NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Haibara-kun no Tsuyokute Seishun New Game Volume 6 Interlude II

Interlude 2


"——Lagipula, kamu tidak mau berakhir menyesal, 'kan?"

Begitu kata-kata itu terucap, senyum getir tanpa sadar tersungging di bibirku.

"……Bercanda, kok. Rasanya aneh ya, hal ini malah dikatakan oleh orang yang penuh dengan penyesalan sepertiku."

Niat hati ingin memberi nasihat kepada Natsuki, tetapi kalimat itu justru berbalik menampar diriku sendiri.

Benar-benar tidak tahu diri. Padahal aku sendiri adalah orang yang selalu mengejar bayang-bayang masa lalu.

Namun, aku tidak ingin kamu berakhir menjadi seperti diriku.

Aku ingin kamu berjalan lurus ke depan, menuju masa muda penuh warna pelangi yang sejak awal kamu impikan.

Meskipun sebagai gantinya, masa mudaku harus ternoda oleh warna abu-abu yang kelam.

"……Boleh aku bertanya, sebenarnya apa yang terjadi?"

Natsuki bertanya sambil memperhatikan ekspresi wajahku. Aku sedikit terkejut.

Si cowok peka-batu ini rupanya menyadari kalau ada yang aneh dengan sikapku. Namun, dia tetap tidak peka terhadap alasan di baliknya.

Rasanya aku ingin menjerit dan memberi tahu kalau ini semua adalah salahmu.

Itu karena aku menyukaimu. Karena aku begitu mencintaimu sampai rasanya mau gila, hingga berada di sisimu saja terasa sangat menyiksa.

Sebab, posisi di sebelahmu kini bukan lagi milikku, melainkan sudah direbut oleh gadis lain.

……Di saat seperti ini, mustahil bagiku untuk mengungkapkan perasaan ini.

"Aku tidak akan memberi tahu kalau kepadamu. Tapi yang jelas, ini semua salahmu."

"Eeeh!?"

Mata Natsuki membelalak karena terkejut. Tampaknya dia sama sekali tidak menyangka kalau dirinyalah yang menjadi penyebabnya.

Rasain. Kuharap dia bisa sedikit merenungkan perilakunya selama ini.

Aku pun sebenarnya tidak pernah sudi untuk jatuh cinta kepada orang sepertimu. Jadi, kalau aku sampai menderita seperti sekarang, ini memang sepenuhnya salahmu.

"Sudah waktunya kita pulang."

"Benar juga. Kalau terus begini, kita bisa ketinggalan kereta terakhir."

"Tapi, aku capek banget sampai tidak bisa berdiri, nih."

……Meski suasananya hampir berubah menjadi suram, syukurlah aku masih bisa menutupinya dengan baik.

Aku pun bangkit berdiri sambil menatap langit malam yang begitu cerah, berbanding terbalik dengan kekacauan yang ada di dalam hatiku.

Tiba-tiba, wajah Natsuki masuk ke dalam jarak pandangku.

Dia sedang menatapku dengan ekspresi wajah yang seolah berkata, 'Ah, dasar merepotkan'.

Seketika dadaku terasa begitu sesak hingga tak tertahankan. Aku tidak ingin melepaskan tempat ini.

Aku ingin kamu terus menatapku seperti ini selamanya.

——Aku tidak ingin kamu pergi ke tempat gadis itu.

"Eh……?"

Itu adalah kalimat sandiwara yang sangat kentara. Sampai-sampai aku sendiri tidak percaya kata-kata itu bisa keluar dari mulutku sendiri.

Mari kita berpura-pura kalau kakiku tersandung. Kupikir, alasan itu bisa menjadi sebuah pembenaran.

Aku langsung menjatuhkan diri ke pelukan Natsuki, lalu melingkarkan kedua lenganku di punggungnya.

Aku memang sudah tahu, tetapi saat merasakannya langsung, tubuhnya kini jauh lebih besar daripada dulu. Sebab dulu, Natsuki bertubuh lebih kecil dariku.

Aku memeluknya dengan erat. Tubuhnya terasa tegap dengan bidang dada yang keras.

Perutnya yang dulu terasa lembut saat zaman SMP kini sudah tidak berbekas sama sekali. Tubuh yang bisa disebut sebagai kristalisasi dari hasil kerja kerasnya ini terasa begitu penuh kehangatan.

Lengan Natsuki bergerak menyentuh punggungku.

Meskipun aku tahu dia melakukan itu murni hanya untuk menopang tubuhku yang hampir jatuh, hatiku tetap saja melambung tinggi. Jantungku berdegup kencang bagai sedang menari-nari.

"M-Maaf…… Kakiku mendadak susah digerakkan……"

Aku sudah tidak mampu lagi mengendalikan perasaanku yang kian membubung.

"Makanya, tadi 'kan sudah kubilang buat berhenti di tengah jalan."

"Aku tidak mau. Mana mungkin aku mau berhenti saat sedang kalah begitu."

"Kamu benar-benar tidak mau kalah dari dulu, ya……"

Kumohon. Tolong maafkan aku.

Aku akan segera kembali menjadi diriku yang seperti biasanya, jadi untuk saat ini saja——

"……Hei, Miori?"

——Kuharap momen satu detik ini bisa terus bertahan selamanya.

"……Kamu kenapa?"

Puk, puk. Dia menepuk-nepuk kepalku dengan lembut.

Kenapa kamu malah melakukan hal seperti itu?

Padahal biasanya peka-batu, tetapi di saat-saat seperti ini, kamu selalu tahu apa yang sedang kuinginkan.

……Benar-benar bikin kesal, tahu.

"……Hei, Natsuki."

Bodoh. Cowok peka-batu. Padahal baru bertingkah keren pas masuk SMA, tapi gayanya sudah selangit.

Ada banyak sekali kata-kata umatan yang terlintas di kepalaku, tetapi kalimat yang keluar dari mulutku justru hal yang sepenuhnya berbeda.

"Kalau aku bilang…… aku menyukaimu, apa yang akan kamu lakukan?"

Karena sedang memeluknya, aku bisa merasakannya dengan jelas. Tubuh Natsuki langsung menegang seketika karena saking terkejutnya.

Keheningan sempat menyelimuti kami selama beberapa saat.

Hanya jantungku yang berdegup dengan begitu kencang, sementara Natsuki hanya bisa terdiam dalam kebingungan.

Seiring berjalannya waktu, akal sehatku mulai kembali.

Rasanya seluruh darah di tubuhku seakan tersedot turun seketika.

——Sebenarnya, apa yang sedang kulakukan sekarang?

"Ahaha! Kenapa kamu malah menganggapnya serius begitu? Ya jelas cuma bercanda, lah!"

Aku langsung melepaskan pelukanku dari Natsuki dengan cepat, lalu buru-buru melontarkan kalimat bernada candaan untuk mengalihkan suasana.

"……Berisik. Biarpun cuma bercanda, aku 'kan bingung harus merespons bagaimana."

Natsuki tampak menghela napas lega.

"Ayo pulang! Kalau tidak cepat, kita benar-benar bisa ketinggalan kereta terakhir!"

Aku melarikan diri. Berpura-pura berjalan cepat menuju stasiun.

Saat ini, aku sama sekali tidak sanggup untuk menghadapkan wajahku ke arah Natsuki.

Aku ingin menjaga jarak sejauh mungkin dari Natsuki sekarang. Agar aku tidak mengulangi tindakan bodoh seperti ini lagi.

Aku harus menyegel perasaan cinta ini dengan jauh lebih rapat dan kuat.

Ah, kenapa perasaan seperti ini harus ada di dalam hatiku?

Seharusnya aku tidak perlu jatuh cinta padanya.

Jika saja aku tidak jatuh cinta, aku tidak perlu menderita seperti ini.

Aku pasti bisa mendoakan kebahagiaanmu bersama gadis itu dengan tulus dari lubuk hatiku yang terdalam.

——Dan aku tidak perlu terus-menerus berpikir untuk kembali ke masa-masa itu.

Agar air mata yang berlinang ini tidak terlihat oleh Natsuki, aku terus berlari kencang menuju ke arah stasiun.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close