Penerjemah: Flykitty
Proffreader: Flykitty
Bonus khusus edisi digital: Cerita sampingan ekstra – Kencan Berseragam dengan Shouko
Ini adalah kejadian di suatu hari, ketika kehidupan di pulau tak berpenghuni sudah mulai tenang.
Muncul pembicaraan bahwa aku seharusnya meluangkan waktu khusus dengan masing-masing kekasih, dan usulan itu langsung disetujui.
Akhirnya, aku pun berkencan satu per satu dengan mereka.
Kali ini, aku ingin menceritakan kejadian saat kencan dengan gadis ceria tipe gyaru, Kanna Shouko.
◇
"Aku Sousuke!"
"A-ah, Shouko."
Sepertinya konsep kali ini adalah kencan berseragam, jadi baik aku maupun para gadis mengenakan seragam.
Kami bertemu di luar pintu masuk rumah, dan hanya dengan memikirkan kata kencan, jantungku sudah berdebar.
Sebelum berpindah dunia, aku paling-paling hanya sesekali pergi keluar dengan Chiyu, benar-benar pria yang jauh dari kata kencan.
Tak pernah terbayangkan aku akan berpindah ke pulau tak berpenghuni di dunia lain dan memiliki beberapa kekasih.
"Deg-degan ya."
Shouko mengipasi wajahnya dengan tangannya sendiri, seolah ingin mendinginkan panas di pipinya.
"Iya."
Aku yakin wajahku juga tak kalah merah.
"Tapi… senang."
"Aku juga."
Mengungkapkan perasaanku seperti ini masih terasa memalukan. Tapi karena Shouko sudah jujur lebih dulu, aku tak ingin hanya diam.
"Serius? Bukannya Sousuke lebih senang yang mesum-mesum?"
Shouko menatapku dengan ekspresi cemberut.
"Aku sedih karena tak bisa menyangkalnya sepenuhnya… tapi, bersamamu itu benar-benar menyenangkan."
Sepertinya jawaban itu lolos nilai minimum.
Shouko tertawa lepas.
"Hehe. Kalau begitu, ayo nikmati kencan pulau tak berpenghuni berseragam hari ini!"
"Iya. Jadi, kita ke mana?"
Kali ini, rencana kencan diserahkan sepenuhnya pada para gadis.
Aku merasa sedikit bersalah karena terlalu bergantung, tapi kalau mereka punya hal yang ingin dilakukan, aku justru ingin mengikutinya.
"Hehehe! Ini rencana kencan yang cuma bisa dilakukan oleh aku! Pertama—Mashiro, ayo ke sini!"
Dipanggil Shouko, Fenrir Mashiro langsung berlari menghampiri.
"Ohh, pinter. Hari ini juga ya! Nah Sousuke, naik, naik."
Jadi kami akan bergerak dengan menungganginya.
Aku duduk di belakang Shouko, memegang pinggangnya yang ramping.
"Rasanya kayak dipeluk dari belakang, deg-degan deh."
Ucapan manis itu menghantam dadaku tepat sebelum Mashiro mulai berlari.
"Uwo—! Kita mau ke mana?!"
"Rahasia~ Yang penting, Sousuke pegangan yang erat ya."
Dan tepat setelah itu, Mashiro berakselerasi mendadak.
Rambut tertiup ke belakang, kulit bergetar karena angin. Mungkin begini rasanya kalau bergelantungan di Shinkansen dengan tubuh telanjang.
"Uwahh!?"
"Ahahaha! Mashiro memang yang terbaik!"
Selama ini, seberapa banyak Mashiro menahan diri saat berlari? Ini jelas lari dengan kecepatan penuh.
Setiap kali aku tegang takut menabrak pohon, Mashiro sudah menghindarinya, lalu pohon lain muncul lagi—dan itu terus berulang.
Di punggung Mashiro yang berlari meliuk-liuk di hutan, Shouko tertawa keras, sementara aku hanya bisa berteriak.
Entah sudah berapa lama kami berlari.
Saat Mashiro berhenti, kami sudah berada di pantai.
Hamparan laut biru terbentang di balik pasir.
"Ah~ seru banget! Makasih Mashiro~!"
Shouko mengelus Mashiro dengan penuh semangat.
Mashiro mengeluarkan suara puas.
Kami turun ke tanah saat tubuhnya merendah.
"Laut~!"
Shouko melompat kecil di atas pasir.
"Ja-jadi… berikutnya main di laut?"
Sambil mengatur napas, aku bertanya, tapi Shouko tersenyum jahil.
"Kamu terlalu naif, Sousuke. Selanjutnya—Mikron, ayo ke sini!"
Menjawab panggilan itu, sesuatu turun dari langit.
Bukan sesuatu—itu adalah naga hitam berbulu, Mikron. Sepertinya dia mengikuti kami dari udara sejak Mashiro berlari tadi.
"J-jangan bilang…"
"Ayo Sousuke, naik naik."
Mengikuti arahannya, aku menaiki Mikron. Begitu memastikan kami sudah naik, Mikron terbang, lalu melaju cepat di atas laut.
"Sudah kuduga…!"
"Kyaaa! Mikron coaster! Ahahaha!"
Ini benar-benar roller coaster hidup.
Tanpa pengaman atau sabuk, sensasinya jauh lebih ekstrem. Meski aku percaya pada Shouko dan Mikron, tetap saja menakutkan.
Aku mati-matian memeluk Shouko. Tak ada waktu untuk berdebar karena kulitnya yang halus. Aku tipe orang yang justru lebih takut kalau menutup mata.
Jadi aku menangkap semua—langit yang melesat cepat, permukaan laut yang mendekat lalu menjauh, dan rambut emas Shouko yang berkibar di depan mataku.
Rasa takut, senang, dan keindahan bercampur jadi satu—perasaan yang aneh tapi tak terlupakan.
Setelah berteriak sampai tenggorokanku serak, Mikuron kembali ke pantai.
"Makasih Mikuron~! Sousuke, gimana?"
"…Se-seru kok."
Mungkin setelah ini, naik roller coaster di taman hiburan bumi tak akan terasa menegangkan lagi.
Sedahsyat itu pengalamannya.
"Mau istirahat sebentar?"
"Nggak, fisikku masih oke."
Sejak datang ke pulau ini, entah kenapa aku terus ditempa. Cuma mentalnya saja yang sedikit lelah.
"Serius? Kalau gitu, main di laut yuk."
Sambil berkata begitu, Shouko mulai membuka kancing seragamnya.
"Sh-Shouko?"
"Tenang tenang. Lihat! Aku pakai baju renang di dalam~"
Benar saja, yang menutupi dadanya bukan pakaian dalam, melainkan baju renang. Dan itu adalah baju renang dari kain rami yang dulu pertama kali kuberikan padanya.
Setiap kali melihatnya, selalu terasa sangat cocok, tapi melihat kekasih melepas pakaian di bawah matahari tetap saja membuat jantung berdegup.
"Sousuke, mukamu merah loh? Kan kamu sudah sering lihat."
"Mau berapa kali pun, aku tetap nggak terbiasa."
Saat aku menjawab jujur, Shouko langsung menyeringai berlebihan. Tapi itu lebih terlihat sebagai kebahagiaan daripada menggoda.
"Serius? Aku senang banget. Berarti kamu bakal terus deg-degan, kan?"
"Meski kamu nggak bilang pun, sepertinya memang begitu…"
Sebelum dia sempat menunjuk wajahku yang makin memerah, aku juga segera selesai berganti pakaian.
Meski begitu, dengan menggunakan fungsi penyimpanan dan penempatan, semuanya selesai dalam sekejap.
"Oh~. Sousuke juga kelihatan kencang banget, ke-keren."
"Ah, terima kasih."
Saat bersama Shouko, momen saling malu seperti ini sering sekali terjadi. Ini mungkin bentuk kebahagiaan juga, tapi jantungku rasanya tidak kuat.
"Pe-persiapkan pemanasan dulu yuk!"
"I-iya…!"
Seolah ingin mengubah suasana, kami melakukan pemanasan bersama, lalu masuk ke laut. Kami berenang sebentar, mengapung di air, saling memercikkan air, dan bermain.
Mashiro dan Mikuron juga ikut bermain di laut, dan melihat dua makhluk itu dengan bulu yang menyerap banyak air laut terasa lucu sampai aku tak bisa menahan tawa.
Dengan berbagai kejadian kecil seperti itu, kami pun naik kembali ke darat.
"Selanjutnya aku mau main pecah semangka!"
"Oh, ayo kita coba."
Untungnya ada semangka di dalam Inventory.
Aku meletakkan semangka di atas kain rami dan menatanya di pasir. Lalu membuat penutup mata dari kain rami dan tongkat kayu, persiapan pun selesai.
"Aku duluan!"
Aku menyerahkan tongkat kayu kepada Shouko yang sudah memakai penutup mata. Sisanya, aku memandu dengan instruksi suara.
"Maju! Sedikit lagi! Geser kanan! Ah, kebablasan!"
"Eh—!? Aku nggak ngerti!"
Karena Shouko yang kebingungan malah berjalan ke arah laut, permainan itu terpaksa dihentikan.
"Susah deh! Giliran Sousuke!"
"Serahkan padaku."
Sekarang aku yang memakai penutup mata dan mengikuti arahan Shouko.
Beberapa saat kemudian Shouko berteriak, "Di situ!" Aku langsung mengayunkan tongkat dengan sekuat tenaga.
Namun, meleset.
"Ah— hampir!"
Saat penutup mata dilepas, ternyata meleset sejauh satu tongkat. Akhirnya, kami memecah semangka tanpa penutup mata dan memakannya berdua.
Aku merasa, yang menyenangkan bukanlah pecah semangkanya, melainkan gerakan pasangan dan interaksi saat melakukannya bersama.
"Fiu~. Kenyang. Istirahat dulu~"
Karena satu semangka utuh tak mungkin habis, sisanya kusimpan kembali ke Inventory. Shouko mengusap perutnya sambil duduk di atas tikar di pantai.
Aku berdiri dan mencari pepohonan yang jaraknya pas.
"Baik. Di sekitar sini cukup—penempatan."
"Hm? Sousuke ngapain—woo~! Itu hammock ya!"
Benar.
Aku menggantung hammock yang diikat dengan tali di antara dua pohon. Berkat fungsi penempatan dari kemampuan crafting, bisa langsung dipasang dalam keadaan sudah terikat.
(Note: Hammock adalah tempat tidur atau tempat duduk kain/jaring yang digantung di antara dua titik, berfungsi untuk bersantai, tidur, atau beristirahat)
"Boleh coba tiduran?"
Shouko bertanya dengan mata berbinar dan tubuh gelisah.
"Aku bantu ya."
Aku menahan tubuhnya agar tidak terbalik saat naik, dan Shouko pun masuk ke hammock dengan mulus.
"Enak banget!"
Shouko bergoyang pelan seperti bayi di ayunan. Wajahnya terlihat sangat senang.
"Syukurlah. Kalau begitu, aku juga pasang di tempat yang cocok—"
"…i-ikut tidur bareng?"
Dengan pipi memerah, Shouko mengatakan itu. Tanpa sadar, tenggorokanku menelan ludah.
Sejak menjadi kekasih, Shouko memang jadi sedikit lebih agresif. Artinya, kesempatan jantungku melonjak juga semakin sering.
"Kalau Shouko nggak keberatan, aku ikut, ya."
"…iya."
Dengan hati-hati, aku menaikkan tubuhku ke ruang di sebelah Shouko.
"Oh— maaf. Nggak sakit, kan?"
Sedikit terlalu bersemangat.
"Mm. Iya, nggak apa-apa."
Aku merasakan suhu tubuh Shouko dan aroma laut. Karena kami bermain di laut bersama, mungkin dariku juga tercium bau yang sama.
Kami berdua bergoyang pelan untuk sementara waktu, menatap langit yang terlihat di sela-sela pepohonan.
"…Shouko, kencan hari ini menyenangkan?"
"Iya! Ayo lagi. Terus nanti kalau sudah balik ke kehidupan semula, kita jalan-jalan ke banyak tempat."
"Hari ini rasanya seperti gabungan pantai dan taman hiburan."
"Ke dua-duanya! Terus ke akuarium, kebun binatang, bioskop, belanja, dan—"
"Boleh sih, tapi pertama-tama aku harus mulai kerja paruh waktu."
Aku harus mengumpulkan biaya kencan dengan banyak kekasih.
Ingatan dan pengalaman belajar atau olahraga bisa kubawa kembali ke Bumi, tapi uang tidak bisa. Menukar barang dari pulau ini menjadi uang juga mencurigakan kalau jumlahnya terlalu banyak.
Atau mungkin ada cara agar hal-hal janggal seperti itu tidak menimbulkan kecurigaan. Entahlah.
"Aku juga mau! Atau… kita kerja di tempat yang sama aja?"
Bekerja bersama Shouko pasti menyenangkan. Namun, aku belum bisa langsung menjawab.
"Umm… nanti kita bicarakan sama yang lain dulu."
"Ah, iya juga. Hampir aja dimarahi gara-gara mencuri start duluan."
Shouko meletakkan tangan di dada dengan ekspresi lega yang dibuat-buat.
"Pokoknya… kencan lagi ya. Kali ini aku yang mikir rencananya."
"Serius? Yeeay. Sama Sousuke, ke taman atau minimarket juga pasti seru. Apalagi di pulau tak berpenghuni."
Aku tersenyum pahit mendengar usulan yang mempertimbangkan kondisi dompetku.
"Itu juga oke, tapi aku bakal mikir cara supaya kita bisa ke tempat yang Shouko mau."
"Kalau mikirnya, bareng-bareng ya?"
"Iya. Kita bahas bersama."
"Iya, iya."
Setelah itu, kami menghabiskan waktu dalam keheningan yang nyaman.
"Hatsyi."
Shouko bersin kecil dengan imut.
"Ya. Kamu pakai baju renang terus sih. Ganti baju yuk."
"Eeh~ mau masuk laut sekali lagi~"
"Mau bagaimana pun, kita harus turun sebentar lagi."
"Iyaa~"
Dan di situlah kami sadar. Kami memang tidur berdua, tapi tidak tahu cara turun yang benar. Saat mencoba berbagai posisi, kami berdua malah terbalik.
"Kyaa."
"Aduh."
Untungnya aku berada di bawah, jadi bisa menahan tubuh Shouko.
"Sousuke nggak apa-apa!?"
"Nggak apa-apa."
Wajah Shouko yang khawatir ada tepat di depanku.
"Beneran…? Nanti minta Chiyu pakai Penyembuhan Dasar ya?"
"Iya. Aku bakal minta."
Percakapan terhenti, dan kami saling menatap secara alami. Dada Shouko menekan dadaku, dan rambut sampingnya yang sedikit basah menyentuh pipiku, terasa geli.
"Akhir kencan itu… bi-biasanya… em, melakukan yang mesum gitu, ya?"
"T-tergantung orangnya, mungkin?"
"Sousuke… mau?"
Aneh rasanya. Padahal sampai tadi aku sama sekali tidak memikirkan hal itu. Namun saat melihat mata Shouko yang lembap dan pipinya yang memerah, aku merasakan gairah muncul dari dalam dadaku.
"A-ah."
Shouko sekilas melirik ke arah Mashiro dan Mikuron.
Keduanya tampak tertidur di pantai, mungkin karena lelah bermain. Atau mungkin mereka sedang memberi kami ruang.
"Ka-kalau begitu… kita…?"
Sambil berkata begitu, Shouko menempelkan bibirnya ke bibirku. Aku perlahan melingkarkan lenganku ke punggungnya.
Kencan kami pun berlanjut sampai waktu makan malam tiba.
Afterword
Karya ini memang berjalan dengan serba mudah dan lancar, tetapi seberapa pun menguntungkannya situasi, aku selalu berhati-hati agar perasaan para karakternya tidak terasa palsu. Dan begitulah, inilah volume ketiga.
Pengumuman. Versi komik dari karya ini telah mulai terbit di dalam Nikomanga! Sambil mengikuti alur cerita versi asli dengan cermat, di berbagai bagian juga ditambahkan adegan-adegan yang pasti menyenangkan bagi para pembaca! Mohon dukungannya!!
Ucapan terima kasih. Kepada penanggung jawab editor, Kato-sama. Terima kasih atas bantuannya! Kali ini juga aku menerima banyak masukan yang membuat karya ini lebih mudah dibaca dan mampu menyampaikan daya tarik para heroine dengan lebih baik.
Kepada ilustrator, Giuniu-sensei. Dimulai dari sampul dengan pesona Shouko yang meledak-ledak, hingga sekian banyak ilustrasi luar biasa, terima kasih banyak!
Baik Luminous-sensei, Urume, maupun Miyao, semuanya didesain sepuluh hingga dua puluh kali lebih menarik dibandingkan bayangan yang ada di kepalaku sebagai penulis! Ilustrasi pembuka kolam renang malam bersama Shouko juga benar-benar yang terbaik! Terima kasih……!!!!
Terakhir, aku mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang terlibat hingga buku ini bisa terbit, kepada semua yang telah mendukung sejak versi WEB, serta kepada semua yang telah membeli hingga volume ketiga. Jika volume keempat bisa terbit, maka sampul berikutnya seharusnya akan menampilkan Minori. Mohon terus dukungannya ke depannya.
Previous Chapter | ToC |



Post a Comment