NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Jinseigyakuten Uwakisare Enzai wo Kiserareta Orega Gakuenichi no Bisyoujo ni Natsukareru V4 Chapter 5

 Penerjemah: Flykitty

Proffreader: Flykitty


Chapter 5

Runtuhnya Tachibana

──Sudut Pandang Mitsuta──


Aku dipanggil oleh Tachibana. Padahal sejak SMP kami memang sekelas, tapi hampir tidak pernah berbicara.


Namun, semuanya benar-benar jadi kacau.


Aku terkena imbas ulah Kondou dan yang lain sampai dijatuhi hukuman skorsing di rumah. Padahal aku bukan pelaku langsung, cuma karena menyebarkan rumor dengan niat buruk.


Sial, kalau sampai Ikenobe melaporkan hal-hal yang bahkan tidak pernah terjadi kepada guru, klub sepak bola benar-benar tamat.


Dia itu, kalau tidak salah, dipaksa putus dari teman masa kecilnya, Endou, lalu langsung dibuang dan diperlakukan seperti wanita pemuas sesaat. Karena itu, aku juga paham kenapa dia ingin balas dendam, dan dalam keputusasaan, berusaha menyeret sebanyak mungkin orang bersamanya.


Kalau bukan aku yang tahu semuanya, mungkin tak akan ada yang bisa memahami itu.


"Kalau benar jadi seperti itu… klub sepak bola bakal hancur?"


Mungkin, kalau terus begini, para anggota klub sepak bola akan naik dari hukuman skorsing menjadi skors sekolah.


Pelaku utama seperti Kondou dan Aida mungkin akan dikeluarkan dari sekolah.


Khususnya Aida, orang tuanya malah lepas kendali dan mengunggah di SNS kalau mereka adalah korban. Akibatnya mereka dihujat habis-habisan. Orang-orang sekitar juga memandang mereka dengan dingin, sampai seluruh keluarganya praktis dimusnahkan secara sosial.


Karena itulah Tachibana mendatangiku—orang yang mungkin masih bisa melanjutkan kehidupan sekolah.


Wanita itu memiliki cara berpikir seperti iblis. Sial… sial… sial…


Apa aku juga akan diperalat olehnya? Sama seperti Kondou…


Saat aku menunggu di taman yang ditentukan, seorang gadis muncul di hadapanku.



──Sudut Pandang Matsuda──


Aku datang ke tempat yang ditentukan oleh ketua klub.


Menurut surat instruksi yang disembunyikan di loker stasiun, nasib kami untuk lolos dari kehancuran bergantung pada apakah kami bisa memanfaatkan senior kelas tiga ini dengan baik atau tidak.


Mitsuta-senpai. Kalau tidak salah, aku pernah dengar dari Kondou-senpai kalau mereka cukup dekat. Meski kenyataannya, katanya dia lebih diperlakukan seperti anak buah.


Walaupun dia senior, pada akhirnya dia cuma kacungnya Kondou. Kalau kupikir begitu, jadi tidak terlalu menakutkan.


"Aku datang atas instruksi Ketua Tachibana."


Dia langsung membalas dengan nada panik.


"Aku mengerti. Jadi, apa yang harus kulakukan?"


Kalau tidak salah, dia sedang menjalani skorsing sekarang. Benar-benar sudah di ujung jurang rupanya. Bahkan tak terlihat punya ketenangan sedikit pun.


Dalam rencana kami, semua kesalahan akan dilempar kepadanya.


Pertama, kami akan menjadikannya dalang utama pencurian naskah dan barang pribadi Aono Eiji dari ruang klub sastra.


Kami hanya perlu memasukkan kunci cadangan ruang klub sastra dan potongan naskah yang sudah dihancurkan ke dalam loker sekolah atau tasnya. Bukti situasional sudah lengkap. Dengan ini, kecurigaan terhadap klub sastra seharusnya hilang.


Lalu, masalah lainnya adalah bagaimana menangani Ikenobe Eri. Dia memiliki niat buruk terhadap kami. Karena itu, kami harus menyingkirkannya atau membujuknya.


Yang akan mengotori tangan adalah Mitsuta-senpai dan para anggota klub sepak bola.


Kami hanya perlu mengarahkan mereka.



──Sudut Pandang Tachibana──


Aku bersembunyi di balik bayangan pepohonan taman sambil mengawasi pertemuan mereka.


Berhasil dengan baik.


Untuk berjaga-jaga, aku memotret keadaan mereka menggunakan aplikasi kamera tanpa suara shutter.


Aku terus mempersiapkan semuanya langkah demi langkah agar seluruh kejahatan ditimpakan kepada mereka berdua dan hanya aku yang selamat.


Aku juga memastikan komunikasi dengan mereka tidak meninggalkan jejak.


Memang terasa menyakitkan, tapi aku juga akan mengutak-atik loker gadis itu.


"Perseteruan cinta dan benci antara Ikenobe-san yang menyimpan perasaan rumit terhadap Kondou-kun dan Matsuda-san. Kedua orang yang saling menyimpan dendam itu mulai mengancam satu sama lain dengan menyebarkan fitnah yang tak pernah ada, lalu akhirnya…"


Itulah skenario yang kusiapkan.


Aku hanyalah korban malang yang terseret dalam konflik cinta dan tindakan perlindungan diri para anggota klub sepak bola.


Itulah posisi yang akan kubuat untuk diriku.


Kalau begitu, apa pun kesaksian mereka nanti, semuanya hanya akan terdengar seperti omong kosong.


"Inilah karya yang menjadi puncak dari semua pencapaianku."


Aku mempertaruhkan seluruh hidupku demi kegiatan mencipta cerita.


Hanya di saat ini saja, bahkan rasa inferioritasku terhadap Eiji-kun terlupakan, dan tubuhku dipenuhi rasa euforia.



──Sudut Pandang Ikenobe Eri──


Kenapa semuanya bisa jadi seperti ini, ya…


Kalau saja aku tidak mengkhianati Kazuki, semua ini tidak akan terjadi. Aku bisa memastikan itu.


"Hee, Ikenobe-san ternyata pintar mengajar ya. Aku langsung paham."


"Begitu ya? Bahkan lebih mudah dimengerti daripada guru."


"Hah, kamu punya pacar!? Sayang sekali. Tapi tidak heran sih, kamu baik dan lembut begini. Andai aku bertemu denganmu beberapa tahun lebih cepat."


Awalnya hanya kata-kata manis seperti itu.


Saat duduk dekat Kondou-kun dalam sesi belajar bersama, dia mulai menggoyahkan hatiku dengan kata-kata itu.


Lalu kami mulai saling menyapa di sekolah, dan perlahan aku menurunkan kewaspadaanku terhadapnya.


Ketika dia berkata, "Ada bagian pelajaran ujian masuk yang benar-benar ingin kutanyakan pada Ikenobe-san. Walau sebentar saja, apa hari Minggu kamu bisa menemuiku?" dan mengajakku agak memaksa, perasaan senang mulai tumbuh di dalam hatiku.


Bagaimanapun juga, gelar ace klub sepak bola dan wajah tampan yang sangat populer di kalangan gadis…


Semua itu meracuni hatiku seperti racun.


Dan sebelum kusadari, kami sudah menjalin hubungan.


Meski aku merasa bersalah pada Kazuki, hubungan kami semakin dalam dan aku tak bisa melepaskan diri lagi. Setelah sampai sejauh itu, aku tak bisa melakukan apa pun.


Mana mungkin aku bisa berpikir jernih.


"Antara aku dan Endou, kamu pilih yang mana?"


"Aku tidak bisa percaya hanya dengan kata-kata."


Dalam situasi dipaksa memilih salah satu, aku kehilangan kendali.


Aku melontarkan kata-kata kejam kepada Kazuki.


"Aku lebih menyukai Kondou-kun daripada dirimu."


"Sudah tidak ada gunanya lagi. Karena kamu tidak bisa menandingi Kondou-kun."


"Aku cuma pacaran denganmu karena kita teman masa kecil."


"Jangan pernah bicara padaku lagi."


Bahkan hanya yang masih kuingat saja, aku sudah mengatakan hal-hal sekejam itu.


Sebagai wanita maupun manusia, aku melakukan hal yang paling rendah.


Ekspresi penderitaan Kazuki terus melekat di pikiranku. Semakin kuingat, semakin hatiku menuju kehancuran.


Setelah itu, Kazuki tak pernah muncul lagi di hadapanku.


Tak lama kemudian, rumor perselingkuhanku menyebar.


Orang tuaku juga mendengarnya lalu menginterogasiku.


"Apa maksud semua ini? Kazuki-kun sampai tidak masuk sekolah lagi. Apa yang sudah kamu lakukan?"


Aku tak bisa membalas apa pun. Wajah putus asa kedua orang tuaku bertumpuk dengan wajah Kazuki.


"Kurasa kita lebih baik putus saja. Aku sudah melakukan hal buruk terhadapnya. Sebaiknya kamu jangan mendekatiku lagi."


Lalu aku dibuang.


Kalau kupikir sekarang, betapa egoisnya itu.


Tapi saat itu aku merasa sudah tak punya siapa-siapa selain dirinya, jadi aku hanya bisa memohon padanya.


"Jangan tinggalkan aku," kataku sambil memohon dengan menyedihkan.


Ketika aku berkata, "Kalau tidak ada dirimu, aku benar-benar tak punya apa-apa lagi," dia memelukku dengan lembut.


Namun sekarang kusadari…


Hari itu aku membuang harga diriku sendiri.


Aku berubah menjadi wanita yang hanya nyaman untuk dirinya. Sejak saat itulah aku mulai melihatnya bermain-main dengan gadis lain.


Aku cemburu.


Aku putus asa.


Tapi aku terlalu takut kehilangan semuanya sampai tak bisa lagi melangkah maju dengan kuat.


Karena telah mengkhianati orang-orang penting bagiku, aku hanya bisa menyaksikan hatiku perlahan mati dan menjadi dingin.


Tiga bulan.


Aku tidak masuk sekolah. Kamar yang diberikan orang tuaku setelah menyerah padaku ini adalah penjara bagi tubuh dan hatiku.


Tak ada seorang pun yang akan menyelamatkanku dari sini, dan aku juga tidak pantas diselamatkan.


Aku wanita terburuk. Wanita jahat. Kalau begitu, biarlah aku menari dan hancur sebagai wanita jahat.


Akhirnya waktunya tiba.


Besok, dia akan mulai bergerak untuk memburuku.


Mari siapkan panggung terbaik.



──18 September・Sudut Pandang Tachibana──


Aku tidur nyenyak semalam.


Matsuda-san melakukannya dengan baik.


Dengan ini semuanya aman. Lagi pula, Ikenobe-san itu wanita yang mudah dipermainkan.


Begitu aku membuat Kondou-kun berakting sesuai naskah yang kubuat, dia langsung berselingkuh dan menggunakan kata-kata yang kusiapkan untuk memberikan pukulan terakhir pada hati teman masa kecilnya yang berharga.


"Baiklah… sekarang akhirnya tiba. Kali ini giliranmu menerima pukulan terakhir."


Hari ini akhirnya menjadi hari penentu takdir.


Saat ini sebagian besar anggota klub sepak bola pasti sedang gemetar ketakutan.


Dan seluruh kebencian tertuju pada Ikenobe Eri.


Lalu ledakannya akan terjadi malam ini.


Para anggota klub sepak bola akan menyerbu tempat Ikenobe Eri sekaligus untuk membungkamnya.


"Yang tersisa hanya melarikan diri dengan sempurna. Asal aku sendiri bisa lolos dengan baik."


Aku seperti penyihir. Karena yang memegang seluruh rencana ini adalah diriku sendiri.


"Ini adalah cerita yang hanya bisa kutulis. Aono Eiji yang baik hati itu pasti tak akan mampu. Selain diriku, tak ada yang bisa melakukannya. Inilah bukti keberadaan bakatku."


Aku terus meneriakkan itu dalam hati dengan kuat.


Aku membuka rak sepatu.


"Eh?"


Di sana terdapat sebuah surat yang disegel rapi dengan lilin.


Tak ada nama pengirim. 


Namun firasat buruk langsung melintas.


Aku menuju ruang klub sastra yang seharusnya kosong. Dengan tergesa-gesa aku membuka segelnya.


[Kepada Tachibana-san. Maaf atas surat mendadak ini. Karena saya tidak bisa menunjukkan rasa hormat kepada Anda, saya akan langsung masuk ke inti pembicaraan. Tolong hentikan semua hal sia-sia ini. Dan akuilah semuanya. Anda memang orang yang sangat cerdas. Namun Anda tidak sadar bahwa Anda tenggelam dalam kecerdasan itu sendiri. Kecerdasan Anda seharusnya digunakan untuk membahagiakan seseorang. Tebuslah semua dosa Anda. Saya tidak ingin Anda salah paham. Ini bukan negosiasi setara ataupun permohonan. Ini adalah peringatan dan ultimatum terakhir. Jika Anda mengabaikannya, maka kehancuran akan menanti Anda.]


"Apa-apaan surat kurang ajar ini!? Siapa yang berkhianat? Tidak mungkin ada bukti! Rencanaku sempurna!"


Aku menjerit sambil melampiaskan amarah pada novel saku di atas meja ruang klub.


Buku itu terlempar ke udara, halamannya terlipat, berubah jadi bentuk yang menyedihkan.


"Aku sempurna. Aku tidak pernah salah dan tidak perlu menebus apa pun!"


Sambil marah besar, aku melanjutkan membaca surat itu.


"Benar-benar seperti surat kutukan saja. Hal beginian tak mungkin bisa menghentikanku. Baiklah, kalau memang berani bicara sejauh itu, coba saja tangkap aku. Sebelum itu, aku akan membongkar identitasmu dan memusnahkanmu secara sosial seperti Ikenobe Eri dan Amada Miyuki."


Aku merobek surat itu sampai hancur berkeping-keping dan menguatkan tekadku lagi.


Tak mungkin ada bukti yang tersisa. Karena itu aku tidak akan dihukum. Semua murid di sekolah ini adalah musuhku.


Aku akan hidup dengan keyakinan itu.


Belum pernah ada orang yang mempermalukanku sejauh ini.


Aku benar-benar ingin tahu bagaimana akan kubalas mereka.


Saat hatiku dipenuhi api balas dendam, terdengar suara ketukan di pintu ruang klub.


"Siapa lagi di saat seperti ini…"


Dengan curiga dan waspada, aku membuka pintu.


Orang yang berdiri di sana adalah pria yang sangat kukenal…


Dan seseorang yang seharusnya tidak mungkin datang ke sini.


"Eiji-kun? Kenapa kamu ada di sini…"


Aono Eiji.


Mantan junior yang wajahnya bahkan tak ingin kulihat lagi.


Orang luar sepenuhnya yang menyangkal ceritaku dan bergerak sesuka hati di luar alurnya.


Dan juga…


Musuh bebuyutanku.


"Ketua, ada yang ingin kubicarakan."


Eiji yang kukenal bukanlah anak laki-laki penuh percaya diri seperti ini. Dia selalu terlihat lembut dan lemah. Namun orang di depanku sekarang terasa seperti orang lain.


Sesaat, aku merasakan ketakutan.


Dan pada saat yang sama, terlintas pikiran bahwa mungkin…


Dialah pengirim surat itu.


"Baiklah, masuk."


Begitulah, aku akhirnya menyambut hari penentuan takdirku.



Ketua klub memasukkanku ke ruang klub dengan sedikit ketakutan terlihat di wajahnya.


Aku menyentuh saku celana sebentar lalu menarik napas dalam-dalam sebelum masuk ke ruangan itu. Entah kenapa terasa nostalgia. Padahal belum lama berlalu, seharusnya aku belum punya perasaan sentimental seperti ini.


Kami duduk saling berhadapan.


"Jadi, apa yang ingin kamu bicarakan?"


Dia mendesakku agar cepat bicara. Wajar saja. Hubungan kami sudah sepenuhnya retak.


"Apa Anda sudah mendengar pesannya?"


"Pesan?"


Sepertinya pesan itu belum sampai kepadanya. Kalau begitu, malah lebih bagus.


"Ya. Aku sudah menyampaikannya kepada anggota klub yang lain. Kalau kalian masih berniat menyakiti orang-orang penting bagiku lagi, aku tidak akan memaafkannya."


Saat aku menunjukkan amarahku dengan jelas, dia menghela napas lalu menjawab dengan tenang.


"Apa sih yang kamu tuduhkan? Jangan seenaknya bilang kalau kami melakukan sesuatu."


Sepertinya dia berniat terus pura-pura tidak tahu.

Sampai di sini masih sesuai perkiraanku.


"Ini peringatan. Dan itu bukan satu-satunya tujuan kedatanganku."


Alasan apa pun dari ketua klub dan yang lain sudah tidak penting lagi. Tolong jangan mencoba kabur dengan menyedihkan seperti ini lagi.


"......!"


"Ketua, aku akan bicara terus terang. Tolong kembalikan naskahku."


Saat aku mengatakan itu, ekspresi aneh muncul di wajahnya.


Sepertinya dia belum menyadari kartu truf yang kupunya.


"Apa maksudmu sekarang? Aku sudah menjelaskannya saat pemeriksaan sekolah. Naskah milik Eiji-kun dicuri tanpa kami sadari. Dari ruang klub ini. Itu ulah klub sepak bola yang menjadi pelaku utama perundungan terhadapmu, dan kami tidak terlibat. Jadi kami tidak punya kewajiban mengembalikannya."


"Begitu ya. Jadi tidak ada satu pun yang tersisa?"


"Ya, begitu. Tidak ada satu pun yang tersisa lagi. Sudah puas?"


Dia masih mempertahankan sikap kuatnya.


Namun ada kontradiksi dalam pernyataannya.


"Tidak, aku sama sekali tidak puas, Ketua Tachibana. Cerita yang Anda buat penuh kontradiksi. Kalau begini aku tidak bisa menerimanya."


Aku sengaja memilih kata-kata yang paling mengguncang harga dirinya.


Kalau sudah dikatakan seperti ini, dia tidak punya pilihan selain menanggapinya.


"Apa yang kamu bicarakan!? Aku hanya mengatakan kebenaran! Kenapa hari ini Eiji-kun terus menuduhku macam-macam!?"


Melihat ketua klub yang jelas-jelas kehilangan kendali membuatku sedih sebagai mantan muridnya.


Kenapa dia sampai terdesak hingga bahkan gagal menyadari kontradiksi sesederhana ini?


Padahal itu sendiri merupakan bukti tak langsung bahwa dia sedang berbohong.


"Kalau begitu aku tanya. Bagaimana naskahku disimpan? Kalau tidak salah, naskah itu dijilid bersama naskah anggota lain dalam sebuah map besar, lalu disimpan di rak buku berkunci, benar?"


Di rak buku itu, naskah majalah klub disimpan berurutan berdasarkan tahun. Dan bahkan sekarang pun semuanya masih tertata rapi dalam urutan yang benar di rak berkunci itu.


"Itu… memangnya kenapa?"


"Aneh, bukan? Misalnya memang ada pelaku yang menyusup, dia harus menemukan kuncinya, lalu memilih hanya naskahku dari sekian banyak naskah yang dijilid bersama, dan mencurinya secara tepat sasaran. Orang luar tidak mungkin bisa melakukan itu dalam waktu singkat. Tanpa bantuan orang dalam, itu mustahil."


Faktanya, saat Ai-san berhasil mengambil kembali sebagian naskahku dari ruang klub, itu hanya bisa dilakukan karena Hayashi-san memberitahu tempat persembunyian kunci dan cara penyimpanan naskah.


Artinya, kalau orang luar memang mencuri naskahku, maka pasti ada kerja sama dari seseorang di dalam klub.


"Selain itu, Ketua tadi bilang tidak ada satu pun naskahku yang tersisa. Berarti pelakunya memilih hanya naskahku dari sekian banyak naskah di ruang ini dan membawa semuanya pergi? Apa orang luar bisa melakukan itu? Normalnya pasti masih ada setidaknya satu yang tertinggal."


Wajah ketua klub perlahan memucat.


Kalau tadi dia bilang masih bisa mengembalikan sebagian naskahku, seharusnya aku tidak bisa memakai alur ini.


Dia benar-benar seperti menggali kuburnya sendiri.


"Bukan, aku tidak tahu! Mungkin ada orang lain selain aku yang membantu! Kalau begitu berarti aku juga ditipu!"


Dia mulai membela diri dengan bicara cepat tanpa jeda.


"Begitu ya. Tapi aku tidak bisa mempercayaimu. Ketua, aku akan mengatakannya sekali lagi. Tolong kembalikan naskahku."


Ucapan itu secara terang-terangan menyatakan bahwa dialah pelakunya.


Aku sengaja mengatakannya untuk menekannya lebih jauh.


"Sudahlah! Tidak ada berarti tidak ada! Aku tahu kok, Eiji-kun akan debut profesional, kan!? Bukannya itu sudah cukup!? Karena debutmu sudah ditentukan, kamu jadi besar kepala!? Jangan main-main!"


Aku melihat novel saku terlipat berserakan di dekat kakinya.


Sepertinya ini batasnya.


"Ketua, kalau Anda sudah tahu sejauh itu, berarti Anda juga mengerti, kan? Kalau memang Anda yang membuang naskahku… maka Anda tidak pantas disebut penulis. Tindakan Anda tidak lain adalah menyangkal semua hal yang selama ini Anda perjuangkan. Lagi pula, Ketua yang kukenal selalu menghargai buku dengan sungguh-sungguh. Anda sudah berubah ya. Bahkan sampai merusak novel saku penting seperti itu… aku benar-benar kecewa."


"Sudah kubilang hentikan! Aku tidak mau mendengar apa-apa lagi! Cepat keluar! Pergi dari sini! Hilang dari hadapanku sekarang juga!"


Negosiasi kami benar-benar gagal total.


Sebenarnya, sempat ada harapan manis dalam diriku kalau semuanya mungkin bisa berjalan baik.


Meski aku tahu kemungkinannya kecil. Aku ingin mereka mengakui dosa mereka dengan jujur, berhenti melakukan perlawanan sia-sia, lalu menyerahkan diri.


Karena mengembalikan naskahku berarti mengakui kebohongan mereka sendiri.


Aku tidak ingin semakin kecewa pada mantan teman-teman yang telah menghabiskan dua tahun bersamaku.


Aku tidak ingin mereka berubah menjadi monster yang, demi melindungi diri sendiri, tega menyakiti junior lemah tanpa ragu.


Namun itu tidak akan terwujud.


Mantan teman-temanku sudah berubah menjadi monster yang bahkan tidak lagi bisa memahami rasa sakit orang lain.


Atau mungkin mereka memang selalu seperti itu dan hanya menyembunyikannya selama ini.


Aku tidak tahu kebenarannya.


Tapi ada satu hal yang jelas.


Kalau mereka terus dibiarkan, korban akan terus bertambah. Dan pada hari berakhirnya liburan musim panas…


Saat aku tenggelam dalam keputusasaan tanpa bisa berkonsultasi dengan siapa pun…


Ada kata-kata yang seharusnya kukatakan.


Ada orang-orang yang seharusnya kumintai bantuan.

Karena itulah kali ini aku tidak akan salah lagi.


Karena itu, ada hal penting yang harus kusampaikan.


"Aku mengerti. Tapi izinkan aku mengatakan satu hal terakhir. Aku tidak akan pernah membiarkan orang-orang penting bagiku disakiti lagi."


"Jangan seenaknya menjadikanku pelaku!"


Aku sudah memperkirakan perlawanan itu.


Kurasa ini sudah cukup.


Mengikuti rencana awal, aku berkata,


"Takayanagi-sensei, seperti inilah kejadiannya."


Ketua klub langsung kehilangan warna wajahnya.


Dia jelas tidak menyangka ada guru di sini.


Saat Takayanagi-sensei muncul di hadapannya, aku memberikan pukulan terakhir sambil meminta pertolongan.


"Sensei. Aku mengalami perundungan dari anggota klub sastra. Naskah pentingku disembunyikan. Naskah itu rencananya akan dimasukkan ke kumpulan cerita pendek yang akan diterbitkan nanti. Dilihat dari situasinya, anggota klub sastra pasti terlibat. Tolong bantu aku."


Ketua klub kehilangan ketenangannya dan mungkin sadar bahwa dirinya dijebak.


Dengan cara ini, pihak sekolah mendapatkan alasan sah untuk menyelidiki ruang klub sastra beserta kesaksian dari ketua klub sendiri.


Memutuskan hubungan dengan masa lalu, aku pergi menuju ruang kelas kosong tempat pelajaran berlangsung.


Masalah Hayashi-san juga sudah dilaporkan kepada pihak sekolah oleh Ai-san. Ketua klub sudah tidak bisa lari lagi.


"Kalau ada tuduhan seperti itu, maka kami harus memeriksa ruang klub ini. Ada kemungkinan kasus pencurian dan perusakan barang. Kami juga seharusnya meminta bantuan polisi."



Sepulang sekolah kemarin, sebelum pulang, aku juga sudah berkonsultasi dengan Takayanagi-sensei tentang Hayashi-san.


"Oh, Aono. Ada apa?"


Takayanagi-sensei menyapaku seperti biasa dengan sedikit kesan malas.


Tatapannya terlihat penuh kepercayaan dan kasih sayang terhadapku.


"Terima kasih sudah meluangkan waktu sepulang sekolah, Takayanagi-sensei."


"Tak usah terlalu formal begitu. Jadi soal konsultasi itu… apa ada masalah dengan rencana yang kita bicarakan pagi tadi?"


"Tidak, hanya saja…"


"Hm? Ada apa?"


Hari itu, aku menatap mata sensei dan mengatakan hal yang seharusnya kukatakan sejak dulu.


Untuk menjawab kepercayaannya padaku.


"Ini lebih penting dari itu."


Melihat keadaanku, sensei seakan memahami sesuatu lalu mengangguk.


"Katakan saja. Mungkin ini memang lebih penting daripada pelajaran."


Mendengar persetujuannya yang kuat, aku merasa lega dan mulai berbicara.


"Takayanagi-sensei, tolong bantu aku. Aku mengalami pelecehan dari anggota klub sastra. Dan target perundungan mereka sekarang akan berpindah ke junior."


Sensei sebenarnya sudah tahu semuanya.


Begitu Ai-san berbicara dengan kepala sekolah, informasi itu pasti sudah dibagikan. Tapi meski aku adalah korbannya sendiri, aku belum pernah benar-benar mengatakannya.


Bahkan saat pertama kali berkonsultasi dengan sensei, pada akhirnya aku cuma menyampaikan fakta tanpa benar-benar "meminta bantuan."


Karena itu…


Kali ini aku memutuskan untuk benar-benar bergantung pada orang dewasa.


Aku teringat kata-kata sensei saat aku mengungkap perundungan itu dulu.


"Tentu saja, Aono. Melindungi murid adalah tugas guru. Terima kasih sudah mengandalkanku. Aku senang kamu memberitahuku. Kamu pasti sangat menderita. Mulai sekarang, biarkan ini menjadi tugasku."


Sama seperti hari itu, sensei kembali menghadapiku dengan sungguh-sungguh.


Dulu, aku baru bisa meminta bantuan setelah didorong oleh sensei. Tapi sekarang berbeda.


Aku mempercayai orang dewasa dan meminta bantuan dengan kemauanku sendiri.


Lalu aku menjelaskan pikiranku kepada sensei.


Bahwa klub sastra pasti terlibat dalam perundunganku, dan bahwa aku yakin kesaksian anggota klub semuanya bohong.


"Aku mengerti, Aono. Pihak sekolah juga sudah sepakat untuk menangani masalah ini secepat mungkin. Dengan ini, kita juga bisa semakin mengguncang mental para anggota klub. Sebisa mungkin, tetaplah berada di sisi Hayashi. Sama seperti Ichijou, Imai, dan Endou yang sudah berada di sisimu. Saat seseorang merasa tidak berdaya seperti ini, hanya dengan tahu bahwa dirinya tidak sendirian saja sudah bisa membuat hati lebih tenang. Pihak sekolah juga akan memberikan dukungan penuh kepada Hayashi. Bahkan guru-guru kelas satu sudah mulai bergerak diam-diam."


Sensei menyatakannya dengan tegas.



──Sudut Pandang Tachibana──


Saat istirahat siang, aku benar-benar gelisah.


Sepulang sekolah nanti polisi akan datang, dan ruang klub sastra sudah disegel.


Tidak apa-apa.


Seharusnya tidak ada bukti yang tersisa.


Aku hanya memberi instruksi secara lisan, dan menggunakan SNS anonim, jadi selama akun itu dihapus, seharusnya aku masih bisa lolos.


Kalau begini, aku harus memaksakan diri keluar dari garis penyelidikan.


Benar saja, Ikenobe Eri tidak masuk sekolah hari ini.


Ini menguntungkan. Aku sudah memberi instruksi kepada Mitsuta-kun melalui Matsuda-san.


Saat ini, para sukarelawan dari klub sepak bola mungkin sudah menuju tempat Ikenobe Eri.


Kalau begitu, akan terjadi insiden besar dan kemungkinan masalah ruang klub jadi tertutup.


Dan bukan aku, melainkan Matsuda-san yang akan dianggap dalangnya.


Perangkap untuk itu juga sudah kupasang di ruang klub sebelumnya.


Sepulang sekolah, aku menemui Matsuda-san di belakang gedung sekolah yang sepi.


"Ketua!"


Wajahnya pucat, penuh kecemasan, lalu dia mendekat sambil bergantung padaku.


"Bagaimana? Ada kabar dari Mitsuta-kun dan yang lain?"


Aku sengaja tidak menggunakan ponselku sendiri. Untuk berjaga-jaga kalau nanti perlu mengelak.


"Ya, tadi ada kabar. Katanya semuanya berjalan lancar. Apa yang harus kita lakukan?"


Begitu ya…


Dia tersiksa rasa bersalah rupanya.


Bagus. Dengan begitu dia akan lebih mudah dijadikan pion.


"Apa mereka mengirim foto atau semacamnya? Sudah kamu periksa?"


"Belum. Katanya akan dikirim sebentar lagi…"


Begitu kabar itu datang, aku harus segera bergerak untuk membuang kedua orang ini.


Perangkap di ruang klub mungkin akan ditemukan sepulang sekolah, jadi sebelum masalah Ikenobe Eri muncul ke permukaan, semua kesalahan harus kutimpakan kepada Matsuda-san.


Tidak ada kabar dari Mitsuta-kun.


Ada apa ini? Jangan-jangan terjadi masalah dan mereka tidak bisa menghubungi kami? Misalnya…


Kalau mereka terlihat seseorang lalu ditangkap polisi…


Apa yang harus kulakukan?


Apa aku harus langsung membuang mereka berdua sekarang?


Itu memang lebih aman. Tapi kalau Mitsuta-kun dan yang lain benar-benar ditangkap polisi, justru tindakanku bisa membuatku dicurigai.


Kalau begini aku tidak bisa bergerak.


Apa yang harus kulakukan…?


Saat kami berdiri membeku tanpa menemukan jawaban, terdengar suara langkah kaki seseorang mendekat.



Di kantin sekolah, kami bertemu dengan Ai-san, Hayashi-san, Satoshi, dan Endou.


Sepertinya Ai-san dan yang lain habis kelas pindahan, jadi mereka sudah lebih dulu mengambil kursi untuk kami.


"Baiklah, mari saling memperkenalkan diri. Penjelasan sederhananya sudah kuceritakan pada mereka berdua. Satoshi dan Endou bilang mereka akan membantu."


"Aku Imai Satoshi. Kalau ada apa-apa, jangan ragu mengandalkanku. Sekalian saja kita tukar kontak."


"Aku Endou Kazuki. Kamu pasti khawatir, tapi tenang saja. Di sekitarmu bukan cuma ada musuh. Masih ada orang-orang di pihakmu."


Begitulah, kami saling bertukar kontak dan membuat grup bersama.


Kalau terjadi sesuatu, kami akan menulis di sana supaya siapa pun yang menyadarinya bisa langsung datang membantu.


Selain itu, untuk sementara dua minggu ke depan, kami menyesuaikan jadwal agar Hayashi-san tidak sendirian saat berangkat sekolah maupun sepulang sekolah.


"Terima kasih banyak… sampai sejauh ini demi orang seperti aku…"


Hayashi-san menundukkan kepala dengan sangat merasa bersalah.


Aku dan Ai-san langsung membalas bersamaan, "Tidak seperti itu," lalu Satoshi melanjutkannya.


"Hayashi-san, saat sedang kesusahan, lebih baik bergantung pada seseorang. Kalau tidak, lingkarannya akan terputus."


Dengan sedikit senang, Hayashi-san mengulang,


"Lingkaran?"


"Ya, lingkaran. Kurasa semua orang di sini pernah diselamatkan oleh Eiji di suatu titik. Aku juga punya hutang budi kecil sejak SD. Jadi waktu Eiji mengandalkanku untuk masalah ini, aku sebenarnya senang. Menolong lalu ditolong kembali… rangkaian itu akan membangun hubungan saling percaya yang lebih besar. Jadi kalau suatu saat nanti kami yang mengalami kesulitan, gantian Hayashi-san yang membantu kami."


Saat semua orang mengangguk dengan lembut, Hayashi-san menunduk dengan wajah bahagia, tubuhnya gemetar sambil berulang kali berkata,


"Terima kasih banyak… benar-benar terima kasih…"



──Sudut Pandang Tachibana──


Saat aku perlahan berbalik, pria yang seharusnya tidak mungkin ada di sini berjalan mendekat dengan santainya.


"Kenapa… Mitsuta-kun ada di sini?"


Tanpa sadar aku menjerit.


Karena seharusnya sekarang dia berada di tempat wanita itu…


Mendengar perkataanku, pria itu tersenyum senang.


"Kenapa aku ada di sini? Ya karena aku mau mengakali kalian."


Tubuh besarnya bergetar. Pria yang selama ini kuanggap hanya kacungnya Kondou itu kini memamerkan senyum jahat.


Dan saat makna kata-katanya mulai meresap ke dalam kepalaku, rasanya darahku langsung dingin.


"Mengakali…?"


"Ya, benar. Aku tidak pernah berniat mengikuti rencanamu sejak awal. Aku memang mendengarkan ceritamu, tapi tidak pernah berniat melaksanakannya. Karena aku tahu kalian mau menimpakan semua dosa kepadaku. Memangnya aku sebodoh itu mau mengikuti ajakan wanita macam kalian? Jangan meremehkanku."


Tawa kasarnya menggema.


"T-Tapi… kamu bilang semuanya berjalan lancar…"


Matsuda-san pun tampak tidak bisa memahami situasi ini dan bertanya dengan tubuh gemetar.


"Ya, memang berjalan lancar kok. Aku sudah menyampaikan ke anak buah Kondou di klub sepak bola kalau Ikenobe Eri akan melapor ke guru. Mereka mungkin sekarang sedang menyerbu rumah Ikenobe. Tentu saja tanpa tahu kalau sebelumnya aku sudah melapor ke polisi. Dasar orang-orang bodoh. Mungkin sekarang mereka sudah ditangkap polisi yang menunggu di sana."


Di dalam dirinya terlihat emosi negatif seperti iri hati, penghinaan, dan rasa inferior yang berputar-putar.


"Kenapa… kamu sampai menjual teman sendiri seperti ini…"


"Teman? Mana mungkin aku menganggap orang-orang yang selama tiga tahun memperlakukanku seperti budak dan suruhan Kondou sebagai teman. Kalau saja gara-gara Kondou aku masih bisa membidik rekomendasi olahraga mungkin aku masih bisa tahan. Tapi sekarang gara-gara dia bahkan itu pun hilang. Jadi ya, aku harus balas dendam."


Bahkan saat kami mengecamnya, dia hanya menanggapinya dengan senyum santai.


Dia terlihat sudah benar-benar rusak di suatu titik.


"......!"


"Kamu juga bodoh, Tachibana. Kenapa malah datang berkonsultasi denganku? Orang yang selama ini paling membenci Kondou. Bukannya kalian juga wanita-wanita Kondou? Kalau begitu kalian juga target balas dendamku. Terima kasih ya, karena sudah memberitahuku sendiri."


Mendengar kata-kata itu, tubuhku tidak bisa berhenti gemetar.


Itu praktis seperti hukuman mati.


"Apa yang ingin kamu lakukan pada kami?"


"Jangan terlalu takut begitu. Aku sama sekali tidak tertarik pada kalian. Siapa juga yang mau menyentuh wanita yang pernah berhubungan dengan Kondou? Aku cuma suka melihat orang-orang yang selama ini meremehkanku hancur."


Lalu dia tertawa seperti orang gila.


Saat menyadari diriku perlahan didorong ke jalan buntu tanpa jalan keluar, rasa pusingku tak berhenti.


Tidak apa-apa. Masih belum ada bukti pasti kalau aku terlibat. Aku masih bisa mencari alasan apa pun.


Benar.


Belum… belum boleh berakhir seperti ini.


"Oi, Tachibana. Kenapa diam saja? Tadi kan cerewet sekali. Jangan-jangan kamu sudah menyerah? Kamu katanya menang banyak penghargaan novel, tapi kenapa tidak sadar juga? Apa memang kamu sebenarnya tidak berbakat?"


Kata-kata yang paling tidak ingin kudengar dilemparkan tepat di saat aku sedang terpojok.


Penghinaan… penghinaan… penghinaan!


"Diam. Tutup mulutmu."


Tanpa sadar aku meninggikan suara.


"Kalau marah begitu berarti kamu mengakuinya dong?"


Kata-kata provokasi murahan itu membuatku gemetar marah.


"Sudah kubilang diam!!"


Suaraku menggema sampai lorong. Bahkan aku sendiri terkejut bisa berteriak sekeras itu.


"Cih, ternyata pertahananmu lumayan kuat. Padahal sudah kuprovokasi segini tetap saja tidak keluar juga. Ya sudah deh. Tinggal lihat saja nanti bagaimana kamu mencari alasan."


Setelah berkata begitu, dia berjalan santai menuju lorong.


Sial. Kalau dia yang sedang menjalani skorsing ada di sekolah berarti…


"Tachibana, kamu cuma orang tak berguna yang salah mengira dirinya hebat dalam memanipulasi orang. Setidaknya, kamu bahkan tidak layak dibandingkan dengan monster yang menulis skenario ini. Kamu cuma orang bodoh yang salah paham lalu menggali kuburnya sendiri."


Bahkan saat pergi dia masih mencoba menghancurkan harga diriku.


Aku menatapnya penuh amarah sambil gemetar. 


Dan sebelum kusadari, para guru sudah mengepung kami dari segala arah…



──Sudut Pandang Ai──


"Terima kasih, Kuroi. Sesuai dugaan."


Aku langsung menerima laporan dari Kuroi.


Katanya serangan yang dilakukan sisa anggota klub sepak bola saat menyergap Ikenobe Eri-san ketika keluar rumah berhasil ditangani dengan aman.


Bagaimanapun mereka cuma anak klub olahraga. Tidak mungkin bisa menang melawan Kuroi dan polisi elit yang sudah mendapat pelatihan khusus.


Aku menutup telepon.


Lalu menuju tempat yang sudah dijanjikan.


Sebuah ruang kelas kosong.


Pria yang membantu kami sudah menunggu di sana.


"Maaf membuatmu menunggu. Aku Ichijou Ai, majikan Kuroi."


Aku berhubungan dengannya melalui Kuroi. Jadi ini pertama kalinya kami benar-benar bertatap muka langsung.


Sesaat dia tampak terkejut.


Lalu tertawa.


"Tak kusangka ternyata Ichijou Ai. Semua orang pasti bakal terkejut kalau tahu idola sekolah ternyata seorang ahli intrik."


Dia sudah membantu kami.


Karena itu aku memutuskan untuk menemuinya langsung.


Dia sudah mengambil risiko demi kami, jadi aku juga harus mengambil risiko.


Tanpa dirinya, operasi kali ini tidak mungkin berhasil.


"Hal itu berlaku juga untukmu, bukan, Mitsuta-san?"


"Hah, benar juga."


"Barusan Kuroi menghubungiku. Ikenobe-san memang diserang klub sepak bola, tapi berhasil diamankan polisi dan dia tidak terluka."


"Begitu ya."


Dia tersenyum kecil. Ekspresinya terlihat lega.


"Kenapa kalian mencoba bernegosiasi denganku?"


"Itu saran dari seseorang."


Dengan wajah sedikit pahit, aku menjelaskan.


"Hmph. Entahlah. Tapi bagaimana kalian bisa sadar kalau aku menyimpan ketidakpuasan terhadap klub sepak bola… tidak, terhadap Kondou?"


"Sudah berkali-kali kukatakan, itu bukan jasaku. Tapi selama penyelidikan terhadap klub sepak bola, kami segera sadar ada seseorang yang mengguncang Kondou dari balik layar. Ada seseorang yang memotret pertemuan rahasia Kondou dan Amada-san, membocorkannya agar diketahui anggota klub sepak bola lain, bahkan melaporkannya pada guru. Dan kamu langsung tahu siapa orang itu, kan?"


Mendengar pertanyaanku, dia hanya tersenyum pahit.


"Aku langsung tahu itu dilakukan orang yang menyimpan kebencian mendalam terhadap Kondou. Kalau begitu tersangkanya cuma dua. Pertama, Aono Eiji yang dirundung sampai hampir dihancurkan secara sosial. Kedua, Endou Kazuki yang sudah mengenal kami sejak SMP. Tapi Aono Eiji saat itu masih belum pulih dari semua kejadian itu, jadi kandidat paling kuat ya Endou."


Kami juga sudah menduga besar kemungkinan Endou-san diam-diam bergerak untuk membalas dendam pada Kondou.


"Benar seperti yang Anda katakan. Kalau dipikir normal, kandidat paling kuat yang mengguncang klub sepak bola memang Endou-san. Tapi pada akhirnya Kondou tidak pernah sampai pada kesimpulan itu. Malah banyak anggota klub sepak bola mencurigaimu karena foto-foto pertemuan rahasia Kondou-san dan Amada-san ditemukan dalam jumlah besar di lokermu. Bukankah kamu memanfaatkan jebakan yang diarahkan kepadamu itu untuk mencegah kecurigaan jatuh pada Endou-san, lalu sengaja membuat Kondou dan yang lain mencurigaimu agar Endou-san bisa bergerak bebas?"


"......"


Mitsuta-san hanya tersenyum tanpa berkata apa-apa.


Dari hasil berbagai wawancara, tidak ada tanda-tanda dia pernah berusaha keras membersihkan kecurigaan terhadap dirinya sendiri.


Malah seolah-olah dia sengaja mengumpulkan semua kecurigaan itu pada dirinya.


"Dan kurasa orang yang membocorkan hubungan Kondou dan Amada-san kepada Ikenobe Eri-san juga dirimu. Apa aku salah?"


Untuk yang ini, hampir sepenuhnya hanya dugaan tanpa bukti nyata.


Aku tidak pernah mendengarnya langsung darinya.


Namun sulit membayangkan Endou-san sendiri yang membalas dendam terhadap Ikenobe-san.


Karena jejak tindakannya hanya terfokus pada orang-orang yang secara langsung menyakiti Eiji-senpai—Kondou, Amada-san, dan anggota klub sepak bola.


Tapi karena Ikenobe Eri-san lepas kendali, dalang sebenarnya dari semua ini jadi terdesak.


Kalau dipikir begitu, berarti ada seseorang yang memancing ledakan Ikenobe-san—


"Siapa tahu ya?"


Pada akhirnya dia memilih untuk tidak memberi jawaban jelas.


Kurasa mengejarnya lebih jauh sudah tidak ada gunanya.


"Begitu ya…"


"Tapi setidaknya dengarkan ini. Kondou sama sekali tidak pernah membayangkan kalau aku atau Endou akan menusuknya dari belakang. Bodoh, kan? Padahal kalau dipikir normal seharusnya dia sadar. Bahkan sampai sekarang pun dia mungkin belum sadar kalau sebenarnya yang menghancurkannya adalah Endou. Karena dia memang sampah yang cuma memikirkan dirinya sendiri."


Mitsuta-san tersenyum puas.


Tidak diragukan lagi dia terlibat dalam masalah perundungan terhadap Eiji-senpai.


Karena itu aku tidak mungkin memaafkannya. Aku juga tidak bisa menghentikan hukuman dari pihak sekolah.


"Kalian akan menepati janji, kan?"


Ekspresinya terlihat lega dan bersih.


"Tentu saja. Kami akan menjamin keselamatanmu."


Syarat yang dia minta saat bekerja sama dengan kami hanya satu—jaminan keselamatan dirinya.


"Mungkin aku bakal diskors atau dikeluarkan sekolah. Tapi aku bisa melihat kehancuran mereka dari kursi paling depan. Itu sudah cukup memuaskan."


Dengan ini, masalah yang tersisa tinggal Tachibana dan kelompoknya.



──Sudut Pandang Takayanagi──


Begitu menerima laporan dari Mitsuta, kami langsung bergerak untuk mengamankan Tachibana.


Sebagian besar ceritanya sudah kudengar.

Sekarang semuanya akan diakhiri.


Perdebatan sia-sia selama ini sudah selesai, Tachibana.


"Bukan! Bukan aku! Aku tidak salah! Aku ditipu Matsuda-san dan Mitsuta-kun! Aku tidak tahu apa-apa! Aku cuma ikut terseret!"


Tachibana terus berteriak sambil melawan. Sementara Matsuda yang berdiri di sampingnya hanya bergumam linglung,


"Ketua… apa yang sebenarnya kau katakan…?"


Aku teringat pada dongeng Grimm tentang Putri Salju.


Ibu tiri yang terus menyiksa Putri Salju akhirnya semua kejahatannya terbongkar, lalu dihukum oleh sang pangeran dengan dipaksa memakai sepatu besi panas membara dan menari sampai mati.


Sosok Tachibana yang menyedihkan ini terlihat persis seperti ibu tiri dalam cerita itu.


Matsuda yang melihat keburukan ini mungkin akan runtuh dengan mudah sekarang.


Dia bahkan sudah tidak sadar kalau perlawanan terakhirnya sendiri justru menjadi pukulan terakhir untuk dirinya.


"Untuk sementara, tenangkan diri dulu lalu kita bicara baik-baik. Tachibana ke ruang bimbingan siswa. Matsuda ke UKS."


Aku sendiri yang akan menangani Tachibana.



──Ruang Bimbingan Konseling──


"Aku akan bertanya langsung. Dalang utama di balik percobaan penyerangan terhadap Eri Ikenobe kali ini… dan juga orang yang memegang peran utama dalam perundungan terhadap Aono Eiji… itu kau, kan, Tachibana?"


Tachibana tampak masih belum sepenuhnya tenang, tapi dibanding tadi, dia sudah sedikit lebih terkendali.


"Itu tidak benar. Semua ini hanya karena Matsuda-san bertindak terlalu jauh. Penyebabnya adalah pihak sekolah terlalu menekannya. Belakangan ini ucapan dan kondisi mentalnya memang sudah sangat aneh. Sejak klub sastra mulai dicurigai dalam kasus perundungan itu."


Begitu ya… jadi itu alasan yang akan dia pakai.


"Kalau begitu, bagaimana dengan kasus naskah Aono Eiji yang hilang setelah diambil secara tepat sasaran?"


"Sudah berkali-kali kukatakan, aku tidak ada hubungannya. Tapi… bukankah kemarin juga sudah kubilang? Kalau dipikir-pikir, ada dua orang mencurigakan di klub."


"Oh?"


Dia mulai mengulang penjelasan yang sama seperti kemarin.


"Yang pertama adalah Hayashi-san, murid tahun pertama. Dia berhenti datang ke klub tepat sebelum kasus perundungan terhadap Eiji-kun terbongkar. Mencurigakan, bukan?"


"…."


Bahkan sampai sekarang pun dia tidak mengubah pendapatnya. Logika yang begitu egois sampai membuatku kehilangan kata-kata.


Namun, mungkin dia salah paham dan mengira aku tak bisa membalas apa pun. Dia mulai mendapatkan kembali rasa percaya dirinya dan terus memaparkan teorinya.


"Yang kedua adalah Matsuda-san. Seperti yang tadi juga sudah kubilang, sejak penyelidikan sekolah dimulai, perilaku dan kondisi mentalnya memburuk. Kalau begitu, ada kemungkinan dialah pengkhianat di klub sastra. Lagi pula, benar kan? Kalau tidak ada orang dalam yang membantu, mustahil hanya naskah milik dia saja yang bisa dibawa pergi."


Jadi dia bahkan sudah memikirkan cara untuk membungkam bantahan Aono.


Benar-benar licik dan penuh perhitungan. Dan meskipun improvisasi, alasan itu memang cukup sulit dibantah. Tapi itu hanya akan efektif kalau kami belum siap…


Pada tahap di mana hampir seluruh penyelidikan sudah selesai seperti sekarang, itu cuma alasan kosong anak kecil.


"Kalau begitu, bagaimana dengan kesaksian Mitsuta?"


"Dia menyimpan dendam pada Kondou-kun. Jadi bukankah mungkin dia ingin menjebak aku dan Matsuda-san yang dekat dengan Kondou-kun? Tadi dia sendiri bilang kalau dia bahkan tidak menganggap anggota klub sepak bola sebagai temannya. Bisakah kesaksian orang yang mengkhianati temannya sendiri dipercaya?"


Benar-benar pertunjukan besar.


"Ya, aku mengerti apa yang ingin kau katakan, Tachibana."


"Benar kan? Kalau ingin mencurigaiku, bawalah bukti yang menentukan. Kalau tidak, maka aku juga korban fitnah seperti Aono Eiji-kun. Kalau kalian terus mencurigaiku tanpa dasar, aku juga terpaksa mengambil tindakan pembelaan yang setimpal."


Karena salah mengira posisinya sudah unggul, dia bahkan mulai mengancam pihak sekolah.


Tapi justru inilah kondisi yang kami tunggu.


Saat seseorang yang sebelumnya bertahan mulai menyerang, kewaspadaannya paling mudah menurun. Celah dalam pikirannya muncul. Dan kalau diserang balik dari arah yang tidak dia duga, dia akan runtuh seketika.


"Kalau begitu, bagaimana kau akan membantah percakapan pesan ini? Barusan polisi memberikannya pada kami. Sepertinya data ponsel Kondou berhasil dipulihkan. Ini sebagian pesan SNS antara kau dan Kondou."


Begitu mendengar itu, wajahnya langsung memucat seketika.


Sambil berbisik kecil "Tidak mungkin…", tubuhnya gemetar seperti sedang menari tarian terakhirnya. Sekali lagi, posisi penyerang dan bertahan benar-benar terbalik.



──Sudut Pandang Tachibana──


Kenapa!?


Kenapa pesan yang kukirim ke Kondou-kun masih tersisa? Aku tidak mengerti.


Padahal aku sudah bergerak sempurna. Pesan untuk Kondou-kun seharusnya sudah kuhapus. Tapi ternyata pesan yang kukirim hari itu masih tetap ada.


Saat dia berkonsultasi padaku karena perasaan Miyuki Amada belum sepenuhnya jatuh padanya, aku menyarankan agar dia semakin menekan Eiji-kun. Aku bahkan mengirim tautan ke situs yang menjelaskan cara spesifik melakukannya…


"Tidak salah lagi itu pesan yang kau kirim, kan?"


Takayanagi berkata dingin.


"Aku tidak ingat. Ada bukti kalau aku yang mengirimnya? Lagi pula di ponselku tidak ada pesan seperti itu. Bukankah mungkin seseorang memalsukannya atau berpura-pura jadi aku? Aku tidak tahu soal ini. Sama sekali tidak tahu!"


Saat aku mencoba membela diri, Takayanagi menghela napas panjang.


"SNS ini punya sistem yang agak unik. Kalau pesan dihapus, katanya tidak bisa dipulihkan lagi. Jadi kalau setelah kau menghapus pesan itu Kondou melakukan sinkronisasi timeline, bukti ini mungkin tidak akan tersisa."


Seolah tak peduli dengan alasanku, dia terus menjelaskan dengan nada datar dan memastikan segalanya. Keringat dingin mengalir di punggungku. Alasanku sama sekali tidak mempan.


"Makanya aku bilang aku tidak melakukannya!"


Aku benar-benar kehilangan ketenangan dan membentaknya, tapi Takayanagi tidak berhenti.


"Tapi Kondou terpojok dan melampiaskan emosinya pada ponselnya sampai rusak. Karena itu dia tidak bisa login lagi dan sinkronisasi tidak terjadi. Dan hasilnya, bukti penentu bahwa kau mengendalikan semuanya dari balik layar tetap tersisa. Berhenti memberi alasan sia-sia. Jangan meremehkan orang dewasa. Masalah ini sudah terlalu besar, Tachibana. Alasan kekanak-kanakanmu tidak akan berhasil."


"Itu bukan alasan! Kalau kau guru, percayalah padaku!"


Kenapa orang ini tidak mengerti juga!?


"Begitu ya. Karena kasus kali ini juga, polisi kabarnya akan mulai menyelidiki SNS tersebut. Bukti yang tertinggal sudah sangat jelas. Nanti penyelidikan polisi akan menentukan apakah yang kau katakan benar atau bohong."


Kalau begitu, aku harus menghapus akunnya…


"Sebagai tambahan, meskipun kau menghapus akun itu sekarang, tidak ada gunanya. Polisi sudah menyita datanya."


Aku tidak bisa membalas apa pun selain menatapnya tajam.


"Tachibana. Pihak sekolah menganggap kasus ini sangat serius."


"Berisik, berisik! Aku tidak akan mengakuinya!"


"Sudahlah, jadilah dewasa, Tachibana. Kau sudah tidak bisa lari lagi."


Nada Takayanagi yang terdengar seperti menasihati justru membuatku semakin kehilangan kendali.


"Cukup! Kalau begitu aku akan membuktikan kalau aku tidak bersalah. Dan kalau itu terbukti, kau tidak akan bisa terus jadi guru lagi. Kau sudah siap menerima akibatnya, kan!?"


Aku mencoba mengancamnya dengan kata-kata sekeras mungkin, tapi Takayanagi bahkan tidak menggubrisnya.


"Kalau memang begitu sebagai seorang guru, aku justru berharap demikian. Kami juga sedang menginterogasi anggota klub sastra lainnya. Tinggal masalah waktu."


Tidak bagus. Aku harus melakukan sesuatu. Kalau alasan sudah tidak mempan lagi, aku harus menjadikan orang lain sebagai pelakunya.


Matsuda-san masih sedang diperiksa sekarang, jadi target termudah adalah Hayashi-san. Aku harus menciptakan fakta yang sudah terlanjur dianggap benar.


"Ah—"


Memanfaatkan celah sesaat dari sensei, aku melarikan diri. Polisi mungkin sedang menuju kemari. Kalau aku ditangkap sekarang, itu akan jadi pukulan fatal. Aku harus bertindak sekarang.


Dan aku berlari seperti binatang buas yang memburu mangsa kecil.


Aku tidak bisa menerima semua ini. Sambil berlari di lorong, aku berpikir mati-matian.


Aku ini orang yang terpilih. Aku tidak membuat kesalahan ceroboh seperti Kondou-kun, jadi semuanya masih bisa diperbaiki. Tidak, harus bisa diperbaiki.


Bahkan pesan yang bocor tadi pun tidak bisa menjadi bukti penentu. Kalau cuma sebatas itu, aku tinggal bilang itu hanya bercanda. Aku tinggal bilang tidak pernah menyangka Kondou-kun dan klub sepak bola benar-benar akan melakukan perundungan.


"Ada!"


Aku menemukan mangsa yang kucari. Sudah sepulang sekolah. Kukira dia akan pulang bersama beberapa orang demi keamanan dari perundungan…


Tapi kebetulan dia sendirian. Ini kesempatan. Satu-satunya langkah pembalik keadaan adalah memanfaatkan Hayashi-san.


"Hayashi-san!"


Aku sengaja memanggil dengan ramah dan suara keras. Sampai beberapa murid menoleh ke arah kami.


Tubuhnya langsung gemetar.


"Ketua Tachibana…?"


Dengan ini perhatian para murid terhadap Hayashi-san meningkat. Ini kesempatan.


"Tolong bantu aku. Klub sastra hampir dijadikan kambing hitam oleh sekolah!"


Sebaliknya, dia malah memasang wajah hampir menangis. Tapi bagiku ini justru kesempatan.


"……"


Dia gemetar seperti hewan kecil. Pasti mudah membuatnya setuju denganku.


"Tolong. Kesaksianmu akan jadi bukti objektif karena kau sudah menjauh dari klub. Sensei bilang aku dalang di balik perundungan terhadap Eiji-kun. Mereka juga mencurigai kami yang menghilangkan barang-barang milik Eiji-kun."


Hari itu, saat aku memberi instruksi pada anggota klub, dia memang pucat, tapi dia juga tidak menghentikannya. Meskipun tidak terlibat langsung, pasti ada rasa bersalah dalam dirinya. Jadi aku akan memanfaatkannya.


Aku melanjutkan dengan suara pelan agar hanya dia yang mendengar.


"Kau mengerti kan? Karena tidak menghentikannya, kau juga sama bersalahnya. Mungkin sekolah juga akan menghukummu. Jadi ikutlah bersama kami. Kalau begitu, aku tidak akan memperlakukanmu dengan buruk."


Aku menepuk pelan pundaknya. Lalu berkata ringan, "Sudahlah, jadilah dewasa," dan matanya mulai dipenuhi air mata.


Yakin akan kemenangan, aku meninggikan suara seperti sedang berakting dan mulai menyatakan keadilanku di depan para penonton.


"Tolong. Aku tahu melawan guru itu menakutkan. Tapi para guru mencoba menjadikan kami penjahat supaya masalah ini cepat selesai dan tidak mempengaruhi penilaian mereka. Jadi tolong bantu kami!"


Aku bertindak seolah-olah aku pihak lemah dan korban. Dengan ini aku bisa mendapatkan simpati.


Lihatlah, di dunia ini yang penting bukanlah apa kebenarannya. Yang penting adalah apakah kau bisa menyiapkan "kebenaran" yang bisa dipercaya orang lain.


Ayo, Hayashi-san. Bersaksilah tentang ketidakbersalahan kami di depan publik. Hanya dengan murid lemah dan imut seperti dirimu membela kami, orang-orang akan berpihak pada kami. Ayo, biar kugunakan dirimu sepenuhnya. Katakanlah. Deklarasi kemenangan kami.


"…Nn."


"Bagaimana? Suaramu terlalu kecil, aku tidak bisa mendengarnya."


Begitu kudorong, dia berteriak dengan suara keras. Air mata besar mulai mengalir dari matanya.


"Aku tidak bisa mengatakan itu! Karena… karena… aku melihat sendiri Ketua Tachibana dari klub sastra memerintahkan anggota klub untuk membuang barang-barang dan naskah milik senpai Aono Eiji demi mengganggunya!"


Suasana simpati tadi langsung lenyap dalam sekejap.


Tatapan dingin mulai tertuju padaku.


"Apa yang kau katakan?"


Aku menatapnya dengan maksud "kau juga sama bersalahnya", tapi dia menggeleng kuat-kuat.


"Aku tidak bisa terus berbohong lagi. Aku tidak mau. Aku tidak mau menjadi kotor sepertimu. Aku juga tidak mau terus mengkhianati Aono-senpai yang sangat kuhormati."


Setelah darahku terasa menghilang, amarah langsung melonjak ke kepalaku.


Aku mengayunkan tamparan ke arahnya.


Karena emosi, aku tanpa sadar mengarahkan tamparan itu pada Hayashi-san. Begitu sadar aku berpikir "gawat", tapi semuanya sudah tidak bisa dihentikan lagi.


Aku bisa melihat suasana sekitar menjadi kacau.


Semua perhatian tertuju padaku. Tangan yang kuayunkan dihentikan oleh kekuatan kuat dari belakang.


"Kekerasan tetap tidak boleh, Tachibana-san."


Suara pria terdengar. Lengan kananku ditarik kuat. Rasa sakit dan takut langsung menyerangku. Kekerasan terhadap Hayashi-san berhasil dicegah tepat sebelum mengenai dirinya, dan aku kehilangan keseimbangan sedikit lalu terhuyung.


Aku berhasil bertahan, tapi tubuhku yang kehilangan keseimbangan akhirnya jatuh tersungkur.


"Imai Satoshi?"


Aku tidak terlalu mengenal pria yang menghentikan tamparanku itu. Tapi karena dia teman Eiji-kun dan kami pernah bertemu beberapa kali, aku setidaknya tahu namanya.


"…Semuanya sudah berakhir untukmu. Apa yang tadi kau lakukan sama saja dengan pengakuan. Bahkan kalau kau mencoba bilang Hayashi-san berbohong, bukti situasional sudah terlalu banyak. Berhentilah melakukan perlawanan sia-sia. Memalukan."


Jelas sekali dia sengaja memprovokasi. Dihina dan dicemooh oleh orang yang nyaris baru pertama kali kutemui membuat rasa terhina membakar dadaku.


"Kau juga pasti bersekongkol dengan Hayashi-san, kan? Tidak… ini perintah siapa? Eiji-kun? Para guru? Atau Mitsuta-kun? Siapa yang mencoba menjebakku!?"


Aku berteriak sambil menangis untuk mengubah situasi, tapi orang-orang di sekitar hanya memandang aneh tanpa membelaku. Malah aku bisa melihat penonton berbisik sambil tertawa mengejek.


"Apa sih itu?"


Aneh. Rencanaku seharusnya sempurna. Tapi tidak ada satu pun yang tampak mempercayai kata-kataku.


"Inilah reaksi normalnya, Ketua Tachibana. Kau iri dan takut pada bakat Eiji, lalu mencoba menghancurkannya. Bukankah itu kebenaran di balik kasus fitnah terhadap Aono Eiji?"


"Jangan bicara omong kosong!"


Aku menyangkal dengan keras lewat kata-kata. Tapi…


"Uhuk…uhuk…"


"Yang tadi dikatakan gadis itu, rasanya bukan bohong deh."


"Dia sampai marah dan mencoba menampar, berarti memang benar."


Tatapan para penonton begitu dingin, seolah semua kesalahan ada padaku.


"Inilah penghinaan yang Eiji rasakan karena ulahmu. Eiji yang difitnah merasakan keputusasaan yang jauh lebih dalam. Sekarang kau sedikit mengerti? Betapa kejamnya apa yang telah kau lakukan?"


Aku tak bisa melakukan apa-apa lagi dan hanya memegangi kepalaku.


"Bukan… bukan…"


Aku terus menyangkal. Tapi tak ada yang mau memaafkanku. Bahkan ada orang-orang yang merekam kejadian itu dengan ponsel mereka.


"Silakan terus seperti itu. Sebentar lagi para guru akan datang. Banyak murid yang akan menjadi saksi atas apa yang dikatakan Hayashi-san. Kau kalah oleh orang-orang yang selama ini kau anggap alat. Kau hanya memanfaatkan orang lain lalu membuang mereka tanpa ragu. Kau benar-benar kebalikan dari Eiji. Eiji sudah membantu aku dan Hayashi-san. Ada banyak orang yang ditolong olehnya. Orang-orang yang percaya padanya tidak termakan rumor murahan dan tetap mempercayainya."


"……"


Aku menatap tajam Imai-kun. Kata-kata setelah ini akan menghancurkan harga diriku. Karena itu aku tidak ingin mendengarnya. Tapi dia tetap melanjutkan tanpa ragu.


"Kau terus membuat orang di sekitarmu menderita. Dan akhirnya kau hancur karena itu. Eiji membuat teman-temannya tersenyum. Kau benar-benar kebalikannya. Bukan cuma dalam novel. Dalam segala hal, kau tidak akan pernah bisa menyamai Aono Eiji. Tidak akan ada orang yang mengulurkan tangan untuk menyelamatkanmu saat kau jatuh."


Kata-kata itu mencabik-cabik harga diriku sampai hancur.


Kalau aku tidak bisa membalikkan keadaan sekarang, aku tidak akan bisa tinggal di sekolah lagi. Aku akan kehilangan segalanya. Tapi aku tidak bisa membalas apa pun.


Aku hanya bisa menangis tersedu.


Tak lama kemudian, Takayanagi datang. Air mataku membuatku tak bisa melihat apa pun.


"Baiklah, ceritakan semuanya, Tachibana."


Aku perlahan menaiki tiga belas anak tangga menuju tiang eksekusi.


Aku bahkan tidak bisa membela diri. Sambil menanggung penghinaan karena kalah dari junior dalam segala hal, aku mengutuk masa depan di mana aku akan dihancurkan secara sosial. Neraka ini baru saja dimulai.



──Sudut Pandang Takayanagi──


Mungkin karena akhirnya menyerah setelah keributan tadi, Tachibana kini benar-benar lemas dan bahkan tidak bisa bergerak tanpa disangga.


Di ruangan lain, konfirmasi fakta terhadap Hayashi sedang dilakukan. Dia tampaknya menjawab dengan jelas, dan laporan kesaksiannya terus dikirim ke tanganku dalam bentuk memo.


"Pria kejam yang memukul pacarnya sendiri tidak pantas punya hak asasi manusia. Insiden kali ini adalah skandal terbesar dalam sejarah klub sastra, jadi kita harus menghapus keberadaan dia."


"Kita akan menghapus seluruh keberadaannya. Semua orang bantu."


"Tidak perlu belas kasihan untuk manusia sampah."


Sebagai ketua klub, dia menghasut para anggota klub dengan kata-kata seperti itu.


Kalau kesaksian ini disampaikan pada Matsuda dan anggota klub lainnya, maka seperti bendungan yang jebol, bukti pendukung akan bermunculan dari dalam klub sastra sendiri. Kabarnya memo bertuliskan nama Matsuda ditemukan di ruang klub, tapi kemungkinan besar itu juga bagian dari rekayasa. Yah, polisi pasti akan mengetahuinya setelah menyelidiki.


"Tidak ada alasan lagi yang ingin kau sampaikan?"


Untuk berjaga-jaga aku tetap bertanya. Tapi Tachibana hanya menunduk sambil bergumam sendiri dan bahkan tidak bisa menjawab lagi.


"Begitu ya. Orang tua Aono sudah mengajukan laporan polisi atas pencurian dan perusakan barang. Klub sastra kalian bukan hanya akan menerima hukuman dari sekolah, tapi juga hukuman sosial. Kau mengerti itu?"


Mendengar kata-kata itu, Tachibana yang mentalnya sudah runtuh total akhirnya bereaksi. Kepalanya bergerak sedikit lalu tubuhnya mulai gemetar hebat.


"Bohong…"


Bahkan Tachibana tampaknya terguncang karena dia harus menerima hukuman hukum.


"Sayangnya tidak. Sudah berkali-kali kukatakan. Perundungan adalah kejahatan."


"Bukan, bukan. Aku tidak mungkin salah. Rencanaku sempurna…"


Menyedihkan memang, tapi itu tetap rencana buatan anak SMA. Setelah masalah berkembang sebesar ini dan polisi ikut campur…


Itu hanyalah rencana kejahatan ceroboh setingkat kenakalan anak kecil. Sebagai guru, tugasku juga mengajarkan beratnya dosa mereka.


"Kenapa kau merencanakan semua ini? Bukankah orang yang paling menghargai bakat Aono justru dirimu sendiri?"


Pada akhirnya, motif dari semua ini adalah kecemburuan Tachibana terhadap bakat menulis Aono.


"……"


Dia tidak bisa menjawab apa pun. Jangan mengingini milik sesamamu. Salah satu dari Sepuluh Perintah Musa. Kecemburuan memperbesar niat jahat manusia dan menghancurkan mereka. Racun kuat yang menjadi sumber pencurian, pelecehan, bahkan pembunuhan. Bahkan orang dewasa pun sulit mengendalikannya, apalagi siswa SMA yang belum matang…


Kalau saja dia bisa menerima bakat Aono dengan sehat, seharusnya Tachibana bisa tetap menjadi orang pertama dan terbesar yang memahami dirinya. Dengan begitu, bakatnya sendiri juga mungkin bisa berkembang. 


Mungkin keberadaan jenius abnormal seperti Aono di dekatnya membuat matanya gelap. Padahal bakat Tachibana sendiri juga luar biasa dibanding siswa seusianya.


"Tachibana, demi masa depanmu juga akan kukatakan ini. Mungkin mustahil untuk tidak merasa iri. Tapi jangan pernah menyakiti orang lain karena rasa iri itu. Kalau kau melakukannya, itu sama saja menyangkal usaha dan bakatmu sendiri selama ini. Kenapa kau melakukan sesuatu yang menyangkal dirimu sendiri? Itu yang sangat kusesalkan."


Hal-hal yang harus disampaikan tetap harus disampaikan. Meski aku tahu kata-kata itu mungkin tidak akan sampai padanya.


"Bakat? Bukan, bukan, bukan. Aku tidak tahu apa-apa. Aku tidak tahu apa-apa. Aku sama sekali tidak tahu! Bohong, tidak mauuuu! Bukan, bukan! Semua ini salah klub sepak bola dan Matsuda-san yang bertindak terlalu jauh!"


Percakapan yang tak akan pernah saling memahami itu pun akhirnya menuju penutupnya.



──Sudut Pandang Ai──


Aku menunggu Hayashi-san keluar dari ruang UKS.


Dengan ini semuanya benar-benar berakhir.


Memanfaatkan koneksi Kuroi, kami mendapatkan kembali pesan SNS Kondou yang dipulihkan oleh ahli, lalu menyerahkannya pada sekolah. 


Rencana penyerangan terhadap Eri Ikenobe oleh sisa anggota klub sepak bola juga berhasil digagalkan. Saat ini dia berada di bawah perlindungan polisi. Dan seluruh kejahatan ketua klub Tachibana akhirnya terungkap berkat keberanian Hayashi-san.


Hayashi-san membantuku menjalankan rencanaku. Saat aku menceritakan semuanya padanya, dia berkata, "Kalau demi Aono-senpai, aku juga ingin bertarung."


Karena itu aku sengaja membiarkannya sendirian dan menunggu ketua klub Tachibana mendekatinya.


Yang membantuku adalah niat baik Hayashi-san. Tapi penyesalan dan rasa bersalah terus menghantui hatiku karena merasa seperti memaksa keberaniannya keluar demi rencanaku.


Meskipun aku sebenarnya bersembunyi di tempat yang bisa segera menolongnya kapan saja…


Saat keluar dari UKS, dia tersenyum lega begitu melihatku.


Aku langsung memeluk tubuh kecilnya.


"Aku baik-baik saja kok. Aku tidak terluka, sensei juga baik… dan berkat Ichijou-san aku akhirnya punya keberanian. Kalau kau tidak mendorongku, mungkin aku akan menyesal selamanya. Makasih banyak."


Meski aku tidak mengatakan apa-apa, dia seolah memahami semuanya dan memberiku kata-kata lembut. Hampir menangis, aku membiarkan diriku dimanjakan oleh kebaikannya.


"Bukannya posisi kita malah terbalik?"


Saat aku mengatakan itu, Hayashi-san tersenyum lembut.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close