NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kaji Daiko no Arubaito o Hajimetara Gakuen Ichi no Bishojo no Kazoku ni Kiniira re Chaimashita V3 Chapter 2

 Penerjemah: Ramdhian

Proffreader: Ramdhian


Chapter 2

Couple Yoga

Kawasan pemukiman itu terpanggang di bawah teriknya matahari musim panas tanpa ampun.


Sambil merasakan sengatan panas yang seolah membakar tengkuknya di bawah curahan sinar matahari yang tegak lurus, Haruto berjalan menuju kediaman keluarga Toujou.


Pada hari di mana ia memiliki jadwal kerja sambilan sebagai asisten rumah tangga, ia juga dijadwalkan untuk melakukan latihan jadi pacar bersama Ayaka selepas tengah hari.


Haruto merasakan sedikit ketegangan menjalari dirinya karena ini adalah kunjungan pertamanya ke rumah Toujou sejak barbekuan waktu itu. Setelah memeriksa penampilannya sekali lagi, ia menekan tombol interkom.


‘...Haruto-kun?’


“Ya, aku sudah sampai.”


Haruto menjawab suara Ayaka yang terdengar lewat interkom. Tak lama kemudian, pintu depan segera terbuka dan sosok Ayaka muncul.


“Aku sudah menunggumu, loh, Haruto-kun.”


Melihat gadis itu menyambutnya dengan wajah yang dipenuhi senyum lebar, Haruto kembali teringat ucapan Shizuku kemarin.


‘Perempuan itu, nggak bakal bilang ‘aku suka kamu’ sama orang yang nggak dia anggap apa-apa, tahu?’


Menghadapi senyum Ayaka yang nyaris membuatnya terpana sampai lupa diri, Haruto merasa wajahnya memanas dan tak kuasa untuk menyembunyikannya.


“Boleh aku masuk?”


“Tentu saja.”


Ayaka membuka pintu lebar-lebar, mempersilakan Haruto masuk ke dalam rumah.


“Ah, untuk memikirkan menu makan malam hari ini, boleh aku cek isi kulkas dulu?”


Haruto berkata sambil melepas sepatu dan naik ke area pintu masuk.


“Boleh kok.”


Haruto pun masuk ke ruang tamu bersama Ayaka yang mengangguk dengan riang.


Di sana, Ikue yang sedang membuka laptop di atas meja ruang makan menyapa Haruto.


“Selamat datang, Ootsuki-kun.”


“Permisi. Terima kasih banyak sudah mengundang saya ke acara barbeku tempo hari. Makanannya sangat enak dan acaranya menyenangkan.”


“Syukurlah kalau kamu senang.”


“Onii-chan! Kita main kembang api lagi, ya!!”


Ryota, yang sedang menonton film sentai di televisi ruang tamu, berkata dengan mata berbinar-binar.


Haruto pun menjawab bocah itu sambil tersenyum.


“Iya, kita main lagi kapan-kapan. Ah, Ikue-san. Saya ingin memeriksa isi kulkas sebentar, boleh?”


“Ya, tentu saja.”


Ikue yang sedang telework mengangkat pandangannya dari laptop dan mengizinkan dengan senyuman ramah.


Haruto membuka pintu kulkas dan memeriksa bahan makanan.


“Hei, Haruto-kun. Rencananya, makan malam nanti dengan apa?”


“Hmm, ah, karena ada daging pinggang babi, bagaimana kalau shogayaki?”


[TLN: Shogayaki adalah makanan khas Jepang berupa irisan daging babi yang ditumis dengan jahe parut, kecap asin, mirin, dan sake.]


Rupanya suara Haruto terdengar oleh Ryota, karena bocah itu langsung berlari mendekat sambil bersorak kegirangan.


“Shogayaki!! Aku suka shogayaki!!”


“Oke. Kalau begitu hari ini kubuatkan shogayaki yang enak, ya.”


“Horeee!!”


Melihat Ryota yang berlarian kegirangan, Ikue menegurnya, “Hei, tenang sedikit.”


“Ayaka-san dan Ikue-san juga tidak keberatan dengan menu itu?”


Haruto memastikan kepada mereka berdua sekadar formalitas.


Ikue langsung menjawab, “Tentu saja.” Namun, berbeda dengan ibunya, wajah Ayaka terlihat sedikit kaku, meski hanya sesaat.


“Kamu kurang suka shogayaki, ya?”


“Eh!? Tidak, bukan nggak suka sama sekali kok, tapi...”


Melihat gadis itu menjawab sambil mengalihkan pandangan ke sana kemari, Haruto memiringkan kepala bingung. Melihat itu, Ikue berkata pada Haruto sambil tertawa.


“Ootsuki-kun, makan malam hari ini shogayaki saja, tidak masalah kok.”


“Begitu, ya?”


“Iya, ‘kan? Ayaka?”


“Ung, nggak apa-apa...”


Mendengar ibunya meminta persetujuan, putrinya menjawab dengan nada yang agak kurang tegas.


Meski merasa sedikit ada yang mengganjal, Haruto memutuskan menu makan malam hari ini adalah shogayaki karena yang bersangkutan sudah bilang tidak masalah.


“Kalau begitu, Mama. Aku mau belajar di kamar sama Haruto-kun. Ayo, Haruto-kun.”


“Ah, iya. Kalau begitu saya permisi sampai nanti sore.”


“Oke deeeh. Belajar yang rajin, ya.”


Ikue melambaikan tangan ringan pada mereka berdua sambil tersenyum.


Begitu masuk ke kamar Ayaka di lantai dua, Haruto bertanya pada Ayaka untuk memastikan.


“Ayaka, kamu beneran nggak apa-apa menunya shogayaki? Kalau kamu kurang suka, bisa kubuatkan menu terpisah khusus untukmu.”


“Enggak kok! Nggak masalah. Aku suka banget shogayaki. Justru karena suka banget itulah yang jadi masalah...”


Ayaka menolak usulan Haruto dengan melambaikan kedua tangannya.


Suaranya mengecil di akhir, lalu ia menatap Haruto dengan tatapan yang menyiratkan tekad kuat.


“Haruto-kun.”


“Y-Ya.”


Namanya dipanggil tiba-tiba dengan nada penuh tekanan, membuat Haruto secara refleks menegakkan punggungnya.


“Pertandingan senko hanabi tempo hari, aku yang menang, ‘kan?”


“...Benar.”


“Kalau begitu, kamu bakal menuruti permintaanku, ‘kan?”


“Y-Yah, selama masih dalam batas wajar...”


Menghadapi Ayaka yang tampak begitu mendesak, Haruto menjawab sambil merasa terintimidasi.


Mendengar jawaban itu, Ayaka mengangguk puas, lalu mengeluarkan ponselnya dan mencari sesuatu.


Saat Haruto menunggu dengan deg-degan tentang apa yang akan diminta darinya, Ayaka menyodorkan layar ponsel tepat ke arahnya dan mendeklarasikan:


“Haruto-kun harus melakukan ini bersamaku!!”


“Eh? ...Couple yoga?”


Sambil melihat layar ponsel yang disodorkan padanya, Haruto perlahan membaca tulisan yang tertera di sana.


“Benar! Couple yoga! Menurutku ini latihan yang paling pas buat sepasang kekasih!”


“...Apa iya?”


Haruto merasa standar gadis itu tentang sepasang kekasih cukup meresahkan.


Ia menatap Ayaka dengan pandangan ragu, namun gadis itu mulai menjelaskan dengan tatapan yang dipenuhi tekad baja.


“Couple yoga itu melakukan pose yang nggak bisa dilakukan sendirian dengan kerja sama berdua. Makanya efek peregangannya lebih tinggi daripada yoga biasa, tahu.”


“Hee...”


“Selain itu, ada banyak manfaatnya seperti menghilangkan stres, meningkatkan kualitas tidur, meningkatkan konsentrasi, dan lain-lain!”


Melihat Ayaka yang begitu bersemangat, Haruto jadi penasaran seperti apa couple yoga itu, lalu menerima ponsel dari gadis itu. Ia menggeser layar dan membaca penjelasan tentang couple yoga.


“Ooh, ternyata mudah dan direkomendasikan bahkan bagi pemula yoga, ya.”


“Umm umm!”


“Karena dilakukan berdua, jadi bisa bertahan lebih lama daripada dilakukan sendirian.”


“Betul!”


“Ada efek dietnya juga, ya.”


“Betul bangeeet!!”


Mendengar kata “diet” yang diucapkan Haruto, reaksi Ayaka melonjak drastis.


Melihat itu, Haruto samar-samar bisa menebak alasan mengapa gadis itu begitu antusias mengajak couple yoga.


Yah, waktu barbeku dia makannya lumayan banyak, sih...


Mengingat nafsu makan Ayaka tempo hari, senyum tipis tersungging di bibir Haruto.


Di mata Haruto, Ayaka sama sekali tidak gemuk, justru ia berpikir akan lebih sehat jika gadis itu sedikit lebih berisi. Namun, mengatakannya langsung pada orangnya tentu bukan tindakan yang bijak.


Sambil memikirkan hal itu, Haruto membaca sekilas situs penjelasan couple yoga tersebut, sampai tangannya terhenti saat melihat foto contoh pose.


“...Eh? Kita mau melakukan ini?”


Tanpa sadar gumaman itu lolos dari mulutnya.


Yang terpantul di matanya adalah pose di mana laki-laki berada di bawah, mengangkat tangan dan kaki ke atas sebagai tumpuan, sementara perempuan naik di atasnya dengan tangan dan kaki terentang lurus seolah sedang terbang.


Di luar dugaan Haruto, couple yoga ternyata memiliki pose-pose yang akrobatik.


“Ah, kalau itu sepertinya untuk tingkat lanjut. Kita mulai dari yang kayak gini dulu aja, yuk.”


Ayaka meminta ponselnya kembali sebentar, mencari sesuatu, lalu kembali memperlihatkan layarnya pada Haruto.


“Kalau ini sepertinya kita juga bisa, ‘kan?”


“...Ya, mungkin...”


Pose yang ingin dilakukan Ayaka.


Itu adalah pose di mana laki-laki dan perempuan duduk bersila saling membelakangi, memutar tubuh, meletakkan tangan di paha pasangan, dan meregangkan pinggang.


Memang terlihat mudah dilakukan dan sepertinya bagus untuk peregangan pinggang. Benar sih, tapi yang mengganggu pikiran Haruto adalah jaraknya.


Couple yoga, sesuai namanya, adalah yoga yang dilakukan bersama kekasih, suami-istri, atau mitra, dan dilakukan oleh dua orang yang saling percaya sepenuhnya.


Oleh karena itu, semua posenya memiliki tingkat kontak fisik yang tinggi.


“Anu... Ayaka tidak... keberatan, ‘kan?”


“Ung! Ini kan demi die... tidak, demi latihan jadi pacar!”


Ayaka sedikit keceplosan.


Fakta bahwa dia sangat bersemangat melakukan couple yoga demi diet sudah sepenuhnya ketahuan oleh Haruto. Namun, Ayaka yang semangatnya sedang membara demi takdir kaum hawa itu tentu tak menyadarinya, dan berniat nekat melakukan couple yoga tanpa memedulikan tingginya tingkat kontak fisik.


“Pertama-tama sebagai persiapan, kita pemanasan ringan dulu.”


Setelah bilang begitu, Ayaka menggelar matras yoga di lantai kamarnya.


Keberadaan matras di sini menandakan bahwa dia mungkin pernah mencoba yoga sebelumnya, tapi kemungkinan besar gagal gara-gara tidak konsisten. Saat Haruto memikirkan hal itu, Ayaka menyuruhnya duduk di matras.


“Nah, Haruto-kun duduk di sini sambil lurusin kaki. Nanti aku bantu dorong punggungmu.”


“Oke.”


Haruto menurut dan duduk di atas matras yoga, meluruskan kaki dan tangan ke depan mengambil posisi mencium lutut.


“Aku dorong punggungnya, ya? Kalau sakit bilang aja.”


Sambil berkata begitu, Ayaka perlahan mendorong punggung Haruto.


Haruto perlahan menurunkankan tubuh bagian atasnya. Kemiringan itu tak berhenti; tubuhnya terus turun seiring dorongan Ayaka.


“Eh? Eh? Haruto-kun badannya lentur banget?”


Melihat dahi Haruto yang hampir menyentuh lutut, Ayaka berseru kaget.


“Sejak kecil aku sudah biasa melakukan peregangan di dojo karate.”


“Pantas saja. Hei, boleh kudorong lebih jauh?”


“Ya, tidak masalah.”


Ayaka, yang sepertinya mulai menikmati mendorong tubuh Haruto yang lentur, mengerahkan sedikit tenaga lebih pada punggungnya.


“Nggak sakit?”


“Sama sekali nggak.”


Meskipun tubuhnya terlipat sempurna, Haruto menjawab tanpa terdengar kesakitan sedikit pun.


“Kalau aku dorong sekuat tenaga boleh?”


“Boleh saja... eh, tungg—!?”


“Wah hebat! Ditindih pakai seluruh berat badan pun nggak masalah, ya.”


Ayaka menempelkan tubuhnya di punggung Haruto dan mendorongnya. Melihat Haruto yang tampak baik-baik saja, ia berseru riang.


Di sisi lain, Haruto merasa sangat gelisah karena merasakan sensasi empuk dan memikat yang luar biasa dari punggung yang didorong itu.


Tentu saja Ayaka tidak bermaksud menempelkan tubuhnya secara vulgar, dia hanya mendorong punggung Haruto dengan tumpuan utama pada lengan. Namun, saat dia condong ke depan untuk membebankan seluruh berat badannya, bentuk tubuhnya yang memikat menjadi bumerang—atau justru anugerah bagi Haruto—sehingga mau tidak mau menempel pas di punggung pemuda itu.


“Anu... kurasa, sudah cukup, ‘kan?”


Haruto, yang terlipat rapi dengan Ayaka setengah menindihnya, akhirnya bersuara karena tak sanggup lagi menahan berbagai macam hal.


“Ah, iya ya. Maaf, habisnya asyik sih.”


Ayaka menjauh sambil berkata begitu.


Akhirnya sensasi di punggungnya menghilang. Meski Haruto mengelus dada lega, ia juga menyadari sebagian dirinya merasa sedikit kecewa, yang membuatnya terjebak dalam rasa benci diri sendiri yang ringan.


“Kalau begitu gantian, Haruto-kun yang dorong punggungku, ya?”


“...Anu, boleh aku selesaikan pemanasanku dulu sampai tuntas?”


Haruto berkata dengan canggung sambil tetap duduk di atas matras yoga.


Haruto, yang akan mengalami berbagai masalah jika berdiri sekarang, berharap bisa terus duduk dan melanjutkan senam kelenturan.


“Oh gitu, lebih efisien begitu ya.”


Ayaka mengangguk setuju pada usulan Haruto.


Haruto menghela napas lega karena tidak perlu berdiri untuk saat ini, namun pada saat yang sama, ia merasakan jantung berdebar dan sepercik kecemasan memikirkan couple yoga yang akan menyusul setelah ini.


Setelah rangkaian pemanasan Haruto selesai, Ayaka menjauh dari punggung Haruto dan berkata.


“Sekarang gantian ya. Kali ini Haruto-kun yang dorong punggungku.”


Setelah bilang begitu, giliran Ayaka yang duduk meluruskan kaki di atas matras yoga.


Haruto, yang entah bagaimana berhasil menenangkan pikiran dan memusatkan mental saat melakukan pemanasan sendiri tadi, berpindah ke belakang Ayaka dan perlahan menempelkan telapak tangannya di punggung gadis itu.


“Aku dorong ya?”


“Ung, boleh.”


Setelah memberi aba-aba, Haruto perlahan mendorong punggung Ayaka. Bersamaan dengan itu, terdengar suara aneh “Unyuu~” dari mulut gadis itu.


“...Nggak apa-apa? Sakit nggak?”


“Fuuuh... t-tidak apa-apa.”


Dari Ayaka yang berusaha keras menggapai ujung kaki, keluar suara erangan yang entah kenapa terdengar manis.


Mendengar itu, Haruto mati-matian menahan tawa.


“Kalau gitu, aku dorongnya agak kuatan dikit, ya?”


“Ugh, tolong...”


Haruto mendorong punggungnya sedikit lebih kuat dari sebelumnya.


“Oke, tahan di sini sepuluh detik.”


“Guuuuh...”


“Satuuu, duaaa, tigaaa...”


“Haruto-kun... hitungnya nggak kelamaan?”


“Empaaat, nggak kok? Normal aja, ‘kan? Oke, limaaa, enaaam...”


Selama Haruto menghitung, Ayaka tampak agak menderita sambil mengerang “Fununu...” namun tetap bertahan.


“Sembilaaan, sepuluh, oke selesai.”


“Fuuuh! Kerasa banget tarikannya.”


“Sekarang buka kaki, kita rebahkan badan ke kanan.”


“...Haruto-kun sebenarnya tipe pelatih yang keras, ya?”


Sambil menoleh ke arah Haruto yang ada di belakangnya, Ayaka menatap dengan mata menyipit tajam. Haruto membalasnya dengan senyum ramah.


“Enggak kok? Aku tipe yang memuji supaya berkembang, loh.”


“Uuum...”


Mendengar penyangkalan Haruto, gadis itu memasang ekspresi sedikit tidak terima.


“Oke, hadap depan. Rebahkan badan ke kanan.”


“Ugyuu~...”


Ayaka kembali mengeluarkan suara erangan yang manis ketika punggungnya didorong Haruto.


Bukan berarti tubuhnya sangat kaku, tapi jika dibandingkan dengan Haruto yang sudah melakukan peregangan sejak kecil, kemiringan tubuhnya benar-benar beda jauh.


“Satuuu, duaaa, tigaaa...”


Haruto menghitung sambil mendorong punggung Ayaka.


Mungkin bukan sebagai balas dendam karena tadi dibuat deg-degan oleh sensasi empuk yang sesekali terasa saat didorong gadis itu, tapi Haruto sedikit memperlambat hitungannya.


Setelah membuka kaki dan merebahkan badan ke kanan, kiri, dan depan, kini Ayaka duduk dengan menempelkan kedua telapak kaki, lalu kedua lututnya ditekan oleh Haruto.


“Kalau kebijakan pendidikan Haruto-kun itu memuji supaya berkembang, aku mau ditekan sambil dipuji, dong.”


Ayaka sedikit mengerucutkan bibirnya kepada Haruto yang sedari tadi menekan punggungnya tanpa ampun.


“...Ayaka, badannya lentur ya~. Oke, aku hitung pelan-pelan ya? Satuuu, duaaa.”


“Rasanya kayak lagi diejek...”


“Aku tekan lututnya sedikit lagi ya? Ayaka pasti bisa kok. Oke, limaaa, enaaam.”


“Unununu...”


“Sembilaaan, sepuluh, oke selesai. Kerja bagus.”


Terakhir, Haruto menepuk-nepuk ringan bahu Ayaka sambil mengucapkan kata-kata apresiasi. Namun Ayaka mengerucutkan bibir dengan tidak puas, “Tuh kan, rasanya kayak lagi diejek...”


Melihat reaksinya, Haruto tersenyum geli.


“Habisnya reaksi Ayaka waktu punggungnya didorong itu lucu sih, jadi keterusan.”


“Ah, ternyata beneran diejek!”


Melihat Ayaka menggembungkan pipinya, Haruto tersenyum kecut sambil bilang “Maaf, maaf”. Atas permintaan maaf itu, Ayaka mengeluh “Hih!”, tapi karena pada dasarnya dia menikmatinya, senyum tipis tampak tersungging di sudut bibirnya.


“Nah, senam pemanasan sudah selesai, sekarang masuk ke menu utama couple yoga.”


“Siap, umm... mau mulai dari pose yang mana dulu?”


“Pertama, kita coba yang duduk sambil putar badan ini, yuk?”


Ayaka mengusulkan sambil memperlihatkan layar ponselnya pada Haruto.


“Oke, pertama duduk bersila saling membelakangi, ya.”


Haruto mengintip layar ponsel gadis itu untuk memastikan posenya.


Saat ia duduk bersila di atas matras yoga, Ayaka pun duduk bersila seolah menyatukan punggung mereka.


“Selanjutnya, putar pinggang dan taruh tangan di lutut Haruto-kun, ‘kan?”


“Iya. Aku juga taruh tangan di lutut Ayaka.”


Keduanya serempak memutar tubuh dan meletakkan tangan di atas lutut pasangan.


“Gimana? Begini sudah benar?”


“Mungkin. Tapi rasanya pinggang dan punggung jadi ketarik, enak juga.”


Mereka mempertahankan posisi duduk bersila saling membelakangi sambil memutar tubuh.


Di punggung Haruto, punggung Ayaka menempel rapat, dan dari sana tersalur kehangatan yang lembut serta irama napas gadis itu.


Merasakan itu, detak jantung Haruto secara alami meningkat dan wajahnya memerah.


“Berikutnya sisi sebaliknya, ya.”


“Oke.”


Mengikuti aba-aba Ayaka, mereka membalik arah putaran tubuh.


Sambil melakukan yoga bersama Ayaka, isi kepala Haruto dipenuhi pikiran tentang perasaan gadis itu, tentang bagaimana gadis itu memandang dirinya.


“Fuuuh, kalau begitu berikutnya kita coba pose ini, yuk?”


Ayaka kembali memperlihatkan layar ponselnya pada Haruto.


Di sana tertulis ‘Pose Pohon’, dan ada gambar pasangan pria-wanita berdiri dengan satu kaki saling berdempetan, mengangkat tangan ke atas membentuk pose seperti sebatang pohon.


“...Jaraknya lumayan dekat, ya.”


“Namanya juga couple yoga. Haruto-kun nggak mau?”


Ayaka bertanya sambil memiringkan kepala.


Haruto merasa ekspresi itu curang. Jika ditanya begitu dengan wajah seperti itu, mana mungkin dia bisa menolak.


“Umm, aku harus berdiri begini, ‘kan?”


Sambil melihat layar ponsel Ayaka, Haruto mengambil pose pohon.


Melihat itu, wajah gadis itu tampak berseri-seri. Lalu, ia pindah ke sebelah Haruto dan mengambil pose yang sama.


“Couple yoga itu ternyata lumayan seru, ya.”


Wajah Ayaka yang tersenyum riang tepat di sebelahnya.


Sambil melirik wajah itu, Haruto mencoba menebak isi hati gadis itu.


Ayaka menganggapku apa sebenarnya...


Padahal mereka menempel begitu rapat hingga tak ada lagi ruang pribadi, tapi Ayaka tertawa senang tanpa terlihat risi sedikit pun.


Latihan jadi pacar yang diusulkan Ayaka dengan alasan ingin berakting sebagai pacar yang sempurna di depan Nenek.


Apakah ini benar-benar diusulkan hanya demi meningkatkan kualitas sandiwara pacar palsu?


Di dalam benak Haruto yang memikirkan hal itu, kata-kata Shizuku kembali bangkit. Bersama dengan helaian napas panjang gadis itu.


‘Latihan jadi pacar? Itu Toujou-senpai lagi berusaha biar Haru-senpai nengok dia.’


Jika, kata-kata Shizuku itu benar...


“Haruto-kun, selanjutnya ayo coba pose hati ini.”


Melihat senyum Ayaka yang tampak bahagia, Haruto berpikir:


Mungkin Shizuku benar, aku ini memang tidak peka, bebal, dan keras kepala seperti batu.


Tapi, kalau ternyata pikiranku ini hanya kesalahpahaman belaka...


Kalau aku menafsirkan perasaan Ayaka seenaknya, lalu menyatakan cinta dan ditolak, pekerjaan sambilan asisten rumah tangga ini ke depannya bakal berubah jadi neraka.


Ayaka, yang sama sekali tidak tahu pergolakan batin Haruto, melemparkan senyum memikat yang membuat pemuda itu semakin pusing.


“Haruto-kun majukan kaki kiri. Aku majukan kaki kanan.”


“Begini?”


“Ung. Lalu, satukan kaki dan pegangan tangan.”


Sambil bilang begitu, Ayaka mengulurkan tangan ke arah Haruto. Haruto pun menggenggam tangan itu.


“Sekarang kita saling tarik sampai membentuk bentuk hati.”


Dengan aba-aba itu, Haruto menarik tangan Ayaka dengan kuat.


“Ahaha, rasanya jadi pengin difoto deh dengan pose ini.”


“Tapi, kalau pose ini dilihat orang lain rasanya agak malu, ya.”


Jika para cowok di sekolah melihat Haruto melakukan couple yoga sedekat dan seasyik ini dengan Ayaka sang idol sekolah, Haruto pasti akan habis dikeroyok massa.


“Haruto-kun, selanjutnya pose perahu.”


“Ini, kalau badannya nggak lentur-lentur amat bukannya susah? Ayaka, bisa?”


“Ah, barusan ngeremehin ya? Nggak apa-apa kok, aku pasti bisa.”


Melihat Ayaka menggembungkan pipi dengan manis, Haruto tersenyum alami, dan setelah itu pun ia terus menekuni couple yoga bersama Ayaka.


Setelah menyelesaikan satu rangkaian couple yoga, Ayaka dan Haruto membuka buku referensi di atas meja dan mulai belajar. Karena mereka sudah bilang pada Ikue dan Shuuichi bahwa mereka akan belajar, mereka tidak bisa terus-terusan melakukan latihan pacar. Jika tidak belajar dengan benar dan mendapat nilai bagus pada ujian setelah liburan musim panas, Ikue dan yang lain pasti akan bertanya, “Kalian sebenarnya ngapain, sih?”


Sambil menggerakkan pena di atas buku catatan dengan wajah serius, Ayaka berkata.


“Apa ini efek couple yoga, ya? Rasanya aku bisa konsentrasi banget.”


“Sirkulasi darah rasanya jadi lancar sih. Badan juga jadi rileks.”


Haruto menghentikan kegiatan belajarnya sejenak, mengambil ponsel, dan mencari tahu khasiat couple yoga.


“Yoga juga punya efek meditasi, jadi pas banget buat ningkatin konsentrasi.”


“Bisa memperbaiki kualitas tidur, terus juga bisa buat diet, ‘kan! Pas dicoba ternyata seru juga, couple yoga itu banyak banget faedahnya, ya!”


Ayaka berkata dengan senyum lebar, Haruto pun membalas senyumannya, namun matanya tak sengaja membaca catatan peringatan tentang khasiat couple yoga.


“...Anu, ini. Di sini tertulis kalau efek dietnya baru bakal kelihatan setelah rutin dilakukan selama tiga atau empat bulan, loh?”


Mendengar kata-kata itu, pena Ayaka mendadak berhenti bergerak.


Perlahan ia mengangkat wajah, lalu dengan mantap mengacungkan jempolnya.


“Konsistensi adalah kekuatan. Iya ‘kan, Haruto-kun.”


“...Betul sekali.”


Haruto kembali belajar sambil tersenyum kecut.


Pasti ke depannya, dia bakal sering mengajak “Kita couple yoga, yuk!”, pikirnya.


Sambil memikirkan hal itu, Haruto merasa bahwa mungkin itu tidak buruk juga.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close