Interlude 3
——Bagi diriku yang sekarang, ini adalah cerita dari sepuluh
tahun yang lalu.
Karena itulah ingatanku sudah samar, dan aku hanya bisa
mengingatnya sepotong-sepotong.
Meski begitu, ada beberapa momen yang masih terekam jelas
dalam benakku.
Salah satunya
adalah momen ketika Miori mulai menjaga jarak dariku.
Kalau tidak
salah, waktu itu musim panas saat kami kelas enam SD. Beberapa bulan
sebelumnya, Takuro pindah sekolah, dan Shuto mulai sering bermain dengan
teman-teman yang lain.
Meskipun Shuto
maupun Miori tidak pernah mengatakannya secara langsung, aku tahu kalau Shuto
menyukai Miori. Jadi, aku bisa menebak apa yang sebenarnya terjadi.
Pada saat itulah,
aku mulai membenci hal yang bernama cinta.
Kepindahan Takuro
memang tidak bisa dihindari, tetapi renggangnya hubungan kami dengan Shuto
sepenuhnya terjadi karena masalah percintaan.
Kelompok bermain
kami yang tadinya begitu menyenangkan akhirnya bubar, dan menyisakan aku serta
Miori yang hanya tinggal bermain berdua saja.
Hal itu
sebenarnya tetap terasa menyenangkan, tetapi rasanya tidak bisa se-seru saat
kami berempat masih bersama dulu.
Suka atau tidak,
kehadiran kami berdua memang cukup mencolok. Alhasil, sejak kami sering bermain berdua,
anak-anak seangkatan mulai sering menggoda kami.
Mereka
sering menyoraki kami, menggoda kami mesra, atau bertanya apakah kami sedang
berpacaran.
Meskipun
aku tahu itu semua cuma bercanda, tetap saja rasanya tidak terlalu nyaman.
Hubungan
kami tidak seperti itu. Kami
tidak akan pernah menjadi sepasang kekasih.
Sampai kapan pun,
kami akan terus menjadi teman. Karena menurutku, itulah masa depan yang paling
menyenangkan.
Namun, tepat di
saat aku sudah memantapkan keputusan itu——Miori justru malah menjauh dariku.
Tanpa sepatah
kata pun, dia mulai asyik bermain dengan kelompok perempuannya. Aku
ditinggalkan seorang diri.
Bagi diriku yang
saat itu masih kecil, hal tersebut memberikan syok yang teramat sangat hingga
tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Sejak saat itu,
aku tidak pernah lagi menaruh harapan pada sebuah hubungan pertemanan. Aku
bahkan tidak memiliki gairah untuk bergaul dengan anak-anak yang lain.
Dengan hubungan
yang canggung bersama Miori, aku melewati kelulusan SD hingga akhirnya menjadi
seorang murid SMP.
Aku tidak mencari
teman, dan memilih untuk menghabiskan waktu sendirian.
Meski begitu,
pandangan mataku selalu tertuju pada Miori. Dia adalah sosok yang sangat populer di
sekolah.
Mungkin
karena dulu jarak kami terlalu dekat, aku sampai tidak menyadari kalau Miori
sebenarnya adalah seorang gadis yang sangat cantik.
Dia
tampak menghabiskan hari-harinya dengan bahagia sambil dikelilingi oleh banyak
orang.
Padahal
aku sendiri yang memilih untuk menyendiri, tetapi aku justru merasa cemburu
kepada Miori.
……Kurasa,
sebenarnya aku menyukai Miori tanpa pernah kusadari sendiri.
Namun, karena
rasa benciku yang teramat sangat pada hal berbau romansa, aku selalu berusaha
keras untuk menyangkal perasaan tersebut.
Setelah itu,
Miori mulai sering mencoba mengajakku mengobrol lagi.
Sejujurnya aku
merasa senang, tetapi di sisi lain ada juga perasaan kesal karena menganggapnya
sudah terlambat.
Ditambah lagi,
karena saat itu sifatku sedang egois dan keras kepala, aku hanya merespons
sewajarnya saat diajak bicara, tanpa pernah mau memulai obrolan dari diriku
sendiri.
Aku
sedang berlagak menjadi sosok penyendiri yang keren.
Sudah
pasti, aku menjadi anak yang terkucilkan di sekolah.
Tindakan
Miori yang terus mengajaku mengobrol pun lama-lama mulai memperburuk posisinya
sendiri di kelas.
"Kamu
lebih baik jangan berada di dekat orang sepertiku lagi."
Terdengar sangat
keren jika aku menyebut penolakanku saat itu demi kebaikan Miori sendiri.
Namun,
kenyataannya tidak seperti itu.
Aku menolaknya
murni karena aku merasa iri melihat Miori yang bisa bersinar terang di antara
semua orang.
Padahal aku
sendiri yang memilih untuk sendirian, benar-benar cowok yang paling bajingan.
Aku tidak pernah ingin menjadi orang yang sekoreng ini.
Dari sanalah, aku
akhirnya menyadari apa yang sebenarnya kuinginkan.
Aku juga ingin
menjalani masa muda yang bersinar terang seperti yang dirasakan oleh Miori.
Mengatakan kalau
sendirian saja sudah cukup, setidaknya bagi diriku saat itu, hanyalah sebuah
gertakan sambal demi menutupi kelemahanku.
Karena itulah,
aku memutuskan untuk melakukan debut saat masuk SMA. Demi mengubah diriku, dan
demi meraih masa muda penuh warna pelangi yang kuimpikan.
Walaupun pada
akhirnya rencana itu gagal total, dan aku malah harus menjalani masa muda yang
kelabu.
Masa muda penuh
warna pelangi yang selama ini menjadi idealisme bagiku, sebenarnya adalah
hari-hari yang sedang dilewati oleh Miori saat ini.
——Selama ini, aku
selalu mengagumi sosok Miori Motomiya.
Dengan mengubah
diriku sendiri, aku ingin menjadi sosok manusia yang pantas untuk berdiri
dengan dada tegap di samping Miori.
Itulah keinginan
paling pertama yang terbersit di dalam hatiku saat aku mendambakan masa muda
penuh warna pelangi.
Namun realitas
yang kuhadapi justru masa muda kelabu. Hatiku patah hingga akhirnya menyerah,
dan mengubur keinginan itu dalam-dalam di lubuk hati yang paling dasar.
Hanya penyesalan
yang tersisa, dan perasaan yang menjadi titik awal segalanya itu pun perlahan
mulai terkikis dan menghilang seiring berjalannya waktu.
Namun, entah
karena takdir atau apa, kini aku diberikan kesempatan untuk mengulang kembali
masa mudaku.
Mana mungkin aku
bisa sampai ke tempat tujuan jika aku sendiri melupakan tempat pertama yang
ingin kutuju.
Di dalam masa
muda pelangiku, kehadiran Miori Motomiya adalah hal yang mutlak.
——Sebab, tempat di mana Miori berada, itulah yang kusebut sebagai masa muda penuh warna pelangi.



Post a Comment