NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Haibara-kun no Tsuyokute Seishun New Game Volume 1 Chapter 3

Chapter 3

Berperilaku Sempurna


Dua minggu telah berlalu sejak Uta dan yang lainnya mendatangi tempat kerja paruh waktuku dan Nanase.

Guru wali kelas kami menutup kegiatan jam wali kelas sore itu dengan pengumuman bahwa masa tenang kegiatan klub telah dimulai demi menghadapi ujian tengah semester.

Ujian tengah semester di SMA Suzunaru yang merupakan sekolah umum jalur prestasi ini akan mengujikan sembilan mata pelajaran standard.

Berbeda dengan ujian akhir semester yang mencakup pelajaran praktik, ujian kali ini murni hanya menguji mata pelajaran teori saja.

Sembilan mata pelajaran tersebut akan dibagi rata ke dalam tiga hari pelaksanaan ujian, mulai dari hari Senin hingga Rabu. Itu berarti kami sudah bisa langsung pulang pada waktu tengah hari.

Mengingat kenangan kelam di kehidupanku yang dulu, saat itu aku malah langsung pulang dengan gembira demi membaca novel ringan sepuasnya.

Akibat berpikir bahwa waktu luangku masih sangat banyak, aku terus membaca hingga larut malam dan nekat menghadapi ujian tanpa belajar sama sekali.

Saat itu aku merasa tenang karena orang-orang di sekitarku juga saling berseru kalau mereka belum belajar sama sekali.

Namun saat hasilnya keluar, kenyataan pahit bahwa hanya aku satu-satunya orang yang mendapat nilai merah langsung menjadi sebuah sejarah kelam.

"Uwah, aku benci sekali dengan ujian. Lagipula aku sama sekali tidak paham dengan pelajarannya! Jelas-jelas tidak paham!"

Uta yang duduk di bangku depanku mendadak mulai mengeluh.

"Kamu tidak perlu secemas itu, kita masih punya waktu satu minggu kok."

"Mana mungkin dalam waktu satu minggu semuanya bisa teratasi, padahal selama ini aku sama sekali tidak pernah mendengarkan penjelasan guru di kelas!"

"Bukannya hal itu sama sekali bukan sesuatu yang patut kamu banggakan ya……?"

Di saat aku sedang melayangkan protes kepada Uta, Reita yang duduk di bangku belakangku ikut menyahut.

"Dengar ya Uta, kudengar soal ujian berkala di sekolah ini tergolong sangat sulit lho. Kalau kamu memang tidak pernah mendengarkan penjelasan guru, kamu beneran bisa mendapat nilai merah untuk seluruh mata pelajaran jika tidak mulai belajar dari sekarang."

"Aaah! Aku tidak mau dengar!"

Uta langsung menutup kedua telinganya dengan rapat sembari menggeleng-gelengkan kepalanya dengan kuat.

Apa yang dikatakan oleh Reita memanglah sebuah fakta yang nyata. Di kehidupanku yang dulu, aku beneran harus berjuang setengah mati demi bisa melewatinya.

Namun karena saat ini aku sudah pernah mengalaminya sekali, situasiku tentu saja sudah jauh lebih aman. Kurasa sekarang adalah saat yang tepat bagiku untuk berbalik membantu teman-temanku yang lain.

"Akhirnya aku bisa terbebas juga dari kegiatan klub yang menyerupai neraka itu……!"

Tatsuya berjalan menghampiri kami sembari mengepalkan kedua tangannya ke atas penuh kemenangan.

"Eh? Padahal aku pribadi jauh lebih memilih latihan klub ketimbang harus belajar tahu! Tatsu, jangan-jangan rasa cintamu terhadap bola basket beneran sudah mulai luntur ya? Kamu kelihatan senang sekali!"

"Bodoh, itu karena kamu tidak pernah merasakan sendiri bagaimana kejamnya porsi latihan klub basket putra. Kamu tidak tahu seberapa kerasnya kami anak-anak tingkat satu digembleng di sana…… duh, memikirkannya saja beneran membuat bulu kudukku merinding."

"Itu sih namanya kamu sudah terkena trauma."

Saat aku melayangkan kalimat sindiran tersebut, Tatsuya langsung memeluk kedua lengannya sendiri dengan wajah yang mendadak memucat.

"Yah, meskipun aku hanya melihatnya dari lapangan sebelah, aku tahu kalau porsi latihan kalian memang sangat keras. Tapi latihan di klub kami juga tidak kalah melelahkannya tahu!"

"Hah? Astaga, porsi latihan di klub kalian mah cuma setingkat level permainan anak kecil tahu."

"Apa kamu bilang!? Kalimat barusan beneran tidak bisa kubiarkan ya!"

"Sudah, sudah, cukup sampai di sini saja."

Melihat Tatsuya dan Uta yang saling melempar tatapan tajam, aku beneran bingung menentukan apakah hubungan mereka berdua ini sebenarnya tergolong akrab ataukah buruk.

Pada akhirnya, Reita kembali turun tangan untuk menengahi mereka seperti biasa.

Demi mengalihkan suasana, Tatsuya menepuk kedua telapak tangannya dengan keras sebelum akhirnya berucap dengan nada bicara yang terdengar sangat ceria.

"——Kalau begitu, ayo kita pergi bermain sekarang!"

Raut wajahnya yang terlihat sangat ceria itu beneran membuat sosoknya terlihat bukan seperti Tatsuya yang biasanya.

Di hadapan Tatsuya yang sedang tersenyum lebar, kami semua hanya bisa terdiam membeku tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Bahkan Uta yang biasanya selalu bersemangat pun kini hanya bisa tersenyum kecut melihat tingkahnya.

"……Maaf, tapi kami tidak ikut."

"Haaah!? Bodoh, memangnya menurutmu untuk apa libur kegiatan klub ini diberikan kalau bukan untuk bersenang-senang!?"

"B-bukankah libur ini diberikan agar kita bisa belajar……?"

Hoshimiya yang entah sejak kapan sudah berada di sebelah kami memberikan sahutannya dengan nada bicara yang terdengar sangat ragu.

"Belajar, katanya……?"

Tatsuya mengulangi kata tersebut dengan ekspresi wajah yang mendadak berubah menjadi sangat serius.

Reaksi macam apa itu, dia bertingkah seolah-olah baru saja mendengar sebuah istilah asing yang tidak masuk akal.

"Jangan-jangan Tatsuya, kamu berniat menghadapi ujian nanti tanpa belajar sama sekali?"

"Oi, oi, Reita. Kamu beneran meremehkan kemampuanku ya."

Tatsuya mendengus pelan menanggapi pertanyaan dari Reita. Mendengar jawaban tersebut, kami semua pun langsung mengembuskan napas lega.

"——Tentu saja aku baru akan membuka dan membaca buku pelajaran saat pagi hari di hari H ujian nanti."

Anak ini beneran sudah tidak tertolong lagi. Seseorang harus segera melakukan sesuatu kepadanya sebelum terlambat.

Kalau tidak salah ingat, di kehidupanku yang dulu Tatsuya juga bertingkah seperti ini, dan nilai ujiannya saat itu berakhir…… ah, sudahlah, sebaiknya aku tidak usah mengingatnya kembali.

"Semuanya……"

Reita mengedarkan pandangannya ke arah kami dengan ekspresi wajah yang terlihat sangat serius.

"Mari kita mengadakan sesi belajar bersama. Atau lebih tepatnya, tolong temani aku belajar, aku beneran memohon kepada kalian, tolong."

Dia memohon dengan nada suara yang terdengar sangat pilu, sebuah nada suara yang belum pernah kudengar darinya selama ini.

Mendengar permohonan tersebut, aku, Hoshimiya, dan Nanase hanya bisa mengangguk pasrah meski sempat merasa agak ragu.

"——Baiklah, kalau begitu bisa tolong beri tahu bagian mana saja yang belum dipahami oleh Uta dan Tatsuya?"

Setelahnya, kami pun meminjam sebuah ruang kelas kosong demi bisa memulai sesi belajar bersama kami.

Anggota yang berkumpul saat ini adalah enam orang yang biasa. Benar, kelompok bermain kami yang biasa…… dan kini aku pun sudah resmi menjadi bagian dari mereka, fufufu.

Kami menggabungkan enam buah meja menjadi satu lalu duduk melingkar mengelilinginya.

Awalnya aku sempat ragu apakah kami boleh menggunakan ruang kelas kosong ini sesuka hati, namun tampaknya Reita sudah meminta izin terlebih dahulu kepada pihak sekolah.

Dia beneran seorang pria yang selalu penuh dengan persiapan matang.

"Kalau kamu bertanya bagian mana yang tidak kupahami……"

"Aku sendiri bahkan tidak tahu bagian mana dari pelajaran ini yang tidak kupahami!"

Cara penyampaiannya beneran dipenuhi dengan rasa keputusasaan yang menggebu-gebu.

Di saat Reita sedang sibuk meladeni tingkah mereka berdua, Hoshimiya dan Nanase tampak sedang fokus belajar dengan tenang di tempat duduk mereka.

Berbanding terbalik dengan Nanase yang bisa menyelesaikan soal-soal matematika dengan sangat lancar, Hoshimiya tampak sedang berjuang setengah mati menghadapi lembar soal di hadapannya.

"Hoshimiya. Coba kamu baca kembali soalnya dengan lebih teliti, sebenarnya soal yang ini sedikit berbeda dengan soal yang sebelumnya kok."

"Eh……? Ah, iya. Biar kulihat……"

Hoshimiya yang tadinya sedang sibuk menghitung langsung mengalihkan pandangannya kembali ke arah lembar soal.

Bagian soal yang membuat Hoshimiya kesulitan saat ini kebetulan adalah bagian soal yang juga sempat membuatku kesulitan di kehidupanku yang dulu.

Karena itulah, aku bisa langsung mengetahui metode penjelasan seperti apa yang paling mudah untuk dipahaminya.

"Ah, benar juga!"

"Iya, kan? Makanya untuk bagian yang ini, rumusnya tidak bisa dimasukkan begitu saja, melainkan harus lewat proses ini dulu——"

Aku membuka buku pelajaran lalu mulai menjelaskan contoh soal yang ada di sana kepadanya.

Berkat bantuan tersebut, Hoshimiya pun akhirnya berhasil menemukan titik terang mengenai metode penyelesaian soalnya.

Jari jemarinya langsung bergerak lancar menuliskan rumus perhitungan di atas kertas, hingga akhirnya dia berhasil menemukan jawaban yang tepat.

"Aku bisa! Jawabannya beneran tepat, kan?"

Hoshimiya bertanya sembari memiringkan kepalanya sedikit dengan ekspresi wajah yang terlihat sangat gembira namun sekaligus terselip rasa cemas. Melihat tingkahnya yang menggemaskan itu, aku pun langsung memberikan anggukan mantap.

"Benar, jawabanmu tepat sekali."

"Yeeay! Terima kasih banyak ya, Natsuki-kun!"

…………………….

Eh, tunggu dulu!?

Aku ini sedang berada di mana, dan siapa diriku yang sebenarnya!?

T-tidak, aku harus tetap tenang dan mengendalikan akal sehatku kembali!

"……Natsuki-kun?"

"Ah, tidak, bukan apa-apa kok."

"Benarkah? Kalau begitu biar kulanjutkan ke soal berikutnya ya!"

Duh, beneran berbahaya sekali.

Daya hancur dari senyuman manis Hoshimiya barusan beneran terlalu kuat hingga sempat membuat seluruh sistem pemikiranku mendadak berhenti berfungsi.

Sebenarnya kalau hanya sekadar melihat senyumannya saja, aku sudah sering melihatnya di kehidupanku yang dulu.

Namun kali ini, senyuman manis itu ditujukan khusus kepadaku, dan dia bahkan menyampaikan rasa terima kasihnya kepadaku dengan begitu tulusnya.

Jadi wajar saja kan kalau aku sampai sempat kehilangan kesadaran selama beberapa saat?

"Natsu, jangan-jangan kamu ini sebenarnya adalah orang yang pintar ya?"

Uta yang tampaknya sejak tadi sedang mengawasi interaksi kami mendadak bertanya sembari memajukan tubuhnya ke arah meja.

"Masalah pintar atau tidaknya sih aku kurang tahu, tapi setidaknya aku selalu mendengarkan penjelasan guru saat di kelas."

"Eeeh! Curang sekali!"

"Apanya yang curang? Bukankah mendengarkan penjelasan guru di kelas itu adalah sebuah kewajiban mendasar bagi seorang murid……?"

"Kalau begitu, kalau begitu! Apa kamu bisa menyelesaikan soal yang satu ini?"

"Coba kulihat……"

Aku langsung terdiam membeku begitu melihat soal yang disodorkan oleh Uta ke hadapan wajahku.

Soal tersebut adalah soal matematika paling dasar yang seharusnya sudah diajarkan pada hari kedua masuk sekolah.

Gawat, ini sih situasinya beneran jauh lebih parah dari apa yang kubayangkan sebelumnya.

Kasus Hoshimiya tergolong masih aman karena dia sudah memahami dasarnya dan hanya kesulitan di bagian pengembangannya saja, situasi yang beneran mirip denganku di kehidupan dulu.

Tipikal murid yang selalu mendengarkan penjelasan guru di kelas namun malas untuk mengulang pelajarannya kembali saat di rumah.

Namun situasi yang dihadapi oleh Uta saat ini beneran berada di ambang kehancuran total.

Jika dia nekat menghadapi ujian dengan kondisi seperti sekarang, dia sudah pasti akan mendapat nilai nol karena soal dasar pun sama sekali tidak dipahaminya.

"Kalian berdua…… kalau kalian nekat menghadapi ujian SMA ini dengan mentalitas yang sama seperti saat masih SMP dulu, kalian beneran bisa mati tahu?"

Reita bergumam sembari memijat pelan pangkal hidungnya yang terasa pening.

Melihat situasi yang ada, Tatsuya tampaknya mulai menyadari adanya sinyal bahaya yang sedang mengancam kelangsungan hidupnya. Dia bertanya dengan ekspresi wajah yang mendadak berubah menjadi sangat serius.

"Apakah…… situasinya beneran segawat itu……? Yang namanya ujian SMA itu……"

"Pada dasarnya kamu dan Uta bisa lulus masuk ke sekolah ini kan murni karena hasil kebut semalam saat ujian kelulusan SMP dulu, jadi wajar saja kalau kalian tertinggal. Ditambah lagi, sekarang terungkap fakta kalau kalian bahkan tidak pernah mendengarkan penjelasan guru di kelas."

"I-itu memang benar sih…… fakta kalau aku bisa lulus masuk ke sekolah ini beneran murni karena sebuah keajaiban semata……"

"Ahahaha! Tatsu, kamu beneran bodoh ya!"

"Jangan asal bicara ya dasar cebol, posisiku masih jauh lebih baik ketimbang kamu yang bahkan tidak pernah mengumpulkan tugas sekolah sama sekali……!"

Melihat mereka berdua yang sedang saling melempar hinaan, aku hanya bisa membatin dalam hati kalau mereka berdua ini sebenarnya sama saja. Namun tentu saja, pemikiran itu sengaja tidak kuucapkan secara lantang.

"Daripada sibuk bertengkar, lebih baik kalian cepat kembali belajar sana. Asal kalian tahu saja, sekolah kita ini punya aturan yang sangat ketat bagi murid yang mendapat nilai merah."

"Eh………… benarkah?"

"Ahahaha…… tidak mungkin, itu pasti cuma bercanda, kan? ……Benarkah…… begitu aturannya?"

Kalimat yang diucapkan oleh Reita barusan sukses membuat wajah Tatsuya dan Uta langsung memucat dalam sekejap.

"Untuk saat ini, mata pelajaran yang beneran harus segera kita kejar dari sekarang karena keterbatasan waktu adalah matematika dan……"

"Fisika, serta bahasa Inggris. Kalau untuk mata pelajaran hafalan, kurasa kita masih bisa mengatasinya dengan sistem kebut semalam saat menjelang hari H ujian nanti."

Aku memberikan masukan tambahan berdasarkan pengalaman pribadiku di kehidupan dulu, yang langsung disambut dengan anggukan setuju dari Reita.

"Lagipula jumlah tugas yang harus dikumpulkan sebelum ujian dimulai untuk mata pelajaran tersebut beneran banyak sekali. Jadi mari kita mulai mencicil tugas matematika ini terlebih dahulu, kalau tidak dikerjakan setiap hari, tugas ini tidak akan pernah selesai."

Setelah kalimat penutup dari Reita tersebut, suasana di dalam ruangan pun mendadak berubah menjadi hening karena semua orang mulai fokus belajar.

Tatsuya dan Uta ternyata memiliki tingkat fokus yang cukup tinggi begitu mereka sudah beneran mulai menggerakkan jari jemari mereka. Mereka berdua tampak sedang berjuang setengah mati menghadapi tugas matematika sembari sesekali membuka buku panduan pelajaran mereka.

Meski begitu, tentu saja akan ada momen di mana mereka berdua beneran menemui jalan buntu yang tidak bisa diselesaikan sendirian.

Saat ini Reita sedang sibuk mengajari Tatsuya, sedangkan Nanase tampak sedang fokus memberikan bimbingan kepada Hoshimiya.

Melihat pembagian tugas tersebut, bukankah itu berarti aku harus mengambil tanggung jawab untuk mengajari Uta?

Sebenarnya di dalam lubuk hatiku yang terdalam, aku beneran sangat ingin mengajarkan Hoshimiya, namun posisi itu sudah terlanjur diambil alih oleh Nanase.

Yah, hubungan mereka berdua tampaknya memang sudah terjalin sejak lama sejak masa SMP dulu.

Melihat kedekatan mereka, aku beneran bisa merasakan adanya sebuah ikatan sejarah yang kuat di antara mereka berdua.

"Ugh……"

Sebenarnya saat ini aku sendiri sedang merasa sangat bosan karena tugas sekolahku beneran sudah selesai kukerjakan sejak tadi.

Bagi diriku yang sudah menjalani kehidupan ini untuk kedua kalinya, soal-soal matematika tingkat SMA seperti ini beneran tidak ada yang sulit bagiku.

"Bagian mana yang membuatmu bingung?"

"Natsu, apa kamu mau mengajariku?"

"Tentu saja. Selama itu adalah bagian yang kupahami, aku pasti akan membantumu."

Uta menatapku dengan tatapan yang terlihat agak sungkan, seolah-olah dia sedang merasa bersalah karena telah menyita waktu belajarku.

Awalnya kukira dia adalah tipe gadis populer yang cuek dan tidak pernah memikirkan perasaan orang lain, namun ternyata dia bisa bersikap sangat tahu diri di situasi seperti sekarang.

"Tidak apa-apa kok, mengajarimu juga sekaligus bisa menjadi sarana bagiku untuk mengulas kembali materi pelajaran yang ada."

Aku memberikan senyuman terbaikku demi bisa menenangkan perasaan cemas yang sedang melanda hatinya.

Mendengar kalimat tersebut, ekspresi wajah Uta langsung berubah menjadi sangat ceria dalam sekejap.

"Jadi begini, aku beneran bingung kenapa rumus yang ada di sebelah sini bisa mendadak berubah menjadi bentuk yang ada di sebelah sini……"

Bagian yang membuat Uta bingung saat ini ternyata adalah bagian contoh soal yang tertera di dalam buku pelajaran.

Dia tampaknya kesulitan memahami jembatan logika dari proses perubahan rumus tersebut karena adanya beberapa tahapan perhitungan yang sengaja dilewati di dalam buku.

Hal seperti ini memang sering kali terjadi karena keterbatasan halaman cetak buku pelajaran.

"Untuk bagian yang ini, sebenarnya ada proses perhitungan tersembunyi yang sengaja tidak dituliskan di dalam buku, prosesnya adalah seperti ini——"

Aku menarik buku catatan milik Uta lalu mulai menuliskan tahapan perhitungan tersembunyi tersebut sembari memberikan penjelasan secara perlahan.

Aku terus memutar otak demi bisa menemukan metode penyampaian yang paling mudah untuk dipahami olehnya.

Begitu aku menyelesaikan penjelasanku dan memalingkan wajahku ke arahnya, aku langsung terdiam membeku karena wajah Uta ternyata berada tepat di hadapan wajahku.

Jarak di antara ujung hidung kami beneran terasa sangat dekat hingga membuat tatapan mata kami saling bertemu secara langsung.

"……Eh?"

"Ah…… m-maafkan aku!"

Entah sudah berapa detik waktu berlalu sejak kami saling menatap dalam keheningan tersebut.

Uta langsung mengalihkan pandangannya kembali ke arah buku catatan dengan gerakan yang sangat cepat, sementara kedua pipi hingga ujung telinganya tampak merona merah.

Apakah dia sedang merasa malu……? Jika tebakan pribadiku ini tidak salah.

Jangan-jangan, Uta beneran mulai melihat diriku sebagai seorang lawan jenis……?

Tentu saja hal seperti itu beneran wajar terjadi karena siapa pun pasti akan merasa malu jika sampai bertatapan dalam jarak sedekat itu dengan lawan jenis.

"Ah…… jadi, bagaimana? Apa kamu sudah bisa memahaminya?"

"Eh! Ah, i-iya! Aku sudah paham! Terima kasih banyak ya!"

Nada suara Uta terdengar sedikit meninggi karena saking gugupnya.

"——Oi kalian berdua, kalau mau bertingkah mesra seperti itu tolong lakukan di tempat lain saja ya."

Sindiran ketus yang dilayangkan oleh Tatsuya barusan beneran sukses menusuk langsung ke arah kami berdua.

Terlepas dari kebenaran yang sesungguhnya terjadi, jika aku berada di posisi Tatsuya saat ini, aku pun pasti akan melayangkan sindiran yang sama.

"Kami sama sekali tidak sedang bertingkah mesra kok, Natsu kan cuma sedang mengajariku saja. Benar kan, Natsu?"

"Ah, i-iya…… apa yang dikatakannya beneran murni karena urusan belajar kok."

"Yah, terserah kalian sajalah."

Tatsuya mengembuskan napas panjang sebelum akhirnya kembali fokus melanjutkan aktivitas belajarnya dengan raut wajah yang terlihat agak ketus.

Aku beneran bisa memahami perasaannya karena siapa pun pasti akan merasa kesal jika konsentrasi belajarnya sampai terganggu oleh tingkah mesra orang-orang di sekitarnya.

Hal ini beneran murni karena kesalahanku sendiri yang kurang bisa menjaga jarak kedekatan.

Aku melemparkan pandangan mataku ke arah Hoshimiya, namun dia tampak sedang fokus belajar dengan tenang di tempat duduknya.

Sama sekali tidak ada tanda-tanda kalau dia tertarik dengan apa yang baru saja terjadi di antara kami berdua.

"……Kalau begitu, mari kita lanjutkan belajarnya kembali?"

"E-em!"

Kami pun langsung mengalihkan fokus kami kembali ke arah buku pelajaran masing-masing.

Berkat pengalamanku yang sempat bekerja paruh waktu sebagai guru privat di kehidupan dulu, aku beneran memiliki tingkat kepercayaan diri yang cukup tinggi dalam hal mengajari orang lain.

Biar bagaimanapun juga, fakta kalau Uta bisa lulus masuk ke sekolah ini beneran membuktikan kalau dia sebenarnya adalah anak yang cukup cerdas.

Dia bisa menyerap seluruh penjelasan materi pelajaran yang kuberikan dengan sangat cepat layaknya sebuah spons.

"Kurasa untuk hari ini sepertinya sudah cukup ya."

Reita bergumam sembari mengalihkan pandangan matanya ke arah jarum jam dinding kelas.

Tanpa terasa, waktu ternyata sudah hampir menunjukkan pukul delapan malam. Suasana di luar jendela kelas pun sudah berubah menjadi sangat gelap gulita.

"Benar juga, jam malam Hoshimiya juga sudah hampir tiba, jadi sebaiknya kita segera pulang sekarang."

"Ah, tidak apa-apa kok kalau kalian masih mau lanjut belajar di sini. Aku bisa pulang sendirian terlebih dahulu."

"Energi otakku beneran sudah terkuras habis untuk hari ini, jadi aku juga memutuskan untuk menyudahi belajar hari ini. Bagaimana dengan yang lainnya?"

"Mumpung situasinya sedang seperti ini, bagaimana kalau kita semua pulang bersama saja?"

Aku melayangkan usulan tersebut kepada semuanya. Yah, meskipun motif utamaku yang sebenarnya adalah agar aku bisa pulang bersama dengan Hoshimiya sih.

"Aku beneran sudah tidak sanggup lagi…… aku bersumpah tidak akan pernah mau belajar lagi seumur hidupku……"

Tatsuya mengerang frustrasi sembari meregangkan kedua lengannya ke atas dengan sangat hebohnya. Cara pelepasan stres yang beneran tergolong sangat mencolok sekali.

"Kalau aku pribadi sih, berkat bantuan penjelasan dari Natsu, proses belajar ini beneran mulai terasa sangat menyenangkan. Tapi kalau Natsu mau pulang sekarang, aku juga ikut pulang saja deh!"

"Ah, i-iya…… kalau begitu baguslah."

Mendengar kalimat yang diucapkan oleh Uta barusan beneran sukses membuat lubuk hatiku terasa sangat bahagia.

Di saat semua orang sedang sibuk merapikan barang bawaan mereka ke dalam tas, sebuah pemikiran mendadak terlintas di dalam kepalaku.

——Eh? Tunggu dulu? Jangan-jangan kalimat yang diucapkannya barusan adalah sebuah ajakan terselubung untukku……?

Mengingat dia mengatakan kalau dia hanya akan pulang jika aku pulang, bukankah itu berarti dia sebenarnya masih ingin menghabiskan waktu belajar lebih lama bersamaku?

Jika tebakan pribadiku ini benar, itu berarti dia beneran ingin menghabiskan waktu berdua saja denganku.

"Baiklah! Target berikutnya adalah pulang ke rumah masing-masing!"

Uta berseru dengan sangat cerianya sembari mendorong pelan punggung Hoshimiya dari arah belakang untuk melangkah keluar kelas.

Melihat tingkah lakunya yang tanpa beban seperti itu, sepertinya dugaanku barusan beneran murni karena tingkat kepercayaan diriku saja yang terlalu berlebihan.

"Wah, suasana di luar beneran sudah gelap gulita ya. Rasanya sangat asing sekali."

Hoshimiya bergumam sesampainya kami di area gerbang depan sekolah.

"Benarkah?"

"Yah, bagi kami anak-anak klub olahraga, pemandangan sekolah di malam hari seperti ini beneran sudah menjadi santapan kami sehari-hari setelah selesai latihan klub."

"Ah, benar juga ya. Anak-anak klub sastra kan memang tidak pernah pulang sampai semalam ini."

Nada suara Hoshimiya terdengar sedikit meninggi karena saking antusiasnya menikmati pemandangan malam sekolah.

Namun di sisi lain, Uta yang biasanya selalu heboh di situasi seperti sekarang tampak sedang asyik mengobrol santai bersama Nanase.

"Aku bisa memahami perasaanmu kok, pemandangan sekolah di malam hari seperti ini memang punya daya tarik tersendiri yang terasa sangat menyenangkan."

"Iya, kan! Benar sekali! Wah, akhirnya aku berhasil menemukan teman yang punya pemikiran yang sama denganku!"

Bagi diriku pribadi, perasaan yang kurasakan saat ini sebenarnya bukanlah rasa asing, melainkan sebuah rasa kerinduan yang mendalam akan masa-masa sekolah dulu.

Namun terlepas dari hal itu, fakta bahwa aku merasa bahagia saat ini adalah sebuah kebenaran yang tidak bisa diganggu gugat.

Perasaan bahagia ini beneran bisa tercipta murni karena aku bisa menikmatinya bersama dengan teman-temanku.

"Mumpung suasananya sedang bagus, bagaimana kalau kuunggah saja ke Minstagram?"

Hoshimiya mengangkat ponselnya tinggi-tinghi ke atas lalu mulai mengambil foto menggunakan kamera depan.

"——Eh, kok hasilnya beneran gelap gulita begini dan tidak kelihatan apa-apa ya!?"

"Tentu saja tidak akan kelihatan apa-apa, di tempat segelap ini kamu harus menyalakan fitur lampu kilat terlebih dahulu tahu."

Hoshimiya memberikan tatapan cemberut yang terlihat sangat menggemaskan ke arahku sebelum akhirnya memutuskan untuk tetap mengunggah foto tersebut ke dalam fitur cerita Minstagram miliknya.

Di sana tertera sebuah takarir bertuliskan, Menikmati pemandangan malam sekolah bersama semuanya! Rasanya sangat asing sekali~! Tapi fotonya beneran gelap gulita sampai tidak kelihatan apa-apa, haha.

Melihat postingan tersebut melalui layar ponselku beneran sukses membuatku tersenyum kecut. Lagipula yang namanya Minstagram kan memang sebuah media sosial tempat orang-orang berbagi momen tanpa perlu memikirkan estetika foto yang terlalu rumit.

"Bukankah tadi kamu bilang kalau jam malam di rumahmu sudah hampir tiba?"

"Ah, benar juga! Aku sampai lupa karena keasyikan mengobrol! Ayo kita segera bergegas pulang sekarang!"

Hoshimiya langsung mempercepat langkah kakinya begitu aku mengingatkan perihal jam malam tersebut.

Gadis yang satu ini beneran punya banyak sekali sisi ceroboh di dalam dirinya. Namun tentu saja, sisi ceroboh itulah yang justru membuat sosoknya terlihat semakin menggemaskan di mataku.

Sembari menikmati momen hangat tersebut, kami semua pun melanjutkan perjalanan pulang kami bersama-sama di bawah keheningan malam.

Sejak hari itu, kami pun rutin mengadakan sesi belajar bersama di ruang kelas kosong setiap harinya sepulang sekolah.

Satu minggu penuh menjelang dimulainya hari H ujian tengah semester, kami manfaatkan dengan sangat baik untuk mengulas kembali seluruh materi pelajaran yang ada.

Berhubung tugasku sendiri beneran sudah selesai sejak hari pertama, seluruh waktu belajarku sepenuhnya kuhabiskan untuk menemani Uta belajar. Berkat bimbingan intensif tersebut, setidaknya saat ini seluruh nilai mata pelajarannya sudah berada di zona aman dari ancaman nilai merah.

Di sisi lain, Reita tampaknya masih harus berjuang keras mendampingi proses belajar Tatsuya. Masalah utamanya terletak pada ketidakmampuan Tatsuya dalam memahami konsep dasar mata pelajaran matematika.

Memasuki paruh kedua minggu tersebut, karena merasa tidak tega melihat Reita yang berjuang sendirian, aku dan Nanase pun ikut turun tangan membantu mengajari Tatsuya. Namun harus kuakui, dengan tingkat pemahaman materi seperti itu, Tatsuya beneran bisa tamat jika nekat menghadapi ujian nanti.

Hingga akhirnya hari Jumat pun tiba, dan di sinilah kami sekarang sedang berjalan bersama di bawah keheningan malam sepulang sekolah.

"Aku memohon kepada kalian semua, tolong temani aku belajar lagi di hari libur besok!"

Tatsuya menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada sembari membungkukkan badannya dalam-dalam ke arah kami.

Melihat tingkah laku Tatsuya yang biasanya selalu bersikap sok kuat namun kini mendadak memohon dengan begitu pasrahnya beneran sukses membuat kami semua terkejut.

"Tumben sekali kamu bisa bersikap sampai sepasrah ini?"

"Bagaimana ya menjelaskannya…… setelah mulai memahami sedikit demi sedikit, aku malah jadi sadar seberapa banyaknya materi pelajaran yang sama sekali tidak kupahami, makanya rasa cemas di dalam hatiku mendadak melonjak tajam."

"Ah, aku bisa memahami perasaanmu kok. Di saat kita sama sekali tidak tahu apa-apa, kita beneran tidak akan pernah tahu seberapa banyaknya ketidaktahuan kita tersebut."

Kalimat penjelasan yang baru saja kuucapkan barusan beneran terdengar sangat membingungkan sekali saat didengar.

"Sejujurnya masalah nilai merah sih aku tidak terlalu peduli, tapi kalau sampai dilarang ikut latihan klub bola basket beneran ceritanya akan menjadi sangat berbeda. Aku bersumpah akan mendengarkan penjelasan guru dengan baik mulai ujian berikutnya, jadi untuk kali ini saja tolong bantu aku, nanti kubelikan minuman kaleng deh!"

"Nilaiku sendiri sepertinya juga masih berada di ambang batas bahaya, jadi tolong bantu kami ya semuanya! Tenang saja, Tatsuya yang akan membayar seluruh minuman kalengnya kok!"

"Oi, kenapa cuma aku sendiri yang harus membayarnya!? Kamu juga harus ikut menyumbang uang dong, dasar pelit!"

"Ugh, itu karena belakangan ini aku terlalu sering pergi bermain bersama teman-teman klub sehingga kondisi keuanganku saat ini beneran sedang mengalami krisis akut……"

"Kalau tahu begitu, seharusnya kamu gunakan waktumu untuk belajar saja dari kemarin, dasar bodoh!"

Melihat interaksi pertengkaran konyol di antara Tatsuya dan Uta beneran sukses membuat kami semua hanya bisa tersenyum kecut mendengarnya.

"Baiklah kalau begitu. Berhubung waktu ujian beneran tinggal dua hari lagi, bagi siapa saja yang punya waktu luang besok, mari kita berkumpul kembali untuk belajar bersama."

"Kamu tidak perlu membelikan kami minuman kaleng kok, simpan saja uangmu itu untuk membeli asupan makanan manis demi menutupi kebutuhan energi otakmu nanti."

Sebagai seorang teman, membantu teman yang sedang berada di dalam kesulitan beneran sudah menjadi sebuah kewajiban yang lumrah untuk dilakukan.

Lagipula, memiliki keunggulan berupa pengetahuan dari masa depan seperti ini beneran harus dimanfaatkan untuk hal-hal yang positif seperti sekarang.

"Natsu beneran hebat sekali! Kamu beneran baik banget!"

"Bukannya aku orang yang baik kok, ini semua kulakukan murni karena kita adalah teman."

Aku sama sekali tidak mengharapkan imbalan apa pun atas bantuan yang kuberikan ini.

Bagiku, esensi dari sebuah pertemanan adalah saling membantu di saat salah satu di antara kami sedang berada di dalam kesulitan.

Walaupun di kehidupanku yang dulu aku sama sekali tidak pernah memiliki teman, setidaknya di kehidupan kali ini aku beneran ingin membangun hubungan pertemanan yang sehat bersama dengan mereka semua.

"……Natsu beneran sering kali mengucapkan kalimat-kalimat yang memalukan seperti itu tanpa beban ya?"

"Eh, benarkah?"

Aku sempat merasa bingung menanggapi kalimat yang baru saja diucapkan oleh Uta barusan.

Padahal di dalam lubuk hatiku yang terdalam, pemikiran seperti itulah yang justru selalu kurasakan terhadap tingkah laku mereka semua selama ini.

"M-maafkan aku. Apa kalimatku barusan terdengar menjijikkan di telingamu?"

Aku melayangkan permohonan maafku sembari menundukkan kepalaku lesu, namun Uta langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat sebelum akhirnya mendadak memajukan wajahnya ke arahku.

"……Menurutku, sisi jujur dari dirimu yang seperti itulah yang justru membuat sosokmu terlihat sangat keren tahu."

Kalimat pujian tersebut diucapkan dengan nada suara yang terdengar sangat lembut tepat di hadapan telingaku.

Daya hancur dari kalimat tersebut beneran sukses membuat seluruh sistem pemikiranku mendadak berhenti berfungsi karena saking terkejutnya.

Namun sebelum aku sempat memberikan respons, Uta sudah terlanjur membalikkan badannya untuk kembali bergabung bersama yang lain sembari langsung memeluk mesra tubuh Hoshimiya dari arah belakang.

"Kalian berdua belakangan ini terlihat semakin akrab saja ya?"

Tatsuya mendadak merangkul bahuku dari arah belakang sembari melayangkan pertanyaan tersebut dengan nada bicara yang terlihat penuh arti.

"……Itu beneran murni karena aku sering mengajarinya belajar saja kok, makanya kami terlihat seperti itu."

Aku beneran bingung harus memberikan respons seperti apa terhadap situasi yang sesungguhnya terjadi saat ini.

"——Katakan yang sejujurnya, apa kamu menyukai Uta?"

"Eeeh!? Tentu saja tidak, hubungan kami beneran sama sekali tidak seperti apa yang kamu bayangkan kok!"

Mendengar pertanyaan yang disampaikan dengan nada suara berbisik dari Tatsuya tersebut beneran sukses membuatku meresponsnya dengan volume suara yang tidak kalah hebohnya.

"Yaaah, membosankan sekali. Kalau begitu, siapa yang sebenarnya kamu sukai? Apakah Hoshimiya, ataukah Nanase?"

Aku beneran bingung harus memberikan jawaban seperti apa untuk menanggapi pertanyaan dari Tatsuya barusan.

Namun mengingat posisi kami yang saat ini sudah resmi menjadi sepasang sahabat, aku beneran ingin merasakan bagaimana rasanya mengobrol seputar urusan asmara sesama pria layaknya anak-anak populer pada umumnya.

Berangkat dari pemikiran tersebut, aku pun memberanikan diri untuk mulai membuka suara secara perlahan.




"……Hoshimiya, itu yang aku maksud."

"Hoo. Jadi begitu, ya."

Tatsuya mengusap dagunya sembari menyeringai jahat.

"Laru, bagaimana denganmu sendiri, Tatsuya?"

"……Aku? Menurutmu bagaimana?"

Karena malah ditanya balik, aku pun mencoba mengingat kembali gerak-gerik Tatsuya selama ini. Dia dan Uta selalu saja bertengkar setiap hari, jadi kurasa pilihan itu tidak mungkin.

Sedangkan interaksinya dengan Hoshimiya dan Nanase pun tergolong dalam batas wajar layaknya teman biasa.

"Hmm…… entahlah, aku tidak tahu."

"Benar, kan? Ya, begitulah jawabannya."

"Eeh, curang sekali! Kenapa cuma kamu saja yang tidak mau jujur?"

"Biar dibilang begitu pun, kenyataannya memang seperti ini, jadi mau bagaimana lagi."

Di saat kami berdua sedang sibuk saling melempar argumen, Uta mendadak memunculkan wajahnya dari arah samping.

"Kalian lagi membicarakan apa, sih?"

"Ah, ini rahasia untuk Uta."

Fakta kalau aku menyukai Hoshimiya adalah sesuatu yang belum ingin kubagikan kepada semua orang saat ini.

Aku beneran takut jika Hoshimiya mengetahuinya, dia malah akan mulai menjauhiku.

Maksudku, aku beneran tidak akan sanggup menahan kepedihan itu. Masa muda seperti itu rasanya terlalu menyakitkan untuk dijalani.

"Eeeh! Kenapa harus rahasia!?"

"Maaf ya Uta, ini masih terlalu dini untukmu. Ini adalah obrolan orang dewasa."

Tatsuya tampaknya bisa memahami situasiku dengan baik, sehingga dia pun memilih untuk mengalihkan topik pembicaraan.

"Obrolan orang dewasa…… jangan-jangan, kalian lagi membicarakan hal mesum ya?"

Uta melayangkan pertanyaan tersebut sembari memalingkan wajahnya ke arah lain dengan ekspresi yang terlihat agak malu-malu.

Aku yang merasa terkejut langsung panik dan berniat untuk menyangkalnya. Namun, Tatsuya dengan cepat memotong kalimatku terlebih dahulu.

"Ah, benar sekali. Bagi anak SD sepertimu, hal ini beneran masih terlalu dini, kan?"

"S-siapa yang kamu maksud anak SD! Memang sih tubuhku ini pendek, tapi……!"

"Oi, oi. Memangnya yang kecil itu cuma ukuran tubuhmu saja?"

Aku hanya bisa memandangi interaksi mereka berdua dengan perasaan yang beneran sangat waswas. Kalimat Tatsuya dirasa sudah melangkah terlalu jauh.

Uta yang tadinya sempat melongo tampak mulai menyadari makna tersirat dari kalimat tersebut secara perlahan.

Dia pun langsung menyilangkan kedua lengannya di depan dada demi memeluk tubuhnya sendiri.

"Dasar mesum! Hal seperti itu cuma boleh diucapkan oleh diriku sendiri tahu!"

"Maaf ya, tapi aku dan Natsuki memang sedang membicarakan urusan itu sekarang. Sana, cepat pergi jauh-jauh."

Tatsuya mengibaskan salah satu tangannya ke udara seolah-olah sedang mengusir seekor binatang peliharaan.

Uta melemparkan tatapan mata yang tajam ke arah Tatsuya dan aku secara bergantian dengan wajah yang merona merah. Setelah itu, dia memutuskan untuk kembali berjalan bergabung bersama kelompok Hoshimiya di depan.

……Tunggu dulu, kenapa perasaanku mendadak merasa seperti ikut terseret ke dalam masalah ini ya?

"Tapi kalau dipikir-pikir kembali, urutan posisinya pasti dimulai dari Hoshimiya, Nanase, lalu tembok pembatas yang tidak akan pernah bisa dilompati, baru setelah itu Uta, kan?"

"Jangan membuat kesimpulan sendiri begitu dong……"

"Bodoh, bagi seorang pria, mendiskusikan hal seperti ini beneran sudah menjadi sebuah kewajiban yang lumrah tahu. Benar kan, Reita?"

"Bagi diriku pribadi, aku justru menilai kalau Nanase-san sebenarnya cukup 'berisi' lho. Meskipun sekilas sosoknya terlihat kurus dan biasa saja, kurasa dia adalah tipe gadis yang terlihat ramping saat mengenakan pakaian. Ya, walaupun pesona Hoshimiya-san beneran mutlak dan tidak tertandingi sih."

Reita yang entah sejak kapan sudah berjalan mendekat dari arah depan mendadak ikut bergabung ke dalam obrolan kami. Ekspresi wajahnya terlihat sangat serius saat mengatakannya.

Mengingat lebar jalanan yang sempit, formasi berjalan kami memang tidak bisa sejajar sehingga obrolan kami sering kali terbagi menjadi beberapa kelompok kecil berisi dua atau tiga orang.

Terlepas dari hal itu, kenapa Reita bisa mengucapkan kalimat sekaku itu dengan wajah yang seserius itu?

"……Hmm? Natsuki, apa kamu sama sekali tidak tertarik dengan topik pembicaraan ini?"

"Tidak, ya, bukannya aku sama sekali tidak tertarik sih, tapi……"

"Oi Natsuki, kalau cuma kepada Reita saja, bagaimana kalau kita beri tahu dia yang sejujurnya?"

Awalnya aku sempat bingung mengenai arah pembicaraan ini. Namun, aku langsung menyadari kalau mereka pasti sedang membahas perihal gadis yang kusukai.

Setelah menimbangnya selama beberapa saat, aku pun mulai membuka suara kembali.

"Asalkan kalian beneran berjanji untuk tidak membocorkannya kepada para gadis…… tolong jangan beri tahu mereka ya?"

"Tenang saja, aku beneran sudah paham kok. Kamu tidak perlu cemas."

"Aku sudah bisa menangkap garis besar arah pembicaraannya. Tenang saja, mulutku tergolong sangat rapat kok, terlepas dari bagaimana sikap Tatsuya nanti."

"Kalau kalimat penutupnya dibilang terlepas dari bagaimana sikap Tatsuya, hal itu beneran membuatku cemas tahu……"

"——Oi Reita, anak ini ternyata mengincar dada besar milik Hoshimiya lho."

"Benarkah? Jadi begitu ya. Tempat itu memang dipenuhi dengan banyak impian, jadi aku beneran bisa memahami perasaanmu dengan sangat baik."

"Dengar dulu, alasan aku menyukai Hoshimiya beneran sama sekali bukan karena ukuran dadanya yang besar kok……!"

Di saat aku sedang sibuk melayangkan kalimat pembelaan diri, aku mendadak merasakan adanya sebuah tatapan mata yang sangat tajam sedang mengarah ke arah kami.

Tiga orang gadis yang berjalan di depan kami saat ini sedang melemparkan tatapan mata yang terasa sangat dingin ke arah kami bertiga.

Mengingat volume suara kami yang pelan, isi percakapan kami seharusnya tidak akan terdengar oleh mereka. Namun, tampaknya Uta sudah membocorkan perihal obrolan mesum kami sebelumnya kepada mereka.

Hoshimiya tampak menggembungkan kedua pipinya kesal sebelum akhirnya kembali membalikkan badannya membelakangi kami.

"Kurasa membicarakan hal seperti itu beneran bukan sesuatu yang baik lho."

"Tapi kenyataannya, ukuran dada Hiyori memang sangat besar jadi wajar saja jika hal itu membuat orang lain penasaran. Lagipula aku sendiri juga penasaran kok."

"Yuino-chan!? Kenapa kamu bisa mengucapkan kalimat sefrontal itu dengan santainya sih!?"

"A-aku juga…… aku juga padahal sudah rajin minum susu setiap hari tahu!?"

Mendengar teriakan frustrasi dari Uta barusan sukses membuat kami bertiga saling berpandangan sebelum akhirnya tersenyum kecut bersamaan.

Meskipun aku masih merasa agak tidak rela karena telah terseret ke dalam jebakan Tatsuya, fakta bahwa momen ini terasa sangat mencerminkan sebuah masa muda yang indah membuatku memutuskan untuk memaafkannya.

Kurasa aku beneran harus segera meningkatkan tingkat toleransiku terhadap obrolan mesum sesama pria dari sekarang.

Mungkin karena di kehidupanku yang dulu aku sama sekali tidak pernah memiliki pengalaman berbagi cerita seperti ini bersama teman, makanya aku masih sering merasa malu saat menjalaninya.

Keesokan harinya, pada hari Sabtu.

Aku melangkahkan kaki mendatangi tempat kerja paruh waktuku di Kafe Mares.

Suara dentingan bel pintu berbunyi nyaring mengiringi langkahku saat membuka pintu masuk kafe.

"Ah, akhirnya kamu datang juga. Semuanya sudah berkumpul di dalam lho."

Kirishima-san berjalan menghampiriku dengan langkah kaki yang lincah sembari menunjuk ke arah meja yang berada di sudut ruangan dalam kafe.

Begitu aku mengalihkan pandanganku ke arah tersebut, Uta yang tampaknya menyadari kehadiranku langsung melambaikan salah satu tangannya dengan sangat heboh ke arahku.

Saat mendiskusikan perihal lokasi belajar bersama untuk hari libur kemarin, ada banyak sekali opsi tempat yang sempat muncul mulai dari rumah salah satu di antara kami, restoran keluarga, hingga perpustakaan kota.

Sebelum akhirnya kami memutuskan kalau Kafe Mares adalah pilihan terbaik.

Mengingat jumlah anggota kami yang mencapai oke orang, belajar di rumah salah satu di antara kami beneran akan memakan banyak tempat.

Sementara restoran keluarga di hari libur seperti ini sudah pasti akan sangat ramai sehingga sulit mendapatkan meja kosong, dan perpustakaan pun tidak akan mengizinkan kami untuk mengobrol santai.

Atas dasar pertimbangan itulah, tempat kerja paruh waktuku dan Nanase ini menjadi pilihan paling ideal karena kami bisa memesan tempat terlebih dahulu kepada pihak kafe.

Sebenarnya aku sempat merasa ragu saat mendiskusikan hal ini kepada Manajer kafe, namun beliau ternyata langsung menyetujuinya dengan sangat ramah.

Menurut penjelasannya, momen menjelang pekan ujian seperti ini memang biasanya akan dipenuhi oleh banyak pelanggan dari kalangan pelajar.

"Selama kalian semua memesan minuman, aku sama sekali tidak keberatan kok," ucap beliau sembari tersenyum ramah saat itu.

Saat aku melangkahkan kakiku mendekati meja tempat berkumpulnya anak-anak…… hmm? Kenapa jumlah orang yang ada di sana rasanya terlihat jauh lebih banyak dari biasanya ya?

"Ouh Natsuki, kamu beneran lama sekali ya."

Tatsuya menyapaku sembari memputar-putar pena di sela-sela jari jemarinya dengan sangat mahir.

"Maaf, kereta yang kunaiki sempat tertahan sebentar tadi…… tapi terlepas dari hal itu, kenapa kamu bisa berada di sini?"

"Ada apa dengan reaksi itu? Memangnya aku tidak boleh berada di sini ya?"

Sesosok gadis yang merupakan teman masa kecilku, Miori, tampak sedang melayangkan sebuah senyuman licik ke arahku.

"Ini murni karena ketidaksengajaan kok. Kami berdua kebetulan juga datang ke sini untuk belajar. Benar kan?"

Miori saat ini sedang duduk di sebuah meja tepat di sebelah meja tempat berkumpulnya kelompok Tatsuya.

Di hadapannya, duduk sesosok gadis berambut pirang dengan banyak tindikan di telinganya yang beneran terlihat sangat mencerminkan sosok seorang gadis gyaru.

Gadis tersebut hanya memberikan anggukan pelan dengan ekspresi wajah yang terlihat sangat mengantuk.

"Benar sekali. ……Tapi omong-omong Miori, temanmu ternyata banyak juga ya?"

"Kalau untuk anak yang satu ini sih, hubungan kami beneran murni cuma sebatas teman masa kecil sejak zaman SMP dulu kok."

Sembari mendengarkan interaksi obrolan di antara mereka berdua, aku pun melangkahkan kakiku untuk duduk bergabung di meja yang sama dengan Tatsuya dan yang lainnya.

Satu per satu kursi yang ada sudah terisi, dan satu-satunya kursi kosong yang tersisa saat ini adalah kursi yang berada di ujung kanan dekat jendela.

Posisi tersebut berada tepat di sebelah tempat duduk Uta, sekaligus bersebelahan langsung dengan posisi Miori yang duduk di meja sebelah dekat jendela.

……Jangan-jangan, pembagian tempat duduk ini sengaja dilakukan karena mereka ingin menjodohkanku dengannya?

"Natsu adalah teman masa kecilnya Miorin, kan? Makanya kami sengaja mengosongkan tempat ini khusus untukmu!"

Uta berseru bangga sembari melipat kedua lengannya di depan dada penuh kemenangan.

Meskipun hal itu tidak terlalu penting, aku beneran tidak menyangka kalau Uta ternyata juga memberikan sebuah nama panggilan yang aneh kepada Miori.

"Tindakanmu barusan beneran sebuah kebaikan yang sama sekali tidak kuperlukan tahu……"

"Kenapa bisa begitu!?"

Sejujurnya, jika sedang berada di dalam kelompok bermainku yang sekarang, aku beneran tidak ingin berinteraksi terlalu dekat dengan Miori.

Terlepas dari status kami yang saat ini adalah rekan kerja paruh waktu, fakta bahwa dia mengetahui masa laluku beneran membuatku merasa sangat malu jika harus dibanding-bandingkan di depan teman-temanku yang lain.

"Hmm?"

Tuh, kan, kenyataannya dia sekarang beneran sedang menatapku dengan tatapan mata yang terlihat penuh selidik. Tolong ampuni aku.

Aku pun memutuskan untuk mengabaikan tatapan matanya tersebut lalu mulai membuka buku catatan milikku di atas meja.

"Uta. Ini adalah rangkuman mengenai poin-poin penting untuk ujian kali ini, serta beberapa bagian soal yang sekiranya berpotensi membuatmu keliru saat mengerjakannya nanti."

"Eh!? Apa-apaan ini, keren sekali!"

Uta membolak-balik halaman buku catatan milikku dengan ekspresi wajah yang terlihat sangat terkejut.

"Benar, kan? Aku sengaja membuatnya tadi malam khusus untukmu, lho. Gara-gara hal itu, aku sekarang beneran kekurangan tidur."

Aku melepaskan sebuah kuapan lebar sembari menutup mulutku. Alasan utama kenapa aku sampai bisa terlambat datang ke tempat ini sebenarnya adalah karena rasa kantuk yang teramat sangat ini.

Berhubung aku sudah bisa memetakan bagian pelajaran mana saja yang menjadi kelemahan Uta selama satu minggu belakangan ini, aku pun berinisiatif untuk merangkum materi tersebut ke dalam sebuah format yang paling mudah untuk dipahaminya.

Karena terlalu asyik mengerjakannya, tanpa sadar waktu ternyata sudah menunjukkan pukul dua dini hari saat aku menyelesaikannya tadi malam.

Hoshimiya dan Reita yang melihat hal tersebut pun mulai menunjukkan ketertarikan mereka.

"Bolehkah aku ikut melihatnya sebentar?"

"Tentu saja boleh. Lagipula buku catatan itu memang sengaja kubuat khusus demi menyesuaikan dengan kemampuan Uta sendiri."

"Eh, benarkah!?"

"Iya. Biar bagaimanapun juga, rangkuman materi di dalam sana beneran sengaja kubuat khusus demi menyesuaikan dengan kemampuan Uta sendiri."

"T-terima kasih banyak ya……"

Nada suara Uta terdengar sangat kecil dan pelan, sebuah pemandangan yang beneran sangat langka terjadi darinya.

Di saat yang bersamaan, Hoshimiya dan Reita masih terus sibuk membolak-balik halaman buku catatan milikku tersebut.

"Wah…… ini beneran keren sekali lho. Metode penyampaiannya beneran sangat mudah untuk dipahami."

"Iya, benar sekali. Jika seseorang tidak beneran menguasai materi pelajaran ini dengan matang, dia pasti tidak akan pernah bisa menuliskan rangkuman yang sejelas ini."

Mendengar pujian yang bertubi-tubi dari mereka berdua beneran sukses membuatku menggaruk kepalaku yang tidak gatal karena saking malunya.

Mendapat pujian seperti ini tentu saja membuatku merasa sangat bahagia. Namun di sisi lain, aku juga bingung harus memberikan respons seperti apa untuk menanggapinya.

Biar bagaimanapun juga, fakta kalau di kehidupanku yang dulu aku beneran sangat jarang mendapatkan pujian dari orang lain adalah sebuah kebenaran yang nyata…… fufufu…….

"Apakah rangkuman khusus untukku tidak ada ya?"

Mendengar pertanyaan yang dilayangkan oleh Hoshimiya tersebut membuatku langsung mengalihkan pikiran gelapku kembali ke dunia nyata untuk memberikan jawaban.

"Mau kubuatkan juga?"

Meskipun aku menawarkan hal tersebut, esensi utamanya sebenarnya tidak terlalu diperlukan lagi untuknya. Hoshimiya tergolong sangat ahli dalam mata pelajaran rumpun bahasa seperti bahasa Jepang dan bahasa Inggris, dan dia hanya lemah di bidang matematika serta fisika saja.

Karakteristik yang beneran sangat mencerminkan sosok anak klub sastra pada umumnya yang murni merupakan tipe anak rumpun humaniora, meski kemampuan dasarnya untuk pelajaran rumpun sains sebenarnya masih tergolong aman.

"Ahaha, itu cuma bercanda kok. Aku tidak ingin merepotkanmu lebih jauh lagi. Lagipula kalau tugas Natsuki-kun sampai bertambah lagi dari sekarang, kamu nanti malah jadi tidak punya waktu untuk belajar demi ujianmu sendiri, kan?"

"Ya, begitulah kenyataannya. Mengurus Uta seorang saja beneran sudah membuatku kewalahan setengah mati tahu."

Melihatku yang mengangkat kedua bahu pasrah sembari berseloroh, Uta langsung menundukkan kepalanya lesu sembari bergumam pelan.

"Maaf…… dan terima kasih banyak ya."

Padahal niat utamaku yang sebenarnya hanyalah sekadar ingin bercanda saja, namun respons yang diberikannya barusan beneran sukses membuatku merasa agak bersalah.

Tampaknya Uta beneran merasa tidak enak hati karena telah menyita banyak waktu belajarku demi membantunya selama ini.

Padahal di kehidupanku yang dulu saat masih bekerja paruh waktu sebagai guru privat, membuat rangkuman materi seperti ini beneran sudah menjadi sebuah rutinitas harian yang sama sekali tidak memberatkanku.

"Karena Natsu sudah berjuang sekeras ini demi diriku, aku beneran harus bisa menunjukkan hasil ujian yang terbaik nanti!"

Uta mengepalkan kedua tangan di depan dada penuh semangat, mencoba memompa motivasi dirinya sebelum akhirnya mulai fokus melanjutkan aktivitas belajarnya kembali.

"……Omong-omong, apakah saat zaman SMP dulu kemampuan otakmu beneran secerdas ini ya?"

"Bisa diam tidak? Ini semua murni karena hasil perjuangan kerasku saat belajar demi menghadapi ujian masuk SMA kemarin tahu."

"Heeh, jadi berkat hasil belajar tersebut sekarang kemampuanmu sudah setingkat level seorang guru yang bisa mengajari orang lain ya…… jadi begitu, menarik juga."

"……Memangnya ada masalah dengan hal itu?"

"Tidak ada kok. Aku cuma merasa kalau hal ini beneran terlihat sangat menarik saja."

Di saat aku dan Miori sedang sibuk saling melempar bisikan kata demi menjaga agar tidak mengganggu konsentrasi belajar yang lainnya, sebuah suara interupsi mendadak terdengar.

"Kalian berdua beneran terlihat sangat akrab sekali ya?"

Reita yang tampaknya sejak tadi sedang mengawasi interaksi kami hanya bisa melayangkan sebuah senyuman kecut melihat tingkah kami.

Miori yang terkejut langsung mendorong wajahku menjauh menggunakan telapak tangan.

Tolong ya, jangan asal menyingkirkan wajah orang lain menggunakan tangan begitu dong.

"Hubungan kami beneran sama sekali tidak seakrab itu kok. Lagipula daripada dengan anak ini, aku pribadi justru jauh lebih memilih untuk bisa akrab dengan Reita-kun lho? Ah, benar juga. Kebetulan saat ini ada bagian soal yang tidak kupahami, jadi kalau kamu tidak keberatan, apakah kamu mau mengajariku?"

Miori menggeser posisi kursi duduknya secara perlahan demi bisa berada lebih dekat dengan posisi Reita yang duduk tepat di hadapanku.

Tingkat agresivitas yang ditunjukkannya beneran sangat luar biasa sekali.

Tindakan barusan beneran sudah berada di level sebuah ajakan yang sangat terang-terangan untuk bisa menjalin kedekatan yang lebih intens.

Miori kini sedang duduk sembari menempelkan bahunya ke arah bahu Reita, berpura-pura meminta bantuan penjelasan mengenai soal yang tidak dipahaminya.

"……Bukankah kemampuan otakmu sendiri sebenarnya tergolong sangat cerdas ya?"

Seingatku saat zaman SMP dulu, peringkat nilai ujian Miori beneran tidak pernah sekalipun merosot keluar dari posisi sepuluh besar seangkatan sekolah.

"Eh? Ya, kalau untuk masalah itu sih, aku beneran masih jauh lebih cerdas ketimbang dirimu kok."

"Lalu, apakah soal yang itu beneran tidak bisa kamu selesaikan sendiri?"

Dari hasil lirikan mataku yang sekilas, soal yang ditunjukkannya barusan beneran murni cuma sebuah soal matematika tingkat dasar yang biasa.

 Meskipun bentuk soalnya terlihat agak rumit, esensi penyelesaiannya beneran cuma tinggal memasukkan angka ke dalam rumus yang sudah ada tanpa adanya tingkat kesulitan yang berarti.

"Eeh, tentu saja aku bertanya karena aku beneran tidak memahaminya tahu. (Kalau kamu berani mengucapkan kalimat yang tidak-tidak lagi, aku beneran akan membunuhmu lho ya?)"

Tingkat tekanan intimidasi yang dipancarkannya beneran terlalu kuat hingga membuatku memutuskan untuk segera menarik diri dari obrolan tersebut.

Untungnya (?), saat ini Reita sedang fokus mencurahkan seluruh perhatiannya demi bisa menyelesaikan soal yang disodorkan oleh Miori, sehingga dia tidak terlalu memedulikan interaksi yang terjadi di antara kami berdua.

Mengingat sejak tadi Miori hanya terus-menerus memfokuskan perhatiannya ke arah kelompok kami, aku mendadak merasa kasihan kepada gadis berambut pirang yang datang bersamanya karena telah dicampakkan begitu saja di mejanya sendiri.

Namun begitu aku melayangkan pandangan mataku ke arah sana, gadis tersebut ternyata sedang fokus belajar dengan sangat serius, sebuah pemandangan yang beneran berbanding terbalik dengan penampilannya yang urakan.

Melihat pembawaannya yang terkesan dingin dan sulit untuk didekati tersebut membuatku bisa memahami sedikit alasan kenapa Miori lebih memilih untuk berinteraksi bersama kelompok kami saat ini.

……Ya, walaupun motif utamanya yang terbesar saat ini beneran murni karena dia ingin bisa menjalin kedekatan bersama Reita sih.

"Terima kasih banyak ya, Reita-kun. Berkat bantuan penjelasan darimu, sekarang aku beneran sudah bisa memahaminya dengan sangat baik!"

Miori menyampaikan rasa terima kasihnya sembari melayangkan sebuah senyuman manis, sebelum akhirnya memutuskan untuk menggeser posisi kursi duduknya kembali ke tempat semula.

Melihat ekspresi wajah Miori yang terlihat sangat bahagia tersebut membuatku berinisiatif untuk melayangkan sebuah pertanyaan dengan volume suara yang sangat pelan.

"……Omong-omong, pertemuan kita di tempat ini beneran murni karena sebuah ketidaksengajaan, kan?"

"Sopan sedikit dong. Pertemuan ini beneran murni sebuah kebetulan tahu, lagipula aku mana tahu perihal agenda rencana belajar kelompok kalian hari ini."

"……Ya, kalau dipikir-pikir kembali, hal itu memang benar sih."

"Daripada membahas hal tersebut, bukankah sebelumnya kamu sudah berjanji untuk membantuku? Tolong buatkan sebuah momen yang pas agar aku bisa menjalin kedekatan bersama Reita-kun dong."

"Keadaan ku rasa daripada aku harus ikut campur dengan cara yang aneh, bukankah ceritanya akan jauh lebih cepat jika kamu langsung mengajaknya mengobrol sendiri?"

"Tindakan yang terlalu agresif seperti itu beneran bisa membuat seorang pria menjadi ilfil tahu."

"Tapi dari sudut pandang pribatiku, tindakanmu yang sejak tadi beneran sudah terlihat sangat agresif sekali lho."

"Karena itulah aku memintamu untuk make sure membuatkan sebuah alur pembicaraan yang pas agar aku bisa ikut bergabung ke dalamnya dengan cara yang terlihat sangat natural tahu."

"Permintaanmu itu beneran sebuah tugas yang mustahil untuk dilakukan tahu……"

Tingkat kesulitan dari tugas tersebut beneran berada di luar batas kemampuan seorang pria yang baru saja melakukan debut SMA seperti diriku ini.

"Hei Natsuki, bolehkah aku meminta waktumu sebentar?"

Pucuk dicinta ulam pun tiba, sosok yang baru saja kami bicarakan, Reita, mendadak memanggil namaku dengan ekspresi wajah yang terlihat sangat rumit.

"Ada apa?"

"Ya, bagaimana ya menyampaikannya. Aku beneran bingung harus mengatakannya seperti apa……"

Melihat pembawaan Reita yang biasanya selalu lugas namun kini mendadak terbata-bata beneran memberikan sebuah kesan baru yang terasa sangat segar bagiku.

"……Kurasa, diriku beneran tidak memiliki bakat dalam hal mengajari orang lain deh."

"Ah, ya, kalau untuk masalah itu sih aku beneran bisa memahaminya kok……"

"Melihat respons yang kamu berikan barusan, itu berarti Natsuki juga memiliki pemikiran yang sama denganku ya……"

Reita mengembuskan napas panjang sembari menundukkan kakinya lesu, tampaknya masalah ini beneran sudah menjadi beban pikiran yang sangat serius baginya.

Sebenarnya saat mendengarkan metode penjelasannya kepada Tatsuya sebelumnya, aku sempat merasakan adanya sedikit ganjalan di dalam lubuk hatiku.

Sejujurnya, metode penyampaian yang digunakannya beneran tergolong sulit untuk dipahami, atau lebih tepatnya materi tersebut beneran bukan konsumsi yang cocok untuk seorang pemula.

Bahkan saat dia mengajari Miori beberapa saat yang lalu, penjelasan yang diberikannya beneran terasa sangat tidak efektif, terlepas dari fakta bahwa Reita sendiri bisa menyelesaikan soal tersebut dalam sekejap mata.

Ya, walaupun untuk kasus Miori sendiri hal itu sama sekali tidak menjadi masalah karena dia sebenarnya sudah menguasai jawabannya sejak awal sih.

Berdasarkan kesimpulan pribatiku, Reita tampaknya adalah tipe orang yang jenius sejak lahir, tipe orang yang bisa menyelesaikan berbagai macam soal rumit murni berdasarkan intuisi semata.

Kemampuan otak bawaannya beneran berada di level yang sangat luar biasa sekali, sebuah kelebihan yang tentu saja sangat mengagumkan, namun…….

"Bagi diriku, aku beneran sama sekali tidak bisa memahami bagian mana dari soal ini yang tidak dipahami oleh Tatsuya…… Arkgh, aku beneran tidak mengerti letak ketidakpahamannya! Semuanya kan terlihat sangat mudah di mataku. Aku tahu kalau diriku ini jenius, tapi aku tidak menyangka kalau kejeniusanku ini malah akan mendatangkan kesulitan seperti sekarang…… Tingkat kecerdasan otak antara diriku dan Tatsuya beneran berada di level yang terlalu jauh berbeda."

"Kalimat barusan beneran tidak perlu disampaikan dengan sefrontal itu juga kali!?"

Tatsuya hanya bisa melongo tidak percaya menanggapi kalimat sindiran kejam yang meluncur dari mulut Reita yang sedang menggalau tersebut.

"Sialan! Kenapa diriku harus terlahir dengan otak yang secerdas ini!"

"Memangnya ada kalimat di dunia ini yang beneran lebih menyebalkan ketimbang kalimat barusan!?"

"Ahaha…… Reita-kun memang selalu punya sisi yang seperti itu ya. Tapi menurutku, di situlah letak daya tarik unik dari dirimu yang terasa sangat menghibur."

Hoshimiya melayangkan sebuah komentar sembari tersenyum kecut, mencoba untuk mencairkan kembali suasana ketegangan yang sempat tercipta di dalam ruangan.

"Sosok pria tampan yang penuh dengan rasa percaya diri beneran terlihat sangat menawan ya…… aku beneran ingin menjadikannya sebagai pacarku…… tipe pria idaman yang wajib dimiliki oleh setiap rumah……"

Aku memutuskan untuk mengabaikan saja kalimat gumaman tidak jelas yang meluncur dari mulut Miori barusan. Lagipula, apa-apaan maksud dari istilah 'wajib dimiliki oleh setiap rumah' itu coba.

"Karena itulah, maafkan aku Natsuki, tapi jika sekiranya proses belajar Uta sudah berada di tahap yang aman, apakah kamu bersedia untuk berganti tugas membimbing Tatsuya?"

Alasan kenapa dia tidak meminta bantuan Nanase beneran murni karena saat ini Nanase sedang fokus mencurahkan seluruh perhatiannya demi bisa menyelesaikan tugas belajarnya sendiri.

Fakta bahwa sejak tadi dia sama sekali tidak ikut bergabung ke dalam obrolan kami dan terus menggerakkan penanya beneran membuktikan seberapa tinggi tingkat konsentrasi belajar yang dimilikinya saat ini.

"Ah, tentu saja boleh. Lagipula saat ini aku beneran sedang tidak ada pekerjaan alias menganggur kok."

Biar bagaimanapun juga, aku sebelumnya sudah menyelesaikan seluruh ulasan materi pelajaran untuk semua mata pelajaran saat di rumah, sehingga posisiku saat ini beneran sudah sangat aman sekali.

Namun di sisi lain, mengetahui fakta kalau seorang Reita ternyata memiliki kelemahan berupa tidak bisa mengajari orang lain beneran menjadi sebuah penemuan baru yang menarik.

Pria yang biasanya selalu terlihat serbabisa dan sempurna di segala bidang tersebut ternyata memiliki sebuah celah kekurangan yang tidak disangka-sangka.

Melihat adanya peluang tersebut membuat sebuah ide cemerlang mendadak terlintas di dalam benakku, kurasa tidak ada salahnya jika aku memberikan sedikit bantuan kepada Miori saat ini.

"——Kalau begitu Reita, bagaimana kalau kita bertukar posisi tempat duduk saja?"

"Hmm? Ah, benar juga ya. Posisi itu pasti akan membuatmu jauh lebih mudah untuk mengajari Tatsuya."

Bertukar posisi tempat duduk dengan Reita yang berada di hadapanku beneran akan membuatku bisa berada tepat di sebelah Tatsuya untuk mengajarinya dengan lebih efektif.

Ditambah lagi, dengan berpindahnya posisi Reita ke kursi tempat dudukku sebelumnya, hal itu tentu saja akan membuat Miori yang berada di meja sebelah menjadi jauh lebih mudah untuk membuka obrolan bersamanya.

Melihat Miori yang langsung melayangkan sebuah tatapan mata penuh rasa terima kasih membuatku tersenyum kecut sembari bersiap untuk bangkit berdiri dari kursiku.

"……Ah, tidak perlu repot-repot Natsuki. Aku sudah mendapatkan banyak sekali penjelasan dari Reita tadi, jadi sisanya biar kuselesaikan sendiri saja. Lagipula meskipun penjelasannya memang tergolong sulit untuk dipahami, menyalahkan orang yang sudah berbaik hati mengajari kita beneran bukan sebuah tindakan yang terpuji, kan?"

Tatsuya mengucapkan kalimat tersebut dengan nada suara yang tegas sebelum akhirnya kembali fokus melanjutkan aktivitas belajarnya sendiri.

……Jangan-jangan, tindakan yang dilakukannya barusan beneran murni karena dia ingin menjaga perasaan Reita agar tidak merasa tersinggung ya?

Mengingat keputusannya yang tampak sudah bulat, aku pun mengurungkan niatku lalu memutuskan untuk kembali duduk di kursiku semula.

Miori tampak melayangkan ekspresi wajah yang terlihat sangat mengecewakan, namun melihat situasi dan alur pembicaraan yang berkembang saat ini, keputusan tersebut beneran tidak bisa diganggu gugat lagi.

Aku dan Reita saling berpandangan sebelum akhirnya tersenyum kecut bersamaan dan kembali memfokuskan perhatian kami ke arah buku pelajaran masing-masing.

"Aku izin pergi ke toilet sebentar ya!"

Uta berseru sembari bergegas bangkit berdiri untuk melangkahkan kakinya meninggalkan area meja kami. Tepat di saat momen tersebut terjadi, Miori mendadak memajukan wajahnya ke arah telingaku sembari berbisik pelan, "Hei, hei."

Aku yang merasa bingung langsung membalikkan badannya ke arahnya, namun pandangan mata Miori saat ini ternyata sedang fokus menatap ke arah punggung Uta yang berjalan menjauh menuju toilet.

"Apakah kamu tahu? Akhir-akhir ini, Uta beneran selalu membicarakan perihal dirimu terus-menerus lho."

Miori membisikkan kalimat tersebut dengan volume suara yang sangat pelan, memastikan agar tidak ada satu pun orang di meja kami yang bisa mendengarnya.

"……Kalau tidak salah ingat, kalian berdua beneran bergabung di dalam klub olahraga yang sama, kan, klub basket putri?"

"Benar sekali, kami memang selalu berjalan pulang bersama setiap kali selesai latihan klub lho. Dan akhir-akhir ini, pembawaan dirinya beneran sudah terlihat sangat mencerminkan sosok seorang gadis yang sedang jatuh cinta tahu, terlepas dari trik sulap macam apa yang sebenarnya sudah kamu lakukan kepadanya selama ini."

"Tolong jangan mulai bercanda yang tidak-tidak deh."

"Padahal aku beneran sedang tidak bercanda sama sekali lho."

Memang tidak bisa dipungkiri kalau hubungan pertemanan di antara kami berdua belakangan ini sudah terjalin dengan cukup baik, namun aku beneran merasa tidak pernah melakukan tindakan apa pun yang sekiranya bisa memicu munculnya perasaan asmara di dalam hatinya, dan aku juga tidak pernah merasakan adanya tanda-tanda ke arah sana…… tidak, kalau dipikir-pikir kembali, Uta memang memiliki karakteristik berupa pembawaan dirinya yang selalu menjaga jarak kedekatan yang sangat dekat dengan orang lain.

Kesimpulan pribatiku, Miori beneran cuma sedang membesar-besarkan masalah ini saja untuk menggodaku, lagipula kalimat yang digunakannya barusan kan cuma sebatas spekulasi berupa 'tampaknya sedang jatuh cinta'.

Kalimat ambigu yang tingkat persentase kepercayaannya beneran setara dengan kalimat janji palsu pejabat berupa 'kami akan mempertimbangkannya dengan matang'.

"Sebagai rekan kerja samamu, aku punya sebuah penawaran menarik lho. Kalau situasinya seperti sekarang, kurasa aku beneran bisa dengan mudah menjodohkanmu agar bisa berpacaran dengan Uta, bagaimana? Ataukah jangan-jangan, gadis yang sebenarnya sedang kamu incar saat ini beneran bukan Uta ya?"

Mendengar bisikan manis yang dilayangkan oleh Miori barusan beneran sukses membuat fokus pertahanan dinding logikaku mendadak goyah selama beberapa saat.

Aku menelan ludahku sendiri yang terasa kelat.

——Sakura Uta, adalah seorang gadis yang beneran memiliki paras wajah yang sangat cantik, tipe gadis ideal yang posisinya beneran masuk ke dalam jajaran lima besar gadis tercantik di angkatan sekolah kami.

Mengenai ukuran tubuhnya pendek dan memiliki perawakan yang kekanak-kanakan, sebuah kekurangan yang sebenarnya sangat menjadi beban pikiran baginya, namun di mataku pribadi hal tersebut justru membuat sosoknya terlihat semakin menggemaskan.

Ditambah lagi, karakteristik kepribadiannya yang selalu ceria dan penuh dengan energi positif beneran sering kali menjadi sumber kekuatan tersiandiri yang ikut memberikan motivasi di dalam hidupku.

Jika diriku beneran bisa mendapatkan kesempatan untuk bisa menjalin hubungan asmara bersamanya, kebahagiaan macam apa yang kiranya akan menyelimuti hari-hari kehidupanku nanti?

"Natsu?"

Sebuah suara panggilan dari sosok yang baru saja menjadi subjek fantasi liarku barusan beneran sukses membuat seluruh tubuhku tersentak kaget karena saking terkejutnya.

"Ah, o-ouh Uta. Kamu beneran sudah kembali ya."

"……Kenapa sejak tadi kamu terlihat asyik mengobrol bersama Miorin terus sih? Sebenarnya apa yang sedang kalian berdua bicarakan?"

Uta melayangkan pertanyaan tersebut dengan nada suara yang terdengar sangat rendah, sebuah pembawaan yang beneran sangat tidak cocok dengan karakteristik dirinya yang biasanya.

Aku beneran bingung harus memberikan jawaban seperti apa untuk menanggapi pertanyaannya barusan.

Mengingat situasi yang ada, mana mungkin aku jujur mengatakan kalau kami sedang membicarakan perihal dirinya…… eh, tunggu dulu, bukankah jujur justru bisa menjadi pilihan terbaik?

"Itu, kami sebenarnya sedang membicarakan perihal dirimu kok, Uta."

"Ah, membicarakan perihal diriku?"

"Iya. Aku beneran merasa penasaran mengenai bagaimana penampilan pembawaan dirimu yang sebenarnya saat sedang menjalani sesi latihan di dalam klub olahraga lho."

……Dari sudut pandang mata bagian kananku, aku beneran bisa melihat Miori yang sedang mengacungkan jempolnya tinggi-tinggi ke udara penuh kemenangan, namun aku memutuskan untuk mengabaikannya saja.

"Hmm. Begitu ya, jadi begitu ceritanya. Kalau alasannya memang seperti itu, ya sudah deh."

Uta memajukan bibirnya sedikit tanda cemberut sebelum akhirnya memutuskan untuk memalingkan wajahnya ke arah lain dengan pandangan mata yang tertuju ke arah lantai kafe.

Karakteristik Uta yang selalu ekspresif beneran membuatku bisa dengan mudah membaca gejolak emosi di dalam hatinya, namun jika dia sudah memutuskan untuk memalingkan wajahnya seperti sekarang, menebak jalan pikirannya beneran menjadi sebuah tugas yang mustahil untuk dilakukan.

"Laru, bagian soal mana lagi yang membuatmu merasa bingung saat ini?"

"Ah, iya. Di bagian yang ini, meskipun di dalam buku catatan yang kamu berikan sebelumnya sudah tertera contoh penjelasannya, tapi——"

Aku pun kembali memfokuskan diriku demi bisa memberikan penjelasan mengenai metode penyelesaian soal fisika tingkat lanjut kepadanya.

Fakta bahwa dia bisa melangkah sejauh ini dalam mengerjakan soal-soal tersebut beneran membuktikan kalau dia sebenarnya sudah berhasil menguasai konsep dasar materi pelajaran ini dengan sangat baik.

Jika dibandingkan dengan kondisinya pada satu minggu yang lalu, tingkat perkembangan kemampuan belajarnya saat ini beneran sudah berada di level yang sangat luar biasa sekali.

Mengingat mata pelajaran fisika yang merupakan kelemahan terbesarnya saja sudah bisa dikuasai sejauh ini, kurasa posisinya untuk ujian nanti beneran sudah berada di zona aman.

Setelahnya, kami pun menyempatkan diri untuk menyantap menu makan siang bersama sebelum akhirnya kembali melanjutkan aktivitas belajar kelompok kami hingga hari beranjak sore.

"Bagaimana dengan agenda rencana belajar kita untuk hari esok?"

"Ah, maaf ya semuanya, tapi besok aku beneran harus masuk kerja paruh waktu di kafe ini."

"Eh, benarkah? Padahal lusa beneran sudah memasuki hari pertama pelaksanaan ujian tengah semester lho?"

"Sistem pembagian jadwal kerja paruh waktu di kafe ini kan murni digerakkan oleh para pekerja dari kalangan pelajar, jadi di momen-momen seperti sekarang kafe beneran sering kali mengalami krisis kekurangan staf karena banyak yang mengajukan izin libur demi fokus belajar."

Melihat Hoshimiya yang memiringkan kepalanya sedikit tanda bingung membuatku berinisiatif untuk memberikan penjelasan detail mengenai kondisi yang sesungguhnya terjadi.

Berhubung aku sendiri sudah memberikan jaminan kalau persiapan belajarku beneran sudah berada di tahap yang sangat aman, Manajer kafe pun akhirnya meminta bantuanku untuk masuk bekerja demi menutupi kekosongan staf tersebut.

"Jika Natsu besok berada di kafe ini, bolehkah aku ikut datang ke sini lagi untuk belajar?"

"Aku tidak keberatan kok, tapi mengingat besok statusku adalah sedang bekerja paruh waktu, aku beneran tidak akan punya waktu luang untuk bisa mengajarimu lho ya?"

"Kalau untuk masalah itu sih beneran sama sekali tidak ada masalah tahu!"

"Sebab berkat adanya buku catatan rangkuman milikmu ini, persiapanku beneran sudah dijamin akan berjalan dengan sangat lancar sekali!"

Uta berseru penuh semangat sembari mengacungkan dua jarinya tinggi-tinggi ke udara membentuk tanda peace.

Melihat tingkah lakunya yang selalu penuh dengan energi positif tersebut membuatku tersenyum kecut sebelum akhirnya mengedarkan pandangan mataku ke arah teman-temanku yang lain.

"Bagaimana dengan rencana yang lainnya?"

"——Aku pas dulu deh. Besok aku berniat untuk fokus belajar sendirian saja di rumah."

"Aku pribadi juga sepertinya akan memilih untuk absen dulu deh. Lagipula jika aku terlalu sering menghabiskan waktu belajar di luar rumah menjelang ujian seperti sekarang, orang tuaku pasti akan mulai mengomel panjang lebar nanti."

"Benar juga ya. Berhubung besok adalah hari terakhir sebelum ujian dimulai, kurasa aku juga akan memilih untuk fokus belajar di rumah saja deh."

"Kalau begitu, aku juga akan mengambil keputusan yang sama saja deh. Lagipula kondisi keuanganku saat ini beneran sedang tidak berada di tahap yang aman untuk bisa terus-menerus nongkrong di kafe."

Satu per satu dari mereka pun mulai menyampaikan rencana agenda belajar mereka masing-masing untuk hari esok.

Namun di antara semua jawaban tersebut, fakta kalau nada suara Tatsuya terdengar sangat kaku saat menyampaikan jawabannya beneran sempat menyisakan sedikit ganjalan di dalam lubuk hatiku.

……Apakah kegagalannya dalam menguasai materi pelajaran selama sesi belajar bersama belakangan ini beneran sudah mulai menumpuk rasa stres di dalam hatinya ya?

Namun terlepas dari apa pun alasannya, mengabaikan hal tersebut beneran merupakan pilihan terbaik demi kebaikan bersama saat ini.

Hari itu pun ditutup dengan keputusan kami untuk membubarkan diri dari aktivitas belajar kelompok dan bersiap untuk pulang ke rumah masing-masing.

Miori dan temannya juga memutuskan untuk menyudahi aktivitas belajar mereka di waktu yang bersamaan, sehingga kami semua pun akhirnya berjalan bersama menuju stasiun demi bisa menaiki kereta pulang yang sama.

——Dan dari formasi kepulangan tersebut, sebuah situasi yang tidak bisa dihindari pun akhirnya terpaksa harus terjadi kembali.

"Ujung-ujungnya, formasi kepulangan ini beneran kembali menyisakan kita berdua saja ya. Biar bagaimanapun juga, posisi stasiun rumah kita berdua kan memang berada di rute paling ujung."

"Hmm, apa maksud dari reaksi ketusmu itu? Padahal kamu saat ini sedang mendapatkan kesempatan emas untuk bisa berjalan berdua saja bersama seorang gadis SMA yang sangat cantik jelita lho. Tuh, lihat saja ke arah luar jendela kereta, orang-orang yang penampilannya mirip dengan dirimu di masa lalu beneran sedang melemparkan tatapan mata penuh rasa iri ke arahmu tahu? Bagaimana rasanya? Bukankah rasanya beneran sangat menyenangkan sekali?"

"Kalimat barusan beneran sebuah hinaan yang sangat kejam untukku pribadi maupun untuk orang-orang di sekitar kita tahu, dasar mulut racun……"

"Tapi dari hasil pengamatanku selama seharian penuh hari ini, perkembangan progres kehidupanku beneran sudah berjalan ke arah yang cukup baik lho, Natsuki."

"Ya, terserah kamulah. Daripada sibuk memikirkan urusanku, bukankah sebaiknya kamu gunakan waktumu untuk fokus belajar saja?"

Miori tampaknya beneran sama sekali tidak berniat untuk mendengarkan kalimat saranku barusan dan memilih untuk terus melanjutkan alur pembicaraannya sendiri sesuka hati.

"Mengenai alasan utama dirimu memutuskan untuk melakukan debut SMA di kehidupan kali ini, kalau tidak salah ingat tujuannya adalah sebagai sarana demi bisa meraih sebuah masa muda yang penuh dengan warna-warni pelangi, kan? Sebuah rencana besar demi bisa mengubah takdir masa muda yang kelam dan abu-abu menjadi penuh dengan kilauan warna pelangi, begitulah penjelasan yang sempat kudengar darimu dulu."

"……Mendengar kalimat ambisius seperti itu diucapkan kembali secara lantang dari mulut orang lain beneran sukses membuatku merasa sangat malu setengah mati tahu, jadi tolong hentikan sekarang juga."

Aku bisa merasakan adanya hawa panas yang mendadak mulai menjalar ke sekitar area pipi wajahku karena saking malunya. Melihat reaksiku yang salah tingkah tersebut beneran membuat Miori melayangkan sebuah senyuman jahat yang terlihat sangat menyebalkan.

"Baiklah kalau begitu, mari kita beri nama misi besarmu ini dengan sebutan Rencana Masa Muda Pelangi!"

Miori berseru dengan sangat cerianya tanpa memedulikan perasaanku sama sekali.

Gadis yang satu ini beneran paling ahli kalau urusan mencari kesenangan di atas penderitaan orang lain, karakteristik kepribadian yang beneran sangat buruk sekali.

Ya, walaupun di dalam lubuk hatiku yang terdalam, aku terpaksa harus mengakui kalau istilah nama yang dibuatnya barusan beneran sangat cocok dengan kondisi yang sedang kuperjuangkan saat ini, sebuah pengakuan yang beneran sangat enggan untuk kuucapkan secara lantang.

"Nah, sekarang mari kita kesampingkan dulu masalah penamaan tersebut, oke? Natsuki."

"Ada apa lagi? Kenapa ekspresi wajahmu mendadak berubah menjadi seserius itu coba."

"Ini beneran bukan bermaksud untuk ikut campur dalam urusan pribadimu ya, melainkan murni cuma sebatas sebuah saran dan masukan dari sudut pandangku saja."

Mengekerut, Miori melayangkan jari telunjuknya tepat di depan hidungku untuk menyampaikan hasil analisisnya.

"——Berdasarkan hasil pengamatan pribatiku, rencana besar yang sedang kamu jalankan saat ini tampaknya beneran sedang menghadapi sebuah masalah yang sangat serius lho."

Setelah melayangkan kalimat peringatan yang penuh misteri tersebut, Miori memilih untuk langsung melangkah pergi meninggalkanku sembari mengucapkan kalimat penutup berupa, "Silakan kamu pikirkan sendiri saja jawabannya ya."

Sialan, gadis yang satu ini beneran bener-bener menyebalkan sekali.

Kenapa dia harus sengaja meninggalkan sebuah kalimat teka-teki yang menggantung seperti itu coba…… tindakan barusan beneran sukses membuat lubuk hatiku dilanda rasa penasaran yang teramat sangat sekarang.

Walaupun ada kemungkinan kalau dia sengaja melakukannya murni cuma karena ingin menjahiliku saja, namun berdasarkan pengetahuanku perihal karakteristik dirinya, Miori beneran bukan tipe orang yang akan mengucapkan sebuah kalimat tanpa adanya landasan alasan yang kuat.

Jika analisis dari kalimatnya barusan beneran mengandung kebenaran, itu berarti rencana besar kehidupanku saat ini beneran sedang berada di dalam sebuah ancaman bahaya, namun sekeras apa pun aku mencoba memikirkannya, aku beneran sama sekali tidak bisa menemukan petunjuk mengenai letak kesalahannya.

Sesampainya di dalam kamar rumah, aku langsung menjatuhkan tubuhku ke atas kasur empuk sembari terus memutar otak demi bisa menemukan jawaban dari makna kata-kata Miori barusan.

Di saat aku sedang sibuk merenung sembari memandangi langit-langit kamar dalam keheningan malam, ponsel milikku yang berada tepat di sebelah bantal mendadak bergetar pelan mengalirkan sebuah suara notifikasi pesan masuk.

Aku pun langsung mengubah posisi tidur telentangku menjadi posisi tengkurap demi bisa meraih ponsel tersebut ke dalam genggaman tanganku, dan di sana tertera sebuah notifikasi pesan masuk dari aplikasi RINE.

Begitu melihat nama pengirimnya yang ternyata adalah Hoshimiya, aku langsung bergerak dengan sangat cepat demi bisa membuka kunci layar ponsel untuk membaca isi pesannya, sebelum akhirnya sebuah rasa penyesalan mendadak muncul di dalam lubuk hatiku karena tindakanku yang dirasa terlalu cepat dalam memberikan status centang biru atau tanda sudah dibaca pada pesan tersebut.

Kecepatan respons yang kuberikan barusan beneran sudah berada di tahap yang sangat ekstrem, seolah-olah aku memang sedang standby menunggu datangnya pesan darinya sejak tadi.

Aku beneran cemas jika tindakan cerobohku barusan malah akan membuat dirinya menjadi merasa risih dan ilfil kepadaku.

Ya, meskipun secara nalar logika hal sepele seperti ini seharusnya tidak akan mendatangkan dampak yang buruk, namun jika subjek interaksinya adalah seorang gadis, urusan bertukar pesan lewat aplikasi RINE beneran selalu berhasil memicu munculnya rasa cemas yang berlebihan di dalam hatinya.

Kamu lagi sibuk tidak saat ini?

Pesan masuk yang dikirimkan oleh Hoshimiya tersebut ternyata berisi sebuah pertanyaan mengenai aktivitas kegiatanku saat ini.

Aku baru saja sampai di rumah, sekarang lagi santai saja sembari rebahan di atas kasur kok.

Setelah melayangkan jawaban jujur tersebut, status pesan di dalam ruang obrolan kami pun langsung berubah menjadi sudah dibaca dalam sekejap mata oleh Hoshimiya.

Aku juga sama, haha 🤣

Aku pun mulai mengetikkan kalimat balasan berupa Apakah ada urusan yang penting? di kolom obrolan ponselku, namun aku langsung mengurungkan niatku untuk mengirimkannya karena kalimat tersebut beneran akan terlihat sangat dingin dan kaku saat dibaca oleh lawan bicara.

Tapi terlepas dari masalah itu, motif utama di balik alasannya mengirimkan pesan kepadaku saat ini beneran masih menjadi sebuah misteri yang belum terpecahkan.

Namun jika dia beneran mengirimkan pesan ini murni cuma karena ingin mengobrol santai denganku tanpa adanya tujuan khusus, hal itu beneran membuka tabir seberapa dekatnya level hubungan pertemanan yang sudah berhasil kami bangun selama ini, sebuah pencapaian yang tentu saja membuat lubuk hatiku terasa sangat bahagia sekarang.

Di saat aku masih sibuk bergelut dengan pemikiran pribatiku tersebut, sebuah pesan masuk baru dari Hoshimiya kembali muncul di layar ponselku.

Kalau sekarang, apakah kita boleh mengobrol lewat panggilan telepon sebentar?

…………………….

Dunia seolah-olah mendadak berhenti berputar selama beberapa saat, dan aku beneran membutuhkan waktu sekitar sepuluh detik hanya demi bisa mencerna arti dari kalimat pesan yang baru saja meluncur ke dalam ponselku tersebut.

Melakukan panggilan telepon bersama!?

Diriku, bersama dengan Hoshimiya!?

Kenapa situasi ini mendadak bisa berkembang ke arah yang sefrontal ini coba!?

Tidak, tidak, tidak, situasi bertukar panggilan telepon di malam hari seperti ini beneran sudah berada di level hubungan sepasang kekasih yang sedang dilanda asmara, kan? (Logika macam apa pula itu coba?)

Di saat aku masih sibuk tenggelam ke dalam pusaran kepanikan batin yang luar biasa, sebuah pesan susulan dari Hoshimiya kembali masuk ke dalam ruang obrolan kami.

Tapi kalau kamu keberatan atau lagi malas, waktunya beneran sama sekali tidak harus sekarang kok! 🙏

Gawat. Gara-gara aku malah panik setelah membaca pesan tetapi tidak langsung membalasnya, dia pasti mengira kalau aku sengaja mengulur-ulur waktu karena enggan.

Ini benar-benar bukan saat yang tepat untuk meratapi kesalahan fatal yang sangat kusesali ini. Aku pun langsung bergerak dengan terburu-buru demi bisa mengetikkan kalimat balasan di kolom obrolan ponselku.

"Bisa kok!"

Tepat di saat aku baru saja bernapas lega setelah mengirimkan pesan balasan tersebut, di detik berikutnya ponselku mendadak langsung bergetar menampilkan panggilan telepon masuk dari Hoshimiya.

Aduh, tolong berikan aku sedikit waktu untuk bisa menenangkan detak jantungku terlebih dahulu dong, pikirku sambil tetap menggeser layar untuk mengangkat panggilan teleponnya.

Saat ini, jantungku benar-benar sudah berdegup dengan sangat kencang hingga menimbulkan suara denturan yang terasa sangat nyata.

Demi menjaga agar dia tidak menyadari tingkat ketegangan yang sedang melanda batin arkianku saat ini, aku pun mencoba mengeluarkan suara dengan tempo yang sangat pelan dan teratur.

"Halo?"

"Selamat malam, Natsuki-kun."

"Ah, a-aa…… selamat malam."

"Fufu, kita baru saja berpisah beberapa saat yang lalu ya."

Hoshimiya melayangkan sebuah tawa kecil yang terdengar sangat renyah.

Mengarahkan suara Hoshimiya yang menggema dengan sangat jelas tepat di lubang telingaku benar-benar sukses membuat fokus pertahananku mendadak buyar.

Jangankan untuk ikut tertawa, bernapas dengan normal saja rasanya sudah sangat sulit sekali untuk kulakukan saat ini.

Maksudku, kualitas suara milik Hoshimiya ini benar-benar terlalu bagus, kan?

Suaranya terasa sangat nyaman dan merdu saat mengalir masuk ke dalam indra pendengaranku.

"Ah, iya, kita baru saja berpisah beberapa saat yang lalu."

Sial, aku malah kembali mengulangi kalimat yang diucapkannya layaknya seekor burung beo lagi.

Kemampuan bicaraku benar-benar terasa sangat payah dan berada di level yang sangat rendah jika dihadapkan pada situasi seperti ini…….

"Apakah kamu sudah makan malam?"

"Belum. Kebetulan Ibu pulang kerja agak terlambat hari ini. Perutku benar-benar sudah terasa sangat lapar sekarang."

Begitu aku melirikkan pandangan mataku ke arah jam dinding, waktu ternyata sudah menunjukkan pukul delapan malam lewat.

Bagi seorang anak remaja SMA yang sedang berada di masa pertumbuhan dengan porsi makan yang sedang kuat-kuatnya, situasi menunggu seperti ini terasa sangat menyiksa.

Sebenarnya aku bisa saja berinisiatif untuk memasak sesuatu sendiri di dapur, namun mengingat memasak adalah salah satu hobi terbesar Ibu, aku tidak ingin merenggut momen waktu santai yang menjadi sarana hiburan baginya tersebut.

"Begitu ya. Kalau aku sih sudah selesai makan malam sejak tadi lho."

"Wah, asyik sekali. Kamu makan malam pakai menu apa hari ini?"

"Untuk menu hari ini—, aku makan hamburger steak buatan Mama!"

Mendengar nada suara Hoshimiya yang terdengar sangat ceria dan penuh dengan energi positif tersebut sukses membuat detak jantungku ikut bergejolak tidak karuan.

"Heeh—, jadi itu menu makanan hasil masakan buatan Ibumu ya?"

"Iya! Mama benar-benar sibuk sekali dengan urusan pekerjaannya, jadi beliau memang cuma bisa memasak untukku sesekali saja. Tapi setiap kali beliau memasak, rasanya benar-benar selalu enak sekali lho—. Gara-gara hal itu, aku tadi tanpa sadar sampai makan terlalu banyak, sekarang aku jadi merasa cemas kalau tubuhku nanti malah bertambah gemuk."

Hoshimiya memanggil Ibunya dengan sebutan 'Mama' ya. Karakteristik itu terdengar sangat menggemaskan di telingaku.

Mengingat kondisi Ibunya yang digambarkan sangat sibuk dengan urusan pekerjaan, apakah itu berarti kedua orang tuanya adalah tipe pasangan suami istri yang sama-sama aktif bekerja?

Berdasarkan tingkat ketatnya aturan jam malam yang diterapkannya serta atmosfer pembawaan dirinya yang selalu terlihat sangat elegan, selama ini aku sempat mengira kalau dia merupakan sosok seorang anak gadis berdarah bangsawan dari kalangan keluarga kaya raya terpandang, namun ternyata…….

"Tubuh Hoshimiya kan tergolong sangat kurus, jadi kurasa kamu benar-benar sama sekali tidak perlu merasa cemas akan hal itu."

"Kalau dari penampilan luar mungkin memang terlihat seperti itu sih ya—, tapi kenyataannya bagian dalam tubuhku benar-benar sudah berada di tahap yang sangat gawat lho!"

Bersamaan dengan kalimat gumaman lirih yang menyatakan kalau kondisinya sudah gawat tersebut, sebuah suara denturan kain yang bergerak dengan sangat heboh mendadak terdengar dari seberang telepon.

Dia tampaknya saat ini sedang berguling-guling di atas kasur tempat tidurnya.

"Apakah benar-benar se-gawat itu?"

Mengingat topik pembicaraan ini sudah mulai melangkah masuk ke dalam ranah sensitif bagi seorang gadis, aku bingung mengenai sejauh mana diriku diizinkan untuk ikut campur.

Ujung-ujungnya, aku memutuskan untuk memberikan sebuah jawaban yang terdengar ambigu saja.

"Iya, benar-benar gawat tahu. Aku merasa iri kepada Natsuki-kun yang memiliki postur tubuh kurus namun tetap terlihat proporsional seperti itu. Ditambah lagi, kamu ternyata juga memiliki bentuk otot tubuh yang bagus ya."

"Kegiatan harian yang bisa kulakukan di rumah benar-benar cuma sebatas melakukan latihan beban saja kok."

"Jangan mendadak mengucapkan kalimat yang terdengar sangat menyedihkan seperti itu dong. Kenyataannya tidak se-menyedihkan itu, kan?"

"Tapi kenyataannya, seorang anak yang tidak bergabung ke dalam klub olahraga sekolah memang tidak memiliki banyak aktivitas kegiatan yang bisa dilakukan selain bekerja paruh waktu lho."

Sebagai konsekuensi logis dari pilihan tersebut, fokus utamaku pun murni dialihkan demi bisa melakukan proses pengembangan kualitas diri secara mandiri di rumah.

Lagipula, jika aku ingin menyalurkan hobi otaku milikku pun, dunia tempatku berada saat ini kan murni merupakan dunia pada tujuh tahun yang lalu, sehingga pilihan caranya benar-benar terasa sangat terbatas.

"Ah, kalau dipikir-pikir kembali, hal itu memang benar sih ya. Biasanya kalau sudah sampai di rumah, apa saja sih aktivitas kegiatan yang biasa kamu lakukan?"

"Paling cuma sebatas menonton video di YouTube secara acak, bermain game, dan sisanya baru kugunakan untuk melakukan latihan beban."

"Ahaha, aku ternyata juga sering melakukan hal yang sama kok. Apa aku sebaiknya juga mulai mencoba untuk melakukan latihan beban dari sekarang saja ya—."

"Melakukan latihan beban itu benar-benar sangat bagus lho."

Biar bagaimanapun juga, bentuk otot tubuh tidak akan pernah mengkhianati hasil dari perjuangan keras kita sendiri.

Di dunia ini, kurasa hanya otot tubuh sajalah satu-satunya hal yang bisa kupercayai secara mutlak tanpa adanya syarat apa pun.

"Ah, tapi kalau dipikir-pikir kembali, aku pribadi sama sekali tidak tertarik untuk melihat sosok Hoshimiya yang memiliki postur tubuh kekar berotot lho."

"Aku juga sama sekali tidak berniat untuk melatih tubuhku sampai menjadi sekekar itu kali!? Tapi kalau kondisinya terus dibiarkan seperti sekarang, postur tubuhku terasa sangat lemah dan ringkih sekali tahu. Untuk gerakan push-up saja, batas kemampuan maksimalku mungkin cuma mentok di hitungan kelima saja deh."

"Masa cuma sampai hitungan kelima saja?"

Meskipun aku sempat melayangkan sebuah kalimat sindiran ringan untuk menanggapinya, namun mengingat kondisi fisikku di kehidupanku yang dulu tidak jauh berbeda dengan kondisinya saat ini, aku sama sekali tidak memiliki hak untuk menertawakan kelemahannya tersebut.

"Ayo mulai, hitung bersama ya! Satu, dua, tiga……"

Kenapa dia mendadak malah mengeluarkan suara teriakan aba-aba yang sangat lantang begitu ya.

Dari bunyinya, dia tampaknya benar-benar langsung mempraktikkan gerakan push-up tersebut di atas kasurnya saat ini.

"Semangat ya—."

"Em…… pa…… ngguh……!"

Anu. Mohon maaf yang sebesar-besarnya. Aku berniat untuk menarik kembali seluruh kalimat dukunganku barusan.

Suara desahan yang dikeluarkannya barusan sukses memicu munculnya sebuah perasaan aneh yang bergejolak di dalam benakku.

Kalau boleh, apakah kamu bisa segera menghentikan aktivitas tersebut sekarang juga……?

"Puhah, hah, hah, benar-benar sama sekali tidak kuat lagi deh—!"

Suara deru napasnya yang terengah-engah terdengar dengan sangat jelas dan dekat tepat di lubang telingaku.

 Tolong jangan membuat detak jantungku meledak karena melakukan aktivitas yang tidak perlu seperti ini dong.

"Padahal saat zaman dulu aku masih bisa melakukannya sedikit lebih banyak dari ini lho. Tapi terlepas dari hal itu, kenapa tubuhku malah jadi berkeringat seperti ini ya, padahal aku kan baru saja selesai mandi tadi."

Jadi begitu ya ceritanya. Sosok Hoshimiya yang sedang berbicara dengan diriku di seberang telepon saat ini ternyata baru saja selesai mandi…….

………….

Jika situasi ini terus dibiarkan berlanjut lebih jauh lagi, aku cemas kalau organ jantungku tidak akan sanggup menahan tingkat ketegangan yang mendera batin ini.

Aku pun memutuskan untuk segera mengalihkan pembicaraan menuju ke rute topik utama yang sesungguhnya.

Padahal jika saja kondisi jantungku berada di tahap yang aman, aku ingin mengobrol santai bersamanya seperti ini untuk waktu yang tidak terbatas tahu…….

"Omong-omong, ada masalah apa sampai kamu mendadak menghubungiku lewat panggilan telepon seperti ini?"

Begitu pertanyaan tersebut meluncur dari mulutku, suasana di seberang telepon mendadak berubah menjadi sangat hening dan sunyi.

Hoshimiya tampaknya saat ini sedang sibuk memilih susunan kalimat yang pas untuk menyampaikannya.

"……Anu, bagaimana ya. Sebenarnya ini bukan sebuah urusan yang terlalu penting atau bagaimana sih, tapi……"

Nada suara Hoshimiya mendadak merosot turun satu oktav menjadi jauh lebih rendah ketimbang sebelumnya.

Melihat pembawaan dirinya yang seperti ini memberikan sebuah kesan kalau topik pembicaraan yang akan dibahasnya kali ini adalah sebuah urusan yang sangat serius.

Apakah alasan utama kenapa dia sejak tadi terus mengajakku mengobrol santai mengenai hal-hal yang tidak penting adalah karena dia sebenarnya sedang berusaha untuk mengulur waktu agar tidak perlu segera masuk ke dalam topik utama ini?

Namun terlepas dari spekulasi tersebut, aku sama sekali tidak bisa menemukan petunjuk mengenai masalah apa yang sekiranya sedang terjadi saat ini.

"Natsuki-kun, kalau menurut sudut pandang pribatimu sendiri, bagaimana sih kondisi perihal Tatsuya-kun belakangan ini?"

"Bagaimana maksudnya? Ada masalah apa memangnya dengan dia?"

Pertanyaan yang dilayankannya barusan berada di luar batas ekspektasi dugaanku sama sekali. Kenapa pembicaraan ini mendadak malah membahas perihal Tatsuya?

Ditambah lagi, kenapa dia sangat memedulikan kondisi perihal Tatsuya sampai seperti ini?

"Hmm—, bagaimana ya menyampaikannya. Aku merasa kalau belakangan ini pembawaan dirinya tampak terlihat agak sedikit murung dan lesu begitu lho. Ya, kalau hal itu murni cuma sebatas perasaan khawatirku saja sih syukurlah, tapi aku berpikir kalau sesama pria mungkin ada sebuah informasi tertentu yang kalian ketahui, makanya aku mencoba bertanya kepadamu saat ini."

"Tatsuya terlihat murung……?"

Kalau untuk urusan pembawaan dirinya yang sesekali tampak terlihat sedang berada dalam kondisi suasana hati yang buruk sih memang ada beberapa momen aku sempat menyadarinya.

Namun, sifatnya yang temperamental dan mudah berubah-ubah suasana hati seperti itu kan memang sudah menjadi karakteristik bawaannya sejak awal.

"Dari hasil pengamatanku selama ini, dia sama sekali tidak terlihat sedang menunjukkan tanda-tanda seperti itu kok. Aku pribadi juga tidak memiliki petunjuk mengenai masalah apa yang sekiranya sedang menimpanya saat ini."

Meskipun aku melayangkan jawaban yang terdengar biasa saja untuk menenangkan perasaannya, namun di dalam lubuk hatiku yang terdalam, sebuah rasa cemas yang baru mendadak mulai melintas melintasi benak pikiranku.

"……Hoshimiya, apakah kamu jangan-jangan, sebenarnya sedang menaruh perasaan suka atau tertarik kepada Tatsuya ya?"

"Eh, apa maksud dari…… eeiihh!? B-bukan seperti itu tahu! Aku murni cuma sebatas merasa khawatir saja sebagai sesama teman……"

Tingkat nada keterkejutan yang ditunjukkan oleh Hoshimiya dari seberang telepon terdengar sangat alami. Sebuah respons yang memberikan jaminan kalau pemikiran ke arah sana sama sekali tidak pernah terlintas di dalam benak kepalanya walau hanya sekilas pun.

"Ah, b-begitu ya. Maaf ya kalau aku sudah berpikiran yang tidak-tidak. Tapi kalau kenyataannya memang seperti itu, syukurlah kalau begitu."

"……Syukurlah kalau begitu?"

Tepat setelah aku mengembuskan napas lega, aku baru menyadari kalau aku baru saja melayangkan sebuah kalimat blunder yang sangat ceroboh. Hal itu membuat nada suaraku mendadak meninggi karena saking paniknya.

"Ah, a-aa, maksudku, itu lho, aku cuma berpikir kalau urusannya memang seperti itu, berarti kamu tidak perlu sampai meluangkan waktu dan pikiranmu hanya demi mengkhawatirkan hal-hal yang tidak perlu seperti itu."

Di hadapan kalimat alasan pembelaan diri yang bahkan aku sendiri pun sama sekali tidak bisa memahami ke mana arah tujuannya tersebut, Hoshimiya entah kenapa ternyata juga memberikan respons jawaban dengan nada suara yang ikut meninggi.

"A-ah, jadi maksudnya begitu ya! Kenyataannya memang seperti itu kok! Ahaha, aku beneran sempat salah paham mengenai arti dari kalimatmu barusan lho."

"Ya, ya, pokoknya terlepas dari hal itu, dari sudut pandang pribatiku, pembawaan dirinya masih terlihat sama saja layaknya seperti biasa kok."

Aku berdeham kecil sembari mencoba untuk mengendalikan kembali pacuan detak jantungku yang berdegup dengan sangat kencang tidak beraturan tersebut sebelum akhirnya melayangkan kalimat penutup.

"……Hmm—, kalau begitu, apakah hal itu beneran murni cuma sebatas perasaanku saja yang terlalu berlebihan ya?"

Meskipun nada bicara Hoshimiya masih terdengar menyimpan sedikit ganjalan rasa penasaran di dalam lubuk hatinya, namun untuk saat ini dia tampaknya sudah bisa menerima penjelasan yang kuberikan dengan cukup baik.

Setelahnya, kami pun menyempatkan diri untuk mengobrol santai seputar materi ujian tengah semester selama beberapa saat sebelum akhirnya memutuskan untuk menyudahi panggilan telepon tersebut.

Meskipun kalimat peringatan yang dilayangkan oleh Hoshimiya sebelumnya sempat menyisakan sedikit rasa penasaran di dalam lubuk hatiku, namun jika dipikir secara logika, rasanya sama sekali tidak ada satu pun faktor alasan yang sekiranya bisa memicu munculnya rasa stres di dalam diri Tatsuya untuk periode waktu saat ini.

Ya, mungkin saja dia memang cuma sedang merasa kelelahan karena harus membagi waktu demi fokus belajar menghadapi ujian, sehingga pembawaan dirinya di mata orang lain tampak terlihat agak sedikit murung.

Tanpa terasa, waktu saat ini ternyata sudah bergerak mendekati pukul sembilan malam.

Begitu aku melangkahkan kakiku berjalan menuju ke arah ruang tengah, menu makanan malam untuk porsi bagianku sudah tersaji dengan rapi di atas meja dalam kondisi tertutup oleh selembar plastik kedap udara.

Di sebelah piring tersebut, tergeletak selembar kertas memo kecil berisi sebuah pesan tertulis dari Ibu yang berbunyi, Wah, asyik sekali ya bisa mengobrol lewat telepon bersama seorang gadis, semangat ya perjuangannya! .

Aduh, Ibu benar-benar paling ahli kalau urusan ikut campur dalam urusan yang tidak perlu seperti ini tahu…….

Keesokan harinya, aku menjalani aktivitas rutinitas harian seperti biasa dengan bekerja paruh waktu di kafe sembari sesekali terlibat obrolan santai bersama Uta, hingga akhirnya momen pelaksanaan ujian tengah semester yang berlangsung selama tiga hari berturut-turut pun resmi dimulai.

Selama periode hari pelaksanaan ujian berlangsung, agenda kegiatan belajar bersama sengaja kami tiadakan sepenuhnya.

Biar bagaimanapun juga, sekeras apa pun niat awal kami untuk fokus belajar, jika formatnya adalah berkumpul bersama kelompok bermain seperti itu, ujung-ujungnya aktivitas tersebut pasti akan terdistraksi oleh obrolan santai yang tidak penting.

Ditambah lagi, entah apa yang menjadi alasannya, Tatsuya belakangan ini selalu memilih untuk langsung bergegas pulang ke rumah setiap kali sesi ujian untuk hari tersebut selesai dilaksanakan.

Meskipun dari kalimat penjelasan yang disampaikannya dia berdalih kalau tindakannya tersebut murni dilakukan karena ingin "fokus belajar sendirian di rumah", namun pembawaan dirinya yang tidak biasa seperti itu sukses memicu munculnya rasa penasaran di dalam lubuk hatiku.

Kalimat peringatan yang sempat dilayangkan oleh Hoshimiya sebelumnya, serta kalimat analisis penuh misteri dari Miori mendadak kembali terlintas melintasi benak pikiranku layaknya sebuah kilatan cahaya.

Apakah aku sebaiknya mulai bergerak untuk mencari tahu akar permasalahannya saat ini?

Namun di sisi lain, fakta kalau aku sama sekali tidak memiliki petunjuk mengenai alasan di balik berubahnya sikap Tatsuya tersebut menjadi sebuah kendala yang sangat besar.

Di tengah kondisi yang serbatidak pasti seperti ini, bertindak secara ceroboh tanpa adanya landasan alasan yang kuat merupakan sebuah pilihan yang sangat tidak bijaksana untuk dilakukan.

Ya, mengingat periode waktu saat ini adalah momen ujian, mungkin saja dia memang sedang ingin mencurahkan seluruh fokus dan konsentrasi belajarnya demi bisa meraih hasil yang maksimal.

Di saat aku masih sibuk tenggelam ke dalam pusaran pemikiran pribatiku tersebut, waktu terus bergerak maju dengan sangat cepat hingga akhirnya hari ketiga yang menandai berakhirnya seluruh rangkaian ujian tengah semester pun resmi selesai dilaksanakan.

Urusan pengerjaan soal ujian sendiri sama sekali tidak mendatangkan kendala yang berarti bagiku, seluruh soal yang ada bisa kuselesaikan dengan sangat lancar tanpa adanya hambatan yang berarti.

Tingkat kemudahan yang kurasakan berada di level yang sangat tinggi, hingga membuatku mendadak dilanda rasa cemas (?) kalau-kalau seluruh lembar jawabanku nanti akan mendapatkan nilai sempurna.

Padahal jika diingat-ingat kembali, aku merasa tidak pernah melakukan persiapan belajar yang terlalu berlebihan untuk ujian kali ini.

Namun tampaknya aktivitas kegiatanku yang rutin mengajari Uta selama satu minggu belakangan ini sudah memberikan dampak positif berupa sarana ulasan materi yang sangat efektif bagi diriku sendiri.

"Akhirnya selesai juga!"

Begitu sesi ujian untuk mata pelajaran matematika yang menjadi penutup rangkaian ujian kali ini resmi berakhir dan lembar jawaban sudah selesai dikumpulkan oleh guru pengawas, Uta langsung melakukan gerakan meregangkan kedua lengannya tinggi-tinggi ke udara demi melepaskan seluruh rasa penat yang menggelayuti tubuhnya.

Mengingat posisiku di sini adalah sebagai sosok yang bertanggung jawab mengajarinya selama ini, aku pun berinisiatif untuk melayangkan pertanyaan mengenai hasil pengerjaannya barusan.

Biar bagaimanapun juga, rasa penasaranku terhadap hasil ujian miliknya terasa jauh lebih besar ketimbang hasil ujian milikku sendiri saat ini.

"Bagaimana hasil ujianmu tadi?"

"Berkat bantuan bimbingan dari Natsu selama ini, aku benar-benar bisa mengerjakan sebagian besar soalnya dengan sangat lancar lho!"

"Syukurlah kalau begitu," jawabku sembari mengembuskan napas lega.

Melihat ekspresi wajahnya yang terlihat sangat ceria seperti itu memberikan jaminan kalau posisinya untuk ujian kali ini sudah aman dari ancaman nilai merah.

"Tapi terlepas dari hal itu, tubuhku benar-benar sudah terasa sangat lelah sekali sekarang. Untuk beberapa waktu ke depan, tolong jangan sebut kata belajar lagi di hadapanku ya."

"Hei, jangan mulai malas lagi begitu dong. Lalu bagaimana dengan kalimat janjimu sebelumnya yang menyatakan kalau kamu akan mulai mendengarkan penjelasan guru dengan serius saat sesi kegiatan belajar mengajar di kelas berlangsung, hmm?"

Di saat aku sedang sibuk melayangkan kalimat omelan demi mendisiplinkan dirinya layaknya sosok seorang guru privat (?), Hoshimiya mendadak ikut melangkahkan kakinya mendekat untuk bergabung ke dalam obrolan kami.

"Ahaha, tapi kalau untuk masalah itu sih, aku bisa memahami dengan sangat baik apa yang dirasakan oleh Uta-chan kok. Aku sendiri juga rasanya ingin bisa terbebas dari segala urusan pelajaran setidaknya untuk satu minggu ke depan lho."

"Jika kamu memilih untuk meliburkan diri dari aktivitas belajar selama satu minggu penuh, aku cemas kalau kemampuan otakmu nanti malah tidak akan sanggup untuk mengikuti ritme perkembangan materi pelajaran selanjutnya lho……"

"Yuino-chan! Untuk saat ini, tolong simpan dulu kalimat argumen logismu yang sangat menusuk hati itu dong!"

Berhubung jam pelajaran sekolah untuk hari ini sudah resmi berakhir, satu per satu anggota dari kelompok bermain kami pun mulai melangkahkan kaki mereka untuk berkumpul bersama di area sekitar meja kami.

Mengingat formasi tempat duduk milikku, Uta, dan Reita kebetulan berada di satu jalur baris vertikal yang sama, hal itu tentu saja membuat tiga orang lainnya secara natural akan menjadikan area ini sebagai titik lokasi berkumpul.

"—Yo, Tatsuya. Bagaimana hasil ujianmu tadi?"

Melihat Tatsuya yang berjalan mendekat ke arah kami dengan ekspresi wajah yang terlihat sangat rumit, aku pun berinisiatif untuk melayangkan pertanyaan kepadanya.

"Hmm…… ya, bagaimana ya menyampaikannya. Aku ingin berharap kalau setidaknya nilaiku kali ini bisa terbebas dari ancaman nilai merah sih."

Format jawaban yang disampaikannya barusan memberikan sebuah kesan kalau hasil pengerjaannya tidak bisa dibilang buruk, namun di sisi lain juga sama sekali tidak bisa dibilang memuaskan.

Jika kondisinya memang seperti itu, maka ekspresi wajah rumit yang ditunjukkannya saat ini menjadi sesuatu yang sangat wajar terjadi.

Lagipula, bagi seorang Tatsuya yang saat ini sedang mencurahkan seluruh fokus kehidupannya demi bisa berprestasi di dalam klub basket, ancaman mendapatkan nilai merah menjadi sebuah momok yang sangat menakutkan karena hal tersebut otomatis akan mendatangkan sanksi berupa larangan untuk ikut serta dalam segala aktivitas kegiatan klub olahraga sekolah.

"Mengingat seluruh rangkaian ujiannya sendiri kan sudah resmi berakhir, kurasa meratapi hal yang sudah berlalu sama sekali tidak ada gunanya lho, jadi mari kita bawa santai saja masalah ini!"

"……Aku merasa sangat iri dengan cara pandang kepribadianmu yang selalu bersikap optimis seperti itu tahu."

"Atashi wa (Aku kan) berniat baik untuk memberikan kalimat motivasi demi menghibur dirimu lho, Tatsuya—— Apa-apaan maksud dari reaksi ketusmu itu!?"

"——Ya, kalimatmu barusan memang ada benarnya juga sih. Terima kasih banyak ya atas kepedulianmu."

Tatsuya mengucapkan kalimat tersebut sembari melayangkan seulas senyuman tipis di sekitar area sudut matanya.

Sebuah pemandangan yang sangat langka terjadi, mengingat dia biasanya selalu enggan untuk menyampaikan rasa terima kasihnya secara jujur dan terbuka seperti itu.

"Tapi terlepas dari masalah itu, berhubung aktivitas kegiatan klub olahraga baru akan resmi dimulai kembali esok hari, hari ini kita tidak memiliki agenda kegiatan apa pun alias sedang menganggur ya."

"Padahal menurutku aktivitas latihan klub sudah boleh langsung dimulai kembali hari ini juga lho, kan sayang sekali waktunya terbuang. Aku sudah tidak sabar ingin segera bermain basket lagi tahu."

"Kalau berdasarkan informasi yang kudengar, sebagian besar sekolah lain memang biasanya langsung mengaktifkan kembali seluruh kegiatan klub olahraga mereka tepat di hari terakhir pelaksanaan ujian sih. Namun untuk kasus sekolah kita, tampaknya ada sebuah insiden di mana beberapa orang murid mendadak jatuh pingsan karena kelelahan akibat memaksakan diri begadang selama beberapa hari berturut-turut demi belajar saat sesi latihan klub berlangsung, makanya pihak sekolah akhirnya memutuskan untuk menerapkan kebijakan penangguhan aktivitas klub tersebut."

"Kejadian itu murni karena kesalahan dari kecerobohan mereka sendiri, kan……?"

Aku hanya bisa melayangkan seulas senyum kecut menanggapi informasi fakta menarik yang baru saja dibagikan oleh Reita barusan.

"Tapi kalau dari sudut pandang pribatiku, kebijakan penangguhan tersebut menjadi sesuatu yang sangat kusyukuri kok. Biar bagaimanapun juga, berhubung rangkaian ujiannya baru saja selesai dilaksanakan, aku ingin memanfaatkan sisa waktu setengah hari ini demi bisa menyegarkan kembali kondisi pikiran yang penat."

"Meskipun aku juga merindukan aktivitas latihan klub karena sudah lama tidak melakukannya, namun tubuhku terasa terlalu lelah jika harus langsung dipaksakan bekerja keras hari ini."

"Kalau begitu, bagaimana kalau kita semua pergi bersama-sama untuk mengunjungi tempat karaoke saat ini juga!?"

Uta mendadak berseru dengan ekspresi wajah yang dipenuhi oleh senyuman ceria sembari mengacungkan jari telunjuknya tinggi-tinggi ke udara.

Tampaknya berakhirnya masa ujian sudah berhasil mendongkrak tingkat suasana hatinya berada di level yang jauh lebih tinggi ketimbang biasanya, bahkan nada suaranya pun terdengar sangat lantang dan penuh dengan energi positif.

"Ide yang bagus. Aku pribadi tertarik untuk ikut bergabung kok."

Jika formatnya adalah mengunjungi tempat karaoke seorang diri alias hitokara, di kehidupanku yang dulu saat masih menyandang status sebagai seorang mahasiswa, aku sempat berada di fase sangat menggandrungi aktivitas tersebut hingga rutin mendatangi tempat karaoke hampir setiap minggu.

Namun untuk urusan pergi ke tempat karaoke bersama dengan rombongan teman seperti ini, pengalaman tersebut menjadi sesuatu yang belum pernah kurasakan sebelumnya.

Memikirkan hal itu sukses memicu munculnya secercah rasa antusias di dalam lubuk hatiku, aku ingin merasakan bagaimana serunya momen mengunjungi tempat karaoke bersama teman-teman sepermainan.

"Kalau begitu, kurasa aku juga akan ikut bergabung deh," ucap Reita sembari memberikan anggukan pelan, sebelum akhirnya mengalihkan pandangan matanya ke arah Hoshimiya dan Nanase demi meminta kepastian jawaban dari mereka berdua.

"Oke! Aku pasti ikut bergabung kok!"

"……Apakah kamu yakin tidak apa-apa jika ikut bergabung? Hikari, seingatku kemampuan bernyanyimu tergolong ke dalam kategori buta nada alias total, kan?"

"Berisik tahu! Meskipun kemampuan bernyanyiku memang tergolong buta nada, bukan berarti aku tidak memiliki hak untuk menyalurkan hobi bernyanyiku secara bebas, kan! Lagipula aku sangat menyukai aktivitas menyanyi tahu!"

"Eh, benarkah?"

"Uta-chan, maksud kalimatku barusan bukan merujuk kepada dirimu kok! Iya, memang sih aku juga sangat menyukai sosok Uta-chan, tapi tolong jangan membuat arti maknanya menjadi semakin membingungkan seperti itu dong!"

Uta sengaja melayangkan kalimat candaan tersebut padahal dia sebenarnya sudah mengetahui maksud asli dari kalimat Hoshimiya barusan.

Hal itu terlihat dari bagaimana dia langsung melepaskan tawa renyah setelah melihat respons panik yang ditunjukkan oleh lawannya.

"……Tapi kalau dipikir-pikir kembali, aku tidak menyangka kalau seorang Hoshimiya ternyata juga memiliki kelemahan berupa buta nada ya."

"Hei, kamu yang ada di sana! Tolong jangan menyertakan kata 'juga' saat membahas kelemahanku tersebut dong! Aku sangat sensitif dan memikirkan masalah ini tahu!"

Hoshimiya langsung menggembungkan kedua pipinya kesal menanggapi kalimat sindiranku barusan. Hm, pemandangan itu terlihat sangat menggemaskan sekali di mataku.

Mengingat lima orang di antara kami sudah memberikan kepastian jawaban untuk ikut bergabung, kini seluruh fokus pandangan mata dari semua orang yang ada di dalam ruangan langsung dialihkan sepenuhnya ke arah Tatsuya demi meminta keputusan darinya.

Uta langsung melangkahkan kakinya dengan cepat demi bisa berada dekat di sebelah Tatsuya, lalu mendongakkan kepalanya demi bisa menatap langsung ke arah wajah Tatsuya yang memiliki postur tubuh jauh lebih tinggi darinya tersebut dari bawah.

"Tatsu, kamu juga harus ikut bergabung bersama kami ya? Daripada kamu terus mengurung diri sendirian sembari memikirkan hal-hal yang membuatmu murung seperti itu, bukankah ceritanya pasti akan jauh lebih menyenangkan jika kita menggunakannya untuk bersenang-senang sembari bernyanyi bersama demi melepaskan seluruh penat di dalam hati?"

"……Ya, kalau dipikir-pikir kembali, kalimatmu barusan memang ada benarnya juga sih."

Tatsuya melayangkan seulas senyuman kecut sebelum akhirnya memutuskan untuk ikut bergabung bersama rombongan kami.

Fakta bahwa pembawaan dirinya belakangan ini tampak terlihat agak sedikit kurang bersemangat memang merupakan sebuah kebenaran yang nyata, namun kondisinya tidak bisa dibilang berada di tahap yang sangat mengkhawatirkan atau bagaimana, lagipula faktor pemicu utamanya juga sudah bisa dipetakan dengan cukup jelas.

Untuk saat ini, membiarkan masalah tersebut terselesaikan secara alami seiring dengan berjalannya waktu merupakan pilihan terbaik yang bisa kuambil.

Biar bagaimanapun juga, respons dari setiap individu pasti akan berbeda-beda saat sedang didera oleh masalah, namun jika bercermin dari karakteristik kepribadianku sendiri, aku merupakan tipe orang yang lebih memilih untuk dibiarkan sendirian tanpa adanya gangguan dari orang lain saat sedang dilanda rasa murung.

Mendapatkan perhatian dan rasa cemas dari orang lain memang merupakan sebuah hal yang sangat membahagiakan, namun jika bentuk kepedulian tersebut dirasa terlalu berlebihan hingga melangkah masuk terlalu jauh ke dalam ranah privasi, hal itu pasti akan berubah menjadi sesuatu yang sangat mengganggu kenyamanan.

Oleh karena itu, prinsip hidup mengenai jangan pernah melakukan sebuah tindakan yang sekiranya tidak ingin kamu terima dari orang lain kepada orang lain harus selalu kujaga dengan baik.

Ya, walaupun jika diingat-ingat kembali, di kehidupanku yang dulu aku sama sekali tidak pernah memiliki sosok teman yang sekiranya akan meluangkan waktu mereka hanya demi mengkhawatirkan kondisiku sih…….

——Dan atas dasar pertimbangan itulah, kami semua saat ini akhirnya berakhir sedang berada di dalam sebuah ruangan di salah satu tempat karaoke yang terletak di area sekitar depan stasiun.

Mungkin karena dipicu oleh atmosfer kebebasan setelah berhasil melewati masa-masa ujian yang melelahkan, tingkat suasana hati dari semua orang yang ada di dalam ruangan berada di level yang sangat tinggi saat ini.

Bahkan seorang Nanase yang biasanya selalu terlihat dingin dan pendiam pun kini tampak sedang bernyanyi dengan sangat antusiasnya.

Ditambah lagi, dia ternyata juga sanggup menirukan seluruh gerakan koreografi tarian dari lagu idola terkenal yang sedang dinyanyikannya tersebut dengan sangat presisi.

"O-ooh, hebat sekali……"

"Keren banget…… tingkat penguasaan gerakannya benar-benar berada di level yang sangat luar biasa sekali."

Meskipun setelah sesi bernyanyinya resmi berakhir dia langsung menunjukkan ekspresi wajah yang terlihat sangat malu-malu karena saking salah tingkahnya sih.

Nanase ternyata memiliki ketertarikan yang sangat mendalam terhadap dunia idola ya.

Penemuan baru ini terasa agak sedikit mengejutkan…… namun jika dipikir-pikir kembali dengan saksama, karakteristik tersebut terasa sangat cocok dengan pembawaan dirinya.

"Wah, tingkat penampilannya benar-benar sangat keren sekali lho, Yuino-chan! Kalau begitu, untuk giliran selanjutnya adalah giliranku ya!"

Hoshimiya langsung bangkit berdiri dari kursi tempat duduknya dengan sangat anggun sembari melangkah maju ke depan demi mengambil alih posisi mikrofon.

Melihat sosok Hoshimiya yang sedang berdiri sembari menggenggam mikrofon di tangannya seperti itu memberikan sebuah kesan visual kalau dirinya merupakan sosok seorang idola sungguhan yang sedang beraksi di atas panggung besar.

Karakteristik penampilannya terasa terlalu ideal untuk bisa terjun ke dalam industri hiburan tersebut, ditambah lagi atmosfer aura berkilauan yang terpancar dari sekitar tubuhnya memberikan kesan yang sangat memukau.

"Tidak, tidak, pemikiran ke arah sana cuma sebatas ilusi visual akibat kekagumanku yang terlalu berlebihan terhadap dirinya saja kok."

"♪"

Mendengar kualitas nada suara Hoshimiya yang terdengar sangat menggemaskan namun memiliki tingkat ketepatan pitch yang benar-benar berantakan tersebut sukses memicu munculnya seulas senyuman kecut di wajahku.

Ya, terlepas dari kelemahannya tersebut, asalkan subjek yang bersangkutan bisa menikmati aktivitas tersebut dengan penuh rasa bahagia, hal itu tentu saja sudah lebih dari cukup untuk membuat jalannya acara menjadi semakin seru.

Lagipula, esensi utama dari agenda berkumpul kami di tempat ini kan murni cuma sebatas untuk bersenang-senang saja, bukan sebagai sarana demi bisa saling berkompetisi menunjukkan siapa yang memiliki kemampuan bernyanyi terbaik.

Meskipun jika ditanya mengenai keinginan pribadi, aku tentu saja memiliki sebuah ambisi terselubung berupa ingin dinilai sebagai sosok yang ahli dalam urusan bernyanyi oleh orang lain.

Aku ingin bisa menunjukkan sisi keren dari diriku di hadapan Hoshimiya lho.

"Kalau begitu, untuk giliran selanjutnya adalah giliranku ya——"

Satu per satu dari mereka pun mulai memasukkan daftar lagu favorit masing-masing ke dalam mesin karaoke secara bergantian demi bisa menyanyikannya dengan sangat baik.

Di beberapa momen tertentu, aktivitas bernyanyi tersebut bahkan sempat berubah format menjadi sebuah penampilan duet berdua jika lagu yang dipilih mendukung untuk itu, namun esensi utamanya tetap berfokus sepenuhnya kepada individu yang memasukkan lagu tersebut ke dalam mesin tanpa adanya perubahan urutan giliran yang berarti.

Sedangkan posisiku sendiri sejak awal sengaja memilih untuk tidak segera memasukkan daftar lagu pilihan, melainkan murni cuma sebatas mengamati bagaimana ritme jalannya alur aktivitas mereka sembari berpura-pura sedang bingung memilih lagu yang pas di layar perangkat denmoku.

……Nasuhodo (Jadi begitu ya ceritanya). Berdasarkan hasil pengamatanku selama beberapa saat barusan, aku sudah bisa memetakan bagaimana struktur aturan tidak tertulis yang berlaku di dalam aktivitas karaoke kelompok seperti ini.

Meskipun sejak awal kami sama sekali tidak pernah mendiskusikan masalah pembagian urutan secara resmi, namun alurnya bisa tercipta secara alami dan teratur mengikuti ritme kebiasaan yang ada.

Bagi mereka yang sudah terbiasa dengan kehidupan sosial yang aktif, pemahaman mengenai tata krama seperti ini sudah menjadi sebuah hal yang lumrah dan dianggap sebagai bagian dari norma umum.

Jika diurutkan berdasarkan tingkat kualitas kemampuan bernyanyi, formasinya akan dimulai dari Uta yang berada di posisi teratas, disusul kemudian oleh Nanase, Reita, Tatsuya, dan posisi juru kunci terbawah ditempati oleh Hoshimiya.

Terlepas dari kelemahan mutlak yang dimiliki oleh Hoshimiya, kemampuan bernyanyi dari empat orang lainnya tergolong berada di kategori yang cukup bagus, meskipun tingkat kualitasnya masih belum bisa dibilang berada di level yang mengagumkan atau bagaimana.

Jika aktivitas pengerjaan lagu tersebut dilengkapi dengan fitur penilaian skor otomatis dari mesin karaoke, perolehan nilai mereka mungkin cuma akan berkisar di antara rentang angka delapan puluh hingga sembilan polu poin saja.

Mengingat di kehidupanku yang dulu aku sangat sering menghabiskan waktu sendirian di tempat karaoke sembari memandangi indikator grafik penilaian skor tersebut, wajar saja jika pemahamanku mengenai urusan yang satu ini terasa sangat mendetail sekali.

Sebelumnya, di dalam lubuk hatiku yang terdalam aku sempat didera oleh rasa cemas yang teramat sangat karena mengira kalau rombongan anak-anak gaul populer seperti mereka pasti memiliki kemampuan bernyanyi yang setara dengan level penyanyi profesional, namun setelah melihat realitas kenyataan yang ada saat ini, kekhawatiranku tersebut terbukti tidak beralasan.

Jika kondisinya memang seperti ini, maka aku tidak perlu lagi merasa takut kalau penampilanku nanti malah akan berakhir menjadi bahan ejekan oleh mereka.

Dibandingkan dengan urusan kualitas vokal, penentuan perihal daftar lagu pilihan menjadi sebuah kendala yang jauh lebih serius bagiku saat ini.

Faktor utamanya bukan murni cuma karena aku sangat jarang mendengarkan perkembangan lagu-lagu populer yang sedang tren untuk periode waktu saat ini, melainkan karena dari sudut pandang pribatiku, seluruh lagu yang tersedia di dalam mesin ini murni merupakan karya-karya musik yang dirilis pada tujuh tahun yang lalu, sebuah kondisi yang tentu saja akan membuat selera musikku terlihat sangat jadul dan ketinggalan zaman jika dinilai dari kacamata mereka.

Ujung-ujungnya, pilihan lagu yang tersisa di dalam benak kepalaku murni cuma sebatas karya-karya musik dari grup band J-Rock favoritku yang selama ini paling sering kuputar secara berulang-ulang saat berada di rumah.

Meskipun karakteristik dari grup band tersebut tergolong ke dalam kategori indie dan kurang begitu populer di kalangan masyarakat luas, namun jika mengingat lagu beraliran rock yang dinyanyikan oleh Uta di awal sesi tadi juga tidak bisa dibilang sebagai karya musik mainstream yang populer, kurasa pilihan laguku kali ini pasti akan berada di zona yang aman…… harusnya sih begitu ya.

Memikirkan hal itu sukses membuatku kembali dilanda rasa ragu saat jemari tanganku sedang bersiap untuk menekan tombol pilihan di layar denmoku.

Biar bagaimanapun juga, aku sangat yakin kalau anggota kelompok bermainku yang sekarang bukan tipe orang yang akan langsung menunjukkan ekspresi wajah malas secara terang-terangan hanya karena mendengarkan seseorang menyanyikan sebuah lagu yang tidak mereka ketahui.

Namun terlepas dari jaminan tersebut, mengingat momen ini adalah penampilan perdana bagiku untuk bernyanyi di hadapan mereka, wajar saja jika aku ingin bersikap sehati-hati mungkin…… dan tepat di saat aku masih sibuk bergelut dengan keraguan batin tersebut, giliran bernyanyiku ternyata sudah tiba.

Melihat Tatsuya yang berada di urutan tepat sebelumku sudah resmi menyelesaikan sesi bernyanyinya, aku pun langsung bergerak dengan sangat terburu-buru demi bisa memasukkan kode lagu pilihanku ke dalam mesin karaoke.

"Ahaha, Natsu memasukkan lagunya lambat sekali sih!"

"Iya—, aku sempat dilanda rasa bingung yang luar biasa saat harus memilih lagu mana yang sekiranya pas untuk kunyanyikan tadi……"

Dan atas dasar alasan itulah, posisi juru kunci yang bertugas menutup jalannya putaran pertama sesi karaoke kali ini resmi jatuh ke dalam porsi bagianku.

Begitu judul lagu pilihan yang kuketikkan barusan mendadak muncul menampilkan visualnya di layar monitor utama, Uta langsung mengedipkan kedua bola matanya beberapa kali karena saking terkejutnya.

"Eh, pilihan lagumu ternyata dari band Alex[andros] ya!? Selera musik kita terasa sangat cocok sekali lho, Natsu!"

Tampaknya untuk urusan preferensi selera musik, tingkat kecocokan hubungan di antara diriku dan Uta berada di level yang sangat tinggi.

Uwaa, begitu aku bergegas bangkit berdiri dari kursi tempat dudukku, fokus pandangan mata dari semua orang yang ada di dalam ruangan langsung tertuju sepenuhnya ke arahku layaknya sebuah tusukan jarum yang tajam.

"Aku pribadi juga sangat menyukai karya musik dari lagu yang satu ini lho, jadi bagaimana kalau kita menyanyikannya bersama-sama saja?"

Uta melayangkan pertanyaan tersebut sembari menggerakkan salah satu tangannya demi bisa meraih mikrofon kedua yang tergeletak di atas meja.

Tindakan yang ditunjukkannya barusan memberikan sebuah kesan kalau dia sejak awal sudah sangat yakin kalau aku tidak akan pernah melayangkan kalimat penolakan atas permintaannya tersebut, sebuah pembawaan diri yang sukses memicu munculnya seulas senyuman kecut di wajahku.

"Oh, tentu saja boleh, silakan bergabung. Lagipula jika aku harus bernyanyi sendirian di hadapan kalian semua seperti ini, tingkat ketegangan yang mendera batin ini terasa sangat menyiksa sekali tahu."

Maksudku, kehadiran dirinya untuk ikut bernyanyi bersama menjadi sebuah bantuan yang sangat kusyukuri saat ini.

Bagi seorang anak kuper antisocial yang tidak terbiasa dengan kehidupan sosial seperti diriku ini, mendapatkan fokus perhatian secara penuh dari lima orang sekaligus memberikan tekanan mental yang sangat berat sekali untuk ditanggung.

Oleh karena itu, jika keberadaan dirinya bisa membantu untuk mengalihkan sebagian fokus pandangan mata tersebut, hal itu tentu saja akan sangat meringankan beban keteganganku.

"Ahaha, kamu terlihat seperti seorang pemula yang baru pertama kali mendatangi tempat karaoke saja tahu!"

Padahal jika dinilai dari tingkat jam terbang, aku sudah menganggap diriku sebagai sosok yang sangat berpengalaman dalam urusan yang satu ini, meskipun ruang lingkup pengalamannya murni cuma sebatas dalam format karaoke sendirian sih.

Jadi tuduhan mengenai diriku yang merupakan seorang pemula untuk urusan karaoke kelompok merupakan sebuah fakta yang tidak bisa kubantah.

"Jangan-jangan, kamu sebenarnya tidak memiliki rasa percaya diri terhadap kualitas kemampuan bernyanyimu sendiri ya?"

Melihat Uta yang sedang menyunggingkan sebuah senyuman licik di wajahnya demi menggodaku tersebut, aku pun memutuskan untuk memberikan respons jawaban yang terdengar ambigu berupa, "Ya, silakan kamu nilai sendiri saja nanti."

……Bagaimana ya. Sebenarnya jika parameter penilaiannya murni didasarkan pada akurasi indikator fitur skor otomatis dari mesin karaoke, aku memiliki keyakinan kalau kualitas suaraku tidak bisa dibilang berada di kategori yang buruk sih.

Namun di sisi lain, mengingat di dalam dunia maya ada banyak sekali artikel yang menyatakan kalau perolehan skor tinggi di mesin karaoke sama sekali tidak memiliki korelasi hubungan yang kuat dengan tingkat keindahan suara asli seseorang saat didengar oleh telinga manusia, wajar saja jika aku kembali dilanda rasa ragu sekarang.

Di saat aku masih sibuk tenggelam ke dalam pusaran keraguan batin tersebut, alunan melodi musik dari lagu pilihan kami sudah resmi dimulai.

Dipicu oleh tingkat ketegangan yang teramat sangat, kondisi fokus pikiran di dalam benak kepalaku mendadak berubah menjadi sangat kosong dan putih bersih selama beberapa saat.

——Namun terlepas dari kendala tersebut, aku memutuskan untuk mencurahkan seluruh kemampuan terbaikku demi bisa menyanyikan lagu ini dengan kekuatan penuh.

Begitu bait terakhir dari lagu tersebut selesai kunyanyikan dan aku baru saja bernapas lega demi menghirup pasokan udara baru, atmosfer suasana di dalam ruangan tempat karaoke mendadak berubah menjadi sangat hening dan sunyi senyap.

Waduh, gawat. Apakah aku baru saja melakukan sebuah tindakan kecerobohan yang fatal saat bernyanyi tadi?

Meskipun aku sama sekali tidak bisa menemukan petunjuk mengenai letak kesalahannya, namun fakta bahwa atmosfer keceriaan di dalam ruangan ini mendadak berubah menjadi sangat kaku dan membeku merupakan sebuah kenyataan yang tidak bisa kubantah lagi saat ini.

Ditambah lagi, entah sejak kapan pastinya, Uta ternyata sudah menghentikan aktivitas bernyanyinya di tengah jalan lalu memilih untuk kembali duduk diam di kursinya semula. Kenapa situasinya bisa berkembang ke arah yang aneh seperti ini coba?

Ujung-ujungnya, di saat aku sudah bersiap untuk menundukkan kepalaku sedalam-dalamnya demi bisa melayangkan kalimat permohonan maaf yang sebesar-besarnya atas kegagalan penampilanku barusan, sebuah suara interupsi mendadak memotong niatku.

"K-keren…… keren banget! Natsu, kemampuan bernyanyimu terlalu hebat sekali tahu!"

"Eh?"

"Maksudku, kualitas suaramu tadi terdengar sangat bagus sekali sampai-sampai aku mendadak merasa kalau kehadiranku di sebelahmu cuma akan berakhir menjadi sebuah gangguan yang merusak estetika lagu, makanya aku akhirnya memutuskan untuk memilih duduk kembali sejak pertengahan lagu tadi lho!"

"I-bukan seperti itu tahu! Kenyataannya aku justru sangat berharap agar kamu jangan menghentikan aktivitas bernyanyimu di tengah jalan seperti itu! Maksudku, bernyanyi sendirian seperti ini membuat tingkat keteganganku menjadi semakin bertambah parah tahu!"

"Memiliki kualitas kemampuan vokal sehebat itu namun masih berani melayangkan alasan berupa merasa tegang, kalimatmu barusan sudah terdengar layaknya sebuah sindiran yang sangat kejam bagi kami yang kemampuannya pas-pasan ini lho."

Reita melayangkan seulas senyuman kecut menanggapi kalimat pembelaan diriku barusan.

"Tapi benar lho, penampilanmu tadi sangat mengagumkan sekali. Aku pribadi bahkan sampai terhanyut ke dalam keindahan melodi suaramu untuk beberapa saat setelah lagunya selesai dinyanyikan tadi lho."

Hoshimiya menyampaikan kalimat pujian tersebut dengan ekspresi wajah yang dipenuhi oleh senyuman kepuasan yang sangat tulus.

"……Penampilan barusan sukses membuatku ingin menjadi penggemar setiamu lho."

Nanase yang merupakan seorang pencinta dunia idola tampak sedang menggumamkan sebuah kalimat misteri yang terdengar agak sedikit tidak biasa dari posisinya.

Apakah itu berarti ranah ketertarikannya terhadap dunia idola ternyata juga mencakup kelompok idola pria juga?

Namun terlepas dari apa pun alasannya, mengingat posisiku di sini adalah sebagai sosok yang mengidolakan dirinya, aku benar-benar berharap agar dia segera menghentikan pemikiran ke arah sana dong.

Format hubungan di mana sesama idola saling mengidolakan satu sama lain terasa sangat aneh dan tidak ingin kualami tahu.

"Kamu ini…… padahal status jenis kelaminmu adalah seorang pria, tapi bagaimana caranya kamu bisa memproduksi suara dengan nada setinggi itu saat bernyanyi tadi ya……"

Tatsuya melemparkan pandangan matanya ke arahku dengan ekspresi wajah yang dipenuhi oleh rasa takjub yang sangat mendalam.

Ya, kalau untuk urusan teknik vokal seperti penggunaan suara falsetto maupun mixed voice, aku sudah mengorbankan banyak sekali waktu dan tenaga demi bisa melatihnya secara disiplin di kehidupanku yang dulu kok.

Mengingat kembali lembaran memori masa lalu mengenai bagaimana perjuangan kerasku saat rutin mendatangi tempat karaoke sendirian hanya demi mengasah ketajaman suara kepala, lalu merekam hasilnya menggunakan perangkat ponsel demi bisa mengevaluasi dan memperbaiki letak kekurangannya secara berulang-ulang meskipun aku tidak memiliki tujuan khusus mengenai untuk siapa suara tersebut akan kupersembahkan nanti, memberikan sebuah kesan emosional yang mendalam bagiku saat ini.

"Ah, e-bukan begitu, ya, kalau untuk masalah itu sih kurasa tingkat kemampuanku masih berada di kategori yang biasa saja kok……"

Berhubung aku sama sekali tidak memiliki pengalaman mengenai bagaimana cara yang pas untuk menanggapi kalimat pujian dari orang lain, respons jawaban yang keluar dari mulutku pun ujung-ujungnya murni cuma sebatas sebuah kalimat ambigu yang terdengar sangat kaku.

Namun berdasarkan rangkaian respons yang ditunjukkan oleh mereka barusan, fakta bahwa atmosfer ruangan sempat berubah menjadi sangat kaku sebelumnya bukan dipicu oleh tingkat kualitas penampilanku yang buruk hingga merusak suasana, melainkan karena mereka murni sedang merasa sangat terkejut setelah mendengarkan kualitas suaraku yang berada di luar batas ekspektasi dugaannya.

Ya, meskipun dari awal aku sudah memiliki keyakinan kalau kemampuan bernyanyiku tidak bisa dibilang buruk, namun melihat bagaimana sunyinya atmosfer ruangan tadi sempat memicu munculnya sebuah pemikiran buruk di dalam benakku kalau-kalau selera estetika musik yang kumiliki menyimpang jauh dari standar normal yang berlaku di masyarakat umum.

Tolong jangan membuat mental kuperku ini dilanda kepanikan yang tidak perlu seperti itu lagi dong.

Jadi esensi utamanya adalah mereka cuma sebatas merasa takjub karena penampilanku ternyata jauh lebih bagus ketimbang dugaannya ya.

Syukurlah kalau begitu, jawabku di dalam hati sembari mengembuskan napas lega demi menenangkan debaran jantungku yang sempat bergejolak hebat karena saking tegangnya tadi.

"Hei, Natsu! Aku masih ingin mendengarkan lebih banyak lagi penampilan bernyanyi dari dirimu lho! Kalau untuk lagu yang satu ini, apakah kamu kira-kira bisa menyanyikannya juga tidak!?"

Uta langsung menggeser posisi duduknya demi bisa berada dekat di sebelah tubuhku sembari menyodorkan tampilan layar perangkat denmoku ke hadapan wajahku penuh antusias.

Begitu aku melayangkan pandangan mataku ke arah layar tersebut, judul lagu yang tertera di sana ternyata merupakan salah satu karya musik legendaris dari grup band favoritku yang sangat kukuasai dengan sangat baik.

"Ooh, pilihan yang bagus. Kalau begitu, mari kita nyanyikan lagu ini bersama-sama lagi, Uta…… eh, tunggu dulu, kombinasi kalimat barusan kalau diucapkan secara lantang terdengar layaknya sebuah kalimat permainan kata yang terdengar sangat aneh ya."

"Berisik tahu! Tapi terlepas dari masalah permainan kata barusan, apakah kamu serius tidak keberatan jika aku ikut bernyanyi bersama lagi? Kualitas kemampuan bernyanyiku kan sama sekali tidak bisa dibilang bagus, aku cemas kalau kehadiranku nanti malah benar-benar akan berakhir menjadi sebuah gangguan yang merusak penampilan kerenmu lho."

"Mana mungkin aku berpikiran sekejam itu kepada dirimu. Lagipula esensi utama dari aktivitas mengunjungi tempat karaoke bersama seperti ini kan memang didasarkan pada prinsip bahwa bernyanyi bersama-sama pasti akan terasa jauh lebih seru dan menyenangkan, bukan? Ditambah lagi, atmosfer keseruannya pasti akan menjadi semakin meriah lho."




Itu hanyalah sebuah kejujuran dari lubuk hatiku.

Dibandingkan bernyanyi sendirian, bernyanyi bersama semua orang jelas terasa jauh lebih menyenangkan.

Ini adalah pertama kalinya aku pergi karaoke dalam kelompok, jadi mungkin rasa seru ini muncul karena sensasinya yang masih terasa baru.

"Ka-kalau begitu... apa kamu bisa menyanyikan yang ini, atau yang ini juga?"

Lagu yang ditunjukkan Uta pada layar perangkat pemilih lagu berasal dari sebuah band rock yang popularitasnya tidak bisa dibilang familier bagi orang awam.

Itu adalah band yang sering kudengarkan, tapi sepertinya Hoshimiya dan yang lain tidak akan tahu tentang mereka.

"Ternyata selera kita benar-benar cocok ya, Uta."

"Kan, kubilang juga apa! Kalau dipikir-pikir, kita memang jarang mengobrol soal musik, sih!"

"Aku hampir tidak punya teman yang bisa diajak bicara soal musik rock, jadi aku mulai bersemangat, nih! Yeah!"

Uta yang tingkat antusiasmenya sudah mencapai batas maksimal mendadak menyenggolkan bahunya ke bahuku.

Aromanya harum, dan sentuhan femininnya yang terasa lembut membuatku agak salah tingkah, jadi aku berharap dia menghentikannya.

Rasanya aku selalu memikirkan hal ini setiap kali mendapat sentuhan fisik darinya...

Bagaimanapun juga, aku merasakan hal yang sama seperti Uta.

Bisa mengobrol tentang musik yang disukai bersama teman sejati adalah hal yang murni menyenangkan.

"O-oke, ayo kita nyanyikan semuanya!"

"……Eum!"

Rasa kegembiraan mulai membuncah, dan saat aku melemparkan senyum pada Uta, dia membalasnya dengan anggukan penuh senyuman lebar.

Setelah itu, setiap kali giliran kami tiba, aku dan Uta akan berduet dan bernyanyi dengan penuh semangat.

Meskipun lagu-lagunya mungkin asing bagi yang lain, mereka tetap menyamakan ritme keseruan dengan kami, dan itu membuatku senang.

Melihat reaksi dari semuanya, perlahan-lahan aku mulai menumbuhkan rasa percaya diri pada kemampuan bernyanyiku sendiri.

Sepertinya ini bukan sekadar pujian basa-basi, aku benar-benar boleh menganggap diriku bernyanyi dengan bagus.

Yah, lagipula aku sudah berlatih sekeras itu...

Jika menggunakan fitur penilaian karaoke, aku bahkan pernah mencetak nilai hingga sembilan puluh tujuh poin.

Ternyata sistem penilaian itu secara tak terduga bisa cukup dipercaya.

Aku juga merasa jarak di antara diriku dan Uta menjadi semakin dekat.

Bisa menjadi lebih akrab dengan teman daripada sebelumnya adalah hal yang membahagiakan.

——Menyenangkan sekali. Ah, benar-benar menyenangkan.

Aku benar-benar merasakan kalau inilah masa muda penuh warna pelangi yang selama ini kudambakan.

Aku memiliki lima orang teman yang sangat kusayangi, dan di antara mereka, ada gadis yang kusukai.

Mereka mau bermain bersamaku, melemparkan senyum padaku, dan menerimaku dengan hangat.

Hari-hari yang terasa bagaikan mimpi.

Hari-hari seperti inilah yang kuinginkan.

Hari-hari seperti inilah yang selalu kurindukan.

Karena itulah, pada hari itu, aku memohon kepada Tuhan.

Aku ingin mengulang kembali masa mudaku yang kelabu, lalu menulisnya ulang menjadi sewarna pelangi.

Dan sekarang, segalanya berjalan dengan sangat amat lancar.

Aku benar-benar bisa merasakan apa arti dari ungkapan bahwa segalanya berjalan tanpa hambatan.

Tentu saja, menampilkan sikap yang sempurna bukanlah hal yang bisa dilakukan dengan mudah.

Namun, aku telah merapikan penampilanku dengan baik, memangkas obesitas dengan rutin berlari, melatih kemampuan fisik lewat angkat beban, melatih ekspresi wajah seperti tersenyum, mempelajari tren mode masa kini, serta melakukan metode coba-gagal agar bisa membaur dalam obrolan semua orang.

Aku bahkan mengulas kembali materi pelajaran agar bisa mengajari mereka. Lewat semua cara itulah aku bisa berdiri di sini sekarang.

Aku merasa telah mengerahkan usaha yang sangat besar.

Oleh karena itu, aku bisa menerima kebahagiaan yang kurasakan saat ini.

Aku merasa yakin bahwa Rencana Masa Muda Pelangi si Anak Kelabu sedang berjalan dengan sempurna.

Tepat pada saat itulah hal itu terjadi.

"——Sori, gaes. Kayaknya gue balik duluan, deh."

Kata-kata itu terlontar begitu tiba-tiba.

Momennya bertepatan saat lagu yang kunyanyikan bersama Uta baru saja berakhir.

Seolah menusuk celah keheningan yang amat singkat, seuntai suara yang terdengar kaku mengoyak atmosfer yang tadinya dipenuhi kebahagiaan.

Sumber suara itu adalah Tatsuya.

Atmosfer di ruangan itu mendadak membeku.

Sebenarnya, apa yang terjadi?

Saat aku mengalihkan pandangan ke wajah Tatsuya, dia memaksakan sebuah senyuman tipis.

"……Lanjutin aja seneng-senengnya."

Hanya mengucapkan kalimat itu, Tatsuya melangkah keluar dari ruangan karaoke. Sama sekali tidak ada waktu untuk mencegahnya.

Keheningan pun jatuh menyergap, membuat kami saling bertukar pandang.

Sebenarnya ini adalah giliran Hoshimiya untuk bernyanyi, namun karena suasananya jelas tidak mendukung untuk bernyanyi, dia meletakkan mikrofonnya.

Kendati demikian, lagunya tidak berhenti, sehingga melodi ceria yang terasa salah tempat terus mengalun hampa memenuhi ruangan.

"……Tatsu kenapa, ya?"

Uta bergumam dengan ekspresi cemas.

"Eum, ini bukan kayak dia banget…… Maksudku, akhir-akhir ini dia emang kelihatan agak murung, sih."

Hoshimiya pun menyahut dengan gurat wajah yang tampak rumit.

Hal itu sebenarnya juga sempat mengusik pikiranku.

Ator lebih tepatnya, mungkin hal itu mengusik pikiran semua orang di sini.

Awalnya kukira itu karena masalah ujian, tapi apa memang benar begitu?

Apakah Tatsuya yang biasanya cuek dan blak-blakan itu akan semurung ini hanya karena gagal dalam ujian?

Namun, tidak ada faktor lain yang terpikirkan olehku. Kalau begitu, tidak ada pilihan selain menanyakannya secara langsung.

"——Aku coba samperin dia, ya."

Aku bergumam pelan sembari bangkit berdiri.

Tatsuya adalah temanku. Aku sudah memutuskan untuk menjadi temannya.

Jika dia sedang mengkhawatirkan sesuatu, aku ingin bisa membantunya.

"Tunggu dulu, Natsuki……"

Dengan wajah yang tampak tegang, Reita menahan pundakku dengan tangannya.

Langkah kakiku yang hendak meninggalkan ruangan ini terhenti secara paksa.

"Reita?"

"…………Nggak, sori. Mungkin itu emang cara yang paling cepat, sih."

Gumamannya terdengar agak membingungkan.

Bagaimanapun juga, sepertinya dia tidak berniat untuk benar-benar menahanku.

Kalau begitu aku harus bergegas, karena jika dia sudah telanjur naik ke sepedanya, aku tidak akan bisa mengejarnya.

"——Tatsuya!"

Aku berhasil menyusul Tatsuya tepat di depan area parkir sepeda.

Mendengar suaranya kupanggil, Tatsuya berbalik secara perlahan.

Sinar matahari senja menciptakan siluet yang menyembunyikan ekspresi wajah Tatsuya, sekaligus memperpanjang bayangannya di tanah.

"……Natsuki. Ada apa?"

"Maksudmu ada apa? Sikapmu itu aneh, makanya aku cemas dan——"

"——Gue nggak apa-apa. Serius, nggak usah dipikirin."

Tatsuya memotong kalimatku sebelum aku sempat menyelesaikannya.

Meskipun gaya bicaranya terdengar seperti biasa, nada suaranya terasa datar tanpa riak.

Aku sama sekali tidak bisa membaca emosi yang bersemayam di dalamnya.

"Ah, jangan-jangan, kamu sedang marah?"

"……Gue nggak marah, kok. Emangnya ada alasan yang bikin gue harus marah sama lo?"

"……Nggak ada, sih. Tapi karena kamu kelihatan begitu, makanya aku bertanya."

Atmosfer di antara kami mendadak menegang.

Rasanya seolah-olah satu kata saja salah terucap, maka segalanya akan berantakan.

Tukar menukar kalimat yang terasa dingin. Ekspresi dan nada suara yang tidak bisa dibaca emosinya.

Orang awam sepertiku pun tahu kalau dia sedang menahan kekesalan yang amat sangat, karena dia tidak bisa menyembunyikan kobaran emosi yang terpancar dari matanya.

"Natsuki. Sori, tapi hari ini mending lo nggak usah urusin gue."

Firasat buruk mendadak menyergapku.

Aku ingat betul dengan atmosfer yang terasa serupa saat bersama Tatsuya seperti ini.

Itu terjadi pada hari itu, di masa lalu. Saat kegagalan masa mudaku ditimpakan tepat di depan wajahku.

"Napas deh, Natsuki. Sori ya, gue udah nggak bisa belain lo lagi. Dan yang paling penting——gue muak sama lo."

Rasanya persis sama seperti waktu itu.

Oleh karena itu, aku menjadi takut jika harus berpisah dengan Tatsuya dalam kondisi seperti ini.

Meskipun akal sehatku memperingatkan bahwa ini adalah batas di mana aku harus mundur, langkah kakiku justru melangkah semakin dekat dengannya.

"Tatsuya. Kalau ada sesuatu yang menganggumu, aku——"

"Berisik banget, sih! Kan gue udah bilan, biarin gue sendiri!"

Karena jarak yang semakin mengikis, ekspresi wajah Tatsuya yang tadinya tersembunyi di balik siluet kini terlihat dengan jelas.

Tatsuya terbukti tengah menatapku dengan pandangan tajam penuh amarah.

Dia sedang mengarahkan emosi yang kelam itu lurus-rustu kepadaku.

"Ada kalanya seseorang pengen sendiri karena ngerasa dirinya menyedihkan banget, tahu!"

Aku tidak mampu mencerna arti dari kata-katanya.

Karena itulah, langkah kaki yang tadinya hendak mendekati Tatsuya mendadak terhenti.

Tatsuya merasa menyedihkan? Dia memikirkan hal semacam itu tentang dirinya sendiri?

Tatsuya yang selalu tampil percaya diri dan tertawa terbahak-bahak sebagai seorang tipe pemuda populer yang enerjik itu?

Realitas ini terlalu berbanding terbalik dengan citranya, sehingga aku tidak bisa langsung memercayainya begitu saja saat dia mengatakannya secara tiba-tiba.

Namun, dia tidak terlihat seperti sedang berbohong. Ini bukanlah situasi yang tepat untuk melontarkan lelucon.

Melihat wajahku yang mengerutkan alis karena heran, Tatsuya mendengus sinis.

"Buat lo yang merupakan seorang manusia sempurna tanpa cela, lo nggak bakalan paham, sih……"

Kali ini, aku benar-benar dibuat bingung.

Aku sama sekali tidak mengerti apa yang sedang dia bicarakan.

"Hah……?"

Mustahil kata-kata itu ditujukan untukku.

Sama sekali tidak ada satu pun hal dalam diriku yang bisa disebut sempurna.

Sosok yang paling tepat untuk menggambarkan kata-kata itu bukanlah diriku, melainkan Reita.

Namun, Reita tidak ada di sini sekarang.

Kalau begitu, apakah dia tiba-tiba mulai membicarakan tentang Reita?

Meskipun aku tidak memahami apa-apa, untuk sementara aku mencoba memastikannya.

"……Apa maksudmu tentang Reita?"

"Lo…… beneran ngomong begitu?"

Tatsuya menyipitkan matanya, menatapku dengan pandangan menginterogasi.

"Maksudnya……?"

Namun, dari lubuk hatiku yang terdalam, aku benar-benar tidak mengerti apa pun tentang apa yang sedang dia bicarakan.

Di tengah kebingunganku yang mendalam, Tatsuya membalikkan badannya membelakangiku.

"……Ini bukan soal Reita. Tuh anak emang bisa ngelakuin banyak hal dengan lihai, tapi dia sama sekali nggak sempurna."

"Gue ini teman masa kecilnya, jadi gue tahu betul apa aja kekurangannya."

Sembari berucap demikian, dia melepas kunci sepedanya.

Bukan tentang Reita……?

"……Kalau begitu, apa kata-kata itu ditujukan untukku? Kamu benar-benar menganggapku sebagai manusia sempurna tanpa cela?"

"Emangnya bukan, Natsuki? Setidaknya, di mata gue kelihatan kayak gitu."

——Rasanya aku ingin tertawa sinis dan menganggapnya sebagai lelucon yang bodoh.

Namun, aku tidak bisa melakukannya karena sorot mata Tatsuya memancarkan keseriusan yang teramat sangat.

Mata kami saling bertaut untuk beberapa saat.

Tatsuya mengembuskan napas panjang, lalu menepuk pundakku.

"……Sori, Natsuki. Nggak usah dipikirin. Ini bukan salah lo, kok."

Sambil berkata demikian, Tatsuya mengayuh sepedanya dan pergi meninggalkanku.

Punggungnya yang menjauh entah mengapa terlihat begitu kecil.

Saat aku berdiri mematung untuk beberapa saat, terdengar suara langkah kaki yang mendekat dari arah belakang.

"……Maaf ya, Natsuki. Aku sebenarnya sudah menduga kalau hal seperti ini bakal terjadi."

Dengan perasaan yang masih linglung, aku berbalik dan mendapati Reita sedang menatapku dengan ekspresi wajah yang serius.

"Sudah menduga kalau hal seperti ini bakal terjadi……? Sebenarnya kenapa? Apa maksud dari semua ini?"

Bahkan sampai di tahap ini pun, aku masih belum memahami apa-apa.

Satu-satunya hal yang kupahami adalah fakta bahwa aku telah melakukan suatu kesalahan.

——Kondisi ini benar-benar persis sama seperti apa yang terjadi di masa lalu.

"Tatsuya itu, dia sedang cemburu kepadamu."

"Hah……?"

Menyusul Tatsuya, kini Reita pun mulai melontarkan kata-kata yang tidak bisa kupahami.

Rasanya akan jauh lebih masuk akal jika tiba-tiba semua orang muncul dari balik persembunyian sembari membawa papan pengumuman acara kejutan yang sukses.

Rasa cemburu adalah sesuatu yang seharusnya kurasakan, bukan sesuatu yang diarahkan kepadaku.

Selama ini aku selalu berpikir demikian.

"Cemburu kepadaku? Apanya yang perlu dicemburui dari orang sepertiku?"

"Alasan kenapa kamu begitu peka terhadap perasaan yang diarahkan orang lain kepadamu adalah karena rasa ketidakpastian dirimu yang tidak normal itu."

"Itu terlalu tidak sebanding dengan kemampuan yang kamu miliki…… Makanya itu terasa janggal, dan sejujurnya agak membuatku cemas."

Aku memang mengakui kalau aku tidak peka terhadap perasaan orang lain.

Kegagalan di masa lalu pun pada akhirnya terjadi karena alasan itu.

Aku menjadi tinggi hati, bertingkah sesuka hati, dan tidak menyadari kalau kehadiranku mulai mengusik orang lain serta mulai dibenci.

Itu adalah bentuk rasa percaya diri berlebih yang tidak memiliki landasan yang jelas.

Oleh karena itu, ini terasa aneh.

Apa yang dikatakan Reita justru berbanding terbalik dengan kegagalan di masa lalu.

"Nggak punya rasa percaya diri……? Sebaliknya, aku ini orang yang penuh percaya diri, tahu. Malah bisa dibilang terlalu percaya diri."

Sebab, gara-gara hal itulah aku berakhir gagal.

Setidaknya, hanya hal itu yang bisa kupastikan dengan mutlak.

"Begitu ya…… Entah kenapa, aku jadi mulai mengerti situasi yang kamu hadapi."

Reita menatapku dengan pandangan mata yang seolah bisa menembus langsung ke dalam lubuk hatiku.

Memang benar, setelah kegagalan masa muda di masa lalu, aku sempat kehilangan rasa percaya diri, harapan, ekspektasi, dan segalanya tentang diriku.

Namun, setelah mendapatkan kesempatan untuk mengulang kembali masa muda ini, perlahan-laman aku mulai mendapatkan kembali rasa percaya diri itu.

Meski begitu, dengan berkaca pada kegagalan di masa lalu, aku merasa telah berulang kali menahan diri, bersikap rendah hati, dan menjalani hidup dengan penuh kehati-hatian.

——Apakah Reita sedang mencoba mengatakan kalau hal itu adalah sebuah kesalahan?

"Aku harap kamu tidak salah paham, aku sama sekali tidak bermaksud menyalahkanmu, Natsuki."

"Sebaliknya, kamu sama sekali tidak salah. ……Ya, tidak ada satu pun hal yang terjadi karena kesalahanmu."

Kalau begitu, apa yang harus kulakukan?

Meskipun tidak bisa menampilkan sikap yang sempurna, aku merasa telah menampilkan sikap terbaik yang bisa kulakukan.

——Jangan-jangan, justru hal itulah yang menjadi masalahnya?

"Awalnya mungkin dimulai dari basket. Kamu berhasil menang dalam permainan basket yang selama ini menjadi identitas utama Tatsuya."

"Tentu saja itu murni karena keahlianmu sendiri. Itu adalah hal yang patut dibanggakan, dan sama sekali bukan hal yang salah."

Reita terus menjabarkan opininya.

Dia mengarahkan pandangan matanya yang selalu berkata "bisa melihat orang lain dengan terlalu jelas" itu lurus-lurus ke arahku.

"Selain hal itu…… saat kamu menghidangkan masakan di tempat kerja paruh waktu, saat kamu mengajari kami belajar, bahkan saat kamu bernyanyi di tempat karaoke tadi, kamu tampil dengan begitu sempurna——"

"Dan Uta, dia menatapmu dengan mata yang berbinar-binar penuh kekaguman."

"Kenapa…… nama Uta tiba-tiba dibawa-bawa di sini?"

"Itu adalah perkara yang sederhana, kok. Soalnya, Tatsuya itu sangat menyukai Uta."

Reita mengucapkannya dengan begitu santai.

Nada suaranya terdengar seolah-olah dia sedang membicarakan sebuah premis dasar yang sudah sewajarnya diketahui semua orang.

"Aku sendiri sudah tahu sejak awal, tapi kurasa Hoshimiya dan Nanase pun sebenarnya juga sudah menyadarinya."

Tatsuya itu orangnya gampang ditebak, sih, ucap Reita sembari terkekeh pelan.

Sedangkan aku sama sekali tidak menyadari hal itu.

Habisnya, mereka berdua selalu saja bertengkar setiap kali bertemu.

"Padahal waktu aku tanya tempo hari, dia bilang tidak punya orang yang disukai……"

"Well, kalau lewat ucapan sih dia pasti bakal bilang begitu. Apalagi kalau di depanmu, Tatsuya itu tipe orang yang gengsian."

Aku hanya bisa terpaku dalam keterpanaan.

Rasanya sulit untuk dipercayai.

Aku tidak bisa memercayai apa pun, namun jika aku mengabaikan perasaanku dan mencoba mencocokkan kata-kata Reita secara objektif dengan situasi yang ada, rasanya hal itu memang selaras dengan kata-kata yang dilontarkan Tatsuya tadi.

"……Kenapa bisa begitu? Kenapa…… bagiku, Tatsuya adalah sosok yang kukagumi."

"Aku ingin menjadi seperti dia yang ceria dan selalu kelihatan bersenang-senang, aku ingin menjadi teman dari orang seperti dia, dan aku ingin menghabiskan hari-hari yang menyenangkan bersamanya."

"Karena itulah, aku…… kenapa harus orang sepertiku?"

Melihatku yang menumpahkan emosi yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata ini, Reita mengerjapkan matanya dengan ekspresi terkejut.

"……Begitu ya, ternyata memang begitu. Bagaimanapun juga, jangan terlalu dipikirkan. Jeda waktu pasti akan menyelesaikan masalah ini, kok."

Setelah itu, Reita menepuk pundakku sembari mengulas sebuah senyuman yang menenangkan.

"Yang salah itu Tatsuya. Kamu sama sekali tidak salah. Dengar ya, tidak ada satu pun langkahmu yang keliru."

——Kalau begitu, kemungkinan besarlah akulah yang keliru di sini.

Baik di masa lalu maupun di masa sekarang, aku tetap saja terlalu tidak peka terhadap perasaan orang lain.

Hanya hal itulah yang sama sekali tidak berubah dari diriku.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close