Penerjemah: Ramdhian
Proffreader: Ramdhian
Chapter 5
Pekerjaan Rumah Tangga Terakhir
Haruto merasakan panas yang menyengat di tengkuknya saat ia berjalan menyusuri kawasan perumahan yang tenang. Kemudian, ia menghentikan langkahnya di depan sebuah rumah mewah.
“Waktu pertama kali ke sini, aku cukup gugup, ya...”
Gumamnya pelan berbaur dengan paduan suara jangkrik yang bising.
Kerja sambilan sebagai asisten rumah tangga yang ia mulai saat liburan musim panas.
Waktu pertama kali melihat rumah besar ini, ia merasa gentar, mengira pelanggan pertamanya adalah seorang selebriti.
Sambil samar-samar mengingat perasaan saat itu, Haruto menekan bel interkom.
‘Ya’
Mendengar suara itu, senyum alami merekah di wajah Haruto.
“Ah, saya dari layanan asisten rumah tangga.”
Haruto sengaja menjawab dengan nada formal dan berjarak. Mendengar itu, tawa kecil ‘Hihi’ terdengar dari balik interkom.
‘Ada apa sih? Kok jadi formal begitu.’
“Tidak. Ini kan hari terakhir kerja, jadi aku mikir mau mencoba balik ke suasana awal.”
‘Fufu, kalau gitu mau minta Ryota teriak ‘Maling’ lagi?’
“Wah... kalau itu ampun, deh.”
Saat pertama kali Haruto mengunjungi kediaman Toujou, Ryota yang baru pulang main dari luar langsung teriak ‘Maling’ begitu melihat Haruto. Ingatan saat itu berkelebat kembali di otaknya.
Sekarang sih sudah jadi cerita lucu, tapi waktu itu Haruto ketakutan setengah mati mengira akan berurusan dengan polisi di hari pertama kerjanya.
Sekitar satu bulan telah usai sejak saat itu. Haruto merasa kejadian itu sudah sangat lama, membuatnya merasa sentimental.
Tepat pada saat itu, pintu depan terbuka dengan suara ceklek.
“Selamat datang, Haruto-kun.”
Diterangi sinar mentari musim panas, Ayaka menyambutnya dengan senyum yang menyilaukan.
Gadis yang disebut-sebut sebagai yang tercantik di sekolahnya Haruto dan dijuluki ‘Idol Sekolah’.
Di awal liburan musim panas, hubungan mereka hanyalah antara ‘Staf’ layanan asisten rumah tangga dan ‘Pelanggan’. Namun kini, hanya dengan menangkap sosoknya di pandangan mata, raut wajah Haruto mengendur secara alami, dadanya berdegup kencang, dan di saat yang sama, ia merasakan ketenangan di hatinya. Dia telah menjadi sosok yang tak tergantikan.
Ayaka, yang telah berubah dari ‘Pelanggan’ menjadi ‘Kekasih’ tercintanya, menyentuh lengan Haruto dengan gembira.
“Mari masuk.”
“Ya, permisi.”
Sembari lengannya ditarik, Haruto masuk ke pintu depan. Lalu, mereka langsung menuju ruang tamu.
“Onii-chan!!”
Begitu Haruto masuk ke ruang tamu, Ryota melompat ke arahnya bagaikan serudukan babi hutan.
“Hai, Ryota-kun. Hari ini juga semangat, ya.”
Haruto menangkap Ryota yang menyeruduk ke arah pinggangnya dengan kedua tangan.
“Ung!! Hari ini Onii-chan mau masakin makanan enak lagi?”
Ryota berkata sambil mendongak dengan mata yang berbinar-binar, masih memeluk Haruto.
Sejak dibuatkan hamburger di hari pertama kerja, Ryota benar-benar terpikat oleh masakan Haruto.
“Tentu saja. Demi Ryota-kun, hari ini pun aku akan berusaha membuat makanan yang enak.”
“Horeee!!”
Melihat Ryota yang bersorak kegirangan, Haruto pun tersenyum. Saat itu, Ikue datang ke ruang tamu.
“Selamat datang, Ootsuki-kun.”
“Permisi.”
“Sekarang hari terakhir kerja ya. Terima kasih banyak untuk semuanya selama ini.”
Ikue tersenyum manis dan mengucapkan kata-kata apresiasi padanya. Menanggapi itu, ekspresi Haruto melembut.
“Bekerja di sini sangat memuaskan dan menyenangkan. Saya benar-benar bersyukur pelanggan saya adalah Anda sekalian.”
“Ara, bisa aja kamu. Kami juga benar-benar bersyukur karena yang datang adalah Ootsuki-kun! Ya kan, Ayaka.”
“Iya. Syukur banget itu Haruto-kun.”
Dimintai persetujuan oleh Ikue, Ayaka menatap Haruto dengan malu-malu.
“Karena putriku bisa dapat pacar sekeren ini, kita harus berterima kasih pada Dewa Asisten Rumah Tangga.”
“I-Iiih Mama! Jangan bikin Dewa aneh-aneh sembarangan, dong!”
Menanggapi Ikue yang menggoda putrinya seperti biasa, Ayaka memprotes dengan pipi yang sedikit merona merah.
Melihat interaksi ibu dan anak keluarga Toujou yang sudah biasa dilihatnya selama liburan musim panas ini, hati Haruto menjadi damai.
“Ootsuki-kun, mulai sekarang, sebagai pacar putriku, jangan sungkan main ke rumah, ya.”
“Baik. Terima kasih.”
Mendengar Ikue yang mendukung hubungannya dengan Ayaka sepenuhnya, Haruto menundukkan kepala dengan perasaan campur aduk antara terima kasih, senang, dan sedikit geli di dada.
Tepat saat itu, Shuuichi juga masuk ke ruang tamu.
“Ooh! Ootsuki-kun! Selamat datang!”
Begitu melihat sosok Haruto, dia merentangkan kedua tangannya menyambut dengan wajah penuh sukacita.
“Shuuichi-san, permisi.”
Setelah menunduk pada Shuuichi, Haruto menegakkan tubuhnya dan menghadapnya.
“Anu, Shuuichi-san. Ada hal yang ingin saya bicarakan soal Ayaka-san.”
Bahwa dia sudah berpacaran dengan Ayaka, itu sudah dilaporkan kepada Ikue. Namun, karena Shuuichi sedang dinas luar kota dan tidak ada di rumah, Haruto belum membicarakannya.
Sebagai bentuk sopan santun dalam menjalin hubungan dengan Ayaka, Haruto merasa harus melaporkan hal ini dengan benar, jadi dia menatap mata Shuuichi dan mulai bicara.
“Sebenarnya, saya dan Ayaka-san─”
“Umu umu!! Cerita itu sudah kudengar dari Ibunya!”
Begitu Haruto mulai bicara, Shuuichi dengan sangat bersemangat mencengkeram bahu Haruto dengan kuat.
“Ootsuki-kun! Terima kasih sudah memilih putriku!!”
“Ah, iya. Anu...”
“Mungkin ini cuma bias orang tua, tapi menurutku Ayaka tumbuh menjadi anak baik yang jujur dan penuh perhatian. Aku yakin dia bisa menjalani kehidupan yang baik berdua dengan Ootsuki-kun!”
“B-Begitu, ya...”
Shuuichi mendesak Haruto dengan tatapan mata yang berbinar terang.
Melihat semangat Shuuichi yang seolah-olah hendak menikahkan putrinya saat itu juga, Haruto tersenyum agak kaku. Shuuichi menepuk-nepuk bahu Haruto dan melanjutkan bicaranya dengan senang.
“Benar! Kalau Ootsuki-kun tidak keberatan, demi mempererat keakraban, bagaimana kalau kapan-kapan kita pergi mancing bareng?”
“Y-Ya... dengan senang hati.”
Tertekan oleh semangat dan desakan Shuuichi, Haruto mengangguk kecil berkali-kali.
“Sip dah! Kalau begitu boleh kutanya kapan kamu luang?”
“Ah, ya. Uumm...”
“Papa! Haruto-kun jadi bingung tuh! Tenang sedikit, dong.”
Melihat sosok ayahnya yang terus mendesak Haruto, Ayaka melerai.
“Um? Ah, maafkan aku. Yah, aku jadi terlalu bersemangat begitu mendengar Ayaka pacaran sama Ootsuki-kun.”
Sambil bilang begitu, Shuuichi tertawa riang “Ahahaha” sambil menggaruk kepalanya.
Ryota berlari mendekat kepada ayahya yang seperti itu. Di tangannya tergenggam celengan buatan sendiri yang waktu itu pernah diperlihatkan kepada Haruto dan yang lainnya.
“Ayah lihat! Aku bikin ini, loh! Demi Onii-chan dan Onee-chan, aku juga akan berusaha!”
Melihat ‘Celengan Pernikahan’ buatan Ryota yang terbuat dari kotak susu, Shuuichi mengelus kepala anaknya dengan kagum.
“Hebat sekali Ryota. Sip, kalau begitu Ayah akan segera masukin uang─”
“Jangan begitu, Sayang. Ryota harus belajar betapa sulit dan pentingnya menabung uang.”
“U-Umu. Benar juga...”
Shuuichi yang sudah bersiap mengambil uang kertas dari dompetnya langsung ditegur oleh Ikue. Dengan lesu, dia memasukkan kembali lembaran 10.000 yen yang hampir dikeluarkannya ke dalam dompet.
“Biar Onee-chan bisa cepat nikah sama Onii-chan, aku bakal berusaha!”
Ryota membuat pose semangat ke arah kakaknya.
Menerima semangat membara dari adiknya, Ayaka berkata “Makasih” sambil tersenyum rumit yang memadukan rasa senang, malu, dan sedikit bingung.
Orang-orang keluarga Toujou yang ceria, ramai, dan agak sulit ditenangkan.
Suasana keluarga yang hangat. Merasa dirinya sedikit menjadi bagian di dalamnya, wajah Haruto merekah.
“Kalau begitu, saya akan mulai bekerja sekarang, apakah ada permintaan khusus?”
“Hmm, apa ya. Oh iya, jendela sudah mulai kotor lagi, bisa tolong bersihkan?”
“Baik, dimengerti.”
Saat Haruto menjawab permintaan Ikue, Ryota berlari mendekat.
“Onii-chan! Ngelap jendelanya pakai koran, ‘kan?”
“Wah, kamu ingat ya. Pintar.”
Haruto mengelus kepala Ryota.
“Fufu~n. Aku juga mau bantu!”
“Kebantu banget, Ryota-kun. Kalau begitu bisa tolong lap bagian situ?”
“Ung!”
Haruto meminta tolong untuk bagian yang bisa dijangkau Ryota, sementara dia sendiri mengelap bagian atas.
Haruto dan Ryota berjejer membersihkan jendela dengan akrab. Ikue menatap mereka berdua dengan tatapan lembut sambil duduk di sofa.
“Benar-benar kayak kakak beradik ya.”
Mendengar gumaman Ikue, Ayaka juga mengangguk.
“Haruto-kun pasti bakal jadi ayah yang baik.”
“Ara? Kalau begitu, Ayaka harus jadiin Ootsuki-kun suami, dong?”
Ikue berkata dengan nada menggoda. Jika itu Ayaka yang dulu, dia pasti akan langsung memerah dan memprotes setiap godaan ibunya. Namun, meski wajahnya memerah, sekarang dia tidak membantah.
“Yah... kita kan pacaran, jadi masa depan kayak gitu bisa saja, ‘kan?”
“Ara ara... benar juga, ya.”
Melihat perubahan reaksi putrinya, ekspresi Ikue melembut karena senang.
“Kamu bertemu orang yang baik, ya.”
“...Iya.”
Ayaka mengangguk mantap pada kata-kata lembut Ikue.
Percakapan ibu dan anak yang seperti itu sayup-sayup terdengar oleh Haruto yang sedang bersih-bersih jendela bersama Ryota. Namun, karena suasananya, dia tidak bisa ikut campur dan memilih fokus membersihkan jendela dengan teliti.
Setelah selesai bersih-bersih jendela, Haruto lanjut membersihkan ruang tamu dan kamar mandi.
Tak lama kemudian, tibalah waktu untuk membuat makan malam.
“Untuk makan malam hari ini, mau makan apa?”
“Hmm, apa ya. Sayang, mau makan apa?”
Ditanya oleh Haruto, Ikue menoleh ke arah Shuuichi yang sedang membaca koran di meja makan.
“Gimana, ya. Kalau masakan Ootsuki-kun apa saja tidak masalah...”
Shuuichi melipat koran yang dibacanya dan meletakkan tangan di dagu sambil berpikir.
“Masakan Haruto-kun semuanya enak, kok.”
“Aku mau makan daging!”
Ayaka memuji masakan Haruto, sementara Ryota meminta sesuatu yang samar.
Melihat reaksi keluarga Toujou, Haruto mengajukan usulan makan malam.
“Anu, kalau boleh, sebenarnya ada yang ingin saya buat.”
“Ara begitu? Kami sih sama sekali tak keberatan. Rasa masakan Ootsuki-kun kan sudah terjamin.”
Ikue menanggapi usulan Haruto dengan penuh minat dan bertanya pada yang lain, “Boleh, ‘kan?”. Semua orang mengangguk setuju.
“Terima kasih. Kalau begitu makan malam hari ini...”
Masakan yang ingin dibuat Haruto.
Itu adalah makanan favoritnya sendiri, sekaligus masakan andalan yang bisa dia buat dengan percaya diri.
Ditambah lagi sekarang, ini adalah masakan penuh kenangan yang menjadi awal mula dia disukai oleh keluarga Toujou.
“Untuk menu makan malam, bagaimana kalau hamburger?”
Mendengar masakan yang diusulkan Haruto, semua orang tersenyum. Ditambah dengan sorakan kegirangan Ryota.
Melihat reaksi keluarga Toujou, Haruto menuju dapur sambil tersenyum. Lalu, dengan semangat yang membara, mulai membuat makan malam terakhirnya sebagai asisten rumah tangga.
Haruto berdiri di dapur keluarga Toujou dan mulai membuat hamburger dengan cekatan.
Dapur keluarga Toujou sudah seperti halamannya sendiri bagi Haruto; dia bahkan yakin bisa mengambil alat masak dan bumbu dengan mata tertutup saking hafalnya.
Sambil membuat hamburger, Haruto melakukan beberapa tugas sekaligus seperti menyiapkan sup dan mengambil sayuran untuk salad. Melihat sosoknya, Ikue berkata dengan kagum.
“Seperti biasa, kerja Ootsuki-kun sangat cekatan, ya. Senang melihatnya.”
“Terima kasih.”
Mendengar pujian Ikue yang duduk di meja makan sambil memperhatikannya memasak, Haruto menjawab dengan ramah tanpa menghentikan tangannya.
Melihat itu, Shuuichi yang duduk di seberang Ikue dan sama-sama melihatnya memasak mengangguk mantap “Hmm hmm”. Lalu, dia menoleh ke arah Ayaka yang sedang menemani Ryota di ruang tamu.
“Ayaka. Anak seperti Ootsuki-kun itu langka, loh, jadi pegang dia erat-erat, ya?”
“Ih Papa. Jangan ngomong aneh-aneh di depan Haruto-kun, dong!”
Ayaka merona malu mendengar ucapan ayahnya.
Di sebelahnya, Ryota yang kelewat bersemangat karena bisa makan hamburger buatan Haruto mulai menarikan tarian absurd.
“Hamburger!! Hamburger!! Hamburger buatan Onii-chan!!”
“Hei Ryota. Tenang sedikit, dong. Nggak perlu pamerin tarian aneh begitu.”
Melihat adiknya menari liar seperti tarian Kachashi kecepatan ganda yang intens, Ayaka menunjukkan ekspresi tak habis pikir. Melihat anggota keluarga Toujou yang ceria dan ramai itu, Haruto terus memasak sambil tersenyum.
Haruto mengambil mangkuk besar dari rak dan mengisinya dengan air es. Dia meletakkan mangkuk yang lebih kecil di dalamnya, lalu mendinginkan kedua tangannya dengan air dingin tersebut.
“Hoho, Ootsuki-kun memang hebat. Sangat profesional, ya.”
Melihat tindakan Haruto, Shuuichi berkata dengan senang.
“Ayah, itu tuh biar lemak dagingnya nggak meleleh kena suhu tubuh Onii-chan!”
“Oho, Ryota tahu banyak ya.”
“Hehehe.”
Ryota yang tadi menari-nari di ruang tamu berlari ke arah ayahnya dan menjelaskan dengan wajah bangga.
“Kalau lemaknya meleleh, hamburgernya nggak bakal enak!”
“Begitu, ya? Kalau begitu hamburger buatan Ootsuki-kun hari ini pasti enak, dong?”
“Enak, dong! Masakan Onii-chan semuanya enak!”
Ryota menegaskan hal itu pada ayahnya. Tampaknya dia memiliki kepercayaan mutlak pada masakan Haruto.
“Terima kasih, Ryota-kun. Aku akan berusaha membuatnya jadi enak hari ini.”
“Ung!! Semangat Onii-chan!!”
Menerima dukungan sepenuh hati dari Ryota, Haruto merasa hatinya hangat sambil dengan cepat menguleni daging giling menggunakan tangannya yang sudah dingin dan merah padam.
Setelah butiran daging menghilang, Haruto menambahkan garam, lada, dan pala, lalu mengaduknya lagi.
Dari dapur, aroma khas pala menyebar, dan Ikue tersenyum manis saat mencium bau itu.
“Baunya enak. Jadi pengin cepat-cepat makan, ya.”
“Mama juga sudah terpikat masakan Haruto-kun, ‘kan.”
“Tentu saja. Masakan enak itu adalah hal penting yang bisa bikin orang senyum dan memperkaya hidup, tahu?”
“Benar juga. Kalau makan masakannya Haruto-kun rasanya memang bikin bahagia, sih.”
Karena Ryota pindah ke kursi di sebelah ibunya dan mengirimkan tatapan panas pada Haruto yang sedang menguleni daging, Ayaka pun pindah ke meja makan dan duduk di sebelah Shuuichi.
Selagi ditonton seluruh keluarga Toujou, Haruto menambahkan bawang bombay yang sudah didinginkan, tepung roti yang direndam susu, dan telur kocok ke dalam adonan daging, lalu menguleninya lagi.
Kemudian, dia membagi adonan yang sudah menjadi lengket itu, memasukkan sesuatu ke dalamnya, membentuknya menjadi oval, dan mulai memanggangnya di wajan yang sudah dipanaskan.
Sambil memanggang hamburger, Haruto menyelesaikan rasa sup yang dibuatnya bersamaan. Lalu, sambil memeriksa kematangan hamburger, dia mulai membuat salad dengan mengiris kol dan tomat.
Setelah selesai memotong sayuran untuk salad, Haruto menatanya di piring, menambahkan topping keju dan jagung, dan terakhir menyiramkan saus wortel yang pernah dibuatnya dulu untuk mengatasi ketidaksukaan Ryota pada wortel. Saat salad selesai, hamburger pun matang dengan pas, dan dia mematikan api kompor.
Melihat itu, Ayaka berpindah ke sebelah Haruto.
“Haruto-kun. Aku bantu siapkan meja.”
“Terima kasih. Kalau begitu tolong ambilkan nasinya, ya.”
“Oke, siap.”
Ayaka mengangguk senang, lalu mengambil lima mangkuk nasi dari lemari.
“Ryota nasinya mau sebanyak apa?”
“Buanyaak!!”
“Kalau gitu... segini?”
Ayaka menyendok nasi dari penanak nasi ke mangkuk, lalu memiringkannya agar bisa dilihat Ryota.
“Ung!! Segini!!”
“Kalau Papa?”
“Agak banyakan dikit.”
“Begini?”
“Umu.”
“Mama sedikit aja?”
“Iya. Sedikit nasi saja sudah cukup.”
Sambil memastikan porsi pada keluarganya, Ayaka menyendok nasi ke mangkuk masing-masing.
Lalu, dia menoleh ke arah Haruto.
“Haruto-kun? Makannya banyak?”
Sambil memegang mangkuk khusus Haruto, Ayaka bertanya sambil memiringkan kepalanya sedikit.
Di keluarga Toujou, entah sejak kapan sudah tersedia mangkuk khusus Haruto. Bukan cuma mangkuk nasi, sumpit, gelas, dan mangkuk sup pun sudah tersedia lengkap.
Menyadari bahwa makan malam bersama keluarga Toujou sudah menjadi kebiasaan, Haruto tanpa sadar tertawa kecil.
“Boleh. Tolong agak banyakan, ya.”
“Oke. Dimengerti.”
Ayaka menyendok nasi menjawab permintaan Haruto.
Melihat keadaan dua orang yang berdiri di dapur itu, Shuuichi berkata dengan penuh perasaan.
“Benar-benar kayak pengantin baru, ya. Umu umu.”
“Jadi teringat masa pengantin baru kita, ya.”
Mendengar gumaman Shuuichi, Ikue juga memasang ekspresi mengenang masa lalu.
“Benar juga. Waktu itu belum ada Ayaka dan Ryota, kita tinggal berdua di kamar 1K, ya.”
“Jadi kangen. Apartemen itu masih ada nggak, ya?”
“Kapan-kapan kita jalan-jalan sambil melihatnya, yuk.”
Melihat Shuuichi dan Ikue melakukan percakapan suami istri yang harmonis, Haruto berbisik pelan pada Ayaka yang datang mendekat membawa mangkuk nasi.
“Shuuichi-san dan Ikue-san benar-benar rukun, ya. Rasanya seperti pasangan ideal.”
“Masa? ...Haruto-kun idealnya pasangan yang kayak gitu?”
“Eh... iya, sih.”
Mendengar bisikan Haruto, Ayaka menatap lurus ke matanya dan bertanya.
Merasakan perasaan kuat yang sulit dijelaskan dari tatapannya, dada Haruto berdegup kencang tanpa sadar.
“Gitu, ya... fufu.”
Melihat anggukan Haruto, Ayaka tertawa senang, lalu membawa nampan berisi mangkuk nasi menuju meja makan. Sambil merasakan dadanya berdebar, Haruto memindahkan hamburger ke piring, menuang sup, lalu mengikuti Ayaka menuju meja makan.
“Ooh! Kelihatannya enak!”
“Hambuurger!!”
Melihat makan malam yang berjajar di meja makan, sudut bibir Shuuichi naik, dan Ryota bersorak kegirangan entah untuk yang keberapa kalinya hari ini.
“Ryota, makan sambil duduk yang benar, ya?”
“Ung!! Ayo cepat makan!”
Melihat tingkah Ryota yang sudah tidak sabar, Ikue memperingatkan sambil tersenyum.
“Baiklah. Semua sudah duduk. Ayo kita makan.”
Shuuichi melihat Haruto dan Ayaka yang sudah selesai menata makanan dan duduk, lalu menyatukan tangannya.
“Selamat makan.”
‘Selamat makan!’
Setelah semua orang menyatukan tangan, Ryota dengan kecepatan super menggigit hamburger-nya. Seketika, matanya membesar karena terkejut. Melihat reaksi itu, Haruto menyeringai.
“Ryota-kun, enak?”
“Keju!! Onii-chan! Di dalam hamburger ini ada kejunya!!”
Dari bagian yang digigit Ryota, keju yang meleleh mengalir keluar.
Sebenarnya, Haruto berpikir kalau membuat yang sama persis seperti sebelumnya rasanya kurang kreatif, jadi kali ini dia membuat hamburger isi keju.
“Kamu suka hamburger isi keju?”
Tanya Haruto sambil tersenyum. Seolah lupa cara bersuara, Ryota mengangguk dengan sangat antusias dan melahap hamburger isi keju itu dengan kecepatan tinggi.
Di sebelahnya, Shuuichi juga menyuap hamburger-nya dengan kecepatan sedang.
“Wah sumpah, hamburger ini luar biasa. Rasanya aku pengin bayar uang tip di luar biaya kontrak asisten rumah tangga.”
“Terima kasih.”
Mendengar ucapan Shuuichi, Haruto menunduk dan dengan jujur menunjukkan rasa senangnya. Lalu, dia sendiri memakan hamburger-nya satu suap.
Saat digigit, sari daging yang melimpah bercampur dengan lelehan keju, melepaskan rasa gurih dan kekayaan rasa yang pekat saat meluncur di lidah menuju tenggorokan. Setelah itu, rasa daging giling dan aroma pedas pala menyebar di dalam mulut setiap kali dikunyah.
Saat Haruto memasang wajah puas karena hamburger kali ini juga berhasil dibuat dengan enak, Ikue yang tersenyum bahagia karena makanan enak menoleh ke arah Haruto.
“Ootsuki-kun belajar masak dari nenekmu, ‘kan?”
“Iya, betul. Masakan Nenek jauh lebih enak daripada buatan saya, loh.”
“Hebat banget, ya! Nenekmu dulu bekerja di bidang masak?”
“Begitulah. Sekarang pun beliau bekerja di warung makan set menu dekat rumah.”
Nenek Haruto bekerja di dapur sebuah warung makan milik teman lamanya. Reputasi masakan neneknya cukup tinggi, dan warung itu lumayan terkenal di lingkungan sekitar.
“Warung makan di mana neneknya Ootsuki-kun yang jadi kokinya ya, jadi penasaran.”
Shuuichi menghentikan tangannya yang sedang makan hamburger dan mendengarkan cerita Haruto.
“Tempat kerja Nenek siang jadi warung makan, malam jadi izakaya, jadi kalau ada waktu silakan mampir. Soal rasa masakan, saya jamin.”
“Masakan dari orang yang membesarkan Ootsuki-kun sampai jago masak begini. Mana mungkin tidak enak.”
Melihat Shuuichi yang tertarik pada masakan neneknya, Haruto juga tersenyum senang.
Setelah itu, Haruto menikmati makan malam sambil bercengkerama dengan keluarga Toujou.
Akhirnya, setelah semua beres makan, suasana puas dan santai mengalir di ruang makan.
“Wah, enak banget.”
“Iya, ya. Makan malam terbaik.”
“Haruto-kun, itu enak banget, loh.”
“Hamburger buatan Onii-chan memang paling top, dah!!”
Mendapat ucapan dari masing-masing orang, Haruto tersenyum malu.
“Syukurlah kalau kalian puas.”
“Umu, sangat puas! Ootsuki-kun, terima kasih atas kerja kerasmu sebagai asisten rumah tangga selama ini. Terima kasih.”
Setelah berkata begitu, Shuuichi menundukkan kepala pada Haruto. Mengikutinya, Ikue juga menunduk sambil tersenyum manis.
“Selama ada Ootsuki-kun, tante jadi santai banget. Makasih, ya.”
“Saya juga senang bisa bermanfaat bagi kalian semua.”
Menanggapi ucapan terima kasih Shuuichi dan Ikue, Haruto membalas dengan menunduk juga.
Melihat Haruto yang bersikap sopan sampai akhir, Shuuichi menatapnya dengan senang dan berkata.
“Ootsuki-kun, soal Ayaka, mulai sekarang aku titip, ya.”
“Ih Papa. Jangan ngomong kayak mau lepas pengantin gitu, dong.”
“Malu gara-gara hal begini nggak boleh loh, Ayaka. Ootsuki-kun kan sudah jadi pacarmu, terlalu sungkan malah jadi nggak sopan, ‘kan? Betul nggak, Ootsuki-kun?”
“Eh? Ah, yah... begitulah.”
Kepada Shuuichi yang meminta persetujuan dengan senyum lebar, Haruto mengangguk-angguk walau wajahnya agak kaku. Lalu Ikue ikut menimbrung dengan gembira.
“Ngomong-ngomong, tiara yang Mama pakai waktu nikah masih disimpan loh, kayaknya cocok deh buat Ayaka.”
“Udah dibilang masih kecepetan! ...Tapi, aku agak penasaran sih, nanti kasih lihat, ya.”
“Ufufufu. Boleh, dong.”
Melihat tingkah putrinya yang menjawab dengan suara pelan sambil malu-malu kucing, Ikue tersenyum lebar.
“Onii-chan. Aku boleh ikut nggak ke pesta pernikahannya?”
“Eh? Ah... iya, ya. Ryota-kun juga pasti bisa ikut, kok.”
“Jadi nggak sabar, ya!”
“I-Iya, ya...”
Haruto benar-benar merasakan arah pembicaraan ini melesat menuju satu titik tujuan.
Dia tidak mungkin tega bilang ‘Masa depan belum ada yang tahu’ pada Ryota yang matanya berbinar penuh harap, jadi dia hanya bisa tersenyum pasrah.
Sambil dicecar keluarga Toujou, Haruto menyelesaikan cuci piringnya dan beres-beres makan malam.
Setelah menyelesaikan semua pekerjaan sebagai asisten rumah tangga, dia kembali menegakkan sikapnya.
“Kalau begitu, dengan ini layanan asisten rumah tangga telah usai. Walaupun singkat, terima kasih telah menggunakan jasa kami.”
Setelah Haruto membungkuk sembari mengucapkan itu, Shuuichi dan yang lainnya membalas “Terima kasih kembali” dan “Kerja bagus” secara bergantian.
“Haruto-kun, aku antar sampai depan.”
Terakhir, Ayaka mendekat ke arah Haruto dengan wajar.
“Ya, terima kasih.”
Haruto meninggalkan ruang tamu bersama Ayaka. Dari belakang, Ryota melambaikan tangan dengan semangat, “Onii-chan, sampai jumpa lagi!!”. Haruto membalas lambaiannya lalu menuju ruang depan.
“Nanti ketemu di sekolah, ya.”
“Iya.”
Ayaka tiba-tiba bilang begitu pada Haruto yang sudah mengganti sepatunya.
Sekolah dimulai lusa. Besok, kabarnya Ayaka ada janji main dengan temannya, dan Haruto juga memperkirakan dia akan ada acara. Karena itu, mereka baru bisa bertemu lagi saat sekolah dimulai setelah liburan musim panas. Saat upacara pembukaan.
“Kalau begitu... jumpa lagi. Haruto-kun.”
“Ya, jumpa lagi di sekolah.”
Haruto menoleh ke arah Ayaka yang berdiri di lorong, lalu tersenyum lembut. Melihat itu, Ayaka mendekat satu langkah lalu mengulurkan tangannya perlahan. Menanggapi harapannya, Haruto melingkarkan lengannya dengan lembut di pinggang Ayaka.
“...Ngh.”
Ayaka memejamkan mata, berjinjit sedikit, dan sedikit mengangkat dagunya.
Haruto menempelkan bibirnya di atas bibir kekasih tercintanya itu.
“Hehe...”
Saat Haruto menjauh, Ayaka tersenyum senang sekaligus malu.
“Dah.”
“Ya, bye-bye.”
Sambil merasa enggan untuk berpisah, Haruto melambaikan tangan ringan pada Ayaka, lalu meninggalkan rumah keluarga Toujou untuk terakhir kalinya di liburan musim panas ini.
※
Langit di atas kepala terbakar oleh matahari senja yang merah menyala, namun wajah langit malam juga sudah sedikit menampakkan diri.
Dibandingkan saat awal liburan musim panas, rasanya hari menjadi sedikit lebih pendek, walau hanya sedikit. Di situ Haruto merasakan hari-hari musim panas yang telah berlalu.
Seorang gadis yang dikenal lewat kerja sambilan asisten rumah tangga, yang dijuluki Idol sekolah.
Sepanjang musim panas ini, dia menjadi kekasih yang tak tergantikan.
Sambil berjalan sendirian di jalan menuju rumahnya, Haruto memikirkan gadis itu. Tiba-tiba, ponsel di sakunya bergetar.
Saat dia mengambil ponsel dari saku dan mengecek layar, tertera nama Akagi Tomoya. Haruto tersenyum kecut karena dugaannya tepat bahwa dia akan dihubungi, lalu mengangkat teleponnya.
‘Ya, ya, Haru-san! Akhirnya hari ini datang lagi tahun ini!’
“Ah, oke, oke. Terus? Kali ini berapa banyak yang belum dikerjakan?”
‘Sohibku memang hebat! Kamu paham banget! Ngomong-ngomong Bahasa Jepang sudah kelar!’
“Yang lain?”
‘No touch!!’
Mendengar sahabatnya yang entah kenapa berkata dengan nada bangga, Haruto menghela napas panjang karena benar-benar tak habis pikir.
Hari terakhir liburan musim panas Haruto sudah menjadi acara rutin untuk membiarkan sahabatnya, Tomoya, mencontek PR-nya.
“No touch!! Pala lu. Hadeh...”
‘Tapi kan Haru baik, jadi besok bakal datang untuk bantu, ‘kan? Ya, ‘kan?’
“Haaah~ yah, ada hutang budi sudah jemput Nenek dari rumah sakit, sih.”
‘Haru memang pengertian!! Kalau gitu besok kutunggu, ya!’
“Oke. Ah, ngomong-ngomong ada yang mau kusampaikan ke Tomoya.”
‘Hm? Apaan?’
Mendengar jawaban Tomoya, Haruto merasakan ketegangan dan rasa malu, lalu membuka mulutnya.
“Aku sudah jadian sama Ayaka.”
‘...Yah, sudah kuduga, sih.’
Haruto mengira dia akan terkejut. Namun, bertentangan dengan dugaannya, jawaban Tomoya terdengar seolah itu hal yang wajar.
“Kamu nggak kaget, ya.”
‘Iyalah. Kalau lihat tingkah kalian berdua di toko depan stasiun waktu itu.’
“Gitu, ya...”
‘Terus, awalnya dari kerja sambilan asisten rumah tangga, ‘kan?’
“Ya.”
‘Berarti kamu sudah kenal sama orang tua Toujou-san, dong?’
“Begitulah.”
‘Orang tuanya mikir apa soal kamu? Apa kayak ‘Berani-beraninya nyentuh putriku yang manis!’ gitu?’
Mendengar ucapan Tomoya, Haruto mengingat kembali reaksi Shuuichi dan Ikue barusan.
“Enggak, malah kebalikannya... kayak ‘cepat nikah sana’, mungkin?”
‘Apa coba. Kita masih SMA, loh?’
Mendengar ucapan Haruto, terdengar suara tawa Tomoya dari balik ponsel.
“Yah... memang, sih.”
‘Iri banget woi. Jadi pacar idol sekolah yang direstui orang tua nih ceritanya?’
Mendengar kata-kata iri yang dilontarkan sahabatnya, Haruto tersenyum kecil dan menatap langit.
Angin yang berhembus membelai pipinya masih membawa hawa panas musim panas. Namun, di dalamnya mulai terasa sedikit kelembutan, dan rasanya ia bisa melihat punggung musim gugur di kejauhan.
Haruto merasa malu dengan perasaan yang meluap di hatinya, lalu berkata dengan nada sedikit bercanda.
“Awalnya sih kerja sambilan jadi asisten rumah tangga, eh malah disukai sama keluarga gadis tercantik di sekolah.”



Post a Comment