NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Haibara-kun no Tsuyokute Seishun New Game Volume 3 Chapter 3

Chapter 3

Musim Panas, Laut, Baju Renang, Kembang Api, Barbekyu, dan Cinta


Mungkin karena belakangan ini kami jarang bertukar kabar, Miori tampak marah.

"Hmm, begitu ya. Yah, kalau kamu bilang sudah tidak butuh aku lagi, terserah sih."

Suara tidak puasnya bergema dari balik telepon.

"Aku minta maaf. Bukankah tadi sudah kujelaskan alasannya?"

Apalagi, urusan Hoshimiya sangat berkaitan erat dengan privasi pribadinya.

Aku pun ingin mengandalkan Miori, tetapi itulah alasan utamanya aku tidak menceritakan apa pun.

"Ya, aku mengerti, sih…… tapi rasanya tetap menjengkelkan……"

Bahkan setelah aku menjelaskan garis besar masalah Hoshimiya, Miori masih saja mengeluh.

Seharusnya Miori tidak dirugikan sedikit pun hanya karena aku tidak mengandalkannya, bukan?

"Terus…… pada akhirnya bagaimana dengan Hikarino-chan? Apa dia bisa ikut liburan?"

"Sepertinya dia juga berhasil membujuk ayahnya sekalian soal itu."

Novel yang ditulis Hoshimiya menarik. Tampaknya Sei-san pun mengakuinya.

Jujur saja, ini mungkin karena aku bias, tapi menurutku karyanya sudah sampai di level pemenang penghargaan novel.

Berkat itu, Hoshimiya jadi bisa lebih tegas kepada Sei-san. Sebagai ganti janji untuk meningkatkan nilai akademisnya, dia diizinkan untuk melanjutkan hobinya menulis novel, diizinkan untuk mengejar impian menjadi penulis meski tetap mencari pekerjaan tetap, diizinkan untuk menentukan sendiri pergaulannya, dan entah bagaimana, dia juga diizinkan untuk ikut liburan ke laut. Tapi entah kenapa, jam malamnya tidak jadi lebih longgar.

Sei-san konon meratapi, "Putriku sudah memasuki masa pemberontakan……" Lucu sekali.

"Jadi intinya, semuanya terselesaikan dengan baik ya."

"Ya. Saat dengar Hoshimiya kabur dari rumah, aku sempat berpikir bakal jadi apa, tapi syukurlah."

Saat menerima telepon laporan dari Hoshimiya, aku benar-benar lega.

Seminggu sudah berlalu sejak saat itu. Liburan ke laut tinggal dua hari lagi.

Saat aku menelusuri grup chat peserta liburan, Hoshimiya mengirim komentar, "Sudah pasti bisa ikut!", disertai stiker karakter yang mengacungkan jempol bertuliskan "Tidak ada masalah!".

Saat ini, obrolan sedang ramai membahas barang apa saja yang harus disiapkan.

"……Bagaimana dengan kabarmu?"

Aku sempat ragu apakah harus bertanya, tapi aneh rasanya jika tidak menanyakannya pada Miori.

Ada satu alasan lagi kenapa aku tidak berkonsultasi dengan Miori.

Itu karena babak penyisihan Inter-High tim basket putri sedang memasuki fase krusial.

Aku tidak ingin memberikan beban pikiran tambahan kepada Miori yang merupakan pemain inti.

"Kami kalah, telak lagi. Sekolah langganan nasional memang kuat, ya."

Miori mengatakannya dengan enteng, jauh di luar dugaanku.

Tim basket putri telah maju hingga semifinal penyisihan Inter-High Prefektur Gunma. Lawan mereka adalah SMA Endo, sekolah yang langganan tingkat nasional. Tim basket putri kami memang kuat, tapi lawan tetap saja jauh di atas level kami.

Hari saat Hoshimiya kabur dari rumah kebetulan adalah sehari sebelum semifinal penyisihan itu.

Kupikir dia pasti akan terpukul karena kalah, tapi dia tampak cukup berlapang dada.

"Lain kali kami pasti menang. Kamu juga harus menemaniku latihan, ya."

Kalimat itu terucap lirih.

Ada rasa penyesalan yang terselip dalam kata-katanya.

Namun, dia tidak terpuruk; itu adalah kata-kata optimis yang menatap masa depan.

"Kalau nanti aku sempat."

"Tidak boleh. Kalau aku bilang akan melakukannya, ya harus dilakukan. Kita kan mitra perencanaan?"

"Basket tidak termasuk dalam kontrak……"

"Kalau begitu, kita kan teman masa kecil? Apa kamu tega menelantarkan teman masa kecilmu? Apalagi temanku sedikit."

"Iya, iya, paham. Terserah deh, jangan mengataiku yang tidak-tidak."

Entah kenapa Miori belakangan ini jadi sedikit egois. ……Dulu dia seperti ini juga, ya?

Perasaanku, sampai tempo hari dia masih punya semacam ketenangan yang menjaga jarak.

"Sekalian tanya, bagaimana dengan tim basket putra?"

Aku sudah tahu soal klub sepak bola Reita karena mereka sudah kalah sebelum liburan musim panas dimulai.

Tapi tim basket putra rasanya sudah lolos sampai putaran kedua dan memasuki liburan musim panas dengan menyisakan putaran ketiga.

"Memangnya kamu tidak dengar dari Tatsuya? Mereka kalah di hari pertama liburan musim panas."

"Ah, begitu ya."

Di bagian itu, tidak ada yang berubah dari sebelum Time Leap. Yah, memang tidak ada faktor yang bisa mengubahnya. Mungkin klub lain juga sama, tapi karena aku tidak tahu, aku tidak bisa memastikannya.

"Berarti, semuanya sudah selesai dengan kegiatan klub masing-masing, ya."

"Benar. Liburan kali ini mungkin pas buat penyegaran bagi teman-teman yang ikut klub."

Setidaknya semua orang bisa ikut tanpa masalah, dan sebagai perencana, itu sudah lebih dari cukup.

"Tidak sabar, ya."

Miori mengatakannya dengan nada suara yang benar-benar terdengar gembira.

"……Ya, benar."

Jarang-jarang Miori yang biasanya bicara datar terdengar begitu jelas sedang senang.

Melihat keadaan Miori seperti itu, aku pun merasa senang secara alami.

Setelah telepon dengan Miori berakhir, aku mandi, menggosok gigi, lalu merebahkan diri di tempat tidur.

Meski masih dua hari lagi, aku sangat menantikan liburan ini hingga tak tertahankan.

――Untuk meredam perasaan yang menggebu-gebu, aku memejamkan mata secara paksa.

Karena terlalu bersemangat, aku tidak bisa tidur nyenyak malam sebelumnya.

Aku mengumpat diri sendiri, "Apa aku anak SD?" sambil mengucek mata yang mengantuk dan keluar rumah.

Kami memang sudah beberapa kali bertemu secara terpisah, tapi ini pertama kalinya kami berkumpul lengkap setelah sekian lama. Karena stasiun terdekat setiap orang berbeda-beda, kami sepakat untuk berkumpul di Stasiun Takasaki lebih dulu. Soalnya kami akan naik Shinkansen.

"Pagi. Cuacanya bagus, ya."

Miori yang menunggu di depan rumah melambaikan tangan dengan ringan.

"Lho, kamu menungguku?"

"Kita kan mau pergi bareng. Sebagai teman masa kecil, apa aku seharusnya membangunkanmu tadi?"

"Hentikan, jangan bersikap seperti protagonis Light Novel."

Miori tertawa renyah, "Ahaha," saat aku merasa ngeri.

"Bukankah teman masa kecil yang bersikap begitu biasanya cenderung kalah?"

O-oi, jangan mengata-ngatai pahlawan wanita favoritku!

Dulu aku memang sering menyukai pahlawan wanita teman masa kecil (yang cenderung kalah) di anime dan Light Novel, jadi kata-kata itu sangat menusuk. Tapi aku tidak akan mengatakannya karena Miori pasti akan menjahiliku.

Di saat aku sedang berpikir yang tidak-tidak,

"Ya sudah, ayo berangkat."

Miori berjalan dengan riang sambil berseru, "Berangkat!"

Melihat sosoknya yang bebas karena seenaknya melenggang pergi padahal tadi menungguku, aku jadi merasa nostalgia.

"……Mau bagaimana lagi."

Seperti dulu, aku menurut saja mengekor di belakang Miori.

Kami naik kereta dari stasiun lokal dan turun di Stasiun Takasaki.

Di tengah jalan, aku terus ditemani cerita Miori tentang klubnya yang tak ada habisnya.

Begitu keluar dari gerbang tiket, semua orang sudah berkumpul di dekat papan pengumuman di depan.

"Pagi-pagi!"

Miori yang ada di sampingku melambai dengan semangat.

Pandangan semua orang tertuju pada kami secara serempak.

"Ah, Miorin, Natsu! Pagi-pagi!"

Yang pertama kali tampak berbinar adalah Uta. Dia melambaikan kedua tangannya dengan antusias.

"Halo, sudah lama tidak bertemu."

Di sampingnya, Reita tersenyum lembut.

"Wiss…… tapi, ngantuk banget……"

Tatsuya menguap lebar sambil mengangkat satu tangan dengan gaya malas.

"Ah, kalian berdua. Sudah datang ya."

Hondo-san yang tadinya bersandar di dinding mengangkat wajah dari ponselnya.

"Miorin!"

Begitu kami mendekat dan bergabung, Uta langsung memeluk Miori dengan erat.

Saat Miori mengelus kepala Uta seolah sedang menghibur anak kecil, Tatsuya merangkul pundakku.

"Ngantuk banget, rasanya berdiri saja susah……"

"Jangan jadikan aku tumpuan hanya karena itu……"

Meski sama-sama rajin berolahraga, Tatsuya punya postur yang lebih besar dan lebih tinggi dariku.

Berat badannya pasti lebih dari tujuh puluh kilo, berat sekali.

"Lagian kenapa sih ngantuk sekali?"

Yah, aku juga sama mengantuknya, sih. Tapi di luar aku menutupinya.

"Tatsuya kan masih anak-anak, jadi selalu tidak bisa tidur sebelum acara yang ditunggu-tunggu."

"Berisik, Reita. Jangan bicara yang aneh-aneh."

Tatsuya tampak sedikit malu, tapi karena aku dalam situasi yang sama, aku tidak bisa bicara apa-apa.

Tiba-tiba Reita melihat jam.

"Sudah waktunya berkumpul, tapi…… tinggal Nanase-san dan Hoshimiya-san ya."

"Oh, itu mereka. Sepertinya baru saja sampai."

Mengikuti pandangan Tatsuya, aku pun melihat Nanase dan Hoshimiya baru saja keluar dari gerbang tiket sambil menarik koper. Mereka menyadari tatapan kami dan mengangkat satu tangan.

"Maaf! Apa aku telat sedikit?"

Hoshimiya meminta maaf sambil mengatupkan kedua tangannya, aku dan Reita pun menjawab.

"Tidak, waktunya pas kok. Jangan dipikirkan."

"Lagipula kami memang sengaja memberi jarak waktu kumpul yang longgar."

Nanase yang berada di belakang Hoshimiya meminta maaf sambil memegang keningnya.

"Maafkan kami. Gara-gara Hikarino terus bingung memilih baju, jadi waktu……"

"Yu-Yuino-chan!? Itu kan janji tidak boleh dibicarakan!?"

"Hahaha," tawa pun memenuhi tempat itu.

Meskipun sudah lama tidak berkumpul, suasana di antara kami tidak berubah.

Yang terasa segar memang kenyataan bahwa Miori dan Hondo-san bergabung di antara kelompok ini.

Saat aku melirik Hondo-san, ternyata dia juga sedang melihatku, dan mata kami bertemu.

"Hairaba-kun, apa kamu suka laut?"

Hondo-san bertanya dengan ekspresi yang seolah tanpa emosi sama sekali.

"……Hah? Ya, kurasa aku cukup suka?"

"Begitu. Aku juga suka."

Hondo-san berkata begitu lalu mengalihkan pandangannya kembali ke ponsel.

……Jangan-jangan, tipe anak yang punya dunia sendiri, ya!?

Kami membeli tiket bersama dan naik Shinkansen.

Kami akan terus berada di kereta selama sekitar satu jam sampai ke Niigata.

Kami naik gerbong tanpa kursi reservasi, tapi penumpangnya sedikit. Kami mengubah posisi kursi bagian depan menghadap ke belakang sehingga posisi duduk kami saling berhadapan. Hanya saja, deretan kursi samping terbagi tiga, dengan koridor di antaranya.

Kami berjumlah delapan orang. Secara alami, kursi tengah dibiarkan kosong.

Hasilnya, di sisi kiri koridor duduk Reita, Nanase, Miori, dan Tatsuya. Sisi kanan adalah aku, Hondo-san, Hoshimiya, dan Uta.

Karena aku satu-satunya laki-laki dan di depanku adalah Hondo-san, rasanya agak canggung.

Di sampingku duduk Uta, dan di depan agak miring adalah Hoshimiya. Sekarang, Hoshimiya, Uta, dan Hondo-san bertiga sedang asyik mengobrol dengan riang. Hondo-san juga tidak banyak mengubah ekspresi, tapi dia cukup banyak bicara.

Aku entah kenapa tidak bisa masuk ke dalam obrolan, jadi aku melihat ke luar jendela. Entah kenapa Uta maupun Hoshimiya tidak mengajakku bicara…… menyedihkan…… apa aku harus masuk sendiri? Benar juga, ya.

Saat aku melirik ke kursi seberang, Reita dan Miori tampak sedang mengobrol akrab.

Tatsuya tampaknya belum sarapan dan sedang memakan bento stasiun yang dibeli tadi.

Nanase menatap Tatsuya yang sedang makan sambil merasa kagum, "Kamu makannya banyak, ya."

Di sana juga tampak seru.

Saat aku sedang melamun begitu, aku merasakan tatapan seseorang.

"Hmm?"

Saat aku mengalihkan pandangan ke kursi kami sendiri, entah kenapa Hoshimiya dan Uta sedang menatapku lekat-lekat.

"……Ada apa?"

Saat aku bertanya, mata mereka terbelalak seolah tersentak.

"E-eh, tidak ada apa-apa kok. Ya kan, Uta-chan?"

"I-iya, benar kan, Hikarin!"

Ada apa……?

Entah karena aku tidak peka dengan suasana atau bagaimana, aku tidak mengerti maksud dari situasi ini.

Saat aku menolehkan pandangan ke arah Hondo-san, dia hanya mengangkat bahu tanpa mengubah ekspresinya.

Dalam suasana yang canggung, keheningan pun datang.

"Hei."

Tiba-tiba Hondo-san membuka mulut.

Tatapan itu menangkapku secara lurus.

"Hairaba-kun itu, orang seperti apa sih?"

……Itu pertanyaan yang harusnya ditanyakan padaku?

"Orang seperti apa…… ya, bagaimana, ya?"

Aku yang kebingungan meminta bantuan pada Hoshimiya.

Setelah berpikir sedikit, Hoshimiya mulai bercerita.

"Hmm, tinggi badannya 178 cm, berat 65 kg, makanan favoritnya ramen dan nasi omelet, nama asalnya dari tanggal lahirnya yaitu 28 Agustus. Hobinya membaca buku dan latihan otot, olahraga yang dikuasai basket, pelajaran yang dikuasai fisika dan matematika, susunan keluarganya adalah……"

Hoshimiya merapalkan informasi diriku dengan lancar.

Padahal tempo hari aku memang menjawab berbagai pertanyaan, tapi hebat sekali dia mengingat sebanyak itu.

"……Hikarin, kok tahu detail banget?"

Uta memiringkan kepalanya dengan bingung.

Melihat Uta seperti itu, Hoshimiya seketika berhenti bergerak.

"……E-eh, anu, tempo hari aku dengar dari banyak hal, kan?"

"Iya. Kami memang sempat punya kesempatan bicara banyak hal."

Karena aku tidak tahu sampai mana harus menjelaskan, jawabanku pun jadi samar-samar.

Mendengar percakapan samar kami, Uta bergumam, "Begitu ya."

Dia hanya tampak penasaran seperti biasa, tapi entah kenapa terasa menakutkan, ya.

"Aku tahu dia pintar. Dia selalu jadi juara kelas dan namanya terpampang di papan pengumuman. Soal basket yang jago, aku juga dengar dari Miori. Selebihnya, aku juga dengar banyak dari Miori soal cerita masa kecilmu."

"Serius? Coba kasih tahu dia jangan bicara yang aneh-aneh."

Mendengar ucapan Hondo-san, ekspresiku berubah masam.

Cerita masa kecil biasanya berisi sejarah hitam. Sekarang setelah semua orang tahu kalau aku "tampil beda" sejak SMA, tidak masalah membicarakan masa lalu, tapi tetap saja memalukan, ya memalukan.

"Miori tampak paling bahagia saat membicarakan Hairaba-kun, jadi aku sulit menghentikannya."

Hondo-san bergumam dengan nada yang terdengar wajar.

Yah, anak itu memang dari dulu suka mempermainkanku……

"Aku juga dengar banyak cerita masa lalu Natsu dari Miorin loh—"

Uta berkata dengan wajah jahil, "Tehehe."

……Perempuan itu, seenaknya membicarakan masa lalu orang!

Aku melirik Miori dari balik koridor, tapi dia tidak sadar sama sekali karena sedang asyik mengobrol dengan Reita.

"Cerita masa kecilnya Natsuki-kun ya~"

Hoshimiya merespons dengan penuh minat, padahal tempo hari lewat telepon sudah dibicarakan sebanyak itu, kan!

"Iya, sudah ya cerita yang ini! Berhenti!"

Karena pembicaraannya mengarah ke hal yang tidak enak, aku memotongnya dengan tegas.

Entah karena aku terlihat sangat risi, Uta dan Hoshimiya saling bertatapan lalu tertawa.

Namun, Hondo-san yang ekspresinya datar bertanya padaku.

"Hairaba-kun sama Miori itu teman masa kecil, kan?"

"……Ya, setidaknya kami sama-sama sejak TK. Setidaknya, ya."

Dilihat dari sisi lain, hanya itu saja hubungan kami, jadi "teman masa kecil" bukanlah sesuatu yang spesial.

Hanya saja, waktu yang kami habiskan bersama memang lama.

Saat aku sedang berpikir begitu, tiba-tiba Hondo-san mendekatkan wajahnya.

"A-apa……?"

Wajahnya yang berkesan cantik memenuhi seluruh pandanganku, membuatku tegang.

Kenapa semua perempuan di sini manis sekali, sih?

Berhenti dong, aku jadi terpesona. Wajahku jadi panas.

"Hairaba-kun, kamu menganggap Miori itu seperti apa?"

Hondo-san berbisik di samping telingaku.

Mungkin supaya tidak didengar oleh Miori yang duduk di sisi koridor seberang.

Tapi suara itu pasti terdengar oleh Hoshimiya dan Uta.

Mereka berdua menatapku lekat-lekat.

"Kalau ditanya seperti apa…… ya biasa saja, teman akrab. Waktu SMP kami jarang bicara, sih. Pokoknya, dengan kepribadiannya itu dia sering mengurusiku, aku jadi terbantu."

Aku menjawab dengan suara pelan, jujur sesuai perasaanku.

Kemungkinan besar yang ingin diketahui Hondo-san adalah apakah aku menyukai Miori secara romantis atau tidak, tapi mendengar jawaban ini, harusnya dia tahu kalau hubungan kami tidak seperti itu.

Setiap kali aku bilang teman masa kecil dengan Miori, banyak orang yang suka berprasangka buruk.

"……Hmm. Begitu ya?"

"Iya. Tidak ada perasaan lain selain itu."

Hondo-san menatap wajahku lekat-lekat selama beberapa saat, lalu menjauhkan wajahnya mungkin karena sudah puas.

Dia mengubah posisi duduknya yang tadi mencondong ke depan, lalu menyandarkan punggung ke kursi.

Aku merasa seperti sedang diinterogasi, tapi syukurlah bisa lolos.

Begitu aku berpikir demikian.

"――Jadi, kamu pacaran dengan Uta?"

Satu kalimat yang menusuk tajam itu membuat wajahku tegang.

"T-tidak……"




Aku hanya bisa memberikan penolakan yang terasa samar, lalu Uta buru-buru memotong pembicaraanku.

"A-apa yang kamu katakan, Seri!? Kami belum pacaran, tahu!"

"Oh, begitu. Jadi belum pacaran, ya."

Mendengar balasan tenang dari Hondo-san, wajah Uta memerah dengan cepat.

"Belum pacaran... belum, ya. Belum, ya."

"Seri!? Sudah kubilang hentikan!"

Uta berteriak setengah menangis, telinganya memerah hingga ke pangkal.

Sejujurnya, aku pun merasa sangat malu. Rasanya, mereka berdua terlalu menggemaskan.

"Maaf, maaf. Aku hanya merasa suasana ini menyenangkan."

Hondo-san sedikit melonggarkan senyum di bibirnya dan meminta maaf kepada Uta.

Selama itu, Hoshimiya terus memandangi interaksi kami dengan senyum tipis yang menghiasi wajahnya.

……A-aku tidak bisa membaca emosinya. Tapi entah kenapa, sedikit menakutkan? Kenapa ya……?

"Tidak, soalnya saat festival musim panas kemarin, aku sempat melihat kalian sedikit."

"Ah, begitu rupanya……"

Kalau dia melihat kondisiku dan Uta di festival musim panas, wajar saja jika dia mengira kami berpacaran.

Kami memang bermesraan cukup intens…… Bahkan aku sendiri sadar akan hal itu.

"Eh, Seri juga datang!? Aku sama sekali tidak menyadarinya. Seharusnya kamu menyapa kami."

"Tidak, mana mungkin bisa. Soalnya…… aku melihat kalian berdua tepat di depan rumah Uta, tahu?"

Wah, dia melihatnya di depan rumah Uta. ……Di depan rumah Uta?

Itu artinya……

"――Natsu."

"……Ini adalah perasaanku yang sebenarnya."

Jangan-jangan, dia melihat kejadian itu?

Hondo-san menatap wajahku dan Uta bergantian yang terdiam, lalu bergumam, "Itu, maaf ya."

"……Apakah terjadi sesuatu?"

Orang yang bertanya seperti itu sambil tetap mempertahankan senyumnya adalah Hoshimiya.

"Se-sedikit saja! Natsu mengantarku pulang sampai ke rumah, kan!?"

Uta menjawab dengan nada yang terdengar seperti mengalihkan pembicaraan, lalu meminta persetujuanku. Aku pun mengangguk.

"Wah, begitu ya. Festival Tanabata, ya, asyik sekali."

Hoshimiya bergumam seperti itu sambil menatap ke luar jendela.

Seingatku, saat itu Hoshimiya sedang pergi ke daerah Kanagawa karena urusan keluarga.

Apa pun itu, setidaknya kekacauan ini berhasil diredam. Meskipun jantungku dan Uta masih berdegup kencang.

"……"

"……"

"……"

"……"

Masalahnya adalah keheningan yang kembali datang.

Karena sisi lain kereta sangat ramai dan berisik, keheningan di sini justru terasa semakin mencolok.

A-apa yang harus kulakukan?

Yang membuatku penasaran, entah mengapa Hoshimiya dan Uta juga jadi irit bicara. Mereka tidak terlihat sedang dalam suasana hati yang buruk, tapi aku merasa mereka berdua tampak gelisah. Kenapa ya?

Pokoknya, aku ingin menciptakan suasana yang lebih baik.

Memang sudah bukan rahasia lagi kalau aku payah dalam percakapan, tapi keberadaan orang baru tentu saja membuat semuanya terasa mendadak sulit.

Mungkin aku hanya gugup, tapi…… ingat nasihat Miori.

Dasar dari komunikasi adalah menaruh minat pada lawan bicara.

"Hondo-san, kamu anggota klub musik ringan, kan?"

Karena itu, aku berpikir untuk mencoba mengenal sosok Hondo-san.

Ngomong-ngomong, Hondo-san juga tadi sempat bertanya tentang diriku, dan kurasa ini adalah langkah yang benar.

"Iya. Kamu tahu ya," jawab Hondo-san sambil mengangguk.

"Aku sesekali mendengar cerita dari Miori. Kamu main gitar?"

"Iya. Sejak SD, selalu. Menyenangkan, lho. Haibara-kun juga main?"

Begitu topik pembicaraan beralih ke musik, nada suara Hondo-san naik secara drastis.

Meskipun perubahan ekspresinya tidak terlalu banyak, tapi reaksinya sangat mudah terbaca. Sepertinya dia benar-benar menyukai musik.

"Kalau gitar, aku pernah memainkannya sedikit."

"Eh, benarkah?"

Hondo-san bertanya seolah condong ke arahku. Dia terlihat sangat antusias.

Karena jarak wajah kami yang kembali dekat, aku refleks menarik diri sambil tetap berusaha melanjutkan percakapan dengan normal.

"Hanya sedikit. Aku bahkan cuma bisa memainkan Power Chord dengan benar."

Aku teringat kenangan masa kuliah saat aku mencoba segalanya yang bisa kulakukan sendirian.

Sebagai penggemar rock, wajar saja jika aku sempat terjun ke alat musik utama, yaitu gitar.

Dulu, karena mengidolakan Jimi Hendrix, aku sempat membeli Stratocaster, namun karena tidak kunjung mahir, aku akhirnya menyerah dan membiarkan gitar itu tergeletak di sudut kamar sejak saat itu. Sekarang terasa begitu nostalgia.

Mungkin kalau ada teman untuk membentuk band, aku bisa terus lanjut…… tapi tidak, itu cuma alasan. Kampusku juga punya klub musik ringan. Aku saja yang tidak punya keberanian untuk bergabung.

"Wah. Mau aku ajari?"

Hondo-san berkata begitu, lalu seolah teringat sesuatu, dia melanjutkan kata-katanya.

"Lagipula, Haibara-kun anak yang langsung pulang ke rumah, kan? Mau masuk klub musik ringan? Kami selalu menerima anggota baru, lho."

"A-agresif sekali ya……"

"Ahaha, Seri memang suka sekali kalau diajak bicara soal musik!"

Melihatku yang refleks menarik diri, Uta memotong pembicaraan.

"Lagipula, panggil dengan nama saja ya. Aku tidak suka nama belakangku karena terlalu kaku."

"Maksudmu memanggilmu Serika-san?"

"Tidak perlu pakai 'san' juga."

"Serika?"

"Yup."

"Kalau begitu, panggil aku Natsu saja."

"Hmm. Kalau begitu, mohon bantuannya, Natsu."

……Entah bagaimana, kami jadi memanggil dengan nama depan dengan begitu mudahnya.

Apakah ini yang disebut jarak sosial ala anak gaul?

Padahal aku sendiri sampai kapan pun tidak bisa memanggil Hoshimiya dengan nama depannya.

Yah, karena aku tidak punya perasaan apa pun pada Serika, aku bisa menanggapi dengan alami.

Kalau lawannya adalah Hoshimiya, hanya dengan memanggil namanya saja wajahku bisa langsung memerah.

Hoshimiya…… tidak, Hikari…… Hikari. Ya, kurasa aku tidak akan sanggup. Kalau saja aku bisa memanggil namanya sejak awal seperti Uta, mungkin tidak akan jadi masalah, tapi rasanya sangat malu untuk mengubahnya sekarang.

Tanpa sadar, aku melirik Hoshimiya. Ternyata Hoshimiya juga sedang melihatku.

Sebelum aku sempat memalingkan muka, Hoshimiya dengan cepat membuang pandangan. Dia menatap layar ponsel di tangannya seolah tidak terjadi apa-apa. Entah kenapa Hoshimiya hari ini gerak-geriknya mencurigakan, ya……?

"Hei, Seri. Natsu juga suka rock, lho."

"Aku sempat dengar sedikit dari Miori, tapi apa saja yang kamu suka?"

"Aku sih tetap Areki (Ellegarden), ya."

"Kenapa bukan membicarakan aku?"

"Aku sudah tahu band kesukaan Uta."

"Ahaha, canda, canda. Natsu seingatku suka Bump sama Elle, kan?"

Aku suka apa saja, tapi kalau Japanese Rock, aku memang sangat menyukai keduanya. One Ok Rock, Uverworld, Asian Kung-Fu Generation, Radwimps, The Oral Cigarettes, 04 Limited Sazabys, My First Story…… daftarnya tidak akan ada habisnya.

"Wah, keren juga. Aku juga suka Elle. Lagu Kaze no Hi dan sebagainya."

"Paham banget. Lagu itu liriknya bagus."

"Kan? Belakangan ini, setelah mendengarkan banyak hal, aku jadi berada di fase di mana lirik bahasa Jepang sangat menyentuh hati."

"Aku justru sedang keranjingan musik barat klasik."

Belakangan ini, aku memang cenderung kembali mendengarkan lagu-lagu lama. Alasannya adalah karena aku melakukan time leap tujuh tahun ke masa lalu. Tentu saja, aku tidak bisa mendengarkan musik terbaru. Itulah sebabnya lagu-lagu yang sedang tren terasa familier bagiku, dan mungkin karena itu pula, seleraku perlahan jadi semakin kuno. Lagu-lagu legendaris zaman dulu adalah hal-hal yang belum pernah didengar oleh diriku yang dulu, namun semuanya terdengar sangat rock.

Dimulai dari The Beatles yang mengubah era rock, Jimi Hendrix, The Rolling Stones, Bob Dylan, lalu untuk punk ada Sex Pistols, hard rock dengan Led Zeppelin, heavy metal dengan Black Sabbath, dan tentu saja, Nirvana. Masih banyak band legendaris lain yang terkubur dalam sejarah rock, tapi hanya itu yang berhasil kuikuti sejauh ini.

"Ah, paham. Aku sempat kecanduan Nirvana beberapa waktu lalu."

Ternyata selera anak SMA satu ini cukup garang juga, ya.

Entah kenapa, sepertinya kami bisa nyambung.

"Jangan-jangan, album Nevermind?"

Saat aku menyebutkan album yang membuat Nirvana meledak di pasaran, Serika mengangguk.

"Itu album yang terlalu legendaris…… lagipula, ternyata kamu nyambung juga ya."

"Aku tipe yang mendengarkan segalanya. Cuma 'pemakan segala' saja."

Begitulah, tanpa sadar aku asyik mengobrol dengan Serika.

Benar saja, pembicaraan soal musik memang menarik, sampai-sampai aku tidak sadar telah menelantarkan Hoshimiya dan Uta.

Uta setidaknya masih bisa mengikuti topik, tapi Hoshimiya pasti sama sekali tidak paham.

Aku menyatukan kedua tangan di depan dada kepada Hoshimiya yang hanya bisa menimpali seadanya.

"Maaf ya. Kami malah asyik sendiri."

"Jangan dipikirkan. Lagi pula, Natsu-kun ternyata punya selera yang beragam, ya."

"Sama seperti selera musikku, aku hanya mencicipi semuanya secara dangkal dan luas……"

Hampir tidak ada gunanya bagiku dulu, tapi setelah menjalani hidup kembali, hal itu terasa cukup membantu. Hobi ini juga yang menjadi pemicu kedekatanku dengan Serika.

Kurasa kami sudah cukup akrab.

Meskipun begitu, aku masih belum bisa membaca perubahan ekspresinya.

Padahal dengan Nanase, perlahan-lahan aku sudah mulai bisa paham. Tidak, mungkin lebih tepatnya ekspresi Nanase yang awalnya kaku. Malah sekarang, menurutku dia cukup ekspresif.

"Ah, sepertinya kita akan segera sampai. Stasiun berikutnya, ya."

"Eh, serius?"

"Ternyata kalau mengobrol, waktu berjalan cepat sekali, ya."

"Ahaha, Natsu sama Seri tadi seru banget sih."

Apa pun itu, misi (?) agar bisa mengobrol dengan Serika berhasil kulakukan.

Aku takut kalau suasananya jadi canggung, jadi syukurlah bisa cepat akrab di awal……

Niigata-eki ni tsuite, chotto kyuukei shite kara basu ni noru.

Saat sampai di Stasiun Niigata dan beristirahat sejenak, kami naik bus.

Tujuan kami adalah sebuah pondok (cottage) yang sudah dipesan. Pertama, kami harus menaruh barang-barang di sini.

Memang jalan menuju ke sana sedikit memutar jika dibandingkan dengan langsung pergi ke pantai dari stasiun, tapi karena lokasi pondok bisa ditempuh dengan berjalan kaki ke pantai, aku rasa lebih aman untuk mampir ke sana dulu.

Meskipun aku sudah berdiskusi dengan semua orang, rencana ini disusun terutama olehku, jadi aku merasa gugup.

Aku memang sering melakukan perjalanan dadakan, tapi perjalanan kelompok seperti ini adalah yang pertama bagiku di luar acara sekolah. Saat memikirkan bahwa arah langkah semua orang bergantung pada instruksiku, hatiku jadi terasa berat.

"Apa yang kamu khawatirkan? Kita sudah mengeceknya berkali-kali, jadi tidak masalah."

Aku pikir Miori sedang menghiburku, tapi ternyata dia menepuk punggungku dengan keras.

"……Aduh, sakit tahu?"

"Teman masa kecilmu sudah menyemangatimu, jadi berterima kasihlah."

"Aku tidak butuh bonus kekerasan……"

Di dalam bus yang bergoyang, orang yang duduk di sampingku di kursi dekat jendela adalah Miori.

Padahal ini liburan yang menyenangkan, kenapa dia tidak duduk di samping Ryota saja seperti di kereta tadi?

"Sudah akrab dengan Serika?"

"Yah, sudah bisa bicara dengan biasa. Selera kami juga cocok."

"Kalau begitu syukurlah. Kamu mungkin tidak sadar karena duduk di belakang, tapi tadi aku yang meminta Serika bertukar kursi. Aslinya, posisi dudukku bakal tepat di depanmu."

"……Lho? Jadi kamu yang sengaja mengalah?"

Agar aku bisa akrab dengan Serika.

"Bukan begitu. Sudah pasti karena aku ingin duduk di samping Ryota-kun, kan."

Miori berkata begitu, tapi entah mengapa agak mencurigakan. Sifatnya yang terlalu suka mengurus orang lain itu, ya. Akhir-akhir ini, aku merasa dia justru lebih memprioritaskan dukunganku daripada hubungan asmaranya sendiri.

Faktanya, sekarang pun dia sedang berada di sampingku.

Yah, aku sendiri memang merasa lebih tenang kalau Miori ada di dekatku.

"Natsu, kita turun di sini, kan?"

"Ah, iya benar. Maaf, aku terlalu asyik mengobrol."

Ryota menutupi kesalahanku, dan aku merasa terbantu setiap saat.

Saat terburu-buru turun dari bus, sebuah jalan setapak yang benar-benar terasa suasana pedesaannya membentang di depan kami.

"Ah, lihat! Lautnya kelihatan dari sana!"

Hoshimiya berteriak dengan senang, jadi aku melihat ke arah yang ditunjuknya.

Memang masih ada jarak dari sini, tapi melalui celah pepohonan dan perumahan, laut memang terlihat dengan jelas.

"Ooh, semangatku jadi naik, nih!"

Tatsuya merangkul pundakku dengan penuh semangat yang terpancar jelas.

"Oi, gerah tahu."

Padahal suhu udara sedang tinggi, mana mungkin aku tahan dirangkul oleh lengan pria yang berkeringat.

Yah, hari ini masih mending dibandingkan panas biasanya. Mungkin Gunma yang memang terlalu panas.

"Natsu, arahnya lewat sini, kan?"

Setelah memastikan arah yang ditunjuk Ryota dengan aplikasi peta, aku mengangguk, "Benar."

Terima kasih, Ryota. Kamu terlalu kompeten……

"Kok, sama sekali tidak ada orang ya?"

"Daerah sini adalah jalan yang dipenuhi penginapan, guesthouse, dan pondok wisata."

Aku menjawab pertanyaan Uta yang menoleh ke kanan dan kiri dengan bingung.

Memang ada beberapa orang yang tampak seperti turis, tapi hanya itu. Karena berbeda dengan area perumahan, jadi tidak banyak penduduk setempat. Kalau kami pergi ke arah stasiun yang lebih ramai, pasti banyak orang di sana.

"Ehehehehe, Yuino-chan! Yaaay!"

"A-apa sih, Hikari……? Aku tidak bisa mengimbangi semangatmu itu, lho?"

Mungkin karena melihat laut, semangat semua orang terasa lebih tinggi dari biasanya.

Di antara mereka semua, Hoshimiya terlihat senang dengan begitu jelas.

Entah kenapa, dia terus tersenyum.

……Yah, sampai akhirnya bisa sampai di sini hari ini, banyak sekali kesulitan yang kami lalui.

Aku merasa senang melihat Hoshimiya berada di sini sekarang, dan melihatnya bisa tersenyum seperti itu.

"……Natsu?"

Aku sedang memandangi Hoshimiya cukup lama sampai akhirnya disadarkan oleh suara Uta di sampingku.

"Ah, a-ah…… kenapa?"

"……Tidak apa-apa! Menuju ke laut, jadi tidak sabar ya!"

Setelah berjalan beberapa menit, kami sampai di pondok tujuan.

Hal pertama yang terlihat adalah teras yang luas. Bangunannya bergaya barat. Terbuat dari kayu dan entah bagaimana terasa sangat atmosferik.

Area parkirnya pun luas. Yah, mungkin lebih banyak orang yang datang dengan mobil. Seandainya aku belum melakukan time leap, aku sudah punya SIM. Mobil yang terparkir satu itu mungkin milik pemilik rumah.

"Ya, ya, silakan masuk."

Saat kami pergi ke pintu depan, pemilik rumah yang menyadari kedatangan kami keluar, lalu memandu kami masuk ke dalam rumah sambil menjelaskan hal-hal ringan seperti cara menggunakan kamar mandi dan dapur, sebelum akhirnya memberikan kunci.

"Kalau begitu, selamat menginap satu malam ya. Selamat bersenang-senang."

Paman pemilik rumah itu pergi menaiki mobil yang tadi terparkir.

"Woah, ruang tamunya luas sekali!"

Uta terjun ke sofa panjang dan langsung rebahan di sana.

Aku memutuskan untuk mengecek strukturnya sekali lagi.

Saat membuka pintu depan, ada tangga tepat di depannya. Saat membuka pintu geser di sebelah kanan, lantai satu hampir tidak terbagi sekat, langsung menjadi ruangan besar. Ada dua sofa panjang yang saling berhadapan mengapit meja rendah, dan ada televisi di depannya. Meja dan kursi kayu juga berjejer.

Aku pikir hanya dapur dan toilet yang bersekat, tapi saat kulihat dengan teliti, ada satu kamar lagi di bagian belakang. Kamar bergaya Jepang seluas delapan tikar tatami, sepertinya cocok untuk berkumpul dan bermain sesuatu.

Saat naik ke lantai dua, ada sekitar sepuluh kamar kecil dengan struktur yang sama. Setiap kamar dilengkapi dua tempat tidur, serta meja dan kursi kecil. Saat tidur nanti, sepertinya akan dibagi menjadi dua orang per kamar.

Setelah mengecek bahwa strukturnya sama dengan informasi awal, aku kembali ke lantai satu. Semua orang sudah meletakkan barang-barang di sudut ruangan dan bersantai dengan duduk dalam-dalam di sofa. AC-nya pun sudah menyala dan terasa sejuk.

"Katanya kita mau istirahat sebentar baru berangkat ke pantai."

"Oke, paham."

Aku mengangguk pada konfirmasi Ryota.

Kalau terus-terusan pindah tempat di bawah terik matahari tanpa istirahat, Nanase bisa tumbang.

Yah, tidak cuma Nanase, yang lain juga berisiko terkena Heatstroke. Aku harus menjaga kondisi fisik semua orang.

"Hari ini rencananya gimana? Jadi ke laut, kan?"

"Yah, pergi ke tempat pemandian laut buat main, beli daging dan sayur di supermarket lalu pulang, bakar-bakar di teras situ…… sisanya ya, mandi dan tidur."

Aku menjawab alur kasarnya menjawab pertanyaan Tatsuya.

"Asyik, semangatku jadi naik, nih!"

Itu adalah rencana hari pertama.

Aku juga berpikir kalau setelah bakar-bakar nanti, asyik juga kalau bermain papan permainan atau apa pun.

Tatsuya tiba-tiba berdiri dengan sigap dan mendeklarasikan dengan suara keras.

"Oke, istirahatnya sudah cukup, ayo kita berangkat!"

Tatsuya hanya membawa tas yang berisi baju renang dan langsung keluar kamar.

Padahal tadi dia yang paling keberatan soal masalah uang, tapi malah dia yang paling terlihat menikmati.

Kami pun meninggalkan pondok dengan hanya membawa barang yang perlu, seperti baju renang.

Saat aku yang keluar terakhir menutup pintu dengan benar dan berbalik, entah kenapa Tatsuya, Uta, dan Hoshimiya sudah tidak ada. ……Tidak, kalau dua orang itu sih aku paham, tapi kenapa Hoshimiya juga tidak ada?

Nanase yang memakai payung berteduh mengedikkan bahu dengan heran.

"Mereka sudah pergi. Hikari juga bareng mereka."

"Mereka berencana jalan kaki ke pantai?"

Meskipun jaraknya sekitar sepuluh menit, tetap saja di cuaca panas seperti ini, itu cukup melelahkan.

Kalau menunggu sedikit lagi, bus yang menuju ke dekat pantai akan datang.

"Sepertinya mereka tidak bisa menahan rasa tidak sabar."

"Kami sudah bilang kalau kita mau naik bus biasa saja."

Nanase dan Miori tersenyum pahit.

"Kamu sendiri, bukannya karakternya tipe yang ikut mereka?"

"Tanya dirimu sendiri, kamu ngomongin masa kapan, sih?"

Saat aku mencela Miori, dia memukul kepalaku.

"Meskipun begitu, aku kaget karena Hikari-chan segirang itu."

"Hikari memang dari dulu lebih suka laut daripada orang lain."

Nanase berkata sambil menatap jauh ke depan.

"……Yah, pokoknya ayo ke halte bus. Sebentar lagi pasti datang."

Mengikuti kata-kata Serika yang datar, kami berangkat meninggalkan pondok.

Saat sampai di tempat pemandian laut, kami pertama-tama berganti baju renang di rumah tepi pantai.

Omong-omong, waktu sampai kami tidak jauh beda dengan grup Tatsuya.

Meskipun sempat menunggu, ada perbedaan besar antara naik mobil dan jalan kaki.

Karena semangat trio yang berangkat lebih dulu tidak berubah dan tetap tinggi, ya sudahlah.

Sekarang kami bertiga, para pria, sedang menunggu para wanita di depan rumah tepi pantai. Karena pria biasanya lebih cepat berganti baju.

"Akhirnya datang juga, momen ini……!"

Tatsuya mengayunkan kepalan tangannya dengan ekspresi yang luar biasa.

"Fufuh, aku sudah menyelesaikan simulasi baju renang semua orang di dalam otakku……"

Ry-Ryota sudah rusak…… pikirku, tapi yah, Ryota memang punya sisi seperti ini dari dulu.

Dia bisa melakukan lelucon dewasa dengan wajah tanpa dosa. Tapi itu hanya wajah yang dia tunjukkan kepada sesama pria.

"Oi-oi, kamu juga bilang sesuatu dong. Kamu juga tidak sabar, kan? Iya, kan?"

Tatsuya dan Ryota yang bertelanjang dada merangkul pundakku.

Tidak, ini terlalu terbawa suasana.

"Ya mau gimana lagi, kalau dibilang ingin lihat ya ingin lihat sih……"

Hanya dengan membayangkan Hoshimiya berbaju renang, darahku mengalir ke bagian tertentu—tidak perlu kujelaskan di mana.

Lagipula, ukuran itu. Biasanya dia terlihat kurus dengan pakaian, tapi kalau baju renang, pasti…… t-tidak, tenangkan dirimu, aku. Di sini aku harus membayangkan baju renang Uta. Kalau Uta…… tidak, aku tetap ingin melihatnya!

Aku ingin melihat Uta dengan pakaian yang segar! Karena aku menyukainya!

Di dalam hati aku sangat bergejolak, tapi secara lahiriah aku berusaha menjaga ketenangan.

Di depan trio pria bodoh yang terlihat sangat ceria ini, momen yang dinanti pun tiba.

"Yoo-hoo! Nunggu lama?"

Uta yang berlari mendekat mengenakan bikini motif kotak-kotak merah dan putih. Meskipun paparannya relatif sedikit, kulit putihnya jauh lebih menyilaukan dibandingkan pakaian biasanya. Lagipula, dia sudah manis. Sangat manis.

Saat aku memalingkan muka karena tidak sanggup menatap langsung, di sana ada Hoshimiya.

"……T-terima kasih sudah menunggu."

Hoshimiya mengibaskan tangannya dengan malu-malu.

Di bagian dadanya terdapat belahan yang dalam dengan dua gundukan besar. Bagian yang seolah akan meluap itu tertutup kain tipis, dan dari pinggangnya yang ramping, melingkar kain besar seperti rok yang membentuk lekukan. Mungkin itu yang disebut pareo. Di balik itu tentu saja ada bawahan baju renang.

Saat memikirkan itu, bayangan pakaian dalam yang kulihat di rumah secara alami muncul kembali. Maksudku, Hoshimiya pernah menginap di rumahku, rasanya sungguh sulit dipercaya. Mungkin saja itu hanya mimpi.

"Hikari, apa kamu sudah benar-benar memakai sunblock?"

Nanase yang hari ini bertugas sebagai pelindung Hoshimiya mengenakan bikini hitam. Ternyata dia membeli baju renang seperti ini saat pergi berbelanja baju renang bersamaku. Sejujurnya, menurutku dia yang paling terbuka.

Saat aku berpikir begitu, dia langsung mengenakan rash guard untuk menutupi bagian atasnya.

Meskipun begitu, bawahan baju renangnya yang sedikit mengintip justru terasa lebih seksi.

Karena tinggi, kakinya yang panjang dipamerkan tanpa ragu. Aku tanpa sadar menelan ludah.

"Ryota-kun. Bagaimana?"

Sementara itu, Miori memamerkan baju renangnya kepada Ryota dengan senyum yang puas.

Baju renang yang modis dengan warna dasar kuning.

Dilihat begini, aku jadi tahu kalau ternyata Miori pun cukup berisi……

Layaknya seorang atlet, dia memiliki bentuk tubuh yang kencang.

Maksudku, kenapa dia terlihat manis begitu saja sampai membuatku kesal? Fakta bahwa Miori itu manis sungguh menyebalkan.

"Hmm, cocok buatmu. Manis sekali."

Ryota pun memuji Miori dengan tulus dengan senyum yang lembut.

"……Natsu."

Saat dipanggil dari belakang, aku menoleh dan Serika mendekatiku.

Dia mengenakan baju renang bermotif pelangi yang mencolok, sangat cocok dengan penampilannya yang bergaya gyaru. Serika menatap tubuhku dari atas sampai bawah, lalu menusuk-nusuk perutku sambil berkata, "……Hebat ya."

"Kencang sekali. Hobi Fitnes?"

"Yah, sekadar untuk menghabiskan waktu."

Sambil menjawab begitu, sejujurnya aku merasa senang karena dipuji. Karena sejak liburan musim panas dimulai, aku memang fokus melakukan menu latihan yang mengutamakan otot perut. Ya, semuanya demi hari ini!

"Pokoknya, mari kita amankan markas dulu."

"Ramai sekali, ya."

"Bukankah di sana lebih bagus?"

"Hikari, simpan barang berhargamu di loker."

"Nggak apa-apa, ayo pergi! Aku mau cepat-cepat berenang!"

……Tapi karena tidak ada orang selain Serika yang menyentuhku, aku merasa sedikit sedih.

Yah, Ryota dan Tatsuya juga punya otot yang cukup, jadi bukan berarti aku sangat mencolok……

Terlepas dari itu, kami mengamankan sebagian pantai yang dipenuhi banyak tamu, lalu membentangkan tikar piknik.

Kami membuka payung yang dibawa sendiri dan memastikan area teduh untuk beristirahat.

Meskipun agak merepotkan dibawa, syukurlah kami membawanya. Tempat teduh alami sudah lama dikuasai oleh tamu lain.

Di saat persiapan seperti itu selesai,

"Baiklah! Serbuuuu!"

"Aku juga ikut! Yaaaay!"

Tatsuya dan Uta menyerbu ke laut. Mereka langsung memercikkan air.

"Miori, ayo kita pergi juga."

"Hmm."

Ryota menggandeng tangan Miori, dan mereka bergabung dengan keduanya.

Syukurlah hubungan mereka berkembang dengan lancar.

Dua orang yang berjalan menyusuri pantai itu terlihat seperti pasangan pada umumnya.

"……Apakah mereka berdua sudah pacaran?"

Tiba-tiba, Hoshimiya yang berdiri di belakangku bergumam. Pandangannya menangkap Ryota dan Miori.

"Aku tidak dengar apa pun sih…… tapi terlihat lebih maju daripada waktu itu, kan?"

"Iya. Entah bagaimana, rasanya cuma masalah waktu saja, ya?"

Mungkin karena Hoshimiya berbicara dengan suara pelan, jarak fisik kami jadi sangat dekat.

Sejujurnya, berada di jarak di mana lenganku bersentuhan dengan bahu Hoshimiya yang berbaju renang membuatku gugup. Tiba-tiba, lengan atas kami bersentuhan.

"Ah…… m-maaf."

Hoshimiya tiba-tiba menjauhkan diri.

Ah, tidak perlu sampai menjauh secepat itu juga……

"T-tidak…… aku juga, maaf."

Saat kami sedang melakukan percakapan kikuk itu, Nanase menyapa.

"Kalian berdua juga pergilah. Aku akan berjaga di sini bersama barang-barang kita."

Aku menekan detak jantungku untuk tetap tenang, lalu menjawab Nanase.

"Aku sangat menghargainya, tapi…… apa tidak apa-apa?"

"Barang berharga sudah kumasukkan ke loker, tapi kurasa setidaknya harus ada satu orang di sini, kan? Kalau langsung bersemangat dari awal, staminaku tidak akan cukup. Mengatur ritme itu penting, lho."

Nanase berbicara seolah sedang membahas maraton. Di sampingnya, Serika sedang duduk.

"Bagaimana dengan Serika?"

"Aku mau meniup pelampung dulu sebelum ke sana."

Sambil berkata begitu, dia mulai meniup pelampung berbentuk donat tersebut.

"Mengerti. Kalau begitu, untuk sementara aku titip, ya."

Setelah menyampaikan itu, aku meninggalkan tempat yang kami buat dengan payung pantai dan tikar piknik.

Berdua dengan Hoshimiya, kami berjalan menyusuri pasir pantai yang mengeluarkan suara berderak setiap kali kaki kami menginjaknya.

Di sepanjang jalan, melihat anak-anak yang bermain pasir membuat perasaanku menjadi teduh.

Tiba-tiba Hoshimiya meraih lenganku dan menghentikan langkah.

"Hoshimiya?"

Saat menoleh, Hoshimiya melepaskan tangannya dari lenganku.

Dalam posisi saling berhadapan, Hoshimiya tampak gelisah mencari kata-kata.

"……Ada apa?"

"……E-eum, itu."

Sambil merona malu, Hoshimiya berbisik dengan suara yang nyaris hilang.

"Baju renang."

"……Hm?"

"Bagaimana pendapatmu soal baju renangku?"

Aku tidak menyangka akan ditanya seterus terang itu.

Pikiranku seketika berhenti.

Aku terkejut dan mematung sambil terus menatap Hoshimiya.

"……Tentu saja, cantik. Sangat cocok untukmu."

Kata-kata itu keluar begitu saja dari lubuk hatiku.

Melihat Hoshimiya yang tersipu merah, wajahku pun ikut memanas.

Di bawah terik matahari yang memang sudah panas, entah mengapa suhu tubuhku naik lebih tinggi lagi.

Aku mohon, jangan buat aku terkena Heatstroke.

"……Natsu-kun juga, menurutku keren. Tubuhmu terlatih, benar-benar terasa seperti laki-laki."

Hoshimiya berbisik sambil menunduk dengan wajah yang benar-benar merah padam.

……A-apa kau pikir aku, ……aku akan jatuh hanya dengan kata-kata seperti itu!?

Rasanya seperti dipukul dengan kekerasan yang dibungkus pujian. Aku berharap dia tidak tiba-tiba memukul orang lain.

"……"

"……"

Apa-apaan ini?

Rasanya sangat memalukan, tahu?

"S-sudah waktunya pergi! Maaf ya, sudah menahanmu!"

Karena merasa tidak tahan, Hoshimiya berlari menuju laut.

"Tunggu, Hoshimiya!?"

Melihat Hoshimiya terpeleset dan jatuh ke pasir, aku segera mendekat.

"A-ahahaha…… t-tidak apa-apa."

"Ini."

Saat aku mengulurkan tangan, Hoshimiya menggenggamnya.

Setelah kutarik, Hoshimiya yang berlumuran pasir pun berdiri.

"T-terima kasih……"

"Kamu ini ceroboh sekali, jangan terburu-buru."

Hoshimiya memasang wajah tidak puas sambil berkata, "Uuu……," tapi dia tidak membantah apa pun.

Mungkin dia tidak bisa membalas karena baru saja mempermalukan diri sendiri dengan kecerobohannya. Dia terlalu menggemaskan.

"Oi! Natsu! Hikarin! Sini-sini!"

Di tepi ombak, Uta melambai dengan heboh sambil berteriak.

Di dekatnya, Miori dan Ryota sedang bermain saling mencipratkan air.

Tatsuya tidak terlihat, tapi dia pasti sudah pergi berenang entah ke mana.

"Ayo pergi, Hoshimiya."

Hari ini adalah hari yang diraih Hoshimiya dengan tangannya sendiri.

Karena dia terus berjuang mengejar mimpi masa depan dan sahabatnya tanpa menyerah, hari ini Hoshimiya ada di sini.

"Un!"

Itulah sebabnya, aku berharap dia bisa menikmatinya.

Setelah itu, kami menikmati laut dengan sepenuh tenaga.

"Oi Natsu! Ayo taruhan siapa yang sampai duluan di batu karang itu!"

"Ehh, baiklah kalau begitu. Memangnya Tatsuya jago berenang?"

"Ya. Kalau soal berenang, aku tidak akan kalah."

"Kalau begitu, aku duluan ke sana buat jadi wasitnya! Semangat Natsu!"

"Oi, dukung aku juga dong!"

"Ahaha, maaf ya! Aku kan ada di pihak Natsu."

"Gufh……! K-kau lumayan juga ya, Natsu……"

"Tidak, aku bahkan belum melakukan apa-apa……"

—Bertanding renang dengan Tatsuya.

"Ah, diayun ombak itu rasanya enak, ya."

"Jangan istirahat di atas pelampung orang lain. Tenggelamlah!"

"Tunggu, Miori!? Dasar bodoh!? Mogu-mogu……!"

"Ahaha! Pelampung ini milikku!"

—Ditenggelamkan oleh Miori saat sedang terombang-ambing di atas pelampung.

"Tunggu kau! Natsu!"

"Tunggu, dari mana kau dapat benda itu?"

"Kubeli di toko! Tanpa ampun! Terimalah!"

"Aduh, aduh! Itu sakit tahu! Kekuatannya gila banget!"

—Ditembak dengan pistol air yang dibeli Uta entah dari mana.

"Ara, Haibara-kun juga istirahat?"

"Aku tidak akan kuat kalau tidak istirahat sebentar……"

"Fufu, kalian bersemangat sekali, ya. Jarang-jarang. Biasanya kamu tenang, kan?"

"Aku sadar kalau aku terbawa suasana semangat semua orang……"

"Minum air yang cukup, ya. Jangan sampai tumbang. Nih, aku sudah siapkan banyak minuman dingin di kotak pendingin itu."

"Memang Nanase. Ibu yang bisa diandalkan semua orang……"

"Siapa yang kau panggil ibu? Mengurus Hikari saja sudah cukup melelahkan bagiku."

"Kalau begitu, kau memang ibu……"

—Beristirahat di bawah payung bersama Nanase sambil mengamati semua orang.

"Hei semuanya, ayo naik Banana Boat di sana?"

"Eh, ada yang seperti itu? Kelihatannya seru sekali!"

"Apa itu Banana Boat?"

"Lihat saja ke sana. Permainan di mana kita naik perahu karet berbentuk seperti pisang, lalu ditarik oleh perahu bermotor. Sepertinya bayar, jadi yang mau saja ya."

"A-aku tidak, deh…… agak takut……"

"Aku mau ikut, sepertinya seru. Kamu bagaimana?"

"Tentu saja aku ikut. Jadi aku, Tatsuya, Uta, Miori, dan Ryota?"

"Oke! Let's go!"

—Naik Banana Boat dan terbalik karena bahuku diguncang oleh Uta di belakang.

"Kenapa yakisoba yang dimakan di laut rasanya seenak ini?"

"Kari yang dimakan di laut juga susah dilewatkan. Padahal jelas-jelas itu makanan instan."

"Tidak, tidak, ramen lah. Ramen shoyu sederhana ala zaman dulu. Ini yang terbaik."

"Apa itu? Apa ya namanya? Efek kekuatan laut, ya?"

"……Sedikit pun tidak kena, tapi apa kau ingin bilang efek placebo?"

"Itu dia. Memang kau, Natsu."

—Mengobrol bodoh dengan Ryota dan Tatsuya sambil makan siang di rumah tepi pantai.

"Sedang apa?"

"Seperti yang kau lihat, bermain pasir. Sekarang bagian yang sulit."

"Ini pertama kalinya aku melihat istana pasir dengan kualitas setinggi ini……"

"Aku adalah makhluk yang selalu mengejar kesempurnaan. Aku tidak akan berkompromi di sini."

"Semangat itu bagus, tapi sepertinya akan cepat hancur, kan?"

"Tidak masalah. Lagipula, ini sudah terekam di ingatanmu, kan?"

"Yah, aku tidak akan melupakan istana pasir semegah ini……"

"Un. Kalau begitu, dua jam usahaku tidak sia-sia."

"……Kau melakukan ini selama dua jam!?"

—Mengobrol santai dengan Serika yang rajin bermain pasir.

"Sekarang giliranku melakukan serve! Terimalah!"

"Eh? Uwaaa…… m-maaf!"

"Oi! Menargetkan Hoshimiya, apa itu tidak curang!?"

"Benar. Pertimbangkan refleks Hoshimiya-san."

"R-Ryota-kun? Kata-kata itu justru yang paling menyakitkan bagiku, tahu?"

"Iya, iya. Lanjut yang berikutnya."

"Natsu-kun, jangan diabaikan juga dong!?"

—Bermain voli pantai bersama semua orang.

Begitulah, kami menikmati segalanya dengan sekuat tenaga seperti anak kecil.

"L-lelahnya……"

Kami berkumpul di markas di bawah payung untuk beristirahat.

Bayangannya terasa sangat sejuk.

Di tubuh yang belum kering sepenuhnya, angin laut sepoi-sepoi terasa sangat nyaman.

Uta meletakkan botol minum beku di atas kepalaku yang sedang berbaring di atas tikar.

"Wah, dingin."

Aku terkejut, tapi terasa dingin dan nyaman.

"Ahaha, itu iseng saja."

"Tidak, tanpa kau katakan pun aku sudah tahu."

"Aku ini jujur, lho. Kau boleh memujiku?"

"……Iya, iya, kau hebat, hebat."

Uta yang duduk di sampingku sedang mengintip ke arahku yang berbaring.

Melihat reaksiku, dia tertawa senang.

Senyum itu, entah mengapa terasa begitu menggemaskan hingga membuatku kesal. Aku ingin dia berhenti mengguncang hatiku setiap saat. Padahal efek baju renang saja sudah membuat Damage di hatiku naik tiga kali lipat.

"Miori, ini."

"Tunggu, jangan Ryota-kun."

Di samping kami, Ryota sedang melakukan keisengan yang sama kepada Miori.

Apakah di sini cuma ada anak-anak? Sambil berkata "benar-benar sudah," Miori tertawa.

"Haa, seru sekali."

Seseorang berbisik begitu.

Matahari perlahan mulai condong, dan udara terasa sedikit lebih sejuk.

Meskipun sepertinya masih butuh waktu lama sampai matahari terbenam.

Jumlah pengunjung yang tadinya ramai perlahan berkurang, dan pasir pantai mulai sepi.

Untuk beberapa saat, tidak ada seorang pun yang berbicara.

Semua orang hanya menatap laut dengan melamun.

Namun, suasananya tidak buruk. Sebaliknya, aku merasa ingin terus berada di sini.

"……Ayo kembali ke pondok."

Meskipun begitu, waktu berakhir pun akan datang.

Seolah menepis rasa berat hati, aku berkata demikian.

Setelah meminjam shower di rumah tepi pantai dan menyegarkan diri, kami berganti ke baju santai.

Dalam perjalanan pulang, kami berjalan kaki bersama tanpa menggunakan bus. Bukan karena udaranya lebih sejuk dari siang hari, melainkan karena ada supermarket besar di sepanjang jalan. Kami membeli bahan makanan di sini untuk bakar-bakar di malam hari.

Karena delapan orang akan sangat gaduh dan merepotkan toko, kami memilih anggota belanja dengan cermat. Mempertimbangkan hasil suit dan siapa yang bisa diandalkan, akhirnya aku, Nanase, Serika, dan Ryota yang pergi.

"Ini, ini, dan ini……"

Aku berniat memimpin acara belanja, tapi Nanase memasukkan barang-barang ke keranjang dengan sigap.

Memang dia ibunya semua orang. Bisa diandalkan, Ibu. Ngomong-ngomong, Ibu Nanase dulu juga bertanggung jawab melakukan pemesanan di tempat kerjanya. Tidak adanya keraguan itu pasti karena pengalamannya yang terpakai.

"Ada lagi yang kurang?"

Saat hampir semua barang yang diperlukan sudah di keranjang, Nanase bertanya.

"Tidak, bukankah sudah cukup? Kalau beli terlalu banyak dan tersisa juga repot."

Entah mengapa Serika memasukkan bumbu bernama Maximum ke keranjang, tapi aku kehilangan kesempatan untuk menanggapi……

"Kita tidak tahu seberapa banyak Tatsuya akan makan."

"Kalau kurang, suruh saja Tatsuya datang ke sini untuk membeli lagi."

Karena Ryota berkata begitu sambil mengedikkan bahu, kami tertawa dan mengangguk, "Benar juga."

Setelah selesai belanja, kami membagi kantong plastik berat dan berjalan pulang.

Aku memegang kantong yang paling berat, dan jujur itu sangat berat.

Yah, tidak hanya daging, tapi juga ada beras, sayur, camilan, dan minuman.

Meski begitu, aku bisa berjalan tanpa beristirahat berkat hasil latihan otot setiap hari.

"Hei, Ryota. Boleh aku tanya?"

Tiba-tiba, Serika membuka mulut.

"Jarang-jarang Serika memberi mukadimah seperti itu. Ada apa?"

Ryota membalas dengan nada lembut seperti biasanya. Hubungan mereka juga terlihat akrab.

Saat aku sedang berpikir santai begitu, kata-kata Serika langsung mengenai sasaran.

"Jangan-jangan, kau sudah mulai berpacaran dengan Miori?"

……Itu adalah hal yang jujur saja juga membuatku penasaran.

Jarak antara keduanya hari ini jelas sangat dekat. Tentu saja, meskipun begitu, tidak ada masalah sama sekali, atau lebih tepatnya itu adalah hal yang patut disyukuri. Tentu saja. Tidak ada alasan bagiku untuk tidak berpikir demikian.

"……Apa terlihat seperti itu?"

Ryota tersenyum tipis lalu balik bertanya.

"Yah, lumayan."

"Aku serahkan pada imajinasimu saja."

"Karena kau berkata begitu, berarti kalian belum berpacaran, kan."

Aku menahan napas sambil mengamati kelanjutan situasinya.

Akhirnya, Ryota tertawa pahit seolah kehilangan kewaspadaannya.

"Jawaban yang benar. Belum berpacaran—belum."

Meskipun aku, aku bisa mengerti arti dari kata-kata itu.

Di sisi lain, Serika bergumam "fufu" seolah tidak tertarik padahal dia sendiri yang bertanya.

Nanase bertanya dengan senang, "Apa aku juga perlu membantu?"

Ryota hanya tertawa pahit tanpa menjawab.

……Yah, lagipula Miori memang menyukai Ryota, jadi tidak perlu bantuan orang lain.

Singkatnya, itu hanya masalah waktu.

Saat kami kembali ke pondok dan memulai acara bakar-bakar, hari sudah malam.

Di teras yang luas sudah disediakan banyak kursi dan meja, dan di tengahnya terbentang panggangan untuk barbeku. Beberapa lembar daging sudah dipanggang di atas jaring.

Tatsuya sudah menunggu dengan tidak sabar daging yang mengeluarkan suara juju itu.

Perlengkapan barbeku ini dipinjam dari pemilik rumah.

Pada dasarnya, barbeku sudah disediakan sebagai opsi menginap.

Malahan, aku memilih tempat ini karena tertulis kalau bisa barbeku di teras.

"Oke! Kalau cuma memanggang daging, serahkan padaku!"

"Nasinya sudah matang~! Untuk sekarang satu mangkuk dulu ya untuk tiap orang!"

"Iya, aku bagikan piring dan gelas kertasnya. Ah, ini saus dagingnya. Aku sudah beli beberapa jenis."

Ada pilihan lain, tapi melihat pemandangan ini, aku merasa ini adalah pilihan yang benar.

Matahari sudah terbenam dan sekeliling gelap. Suara jangkrik terdengar jelas. Hanya cahaya lampu di dalam pondok yang menjadi sumber cahaya. Semakin ke ujung teras, semakin gelap hingga wajah semua orang tidak terlihat.

Mungkin karena di pedesaan, sekeliling benar-benar gelap gulita. Daerah tempat tinggalku dan Miori mirip dengan ini, tapi untuk Uta dan yang lainnya yang tinggal di bagian perkotaan Gunma, ini pasti terasa segar.

Serika yang duduk di pintu masuk teras mulai memutar musik dengan pengeras suara yang dibawanya.

Lagu pertama adalah Kimi Shidai Ressha milik One Ok Rock.

Uta dan Tatsuya bernyanyi dengan penuh semangat sambil memanggang daging. Jangan sampai ludahmu kena daging!

Kalau di kota, ini akan mengganggu tetangga, tapi di sini tidak masalah karena jauh dari bangunan lain.

"——Apa kau tidak mau makan lagi?"

Saat aku sedang menyandarkan punggung ke pagar kayu di ujung teras, tanpa kusadari orang di sampingku adalah Hoshimiya.

"Sudah kenyang. Kalau Hoshimiya sendiri?"

"Aku juga. Terlalu banyak makan."

Hoshimiya tertawa pahit sambil mengelus perutnya.

Barbeku memang enak. Makan daging, sayur, dan nasi sampai puas benar-benar memuaskan.

Enam orang lainnya masih berisik sambil memanggang daging. Meskipun hanya minum cola, semangat mereka terasa seperti sedang mabuk. Bahkan Ryota pun tertawa dengan suara keras. Serika, meski ekspresinya tidak banyak berubah, sikapnya sangat antusias, dan celah itu terlihat menarik. Miori dan Uta tertawa terbahak-bahak setiap kali bicara, dan Nanase memanggang daging sementara Tatsuya terus-menerus memakannya. Berapa banyak yang ingin dia makan?

Berdua dengan Hoshimiya, kami mengamati pemandangan itu.

Tiba-tiba, aku merasakan kehangatan kulit di telapak tangan kananku.

Tanpa perlu melihat pun, aku tahu itu adalah tangan seseorang.

Dalam kegelapan, tangan yang sedang memastikan bentuk telapak tanganku itu menggenggam dengan erat.

Aku melihat Hoshimiya di sampingku. Hoshimiya tidak melihatku. Dia terus memandangi teman-temannya.

Tempat kami berada ada di ujung teras dan sangat gelap. Aku hampir bisa melihat teman-temanku yang dekat dengan pondok, tapi mereka pasti hanya bisa melihat kami secara samar.

Seharusnya tidak ada yang tahu kalau kami sedang bergandengan tangan kecuali mereka mendekat.

Apa yang harus kulakukan? Itu adalah kesan pertamaku. Perasaan senang, bahagia, dan sebagainya datang setelahnya. Kenapa? Aku mengerti. Itu karena aku sedang ragu.

Aku ingin terus seperti ini. Tangan yang kurus dan kecil. Aku merasa tangan itu bisa patah kapan saja. Itulah mengapa aku merasa ingin melindunginya. Aku ingin terus berada di samping Hoshimiya, bergandengan tangan, dan berjalan bersamanya.

Perasaan yang bertentangan dengan hal itu pun berputar di dalam hatiku di saat yang bersamaan.

"……Tidak boleh ya. Aku licik, ya."

Tiba-tiba Hoshimiya bergumam demikian.

Tangan yang tertaut itu perlahan terlepas.

Itu terdengar seperti pertanyaan, namun juga mirip dengan gumaman sendiri.

Saat aku sedang memikirkan arti kata-kata Hoshimiya, langkah kaki mendekat.

"……Apa yang sedang kalian lakukan?"

Suara yang terdengar tenang di luar dugaan.

Saat menoleh ke atas, Uta sedang melihat kami dengan ekspresi lembut.

Saat aku bingung bagaimana harus menjawab, Uta bicara sendiri.

"Katanya barbeku akan disudahi. Karena Tats tidak bisa bergerak lagi."

"Yah…… kalau makan sebanyak itu sih ya."

Tatsuya sendiri sedang duduk bermalas-malasan di kursi sambil mengelus perutnya.

"Kita juga kembali saja. Meski sudah mulai sejuk, tetap saja gerah kalau tidak ada AC."

"……Iya, ya."

Hoshimiya mengangguk dengan irit bicara.

……Apakah Uta tadi melihat kami?

Meskipun tidak terlihat kalau dia sedang melihat ke arah sini.

"Oi."

Di saat kami bertiga sedang melakukan percakapan itu, Serika mendekat.

"Ada apa?"

Saat aku bertanya, Serika mengeluarkan kantong plastik berukuran besar.

Di dalamnya terdapat beberapa set kembang api genggam.

"Tadi saat pergi ke supermarket, aku diam-diam membeli kembang api. Ayo main?"

K-kapan dia membeli benda seperti itu…… Pantas saja tadi kurasa barang bawaannya banyak.

"Eh, kembang api!? Memang Serika! Kau bisa diandalkan!"

Semangat Uta terlihat jelas.

……Kembang api genggam, ya. Memang sangat terasa seperti masa muda.

Malah, kenapa aku sendiri tidak memikirkan hal itu? Aku merasa sangat menyesal.

Kemampuan masa mudaku masih rendah, ya……

Untuk jaga-jaga, aku menelepon pemilik rumah dan mendapat izin kalau di area parkir tidak apa-apa.

Karena kami tidak datang dengan mobil, kami bisa menggunakan semua ruang luas yang ada.

"Meski begitu, benar-benar gelap, ya."

Saat keluar dari pintu depan, hampir tidak ada apa pun yang terlihat.

Sumber cahayanya hanya jendela teras. Cahaya dari lampu lantai satu sedikit sampai ke sini.

Di teras, Tatsuya masih duduk dengan wajah menderita. Apa dia masih belum bisa bergerak?

Di dekatnya, Nanase menatap Tatsuya dengan ekspresi takjub.

Ryota dan Miori sepertinya sedang mengobrol di sofa ruang tamu.

"Apa tidak apa-apa kalau mereka seperti itu?"

"Un. Katanya tidak apa-apa karena mereka akan menonton saja."

Sedikit sekali, tapi yah, jumlah kembang apinya juga tidak seberapa.

"Apa tidak terlalu gelap?"

"Tapi kan ini kembang api, pasti lebih indah kalau gelap, kan?"

Uta dengan terampil menggunakan fitur lampu ponselnya sambil menyiapkan ember untuk pemadaman api.

Begitu, ada cara seperti itu ya.

"Aktivasi sihir elemen api."

Di sisi lain, Serika yang membawa pemantik gas menggumamkan deklarasi misterius sambil menyalakan kembang api.

Dari ujung kembang api, percikan api meloncat keluar dengan kuat membentuk garis. Itu kembang api susuki (bunga api) yang umum.

Serika berputar-putar sambil memegang kembang api susuki. Itu indah, tapi berbahaya, tahu.

"Natsu! Lihat sini!"

Uta memegang kembang api susuki di kedua tangannya. Dia bersemangat dengan berkata, "Gaya dua pedang!"

"Ini tadi cara mainnya begini, kan? ……Eh, wawaah!?"

Hoshimiya yang menyalakan kembang api tikus terkejut dan mencengkeram bahuku.

"Apa kau sekaget itu?"

"A-kekuatannya ternyata lebih hebat dari yang kubayangkan……"

Hoshimiya yang berkata begitu segera melepaskan tangannya dari bahuku seolah baru tersadar.

Berbanding terbalik dengan tadi saat dia menggenggam tanganku, gerakannya seperti menghindari menyentuhku.

……Apa maksudnya?

Aku hampir tidak mengerti, tapi entah mengapa aku merasa sedikit tahu.

Namun, kalau aku salah paham, berarti aku orang yang sangat narsis.

……Tapi kalau dipikir secara normal, aku tidak bisa membayangkan Hoshimiya menggenggam tangan pria yang tidak dia minati.

Jiji jiji jiji.

Kembang api tikus yang memercikkan api dan mengamuk di tanah akhirnya kehilangan kekuatannya dan padam.

"Masih ada lagi, masih banyak!"

Set kembang api yang dibeli Serika memiliki berbagai jenis kembang api.

Di antaranya ada kembang api roket, dan pemandangan kembang api yang meluncur ke langit malam sangatlah indah.

Setelah menikmati berbagai jenis kembang api, saat waktunya hampir berakhir.

"Natsu, kemarilah."

Uta yang sedang berjongkok memanggilku.

Saat aku mendekat dan ikut berjongkok, Uta menyalakan kembang api di tangannya.

Pachi pachi, percikan api yang tenang mulai menyebar. Di tengah kegelapan di mana wajah Uta pun tidak terlihat jelas, hanya cahaya oranye yang berkedip sekejap lalu padam, dan hal itu terulang berkali-kali.

Itu kembang api senkou.

Akhirnya kekuatan percikan api itu melemah, dan hanya bola api yang bersinar samar yang tersisa.

"……Natsu, sebentar lagi ulang tahunmu, kan?"

Uta bergumam kecil.

Di saat yang bersamaan, bola api itu jatuh ke tanah.

"Kau ingat sekali, ya."

"Tentu saja aku ingat. Hari ulang tahun anak laki-laki yang aku sukai, lho?"

Aku terkejut mendengar kata-kata lugas itu, lalu menatap Uta.

Di tengah kegelapan, Uta yang hanya terlihat samar sedang memandangi kembang api Senkou Hanabi yang sudah padam.

"Natsu, hadiah ulang tahun apa yang kau inginkan?"

"Eh, apa ya. Aku tidak bisa langsung memikirkannya, tapi……"

Aku berpikir, apa pun pemberian Uta pasti akan membuatku bahagia.

"Kalau begitu, aku yang akan memikirkannya sendiri. Aku akan menyiapkan sesuatu yang akan membuat Natsu sangat senang."

"Apa tidak apa-apa menaikkan ekspektasi sendiri begitu?"

Saat aku bertanya dengan nada bercanda, Uta menjawab.

"……Karena untuk itu, aku akan terus memikirkannya sambil menentukan hadiahnya untukmu."

Perlahan, seolah dia sedang memastikan kata-katanya sendiri.

"……Aku benar-benar orang yang beruntung, ya."

"……Memang. Baru sadar sekarang?"

Ahaha, Uta tertawa lembut lalu mengambil satu kembang api Senkou Hanabi lagi.

"Ini kembang api terakhir kita, ya."

Saat disulut api, percikan bunga api kembali berhamburan.

Aku tetap berjongkok di samping Uta sambil menatap lekat kembang api itu.

Sampai bola api itu jatuh ke tanah, baik aku maupun Uta tidak mengatakan apa pun.

"Sudah berakhir."

Uta bergumam dengan nada berat hati.

"……Sudah berakhir, ya."

Kenapa kembang api terasa begitu singkat?

Padahal ia bersinar begitu indah.

"……Semuanya sudah mulai membereskan barang, ya! Kita juga harus membantu!"

Berbanding terbalik denganku yang masih larut dalam kenangan, Uta tetap dengan senyum cerianya saat bergabung kembali dengan Serika dan yang lainnya.

—Waktu untuk kembang api telah usai.




Setelah itu, kami membilas keringat dengan mandi.

Sampai tiba waktunya tidur, kami menghabiskan waktu dengan bermain kartu dan gim.

Mulai dari Nanase yang entah mengapa terus kalah di gim Daifugo, hingga Serika yang menunjukkan kemampuan luar biasa dalam gim Werewolf.

Kami juga memainkan berbagai gim lain seperti Uno dan Coyote yang membuat suasana semakin meriah.

"Sudah malam, ayo tidur."

Ryota mengatakannya seolah sebagai penanda akhir.

Di sofa, Tatsuya sudah terlelap dengan suara dengkuran yang keras.

Miori, yang tadi ikut bermain Turtle Soup, kini tampak mengantuk dan mulai tertidur sambil duduk.

Saat melihat jam, ternyata waktu sudah menunjukkan jam yang cukup larut.

"……Benar juga."

Aku menggendong Tatsuya yang tidak menunjukkan tanda-tanda akan bangun ke lantai dua.

Serika menarik tangan Miori yang tampak mengantuk dan membawanya ke kamar para gadis.

"Selamat malam."

"Ah, selamat malam."

Terakhir, aku bertukar sapa dengan Nanase lalu menutup pintu kamar.

Begitu merebahkan diri di tempat tidur, aku baru menyadari betapa lelahnya tubuhku.

Namun, rasa kantuk itu segera sirna oleh suara dengkuran Tatsuya yang tidur di ranjang sebelah.

Seharusnya aku sekamar dengan Ryota saja……

Yah, tapi katanya Ryota lebih suka tidur sendirian.

Entah berapa lama waktu berlalu sejak aku memejamkan mata.

Meski belum bisa tidur, waktu berlalu dengan perlahan.

Walaupun tidak bisa terlelap, ada banyak hal yang berputar di pikiranku. Aku memikirkan berbagai macam hal.

Tak lama kemudian, aku merasakan sedikit cahaya dan membuka mata.

Begitu turun dari tempat tidur dan melihat ke luar jendela, langit sesaat sebelum matahari terbit terlihat begitu indah.

"……Jalan-jalan sebentar, mungkin?"

Kalau terus memejamkan mata pun, aku tidak akan bisa tidur.

Lebih baik menyerah dan pergi melihat pemandangan laut di kala fajar, itu pasti lebih bermanfaat.

Aku keluar kamar dan turun ke lantai satu.

Suasananya hening, sangat kontras dengan keramaian kemarin.

Begitu berpikir bahwa ini sudah berakhir, timbul rasa berat hati. Ini benar-benar perjalanan yang menyenangkan.

Aku melangkah keluar. Langit yang masih gelap perlahan memerah. Angin sejuk bertiup.

Aku berjalan menyusuri jalan yang sepi. Sedikit demi sedikit, langit mulai berubah warna menjadi jingga.

Di ujung jalan, laut mulai terlihat. Matahari tampak muncul dan tenggelam di balik cakrawala.

Cahaya matahari menciptakan jalur di atas permukaan laut.

Itu adalah pemandangan luar biasa yang hanya bisa disaksikan di saat seperti ini.

Agar bisa menikmati pemandangannya dengan lebih leluasa, aku mendekat ke arah pantai.

Lalu, kulihat ada sesosok bayangan yang duduk di atas pemecah ombak. Itu adalah seorang gadis yang terlihat seumuran anak SMA.

"……Hoshimiya?"

Begitu aku menyapanya—Hoshimiya Hikarari menoleh, matanya berkedip seolah terkejut melihatku.

Angin laut yang berhembus perlahan mengibas rambut Hoshimiya.

"Natsu-kun juga terbangun?"

"Bukan, aku memang tidak bisa tidur. Jadi aku menyerah."

"Eh, apa kau baik-baik saja?"

"Yah, mataku sudah terpejam, jadi staminaku sudah pulih."

Kepada Hoshimiya yang tampak sedikit khawatir, aku memamerkan otot lengan untuk menunjukkan kalau aku baik-baik saja.

"Kalau begitu, baguslah……"

"Aku berpikir untuk melihat fajar guna menyegarkan pikiran."

Aku duduk di samping Hoshimiya sambil berkata demikian.

Seiring matahari yang semakin naik, rona fajar perlahan mengubah warnanya. Aku tidak pernah bosan melihat ini.

"Kalau aku, aku berpikir kalau melihat laut mungkin perasaanku bisa menjadi lebih tenang."

Aku melirik ke arah Hoshimiya. Hoshimiya menatap laut dengan tajam.

"Aku suka laut. Besar, jernih, dan indah. Rasanya seolah kegelisahan dan perasaan suramku hanyut terbawa air…… sungguh, aku bahkan merasa ingin terus melihatnya selamanya."

Pantas saja saat membahas tujuan wisata, dia orang pertama yang bilang ingin pergi ke laut.

Saat membaca novel itu pun, rasa suka Hoshimiya terhadap laut tersampaikan dengan jelas.

"……Sedikit lagi, aku jadi ingin menulis ulang bagian itu. Ternyata memang ada ekspresi yang hanya bisa keluar saat melihatnya langsung. Kalau sekarang, aku yakin bisa menulis kalimat yang lebih baik."

"Kau hebat sekali, Hoshimiya. Bahkan melihat pemandangan ini, aku hanya bisa berkata kalau ini indah."

"Aku ingin menyampaikan perasaan Natsu-kun saat ini kepada orang-orang yang hanya membaca novelku. Tentu saja, aku rasa aku tidak bisa menyampaikannya dengan sempurna. Tapi, aku ingin membuatnya menjadi sedikit lebih baik."

Profil wajahnya yang disinari cahaya fajar terlihat sangat cantik.

Tiba-tiba Hoshimiya menoleh padaku, lalu tersenyum tipis seolah teringat sesuatu.

"Tak disangka, ternyata sejuk ya."

Itu adalah kalimat yang sangat biasa.

Aku hendak membalasnya dengan cara yang biasa pula, namun aku menyadari adanya perasaan déjà vu yang aneh.

"……Matahari belum sepenuhnya muncul, dan lagi pula ada angin."

Padahal kenyataannya matahari sudah mulai tampak, tapi itulah yang kukatakan.

Itu adalah salah satu adegan dalam novel yang ditulis Hoshimiya.

Karena aku membacanya berulang-ulang, aku mengingatnya kata demi kata tanpa terlewat.

Bagian akhir cerita. Puncak dari bab tiga, "Di Malam Saat Bulan Terlihat".

Kisah di mana anak laki-laki dan anak perempuan mencurahkan perasaan satu sama lain. Itu adalah adegan favoritku.

"Karena ini angin laut, mungkin tubuhmu akan terasa lengket kalau terus terkena anginnya."

Hoshimiya melanjutkan kata-katanya seolah sedang bernyanyi.

"Nah, aku…… apa aku sudah bisa menjadi kekuatan bagimu?"

Maka aku pun mengikuti ucapan sang anak laki-laki.

Meskipun hanya sekadar menirukan, entah mengapa itu terasa selaras dengan perasaanku yang sesungguhnya.

Apakah aku sudah menjadi kekuatan bagi Hoshimiya?

Apakah aku sudah menjadi salah satu alasan bagi Hoshimiya untuk memiliki keberanian melangkah maju?

"Tentu saja. Kalau tidak ada dirimu, aku tidak akan bisa melakukan apa pun."

Hoshimiya menjawab sesuai isi novel sambil menatapku lekat.

Mendengar jawaban itu, entah mengapa aku merasa tenang.

Meski aku tahu ini hanyalah permainan sandiwara mengikuti adegan novel.

Aku merasa ini menarik, tapi permainan sandiwara ini berakhir di sini.

Karena, ada bagian yang secara krusial berbeda antara kami yang sekarang dengan yang ada di novel.

Di dalam novel, mereka melihat laut di malam bulan purnama. Ada kalimat yang memanfaatkan situasi tersebut.

Itulah sebabnya, kami yang sekarang tidak bisa meniru kalimat itu.

"Hei…… Natsu-kun."

Mungkin karena itulah, Hoshimiya memanggil namaku.

Bukan nama anak laki-laki yang muncul di novel, melainkan namaku sendiri.

Tanpa membuang pandangan, dia menatap wajahku lekat-lekat.

Sambil memberikan senyuman yang sangat lembut.

Saat aku terpesona tanpa bisa menjawab apa pun, Hoshimiya Hikari berbisik.

"——Suatu hari nanti, di malam saat bulan purnama terlihat."




Sambil berkata begitu, Hoshimiya turun dari pemecah ombak.

Dia berjalan menyusuri pasir pantai dengan sandal jepitnya, lalu menoleh ke arahku.

"Aku sudah memutuskan. Aku tidak akan kalah dari Uta-chan."

Aku yang biasanya lamban pun, sangat mengerti apa arti dari kata-kata itu.

Sebenarnya, aku merasa sangat senang sampai ingin melompat kegirangan sekarang juga.

Namun, aku cukup sadar diri untuk memahami bahwa aku tidak memiliki hak untuk mengungkapkan perasaan itu.

Aku membenci diriku yang plin-plan, dan aku terus berpikir bahwa memilih sesuatu dengan perasaan yang tidak menentu seperti ini adalah sebuah ketidakjujuran.

Tapi, mungkin saja itu hanyalah jalan pelarianku.

Membiarkan kondisi ini terus berlanjut justru jauh lebih tidak jujur.

Aku tahu bahwa mereka berdua sudah menyadari perasaanku dan sengaja menunda masalah ini.

Aku juga sudah tahu bahwa mereka berdua benar-benar memikirkan perasaanku.

——Karena itulah, aku harus segera menentukan pilihanku.

Cahaya fajar berakhir, dan matahari mulai naik ke langit.

Aku dan Hoshimiya memutuskan untuk pulang sebelum cuaca menjadi panas.

……Begitulah, perjalanan yang menyenangkan itu pun sampai pada akhirnya.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close