Interlude 2
Sejak
dulu, aku bisa melihat orang lain dengan sangat jelas.
Sebagian
besar peristiwa berakhir persis seperti yang aku duga.
Aku tahu mereka
akan gagal, tapi kenapa mereka tetap melakukannya?
Saat masih kecil,
aku selalu memikirkan hal semacam itu. Namun, seiring berjalannya waktu, aku
pun sadar. Ternyata, hanya diriku yang tahu bahwa mereka akan gagal.
Orang-orang di
dunia ini tidak berpikir sedalam itu sebelum bertindak. Setelah menyadari hal
itu, dunia terasa begitu sederhana bagiku.
Karena itulah,
aku mulai menyukai orang-orang yang tindakannya tidak bisa aku prediksi.
Itu termasuk
Tatsuya yang bodohnya kelewat batas saat kecil, dan Natsuki yang memiliki
kemampuan sangat tinggi, namun harga dirinya justru terlalu rendah. Orang-orang seperti ini menarik
bagiku.
Aku tidak
pernah bosan memperhatikan mereka.
Di antara
mereka semua, yang paling menarik adalah Motomiya Miori.
Mungkin
terdengar sombong, tapi aku selalu populer di kalangan perempuan sejak dulu. Aku selalu masuk dalam peringkat satu atau
dua di sekolah.
Karena itu,
banyak perempuan yang mendekatiku, dan aku sempat mencoba menjalin hubungan
beberapa kali sebagai ajang uji coba. Namun, aku selalu putus karena tidak bisa
menaruh perasaan cinta pada mereka.
Aku sempat
khawatir bahwa diriku mungkin tidak mampu memiliki perasaan spesial pada
seseorang, tapi ternyata itu hanya kekhawatiran yang sia-sia.
Kesan pertamaku
saat bertemu Miori sama seperti perempuan lain yang mendekatiku. Paling-paling,
aku hanya berpikir kalau dia sedikit lebih manis daripada yang lain.
Tapi, hanya itu
saja.
Kalau hanya
karena penampilan yang cantik aku bisa jatuh cinta, aku tidak akan bersusah
payah seperti ini.
Awalnya aku
mencoba menjaga jarak dengan penolakan standar, tapi Miori menggunakan segala
macam cara untuk menyeretku keluar secara paksa.
Aku diseret
dengan alasan mencari pakaian yang cocok untukku, atau merengek minta pergi ke
toko kue yang lezat. Dia juga ikut menonton film yang memang sudah rencanakan
untuk kutonton. Apa pun alasannya, dia pada dasarnya sangat memaksa.
Dia bahkan sempat
menggunakan taktik double date dengan memanfaatkan Natsuki dan yang
lainnya.
Namun, Miori
mungkin sebenarnya cukup cerdas dan sangat memerhatikan orang lain.
Jika dia
melihat aku benar-benar tidak suka, dia pasti akan langsung berhenti. Dia sudah menebak bahwa sebenarnya aku
merasa tindakan paksa Miori itu menarik.
Aku pun menyukai
sifatnya yang gigih itu.
—Namun, aku tidak
berniat menjadikannya kekasih.
"Dia itu,
bukannya terlalu banyak tebar pesona ke Reita?"
"Aku tahu,
kan? Bukannya itu menyebalkan?"
"Tapi dia
terlihat disukai banyak pria, ya. Apalagi dengan kesan pendiam seperti
itu."
"Bagaimana
kalau kita beri dia sedikit pelajaran? Tentang posisi aslinya?"
Saat SMP, sikapku
yang ambigu menyebabkan perselisihan antar siswi hingga terjadi perundungan.
Aku segera menyadari dan menghentikannya, tapi karena akulah penyebabnya,
masalah tidak akan selesai hanya dengan aku yang menyuruh mereka berhenti.
Pada akhirnya,
Uta yang menengahi dan keadaan berhasil tenang. Tapi, memikirkan kejadian saat
itu membuatku berpikir bahwa seharusnya aku tidak perlu melakukan hubungan
percintaan.
"……Karena
itu, maaf. Aku tidak bisa menjalin hubungan denganmu."
Aku mengatakan
itu kepada Miori yang terus mempersempit jarak di antara kami.
Untuk pertama
kalinya, aku mengungkapkan isi hatiku yang sebenarnya. Aku mengatakan hal itu
karena aku sudah cukup menyukainya.
"Tidak
apa-apa sekarang, meskipun begitu."
Namun, Miori
menggelengkan kepalanya dan membawaku keluar dari cangkang yang selama ini
mengurungku. Dia menunjukkan pemandangan baru kepadaku.
Itu adalah
tindakan di luar dugaanku, dan itulah sebabnya aku tertarik pada sosoknya.
"Aku akan
mengubah wajah dingin Reita-kun menjadi senyuman."
Tidak butuh waktu
lama bagiku untuk menyadari bahwa perasaan ini adalah cinta.
Ini adalah cinta
pertamaku. Aku ingin membuatnya berhasil dengan cara apa pun.
Tapi, Miori
sendiri perlahan-lahan mulai tertarik pada Natsuki. Aku tidak tahu apakah dia
sendiri menyadarinya, tapi kalau dilihat dari luar, itu sangat jelas.
Aku tidak
memiliki kemewahan untuk menunggu dalam waktu lama.
Aku harus
mengambil keputusan selagi hati Miori masih bimbang.
Aku memang orang
yang percaya diri, tapi aku tidak cukup sombong sampai menganggap pesonaku jauh
lebih unggul dibandingkan Haibara Natsuki. Karena itulah, waktu tidak berpihak
padaku.
Aku semakin
menyukai Miori sampai-sampai aku mencoba meningkatkan peluang menangnya dengan
perhitungan semacam itu.
Untungnya,
Natsuki sendiri sepertinya masih ragu hingga saat ini.
……Mungkin,
sebenarnya dia sudah mendapatkan jawabannya. Namun, dia pura-pura tidak
menyadarinya.
Natsuki sedikit
terlalu baik.
Padahal, kebaikan terkadang bisa melukai orang lain.



Post a Comment