditambah lagi
karena ada kemungkinan kalau kisah ini bisa memberikan petunjuk untuk menemukan
keberadaan Miori-chan yang saat ini sedang hilang tanpa kabar.
"Haibara-senpai
tampaknya merasa sangat terluka setelah grup empat orang mereka hancur
berantakan. Terutama, saat momen di mana Miori-senpai memilih untuk mulai
menjauhinya. Karena itulah, sejak awal masuk sekolah dia sengaja menjaga jarak
dari hal-hal yang berkaitan dengan hubungan pertemanan."
Di balik jendela
restoran, rintikan air hujan tampak mulai turun membasahi bumi dengan suara
yang syahdu.
Suasana di dalam
restoran keluarga yang sepi ini terasa begitu hening, membuat nada suara
Yamano-san bisa terdengar dengan sangat jelas oleh kami semua.
"Miori-senpai
tampaknya sempat mencoba untuk menyapa Haibara-senpai beberapa kali. Dia
berharap agar hubungan mereka berdua bisa kembali seperti masa-masa yang lalu.
Namun, jika saat SD dulu Miori-senpai memiliki kepribadian yang tomboi dengan
potongan rambut yang pendek hingga sering kali salah dikira sebagai anak
laki-laki, saat masuk SMP dia sudah bertransformasi sepenuhnya menjadi seorang
gadis yang sangat cantik. Bahkan sampai di tingkat menjadi siswi yang paling populer di
sekolah."
Untuk poin yang
satu ini, aku bisa sangat memahaminya.
Mengingat
parasnya yang secantik itu, wajar saja jika orang-orang di sekitar tidak akan
membiarkannya begitu saja.
"Tampaknya,
sosok anak laki-laki yang menjadi pusat perhatian di dalam kelas menaruh rasa
suka kepada Miori-senpai. Karena itulah, dia merasa cemburu melihat
Haibara-senpai yang selalu mendapatkan perhatian lebih dari Miori-senpai.
Meskipun ini adalah jenis konflik yang klise, akibat dari kejadian itu
Haibara-senpai yang aslinya memang sudah tidak punya teman akhirnya menjadi
dikucilkan sepenuhnya oleh orang-orang di kelas. Sebenarnya Haibara-senpai
sendiri tidak terlalu memedulikan hal itu, sih. Karena dia merasa sejak awal
dirinya memang sudah sendirian. ……Namun, karena Miori-senpai terus bersikeras
untuk memedulikan Haibara-senpai yang sedang dibenci oleh orang-orang, jumlah
teman-teman di sekelilingnya pun perlahan-lahan mulai berkurang. Lama-kelamaan,
posisinya di dalam kelas pun menjadi semakin tersisih."
Meskipun jumlah
temannya berkurang dia tetap tidak memedulikannya, dan memilih untuk tetap
memprioritaskan Natsuki-kun. Itulah yang dilakukan oleh Miori-chan.
Lalu di sisi
lain, Natsuki-kun merasa cemas karena dia tahu kalau posisinya Miori-chan
menjadi memburuk adalah akibat dari kesalahannya sendiri.
Pemandangan
dari situasi itu langsung tergambar dengan sangat jelas di dalam benakku.
Membuat lubuk hatiku mendadak terasa agak sedikit perih.
"Karena
itulah, Haibara-senpai akhirnya memilih untuk menolak kehadiran Miori-senpai
dengan tegas. Dia melakukannya agar posisi Miori-senpai tidak menjadi semakin
memburuk hanya karena terus memedulikan dirinya. Meskipun kalau dari pengakuan
dari anaknya sendiri, dia sempat mengelak dan bilang kalau tujuannya bukan
karena hal yang mulia seperti itu, sih."
"……Begitu
ya. Kalau tentang cerita kalau hubungan mereka berdua sempat tidak akur saat
SMP dulu, aku memang pernah mendengarnya langsung dari Miori, sih."
Serika-chan
memberikan respons dengan nada suara yang seperti itu.
"Kalau
dari posisiku yang melihatnya saat itu, aku benar-benar merasa sangat gemas
dibuatnya, tahu. Aku sering menerima curhatan dari Miori-senpai, dan terkadang
aku juga suka mendengar cerita dari sisi Haibara-senpai, jadi rasanya situasi
mereka berdua saat itu benar-benar sangat merepotkan. Padahal mereka berdua
jelas-jejak saling memikirkan satu sama lain, tetapi setelah kejadian itu
mereka sama sekali tidak pernah mau mencoba untuk saling menyapa lagi……"
Sembari
mengembuskan napas panjang, Yamano-san tampak mengedikkan kedua bahunya pelan.
"Mereka
berdua hanya tidak menyadarinya saja, padahal aslinya mereka berdua itu sudah
pasti saling menyukai satu sama lain, lho."
Ah, dugaanku
memang benar, begitulah hal yang terlintas di dalam pikirku saat ini.
Itu bukanlah
sebuah kisah dari masa lalu saja. Melainkan perasaan yang terus bertahan,
hingga detik ini.
……Dan kemungkinan
besar, intensitas dari perasaan itu pasti jauh lebih besar dibandingkan dengan
emosi yang saat ini sedang ditunjukkan olehnya kepada diriku.
*
Miori sedang
menangis.
Itu adalah sebuah
pemandangan yang sangat sering kulihat saat kami masih kecil dulu.
Di balik
penampilannya, Miori sebenarnya adalah sosok anak yang cukup cengeng.
Karena
kepribadiannya yang biasanya selalu terlihat kuat di hadapan orang lain membuat
bayangan itu sulit dipercaya, teman-teman yang lain bahkan sempat menuduhku
sebagai seorang pembohong saat aku menceritakan hal ini kepada mereka.
Namun yang paling
penting adalah fakta kalau Miori hanya akan memperlihatkan air matanya saat
berada di hadapanku saja.
"……Lalu,
sekarang kita harus bagaimana? Apa kamu mau terus berada di tempat seperti
ini?"
"Aku tidak tahu…… Tapi aku yang sekarang sudah tidak
memiliki hak lagi untuk pulang."
Sembari
melontarkan kalimat yang terputus-putus akibat suara tangisannya, Miori tampak
menggelengkan kepalanya pelan.
"Terus
berada di tempat seperti ini hanya akan membuatmu masuk angin tahu. Tidak
peduli mau bagaimanapun caranya, aku pasti akan tetap membawamu pulang."
"……Kenapa,
kamu bisa sampai sepeduli itu kepadaku? Sampai-sampai membuat tubuhmu menjadi
kotor dan berantakan seperti itu. Sosok yang kamu sukai itu 'kan adalah
Hikari-chan? Orang sepertiku, harusnya kamu biarkan saja sendiri."
"Kamu adalah
teman berhargaku. Aku tidak akan pernah bisa membiarkanmu begitu saja……
meskipun jika situasi ini terjadi adalah karena kesalahanku."
Aku tahu kalau
aku tidak akan pernah bisa memberikan jawaban yang diinginkan oleh Miori saat
ini.
Meskipun begitu,
aku tetap ingin agar sosok Miori yang seperti biasanya bisa kembali.
"Ini bukan
salahmu. Akulah satu-satunya orang yang bersalah di sini. Karena itulah, aku
merasa kalau aku lebih baik lenyap saja."
Membayangkan
pemandangan di mana Miori lenyap dari dunia ini, hanya dengan memikirkannya
saja sudah cukup untuk membuatku merasa sangat ngeri.
"Hentikan.
Tidak peduli siapa yang salah, hal seperti itu sudah tidak penting lagi
sekarang. Aku mohon kepadamu, kembalilah ke sisi kami."
Meskipun aku tahu
kalau untaian kalimat ini justru akan semakin menggores luka di dalam hati
Miori, kenyataannya ini adalah murni isi hati kecilku yang paling jujur.
Aku ingin kamu
bisa terus berada di sisiku. Aku tidak ingin kamu menghilang dari hadapanku
untuk yang kedua kalinya.
"……Semuanya,
sudah terlambat tahu. Aku, bahkan tidak pernah berhasil untuk berdiri di atas
panggung pertandingan sejak awal."
Guyuran hujan
menjadi semakin deras. Rintikan air tampak menghantam permukaan tanah dengan
suara yang bising. Air mata yang mengalir di wajah Miori kini sudah menyatu
sepenuhnya dengan tetesan hujan, hingga tidak bisa terlihat lagi oleh pandangan
mataku.
"Tapi,
setidaknya izinkan aku untuk menyampaikan hal ini kepadamu dengan benar. Agar
aku bisa mengakhiri segalanya di tempat ini."
Miori tampak
menarik napasnya dalam-dalam untuk menenangkan deru napasnya, sebelum akhirnya
mulai membuka suara untuk menyampaikan isi hatinya.
"——Aku,
sangat menyukaimu, tahu. Kamu adalah sosok yang paling kucintai di seantero
dunia ini."
Melihat ekspresi
wajah Miori yang mencoba untuk tersenyum di tengah tangisannya itu, lubuk
hatiku mendadak langsung terasa sangat perih secara instan.
……Aku
menyadarinya kok. Mengingat situasinya yang sudah sejauh ini, aku pun akhirnya
dipaksa untuk sadar.
Perasaan yang
kumiliki terhadap Miori, intensitasnya jelas-jelas sangat berbeda jika
dibandingkan dengan emosi yang kutunjukkan kepada teman-temanku yang lain. Itu
adalah sebuah perasaan yang jauh lebih berharga, dan jauh lebih spesial.
Padahal selama
ini aku selalu berusaha untuk tidak menyadarinya, tetapi perasaan yang selama
ini kukunci rapat di dalam lubuk hatiku kini akhirnya meluap keluar sepenuhnya
tanpa bisa dibendung lagi.
——Sejak kapan
perasaan ini mulai tumbuh?
Cinta pertamaku
memang adalah Miori, tetapi saat berada di bangku SMA aku mengalami cinta pada
pandangan pertama kepada Hikari.
Ditambah lagi ada
jeda waktu selama tujuh tahun di antara kedua momen tersebut. Yang berarti
emosi yang kumiliki terhadap Miori harusnya sudah sempat terputus sepenuhnya
sekali.
Sosok teman masa
kecil yang dulu pernah memiliki hubungan yang sangat dekat dengannya.
Pada saat awal
memulai kehidupan kedua ini, tingkat kesadaranku terhadapnya hanya mentok di
seputar penilaian tersebut saja.
Karena itulah,
tidak salah lagi kalau perasaan ini baru lahir setelah aku melakukan time
leap.
"……Natsuki?"
Aku mulai
menelusuri kembali lembaran memori masa laluku.
"Dengar, ya?
——Aku, menyukaimu, tahu."
Segalanya bermula
dari momen di mana Miori bersedia untuk bertindak sebagai sekutu yang
membantuku dalam menyukseskan Rencana Masa Muda Pelangi milikku.
"Salah
besar. Kalau dengan orang yang satu ini sih sama sekali tidak mungkin."
Karena dia adalah
teman masa kecil yang sudah mengetahui bagaimana sifat asliku yang sebenarnya,
aku bisa menghabiskan waktuku bersamanya dengan sangat santai saat berada di
hadapan Miori.
"Terima
kasih, ya, sudah mau mengantarku pulang."
Tanpa kusadari,
aku menjadi sangat bergantung pada kehadiran Miori yang selalu setia memberikan
dukungannya di sisiku.
"Kamis
sendiri 'kan yang bilang kalau aku boleh bergantung kepadamu? Seorang pria
tidak akan pernah menarik kembali kata-kata yang sudah diucapkannya,
'kan?"
Aku
benar-benar tidak ingin melihat pemandangan di mana Miori sedang bersedih.
"Janji, ya? ……Mulai sekarang, jangan pernah mengabaikan
diriku lagi, ya?"
Lembaran memori
masa lalu di saat dia menjadi cinta pertamaku dulu perlahan-lahan mulai bangkit
kembali di dalam benakku.
"Aku,
berniat untuk menembak Reita-kun, lho. Akhir-akhir ini tindakanku memang
terkesan agak terlalu berhati-hati, sih, tapi hal seperti itu benar-benar
terasa sangat bukan diriku sekali…… Makanya aku berniat untuk langsung
menentukan hasilnya di sini, lalu hidup bahagia setelahnya!"
Aku murni
berharap agar Miori bisa mendapatkan kebahagiaannya sendiri.
"Sebab mulai
sekarang, Hikari-chan lah yang akan bertugas untuk memberikan dukungannya
kepadamu."
Aku sama sekali
tidak menyangka kalau tindakan yang kulakukan justru akan memicu hasil yang
berbalik seratus delapan puluh derajat seperti ini.
"Aku menyukaimu, lho…… perumpamaannya, jika aku
mengatakan hal seperti itu kepadamu, apa yang akan kamu lakukan?"
——Sebab aku
sendiri, juga menaruh rasa suka kepadamu.
Intensitas rasa
suka yang kumiliki terhadap Miori Motomiya, jumlahnya benar-benar setara dengan
besarnya rasa cinta yang kurasakan kepada kekasihku saat ini, Hikari Hoshimiya.
Justru karena
alasan itulah, aku harus memberikan jawaban yang tegas untuk menanggapi
pernyataan cinta dari Miori ini.
"——Maaf.
Saat ini, sudah ada sosok penting yang kupilih di dalam hatiku. Aku tidak akan
pernah bisa membalas perasaan yang kamu miliki."
Persis seperti
apa yang dikatakan oleh Miori barusan, aku memang sudah menjatuhkan pilihanku
sejak awal.
Aku sudah
memantapkan hatiku untuk memberikan kebahagiaan kepada Hikari Hoshimiya. Secara
mutlak.
Perasaanku tidak
akan pernah goyah setelah sejauh ini. Setidaknya selama perasaan yang dimiliki
oleh Hikari tidak berpaling dari diriku.
Aku menyampaikan
isi hatiku kepada Hikari dulu dengan tingkat kesiapan mental yang sebesar itu.
"……Terima
kasih, ya. Karena sudah mau memberikan jawaban yang tegas kepadaku."
"……Hanya
jawaban ini saja yang bisa kuberikan kepadamu saat ini. Meskipun begitu, aku
ingin kamu tetap mau ikut pulang bersamaku."
Aku sempat
merenungkannya sedikit.
Aku adalah
seorang manusia yang sedang menjalani kehidupan keduanya dari awal.
Karena itulah,
jika sampai tindakan yang kulakukan dalam kehidupan kali ini justru merubah
garis takdir kehidupan Miori dari yang harusnya penuh kebahagiaan menjadi
kesengsaraan, bukankah itu berarti aku memiliki tanggung jawab moral untuk
menyelamatkan kehidupan Miori sekarang?
Namun, memikirkan
hal-hal yang seperti itu hanya akan berakhir menjadi sebuah tindakan yang
sia-sia saja.
Sebab aku tidak
memiliki kemampuan yang hebat sampai di tingkat bisa menyelamatkan kehidupan
orang lain.
Terlebih lagi
jika aku memilih untuk membalas perasaan Miori sekarang, Miori yang sekarang
pasti sudah tidak akan mengharapkan hal tersebut lagi.
Pada akhirnya,
satu-satunya hal yang bisa kulakukan saat ini hanyalah satu.
Yaitu dengan
mengerahkan seluruh tenagaku untuk menjalani setiap detik dalam kehidupan saat
ini dengan sebaik mungkin, agar tidak ada rasa penyesalan yang tertinggal di
kemudian hari.
"Sudahlah
jangan memikirkan hal-hal tidak penting seperti hak untuk kembali atau apa lah
itu."
Aku sengaja
melontarkannya dengan nada suara yang santai, seolah-olah aku sedang menganggap
remeh masalah tersebut.
"Lagipula
tidak masalah 'kan jika kamu tetap menyukaiku. Selama perasaanku tidak goyah,
tidak akan ada masalah yang timbul, 'kan? Jadi jangan terlalu dipikirkan sampai
seperti itu, sosok yang kusukai itu adalah Hikari. Jangan terlalu membebani
pikiranmu untuk masalah yang seperti itu."
"A-Apa……?
Kalau tentang hal itu sih aku juga sudah tahu, tapi maksudku konfliknya bukan
di bagian itu……"
"Konfliknya
memang di bagian itu, 'kan. Jika itu adalah hal yang bisa membuat Hikari
menjadi cemas, mulai sekarang aku pasti akan menolaknya dengan tegas. Meskipun
sampai beberapa waktu lalu ada beberapa bagian yang sengaja kubiarkan abu-abu,
mulai sekarang aku berniat untuk menarik garis batas yang jelas di antara kita
sebagai seorang teman."
Perasaan
suka yang tumbuh di dalam hati seseorang adalah sesuatu yang tidak akan pernah
bisa dikendalikan oleh siapa pun.
Karena
itulah, ada atau tidaknya rasa cinta di dalam hatimu tidak akan pernah bisa
dijadikan sebagai tolok ukur untuk menentukan 'hak untuk kembali' seperti yang
kamu katakan tadi.
"Apakah
tidak apa-apa……? Jika aku tetap terus menyukai Natsuki."
Miori melontarkan
pertanyaan itu kepadaku. Seolah-olah dia sedang mencoba mencari secercah cahaya
di balik pekatnya kegelapan malam.
"Ehm."
Aku memang tidak
akan pernah bisa membalas perasaan cinta yang dimiliki oleh Miori.
Namun, setidaknya
aku bisa mengizinkannya untuk tetap menyukaiku, dengan cara mengakui keberadaan
dari perasaan cinta yang dia miliki tersebut.
"——Tenang
saja. Karena aku tidak akan pernah jatuh cinta kepadamu."
Aku sudah
memantapkan hatiku untuk terus mempertahankan kebohongan ini sampai ajal
menjemputku nanti.
Bahwa Natsuki
Haibara sama sekali tidak menaruh rasa cinta kepada Miori Motomiya. Dan hal itu
tidak akan pernah berubah sampai kapan pun di masa depan nanti.
"……Terima
kasih."
Meskipun aku baru
saja melontarkan sebuah kalimat penolakan yang sangat kejam, Miori justru
tampak mengembuskan napas lega sembari mengendurkan ekspresi ketegangan di
wajahnya.
Melihat reaksi
Miori yang seperti itu, aku pun sekali lagi kembali mengulurkan tanganku ke
arahnya.
"Untuk saat
ini ayo kita kembali ke markas rahasia dulu. Tubuhmu sudah sangat dingin
sekarang. Ditambah lagi suhu di sekitar sini juga sangat dingin."
Meskipun aku tahu
kalau setiap orang di dalam grup pertemanan kami pasti memiliki pemikiran
mereka masing-masing, kenyataannya kami semua tetap bisa berhubungan dengan
baik hingga saat ini.
Jadi tidak ada
hal yang perlu dikhawatirkan secara berlebihan seperti itu. Terlebih lagi
sampai memikirkan tentang kematian hanya karena terlalu membebani pikiranmu
untuk masalah yang seperti ini.
Memang benar
kalau tindakan yang kamu lakukan kemarin mungkin adalah sebuah kesalahan.
Namun, kamu sudah meminta maaf tentang hal itu dengan benar, 'kan?
Jadi, masalahnya
sudah selesai sampai di situ saja.
"Hei,
Natsuki."
Sembari
memperlihatkan sepasang matanya yang sembap akibat menangis, Miori tampak
menyunggingkan seulas senyum tipis di wajahnya.
"Jika
perasaan cinta ini sudah lenyap sepenuhnya nanti, apakah kita berdua bisa
kembali menjadi teman dekat seperti dulu lagi?"
"Bukannya aku mau jahat kepadamu, ya, tapi aku sama sekali tidak memiliki niat untuk berhenti menjadi temanmu, tahu. Jadi untuk urusan bagaimana cara melenyapkan perasaanmu itu, silakan kamu urus saja sendiri."
"Kamu ini
jahat sekali, ya. Kamu
menyuruhku tetap berteman denganmu sambil memendam perasaan ini?"
"Agar
masa mudaku bisa sewarna pelangi, aku membutuhkanmu."
Sejak
tadi, aku hanya terus memaksakan kehendak pribadiku sendiri.
Mendengar
permintaanku yang egois itu, Miori pun tersenyum pasrah.
"……Baiklah.
Kalau begitu, tunggulah sampai kebohonganku tidak lagi menjadi sebuah
kebohongan."
Miori
melangkah melewatiku, mencoba menyembunyikan kakinya yang gemetaran.
"Ah, benar
juga. Boleh aku minta satu hal?"
Di tengah
hujan yang kian menderu, kami berdua pun berjalan pulang.
"……Apa?
Kalau kamu merengek ingin mati lagi, terpaksa aku akan menyeretmu pulang."
"A-Aku
tidak merengek, tahu…… Lagipula,
kamu juga sama-sama egois."
Saat dia berkata
begitu, aku tidak bisa membantahnya.
Aku sadar betul
bahwa aku sedang membujuknya dengan cara yang agak tidak masuk akal.
"Kamu masih
ingat? Janji kita yang dulu."
"……Janji
bahwa saat kamu menangis, aku akan menuruti salah satu permintaanmu?"
Mendengar kata
janji, hal itulah yang pertama kali terlintas di benakku.
Itu adalah janji
yang susah payah kupikirkan setelah berbagai uji coba demi membuat Miori
berhenti menangis.
Kalau
dipikir-pikir sekarang, isinya lumayan tidak adil karena bebanku terlalu berat.
"Wah,
ternyata kamu masih ingat dengan jelas. Karena kamu mengatakannya, aku jadi
bisa menangis dengan santai di depanmu. Padahal aku hampir tidak pernah menangis di
depan orang lain."
Informasi
yang sungguh tidak penting. Harusnya
kamu tidak usah mengatakannya sekarang……
Melihat
ekspresiku yang serba salah, Miori kembali bersuara.
"—Karena
itu, turuti permintaanku untuk satu hari saja."
* (Hikari Hoshimiya)
Setelah
menyatukan cerita dari semua orang, aku mulai memahami situasi yang sedang
dialami Miori-chan.
Miori-chan
berpacaran dengan Reita-kun saat dia masih menyukai Natsuki-kun, dan Reita-kun
pun mengetahui hal itu. Dia sudah berusaha keras untuk bisa menyukai Reita-kun
yang telah menyatakan cinta kepadanya.
Namun, ada momen
di mana dia kalah oleh perasaannya sendiri.
Di saat dia sudah
cukup menderita, rumor itu beredar, ditambah lagi perlakuan dari Hasegawa-san
serta apa yang kukatakan kepadanya. Semua itu seolah memojokkannya, jadi aku
sangat paham jika dia ingin melarikan diri.
"……Pokoknya,
kita harus bergegas mencarinya."
Uta-chan
menggumamkan hal itu, dan aku pun mengangguk setuju. Aku sangat mengkhawatirkan
kondisi mental Miori-chan.
Reita-kun
dan Natsuki-kun memang sudah bergerak mencarinya, tetapi masih belum ada kabar.
"Mari
kita daftar tempat-tempat yang mencurigakan, lalu kita bagi tugas untuk
mencarinya."
Serika-chan
mencoba mengatur rencana kami.
Tiga
orang yang bisa diandalkan dalam situasi ini adalah Yamano-san, Serika-chan,
dan Uta-chan yang memang paling dekat dengannya.
Mereka
bertiga berdiskusi sambil melihat aplikasi peta di ponsel masing-masing, lalu
mengajukan beberapa lokasi potensial.
……Namun pada
akhirnya, kami sama sekali tidak memiliki petunjuk yang pasti.
Tentu saja aku
berniat untuk mencarinya sekuat tenaga. Hanya saja, jika dia pergi terlalu
jauh, kami pasti tidak akan bisa menemukannya.
Meski begitu,
jika itu Natsuki-kun, aku yakin dia pasti bisa menemukannya.
"……Kuharap
kamu berhasil, Natsuki-kun."
Kamu tidak perlu
mengkhawatirkanku, aku tidak apa-apa.
Untuk saat ini
saja, aku ingin kamu tetap berada di sisi Miori-chan untuk menopangnya.
*
Untuk sementara,
kami kembali ke pondok telantar yang menjadi markas rahasia kami.
Begitu melangkah
ke dalam pondok, aku mengembuskan napas lega sementara di luar sana hujan lebat
masih terus mengguyur tanpa henti.
Pakaianku sudah
basah kuyup dan berlumuran lumpur, tampaknya sudah tidak bisa diselamatkan lagi
meski dicuci nanti.
Rasa lembap ini
benar-benar tidak nyaman, dan yang paling penting, tubuhku mulai kedinginan
sehingga aku memutuskan untuk melepas kausku.
"T-Tunggu…… Jangan tiba-tiba telanjang dada begitu,
dong."
Miori
yang tampak terkejut langsung mengambil jarak dariku.
"Hanya
bagian atas saja tidak apa-apa, kan. Memakai baju basah begini malah membuatku
makin kedinginan."
"Yah, benar juga…… Baiklah. Aku tinggal tidak melihat ke arahmu saja,
kan?"
Miori
membelakangiku, lalu duduk meringkuk di atas sebuah kotak kayu.
Seragam
sekolah Miori pun sama denganku, basah kuyup dan penuh dengan noda lumpur.
Tubuhnya
gemetar kecil, dia pasti kedinginan karena suhu udara saat ini berkisar di
angka sepuluh derajat. Musim dingin sudah semakin dekat.
Namun,
kami tidak memiliki alat apa pun untuk menyalakan api, jadi kami terpaksa
bertahan di sini sampai hujan sedikit mereda.
"Kira-kira
hujannya akan reda tidak, ya?"
"……Sepertinya
masih akan terus turun untuk beberapa saat ke depan."
Ketika aku
memeriksa ramalan cuaca di ponsel, layar menampilkan informasi seperti itu.
Koneksinya sangat
lambat karena kami berada di pedalaman gunung, indikator sinyalnya bahkan hanya
menyala satu batang.
Meski begitu, aku
bersyukur karena setidaknya ponsel ini masih bisa terhubung, jadi aku bisa
memberi kabar kepada yang lain.
"Miori,
hubungi keluargamu sekarang. Polisi bahkan sudah turun tangan dan situasinya
menjadi gempar."
"Eh…… B-Benarkah? Maaf…… Benar juga, ya, harusnya aku
memikirkan hal itu……"
Dia pasti
benar-benar sedang frustrasi sampai hal sejelas itu pun luput dari pikirannya.
"……Aku
mengerti. Aku akan menelepon Ibu."
"Aku
akan mengabari anak-anak yang lain dulu. Nanti kamu harus minta maaf dengan benar karena sudah membuat mereka
khawatir."
Miori
mengangguk dengan ekspresi bersalah.
Setelah
itu, dia mulai menghubungi ibunya melalui ponsel.
Aku
segera mengirim pesan ke grup obrolan kami yang berisi enam orang, 'Miori sudah
ketemu. Untuk sekarang dia baik-baik saja.' Selain itu, aku juga mengirimkan
pesan yang sama ke obrolan pribadi Serika.
Dalam
sekejap pesan itu langsung terbaca, dan ponselku berdering karena panggilan
dari Hikari.
"Halo."
"Natsuki-kun!?
Miori-chan sudah ketemu……!?"
"Ya,
benar. Dia ada di sampingku sekarang dan sedang menelepon ibunya."
"S-Syukurlah…… Sekarang kalian ada di mana?"
"Agak sulit menjelaskannya, tapi kami ada di area
pegunungan dekat daerah asal kita dulu."
"Di-Di dalam gunung……? Kenapa bisa ada di tempat
seperti itu?"
"Aku juga tidak tahu, nanti tanyakan saja langsung pada
Miori. Yang penting dia selamat. Sekarang hujan masih sangat deras jadi kami
belum bisa bergerak, tapi kami akan langsung pulang begitu hujannya mereda. Sampaikan juga pada yang lain—"
"—Semua
orang ada di sini kok, jadi tidak apa-apa. Mereka semua mendengarnya."
Dari seberang
telepon, aku bisa mendengar beberapa suara yang mengembuskan napas lega, itu
adalah suara Uta dan Serika.
Tampaknya mereka
semua sedang berkumpul di tempat yang sama karena mengkhawatirkan Miori.
"……Bagaimana
keadaan Miori-chan sekarang?"
"Tadi
sempat agak tidak stabil, tapi sekarang sudah tenang. Jadi jangan khawatir
lagi."
Sambil
berkata begitu, aku melirik ke arah Miori dan mata kami pun saling bertatapan,
tampaknya pembicaraannya dengan sang ibu sudah selesai.
"Boleh
aku bicara dengannya?"
"……Tentu.
Hikari, ini Miori mau bicara."
Aku
menyerahkan ponselku kepada Miori, dan tangannya tampak gemetar saat
menerimanya. Sepertinya itu bukan karena dingin.
Karena
itu, aku menepuk punggung Miori sambil berkata, "Tenang saja."
"Aduh!?"
Suara Miori yang terkejut bergema di dalam pondok.
"M-Miori-chan!?
Ada apa!?"
Hikari
yang berada di seberang telepon juga ikut berteriak panik mendengar suara itu.
Miori
langsung memelototiku dengan tatapan kesal, sementara aku hanya bisa
mengedikkan bahu.
"Cepat
bicara dengannya."
"……Tidak
usah disuruh juga aku tahu."
Miori
menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan dirinya.
"……Anu,
semuanya ada di sana, kan?"
"Iya, kami
semua ada di sini! Syukurlah…… Miori-chan. Maaf ya, aku waktu itu—"
"Tunggu dulu, Hikari-chan. Tolong biarkan aku yang
bicara duluan."
Setelah itu, meski tahu mereka tidak bisa melihatnya melalui
telepon, Miori tetap menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"—Semuanya,
maafkan aku karena sudah membuat kalian khawatir."
Miori meminta
maaf dengan nada suara yang tulus lalu menunggu reaksi dari mereka, menciptakan
keheningan sesaat di seberang sana.
"Memang
dasar! Miorin bodoh! Dasar perempuan labil yang sok tegar!"
"H-Hei, Uta.
Bukankah perkataanmu itu agak keterlaluan……"
"Kalau aku
tidak bicara begini, kekesalanku tidak akan hilang, tahu!"
"Miori. Yang
penting kamu selamat. Jangan sampai masuk angin, ya."
"Fufu, meski
nadanya terdengar sedatar itu, sebenarnya Hondo-san yang paling
mengkhawatirkanmu, lho."
"……Yuino. Jangan mengatakan hal yang tidak perlu."
"Miori-chan. Nanti aku pasti akan minta maaf dengan
benar kepadamu. Jadi, cepatlah pulang, ya."
Miori tampak kewalahan menerima rentetan perkataan yang
datang bertubi-tubi seperti ombak itu.
Uta mengomel dengan cara yang sangat blak-blakan sampai
membuatku tidak bisa menahan tawa.
Setelah sempat terpaku sesaat, perlahan ekspresi wajah Miori
mulai melembut.
Melihat kondisinya yang sekarang, sepertinya dia sudah tidak
perlu dikhawatirkan lagi. Ketika aku
melihat ke luar, hujan pun sudah mulai mereda.
Langit masih terlihat mendung, jadi ini mungkin hanya reda
untuk sementara…… Tapi inilah kesempatan kami untuk pulang.
Aku menunggu momen yang pas saat obrolan Miori dan yang lain
mulai mereda, lalu memanggilnya.
"Ayo jalan,
Miori. Mumpung hujannya reda."
"Iya. Kalau begitu semuanya…… Sampai ketemu lagi di sekolah."



Post a Comment