Chapter 3
Berperilaku Sempurna
Dua minggu telah
berlalu sejak Uta dan yang lainnya mendatangi tempat kerja paruh waktuku dan
Nanase.
Guru wali kelas
kami menutup kegiatan jam wali kelas sore itu dengan pengumuman bahwa masa
tenang kegiatan klub telah dimulai demi menghadapi ujian tengah semester.
Ujian tengah
semester di SMA Suzunaru yang merupakan sekolah umum jalur prestasi ini akan
mengujikan sembilan mata pelajaran standard.
Berbeda dengan
ujian akhir semester yang mencakup pelajaran praktik, ujian kali ini murni
hanya menguji mata pelajaran teori saja.
Sembilan mata
pelajaran tersebut akan dibagi rata ke dalam tiga hari pelaksanaan ujian, mulai
dari hari Senin hingga Rabu. Itu berarti kami sudah bisa langsung pulang pada
waktu tengah hari.
Mengingat
kenangan kelam di kehidupanku yang dulu, saat itu aku malah langsung pulang
dengan gembira demi membaca novel ringan sepuasnya.
Akibat berpikir
bahwa waktu luangku masih sangat banyak, aku terus membaca hingga larut malam
dan nekat menghadapi ujian tanpa belajar sama sekali.
Saat itu aku
merasa tenang karena orang-orang di sekitarku juga saling berseru kalau mereka
belum belajar sama sekali.
Namun saat
hasilnya keluar, kenyataan pahit bahwa hanya aku satu-satunya orang yang
mendapat nilai merah langsung menjadi sebuah sejarah kelam.
"Uwah, aku
benci sekali dengan ujian. Lagipula aku sama sekali tidak paham dengan
pelajarannya! Jelas-jelas tidak paham!"
Uta yang duduk di
bangku depanku mendadak mulai mengeluh.
"Kamu tidak
perlu secemas itu, kita masih punya waktu satu minggu kok."
"Mana
mungkin dalam waktu satu minggu semuanya bisa teratasi, padahal selama ini aku
sama sekali tidak pernah mendengarkan penjelasan guru di kelas!"
"Bukannya
hal itu sama sekali bukan sesuatu yang patut kamu banggakan ya……?"
Di saat aku
sedang melayangkan protes kepada Uta, Reita yang duduk di bangku belakangku
ikut menyahut.
"Dengar ya
Uta, kudengar soal ujian berkala di sekolah ini tergolong sangat sulit lho.
Kalau kamu memang tidak pernah mendengarkan penjelasan guru, kamu beneran bisa
mendapat nilai merah untuk seluruh mata pelajaran jika tidak mulai belajar dari
sekarang."
"Aaah!
Aku tidak mau dengar!"
Uta
langsung menutup kedua telinganya dengan rapat sembari menggeleng-gelengkan
kepalanya dengan kuat.
Apa yang
dikatakan oleh Reita memanglah sebuah fakta yang nyata. Di kehidupanku yang
dulu, aku beneran harus berjuang setengah mati demi bisa melewatinya.
Namun karena saat
ini aku sudah pernah mengalaminya sekali, situasiku tentu saja sudah jauh lebih
aman. Kurasa sekarang adalah saat yang tepat bagiku untuk berbalik membantu
teman-temanku yang lain.
"Akhirnya
aku bisa terbebas juga dari kegiatan klub yang menyerupai neraka itu……!"
Tatsuya berjalan
menghampiri kami sembari mengepalkan kedua tangannya ke atas penuh kemenangan.
"Eh? Padahal
aku pribadi jauh lebih memilih latihan klub ketimbang harus belajar tahu!
Tatsu, jangan-jangan rasa cintamu terhadap bola basket beneran sudah mulai
luntur ya? Kamu kelihatan senang sekali!"
"Bodoh, itu
karena kamu tidak pernah merasakan sendiri bagaimana kejamnya porsi latihan
klub basket putra. Kamu tidak tahu seberapa kerasnya kami anak-anak tingkat
satu digembleng di sana…… duh, memikirkannya saja beneran membuat bulu kudukku
merinding."
"Itu sih
namanya kamu sudah terkena trauma."
Saat aku
melayangkan kalimat sindiran tersebut, Tatsuya langsung memeluk kedua lengannya
sendiri dengan wajah yang mendadak memucat.
"Yah,
meskipun aku hanya melihatnya dari lapangan sebelah, aku tahu kalau porsi
latihan kalian memang sangat keras. Tapi latihan di klub kami juga tidak kalah
melelahkannya tahu!"
"Hah?
Astaga, porsi latihan di klub kalian mah cuma setingkat level permainan anak
kecil tahu."
"Apa
kamu bilang!? Kalimat barusan beneran tidak bisa kubiarkan ya!"
"Sudah,
sudah, cukup sampai di sini saja."
Melihat Tatsuya
dan Uta yang saling melempar tatapan tajam, aku beneran bingung menentukan
apakah hubungan mereka berdua ini sebenarnya tergolong akrab ataukah buruk.
Pada akhirnya,
Reita kembali turun tangan untuk menengahi mereka seperti biasa.
Demi mengalihkan
suasana, Tatsuya menepuk kedua telapak tangannya dengan keras sebelum akhirnya
berucap dengan nada bicara yang terdengar sangat ceria.
"——Kalau
begitu, ayo kita pergi bermain sekarang!"
Raut wajahnya
yang terlihat sangat ceria itu beneran membuat sosoknya terlihat bukan seperti
Tatsuya yang biasanya.
Di hadapan
Tatsuya yang sedang tersenyum lebar, kami semua hanya bisa terdiam membeku
tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Bahkan Uta yang biasanya selalu bersemangat
pun kini hanya bisa tersenyum kecut melihat tingkahnya.
"……Maaf,
tapi kami tidak ikut."
"Haaah!?
Bodoh, memangnya menurutmu untuk apa libur kegiatan klub ini diberikan kalau
bukan untuk bersenang-senang!?"
"B-bukankah
libur ini diberikan agar kita bisa belajar……?"
Hoshimiya yang
entah sejak kapan sudah berada di sebelah kami memberikan sahutannya dengan
nada bicara yang terdengar sangat ragu.
"Belajar,
katanya……?"
Tatsuya
mengulangi kata tersebut dengan ekspresi wajah yang mendadak berubah menjadi
sangat serius.
Reaksi macam apa
itu, dia bertingkah seolah-olah baru saja mendengar sebuah istilah asing yang
tidak masuk akal.
"Jangan-jangan
Tatsuya, kamu berniat menghadapi ujian nanti tanpa belajar sama sekali?"
"Oi, oi,
Reita. Kamu beneran meremehkan kemampuanku ya."
Tatsuya mendengus
pelan menanggapi pertanyaan dari Reita. Mendengar jawaban tersebut, kami semua
pun langsung mengembuskan napas lega.
"——Tentu
saja aku baru akan membuka dan membaca buku pelajaran saat pagi hari di hari H
ujian nanti."
Anak ini
beneran sudah tidak tertolong lagi. Seseorang harus segera melakukan sesuatu
kepadanya sebelum terlambat.
Kalau
tidak salah ingat, di kehidupanku yang dulu Tatsuya juga bertingkah seperti
ini, dan nilai ujiannya saat itu berakhir…… ah, sudahlah, sebaiknya aku tidak
usah mengingatnya kembali.
"Semuanya……"
Reita
mengedarkan pandangannya ke arah kami dengan ekspresi wajah yang terlihat
sangat serius.
"Mari kita
mengadakan sesi belajar bersama. Atau lebih tepatnya, tolong temani aku
belajar, aku beneran memohon kepada kalian, tolong."
Dia memohon
dengan nada suara yang terdengar sangat pilu, sebuah nada suara yang belum
pernah kudengar darinya selama ini.
Mendengar
permohonan tersebut, aku, Hoshimiya, dan Nanase hanya bisa mengangguk pasrah
meski sempat merasa agak ragu.
*
"——Baiklah,
kalau begitu bisa tolong beri tahu bagian mana saja yang belum dipahami oleh
Uta dan Tatsuya?"
Setelahnya, kami
pun meminjam sebuah ruang kelas kosong demi bisa memulai sesi belajar bersama
kami.
Anggota yang
berkumpul saat ini adalah enam orang yang biasa. Benar, kelompok bermain kami
yang biasa…… dan kini aku pun sudah resmi menjadi bagian dari mereka, fufufu.
Kami
menggabungkan enam buah meja menjadi satu lalu duduk melingkar mengelilinginya.
Awalnya aku
sempat ragu apakah kami boleh menggunakan ruang kelas kosong ini sesuka hati,
namun tampaknya Reita sudah meminta izin terlebih dahulu kepada pihak sekolah.
Dia beneran
seorang pria yang selalu penuh dengan persiapan matang.
"Kalau kamu
bertanya bagian mana yang tidak kupahami……"
"Aku sendiri
bahkan tidak tahu bagian mana dari pelajaran ini yang tidak kupahami!"
Cara
penyampaiannya beneran dipenuhi dengan rasa keputusasaan yang menggebu-gebu.
Di saat Reita
sedang sibuk meladeni tingkah mereka berdua, Hoshimiya dan Nanase tampak sedang
fokus belajar dengan tenang di tempat duduk mereka.
Berbanding
terbalik dengan Nanase yang bisa menyelesaikan soal-soal matematika dengan
sangat lancar, Hoshimiya tampak sedang berjuang setengah mati menghadapi lembar
soal di hadapannya.
"Hoshimiya.
Coba kamu baca kembali soalnya dengan lebih teliti, sebenarnya soal yang ini
sedikit berbeda dengan soal yang sebelumnya kok."
"Eh……? Ah,
iya. Biar kulihat……"
Hoshimiya yang
tadinya sedang sibuk menghitung langsung mengalihkan pandangannya kembali ke
arah lembar soal.
Bagian soal yang
membuat Hoshimiya kesulitan saat ini kebetulan adalah bagian soal yang juga
sempat membuatku kesulitan di kehidupanku yang dulu.
Karena itulah,
aku bisa langsung mengetahui metode penjelasan seperti apa yang paling mudah
untuk dipahaminya.
"Ah,
benar juga!"
"Iya,
kan? Makanya untuk bagian yang ini, rumusnya tidak bisa dimasukkan begitu saja,
melainkan harus lewat proses ini dulu——"
Aku
membuka buku pelajaran lalu mulai menjelaskan contoh soal yang ada di sana
kepadanya.
Berkat
bantuan tersebut, Hoshimiya pun akhirnya berhasil menemukan titik terang
mengenai metode penyelesaian soalnya.
Jari
jemarinya langsung bergerak lancar menuliskan rumus perhitungan di atas kertas,
hingga akhirnya dia berhasil menemukan jawaban yang tepat.
"Aku
bisa! Jawabannya beneran tepat, kan?"
Hoshimiya
bertanya sembari memiringkan kepalanya sedikit dengan ekspresi wajah yang
terlihat sangat gembira namun sekaligus terselip rasa cemas. Melihat tingkahnya
yang menggemaskan itu, aku pun langsung memberikan anggukan mantap.
"Benar,
jawabanmu tepat sekali."
"Yeeay!
Terima kasih banyak ya, Natsuki-kun!"
…………………….
Eh, tunggu dulu!?
Aku ini sedang
berada di mana, dan siapa diriku yang sebenarnya!?
T-tidak,
aku harus tetap tenang dan mengendalikan akal sehatku kembali!
"……Natsuki-kun?"
"Ah, tidak,
bukan apa-apa kok."
"Benarkah?
Kalau begitu biar kulanjutkan ke soal berikutnya ya!"
Duh, beneran
berbahaya sekali.
Daya hancur dari
senyuman manis Hoshimiya barusan beneran terlalu kuat hingga sempat membuat
seluruh sistem pemikiranku mendadak berhenti berfungsi.
Sebenarnya kalau
hanya sekadar melihat senyumannya saja, aku sudah sering melihatnya di
kehidupanku yang dulu.
Namun kali ini,
senyuman manis itu ditujukan khusus kepadaku, dan dia bahkan menyampaikan rasa
terima kasihnya kepadaku dengan begitu tulusnya.
Jadi wajar saja
kan kalau aku sampai sempat kehilangan kesadaran selama beberapa saat?
"Natsu,
jangan-jangan kamu ini sebenarnya adalah orang yang pintar ya?"
Uta yang
tampaknya sejak tadi sedang mengawasi interaksi kami mendadak bertanya sembari
memajukan tubuhnya ke arah meja.
"Masalah
pintar atau tidaknya sih aku kurang tahu, tapi setidaknya aku selalu
mendengarkan penjelasan guru saat di kelas."
"Eeeh!
Curang sekali!"
"Apanya yang
curang? Bukankah mendengarkan penjelasan guru di kelas itu adalah sebuah
kewajiban mendasar bagi seorang murid……?"
"Kalau
begitu, kalau begitu! Apa kamu bisa menyelesaikan soal yang satu ini?"
"Coba
kulihat……"
Aku langsung
terdiam membeku begitu melihat soal yang disodorkan oleh Uta ke hadapan
wajahku.
Soal tersebut
adalah soal matematika paling dasar yang seharusnya sudah diajarkan pada hari
kedua masuk sekolah.
Gawat, ini sih
situasinya beneran jauh lebih parah dari apa yang kubayangkan sebelumnya.
Kasus Hoshimiya
tergolong masih aman karena dia sudah memahami dasarnya dan hanya kesulitan di
bagian pengembangannya saja, situasi yang beneran mirip denganku di kehidupan
dulu.
Tipikal murid
yang selalu mendengarkan penjelasan guru di kelas namun malas untuk mengulang
pelajarannya kembali saat di rumah.
Namun situasi
yang dihadapi oleh Uta saat ini beneran berada di ambang kehancuran total.
Jika dia nekat
menghadapi ujian dengan kondisi seperti sekarang, dia sudah pasti akan mendapat
nilai nol karena soal dasar pun sama sekali tidak dipahaminya.
"Kalian berdua…… kalau kalian nekat menghadapi ujian
SMA ini dengan mentalitas yang sama seperti saat masih SMP dulu, kalian beneran
bisa mati tahu?"
Reita bergumam sembari memijat pelan pangkal hidungnya yang
terasa pening.
Melihat situasi yang ada, Tatsuya tampaknya mulai menyadari
adanya sinyal bahaya yang sedang mengancam kelangsungan hidupnya. Dia bertanya
dengan ekspresi wajah yang mendadak berubah menjadi sangat serius.
"Apakah…… situasinya beneran segawat itu……? Yang
namanya ujian SMA itu……"
"Pada dasarnya kamu dan Uta bisa lulus masuk ke sekolah
ini kan murni karena hasil kebut semalam saat ujian kelulusan SMP dulu, jadi
wajar saja kalau kalian tertinggal. Ditambah lagi, sekarang terungkap fakta
kalau kalian bahkan tidak pernah mendengarkan penjelasan guru di kelas."
"I-itu
memang benar sih…… fakta
kalau aku bisa lulus masuk ke sekolah ini beneran murni karena sebuah keajaiban
semata……"
"Ahahaha!
Tatsu, kamu beneran bodoh ya!"
"Jangan asal
bicara ya dasar cebol, posisiku masih jauh lebih baik ketimbang kamu yang
bahkan tidak pernah mengumpulkan tugas sekolah sama sekali……!"
Melihat mereka
berdua yang sedang saling melempar hinaan, aku hanya bisa membatin dalam hati
kalau mereka berdua ini sebenarnya sama saja. Namun tentu saja, pemikiran itu
sengaja tidak kuucapkan secara lantang.
"Daripada
sibuk bertengkar, lebih baik kalian cepat kembali belajar sana. Asal kalian
tahu saja, sekolah kita ini punya aturan yang sangat ketat bagi murid yang
mendapat nilai merah."
"Eh………… benarkah?"
"Ahahaha……
tidak mungkin, itu pasti cuma bercanda, kan? ……Benarkah…… begitu
aturannya?"
Kalimat yang diucapkan oleh Reita barusan sukses membuat
wajah Tatsuya dan Uta langsung memucat dalam sekejap.
"Untuk saat
ini, mata pelajaran yang beneran harus segera kita kejar dari sekarang karena
keterbatasan waktu adalah matematika dan……"
"Fisika,
serta bahasa Inggris. Kalau untuk mata pelajaran hafalan, kurasa kita masih
bisa mengatasinya dengan sistem kebut semalam saat menjelang hari H ujian
nanti."
Aku memberikan
masukan tambahan berdasarkan pengalaman pribadiku di kehidupan dulu, yang
langsung disambut dengan anggukan setuju dari Reita.
"Lagipula
jumlah tugas yang harus dikumpulkan sebelum ujian dimulai untuk mata pelajaran
tersebut beneran banyak sekali. Jadi mari kita mulai mencicil tugas matematika
ini terlebih dahulu, kalau tidak dikerjakan setiap hari, tugas ini tidak akan
pernah selesai."
Setelah kalimat
penutup dari Reita tersebut, suasana di dalam ruangan pun mendadak berubah
menjadi hening karena semua orang mulai fokus belajar.
Tatsuya dan Uta
ternyata memiliki tingkat fokus yang cukup tinggi begitu mereka sudah beneran
mulai menggerakkan jari jemari mereka. Mereka berdua tampak sedang berjuang
setengah mati menghadapi tugas matematika sembari sesekali membuka buku panduan
pelajaran mereka.
Meski begitu,
tentu saja akan ada momen di mana mereka berdua beneran menemui jalan buntu
yang tidak bisa diselesaikan sendirian.
Saat ini Reita
sedang sibuk mengajari Tatsuya, sedangkan Nanase tampak sedang fokus memberikan
bimbingan kepada Hoshimiya.
Melihat pembagian
tugas tersebut, bukankah itu berarti aku harus mengambil tanggung jawab untuk
mengajari Uta?
Sebenarnya di
dalam lubuk hatiku yang terdalam, aku beneran sangat ingin mengajarkan
Hoshimiya, namun posisi itu sudah terlanjur diambil alih oleh Nanase.
Yah, hubungan
mereka berdua tampaknya memang sudah terjalin sejak lama sejak masa SMP dulu.
Melihat kedekatan
mereka, aku beneran bisa merasakan adanya sebuah ikatan sejarah yang kuat di
antara mereka berdua.
"Ughー……"
Sebenarnya saat
ini aku sendiri sedang merasa sangat bosan karena tugas sekolahku beneran sudah
selesai kukerjakan sejak tadi.
Bagi diriku yang
sudah menjalani kehidupan ini untuk kedua kalinya, soal-soal matematika tingkat
SMA seperti ini beneran tidak ada yang sulit bagiku.
"Bagian mana yang membuatmu bingung?"
"Natsu, apa
kamu mau mengajariku?"
"Tentu saja.
Selama itu adalah bagian yang kupahami, aku pasti akan membantumu."
Uta menatapku
dengan tatapan yang terlihat agak sungkan, seolah-olah dia sedang merasa
bersalah karena telah menyita waktu belajarku.
Awalnya kukira
dia adalah tipe gadis populer yang cuek dan tidak pernah memikirkan perasaan
orang lain, namun ternyata dia bisa bersikap sangat tahu diri di situasi
seperti sekarang.
"Tidak
apa-apa kok, mengajarimu juga sekaligus bisa menjadi sarana bagiku untuk
mengulas kembali materi pelajaran yang ada."
Aku memberikan
senyuman terbaikku demi bisa menenangkan perasaan cemas yang sedang melanda
hatinya.
Mendengar kalimat
tersebut, ekspresi wajah Uta langsung berubah menjadi sangat ceria dalam
sekejap.
"Jadi
begini, aku beneran bingung kenapa rumus yang ada di sebelah sini bisa mendadak
berubah menjadi bentuk yang ada di sebelah sini……"
Bagian yang
membuat Uta bingung saat ini ternyata adalah bagian contoh soal yang tertera di
dalam buku pelajaran.
Dia tampaknya
kesulitan memahami jembatan logika dari proses perubahan rumus tersebut karena
adanya beberapa tahapan perhitungan yang sengaja dilewati di dalam buku.
Hal seperti ini
memang sering kali terjadi karena keterbatasan halaman cetak buku pelajaran.
"Untuk
bagian yang ini, sebenarnya ada proses perhitungan tersembunyi yang sengaja
tidak dituliskan di dalam buku, prosesnya adalah seperti ini——"
Aku menarik buku
catatan milik Uta lalu mulai menuliskan tahapan perhitungan tersembunyi
tersebut sembari memberikan penjelasan secara perlahan.
Aku terus memutar
otak demi bisa menemukan metode penyampaian yang paling mudah untuk dipahami
olehnya.
Begitu aku
menyelesaikan penjelasanku dan memalingkan wajahku ke arahnya, aku langsung
terdiam membeku karena wajah Uta ternyata berada tepat di hadapan wajahku.
Jarak di antara
ujung hidung kami beneran terasa sangat dekat hingga membuat tatapan mata kami
saling bertemu secara langsung.
"……Eh?"
"Ah…… m-maafkan aku!"
Entah sudah berapa detik waktu berlalu sejak kami saling
menatap dalam keheningan tersebut.
Uta langsung mengalihkan pandangannya kembali ke arah buku
catatan dengan gerakan yang sangat cepat, sementara kedua pipi hingga ujung
telinganya tampak merona merah.
Apakah dia sedang
merasa malu……? Jika tebakan pribadiku ini tidak salah.
Jangan-jangan,
Uta beneran mulai melihat diriku sebagai seorang lawan jenis……?
Tentu saja hal
seperti itu beneran wajar terjadi karena siapa pun pasti akan merasa malu jika
sampai bertatapan dalam jarak sedekat itu dengan lawan jenis.
"Ahー…… jadi, bagaimana? Apa kamu sudah bisa
memahaminya?"
"Eh! Ah,
i-iya! Aku sudah paham! Terima kasih banyak ya!"
Nada suara Uta
terdengar sedikit meninggi karena saking gugupnya.
"——Oi kalian
berdua, kalau mau bertingkah mesra seperti itu tolong lakukan di tempat lain
saja ya."
Sindiran ketus
yang dilayangkan oleh Tatsuya barusan beneran sukses menusuk langsung ke arah
kami berdua.
Terlepas dari
kebenaran yang sesungguhnya terjadi, jika aku berada di posisi Tatsuya saat
ini, aku pun pasti akan melayangkan sindiran yang sama.
"Kami sama
sekali tidak sedang bertingkah mesra kok, Natsu kan cuma sedang mengajariku
saja. Benar kan, Natsu?"
"Ah, i-iya…… apa yang dikatakannya beneran murni karena
urusan belajar kok."
"Yah, terserah kalian sajalah."
Tatsuya mengembuskan napas panjang sebelum akhirnya kembali
fokus melanjutkan aktivitas belajarnya dengan raut wajah yang terlihat agak
ketus.
Aku beneran bisa memahami perasaannya karena siapa pun pasti
akan merasa kesal jika konsentrasi belajarnya sampai terganggu oleh tingkah
mesra orang-orang di sekitarnya.
Hal ini beneran murni karena kesalahanku sendiri yang kurang
bisa menjaga jarak kedekatan.
Aku melemparkan pandangan mataku ke arah Hoshimiya, namun
dia tampak sedang fokus belajar dengan tenang di tempat duduknya.
Sama sekali tidak ada tanda-tanda kalau dia tertarik dengan
apa yang baru saja terjadi di antara kami berdua.
"……Kalau begitu, mari kita lanjutkan belajarnya
kembali?"
"E-em!"
Kami pun langsung
mengalihkan fokus kami kembali ke arah buku pelajaran masing-masing.
Berkat
pengalamanku yang sempat bekerja paruh waktu sebagai guru privat di kehidupan
dulu, aku beneran memiliki tingkat kepercayaan diri yang cukup tinggi dalam hal
mengajari orang lain.
Biar bagaimanapun
juga, fakta kalau Uta bisa lulus masuk ke sekolah ini beneran membuktikan kalau
dia sebenarnya adalah anak yang cukup cerdas.
Dia bisa menyerap
seluruh penjelasan materi pelajaran yang kuberikan dengan sangat cepat layaknya
sebuah spons.
"Kurasa
untuk hari ini sepertinya sudah cukup ya."
Reita bergumam
sembari mengalihkan pandangan matanya ke arah jarum jam dinding kelas.
Tanpa terasa,
waktu ternyata sudah hampir menunjukkan pukul delapan malam. Suasana di luar
jendela kelas pun sudah berubah menjadi sangat gelap gulita.
"Benar juga,
jam malam Hoshimiya juga sudah hampir tiba, jadi sebaiknya kita segera pulang
sekarang."
"Ah, tidak
apa-apa kok kalau kalian masih mau lanjut belajar di sini. Aku bisa pulang
sendirian terlebih dahulu."
"Energi
otakku beneran sudah terkuras habis untuk hari ini, jadi aku juga memutuskan
untuk menyudahi belajar hari ini. Bagaimana dengan yang lainnya?"
"Mumpung
situasinya sedang seperti ini, bagaimana kalau kita semua pulang bersama
saja?"
Aku melayangkan
usulan tersebut kepada semuanya. Yah, meskipun motif utamaku yang sebenarnya
adalah agar aku bisa pulang bersama dengan Hoshimiya sih.
"Aku
beneran sudah tidak sanggup lagi…… aku bersumpah tidak akan pernah mau belajar
lagi seumur hidupku……"
Tatsuya
mengerang frustrasi sembari meregangkan kedua lengannya ke atas dengan sangat
hebohnya. Cara pelepasan stres yang beneran tergolong sangat mencolok sekali.
"Kalau
aku pribadi sih, berkat bantuan penjelasan dari Natsu, proses belajar ini
beneran mulai terasa sangat menyenangkan. Tapi kalau Natsu mau pulang
sekarang, aku juga ikut pulang saja deh!"
"Ah, i-iya…… kalau begitu baguslah."
Mendengar kalimat yang diucapkan oleh Uta barusan beneran
sukses membuat lubuk hatiku terasa sangat bahagia.
Di saat semua orang sedang sibuk merapikan barang bawaan
mereka ke dalam tas, sebuah pemikiran mendadak terlintas di dalam kepalaku.
——Eh? Tunggu dulu? Jangan-jangan kalimat yang diucapkannya
barusan adalah sebuah ajakan terselubung untukku……?
Mengingat dia mengatakan kalau dia hanya akan pulang jika
aku pulang, bukankah itu berarti dia sebenarnya masih ingin menghabiskan waktu
belajar lebih lama bersamaku?
Jika tebakan pribadiku ini benar, itu berarti dia beneran
ingin menghabiskan waktu berdua saja denganku.
"Baiklah! Target berikutnya adalah pulang ke rumah
masing-masing!"
Uta berseru dengan sangat cerianya sembari mendorong pelan
punggung Hoshimiya dari arah belakang untuk melangkah keluar kelas.
Melihat tingkah lakunya yang tanpa beban seperti itu,
sepertinya dugaanku barusan beneran murni karena tingkat kepercayaan diriku
saja yang terlalu berlebihan.
"Wah,
suasana di luar beneran sudah gelap gulita ya. Rasanya sangat asing
sekali."
Hoshimiya
bergumam sesampainya kami di area gerbang depan sekolah.
"Benarkah?"
"Yah, bagi
kami anak-anak klub olahraga, pemandangan sekolah di malam hari seperti ini
beneran sudah menjadi santapan kami sehari-hari setelah selesai latihan
klub."
"Ah,
benar juga ya. Anak-anak klub sastra kan memang tidak pernah pulang sampai
semalam ini."
Nada
suara Hoshimiya terdengar sedikit meninggi karena saking antusiasnya menikmati
pemandangan malam sekolah.
Namun di
sisi lain, Uta yang biasanya selalu heboh di situasi seperti sekarang tampak
sedang asyik mengobrol santai bersama Nanase.
"Aku
bisa memahami perasaanmu kok, pemandangan sekolah di malam hari seperti ini
memang punya daya tarik tersendiri yang terasa sangat menyenangkan."
"Iya,
kan! Benar sekali! Wah, akhirnya aku berhasil menemukan teman yang punya
pemikiran yang sama denganku!"
Bagi
diriku pribadi, perasaan yang kurasakan saat ini sebenarnya bukanlah rasa
asing, melainkan sebuah rasa kerinduan yang mendalam akan masa-masa sekolah
dulu.
Namun
terlepas dari hal itu, fakta bahwa aku merasa bahagia saat ini adalah sebuah
kebenaran yang tidak bisa diganggu gugat.
Perasaan bahagia
ini beneran bisa tercipta murni karena aku bisa menikmatinya bersama dengan
teman-temanku.
"Mumpung
suasananya sedang bagus, bagaimana kalau kuunggah saja ke Minstagram?"
Hoshimiya
mengangkat ponselnya tinggi-tinghi ke atas lalu mulai mengambil foto
menggunakan kamera depan.
"——Eh,
kok hasilnya beneran gelap gulita begini dan tidak kelihatan apa-apa ya!?"
"Tentu saja
tidak akan kelihatan apa-apa, di tempat segelap ini kamu harus menyalakan fitur
lampu kilat terlebih dahulu tahu."
Hoshimiya
memberikan tatapan cemberut yang terlihat sangat menggemaskan ke arahku sebelum
akhirnya memutuskan untuk tetap mengunggah foto tersebut ke dalam fitur cerita
Minstagram miliknya.
Di sana tertera
sebuah takarir bertuliskan, 『Menikmati pemandangan malam sekolah bersama semuanya! Rasanya sangat asing
sekali~! Tapi fotonya beneran gelap gulita sampai tidak kelihatan apa-apa, haha』.
Melihat postingan
tersebut melalui layar ponselku beneran sukses membuatku tersenyum kecut.
Lagipula yang namanya Minstagram kan memang sebuah media sosial tempat
orang-orang berbagi momen tanpa perlu memikirkan estetika foto yang terlalu
rumit.
"Bukankah
tadi kamu bilang kalau jam malam di rumahmu sudah hampir tiba?"
"Ah, benar
juga! Aku sampai lupa karena keasyikan mengobrol! Ayo kita segera bergegas pulang
sekarang!"
Hoshimiya
langsung mempercepat langkah kakinya begitu aku mengingatkan perihal jam malam
tersebut.
Gadis
yang satu ini beneran punya banyak sekali sisi ceroboh di dalam dirinya. Namun
tentu saja, sisi ceroboh itulah yang justru membuat sosoknya terlihat semakin
menggemaskan di mataku.
Sembari menikmati
momen hangat tersebut, kami semua pun melanjutkan perjalanan pulang kami
bersama-sama di bawah keheningan malam.
*
Sejak hari itu,
kami pun rutin mengadakan sesi belajar bersama di ruang kelas kosong setiap
harinya sepulang sekolah.
Satu minggu penuh
menjelang dimulainya hari H ujian tengah semester, kami manfaatkan dengan
sangat baik untuk mengulas kembali seluruh materi pelajaran yang ada.
Berhubung tugasku
sendiri beneran sudah selesai sejak hari pertama, seluruh waktu belajarku
sepenuhnya kuhabiskan untuk menemani Uta belajar. Berkat bimbingan intensif
tersebut, setidaknya saat ini seluruh nilai mata pelajarannya sudah berada di
zona aman dari ancaman nilai merah.
Di sisi lain,
Reita tampaknya masih harus berjuang keras mendampingi proses belajar Tatsuya.
Masalah utamanya terletak pada ketidakmampuan Tatsuya dalam memahami konsep
dasar mata pelajaran matematika.
Memasuki paruh
kedua minggu tersebut, karena merasa tidak tega melihat Reita yang berjuang
sendirian, aku dan Nanase pun ikut turun tangan membantu mengajari Tatsuya.
Namun harus kuakui, dengan tingkat pemahaman materi seperti itu, Tatsuya
beneran bisa tamat jika nekat menghadapi ujian nanti.
Hingga akhirnya
hari Jumat pun tiba, dan di sinilah kami sekarang sedang berjalan bersama di
bawah keheningan malam sepulang sekolah.
"Aku memohon
kepada kalian semua, tolong temani aku belajar lagi di hari libur besok!"
Tatsuya
menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada sembari membungkukkan badannya
dalam-dalam ke arah kami.
Melihat tingkah
laku Tatsuya yang biasanya selalu bersikap sok kuat namun kini mendadak memohon
dengan begitu pasrahnya beneran sukses membuat kami semua terkejut.
"Tumben
sekali kamu bisa bersikap sampai sepasrah ini?"
"Bagaimana ya menjelaskannya…… setelah mulai memahami
sedikit demi sedikit, aku malah jadi sadar seberapa banyaknya materi pelajaran
yang sama sekali tidak kupahami, makanya rasa cemas di dalam hatiku mendadak
melonjak tajam."
"Ah, aku
bisa memahami perasaanmu kok. Di saat kita sama sekali tidak tahu apa-apa, kita
beneran tidak akan pernah tahu seberapa banyaknya ketidaktahuan kita
tersebut."
Kalimat
penjelasan yang baru saja kuucapkan barusan beneran terdengar sangat
membingungkan sekali saat didengar.
"Sejujurnya
masalah nilai merah sih aku tidak terlalu peduli, tapi kalau sampai dilarang
ikut latihan klub bola basket beneran ceritanya akan menjadi sangat berbeda.
Aku bersumpah akan mendengarkan penjelasan guru dengan baik mulai ujian
berikutnya, jadi untuk kali ini saja tolong bantu aku, nanti kubelikan minuman
kaleng deh!"
"Nilaiku
sendiri sepertinya juga masih berada di ambang batas bahaya, jadi tolong bantu
kami ya semuanya! Tenang saja, Tatsuya yang akan membayar seluruh minuman
kalengnya kok!"
"Oi, kenapa
cuma aku sendiri yang harus membayarnya!? Kamu juga harus ikut menyumbang uang dong,
dasar pelit!"
"Ughー, itu karena belakangan ini aku
terlalu sering pergi bermain bersama teman-teman klub sehingga kondisi
keuanganku saat ini beneran sedang mengalami krisis akut……"
"Kalau
tahu begitu, seharusnya kamu gunakan waktumu untuk belajar saja dari kemarin,
dasar bodoh!"
Melihat
interaksi pertengkaran konyol di antara Tatsuya dan Uta beneran sukses membuat
kami semua hanya bisa tersenyum kecut mendengarnya.
"Baiklah
kalau begitu. Berhubung waktu ujian beneran tinggal dua hari lagi, bagi siapa
saja yang punya waktu luang besok, mari kita berkumpul kembali untuk belajar
bersama."
"Kamu tidak
perlu membelikan kami minuman kaleng kok, simpan saja uangmu itu untuk membeli
asupan makanan manis demi menutupi kebutuhan energi otakmu nanti."
Sebagai seorang
teman, membantu teman yang sedang berada di dalam kesulitan beneran sudah
menjadi sebuah kewajiban yang lumrah untuk dilakukan.
Lagipula,
memiliki keunggulan berupa pengetahuan dari masa depan seperti ini beneran
harus dimanfaatkan untuk hal-hal yang positif seperti sekarang.
"Natsu
beneran hebat sekali! Kamu beneran baik banget!"
"Bukannya
aku orang yang baik kok, ini semua kulakukan murni karena kita adalah
teman."
Aku sama sekali
tidak mengharapkan imbalan apa pun atas bantuan yang kuberikan ini.
Bagiku, esensi
dari sebuah pertemanan adalah saling membantu di saat salah satu di antara kami
sedang berada di dalam kesulitan.
Walaupun di
kehidupanku yang dulu aku sama sekali tidak pernah memiliki teman, setidaknya
di kehidupan kali ini aku beneran ingin membangun hubungan pertemanan yang
sehat bersama dengan mereka semua.
"……Natsu
beneran sering kali mengucapkan kalimat-kalimat yang memalukan seperti itu
tanpa beban ya?"
"Eh,
benarkah?"
Aku sempat merasa
bingung menanggapi kalimat yang baru saja diucapkan oleh Uta barusan.
Padahal di dalam
lubuk hatiku yang terdalam, pemikiran seperti itulah yang justru selalu
kurasakan terhadap tingkah laku mereka semua selama ini.
"M-maafkan
aku. Apa kalimatku barusan terdengar menjijikkan di telingamu?"
Aku melayangkan
permohonan maafku sembari menundukkan kepalaku lesu, namun Uta langsung
menggelengkan kepalanya dengan cepat sebelum akhirnya mendadak memajukan
wajahnya ke arahku.
"……Menurutku,
sisi jujur dari dirimu yang seperti itulah yang justru membuat sosokmu terlihat
sangat keren tahu."
Kalimat pujian
tersebut diucapkan dengan nada suara yang terdengar sangat lembut tepat di
hadapan telingaku.
Daya hancur dari
kalimat tersebut beneran sukses membuat seluruh sistem pemikiranku mendadak
berhenti berfungsi karena saking terkejutnya.
Namun sebelum aku
sempat memberikan respons, Uta sudah terlanjur membalikkan badannya untuk
kembali bergabung bersama yang lain sembari langsung memeluk mesra tubuh
Hoshimiya dari arah belakang.
"Kalian
berdua belakangan ini terlihat semakin akrab saja ya?"
Tatsuya mendadak
merangkul bahuku dari arah belakang sembari melayangkan pertanyaan tersebut
dengan nada bicara yang terlihat penuh arti.
"……Itu
beneran murni karena aku sering mengajarinya belajar saja kok, makanya kami
terlihat seperti itu."
Aku beneran
bingung harus memberikan respons seperti apa terhadap situasi yang sesungguhnya
terjadi saat ini.
"——Katakan
yang sejujurnya, apa kamu menyukai Uta?"
"Eeeh!?
Tentu saja tidak, hubungan kami beneran sama sekali tidak seperti apa yang kamu
bayangkan kok!"
Mendengar
pertanyaan yang disampaikan dengan nada suara berbisik dari Tatsuya tersebut
beneran sukses membuatku meresponsnya dengan volume suara yang tidak kalah
hebohnya.
"Yaaah,
membosankan sekali. Kalau begitu, siapa yang sebenarnya kamu sukai? Apakah
Hoshimiya, ataukah Nanase?"
Aku beneran
bingung harus memberikan jawaban seperti apa untuk menanggapi pertanyaan dari
Tatsuya barusan.
Namun mengingat
posisi kami yang saat ini sudah resmi menjadi sepasang sahabat, aku beneran
ingin merasakan bagaimana rasanya mengobrol seputar urusan asmara sesama pria
layaknya anak-anak populer pada umumnya.
Berangkat dari pemikiran tersebut, aku pun memberanikan diri untuk mulai membuka suara secara perlahan.
"……Hoshimiya,
itu yang aku maksud."
"Hoo. Jadi
begitu, ya."
Tatsuya mengusap
dagunya sembari menyeringai jahat.
"Laru,
bagaimana denganmu sendiri, Tatsuya?"
"……Aku?
Menurutmu bagaimana?"
Karena
malah ditanya balik, aku pun mencoba mengingat kembali gerak-gerik Tatsuya
selama ini. Dia dan Uta
selalu saja bertengkar setiap hari, jadi kurasa pilihan itu tidak mungkin.
Sedangkan
interaksinya dengan Hoshimiya dan Nanase pun tergolong dalam batas wajar
layaknya teman biasa.
"Hmm…… entahlah, aku tidak tahu."
"Benar,
kan? Ya, begitulah jawabannya."
"Eeh,
curang sekali! Kenapa cuma kamu saja yang tidak mau jujur?"
"Biar
dibilang begitu pun, kenyataannya memang seperti ini, jadi mau bagaimana
lagi."
Di saat
kami berdua sedang sibuk saling melempar argumen, Uta mendadak memunculkan
wajahnya dari arah samping.
"Kalian lagi
membicarakan apa, sih?"
"Ah, ini
rahasia untuk Uta."
Fakta kalau aku
menyukai Hoshimiya adalah sesuatu yang belum ingin kubagikan kepada semua orang
saat ini.
Aku beneran takut
jika Hoshimiya mengetahuinya, dia malah akan mulai menjauhiku.
Maksudku, aku
beneran tidak akan sanggup menahan kepedihan itu. Masa muda seperti itu rasanya
terlalu menyakitkan untuk dijalani.
"Eeeh!
Kenapa harus rahasia!?"
"Maaf ya
Uta, ini masih terlalu dini untukmu. Ini adalah obrolan orang dewasa."
Tatsuya tampaknya
bisa memahami situasiku dengan baik, sehingga dia pun memilih untuk mengalihkan
topik pembicaraan.
"Obrolan orang dewasa…… jangan-jangan, kalian lagi
membicarakan hal mesum ya?"
Uta melayangkan pertanyaan tersebut sembari memalingkan
wajahnya ke arah lain dengan ekspresi yang terlihat agak malu-malu.
Aku yang
merasa terkejut langsung panik dan berniat untuk menyangkalnya. Namun, Tatsuya
dengan cepat memotong kalimatku terlebih dahulu.
"Ah,
benar sekali. Bagi anak SD sepertimu, hal ini beneran masih terlalu dini,
kan?"
"S-siapa
yang kamu maksud anak SD! Memang sih tubuhku ini pendek, tapi……!"
"Oi,
oi. Memangnya yang kecil itu cuma ukuran tubuhmu saja?"
Aku hanya
bisa memandangi interaksi mereka berdua dengan perasaan yang beneran sangat
waswas. Kalimat Tatsuya dirasa sudah melangkah terlalu jauh.
Uta yang
tadinya sempat melongo tampak mulai menyadari makna tersirat dari kalimat
tersebut secara perlahan.
Dia pun
langsung menyilangkan kedua lengannya di depan dada demi memeluk tubuhnya
sendiri.
"Dasar
mesum! Hal seperti itu cuma boleh diucapkan oleh diriku sendiri tahu!"
"Maaf
ya, tapi aku dan Natsuki memang sedang membicarakan urusan itu sekarang. Sana,
cepat pergi jauh-jauh."
Tatsuya
mengibaskan salah satu tangannya ke udara seolah-olah sedang mengusir seekor
binatang peliharaan.
Uta
melemparkan tatapan mata yang tajam ke arah Tatsuya dan aku secara bergantian
dengan wajah yang merona merah. Setelah itu, dia memutuskan untuk kembali
berjalan bergabung bersama kelompok Hoshimiya di depan.
……Tunggu
dulu, kenapa perasaanku mendadak merasa seperti ikut terseret ke dalam masalah
ini ya?
"Tapi
kalau dipikir-pikir kembali, urutan posisinya pasti dimulai dari Hoshimiya,
Nanase, lalu tembok pembatas yang tidak akan pernah bisa dilompati, baru
setelah itu Uta, kan?"
"Jangan
membuat kesimpulan sendiri begitu dong……"
"Bodoh,
bagi seorang pria, mendiskusikan hal seperti ini beneran sudah menjadi sebuah
kewajiban yang lumrah tahu. Benar kan, Reita?"
"Bagi
diriku pribadi, aku justru menilai kalau Nanase-san sebenarnya cukup 'berisi'
lho. Meskipun sekilas sosoknya terlihat kurus dan biasa saja, kurasa dia adalah
tipe gadis yang terlihat ramping saat mengenakan pakaian. Ya, walaupun pesona
Hoshimiya-san beneran mutlak dan tidak tertandingi sih."
Reita
yang entah sejak kapan sudah berjalan mendekat dari arah depan mendadak ikut
bergabung ke dalam obrolan kami. Ekspresi wajahnya terlihat sangat serius saat
mengatakannya.
Mengingat
lebar jalanan yang sempit, formasi berjalan kami memang tidak bisa sejajar
sehingga obrolan kami sering kali terbagi menjadi beberapa kelompok kecil
berisi dua atau tiga orang.
Terlepas
dari hal itu, kenapa Reita bisa mengucapkan kalimat sekaku itu dengan wajah
yang seserius itu?
"……Hmm?
Natsuki, apa kamu sama sekali tidak tertarik dengan topik pembicaraan
ini?"
"Tidak, ya,
bukannya aku sama sekali tidak tertarik sih, tapi……"
"Oi Natsuki,
kalau cuma kepada Reita saja, bagaimana kalau kita beri tahu dia yang
sejujurnya?"
Awalnya aku
sempat bingung mengenai arah pembicaraan ini. Namun, aku langsung menyadari
kalau mereka pasti sedang membahas perihal gadis yang kusukai.
Setelah
menimbangnya selama beberapa saat, aku pun mulai membuka suara kembali.
"Asalkan
kalian beneran berjanji untuk tidak membocorkannya kepada para gadis…… tolong
jangan beri tahu mereka ya?"
"Tenang
saja, aku beneran sudah paham kok. Kamu tidak perlu cemas."
"Aku sudah
bisa menangkap garis besar arah pembicaraannya. Tenang saja, mulutku tergolong
sangat rapat kok, terlepas dari bagaimana sikap Tatsuya nanti."
"Kalau
kalimat penutupnya dibilang terlepas dari bagaimana sikap Tatsuya, hal itu
beneran membuatku cemas tahu……"
"——Oi Reita,
anak ini ternyata mengincar dada besar milik Hoshimiya lho."
"Benarkah?
Jadi begitu ya. Tempat itu memang dipenuhi dengan banyak impian, jadi aku
beneran bisa memahami perasaanmu dengan sangat baik."
"Dengar
dulu, alasan aku menyukai Hoshimiya beneran sama sekali bukan karena ukuran
dadanya yang besar kok……!"
Di saat aku
sedang sibuk melayangkan kalimat pembelaan diri, aku mendadak merasakan adanya
sebuah tatapan mata yang sangat tajam sedang mengarah ke arah kami.
Tiga orang gadis
yang berjalan di depan kami saat ini sedang melemparkan tatapan mata yang
terasa sangat dingin ke arah kami bertiga.
Mengingat volume
suara kami yang pelan, isi percakapan kami seharusnya tidak akan terdengar oleh
mereka. Namun, tampaknya Uta sudah membocorkan perihal obrolan mesum kami
sebelumnya kepada mereka.
Hoshimiya tampak
menggembungkan kedua pipinya kesal sebelum akhirnya kembali membalikkan
badannya membelakangi kami.
"Kurasa
membicarakan hal seperti itu beneran bukan sesuatu yang baik lhoー."
"Tapi
kenyataannya, ukuran dada Hiyori memang sangat besar jadi wajar saja jika hal
itu membuat orang lain penasaran. Lagipula aku sendiri juga penasaran
kok."
"Yuino-chan!?
Kenapa kamu bisa mengucapkan kalimat sefrontal itu dengan santainya sih!?"
"A-aku juga…… aku juga padahal sudah rajin minum susu
setiap hari tahuー!?"
Mendengar teriakan frustrasi dari Uta barusan sukses membuat
kami bertiga saling berpandangan sebelum akhirnya tersenyum kecut bersamaan.
Meskipun aku masih merasa agak tidak rela karena telah
terseret ke dalam jebakan Tatsuya, fakta bahwa momen ini terasa sangat
mencerminkan sebuah masa muda yang indah membuatku memutuskan untuk
memaafkannya.
Kurasa aku beneran harus segera meningkatkan tingkat
toleransiku terhadap obrolan mesum sesama pria dari sekarang.
Mungkin karena di kehidupanku yang dulu aku sama sekali
tidak pernah memiliki pengalaman berbagi cerita seperti ini bersama teman,
makanya aku masih sering merasa malu saat menjalaninya.
*
Keesokan harinya,
pada hari Sabtu.
Aku melangkahkan
kaki mendatangi tempat kerja paruh waktuku di Kafe Mares.
Suara dentingan
bel pintu berbunyi nyaring mengiringi langkahku saat membuka pintu masuk kafe.
"Ah,
akhirnya kamu datang juga. Semuanya sudah berkumpul di dalam lhoー."
Kirishima-san
berjalan menghampiriku dengan langkah kaki yang lincah sembari menunjuk ke arah
meja yang berada di sudut ruangan dalam kafe.
Begitu
aku mengalihkan pandanganku ke arah tersebut, Uta yang tampaknya menyadari
kehadiranku langsung melambaikan salah satu tangannya dengan sangat heboh ke
arahku.
Saat
mendiskusikan perihal lokasi belajar bersama untuk hari libur kemarin, ada
banyak sekali opsi tempat yang sempat muncul mulai dari rumah salah satu di
antara kami, restoran keluarga, hingga perpustakaan kota.
Sebelum akhirnya
kami memutuskan kalau Kafe Mares adalah pilihan terbaik.
Mengingat jumlah
anggota kami yang mencapai oke orang, belajar di rumah salah satu di antara
kami beneran akan memakan banyak tempat.
Sementara
restoran keluarga di hari libur seperti ini sudah pasti akan sangat ramai
sehingga sulit mendapatkan meja kosong, dan perpustakaan pun tidak akan
mengizinkan kami untuk mengobrol santai.
Atas dasar
pertimbangan itulah, tempat kerja paruh waktuku dan Nanase ini menjadi pilihan
paling ideal karena kami bisa memesan tempat terlebih dahulu kepada pihak kafe.
Sebenarnya aku
sempat merasa ragu saat mendiskusikan hal ini kepada Manajer kafe, namun beliau
ternyata langsung menyetujuinya dengan sangat ramah.
Menurut
penjelasannya, momen menjelang pekan ujian seperti ini memang biasanya akan
dipenuhi oleh banyak pelanggan dari kalangan pelajar.
"Selama
kalian semua memesan minuman, aku sama sekali tidak keberatan kok," ucap
beliau sembari tersenyum ramah saat itu.
Saat aku
melangkahkan kakiku mendekati meja tempat berkumpulnya anak-anak…… hmm? Kenapa
jumlah orang yang ada di sana rasanya terlihat jauh lebih banyak dari biasanya
ya?
"Ouh
Natsuki, kamu beneran lama sekali ya."
Tatsuya menyapaku
sembari memputar-putar pena di sela-sela jari jemarinya dengan sangat mahir.
"Maaf, kereta yang kunaiki sempat tertahan sebentar
tadi…… tapi terlepas dari hal itu, kenapa kamu bisa berada di sini?"
"Ada apa
dengan reaksi ituー? Memangnya aku
tidak boleh berada di sini ya?"
Sesosok gadis
yang merupakan teman masa kecilku, Miori, tampak sedang melayangkan sebuah
senyuman licik ke arahku.
"Ini murni
karena ketidaksengajaan kok. Kami berdua kebetulan juga datang ke sini untuk
belajar. Benar kanー?"
Miori saat ini
sedang duduk di sebuah meja tepat di sebelah meja tempat berkumpulnya kelompok
Tatsuya.
Di hadapannya,
duduk sesosok gadis berambut pirang dengan banyak tindikan di telinganya yang
beneran terlihat sangat mencerminkan sosok seorang gadis gyaru.
Gadis
tersebut hanya memberikan anggukan pelan dengan ekspresi wajah yang terlihat
sangat mengantuk.
"Benar sekaliー. ……Tapi omong-omong Miori, temanmu
ternyata banyak juga ya?"
"Kalau untuk anak yang satu ini sih, hubungan kami
beneran murni cuma sebatas teman masa kecil sejak zaman SMP dulu kokー."
Sembari mendengarkan interaksi obrolan di antara mereka
berdua, aku pun melangkahkan kakiku untuk duduk bergabung di meja yang sama
dengan Tatsuya dan yang lainnya.
Satu per satu kursi yang ada sudah terisi, dan satu-satunya
kursi kosong yang tersisa saat ini adalah kursi yang berada di ujung kanan
dekat jendela.
Posisi tersebut berada tepat di sebelah tempat duduk Uta,
sekaligus bersebelahan langsung dengan posisi Miori yang duduk di meja sebelah
dekat jendela.
……Jangan-jangan,
pembagian tempat duduk ini sengaja dilakukan karena mereka ingin menjodohkanku
dengannya?
"Natsu
adalah teman masa kecilnya Miorin, kan? Makanya kami sengaja mengosongkan
tempat ini khusus untukmu!"
Uta berseru
bangga sembari melipat kedua lengannya di depan dada penuh kemenangan.
Meskipun hal itu
tidak terlalu penting, aku beneran tidak menyangka kalau Uta ternyata juga
memberikan sebuah nama panggilan yang aneh kepada Miori.
"Tindakanmu
barusan beneran sebuah kebaikan yang sama sekali tidak kuperlukan tahu……"
"Kenapa bisa
begitu!?"
Sejujurnya, jika
sedang berada di dalam kelompok bermainku yang sekarang, aku beneran tidak
ingin berinteraksi terlalu dekat dengan Miori.
Terlepas dari
status kami yang saat ini adalah rekan kerja paruh waktu, fakta bahwa dia
mengetahui masa laluku beneran membuatku merasa sangat malu jika harus
dibanding-bandingkan di depan teman-temanku yang lain.
"Hmmー?"
Tuh, kan,
kenyataannya dia sekarang beneran sedang menatapku dengan tatapan mata yang
terlihat penuh selidik. Tolong ampuni aku.
Aku pun
memutuskan untuk mengabaikan tatapan matanya tersebut lalu mulai membuka buku
catatan milikku di atas meja.
"Uta. Ini
adalah rangkuman mengenai poin-poin penting untuk ujian kali ini, serta
beberapa bagian soal yang sekiranya berpotensi membuatmu keliru saat
mengerjakannya nanti."
"Eh!?
Apa-apaan ini, keren sekali!"
Uta
membolak-balik halaman buku catatan milikku dengan ekspresi wajah yang terlihat
sangat terkejut.
"Benar, kan?
Aku sengaja membuatnya tadi malam khusus untukmu, lho. Gara-gara hal itu, aku
sekarang beneran kekurangan tidur."
Aku melepaskan
sebuah kuapan lebar sembari menutup mulutku. Alasan utama kenapa aku sampai
bisa terlambat datang ke tempat ini sebenarnya adalah karena rasa kantuk yang
teramat sangat ini.
Berhubung aku
sudah bisa memetakan bagian pelajaran mana saja yang menjadi kelemahan Uta
selama satu minggu belakangan ini, aku pun berinisiatif untuk merangkum materi
tersebut ke dalam sebuah format yang paling mudah untuk dipahaminya.
Karena terlalu
asyik mengerjakannya, tanpa sadar waktu ternyata sudah menunjukkan pukul dua
dini hari saat aku menyelesaikannya tadi malam.
Hoshimiya dan
Reita yang melihat hal tersebut pun mulai menunjukkan ketertarikan mereka.
"Bolehkah
aku ikut melihatnya sebentar?"
"Tentu saja
boleh. Lagipula buku catatan itu memang sengaja kubuat khusus demi menyesuaikan
dengan kemampuan Uta sendiri."
"Eh,
benarkah!?"
"Iya. Biar
bagaimanapun juga, rangkuman materi di dalam sana beneran sengaja kubuat khusus
demi menyesuaikan dengan kemampuan Uta sendiri."
"T-terima
kasih banyak ya……"
Nada suara Uta
terdengar sangat kecil dan pelan, sebuah pemandangan yang beneran sangat langka
terjadi darinya.
Di saat yang
bersamaan, Hoshimiya dan Reita masih terus sibuk membolak-balik halaman buku
catatan milikku tersebut.
"Wah…… ini beneran keren sekali lho. Metode
penyampaiannya beneran sangat mudah untuk dipahami."
"Iya, benar sekali. Jika seseorang tidak beneran
menguasai materi pelajaran ini dengan matang, dia pasti tidak akan pernah bisa
menuliskan rangkuman yang sejelas ini."
Mendengar pujian yang bertubi-tubi dari mereka berdua
beneran sukses membuatku menggaruk kepalaku yang tidak gatal karena saking
malunya.
Mendapat pujian
seperti ini tentu saja membuatku merasa sangat bahagia. Namun di sisi lain, aku
juga bingung harus memberikan respons seperti apa untuk menanggapinya.
Biar bagaimanapun
juga, fakta kalau di kehidupanku yang dulu aku beneran sangat jarang
mendapatkan pujian dari orang lain adalah sebuah kebenaran yang nyata……
fufufu…….
"Apakah
rangkuman khusus untukku tidak ada ya?"
Mendengar
pertanyaan yang dilayangkan oleh Hoshimiya tersebut membuatku langsung
mengalihkan pikiran gelapku kembali ke dunia nyata untuk memberikan jawaban.
"Mau
kubuatkan juga?"
Meskipun aku
menawarkan hal tersebut, esensi utamanya sebenarnya tidak terlalu diperlukan
lagi untuknya. Hoshimiya tergolong sangat ahli dalam mata pelajaran rumpun
bahasa seperti bahasa Jepang dan bahasa Inggris, dan dia hanya lemah di bidang
matematika serta fisika saja.
Karakteristik
yang beneran sangat mencerminkan sosok anak klub sastra pada umumnya yang murni
merupakan tipe anak rumpun humaniora, meski kemampuan dasarnya untuk pelajaran
rumpun sains sebenarnya masih tergolong aman.
"Ahaha, itu
cuma bercanda kok. Aku tidak ingin merepotkanmu lebih jauh lagi. Lagipula kalau
tugas Natsuki-kun sampai bertambah lagi dari sekarang, kamu nanti malah jadi
tidak punya waktu untuk belajar demi ujianmu sendiri, kan?"
"Ya,
begitulah kenyataannya. Mengurus Uta seorang saja beneran sudah membuatku
kewalahan setengah mati tahu."
Melihatku yang
mengangkat kedua bahu pasrah sembari berseloroh, Uta langsung menundukkan
kepalanya lesu sembari bergumam pelan.
"Maaf…… dan terima kasih banyak ya."
Padahal niat utamaku yang sebenarnya hanyalah sekadar ingin
bercanda saja, namun respons yang diberikannya barusan beneran sukses membuatku
merasa agak bersalah.
Tampaknya Uta beneran merasa tidak enak hati karena telah
menyita banyak waktu belajarku demi membantunya selama ini.
Padahal di kehidupanku yang dulu saat masih bekerja paruh
waktu sebagai guru privat, membuat rangkuman materi seperti ini beneran sudah
menjadi sebuah rutinitas harian yang sama sekali tidak memberatkanku.
"Karena Natsu sudah berjuang sekeras ini demi diriku,
aku beneran harus bisa menunjukkan hasil ujian yang terbaik nanti!"
Uta mengepalkan kedua tangan di depan dada penuh semangat,
mencoba memompa motivasi dirinya sebelum akhirnya mulai fokus melanjutkan
aktivitas belajarnya kembali.
"……Omong-omong, apakah saat zaman SMP dulu kemampuan
otakmu beneran secerdas ini ya?"
"Bisa diam
tidak? Ini semua murni karena hasil perjuangan kerasku saat belajar demi
menghadapi ujian masuk SMA kemarin tahu."
"Heehー, jadi berkat hasil belajar tersebut
sekarang kemampuanmu sudah setingkat level seorang guru yang bisa mengajari
orang lain ya…… jadi begitu, menarik juga."
"……Memangnya
ada masalah dengan hal itu?"
"Tidak ada
kokー. Aku cuma merasa kalau hal ini beneran
terlihat sangat menarik saja."
Di saat aku dan
Miori sedang sibuk saling melempar bisikan kata demi menjaga agar tidak
mengganggu konsentrasi belajar yang lainnya, sebuah suara interupsi mendadak
terdengar.
"Kalian
berdua beneran terlihat sangat akrab sekali ya?"
Reita yang
tampaknya sejak tadi sedang mengawasi interaksi kami hanya bisa melayangkan
sebuah senyuman kecut melihat tingkah kami.
Miori yang
terkejut langsung mendorong wajahku menjauh menggunakan telapak tangan.
Tolong ya, jangan
asal menyingkirkan wajah orang lain menggunakan tangan begitu dong.
"Hubungan
kami beneran sama sekali tidak seakrab itu kokー. Lagipula daripada dengan anak ini, aku pribadi
justru jauh lebih memilih untuk bisa akrab dengan Reita-kun lho? Ah, benar
juga. Kebetulan saat ini ada bagian soal yang tidak kupahami, jadi kalau kamu
tidak keberatan, apakah kamu mau mengajarikuー?"
Miori menggeser
posisi kursi duduknya secara perlahan demi bisa berada lebih dekat dengan
posisi Reita yang duduk tepat di hadapanku.
Tingkat
agresivitas yang ditunjukkannya beneran sangat luar biasa sekali.
Tindakan barusan
beneran sudah berada di level sebuah ajakan yang sangat terang-terangan untuk
bisa menjalin kedekatan yang lebih intens.
Miori kini sedang
duduk sembari menempelkan bahunya ke arah bahu Reita, berpura-pura meminta
bantuan penjelasan mengenai soal yang tidak dipahaminya.
"……Bukankah
kemampuan otakmu sendiri sebenarnya tergolong sangat cerdas ya?"
Seingatku saat
zaman SMP dulu, peringkat nilai ujian Miori beneran tidak pernah sekalipun
merosot keluar dari posisi sepuluh besar seangkatan sekolah.
"Eh? Ya,
kalau untuk masalah itu sih, aku beneran masih jauh lebih cerdas ketimbang
dirimu kok."
"Lalu,
apakah soal yang itu beneran tidak bisa kamu selesaikan sendiri?"
Dari hasil
lirikan mataku yang sekilas, soal yang ditunjukkannya barusan beneran murni
cuma sebuah soal matematika tingkat dasar yang biasa.
Meskipun bentuk soalnya terlihat agak rumit,
esensi penyelesaiannya beneran cuma tinggal memasukkan angka ke dalam rumus
yang sudah ada tanpa adanya tingkat kesulitan yang berarti.
"Eeh, tentu
saja aku bertanya karena aku beneran tidak memahaminya tahu. (Kalau kamu berani
mengucapkan kalimat yang tidak-tidak lagi, aku beneran akan membunuhmu lho
ya?)"
Tingkat tekanan
intimidasi yang dipancarkannya beneran terlalu kuat hingga membuatku memutuskan
untuk segera menarik diri dari obrolan tersebut.
Untungnya (?),
saat ini Reita sedang fokus mencurahkan seluruh perhatiannya demi bisa
menyelesaikan soal yang disodorkan oleh Miori, sehingga dia tidak terlalu
memedulikan interaksi yang terjadi di antara kami berdua.
Mengingat sejak
tadi Miori hanya terus-menerus memfokuskan perhatiannya ke arah kelompok kami,
aku mendadak merasa kasihan kepada gadis berambut pirang yang datang bersamanya
karena telah dicampakkan begitu saja di mejanya sendiri.
Namun begitu aku
melayangkan pandangan mataku ke arah sana, gadis tersebut ternyata sedang fokus
belajar dengan sangat serius, sebuah pemandangan yang beneran berbanding
terbalik dengan penampilannya yang urakan.
Melihat
pembawaannya yang terkesan dingin dan sulit untuk didekati tersebut membuatku
bisa memahami sedikit alasan kenapa Miori lebih memilih untuk berinteraksi
bersama kelompok kami saat ini.
……Ya, walaupun
motif utamanya yang terbesar saat ini beneran murni karena dia ingin bisa
menjalin kedekatan bersama Reita sih.
"Terima
kasih banyak ya, Reita-kun. Berkat bantuan penjelasan darimu, sekarang aku
beneran sudah bisa memahaminya dengan sangat baik!"
Miori
menyampaikan rasa terima kasihnya sembari melayangkan sebuah senyuman manis,
sebelum akhirnya memutuskan untuk menggeser posisi kursi duduknya kembali ke
tempat semula.
Melihat ekspresi
wajah Miori yang terlihat sangat bahagia tersebut membuatku berinisiatif untuk
melayangkan sebuah pertanyaan dengan volume suara yang sangat pelan.
"……Omong-omong,
pertemuan kita di tempat ini beneran murni karena sebuah ketidaksengajaan,
kan?"
"Sopan
sedikit dong. Pertemuan ini beneran murni sebuah kebetulan tahu, lagipula aku
mana tahu perihal agenda rencana belajar kelompok kalian hari ini."
"……Ya, kalau
dipikir-pikir kembali, hal itu memang benar sih."
"Daripada
membahas hal tersebut, bukankah sebelumnya kamu sudah berjanji untuk
membantuku? Tolong buatkan sebuah momen yang pas agar aku bisa menjalin
kedekatan bersama Reita-kun dong."
"Keadaan ku
rasa daripada aku harus ikut campur dengan cara yang aneh, bukankah ceritanya
akan jauh lebih cepat jika kamu langsung mengajaknya mengobrol sendiri?"
"Tindakan
yang terlalu agresif seperti itu beneran bisa membuat seorang pria menjadi
ilfil tahu."
"Tapi dari
sudut pandang pribatiku, tindakanmu yang sejak tadi beneran sudah terlihat
sangat agresif sekali lho."
"Karena
itulah aku memintamu untuk make sure membuatkan sebuah alur pembicaraan yang
pas agar aku bisa ikut bergabung ke dalamnya dengan cara yang terlihat sangat
natural tahu."
"Permintaanmu
itu beneran sebuah tugas yang mustahil untuk dilakukan tahu……"
Tingkat kesulitan
dari tugas tersebut beneran berada di luar batas kemampuan seorang pria yang
baru saja melakukan debut SMA seperti diriku ini.
"Hei
Natsuki, bolehkah aku meminta waktumu sebentar?"
Pucuk dicinta
ulam pun tiba, sosok yang baru saja kami bicarakan, Reita, mendadak memanggil
namaku dengan ekspresi wajah yang terlihat sangat rumit.
"Ada
apa?"
"Ya,
bagaimana ya menyampaikannya. Aku beneran bingung harus mengatakannya seperti apa……"
Melihat
pembawaan Reita yang biasanya selalu lugas namun kini mendadak terbata-bata
beneran memberikan sebuah kesan baru yang terasa sangat segar bagiku.
"……Kurasa,
diriku beneran tidak memiliki bakat dalam hal mengajari orang lain deh."
"Ahー, ya, kalau untuk masalah itu sih aku
beneran bisa memahaminya kok……"
"Melihat
respons yang kamu berikan barusan, itu berarti Natsuki juga memiliki pemikiran
yang sama denganku ya……"
Reita
mengembuskan napas panjang sembari menundukkan kakinya lesu, tampaknya masalah
ini beneran sudah menjadi beban pikiran yang sangat serius baginya.
Sebenarnya saat
mendengarkan metode penjelasannya kepada Tatsuya sebelumnya, aku sempat
merasakan adanya sedikit ganjalan di dalam lubuk hatiku.
Sejujurnya,
metode penyampaian yang digunakannya beneran tergolong sulit untuk dipahami,
atau lebih tepatnya materi tersebut beneran bukan konsumsi yang cocok untuk
seorang pemula.
Bahkan saat dia
mengajari Miori beberapa saat yang lalu, penjelasan yang diberikannya beneran
terasa sangat tidak efektif, terlepas dari fakta bahwa Reita sendiri bisa
menyelesaikan soal tersebut dalam sekejap mata.
Ya, walaupun
untuk kasus Miori sendiri hal itu sama sekali tidak menjadi masalah karena dia
sebenarnya sudah menguasai jawabannya sejak awal sih.
Berdasarkan
kesimpulan pribatiku, Reita tampaknya adalah tipe orang yang jenius sejak
lahir, tipe orang yang bisa menyelesaikan berbagai macam soal rumit murni
berdasarkan intuisi semata.
Kemampuan otak
bawaannya beneran berada di level yang sangat luar biasa sekali, sebuah
kelebihan yang tentu saja sangat mengagumkan, namun…….
"Bagi
diriku, aku beneran sama sekali tidak bisa memahami bagian mana dari soal ini
yang tidak dipahami oleh Tatsuya…… Arkgh, aku beneran tidak mengerti letak
ketidakpahamannya! Semuanya kan terlihat sangat mudah di mataku. Aku tahu kalau
diriku ini jenius, tapi aku tidak menyangka kalau kejeniusanku ini malah akan
mendatangkan kesulitan seperti sekarang…… Tingkat kecerdasan otak antara diriku
dan Tatsuya beneran berada di level yang terlalu jauh berbeda."
"Kalimat
barusan beneran tidak perlu disampaikan dengan sefrontal itu juga kali!?"
Tatsuya
hanya bisa melongo tidak percaya menanggapi kalimat sindiran kejam yang
meluncur dari mulut Reita yang sedang menggalau tersebut.
"Sialan!
Kenapa diriku harus terlahir dengan otak yang secerdas ini!"
"Memangnya
ada kalimat di dunia ini yang beneran lebih menyebalkan ketimbang kalimat
barusan!?"
"Ahaha…… Reita-kun memang selalu punya sisi yang
seperti itu ya. Tapi menurutku, di situlah letak daya tarik unik dari dirimu
yang terasa sangat menghibur."
Hoshimiya melayangkan sebuah komentar sembari tersenyum
kecut, mencoba untuk mencairkan kembali suasana ketegangan yang sempat tercipta
di dalam ruangan.
"Sosok pria tampan yang penuh dengan rasa percaya diri
beneran terlihat sangat menawan ya…… aku beneran ingin menjadikannya sebagai
pacarku…… tipe pria idaman yang wajib dimiliki oleh setiap rumah……"
Aku memutuskan untuk mengabaikan saja kalimat gumaman tidak
jelas yang meluncur dari mulut Miori barusan. Lagipula, apa-apaan maksud dari
istilah 'wajib dimiliki oleh setiap rumah' itu coba.
"Karena itulah, maafkan aku Natsuki, tapi jika
sekiranya proses belajar Uta sudah berada di tahap yang aman, apakah kamu
bersedia untuk berganti tugas membimbing Tatsuya?"
Alasan kenapa dia tidak meminta bantuan Nanase beneran murni
karena saat ini Nanase sedang fokus mencurahkan seluruh perhatiannya demi bisa
menyelesaikan tugas belajarnya sendiri.
Fakta bahwa sejak tadi dia sama sekali tidak ikut bergabung
ke dalam obrolan kami dan terus menggerakkan penanya beneran membuktikan
seberapa tinggi tingkat konsentrasi belajar yang dimilikinya saat ini.
"Ah, tentu saja boleh. Lagipula saat ini aku beneran
sedang tidak ada pekerjaan alias menganggur kok."
Biar bagaimanapun juga, aku sebelumnya sudah menyelesaikan
seluruh ulasan materi pelajaran untuk semua mata pelajaran saat di rumah,
sehingga posisiku saat ini beneran sudah sangat aman sekali.
Namun di sisi lain, mengetahui fakta kalau seorang Reita
ternyata memiliki kelemahan berupa tidak bisa mengajari orang lain beneran
menjadi sebuah penemuan baru yang menarik.
Pria yang biasanya selalu terlihat serbabisa dan sempurna di
segala bidang tersebut ternyata memiliki sebuah celah kekurangan yang tidak
disangka-sangka.
Melihat adanya peluang tersebut membuat sebuah ide cemerlang
mendadak terlintas di dalam benakku, kurasa tidak ada salahnya jika aku
memberikan sedikit bantuan kepada Miori saat ini.
"——Kalau
begitu Reita, bagaimana kalau kita bertukar posisi tempat duduk saja?"
"Hmm? Ah, benar juga ya. Posisi itu pasti akan membuatmu jauh lebih mudah
untuk mengajari Tatsuya."
Bertukar posisi
tempat duduk dengan Reita yang berada di hadapanku beneran akan membuatku bisa
berada tepat di sebelah Tatsuya untuk mengajarinya dengan lebih efektif.
Ditambah lagi,
dengan berpindahnya posisi Reita ke kursi tempat dudukku sebelumnya, hal itu
tentu saja akan membuat Miori yang berada di meja sebelah menjadi jauh lebih
mudah untuk membuka obrolan bersamanya.
Melihat Miori
yang langsung melayangkan sebuah tatapan mata penuh rasa terima kasih membuatku
tersenyum kecut sembari bersiap untuk bangkit berdiri dari kursiku.
"……Ah, tidak perlu repot-repot Natsuki. Aku sudah mendapatkan banyak sekali penjelasan
dari Reita tadi, jadi sisanya biar kuselesaikan sendiri saja. Lagipula meskipun
penjelasannya memang tergolong sulit untuk dipahami, menyalahkan orang yang
sudah berbaik hati mengajari kita beneran bukan sebuah tindakan yang terpuji,
kan?"
Tatsuya
mengucapkan kalimat tersebut dengan nada suara yang tegas sebelum akhirnya
kembali fokus melanjutkan aktivitas belajarnya sendiri.
……Jangan-jangan,
tindakan yang dilakukannya barusan beneran murni karena dia ingin menjaga
perasaan Reita agar tidak merasa tersinggung ya?
Mengingat
keputusannya yang tampak sudah bulat, aku pun mengurungkan niatku lalu
memutuskan untuk kembali duduk di kursiku semula.
Miori tampak
melayangkan ekspresi wajah yang terlihat sangat mengecewakan, namun melihat
situasi dan alur pembicaraan yang berkembang saat ini, keputusan tersebut
beneran tidak bisa diganggu gugat lagi.
Aku dan Reita
saling berpandangan sebelum akhirnya tersenyum kecut bersamaan dan kembali
memfokuskan perhatian kami ke arah buku pelajaran masing-masing.
"Aku izin
pergi ke toilet sebentar ya!"
Uta berseru
sembari bergegas bangkit berdiri untuk melangkahkan kakinya meninggalkan area
meja kami. Tepat di saat momen tersebut terjadi, Miori mendadak memajukan
wajahnya ke arah telingaku sembari berbisik pelan, "Hei, hei."
Aku yang merasa
bingung langsung membalikkan badannya ke arahnya, namun pandangan mata Miori
saat ini ternyata sedang fokus menatap ke arah punggung Uta yang berjalan
menjauh menuju toilet.
"Apakah kamu
tahu? Akhir-akhir ini, Uta beneran selalu membicarakan perihal dirimu
terus-menerus lho."
Miori membisikkan
kalimat tersebut dengan volume suara yang sangat pelan, memastikan agar tidak
ada satu pun orang di meja kami yang bisa mendengarnya.
"……Kalau
tidak salah ingat, kalian berdua beneran bergabung di dalam klub olahraga yang
sama, kan, klub basket putri?"
"Benar
sekali, kami memang selalu berjalan pulang bersama setiap kali selesai latihan
klub lho. Dan akhir-akhir ini, pembawaan dirinya beneran sudah terlihat sangat
mencerminkan sosok seorang gadis yang sedang jatuh cinta tahu, terlepas dari
trik sulap macam apa yang sebenarnya sudah kamu lakukan kepadanya selama
ini."
"Tolong
jangan mulai bercanda yang tidak-tidak deh."
"Padahal
aku beneran sedang tidak bercanda sama sekali lhoー."
Memang
tidak bisa dipungkiri kalau hubungan pertemanan di antara kami berdua
belakangan ini sudah terjalin dengan cukup baik, namun aku beneran merasa tidak
pernah melakukan tindakan apa pun yang sekiranya bisa memicu munculnya perasaan
asmara di dalam hatinya, dan aku juga tidak pernah merasakan adanya tanda-tanda
ke arah sana…… tidak, kalau dipikir-pikir kembali, Uta memang memiliki
karakteristik berupa pembawaan dirinya yang selalu menjaga jarak kedekatan yang
sangat dekat dengan orang lain.
Kesimpulan
pribatiku, Miori beneran cuma sedang membesar-besarkan masalah ini saja untuk
menggodaku, lagipula kalimat yang digunakannya barusan kan cuma sebatas
spekulasi berupa 'tampaknya sedang jatuh cinta'.
Kalimat
ambigu yang tingkat persentase kepercayaannya beneran setara dengan kalimat
janji palsu pejabat berupa 'kami akan mempertimbangkannya dengan matang'.
"Sebagai
rekan kerja samamu, aku punya sebuah penawaran menarik lho. Kalau situasinya
seperti sekarang, kurasa aku beneran bisa dengan mudah menjodohkanmu agar bisa
berpacaran dengan Uta, bagaimana? Ataukah jangan-jangan, gadis yang sebenarnya
sedang kamu incar saat ini beneran bukan Uta ya?"
Mendengar bisikan
manis yang dilayangkan oleh Miori barusan beneran sukses membuat fokus
pertahanan dinding logikaku mendadak goyah selama beberapa saat.
Aku menelan
ludahku sendiri yang terasa kelat.
——Sakura Uta,
adalah seorang gadis yang beneran memiliki paras wajah yang sangat cantik, tipe
gadis ideal yang posisinya beneran masuk ke dalam jajaran lima besar gadis
tercantik di angkatan sekolah kami.
Mengenai ukuran
tubuhnya pendek dan memiliki perawakan yang kekanak-kanakan, sebuah kekurangan
yang sebenarnya sangat menjadi beban pikiran baginya, namun di mataku pribadi
hal tersebut justru membuat sosoknya terlihat semakin menggemaskan.
Ditambah lagi,
karakteristik kepribadiannya yang selalu ceria dan penuh dengan energi positif
beneran sering kali menjadi sumber kekuatan tersiandiri yang ikut memberikan
motivasi di dalam hidupku.
Jika diriku
beneran bisa mendapatkan kesempatan untuk bisa menjalin hubungan asmara
bersamanya, kebahagiaan macam apa yang kiranya akan menyelimuti hari-hari
kehidupanku nanti?
"Natsu?"
Sebuah suara
panggilan dari sosok yang baru saja menjadi subjek fantasi liarku barusan
beneran sukses membuat seluruh tubuhku tersentak kaget karena saking
terkejutnya.
"Ah, o-ouh
Uta. Kamu beneran sudah kembali ya."
"……Kenapa
sejak tadi kamu terlihat asyik mengobrol bersama Miorin terus sih? Sebenarnya
apa yang sedang kalian berdua bicarakan?"
Uta melayangkan
pertanyaan tersebut dengan nada suara yang terdengar sangat rendah, sebuah
pembawaan yang beneran sangat tidak cocok dengan karakteristik dirinya yang
biasanya.
Aku beneran
bingung harus memberikan jawaban seperti apa untuk menanggapi pertanyaannya
barusan.
Mengingat situasi
yang ada, mana mungkin aku jujur mengatakan kalau kami sedang membicarakan
perihal dirinya…… eh, tunggu dulu, bukankah jujur justru bisa menjadi pilihan
terbaik?
"Itu, kami
sebenarnya sedang membicarakan perihal dirimu kok, Uta."
"Ah,
membicarakan perihal diriku?"
"Iya. Aku
beneran merasa penasaran mengenai bagaimana penampilan pembawaan dirimu yang
sebenarnya saat sedang menjalani sesi latihan di dalam klub olahraga lho."
……Dari sudut
pandang mata bagian kananku, aku beneran bisa melihat Miori yang sedang
mengacungkan jempolnya tinggi-tinggi ke udara penuh kemenangan, namun aku
memutuskan untuk mengabaikannya saja.
"Hmmー. Begitu ya, jadi begitu ceritanya. Kalau
alasannya memang seperti itu, ya sudah deh."
Uta memajukan
bibirnya sedikit tanda cemberut sebelum akhirnya memutuskan untuk memalingkan
wajahnya ke arah lain dengan pandangan mata yang tertuju ke arah lantai kafe.
Karakteristik Uta
yang selalu ekspresif beneran membuatku bisa dengan mudah membaca gejolak emosi
di dalam hatinya, namun jika dia sudah memutuskan untuk memalingkan wajahnya
seperti sekarang, menebak jalan pikirannya beneran menjadi sebuah tugas yang mustahil
untuk dilakukan.
"Laru,
bagian soal mana lagi yang membuatmu merasa bingung saat ini?"
"Ah, iya. Di
bagian yang ini, meskipun di dalam buku catatan yang kamu berikan sebelumnya
sudah tertera contoh penjelasannya, tapi——"
Aku pun kembali
memfokuskan diriku demi bisa memberikan penjelasan mengenai metode penyelesaian
soal fisika tingkat lanjut kepadanya.
Fakta bahwa dia
bisa melangkah sejauh ini dalam mengerjakan soal-soal tersebut beneran
membuktikan kalau dia sebenarnya sudah berhasil menguasai konsep dasar materi
pelajaran ini dengan sangat baik.
Jika dibandingkan
dengan kondisinya pada satu minggu yang lalu, tingkat perkembangan kemampuan
belajarnya saat ini beneran sudah berada di level yang sangat luar biasa
sekali.
Mengingat mata
pelajaran fisika yang merupakan kelemahan terbesarnya saja sudah bisa dikuasai
sejauh ini, kurasa posisinya untuk ujian nanti beneran sudah berada di zona
aman.
*
Setelahnya, kami
pun menyempatkan diri untuk menyantap menu makan siang bersama sebelum akhirnya
kembali melanjutkan aktivitas belajar kelompok kami hingga hari beranjak sore.
"Bagaimana dengan agenda rencana belajar kita untuk
hari esok?"
"Ah, maaf ya semuanya, tapi besok aku beneran harus
masuk kerja paruh waktu di kafe ini."
"Eh,
benarkah? Padahal lusa beneran sudah memasuki hari pertama pelaksanaan ujian
tengah semester lho?"
"Sistem
pembagian jadwal kerja paruh waktu di kafe ini kan murni digerakkan oleh para
pekerja dari kalangan pelajar, jadi di momen-momen seperti sekarang kafe
beneran sering kali mengalami krisis kekurangan staf karena banyak yang
mengajukan izin libur demi fokus belajar."
Melihat Hoshimiya
yang memiringkan kepalanya sedikit tanda bingung membuatku berinisiatif untuk
memberikan penjelasan detail mengenai kondisi yang sesungguhnya terjadi.
Berhubung aku
sendiri sudah memberikan jaminan kalau persiapan belajarku beneran sudah berada
di tahap yang sangat aman, Manajer kafe pun akhirnya meminta bantuanku untuk
masuk bekerja demi menutupi kekosongan staf tersebut.
"Jika Natsu
besok berada di kafe ini, bolehkah aku ikut datang ke sini lagi untuk
belajar?"
"Aku tidak
keberatan kok, tapi mengingat besok statusku adalah sedang bekerja paruh waktu,
aku beneran tidak akan punya waktu luang untuk bisa mengajarimu lho ya?"
"Kalau untuk
masalah itu sih beneran sama sekali tidak ada masalah tahu!"
"Sebab
berkat adanya buku catatan rangkuman milikmu ini, persiapanku beneran sudah
dijamin akan berjalan dengan sangat lancar sekali!"
Uta berseru penuh
semangat sembari mengacungkan dua jarinya tinggi-tinggi ke udara membentuk
tanda peace.
Melihat tingkah
lakunya yang selalu penuh dengan energi positif tersebut membuatku tersenyum
kecut sebelum akhirnya mengedarkan pandangan mataku ke arah teman-temanku yang
lain.
"Bagaimana dengan rencana yang lainnya?"
"——Aku pas dulu deh. Besok aku berniat untuk fokus
belajar sendirian saja di rumah."
"Aku pribadi juga sepertinya akan memilih untuk absen
dulu deh. Lagipula jika aku terlalu sering menghabiskan waktu belajar di luar
rumah menjelang ujian seperti sekarang, orang tuaku pasti akan mulai mengomel
panjang lebar nanti."
"Benar juga ya. Berhubung besok adalah hari terakhir
sebelum ujian dimulai, kurasa aku juga akan memilih untuk fokus belajar di
rumah saja deh."
"Kalau begitu, aku juga akan mengambil keputusan yang
sama saja deh. Lagipula kondisi keuanganku saat ini beneran sedang tidak berada
di tahap yang aman untuk bisa terus-menerus nongkrong di kafe."
Satu per satu
dari mereka pun mulai menyampaikan rencana agenda belajar mereka masing-masing
untuk hari esok.
Namun di antara
semua jawaban tersebut, fakta kalau nada suara Tatsuya terdengar sangat kaku
saat menyampaikan jawabannya beneran sempat menyisakan sedikit ganjalan di
dalam lubuk hatiku.
……Apakah
kegagalannya dalam menguasai materi pelajaran selama sesi belajar bersama
belakangan ini beneran sudah mulai menumpuk rasa stres di dalam hatinya ya?
Namun terlepas
dari apa pun alasannya, mengabaikan hal tersebut beneran merupakan pilihan
terbaik demi kebaikan bersama saat ini.
Hari itu pun
ditutup dengan keputusan kami untuk membubarkan diri dari aktivitas belajar
kelompok dan bersiap untuk pulang ke rumah masing-masing.
Miori dan
temannya juga memutuskan untuk menyudahi aktivitas belajar mereka di waktu yang
bersamaan, sehingga kami semua pun akhirnya berjalan bersama menuju stasiun
demi bisa menaiki kereta pulang yang sama.
——Dan dari
formasi kepulangan tersebut, sebuah situasi yang tidak bisa dihindari pun
akhirnya terpaksa harus terjadi kembali.
"Ujung-ujungnya,
formasi kepulangan ini beneran kembali menyisakan kita berdua saja ya. Biar
bagaimanapun juga, posisi stasiun rumah kita berdua kan memang berada di rute
paling ujung."
"Hmm, apa
maksud dari reaksi ketusmu itu? Padahal kamu saat ini sedang mendapatkan
kesempatan emas untuk bisa berjalan berdua saja bersama seorang gadis SMA yang
sangat cantik jelita lhoー. Tuh, lihat
saja ke arah luar jendela kereta, orang-orang yang penampilannya mirip dengan
dirimu di masa lalu beneran sedang melemparkan tatapan mata penuh rasa iri ke
arahmu tahu? Bagaimana rasanya? Bukankah rasanya beneran sangat menyenangkan
sekali?"
"Kalimat
barusan beneran sebuah hinaan yang sangat kejam untukku pribadi maupun untuk
orang-orang di sekitar kita tahu, dasar mulut racun……"
"Tapi dari
hasil pengamatanku selama seharian penuh hari ini, perkembangan progres
kehidupanku beneran sudah berjalan ke arah yang cukup baik lho, Natsuki."
"Ya,
terserah kamulah. Daripada sibuk memikirkan urusanku, bukankah sebaiknya kamu
gunakan waktumu untuk fokus belajar saja?"
Miori tampaknya
beneran sama sekali tidak berniat untuk mendengarkan kalimat saranku barusan
dan memilih untuk terus melanjutkan alur pembicaraannya sendiri sesuka hati.
"Mengenai
alasan utama dirimu memutuskan untuk melakukan debut SMA di kehidupan kali ini,
kalau tidak salah ingat tujuannya adalah sebagai sarana demi bisa meraih sebuah
masa muda yang penuh dengan warna-warni pelangi, kan? Sebuah rencana besar demi
bisa mengubah takdir masa muda yang kelam dan abu-abu menjadi penuh dengan
kilauan warna pelangi, begitulah penjelasan yang sempat kudengar darimu
dulu."
"……Mendengar
kalimat ambisius seperti itu diucapkan kembali secara lantang dari mulut orang
lain beneran sukses membuatku merasa sangat malu setengah mati tahu, jadi
tolong hentikan sekarang juga."
Aku bisa
merasakan adanya hawa panas yang mendadak mulai menjalar ke sekitar area pipi
wajahku karena saking malunya. Melihat reaksiku yang salah tingkah tersebut
beneran membuat Miori melayangkan sebuah senyuman jahat yang terlihat sangat
menyebalkan.
"Baiklah
kalau begitu, mari kita beri nama misi besarmu ini dengan sebutan Rencana Masa
Muda Pelangi!"
Miori berseru
dengan sangat cerianya tanpa memedulikan perasaanku sama sekali.
Gadis yang satu
ini beneran paling ahli kalau urusan mencari kesenangan di atas penderitaan
orang lain, karakteristik kepribadian yang beneran sangat buruk sekali.
Ya, walaupun di
dalam lubuk hatiku yang terdalam, aku terpaksa harus mengakui kalau istilah
nama yang dibuatnya barusan beneran sangat cocok dengan kondisi yang sedang
kuperjuangkan saat ini, sebuah pengakuan yang beneran sangat enggan untuk
kuucapkan secara lantang.
"Nah,
sekarang mari kita kesampingkan dulu masalah penamaan tersebut, oke?
Natsuki."
"Ada apa
lagi? Kenapa ekspresi wajahmu mendadak berubah menjadi seserius itu coba."
"Ini beneran
bukan bermaksud untuk ikut campur dalam urusan pribadimu ya, melainkan murni
cuma sebatas sebuah saran dan masukan dari sudut pandangku saja."
Mengekerut, Miori
melayangkan jari telunjuknya tepat di depan hidungku untuk menyampaikan hasil
analisisnya.
"——Berdasarkan
hasil pengamatan pribatiku, rencana besar yang sedang kamu jalankan saat ini
tampaknya beneran sedang menghadapi sebuah masalah yang sangat serius
lho."
*
Setelah
melayangkan kalimat peringatan yang penuh misteri tersebut, Miori memilih untuk
langsung melangkah pergi meninggalkanku sembari mengucapkan kalimat penutup
berupa, "Silakan kamu pikirkan sendiri saja jawabannya ya."
Sialan,
gadis yang satu ini beneran bener-bener menyebalkan sekali.
Kenapa dia harus
sengaja meninggalkan sebuah kalimat teka-teki yang menggantung seperti itu
coba…… tindakan barusan beneran sukses membuat lubuk hatiku dilanda rasa
penasaran yang teramat sangat sekarang.
Walaupun ada
kemungkinan kalau dia sengaja melakukannya murni cuma karena ingin menjahiliku
saja, namun berdasarkan pengetahuanku perihal karakteristik dirinya, Miori
beneran bukan tipe orang yang akan mengucapkan sebuah kalimat tanpa adanya
landasan alasan yang kuat.
Jika analisis
dari kalimatnya barusan beneran mengandung kebenaran, itu berarti rencana besar
kehidupanku saat ini beneran sedang berada di dalam sebuah ancaman bahaya,
namun sekeras apa pun aku mencoba memikirkannya, aku beneran sama sekali tidak
bisa menemukan petunjuk mengenai letak kesalahannya.
Sesampainya di
dalam kamar rumah, aku langsung menjatuhkan tubuhku ke atas kasur empuk sembari
terus memutar otak demi bisa menemukan jawaban dari makna kata-kata Miori
barusan.
Di saat aku
sedang sibuk merenung sembari memandangi langit-langit kamar dalam keheningan
malam, ponsel milikku yang berada tepat di sebelah bantal mendadak bergetar
pelan mengalirkan sebuah suara notifikasi pesan masuk.
Aku pun langsung
mengubah posisi tidur telentangku menjadi posisi tengkurap demi bisa meraih
ponsel tersebut ke dalam genggaman tanganku, dan di sana tertera sebuah
notifikasi pesan masuk dari aplikasi RINE.
Begitu melihat
nama pengirimnya yang ternyata adalah Hoshimiya, aku langsung bergerak dengan
sangat cepat demi bisa membuka kunci layar ponsel untuk membaca isi pesannya,
sebelum akhirnya sebuah rasa penyesalan mendadak muncul di dalam lubuk hatiku
karena tindakanku yang dirasa terlalu cepat dalam memberikan status centang
biru atau tanda sudah dibaca pada pesan tersebut.
Kecepatan respons
yang kuberikan barusan beneran sudah berada di tahap yang sangat ekstrem,
seolah-olah aku memang sedang standby menunggu datangnya pesan darinya sejak
tadi.
Aku beneran cemas
jika tindakan cerobohku barusan malah akan membuat dirinya menjadi merasa risih
dan ilfil kepadaku.
Ya, meskipun
secara nalar logika hal sepele seperti ini seharusnya tidak akan mendatangkan
dampak yang buruk, namun jika subjek interaksinya adalah seorang gadis, urusan
bertukar pesan lewat aplikasi RINE beneran selalu berhasil memicu munculnya
rasa cemas yang berlebihan di dalam hatinya.
『Kamu
lagi sibuk tidak saat ini?』
Pesan
masuk yang dikirimkan oleh Hoshimiya tersebut ternyata berisi sebuah pertanyaan
mengenai aktivitas kegiatanku saat ini.
『Aku
baru saja sampai di rumah, sekarang lagi santai saja sembari rebahan di atas
kasur kok.』
Setelah
melayangkan jawaban jujur tersebut, status pesan di dalam ruang obrolan kami
pun langsung berubah menjadi sudah dibaca dalam sekejap mata oleh Hoshimiya.
『Aku juga sama,
haha 🤣』
Aku pun mulai
mengetikkan kalimat balasan berupa 『Apakah ada urusan yang penting?』 di kolom obrolan ponselku, namun aku langsung mengurungkan niatku untuk
mengirimkannya karena kalimat tersebut beneran akan terlihat sangat dingin dan
kaku saat dibaca oleh lawan bicara.
Tapi terlepas
dari masalah itu, motif utama di balik alasannya mengirimkan pesan kepadaku
saat ini beneran masih menjadi sebuah misteri yang belum terpecahkan.
Namun jika dia
beneran mengirimkan pesan ini murni cuma karena ingin mengobrol santai denganku
tanpa adanya tujuan khusus, hal itu beneran membuka tabir seberapa dekatnya
level hubungan pertemanan yang sudah berhasil kami bangun selama ini, sebuah
pencapaian yang tentu saja membuat lubuk hatiku terasa sangat bahagia sekarang.
Di saat aku masih
sibuk bergelut dengan pemikiran pribatiku tersebut, sebuah pesan masuk baru
dari Hoshimiya kembali muncul di layar ponselku.
『Kalau sekarang,
apakah kita boleh mengobrol lewat panggilan telepon sebentar?』
…………………….
Dunia seolah-olah
mendadak berhenti berputar selama beberapa saat, dan aku beneran membutuhkan
waktu sekitar sepuluh detik hanya demi bisa mencerna arti dari kalimat pesan
yang baru saja meluncur ke dalam ponselku tersebut.
Melakukan
panggilan telepon bersama!?
Diriku, bersama
dengan Hoshimiya!?
Kenapa situasi
ini mendadak bisa berkembang ke arah yang sefrontal ini coba!?
Tidak, tidak,
tidak, situasi bertukar panggilan telepon di malam hari seperti ini beneran
sudah berada di level hubungan sepasang kekasih yang sedang dilanda asmara,
kan? (Logika macam apa pula itu coba?)
Di saat aku masih
sibuk tenggelam ke dalam pusaran kepanikan batin yang luar biasa, sebuah pesan
susulan dari Hoshimiya kembali masuk ke dalam ruang obrolan kami.
『Tapi kalau kamu
keberatan atau lagi malas, waktunya beneran sama sekali tidak harus sekarang
kok! 🙏』
Gawat. Gara-gara
aku malah panik setelah membaca pesan tetapi tidak langsung membalasnya, dia
pasti mengira kalau aku sengaja mengulur-ulur waktu karena enggan.
Ini benar-benar
bukan saat yang tepat untuk meratapi kesalahan fatal yang sangat kusesali ini. Aku pun langsung bergerak dengan
terburu-buru demi bisa mengetikkan kalimat balasan di kolom obrolan ponselku.
"Bisa
kok!"
Tepat di
saat aku baru saja bernapas lega setelah mengirimkan pesan balasan tersebut, di
detik berikutnya ponselku mendadak langsung bergetar menampilkan panggilan
telepon masuk dari Hoshimiya.
Aduh,
tolong berikan aku sedikit waktu untuk bisa menenangkan detak jantungku
terlebih dahulu dong, pikirku sambil tetap menggeser layar untuk mengangkat
panggilan teleponnya.
Saat ini,
jantungku benar-benar sudah berdegup dengan sangat kencang hingga menimbulkan
suara denturan yang terasa sangat nyata.
Demi
menjaga agar dia tidak menyadari tingkat ketegangan yang sedang melanda batin
arkianku saat ini, aku pun mencoba mengeluarkan suara dengan tempo yang sangat
pelan dan teratur.
"Halo?"
"Selamat
malam, Natsuki-kun."
"Ah, a-aa…… selamat malam."
"Fufu, kita
baru saja berpisah beberapa saat yang lalu ya."
Hoshimiya
melayangkan sebuah tawa kecil yang terdengar sangat renyah.
Mengarahkan suara
Hoshimiya yang menggema dengan sangat jelas tepat di lubang telingaku
benar-benar sukses membuat fokus pertahananku mendadak buyar.
Jangankan untuk
ikut tertawa, bernapas dengan normal saja rasanya sudah sangat sulit sekali
untuk kulakukan saat ini.
Maksudku,
kualitas suara milik Hoshimiya ini benar-benar terlalu bagus, kan?
Suaranya
terasa sangat nyaman dan merdu saat mengalir masuk ke dalam indra
pendengaranku.
"Ah, iya,
kita baru saja berpisah beberapa saat yang lalu."
Sial, aku malah
kembali mengulangi kalimat yang diucapkannya layaknya seekor burung beo lagi.
Kemampuan
bicaraku benar-benar terasa sangat payah dan berada di level yang sangat rendah
jika dihadapkan pada situasi seperti ini…….
"Apakah kamu
sudah makan malam?"
"Belum.
Kebetulan Ibu pulang kerja agak terlambat hari ini. Perutku benar-benar sudah terasa sangat lapar
sekarang."
Begitu aku
melirikkan pandangan mataku ke arah jam dinding, waktu ternyata sudah
menunjukkan pukul delapan malam lewat.
Bagi seorang anak
remaja SMA yang sedang berada di masa pertumbuhan dengan porsi makan yang
sedang kuat-kuatnya, situasi menunggu seperti ini terasa sangat menyiksa.
Sebenarnya aku
bisa saja berinisiatif untuk memasak sesuatu sendiri di dapur, namun mengingat
memasak adalah salah satu hobi terbesar Ibu, aku tidak ingin merenggut momen
waktu santai yang menjadi sarana hiburan baginya tersebut.
"Begitu ya.
Kalau aku sih sudah selesai makan malam sejak tadi lho."
"Wah, asyik
sekali. Kamu makan malam pakai menu apa hari ini?"
"Untuk menu
hari ini—, aku makan hamburger steak buatan Mama!"
Mendengar nada
suara Hoshimiya yang terdengar sangat ceria dan penuh dengan energi positif
tersebut sukses membuat detak jantungku ikut bergejolak tidak karuan.
"Heeh—, jadi
itu menu makanan hasil masakan buatan Ibumu ya?"
"Iya! Mama
benar-benar sibuk sekali dengan urusan pekerjaannya, jadi beliau memang cuma
bisa memasak untukku sesekali saja. Tapi setiap kali beliau memasak, rasanya
benar-benar selalu enak sekali lho—. Gara-gara hal itu, aku tadi tanpa sadar
sampai makan terlalu banyak, sekarang aku jadi merasa cemas kalau tubuhku nanti
malah bertambah gemuk."
Hoshimiya
memanggil Ibunya dengan sebutan 'Mama' ya. Karakteristik itu terdengar sangat
menggemaskan di telingaku.
Mengingat
kondisi Ibunya yang digambarkan sangat sibuk dengan urusan pekerjaan, apakah
itu berarti kedua orang tuanya adalah tipe pasangan suami istri yang sama-sama
aktif bekerja?
Berdasarkan
tingkat ketatnya aturan jam malam yang diterapkannya serta atmosfer pembawaan
dirinya yang selalu terlihat sangat elegan, selama ini aku sempat mengira kalau
dia merupakan sosok seorang anak gadis berdarah bangsawan dari kalangan
keluarga kaya raya terpandang, namun ternyata…….
"Tubuh
Hoshimiya kan tergolong sangat kurus, jadi kurasa kamu benar-benar sama sekali
tidak perlu merasa cemas akan hal itu."
"Kalau
dari penampilan luar mungkin memang terlihat seperti itu sih ya—, tapi
kenyataannya bagian dalam tubuhku benar-benar sudah berada di tahap yang sangat
gawat lho!"
Bersamaan
dengan kalimat gumaman lirih yang menyatakan kalau kondisinya sudah gawat
tersebut, sebuah suara denturan kain yang bergerak dengan sangat heboh mendadak
terdengar dari seberang telepon.
Dia
tampaknya saat ini sedang berguling-guling di atas kasur tempat tidurnya.
"Apakah
benar-benar se-gawat itu?"
Mengingat
topik pembicaraan ini sudah mulai melangkah masuk ke dalam ranah sensitif bagi
seorang gadis, aku bingung mengenai sejauh mana diriku diizinkan untuk ikut
campur.
Ujung-ujungnya,
aku memutuskan untuk memberikan sebuah jawaban yang terdengar ambigu saja.
"Iya,
benar-benar gawat tahu. Aku merasa iri kepada Natsuki-kun yang memiliki postur
tubuh kurus namun tetap terlihat proporsional seperti itu. Ditambah lagi, kamu
ternyata juga memiliki bentuk otot tubuh yang bagus ya."
"Kegiatan
harian yang bisa kulakukan di rumah benar-benar cuma sebatas melakukan latihan
beban saja kok."
"Jangan
mendadak mengucapkan kalimat yang terdengar sangat menyedihkan seperti itu
dong. Kenyataannya tidak se-menyedihkan itu, kan?"
"Tapi
kenyataannya, seorang anak yang tidak bergabung ke dalam klub olahraga sekolah
memang tidak memiliki banyak aktivitas kegiatan yang bisa dilakukan selain
bekerja paruh waktu lho."
Sebagai
konsekuensi logis dari pilihan tersebut, fokus utamaku pun murni dialihkan demi
bisa melakukan proses pengembangan kualitas diri secara mandiri di rumah.
Lagipula,
jika aku ingin menyalurkan hobi otaku milikku pun, dunia tempatku berada saat
ini kan murni merupakan dunia pada tujuh tahun yang lalu, sehingga pilihan
caranya benar-benar terasa sangat terbatas.
"Ah,
kalau dipikir-pikir kembali, hal itu memang benar sih ya. Biasanya kalau sudah sampai di rumah, apa saja sih
aktivitas kegiatan yang biasa kamu lakukan?"
"Paling cuma
sebatas menonton video di YouTube secara acak, bermain game, dan sisanya baru
kugunakan untuk melakukan latihan beban."
"Ahaha, aku
ternyata juga sering melakukan hal yang sama kok. Apa aku sebaiknya juga mulai
mencoba untuk melakukan latihan beban dari sekarang saja ya—."
"Melakukan
latihan beban itu benar-benar sangat bagus lho."
Biar
bagaimanapun juga, bentuk otot tubuh tidak akan pernah mengkhianati hasil dari
perjuangan keras kita sendiri.
Di dunia
ini, kurasa hanya otot tubuh sajalah satu-satunya hal yang bisa kupercayai
secara mutlak tanpa adanya syarat apa pun.
"Ah,
tapi kalau dipikir-pikir kembali, aku pribadi sama sekali tidak tertarik untuk
melihat sosok Hoshimiya yang memiliki postur tubuh kekar berotot lho."
"Aku juga
sama sekali tidak berniat untuk melatih tubuhku sampai menjadi sekekar itu
kali!? Tapi kalau kondisinya terus dibiarkan seperti sekarang, postur tubuhku
terasa sangat lemah dan ringkih sekali tahu. Untuk gerakan push-up saja, batas
kemampuan maksimalku mungkin cuma mentok di hitungan kelima saja deh."
"Masa cuma
sampai hitungan kelima saja?"
Meskipun aku
sempat melayangkan sebuah kalimat sindiran ringan untuk menanggapinya, namun
mengingat kondisi fisikku di kehidupanku yang dulu tidak jauh berbeda dengan
kondisinya saat ini, aku sama sekali tidak memiliki hak untuk menertawakan
kelemahannya tersebut.
"Ayo mulai,
hitung bersama ya! Satu, dua, tiga……"
Kenapa dia
mendadak malah mengeluarkan suara teriakan aba-aba yang sangat lantang begitu
ya.
Dari bunyinya,
dia tampaknya benar-benar langsung mempraktikkan gerakan push-up tersebut di
atas kasurnya saat ini.
"Semangat ya—."
"Em…… pa…… ngguh……!"
Anu.
Mohon maaf yang sebesar-besarnya. Aku berniat untuk menarik kembali seluruh
kalimat dukunganku barusan.
Suara
desahan yang dikeluarkannya barusan sukses memicu munculnya sebuah perasaan
aneh yang bergejolak di dalam benakku.
Kalau
boleh, apakah kamu bisa segera menghentikan aktivitas tersebut sekarang juga……?
"Puhah,
hah, hah, benar-benar sama sekali tidak kuat lagi deh—!"
Suara
deru napasnya yang terengah-engah terdengar dengan sangat jelas dan dekat tepat
di lubang telingaku.
Tolong jangan membuat detak jantungku meledak
karena melakukan aktivitas yang tidak perlu seperti ini dong.
"Padahal
saat zaman dulu aku masih bisa melakukannya sedikit lebih banyak dari ini lho.
Tapi terlepas dari hal itu, kenapa tubuhku malah jadi berkeringat seperti ini
ya, padahal aku kan baru saja selesai mandi tadi."
Jadi
begitu ya ceritanya. Sosok Hoshimiya yang sedang berbicara dengan diriku di
seberang telepon saat ini ternyata baru saja selesai mandi…….
………….
Jika
situasi ini terus dibiarkan berlanjut lebih jauh lagi, aku cemas kalau organ
jantungku tidak akan sanggup menahan tingkat ketegangan yang mendera batin ini.
Aku pun
memutuskan untuk segera mengalihkan pembicaraan menuju ke rute topik utama yang
sesungguhnya.
Padahal
jika saja kondisi jantungku berada di tahap yang aman, aku ingin mengobrol
santai bersamanya seperti ini untuk waktu yang tidak terbatas tahu…….
"Omong-omong,
ada masalah apa sampai kamu mendadak menghubungiku lewat panggilan telepon
seperti ini?"
Begitu
pertanyaan tersebut meluncur dari mulutku, suasana di seberang telepon mendadak
berubah menjadi sangat hening dan sunyi.
Hoshimiya
tampaknya saat ini sedang sibuk memilih susunan kalimat yang pas untuk
menyampaikannya.
"……Anu,
bagaimana ya. Sebenarnya ini bukan sebuah urusan yang terlalu penting atau
bagaimana sih, tapi……"
Nada
suara Hoshimiya mendadak merosot turun satu oktav menjadi jauh lebih rendah
ketimbang sebelumnya.
Melihat
pembawaan dirinya yang seperti ini memberikan sebuah kesan kalau topik
pembicaraan yang akan dibahasnya kali ini adalah sebuah urusan yang sangat
serius.
Apakah
alasan utama kenapa dia sejak tadi terus mengajakku mengobrol santai mengenai
hal-hal yang tidak penting adalah karena dia sebenarnya sedang berusaha untuk
mengulur waktu agar tidak perlu segera masuk ke dalam topik utama ini?
Namun
terlepas dari spekulasi tersebut, aku sama sekali tidak bisa menemukan petunjuk
mengenai masalah apa yang sekiranya sedang terjadi saat ini.
"Natsuki-kun,
kalau menurut sudut pandang pribatimu sendiri, bagaimana sih kondisi perihal
Tatsuya-kun belakangan ini?"
"Bagaimana
maksudnya? Ada masalah apa memangnya dengan dia?"
Pertanyaan yang
dilayankannya barusan berada di luar batas ekspektasi dugaanku sama sekali.
Kenapa pembicaraan ini mendadak malah membahas perihal Tatsuya?
Ditambah lagi,
kenapa dia sangat memedulikan kondisi perihal Tatsuya sampai seperti ini?
"Hmm—,
bagaimana ya menyampaikannya. Aku merasa kalau belakangan ini pembawaan dirinya
tampak terlihat agak sedikit murung dan lesu begitu lho. Ya, kalau hal itu
murni cuma sebatas perasaan khawatirku saja sih syukurlah, tapi aku berpikir
kalau sesama pria mungkin ada sebuah informasi tertentu yang kalian ketahui,
makanya aku mencoba bertanya kepadamu saat ini."
"Tatsuya
terlihat murung……?"
Kalau untuk
urusan pembawaan dirinya yang sesekali tampak terlihat sedang berada dalam
kondisi suasana hati yang buruk sih memang ada beberapa momen aku sempat
menyadarinya.
Namun, sifatnya
yang temperamental dan mudah berubah-ubah suasana hati seperti itu kan memang
sudah menjadi karakteristik bawaannya sejak awal.
"Dari hasil
pengamatanku selama ini, dia sama sekali tidak terlihat sedang menunjukkan
tanda-tanda seperti itu kok. Aku pribadi juga tidak memiliki petunjuk mengenai
masalah apa yang sekiranya sedang menimpanya saat ini."
Meskipun aku
melayangkan jawaban yang terdengar biasa saja untuk menenangkan perasaannya,
namun di dalam lubuk hatiku yang terdalam, sebuah rasa cemas yang baru mendadak
mulai melintas melintasi benak pikiranku.
"……Hoshimiya,
apakah kamu jangan-jangan, sebenarnya sedang menaruh perasaan suka atau
tertarik kepada Tatsuya ya?"
"Eh, apa maksud dari…… eeiihh!? B-bukan seperti itu tahu! Aku murni cuma sebatas
merasa khawatir saja sebagai sesama teman……"
Tingkat nada
keterkejutan yang ditunjukkan oleh Hoshimiya dari seberang telepon terdengar
sangat alami. Sebuah respons yang memberikan jaminan kalau pemikiran ke arah
sana sama sekali tidak pernah terlintas di dalam benak kepalanya walau hanya
sekilas pun.
"Ah,
b-begitu ya. Maaf ya kalau aku sudah berpikiran yang tidak-tidak. Tapi kalau
kenyataannya memang seperti itu, syukurlah kalau begitu."
"……Syukurlah
kalau begitu?"
Tepat setelah aku
mengembuskan napas lega, aku baru menyadari kalau aku baru saja melayangkan
sebuah kalimat blunder yang sangat ceroboh. Hal itu membuat nada suaraku
mendadak meninggi karena saking paniknya.
"Ah, a-aa,
maksudku, itu lho, aku cuma berpikir kalau urusannya memang seperti itu,
berarti kamu tidak perlu sampai meluangkan waktu dan pikiranmu hanya demi
mengkhawatirkan hal-hal yang tidak perlu seperti itu."
Di hadapan
kalimat alasan pembelaan diri yang bahkan aku sendiri pun sama sekali tidak
bisa memahami ke mana arah tujuannya tersebut, Hoshimiya entah kenapa ternyata
juga memberikan respons jawaban dengan nada suara yang ikut meninggi.
"A-ah, jadi
maksudnya begitu ya! Kenyataannya memang seperti itu kok! Ahaha, aku beneran
sempat salah paham mengenai arti dari kalimatmu barusan lho."
"Ya, ya,
pokoknya terlepas dari hal itu, dari sudut pandang pribatiku, pembawaan dirinya
masih terlihat sama saja layaknya seperti biasa kok."
Aku berdeham
kecil sembari mencoba untuk mengendalikan kembali pacuan detak jantungku yang
berdegup dengan sangat kencang tidak beraturan tersebut sebelum akhirnya
melayangkan kalimat penutup.
"……Hmm—,
kalau begitu, apakah hal itu beneran murni cuma sebatas perasaanku saja yang
terlalu berlebihan ya?"
Meskipun nada
bicara Hoshimiya masih terdengar menyimpan sedikit ganjalan rasa penasaran di
dalam lubuk hatinya, namun untuk saat ini dia tampaknya sudah bisa menerima
penjelasan yang kuberikan dengan cukup baik.
Setelahnya, kami
pun menyempatkan diri untuk mengobrol santai seputar materi ujian tengah
semester selama beberapa saat sebelum akhirnya memutuskan untuk menyudahi
panggilan telepon tersebut.
Meskipun kalimat
peringatan yang dilayangkan oleh Hoshimiya sebelumnya sempat menyisakan sedikit
rasa penasaran di dalam lubuk hatiku, namun jika dipikir secara logika, rasanya
sama sekali tidak ada satu pun faktor alasan yang sekiranya bisa memicu munculnya
rasa stres di dalam diri Tatsuya untuk periode waktu saat ini.
Ya, mungkin saja
dia memang cuma sedang merasa kelelahan karena harus membagi waktu demi fokus
belajar menghadapi ujian, sehingga pembawaan dirinya di mata orang lain tampak
terlihat agak sedikit murung.
Tanpa terasa,
waktu saat ini ternyata sudah bergerak mendekati pukul sembilan malam.
Begitu aku
melangkahkan kakiku berjalan menuju ke arah ruang tengah, menu makanan malam
untuk porsi bagianku sudah tersaji dengan rapi di atas meja dalam kondisi
tertutup oleh selembar plastik kedap udara.
Di sebelah piring
tersebut, tergeletak selembar kertas memo kecil berisi sebuah pesan tertulis
dari Ibu yang berbunyi, 『Wah, asyik
sekali ya bisa mengobrol lewat telepon bersama seorang gadis, semangat ya
perjuangannya! ♡』.
Aduh, Ibu
benar-benar paling ahli kalau urusan ikut campur dalam urusan yang tidak perlu
seperti ini tahu…….
*
Keesokan harinya,
aku menjalani aktivitas rutinitas harian seperti biasa dengan bekerja paruh
waktu di kafe sembari sesekali terlibat obrolan santai bersama Uta, hingga
akhirnya momen pelaksanaan ujian tengah semester yang berlangsung selama tiga
hari berturut-turut pun resmi dimulai.
Selama periode
hari pelaksanaan ujian berlangsung, agenda kegiatan belajar bersama sengaja
kami tiadakan sepenuhnya.
Biar bagaimanapun
juga, sekeras apa pun niat awal kami untuk fokus belajar, jika formatnya adalah
berkumpul bersama kelompok bermain seperti itu, ujung-ujungnya aktivitas
tersebut pasti akan terdistraksi oleh obrolan santai yang tidak penting.
Ditambah lagi,
entah apa yang menjadi alasannya, Tatsuya belakangan ini selalu memilih untuk
langsung bergegas pulang ke rumah setiap kali sesi ujian untuk hari tersebut
selesai dilaksanakan.
Meskipun dari
kalimat penjelasan yang disampaikannya dia berdalih kalau tindakannya tersebut
murni dilakukan karena ingin "fokus belajar sendirian di rumah",
namun pembawaan dirinya yang tidak biasa seperti itu sukses memicu munculnya
rasa penasaran di dalam lubuk hatiku.
Kalimat
peringatan yang sempat dilayangkan oleh Hoshimiya sebelumnya, serta kalimat
analisis penuh misteri dari Miori mendadak kembali terlintas melintasi benak
pikiranku layaknya sebuah kilatan cahaya.
Apakah aku
sebaiknya mulai bergerak untuk mencari tahu akar permasalahannya saat ini?
Namun di sisi
lain, fakta kalau aku sama sekali tidak memiliki petunjuk mengenai alasan di
balik berubahnya sikap Tatsuya tersebut menjadi sebuah kendala yang sangat
besar.
Di tengah kondisi
yang serbatidak pasti seperti ini, bertindak secara ceroboh tanpa adanya
landasan alasan yang kuat merupakan sebuah pilihan yang sangat tidak bijaksana
untuk dilakukan.
Ya, mengingat
periode waktu saat ini adalah momen ujian, mungkin saja dia memang sedang ingin
mencurahkan seluruh fokus dan konsentrasi belajarnya demi bisa meraih hasil
yang maksimal.
Di saat aku masih
sibuk tenggelam ke dalam pusaran pemikiran pribatiku tersebut, waktu terus
bergerak maju dengan sangat cepat hingga akhirnya hari ketiga yang menandai
berakhirnya seluruh rangkaian ujian tengah semester pun resmi selesai
dilaksanakan.
Urusan pengerjaan
soal ujian sendiri sama sekali tidak mendatangkan kendala yang berarti bagiku,
seluruh soal yang ada bisa kuselesaikan dengan sangat lancar tanpa adanya
hambatan yang berarti.
Tingkat kemudahan
yang kurasakan berada di level yang sangat tinggi, hingga membuatku mendadak
dilanda rasa cemas (?) kalau-kalau seluruh lembar jawabanku nanti akan
mendapatkan nilai sempurna.
Padahal jika
diingat-ingat kembali, aku merasa tidak pernah melakukan persiapan belajar yang
terlalu berlebihan untuk ujian kali ini.
Namun tampaknya
aktivitas kegiatanku yang rutin mengajari Uta selama satu minggu belakangan ini
sudah memberikan dampak positif berupa sarana ulasan materi yang sangat efektif
bagi diriku sendiri.
"Akhirnya
selesai jugaー!"
Begitu sesi ujian
untuk mata pelajaran matematika yang menjadi penutup rangkaian ujian kali ini
resmi berakhir dan lembar jawaban sudah selesai dikumpulkan oleh guru pengawas,
Uta langsung melakukan gerakan meregangkan kedua lengannya tinggi-tinggi ke udara
demi melepaskan seluruh rasa penat yang menggelayuti tubuhnya.
Mengingat
posisiku di sini adalah sebagai sosok yang bertanggung jawab mengajarinya
selama ini, aku pun berinisiatif untuk melayangkan pertanyaan mengenai hasil
pengerjaannya barusan.
Biar bagaimanapun
juga, rasa penasaranku terhadap hasil ujian miliknya terasa jauh lebih besar
ketimbang hasil ujian milikku sendiri saat ini.
"Bagaimana
hasil ujianmu tadi?"
"Berkat
bantuan bimbingan dari Natsu selama ini, aku benar-benar bisa mengerjakan
sebagian besar soalnya dengan sangat lancar lho!"
"Syukurlah
kalau begitu," jawabku sembari mengembuskan napas lega.
Melihat ekspresi
wajahnya yang terlihat sangat ceria seperti itu memberikan jaminan kalau
posisinya untuk ujian kali ini sudah aman dari ancaman nilai merah.
"Tapi
terlepas dari hal itu, tubuhku benar-benar sudah terasa sangat lelah sekali
sekarangー. Untuk beberapa waktu ke depan, tolong
jangan sebut kata belajar lagi di hadapanku ya."
"Hei, jangan
mulai malas lagi begitu dong. Lalu bagaimana dengan kalimat janjimu sebelumnya
yang menyatakan kalau kamu akan mulai mendengarkan penjelasan guru dengan
serius saat sesi kegiatan belajar mengajar di kelas berlangsung, hmm?"
Di saat aku
sedang sibuk melayangkan kalimat omelan demi mendisiplinkan dirinya layaknya
sosok seorang guru privat (?), Hoshimiya mendadak ikut melangkahkan kakinya
mendekat untuk bergabung ke dalam obrolan kami.
"Ahaha, tapi
kalau untuk masalah itu sih, aku bisa memahami dengan sangat baik apa yang
dirasakan oleh Uta-chan kok. Aku sendiri juga rasanya ingin bisa terbebas dari
segala urusan pelajaran setidaknya untuk satu minggu ke depan lho."
"Jika kamu
memilih untuk meliburkan diri dari aktivitas belajar selama satu minggu penuh,
aku cemas kalau kemampuan otakmu nanti malah tidak akan sanggup untuk mengikuti
ritme perkembangan materi pelajaran selanjutnya lho……"
"Yuino-chan!
Untuk saat ini, tolong simpan dulu kalimat argumen logismu yang sangat menusuk
hati itu dong!"
Berhubung jam
pelajaran sekolah untuk hari ini sudah resmi berakhir, satu per satu anggota
dari kelompok bermain kami pun mulai melangkahkan kaki mereka untuk berkumpul
bersama di area sekitar meja kami.
Mengingat formasi
tempat duduk milikku, Uta, dan Reita kebetulan berada di satu jalur baris
vertikal yang sama, hal itu tentu saja membuat tiga orang lainnya secara
natural akan menjadikan area ini sebagai titik lokasi berkumpul.
"—Yo,
Tatsuya. Bagaimana hasil ujianmu tadi?"
Melihat Tatsuya
yang berjalan mendekat ke arah kami dengan ekspresi wajah yang terlihat sangat
rumit, aku pun berinisiatif untuk melayangkan pertanyaan kepadanya.
"Hmmー…… ya, bagaimana ya menyampaikannya. Aku
ingin berharap kalau setidaknya nilaiku kali ini bisa terbebas dari ancaman
nilai merah sih."
Format jawaban
yang disampaikannya barusan memberikan sebuah kesan kalau hasil pengerjaannya
tidak bisa dibilang buruk, namun di sisi lain juga sama sekali tidak bisa
dibilang memuaskan.
Jika kondisinya
memang seperti itu, maka ekspresi wajah rumit yang ditunjukkannya saat ini
menjadi sesuatu yang sangat wajar terjadi.
Lagipula, bagi
seorang Tatsuya yang saat ini sedang mencurahkan seluruh fokus kehidupannya
demi bisa berprestasi di dalam klub basket, ancaman mendapatkan nilai merah
menjadi sebuah momok yang sangat menakutkan karena hal tersebut otomatis akan
mendatangkan sanksi berupa larangan untuk ikut serta dalam segala aktivitas
kegiatan klub olahraga sekolah.
"Mengingat
seluruh rangkaian ujiannya sendiri kan sudah resmi berakhir, kurasa meratapi
hal yang sudah berlalu sama sekali tidak ada gunanya lho, jadi mari kita bawa
santai saja masalah ini!"
"……Aku
merasa sangat iri dengan cara pandang kepribadianmu yang selalu bersikap
optimis seperti itu tahu."
"Atashi wa
(Aku kan) berniat baik untuk memberikan kalimat motivasi demi menghibur dirimu
lho, Tatsuya—— Apa-apaan maksud dari reaksi ketusmu ituー!?"
"——Ya,
kalimatmu barusan memang ada benarnya juga sih. Terima kasih banyak ya atas
kepedulianmu."
Tatsuya
mengucapkan kalimat tersebut sembari melayangkan seulas senyuman tipis di
sekitar area sudut matanya.
Sebuah
pemandangan yang sangat langka terjadi, mengingat dia biasanya selalu enggan
untuk menyampaikan rasa terima kasihnya secara jujur dan terbuka seperti itu.
"Tapi
terlepas dari masalah itu, berhubung aktivitas kegiatan klub olahraga baru akan
resmi dimulai kembali esok hari, hari ini kita tidak memiliki agenda kegiatan
apa pun alias sedang menganggur ya."
"Padahal
menurutku aktivitas latihan klub sudah boleh langsung dimulai kembali hari ini
juga lho, kan sayang sekali waktunya terbuang. Aku sudah tidak sabar ingin segera bermain
basket lagi tahuー."
"Kalau
berdasarkan informasi yang kudengar, sebagian besar sekolah lain memang
biasanya langsung mengaktifkan kembali seluruh kegiatan klub olahraga mereka
tepat di hari terakhir pelaksanaan ujian sih. Namun untuk kasus sekolah kita,
tampaknya ada sebuah insiden di mana beberapa orang murid mendadak jatuh
pingsan karena kelelahan akibat memaksakan diri begadang selama beberapa hari
berturut-turut demi belajar saat sesi latihan klub berlangsung, makanya pihak
sekolah akhirnya memutuskan untuk menerapkan kebijakan penangguhan aktivitas
klub tersebut."
"Kejadian
itu murni karena kesalahan dari kecerobohan mereka sendiri, kan……?"
Aku hanya bisa
melayangkan seulas senyum kecut menanggapi informasi fakta menarik yang baru
saja dibagikan oleh Reita barusan.
"Tapi kalau
dari sudut pandang pribatiku, kebijakan penangguhan tersebut menjadi sesuatu
yang sangat kusyukuri kok. Biar bagaimanapun juga, berhubung rangkaian ujiannya
baru saja selesai dilaksanakan, aku ingin memanfaatkan sisa waktu setengah hari
ini demi bisa menyegarkan kembali kondisi pikiran yang penat."
"Meskipun
aku juga merindukan aktivitas latihan klub karena sudah lama tidak
melakukannya, namun tubuhku terasa terlalu lelah jika harus langsung dipaksakan
bekerja keras hari ini."
"Kalau
begitu, bagaimana kalau kita semua pergi bersama-sama untuk mengunjungi tempat
karaoke saat ini juga!?"
Uta mendadak
berseru dengan ekspresi wajah yang dipenuhi oleh senyuman ceria sembari
mengacungkan jari telunjuknya tinggi-tinggi ke udara.
Tampaknya
berakhirnya masa ujian sudah berhasil mendongkrak tingkat suasana hatinya
berada di level yang jauh lebih tinggi ketimbang biasanya, bahkan nada suaranya
pun terdengar sangat lantang dan penuh dengan energi positif.
"Ide
yang bagus. Aku pribadi tertarik untuk ikut bergabung kok."
Jika
formatnya adalah mengunjungi tempat karaoke seorang diri alias hitokara,
di kehidupanku yang dulu saat masih menyandang status sebagai seorang
mahasiswa, aku sempat berada di fase sangat menggandrungi aktivitas tersebut
hingga rutin mendatangi tempat karaoke hampir setiap minggu.
Namun
untuk urusan pergi ke tempat karaoke bersama dengan rombongan teman seperti
ini, pengalaman tersebut menjadi sesuatu yang belum pernah kurasakan
sebelumnya.
Memikirkan
hal itu sukses memicu munculnya secercah rasa antusias di dalam lubuk hatiku,
aku ingin merasakan bagaimana serunya momen mengunjungi tempat karaoke bersama
teman-teman sepermainan.
"Kalau
begitu, kurasa aku juga akan ikut bergabung deh," ucap Reita sembari
memberikan anggukan pelan, sebelum akhirnya mengalihkan pandangan matanya ke
arah Hoshimiya dan Nanase demi meminta kepastian jawaban dari mereka berdua.
"Oke!
Aku pasti ikut bergabung kok!"
"……Apakah
kamu yakin tidak apa-apa jika ikut bergabung? Hikari, seingatku kemampuan
bernyanyimu tergolong ke dalam kategori buta nada alias total, kan?"
"Berisik
tahu! Meskipun kemampuan bernyanyiku memang tergolong buta nada, bukan berarti
aku tidak memiliki hak untuk menyalurkan hobi bernyanyiku secara bebas, kan!
Lagipula aku sangat menyukai aktivitas menyanyi tahu!"
"Eh,
benarkah?"
"Uta-chan,
maksud kalimatku barusan bukan merujuk kepada dirimu kok! Iya, memang sih aku
juga sangat menyukai sosok Uta-chan, tapi tolong jangan membuat arti maknanya
menjadi semakin membingungkan seperti itu dong!"
Uta
sengaja melayangkan kalimat candaan tersebut padahal dia sebenarnya sudah
mengetahui maksud asli dari kalimat Hoshimiya barusan.
Hal itu
terlihat dari bagaimana dia langsung melepaskan tawa renyah setelah melihat
respons panik yang ditunjukkan oleh lawannya.
"……Tapi
kalau dipikir-pikir kembali, aku tidak menyangka kalau seorang Hoshimiya
ternyata juga memiliki kelemahan berupa buta nada ya."
"Hei, kamu
yang ada di sana! Tolong jangan menyertakan kata 'juga' saat membahas
kelemahanku tersebut dong! Aku sangat sensitif dan memikirkan masalah ini
tahu!"
Hoshimiya
langsung menggembungkan kedua pipinya kesal menanggapi kalimat sindiranku
barusan. Hm, pemandangan itu terlihat sangat menggemaskan sekali di mataku.
Mengingat lima
orang di antara kami sudah memberikan kepastian jawaban untuk ikut bergabung,
kini seluruh fokus pandangan mata dari semua orang yang ada di dalam ruangan
langsung dialihkan sepenuhnya ke arah Tatsuya demi meminta keputusan darinya.
Uta langsung
melangkahkan kakinya dengan cepat demi bisa berada dekat di sebelah Tatsuya,
lalu mendongakkan kepalanya demi bisa menatap langsung ke arah wajah Tatsuya
yang memiliki postur tubuh jauh lebih tinggi darinya tersebut dari bawah.
"Tatsu, kamu
juga harus ikut bergabung bersama kami ya? Daripada kamu terus mengurung diri
sendirian sembari memikirkan hal-hal yang membuatmu murung seperti itu,
bukankah ceritanya pasti akan jauh lebih menyenangkan jika kita menggunakannya
untuk bersenang-senang sembari bernyanyi bersama demi melepaskan seluruh penat
di dalam hati?"
"……Ya, kalau
dipikir-pikir kembali, kalimatmu barusan memang ada benarnya juga sih."
Tatsuya
melayangkan seulas senyuman kecut sebelum akhirnya memutuskan untuk ikut
bergabung bersama rombongan kami.
Fakta bahwa
pembawaan dirinya belakangan ini tampak terlihat agak sedikit kurang
bersemangat memang merupakan sebuah kebenaran yang nyata, namun kondisinya
tidak bisa dibilang berada di tahap yang sangat mengkhawatirkan atau bagaimana,
lagipula faktor pemicu utamanya juga sudah bisa dipetakan dengan cukup jelas.
Untuk saat ini,
membiarkan masalah tersebut terselesaikan secara alami seiring dengan
berjalannya waktu merupakan pilihan terbaik yang bisa kuambil.
Biar bagaimanapun
juga, respons dari setiap individu pasti akan berbeda-beda saat sedang didera
oleh masalah, namun jika bercermin dari karakteristik kepribadianku sendiri,
aku merupakan tipe orang yang lebih memilih untuk dibiarkan sendirian tanpa
adanya gangguan dari orang lain saat sedang dilanda rasa murung.
Mendapatkan
perhatian dan rasa cemas dari orang lain memang merupakan sebuah hal yang
sangat membahagiakan, namun jika bentuk kepedulian tersebut dirasa terlalu
berlebihan hingga melangkah masuk terlalu jauh ke dalam ranah privasi, hal itu
pasti akan berubah menjadi sesuatu yang sangat mengganggu kenyamanan.
Oleh karena itu,
prinsip hidup mengenai jangan pernah melakukan sebuah tindakan yang sekiranya
tidak ingin kamu terima dari orang lain kepada orang lain harus selalu kujaga
dengan baik.
Ya, walaupun jika
diingat-ingat kembali, di kehidupanku yang dulu aku sama sekali tidak pernah
memiliki sosok teman yang sekiranya akan meluangkan waktu mereka hanya demi
mengkhawatirkan kondisiku sih…….
*
——Dan atas dasar
pertimbangan itulah, kami semua saat ini akhirnya berakhir sedang berada di
dalam sebuah ruangan di salah satu tempat karaoke yang terletak di area sekitar
depan stasiun.
Mungkin karena
dipicu oleh atmosfer kebebasan setelah berhasil melewati masa-masa ujian yang
melelahkan, tingkat suasana hati dari semua orang yang ada di dalam ruangan
berada di level yang sangat tinggi saat ini.
Bahkan seorang
Nanase yang biasanya selalu terlihat dingin dan pendiam pun kini tampak sedang
bernyanyi dengan sangat antusiasnya.
Ditambah lagi,
dia ternyata juga sanggup menirukan seluruh gerakan koreografi tarian dari lagu
idola terkenal yang sedang dinyanyikannya tersebut dengan sangat presisi.
"O-ooh, hebat sekali……"
"Keren banget…… tingkat penguasaan gerakannya
benar-benar berada di level yang sangat luar biasa sekali."
Meskipun setelah sesi bernyanyinya resmi berakhir dia
langsung menunjukkan ekspresi wajah yang terlihat sangat malu-malu karena
saking salah tingkahnya sih.
Nanase ternyata
memiliki ketertarikan yang sangat mendalam terhadap dunia idola ya.
Penemuan baru ini
terasa agak sedikit mengejutkan…… namun jika dipikir-pikir kembali dengan
saksama, karakteristik tersebut terasa sangat cocok dengan pembawaan dirinya.
"Wah,
tingkat penampilannya benar-benar sangat keren sekali lho, Yuino-chan! Kalau
begitu, untuk giliran selanjutnya adalah giliranku ya!"
Hoshimiya
langsung bangkit berdiri dari kursi tempat duduknya dengan sangat anggun
sembari melangkah maju ke depan demi mengambil alih posisi mikrofon.
Melihat sosok
Hoshimiya yang sedang berdiri sembari menggenggam mikrofon di tangannya seperti
itu memberikan sebuah kesan visual kalau dirinya merupakan sosok seorang idola
sungguhan yang sedang beraksi di atas panggung besar.
Karakteristik
penampilannya terasa terlalu ideal untuk bisa terjun ke dalam industri hiburan
tersebut, ditambah lagi atmosfer aura berkilauan yang terpancar dari sekitar
tubuhnya memberikan kesan yang sangat memukau.
"Tidak,
tidak, pemikiran ke arah sana cuma sebatas ilusi visual akibat kekagumanku yang
terlalu berlebihan terhadap dirinya saja kok."
"~♪"
Mendengar
kualitas nada suara Hoshimiya yang terdengar sangat menggemaskan namun memiliki
tingkat ketepatan pitch yang benar-benar berantakan tersebut sukses memicu
munculnya seulas senyuman kecut di wajahku.
Ya, terlepas dari
kelemahannya tersebut, asalkan subjek yang bersangkutan bisa menikmati
aktivitas tersebut dengan penuh rasa bahagia, hal itu tentu saja sudah lebih
dari cukup untuk membuat jalannya acara menjadi semakin seru.
Lagipula, esensi
utama dari agenda berkumpul kami di tempat ini kan murni cuma sebatas untuk
bersenang-senang saja, bukan sebagai sarana demi bisa saling berkompetisi
menunjukkan siapa yang memiliki kemampuan bernyanyi terbaik.
Meskipun jika
ditanya mengenai keinginan pribadi, aku tentu saja memiliki sebuah ambisi
terselubung berupa ingin dinilai sebagai sosok yang ahli dalam urusan bernyanyi
oleh orang lain.
Aku ingin bisa
menunjukkan sisi keren dari diriku di hadapan Hoshimiya lho.
"Kalau
begitu, untuk giliran selanjutnya adalah giliranku ya——"
Satu per satu
dari mereka pun mulai memasukkan daftar lagu favorit masing-masing ke dalam
mesin karaoke secara bergantian demi bisa menyanyikannya dengan sangat baik.
Di beberapa momen
tertentu, aktivitas bernyanyi tersebut bahkan sempat berubah format menjadi
sebuah penampilan duet berdua jika lagu yang dipilih mendukung untuk itu, namun
esensi utamanya tetap berfokus sepenuhnya kepada individu yang memasukkan lagu
tersebut ke dalam mesin tanpa adanya perubahan urutan giliran yang berarti.
Sedangkan
posisiku sendiri sejak awal sengaja memilih untuk tidak segera memasukkan
daftar lagu pilihan, melainkan murni cuma sebatas mengamati bagaimana ritme
jalannya alur aktivitas mereka sembari berpura-pura sedang bingung memilih lagu
yang pas di layar perangkat denmoku.
……Nasuhodo (Jadi begitu ya ceritanya). Berdasarkan hasil
pengamatanku selama beberapa saat barusan, aku sudah bisa memetakan bagaimana
struktur aturan tidak tertulis yang berlaku di dalam aktivitas karaoke kelompok
seperti ini.
Meskipun sejak awal kami sama sekali tidak pernah
mendiskusikan masalah pembagian urutan secara resmi, namun alurnya bisa
tercipta secara alami dan teratur mengikuti ritme kebiasaan yang ada.
Bagi mereka yang sudah terbiasa dengan kehidupan sosial yang
aktif, pemahaman mengenai tata krama seperti ini sudah menjadi sebuah hal yang
lumrah dan dianggap sebagai bagian dari norma umum.
Jika diurutkan berdasarkan tingkat kualitas kemampuan
bernyanyi, formasinya akan dimulai dari Uta yang berada di posisi teratas,
disusul kemudian oleh Nanase, Reita, Tatsuya, dan posisi juru kunci terbawah
ditempati oleh Hoshimiya.
Terlepas dari kelemahan mutlak yang dimiliki oleh Hoshimiya,
kemampuan bernyanyi dari empat orang lainnya tergolong berada di kategori yang
cukup bagus, meskipun tingkat kualitasnya masih belum bisa dibilang berada di
level yang mengagumkan atau bagaimana.
Jika aktivitas pengerjaan lagu tersebut dilengkapi dengan
fitur penilaian skor otomatis dari mesin karaoke, perolehan nilai mereka
mungkin cuma akan berkisar di antara rentang angka delapan puluh hingga
sembilan polu poin saja.
Mengingat di kehidupanku yang dulu aku sangat sering
menghabiskan waktu sendirian di tempat karaoke sembari memandangi indikator
grafik penilaian skor tersebut, wajar saja jika pemahamanku mengenai urusan
yang satu ini terasa sangat mendetail sekali.
Sebelumnya, di dalam lubuk hatiku yang terdalam aku sempat
didera oleh rasa cemas yang teramat sangat karena mengira kalau rombongan
anak-anak gaul populer seperti mereka pasti memiliki kemampuan bernyanyi yang
setara dengan level penyanyi profesional, namun setelah melihat realitas
kenyataan yang ada saat ini, kekhawatiranku tersebut terbukti tidak beralasan.
Jika kondisinya memang seperti ini, maka aku tidak perlu
lagi merasa takut kalau penampilanku nanti malah akan berakhir menjadi bahan
ejekan oleh mereka.
Dibandingkan dengan urusan kualitas vokal, penentuan perihal
daftar lagu pilihan menjadi sebuah kendala yang jauh lebih serius bagiku saat
ini.
Faktor utamanya bukan murni cuma karena aku sangat jarang
mendengarkan perkembangan lagu-lagu populer yang sedang tren untuk periode
waktu saat ini, melainkan karena dari sudut pandang pribatiku, seluruh lagu
yang tersedia di dalam mesin ini murni merupakan karya-karya musik yang dirilis
pada tujuh tahun yang lalu, sebuah kondisi yang tentu saja akan membuat selera
musikku terlihat sangat jadul dan ketinggalan zaman jika dinilai dari kacamata
mereka.
Ujung-ujungnya, pilihan lagu yang tersisa di dalam benak
kepalaku murni cuma sebatas karya-karya musik dari grup band J-Rock favoritku
yang selama ini paling sering kuputar secara berulang-ulang saat berada di
rumah.
Meskipun karakteristik dari grup band tersebut tergolong ke
dalam kategori indie dan kurang begitu populer di kalangan masyarakat luas,
namun jika mengingat lagu beraliran rock yang dinyanyikan oleh Uta di awal sesi
tadi juga tidak bisa dibilang sebagai karya musik mainstream yang populer,
kurasa pilihan laguku kali ini pasti akan berada di zona yang aman…… harusnya
sih begitu ya.
Memikirkan hal itu sukses membuatku kembali dilanda rasa
ragu saat jemari tanganku sedang bersiap untuk menekan tombol pilihan di layar
denmoku.
Biar bagaimanapun juga, aku sangat yakin kalau anggota
kelompok bermainku yang sekarang bukan tipe orang yang akan langsung
menunjukkan ekspresi wajah malas secara terang-terangan hanya karena
mendengarkan seseorang menyanyikan sebuah lagu yang tidak mereka ketahui.
Namun terlepas dari jaminan tersebut, mengingat momen ini
adalah penampilan perdana bagiku untuk bernyanyi di hadapan mereka, wajar saja
jika aku ingin bersikap sehati-hati mungkin…… dan tepat di saat aku masih sibuk
bergelut dengan keraguan batin tersebut, giliran bernyanyiku ternyata sudah
tiba.
Melihat Tatsuya yang berada di urutan tepat sebelumku sudah
resmi menyelesaikan sesi bernyanyinya, aku pun langsung bergerak dengan sangat
terburu-buru demi bisa memasukkan kode lagu pilihanku ke dalam mesin karaoke.
"Ahaha,
Natsu memasukkan lagunya lambat sekali sih!"
"Iya—, aku
sempat dilanda rasa bingung yang luar biasa saat harus memilih lagu mana yang
sekiranya pas untuk kunyanyikan tadi……"
Dan atas dasar
alasan itulah, posisi juru kunci yang bertugas menutup jalannya putaran pertama
sesi karaoke kali ini resmi jatuh ke dalam porsi bagianku.
Begitu judul lagu
pilihan yang kuketikkan barusan mendadak muncul menampilkan visualnya di layar
monitor utama, Uta langsung mengedipkan kedua bola matanya beberapa kali karena
saking terkejutnya.
"Eh, pilihan
lagumu ternyata dari band Alex[andros] ya!? Selera musik kita terasa sangat
cocok sekali lho, Natsu!"
Tampaknya untuk
urusan preferensi selera musik, tingkat kecocokan hubungan di antara diriku dan
Uta berada di level yang sangat tinggi.
Uwaa, begitu aku
bergegas bangkit berdiri dari kursi tempat dudukku, fokus pandangan mata dari
semua orang yang ada di dalam ruangan langsung tertuju sepenuhnya ke arahku
layaknya sebuah tusukan jarum yang tajam.
"Aku pribadi
juga sangat menyukai karya musik dari lagu yang satu ini lho, jadi bagaimana
kalau kita menyanyikannya bersama-sama saja?"
Uta melayangkan
pertanyaan tersebut sembari menggerakkan salah satu tangannya demi bisa meraih
mikrofon kedua yang tergeletak di atas meja.
Tindakan yang
ditunjukkannya barusan memberikan sebuah kesan kalau dia sejak awal sudah
sangat yakin kalau aku tidak akan pernah melayangkan kalimat penolakan atas
permintaannya tersebut, sebuah pembawaan diri yang sukses memicu munculnya
seulas senyuman kecut di wajahku.
"Oh, tentu
saja boleh, silakan bergabung. Lagipula jika aku harus bernyanyi sendirian di
hadapan kalian semua seperti ini, tingkat ketegangan yang mendera batin ini
terasa sangat menyiksa sekali tahu."
Maksudku,
kehadiran dirinya untuk ikut bernyanyi bersama menjadi sebuah bantuan yang
sangat kusyukuri saat ini.
Bagi seorang anak
kuper antisocial yang tidak terbiasa dengan kehidupan sosial seperti diriku
ini, mendapatkan fokus perhatian secara penuh dari lima orang sekaligus
memberikan tekanan mental yang sangat berat sekali untuk ditanggung.
Oleh karena itu,
jika keberadaan dirinya bisa membantu untuk mengalihkan sebagian fokus
pandangan mata tersebut, hal itu tentu saja akan sangat meringankan beban
keteganganku.
"Ahaha, kamu
terlihat seperti seorang pemula yang baru pertama kali mendatangi tempat
karaoke saja tahu!"
Padahal jika
dinilai dari tingkat jam terbang, aku sudah menganggap diriku sebagai sosok
yang sangat berpengalaman dalam urusan yang satu ini, meskipun ruang lingkup
pengalamannya murni cuma sebatas dalam format karaoke sendirian sih.
Jadi tuduhan
mengenai diriku yang merupakan seorang pemula untuk urusan karaoke kelompok
merupakan sebuah fakta yang tidak bisa kubantah.
"Jangan-jangan,
kamu sebenarnya tidak memiliki rasa percaya diri terhadap kualitas kemampuan
bernyanyimu sendiri ya?"
Melihat Uta yang
sedang menyunggingkan sebuah senyuman licik di wajahnya demi menggodaku
tersebut, aku pun memutuskan untuk memberikan respons jawaban yang terdengar
ambigu berupa, "Ya, silakan kamu nilai sendiri saja nanti."
……Bagaimana ya.
Sebenarnya jika parameter penilaiannya murni didasarkan pada akurasi indikator
fitur skor otomatis dari mesin karaoke, aku memiliki keyakinan kalau kualitas
suaraku tidak bisa dibilang berada di kategori yang buruk sih.
Namun di sisi
lain, mengingat di dalam dunia maya ada banyak sekali artikel yang menyatakan
kalau perolehan skor tinggi di mesin karaoke sama sekali tidak memiliki
korelasi hubungan yang kuat dengan tingkat keindahan suara asli seseorang saat
didengar oleh telinga manusia, wajar saja jika aku kembali dilanda rasa ragu
sekarang.
Di saat aku masih
sibuk tenggelam ke dalam pusaran keraguan batin tersebut, alunan melodi musik
dari lagu pilihan kami sudah resmi dimulai.
Dipicu oleh
tingkat ketegangan yang teramat sangat, kondisi fokus pikiran di dalam benak
kepalaku mendadak berubah menjadi sangat kosong dan putih bersih selama
beberapa saat.
——Namun terlepas
dari kendala tersebut, aku memutuskan untuk mencurahkan seluruh kemampuan
terbaikku demi bisa menyanyikan lagu ini dengan kekuatan penuh.
*
Begitu bait
terakhir dari lagu tersebut selesai kunyanyikan dan aku baru saja bernapas lega
demi menghirup pasokan udara baru, atmosfer suasana di dalam ruangan tempat
karaoke mendadak berubah menjadi sangat hening dan sunyi senyap.
Waduh, gawat.
Apakah aku baru saja melakukan sebuah tindakan kecerobohan yang fatal saat
bernyanyi tadi?
Meskipun aku sama
sekali tidak bisa menemukan petunjuk mengenai letak kesalahannya, namun fakta
bahwa atmosfer keceriaan di dalam ruangan ini mendadak berubah menjadi sangat
kaku dan membeku merupakan sebuah kenyataan yang tidak bisa kubantah lagi saat
ini.
Ditambah lagi,
entah sejak kapan pastinya, Uta ternyata sudah menghentikan aktivitas
bernyanyinya di tengah jalan lalu memilih untuk kembali duduk diam di kursinya
semula. Kenapa situasinya bisa berkembang ke arah yang aneh seperti ini coba?
Ujung-ujungnya,
di saat aku sudah bersiap untuk menundukkan kepalaku sedalam-dalamnya demi bisa
melayangkan kalimat permohonan maaf yang sebesar-besarnya atas kegagalan
penampilanku barusan, sebuah suara interupsi mendadak memotong niatku.
"K-keren…… keren banget! Natsu, kemampuan bernyanyimu terlalu hebat sekali
tahu!"
"Eh?"
"Maksudku,
kualitas suaramu tadi terdengar sangat bagus sekali sampai-sampai aku mendadak
merasa kalau kehadiranku di sebelahmu cuma akan berakhir menjadi sebuah
gangguan yang merusak estetika lagu, makanya aku akhirnya memutuskan untuk
memilih duduk kembali sejak pertengahan lagu tadi lho!"
"I-bukan
seperti itu tahu! Kenyataannya aku justru sangat berharap agar kamu jangan
menghentikan aktivitas bernyanyimu di tengah jalan seperti itu! Maksudku,
bernyanyi sendirian seperti ini membuat tingkat keteganganku menjadi semakin
bertambah parah tahu!"
"Memiliki
kualitas kemampuan vokal sehebat itu namun masih berani melayangkan alasan
berupa merasa tegang, kalimatmu barusan sudah terdengar layaknya sebuah
sindiran yang sangat kejam bagi kami yang kemampuannya pas-pasan ini lho."
Reita melayangkan
seulas senyuman kecut menanggapi kalimat pembelaan diriku barusan.
"Tapi benar
lho, penampilanmu tadi sangat mengagumkan sekali. Aku pribadi bahkan sampai
terhanyut ke dalam keindahan melodi suaramu untuk beberapa saat setelah lagunya
selesai dinyanyikan tadi lho."
Hoshimiya
menyampaikan kalimat pujian tersebut dengan ekspresi wajah yang dipenuhi oleh
senyuman kepuasan yang sangat tulus.
"……Penampilan
barusan sukses membuatku ingin menjadi penggemar setiamu lho."
Nanase yang
merupakan seorang pencinta dunia idola tampak sedang menggumamkan sebuah
kalimat misteri yang terdengar agak sedikit tidak biasa dari posisinya.
Apakah itu
berarti ranah ketertarikannya terhadap dunia idola ternyata juga mencakup
kelompok idola pria juga?
Namun terlepas
dari apa pun alasannya, mengingat posisiku di sini adalah sebagai sosok yang
mengidolakan dirinya, aku benar-benar berharap agar dia segera menghentikan
pemikiran ke arah sana dong.
Format hubungan
di mana sesama idola saling mengidolakan satu sama lain terasa sangat aneh dan
tidak ingin kualami tahu.
"Kamu ini…… padahal status jenis kelaminmu adalah
seorang pria, tapi bagaimana caranya kamu bisa memproduksi suara dengan nada
setinggi itu saat bernyanyi tadi ya……"
Tatsuya melemparkan pandangan matanya ke arahku dengan
ekspresi wajah yang dipenuhi oleh rasa takjub yang sangat mendalam.
Ya, kalau untuk urusan teknik vokal seperti penggunaan suara
falsetto maupun mixed voice, aku sudah mengorbankan banyak sekali waktu
dan tenaga demi bisa melatihnya secara disiplin di kehidupanku yang dulu kok.
Mengingat kembali lembaran memori masa lalu mengenai
bagaimana perjuangan kerasku saat rutin mendatangi tempat karaoke sendirian
hanya demi mengasah ketajaman suara kepala, lalu merekam hasilnya menggunakan
perangkat ponsel demi bisa mengevaluasi dan memperbaiki letak kekurangannya
secara berulang-ulang meskipun aku tidak memiliki tujuan khusus mengenai untuk
siapa suara tersebut akan kupersembahkan nanti, memberikan sebuah kesan
emosional yang mendalam bagiku saat ini.
"Ah, e-bukan begitu, ya, kalau untuk masalah itu sih
kurasa tingkat kemampuanku masih berada di kategori yang biasa saja kok……"
Berhubung aku sama sekali tidak memiliki pengalaman mengenai
bagaimana cara yang pas untuk menanggapi kalimat pujian dari orang lain,
respons jawaban yang keluar dari mulutku pun ujung-ujungnya murni cuma sebatas
sebuah kalimat ambigu yang terdengar sangat kaku.
Namun berdasarkan rangkaian respons yang ditunjukkan oleh
mereka barusan, fakta bahwa atmosfer ruangan sempat berubah menjadi sangat kaku
sebelumnya bukan dipicu oleh tingkat kualitas penampilanku yang buruk hingga
merusak suasana, melainkan karena mereka murni sedang merasa sangat terkejut
setelah mendengarkan kualitas suaraku yang berada di luar batas ekspektasi
dugaannya.
Ya, meskipun dari awal aku sudah memiliki keyakinan kalau
kemampuan bernyanyiku tidak bisa dibilang buruk, namun melihat bagaimana
sunyinya atmosfer ruangan tadi sempat memicu munculnya sebuah pemikiran buruk
di dalam benakku kalau-kalau selera estetika musik yang kumiliki menyimpang
jauh dari standar normal yang berlaku di masyarakat umum.
Tolong jangan membuat mental kuperku ini dilanda kepanikan
yang tidak perlu seperti itu lagi dong.
Jadi esensi utamanya adalah mereka cuma sebatas merasa
takjub karena penampilanku ternyata jauh lebih bagus ketimbang dugaannya ya.
Syukurlah kalau begitu, jawabku di dalam hati sembari
mengembuskan napas lega demi menenangkan debaran jantungku yang sempat
bergejolak hebat karena saking tegangnya tadi.
"Hei, Natsu! Aku masih ingin mendengarkan lebih banyak
lagi penampilan bernyanyi dari dirimu lho! Kalau untuk lagu yang satu ini,
apakah kamu kira-kira bisa menyanyikannya juga tidak!?"
Uta langsung menggeser posisi duduknya demi bisa berada
dekat di sebelah tubuhku sembari menyodorkan tampilan layar perangkat denmoku
ke hadapan wajahku penuh antusias.
Begitu aku melayangkan pandangan mataku ke arah layar
tersebut, judul lagu yang tertera di sana ternyata merupakan salah satu karya
musik legendaris dari grup band favoritku yang sangat kukuasai dengan sangat
baik.
"Ooh,
pilihan yang bagus. Kalau begitu, mari kita nyanyikan lagu ini bersama-sama
lagi, Uta…… eh, tunggu dulu, kombinasi kalimat barusan kalau diucapkan secara
lantang terdengar layaknya sebuah kalimat permainan kata yang terdengar sangat
aneh ya."
"Berisik
tahu! Tapi terlepas dari masalah permainan kata barusan, apakah kamu serius
tidak keberatan jika aku ikut bernyanyi bersama lagi? Kualitas kemampuan
bernyanyiku kan sama sekali tidak bisa dibilang bagus, aku cemas kalau
kehadiranku nanti malah benar-benar akan berakhir menjadi sebuah gangguan yang
merusak penampilan kerenmu lho."
"Mana mungkin aku berpikiran sekejam itu kepada dirimu. Lagipula esensi utama dari aktivitas mengunjungi tempat karaoke bersama seperti ini kan memang didasarkan pada prinsip bahwa bernyanyi bersama-sama pasti akan terasa jauh lebih seru dan menyenangkan, bukan? Ditambah lagi, atmosfer keseruannya pasti akan menjadi semakin meriah lho."
Itu hanyalah
sebuah kejujuran dari lubuk hatiku.
Dibandingkan
bernyanyi sendirian, bernyanyi bersama semua orang jelas terasa jauh lebih
menyenangkan.
Ini adalah
pertama kalinya aku pergi karaoke dalam kelompok, jadi mungkin rasa seru ini
muncul karena sensasinya yang masih terasa baru.
"Ka-kalau
begitu... apa kamu bisa menyanyikan yang ini, atau yang ini juga?"
Lagu yang
ditunjukkan Uta pada layar perangkat pemilih lagu berasal dari sebuah band rock
yang popularitasnya tidak bisa dibilang familier bagi orang awam.
Itu adalah band
yang sering kudengarkan, tapi sepertinya Hoshimiya dan yang lain tidak akan
tahu tentang mereka.
"Ternyata
selera kita benar-benar cocok ya, Uta."
"Kan,
kubilang juga apa! Kalau dipikir-pikir, kita memang jarang mengobrol soal
musik, sih!"
"Aku hampir
tidak punya teman yang bisa diajak bicara soal musik rock, jadi aku mulai
bersemangat, nih! Yeah!"
Uta yang tingkat
antusiasmenya sudah mencapai batas maksimal mendadak menyenggolkan bahunya ke
bahuku.
Aromanya harum,
dan sentuhan femininnya yang terasa lembut membuatku agak salah tingkah, jadi
aku berharap dia menghentikannya.
Rasanya aku
selalu memikirkan hal ini setiap kali mendapat sentuhan fisik darinya...
Bagaimanapun
juga, aku merasakan hal yang sama seperti Uta.
Bisa mengobrol
tentang musik yang disukai bersama teman sejati adalah hal yang murni
menyenangkan.
"O-oke, ayo
kita nyanyikan semuanya!"
"……Eum!"
Rasa kegembiraan
mulai membuncah, dan saat aku melemparkan senyum pada Uta, dia membalasnya
dengan anggukan penuh senyuman lebar.
*
Setelah itu,
setiap kali giliran kami tiba, aku dan Uta akan berduet dan bernyanyi dengan
penuh semangat.
Meskipun
lagu-lagunya mungkin asing bagi yang lain, mereka tetap menyamakan ritme
keseruan dengan kami, dan itu membuatku senang.
Melihat reaksi
dari semuanya, perlahan-lahan aku mulai menumbuhkan rasa percaya diri pada
kemampuan bernyanyiku sendiri.
Sepertinya ini
bukan sekadar pujian basa-basi, aku benar-benar boleh menganggap diriku
bernyanyi dengan bagus.
Yah, lagipula aku
sudah berlatih sekeras itu...
Jika menggunakan
fitur penilaian karaoke, aku bahkan pernah mencetak nilai hingga sembilan puluh
tujuh poin.
Ternyata sistem
penilaian itu secara tak terduga bisa cukup dipercaya.
Aku juga merasa
jarak di antara diriku dan Uta menjadi semakin dekat.
Bisa menjadi
lebih akrab dengan teman daripada sebelumnya adalah hal yang membahagiakan.
——Menyenangkan
sekali. Ah, benar-benar menyenangkan.
Aku
benar-benar merasakan kalau inilah masa muda penuh warna pelangi yang selama
ini kudambakan.
Aku
memiliki lima orang teman yang sangat kusayangi, dan di antara mereka, ada
gadis yang kusukai.
Mereka
mau bermain bersamaku, melemparkan senyum padaku, dan menerimaku dengan hangat.
Hari-hari yang
terasa bagaikan mimpi.
Hari-hari seperti
inilah yang kuinginkan.
Hari-hari seperti
inilah yang selalu kurindukan.
Karena itulah,
pada hari itu, aku memohon kepada Tuhan.
Aku ingin
mengulang kembali masa mudaku yang kelabu, lalu menulisnya ulang menjadi
sewarna pelangi.
Dan
sekarang, segalanya berjalan dengan sangat amat lancar.
Aku benar-benar
bisa merasakan apa arti dari ungkapan bahwa segalanya berjalan tanpa hambatan.
Tentu saja,
menampilkan sikap yang sempurna bukanlah hal yang bisa dilakukan dengan mudah.
Namun, aku telah
merapikan penampilanku dengan baik, memangkas obesitas dengan rutin berlari,
melatih kemampuan fisik lewat angkat beban, melatih ekspresi wajah seperti
tersenyum, mempelajari tren mode masa kini, serta melakukan metode coba-gagal
agar bisa membaur dalam obrolan semua orang.
Aku bahkan
mengulas kembali materi pelajaran agar bisa mengajari mereka. Lewat semua cara
itulah aku bisa berdiri di sini sekarang.
Aku merasa telah
mengerahkan usaha yang sangat besar.
Oleh karena itu,
aku bisa menerima kebahagiaan yang kurasakan saat ini.
Aku merasa yakin
bahwa Rencana Masa Muda Pelangi si Anak Kelabu sedang berjalan dengan sempurna.
Tepat pada saat
itulah hal itu terjadi.
"——Sori,
gaes. Kayaknya gue balik duluan, deh."
Kata-kata itu
terlontar begitu tiba-tiba.
Momennya
bertepatan saat lagu yang kunyanyikan bersama Uta baru saja berakhir.
Seolah menusuk
celah keheningan yang amat singkat, seuntai suara yang terdengar kaku mengoyak
atmosfer yang tadinya dipenuhi kebahagiaan.
Sumber suara itu adalah Tatsuya.
Atmosfer di ruangan itu mendadak membeku.
Sebenarnya, apa yang terjadi?
Saat aku
mengalihkan pandangan ke wajah Tatsuya, dia memaksakan sebuah senyuman tipis.
"……Lanjutin
aja seneng-senengnya."
Hanya mengucapkan
kalimat itu, Tatsuya melangkah keluar dari ruangan karaoke. Sama sekali tidak
ada waktu untuk mencegahnya.
Keheningan pun
jatuh menyergap, membuat kami saling bertukar pandang.
Sebenarnya ini
adalah giliran Hoshimiya untuk bernyanyi, namun karena suasananya jelas tidak
mendukung untuk bernyanyi, dia meletakkan mikrofonnya.
Kendati demikian,
lagunya tidak berhenti, sehingga melodi ceria yang terasa salah tempat terus
mengalun hampa memenuhi ruangan.
"……Tatsu
kenapa, ya?"
Uta
bergumam dengan ekspresi cemas.
"Eum,
ini bukan kayak dia banget…… Maksudku, akhir-akhir ini dia emang kelihatan agak
murung, sih."
Hoshimiya
pun menyahut dengan gurat wajah yang tampak rumit.
Hal itu
sebenarnya juga sempat mengusik pikiranku.
Ator lebih
tepatnya, mungkin hal itu mengusik pikiran semua orang di sini.
Awalnya kukira
itu karena masalah ujian, tapi apa memang benar begitu?
Apakah Tatsuya
yang biasanya cuek dan blak-blakan itu akan semurung ini hanya karena gagal
dalam ujian?
Namun, tidak ada
faktor lain yang terpikirkan olehku. Kalau begitu, tidak ada pilihan selain
menanyakannya secara langsung.
"——Aku coba
samperin dia, ya."
Aku
bergumam pelan sembari bangkit berdiri.
Tatsuya adalah
temanku. Aku sudah memutuskan untuk menjadi temannya.
Jika dia sedang
mengkhawatirkan sesuatu, aku ingin bisa membantunya.
"Tunggu
dulu, Natsuki……"
Dengan wajah yang
tampak tegang, Reita menahan pundakku dengan tangannya.
Langkah kakiku
yang hendak meninggalkan ruangan ini terhenti secara paksa.
"Reita?"
"…………Nggak,
sori. Mungkin itu emang cara yang paling cepat, sih."
Gumamannya
terdengar agak membingungkan.
Bagaimanapun
juga, sepertinya dia tidak berniat untuk benar-benar menahanku.
Kalau begitu aku
harus bergegas, karena jika dia sudah telanjur naik ke sepedanya, aku tidak
akan bisa mengejarnya.
*
"——Tatsuya!"
Aku berhasil
menyusul Tatsuya tepat di depan area parkir sepeda.
Mendengar
suaranya kupanggil, Tatsuya berbalik secara perlahan.
Sinar matahari
senja menciptakan siluet yang menyembunyikan ekspresi wajah Tatsuya, sekaligus
memperpanjang bayangannya di tanah.
"……Natsuki.
Ada apa?"
"Maksudmu
ada apa? Sikapmu itu aneh, makanya aku cemas dan——"
"——Gue nggak
apa-apa. Serius, nggak usah dipikirin."
Tatsuya memotong
kalimatku sebelum aku sempat menyelesaikannya.
Meskipun gaya
bicaranya terdengar seperti biasa, nada suaranya terasa datar tanpa riak.
Aku sama sekali
tidak bisa membaca emosi yang bersemayam di dalamnya.
"Ah,
jangan-jangan, kamu sedang marah?"
"……Gue nggak
marah, kok. Emangnya ada alasan yang bikin gue harus marah sama lo?"
"……Nggak
ada, sih. Tapi karena kamu kelihatan begitu, makanya aku bertanya."
Atmosfer
di antara kami mendadak menegang.
Rasanya
seolah-olah satu kata saja salah terucap, maka segalanya akan berantakan.
Tukar menukar
kalimat yang terasa dingin. Ekspresi dan nada suara yang tidak bisa dibaca
emosinya.
Orang awam
sepertiku pun tahu kalau dia sedang menahan kekesalan yang amat sangat, karena
dia tidak bisa menyembunyikan kobaran emosi yang terpancar dari matanya.
"Natsuki.
Sori, tapi hari ini mending lo nggak usah urusin gue."
Firasat buruk
mendadak menyergapku.
Aku ingat
betul dengan atmosfer yang terasa serupa saat bersama Tatsuya seperti ini.
Itu terjadi pada
hari itu, di masa lalu. Saat kegagalan masa mudaku ditimpakan tepat di depan
wajahku.
"Napas deh,
Natsuki. Sori ya, gue udah nggak bisa belain lo lagi. Dan yang paling
penting——gue muak sama lo."
Rasanya persis
sama seperti waktu itu.
Oleh karena itu,
aku menjadi takut jika harus berpisah dengan Tatsuya dalam kondisi seperti ini.
Meskipun akal
sehatku memperingatkan bahwa ini adalah batas di mana aku harus mundur, langkah
kakiku justru melangkah semakin dekat dengannya.
"Tatsuya.
Kalau ada sesuatu yang menganggumu, aku——"
"Berisik
banget, sih! Kan gue udah bilan, biarin gue sendiri!"
Karena
jarak yang semakin mengikis, ekspresi wajah Tatsuya yang tadinya tersembunyi di
balik siluet kini terlihat dengan jelas.
Tatsuya
terbukti tengah menatapku dengan pandangan tajam penuh amarah.
Dia
sedang mengarahkan emosi yang kelam itu lurus-rustu kepadaku.
"Ada
kalanya seseorang pengen sendiri karena ngerasa dirinya menyedihkan banget,
tahu!"
Aku tidak
mampu mencerna arti dari kata-katanya.
Karena
itulah, langkah kaki yang tadinya hendak mendekati Tatsuya mendadak terhenti.
Tatsuya
merasa menyedihkan? Dia memikirkan hal semacam itu tentang dirinya sendiri?
Tatsuya
yang selalu tampil percaya diri dan tertawa terbahak-bahak sebagai seorang tipe
pemuda populer yang enerjik itu?
Realitas
ini terlalu berbanding terbalik dengan citranya, sehingga aku tidak bisa
langsung memercayainya begitu saja saat dia mengatakannya secara tiba-tiba.
Namun,
dia tidak terlihat seperti sedang berbohong. Ini bukanlah situasi yang tepat untuk melontarkan
lelucon.
Melihat wajahku
yang mengerutkan alis karena heran, Tatsuya mendengus sinis.
"Buat lo
yang merupakan seorang manusia sempurna tanpa cela, lo nggak bakalan paham,
sih……"
Kali ini,
aku benar-benar dibuat bingung.
Aku sama
sekali tidak mengerti apa yang sedang dia bicarakan.
"Hah……?"
Mustahil
kata-kata itu ditujukan untukku.
Sama sekali tidak
ada satu pun hal dalam diriku yang bisa disebut sempurna.
Sosok yang paling
tepat untuk menggambarkan kata-kata itu bukanlah diriku, melainkan Reita.
Namun, Reita
tidak ada di sini sekarang.
Kalau begitu,
apakah dia tiba-tiba mulai membicarakan tentang Reita?
Meskipun aku
tidak memahami apa-apa, untuk sementara aku mencoba memastikannya.
"……Apa
maksudmu tentang Reita?"
"Lo……
beneran ngomong begitu?"
Tatsuya
menyipitkan matanya, menatapku dengan pandangan menginterogasi.
"Maksudnya……?"
Namun, dari lubuk
hatiku yang terdalam, aku benar-benar tidak mengerti apa pun tentang apa yang
sedang dia bicarakan.
Di tengah
kebingunganku yang mendalam, Tatsuya membalikkan badannya membelakangiku.
"……Ini bukan
soal Reita. Tuh anak emang bisa ngelakuin banyak hal dengan lihai, tapi dia
sama sekali nggak sempurna."
"Gue ini
teman masa kecilnya, jadi gue tahu betul apa aja kekurangannya."
Sembari berucap
demikian, dia melepas kunci sepedanya.
Bukan tentang
Reita……?
"……Kalau
begitu, apa kata-kata itu ditujukan untukku? Kamu benar-benar menganggapku
sebagai manusia sempurna tanpa cela?"
"Emangnya
bukan, Natsuki? Setidaknya, di mata gue kelihatan kayak gitu."
——Rasanya aku
ingin tertawa sinis dan menganggapnya sebagai lelucon yang bodoh.
Namun, aku tidak
bisa melakukannya karena sorot mata Tatsuya memancarkan keseriusan yang teramat
sangat.
Mata kami saling
bertaut untuk beberapa saat.
Tatsuya
mengembuskan napas panjang, lalu menepuk pundakku.
"……Sori,
Natsuki. Nggak usah dipikirin. Ini bukan salah lo, kok."
Sambil berkata
demikian, Tatsuya mengayuh sepedanya dan pergi meninggalkanku.
Punggungnya yang
menjauh entah mengapa terlihat begitu kecil.
Saat aku berdiri
mematung untuk beberapa saat, terdengar suara langkah kaki yang mendekat dari
arah belakang.
"……Maaf ya,
Natsuki. Aku sebenarnya sudah menduga kalau hal seperti ini bakal
terjadi."
Dengan perasaan
yang masih linglung, aku berbalik dan mendapati Reita sedang menatapku dengan
ekspresi wajah yang serius.
"Sudah
menduga kalau hal seperti ini bakal terjadi……? Sebenarnya kenapa? Apa maksud dari semua
ini?"
Bahkan sampai di
tahap ini pun, aku masih belum memahami apa-apa.
Satu-satunya hal
yang kupahami adalah fakta bahwa aku telah melakukan suatu kesalahan.
——Kondisi ini
benar-benar persis sama seperti apa yang terjadi di masa lalu.
"Tatsuya
itu, dia sedang cemburu kepadamu."
"Hah……?"
Menyusul Tatsuya,
kini Reita pun mulai melontarkan kata-kata yang tidak bisa kupahami.
Rasanya akan jauh
lebih masuk akal jika tiba-tiba semua orang muncul dari balik persembunyian
sembari membawa papan pengumuman acara kejutan yang sukses.
Rasa cemburu
adalah sesuatu yang seharusnya kurasakan, bukan sesuatu yang diarahkan
kepadaku.
Selama ini aku
selalu berpikir demikian.
"Cemburu
kepadaku? Apanya yang perlu dicemburui dari orang sepertiku?"
"Alasan
kenapa kamu begitu peka terhadap perasaan yang diarahkan orang lain kepadamu
adalah karena rasa ketidakpastian dirimu yang tidak normal itu."
"Itu
terlalu tidak sebanding dengan kemampuan yang kamu miliki…… Makanya itu terasa
janggal, dan sejujurnya agak membuatku cemas."
Aku
memang mengakui kalau aku tidak peka terhadap perasaan orang lain.
Kegagalan di masa
lalu pun pada akhirnya terjadi karena alasan itu.
Aku menjadi
tinggi hati, bertingkah sesuka hati, dan tidak menyadari kalau kehadiranku
mulai mengusik orang lain serta mulai dibenci.
Itu adalah bentuk
rasa percaya diri berlebih yang tidak memiliki landasan yang jelas.
Oleh karena itu,
ini terasa aneh.
Apa yang
dikatakan Reita justru berbanding terbalik dengan kegagalan di masa lalu.
"Nggak punya
rasa percaya diri……? Sebaliknya, aku ini orang yang penuh percaya diri, tahu.
Malah bisa dibilang terlalu percaya diri."
Sebab, gara-gara
hal itulah aku berakhir gagal.
Setidaknya,
hanya hal itu yang bisa kupastikan dengan mutlak.
"Begitu ya…… Entah kenapa, aku jadi mulai mengerti
situasi yang kamu hadapi."
Reita menatapku dengan pandangan mata yang seolah bisa
menembus langsung ke dalam lubuk hatiku.
Memang benar, setelah kegagalan masa muda di masa lalu, aku
sempat kehilangan rasa percaya diri, harapan, ekspektasi, dan segalanya tentang
diriku.
Namun, setelah
mendapatkan kesempatan untuk mengulang kembali masa muda ini, perlahan-laman
aku mulai mendapatkan kembali rasa percaya diri itu.
Meski begitu,
dengan berkaca pada kegagalan di masa lalu, aku merasa telah berulang kali
menahan diri, bersikap rendah hati, dan menjalani hidup dengan penuh
kehati-hatian.
——Apakah Reita
sedang mencoba mengatakan kalau hal itu adalah sebuah kesalahan?
"Aku harap
kamu tidak salah paham, aku sama sekali tidak bermaksud menyalahkanmu,
Natsuki."
"Sebaliknya,
kamu sama sekali tidak salah. ……Ya, tidak ada satu pun hal yang terjadi karena
kesalahanmu."
Kalau begitu, apa
yang harus kulakukan?
Meskipun tidak
bisa menampilkan sikap yang sempurna, aku merasa telah menampilkan sikap
terbaik yang bisa kulakukan.
——Jangan-jangan,
justru hal itulah yang menjadi masalahnya?
"Awalnya
mungkin dimulai dari basket. Kamu berhasil menang dalam permainan basket yang
selama ini menjadi identitas utama Tatsuya."
"Tentu saja
itu murni karena keahlianmu sendiri. Itu adalah hal yang patut dibanggakan, dan
sama sekali bukan hal yang salah."
Reita terus
menjabarkan opininya.
Dia mengarahkan
pandangan matanya yang selalu berkata "bisa melihat orang lain dengan
terlalu jelas" itu lurus-lurus ke arahku.
"Selain hal itu…… saat kamu menghidangkan masakan di
tempat kerja paruh waktu, saat kamu mengajari kami belajar, bahkan saat kamu
bernyanyi di tempat karaoke tadi, kamu tampil dengan begitu sempurna——"
"Dan
Uta, dia menatapmu dengan mata yang berbinar-binar penuh kekaguman."
"Kenapa…… nama Uta tiba-tiba dibawa-bawa di sini?"
"Itu adalah
perkara yang sederhana, kok. Soalnya, Tatsuya itu sangat menyukai Uta."
Reita
mengucapkannya dengan begitu santai.
Nada suaranya
terdengar seolah-olah dia sedang membicarakan sebuah premis dasar yang sudah
sewajarnya diketahui semua orang.
"Aku sendiri
sudah tahu sejak awal, tapi kurasa Hoshimiya dan Nanase pun sebenarnya juga
sudah menyadarinya."
Tatsuya itu
orangnya gampang ditebak, sih, ucap Reita sembari terkekeh pelan.
Sedangkan aku
sama sekali tidak menyadari hal itu.
Habisnya, mereka
berdua selalu saja bertengkar setiap kali bertemu.
"Padahal
waktu aku tanya tempo hari, dia bilang tidak punya orang yang disukai……"
"Well, kalau
lewat ucapan sih dia pasti bakal bilang begitu. Apalagi kalau di depanmu,
Tatsuya itu tipe orang yang gengsian."
Aku hanya bisa
terpaku dalam keterpanaan.
Rasanya sulit
untuk dipercayai.
Aku tidak bisa
memercayai apa pun, namun jika aku mengabaikan perasaanku dan mencoba
mencocokkan kata-kata Reita secara objektif dengan situasi yang ada, rasanya
hal itu memang selaras dengan kata-kata yang dilontarkan Tatsuya tadi.
"……Kenapa bisa begitu? Kenapa…… bagiku, Tatsuya adalah
sosok yang kukagumi."
"Aku ingin menjadi seperti dia yang ceria dan selalu
kelihatan bersenang-senang, aku ingin menjadi teman dari orang seperti dia, dan
aku ingin menghabiskan hari-hari yang menyenangkan bersamanya."
"Karena itulah, aku…… kenapa harus orang
sepertiku?"
Melihatku yang menumpahkan emosi yang tidak bisa diungkapkan
dengan kata-kata ini, Reita mengerjapkan matanya dengan ekspresi terkejut.
"……Begitu
ya, ternyata memang begitu. Bagaimanapun
juga, jangan terlalu dipikirkan. Jeda waktu pasti akan menyelesaikan masalah
ini, kok."
Setelah itu,
Reita menepuk pundakku sembari mengulas sebuah senyuman yang menenangkan.
"Yang salah
itu Tatsuya. Kamu sama sekali tidak salah. Dengar ya, tidak ada satu pun
langkahmu yang keliru."
——Kalau begitu,
kemungkinan besarlah akulah yang keliru di sini.
Baik di masa lalu
maupun di masa sekarang, aku tetap saja terlalu tidak peka terhadap perasaan
orang lain.
Hanya hal itulah
yang sama sekali tidak berubah dari diriku.



Post a Comment