NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Haibara-kun no Tsuyokute Seishun New Game Volume 6 Interlude III

Interlude 3


——Bagi diriku yang sekarang, ini adalah cerita dari sepuluh tahun yang lalu.

Karena itulah ingatanku sudah samar, dan aku hanya bisa mengingatnya sepotong-sepotong.

Meski begitu, ada beberapa momen yang masih terekam jelas dalam benakku.

Salah satunya adalah momen ketika Miori mulai menjaga jarak dariku.

Kalau tidak salah, waktu itu musim panas saat kami kelas enam SD. Beberapa bulan sebelumnya, Takuro pindah sekolah, dan Shuto mulai sering bermain dengan teman-teman yang lain.

Meskipun Shuto maupun Miori tidak pernah mengatakannya secara langsung, aku tahu kalau Shuto menyukai Miori. Jadi, aku bisa menebak apa yang sebenarnya terjadi.

Pada saat itulah, aku mulai membenci hal yang bernama cinta.

Kepindahan Takuro memang tidak bisa dihindari, tetapi renggangnya hubungan kami dengan Shuto sepenuhnya terjadi karena masalah percintaan.

Kelompok bermain kami yang tadinya begitu menyenangkan akhirnya bubar, dan menyisakan aku serta Miori yang hanya tinggal bermain berdua saja.

Hal itu sebenarnya tetap terasa menyenangkan, tetapi rasanya tidak bisa se-seru saat kami berempat masih bersama dulu.

Suka atau tidak, kehadiran kami berdua memang cukup mencolok. Alhasil, sejak kami sering bermain berdua, anak-anak seangkatan mulai sering menggoda kami.

Mereka sering menyoraki kami, menggoda kami mesra, atau bertanya apakah kami sedang berpacaran.

Meskipun aku tahu itu semua cuma bercanda, tetap saja rasanya tidak terlalu nyaman.

Hubungan kami tidak seperti itu. Kami tidak akan pernah menjadi sepasang kekasih.

Sampai kapan pun, kami akan terus menjadi teman. Karena menurutku, itulah masa depan yang paling menyenangkan.

Namun, tepat di saat aku sudah memantapkan keputusan itu——Miori justru malah menjauh dariku.

Tanpa sepatah kata pun, dia mulai asyik bermain dengan kelompok perempuannya. Aku ditinggalkan seorang diri.

Bagi diriku yang saat itu masih kecil, hal tersebut memberikan syok yang teramat sangat hingga tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Sejak saat itu, aku tidak pernah lagi menaruh harapan pada sebuah hubungan pertemanan. Aku bahkan tidak memiliki gairah untuk bergaul dengan anak-anak yang lain.

Dengan hubungan yang canggung bersama Miori, aku melewati kelulusan SD hingga akhirnya menjadi seorang murid SMP.

Aku tidak mencari teman, dan memilih untuk menghabiskan waktu sendirian.

Meski begitu, pandangan mataku selalu tertuju pada Miori. Dia adalah sosok yang sangat populer di sekolah.

Mungkin karena dulu jarak kami terlalu dekat, aku sampai tidak menyadari kalau Miori sebenarnya adalah seorang gadis yang sangat cantik.

Dia tampak menghabiskan hari-harinya dengan bahagia sambil dikelilingi oleh banyak orang.

Padahal aku sendiri yang memilih untuk menyendiri, tetapi aku justru merasa cemburu kepada Miori.

……Kurasa, sebenarnya aku menyukai Miori tanpa pernah kusadari sendiri.

Namun, karena rasa benciku yang teramat sangat pada hal berbau romansa, aku selalu berusaha keras untuk menyangkal perasaan tersebut.

Setelah itu, Miori mulai sering mencoba mengajakku mengobrol lagi.

Sejujurnya aku merasa senang, tetapi di sisi lain ada juga perasaan kesal karena menganggapnya sudah terlambat.

Ditambah lagi, karena saat itu sifatku sedang egois dan keras kepala, aku hanya merespons sewajarnya saat diajak bicara, tanpa pernah mau memulai obrolan dari diriku sendiri.

Aku sedang berlagak menjadi sosok penyendiri yang keren.

Sudah pasti, aku menjadi anak yang terkucilkan di sekolah.

Tindakan Miori yang terus mengajaku mengobrol pun lama-lama mulai memperburuk posisinya sendiri di kelas.

"Kamu lebih baik jangan berada di dekat orang sepertiku lagi."

Terdengar sangat keren jika aku menyebut penolakanku saat itu demi kebaikan Miori sendiri.

Namun, kenyataannya tidak seperti itu.

Aku menolaknya murni karena aku merasa iri melihat Miori yang bisa bersinar terang di antara semua orang.

Padahal aku sendiri yang memilih untuk sendirian, benar-benar cowok yang paling bajingan. Aku tidak pernah ingin menjadi orang yang sekoreng ini.

Dari sanalah, aku akhirnya menyadari apa yang sebenarnya kuinginkan.

Aku juga ingin menjalani masa muda yang bersinar terang seperti yang dirasakan oleh Miori.

Mengatakan kalau sendirian saja sudah cukup, setidaknya bagi diriku saat itu, hanyalah sebuah gertakan sambal demi menutupi kelemahanku.

Karena itulah, aku memutuskan untuk melakukan debut saat masuk SMA. Demi mengubah diriku, dan demi meraih masa muda penuh warna pelangi yang kuimpikan.

Walaupun pada akhirnya rencana itu gagal total, dan aku malah harus menjalani masa muda yang kelabu.

Masa muda penuh warna pelangi yang selama ini menjadi idealisme bagiku, sebenarnya adalah hari-hari yang sedang dilewati oleh Miori saat ini.

——Selama ini, aku selalu mengagumi sosok Miori Motomiya.

Dengan mengubah diriku sendiri, aku ingin menjadi sosok manusia yang pantas untuk berdiri dengan dada tegap di samping Miori.

Itulah keinginan paling pertama yang terbersit di dalam hatiku saat aku mendambakan masa muda penuh warna pelangi.

Namun realitas yang kuhadapi justru masa muda kelabu. Hatiku patah hingga akhirnya menyerah, dan mengubur keinginan itu dalam-dalam di lubuk hati yang paling dasar.

Hanya penyesalan yang tersisa, dan perasaan yang menjadi titik awal segalanya itu pun perlahan mulai terkikis dan menghilang seiring berjalannya waktu.

Namun, entah karena takdir atau apa, kini aku diberikan kesempatan untuk mengulang kembali masa mudaku.

Mana mungkin aku bisa sampai ke tempat tujuan jika aku sendiri melupakan tempat pertama yang ingin kutuju.

Di dalam masa muda pelangiku, kehadiran Miori Motomiya adalah hal yang mutlak.

——Sebab, tempat di mana Miori berada, itulah yang kusebut sebagai masa muda penuh warna pelangi.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close