NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Haibara-kun no Tsuyokute Seishun New Game Volume 4 Interlude II

Interlude 2


Sejak dulu, aku bisa melihat orang lain dengan sangat jelas.

Sebagian besar peristiwa berakhir persis seperti yang aku duga.

Aku tahu mereka akan gagal, tapi kenapa mereka tetap melakukannya?

Saat masih kecil, aku selalu memikirkan hal semacam itu. Namun, seiring berjalannya waktu, aku pun sadar. Ternyata, hanya diriku yang tahu bahwa mereka akan gagal.

Orang-orang di dunia ini tidak berpikir sedalam itu sebelum bertindak. Setelah menyadari hal itu, dunia terasa begitu sederhana bagiku.

Karena itulah, aku mulai menyukai orang-orang yang tindakannya tidak bisa aku prediksi.

Itu termasuk Tatsuya yang bodohnya kelewat batas saat kecil, dan Natsuki yang memiliki kemampuan sangat tinggi, namun harga dirinya justru terlalu rendah. Orang-orang seperti ini menarik bagiku.

Aku tidak pernah bosan memperhatikan mereka.

Di antara mereka semua, yang paling menarik adalah Motomiya Miori.

Mungkin terdengar sombong, tapi aku selalu populer di kalangan perempuan sejak dulu. Aku selalu masuk dalam peringkat satu atau dua di sekolah.

Karena itu, banyak perempuan yang mendekatiku, dan aku sempat mencoba menjalin hubungan beberapa kali sebagai ajang uji coba. Namun, aku selalu putus karena tidak bisa menaruh perasaan cinta pada mereka.

Aku sempat khawatir bahwa diriku mungkin tidak mampu memiliki perasaan spesial pada seseorang, tapi ternyata itu hanya kekhawatiran yang sia-sia.

Kesan pertamaku saat bertemu Miori sama seperti perempuan lain yang mendekatiku. Paling-paling, aku hanya berpikir kalau dia sedikit lebih manis daripada yang lain.

Tapi, hanya itu saja.

Kalau hanya karena penampilan yang cantik aku bisa jatuh cinta, aku tidak akan bersusah payah seperti ini.

Awalnya aku mencoba menjaga jarak dengan penolakan standar, tapi Miori menggunakan segala macam cara untuk menyeretku keluar secara paksa.

Aku diseret dengan alasan mencari pakaian yang cocok untukku, atau merengek minta pergi ke toko kue yang lezat. Dia juga ikut menonton film yang memang sudah rencanakan untuk kutonton. Apa pun alasannya, dia pada dasarnya sangat memaksa.

Dia bahkan sempat menggunakan taktik double date dengan memanfaatkan Natsuki dan yang lainnya.

Namun, Miori mungkin sebenarnya cukup cerdas dan sangat memerhatikan orang lain.

Jika dia melihat aku benar-benar tidak suka, dia pasti akan langsung berhenti. Dia sudah menebak bahwa sebenarnya aku merasa tindakan paksa Miori itu menarik.

Aku pun menyukai sifatnya yang gigih itu.

—Namun, aku tidak berniat menjadikannya kekasih.

"Dia itu, bukannya terlalu banyak tebar pesona ke Reita?"

"Aku tahu, kan? Bukannya itu menyebalkan?"

"Tapi dia terlihat disukai banyak pria, ya. Apalagi dengan kesan pendiam seperti itu."

"Bagaimana kalau kita beri dia sedikit pelajaran? Tentang posisi aslinya?"

Saat SMP, sikapku yang ambigu menyebabkan perselisihan antar siswi hingga terjadi perundungan. Aku segera menyadari dan menghentikannya, tapi karena akulah penyebabnya, masalah tidak akan selesai hanya dengan aku yang menyuruh mereka berhenti.

Pada akhirnya, Uta yang menengahi dan keadaan berhasil tenang. Tapi, memikirkan kejadian saat itu membuatku berpikir bahwa seharusnya aku tidak perlu melakukan hubungan percintaan.

"……Karena itu, maaf. Aku tidak bisa menjalin hubungan denganmu."

Aku mengatakan itu kepada Miori yang terus mempersempit jarak di antara kami.

Untuk pertama kalinya, aku mengungkapkan isi hatiku yang sebenarnya. Aku mengatakan hal itu karena aku sudah cukup menyukainya.

"Tidak apa-apa sekarang, meskipun begitu."

Namun, Miori menggelengkan kepalanya dan membawaku keluar dari cangkang yang selama ini mengurungku. Dia menunjukkan pemandangan baru kepadaku.

Itu adalah tindakan di luar dugaanku, dan itulah sebabnya aku tertarik pada sosoknya.

"Aku akan mengubah wajah dingin Reita-kun menjadi senyuman."

Tidak butuh waktu lama bagiku untuk menyadari bahwa perasaan ini adalah cinta.

Ini adalah cinta pertamaku. Aku ingin membuatnya berhasil dengan cara apa pun.

Tapi, Miori sendiri perlahan-lahan mulai tertarik pada Natsuki. Aku tidak tahu apakah dia sendiri menyadarinya, tapi kalau dilihat dari luar, itu sangat jelas.

Aku tidak memiliki kemewahan untuk menunggu dalam waktu lama.

Aku harus mengambil keputusan selagi hati Miori masih bimbang.

Aku memang orang yang percaya diri, tapi aku tidak cukup sombong sampai menganggap pesonaku jauh lebih unggul dibandingkan Haibara Natsuki. Karena itulah, waktu tidak berpihak padaku.

Aku semakin menyukai Miori sampai-sampai aku mencoba meningkatkan peluang menangnya dengan perhitungan semacam itu.

Untungnya, Natsuki sendiri sepertinya masih ragu hingga saat ini.

……Mungkin, sebenarnya dia sudah mendapatkan jawabannya. Namun, dia pura-pura tidak menyadarinya.

Natsuki sedikit terlalu baik.

Padahal, kebaikan terkadang bisa melukai orang lain.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close