Interlude 2
"——Lagipula, kamu tidak mau berakhir menyesal, 'kan?"
Begitu
kata-kata itu terucap, senyum getir tanpa sadar tersungging di bibirku.
"……Bercanda,
kok. Rasanya aneh ya, hal ini malah dikatakan oleh orang yang penuh dengan
penyesalan sepertiku."
Niat hati
ingin memberi nasihat kepada Natsuki, tetapi kalimat itu justru berbalik
menampar diriku sendiri.
Benar-benar
tidak tahu diri. Padahal aku sendiri adalah orang yang selalu mengejar
bayang-bayang masa lalu.
Namun,
aku tidak ingin kamu berakhir menjadi seperti diriku.
Aku ingin
kamu berjalan lurus ke depan, menuju masa muda penuh warna pelangi yang sejak
awal kamu impikan.
Meskipun
sebagai gantinya, masa mudaku harus ternoda oleh warna abu-abu yang kelam.
"……Boleh
aku bertanya, sebenarnya apa yang terjadi?"
Natsuki
bertanya sambil memperhatikan ekspresi wajahku. Aku sedikit terkejut.
Si cowok
peka-batu ini rupanya menyadari kalau ada yang aneh dengan sikapku. Namun, dia
tetap tidak peka terhadap alasan di baliknya.
Rasanya
aku ingin menjerit dan memberi tahu kalau ini semua adalah salahmu.
Itu karena aku
menyukaimu. Karena aku begitu mencintaimu sampai rasanya mau gila, hingga
berada di sisimu saja terasa sangat menyiksa.
Sebab, posisi di
sebelahmu kini bukan lagi milikku, melainkan sudah direbut oleh gadis lain.
……Di saat seperti
ini, mustahil bagiku untuk mengungkapkan perasaan ini.
"Aku tidak
akan memberi tahu kalau kepadamu. Tapi yang jelas, ini semua salahmu."
"Eeeh!?"
Mata Natsuki
membelalak karena terkejut. Tampaknya dia sama sekali tidak menyangka kalau
dirinyalah yang menjadi penyebabnya.
Rasain. Kuharap
dia bisa sedikit merenungkan perilakunya selama ini.
Aku pun
sebenarnya tidak pernah sudi untuk jatuh cinta kepada orang sepertimu. Jadi,
kalau aku sampai menderita seperti sekarang, ini memang sepenuhnya salahmu.
"Sudah
waktunya kita pulang."
"Benar juga.
Kalau terus begini, kita bisa ketinggalan kereta terakhir."
"Tapi,
aku capek banget sampai tidak bisa berdiri, nih."
……Meski
suasananya hampir berubah menjadi suram, syukurlah aku masih bisa menutupinya
dengan baik.
Aku pun
bangkit berdiri sambil menatap langit malam yang begitu cerah, berbanding
terbalik dengan kekacauan yang ada di dalam hatiku.
Tiba-tiba,
wajah Natsuki masuk ke dalam jarak pandangku.
Dia
sedang menatapku dengan ekspresi wajah yang seolah berkata, 'Ah, dasar
merepotkan'.
Seketika
dadaku terasa begitu sesak hingga tak tertahankan. Aku tidak ingin melepaskan
tempat ini.
Aku ingin
kamu terus menatapku seperti ini selamanya.
——Aku
tidak ingin kamu pergi ke tempat gadis itu.
"Eh……?"
Itu adalah
kalimat sandiwara yang sangat kentara. Sampai-sampai aku sendiri tidak percaya
kata-kata itu bisa keluar dari mulutku sendiri.
Mari kita
berpura-pura kalau kakiku tersandung. Kupikir, alasan itu bisa menjadi sebuah
pembenaran.
Aku langsung
menjatuhkan diri ke pelukan Natsuki, lalu melingkarkan kedua lenganku di
punggungnya.
Aku memang sudah
tahu, tetapi saat merasakannya langsung, tubuhnya kini jauh lebih besar
daripada dulu. Sebab dulu, Natsuki bertubuh lebih kecil dariku.
Aku memeluknya
dengan erat. Tubuhnya
terasa tegap dengan bidang dada yang keras.
Perutnya yang
dulu terasa lembut saat zaman SMP kini sudah tidak berbekas sama sekali. Tubuh
yang bisa disebut sebagai kristalisasi dari hasil kerja kerasnya ini terasa
begitu penuh kehangatan.
Lengan
Natsuki bergerak menyentuh punggungku.
Meskipun
aku tahu dia melakukan itu murni hanya untuk menopang tubuhku yang hampir
jatuh, hatiku tetap saja melambung tinggi. Jantungku berdegup kencang
bagai sedang menari-nari.
"M-Maaf…… Kakiku mendadak susah digerakkan……"
Aku sudah tidak mampu lagi mengendalikan perasaanku yang
kian membubung.
"Makanya, tadi 'kan sudah kubilang buat berhenti di
tengah jalan."
"Aku tidak mau. Mana mungkin aku mau berhenti saat
sedang kalah begitu."
"Kamu benar-benar tidak mau kalah dari dulu, ya……"
Kumohon. Tolong maafkan aku.
Aku akan segera kembali menjadi diriku yang seperti
biasanya, jadi untuk saat ini saja——
"……Hei,
Miori?"
——Kuharap momen
satu detik ini bisa terus bertahan selamanya.
"……Kamu
kenapa?"
Puk, puk. Dia menepuk-nepuk kepalku dengan lembut.
Kenapa kamu malah
melakukan hal seperti itu?
Padahal biasanya
peka-batu, tetapi di saat-saat seperti ini, kamu selalu tahu apa yang sedang
kuinginkan.
……Benar-benar
bikin kesal, tahu.
"……Hei,
Natsuki."
Bodoh. Cowok
peka-batu. Padahal baru bertingkah keren pas masuk SMA, tapi gayanya sudah
selangit.
Ada banyak sekali
kata-kata umatan yang terlintas di kepalaku, tetapi kalimat yang keluar dari
mulutku justru hal yang sepenuhnya berbeda.
"Kalau aku bilang…… aku menyukaimu, apa yang akan kamu
lakukan?"
Karena sedang memeluknya, aku bisa merasakannya dengan
jelas. Tubuh Natsuki langsung menegang seketika karena saking terkejutnya.
Keheningan sempat
menyelimuti kami selama beberapa saat.
Hanya jantungku
yang berdegup dengan begitu kencang, sementara Natsuki hanya bisa terdiam dalam
kebingungan.
Seiring
berjalannya waktu, akal sehatku mulai kembali.
Rasanya seluruh
darah di tubuhku seakan tersedot turun seketika.
——Sebenarnya,
apa yang sedang kulakukan sekarang?
"Ahaha!
Kenapa kamu malah menganggapnya serius begitu? Ya jelas cuma bercanda,
lah!"
Aku langsung melepaskan pelukanku dari Natsuki dengan cepat,
lalu buru-buru melontarkan kalimat bernada candaan untuk mengalihkan suasana.
"……Berisik.
Biarpun cuma bercanda, aku 'kan bingung harus merespons bagaimana."
Natsuki tampak
menghela napas lega.
"Ayo pulang!
Kalau tidak cepat, kita benar-benar bisa ketinggalan kereta terakhir!"
Aku melarikan
diri. Berpura-pura berjalan cepat menuju stasiun.
Saat ini, aku
sama sekali tidak sanggup untuk menghadapkan wajahku ke arah Natsuki.
Aku ingin menjaga
jarak sejauh mungkin dari Natsuki sekarang. Agar aku tidak mengulangi tindakan bodoh
seperti ini lagi.
Aku harus
menyegel perasaan cinta ini dengan jauh lebih rapat dan kuat.
Ah, kenapa
perasaan seperti ini harus ada di dalam hatiku?
Seharusnya aku
tidak perlu jatuh cinta padanya.
Jika saja aku
tidak jatuh cinta, aku tidak perlu menderita seperti ini.
Aku pasti bisa
mendoakan kebahagiaanmu bersama gadis itu dengan tulus dari lubuk hatiku yang
terdalam.
——Dan aku tidak
perlu terus-menerus berpikir untuk kembali ke masa-masa itu.
Agar air mata
yang berlinang ini tidak terlihat oleh Natsuki, aku terus berlari kencang
menuju ke arah stasiun.



Post a Comment