Chapter 2
Mimpi Kamu dan Hubungan Rahasia
Liburan musim
panas yang penuh dengan mimpi dan harapan telah tiba.
……Seharusnya
begitu, tapi satu minggu pertama ini tidak ada rencana apa pun.
Tentu saja aku
memasukkan jadwal kerja paruh waktu hampir setiap hari, tapi itu saja tidak
cukup untuk menghabiskan waktu luang.
Seharusnya aku
membuat lebih banyak janji untuk bermain, ya.
Yah, karena pada
dasarnya aku adalah seorang loner otaku, aku punya kemampuan untuk
menghabiskan waktu dengan nyaman meski sendirian.
Meski berbeda
dari gambaran masa muda yang kuinginkan, aku menjalani hari-hari yang cukup
memuaskan.
Hari ini pun,
seperti biasanya, pagi datang. Setelah sarapan, aku melakukan menu latihan otot
yang berfokus pada Strength sebagai persiapan ke laut, lalu berlari.
Meski suhunya
lebih rendah daripada siang hari, tetap saja ini pertengahan musim panas. Aku
membatasi jarak lari agar tidak terkena heatstroke, lalu pulang ke rumah
dan membilas keringat dengan mandi.
Setelah itu
adalah waktu bebas.
Aku menghabiskan
sisa pagi dengan membaca novel yang direkomendasikan Hoshimiya, menonton film
yang dipinjam dari tempat penyewaan video, atau sekadar mencari video yang
menarik perhatian di YouTube.
Makan siang
kumasak sendiri. Orang tuaku bekerja, dan ayahku sedang tugas di luar kota,
jadi yang ada di rumah hanya aku dan Namika yang sedang libur sekolah.
Karena kalau
diserahkan ke Namika dia hanya bisa membuat mi instan, mau tidak mau aku yang
harus memasaknya. Yah, bisa saja beli bento di supermarket, tapi kalau begitu
mending masak sendiri karena lebih murah dan enak.
Keluar rumah
hanya untuk belanja di cuaca panas begini juga merepotkan.
"Makasih ya,
Kak. Kelihatannya enak."
"Siapa
yang bilang boleh dimakan, hah?"
"Tapi ini
kan porsi untuk dua orang."
"Kamu tidak
punya rasa terima kasih pada koki, ya."
"Makanya,
tadi kan aku sudah bilang terima kasih di awal?"
Aku melayangkan
protes pada Namika yang mulai makan masakan buatanku tanpa izin, tapi dia tidak
menggubrisku sama sekali. Setiap hari selalu begini.
Begitu selesai
makan, Namika langsung pergi bermain.
"Adikku
tidak mau meladeni kakaknya ini……"
Aku meratap pilu
sambil menyiapkan perlengkapan kerja.
Sore harinya,
biasanya aku bekerja paruh waktu.
Di tengah cuaca
yang sangat panas, aku naik kereta menuju Kafe Mares.
Biasanya tidak
masalah karena ini jalan pulang sekolah, tapi sejujurnya aku merasa jauh jika
harus berangkat dari rumah saat libur. Apa aku salah pilih tempat kerja, ya……?
"Selamat
siang, Haibara-kun."
――Pemikiran
negatifku itu dibantah sepenuhnya oleh kemunculan Nanase.
"Ada
apa?"
"Tidak
apa-apa. Nanase juga dapat shift hari ini, ya."
Nanase ada di
tempat kerjaku. Hanya dengan itu saja, rasanya aku bisa bertahan untuk hari
ini.
"――Ya. Hari
ini juga mohon bantuannya, ya."
Nanase
menatapku sambil tersenyum tipis. Tolong jangan menatapku dengan senyuman seperti itu dengan santai. Nanti
aku bisa jatuh cinta, tahu?
Hmm, memang
Nanase adalah penyembuhku. Hanya Nanase yang bisa menyelamatkanku. Terima kasih
untuk hari ini.
Saat aku sedang
memanjatkan doa pada Nanase untuk meningkatkan "kekuatan oshi"
(dukungan)-ku, telingaku dijewer oleh Kirishima-san.
"Jangan
melamun, bisa tidak kamu cepat bersiap-siap?"
"Maaf……"
Aku tidak
mungkin bilang kalau aku sedang memanjatkan doa yang tidak jelas, jadi aku
meminta maaf dengan patuh, berganti seragam, dan menempelkan kartu absensi.
Untuk
kehidupan sekolah ke depannya, punya uang sebanyak apa pun tidak akan
merugikan.
Aku tidak
boleh melewatkan kesempatan masa muda hanya karena tidak punya uang.
Artinya, kerja
paruh waktu adalah sarana untuk menciptakan masa muda terbaik!
Aku bekerja bukan
karena tidak ada hal lain yang bisa dilakukan. Memang begitu adanya.
"Haibara-kun,
boleh bicara sebentar?"
Saat aku sedang
mencuci piring sambil mati-matian meyakinkan diriku sendiri, Nanase
memanggilku.
Sepertinya
pekerjaan di ruang depan sudah agak tenang.
Nanase
meminum segelas air, lalu mengembuskan napas lega.
Yah,
sebenarnya meski mengesampingkan fakta ada Nanase, pekerjaan ini cukup
menyenangkan.
Aku suka
pekerjaan di dapur, dan aku juga mulai akrab dengan Kirishima-san serta rekan
kerja lainnya.
Jadi, sebenarnya
aku tidak punya banyak keluhan dengan situasinya saat ini.
Kalau harus
dipaksakan, mungkin rasa sepi karena tidak bisa bertemu Hoshimiya adalah hal
yang wajar.
Tidak,
ini bahkan belum seminggu berlalu.
Mungkin karena
saat sekolah aku bisa bertemu dia setiap hari, makanya aku merasa begini.
……Wajah Uta juga
terlintas di benakku.
Aku juga ingin
bertemu Uta.
Tanpa sadar, aku
mulai berpikiran begitu.
Aku merasa tidak
tulus jika mendekati Hoshimiya atau berpacaran dengan Uta—yang sudah menyatakan
akan membuatku berpaling padanya—dengan perasaan setengah hati seperti ini. Aku
tahu itu.
"Kamu
dengar, tidak?"
Nanase mencolek
pipiku dengan jarinya.
Tolong
jangan menyentuhku sembarangan begitu. Gadis iblis ini…… bisa jatuh
cinta, tahu?
Tidak, tidak, kalau sampai jatuh cinta pada Nanase juga,
batinku akan kacau.
Beban pikiranku sudah cukup banyak, jadi tolong hentikan.
Bercanda dikesampingkan, sepertinya aku terlalu banyak
berpikir sampai mengabaikan omongan Nanase.
"Salahku,
salahku, aku tadi melamun. Kita tadi bahas apa?"
"Bukan
apa-apa, bukan hal yang penting kok."
Nanase berkata
begitu sebagai pembuka, lalu bertanya.
"Setelah
selesai kerja, apa Haibara-kun ada waktu?"
Kalau tidak
salah, hari ini selesainya jam tujuh malam.
Nanase juga
seharusnya punya shift yang sama denganku, jadi seharusnya tidak
masalah.
"Ah. Hari
ini aku tidak ada acara."
Saat kujawab
begitu, ekspresi Nanase sedikit lega.
"Aku
berencana pergi ke mal di dekat sini, bagaimana kalau kita pergi bersama?"
"Mal?
Tentu, tidak masalah kok."
Sekitar
sepuluh menit berjalan kaki dari Kafe Mares, ada mal perbelanjaan terbesar di
daerah ini.
Tempat
itu sangat membantu kalau bingung mau bermain di mana, dan nyaman untuk
digunakan sehari-hari, tapi ini pertama kalinya Nanase mengajak pergi ke mal.
Sebelumnya,
sebelum berangkat kerja dari sekolah atau saat pulang kerja, aku memang pernah
diajak ke toko crepe atau toko CD.
"Apa ada
sesuatu yang ingin kamu beli?"
"Nanti kan
kita akan pergi ke laut, ya? Aku berpikir ingin menyiapkan barang-barang yang diperlukan."
"Ah, benar juga. Sudah saatnya kita bersiap-siap."
Karena tanggalnya masih agak jauh, aku belum memikirkannya,
tapi karena aku juga harus membeli barang yang diperlukan, ini pas sekali. Selain itu, bisa berbelanja bersama Nanase
adalah hal yang sangat menarik.
"Oke, ayo
kita pergi!"
Saat aku menjawab
dengan santai, Nanase tersenyum tipis.
"Kalau
begitu, sampai nanti ya."
Langkah kaki
Nanase saat kembali bekerja ke ruang depan terlihat lebih ringan dari biasanya.
Saat kami keluar,
serangga musim panas (higurashi) sedang bernyanyi. Meski sudah lewat jam
tujuh malam, hari belum sepenuhnya gelap.
Awan terbakar
warna senja. Langit seolah akan segera jatuh ke dalam kegelapan.
"Mulai
terasa sejuk ya."
Nanase yang
berjalan di sampingku bergumam dengan suara yang terdengar senang.
"Kalau
suhunya terus begini, rasanya jadi nyaman, ya."
"Iya, ya.
Siang tadi rasanya aku hampir mati hanya karena berangkat kerja."
Mungkin teringat
panasnya siang tadi, Nanase memasang ekspresi jengah sambil menunduk.
Nanase mengenakan
kaus putih polos dan rok lipit hitam.
Seragam kerjanya
memang cocok untuknya, tapi pakaian pribadinya tetap saja manis.
Kalau bukan
liburan musim panas, aku tidak akan bisa melihat pakaian pribadinya.
Benar-benar memanjakan mata.
"Secara
spesifik, ada yang ingin kamu beli?"
"Hmm, tabir
surya, topi, tas pantai, dan lain-lain……"
Aku menyesuaikan
langkah, berjalan di sampingnya.
Saat berjalan
sendirian, langkahku lebih cepat dari orang lain.
Karena itu, saat
berjalan dengan teman, aku harus sadar untuk memperlambat langkah.
Di antara keenam
orang itu, aku paling lama menghabiskan waktu bersama Nanase.
Jadi, aku mulai
bisa melakukan perhatian kecil seperti ini dan bisa bicara tanpa perlu merasa
terlalu gugup.
"Selain itu,
aku juga ingin melihat pakaian musim panas untuk pribadiku."
Diriku di masa
lalu pasti tidak akan percaya bahwa aku bisa tidak merasa gugup saat bersama
seorang gadis.
"Terus…… mungkin baju renang."
Nanase
bergumam seolah baru teringat.
Ba…… baju renang Nanase!?
Apa kamu mau
memilih itu sekarang!?
E-eh…… begitu ya, ya sudahlah.
Entah kenapa aku jadi mendadak gugup. Tanganku bahkan sampai
gemetar (?).
"……Aku memang berpikir ingin memilih baju renang juga……
tapi jangan menatapku dengan tatapan aneh, ya?"
"Ti-tentu saja. Tidak, aku juga sebenarnya berpikir
ingin memilih-milih."
Mendengar suaraku yang agak meninggi, Nanase menatapku
dengan wajah yang tampak tidak puas, lalu menyenggol bahuku dengan bahunya
sendiri. Ini, apa jangan-jangan aku tidak dipercaya?
Begitu masuk mal, kesejukan terasa meningkat drastis.
AC-nya menyala terlalu kencang sampai-sampai aku merasa agak
kedinginan.
Mungkin karena jam makan malam, banyak orang berkumpul di
jalan yang dipenuhi restoran.
Mungkin karena masa liburan musim panas, aku merasa banyak
keluarga yang membawa anak-anak.
Pria dan wanita yang mengenakan pakaian pribadi seperti kami
pun sesekali berpapasan.
"Ayo mampir ke supermarket di sana."
Aku patuh mengikuti Nanase yang terlihat bersemangat.
Tidak ada
gunanya melawan gadis yang sedang berbelanja.
Sama
sekali tidak boleh bilang "Bukankah ini terlalu lama?" atau
"Sudah saatnya pulang, belum?".
Aku mempelajari
hal itu dari Namika dan Ibu.
Di supermarket,
aku membeli berbagai barang bersama Nanase, lalu Nanase masuk ke toko pakaian
untuk memilih topi, sandal, baju musim panas, dan tas pantai.
Dalam
perjalanannya, aku merasa dia juga memilih barang-barang yang sepertinya tidak
ada hubungannya dengan laut…… tapi yah, karena Nanase terlihat senang, tidak
apa-apa lah.
"Lho,
tidak jadi beli itu?"
Karena
Nanase keluar dari toko tanpa membeli baju musim panas yang tadi dia sukai, aku
bertanya begitu.
"Uangku
kan tidak tak terbatas. Hari ini prioritasku adalah barang-barang yang
diperlukan untuk ke laut…… jadi untuk sekarang, ditunda dulu deh. Ya."
"Ternyata
kalau jalan-jalan tanpa tujuan malah jadi ingin beli banyak hal, ya…… itu tidak
baik."
Nanase
tampak berat hati saat mengunjungi tempat terakhir, yaitu pojok baju renang.
Di saat
aku merasa sangat gugup, Nanase justru memilih baju renang dengan sangat wajar.
Apa aku
ini aneh karena merasa gugup hanya karena melihat baju renang gadis cantik
teman sekelasku……?
"Bagaimana
dengan yang ini?"
Nanase
mengambil satu baju renang dari deretan yang ada, lalu mencocokkannya ke
tubuhnya untuk mencoba.
Itu
adalah bikini segitiga dengan desain simpel.
Sekarang dia
masih memakainya di luar baju, tapi…… saat membayangkan Nanase mengenakannya
secara langsung……
"…………"
Saat aku terdiam,
Nanase memiringkan kepalanya dengan bingung.
Lalu dia melihat
kembali baju renang miliknya, dan wajahnya berangsur-angsur memerah.
"Ja-jangan
menatap dengan tatapan aneh, sudah kubilang kan……?"
"Ti-tidak
melihat! Aku tidak melihat!"
"Be-begitu……"
Sepertinya
baru menyadari rasa malu itu sekarang, Nanase berkata dengan gelisah.
"Ka-kalau
begitu, biar aku pilih sendiri saja…… Haibara-kun juga, pilihlah baju renangmu sendiri……"
"Ya, yah…… itu lebih aman, ya……?"
"E-eh, ya. Kalau dipikir-pikir dengan kepala dingin,
rasanya aku juga merasa bersalah pada Uta……"
Nanase mengatakan hal itu, lalu bergegas pergi menuju area
pakaian wanita di pojok baju renang.
Syukurlah kami berakhir dengan kesimpulan paling aman, yaitu
mencari masing-masing.
Aku sama sekali
tidak merasa kecewa.
Tentu saja. Tidak
mungkin aku merasa seperti itu.
Setelah
membeli baju renang masing-masing, kami bertemu kembali di depan toko.
"Kamu
beli yang seperti apa?"
Setelah
bertanya secara wajar, aku baru sadar, apa aku terlihat menjijikkan karena
tampak penasaran sekali?
Tidak,
tapi bukankah ini percakapan yang wajar setelah membeli baju renang……?
"Biasa
saja, baju renang yang normal kok."
"Yah,
kalau baju renang yang tidak normal, malah aku yang terkejut."
"Toh, nanti
juga akan tahu saat kita pergi ke laut, kan?"
"Itu memang
benar, sih."
"Kalau
kamu?"
"Nanti kalau
sudah sampai di laut, juga pasti tahu, kan?"
Saat aku membalas
dengan kalimat yang sama seperti Nanase, dia memanyunkan bibirnya karena tampak
tidak puas.
"Maaf, maaf.
Tapi memang benar, bentuk baju renang pria kan sudah pasti, tidak ada
bedanya."
Saat aku
menunjukkan isi kantong belanjaan yang berisi baju renang yang kubeli, Nanase
menatapnya sekilas, lalu bergumam "Fuun," sambil memalingkan muka.
Yah, ternyata dia tidak tertarik.
"Eh?"
Tiba-tiba, Nanase
membelalakkan mata karena terkejut.
Terbawa suasana,
aku pun menoleh ke arah pandangan Nanase, dan di sana ada――
"Eh?
Yuino-chan dan Natsuki-kun?"
――Hoshimiya
Hikari yang sedang mengenakan gaun bermotif bunga.
"Wah,
sudah lama tidak bertemu, ya."
Hoshimiya
tersenyum dengan ekspresi lembut, lalu berjalan cepat ke arah kami.
Melihatnya
setelah sekian lama, Hoshimiya terlihat sangat manis, apalagi dengan pakaian
pribadi yang jarang kulihat.
Namun, entah
kenapa ada sesuatu yang terasa ganjil.
Karena saat
pertama kali kulihat, wajah Hoshimiya tampak sangat muram.
Tapi sejak dia
menyadari keberadaan kami, ekspresinya tiba-tiba berubah menjadi senyuman
seperti biasanya.
"Kalian
sedang apa? Ah, habis kerja paruh waktu?"
"Iya. Kami
berniat membeli beberapa barang yang diperlukan untuk ke laut."
"Wah, asyik
sekali! Barang apa saja yang kalian beli?"
Hoshimiya menatap
barang-barang perawatan kulit yang dibeli Nanase dengan gembira.
"Hoshimiya,
kenapa kamu ada di sini?"
Saat aku bertanya
di waktu yang tepat, Hoshimiya tampak kesulitan dan bergumam tidak jelas.
"Eh,
sebenarnya aku sedang pergi bersama Papa……"
Saat Hoshimiya
berkata begitu, aku menyadari ada suara langkah kaki yang mendekat dari
belakang.
"――Hikari,
apakah ini temanmu?"
Suara yang lembut
menyapa telingaku.
Saat menoleh, di
sana ada seorang pria bertubuh tinggi.
Dengan wajah
rupawan dan setelan jas yang dikenakannya, ia memberikan kesan yang cerdas.
"Selamat
malam, saya ayah Hikari, Hoshimiya Sei. Sudah lama tidak bertemu,
Yuino-chan."
Mengingat dia
ayah Hoshimiya, seharusnya dia sudah berumur, tapi dia terlihat sangat muda.
Dia
menyunggingkan senyum ramah di bibirnya, penampilannya benar-benar terlihat
seperti orang sukses.
Atau lebih
tepatnya, entah kenapa, seperti pernah kulihat di suatu tempat……?
"Sudah lama
tidak bertemu, Sei-san."
Nanase
menundukkan kepala. Ah benar, dia pernah bilang sudah kenal dengan ayah
Hoshimiya.
Karena ayah
Hoshimiya menatap ke arahku, aku pun panik dan memperkenalkan diri sambil
menunduk.
"Eh, saya
Haibara Natsuki, saya banyak dibantu oleh Hikari-san."
Ayah
Hoshimiya—Sei-san—mengerjapkan mata karena terkejut.
"Oh, jadi
kamu Natsuki-kun? Aku
sering mendengar tentangmu dari Hikari."
"Eh,
benarkah itu?"
Hoshimiya
membicarakan tentangku di rumah……!?
"Aku
memang ingin bertemu denganmu sekali. Kebetulan sekali, bagaimana kalau sekarang kita bicara seba――"
"――Tu,
tunggu dulu! Tidak usah seperti itu!"
Hoshimiya yang
berwajah merah menarik lengan Sei-san, mencoba menghentikan pembicaraan.
"Ada apa,
Hikari? Aku hanya penasaran sedikit――"
"Ja, kalau
begitu sampai jumpa kalian berdua! Mari main lagi nanti! Aku mau pulang
dulu!"
Hoshimiya
mendorong punggung Sei-san dan membawanya pergi dengan paksa sambil mengucapkan
salam perpisahan.
Jarang
sekali melihat Hoshimiya yang segelisah ini. Rasanya cukup segar.
"O, oke…… sampai jumpa lagi."
Saat aku menyapa
Hoshimiya, Sei-san menghentikan langkahnya. Hoshimiya yang tadinya mendorong
punggungnya tampak bingung, memiringkan kepala, dan mengintip ke depan.
"――Benar,
ada satu hal yang ingin aku pastikan."
Sei-san berbalik
arah.
Hoshimiya bisa
membawanya pergi tadi hanya karena Sei-san memang tidak berniat melawan.
Kekuatan pria
dewasa memang berbeda.
Jika Sei-san
ingin melanjutkan pembicaraan, tidak ada cara bagi Hoshimiya untuk
menghentikannya.
"Hikari
bilang dia ingin pergi liburan. Yuino-chan juga ikut, kan?"
Mendengar
pertanyaan Sei-san, Nanase mengangguk.
"Iya,
benar."
"Begitu
ya. Tentu saja itu tidak masalah, tapi――"
Selanjutnya,
tatapan Sei-san beralih padaku.
Aku sempat lupa
karena kesan pertamanya yang ramah, tapi aku baru ingat kalau ayah Hoshimiya
adalah orang yang sangat ketat soal jam malam dan aturan.
"――Apakah
kamu juga ikut?"
Seketika, aku
tidak bisa menjawab.
Dari reaksinya,
jawabannya sudah sangat jelas.
"……Ya.
Memang benar begitu."
Hanya itu jawaban
yang tersisa.
Apa ada masalah?
Aku sama sekali belum mendengar apa-apa.
Jangan-jangan,
Hoshimiya tidak memberitahu Sei-san kalau liburan ini campur antara laki-laki
dan perempuan?
"Ternyata
benar begitu, ya."
Sei-san
bergumam datar dengan suara rendah.
Baik Hoshimiya
maupun Nanase hanya bisa menunduk diam.
Suasana yang
tadinya ramah seketika membeku.
"Hikari."
"……Ya."
"Tidak baik
untuk berbohong. Bukankah aku dengar ini liburan khusus perempuan?"
"……Karena
kalau aku bilang ada laki-laki, aku tahu Ayah tidak akan mengizinkannya."
Hoshimiya
menjawab dengan tatapan menantang.
"……Hmm. Yah,
aku sudah menduga akan jadi seperti ini."
Sei-san menatap
Hoshimiya, lalu menatapku. Tatapan itu memiliki tekanan khas orang dewasa.
Aku merasakan déjà
vu dengan tatapan yang seolah sedang menilaiku itu.
Aku
mendadak ingat. Benar, aku tahu orang ini. Aku pernah bicara dengannya.
"Apakah
Anda…… Presiden dari Star Flat Co., Ltd.?"
Mendengar
itu, Sei-san membelalakkan mata karena terkejut.
"Ini
mengejutkan. Kamu tahu tentang aku…… tepatnya, aku masih Wakil Presiden."
……Ternyata
benar.
Dia masih
Wakil Presiden karena ini tujuh tahun yang lalu.
Di dunia tujuh
tahun kemudian, Hoshimiya Sei adalah Presidennya. Dan Star Flat adalah
perusahaan yang menjadi pilihan pertamaku saat melamar pekerjaan. Karena itulah
aku mengenal wajahnya.
Aku pernah bicara
sekali dengannya saat wawancara final.
Sebelumnya, aku
juga pernah melihat foto dan profilnya di situs perusahaan. Aku sempat berpikir
marganya sama dengan Hoshimiya, tapi aku tidak pernah membayangkan dia adalah
ayahnya.
Di dunia tujuh
tahun kemudian, Star Flat adalah perusahaan kelas atas berskala ribuan
karyawan.
Sekarang memang
masih perusahaan menengah yang belum dikenal, tapi setelah ini mereka akan
tumbuh dengan sangat pesat.
Singkatnya, ini
adalah perusahaan manufaktur peralatan mesin. Karena ada beberapa bidang yang
cocok dengan penelitianku di universitas, dan gajinya pun bagus, aku memilih
posisi desain dan pengembangan di sini sebagai pilihan utama.
Keberuntungan
membawaku lolos seleksi tahap pertama, kedua, dan ketiga, tapi aku gagal di
wawancara final dengan Presiden karena tidak bisa bicara dengan baik, lalu
mendapatkan surat penolakan. Setelah itu, aku gagal di tiga puluh perusahaan
lainnya.
Jadi, aku
sebenarnya membenci Presiden ini. Ini bukan dendam buta.
"Apa kamu
melihatnya di situs perusahaan?"
"Yah,
kurang lebih begitu. Saya agak tertarik dengan bidang perusahaan Anda."
Apa yang
kubicarakan? Tenang, Natsuki. Ini bukan wawancara kerja.
"Heh,
begitu ya. Mahasiswa berbakat yang sudah memikirkan masa depan sejak sekarang. Aku dengar dari Hikari kalau nilaimu
bagus. Setelah lulus kuliah, datanglah ke perusahaan kami. Aku akan
menyambutmu."
Tidak, bukankah
Bapak yang menolak saya dulu?
Tolong jangan memicu trauma saya.
"Yah…… iya.
Maaf, saya jadi melantur."
"Tidak,
maafkan aku. Aku terlalu bersemangat jika sudah bicara soal pekerjaan……"
Saat aku memasang
wajah bingung, Sei-san berdeham canggung.
"Terlepas
dari itu, mari kembali ke topik utama."
Suasananya jadi
aneh.
Sei-san mengubah
suasana dengan berkata,
"――Maaf,
tapi aku tidak mengizinkan Hikari pergi liburan."
Ekspresi
Hoshimiya yang sedari tadi diam berubah.
Tubuhnya yang
kecil sedikit gemetar.
……Sejujurnya, aku
sudah punya firasat ini akan terjadi.
"Apakah itu
karena ada saya?"
"Seperti
yang dikatakan Hikari, kalau ada laki-laki, aku pasti tidak akan
mengizinkannya. Tapi, masalah utamanya bukan di situ. Seperti yang kukatakan
tadi, tidak baik untuk berbohong."
Sei-san
menatap Hoshimiya dengan mata dingin sambil berbicara dengan nada datar.
Apa yang
dikatakannya adalah kebenaran yang tak terbantahkan. Tidak ada celah untuk
protes.
"Aku
tidak bisa membiarkan kebohongan dibenarkan begitu saja saat berhadapan
denganku."
Pada dasarnya ini
urusan keluarga orang lain. Aku tidak punya hak untuk ikut campur.
Karena itu, aku
tidak bisa berkata apa-apa.
"Maaf
merepotkan kalian, tapi tolong batalkan saja bagian Hikari."
Sei-san
menunduk secara formal pada kami, lalu berbalik dan pergi.
Aku
bertatapan dengan Hoshimiya yang masih terpaku.
Ekspresi
Hoshimiya tampak begitu rapuh, seolah bisa menangis kapan saja.
"Apa tidak
apa-apa?"
Saat aku bertanya
tanpa sadar, Hoshimiya bergumam dengan suara gemetar.
"Aku……"
"Hikari,
ayo."
Tubuh Hoshimiya
tersentak.
Hoshimiya hanya
menunduk dan mengikuti langkah Sei-san.
Dia tidak
sekalipun menoleh ke belakang.
Itu terjadi di
sebuah restoran hamburger di dalam mal.
Aku sudah
menghubungi Ibu kalau aku akan makan malam di luar, dan kini duduk berhadapan
dengan Nanase.
Meski ini situasi
yang seharusnya luar biasa karena makan malam berdua dengan Nanase, udara yang
menyelimuti kami terasa sangat berat.
Ekspresi
Nanase terus terlihat muram.
Situasi
yang merepotkan akhirnya benar-benar terjadi.
Hoshimiya pasti
juga akan dimarahi oleh Sei-san.
Seandainya saja
aku langsung menjawab dengan kebohongan saat ditanya pria tadi, mungkin
masalahnya tidak akan jadi begini.
"Ini bukan
salahmu."
Seolah bisa
membaca pikiranku, Nanase bergumam pelan.
"Lagipula
mustahil untuk tidak berbohong saat kita sendiri tidak tahu apa-apa."
"……Apa
Nanase sudah tahu?"
Saat kutanya,
Nanase mengangguk dan menunduk sambil berkata, "Maaf."
"Hikari
sudah berkonsultasi denganku sejak beberapa waktu lalu, dan aku juga yang
menyarankan kalau kita harus berbohong."
Nanase merasa
bertanggung jawab atas hal itu. Dia tampak sangat terpukul.
"……Begitu
ya."
"Karena
kupikir ayah tidak akan mungkin mengizinkan dia menginap bersama
laki-laki……"
"Bukankah
Nanase bilang kamu kenal dengan ayah Hoshimiya?"
"Kami memang
sudah lama dekat. Aku beberapa kali bermain ke rumah Hikari. Aku diizinkan,
tapi dia sangat pilih-pilih teman Hikari. Aku sering diajak bicara."
……Dia memilih
teman-teman putrinya, ya?
Orang seperti dia
pasti melakukan hal seperti itu dengan mudah.
Ingatan saat
wawancara final semakin terasa jelas sekarang.
『――Kamu punya
tujuan yang jelas, ya.』
『Ya! Saya ingin
memanfaatkan penelitian masa kuliah saya di perusahaan Anda――』
『Dalam hal itu,
mungkin perusahaan kami tidak cocok untukmu.』
『……Ya?』
『Jangan berpikir
kamu bisa melakukan apa pun yang kamu inginkan di perusahaan ini. Kalau kamu
masuk, aku yang akan menentukan tugasmu. Aku tidak akan mendengar pendapatmu.
Kamu mengerti? Kita tidak butuh pion yang punya keinginan sendiri.』
Aku ingat betul
betapa terkejutnya aku dengan kata-kata itu.
Hoshimiya Sei
mungkin terlihat ramah dan mudah akrab, tapi semakin bicara dengannya, semakin
terasa betapa keras kepalanya dia. Dia pada dasarnya tidak pernah mengubah
pendapatnya. Dan dia selalu menganggap orang lain sebagai pion miliknya.
Hoshimiya
pun tidak terkecuali, dia tampak terikat dengan aturan yang sangat ketat.
Aku
pernah dengar dia khawatir soal jam malam dan keluarganya yang sangat ketat,
tapi……
"Masalah
yang sulit. Apalagi kali ini, dia tidak salah bicara."
"……Ya.
Memang benar, aku bisa mengerti alasan dia khawatir."
"Ya…… mau bagaimana lagi. Aku pun ingin pergi bersama
Hoshimiya, tapi kalau sudah dikatakan begitu, tidak mungkin aku memaksa
membawanya. Memikirkan rencana lain pun…… sekarang sudah terlanjur pesan
penginapan, dan semua orang sudah meluangkan waktu, rasanya sulit."
Aku ingin pergi bersama Hoshimiya. Aku ingin bermain di laut
bersama Hoshimiya.
Tapi kalau
dipikir secara realistis, kami mungkin akan berakhir dengan pembicaraan untuk
bermain di lain kesempatan.
Meski hatiku
terasa sesak, sebagian dari kepalaku tetap tenang.
Seandainya diriku
tujuh tahun lalu ada di sini, mungkin aku akan menyerbu Sei-san untuk
membujuknya.
Tapi
diriku yang sekarang tidak bisa melakukan tindakan gegabah seperti itu.
Aku sudah
menjadi orang dewasa yang jauh lebih tenang dibanding saat itu.
"Tapi Hikari…… dia bilang ingin ikut bersama
kalian."
Nanase menunduk
dan membiarkan kata-kata itu lolos.
"Meski Ayah
bilang tidak boleh, dia tetap ingin ikut……"
Tampaknya dia
jauh lebih memikirkan hal ini daripada aku.
"Ini pertama
kalinya Hikari begitu bersikeras untuk pergi. Biasanya kalau sudah dibujuk
Ayahnya, dia akan menyerah. Tapi kali ini, dia benar-benar ingin pergi."
"……Jadi
maksudmu, dia tidak pernah membantah ayahnya sebelumnya?"
"Dulu pernah
sih. Tapi tidak ada gunanya…… sejak pertengahan, dia menyerah. Dia berpikir
percuma membantah orang itu, jadi dia selalu mengikuti kata orang tuanya."
……Sejujurnya, ini
dunia yang tidak bisa kubayangkan.
Orang
tuaku dulu sangat baik. Mereka
membesarkanku tanpa kekurangan apa pun. Kalau aku melakukan kesalahan, mereka
akan memarahiku dengan benar. Tapi biasanya, mereka selalu menghargai
keinginanku.
"Jadi itulah
alasan mengapa aku ingin mewujudkan keinginan Hikari yang ingin ikut."
Apakah itu alasan
mengapa mereka memilih untuk berbohong?
Karena Hoshimiya
tidak bisa lagi membantah Sei-san secara langsung.
"……Makananmu
dingin, lho."
Aku menunjuk set
menu hamburger yang masih utuh di depan Nanase.
Aku sudah mulai
makan sejak tadi. Meski sedih, aku harus makan untuk bertahan hidup.
Nanase
mulai makan dengan gerakan yang lamban. Dia benar-benar terpuruk. Itu terlihat
jelas. Tapi sayangnya, aku tidak tahu kata-kata apa yang bisa menghibur Nanase.
Aku tidak
punya pengalaman menghibur gadis yang sedih, dan aku pun tidak punya solusi
untuk masalah ini.
Setidaknya dalam
kasus ini, perkataan Sei-san adalah kebenaran.
Keinginan kami,
tindakan yang kami lakukan, tidak lebih dari sekadar keegoisan anak-anak.
"……Aku mulai
bicara dengan Hikari sekitar kelas tiga SD."
Tiba-tiba, Nanase
mulai bercerita seolah sedang mengingat masa lalu.
"……Aku tahu
kalian satu SMP, tapi kalian juga satu SD?"
"Iya. Hikari
tidak suka membicarakan masa kecilnya, jadi aku merahasiakannya dari semua
orang."
Kalau
diingat-ingat, memang benar aku tidak pernah mendengar cerita masa lalu dari
Hoshimiya maupun Nanase.
"……Kenapa
dia tidak suka?"
"Haibara-kun
juga tidak menceritakan masa lalumu sebelum ketahuan kalau kamu 'debut SMA',
kan?"
"Tidak, yah,
aku juga tidak mau menceritakannya sih…… karena aku tidak ingin
mengingatnya……"
Lagipula, bagiku
itu sudah lebih dari tujuh tahun lalu, jadi banyak yang sudah tidak kuingat.
"……Alasan
Hikari tidak mau bicara, hampir sama dengan alasanmu."
"Apa
maksudmu Hoshimiya juga 'debut SMA'? Tidak terlihat seperti itu, sih."
"Kalau
Hikari, dia sudah menjadi seperti sekarang sejak SMP. Gadis paling manis,
ceria, dan terang seolah idola di sekolah. Itulah Hoshimiya Hikari. Tapi, saat
SD, dia tidak seperti itu."
"Seharusnya
aku tidak menceritakan ini," lanjut Nanase.
"Saat aku
mulai bicara dengan Hikari, dia tidak punya satu pun teman."
Itu
adalah kalimat yang tak terbayangkan.
Jika
bukan Nanase yang mengatakannya, mungkin aku tidak akan percaya.
"Gadis
yang sederhana, pendiam, selalu murung, canggung dalam bicara, dan hanya
membaca buku sambil meringkuk di pojok kelas. Kami selalu satu kelas, tapi sampai kelas tiga SD,
kami hampir tidak pernah bicara. Saat itu aku jauh lebih ceria dari sekarang,
dan selalu berada di pusat keramaian kelas."
Awalnya adalah
perpustakaan, kata Nanase.
Kebetulan Nanase
membaca novel yang disukainya, dan Hikari juga sedang membacanya, jadi dia
menyapa Hikari.
――Novel itu
menarik, ya.
Hikari tersentak,
bahunya gemetar, tapi dia bertanya, "Kamu tahu novel ini?"
Setelah
Nanase mengangguk, Hikari mulai bercerita dengan antusias.
Dengan
bahasa yang kaku dan tersendat-sendat, Hikari berusaha keras menceritakan apa
yang membuatnya merasa cerita itu menarik, luar biasa, dan betapa dalam
maknanya bagi hatinya.
Melihat hal itu,
Nanase merasa Hikari manis dan mulai tertarik padanya. Sejak itu, Nanase makin
sering ke perpustakaan, dan perlahan-lahan Hikari mulai dekat dengan Nanase.
Bagi Nanase,
Hikari hanyalah tambahan dalam daftar panjang temannya.
Bagi Hikari,
Nanase adalah satu-satunya teman yang ia miliki.
Seiring
berjalannya waktu, mereka makin sering bermain dan menjadi sahabat sejati
satu-satunya.
"Tapi
semakin sering bersama, aku semakin mengerti betapa Hikari terikat oleh orang
tuanya."
――Maaf. Katanya
aku tidak boleh main dengan teman untuk sementara waktu.
――Sampai dapat
nilai terbaik di ujian, aku disuruh belajar terus sepulang sekolah.
――Aku senang
diajak, tapi aku dilarang main game.
――Dilarang bicara
dengan laki-laki lebih dari yang diperlukan. Jadi aku tidak boleh berteman.
"Suatu hari.
Hikari mengajakku ke rumahnya."
Nanase
mengira itu sesuatu yang langka. Namun, tanpa berpikir panjang, dia pergi ke rumah Hikari. Rumah itu cukup
luas dan besar, meski tidak bisa dibilang rumah mewah.
Setelah bermain,
ada kesempatan di mana mereka bertiga bicara, termasuk Sei-san.
"Dulu
aku merasa aneh, tapi sekarang aku mengerti. Aku sedang diuji. Apakah aku pantas menjadi teman Hikari
atau tidak. Tatapan meremehkan itu, kalau dipikir sekarang, terasa sangat
menjijikkan."
Setelah bicara
dengan Nanase, Sei-san berkata pada Hikari.
『――Hikari.
Jadilah seperti anak ini. Bukan hal yang sulit, kan? Kamu kan anakku. Jadilah anak yang rajin,
disiplin, namun tetap ceria, terang, dan ramah.』
"……Perubahan
sikap Hikari di sekolah dimulai sejak saat itu."
Perlahan, sedikit
demi sedikit, kepribadian Hoshimiya berubah.
Dia memotong poni
panjang yang tadinya menutupi wajahnya, melembutkan ekspresinya, tidak lagi
gagap saat bicara, menaikkan nada suaranya, dan mulai bicara kepada orang lain
lebih dulu.
Tanpa disadari,
jumlah temannya lebih banyak daripada Nanase, dan dia berdiri lebih di pusat
keramaian kelas daripada Nanase.
"Aku tidak
bilang kepribadian Hikari yang sekarang itu bohong. Hanya saja, dulu dia memang
seperti itu. Kalau disuruh kembali ke kepribadian lamanya sekarang, mungkin
justru itu hal yang sulit."
Faktanya, dalam
keseharian Hoshimiya, hampir tidak ada kesan kalau dia sedang berakting.
Namun,
terkadang aku merasa dia merespons dengan cara yang seperti mesin.
"Dia mungkin
lebih pandai menyembunyikan emosi daripada yang kita kira…… dan dia menderita
karena beban pikiran lebih dari yang kita bayangkan. Makanya, aku ingin
menolongnya sedikit saja."
Nanase
menghentikan makannya dan akhirnya mengangkat wajah.
"……Hei,
Haibara-kun."
Mata jernih itu
menatapku.
"Apakah
kamu――menyukai Hikari?"
Aku tidak berniat
bertanya apa maksud pertanyaan itu.
Karena apa pun
maksudnya, jawabanku sudah ditentukan.
"Tentu saja,
aku sangat menyukainya."
Melihatku
berkata begitu, Nanase tersenyum dengan rasa sedih.
Nanase
mengeluarkan buku catatan dan pulpen dari tasnya, lalu mulai menulis sesuatu.
Kemudian, dia
menyerahkan selembar memo padaku.
"Temani
dia."
Tertulis di
atasnya dengan tulisan tangan yang cantik, nama dan alamat sebuah kafe di
Takasaki.
"Pasti kamu
lebih berguna daripada aku."
Aku tidak
mengerti apa maksud kata-katanya, tapi aku mengangguk mantap.
Agar aku bisa
sedikit saja menghilangkan kecemasan di hati Nanase.
Hanya itu yang
bisa kulakukan saat ini.
Keesokan harinya.
Aku mendatangi
kafe yang ditulis Nanase di memo itu.
Itu adalah kafe
yang tidak mencolok di gang sempit yang jauh dari Stasiun Takasaki.
Apa ada
pelanggan yang datang ke tempat seperti ini?
Sejujurnya, agak
sulit untuk masuk. Aku merasakan suasana seolah pelanggan baru tidak diterima.
Tapi karena sudah sampai sejauh ini, tidak mungkin aku pulang begitu saja.
Saat aku membuka
pintu, lonceng berbunyi tring.
Berbeda dengan eksteriornya yang usang, suasana di dalam kafe ternyata sangat elegan. Meski secara keseluruhan tampak tua, tempat itu terjaga dengan sangat bersih.
"Silakan.
Silakan duduk di mana saja."
Pemilik kedai
paruh baya itu menyapa tanpa menoleh ke arahku.
Entah bagaimana,
suasana kedai kopi milik pribadi ini terasa nyaman dan membuatku tenang.
Kedai itu sedang
sepi. Hanya ada dua pelanggan. Sepasang lansia yang sedang asyik mengobrol di
kursi dekat pintu masuk, dan seorang gadis berkacamata di kursi dekat jendela
di pojok, yang sedang membuka laptop dan sibuk mengerjakan sesuatu.
Aku
melangkah masuk dan mendekati kursi di dekat jendela.
Gadis
berkacamata itu tampak begitu tenggelam dalam pekerjaannya.
Karena
itulah dia tidak menyadari kehadiranku meski aku sudah berdiri tepat di
sampingnya, dan terus mengetik di papan ketik.
"……Hoshimiya."
Saat aku
memanggilnya, gerakan Hoshimiya terhenti seketika.
Kemudian, dengan
gerakan kaku seperti robot, dia menoleh ke arahku.
"……Na,
Natsuki-kun!?"
Jeritan kagetnya
menggema di dalam kedai yang sunyi.
Aku meletakkan
jari telunjuk di depan bibir sebagai isyarat diam, dan Hoshimiya buru-buru
menutup mulutnya.
Setelah meminta
maaf dengan membungkuk kepada pasangan lansia yang menoleh penasaran ke arah
kami, aku duduk di hadapan Hoshimiya.
Sambil melirik
Hoshimiya yang sepertinya masih belum bisa menenangkan diri, aku memanggil
pemilik kedai dan memesan kopi.
Begitu pemilik
kedai kembali ke meja kasir, Hoshimiya mulai membuka suara.
"Ke, ke, ke,
kenapa kamu ada di sini?"
Dia
benar-benar sangat terkejut.
Matanya bahkan
tampak gelisah saat berbicara.
Aku sempat
berpikir dia akan sedikit lebih tenang selama aku memesan kopi tadi.
"Nanase yang
memberitahuku alamat tempat ini. Dia bilang aku harus menemuimu."
"A, aku
tidak mendengar apa-apa soal itu!?"
"Melihat
reaksimu, sepertinya memang begitu."
……Bagaimanapun
juga, Hoshimiya hari ini terlihat sangat segar.
Dia mengenakan
kacamata berbingkai hitam yang agak besar, dengan rambutnya yang diikat satu.
Itu adalah
penampilan yang tidak pernah kulihat di sekolah. Kesan kasual yang segar ini
membuat dirinya tampak sangat manis.
"Aduh, dasar
Yuino-chan……"
Hoshimiya menatap
ke luar jendela dengan tatapan tidak puas.
Aku pun ikut
menoleh ke arah yang sama, dan terhampar langit biru yang sangat cerah. Suara
tonggeret terdengar dari balik jendela. Hari ini pun suhu udara terasa seperti
puncak musim panas. Syukurlah penyejuk ruangan di dalam kedai ini berfungsi
dengan baik.
"……Maaf ya,
soal kemarin."
Hoshimiya
bergumam dengan suara yang nyaris tak terdengar.
"Aku jadi
tidak bisa pergi ke laut."
"……Oh,
begitu. Sayang sekali, tapi ya mau bagaimana lagi."
"Benar-benar
maaf ya. Padahal aku yang bilang kalau ingin pergi ke laut."
Hoshimiya
mengubah ekspresinya yang muram menjadi senyuman tipis.
"Kalian
bersenang-senanglah ya. Jangan memikirkanku."
Mendengar
kata-kata itu, aku bingung harus membalas apa.
Saat aku
sedang mencari kata-kata yang tepat, pemilik kedai datang mengantarkan kopi ke
mejaku.
Aku menyesap kopi
itu, seolah mencari alasan untuk tetap diam. Rasa pahit dari kopi hitam terasa
nyaman di hatiku saat ini. Kopi panas yang diminum di kedai yang sejuk memang
terasa nikmat.
"……Apa
yang sedang kamu tulis itu novel?"
Aku bertanya.
Kata-kata itu meluncur begitu saja untuk mengalihkan pembicaraan.
Meski
begitu, aku memang penasaran. Di layar laptop Hoshimiya yang tadi sangat ia
fokuskan hingga tak menyadari kehadiranku, terpampang perangkat lunak pengolah
kata dengan format tulisan vertikal.
"E, eh…… ternyata kamu tahu?"
Hoshimiya tersenyum canggung. Mungkin dia tidak ingin orang
lain tahu.
Yah, karena aku sendiri baru mengetahuinya hari ini, mungkin
lebih tepat jika dikatakan dia memang menyembunyikannya.
"Aku tadi
sempat lihat layarnya. Maaf, aku lihat tanpa izin."
"……Itu
rahasia."
Hoshimiya
mengatakannya dengan wajah yang tampak malu.
Apa itu hal yang
harus disembunyikan sampai sebegitunya? Meski aku tahu Hoshimiya dari klub
sastra menulis novel, aku tidak merasa ada yang aneh. Lagipula, aku sudah tahu
kalau dia sebenarnya seorang kutu buku novel yang cukup fanatik.
Selain itu…… kata-kata yang Nanase ucapkan kemarin terlintas
di benakku.
'Gadis yang sederhana, pendiam, selalu murung, canggung
dalam bicara, dan hanya membaca buku sambil meringkuk di pojok kelas. Kami selalu satu kelas, tapi sampai kelas
tiga SD, kami hampir tidak pernah bicara. Saat itu aku jauh lebih ceria dari
sekarang, dan selalu berada di pusat keramaian kelas.'
Saat mendengar
cerita itu, aku bahkan tidak bisa membayangkan Hoshimiya yang seperti itu.
Namun, melihat
Hoshimiya yang sekarang, bayangan itu tiba-tiba terasa nyata.
"Jangan
bilang siapa-siapa ya?"
"Tidak
masalah, tapi apa ada alasan tertentu kamu menyembunyikannya?"
"Karena…… ini memalukan. Aku tidak suka kalau ada orang
yang tiba-tiba memintaku menunjukkannya…… lagipula, menulis novel bukan hobi
yang umum, jadi aku takut orang lain berpikir yang aneh-aneh."
Yah, aku bisa
memahami maksudnya.
Aku sendiri
adalah seorang otaku sejak dulu, jadi aku tidak punya prasangka buruk. Tapi,
orang yang tidak mengerti hobi seperti ini mungkin akan mengubah pandangan
mereka terhadap Hoshimiya. Kami berlima yang sering berkumpul tahu kalau
Hoshimiya sebenarnya adalah tipe otaku yang suka novel, tapi orang-orang di
sekitar kami tidak berpikir demikian.
Dia adalah gadis
cantik yang ceria, baik pada siapa pun, dan merupakan idola yang paling manis
di angkatan.
Kebanyakan
orang pasti menganggapnya seperti itu.
Hoshimiya
sendiri tampaknya memang sengaja bersikap seperti itu kepada orang-orang selain
teman dekatnya.
"Aku
mengerti. Aku tidak akan memberitahu siapa pun. Apakah hanya Nanase yang
tahu?"
"Iya. Yuino-chan sudah sering membaca tulisanku sejak
dulu."
"Begitu ya…… sejak kapan kamu menulis novel?"
"Mungkin sejak SD. Aku terobsesi dengan dunia novel,
jadi aku ingin mencoba menulisnya sendiri. Kupikir, kalau aku bisa melukiskan
dunia yang ada di dalam kepalaku, mungkin hasilnya akan menarik."
Itu adalah pemikiran seorang otaku tipe produser. Kebetulan,
aku adalah otaku tipe konsumen, jadi aku puas hanya dengan mengonsumsinya. Aku
bahkan tidak pernah terpikir untuk mencoba membuat sesuatu sendiri. Itulah
sebabnya aku sangat menghormati otaku tipe produser.
Karena seorang otaku tipe konsumen tidak bisa hidup tanpa
otaku tipe produser.
"Jadi, kamu
sudah menjadikannya hobi selama bertahun-tahun?"
"Iya.
Meskipun aku sama sekali tidak merasa menjadi lebih baik dalam menulis."
"Ahaha,"
Hoshimiya tertawa kecil sambil mencela diri sendiri.
Pandangannya
tertuju pada layar laptop di depannya.
"Novel seperti apa yang kamu tulis? ……Ah, apa aku
sebaiknya tidak bertanya?"
Ada kemungkinan
dia sudah menceritakannya pada Nanase, tapi tidak ingin menceritakannya padaku.
Sejujurnya, aku
sangat penasaran dengan novel Hoshimiya, tapi mungkin lebih baik tidak mengorek
terlalu dalam.
Saat aku sedang
memikirkan berbagai hal, Hoshimiya menggelengkan kepala.
"Tidak,
kalau itu Natsuki-kun, tidak apa-apa. Kurasa Yuino-chan juga memintamu datang
dengan maksud tersebut."
"……Maksud
tersebut?"
"Kurasa dia
ingin kamu bekerja sama membantuku, bukan dia."
Aku memiringkan
kepala mendengar kata-kata Hoshimiya yang sulit dimengerti.
Bekerja sama?
Membantu apa……?
Melihatku yang
bingung, entah kenapa ekspresi Hoshimiya melunak.
"Awalnya, Yuino-chan yang membaca novelku dan
memberikan saran."
Agar novelnya menjadi lebih menarik, lanjut Hoshimiya.
"……Lalu,
peran itu sekarang digantikan olehku?"
Saat aku
menebak begitu, Hoshimiya mengangguk.
"……Tidak,
kenapa harus aku?"
Aku
hanyalah otaku biasa, dan tentu saja aku belum pernah menulis novel.
"Selera
cerita kita cocok, dan Natsuki-kun juga banyak membaca novel, kan?"
"Yah,
lumayan lah……"
"Selain
itu, saat kita bicara tentang kesan novel, Natsuki-kun sering memberikan sudut
pandang yang analitis dan sangat membantu. Aku juga sering menceritakan hal itu
pada Yuino-chan. Jadi…… kupikir itulah alasannya."
Aku
senang dipuji, tapi apakah benar begitu?
Yah,
karena aku tipe otaku yang sering menulis analisis panjang lebar tentang anime
atau manga di Twitter atau blog, mungkin kemampuan verbalisasiku memang
terasah, tapi…… aku tidak terlalu merasakannya.
"Tentu
saja, kalau tidak merepotkanmu……"
Hoshimiya
bertanya dengan wajah penuh penyesalan, menunduk sambil melirik ke arahku.
……Apa ini tidak
terlalu manipulatif?
Dulu aku mengira
dia melakukannya secara alami, tapi setelah mendengar cerita Nanase, aku jadi
sedikit curiga.
Bukan berarti aku
kalah oleh wajah manisnya itu. Tentu saja aku tidak kalah, tapi agar Hoshimiya
segera merasa tenang, aku menjawab dengan nada yang sengaja kubuat ceria.
"Tidak,
tidak, tentu saja itu tidak masalah!"
Aku
penasaran dengan novel yang ditulis Hoshimiya, aku juga suka membaca, dan lagi,
kalau teman meminta bantuan, aku ingin sekali menjawabnya.
"Benarkah?
Terima kasih. Natsuki-kun memang baik ya."
"……Yah, tapi
aku tidak tahu apakah aku benar-benar bisa berguna atau tidak."
Reaksiku yang
setengah hati itu semata-mata karena aku kurang percaya diri.
Bagaimanapun, aku
belum pernah memberikan kritik langsung kepada pembuat cerita.
"Kalau kamu
bisa menyampaikan kesan jujurmu, itu saja sudah cukup. Aku akan memikirkan cara
memperbaikinya sendiri."
Hoshimiya berkata
begitu, lalu mengobrak-abrik tas yang diletakkan di sampingnya.
Tak lama
kemudian, dia memberikan tumpukan kertas tebal kepadaku. Itu adalah naskah
novel yang sudah dicetak.
"Sebenarnya
sudah selesai, tapi…… aku bingung dengan alurnya."
Judulnya tertulis
"Kisah Laut di Musim Panas (Draft)".
Sepertinya itu
hanya judul sementara dan belum diputuskan.
Aku menatap
bagian pembukanya. Deskripsi pemandangannya sudah sangat mahir. Tidak ada rasa
canggung saat membacanya. Singkatnya, tulisannya mudah dibaca. Tidak kalah
dengan karya profesional. Hoshimiya yang menulis ini?
"Boleh aku
baca di sini?"
"E, boleh saja…… tapi jumlahnya seukuran satu buku,
lho?"
"Aku cukup cepat dalam membaca. Mumpung ada di sini, siapa tahu aku bisa
memberikan masukan."
Selain itu, kedai
kopi ini suasananya sangat nyaman. Menurutku tempat ini sangat cocok untuk
membaca.
Ini sama sekali
bukan karena aku ingin menghabiskan waktu lebih lama bersama Hoshimiya. Tentu
saja tidak.
"Kalau begitu…… aku akan menunggu sambil mengerjakan
hal lain, ya."
Meski
berkata begitu, Hoshimiya terus melirik ke arahku.
Aku
menyadari pandangannya, tapi saat aku mulai membaca kata demi kata, aku segera
tenggelam ke dalam dunia cerita.
――Ceritanya
dimulai dari adegan di mana seorang anak laki-laki dan perempuan bertemu di
tepi pantai.
Isinya sepertinya
bergenre misteri remaja.
Latar ceritanya
adalah sebuah SMA di pinggir laut.
Seorang gadis
cerdas dan anak laki-laki yang cekatan memecahkan misteri kecil sehari-hari.
Percakapan
komikal yang terasa seperti light novel juga sangat menarik.
Meskipun ada
beberapa hal yang mengganjal, seperti penjelasan misteri yang agak sulit
dimengerti atau penyelesaian masalah yang terasa terlalu mudah, ceritanya cukup
menarik untuk dibaca sampai tuntas.
Pada akhirnya,
gadis itu jatuh cinta pada anak laki-laki tersebut.
Gadis yang
seharusnya cerdas itu panik karena cinta pertamanya, lalu berusaha melakukan
pendekatan dan menyatakan perasaan padanya. Namun, anak laki-laki itu memiliki
rahasia di masa lalunya――.
"……Begitu
ya."
Sambil
bergumam, cerita pun berakhir.
Kesadaranku
kembali ke dunia nyata.
Saat aku
mengangkat wajah dari tumpukan kertas itu, Hoshimiya sedang menatapku dengan
lekat.
Menyadari kami
bertatapan, Hoshimiya tersentak dan memalingkan wajah. Dia mulai bersiul dengan
asal-asalan, tapi sudah terlambat. Lagi pula, dia bahkan tidak benar-benar
bersiul.
Mengabaikan
Hoshimiya yang sedang sok sibuk, aku memijat bahu dan memutar leherku.
Bahu terasa kaku
karena posisi duduk yang lama. Saat kulihat jam, tanpa terasa dua jam sudah
berlalu. Karena haus dan juga sebagai biaya sewa kursi, aku memesan es teh.
"Ba,
bagaimana……?"
Hoshimiya
bertanya dengan nada yang sangat berhati-hati.
"Menarik
sekali. Hoshimiya, kamu hebat."
Saat aku
menyampaikan kesanku secara langsung, Hoshimiya tertawa bahagia,
"Benarkah?"
Sejujurnya,
hasilnya jauh lebih menarik dari yang kubayangkan.
Aku sempat
meremehkannya. Aku tidak menyangka Hoshimiya bisa menulis cerita seperti ini.
"Aku senang
Natsuki-kun memujiku."
……Terlepas dari
itu, ada satu pertanyaan yang muncul setelah membaca karya ini.
"Apa
jangan-jangan, alasan Hoshimiya bilang ingin pergi ke laut adalah demi karya
ini?"
――Kisah laut di
musim panas. Meski hanya judul sementara, itu adalah elemen penting dalam
cerita ini. Namun, Hoshimiya menggelengkan kepala dengan ekspresi rumit
menanggapi pertanyaanku.
"……Aku tidak
bisa bilang elemen itu tidak ada, tapi kurasa bukan itu. Aku hanya sekadar
ingin pergi ke laut…… karena aku sangat menyukai laut, makanya aku menulis
cerita ini."
Hoshimiya menatap
ke balik jendela dengan tatapan kesepian, lalu berkata sambil menumpu dagunya.
"……Kalau
saja kita bisa bermain di laut bersama-sama, pasti seru ya."
Melihat ekspresi
itu, aku sadar telah melakukan kesalahan.
Itu adalah
pertanyaan yang polos, tapi bagi Hoshimiya, itu bukanlah perasaan yang
menyenangkan.
Aku baru saja
mengungkit kembali tentang liburan yang seharusnya dia ikuti.
"……Maaf. Aku
bertanya hal yang tidak perlu."
"Ah, e,
tidak apa-apa, maaf aku bereaksi aneh. Tidak apa-apa, sungguh. Wajar saja kalau
kamu berpikiran begitu setelah membaca ini. Lagipula, kalau benar-benar pergi
ke sana, aku pikir aku akan menggunakannya untuk riset cerita."
Hoshimiya
menjawab dengan panik.
Rasanya seperti
dia tidak bermaksud memberikan reaksi seperti itu.
Kami berdua
saling merasa bersalah. Ada keheningan sejenak, dan seolah waktu itu sudah
diperhitungkan, pemilik kedai datang dan meletakkan es teh di meja dengan
gerakan yang anggun, lalu pergi.
"Ja, jadi…… apa pendapatmu? Aku akan senang kalau bisa mendengar kesanmu
yang lebih detail……"
Hoshimiya
bertanya meski tampak malu-malu.
"Begitu ya.
Pertama, tulisannya bagus. Mudah dibaca dan langsung bisa dipahami. Karakter
dua tokoh utamanya juga bagus, bagian misterinya juga oke. Hanya saja,
yang agak mengganjal adalah…… bagian akhirnya, mungkin?"
"Benar, kan…… Natsuki-kun juga merasa begitu?"
Sepertinya Hoshimiya juga menyadarinya. Aku mengangguk untuk
mengiyakan.
"Ya. Aku pikir ini adalah cerita tentang mengejar
rahasia masa lalu anak laki-laki itu sambil dibumbui kisah cinta……"
……Entah
bagaimana, tiba-tiba ada perasaan seolah realitasnya hilang. Karakter anak
laki-laki itu tiba-tiba berubah sehingga terasa ganjil, dan metode penyelesaian
masalahnya pun terasa terlalu dipaksakan.
Saat aku
menyampaikan pendapat itu dengan bahasa yang lebih halus, Hoshimiya mengangguk.
"Aku
pun bingung dengan bagian itu……"
Hoshimiya
menatap layar laptopnya, tampak sedang berpikir keras.
……Apakah
aku harus memberikan pendapat?
Ada
banyak hal yang ingin kutanyakan dan kukatakan.
Tapi,
apakah aku benar-benar harus mengatakannya?
Sejauh
mana Hoshimiya menginginkannya?
"Hei,
boleh aku pastikan premisnya terlebih dahulu?"
Karena
itulah aku bertanya padanya.
Tergantung
apa yang ingin dia capai, pendapat yang harus kuberikan pun akan berubah.
"Apa rencana Hoshimiya dengan novel ini?"
"Apa rencananya……?"
Melihat Hoshimiya yang tampak bingung, aku menjelaskan
sambil menegakkan beberapa jari.
"Apakah kamu ingin membuat sesuatu yang memuaskan
dirimu sendiri, atau ingin membuat seseorang merasa tertarik, atau ingin
mengirimkannya ke penghargaan novel, atau ingin menjadi penulis novel
profesional…… Karena pendapatku akan berubah tergantung pada tujuanmu."
Sejujurnya, sebagai karya amatir, menurutku ini sudah cukup
menarik.
Bahkan pujian pun
layak diberikan. Aku terkejut saat tahu teman SMA-ku yang menulis ini.
……Aku ragu apakah
aku bisa mendefinisikan diriku sendiri sebagai anak SMA yang sama, tapi itu
tidak penting.
Sambil
membolak-balik novel Hoshimiya dan memikirkannya kembali,
"――Semuanya."
Kata-kata dengan
intonasi yang kuat sampai ke telingaku.
Saat aku
mengangkat wajah, Hoshimiya menatapku dengan wajah serius.
Aku bahkan tidak
bisa mengira bahwa dia adalah orang yang sama dengan Hoshimiya yang biasanya
lembut dan tersenyum ramah.
"Aku ingin
membuat karya yang memuaskan diriku sendiri, ingin membuat orang yang
membacanya, seperti Natsuki-kun dan Yuino-chan, merasa puas, dan kalau itu
berhasil, aku ingin mengirimkannya ke penghargaan novel……"
Lalu, dia
menyatakan tekadnya. Seolah sedang meyakinkan dirinya sendiri.
"……Suatu
saat nanti, aku ingin menjadi penulis novel."
Aku merasakan
tekad yang kuat.
Namun di sisi
lain, dia juga tampak seperti orang yang sedang berada dalam tekanan besar.
Belakangan ini,
Hoshimiya terasa sangat tidak stabil, terutama sebelum liburan musim panas.
Kadang dia tertawa lalu tiba-tiba wajahnya menjadi muram…… aku merasa emosinya
sering sekali berubah-ubah.
"Tentu saja
aku mendukungmu, dan aku akan bekerja sama kalau memang aku dibutuhkan."
Namun, aku tidak
merasa ada yang akan berubah jika aku menunjukkannya begitu saja.
Jadi, aku memilih
kata-kata yang aman.
Tentu saja aku
tidak bohong tentang keinginanku untuk membantu mimpi temanku.
Aku juga senang
bisa menyentuh rahasia Hoshimiya yang dia sembunyikan dari orang lain.
"……Ini
pertama kalinya aku mengucapkannya dengan kata-kata. Sedikit membuatku
berdebar."
Hoshimiya
memegang dadanya sendiri dan berkata seperti itu.
"……Ya. Aku
ingin menjadi penulis novel. Karena itu, aku ingin mendengar pendapat
Natsuki-kun."
"Baik. Kalau
begitu, aku akan menunjukkan bagian yang mengganjal. Pertama, dari
pembukanya――"
Aku menunjukkan
poin-poin yang kupikirkan sebisa mungkin, dan Hoshimiya mencatatnya.
Kami memikirkan
cara memperbaiki masalah bersama-sama, dan jika sudah sepakat, kami melanjutkan
ke bagian berikutnya.
"Di
sini, penjelasannya kurang. Aku tidak mengerti apa yang terjadi."
"Hmm…… bagian penjelasan yang lain terlalu panjang,
jadi aku ingin memangkasnya. Harus bagaimana ya?"
"Mungkin bisa dijelaskan lewat dialog saja. Itu akan
lebih mudah dibaca daripada narasi biasa."
"Ah,
benar juga! Itu ide bagus. Kalau begitu――"
Kami
mengulangi proses tersebut berulang kali.
Itu
sangat menyenangkan.
Melakukan
sesuatu dengan sungguh-sungguh secara tulus memang menarik.
Aku
merasa terinspirasi oleh Hoshimiya yang dengan serius memikirkan cara membuat
ceritanya menjadi lebih baik.
"Kalau begitu di sini…… begini……"
Hoshimiya
bergumam pelan sambil melihat layar.
Saat kami
berdua beristirahat sejenak dan menatap ke luar jendela, langit telah diwarnai
warna jingga.
Es batu
di gelas es teh yang sudah kuminum habis telah mencair, menciptakan genangan
air di dalamnya.
"Wah…… sudah jam segini?"
Aku bergumam sambil melihat jam, dan Hoshimiya memiringkan
kepalanya, "Eh?"
Lalu dia melihat jam tangannya, dan mulutnya terbuka lebar,
"Ah!"
"Ma, maaf! Natsuki-kun!
Aku……"
"Apa karena
jam malam? Maaf, aku sendiri tidak sadar waktu sudah berjalan sejauh ini."
"Iya!
Padahal aku baru saja dimarahi gara-gara masalah liburan, aku malah akan
dimarahi lagi……!"
Wajah Hoshimiya
menjadi pucat. Dia pasti sangat takut pada Sei-san.
"Jangan
pikirkan aku, segeralah pulang."
"Iya, itu,
benar-benar maaf ya? Padahal kamu sudah menemaniku, tapi tiba-tiba jadi
begini……"
"Tidak
apa-apa, santai saja. Kalau liburan musim panas, aku selalu punya waktu luang.
Ajak aku lagi kapan-kapan."
Aku mengatakannya
dengan tulus, lalu Hoshimiya yang sedang terburu-buru menyiapkan kepulangannya
meraih tanganku.
……Dia meraih
tanganku?
Eh? Hm? Kenapa
Hoshimiya menggenggam tangan kananku dengan kedua tangannya?
"Terima
kasih untuk hari ini, Natsuki-kun. Aku benar-benar merasa senang."
Hoshimiya
berkata dengan jarak yang sangat dekat.
Dilihat
dari dekat, wajahnya terlihat jauh lebih cantik.
Kulitnya
yang seputih porselen tidak memiliki noda sedikit pun, dan matanya yang besar
menatapku dengan jujur.
"――Aku,
akan berusaha."
Hoshimiya
menyapa pemilik kedai, "Terima kasih atas hidangannya!" dan berlari
meninggalkan kedai.
Pemilik
kedai hanya membalas dengan anggukan tanpa bicara.
Mungkin
ini adalah kedai langganan Hoshimiya. Terasa ada kedekatan di antara mereka.
……Ngomong-ngomong, Hoshimiya, bagaimana dengan
pembayarannya???
Malam harinya.
Sesampainya di rumah, aku mendapat telepon dari Hoshimiya.
"Halo,
halo."
Aku menyapanya
dengan nada santai, tapi tidak ada balasan.
"……Hoshimiya?
Bisa dengar suaraku?"
Saat kutanya
begitu, Hoshimiya menjawab dengan nada yang lebih muram dari biasanya.
"……Iya.
Natsuki-kun, maaf ya untuk hari ini. Aku lupa membayar tagihannya……"
"Hal seperti
itu tidak perlu dipikirkan. Aku kan punya uang hasil kerja paruh waktu,
sesekali biarkan aku yang mentraktirmu."
"Tidak. Aku
akan mengembalikannya. Lagi pula, karena kamu sudah membantuku dengan novelku,
seharusnya aku yang mentraktirmu. Benar-benar minta maaf, aku tadi sangat
panik……"
"Kalau
Hoshimiya bilang begitu, aku akan menerima bagian punyaku, tapi bagianmu
biarlah kamu yang bayar sendiri. Lagi pula aku yang tiba-tiba datang ke
tempatmu tanpa pemberitahuan, jadi benar-benar jangan dipikirkan."
Setelah
perdebatan itu, akhirnya diputuskan bahwa Hoshimiya akan mengembalikan
bagiannya saja padaku.
"Kalau
begitu, lain kali kita bertemu――"
"――Tidak.
Hei, apa boleh aku datang untuk mengembalikannya sekarang?"
"Sekarang……?"
Aku melihat jam
di kamarku.
Sudah lewat pukul
sepuluh malam.
Bagaimanapun
juga, ini bukan waktu bagi Hoshimiya yang punya jam malam untuk keluar rumah.
"Stasiun
terdekat dengan rumah Natsuki-kun adalah stasiun ini, kan?"
Bersamaan dengan
kata-kata itu, sebuah foto dikirimkan oleh Hoshimiya.
Itu adalah foto
papan petunjuk nama stasiun di dekat rumahku yang sedang gelap.
Langit
terlihat gelap. Artinya foto itu diambil di malam hari.
Aku tidak
berpikir Hoshimiya punya pengalaman datang ke stasiun tak berpenghuni di daerah
terpencil ini.
Jika dia
hanya ingin menyebutkan nama stasiun, dia bisa melakukannya lewat teks, tapi
dia mengirimkan foto sebagai bukti bahwa dia memang ada di sana sekarang.
"――Aku,
pergi dari rumah. Jadi, aku tidak punya jam malam lagi."
Mendengar
deklarasi Hoshimiya yang datar itu, pikiranku seketika berhenti.
A, apa yang harus
kulakukan?
Tenang,
tenanglah, Haibara Natsuki. Masalahnya bisa dibicarakan nanti. Yang penting,
Hoshimiya sendirian di stasiun tak berpenghuni di pedesaan pada tengah malam
seperti ini sangat berbahaya. Pertama, aku harus menemuinya dan mendengarkan
ceritanya.
"Tunggu,
tunggu sebentar di sana!"
Aku
bergegas lari keluar rumah sambil tetap memegang telepon.
Meskipun suhu
udara sudah turun di malam hari, tentu saja aku akan berkeringat jika berlari.
Sambil
bercucuran keringat, aku berhasil sampai di stasiun lokal. Mungkin tidak perlu
secepat ini, tapi karena aku panik, aku tidak punya ketenangan untuk hanya
sekadar berjalan.
Lampu jalan di
stasiun pedesaan itu hanya menyala satu. Hoshimiya sedang duduk di tangga batu.
Wajahnya muram,
tapi setidaknya aku lega dia selamat.
Hoshimiya
menyadari kedatanganku dan berdiri.
"……Natsuki-kun.
Maaf ya, tiba-tiba datang."
"Tidak,
tidak, itu tidak masalah, tapi…… apa benar kamu pergi dari rumah?"
"Iya. Ada
berbagai hal terjadi dengan Papa, dan aku merasa sudah tidak sanggup lagi, jadi
aku keluar."
"Ahaha,"
Hoshimiya tertawa.
Bagaimanapun
juga, itu adalah tawa yang dipaksakan.
"Ngomong-ngomong,
aku kembalikan uang kafe tadi dulu ya?"
Hoshimiya
menyodorkan selembar uang seribu yen, dan aku menerimanya.
"……Apa kamu
jauh-jauh datang ke sini hanya untuk itu?"
"……Kalau aku
bilang iya, apa kamu akan percaya?"
"Aku bisa
saja berpura-pura percaya."
"……Maaf, aku
berbohong. Sebenarnya, karena aku ingin bertemu Natsuki-kun. Menggunakan
kesalahanku sendiri sebagai alasan untuk itu benar-benar hal yang buruk ya. Maafkan
aku, aku…… aku memang payah. Apa
pun yang kulakukan."
Tidak
diragukan lagi, kondisi mental Hoshimiya tidak stabil.
Ini bukan
saat yang tepat untuk memberikan argumen logis bahwa dia sebaiknya pulang ke
rumah.
Yang
terpenting sekarang adalah menemaninya.
Setelah dia
tenang, aku akan mendengarkan ceritanya dan memikirkan jalan keluarnya.
Namun, aku tidak
mungkin terus berdiam diri di stasiun tak berpenghuni ini selamanya.
"Tidak
apa-apa, Hoshimiya. Semuanya akan baik-baik saja."
Meski begitu, apa
yang harus kulakukan?
Kereta terakhir
pun sudah hampir tiba.
Jika ingin naik
kereta, hanya tersisa jadwal yang sekarang.
Tetapi, kalaupun
naik kereta, aku harus membawanya ke mana?
Karena dia sudah
tidak bisa pulang ke rumah.
"……Bagaimana
kalau ikut ke rumahku dulu?"
Di kota pedesaan
ini, hanya itulah satu-satunya pilihan yang tersisa.
Kebetulan, hari
ini Ibu sedang menginap di rumah Nenek, jadi dia tidak ada di rumah. Meski ada
adikku di sana.
Hoshimiya
memasang ekspresi penuh rasa tidak enak, tetapi setelah ragu sejenak, dia
mengangguk pelan.
Sepertinya dia
memang tidak punya tujuan lain. Aku sedikit penasaran kenapa dia tidak
mengandalkan Nanase.
Jika dia
menganggapku lebih prioritas daripada Nanase, sebagai laki-laki aku merasa
senang, tapi secara realistis kurasa bukan itu alasannya.
"……"
"……"
Kami berjalan
beriringan menyusuri jalanan malam musim panas.
Bersama
Hoshimiya, aku menuju ke rumahku.
Situasi ini
terasa seperti mimpi, tapi ini bukanlah keadaan yang bisa kusyukuri.
Aku
benar-benar mengkhawatirkan Hoshimiya. Bahkan sekarang pun dia terus menunduk.
Dia
bahkan tidak memikirkan apa yang harus dilakukan setelah ini, dan kondisi
mentalnya jelas tidak stabil.
Selain itu, ada
masalah yang sangat nyata.
Meski aku
menyebutnya "pergi dari rumah" dengan gampang, Hoshimiya adalah
seorang gadis, dan lagi ini sudah malam.
Bukan hal aneh
jika ini menjadi urusan polisi. Membawanya ke rumahku dalam situasi seperti
ini, sejujurnya aku menanggung risiko yang cukup besar.
"Hoshimiya,
itu……"
Dia mungkin
menyadari keraguanku dari caraku bicara yang terputus-putus.
"……Kurasa
tidak akan ada yang melapor ke polisi."
Hoshimiya
bergumam pelan.
"Kalau
sampai hal itu terjadi, reputasi keluargaku akan terganggu."
"……Begitu
ya."
"Sekarang
mungkin mereka sedang mencariku. Awalnya mereka pasti mengira aku pergi ke
rumah Yuino-chan, jadi mereka tidak terlalu khawatir. Tapi setelah tahu aku
tidak ada di sana, kurasa mereka sedang panik mencariku ke mana-mana."
"……Itu
alasan kenapa Hoshimiya datang kepadaku?"
" Ayah
mengira orang yang bisa kuhubungi hanyalah Yuino-chan. Maaf karena menyeretmu
ke dalam masalah ini. Sebenarnya, aku bisa saja pergi dari rumah sendirian.
Awalnya aku berniat begitu, berencana kabur naik kereta ke tempat yang jauh.
Tapi, aku teringat padamu, lalu teringat aku belum membayar uang kafe, dan
menggunakan itu sebagai alasan untuk mengandalkanmu……"
Suaranya
bergetar.
Nada
suaranya terdengar seolah dia sedang menahan tangis.
"Tidak
apa-apa, mengandalkan orang lain itu wajar. Temanku sedang dalam kesulitan,
tentu saja aku harus menolong, kan?"
Setelah
mengucapkannya, aku merasa itu adalah kalimat klise. Tapi itu adalah
ketulusanku.
Lagipula, kalau
Hoshimiya memang bersalah pun, penyebab utamanya kemungkinan besar ada pada
Sei-san.
Yah, aku tidak
akan tahu sebelum mendengar ceritanya sendiri.
"……Aku
takut."
Sambil
terus berjalan, Hoshimiya mendekap lengannya sendiri yang gemetar.
"Sudah lama
sekali sejak terakhir kali aku melawan Ayah seperti ini."
"……Hoshimiya."
"Setiap kali
aku melawan Ayah saat aku masih kecil, aku selalu dimarahi habis-habisan. Sejak
saat itu, aku selalu hidup sesuai dengan perkataan Papa. Tahu tidak?
Selama ini…… aku hanyalah boneka bagi Papa."
Ini adalah urusan
keluarga orang lain, tapi entah kenapa aku bisa membayangkannya.
Mungkin karena
aku pernah melihat interaksi Hoshimiya dan Sei-san di mal.
"Natsuki-kun
juga melihatnya, kan? Dia
memang orang seperti itu."
"……Ah."
Mungkin
aku tahu lebih banyak daripada yang dia bayangkan.
Aku tidak
bisa membayangkan pria itu menghargai keinginan putrinya sendiri.
"Selama ini,
aku selalu memerankan sosok putri idealnya. Karena melawan pun tidak ada
gunanya. Aku tidak melakukan apa pun yang dia benci, merelakan hal-hal yang
kuinginkan, dan mengubah kepribadianku menjadi seperti yang dia sukai."
Hoshimiya
berjalan sedikit mendahuluiku, lalu menatap langit sambil bercerita.
"……Padahal
dulu, aku adalah gadis yang murung, pendiam, dan sederhana, tahu?"
Kemudian, dia
berbalik dan tersenyum cerah.
"Aku
berhenti menjadi diriku sendiri karena dia membencinya. Aku mengubah
kepribadianku menjadi ceria. Selalu ceria, penuh semangat, manis, dan menjadi
populer di sekolah yang menebar senyum pada semua orang…… itulah sosok yang aku
tetapkan sebagai diriku sendiri."
Meski aku tahu
itu hanya semangat palsu, aku tidak bisa membedakannya dengan cara tersenyumnya
yang biasa.
Setelah itu,
Hoshimiya menghilangkan ekspresinya seketika.
"Mungkin
berkat sering menulis novel sejak dulu? Memerankan kepribadian yang kubuat
sendiri tidak terasa terlalu menyiksa. Meski aku sudah berusaha keras belajar
dan berolahraga, hasilnya tidak terlalu bagus. Tapi karena aku sudah menjadi
pribadi dan memiliki penampilan yang disukai Papa, aku jadi tidak pernah
dimarahi lagi."
Itu
adalah cerita yang juga kudengar dari Nanase, tapi mendengar langsung dari
mulut orangnya terasa jauh lebih berat.
Sosok
yang ada di depanku saat ini adalah Hoshimiya Hikari yang tidak kukenal.
"Hei, Natsuki-kun. ……Aku manis, kan?"
Hoshimiya
yang berdiri di depanku tersenyum tipis.
Aku
menghentikan langkahku dan mengangguk menanggapi pertanyaannya.
"Aku
berusaha keras untuk bisa menjadi manis. Kalau tidak manis, aku akan dibenci
oleh Papa. Sebenarnya aku ingin menjadi orang yang keren dan elegan, tapi sosok
seperti inilah yang disukai Papa."
Tiba-tiba,
ingatan masa lalu melintas di benakku.
"Ahaha,
bercanda. Sebenarnya aku lebih suka fesyen yang netral. Kalau aku suka, aku
juga membeli pakaian pria. Aku senang kamu bilang aku keren."
"……Tapi, aku
juga berusaha keras untuk ini, dan aku ingin dianggap cantik."
"Karena…… itu memalukan. Aku tidak suka kalau ada orang
yang tiba-tiba memintaku menunjukkannya…… lagipula, menulis novel bukan hobi
yang umum, jadi aku takut orang lain berpikir yang aneh-aneh."
Entah mengapa,
aku merasa ada ketidakselarasan.
Antara perilaku
sehari-harinya dengan hal-hal yang ia sukai atau hobinya.
Sebenarnya itu
bukan masalah besar. Hanya
sekadar berpikir bahwa dia adalah orang dengan kesenjangan karakter yang unik. Namun, setelah mendengar cerita ini, semua
kepingan teka-teki itu terasa pas.
"……Hei,
Natsuki-kun. Apa kamu kecewa?"
Aku menggelengkan
kepala menanggapi pertanyaan Hoshimiya.
"……Tidak
mungkin. Bagiku, Hoshimiya tetaplah Hoshimiya."
"……Bagaimana
kalau aku berkata bahwa aku sudah memperhitungkan jawabanmu itu sebelum
bertanya?"
"Memang
benar, itu adalah sisi Hoshimiya Hikari yang tidak kukenal."
Namun, lanjutku.
"Sebagai
manusia, siapa pun pasti punya rahasia, atau wajah yang tidak ditunjukkan pada
orang lain. Aku pun begitu. Jadi, hanya karena rahasiamu sedikit lebih besar
dari orang lain, aku sama sekali tidak peduli."
Aku pun memiliki
bagian yang tidak kutunjukkan pada siapa pun.
Meski aku sempat
membukanya sedikit saat kejadian Tatsuya, ada hal-hal yang tentu saja tetap
kusimpan rapat.
Bahkan fakta
bahwa aku melakukan Time Leap dari dunia tujuh tahun kemudian pun, tidak
pernah kuceritakan pada siapa pun.
Dan aku
tidak merasa itu adalah hal yang buruk. Karena kurasa tidak semua hal harus diceritakan pada orang lain.
"Natsuki-kun……"
Aku melewati
Hoshimiya yang berdiri terpaku, lalu melanjutkan langkah.
"Ayo pergi.
Sebentar lagi kita sampai di rumah."
Meski jalanan
sepi, ini bukan tempat untuk membicarakan hal sepenting ini di tengah jalan
perumahan.
Aku
sempat bingung bagaimana harus bersikap.
Kurasa ada
kata-kata yang lebih lembut yang bisa kuucapkan.
Namun, aku
memilih untuk menyampaikan kejujuranku.
Jadi, mungkin
terdengar sedikit dingin.
Tetapi, aku tidak
merasa kata-kataku salah.
Begitu sampai di
rumah, aku membuka pintu depan.
Tidak ada yang
menyambut. Namika mungkin sedang membaca komik di ruang tengah.
Baguslah. Aku
akan segera membawa Hoshimiya masuk ke kamarku selagi bisa.
"Permisi……"
Hoshimiya
berkata dengan suara berbisik, tampak gugup.
Aku
meletakkan jari telunjuk di depan bibir, dan kami berdua naik ke lantai dua
dengan tenang.
Aku
mengantar Hoshimiya ke kamarku dan menyuruhnya duduk di kursi. Aku sendiri
duduk di atas tempat tidur. Hoshimiya meringkuk di kursinya sambil melirik ke
sekeliling ruangan dengan penasaran.
"Jadi ini
kamar Natsuki-kun."
……Syukurlah aku
sudah membersihkan kamar ini.
Karena sedang
libur musim panas dan punya banyak waktu luang, aku baru saja melakukan
bersih-bersih besar.
"Ini pertama
kalinya aku masuk ke kamar anak laki-laki. Ternyata cukup bersih ya."
"Te, tentu
saja. Ya. Memang
begitu."
Larut
malam, di kamarku sendiri.
Berdua
saja dengan gadis yang kusukai.
Aku jadi
merasa gugup dan mengangguk-angguk kaku, lalu Hoshimiya tertawa kecil,
"Apa-apaan nada bicaramu itu."
Meja belajar dan
kursi. Lemari pakaian, tempat tidur, dan rak buku. Kurasa tidak ada yang aneh
di sini.
Jika harus
memilih satu hal, mungkin hanya koleksi novel dan komik di rak bukuku yang
terlalu banyak.
"Wah, seri
ini menarik ya~"
Hoshimiya
mengambil salah satu light novel populer dari rak buku dan
membolak-baliknya.
Meski
Hoshimiya pada dasarnya menyukai genre misteri, rupanya dia membaca apa saja
seperti diriku yang tipe segala-suka.
"Melihat rak
buku orang lain itu menarik ya. Kita jadi bisa tahu apa hobinya."
"……Agak
memalukan kalau diperhatikan sedetail itu."
"Fufu,
ternyata Natsuki-kun benar-benar seorang otaku ya. Aku tahu itu secara teori,
tapi baru sekarang aku merasa yakin. Oh, 'Shino no Tabi' juga lengkap semua
serinya. Ini juga sangat menarik, lho."
Hoshimiya
tampak sangat senang mengobrak-abrik rak buku orang lain.
Mungkin hanya
untuk saat ini, dia mencoba untuk tidak memikirkan hal lain.
Sementara itu,
aku sendiri masih membutuhkan sedikit waktu lagi untuk terbiasa dengan situasi
di mana Hoshimiya berada di sini.
Baru saja aku
berpikir untuk sedikit menenangkan diri――pintu kamar pun terbuka.
"Ah."
"Kak, pinjam
lanjutan 'Maruto' dong――"
Namika yang
sedang memeluk tumpukan komik ninja paling populer di negeri ini, mengerjapkan
matanya berulang kali.
Sambil menatap
Hoshimiya yang berdiri di depan rak buku, Namika membeku sepenuhnya.
"……Se,
selamat malam?"
Hoshimiya
menundukkan kepala dengan canggung.
"……Ah. E,
ya. Anu, selamat malam……"
Meski Namika juga
tampak kehilangan fokus, dia berhasil menjawab dengan susah payah.
"……Anu, maaf
mengganggu……"
Namika menutup
pintu kamar sambil tetap memeluk tumpukan komik ninja tersebut.
Aku bertatapan
dengan Hoshimiya, dan kami berdua tertawa getir.
……Yah, aku sadar
tidak mungkin bisa menyembunyikannya selamanya dan aku memang berencana untuk
menjelaskannya.
Hasilnya,
penundaan itu membuat situasiku jadi sedikit rumit.
Mau tidak mau aku
berdiri, lalu Hoshimiya menunduk dengan rasa penuh penyesalan.
"……Maaf ya,
merepotkanmu."
"Tidak
apa-apa kok. Kalau dijelaskan sedikit, dia pasti mengerti."
Sebenarnya tidak
mungkin semudah itu, tapi setidaknya aku harus mengatakannya agar Hoshimiya
merasa tenang.
Begitu turun ke
ruang tengah, Namika mencengkeram kerah bajuku.
"Si, si,
siapa wanita itu!? Pacarmu!?"
"Bukan. Ada
alasan tertentu sampai kubawa ke sini. Mungkin dia akan menginap."
"Bukannya
pacar, bukannya itu malah lebih gawat!?"
"Banyak hal
yang terjadi. Intinya, dia teman sekolahku."
"Kakak
membawa pulang seorang gadis, dan dia secantik itu……"
"He-hei,
dengarkan aku tidak?"
"Terus
bagaimana? Apa perlu kuberi tahu Ibu?"
"Tidak…… malas sekali kalau harus menjelaskan semuanya.
Lagipula mereka tidak akan
pulang sampai besok sore, kan?"
Secara
teknis, alasannya adalah karena aku ingin menghindari Ibu memberi tahu orang
tua Hoshimiya.
"Ba,
baiklah. Serahkan padaku, Kak!"
Entah
kenapa Namika mengangkat jempol dengan antusias. Apa dia sedang syok?
"……Anu,
apa sebaiknya malam ini aku tidur di ruang tengah?"
Aku mengernyitkan dahi mendengar pertanyaan aneh itu, tapi segera menyadari maksudnya.
Kamarku
dan kamar adikku berada di lantai dua, sedangkan ruang tengah ada di lantai
satu.
"……Soal
suara dan semacamnya, kalau nanti……"
Aku
mengetuk kepala Namika yang wajahnya memerah padam dan bergumam tidak jelas.
"Sudah
kubilang, dia bukan pacarku."
"Kalau begitu…… kalian hubungan 'itu' saja!?"
"Tenanglah, bodoh. Tidak akan terjadi apa-apa, jadi
jangan khawatir."
Aku mencoba mengusap kepalanya, dan tampaknya Namika
perlahan mulai tenang.
Namun, seolah baru tersadar sepenuhnya, dia menepis tanganku
dan berteriak, "Menjijikkan!" dengan wajah yang kembali memerah.
Kakakmu ini sedih tahu, diperlakukan seperti itu……
"……Ngomong-ngomong, orang itu, Hoshimiya Hikari-san,
kan?"
Namika yang akhirnya tenang bertanya begitu, membuatku
terkejut.
"Kamu kenal
dia?"
"Tentu saja
tahu. Aku cuma pernah lihat di Minsta. Dia kan terkenal sebagai gadis tercantik
di Suzunari. Anak laki-laki di kelasku bahkan sering melihat akun Minsta-nya
Hoshimiya-san."
Hoshimiya
ternyata seterkenal itu, ya……
Padahal jarak
dari SMP tempat Namika sekolah ke Suzunari jauh dan tidak ada hubungannya sama
sekali.
Memang, aku
pernah berpikir kalau jumlah pengikut dan Like di setiap unggahannya di
Minsta sangat luar biasa.
"Lagipula, aslinya benar-benar manis, ya…… Boleh aku
lihat sekali lagi?"
Namika bertanya dengan ragu-ragu, tapi aku menyuruhnya untuk
"Cepat tidur sana," lalu aku kembali ke kamar.
*
Saat kembali ke kamar, Hoshimiya sedang menatap
langit-langit dengan tatapan kosong.
Dia duduk di atas karpet yang digelar di lantai, bersandar
pada tempat tidur.
"……Apa kamu sudah berhasil membujuk adikmu?"
"Yah, begitulah."
Aku menjawab begitu sambil duduk di samping Hoshimiya.
Keheningan
menyelimuti ruangan, dan rasa nyata akan situasi ini mulai merasuk.
Karena gerah, aku
menyalakan AC. Keringat yang muncul akibat berlari ke stasiun tadi terasa tidak
nyaman. Aku harus mandi. ……Bukan cuma aku, Hoshimiya juga. Aku mencoba
untuk tidak memikirkannya, tapi pergi ke tempat lain sekarang juga tidak
realistis. Artinya, Hoshimiya tidak punya pilihan selain menginap di sini.
"……Kamu mau menginap?"
Menanggapi pertanyaanku yang terasa terlambat, Hoshimiya
mengangguk, "……Un."
"Kamu pasti
mau mandi, kan? Nanti kusiapkan handuk dan pakaian ganti."
"Ah, aku
sudah bawa baju ganti. Karena niat awalnya kabur dari rumah dan berencana
menginap di hotel."
Hoshimiya
berkata begitu sambil menepuk ransel yang ada di sampingnya.
Aku
memang merasa ranselnya lebih besar dari tas yang dia bawa siang tadi, jadi
rupanya dia sudah bersiap.
Tampaknya, dia
tidak kabur hanya karena terbawa emosi sesaat.
"Kamar
mandinya ada di lantai satu."
"Un."
Entah mengapa,
kurasa pembicaraan kami jadi sangat minim.
Tentu saja aku
gugup. Apakah Hoshimiya juga merasa gugup?
Kami
menuruni tangga, dan aku mengantarnya ke kamar mandi.
Lampu ruang tengah sudah padam. Namika mungkin sudah kembali ke kamarnya.
Hoshimiya
meletakkan tas berisi pakaian ganti yang dia bawa dari kamar di samping mesin
cuci.
"Handuknya
ada di sana. Silakan pakai sampo atau apa pun yang ada sepuasnya."
Hoshimiya
mengangguk pelan.
"Kalau
begitu…… aku akan menunggu di ruang tengah."
Aku
berkata begitu lalu melarikan diri dari kamar mandi.
Memikirkan bahwa
Hoshimiya akan menggunakan kamar mandi rumahku membuat pikiranku melantur ke
mana-mana.
Untuk mengusir
bayang-bayang itu, aku menyalakan lampu ruang tengah dan televisi.
Aku
mengoperasikan remote untuk menampilkan acara musik acak, tapi aku sama
sekali tidak bisa fokus.
Sayup-sayup terdengar suara pancuran air dari arah kamar
mandi. Begitu pintu ruang tengah kututup, aku berhasil meredam suaranya. Aku
menarik napas dalam-dalam perlahan, mencoba mengalihkan pikiranku.
Hoshimiya sedang lemah saat ini. Itulah sebabnya dia
mengandalkanku. Aku yang diandalkan tidak boleh memikirkan hal-hal kotor
seperti itu. Akulah yang harus menjadi tempat bersandar bagi hatinya.
Sambil memegang tekad yang kuat itu, aku terus menonton
acara musik tersebut.
Waktu berlalu tanpa aku menyadari lagu apa yang sedang
diputar.
……Sudah berapa
lama, ya?
Terdengar suara
ketukan, kon-kon. Aku membuka pintu ruang tengah.
"……Terima
kasih sudah meminjamkan kamar mandinya."
Hoshimiya masuk
ke ruang tengah dengan rambut yang masih basah.
Pakaiannya tidak
seperti piyama pada umumnya. Dia mengenakan kaus putih yang agak kebesaran dan
celana pendek berbahan katun. Karena celananya sangat pendek, sesaat dia
terlihat seperti hanya mengenakan kaus saja. Dari batas kedua pakaian itu, paha
mulusnya mengintip keluar.
Tanpa sadar, aku
menelan ludah.
"Hei, ada
stopkontak di mana?"
Entah dia tahu
isi hatiku atau tidak, Hoshimiya melihat ke sekeliling.
Di tangannya ada hairdryer.
Itu bukan milik rumah kami. Pasti dia membawanya sendiri.
"Ada di
sana."
Saat aku menunjuk
ke samping sofa tempatku duduk, Hoshimiya secara alami duduk di sebelahku.
Lalu, dia
mulai mengeringkan rambutnya dengan hairdryer.
"Natsuki-kun,
kamu tidak mandi?"
"A, ah…… benar juga. Baiklah, aku mandi dulu."
Aku menjawab begitu dan berhasil kabur dari ruang tengah,
tapi kamar mandi pun jadi masalah.
……Maksudku, mengetahui bahwa Hoshimiya baru saja mandi di
sana membuat situasinya sangat aneh. Aroma manis seperti sisa wangi tubuhnya samar-samar masih tercium. Ga,
gawat!
Jangan pikirkan
apa-apa!
Kosong. Sekarang,
aku harus mengosongkan pikiranku――.
Sambil melakukan
pelatihan mental sekelas petarung di manga, aku akhirnya berhasil keluar dari
kamar mandi.
*
Aku kembali ke
kamarku bersama Hoshimiya yang sudah selesai mengeringkan rambutnya di ruang
tengah.
"Kalau kasur
untuk tamu, sih, ada... tapi mau dipasang di mana?"
Aku bertanya pada
Hoshimiya sembari membuka lemari untuk memastikan keberadaan kasur lipat itu.
Hoshimiya adalah
seorang gadis. Mungkin dia merasa tidak nyaman jika harus tidur di kamar yang
sama denganku.
Lagipula, orang
tuaku sedang tidak pulang hari ini, jadi dia bisa saja tidur dengan
membentangkan kasur di ruang tamu.
Begitu
kusampaikan penjelasan itu, Hoshimiya menggelengkan kepalanya pelan.
"......Aku
ingin kamu tetap di sini."
Mendengar
suaranya yang sedikit bergetar, aku tidak berkata apa-apa dan hanya mengangguk.
Aku
membentangkan kasur di atas karpet di samping tempat tidur. Hoshimiya duduk
bersila di atasnya.
Aku
menuangkan teh gandum yang tadi kuambil dari kulkas ke dalam gelas.
Saat
kuberikan padanya, dia meminumnya sedikit demi sedikit sembari bergumam,
"......Dingin."
Karena
aku duduk di atas tempat tidur, posisiku jadi menatap Hoshimiya yang bersandar
pada pinggiran ranjang. Aku sempat melirik layar ponsel yang sedang ia tatap.
Di sana, deretan panggilan tak terjawab muncul memenuhi layar.
"......Aku
harus menelepon balik."
"......Kurasa
begitu. Paling tidak, kau harus memberi tahu kalau kau baik-baik saja."
Di saat yang
bersamaan, panggilan masuk kembali muncul. Nama yang tertera di layar tentu
saja Hoshimiya Sei. Karena Hoshimiya telah mematikan nada dering dan getarnya,
ponsel itu hanya menampilkan notifikasi tanpa mengeluarkan suara.
Harus kuangkat, ucap Hoshimiya. Wajahnya pucat dan
tangannya gemetar. Aku turun dari tempat tidur ke sampingnya, lalu memberanikan
diri untuk menggenggam tangannya yang tidak memegang ponsel.
Hoshimiya
menatapku dengan ekspresi terkejut.
Kemudian,
dia menggenggam tanganku balik dengan erat.
"......Halo."
『Hoshimiya!?
Kamu di mana sekarang!? Ayah khawatir sekali!』
Terdengar nada
suara yang sangat panik.
Setidaknya,
kurasa kata-kata itu bukan sebuah kebohongan.
"......Maafkan
aku."
『Jangan
melakukan hal konyol seperti kabur dari rumah, cepat pulang! Pokoknya, beri
tahu Ayah di mana kamu sekarang! Ayah akan segera menjemputmu!』
Suara yang
terdengar seperti bentakan itu menggelegar.
Terlepas dari apa
yang dikatakannya, sama sekali tidak ada kelembutan dalam nada suaranya.
Grep. Jemari Hoshimiya yang ramping
meremas telapak tanganku dengan kuat.
"......Ayah.
Aku tidak akan pulang."
Meski
suaranya bergetar, Hoshimiya tetap menyatakan pendiriannya dengan tegas.
『Hoshimiya?
Ada apa denganmu? Apa ini karena Ayah menyuruhmu berhenti menulis novel hari
ini? Ayah melakukan ini demi kebaikanmu. Kamu bisa menjalani kehidupan yang
lebih berarti. Bukankah kamu gadis yang cukup pengertian untuk memahami itu?
Dulu kamu bukan anak yang keras kepala seperti ini.』
......Berhenti
menulis novel, katanya?
Hal semacam itu
yang dia katakan padanya?
Kehidupan yang lebih berarti? ......Apa maksudnya itu?
Menyangkal hobi yang sudah ditekuni Hoshimiya sejak kecil
dengan alasan konyol seperti itu?
"Tidak,
Ayah. Aku memang anak yang seperti ini. Selama ini, aku hanya memendam semuanya."
『Apa yang kamu
katakan? Ayah tidak ingat pernah membesarkanmu menjadi anak yang berani bicara
seperti itu.』
"Iya,
kan. Sebenarnya aku pun tidak berniat mengatakan hal ini. Karena aku sudah menyerah pada segalanya. Aku
pikir lebih baik melakukan semua yang Ayah katakan. Kalau aku tidak membantah,
aku tidak akan dimarahi. Meskipun aku tidak punya kebebasan seperti anak-anak
lain, aku pikir itu hal yang wajar."
Seperti jeritan
kecil, Hoshimiya terus menumpahkan isi hatinya.
"......Tapi,
tetap saja tidak bisa. Aku tidak bisa menyerah pada segalanya. Meskipun Ayah
bilang tidak boleh, ada hal-hal yang tetap ingin kulakukan. Aku tidak bisa
berhenti menulis novel yang sudah aku tekuni selama ini. Aku tidak bisa
menyerah pada impianku untuk menjadi seorang novelis."
『Hoshimiya, Ayah
sudah bilang berkali-kali, Ayah melakukan ini demi dirimu—』
"Lagipula!
Aku juga ingin bermain bersama teman-temanku! Aku ingin pergi ke laut bersama
mereka. Ini pertama kalinya aku punya teman yang sangat berharga......
Aku tidak mungkin menjaga jarak dengan mereka."
......Menjaga
jarak? Apa maksudnya?
『Apa yang...... kamu
pikir tindakan egois seperti itu bisa dibenarkan!?』
"Kenapa,
kalau aku egois itu salah? ......Tolong, biarkan aku sedikit lebih bebas."
Meninggalkan
gumaman itu, Hoshimiya memutus sambungan telepon.
Dalam kesunyian
yang mencekam, suara serangga berbunyi di luar jendela menyelinap masuk.
Meski tangan kami
masih bertautan, Hoshimiya tidak berusaha melepaskannya.
Dia terus menatap layar ponselnya.
Seolah baru teringat, dia mengirim pesan melalui RINE
yang berisi, "Aku sedang berada di rumah teman, jadi jangan
khawatir." Pesan itu ditujukan kepada ibu Hoshimiya, bukan kepada Sei.
Aku tidak bisa memikirkan kata-kata yang menenangkan atau
canggih.
Jadi, aku tidak mengatakan apa-apa.
Aku hanya duduk di sampingnya, terus menggenggam tangannya.
Menunjukkan
padanya bahwa dia tidak sendirian.
"......Aku
sengaja tidak ingin membuat sesuatu yang berharga."
Tak lama
kemudian, Hoshimiya membisikkan kata-kata itu.
"Kalau
begitu, akan lebih mudah untuk menyerah. Faktanya, aku bisa menyerah pada
sebagian besar hal. Rasanya seperti aku memang tidak pernah menginginkan
apa pun sejak awal...... tapi, pada akhirnya aku tetap tidak bisa menjadi
boneka."
"......Karena ada hal-hal yang memang tidak bisa kita
lepaskan, bukan?"
Sama seperti masa mudaku yang seperti itu.
Saat Hoshimiya melepaskan tanganku, dia mengeluarkan
tumpukan kertas dari dalam tas punggungnya.
"Dulu aku
tidak punya teman. Dunia novel adalah satu-satunya penyelamatku."
Itu adalah naskah
novel Hoshimiya yang kubaca di siang hari.
"Secara
alami, aku jadi suka membaca novel, mulai berimajinasi, mulai menulis, lalu aku
juga jadi suka menulis. Aku ingin membuat orang yang membacanya terhibur, aku
ingin menyampaikannya kepada banyak orang...... sampai akhirnya aku berpikir,
aku ingin menjadi seorang novelis."
Hoshimiya
menyentuh naskahnya sendiri, menelusuri deretan kata yang ia tulis dengan
jemarinya.
"Tadi, setelah itu...... aku pulang ke rumah dan sempat
sampai sebelum jam malam."
Perlahan-lahan,
Hoshimiya mulai menceritakan apa yang terjadi.
Alasan mengapa
dia memutuskan untuk menentang Sei, bahkan sampai kabur dari rumah.
"Tapi, entah
kenapa Ayah marah. Dia memang sudah dalam suasana hati yang buruk karena
masalah rencana perjalanan kami......"
――Meski
tidak melanggar jam malam, waktunya memang sangat mepet.
Melihat hal itu,
Sei tampaknya menginterogasi apa saja yang dilakukan Hoshimiya hari ini.
Hoshimiya
menjawab bahwa dia menulis novel di kafe. Bersama teman-temannya.
Sei, yang sejak
awal memang tidak terlalu menyukai hobi putrinya itu, mungkin merasa ini adalah
kesempatan yang pas. Dia langsung memerintahkan Hoshimiya untuk berhenti
menulis novel. Seperti yang dia katakan di telepon, dia berargumen bahwa
Hoshimiya seharusnya menghabiskan waktu dengan hal yang lebih berguna, seperti
belajar, berolahraga, atau menambah wawasan.
Menanggapi hal
itu, Hoshimiya menggelengkan kepala. Sei terlihat sangat terkejut. Mungkin
karena Hoshimiya, yang biasanya selalu menuruti perkataannya, tiba-tiba
melawan. Sei mencoba membujuknya, tapi Hoshimiya bersikeras menolaknya. Bahkan,
dia sampai berani mengatakan ingin menjadi seorang novelis.
"Ekspresinya
benar-benar terlihat konyol. Mungkin seperti perasaan disambar petir di siang
bolong? Karena aku tidak pernah mengatakan pada siapa pun kalau aku ingin
menjadi novelis, bahkan pada Yuno-chan...... baru pada Natsuki-kun hari ini aku
mengatakannya."
Tentu saja Sei
marah. Dia bilang
tidak pernah mendengar hal semacam itu.
Dia
bilang tidak perlu menjadi profesi yang tidak stabil dan belum tentu bisa
diraih.
"Aku
berterima kasih pada Natsuki-kun. Selama ini, aku terus membohongi diriku
sendiri. Saat aku menyatakannya pada Natsuki-kun, aku akhirnya jadi percaya
diri bahwa ini adalah impian masa depanku."
Meski ketakutan,
Hoshimiya tampak berusaha keras untuk mempertahankan keinginannya.
Melihat hal itu,
alih-alih mengakuinya, Sei justru berusaha semakin mengekang Hoshimiya.
――Jaga
jarak dengan teman-temanmu yang sekarang, perintahnya.
"Mungkin
karena masalah perjalanan itu juga, dia pikir aku mendapat pengaruh buruk dari
teman-temanku."
Tentu
saja aku bilang tidak mau, lanjut Hoshimiya.
Jika begitu,
setidaknya pilih salah satu, kata Sei.
Mungkin dia
mencoba mengendalikan Hoshimiya dengan memberikan pilihan seperti itu.
"Aku sempat
berpikir sejenak. ......Kalau diriku yang dulu, mungkin aku sudah memilih untuk
menjaga jarak dengan teman-temanku. Karena dulu, aku hanya menjalin hubungan di
permukaan saja dan selalu membangun tembok dengan orang lain."
Tapi, Hoshimiya
bilang dia ingin menghargai keduanya.
"......Sejak
Yuno-chan berada di sisiku, lalu aku bertemu Natsuki-kun, Shi-chan, Reita-kun,
dan Tatsuya-kun, tiba-tiba saja aku jadi akrab dengan kalian semua, dan aku
jadi menyayangi kalian."
Benar,
kan? Ucapnya sambil menatapku dan tersenyum tipis.
"Mustahil
kalau harus menjaga jarak sekarang. Aku juga ingin terus bersama kalian."
Namun,
Sei tidak mau mengubah pendiriannya.
Hoshimiya
pun tidak punya rasa percaya diri untuk bisa berargumen langsung dan meyakinkan
Sei.
Itulah sebabnya
dia kabur dari rumah dan berada di sini sekarang.
Setidaknya untuk
menunjukkan lewat sikapnya bahwa dia sedang melawan.
"......Begitu,
ya. Aku pun tidak bisa menerimanya. Aku sudah tidak bisa membayangkan hidup
tanpa Hoshimiya."
"......Natsuki-kun
curang. Selalu mengatakan hal-hal keren seperti itu."
"Bukan
begitu, ini benar-benar isi hatiku, lho? Sebagai teman."
"......Ya,
aku tahu. Terima kasih, aku senang."
Tanpa disadari,
jarum jam sudah melewati angka dua belas.
Karena asyik
mengobrol, kami tidak sadar hari sudah beranjak dini hari.
"......Tidurlah."
"......Iya."
Aku beranjak dari
samping Hoshimiya dan naik ke tempat tidur.
Terdengar
suara gesekan dari kasur di bawah. Hoshimiya pasti sedang menyelimuti dirinya.
"AC-nya
dibiarkan menyala saja, ya?"
"......Iya.
Tapi, boleh tolong naikkan suhu pengaturannya?"
"Kamu tipe
yang tidur pakai lampu tidur?"
"Aku lebih
suka gelap gulita."
"Mengerti. ......Kalau begitu, selamat malam,
Hoshimiya."
"......Selamat
malam, Natsuki-kun."
Aku mematikan
lampu dan menutupi tubuh dengan selimut tipis.
Meski biasanya
ini adalah jam tidur, rasa kantuk sama sekali tidak datang saat aku memejamkan
mata.
Tentu saja,
karena ada keberadaan orang lain di kamar ini. Terdengar suara gesekan pakaian.
Terdengar pula helaan napas yang tipis.
Gadis yang
kusukai sedang tidur di kamarku.
"......Natsuki-kun,
masih bangun?"
"......Ada
apa?"
Tiba-tiba
Hoshimiya bergumam. Apa dia juga tidak bisa tidur?
"Aku, suka
Natsuki-kun."
Begitu, ya. Suka
Natsuki-kun, ya. ......Suka Natsuki-kun? Suka Natsuki-kun? Hoshimiya!? What!? Apa yang terjadi!? Apa yang
baru saja terjadi!?
"......Aku
juga sangat menyukai kalian semua."
......Ah, begitu
ya. Maksudnya yang seperti itu, ya. Tipe teman-teman gitu, kan? Iya. Aku sudah
tahu itu sejak awal. Jadi, aku sama sekali tidak terguncang. Tentu saja.
"Sebenarnya,
awalnya aku tidak suka Natsuki-kun."
"Uh......
b-begitu, ya."
Pisau kata-kata
yang mendadak itu menusukku.
"Kamu sok
keren, agak mencurigakan, tapi meski begitu selalu mendekat, dan aku kesal
melihat wajahmu yang seolah bisa melakukan segalanya baik belajar maupun
olahraga padahal tidak berusaha."
"Tunggu, tunggu, tunggu...... bisa berhenti sampai di
situ? Mentalku ini terbuat dari
kaca, lho."
Saat aku
mengatakannya dengan suara lemas, Hoshimiya tertawa kecil.
Jadi
begitu ya penilaiannya tentang diriku...... begitu, ya......
Padahal,
berkat menjaga penampilan, sejujurnya aku merasa kesan orang terhadapku tidak
buruk-buruk amat......
Memang
benar, hati manusia itu sulit ditebak......
"......Tapi,
sejak aku melihatmu bertengkar di atap dengan Tatsuya-kun, tiba-tiba saja aku
merasa dekat. Ah, mungkin orang ini mirip denganku, pikirku."
"......Entahlah.
Aku hanya sedang bersikap keras kepala saja saat itu."
Intinya,
aku hanya melakukan segala sesuatu dengan hati-hati dan teliti. Berkat
pengalaman tujuh tahun yang tidak diketahui orang lain, aku bisa melakukannya
dengan baik, bukan berarti aku mengubah kepribadianku.
"Tapi,
lihatlah. Awalnya aku juga gadis yang suram dan membosankan. Itu hanya empatiku secara sepihak saja
sih. Mungkin kamu tidak akan memahaminya."
"......Yah,
meski dibilang Hoshimiya dulu adalah gadis yang suram dan pendiam, aku tidak
bisa membayangkannya."
Sekarang dia
adalah gadis yang ceria, terang, sedikit ceroboh, dan gadis cantik idola yang
populer di kalangan semua orang.
"Lihat ini.
Agak memalukan sih."
Terdengar suara
Hoshimiya bergerak di bawah, jadi aku mengalihkan pandangan ke sana.
Dari
kasur, Hoshimiya mengangkat ponselnya. Di tengah kegelapan, layarnya bersinar.
Di sana
terpampang foto seorang gadis yang mungkin masih duduk di sekolah dasar.
Rambutnya panjang
sampai menutupi mata dan dia memakai kacamata yang terlihat norak.
"......Eh?
Ini, jangan-jangan Hoshimiya?"
"Iya. Dulu
aku tidak punya satu pun teman."
"Heh...... Hoshimiya...... entah bagaimana, ini
benar-benar tak terduga."
"Itu karena
kemampuan penyamaranku hebat. Kamu boleh memujiku, lho?"
Fufun, Hoshimiya berkata dengan suasana hati
yang baik.
Apakah sikap
seperti itu juga bagian dari penyamarannya?
"Itu, apa
tidak melelahkan?"
Alasan aku
menanyakan itu adalah karena pengalamanku sendiri.
Saat aku sedang
bersikap sok keren di awal, sejujurnya aku merasa sedikit lelah. Aku terlalu
sadar untuk melakukan segalanya dengan sempurna, dan aku takut menunjukkan jati
diriku yang asli. Masalah itu terselesaikan berkat Miori, sih.
"......Entahlah.
Karena aku sudah terbiasa, aku tidak lagi merasa janggal dengan diriku yang
seperti ini."
Siapa diriku
yang sebenarnya, ya?
gumam Hoshimiya seperti tetesan embun.
Nada bicaranya
yang datar itu adalah Hoshimiya yang tidak kukenal. Hoshimiya yang selalu ceria
dengan nada bicara yang lembut dan senyum manis tidak ada di sini sekarang.
Hari ini, aku melihat banyak sisi lain dari Hoshimiya.
"Setelah
itu, sedikit demi sedikit Natsuki-kun mulai menunjukkan jati dirimu, dan aku
jadi ingin lebih mengenal Natsuki-kun yang asli...... lalu kamu mengajakku bicara tentang novel dan
film yang aku sukai...... ah, ternyata orang ini benar-benar seorang otaku
kalau bicara, dan itu jadi menarik......"
"......Berisik.
Kalau bicara soal itu, Hoshimiya juga otaku banget kalau lagi bahas cerita. Sama sekali tidak bisa menyembunyikannya,
tahu. Kamu itu gadis otaku biasa."
"U-berisik
ah. Biarin aja, kenapa sih. Kalau idola sekolah punya satu hobi kayak gitu,
justru jadi lebih terasa ramah, kan? Jadi, sama sekali bukan karena aku ingin
bercerita—"
"......Hoshimiya,
apa kamu menganggap dirimu sendiri idola sekolah?"
Yah, faktanya
memang begitu, tapi cara dia mengatakannya seolah-olah dia mengakui status itu
sendiri.
Terdengar
suara gerak-gerik di samping. Saat kulihat, Hoshimiya sedang berguling-guling
dibalut selimut.
"......Natsuki-kun,
kamu menjebakku, ya?"
Terdengar
suara yang penuh kebencian, tapi itu benar-benar tuduhan palsu.
"Tidak,
bukannya kamu yang terjebak sendiri?"
Entah
kenapa, aku jadi bisa merespons Hoshimiya dengan dingin seperti ini.
Apa ini
artinya aku sudah jadi lebih akrab dengannya?
Apapun itu,
keteganganku perlahan mulai mencair.
"Bukan karena aku menganggap diriku idola, hanya
saja...... aku hanya menjalankan diriku dengan pengaturan seperti
itu......"
Hoshimiya
berkata dengan suara yang nyaris hilang. Sepertinya dia merasa sangat malu.
Dia masih
berguling-guling dengan selimut, wajahnya kini ia benamkan ke bantal.
"Itu, tidak
panas?"
"......Panas.
Berisik ah."
Mendengar
kata-kata yang seolah sedang merajuk itu, aku tanpa sadar tertawa.
"......Aku
tidur. Jangan ajak aku bicara."
Padahal yang
mengajak bicara dari tadi itu Hoshimiya, tapi aku hanya mengangguk "Ya,
ya" lalu memejamkan mata.
Setelah beberapa
saat memejamkan mata, rasa kantuk yang sesungguhnya mulai datang.
Saat aku
membiarkan diriku hanyut dalam sensasi seolah kesadaranku tenggelam ke dasar
air, tiba-tiba entah dari mana, sebuah suara terdengar samar.
"......Terima
kasih, sudah menyelamatkanku."
*
Saat aku membuka
mata, Hoshimiya yang memakai kacamata sedang menatapku.
"......Ah,
sudah bangun? Selamat pagi."
Apa ini mimpi?
Ini pasti mimpi, kan. Selamat tidur lagi.
"......Ah,
tidur lagi."
Aku mencoba
berpura-pura tidur, tapi sepertinya ini bukan mimpi.
Sudah saatnya
menghadapi kenyataan,
pikirku sambil membuka mata sekali lagi.
Mataku bertemu
dengan mata Hoshimiya. Jaraknya dekat. Dekat sekali sampai helaan napas kami
hampir bersentuhan.
"......Selamat
pagi."
Saat aku berusaha
membalas kata-katanya, Hoshimiya menutup mulutnya dengan tangan dan tersenyum
kecil.
Apakah dia
malaikat? Wajahnya terlalu bagus sampai membuatku curang. Kekuatan penghancur
ini terlalu berat untukku yang baru bangun tidur.
Aku
perlahan bangun dan melihat jam. Mungkin karena kami mengobrol sampai larut
malam kemarin, waktunya lebih siang dari biasanya. Jika hari biasa, seharusnya
sekarang waktunya menyiapkan sarapan.
"Wajah
tidur Natsuki-kun, lucu ya."
Hoshimiya
sedang dalam suasana hati yang sangat baik. Dia menusuk-nusuk pipiku.
Hei, itu
curang!
Tapi, sekarang
aku tahu bahwa Hoshimiya melakukan ini dengan cukup sadar.
Bagaimanapun,
Hoshimiya adalah idola sekolah (mengaku sendiri). Iya, dia mengaku sendiri.
Jadi, aku
tidak akan...... tidak akan jatuh hati hanya dengan hal seperti ini...... kuh,
sial! Dia terlalu lucu!
"Ada
apa? Wajahmu merah, lho?"
Karena aku mulai
kesal karena terus dipermainkan sesuai keinginannya, aku memutuskan untuk
membalasnya.
Saat aku menusuk
balik pipinya, Hoshimiya gemetar terkejut.
"......H-Hoshimiya,
hari ini juga lucu, ya?"
Entah kenapa aku
malah salah bicara, suaraku bergetar, dan terdengar sangat menjijikkan.
"......"
"......"
Suasana canggung
apa ini. Sial, seharusnya aku tidak melakukannya......
Hoshimiya membeku dengan wajah memerah. Ini...... dia pasti merasa tidak enak karena
ucapanku barusan terlalu memalukan...... Benar-benar minta maaf, aku terbawa
suasana......
"......K-Kak?"
Karena mendengar
suara dari arah pintu, aku dan Hoshimiya buru-buru menjaga jarak.
Ternyata Namika
sudah membuka pintu sedikit dan mengintip. Hei, ketuk pintu dulu kek!
Namika bergantian
menatap kami dengan wajah memerah, lalu bertanya.
"Itu,
sarapannya......?"
Adikku sayang,
sesekali buatlah sendiri.
*
Aku menuju dapur
untuk membuat sarapan ala kadarnya.
"Apa aku
boleh membantu sesuatu?"
"Kalau
begitu, boleh tolong tuangkan teh gandum saja?"
Hoshimiya
menjawab "Iya!", tapi Namika memotong pembicaraan, "Tidak,
tidak!"
"Natsuki-niisan,
biar aku saja yang melakukannya! Nii-san yang masak saja!"
"Setidaknya
lakukanlah sendiri."
Saat aku
menyindirnya, Namika mencoba menenangkanku dengan, "Ya, ya, ya."
Jangan coba-coba mengalihkan pembicaraan dengan begitu. Aku tidak keberatan
melakukannya, tapi berusahalah sedikit.
Melihat
interaksiku dengan adikku, Hoshimiya tampak senang dan terus tersenyum.
"Entah
kenapa, Natsuki-kun kalau di rumah terlihat segar, ya."
"Begitukah?"
"Bukankah
Natsuki-kun biasanya bersikap lebih sopan pada semua orang?"
"Hmm,
akhir-akhir ini tidak juga sih, tapi ya...... tentu saja, kalau dibandingkan
dengan keluarga."
"Eh, apa
itu? Kalau gitu, bersikap sopan padaku juga dong."
Mengabaikan
Namika yang mengeluh dengan tidak puas, aku memasukkan telur ke penggorengan.
Saat aku membuat
sarapan sederhana, Hoshimiya dan Namika mulai mengobrol.
Namika yang
mengajak bicara dengan kikuk, ditanggapi oleh Hoshimiya dengan senyuman lembut.
"......Ngomong-ngomong, apa kalian berpacaran? Aku tidak menyarankannya, lho?"
"Benarkah?
Natsuki-kun orang yang baik, kok."
"Tidak,
tidak, sebenarnya dia punya sifat asli seperti bos kejahatan...... eh, kalian
benaran pacaran!?"
"Jangan
bicara yang tidak-tidak, Namika. Hoshimiya, jangan main-main sama Namika,
tolong sangkal saja."
"Ahaha,
maaf, maaf."
Sambil berdebat
seperti itu, sarapan pun selesai.
Penyajian
dilakukan oleh Hoshimiya dan Namika berdua. Gadis-gadis memang cepat sekali akrab, ya.
"Yey,
masakan tangan Natsuki-kun."
"Bukan
apa-apa, aku cuma asal memanggang telur, ham, dan sosis saja."
Sup misonya sisa
kemarin, dan nasinya adalah sisa kemarin yang dibekukan.
Itu sama sekali
tidak bisa disebut masakan. Meski aku sudah mengatakannya, Hoshimiya tetap
terlihat senang.
"Soalnya
saat semua orang pergi ke tempat Natsuki-kun bekerja paruh waktu, aku tidak
bisa ikut."
Aku sempat
berpikir sesaat, kapan itu?
Saat aku dan
Nanase sedang bekerja, Tatsuya dan yang lainnya datang bertiga untuk minta
masakan.
Aku ingat
Hoshimiya mengirim pesan di grup RINE bilang, "Curang!".
......Mungkin
sejak saat itu, Hoshimiya sudah banyak menahan diri.
Hal-hal
kecil seperti itu menumpuk, dan ditambah lagi impian masa depannya serta
teman-temannya hendak direnggut.
Apalagi,
oleh keluarganya sendiri. Oleh ayah yang seharusnya sudah membesarkannya sampai
sejauh ini.
"......Natsuki-kun?"
Hoshimiya
memiringkan kepalanya dengan bingung.
"......Tidak
apa-apa."
Aku menggelengkan
kepala dan mulai menyantap sarapanku.
*
Aku senang
Hoshimiya ada di sini.
Tapi masalah
nyatanya adalah, dia tidak bisa terus-menerus berada di sini.
Sekarang setelah
satu hari berlalu dan suasana sudah tenang, kami harus memikirkan cara
penyelesaiannya.
Sambil memikirkan
hal itu, aku kembali ke kamar dan membuka pintu.
"――Ah.
Tu-tunggu sebentar――"
Saat suara
Hoshimiya terdengar, sudah terlambat.
"…………Hae?"
Hal pertama yang
tertangkap oleh mataku adalah bra putih. Dia segera menutupinya dengan lengan yang
menyilang.
Namun,
ukurannya jelas tidak bisa disembunyikan oleh kedua lengan. Kesadaranku
tersedot ke belahan dadanya yang dalam. Saat aku panik dan menurunkan
pandangan, garis pinggang yang melebar dari perutnya yang ramping terlihat
indah, dan dari bagian yang tertutup kain segitiga putih itu, paha mulusnya
menjulur keluar――
"......Itu.
Tolong jangan melihat terlalu dalam."
Mendengar
suara Hoshimiya yang hampir hilang dengan wajah yang memerah padam, aku kembali
sadar.
"M-maaf!"
Aku
buru-buru berbalik dan lari keluar kamar lalu menutup pintu.
Deg-deg, jantungku berdetak kencang. Di
dalam kamar, terdengar suara gesekan pakaian.
Penampilan
Hoshimiya dengan pakaian dalamnya terpatri di mataku dan tidak bisa hilang.
Lagipula,
dia ternyata lebih berisi dari yang kubayangkan...... bahkan lebih dari yang
kupikirkan......
"......Boleh
masuk."
Karena
suara terdengar dari dalam kamar, aku menarik napas dalam-dalam sebelum membuka
pintu.
Hoshimiya sudah
berganti pakaian untuk keluar. Terusan berwarna dasar putih itu terlihat
manis.
"......Soal tadi, maaf ya."
"Aku juga, maaf ya. Aku pikir aku bisa segera berganti
baju saat kamu tidak ada."
Karena dia tidak terlihat marah, aku merasa lega.
Namun, Hoshimiya sedikit memanyunkan bibirnya dengan tidak
puas dan berkata.
"......Kurasa tidak perlu melihat setajam itu."
Ya,
memang benar begitu....... Aku tidak punya alasan untuk membela diri.......
Hoshimiya
bergumam pelan, "......Mesum." Aku pura-pura tidak mendengarnya.
"Jadi,
bagaimana rencanamu hari ini?"
Saat aku bertanya
sembari mengalihkan pembicaraan, ekspresi Hoshimiya berubah menjadi serius.
"......Semalam,
aku sudah banyak berpikir."
Hoshimiya
duduk di tepi tempat tidur. Aku pun duduk di sampingnya.
"Kalau
terus melarikan diri seperti ini, tidak akan ada yang berubah."
"......Benar
juga. Dia tidak akan mengubah
pemikirannya semudah itu."
Tentu saja, soal
Sei, Hoshimiya pasti lebih paham daripada aku. Dia mengangguk mantap.
"Makanya,
aku harus memanfaatkan kesempatan ini untuk membujuknya. Aku harus berjuang dan
menang."
"Kalau bisa
melakukannya, kurasa itu yang terbaik...... tapi apakah kamu punya rencana
konkret?"
Saat aku
bertanya, Hoshimiya mengerang dengan wajah yang tampak kesulitan.
"Mari kita
rangkum situasinya."
Aku berkata
begitu sembari mengangkat satu jariku.
"Sekarang
kamu sedang kabur dari rumah untuk melawan Sei. Alasannya karena hobimu dan
impian masa depanmu disangkal, serta disuruh menjaga jarak dengan
teman-temanmu. Sejauh ini, aku tidak salah, kan?"
Hoshimiya
mengangguk kecil.
Ada empat masalah
yang harus kita pecahkan.
Pertama, larangan
melakukan hobi yang sudah ditekuni sejak lama, yaitu menulis novel.
Kedua, desakan
untuk menyerah pada impian masa depan sebagai seorang penulis novel.
Ketiga, perintah
untuk menjaga jarak dengan teman-temanmu sekarang.
Terakhir,
pengendalian diri yang terlalu ketat dari Ayahmu sendiri.
Setelah
aku memperjelas masalahnya dengan mengangkat empat jari, Hoshimiya mengangguk
sekali lagi.
Alasan
Sei melarangmu menulis novel adalah karena dia merasa ada kehidupan yang lebih
bermanfaat. Dia berpikir sebaiknya kamu menggunakan waktumu untuk hal lain,
seperti belajar atau berolahraga.
Alasannya
melarangmu menjadi novelis mungkin karena dia sudah memiliki gambaran masa
depan ideal untuk putrinya. Profesi tidak stabil seperti novelis tidak ada
dalam daftar idealnya, dan belum tentu kamu bisa meraihnya.
"......Kurasa
kita perlu menyiapkan jawaban yang realistis untuk poin ini."
Mungkin tidak
terlalu paham maksud perkataanku, Hoshimiya mengerjapkan matanya.
"Misalnya,
kamu tetap mengejar impian sebagai novelis tapi tidak mengabaikan pilihan lain.
Seperti tetap lanjut sekolah dan mencari pekerjaan secara normal sembari
mencoba debut...... begitu?"
Intinya, kita harus menunjukkan bahwa kamu tidak sedang
berangan-angan, tapi punya rencana yang realistis.
Sei memang keras kepala, tapi dia adalah sosok yang berhasil
membangun perusahaan besar hingga posisinya sekarang. Kurasa bicara dengan emosi tidak akan mempan, tapi
jika bisa dijelaskan secara logis, mungkin ada kemungkinan dia akan mengerti.
"Kalau
begitu, sebenarnya aku memang berniat begitu. Cukup dengan mencari tahu sedikit
saja, aku paham kalau profesi ini sulit untuk menghidupi diri sendiri kalau
tidak laku. Bahkan kalaupun
berhasil, aku tetap berniat mencari pekerjaan lain."
"......Artinya
kamu akan menjalaninya sebagai pekerjaan sampingan. Apakah hal itu sudah kamu
sampaikan pada Sei?"
"......Belum
pernah. Lagipula, baru kemarin aku menceritakan impianku menjadi novelis. Dia
tahu aku menulis novel, tapi sepertinya dia menganggapnya hanya sebagai hobi
semata."
"Kalau
begitu, mungkin dia akan mempertimbangkannya jika kamu menjelaskan hal
itu."
Sei adalah orang
yang memperlakukan orang lain seperti bidak catur, tapi itu karena dia percaya
kalau mengikuti arahannya akan membuahkan hasil terbaik—begitu katanya saat
wawancara kerja dulu. Yah, menurutku bos yang bicara seperti itu kepada pelamar
kerja itu sudah gawat, tapi lupakan itu. Intinya, dia percaya diri dengan
kemampuannya sendiri.
Alasan dia
mengekang Hoshimiya secara ketat dan menjadikannya seperti boneka pun pasti
sama.
Dia percaya bahwa
penilaiannya lebih benar daripada penilaian putrinya sendiri.
Kalau begitu,
kita tinggal mematahkan keyakinannya itu.
Buktikan bahwa
Hoshimiya adalah manusia yang bisa memikirkan jalan hidupnya sendiri.
Tanpa perlu
membahas soal wawancara kerja di kehidupan sebelumnya, aku menjelaskan hal itu.
Hoshimiya tampak memasang wajah khawatir.
"......Apa
aku bisa melakukannya?"
Sei pasti punya
kasih sayang untuk putrinya. Meskipun terdistorsi, dia memberikan perintah
karena dia peduli. Kalau dia tidak peduli, seharusnya dia tidak akan berkata
apa-apa.
Jika Hoshimiya
ingin berjuang, di sanalah peluang kemenangannya.
"......Aku
mengerti. Jadi, aku harus membuat Ayah memercayaiku, ya."
Hoshimiya berucap
seolah sedang menyimpulkan pembicaraan.
Singkatnya,
memang itulah yang harus dilakukan.
"Kalau itu
berhasil, mungkin masalah ketiga dan keempat juga akan terselesaikan."
Jika dia mulai
percaya pada pemikiran putrinya, dia tidak akan terlalu ikut campur dalam
hubungan pertemananmu lagi.
Kukira kekangan
itu pun akan sedikit melonggar.
Yah, kalau soal
jam malam, aku agak ragu sih.
"Natsuki-kun,
kamu pintar juga, ya. Pantas saja kamu peringkat satu di angkatan."
"Bukan
begitu, aku hanya merapikan situasinya saja. Kalau dibiarkan samar, tidak akan
ada jawaban yang keluar."
Mengidentifikasi
masalah dan memikirkan tindakan pencegahan adalah hal yang sudah berulang kali
kulakukan saat meneliti di masa kuliah.
Hanya dengan
perasaan "aku benci" saja tidak akan mengubah apa pun.
Segala sesuatu
harus diselesaikan secara logis.
......Tapi,
menyuruh anak kecil menggunakan logika orang dewasa seperti ini, apakah pantas
sebagai orang tua?
"Iya.
Baiklah, aku akan memikirkannya baik-baik. Supaya Ayah bisa memercayaiku."
Sembari
mengepalkan kedua tangannya di depan dada, Hoshimiya menyatakan tekadnya dengan
kuat.
Soal itu, biarlah
Hoshimiya sendiri yang memikirkannya.
Aku bisa memberi
saran, tapi tidak baik kalau terlalu banyak campur tangan sampai idenya menjadi
milikku.
"Hmm......."
Hoshimiya
langsung bersedekap, mengerang dengan wajah serius saat mulai berpikir.
"Memikirkannya
sih boleh saja, tapi bagaimana kalau kita pergi ke tempat yang tenang?"
Ada Namika di
rumah, akan jadi masalah kalau dia mulai ikut campur. Apa dia tidak punya
pekerjaan lain ya?
"Ah, iya.
Kamu benar. Ayo lakukan itu."
Begitulah, aku
pun mulai bersiap-siap untuk pergi.
Saat membuka
lemari, Hoshimiya bergumam kagum, "Ohh, pakaian anak laki-laki."
Jangan dilihat
terlalu teliti dong...... soalnya selain yang baru kubeli, bajuku cuma
baju-baju norak.
"Lagipula,
aku juga mau ganti baju......"
"Natsuki-kun
tadi juga menatap tajam saat aku ganti baju, kan?"
"Soal itu,
apa belum dimaafkan juga......?"
Saat aku
ketakutan, Hoshimiya tertawa kecil lalu keluar dari kamar.
Tolong
berhenti dengan candaan yang susah dimengerti itu. Tentu saja, penampilan pakaian dalammu sudah
terpatri di ingatanku.
Terlepas dari
itu, aku segera berganti baju, berpamitan pada Namika, dan keluar rumah.
Matahari tertutup
awan, tapi udara panas masih terasa menyengat. Hari ini pun terasa panas.
Tiba-tiba,
Hoshimiya bertanya seolah baru teringat sesuatu.
"......Lagipula,
kamu tahu banyak tentang Ayahku, ya?"
"......Karena
ada di situs web perusahaan."
Itu alasan yang
sangat dipaksakan, tapi Hoshimiya hanya menjawab "Begitu ya," dan
langsung memercayainya.
*
Karena di
lingkunganku tidak ada kafe atau restoran keluarga, kami naik kereta menuju
Takasaki.
Kami memutuskan
untuk pergi ke kafe favorit Hoshimiya yang kami kunjungi kemarin.
"Selamat
datang."
Pemilik
kafe yang pendiam hanya berkata begitu lalu mengantar kami ke tempat duduk.
Kami
duduk di tempat yang sama kemarin, di meja dekat jendela di sudut kafe.
Hoshimiya
membuka laptop yang dibawanya, lalu mulai mengerang dengan wajah serius.
Sembari
melihatnya, aku mulai mengerjakan tugas musim panas. Aku tidak mau bengong saja.
"......Sebenarnya, Ayah itu suka membaca novel,
lho."
Hoshimiya, yang tadi sibuk mengetik di papan ketik,
menghentikan tangannya dan meminum kopinya.
"Lagipula, alasanku mulai membaca novel dulu itu karena
ada di ruang kerja Ayah."
"......Kalau begitu, sepertinya ada peluang untuk
membuatnya mengakui impianmu."
"Iya. Aku sudah memikirkannya...... kupikir kita butuh
senjata untuk bertarung."
"Senjata?"
"Karena kalau diajak bicara baik-baik pun, kupikir Ayah
tidak akan mau mendengarku. Jadi, aku akan membuktikannya. Bahwa aku punya
bakat menulis novel. Aku akan membuatnya mengakui kalau novel buatanku itu
menarik."
Iya, Hoshimiya mengangguk mantap.
Memang benar, salah satu alasan Sei menentangmu adalah
keraguannya apakah kamu benar-benar bisa menjadi novelis atau tidak. Dia bahkan
mungkin berpikir kalau itu mustahil.
Untuk poin itu, senjata yang dipikirkan Hoshimiya pasti
berguna.
Jika dia menyadari bahwa putrinya memiliki bakat menulis,
ada kemungkinan dia akan mengubah pemikirannya.
"Kalau hal itu berhasil, barulah kita bisa duduk di
meja perundingan."
Mengetahui putrinya memiliki bakat bisa menjadi langkah awal
bagi Sei untuk memercayai pemikiran dan kemampuan putrinya.
"Rencana yang bagus."
Saat aku mengangguk, Hoshimiya mengeluarkan tumpukan kertas
putih dari tasnya.
Itu adalah naskah novel Hoshimiya yang kulihat kemarin. Hoshimiya mengetuk tumpukan kertas itu
pelan.
"Aku akan
memperlihatkan novel ini pada Ayah. Ini adalah karya terbaikku. Jika aku
merevisi bagian yang ditunjuk Natsuki-kun, pasti dia akan menganggapnya
menarik. Soalnya selera Ayah soal cerita mirip denganku."
Bukankah itu
tandanya Hoshimiya mirip dengan Sei?
Aku berpikir
begitu tapi memilih untuk diam.
"Aku juga
akan bantu. Yah, aku hanya bisa membaca dan memberi kesan saja sih."
"......Terima
kasih. Aku senang, tapi apa boleh? Aku terus-terusan mengandalkan
Natsuki-kun."
"Aku hanya
melakukan ini untuk diriku sendiri kok. Jadi, tidak perlu dipikirkan."
Aku tidak
bohong. Aku membantu karena
aku ingin membantu Hoshimiya. Aku di sini karena ingin tahu lebih banyak
tentang Hoshimiya. Aku ingin melihat versi yang lebih sempurna karena menurutku
novel tulisannya menarik. Semuanya hanya untuk diriku sendiri.
Lagipula, aku
hanya ingin membungkam Sei karena dia menyebalkan. Ini bukan dendam pribadi
kok. Sama sekali bukan.
"......Orang
baik selalu berkata seperti itu, ya."
Hoshimiya
bergumam dengan sorot mata yang seolah menatap sesuatu yang indah.
Kemudian, dia
mengepalkan kedua tangannya di depan dada untuk menyemangati diri.
"Oke,
semangat!"
Dan begitulah,
proses revisi novel pun dimulai.
Aku menghentikan
tugasku dan memutuskan untuk membaca ulang novel Hoshimiya sekali lagi.
Agar aku bisa
menjadi sedikit saja kekuatan bagi Hoshimiya yang akan melangkah menuju
pertarungan.
*
Setelah itu,
waktu benar-benar dihabiskan untuk bekerja.
Hoshimiya
merevisi bagian yang kutunjuk, dan ketika dia bingung soal cara mengubahnya,
kami berdua mengerang bersama, berdiskusi, dan mencari saran perbaikan, lalu
Hoshimiya merevisinya dengan ide yang disepakatinya.
......Entah
kenapa, kupikir para pencipta karya itu hebat sekali.
Aku ahli dalam
menjabarkan masalah. Aku bisa menganalisis struktur cerita atau alur, lalu
menjelaskan apa yang menurutku kurang baik. Tapi, aku tidak tahu harus
bagaimana cara menyelesaikannya.
Namun, Hoshimiya
bisa mengeluarkan ide demi ide dengan cepat—baik atau buruknya urusan
belakangan. Hoshimiya bilang, "Aku membangun panggung di dalam kepalaku
dan menggerakkan karakternya," tapi aku tidak bisa melakukan itu.
Aku merasa
Hoshimiya yang mengetik dengan wajah serius itu keren sekali.
......Apa aku
minta tanda tangannya sekarang saja, ya?
"Ya?"
Saat aku sedang
berpikir begitu, ponsel di saku berbunyi nyaring.
Nama yang tertera
di layar adalah Nanase Yuno.
Aku memberi tahu
Hoshimiya yang menoleh, "Aku angkat telepon dulu," lalu menjawab
telepon di luar kafe.
『Halo,
Haibara-kun.』
"Ya. Apa ini
soal Hoshimiya?"
『"Apa
ini", katamu? Tentu saja soal itu, kan.』
"......Kamu
marah?"
『Aku tidak
marah, kok. Kemarin orang tua Yuno bertanya padaku di mana keberadaannya, dan
meskipun aku sudah khawatir, aku marah karena tidak ada kabar apa pun darimu,
Haibara-kun. Jadi, aku sama sekali tidak marah.』
Sudah jelas dia
marah.
"......Maaf."
Sejujurnya aku
sedang tidak punya ruang untuk berpikir dan tidak memikirkan hal lain.
『Yah, karena
Yuno sudah mengirim pesan balasan, ya sudah lah. Tapi, aku tidak percaya saat
baca kalau dia menginap di rumahmu. Padahal dia tidak seceroboh itu dalam
memercayai anak laki-laki.』
"......Yah,
mungkin karena ada banyak hal yang terjadi, Hoshimiya merasa terpojok."
『Aku sudah
dengar situasinya secara garis besar, dan aku bisa menebaknya. Tapi, apa
rencanamu ke depannya?』
"Sejauh ini,
aku sedang menyusun strategi untuk menyelesaikannya."
Saat kuceritakan
rencana yang kupikirkan bersama Hoshimiya tadi, Nanase bergumam, 『......Begitu ya.』
『Di mana kalian
sekarang? Kafe itu?』
"Ya. Di kafe
Ruby Mare yang pernah kamu tunjukkan padaku."
『Tunggu di sana
bersama Yuno. Aku akan pergi ke sana sekarang.』
Nanase menutup
telepon dengan nada datar.
Dia lebih
menyeramkan dari biasanya. Ke mana perginya Nanase sang malaikat...?
Memang
benar, aku salah karena tidak menghubungi Nanase. Tidak, sebenarnya aku sempat
berpikir untuk berkonsultasi dengan Nanase atau Miori, tapi sejujurnya aku
tidak punya waktu atau kelonggaran untuk itu. Lagipula hari sudah larut malam.
"Nanase akan
ke sini."
Saat kukatakan
itu pada Hoshimiya, dia terlonjak kaget.
"Y-Yuno-chan......
apa dia marah?"
"......Dia
marah. Benar-benar marah."
"Hie......
karena Ayah menyebalkan, aku mematikan notifikasi telepon, dan aku baru sadar
kalau Yuno-chan juga meneleponku...... aku buru-buru membalas pesan RINE-nya
sih......"
Saat kami berdua
menunggu dengan perasaan takut, bunyi lonceng pintu terdengar.
Pintu masuk
terbuka dan Nanase muncul dengan pakaian kasual.
Dia memakai baret
kecil di kepala, kaus bermotif santai, dan rok mini. Kaki jenjangnya yang mulus
terlihat cantik. Wajahnya tampak kesal saat mengeluh, "Panaas
banget......"
"H-hai......"
"S-sini......"
Saat aku dan
Hoshimiya menyapa dengan perasaan sedikit ngeri, Nanase mendekat tanpa suara.
Mungkin karena
meja Hoshimiya sempit karena laptop dan lainnya, Nanase duduk di sebelahku dan
memanggil pemilik kafe untuk memesan es kafe latte. Setelah selesai, barulah
Nanase menatap kami.
"Yuno."
"I-iya!"
Hoshimiya
tersentak kaget.
"Kenapa kamu
tidak konsultasi denganku?"
"Itu, karena
setiap ada masalah aku selalu bergantung pada Yuno-chan...... aku merasa tidak
enak kalau terus-terusan, jadi aku ingin berusaha sendiri......"
"Itu bukan
merepotkan, kok. Lagipula, kalau akhirnya kamu bergantung pada Haibara-kun, kan
sama saja."
"Uh......
m-maafkan aku......"
Hoshimiya
terlihat lemas dengan wajah yang tampak terpukul.
"Lagi pula,
menginap di rumah anak laki-laki yang bahkan belum jadi pacarmu, apa-apaan itu?
Yuno? Kamu tidak punya rasa waspada sedikit pun? Untungnya Haibara-kun itu
payah jadi kamu aman."
"Hei."
Jangan sesuka
hati menyebut orang lain payah.
Saat aku
melayangkan protes, Nanase melotot ke arahku.
Sepertinya
sekarang target kemarahannya berpindah padaku.
"Dan kamu
sendiri, apa tidak ada cara lain?"
"Ya mau
bagaimana lagi, hari sudah larut, situasinya mendesak, dan aku sendiri juga
sedang panik jadi tidak punya banyak pilihan...... eh, tapi aku tidak melakukan
apa-apa lho?"
"Aku tahu
kamu tidak melakukan apa-apa."
Hoshimiya
bergumam pelan sembari menatap jendela.
"......Tapi,
dia melihat pakaian dalamku, sih."
Soal itu, apa
belum dimaafkan juga???
"Haibara-kun?"
"Itu keadaan
darurat, tahu!"
Karena telingaku
ditarik oleh Nanase yang tersenyum menyeramkan, aku buru-buru mencari alasan.
Lagipula itu salah Hoshimiya!
Aku tidak
bersalah! Meskipun memang terpatri di ingatanku, sih!
"......Maafkan
aku. Sudah membuat kalian khawatir."
Hoshimiya
menundukkan kepalanya dalam-dalam.
Melihat Hoshimiya
begitu, Nanase menghela napas panjang.
"......Yah,
sudahlah. Syukurlah kalian aman."
Saat suasana
mencair, es kafe latte diletakkan di atas meja.
Nanase meminumnya
untuk membasahi tenggorokan, lalu melanjutkan pembicaraan.
"Aku sudah
dengar dari Haibara-kun tadi. Kamu mau melawan Sei?"
Hoshimiya
mengangguk dengan ekspresi tegang.
"......Apa
kamu bisa? Padahal selama ini kamu tidak pernah berani melawan, apa sekarang
kamu bisa melakukannya?"
Mungkin
dia terdengar dingin karena sedang menguji Hoshimiya.
Nanase pasti
lebih memahami sejarah antara Hoshimiya dan Sei daripada aku.
Karena itulah dia
bertanya apakah Hoshimiya benar-benar punya tekad yang kuat.
"Karena ada
hal yang tidak bisa kulepaskan, aku punya tekad."
Hoshimiya
menegaskan dengan nada bicara yang kuat.
Nanase
menatap Hoshimiya lekat-lekat.
"......Aku
mengerti. Kalau begitu, aku
juga akan membantu. Apa sekarang kalian sedang melakukan revisi novel?"
"Iya.
Kupikir sudah jauh lebih baik, aku ingin Yuno-chan membacanya juga."
Hoshimiya berkata
begitu, lalu panik, "Ah, tapi bagaimana ya." Memang revisinya sudah
selesai, tapi kalau tidak dicetak di kertas, akan sulit kalau dibaca orang
lain. Membacanya di laptop Hoshimiya memang gampang, tapi Hoshimiya jadi tidak
bisa bekerja. Efisiensinya buruk.
"......Kalau
mesin cetak, ada di sana. Silakan gunakan sesuka hati."
Pemilik kafe yang
sedang mengelap gelas di konter bergumam tanpa melihat ke arah kami.
Di arah pandangan
pemilik kafe, ada mesin cetak tua.
"Ah, terima
kasih banyak!"
Setelah mengucap
terima kasih, Hoshimiya mulai mencetak naskah revisinya.
"......Yah,
aku yang bilang padamu untuk menemani anak itu, kan."
Nanase
berkata begitu sembari melihat Hoshimiya.
"Bagaimana?
Apa kamu bisa membantu anak itu?"
"......Tidak,
aku tidak melakukan apa-apa. Soal novel pun, aku cuma memberi kesan
sedikit."
"......Begitu
ya. Baiklah, aku akan menganggapnya begitu."
Setelah
itu, Nanase mulai membaca naskah penuh semangat milik Hoshimiya yang sudah
direvisi berkali-kali.
Hoshimiya
memeriksa naskahnya lagi sambil gelisah. Dia memastikan tidak ada salah ketik
atau ungkapan yang aneh, memeriksa kalimat demi kalimat. Aku pun memutuskan
untuk membantu proses proofing Hoshimiya.
Tak
terasa langit sudah berubah menjadi jingga, dan saat Nanase selesai membaca,
hari sudah malam.
"......Ini,
memang menarik."
Nanase
berkata dengan nada seolah sedang meresapi isinya.
Hoshimiya
yang tadinya tegang, merasa lega dan melemaskan bahunya mendengar kata-kata
Nanase.
"......Syukurlah.
Benar-benar jadi menarik, ya."
"Habisnya
aku dan Hoshimiya sudah membacanya berulang kali sampai tidak tahu lagi mana
yang bagus."
"Benar!
Tadi sempat merasa, eh? Apa benar sudah oke begini? gitu
terus......"
Melihat
kami yang berbicara dengan semangat, Nanase memasang wajah serius.
"Aku
tidak tahu banyak soal detailnya, tapi ceritanya menarik. Hanya saja......"
Apakah ada poin
yang mengganjal? Ekspresi Hoshimiya menegang.
"Tokoh utama
ini, yah, hampir mirip seperti Yuno, kan?"
Hoshimiya terdiam, "Eh," gumamnya. Bagaimana ya?
Tokoh utamanya, Mamika, adalah gadis pendiam dan polos, tapi
punya kemampuan deduksi. Tidak mirip dengan Hoshimiya sekarang, tapi kalau
dengar cerita Hoshimiya dulu, mungkin memang begitu. Soal kemampuan deduksi,
toh dia memang menulis novel misteri.
"Bagiku itu tidak masalah sih, tapi......"
Nanase membalik-balik naskah dan menatapku serta Hoshimiya
bergantian.
"Anak
laki-laki yang menjadi rekannya ini, modelnya Haibara-kun, kan?"
......Eh?
Begitukah!? Kali ini aku yang membelalakkan mata karena kaget.
Rekannya Mamika,
anak laki-laki bernama Shintaro. Populer di kelas, punya inisiatif tinggi,
biasanya tertawa santai, tapi aslinya bijaksana dan tenang. Tidak, di mananya
yang mirip denganku???
"Kurasa sama
sekali tidak mirip, kok?"
Saat aku
benar-benar mengatakannya pada Nanase, Nanase menunjuk Hoshimiya dengan wajah
gemas.
Wajah Hoshimiya
merah padam seperti tomat rebus, dan saat mata kami bertemu, dia langsung
membuang muka.
"Ada apa?
Apa mungkin, jangan-jangan benar?"
"T-t-tidak...... bukan!? Itu, sama sekali, tidak sedikit pun, mirip!"
"Tidak
perlu menyangkal sekuat itu......"
Kenapa dia sampai
segugup itu?
Saat aku
berpikir, seandainya memang modelnya adalah aku, apa masalahnya......,
aku baru teringat.
——Di tengah
cerita, Mamika sang tokoh utama jatuh cinta pada Shintaro sang rekan.
Sampai-sampai dia
tidak bisa memikirkan hal lain selain Shintaro.
"......"
"......"
Aku merasa pipiku
memanas.
Aku tidak bisa
menatap wajah Hoshimiya lagi. Keheningan yang menyesakkan menyelimuti tempat
itu.
Tidak, tenanglah.
Ini hanya cerita dalam novel. Sama sekali tidak ada hubungannya dengan
kenyataan.
"Yah, entah
itu benar atau tidak, tidak masalah sih."
......Kalau tidak
masalah, bisakah berhenti menjatuhkan bom begitu saja?
"Aku hanya
merasa karakter anak laki-laki ini sedikit samar dan tidak konsisten. Kalau
memang menjadikan seseorang sebagai model, kupikir akan lebih menarik kalau
detailnya lebih diperdalam."
Nanase menutup
pembicaraan dengan berkata, "Hanya itu saja yang mengganjal."
Aku senang Nanase
merasa naskah ini menarik. Poin yang mengganjal pun cuma satu.
Lagipula, itu
bukan masalah yang sulit diperbaiki, dan dia bahkan sudah memberi solusi.
Memang benar poin
itu mengganjal, tapi aku tidak sampai berpikiran untuk menunjukkannya.
Seandainya aku
memang modelnya, jelas itu terlalu dibesar-besarkan.
Kalau direvisi
bagian itu saja, pasti naskahnya akan sempurna.
Aku tahu itu, tapi...... suasana ini, harus bagaimana!?
"......Jadi,
Natsuki-kun. Bolehkah, itu...... bolehkah aku tanya banyak hal?"
"......Tentu
saja, yah, menjawabnya tidak masalah, tapi......"
Nanase melihat
kelakuan kami dengan wajah lelah, lalu mengalihkan pandangan ke jam tangannya.
"Hari ini
sampai sini saja. Sudah waktunya, lho. Jam malam Yuno sudah lama lewat."
"......Benar
juga. Karena asyik fokus, sampai tidak sadar."
Saat melihat
keluar jendela, hari sudah gelap gulita.
"......Tapi,
bagaimana ini? Padahal belum selesai......"
Kalau pulang ke
rumah, mau tidak mau dia harus melawan Sei.
Dia belum siap
untuk itu. Setidaknya butuh satu hari lagi.
Namun, menginap
di rumahku satu hari lagi agak sulit. Hari ini Ibu sudah pulang.
Kalau aku
membujuk Ibu, mungkin bisa, tapi entahlah. Kalau Ibu yang dengar, mungkin dia
akan berkata, Kita harus menghubungi orang tua pihak sana dengan benar!
Itu bisa saja
terjadi.
"Yuno, hari
ini menginap di rumahku saja."
"......Apa
boleh? Yuno-chan."
"Hanya satu
hari saja. Besok kamu
harus pulang dengan benar. Kalau
Ibu tahu aku bekerja sama dengan pelarian rumahmu, Ibu akan marah. Kita harus
sembunyikan ini."
Kukira itu yang
terbaik.
Jauh lebih sehat
daripada menginap di rumahku.
"......Terima kasih, Yuno-chan. Aku sayang kamu."
Hoshimiya
memeluk Nanase dengan penuh haru.
Nanase yang panik
berkata, "T-tunggu, Yuno, lepaskan," pun terlihat imut.
Dengan begitu,
hari ini kami memutuskan untuk bubar.
*
Saat aku pulang
ke rumah, terdengar suara langkah kaki yang terburu-buru.
Namika yang
sengaja menyambutku berjinjit sedikit untuk mengintip ke belakang punggungku.
"......Mana Hoshimiya-san?"
"Sudah pulang."
Secara teknis dia belum pulang, tapi demi kemudahan, aku
menjawab begitu.
"Yah, padahal aku ingin bertemu dengannya," gumam
Namika sambil memanyunkan bibir dengan tidak puas. Aku melewatinya begitu saja
dan kembali ke kamar.
Aku mandi, menyantap makan malam yang dibuat Ibu, lalu
setelah kenyang, aku merebahkan diri di atas tempat tidur.
......Yang terbayang di benakku adalah wajah Hoshimiya yang
merah padam.
Tokoh utamanya hampir sama dengan Hoshimiya, dan model anak
laki-laki yang disukai tokoh utama itu adalah aku.
Dengan kata lain...... apakah maksudnya seperti itu???
Bukankah lebih baik jika memang begitu saja?
Bahkan, aku lebih
suka jika itu memang artinya seperti itu. Kumohon, biarkan itu memang artinya
seperti itu.
Saat aku sedang
membatin di atas tempat tidur, ponselku bergetar karena ada panggilan masuk.
Nama yang tertera
di layar adalah Hoshimiya Hiyari.
『Se-selamat
malam. 』
『O-oh. Selamat
malam. 』
Suaranya
jelas-jelas tegang, dan itu membuatku ikut merasa tegang juga.
『Apa sekarang
kamu ada waktu? 』
『Ya. Aku cuma
lagi bengong saja. 』
『Apaan itu? 』
Terdengar suara
tawa kecilnya di seberang sana.
『Hei, boleh
tidak aku bertanya banyak hal tentangmu, Natsuki-kun?』
『Tanya saja apa
pun.』
Selain soal time
leap, aku bisa menjawab apa saja.
Ayo, tanyakanlah
sesukamu! Sekarang, setelah rahasia high school debut-ku terbongkar, aku
tak terkalahkan!
『Kalau begitu,
Natsuki-kun...... apa pendapatmu tentang aku?』
............Apa maksudnya......?
Rasanya seperti pertahanan yang sudah kubangun dihancurkan
oleh pedang hanya dalam sekali serang.
『Pendapat
tentang kamu itu...... itu, maksudnya dalam konteks apa?』
『......』
Bisa tidak,
jangan diam di saat seperti ini!?
『Maksudku,
itu...... seperti, apa kesanmu tentang diriku?』
『Ya, yah, kamu itu baik, ceria...... meski mungkin aslinya
sedikit berbeda, setidaknya di depanku kamu selalu tampak bersemangat dan
ceria, terus, kamu imut, dan rasanya kamu gadis yang baik, mungkin seperti
itu......?』
Saat mengucapkannya, rasanya makin lama makin mirip
pengakuan cinta, jadi aku buru-buru menyudahinya.
『Be-begitu,
ya...... ya. Terima kasih.』
Apa jawaban
seperti ini benar-benar tidak apa-apa?
Saat aku sedang
merasa ragu, Hoshimiya terus melemparku dengan pertanyaan.
Satu per satu,
seolah hujan yang tidak mau berhenti.
『Natsuki-kun
sangat menghargai teman-temanmu, ya. Kenapa begitu?』
『Kenapa
Natsuki-kun berpikir untuk melakukan high school debut?』
『Keluarga
Natsuki-kun orang seperti apa? Adikmu sudah kulihat kemarin sih.』
『Natsuki-kun
biasanya melakukan apa? Maksudku, hobimu......』
『Bagaimana
perasaan Natsuki-kun saat masa SMP?』
『Apa makanan
kesukaan Natsuki-kun? Ramen atau apa?』
『Apa Natsuki-kun
ingin punya kekasih?』
『Tipe gadis
seperti apa yang disukai Natsuki-kun?』
『Natsuki-kun...... apa saat ini, kamu punya gadis yang kamu
sukai?』
etelah aku menjawab semua pertanyaannya, keheningan yang
panjang datang seolah kami sedang mengatur napas.
『......Begitu,
ya.』
Aku tidak tahu
itu kata-kata untuk menanggapi apa.
Tiba-tiba, suara
denting piano terdengar dari ponsel.
Sempat kupikir
Hoshimiya tidak sengaja membuka video, tapi ternyata suara itu datang dari
ujung telepon.
『Suara piano ini……』
『Ah, dengar ya? Yuino-chan mulai main piano.』
Meski lewat
telepon, aku bisa tahu dia sangat mahir. Lagu yang dia mainkan adalah Summer
karya Joe Hisaishi.
『Aku yang minta
dia mainkan lagu yang terasa seperti musim panas.』
『Pilihan lagu
yang bagus. Pekerjaanmu sepertinya bakal lancar.』
『Begitu ya.
Karena aku sudah menanyakan apa yang ingin kutahu, kurasa aku akan kembali
bekerja.』
『Hoshimiya.』
Setelah
memanggilnya, aku malah tidak tahu harus berkata apa.
『Aku……』
Karena ditanya
habis-habisan, itu jadi kesempatan yang baik bagiku untuk memikirkan diriku
sendiri.
Aku berniat
menjawab semuanya dengan jujur. Namun, hanya pertanyaan terakhir yang tak bisa
kukatakan jujur sepenuhnya.
Aku
mengiyakan. Di situ tidak ada yang salah. Tapi, ada sesuatu yang belum kukatakan.
Yaitu
tentang keberadaan dua orang. Aku menyukai keduanya dengan kadar yang sama, dan
aku belum bisa memutuskan.
『……Mungkin,
aku sudah tahu garis besarnya?』
Saat Hoshimiya
menjawab begitu, napasku sempat terhenti sejenak.
Mengulik makna
kata-kata itu sepertinya bukan langkah yang bagus.
『Tidak apa-apa.
Itu tidak ada hubungannya dengan cerita. Mungkin resolusi karakternya jadi
sedikit naik.』
Setelah itu, kami
bertukar salam singkat dan aku memutus sambungan telepon dengan Hoshimiya.
……Itu
bukan hal yang aneh. Aku
cukup gencar melakukan pendekatan pada Hoshimiya.
Namun, fakta
bahwa aku pergi ke festival Tanabata bersama Uta juga benar. Dan bagi siapa pun
yang melihat, jelas sekali kalau Uta menyukaiku.
Tapi, aku
dan Uta tidak berpacaran. Hoshimiya mungkin orang yang paling menyadari
alasannya.
Kenyataannya,
meski terlihat begitu, Hoshimiya sangat memperhatikan orang lain.
……Pada akhirnya,
apa yang sebenarnya dipikirkan Hoshimiya tentangku?
Kurasa dia tidak
membenciku, malah mungkin dia menyukaiku, tapi…… apakah itu cinta?
Orang yang tidak
mengerti apa-apa, selalu saja aku.
*
Keesokan harinya.
Aku mendapat giliran kerja paruh waktu di pagi hari yang langka.
Setelah selesai
bekerja dan makan, aku bergegas menuju kedai kopi kemarin.
Di kursi dekat
jendela di sudut kedai yang sudah menjadi tempat langganan kami, Nanase dan
Hoshimiya sudah duduk di sana.
"Natsuki-kun!"
Begitu
menemukanku, Hoshimiya memasang senyum yang merekah.
"Revisinya
baru saja selesai! Kalau begini pasti tidak masalah! Aku jadi lebih percaya
diri!"
Dia sedang sangat
bersemangat.
Aku mengalihkan
pandangan dari Hoshimiya yang sedang dalam suasana hati yang baik ke arah
Nanase, dia hanya mengangkat bahu.
"Aku juga
sudah memeriksanya, sudah tidak ada yang perlu dikeluhkan lagi. Dari awal pun
ceritanya sudah menarik."
"Kalau
begitu, coba aku periksa juga ya. Bisa beri tahu bagian mana saja yang
direvisi?"
"Un! Di sini
dan sini—lalu percakapan di adegan ini juga secara keseluruhan—"
Saat membaca bagian yang direvisi, memang jadi lebih baik.
Atau lebih tepatnya…… ini jadinya seperti aku.
Dialognya
menggunakan jawaban yang kuberikan kemarin, sampai-sampai aku merasa malu.
"……Apa tidak
apa-apa? Ini, hampir semuanya jadi aku, bukan?"
"……Memang
jadi begitu, tapi apa tetap tidak boleh?"
"Bukan
tidak boleh, tapi karena anak laki-laki yang disukai protagonis, bukankah
sebaiknya dialognya lebih keren—"
"—Sudah.
Cukup keren dengan begini."
Hoshimiya
memalingkan wajah dan memotong ucapanku.
Cukup,
keren……?
Apa iya?
Padahal isinya hampir semuanya adalah aku……?
Tapi
memang, hasil akhirnya jauh lebih baik. Masalahnya hanya aku yang merasa malu.
"—Ya. Jadi
lebih menarik. Ini menarik! Kita bisa!"
Aku menegaskan
dengan kuat agar Hoshimiya merasa percaya diri.
Tanpa disadari,
judulnya yang tadinya cuma draf Kisah Laut Musim Panas telah berubah
menjadi Gadis Pemecah Teka-Teki Tidak Tahu Cinta. Kurasa itu bagus,
suasananya cocok dengan literatur ringan zaman sekarang.
Senjata sudah
siap. Sisanya tinggal pulang ke rumah dan bertarung.
Saat aku
memikirkan hal itu, sebuah kejadian terjadi. Lonceng pintu kedai berbunyi.
Entah kenapa aku
punya firasat buruk. Langkah
kaki terdengar mendekat tanpa ragu.
Saat menoleh, di
sana ada ayah Hoshimiya—Sei-san.
"……Kau ada
di sini, Hikarino."
Nada
suaranya dingin, datar, dan menggema.
Di bawah
meja, aku bisa melihat tangan Hoshimiya gemetar.
Jadi, aku
menggenggam tangan itu. Lalu, aku menyapa dengan sikap yang sengaja dibuat
berani.
"……Halo,
Ayah Hoshimiya. Ada urusan apa?"
"……Aku
tidak ada urusan denganmu. Jangan memancing keributan yang aneh-aneh. Lagi pula anakku pasti mengandalkan
kalian, bukan? Aku minta maaf karena sudah merepotkan. Tapi, mulai sekarang ini
urusan keluarga."
Sei-san menangkis
kata-kataku dengan tenang.
Karena sudah
beberapa hari berlalu, kepalanya sepertinya sudah dingin.
"Ayo pulang,
Hikarino. Jangan merepotkan orang lain lebih dari ini."
"……Bukankah
seharusnya, jangan merepotkan aku?"
Dengan wajah pucat dan suara gemetar, Hoshimiya membalas
dengan berani.
"……Apa
katamu?"
Sei-san
mengerutkan kening.
"Sekadar
info, kami tidak merasa direpotkan sama sekali. Teman kami sedang meminta
bantuan. Menjawab permintaan itu adalah hal yang wajar."
Aku sengaja
berbicara datar tanpa emosi.
Yang bisa
kulakukan hanyalah memberikan dukungan. Yang bertarung bukan aku.
"……Aku
akan pulang, tidak apa-apa. Memang sejak awal aku berencana pulang hari
ini."
"Begitu
ya. Kalau begitu—"
"—Sebagai
gantinya, aku ingin Ayah mendengarkan ceritaku."
Hoshimiya
mengangkat wajahnya.
Dia
menatap mata Sei-san yang tanpa ekspresi.
Sei-san
melirik sekilas ke atas meja.
Setelah
melihat komputer dan naskah, dia membuka mulut.
"……Tadi
kau bilang ingin jadi novelis, bukan? Soal itu?"
"Bukan cuma
itu, tapi itu juga salah satunya. Aku…… akan menjadi novelis."
"Apa kau tidak mendengarkan perkataanku yang menyuruhmu
menjalani hidup yang lebih berguna? Sudah berapa banyak hari yang terbuang
karena ini? Padahal nilaimu pun tidak terlalu bagus."
"Nilai
akan kuperbaiki. Aku akan belajar dengan benar. Aku memang menargetkan jadi novelis, tapi aku akan
mencari pilihan lain juga. Meski berhasil pun, kupikir awalnya aku akan
melakukannya sambil bekerja di bidang lain."
"……Sepertinya
kau tidak sekadar bermimpi. Kalau
kau bisa menjanjikan itu, aku bisa mengizinkanmu melanjutkannya sebagai hobi.
Tapi, soal masa depan itu cerita yang berbeda. Tadi kau bilang dengan mudahnya
akan melakukan dua pekerjaan, apa kau yang kurang cekatan itu bisa
melakukannya? Sebagai masalah mendasar, apa kau punya bakat untuk menjadi
novelis? Aku tidak berpikiran begitu."
Sei-san berkata
dengan datar.
Seolah-olah
sedang menasihati anak yang tidak penurut.
"Lebih baik
kau patuh saja padaku, dengan begitu kau pasti bisa menjalani kehidupan yang
kaya dan bahagia."
"……Itu,
salah. Hidupku, aku yang menentukan."
"Apa
kau masih belum mengerti? Aku
bicara demi kebaikanmu. Jangan egois."
"Yang egois
itu Ayah. Berhentilah memaksakan perasaan Ayah sendiri."
"……Hikarino.
Aku mengerti perasaanmu. Dulu waktu kecil, aku juga menghabiskan waktu sesuai
perkataan mendiang kakekmu. Itu pendidikan yang keras. Tidak sekali dua kali
aku ingin memberontak. Ada banyak hal yang terpaksa kurelakan. Tapi pada
akhirnya, berkat itu aku sukses."
Sei-san yang
berkata begitu terlihat tidak ragu sedikit pun bahwa dirinya benar.
"Ini
kehidupan yang makmur. Perusahaan pun sedang berkembang. Sekarang aku mengerti
bahwa Ayah bersikap keras demi kebahagiaanku. Jadi, kali ini aku pun ingin
melakukan hal yang sama untuk membuatmu bahagia."
Dia pasti
mengatakannya dengan sungguh-sungguh. Dia benar-benar mendoakan kebahagiaan
putrinya.
Justru karena
itulah aku merasa ngeri. Orang yang berniat jahat masih lebih baik.
"Setiap
orang itu berbeda, Yah. Meski cara itu berhasil membuat Ayah bahagia, belum
tentu hal yang sama berlaku untukku. Aku tidak menganggap hidup yang
dikendalikan oleh orang lain sebagai kebahagiaan."
"Sudah
cukup! Aku—"
"—Memangnya,
Ayah sendiri benar-benar bahagia?"
Saat Hoshimiya bertanya begitu, Sei-san terdiam seolah
tersambar petir.
"Mungkin kondisi perusahaan baik, tapi Ayah tidak
pernah akur dengan Ibu, selalu bertengkar. Meski punya uang, keluarga itu tidak
ada. Aku pun benci pada Ayah. Dalam kondisi seperti itu, apa Ayah benar-benar
bahagia? Apa Ayah cuma membohongi diri sendiri?"
Di sana, untuk
pertama kalinya Sei-san merusak ekspresinya.
"Bukankah
Ayah cuma tidak mau mengakui kalau selama ini Ayah salah?"
Hoshimiya terus
mencecarnya.
"Kau……!"
Sei-san hampir
membentak, tapi dia menarik napas seolah berusaha menenangkan diri.
Dia punya
ketenangan seperti ini, tapi kenapa dia bisa sekeras kepala itu?
Lama-kelamaan,
Sei-san mengangkat bahu dengan ekspresi yang masih masam.
"……Kalau
begitu, harus bagaimana? Aku sudah hidup seperti ini sejak dulu. Meniru cara
mendiang kakekmu, menggerakkan orang lain sesuai kemauanku. Aku tidak tahu cara
hidup selain ini."
Mendengar
kata-kata putus asa Sei-san, Hoshimiya berseru.
"Kalau tidak
tahu, pelajari saja! Ayah sebenarnya takut akan hal itu! Meski Ayah jauh lebih
dewasa dariku, Ayah pengecut! Ayah memaksakan cara hidup itu kepadaku
juga!"
Menumpahkan
seluruh perasaan selama enam belas tahun hidupnya ke dalam kata-kata.
Hikarino
Hoshimiya yang berdiri dari kursinya menatap lurus ke arah Sei-san dan
menyatakan.
"—Aku
berbeda dengan Ayah! Mimpi dan teman-temanku, aku yang memutuskan sendiri!
Meskipun pada akhirnya aku harus menderita, meskipun aku tidak bisa bahagia,
jika aku yang memilihnya sendiri, aku tidak akan menyesal!"
Keheningan
melanda kedai.
Hanya
musik latar ceria yang tidak pas yang terus mengalun.
Ini sudah
jadi pertengkaran yang mengganggu kedai, tapi pemilik kedai tidak ikut campur.
Mungkin karena
kebetulan tidak ada pelanggan lain. Biasanya ada lima atau enam kelompok
pelanggan di sini.
"Begitu,
ya……"
Setelah saling
menatap sejenak dengan Hoshimiya, Sei-san menghela napas panjang.
"Baca
ini."
Kepada Sei-san
yang seperti itu, Hoshimiya menyodorkan naskah novel di tangannya.
"……Apa
ini?"
"Novel yang
kutulis. Sebelum Ayah menegaskan bahwa aku tidak punya bakat, bacalah dulu
dengan benar dan pastikan sendiri."
"Hmph,"
Sei-san mendengus.
Meskipun wajahnya
tampak enggan, dia menerima naskah itu.
"……Baiklah.
Kalau kau sampai bicara begitu, aku tidak keberatan membacanya."
"Setelah
membacanya, kalau menurut Ayah itu menarik, akui aku!"
Seolah-olah sudah
menyiapkan kalimat itu sejak lama, Hoshimiya mengucapkannya.
Sei-san tanpa
mengubah ekspresinya melontarkan keraguan, "……Mengakui apa?"
Hoshimiya menarik
napas dalam-dalam, lalu menggenggam tanganku yang sedari tadi ia pegang dengan
erat.
"Aku bukan
lagi boneka yang bisa Ayah kendalikan. ——Akui itu."
Sei-san terdiam
cukup lama, menatap wajah Hoshimiya dengan lekat.
"Boneka,
ya."
Tak lama
kemudian, dia mendengus dengan nada malas.
"Jika aku
tidak mengabulkan permintaanmu, apakah kau akan terus kabur dari rumah?"
"I-itu…… memang sulit. Karena aku tidak bisa terus-menerus merepotkan teman-temanku."
"Kalau
begitu, pada akhirnya kau juga tidak punya pilihan selain pulang ke rumah,
kan?"
Mendengar
kata-kata Sei-san yang datar, Hoshimiya hanya bisa terdiam tanpa mampu
membantah, "……Ugh."
"……Ya
sudahlah. Permintaanmu sudah kutahu."
Setelah itu,
dengan naskah yang dijepit di samping tubuhnya, dia berbalik dengan gerakan
yang tangkas.
"Ayo pergi.
Permintaanmu akan kudengarkan. Tentu saja, itu tidak menjamin aku akan menilai
novel itu dengan baik."
Hoshimiya yang
tadinya berwajah pucat, mengerjapkan mata melihat punggung Sei-san.
Karena itulah aku
melepaskan genggaman tangan kami dan mendorong punggung Hoshimiya yang masih
tampak linglung.
"Pergilah."
"Pasti akan
baik-baik saja, Hikarino."
Setelah aku dan
Nanase mengangguk mantap padanya, Hoshimiya pun menjawab, "Un!" lalu
berdiri.
Sei-san
membungkuk pada pemilik kedai, "Maaf sudah membuat keributan," lalu
keluar dari kedai.
Hoshimiya
melangkah terburu-buru, menyusul Sei-san.
"……Apakah
semua ini akan berjalan lancar?"
"……Entahlah.
Yah, kurasa tidak mungkin permintaan Hoshimiya langsung dikabulkan begitu
saja."
Namun,
melihat sikapnya tadi, dia tidak akan langsung menolak mentah-mentah seperti
sebelumnya.
Lagipula,
Hoshimiya yang sekarang memiliki kemauan untuk melawan ketidakadilan.
"……Ya,
mungkin, akan baik-baik saja."
Lagipula, Sei-san
memang tipe orang yang menggerakkan orang lain seperti bidak catur, tapi dia
juga pernah berkata begini.
——Orang
yang bisa bergerak dengan pemikirannya sendiri itu berharga.
Itu
adalah kalimat yang hanya bisa diucapkan oleh seseorang seperti Sei-san yang
mahir memberikan instruksi kepada orang lain.
Sebagai
orang tua, menurutku dia agak payah, dan sebagai manusia pun entahlah, tapi dia
memang punya kemampuan dalam pekerjaan.
Terlepas
dari itu, aku masih belum memaafkannya karena menjatuhkanku di seleksi akhir.
Meskipun kalau
dipikir-pikir, kalau pada akhirnya aku melakukan Time Leap, apa itu
masih relevan?
Dasar bodoh! Bukan itu masalahnya, tahu!



Post a Comment