NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Jinseigyakuten Uwakisare Enzai wo Kiserareta Orega Gakuenichi no Bisyoujo ni Natsukareru V4 Chapter 4

 Penerjemah: Flykitty

Proffreader: Flykitty


Chapter 4

Runtuhnya Dalang Utama

──Sudut Pandang Tachibana──


Pada akhirnya, kemarin pun aku hampir tidak tidur sama sekali.


Bahkan untuk berdiri saja sulit, tapi entah bagaimana aku berhasil menyiapkan diri untuk pergi ke sekolah. Hari ini aku benar-benar harus masuk. Kalau tidak, anggota klub akan tercerai-berai.


Karena itu, meskipun harus memaksakan diri, aku harus bergerak.


Aku menelan sarapan seperti sedang memaksanya masuk ke perut, lalu pergi ke sekolah. Di luar, hujan turun rintik-rintik.


"Apa yang harus kulakukan. Pertama, ke ruang klub... tidak, itu tidak bisa. Ada telepon mencurigakan itu, jadi mungkin saja ada alat penyadap di ruang klub. Bisa jadi bahkan sudah ada pengkhianat di antara kami. Kalau begitu, apa yang harus kulakukan? Aku sudah tak bisa mempercayai siapa pun lagi."


Jantungku berdegup tak terkendali.


Saat hampir sampai di gerbang sekolah, aku mengalami anemia dan roboh.


Tidak bisa. Aku tidak boleh berhenti. Aku tidak bisa membiarkan semuanya berakhir di sini.


"Ada... seseorang..."


Tanpa sadar aku mengeluh lemah dan meminta tolong.


"Anda tidak apa-apa?"


Terdengar suara siswa laki-laki.


"Iya..."


Penglihatanku kabur, jadi aku tidak tahu siapa dia.


"Saya akan membawa Anda ke UKS. Tolong, seseorang..."


Terdengar suara beberapa siswa dan guru datang mendekat. Aku dinaikkan ke sesuatu seperti tandu, lalu kehilangan kesadaran.



Langit-langit putih dan bau obat-obatan.


"Kamu sudah sadar?"


Suara guru UKS terdengar jelas.


Sepertinya aku berada di UKS.


Tanpa sadar aku hampir menutup mata lagi. Tapi saat itu juga aku teringat situasiku sekarang dan langsung bangkit.


"Sekarang jam berapa?"


Menanggapi pertanyaanku, Mitsui-sensei berkata dengan suara lembut,


"Sebentar lagi jam pelajaran pertama selesai. Sepertinya cuma anemia, jadi istirahatlah sedikit lagi."


Aku merinding. Aku gagal.


Padahal aku berniat memperketat kendali atas anggota klub sastra sebelum sekolah mulai bergerak. Kecemasan menyelimuti hatiku.


"Maaf ya. Aku akan menghubungi wali kelasmu dulu, jadi aku keluar sebentar. Jangan bergerak dulu, ya."


Setelah diperingatkan sekeras itu, aku ditinggalkan sendirian di atas ranjang UKS.


Apa yang harus kulakukan? Tidak... kalau pelajaran sudah dimulai, hampir tidak ada cara tersisa bagiku. Aku juga tidak bisa memanggil mereka secara paksa. Kalau kulakukan, justru akan makin dicurigai.


"Kalau begini, aku harus fokus menghadapi pemeriksaan nanti dan membalikkan keadaan sepulang sekolah."


Aku mencoba mengubah pikiranku dengan keputusan itu, tapi rasa takut membuat tubuhku gemetar. Apa yang sebenarnya kulakukan? Kenapa aku jadi begitu menyedihkan? Ini seperti mengakui kalau aku benar-benar tidak punya bakat.


Aku melihat bayangan seseorang di luar UKS. Siapa?


Tanpa sadar aku memasang kewaspadaan.


"Permisi. Buku pelajaranku tertinggal di sini, jadi aku datang mengambilnya. Hm? Senseinya tidak ada?"


Siswa laki-laki yang paling tidak ingin kutemui masuk ke dalam UKS. Aku refleks mencoba bersembunyi, tapi tidak ada tempat untuk bersembunyi.


Dia yang telah mendapatkan semua yang kuinginkan menyadari keberadaanku dan membeku.


"Ketua klub...?"


"Ei... Eiji-kun...?"


Pertemuan tak terduga ini membuat kepalaku kacau, dan kami hanya bisa terpaku di tempat.


Apa yang harus kulakukan? Bagaimana aku bisa memanfaatkan situasi ini?


Otak egoisku mulai bekerja dengan kecepatan penuh.


Benar juga, aku tinggal meminta maaf saja. Berpura-pura seolah kami hanyalah korban yang tertipu rumor palsu...


Dia tidak tahu kalau akulah dalang di balik semua ini.


Dia anak yang baik. Kalau berjalan lancar, mungkin aku masih bisa membujuknya. Benar juga, kenapa aku tidak menyadari itu sebelumnya?


Lalu aku sadar, meski dia tampak membeku, tatapannya kepadaku dipenuhi rasa khawatir.


Begitu ya. Pikiran lain muncul di kepalaku yang sebelumnya hanya memikirkan keselamatan diri.


Memalukan.


Suara laki-laki yang kudengar di depan gerbang tadi cocok dengan Eiji-kun yang kini berdiri terpaku di depanku. Jadi dia yang menolongku. Kalau begitu, kenapa aku begitu terkejut?


"A-anu... Ketua Tachibana, Anda tidak apa-apa? Anda terus tidur dari tadi? Padahal sudah dua jam berlalu sejak itu."


Begitu rupanya. Ekspresi rumitnya adalah campuran keterkejutan, kewaspadaan, dan kekhawatiran.


"Jadi kau yang menolongku. Terima kasih."


Meski tubuhku gemetar karena rasa terhina, aku tetap mengucapkan terima kasih seperlunya.


"Yang penting Anda kelihatannya baik-baik saja. Syukurlah."


Dia benar-benar tampak lega.


Aku masih bisa memanfaatkannya. Saat aku berpikir begitu dan hendak membuka mulut...


Justru dia lebih dulu berbicara.


"A-anu, sebena—"


"Ketua klub, maafkan saya. Sebenarnya... saya mendengarnya."


Saat mendengar kata-kata itu, aku merasa darahku membeku.


Jangan-jangan... semuanya sudah terbongkar?

Keringatku tak berhenti mengalir.


"Maksudnya?"


"Hari itu, saya berada di ranjang tempat Ketua klub tidur. Dan saya mendengar percakapan Ketua klub dengan seseorang. Jadi memang benar ya... saya memang tidak punya bakat. Meski begitu, Anda sudah mengajari saya banyak hal, dan untuk itu saya benar-benar berterima kasih. Terima kasih banyak."


Aku sampai kehilangan kata-kata.


Apa ini sindiran? Atau mungkin kelapangan hati dari seseorang yang sudah dipastikan debut profesional...


"Apa yang sebenarnya kau katakan?"


Padahal dia tahu semuanya. Bahwa dia telah mendapatkan semua yang kuinginkan, bahwa dia sangat populer di internet, bahwa editor profesional memujinya habis-habisan. Tapi dia sama sekali tidak menunjukkan itu dan malah bertingkah seolah dirinya tidak berbakat.


Tidak mungkin itu memuaskan kesombonganku.


Ini cuma kemurahan hati seorang pemenang.


Ada rasa kasihan terhadapku, yang dipandang hanya sebagai tiruan murahan Aono Eiji.


"Tentang naskah saya yang dibuang... dan semua hal kejam yang terjadi... saya memang belum bisa memaafkannya, dan hati saya juga belum tertata. Tapi tetap saja, saya rasa saya bisa sampai sejauh ini juga karena Ketua klub sudah mengajari saya banyak hal. Untuk itu saja, saya berterima kasih. Terima kasih banyak."


Tanpa sadar, dia terus mengorek luka lamaku.


Mungkin selama ini dia benar-benar menganggapku sebagai senior berbakat yang pernah memenangkan lomba sastra. Penilaian dirinya terlalu rendah.


Dan hanya dengan mendengar kata-kata itu dari dirinya—yang telah meraih prestasi sejauh tak mungkin bisa kukejar—aku merasa sangat terhina.


"...cukup... hentikan..."


Hatiku terasa hancur oleh rasa terhina dan iri.


Rencana meminta maaf demi melindungi diri dan mengaburkan masalah klub sastra langsung lenyap dari kepalaku.


"Eh?"


"Sudah cukup! Aku tidak senang dikasihani oleh orang sepertimu! Oleh orang yang jauh lebih berbakat dariku... meski kau mencoba menghiburku! Bahkan soal kau menolongku hari ini, dan ucapan terima kasihku tadi, semuanya terdengar seperti sindiran! Kenapa kau selalu menyerangku tepat di titik paling menyakitkan!? Aku selalu... selalu takut padamu! Aku benci padamu yang punya bakat hingga suatu hari akan pergi ke tempat yang tak bisa kugapai! Jangan mengasihaniku! Bahkan kalau kau melakukannya pun... yang tersisa cuma kehampaan!"


Tanpa sadar emosiku meledak dan aku berteriak seperti anak kecil.


Dia menunjukkan ekspresi sedikit sedih, lalu segera menggantinya. Dan aku sadar, dalam dirinya, aku sudah dianggap sebagai manusia masa lalu.


"Begitu ya. Sayang sekali. Tapi saya tidak bisa berhenti di sini lagi. Saya akan terus maju. Kalau begitu, saya permisi. Saya masih ada pelajaran berikutnya."


Dia membawa buku pelajarannya lalu keluar dari UKS.


Kalau dia adalah Eiji yang kukenal dulu, kata-kata seperti itu seharusnya cukup untuk membuatnya terpuruk. Tapi dia hampir tidak terlihat terluka. Malah, di balik wajah sedihnya, aku justru merasakan belas kasihan untukku.


Seberapa pun kasar kata-kataku, semuanya tak akan sampai kepadanya. Dia hanya menatapku dengan mata penuh iba.


"Aono Eijiii!"


Dengan penuh kebencian, aku memanggil nama pria yang seharusnya sudah tak bisa kujangkau lagi.


Tanpa sadar aku berteriak dan menolak Eiji-kun.


Tidak bagus... kenapa aku malah terbawa emosi seperti itu? Kalau demi bertahan hidup, seharusnya aku masih bisa memanfaatkannya.


Aku baru sadar bahwa dalam diriku ternyata ada batas yang tak bisa kulewati.


Aku pernah meraih hasil bagus di lomba sastra tingkat SMA. Dalam ujian simulasi universitas yang menjadi gerbang menuju profesi novelis, aku terus mempertahankan nilai A dengan peluang lulus delapan puluh persen. Aku pikir masa depan cerah menungguku. Aku percaya diriku punya bakat dan kemampuan untuk mewujudkan impian.


Sampai aku bertemu Aono Eiji.


Dan dari percakapan tadi, aku dipaksa menyadari bahwa di dalam hatiku sendiri, aku sudah sepenuhnya kalah dari jenius bernama Aono Eiji.


Kalau...


Kalau aku berhasil lolos dari kasus ini pun, apa yang tersisa untukku?


Mungkin aku masih bisa masuk universitas. Mungkin aku masih bisa menulis novel yang lumayan bagus. Tapi apakah itu cukup untuk debut? Dan sekalipun bisa debut, apakah aku benar-benar bisa sukses sebagai novelis?


Selama ini aku berpikir cukup berkembang sedikit demi sedikit. Bahwa suatu hari aku pasti bisa mencapai dunia profesional...


Tapi aku tidak merasa mampu bertarung melawan monster seperti Aono Eiji.


Aku sudah seperti mayat hidup. Aku menyadari bahwa masa depan cemerlang yang dulu penuh impian kini telah diwarnai hitam pekat.


Sejak kapan? Sejak kapan semuanya jadi seperti ini?


Aku pikir aku adalah manusia istimewa yang punya bakat menulis dan mampu mengendalikan orang lain sesuka hati.


Jadi kenapa semua jadi begini?


Padahal seharusnya sekarang aku bahkan sudah bisa memainkan nasib Eiji-kun, yang sebenarnya jauh lebih berbakat dariku.


Sejak kapan aku jatuh menjadi pecundang seperti ini?


Sejak kapan aku dipaksa menyadari bahwa aku sudah kalah?


Sejak kapan aku mulai menyerah karena sadar mustahil mengejar Aono Eiji?


Percakapan tadi membuat luka lama di hatiku kembali berdarah deras.


Kecemasan, iri hati, dan rasa rendah diri.


Hatiku benar-benar kacau.


Terdengar suara seseorang membuka pintu UKS.


Yang masuk ada dua orang. Mitsui-sensei dan... wali kelas Eiji-kun, Takayanagi-sensei.


Guru yang menjadi penanggung jawab dalam kasus perundungan kali ini.


Dengan kata lain, musuhku.


Karena aku sedang kesal, timing-nya malah pas.


"Maaf ya, Tachibana. Kalau kondisi badanmu buruk, kamu tidak perlu memaksakan diri... tapi ada sedikit hal yang ingin kutanyakan. Bisa meluangkan waktu?"


"Tidak apa-apa. Bicara di sini saja?"


"Ya, tidak masalah. Jawablah dengan posisi yang nyaman."


Sampai sini masih percakapan biasa. Tapi aku tidak mau dia mengambil kendali. Karena itu, aku bergerak lebih dulu.


"Tidak apa-apa. Lagi pula aku sudah dengar dari anak-anak klub. Sensei menganggap kami pelakunya, kan? Siapa pun yang menjawab, hasilnya sama saja. Kami benar-benar tidak tahu soal beberapa barang pribadi Eiji-kun yang hilang dari ruang klub. Memang benar kami juga mempercayai rumor itu dan mengatakan hal-hal buruk pada Eiji-kun, dan kami menyesalinya."


Sikapku seolah berkata, "Jangan bikin masalah jadi rumit lagi." Melihat itu, dia hanya tersenyum pahit.


"Begitu ya. Tapi ini masalah penting, jadi aku harus mendengar langsung dari pihak terkait. Maaf, tapi tolong ceritakan apa yang kamu tahu."


Jadi begini caranya dia menipu klub sepak bola.


Kelihatannya tidak berbahaya, tapi sebenarnya penuh perhitungan. Dia juga bergerak di balik layar saat pemeriksaan klub sepak bola.


Aku bahkan sudah menyelidiki riwayatnya.


Dia bukan guru biasa.


Ahli shogi. Tidak, bukan sekadar ahli. Saat kuliah, dia memenangkan banyak gelar amatir. Karena menjuarai turnamen amatir, dia juga pernah ikut turnamen profesional dan mengalahkan beberapa pemain profesional. Sebagai pembimbing pun dia luar biasa. Di SMA tempatnya bekerja sebelum pindah ke sekolah ini, dia menjadi pembina klub shogi dan membawa mereka menjuarai kompetisi nasional.


Pria yang benar-benar merepotkan.


"Tentu saja. Silakan tanya apa saja."


Setelah sampai sejauh ini, pertanyaan yang akan diajukan pun sudah terbatas.


Aku yakin aku berhasil mengarahkannya dengan baik.


"Begitu ya. Ngomong-ngomong, apakah kamu punya petunjuk soal siapa yang membawa pergi barang-barang pribadi Aono?"


Benar kan. Langkah pembuka yang standar.


"Mungkin klub sepak bola atau orang yang membantu mereka."


"Ada lagi?"


Menanggapi pertanyaan sensei, aku tersenyum.


Jangan salahkan aku, ya.


Aku memutuskan menggunakan rencana cadangan B yang sudah kusiapkan.


"Sebetulnya aku tidak ingin mencurigai anggota klub sendiri... tapi ada dua orang."



──Sudut Pandang Takayanagi──


Akhirnya, kesempatan untuk berbicara empat mata dengan pusat dari seluruh kecurigaan ini pun tiba.


Setelah keributan kecil dengan Aono tadi, kecurigaanku semakin kuat. Berdasarkan instingku, Tachibana memang bersalah.


Dia iri pada bakat menulis novel milik Aono, lalu memisahkannya dari Amada Miyuki yang saat itu menjadi kekasihnya.


Hipotesis seperti itu bisa terbentuk dengan mudah.


Tidak, ini cuma firasatku.


Tapi sejak zaman aku bermain shogi, sebagian besar firasatku selalu benar. Bahkan seorang meijin shogi yang kuhormati pernah berkata bahwa delapan puluh persen intuisi itu tepat.


Kalau intuisi ini benar, semuanya bisa dijelaskan.


Bagaimana Kondou dan Amada bisa terhubung. Kenapa Kondou begitu gigih mengganggu Aono...


Kalau semuanya bermula dari rasa iri gadis ini, maka semua kejadian terasa masuk akal.


Saat ini memang baru ada bukti situasional. Tapi kalau seluruh cerita sudah begitu konsisten, bukankah itu berarti sangat dekat dengan kebenaran?


Benar, kalau cuma mengandalkan intuisi, ada kemungkinan salah mengira kebohongan sebagai kebenaran. Dan dalam kasus ini, masa depan banyak murid sudah terdistorsi karena hal itu.


Karena itulah aku tidak boleh gegabah.


Setidaknya sampai bukti penentu ditemukan.


"Sebenarnya aku tidak ingin mencurigai anggota klub sendiri... tapi ada dua orang."


Menjawab pertanyaanku, Tachibana mencoba memberikan dua kambing hitam dalam bentuk semacam pengakuan internal.


Meski aku sendiri ragu apakah dua orang itu benar-benar terlibat dalam perundungan terhadap Aono, aku tetap memintanya melanjutkan.


"Dua orang?"


"Ya. Tentu saja aku tidak bisa menyebut namanya. Tapi aku punya alasan."


Sambil berpura-pura menjadi ketua klub sastra yang bijaksana, dia melanjutkan.


"Coba jelaskan."


"Ya. Orang pertama adalah seorang gadis yang pernah dirumorkan berpacaran dengan Kondou-kun. Dia juga seangkatan dengan Amada-san dan sepertinya cukup dekat dengannya. Kalau melalui dia Kondou-kun dan Amada-san terhubung, bukankah itu terdengar cukup masuk akal?"


Dengan sikap tenang dan tak tahu malu, dia terus berbicara.


"Benar juga. Lalu yang satu lagi?"


Aku sengaja berpura-pura setuju.


Agar dia menggali kuburnya sendiri.


Tersangka pertama memang terdengar cukup meyakinkan...


"Yang satu lagi adalah junior kelas satu yang mendadak berhenti datang ke klub setelah masalah perundungan ini muncul. Mungkin dia berhenti datang karena merasa bersalah atas sesuatu."


Ahh, begitu ya.


Memang penjelasan seperti itu juga bisa dibuat. Sekilas terdengar masuk akal, tapi tetap ada kontradiksinya.


Pada akhirnya, dia cuma anak SMA.


"Begitu ya. Kalau begitu kami akan menyelidikinya lebih lanjut. Padahal kondisimu sedang tidak baik, tapi kamu tetap membantu kami. Terima kasih."


Mungkin dia merasa berhasil lolos.


Ekspresinya tampak sedikit senang.


Tapi Tachibana...


Kenapa cuma kau yang tahu hal-hal mencurigakan seperti itu? 


Kenapa anggota klub sastra lain tidak mengatakan hal yang sama pada kami?


Jelas terlalu tidak alami. Dan justru itulah langkah burukmu.


Semuanya terasa terlalu dibuat-buat, seolah sengaja disimpan sebagai kartu truf. Naluri penjudi dalam diriku mengatakan begitu.


Tapi di saat terakhir dia tetap melakukan perlawanan sia-sia.


Aku harus menghancurkan klaimnya itu.


Setidaknya itu akan memakan waktu.


Aku menggumamkan "terima kasih" lalu keluar dari UKS.


Di luar UKS, ada seorang siswa laki-laki berdiri terpaku.


Karena aku tiba-tiba keluar, sepertinya dia tidak sempat melarikan diri. Wajahnya tampak canggung.


"Aono, kau mendengarnya ya."


"Maaf, Sensei. Aku tetap penasaran."


Aku lengah. Seharusnya aku lebih berhati-hati.


"Lupakan saja. Mungkin aku membuatmu mendengar hal yang tidak menyenangkan."


Aku tidak tahu seberapa dekat Aono dengan kebenaran.


"Sensei. Apa aku bisa bicara sekali lagi dengan Ketua klub? Aku rasa Ketua klub berbohong. Aku memang berutang budi padanya, tapi aku tidak bisa memaafkan kalau sekarang dia bahkan mencoba menyeret Hayashi-san juga. Karena itu... aku punya rencana."


Aono memohon padaku dengan nada yang jauh lebih tegas dari biasanya.



Setelah berbicara dengan Aono, aku menilai rencananya cukup efektif.


Sedikit lagi.


Dengan rencana Aono, klub sastra akan semakin terpojok. Mungkin itu akan menjadi pukulan penentu dan memunculkan pengkhianat dari dalam.


Tapi Tachibana pasti akan melawan habis-habisan dan terus mencari alasan.


"Potongan terakhirnya adalah menunjukkan bukti mutlak yang tidak bisa dia elakkan."


Aku menyimpulkan itu dalam pikiranku sambil membayangkan beberapa kartu truf yang kumiliki dan memikirkan cara untuk menghancurkan logika Tachibana sepenuhnya.


Dan pukulan penentu itu... ada di dalam rencana Aono.



──Sudut Pandang Hayashi──


Saat jam makan siang.


Ketika sedang makan bersama teman-teman di kelas, aku sadar ponselku berbunyi.


Siapa yang memanggil di jam seperti ini? Sejak keluar dari klub, hal seperti itu hampir tidak pernah terjadi. Karena penasaran, aku membukanya.


Notifikasi smartphone.


Pesan langsung dari akun anonim.


『Kalau kau bicara macam-macam ke guru atau orang lain, aku tidak akan memaafkanmu』


『Kau juga pura-pura tidak melihat semuanya, jadi kau sama bersalahnya. Jangan kira keluar dari klub berarti kau dimaafkan』


『Lagian, kalau saja kau menghentikannya sejak awal, semua anak klub tidak akan merundung Eiji-kun. Jangan pura-pura polos』


Tanpa sadar aku langsung mematikan layar ponsel.


Takut.


Tubuhku mulai gemetar tanpa henti, lalu aku bilang pada teman sekelasku kalau aku tidak enak badan dan pergi sendirian.


Mungkin pesan itu dikirim oleh salah satu anggota klub sastra.


Dan justru karena itu aku takut.


Mereka tahu alamat rumah dan kontakku. Kalau informasi pribadiku disebarkan di forum anonim...


Kalau aku diincar seperti yang mereka lakukan pada Aono-senpai...


Kalau fitnah tentangku disebarkan di internet...


Aku mungkin tak akan bisa datang ke sekolah lagi.


Apa yang harus kulakukan?


Tolong... seseorang...


Sambil gemetar dan hampir menangis karena ketakutan, aku meringkuk sendirian.


Jadi selama ini Aono-senpai mengalami ketakutan sebesar ini. Bahkan dalam keadaan yang jauh lebih berat dariku, dia tidak lari dan tetap menghadapinya.


Aku baru sadar sekarang betapa beraninya tindakan itu.


Ini adalah hukuman untukku.


Karena aku pura-pura tidak melihat semuanya.


Ini hukuman untuk diriku yang begitu buruk.


Tanpa sadar aku sudah berada di halaman tengah sekolah.


Aku merasa seperti ada seseorang yang mengawasiku. Mungkin cuma perasaanku saja.


"Hayashi-san!"


Terdengar suara seorang gadis.


Aku refleks memasang kewaspadaan. Dengan wajah pucat, aku menoleh pada pemilik suara itu.


"Ichijou-san...?"


Orang yang membantuku meminta maaf kepada Aono-senpai datang mengejarku sambil terengah-engah.


"Kamu tidak apa-apa? Wajahmu pucat sekali. Tadi kamu keluar kelas dengan ekspresi serius, jadi aku khawatir dan mengejarmu. Ada sesuatu yang terjadi?"


Dia baik sekali.


Sampai mau repot-repot demi orang sepertiku...


Tapi aku tidak ingin merepotkannya lagi.


Ichijou-san sudah memaksakan diri demi menolong Aono-senpai saat tak ada seorang pun di pihaknya.


Karena tindakan kami, aku tidak bisa membiarkannya menanggung risiko lebih besar lagi...


"......"


Banyak pikiran memenuhi kepalaku hingga aku tak bisa berkata apa-apa.


Saat merebut kembali naskah Aono-senpai dulu, aku terlalu takut pada pembalasan hingga cuma bisa membantu Ichijou-san secara tidak langsung.


Pada akhirnya, yang benar-benar bertindak hanyalah dirinya. Bahkan aku tidak merasa iri melihat teman sekelasku semakin dekat dengan cinta pertamaku.


Karena perbedaan kapasitas antara dirinya dan diriku terlalu besar. Sampai-sampai aku merasa kalah itu memang sudah sewajarnya.


"Begitu ya. Hayashi-san, anggap saja ini cuma gumamanku sendiri, ya. Dengarkan saja."


Dia tiba-tiba mulai bicara.


"Mm."


"Setelah bertemu Eiji-senpai, aku jadi sadar sesuatu. Selama ini aku hidup dengan bersikap kuat tanpa pernah meminta bantuan siapa pun. Tapi kalau kita tidak bilang 'tolong bantu aku', orang lain juga tidak bisa menolong kita. Dan kalau kamu tidak mau mengatakannya, nanti saat aku yang butuh bantuan, aku juga jadi tidak bisa bergantung padamu. Jadi... ceritakan padaku. Apa yang sebenarnya kamu rasakan."


Seolah dia sudah memahami semuanya...


Namun wajahnya tampak terdistorsi kesakitan. Seperti seseorang yang traumanya sedang disentuh kembali.


Meski begitu, tanpa sadar aku memanfaatkan kebaikannya.


"Ichijou-san... tolong aku."


Dia tersenyum lembut.


"Tentu saja. Kalau aku tidak menolong sahabatku, aku akan menyesal seumur hidup. Ceritakan apa saja."


Kata-kata yang terasa seperti ucapan seorang santa membuatku langsung menangis di pelukannya.



──Sudut Pandang Ai──


Aku memeluk Hayashi-san dan berbagi rasa frustrasi serta ketakutannya.


Sampai dia menangis seperti ini...


Dia pasti benar-benar ketakutan.


Menjadi sasaran kebencian dari seseorang anonim. Tak tahu kapan itu akan berubah menjadi ancaman nyata di dunia nyata.


Meski begitu, kata-kata yang kuucapkan untuk menolongnya juga terasa seperti pisau yang menusuk hatiku sendiri.


Karena sebenarnya aku pun belum bisa mengatakan "tolong bantu aku".


Meski terasa menyakitkan, aku tetap ingin bergerak demi menolong temanku.


Fitnah dan hinaan anonim benar-benar licik.


Karena dibanding diucapkan langsung, rasa takut akibat kecurigaan dan paranoia karena tidak tahu siapa pelakunya jauh lebih menyesakkan.


"Tak apa. Aku ada di pihakmu."


Menyedihkan rasanya karena cuma itu yang bisa kukatakan. Tapi aku ingin sedikit saja lebih dekat dengannya.


Itulah yang kupikirkan.


Hayashi-san adalah gadis yang pemalu. Meski begitu, dia tidak ikut dalam perundungan itu.


Menurutku itu tindakan yang berani.


Dia tidak kalah oleh tekanan kelompok, dan saat aku mengambil kembali naskah milik senpai, dia juga membantuku.


Setelah semua anggota klub pergi, dia menghubungiku dan sengaja membiarkan ruang klub tidak dikunci.


Dan gadis seperti itu sekarang menangis sambil meluapkan kelemahannya.


"Aku melakukan hal yang sangat buruk. Aku pura-pura tidak melihat saat senpai yang sudah begitu baik padaku dirundung. Dia memang baik sampai mau memaafkanku, tapi aku tahu kalau yang kulakukan itu sangat buruk. Aku sama bersalahnya dengan mereka."


Dia benar-benar gadis yang serius. Padahal dia bahkan bukan pelaku langsung, tapi dialah orang pertama yang meminta maaf pada senpai.


Saat itu bahkan belum jelas apakah dia benar-benar tidak bersalah.


Betapa hebatnya itu... dan betapa terselamatkannya hati senpai karenanya.


"Bukan begitu. Karena kamu sudah benar-benar meminta maaf pada Eiji-senpai. Orang-orang yang mengirim pesan pengecut seperti ini justru orang-orang yang langsung menyakiti senpai, tapi bahkan tidak mencoba meminta maaf. Malah demi melindungi diri sendiri, mereka sekarang mencoba menyakitimu juga. Yang tidak bisa dimaafkan adalah mereka yang melakukan hal serendah itu."


Mendengar kata-kataku, tubuhnya gemetar dan dia berkata, "Terima kasih."


Aku tidak bisa memaafkan mereka.


Anggota klub sastra yang sudah menekan Hayashi-san sejauh ini dan cuma memikirkan diri sendiri...


Mereka yang mencoba menghancurkan bakat Eiji-senpai...


Aku tidak akan pernah memaafkan mereka.


"Aku takut. Jadi selama ini Aono-senpai mengalami ketakutan sebesar ini ya. Aku benar-benar merasa bersalah sampai tidak bisa memaafkan diriku sendiri."


Anak ini benar-benar...


"Hayashi-san. Mari kita konsultasi ke guru. Guru-guru di sekolah ini pasti akan berada di pihakmu. Kalau kamu tidak ingin menonjol, biar aku yang bicara mewakilimu."


Mendengar kata-kataku, dia menjawab,


"Mm. Tolong bantu aku."


Demi kehormatan Eiji-senpai, dan demi masa depan Hayashi-san juga, masalah ini harus segera diselesaikan.


Aku memantapkan tekad itu lalu memeluk tubuhnya erat-erat.



Setelah mengantar Hayashi-san kembali ke kelas, aku langsung menuju tempat yang kutuju.


Pemilik ruangan itu pernah bilang padaku untuk segera berkonsultasi jika terjadi sesuatu.


Karena itu tidak apa-apa.


Aku menuju satu-satunya orang di sekolah ini yang memahami posisiku.


Aku mengetuk pintu.


"Silakan masuk."


Terdengar suara pria yang sopan.


"Permisi. Kepala sekolah, ada sesuatu yang ingin saya konsultasikan secara serius."


Dia mengangguk perlahan. Meski seharusnya dia sadar kalau sekarang masih jam pelajaran, dia tetap menyambutku tanpa bertanya apa pun.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close